Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun Pramoedya Ananta Toer
Sumber: https://sites.google.com/site/pramoedyasite/home/works-in-bahasa- indonesia/jang-harus-dibabat-dan-harus-dibangun-i
https://sites.google.com/site/pramoedyasite/home/works-in-bahasa- indonesia/jang-harus-dibabat-dan-harus-dibangun-ii
Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun I
Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun
Pramoedya Ananta Toer
Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept, 7 Sept, 12 Okt 1962
Bagian I: 10 Aug, 1 Sept
=== Tahun 1953, atau 10 th. jl, merupakan perkisaran jang penting terutama dalam dunia sastra Indonesia. Pada th. itu nampak benar berapa galangan jang dengan penuh kesabaran dibangunkan oleh Sticusa, bagian demi bagian mulai berhasil. Pemerintah Belanda jang mulai ragu2 tentu manfaat kerdja Sticusa bagi keuntungan keuangan diwaktu dekat mendatang dengan gopahgapah hendak menarik djatah dana dari Dana Bernhard ke pada Sticusa. Sebaliknja, Sticusa, jang dipimpin oleh para bekas residen atau asisten residen serta orang2 dari bekas kabinet van Mook, mengerti benar, bahwa ikatan-batin dengan golongan intelektual Indonesia harus dipelihara dan diselamatkan, buat menjelamatkan hubungan ekonomi dan djuga politik dengan negeri bekas djadjahan, jang dalam keadaan bagaimanapun harus tetap bisa memberikan keuntungan moril dan materiil bagi Belanda. Begitulah untuk menundjukkan manfaat Sticusa, untuk membuktikan, bahwa hubungan kultural merupakan bagian penting dalam mempertahankan dominasi ekonomi dan politik atas negeri bekas djadjahannja, pada bulan Djuli 1953 Sticusa dengan gerak tjepat telah menjelenggarakan Simposion Sastra Modern Indonesia. Kesengadjaan dari
Simposion ini benar2 mengagumkan. Undangan bukan sadja
terbatas pada para sardjana dan seniman Belanda, djuga
sardjana2 Inggris, Djerman, Australia, Amerika dan
Indonesia tentu.
Dengan demikian, Simposion Sastra Modern Indonesia
jang pertama-tama, bukan hanja tidak berlangsung di
Indonesia, djuga mempunjai forum jang sedikit-banjaknja
bersifat internasional. Daja penarik Simposion jang
mendapat sukses gilang gemilang ialah "rijst-tafel" atau
"makanan Indonesia," dan Simposion berlaku dari pagi2
sampai matari Belanda hilang samasekali dari langit
Eropa.
Besoknja seluruh pers Belanda, dan beberapa pers
Eropa diluar Nederland, memberitakan laporan2 dari
Simposion ini, dan Sticusa "terpaksa" tidak dirubuhkan
oleh pemerintah Belanda. Pers Indonesia djuga banjak
memberitakan peristiwa ini. Bahkan setahun kemudian Senat
Mahasiswa Fakultas Sastra UI mau tak mau harus djuga
bergerak menjeleggarakan Simposion Sastra pula.
Simposion Sastra pertama jang berlangsung di
Nederland ini mengandung unsur2 bagi perkembangan
sastrawan dan sastra Indonesia sesudah itu. Disinilah
sardjana hukum Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa
"Revolusi telah menjebabkan manusia modern Indonesia
menginsafi, bahwa kemerdekaan jang telah
diperdjuangkannja dengan bersemangat itu pada hakikatnja
membuatnja lebih melarat, karena ia telah kehilangan se-
gala2nja..." (dan dalam situasi kehilangan semua2nja ini
pembitjara itu sendiri, telah berhasil mengeduk
keuntungan berlimpah sampai dapat meningkatkan djumlah
miljuner nasional dengan dirinja sendiri). Andil Takdir
kepada Revolusi memang meragukan, sekalipun ia anggota
KNIP dari sajap PSI, seorang kapitalis jang bitjara atas
nama sosialis.
Pada waktu itu Takdir masih sangat berpengaruh
karena djasa2nja sebelum pendudukan Djepang, baik
dilapangan kebudajaan pada umumnja maupun dilapangan
sastra pada chususnja terutama dibidang pengadjaran-
sastra jang selamanja ketinggalan dari perkembangan
sastra itu sendiri. Benar waktu itu telah timbul djuga
Angkatan 45 jang menolak Takdir, tapi masarakat sastra
sendiri masih kurang kritik. Dan benar sekali, bahwa
dalam simposion ini Asrul Sani sebagai wakil Angkatan 45
djuga angkat bitjara, tapi Angkatan Pudjangga Baru jang
disini diwakili oleh Takdir sudah sampai pada taraf
perkembangannja jang masak, dilandasi oleh pengalaman
jang luas, sehingga tidak semudah itu dapat didorong ke
belakang. Maka dalam Simposion ini Takdir berhasil dalam
pengutaraannja bahwa suatu impasse sedang mentjekam
Indonesia dibidang sastra dan kebudajaan pada umumnja.
Ia berhasil membuktikan, bahwa Revolusi merupakan
bantahan terhadap kebudajaan Pudjangga Baru. Dan 10 th
kemudian, 1962, tidak lain dari Iwan Simatupang dengan
tjerpennja Tegak Lurus Dengan Langit jang telah berdjasa
dalam memberi bentuk pada pikiran Takdir ini sehingga
mendjadi semakin djelas, bahwa Revolusi 45 tjumalah
sadisme!
Sama sekali bukan sesuatu jg mengherankan, bila Iwan
ini djuga jang pada th 1953, beberapa bulan setelah
selesai Simposion melajangkan surat kepada Sticusa; sedia
tandatangani sjarat apa pun djuga bila Sticusa mau undang
gua ke Nederland. Sjarat2 apa jang telah ditandatangani
oleh Iwan ini, tak ada jang tahu, ketjuali dia sendiri
dan Sticusa, setidak2nja dia dapat undangan ke Nederland
(1955). Dan sama sekali bukan sesuatu jang mengherankan,
bila Iwan jang ini djuga, jang telah gondol beberapa
puluhribu uang modal Pekan Teater, sesuai dengan
pandangannja, bahwa Revolusi 45 hanjalah sadisme, karena
itu harus dirubuhkan sambil mendapat keuntungan dari
pekerdjaan ini.
==== Apakah sebabnja Takdir bisa punja sikap dan pandangan sedemikian negatif terhadap Revolusi 45 jang agung itu? Tidaklah sulit untuk menemukan sumbernja. Sudah sejak aktivita-budaja-nja jang pertama-tama, ia mengimpi dan berangan, berillusi tnt kemadjuan Indonesia jang tjepat, jang deras. Hanja peradaban dan kebudajaan Barat sadja mampu mempolai kemadjuan ini. Tak ada jang bisa mengatakan, bahwa impian, angan2 dan illusinja djahat, sebaliknja--sesuatu kewadjaran sadja bagi seorang mendeburkan darah patriotisme dlm dirinja. Apabila ia melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk mengenal realita dari bangsanja sendiri plus kehidupannja. Ia seorang idealis
jang menutup mata terhadap realita jang hidup, karena
impiannja terlalu keras, terlalu indah, sedangkan
kenjataan terlalu pahit, dangkal, lamban, dan serba
mendjengkelkan.
Langkah pemikiran selandjutnja bukan lagi suatu
kekeliruan, tapi suatu kesalahan, karena ia hendak
membangunkan impian dgn djalan meniadakan dan memunggungi
realita itu sendiri dan karena kekagumannja pd Barat ia
terimalah Barat itu sebagai ukur segala jang hidup pd
bangsanja. Rekonstruksi membangunkan kuburan, sedangkan
tjandi Prambanan diketjamnja sbg urgensi adalah
membangunkan jang djustru hidup sekarang ini. Nampaknja
ketjamannja ini revolusioner, kalau orang melupakan
kenjataan lain, bahwa Takdir pulalah jang menjatakan
bahwa penamaan "terjerambut" (atau ontworteld) baginja
merupakan pujian! Takdir pulalah jang dg gagah2an
mempelopori gerakan "guntungputus" dg masalampana [-
lampaunja?].
Waktu revolusi mentjapai tarafnja jang panas, ia
djustru pergi ke Nederland untuk menghadiri Kongres
Filsafat (1945) sehingga djabatannja sebagai mahaguru di
UI dibekukan. Dan tindakannja ini disamakan dengan
tindakan Dr. Sumitro, sewaktu ikut menghadiri Kongres
Havana sebagai pena sihat delegasi Belanda, djuga ini
terdjadi pada tahun panas2nja Revolusi.
Gugatan jang tertudju padanja mejebabkan Takdir dlm
madjalah "Pembangunan," 1947, berusaha membersihkan
dirinja dengan bergajutan pada R.A. Kartini jang terus
menerus dihormati, baik didjaman pendjajahan Belanda,
Djepang, maupun semasa Revolusi itu, pdhal, bukankah
Kartini mengandjurkan kerdja sama antara Pribumi dengan
Belanda? Dan djustru gajutan ini mendjelaskan pada kita,
bahwa Takdir tak banjak mengerti tentang perdjuangan
kemerdekaan jang sedjak permulaan abad ini melulu
kreteria dan taraf2nja.
Madjalah "Pembangunan" tidak pernah mempunjai
otorita, sehingga suaranja pun padam tanpa meninggalkan
gaung. Dan sedjak Kongres Filsafat tsb praktis ia semakin
lama semakin dekat pada golongan ko, golongan penchianat
semasa Revolusi itu, malah dimasa pemerintahan federal di
Djakarta, perusahaannja mendapat kemadjuan tjepat dan
melompat.
Revolusi jang digerakkan oleh Rakjat, oleh kenjataan
jg hidup, mengakibatkan terdjadinja desilusi pdnja,
karena Revolusi merupakan guru jang lebih baik bagi
kehidupan ini daripada mahaguru jang manapun djuga.
Takdir jang mempunjai gaja-penulisan jang polemis, tetap
dapat mempertahan gajanja ini, hanja nadanja dimasa
Revolusi 45 dan sesudahnja terdengar mineur. Setelah
pemulihan kedaulatan, ia njatakan desillusinja ini dlm
artikel "Buku dan Ketjerdasan Rakjat dalam Bahaja" jang
dimuat dlm madjalah "Siasat" IV/171/18 Djuni 1950.
Diantaranja ia menulis:
...Pemerintah sekarang tidak akan dapat sebenar2nja
memenuhi kebutuhan rakjat 70 juta ini akan makanan,
pakaian dan perumahan. Sebab kemakmuran dalam arti
jang sebenarnja pada hakekatnja ialah akibat sesuatu
pertumbuhan sikap hidup, kegiatan dan kepandaian
berusaha dari dalam rakjat sendiri, baik sebagai
suatu satuan, maupun sebagai individu.
Kutipan ini, jang merupakan pentjetakan atas
pidatonja dalam malam pertemuan jang diselenggarakan oleh
penerbit kebangsaan "Pustaka Rakjat" di Hotel des Indes
memperlihatkan dengan djelas segi pemikiran Takdir jang
tidak menguasai persoalan politik, (waktu itu RI baru 1/2
tahun berdaulat!) dan mentjoba menutupi kelemahannja
dengan ekonomi sebagai seorang pengusaha jang sedang
merasa terantjam perusahaannja karena kebidjaksanaan
pembagian kertas jang pada waktu itu sedang dilaksanakan
oleh pemerintah.
Kesalahan politik nampak dari pandangannja jang
tidak djelas terhadap Rakjat jang sepandjang abad
merupakan unit ekonomi jang terus-menerus menghasilkan
kemakmuran. Rakjatlah penghasil kemakmuran. Kemakmuran
tidak datang dari sikap hidup jang manapun. Tapi apakah
kemakmuran itu kembali lagi kepada Rakjat jang
menghasilkannja, ini adalah politik bukan lagi ekonomi
apa pula sikap hidup! Sedang sudah setjara apriori Takdir
mengetok palu-hakimnja, bahwa Pemerintah sekarang tidak
akan dapat sebenar2nja memenuhi kebutuhan Rakjat.
Sudah dari nadanja orang dapat dengarkan suatu
sinisme jang lahir dari desilusi. Tapi desilusi ini tidak
mampu mengadjari Takdir untuk mulai beladjar melihat dan
memahami realita. Bagi mereka jang menganggap sastra
hanjalah sastra, tidak lebih dan tidak kurang, tentu akan
bertanja: apakah hubungannja semua ini dengan sastra?
Djawabnja atas pertanjaan ini adalah djawaban atas
faktor2 kedjiwaan apakah jg menguasai seorang pengarang,
serta bagaimana kondisi kedjiwaannja, karena sebuah
pabrik jang didirikan dengan sjarat2 tertentu untuk
menghasilkan tahu, tentulah ia djadi pabrik tahu,
terketjuali bila sjarat2 itu diubah, berubah, sehingga
djadi pabrik bom. Itu pula pentingnja dimulai tradisi
untuk menempatkan karjasastra sebagai bahan gubal, dan
bukan mantra karena tindjauan dan penilaian teknik
semata, untuk sampai pada wudjut sebagai manusia
pengarang dan dengan demikian untuk mendapatkan faham
jang lebih tepat tentang manusia Indonesia sebenarnja.
Sedang saran ini sama sekali tidak menjalahi Takdir jang
sendiri menghendaki dan mempraktekkan seni bertendens,
artinja seni jang memikul tugas, paling sedikit tugas
sosial.
Pada alinea lain kita dapatkan kutipan jang
sebenarnja suatu kekatjauan jg telah mentjampuradukkan
masalah kebudajaan dan perdagangan:
"Apabila kami mengemukakan ini, hal itu bukan
sekali2 untuk mengeluarkan kritik, bukan djuga oleh
karena kami takut Pustaka Rakjat tidak akan dapat
mendjalankan usahanja lagi. Kami hanja bermaksud
sepintas lalu menundjukkan, bahwa buku dan bersama
dengan itu ketjerdasan rakjat dalam bahasa."
Pendeknja, pandangan kultural Takdir setelah 1950,
atau setelah kedaulatan tidak lagi ditangan Belanda
setelah perusahaannja tidak mendapatkan pesanan2 langsung
dari Departemen van Onderwijs [dan] Eredienst pemerintah
Federal, merupakan kekatjauan jang tjampurbaur antara
soal2 perdagangan dan ilusi2 kultural ini berkembang
semakin menjata sampai pada th 1953 dalam simposion
sastra Indonesia di Amsterdam. Takdir sebagai budajawan,
- Kongres Adat ini didalangi oleh Dewan Garuda jang menelorkan putusan2 jang oleh sementara pers jang masih dapat menghormati Revolusi, persatuan dan kesatuan nasional, diketjam sebagai bersifat feodal dan kontra-
sudah sedjak mudanja menjindir, mengemplang dan mentjoba
menggiling apa sadja jang serba tradisional terutama adat
nenek mojangnja sendiri, tanpa keinginan ataupun kemauan
baik untuk memahami latarbelakang dan fungsi historiknja.
Demikianlah, maka kondisi kedjiwaan setiap
pengarang, dalam usaha mendapatkan pengertian jang sehat
tentang sastra dari bangsa jang sedang membangun dan
membentuk diri sebagai bangsa Indonesia dewasa ini sangat
penting untuk ditelaah setjara terbuka.
Segi2 positif Takdir dalam perdjuangan kebudajaan
dimasa sebelum Perang Dunia II ternjata disusul dengan
tjepatnja oleh perkembangan dari segi2nja jang negatif,
hanja karena ia seorang idealis jang memunggungi
kenjataan hidup sudah sedjak mulanja. Perkembangan ini
semakin tragic sewaktu terdjadi apa jang lazim dinamai
dengan "pergolakan daerah," suatu istilah jang sebenarnja
berisikan motif2 politik jang sakitan. Dalam persiapan2
untuk meletuskan "pergolakan daerah," golongan2 anti-
revolusionar jang djuga mendapat dukungan dari
parasardjana idealis jang memunggungi kenjataan (misalnja
pernjataan2 dukungan "dengan pertimbangan ilmiah" dari
paramahaguru Universita Andalas pada PRRI) mentjoba
menarik kekuatan dari dukungan golongan adat, seperti
jang telah dilangsungkan Palembang pada bulan Djanuari
1957). Dan risalah ini merupakan titik penghabisan bagi kegiatan kebudajaan Takdir jang masih mempunjai sumbangan bagi kebudajaan Indonesia. Memang setelah itu ia masih ikut buka mulut dalam diskusi "Batjaan Tjabul" OPI, tapi hal itu tidak mampu memperbaiki posisinja didalam pembiaran [?] kebudajaan apalagi sastra Indonesia.
revolusionar. Bahkan persiapan mentjetuskan "pergolakan
daerah" ini dirasa sebagai bahaja bagi negara Indonesia.
Angkatan muda jang tergabung dalam puluhan organisasi
setjara terburu2 menjiarkan siaran kilat berisikan 5
pasal jang berseru agar seluruh pemuda dan Rakjat tetap
waspada dan tetap memelihara persatuan Bangsa dan
Keutuhan Negara. Seruan itu ditudjukan pada semua
kekuatan anti-separatisme dikalangan masarakat.
Selandjutnja diharapkan kepada barisan pemuda agar
tjukup bidjaksana, tjakep untuk mengatasi tiap2 politik
adudomba jang bermaksud mentjegah persatuan. Dan ini
adalah tindaklaku parapemuda. Sebaliknja golongan tua,
termasuk Takdir dan Hazairin, sebagai tokoh2 penting
dalam Kongres Adat Sumsel itu, telah menundjukkan bahwa
kesardjanaan mereka ternjata tjuma keahlian teknis
semata. Para pemuda itu membuktikan pula, bahwa jg mula
harus benar dan tepat adalah politik. Bila politiknja
tidak benar, maka kesardjanaan hanja ketukangan jang
tidak bertudjuan. Sebagai bukti ketukangan tanpa politik
jang benar ini Takdir kemudian menerbitkan pidatonja
dalam Kongres Adat Sumsel berdjudul Perdjuangan Untuk
Otonomi dan Kedudukan Adat Didalamnja, (Pustaka Rakjat
Tokoh seangkatan Takdir jang djuga berkembang
setjara tragik adalah Tatengkeng dari Indonesia Timur
jang pada tarafnja jang terachir menggabungkan diri
dengan Permesta. Kedua2nja dapat disamakan dengan tokoh
Gregori Melechov dalam roman Sjolokov And Quiet Flows the
Don, seorang tokoh perang jang hebat dalam revolusi
bolsjewik, jang karena tidak punja ketegasan dilapangan
politik achirnja mondar mandir tidak karuan ke berbagai
pihak, dan achirnja lenjap sebagai sampah.
Sampai disini orang terpaksa mengingat doktrin jang
dipegang oleh seniman2 dan budajawan2 jang tergabung
dalam organisasi kebudajaan Lekra, jang mengadjarkan
bahwa "politik adalah panglima." Pengalaman dari orang2
pintar tapi tragik itu membuktikan kebenaran dari doktrin
Lekra tsb. Sampai disini pula dapat ditentukan bahwa
untuk menghindari terdjadinja ulangan2 tragedi jg sia2
didengar para budajawan2 dan seniman jang toh diharapkan
sumbangannja pada nasion-building, maka ketidaktugasan
politik, jang menjebabkan timbulnja seni dan pemikiran
gelandangan, harus disapu, harus dibabat. Tidak perlu
diberikan luang seketjil2nja pun untuk membiarkan
berkembang dan berlarut unsur2 penjakit ini, jang
ternjata masih dapat mengembangkan sajapnja sampai dewasa
ini, sebagaimana telah disinggung dalam Gedjala Sikisma
dalam Perkembangan Tjerpen Dewasa Ini, jang telah dimuat
dalam "Lentera" beberapa waktu jl.
===
Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun II
Jang Harus Dibabat dan harus Dibangun
Oleh: Pramoedya Ananta Toer (III)
Bintang Timur (Lentera), 7 September 1962
=== Ada segolongan pengarang muda jang berpendapat bahwa dalam mengeritik sastra, orang tak boleh mengeritik pengarangnja. Sebenarnja, orang dapat menerima saran ini, sekiranja masjarakat dan manusia Indonesia adalah masjarakat dan manusia jang telah mendapatkan bentuknja, djadi bukan dalam periode transisi jang sedang membentuk dan membangun diri. Dalam periode ini sastra bukan hanja meneruskan jang sudah ada, djuga sebagaimana halnja dengan masjarakat dan manusianja, sedang membentuk dan membangun diri. Tugas sastra sangat penting peranannja dalam masa ini. Karena itu djuga setiap pengarang jang tugasnja adalah mempengaruhi djalannja pembentukan dan pembangunan diri itu harus djelas, karena bila pengarang itu seorang gelandangan tanpa tujuan, seorang nabi dari adjaran jang terkenal dengan nama "filsafat iseng" mau tak mau karjanja akan meninggalkan kotoran2 hitam dalam proses pembentukan dan pembangunan diri jang dalam djaman modern ini harus berdjalan serba tjepat, efisien dan selamat untuk dapat segera setaraf bahkan melampaui negara2 jang sudah lama menikmati kemerdekaan nasional. Ada seorang pengarang remadja jang pernah melontarkan tanja: "Mengapa pengarang jang satu mesti gulingkan pengarang lain? Bukankah dua2nja djuga tjari
duit?" Dengan mudah orang dapat menangkap bangun dan
wudjud tanggapan pengarang remadja ini atau fungsi sastra
sebagai sumber penghasilan doang, ia belum tahu, mungkin
djuga tidak mau tahu tentang fungsi sosialnja dan lebih
tidak tahu lagi tentang sedjarah sastra Indonesia itu
sendiri, jang setjara tradisional berdjuang melawan
penindasan, kezaliman, baik diluar maupun dalam rangka
imperialisme kolonialisme. Pertanjaan itu kemudiannja:
"kalau hendak menandingi madjalah X terbitkanlah madjalah
jang lebih baik dari X. Kalau hendak menandingi pengarang
Z terbitkanlah karja2 jang lebih baik dari karja
pengarang Z." Nasihat ini tidak baik bila dikatakan pada
siswa, mahasiswa, guru atau mahaguru jang tjuma tahu
sastra itu dari djurusan bentuk, teknik gajabasa, idea2
dan tjara pengungkapan, pendeknja dari segi
ketukangannja. Tapi, baik guru maupun murid sastra dengan
predikat atau tidak, paling mula harus mengetahui, bahwa
setiap sobek kertas jang digunakan dalam penerbitan,
adalah dibeli dengan devisen jang dihasilkan oleh
keringat buruh dan tani jang notabene sudah kekurangan
kemakmuran! Adalah munafik bilan hasil keringat jang
terlalu mahal diperas dari massa besar pekerdja itu tjuma
dipergunakan buat mentjetak keisengan perseorangan jang
diberi prepetensi dan predikat "sastra." Sastra adalah
bertugas. H. B. Jassin sendiri pernah merasa perlu
menterdjemahkan tugas sastra ini pada tahun2 Revolusi
Agustus dari karja Sartre, dalam "Mimbar Indonesia"
sedang karja Sartre ini kemudian pun ditjetak pula
didalam madjalah "Indonesia" (1949). Bahwa sastra memikul
tugas, kini tak banjak lagi disangsikan orang. Pada awal
tahun 1950-an sastra banjak kala dianggap sebagai
tudjuan, sebagai mantra, suatu anggapan jang menjalahi
realita.
Ada djuga seorang pengarang muda jang baru marak
namanja pada hari2 belakangan ini berpendapat, bahwa
kritik sastra harus dibatasi pada masalah sastra, tidak
boleh keluar dari batas sastra. Pendapat sematjam ini
sesungguhnja jang beberapa tahun jang lalu ikut
membisingkan persoalan tentang PASTERNAK dalam pers
Indonesia. Mereka pada ramai2 mengutuk US jang "menindas
kebebasan sastra," tapi sama sekali tidak bitjara tentang
fitnah DOKTER ZHIVAGO terhadap Revolusi Oktober. Mereka
tidak pernah bitjara, bahwa Nobel buat PASTERNAK adalah
hadiah buat fitnah jang terindah oleh politik, oleh
tatatertib, sastra boleh berchianat asalkan dia bernilai
sastra. Sastra hidup didalam segala matjam kejakinan.
Tapi jang mana jang sastra, kalau sastra itu harus punja
tugas? Dan tugas jang mana? Jang menentang atau jang
membantu Rakjat, ataukah jang tak perduli pada Rakjat,
tapi dalam pada itu hidup dari keringat Rakjat. Maka,
kalau dalam alam Manipol, tidak lain dari BUNG KARNO
sendiri jang mengatakan bahwa apabila "Rakjat marah
kepada saja, marahilah saja, saja akan tundukkan kepala,"
maka benar2 suatu keanehan bila sastra dialam Indonesia
jang sedang membangun diri ini bisa benarkan hidupnja
sastra didalam segala matjam kejakinan, baik kejakinan
jang merusak maupun jang membangun. Tragedi sastra
sematjam ini ada di Indonesia dan sedang bermain dengan
meriahnja. Malah dengan mudah orang dapat menjediakan
timbangan buat mengkilonja mungkin djuga dengan sebuah
baskule bila penerbitan pada umumnja jang harus
ditimbang. Bila dibidang ini pada tahun 1953 GAJUS
SIAGIAN pernah menulis PENERBITAN MEDAN dalam sebuah
madjalah Belanda terbitan Amsterdam, jakni Medan sebagai
sumber-penerbitan-tanpa-tugas kini kita dapat kemukakan 2
matjam pernerbit di Djawa ini jang luarbiasa aktifnja.
Analisa dan Inmajorita. Dengan tjatatan, bahwa Inmajorita
jang dibangun untuk membendung Manipol tidak ketahuan
dimana alamatnja.
Mengapa ada pengarang-muda berpendapat bahwa kritik
sastra harus bisa dibatasi pada masalah sastra? Tidak
susah untuk dapat memahaminja. Pertama karena aktivita
reaksioner jang bersumberkan djiwa reaksioner dengan
demikian tidak mudah dikontrol dan didjeladjah dan dengan
demikian pula boleh memperpandjang keamanan dirinja.
Kedua karena pengadjaran sastra masih menderita
kebolongan, terutama dibidang filsafah-sosialnja. Memang
berat untuk menjadari bahwa pengadjaran sastra ternjata
tidak punja batas, karena hidup itu sendiri jang djadi
landasan sastra memang tidak berbatas, lebih luas dari
laut dan langit, dan lebih dalam daripada samudra atau
djurang.
Apabila falsafah-sosial telah umum dalam sistem
pengadjaran kita, pastilah sudah, bahwa setiap peladjar
apalagi pengarang, akan mengerti dengan sendirinja, bahwa
sastra hanjalah bangunan atas jang tergantung pada
basisnja, jakni kehidupan sosial, kamunal ataupun
individual. Sastra sebagai bangunan atas akan bergerak
bila basis bergerak, dia akan mendjulang bila basis
mendjulang, dan demikian seterusnja. Lihatlah bangunan
atasnja sadja! Djangan lihat basisnja! Mengapa orang
dapat mengatakan demikian? Karena basisnja, basis
individual patut mendapat perlindungan dari koreksi dan
penghakiman mungkin djuga penghukuman.
Demikianlah, meremehkan kehidupan satra adalah djuga
meremehkan adanja kekuatan jang harus dihidupkan dalam
alam pembentukan dan pembangunan diri ini. Meremehkan ini
bukan sadja berarti menghambat perkembangan kearah
tertjiptanja masjarakat adil dan makmur dibidang
spiritual, djuga melakukan penghamburan devisen jang
dihasilkan oleh djerihpajah Rakjat. Meremehkan ini adalah
djuga laku tidak mendidik masarakat dan Rakjat itu
sendiri.
Didalam alam Manipol sastra Indonesia harus berani
bebaskan matjam kritik jang menilai sastra tjuma dari
perfeksi ketukangannja. Kritik sastra Indonesia dalam
alam Manipol, harus bisa memaafkan kekurangan2 jang
terdapat didalam ketukangan, bahkan harus mengisi
kelemahannja, tapi basis politik, basis ideologi sama
sekali tidak boleh meleset. Basis sastra Indonesia adalah
masjarakat dan manusia Indonesia jang sedang berkelahi
dan berdjuang memenangkan keadilan dan kemakmuran. Itulah
basis jang benar. Jang diluar itu adalah kuriosita atau
keanehan belaka. Memang ada segolongan orang jang menilai
sastra dari keanehannja, dari ketidak-samaannja dengan
jang umum. Tapi bila jang demikian djadi ukuran, atau
salah satu ukuran, objek2 penulisan sangat mudah
didapatkan dirumahsakit2 gila.
=== Jang harus dibabat & harus dibangun
Oleh : Pramoedya Ananta Toer Bintang Timur (Lentera), 12 Oktober 1962
PERDJALANAN JANG LAMBAT DARI SASTRA INDONESIA
Tidak bisa dikatakan, bahwa Indonesia tak punja
tradisi sastra jang pandjang dan sangat tua. Sastra
daerah jang begitu berkembang, terutama di Djawa, Sunda,
Bali dan Sulawesi Selatan-Tengah, Atjeh, Minang, Lampung
dts. sebenarnja telah dapat dikatakan djaminan dari
adanja basis jg baik bagi kehidupan sastra modern. Dari
tradisional kearah modern memang terdapat berier histori
jang tebal jang melingkupi pandangandunia, sikap, volume
aindex pengetahuan, resonansi hubungan internasional,
penggarapan atas pengaruh2 pada generasi2 sesudahnja.
Karena itu adalah tdk benar, bila tradisi hanja bersifat
mengulang dan memamahbiak jg sudah ada serta membajangkan
perkembangan jg modern. Perdjalanan sastra modern
Indonesia semestinja tidak lambat. Tapi mengapa lambat?
MENENGOK KELUAR BARANG SEDJENAK
Negeri2 Asia lainnja djauh lebih madju daripada
Indonesia pada masa2 sebelum perang dunia ke-II. India
telah dimahkotai hadiah Nobel karena tjerpen2 Tagore.
Singapura dan Malaja serta Vietnam (ingat sdja pd Pierre
Do-Dinh), tapi dimasa sebelum Perang Dunia II itu,
Indonesia baru menjumbangkan HIKAJAT KANTJIL, surat2
Kartini, dan karja Multatuli jang notabene adalah
pengarang Belanda.
MENGAPA? Apakah sebab semua ini?
Mula2 sekali dapat dinjatakan disini, karena
perkembangan ilmu pengetahuan sebelum perang dunia-II
tidak menggembirakan di Indonesia. Penemuan2 keilmuan
dapat dihitung dengan djari2 tangan dan kaki, sedang
penemuan2 jang dilakukan oleh bangsa Indonesia malah bisa
dihitung dengan djari2 sebelah tangan. Dalam pada itu
kosmopolitisme meradjarela dikalangan kamu intelektual,
sehingga ketjintaan dan watak kebudajaan sendiri serta
raut2nya menjadi mendatar. Pendalaman2 jang bersungguh2
atas man[s]alah2 nasional tidak berkembang, achirnja pun
ketjinta[a]n dan pengetahuan tentang ma[n]usia Indonesia
(djadi termasuk kondisi, posisi, situasinja) djadi
mendatar pula. Gerakan kebudajaan "Budi Utomo" pada
permulaan abad ini tidak bisa dikatakan telah
diselesaikan dengan baik, terutama setelah "budi Utomo"
melakukan lompatan kearah kepartaian dan mentjoba
mendampingi "Sarekat Islam" serta "Indische Partij" tanpa
mengurangi djasa2nja bagi sedjarah.
Terutama kos[mo]politisme jang tak terlawankan pada
waktu itu, dan tidak begitu disadarinja akan bahajanja
pada masa2 djauh kemudian hari, telah banjak
mendjerumuskan kaum intelektual Indonesia dalam tjara
pengurangan-barat. Sedang kebangunan negeri2 Asia lainnja
jang sangat sedikit diperkenalkan di Indonesia sebagai
akibat dari politik pemberitaan Hindia Belanda,
menjebabkan kaum intelektual Indonesia kehilangan sesuatu
jang sangat dibutuhkannja, jakni: bahan perbandingan.
Tidaklah mengherankan apabila Kartini pernah menjatakan
keheranannja, bahwa wanita berwanapun (maksudnja Pandita
Ramabai) boleh dan dapat madju.
Politik pengadjaran Hindia jang terang2an mengsabat
kemadjuan bangsa Indonesia dapat dikatakan biangkeladi
timbulnja dari semut faktor tsb. sedang kaum feodal
sebagai penguasa kedua di Hindia, dan berkompromi tanpa
malu dengan Belanda. Telah berhasil dalam kurun jang
sangat pandjang menikmati kemadjuan sebagai haknja, lebih
dari golongan dan manapun dalam masjarakat. Maka watak
penguasa, dan watak komprominja dengan pendjadjah pun
membikin kaum intelektualnja sedemikian rupa, tidak
mempeladjari wudjut dari masjarakatnja sendiri.
Maka djuga sastra Indonesia jg lahir dimasa itu
praktis tidak dibatja oleh kaum intelektual jg karena
kosmopolitismenja lebih suka membatja lektur asing.
(Nasib sastra Indonesia pada waktu itu hampir dapat
disamakan dengan nasib film Indonesia dewasa ini). Dengan
demikian sastra Indonesia merupakan konsumsi bagi
pembatja jang nisbiah kurang mempunjai persiapan dan
aspresiasi. Sebuah polemik tnt karja MARCO berdjudul MATA
GELAP jang menggelumbang hampir keseluruh pers di Djawa
pada tahun 1914 membukakan pada kita satu pintu buat
menindjau pedalaman sastra pada waktu itu, jang tak dapat
dikatakan menjenangkan, dibandingkan dengan jang telah
ditjapai oleh India ataupun Tiongkok. Satu kalimat
diantara sekian banjak polemik jang menuduh MARCO merasa
berkepala besar seakan sudah sebesar MULTATULI merupakan
satu titik pula jg memberikan kemungkinan pada kita untuk
menilai kader kosmopolitisme pd masa itu.
TANPA SEDJARAH SULIT
Dalam keadaan dimana fakta2 tidak menarik perhatian,
amatlah muskil utk bisa mengharapkan lahirnja penjusunan
fakta itu sendiri, mempeladjari perkembangannja, menjusun
sedjarahnja, dan merumuskan filsafat-sedajrahnja. Sedang
tanpa adanja sedjarah ini, perkembangan sastra untuk
selandjutnja merupakan perdjalanan didalam kegelapan.
Orang tak melihat titik tudjuan. Sekalipun sedjarah
sastra Indonesia sampai dewasa ini baru berumur lk. 62
tahun, suatu perdjalanan jang tak dapat dikatakan
pandjang, namun, terlalu sedikit jang telah diketahui
umum tnt sedjarah sastra itu sendiri. Dan sedikitnja
pengetahuan sedjarah ini djuga jang menjebabkan untuk
sekian lama Balai Pustaka, badan penerbitan pemerintah
djadjahan jg bertugas untuk mengimbangi satra perlawanan,
bisa dianggap sebagai titiktolak sedjarah sastra modern
Indonesia. Dari sini pula kita dapat memahami mengapa
dalam masa gentingnja nasib revolusi bisa terdjadi
seorang tjerpena mengumumkan tjerpennja tnt sang tikus
jang menggerogoti bukunja, dan seorang kritikus menelaah
serta memudji tjerpen tsb. (1949). Pun kita bisa mengerti
mengapa banjak peminat sastra, sastrawan dan kritikus
menolak unsur politik memasuki gelanggang sastra. Tidak
mengherankan karena titiktolak sastra Indonesia jang
sedjak tahun 1901 begitu militan menentang dan melaan
pendjadjahan itu, tidak dilihatnja dalam kegelapan itu.
KETIDAKDJELASAN SEDJARAH DAN NILAI KRITIK:
Ketidakdjelasan sedjarah menjebabkan nilai kritik
sastra pun mendjadi tidak djelas, karena tidak mempunjai
pegangan, dan dengan sendirinja djuga ukuran tentang apa
sebenarnja jang sudah terdjadi djauh sebelum itu. Sedang
pada pihak lain pun meragukan kemampuannja untuk melihat
perspektif dan haridepan sastra Indonesia. Dalam situasi
demikian, mau tak mau kita terpaksa terima setiap kritik
sastra dengan reserve, karena kritik sastra jg mungkin
telah diambil umum sebagai ukuran untuk masa kini, bila
dimasukkan dalam vorm sedjarah sastra itu sendiri bisa
tjuma sementara sadja maknanja