Baca EPUB: Kehidupan Kesusasteraan Perlu Dipelihara

6 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KEHIDUPAN KESUSASTERAAN PERLU DIPELIHARA
  2. SOEBAGIO SASTROWARDOJO
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. CATATAN REDAKSI
  6. KEHIDUPAN KESUSASTERAAN PERLU DIPELIHARA
  7. Bahasa bagi Hidup Kita
  8. Rakyat dengan Kesusasteraannya
  9. Kehidupan Kesusasteraan Dewasa Ini
  10. CC BY-SA 4.0

KEHIDUPAN KESUSASTERAAN PERLU DIPELIHARA

SOEBAGIO SASTROWARDOJO


KOLOFON

KEHIDUPAN KESUSASTERAAN PERLU DIPELIHARA

oleh

SOEBAGIO SASTROWARDOJO



Dimuat di majalah Siasat

No. 351 • Th. VII • Februari 1954

Sumber Transkripsi

Ditranskripsi dari lampiran skripsi

Krisis Kesastraan Indonesia Modern Tahun-Tahun 50-an dan Relevansinya dengan Sejarah Sastra Indonesia Modern Saat Ini

oleh

Fransiska Domas Ngatini

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1999

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Karunia Haganta (about:blank)

Gambar sampul: Man with a Sack 1922/1923 (printed 1950), karya Marc Chagall

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam.com



CATATAN REDAKSI

Tulisan sdr. Soebagio Sastrowardojo ini kami petik dari harian “Nasional” tanggal 4 Februari 1954. Karena menurut hemat kami tulisan ini patut dibaca oleh pembaca “Gelanggang”, maka di bawah ini ia kami siarkan dalam keseluruhannya.


KEHIDUPAN KESUSASTERAAN PERLU DIPELIHARA

Bahasa bagi Hidup Kita

SAPIR, seorang ahli bahasa di Amerika, pernah menyatakan, bahwa bahasa bolehlah disamakan dengan udara yang kita isap setiap hari. Setiap detik kita bernapas, tetapi hampir tidak pernah kita memperhatikan kepentingannya bagi kelangsungan hidup kita. Bahasa setiap hari kita ucapkan dan kita butuhkan dalam hidup kita, tetapi galibnya kita tak ingat akan mengindahkannya.

Pada hakekatnya, bahasa sungguh sama vitalnya bagi hidup manusia seperti udara yang kita isap ini. Seperti napas memberi hidup pada jasmani kita, demikian bahasa memberi hidup kepada rokhani kita. Tiada bahasa, kita akan kembali kepada tingkat kehidupan hewan, yang hanya tahu tumbuh dan berbiak.

Percobaan keilmuan yang dilakukan kepada anak yang tuli-bisu, membuktikan hal itu: Kecerdasan anak tuli-bisu yang berumur 14/15 th. samalah tingginya dengan anak normal yang berumur 6/7 th. Karena tidak cakap mempergunakan bahasa, pikirannya terhenti kepada pengamatan barang yang konkrit yang terpisah-terpisah dan tak sampai kepa da pengertian dan pertalian yang tak berwujud.

Karena bahasa, pikiran kita dapat berkembang dan sarggup melihat kemungkinan-kemungkinan yang mengatasi ruang yang tampak serta zaman yang dialami. Karena bahasa, dapat kita mengupas dan mengutarakan segala gerak hati sampai yang sehalus*nya. Karena bahasa, jiwa kita mendapat kesempatan tumbuh, sehingga hidup manusia ini terpimpin oleh kesadaran dan keinsafan.

Bahasa sebagai napas jiwa kita, mengatasi dasar penglahiran jiwa yang lain, seperti pekik, tangis atau gerak raga, karena kesang-gupannya menyatakan beraneka liku perasa-an dan pikiran kepada dunia luar. Karena itulah subur-kerdil kehidupan rokhani kita bergantung kepada bahasa yang kita perguna-nakan. Bahasa menghidupkan jiwa dan se-baliknya, bahasa terpelihara oleh jiwa yang kaya dan subur.

Rakyat dengan Kesusasteraannya

Pemakaian bahasa mencapai kebulatannya dalam kesusasteraan.

Setiap bangsa mempunyai kesusasteraan betapa kecinya pun kesatuannya. Di dalam kesusasteraan itu terbayang sikap dan pandangan hidupnya, Cita, harapan, anggapan, kesukaan, kegembiraan, kekesalan, kekecewaan, dendam, kerlaan dan berahinya; semua ini dicoba mewujudkannya ke dalam kata. Boleh kata ini digubah berupa dendang di tengah sawah, doa rapal kepada rokh halus atau madah pujaannya kepada raja atau kekasih. Karena buah sastera seperti setiap buah seni, mempunyai tiorak yang mu ngil: ia meninggalkan tujuan hayat manusia yang primer, makan, berpakaian dan beratap di atas kepala. Buah sastera memuaskan pikiran dan perasaan, baik pernyataan jiwa ini bersifat langsung dan praktis, seperti harapan dalam doa minta hujan, atau dendam hati dalam tantangan nyanyian perang, Ataupun hanya lamunan dan renungan pujangga belaka.

Rakyat hidup dalam kesusateraan ny dan menerima dengan lahap ny setiap buah sastera, karena setiap anggota melihat kehidupannya sendiri di dalam ny. Orang mengenang dan mengulang kata-kata pujangga yang dianggap ny tepat dan sesuai dengan gerak jiwanya. Hal ini dapat kita buktikan dengan mengingat betapa gemarnya rakyat di daerah kejawaan ini mengulang1 ucapan pujangga Ronggowarsito beberapa tahun yang lalu: “Beja-Bejane sing ‘lali, isih beja sing eling lan waspada”; (Beruntunglah orang yang sesat, tetapi lebih beruntung orang yang insaf dan waspada); atau kepada tetangga kita di kampung yang setiap malam membaca karangan “Wedatama” dengan tembang macapat. Kita ingat juga akan kata* abadi William Shakespear: “To be or not to be, that's the question” atau “Right or wrong my country”, kata* yang hidup di dalam kenangan orang Inggris serta peminat sasteranya. Dan tentu kita tak lupa akan pantun dan se-loka yang menjadi buah bibir rakyat di daerah Melayu.

Demikianlah gambaran kehidupan kesusasteraan yang subur. Kesusasteraan telah me-wujudkan buah fikiran pujangga yang pelik-pelik dan sebaliknya kesusasteraan telah meresapi jiwa dan kehidupan rakyat. Kesusasteraan memberi makan kepada jiwa dan memperkaya hidup rakyat. Ia memberi ciha hidup yang lebih mulia dan membuka matanya kepada kemungkinan hidup yang beragam dan beraneka. Kesusasteraan akan be ngangkat rakyat lebih tinggi ke arah kemanusiaan yang sejati.

Kehidupan Kesusasteraan Dewasa Ini

Kesusasteraan Indonesia sedang mengalami kemajuan. Semenjak abad ke 20 ini terbit lah berturut-berturut karangan-karangan yang memenuhi syarat-syarat kesusasteraan modern. Roman-Roman yang bo leh dipertanggung jawabkan segi ilmu ji wa dan jalan pikirannya timbul, sedang st jak yang berisi cetusan hati dan renungan yang mendalam memenuhi taman puisi Indone sia. Nama pujangga-pujangga yang berkali ber tampil ke muka Amir Hamzah, St. Takdir Khairil Anwar, Pramuja Ananta Tut. Setiap anak S. M. A bagian Sastera tahu me nerangkan; kepada siapa juga yang ingin tahu, bagaimana perbedaan asas antara Ang katan Pujangga Baru dengan Angkatan 45. Ia akan menyebut dengan sekali ucap nama pujangga kita dari Abdullah bin Abdulka dir munsyi sampai pengarang yang paling akhir dalam abad ini. Dapat ia menunjukkan karangan-karangan yang merupakan puncak-puncak hasil sastera Indonesia. Sitti Nurbaya, Salah Asuh an, Belenggu, Layar Terkembang.

Kita dalam hal itu haruslah merasa bangga akan pengetahuan adik kita ini tentang kesusasteraan bangsanya. Tetapi harus juga kita bertanya, sampai manakah luas dan dalam daya pengaruh kesusasteraan itu ke dalam masyarakat kita umumnya? Adakah orang terbuka oleh keprilami perasaian tokoh dalam roman pelik yang tertebar dalam roman itu atau turut merenungkan angan pelik yang tertebar dalam sajak? Adalah orang terpukau oleh kepribadian Khairil Anwar, atau mencela atau memuji watak Tutu Gidalam Layar Terkembang? , Adakah gadis kita gemar mengulang dan menghafalkan sajak Nursyamsu atau Waluyati yang penuh lirik itu? Adakah rakyat turut gembira dan menderita, beserta pasang surut kesusasterannya?

Pertanyaan ini datang kepada kita, jika kita mencoba bertanya tentang kesusasteraan, kepada rekan kita sekantor, atau kepada kawan guru, yang tak memberi bahasa Indonesia, atau kepada mahaguru dan mahasiswa diuniversiteta. Mereka akan menggeleng-menggeleng-kan kepala dengan acuh, tak acuh, atau paling banter mereka tahu mendengar nama pengarangnya dengan kebetulan saja. Jangan lagi kita hendak bertanya kepada Pak Merto, tukang jahit, Pak Cokro, supir bis, atau Darus pedagang radio dan berjuta-berjuta rakyat dari gupernur sampai lurah sebawahannya. Mereka tak tahu akan kesusasteraan dewasa ini kecual beberapa puluh peminat yang ke lihatan menggandgil di tengah lautan manusia yang acuh tak acuh.

Dilihat dari sudut itu, kehidupan kesusasteraan di tanah air kita menyedihkan belaka. Tampilin ya beberapa pengarang yang besar di antara kita tidak dapat menyalahkan kenya taan ini. Jiva dan kehidupan rakyat kita, rata'nya, tidak menerima pupuk dan makan dari kesusasteraan ny.

Kita yang insyaf akan harga kesusasteraan bagi kemajuan bangsa, tidak boleh membiarkan hal itu berlangsung demikian. Sampai kini kesusasteraan Indonesia hidup lepas dari rakyatnya, dan daya pengaruhnya tidak melalui batas lingkungan kecil para peminat dan sastrawannya sendiri. Haruslah ada usaha meratakan pengaruhnya kepada segenap lapisan dan golongan masyarakat, sehingga adalah saling pengaruh dan menghidupkan antara rakyat dengan pujangganya.

Tetapi sebelum kita dapat melangkah ke pada usaha perbaikan itu, perlulah kita men- carl sebab kepincangan itu dahulu.

Sebabnya.

Pertama, secara klasik dapat kita carl se- babnya pada lapangan ekonomi. Rakyat kita kebanyakan tidak mampu membeli buku roman atau kumpulan puisi yang rata harga- nya R.210 sedang untuk memenuhi kebutuhan sehari saja ia harus membanting tu- lang janganlah untuk membeli buku. Teta- pi dim hal ini perlu pula kita ingat, bahwa ke- gemaran seperti membaca ini, biasanya ti- daklah terlalu memperhitungkan uang atau kesulitan mendapatkan bacaan. Di samping itu, perlulah penerbit kita meniru usaha bangsa Inggris dan Amerika, untuk mener- bitkan buk u ukuran kecil semacam Peli- can dan Penguin books, yang menghemat pemakaian kertas dan merendahkan harga bu- ku di pasar.

Sebab yang kedua, ialah anggapan yang rendah dari cerdik pandai bangsa kita terha- dap kesusasteraan Indonesia, yang blasa di- bandingkannya dengan hasil karangan pu- jangga di Barat. Alasan ini sesungguhnya sukar dicarl pembenarannya, jika mereka suka memperhatikan ciptaan pujangga kita sesudah perang ini. Di samping itu, dapatlah kita hitung dengan carl tangan sebelah, be- rapa keluarga yang mampu dan cerdik pan- dal di-kota besar itu menyimpan buah saste- ra yasing dilemarinya, sebagai bukti penghar- gaannya kepada kesusasteraan luar negeri. Purbasangka demikian hanya timbul dari be- kas kehidupan kolonial yang belum terkikis habis. Sesungguhnya justru karena insaf akan rendah mutu kesusasteraan bangsanya, haruslah ada keinsafan pula bagaimana usa- hanya memberi mutu yang tinggi kepadanya.

Sebab yang ketiga ini, pada hemat kami, adalah sebab yang pokok, maka karangan kita serta pengaruhrya tidak sampai kepada tangan dan hati orang banyak. Sebabnya ialah karena rakyat kita kebanyakan, masih sulit memahami bahasa Indonesia. Jangankan bahasa kesusasteraan, sedangkan bahasa Indonesia yang dibacanya di dalam koran saja, masih canggung-canggung mereka menerka artinyaa. Jangan lagi dikata tentang pengetahuan bahasa Indonesia dari rakyat di daerah yang lebih jauh letaknya dari Sumatera dan Jakarta, seperti pusat pertumbuhan bahasa kesatuan kita.

Nasib bahasa dan kesusasteraan daerah.

Kita harus ingat bahwa kesusasteraan daerah, kecuali kesusasteraan Sunda mungkin, kini sedang mengalami pemberhentian, kalau tidak hendak dikatakan mati belaka. Bahasa daeraI berdiri jauh di samping bahasa kesatuan kita, berkat rencana pengajaran pemerintah. Pelajar kita lebih banyak mempelajari dan mengenal bahasa Indonesia daripada bahasa daerahnya sendiri, Sekalipun ini tidak pulan berarti, bahwa Indonesianya lebih lancar dan spontan. Tetapi yang pasti ialah, bahwa kesusasteraan daerah terbengkalai, karena kehilangan perhatiannya dari kaum pelajarinya, sebagai tenaga pengemban kebudayaan. Sedang rakyat di luar lingkungan sekolah tinggal terasing dari kemujuan dan pertumbuhan fikiran abad ini. Jawa rakyat di luar hanya hidup dari sisa kesusasteraan lama, yg seakan dikunyah nyaber-ulang, dengan tidak menyadari lagi akan rasa lezat-hambarnya.

“Jika kita tidak awas, kegelisahan akan timbul dalam hati rakyat, karena kehabisan bahan rohani untuk menghadapi dan memahami masalah zamannya.”

Usaha riil dapat digalang oleh pemerintah atau pihak partikelir dengan menterjemahkan dan menyiarkan kesusasteraan Indonesia dan asing dalam bahasa daerah. Dalam hal ini kami ingat akan jasa Balai Pustaka di jaman Belanda yang menyedlakan bacaan untuk rakyat dalam bahasa daerahnya sendiri, sehingga menerima sambutan yang hangat dari khalayak ramai. Kami kiranya perlu mengingatkan pembaca betapa ‘populernya’ dahulu ‘majalah’, ‘Kejawen’ di dalam masyara rakyat, atau roman ‘Pangeran Kornel’ di Pasundan, sehingga menjadi bahan bertutur dan berbincang di tengah rakyat ketiyil dan besar. Kini pun rakyat lebih gairah berkerumun di sekeliling radio mendengar renungan Pak Besut dalam bahasa daerah, dari mengikut sandiwara radio dalam bahasa Indonesia.

Bahasa da. Iesusasteraan-daerah perlu dan seharusnya menerima perhatian yang lebih banyak dan lebih rill dari kita. Jangan kita menyangka bahwa bahaya provinsialisme yg mungkin dapat ditimbulkan oleh pemakaian bahasa daerah akan lebih besar dari bahaya kekosongan dari kemiskinan jiwa rakyat. Provinsialisme hanya dapat diatasi oleh pengertian dan sportivitet terhadap sesama manusia dan pengertian dan sportivitet ini hanya dapat terbit dari jiwa yang kaya dan berisi, yang diperolehnya pula dari makanan jiwa yang dimengerti dan terbiasa, yakni melalui bahasa yang telah dikenal dan dide ngarkannya semenjak lahir.

Mudah'an uraian kami ini mendapat perhatian dari peninat sastera dan nasib bangsanya.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.