Baca EPUB: Tentang Sastra dan Seni: Dengan Sastra dan Seni yang Berkepribadian Nasional Mengabdi Buruh, Tani, dan Prajurit

11 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. TENTANG SASTRA DAN SENI
  2. DENGAN SASTRA DAN SENI YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRAJURIT
  3. D. N. AIDIT
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. PENGANTAR PENERBIT
  7. TENTANG SASTRA DAN SENI
  8. I SEJARAH PENGINTEGRASIAN SASTRA DAN SENI REVOLUSIONER DENGAN MASSA RAKYAT PEKERJA
  9. II DENGAN SASTRA DAN SENI YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRAJURIT, MENYELESAIKAN REVOLUSI NASIONAL-DEMOKRATIS DALAM MENUJU KE SOSIALISME
  10. IIIPENGINTEGRASIAN SASTRAWAN DAN SENIMAN DENGAN MASSA RAKYAT PEKERJA MERUPAKAN SYARAT MUTLAK DALAM MELAKSANAKAN GARIS POLITIK YANG TEPAT DENGAN PENUANGAN DALAM BENTUK ARTISTIK YANG TINGGI
  11. LAMPIRAN IKIBARKAN TINGGI? PANJI PERTEMURAN DIBIDANG SASTRA DAN SENI REVOLUSIONER!
  12. KSSR Mempunyai Arti Politik yang Besar
  13. Kepribadian Adalah Tanda Kekreatifan
  14. Ciptakan Karya-Karya Yang Bersemangat Revolusioner
  15. Mutu Pribadi Sastrawan dan Seniman Harus Lebih Baik daripada Mutu Karyanya
  16. Turba Bukan Pekerjaan Musiman
  17. Massa Adalah Sumber Inspirasi dan Sumber Kreasi yang Sesungguhnya
  18. Terus Perkuat Kesatuan Sastrawan dan Seniman dengan Partai, Klas Buruh, Rakyat Pekerja dan Nasion
  19. Untuk Mutu Karya yang Terus Menjulang Tinggi, Intensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri
  20. Kepribadian Adalah Kewajaran dan Kebenaran
  21. Kapan Ronggowarsito dan Multatuli Diterjemahkan?
  22. LAMPIRAN IIHAYO BERSAMA-SAMA BUNG KARNO KITA BINA KEBUDAYAAN YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL!
  23. UNCOPYRIGHT

TENTANG SASTRA DAN SENI

DENGAN SASTRA DAN SENI YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRAJURIT

D. N. AIDIT


KOLOFON

TENTANG SASTRA DAN SENI

DENGAN SASTRA DAN SENI YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRAJURIT

oleh

D. N. AIDIT



(Pokok Referat di Hadapan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner di Jakarta,

diucapkan tgl. 28 Agustus 1964).



Yayasan “Pembaharuan”

Jakarta 1964

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Muhammad Reza Magistra

Gambar sampul: Fools Concert 1943, karya Leopoldo Méndez

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



PENGANTAR PENERBIT

Dari tgl. 27 Agustus sampai dengan 2 September 1964 CC PKI telah menyelenggarakan Konferensi nasional Sastra dan Seni di Jakarta yang dikunyungi oleh para sastrawan dan seniman revolusioner dari segenap penjuru tanahair. Konferensi ini, Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR), adalah konfermas sastra dan seni yang pertama yang diselenggarakan oleh PKI.

Sebelum KSSR PKI sudah bekerjia dibidang sastra dan seni, dasar-dasar untuk pekeryaian itu telah diletakkan. Meskipun demikian mengingat masih banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjukan dalam rangka menegakkan dan mengembangkan prinsip “berkepriabidain dalam kebudayaan”, maka KSSR ini diadakan.

Banyak bahan berguna telah disampaikan kepada Konfernas, baik oleh para pemimpin PKI Maupun oleh para peserta KSSR. Kali ini kami terbitkan tiga bahan pokok yang diucapkan oleh Ketua CC PKI, D. N. Aidit, yaitu referat yang beryudul Dengan sastra dan seni yang berkepriabidain nasional mengabdi buruh, tani dan prajurit dan Kibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran dibidang sastra dan seni revolusioner! serta Hayo ber-sama-sama Bung Karno kita bina kebudayaan yang berkepriabidain nasional! sebagai lampiran.

Semoga usaha ini dapat membantu pelaksanaan keputusan-keputusan KSSR.

Jakarta, Desember 1964.

Penerbit


TENTANG SASTRA DAN SENI

Kawan-Kawan yang tercinta!

Selamat datang saya ucapkan kepada kawan-kawan yang datang dari semua penjuru tanahair.

Kita sekarang berkumpul untuk bertukarfikiran tentang sesuatu yang pelik, tetapi juga menarik dan pehting, tentang sastra dan seni. Mendiskusikan soal ini sekarang adalah amat penting bagi kehidupan bangsa dan bagi peningkatan perjuangan revolusioner Rakyat kita.

Tentu ada orang-orang yang tidak senang melihat setiap kegiatan untuk mengembangkan kekuatan Rakyat. Mereka ber-tanya-tanya dan menjadi gusar. Mereka ber-tanya-tanya, ada apa lagi PKI ini? Ada-Ada saja yang mereka perbuat. Tambah lagi pekeryaian kita untuk membuntutinya. Baru saja PKI membikin “heboh” dengan terus mengobarkan kebangkitan gerakan tani di-mana-mana sebagai akibat gerakan riset yang mereka lakukan. Sebelum itu PKI telah memusingkan kepala dengan ber-macam-macam kegiatannya dibidang organisasi, sampai-sampai orang-orang jompo dan anak-anak mereka organisasi. Dibidang politik, ada saja inisiatif mereka. Sejak Federasi Malaya didirikan PKI sudah mengatakan bahwa itu adalah neo-kolonialisme. Sekarang seluruh bangsa bangkit mengganyang “Malaysia” yang intinya adalah Federasi Malaya. Sekali PKI menetapkan imperialisme Amerika Serikat sebagai musuh Rakyat Indonesia yang nomor satu dan paling berbahaya, maka satu-setengah tahun kemudian seluruh bangsa mengutuk Amerika Serikat. Dan istilah politik baru apa saja yang tidak mereka lontarkan ke-tengah-tengah masyarakat, mulai “kapitalis birokrat” sampai “tuantanah birokrat”, mulai “salahurus” sampai “salahduduk”, mulai “setan desa” sampai “setan dunia”, dan entah apa lagi, dan... semuanya ceapat diterima masyarakat. PKI mengatakan peraturan “26 Mei 1963” itu teror dibidang ekonomi, masyarakat membenarkan pendapat ini dan mengutuk serta “menghukum mati” peraturan itu berdasarkan pengalaman-nya sendiri. Ketika Manikebu (Manifes Kebudayaan) muncul kaum Komunis seketika itu juga melawannya dan tidak lama kemudian Manikebu dilarang oleh Presiden Sukarno atasnama Pemerintah, dan tuntutan Rakyat supaya kaum Manikebuis diritul makin santer dan luas. “Pancacinta” diganyang, tetapi diyustru “Pancacinta” malahan menjadi sah kedudukannya, pensahana mana diperkuat oleh pidato Tavip Presiden Sukarno tgl. 17 Agustus ybl. Satu kali PKI tampil menganggarn Sumitro dalam Musyawarah Besar Sarjana Dan Ahli Ekonomi, maka musyawarah itu pun mengambil keputusan menganggarn Sumitro, memuntut supaya perguruan tinggi dibersilukan dari teori ekonomi reaksioner Sumitro dan dari pengikut Sumitro.

Sekarang PKI tampil lagi dengan inisiatif baru: Konferensia Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang langsung diselenggarakan oleh CC PKI. Tentu ini ada apa“nyal Mustahil CC PKI langsung mengurus sastra dan seni! Tentu ada udang di balik batu!

Demikian gunarnya mereka melihat inisiatif Revolusioner.

Bagi kita, kawan“, semuanya itu hanyalah pembuktian sudah bertambah baiknya pemaduan Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi Indonesia, dan sama-sekali bukan pembuktian energi PKI yang ber-lebih'an. PKI tidak pernah dan tidak akan kelebihan energi dan samasekali tidak mengadakan inisiasi yang ber-lebih'an, tidak meng-adai” Sebaliknya, kita merasa masih kurang berinisiasi! Dan diyustru untuk lebih mengembangkan inisiasi, di dalam Partai kita sekarang sedang berdiyalan kampanye untuk mengembangkan setara maximal peranan aktif kesedaran subyektif semua anggota Partai. Ini berarti pendondolan peranan individu dalam kegiatan kolektif, supaya tiap-tiap anggota Partai lebih kreatif dan lebih banyak inisiasi dalam rangka meningkatkan kreativitet dan inisiasi kolektif masing-masing. Inisiasi“ kita sekarang baru terbatas pada yang paling perlu, sesuai dengan tuntutan” yang paling mendesak dari perjuangan revolusioner Rakyat kita. Juga konferensi ini kita adakan karena tuntutan“ yang terus meningkat, karena ”rising demands“ daripada perjuangan revolusioner kita.

Konferensi sastra dan seni ini adalah konferensi sastra dan seni pertama yang diselenggarakan oleh Comite Central sejak PKI didirikan 44 tahun yang lalu dan sejak PKI dengan sedar meminpin gerakan kebudayaan Rakyat 14 tahun yang lalu, yaitu sejak berdirinya Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada tanggal 17 Agustus 1950. Konfe-rensi ini kita adakan dalam rangka melaksanakan salahsatur resolusi Pleno ke-ll CC pada akhihr tahun 1963 tentang Konferensia Sastra dan Seni, dan dalam rangka menyambut pidato Tavip Presiden Sukarno yang antara lain menekankan tentang pentingnya pelaksanaan prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan”.

Sekalipun konferensi semacam ini baru untuk pertama kalii kita adakan, bukanlah berarti bahwa dengan ini kita baru mau memulai meletakkan dasar-dasar sastra dan seni revolusioner kita. Dasar“nya sudah diletakkan 14 tahun yang lalu dalam Mukadimah Lekra dan kemudian disempurnakan oleh Kongres Pertama Lekra tahun 1959. Dalam Kongres Lekra yang bersejarah ini, setelah menganalisa perkembangan Lekra sejak ia didirikan, Kawan Yubaar Ayub, Sekretaris Umum Lekra, yang kemudian diperkuat oleh Kawan Nyoto, menyumpulkan bahwa sudah ada semua syarat yang diperlukan untuk bekerya lebih banyak, lebih baik dan lebih berguna bagi kebudayaan, bagi Rakyat dan revolusi. Ini menunjukkan bahwa Lekra kita sudah dewasa, Sekalipun usianya baru 9 tahun ketika itu.

Inisiasi kita mendirikan Lekra 14 tahun yang lalu terniata sangat tepat. Kita tidak dapat membayangkan betapa isi dan rupa sastra dan seni Indonesia sekarang seandainya tidak ada Lekra.

Sekalipun Lekra baru mempunyai Anggaran Dasar se-sudah berusia 7 tahun, tetapi kebudayaan Rakyat, khususnya sastra dan seni yang bersifat kerakyatan, dengan senjata Mukadimah itu saja telah berkembang relatif sangat tepat dan pada pokoknya terpimpin baik. Ini membuktikan bahwa sastrawan dan seniman Rakyat menerima baik pimpinan Partai.

Mukadimah Lekra menundukkan kematangan politik dan kedewasaan pengertian PKI tentang kebudayaan Rakyat serta perananyya dalam perjuangan revolusioner. Soal-Soal azasi mengenai kebudayaan Rakyat dijawab dengan baik dalam Mukadimah itu.

Keanggotaan Lekra yang 14 tahun yang lalu hanya terdiri dari beberapa orang, dapat dihitung dengan jari sebelah tangan, sekarang sudah lebih dari 500.000. Dan anggota-anggota ini bukan liar, mereka tergabung dalam organisasi massa kebudayaan masing-masing atau terorganisasi dalam Lembaga-Lembaga Sastra dan Seni dari Lekra. Satu perkembangan yang se-irama benar dengan derap langkah kemajuan Partai kita. Satu prestasi yang membesarkan hati kita, yang membikin irihati sekutu-sekutu dan membikin risau serta jengkel musuh-musuh kita Kepauc sekutu-sekutu kita berkata, bahwa perkembangan Lekra menguntungkan kita bersama, memperkuat front Manipolis dibidang kebudayaan. Mari, juga dibidang ini kita menzadakan kompetisi Manipolis. Biasanya dalam tiap-tiap kompetisi mesti ada yane kalah dan ada yane menang, tetapi dalam kompetisi Manipolis Rakyat banya mengenal memang karena kebudayaannia menjadi maju dan front Manipolis tertambah kuat oleh kompetisi-kompetisi kita.

Judi, dasar-dasar sastra dan seni Rakyat yang tepat sudah diletakkan dan perkembangannya, baik mengenai segi meluas Maupun segi meningginya, sudah mengembirakan. Sekarang, apa lagi yang harus kita bicarakan dalam konferensi ini?

Ada dan banyak, kawan-kawan Partai selalu mengajar kita, bahwa kita tidak boleh puas dengan apa yang sudah kita cpai. Memang banyak yang sudah kita cpai dengan bekerya keras selama 14 tahun ini, tetapi masih diyah lebih banyak yang harus kita keryakan. Berbicarai tentang sastra dan seni Rakyat, kita tak tahu berapa luas dan berapa dalam yang kita bicarakan, karena kita berbicarai tentang Rakyat vo sendiri.

Di dalam Partai kita sekarang sedang diadakan gerakan pembentukan fikiran melalui penyaki puasdiri dalam rangka penentukan diri pendidikan-diri dan pendidikan-diri, dalam rangka mendapatkan diri kita masing-masing Komunis yang baik dari lebih baik lagi, sebagai diawalan terhadap adanya gedala mau menemui “diyalan revolusi” yang mudah dan enak pilih sementara kader-kader Partai. Bagi orang revolusioner diyalan yang mudah dan enak pasti bukan diyalan yang tepat. Membongkar setara revolusioner masyarakat lama yang sudah ber-abad-abad umurnya dan mengantinyia dengan yang baru samusekali dan yang baik bagi Rakyat pasti bukan pekerdiyian ang mudah, pasti bukan diyalan yang bertabur bunga. Mereka yang diuntungkan oleh masyarakat lama tidak akan membikin Rakyat mengganggu kesenangan-kesenangan nia, mereka akan mati'an melawan Rakyat yang berjung. Pengalaman revolusi Agustus ‘45 dan pengalaman perjuangan Rakyat Indonesia untuk menegakkan kedaulatan dalam politik, berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan akhi-akhi ini memberi kan bukti-bukti yang sangat kuat bahwa kaum imperialis yang dikepalai Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan Rakyat Indonesia menempuh jalan yang dipilihnya sendiri. Mereka sudah, sedang dan akan terus berusaha’ menghalangi jalan yang sedang ditempuh oleh perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia. Ini harus senantiasa hidup dalam fikiran setiap orang revolusioner Indonesia, termasuk sastrawan dan seniman revolusioner.

Gerakan melawan penyaki puasdiri sangat penting bagi semua anggota Partai, terutama kader-kader-nya; karena kita tidak mau mandeg, kita mau maju terus dan maju dengan langkah-langkah yang lebih tegap dan lebih panjang. Artipenting gerakan ini lebih besar lagi bagi para sastrawan dan seniman serta pekerya-pekerya kebudayaan revolusioner lainnya, karena pembentukan diiwa, semangat, kesedaran, moral dan watak anggota-anggota Partai dan massa Rakyat banyak tegantung pada bantuan mereka. Mereka dapat banyak membantu dalam usaha-kita mengembangkan peranan aktif kesedaran subyektif para anggota Partai. Inti dariipada gerakan melawan penyaki puasdiri adalah perjuangan membela ideologi proletar dari pengaruh-pengaruh fikiran dan watak non-proletar. Dengan melakukan gerakan ini berarti kita memperbarui dan memperkuat kesetiaan kepada kearifan-nenekmoyang kita, yaitu: Ber-rakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, ber-sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dan kesetiaan kepada apa yang sering kita katakan, bahwa “se-baik-baiknya pekerjaan kita, tidak mungkin cuukup baik bagi proletariat”. Jelaslah betapa tinggi tuntutan Partai kepada sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman Komunis serta sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman revolusioner pada umumnia. Tetapi betapa mulia pula mereka di mata-di mata dan di hati Partai dan Rakyat kita.

Kawan-Kawan. Diuga peribahasa kita mengajarakan: Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu. Dalam dunia modern sekarang laut yang se-dalam-dalamnia mudah diukur, dan bahkan angkasa dapat diuk tr. Tetapi tidak ada dan tidak akan ada alat modern yang Bagaimanapun yang dapat mengukur hati Rakyat. Hati Rakyat hanya dapat diukur dengan hati. Fikiran Rakyat hanya dapat diselami dengan fikiran. Oleh karena itu masalah mengintegrasikan diri dalam fikiran dan perasaan dengan massa Rakyat adalah masalah yang paling pokok bagi para sastrawan dan seniman revolusioner. Untuk ini kita harus mementingkan turun ke bawah (turba) untuk mengadakan riset. Tetapi kita tidak mungkin meriset semua yang perlu kita ketahui. Untuk itu usia kita terlalu pendek, sedangkan yang harus kita selami dan ketahui begitu banyaknya. Oleh karena itu, dengan tidak menunggu kesempatan turba untuk mengadakan riset yang tentu harus selalu kita usahakan, kita harus menambah pengetahuan kita dengan banyak belayar dan banyak bertukar fikiran.

Untuk itulah, untuk saling belayar dan bertukar fikiran, kawan-kami undang. Kami yang sekarang memegang pucuk pimpinan Partai kita tidak mempunyai pretensi bahwa kami tahu segala. Kalau kami sekarang mempunyai pengetahuan dan pengertian serba sedikit tentang sastra dan seni yang diperlukan, maka hal ini adalah juga berkat bantuan kawan-kawan selama ini.

Untuk memudahkan jalannya diskusi saya akan memberikan sekedar pengantar tentang:

  1. Sejarah pengintegrasian sastra dan seni revolusioner dengan massa Rakyat pekerja;
  2. Dengan sastra dan seni yang berkeprabadian nasional mengabdi buruh, tanu dan prajuirit, menyelaskan revolusi nasional-demokratis dalam menuyu ke Sosialisme;
  3. Pengintegrasian sastrawan dan seniman dengan massa Rakyat pekerja merupakan syarat mutlak dalam melaksanakan garis politik yang tepat dengan penuangan dalam bentuk artistik yang tinggi.

Tentang hal-hal inilah pidato ini saya lanjutkan.


I

SEJARAH PENGINTEGRASIAN SASTRA DAN SENI REVOLUSIONER DENGAN MASSA RAKYAT PEKERJA

Di muka sudah saya katakan, bahwa berbicara tentang sastra dan seni Rakyat sama halnya dengan berbicara tentang Rakyat itu sendiri, tentang sesuatu yang boleh dibilang sudah ada sejak Rakyat itu ada. Demikian pula, berbicara tentang sastra dan seni revolusioner sama halnya dengan berbicara tentang sesuatu yang boleh dibilang sudah ada sejak gerakan revolusioner itu ada di negeri kita

Pengintegrasian sastra dan seni revolusioner dengan kaum buruh, kaum tanu dan Rakyat pekerja lainnya sudah ada sejak adanya gerakan revolusioner modern di negeri kita, yaitu dimulai sejak awal abad ini. Ini tidak bisa lain, karena kaum revolusioner yang bergerak dibidang politik dengan sedan menggunakan media pers dan berbagai bentuk kesenian untuk keperluan agitasi dan propagandanya. Sarekat Islam (didirikan tahun 1912) pada tahun-tahun permulaan, serikatburuh-serikatburuh yang dipimpin oleh ISDV (1914) dan PKI (1920), Sarekat Rakyat (SR) yang dipimpin oleh PKI, dan PKI sendiri, yang semuanya merupakan gerakan massa yang cukup luas, telah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan sastra dan seni Indonesia. Sesudah SI, SR dan PKI dilarang, peranan mengorganisasi dan memobilisasi massa secara terbuka diteruskan oleh PNI dan Partindo yang dipimpin oteh Bung Kamo, dan kemudian oleh Gerindo. Kader-Kader gerakan massa bekerja di-tengah-tengah Rakyat, tidak terkecuali di kalangan seniman-seniman Rakyat dengan mengorganisasi dan mempengaruhi perkumpulan-perkumpulan kesenian, terutama drama Rakyat.

Di waktu kegiatan politik revolusioner dilarang, kader-kader revolusioner banyak yang bergerak dalam rombongan-rombongan kesenian yang berupa drama Rakyat, perkumpulan musik, pentaksilat, dsb. Mereka juga bergerak dalam badan-badan pendidikan seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat dsb.

Proses pengintegrasian sastra dan seni dengan gerakan revolusioner pada masa itu datang dari dua yurusan.

Pertama, dari rambongan folklor, yang karena kekreatifan Rakiat sendiri dan berkat pengaruh gerakan revolusioner, meningkat menjadi drama Rakiat yang mengintegrasikan diri dengan gerakan revolusioner, seperti misalnya ludruk, ketoprak, reog (Jawa Barat), dsb. Bersamaan dengan berkembangnya drama Rakiat, berkembang pula yabang-yabang kesenian Rakiat lainnya seperti tari, musik, sastra, dll.

Drama Rakiat dan berbagai bentuk wayang yang di bawah pengaruh kaum revolusioner telah memainkan peranan yang positif, misalnya dalam menamankan rasa yinta tanahair dan antikolonialisme. Ytina kebenaran, ytina keadilan, heroisme, antikemaksiatan dsb. Seniman-Seniman drama Rakiat dan pewayangan telah melahirkan banyak kritik-sosial, terutama yang berupa satire (sindiran) dalam bentuk pantun-pantun atau lelution-lelution sindiran terhadap alat-alat kekuasaan kolonial Belanda dan fasis Jepang yang dibenci Rakiat. Juga terhadap praktik-praktik tuanrana seperti ijon, lintahdarit, pologoro, pancen, dll. Seniman-Seniman satiris dari drama-drama Rakiat sangat dicinai oleh penontonnya yang terdiri dari Rakiat pekerya dan sebaliknya sangat dibenci oleh pemerintah kolonial serta musuh-musuh Rakiat lainnya. Pemain ludruk yang sangat terkenal, yaitu Cak Durasim telah dibunuh oleh fasis Jepang karena kritik-kritik satirisnya yang tajam terhadap kekuasaan Jepang. Juga dalang-dalang banyak yang harus berkenalan dengan penjara kolonial.

Kedua, dari kalangan intelektuall dan seniman revolusioner yang bergerak dibidang jurnalistik, polemik, karikatur, cerpen, essai, novel musik dsb. Tak dapat disangkal peranan penting W. R. Supratman yang telah mentiyptakan lagu “Indonesia Raya” dan lagu-lagu revolusioner lainnya. Juga tak dapat disangkal bahwa dengan buah tangannya Supratman dimulailah dalam kehidupan musik modern di negeri kita “musik untuk Rakiat” atau “musik untuk revolusi”. Pur tak dapat disangkal bahwa Haji Muki, Tirio Adhishuro dan Mas Mario Kartodikromo adalah pelopor-pelopor sastra modern Indonesia. Dengan buah tangannya-tangannya mereka dimulailah dalam kesusastraan modern di negeri kita prinsip “sastra untuk Rakiat”.

Dari uraian singkat di atas dapat kita simpulkan tentang sudah ditanamkannia tradisi revolusioner dalam kesenian kita, yaitu pemaduan secara kreatif warisan kesenian nenekmoyang dengan pembaharuan yang revolusioner, yang sesuai dengan tuntutan gerakan revolusioner. Juga telah ditanamkan tradisi sastra dan seni mengabdi Rakiat pekerya-ja. Dengan demikian prinsip “berkeprabidai dalam kebudayaan” dan prinsip “seni untuk Rakiat” bukanlah se-suatu yang asing bagi Rakiat Indonesia.

Rakiat Indonesia tidak hanya kreatif dalam menerima warisan nenekmoyang, tetapi juga dalam menerima yang datang dari luar. Keroncong yang sekarang sudah menjadi milik Rakiat Indonesia di seluruh Nusantara merupakan contoh kreativit dalam menerima yang datang dari luar. Pun wayang, gambus, terbangan (rebana) dan arsitektur tidak diterima “sebagaimana adanya” saja. Demikian pula bentuk-bentuk kesenian lainnya, baik yang datang dari Barat Maupun yang datang dari negeri-negeri Timur, semuanya diterima dengan melalui proses penyesuaian, dengan kepribadian Rakiat Indonesia sendiri. Ada yang boleh dibilang sudah selesai proses penyesuaian, dan ada yang belum selesai serta masih lambat sekali jalanya.

Dengan sendirinya, ketiadaan pimpinan yang tepat telah menyebabkan kekurang-sempermaan, baik dalam memperbarui warisan nenekmoyang Maupun dalam menerima yang datang dari luarnegeri. Tetapi dasar yang positif telah diletakkan, yaitu dengan bertitiktolak dari kepribadian sendiri berusaha untuk mengadakan pembaharuan apa yang diwaristi dari nenekmoyang dan bersedia menerima yang dari luar dengan lewat proses penyesuaian. Dengan demi- kian dapat disimpulkan, bahwa Rakiat Indonesia menolak dogmatisme dalam sastra dan seni, baik dogmatisme ter-hadap warisan nenekmoyang Maupun dogmatisme terhadap yang datang dari luar. Rakiat Indonesia menjunjungtinggi kepribadiannia sendiri, dan menolak baik konservatisme Maupun nihilisme dalam sastra dan seni.

Revolusi Agustus 1945 telah membukakan kemungkin-an-kemungkinan baru yang luas bagi perkembangan sastra dan seni revolusioner. Secara spontan semua bidang kesenian telah mengalami perkembangan dan umumnya telah mengabdi diri kepada revolusi. Drama Rakiat, tegutama ludruk, ketoprak, reog dan dagelan (bebodoran) bermun-culan dan berkembang di-mana-mana serta giat ambilhaqian di-front-front tempurpermuan dalam mengobarkan semangat prayurit dan kaum gerila. Juga pelukis-pelukis dengan poster-poster dan coretan-coretan dindingnya ikut mengobarkan semangat revolu-

Gloner Rakyat. Tetapi, karena ketiadaan pimpinan revolusioner dalam gerakan kebudayaan, khususnya ketiadaan pimpinan PKI, kesempatan yang sangat baik itu tidak membawa kemayuan yang besar pada perkembangan kebudayaan, khususnya pada sastra dan seni revolusioner.

Sampai tahun 1950 boleh dibilang PKI tidak memberikan pimpinan kepada perkembangan sastra dan seni revolusioner. Baru dalam tahun 1950, diydi sesudah revolusi menurun dan sudah banyir orang yang tadiinya ambilbagian dalam revolusi meninggalkan revolusi atau sedang siap untuk meninggalkan revolusi, kaum Komunis tampil memberikan pimpinan pada gerakan kebudayaan Rakyat dengan mendirikan Lekra. Di satu fihak ini menundukkan kesedaran yang datangnya terlambat, tetapi dihyak lain ini adalah hasil pengendapan dan pelajaran selama revolusi Agustus 1945, dan merupakan tekad bulat untuk meneruskan revolusi dengan yalain yang lebih baik, yaitu dengan menyusin front kebudayaan di samping front lain yang juga mulai digalang atau digalang kembali pada waktu yang hampir bersamaan. Lekra telah memainkan peranan yang penting dalam menyegah kemerosotan lebih lanjut dari gerakan revolusioner di negeri kita.

Lekra didirikan ketika di dalam PKI sedang berlangsung perjuangan intern yang sengit melawan oportunisme “kiri” dan kanan. Lekra merupakan perwuyudan dari usaha sayap Leninis dalam PKI ketika itu dan sekaligus merupakan salahsatu perwuyudan daripada meningkat dewasanya PKI.

Berdirinyia Lekra merupakan kemenangan daripada satu azas, merupakan bukti kesedaran dan keyakinan akan datangnya kemenangan. Terutama sejak tahun 1951, yaitu tahun kelahiran kembali PKI, pengintegrasian sastra dan seni dengan massa Rakyat pekerya daa gerakan revolusioner berjalan dengan terpimpin. Sejak itu front kebudayaan memainkan peranan yang sangat penting dalam barisan progresif. Dan jika sejak tahun 1951 perkembangan situasi politik Indonesia terus menaik, banyak sukses dicapai dibidang politik, maka peranan penting telah ikut dimainkan oleh front kebudayaan yang dipelopori oleh Lekra.

Seperti sudah saya katakan di bagian muka, Mukadimah Lekra menundukkan kematangan politik dan kedewasaan pengertian PKI tentang kebudayaan Rakyat serta peranan- nya dalam perjuangan revolusioner. Ini dibuktikan oleh kalimat-kalimat dalam Mukadimah yang antara lain mengatakan bahwa “Rakyat adalah satu'nya pentiyipa kebudayaan”, bahwa “pembangunan kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh ‘Rakyat’” dan bahwa “Lekra menerima dengan kritus peninggalan” nenekmoyang kita, mempelai- diari dengan seksama segala segi peninggalan itu, seperti halnya mempeladari dengan seksama pula hasil“ tiptaan klasik Maupun baru dari bangsa lain yang mana pun, dan dengan in berusaha meneruskan seyara kreatif tradisi yang agung dari sejarah dan bangsa kita, menuyu kepen- tiptaan kebudayaan baru yang nasional dan ummah”.

Sejak berdirinyia Lekra sudah bertekad untuk membikin sastra dan seni revolusioner Indonesia memiliki kekuatan untuk menuangkan diywa hakiki masyarakat dan abad kita dalam bentuk artistik yang tinggi Tekad inilah yang harus menjadi tekad tiap anggota Lekra dan semua sastrawan dan seniman revolusioner.


II

DENGAN SASTRA DAN SENI YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL MENGABDI BURUH, TANI DAN PRAJURIT, MENYELESAIKAN REVOLUSI NASIONAL-DEMOKRATIS DALAM MENUJU KE SOSIALISME

Sewaktu menerima rombongan drama “Sinandang” dari Sumatra Utara pada tanggal 23 Februari 1964, antara lain saya kenyataan, bahwa kaum Komunis sekarang sedang berjuang melaksanakan tiga prinsip: berdaulat dibidang politik, berdiri di atas kaki sendiri dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang kebudayaan. Yang saya maksudkan dengan berkepribadian dibidang kebudayaan adalah berkepribadian nasional dibidang tersebut, termasuk bidang sastra dan seninya. Mengapa hal ini harus kita perjuangkan?

Sebagaiimana kawani sendiri telah menyaksikan, kaum imperialis, mulai Belanda, kemudian Jepang dan kini Amerika Serikat, telah dan sedang berusaha melalui berbagai yara dan dialah untuk mematikan kepribadian Rakyat Indonesia. Imperialis Amerika Serikat sekarang tidak hanya merupakan musuh nomor satu Rakyat Indonesia karena kedudukan politik dan ekonominya, tetapi juga karena dominasinya dibidang kebudayaan, khusunya dibidang ilmu, film, musik dan lektur.. Seiring dengan neo-kolonialisme yang mereka dialankan dibidang ekonomi dan politik, mereka menginten-sifkan agresinya terhadap Rakyat Indonesia dibidang kebudayaan. Usaha-Usaha mereka ini dibantu setara aktif oleh kakitangan-kakitangannya di dalam negeri, yaitu kaum komprador, kapitalis birokrat dan tuantanan. Usaha-Usaha tersebut mendapatkan angin baik dari kegiatan kaum revisionis modern yang belakangan ini merembes ke dalam tubuh gerakan klas buruh internasional dan gerakan ke-merdekaan bangsa-bangsa.

Kaum revisionis bukan hanya tidak melawan kebudayaan imperialis, tetapi mereka bangga kalau berhasil mendiliplak atau membuat barangtiruan (surrogat) dari kebudayaan imperialis. Mereka sungguh telah berbuat banyak dalam melanjutkan kemerosotan moral dan ideologi generasi muda negeri-negerinya, mereka telah meratuni pewaris-pewaris daripada revolusi negeri mereka masing-masing. Dengan demikian perbuatan kaum revisionis coyok benar dengan perhitungan kaum imperialis, yaitu bahwa generasi-generasi kemudian akan menghianati revolusi Sosialis, dan dengan sendirinya memenuhi harapan-harapan kaum imperialis.

Dengan bantuan sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman sewaannya didalamnegeri, antara lain mereka yang berkerumun di sekitar Manikebu, imperialisme Amerika Serikat menyebarkan ideologi reaksioner dibidang sastra dan seni, dengan etiket yang ber-gantiganti dan bendera yang berubah-ubah, te-tapi isinya tetap yang itu-itu juga. Mereka sebarank teori humanisme universil, yang mengajaran “cinta kepada sesama manusia”. Mereka mengajaran kemanusiaan yang abstrak, Sekalipun maksud mereka kongkrit. Menurut kaum Manikebus, se-jelek-jelek manusia, misalnya Tengku Abdulrakhman dan Lyndon Yohnson, masih bersinar “cahaya Ilahi” di dalam dirinya, masih ada segi-segi baiknya. Oleh karena itu orang-orang sematayam itu jangan dimusuhi, malahan harus diselamatkan. Demikianlah yara mereka mengebiri ajaran Manipol agar Rakyat tidak mengenal dan tidak melawan musuh-musuhnya.

Menurut kenyataan di dalam masyarakat berklas, seperti dalam masyarakat Indonesia sekarang, hanyalah terdapat kemanusiaan yang berwatak klas dan tidak ada kemanusiaan yang terlepas dari klas.

Kaum Komunis menjundung kumanusiaan, yaitu, kemanusiaan proletariat, kumanusiaan massa Rakyat, sedangkan kaum imperialis dan tuantanan menjundung kumanusiaan burjuis dan kumanusiaan feudal. Dan bila diteliti lebih jauh, kumanusiaan yang di-jaja-jajakan kaum reaksioner itu tidaklah lain daripada akal busuk untuk memper-panjang umur sistim penghisapannya. Oleh karena itu, humanisme kita harus mendidik Rakyat tidak hanya untuk mencinyai, tetapi juga sekalusgus untuk membenci, yaitu mencinyai sesama massa Rakyat dan sebaliknya membenci kaum imperialis, kaum tuantanan dan kaum reaksioner lainnya, mencinyai perjuangan revolutioner untuk merampungkan tugas-tugas Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar-akarnia dalam perjuangan menuyu ke-Sosialisme dan sebaliknya membenci kaum kontra-revolutioner yang menghalang-halangi terlaksananya tugas tersebut serta berkehendak mempertahankan sistim penghisapan imperialis dan feudal yang ada.

Sejalan dengan menyebarkan humanisme universil, ideologis imperialis menyebarkan kosmopolitanisme dan nihilisme nasional, seolah-olah ada manusia aneh yang bisa dilahirkan di muka bumi tanpa menjadi penduduk sesuatu negeri, tanpa menjadi anggota sesuatu masyarakat dan tanpa termasuk dalam sesuatu klas atau golongan dalam masarakat. Bersamaan dengan itu mereka sebarkan sovinisme yang bertentangan dengan internasionalisme, seolah-olah ada manusia aneh yang hanya menjadi penduduk salah satu negeri tanpa sekaligus menjadi penduduk dunia.

Mereka juga mengobarkan provinsialisme, separatisme dan rasialisme tidak hanya dibidang politik tetapi juga dibidang kebudayaan untuk menggerowoti keutuhan persatuan nasional Rakyat Indonesia.

Pendeknya, dengan tindakan-nya itu kaum imperialis Amerika Serikat dengan bantuan kaum reaksioner di dalam negeri ingin menolong kedudukannya yang sudah goyah dibidang politik dan ekonomi, ingin meneruskan penindasan dan penghisapannnya terhadap Rakyat Indonesia dengan jalun menumpulkan patriotisme revolusioner Rakyat dalam melawan imperialisme.

Serangan jahat kebudayaan imperialis Amerika Serikat tidak kalah berbahayana dibandingkan dengan agresima dibidang politik, ekonomi Ataupun militer. Malahan dalam batas tertentu dan dalam keadaan tertentu tembakan “pelor mas” itu lebih berbahaya daripada tembakan pelor besi. Kewaspadaan Rakyat terhadap bahaya pelor besi lebih tajam jika dibandingkan dengan kewaspadaan terhadap bahaya “pelor mas”. Ini terbukti dari kenyataan-kenyataan yang kita saksikan saban hari. Banyak orang-orang dan goongan-goongan yang sudah revolusioner atau sudah Manipolis dalam pandangan politiknya, hakekatnya masih bersikap reaksioner diyika ditinjau dari sikap kebudayaannya. Malahan masih ada “giantara kader” Partai kita, berikut keluarganya, yang sampai sekarang secara kebudayaan masih belum memiliki sikap yang tepat. Inilah yang sering disebut “politik kici, kebudayaan kanan”. Oleh sebab itu, bagi kader-kader PKI tidak saja perlu terus mengasah ketajan perasaan politiknya, tapi diyuga perlu terus mengasah ketajan perasaan kebudayaannya. khususnya perasaan sastra dan seninya.

-Dalam rangka kita sekarang membangun keluarga-keluarga Komunis, peranan sastra dan seni revolusioner adalah sangat penting.

Kepada para sastrawan dan seniman revolusioner saya minta perhatian khusus mengenai anak-anak kita. Anak-Anak Rakyat pekerja sekarang memang masih ikut merasakan derita hidup bersama dengan orangtua mereka, tetapi mereka sudah tidak mengenal lagi kolonialisme yang telanyang seperti kita dulu mengenal kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Mereka sekarang hidup dalam neo-kolonialisme yang penuh dengan kemunafikan, yang kejahatannya oleh anak-anak tidak mudah diketahui, apalagi yang merembes lewat saluran “kebudayaan”. Padahal anak-anak kita adalah pelaksana-pelaksana revolusi dan kemudian akan menjadi pewaris-pewaris dan penerus-penerus revolusi. Baik sukses revolusi nasional-demokratis Maupun sukses revolusi sosialis dan pembangunan Sosialisme dingceri kita akan banyak tergantung pada anak-anak kita. Oleh karena itu anak-anak Rakyat pekerja Indonesia memerlukan kehidupan sastra dan seni, memerlukan bacaan, musik, film, drama dan kegiatan-kegiatan sastra dan seni lainnya yang dapat membantu mereka untuk menjadi pelaksana dan kemudian menjadi pewaris dan penerus revolusi yang dapat dipertiyaya. Adalah kewajiiban para sastrawan dan seniman dewasa ini untuk memberikan san-tapan kulturil dan bimbingan kreatif kepada anak-anak Rakyat pekerja.

Kawan-Kawan yang tercinta!

Kita menyaksikan masih adanya sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman Indonesia yang selain mengagumi dan mengagung-agungkan apa saja yang datang dari Barat, juga meremehkan sastra dan seni Rakyatnya sendiri. Kaum nihilis kebudayaan ini berpendapat bahwa sastra dan seni Barat itu baik, bermutu tinggi dan indah, sedang sastra dan seni Indonesia jelek, bermutu rendah dan tidak indah. Barat yang dijudung di atas kepala kosongnya itu tidak lain adalah Barat imperialisme. Mereka secara latah meniru mentah-mentah apa yang datang dari Barat, dan sebaliknya tidak berusaha untuk mengenal, mengali dan menyaring serta mengembangkan milik nasionalya sendiri. Lebih jauh mereka tidak hanya meniru gayanya, tetapi bulat-bulat menjiplak segala kebreng-sekan, kebejatan dan kebobrokan ideologi yang terkandung di dalam kebudayaan imperialisme yang dekaden. Mereka lebih mahr menyanyikan lagu-lagu Barat daripada lagu-lagu Rakyat Indonesia sendiri. Mereka lebih bangga berdansa-dansi secara Barat, tetapi malu menarikna tari-tarian Indonesia sendiri. Pendeknya, mereka secara rokhaniah telah menjadi tawanan jinak dari kaum imperialis, dan melahan berangsar-angsar menjadi serdadu sewaaninya yang setia. Perbuatan mereka sepenuhnya bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang pandai memilih dan kreatif dalam menerima yang datang dari luar. Dari mereka tidak dapat kita harapkan sesuatu untuk mengemangangkan kebudayaan yang berkepribadian, sebab yustru mereka termasuk orang-orang yang membantu kaum imperialis dalam usaha hendak membusi dhwa Rakyat dan membunuh kepribadiannya dengan alat kebudayaan. Ini dapat kita lihat dari tindakan-tindakan mereka ketika bangkitnya kesedaran Rakyat menggantang kebudayaan imperialis Amerika Serikat belakangan ini, dan menggoranyai semangat untuk menegakkan kembali kepribadian nasional dibidang kebudayaan. Mereka menentang aksi-aksi patriotik seperti aksi boikot film-film Amerika Serikat dengan “alasan” yang mentertawakan dan kerdi. Dan setelah musik ngak-ngk-ngok tidak boleh dijadikan, mereka kembali ke-“kepribadian nasional” menurut cara mereka. Mereka menggaransir dan membawakan lagu-lagu Indonesia menurut gaya ngak-ngk-ngok. Sebagai hasilnya lahirlah “Bengawan Solo” yang dirock-‘n-roll-kan, “Tirtonadi” yang di-twist-kan, dan lagu-lagu anak-anak yang dibregesekkan. Mereka juga “menciptakan” lagu-lagu Indonesia “populer” dan lagu-lagu daerah, tetapi hanya kata-katanya saja yang Indonesia atau Gaerah, sedangkan ritme dan melodinya adalah ngak-ngk-ngok. Demikian pula setelah rock ’n roll, twist dan tarian-tarian yang lebih mengandung kebinatangan daripada kemunsuan ditentang oleh massa, mereka mengadakan sematayam rock ‘n roll atau twist “nasional” yang diiringi oleh musik ngak-ngk-ngok “nasional”. Mereka bukan hanya tidak berhenti menterjemahkan buku-buku Barat yang mempropagandakan rasialisme, banditisme dan gangsterisme ke dalam bahasa Indonesia, tetapi mereka belakangan ini lebih getol menulis roman-roman picisan dan tertia-tertia konik yang isinya scrupa tentang Indonesia, dengan mereka-mereka bandit-bandit dan gangster-gangster a la Amerika di Indonesia. Tindakan mereka itu tidak lain adalah “meng-Indonesia-kan” kebudayaan imperialis dengan segala kebayikan dan kemerosotan ideologinya. Hal ini lebih jahat dan lebih berbahaya, karena daya merusaknya bertambah besar dan bertambah tepat daripada kebudayaan imperialis yang asli. Tindakan mereka itu tidak sesuai dengan maksud membina kebudayaan yang berkepribadian nasional. Merca merusak kepribadian nasional; merusak moral dan menumpulkan semangat peryuangan revolusioner Rakyat Indonesia, terutama sekali pemuda-pemudi Indonesia. Karenanya, tindakan mereka harus kita lawan dan kita telandangi habis-an.

Di samping itu memang kita pun mengetahui adanya sementara sastrawan dan seniman yang secara tidak sedar melakukan kesalahan yang serupa dalam ukuran yang lebih ringan. Didorong oleh keinginannya untuk mengembangkan kebudayaan Rakyat Indonesia, mereka berorientasi kekebuda- dayaan Barat yang dianggapnya maju dan bermutu. Sudah barang tentu keinginannya itu tidak terkabul, karena di samping sudah salah jalan, yaitu akan membina kepribadian nasional melalui Barat, ditambah lagi salah-pilih, yaitu keliru mengambil ampas kebudayaan Barat dan bukan sari-patinya yang baik. Mereka tidak bisa memisahkan antah dari beras. Memang dalam batas-batas tertentu se-olah-olah tertapiai kemudian-kemudian dalam karya-karya-nya, tetapi sebenarnya kepribadian nasional yang di-idam-idamkanya itu tidak terte- mukan, bahkan mereka jauhi. Mereka sendiri diyustru kehilangan kepribadian. sedang karya-karya mereka hanya merupakaan klise-klise dan “duplikat” belaka dari kebudayaan Barat. Terhadap kaum nihilis kebudayaan yang tidak sedar mi kita harus bersikap sabar menyedarkan mereka. bahwa mereka salah-jalan dan salah-pilih, dan harus kita tun- diyukkan dialan yang tepat yang seharusnya mereka tempuh.

Agresi sastra‘ dan ’seni imperialis banyalah dapat kita lawan dan kita kalahkan dengan sastra dan seni yang ber- kepribadian nasional Sastra dan seni yang kepribadiannya kuat tidak hanya tahan dan mempunyai kekebalan terhadap pengaruh merusak dari kebudayaan imperialis, tetapi lebih dari itu juga mempunyai kemampuan untuk secara aktif melawan dan mengalahkan kebudayaan imperialis

Yang kita maksudkan dengan sastra dan seni yang ber- kepribadian nasional adalah sastra dan seni yang lahir dari tradisi patriotisme revolusioner Rakyat Indonesia sendiri, yang menyerminkan tradisi dan adat-istiadat bangsa sendiri, beretima nasional dan melukiskan aspirasi-aspirasi nasional Rakyat Indonesia yang revolusioner.

Bidang-Bidang sastra dan seni termasuk bidang-bidang terpenting daripada pekerjaan ideologi kita Dan setiap pekerjaan ideologi, tanpa perketalualiai., jadi juga pekerjaan sastra dan seni, harus disubordinasikan kepada kepentingan Rakyat Indonesia. Peryuangan dibidang sastra dan seni adalah bagian daripada peryuangan kita dalam meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, bagian daripada peryuangan kita dalam menyalankan revolusi secara kreatif, dalam mentrakpan kebenaran universal Marxisme-Leninisme pada kenyataan-kenyataan spesifik negeri kita, mentrakpan dengan sepenuhnya memperhitungkan sejaran dan situasi aktui negeri kita, dengan sepenuhnya memperhitungkan kemampuan dan tradisi, tuntutan-tuntutan dan taraf kesedaran Rakyat kita. Ini berarti bahwa dalam memetayahkan sesuatu problem yang kita hadapi, kita tidak seharusnya bersandar pada formula-formula atau dalil-dalil yang sudah tersedia, tetapi harus memahami problem itu secara tepat dan kena atas dasar analisa yang imiah daripada kenyataan-kenyataan dan mengambil tindakan-tindakan yang coytok untuk memetayahkan problem itu.

Sebagai Komunis kita harus mempelaji sejarah revolusi-revolusi dan sejarah Partai-Partai Komunis di luar negeri, terutama sejarah Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Tiongkok. Tetapi apa tujuannya mempelaji sejarah-sejarah itu? Pasti bukan untuk “memindahkan” revolusi di luar negeri itu ke Indonesia, tetapi untuk melaksanakan revolusi kita sendiri dengan cara yang lebih tepat, supaya kita dapat menarik pelajaran-pelajaran yang baik dan tidak membikin kesalahan-kesalahan yang pernah dibikin oleh kaum Komunis di luar negeri dalam memimpin revolusi-revolusinya. Revolusi kita dilaksanakan di Indonesia, dan bukan di negeri lain, dilaksanakan oleh Rakyat Indonesia dan bukan oleh Rakyat negeri lain. Inilah yang harus senantiasa kita ingat.

Sebagai Komunis kita harus lebih banyak mengenal keadaan negeri dan Rakyat kita sendiri, keadaan masalampau dan masakini kita untuk membentuk masadepan kita yang gemilang. Ini berarti bahwa kita harus lebih sungguh-sungguh mempelaji sejarah, geografi dan adat-istiadat Rakyat kita. Baik untuk kerya politik Maupun untuk kerya sastra dan seni pengetahuan yang dalam tentang hal-hal ini sangat diperlukan bagi usaha kita membangkitkan kebanggaan nasional Rakyat dan mendidik Rakyat kita dengan cara yang paling coytok untuk mereka dan yang paling menjiwai mereka dengan keciatana yang mendalam kepada tanahair.

Dengan demikian jelaslah betapa erat-erat hubunganya antara pekerjaan politik dan pekerjaan sastra dan seni dengan pekerjaan dibidang sejarah, geografi dan antropologi-budaya. Semuanya ini sangat erat-erat hubunganya dengan masalah kepribadian bangsa, dan oleb karenanya harus terus-menerus mendapat dorongan dari kaum revolusioner.

Tidak ada gunaan kita mengeluh tentang ketiadaan atau tentang sangat kurangnya buku-buku sejarah yang baik, buku-buku ilmu-bumi yang baik dan buku-buku antropologi-budaya yang baik. Mau tidak mau penyusunan semuanya ini sudah terletak di atas pundak kaum intelligensia revolusioner, dan harus dikerjakan dalam waktu yang tepat.

Terutama penulisan sejarah peryuangan yang memaparkan tradisi-tradisi revolusioner Rakyat Indonesia harus tepat disusun dan dipublikasi secara luas untuk lebih membangkitkan kebanggaan nasional dan meningkatkan perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia.

Mungkin masih ada “krikil” yang menyebabkan para sastrawan dan seniman kita belum keranjungan untuk menggarap tema-tema besar seperti pemberontakan 1926, tanah pembuangan Digul, pemberontakan “Zeven Provincien”, Revolusi Agustus 1945, pembasmin “PRRI-Permesta”, penghantiyuran DI-TII, pembebasan Irian Barat dan tema-tema lain yang dapat membangkitkan kebanggaan nasional dan meningkatkan perjuangan revolusioner, misalnya karena melihat adanya kelemahan-kelemahan pada tiap-tiap perjuangan itu. Pemberontakan 1926 adalah pemberontakan yang gagal, di antara orang-orang yang dibuang ke Digul ada yang menierah kepada Belanda., pemberontakan “Zeven Provincien” juga gagai, Revolusi Agustus berlangsung tanpa pimpinan yang sedar dari proletariat, “PRRI-Permesta” dan DI-TII diselesaikan dengan kompromi, Irian Barat bebas dengan camputtangan Bunker dari Amerika Serikat dsb., inilah yang mungkin menjadi “krikil” sehingga tidak membulkan rangsang untuk menusis. Jika benai ni yang menjadi sebab, maka samasekali tidak beralasan. Kegagalan sesuatu pemberontakan revolusioner tidaklah berarti bahwa pemberontakan itu salah; dan Sekalipun ia gagal tetap melahirkan pahlawan-pahlawan. Kelemahan beberapa gelintor orang dalam pembuangan tidaklah berarti semua orang buangan revolusioner menjadi pengkhiantan dan lemah-jiwa seperti dicoba digambarkan oleh Sutan Syahri dalam bukunya “Indonesiskhe Overpeinzingen” (Renungan Indonesia). Biarlah Sutan Syahri merenung-renung, tapi sastrawan dan seniman revolusioner harus menuliskan kepahlawanan orang-orang revolusioner tanah pembuangan Digul itu. Jika sesuatu perjuangan “di-selesaikan” dengan kompromi, sudah pasti yang berkompromi bukanlah Rakyat, dan korban sudah banyak berjatuhun, pahlawan sudah banyak dilahirkan. Jika sesuatu pemberontakan, sesuatu revolusi atau sesuatu aksi gagal atau tidak menyapai tuyuan yang sepenuhnya karena tanpa pimpinan sedar dari PKI, ini tidaklah berarti bahwa pemberontakan, revolusi atau aksi itu salah, tidaklah berarti bahwa tidak ada perbuatan kepahlawanan ‘ang harus ditulis. Ientang kciadaan pimpinan yang sedar dari PKI, justru itu yang juga harus diungkapkan agar lain kali pimpinan dilakukan sesedar-sedarnya oleh PKI. Saya mengetok hati kawan-kawan dengan harapan supaya dalam waktu yang tidak terlalu lama pahlawan-pahlawan yang sudah berjatuhun dan yang masih hidup itu menambah semaraknya perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia lewat karya kawan-kawan.

Siapakah yang bersalah jika ada orang yang mengira bahwa nama “Aliarkham” ada hubunganyna dengan “Al Azhar”? Bahwa Akademi Ilmu Sosial “Aliarkham” di Diakarta dikira berafiliasi dengan Universitas Al Azhar di Kairo? Tentu bukan salah ayah dan ibu Kawan Aliarkham yang memberi nama Arab kepada anaknya, tetapi karena pahlawan Rakyat tidak diperkenalkan kepada Rakyat yang memiliki pahlawan itu oleh mereka yang harus memperkenalkannya. Sekarang banyak universitas dan akademi memaki nama pahlawan. Ini baik sekali, menandakan bahwa kita generasi sekarang tidak me-niik-niikkan pahlawan-pahlawan kita. Tetapi berapa banyak orang yang mengetahui perbuatan kepahlawanan mereka? Dalam perjuangan yang bagaimana mereka tampil sebagai pahlawan?

Kira-Kira sepuluh tahun yang lalu pernah gambar penulis Soviet Ilya Ehrenburg diarak dalam suatu demonstrasi 1 Mei. Kalau kita mau berterus-terang, kawan-kawan, berapalah yumlah buku Ehrenburg dienergi kita ini, berapa orang yang sudah membantayna, berapa pula yang membantayna tamat, dan di antara yang membantayna tamat itu berapa orang yang berhasil menarik pelajaran untuk revolusi Indonesia, khususnya untuk perkembangan sastra dan seni revolusioner Indonesia. Jumlah bukunya yang beredar hanya sedikit sekali, yang tamat membantayna bisa dihitung dengan jari dan yang membantayna dengan berhasil menarik pelajaran untuk kepentingan revolusi Indonesia mungkin tidak ada. Tapi gambar Ehrenburg diarak. Gejala apa ini, ‘kalau bukan gejala dogmatisme dan formalisme’. Karena Ehrenburg seorang penulis Sovyet, se-dangkan Sovyet itu adalah baik, karya-karyanya dikira juga baik, dan oleh karena itu gambarnya diarak Sekalipun yang mengaraka dan yang menyuruh mengaraka tidak tahu apa tentang karya Ehrenburg.

Masih ada lagi sastrawan dan seniman luarnegeri yang pernah di-puja-puja oleh sementara orang revolusioner negeri kita dengan tidak memikirkan betapa hubunganyna dengan revolusi kita dan dengan perkembangan sastra dan seni revolusioner kita. Saya tidak berbitiyara tentang apa yang terjadi di kalangan mereka yang tidak revolusioner, karena memudia segala yang datang dari luarnegeri, termasuk juga memudia peniebar-peniebar Komunistophobia dan segala yang bertentangan dengan kepentingan revolusi Indonesia, adalah biasa dan akan terus menjadi kebiasaan mereka.

Kita kaum Komunis bisa dan harus pandai menilai dan menghargai karya-karya sastra dan seni progresif dari luarnegeri. Tetapi penilaian dan penghargaan kita pertama-tama harus dilihat dari segi hubunganyna dengan kepentingan revolusi Indonesia dan tidak boleh berakibat mengunggup rendah sastrawan dan seniman kita sendiri serta karya-karyanya. Perkenalan kita dengan karya-karya sastrawan dan seniman progresif luarnegeri harus menjadi perangsang bagi kita guna mengenal lebih baik sastrawan dan seniman kita sendiri, guna meningkatkan kesedaran kita tentang keharusan memberi tempat dan penghargaan yang wadhu kepada sastrawan dan seniman kita yang sudah tidak ada lagi serta mendorong maju kepekerjaan sastrawan dan seniman kita sekarang.

Tanpa keprabadian dalam pekerjaan ideologi, artinya juga tanpa keprabadian diutang sastra dan seni, kita akan menuju kepada kesalahan-kesalahan dogmatis dan formalis. Jika ini terjadi maka akan menjadi rusaklah urusan revolusioner kita. Oleh karena itu, sastrawan dan seniman revolusioner harus menguasai teori Marxisme-Lenninsme dan menrakpakkannya secara kreatif dibidang kegiatan mas-masing.

Dalam bukunya “Marxisme Dan Masalah-Masalah Nasional” Stalin antara lain menyatkan bahwa “Nasion-Nasion itu ber-beda satu dengan lainnya bukan hanya dalam keadaan hidup mereka saju, tetapi juga dalam wadah kerokhanan yang menampakkan diri dalam kekhususan kebudayaan nasional“. (Y. W. Stalin, Marxisme Dan Masalah Nasional, Yayasan Penerbitan 1959, hal. 9).

Lebih yauh dalam bukunya itu Stalin juga menandaskan, bahwa “satu susunan kejiwaan bersama, yang menyatuhkan diri dalam satu kebudayaan bersama, adalah salahsatut yiri nasiom yang karakteristik”. (sda, hal. 10, garisbawah dari Stalin). Tulisan Stalin ini menegaskan bahwa “susunan kejiwaan bersama yang menyatuhkan diri dalam satu kebudayaan bersama” selain merupakan salahsatut syarat bagi existensi sesuatu nasion, juga sekaligus memperikan carak khusus atau dengan kata lain memberikan “watak nasional” kepada nasion yang bersangkutan yang membedakannya dengan nasion lain. Ini berarti, bahwa tiap-tiap nasion mempunyai keprabidian sendiri-sendiri dalam bidang kebudayaan. Keprabidian itu bukan datang dari langit, melainkan tumbuh dan terbentuk melalui proses dalam waktu yang panjang. Ia tidak merupakan sesuatu yang sekali ditetapkan lalu berlaku untuk se-lama-lamania, melainkan berkembang seiring dengan perkembangan kehdupan nasion yang bersangkutan. Tetapi karena ia ada pada waktu tertentu, maka ia meninggalkan bekas pada nasion. Inilah sebabnya, sastra dan seni yang keberkeprabidian nasional lebih berakar dan lebih cept berkembang di kalangan Rakyat dan karenanya lebih mudah serta lebih mampu menggugah dan membangkitkan Rakyat untuk menyatui tanahair dan melawan musuh-nyia.

Sebaliknya, sastra dan seni yang tidak keberkeprabidian adalah asing bagi Rakyat, ditolak Rakyat, tidak bisa berakar dan berkembang di-tengah-tengah Rakyat dan oleh-karena-nya tidak memiliki kemampuan untuk memobilisasi dan mengorganisasi massa dalam peryuangan revolusioner. Kenyataan juga membuktikan, bahwa yenis-yenis sastra dan seni yang hingga kini masih hidup dan berkembang di-tengah-tengah Rakyat adalah yenis-yenis yang memiliki keprabidian yang kuat. Karenaany, ia telah uyi dan tidak lebur walau-pun diagresi oleh kebudayaan imperialis. Dan bila keprabidian yang sedemikian dikembangkan, tentu akan merupakan senjata ampuh di tangan Rakyat dalam memenangkan peryuangan revolusioneriya.

Oleh karena itu, penting sekali ditekankanyanya kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk membina kebudayaan yang berkeprabidian, sebab penekanan sedemikian itu sendiri pada hakakatnya sudah merupakan suatu bentuk perlawan terhadap penetrasi kebudayaan imperialis. Menegakkan keprabidian nasional dibidang kebudayaan pada hakakatnya adalah mengobarkan patriotisme atau mengobarkan semangat hanteng dibidang kebudayaan.

Mungkin timbul pertanyaan, apakah dengan sastra dan seni yang berkeprabidian nasional kita tidak memisahkan diri dan menjadi terpisah dari sastra dan seni serta dari kebudayaan revolusioner dunia? Sastra dan seni yang berkeprabidian pada hakakatnya adalah perwuyudan patriotisme dibidang sastra dan seni Dan patriotisme kita adalah patriotisme proleter, patriotisme sosialis atau patriotisme progresif, iaitu patriotisme yang menyatui tanahair dan diaitas segala-galanya memuntian Rakyat Indonesia ser membela kepentingan mereka terhadap kaum veng-husap.

Jadi, patriotisme kita berbeda dengan patriotisme hurdius yang “menyatui tanahair” tetapi tidak menyatui dan tidak memperjuangkan pembebasan Rakyat dari kaum penghisap, dan malahan menghisap dan meninyas Rakyat terhambat serta membantu kaum imperialis dan kaum penghisap lair. Oleh karena itu sastra dan seni berkeprabidian yang kira kehendaki adalah berwatak antiimperialisme dan antipenyihapan Sastra dan seni yang demikian itu mempunyai watak internasional, karena peryuangan melawan imperialisme dan melawan penglusapan terdapat di seluruh dunia. Sastra dan seni yang demikian pasti dapat dinikmati tan ligenari oleh Rakyat-Rakyat di-negeri-negeri lain sebagaimana halnya kita diyuga dapat menikmati sas-tra dan seni patriotik Rakyat negeri-negeri lain Hanya kaum imperialis dan kaum reaksioner liannya, baik di dalam mau-pun di luar negeri, yang tidak bisa menikmati dan tidak bisa menggemari bahkan menentang sastra dan seni yang demikian karena kepentingan mereka dirugikan olehnyia.

Sastra dan seni yang berkeprabidian nasional adalah kawanan peryuangan sastra dan seni revolusioner negeri-negeri lain, adalah saling mengisi dan saling melengkapi serta saling mendorong dalam mengabdikan diri bagi peryuangan revolusioner Rakyat negeri masing-masing dan Rakyat-Rakyat sedunia. Kenyataan itu membuktikan bahwa sastra dan seni revolusioner sesuatu nasion di samping mempunyai kekhu-susan sendiri-sendiri yang tercermin pada keprabadian nasional-nya nasying, juga dipertalikan dengan sastra dan seni revolusioner nasyon-nasyon lain di seluruh dunia oleh persamaan watak yang antiimperialisme dan antipenghisapan. Oleh karena itu, sastra dan seni yang berkeprabadian nasional tidak hanyai memperkuat perjuangan Rakyat yang bersangkutan tetapi juga memperkuat perjuangan revolusioner Rakyat seduma.

Sastra dan seni yang berkeprabadian nasional adalah sastra dan seni yang berdiri di atas prinsip revolusioner dalam ist dan nasional dalam bentuk, ia bagaikan kembang nasional yang mekar indah dalam tamansari internasionalisme.

Adalah menggembirakan bahwa usaha-usaha sudah mulai timbul dari kalangan sastrawan dan seniman kita untuk menegakkan keprabadian dibidang kegiatannya masing-masing. Usaha ini mulai menampakkan hasil-hasilnya yang tercermin pada karya-karya sastra dan seni mereka, terutama setelah mereka belakangan ini lebih mendalami kehidupan dan perjuangan kaum tani, di mana mereka berhasil menemukan, mengenali dan kemudian menegakkan ciri-ciri keprabadian nasional yang terkandung pada berbagai yenis sastra dan seni yang nasih hidup dan berkembang di kalangan Rakyat, terutama kaum tani, yang semula tidak mereka kenal. Sudah barangtentu usaha-usaha menegakkan keprabadian dibidang kebudayaan bukan pekerjaan yang mudah dan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Ia merupakan pekerjaan pelik, maka waktu panjang, dan karenanya memerlukan ketelatenan dan kesungguhan serta ketekunan revolusioner. Tetapi betapa pun, ia bukan merupakan sesuatu yang tidak dapat dikerjakan. Dengan usaha-usaha yang tidak kenal lelah, bersandar pada kekuatan massa Rakyat, dan disulului oleh pandangan dunia dan pandangan hidup Marxism-Leninisme tentulah pekerjaan-pekerjaan itu akan menyapai hasil yang gigih-gigilang. Yang belum memulai harus mengawalinya, dan yang sudah memulai harus melanjutkan dan mengembangkannya terus-menerus.

Sudah agak lama para sastrawan dan seniman revolusioner menyedari, bahwa sastra dan seni harus diabdiikan kepada Rakyat, terutama kaum buruh dan kaum tani. Mereka menganggap masalah ini sebagai masalah yang prinsipiil dan karenanya selama ini dengan gigih mereka mengibarkan panji-panji “Seni Untuk Rakyat” guna merumun-kan panji-panji reaksioner “Seni Untuk Seni”. Sekarang pada pokoknya azas “Seni Untuk Rakyat” sudah mengatasi azas “Seni Untuk Seni”. Tetapi, ini tidak berarti bahwa di dalam kenyataannya azas tersebut sudah terlaksana dengan baik.

Meskipun sudah nampak kemayuan-kemayuan berkat usaha yang terus-menerus selama ini, namun ternyata bahwa pengabdian itu pada sebagian sastrawan dan seniman masih belum terlaksana secara tepat. Hal ini dapat kita lihat dan uji dari karya-karya sastra dan seni mereka. Benar, mereka sudah mulai membicarakan kaum buruh dan kaum tani, tetapi kaum buruh dan kaum tani itu masih merupakan “embel-embel” dari rekasan subyektif fikiran burduyis ketiy pentiypitanya. Dengan demikian karya-karya itu tidak mempunyai daya penggugah dan pembangkit massa Rakyat, sebab apa yang dilukis bukan apa yang dikehendaki massa dan bahasa yang digunakan pun bukan bahasa yang dimengerti oleh massa. Hal ini disebabkan karena dalam meninjau sesuatu hal yang akan ditiypikanya sastrawan dan seniman tersebut belum menggunakan pendirian dan sikap yang tepat.

Sekalipun sastrawan dan seniman revolusioner ikut ambilbagian dalam menggalang front persatuan nasional, tidaklah berarti bahwa mereka boleh mempunyai pendirian dari salahsatu klas yang bukan proletar yang harus dipersatukan dalam front persatuan nasional, misalnya pendirian burduyis ketiy atau burduyis nasional. Tidak, mereka harus mempunyai pendirian yang tepat, yang paling maciyu, yaitu pendirian proletariat. Bagi mereka yang telah menjadi anggota PKI, hal ini berarti bahwa mereka harus memiliki dan memegang teguh pendirian Partai, yaitu pendirian proletariat yang sudah dirumuskan secara paling baik. Demikian pula sikap mereka harus diletakkan secara konsekwennya di atas dasar pendirian tersebut. Artinya sastrawan dan seniman revolusioner harus mempunyai sikap klas yang tepat selaras dengan keadaan kongkrit yang dihadapi. Mereka harus mempunyai sikap yang berbeda terhadap massa Rakyat pekerja, terhadap sekutu dalam front persatuan dan terhadap lawan.

Terhadap massa Rakyat pekerja berikut pelopornya, sikap sastra dan seni revolusioner harus memujinya. Kekurangan-Kekurangan yang ada pada Rakyat pekerja tidak seharusnya diejek atau dicemoohkkan, tetapi justru sastra dan seni revolusioner harus membantu dalam mengatasi kekurangan itu. Sastra dan seni harus mendidik dan mem- dorong maju Rakyat pekerya, memperteguh persatuan mereka dan mengobarkan semangat perjuangan mereka, sehingga mereka dapat mengangkat dirinyai dari lumpur keterbelakangan kultural dan lebih mampu menunaikan tugas-tugas secarahnya dengan baik.

Terhadap sekutu dalam tront persatuan, sikap sastra dan seni revolusioner harus mengamalkan secara teguh tetapi luwes prinsip “bersatu dar berduyang”. Lewat sas- tra dan seni kita dorong sekutu kita untuk maju dalam perjuangan melawan musuh-musuh bersama dan terus bersatu dengan kita seerat dan selama mungkin. Sedang terhadap kebimbangan dan kekurangan sekutu, kita lakukan per- juangan3 atau kritik-kritik bersahabat.

Terhadap musuh, sikap sastra dan seni revolusioner harus mencela, dan harus menelanyinginyia tanpa kenal am pun, menyingkapkan kedayhatan dan kekurangajaran mereka, supaya Rakyat makin membencinya sehingga musuh-musuh Rakyat itu makin terpencil dan karenanya lebih mudah dikalahkan.

Baik dalam memuji Maupun dalam mencela harus di- lakukan dengan selalu menjunjungtinggi kebenaran, dalam artikata dialektik, serta kejuduran dan dengan menyauhkan diri dari semua pemalsuan, kemunafikan dan semua bentuk subyektivisme. Sebab semua perkosaan terhadap kebenaran akhirnya akan memakul kembali diri kita sendiri dan akan memperliambat jalanya revolusi.

Hanya dengan pendirian dan sikap yang tepat, peng- abdian kepada buruh, tani dan Rakyat pekerya lainnya akan dapat diperbaiki.

Di samping itu, selama ini masih ada segolongan Rak- yat yang belum kita perhatikan dan belum kita jadikan obyek karya-karya sastra dan seni, yaitu massa prajurit. Pada- hal secara politik bagi kita sudah tidak ada soal lagi, me- reka pada umumnya adalah Rakyat pekerya yang me- manggul senapan, sebab mereka pada umumnya berasal dari buruh, tani dan Rakyat pekerya lainnya. Apalagi jika diingat bahwa Angkatan Bersenjata Indonesia dilahirkan oleh Revolusi Agustus 1945, sehingga seperti pernah saya terangkan dalam yeramah di depan SESKOAD, Angkatan Bersenjata RI mempunyai ciri-ciri: 1) antifasis, demokra- tis, antiimperialis, dan ber-cita-cita Sosialisme; 2) alat untuk mengabdi perjuangan besar Nefo kontra Oldefo; dan 3) alat membela keutuhan wilayah dan kesatuan nasion In- donesia.

Jadi ditinjau dari segi kelahirannya, asal-usulnya dan vitalitenya prajurit meruyukan bagian dari Rakyat pe- kerya yang seharusnya menjadi salahsatu sasaran penting bagi karya-karya sastra dan seni revolusioner. Mengadakan dis- kriminasi terhadap prajurit adalah tidak tepat, bukan hanya karena prajurit adalah juga warganegara Republik Indonesia, tetapi juga karena prajurit pada umum- nya termasuk Rakyat pekerya.

Alasan yang selama ini dijadikan dasar untuk tidak menjadikan massa prajurit sebagai obyek karya sastra dan seni revolusioner adalah karena “mengingat adanya dua aspek dalam kekuasaan politik atau kekuasaan RI sekarang ini, yaitu aspek antiRakyat di samping aspek pro-Rakyat”. Padahal, justru karena alasan ini, sastra dan seni revolusioner harus juga ditujukan kepada massa prajurit. Kalau tidak, maka sastra dan seni kita tidak ikut mengembangkan aspek pro-Rakyat. Dicadikan- nya prajurit sebagai obyek karya sastra dan seni revolu- sioner sebetulnya justru membantu usaha mendorong dan memperkuat aspek pro-Rakyat dalam kekuasaan politik sekarang untuk mengalahkan dan mengusir aspek anti Rakyat.

Jadi jelaslah, bahwa sastra dan seni revolusioner tidak hanya harus diabdiakan kepada buruh dan tani, tetapi juga kepada prajurit. Ini berarti bahwa selain kita harus menyemurnakan pengabdian kepada massa buruh dan tani, pengabdian kepada massa prajurit melalui karya-karya sastra dan seni revolusioner harus segera dimulai.

Mengabdi kepada buruh, tani dan prajurit berarti memenuhi kebutuhan mereka, tidak hanya untuk waktu-waktu sekarang tetapi juga untuk waktu-waktu mendatang. Kita tidak boleh berfikir bahwa taraf kebudayaan Rakyat pekerya berhenti sampai taraf keadaan sekarang, tetapi kita harus berfikir sesuai dengan kenyataan, bahwa taraf kebudayaan Rakyat pekerya terus meningkat. Oleh karenanya, disam- ping usaha popularisasi juga harus dilakukan usaha pe- ningkatan. Fikiran yang berat sebelah, yang memerahkan salahsatu dari kedua usaha itu atau yang menganggap bah- wa ke-dua-duanya tidak dapat berjalan secara simultan ada- lah salah dan harus kita lempangkan.

Sesudah jelas untuk siapa sastra dan seni revolusioner kita baktikan, maka jelas pula bagi kita, bahwa popularisasi yang kita maksud adalah mempopulerkan sastra dan seni kepada kaum buruh, tani dan prajurit. Demikian pula peningkatannya kita tujukan untuk meningkatkan taraf sastra dan seni mereka.

Sudah barangtuntu yang harus kita populerkan bukanlah sesuatu yang hanya kita kehendaki sendiri, yang hanya kita mengerti sendiri dan yang hanya kita suka sendiri, melainkan sastra dan seni yang dikehendaki, dimengerti dan disukai oleh massa buruh, tani dan prajurit. Demikian pula peningkatan yang kita lakukan disatu fihak harus kita dasarkan pada taraf massa buruh, tani dan prajurit dan difiliskan lain harus kita juruskam ke arah tuyuan buruh, tani dan prajurit, yaitu arah yang dituyu oleh proletariat. Popularisasi Maupun peningkatan yang tidak demikian tidak akan mencapai tuyuan pengabdian kita.

Pekerjaan popularisasi dan peningkatan tidak mungkin dipisahkan. Popularisasi tanpa peningkatan sama dengan mandeg, sedangkan peningkatan tanpa popularisasi sama dengan me-layang-layang tanpa landasan. Karenaan, kedua-duanya harus kita hubungkan dengan baik. Popularisasi yane kita lakukan harus dibimbing oleh usaha peningkatan, peningkatan yang kita yalankan haruslah berlandaskan popularisasi. Dengan demikian kedua usaha itu bukan sadar tidak bertentangan, tetapi bahkan saling mendorong dan menyeyukat.

Kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah, bahwa diri rakyat tidak semangat revolusioner dan kesedaran politik Rakyat pekerya adalah sangat tinggi, sedangkan tingkat kebuddhaannya pada umumnya masih rendah, bukan masih banyak di antara mereka yang butahuruf. Yang paling mendesak untuk mereka bukanlah karya-karya yang rumit dan sulit, melainkan karya-karya yang populer, sederhana dan mudah dimengerti. Oleh karenanaya, dalam hubungan ini perlu dintentukan penggarapan kita terhadap jenis-jenis kesenian yang mudah mencapai massa, termasuk massa yang butahuruf, dengan tidak mengurangi perhatian kita dalam menggarap jenis-jenis kesenian lainnya. Seperti sudah diuraikan di muka, drama termasuk yang paling memenuhi keperluan ini. Diuga ciergam, karikatur dan ciukilan-kayu memenuhi keperluan ini.

Drama tradisionil yang berbahasa daerah ternyata lebih merata sampai ke-desa3 Jika dibandingkan dengan drama modern Yi-kota- yang masih sangat terbatas itu. Sesuai dengan pengalaman kreatif Rakyat Indonesia, maka drama tradisionil perlu diperbaharu dan dipertinggi Bukan hanya teknik pemetaannya yang harus disempurnakan, du ga lakon4 yang dimumpan harus diperbaiki! Tidak cuukup hanya dengan merevolusionerkan lakon5 yang sudah ada, tetapi juga harus memyitapakn lakon6 baru yang melu kiskan kehidupan dan peryuangan Rakyat sekarang.

Adalah mengembarikan, bahwa Kongres BAKOKSI baru7 im telah secara bulat bertekad memperbaharu ke toptrak. agar menjadi senjata yang lebih ampuh di tangan Rakyat.

I lentang pembaharuan dibidang sastra dan seni memang kita8 tidak boleh gegah, lebih-lebih terhadap jenis-jenis sastra dan seni yang populer di kalangan Rakyat dan dicinial Rakyat tetapi im tidak berarti tidak mengadakan pembaharuan. Adalah tidak tepat bila kita berhenti memuaskan diri pada keadaannya yang sekarang sadia tanpa mengusahakan pemenuhan-pemenuhan. Sebaiknya, untuk waktu yang cuuk1 panjang, ke-dua-duania, baik yang lama Maupun yang sudah mengalami pembaharuan, dibiarakan hidup berdam pungan dan saling berlomba Dan diadikan Rakyat sebagai duti yang memutuskan mana yang mereka gemari dan mana yang tidak Dengan tara demikian ke-dua-duania akan lebih didwong untuk memenuhkan diri dan memper tersi pengabdiannya kepada Rakyat.

Masih ada kawan-kawan kita yang ngotot tidak mau meneri ma nembaruan, misalna dibidang pewayangan. Nampak nya mereka sayang dan tiunta betul pada wayang. Tetapi hakekatnya, sikap mereka rang kolot itu akan mematikan pewayangan. karena tanpa adanya pembaharuan, generasi se karang dan apalagi generasi-generasi kemudian makin tidak ter tarik pada wayang. penonton wayang akan makin lama makin berkurang. akhirnya tinggal yang tua-tua Dan diyaka yang tua-tua sudah mat semua maka habislah penonton wa yane ciunta-buta dari kawan-kawan yang kolot im harus dilawan dengan tidak'usah mengganggu kesenangannya, melainkan dengan memenpatkan yang sudah diperbaru di samping yang lama dan menarik mereka ber-angsur-angsur kepada tang sudah diperbaru itu Oleh karenanya yang baru atau yang sudah diperbaru barus lebih baik, lebih indah dan lebih tinggi mutu artistiknya daripada yang lama.

Mengenai drama modern, perlu diusahakan syarat-syarat yang memungkinkan drama itu dapat lebih cetap masuk ke-desa-desa, ke-perkebunan3 dan perkampungan-perkampungan kaum buruh, misalnya dengan penyusunan repertoar-repertoar drama yang ber-temakan kehidupan dan perjuangan Rakyat sekarang, baik dalam bahasa daerah Maupun dalam bahasa Indo-nesia. Selain daripada itu, baik untuk drama tradisionil Maupun modern, supaya diutamakan pementasan dipang-gung-panggung terbuka, agar lebih bersifat massal, lebih mudah penyelenggaraanya dan lebih murah biayanya de-ngan tidak meninggalkan usaha peningkatan mutu kese-niannya. Inilah yang di kalangan pekeryda kebora (kebu-dayaan dan olahraga) SOBSI dikenal dengan “4 M” (Massal, Mudah, Murah dan Meninggi).

Dalam hubungan dengan drama, terutama untuk men-jamin berhaslinya usaha-usaha pembuaran dan peningkatannya, sangat diperlukan bantuan para sastrawan guna menulis-kan repertoar-repertoar drama yang diperlukan. Bila tidak demi-kan, tentulah usaha-usaha pembuaran dan peningkatan akan menghadapi kesulitan-kesulitan karena ketiadaan repertoar-repertoar yang sesuai dengan makin meningkatnya tuntutan perjuangan Rakyat.

Usaha-Usaha popularisasi Maupun peningkatan hanya dapat dilakukan oleh sastrawan dan seniman revolusioner bila mereka mengintegrasikan fikiran, perasaan dan tindakan-nya dengan massa buruh, tani dan prajurit. Tanpa ber-buat demikian tidak mungkin mereka mentiptakkan sastra dan seni tentang kehidupan dan perjuangan buruh, tani dan prajurit secara tepat. Mereka disatu fihak harus ter-jun ke-tengah-tengah massa, memanaskan diri dalam api per-juangan massa, dan dengan rendahhati belajar dari massa agar kemudian dapat menjadi pendidik massa yang baik. Inilah azas dari massa kembali kemassa. Di-fihak lain sastrawan dan seniman revolusioner harus terus-menerus meningkatkan pengetahuannya, terutama penge-tahuan tentang Marxisme-Leninisme dan pengetahuan tentang pentiptakan sastra dan seni, sehingga mereka lebih mampu mentiptakan karya-karya baru yang tidak hanya tinggi mutu ideologinya tetapi juga tinggi mutu artistiknya. Pendeknya, sastrawan dan seniman revolusioner juga harus melaksanakan semboyan belajar dan bekerja “Tahu Marxisme dan kenal keadaan”.

Sastra dan seni revolusioner merupakan satu bagian dari usaha revolusi seluruhnya, bagian yang mutlak diper-lukan, bagian yang aktif mendorong usaha-usaha revolusi, ba-gian yang ikut menentukan jalannya revolusi. Tugas ini akan dapat dipenuhi bila sastra dan seni revolusioner mengintegrasikan diri dengan tugas-tugas politik yang kongkrit. Ini berarti bahwa prinsip “politik adalah panglima” juga berlaku bagi sastra dan seni revolusioner.

Oleh karena itu, bagi kaum Komunis, tanpa mengakui pimpinan Partai, sastra dan seni revolusioner tidak mung-kin menjadi alat revolusi yang terkordinasi baik dengan semua kegiatan revolusioner.

Menerima pimpinan Partai berarti sedar menyadikan diri sebagai sastrawan dan seniman revolusioner yang konsekwenn antiimperialisme dan antifeodalisme. Dan lebih dari itu harus menyapkan diri untuk menempuh se-gala bentuk perjuangan yang Bagaimanapun beratnya dalam merebut dua benteng, baik benteng nasional-de-mokratis dalam tahap pertama Maupun benteng sosialis dalam tahap kedua revolusi kita. Kesiapsiagaan ini menun-tut kepada setiap sastrawan dan seniman revolusioner untuk lebih-lebih lagi dan terus-menerus mengintensifikan pem-bajaan-diri dan pendidikan-diri.


III

PENGINTEGRASIAN SASTRAWAN DAN SENIMAN DENGAN MASSA RAKYAT PEKERJA MERUPAKAN SYARAT MUTLAK DALAM MELAKSANAKAN GARIS POLITIK YANG TEPAT DENGAN PENUANGAN DALAM BENTUK ARTISTIK YANG TINGGI

Sebagai pencerminan keadaan masyarakat Indonesia yang belum merdeka penuh dan masih setengah teodal, maka dominasi dibidang kebudayaan sekarang masih berada pada kaum imperialis dan feudal serta kakitangan'inya. Sudah barangtentu dengan makin meningkatnya aksi-aksi massa melawan imperialisme, melawan kaum komprador, kapitalis birokrat dan 7 setan desa, secara ber-angsur-angsur musuh-musuh Rakyat makin terdesak dan pimpinan proletarit dibidang kebudayaan makin diperkuat. Tugas kita ialah terus mendesak kedudukan kaum imperialis dan kaum feudal serta kakitangan'inya dan terus memperkuat pimpinan proletariat menuyu dominasi Rakyat dibidang politik sebagai syarat mutlak untuk menegakkan dominasi Rakyat dibidang kebudayaan. Ini antara lain berarti bahwa kita harus terus-menerus memperkuat kedudukan sastra dan seni yang memihak dan membela Rakyat pekerja, terus-menerus memperkuat pimpinan proletariat dibidang sastra dan seni.

Sejak Kongres Nasionalna yang ke-VI (1959), Partai kita telah menyimpulkan bahwa imperialisme Amerika Serikat telah melakukan agresi kebudayaan terutama dibidang film, musik dan lektur. Presiden Sukarno pada Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1959 di Surabaya telah menyeruk untuk melawan kebudayaan imperialisme yang gila-gilaan seperti rock ‘n roll, musik ngak-ngak-ngok, textbook thinking dll. Dalam Kongres Nasional ke-VI itu juga telah kita rumuskan bahwa kaum reaksioner makin sulit memukul PKY dari segi politik, karena begitu satu-nya Program dan politik PKY dengan kepentingan paling vital seluruh Rakyat dan nasion Indonesia. Oleh karena itu mereka terus-menerus mencoba menyerang PKY dari segi ideologi. Dalam serangan ideologi itu inti ideologi kebudayaan imperialis bertemu pada satu titik yang sama dengan expresi kebudayaan kaum revisionis modern, karena ke-dua-duanya berusaha melemahkan jiwa dan semangat revolusioner Rakyat.

Akibat politik impor Dewan Film Indonesia yang meng-anak-emaskan AMPAI, artinya menganak-emaskan film-film Amerika Serikat, pintu bagi agresi kebudayaan imperialis Amerika Serikat lewat film telah dibuka lebar-lebar. Penetrasi imperialis dijalankan dengan pembandiyiran film-film dekaden, cabul, penyebar naluri kebinatangan, sifat-sifat antidemokrasi, diskriminasi rasial, cross-boy-isme, gangsterisme, rambut sasak dan rambut gondrol (beatle) serta usaha lain-lain untuk memisahkan Rakyat dari tradisi revolusioner dan perjuangan revolusioner. Pembandiyiran piringhtam brengsek telah menimbulkan penyakit dalam masyarakat. Rock ‘n roll, dansa monyet seperti twist dan climb telah merusak kehidupan sebagia pemuda dan pelajar kita. Lagu-Lagu brengsek telah menusup ke dalam kegiatan musik “babi-cincang”, yaitu semacam band bocah, dan'musik’ daerah. Musik sangat erat-erat hubungannya dengan tari, sehingga agresi imperialis dibidang musik diu-diu berarti agresi dibidang tari.

Agresi ideologi melewati lektur kita rasakan dalam malahan-malahan berbahasa Indonesia yang menyebarkan ke-isengan, humanisme universal, kosmopolitanisme, nihilisme nasional, pasifisme dan ‘kebedayatan moral yang hakekatnya hendak melututi ideologi revolusioner Rakyat. Abstraksionisme di lapangan sastra dan seni adalah bagian dari bentuk-bentuk agresi kebudayaan imperialis yang dilakukan melewati aparat-aparat seperti USIS, Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, Field Service, Peace Corps, Foundation, Library, afiliasi dll. Sensationalisme dan “pahlawan perseorangan” sebagai petualang tidak hanya mereka salurkan lewat film dan lektur, tetapi juga lewat strips, komiks, ilustrasi, iklan, reklame, slides dll.

Dalam riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani ‘di seluruh Jawa yang saya lakukan pada bulan-bulan Februari, Maret, April dan Mei tahun ini, terbukti bahwa agresi kebudayaan imperialis, terutama imperialis AS, juga telah menusup ke-desa-desa dengan dukungan kaum komprador, kapitalis birokrat dan tuantahan melalui makin ter-sebaranya radio, pick-up, radio-transistor dan malahan-malahan berbahasa Indonesia yang menjadiakan kebejatan moral, Ataupun melewati band-band gaya ngak-ngik-ngok. Kebejatan “cara hidup Amerika Serikat” (American way of life) berdiyalin dengan kemaksitarian feudal dalam wyudud 5 M (Maling, Melacur, Mainjudi, Madat dan Minum mabuk-mabuk-an). Oleh karena itu melawan agresi kebudayaan imperialis AS harus disatukan dengan kemaksitarian kaum feudal, kaum komprador dan kaum kapitalis birokrat.

Dalam situasi kebudayaan di Indonesia sekarang kita menghadapi tiga konsep sebagai penyerneriman sikap politik dari tiga kekuatan, yaitu kekuatan kepalaabatu, kekuatan tengah dan kekuatan progresif.

Kaum kepalaabatu atau kaum reaksioner, adalah pendukung, penyebar dan pembela sastra dan seni dekaden imperialis, terutama imperialis Amerika Serikat, serta sastra, seni dan kemaksitarian feudal (5 M). Mereka adalay pembiaya kegiatan-kegiatan kemaksitarian baik terbuka Maupun bersembunyi-semubuni. Mereka adalah penentang-penentang setiap aksi baik yang memukul agresi kebudayaan imperialis AS dan kemaksitarian, Maupun kegiatan massa untuk melaksanakan Gerakan Kebudayaan Baru. Contoh yang paling hidup dalam hal ini adalah kaum Manikebus.

Kaum tengah, terutama syaip kirinya bersikap patriotik, melawan kebudayaan imperialis dan mau bekeryasama dengan pckerdiya-pckerdiya sastra dan seni progresif. Tetapi mereka juga masih mengeloni kemaksitarian feudal seluruhnya atau sebagian, berhubungan dengan sifat burdiyus Indonesia yang masih berdiri dengan satu kakinya di atas exploitasi feudal. Mereka juga misalnya menganggap bahwa kerja Ataupun pekerya itu “hina”, dan hal ini tercermin juga dalam estetika mereka.

Kaum progresif yang bertulangpunggungkan sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman Komunis adalah golongan yang paling konsekwen melaksanakan perjuangan untuk melikwidasi kebudayaan imperialis dan kebudayaan feudal, serta untuk membela dan memenangkan kebudayaan Rakyat. Pemilihan sepenuhnya kepada perjuangan kaum buruh dan kaum tani, terutama tanimiskin dan buruhutani, bagi mereka adalay ukuran krevolutioneran pekerya sastra dan seni.

Seperti juga di lapangan politik, di lapangan kebudayaan sekarang kekuatan kepalaabatu makin terpentil. Front kebudayaan antiimperialis dan antifeodal makin terkon- solidasi. Tetapi jika dibandingkan dengan kemenangan-kemenangan dibidang politik, ofensi revolusioner di lapangan sastra dan seni masih belum memadai, terutama dalam bidang kreasi.

Kalu kita rumuskan setiara singkat, maka situasi kebudayaan sekarang adalah sbh.: Kebudayaan reaksioner sedang berada dalam keadaan makin bangkrui sebagai bagian dari kebangkrutan politik reaksi pada umumnya. Semangat Rakyat melawan kebudayaan imperialis dan feudal makin menanjak, tetapi sastra dan seni revolusioner belum berkedudukan berdominasi, sesuai dengan keadaan perimbangan kekuatan klas yang nyata, sesuai dengan belum berdominasinya Rakyat dibidang politik. Susira dan semi revolusioner akti ambilbogian dalam usaha menegakkan dominasi Rakyat dibidang politik.

Di lapangan senilukis bisalah dikatakan pelukis-pelukis revolusioner memenapti kedudukan di depan, tetapi ini tidak berarti bahwa persoalan senilukis sudah kit menangkan sepenuhnya. Kemenangan- yang sudah dicapai harus terus kita konsolidasi dan kita kembangkan. Juga dalam bidang senipatung. Di lapangan senilukis dan senipatung kita dihadapkan kepada persoalan: Apakah cin nasional atau keprabidani nasional dalam senilukis Indonesia? Apakah prinsip revolusioner dalam isi dan nasional dalam bentuk sudah kita praktekkan se-baik-baiknya? Ini penting kita perhatikan agar kita tidak terjangkit nihilisme nasional, terutama dibidang senilukis.

Di lapangan poster ada kemajuan-kemajuan penting yang sudah dicapai, seperti juga dibidang senigratif (tukilan kayu, sketsa, ilustrasi, karikatur dll). Tetapi kemajuan-kemajuan ini masih belum memadai jika dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan dibidang politik dan meluasnya aksiz massa. Padahal senigratif nempunyai kemungkinan-kemungkinan pa ling baik untuk bisa tersebar seluas-luasnya di kalangan massa kaum buruh dan kaum tani dalam kondisi-kondisi mayarakat sekarang. Kelemahan di lapangan senigratif ini juga tercermin dalam kekurangan kita dibidang certia bergambar, yang sangat efektif untuk meningkatkan kesedaran massa yang masih butahuruf atau setengah butahuruf. Alat-Alat pendidikan visuil yang bersifat massal harus lebih intensif kita fikirkan dan kita perbaiki pengorganisasiannya. Dalam mengintensifkan alat-alat pendidikan visuil ini, senifoto juga dapat ikut memegang peranan yang penting. Walaupun untuk menyapai taraf “meluas dan meninggi” memerlukan “yarat” yang banyak, tapi baik de- lihat dari tingkat artistik yang ada sekarang Maupun di- lihat dari segi bertambahnya kegiatan secara kwantitet, sudah seharusnya kita mulai mengorganisasi dan mengem- bangkan senifoto kita. Foto-Foto tentang aksi-aksi revolusioner massa pasti dapat ikut menggugat, dan meningkatkan ke- sedaran massa. Pameran foto-foto revolusioner di-kota-kota dan di-desa-desa dapat membantu peryuangan revolusioner. Ke- majuan-majuan di lapangan dekorasi belum meluas. karena de- korator-korator kita belum merumuskan metode membuat deko- rasi yang baik, murah dan massal. Di lapangan kerayinan- tangan, termasuk keramik, kita belum memberi perhatian yang tukup.

Kegiatan mengubah tari baru akhir-akhir ini makin meluas. Hai ini sangat baik! Tari sangat erat-erat hubungannya dengan musik. Oleh karena itu merevolusionerkan tari, mau tidak mau harus disertai dengan pembaruan musik. karena tidak ada tari tanpa irangan musik. Di lapangan tari dalam mengubah tari baru, nampak ketiend: “ngan mengabaikan peninggalan-peninggalan teknik tari tradisionil yang bisa digunakan”. Sebaliknya ada pula ketiendrungan untuk menganggap segala yang baru tidak baik sehingga bersikap konservatif. Juga dalam musik daerah ada dua ketiendrungan yang kurang tepat itu. Dalam hal tari mau- pun musik daerah kita harus meneruskan tradisi denzan keberanian kreatif dalam mengadakan pembaruan. Mem- pelaji gerak tari folklor serta musiknya akan sa- ngat memperkaya kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah tari baru Hasil-Hasil karya di lapangan tari pada umumnya masih naturalistis, atau bahkan abstrak sehingga sulit ditangkap oleh massa. Sisa fikiran teodal masih tercermin dalam pengungkapan yang terlalu diliputi oleh gerak-gerak erosit, se- dangkan gerak kerja masih kurang dipelaji dan di- olah. Pembaruan tari harus juga berarti meneruskan tradisi yang dipadukan dengan memasukkan hasil studi tentang gerak kerja dan gerak diyang sesuai-sesuai dengan derap langkah gerakan revolusioner.

Di lapangan musik daerah dituntut keberanian kita me- lakukan aransemen-aransemen baru, orkestras-orkestras baru, serta meng- gali kemungkinan-kemungkinan kekayuan ritme dan melodi yang ada dalam kehidupan Rakyat. Kegiatan menyanyikan lagu-lagu Rakyat dengan suara modern harus kita perluas. Pen- baruuan musik daerah harus dipadukan dengan pelawanan terhadap pencarian efek-efek murah dan efek-efek mat-matan feudal, sehingga lebih mampu melukiskan peryuangan sekarang. Pengorganisasian paduansuara-paduansuara yang membawa- kan lagu-lagu daerah, lagu-lagu nasional dan lagu-lagu revolusioner harus dibuat diratakan tidak hanya di-kota-kota tetapi juga harus diluaskan sampai ke-desa-desa.

Selama ini film di Indonesia dikuasai oleh film-film impe- rialis AS melalui AMPA1 yang meliputi ± 75% dari se- luruh screen-time. Produksi film Indonesia masih terlalu kecil jumlahnya, banya meliputi sekitar satu sampai lima persen dari seluruh peredaran film. Dari hasil produksi itu pun masih terlalu kecil jumlah yang dapat dikatakan se- irama dengan kesedaran politik dan kebudayaan dikalang- an massa Rakyat dewasa ini. Oleh karena itu kita harus lebih mendorong dan berduyang untuk melindungi pro- duksi film nasional disatu fihak dan difihak lain lebih memperbanyak karya-karya film yang mencerminkan ofensif re- volusioner dan semangat revolusioner Rakyat pekerja. Kekurangan film sementara sebagai akibat boikot film-film AS lebih menuntut kepada kita untuk lebih banyak lagi memproduksi film-film nasional yang revolusioner dan indah. Adanya fikiran bahwa film yang progresif akan kehilangan pasarans sunguh tidak tepat. Fikiran demikian sama arti- nya dengan bersikap menganggap massa Rakyat “tetap bodoh”. Rakyat kita makin berkembang kesedaran politik dan kebudayaannya, dan perkembangan ini tidak ada yang dapat menghalanginyya.

Di lapangan sastra pernah kita mempersoalkan adanya “paceklik sastra”. Maksud kita dengan “paceklik sastra” berbeda samasekali dengan “krisis kesusastraan” yang dilantarkan kaum soska, yang mencerminkan krisis fikir- an mereka sendiri dan madiyakkanya yang sedang mengalami kebangkrutan ideologi dan politik. Timbulnya persoalan “paceklik sastra” adalah akibat kemayuan kesedaran politik dan tingkat kebudayaan kaum buruh, kaum tani dan Rakyat pekerya lainnya, sehingga hasil karya kurang memenuhi tuntutan massa yang lebih mayu. Seperti juga dalam proses dialektis, tiap kemayuan dan tiap keme- nangan menimbulkan kontradiksi baru, menimbulkan per- soalan baru, maka kemayuan massa menimbulkan kon- tradiksi antara tuntutan massa dengan kemampuan kreasi baik kwantitatif Maupun kwalitatif. Ini tidak berarti bah-wa semua hasil karya sastra yang ada adalah jelek. Tidak, samasekali tidak. Persoalanyna adalah bagaimana kita meningkatkan kemampuan kreasi dengan memperbesar barisan kreatif dan mempertinggi mutu ideologi dan artistik karya-karya para sastrawan kita.

Indonesia sebagai negeri agraris mempunyai ciiri, bahwa bentuk puisi merupakan kegiatan kreasi yang sangat meluas. Tetapi tidak cukup dengan meluas saja. Oleh karena itu harus dibarengi dengan usaha-usaha peningkatan atas dasar kegiatan meluas.

Sebaliknya perkembangan penulisan cerita pendek, essai, novel dan reportase literer sampai sekarang masih belum cukup meluas. Kita harus menyadari bahwa bentuk prosa lebih cept diterima oleh massa. Oleh karenanyen mengembangkan kegiatan penulisan cerpen, essai, novel dan reportase literer sangat penting. Ada fikiran bahwa kesulitan menulis hanya disebabkan karena kesulitan teknis saja. Hal ini sudah tentu tidak tepat. Banyak penulis-penulis yang sudah berpengalaman dan sudah menguasai teknik menulis juga masih mengalami kesulitan. Sesungguhnya kesulitan itu timbul oleh karena tidak menguasai bahan dan persoalan sehingga tidak mungkin timbul rangsang yang wajib untuk menulis. Jadi persoalanyna bagaimana lebih banyak mengenal kehidupan massa dengan mengintegrasikan diri dengan massa, mengetahui dan menguasai benar-benar kontradiksi-kontradiksi yang terdapat dalam kehidupan massa, di samping penguasaan teknik menulis.

Kehidupan kritik sastra menunjukkan bahwa di lapangan sastra pun kita harus berjalan dengan dua kaki, yaitu memadukan kerja kobar dan kerja tekun. Di samping masih adanya sikap kader kita yang tidak tepat terhadap kritik, antara lain menganggap kritik sastra bukan sebagai kreasi, kritik sastra masih mengandung kelemahan terutama disebabkan karena masih lemahnya segi kerja tekun dan ilmiah. Sebaliknya, penulis kritik sastra yang hanya bertekun dan tenggelam dalam buku-buku saja, tidak ikut dalam kehangatan kehidupan revolusioner akan menyebabkan metode kritiknya formalisits. Dalam hubungan dengan kritik sastra saya minta perhatian supaya karya-karya sastrawan-sastrawan muda mendapat perhatian cukup dari kritikus-kritikus sastra kita, jangan sampai terjadi yang muda merasa “di-gagahi” oleh yang tua sedangkan yang tua “beku kreasi”. Peranan membimbing dari kritikus-kritikus sastra terhadap sastra- wan-wan muda supaya lebih dirasakan.

Salahsatu kelemahan yang agak menyolok nampak pada kegiatan penulisan repertoar drama dan skenario film. Kemayuan film dan drama sangat rapat hubungannya dengan kegiatan penulisan repertoar drama dan skenario. Oleh karena itu memadukan kegiatan sastra dengan bidang-bidang lain sangat penting.

Sudah sejak agak lama timbul kesedaran pada sastrawan-sastrawan revolusioner bahwa mereka “berhubung” kepada revolusi karena belum mengadakan penulisan yang memadai tentang Revolusi Agustus 1945. Timbulnya kesedaran ini sangat penting, karena ia dapat mendorong untuk melangkah lebih mayu. Tetapi yang lebih penting lagi ialah membayar “hutang” itu, karena kalau tidak hutang-hutang baru akan menyusul. Dan kalau terus tidak membayar maka jurusita akan datang membawa vonis kebangkrutan. Mungkin kata-kata saya ini terlalu “keras”, tetapi sungguh kita ingin memiliki karya-karya sastra dan seni yang monumenital, tidak hanya tentang Revolusi Agustus, tetapi juga tentang kepahlawanan-kepahlawanan dalam peryuangan Rakyat sebelum dan sesudah Agustus ‘45.

Dalam Sidang Pleno ke-II CC Kongres ke-VII, telah disimpulkan pentingnya mengembangkan kegiatan drama, sebab drama adalah kesenian yang dapat cept sampai kemassa, termasuk yang masih butuhuruf. Negeri kita memiliki tradisi drama yang tua, seperti kita lihat pada pe-wayangan. Pada umumnya, seperti sudah saya uraikan di-muka drama daerah adalah perkembangan lebih lanyut dari folklor, yang berpadu dengan perkembangan kesedaran politik massa pada abad ke-20. Drama daerah pada umumnya adalah drama kaum tani. Kelemahannya yang pokok terletak terutama pada belum bersihnya pengaruh dan pemujian feudal dalam cerita. Mengembangkan drama daerah harus berprinsip pada pembuatan isi sesuai dengan garis klas yang menterminkan peryuangan kaum tani sekarang sambil meneruskan tradisi. Dengan demikian pembuatan drama daerah tidak berarti penyatuan dari akar tradisi, melainkan justru setia kepada tradisinya, memelihara sifat-sifat khusunsya yang tidak menyemput dan dongan isi yang baru. Fikiran yang menganggap bahwa dengan merevolutionerkan drama daerah akan membuat drama daerah menghadapi kesulitan “pasaran” adalah tidak tepat. Justru dengan pembuatan ini dan pe-ningkatan teknik atas dasar penerusan tradisi, akan membuat drama daerah lebih tinggi mutunya dan lebih luas penggemarnya. Sesuatu yang lebih baik tidak akan ditolak oleh Rakyat. Kemungkinan pembuatan diyuga tidak tertutup pada ludruk, wayang-orang, gambuh, arja, topeng, abdulmuluk, randai, sandiwarra Sunda, lenong dll. Sudah tentu masing-masing mempunyai kemungkinan dan kesulitan-nya. Tetapi di manakah ada kemudahan-taupa kesulitan? Kontradiksi antara kemudahan-dan kesulitan adalah wayid dan akan selalu ada. Bentuk-Bentuk drama pada umumnya dapat kita bedakan dengan pengertian, bahwa ditindau dari sudut penggunaan bahasa, kita menjumpai drama daerah dan drama nasional. Diyika kita tindau dari teknik pementasannya, maka kita melihat ada penggunaan teknik klasik atau tradisional dan teknik modern. Segala bentuk harus kita gunakan dan kembangkan sesuai dengan tuntutan massa yang makin meningkat. Kita harus meningkatkan pengetahuan eorii pekerya-pekerya drama daerah, seperti pengetahuan tentang prinsip-prinsip drama, pelakonan, penggunaan bahasa dalam dialog, penggunaan tar, gerak mimik dan musik dalam drama serta tataarsin lampu, dekorasi dan komposisi panggung dsb. Oleh karena itu perhatian dan bantuan kepada kegiatan drama daerah harus lebih diintensifkan, misalnya mengenai riset, pengorganisasian, pementasan dll. Diyika kita berbicara tentang kesenian kaum tani, maka drama daerah adalah salahsatu bentuk kesenian kaum tani dan merupakan senjata paling ampuh bagi perjuangan kaum tani.

Dalam rangka pembaruan drama daerah sangat penting bantuan para sastrawan untuk penulisan repertoar. Mengenai pembaruan drama daerah harus kita pegang teguh prinsip setia kepada garis klas dan mengembangkan ciri pokoknya sebagai drama daerah, atau dengan kata lain meneruskan tradisi dan memadukannya dengan kekini-an revolusioner. Untuk mengembangkan tradisi kita harus mempelayari bentuk-bentuk kesenian yang berhubungan dengan drama daerah. Karenanya kegiatan mempelayari folklor dan kegiatan riset ‘libidang folklor barus dikembangkan. Pembaruan hanya mungkin diyika kita mengenal hari-mi, artinya mengenal dan ikut merasakan kehangatan perjuangan revolusioner. dan mengenal Marxisme-Leninisme serta kondisi-kondisi khusus dan sejarah Rakyat Indonesia.

Seperti sudah saya singgung di muka, mengenal pewayangan masih ada anggapan bahwa wayang tidak bisa diperbarui. Sikap yang menganggap setara mutlak bahwa tidak mungkin diadakan pembaruan pada pewayangan sungguh bukan sikap dialektis. Dalam sejarahnya wayang memang suatu “filsafat yang diwuyudkan dalam kehidupan”, artinya suatu konsep filsafat yang terkandung dalam Mahabharata atau Ramayana yang diramalan Perwuyudan wayang itu sendiri adalah spesifik Indonesia. karena bentuk kesenian wayang seperti yang kita temukan di Indonesia tidak dikenal di India tempat kelahiran Mahabharata dan Ramayana. Ini juga menundukkan bahwa dasar-dasar filsafat yang terkandung dalam Mahabharata dan Ramayana tidak sepenuhnya sama diwuyudkan dalam pendramaan pewayangan. Artinya pewayangan dinahair kita merupakan perwuyudan Mahabharata dan Ramayana yang sudah di-Indonesiasikan, disesuaikan dengan struktur masyarakat feudal pada waktu itu, dan bahkan pada waktu sekarang di mana basis ideologi feudal masih ada dinahair kita.

Soal pembaruan bukan soal perombakan total yang berarti membuang samasekalai tradisi. Sebagai juga hari ini adalah perkembangan proses melewati kontradiksi-kontradiksi dari masalampau dan diyuga akan berkembang membentuk haridepannya, maka sikap mempertahankan wayang tetap seperti “apa adanya” adalah sikap konservatif. Seperti sudah saia uraikan di muka, sikap demikian justru akan membuat pewayangan menjadi tidak lagi disukai Rakyat, karena Rakyat itu sendiri maju dan generasi-generasi baru terus lahir. Kehidupan itu sendiri adalah perubahan terus-menerus. Diyadi soalnya bukan terletak pada bisa atau tidak diperbarui, melainkan bagaimana tiara kita mengadakan pembaruan. Sekali lagi saya tekankan, bahwa mengadakan pembaruan segala bentuk kesenian lang populer dan sanpai disukai Rakyat tidak boleh gegabah.

Pendangkalan dan perkosaan dalam “pembaruan” yang memimpang dari kenyataan sejarah. seperti memasukkan faham-faham dan semboyan-semboyan politik modern ke dalam mutut tokoh-tokoh dalam pewayangan yang terang tidak pada tempatnya dan antisejarah, barus kita tegah Dengan demikian dapat kita tegah sikap vulgar dan sembrono terhadap pembaruan. Dan bersamaan dengan itu kita melawan sikap yang konservatif, yang tidak dialektis, karena menolak perkembangan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Kalau kita persoalkan tentang konsepsi, adakah kese- nian yang tidak membawakan konsepsi? Soalnya konsepsi apa yang dibawakan? Atau segi apa yang dibawakan dalam suatu pelukisan kontradiksi?

Bentuk-Bentuk tradisionil yang sudah lama mempengaruhi Rakyat, misalnya wayang, mungkin digunakan secara baru dengan isi baru. Dalam menuangkan isi baru dengan menggunakan bentuk tradisionil, sudah pasti akan menghadapi kesulitan, misalnya di dalam segi visuil. Karena kita sudah biasa melihat garis-garis bentuk wayang yang sangat halus, mempertundukkan wayang dengan garis visuil, yang kasar sudah tentu akan menimbulkan rasa aneh pada Rakyat. Isi baru dengan tokel-tokel baru memerlukan suatu studi tipe-tipe dan watok-watok manusia dengan garis3 visuil wayang. Ini memang sulit, tetapi pasti dapat diatasi melalui kesungguhan dan ketelatenan penggarapan.

Dalam memadukan drama nasional, artinya drama yang menggunakan bahasa Indonesia serta menggunakan teknik modern (bukan tradisionil), pada pokoknya kita harus memperbanyak repertoar yang benar-benar melaksanakan garis klas, yang benar-benar realis, revolusioner dan artistik. Dalam kegiatan drama banyak fikiran yang terpancang pada kesulitan-kesulitan dekorasi, artinya kesulitan-kesulitan materii. Padahal, yang terpokok dalam drama adalah pelakonan cerita serta kuat dalam dialog dan gerak mimik. Diyika ini sudah dipenuhi keberanian pementasan dalam bentuk arena dipanggung-panggung terbuka, di halaman rumah, dipabrik, di sawah, ditempatkerya, pokoknya di mana saja dimungkinkan, harus kita kembangkan. Kita harus dengan penuh semangat mengembangkan drama nasional, misalnya paling sedikit satu rombongan di tiap kota. Ini akan sangat penting artinya bagi perkembangan drama nasional kita. Tetapi, untuk kuntinyna adalah repertoar, karena tanpa repertoar tidak mungkin dipentaskan suatu drama.

Setelah menelaah situasi sastra dan seni sekarang, maka persoalanyna adalah bagaimana kita memperkuat dan memperbesar barisan kreatif, memperbanyak karya yang tinggi mutu ideologi dan mutu artistiknya, sehingga sesuai dengan tuntutan massa yang makin meningkat dan dapat memperkuat oyenis revolusioner atau oyenis Manipolis dibidang kebudayaan.

Seperti sudah saya kemukakan dalam Konferensi Nasional ke-I PKI belum lama berselang, berbicara tentang kader-kader PKI, juga kader-kader PKI dibidang sastra dan seni, mereka pada umumnya adalah baik. Mereka mempunyai kecintuan terhadap Rakyat pekerya dan revolusi, mereka sudah berfikir dan berfikir pada yang tepat, pada yang sedang tumbuh dan yang menjadi pemilik haridepan.

Tetapi berbicara secara khusus mengenai kekurangan-kekurangan yang masih ada, kita pernah menyumpikan bahwa di kalangan kader-kader sastrawan dan seniman kita masih terdapat kawan-kawan yang kena penyatik “ngelonii ideologi burjuis keci”. Mereka mencitai kaum buruh dan kaum tani bukan karena mereka sudah sungguh-sungguh menjadi bagian dari Rakyat pekerya, tetapi karena didorong oleh rasa belas kasihan intelektuul melihat penderitaan kaum buruh dan kaum tani. Titiktolak mereka dalam memandang sesuatu adalah titiktolak burjuis keci. Ciptaan mereka pun, Sekalipun mereka menulis tentang kaum buruh, buruhutani atau tanimiskin, pada hakekatnya ditujukan untuk memenuhi selera burjuis keci. Ketika sedang mencipta mereka diliputi oleh kekuatuan kalau4 si Anu dan si Fulan, maksudnya si Anu dan si Fulan burjuis keci, tidak senang dengan buah ciptaannya. Orientasi mereka belum orientasi proletariat. Kawan-Kawan yang demikian masih ada dan dalam waktu yang panjang terus akan ada di dalam Partai kita, karena pintu Partai kita akan terus terbuka bagi mereka yang bukan berasal dari proletariat, termasuk sastrawan dan senimaanya..

Pada umumnya kader-kader sastrawan dan seniman kita sudah melalui fase cinta yang dangkal kepada kaum buruh, tani, prajurit dan Rakyat pekerya lainnya. Tetapi untuk menghasilkan karya yang tinggi mutu ideologi dan mutu artistiknya mereka harus meningkatkan rasa cintanya menjadi cinta sejati, cinta yang dibawa mati, cinta yang nendalam yang memimbulkan rindu-dendam kepada kaum buruh, tani, prajurit dan Rakyat pekerya lainnya. Rasa cinta yang demikian ini harus terus-menerus ditanamkan dan diusahakan untuk memilikinya. Para sastrawan dan seniman kita harus terus bertanya pada dirinya, apakah mereka sudah marah dan me-maki-maki serta bangkit semangat perlawannanya kalau Rakyat pekerya diganggu, dibina dan di-injak-injak orang? Ataukah masih acuh-tak-acuh dan bersikap dingin serta merasa bahwa itu bukan urusannya?

Apakah benar bahwa antara dirinya sudah tidak ada lagi yarak pemisah dengan kaum buruh, kaum tani dan prajurit? Semuanya ini adalah soal ideologi, yang harus terus menerus diasah agar benar-benar seperasaan dan sefikiran dengan Rakyat pekerya. Memadukan perasaan dan fikiran dengan Rakyat pekerya banyalah mungkin diika kita mengintegrasikan diri dengan mereka. Dan pengintegrasian itu banyia mungkin diika kita membahasakan diri turun ke bawah ikut merasakan penghidupan mereka serta melakukan riset dengan senjata Marxisme-Leninisme. Tanpa senjata Marxisme-Leninisme turun ke bawah tidak akan banyak artinya, karena tidak akan mungkin mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi yang tidak mudah kelihatan, apalagi kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalam perasaan dan fikiran massa. Tanpa mamahami kontradiksi-kontradiksi tidak mungkin mengenal keadaan.

Berbitiyara tentang memperkuat pimpinan proletariat dan tentang dominasi Rakyat dibidang kebudayaan, tetapi tidak mengintegrasikan diri dengan kaum tani, yang merupakan mayorit Rakyat Indonesia adalah omongkosong. Juga mempersoalkan keprabidan nasional tanpa mengintegrasikan diri dengan bagian terbesar dari nasion Indonesia dan kekuatan pokok revolusi Indonesia adalah juga omongkosong. Lebih tandasnya, masalah mengintegrasikan diri dengan kaum tani pada hakekatnya adalah masalah memahak revolusi, dan oleh karenanya bukan soal mudah. Menghendaki ketek1nian, ketelatenan, tekad yang bulat dan kuat Tidak ada jalan lain, diika benar mau memihak revolusi.

Pengintegrasian pertama-tama harus diartikan peneintegrasi-peneintegrasian dalam perasaan fikiran dan dengan kaum tani, yaitu menyatukan fikiran dan perasaan dengan tuntutan-tuntutan dan aspirasi-aspirasi revolusioner kaum tani dalam perjuangannya untuk membebaskan diri.

Pemihakan pada penyelesaian tuntutan-tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar-akarnya pada hakekatnya tidak bisa lain darimada perestudian pada pelaksanaan landreform secara radikal, yaitu penghapusan sistim feudal atau penghisapan tuanah atas kaum tani dengan jalan mensita tanah tuanah-tuanah, membagikannya dengan cuma-cuma kepada kaum tani, terutama buruhntani dan tanimiskin dan kehuarganya secara seorang-seorang. Bagi sastrawan dan seniman Komunis, juga bagi sastrawan dan seniman lain yang konsekwenn revolusioner, semuanya ini bukanlah yang teracur, tetapi harus dilanyutkan dengan pengkoperasian pertanian secara sosialis. Tanpa melalui pelaksanaan landreform yang radikal seperti yang dimaksudkan oleh kaum Komunis tidaklah mungkin kita sampai ke Sosialisme.

Pengintegrasian perasaan dan fikiran dapat dilakukan melalui dua jalan, yaitu jalan tidak langsung: melalui tulisan-tulisan atau laporan-laporan lisian kader-kader yang memimpin massa; dan yang langsung, yaitu datang sendiri di-tengah-tengah massa. Untuk perkembangan seniman dan sastrawan dalam keryia kreatifnya jalan yang paling baik, supaya hasil karyanya hidup, ialah jalan pengintegrasian secara langsung hidup di-tengah-tengah massa Rakyat pekerya dan mengambil bagian dalam proses produksi dalam masa waktu tertentu. Kehidupan adalah perubahan semantisa, adalah praktek produksi dan praktek perjuangan klas yang kompleks dan penuh warna. Mengambil jarak dengan kehidupan bagi sastrawan dan seniman akan berarti meluci dirinya dari kanyataan yang hidup, dari sumber kreasii, dan warna kehidupan.

Pada hakekatnya kedalaman rasa cinia kita kepada kerdia, kepada perjuangan kaum buruh, kaum tani, prajurit dan Rakyat pekerya lainnya hanya bisa kita perlapat diika kita melakukan pengintegrasian secara langsung.

Cinia kepada klas bukanlah cinia yang abstrak, kebenyian kepada musuh bukanlah kebenyian yang abstrak, dan kedalaman rasa cinia dan rasabenci kita temukan dalam pergulatan kehidupan se-hari-hari, dalam praktek produksi dan praktek perjuangan klas.

Kebencian yang mendalam kepada musuh-musuh Rakyat tidak tumbuh atas dasar prasangka-prasangka melainkan atas dasar apa yang diketahui dan dirasakan sendiri kedayhatan musuh-musuh Rakyat, karena dirinya mengalami sendiri apa itu penghisapan, penindasan dan ketidakadilan.

Pengeintegrasi-Pengeintegrasian diri para sastrawan dan seniman berarti mengintegrasikan subyek sastrawan dan seniman dengan kecintaan dan kebenyian massa dalam perjuangannya untuk membebaskan diri. Hanya dengan integrasi itu kita akan merasakan secara mandalain apa arti massa Rakyat pekerya sebagai pentiypta sejarah, di-samping arti manusia sebagai produk sejarah. Kita akan melihat langsung bahwa massa bukan hanya obyek tetapi juga kreator-kreator yang aktif, yang hidup dan bergulat dengan sekitar yang merintangi kemajuannya. Warna kehidupan akan dapat kita lukiskan bukan seperti seorang yang buta-warna, tetapi benar-benar berlandaskan kehidupan. Kekayuan pembayangan juga akan kita peroleh dari kekuatan dan kekayuan fantasi massa yang tidak ada batas dan tarianya. Semuanya itu akan menjamin kemampuan para sastrawan dan seniman kita untuk secara realis mencerminikan kehidupan dan perjuangan massa. Malahan lebih dari itu, karya-karya mereka akan lebih hidup, lebih segar dan lebih indah dari realitet itu sendiri, sehingga memiliki kemampuan menggugah dan membakarikin massa untuk berjuang guna menyapai yang lebih tinggi. Sebaliknya jika tidak demikian, karya-karya sastrawan dan seniman kita akan tidak manpu memobilisasi dan mendiywai massa, karena pencerminan kehidupan akan demikian pucat dan demikian miskinnya, tanpa jiwa dan tanpa api. Dengan karya-karya sastra dan seni kita tidak hanya sekedar mencerminikan realitet tetapi mendorong dan mengubahbaha menjadi lebih mayu.

Kita pernah mempersoalkan bagaimana cara sebaik-baiknya mengabdiakan hasil-hasil karya kepada massa Rakyat. Dan pernah juga kita simpulkan bahwa kader adalah pemimpin-pemimpin massa, karenanya untuk menyapai massa Rakyat, tanpa memperhatikan kader-kader revolusioner sulit dibayangkan. Kita ambil yonton diaplangan sastra. Massa Rakyat masih banyak yang butahuruf atau setengah butahuruf. Oleh karena itu massa Rakyat pun masih menghadapi kesulitan membata, di samping yumlah (oplah) penerbitan buku juga belum cukup besar, sehingga belum bisa menjangkau massa luas. Apa artinya yumlah oplah 10.000 sampai 20.000 jika kita bandingkan dengan puluhan juta penduduk Indonesia yang sudah tidak butahuruf lagi? Pun tidak sepadan jika kita bandingkan dengan yumlah kader PKI dan ormasrev semua tingkat yang ratusanribu jumlahna.

Kalau kader-kader revolusioner kita mengenal hasil-hasil karya seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan revolusioner, ini berarti, entah bagaimana dan dalam bentuk apa, karya-karya itu akan juga sampai kepada massa yang dipimpinnya. Oleh karena itu ukuran yang paling praktis pada taraf sekarang adalah, seberapa jauh kader-kader gerakan revolusioner sudah mengenal dan bisa mengerti hasil-hasil karya sastrawan-sastrawan dan seniman-senimannia. Kalau karya sastrawan dan seniman revolusioner ‘tidak bisa dimengerti oleh kader-kader revolusioner, lebih-lebih lagi oleh massa luas, karena betapa pun kader-kader itu lebih tinggi tingkat kesedaran politik dan kebudayaannya dibandingkan dengan massa pada umumnya. Dengan demikian lebih terang apa yang pernah saya sampaiakan kepada kader-kader sastrawan dan seniman di Bandung beberapa tahun yang lalu, bahwa praktis sasaran pengabdian sekarang adalah kepada kader-kader revolusioner. Kader-kader adalah pencerminan massa, karena mereka adalah inti, tulangpunggung dan jurubiytara perasaan dan fikiran massa yang mereka pimpin. Mengenal perasaan dan fikiran kader pada hakekatnya mengenal perasaan dan fikiran massa yang sampai batas-batas tertentu atau sepenuhnya sudah terkristalisasi. Oleh karena itu sastrawan dan seniman revolusioner harus berusaha lebih sungguh-sungguh untuk bergaul lebih mesra dengan kader-kader revolusioner dari pusat sampai ke-basis, sehingga lebih mengenal sasaran pengabdian karya-nya.

Kaum kapitalis secara “sistimatis dan ilmiah” berusaha mengenal langganannya, supaya bisa menggaruk keuntungan lebih besar. Oleh karena itu, sudah seharusnya jika sastrawan dan seniman revolusioner dengan sedar berusaha lebih mengenal sasaran pengabdian karyanya, pendukung-pendukung karyanya, pembaca-pembaca aktifinya, yaitu kader-kader revolusioner, sehingga tujung pengabdian kepada klas buruh, kaum tani, prajurit dan Rakyat pekerya lainnya akan lebih berhasil. Perbedaaniya, kaum kapitalis bertujung mengaruk untung, sedang sastrawan dan seniman revolusioner bertujung mempebesar kadar pengabdiannya. Kalau kita hubungkan dengan kerya kreasi, melukiskan massa revolusioner pun tidak bisa dilepaskan dari pengenalan kita terhadap kader-kader revolusioner.

Sebagaimana saya katakan tadi, kader-kader revolusioner, pemimpin-pemimpin massa, adalah pencerminan yang terkristalisasi dari perasaan dan fikiran massa. Di dalam kader-kader revolusioner itulah dicerminkan seg-seg tipikal dan karakteristik massa. Mengenal kader, Meskipun mungkin belum menyapai kebenaran obyektif sepenuhnya, paling tidak kita sudah mendekati kebenaran perasaan dan fikiran massa yang hendak kita lukiskan. Tentang masih adanya hasil karya yang “tidak berbunyi” bagi kader-kader revolusioner ha-nyalah menunjukkan bahwa kader-kader sastrawan dan seniman kita belum erat-erat berhubungan dengan pemimpin-pemimpin massa. Kalau ada hasil karya yang “tidak berbunyi” bagi kader-kader revolusioner, siapakah yang bersalah? Sebagai orang revolusioner kita tidak akan menyalankan massa! Inilah sebabnya mengapa kita harus lebih mengenal perasaan, fikiran dan bahasa massa Rakyat pekerya.

Oleh karena itu tidak ada yalanan lain bagi seniman dan sastrawan revolusioner selain harus meningkatkan pengabdi-annya atas dasar lebih setia kepada massa dan tetap setia kepada kesenian. Sebaliknya kader-kader revolusioner yang bu-kan seniman harus juga berusaha keras untuk mening-katkan data apresiasinya, sehingga lebih mudah menang-kap “bahasa artistik”. Dengan demikian ada usaha saling mendekati dan saling mengerti, sehingga tercipta saling bantu yang lebih efektif.

Kalau kita ambil persoalananya seyarah hakekat, sastra-yan dan seniman revolusioner sebagai diyubiicara massa, memerlukan “bahasa artistik” hendak menyamptai suatu konsepsi, suatu expresi pemikiran dalam pembangunan artistik dari massa kepada massa. Kalau apa yang akan kita sampaikan itu tidak bisa dimengerti oleh kader atau-pun massa, tidak ada artinya kreasi itu sebagai sendiata artistik di tangan Rakyat.

Untuk mengenal kader, mengenal massa, mengenal ke-hidupan, Maupun mengenal bentuk-bentuk expresi Rakyat pe-kerja, terutama kaum tani, akan jelas apa arti riset yang dilakukan Partai pada awal tahun ini. Mengembang-kan penulisanan riset yang sudah kita miliki untuk peker-dinan sastra dan sent akan membantu memetayahkan ber-bagai peroulan lang timbul karena kontradiksi-kontradiksi antara pekerjaan organisasi dan kreasi, antara kesetaaan kepada Rakyat dan kesetaaan kepada kesenian dan antara kema-hurian artistik sastrawan dan seniman dengan daya apre-siasi kader dan Rakyat pekerya pada umumnya. Hanya dengan mengembangkan semangat riset dengan metode “tiga sama” (sama kerya, sama makan dan sama tinggal dengan kaum tani, terutama buruh tani dan tanimiskin) akan menjamin suksesnya pembinaan sastra dan seni yang bersifat nasional, demokratis dan ilmiah. Hanya dengan riset akan terdiamin kerya kreatif seniman dan sastra-wan revolusioner dalam melaksanakan garis klas untuk menyalankan karya-karya yang bergaris klas dan patriotik. Diuha hanya dengan riset dan melakukan integrasi seyarah langsung di-tengah-tengah massa akan terdiamin karya yang mendalam, realistik, revolusioner, artistik, berkeprihadian dan universal.

Kita sudah mempunyai garis yang tepat di lapangan esatria dan seni yaitu garis 1-5-1 (satu-lima-satu), itu 1 azas “politik adalah panglima”, 5 pedoman pentip: aan yaitu meluas dan mennggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi dengan kekinian revolusi-oner, memadukan kreativitet individui dengan kearitan massa, memadukan realism revolusioner dengan romantisme revolusioner, dan 1 carakerja yaitu turun-ke bawah (turba). Garis ini telah terdiyui ketepatanannya dalam praktek selama ini, dan telah menuntun sastra dan seni revolusioner memperoleh sukses-sukses yang menggembirakan.

Politik adalah pernyataan yang paling terpusat daripada ekonomi, demikian pendirian kaum Marxis. Dengan ka-limat lain dapat kita katakan bahwa politik adalah per-nyataan paling terpusat dari kepentingan-kepentingan klas. politik adalah panglima. Aspirasi-Aspirasi massa pekerya dan nasion Indonesia yang paling vital dan penting dinyatkan dalam Program Umum PKI sediak tahun 1954 (Kongres Nasio-nal ke-V PKI). Kemudian hal ini diuha dimatikan dalam Manipol (1959). Oleh karena itu untuk mengerti inti aspirasi-aspirasi Rakyat pekerya, sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman harus mengetahui, bahkan harus menguasai politik Par-tai. Sastra dan seni hanya akan bisa menjadi sendiata yang ampuh di tangan Rakyat, diyika sastrawan dan seniman mampu memadukan politik yang tepat dengan kecakapan artistik. Pengertian yang dalam tentang gejala-gejala, kontra-diksi-diksi, kepentingan-kepentingan Rakyat dan nasion hania bisa dimer-dapat diyika kita melihatnya dari sudut kristalisasi per-nyataan kepentingan-kepentingan Ataupun aspirasi-aspirasi Rakyat dalam manifestasi-manifestasi politik yang didasarkan pada analisa filsafat klas buruh, filsafat materialisme dialektik. Kita tidak akan mengerti apa hakekat Manikebusisme di lapangan sastra dan seni tanpa mengerti hakekat kebangkrutan politik kaum sosialis kanan dan Masumi serta kaum kontra-revolusioner lainnya. Kita akan menghadapi kesulitan menjebol kebu-dayaan imperialis AS. tanpa mengetahui hakekat politik gangster dan bajaklaut imperialisne AS dan politik klas buruh terhadap kepala imperialisne yang paling dianai nu. Membongkar kebudayaan teodai yang menyebarkan kemak-siatan, ketahayulan, dll hania mungkin berhasil bauk diika kita mengenal hakcket hubungan agraria desa dan tahu politik PKI untuk pembebasan kaum tani. Bagi sastrawan dan seniman revolusioner keharusan menguasai Manpolsamahalya dengan keharusan menguasai Program PKI, menguasai dan melaksanakan Manipol secara konsekuensi pada hakekatnya juga berarti melaksanakan Program PKI.

Menempatkan azas “politik adalah panglima” dalam kerja kreatif berarti menjadi politik untuk mempunyai pemikiran kreatif dan pembayangan kreatif mengenai masalah seperti perjuangan untuk kemerdekaan penuh dengan melikwidasi imperialisme, perjuangan kaum tani untuk pelaksanaan UUPA dan UUPBH secara konsekuensi menuyu keperubahan agraria yang radikal, garis politik Partai untuk mengkonsolidasi front persatuan nasional dan lain-lainnya. Hanya dengan demikian sastra dan seni dapat menerima tradisiona yang agung dan mengintegrasikan kegiatan kreatif dengan percyuangan revolusioner klas buruh dan Rakyat pekerya lainnya.

Menempatkan azas “politik adalah panglima” di dalam kreasi bukanlah berarti menyatupadukan atau mengawinkan ideologi klas buruh dengan klas-klas lain, karena dalam hal ideologi tidak bisa ada perkawinan.

Dalam rangka melaksanakan azas “politik adalah panglima” kita harus berpegang pada pandangan, pendirian, sikap dan metode klas buruh supaya kita tidak teryerembab ke dalam pencampuradukan antara estetika klas buruh dengan estetika burjiusi atau feudal.

Dalam hal 5 pedoman penyiptaan para sastrawan dan seniman kita masih belum menjadikannya sebagai pedoman yang mendarahdaging, artinya belum benar-benar menjadi bagian dari pedoman pemikiran dan pembayangan kreatif mereka. Menghafal perumusan-perumusan bukanlah diyalan kreatif. Soalnya adalah bagaimana sastrawan dan seniman terus-menerus melatih diri menggunakan pedoman itu, sehingga pedoman itu benar-benar menjadi bagian dari dirinya. Jika banyak mereka belatih menggunakan pedoman itu, sudah pasti pada suatu saat akan mencapai suatu kwaliteit tertentu. Memperbaiki pekerjaan atas dasar 5 pedoman penyiptaan itu harus dilakukan terus-menerus, karena kita bukan melaksanakan rumus ramuan obat yang bisa sekali jadi.

Berbicara tentang “meluas dan meninggi” kita harus mengetahui tentang “meluas dan meninggi” untuk apa dan untuk siapa? Suatu karya yang bersifat meluas, pada pokoknya adalah hasil kreasi yang dilakukan secara sedar dengan tuyuan untuk kepentingan praktis mendorong dan memobilisasi massa dalam bentuk yang tepat, mudah dan gampang ditangkap isinya. Sebaliknya karya yang meninggi memerlukan pengolahan artistik yang lebih tinggi, tetapi juga memerlukan lebih banyak waktu untuk mempopulerkanya.

Garis “meluas dan meninggi” adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena ke-dua-duanya di-perlukan oleh praktek revolusioner. Baik meluas Maupun meninggi ke-dua-duanya untuk diabdiikan kepada perjuangan revolusioner, kepada massa Rakyat pekerya. Oleh karena itu kita harus tetap berpegang teguh pada pendirian meluas atas dasar massa dan untuk massa, serta meninggi juga atas dasar massa dan untuk massa. Pengertian tentang perlunya meluas dan meninggi juga dapat kita fahami berhubung dengan adanya perbedaan tingkat kesedaran artistik dan daya apresiasi antara massa pada umumnya dan para kader khususnya. Massa Rakyat pekerya pada umumnya karena masih mengalami penindasan dobel, yaitu penindasan imperialis dan feudal, belum mempunyai kesempatan yang cukup untuk memnikmati karya sastra dan seni dan belum dapat dengan leluasa mengembangkan kemampuannya. Segi inilah yang harus diperhatikan oleh sastrawan dan seniman dalam melaksanakan tugasan yang membantu dalam mendorong, mendidik dan memobilisasi massa dengan senjata sastra dan seni. Pada hakekatnya adalah sungguh salah jika pe-ngertian meluas iu diidentikkan dengan “membodohkan” massa atau memberi “barang rongsokan” kepada massa. Sebaliknya juga tidak berarti bahwa hasil yang tinggi mutunya tidak dapat dipopulerkan.

Masalah meluas dan meninggi banyak bersangkutpaut dengan cara expresi. Mengenal baik cara expresi Rakyat, perlambang-perlambang atau kiasan-kiasan yang digunakan oleh massa, perasaan, fikiran dan aspirasi massa akan membantu me-nyelesaikan persoalan meluas dan meninggi dalam kerja kreatif. Untuk melaksanakan garis “meluas dan meninggi” juga tidak bisa lain kita harus lebih mengenal massa dan kader, mengintegrasikan diri kita dengan Rakyat pekerya, terutama kaum tani.

Dalam rangka meluas masih terdapat kekurangan-kekurangan, antara lain karena masih adanya sikap kurang sungguh-sungguh dalam mengembangkan sastra dan seni daerah (sukubangsaa) yang pada umumnya merupakan bentuk expresi yang populer di kalangan kaum tani.

Dalam kegiatan kreasi atas dasar garis meluas dan meningga tidak boleh kita abaikan kenyataan bahwa negeri kita terdiri dari ribuan pulau, banyak sukubangsaa yang tingkat perkembangan politik, ekonomi dan kebudayaannia tidak sama.

Yara yang paling tepat untuk meluas diantaranya ialah dengan memperluas sanggar-sanggar seni serbaguna, yang berarti memperluas aktivitet basis sehingga peningkatan daya apresiasi massa dapat dilakukan setayara efektif. Pelaksanaan semboyan “satu desa satu sanggar” adalah jalan populerasi hasil karya sastrawan dan seniman revolusioner di-tengah-tengah massa, terutama kaum tani. Dan sekali-gus dengan meluasnya aktivitet basis itu akan berarti mempererat hubungan antara sastrawan dan seniman revolusioner dengan Rakyat pekerja.

Untuk menyalankan garis meninggi, kader-kader sastrawan dan seniman harus lebih rajin belajar Marxisme-Leninisme supaya lebih mampu menganalisa dan menimbulkan keadaan, mengerti lebih baik kontraksi-kontraksi dan tahu mana yang pokok dan mana yang tidak pokok serta tahu jalan penyelesanannya. Di samping itu pengintegrasian diri setayara langsung dengan datang dan ikut dalam praktek sosial, baik praktek produksi Maupun praktek perjuangan klas, di-tengah-tengah massa Rakyat pekerja terutama kaum tani, di samping lebih rajin berdiskusi dengan kader-kader revolusioner, mendengarkan dan membenca serta mempelayari laporan-laporan kegiatan perjuangan revolusioner yang dilakukan dibasis-basis dan daerah“, merupakan jaminan untuk tercapainya garis meninggi. Hanya ini jalan yang tepat untuk mengerti benar persoalan-persoalan tentang tema yang miu digarap. Hanya dengan mengerti benar-benar selukbeluk tema yang mau digarap hasil kreasi akan bebas dari keruwetan, kecaburan dan kehamapan.

Mempersoalkan “tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”, ini pun harus juga ditapai dengan jalan belajar Marxisme-Leninisme dan pengintegrasian diri de-ngan massa, karena bahan baku untuk kerya kreatif sastra dan seni terdapat pada massa; juga keartistikian yang harus diolah oleh para seniman dan sastrawan terdapat pada massa. Pendeknya para sastrawan dan seniman harus mentari sumber kreasinya pada massa, dan terus-menerus membayakan-diri dan mendidik-diri. Mutu ideologi karya tidak mungkin tinggi kalau manusia yang mengkreasinya sendiri tidak menempa ideologinya sendiri. tidak membayakau diri di dalam kehangatan perjuangan revolusioner Dan mutu artistik karya juga tidak akan memnggi jika sastrawan dan seniman tidak terus-menerus mendidik-diri. belajar Marxisme-Leninisme serta gyat belajar dan gyat berlatih di lapangan artistik. Pada pokoknya untuk mentapai “dua tinggi” harus mempergiat kreasi, belajar dan ikut langsung dalam praktek revolusioner sehingga memiliki penghayatan revolusionernya.

Karya- yang mutu ideologi dan mutu artistiknya tinggi hanya akan disambut baik oleh massa jika karya-karya itu di dukung oleh ideologi dan moral yang tinggi dari pentu-pentuptionya. Massa, terutama kader-kader gerakan revolusioner, sering diketekwakan oleh kenyataan bahwa karya- yang tadinya mereka senangi termata tidak didukung oleh ideologi dan moral yang tinggi dari para pentuptionya. Dalam karyanya para pentuptionya memuji moral yang tinggi, pendirian klas yang teguh, sikap klas yang tepat, keberanian dan kepahlawanan, disiplin yang kuat, keluwesan dalam membawakan prinsip, keunggulan kerya kolektif. dsb, tetapi kemudian ternyata, setelah berkenalan dari dekat, para pentuptionya yang bersangkutan tidak memiliki sitat-sitat yang demikian, malahan memiliki yang sebaliknya In tidak hanya membikin massa dan kader-kader me-maki-maki sastrawan dan seniman yang tadinya disayanginya, tetapi duga mudah menimbulkan sinisme terhadap sastrawan dan seniman. Untuk tidak menimbulkan luka dalam hati sematiam ini, yang sulit diobati, para sastrawan dan seniman revolusioner harus satu dalam karya dan perbuatan, harus men-jauhi kemunafikan. Dan malahan priabdi sastrawan dan seniman harus lebih baik mutunya daripada karya-na. Oleh karenanya para sastrawan dan seniman revolusioner harus ikut berpatuh dalam membayakan-diri dan mendidik-diri untuk menjadi orang revolusioner yang baik dan lebih baik lagi.

6 Tentang memadukan “tradisi dan kekinian revolusioner” pertama-tama para sastrawan dan seniman revolusioner harus mengenal tradisi Rakyat kita, dan ini hanya mungkin denzan jalan lebih intensif melakukan riset. Pekerjaan riset akan dapat membantu kita untuk mengetahui mana tradisi Rakyat dan mana tradisi feudal atau pengaruh feudal dalam tradisi Rakyat. Dengan mengenal lebih baik tradisi Rakyat sastrawan dan seniman kita tidak lagi seperti “orang asing” di tanah-airnya sendiri.

Pengenalan tentang materi sastra dan seni tanahair, menilai seginya, tidak lain adalah juga pentrapan slogan “Tahu Marxisme dan kenal keadaan”. Menegakkan sastra dan seni revolusioner banya mungkin diyika kita mampu mentrakpan garis klas atas dasar kondisi-kondisi kongkrit kehidupan dan keadaan kongkrit sastra dan seni ditanahair kita. Mengenal dan mengembangkan tradisi adalah sebagian dari perjuangan untuk melawan bahaya perkembangan sastra dan seni tercabut dari akarnya. Kekinian revolusioner adalah persoalan perjuangan massa Rakyat pekerya sekarang. Yang tidak lain adalah garis politik Partai. Untuk mengenal hari ini tidak mungkin tanpa menguasai garis politik Partai, tanpa mengetahui teori revolusioner, tanpa mengenal keadaan kongkrit perjuangan massa Rakyat pekerya dengan pengintegrasian diri lewat turba, dengan ambilbagian dalam produksi dan dalam kegiatan revolusioner serta mengadakan riset.

Memadukan tradisi dengan kekinian revolusioner berarti memadukan warisan dengan pembaruan. Sekali lagi harus selalu diingat: jangan gegabah memperbarui sesuatu yang lama yang disengani massa. Sikap gegabah adalah bukan sikap sungguh-sungguh yang harus menjadi sikap scorang revolusioner dalam melakukan pembaruan. Memperbarui bukan asal memperbarui, tetapi justru harus dengan meneruskan tradisi dan bukan menghantiyurkannya.

Sepanjang sejarah Rakyat adalah pentipta agung, oleh karena itu mengabaikan kearifan massa pada bakenyiny sama artinya dengan mengingkari Rakyat. Mendingundung tinggi kearifan massa, harus juga diartikan suka bekerya kolektif dan menghargai pendapat kolektif. Sikap tidak-repat terhadap-kritik, apalagi kritik-massa, tidaklah lain daripada pentryeminan individualisme burdus, dan melupakan untuk siapa sastrawan dan seniman revolusioner berkraasi. Mengabdi se-baik-baiknya kepada massa, tidak mungkin tanpa menjadi murid massa yang baik. Untuk menjadi guru massa yang baik harus pandai menjadi murid massa yang baik. Oleh karena itu kritik massa kepada karya sastra dan seni harus dikembangkan. Kita bukannya tidak mengakui peranan persorongan. Sebaliknya, kita harus mengembangkan seyarah maximal peranan aktif kesedaran subyektif dalam mengabdi Rakyat pekerya. Untuk ini kita harus memperkuat usaha memadukan subiek sastrawan dan seniman dengan massa. Dari sastrawan-sastrawan dan seniman Komunis dituntut supaya mereka menggunakan individualiteta sebagai Komunis, untuk tidak banya puas menjadi Komunis-Komunis minimum tetapi harus berusaha keras melalui pembadiaan-diri dan pendidikan demi menjadi Komunis-Komunis maximum sebagaimana belakangan ini telah diheru kan oleh Partai kita. Pengembangan peranan aktif kesedaran subyektif dalam rangka mengembangkan kemanduun kolektif bukan hanya berbeda, tapi bertentangan samasekal dengan individualisme burdus. Ia sepenuhnya sesuai dengan falsafat Marxis, yaitu materialisme dialektis yang menjunjing tinggi peranan aktif daripada ide.

Kreativitet individu1 sebagai pengembangan dari kebidiaksanaan massa adalah revolusioner dan memperkuat pengabdian sastrawan dan seniman kepada perjuangan massa, karena dengan demikian mereka menjadi elemen aktif di dalam kehangatan perjuangan. Sas- trawan dan seniman yang tenggelam dalam rawi-rawi kepasifan tidak mungkin menghasilkan karya yang menghangati perjuangan Rakyat pekerya. Sastrawan dan seniman yang hanya berfikir dan merasakan kenangan perjuangan dengan setengah hati tidak mungkin menghasilkan karya yang tinggi mutu ideologi dan mutu artistiknya. Kesedaran subyektif sastrawan dan seniman revolusioner adalah sebagian dari kesedaran massa yang beryuang aktif untuk menyelisaikan tuntutan- Revolusi Agustus 45 sampai kekar-akarnya dalam menuyu ke-cita-cita massa Rakyat pekerya, yaitu Sosialisme

Perumusan memadukan “realisme sosialis dan romantik revolusioner” yang selama ini digunakan oleh Lekra telah tepat jika kita rumuskan dengan memadukan “realisme revolusioner dan romantisme revolusioner”. Realisme revolusioner artinya berprinsip realis dan revolusioner terhadap kenyataan. Secara fundamental sikap revolusioner berarti selalu berfikir kepada yang baru dan sedang tumbuh untuk kehidupan lebih mayu, lebih baik dan lebih indah, memilih fikiran-fikiran obektif, menolak fikiran-subyektif, baik sekarang, sebelum Sosialisme, Maupun kemudian di dalam Sosialisme dan sesudah Sosialisme. Dengan demikian perumusan realisme revolusioner lebih mudah dimengerti, lebih tepat, lebih langgeng dan berlaku sampai ke zaman Komunisme.

Mengukur sesuai atau tidaknya sesuatu karya dengan perpaduan realisme revolusioner dan romantisme revolusioner tidak gampang, tetapi setiap karya sastrawan dan seniman yang disukai Rakyat sudah pasti mengandung perpaduan dua unsur tersebut. Oleh karena itu ukuran yang paling obyektif terhadap setiap hasil karya pada setiap saat adalah massa, karena massa adalah kritikus sastra dan seni yang paling besar. Pada pokoknya romantisme revolusioner adalah suatu angan-angan revolusioner yang berdiri tegak di atas dasar kenyataan-kenyataan tentang kontradiksi-kontradiksi dalam kehidupan. Kita harus menggambarkan kehidupan tidak secara naturalis seperti potret, melainkan dengan penuh kegairahan revolusioner, kaya dan penuh cipta-cipta, dan kita harus menyuruhikan segenap fikiran dan perasaan untuk mengedepankan hakekat dan semangat yang terkandung pada kenyataan itu. Untuk itu...selain realisme revolusioner kita perlukan romantisme revolusioner.

Azas “politik adalah panglima” dan 5 Pedoman Pen-ciptaan akan berhasil dilaksanakan jika sastrawan dan seniman kita melakukan kegiatan turun ke bawah (turba). Turba seperti sudah saya katakan di muka harus dengan senjata Marxisme-Leninisme, sebab tanpa itu sama halnya dengan meraba-raba dalam malam gelap atau seperti seorang buta mencari jarum di padang rumput, pasti tidak akan mendapat apa yang dicari.

Filsafat, ekonomi politik dan Sosialisme Marxis-Leninis mengayari kita untuk bertitiktolak dari kenyataan obektif dan melihat segala sesuatu dalam perkembangannya, menunjukkan kepada kita tentang sumber-sumber dari exploitasi atas manusia oleh manusia dan tentang perjuangan klas sebagai lokomotif perkembangan masyarakat. Seniunya ini kita perlukan untuk mengenal keadaan. Sebaliknya, tahu Marxisme tanpa turba, membuat teori pucat tidak berdalah, karena terpisah dari sumber kreasy yang hidup, yaitu massa. Pengetahuan tentang Marxisme semayam itu tidak ada gunanya, atau sama halnya dengan tidak tahu apa“ tentang Marxisme. Turba pada hakekatnya adalah ca-ra yang terpenting untuk mewuyudkan slogan ”Tahu Marxisme dan kenal keadaan“, ”Tahu Marxisme“ dan ”kenal keadaan“ bukanlah dua hal yang dapat dipisahkan. ”Tahu Marxisme“ diperlukan untuk mengenal keadaan, dan ”kenal keadaan“ diperlukan untuk mengetahui Marxisme. ”Tahu Marxisme“ tanpa mengenal keadaan sama halnya dengan tidak mengetahui apa” tentang Marxisme, karena sudah menjadi watak dari Marxisme sebagai “pedoman untuk beraksi” tidak bisa dipisahkan dari keadaan kongkrit. “Kenal keadaan” tanpa mengetahui Marxisme tidak mungkin mengenal keadaan itu sepenuhnya.

Karena kehidupan selalu berubah, maka pengetahuan teori kita akan menjadi beku jika tidak kita padukan dengan praktek kongkrit. Oleh karenanya, juga dalam hal kreasi sastra dan seni, terpisah dari praktek dan dari massa berarti bahaya.

Sebagaimana saya katakan di muka, sudah sejak berdirinya Lekra bertekad untuk membikin sastra dan seni revolusioner Indonesia memiliki kekuatan untuk menge-mukakan diywa bakiki masyarakat dan abad kita dalam bentuk artistik yang tinggi. Sudah pada tempatnyalah. jika Lekra mengambil peranan sebagai penghim pun sastrawan dan seniman revolusioner yang bertekad untuk melaksanakan politik yang termaju dengan penuangan artistik terbaik. Politik termaju dan penuangan artistik terbaik demikian itu adalah politik PKI dan haluan PKI dibidang sastra dan seni. Ini sudah menjadi kenyataan selama belasan tahun ini. Bukankah politik dan haluan sastra dan seni demikian yang diterima, dibela dan dilaksanakan Rakyat Indonesia selama belasan tahun ini?

Kekuatan Lekra terletak pada tekadnya yang bulat untuk bersatu dengan massa dan mengabdi tanpa reserve kepada massa. Sebagaimana pernah saya katakan, bahwa skhaik-baik yang kita berikan tidak mungkin cukup baik bagi proletariat. Semangat itulah yang harus menjiwai sastrawan dan seniman Lekra dalam memberikan segala kemampuanya dengan sepenuh hati kepada massa, untuk selalu meningkatkan diri dan memperbesar perananya dalam pengabdian kepada perjuangan revolusioner. Sejak berdirinya Lekra suah teruji dalam perjuangan melawan reaksi dibidang politik kebudayaan seperti perjuangan membubarkan Sticusa, perjuangan melawan kegiatan-kegiatan kaum sosialis kanan dibidang sastra dan seni, terutama dalam menggantang humanisme universal sebelum dan sesudah ada Manikebu, peryuangan untuk membebarkan AMPAI dan melarang pemutaran film imperialis Amerika Serikat, pendeknya melawan semua bentuk kebudayaan imperialis dan feudal. Di samping itu Lekra menyatupadukan diri dengan peryuangan revolusioner Rakyat Indonesia di semua bidang.

Juga Lekra telah berpengalaman dalam peryuangan di lapangan kresi dan dalam mengalahkan serangan reaksioner yang berupa ejekan-ejekan, yang menganggap karya-karya sastrawan dan seniman Lekra tidak mempunyai nilai sastra dan seni. Di lapangan teori dan estetika peryuangan antara “seni untuk Rakyat” dan “seni untuk seni” telah menyatapi kemenangan bagi “seni untuk Rakyat”. Pelarangan terhadap “Manikebu” adalah salahsatu bukti tentang kemenangan garis “seni untuk Rakyat” sebagai hasil kekuatan front kebudayaan revolusioner.

Demikianlah dalam waktu 14 tahun sejak berdirinyah, Lekra telah mendapatkan kemenangan-kemenangan satu demi satu dibidang politik kebudayaan, teori dan kresi. Kemenangan-kemenangan tersebut harus terus dikonsolidasi dengan makin memperkuat barisan kreatif dan meningkatkan kompyuan kreatif serta mengkonsolidasi front kebudayaan revolusioner. Makin hebatnya ofensiv revolusioner di segala bidang, yang berarti makin terpentingnya kekuatan kepala-batu dibidang sastra dan seni, serta makin meningkatnya kesedaran politik dan taraf kebudayaan massa tidak lain berarti cemerlanggu haridepan sastra dan seni revolusioner Indonesia.

Berbicara tentang meningkatkan peranan Lekra di dalam peryuangan revolusioner tidak bisa kita pisahkan dari membitcarakan persoalan kader sastra dan seni revolusioner. Anggapan sementara orang yang mengidentikkan sastrawan dan seniman dengan “liberalisme” adalah tidak tepat, karena sastrawan dan seniman revolusioner secara ideologis berbeda dengan sastrawan dan seniman burjuis. Demikian pula fikiran untuk memberikan “keistimewaan” kepada sastrawan dan seniman tentu juga tidak tepat, sebab kader sastra dan seni revolusioner sebagai kader gerakan revolusioner mempunyai hak dan kewayiban yang sama dengan kader-kader revolusioner lainnya, yaitu mengabdi massa Rakyat. Oleh karena itu kader-kader sastra dan seni revolusioner harus juga membyadakan-diri dan mendidik- diri sebagaimana yang dilakukan oleh kader-kader revolusioner lamna. Sudah tentu jika seorang sastrawan atau seniman sudah berhasil dalam kreasi, sudah mempunyai hasil karya yang baik, tidak layu ia kehilangan hak untuk menjadi seorang pekerya politik revolusioner yang baik. Malahan sastrawan dan seniman yang sekaligus menjadi pekerya politik revolusioner yang baik merupakan bantuan besar bagi pengintegrasian kegiatan-kegiatan kebudayaan denean kegiatan-kegiatan politik.

Ietapi, jangan dilupakan, di samping pekerya politik revolusioner, pekerya dastra dan seni adalah tetap sastrawan dan seniman yang mempunyai kewayiban untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan diri dalam mempertinggi mutu mereka sebagai sastrawan dan seniman agar dapat mengkreasi karya-karya yang disenangi dan dituntai massa.

Barisan sastrawan dan seniman revolusioner pada pokoknya mempunyai dua macam kader ditinjau dari asal-usulnya, yaitu: yang berasal dari kaum buruh dan tani, dan yang berasal dari kalangan intelektual burjuis kecil. Kedua-duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang pertama umumnya lemah dalam pengetahuan tentang pentiypatan sastra dan seni, sedang yang kedua temah dalam praktek produksi dan praktek peryuangan klas. Kelemahan itu harus diatasi. dan dengan saling bantu antara kedua macam sastrawan dan seniman revolusioner itu pengatasan akan lebih ceptat dapat dilaksanakan Kombinasi diamtara kedua macam kader itu akan memperkuat barisan sastra dan seni revolusioner, dan lebih lanyut akan memperkuat front kebudayaan revolusioner serta peryuangan revolusioner pada umumnya

Mempertuk, mengkonsolidasi dan memperkembangkan terus-menerus kekuatan kreatif tidak mungkin dipisahkan dengan kehidupan kritik sastra dan seni. Kritik sastra dan seni memerlukan keahlian, memerlukan kerya ilmiah yang tekun, oleh karena itu kritik sastra dan seni tidak mungkin baik tanpa pengetahuan tentang Marxisme-Leninisme dan penguasaan atas materi. Pekerjaan melakukan kritik sastra dan seni harus juga diartikan sebagai kreasi Kritik sastra dan seni yang kreatif mendorong kreasi dan meningkatkan daya apresiasi massa. Oleh karena itu pekerjaan ini harus dikembangkan. Dan untuk etektifnya kritik sastra dan seni harus dilakukan dengan pedoman “saling asah, saling asih dan saling asuh” yang berarti saling kritik dengan perasaan saling menyatintai dan saling mendorong madu. Tanpa kritik dan selfkritik kita tidak mayu, juga yualapangan sastra dan seni. Tanpa kritik sastra dan seni tidak mungkin ada perkembangan sastra dan seni yang baik. karena sastrawan dan seniman revolusioner tidak dibantu untuk mengembangkan diri dan massa tidak dibantu untuk mempertinggi aasa apresiasinya. Tanpa kritik sastra dan seni massa tidak dituntun dalam menilai karat yang baik, yang kurang baik dan yang buruk. Dengan demikian peningkatan taraf kebudayaan massa menjadi umum bat, dan akibatnya juga kurang mendorong sastrawan dan seniman untuk menyipta lebih banyak dan lebih baik lagi. Kritik sastra dan seni serta juga resensi-resensi sangat membantu meningkatkan daya apresiasi massa.

Untuk meningkatkan taraf kebudayaan massa Rakyat pekerya yang luas, peranan kritik sastra dan seni terhadap kenyataan-kenyataan yang bisa dijangkau oleh massa, seperti cerita-cerita dalam drama Rakyat yang banyak dipentaskan, dongeng-dongeng yang hidup di kalangan massa, koran-koran dingding dari serikatburuh-serikatburuh dan organisasi-organisasi massa revolusioner lainnya, ruangan-ruangan kebudayaan suratkabar-suratkabar, paduan suara-suara, lagu-lagu Rakyat, dll harus diutamakan. Tenggelam dalam kegiatan kritik buku-buku yang jumlahna hanya beberapa rihu dan tidak menjangkau massa luas, dengan menghagaikan kritik terhadap kenyataan-kenyataan dalam kehidupan sastra dan seni yang menjangkau massa adalah tidak tepat. Hanya memperingatkan kritik terhadap kegiatan-kegiatan yang menjangkau sebagian dari massa yang tidak luas, berarti bersikap “hendak meninggi sendiri” tanpa landasan massa, sama dengan bergantung di awang-awang. Membangun kebudayaan Rakyat sudah tentu tidak mungkin macyi sendiri tanpa massa Rakyat pekerya yang jumlahna puluhan yuta.

Soalnya sekarang bagaimana seharusnya kritik itu kita lakukan, dan ukuran apa yang kita gunakan. Dalam hubungan ini kritik harus kita lakukan seciara tepat sesuai dengan pendirian dan sikap klas. Harus dibedakan antara kritik kepada massa yang bersifat mendorong agar massa lebih bersatu dan lebih mayu, dengan kritik kepada sekuruh yang bersifat mendorong agar tidak bimbang dan lebih bersatu dengan kita, dan dengan peneladangian yang tidak kenal ampuh terhadap musuh agar lebih mudah kita kalah. Kan Tentang ukuran kritik, kita gunakan dua ukuran. Yitu ukuran politik dan ukuran artistik, dengan memanakkan pertama-tama pada ukuran politiknya, tanpa mengurangi usaha kita dalam memadukan dua tinggi, yaitu tinggi mutu ideologi dan tingi mutu artistik.

Kawan-Kawan yang tertiyanta!

Kaum Komunis ber-sama-sama Rakyat, serta sastrawan dan genimannya sedang bergulat untuk menundukkan hari-in dan membentuk haridepan. Dalam Partai kita sudah popular sekali bait sajak Kawan Agam Wispi: Hati kita lebih keras daripada lapar. Ucapan demikian menyerumuskan perasaan Rakyat yang memiliki optimisme revolusioner. Betapa tidak, bukan hanya Rakyat tidak pernah pesimis, tetapi perkembangan situasi sekarang menudukkan perspektif baik yang semakin dekat. Banyak kawan-kawan sudah mengatasi kontradiksi dengan hari-ini sedangkan haridepan pasti ada ditangganya.

Kalau pada waktu Partai baru bangkit kembali dalam tahun 1951 anggotanya kurang dari 8.000 sudah tidak bisa dimusuahkan, apalagi sekarang sesudah beranggota lebih dari 3 yuta dan terkonsolidasi dibidang organisasi, politik dan ideologi.

Partai sekarang sudah menjadi organisasi Komunis yang besar dan sudah merupakan Partai massa dan Partai kader sekaligus. Perkembangan Partai yang makin meluas di seluruh negeri, makin terbayak dalam praktek perjuangan dan dalam teori dan ideologi, serta makin meningkatnya keperyayaaan massa Rakyat kepada Partai harus menjiwai dan menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan seniman Komunis.

Dengan bertambah kuatnya persatuan kaum buruh dan makin tinggi kesedaraninya, dengan kebangkitan kaum tani untuk membebasan diri di mana-mana, dengan makin menandayknya semangat antiimperialisme Amerika Serikat dikalahang Rakyat yang sangat luas, perspektif menjebol dan membangu bagaikan kehadiran matahari di waktu pagi cerah. Kader-Kader kita menjadi bahwa kemangn harus direbut dengan kesiapan menghadapi pukulan reaksi, tetapi pukulan itu diyika datang bukan akan mematikan kita, sebaliknya pasti akan mematikan reaksi itu sendiri.

Coba bayangkan kawan-kawan, sekarang Partai sedang melaksanakan Plan 4 Tahun di lapangan kebudayaan, ideologi dan organisasi. Tekanan Plan Pembangunan Partai yang raksasa ini diletakkan pada kebudayaan. Sekarang tiap anggota dan organisasi-organisasi revolusioner di bawah pimpinan Partai sedang berlomba-lomba untuk merebut kemenangan. Kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI sangat aktif mempertinggi pengetahuanannya, berlomba-lomba menyelaskan garakan kegiatan sastra, seni dan olahraga. Pemuda Rakyat sangat giat mendirikan paduansuara-paduansuara dan makin banyak Komunis-Komunis muda tidak mau ketinggalan di lapangan sastra dan seni. Kaum tani yang tergabung dalam BTK di samping menggangyang 7 setan desa, berkompetisi untuk memenangkan 6 baik, yang diantaranya “naik kebudayaan”. Makin meningginya kesedaran di kalangan wanita terutama yang tergabung dalam Gerwani untuk membebaskan dirinya dari kungkungan sis-sis feudal dan meneruskan hak emansipasi, tidak bisa lain berarti makin meningkatnya taraf kebudayaan di kalangan wanita.

Plan 4 tahun Partai akan mengubah berdiyuta-diyuta Rakyat yang butuhuruf menjadi pandai membata da menuilis, dari buta-ilmu menjadi memiliki pengetahuan dari suasana desa yang “sepi” menjadi bergolkang dengan memiliki sanggar-sanggar untuk kegiatan sastra dan seni. Dan artinya ini bagi sastrawan dan seniman? Massa yang tar kebudayaannya makin meningkat ingin mengeyap lebih banyak hasil karya kawan-kawan. Dan karya kawan-kawan akan menjadi bagian mutlak dari kehidupan kaum buruh, kaum tani, pemuda, wanita, prajurit dan Rakyat pekerya lainnya.

Kalau berbitiyara dengan istilah “pasaran”, maka “pasaran” sastra dan seni revolusioner selalu luas dan selalu akan meluas. Sekarang sudah mulai terasa “kebanyakan pembeli dan kekurangan barang”, berbeda dengan sastra dan seni reaksioner yang “kebanyakan barang tapi pembelian makin kurang”. Sungguh, keadaan sekarang dan hampir depan sangat baik bagi sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman yang sungguh-sungguh revolusioner. Dengan suksesnya Plan 4 Tahun Partai bukan hanya pendukung sastra dan seni revolusioner yang akan meluas, tetapi juga akan lahir kader baru dari Rakyat pekerya untuk memperkuat barisan sastrawan dan seniman kreatif. Menseksikan Plan 4 Tahun Partai itu sendiri merupakan perwuyudan yang hidup dan karya besar memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner.

Apa yang lebih besar dan lebih menggembirakan bagi sastrawan dan seniman daripada perspektif hasil karyanya menjadi bagian dari kehidupan massa Rakyat yang luas. Apa yang lebih membahagiakan sastrawan dan seniman revolusioner daripada perubahan kedudukan sastra dan seni revolusioner dari kedudukan diejek orang, menjadi di segani-orang dan dicinai serta disenangi oleh berdiyuta-diyuta Rakyat pekerya? Perspektif itulah, kawan-kawan, yang sedang kita hadapi, suatu prospek yang harus kita jemput dengan hati gembiria dan kita rebut dengan kegairahan kerya yang besar.

Kawan-Kawan yang tercinta!

Saya ingin mengulangi apa yang pernah saya katakan, bahwa pekerjaan politik adalah otaknya Partai, sedang sastra dan seni adalah batinya Partai. Orang Komunis adalah manusia yang mempunyai otak dan hati yang terbaik. Oleh karena yang kaum Komunis tidak menarik garis pemisah antara kerya politik dengan kerya kebudayaan. Kedua-duanya menjadi bagian dari kehidupan dalam kehangatan revolusioner sekarang Maupun di masa yang akan datang.

Karena tanahgarapan sastrawan dan seniman banyak menyanyut hati, dan bidang sastra dan seni adalah bidang yang sangat perasa, maka sastrawan dan seniman revolusioner memainkan peranan yang sangat penting dalam front ideologi. Oleh karena itu pula mereka menjadi sasaran kegiatan ideologi yang pertama dari kaum imperialis, kaum feudal dan kaum revisionis. Sastrawan dan seniman revolusioner adalah prajurit ideologi dan politik yang bersenjatakan expresi sepenuh hati yang arstistik.

Sitiasi sekarang adalah baik bagi sastrawan dan seniman revolusioner untuk mengabdikan diri lebih baik kepada klas buruh, kaum tani, prajurit dan Rakyat pekerya pada umumnya. Kebangkitan kaum buruh dan kaum tani Maupun Rakyat pekerya lainnya dewasa ini merupakan gudang perbendaharaan tema yang belum pernah terjadi dalam sejarah kita. Soalnya tinggal kita harus datang mengambil dan mengolahnya guna dijadikan senjata ampuh bagi massa itu sendiri. Keberanian kreatif dengan kesedaran pengabdian kepada massa dan memberikan seluruh kemampuan, energi dan kearifan individui yang kita perdapat dari kebiyaksanaan massa, adalah eyarat untuk mempercepat perkembangan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh massa. Harapan massa dan Partai kepada sastrawan dan seniman revolusioner adalah berlandaskan kepercayaan yang diberikan massa dan Partai kepada mereka. Ini adalah satu kehormatan besar bagi sastrawan dan seniman. Apa yang lebih besar dalam kehidupan kita daripada mendapat kepercayaan Partai dan massa Rakyat?

Partai dan Rakyat percaya kepada kemampuan sastrawan dan seniman revolusioner untuk mencerminka dalam karya-karyanya politik yang paling maju, heroisme yang paling tidak mementingkan diri sendiri, semangat Partai dan Rakyat dalam perjungan untuk pembebasan nasion dan Rakyat pekerya.

Partai dan Rakyat percaya bahwa sastrawan dan senimanyia adalah bagian tak terpisahkan dalam kiprah revolusioner untuk mercebut benteng nasional-demokratis dan benteng sosiialis.

Partai dan Rakyat percaya bahwa sastrawan dan seniman revolusioner akan menggunakan senjata artistik secara maximal untuk menggangan Si Empat jahat: “Malaysian”, tujih setan desa, setan dunia imperialisme Amerika Serikat dan revisionisme modern.

Atas dasar kepercayaan itu lah kawan-kawan, Partai dan Rakyat mengharapkan karya-karya sastrawan dan seniman revolusioner yang se-inali-inalinya, yang disukai dan dimiliki massa, sehingga menjadi kebanggaan Partai, kebanggaan Rakyat dan kebanggaan nasion kita.

Kawan-Kawan, Partai dan Rakyat meyakini bahwa karya-karya sastra dan seni yang baik adalah kekuatannia. Kembangkan kegiatan kreasi kawan-kawan untuk membikin kekuatan ini terus-mencrus tergembeng dan terus-menerus tumbuh sehingga akhihrinya tidak terkalahkan.

Dengan senjata sastra dan seni yang berkeprabidain nasional majudah terus mengabdi buruh, tani dan prajurit!

Majudah terus sastrawan dan seniman revolusioner, integrasikan dirimu sepenuhnya dengan massa Rakyat dan revolusi yang menjadi sumber inspirasi, sumber kreasi dan sumber kekuatannu!

Majudah terus dengan sastra dan seni yang bersemangat banteng merah merebut benteng nasional-demokratis dan benteng sosiialis!


LAMPIRAN I

KIBARKAN TINGGI? PANJI PERTEMURAN DIBIDANG SASTRA DAN SENI REVOLUSIONER!

(jawaban D. N. Aidit pada pandangan peserta-peserta

KSSR pada tanggal 1 September 1964)

Kawan-Kawan yang tercinta!

KSSR yang kita mulai tanggal 27 Agustus 1964 segera akan berakhir. Lebih dari 50 kawan yang sudah memberikan pandangannya mengenai referat saya. Di samping itu ada yang menyampan pandangannya secara tertulis. Sesudah jawaban saya ini, pada hari terakhir besok masih ada beberapa kawan lagi yang akan memberikan pandangan. Karena samapi sekarang sudah tukup banyak yang memberikan pandangan, saya berpendapat sudah tiba waktunya bagi saya untuk memberikan jawaban. Seandainya dari pandangan kawan-kawan besok masih ada yang memerlukan jawaban, maka akan saya jawab dalam pidato penutupan KSSR besok.

Sudah tentu saya tidak mungkin dan tidak perlu menjawab semua persoalan yang kawan-kawan ajukan, mengingat bahwa banyak persoalan yang kawan-kawan ajukan itu akan lebih tepat jika diajudkan kepada pimpinan Lekra atau pimpinan Lembaga-Lembaganya. Ada juga persoalan-persoalan, misalnya kelemahan Comite-Comite Partai dalam memimpin Lekra dan dalam pekerjaan dibidang kebudayaan pada umumnya, yang lebih tepat langsung diajudkan kepada Comite-Comite Partai ybs. Tentu saya saya bisa menjawab persoalan-persoalan tsb., tetapi sebaiknya kesempatan ini saya gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan yang langsung berhubungan dengan pekerjaan Partai dibidang kebudayaan, terutama yang berhubungan dengan isi referat yang telah saya sampaiakan beberapa hari yang lalu.

Pertama-tama ingin saya kemukakan bahwa referat yang saya sampaiakan bukanlah sesuatu yang sudah sempurna. Saya ingin supaya sama kawan ikut ambilbagian dalam menyem-purnakannia, tidak hanya dengan pernyataan perseyduyan serta alasan-alasannia, tetapi juga dengan jalan mem-berikan amandemen-amandemen. Saya minta semua kawan memberikan amandemen, se-kurang-kurangnya satu halaman. Kalau tidak satu halaman, satu alinea atau satu kalimat. Kalau tidak satu kalimat, ya. satu perkataan. Amandemen-Amandemen itu bersama dengan fikiran-fikiran yang timbul pada saya selama mendengarkan pandangan kawan-kawan akan saya gunakan untuk menyempurnakan retarat. Tentu saya ini tidak mengenai isi pokok reterat, karena tentang isi pokok tidak ada persoalan, semua kawan sudah menyetuji sepenuhnya. Yang perlu disempurnakan ialah tentang cara-cara mengemukakan persoalan, susunan kalimat di sana-sini, penggunaan istilah, dsb.

KSSR Mempunyai Arti Politik yang Besar

Saya berpendapat bahwa KSSR kita mu bukan tanya mempunyai arti kebudayaan yang besar, tetapi juga arti politik yang besar. Arti politiknya bukan hanya karena KSSR dibuka dengan resepsi di Istana Negara, bukan hanya karena dalam pidato amanat pembukaan KSSR Presiden Sukarno telah menyatkan simpatinya yang penub kepada kawan-kawan sastrawan dan seniman yang ambilbagian dalam KSSR, nukan hanya karena banyak menteri yang memberikan sambutan positif terhadap KSSR, dan bukan hanya karena Radio Republik Indonesia—radio pemerintah—saban malam selama KSSR berlangsung membikin jurnal yang baik tentang KSSR lewat siaran khusunsya.

KSSR mempunyai arti politik yang besar, terutama karena KSSR yang dihadir oleh para sastrawan dan seniman kreatif serta pekerya-pekerya teori dibidang sastra dan seni dari banyak lapangan dan dari semua penjuru tanahair, telah secara bulat menyetuji garis-garis sastra dan seni revolusioner yang tepat, yang kegunaannya bukan hanya untuk dua atau tiga tahun, tetapi untuk puluhan tahun. Dan karena garis-garis nya tepat, saya yakin dalam waktu yang tidak lama garis-garis KSSR ini akan menjadi pedoman-pedoman nasion kita dibidang sastra dan seni.

Garis-Garis KSSR mewakili kepentingan-kepentingan nasion kita dibidang sastra dan seni baik pada waktu ini Maupun di hari kemudian. Terutama pada waktu ini. Ambillah, misalnya, pedoman pentiypitan memadukan “realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner”. “Realisme revolusioner” lebih mudah diterima oleh seluruh nasion daripada “realisme sosialis”, istilah yang selama ini kita gunakan. Di kalangan sastrawan dan seniman Komunis sendiri masih ada yang belum selesai mengenai “realisme sosialis”. “Realisme revolusioner” lebih mudah difahami dan tidak menimbulkan soal, misalnya soal: apakah di negeri yang belum membangun Sosialisme juga bisa ditrapkan realisme sosialis? Kalau di kalangan sastrawan dan seniman Komunis saja masih soal, apalagi di kalangan sastrawan dan seniman revolusioner yang non-Komunis. Pendeknyia, lebih sulit kita menyadikan “realisme sosialis” milik nasion daripada “realisme revolusioner”. Tiap-Tiap sastrawan dan seniman revolusioner dengan mudah memerima pendirian bahwa sastra dan seni harus bertiktoklat dari kenyataan-kenyataan obyektif, harus berfikah kepada yang baru, yang sedang tumbuh dan maju, harus mengubah kenyataan obyektif itu supaya menjadi lebih maju dan lebih indah.

Kita tidak mengatakan bahwa “realisme sosialis” itu salah. Tidak. Tetapi penggunaan istilah ini menimbulkan berbagai persoalan yang dapat menghambat kegiatan, di samping memang ada keterbatasannya. Yang saya maksudkan dengan keterbatasan ialah, bahwa penggunaan istilah ini akan tidak tepat lagi jika kita sudah sampai ke-masyarakat Komunis di kemudian hari. Sedangkan istilah “realisme revolusioner” tetap akan dapat digunakan, karena dalam masyarakat Komunis sastra dan seni juga harus revolusioner.

Selama hampir satu minggu ini kita sudah bekerja untuk puluhan tahun! Dengan KSSR kita telah membikin program besar. Saya harap program besar KSSR ini juga dicerminkan oleh resolusi-resolusi yang sekarang sedang disusun oleh komisi-komisi Konferensi. Jangan sampai resolusi-resolusi KSSR tidak mencerminkan apa yang sudah kita kerjakkan selama hampir seminggu ini.

Kawan-Kawan. Dalam memimpin Partai kita sejak tahun 1951, saya dan pemimpin-pemimpin Partai kita lainnya sering dikagumkan oleh kebesaran Partai kita. Kebesaran ini selalu menjiwai kami untuk bekerja baik dan lebih baik lagi. Kebesaran ini juga selalu menjiwai seluruh anggota Partai kita untuk bekerja baik dan lebih baik lagi guna kepentingan Rakyat dan revolusi. Semuanya ini adalah berkat makin baiknya, dalam arti makin kreatifnya. Partai kita dalam mengintegrasi Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit atau praktek aktul revolusi kita di semua bidang, termasuk bidang sastra dan seni.

Partai kita telah berkembang dari suatu Partai yang 13-14 tahun yl masih kecil sekali, masih suka diremehkan orang, menjadi Partai yang besar, yang ditakuti musuh, disegani sahabat dan dicinyai massa Rakyat pekerya. Pengintegrasian Marxisme-Leninisme dengan praktek kongkrit revolusi kita berlangsung secara kreatif, dan kreativitet Partai kita besar pengaruhnya pada sastrawan dan seniman kita

Jadi, jangunlah ada kawan sastrawan dan seniman yang mengira bahwa yang kreatif itu hanya sastrawan dan seniman tidak. Kita semua, termasuk pekerya-pekerya politik yang senantiasa didiywli oleh Rakyat kita yang kreatif, adalah kreatif. Lanpa dayacipta semua anggota Partai dan Rakyat pekerya, tidak mungkin kita mengembangkan Partai yang belasan tahun yang lalu masih kecil menjadi Partai besar. Partai Komunis yang diyumlab anggotanya terbesar di luar kubu sosialis dan Partai yang nomor tiga di seluruh dunia. Dan, sebagaimana kawan-kawan ketahui, Partai kita tidak menarik garis pemisah yang tebal antara kerya politik dengan kerya kebudayaan.

Azas kita “politik adalah panglima”. Jadi ini diyuga azas bagi sastrawan dan seniman kita. Bersama dengan mengamalkan azas ini, tiap pekerya politik kita harus mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan Rakyat. Kita tidak menggunakan istilah “politik adalah jenderal” karena di negeri kita sekarang banyak jenderal yang tidak punya pasukan, jadi tidak memimpin, dan banyak jenderal tituler! Pekerya-Pekerya politik harus sungguh-sungguh mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan Rakyat, karena pimpinan politik harus terutama waspada terhadap serangan kebudayaan imperialis dan feudal dan harus memimpin peryuangan melawannya.

Kepribadian Adalah Tanda Kekreatifan

Kawan Basuki Resobowo mempersoalkan bagaimana menemukan kepribadian dalam senilukis. Adalah baik hal ini terus dipersoalkan. Akhiirnya pasti akan ketemu, karena senilukis kita sebagaimana diyuga sastra dan seni kita pada umumnya, mempunyai kepribadian. Kita pun mula-mula sulit menemukan kepribadian Partai kita, revolusi kita dan Rakyat kita. Lambatlaun kita menemukannya, makn tama makin medekati kesempurnaan. Mengetahui Marxisme-Leninisme dengan baik dan mengenal keadaan dengan baik, mengintegrasikan kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan keadaan, kongkrit di berbagai bidang, termasuk bidang sastra dan seni, unilah syarat untuk menemukan kepribadian kita, termasuk kepribadian dibidang sastra dan seni.

Seperti diyuga Partai-Partai Komunis sejati diuarnegeri, Partai kita adalah Partai Marxis-Leninis. Prinsip-Prinsip dan teori-teori kita sama, tapi cara kita menuangkan pendirian kita tentang sesuatu yang sama adalah berbeda dengan Partai-Partai Marxis-Leninis lain. Kita senantiasa berusaha untuk memberikan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kepentingan dan selera Rakyat kita. Ini tidak bisa lain, karena Partai kita adalah Partai Komunis Indonesia, revolusi kita berlangsung di Indonesia dan dilaksanakan oleh manusia-manusia Indonesia. Oleh karena itu kita harus selalu bertitiktolak dari kepentingan dan dari perasaan dan fikiran Rakyat kita sendiri, dan apa yang kita nyatakan harus dapat dimengerti dan dirasa-kan oleh Rakyat kita.

Ambillah, misalnya hal mengganyang revisionisme. Kawan-Kawan Tiongkok mengganyang revisionisme, demikian pula kawan-kawan Albania, Vietnam, Korea, Jepang, Selandia Baru dll. Masing-Masing Partai itu mempunyai gayanya sendiri dalam mengganyang revisionisme, dan kita pun mempunyai gaya kita sendiri. Setelah menetapkan prinsip yang tepat, soal gaya, soal cara membawakan prinsip yang tepat itu, menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan kita. Salah dalam gaya bisa merusak kerya revolutioner kita. Oleh karena itu kaum Komunis harus kaya dengan gaya. Kaum revisionis modern mempunyai gayanya sendiri, gaya revisionisme modern dan dogmatisme modern sekalusg, gaya-gaya yang miskin sekali. Dalam memberi alasan mengenai pendirian revisi-onisnya, mereka biasanya hanya memambahk yang itu-itu diyuga sehingga sangat menjemukan. Tetapi sebaiknya kaum revisionis modern memang tidak usah kreatif, karena makin kreatif mereka makin besar kerusakan yang mereka timbulkan dalam gerakan revolutioner, karena prinsip yang mereka pertahankan adalah salah.

Kepala kaum revisionis Khrusycov mau memaksakan konferensi perplecan GKI dalam bulan Desember yang akan datang. Berhubung konferensi ini diadakan untuk per-petianan. karena dilakukan tanpa persiapan yang baik, misalnya tanpa pertemuan-pertemuan bilateral yang cukup untuk memetayahkan sejumlah perbedaan pendapat di kalangan Partai Komunis dan Buruh, maka semua Partai Marxisme-Leninis menolak untuk hadir dalam konferensi itu. Kawan-Kawan tentu sudah membaca sikap dari Partai Tiongkok, Albania, Korea, Vietnam, Jepang, Selandia Baru, dll., dan kawan-kawan memahami baik sikap Partai kita. Coba perhatikan, betapa warna-warninya, betapa beraneka-ragam gayanya, tetapi seluruhnya merupakan satu simfoni yang melagukan ke-matian revisionisme. Yang Yiganyang sama, yaitu revisionisme; prinsip-prinsip yang dipertahankan dan diperjuangkan untuk dimenangkan, juga sama, yaitu Marxisme-Leninisme. Tapi tak seo-ang pun yang ber-sungguh-sungguh bisa mengatakan, bahwa yang satu hanya meniru yang lain. Partai-Partai Marxis-Leninis mempunyai dayu-cipta yang kuat, masing-masing mempunyai kepribadian, oleh karena itu semua segar-segar. Sedangkan partai-partai revisionis sudah khilangan kepribadian, sudah layu, terus tenggelam dalam dekadensi.

Bagi kita, kaum Komunis Indonesia, tidak bisa lain kecuati harus melawan revisionisme karena revisionisme meratuni, tidak hanya GKI tetapi juga gerakan revolusi-oner Rakyat-Rakyat di seluruh dunia, karena GKI merupakan kekuatan inti dalam gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat di seluruh dunia. Kaum revisionis adalah kolone ke-V imperialis yang menyusup di dalam gerakan revolusioner Rakyat-Rakyat di seluruh dunia. Tetapi, jadi ada “tetapinya”, kita harus melawan revisionisme dengan bertitiktolak dari kepentingan Rakyat Indonesia, kepentingan Revolusi Indonesia, yang dibahaya-kan oleh revisionisme itu. Kita mempunyai Rakyat kita sendiri, sejarah perjuangan kita sendiri, alam dan manusia-manusia kita sendiri, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri, dan oleh karena itu kita harus menemukan dan mempunyai gaya kita sendiri.

Dibidang sastra dan seni, jadi juga dibidang senilukis, kita harus mempunyai gaya kita sendiri, kepribadian kita sendiri. Dengan bahan-bahan dan alat-alat baik bikinan dalam negeri Maupun luar negeri, pelukis-pelukis kita harus mentiyptakan lukisan-lukisan di mana kepribadian Indonesia diterminkan.

Berbeda dengan kaum revisionis, kekreatifan kita bukanlah dalam mengubah prinsip-prinsip atau “kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme, tetapi dalam membawakan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum itu, jadi dalam gaya. Kaum revisi-onis mengubah kebenaran umum Marxisme-Leninisme; dengan demikian mereka bukan berbuat kreatif, tetapi des-truktif terhadap Marxisme-Leninisme. Prinsip dan kebe-naran-naran umum Marxisme-Leninisme tidak boleh ”dikreatif-kan“ atau ”dibijaksanakan“, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran umum itu sendiri, khususnya materialisme dialektik dan histori, sudah merupakan kreasi agung yang dapat di-trapkan kapan dan dimana pun.

Hanya kalau kita kreatif dalam membawakan kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme, kita berbuat ilmiah. Hanya dengan berbuat demikian kita dapat mezemukan dan me-ngembangkan kepribadian kita sendiri, kita dapat mem-berikan sumbangan kepada pertumbuhan Marxisme-Le-ninisme. Ini adalah sikap yang tepat, dan seharusnya menjadi sikap semua Partai Komunis, baik besar Maupun keciil. Menyumbang pada pertumbuhan Marxisme-Leninis-me bukan hanya kewadiyiban dan hak Partai Komunis yang besar atau sudah menang, ia juga kewadiyiban dan hak semua Partai Komunis, termasuk yang keyiil dan yang belum menang. Tetapi untuk ini tiap Partai Komunis harus me-lemparkan dayu-dayu revisionisme, baik klasik Maupun modern, melemparkan dayu-dayu dogmatisme, baik klasik Maupun modern, harus melawan kosmopolitanisme dan sovinisme, harus bertitiktolak dari kepentingan Rakyat dan revolusi seluruh dunia, harus menggali dan mengembang-kan kepribadian Rakyat masing-masing. Kepribadian adalah tanda daripada kekreatifan.

Ciptakan Karya-Karya Yang Bersemangat Revolusioner

Dalam waktu yang relatif singkat Partai kita telah ber-kembang dari Partai yang anggotanya kurang dari 8.000 menjadi Partai yang beranggota lebih dari 3 juta, yang berhubungan erat-erat dengan massa dan mempunyai pengaruh atas massa yang luas. Boleh dibilang rata-rata antara tiap 3 orang di negeri kita sekarang terdapat scorang Komunis atau simpatisan Komunis atau anggota keluarga Komunis. Jadi, tidak seperti yang dikatakan oleh Kawan Sujadi dari BTI, bahwa dalam tiap 3 orang ada scorang Komunis. Tidak, anggota PKI hanya 3 juta lebih. Yang tepat ialah rata-rata terdapat scorang Komunis atau simpatisan Komunis atau anggota keluarga Komunis dalam tiap 3 orang In-donesia.

Tanpa pengembangan dayakreatif dari para pekerya politik kita dan dari semua anggota Partai kita, tidak mungkin kita membangun Partai yang demikian besar nyia. Kita berhasil dalam pekerjaan besar ini karena kita memandukan “realisme revolusioner” dengan “romantisme revolusioner”. Ketika kita memulai pembangunan kembali Partai kita dalam tahun 1951, kita bertitiktolak dari suatu kenyataan, yaitu Partai yang ketiyil dan sangat sulit kedudukannya. Tetapi Sekalipun ketiyil dan sulit posisinya, kita memiliki kesedaran yang dalam bahwa hanya Partai inilah yang mempunyai haridepan yang gemilang, yang juga menjadi haridepannya Rakyat Indonesia. Kesedaran yang dalam ini kita padukan dengan heroisme proletariat dan Rakyat pekerya Indonesia yang merupakan kekuatan yang tidak ada turanya dalam melawan kesultanan-kesultanan dan dalam mentayapai puncak-puncak kemenangan revolusioner. Heroisme revolusioner atau romantisme revolusioner inilah yang kita padukan dengan realisme revolusioner kita, dan hasilnya kita lihat sendiri, di luar duguan. Dengan kemauan keras dan berlandaskan realisme yang revolusioner kita bisa mentayapai apa yang kita inginkan. Kita mau dan kita bisa!

Partai kita bukan hanya Partai yang sekedar banyak anggotanya dan tersebar di seluruh negeri, tetapi juga terkonsolidasi dalam organisasi, politik dan ideologi. Partai kita tidak hanya menggenobleng diri dalam teori Marxisme-Leninisme, tetapi diuya dan terutama dalam semangat Marxisme-Leninisme. Malahan, sebagaimana pernah saya katakan, kita berpendirian bahwa teori Marxisme-Leninisme penting, tetapi semangat Marxisme-Leninisme adalah lebih penting lagi. Maka itu, saya kesal kalau melihat kawan4 kita yang tidak bersemangat, misalnya tidak bersemangat dalam membela kebenaran-kebenaran yang dikemukakan dalam pidato-pidato atau tulisan-tulisannya. Semangat penting, kawan-kawan. Isi pembicaran yang baik, yang benar, tetapi tidak dikemukakan dengan semangat revolusioner, kurang dapat menarik perhatian, dan ini berarti kurang dapat menarik dan memobilisasi orang banyak untuk berdiri difihak kebenaran yang kita bela. Tidak hanya para pekerya politik kita harus bekerya dan berbitiyara dengan bersemangat, tetapi juga para sastrawan dan seniman harus menyatipkan karya-karya yang bersemangat revolusioner sehingga mempunyai daya-mobilisasi dan daya-organisasi yang kuat. Buat apa kita berbitiyara atau menulis diika tidak untuk memobilisasi dan mengorganisasi massa agar berjuang membela kebenaran-kebenaran yang kita kemukakan.

Jadi, kita harus membela teori-teori dan politik-politik Marxisme-Leninisme dengan semangat Marxisme-Leninisme. Hanya dengan demikian Partai bisa bersatu fikiran dan bersatu hati dengan massa, dan anggota-anggota Partai kita bisa berhubungan erat-erat dengan massa. Partai yang banyak anggotanya, tetapi tidak berhubungan erat-erat dan tidak bersatu-padu dengan massa Rakyat tidaklah banyak artinya.

Mutu Pribadi Sastrawan dan Seniman Harus Lebih Baik daripada Mutu Karyanya

Kawan4. Perkembangan sesuatu Partai politik banyak tergantung pada kader-kadernya. Kemarin Bung Karno berbitiyara tentang kader di hadapan para peserta “Pendidikan Kader Revolusi” dan di hadapan anakbuaah kapal pelatih “Dewaruci”. Kader, kata Bung Karno, adalah tulang, dan bahkan beliau katakan, tulang hidup daripada revolusi. Tubuh tidak mungkin tegak tanpa tulang-tulang, demikian pula revolusi tidak mungkin tegak tanpa kader-kader revolusioner. Kawan-Kawan tentunya pernah melihat pigura. Pigura mempunyai bingkai. Dan diika bingkai itu rusak maka pigura berantakan. Dalam pembangunan Partai dan revolusi peranan kader adalah bagaikan bingkai pigura itu. Tanpa bingkai tidak ada pigura, tanpa kader tidak ada Partai dan tidak ada revolusi. Kalau bingkai rusak dimakan bubuk, bingkai itu akhirnya akan putus-putus dan piguranya akan berantakan. Begituah pula kalau kader-kader kita “dimakan bubuk” karena ideologinya kendor, moralnya bediat, maka Partai dan revolusi kita juga akan berantakan.

Kemarin Kawan Dharta mengadakan selfkritik mengenai kesalah-kesalahan dibidang ideologi, terutama ‘moral, yang pernah dilakukannya. Dengan selfkritiknya itu Kawan Dharta telah memungut kembali panji-panji revolusi yang pernah dicam-pakkannya. Ia telah merebut kembali dan mengibarkan lagi panji-panji Komunisnia. Kawan-Kawan, kita sambut hangat selfkritik Kawan Dharta.

Selama KSSR ini kawan-kawan telah bertekad-bulat untuk mengibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran, panji ofensif revolusioner, dibidang sastra dan seni. Kawan Dharta tidak terkecuali. Untuk melanyarkan ofensif revolusioner tang hebat ini tiap sastrawan dan seniman Komunis harus bertekad untuk menjadi mutu pribadinya masing-masing lebih tinggi daripada mutu karyanya. Hati massa tidak bisa di-dustai dan janganlah baka digunakan untuk menutupi kebusukan. Salahsatu ciri orang revolutioner ialah satunya kata dengan perbuatan. Bagi sastrawan dan seniman revolutioner, satunya karya dengan perbuatan, bahkan lebih baik mutu pribadinya daripada mutukaryanya.

Dalam Partai kita bukan hanya kader-kader tinggi yang memegang peranan penting, tetapi juga kader-kader menengah dan bawah. Malahan kader-kader basis, kader-kader Resort Partai dan Ranting ormas-ormas revolutioner, adalah sangat penting kedudukannya, karena merekaolah yang langsung dan saban waktu berhubungan dengan massa Rakyat. Karenanyna mereka harus mendapat perhatian penuh dari Partai. Para sastrawan dan seniman revolutioner harus terutama menyipta untuk mereka, di samping juga suka belajar dari mereka.

Pernah saya katakan, bahwa berbitiyara pada umumnya atau pada pokoknya, kader PKI adalah baik. Tidak banyak Partai sekawan yang kaderanya mengungguli kader Partai kita. Saya dapat mengatakan demikian karena saya mengenal baik keadaan kader Partai kita. Selain itu dari perkenalan saya dengan kader Partai di semua negeri Sosialis dan negeri-negeri kapitalis yang pernah saya kunjungi, saya‘ juga mengenal keadaan kader Partai-Partai sekawan. Dengan demikian saya dapat membuat perbandingan-perbandingan, dan kesimpulannya ialah, bahwa jika berbitiyara pada umumnya, kader PKI adalah baik. Memang ada Partai-Partai sekawan, misalnya Partai Komunis Tiongkok, Partai Buruh Korea dan beberapa lagi, yang kadernya lebih unggul daripada kader Partai kita. Ini tidak membikin kita keci hati. Malahan kita harus bergembira bahwa dalam usaha kita meningkatkan taraf kader Partai kita, kita mempunyai teladan yang mendorong kita untuk terusmencus memperbaiki kwalitet kader kita. Dengan demikian kita melihat kekurangan-kekurangan kita dan kepala kita tidak menjadi kemasukan angin, kita tidak menjadi sombong.

Kawan Imer Manzhozi dari Albania yang memberikan sambutan dalam KSSR kita ini antara lain mengatakan bahwa menurut pengalaman Albania membikin manusia baru adalah lebih sulit daripada mendirikan pabrik-pabrik. Ini dalam masyarakat baru, masyarakat Sosialis di Albania. Jadi, dapat dibalayangkan betapa sulitnya membikin manusia baru dalam masyarakat lama seperti masyarakat kita sekarang. Tetapi, adalay benar bahwa tidak otomatis lebih mudah membikin manusia baru dalam masyarakat baru, masyarakat Sosialis. Tergantung pada Partai Komunisnya. Dalam masyarakat Sosialis yang dipimpin oleh Partai revisi- ons, bukan manusia-manusia baru yang dibentuk oleh Partai tetapi manusia-manusia dengan ideologi dan pandangan lama, manusia-manusia lama. Di-negeri-negeri Sosialis yang dipimpin oleh Partai-Partai revisi- ons, Rakyat pekerja tidak suka masuk Partai, karena Partai tidak menyawai dan tidak mewakili kepentingan Rakyat pekerja, tetapi mewakili klik-klik yang berkusa yang memandang rendah Rakyat pekerja dan yang politiknya tidak bisa diterima'oleh Rakyat pekerja. Kaum revisionis bukan hanya tidak melahirkan kader-kader yang baik, tetapi bahan merusak kader-kader yang sudah baik, membikin mereka manusia-manusia dekaden

Turba Bukan Pekerjaan Musiman

Di antara kawan-kawan ada yang berbitiyara tentang tidak ada waktu untuk turba (turub ke bawah). Saya sependapat dengan Kawan Agam Wispi, bahwa ini tidak benar. Memang, untuk turba ke desa harus disediakan waktu yang khusus, dan mi memang sulit bagi banyak kawan, karena mereka saban hari ditumpuki dengan pekerjaan-pekerjaan di kota, berhubung kita masih kekurangan kader. Tetapi semua kawan sastrawan dan seniman harus mempunyai pengalaman turba ke desa. Makaitu, kita harus membikin waktu untuk ini.

Tetapi, kawan-kawan, turba bukan hanya ke desa saja. Dan turba bukanlah pekerjaan musiman, tetapi sesuatu yang harus kita lakukam terus-menerus. Kawan-Kawan mengetahui bahwa tiap anggota-anggota CC berkedwadibyian membantu pekerya- an Comite Partai di tempat-tinggalnya, membantu CSS dan CR di tempat-tinggalnya. Tentu maksudnya bukanlah bahwa anggota-anggota CC harus menggantikan peranan Sekretaris CSS atau CR. Maksudnya supaya bahwa anggota-anggota CC ber- gaul dengan pimpinan dan anggota-anggota Partai di tempat tinggal- nya, supaya mengetahui sendiri bagaimana instruksi-instruksi dan petunyuk-petunyuk CC dipraktikkan oleh Comite-Comite dan anggota-anggota Partai di tempat tinggalnya, dan supaya mengetahui langsung bagaimana suara massa anggota dan massa Rakyat ten- tang Partai, tentang berbagai persoalan dalam dan luar- negeri, dan di mana perlu memberikan petunyuk-petunyuk kepada CSS dan CR. Dengan demikian, Comite-Comite Partai setempat merasa dibantu oleh anggota CC yang bersangkutan, dan bersamaan dengan itu anggota CC yang bersangkutan bisa menumbang dalam diskusi-diskusi CC dengan pengalaman-pengalaman praktis yang segar, guna memperbaiki instruksi-instruksi dan petunduk-petunduk CC. Dengan anggota-anggota CC yang mempunyai pengalaman-pengalaman langsung tentang kehidupan Partai diorganisasi bawahian, maka diskusi-diskusi di antara anggota-anggota CC tentang kehidupan Partai akan menjadi lebih hidup, sehingga instruksi-instruksi serta petunduk-petunduk CC akan menjadi lebih obyektif dan lebih realitis.

Demikian pula para sastrawan dan seniman kita bisa mengadakan turba yang terus-menerus. Mereka tidak bertempat-tinggal di-awang-awang, mereka bertempat-tinggal di-tengah-tengah orang banyak dengan tetangga-tetangganya yang kedudukan sosialnya ber-macam-macam, mereka mempunyai kenalan dan teman dekat yang kedudukan sosialnya ber-macam-macam, mereka mempunyai keluarga sekota atau sekampung yang kedudukan sosialnya ber-macam-macam, mereka mempunyai teman-teman se-kerya yang kedudukan sosialnya juga ber-macam-macam, dsb. Orang-Orang dari berbagai kedudukan sosial ini bisa diriset untuk mengetahui benar-benar keadaannya, suka dan dukaan, perasaan dan fikirannya, aspirasi dan ciat-ciatnya, dan segala apa yang diperlukan untuk mentiptakan karya-karya sastra dan seni yang menarik.

Di-kota-kota tidak kekurangan tema yang menarik dan perlu diungkapkan, misalnya tema kabir (kapitalis birokrat), OKB (Orang Kaya Baru), buruh kereta api, pegawai negeri, fungsionaris ormas dsb. Soalnya, sastrawan dan seniman kita harus mempunyai kemauan keras, pandai mengatur waktu, harus bekeryia tekun dan sistimatis.

Kaum kabir dari OKB, misalnya, secara politik sudah diludahi oleh Rakyat karena kejahatan dan tingkah-laku-laku yang memuakkan. Tetapi belum ada karya sastra dau seni yang menelanjangi mereka sampai habis-habisan. Mengapa para sastrawan dan seniman kita tidak tertarik untuk mengungkapkan tingkahlaku kaum kabir yang jahat, musafik dan memuakkan itu? Bukankah mereka yang gembar-gembor tentang revolusi dan amanat penderitaan Rakyat, dan bukankah mereka pula yang menyual negara dan Rakyat kepada maskapai-maskapai minyak asing; memiliki banyak mobil pribadi dan banyak gundik? Bukankah mereka pula yang ber-sama-sama dengan kaum mayikan yang bernai golf, mempunyai lebih dari satu bungalow, mempunyai devisen di luar negeri, dsb? Tingkahlaku kaum OKB juga memuakkan. Bukankah di antara mereka ada yang memesan perabot rumah-tangga asal “mahal” saja dan kalau memesan buku bukan titel buku atau penulis buku yang mereka sebut tetapi mereka memesan “sekin meter panjang, harus ada kamus yang tebal atau ansiklopedi” agar tamu-tamu yang datang ke rumahnya mendapat kesan bahwa dia seorang yang “terpelayari”? Ya, banyak lagi hal-hal yang tidak hanya akan menarik diyaka diungkapkan, tetapi diyuga sangat membantu pekerjaan politik. Juga kegiatan-kegiatan subversif asing banyak yang menarik dan akan membantu pekerjaan politik diyaka diungkapkan lewat karya sastra dan seni. Jadi banyak tanah subur yang belum digarap olkh para sastrawan dan seniman kita.

Massa Adalah Sumber Inspirasi dan Sumber Kreasi yang Sesungguhnya

Tentang kekreatifan massa, semua kita, termasuk sastrawan dan seniman kita, sudah meyakininya. Tetapi umumnya keyakinan itu belum mendarah-daging, belum masuk ketulang-sungsum. Bahwa “massa lebih kreatif daripada yang kita duga atau kita fikirkan” harus ditanamkan dalam fikiran dan hati kita. Menurut kenyataannayapan memang demikianlah keadaannayana.

Dalam saya bergaul dengan kader-kader bawahian, pemimpin-pemimpin organisasi basis daripada Partai dan ormas-ormas, serta dengan anggota-anggota biasa daripada Partai kita, sering saya tertegun dibikin kagum oleh kekreatifan, kebijaksanan dan keuletan mereka dalam melaksanakan instruksi-instruksi dan petunduk-petunduk Partai. Sedikit saja mereka diberi tuntunan yang tepat, artinya tuntunan yang dibikin berdasarkan pengalaman mereka sendiri, maka mereka akan melaksanakan tuntunan itu dengan lebih baik daripada yang kita fikirkan atau kita duga, mereka akan memperkaya tuntunan itu dengan pengalaman-pengalaman mereka. Oleh karena itu, jika kita tidak tepat menimpulkan pengalaman kader-kader bawahian dan pengalaman-pengalaman massa, maka tuntunan-tuntunan yang kita berikan akan ke-tinggalan dan kemudian tidak akan terasa sebagai tuntunan bagi massa anggota. Dengan demikian massa anggota tidak merasa mendapat pimpinan dan akhirnya akan timbul ketidakuasan serta kontradiksi-kontradiksi antara yang dipimpin dengan yang memimpin. Ambillah, misalnya, soal peluasan ke-anggotaan dan cara mendidik. calonanggota-calonanggota baru. Saya belum tentu dapat menarik 3 atau 5 orang calon anggota baru dalam beberapa bulan, dan belum tentu mampu mendidik mereka dalam beberapa bulan untuk menjadi Komunis-Komunis yang yakin. Tetapi banyuk kader bawah dan anggota3 biasa kita yang bisa melakukan hal ini dengan baik. Jika pengalaman mereka ini kita simpulkan dengan baik dan kita didikan milik seluruh Partai dengan memuatnya di dalam tulisan-tulisan atau laporan-laporan Comite, maka pasti perkembangan Partai akan lebih baik. Bekerja beginilah yang sudah agak lama dilakukan oleh CC Partai kita. Setiap kali menyusun laporan kepada CC saya tidak hanya meminta sumbangan fikiran dari anggota-anggota CC dan kader-kader tinggi lainnya, tetapi diuga dari kader-kader bawah, termasuk kader-kader CSS dan CR di tempat-tinggal saya yang saya kenal baik karena pergaulan saya dengan mereka. Massa memerlukan petunduk-petunduk dari pimpinan, tapi petunduk-petunduk yang dibikin berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dengan petunduk-petunduk itu massa akan berpraktek lebih baik lagi, dan praktek yang lebih baik itu harus disimpulkan oleh pimpinan, dan atas dasar kesimpulan-kesimpulan itu kemudian dibikin petunduk-petunduk yang lebih baik lagi, demikianlah seterusnya.

Kawan-Kawan, saya pernah mengatakan bahwa Partai kita sekarang sudah dalam keadaan “selfpropelling growth”, sudah tumbuh dan menumbuhkan. Memang demikianlah keadaannya. Oleh karena itu keliru samasekalik diyaka ada pemimpin Partai kita yang berfikir bahwa Partai maju hanya karena dirinya se-mata-mata. Juga keliru kalau ada pemimpin ormas revolusioner, yang berfikir bahwa ormas nya maju hanya karena dirinya se-mata-mata. Masing-Masing pemimpin harus berfikir, bahwa Partai atau ormas mungkin akan lebih tepat kemajuannya diyaka yang memimpinnya kawan lain. Menganggap diri sebagai pemimpin yang tak tergantikan adalah takhayul dan meremehkan peranan massa.

Juga pemimpin3 Lekra tidak boleh berfikir bahwa Lekra berkenanbang dari organisasi dengan beberapa gelintir anggota menjadi organisasi kebudayaan terbesar di negeri kita dengan 1/2 yuta anggota adalah hanya karena dirinya se-mata-mata. Ribuan bahkan yutaan orang yang telah ambil bagian dalam mengembangkan Lekra.

Demikian seharusnya tiap pemimpin kita berfikir, sedangkan mereka yang bukan pemimpin harus membantu sekutu tenaga agar sang pemimpin bisa melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Dengan demikian pemimpin-pemimpin Partai kita senantiasa bersandar kepada massa dan terusmenerus memperbaiki mutu kepemimpinannya.

Kawan-Kawan, salahsatu kesan saya yang sangat mendalam selama 4 bulan melaksanakan tugas riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani pada awal tahun ini ialah tentang kesungguhan kader-kader Partai kita. Mereka tidak hanya berbicara dan tidak hanya meyakini kebenaran menurut teori tentang pentingnya pengintegrasian Partai dengan kaum tani, tetapi mereka sungguh-sungguh berbuat, yang diantaryana banyak yang mengagumkan saya. Misalnya, sebelum riset dimulai, banyak kawan yang mengira bahwa sarjana-sarjana Komunis tidak bisa ambilbagian dalam turba dengan melakukan “tiga sama”, yaitu sama tinggal, sama makan dan sama kerya dengan buruhntani dan tanimiskin.

Tetapi setelah dikerjakan, terbuktii bahwa mereka bisa, dan malahan, karena pengetahuan mereka lebih luas dari kawan-kawan lain dan mereka juga sungguh-sungguh mengintegrasikan diri dengan kaum tani, laporan riset mereka sering termasuk yang terbaik. Juga para sastrawan dan seniman pada umumnya baik sekali peranannya dalam pekerjaaan riset itu.

Ada yang lebih mengharukan lagi. Kader-Kader wanita kita yang ambilbagian dalam pekerjaaan riset ada yang begitu mesra hubunganya dengan mbok dan pak tani ten.pat mereka melakukan “tiga sama” sehingga ketika berpisah mereka ber-tangis'an. Setelah mereka selesai memberikan laporan pertama kepada Comite Provinsi dan harus turba lagi meriset desa lain, mereka tempata kembali ke desa untuk bertemu lagi dengan mbok dan pak.tani tempat mereka pertama kali mengadakan “tiga sama”. Kalau tergantung kepada mereka tentu mereka tidak mau dipindah ke desa lain, karena sudah begitu mesra hubunganya dengan keuarga petani yang pertama.

Pertanda apa semuanya ini; kawan-kawan? Pertanda bahwa syarat untuk mengintegrasikan PKI yang Marxis-Leninis dengan massa kaum tani adalah cukup dan kuat. Cukup dan kuat syaryanya, sehingga tidak akan terulang lagi pengalaman perang gerilya dalam Revolusi Agustus 1945, di mana kader-kader intelektuial kita dan kader-kader wanita kota kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Pada waktu itu sering terjadi bahwa kader-kader kota kita sulit buang-air dikali. Mereka mengimpikan WC seperti di rumahnya. Mereka kebingungan, karena tidak melihat tempat buang-air yang biasa mereka kenal, dan mereka menggerutu dan memaki-maki dalam bahasa Belanda.

Tentu belum semua kader kota bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Tapi sudah banyir yang bisa, termasuk mereka yang semula dikira tidak bisa.

Pendeknya, kawan-kawan, kita harus membikin diri kita supaya senantiasa bisa diiywai oleh massa anggota-anggota Partai kita dan oleh massa Rakyat. Untuk ini kita harus senantiasa berada di-tengah-tengah massa. Harya dengan demikian kita bisa mendiywai massa Rakyat. Para sastrawan dan seniman kita tidak terkecuali, mereka juga harus senantiasa membuat dirinya bisa diiywai oleh Partai dan Rakyat, dan banyir dengan demikian mereka dapat mendiywai anggota-anggota Partai dan Rakyat dengan karya-karya mereka guna beryuang lebih hebat. Massa adalah sumber inspirasi dan sumber kreasi yang sesungguhnya.

Terus Perkuat Kesatuan Sastrawan dan Seniman dengan Partai, Klas Buruh, Rakyat Pekerja dan Nasion

Kawan-Kawan, juga selama Konferensi ini saya dibikin kagum oleh kebesaran Partai kita yang diekspresikan oleh beberapa hal misalnya, oleh kesatuan sastrawan dan seniman Komunis dengan Partainya. Tak seorang di antara peserta KSSR yang meragukan tentang keharusan pimpinan Partai, pimpinan proletariat, dibidangsasta dan seni. Kawan Sudiharsono, komposis terkenal kita, berdasarkan pengalamanya yang banyir mengatakan antara lain dengan tegas dalam pandangannya, bahwa sastra dan seni Indoneksia ‘dak akan berkembang baik jika tidak dipimpin oleh proletariat.

Juga tentang untuk siapa sastra dan seni, semua kawan sepandapat dengan reterat. Kawan-Kawan tentu telah membata pidato Kawan Mao Ce-tung dalam simposion Yenan pada bulan Mei 1942. Dalam salahsatu kritiknya, Kawan Mau antara lain mengatakan, bahwa ada perselisihan antara se-mentara kawan tentang soal-soal yang tidak penting, yang tidak prinsipil. Tetapi mengenai yang penting, yang prinsipil, yatu untuk siapa sastra dan seni, sementara kawan-kawan itu satu, mereka tidak berbeda, mereka sama-sama meremehkan kaum buruh, tani dan prajurit. Kita dalam KSSR ini sudah bertekad bular untuk mengabdiakan sastra dan seni kepada kaum buruh, tani dan prajurit. Soalna sekarang, kita sehagai orang revolusioner, harus membuktikan satunya perkataan dengan perbuatan. Kalau tidak, kita akan sama saja dengan orang-orang yang dikritik oleh Kawan Mau itu.

Dengan demikian ada kebulatan yang se-bulat-bulatnya tentang penghukuman terhadap aliran “seni untuk seni”, “sastra untuk sastra” dan “seni untuk semua” yang semuanya itu dicakup dalam “Manikebuisme”. Ada juga orang yang suka berkata “seni untuk masyara'kat”. Ini nampaknya tidak apa-apa, tetapi juga menyesatkan. Jika sekarang kita berbi- cara tentang “seni untuk masyara'kat” maka berarti “seni untuk masyara'kat yang belum merdeka penuh dan setengah feodal” sekarang ini. Dalam masyara'kat Indonesia sekra- rang terdapat musuh-musuh Rakyat, yaitu kaum penghisap seperti kaum imperialis, kapitalis komprador, kapitalis birokrat, tuan-tuanan dsb., di samping juga terdapat Rakyat pekerya'yang dihisap. Jadi, “seni untuk masyara'kat” tidak jelas untuk siapa, untuk penghisap atau yang dihisap?

Kaum reaksioner sudah tidak mempunyai keberanian untuk terang-terangan berkata “seni untuk kaum kapitalis”, “seni untuk kaum feodal”, “seni untuk raja”, “semi untuk kaum menak”, “seni untuk kaum kapitalis komprador”, “seni untuk kapitalis birokrat”, dsb. Oleh karena itu mereka menggunakan perumusan-perumusan yang menipu dan menyesatkan seperti “seni untuk seni”, “seni untuk semua”; “seni untuk masyara'kat” dsb. Kita harus mengakhiri penipuan-penipuan ini dengan menggunakanyngnya habis-habisan dengan jalan memenangkan prinsip “sastra dan seni untuk Rakyat” dan “sastra dan seni untuk buruh, tani dan prajurit”, dan dengan jalan menciptakan karya-karya yang tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistiknya.

Kawan-Kawan menerima dengan antusias garis pengintegrasian dengan kaum tani. Salahsatu kesimpulan riset tentang ke-adaan kaum tani dan gerakan tani di Jawa, ialah bahwa dalam turba ke desa kita tidak boleh “menggurui kaum tani” Ini tepat. Tetapi maksudnya bukan supaya kawan-kawan yang turba ke desa mengubah diri dari unsur proletariat menjadi unsur kaum tani. Sekalipun kebanyakan dari kita berasal dari klas buryuis ketil, tetapi dengan menjadi Komunis berarti kita memasuki dan menjadi bagian dari barisan proletariat. Kita hanya bisa turba dengan mem- bawa amanat proletariat jika kita “membawa” Marxisme-Lennisme bersama kita. Turba sastrawan dan seniman ke desa hanya akan berhasil jika mereka “membawa” Marxisme-Lennisme dalam otak dan hatinya. Kegagalan turba ke desa dari sementara kawan-kawan saastrawan dan seniman di waktu yang sudah-sudah disebabkan karena mereka tidak “membawa” Marxisme-Leninisme ke desa, karena memang mereka belum pernah mempelajari Marxisme-Leninisme dengan baik. Yang diintegrasikan oleh turba semacan itu bukan unsur proletariat, bukan PKI, dengan kaum tani, tetapi unsur burjuis ketiyil kota dengan unsur burjuis ketiyil desa. Jadi, bukan pengintegrasian PKI dengan kaum tani Kalau kita dalam hubungan dengan ini berbicara tentang pengintegrasian harus ada dua unsur, yaitu pertama, unsur proletariat, yaitu Komunis atau Marxisme-Leninis, dan kedua, unsur kaum tani. Demikianlah betapa pentingnya supaya kaum Komunis yang berasal dari burjuasi ketiyil sungguh-sungguh mempelajari dan meresapkan Marxisme-Leninisme sehingga kita dimana pun, juga diidesa, bisa menjadi wakil yang sejati dari proletariat. Oleh karena itu, kawan saastrawan dan seniman, sebagaimana juga kader-kader Partai di-bidang-bidang lain, harus dengan sungguh-sungguh mempelajari dan meresapkan Marxisme-Leninisme. Tanpa masing-masing kita memiliki Marxisme-Leninisme tidak mungkin kita mengenal keadaan apalagi mengubah keadaan, tidak mungkin kita ambilbagian dalam proses mengintegrasikan PKI dengan keadaan obyektif di Indonesia.

Kemudian, kawan-kawan, KSSR juga bulat mengenai sikap. Satu-Satunya sikap yang tepat ialah sikap “klas buruh, sikap proletariat”. Berdasarkan sikap proletariat, saastrawan dan seniman revolusioner harus bersikap memuji massa Rakyat, bersatu dan berduyang terhadap sekutu, dan mene-landangi serta menanamkan kebencian terhadap musuh-musuh Rakyat. Dalam soal sikap, soal yang prinsipill ini, kita juga bersatu. Sikap yang tepat ini sangat penting, bukan hanya untuk perbaikan kresasi kawan-kawan, tetapi untuk se-gala-gala nya. Ya, bahkan saya dapat mengatakan bahwa sikap yang tepat juga dapat melawan serangan penyakit syaraf. Orang yang mempunyai sikap yang tidak tepat, misalnya, yang di-satu lihak telah memilih jalan proletariat tetapi difihak lain musih belum mau melepasan diri sepenuhnya dari klas burjuis ketiyilnya yang lama, dalam saat-saat yang menentukan orang demikian bisa menjadi bingung, dan kalau bingungnya keterlaluan ia bisa diserang penyakit syaraf. Se-baliknya saya mengenal beberapa kawan, yang karena pe-ninykit TBC hanya tinggal satu paru-parunya, tapi sikapnya kuat, tidak pernah ragu tentang jalan proletariat dan jalan revolusi yang sudah dipilihna; dalam saat-saat yang menentukan semangatnya malahan menjadi lebih tinggi dari biasa, kegembiraannya bertambah, dan dia diyauh dari penyakit syaraf. Sudah tentu tidak semua kawan yang kena sakit syaraf disebabkan karena sikap klasnia tidak teguh. Saya hanya ingin mengemukakan bahwa soal sikap adalah sangat penting bagi sesorang yang mau berhasil dalam perjuangan revolusioner. Tidak ada dan tidak akan ada orang revolusioner yang berhasil jika sikapnya plintat-plitut, jika biasa duduk di antara dua kursi, misalnya di antara kursi proletariat dan kursi burjuasi ketiyil atau di antara kursi kaum tani dan kursi tuanantah.

Pekerjaan kita sebagai orang revolusioner makin lama makin banyak dan makin kompleks. Ini tidak terkecuali bagi para saastrawan dan seniman kita. Kita harus berusaha untuk melemparkan segala sesuatu yang akan merintangi pekerjaan kita, dan ini harus dimulai dengan melemparkan rintangan-rintangan ideologis. Oleh karena itu penting sekali kesatuan pendapat yang kita pertegas dalam KSSR ini, terutama tentang peranan pimpinan Partai dalam sastra dan seni, tentang sastra dan seni untuk buruh, tani dan prayurit, dan tentang sikap proletariat yang memuji massa Rakyat, yang bersatu dan berduyang terhadap sekutu-sekutu serta menanam-dangi dan menanamkan kebencian terhadap musuh-musuh Rakyat. Masalah pokoknya ialah memperkuat kesatuan saastrawan dan seniman revolusioner dengan Partai, dengan klas buruh, dengan Rakyat pekerya dan dengan nasion. Dengan sungguh-sungguh mengamalkan ini kita akan lebih mudah dan lebih tepat menyelasekan kontradiksi-kontradiksi intern yang suka timbul dalam diri saastrawan dan seniman dengan memenangkkan urusan proletariat.

Belakangan ini dalam Partai kita banyak dibicarakan tentang keluarga Komunis, khususnya tentang kenyataan adanya keterbelakangan politik dan kebudayaan daripada anggota-anggota keluarga dalam rumah tangga Komunis. Para saastrawan dan seniman Komunis dapat berbuat sesuatu dengan karya-karya dan kegiatan-kegiatannya untuk merevolusionerkan semua anggota keluarga dalam rumah tangga Komunis.

Kita sering mengkritik kawan-kawan yang membierkan anak-anak nya menghabiskan waktu dengan buku-buku silat atau komik-komik brengsek, akan tetapi kritik-kritik ini tidak akan banyak artinya jika para saastrawan dan seniman revolusioner tidak membantu memenuhi hasrat membaca dari anak-anak kita dengan memberi mereka baiyaan-baiyaan yang baik. Bantulah menyelamatan pelaksanaan-pelaksanaan, pewsaris-pewsaris dan penerus-penerus revolusi kita ini!

Masih banyak kawan yang tidak mengetahui tentang kebrengsekkan buku-buku yang dibaca anaknya, karena kritik-sastrantra kita belum jalan. Dan bukanlah suatu rahasia, bahwa di antara kita banyak yang dengan tidak sedar suka menunjukkan lagu-lagu brengsek yang kita dengar dari radio, dan bahkan di antara kita banyak yang tidak mengetahui bahwa lagu itu brengsek, karena kritik-seni kita belum jalan. Berapa lama lagi hal-hal ini akan dibiarakan?

Untuk Mutu Karya yang Terus Menjulang Tinggi, Intensifkan Pembajaan-Diri dan Pendidikan-Diri

Saya menyambut usul kawan-kawan supaya dalam rangka mengintensifkan pendidikan-diri diadakan sekolah-sekolah khusus untuk para sastrawan dan seniman Komunis guna mempelajaril sungguh-sungguh program dan politik Partai, guna mempelajaril lebih baik Marxisme-Leninisme, guna mempelajaril etika dan estetika Komunis, guna mempelajaril antropologi budaya, sejurah tanahair terutama sejarah peryuangan Rakyat Indonesia dalam abad ini dan lain-lain lagi yang dapat membantu kawan-kawan sastrawan dan seniman menyiptakans karya-karya yang berkeprabidani nasional dan mengabdi buruh, tani dan pradurit. Sekolah aplikasi untuk sastrawan dan seniman musik, sekolah reyog, ludruk, dsb., juga harus kita tanggulangi dengan se-baik-baiknya. Kita harus menemukan bentuk-bentuk yang se-tepat-tepatnya agar usaha-usaha kita berhasil baik.

Saya menyambut dengan hangat tekad kawan-kawan sastrawan dan seniman untuk ambilbagian aktif dalam gerakan membajaan-diri dan mendidik-diri yang sekarang sedang berlangsung dalam Partai kita. Gerakan ini bukanlah gerakan musiman, tetapi yang akan berlangsung terus-menerus. Hanya dengan melakukan ini, dengan membajaan-diri dan mendidik-diri terus-menerus, mutu pekerjaan politik dan pekerjaan organisasi kita akan terus-menerus meningkat, dan mutu karya sastrawan dan seniman kita akan makin baik dan makin indah. Usaha membajaan-diri dan mendidik-diri adalah jalan yang paling efektif untuk melawan kemerosotan. Kita tidak mneginginkan sastrawan dan seniman kita merosot, karena ini berarti kemerosotan ideologis secara menyeluruh dalam barisan dan seluruh pekerjaan kita. Oleh karena itu, intensifkanlah pembajaan-diri dan pendidikan-diri dalam barisan sastrawan dan seniman revolusioner agar mutu karyanya terus menjulang tinggi!

Dalam rangka melawan kemerosotan dan meningkatkan karya, baik dalam yumlah Maupun dalam mutu, tekad yang kawan-kawan ikarkan dalam KSSR ini untuk mengadakan kompetisi kreasi adalah sangat penting. Imi merupakan peryanaan perang terhadap liberalisme dan kemalasan diywa. Sebagaimana halnya tiap kompetisi, juga kompetisi kawan-kawan hanya akan berhasil diika dikontrol, pelaksanaannya dengan baik Tepat sekali perniyataan sementara kawan yang me-ngutakkan, bahwa kader-kader sastrawan dan seniman adalah sama dengan kader-kader lain, oleh karena itu pekerjaan mereka juga harus dikontrol pelaksanaannya oleh Partai. Sesudah KSSR ini semua Comite Partai, dan bahkan orang-orang pertama dari Comite-Comite Partai, harus memberikan perhatian yang besar pada pengontrolan pekerjaan sastrawan dan seniman yang berada di bawah pimpinannya, khususnya pengontrolan terhadap jalaninya kompetisi-kompetisi, yang harus kita adakan di banyak bidang dan di semua tingkat, baik tingkat nasional Maupun tingkai provinsi, kabupaten sampai ke-tingkat kecamatan dan desa.

Saya mengetahui bahwa untuk mengembangkan pekerjaan harus dipetayah kontradiksi-kontradiksi yang menjadi penghalang. Sampai bata-bata tertentu kita sudah memetayahkan kontradiksi antara bekerja praktek dengan belajar teori oengen jalan mengadakan jaringan sekolah-sekolah dan kursus-kursus Partai, dan bahkan sampai kita adakan akademi tertulis. Dengan demikian kita telah melikwidasi banyak rintangan untuk belajar teori bagi kader-kader yang sibuk dengan pekerjaan praktek.

Khusus untuk mengembangkan kerja kreasi dibidang sastra dan seni kita harus memetayahkan kontradiksi antara kerja organisasi dan pengintegrasian disatu finak dengan penulisan atau penggarapan karya difikah lain. Imi pasti juga akan dapat kita petayahkan Pertama-tama, kawan-kawan sastrawan dan seniman sendiri harus mempunyai selidiskiplin yang kuat, dan bersamaan dengan itu Comite-Comite Partai yang bersangkutan harus memberi kesempatan-kesempatan dan fasilitas-fasilitas baik untuk turba yang diperlukan Maupun untuk penulisan dan penggarapan karya yang memang sudah selesai proyeknya. Pedeknya, pengembangan kerja kreasi para sastrawan dan seniman kita harus diorganisasi dan dibantu sungguh-sungguh.

Makin lama makin dirasakan, bahwa untuk meningkatkan mutu karya para sastrawan dan seniman kita, kita harus melahirkan barisan ahli dan teoritikus kita sendiri dibidang sastra dan seni. Hanya dengan adanya barisan yang demikian, kritik-sastra dan kritik-seni kita bisa berkembang. Hal ini diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan mutu karya sastrawan dan seniman kita, tetapi juga untuk meningkatkan daura apresiasi massa terhadap karya-karya sastra dan seni.

Kepribadian Adalah Kewajaran dan Kebenaran

Kawan-Kawan, kita juga sudah bersatu dalam fikiran tentang keharusan menegakkan sastra dan seni yang berkepribadian nasional. Rasunya, apa yang dimuat dalam referat mengenai ini sudah cukup jelas. Tetapi saya tahu bahwa masih banyak kawan diliputi oleh pertanyaan: bagaimana caranya? Teruskanlah bertanya, tapi jangan berhenti berkreasi karena pertanyaan itu belum mau hilang. Prakteklah nanti yang akan menjawab pertanyaan itu. Pasti akan terjawab, asal kawan-kawan terus berkreasi dengan tekad untuk menjawab pertanyaan itu.

Jangkanan mengenai kreasi dibidang sastra dan seni, kawan-kawan, mengenai soal-soal yang nampaknya keci, remeh, kitu pun harus mempertahankan dan mengembangkan kepribadian kita sendiri. Misalnya, Kawan Kim II Bung pernah mengkritik mengapa buku-buku di Korea dicetak dengan daftar-isi dimuat di bagian belakang, tidak dipedeen. Padahal, kata Kawan Kim, orang Korea kalau membata buku mau tahu lebih dulu apa isinya dengan membata daftar-isi. Memuat daftar-isti di belakang buku bukan kepribadian Korea, tapi menconoti luarnegeri secara membata.

Baru-Baru ini saya membata buku “Maju Terus I”, yaitu nomor “Bintang Merah” yang memuat dokumen-dokumen Kongres ke-VII Partai kita. Kemudian saya tulis surat pada Bung Samah, kawan yang bertanggungjawab mengenai penerbitan-penerbitan kita. Dalam surat itu saya tanya kepada Bung Samah, mengapa gambar-gambar dalam buku itu tidak diberi keterangan samasekali sehingga pembata tidak mengerti mengapa ada gambar orang ngibing dalam buku yang memuat dokumen-dokumen Kongres PKI. Apa hubunganyya orang ngibing dengan Kongres PKI? Saya betul-betul “memberontak”, kawan-kawan. Ya, saya yang ikut dalam malam kesenian Kongres itu masih ingat bahwa gambar itu adalah gambar penari Bali. Tetapi, mereka yang tidak ikut dalam malam kesenian Kongres itu, tentu tidak tahu. Bagi mereka yang ikut pun, kalau sudah lama nanti, juga akan lupa. Kemudian saya mendapat jawaban dari Bung Samah bahwa tidak memberi keterangan pada gambar-gambar itu, katanya, adalah “kebiasaan internasional”. Lantas saya kirin surat lagi kepada Bung Samah di mana saya katanya: persetan dengan itu “kebiasaan internasional”, orang Indonesia kalau melihat gambar ingin tahu gambar apa yang dilihatnya. Jadi, soal yang nampaknya remeh mpuin ada hubungannya dengan soal kepribadian. Kepribadian tidak lain daripada kewajaran dan kebenaran yang dianggap wajar dan benar oleh Rakyat yang memiliki kewajaran dan kebenaran itu.

Kawan-Kawan, kalau kita menekankan masalah kepribadian dibidang sastra dan seni, seperti dikatakan dalam reterat, samasekali bukan maksud kita untuk memisahkan diri dari sastra dan seni dunia. Tidak, samasekali tidak. Sastra dan seni kita adalah bagian dari sastra dan seni dunia, jadi tidak mungkin dipisahkan. Tentang bal ini, referat saya jelas. Ya, kita misalan: tidak boleh tidak menggubris Shakespeare, Honore de Balzac, Puskin, Beethoven, Khopin, Skhubert, Caikovsky dan raksasa-raksasa sastra dan seni dunia lainnya. Teoritikus-Teoritikus atau ahli-ahli sastra dan seni kita narus mempelayari; mereka. Tetapi, janganlah di-jeja-jejakan atau di-paksakan kepada massa Rakyat, sebab bisa membuluk kelucuan-kelucuan dan kesedihan-kesedihan

Dalam deegesi-deegesi yang pernah saya pimpin keluarmegeri sering ikut kawan-kawan dari provinsi-provinsi. Di luar negeri ada kalanya kami dibawa oleh tuanrumah kekonser musik klasik atau opera. Beberapa kali terjadi, sepulang dari konser atau opera ada kawan yang dengan sedih berkata: “Saya mi memang tidak ada bakat untuk kebudayaan. Semua orang terpaku mendengarkan tiptaan-tiptaan Beethoven, Caikovsky dan entah apa lagi, sedangkan saya samasekali tidak menikmati apa-apa”. Saya katakan kepada kawan itu: “Memang tidak ada alasan bung bisa menikmatinya, karena bung baru pertama kali mendengarnya, sedangkan biasanya bung mendengar klenkheng dengan segala kenikmatan. Bukan bung tidak punya bakat untuk kebudayaan, tetapi memang belum ada alasan bung bisa menikmatinya”.

Ada tagi pengalaman. Pada suatu waktu diadakan malam Caikovsky di Jakarta ini, dihadiri oleh banyak orang dengan pakaian yang bagus-bagus. Maka diputarlah tong-play dan tayahaya dalam ruangan dikurangi, dibikin agak redup. Selesai lagu diputar, lampu semua dinyalakan kembali dan ternyata bahwa banyuk di antara hadir yang matanya merah, menundukkan baru habis tidur pulas, dan malahan ada yang masih terus ngorok di kursinya Sekalipun lampu sudah semua dinyalakan. Bukan salah mereka, kawan-kawan, OKB-OKB dan kabir-kabir itu memang tidak ada alasan untuk dapat menikmati Caikovsky. Mereka tidak bersalah, mereka hanya munafik, berpuru-berpuru, mereka datang hanya untuk mendapat cp “orang berkebudayaan”.

Ada lagi pengalaman pada suatu malam Beethoven. Sebelum tiap-tiap lagu diputar diberi pengantar oleh Kawan Bintang Suradi almarhum, kawan yang memang mengerti dan sungguh pemikat Beethoven. Sesudah salahsatu lagu selesai diputar ada beberapa orang yang mengeluarkan airmata. “Memang sedih lagunya”, kata mereka. Pada suatu waktu saya bertemu dengan salahseorang yang mengeluarkan airmata itu. Dengan tidak menyinggung malam Beethoven itu saya jelaskan kepadaanda, bahwa bukanlah kehinian diyika kita tidak bisa menikmati lagu klasik Barat, tetapi betul satu kehinian kalau kita tidak bisa menikmati kesenian Rakyat kita sendiri. Orang itu meng-angguk-anggukkan kepala dan membentarkan saya. Kemudian saya tanya: Mengapa waktu nalam Beethoven itu bung mengeluarkan airmata. Apakah benar bung menikmati Beethoven ketika itu? Dengan ketawa lebar dia menjawab: “tidak” “Tapi mengapa bung mengeluarkan airmata”, tanyaku lagi. “Labis, teman dekat saya dan Bung Bintang mengeluarkan airmata”, demikian jawabnya. “Sampai sekarang pun saya belum bisa menikmati Beethoven”, katanya lebih lanjut. Jadi, betapa lucu, ya, betapa menyedihkannya.

Kawan-Kawan, yang lucu dan menyedihkan ini harus kita akhiri. Kita harus secura ber-angsur-angsur mendidik kawan-kawan kita untuk dapat menikmati kebudayaan dunia, tetapi jangan di-je-jafikan, jangan di-paksakan, dan jangan mencap “tidak berkebudayaan” mereka yang belum atau tidak dapat menikmatinya. Tetapi kita harus mengkritik kawan-kawan yang tidak mengintegrasi diri dengan kehidupan kebudayaan Rakyat. Kita tidak boleh memandang rendah mereka yang belum atau tidak dapat menikmati apa yang dianggap termasuk dalam kebudayaan dunia sekarang ini. Kita tidak menolaknya, dan malahan teoritikus-teoritikus atau ahli-ahli sastra dan seni kita tidak hanya harus berusaha untuk dapat menik-matinya, tetapi harus mengerti karya-karya sastrawan dan seniman-seniman dunia yang terkenal dan secura ber-angsur-angsur, secara wajar, memperkenalkannya kepada Rakyat kita.

Seperti sudah saya katakan, kita harus mengkritik kawan-kawan yang tidak berusaha mengintegrasi diri dengan kehidupan kebudayaan Rakyat, jadi bukan hanya kebudayaan sukubangsa sendiri. Masih terdapat dalam Partai kita kawan-kawan yang tidak mau ambilpusing dengan kesenian sukubangsa kecuali sukubangsana sendiri. Dan di antara kawan-kawan itu ada yang sudah dipilih oleh Kongres Partai sebagai salahseorang pemimpin nasion, jadi bukan hanya pemimpin salahsatu daerah atau sukubangsa. Kejanggalan ini juga harus diakhiri secura ber-angsur-angsur.

Bangsa kita terdiri dari banyuk sukubangsa. Setiap Komunis, terutama yang sudah dipilih oleh Kongres Partai atau Kongres Ormas revolusioner sebagai pemimpin seluruh nasion, harus berusaha untuk dapat menikmati segala yang indah dari semua sukubangsa. Kebudayaan sukubangsa adalah milik seluruh nasion. Jadi janganlah, misalnya, ada kawan dari sukubangsa Jawa yang ketawa geli dalam hatinya kalau melihat kawan-kawan dari salahsatu sukubangsa di Sumatera sedang menonton wayang wong karena menganggap kawan-kawan itu sebagai orang-orang “aneh”. Juga jangan sampai ada sesuatu sukubangsa menganggap rendah kebudayaan sukubangsa lain.

Bagi tiap sukubangsa kebudayaannya sendiri adalah yang paling baik, kesenianannya sendiri adalah yang paling indah. Tentang ini tidak boleh diperdebatkan lagi. Harus ada saling menghargaai dalam soal kebudayaan, khususnya dalam kesenian. Dan masing-masing harus berusaha untuk dapat menikmati kesenian sukubangsa lain.

Kita semua harus merasa berbahagia karena bangsa kita terdiri dari banyuk sukubangsa sehingga kebudayaan kita, khususnya tari dan nyanyi kita, adalah warna-warni dan indah sekali. Betapa menjemukannya seandainya musik kita hanya gamelan saja, Sekalipun gamelan itu indah sekali. Betapa menjemukannya seandainya tari kita hanya tari Bali saja, Sekalipun tari Bali itu indah sekali. Kita berbahagia mempunyai kesenian yang warna-warni, tetapi lebih berbahagia lagi kalau kita dapat menghargaai dan terutama menikmati semuanya itu.

Kapan Ronggowarsito dan Multatuli Diterjemahkan?

Hai yang terakhir yang ingin saya kemukakan, kawan-kawan, ialah tentang Ronggowarsito dan Multatuli. Ada persamaan antara karya-karya kedua tokoh kebudayaan yang besar ini. Ke-dua-duanya sama-sama tidak ditulis dalam bahasa Indonesia, yang satu ditulis dalam bahasa Jawa dan yang satu lagi dalam bahasa Belanda. Tetapi ke-dua-duanya berhasil sampai batas-batas tertentu mengungkapkan keadaan masyarakat Indonesia pada masa hidupnya. Sudah pernah saya kemukakan harap-an supaya karya-karya kedua tokoh ini diteryemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi sampai sekarang belum juga muntul teryemahan itu. Entah dalam komisi KSSR sekarang, entah kemudian, tapi mesti ada ketentuan bahwa teryemahan Ronggowarsito dan Multatuli sungguh-sungguh akan digarap dan akan terbit.

Saya sedikit mengenal Ronggowarsito dari tulisan-tulisan Kawan Sunaryo. Saya sangat tertarik, karena begitu tayam kritik sosialnya dan begitu baik gaya bahasannya. Tentunya gaya bahasa Ronggowarsito dalam bahasa aslinya lebih baik daripada saduran teryemahan dalam bahasa Indonesia. Kita semua sepandapat bahwa Ronggowarsito adalah puydanga besar Indonesia. Tetapi bagaimana kalau karya-karyanya tidak diteryemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ronggowarsito besar, tetapi kebesaranyya tidak akan meresap dirasakan oleh seluruh bangsa selama karya-karyanya belum dapat dinikmati oleh banyak putera Indonesia. Penteryemahan karya-karya Ronggowarsito adalah penting sekali dalam rangka perjuangan kita untuk menegakkan kepribadian nasional dibidang sastra dan seni, demikian pula untuk memupuk kebanggaan nasional yang sehat, terutama di kalangan generasi baru kita.

Mengenai Multatuli ada kawan-kawan yang berpendapat bahwa karya-karyanya tidak bisa dimasukkan ke dalam sastra Indonesia karena ditulis dalam bahasa asing, bahasa Belanda. Saya fikir-fikir ada juga benarnya, sebab orang Indonesia pada umumnya tidak dapat membaca dan menikmatinya. Tetapi kalau sudah diteryemahkan ke dalam bahasa Indonesia bagaimana? Multatuli dalam karya-karyanya mengungkapkan tema-tema Indonesia dan ia menulis dengan kecinyatan yang besar kepada Rakyat Indonesia, lebih besar daripada kecinyatan sebagian besar penulis-penulis Indonesia sendiri kepada Rakyat Indonesia. Selain daripada itu bagaimana pula dengan kar-ya-ya yang bertemakan Indonesia yang ditulis oleh orang-orang Indonesia dari sukubangsia Indo dalam ‘bahasa Belanda’? Apakah karya-karya ini juga tidak termasuk sastra Indonesia, hanya karena ditulis dalam bahasa Belanda?

Di antara karya-karya Multatuli ada yang mengungkapkan penghidupan kaum tani Indonesia. Dan jika ini dipentaskan sebagai drama di-tengah-tengah kaum tani kita yang sekarang sedang beryuang melawan 7 setan desa, kaum tani kita akan merasa bahwa yang dipentaskan itu adalah mereka sendiri. Dan jika kemudian dijelaskan kepada kaum tani kita bahwa yang dipentaskan itu adalah dari karya Multatuli seorang Belanda, maka kaum tani sendiri akan menarik kesimpulan bahwa orang Belanda itu mengerti mereka, berbeda dengan tuanantah jahat bangsanya sendiri dan setan-setan desa lainnya yang memusuhi kaum tani. Ini pasti merupakan pendidikan internasionalisme progresif yang hebat bagi kaum tani kita.

Kawan Bakri Siregar telah membikin saduran dari karya Multatuli “Saijah dan Adinda” yang sudah sering dipentaskan. Jika pementasanya baik, kaum tani Indonesia yang sekarang sedang melawan pengusiran-pengusiran dari tanahgarapannya pasti akan melihat dirinya sendiri yang sedang dipentaskan, karena saduran Kawan Bakri juga mengungkapkan soal pengusiran dari tanahgarapan.

Pokoknya, saastrawan-saastrawan revolusioner tidak boleh bersikap pasif terhadap Ronggowarsito dan Multatuli yang sampai sekarang hanya namanya dikenal luas, tapi karya-karyanya masih tetap rahasia untuk bagian yang terbesar sekali dari Rakyat kita, karena belum diteryemahkan.

Kawan-Kawan yang tertiynta!

Demikianlah jawaban-jawaban saya pada berbagai persoalan yang kawan-kawan ajudkan dalam pandangan kawan-kawan. Juga ada tambahan-tambahan yang saya rasa diperlukan untuk membikin lebih jelas bagian-bagian tertentu daripada referat.

Yang terpenting ialah bahwa kita sudah bersatu hati, bersatu fikiran dan bersatu tujuan mengenai sastra dan seni yang berkepribadian nasional dan yang mengabdi buruh, tani dan prajurit.

Sekarang Rakyat pekerya memang belum berdominasib dibidang kebudayaan. Tapi tidak bisa dibantah, ‘bahwa kubu-kubu kebudayaan imperialis dan feudal sudah mendapat serbuan yang ber-tubi-tubi dari kebudayaan Rakyat. Sekarang kita sedang mengalami pasangna ofensif revolusioner da-lam kehidupan kebudayaan Rakyat kita.

Dengan KSSR ini para sastrawan dan seniman revolusioner telah mengibarkan tinggi panji pertempuran dibidang sastra dan seni revolusioner.

Di-masa yang lalu kawan telah mencapai hasil yang gemilang. Saya yakin, kawan akan mengibarkan lebih tinggi lagi panji pertempuran yang dimertusuari oleh KSSR, dan oleh karena itu hasil karya kawan akan lebih gemilang lagi dan mutunya akan terus mendiyalang tinggi.

Lebih daripada itu, saya yakin bahwa kawan pasti akan berhasil menancapkan panji pertempuran di semua kubu pertahanan “kebudayaan” imperialis dan feudal, menaklukkan kubu itu dan mengibarkan panji kemenangan kebudayaan Rakyat di semua penjuru tanahair.

Kibarkan tinggi panji pertempuran dibidang sastra dan seni revolusioner!

(diambil dari rekaman)


LAMPIRAN II

HAYO BERSAMA-SAMA BUNG KARNO KITA BINA KEBUDAYAAN YANG BERKEPRIBADIAN NASIONAL!

P. Y. M. Presiden, Bung Karno yang tercinta.

Para Wakil Perdana Menteri dan para Menteri yang mulia.

Para tamu yang terhormat.

Para Saudara dan Kawan-Kawan.

Pertama-tama perkenankanlah saya atasnama Comite Central PKI menyampaiakan rasa terimakasih kepada para hadirin atas kesediaan dan kesudian untuk ber-sama-sama Bung Karno yang kita cinai menghadiri Malam Resepsi Pembukaan Konferens Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) sekarang ini.

Terutama kepada Bung Karno saya menyatakan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas kesediaan dan kesudian beliau berada di-tengah kita bersama malam ini. Kenyataan ini sekali lagi menundukkan, bahwa seperti yang pernah dinyatakan sendiri oleh Bung Karno di depan resepsi Kongres Nasional ke-VI PKI, bahwa PKI adalah yo sanak yo kadangnya Bung Karno yo mati Bung Karno melu ke-langan Perstwa malam ini sekaligus membuktikan, bahwa tidak hanya dibidang politik dan ekonomi serta dibidang lainnya, tetapi diura dibidang kebudayaan, khususnya sastra dan seni, PKI merupakan sanak dan kadangnya Bung Karno.

Betapa tidak para Saudara dan Kawan-Kawan. PKI mendukung dan melaksanakan dengan konsekwensi penerusan Bung Karno dalam “Lahirnya Panca Sila” yang menolak kosmopolitanisme disatu fihak serta menolak sovinisme dan nasionalisme yang sempit difihak lain. PKI mendukung dan melaksanakan dengan sepenuh hati ide Bung Karno yang menekankan agar seni menjadi duta masa dan duta massa, seperti yang beliau amanatkan dalam resepsi Kongres Nasional Pertama LEKRA di Solo tahun 1959. PKI mendukung dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh suaraan Bung Karno dalam Manipol agar imperialisme kebudayaan diganyang dan agar kebudayaan nasional dilindungi dan dikembangkan, PKI mendukung dan me-laksanakan dengan tak kenal lelah seruan Bung Karno agar melawan musik ngak-ngik-ngok, taran rock ‘n roll, twist, cambut sasak dan gondrol (beatles) yang ber-kali3 beliau kenukalkan dalam berbagai rapat belakangan mi. Dan PKI mendukung dan memperjuangkan realisasi yang konsekwene yang Bung Karno tentang prinsip “berkeprabidai dalam kebudayaan” seperti yang beliau tegaskan dalam ananat TAVIP baru-baru ini.

KSSR yang dibuka dengan resepsi di Istana Negara malam ini dan akan berlangsung sampai dengan tanggal 2 September yang akan datang justru dimaksudkan oleh PKI sebagai langkah konkret dalam merealisasi ide Bung Karno seperti yang beliau tegaskan dalam pidato TAVIP tersebut.

KSSR mi baru pertama kalinya diselenggarakan oleh PKI. Etapi dengan ini tidak berarti bahwa PKI baru mau meletakkan dasar-dasar bagi perkerjaan dibidang sastra dan seni. Dengan berdirinnya LEKRA 14 tahun yang ialu mulailah dengan sedar PKI mengibarkan tinggi-tinggi panji “Seni untuk Rakyat” atau “Sem untuk Revolusi” seperti yang diyuga menjadi gagasan Bung Karno. Dan sejak itu ofensif kebudayaan Rakyat dilantarkan dengan lebih terpimpin, sehingga makin hari makin besar yumlah kubu pertahanan kebudayaan musuh yang diserbu dan ada yang sudah dapat dihancurkan. Dan kaum reaksioner terpaksa harus jatuh-bangun dalam mempertahankan diri dari serbuan-serbuan itu. Apa pun bendera yang mereka kibarkan di atas kubu pertahanan mereka, Rakyat selalu berhasil memaksu menurunkannya. Humanisme universal, kosmopolitanisme, nihilisme nasional, provinsialisme, separatisme, rasialisme dan entah apa lagi, semua diganyaq dan ada yang sudah dikalahkan. Dan benderanya yang muntul akhir-akhir mi yang bernama “Manikebu” tidak sampai seumur jagung sudah diguling oleh Rakyat bersama Bung Karno.

Di-tengah-tengah perjuangan Rakyat Indonesia melaksanakan Dwikora di bawah pimpinan Bung Karno guna membubarkan “Malaysian” proyek imperialis Inggris yang disokong sepenuhnya oleh imperialis Amerika Serikat, mereka diayukan “Manikebu”. Mereka katakan se-dielek-dielek manusia, tentunya termasuk Tengku Abdurakhman dan Lyndon Yohnson, masih bersinar “yahaya lalih” di dalam dirinya, masih ada segi-segi baik pada diri mereka. Dan karenanya, menurut katun Manikebuis, imperialis dan boneka-bonekanya jangan dimusubi. Begitulah cara-cara mereka mengebirl Manipol agar Rakyat tidak mengenal dan tidak menggayang musuh-musuhnya.

Tetapi, mereka gigit jari. Rakyat Indonesia yang telah dibajakam oleh pengalaman perjuangan revolusioner terutama oleh api Revolusi Agustus 1945, tidak setolol dan senafi yang mereka kira.

Kini seiring dengan menandayknya semangat antiimperialisme di kalangan Rakyat, makin meningkat puialah ofensif Rakyat terhadap kebudayaan imperialis. Film-Film AS sudah lebih dari tiga bulan dibioikot secara total, dan berkat desakan Rakyat yang makin santer, akhiirna AMPAI-pun dihentikan kegiatanyanya. Kini Rakyat berduyang terus supaya oknum-oknum yang main-mata dengan AMPAI diritul, supaya Dewan Film Indonesia juga diritul dan di-Nasa-kom-kan pimpinan dan komposisi keanggotaannya, serta importir-importir Amerika Serikat yang berkedok “Indonesia” dibubarkan.

Mengapa kaum Komunis menyambut prinsip “berkeprabidai dalam kebudayaan” dengan gairah? Karena belayari dari pengalaman perjuangan kita selama ini, hanya dengan kebudayaan yang berkeprabidaiinlah kita tidak haya dapat bertahan tetapi juga mampu berlawan dan mengalahkan serangan kebudayaan imperialis. Kita tidak mungkin merampungkan tugai-tugai revolusi Indonesia tahap pertama dan lebih-lebih lagi-tahap kedua, tanpa dihangati oleh apinya kebudayaan yang berkeprabidai nasional yang kuat.

Bidang-Bidang sastra dan seni termasuk bidang-bidang terpenting dan bidang-bidang yang paling perasa daripada pekerjaan ideologi kita. Dan setiap pekerjaan ideologi tanpa perkecualian harus disubordinasikan kepada kepentingan Rakyat Indonesia.

Peryuangan dibidang sastra dan seni adalah bagian daripada perjuangan kaum Komunis dalam meng-Indonesia-kan Marxisme-Leninisme, bagian daripada perjuangan kita dalam menyalankan revolusi secara kreatif dalam mentrakpan kebenaran universal Marxisme pada kenyataan-kenyataan spesifik negeri kita, dengan sepenuhnya memperhitungkan kemampuan dan tradisi, tuntutan-tuntutan dan taraf kesedaran Rakyat Indonesia. Oleh karenanya, kaum Komunis dalam memetayahkan sesuatu problem bukan pertama-tama bertolak dari formula-formula atau dalil-dalil yang sudah reaj-made (tersedia), melainkan berlandaskan analisa yang ilmiah terhadap Ko-adaan kongkrit. Dari sini keterangannya mengapa kaum Komunis juga menggarisbawahi seruan Bung Karno supaya “meninggalkan text-book thinking”. Ini berarti bahwa kita harus kreatif dan juga berkepribadian dibidang ilmu.

“Berkepribadian dalam kebudayaan” dan “meninggalkan text-book thinking” jika kita laksanakan dengan sedar dan konsekwensi adalah dua prinsip yang akan membawa perkembangan besar dalam sastra dan seni serta ilmu Indonesia. Untuk melaksanakan dua prinsip ini kita harus lebih banyak mengenal keadaan negeri dan Rakyat kita sendiri, mengenal masalampau dan masakini untuk membentuk nasadepan yang gemilang. Ini berarti bahwa kita harus lebih sungguh-sungguh mempelayari sejarah dan geografi serta adat-istiadat Rakyat kita. Tidak hanya untuk kerya politik, juga untuk kerya sastra dan seni serta ilmu di-perlukan pengenalan yang dalam tentang masalah3 ini, sebab hanya dengan demikian kita dapat membangkitkan kebanggaan nasional Rakyat, mendidik Rakyat dengan cara yang paling ciocok bagi mereka dan yang paling menyiywai mereka dengan kelyitamaan yang mendalam kepada tanahair.

Menegakkan kepribadian nasional dalam kebudayaan pada hakekatnya adalah mengobarkan patriotisme atau semangat bunteng dalam kebudayaan. Dengan ini tidak berarti bahwa kita ingin memisahkan sastra dan seni kita dari sastra dan seni revolusioner dunia. Tidak, samasekali tidak. Sastra dan seni yang berkepribadian adalah perwuyudan patriotisme dibidang sastra dan seni, sedang patriotisme kita adalah patriotisme yang progresif, patriotisme revolusioner, yang selain menciatai tanahair dan Rakyat Indonesia juga berwatak antiimperialisisme dan antipenghisapan. Sastra dan seni Indonesia yang demikian dapat juga dinikmati oleh Rakyat4 negeri5 lain, seperti juga kita dapat menikmati sastra dan seni progresif dari Rakyat negeri lain. Sastra dan seni Indonesia yang berkepribadian nasional adalah kawan serpejuangan sastra dan seni revolusioner negeri6 lain, saling melengkapai dan saling mendorong dalam mengabdi diri kepada perjuangan Rakyat negeri masing-masing dan Rakyat7 sedunia.

Karena kepribadian bukan sesuatu yang juduh dari langit, melainkan tumbuh dari proses kehidupan dan perjuangan sesuatu nasion, maka berbitiyara tentang kepri-badian tanpa menghubungkannya dengan kepentingan kaum buruh dan tani sebagai mayoritet Rakyat yang menyiptakan keprabidai nasional dan bahkan yang menciptakan sejarah itu sendiri, hakekatnya adalah omong kosong. Inilah sebabnya pengibaran panji “Seni untuk Rakya:” atau seperti dikatakan Bung Karno di depan Kongres Solo LEKRA1,“seni dari Rakyat untuk Rakyat” harus terutama diartikan “Seni dari kaum buruh dan tani untuk kaum buruh dan tani”. Selama ini sastrawan dan seniman revolusioner telah menundukkan kesungguhan dan kesanggupannya dalam merealisasi semboyan itu dalam karya-karya dan kegiatan-kegiatan mereka. Sudah banyak kemayuan yang ditapai, namun masih lebih banyak lagi penyemurnaan yang diperlukan, terutama dalam memenuhi “dua tinggi”, yaitu tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik.

Dalam menyemurnakan pengabdian sastra dan seni kepada Rakyat, ada kekurangan penting yang perlu segera kita atasi, yaitu belum dijadikannya prajurit sebagai salah-satu obyek karya sastra dan seni revolusioner. Sedangkan jika dilihat dari asal-usulnya, prajurit-prajurit kita pada umumnya berasal dari Rakyat pekerya, mereka lahir di-tengah-tengah nyala api Revolusi Agustus 1945 dan api perjuangan membasmi “PRRI-Permesta”, membebaskan Trian Barat dan mengganggu “Malaysia”, sedangkan vitalitenya dalam perampungan tugas3 revolusi tidak dapat disangkal.

Sastra dan seni merupakan bagian dari usaha-usaha revolusi yang mutlak perlu, serenti mutlak perlunya jiantung bagi kehidupan manusia. Tetapi sastra dan seni hanya akan menjadi jiantung revolusi yang baik, bila ia ber-panglimakan politik yang revolusioner. Ini sesuai sepenuhnya dengan penegasan Bung Karno bahwa seni dan politik harus satu, dan bahwa seni harus diabdiikan kepada politik, kepada revolusi.

Karena sastra dan seni harus menabdi kepada revolusi, maka sastra dan seni harus diintegrasikan dengan revolusi. Ini hanya mungkin manakala sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman revolusioner mengintegrasikan fikiran, perusnan dan tindakkannya dengan revolusi, dengan kehidupan dan perduiangan revolusioner Rakyat. Sebab hanya sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman yang mempersenyawakan dirinya dengan massa akan disayianya oleh massa dan karya-karyanya akan dianegel massa Tenat apa yang dikemukakan oleh almarhum Ki Hajar Dewantara di dalam pertemuan para vas-trawan untuk pembentukan Fakultas Sastra yang pertama di Indonesia pada bulan Desember 1929 di Surakarta: “Apabila tuan-tuan tidak mau memperdulikan jiwa massa, massa juga tidak akan memperdulikan tuan-tuan”. Kata-Kata arif ini bukan hanya penting bagi sarjana-sarjana sastra yang dituju oleh Ki Hajar ketika itu, tetapi juga berlaku sepenuhnya bagi sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman revolusioner masakini Maupun masananti.

Untuk memiliki “jiwa massa” PKI menekankan pentingnya sastrawan dan seniman revolusioner terus-menerus membayakan-diri dan mendidik-diri, sehingga mereka senantiasa berada dalam kohangan api peryuangan massa dan selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang teori-teori revolusioner Maupun tentang pentiyptaan sastra dan seni. Dengan demikian karya-karya mereka akan lebih baik mutu ideologi dan mutu artistiknya dan lebih mampu menggugah dan membangkitkan massa dalam menunaikan tugas-tugas seyarahnya.

Untuk menemukan cara-cara yang lebih efektif dalam menunaikan tugas-tugas berat tapi mulia itu, telah berkumpul di Jakarta sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman peserta KSSR dari berbagai bidang kegiatan dan dari seluruh penjur tanahair. dan kini mereka berada di ruang ini ber-sama-sama Bung Karno yang merca cintai.

Adalah pada tempatna dan tidak ber-lebih-lebihanlah harapan mereka agar pada kesempatan ini nanti mereka mendapatkan bekal-bekal berharga langsung dari Bung Karno sendiri, untuk lebih menjamin datapatna KSSR ini menyapai sukses yang maximal dalam menjadikan sastra dan seni sebagai senjata ampuh di tangan Rakyat.

Untuk tidak mengurangi waktu yang akan digunakan oleh Bung Karno, saya hentikan uraian saya sampai di sini dengan harapan agar melalui KSSR ini PKI dapat bersama-bersama Bung Karno dan kaum revolusioner lainnya merelasi secara konsekwenn prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan”.

Hayo bersama Bung Karno kita bina kebudayaan yang berkepribadian nasional!

Jakarta, 27 Agustus 1964.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.