Baca PDF (OCR): Kenapa Kebudayaan Imperialisme Amerika Serikat Yang Harus Dijebol

10 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 46 ms

Daftar isi
  1. (Disalin ulang dari http://www.oocities.org/ticoalu2/kenapa.html
Kenapa Kebudayaan Imperialis AMERIKA SERIKATYANG HARUS DIJEBOL?
Pidato Pramoedya Ananta Toer
Dibacakan saat resepsi penutupan sidang
Pleno Lekra di Palembang, dimuat di Harian
Rakjat, Minggu, 15 Maret 1964.

(Disalin ulang dari http://www.oocities.org/ticoalu2/kenapa.html

dengan perubahan ejaan)
Para pembesar setempat dan kawan-kawan sekalian,
ormas-ormas sekawan, dan simpatisan-simpatisan. Apabila
perhatian kita tujukan pada hiasan di samping kiri
saya,dapat dibaca semboyan baru 'Jebol Kebudayaan
Imperialis AS, Bangun Kebudayaan Nasional dengan Kobarkan
Kebangkitan Tani.' Semboyan ini tidak lain dari garis
baru yang merupakan sari keputusan Pleno PP Lekra di kota
ini. Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya
penjebolan kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan
pembangunan kebudayaan nasional, dengan Kebangkitan Tani?
Katak-katak yang begitu aktif di musim hujan ini
pun, bila bisa membaca, segera akan mengerti, bahwa tanpa
menjebol kebudayaan imperialisme Amerika Serikat, tidak
mungkin kita membangun kebudayaan nasional, tidak mungkin
kita mengobarkan kebangkitan tani. Jadi, di dalam masalah
pembangunan kebudayaan nasional, doktrin dua kaki yang
revolusioner itu juga berlaku, menjebol dan membangun,
menjebol yang usang dan membangun yang baru, menjebol
kebudayaan imperialis Amerika Serikat dan membangun
kebudayaan nasional.
Pada umumnya kita hanya bicara melawan kebudayaan
imperialis,tetapi Pleno kita tanpa tedeng aling-aling
kini telah melakukan tudingan pada hidung Amerika
Serikat. Di Jakarta sana akan ada konferensi Manikebu/KK-
PSI, yang belum-belum sudah ngemis kebudayaan imperialis
Amerika Serikat, dan dengan keberanian moral dan tekad
penuh: ganyang dia! Ya, tetapi mengapa mesti kebudayaan
imperialis Amerika Serikat?"
Kawan-kawan, dari pelajaran selama ini kita menjadi
lebih tahu dan lebih cerdik, bahwa Amerika Serikatlah
biang-keladi segala kejahatan internasional, bahkan dalam
kehidupan nasional kita dewasa ini. Tariklah kuping
proyek neokolonialis 'Malaysia' itu. Paksa dia duduk di
bangku terdakwa. Bukalah kedoknya, dan akan muncul
tampang imperialis Inggris dalam segala kerakusannya yang
utuh. Jangan sampai di situ, tariklah kedok satunya lagi
itu, dan akan muncul iblis yang sesungguhnya, yaitu
imperialisme Amerika Serikat. Begitu juga di Vietnam
Selatan, di Korea Selatan, di Jepang, Isawai, Kongo,
Afrika Selatan, Kuba, Panama, dan di seluruh dunia.
Setiap penjahat itu masing-masing mengenakan kedok, dan
bila kedok itu berhasil disentakkan, tidak lain dari
iblis imperialisme Amerika Serikat jua yang mewakili
dirinya sendiri.
Di negeri-negeri baru merdeka-jangan dikata yang
belum merdeka-iblis-iblis Amerika Serikat ini mengenakan
kedok yang dinamai kedok komprador. Sedang orang-orang
sebangsa yang mendukung fungsi sebagai komprador ini, di
negerinya sendiri menciptakan apa yang dinamai:
kebudayaan komprador. Kebudayaan komprador jelas bukan
kebudayaan nasional. Bukan saja istilahnya berbeda,
terutama isinya bertentangan. Sedang di Indonesia,
kebudayaan komprador yang dibangun oleh tangan dan otak
Indonesia yang mewakili iblis Amerika Serikat ini, bahkan
juga uang, dan kemungkinan dilambangkan dalam modal
raksasa yang tertanam dalam film dan segala seluk-
beluknya yang bernama AMPAI, alias American Motion
Picture Association in Indonesia.
Tidak percaya? Datanglah ke pengadilan. Bukalah tiap
koboi-tanpa-kuda tepat pada kedoknya, yang muncul dalam
keadaannya yang utuh adalah Amerika Serikat, imperialisme
Amerika Serikat, kebudayaan imperialis Amerika Serikat
yang diwakili oleh AMPAI. Copotlah kedok-kedok penjahat-
penjahat, bandit-bandit dan petualang-petualang
'nasional' itu, yang muncul adalah iblis imperialisme
Amerika Serikat yang diwakili oleh AMPAI. Kulitilah kedok
cross boy, cross girl, cross papa dan mama, bahkan cross
kakek & nenek, yang muncul iblis yang itu-itu juga:
kebudayaan imperialis Amerika Serikat yang diwakili oleh
AMPAI. Itulah sebagian kecil kebudayaan-atau lebih tepat
kebudayaan komprador Amerika Serikat-yang paling ekstrem.
Ada sementara golongan yang menuduh kita 'subyektif
apabila kita menuding Amerika Serikat. Tetapi kalau
Indonesia mempunyai lembaga yang secara obyektif dan
terampil dapat mencatat pengaruh kebudayaan Amerika
Serikat, kebudayaan komprador, atas peristiwa-peristiwa
kriminal, maka berdasarkan indeks akan didapatkan angka
tertinggi untuk Amerika Serikat. Berdasarkan ini saya
percaya, bahwa di neraka, Amerika Serikatlah yang paling
banyak akan mendapatkan bintang jasa. (Sekiranya di sana
ada pandai-mas yang bisa bikin bintang!).
Nah, sekarang kita akan mencoba dengan takzim
mendengar lagu-lagu yang setiap hari dipancarkan di udara
Indonesia melalui TVRI, RRI,lagu-lagu yang merambat dari
pesta-pesta borjuis sampai petikan-petikan gitar di malam
sunyi oleh pemuda yang tertikam rindu-atau secara
realistis dapat dikatakan sudah kebelet kawin-maka lagu-
lagu yang dikatakan lagu-lagu 'Indonesia' ini, bila
diganti kata-katanya dengan kata-kata Inggris, dia akan
berubah jadi lagu Amerika Serikat. Inilah lagu-lagu
komprador, yang menganggap semua dapat diselesaikan,
apabila pahlawan dan pahlawin dapat kecup-mengecup bibir-
bibir masing-masing. Seluruh persoalan akan menjadi beres
bila pahlawan dan pahlawin dibenarkan naik ranjang
bersama-sama.
Itulah penyelesaian yang menyalahi segala kodrat,
alias kontra revolusi. Itulah penyelesaian yang
antiobyektivitas, antihistori, antirealitas,
antiperkembangan. Lagu-lagu yang membawa ranjang asmara
sebagai penyelesaian segala beserta badan-badan yang
menyiarkannya merupakan unit dari suatu 'lembaga
pendidikan seksual.' Lagu sebagai 'lembaga pendidikan
seksual?' Ya, itulah anehnya. Dalam pada itu lagu-lagu
patriotik-revolusioner dibatasi geraknya pada kesempatan-
kesempatan upacara doang!
Kalau kawan-kawan punya waktu, masukilah kamar-kamar
pemuda-pemudi borjuis kita. Dinding-dinding kamarnya
penuhlah dengan dewa-dewi cinta dari Amerika Serikat. Dan
pemuda atau pemudi ini setiap kali memetik gitar sambil
memandangi gambar-gambar itu. Tampak tidak sesuatu pun
yang terjadi. Tetapi sesuatu telah terjadi, yaitu: jiwa
pemuda atau pemudi itu sambil memetik gitar melakukan
percabulan dengan gambar-gambar bintang-bintang film itu.
Sekali lagi kedok terbuka dan muncullah iblis kebudayaan
imperialis Amerika Serikat. Dan sekali lagi membuktikan,
bahwa AMPAI dengan segala film dan pengaruhnya yang
mungkin, tidak lain dari raksasa 'lembaga pendidikan
seksual' ala Amerika Serikat tentu.
Bandit-bandit yang lihai itu, kawan-kawan, dari mana
mereka menimba fantasinya? Dari AMPAI. Itu belum mata
rantai lain yang kurang pokok. Tetapi yang pokok adalah,
bahwa tugas kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan
kerja sama dengan kebudayaan komprador ialah
memelempemkan jiwa revolusioner Rakyat kita, pemuda
kita."
Kalau Armada VII hendak gentayangan ke Samudera
Indonesia, apakah kawan-kawan kira dia datang hendak
membantu kita mengganyang tikus, tengku dan
manikebu?Justru sebaliknya. Deretkanlah tikus-tikus jenis
baru yang sekarang mencoba menggagahi panen kita di atas
kursi terdakwa. Seretlah penyakit tetumbuhan baru di
sampingnya. Bertindaklah kawan-kawan sebagai jaksa,
tanyailah mereka: Dari mana asal kalian? Kalian si
keparat' Kalau mereka sudah dapat dicabarkan dari
Manikebunya alias kemunafikannya, mereka akan menjawab
malu: kami berasal dari A.... Tentu kawan-kawan percaya,
karena buktinya dapat disodorkan di atas meja hakim,
bukti-bukti dari Vietnam Selatan dan juga pada awal tahun
50-an dulu dalam perang Korea.
Nah, kebangkitan tani langsung berhubungan dengan
penjebolan kita terhadap kebudayaan komprador Amerika
Serikat dan kebudayaan imperialis Amerika Serikat. Nah,
siapa bisa bilang kebangunan kebudayaan nasional kita,
pengobaran kebangkitan tani kita tak punya hubungan
dengan jebolnya kebudayaan imperialis Amerika Serikat?
Belum-belum itu gerormbolan Manikebuis sudah bekerjasama
dengan AMPAI. Itulah gerombolan kebudayaan komprador.
Mereka pura-pura tidak tahu, bahwa Amerika Serikat adalah
cumi-cumi besar, dan di mana tangan-tangannya terletak,
di situlah dia menghisap bumi dan manusia setandas-
tandasnya.
Itulah sebabnya, kalau salah seorang di antara
kawan-kawan di sini dalam waktu dekat ini mempunyai
kekuasaan dan kata putus di bidang kebudayaan-misalnya
jadi Menteri Kebudayaan-langkah pertama yang harus
diambil adalah: buang semua film Amerika Serikat itu ke
laut, tutup itu AMPAI dari bumi Indonesia tersayang.
Kemudian cocokkanlah grafik kejahatan di kota-kota besar.
Tiga bulan setelah itu akan merosot dengan cepat, dan
barulah kawan akan semakin yakin, bahwa sumber banditisme
dan segala kriminalitas adalah kebudayaan imperialis
Amerika Serikat, kebudayaan komprador, dengan AMPAI
sebagai pusat logistiknya.
Biarlah sekarang saya akan jawabkan untuk kawan-
kawan, apa itu kebudayaan imperialis Amerika Serikat. Dia
tidak lain dari lembaga integral dari perdagangan luar
negeri Amerika Serikat. Melalui kebudayaan imperialis
Amerika Serikat ini selera orang dibentuk menjadi selera
Amerika Serikat, selera perdagangan internasional Amerika
Serikat. Kebudayaan komprador Amerika Serikat adalah
kebudayaan kolportir dari kebudayaan imperialis Amerika
Serikat ini. Dan kolportir selalu melebih-lebihkan,
karena itu efeknya selalu lebih jahat dari efek yang
ditimbulkan oleh majikannya sendiri.
Maka juga kebudayaan komprador Amerika Serikat
adalah 'kebudayaan' yang di samping mengembangkan
ngakngikngok, twist dan sebangsanya, juga jadi
propagandis-propagandis gelap dari Impala, dan
sebangsanya. Dan kawan-kawan pun tahu, bahwa bertambah
luks mobil itu, bertambah panjang radius daya gempurnya
terhadap lebaga-lembaga revolusi kita. Tidak percaya?
Tanyalah pada pihak polisi, apa-apa saja mobil para
penjahat besar itu? Makin jahat dia, makin luks mobilnya.
Betul, hidup-matinya imperialis Amerika Serikat
terletak pada hidup-matinya perdagangan internasional.
Dan kalau kita bilang tentang pasaran Amerika Serikat
setelah Perang Dunia II ini terjadi kemerosotan besar.
Tiongkok sebagai pasaran terbesar Amerika Serikat
sekarang lenyap dari kekuasaan perdagangan luar negeri
Amerika Serikat, demikian pula halnya dengan Vietnam
Selatan, Korea Selatan. Tetapi Amerika Serikat harus
terus mengekspor, biar pun yang diekspornya menjadi
berkurang karena merosotnya pasar. Tetapi dia harus
melakukan ekspor. Maka dilakukanlah ekspor dan negara-
negara lain harus menerimanya.
Ekspor ini adalah ekspor serdadu, ekspor amunisi,
dalam peti-peti atau dalam keadaan meledak, sebagai
kompensasi dari ekspor barang-barang perdagangan pada
waktu sebelum Perang Dunia II. Dari sini kita mengerti
apa sebabnya Armada VII harus gentayangan ke Samudera
Indonesia. Itu juga semacam ekspor di samping tikus dan
racun tanaman. Karena itu waspadalah selalu pada
imperialisme Amerika Serikat, pada kebudayaannya sebagai
bagian integral dari politik perdagangan luar negeri, dan
waspadalah pada komprador dan kebudayaannya. Bukan hanya
waspada, tetapi kita semua harus secara frontal,
serentak, aktif dan ofensif menjebol imperialisme Amerika
Serikat dan kebudayaan imperialismenya. Kalau kita tidak
berhasil menjebolnya di atas tanah air sendiri, itu musuh
nomor satu kita, bagaimana bisa kita membangun kebudayaan
nasional plus mengobarkan kebangkitan tani?
Kalau Armada VII betul-betul gentayangan di Samudera
Indonesia, itu tepat menurut logika imperialis. Itulah
ekspor serdadu plus amunisi sebagai bagian dari politik
perdagangan luar negeri Amerika Serikat. Tetapi kita
semua tidak akan gentar, apalagi Amerika Serikat dan
bonekanya sudah pada keok di mana dia mulai mengacau.
Juga dia akan mengalami kekeokannya di tanah air kita
tersayang. Kita semua akan bangkit melawan, bahkan juga
bayi-bayi kita yang sudah terbiasa menghisap udara yang
mengandung listrik revolusi.
Sebagai akhir kata, ingin saya menyampaikan sekali
lagi pada kawan-kawan sekalian, bahwa tak mungkin kita
membangun kebudayaan nasional pada satu pihak tanpa
menjebol kebudayaan imperialis Amerika Serikat pada lain
pihak. Mungkin ada yang bertanya, mengapa imperialis
Amerika Serikat, mengapa bukan hanya Inggris dengan
proyek neokolonialisnya yang bernama 'Malaysia?' Karena
kita tahu betul, kawan-kawan, bahwa tanpa imperialisme
Amerika Serikat, imperialisme-imperialisme lain itu akan
rontok tanpa daya, juga imperialisme Inggris plus proyek
neokolonialismenya baik di 'Malaysia' maupun Rhodesia.
Maka yang paling tepat kita serukan sekarang ini ialah:
Ganyang imperialisme Amerika Serikat!
Ganyang kebudayaan imperialisme Amerika Serikat!
Ganyang kebudayaan komprador Amerika Serikat di
Indonesia!
Ganyang AMPAI!