PERTEMUAN DI GARIS ISENG
SITOR SITUMORANG
KOLOFON
PERTEMUAN DI GARIS ISENG
oleh
SITOR SITUMORANG
Dimuat di majalah Mimbar Indonesia
No. 10 • Th. XIV • 7 Maret 1953
Sumber Transkripsi
Ditranskripsi dari lampiran skripsi
Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini
oleh
Fransiska Domas Ngatini
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1999
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)
Gambar sampul: “Never Think before You Act” (1921), karya M.C. Escher
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam.com
PERTEMUAN DI GARIS ISENG
Mokhtar Apin,
BUKAN keinginan yang langsuns, mendorong saya menulis surat ini. Sebenarnya saya bermaksud menulis karangan berhubung “pidato selamat tinggal 1952” H. B. Yassin dan surat menyurut antara dia, Nen-ny dan Asruil yang disiarikan dalam Zenith nomor Februari. Tapi setelah saya mengidap pilek empat hari tak cuikup lagi tenaga berpoeniak pada-ku, dan lagi pula aku pernah bernis-tak akan menulis lagi buat sementa-ra. Tapi keseluruhan sebab di atas tambah......keisengan dalam sakit membikin hal mengirim surat suatu kelegahan.
Sampaikah kartopus yang kukirim dari Port Said melalui D. ? Sayang kami tak dapat mengantarkan ketika sdr dan Burhan hendak ke Spanyol ke Gare St. Lazare. Karena tak tahu jam hari berangkatnya. Walaupun tak suka diantar saya suka mengantarkan kawan.
Seminggu kemudian (tgl. 21 Nov. 52) diantar oleh D. kesiasan, pulang ke Indonesia melalui Swis dan Italia. Jam berangkat kereta apiiku dari A'dam ke Paris tak kuceritakan supaya orang jangan merasa “waji” mengantarkan. Demikianlah akhir kediaman dua setengah tahun di Eropa, atau lebih baik dikatakan di A'dam dan Paris, sebab seperti kini tahu tak ada negeri Eropa yang kr-kenal baik, sekaliup sebagai pelan-congan melulu. Niatku melalu Swiss-Italia dalam peryalanan kembali bukan dengan pengharapan akan mengenal kedua negeri itu, akan te-tapi lebih banyak hanya karena takut akan keisengan dikalap (kuperung-kan lagi kata keisengan, nanti kan akan tahu sebabnya).
Dua bulan hampir aku kembali di Jakarta. Tekanan kesan pertama- tulah dapat kuatasi, lama kelamaan, tapi lama kelamaan pula aku insay bukan kata “mengatasi” yang tepat. Saya kuatir bahwa aku hanya menjadi kehali, indern tumpul karena terlalu biasa pada rangsangan ke-cadan. Lalu dihadapukan sudah mem-bayang keadaan di mana dalam diriku, antara diri dan sekellling ket-gangan sudah lenyas, dan diri sudah-sebagian dari pemandangan alam atau hanya satu faset keci dari ge-jala......keisengan (timbul lagi).
Lalu rinduun timbul. Tapi seba-gaimana pada minggu terakhir di Paris jelas padaku bahwa ked-mauku di sana harus kutupuskan, be-gitu pulalah adaku di Jakarta sek-a-rang suatu keharusan lagi diriku. Lalu nyata, pula perumusananya baken rindu lagi, baik ke Paris Maupun ke-Jakarta, tapi keharusan yang men-dortu ang mempergurakan kesem-patan ke Eropa dulu dan sebagai konsekwensiaya pula kembali ke Jak-artha. Tapi karena besaran yarak antara Jakarta-Paris, maka jurang dalam waktu kadang terasa sebagai jurang dalam ruang, sematain gec-pitehndet. Penyayik yang berat pada hari-hari pertama, apalagi di mana tidak jelas lagi batas antara huy? yang kita “misien”, apakah hanya “tekhni-skhe gemakken” atau “geesteliyke stimulatie”. Pada k liaman yenis, katakanlah tekhniskh minderwaar-dig, dari gemakken, seperti transport, telepon dll, gampang menyesualikan diri. Bukti: Aku tak sanggup lagi marah kalau gadis telepon tak me-nyadikan kadang3 sampai satu dua mi-nit. Soal tempo. Tapi bagaimanakah dengan “gemakken” kejiwan, da-lan; arti jelasnya istilah?
Kata Sam Udin pada suatu mal-am (pada hari-hari pertama aku men-ci-ci pulau di kota Jakarta): “Apa-kah kau juga bukan mencari gees-tiyiyke gemakken?” H. B. Yassin meng-anggap saya somong, hingga in me-rasa perlu menyatnaca. Mula-Mula saya coba menjelaskan bahwa ia salah menafsirkan kataku, tapi kemudian aku hanya sampai pada kesimpulan bahwa ia tak cuikup menggunakan-kan kesombonganku dan berkenaan dengan Sam Udin, bahwa Sam Udin sudah ingeskhakeld dalam keisengan. Saya pula yang laha: terus mencah berontak sekaliup sebeligih ser-riuhnya mengayuk berontak? Alha-sil tarik diri “kepelau”.
Nahuri memperlhatankan diri men-doreng saya menulis sebuah sajak dan kemudian berturut? tiga sandi-wara. Sekaan-Sekaan yang satu timbul daripada yang lain. Akhirnya dapat dikta-takan saya tuls simultan, dan sek-a-rang masih terus saya keryakan wa-lausun yang pertama sudah akan terot di dalam Zenith bulan depan, na-manya “Jalan Mutiara”.
Yang kedua “Pertahanan Terakhir” dan yang ketiga “Pulo Batu”, drama tiga baha berdasar cerita kuno di negeri Batak, dan sebagaimana ke-banyakan cerita kuno sekaligus ber-sumber dari kenyataan dan takhyul. Sesudah ketiga sandiwaru itu seleksi makin jelas latar bawah daripada dorongan memulianya. Lebih daripada condition manusia yang pada suatu ketika dalam suatu taraf sejarah kemanusiaan sebagaimana yang di-alami dunia zaman sekarang (di Ero-pa barangkali akan disebut manusia dua perang dunia), bagi saya soal buruk dan baik tidak dapat lagi di apel, dan jika ada Tuhan, huyna Tu-han yang menyuca dalam ke-isengan, dengan konsekwensi adanya manusia nyata dan sungguh, sebagai kesungguhan keisengan. Takkan ku-pergunkan kaa “absurditet”, yang kata Asruil lahir (hanya?) dari logi-ka. Tapi seperti keisengan, absur-diet diyaga hias inyuy, balk dari lo-gika Maupun pencarian nalusi pe-nyair. Padu suatu ketika keisengan sama saja dengan absurditet. Tapi ada dua macam keisengan, inilah keisengan dalam mana orang masih menganggap sebagai soal yang bung-guh? , hai memiliki koeklast dsb, dan keisengan dalam mana mencipla diyadi permainan yang sungguh? soal hidup-mati. Jika H. B. Yassin dan Asruil So'i mem-“erka”-tan keiseng-an atau absurditet buatan pada Riv-ai Apin, kesan saya mereka bertoik dari suasana “hai memiliki koeklast!”. Tentang Rivai saya takdah bicara, baiklah ia buktikan sendiri dalam keisengan mana ia berada dan kata terakhir tak pernah diucapkan, melu-inkan sepi. Kalau terbukti ada Tuhan di hari kiamat aku akan megusulkan padaNya untuk memajudkan hanya satu pertanyaan pada manusia: Be-gainanakah kau pergunkan ke-isengan yang lahar dari keisenganKu?
Tapi buk saya kembali kepada soal ketiga sandiwaru Ru. Makand saya akan menerbitkannya dalam satu kumpulan dan kalau jadi oleh Pu-taka Rakyat, Sultan Taikhor Ahyah-bana. Berhasil tidaknya sebagai sandi-waru saya sendiri tak berarti me-ngatkananya, apalagi sekangar. Tapi dengan singap sandiwaru itu makin beryayk saya berpikir sekitar keke-rangan didikan sekitar seni duni-di sini. seperti hal dioker, mise en scene dsb, padahal sandiwaru pada prinsip salah satu cabang seni-bersa-ma yang dikenal oleh seluruh puak di Indonesia, sekaliup masih dalan ta-raf bercerita dan belum sampai ke-palin “konflik yang hidup”. Dapat sa-ya ceritakan bahwa dalam ketiga sandiwaru konflikna didukung (tegaskan) oleh diri seorang, lebih ba-nyak sebiyi korban daripada kata-usator dalam suasana “yumpa Tu-han”. Mangkin dapat dimainkan se-gern akan tetapi kalau tak dapat se-mu'ih sepuluh atau dua puluh tahun-pun diyadiah. Berkenaan dengan so-al sekitar Rivai, antara H. B. Yassin dan Asruil, dan sekitar pikiran dalam sandiwaru-sandiwaru di atas, antara Yassin dan saya, ditambah pula dengan “pidato selamat tinggal 1952” yang ber-pathos opera Stambul saya makla berpikir tentang Yassin sebagai kriti-kus. In sendiri menganggap dirinya (dirinya yang “saudah digantung”? !) sebagai jurubuku bertindak mere-but tanggung jawab kebiyaksanaan pimpinan perusahaan? Lagi sastera bukan soal yang dapat dipimpin de-ngan kebiyaksanaan, apalagi dengan semangat jurubuku. Pengarang ha-lig yang kritikus, Walaupun mang-kin terjadi seorang pengarang moti-sebagai pengarang kareng “kebiyaksanaan” seorang kritikus, tapi yang sebagiankah tak muangkin terjadi, Gha-yah pula bagi siya kebiyaksanaan kri-kus dalam segala lapangan seni, bila ia berlagak memukul; kelahiran seni seakan-seakan ini peristiwa menanam kol; bila ia tidak tinggal dalam patokan: berusaha memperkenalkan seni kepada sebanyak mungkin orang, desnoods dengan membicarakannnya dengan te- gak sok tahu segala, tapi jangan lebih daripada itu. Menimbulkan ter- tawaan sikap Yassin yang kegurun- gunaan dalam pidatonya itu dan ge- baarnya hendak mengangkat orang dari kubang. Dalam betoognya ia sampai lebih sepuluh kali barangkali menyebut nama epigon (Iwan Simu- tupang namanya) yang menerbitkan satu dua sajak. Ini soal rasa-per- bandingan. Entah berapa kali ia me- nyebut-nyebut Canus dalam suratnya kepada Asrul seolah-seolah absurditit itu ba:“i lahir dengan Canus, dan seolah-seolah ia mengerti dan Rivai tidak dst. dst. Untunglah ia tetap jujur naief membiarkan penanya menggoreskaa minderwaardigheidscomplex dalam huruf-huruf Uw. dw. Dia perlu menjadi- kan orang yang pergi ke- atau datang dari ”luar negeri“ kapstok complex- nya. Dia belum sampai pada kenyata- an bahwa keluar dari atau masuk ke- kanan tidur kita sendiri bisa meru- pakan pelarian. Demikianlah banyak istilah-istilah yang kandunganya tak sama lagi bagi Yassin dan saya. Apakah ki- ta hanya melancong melulu sebagai toeris atau hanya alat propaganda itu soal orang seorang, sebagaimana juga ketololan yang dipertontonkan oleh beberapa kawan-kawan dieneeri orang. Tapi ke Eropa Barat, ke Amerika atau ke belakang tirai besi, saya rela meninjau, tapi supaya tuan rumah jangan salah sangka saya tetap akan memajuikan ”pilihan“ saya, dan bukan hanya secara opportunis. Merah kalau perlu ke Peking, liberal kalau hendak ke Washington. Pili- han saya iatih Eropa-Barat dari dulu hingga sekarang. Andai kata karena itu saya takkan ada kemungkinan masuk ke belakang tirai besi (bila ada kesempatan) itu saya terima, sekali- pun saya tetap akan ingin meninjau seluruh pelosok dunia, andai kata cuduk uang dan tempo pada saya, dan andai kata ditizinkan. Pilihan sa- ya itulah satu-satunya yang membenarkan bagi diriku pergi ke Eropa, dan siapa pulalah orang lain yang akan meributkan hal itu? Pilihan ini pulalah yang merasa terdorong meninjau si- kap Asrul terhadap ”milieu“ Ero/4 sebagai yang tersimpul dalam kal- mat-mat: Saudara pernah merasakan di- ri seorang raja di antara kaum re- publikein? dan: Ia ada punya sat: perbandingan yaitu perbandingan air bah yang tidak pernah memperhati- kan orang seorang etc. dan dibagai lain suratnya (pada permulaan), ”ki- ta yang lebih yakin kepada yang irreeel. “Ucapan-Ucapan seperti ”Orang di sini kuat menulis, tapi semata ku- rena orang adalah penulis. Lain ti- dak! Di Jerman saya rasanya lebii betah. etc. etc.“ Catatannya tentang keedanan Rustandi Kartakusumah mau jadi komponis bolehlah diang- gap sebagai lehcon. Tapi berlagak sebagai pengukur kecerdikan orang (Ucapanya tentang Akhdiat yang katanya tak tambah ”cerdik“ sesu- dah perjalanannya ke Amerika-Amerika me- nunjukkan ketidakcerdikan. Tapi tentang soal-soal ini dalam surat berikut. Saya sudah cape dan musih pening karena aspirine. Besok saya sarn- bung.
Sitor Situmorang
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.