PLACKEINSTEIN
SALTO FATALE
ANARASA
untuk nia, demora, dan monica bellucci
hanya di era hipermodern kita menyaksikan kemuliaan mati dengan tidak mulia; dan orang-orang menerrtawakan cinta dengan tanpa penghargaan.
i
Salto Fatale
Lompatan Fatal Kapitalisme dan Masyarakat Perayaan
© Copyleft Plackeinstein, 2020
Anarasa @anarasateks on x or ig
Edisi Baru 2025
hanya di era hipermodern kita menyaksikan kemuliaan mati dengan tidak mulia; dan orang-orang menerrtawakan cinta dengan tanpa penghargaan.
ii
Dari Penerbit
TUHAN YANG MAHA KUASA, yang hanya pada-Nya lah kami tunduk tanpa syarat. Cahaya Maha Cahaya yang telah mencerahkan kami, Maha Pengasih Maha Penyayang yang tiada henti melimpahkan cinta, rahmat serta hidayah kepada kami, sehingga pada titik ini kami pun dapat menerbitkan Salto Fatale— buku kedua dari rencana trilogi Salto Tale—tepat pada peringatan setahun eksistensi penerbit Anarasa. 1 Untuk itu, puja dan puji syukur kami haturkan kepada-Nya.
Naskah Salto Fatale selesai pada awal februari 2020, setelah dimulai pada kisaran oktober 2019—selepas penulis menyelesaikan sebuah brikolase yang diberi judul Jahanam, pasca penerbitan Salto Mortale. Dua bulan kami melakukan pembacaan dan layout atas naskah Salto Fatale hingga akhirnya selesai dan diputuskan untuk menerbitkannya tepat pada peringatan setahun
1 Anarasa pertama kali dicetuskan pada 23 april 2019 sebagai ‘plan b penerbitan buku Salto Mortale’ yang merupakan buku pertama dari trilogi Salto Tale, yang kala itu tengah diajukan ke dua penerbit indie. Tidak tercapainya kesepakatan untuk menerbitkan Salto Mortale, kemudian membuat kami (bersama Plackeinstein selaku penulis dan inisiator Anarasa) memutuskan untuk menerbitkan Salto Mortale melalui Anarasa dengan cara inide. Secara sadar kami melakukan apa yang dalam khazanah bahasa pop samawa disebut sebagai “seindie-indie diri”, yang berarti mengindie-indiekan diri atau sok indie lah.
iii
eksistensi Anarasa pada april 2020. Meski buku ini merupakan seri lanjutan dari Salto Mortale [dalam rencana trilogi Salto Tale], buku ini tidak menyarankan tindak-tindak praktis maupun saran teoritis, tidak mengajak kita melakukan lompatan fatal atau lompatan apapun, melainkan menjabarkan lompatan-lompatan yang terjadi dan dilakukan oleh manusia dan masyarakat. Dan bagi penulis, lompatan-lompatan itu bersifat fatal. Dan ia menunjukkan lompatan fatal itu kepada kita dalam buku ini.
Juga tampak dalam Salto Fatale, bahwa pola-pola brikolase—seperti granch yang dibahas dalam Salto Mortale, justru dilakukan oleh kapitalisme. Ini semakin menguatkan dugaan bahwa kapitalisme juga mengkomodifikasikan alat dan metode perlawanan terhadapnya. Namun, itu tidak secara eksplisit ditun- jukkan dalam teks, melainkan melalui pembahasan-pembahasan teoretis seputar kapitalisme lanjut dan pola rhizomatik, serta pembahasan terkait hipermodernisme dan hipermodernitas.
Penulis pada akhirnya menyimpulkan bahwa sudah tidak ada lagi modern atau modernitas, semua sudah dipacu untuk melampaui diri ke dalam suatu bentuk dan kondisi hyper dan menjadi hipermodern. Dan sekali lagi ia menunjukkan bagaimana kapitalisme telah memacu segala yang kita miliki untuk melampaui batas akhirnya, sesuatu yang ia (penulis) sebut sebagai tindakan fatal dan nihil. Ia yakin bahwa nihil tidak terkait dengan anarki. Ia berupaya—sebagaimana banyak orang lain—untuk menunjukkan beda antara nihilisme dan anarkisme—meski tahu betapa sering keduanya dikawinkan.
Penulis juga menunjukkan bahwa kapitalisme dengan mesinnya telah memacu masyarakat yang beradab justru menuju ke arah perayaan-perayaan yang bertendensi nihilis. “Masyarakat yang
iv
telah mati,” klaim penulis, “bukan sekadar meledak ke dalam massa konsumeris, tetapi bertransformasi lagi menjadi sebuah masyarakat perayaan yang merayakan hipermodernisme/itas.”
Tidak ada yang dapat kami sampaikan lagi selain “selamat membaca lompatan-lompatan yang menakjubkan dan bersifat fatal yang selama ini kita lakukan.”
23 April 2020
Redaksi Anarasa
v
vi
Daftar Isi
Prolog: Kekacauan Terkini Di Muka Bumi ——— 1
Ihwal Pertama: Kapitalisme Lanjut ——— 7 Berpacu Dengan Hasrat ——— 8 Ruang & Waktu ——— 12 Demi Masa ——— 14 Time is Money dalam mode Hyperspeed ——— 20 Demokrasi & Dromokrasi ——— 24 Komunikasi atau Dekomunikasi ? ——— 30 Speedometer Kapitalisme Lanjut ——— 43 Libidonomic dan Pelepasan Energi Libido ——— 55 Setelah Libidonomic ——— 61
Ihwal Kedua: Hipermodern & Masyarakat Perayaan ——— 79 Menuju Hasrat Hipermodern ——— 88 Hasrat Hipermodern ——— 93 Masyarakat Konsumeris ——— 99 Masyarakat Perayaan ——— 114 Kegilaan dan Hipermodernisme ——— 120 Kebudayaan Hipermodern ——— 129 Merayakan Hipermodern ——— 137 Perayaan Hipermodern ——— 168
Epilog: Nihilis ——— 177
Kepustakaan ——— 185 Tentang Penulis ——— 187
vii
viii
Prolog Kekacauan Terkini di Muka Bumi
berbagai perubahan multi dimensi dan berkait-kelindan yang mencakup ekonomi, teknologi, politik, kultural, sampai identitas., yang secara retoris dinamakan kemajuan, telah meledakkan masyarakat ke dalam massa… dalam-pada kondisi itu, sungguh kita tidak sedang berada di puncak peradaban, kita justru tengah mengalami kekacauan terkini di muka bumi.
Plackeinstein Salto Mortale, Anarasa, Sumbawa, 2019, h.228, 232
Awal-mulanya ialah tanda.
1 Kemudian tanda dibaca. 2 Rasul, Nabi, Santo, sampai Wali, juga manusia, membaca tanda-tanda kebenaran. Pembacaan tanda berlangsung sejak awal mula, terus dan terus sampai jauh., untuk kemudian keserakahan dan penyelewangan; kebenaran menjadi versi; ada kebingungan, dan ada kegelapan; lalu Rene Descartes berpikir: “cogito ergo sum.” Cerah. Maju. Modern. Pencerahan. Progresif. Modern—isme dan itas.
1Genesis, Alkitab. Injil Yohanes 1:1 – dikutip dari Piliang & Audifax, Kecerdasan Semiotik: Melampaui Dialektika dan Fenomena., 2018, Yogyakarta, Cantrik Pustaka., hlm.19 2Iqra., bacalah., Q.S. Al-Alaq 96 : 1-5
Aku berpikir, maka aku ada. Hanya dengan mengada, subjek manusia eksis. Sebab ingin eksis, subjek kemudian mengada-ada. Subjek kemudian mengadakan objek-objek demi mengada. Subjek menciptakan. Kun., dan semua menjadi mengada-ada. Sungguh semua berbalik, semua yang dihasilkan subjek yang eksis ‘kini’ berbalik mengitarinya, mengada dan mengada-ada. Subjek manusia dengan semua progresivitasnya telah menciptakan dan mengkonstruksi peradaban terus dan terus maju hingga berbalik, dengan ciptaan-nya pula manusia bisa menjadi biadab. Kun! Manusia kemudian menciptakan berjuta, bahkan bermilyar tanda, gaya, teknik, dsb.,, hingga kemudian menjadi sebuah kekacuan terkini di muka bumi.
Kita telah dan tengah mengalami kekacauan itu. Kita tengah hidup di periode sejarah yang berhiaskan perubahan radikal tatanan sosial. Kita bukan tengah berada dalam-pada puncak peradaban; sebaliknya, kita tengah berada dalam masa kekacauan terkini di muka bumi. Petunjuk arah yang selama ini kita gunakan, justru menjadi jalan bagi ketidak menentuan dalam kekacauan dan kengerian global. Perubahan multi-dimensional terjadi. Dikembangkan pola partum- buh-kembangan rhizomatik di antara politik, ekonomi, sosial, budaya; sebab ada tatanan dunia baru yang ingin dimapankan. Ada sebuah sistem yang hendak dikokohkan. Ada sebuah totalitas sistem yang hendak dimapankan untuk kokoh.
Demi tujuan itu, kekacauan terjadi di antara kita, berkitar- kitar di sekitar kita. Kekacauan dibutuhkan. Kita hanya tumbal- tumbal kecil yang memeras peluh demi keberlanjutan kapitalisme. Progresivitas borjuis kapitalis dengan begitu ciamik melancarkan retorika atas nama dan menggoda para politisi dan partai-partai untuk membangun negeri menjadi Negara yang makmur. Berlanjut hingga-pada dirayu dan digoda pula masyarakat dan penduduk negeri untuk menjadi rakyat—warga Negara yang patuh dan
berdedikasi membangun dan memajukan Negara semaju-majunya. “Ayo maju, maju.” Progresif!, progresif!, okesip!
Negara dan kapitalisme memberi kekuatan pada kita, warga Negara. Kekuatan untuk ikut bersaing dan berpacu dalam arena persaingan, yang dengan itulah sebenarnya roda gigi mesin kapitalisme berputar; dengan persaingan kita-lah mesin kapitalisme aktif; persaingan, itulah energinya. Energi hasrat untuk bergaya, memacu seseorang melakukan kerja penindasan [kerja upahan], dengan upah hasil kerja ia akan mengkonsumsi apa yang jadi hasratnya. Bukan, sungguh bukan demi kebutuhan. Tapi demi keinginan, demi hasratnya yang semburat muncrat-muncrat. Demi prestise-prestise semu yang seolah ditandai oleh semua komoditas yang dijual di pasar. Manusia justru terdegradasi dari mengkonsumsi nilai-guna langsung, merosot ke tempat ia mengkonsumsi nilai-tanda semu yang dimengerti dengan kesadaran palsu yang agung.
Persaingan itu sungguh tak dinyana telah dan tengah menghancurkan apa yang sejatinya kita miliki; cinta, kasih sayang, kemesraan, dan solidaritas. Amazing! Kemudian alienasi dan strange- rasi merebak. Kemudian; kita menyaksikan betapa kekuatan kita selama ini, sebuah kemesraan sosial yang indah dan menenangkan, runtuh; kita menyaksikan betapa kekuatan baru diberikan pada kita lewat kredit-kredit dan ilmu-ilmu yang dijual dan diajarkan; kita menyaksikan betapa di balik keruntuhan kemesraan sosial itu, tum- buh arena dan super-duper-market yang mengajak kita untuk ber- tarung dan bersaing; kita menyaksikan betapa dengan kekuatan baru itu kita menjadi senang berlomba, bersaing dan saling menjatuhkan, daripada bekerja sama; kita menyaksikan betapa kerja sama hanya dibangun demi berkompetisi dan demi memenangkan sesuatu yang nanti berbalik mengalahkan kita; kita menyaksikan betapa solidarits hanyalah legenda usang yang hanya masih erat dipegang oleh para
pembangkang; 3 kita menyaksikan betapa hebatnya kekacauan ini menggoda dan merayu kita untuk ikut terlibat bersama; kita menyaksikan betapa kita semua tengah menyaksikan kekacauan ini; kita menyaksikan betapa kitalah masyarakat tontonan. 4
Kita menyaksikan, kita menonton, dan kita keasyikan menyaksikan dan menonton; sampai kita takjub—yang salah tempat—pada apa yang kita tonton. Tapi kita lupa untuk membaca; lupa membaca tanda-Nya. Sungguhlah kita lupa bahwa pada mula- nya ialah tanda-tanda yang terbaca menjadi pengetahuan. 5 Sungguh kita lupa untuk membaca tanda-tanda kebenaran-Nya. sehingga kita keasyikan menonton untuk kemudian takjub pada tontonan berupa kekacauan terkini di muka bumi, hasil tatanan dunia baru. Kita menyaksikan bahwa dalam persaingan di arena sistem kapitalisme, halal haram hantam, menjilat ke atas dan menindas ke bawah, retorika atas nama adalah kunci untuk sukses. Dengan yang demikian itu setiap subjek bertahan dalam sistem kapitalisme lanjut. Ketiga senjata itu saling dukung dan terkombinasi sedemikian rupa untuk membawa subjek menuju kesuksesan yang—seolah—agung. Setiap subjek yang bersaing tidak segan untuk saling sikut dan saling tackle, bahkan saling bunuh—bila perlu. Kita hanya tumbal-tumbal kecil yang diperlukan demi berjalannya tatanan dunia baru; sebuah tatanan baru berbentuk Advance Capitalism & Hypermodern; tatanan Kapitalisme Lanjut dan Budaya Hipermodern.
Di era hipermodern iniliah kita menyaksikan yang demikian; sebuah kekacauan terkini di muka bumi, kekacauan berupa kom- binasi dan kait-kelindan antara politik-ekonomi-sosial-budaya; yang
3Salto Mortale, 2019, Anarasa, hlm.243-244 4Guy Debord; Society of The Spectacle 5Sekali lagi, ini disarikan dari firman-Nya dalam Injil Genesis 1:1 dan Qur’an Al-Alaq 96:1-5. Tinjau apa yang ditandai pada catatan kaki nomor 1 dan 2.
semuanya justru tercerabut dari subjek manusianya; yang berbalik mengatur dan mengotnrol subjek manusianya; yang mengakibatkan subjek manusianya justru berbalik untuk bergantung pada objek ciptaannya; alienasi & strangerasi merekah di peradaban—kalau bukan kebiadaban. Kebijaksanaan mati, berganti kebajaksinian [mengingat kapitalisme global terus membajak ke sini dan ke simian lagi]; dekadensi semakin marak; pengikisan lapisan ozon beriring pengikisan lapisan moral; dan perlahan tapi pasti, pengikisan lapisan spiritual; politik menggelitik bahkan mengusik, kultur luntur, dan sungguh sosial begitu sial; ekonomi maju semaju-majunya; kota—ibu dan anaknya—terus dipacu oleh bapak untuk berkembang begitu pesat dengan kecepatan yang super-cepat, mengejar hasrat, terus sampai jauh dan terus hingga tak ada lagi titik kembali atau titik henti, hingga tak tahu lagi beda manfaat dan mudarat. Demikianlah masyarakat menonton dan menyaksikan. Demi kian rupa masyarakat, demikian rupa masyarakat menyaksikan.
Ihwal Pertama Kapitalisme Lanjut
Dua logika yang menandai perkembangan masyarakat kapitalisme global., yaitu logika pelepasan energi libido dan logika kecepatan, yang keduanya berperan besar bagi kelenyapan sosial.
Yasraf Amir Piliang
Dunia Yang Dilipat, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hlm 142
Salto mortale gagal menghidupkan kembali masyarakat yang
telah mati; dan memang “tidak seorangpun.. atau siapapun pernah berhasil, dalam melakukan lompatan.. untuk menghasilkan salto mortale.. dari dunia logika ke dunia alam realitas hidup..” 6 Akibatnya, masyarakat yang telah mati dan meledak menjadi massa mengambang pun kemudian melakukan salto fatale—ke dalam kapitalisme lanjut. Entah akan mati di dalam abstarksi seperti kata Bakunin, tetapi yang jelas ialah bahwa tiga kata kunci yang penting serta akan banyak kita lihat di dalam kehidupan [dan dibahas di sini] adalah kapitalisme lanjut, hipermodern, dan cyberspace.
Di era kapitalisme lanjut, dasar-dasar kapitalisme, seperti properti, profit, pasar, tentu saja masih tetap, tetapi kita juga tentu bisa melihat betapa di era millenial, kapitalisme berlanjut dengan
6Bakunin, Statism & Anarchy, 2017, Yogyakarta, Second Hope, hlm.249
kondisi yang sudah jauh berbeda dari bentuk awalnya [origin]. Kita bisa melihat kepemilikan atas sarana produksi [perusahaan, pabrik,] terbagi-bagi pada pribadi-pribadi [jual-beli saham], perputaran kapital [uang, utang, komoditas] dilakukan secara global dalam tempo yang kian cepat [bursa saham, pasar bebas, pasar uang.]; dan sungguhlah hal yang paling penting untuk kita pahami bersama adalah bahwa sistem kapitalisme telah bertransformasi sedemikian rupa; dari memproduksi kebutuhan ke produksi keinginan, 7 bertransformasi dari need menjadi want; kapitalisme kini menyerang satu sudut terpenting dan paling mendasar dari manusia, yakni hasrat.
Konsumsi jadi poin kunci kapitalisme. Masyarakat yang telah bertransformasi menjadi massa, dirayu untuk menuruti keinginan mengkonsumsi yang tersimpan rapi di dasar hasrat. Logika hasrat yang dimainkan kapitalisme lanjut, diiringi dengan logika kecepatan, membuat masyarakat kapitalis lanjut [masyarakat konsumeris] terhanyut ke dalam pusaran ‘mesin hasrat’ dan larut di dalam arena pacuan di mana massa konsumeris berpacu dengan hasratnya sendiri.
Berpacu Dengan Hasrat
Dari hasrat, oleh hasrat, untuk hasrat; demikian laju dan perputaran tatanan dunia baru di bawah komando sistem kapitalisme lanjut; di mana masyarakat konsumeris diajak dan ditarik untuk berpacu dengan hasrat.
Kapitalisme lanjut tidak lagi melulu berkaitan dengan “ekspansi kapital, teritorial, dan pasar, seperti pada monopoly
7Salto Mortale, 2019, Sumbawa, Anarasa, hlm.151
capitalism,” ia telah bertransformasi, sekaligus ia juga melakukan “ekspansi arus libido dan perkembang-biakan getaran nafsu.” 8 Kapitalisme lanjut [kapitalisme global] membawa kita “menjelajahi berjuta pengembaraan, berjuta kegairahan, berjuta keterpesonaan.” Oleh mesin kapitalisme, kepada kita dipertontonkan “berjuta pano- rama tanda, berjuta citra dan berjuta makna. Ia telah memper- tunjukkan pula berjuta kehanyutan, berjuta ekstasi.” Tapi ternyata semua itu, segala ini, sekalian, tak pernah memuaskan hasrat manusia. “Yang sebaliknya dihasilkan adalah rasa ‘ketakpuasan abadi’, karena sebuah pemenuhan kepuasan hasrat akan menuntut pemuasan berikutnya, secara tanpa henti.” 9 Produk, barang, jasa, dan sebagainya dibuat dan dipasarkan, sungguh bukanlah sekadar sebagai pemenuhan kebutuhan, tetapi sekaligus [dan terutama] sebagai pemenuhan kepuasan hasrat.
Hasrat berkuasa, hasrat populer, hasrat akan harta kekayaan; singkatnya hasrat akan duniawi dan materi; semua disediakan di era hipermodern kapitalisme lanjut; barang siapa yang menginginkan pemuasan hasrat yang menggebu-gebu di dalam diri, ditawarkan pula cara-cara pemuasannya; siapa yang ingin, hanya perlu mengorbankan diri untuk berkecimpung ke dalam ruang berhiaskan kapitalisme lanjut; melakukan salto fatale.
Kekinian sebagai periode sejarah, secara filosofis dapat kita baca sebagai periode ‘kini’ yang konstan; tanpa awal dan akhir; hanya kini; tak ada sebelumnya atau berikutnya; hanya kini; there’s no origin or destiny, just the spectacular now; menikmati megahnya keabadian yang sesaat; kesesaatan yang abadi; kepuasan sesaat, kepopuleran yang sesaat; berkuasa sesaat; abadi dalam ke-sesaat-an. Meski sebenarnya tak ada kekinian; akan tetapi kekinian diilusikan
8Piliang, Dunia Yang Dilipat, 2004, Yogyakarta, Jalasutra, hlm.142 9–––, Dunia Yang Berlari, 2017, Yogyakarta, Cantrik Pustaka, hlm.27
sebagai keabadian; sebab setiap orang menginginkan keabadian [yang akan datang]; hasrat akan keabadian––itulah kekinian; keabadian semu; keabadian sesaat; dan itu semua telah dikomodifikasi-kan di era kapitalisme lanjut, ia tersedia untuk dikonsumsi. 10
Logika kehidupan ‘dari hasrat oleh hasrat untuk hasrat’ itu berlangsung dengan kecepatan yang super-cepat [hyperspeed]. Dari hasrat pencarian laba kapitalisme, diproduksilah sebuah produk [oleh perusahaan] untuk memenuhi hasrat seseorang akan riuh-rendah-nya hiruk-pikuk cyberspace yang ‘spektakuler’. Di era kebangkitan mile- nial di mana cyberspace sudah terpancang jadi ‘semacam kehidupan sosial’ bagi masyarakat; muncullah hasrat untuk meng-ada [being] di dalam cyberspace. Seseorang yang ingin [berhasrat] ‘menjalani hidup’ di cyberspace memerlukan perangkat komputer atau smartphone, dan jasa akses internet; diproduksilah perangkat-perangkat tersebut, disediakanlah layanan jasa untuk mengakses cyberspace, tentu oleh kapitalisme [yang memiliki dalil pencarian laba/profit]. Semua logika hasrat itu [dari hasrat sistem kapitalisme, oleh perusahaan kapitalis, untuk masyarakat kapitalis/konsumeris] berlangsung di dalam ‘dalil kapitalisme’. Dan sirkulasi dari tahap-tahap tersebut di atas, berputar dengan kecepatan hyperspeed.
Hasrat, ibarat gas di dalam tabung, dan kapitalisme telah membidiknya, kemudian menembakkan peluru yang berhasil mem- buat kebocoran hasrat. Energi hasrat, energi libido, kini menyatu bersama udara yang dihirup masyarakat saat bernafas. Keinginan bersenang-senang, keinginan bermain game, keinginan seks, keinginan memiliki kecantikan, keinginan tampil cantik, keinginan memiliki yang memiliki kecantikan, keinginan berkuasa, keinginan untuk po- puler, keinginan untuk bekerja-berlibur, keinginan bertamasya keli-
10Salto Mortale, 2019, op.cit., hlm.8-18, 23-27, 81
ling dunia, semua tentang hasrat. Dan semua keinginan, semua hasrat, kini ingin dilakukan dengan segera, secepatnya; sesegera mung- kin. Setiap keinginan/hasrat memiliki objeknya, dan objek hasrat ini nyatanya diproduksi dan/atau dikomodifikasikan oleh kapitalisme.
Di balik janji kemajuan yang bersifat ‘positif’, kita tak boleh begitu saja menafikan jutaan kemerosotan negatif––seperti dua sisi sekeping koin––yang ikut di balik setiap dalil kemajuan yang dibawa dan ditawarkan oleh kapitalisme lanjut, dan hipermodern dan cyberspace.
Keberlangsungan logika hasrat di balik ketiga kategori ini [hipermodern, cyberspace, kapitalisme lanjut] tentu saja berbahaya bagi umat manusia; sebab sungguh, pertarungan sejati manusia adalah melawan hasratnya sendiri. Dan di sini adalah letak bidikan kapitalisme lanjut; ia membidik hasrat manusia, demi bergeloranya hasrat itu dalam tatanan masyarakat dunia, sehingga logika hasrat bisa menggerakkan mesin hasrat dunia.
Akan tetapi, segala peringatan, untuk beberapa saat menjadi percuma, seolah sia-sia, sebab kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan oleh dunia yang ditata kapitalisme lanjut ini sungguh begitu me- gah, sehingga gelora hasrat pun semerbak; hasrat kemudian menggerakkan masyarakat manusia untuk berpacu demi menggapai sekian kenikmatan yang dijanjikan dunia [tatanan kapitalisme lanjut], dan entah bagaimana, membuat kita rela menegasikan apa yang sungguh dan sejatinya kita butuh dan miliki, demi keberpacuan hasrat itu sendiri, demi keberpacuan menggapai kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan dunia; masyarakat rela melakukan salto fatale; melompat ke dalam kapitalisme lanjut, merayakan hypermodern dan menghidu- pi cyberspace, berpacu dengan hasrat, mengejar dan meraih makna- makna sembari menegasikan ihwal perihal yang lebih bermakna.
Ruang & Waktu
Kebudayaan kita adalah panggung kapitalisme, terlebih dalam-pada era millennial di mana kapitalisme lanjut meneruskan ekspansinya menjelajahi ruang sampai pada titik dan sudut terjauh–– seperti diprediksikan McLuhan pada abad 20 yang lalu sebelum adanya internet––sehingga dunia telah ‘dilipat’ menjadi desa global [global village]; dan waktu telah dicapai dan dipacu sampai pada titik tercepatnya; kecepatan cahaya; seketika.
Kebudayaan hanya eksis di dalam ruang-waktu, dan ruang-waktu itu telah dikuasai sepenuhnya oleh kapitalisme, sehingga yang terjadi ialah sungguh betapa kita melihat urat-urat kapitalisme di ‘wajah’ kebudayaan kita, persis sebagaimana kita bisa melihat urat-urat di wajah indah nan bersih kekasih kita.
Ruang, telah terlalu jauh dieksplorasi, dijelajahi, diringkas, dilipat; dan waktu, telah terlalu cepat dan singkat dipangkas, terlalu jauh dipacu dan digapai sampai titik tercepatnya [kecepatan cahaya, seketika, instant]. Semua itu terjadi, berangkat dari titik tolak hasrat berkuasa dan kekuasaan kapitalisme.
Sebagai akibat dari berlebihannya eksplorasi ruang dan waktu yang dilakukan––dengan penekanan pada ukuran waktu [kecepatan], yang tersisa dalam politik–ekonomi dan kehidupan sosial–budaya kita hanya wacana kecepatan itu sendiri. Perkembangan kapitalisme lanjut, membuat apa yang dulu kita kenal sebagai penguasaan medan atau ruang, tak lagi berarti bila tak ber- iringan dengan penguasaan waktu [penguasaan kecepatan]. Dahulu, kapitalisme awal “melihat ‘kemajuan’ dari seberapa besar ruang [pasar, teritorial] dapat dikuasai dalam satuan waktu tertentu, pada
kapitalisme global dewasa ini [kapitalisme lanjut––pen], ia [kemajuan––pen] lebih diukur dari kecepatan itu sendiri.” 11
Kecepatan telah menjelma menjadi paradigma kehidupan kontemporer. Ia bukan lagi sekadar ukuran kemajuan dan/atau perkembangan bagi suatu ihwal perihal, kecepatan menjelma paradigma yang kokoh di kebudayaan dan kehidupan; sehingga yang terjadi dalam perpacuan dan perputaran yang demikian cepat itu ialah hilangnya waktu bagi refleksi dan pertimbangan-pertimbangan.
Piliang melihat jargon–jargon seperti “hanya tinggal sehari lagi pesta Mega Diskon”, “hanya 5 menit dari jalan tol”, dll., merupakan cermin masyarakat kapitalis yang tengah mengembara dalam ekstasi kecepatan. Ialah karena kecepatan dapat mengangkat manusia kepada pengalaman puncak [trance], masyarakat tergiring–– oleh kecepatan––ke dalam kondisi ekstasi. “Orang yang tenggelam dalam ekstasi kecepatan tidak peduli lagi dengan nilai-guna kecepatan. Satu-satunya tujuannya adalah berpacu dengan kecepatan itu sendiri.” 12
Situasi dan kondisi kehidupan hypermodern kini dicirikan oleh pelbagai “pergerakan, pergantian, dan perubahan dalam tempo dan percepatan yang semakin tinggi,” cepat, dan menggila; “riuh- rendah pergerakan manusia di jalan, di pabrik, di kantor, di pusat belanja, di lokasi wisata, di kafe; hingar-bingar pergantian citraan di televisi, youtube dan sosial media, pergantian produksi super mall, pergantian tema dan gaya di atas panggung tontonan dan festival; gegap-gempita persaingan pasar global, fluktuasi harga, saham maupun komoditas, ekspansi para konglomerat, juga persaingan UMKM medioker; sorak-sorai perlombaan kecepatan dalam produk
11Piliang, 2004, opcit., hlm.95 12ibid. hlm.96
mewah, mobil mewah, vila mewah; timbul-tenggelam upgrade smartphone sampai tren fesyen; bisik-bisik, teriakan, serta tarik-ulur lobi politik dan bisnis di biro masing-masing. Pada akhirnya, kegairahan, keterpesonaan, dan keasyikan berpacu dengan kecepatan akan menggiring masyarakat kontemporer [hypermodern] menuju 13 suatu kondisi, di mana seolah-olah tak ada lagi titik kembali.” Sehingga kemudian, tidak ada lagi ruang dan waktu bagi refleksi dan pertimbangan.
Demi Masa
Dalam masyarakat hipermodern yang hidup dengan sistem ekonomi kapitalisme [kapitalisme lanjut]; segala hal adalah modal, yang dengan [modal] itu, masyarakat akan melihat bahwa semua hal adalah komoditas; semua hal [bahkan subjek] akan diobjektifikasi untuk kemudian dikomodifikasikan menjadi komoditas yang bisa dijual di pasar; dan semua dilakukan demi tujuan yang satu; profit.
Laba didapatkan jika komoditas yang dipasarkan telah terjual, dan harga jual itu telah ditetapkan dengan menghitung biaya produksi dan tetek-bengek lainnya. Konsumsi adalah tindakan menghabiskan ‘nilai-guna’ suatu barang/jasa [komoditas]; konsumsi ialah proses pemenuhan kebutuhan [juga hasrat keinginan]. Dalam masyarakat kapi-talis juga terjadi apa yang sering disebut mistifikasi pasar; yang dalih utamanya adalah bahwa komoditas diproduksi sesuai permintaan pasar; sesuai permintaan/kebutuhan konsumen. Hukum permintaan dan ketersediaan akan mempengaruhi [penentuan] harga komoditas; dan komoditas itu [karena tujuan
13Ibid. ‘italic’ [cetak miring] tambahan dari penulis.
utama kapitalisme adalah laba/profit] selalu dijual di pasar dengan mempertimbangkan biaya produksi, demi profit.
Dewa–Dewi yunani mati [Engotterung], bahkan Tuhan pun telah mati [God is Todd]. 14 Lantas kemudian, Sang Dewa Pasar yang di-mistifikasi-kan oleh kapitalisme, kini hidup menjajah manusia. Kapitalisme, meniscayakan pasar sebagai paksaan. Di pasar, konsumen [seolah] melempar permintaan, lalu produsen [perusahaan kapitalis] menen-tukan harga, dengan tentu saja memperhitungkan laba. Putaran ini akan berlanjut ke fase di mana laba [yang didapat kapitalis] akan diinvestasikan kembali sebagai modal untuk produksi dan reproduksi [objek-komoditas] barang–barang pemenuhan kebutuhan dan hasrat. Permintaan pasar [ha ha ha, ha ha ha,] 15 akan ‘memaksa’ untuk melakukan produksi; sebelum produksi, paksaan pasar akan memasksa subjek-subjek kapitalisme untuk melihat semua hal sebagai modal dan komoditas, kembali seperti di awal, untuk kemudian terus berlanjut dan berputar terus demikian, tanpa akhir, kecuali mesin kapitalisme berhenti; kecuali kapitalisme dibuang.
Bicara kapitalisme, tentu sulit dipisahkan dengan marxisme yang begitu getol menelaah dan membongkar kapitalisme. Salah satu olah telaah marxisme tentang kapitalisme adalah bahwa kapitalisme akan hancur [analisa Marx], dan dengan melalui tahapan sosialisme proletar [sosialisme demokratik] nantinya akan tercipta masyarakat komunis tanpa kelas. Pendapat Marx yang lain adalah bahwa pikiran, kebudayaan, sampai politik [supra-struktur] sungguh bergantung pada basis-struktur ekonomi. Dasar itu ia jadikan pijakan bagi kajiannya atas masyarakat kapitalis, di mana ia berteori bahwa nantinya, kapitalisme [sistem ekonomi kepemilikan privat para kapitalis] akan hancur oleh kekuatan kolektif buruh proletar yang
14“Tuhan telah Mati” –– Friedrich Nietzsche, Sabda Zarathustra. 15“Tertawlah sebelum tertawa itu dilarang.” –– Fatwa Warkop DKI.
dalam sistem kapitalisme mengalami alienasi dan juga penghisapan yang tak adil oleh kapitalis pemilik alat produksi ekonomi [pabrik, perusahaan, dll]. Penghisapan yang tak adil [dan alienasi] inilah yang akan menjadi titik-konflik sehingga buruh proletar akan bersatu dalam serikat dan/atau partai, melaksanakan revolusi dan menciptakan suatu tatanan masyarakat [negara] yang dikuasai dan dipimpin oleh kaum buruh proletar, 16 yang dengan itu [negara ‘sosialisme demokratik’ kaum proletar], secara perlahan akan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Revolusi [sebagai politik merupakan supra- struktur] yang dilakukan buruh, terjadi dikarenakan soal penghisapan di tempat kerja [basis-struktur ekonomi]. Jadi kiranya soal ekonomi- lah yang menjadi basis yang menentukan gerakan revolusi buruh itu sendiri.
Apakah revolusi proletar dalam marxisme telah berhasil menghancurkan kapitalisme? Sejauh ini belum. Francis Fukuyama bahkan mengeluarkan tesis End of History, coba mengatakan bahwa sejarah telah berakhir, dan sejarah itu telah dimenangkan oleh liberalisme/neoliberalisme yang menjalankan kapitalisme dengan perubahan dan pemutakhiran sampai kemudian kita melihat wajah kapitalisme lanjut.
Dua puluh abad telah berlalu sejak pembaharu mengubur kekunoan; lalu dengan pencerahan agama, filsafat, sains dan teknologi kita memasuki era modern [juga pasca-modern dan hipermodern], tapi masyarakat manusia malah terjerembab dalam kubangan kapitalisme di mana semua hal diidealkan jadi modal, semua hal diobjektifikasi sebagai komoditas, demi tujuan mencapai laba besar yang bisa membuat produksi terus berjalan dan berputar. Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan masyarakat manusia agar
16Marx menyebutnya periode Diktatur Proletariat.
kapitalisme ini bisa hancur? Marxisme, sosialisme, dan semua yang mengatas namakan diri sebagai anti-kapitalisme, belum bisa menghancurkan kapitalisme. Dan marxisme di era kontemporer, era hypermodern, era kapitalisme lanjut ini, telah menjelma komoditas yang sangat laku di pasaran. Di pasar tenaga kerja? Seorang kapitalis [baik yang sadar ataupun tak sadar dirinya kapitalis] akan bersedia menggaji kita di perusahaannya apabila kita telah meng-khatamkan dan mampu menjabarkan ‘magnum opus’ dari Karl Marx, Das Kapital. Artinya, marxisme yang menjadi pengetahuan kita, adalah komoditas yang bisa kita jual di pasar tenaga kerja, dan kapitalis [baik yang sadar ataupun tak sadar dirinya kapitalis] itu akan menjual pengetahuan kita [setelah dikomodifikasi] kepada ‘calon- calon’ marxis–sosialis–komunis di universitas–universitas, baik yang bergengsi ataupun tidak sama sekali, di seluruh penjuru dunia. Dan sungguh; terkadang, kandungan ‘anti-kapitalisme’ dalam diri sese- orang bisa menjelma modal; minimal, ia menjadi modal untuk bertahan sebagai anti-kapitalisme di tengah-tengah sistem kapitalis dan [uh…] masyarakat kapitalis.
Pertanyaannya kemudian adalah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan agar masyarakat manusia bisa terlepas dan bebsa dari jerat kapitalisme? Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan masyarakat manusia agar sistem kapitalisme––sistem ekonomi yang mempengaruhi sistem kebudayaan dan cara berpikir manusia; sistem yang punya andil mewujudkan inferno dini di dunia ini––bisa hancur luluh lantak? Sementara kita hanya berputar terus menerus dalam sistem ini!?
Kapitalisme lanjut, membuat kita memandang segalanya sebagai modal dan komoditas! Jangankan benda-benda, tubuh dan pikiran pun dianggap sebagai modal-komoditas untuk mencapai keuntungan ekonomi. Ah.., bukankah tubuh dan pikiran adalah
modal dan komoditas primer? Berapa masa lagi yang harus kita lewati untuk terus berputar-putar dalam kapitalisme?
“demi masa. sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” 17
Untung–rugi bukan ‘hak milik’ mutlak ekonomi; untung– rugi adalah hitungan logika matematis tentang nilai. Secara matematis, hidup di dalam dan dengan sistem kapitalisme, membuat kita semua merugi. Bayangkan dan hitung, berapa banyak waktu––yang Tuhan bersumpah atasnya––yang kita lalui [bahkan terbuang] dengan menguras energi dan pikiran hanya demi suatu hal yang menjadi tujuan kapitalisme?
Hidup di dalam dan dengan sistem kapitalisme, membuat hampir semua tindakan [produksi-konsumsi] kita, terasa hanya sekadar putaran roda gigi mekanis mesin kapitalisme. Kita mengkonsumsi pengetahuan yang kemudian dipadukan dengan keterampilan, sehingga memungkinkan melakukan suatu kegiatan produksi; yang kita produksi, ditarik oleh pasar, di mana nantinya orang lain akan mengkonsumsi produk itu. Semua berputar demikian terus dan terus, terus-menerus seperti itu dalam kapitalisme. Secara matematis [sekali lagi] hidup di dalam dan dengan sistem kapitalisme, membuat kita semua merugi. Bayangkan dan hitung, berapa banyak waktu yang kita lalui [bahkan terbuang] dengan menguras energi dan pikiran, demi bertahan hidup sambil bersaing satu sama lain dalam kapitalisme; berapa? Apa yang terbuang dan terabaikan pada saat kita berpacu dalam kapitalisme? Tidakkah
17Q.S Al-asr [103: 1-3]
waktu kita terbuang? Kita kehilangan waktu yang semestinya dilalui dengan hal-hal yang kiranya lebih ‘bernilai’ dari sekadar menjalankan rutinitas bergelut dalam putaran roda gigi mesin hasrat kapitalisme.
Dengan semua kesibukan yang disediakan kapitalisme, kita melalui waktu dengan bersaing, berlomba, melakukan produksi, mengkonsumsi, bersenang-senang dengan segala macam produk serta citra dan kenikmatan prestise, ini dan itu dan lainnya; karena toh namanya persaingan, nantinya akan mengakibatkan kita melewati waktu dengan lupa akan peringatan, bahwa yang menjadikan kita tak merugi, adalah menjalani waktu dengan sebaik-baiknya; saling cinta, menasihati, dan melakukan kebajikan lainnya. Tarikan pasar dan godaan kapitalisme lanjut, serta budaya kontemporer hyper-modern yang membuat kita menjadi super sibuk; dengan bekerja mencari uang, lalu uang digunakan untuk mengikuti hasrat dan hawa nafsu [sudah bukan pemenuhan kebutuhan lagi, namun pemenuhan keinginan, pemenuhan kepuasaan hasrat dan nafsu]; berpolitik untuk memuaskan hasrat dominasi dan menguasai; dan seterusnya, dan sebagainya. Semua itu, rasanya sangat cocok untuk ditimpali dengan peringatan yang dikutip di atas. Sungguh pun yakin bahwa tarikan pasar dan godaan kapitalisme lanjut yang membawa kita terjerembab di dalam kapitalisme, di mana kita menjalankan persaingan dengan kebusukan yang menjijikan, amat-sangat pantas untuk ditimpali peringatan bahwa kita memanglah benar-benar merugi, sebab kita malah sibuk bersaing dan berlomba dalam rangka menuruti hasrat dan hawa nafsu, serta keinginan-keinginan semu; bukannya melakukan kebajikan, saling menasihati, bekerja sama menciptakan kemanusiaan yang mesra berhiaskan kemesraan cinta dan kasih-sayang.
Time is Money dalam mode Hyperspeed
Ruang & waktu adalah syarat utama keberlangsungan hidup. Mustahil hidup tanpa meruang, demikian pula mustahil untuk hidup tanpa mewaktu. Dan waktu, oleh modernisme dianggap sebagai uang.
Jargon ‘waktu adalah uang’ adalah modernitas; ia menjelma wacana yang hidup di tengah masyarakat modern [berlanjut hingga era hypermodern], di mana wacana tersebut telah menjadi tolok-ukur bagi masyarakat; wacana tersebut menjadi semacam pengatur kesadaran masyarakat manusia. Setiap subjek modern, oleh wacana tersebut, akan tergerak untuk menggunakan waktu dengan baik; melakukan satu dan lain hal dalam melewati waktu untuk menghasilkan uang, dan sebalik-nya, wacana tersebut menggiring masyarakat manusia untuk tidak melakukan sesuatu dan lain hal yang hanya ‘membuang waktu’ dan tidak menghasilkan uang atau keuntungan ekonomi.
Kelangsungan hidup wacana tersebut berlanjut hingga di era hipermodern ini, era di mana kapitalisme maju dan berlanjut. Konsekuensi dari perkembangan dan kemajuan teknologi yang digiring kapitalisme adalah bahwa realitas telah dipacu sedemikian rupa untuk bergerak dan ‘maju’ dengan kecepatan; sehingga wacana time is money yang telah menjadi semacam ‘ruh’ bagi aktivitas masyarakat manusia pun ikut pula dipacu untuk bergerak dan ‘maju’ dengan kecepatan; wacana itu pun kemudian ditenagai lagi dengan energi kecepatan dan percepatan.
Jika time is money, maka diam berarti tak mendapat uang; tak melakukan aktivitas relasi produksi kapital berarti melewatkan waktu tanpa menghasilkan uang; waktu mesti dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Kemudian, oleh kapitalisme lanjut hipermodern,
wacana time is money ditenagai bahkan dipaksa untuk berkembang dan beriring dengan wacana kecepatan dan percepatan; itu berarti, time is money yang menjadi semacam pengatur kesadaran untuk ‘melewati waktu sambil berproduksi dengan dan untuk uang’ tadi, ditiupkan ‘ruh kecepatan dan percepatan’; time is money telah berada dalam mode hyperspeed, sehingga jadinya ialah ia [time is money] memacu kesadaran untuk ‘melewati waktu dengan berproduksi kapital dengan dan untuk uang, dalam tempo tinggi dan cepat dan lebih cepat lagi.’ Demikianlah ‘wajah hipermodernitas’ dalam kebudayaan sehari-hari kita; perputaran kapital dan komoditas yang serba cepat; perputaran energi produksi dan konsumsi manusia yang serba cepat dan semakin cepat. Lalu kemudian yang terjadi adalah hilangnya waktu bagi pertimbangan–pertimbangan yang memerlukan hikmat kebijaksanaan; yang terjadi adalah keadaan di mana seolah tak ada lagi titik kembali; ‘diam berarti mati.’ 18
Dalam kapitalisme lanjut, “diam berarti tergilas oleh laju percepatan,” sebab bagi kapitalisme lanjut, percepatan tidak saja menjadi tujuan, tetapi jugalah merupakan sebuah kemajuan, “bahkan satu bentuk kebudayaan dan peradaban.” Melihat kondisi demikian, Piliang mengingatkan bahwa konsep ‘kemajuan’ haruslah dibedakan dengan konsep ‘pergerakan’, ‘pergantian’ dan ‘perubahan’; bergerak, berganti dan berubah tidaklah selalu berarti maju. “Konsep kemajuan [progress] adalah warisan dari filsafat pencerahan yang menjadi paradigma kehidupan modern. Kemajuan berarti perubahan melalui satu dialektika kebaruan, di mana satu kebaruan akan didekonstruksi oleh kebaruan berikutnya. Sehingga, sejarah modernitas, pada haki- katnya tak lebih dari sejarah kebaruan.” Dan di era hipermodern, modernitas berkembang, modernitas tak hanya ditandai dialektika kebaruan, tetapi juga oleh dialektika kecepatan; dan itu dapat dilihat
18Paul Virilio, dalam Piliang, Dunia Yang Dilipat, 2004, opcit., hlm. 96
pada semakin tingginya tempo kebaruan, beriring dengan meningkat- 19 nya tempo kehidupan.
Kita dapat melihat semakin cepat/tingginya tempo kebaruan ini pada gelagat betapa cepatnya tren fesyen berganti, tren fesyen baru yang silih-berganti; topik-topik di media [baik televisi maupun media baru/internet] yang silih-berganti dan diperbarui; juga pergantian pada kategori lainnya.
Tetapi kita juga bisa melihat bahwa kapitalisme lanjut, yang telah menggiring eksplorasi kebaruan dan kemajuan [progress] dengan cepat telah sampai pada titik eksplorasi terjauhnya; tak ada lagi kebaruan yang tersisa. Tapi tentu, kapitalisme lanjut tak ingin berhenti dan mematikan mesinnya; kebaruan boleh sukar ditemukan, tapi mesin kapitalisme harus berlanjut berputar; lantas eksplorasi justru menemukan ‘titik balik kebaruan’ di mana mesin kapitalisme berputar menggunakan kekuatan difference; perbedaan citra, gaya, image, tanda; “baru selalu berarti berbeda, tetapi berbeda tak selalu 20 berarti baru.” Titik balik kebaruan bisa kita lihat pada bagaimana misalnya pola gaya di ranah fesyen, saat gaya dan tren lama dibangkitkan kembali.
Dan kita, tentu saja boleh mengeluh. Mari kita keluhkan apa yang terjadi, mengeluhkan hipermodernitas yang amat memualkan ini; keadaan di mana manusia sudah terjajah oleh kuasa uang; sehingga sudi menjalani waktu dalam penindasan dan penipuan demi kuasa uang; yang ironisnya, dalam tatanan dunia era hipermodern 21 [oleh kapitalisme lanjut] di mana dalam tatanan itu berlaku ‘hukum’ yang menyebutkan bahwa hanya dengan uang-lah kita bisa
19Piliang, 2004, op.cit., hlm. 96 20Ibid, hlm. 97. 21Beberapa kalangan menyebutnya neo-liberalisme.
memenuhi kebutuhan dan terutama keinginan-keinginan kita yang tak terbatas. Masyarakat yang telah mati, yang telah meledak menjadi massa konsumeris yang selalu penuh hasrat, rela memeras peluh dalam mesin kapitalisme, untuk dapat memuaskan gelora hasrat; hasrat bergaya, hasrat berwisata, hasrat kebanggaan, hasrat seksual, hasrat mabuk, hasrat akan prestise-prestise yang menjadi simbol status sosial––yang akan terus menyekat-nyekat manusia dalam golongan dan kelas, hasrat mendominasi, hasrat menguasai hasrat. “Hey.. tunggu., aku punya keluhan baru!” 22 Jika semua berlangsung dengan begitu cepat, lantas kemudiian di mana waktu untuk hikmat kebijaksanaan? di mana waktu bagi tuma’ninah?
Dalam rentang sejarah, hanya di era kapitalisme lanjut— hipermodern lah kita melihat wacana/paradigma ‘time is money’ berlangsung dalam mode hyperspeed.
Sebuah alat tukar bernama uang, telah menjelma kuasa, dan telah digdaya atas manusia; ia memacu manusia untuk meraihnya, dan dengannya kemudian, manusia dapat memenuhi pemuasan hasratnya.
Hanya di era kapitalisme lanjut kita melihat manusia menjalani, melalui, serta manfaatkan waktu untuk meng-hasilkan uang, dengan kecepatan yang cepat dan lebih cepat lagi; hyperspeed. 23 Begitulah hipermodern—dan itas. Lantas kemudian masyarakat manusia berpacu dengan hasratnya akan uang, yang di era hipermodern kapitalisme lanjut ini telah menjelma menjadi kekuatan yang memiliki kuasa dan diyakini memiliki muatan kebebasan; uang yang di era hipermodern kapitalisme lanjut ini sungguh telah
22Kurt Cobain, 1993, Heart Shaped Box, In Utero. 23Ketika time is money berada dalam mode hyperspeed, tak ada waktu bagi hikmat kebijaksanaan dan tuma’ninah.
diyakini ke-maha kuasa-an-nya, yang dengan ‘ke-maha kuasa-an’ itu kebebasan bisa dicapai, kenikmatan-kenikmatan bisa terbeli; dengan ‘kuasa uang’ itu manusia bisa mendapat barang mewah yang mampu mengangkat prestise, yang dengan barang-barang yang memiliki nilai-tanda prestise itu manusia akan dipandang dan dinilai oleh manusia lainnya.
Demokrasi & Dromokrasi
Atas nama demokrasi, politik-ekonomi global ditata dan dijalankan oleh kapitalisme lanjut dengan cemerlang. Kemajuan ekonomi yang pesat dan cepat di sana sini, disorot dan dijelaskan [praktik iblitzoom] kepada masyarakat khalayak ramai komunikasi massa. Gegap-gempita kemajuan ekonomi dan bisnis serta kerja professional, juga ragam budaya pop dan gaya hidup yang ditawarkan sebagai selingan selepas kerja, telah menarik perhatian masyarakat untuk ikut bersama ‘kemajuan pesat’ yang ditawarkan kapitalisme lanjut.
Setelah melihat ‘time is money’ dalam mode hyperspeed–– yang membuat masyarakat tergoda untuk kemudian ikut melompat ke dalam putaran kecepatan itu; kita perlu melihat lebih dalam lagi apa yang sebenarnya terjadi.
Demokrasi, dipahami sebagai suatu sistem pemerintahan, dengan demikian berkaitan dengan politik, di mana politik ialah merupakan suatu domain/wilayah/segi kehidupan yang di dalam segi itu ‘kekuasaan’ harus dibicarakan. ‘Kekuasaan,’ dalam wacana politik, sosial dan budaya kapitalisme lanjut hipermodern, bagi Piliang tidaklah lagi sekadar bersumber dari apa yang disebut
24 Foucault dalam pandangannya sebagai ‘pengetahuan’; kekuasaan tidak lagi sekadar bersumber dari relasi power/knowledge; tetapi jugalah dari kecepatan, dari relasi power/speed––kecepatan mem- peroleh informasi, kecepatan membaca dan mengantisipasi pasar, kecepatan mengejar tren, dst.
Demokrasi yang dikomandoi liberal memoles pertumbuhan kapitalisme sedemikian rupa, selaras dalam dan dengan relasi kuasa power/speed. Kapitalisme tak sekadar bisa bertumbuh, namun juga memiliki ilmu untuk bertumbuh cepat [dromologi]. Di era hipermodern kapitalisme lanjut, ialah ‘kecepatan’ yang menjadi ciri kemajuan/progresifitas, sehingga hal ini membentuk kemajuan-kemajuan dan kebaruan-kebaruan yang silih berganti dalam tempo 25 tinggi dan kian cepat.
Konsekuensi dari demokrasi yang dipandu oleh kapitalisme lanjut ini, di mana relasi power/speed bertumbuh dan berkembang, adalah kehancuran dari demokrasi itu sendiri; “demokrasi tak lebih dari dromokrasi––dromos dan kratia, artinya pemerintahan di mana 26 kekuasaan tertinggi terletak pada kecepatan.” Demokrasi yang men- jurus ke dromokrasi membuat dromologi menjadi sangat penting.
Dalam tatanan global dewasa ini, oleh demokrasi global, kapitalisme terus didorong untuk bertumbuh dan berkembang, dengan penekanan pada tolok ukur kecepatan.
27 demokrasi – das kapital – dromologi – dromokrasi
24Piliang, 2004, op.cit., hlm. 97 25Ibid. hlm. 97-98., 26Ibid. 27Agar mudah, kita musti menyepakati alur hubungan ini dengan menyebutnya sebagai alur 4D
Alur itu menunjukkan bahwa demokrasi, sebuah tata pemerintahan yang disepakati oleh mayoritas, melaksanakan kapitalisme [sebagai sistem ekonomi], dan oleh kekuasaan [pemerintahan yang disepakati] itu, kapitalisme dipacu untuk bertumbuh kembang cepat [dromologi] lewat ragam dorongan [mendorong investasi, keterbukaan pasar, pasar bebas, perputaran uang dan utang, perputaran komoditas, dsb], dan ketika dromologi menjadi paradigma, sebuah paradigma kecepatan akan menjangkiti kekuasaan/pemerintahan, maka yang ada kemudian ialah dromokrasi. Di dalam dromokrasi, “tidak hanya kekuasaan pengetahuan [knowing power]” yang menjadi penting, “akan tetapi juga kekuasaan pergerakan [moving power] yang telah membawa kemajuan pesat pada gelombang kapitalisme yang kini telah mengglobal.” 28
Kuasa pengetahuan dan kuasa gerak ini menimbulkan efek-efek yang signifikan pada realitas kebudayaan manusia; ilmu pengetahuan dan sains menghasilkan teknologi yang mampu memobilisasi gerak [mobile move] dengan lebih cepat dan lebih fleksibel lewat dan dalam bentuk mekanik, motorik, elektronik, robotik, sampai infor- matik dan sibernetik.
Efek-efek dari gerak cepat yang didorong oleh dromokrasi, menghadirkan bentuk peringkasan jarak/waktu, di mana “peringkasan jarak/waktu lewat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi realitas strategis yang menimbulkan konsekuensi- konsekuensi ekonomi dan politik yang besar, sebab ia berkaitan dengan penolakan dan dekonstruksi ruang.”
Apa yang terjadi di era hipermodern adalah kehancuran gerak dan bangkitnya ‘gerakan yang diam’. Pergerakan [orang, ba- rang, modal], yang dulunya berkaitan dengan “meninggalkan medan
28Ibid.
untuk mengejar waktu”, di era hipermodern sudah kehilangan makna; bagi Paul Virilio, dengan teknologi elektronik dan fibre- optic, “mengejar waktu semata-mata adalah urusan vektor.” Di era hipermodern ini, “medan dan teritorial telah kehilangan makna pentingnya, digantikan oleh loncatan proyektil dalam ruang [radar, internet.] 29
Di era praindustri, ruang dijelajah dan dieksplorasi dengan kecepatan natural-alami, di mana kecepatan itu terbatas; sementara di era revolusi industri, ruang dieksplorasi menggunakan kecepatan teknis mekanis mesin, yang memungkinkan perpindahan, penyebaran, eksplorasi, eksplosi dalam skala global; dan di era revolusi industri lanjut³⁰ ini [kapitalisme lanjut hipermodern], ruang dieksplorasi dan dikendalikan “oleh kecepatan elektronik––yang beroperasi mendekati kecepatan cahaya, dan telah melampaui skala global––yang terjadi tidak lagi penyebaran dan eksplosi, melainkan apa yang disebut Baudrillard sebagai implosi.” 31 Implosi adalah ledakan ke dalam. Implosi merupakan “semacam kondisi ruang yang di dalamnya manusia bersama wahananya tidak lagi menjelajahi teritorial dengan cara ekspansi, akan tetapi teritorial-teritorial yang telah dikuasai batasnya, justru meledak ke dalam dan mengerumuni manusia bagai layaknya magnet, melalui simulasi elektronik.” 32
29Ibid. hlm. 98., 30Wacana revolusi industri 4.0 [dalam salto mortale, saya menyebutnya sibernasi] 31Piliang, 2004, op.cit., hlm. 98. 32Ibid. Implosi : ledakan ke dalam; keadaan di mana wahana-wahana tanda yang digunakan manusia [seperti citra, tanda, gaya, image, singkatnya; simulakra; uang, barang, jugalah termasuk tanda], wahana-wahana ini meledak ke dalam subjek manusia; meledak menjadi hiperrealitas yang mengitari manusia dan masuk ke dalam kesadaran, sehingga justru berbalik, di mana manusia dipandu, digerakkan, dan dikuasai oleh wahana-wahana yang ia ciptakan sendiri.
Kondisi yang demikian itu, tak lain merupakan salah satu kondisi ‘kekacauan terkini di muka bumi’ di mana masyarakat manusia “tengah hidup pada periode sejarah yang ‘berhiaskan’ perubahan radikal tatanan sosial.” Sedemikian banyak ketidak-menentuan dan kekacauan; berbagai perubahan multi-dimensi dan berkait- kelindan yang mencakup ekonomi, teknologi, politik, kultural 33 sampai identitas.
Dromokrasi––tata kuasa publik/pemerintahan di mana relasi kuasa waktu/kecepatan menjadi utama, membawa kapitalisme serta merta bertumbuh cepat, pesat, dan mudah. Berlangsungnya kapitalisme dalam skala global, tak pelak seiring dengan percepatan; perputaran modal kapital dan komoditas yang serba cepat, per- tumbuhan berbagai industri yang bertambah cepat, suntikan modal [investasi] yang tersebar di sana–sini dengan cepat, spekulasi–spekulasi ekonomi yang semakin cepat, perkembangan pasar–pasar yang tumbuh dan mati dengan cepat, semua serba cepat.
Sebagai akibat dari realitas yang terkonstruksi dengan ragam perputaran dan pergerakan yang hipercepat, yang di era hipermodern kapitalisme lanjut ini banyak dilakukan dengan dan lewat simulasi teknologi elektronik, informatika, komputer sampai sibernetik, eksistensi manusia di dalam wadah ruang mengalami perubahan mendasar, di mana dulunya eksistensi tersebut dilihat sebagai sebentuk tubuh/subjek berkesadaran rasional yang bergerak di dalam ruang [dunia], lantas berubah menjadi “sebentuk tubuh yang diam di tempat sebagai satu kutub inersia––sebuah titik di mana subjek menampung, menahan, menyerap setiap zat dan gerakan yang datang 34 [informasi, tontonan, gaya] lewat simulasi elektronik.”
33Salto Mortale, 2019, op.cit., hlm. 228. 34Piliang, 2004, op.cit., hlm. 99.
Penjelajahan ruang, di era hipermodern telah mampu terwakilkan; lewat simulasi dan komunikasi jarak jauh dan komunikasi massa [samrtphone, internet, simulasi, simulakra]; penjelajahan ruang dapat dilakukan lewat penjelajahan image ruang; dengan tubuh subjek tetap di tempat-ruang, tetapi jangkauan teknologi perangkat cerdas [smartphone/smartcomputer] dapat jauh melampaui tempat-ruang si subjek berada; selain itu, lewat simulasi, simulakra yang menjadi penanda si subjek bisa berpindah dari satu image ruang ke image ruang yang lain dengan amat sangat cepat. [sebagai contoh, perhatikan video kampanye politisi, ataupun foto dan video viral].
Perangkat komunikasi jarak jauh ini [smartphone, komputer, internet] sudah berkembang dan ‘maju’ sangat pesat [real-time, live-time, live-streaming], dan bukan tidak mungkin ia akan berkembang lagi [hologram, kecerdasan robotik, atau kecerdasan artifisial].
Di balik perkembangannya sejauh ini, kita bisa melihat sebuah peralihan, yakni peralihan kondisi kehidupan dari kehidupan ekspansif menuju kehidupan inersif. Kehidupan inersif³⁵ disebut sebagai kehidupan sistem orbit, dengan titik gravitasi yang dikitari oleh berbagai objek yang silih berganti berputar terus menerus [image, citra, tontonan, gossip, berita, skandal, tips kecantikan, tips prima di atas ranjang, aksesoris, fashion, pornografi, iming-iming, bujuk rayu]. Konsekuensi dari peralihan ini [ekspansif ke inersif] adalah lahirnya masyarakat diam, 36 di mana dalam kehidupan masyarakat diam ini “seorang Jenederal Amerika dapat menghan- curkan dunia dari ruang kontrol smart missile, sebagaimana seorang konglomerat dapat mengendalikan pasar global dari handphone.” 37
35inersif = inersia. Piliang menyebutnya inersia. 36Masyarakat Diam [Society of The Sedentariness]; gagasan Paul Virilio, dalam Piliang, 2004, op.cit., hlm.99 37Ibid.
Seorang pemuda dapat mengetahui beragam informasi, ide dan gagasan dari kamar kost dengan smartphone, sebagaimana seorang ibu muda bisa belanja ragam kebutuhan dan keinginan melalui online shopping. Seorang nihilis dapat memantau ‘situasi politik-ekonomi- kultural’ melalui sosial media & internet dari komputer di kamarnya yang nyaman entah di mana, untuk kemudian mencoba melempar doktrin nihilisme-nya, sebagaimana seorang radikal-fundamentalis dapat mengkoordinir aksi-aksi berikutnya lewat aplikasi video call / teleconference.
Komunikasi atau Dekomunikasi ?
Komunikasi adalah proses; dan sebagai proses, komunikasi merupakan bentuk interaksi timbal-balik³⁸ yang alasan, fungsi dan tujuannya beragam. Bagi Scheidel, “kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan.” Namun menurutnya, “tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita.” 39
Rudolph Verderber membagi fungsi komunikasi menjadi fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial ialah “untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain,” serta “membangun dan memelihara hubungan.” Sementara fungsi pengambilan keputusan yakni “memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan se- suatu pada saat tertentu.” Bagi Verderber, terkait fungsi pengambilan keputusan dari komunikasi, sebagian keputusan dibuat sendiri, seba-
38Meskipun ada praktik komunikasi satu arah tanpa timbal balik. 39Thomas M. Scheidel, dalam Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, 2016, Bandung, Rosdakarya, hlm.4
gian lagi dibuat setelah berkonsultasi dengan orang lain; ada keputusan yang bersifat emosional, ada juga yang melalui pertimbangan matang. Mulyana menyebut bahwa “semakin penting keputusan yang akan dibuat, semakin hati-hati tahapan yang dilalui untuk membuat keputusan.” 40
Komunikasi adalah satu kategori paling dominan dan signifikan di era hipermodern ini. Hampir setiap hal ihwal perihal [sosial, politik, kultural-budaya, ekonomi] melibatkan komunikasi; sebab itu, ilmu dan pemahaman komunikasi ialah penting, signifikan dan vital dalam tiap aspek kehidupan, baik privat maupun sosial, aspek teori maupun praktik. Komunikasi-lah yang dapat menghi- dupkan apa yang telah mati; menemukan kembali yang telah hilang; dan membangkitkan kembali yang telah terkubur. 41 Perlu ditambah- kan di sini pandangan Verderber [lagi] dalam kaitannya dengan fungsi komunikasi tadi, bahwa “kecuali bila keputusan itu bersifat reaksi emosional [yang spontan: pen], keputusan itu biasanya melibatkan pemrosesan informasi, berbagi informasi, dan dalam banyak kasus, persuasi, karena kita tidak hanya perlu memperoleh data, na- mun sering juga untuk memperoleh dukungan atas keputusan kita.” 42
Apa yang dapat disimpulkan dari ‘komunikasi’ dalam kaitannya dengan bahasan kapitalisme lanjut di era hipermodern? Salah satunya adalah bahwa, komunikasi terjadi/dilakukan pada tiap relasi sosial manusia; komunikasi juga dapat dilihat pada tiap level dalam kehidupan yang terindustrikan [level produksi maupun konsumsi]; dan yang paling menarik untuk ditilik ialah tentu bahwa
40Ibid. hlm.5 41Tentu jika komunikasi dikelola dan dikaitkan dengan hikmat kebijaksanaan [filsafat] 42Rudolph Verderber, sebagaimana disarikan Mulyana dalam Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, 2016, Bandung, Rosdakarya, hlm.5
komunikasi terjadi / dilakukan oleh subjek berkesadaran pada tiap tahap di alur demokrasi–das kapital–dromologi–dromokrasi terkait dengan relasi power/knowledge dan power/speed tadi.
Pada tiap tahap dalam alur 4D, komunikasi dilakukan dengan pola-pola yang bisa dianalisa ialah sebagai berikut; 43
Demokrasi yang di abad 21 ini telah disepakati [secara global] sebagai sistem pemeritahan yang rasional, serta cocok dan banyak diaplikasikan di banyak Negara-bangsa, diinterpretasikan sebagai sebuah tata kelola pemerintahan ‘dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’; kesepakatan bersama; pilihan mayoritas; dll. Kita juga bisa memahami bahwa demokrasi merupakan pemberian kuasa kepa- da subjek tertentu oleh mayoritas subjek dalam suatu lingkungan, untuk melaksanakan kekuasaan⁴⁴ dan tata kelola kemasyarakatan dan/atau pemerintahan.
Pada tahap demokrasi dalam alur 4D ini, kekuasaan [yang diperoleh dari kesepakatan bersama / pilihan mayoritas] akan dibawa untuk menyepakati kapitalisme [das kapital] yang telah ada sejak era modern awal. Komunikasi terjadi antara demokrasi dan das kapital; antara penguasa dan pemilik modal, konglomerat, investor, pemain dalam pasar, dll. Komunikasi ini dilakukan untuk mendapat
43Pembahasan ini tidak akan menaruh perhatian pada tata kelola politik praktis, administrasi Negara, distribusi kekuasaan, dll., akan tetapi digiring untuk secara kritis melihat proses komunikasi yang terjadi dan/atau dilakukan pada tiap tahap di dalam alur 4D yang berlangsung di era hipermodern. 44Kuasa dan kekuasaan sejatinya merupakan kategori netral; di balik sifat mengekang, ada sifat kreatif dari kuasa, di mana kuasa membentuk / mengkonstruksi subjek. Sehingga, positif/negatif sebuah kuasa/kekuasaan ialah bergantung pada kesadaran subjek yang memegang kuasa. Lebih jauh, lihat pembahasan perihal ‘Jalan Tengah’ dalam Salto Mortale, 2019*,* Sumbawa, Anarasa, hlm.38-39., atau pembahasan perihal ‘gagasan Nietzsche’ yang diulas Chris Barker dalam Cultural Studies, 2011, Yogyakarta, Kreasi Wacana, hlm.151-152. [selebihnya hlm.146-160]
suntikan dana investasi demi percepatan pertumbuhan ekonomi [dengan dalil & dalih peningkatan kesejahteraan rakyat/masyarakat]. Lobi-lobi dan komunikasi dua arah–timbal-balik, terjadi pada dua tahap dan kategori ini [demokrasi & das kapital]. Kita tentu bisa melihat adanya jalinan komunikasi antara kekuasaan dan/atau pemerintahan dengan perusahaan, modal, investor, dll.
Pada tahap selanjutnya, dua kategori dan tahap sebelumnya; demokrasi & das kapital ini akan melakukan percepatan bagi pertumbuhan ekonomi kapitalisme. Hal ini akan menunjukkan kemun- culan dromologi [ilmu bertumbuh cepat] yang ‘lahir’ dari ‘kawin’ antara kuasa dan kapital, ‘perkawinan’ demokrasi dan das kapital.
Komunikasi yang terjadi/dilakukan pada tahap ini adalah kerjasama antara demokrasi dan das kapital; kesepakatan kerjasama dan kolaborasi keduanya, yang dalam hal ini adalah memacu ekonomi kapitalisme dengan dromologi. Tentu saja kesepakatan kerjasama antara keduanya, yakni memacu ekonomi kapitalisme dengan dromologi ini akan dikomunikasikan kepada rakyat/masyarakat [yang di dalam tata demokrasi merupakan pemegang tampuk kekuasaan tertinggi]. Peng-komunikasi-an tentang ‘dromologi kapital’ kepada rakyat dilakukan secara langsung dan/atau melalui media massa. Sayangnya, komunikasi tersebut dilakukan semata hanya pada tataran/level pengumuman, penginformasian, pemberi- tahuan, sosialisasi birokrasi, yang sifatnya satu arah; dalam arti posisi rakyat sekadar komunikan/penerima. Rakyat tidak terlibat langsung [melainkan terwakili oleh wakil-wakil di pemerintahan] 45 dalam
45Wakil rakyat dipilih langsung oleh rakyat; itu fakta, meskipun hal ini tentu saja masih bisa dikeluhkan, di mana komunikasi sebelum memilih lebih banyak melibatkan retorika dan komunikasi manipulatif; dan sangat disayangkan pula bahwa meskipun rakyat terwakilkan dalam pemerintahan, akan tetapi aspirasi dan suara sejati dari rakyat, sangat jarang terwakilkan.
proses komunikasi pada tataran/level pengambilan keputusan, level saat pembuatan sebuah kebijakan. Peng-komunikasi-an tentang ‘dromologi kapital’ kepada rakyat dilakukan dengan praktik simulasi dan iblitzoom, dengan sekian banyak retorika dan persuasi, sehingga rakyat kebanyakan pun sepakat, atau paling tidak rakyat kebanyakan tak menolak; sepakat dan tak menolak dromologi kapital atau pertumbuhan dan percepatan ekonomi kapitalisme. Selain komunikasi yang demikian, dromologi kapital jugalah melakukan komunikasi [dengan memproduksi beragam wacana dan wahana pelarian dan kesenangan] yang dilemparkan ke tengah massa konsumen [rakyat/ masyarakat], semacam pengalihan isu agar mayoritas masyarakat tak memperhatian dengan seksama dan detil setiap wacana dromologi kapital yang dimainkan demokrasi dan das kapital. Maka kemudian lahirlah tatanan pemerintahan dan tatanan masyarakat yang mayoritasnya bersepakat atas dan dengan paradigma dromologi kapital; lalu lahirlah dromokrasi.
Konsekuensi dari tatanan masyarakat yang demikian, dromokrasi, di mana relasi kuasa/kecepatan, power/speed ber- tumbuh dan berkembang tak lain ialah kehancuran dari demokrasi itu sendiri; Demokrasi yang terjerumus ke dromokrasi membuat dromologi menjadi sangat penting, di mana dromologi merupakan kunci sekaligus energi yang mendorong pertumbuhan kapitalisme dengan penekanan pada tolok ukur kecepatan. Konsekuensi dari relasi antara demokrasi – das kapital – dromologi – dromokrasi atau apa yang saya sebut sebagai ‘hipermodern 4D’ ini adalah apa yang telah coba ditunjukkan pada bagian demokrasi & dromokrasi sebelumnya; konsekuensinya ialah fakta bahwa kita tengah mengalami ‘kekacauan terkini di muka bumi’, di mana situasi dan kondisi-nya dianggap ‘menyenangkan’.
Ketika dromokrasi menjalankan dromologi kapital; kita melihat bahwa kuasa pengetahuan dan kuasa gerak yang ‘dimainkan’ dalam skala global telah menimbulkan efek-efek yang signifikan pada realitas kebudayaan manusia; ilmu pengetahuan dan sains meng- hasilkan teknologi yang mampu memobilisasi gerak [mobile move] dengan lebih cepat dan lebih fleksibel lewat dan dalam bentuk mekanik, motorik, elektronik, robotik, sampai informatik dan sibernetik. Efek-efek dari gerak cepat [dromologi kapital] yang didorong oleh dromokrasi, menghadirkan bentuk peringkasan jarak/waktu, di mana “peringkasan jarak/waktu lewat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi realitas strategis yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi ekonomi dan politik yang besar, sebab ia berkaitan dengan penolakan dan dekonstruksi ruang.” Apa yang terjadi di era hipermodern adalah kehancuran gerak dan bangkitnya ‘gerakan yang diam’. Pergerakan [orang, barang, modal], yang dulunya berkaitan dengan “meninggalkan medan untuk mengejar waktu”, di era hipermodern sudah kehilangan makna; bagi Virilio, dengan teknologi elektronik dan fibre-optic, “mengejar waktu semata-mata adalah urusan vektor.” Di era hipermodern ini, “medan dan teritorial telah kehilangan makna pentingnya, digantikan oleh loncatan proyektil dalam ruang [radar, internet.] 46
Di era praindustri, ruang dijelajah dan dieksplorasi dengan kecepatan natural-alami yang terbatas; sementara di era revolusi industri [awal], ruang dieksplorasi menggunakan kecepatan teknis mekanis mesin, yang memungkinkan perpindahan, penyebaran, eksplorasi, eksplosi dalam skala global; lalu di era ‘revolusi industri lanjut’ kini ruang dikendalikan oleh kecepatan elektronik––yang beroperasi mendekati kecepatan cahaya, dan telah melampaui skala
46Piliang, 2004, op cit,hlm.98.
global; lantas kemudian, yang terjadi bukan lagi penyebaran dan eksplosi, melainkan implosi. 47
Dromokrasi membawa kapitalisme serta merta bertumbuh cepat, pesat, dan mudah. Berlangsungnya kapitalisme dalam skala global, tak pelak seiring dengan percepatan; perputaran modal kapital dan komoditas yang serba cepat, pertumbuhan berbagai industri yang bertambah cepat, suntikan modal [investasi] yang tersebar di sana-sini dengan cepat, spekulasi-spekulasi yang semakin cepat, perkembangan pasar-pasar yang tumbuh dan layu dengan cepat, semua serba cepat; dan itulah dromologi kapital.
Konsekuensi dari realitas yang terkonstruksi dengan ragam perputaran dan pergerakan yang serba cepat [hyperspeed], yang di era hipermodern banyak dilakukan lewat simulasi elektronik, infor- matika, komputer sampai sibernetik, membuat eksistensi manusia di dalam wadah ruang mengalami perubahan mendasar, di mana dulu eksistensi tersebut dilihat sebagai sebentuk tubuh/subjek berkesa- daran rasional yang bergerak di dalam ruang [dunia], lantas berubah menjadi sebentuk tubuh yang diam di tempat sebagai satu kutub inersia––sebuah titik di mana subjek menampung, menahan, menye- rap setiap zat dan gerakan yang datang [informasi, tontonan, gaya] lewat simulasi elektronik. 48 Konsekuensi dari peralihan ini [ekspansif ke inersif] adalah lahirnya masyarakat diam, di mana dalam kehidupan masyarakat diam ini “seorang Jenederal Amerika dapat menghancurkan dunia dari ruang kontrol smart missile, sebagaimana seorang konglomerat dapat mengendalikan pasar global dari handphone.” 49 Seorang Fasis dapat saja berleha-leha dan ‘ongkang– ongkang kaki’ di dalam rumahnya, namun mengontrol semua hal
47Implosi = ledakan ke dalam., lihat catatan kaki no.31 48Piliang, 2004, op.cit, hlm. 99 49Ibid
[ekonomi – politik – pemerintahan] lewat pantauan dan laporan yang ‘serba cepat’ cybertechnology; ia bisa berpura-pura menjadi sekadar anggota partai politik yang setia pada republik di hadapan publik, namun di rumahnya yang nyaman, ia tertawa melihat tatanan ‘demokrasi totalitarian’ yang ia kontrol bersama golongannya; para fasis dan kapitalis yang lain.
Semua gambaran konsekuensi dari bergesernya demokrasi, atau lebih mengena lagi, semua gambaran konsekuensi dari berkolaborasinya hypermodern 4D [demokrasi – das kapital – dromologi – dromokrasi] ini, dalam kaitannya dengan proses komunikasi yang terjadi dan/atau dilakukan pada tiap tahap dan tiap relasi ‘hypermodern 4D’ ini telah menimbulkan pertanyaan mendasar yang––mulai saat ini dan seterusnya––harus kita ajukan bersama, yakni; apakah proses yang dilakukan dalam-pada tiap tahap dan relasi ‘hypermodern 4D’ itu ialah merupakan proses komunikasi atau justru dekomunikasi?
Untuk menjawab pertanyaan itu kita mesti membongkar sendiri [dengan melihat situasi dan praktik di sekitar] dan melakukan analisa yang kuat. Analisa dapat dilakukan dengan pertama-tama mencari makna dan fungsi fundamental dari apa yang dimaksud dengan ‘komunikasi’ itu sendiri; untuk kemudian melakukan perbandingan pada situasi dan proses yang terjadi dalam tiap tahap relasi hypermodern 4D tadi.
Seperti dijelaskan––dengan singkat-padat––pada bagian awal, bahwa ‘komunikasi dilakukan terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitar, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang diinginkan.’; juga bahwa, ‘tujuan dasar berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan
fisik dan psikologis.’ Lebih jauh, fungsi komunikasi dibagi menjadi fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. ‘Fungsi sosial ialah untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, serta membangun dan memelihara hubungan; sementara fungsi pengambilan keputusan yakni untuk memutuskan hendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu.’ Terkait fungsi pengambilan keputusan dari komunikasi, sebagian keputusan dibuat sendiri, sebagian lagi dibuat setelah berkonsultasi dengan orang lain; ada keputusan yang bersifat emosional, ada juga yang melalui pertimbangan matang. Mulyana menyebut bahwa “semakin penting keputusan yang akan dibuat, semakin hati-hati tahapan yang dilalui untuk membuat keputusan.” 50 Di sini juga kiranya perlu melakukan reduksi atas makna ‘komunikasi’ yang perlu dimaknai sebagai proses interaksi yang melibatkan dua pihak atau lebih demi mencapai kesepakatan bersama.
Dari makna dan fungsi komunikasi di atas, kita kemudian bisa mencoba mengaitkan dan mengkonfirmasi apakah proses yang terjadi [praktik] pada tiap tahap dan relasi ‘hypermodern 4D’ selaras dengan makna dan fungsi komunikasi dalam penjelasan tadi.
Dalam bentuk praktik demokrasi global yang sama-sama tengah kita rayakan, bisa dilihat suatu bentuk dekomunikasi. Ambil contoh pemilu, di mana kemenangan kontestan pemilu [entah legislatif atau eksekutif] tidaklah mutlak dan murni merupakan hasil dari suatu proses komunikasi yang sehat, di mana kemenangan itu boleh jadi melibatkan retorika dan/atau komunikasi politik yang cenderung manipulatif; penebaran janji-janji mewakili aspirasi rakyat, menyuarakan suara rakyat, dan segala retorika atas nama rakyat lainnya.
50Mulyana, 2016, op.cit., hlm.5
Katakanlah demokrasi itu tidaklah dimenangkan dengan suatu proses komunikasi yang manipulatif, melainkan dari proses komunikasi yang sehat, baik dan mulia; akan tetapi, kemenangan itu tidaklah dari seluruh rakyat, melainkan mayoritas. Lantas, dalam-pada tahap selanjutnya, ketika demokrasi hendak menjalankan tata pemerintahan dan kekuasaan, ia mendekati das kapital dalam rangka menata dan membangun ekonomi masyarakat yang dipimpinnya, sampai pada tahap dicapai kesepakatan antara keduanya [demokrasi & das kapital], komunikasi antara demokrasi dan rakyat yang diwakili tidak ada, demokrasi selalu dianggap telah mewakili rakyat, padahal hanya sekadar mayoritas, 51 dan ketika kesepakatan-kesepakatan kemudian dimanivestasikan dalam-pada kebijakan dan peraturan, seluruh rakyat masyarakat menjadi terikat dan dipaksa tunduk pada aturan dan kebijakan tersebut; pada tahap ini, bukan komunikasi untuk mencapai konsensus yang terjadi, melainkan dekomunikasi serta proses pencapaian konsensus melalui paksaan. Pada tahap ini, demokrasi sudah mati, sebab ia telah menegasikan pemegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam demokrasi itu sendiri, yakni demos atau publik/rakyat/masyarakat.
Ialah dekomunikasi, ialah sisi gelap komunikasi, the dark side of communication, yang terjadi pada dua tahap tadi [dengan demikian, juga akan terjadi pada dua tahap selanjutnya]. Komunikasi yang dilakukan, cenderung tidak melibatkan langsung unsur terpenting dari demokrasi itu sendiri, melainkan diwakilkan, dan para wakil yang mewakili, cenderung tak mewakili aspirasi dari yang diwakili, tapi sekadar menganggap telah mewakili. Komunikasi yang berlangsung pada tahap dan relasi tadi, dilakukan ‘untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang diinginkan’––sebagaimana diterangkan Scheidel. Dan
51Dan mayoritas, sungguh belum tentu benar dan baik.
fungsi semacam itu, merupakan sisi manipulatif dari komunikasi, di mana ketika fungsi manipaulatif ini dilakukan, akan terjadi pe- langgaran fungsi sosial konstruktif dari komunikasi, di mana fungsi sosial konstruktif dari komunikasi ialah ‘untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, serta membangun dan memelihara hubungan’. Fungsi manipulatif, ketika dijalankan akan beresiko merusak ikatan dan hubungan, alih-alih membangun dan memelihara hubungan. Maka, jika komunikasi manipulatif ialah yang dilakukan, ia justru menjadi sebuah bentuk dekomunikasi. Selanjutnya, setelah tahap demokrasi & das kapital dilalui justru dengan praktik dekomunikasi dan/atau komunikasi manipulatif, maka dromologi & dromokrasi yang dihasilkan pada dua tahap selanjutnya, niscaya akan melibatkan komunikasi manipulatif, di mana kekuasaan [demokrasi] akan mengajak dan memaksa rakyat [lewat praktik hegemoni dan peraturan kebijakan] untuk ikut dalam wacana pengembangan kapitalisme lanjut. Maka, kita bisa melihat bahwa proses yang terjadi dalam-pada tiap tahap dan relasi dari ‘hypermodern 4D’ ialah justru merupakan dekomunikasi, alih-alih komunikasi.
Pembahasan ‘komunikasi atau dekomunikasi’ ini dilakukan sebagai analisis kritis atas situasi konkrit di sekitar kita yang merupakan efek dari tatanan sosial yang dibangun di dalam dan dengan ‘semangat kemajuan dan kebaruan’ yang berasal dari rahim kapitalisme dan demokrasi liberal yang––sebagaimana ditunjukkan sebelumnya––bertransformasi ke tatanan dromokrasi [sebagai efek dari relasi hypermodern 4D]. Tidak sedikit kalangan yang bahkan menganggap tatanan sosial yang kita hidupi ini malah merupakan bentuk/hasil ‘manipulasi’ rasional dari kapitalisme lanjut. Dalam rangka sebagai analisis kritis, analisa selanjutnya akan melihat komunikasi dalam-pada relasi sosial; yakni pada posisi ‘komunikasi horizontal’ antara komunikator dan komunikan, antara satu subjek
dan subjek lainya yang berinteraksi timbal balik. Dan tentu saja, analisa ini dilakukan untuk menunjukkan efek dari modernitas [yang sudah bertransformasi sampai hyper-modern] terhadap relasi sosial di tengah masyarakat.
Sebagai efek hypermodern 4D yang terkait dengan domain komunikasi [terutama komunikasi yang terbisniskan], kebiasaan-kebiasaan, kultur, dan praktik-praktik komunikasi antar subjek dalam kehidupan sehari-hari, mengalami perubahan-perubahan mendasar. Komunikasi jarak jauh, komunikasi bermedia, telah merubah pola budaya komunikasi masyarakat, dari tatap muka menjadi via simulakra dalam simulakrum.
Ambil kasus komunikasi romantika; ‘Romeo’ dan ‘Juliet’ di era hipermodern, jarang berjumpa, tetapi amat sangat sering terwakilkan oleh simulakra untuk bertemu di dalam simulakrum; ‘Simulakra Romeo’ bertemu dan selalu terkoneksi dengan ‘simulakra Juliet’ di dalam simulakrum. Ruang simulakrum adalah kamp-kamp konsentrasi hipermodern, yang kita ketahui sebagai facebook, instagram, whatsapp, dll., simulakra-simulakra-nya adalah akun-akun yang digunakan untuk ‘hidup’ di sana. Dalam-pada komunikasi romantika ‘Romeo & Juliet’ tadi, akun facebook atau whatsapp ‘Romeo’ dan akun facebook atau whatsapp ‘Juliet’ adalah simulakra; yang fungsinya adalah mensimulasikan diri Romeo dan Juliet. Dalam-pada kasus ini, Romeo dan Juliet jelas terbantu dan dimudahkan untuk berkomunikasi, dan sepertinya, tak ada bentuk dekomunikasi yang terjadi dalam-pada kasus ini, sebab proses interaksi dan komunikasi yang dilakukan menunjukkan berjalan dan terwujudnya fungsi sosial komunikasi menjalin dan menjaga hubungan.
Analisa harus beralih ke komunikasi sosial langsung. Dan di sini, kita bisa langsung melihat efek dari komunikasi yang terbisniskan; ialah pada sekelompok pemuda-pemudi harapan bangsa yang berkumpul-temu di sebuah kafe; di mana dalam kumpul-temu itu, beberapa orang membicarakan nasib bangsanya yang menye- dihkan dan beberapa orang yang lain justru sibuk dengan gadget komunikasi⁵² yang digenggam; lantas yang terjadi justru ketidak-terhubungkan di dalam kebersamaan/keterhubungan yang tengah berlangsung, ketika beberapa ‘yang membicarakan nasib bangsa’ bertanya pada ‘yang sibuk dengan gadget komunikasi’. Merupakan satu bentuk dekomunikasi, apa yang disebut ‘ketidak-terhubungkan dalam keterhubungan yang tengah berlangsung’ tadi.
Gadget komunikasi dalam hal ini ialah faktor determinan dari dekomunikasi. Bukan sinis, tetapi hendak menunjukkan bentuk-bentuk dekomunikasi yang telah dan tengah kita lakukan dan biarkan begitu saja. Gadget komunikasi sebagai sarana teknis instrumen teknologi, sebagai bagian dari dunia objek, tidaklah dapat disalahkan; ialah pemakaian gadget yang bisa benar atau salah. 53 Dengan demikian, sekali lagi hal ini terkait dengan kuasa/otoritas, di mana otoritas dipakai untuk digunakan atau justru sebaliknya ditak- gunakan [digunakan untuk yang tak berguna]; ketika subjek yang memiliki otoritas atas gadget memanfaatkan gadget untuk ber- komunikasi, pemanfaatan itu menjadi benar, dan otoritas/kuasa si subjek juga menjadi benar dan bersifat kreatif; tapi ketika gadget dipakai dan justru meng-akibatkan dekomunikasi, ketika otoritas subjek atas gadget mengarahkan pemakain gadget yang mengaki- batkan dekomunikasi, pemakaian itu menjadi salah, dan otoritas/
52Gadget komunikasi? Komunikasi yang terbisniskan; perhatikan alur Internet–Computer–Smartphone–Provider–Aplikasi–Social Media–Game 53Salto Mortale, 2019, op.cit, hlm.38-39
kuasa si subjek pun salah dan bersifat destruktif; otoritas semacam ini mestilah dihancurkan, atau dalam kalimat lain, otoritas si subjek atas gadget tersebut mesti dicabut.
Pada akhirnya, kita pun bisa melihat di sekitar kita bahwa di balik semua kemajuan yang dibawa, didorong dan ditawarkan kuasa dan kapitalisme, jugalah terdaapat sisi gelap yang tidak baik. Dalam kaitan dengan komunikasi tadi, argumen yang diutarakan di sini ialah bahwa apa yang terjadi di era hypermodern dengan segala macam bentuk kemajuan; justru dekomunikasi. Kiranya, semua hal buruk [dekomunikasi, dekadensi] yang terjadi, merupakan akibat dan konsekuensi dari pelepasan energi hasrat yang dimainkan oleh kapitalisme [dengan dromologi].
Speedometer Kapitalisme Lanjut
Demi waktu yang menyimpan dan menunda jawab dari tanya, ialah sungguh bahwa ‘waktu’ merupakan kunci bagi tiap tindak dan sikap yang kita ambil atau kita gunakan. ‘Mempertimbangkan’, ‘tidak terburu-buru’––apalagi terburu hasrat dan nafsu—kiranya menjadi sangat penting dalam perjalanan di dunia [ruang] yang telah dikuasai oleh waktu [kecepatan dan percepatan; dromologi dan dromokrasi]. Namun sayangnya, dunia telah dipacu untuk berputar dengan cepat, dan kita pun mesti menyesuaikan diri. Di dunia yang demikian rupa, tidak ada lagi waktu bagi pertimbangan, tuma’ninah, dan hikmat kebijaksanaan.
Perkembangan kapitalisme yang terus berlanjut dengan dromologi dan dromokrasi, menghadapkan kita pada kondisi di mana ruang dan territorial telah dijangkau, dijelajahi, dieksplorasi melalui ekspansi dan ekstensi sampai pada titik terjauhnya, lantas
kita pun menghadapi kenyataan bahwa ruang telah dikuasai sepenuhnya oleh waktu. Dalam dunia dengan kondisi sedemikian, di mana kapitalisme telah sampai pada titik di mana ruang telah dikuasai sepenuhnya oleh waktu, kita dihadapkan pada ‘implosi’ yang terjadi dalam-pada ragam sendi kehidupan kita. “Perjanjian pembatasan senjata nuklir adalah bentuk implosi dari politik kecepatan perlombaan senjata; konsumerisme status, simbol, prestise ialah bentuk implosi dari konsep kemajuan dalam ekonomi; keterpesonaan pada image, ilusi dan hiperrealitas media adalah bentuk implosi dari perlombaan percepatan teknologi informasi.” 54
Kondisi di mana ruang telah dikuasai sepenuhnya oleh waktu, tak lantas membuat kapitalisme berhenti; sebaliknya, kapitalisme justru berlanjut, bergerak, dan bertumbuh-kembang dengan pola-pola yang sungguh menakjubkan; membuat masyarakat takjub dan larut, salto fatale, lompat masuk ke dalamnya.
Bagi masyarakat konsumeris, “ruang bisa saja selesai––telah didefinisikan buat kita, tapi kita tidak pernah berhenti menggeser perabotan di dalamnya.” 55 Ada, terus ada, dan akan terus ada, ‘keinginan’ akan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, sebab energi libido-lah yang bermain, yang telah menciptakan semacam ‘ketidak-puasan abadi.’
Di era hipermodern, entah sejak kapan, kita melihat kapitalisme berlanjut dengan model pertumbuhan rhizome, sebuah model pertumbuhan umbi-umbian atau tumbuhan merambat yang tidak bergantung pada [satu] akar tunggang, tetapi tumbuh dengan
54Piliang, 2017, op.cit., hlm.90 55Dick Hebdige, dalam Piliang, 2017, op.cit., hlm.91
pelipat-gandaan akar, serta pola kombinasi-kombinasi yang ber- aneka ragam. 56
Jika pertumbuhan dengan akar tunggang [yang satu] menimbulkan kuasa dan jangkauan tertentu [berbatas], maka model pertumbuhan rhizome adalah solusi dari keterbatasan jangkauan kuasa territorial itu; di mana dengan pertumbuhan rhizome, kapitalisme lanjut dapat melakukan deteritorilasasi dan reteritorialisasi.
Perusahaan sepeda motor, misalnya, secara rizomatik tumbuh di berbagai tempat, tidak dengan model ‘akar tunggang’, melainkan dengan rhizome akar-akar baru dan kombinasi-kombinasi baru di berbagai tempat-teritorial. Kita juga bisa merujuk kepada banyak model investasi yang tersebar-sebar di berbagai tempat/ teritorial secara global sebagai contoh-contoh dari model pertumbuh-kembangan rhizome dari kapitalisme lanjut.
Pertumbuhan rhizome dari kapitalisme lanjut, juga bisa dilihat dalam-pada pola di mana kombinasi banyak dimainkan. Kombinasi antara media dan bisnis pariwisata, cukup jelas [bagi saya] ialah merupakan pertumbuhan rhizome yang dimainkan kapitalis [lihat misalnya Trans Media–Trans Hotel–Trans Studio]. Pun kombinasi antara media dan politik, politik-ekonomi, atau politik- kultur-pop-gaya, atau juga kombinasi ekonomi-budaya-gaya-pop, yang bisa—dan harus bisa—kita pandang sebagai taktik dan metode pertumbuhan rhizomatik kapitalisme lanjut ini. Ialah merupakan usaha untuk melanjutkan sirkulasi [dan putaran mesin] sistem kapitalisme yang dilakukan dalam-pada bentuk kombinasi-kombinasi dan ekspansi-ekspansi melalui pola rhizomatik ini.
56Ibid.
Efek dari persinggungan kombinasi rhizomatik antara media dan bisnis pariwisata misalnya, mengakibatkan pergeserubahan— bahkan pendangkalan—dari makna dan hakikat jurnalisme [lihat acara jalan-jalan dan variety show]. Demikian pula efek yang kiranya timbul dalam kombinasi antara jurnalisme media dengan kultur pop ataupun gaya. Di domain lain, kombinasi antara persinggungan kombinasi antara politik, media, dan budaya pop, mau tak mau berefek pada pendangkalan dan populerisasi politik; hal ini bisa kita lihat pada peran politik selebritis-selebritis yang cukup marak.
Dalam kombinasi dan persinggungan ekonomi dan budaya pop, kita bisa melihat peran selebritis dan pesohor-pesohor lain dalam menjalani peran sebagai brand ambassador, dll. Kombinasi dan “persinggungan antara politik dan kapital telah menghasilkan komodifikasi dan komersialisasi politik [lihat perkembangan kolusi, manipulasi, monopoli], persinggungan rizomatik seks dan media telah menimbulkan pendangkalan seks [pornografi dan cybersex], sebagaimana persinggungan antara seks dan kapital telah menimbulkan eksploitasi tubuh [lihat striptease, pelacuran.]” 57
Ialah begitu banyak sebenarnya pola perkembangan rhizomatik yang dimainkan dengan kombinasi semacam ini, dan ini “tampaknya tak terbatas.” Ini menunjukkan bahwa kapitalisme— secara fatal dan bertendensi nihilis—telah memainkan dan “membangun jaringan rizomatik kapital dengan segala aspek dan territorial kehidupan—kapital: politik, seks, olahraga, pendidikan, kebugaran, kesehatan, spiritual, agama, tubuh, keamanan, bahkan kematian.” 58 Kapitalisme lanjut dewasa ini membentuk komersialisasi
57Ibid. hlm.91 58Ibid. yang bercetak miring ialah tambahan dari penulis. Piliang—dalam bukunya—menyebut kapitalisme secara anarkis membangun jaringan rizomatik. Saya lebih memilih untuk mengatakan “secara fatal dan nihilis”,
segala aspek kehidupan dengan segala muatan kesemuannya. 59 Hal ini mengakibatkan masyarakat melakukan lompatan fatal ke dalam arena di mana kapitalisme melakukan kombinasi dan persinggungan rizomatik tersebut. Tidak tersisa lagi domain dan segi kehidupan yang tak ‘digagahi’ kapitalisme.
Model pertumbuhan rizomatik, dan juga dromologi yang ‘menguasai’ waktu—terkait percepatan, tak pelak ialah speedometer dari kapitalisme lanjut di era milenial ini.
Kapitalisme telah membangkitkan ‘gelora hasrat’ masyarakat, sehingga kapitalisme sendiri pun terjebak dalam putaran mesin hasrat itu—mesin yang menggilas segala aspek hidup dengan kecepatan hiper. Ini sungguh sebuah lompatan fatal dengan tendensi nihilisme.
Terlepas dari kemungkinan bahwa kapitalisme juga terjebak dalam perputaran mesin yang ia jalankan, kita tentu dapat melihat bagaimana kapitalisme telah menguntungkan sebagian pihak, dan merugikan sebagian lainnya. Seandainya kita hanya sekadar hewan yang tak berakal, tentu kita bisa menganggap ini merupakan takdir Tuhan. Akan tetapi, sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas segala tindakan yang kita pilih dan ambil. Maka—sekali lagi— terlepas dari kemungkinan bahwa para kapitalis jugalah terjebak dalam ‘permainan’ yang mereka mainkan, kita mesti melihat bagaimana kapitalisme mempermainkan hidup manusia dengan sistem ekonomi yang digagas dan dijalankannya.
sebab apa yang dilakukan kapitalisme ini—sebagaimana dikatakan Piliang— justru membawa pada kesemuan dan kekosongan belaka. Tak ada yang lebih tepat bahwa ini tindakan bertendensi nihilisme yang fatal. Selain itu, ialah sebab anarkisme memiliki tujuan konstruktif, berbeda dengan nihilis yang destruktif dan semu kosong. 59Ini menguatkan perihal ‘tatanan dunia baru’, di mana kapitalisme telah banyak menguasai aspek-aspek kehidupan.
Kapitalisme lanjut sungguh telah memiliki kekuasaan untuk menata peradaban di negeri dan territorial yang bersepakat untuk memajukan peradabannya dengan menggunakan kapitalisme sebagai sistem pengatur yang didasarkan pada hukum persaingan, pencarian laba/profit, dan tentu saja kepemilikan pribadi atas sarana produksi. Dengan kekuasaannya, kapitalisme lanjut global dewasa ini telah menguasai seluruh domain kehidupan, dari ekonomi-politik hingga sosial-budaya, dari material, ideal hingga ke spiritual. Komodifikasi kapitalisme telah menjamah semua aspek itu. Kapitalisme melakukan semua itu dengan model perkembangan dan kombinasi rhizomatik dan dromologi serta dromokrasi yang merupakan bentuk penguasaan waktu dan penguasaan teritori oleh waktu [kecepatan dan percepatan]. Kecepatan dan percepatan komodifikasi kapitalisme ialah merupakan kecepatan dan percepatan dalam mengaitkan segala aspek dan domain kehidupan masyarakat manusia dengan perputaran ‘kapital’ uang.
Bagi Piliang, waktu, ruang, uang, dan kecepatan, merupakan kategori-kategori yang tidak dapat dipisahkan dari wacana kapitalisme lanjut global di era kontemporer ini. “Apa yang disebut dengan ‘waktu turn over kapital’ tak lain dari upaya percepatan waktu produksi, sirkulasi, dan konsumsi.” Terkait hal ini, kapitalisme lanjut merupakan upaya terus-menerus untuk memperpendek waktu turn-over “dengan cara mempercepat proses sosial konsumsi 60 dan mempercepat tempo kehidupan.”
Percepatan proses sosial konsumsi dari setiap produk barang komoditas inilah yang mengakibatkan merebaknya gaya dan sifat konsumerisme dari-pada masyarakat kapitalis. Kehidupan sosial ditata sedemikian rupa, serta ditarik pula lewat iklan dan permainan
60Piliang, 2017, op.cit, h.92
wacana, bujuk-rayu kesadaran palsu, untuk ikut berperan dalam kelancaran percepatan produksi kapitalisme. Masyarakat diperlukan untuk mengkonsumsi, itu sebab kapitalisme lewat beragam wacana mempercepat pula proses sosial konsumsi dari produk komoditas. Ialah masyarakat konsumer yang menjadi tujuan dari kapitalisme lanjut. Dengan matangnya pola dan proses konsumsi di tengah masyarakat, sirkulasi waktu turn over capital berputar sesuaian. Masyarakat konsumeris ialah tujuan sekaligus wujud keberhasilan kapitalisme lanjut, di mana model masyarakat seperti ini ialah sangat sesuai untuk keberpacuan sirkulasi kapital dan komoditas— produksi-distribusi-konsumsi—dari kapitalisme.
Dengan speedometer-nya, serta pengembangan model rhizomatik [ditambah dromologi dan dromokrasi], kapitalisme menata berbagai negeri yang telah bersepakat untuk menjadikan kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang digunakan demi tujuan mencapai ‘kesejahteraan’ negerinya.
Fenomena rhizomatik dan kecepatan pertumbuhan dan sirkulasi kapital tentulah tak asing dari sekitar kita. Sekali lagi ini rhizomatik yang tersusun tidak dengan bergantung pada akar tunggal, melainkan dengan beragam kombinasi dan persesuaian. Politik yang dikombinasikan dengan bisnis media, untuk kepen- tingan politik. Bisnis yang terselip dalam politik dan media, dll Ada begitu banyak keterkait-kelindanan. Megastrategi politik, mega pem- bangunan, taktik-taktik makro dan mikro ekonomi, trik-trik simulasi dan wacana poltik-media massa, serta ragam citra serta gaya industri tontonan. Fenomena-fenomena itu tengah berlangsung, kita saksikan dan kita rayakan.
Dengan speedometer-nya, serta pengembangan model rhizomatik ditambah dromologi dan dromokrasi ini, kapitalisme
menata berbagai perkembangan dan pembangunan demi tujuan mencapai kesejahteraan. Sekali lagi, negeri-negeri ini dan kita semua terbukti telah bersama-sama melakukan salto fatale.
Sebagai akibat dari salto fatale⁶¹ yang dilakukan masyarakat konsumeris bin kapitalis era hipermodern, yang sudah tentu dipandu oleh kapitalisme lanjut, segala bentuk ‘kengerian’ akan merebak dan terus berkembang—bak bunga—untuk merekah dan meruapkan bau yang semerbak, yang tentu dapat kita sayangkan, sebab alih-alih wangi, bau itu justru busuk. Sejarah mencatat begitu banyak keluhan atas efek dari kapitalisme. Untuk tidak mengutamakan penindasan dan ketak adilan, di sini akan diutarakan Alienasi, Kesadaran Palsu, Reifikasi, Desublimasi Represif, Manusia Satu Dimensi, Fetisisme Komoditas, Totalitarian Kontrol, sampai Keuangan Yang Maha Kuasa, sebagai efek nyata dari salto fatale yang dilakukan kapitalisme lanjut bersama masyarakat konsumeris-kapitalis.
Lewat kuasa politik, akan diselenggarakan pembangunan. Dalam pembangunan ekonomi [industri, komersial, perumahan, dll] yang dibutuhkan tidak hanya kecepatan dan percepatan, tetapi juga teror, ancaman, intimidasi, paksaan, bujuk rayu, serta deteritorial- isasi⁶² yang alibinya ialah demi percepatan pertumbuhan; tentu saja pertumbuhan modal kapital, dan juga pertumbuhan kota-kota masyarakat konsumer. Dengan pertumbuhan itu, akan ada pergeseran dari orientasi adat ke orientasi kapital kota konsumer. Untuk kasus semacam tanah ulayat masyarakat adat ini, masyarakat adat akan terpecah: pihak yang tertarik dengan bujuk-rayu atas nama kemajuan,
61Di bagian speedometer kapitalisme lanjut ini akan disuguhkan bentuk dan model kecepatan dan percepatan sirkulasi kapital bersamaan dengan efek- efeknya. 62Perhatikan sengketa antara masyarakat adat dan pemerintah terkait tanah ulayat yang memiliki potensi pertambangan.
tentu akan sepakat dengan hegemoni ‘kemajuan dan adab baru’ masyarakat kebanyakan: sementara pihak yang bersikukuh dengan adat akan sulit melawan kehendak kapital yang telah memecah masyarakat, yang berakibat pada terjadinya marginalisasi pada mereka yang memegang adat; ini bisa dimaknai sebagai deteritorial- isasi, di mana territorial tanah ulayat akan berubah menjadi lokasi pertambangan kapital dan profit. Semua akan berlanjut pada eksploitasi alam hutan dan akan berujung pada masalah yang selalu dikeluhkan; ekologi.
Kasus tanah ulayat masyarakat adat hanya serpihan dalam ekspansi kapital yang besar. Di kota pun kita dapat melihat langsung betapa banyak rakyat kecil, yang hanya menguasai ruang kecil, dan hanya memiliki mesin ekonomi berdaya kecil, tidak berdaya di hadapan megakapitalis dengan megamesin ekonomi [konglomerasi] yang menderu dan melindas apa saja atas nama percepatan ekonomi. Para pedagang kaki lima bergerilya melawan penguasa kota demi seotong territorial. Mereka tak memiliki kekuasaan capital dan daya penetrasi pasar global. Satu-satunya amunisi mereka adalah politik ‘menguasai jalan’.. ‘siapa yang menguasai jalan, dia yang menguasai dunia.’.. maka terjadilah perang memperebutkan jalan [becak vs mobil mewah, kaki lima vs super mall.. Ibarat kendaraan, kaki lima adalah kendaraan tanpa speedometer, sebab kecepatan penghasilannya yang segera diserap oleh kecepatan pengeluarannya dalam hitungan hari adalah model pertumbuhan-nya. sementara para konglomerat—seperti layaknya seorang pembalap di sirkuit—memacu kecepatan sambil melihat speedometer [percepatan penguasaan modal, penguasaan territorial dan pasar global, ekspansi bidang usaha] tanpa peduli pada batasan kecepatan. Model pertumbuhan-nya adalah model sirkuit. Filosofi pembalap adalah monooli kecepatan—hasrat untuk selalu berada di depan, capital dan sumber daya—tanpa peduli pada dampak lingkungan [asap knalpot]. 63
63Piliang, 2017, op.cit, h.92-93
Dalam-pada kasus lain, kita juga bisa melihat bagaimana pembangunan pariwisata memarginalisasi masyarakat lokal. Kepe- milikan tanah telah berganti, di mana tanah-tanah lokal daerah anak- kota kini banyak dikuasai para konglomerat ibukota atau bahkan kapitalis mancanegara yang entah tengah tidur di mana. Ladang berganti perumahan dan kawasan pertokoan-pertokoan baru, sentra bisnis dan dagang, sampai pusat belanja dan pusat konsumer [Mall].
Apa yang luput dari kritik Marx atas kapitalisme adalah 64
| menjelmanya kecepatan sebagai kekuatan kapitalisme. | Pertumbuhan |
|---|---|
| ekonomi yang didorong oleh kekuasaan politik, kecepatan tinggi | mengakibatkan |
mesin produksi harus segera diimbangi dengan kecepatan konsumsi yang mestilah sama cepat, bahkan lebih cepat lebih bagus, sebab dengan itu putaran mesin kapitalisme bisa berlanjut dan waktu turn over capital bisa tercapai dengan sempurna. Pacuan waktu dan kecepatan produksi sebuah pabrik harus diiringi dengan pacuan waktu dan percepatan konsumsi gaya, tanda, dan gaya hidup masyarakat di kota, supermall, taman, panggung festival, dan ragam ruang konsumsi industri gaya dan hiburan lainnya.
Jauh dari bayangan Marx, tumbuh industri hiburan, industri budaya [budaya massa] yang banyak dikritik mazhab Frankfurt, khususnya Max Horkheimer dan Theodor Adorno. Yang terparah ialah ketika ikut tumbuh pula industri politik, dan industri pelarian.
Situasi dan kondisi kehidupan kontemporer kita ditandai dengan laju kecepatan dan percepatan [dromologi] dari arus informasi dan citraan. Laju citraan lebih mengerikan lagi, sebab dia pun mewakili laju arus komoditas, arus libido, dan segala macam hasrat lainnya. Di dalam media [segala macam media], terjadi percepatan informasi dan citraan, baik itu informasi dan citraan dari
64Ibid, h.93
industri ekonomi [barang komoditas], industri budaya dan hiburan [ragam produk gaya dan juga gagasan, serta produk-produk seni ataupun sastra], serta industri politik [ragam wacana partai politik dan citraan politik, ataupun pemerintahan]. Dan hal ini sangat mempengaruhi kesadaran dari masyarakatnya yang mengkonsumsi segala arus citra tersebut sehingga semakin menggiring kesadaran masyarakat untuk mengacu pada hegemoni yang dimenangkan dan dikuasai oleh kapitalisme dan kekuasaan, ini jelas mengokohkan kesadaran palsu dalam-pada masyarakat itu sendiri.
Dengan speedometer-nya, kapitalisme lanjut membangun tatanan masyarakat, memajukan dan melakukan pembangunan ekonomi dengan mengeksploitasi alam. Segala bentuk percepatan produksi mesti—sekali lagi—diiringi dengan percepatan distribusi dan tentu saja konsumsi. Dengan demikian, kepentingan kapitalisme ialah mempercepat proses sosial konsumsi dan mempercepat tempo kehidupan. Percepatan proses sosial konsumsi dan tempo kehidupan ini hanya dimungkinkan dengan mengembangkan model masyarakat konsumeris, masyarakat tontonan, masyarakat gaya, dan apa yang saya sebut sebagai masyarakat perayaan; dan tidak mungkin dengan mengembangkan model masyarakat alternatif yang bergaya ekologis, sosialis, apalagi anarkis, atau spiritualis/ agamis. Maka jadinya ialah situasi dan kondisi di mana manusia berpandangan bahwa ruang boleh saja telah selesai dan habis, akan tetapi masih bisa menggeser barang dan perabotan di dalamnya.
Akibat dari percepatan proses sosial konsumsi dan percepatan tempo kehidupan yang terus dan terus meningkat ini adalah sifat temporalitas dan kesesaatan yang melanda situasi dan kondisi kehidupan masyarakat kontemporer. “Dengan menempatkan diri
sebagai kutub inersia, manusia kontemporer [hipermodern—pen] 65 dikelilingi oleh berbagai pergerakan dalam kecepatan tinggi.”
Di dalam kamarnya yang sepi, di hadapan ponsel cerdas yang ia genggam, sesubjek manusia—seperti telah menjadi objek—dikitari oleh beragam bentuk objek yang bergerak dan berputar-putar silih berganti mempengaruhi, mengintimidasi, menggoda dan merayu, bahkan menggerakkannya. Ia dikitari oleh beragam bentuk per- gantian dan pergerakan tren, gaya, tema, citra, bahasan, gagasan, dan sebagainya yang masuk ke dalam kesadarannya, dan kesadarannya terpacu untuk mengikuti bahasan, citra, gaya, tren yang ada di sekitarnya dan mengitarinya itu. Ia dibawa untuk berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa lain, satu ajang ke ajang lain, satu topik ke topik lainnya dengan sangat cepat. “Di sebuah mall, para konsumer dikelilingi oleh silih bergantinya tema, citra, gaya, provokasi yang datang dan pergi dalam kecepatan tinggi. Di hadapan televisi, hidup dikondisikan berpindah dari satu kejutan ke kejutan berikutnya dalam tempo yang tinggi—gosip, isu, skandal, terror, kekerasan, 66 kebrutalan, kolusi, korupsi, dan seterusnya.”
Paul Virilio [dikutip Piliang] memandang kondisi tempo kehidupan sedemikian rupa itu sebagai epilepsi [kejutan] dan piknolepsi [sering]. “Citraan yang muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi merepresentasikan umat manusia yang bertamasya menjelajahi ruang temporalitas dan kesementaraan.” Sekian banyak hal silih berganti dengan cepat dan hanya bertahan sementara, bahkan cinta dan kasih sayang—putus-nyambung hubungan kekasih, sampai kawin-cerai pernikahan. Sungguh memilukan. “Fenomena aneh, provokatif, aneka kejutan serta surprise—mulai dari Mega- bintang, Megabonus, Megasinema, Megasport, Megaseksual, Mega-
65Ibid, h.92 66Ibid.
hadiah, sampai Megaskandal dan Megakorupsi—hanya bertahan beberapa saat, sebelum semuanya lenyap ditelan kecepatan dan dilupakan.”
Lebih memilukan ketika kita melihat bahwa akibat dari keseringan semua hal terjadi, masyarakat pun menganggap ragam bentuk dekadensi dan imoralitas—selingkuh, korupsi, manipulasi, suap, culas, freesex, dll—menjadi hal yang lumrah. Begitu menyeramkan; sebab kita pun melihat betapa hal-hal tersebut itu bukan lagi sekadar dianggap biasa, akan tetapi juga dirayakan.
Ini seperti sebuah tanda bahwa masyarakat akan—mungkin pula sudah—bergeser lagi dan terus berkembang menjadi masyarakat perayaan—yang bisa lebih dari sekadar masyarakat tontonan atau masyarakat konsumeris.
Libidonomic dan Pelepasan Energi Libido
Masyarakat yang dulu mendidik, membimbing dan membina kita untuk dapat bermanfaat bagi bangsa dan agama, kini jelas telah mati. Berganti dengan jenis masyarakat mutakhir yang mengajarkan kita untuk perlahan berkhianat dan melupakan semua yang diwejangkan masyarakat terdahulu; masyarakat baru ini mengajak kita berpacu dengan hasrat; mengikis semua lapisan moral spiritual; menggugurkan semua batasan etis dan standar moralitas; untuk mencapai kebebasan paling puncak—yang tak berbatas. Inilah masyarakat kapitalis konsumeris [dan juga masyarakat perayaan] yang luar biasa, namun begitu menyedihkan. Ilmu dan teknologi dari masyarakat ini begitu menakjubkan. Semua dilakukan demi menuruti keinginan hasrat libido hawa nafsu.
“Dua logika yang menandai perkembangan masyarakat kapitalisme global [ekonomi global, komunikasi global, kebudayaan global], yaitu logika pelepasan energi nafsu [libido] dan logika kecepatan, yang kedua-duanya berperan besar bagi kelenyapan sosial.” 67
Di bawah tonggak kepemimpinan kapitalisme lanjut global, dunia diarahkan menuju kemajuan paling jauh yang bahkan tak terpikirkan sebelumnya. Di bawah tonggak kapitalisme lanjut ini, dunia dipacu dengan energi hasrat yang bergelora. Masyarakat yang telah bertransformasi menjadi massa, dirayu untuk menuruti ke- inginan mengkonsumsi yang tersimpan rapi di dasar hasrat. Logika hasrat yang dimainkan kapitalisme lanjut, diiringi dengan logika kecepatan, membuat masyarakat kapitalis konsumeris terhanyut ke dalam pusaran ‘mesin hasrat’ dan larut di dalam arena pacuan di mana massa konsumeris berpacu dengan hasratnya sendiri.
Masyarakat baru, masyarakat kapitalis konsumeris ini tengah menghidupi dunia yang sepenuhnya dilingkupi energi hasrat libido, dunia yang lalu lintasnya ialah kegairahan dan kesenangan, yang pertukaran sosial dan ekonominya ialah pertukaran hasrat hawa nafsu, yang paradigmanya ialah paradigma kecepatan dan percepatan yang serba cepat dan lebih cepat lagi. Inilah dunia baru, dunia yang ditata kapitalisme lanjut, “yang disarati oleh beraneka ragam energi, kegairahan, pergerakan, perubahan dan perkembangbiakan yang tanpa henti.” Di dunia yang begitu rupa, “ke mana pun kita memandang, yang kita lihat adalah beraneka ragam artikulasi getaran nafsu, dan ke mana pun kita berjalan, yang kita temukan adalah
67Piliang, 2004, op.cit, h.142
beraneka ragam arus libido yang bergerak tanpa henti.” Kapan pun di mana pun, energi hasrat libido ini “selalu menemukan tempatnya.” 68
Sungguhlah masyarakat telah jungkir-balik, salto fatale ke dalam tata kapitalisme lanjut yang berkembang sedemikian rupa dengan dua logika-nya; logika pelepasan energi hasrat libido dan logika kecepatan, yang—sekali lagi—keduanya berperan besar bagi kelenyapan sosial. Maka sungguhlah masyarakat, telah mati.
Permainan kombinasi yang diterapkan kapitalisme pada tiap bidang di dalam tiap model pembangunan dan pengembangan usaha dan bisnis yang dijalankannya, sekaligus telah mengakibatkan kontaminasi dalam-pada tiap bidang itu. Maksudnya, tiap bidang yang dikombinasikan dalam sebuah model dan bentuk baru [dengan kombinasi model rizomatik] akan juga mengalami kontaminasi. 69 Pun kontaminasi ini juga telah meresapi ragam diskursus dalam kehidupan masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global.
Berbagai diskursus kini tengah berada dalam krisis sebagai akibat berlebihannya kombinasi, dan terlampau dipacu. Akibat dari logika percepatan dan pelepasan energi hasrat libido, semua bidang dan diskursus kini telah terkontaminasi oleh energi libido. Beragam diskursus di dalam kehidupan masyarakat, sudah tak mampu “mempertahankan struktur alamiah dan normatifnya sebagai akibat dari berbagai kontaminasi yang mengenainya.”
68Ibid, h.141 69Contoh sebelumnya yang ditunjukkan ialah bagaimana jurnalisme terkontaminasi oleh gaya penginformasian yang mesti dimainkan dalam keadaan terkombinasikan dengan bisnis media dan bsinis pariwisata. Bagaimana jurnalisme terjebak di dalam arus tren liburan dan petualangan pariwisata telah memaksanya untuk melakukan penyajian informasi seputar itu secara rutin dan terus-menerus dengan perkembangan yang terus berkembang dan terus mencari titik sinambung dengan hal lain.
Diskursus filsafat misalnya, ia tak lagi sekadar berkaitan dengan “identitas konvensionalnya sebagai arena perbincangan, pengembangan pemikiran, refleksi, kontemplasi, atau interpretasi dalam upaya mencari kebijaksanaan, kebenaran, atau logos,” namun ia telah terkontaminasi—dan patut disayangkan—oleh getaran hawa nafsu dan energi libido yang melanda secara gobal, sehingga ia pun berkembang melampaui jagad filsafat itu sendiri. 70
Dalam filsafat kini berkembang semacam libidosophy yang terus memunculkan “pengembaraan dalam menjelajahi konsep-konsep serta kemungkinan-kemungkinan bagi pelepasan hawa nafsu dan penyempurnaan energi libido, sebagai satu bentuk substitusi dari kebijaksanaan atau kebenaran yang dicari secara konvensional di dalam filsafat.” 71
Begitu menyeramkan membaca apa yang digambarkan Piliang, di mana beliau memaparkan Filsafat telah dipacu juga untuk tertancap dan bersemayam dalam iklan body lotion, video clip, sampai kafe. Bagaimana kemudian kemunculan filosofi kopi yang melancarkan bisnis kopi. Semua memicu tumbuhnya konsep-konsep, dan Piliang menyebut bahwa konsep-konsep itulah yang berkembang menjadi supra-struktur masyarakat kapitalisme global kini. Dan dengan konsep ini masyarakat terus maju membawa filsafat—yang sudah terkontaminasi libido—sampai “terkontaminasi [pula] oleh tempo, kecepatan, panik, dan histeria yang melanda dunia global kita.” Masyarakat kapitalisme bukan sekadar perlu konsep, tapi ia [masyarakat kapitalisme lanjut] memerlukan konsep-konsep itu dalam tempo dan kecepatan pergantian yang tinggi. Sesegera mungkin. Dari CSR berganti Filantropi, dari Represif menjadi Kedaulatan Negara. Semua kini memiliki filsafatnya sendiri. Dalam kondisi
70Piliang, 2004, op.cit, h.142-143 71Ibid.
pergantian filosofi dan pemikiran yang cepat itulah Dromos 72 menggerogoti Sophos dan menjadi Dromosophy.
Ilmu pengetahuan juga terkontaminasi oleh dua energi yang dilepas kapitalisme dan mengenai masyarakat—energi libido dan kecepatan. Sehingga muncul Libidologi, di mana sebagai kawan dekat filsafat, Ilmu pengetahuan [sains] mengklaim sesuatu yang berpotensi melancarkan arus libido sebagai masuk akal, modern, dan saintifik. Menakjubkan.
Dan sungguh bahwa ekonomi, adalah bidang yang paling bisa berkawin dengan energi libido.
Ekonomi tidak lagi sekadar berkaitan dengan kegiatan pendistribusian barang-barang [hasil produksi] dalam satu arena pertukaran ekonomi, akan tetapi berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran, trasaksi, dan konsumsi apapun, termasuk pengetahuan, pendidikan, moralitas, eti- ket, tubuh, wajah, kegairahan, ekstasi. Ekonomi kini telah dikuasai oleh semacam libidonomics [nemein = mendistribusikan + libido = energi nafsu], yaitu pendistribusian rangsangan, rayuan, godaan, kesenangan, 73 kegairahan, atau hawa nafsu dalam satu arena pertukaran ekonomi.
Sebagai akibat dari terkontaminasi—bahkan dikuasai—nya ekonomi oleh energi libido—sehingga menjadi libidonomic, kita tak hanya melihat praktik pertukaran barang hasil produksi, transaksi barang dan jasa, atau transaksi saham semata, tetapi kita juga dihadapkan pada adanya transaksi seksual; bukan hanya produksi siaran televisi, tetapi juga produksi ekstasi televisi; bukan sekadar sosial media, tapi juga seksual media; tidak hanya ada konsumsi barang, akan tetapi juga konsumsi ilusi dan halusinasi. Piliang bahkan menyebut bahwa “ekonomi kini tidak lagi berada di dalam wilayah ekonomi. Ia telah melampaui jagad ekonomi itu sendiri.”
72Ibid. h. 143 73Ibid. h. 144
Ekonomi menjangkiti area seksual, menguasai domain politik, dan hidup di wilayah komunikasi. Dan “sebaliknya, seksual, politik, komunikasi, pendidikan berada di dalam jagad ekonomi.” Maka konsekuensinya, ekonomi kini tidak lagi berdiri sendiri, sehingga memproduksi suatu barang seperti shampoo [relasi ekonomi] tidak lagi sekadar memproduksi shampoo, tetapi juga memproduksi image dan citra dalam iklan [relasi komunikasi], juga memproduksi bujuk rayu, rangsangan, dan erotika [relasi seksual] secara bersamaan. Menonton film porno garapan Brazzer sama artinya dengan mengkonsumsi kebebasan seks [meski kita bisa berdalih]. Menggunakan alat untuk memperbesar dan memperindah payudara atau panggul, sama artinya dengan mengkonsumsi fetisisme tubuh sebagai landasan ideologinya. Termasuk diet demi tubuh langsing [sekali lagi, meski kita masih bisa berdalih.]. 74
Ekonomi juga berkembang [dan terkontaminasi] menjadi Dromonomics yang menekankan pada dromos [kecepatan]. Kini, semua hal terkait dengan ekonomi, baik yang murni ekonomi mau- pun yang terkontaminasi oleh libido, kini dipacu oleh kapitalisme lanjut untuk berputar dengan cepat. Perputaran ekonomi yang dipercepat ini disebabkan oleh interaksi global yang semakin dalam, luas, dan semakin cepat. Semua kondisi itu menggelitik Piliang untuk mengatakan bahwa ekonomi juga telah berkembang menjadi dromonomics.
Pelepasan energi libido dan getaran nafsu beriringan dan terselip dalam ragam diskursus, mengkontaminasi filsafat, ilmu pe- ngetahuan, ekonomi, dan kesosialan. Dan kini libidonomic sudah terpancang, ia juga telah menyebar ke tengah masyarakat. Dan
74Ibid. h. 144-145. Dalam kurung dari penulis.
libidonomic kini terus dipacu dengan prinsip kecepatan dan pecepatan [dromonoic].
Setelah Libidonomic
Ketika kapitalisme berusaha menunjukkan ‘wajah sosial’nya agar masyarakat tetap percaya padanya dan tidak terpengaruh oleh semua teori marxisme [dan gagasan kiri secara umum] yang meng- ajukan penolakan pada kapitalisme, mereka [penganut sistem kapitalisme] ini menyodorkan banyak upaya; seperti misalnya CSR [Corporate Social Responsibility] atau Tanggung Jawab Sosial dari Perusahaaan kapitalis.
Kapitalisme berusaha merubah wajah buasnya dengan mengenakan topeng-topeng sosial yang lebih bisa diterima—oleh masyarakat. Jauh sebelum CSR kita dengar, Rich DeVos dulu menawarkan suatu model “kapitalisme dengan kepedulian sosial” yang disebut Compassionate Capitalism. Konklusi yang dapat ditarik ialah bahwa beberapa pemikir meyakini kapitalisme mampu mem- bawa kesejahteraan dan sembari menunjukkan wajah sosial dengan ragam bentuk kepedulian sosial.
Piliang dengan cermat menunjukkan bahwa alih-alih compassionate yang memiliki wajah sosial dengan kedermawanan dan kepedulian sosial, kapitalisme dewasa ini justru mempraktikkan pola-pola produksi-distribusi-konsumsi ekonomi yang justru dikait- kan dan diintegrasikan dengan kegairahan [hawa nafsu] sehingga yang tampak justru “passionate capitalism [kapitalisme penuh nafsu], yaitu kapitalisme yang mengumbar kegairahan untuk memperoleh keuntungan. Kapitalisme yang layaknya mucikari, merubah nafsu
[desire] menjadi kebutuhan [need].” 75 Ini yang saya sebut sebagai ciri kapitalisme kekinian [dalam Salto Mortale] di mana kapitalisme telah berhasil menggeser produksi dari memproduksi kebutuhan, menjadi memproduksi keinginan.
Kapitalisme lanjut dewasa ini, dengan cerdik [dan jelas licik], mengintegrasikan dan menyambungkan mesin produksi [industri, pabrik] dengan mesin hawa nafsu [mesin psikis] yang selanjutnya
“disinambungkan pula dengan mesin eksploitasi—tangan Anda bila Anda seorang penyapu jalan, kaki Anda bila Anda seorang pemain sepakbola, otot Anda bila Anda seorang petinju; suara Anda bila Anda seorang penyanyi, kecerdasan Anda bila Anda seorang insinyur, kreativitas Anda bila Anda seorang seniman, acting Anda bila Anda seorang pemain film; wajah Anda bila Anda seorang cover girl, penampilan Anda bila Anda seorang sales girl, lenggak-lenggok Anda bila Anda seorang model, dan tubuh Anda bila Anda seorang pelacur.” 76
Kapitalisme mengintegrasikan segala produksi dengan hawa nafsu. Demikianlah rupa libidonomics, di mana semua ekonomi dikaitkan dengan hasrat, dan itu dilakukan demi keuntungan ekonomi. Profit oriented. Sehingga di era dewasa ini, kritik-kritik terhadap terhadap kapitalisme bahkan telah melampaui Marx.
Marx sendiri lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan ideologi di balik relasi produksi komoditi, yakni persoalan terpisahnya para pekerja dari objek yang diproduksinya di dalam relasi produksi kapitalisme, disebabkan ia tidak memiliki kekuasaan capital. Akan tetapi, Marx tentunya akan terheran-heran melihat perkembang-biakan komoditi di dalam masyarakat posindustri dewasa ini, yang kini dikuasai oleh gemerlapnya tanda-tanda dan riuh rendahnya arus libido. Persoalan sosial yang menonjol kini di dalam diskursus kapitalisme bukanlah konflik sosial yang tersembunyi di balik relasi produksi dan konsumsi,
75Ibid h. 148 76Ibid h.149
akan tetapi persoalan hanyutnya kapitalisme ([lobal]—bahkan termasuk para pekerjanya—ke dalam gemerlapnya tanda-tanda [image, kejutan, display, gaya hidup, prestise, hiperrealitas] serta seronoknya arus hawa nafsu dan energi libido [bujuk rayu, keterpesonaan, erotisme, sensualitas, 77 sensitivitas] yang tengah bergerak menuju ke arah titik-titik ekstrimnya.
Akibatnya, bukan hanya kepedulian sosial yang menjadi permasalahan, akan tetapi lenyapnya realitas sosial itu sendiri. Realitas sosial ditelan oleh hiperrealitas yang dilahirkan oleh kapitalisme itu sendiri. Artinya, bukan sekadar ‘kepedulian sosial kepada orang-orang yang tersisih’ yang menjadi pokok persoalan kita, tetapi juga ‘kepedulian moral terhadap pelecehan adat, adab, tabu, dan etiket’ yang terjadi sebagai akibat dan dampak praktik kapitalisme. Bukan sekadar penumpukan kapital yang menjadi soal, 78 tetapi juga pengumbaran dan komodifikasi nafsu.
Ialah signifikan dan nyata, dampak dari kapitalisme yang telah melepas dan menyebar energi libido. Kapitalisme telah memantapkan kesadaran palsu di tengah masyarakat. Masyarakat kemudian meyakini [dengan kesadaran palsu] bahwa yang terjadi adalah biasa dan murni sebagai bentuk perubahan zaman.
Yang luput ialah bahwa di balik zaman yang berubah, terdapat subjek-subjek yang membuat perubahan itu menjadi mungkin dan terjadi.
Subjek-subjek itulah para penindas yang serakah—dan tidak peduli—yang meyakini kapitalisme sebagai sistem yang cocok untuk dipakai di tengah masyarakat.
77Ibid. h. 147-148 78Ibid.
Pelepasan energi libido dan hawa nafsu yang jelas dan terselubung di balik kapitalisme, mengakibatkan setiap individu yang telah masuk ke dimensi fraktal⁷⁹ massa [konsumeris] tidak bisa lagi membedakan mana kebutuhan dan keinginan, dan lebih cenderung untuk memenuhi setiap keinginan. Pada titik inilah dampak terbesar dan terdalam dari kapitalisme pada individu-individu di tengah masyarakat; di mana individu-individu itu tak bisa menang melawan hasrat dan energi libidonya sendiri.
Ketidak-mampuan individu menguasai dan mengontrol energi hasrat dan libidonya sendiri akan mengakibatkan banyak hal; sebut saja misalnya tabiat hedon dan konsumeris. Kehancuran sosial akan terjadi sebagai akibat dari berlebihannya energi libido yang terlepas bebas dan mengkontaminasi masyarakat.
Keberhasilan kapitalisme melepas energi libido dan getaran nafsu dari kekangan nilai kebijaksanaan masyarakat, melancarkan keberlanjutan berputarnya mesin produksi kapitalisme. Kapitalisme tahu bahwa kebutuhan masih mampu dipenuhi oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga mereka memproduksi produk-produk yang menjadi keinginan masyarakat. Sehingga masyarakat pun mengkonsumsi dan menuruti keinginan hasrat dan libidonya.
Dan yang lebih luar biasa adalah bahwa kapitalisme jelas-jelas menyerang satu titik [nafsu/libido/hasrat] yang notabene-nya bersifat tidak mau terpancang pada teritorial [kepuasan] tertentu yang telah dikuasainya. Hawa nafsu bersifat deteritorial. Libido selalu berontak melewati batas teritorinya sendiri. Hawa nafsu selalu menemukan alibi-alibi baru, trik-trik dan tipu daya baru.
79Fractal = viral
Apa yang berkembang dalam kapitalisme lanjut “bukanlah satu diskursus nafsu yang tunggal, akan tetapi beraneka ragam diskursus yang di dalamnya berkembang-biak beraneka ragam hawa nafsu dengan beraneka ragam wajah yang mempunyai organisasi dan arah tujuannya sendiri.” Kini kapitalisme lanjut berada dalam mode “membebaskan arus hawa nafsu dan energi libido dari kungkungan- nya. Ia menciptakan rumus totalitarian yang baru dalam mengontrol, memproduksi, dan mendistribusikan hawa nafsu massa.” Kapitalisme global lanjut, sementara merenggut energi libido para pekerja [di dalam kamp konsentrasi kerja], ia [kapitalisme] kemudian membebaskan dan mensegmentasikan energi itu di dalam pasar dan arena konsumerisme—di mana orang akan mengkonsumsi dan merayakan 80 apa yang dikonsumsi—dengan penuh hasrat.
Akibatnya, alih-alih berhasrat menghancurkan kapitalisme— sistem yang jelas-jelas celaka dan brengsek, masyarakat justru berhasrat untuk mengkonsumsi dan merayakan apa yang ditawarkan kapitalisme dalam ajang konsumerisme dan penciptaan gaya hidup.
Bagi para pengkaji kapitalisme, kapitalisme global lanjut kini tengah menunjukkan perangai passionate capitalism [kapitalisme penuh nafsu], tapi masyarakat awam tertipu sebab kapitalisme sekaligus berusaha menunjukkan wajah sosialnya dengan taktik CSR yang dituntut wakil-wakil politikus, juga lewat model filantropi. Seolah mereka menunjukkan tanggung jawab sosial dengan memberi hal-hal kepada masyarakat sosial. Padahal apa yang diberi justru semakin menjerat masyarakat ke dalam kapitalisme! CSR dalam bentuk beasiswa kepada beberapa anggota masyarakat, hanya akan membuat masyarakat terus memelihara tabiat persaingan yang menjadi roda gigi masyarakat kapitalis dan kapitalisme itu sendiri.
80Ibid. h.149-150
Runtutnya, penerima beasiswa hanya akan terus tunduk sebagai bentuk etis kepada pemberi beasiswa. Ketundukan itu tidak akan ditunjukkan secara eksplisit tentu saja, tetapi dalam wujud perilaku mendukung industri dan terbentuknya masyarakat kapitalis dan konsumeris. Membuka dan membentuk pasar, alih-alih menghancurkan pasar. Mendukung semua bentuk ekonomi moneter dan hiper-ekonomi dan tidak mengkritiknya sama sekali. Ekonom hanya akan mempedulikan bagaimana memajukan daya beli dan daya konsumsi masyarakat. Tetapi mereka takkan peduli pada daya tahan spiritual dan moralitas masyarakat.
Satu hipotesis yang perlu saya kemukakan di sini [sebelum melanjutkan lebih jauh] adalah bahwa apa yang Rich DeVos sebut sebagai Compassionate Capitalism yang berwajah sosial itu, yang mana belakangan ini jugalah dimainkan oleh mereka [kapitalisme] dalam bentuk CSR dan filantropi. Hal-hal itu jugalah dijalankan demi menjalankan Passionate Capitalism [yang penuh nafsu] dan kelancaran libidonomic. Semua bentuk kepedulian sosial dari kapitalisme toh juga akan memberi daya pada masyarakat untuk terus bergelut dalam sistem mesin kapitalisme dan mengkonsumsi apa yang dihasilkan kapitalisme itu sendiri. Jadi, gelontoran kepedulian sosial itu dihambur demi berjalannya mesin mekanis sistem kapitalisme itu sendiri. Sementara ketika suatu kelompok atau segelintir orang menyembulkan gagasan ‘bahwa kepedulian sosial kapitalisme hanya sekadar oli pelumas untuk memperlancar putaran roda mesin kapitalisme’ ke permukaan ruang publik, kita akan mendengar teriak- an publik pada mereka meneriakkan kata dan kalimat umpatan dan olok-olok sebagai ‘gila’, ‘radikal’, ‘sentimentil’, dan lain sebagainya.
Selanjutnya mengenai passionate capitalism ialah bahwa model ini memiliki ciri di mana penjelajahan dan penciptaan secara terus menerus model-model pelepasan arus hawa nafsu [libido]
dalam ragam bentuk, termasuk bentuk simulasi hawa nafsu—virtual music, cyberporn, artificial life, hypersexuality. “Keberlangsungan passionate capitalism akan sangat bergantung pada keberhasilannya dalam menjadikan model-model pelepasan hawa nafsu tersebut diinternalisasi oleh massa yang dieksploitasinya.”
Dan sebagaimana kita lihat dalam kapitalisme global lanjut di era kekinian [millennial] atau apa yang akan saya sebut sebagai hypermodern, memang telah berhasil dan berlangsung. Kita bisa melihat bagaimana model-model pelepasan energi hawa nafsu itu telah diinternalisasi oleh massa yang dieksploitasi kapitalisme global lanjut itu di sini saat ini. Di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana massa telah dieksploitasi oleh kapitalisme dalam bidang pariwisata. Model-model pelepasan hawa nafsu dan energi libido dalam bidang wisata bahkan telah terinternalisasi oleh massa itu sendiri. Ketika wisata telah dieksploitasi oleh kapitalisme, dan massa yang dieksploitasi telah menginternalisasi model-model pelepasan hawa nafsu dan energi libido, maka perputaran mesin hawa nafsu itu secara otomatis akan menjadi roda gigi yang membuat mesin kapital pariwisata terus berputar.
Kita bisa melihat bagaimana massa [mayoritas masyarakat] melepas hawa nafsu untuk berwisata demi secuil rasa senang. Wisata dibumbui dengan ragam model pelepasan energi libido, hasrat dan hawa nafsu. Hasrat populer, hasrat seksual, hasrat bersenang-senang, kini terselip di dalam ranah pariwisata. Tiap kawasan wisata menawarkan beragam bentuk pelepasan hawa nafsu, dari pesta makan, belanja, sampai pesta sex dan drugs. Ini adalah bentuk eksploitasi dan internalisasi model pelepasan hawa nafsu. Dan eksploitasi ini tidak akan berhenti hingga masyarakat menyadari bahwa wisata telah dieksploitasi dan dikomodifikasi. Wisata kini telah melampaui bentuk rekreasi. Ia adalah wujud hedonisme—yang
salah kaprah—dan salah satu trik dari kapitalisme dalam mengekang mencuatnya kesadaran rasional masyarakat. Ini boleh jadi menjadi titik yang akan menghancurkan kesosialan. Pelepasan hawa nafsu di medan wisata hanya merupakan satu segi sebagai contoh. Tentu kita bisa melihat model pelepasan energi libido dan hawa nafsu dalam- pada banyak segmen seperti gaya hidup, fesyen, dll.
Secara lebih filosofis, Piliang meihat bahwa mesin hawa nafsu [desiring machine] merupakan self-produksi dan reproduksi hawa nafsu di dalam masyarakat kapitalis. Mesin hawa nafsu adalah mesin biner yang mengikuti hukum atau perangkat aturan biner yang mengatur produksi; satu mesin selalu digandeng dengan dan oleh mesin lain. Penggandengan dan pasangan ini akan menghasilkan semacam sintesis produktif, yakni proses tanpa henti produksi. Hal ini disebabkan selalu ada mesin produksi arus. Artinya, setiap yang diproduksi oleh mesin produksi [motor, krim wajah dan sebagainya] dan dihubungkan dengan mesin eksploitasi [tubuh, wajah, dan sebagainya] hanya menyalurkan sebagian kecil dari arus hawa nafsu, dan ini akan mengakibatkan mesin arus hawa nafsu [desiring machine] memproduksi arus yang lebih besar. “Hawa nafsu selalu menghubungkan arus produksi yang mengalir terus-menerus dengan objek-objek eksploitasi secara parsial, dan objek-objek ini secara alamiah akan terfragmentasi sesuai dengan fragmentasi pasar yang mengikutinya. Mesin hawa nafsu menyebabkan arus produksi dan arus eksploitasi selalu mengalir tanpa henti: setelah ini-lalu-ini-lalu- ini-lalu––” 81
Kondisi di mana kehadiran hawa nafsu [desire, hasrat, nafsu, ingin] seolah disokong dan beriringan dengan kebutuhan [need], merupakan hal yang secara terus-menerus menjadi fondasi bagi
81Ibid h.151
produktivitas hawa nafsu. Yang jauh dan tak ingin disadari orang-orang adalah bahwa ada rasa kurang [lack] dalam kaitan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan, ketika dipenuhi ia akan cukup. Sementara dalam keinginan, rasa kurang [lack] ini akan tetap ada, sebab hal ini terkait dengan hawa nafsu. Ketidak-puasan abadi, jelas-jelas merupakan hal yang dihasilkan mesin hasrat kapitalisme, dan itu merupakan wujud dari lack yang tampaknya akan terus ada—membesar dan menang jika tak dilawan. “Rasa kurang [lack] itu sendiri sebenarnya diciptakan, direncanakan, dan diorganisasikan di dalam dan melalui sistem produksi sosial.”
Penciptaan rasa kurang yang terus-menerus sebagai ciri ekonomi pasar [bebas] merupakan seni dan strategi dari passionate capitalism: setelah gambar porno-lalu video biru-lalu cyberporn-lalu—; setelah ganja-lalu heroin-lalu koplo-lalu ekstasi-lalu—. Kecenderungan ini melibatkan pengorganisasian saluran keinginan dan kebutuhan melalui kelimpah- ruahan produksi; menjadikan seluruh hawa nafsu bergejolak dan menjadi korban rasa ketakutan yang tiada akhir terhadap tidak terpenuhinya kepuasan (setiap orang), dan menjadikan objek hawa nafsu sangat bergantung pada produksi nyata objek-objek, yang sebetulnya bersifat eksterior terhadap hawa nafsu itu sendiri.
Tidak mungkin tidak kapitalisme global lanjut yang tengah kita lihat kini merupakan dan mempraktikkan passionate capitalism dan libidonomics. Kapitalisme menciptakan dan mengorganisasikan rasa kurang [lack], ketidakpuasan abadi, mengumbar sekaligus me- mancing hasrat. Tidak cukup bentuk komunikasi yang dikreasikan, tetapi terus diinovasikan lagi dan lagi. setelah 3G lalu 4G lalu 5G. Hitung sendiri berapa seri Smartphone yang anda pegang saat ini. Nafsu anda, oleh kapitalisme, terus digoda untuk anda turuti dan penuhi segala keinginannya. Dan mereka akan terus menciptakan objek-objek hasrat dan nafsu anda. Berdalih bahwa seolah itu merupakan kebutuhan kita.
Kebutuhan telah dikomodifikasi dan terkontaminasi dengan hasrat dan hawa nafsu yang telah diumbar dengan sangat tidak bijak, demi keuntungan, dan hal ini akan mampu menghancurkan setiap lapisan moral spiritual dalam diri manusia.
Setelah itu semua, dalam realitas sehari-hari yang kita lihat kini, pelepasan hawa nafsu dan pemenuhan hasrat telah memun- culkan kenikmatan dan pelipat-gandaan kenikmatan. Dan semua akan menghasilkan ekstasi yang membuat hal-hal yang anda ingin- kan, setelah anda dapat, akan memberikan kenikmatan, dan kenikmatan itu akan memuncak pada kondisi ekstasi di mana ekstasi akan menimbulkan rasa ketagihan.
Kondisi ini sangat nyata kita lihat di era kekinian. Dan kondisi ketagihan hanya akan terus memaksa anda untuk terus mengikuti putaran hawa nafsu tersebut. Sebut saja cyberspace. Ruang ini memberi efek pada realitas, di mana dalam ruang ini energi libido dan hasrat menemukan titik lepas dan bebasnya. Siapa yang memainkannya niscaya akan melepaskan hasrat-hasratnya, entah hasrat berhubungan [komunikasi] atau hasrat aktualisasi diri, akan tetapi ia sekaligus memberi efek ekstasi, ketagihan. Sosial media misalnya, ia mengalami transformasi yang begitu cepat. Produksi perangkat [baik lunak maupun keras] untuk mengakses cyberspace dan sosial media ini beriringan dengan mesin eksploitasi. Artinya perangkat itu mengekploitasi diri subjek manusia yang memainkannya. Sekali lagi ini dalam misi ekonomi. Kebutuhan komunikasi diiringi oleh ambisi mencari keuntungan dan perputaran kapital dari setiap pabrik dan perusahaan kapitalis yang bermain di segmen ini. Produk-produk perangkat untuk akses cyberspace, yang diproduksi oleh kapital, diharuskan untuk dikonsumsi, diharuskan untuk habis dipasarkan.
Kondisi ini memaksa eksploitasi. Maka produsen-produsen melakukan eksploitasi atas kesadaran subjek manusia di tengah masyarakat. Eksploitasi atas kesadaran ini dibuat lewat permainan wacana dan gagasan yang menjadikan seolah-olah masyarakat membutuhkan hal itu. Padahal tidak. Itu semua hanya bagian-bagian dari akses pemenuhan keinginan hasrat dan energi hawa nafsu.
Libidonomic dan Passionate Capitalism bertujuan memproduksi tanpa henti rasa kurang dalam skala besar, sementara di mana-mana terdapat kelimpahruahan; memproduksi tanpa henti hawa nafsu, sementara di mana-mana terjadi pengumbaran total hawa nafsu. Ia memproduksi rasa kurang di dalam kelimpah-ruahan, memproduksi dahaga nafsu di dalam banjir pelepasan nafsu. 82
Hakikat passionate capitalism adalah arus moneter dan komoditi yang mengalir tanpa henti dan tanpa interupsi, dan di dalam arus-arus tersebut terkandung investasi hawa nafsu yang tak tampak. Adalah di dalam arus-arus inilah berintegrasinya mesin ekonomi dan mesin hawa nafsu, bukan di dalam wadah ideologi. Dengan demikian, orde hawa nafsu adalah orde produksi. Artinya, setiap produksi dalam waktu yang bersamaan adalah produksi hawa nafsu dan produksi sosial. Memproduksi video sama artinya memproduksi kegairahan. Mesin hawa nafsu berada di dalam mesin sosial dan hanya di sini, sehingga rangkaian arus [produksi-konsumsi] dengan segala kode-kode yang digalinya di dalam mesin kapitalisme cen- derung untuk membebaskan sosok-sosok libido subjek secara universal. Arus hawa nafsu dan libido mengalir tanpa henti dan tanpa interupsi bersama-sama dengan arus produksi kapitalisme—arus kapital, arus finansial, arus moneter; arus produksi, arus distribusi, arus konsumsi; arus pembayaran, arus penghasilan, arus pengeluaran; arus inovasi, arus gaya, arus tren; arus kenyamanan, arus prostitusi, arus ekstasi—semuanya merupakan mesin-mesin kapitalsime dan sekaligus mesin hawa nafsu. 83
82Ibid. 83Ibid. h.151-2
Demi tujuan itu kapitalisme global lanjut berusaha dan telah berhasil melepaskan energi hasrat dan libido dari kekangan tabu, moral dan spirit masyarakat, sehingga mesin eksploitasi—yang mengeksploitasi diri individu dalam masyarakat—bisa berjalan beriringan dengan mesin produksi. Semua proses ini hanya demi ‘turn-over capital’. Dan seluruh prosesnya telah dan tengah berada dalam mode yang sangat cepat [dromonomic].
Lebih dari itu, libidonomic kapitalisme lanjut global akan semakin intens melakukan eksploitasi, komodifikasi dsb., yang juga beriringan dengan pelepasan energi libido. Kapitalisme memproduksi dan mengkomodifikasi lebih banyak lagi konsep, produk, prestise, image, dan lain sebagainya. Dan bersamaan dengan itu semua, segala sesuatu berlipat ganda, termasuk kesenangan dan kenikmatan [jouissance].
Dengan prinsip libidonomic, setiap konsep, image, produk, dan prestise akan semakin intens menawarkan potensi kegairahan dan kenikmatan. Di domain apapun dan di manapun, potensi kegairahan dan kesenangan akan dikomodifikasikan oleh kapitalisme dan logika libidonomic, untuk kemudian diselip ke dalam setiap konsep, image atau produk, sehingga menjadi sesuatu yang mem- bangkitkan kegairahan dan menawarkan kesenangan dan kenikmatan, dan ini jelas bisa merayu keinginan.
Setelah libidonomic di mana kapitalisme semakin intens meningkatkan tipu-daya yang bergejolak dan penuh rahasia, maka kita pun melihat dunia—di mana kita hidup—yang dihiasi dengan perkembangan dan pertumbuhan dengan intensitas yang semakin tinggi dari ke hari. Intensitas perkembangan dan pertumbuhan dari segala macam produk, image, citra dan lainnya. Kapitalisme dengan libidonomic-nya memproduksi lebih banyak lagi konsep, image,
citra, lebih banyak lagi prestise, lebih banyak lagi kesenangan dan kenikmatan. Tidak cukup satu atau dua rumah, tidak cukup satu atau dua mobil, tidak cukup satu atau dua pusat belanja, tidak cukup satu atau dua pil ekstasi, tidak cukup satu atau dua psk, tidak cukup. Semua bertambah dan semakin intens.
Kapitalisme dan Libidonomic menciptakan satu masalah khusus yang penting dibahas yakni bagaimana ia semakin intens berupaya untuk memaksimalkan, mengomodifikasi dan eksploitasi diskursus seksualitas dan khususnya perempuan. Ia terus menggali dan mencari bentuk baru, gaya dan kombinasi baru, teknik dan media baru dalam upaya untuk memaksimalkan sisi komersilnya, serta upaya-upaya untuk menularkan ke dalam diskursus lain— seksualitas ekonomi, seksualitas politik, seksualitas media. Segala upaya kapitalisme dan libidonomic ini menghasilkan efek pelipat- gandaan dan intensifitas energi libido dan juga reorientasi hasrat dan arus hawa nafsu.
Sebagaimana Michel Foucault jelaskan,
tidak saja batas-batas tentang apa yang boleh diperbincangkan, diperli- hatkan, dipertontonkan tentang seks semakin meluas, akan tetapi yang lebih penting, diskursus tentang seks itu sendiri kini diorganisasi oleh lembaga-lembaga yang lebih beraneka ragam dengan macam-macam trik dan efek yang dihasilkan. Apapun tentang seks—kegiatan, tindakan, atau kejadian seks—ditulis, direkam, difoto, di-shooting, dicetak, dibukukan, divideokan, difilmkan, didisketkan; apapun tentang seks dipasarkan, dijual, dikomodifikasi. Sebaliknya, apapun yang di luar seks kini diseksualitaskan. 84
Piliang memperlihatkan contoh bagaimana “sebuah iklan Toyota yang dilatar-depani oleh seorang wanita seksi yang menan-
84Dalam Piliang, ibid h.156-157
tang, sebuah kampanye politik yang disertai oleh para model yang semampai, sebuah pameran pupuk urea yang dijaga oleh seorang wanita seksi, sebuah pertandingan olahraga yang dimeriahkan para wanita penyorak,” merupakan economicus erotica yang sekaligus menunjukkan bentuk bagaimana seksualitas dikomodifikasikan dan dijual dan dijadikan bujuk rayu oleh kapitalisme dan libidonomic. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bagaimana sebaliknya, apapun yang di luar seks dikomodifikasikan dan diseksualitaskan agar menjadi bujuk rayu yang kuat dan menggoda energi libido dan hasrat hawa nafsu.
Selain itu, bentuk-bentuk yang menunjukkan bagaimana seksualitas dikomodifikasikan, dan apapun hal di luar seks diseksualitaskan agar dapat menjadi bujuk rayu dan menjual demi bisa menggoda hasrat dan energi libido, dan semua itu demi berjalan perputaran kapital. Bentuk-bentuk itu bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari dan semakin intens kita lihat pada bagaimana eksploitasi kapitalisme atas perempuan, spg, model iklan, dsb; pada bagaimana game diseksualitaskan, otomotif diseksualitaskan, dsb; pada bagaimana adat dan agama diseksualitaskan, dsb; pada bagaimana pen- didikan dan ilmu diseksualitaskan, dsb; pada bagaimana teknologi diseksualitaskan, dsb.
Lalu kemudian, kita semakin memasuki kondisi sosial yang begitu meriah, di mana semua hal yang boleh dikatakan ‘miris’ tersebut justru semkain dinikmati dan dirayakan oleh sosial dan masyarakat itu sendiri.
Bahkan, kesenangan seksualitas itu sendiri kini telah menjadi satu bentuk kekuasaan. Artinya, kesenangan menyelinap dan menyebar ke segenap kekuasaan yang sebelumnya membatasinya, sehingga kekuasaan itu sendiri membiarkan dirinya dirayu dan dikontrol oleh kesenangan. Kesenangan mempertontonkan tubuh, kesenangan merayu, kesenangan
seorang model di hadapan cameramen, dan sebagainya. Kini, di dalam diskursus kapitalisme, bukan batas-batas seksualitas dan kesenangan yang dicari, melainkan penjelajahan berbagai bentuk seksualitas, menggali kesenangan yang tanpa batas—memperoleh kesenangan yang maksimum dari penggunaan tubuh, memperoleh kekuasaan yang maksimum dari penyebarluasannya, mendapatkan keuntungan yang maksimum dari komersialisasinya. 85
Apa yang terjadi ialah penyebarluasan dan peningkatan kompleksitas dan kerumitan kait-kelindanan jaringan ‘kesenangan dan kenikmatan’ pada berbagai bentuk dan domain kehidupan manusia, dari ‘kait-kelindan kesenangan dan kenikmatan dengan seksualitas’, ‘kait-kelindan kesenangan dan kenikmatan akses informasi’, sampai ‘kait-kelindan kesenangan dan kenikamatan penuh hasrat akan kebudayaan’ bahkan ‘agama’. Dan semua itu bahkan mencapai titik di mana satu sama lain punya keterkait-kelindanan yang semakin kompleks sekaligus lentur.
Saya terkejut dan tidak bisa mengungkapkan ketika melihat bagaimana jilbab/hijab [domain agama] kini menciptakan gairah dan nafsunya sendiri dan berkait dengan seksualitas, untuk kemudian memicu kesenangan dan hasrat sampai pada titik ia menjadi berbalik 180 derajat. Ini dalam pandangan saya. Bagaimana saya melihat bahwa hakikat jilbab/hijab ialah sebenarnya ‘tertutup’, dan/atau ‘menutup’. Akan tetapi kini, industri media, gaya, dan segala macam itu, yang bagi saya telah dikuasai kapitalisme dan terciprat libido- nomic, justru membalikkan jilbab/hijab menjadi tontonan. Ia [hijab] justru terbuka untuk dipertontonkan, terbalik dengan hakikatnya. Lihat bagaimana fenomena festival hijab, fashion show hijab. Ini bagi saya, tak mungkin tidak merupakan keberhasilan dari komodifikasi kapitalisme dan juga pelepasan energi hasrat oleh strategi libido-
85Ibid. h.157.
nomic dari kapitalisme. Dan ini luar biasa konyol. Saya tak masalah jika perempuan-perempuan merayakan kebebasannya untuk melaku- kan apa yang mereka ingin, akan tetapi hal ini menjadi masalah ketika mereka justru membawa diri mereka sendiri terjebak ke dalam kapitalisme. That’s all my problem. Ini sekaligus juga membuktikan bahwa bentuk eksploitasi kapitalisme dan juga pelepasan energi hasrat libido yang mereka lakukan lewat model libidonomic dan rhizomatic combination adalah merupakan keberhasilan dari mereka menginternalisasikan pelepasan energi hasrat tersebut ke dalam massa yang dieksploitasinya. Sederhananya adalah bahwa kapitalisme dan libidonomic berhasil menginternalisasi pelepasan energi libido dan hsarat ke dalam subjek-subjek yang terkait dan mempraktikkan ‘hijab’. Hijab kemudian dijadikan bentuk tontonan dan diper- tontonkan oleh masyarakat itu sendiri. Ini adalah keberhasilan kapitalisme menginternalisasi hasrat ke dalam karakter narsis dan ‘ingin dipuji’ dari masyarakat dan subjek-subjek yang mempraktikkan hijab.
Maka demikianlah keberhasilan kapitalisme lanjut global dan segala taktik libidonomic, dromonomic, dsb., dalam meng- komodifikasikan segala aspek kehidupan kita, dan dengan demikian pula mesin hasrat kapitalisme berhasil menjadi motor penggerak roda perputaran mesin-mesin raksasa kapitalisme.
Lalu kemudian, setelah kapitalisme dan libidonomic telah berhasil melepaskan energi hasrat dan libido, untuk kemudian berhasil pula menginternalisasi energi libido dan hasrat itu ke dalam massa yang dieksploitasinya, maka terciptalah masyarakat kapitalis, bertransformasi lagi menjadi masyarakat konsumeris dengan ajang konsumerisme-nya, dan lagi bertransformasi menjadi masyarakat tontonan—sebagaimana kata Guy Debord, untuk kemudian bertransformasi lagi dan lagi menjadi sebuah bentuk masyarakat yang
dengan bangga merayakan bentuk kapitalistis, konsumeris, tontonan, juga pelepasan energi hasrat dan libido.—Inilah dia
Masyarakat Perayaan.
Ihwal Kedua Hipermodern & Masyarakat Perayaan
Fakta bahwa kita sedang memasuki sebuah sejarah yang retroaktif, di mana semua ide, flosofi, dan kemampuan mental kita secara progresif beradaptasi sendiri dengan modelnya, sudah tampak jelas.
Jean Baudrillard Galaksi Simulakra, LKiS, Yogyakarta, 2004, hlm 175
Berlanjutnya kapitalisme, menggiring masyarakat ke dalam
putaran dan perubahan segala hal [mengingat rakus dan angkuhnya kapitalisme] yang serba cepat. Itu dilakukan sebab kapitalisme memiliki konsekuensi, yakni penggulingannya oleh kaum proletar yang di dalam sistem kapitalisme mengalami alienasi, penghisapan, dan pengambilan nilai-lebih yang dipaksakan terasa adil. Analisa Marx, sungguh ajaib! dan kita harus menyayangkannya; sebab analisa Marx tentang ‘titik konflik yang dapat membalikkan proletar untuk merebut sarana produksi’ itu jugalah diketahui kapitalis, dan mereka jadi dapat peringatan, sehingga para kapitalis pun terus-menerus mencari cara untuk meredam ‘titik balik revolusioner’ kaum proletar yang sebenarnya merupakan mayoritas dari masyarakat. Apa yang kemudian dilakukan kapitalisme ialah usaha-usaha mempertahankan persetujuan masyarakat atas sistem kapitalsme. Dan kapitalisme melakukannya dengan jalan politik, politik-ekonomi, sosial-budaya,
hingga politik kulutral. Bagian ini diusahakan untuk membahas hipermodern & masyarakat perayaan yang dianggap sebagai bentuk keberhasilan sekaligus transformasi kapitalisme—khususnya di segmen sosial-budaya dan politik-kultural.
Di bagian awal, saya menyebut bahwa di era hypermodern iniliah kita menyaksikan ‘sebuah kekacauan terkini di muka bumi’, kekacauan berupa kombinasi dan kait-kelindan antara politik-ekonomi-sosial-budaya; yang semuanya justru tercerabut dari subjek manusianya; yang berbalik mengatur dan mengotnrol subjek manusianya; yang mengakibatkan subjek manusianya justru berbalik untuk bergantung pada objek ciptaannya. Lalu sebab kekacauan itu, alienasi dan strangerasi merekah di peradaban—kalau bukan kebiadaban. Kebijaksanaan mati, berganti kebajaksinian [mengingat kapitalisme global terus membajak ke sini dan ke sinian lagi]; dekadensi semakin marak; pengikisan lapisan ozon beriring pengikisan lapisan moral; dan perlahan tapi pasti, pengikisan lapisan spiritual; politik menggelitik bahkan mengusik, kultur luntur, dan sungguh sosial begitu sial; ekonomi maju semaju-majunya; kota—ibu dan anaknya—terus dipacu oleh ‘bapak’ untuk berkembang begitu pesat dengan kecepatan yang super-cepat, mengejar hasrat, terus sampai jauh dan terus hingga tak ada lagi titik kembali atau titik henti, hingga tak tahu lagi beda manfaat dan mudarat.
Di bagian ini kita akan mencoba membahas hipermodern terlebih dahulu. Hipermodern [hypermodern] bagi saya ialah istilah yang mengacu kepada konfigurasi historis, sosiologis dan kultural. Selain menjadi epos historis, istilah dan konsep hipermodern penting untuk memahami perubahan pada banyak aspek [sosial, politik, ekonomi, maupun kultural] yang terjadi belakangan. Sebagai epos historis, hipermodern adalah bentuk pasca dari pasca-modern yang sebelumnya muncul sebagai kritik atas modern. Pada titik epos
historis inilah kita melihat bagaimana modernisme [kapitalisme] melakukan kritik dan komodifikasi balik atas postmodern yang lahir dari kritik atasnya [modernisme].
tradisional – modern – pascamodern – hipermodern – ragnarok
Kata “hiper [hyper]” dalam hipermodern digunakan dengan makna yang persis dengan makna kata ‘hiper’ dalam kata hyperreality/hiperrealitas, di mana kata ‘hiper’ coba menjelaskan dan menekankan sifat lebih dari atau melampaui. Jadi, jika hiperrealitas dimaknai sebagai realitas yang lebih nyata dari realitas itu sendiri; maka hipermodern dimaknai sebagai kondisi modern yang lebih modern dari modern itu sendiri. Hiper di sini juga dapat dimaknai sebagai pelampauan [melampaui] atas bentuk modernitas awal.
Modern – modernitas – modernisme. Tiga hal ini secara urut berarti; modern: epos atau periode historis tertentu, dan ini merujuk pada periode pasca-tradisional. Modernitas adalah bentuk-bentuk dan ciri dari hidup pada periode modern. Beberapa di antara modernitas adalah negara-bangsa, industri, kapitalisme, pengawasan, kekuatan militer, rasional, penekanan pada sains, dll. Sementara modernisme adalah paham pemikiran yang mendukung dan menye- pakati bentuk-bentuk modern dan modernitas.
Dengan demikian, pembahasan di sini akan banyak menyorot modernitas, dan juga hipermodernitas [yang telah melampaui bentuk modernitas itu sendiri] di mana hipermodernitas itu banyak muncul dan berlangsung di periode waktu belakangan ini, periode waktu hipermodern.
Piliang mengulas terkait ihwal perubahan yang melampaui (hyper) ini. Ia menyebut bahwa banyak di antara kita yang ‘keliru’ memahami Jean Baudrillard—mengaitkan pemikiran Baudrillard
dengan postmodernism. Dan kiranya Piliang benar, bahwa wacana pengetahuan, atau apapun, lebih banyak bicara tentang modern dan postmodern, sehingga memahami Baudrillard pun kita sering terjebak dalam dua kategori itu, dan cenderung mengaitkannya sebagai ‘filsuf’ atau ‘pemikir’ posmodern, alih-alih hipermodernisme.
Piliang menunjukkan bagaimana Baudrillard sendiri menya- takan bahwa ia justru bertolak belakang dengan posmodernisme.
Posisi saya sangat bertolak belakang dengannya (postmodernism): fatal sebagai tujuan maksimum, sebagai predestinasi dari objek di dalam jagad rayanya sendiri, sebagai meningkatnya segala potensi, sebagai logika proses ekstremitas, sebagai percepatan proses kelenyapan semua yang oleh postmodern secara estetik dianggap sia-sia. 86
Apa yang terjadi pada periode waktu belakangan ini sungguhlah telah melampaui bentuk modernitas dan pascamodernitas yang muncul dalam periode sebelumnya. Sebab itulah periode ini bagi saya telah masuk ke dalam priode hipermodern hypermodern di mana banyak muncul modernitas/pascamodernitas yang lebih modern dari modernitas/pascamodernitas itu sendiri; di mana modernitas/pascamodernitas sudah melampaui bentuk modern/pasca- modern-nya sendiri. Itulah hipermodernitas.
Modernitas awal dulu merupakan “tatanan pascatradisional yang ditandai dengan perubahan, inovasi, dan dinamisme.” Ia muncul dalam bentuk-bentuk seperti industrialisasi, kapitalisme, pengawasan sampai kemunculan Negara-bangsa. 87 Lantas kini, belakangan ini, setelah proses globalisasi, modernitas itu berkembang melampaui
86Baudrillard, dalam Piliang, 2004, opcit, h. 232 87Barker, 2000, h.138
dirinya, dan bagi saya, ini adalah proses hypermodernisasi menuju bentuk hypermodernitas dalam periode hypermodern.
Dalam periode hipermodern inilah kita melihat tatanan pascatradisional yang ditandai dengan ‘perubahan’, ‘inovasi’, dan ‘dinamisme’ yang terus dan semakin berkembang hingga melampaui dirinya sendiri. Bentuk-bentuk tatanan pascatradisional seperti Negara-bangsa, kapitalisme, industrialisme itu adalah bentuk modernitas. Dan modernitas-modernitas itu, dengan segala dinamisme dan inovasinya di periode hipermodern ini terus berkembang hingga melampaui bentuk modern-nya [dulu] sendiri. Terlebih jika kita melihat kapitalisme dan Negara-bangsa sebagai modernitas. Kedua hal tersebut, dalam periode hipermodern telah [dan tengah] berkembang dan berevolusi sedemikian rupa lewat beragam bentuk inovasi—baik gagasan maupun praksis—menuju bentuk hyper yang melampaui bentuk modernnya. Begitu pula dengan industri, di mana bentuk modernitas ini kini berkembang melampaui modernitas awalnya. Apa yang ingin ditekankan sebenarnya ialah bagaimana modernitas dan/atau pascamodernitas itu telah melampaui bentuk modern/posmodern-nya sendiri; perkembangannya yang gak karu- karuan itulah yang disebut sebagai bentuk hyper.
Wacana populer dan ilmu pengetahuan—sejauh ini—sangat kurang memberikan perhatian pada hipermodernitas, dan kategori ini tidak bisa dikatakan populer dan membumi—ke masyarakat— sebagai sebuah tema diskusi maupun perdebatan. 88 Tidak banyak juga pemikir-penulis yang memusatkan perhatian akannya. Dan beberapa di antara yang sedikit itu, tersebutlah nama Baudrillard, Paul Virilio, Charles Jencks, Lyotard, dan juga Yasraf Piliang. Nama
88Atau mungkin pengetahuan dan pengalaman saya sendiri yang kurang, sehingga saya tidak menemukan banyak diskusi terkait tema dan topik hypermodern.
terakhir, membawa tema ini dalam kajian cultural studies-nya, ia membahas kajian-kajian yang dibuat pemikir-penulis lainnya dalam kajiannya.
Mengingat lancarnya kapitalisme lanjut melakukan ekspansi dan menarik perhatian masyarakat lewat industrialisasi di ragam sektor dan segmen, kiranya wajar jika tema ini tak populer dan mendapat perhatian masyarakat—sekalipun masyarakat sendirilah sebenarnya yang melakukan praktik-praktik hipermodern itu. Masyarakat mempraktikkan hipermodernisme dan itu membuat mereka—para penulis—mengkajinya, dan menunjukkan bahwa ada yang salah dari apa yang dilakukan masyarakat itu. Dan masyarakat tidak melakukan refleksi maupun pembacaan atas hipermodernitas yang dilakukannya. Dalam misi melanjutkan pembahasan dan diskusi yang terhenti [mungkin juga tak pernah berlangsung] itulah pembahasan hipermodern dilakukan di sini.
Baudrillard tidak pernah menyebut hypermodern secara eksplisit. Kajiannya secara tajam ditujukan pada hyperreality/ hiperrealitas—dengan subtema/topik hyperspace, hypervisibility, hyperlogical, sampai hiper-peradaban. Namun pengakuan Baudrillard terkait bertolak belakangnya dia dengan posmodern, menunjukkan tendensi akan keterkaitannya dengan tema-tema hypermodern, dan memanglah bahwa Baudrillard dalam kajiannya atas hiper-realitas sangat bisa dibaca sebagai bentuk kajian hipermodern di mana ia menunjukkan perubahan dalam bentuk melampaui. Seperti apa yang ditunjukkan Piliang;
Baudrillard melihat bahwa apa yang sebetulnya terjadi [dalam kaitan dengan pergeseran menuju hiper—pen] adalah berkembangnya wacana sosial-kebudayaan menuju apa yang dapat disebut sebagai hipermodernitas, yaitu kondisi ketika segala sesuatu bertumbuh lebih cepat, ketika tempo kehidupan menjadi semakin tinggi, ketika wacana [ekonomi, seni,
seksual] bertumbuh ke arah titik ekstrim. Kondisi hyper ini dapat dilihat dari beberapa kecenderungan yang berkembang di dalam masyarakat global abad 21. Salah satu bentuk kecenderungan hipermodernitas dapat dilihat dari terjeratnya kemajuan [inovasi sains, teknologi, seni] ke dalam rasionalitas pasar. Berdasarkan filsafat pencerahan Hegel, konsep kemajuan digunakan untuk menjelaskan proses dialektik aktivitas man- usia dalam mencapai teleologisnya, misalnya masyarakat sejahtera. Akan tetapi kini, di dalam ekonomi pasar bebas, energi kemajuan tersebut lebih banyak digunakan untuk menciptakan kebutuhan semu bagi konsumer, semata agar ekonomi [kapitalisme] dapat terus berputar, yang pada gilirannya hanya menghasilkan kesejahteraan semu. 89
Meskipun beberapa pemikir disebut membahas hipermodern, gagasan dan pemikiran Baudrillard adalah yang paling kuat untuk dikaitkan sebagai pembahasan terkait hipermodern. Tak ada yang secara eksplisit dan jelas menyebut hipermodern, dan pembahasan dilakukan dalam kerangka modern dan posmodern. Semen- tara hipermodern tampak seperti terawangan mereka akan kondisi masa depan terkait perkembangan modernitas yang berlangsung. Piliang lebih terfokus membahas bentuk-bentuk modernitas dalam kondisi posmodernitas yang beranjak menuju hyper.
Sejauh ini, saya cukup yakin bahwa modernitas [katakanlah kebudayaan kita] telah mencapai bentuk pelampauan dan menjelma hipermodernitas. Dalam ihwal pertama yang mengulas kapitalisme lanjut, kita telah mencoba melihat bagaimana kapitalisme—sebagai suatu bentuk modernitas—telah berkembang sedemikan rupa dengan banyak inovasi dan dinamika yang luar biasa mengejutkan. Dan perkembangan itu telah melampaui bentuk modernnya dulu. Sehing- ga kapitalisme lanjut ini—dengan ragam bentuk praktik terkini dan
89Piliang, 2004, opcit, h.232. Untuk lebih lanjut terkait hipermodernisme, lihat Piliang, 2004, opcit, h.192, 232, dan juga 423-424
inovasi termutakhirnya—mestilah dipandang sebagai bentuk hipermodernitas.
Membahas kapitalisme, atau modernitas secara umum, mesti dikaitkan dengan pembahasan terkait banyak hal yang jelas memiliki kait-kelindan dengan kapitalisme itu sendiri. Apa yang coba saya tunjukkan dalam ihwal pertama di mana saya membahasnya secara garis besar sebagai bentuk Kapitalisme Lanjut, ialah demikian pula; mengulas kapitalisme dengan kait-kelindanannya dengan hal-ihwal lain seperti politik, komunikasi, kesosialan, ekonomi, dan lain sebagainya. Apa yang sudah dikupas dalam ihwal pertama itu, jugalah merupakan bentuk hipermodernitas yang belakangan ini kita alami. Libidonomic, dromokrasi, dromonomic, dan kapitalisme lanjut, saat ini benar-benar tengah kita hadapi dan alami, juga kita hidupi dan hidupkan.
Demi mengajukan kritik pada kapitalisme-lah pembahasan keseluruhan teks [buku] ini dibuat. Maka modernitas utama yang dibahas ialah kapitalisme. Sementara modernitas-modernitas—atau pascamodernitas—lainnya akan dengan lebih fleksibel dan cair masuk dan terselip di dalam pembahasan terkait modernitas bernama kapitalisme itu.
Kita akan coba melihat bagaimana modernitas bernama kapitalisme itu berkembang—dengan segala ‘perubahan’ dan ‘inovasi’nya—melampaui bentuk modern-nya, sehingga di periode historis belakangan ini, periode hipermodern, ia telah menjadi hipermodernitas.
Pada ihwal pertama — kapitalisme lanjut sebelumnya, ditunjukkan bagaimana kapitalisme berkembang dengan banyak inovasi, misalnya bagaimana kapitalisme mengembangkan model pertumbuhan rhizomatik. Dalam Salto Mortale jugalah saya
tunjukkan pertumbuh-kembangan kapitalisme, di mana kapitalisme melakukan kapitalisasi dan industrialisasi pada beragam aspek dan sektor di kehidupan kita, dan pikiran rasional serta Negara⁹⁰ mendukung apa yang dilakukan kapitalisme itu. Wolfi bahkan bilang kalau Negara adalah kapitalis itu sendiri—punya kepentingan ekonominya sendiri.
Kapitalisme semakin memasuki bentuk hyper pada masa- 91 masa belakangan ini—katakanlah sejak abad 21 dimulai. Apa yang diakukan kapitalisme seperti pada bentuk perkembangan perusahaan di era global, sungguh telah berbeda dengan bentuk awalnya di era modern awal dulu. Pola perkembangan rhizomatik menunjukkan bahwa hal ini merupakan bentuk perkembangan kapitalisme yang berbeda dengan bentuk awalnya dulu, di mana dulu sebuah perusahaan bergantung pada ‘akar’ yang satu, namun kini, seperti pertumbuhan umbi-umbian yang tak bergantung pada akar tunggal, perusahaan kapitalis bisa tumbuh berkembang dengan akar-akar yang merambat di banyak tempat. Selebihnya, kapitalisme dengan model rhizomatik juga bisa dipandang sebagai bentuk ekspansi, di mana ia tidak hanya menyedot di satu titik akar, tetapi terus merambat— melakukan ekspansi—untuk kemudian menancapkan akar-akar baru di tempat baru, dan menyedot serta mengeksploitasi sumber daya di tempat baru tersebut. Ini merupakan bentuk hipermodernisasi— bahkan telah menjadi bentuk hipermodernitas.
90Pikiran rsional dan Negara adalah dua kategori/bentuk dari modernitas. 91Meskipun kapitalisme sudah mulai berinovasi sejak era sebelumnya. Dan kita dapat mengatakan bahwa abad 21 adalah puncak keberhasilan inovasi dan perkembangan kapitalisme.
Menuju Hasrat Hipermodern
Libidonomic—yang dijadikan prinsip dan strategi dari kapitalisme lanjut global mutakhir—kini telah menjangkiti hampir setiap sektor dan segmen kehidupan. Pelepasan energi libido yang dipacu oleh kapitalisme, telah mengakibatkan terkontaminasinya berbagai segmen maupun diskursus di tengah kehidupan dan masyarakat oleh energi ini. Pelepasan energi libido/hasrat ini membuat kita semua terjangkiti dan tertarik ke dalam pusaran mesin hasrat dunia, mesin hasrat kapitalisme, dan kita terus menerus berputar dan berpacu dengan hasrat-hasrat kita sendiri.
Dari hasrat, oleh hasrat, untuk hasrat; demikian laju dan perputaran tatanan dunia baru di bawah tonggak komando sistem kapitalisme lanjut; di mana masyarakat konsumeris diajak dan ditarik untuk berpacu dengan hasrat.
Kapitalisme lanjut tidak lagi melulu berkaitan dengan “ekspansi kapital, teritorial, dan pasar, seperti pada monopoly capitalism,” ia telah bertransformasi, ia sekaligus juga melakukan “ekspansi arus libido dan perkembang-biakan getaran nafsu.” 92
Kapitalisme yang perkembangannya telah melampaui bentuk awalnya kini telah menjadi sebentuk hipermodernitas. Kapitalisme dalam bentuk hipermodernitas [kapitalisme lanjut global mutakhir] ini membawa kita “menjelajahi berjuta pengembaraan, berjuta kegairahan, berjuta keterpesonaan.” Oleh mesin kapitalisme, kepada kita dipertontonkan “berjuta panorama tanda, berjuta citra dan berjuta makna. Ia telah mempertunjukkan pula berjuta kehanyutan, berjuta ekstasi.” Tapi ternyata semua itu, segalanya sekalian, tidak pernah memuaskan hasrat manusia. “Yang sebaliknya dihasilkan
92Piliang, 2004, opcit, hlm.142
adalah rasa ‘ketakpuasan abadi’, karena sebuah pemenuhan kepuasan hasrat akan menuntut pemuasan berikutnya, secara tanpa henti.” 93 Produk, barang, jasa, dan sebagainya dibuat dan dipasarkan, sungguh bukanlah sekadar sebagai pemenuhan kebutuhan, tetapi sekaligus [dan terutama] sebagai pemenuhan kepuasan hasrat. Hasrat berkuasa, hasrat populer, hasrat akan harta kekayaan; singkatnya hasrat akan duniawi dan materi; semua disediakan di era hipermodern kapitalisme lanjut; barang siapa yang menginginkan pemuasan hasrat yang menggebu di dalam diri, ditawarkan pula cara-cara pemuasannya; siapa yang ingin, hanya perlu mengorbankan diri untuk berkecim- pung ke dalam ruang berhiaskan kapitalisme lanjut; melakukan salto fatale. Dan pemuasan hasrat ini akan terus berlanjut tanpa henti— setelah ini—lalu itu—lalu ini—lalu itu—lalu…
Logika kehidupan ‘dari hasrat oleh hasrat untuk hasrat’ itu berlangsung dengan kecepatan yang super-cepat [hyperspeed]. Dari hasrat pencarian laba kapitalisme, diproduksilah sebuah produk [oleh perusahaan] untuk memenuhi hasrat seseorang akan riuh-rendah-nya hiruk-pikuk cyberspace yang ‘spektakuler’. Di era milenial di mana cyberspace sudah terpancang menjadi ‘semacam’ kehidupan sosial bagi masyarakat; muncullah hasrat untuk meng-ada [being] di dalam cyberspace. Seseorang yang ingin [berhasrat] ‘menjalani hidup’ di cyberspace memerlukan perangkat komputer atau smartphone, dan jasa akses internet; diproduksilah perangkat-perangkat tersebut, disediakanlah layanan jasa untuk mengakses cyberspace, tentu oleh kapitalisme [yang memiliki dalil pencarian laba/profit]. Semua logika hasrat itu [dari hasrat sistem kapitalisme, oleh perusahaan kapitalis, untuk masyarakat kapitalis/konsumeris] berlangsung di
93Piliang, 2017, opcit, hlm.27
dalam ‘dalil kapitalisme’. 94 Dan sirkulasi dari tahap-tahap tersebut di atas, berputar dengan kecepatan hyperspeed.
Hasrat, ibarat gas di dalam tabung, dan kapitalisme telah membidiknya, kemudian menembakkan peluru yang berhasil mem- buat kebocoran hasrat. Energi hasrat, energi libido, kini menyatu bersama udara yang dihirup masyarakat saat bernafas. Keinginan ber- senang-senang, keinginan bermain game, keinginan seks, keinginan memiliki kecantikan, keinginan tampil cantik, keinginan memiliki yang memiliki kecantikan, keinginan berkuasa, keinginan untuk populer, keinginan untuk bekerja-berlibur, keinginan bertamasya keliling dunia, semua tentang hasrat. Dan semua keinginan, semua hasrat, kini ingin dilakukan dengan segera, secepatnya; sesegera mungkin. Setiap keinginan/hasrat memiliki objeknya, dan objek hasrat ini nyatanya diproduksi dan/atau dikomodifikasikan oleh kapitalisme.
Hasrat hipermodern bukanlah suatu keniscayaan. Hasrat hipermodern [energi libido] itu dilepaskan oleh kapitalisme lanjut. Kapitalisme melepaskan energi hasrat libido demi memancing energi hasrat yang terpancang dan tersimpan dalam lubuk hasrat setiap individu dalam masyarakat. Pelepasan energi hasrat dilakukan, dan kapitalisme juga melakukan segala bentuk bujuk rayu, persuasi, bahasa komunikasi iklan, demi memancing hasrat untuk lepas dari kekangan masyarakat. Belum lagi bagaimana permainan wacana berdalih progress dan kemajuan yang dilempar ke ruang publik. Itu semua mampu memancing hasrat—hasrat kuasa, pop, seks, dll— yang terkekang oleh pelbagai standar etik, moral atau spiritual yang ada di masyarakat. Lantas kini, setelah terlepasnya hasrat dari
94Terkait ‘dalil kapitalisme’, lihat Karimasari, dalam Plackeinstein, 2019, Salto Mortale, opcit, h.265-278.
kekangan/aturan pelbagai standar masyarakat, energy libido atau hasrat kini menjelma hipermodernitas.
Di mana-mana kita melihat energi hasrat yang telah melampaui dan menembus batasan dari masyarakat. Sehingga masyarakat itu sendiri pun kini telah mati. Tidak ada lagi masyarakat, yang ada hanya sekumpulan massa konsumeris yang selalu dipandang sebagai objek, konsumen potensial, calon konsumen, dan konsumen itu sendiri.
Kapitalisme sejatinya ialah sistem perekonomian, sederhananya demikian. Dan ia berlangsung di dalam lingkup sosial. Konsekuensinya, sistem ekonomi kapitalisme menjadikan relasi sosial menjadi terpengaruh—hingga bergeser menjadi relasi produksi. Demikian, seperti pada masyarakat kapitalis modern awal. Kapitalisme adalah modernitas. Dan dewasa ini, di era global, ia telah menjelma kapitalisme lanjut dengan model pengembangan rhizomatic, libidonomic dan dromonomic [kecepatan] sebagai strategi utamanya, dan semua kini melampaui bentuk modern-nya hingga ia menjelma hipermodernitas. 95
Pelepasan energi libido, hasrat, nafsu yang dilakukan kapitalisme lanjut (lihat ihwal pertama) kini telah mengantar masyarakat ke dalam periode hipermodern di mana hampir segala hal yang kita lakukan, kini telah melampaui bentuk modern-awalnya, menembus batas-batasnya, jauh melampaui apa yang seharusnya. Semua yang terjadi, yang dilakukan masyarakat kini telah menjelma hipermodernitas. Pelepasan energi libido, hasrat dan nafsu itu juga telah menggerogoti dan perlahan mengikis untuk kemudian akan meng-
95Selanjutnya dalam teks ini, Libidonomic, dromonomic, rhizomatic akan dimasukkan ke dalam Kapitalisme. Artinya, setiap kata “kapitalisme” digunakan, ia sekaligus mewakili kategori libidonomic, rhizomatic, dromonomic, dll.
hancurkan apa saja yang dijangkitinya—tentu jika praktik dari segmen yang dijangkiti itu terus [dan tidak berhenti] melakukan aktivitas hyper dalam rangka melampaui dan dalam bentuk hypermodern.
Piliang menyebut bahwa kapitalisme semakin intensif melakukan pelepasan energi libido dan semakin intensif melakukan ekspansi, produksi, distribusi dan segalanya.
Ada semacam intensitas yang semakin meningkat dari hari ke hari dalam kapitalisme global dewasa ini. kapitalisme memproduksi lebih banyak lagi konsep, lebih banyak lagi produk, lebih banyak lagi kesenangan, lebih banyak lagi ekstasi, lebih banyak lagi perstise, lebih banyak lagi tanda, lebih banyak lagi gairah, segala sesuatu berlipat ganda, segala sesuatu berkembang biak tanpa ada hentinya. Bersamaan dengan perkembangbiakan dan pelipatgandaan semuanya itu, terjadi pula perkembangbiakan dan pelipatgandaan jouissance—kenikmatan. Semua intensitas, semua potensi kegairahan dan kesenangan di mana pun ada kesempatan digali dan dimodifikasi, tentulah proses ini tidak pernah berhenti. Tidak cukup satu kesenangan, tidak cukup satu mobil, tidak cukup satu rumah, tidak cukup satu pabrik, tidak cukup satu jam tangan, tidak cukup satu wanita, tidak cukup satu pil ecsatacy. 96
Itu semua dikarenakan kapitalisme memainkan libidonomic dengan cara melepaskan energi hasrat libido dari tapal batasnya dan melampaui segala batasannya. Energi hasrat libido ini erat kaitannya dengan seksualitas. Dan bersamaan dengan itu, kapitalisme dan masyarakat konsumer dalam banyak aspek belakangan ini juga tampak “upaya-upaya yang terus menerus untuk memaksimalkan diskursus seksualitas—mencari bentuk baru, gaya baru, kombinasi baru, teknologi baru, teknik baru, media baru;” banyak kita temukan praktik yang menunjukkan adanya upaya untuk menjadikan seksualitas itu menjadi transparan “tanpa rahasia, tanpa pembatas,
96Piliang, 2004, opcit, h.156.
tanpa bungkus, tanpa rasa malu;” dan ada upaya untuk memaksimalkan sifat komersial dari seksualitas dengan melakukan komodifikasi kecantikan, “komodifikasi tubuh, komodifikasi penampilan, komodifikasi kegairahan;” lebih dari itu pun, tampak adanya upaya untuk menularkan seksualitas “ke dalam diskursus- diskursus lain—seksualitas ekonomi, seksusalitas politik, seksualitas media.” Dan karena seksualitas erat kaitannya dengan energi hasrat libido—yang dilepas oleh kapitalisme dan libidnomic—maka tak heran jika upaya-upaya tersebut “menghasilkan efek pelipatgandaan dan intensifikasi energi libido, serta reorientasi dan modifikasi arus hawa nafsu.” 97
Kini, di era hipermodern, bukan hanya seksualitas—yang jadi saluran utama libido, akan tetapi tiap segmen dan kategori yang telah dijangkiti energi libido yang dilepas oleh kapitalisme, pada gilirannya akan menjadi suatu bentuk hipermodernitas, dan dalam bentuk perkembangannya yang telah dijangkiti energi libido itu, ia menjadi semacam hasrat hipermodern.
Hasrat Hipermodern
Apa yang ditunjukkan Baudrillard sebagai ‘kenyataan’ bahwa kita tengah memasuki periode historis yang retroaktif, “di mana semua ide, flosofi, dan kemampuan mental kita secara progresif beradaptasi sendiri dengan modelnya,” kini tampak jelas. Bahkan sangat jelas. Di periode hipermodern ini kita melihat bagaiamana ide-ide ekonomi dalam kaitannya dengan segmentasi lain— katakanlah budaya, kini beradaptasi sendiri secara progresif [bahkan hiperprogresif] dengan model perkembangannya. Kita bisa melihat
97Ibid.
itu dalam kaitan dengan energi libido/hasrat. Menjadi jelas apa yang dikatakan Baudrillard jika kita memahami hal-hal tersebut dengan melihatnya sebagai efek dari pelepasan energi hasrat libido yang dilepas dan dimainkan oleh libidonomic dan kapitalisme. Bahwa terlepasnya energi hasrat yang dimainkan oleh kapitalisme lanjut dan libidonomic itu kini memuncak dan berefek pada bagaimana segala potensi yang kita miliki, berhasrat untuk berkembang dan bahkan beradaptasi mengikuti model perkembangannya sendiri. Bagaimana logika kita beradaptasi sendiri dengan logika perkembangan yang terpengaruh oleh segala bentuk perkembangan kapitalisme lanjut dan libidonomic di beragam segmen dan bidang, kini begitu nyata.
Memahami kapitalisme lanjut, membawa kita pada satu titik di mana kita melihat bahwa maksimalisasi yang dilakukan kapitalisme atas diskursus seksualitas, juga pelepasan energi hasrat libido, pada gilirannya akan berefek pada hidup kita. Kemudian kita mene- mukan betapa tiap diskursus atau segmen dari hidup—kesosialan, budaya, falsafah, aktivitas—kita, kini beradaptasi dengan model perkembangannya yang telah disusupi oleh libidonomic yang dimainkan kapitalisme.
Politik yang mengurusi perkara publik, kini telah disusupi libidonomic, sehingga ia pada gilirannya beradaptasi dengan model perkembangan politik-ekonomi kapitalisme dan libidonomic itu sendiri. Kita bisa melihat pada bagaimana regulasi perkara industri ‘hiburan’ belakangan ini, di mana regulasi tersebut beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan hasrat-hasrat yang berseliweran di dalam jagad industri itu sendiri. Pada gilirannya, politik menelurkan regulasi yang mengatur izin [atau mungkin pelarangan] terkait industri hiburan seperti hiburan malam—diskotik, klub malam, karaoke, dll. Dalam kasus ini, politik [so-called kebijakan publik]
justru beradaptasi pada keinginan dan model perkembangan dari industri itu sendiri.
Budaya sehari-hari dalam kesosialan kita pun demikian, disusupi dan terkontaminasi oleh energi hasrat libido dari [yang dilepas] kapitalisme dan libidonomic. Pada gilirannya pun ia berkembang dan berdaptasi sendiri dengan model yang telah disusupi hasrat libido yang dilepas kapitalisme—libidonomic—yang menjadikannya sebagai komoditas dan kapital. Kita bisa meninjau budaya ‘komunikasi sosial’ kita yang telah berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan libido kapital dari industri komunikasi media dalam rupa sosial media dan cyberspace lainnya. Falsafah silaturahmi yang ada dalam budaya komunikasi sosial itu pun kini secara ‘hiper-progresif’ beradaptasi dengan model perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan komputer yang—sekali lagi, dan tak mungkin tidak—telah terkontaminasi oeh energi hasrat libido yang dimainkan libidonomic kapitalisme.
Pendidikan, sebagai suatu jalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan demi menemukan kebenaran, pun kini telah disusupi dan terkontaminasi energi hasrat libido dari kapitalisme lanjut dan libidonomic. Sehingga pendidikan justru kini menjelma menjadi sebuah mesin kapitalisme itu sendiri. Institusi pendidikan yang mengkomersilkan ilmu pengetahuan, justru bertugas menyuplai ‘para tenaga kerja’ bagi industri ekonomi kapitalisme—di mana beragam segmen itu telah terindustrikan. Institusi pendidikan tidak lagi bertugas memberikan ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran. Sebaliknya ia telah beradaptasi dengan modelnya sendiri, di mana model itu telah terkontaminasi kapitalisme dan libidonomic, dan ia berkembang dalam model menyuplai tenaga kerja ke industri; menjadi mesin citra bagi kapitalisme; dan yang paling parah ialah ketika ia [pendidikan] menjadi institusi yang mempraktikkan gelagat
‘pencampuran antara yang haq dan yang bathil’. Sehingga kini, hasrat memperoleh pendidikan, memperoleh ilmu pengetahuan, dilakukan bukan dalam rangka mencari kebenaran, akan tetapi demi hasrat mendapat tempat dalam industri, mendapat kerja, dan memperoleh uang dan keuntungan finansial. Jauh bergeser dari prinsip pendidikan demi ilmu pengetahuan untuk menemukan kebenaran haqq yang hakiki.
Dalam kalimat lain, Piliang melihat bahwa kini “dunia pendidikan yang sesungguhnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan [scientific], dan kebijaksanaan [virtue], sebagai nilai dasar dalam pencarian pengetahuan,” mulai terlihat “dimuati oleh nilai-nilai komersial, sebagai refleksi dari keberpihakan pada kekuasaan kapital.” Lalu kita melihat betapa pendidikan “sebagai wacana pencarian pengetahuan [knowledge] dan kebenaran [truth]” itu, kini mulai bergeser dan “dijadikan sebagai wacana pencarian keuntungan [profit]. Sehingga yang terjadi ialah betapa kini telah tercipta sebuah relasi baru dari pengetahuan. “Tidak saja relasi kekuasaan/pengetahuan [power/knowledge], akan tetapi juga relasi 98 keuntungan/pengetahuan [profit/knowledge].”
Ketika pendidikan menjadi bagian inheren dari sistem kapitalisme, maka berbagai paradigma, metode, dan teknik-teknik yang dikembangkan di dalamnya menjadi sebuah cara untuk mengukuhkan hegemoni kapitalisme tersebut. Metode pemberian keterampilan, pembentukan watak, penciptaan karakter, pembangunan mental, diarahkan sedemikian rupa, sehingga semuanya mendukung hegemoni kapitalisme. Di dalamnya, pengetahuan tidak saja menjadi sebuah alat untuk mencari keuntungan, akan tetapi menjadi bagian dari objek komersialisasi itu sendiri.
| Pengetahuan | itu kini | diproduksi | sebagai | komoditi, | untuk |
|---|---|---|---|---|---|
| diperdagangkan dalam rangka memperoleh keuntungan, di dalam sebuah | |||||
| ajang | pengetahuan | [merchantilism | of knowledge]. |
Pengetahuan itu kini diproduksi sebagai komoditi, untuk
merkantilisme
98Ibid, h.355
Merkantilisme pengetahuan dalam pendidikan telah menggiring dunia pendidikan ke arah berbagai bentuk pendangkalan, pemassalan, dan populerisme [populisme—pen] sebagai nilai-nilai dasar komersialisme. Yang kemudian berkembang adalah model-model pendidikan yang mengutmakan dimensi-dimensi pengetahuan yang pragmatis, strategis, dan ekonomis, sebagai bagian dari bentuk hegemoni kultural kapitalisme [hegemoni pasar—pen], dan sebaliknya menghambat dimensi-dimensi humanis, sosiologis, atau spiritual dari pengetahuan, yang dianggap tidak mendukung hegemoni tersebut. Pendidikan kemudian menjelma menjadi alat hegemoni kapitalisme, yaitu alat untuk mempertahankan dominasi- nya atas berbagai sistem-sistem yang membentuk dan sekaligus dieksploitasinya. 99
Selain itu, pada segmen lain, kita juga bisa melihat perkembangan politik praktis yang semakin hari semakin terindustrikan, atau lebih tepat, semakin terintegrasikan ke ranah industri—media, telekomunikasi, ekonomi, dll., sehingga kemudian kita bisa melihat berkembangnya industri politik itu sendiri. Inilah wujud kontaminasi kapital dan libidonomic atas politik. Bisa pula kita melihat adaptasi itu pada ‘budaya’ lainnya semisal seni budaya, yang semakin hari terus berkembang mengikuti dan menuju bentuk yang terindustrikan. Setiap budaya folk, kini telah berkembang dan menuju bentuk terindustrikan sampai ia menjadi bentuk budaya massa [budaya pop]. Lihat bagaimana batik memasuki kondisi terindustrikan dan menjadi budaya massa yang terindustrikan. Lihat juga setiap seni budaya tradisional dimainkan di panggung festival yang terindustrikan [ekonomi].
Semua itu, menunjukkan adanya hasrat—dari tiap segmen— untuk berkembang dan beradaptasi mengikuti model perkembangan- nya sendiri, di mana model perkembangan itu sebenarnya bukanlah murni modelnya sendiri, akan tetapi model perkembangan itu
99Ibid, h.355-6
merupakan model yang telah disusupi dan terkontaminasi oleh libidonomic dan mengarah kepada jagad kapitalisme lanjut dalam bentuk industrialisasi dan bersifat ekonomi komersil.
Hasrat ini adalah hasrat yang terpancing oleh energi hasrat libido yang dimainkan kapitalisme lanjut dan libidonomic. Dan tujuannya ialah tak lain dari memenuhi keinginan hasrat unuk mendapat kepuasan dan/atau jouissance [kesenangan]. Dan inilah bentuk-bentuk dan model hasrat hipermodern itu.
Regulasi [segmen politik] terkait industri hiburan malam sebagaimana dicontohkan tadi, lahir demi mendapatkan kepuasan, kenikmatan dan juga kekuasaan. Ada sekelumit ‘permainan’ dan strategi untuk mendapat regulasi tersebut. Kemudian kita bisa menyimpulkan bahwa ini merupakan bentuk keberhasilan kapitalisme menyusupi segmen hidup, dalam tujuannya untuk melakukan eksploitasi, mempertahankan perputaran mesin produksi-distribusi- konsumsi, dan juga dalam tujuan meraih keuntungan ekonomi, turn over capital, serta demi berkuasa dan melanjutkan kekuasaannya.
Budaya-budaya dan tradisi-tradisi tidak dibiarkan untuk mengendap di tengah masyarakat, ia dipacu untuk dimassalkan, menguap ke permukaan, semua diinovasikan demi populerisasi dan dimasukkan ke dalam pasar, untuk kemudian dikonsumsi oleh massa. Hal demikian juga yang terjadi pada kesenian, kreativitas, dan segala macam kemampuan dan daya manusia, seni, teknologi, dll., dipak- sakan untuk masuk ke dalam pasar dan jagad pertukaran ekonomis.
Falsafah-falasafah tidak hanya digerogoti untuk kemudian didangkalkan, akan tetapi juga dipermak sedemikian rupa untuk kemudian dijadikan dalil-dalil yang mendukung keberlanjutan perputaran mesin ekonomi dan mesin hasrat kapitalisme.
Hasrat hipermodern adalah hasrat tiap subjek yang berhasil dipancing oleh libidonomic kapitalisme. Terpancing untuk melaku- kan kreasi dan inovasi atas objek-objek dan hal-ihwal, memacunya berkembang melampaui batas dan bentuk-bentuknya. Masyarakat yang menjadi massa, kini subjek-subjeknya berhasrat untuk melaku- kan lebih banyak lagi kreasi dan inovasi atas segala macam hal yang potensial. Dan tak dinyana bahwa dalam kreasi dan inovasi itu terselip komodifikasi.
Demikianlah hasrat hipermodern itu; di mana setiap hal— setelah kuatnya determinasi kapitalisme dan libidonomic—mulai dari politik, budaya, sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, hingga falsafah, kini dipacu untuk berkembang dengan dikreasikan serta diinovasikan sedemikian rupa, hingga melampaui bentuk dan batas- nya sendiri. Selalu ada subjek di balik setiap pacuan perkembangan dari hal-ihwal tersebut, dan hal-ihwal itu berkembang sedemikian rupa, dikembangkan dan diinovasikan ialah demi mendapat kepuasan dan kesenangan yang ditawarkan kapitalisme dan libidonomic.
Masyarakat Konsumeris
Apa yang menjadi ‘hiruk-pikuk’ di dalam kehidupan sosial-budaya kita belakangan adalah suatu bentuk keberhasilan kapitalisme lanjut, yang sudah barang tentu—sebagaimana kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, dan sebagaimana kita alami—membawa sedemikian banyak dan sedemikian rupa perubahan-perubahan.
Salah satu perubahan sosial yang menyertai kemajuan ekonomi belakangan ini ialah berkembangnya berbagai gaya hidup. Gaya hidup berkembang sebagai fungsi dari diferensiasi sosial yang tercipta dari relasi konsumsi. Di dalam perubahan tersebut
[perubahan sosial—gaya hidup], konsumsi tidaklah lagi sekadar berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi kebutuhan mendasar dari subjek manusia tertentu, konsumsi kini bergeser dan berkaitan dengan nilai-tanda dan unsur-unsur simbolik untuk menandai kelas, status, prestise, atau simbol sosial tertentu. 100
Pergeser-ubahan maksud dan tujuan dari tindak konsumsi itu akhirnya menjadikan makna konsumsi kini berubah. Konsumsi bukan sekadar menggunakan dan menghabiskan nilai guna suatu barang/jasa demi pemenuhan kebutuhan. Akan tetapi ia bergeser menjadi suatu bentuk ekspresi posisi sosial dan identitas kultural di dalam masyarakat. Konsumsi nilai-guna suatu barang/jasa memang tetap merupakan tindak menghabiskan kegunaan suatu barang/jasa, akan tetapi konsumsi nilai-tanda dari suatu barang, bukanlah tindak menghabiskan nilai-tanda, tapi justru tindakan memproduksi dan mencipta; produksi tanda. Artinya, seseorang yang mengkonsumsi suatu barang, tengah melakukan produksi tanda dan melakukan ekspresi diferensiasi. Dengan tindakan mengkonsumsi nilai tanda suatu barang ia melakukan produksi identitas dan menandai dirinya dengan nilai tanda, simbol dan citra yang dimiliki dan dibawa oleh barang yang dikonsumsinya; sekaligaus juga ia melakukan diferensiasi—membedakan diri dengan anggota masyarakat lain di tengah masyarakatnya.
Sederhananya ialah sebagaimana dikemukakan Piliang, bahwa “konsusmsi mengekspresikan posisi sosial dan identitas kultural seseorang di dalam masyarakat. Yang dikonsumsi tidak lagi sekadar objek, tetapi juga makna-makna sosial yang tersembunyi di baliknya.”
100Piliang, 2004, opcit, h.179., dan 2017, opcit, h.240
Dan kecenderungan yang demikian rupa itu, oleh para pakar sosial-budaya di Eropa disebut sebagai budaya konsumerisme. 101 Siapa yang melakukan dan membudayakan dan juga menghidupkan pola-cara konsumsi demikian, disebut masyarakat konsumeris. Atau dalam kalimat lain, masyarakat konsumeris ialah masyarakat yang melakukan tindak-tanduk konsumsi tanda atau konsumsi makna- makna yang ditandai oleh dan terdapat di balik barang objek-objek konsumsi.
Masyarakat konsumeris semakin berkembang di era hipermodern ini. Abad 21 menunjukkan tingginya tingkat konsumsi tanda dan/atau nilai-tanda dari objek-objek barang/produk/jasa yang diproduksi dan didistribusikan/dilempar ke dalam pasar; singkatnya adalah abad 21 ini menunjukkan tingginya konsumerisme dan pergeser-ubahan masyarakat menuju masyarakat konsumeris.
Di dalam diskursus sosial ataupun diskursus kapitalisme mutakhir, “perkembangan [saya lebih senang menyebutnya pergeser-ubahan] masyarakat pascaindustri dan kebudayaan pascamodern tidak dapat dipisahkan dari perkembangan konsumerisme.” 102 Ialah dalam pengertian pergeser-ubahan ini masyarakat mutakhir disebut masyarakat konsumeris. Dan di dalam ihwal konsumerisme, terdapat relevansi yang sangat terkait dengan praktik-praktik estetika kontemporer atau estetika postmodern.
Pergeser-ubahan masyarakat kontemporer menuju bentuk masyarakat konsumeris telah mempengaruhi cara-cara pengungkapan estetika. Piliang menegaskan bahwa
Pertimbangan tentang model konsumsi baru di dalam proses estetik— khususnya sepanjang ia berkaitan dengan penilaian estetik—sangatlah
101Ibid. 102Ibid
penting, karena di dalam masyarakat konsumer terjadi perubahan men- dasar berkaitan dengan cara objek-objek estetik secara umum dikonsumsi; dan cara-cara model konsumsi ini direkayasa oleh para produser. Dalam meninjau objek estetik sebagai satu diskursus harus dilihat relasi pengetahuan dan praktik sosial yang melandasi, serta bentuk kekuasaan yang beroperasi di balik objek estetik. Di dalam masyarakat konsumer, setidak-tidaknya terdapat tiga bentuk kekuasaan yang beroperasi di belakang produksi dan konsumsi objek-objek estetik, yaitu kekuasaan kapital, kekuasaan produser, dan kekuasaan media massa. Ketiga bentuk kekuasaan ini beserta pengetahuan [power/knowledge—pen] yang mendukung serta artikulasinya pada berbagai praktik sosial menentukan bentuk dan idiom estetik, serta produksi dan konsumsinya. 103
Artinya, objek estetik yang dikonsumsi, tidak benar-benar murni, melainkan disertai kekuasaan yang berada di belakang objek-objek konsumsi tersebut. Kekuasan-kekuasaan tersebut melakukan konstruksi nilai-tanda di balik objek-objek. Dan kekuasaan-kekuasaan itu, ingin menggiring kekuasaan kita dalam memaknai praktik konsumsi yang kita lakukan, dan memang demikianlah yang terjadi di dalam masyarakat konsumeris, di mana masyarakat mengkonsumsi suatu objek demi melakukan signifikasi diri dengan nilai-tanda yang ada pada objek-objek, atau eksternalisasi dan internalisasi diri melalui objek, yang dilakukan demi suatu diferensiasi sosial.
“Konsumsi sendiri, dapat dipandang sebagai objektifikasi, yaitu proses eksternalisasi dan internalisasi diri lewat objek-objek sebagai medianya.” Di sinilah letak produksi makna atau tanda yang dilakukan dengan cara mengkonsumsi suatu objek [barang/produk]. Maksudnya, saat mengkonsumsi suatu barang/produk, terjadi “proses penciptaan nilai-nilai melalui objek-objek” yang dikonsumsi,
103Ibid, 2017, h.241
“dan kemudian pemberian pengakuan serta penerimaan nilai-nilai” 104 yang terdapat di balik objek-objek konsumsi.
Konsumsi “dapat dipandang sebagai proses menggunakan atau mendekonstruksi tanda-tanda yang terkandung di dalam objek-objek oleh para konsumer, dalam rangka menandai relasi-relasi sosial.” Dalam model yang demikian itu, objek dapat menentukan status atau prestise dan simbol-simbol sosial tertentu bagi para konsumer yang menggunakan dan mengkonsumsinya. Di sinilah proses konsumsi dan objek konsumsi memainkan peran ‘diferensiasi sosial’ yang “membentuk perbedaan-perbedaan sosial dan menatural- isasikannya melalui perbedaan-perbedaan pada tingkat semiotik atau 105 pertandaan.”
Lebih dalam lagi, dari sudut pandang psikoanalisis, kosumsi dapat dipandang sebagai “suatu fenomena tak sadar [unconscious],” yang merupakan “suatu proses reproduksi hasrat dan reproduksi pengalaman bawah sadar yang bersifat primordial.” Konsumsi dalam hal ini merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan memori bawah sadar yang jauh, memori bawah sadar tentang kenikmatan dan kenyamanan [menyusui] yang memberi rasa puas. Artinya, konsumsi menawarkan kepuasaan dan kenikmatan pengganti dari kenangan kenikmatan dan kepuasan masa lalu [menyusui/nenen]. “Memori kesenangan di dalam wilayah ketaksadaran itu harus dimanifestasikan 106 ke dalam aneka ekspresi diri, termasuk seni.”
Konsumsi dan objektifikasi yang memiliki kaitan yang sangat erat, pada titik tertentu menimbulkan suatu masalah, atau lebih tepat menjadi suatu masalah ketika ia sampai pada analisa Marx
104Ibid 105Ibid 106Ibid
terkait fenomena objektifkasi yang memiliki keterkaitan erat dengan relasi produksi dalam masyarakat kapitalis. Sebelum Marx, Hegel memandang objektifikasi dengan konotasi dan makna yang positif, di mana objektifikasi dipandang Hegel sebagai suatu proses ekster- nalisasi diri oleh subjek tertentu melalui suatu tindakan kreatif diferensiasi, yang kemudian dikembalikan lagi lewat proses inter- nalisasi ke dalam diri melalui tindakan sublasi [semacam pemberian pengakuan.] Dalam proses objektifikasi ini, melibatkan subjek [manusia, kolektif], kebudayaan sebagai bentuk eksternal, dan artefak sebagai objek ciptaan manusia. Artinya, proses objektifikasi merupakan tindakan manusia dalam mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek, yang dimaksudkan untuk menciptakan diferensiasi [pembedaan dengan objek-objek sebelumnya], dan kemudian menginternalisasikan kembali nilai-nilai yang ada dalam objek ciptaan ke dalam diri melalui proses pemberian pengakuan [sublasi].
Misalkan seseorang menciptakan lagu, kemudian ia mengakui lagu tersebut tentang dan/atau berdasarkan pengalaman- nya, maka itu adalah proses objektifikasi. Dalam hubungannya dengan konsumsi, nantinya, konsumsi akan menjadi suatu bentuk objektifikasi diri saat seseorang mengkonsumsi suatu barang/objek sekaligus memberi pengakuan bahwa objek yang dikonsumsi tersebut cocok atau bahkan bisa mewakili dirinya. Katakanlah misalnya, ketika seseorang membeli baju, ia merasa dan bahkan ingin menandai diri dengan baju tersebut, dan baju itu pun diinternalisasikan ke dalam dirinya, menjadi bagian dari dirinya, dan ia memberi pengakuan atas objektifikasi tersebut. Itu hanya satu contoh. Masih banyak contoh yang lain. Tapi diskusi masih harus dilanjutkan terlebih dahulu.
Sampai pada titik argumen Hegel terkait objektifikasi tadi, hal tersebut tidaklah merupakan suatu masalah. Namun, dalam prosesnya, objektifikasi yang dilakukan subjek, bahkan ketika sampai pada titik sublasi [pemberian pengakuan] dan internalisasi ke dalam diri,
sang subjek selalu merasa tidak puas dengan hasil ciptaannya sendiri, ka- rena ia selalu membandingkan hasil ciptaan tersebut dengan pengetahuan atau nilai absolut, yang justru beranjak lebih jauh tatkala ia didekati atau diacu. Yang kemudian terjadi adalah rasa ketidakpuasan tanpa akhir, serta penciptaan terus-menerus untuk mencari pemenuhannya. Rasa ketidakpuasan abadi terhadap hasil ciptaan inilah yang membangitkan motivasi dan daya yang tak habis-habisnya bagi pengembangan lebih lanjut dalan suatu dialektika penciptaan. Tampak dari pandangan Hegel tentang objektifikasi ini bahwa ia melihat objektifikasi sebagai suatu hu- bungan subjek-objek yang sangat posistif, yaitu ia menyiratkan dinamika subjek sebagai pencipta yang tidak pernah kering, yang mampu 107 mengekspresikan dirinya melalui objek-objek ciptaannya.
Pada titik di mana subjek merasa tidak puas dan selalu ingin mencapai bentuk ideal dan nilai absolut tertinggi [yang sifatnya ideal] inilah—bagi saya—Bakunin mengarahkan kritiknya pada masyarakat kapitalis modern. Di mana ia menyebut tidak pernah ada yang bisa dan berani melakukan salto mortale dari alam ideal ke alam nyata. Saya memahami Bakunin demikian. Di mana Bakunin menyindir setiap subjek yang selalu mengarahkan masyarakat untuk mengacu dan menuju arah ideal yang dipatok oleh subjek-subjek tertentu [dalam hal ini siapa yang memiliki kuasa]. Dan Bakunin mengarahkan itu tepat ke batang hidung kekuasaan Negara yang dipergang segelintir orang. Relevansi dan interpretasi ini terkait bagaimana partai dan Negara selalu ingin mengarahkan pembangun- an menuju bentuk-bentuk ideal, sementara semua itu dilakukan
107Ibid, h.242
dalam proses yang sepertinya menguntungkan segelintir orang dan menindas lebih banyak lagi orang dalam sistem kapitalisme.
Kembali kepada objektifikasi. Jika Hegel memandang hal ini dengan positif [mungkin karena ia tidak mengaitkannya dengan struktur masyarakat], Marx justru memandangnya dengan negatif. Ini disebabkan Marx memandang objektifikasi dengan menghubungkan proses objektifikasi tersebut dengan struktur masyarakat dan juga relasi produksi dan penciptaan objek-objek di dalam masyarakat kapitalis. Di dalam model produksi kapitalistis, “objek-objek tidak diproduksi oleh subjek-subjek yang memiliki sarana dan prasarana produksi serta modal, akan tetapi oleh subjek sebagai pekerja, yang memproduksi objek untuk para pemilik modal, demi mendapatkan upah dari pekerjaannya.” Dalam posisi ini, si subjek itu sendiri “menempati posisi sebagai komoditas yang diperjual-belikan tenaganya [fisik, intelektual] sama seperti objek yang diproduksinya.” Di dalam relasi produksi kapitalistis yang demikian, Marx melihat satu proses yang disebutnya estrangement [penceraian], yakni penceraian subjek [pekerja] dari hasil kerjanya sendiri. 108 Dan hal tersebut sangat berbeda dengan relasi produksi yang diulas Hegel, di mana Hegel melihat si subjek memiliki sarana dan prasarana produksi dan mengeksternalisasikan objektifikasi yang dilakukannya sebagai subjek yang merdeka. Sementara Marx melihat kondisi subjek yang bergantung pada kekuasaan pemilik modal [kapitalis]. Dan kondisi di mana subjek tercerai dari objek yang diproduksinya, membuat Marx menganggap bahwa objektifikasi cenderung negatif, dan justru menghalangi perkembangan subjek. Alih-alih perkembangan, objektifikasi dalam masyarakat kapitalis malah mewujudkan objektifikasi pekerja [subjek], di mana “objektifikasi pekerja, menjadi sebuah arena pembuatan objek yang dijauhkan dari tindakan
108Salah satu poin dari konsep alienasi
penciptaan mandiri sang subjek.” Dan di dalam ketercerabutan dari objek ciptaannya sendiri, sang subjek kehilangan unsur kemanusia- annya, dan ia menjadi lebih sebagai objek.” 109 Sang subjek manusia justru berubah menjadi robot, mesin, budak, yang derajatnya justru jauh dari kondisi ideal absolut seperti yang digambarkan Hegel. Maka jika di dalam kondisi merdeka saja, sangat sulit untuk mencapai nilai abslout ideal, bagaimana mungkin dalam kondisi bergantung pada kapital [dan bahkan ditindas] seorang subjek mampu mencapai kondisi nilai ideal absolut tersebut?
Jauh setelah era modern di mana Marx mengkritik kapitalisme yang telah menyebabkan direndahkannya manusia oleh struktur masyarakat dan relasi produksi kapitalisnya, masyarakat justru melihat perkembangan kapitalisme yang semakin buas, sehingga menciptakan suatu keadaan kesadaran palsu yang terus menerus dipacu untuk mencapai kondisi yang diidealkan, dan kondisi ideal itu adalah apa yang dijabarkan dan digambarkan oleh pihak-pihak berkuasa, dan di dalam prosesnya subjek-subjek tertentu memperoleh keuntungan dan kehidupan yang serba bergelimang sementara subjek-subjek lain [buruh/pekerja/kelas bawah] harus menderita dalam keadaan ditindas dan ditipu oleh ilusi pengidealan. Lebih jauh lagi, di era hipermodern ini, kedua pendapat tentang objektifikasi dari Hegel dan Marx tersebut sudah sangat sulit untuk dijadikan patokan perbincangan dan diskusi, ini disebabkan oleh perkembangan masyarakat kapitalis dan kapitalisme sendiri yang sudah jauh melampaui bentuk modern-nya.
Perkembangan masyarakat kapitalis—masyarakat yang hidup dengan sistem produksi, relasi produksi, dan struktur kapitalisme modern—telah sampai pada titik merekahnya masayarakat bercirikan
109Piliang, 2017, opcit, h. 242-3
konsumerisme yang disebut masyarakat konsumeris. Perkembangan ini juga menyiratkan relasi antara subjek dan objek yang telah berubah sama sekali, di mana subjek berperan semata sebagai konsumer. Misalnya, melalui otomatisasi, mekanisasi dan komputerisasi, peran pekerja dalam proses produksi diminimalkan sedemikian rupa— bahkan dihilangkan, sehingga kemungkinan terjadinya alienasi [terasingnya subjek pekerja dari objek ciptaan] menjadi hilang sama sekali. Kalaupun toh alienasi itu ada, paling mentok hal itu terjadi dalam tahap keterasingan pekerja dari pekerjaannya, di mana peker- jaan itu bukanlah miliknya sendiri. Atau keterasingan tahap lain— keterasingan antar subjek. Dan kondisi terparah dari masyarakat konsumeris ialah meskipun ada kemungkinan alienasi, orang tidak ambil pusing, sebab selepas penat bekerja, orang dapat menikmati sebuah ajang konsumerisme yang menawarkan banyak kesenangan dan kenikmatan dalam berjuta macam ekstasi konsumsi—hiburan, tontonan, dan ragam pesta pora jasmani lainnya. Sekali lagi, perkembangan masyarakat kapitalis ke masyarakat konsumeris telah menjadikan relasi subjek-objek berubah hingga pada titik di mana subjek dipandang sebagai konsumer. Dan ini semakin kompleks saja. Pada titik tertentu, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu, subjek di dalam masyarakat era hipermodern ini, subjek tersebut hanya mungkin melakukan eksternalisasi-internalisasi-sublasi [proses objektifikasi] melalui posisi konsumer semata. Artinya, ia melakukan internalisasi dan sublasi pada objek yang diciptakan orang lain. “Secara ekstrem, dapat dikatakan bahwa relasi subjek-objek di dalam masyarakat konsumeris dapat dipandang sebagai relasi konsumsi semata.” Dalam kondisi yang demikianlah, di tengah masyarakat konsumeris, pernyataan filosofis subjek Cartesian yang terkenal, Aku berpikir, karenanya Aku ada., “kini tampaknya semakin kehilangan maknanya, disebabkan kenyataan sosial yang berkembang dapat dijelaskan lewat peryataan Aku mengkonsumsi, karenanya Aku ada.”
Dari Cogito Ergo Sum menjadi Consumo Ergo Sum. “Di sini subjek menginternalisasikan nilai-nilai sosial, budaya, [dan filosofis—pen] dari objek-objek melalui tindakan konsumsi.”
Titik perkembangan di mana posisi subjek menjadi semata posisi konsumer inilah yang menjadi ciri utama masyarakat konsumeris. Dan semua tindak konsumsi barang/objek juga sampai pada titik ia menjadi ajang diferensiasi sosial yang pada akhirnya semakin mengokohkan bentuk masyarakat yang sarat hierarkis, tidak egaliter, dan penuh ilusi yang dilakukan dengan sagala bentuk kesadaran palsu yang dipandu tonggak kepemimpinan totaliter dengan motor mesin kapitalisme.
Pada titik di mana konsumsi berubah menjadi sebuah ajang diferensiasi sosial, di situlah letak pergeseran makna konsumsi, di mana saat mengkonsumsi, masyarakat konsumer sekaligus mempro- duksi makna atau tanda. Makna dan tanda ini dikaitkan pada barang atau objek yang dikonsumsi. Makna dan tanda dari suatu objek, bisa disisipkan baik pada level produksi oleh produser maupun pada level/tahap konsumsi oleh konsumer. Kita juga bisa sampai pada titik di mana konsumer adalah sekaligus merupakan produser atau pencipta makna dan tanda.
Tahap di mana konsumsi telah berkembang sebagai satu sistem diferensiasi sosial inilah tahap perkembangan masyarakat konsumeris. Masyarakat konsumeris menganggap konsumsi merupakan bentuk aktivitas menandai diri dengan objek konsumsi, tepatnya pada nilai-tanda yang terdapat di balik objek konsumsi tersebut. Konsumsi menjadi suatu ajang produksi tanda, dan sekaligus sistem diferensiasi sosial yakni sistem pembentukan perbedaan-perbedaan status, simbol dan prestise sosial.
Pada tahap masyarakat konsumeris ini, masyarakat hidup dengan dan dalam relasi subjek-objek yang baru, yakni di dalam relasi konsumerisme, di mana objek konsumsi “dipandang sebagai ekspresi diri atau eksternalisasi para konsumer [bukan melalui kegiatan penciptaan], dan sekaligus sebagai internalisasi nilai-nilai 110 sosial budaya [nilai tanda—pen] yang terkandung di dalamnya.” Kemudian sampai pada titik sublasi di mana konsumer memberi pengakuan bahwa objek konsumsi yang diciptakan orang lain dan ia 111 konsumsi tersebut terkait erat dengan dirinya.
Relasi subjek-objek dalam konsumerisme membalik banyak hal; konsumsi objek bisa menjadi suatu ajang produksi objek baru— seperti objek tanda atau makna. Semakin rumit di sini ketika konsumsi kini menjadi suatu praktik yang memberikan daya tertentu bagi kreativitas si subjek konsumer. Konsumsi, membeli, dan memiliki, kini seolah memberikan rasa mengontrol dan kuasa atas objek yang dikonsumsi, dibeli dan dimiliki. Ketika seseorang meng-konsumsi dan membeli suatu produk/objek, ia secara otomatis memiliki objek tersebut, lantas kemudian timbul semacam perasaan berkuasa dan kebebasan atas objek yang dimiliki tersebut. Objek konsumsi kemudian menjadi semacam representasi kekuasaan dan kebebasan si subjek konsumer. Objek-objek tersebut juga dimuati dengan tanda dan makna-makna sosial budaya yang menandai kekuasaan tersebut. Konsumsi kemudian menjadi suatu fenomena semiotik dan bahasa yang berfungsi sebagai penandaan status sosial, prestise, dll. Tindak konsumsi kemudian bukan lagi sekadar tindak menggunakan atau menghabiskan nilai-guna suatu objek, akan tetapi berkembang menjadi suatu ajang penandaan dan ajang meng-
110Ibid, h.244 111Perhatikan bagaimana subjek-subjek dalam masyarakat menempatkan kalimat “gue banget” pada objek-objek atau produk-produk yang dibeli/dikonsumsi.
komunikasikan makna dan tanda tertentu, yang sekiranya terdapat di balik objek konsumsi tersebut. Jam tangan rolex bukan lagi sekadar alat untuk seseorang memperhatikan waktu, akan tetapi sekaligus untuk menandai status bahkan kelas sosial seseorang di tengah masyarakat konsumeris. Maka dalam relasi subjek-objek seperti itu, seorang konsumer yang mengkonsumsi seolah menguasai dan bebas mengontrol objek sebagai alat penanda dan komunikasi di dalam sistem penandaan dan komunikasi sosial yang rumit.
Tapi benarkah kita sepenuhnya bebas dan berkuasa atas objek konsumsi dalam suatu tindak konsumsi? Sudut pandang marxisme banyak membincangkan kesadaran palsu. Dan saya selalu skeptis dalam memandang ini. Ada kemungkinan kebebasan dan kuasa atas objek konsumsi yang terjadi dalam tindak konsumsi tersebut hanyalah sekadar kebebasan dan kuasa yang hanya dijustifikasi oleh kesadaran palsu belaka. Kesadaran kita justru dipacu untuk merasakan dan menyetujui bahwa tindak konsumsi yang kita lakukan ialah bentuk kontrol kuasa dan kebebasan, padahal kebebasan itu hanya diakui oleh kesadaran palsu yang telah digiring untuk menyepakati tindak tersebut nyata adanya. Jean Baudrillard menegaskan bahwa kekuasaan, daya kontrol dan kebebasan yang ada pada tindak konsumsi dalam konsumerisme hanya bersifat semu belaka. Ia melihat hal itu disebabkan oleh adanya perubahan radikal yang terjadi pada relasi konsumsi di dalam masyarakat konsumer itu sendiri. Bagi Baudrillard, “kita tidak lagi mengontrol objek, akan tetapi dikontrol oleh objek-objek ini. Kita hidup sesuai dengan iramanya, sesuai dengan siklus perputarannya yang tak putus- putusnnya.” 112
menguasai
| Ketimbang | simbol, status, | prestise lewat objek-objek |
|---|---|---|
| konsumsi, kita justru terperangkap di dalam sistemnya. Ketimbang aktif | ||
| 112Dalam Piliang, 2017, opcit, h.245 | ||
| 111 |
di dalam tindakan penciptaan dan tindakan kreatif, para konsumer justru lebih tepat disebut sebagai mayoritas yang diam, yang menempatkan dirinya dalam relasi subjek-objek, bukan sebagai pencipta, melainkan layaknya jaring laba-laba, yang menjaring dan mengonsumsi apa pun yang ada di hadapan mereka. Celakanya, di dalam masyarakat konsumer kini, tidak saja fungsi objek konsumsi yang semakin kompleks, jenis dan tata nilai yang ditawarkan semakin beraneka ragam, akan tetapi juga siklus perputaran dan tempo pergantiannya semakin cepat. Dalam keanekaragaman dan percepatan produksi dan konsusmi yang lepas kendali [over-produksi dan over-konsumsi], proses pengendapan apa-apa 113 yang dikonsumsi melalui sublasi kini menjadi kehilangan makna.
Lebih jauh bahkan, Baudrillard melihat proses pengendapan tersebut kini sudah tidak ada lagi, lenyap ditelan deru percepatan arus konsumsi di dalam ajang konsumerisme itu sendiri. Pengendapan nilai yang dikonsumsi melalui sublasi dan pemberian pengakuan, atau bahkan refleksi, kini lenyap ditelan arus konsumsi masyarakat konsumeris yang berputar dengan kecepatan hyperspeed— dromologi. Yang ada kini hanyalah konsumsi, terus dan terus, Consumo Ergo Sum, aku mengonsumsi maka aku ada, dan kita semakin mengada-ada. Lalu kemudian menemui kebenaranlah apa yang Gede Robi ‘teriakkan’ dalam sebuah lagu Navicula berjudul over konsumsi; “kita semua telah over konsumsi.”
Dan kini, setelah semua pengendapan nilai yang mestinya ada dalam proses konsumsi menjadi hilang dan lenyap ditelan arus deras percepatan konsumsi yang ada di dalam ajang konsumerisme, yang terjadi adalah kehampaan. Baudrillard memandang bahwa arus konsumsi di dalam ajang konsumerisme seperti jaring laba-laba, semua terjaring, semua ditangkap oleh konsumer; dan “apapun mengalir melalui mereka [konsumer], apapun menarik mereka bagai
113Piliang, Ibid
magnet, akan tetapi mengalir melalui mereka tanpa meninggalkan bekas apa-apa.” 114
Ekstrim atau tidak semua itu, yang jelas pandangan Baudrillard tentu ekstrim, dan apa yang ia ungkapkan menemui kenyataan terutama pada beberapa kelompok masyarakat tertentu, kalangan yang hidup megah, kelompok masyarakat kelas elit kota, yang mempunyai budaya konsumsi berlebihan, yang sudah mencapai titik belanja gaya hidup, dan hedonis. Pada kalangan dan domain tersebut, atau masyarakat konsumeris, mustahil kiranya proses internalisasi atau pengendapan nilai-nilai dapat terjadi. Semua akan berlalu begitu saja. Mereka tidak mencari makna-makna ideologis, filosofis, atau spiritual, yang diinginkan adalah proses dan keber- langsungan konsumsi abadi, yang dianggap bisa memberikan kepuas- an, dan menjadi ekstasi, dan memang telah memberi ekstasi dan kegairahan dalam pergantian objek-objek konsumsi. Komunikasi bukan untuk pesan-pesan dan informasi, tapi kegairahan dalam proses berkomunikasi, persetan dengan yang dilakukan itu bentuk komunikasi atau justru dekomunikasi. Yang dicari adalah ekstasi dalam proses komunikasi yang terus berlanjut; ekstasi berkomunikasi, berjejaring, terkoneksi, menampilkan diri seperti narsis, sebab toh memang bentuk komunikasi telah mencapai bentuk tontonan dan menjadikan masyarakat konsumeris sekaligus menjadi masyarakat tontonan—society of the spectacle. Dalam mode yang seperti itu, masyarakat konsumeris, tidak akan mencapai nilai absolut— sebagaimana diharap Hegel, tidak pula dapat melompat ke alam nyata, nilai yang riil—seperti dikatakan Bakunin. Semua ajang konsumerisme masyarakat konsumer tidak mungkin mampu mengisi batin subjek manusia—sebagaimana diharap agama. Konsumerisme masyarakat konsumer ini hanya akan memperpanjang kapitalisme,
114Dalam Piliang, Ibid.
meneruskan ketidak adilan sistem itu, menindas dan menyingkirkan sebagian masyarakat yang bernasib buruk dan termarginalkan, terus dan terus sementara para bajingan kapitalis dan para keparat lain ongkang-ongkang kaki menikmati naiknya harga saham mereka, membaca berita pertempuran di negeri-negeri nun jauh dan tersenyum mengetahui senjata yang diproduksi sudah laku, dan tersenyum minum anggur nikmat sisa perang dunia II.
Masyarakat Perayaan
Terdapat begitu banyak tanda-tanda yang menunjukkan bagaimana masyarakat telah bertransformasi; masyarakat kapitalis yang hidup dengan sistem kapitalisme modern awal, bertransformasi menjadi masyarakat konsumeris seiring dengan kemunculan posmodernisme, terlebih ketika posmodernisme dikomodifikasikan balik oleh modernisme dan kapitalisme mutakhir pada periode posmodern tadi. Tepat pada era posmodernisme tersebut, kita melihat trans- formasi masyarakat menjadi masyarakat konsumeris, yang sebagai- mana dijelaskan tadi, ditandai perubahan signifikan pada tindak dan makna konsumsi yang telah sedemikian rupa berubah dan bergeser.
Satu hal yang musti kita perjelas dan bahas di sini sebelum masuk pada pembahasan terkait transformai masyarakat baru— masyarakat perayaan—di era hipermodern ialah tentu saja hipermodern dan hipermodernisme itu sendiri.
Sebagai periode historis, periode modern tidak bisa dijelaskan semata sebagai dan lewat kacamata atau diskursus modern itu sendiri. Secara kasar, kita tidak bisa menulis dalam makalah, jurnal atau esai, kata dan kalimat “pada zaman modern”, “di era modern” dsb. Kata atau kalimat yang demikian itu terasa begitu
memualkan. Kenapa? Sebab kita tahu ada periode postmodern atau pascamodern yang dihiasi begitu banyak wacana, gerakan, atau tetek- bengek lainnya yang berkitan dengan posmodernisme yang cukup berbeda dan bahkan bertolak belakang pula dengan modern dan modernisme itu sendiri. Tapi memang modernitas dan modernisme telah berhasil mengkomodifikasikan balik posmodernisme, bahkan posmodernisme yang transgresif atau progresif sekalipun. Posmo transgresif itu berhasil dikomodifikasikan dan pengkomodifikasian itu memberi keuntungan bagi kapitalisme. Sebab itu kapitalisme memang brengsek. Sarana perjuangan saja bisa dikomodifikasikan, apalagi yang bukan. Dan itu menyebalkan.
Lantas, untuk menegaskan hipermodernisme, kita musti menjabarkan kembali tentang dua epos sebelumnya; modernisme dan posmodernisme.
Modernisme dan posmodernisme disebut sebagai konsep kultural dan epistemologis yang bertentangan; modernisme yang cenderung menyepakati kebenaran tunggal, ditentang oleh posmodernisme yang meyakini bahwa kebenaran tidak mesti tunggal, akan tetapi ialah sangat mungkin adanya beragam kebenaran. Posmodernisme juga ditandai oleh banyaknya gerakan intelektual maupun kultural seni yang menyerap gagasan-gagasan marxisme dan beragam gagasan lain yang menentang kapitalisme. Di era posmodernisme jugalah berkembang beragam argumen dan gagasan yang menolak marxisme sebagai gagasan tunggal yang menentang dan mengkritisi kapitalisme. Pertentangan ini berlanjut sampai pada titik di mana kapitalisme yang semakin kokoh kemudian justru berhasil membalik keadaan dan melakukan komodifikasi balik atas segala macam posmodernisme yang mengandung kritik atas kapitalisme. Katakanlah Punk, suatu subkultur yang jelas-jelas lahir dari rahim proletar, justru menjadi suatu komoditas bagi kapitalisme yang
berhasil melakukan transformasi dan melancarkan taktik perkembangan rizomatik yang begitu ciamik. Ialah keberhasilan terbesar kapitalisme ketika dengan libidonomic mereka melepaskan suatu energi yang berhasil menyebabkan ledakan hasrat. Dan energi ini akhirnya kemudian menjadikan tabiat konsumtif dan konsumerisme yang berlebihan sehingga masyarakat pun bertransformasi menjadi masyarakat konsumeris.
Kini, masyarakat konsumeris, kapitalisme lanjut terutama, libidonomic, dromologi, energi kecepatan, dan segala macam lainnya, telah memacu waktu sedemikian rupa hingga pada titik tercepat— instan, memangkas jarak dan ruang sampai jauh, dilipat dan dihancurkan sedemikian rupa lewat teknologi, membawa masyarakat dunia global ke dalam suatu periode hipermodern.
Akan tetapi, hipermodern dan hipermodernisme itu sendiri seringkali disamakan dengan posmodernisme. Piliang, saat mengulas posmodernisme dalam bukunya, mengatakan bahwa diperlukan klarifikasi terkait dua konsep yang seringkali disamakan ini. Ia mengatakan bahwa
posmodernisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keenderungan baru pemikiran dan realitas budaya, sebagai konsekuensi dari berakhirnya modernisme—yang ditandai oleh terbatasnya gerak kemajuan [progress] dan kebaruan [newness] di dalam berbagai bidang kultural—sehingga kemudian kebudayaan memalingkan muka ke wilayah-wilayah masa lalu, dalam rangka memungut kembali warisan bentuk, simbol dan maknanya. Hipermodernsime sebaliknya, ialah istilah untuk menjelaskan kecenderungan perkembangan modern ke arah yang melampaui [hyper] atau melewati [beyond], yaitu perkembangan unsur- unsur modernitas ke arah garis-garis batas yang seharusnya tidak ia lewati, sehingga menggiringnya pada kondisi ekstrim.
Apa yang menjadi tanda posmodernisme ialah bahwa ia merupakan periode di mana kebudayaan manusia berada pada titik ‘nostalgia’ setelah semua modernitas bergerak maju tetapi terasa terbatas, dan kebaruan-kebaruan dirasa tidak lagi dapat ditemukan, dan kebudayaan kemudian melakukan gerak ‘nostalgic’ dan pastiche, memungkinkan banyak perpaduan, kolase sampai brikolase. Sementara hipermodernisme berorientasi masa depan. Perbedaan orientasi ini yang membuat pemikir seperti Baudrillard dan Paul Virilio cenderung melihat keduanya sebagai dua kecenderungan yang berbeda.
Kita kembali kepada titik penjelasan tentang hipermodern sebagai suatu periode yang ditandai dengan begitu banyak modernitas yang telah melampaui bentuk modernnya sendiri. Di periode inilah kita tengah berada sekarang, dekade ketiga abad 21. Di periode ini nantinya akan kita lihat serangkaian perkembangan modernitas yang dipacu ke arah garis batas, bahkan melampaui dan melewatinya, sehingga menggiring unsur modernitas itu ke titik dan kondisi ekstrim.
Beberapa tahun belakangan, ialah signifikan kita melihat bentuk-bentuk posmodernisme yang berorientasi nostalgia, dan melakukan semacam pastiche—atau katakanlah kolaborasi kolase dan brikolase, yang dimaksudkan demi orientasi futuristik. Artinya, konsep posmodernisme dan hipermodernisme tidak hanya bisa dipandang dari posisi yang saling bertentangan [oposisi biner], akan tetapi dua konsep tersebut bisa dilihat dalam bingkai eklektisisme, di mana dua hal yang bertentangan dan bertolak belakang bersatu padu dalam suatu kesatuan dengan menerima kontradiksi di baliknya. Inilah yang dilihat oleh pemikir seperti Jean Francois Lyotard dan Charles Jencks. Akhirnya, saya pun melihat bahwa kondisi kebudayaan kita [sosial politik kultural plus ekonomi] belakangan ini
pun menunjukkan kecenderungan yang demikian, di mana banyak hal yang entah secara filosofis atau esensial sebenarnya bertentangan dan bertolak belakang, di era global ini, beberapa tahun belakangan justru bersatu padu dalam suatu kesatuan di mana kontradiksi yang mereka kandung masing-masing, diterima dalam kesatuan eklektis tersebut. 115
Berdasarkan itu, saya pun kemudian menarik hipotesis bahwa kita tengah memasuki suatu periode [hipermodern] yang ditandai oleh beragam tingkah-laku, tindak, gerak, konsep, filosofi, ide, dan gagasan [singkatnya; kebudayaan] yang meskipun ia bertolak belakang, tetapi bersatu-padu dalam suatu kesatuan eklektisis, dan di dalam kesatuan eklektisis itu hal-hal yang bertolak belakang dan bersifat kontradiksi, diterima. Belakangan, fenomena-fenomena se- perti itu, mulai banyak kita lihat, dengar, dan rasakan. Dan inilah yang saya simpulkan sebagai hipermodernisme—suatu istilah yang akan menjelaskan kecenderungan-kecenderungan gerak ataupun tindak peradaban manusia yang telah sampai pada titik di mana unsur modernitas dipacu sampai melampaui bentuk modern-nya sendiri, bahkan sampai melampaui batasnya; serta diringi pula dengan perpaduan-perpaduan, bahkan perpaduan antara dua atau lebih hal-hal yang sejatinya bertolak belakang; dan kontradiksi dari dua hal yang bertolak belakang itu diterima di dalam suatu bentuk perpaduan eklektis. 116 Ciri ‘melampaui’ dan ‘perpaduan dua atau lebih hal-hal
115Perhatikan fenomena ‘festival hijab’. Hijab adalah penutup, dilakukan untuk menutup aurat. Sementara festival sifatnya terbuka, dan untuk dipertontonkan. Dua hal yang bertolak belakang kini bersatu padu, dan di dalam perpaduan itu, kontradiksi keduanya diterima sedemikian rupa. Penerimaan kontradiksi ini, sedemikian rupa dilakukan dan menguntungkan perputaran capital. 116Piliang membincangkan hipermodernisme sebagai bagian dari posmodernisme, di mana ia melihat hipermodernisme yang melakukan pencampuran eklektisis cenderung merupakan bagian dari ciri kebudayaan
yang kontradiktif’ dari transformasi ke hipermodernise ini bisa saling beriringan, namun ada pula yang berdiri masing-masing.
Saya tidak akan mengatakan bahwa posmodernisme telah bertransformasi dan maju melakukan ragam perpaduan sebagai posmodernisme. Justru transformasi itu telah dipacu hingga mencapai titik melampaui modern dan posmodern itu sendiri, sehingga trans- formasinya berlanjut pada bentuk hipermodernisme.
Pada periode hipermodern inilah kita sekarang tengah berada—dekade ketiga abad 21 yang baru kita masuki inilah periode hipermodern, dan ini sudah berlangsung cukup lama. Pada periode ini kita akan melihat perubahan masyarakat; di mana masyarakat konsumeris yang banyak di era modern akhir dan/atau posmodern akan bertransformasi menjadi sebuah masyarakat perayaan; sebentuk masyarakat yang merayakan konsumerisme dengan pola yang telah sampai pada titik berlebihan dan melampaui bentuk konsumsi modern.
Apa yang menjadi ciri utama dari masyarakat perayaan adalah suatu bentuk perayaan. Bentuk perayaan ini lebih dari sekadar bentuk konsumeris. Keduanya—konsumsi dan perayaan akan beriringan dan bersatu padu saling menyuburkan. Konsumsi yang telah
posmodernisme. Ada inkonsistensi bagi saya, ketika Piliang menjelaskan posmo yang berorientasi nostalgic lalu menjelaskan hipermodern yang berorientasi futuristic, kemudian ia juga menjelaskan suatu posisi di mana posmodern dan hipermodern bersatu padu dalam bingkai dan posisi eklektis. Dan melanjutkan penjelasan di mana hipermodern justru menjadi bagian dari posmodern yang banyak menciptakan perubahan mendasar bagi budaya objek, sampai pada titik di mana objek kini mengendalikan subjek manusia. Bagi saya, hal itu menafikan banyak gerakan posmo yang justru mengemansipasi subjek. Saya lebih memilih untuk mengatakan dan mengkategorikan perubahan mendasar itu sebagai hipermodernisme yang lebih baru. Bukan posmodernisme.
bergeser pada masyarakat konsumeris, di mana konsumsi berkembang-bergeser menjadi suatu tindak diferensiasi sosial dan sekaligus produksi makna dan tanda, simbol, atau prestise tertentu, pada satu titik akan berkembang untuk kemudian dirayakan oleh masyarakat.
Pada titik yang demikianlah masyarakat konsumeris bertran- formasi menjadi masyarakat perayaan; masyarakat yang merayakan perilaku konsumtif sebagai suatu tindak produksi tanda, makna, simbol, dan prestise tertentu yang ditujukan sebagai suatu bentuk perayaan atas kemampuan subjektif dalam melakukan diferensiasi sosial. Pada titik ini, konsumsi semakin berkembang menjadi gaya hidup, dan gaya hidup akan dirayakan sampai pada titik di mana objek-objek yang berputar dan berada dalam gaya hidup itu terus memaksa subjek untuk mengkonsumsi dan menggunakannya. Dan semua ini, akan dirayakan dengan perasaan bangga oleh masyarakat perayaan. Rasa bangga memiliki, menggunakan, menandai diri dengan suatu tanda yang semu, yang sejatinya diciptakan oleh produsen dari objek-objek konsumsi, dan produsen itu adalah kapitalis dan sistem kapitalisme lanjut.
Kegilaan dan Hipermodernisme
Pada satu titik, modernitas dipacu hingga melampaui bentuk modernnya, hingga ia mencapai kondisi ekstrim; dan ini dapat dikatakan sebagai sebuah kegilaan. Ini pun berkaitan dengan politik kultural; sebab—pada akhirnya apa yang bukan politik, dan apa yang tidak kultural? 117 Modernitas yang dipacu sampai titik ekstrim dan melampaui ialah hipemodernitas, maka hipermodernitas itu sendiri
117Lihat Salto Mortale, opcit, h.42-44
ialah suatu bentuk kegilaan. Ada semacam politik kultural yang membuat hipermodernitas akhirnya mungkin dan terjadi.
Bincang mengenai kegilaan dalam masyarakat global adalah perbincangan mengenai kegilaan-kegilaan yang beraneka ragam bentuk dan dimensinya. Bentuk dan dimensi dari ‘kegilaan-kegilaan’ ini tercipta melalui beragam wacana yang menopangnya, yakni kapitalisme, modern-posmodern-hipermodern-itas, dan teknologi.
Beragam bentuk dan dimensi kegilaan, tercipta sebagai akibat dari perubahan yang terjadi pada masyarakat global—pasca globalisasi—itu sendiri; perubahan pada domain ekonomi ke arah ‘kapitalisme global lanjut’, perubahan pada domain sosial-budaya ke arah postmodern dan hypermodern, serta pada domain teknologi 118 yang mengarah ke teknologi siber dan cyberspace.
Apa yang digambarkan di ihwal pertama ialah bagaimana kapitalisme berhasil melanjutkan ekspansinya hingga mengglobal, hingga kini ia [kapitalisme] mencapai titik kekuasaan, di mana ia berada pada posisi telah menjadi semacam sistem tunggal ekonomi global. Di domain ekonomi, kapitalisme lanjut global yang telah menjadi sistem tunggal ekonomi global, terus memacu sedemikian rupa segala wacana dan dalil-dalil yang ada dalam dirinya, dan ini memacu banyak perubahan. Kapitalisme membuka pasar sebebas- bebasnya, sembari melakukan ekspansi dan eksploitasi ke beragam domain, juga sekaligus menciptakan semacam iklim persaingan yang semakin tinggi dan ketat. Kapitalisme lanjut global semacam ini menjadikan waktu dan kecepatan sebagai paradigma ekonomi, menjadikan perputaran produksi-distribusi-konsumsi semakin cepat; juga “menciptakan kondisi perubahan dan pergantian [produk, gaya, citra] yang semakin cepat temponya, sehingga di dalamnya tercipta
118Piliang, 2017, opcit, h.357
berbagai bentuk tekanan psikis seperti: kewaspadaan terus-enerus, rasa ketidakamanan posisi yang tiada akhir, kebutuhan akan infor- masi yang tidak putus-putusnya, keharusan akan kebaruan dan perbedaan [citra, gaya, fungsi], yang semuanya menjadi prakondisi bagi terbentuknya semacam ‘kegilaan ekonomi kapitalisme.’” 119 Prakondisi tersebut, di era hipermodern ini, sudah terjadi, sehingga ia bukanlah lagi merupakan prakondisi, akan tetapi telah menjadi kondisi dari masyarakat itu sendiri. Sehingga ‘kegilaan’ akan ekonomi kapitalisme telah nyata kita lihat di era hipermodern ini.
Pada domain sosial-budaya terjadi berbagai macam perubahan dan pergeseran. Paradigma masyarakat berubah, dan budaya sendiri pun mengalami pergeseran dan prubahan. Hal ini terjadi sebagai efek dari berlebihannya eksplorasi modernitas, sehingga kebaruan-kebaruan telah habis. Perubahan pun membalikkan orientasinya, ke belakang, ke masa lalu, paradigma posmodernisme muncul dalam rangka nostalgia, kembali ke masa lalu. Posmodernisme yang melawan atas kebenaran tunggal modenisme pun ikut dikomodifikasikan dan tersedot ke dalam pasar dan arena konsumer- isme. Posmo-progresif ini harus dikonsumsi. Komodifikasi balik atas posmodernisme progresif yang dilakukan kapitalisme pun membuat keadaan menjadi semakin bergeser, dan terjadilah semacam perubahan kondisi ke arah yang menuju titik ‘melampaui’ dan titik ekstrim dari modernitas dan posmodernitas itu sendiri. Sebab kapitalisme lanjut dan libidonomic juga berhasil melepas hasrat dari masyarakat, kini, masyarakat dan budaya pun dipacu untuk berkembang meng- ikuti keinginan pasar dan mesin hasrat kapitalisme. Kondisi inilah yang membuat perubahan domain sosial-budaya sampai pada titik hipermodern, dan pergeserubahan ini akan terus berlanjut sampai pada titik melampaui dan ekstrim, di mana masyarakat menghidupi
119Ibid, h.357-8
dan menghidupkan semacam ‘kegilaan budaya hipermodern’ yang disarati dengan relativitas nilai yang ekstrim, yang sifatnya fatal dan bertendensi nihilis.
Pada domain teknologi, transformasi besar-besaran terjadi. Teknologi nuklir, drone, senjata, dan sebagainya menghasilkan eks- tasi politik perang yang tidak kunjung mampu mewujudkan perda- maian dunia, yang ada justru pertempuran abadi di mana-mana, invasi, dll., semua hanya menghasilkan ‘kegilaan perang’ dan ‘kegilaan akan keuntungan ekonomis dari industri perang’ yang terus berputar mengikuti perputaran modal kapital.
Lebih dekat dengan kita sehari-hari, teknologi juga ber- transformasi sedemikian rupa, hingga dekat sekali dan bahkan menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini terjadi sebagai akibat perubahan teknologi informasi yang menuju cybertechnology. Perubahan teknologi sampai menciptakan cyberspace, sehingga hidup itu sendiri kini seolah telah tersiberkan. Dan akhirnya kita melihat sebuah hiperrealitas; sebuah realitas yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Dan kini, kita melihat bagaimana di era hipermodern ini, masyarakat kita telah mendapat istilah netizen/warganet, sebuah istilah untuk masyarakat cyber. Piliang menjelaskan tentang kegilaan teknologi siber ini;
Cyberspace telah mengubah secara radikal pemahaman manusia tentang ruang, komunitas, tubuh, realitas, dan fantasi. Terbentuk sebuah komunitas global yang disatukan oleh ruang dan interaksi digital-siber [virtual community]; terjadi percampuran yang radikal antara mesin [cybernetic] dan manusia [organism] di dalam sebuah wadah cyborg; terjadi pengingkaran akan Tuhan [cyberreligionist], dan sebaliknya menjadikan teknologi sebagai pengganti Tuhan [cybergod]. Teknologi pengingkaran [tubuh, Tuhan, realitas] dan pemujaan teknologi inilah yang mungkin dapat disebut sebagai ‘kegilaan teknologi cyberspace’.
Lantas setelah semuanya, kini di era hipermodern pun dilakukan segala macam perayaan atas semua perubahan ekstrim yang terjadi di bidang ekonomi, sosial-budaya, politik, dan teknologi tersebut. Segala perubahan serta kemampuan melakukan dan meng- ikuti segala perubahan tersebut, kini dirayakan. Sehingga yang terjadi kini adalah sebuah perayaan atas kegilaan.
Hal ini terjadi sebab makna dari ‘kegilaan’ itu sendiri sudah bergeser-berubah. Lewat banyak permainan wacana, kegilaan kini diputar-balik. Siapa yang sadar bahwa segala perubahan ini ialah bentuk ‘hiper’ dan berlebihan yang dilakukan masyarakat kapitalisme lanjut global, justru dianggap gila. Sementara mereka yang menggilai segala bentuk kemajuan dan perubahan ekstrim tersebut justru dianggap normal, biasa, dan wajar serta waras. Piliang menegaskan bahwa perkembangan kapitalisme lanjut, pascamodernisme—juga hipermodernisme, dan cyberspace—pada tingkat tertentu—telah mengubah pandangan mengenai ‘kegilaan’ itu sendiri.
‘Kegilaan’ kini tidak lagi sekadar dipahami sebagai fenomena ‘gagalnya fungsi otak’—sehingga menimbulkan kekacauan pikiran dan tingkah- laku [delirium]—akan tetapi, sebagai ‘hilangnya akal sehat’/insane, ‘kemabukan’/intoxication, ‘kehanyutan’/ecstasy, dan ‘pembebasan arus hasrat’/schizophrenia, yang semuanya tidak lagi dianggap sebagai sebuah patologi yang bersifat negatif, tetapi sebagai sebuah ‘kekuatan pendorong’ atau ‘ruh’ perkembangan masyarakat dan kebudayaan. ‘Kegilaan’, di sini, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kondisi ‘mentalitas-kolektif’, yang menjadikan masyarakat global terus bergerak, menggeliat dan berubah. ‘Ekstasi’, ‘panik’, ‘histeria’, ‘skizofrenia’, adalah beberapa terminologi yang menjelaskan dimensi-dimensi kegilaan yang berkembang di tengah masyarakat global, yang telah membawa masyarakat tersebut ke dalam kondisi yang tak terbayangkan sebelumnya. 120
120Ibid, h.358-9
Di era hipermodern, tidak cukup lagi sekadar suka bola, suka musik, suka seni, film, kuliner, wisata, dan sebagainya. Semua dipacu untuk mencapai titik melampaui, sampai menjadi kondisi ‘gila’, menjadi ‘gila bola,’ ‘gila wisata,’ ‘gila musik,’ dan sebagainya. Dan kondisi ini tampaknya sebagai kondisi yang lumrah dan biasa, bukan lagi bermakna negatif secara patologi sebagaimana dahulu.
Berpacunya konsumsi sampai titik melampaui ini akhirnya mencapai titik di mana konsumsi itu dirayakan. Apa yang memungkinkan perayaan atas konsumsi adalah pergeseran makna atas tindak konsumsi itu sendiri; di mana konsumsi kini bergeser dan berkembang sampai pada titik ia kemudian menjadi semacam tindak memproduksi makna dan tanda. Mengkonsumsi sesuatu ialah tindak memproduksi citra, makna dan prestise sosial-budaya. Segala gaya hidup menuntut konsumsi, dan konsumsi-konsumsi yang ada menjadi suatu produksi gaya dan tanda. Consumo ergo sum. Di era hipermodern inilah tabiat konsumerisme dirayakan oleh masyarakat; kita melihat bagaimana masyarakat merayakan segala tindak konsum- tifnya dengan segala kemampuan dan segala kebanggaan penuh dedikasi demi suatu dan beberapa hal yang sifatnya semu dan lebih dekat sebagai suatu ekstasi.
Masyarakat yang merayakan konsumerisme tentu juga merupakan akibat dari libidonomic kapitalisme lanjut yang telah melepas energi hasrat libido. Masyarakat dipacu untuk berpacu dengan hasratnya sendiri. Pemenuhan hasrat ialah tiada berakhir, setiap pemenuhan hasrat memberi ekstasi, dan ekstasi menciptakan sebuah kondisi ketagihan, bahkan kapitalisme dan libidonomic menciptakan rasa kurang [lack], sehingga takkan pernah ada ‘cukup’ bagi masyarakat perayaan; setiap pemenuhan hasrat, menuntut pemenuhan baru—setelah ini-lalu ini-lalu ini-lalu., setelah ganja-lalu shabu-lalu koplo-lalu kokain-lalu heroin-lalu.., tanpa akhir. Kondisi
tanpa akhir ini pula yang menghasilkan hipermodern. Segala hasrat menciptakan rasa kurang ketika dipenuhi, bukannya menemui batas akhir, tapi mengakibatkan pelampauan batas akhir itu sendiri. Ini menghasilkan konsekuensi berupa eksplorasi yang berlebihan atas pemenuhan hasrat. Kemudian, eksplorasi ini membuat semua pencampuran hal-ihwal menjadi mungkin dan boleh, bahkan pencampuran dua hal yang sifatnya bertentangan dan kontradiktif. Hasrat gaya dalam fesyen—yang terindustrikan, pada titik tertentu menghasilkan sebuah industri hijab yang justru mengarah kepada suatu bentuk tontonan; festival hijab.
Contoh ini adalah bentuk hipermodernisme yang paling nyata. Ketika hijab—sebagai ide maupun praktik—mendapat posisi hegemonik, industri—yang sejatinya ialah bergerak dengan motor kapitalisme—dengan cepat [dromonomic dan dromology] meng- ambil alih dan melakukan komodifikasi atas hijab itu sendiri; dan ini tentu didasari oleh libidonomic—sebuah ekonomi yang disusupi hasrat akan profit yang kelewat batas. Kapitalisme, libidonomic, dromonomic—singkatnya ‘kapitalisme lanjut global hipermodern’ melakukan komodifikasi atas hijab demi tujuan profit dan eksistensi serta keberlanjutan kapitalisme itu sendiri. Masyarakat, yang apa boleh buat, telah dipacu hasratnya, lantas kemudian mengkonsumsi hijab, sebagai suatu bentuk produksi makna, penandaan dan dife- rensiasi sosial. Sampai di sini mungkin hal ini wajar-wajar saja, sebab toh ini pun meningkatkan kesadaran akan spiritualitas agama. Akan tetapi yang tidak disadari ialah pada titik apakah sebenarnya praktik hijab seseorang itu sebagai bentuk pelaksanaan perintah dari agama, atau sebagai satu bentuk konsumsi—atau produksi tanda/makna. Hal ini tentu dikembalikan ke tiap subjek yang melakukan praktik hijab tersebut. Boleh jadi subjek tersebut melakukan perintah agama sembari mengikuti tren fesyen. Akan tetapi, ia menjadi kontradiktif,
ketika hijab dan industri pada titik tertentu menghasilkan sesuatu yang disebut festival hijab—bahkan fesyen itu sendiri merupakan hal yang kontradiktif dengan hijab/jilbab. Festival ialah tontonan, terbuka seterbuka mungkin, sementara hijab itu sebaliknya; menutup. Dua hal yang bertentangan dan kontradiktif, di era hipermodern sekarang ini, diterima dalam suatu perpaduan eklektis, yakni fesyen dan festival. Penyatuan dua hal yang kontradiktif ini tidak bisa tidak merupakan suatu praktik hipermodernis. Belakangan, hijab kini dirayakan di dalam kedua segmen itu; fesyen dan festival. Pada beberapa momen, kita melihat festival hijab fesyen, yang entah harus kita syukuri atau sayangkan, membuat perputaran kapital di atas sana berjalan, dan turn-over kapital tercapai. Sementara di hari biasa, setiap hari, kita sekarang dapat melihat para hijabers memamerkan hijabnya yang tertutup yang dibalut suatu estetika fesyen yang menawarkan keindahan estetik yang memukau. Apa yang terdapat di balik hijab, kini bukan hanya aurat yang musti ditutup, akan tetapi juga terdapat simbol sosial, prestise, citra, dan bahkan status sosial tertentu. Ada sebuah ekstasi yang dihasilkan oleh indutrialisasi hijab sebagai fesyen. Yang membuat para hijabers tidak lagi cukup sekadar berhijab, akan tetapi musti bergaya sambil berhijab. Ekstasi, sekali lagi, menciptakan rasa kurang, bukannya rasa puas. Mungkin saja puas, akan tetapi setelah kepuasaan itu, tingkat kepuasan berikutnya sudah menanti untuk dipenuhi. Sehingga, lihatlah bagaimana kita dapat melihat perubahan gaya dan tren yang begitu cepat di segmen hijab dan fesyen. Dan begitu menakjubkannya, perubahan itu diikuti terus oleh para konsumen [masyarakat konsumeris] sampai pada titik hal itu dirayakan. Ini baru satu hal saja, belum lagi segmen lainnya.
Ialah perlu kita memahami bahwa ‘ekstasi’ adalah sebuah dimensi ‘kegilaan’, yang di dalamnya, masyarakat berputar tanpa henti dan tanpa interupsi, mengikuti arus hasrat—yang telah dirayu
dan digoda lewat segala taktik persuasi, bujuk rayu, dan komunikasi—dan arus kecepatan itu sendiri. Di sinilah titik di mana kapitalisme lanjut, libidonomic, dan dromonomic menyerang masyarakat. Kapitalisme menciptakan kondisi di mana masyarakat larut dalam dimensi ekstasi yang muncul dalam tindak konsumsi. Sehingga jangan heran jika kita lihat orang-orang gila belanja, gila wisata, dll. Kondisi ekstasi yang membuat larut, menciptakan kondisi kepuasan, akan tetapi sekali lagi, setiap pemenuhan hasrat, menuntut pemuasan selanjutnya, naik level, dan seterusnya sampai titik kondisi setelah ini-lalu itu-lalu ini-lalu… kondisi inilah ekstasi tersebut; suatu dimensi kegilaan; kondisi ini berputar terus menerus dengan kecepatan tertentu sampai pada titik di mana kecepatan arus tersebut tidak lagi dapat memberi makna pada kehidupan sosial dan manusia itu sendiri; apa yang diberi oleh arus kecepatan ekstasi hanyalah simbol dan prestise semu belaka. Pada titik ini, kita perlu merenung sedikit; misalnya segmen hijab tadi; makna hijab—baik ide maupun praktik—bagi manusia dan kehiduapn sosial tentu saja ada, akan tetapi makna fesyen hijab dan festival hijab? Apa makna hal itu bagi kehidupan manusia dan kehidupan sosial kita? Maknanya bagi saya hanya sekadar perayaan. Akan selalu ada hikmah tentu saja. Semoga siapapun mampu melihat hikmah dari perayaan tersebut.
Selain itu, kita coba perhatikan di segmen lain. Cyberspace dan komunikasi misalnya. Informasi dan ekstasi komunikasi yang berputar sedemikian cepat dan subjek-subjek larut di dalam arus ekstasi tersebut, ekstasi komunikasi virtual yang sebagimana saya gambarkan sebelumnya, justru menimbulkan sebuah dekomunikasi; berputar terus tanpa meningalkan bekas dan makna bagi kemampuan komunikasi riil yang kita lakukan, bahkan komunikasi dan hubungan kasih kita justru terkikis oleh derasnya perputaran informasi dan praktik komunikasi virtual dalam jagad simulacrum cyberspace ter-
sebut; mengakibatkan orang-orang justru larut dalam ekstasi komu- nikasi cyberspace dan mengakibatkan sebuah ‘kegilaan cyberspace.’
Jika kita memperhatikan, pun demikian perputaran cepat arus citra dan informasi dalam televisi—yang semakin berkait kelindan dengan sosial media cyberspace, citra dan informasi tersebut muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi tanpa memberi makna pada kehiduapn sosial; inilah ‘kegilaan televisi’. Uang berputar dalam tempo cepat dan tinggi dalam jagad moneter, jatuh- bangun saham, dan semua hingar-bingar sistem moneter global, berputar tanpa mampu memberi dampak manfaat pada sektor riil— inilah ‘kegilaan moneter’. Gaya dan penampilan berganti tanpa henti dalam jagad fesyen tanpa meninggalkan bekas yang meningkatkan kualitas spiritual—inilah ‘kegilaan gaya hidup’. 121
Kebudayaan Hipermodern
Semua bentuk ekstasi dan kegilaan, disebabkan oleh kapitalisme lanjut, libidonomic, dan hipermodernisme. Eksplorasi dan segala tindak masyarakat manusia di berbagai segmen [totalitas] menjadikan modernitas dan pomodernitas berkembang menjadi suatu tindak dan perayaan berlebihan, itulah hipermodernisme. Tetaplah hal ini sebagai bentuk dampak dari dominannya [totalitas dominasi] kapitalisme global lanjut terhadap kebudayaan modern.
Peralihan dari modernisme ke posmodernisme digambarkan sebagai peralihan dari klaim-klaim ketunggalan, keterpusatan, universalitas, homogenitas, dan rasionalitas ke arah sebaliknya yang bersifat majemuk, tidak terpusat, relativitas, dan heterogenitas.
121Ibid, h.359
Modern memang ditandai pada bagaimana klaim-klaim sains dan filsafat barat dianggap sebagai sistem tunggal menuju kebenaran. Rasionalitas sains termasuk dalam kapitalisme. Kapitalisme kemudi- an menjadi kebenaran ekonomi tunggal yang dianggap mampu men- jalankan ekonomi ke arah paling maju dan mampu menyejahterakan. Demikianlah modernisme itu. Sebagai akibatnya, posmodernisme muncul sebagai bentuk penolakan atas kebenaran tunggal tersebut, dan mengklaim relativitas dan bahwa ialah mungkin adanya beragam kebenaran. Banyak model posmodernisme jelas menunjukkan sifat relativitas, heterogenitas dan keberagaman. Semangat posmodernisme juga menunjukkan penolakan pada klaim oposisi biner seperti tinggi/rendah, elit/popular, luhur/murahan, seni/kitsch, dll.,
Akan tetapi kini, semua itu justru berbalik. Posmodernisme yang membela klaim majemuk, relativitas, heterogen, tidak terpusat, justru berbalik pada satu pengagungan ketunggalan yang lahir dari modernisme dan kapitalisme; yakni pasar.
Segala bentuk posmodernitas, di era globalisasi justru tersedot ke dalam ketunggalan pasar. Kapitalisme global lanjut mengakibatkan tarikan pasar dan juga eksplorasi terus menerus yang berdampak pada berakhirnya posmodernitas dan modernitas; sehingga yang tersisa adalah upaya menyatukan segalanya dalam bentuk hipermodern yang melampaui batas-batas dan juga melakukan pencampuran hal-hal yang sebenarnya bertentangan. Ambisi ekonomis pada akhirnya menghancurkan ideologi masing- masing.
Selain dari sisi ekonomi dan ideologi tadi, kita akan melihat bagaimana politik kultural dalam hipermodernisme. Yang perlu diperhatikan pertama ialah politik konsumsi. Politik kultural hipermodernisme tidak bisa dilepas dari ekonomi kapitalisme lanjut.
Ia beriringan, dan bahkan bisa dikatakan sebagai efek dan bentuk strategi dari kapitalisme itu sendiri. Di dalam ekonomi kapitalisme, berkembang masyarakat konsumer yang telah menjadikan konsumsi sebagai sebuah ideologi dan praktik eksistensial, yakni bagaimana suatu tindak konsumsi sekaligus dapat mengkonstruksi diri subjek; bagaimana makna dan nilai kehidupan, aktualisasi diri dan eksistensi subjek diperoleh lewat tindak konsumsi. Pada titik ‘politik konsumsi’ ini, objek konsumsi tidak lagi dikonsumsi berdasar nilai-guna, akan tetapi nilai-tanda. Objek konsumsi tak lagi bersandar pada logika fungsi, kegunaan, dan logika kebutuhan, akan tetapi pada logika tanda. Tanda kini menentukan tindak konsumsi.
Tindak konsumsi tidak lagi bersandar pada logika kebutuhan, fungsi dan guna. Melampaui itu semua, konsumsi kini berdasar pada tanda—sebagai kausalitasnya. Objek konsumsi memiliki tanda, simbol, citra yang menandai gaya, prestise, status sosial yang hidup dalam sistem penandaan sosial. Mengkonsumsi pakaian berarti menggunakan pakaian tersebut, sekaligus menandai gaya dan citra serta kelas dan status dalam kesosialan. Tanda yang berada pada objek konsumsi mendefinisikan posisi dan relasi-relasi sosial di baliknya.
Konsumsi bukan lagi tindak memenuhi kebutuhan, bukan lagi menghabiskan nilai-guna suatu objek. Melampaui itu, konsumsi kini menjadi sebuah tindak produksi subjektivitas diri; diferensiasi sosial; dan signifikasi [penandaan] sosial. “Konsumsi jadi semacam teater sosial, yang di dalamnya para aktor [konsumer] memainkan peran tertentu [gaya hidup] di atas panggung sosial [mall, ruang pesta, tempat hiburan], dengan berbagai tema cerita [citra] yang dimainkan. Ruang konsumsi menjadi ajang carnivalism dan inter- tekstualitas, yaitu sebuah ajang permainan tanda, citra, dan makna,
dengan berbagai strategi di baliknya, di antaranya adalah lewat pembalikan kode sosial, pelanggaran tabu, peleburan hirarki.” 122
Hal kedua yang perlu diperhatikan ialah politik tontonan. Hipermodern adalah era tanda/simulakra dan era tontonan/ spektakel. Sejak posmodern sudah demikian, akan tetapi era hipermodern ialah bagaimana simulakra dan spektakel kini dirayakan. Festival adalah bukti perayaan tontonan. Dan kini, perang, korup, prostitusi ditonton sebagai informasi oleh masyarakat, sebagian lainnya merayakan semua itu. kesinambungan yang menakjubkan. Sebagian orang merayakan politik, sebagian lain menontonnya; sebagian merayakan korupsi, sebagian lainnya menonton dengan seksama. Tontonan berseliweran di mana-mana, di genggaman, di tahta ruang keluarga, di kamar pribadi, di lapangan terbuka, di stadion, aula gedung, kafe, tontonan tersaji. Semua perayaan menjadi tontonan; musik dan puisi jadi tontonan; kampanye politik dan aksi protes massa jadi tontonan; tentu saja film dan seks; tarian dan porno menjadi tontonan, penari striptease; model bikini dan hijabers jadi tontonan di festival dan lenggak-lenggok di atas catwalk; porno dan skandal seks jadi tontonan; baku hantam, kekerasan dan perang, jadi tontonan; aksi heroik polisi menyelamatkan masyarakat dari bahaya narkoba dengan menangkap begundal kecil yang membawa sepoket ganja adalah tontonan.
“Tontonan [dan citra/simulakra di dalamnya] menjadi penentu relasi di antara kelompok sosial, entah relasi kelas, status, atau gaya hidup.” Tontonan adalah cara manusia hipermodern memaknai hidup; tontonan menjadi “acuan nilai dan moral masyarakat (baik/buruk, benar/salah), padahal, tontonan adalah ilusi yang ditanamkan pada objek tontonan, tetapi ilusi itu mengendalikan
122Piliang, 2004, opcit, h.427
persepsi dan kesadaran masyarakat yang melihat dan menontonnya.” Lantas kemudian masyaraat tontonan—yang di dalamnya tontonan menjadi titik pusat kebudayaan—ini bertransformasi menjadi masyarakat ilusi, “yang merayakan ilusi ketimbang realitas.” Msayarakat hipermodern kemudian dijajah oleh ilusi-ilusi tontonan tersebut; kesadarannya ialah kesadaran yang diperoleh dari ragam ilusi yang ditonton. 123
Ketiga, hal ihwal politik citra-pencitraan. Inilah politik kultural hipermodernisme yang pada gilirannya menghasilkan ilusi tontonan dan meningkatkan konsumerisme. Citra dan pencitraan ialah strategi utama di dalam sitem produksi dan konsumsi hipermodern. Di dalamnya, konsep, gagasan, tema atau ide-ide dikemas sedemikian rupa dan ditanamkan pada produk atau objek konsumsi. Citra kemudian hidup di dalam objek konsumsi dan mengendap menjadi memori publik dan mengendalikan diri mereka [publik]. “Citra digunakan sebagai alat pengendalian massa konsumer,” lewat pengendalian selera, gaya hidup, tingkah laku, serta imajinasi-imajinasi kolektif yang dilakukan oleh “sekelompok elit [kapitalis], lewat berbagai ilusi-ilusi yang diciptakan.” Citra dimak- sudkan tidak lain sebagai instrumen untuk menguasai kehidupan jiwa [inner life] dan pikiran, serta sekaligus mengendalikan tingkah laku eksternal setiap orang yang dipengaruhinya. Citra yang dihidupkan dalam objek-objek konsumsi, baik yang menjadi tontonan maupun perayaan, pada titik tertentu juga mempengaruhi pemaknaan subjek di dalam masyarakat atas diri dan dunianya; mana yang baik/buruk, mana yang berkelas dan tidak, mana yang keren dan norak. Ialah citra yang telah menguasai inner life sang subjek di dalam masyarakat. Akibatnya kemudian, citra pada titik tertentu akan menghan- curkan sistem penandaan itu sendiri, tepat ketika citra memutuskan
123Ibid, h.428
rantai hubung pertandaan [antara penanda dan petanda], dan semua kemudian menjadi ilusi hiperrealitas. Citra pada gilirannya men- transformasikan yang tidak perlu menjadi sangat perlu, yang banal menjadi esensial. Tidak ada lagi sistem acuan di dalam hipermodernisme yang telah menghancurkan segalanya demi pelepasan hasrat dan ibidnomic kapitalisme. Permainan tanda yang bebas membuat permainan citra semakin mendapat tempatnya di era hipermodern.
…
Semua hal tersebut [misi ekonomi, ideologi dan politik kultural—politik konsumsi, tontonan dan citra], kemudian mengkondisikan peradaban masyarakat hipermodern yang dihiasi kebudayaan hipermodern yang merupakan bentuk eksplorasi berlebihan dan melampaui batas, serta pencampuran-pencampuran dua atau lebih hal-ihwal yang bertentangan. Semua sebagai dampak dari ketunggalan misi ekonomi kapitalisme global lanjut.
Kebudayaan hipermodern ialah kebudayaan yang di mana segala tindak tidak bisa lepas dari kapitalisme dan selalu terkait dengan tindak konsumsi, yang sedemikian rupa telah bergeser dan melampaui bentuk dan maksud dari konsumsi itu sendiri. Kebudayaan hipermodern disarati permainan tanda dan citra yang sebenarnya hanya menawarkan ilusi semata, kepuasan-kepuasan semu belaka. Kebudayaan hipermodern adalah kebudayaan pelampauan.
Perkembangan kebudayaan hipermodern ialah sebagai efek totalitas ekonomi kapitalisme global lanjut yang pada titik ekstrim- nya melakukan eksploraai berlebihan, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengannya, serta berpacunya mesin hasrat yang dimotori libidonomic. Hasrat ekonomis kapitalisme menjadi motor penggerak eksplorasi atas kebudayaan, dan eksplorasi atas
kebudayaan mengakibatkan ‘penjungkir balikan’ nilai-nilai budaya serta campur aduk bentuk-bentuk budaya, yang berakibat pada turbulensi budaya yang kacau dan mengawali proses terbentuknya kondisi hyper pada kebudayaan. Perkembangan itu selanjutnya menghasilkan berbagai kodisi seperti hiperrealitas budaya, dromologi budaya, banalitas dan kompleksitas budaya.
Kebudayaan kita di era hipermodern sedemikian kompleks, ia merupakan entitas yang saling berkait-kelindan, saling bergantung antar satu unsur dan unsur lainnya. Globalisasi, ekonomi kapitalisme dan ekspansinya, perkembangan lainnya, membuka sedemikian banyak jalan bagi pertukaran, persinggungan, tumpang-tindih antara satu unsur kebudayaan dan lainnya, mengakibatkan sedemikian rupa pembiakan unsur-unsur budaya yang kian kompleks. Budaya kini berkembang pada titik kompleksitas yang demikian tinggi. Kebudayaan hipermodern berkembang dalam sebuah relasi, jaringan, dan garis-garis hubungan yang sangat kompleks, yang di dalamnya mensyaratkan kesaling-terhubungan eksistensial.
Kebudayaan hipermodern adalah kebudayaan yang hyper, kompleks, dan banal, yang berpacu dengan kecepatan [cepat dan sering] dromologi. Era hipermodern ialah era perayaan atas kebanalan. Yang banal-banal kini menjadi penting dan utama, dan untuk itu kemudian dirayakan dan diaktualkan hingga pada titik ia menjadi sering dan secara terus menerus [dromologi] dirayakan, kebanalan itu kemudian menyebabkan matinya nilai esensial. Matinya nilai, ialah bentuk hiperrealitas budaya, sebuah kondisi di mana setiap tindak tidak menjadi penting apa maknanya. Bertindak itu sendiri lah yang diperlukan dan dirayakan. Akan tetapi tindak-tindak itu ialah tindak perayaan tanpa makna. Sebagai contoh misalnya pada bagaimana perayaan masyarakat atas sosial media. Sosial media kini menjadi suatu hiperrealitas budaya yang sangat jauh
dari makna esensial, dan justru merupakan banalitas budaya, yang dilakukan dan dirayakan secara terus menerus dengan kecepatan yang sedemikian rupa telah sampai pada titik hiper sehingga melahirkan sebuah hiperrealitas budaya.
Kebudayaan hipermodern merupakan hiperrealitas budaya yang sedemikian kompleks dan secara terus-menerus merayakan banalitas budaya. Dalam kondisi hiper, kebudayaan yang banal berpacu terus-menerus di ruang sosio-kultural, dan menjadi akhir dari esensial. Banalitas telah menumbuhkan sikap ketidak acuhan terhadap kategorisasi nilai dan makna: benar/salah dan baik/buruk. Kebudayaan secara umum telah kehilangan dimensi refleksi, yaitu dimensi internalisasi realitas dengan menilai sumbangsihnya terhadap subjektivitas manusia. Kebudayaan menyerap apapun yang dikreasi- kan, tetapi kehilangan pemaknaan. Makna-makna esensial tidak lagi dipedulikan. Masyarakat merayakan kebudayaan yang begitu banal tanpa mengerti makna esensial dari apa yang dirayakan; tak perduli lagi akan makna esensial tersebut. Kebudayaan berkembang begitu cepat dan pesat [dromos] hingga pada titik instan keseketikaan, silih berganti sedemikian cepat tanpa menyisakan waktu bagi refleksi dan pemaknaan dan penghayatan. Makna-makna telah basi dan ditinggal- kan, tiada dihidupkan lagi dalam kesosialan.
Tuntutan kecepatan, instan, keseketikaan, kesegeraan, membuat kebudayaan dirayakan dan diprakikkan tanpa memandang dan mempertimbangkan makna lagi. Tuntutan kecepatan itu mencabut kebudayaan dari ruang dan dimensi transendentalnya, dan kini menjelma suatu eksatsi kebudayaan eklektis permukaan tanpa kedalaman. Semua sebagai sebuah bentuk kebudayaan hipermodern.
Merayakan Hipermodern [isme & itas]
Manusia memang menciptakan sejarahnya, akan tetapi sejarah itu sendiri mempengaruhi subjek dalam setiap prosesnya. Modernisme dan kapitalisme pada gilirannya mempengaruhi manusia dalam penciptaan sejarah itu sendiri. Kini, telah sampailah kita pada periode sejarah yang retroaktif, di mana semua yang kita miliki, ide, gagasan, filosofi, pada satu titik, secara luar biasa progresif beradaptasi dengan modelnya sendiri. Dan model-model itu telah terbentuk dan tersesuaikan dengan sistem kapitalisme. Kapitalisme secara total telah menjadi suatu sistem hidup manusia [baik di level produksi maupun konsumsi]. Dengan beragam kreasi dan inovasi, taktik dan strategi, kapitalisme masuk menjangkiti teknologi maupun filosofi, dan berkembang dalam setiap domain yang disusupinya.
Kebudayaan [segala aspek hidup] yang telah disusupi kapitalisme itu kini telah dipacu sampai pada titik hiper, melampaui batas-batasnya. Keharusan turn-over capital, atau pencapaian profit membuat segalanya kini musti mencari cara untuk beradaptasi dan berinovasi. Inovasi dan kreasi sampai pada titik di mana kebudayaan menjadi kebudayaan hipermodern yang hiperril, banal, nihil, tanpa makna yang bisa diendapkan pada kehidupan dan kesosialan masya- rakat manusia itu sendiri. Kehidupan hipermodern menjadi suatu tanda berakhirnya makna.
Berakhirnya tanda, makna, atau kesosialan, tidaklah serta merta mengakhiri kebudayaan dan kehidupan; eksplorasi yang berlanjut tidak pula berarti berakhirnya ruang; sebaliknya, kebudayaan dan kehidupan itu sendiri kini dipacu terus dan berputar, lebih sebagai sebuah ekstasi—ekstasi kebudayaan dan kehidupan yang banal, hiperriil, bahkan nihil—yang dirayakan dan eksis tanpa
makna dan tanpa memberikan makna bagi subjek yang mendiami bumi.
Segala yang dimiliki kehidupan kini beradaptasi dengan model baru yang harus diciptakan, yang diciptakan kapitalisme. Masyarakat itu sendiri kini menjelma masyarakat kapitalis, konsumeris, sampai masyarakat perayaan yang dengan logika baru [hasil adaptasi kapitalisme dan hipermodernisme], tidak mempersoalkan perkara matinya kesosialan, berakhirnya makna atau tanda, dsb., dst., sebaliknya merayakan segala hiperrealitas dan hipermodernitas yang melampaui batas-batas dan bentuk modernnya sendiri, yang sepe- nuhnya kini bersifat kompleks, tapi sekaligus simple—sebagai produk kapitalisme.
Kapitalisme dan libidonomic, menjadi faktor determinan dalam adaptasi retroaktif hipermodern; artinya perkembangan modernitas ialah sebagai konsekuensi dari pacuan kapitalisme dalam pencarian profit, ekspansi, eksplorasi dan eksploitasi kapital. Dalam perkembangan itu, pada titik tertentu, modernitas yang telah dipacu mendekati batas bahkan melampaui batasnya, secara retroaktif akan beradaptasi sendiri dengan bentuk perkembangannya itu, kini menjadi hipermodernitas.
Seiring perkembangan modernisme yang telah mencapai titik hipermodernisme, masyarakat ikut pula berkembang; segala ide dan gagasan masyarakat kini berkembang, terpola dan beriringan dengan perkembangan kapitalisme dan modernisme—ke arah hiper. Masyarakat telah mati, yang ada justru masyarakat dengan embel- embel dan atribut-atribut tambahan lain—masyarakat kapitalis, masyarakat konsumeris, sampai masyarakat perayaan.
Masyarakat perayaan ialah jenis masyarakat terbaru dalam periode hipermodern. Terdapat begitu banyak tanda-tanda yang
menunjukkan bagaimana masyarakat telah bertransformasi; masyarakat kapitalis yang hidup dengan sistem kapitalisme modern awal, bertransformasi menjadi masyarakat konsumeris seiring dengan kemunculan posmodernisme, terlebih ketika posmodernisme di- komodifikasikan balik oleh modernisme dan kapitalisme mutakhir pada periode posmodernisme tadi. Tepat pada era posmodernisme tersebut, kita melihat transformasi masyarakat menjadi masyarakat konsumeris, yang sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ditandai dengan perubahan signifikan pada tindak dan makna konsumsi yang telah sedemikian rupa berubah dan bergeser.
Satu hal yang musti kita perjelas dan bahas di sini sebelum masuk pada pembahasan terkait transformai masyarakat baru— masyarakat perayaan—di era hipermodern ialah tentu saja hipermodern dan hipermodernisme itu sendiri. Sebagai periode historis, periode modern tidak bisa dijelaskan semata sebagai dan lewat kacamata atau diskursus modern itu sendiri. Secara kasar, kita tidak bisa menulis dalam makalah, jurnal atau esai, kata dan kalimat “pada zaman modern”, “di era modern” dsb. Kata atau kalimat yang demikian itu terasa begitu memualkan. Kenapa? Sebab kita tahu ada periode postmodern atau pascamodern yang dihiasi begitu banyak wacana, gerakan, atau tetek-bengek lainnya yang berkitan dengan posmodernisme yang cukup berbeda dan bahkan bertolak belakang pula dengan modern dan modernisme itu sendiri. Tapi memang modernitas dan modernisme telah berhasil mengkomodifikasikan balik posmodernisme, bahkan posmodernisme yang transgresif atau progresif sekalipun. Posmo transgresif itu berhasil dikomodi- fikasikan dan pengkomodifikasian itu memberi keuntungan bagi kapitalisme. Lantas, untuk menegaskan hipermodernisme, kita musti menjabarkan kembali tentang dua epos sebelumnya; modernisme dan posmodernisme.
Modernisme dan posmodernisme disebut sebagai konsep kultural dan epistemologis yang bertentangan; modernisme yang cenderung menyepakati kebenaran tunggal, ditentang oleh posmodernisme yang meyakini bahwa kebenaran tidak mesti tunggal, akan tetapi ialah sangat mungkin adanya beragam kebenaran. Posmodernisme juga ditandai oleh banyaknya gerakan intelektual maupun kultural seni yang menyerap gagasan-gagasan marxisme dan beragam gagasan lain yang menentang kapitalisme. Di era posmodernisme jugalah berkembang beragam argumen dan gagasan yang menolak marxisme sebagai gagasan tunggal yang menentang dan mengkritisi kapitalisme. Pertentangan ini berlanjut sampai pada titik di mana kapitalisme yang semakin kokoh kemudian justru berhasil membalik keadaan dan melakukan komodifikasi balik atas segala macam posmodernisme yang mengandung kritik atas kapitalisme. Katakanlah Punk, suatu subkultur yang jelas-jelas lahir dari rahim proletar, justru menjadi suatu komoditas bagi kapitalisme yang berhasil melakukan transformasi dan melancarkan taktik perkem- bangan rizomatik yang begitu ciamik. Ialah keberhasilan terbesar kapitalisme ketika dengan libidonomic mereka melepaskan suatu energi yang berhasil menyebabkan ledakan hasrat. Dan energi ini akhirnya kemudian menjadikan tabiat konsumtif dan konsumerisme yang berlebihan sehingga masyarakat pun bertransformasi menjadi masyarakat konsumeris.
Kini, masyarakat konsumeris, kapitalisme lanjut, libidonomic, dromologi, energi kecepatan, dan segala macam lainnya, telah memacu waktu sedemikian rupa hingga pada titik tercepat— instan, memangkas jarak dan ruang sampai jauh, dilipat dan dihan- curkan sedemikian rupa lewat teknologi, membawa masyarakat dunia global ke dalam suatu periode hipermodern.
Akan tetapi, hypermodern dan hypermodernisme itu sendiri seringkali disamakan dengan postmodernisme. Piliang, saat mengulas posmodernisme dalam bukunya, mengatakan bahwa diperlukan klarifikasi terkait dua konsep yang seringkali disamakan ini. Ia mengatakan bahwa
posmodernisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keenderungan baru pemikiran dan realitas budaya, sebagai konsekuensi dari berakhirnya modernisme—yang ditandai oleh terbatasnya gerak kemajuan [progress] dan kebaruan [newness] di dalam berbagai bidang kultural—sehingga kemudian kebudayaan memalingkan muka ke wilayah-wilayah masa lalu, dalam rangka memungut kembali warisan bentuk, simbol dan maknanya. Hipermodernsime sebaliknya, ialah istilah untuk menjelaskan kecenderungan perkembangan modern ke arah yang melampaui [hyper] atau melewati [beyond], yaitu perkembangan unsur- unsur modernitas ke arah garis-garis batas yang seharusnya tidak ia lewati, sehingga menggiringnya pada kondisi ekstrim.
Apa yang menjadi tanda posmodernisme ialah bahwa ia merupakan periode di mana kebudayaan manusia berada pada titik ‘nostalgia’ setelah semua modernitas bergerak maju tetapi terasa terbatas, dan kebaruan-kebaruan dirasa tidak lagi dapat ditemukan, dan kebudayaan kemudian melakukan gerak ‘nostalgic’ dan pastiche, memungkinkan banyak perpaduan, kolase sampai brikolase. Semen- tara hipermodernisme berorientasi masa depan. Perbedaan orientasi ini yang membuat pemikir seperti Baudrillard dan Paul Virilio cen- derung melihat keduanya sebagai dua kecenderungan yang berbeda.
Kita kembali kepada titik penjelasan tentang hipermodern sebagai suatu periode yang ditandai dengan begitu banyak modernitas yang telah melampaui bentuk modernnya sendiri. Di periode inilah kita tengah berada sekarang, dekade ketiga abad 21. Di periode ini nantinya akan kita lihat serangkaian perkembangan modernitas yang dipacu ke arah garis batas, bahkan melampaui dan
melewatinya, sehingga menggiring unsur modernitas itu ke titik dan kondisi ekstrim.
Beberapa tahun belakangan, ialah signifikan kita melihat bentuk-bentuk posmodernisme yang berorientasi nostalgia, dan melakukan semacam pastiche—atau katakanlah kolaborasi kolase dan brikolase, yang dimaksudkan demi orientasi futuristic. Artinya, konsep posmodernisme dan hipermodernisme tidak hanya bisa dipandang dari posisi yang saling bertentangan [oposisi biner], akan tetapi dua konsep tersebut bisa dilihat dalam bingkai eklektisisme, di mana dua hal yang bertentangan dan bertolak belakang bersatu padu dalam suatu kesatuan dengan menerima kontradiksi di baliknya. Kondisi kebudayaan [sosial politik kultural plus ekonomi] kita belakangan ini pun menunjukkan kecenderungan yang demikian, di mana banyak hal yang entah secara filosofis atau esensial sebenarnya bertentangan dan bertolak belakang, di era global ini, beberapa tahun belakangan justru bersatu padu dalam suatu kesatuan di mana kontradiksi yang mereka kandung masing-masing, diterima dalam kesatuan eklektis tersebut. 124
Berdasarkan itu, kita dapat menarik hipotesis bahwa kita tengah memasuki suatu periode hipermodern yang ditandai oleh beragam tingkah-laku, tindak, gerak, konsep, filosofi, ide, dan gagasan [singkatnya; kebudayaan] yang meskipun ia bertolak belakang, tetapi bersatu-padu dalam suatu kesatuan eklektisis, dan di dalam kesatuan eklektisis itu, hal-hal yang bertolak belakang dan bersifat kontradiksi, diterima. Belakangan, fenomena-fenomena
124Perhatikan fenomena ‘festival hijab’. Hijab adalah penutup, dilakukan untuk menutup aurat. Sementara festival sifatnya terbuka, dan untuk dipertontonkan. Dua hal yang bertolak belakang kini bersatu padu, dan di dalam perpaduan itu, kontradiksi keduanya diterima sedemikian rupa. Penerimaan kontradiksi ini, sedemikian rupa dilakukan dan menguntungkan perputaran capital.
seperti itu, mulai banyak kita lihat, dengar, dan rasakan. Dan inilah yang saya simpulkan sebagai hipermodernisme—suatu istilah yang akan menjelaskan kecenderungan-kecenderungan gerak ataupun tindak peradaban manusia yang telah sampai pada titik di mana un- sur modernitas dipacu sampai melampaui bentuk modern-nya sendiri, bahkan sampai melampaui batasnya; serta diringi pula dengan perpaduan-perpaduan, bahkan perpaduan antara dua atau lebih hal-hal yang sejatinya bertolak belakang; dan kontradiksi dari dua hal yang bertolak belakang itu diterima di dalam suatu bentuk perpaduan eklektis. 125 Ciri ‘melampaui’ dan ‘perpaduan dua atau lebih hal-hal yang kontradiktif’ dari transformasi ke hipermodernise ini bisa saling beriringan, namun ada pula yang berdiri masing-masing.
Saya tidak akan mengatakan bahwa posmodernisme telah bertransformasi dan maju melakukan ragam perpaduan sebagai posmodernisme. Justru transformasi itu telah dipacu hingga mencapai titik melampaui modern dan posmodern itu sendiri, sehingga transformasinya berlanjut pada bentuk hipermodernisme.
Pada periode hipermodern inilah kita sekarang tengah berada—dekade ketiga abad 21 yang baru kita masuki inilah periode
125Piliang membincangkan hipermodernisme sebagai bagian dari posmodernisme, di mana ia melihat hipermodernisme yang melakukan pencampuran eklektisis cenderung merupakan bagian dari ciri kebudayaan posmodernisme. Ada inkonsistensi bagi saya, ketika Piliang menjelaskan posmo yang berorientasi nostalgic lalu menjelaskan hypermodern yang berorientasi futuristic, kemudian ia juga menjelaskan suatu posisi di mana postmodern dan hypermodern bersatu padu dalam bingkai dan posisi eklektis. Dan melanjutkan penjelasan di mana hypermodern justru menjadi bagian dari postmodern yang banyak menciptakan perubahan mendasar bagi budaya objek, sampai pada titik di mana objek kini mengendalikan subjek manusia. Bagi saya, hal itu menafikan banyak gerakan posmo yang justru mengemansipasi subjek. Saya lebih memilih untuk mengatakan dan mengkategorikan perubahan mendasar itu sebagai hypermodernisme yang lebih baru. Bukan posmodernisme.
hipermodern. Dan pada periode ini kita akan melihat perubahan masyarakat; di mana masyarakat konsumeris yang banyak di era modern akhir dan/atau posmodern akan bertransformasi menjadi sebuah masyarakat perayaan; sebentuk masyarakat yang merayakan konsumerisme dengan pola yang telah sampai pada titik berlebihan dan melampaui bentuk konsumsi modern.
Apa yang menjadi ciri utama dari masyarakat perayaan adalah suatu bentuk perayaan. Bentuk perayaan ini lebih dari sekadar bentuk konsumeris. Keduanya—konsumsi dan perayaan akan ber- iringan dan bersatu padu saling menyuburkan. Konsumsi yang telah bergeser pada masyarakat konsumeris, di mana konsumsi berkembang-bergeser menjadi suatu tindak diferensiasi sosial dan sekaligus produksi makna dan tanda, simbol, atau prestise tertentu, pada satu titik akan berkembang untuk kemudian dirayakan oleh masyarakat.
Pada titik yang demikianlah masyarakat konsumeris bertransformasi menjadi masyarakat perayaan; masyarakat yang merayakan perilaku konsumtif sebagai suatu tindak produksi tanda, makna, simbol, dan prestise tertentu yang ditujukan sebagai suatu bentuk perayaan atas kemampuan subjektif dalam melakukan diferensiasi sosial. Pada titik ini, konsumsi semakin berkembang menjadi gaya hidup, dan gaya hidup akan dirayakan sampai pada titik di mana objek-objek yang berputar dan berada dalam gaya hidup itu terus memaksa subjek untuk mengkonsumsi dan menggunakannya. Dan semua ini, akan dirayakan dengan perasaan bangga oleh masyarakat perayaan. Rasa bangga memiliki, menggunakan, menan- dai diri dengan suatu tanda yang semu, yang sejatinya diciptakan oleh produser dari objek-objek konsumsi, dan produser itu adalah kapitalis dan sistem kapitalisme lanjut.
Manusia, [masyarakat manusia] memang menciptakan sejarahnya, akan tetapi tidak sepenuhnya atas dasar kehendaknya sendiri. Banyak hal di luar dirinya menjadi faktor determinan dalam proses kreasi dan inovasi penciptaan oleh manusia dan masyarakat itu sendiri. Maka di sini, masyarakat perayaan sebagai suatu transformasi masyarakat pun tidak bisa dikatakan sebagai suatu bentuk transformasi yang independen, karena—sebagaimana ditunjukkan sebelumnya—pada titik tertentu masyarakat perayaan itu sendiri ialah masyarakat yang bertransformasi dengan pengaruh faktor dterminan dari kapitalisme yang secara menonjol bahkan total telah menguasai banyak aspek dan elemen kehidupan.
Masyarakat perayaan yang merayakan segala tindak yang difaktori secara determinan oleh kapitalisme ini, kini menjadi masyarakat [mayoritas] yang hidup di era hipermodern ini, dan masyarakat ini yang merayakan segala bentuk hipermodernisme.
Bagaimanakah bentuk perayaan masyarakat atas hipermodernisme? Inilah yang akan kita coba eksplorasi sekarang di sini.
Dalam hipermodernisme yang merupakan bentuk tindak pelampauan batas, titik akhir itu sendiri lenyap dalam tiap tindak pelampauan. Tidak ada lagi tujuan akhir. Ketiadaan titik akhir menjadikan semangat untuk berkembang menjadi tak berbatas, batas itu sendiri dilampaui oleh tindak-tindak hiper. Akhir dari tubuh mungkin saja ada, tetapi di mana akhir dari ekonomi? Di mana akhir dari kebudayaan? Yang terjadi adalah kita dipacu mencapai akhir dari segala sesuatu dengan cara-cara yang tak memiliki akhir. Tidak adanya akhir dari ekonomi kapitalisme, menjadikan kita terjebak dalam siklus turn-over capital yang tanpa akhir. Dan dalam siklus itu kita terjebak, terjebak untuk terus melakukan tindak-tindak yang menjadi roda gigi mesin kapitaisme. Segala ilusi dan citra digunakan
untuk menjebak kita untuk ikut merayakan kapitalisme dan hipermodern.
Masyarakat yang dulu mendidik, membimbing dan membina kita untuk dapat bermanfaat bagi bangsa dan agama, kini telah mati. Berganti dengan jenis masyarakat mutakhir yang mengajarkan kita untuk perlahan berkhianat dan melupakan semua yang diwejangkan masyarakat terdahulu; masyarakat baru ini mengajak kita berpacu dengan hasrat; mengikis semua lapisan moral spiritual; meng- gugurkan semua batasan etis dan standar moralitas; untuk mencapai kebebasan paling puncak—yang tak berbatas; melampaui segalanya. Inilah masyarakat kapitalis konsumeris dan juga masyarakat perayaan yang luar biasa, namun begitu menyedihkan. Ilmu dan teknologi dari masyarakat ini begitu menakjubkan. Semua dilakukan demi menuruti keinginan hasrat libido hawa nafsu.
Dua logika yang menandai perkembangan masyarakat kapitalisme global [ekonomi global, komunikasi global, kebudayaan global], yaitu logika pelepasan energi nafsu [libido] dan logika kecepatan, yang kedua-duanya berperan besar bagi kelenyapan sosial.
Di bawah tonggak kepemimpinan kapitalisme lanjut global, dunia diarahkan menuju kemajuan paling jauh yang bahkan tak terpikirkan sebelumnya. Di bawah tonggak kapitalisme lanjut ini, dunia dipacu dengan energi hasrat yang bergelora. Masyarakat yang telah bertransformasi menjadi massa, dirayu untuk menuruti keinginan mengkonsumsi yang tersimpan rapi di dasar hasrat. Logika hasrat yang dimainkan kapitalisme lanjut, diiringi dengan logika kecepatan, membuat masyarakat kapitalis konsumeris terhanyut ke dalam pusaran ‘mesin hasrat’ dan larut di dalam arena pacuan di mana massa konsumeris berpacu dengan hasratnya sendiri.
Masyarakat baru, masyarakat kapitalis konsumeris ini tengah menghidupi dunia yang sepenuhnya dilingkupi energi hasrat libido, dunia yang lalu lintasnya ialah kegairahan dan kesenangan, yang pertukaran sosial dan ekonominya ialah pertukaran hasrat hawa nafsu, yang paradigmanya ialah paradigma kecepatan dan percepatan yang serba cepat dan lebih cepat lagi. Inilah dunia baru, dunia yang ditata kapitalisme lanjut, yang disarati oleh beraneka ragam energi, kegairahan, pergerakan, perubahan dan perkembangbiakan yang tanpa henti. Di dunia yang begitu rupa, “ke mana pun kita memandang, yang kita lihat adalah beraneka ragam artikulasi getaran nafsu, dan ke mana pun kita berjalan, yang kita temukan adalah beraneka ragam arus libido yang bergerak tanpa henti.” Kapan pun di mana pun, energi hasrat libido ini “selalu menemukan tempatnya.” 126
Sungguhlah masyarakat telah jungkir-balik, salto fatale ke dalam tata kapitalisme lanjut yang berkembang sedemikian rupa dengan dua logika-nya; logika pelepasan energi hasrat libido dan logika kecepatan, yang—sekali lagi—keduanya berperan besar bagi kelenyapan sosial. Maka sungguhlah, masyarakat telah mati.
Permainan kombinasi yang diterapkan kapitalisme pada tiap bidang di dalam tiap model pembangunan dan pengembangan usaha dan bisnis yang dijalankannya, sekaligus telah mengakibatkan kontaminasi dalam-pada tiap bidang itu. Maksudnya, tiap bidang yang dikombinasikan dalam sebuah model dan bentuk baru [dengan kombinasi model rizomatik] akan turut juga mengalami kontaminasi. Pun kontaminasi ini juga telah meresapi ragam diskursus dalam kehidupan masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global.
Berbagai diskursus kini tengah berada dalam krisis sebagai akibat berlebihannya kombinasi, dan terlampau dipacu. Akibat dari
126Piliang, 2004, opcit, h.141
logika percepatan dan pelepasan energi hasrat libido, semua bidang dan diskursus kini telah terkontaminasi oleh energi libido. Beragam diskursus di dalam kehidupan masyarakat, sudah tak mampu “mempertahankan struktur alamiah dan normatifnya sebagai akibat dari berbagai kontaminasi yang mengenainya.”
Diskursus filsafat misalnya, ia tak lagi sekadar berkaitan dengan “identitas konvensionalnya sebagai arena perbincangan, pengembangan pemikiran, refleksi, kontemplasi, atau interpretasi dalam upaya mencari kebijaksanaan, kebenaran, atau logos,” namun ia telah terkontaminasi—dan patut disayangkan—oleh getaran hawa nafsu dan energi libido yang melanda secara gobal, sehingga ia pun berkembang melampaui jagad filsafat itu sendiri. Dalam filsafat kini berkembang semacam libidosophy yang terus memunculkan “pengembaraan dalam menjelajahi konsep-konsep serta kemungkinan-kemungkinan bagi pelepasan hawa nafsu dan penyempurnaan energi libido, sebagai satu bentuk substitusi dari kebijaksanaan atau kebenaran yang dicari secara konvensional di dalam filsafat.” 127
Begitu menyeramkan membaca apa yang digambarkan Piliang, di mana beliau memaparkan Filsafat telah dipacu juga untuk tertancap dan bersemayam dalam iklan body lotion, video clip, sampai kafe. Bagaimana kemudian kemunculan filosofi kopi yang melancarkan bisnis kopi. Semua memicu tumbuhnya konsep-konsep, dan Piliang menyebut bahwa konsep-konsep itulah yang berkembang menjadi supra-struktur masyarakat kapitalisme global kini. Dan dengan konsep ini masyarakat terus maju membawa filsafat—yang sudah terkontaminasi libido—sampai “terkontaminasi [pula] oleh tempo, kecepatan, panik, dan histeria yang melanda dunia global
127Ibid.
kita.” Masyarakat kapitalisme bukan sekadar perlu konsep, tapi ia [masyarakat kapitalisme lanjut] memerlukan konsep-konsep itu dalam tempo dan kecepatan pergantian yang tinggi. Sesegera mungkin. Dari CSR berganti Filantropi, dari Represif menjadi Kedaulatan Negara. Semua kini memiliki filsafatnya sendiri. Dalam kondisi pergantian filosofi dan pemikiran yang cepat itulah Dromos meng- gerogoti Sophos dan menjadi Dromosophy. 128
Ilmu pengetahuan juga terkontaminasi oleh dua energi yang dilepas kapitalisme dan mengenai masyarakat—energi libido dan kecepatan. Sehingga muncul Libidologi, di mana sebagai kawan dekat filsafat, Ilmu pengetahuan [sains] mengklaim sesuatu yang berpotensi melancarkan arus libido sebagai saintifik. Menakjubkan.
Dan sungguh bahwa ekonomi, adalah bidang yang paling bisa berkawin dengan energi libido.
Ekonomi tidak lagi sekadar berkaitan dengan kegiatan pendistribusian barang-barang [hasil produksi] dalam satu arena pertukaran ekonomi, akan tetapi berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran, trasaksi, dan konsumsi apapun, termasuk pengetahuan, pendidikan, moralitas, eti- ket, tubuh, wajah, kegairahan, ekstasi. Ekonomi kini telah dikuasai oleh semacam libidonomics [nemein = mendistribusikan + libido = energi nafsu], yaitu pendistribusian rangsangan, rayuan, godaan, kesenangan, kegairahan, atau hawa nafsu dalam satu arena pertukaran ekonomi. 129
Sebagai akibat dari terkontaminasi—bahkan dikuasai—nya ekonomi oleh energi libido—sehingga menjadi libidonomic, kita tidak hanya melihat praktik pertukaran barang hasil produksi, transaksi barang dan jasa, atau transaksi saham semata, tetapi kita juga dihadapkan pada adanya transaksi seksual; bukan hanya
128Ibid. h. 143 129Ibid. h. 144
produksi siaran televisi, tetapi juga produksi ekstasi televisi; bukan sekadar sosial media, tapi juga seksual media; tidak hanya ada konsumsi barang, akan tetapi juga konsumsi ilusi dan halusinasi. Piliang bahkan menyebut bahwa “ekonomi kini tidak lagi berada di dalam wilayah ekonomi. Ia telah melampaui jagad ekonomi itu sendiri.” Ekonomi menjangkiti area seksual, menguasai domain politik, dan hidup di wilayah komunikasi. Dan “sebaliknya, seksual, politik, komunikasi, pendidikan berada di dalam jagad ekonomi.” Maka konsekuensinya, ekonomi kini tidak lagi berdiri sendiri, sehingga memproduksi suatu barang seperti shampoo [relasi ekonomi] tidak lagi sekadar memproduksi shampoo, tetapi juga memproduksi image dan citra dalam iklan [relasi komunikasi], dan juga memproduksi bujuk rayu, rangsangan, dan erotika [relasi seksual] secara bersama. Mengkonsumsi film porno garapan Brazzer sama artinya dengan mengkonsumsi kebebasan seks [meski kita masih bisa berdalih]. Menggunakan alat untuk memperbesar dan memperindah payudara atau panggul, sama artinya dengan mengkonsumsi fetisisme tubuh sebagai landasan ideologinya. Termasuk diet demi tubuh langsing. 130 Inilah bentuk perayaan hiper- modernisme.
Ekonomi juga berkembang [terkontaminasi] menjadi Dromonomics yang menekankan pada dromos [kecepatan]. Kini, semua hal terkait dengan ekonomi, baik yang murni ekonomi maupun yang terkontaminasi oleh libido [libidonomic], kini dipacu oleh kapitalisme lanjut untuk berputar dengan cepat. Perputaran ekonomi yang dipercepat ini disebabkan oleh interaksi global yang semakin dalam, luas, dan semakin cepat.
130Ibid. h. 144-145
Pelepasan energi libido dan getaran nafsu beriringan dan terselip dalam ragam diskursus, mengkontaminasi filsafat, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan kesosialan. Dan libidonomic sudah terpancang, ia juga telah menyebar ke tengah masyarakat. Dan libidonomic kini terus dipacu dengan prinsip kecepatan dan pecepatan [dromonoic].
…
Ketika kapitalisme berusaha menunjukkan ‘wajah sosial’nya agar masyarakat tetap percaya padanya dan tidak terpengaruh oleh semua teori marxisme [dan gagasan kiri secara umum] yang mengajukan penolakan pada kapitalisme, mereka [penganut sistem kapitalisme] ini menyodorkan banyak upaya; seperti misalnya CSR [Corporate Social Responsibility] atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaaan.
Kapitalisme berusaha merubah wajah buasnya dengan mengenakan topeng-topeng sosial yang lebih bisa diterima—oleh masyarakat. Jauh sebelum CSR kita dengar, Rich DeVos dulu menawarkan suatu model “kapitalisme dengan kepedulian sosial” yang disebut Compassionate Capitalism. Konklusi yang dapat ditarik ialah bahwa beberapa teoretisi meyakini kapitalisme mampu membawa kesejahteraan dan sembari menunjukkan wajah sosial dengan ragam bentuk kepedulian sosial.
Piliang dengan cermat menunjukkan bahwa alih-alih compassionate yang memiliki wajah sosial dengan kedermawanan dan kepedulian sosial, kapitalisme dewasa ini justru mempraktikkan pola-pola produksi-distribusi-konsumsi ekonomi yang justru dikait- kan dan diintegrasikan dengan kegairahan hawa nafsu sehingga yang tampak justru “passionate capitalism [kapitalisme penuh nafsu], yaitu kapitalisme yang mengumbar kegairahan untuk memperoleh
keuntungan. Kapitalisme yang layaknya mucikari, merubah nafsu [desire] menjadi kebutuhan [need].” 131 Ini yang saya sebut sebagai ciri kapitalisme kekinian [dalam Salto Mortale] di mana kapitalisme telah berhasil menggeser produksi dari memproduksi kebutuhan, menjadi memproduksi keinginan.
Kapitalisme lanjut dewasa ini, dengan cerdik [dan jelas licik], mengintegrasikan dan menyambungkan mesin produksi [industri, pabrik] dengan mesin hawa nafsu [mesin psikis] yang selanjutnya
“disinambungkan pula dengan mesin eksploitasi—tangan Anda bila Anda seorang penyapu jalan, kaki Anda bila Anda seorang pemain sepakbola, otot Anda bila Anda seorang petinju; suara Anda bila Anda seorang penyanyi, kecerdasan Anda bila Anda seorang insinyur, kreativitas Anda bila Anda seorang seniman, acting Anda bila Anda seorang pemain film; wajah Anda bila Anda seorang cover girl, penampilan Anda bila Anda seorang sales girl, lenggak-lenggok Anda bila Anda seorang model, dan tubuh Anda bila Anda seorang pelacur.” 132
Kapitalisme mengintegrasikan segala produksi dengan hawa nafsu. Dan inilah rupa libidonomics. Di mana semua ekonomi dikaitkan dengan hasrat, dan itu dilakukan demi keuntungan ekonomi. Profit oriented.
Sehingga di era dewasa ini, kritik-kritik terhadap terhadap kapitalisme bahkan telah melampaui Marx.
Marx sendiri lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan ideologi di balik relasi produksi komoditi, yakni persoalan terpisahnya para pekerja dari objek yang diproduksinya di dalam relasi produksi kapitalisme, disebabkan ia tidak memiliki kekuasaan capital. Akan tetapi, Marx tentunya akan terheran-heran melihat perkembang-biakan komoditi di dalam masyarakat posindustri dewasa ini, yang kini dikuasai oleh
131Ibid. h. 148 132Ibid. h.149
gemerlapnya tanda-tanda dan riuh rendahnya arus libido. Persoalan sosial yang menonjol kini di dalam diskursus kapitalisme bukanlah konflik sosial yang tersembunyi di balik relasi produksi dan konsumsi, akan tetapi persoalan hanyutnya kapitalisme [global]—bahkan termasuk para pekerjanya—ke dalam gemerlapnya tanda-tanda [image, kejutan, display, gaya hidup, prestise, hiperrealitas] serta seronoknya arus hawa nafsu dan energy libido [bujuk rayu, keterpesonaan, erotisme, sensualitas, 133 sensitivitas] yang tengah bergerak menuju kearah titik-titik ekstrimnya.
Akibatnya, bukan hanya kepedulian sosial yang menjadi permasalahan, akan tetapi lenyapnya realitas sosial itu sendiri. Realitas sosial ditelan oleh hiperrealitas yang dilahirkan oleh kapitalisme itu sendiri. Artinya, bukan sekadar ‘kepedulian sosial kepada orang-orang yang tersisih’ yang menjadi pokok persoalan kita, tetapi juga ‘kepedulian moral terhadap pelecehan adat, adab, tabu, dan etiket’ yang terjadi sebagai akibat dan dampak praktik kapitalisme. Bukan sekadar penumpukan kapital yang menjadi soal, 134 tetapi juga pengumbaran dan komodifikasi nafsu.
Ialah signifikan dan nyata, dampak dari kapitalisme yang telah melepas dan menyebar energi libido. Kapitalisme telah memantapkan kesadaran palsu di tengah masyarakat. Masyarakat kemudian meyakini [dengan kesadaran palsu] bahwa yang terjadi adalah biasa dan murni sebagai bentuk perubahan zaman. Yang luput ialah bahwa di balik zaman yang berubah, terdapat subjek-subjek yang membuat perubahan itu menjadi mungkin dan terjadi. Subjek-subjek itulah para penindas yang serakah—dan tidak peduli—yang meyakini kapitalisme sebagai sistem yang cocok untuk dipakai di tengah masyarakat.
133Ibid. h. 147-148 134Ibid.
Pelepasan energi libido dan hawa nafsu yang jelas dan terselubung di balik kapitalisme, mengakibatkan setiap individu yang telah masuk ke dimensi fraktal massa—[konsumeris] tidak bisa lagi membedakan mana kebutuhan dan keinginan, dan lebih cenderung untuk memenuhi setiap keinginan. Pada titik inilah dampak terbesar dan terdalam dari kapitalisme pada individu-individu di tengah masyarakat; di mana individu-individu itu tak bisa menang melawan hasrat dan energi libidonya sendiri.
Ketidak-mampuan individu menguasai dan mengontrol energi hasrat dan libidonya sendiri akan mengakibatkan banyak hal; sebut saja misalnya tabiat hedon dan konsumeris. Kehancuran sosial akan terjadi sebagai akibat dari berlebihannya energi libido yang terlepas bebas dan mengkontaminasi masyarakat.
Keberhasilan kapitlisme melepas energi libido dan getaran nafsu dari kekangan nilai kebijaksanaan masyarakat, melancarkan keberlanjutan berputarnya mesin produksi kapitalisme. Kapitalisme tahu bahwa kebutuhan masih mampu dipenuhi oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga mereka memproduksi produk-produk yang menjadi keinginan masyarakat. Sehingga masyarakat pun mengkonsumsi dan menuruti keinginan hasrat dan libidonya.
Dan yang lebih luar biasa adalah bahwa kapitalisme jelas-jelas menyerang satu titik [nafsu/libido/hasrat] yang notabene-nya bersifat tidak mau terpancang pada territorial [kepuasan] tertentu yang telah dikuasainya. Hawa nafsu bersifat deteritorial. Libido selalu berontak melewati batas teritorinya sendiri. Hawa nafsu selalu menemukan alibi-alibi baru, trik-trik dan tipu daya baru.
Apa yang berkembang dalam kapitalisme lanjut “bukanlah satu diskursus nafsu yang tunggal, akan tetapi beraneka ragam diskursus yang di dalamnya berkembang-biak beraneka ragam hawa
nafsu dengan beraneka ragam wajah yang mempunyai organisasi dan arah tujuannya sendiri.” Kini kapitalisme lanjut berada dalam mode “membebaskan arus hawa nafsu dan energi libido dari kungkungannya. Ia menciptakan rumus totalitarian yang baru dalam mengontrol, memproduksi, dan mendistribusikan hawa nafsu massa.” Kapitalisme global lanjut, sementara merenggut energi libido para pekerja [di dalam kamp konsentrasi kerja, ia [kapitalisme] kemudian membebaskan dan mensegmentasikan energi itu di dalam pasar dan arena konsumerisme—di mana orang akan mengkonsumsi dan merayakan apa yang dikonsumsi—dengan penuh hasrat. 135
Akibatnya, alih-alih berhasrat menghancurkan kapitalisme— sistem yang jelas-jelas celaka dan brengsek, masyarakat justru berhasrat untuk mengkonsumsi dan merayakan apa yang ditawarkan kapitalisme dalam ajang konsumerisme dan penciptaan gaya hidup.
Bagi para pengkaji kapitalisme, kapitalisme global lanjut kini tengah menunjukkan perangai passionate capitalism [kapitalisme penuh nafsu], tapi masyarakat awam tertipu sebab kapitalisme sekaligus berusaha menunjukkan wajah sosialnya dengan taktik CSR yang dituntut wakil-wakil politikus, juga lewat model filantropi. Seolah mereka menunjukkan tanggung jawab sosial dengan memberi hal-hal kepada masyarakat sosial. Padahal apa yang diberi justru semakin menjerat masyarakat ke dalam kapitalisme!
Passionate capitalism memiliki ciri di mana penjelajahan dan penciptaan secara terus menerus model-model pelepasan arus hawa nafsu [libido] dalam ragam bentuk, termasuk bentuk simulasi hawa nafsu—virtual music, cyberporn, artificial life, hypersexuality. “Keberlangsungan passionate capitalism akan sangat bergantung
135Ibid. h.149-150
pada keberhasilannya dalam menjadikan model-model pelepasan hawa nafsu tersebut diinternalisasi oleh massa yang dieksploitasinya.”
Dan sebagaimana kita lihat dalam kapitalisme global lanjut di era kekinian atau apa yang saya sebut sebagai hipermodern, memang telah berhasil dan berlangsung. Kita bisa melihat bagaimana model-model pelepasan energi hawa nafsu itu telah diinternalisasi oleh massa yang dieksploitasi kapitalisme global lanjut itu di sini saat ini.
Di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana massa telah dieksploitasi oleh kapitalisme dalam bidang pariwisata. Model-model pelepasan hawa nafsu dan energi libido dalam bidang wisata bahkan telah terinternalisasi oleh massa itu sendiri. Ketika wisata telah dieksploitasi oleh kapitalisme, dan massa yang dieksploitasi telah menginternalisasi model-model pelepasan hawa nafsu dan energi libido, maka perputaran mesin hawa nafsu itu secara otomatis akan menjadi roda gigi yang membuat mesin kapital pariwisata terus berputar.
Kita bisa melihat bagaimana massa [mayoritas masyarakat] melepas hawa nafsu untuk berwisata demi secuil rasa senang. Wisata dibumbui dengan ragam model pelepasan energi libido, hasrat dan hawa nafsu. Hasrat populer, hasrat seksual, hasrat bersenang-senang, kini terselip di dalam ranah pariwisata. Tiap kawasan wisata menawarkan beragam bentuk pelepasan hawa nafsu, dari pesta makan, belanja, sampai pesta seks dan drugs. Ini adalah bentuk eksploitasi dan internalisasi model pelepasan hawa nafsu. Dan eksploitasi ini tidak akan berhenti hingga masyarakat menyadari bahwa wisata telah dieksploitasi dan dikomodifikasi. Wisata kini telah melampaui bentuk rekreasi. Ia adalah wujud hedonisme dan salah satu trik dari kapitalisme dalam mengekang mencuatnya
kesadaran rasional masyarakat. Ini boleh jadi menjadi titik yang akan menghancurkan kesosialan.
Pelepasan hawa nafsu di medan wisata hanya merupakan satu segi sebagai contoh. Tentu kita bisa melihat model pelepasan energi libido dan hawa nafsu dalam-pada banyak segmen seperti gaya hidup, fesyen, dll.
Secara lebih filosofis, Piliang meihat bahwa mesin hawa nafsu [desiring machine] merupakan self-produksi dan reproduksi hawa nafsu di dalam masyarakat kapitalis. Mesin hawa nafsu adalah mesin biner yang mengikuti hukum atau perangkat aturan biner yang mengatur produksi; satu mesin selalu digandeng dengan dan oleh mesin lain. Penggandengan dan pasangan ini akan menghasilkan semacam sintesis produktif, yakni proses tanpa henti produksi. Hal ini disebabkan selalu ada mesin produksi arus. Artinya, setiap yang diproduksi oleh mesin produksi [motor, krim wajah dan sebagainya] dan dihubungkan dengan mesin eksploitasi [tubuh, wajah, dan sebagainya] hanya menyalurkan sebagian kecil dari arus hawa nafsu, dan ini akan mengakibatkan mesin arus hawa nafsu [desiring machine] memproduksi arus yang lebih besar. “Hawa nafsu selalu menghubungkan arus produksi yang mengalir terus-menerus dengan objek-objek eksploitasi secara parsial, dan objek-objek ini secara alamiah akan terfragmentasi sesuai dengan fragmentasi pasar yang mengikutinya. Mesin hawa nafsu menyebabkan arus produksi dan arus eksploitasi selalu mengalir tanpa henti: setelah ini-lalu-ini-lalu- ini-lalu––” 136
Kondisi di mana kehadiran hawa nafsu [desire, hasrat, ingin] seolah disokong dan beriringan dengan kebutuhan [need], merupakan hal yang secara terus-menerus menjadi fondasi bagi
136Ibid. h.151
produktivitas hawa nafsu. Yang jauh dan tak ingin disadari orang-orang adalah bahwa ada ras kurang [lack] dalam kaitan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan, ketika dipenuhi ia akan cukup. Sementara keinginan, rasa kurang [lack] ini akan tetap ada, sebab hal ini terkait dengan hawa nafsu. Ketidak-puasan abadi, jelas-jelas merupakan hal yang dihasilkan mesin hasrat kapitalisme, dan itu merupakan wujud dari lack yang tampaknya akan terus ada—membesar dan menang jika tak dilawan. “Rasa kurang [lack] itu sendiri sebenarnya diciptakan, direncanakan, dan diorganisasikan di dalam dan melalui sistem produksi sosial.”
Penciptaan rasa kurang yang terus-menerus sebagai cirri ekonomi pasar [bebas] merupakan seni dan strategi dari passionate capitalism: setelah gambar porno-lalu video biru-lalu cyberporn-lalu—; setelah ganja-lalu heroin-lalu koplo-lalu ekstasi-lalu—. Kecenderungan ini melibatkan pengorganisasian saluran keinginan dan kebutuhan melalui kelimpah- ruahan produksi; menjadikan seluruh hawa nafsu bergejolak dan menjadi korban rasa ketakutan yang tiada akhir terhadap tidak terpenuhinya kepuasan [setiap orang], dan menjadikan objek hawa nafsu sangat bergantung pada produksi nyata objek-objek, yang sebetulnya bersifat eksterior terhadap hawa nafsu itu sendiri.
Tidak mungkin tidak kapitalisme global lanjut yang tengah kita lihat kini merupakan dan mempraktikkan passionate capitalism dan libidonomics. Kapitalisme menciptakan dan mengorganisasikan rasa kurang, ketidak puasan abadi, mengumbar sekaligus memancing hasrat. Tidak cukup bentuk komunikasi yang dikreasikan, tetapi terus diinovasikan lagi dan lagi. setelah 3G lalu 4G lalu 5G. Hitung sendiri berapa seri Smartphone yang anda pegang saat ini. Nafsu anda, oleh kapitalisme, terus digoda untuk anda turuti dan penuhi segala keinginannya. Dan mereka akan terus menciptakan objek-objek hasrat dan nafsu anda. Berdalih bahwa seolah itu merupakan kebutuhan anda.
Kebutuhan telah dikomodifikasi dan terkontaminasi dengan hasrat dan hawa nafsu yang telah diumbar dengan sangat tidak bijak, demi keuntungan, dan demi menghancurkan setiap lapisan moral spiritual dalam diri manusia.
Setelah itu semua, dalam realitas sehari-hari yang kita lihat kini, pelepasan hawa nafsu dan pemenuhan hasrat telah memunculkan kenikmatan dan pelipat-gandaan kenikmatan. Dan semua akan menghasilkan ekstasi yang membuat hal-hal yang anda inginkan, setelah anda dapat, akan memberikan kenikmatan, dan kenikmatan itu akan memuncak pada kondisi ekstasi di mana ekstasi akan menimbulkan rasa ketagihan. Kondisi ini sangat nyata kita lihat di era kekinian, era hipermodern. Dan kondisi ketagihan hanya akan terus memaksa anda untuk terus mengikuti putaran hawa nafsu tersebut. Sebut saja cyberspace. Ruang ini memberi efek pada realitas, di mana dalam ruang ini energy libido dan hasrat menemukan titik lepas dan bebasnya. Siapa yang memainkannya niscaya akan melepaskan hasrat-hasratnya, entah hasrat berhubungan [komunikasi] atau hasrat aktualisasi diri, akan tetapi ia sekaligus memberi efek ekstasi, ketagihan. Sosial media misalnya, ia mengalami transformasi yang begitu cepat. Produksi perangkat untuk mengakses cyberspace dan sosial media ini beriringan dengan mesin eksploitasi. Artinya perangkat itu mengekploitasi diri subjek manusia yang memainkannya. Sekali lagi ini dalam misi ekonomi. Kebutuhan komunikasi diiringi oleh ambisi mencari keuntungan dan perputaran kapital dari setiap pabrik dan perusahaan kapitalis yang bermain di segmen ini.
Produk-produk perangkat untuk akses cyberspace, yang diproduksi oleh kapital, diharuskan untuk dikonsumsi, diharuskan untuk habis dipasarkan. Kondisi ini memaksa eksploitasi. Maka produsen-produsen melakukan eksploitasi atas kesadaran subjek
manusia di tengah masyarakat. Eksploitasi atas kesadaran ini dibuat lewat permainan wacana dan gagasan yang menjadikan seolah-olah masyarakat membutuhkan hal itu. Padahal tidak. Itu semua hanya bagian-bagian dari akses pemenuhan keinginan hasrat dan energi hawa nafsu.
Libidonomic dan Passionate Capitalism bertujuan memproduksi tanpa henti rasa kurang dalam skala besar, sementara di mana-mana terdapat kelimpahruahan; memproduksi tanpa henti hawa nafsu, sementara di mana-mana terjadi pengumbaran total hawa nafsu. Ia memproduksi rasa kurang di dalam kelimpahruahan, 137 memproduksi dahaga nafsu di dalam banjir pelepasan nafsu.
Ia memproduksi rasa kurang di dalam kelimpahruahan, memproduksi dahaga nafsu di dalam banjir pelepasan nafsu. Hakikat passionate capitalism adalah arus moneter dan komoditi yang mengalir tanpa henti dan tanpa interupsi, dan di dalam arus-arus tersebut terkandung investasi hawa nafsu yang tak tampak. Adalah di dalam arus-arus inilah berintegrasinya mesin ekonomi dan mesin hawa nafsu, bukan di dalam wadah ideology. Dengan demikian, orde hawa nafsu adalah orde produksi. Artinya, setiap produksi dalam waktu yang bersamaan adalah produksi hawa nafsu dan produksi sosial. Memproduksi video sama artinya memproduksi kegairahan. Mesin hawa nafsu berada di dalam mesin sosial dan hanya di sini, sehingga rangkaian arus [produksi-konsumsi] dengan segala kode-kode yang digalinya di dalam mesin kapitalisme cenderung untuk membebaskan sosok-sosok libido subjek secara universal. Arus hawa nafsu dan libido mengalir tanpa henti dan tanpa interupsi bersama-sama dengan arus produksi kapitalisme—arus kapital, arus finansial, arus moneter; arus produksi, arus distribusi, arus konsumsi; arus pembayaran, arus penghasilan, arus pengeluaran; arus inovasi, arus gaya, arus tren; arus kenyamanan, arus prostitusi, arus
137Ibid.
ekstasi—semuanya merupakan mesin-mesin kapitalsime dan sekaligus mesin hawa nafsu. 138
Demi tujuan itu kapitalisme global lanjut berusaha dan telah berhasil melepaskan energi hasrat dan libido dari kekangan tabu, moral, dan spirit masyarakat, sehingga mesin eksploitasi—yang mengeksploitasi diri individu dalam masyarakat—bisa berjalan beriringan dengan mesin produksi. Semua proses ini hanya demi ‘turn-over capital’. Dan seluruh prosesnya telah dan tengah berada dalam mode yang sangat cepat [dromonomic].
Lebih dari itu, libidonomic kapitalisme lanjut global terbukti semakin intens melakukan eksploitasi, komodifikasi dan lain sebagainya yang juga beriringan dengan pelepasan energi libido. Kapitalisme memproduksi dan mengkomodifikasi lebih banyak lagi konsep, produk, prestise, image, dan lain sebagainya. Dan bersamaan dengan itu semua, segala sesuatu berlipat ganda, termasuk kesenangan dan kenikmatan [jouissance].
Dengan prinsip libidonomic, setiap konsep, image, produk, dan prestise akan semakin intens menawarkan potensi kegairahan dan kenikmatan. Di domain apapun dan di manapun, potensi kegairahan dan kesenangan akan dikomodifikasikan oleh kapitalisme dan logika libidonomic, untuk kemudian diselip ke dalam setiap konsep, image atau produk, sehingga menjadi sesuatu yang membangkitkan kegairahan dan menawarkan kesenangan dan kenikmatan, dan ini jelas bisa merayu keinginan.
Setelah libidonomic, di mana kapitalisme semakin intens meningkatkan tipu-daya yang bergejolak dan penuh rahasia, maka kita pun melihat dunia—di mana kita hidup—yang dihiasi dengan
138Ibid. 151-2
perkembangan dan pertumbuhan dengan intensitas yang semakin tinggi dari ke hari. Intensitas perkembangan dan pertumbuhan dari segala macam produk, image, citra dan lainnya. Kapitalisme dengan libidonomic-nya memproduksi lebih banyak lagi konsep, image, citra, lebih banyak lagi prestise, lebih banyak lagi kesenangan dan kenikmatan. Tidak cukup satu atau dua rumah, tidak cukup satu atau dua mobil, tidak cukup satu atau dua pusat belanja, tidak cukup satu atau dua pil ekstasi, tidak cukup satu atau dua psk, tidak cukup. Semua bertambah dan semakin intens.
Kapitalisme dan Liibidonomic menciptakan satu masalah khusus yang penting dibahas, yakni bagaimana ia semakin intens berupaya untuk memaksimalkan, mengomodifikasi dan eksploitasi diskursus seksualitas dan khususnya perempuan. Ia terus menggali dan mencari bentuk baru, gaya dan kombinasi baru, teknik dan media baru dalam upaya untuk memaksimalkan sisi komersilnya, serta upaya-upaya untuk menularkan ke dalam diskursus lain— seksualitas ekonomi, seksualitas politik, seksualitas media. Segala upaya kapitalisme dan libidonomic ini menghasilkan efek pelipatgandaan dan intensifitas energy libido dan juga reorientasi hasrat dan arus hawa nafsu.
Piliang memperlihatkan contoh bagaimana “sebuah iklan Toyota yang dilatar-depani oleh seorang wanita seksi yang menan- tang, sebuah kampanye politik yang disertai oleh para model yang semampai, sebuah pameran pupuk urea yang dijaga oleh seorang wanita seksi, sebuah pertandingan olahraga yang dimeriahkan para wanita penyorak” merupakan economicus erotica yang sekaligus menunjukkan bentuk bagaimana seksualitas dikomodifikasikan dan dijual dan dijadikan bujuk rayu oleh kapitalisme dan libidonomic. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bagaimana sebaliknya, apapun yang di luar seks dikomodifikasikan dan diseksualitaskan agar men-
jadi bujuk rayu yang kuat dan menggoda energy libido dan hasrat hawa nafsu.
Selain itu, bentuk-bentuk yang menunjukkan bagaimana seksualitas dikomodifikasikan, dan apapun hal di luar seks diseksualitaskan agar dapat menjadi bujuk rayu dan menjual demi bisa menggoda hasrat dan energy libido, dan semua itu demi berjalannya perputaran kapital. Bentuk-bentuk itu bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari dan semakin intens kita lihat pada bagaimana eksploitasi kapitalisme atas perempuan; spg, model iklan, dsb; pada bagaimana game diseksualitaskan, otomotif diseksualitaskan, dsb; pada bagaimana adat dan agama diseksualitaskan, dsb; pada bagaimana pendidikan dan ilmu diseksualtaskan, dsb; pada bagaimana teknologi diseksualitaskan, dsb.
Lalu kemudian, kita semakin memasuki kondisi sosial yang begitu meriah, di mana semua hal yang boleh dikatakan ‘miris’ tersebut justru semkain dinikmati dan dirayakan oleh sosial dan masyarakat itu sendiri.
Bahkan, kesenangan seksualitas itu sendiri kini telah menjadi satu bentuk kekuasaan. Artinya, kesenangan menyelinap dan menyebar ke segenap kekuasaan yang sebelumnya membatasinya, sehingga kekuasaan itu sendiri membiarkan dirinya dirayu dan dikontrol oleh kesenangan. Kesenangan mempertontonkan tubuh, kesenangan merayu, kesenangan seorang model di hadapan cameramen, dan sebagainya. Kini, di dalam diskursus kapitalisme, bukan batas-batas seksualitas dan kesenangan yang dicari, melainkan penjelajahan berbagai bentuk seksualitas, menggali kesenangan yang tanpa batas—memperoleh kesenangan yang maksimum dari penggunaan tubuh, memperoleh kekuasaan yang maksimum dari penyebarluasannya, mendapatkan keuntungan yang maksimum dari komersialisasinya.
139Ibid. h.157.
Apa yang terjadi ialah penyebarluasan dan peningkatan kompleksitas dan kerumitan kait-kelindanan jaringan ‘kesenangan dan kenikmatan’ pada berbagai bentuk dan domain kehidupan manusia, dari ‘kait-kelindan kesenagan dan kenikmatan dengan seksualitas’, ‘kait-kelindan kesenangan dan kenikmatan akses informasi’, sampai ‘kait-kelindan kesenangan dan kenikamatan penuh hasrat akan kebudayaan’ bahkan ‘agama’. Dan semua itu bahkan mencapai titik di mana satu sama lain punya keterkait-kelindanan yang semakin kompleks sekaligus lentur.
Saya tak tahu harus bereaksi seperti apa ketika melihat bagaimana hijab/jilbab [domain agama] kini menciptakan gairahnya sendiri dan berkait dengan seksualitas, untuk kemudian memicu kesenangan dan hasrat sampai pada titik ia menjadi berbalik 180 derajat. Ini dalam pandangan saya. Bagaimana saya melihat bahwa hakikat hijab ialah sebenarnya ‘tertutup’, dan/atau ‘menutup’. Akan tetapi kini, industri media, gaya, dan segala macam itu, yang bagi saya telah dikuasai kapitalisme dan terciprat libiidonomic, justru membalikkan hijab menjadi tontonan. Ia [hijab] justru terbuka untuk dipertontonkan, terbalik dengan hakikatnya. Lihat bagaimana feno- mena festival hijab, fashion show hijab. Ini bagi saya, tak mungkin tidak merupakan keberhasilan dari komodifikasi kapitalisme dan juga pelepasan energi hasrat oleh strategi libidonomic dari kapitalisme. Dan ini, sekali lagi bagi saya, luar biasa konyol. Saya tidak masalah jika perempuan-perempuan merayakan kebebasannya untuk melakukan apa yang mereka ingin, akan tetapi hal ini menjadi masalah ketika mereka justru membawa diri mereka sendiri terjebak ke dalam kapitalisme. That’s all my problem. Ini sekaligus juga membuktikan bahwa bentuk eksploitasi kapitalisme dan juga pelepasan energi hasrat libido yang mereka lakukan lewat model libidonomic dan rhizomatic combination adalah merupakan
keberhasilan dari mereka menginternalisasikan pelepasan energi hasrat tersebut ke dalam massa yang dieksploitasinya. Sederhananya adalah bahwa kapitalisme dan libidonomic berhasil menginternalisasi pelepasan energi libido dan hsarat ke dalam subjek-subjek yang terkait dan mempraktikkan ‘hijab’. Hijab kemudian dikomodi- fikasikan menjadi komoditas, lalu dijadikan bentuk tontonan dan di- pertontonkan oleh masyarakat itu sendiri. Ini adalah keberhasilan kapitalisme menginternalisasi hasrat ke dalam karakter narsis dan ‘ingin dipuji’ dari masyarakat dan subjek-subjek yang mempraktikkan hijab. Lantas perayaan dan tontonan hijab terjadi. Banal dan lepas menjauh dari esensinya.
Maka demikianlah keberhasilan kapitalisme lanjut global dan segala taktik libidonomic, dromonomic, dsb., dalam meng- komodifikasikan segala aspek kehidupan kita, dan dengan demikian pula mesin hasrat kapitalisme berhasil menjadi motor penggerak roda perputaran mesin-mesin raksasa kapitalisme.
Lalu kemudian, setelah kapitalisme dan libidonomic telah berhasil melepaskan energi hasrat dan libido, untuk kemudian berhasil pula menginternalisasi energi libido dan hasrat itu ke dalam massa yang dieksploitasinya, maka terciptalah masyarakat kapitalis, bertransformasi lagi menjadi masyarakat konsumeris dengan ajang konsumerisme-nya, dan lagi bertransformasi menjadi masyarakat tontonan—sebagaimana kata Guy Debord, untuk kemudian bertransformasi lagi dan lagi menjadi sebuah bentuk masyarakat yang dengan bangga merayakan bentuk kapitalistis, konsumeris, tontonan, juga pelepasan energi hasrat dan libido. Dan ituah dia Masyarakat Perayaan.
Masyarakat perayaan, kini merayakan segala bentuk kebudayaan hipermodern di dalam segala aspek kehidupan. Apa yang
dapat kita lihat dari penjelasan tadi ialah merupakan bentuk perayaan masyarakat atas libidonomic yang sayang sekali, kini telah merebak dan mengkontaminasi sekian banyak aspeek kehidupan kita. Energi libido yang dilepas dan dipacu melampaui batas-batasnya, kini dirayakan oleh masyarakat perayaan. Tidak ada lagi batas, setiap hasrat libido harus dirayakan, diproduksi, dikonsumsi, dipenuhi. Tanpa tabu, masyarakat merayakan hasrat dan keinginannya demi pencapaian kepuasan. Dan sembari perayaaan dilakukan, sembari mendapatkan kepuasan, masyarakat perayaan ini pun mendapatkan keuntungan ekonomis, dan bahkan keuntungan ekonomis itu pun menjadi dasar segala tindak perayaan mereka.
Merayakan libidonomic, adalah merayakan segala sesuatu yang telah terkontaminasi energi libido. Energi libido, energi hasrat yang dilepas kapitalisme ialah benar telah mengkontaminasi segala aspek dan segmen kehidupan. Tidak ada lagi titik di mana kapitalisme tidak mengkomodifikasikannya. Hutan telah menjadi komoditas, desa, sawah dan ladang, adalah mesin produksi, dan setelah semuanya, masyarakat akan dirayu sedemikian rupa merayakan segala budaya hipermodern dalam ajang gaya hidup dan konsumerisme yang luas. Begitu melimpah ruah objek-objek di altar konsumerisme, siapa yang akan mengkonsumsinya kalau bukan masyarakat itu sendiri? Tidak mungkin kita meminta alien untuk mengkonsumsinya bukan? Tidak hanya itu, budaya konsumsi kini pun menjadi terkait dengan produksi, dalam arti mengkonsumsi jugalah merupakan tindak produksi—pada titik dan aspek tertentu. Pergeseran makna konsumsi menjadikan konsumerisme semakin subur dan semakin melancarkan ajang perayaan dari masyarakat mutakhir.
…
Masyarakat mutakhir, masyarakat perayaan kini telah sampai pada periode hipermodern di mana—sebagai efek pelepasan energi libido—setiap dan segala bentuk budayanya¹⁴⁰ telah terpacu melampaui batas-batas dan menjadi ekstasi budaya yang oleh masyarakatnya sendiri, kini dirayakan dengan penuh kegairahan.
Secara runut, kapitalisme dan libidonomic melepaskan energi hasrat libido, dan hal ini mengkontaminasi sekian banyak aspek hidup, yang apa mau dikata telah dimainkan kapitalisme dalam model pertumbuhan rizomatik. Aspek hidup ini memiliki cara-cara tersendiri, dan cara-cara itu pun pada gilirannya terpacu untuk ikut dalam putaran yang telah terkontaminasi energi libido. Akibatnya kemudian, cara-cara hidup itu pun pada titik tertentu diekplorasi dan dieksploitasi sampai melampaui titik batasnya sendiri. Kekuatan dromos, serba cepat perputarannya. Dan kecepatan itu menjadikan hal itu berulang secara terus-menerus. Sebagai akibatnya, cara-cara itu pada akhirnya kini menjadi ekstasi-ekstasi yang terus menerus menggoda dan membuat efek ketagihan. Ketagihan pada gilirannya membuat eksplorasi berlanjut. Dan ketika eksplorasi sudah tidak mungkin lagi, maka yang terjadi adalah kolaborasi—bahkan atas dua atau lebih hal-hal yang sebenarnya bertentangan. Ini adalah bentuk pelampauan batas dari model hipermodern.
Lantas kemudian, di era hipermodern ini, masyarakat perayaan menghidupi dunia yang berspirit kapitalisme, libidonomic, dan ruh hipermodern yang mengedepankan eksplorasi dan eksploi- tasi atas segala sumber daya, kanalisasi segala dorongan hasrat, dan eksplorasi dan pelampauan segala batas. Segala perkembangan hipermodern, membawa dunia ini menjadi semakin congkak dan angkuh.
140Apa yang tidak cultural? Budaya berarti segala cara hidup dalam tiap aspek hidup manusia. Tinjau Salto Mortale, h.16
Perayaan Hipermodern
Pelepasan energi hasrat libido yang pada gilirannya meng- kontaminasi aspek-aspek kehidupan, pada gilirannya menyebabkan eksplorasi masyarakat atas segala sumber daya demi tujuan ekonomis, dan pada gilirannya pun menjadi ekstasi yang dirayakan secara terus menerus tanpa makna dan meninggalkan ‘bekas’, sampai melampaui, hingga menghancurkan makna sosial dan kemanusiaannya. Apa yang menjadikan teknologi atau budaya bermakna adalah makna dan manfaat yang bisa diberi dan ditinggalkan bagi masyarakat dan manusia. Tetapi kini, ketika semua menjadi ekstasi, hal-hal tersebut hanya menjadi hal-hal yang mengambang di orbit masing-masing tanpa mengendapkan apa-apa bagi manusia dan masyarakat.
Segala teknologi yang berkembang sedemikian rupa kini me- nyuguhkan masyarakat manusia cara untuk merayakan segala aspek kehidupannya, menuruti segala hasrat libidonya, mencapai seluruh keinginan demi mendapat kenikmatan.
Perayaan-perayaan hypermodern begitu banyak, dan satu di antaranya begitu menonjol, yakni teknologi informasi, komunikasi dan internet.
Globalisasi informasi dan penyebar luasan teknologi internet telah membawa sedemikian rupa perubahan yang besar dan mendasar pada tatanan sosial, politik, cultural, dalam skala global. Realitas-realitas, baik itu realitas sosial, budaya, sampai politik yang ada kini mendapatkan tandingan-tandingan yang sifatnya semu, artificial, dan maya, yang berkecamuk di dalam jagad perkembangan internet dan teknologi baru. Pada gilirannya pun, realitas-realitas tandingan yang baru itu, bahkan mengaburkan batas antara keduanya [realitas dan realitas maya yang kini kabur batas-batasnya]. Pemahaman dan pengertian tentang ‘masyarakat’, ‘komunitas’, ‘komunikasi’, ‘interaksi
sosial’, ‘budaya’, ‘politik’, dan sebagainya, kini kabur dan mendapat suatu tantangan besar dengan telah sedemikian memasyarakat serta populernya teknologi informasi dan internet. Perkembangan internet dan teknologi informasi ini menawarkan bentuk komunikasi baru, membentuk komunitas baru, interaksi sosial baru, ruang publik baru, kultur dan politik yang juga baru. Namun demikian, meski ia dipan- dang mengaburkan batas, segala perkembangan itu justru kini mem- buat masyarakat semakin menyukai untuk terlibat dengan internet dalam hidupnya, apapun dampak yang dibawa oleh perkembangan teknologi tersebut, ialah fakta bahwa orang semakin menyenangi dunia baru ini. Masyarakat yang ada kini bertransformasi seiring transformasi teknologi baru ini, bertransformasi menjadi masyarakat perayaan yang begitu luar biasa merayakan segala bentuk hipermodernitas. 141
…
Internet menghasilkan ruang siber, sebuah ruang artifisial hasil konstruksi teknologis yang di dalamnya terdapat relasi yang kompleks antara tanda dan realitas. Bila secara konvensional relasi antara tanda dan realitas terletak di mana tanda menjelaskan relasi antara penanda yang menandakan dengan sesuatu yang ditandai [realitas], di dalam cyberspace, relasinya lebih kompleks, bahkan melampaui relasi sederhana penanda dan realitas. Cyberspace memung- kinkan keterputusan sistem tanda, di mana tanda hanya menandai dirinya sendiri. Hal ini jika dikaitkan dengan masyarakat perayaan, ialah bentuk kesenangan yang ditawarkan teknologi internet dan cyberspace, yang sekaligus dirayakan masyarakat. Ini jelas merupakan hipermodernitas, di mana tanda melampaui relasi tanda, dan me- ninggalkan relasi antara tanda dan realitas, untuk hidup di jagatnya
141Piliang, 2017, opcit, h.334
sendiri, jagat hiperrealitas. Masyarakat perayaan melakukan tindak-tindak ini di dalam cyberspace dengan menggunakan teknologi yang mendukungnya. Perayaan atas tindak ini ialah bentuk perayaan kebebasan yang melampaui batas. Ini dilakukan sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab, yang di dalam masyarakat sosial [tradisional, modern] selalu hidup dan diminta dari setiap individu. Kita bisa meninjau bagaimana seseorang dapat hidup di dalam cyberspace sebagai siapa saja yang ia kehendaki, ia bisa menggunakan bahasa apapun, melakukan apapun sesukanya, dan ia bisa selalu menganggap apa yang ia lakukan di sana [cyberspace] tidak berkait dengan realitas yang nyata. Pada gilirannya ini merupakan pelarian dari tanggung jawab atas tindak, lari dari tanggung jawab yang ada, yang dimintai dari konvensi sosial yang ada dalam masyarakat kon- vensional. Ia [akun siber] terlepas dari norma sosial dan hukum yang ada. Hukum memang bisa menjerat tindak-tindak siber, tetapi ter- kadang, yang ditindak ialah tindak-tindak yang menjadi persoalan besar. Sementara, pada tindak-tindak yang boleh dikatakan tidak menimbulkan masalah, tindak-tindak itu akan tetap hidup sebagai tindak siber yang terlepas dari relasi tanda dengan realitas. Akan tetapi, yang diabaikan ialah bahwa tindak-tindak kecil dalam ruang siber itu bisa berkembang dan membiak di dalam struktur teknologi informasi cyberspace dan internet, berkembang biak dan mengganda dalam jumlah massif dan dalam waktu yang berkecepatan tinggi di dalam jagat internet dan realitas virtual. Sekali lagi, hal ini merupakan pelarian subjek dari tanggung jawab sosial dalam penggunaan tanda, dan juga teknologi, tentu saja. Tindak-tindak kecil itu— seperti postingan-postingan di sosial media yang jika itu dilakukan di dunia nyata akan menjadi masalah—akan terus demikian terjadi dan berlangsung, sebab ia tidak dipermasalahkan dan tidak dimintai pertanggung jawaban.
Mengingat masyarakat merayakan semua itu, tidak mudah untuk memungkinkan adanya pertanggung jawaban atas segala tindak itu. Masyarakat perayaan tengah merayakan hipermodernitas dalam bentuk yang demikian, yaitu perayaan atas tindakan-tindakan senang-senang dan hiburan atas dirinya, yang jauh terlepas dari tanggung jawab sosial. Ini sekaligus membuktikan bahwa masyarakat perayaan ialah bentuk matinya masyarakat konvensional, matinya sosial itu sendiri.
Kondisi pelampauan batas dalam hipermodern membuat masyarakat terbiasa untuk melampaui batas [atau aturan main] dari tiap tindak, dan di dalam cyberspace yang mana tanggung jawab sosial itu sifatnya sekunder bahkan tersier, orang-orang akan terpacu untuk melakukan tindak-tindak, bahkan melampaui batas dan aturan main dari tindak itu sendiri. Mengabaikan kapasitasnya sendiri, orang akan terpancing untuk segera bertindak. Seseorang yang marah akan suatu kondisi nyata, segera bertindak dan mengekspresikan kemarahan, atau melampiaskan, di ruang siber; membuat posting dengan kata-kata atau kalimat, foto, dsb, membuat lelucon atas hal tersebut, dan semua itu sangat bisa lari dari tanggung jawab sosial atas tindak. Dan setelah ia [tindak] masuk ke dalam jagad cyberspace, sedemikian cepat ia bisa berlipat ganda, berkembang biak sedemikian rupa.
Tidak ada yang lebih bisa menunjukkan perayaan masyarakat atas cyberspace dan segala hal terkait, daripada bagaimana perayaan atas ‘narsisisme’, aktualisasi diri, bergaya, dan gaya hidup. Saya tidak dapat menggambarkan ini dengan cukup baik, akan tetapi sebatas kemampuan saya saja, dengan mengatakan bahwa konsumer- isme dan masyarakat konsumeris berkembang menjadi masyarakat perayaan. Cyberspace, dirayakan dengan ‘suatu kondisi mental’ di mana masyarakat menganggap hal tersebut dapat memberinya
kepuasan. Akan tetapi, sekali lagi, kepuasan tidak akan pernah habis, mengingat rasa kurang terus diproduksi—oleh kapitalisme dan libidonomic. Konsumerisme menjadi titik keberhasilan kapitalisme. Ia menjadikan masyarakat menuruti hasrat dan keinginan lebih dari kebutuhan. Pertimbangan-pertimbangan rasional kalah oleh hasrat determinan.
Di era hipermodern, masyarakat merayakan cyberspace lebih dari mereka merayakan kehidupan nyata. Ada orang yang meng- habiskan 70 jam dalam seminggu untuk ‘hidup’ di jagat cyberspace. Apa yang dilakukan ialah melakukan hal-hal banal, berbincang, chatting, menonton video di Youtube, memposting dan membaca posting yang berkeliaran di beranda sosial media, melakukan video chat, dsb. Reaksi [suka, dll], dan komentar atas apa yang ia posting membuatnya terjebak dalam tindak-tindak jagat maya. Disukai, menjadi pusat perhatian [spectacle], dipuji, membuatnya menyukai dan memuja dirinya sendiri. Semua mendorong rasa kurang, membuatnya merasa ingin lebih. Jika suatu hal sederhana yang ia posting saja bisa disukai oleh netizen, bukan tidak mungkin apabila ia ‘men- dandani’ diri, tindak, atau apapun yang akan ia lakukan selanjutnya di cyberspace. Maraknya fenomena ‘selebritas sosial media’ membuat orang ‘ingin’. Sekali lagi ini menyerang hasrat. Dan ketika hal ini berpotensi mendatangkan hasil materi [uang)]seperti endorse, dll., hal ini menjadikan suatu kondisi berpacunya hasrat untuk men- dapatkan kepuasan-kepuasan yang ditawarkan. Tidak ada yang salah, mungkin, akan tetapi saya pun tidak akan membenarkan ini, hanya saja, demikianlah bentuk-bentuk bagaimana masyarakat perayaan merayakan hipermodernitas dan hipermodernisme. Cyberspace, social media, jelas merupakan hipermodernitas yang kini dirayakan dengan penuh hasrat oleh masyarakat.
Ketika chatting dianggap penopang dalam menjalin silaturahmi, itu jelas sebuah hiperrelaisasi. Teralu dipaksakan. Chatting justru bentuk pelampauan komunikasi, ia justru bentuk ekstasi komunikasi. Faktanya ialah bahwa social networking, chatting, dan segala aktivitas cyberspace justru bentuk tindak komunikasi, akan tetapi ia merupakan bentuk komunikasi yang terlampau dipacu, sehingga menjadi terlalu sering, cepat dan singkat. Sifat keseringan, kesegeraan, dan kecepatan dari tindak komunikasi itu sendiri sudah menjadikan ia sebagai ekstasi komunikasi. Ia tidak meninggalkan bekas makna apa-apa bagi kemanusiaan dan kesosialan. Dan inilah bentuk perayaan hipermodern generasi masa kini. Generasi yang menjadi masyarakat perayaan, yang merayakan individualisme liberal ketimbang kolektivitas dan komunalisme, yang kepuasan diri melampaui apa yang dapat diberikan untuk orang lain. Inilah narsisisme masyarakat perayaan. Masyarakat jenis ini melaku- kan aktivitas yang didasarkan pada kesenangan dan kepuasan yang terpusat pada diri sendiri, bukan puas dalam hal sosial kolektivis.
Cyberspace menarik masyarakat perayaan untuk merayakan segala budaya siber, mempertontonkan dan merayakan. Seseorang beraktivitas, posting ke sosial media, instastory, status whatsapp, facebook, twitter, dsb. Segala aktivitas diupload, terkoneksi, menjadi tontonan dan menjadi pembahasan masyarakat perayaan itu sendiri—pembahasan yang banal dan biasa itu sendiri merupakan perayaan mereka, berkomentar dan saling hujat segala macam. Ini bentuk-bentuk perayaan yang semestinya dipermasalahkan, bukan dibiarkan larut begitu saja. Sebab hal ini sendiri menjadi parasit di tengah masyarakat di mana masyarakat dalam arti esensialnya, hancur oleh bentuk perayaan hipermodern yang kecil-kecil seperti ini.
Bagi Piliang, ada kontradiksi kultural yang besar akibat perkembangan teknologi informasi-digital dan cyberspace, yakni
kontradiksi antara individualisme dan komunalisme, singularitas dam universalitas, individu dan masyarakat. Masyarakat jejaring—yang memungkinkan kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan di antara individu-individu—keberadaannya justru meningkatkan narsisisme dan semangat individualisme—liberal [yang bagi saya bersifat fatal]. Meskipun aneka jejaring sosial seperti facebook, twitter, dll., meningkatkan jumlah teman, akan tetapi itu semua tidak 142 berarti meningkatnya kualitas pertemanan dan komunitas. Dan semua ini kini dirayakan. Perayaan atas narsisisme menjadikan masyarakat perayaan ini juga sering disebut sebagai Me Generation oleh banyak kalangan.
Kita juga bisa melihat bagaimana hipermodernitas dirayakan dalam aspek-aspek lain. Batas dan sekat antara seni, budaya, dan hi- buran telah dilampaui, dan pada titik tertentu semua dikolaborasikan menjadi bentuk tontonan dan perayaan baru yang dirayakan dengan tujuan eksistensial dan narsisis. Selain itu, semua juga dipaksa tunduk dalam hukum produksi-konsumsi kapitalisme lanjut yang menge- rikan. Dan semua perayaan dirayakan terlampau berlebihan hingga ia menjadi sesuatu yang tidak meninggalkan bekas apa-apa bagi kemanusiaan dan kemasyarakatan selain perayaan itu sendiri. Setiap hari muncul musikus dalam jagad maya, perangkat-perangkat teknologi membuatnya bisa menghasilkan bunyi-bunyian dan dengan ditambah visualisasi yang juga hasil dari perangkat teknologi, hadirlah sebuah produk hiperseni yang disukai jutaan orang dan menarik antusias dan hasrat orang banyak, lebih dari seni menarik antusiasme masyarakat. Orang-orang kini mampu menjadi produser music lebih dari Steve Albini. Orang-orang menjadi ‘rockstar’ dan ‘bintang’ instan lebih hebat ketimbang seniman dan musikus sebenarnya. Menghasilkan uang lebih banyak, dan lebih disukai oleh
142Ibid, h.136
masyarakat perayaan itu sendiri. Dan tidak ada yang memper- masalahkan hal tersebut, yang ada dan banyak adalah orang-orang yang menyukai dn merayakannya. Ribuan penyair muncul setiap hari di jagad maya ini. dan orang-orang menyukai dan merayakannya, buku-buku lapuk berdebu tak terbaca. Penyair dan penulis semakin terpuruk. Sebab orang-orang lebih senang tontonan yang isinya adalah orang-orang yang dengan perangkat teknnologinya merekam dirinya sendiri tengah berjoged dengan musik-musik remix yang terdengar aneh, atau pembahasan tetek-bengek, tutorial-tutorial instan, dan komedi prank yang tidak lucu yang berseliweran di Youtube. Inilah masyarakat perayaan. Perayaan-perayaan ini hanya berujung pada kehancuran sosial, pelampauan batas dari seni dan bukan seni, bahkan seni dan bukan seni kini berbaur dalam suatu bentuk di mana kontradksi antara keduanya diterima dan dirayakan.
Maraknya masyarakat perayaan dan masyarakat konsumeris dengan tabiat konsumerisme dan pelampauan batas, pada akhirnya hanya mengokohkan kapitalisme yang menghisap darah kita sendiri, yang mengambil keuntungan dari segala kekacauan yang terjadi di balik perayaan.
Lihatlah sekitar anda, bagaimana rupanya, maka demikianlah masyarakat perayaan. Dan demikianlah perayaan-perayaan mereka atas hipermodernitas.
Perayaan-perayaan atas segala kategori [seni, budaya, teknologi, dsb.] yang dilakukan masyarakat perayaan, yang sebenar- nya dipacu oleh rangsangan konsumerisme dan kapitalisme hanya akan berujung pada pelampauan batas-batas dari tiap kategori dan membawanya pada kehancuran, dan dari sanalah kehancuran sosial dimulai.
Epilog Nihilis
Fakta bahwa peristiwa-peristiwa tidak lagi menghasilkan informasi [namun lebih merupakan jalan lingkar lain] mendorong konsekuensi yang tak terhitung.
Jean Baudrillard Galaksi Simulakra, LKiS, Yogyakarta, 2004, hlm 149
Bagaimana jika kejadian-kejadian seperti skandal seks, mega
korupsi, yang entah terjadi di kalangan elit atau rakyat biasa, tidak berlalu begitu saja? Bagaimana jika benar bahwa peristiwa-peristiwa itu tidak menghasilkan informasi, tetapi justru menghasilkan semacam ‘ekstasi informasi’? Maka mungkin benar bahwa peristiwa-peristiwa itu mendorong konsekuensi yang tak terhitung. Dan konsekuensi yang paling mengerikan di antara segala konsekuensi ialah tergiringnya kita ke dalam suatu bentuk nihilisme.
Kita dapat memahami kalimat “fakta bahwa peristiwa-peristiwa tidak lagi menghasilkan informasi [namun lebih merupakan jalan lingkar lain] mendorong konsekuensi yang tak terhitung” dari Baudrillard di atas sebagai bentuk penjelasan bahwa apapun yang kita produksi, lakukan dan hasilkan [apa yang Baudrillard maksud sebagai ‘peristiwa’] kini tidak lagi memberikan makna [apa yang Baudrillard sebut sebagai ‘informasi’] pada kita. Apa yang kita
produksi dan hasilkan justru menjadi ekstasi yang seolah berdiri sendiri [jalan lingkar lain] dan berputar-putar terus di orbit-nya sendiri tanpa mengendapkan apa-apa bagi kita—masyarakat yang memproduksinya atau subjek-subjek yang memungkinkan peristiwa itu terjadi. Jika demikian, maka hal ini jelas merupakan suatu tindak nihilisme yang entah kita sadari atau tidak. Kita membuat dan melakukan sesuatu dan beberapa hal, kita merayakannya, akan tetapi semua itu tidak memberi makna apa-apa bagi kita selain konsekuensi terjermbab dalam arus tindak membuat dan melakukan itu secara terus menerus. Karakter inilah yang kita lihat dalam-pada perayaan masyarakat atas hipermodernisme dan hipermodernitas. Sepertinya kita telah terjerembab dalam tindak-tindak hiper, melakukan sesuatu sampai melampaui batas dari sesuatu itu. Memacu hampir segalanya untuk melampaui batas-batasnya.
Ketika rasionalitas kita, progresivitas kita, dan segala ke- mampuan kita, pada titik tertentu ‘terkawinkan’ dengan kapitalisme, apa mau dikata, semua terpacu dengan sangat cepat sampai pada titik batas akhirnya, untuk kemudian dipacu lagi sampai melampaui batas itu sendiri. Tidak ada lagi batas. Etika dan moralitas tidak lagi mampu membatasi kapitalisme, apalagi hukum. Dorongan pelampauan tersebut telah menjebak kita dalam nihilisme yang tak bertujuan apa-apa selain merayakan atau bahkan menghancurkan.
Teknologi internet dan cyberspace, atau teknologi lainnya dipacu sampai titik batas akhir dan melampaui batas itu sendiri. Apa yang tidak disentuh sibernasi sekarang ini? Atau bahkan mungkin memang tidak ada batas bagi teknologi itu sendiri? Segala hal dipacu sampai pada titik batasnya, dipacu terus untuk melampaui batas itu sendiri. Dua hal yang bertentangan melampaui batasnya masing- masing untuk kemudian di satu domain baru menerima kontradiksi. Hipermodern ialah bentuk pelampauan yang tidak bertujuan apa-apa
selain melampaui batas dan terjebak dalam pelampauan itu, semen- tara pelampauan telah menyebabkan kehancuran; itu artinya kita terjebak dalam kehancuran itu sendiri, dan ini jelas fatal, sebuah tindak nihilis.
Baudrillard dengan jelas menunjukkan bahwa ini semua ialah fatal strategies; segala tindak dan segala teknologi, sebagai akibat dari kapitalisme yang meracuni masyarakat, yang kemudian melampaui dirinya menjadi masyarakat konsumeris dan masyarakat perayaan, pada titik ini membawa kita ke arah kehancuran. Dan tabiat kita kemudian, bukannya mengambil hikmah [informasi], akan tetapi mengambil jalan putar baru, terjebak di sana, merayakannya terus, merayakan segala hal yang tak memberi kita makna apa-apa sebagai manusia; seolah kita dipacu untuk melampaui kemanusiaan kita dan menjadi mesin atau robot yang sempurna. Tidak ada yang lebih fatal daripada ketika manusia kehilangan kemanusiaannya dan menjelma mesin.
“Mereka lalu memproduksi berbagai bentuk nihilisme,” kata Piliang. Sejarah tidak jadi berkhir, tetapi tidak ada pula masa depan, yang ada ialah masa kini yang harus dirayakan tanpa perlu batasan moral atau etik. Semua hal dirayakan dengan melampaui segala batas yang ada. Maju ke dalam kehancuran, kita terjebak dalam produk- tivitas yang justru menghancurkan. Kita menciptakan teknologi yang justru membawa kehancuran sosial, kebudayaan, moral, dan kemanusiaan, bukannya teknologi yang membantu kita mencapainya. Kehilangan filsafat, kita terjebak dalam paradox yang mengerikan. Lihat apa yang kita buat. Cyber teknologi. Tidak ada batas dalam cyberspace. Semua terlampaui. Dipacu untuk dilampaui. Dicampur- aduk. Seseorang bisa memamerkan penutupan aurat di dalam cyberspace, dan menyembunyikan hal-hal yang berbau porno di tempat yang sama secara bersamaan.
Dan di sana, terdapat kesenangan, kegembiraan, kegairahan, keterpesonaan, intelektualitas, kecerdasan, akan tetapi beriringan pula dengan muatan ketakutan, kengerian, kekerasan, kebrutalan, kehancuran, kebusukan, kebencian, kecemasan. Dua sisi itu ‘hadir begitu saja’ di dalam cyberspace. Sebagai paradoks. Dan masyarakat perayaan tidak mempermasalahkan. Yang diketahui oleh masyarakat perayaan ialah merayakan. Kita memang menuju kehancuran, apa yang bisa kita lakukan? Rayakan apa saja sementara kita akan hancur. Begitulah masyarakat perayaan. Segala aktivitas yang sudah mencapai titik ‘ekstasi’ aktivitas tidak memberikan makna apa-apa bagi manusia dan sosial. Menjadi perayaan, semua berlalu begitu saja, tidak menjadi informasi, tidak meninggalkan hikmah dan makna.
Masyarakat perayaan justru merayakan cyberspace dan segala hipermodernitas, yang di dalamnya [cyberspace dan hipermodernitas] tidak terdapat apa-apa selain nihilitas. Hipermodernitas ialah segala yang dipacu melampaui batas dan mencapai kekosongan, ia diko- songkan dari berbagai filosofi, ideologi, moral dan etika yang menjadi konsensus sosial. Hipermodernitas yang nihil itu menjadi kanal-kanal “tempat ‘hasrat’ manusia secara bebas diumbar, di- lepaskan dari katupnya; membebaskan energi ‘libido seksual’ dari kungkungan Freud; membebaskan energi ‘kehendak berkuasa’ dari kungkungan Marx; membebaskan tanda dan image dari kungkungan semiotika Saussure.”
Di dalam hibrida cyberspace [salah satu hipermodernitas], setiap sisi baik kehidupan menjadi kembaran bagi sisi jahatnya sendiri. Ia menjadi sebuah paradoks. Akan tetapi, yang dirayakan oleh masyarakat perayaan ialah segala yang membawa kesenangan yang jauh dari nilai-nilai moral dan kebaikan. Tidak berbuat kejahatan, masyrakat perayaan merayakan hal-hal yang tidak bermuatan apa-apa, kosong, hampa, nihil. Segala yang dirayakan
ialah bentuk-bentuk ekstasi yang sekadar mengatas namakan ‘positif’, ‘baik’ dsb. Sekadar mengatas namakan. Tetapi semua justru nihil. Ekstasi-ekstasi yang dirayakan justru menjebak pada kehancuran dan perayaan terus-menerus yang akhirnya menggerus segala nilai; nihilis. Dalam hipermodernitas yang dirayakan masyarakat perayaan ini [cyberspace], “tidak ada wacana saling mengingatkan kepada kebaikan, kearifan, moralitas. Atau, kalaupun ada, semuanya tidak lagi memiliki makna apa-apa, disebabkan semuanya dibangun di atas 143 ketiadaan identitas.”
Hipermodernitas yang dirayakan masyarakat perayaan, yang didorong oleh semangat libidonomic kapitalisme ini, ialah nihilitas. Ia dibangun di atas semangat pelampauan batas, yang juga berarti ketiadaan sesuatu yang membatasi. Perputaran dari segala perayaan itu hanya menjebak masyarakat pada perayaan yang terus-menerus berputar tanpa batas yang akhirnya menuju kehancuran semata; nihilis. Segala bentuk tindak perayaan, segala tindak pelampauan hiper, dan juga segala bentuk pelampauan dan perpaduan eklektis dari dua kontradiksi itu hanya menjadi fatal strategies, seperti tindak nihilis yang hanya mengantar manusia menuju ambyar.
Ambyar¹⁴⁴ sungguh tidak hanya bisa kita kaitkan dengan Didi Kempot atau seni dan budaya zaman now semata. Kiranya zaman ini sendiri mungkin zaman ambyar. Apakah ambyar itu hanya bisa dikaitkan dengan asmara—romantisisme—patah hati ? terlepas dari apapun jawab dari tanya itu, kita tentu bisa menengok sekitar, di mana banyak orang mengalami ambyar politis, ambyar ekonomis,
143Ibid, h.311. 144Menjadi popular lewat Didi Kempot. Beberapa paragraf berikut, terinspirasi (dan dikutip) dari teks yang ditulis seorang kawan—Maming Hermawan.
dsb. Ambyar sungguh bukan soal patah hati romantisis semata; melainkan lebih luas.
Ambyar—lewat Didi Kempot dan campur sari-nya— menjadi sebuah kata dan khazanah yang diberikan zaman pada kita masyarakatnya; agar kita kiranya dapat memahami segala gejala sejarah atau peristiwa zaman yang telah dan tengah kita alami. Ambyar membuka kembali apa yang diwartakan sejarah dan banyak nubuatan masa depan pada era terdahulu. Berkat ambyar, kini kita menyadari; bahwa zaman ruwet dan pekewuh dalam khazanah jawa itu sedang kita alami sekarang; bahwa tanda-tanda akhir zaman dalam nubuatan para nabi tengah kita alami, di sini saat ini. Ambyar dan Didi Kempot mengingatkan kita bahwa kita telah sampai, telah tiba di era itu, dan beberapa dari kita pun merayakan hal-ihwal nihil yang membawa kita menuju ambyar.
Di era hipermodern inilah kita melihat ruwet dan rumit, serta segala kekacauan; nista budi manusia makin menjadi-jadi, ruwetnya hidup terus terjadi, orang-orang sengaja menempuh jalan yang salah, dan kesetiaan tiada lagi; tentu hal ini sebagai akibat terlampau dipacunya segala hal dalam putaran dromologi kapitalisme dan juga sebagai akibat terkontaminasinya hal-hal [yang dimiliki masyarakat] oleh energi libido yang diakibatkan kapitalisme hipermodern; dan sebagai akibat dari kontaminasi libidonomic kapitalisme lanjut hipermodern itu, kita tengah berada di era kehancuran nan ruwet di mana masyarakat manusia seolah menjadi serba salah; maju melampaui, bertahan gak progressif. Ruwet, serba salah, banyak orang seperti terpaksa ikut perayaan nihilis dan menggenggam fatal strategies menuju ambyar.
Ambyar ialah petaka zaman sekarang. Ihwal kemajuan zaman, ambyar dapat pula dihasilkan atau beriringan dengannya.
Walter Benjamin, seorang filsuf dari mazhab Frankfurt menyebut bahwa pengertian kemajuan itu dasar dan titik berangkatnya ialah petaka. Apa yang terus maju ialah petaka itu sendiri, beriringan dengan segala yang baik. Maju berarti menuju depan; masa depan; dan masa depan gemilang hanya utopia; masa depan yang terjadi sekarang ialah masa depan sebagai petaka—hasil dari kemajuan petaka itu sendiri; dan kita tengah berada di tengah-tengah petaka zaman itu;
nihil dan ambyar.
Di mana-mana, di segala domain yang telah terkontaminasi kapitalisme hypermodern, kita melihat batas-batas dilampaui untuk terus berputar serba cepat hingga kemudian mengikis segala nilai dan hakikat, lantas menjadi perayaan kosong dan mencederai dirinya sendiri; menjadi petaka, menuju kehancuran semata;
nihil dan ambyar.
deikianlah hipermodernisme dan kapitalisme lanjut;
nihil dan ambyar. []
Kepustakaan
Al-Qur’anul karim. 2012. Al-Qur’an dan Terjemah New Cordova. Sygma. Bandung.
Bakunin, Mikhail. 2017. Tuhan dan Negara. Penerbit Parabel. Salatiga. Diterjemahkan oleh R.A. Husein., dari God and The State. 1970. Dover Publication.
Bakunin, Mikhail. 2017. Statism & Anarchy. Second Hope. Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Ade Irma Arifin.
Barker, Chris. 2011. Cultural Studies: Teori & Praktik. Kreasi Wacana. Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Nurhadi., dari Cultural Studies; Theory and Practice. 2000. Sage Publcations. London.
Baudrillard, Jean. 2001. Galaksi Simulakra: Esai-Esai Jean Baudrillard. LKiS. Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Galuh E. Akoso & Ninik Rochani Sjams. Diseleksi dan diterjemahkan dari esai-esai yang termuat di www.topcultures.com dan www.ctheory.com
Mulyana, Deddy. 2016. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia Yang Dilipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Jalasutra. Yogyakarta.
Piliang, Yasraf Amir. 2017. Dunia Yang Berlari : Dromologi, Implosi, Fantasmagoria. Cantrik Pustaka. Yogyakarta.
Piliang, Yasraf Amir & Audifax. 2018. Kecerdasan Semiotik : Melampaui Dialektika dan Fenomena. Cantrik Pustaka. Yogyakarta.
Plackeinstein. 2019. Salto Mortale. Anarasa. Sumbawa.
Poespowardojo, T.M Soerjanto & Alexander Seran. 2016. Diskursus Teori-Teori Kritis : Kritik atas Kapitalisme Klasik, Modern, dan Kontemporer. Kompas. Jakarta.
Tentang Penulis
Plackeinstein ialah seorang bangsat di tengah masyarakat perayaan hipermodern—yang ia rasa lebih bangsat dari dirinya; self-proclaim muslim anarkis—yang hanya bisa pasrah keislamannya diterima Allah, dan masih terus berharap berhenti dicap “kiri.” Ia menyesat- kan diri ke dalam Worst Generation—Generasi Terburuk Sastra Indonesia dengan kesadaran ¾ penuh. Setelah selesai memungut kembali cita-cita yang dulu digantung di langit, yang berserakan di kubangan lumpur, kini ia sibuk membakar semua itu dan melem- parnya kembali ke langit, berharap langit ikut terbakar. Selain itu, ia tetap sibuk miskin, nulis, dan salto. Bisa disapa ke simulakrum-nya @plackeinstein [di ig] dan @plackeinstein_ [di x].
K
Salto Fatale. Plackeinstein. 2020. Anarasa. Republish: 2025. hanya di era hiper-modern kita menyaksikan kemuliaan mati dengan tidak mulia; dan orang-orang menerrtawakan cinta dengan tanpa penghargaan