RESISTZINE
Bila ada orang lain yang tertarik untuk tahu apa yg terjadi hari ini, mereka harus menemukan media independen untuk mencari tahu.
( RESISTANCE DAN ZINE ) VOL. I
Daftar Isi :
- Basa-Basi Resistzine
- Inagurasi PT Helm Kuning [Puisi]
- Feminisme Selayak Pandang
- Anarkisme : Bayang – Bayang Utopia Yang Hidup
Doc : Refleksi Hatam 2023 [Visual]
Basa-Basi
Hallo Kamerad !!!
Perkenalkan, ini adalah sebuah media independent yang kami beri nama
Resistzine, selanjutnya ini adalah zine anti-otoritariannya perpusjal patani, dimana sebagai wadah penampung ide, gagasan, juga sastra dalam bentuk
perlawanan terhadap segala penindasan, keadaan yang terjadi dari aspek sosial maupun kondisi alam semesta (eksploitasi) yang tidak baik-baik saja.
Bermula dari segala dogma/paham (Antroposentris) manusia yang menempatkan diri bahwa manusia adalah salah satu makhluk yang berkuasa terhadap alam
semesta dan berkuasa terhadap manusia lainnya (Kapitalisme), juga penindasan laki-laki terhadap perempuan (Patriarki), Neoliberalisme dll, melahirkan ide
tentang harus dimulainya Resistzine ini.
Jika mungkin kamerad mempunyai keresahan yang sama mengenai segala bentuk kerusakan yang terjadi yang tidak bisa di curhat pada kawan-kawan yang lain, karena takut di nilai utopis, zine ini hadir menjadi solusi dari kemuakan yang lahir. Kamerad dapat menyumbang celoteh berupah tulisan atau visual/gambar yang akan menjadi simbol gerakan literatur ini.
Resistzine ini tidak akan pernah tampil sempurna, namun harus lebih baik tampil
jujur dengan segala cinta yang ditanam dan pengobaran perlawanan untuk memperlambat laju segala kerusakan yang akan terjadi, daripada kita tidak
melakukan apapun.
Di La Realidad, Planet Bumi Yang Sekarat Agustus 2023
.
INAGURASI PT. HELM KUNING
( Oleh : Turyda )
**
Atas nama pertumbuhan Ekonomi.
Cekkel tak berdaya, pada Xing tuan kami.
Bumi kami, untuk kepentingan Eramet Group dan Tsingshan yang bersinergi
Dengan partner PT Aneka Tambang milik NKRI
**
Lowongan terbuka untuk pribumi dan non pribumi
Membuat kepanikan di meja birokrasi dari stempel kartu kuning sebagai bukti
administrasi
Rekomendasi Kepala Desa lingkar tambang Woe bulen dan Sawai dengan
prioritas orang kampung yang tidak berdasi.
**
Sementara lidah penjilat termakan janji politik intrik
Dari Oposisi ke Oportunis para Politisi dan aktivis politik
Menjadi konsultan politik juga juru kampanye politik jijik
Sehingga fagogoru hanya menjadi nilai produksi kekuasaan yang epik
Untuk melestarikan kuasa, mereka memilih bilik suara dari pada solusi kritik
**
Ayo kawan-kawan jangan alihkan Ngaku Rasai sebagai tumbal kekuasaan.
Heii... penguasa jangan hibur kami dengan senandung budi Re Bahasa sebagai
amalan yang akan menghipnotis kami orang awam yang sarat sopan dan santun
sebagai ajaran sehingga wejangan para tetuah-tetuah tentang mitat re miy-moy
hilang di telan zaman bahwa monumen sejarah tiga negeri sengaja di pasung
untuk mendapatkan bonus kekuasaan.
Feminisme Selayak Pandang
Sebagaimana diketahui, kita tidak dapat melepaskan konteks sejarah ketika kita bicara mengenai apapun, termasuk feminisme. Secara umum, feminisme hampir selalu diidentikkan dengan beberapa hal. Seperti, perempuan yang galak yang “tak tahu aturan”, juga aliran-aliran yang ada di dalam feminisme, feminisme radikal, feminisme liberal, feminisme sosialis, feminisme psikoanalisis, dan dll. Yang dituduh membawah budaya barat.
Kemunculan feminisme pertama kali diawali oleh kemunculan perlawanan perempuan atas subordinasi Dominasi Laki-Laki sebelum first wave of feminism tahun 1800an. Pada fase proto-feminisme ini, perempuan mempertanyakan posisi mereka yang selalu ditempatkan di rumah, melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci, membersihkan rumah, dan merawat anak.
Perlawanan pada fase ini masih dilakukan secara individual. Salah satunya oleh Mary Wollstonecraft (1756–1794) melalui karya terkenalnya Vindication of the Rights of Woman (1790)2 yang dibuat untuk merespon Edwin Burke. Mary menggagas pentingnya pendidikan bagi perempuan untuk melawan operasi yang terjadi kepada perempuan. Ia bersama kakaknya yang sebelumnya ia tolong dari pernikahan yang abusive pun mendirikan sekolah.
Perjuangan terus berlanjut. Pada tahun 1800an, first wave of feminism mulai berkembang. Pada fase ini, perlawanan perempuan mulai dilakukan secara kolektif dengan mengangkat isu suffrage dimana perempuan memperjuangkan hak pilih mereka. Pada masa itu, hak pilih/right to vote hanya diberikan kepada laki-laki.3 Salah satu feminis paling berpengaruh pada fase ini ialah Susan B. Anthony (1820–1906). Ia mulai terlibat dalam gerakan anti perbudakan sejak tahun 1846. Ia kemudian bertemu dengan Elizabeth Cady Stanton — yang nantinya menjadi teman seperjuangan dalam memperjuangkan hak pilih — di sebuah konferensi anti perbudakan. Bersama-sama, mereka mendirikan sebuah organisasi untuk menghapus perbudakan pada tahun 1852 bernama New York State Woman’s Right Committee.
Pengalaman dalam gerakan anti perbudakan ini membuat Susan menyadari arti penting hak pilih. Pada tahun 1866 ia pun mendirikan American Equal Rights Association dan menerbitkan majalah mingguan “The Revolution”. Pengaruhnya yang kuat terhadap terwujudnya hak pilih perempuan di AS pertama kalinya pada tahun 1920 tidak terlepas dari karya besarnya bersama Ida Harper, Elizabeth Stanton dan Matilda Joslyn, yang berjudul History of the Woman Suffrage (1881).
Setelah itu, perang dunia sempat membuat perubahan pada pembagian kerja dimana perempuan bekerja di pabrik-pabrik menggantikan laki-laki yang ikut berperang. Fase ini pun menjadi jembatan penghubung ke fase berikutnya dimana icon Rosie the Riveter,5 seorang perempuan pekerja, menandai perubahan baru dimana gagasan mengenai perempuan sama produktifnya dengan laki-laki dimajukan. Fase feminisme gelombang kedua/second wave of feminism pada tahun 1960an ditandai dengan mulai berdirinya organisasi-oganisasi yang secara spesifik memperjuangkan hak-hak perempuan. Mereka memperjuangkan hak-hak seperti upah yang setara/equal pay dengan laki-laki. Salah satu feminis yang paling berpengaruh pada fase ini ialah Betty Friedan. Melalui karyanya The Feminine Mystique, Betty menggugat ketertindasan perempuan dalam masyarakat dimana perempuan diisolasi dalam ruang domestik sebagai Ibu Rumah Tangga (housewives). Bersama aktivis gerakan perempuan lainnya pada masa itu, Betty mendirikan NOW (National Organization of Women) pada tahun 1966. Dalam advokasinya, NOW memperjuangkan kesetaraan di tempat kerja, di masyarakat hingga legalisasi aborsi. Perjuangan ini membuahkan hasil pada akhir tahun 1980an yang mengantarkan feminisme pada fase selanjutnya, yaitu fase feminisme gelombang ketiga/third wave of feminism. Pada fase third wave of feminism ini, perempuan masih memperjuangkan dan menuntut hak-hak mereka dan mereka juga bekerja dengan mendefinisikan kembali cara pandang mereka untuk membuat setiap orang dapat dan bisa menjadi seorang feminis. Namun, fase ketiga ini masih ada dalam perdebatan, khususnya di kalangan gerakan perempuan, karena banyak feminis dan gerakan perempuan beranggapan bahwa fase second wave of feminism belumlah berakhir
Perempuan Halmahera; Design By’ Delusik
Anarkisme
Anarkisme : Bayang-Bayang Utopia Yang Hidup.
“Semua pemerintahan tidaklah diinginkan dan tidak perlu, tidak ada pelayanan yang dapat disediakan pemerintahan yang tidak dapat disediakan oleh suatu komunitas secara swadaya. Kita tidak perlu disuruh-suruh melakukan sesuatu atau diberitahu bagaimana menghidupi hidup kita apalagi dibebani oleh pajak, aturan, regulasi-regulasi serta tuntutan-tuntutan akan hasil kerja kita” (Profane Existence)
Anarkisme merupakan satu-satunya arus intelektual yang berbobot pada saat ini, yang merupakan sebuah filsafat yang menyokong pemusnahan memonopoli ekonomi, institusi politik dan sosial. Untuk menggantikan struktur ekonomi kapitalis yang ada pada saat ini, masyarakat anarkis akan mendirikan asosiasi yang bebas berdasarkan ko- operasi antara semua pihak yang produktif. Tujuan asosial tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan semua anggota masyarakat. Dalam susunan masyarakat seperti itu, tidak ada lagi pemberian hak-hak istimewa kepada minoritas golongan masyarakat yang diuntungkan (baca: Kaum privileged).
Untuk menggantikan organisasi negara, masyarakat anarkis akan membentuk sebuah federasi yang beranggotakan komunitas-komunitas bebas yang akan berasosiasi antara satu sama sama untuk kepentingan bersama dalam masalah ekonomi dan sosial. Asosiasi antara komunitas-komunitas tersebut akan didasari oleh perjanjian dan kontrak yang bebas. Secara mendalam perkembangan ekonomi dan sosial dalam sistem yang ada sekarang dapat melihat dengan jelas bahwa obyektif-obyektif yang dikemukakan oleh Anarkisme bukanlah ide utopia yang disampaikan oleh pemikir- pemikir yang imaginatif, tetapi merupakan kesimpulan logika dari penelitian mengenai
kebobrokan sistem sosial yang ada pada saat ini. Pada setiap tahap perkembangannya, bukti-bukti kebobrokan sistem sosial tersebut semakin jelas. Kapitalisme monopoli modern dengan negara totaliter merupakan tahap terakhir dalam perkembangan sistem sosial teresebut.
Perkembangan sistem ekonomi yang ada pada saat ini sangat tidak sehat, karena kekayaan dikumpulkan oleh segelintir orang sementara mayoritas masyarakat bertambah menderita. Sistem tersebut mengorbankan kepentingan masyarakat umum untuk kepentingan pribadi segelintir anggota masyarakat dan secara sistematis meremehkan hubungan antara sesama manusia. Manusia lupa bahwa industri bukan tujuan hidup, tetapi adalah cara untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan intelektual mereka. Dimana industri dianggap sebagai segala-galanya dan kesejahteraan (mayoritas) manusia diremehkan, kita akan mengalami despotisme ekonomi yang mempunyai konsekuensi tidak kalah buruknya dengan despotisme politik. Kedua-duanya (despotisme ekonomi dan politik) saling menbesarkan antara satu sama lain dan kedua-duanya dihidupi oleh sumber yang sama.
Despotisme ekonomi dalam bentuk monopoli dan despotisme dalam bentuk negara totaliter adalah konsekwensi daripada tujuan politik yang sama. Direktur yang menangani kedua-dua jenis despotisme tersebut mempunyai kecenderungan untuk mereduksi keanekaragaman bentuk ekspresi kehidupan sosial menjadi mesin yang bisa diatur temponya, dan menyetel segalanya yang organik (alami) menjadi mesin-mesin tak bernyawa yang berfungsi sebagai alat politik
Sistem sosial kita telah memecah belah organisme sosial di setiap negara menjadi berbagai golongan yang saling mengancam, dan di luar (sebuah) negara, telah memecah belah umat manusia menjadai banyak negara yang saling mengancam antara satu sama lain. Timbulnya negara-negara di dalam dunia dan golongan-golongan masyarakat di dalam sebuah negara memicu konfrontasi dan permusuhan, yang mengakibatkan keresahan abadi dalam kehidupan sosial. Perang dunia pertama adalah akibat daripada perjuangan untuk kekuasaan politik dan ekonomi yang merupakan konsekwensi kondisi yang penuh dengan ketegangan, dan yang mungkin akan menuju kepada malapetaka universil, kecuali perkembangan sosial mengambil jalan yang lain secepat- cepatnya. Kebanyakan negara harus menyediakan antara lima puluh sampai tujuh puluh persen daripada pendapatannya untuk pertahanan negara dan ini masih harus ditambah dengan likuidasi utang-utang perang yang lama; perlindungan yang diberikan negara kepada warga negaranya memang harus dibeli dengan harga yang mahal, terlalu mahal.
Kekuasaan birokrat yang semakin berkembang dalam menjaga dan mengamankan kehidupan seseorang dari bayi sampai ajal, merupakan halangan yang semakin besar bagi koperasi antar manusia dan menghancurkan setiap kemungkinan untuk perkembangan (sistem) yang baru. Sebuah sistem yang dalam setiap tindakannya mengorbankan kesejahteraan sebagian besar masyarakat demi memenuhi kerakusan untuk kekuasaan dan kekayaan kaun minoritas, sudah pasti akan memusnahkan semua hubungan social, yang kemudian menuju kepada perang (yang abadi) antara sesama manusia. Dari sistem ini juga timbul reaksi social dalam bentuk fasisme, sosial faham yang mempunyai obsaesi untuk kekuasaan, melebihi monarki absolut berabad-abad yang lalu, dan yang ingin menggunakan institusi negara untuk mengontrol setiap aspek
kehidupan manusia. Sama seperti berbagai macam sistem teologi agama, Tuhan adalah segalanya seaman manusia tidak ada apa-apanya, untuk teologi politik modern ini, negara adalah segalanya dan manusia tidak ada apa-apanya. Dan juga seperti “keinginan tuhan”, selalu ada keinginan kaum minoritas yang terselubung dibalik “keinginan negara”, yang dipaksakan kepada mayoritas masyarakat.