Djakarta
Pramoedya Ananta Toer
(Sumber digital: https://sites.google.com/site/pramoedyasite/home/works-in- bahasa-indonesia/djakarta)
Almanak Seni 1957, Djakarta: Badan Musjawarat
Kebudajaan Nasional (BKMN), 1956
1955
Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke
Djakarta.
Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi
wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan
tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman
terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan
Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak
terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau
kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.
Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta
kita.
Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak
tanah ibukota ini, setasiun Gambir dikepung oleh delman.
Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja
tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja.
Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian:
manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini
tidak ada ongkos pembeli rumput! Inilah Djakarta. Demi
uang manusia sedia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja
betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru
kebobrokan ibukota.
Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau
djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi
segumpil perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan,
buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang
tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga
dusun jang dibuat porakperanda oleh gerombolan, peladjar-
peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau
sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan
nasib baik di ibukota.
Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini,
perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar
tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia
kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di depan
gedung tempatkerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah
itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda.
Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi
begitu penuhsesak dengan otot jang terlampau banjak
dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan teIur ajam
mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh.
Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian,
dan ia melompat ke kakilima. Djuga tanggungdjawab delman
hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian
ia 'ngedjengkang' di balenja karena djantungnja mendjadi
besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan!
ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada
kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepelesiran.
Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su-dah lama
mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi
bakalnja.
Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!
Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.
Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari
uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja
mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uangnja. Dan
djuga badjingan-badjingan daerah: ke Djakarta —menangguk
duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja
sedjak masuknja kompeni ke Djakarta, Djakarta hingga kini
belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun.
Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang
spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport
dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman
keras dan agama, berbagai matjam agama.
Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk
beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan
kenangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta.
Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bukanlah
pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini
mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di
kemudianhari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan
balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan
hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku
dikantor-kantor, dan daerahmu tetap gersang menginginkan
bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung
djauh di angkasa biru. Semua orang asing, dengan
warnapolitiknja masing-masing, jang memberi kauremah-
remah daripada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.
Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman
memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat
pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak-teriak
tentang perekonomian nasional, tetapi basis kehidupan
jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja
typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang
sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan,
dan tetap mendjadi negeri djadjahan.
Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap
hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau
Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana!
Dan radja di djaman merdeka kita ini adalah naik-turunnja
harga hasil pertaniannja sendiri. Sedang durdjananja
tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram
jang dahulu: perampok, pentjuri, gerombolan, pembunuh,
pembegal.
Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian
orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta
sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa
perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak mendjadi
terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak-kanak dan
orangtuanja digiring ke dalam ruangan-ruangan jang
teramat sempit sehingga tiap waktu mereka bergaul begitu
rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi
kanak-kanak. Kewibawaan orangtua mendjadi hilang, dan
segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua
dan anak dahulu, kini mendjadi tumpul. Agama telah
mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang
terachir.
Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat
besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat
Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia
pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna
Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih
warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak diwarnai
oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini, —dan
barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak
dengan interpretasi dan pretensi ini. Di segala lapangan!
Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau
mendesakkan kepunjaannja masing-masing kepada orang lain,
kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada
tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah
kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan
dikutuki tjelaka.
Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini berarti
mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu
salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang
pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di
ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat
di tanah tandus. Setidak-tidaknja kegalauan ini memberi
rahmat djuga bagi golongan-golongan tertentu, terutama
bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan
kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau
tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian.
Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja
pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang
dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan
variasinja.
Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain
daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak
resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk
terbaik! Dengan sendidirinja sadja begitu, karena kami
bitjara dengan seluruh ada kami, kami hanja punja satu
moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara
keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi
mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi
melengkung di moral jang ketiga!
Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau
bitjara tentang Djakarta kita.
Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara
dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja
telah termaktub di dalam kur'an! Permuntjulan jang
grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini
adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana
besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu
terbesar di Asia, kemerosotan moral terbesar! segala
terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat,
tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada
permesinan semua ini.
Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di
dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, tetapi
rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan
jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan
termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam.
Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti
jang disaksikan oleh Schweitzer, serta risalah Kan Ying
Pien.
Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu,
seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan
teropong masih djelas nampak perpisahan antara bagian
satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang
tegakkan oleh Remarque tidak memperlihatkan diri.
Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu.
Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan
angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentjatji jang
tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi,
kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda
ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala
proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di
lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemikiran mengetengahkan
Wulan Purnomosidhi dan Adatidaknja Tuhan, di dalam
kekatjauan sosiologis, ekonomis dan politis, kultural dan
intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk
membuat segala ini mendjadi bertambah ramai? Sedang anak-
anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan
pengetahuannja tentang para tjabul dan 'rakjat ketjil'
plus saduran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat
karangan Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka
dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.
Achirnja, seperti kata A. S. Dharta, orang-orang
datang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga
Djakarta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan
besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat
lagi. Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, damba
anku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah,
bajangan pada pembangunan haridepan. Diri masih penuh
diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertjajaan diri.
Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di
daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang
100% sebelum melihat Djakarta dengan mata kepala sendiri.
Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa
tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau.
Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di
tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan
penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golongan
kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, sekalipun
hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani
pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi
dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan
mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-
kanaknja sendiri.
Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan
bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah
perkembangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got,
membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja.
Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami likwidasi,
di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan
sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan.
Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan
baru. Engkau tahu, djadi orang apa kanak-kanak sematjam
ini djadinja di kemudian hari.
Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: daerah
jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah
menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja
bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan
kelas. Barangkali engkau tak setudju, karena ini membawa-
bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna
politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu
kedengkian jang tak sehat.
Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu
masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam
suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada
kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang
nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang
diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula,
untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga
tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah
kehidupannja sendiri.
Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja
di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjingnja
dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi
wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis —
apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang
merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan,
sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa
sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak
menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghinaan!
Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau
setidak-tidaknja setjara subjektif: pengakuan dari pihak
luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa
jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan
kemerdekaannja.
Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini.
Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum
lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil-
ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam
lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sampah
digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah
orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri
menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut
hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak
tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan
kesedjahteraan sosial. Mengapa? Karena besok atau lusa
tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan
pekarangannja sendiri-sendiri.
Kedjorokan dan kelalaian jang dengan langsung
menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-
djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi
medan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat
hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak
dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang
dilanggar.
Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah
merdeka.
Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang
sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja
sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja
produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mempopulerkan
diri agar tak tumbang dimedan penghidupan! Apakah jang
telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini
jang punja prestasi internasional! Di lapangan
kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu
kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau
sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung,
dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih,
diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik
melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan
tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat
kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa
pendjadjahan priaji-pedagang ini: orang membangun dari
atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah
kegagalan revolusi Perantjis.
Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.
Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak
lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa
bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita.
Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang
haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku
bisa djuga bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan
kurban, akan kaum invalid penghidupan dan kehidupan. Dan
bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan
kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda
jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang
dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-
iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.
Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!
Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan
kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!
Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus
pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di
kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu,
sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu,
politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop.
Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidupannja
sendiri. Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku
tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu,
bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: kekuasaan.
Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang,
tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja mendapatkan dan
menelannja. Sematjam kutjingmu sendiri.
Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali
waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga.
Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita
ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali,
karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepadaku,
baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang
keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita
ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengandung kebenaran
100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-
kadang dihembalang keketjewaan. Djuga demikian halnja
dengan uraianku ini.
Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan
djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari
kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Engkau
akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak
melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan
Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buatlah usaha agar
tempatmu mempunjai sekolah menengah atas sebanjak
mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu
mendjadi bunga bangsamu dikemudianhari: djadi sumber
kegiatan sosial, sumber kesedaran politik setjara ilmu,
sumber kegiatan pentjiptaan dan latihan kerdja. Pernah
aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang
lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada
masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk
membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja
mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja.
Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja
di kemudianhari bila tidak berguna ?
Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kemauanku
sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan
semua ini kepadamu, — engkau jang kuharapkan djadi
pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan
petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji —
pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan:
Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit,
Sriwidjaja, Mataram dan keradjaan-keradjaan perompak
ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam
sedjarah.
Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan
satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa
menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga
pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbitnja dan
melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat
jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan
kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang
benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja
biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun
tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau
menjadari gentingnja situasi tanahairnja dalam lalulintas
sedjarah dunia !
Kita mesti kerdja.
Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang
kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil sebagaimana
mesti ia terima ?
Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang
Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini.
Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang
daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke
Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi
kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu
engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu
sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada
telingaku: mana jang lebih penting, kemerdekaan ataukah
persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih
federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme
setjara sadar dianggap djuga sebagai kedjahatan atau
tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu,
bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau
melantjong ke ibukota untuk mentjontoh kefatalan di sini.
Kawan, sekianlah.
Djakarta, 17-XII-1955.