Open in app Sign up Sign in
Search
SERUAN KEPADA MABA!
3 min read · Aug 16, 2023
Komite Mahasiswa Kupu-Kupu Follow
Share
Percayalah bahwa apa yang kalian amati hari ini, dengar hari ini, terkait slogan populis kerakyatan yang diorasikan oleh para senior kampus adalah omong kosong belaka. Teriakkan tentang “Hidup Mahasiswa, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia,” terkesan tidak relevan dan dipenuhi oleh kepalsuan yang tengah dipertontonkan.
Mereka yang mendaku diri sebagai aktivis mahasiswa, menjabati posisi strategis pada birokrasi intra maupun ekstra kampus, berseragam almamater rapi, berorasi di depan kalian semua adalah mahasiswa elitis yang dipenuhi oleh bak teori. Cukup teoritis, tidak pada wacana etis sekaligus jauh dari serangkaian praktik aksi langsung.
Dan Mereka—hari ini—layaknya manusia yang menari di atas penderitaan. Penderitaan yang kita alami. Penderitaan mahasiswa/mahasiswi baru. Penderitaan yang ditandai dengan masifnya komersialisasi pendidikan di hadapan kita, maraknya ancaman predator seksual di kampus, krisis kebebasan akademik, dan problematika lain yang membelenggu kita semua sebagai mahasiswa.
Tapi mereka, mata mereka, tangan mereka, kaki mereka, tubuh mereka, tak pernah hadir untuk membersamai kita. Membersamai mahasiswa yang terhambat urusan akademik akibat sulitnya membayar Uang Kuliah Tunggal (Ukt), para predator pelaku kekerasan maupun pelecehan seksual yang saban hari mengancam para penyintas, dan rentetan problematika lain.
Bahkan, dapat dipastikan bahwa mereka tak pernah ada digaris terdepan. Mereka menggunakan slogan yang penuh kepalsuan itu dalam rangka seremonial dan euforia, tapi buta akan problematika yang ada. Tak ada keistimewaan apa pun tentang mereka, yakinilah itu!
Mereka hanya berorasi dan mendoktrinasi apa itu mahasiswa. Serupa bualan seorang politikus yang kerap menipu kita semua. Keduanya tak ada bedanya, sama- sama bicara soal populisme.
Pun, ketika mereka memulai orasi dan membicarakan apa tugas dan peran mahasiswa sebagai bentuk yang ideal, mereka akan mengucapkan: Pertama, Mahasiswa sebagai agent of change (mahasiswa sebagai agen perubahan bagi masyarakat). Kedua, Mahasiswa sebagai agent of sosial control (mahasiswa sebagai agen kontrol sosial masyarakat). Terakhir, Mahasiswa sebagai iron stock (mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa). Ketiga tugas itu mereka rapal bersama para kamerad lain di sela-sela ospek, saat itu juga mereka melancarkan orasi diatas penderitaan dengan segala kalimat omong kosong belaka.
Get Komite Mahasiswa Kupu-Kupu’s stories in your inbox Join Medium for free to get updates from this writer.
Enter your email
Subscribe
Remember me for faster sign in
Dalam mengkampanyekan itu, mereka akan membual dan memulainya melalui catatan panjang mahasiswa pada aspek historis. Meromantisasi gerakan mahasiswa dalam keberhasilannya melengserkan beberapa rezim adalah jurus ampuh bagi mereka. Sebut saja rezim Orde Lama (Sukarno) dan Orde Baru (Suharto). Tentu, kala itu mahasiswa memiliki peranan tersendiri.
Akan tetapi, mereka lupa bahwa ada banyak elemen masyarakat yang turut berperan melawan rezim tiran. Misal, ada banyak warga yang menyediakan makanan kepada peserta demonstran di tiap gang-gang, para pengangguran yang
seketika menjadi martir untuk memberanikan diri melempar bom molotov dan properti lain, serta kontribusi masyarakat sipil yang tak dapat terhitung jumlahnya.
Lagi dan lagi, mereka semua, para politikus kampus justru mendapati bukti bahwa mereka tengah melacurkan dirinya menuju arena kekuasaan. Itu terjadi pada pola gerakan mahasiswa dari tahun ke-tahun, baik yang terjadi di tahun 50an maupun 98, bahkan hingga kini. Tidak perlu menyebut satu persatu dari setiap para gelandangan politik dan pelacur tersebut. Sebab, dari dulu hingga kini—bahkan hari ini—slogan-slogan yang mereka rapalkan bersama para kamerad dan koleganya adalah omong kosong belaka.
Kalian (mahasiswa baru), dijadikan mesin dan para tuan yang mengoperasikannya; Kalian adalah para pekerja yang tidak pernah digaji oleh para bos.
Siapa itu tuannya, siapa itu bos?
Merekalah mahasiswa megalomania, yang mengglorifikasi mahasiswa dengan kepalan tangan kiri dan slogan populisme. Intinya, tak ada hal selain umpatan yang lebih pantas kecuali apa yang telah mereka katakan sebagai omong kosong belaka.
*Penulis adalah Kiamat, kontributor Komite Mahasiswa Kupu-Kupu
Fcktheall!
Follow
Written by Komite Mahasiswa Kupu-Kupu
30 followers · 2 following Media Provokasi & Kontra Narasi. Basis Bumi Gayatri.