Baca PDF (OCR): Api dan Bubuk Mesiu

20 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR· 1398 ms

Daftar isi
  1. Api dan Bubuk Mesiu Conspiracy of Cells of Fire
  2. API DAN BUBUK MESIU
  3. (C.C.F. Meksiko / FAI)
  4. Desir Angin Pembangkangan… dari Indonesia hingga Chile
  5. Melakukan “Terjemahan” dalam Terjemahan
  6. Jaringan FAI/IRF
  7. Api dan Mesiu
  8. Anggota CCF yang dipenjara

Api dan Bubuk Mesiu Conspiracy of Cells of Fire

Diterjemahkan oleh D.B Complot! Gambar Sampul oleh KNGHTM Diterbitkan oleh SENG-ISENG ZINE, 2025

ANTI-COPYRIGHT

API DAN BUBUK MESIU

Kami mendengar nyanyi dan alunan api yang datang dari kejauhan. Lirik-liriknya beraroma mesiu. Dari seberang dunia, kawan-kawan pemberontak membakar malam dan membebaskan ruang serta momen kehidupan. Kami bisa mendengar mereka… Mereka berkonspirasi, merancang, menyerang… Kami tak perlu berkata apa-apa lagi—biarlah saudara-saudari kami yang berbicara untuk kami.

“Kami semua adalah Konspirasi Sel Api. C.C.F bukanlah sebuah organisasi atau sekadar kelompok. Sebaliknya, ia adalah ekspresi antagonistik dari amarah dan penghinaan terhadap otoritas dan seluruh strukturnya. Untuk menyebarkan C.C.F yang dibutuhkan hanyalah bensin, korek api, dan hasrat untuk bertarung demi kebebasan yang mutlak. Kami telah memulai perang melawan tatanan yang ada.”

(C.C.F. Meksiko / FAI)

Teks berikut ini dipersembahkan untuk C.C.F. Meksiko dan untuk seluruh saudara-saudari kami dalam F.A.I. di seluruh dunia.

Desir Angin Pembangkangan… dari Indonesia hingga Chile

Beberapa bulan terakhir ini, dari berbagai penjuru bumi, semakin banyak pesan-pesan ledakan yang melintasi batas dan lautan— membawa nyala api dan aroma mesiu hingga ke sini—ke dalam penjara-penjara Yunani, tempat kami disandera… tapi belum dikalahkan.

Kata-kata berpadu dengan kobaran api, dan di balik abu yang tersisa dari bank, gedung pemerintahan, mobil polisi, laboratorium nanoteknologi, antena satelit, mobil-mobil keamanan swasta, dan toko-toko mewah, terbuka harapan bagi kawan dan ancaman bagi musuh. Di sanalah terbuka tawaran hidup dari Federasi Anarkis Informal (F.A.I.). Sebuah Front Revolusioner Internasional (I.R.F.) kini terorganisir di Italia, Inggris, Chile, Meksiko, Argentina, Rusia, Belanda, Peru, Bolivia, Indonesia, Australia, Yunani…

Sebuah gagasan yang memulai perjalanannya sepuluh tahun lalu di Italia, dari saudara-saudari F.A.I. Italia—dan hari ini gagasan itu lebih kuat dari sebelumnya. F.A.I. jelas bukan permainan teoretik dengan kata-kata dan simbol yang jinak, melainkan suatu ajakan untuk menjalani hidup yang berbahaya dan sepenuhnya anarkis, dengan seluruh indera, tanpa waktu untuk mati dan tanpa alas an untuk menjadi pengecut.

Sering kali teks-teks yang sampai ke tangan kami—seperti dari F.A.I. Italia, dari kawan-kawan F.A.I. Inggris berjudul Rain and Fire, pengumuman dari F.A.I. Rusia, seruan dari sebelas organisasi anarkis di Meksiko, dan banyak lagi—menghadirkan kenikmatan yang janggal dan aneh dalam diri kami. Ini adalah kegembiraan yang sulit dijelaskan, ketika individu dan kelompok yang tak saling

mengenal tiba-tiba sampai pada kesimpulan yang sama, merasakan perasaan yang sama, di saat yang sama pula.

Perasaan ini meledak dalam setiap kata yang membuka jalan bagi kata berikutnya, menggambarkan arah jalan bersama dalam pemberontakan. Ini salah satu dari sedikit momen di mana kami tak punya banyak hal untuk ditambahkan. Sebagian besar poin kami telah disuarakan oleh kawan-kawan kami. Namun kami tak ingin menjadikan teks ini sekadar untaian pujian.

Kami tahu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan jalan terjal yang harus kami lewati dalam pertempuran ini. Kini kami ingin menjadi lebih berbahaya, lebih bermakna, lebih anarkis dari sebelumnya. Inilah sebabnya kami banyak menulis dari dalam penjara: karena kami ingin lebih banyak bertindak.

Melakukan “Terjemahan” dalam Terjemahan

Komunikasi adalah fondasi dari seluruh struktur informal kita. Kami memaknai setiap kata sebagai undangan untuk bertempur melawan otoritas. Setiap makna yang kami cetak di atas kertas adalah sesuatu yang ingin kami bebaskan dari teori belaka dan mengubahnya menjadi praktik yang nyata. Hanya dalam praktiklah semua nilai-nilai teoretik diuji. Namun setiap kata yang kita gunakan memiliki asal-usul sejarahnya sendiri. Sering kali kata yang sama memiliki arti yang berbeda dari satu negeri ke negeri lain.

Federasi Anarkis Informal (F.A.I.) adalah formasi anarkis internasional yang terdiri dari individu-individu dan sel-sel yang berbicara dalam bahasa berbeda, namun mengekspresikan keinginan yang sama melalui tindakan mereka: keinginan akan revolusi anarkis.

Itulah mengapa terjemahan teks dan komunike yang beredar dalam lingkaran F.A.I. sangat penting, agar satu sama lain dapat saling mengenal melalui gagasan masing-masing. Namun, sering kali dibutuhkan pula semacam “terjemahan kedua” atas terjemahan tersebut—untuk menjelaskan kata-kata tertentu yang memiliki makna berlainan tergantung pada tempat dan konteksnya.

Di sini, kami mencoba menyusun upaya pertama dari terjemahan ganda ini, untuk memperjelas segala kemungkinan kesalahpahaman antar kawan seperjuangan. Dorongan pertama datang dari saudara-saudari kami di Chili, ketika kawan-kawan dari Columnas Antagónicas Incendiarias (kolom pembakar antagonistik) memajukan dialog lewat tindakan dan, dalam komunike mereka yang mengklaim aksi pembakaran Banco Estado di Santiago, secara terbuka menyampaikan refleksi mereka terhadap penggunaan kata revolusi dan bagaimana kami dari C.C.F. memaknainya.

Keberatan mereka didasarkan pada pemahaman bahwa bagi mereka, revolusi kerap diidentikkan dengan pemberontakan rakyat secara umum—sebuah kebangkitan mendadak dari massa yang menyadari situasi mereka. Revolusi macam ini biasanya digaungkan oleh kalangan Marxis dan sebagian kecil “anarkis” yang hanya membenarkan kekerasan revolusioner ketika kondisi sosial telah “matang”, sekaligus menolak makna pemberontakan individual. Maka berbicara tentang revolusi seperti itu berarti berbicara atas nama rakyat—sebuah pendekatan yang sangat menyerupai logika barisan depan bersenjata dan tafsir Marxis yang tak ada hubungannya dengan kami.

Memang benar bahwa kami kerap menggunakan istilah revolusi dalam teks-teks kami dengan asumsi bahwa kami secara konsisten berbicara tentang anarkisme anti-sosial, anarko- individualisme, ketegangan insurreksionis, dan nihilisme agresif,

pembaca akan paham maksud kami. Namun sering kali jarak geografis yang jauh, keterbatasan terjemahan, serta penggunaan kata yang berbeda-beda di setiap tempat, menegaskan kepada kami pentingnya untuk bersikap lebih jelas.

Kami tegaskan, bahwa kami tidak hidup dalam ilusi akan kebangkitan sosial yang tiba-tiba dan samar-samar, atau pemberontakan rakyat yang anarkistik. Kami tidak percaya pada massa yang, dengan kepengecutan dan ketidakpeduliannya, justru memelihara sistem otoriter ini. Karena itulah kami bukan hanya musuh negara, tetapi juga musuh terhadap nilai-nilai sosial yang menopang, membenarkan, dan mereproduksi kekuasaan sebagai relasi sosial dalam keseharian. Bahkan aksi-aksi protes sosial untuk upah lebih baik, jaminan sosial, atau hak-hak baru, bagi kami hanyalah mobilisasi yang memiliki tanggal kedaluwarsa—dan pada akhirnya membawa kembali pada kepasifan.

Kami percaya bahwa setiap individu secara sadar harus menyadari kejahatan yang disebut kekuasaan, membongkarnya dari gaya hidup mereka, dan pada saat yang sama menemukan kawan seperjuangan untuk menyerang kekuasaan negara yang menyebar di mana-mana. Itulah sebabnya kami percaya pada perjuangan anarkis dalam sekrup kecil, perang social, dan gerilya kota nan puitik.

Lagi pula, kata revolusi itu sendiri tidak otomatis berarti pembebasan. Mari kita tidak lupa bahwa diktator-diktator dari partai-partai komunis justru lahir dari revolusi. Kami tidak menginginkan sembarang revolusi, melainkan revolusi anarkis— revolusi yang membongkar setiap bentuk otoritas. Maka dari itu, mulai sekarang, untuk lebih memperjelas dalam teks dan tindakan kami, kami akan menyebutnya sebagai revolusi anarkis.

Salah satu kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah soal penyebutan perjuangan bersenjata. Kami tahu bahwa di beberapa negeri lain—seperti Italia—istilah ini merujuk pada masa lalu, pada dekade-dekade sebelumnya yang diwarnai dengan logika garda depan bersenjata.

Di sini kami perlu menegaskan bahwa kami sama sekali tidak percaya pada barisan penerang atau kepemimpinan “revolusioner”. Apa pun yang kami lakukan, pertama-tama kami lakukan untuk diri kami sendiri. Melalui serangan-serangan kami, kami berkomunikasi dengan kawan-kawan lain, menyebarkan nilai-nilai anarkis, menyerang sistem, menolak peran sebagai martir, dan menikmati hidup dalam bentuknya yang paling liar dan membebaskan.

Di saat yang sama, kami ingin membentuk teror tandingan di hadapan musuh—membuat mereka sadar bahwa ada perang sipil yang terus berlangsung antara mereka yang tidak tunduk terhadap kekuasaan. Kami ingin meneror para penguasa dan menularkan ketakutan akan pembalasan ke dalam kamp mereka—ke rumah- rumah mewah, parlemen, kementerian, dan kantor polisi (milik) mereka.

Semua ini memberikan kepuasan personal yang besar bagi kami. Karena itulah kami menyebut diri kami anarkis-individualis. Kami tidak menyukai pandangan apa pun yang ingin mengubah revolusi anarkis dari jalan hidup yang otentik menjadi misi militer, lengkap dengan aturan dan pemimpin demi “kesejahteraan umum” masyarakat. Kami tidak akan mengorbankan diri untuk “kesejahteraan” sebuah masyarakat yang kerap didepak oleh para majikan, tapi masih bisa berkata “terima kasih”.

Bila lewat kata dan tindakan kami, kami menimbulkan pertanyaan-pertanyaan pembebasan dalam diri beberapa orang tentang kehidupan modern, itu baik—pertama-tama untuk diri

mereka sendiri. Akan menjadi kebahagiaan dan kehormatan besar jika dalam diri mereka, kami menemukan kawan seperjuangan di masa depan. Dan jika tidak, kami tak akan pernah—bahkan untuk sesaat—meninggalkan pertarungan melawan otoritas dan kritik anti-sosial kami, hanya demi menjadi disukai banyak orang.

Namun, ada satu lagi parameter dalam kritik terhadap istilah perjuangan bersenjata—yakni dari saudara-saudari kami yang berpijak pada anarki insurreksionis. Bagi sebagian mereka, istilah ini bisa dengan mudah disalahpahami sebagai obsesi tunggal, fetisisme terhadap senjata api, atau semacam hierarki informal dalam metode perjuangan anarkis, yang menempatkan perjuangan bersenjata sebagai bentuk aksi tertinggi.

Kami, baik dalam kata-kata maupun tindakan, tidak pernah menyusun bentuk-bentuk perlawanan terhadap sistem dalam tatanan hierarkis. Kami tidak pernah percaya bahwa suatu aksi menjadi lebih atau kurang “anarkis” tergantung dari tingkat kekerasannya. Namun, di saat yang sama, kami menolak keras pemisahan versi anarkisme tradisional yang hanya membenarkan kekerasan ketika terjadi dalam massa demonstrasi, namun melecehkannya ketika dilakukan secara diam-diam oleh segelintir kawan di kegelapan malam.

Kami pun menolak pemisahan konyol yang sering diucapkan oleh sebagian “anarkis” di beberapa negara—yang hanya menerima kekerasan anarkis bila ditujukan pada target material, namun mengutuk eksekusi terhadap aparat yang menopang sistem, dengan dalih “menghormati kehidupan manusia”. Bagi kami, tidak ada rasa hormat untuk kehidupan seorang polisi, hakim, jaksa, jurnalis cepu, atau informan.

Karena itu, saat kami menggunakan istilah perjuangan bersenjata, pada dasarnya kami juga sedang menyampaikan pesan

kepada para anarkis tua yang dengan moralismenya ingin menjinakkan keindahan keliaran aksi anarkis dan membatasinya hanya pada bentuk protes massa yang lebih “tenang”. Bagi kami, seorang kawan anarkis bisa saja menggunakan pensil dan kertas, atau juga senapan dan bom, untuk menyerang kekuasaan dan peradabannya.

Maka jelaslah: kami hari ini mendukung dan memajukan setiap aksi yang menyerang sistem dengan caranya masing-masing. Penyebaran selebaran, publikasi dan blog swakelola, demonstrasi militan, sabotase, pengedaran narkotik, lemparan batu dan cat, ekspropriasi bank, serangan bom, pembakaran target-target negara dan ekonomi, eksekusi terhadap aparat kekuasaan—semuanya adalah bagian dari persenjataan teori praksis anarkis kami. Jadi, ketika kami berbicara tentang perjuangan bersenjata, kami tidak semata berbicara tentang senjata dan peluru, tetapi juga segala hal yang membuat otoritas bergidik ngeri.

Fakta bahwa kami banyak menggunakan istilah “perjuangan bersenjata” sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap fetisisme kekerasan intensitas rendahan yang disebarkan oleh anarkisme reformis. Namun kini, kami menyadari bahwa penggunaan istilah itu dapat menimbulkan salah paham seperti yang telah kami jelaskan. Karena itu, untuk menghindari kesan yang keliru dan untuk tidak disamakan dengan pengecut atau sesuatu yang bukan diri kami, mulai sekarang kami berpikir untuk mengganti istilah “perjuangan bersenjata” dengan penjelasan akan keragamannya, atau dengan istilah yang lebih luas: aksi langsung— yang mencakup semua yang ingin kami lakukan.

Jaringan FAI/IRF

Di balik puluhan sel dari Federasi Anarkis Informal (FAI), terdapat sebuah esensi—esensi dari propaganda anarkis yang diwujudkan dalam praktik nyata. Munculnya semakin banyak sel FAI baru, mulai dari Indonesia hingga Chile, dan dari Inggris hingga Rusia,

membuka cakrawala baru bagi perjuangan anarkis. Cakrawala
berupa jaringan informal yang bersifat chaos dan tak terpusat,
namun penuh solidaritas antar sel anarkis, dan mampu

membuka cakrawala baru bagi perjuangan anarkis. Cakrawala

menimbulkan gangguan serius terhadap kelangsungan sistem yang mapan. Ini adalah ancaman yang nyata dan terukur, namun tidak boleh terjebak semata dalam saling memberi salam hormat yang otentik antar sel dan individu yang membentuk jaringan ini.

Penting untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kita telah berbicara soal nilai-nilai yang kita sama-sama pegang. Kita percaya pada nilai-nilai yang sama tentang aksi langsung—yang terwujud dalam “di sini dan saat ini” dari perjuangan melawan negara, berpadu dengan kritik anti-sosial serta solidaritas anarkis internasional yang tak mengenal batas negara maupun bendera. Kita juga mendukung dan mempromosikan informalisme sebagai bentuk paling otentik dari organisasi anarkis. Dan pastinya, kita semua yang mendukung FAI berbagi satu kegilaan yang sama— berjalan melawan arus zaman, tanpa peduli pada harga yang harus dibayar, apapun itu.

Harga itu adalah kontradiksi yang paling nyaring dalam diri seorang revolusioner anarkis: seseorang yang mencintai kebebasan

dan kehidupan, namun pada saat yang sama mempertaruhkan
keduanya—entah dengan terkunci di dalam sel tahanan,
dengan tubuh tertembus peluru polisi. Namun, momen-momen

atau

serangan liar dan penuh tantangan terhadap otoritas dan antek-

anteknya itu pantas mendapatkan lebih dari sekadar hidup yang dibanjiri kompromi dan penyerahan diri.

Faktanya, semua ini telah banyak dituliskan dalam dialog publik yang mengemuka di lingkaran FAI-IRF. Maka dari itu, memiliki senjata di tangan, sebagaimana dilakukan oleh FAI, tidaklah cukup. Yang penting adalah bagaimana senjata itu digunakan—agar benar-benar memiliki nilai.

Api dan Mesiu

Kini, marilah kita berbicara tentang usulan strategi kami.

Pertama-tama, kami ingin mengutarakan dua hal mengenai usulan dari saudara-saudari kami di FAI Italia terkait penggunaan simbol CCF oleh kelompok-kelompok IRF, dengan menuliskan nama mereka di atas bintang anarki.

Bagi kami, simbol kami—lima anak panah yang semuanya mengarah ke pusat kekuasaan—melambangkan makna dari perjuangan anarkis internasional yang dapat berlangsung di lima benua dunia. Perbedaan ukuran pada anak-anak panah itu sendiri mencerminkan keberagaman bentuk aksi anarkis serta intensitas yang beragam dari setiap aksinya.

Pada saat yang sama, kelima panah tersebut menekankan pentingnya dan nilai FAI-IRF, karena mereka seperti lima jari tangan. Masing-masing jari, sendirian pun, mampu membengkokkan musuh, tetapi ketika disatukan menjadi satu genggaman, ia menjelma menjadi kepalan tangan yang tak tergoyahkan menghadapi sistem. FAI-IRF adalah kepalan tangan itu.

Selain itu, panah-panah yang mengarah ke pusat juga melambangkan fusi kekuatan-kekuatan subversif, yang kemudian meledak dan menyebar menjadi serangan-serangan terhadap kapal

besar peradaban modern. Bintang yang memuat huruf ‘A’ anarki menjadi simbol dari jantung kami—yang berdegup untuk revolusi anarkis. Maka bagi kami, adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan besar untuk memberikan simbol ini kepada FAI-IRF, agar setiap kelompok atau sel IRF dapat menggunakannya secara bebas dengan mencantumkan nama mereka di atas bintang tersebut.

Sekarang, mengenai strategi perjuangan kami: semua dari kami yang mendukung FAI tidak berpangku tangan menunggu peristiwa terjadi dengan sendirinya menuju revolusi anarkis. Kami lebih memilih untuk menjadi peristiwa itu sendiri—peristiwa yang mengguncang tatanan sistem. Inilah strategi perjuangan anarkis minoritas. Selama ini, perjuangan ini seringkali terjadi secara terpisah-pisah, kadang terisolasi, dan terbatas pada batas-batas negara masing-masing.

Pengecualian penting adalah seruan-seruan aksi internasional yang digagas oleh inisiatif para kawan. Kami sendiri pernah menyerukan ajakan serupa ketika berlangsung sidang pertama terhadap C.C.F, dan kami sungguh berbahagia saat menyaksikan benih solidaritas itu tumbuh subur di tanah Argentina, Italia, Rusia, Chili, Yunani, Indonesia, Spanyol, Inggris, Meksiko, Australia, Jerman, Polandia, Austria, Belanda, dan lainnya. Kini kami tahu bahwa jaringan FAI/IRF mampu meningkatkan kualitas gagasan semacam ini. Sebab, inti dari FAI ada pada denyut perbincangan anarkis yang berkembang melalui aksi. Seperti yang dengan sangat tepat dituliskan oleh para kawan dari FAI Italia: serangan-serangan anarkis memang tak pernah berhenti, namun bila disatukan dalam sebuah jaringan informal internasional yang dibangun atas dasar dukungan timbal balik, maka serangan-serangan itu menjadi lebih tampak, lebih dahsyat, dan prospek revolusionernya pun berkembang berkali-kali lipat.

Maka dari itu, kami mengajukan sebuah usulan: kami berpikir bahwa dialog dalam bentuk aksi di antara sel-sel FAI, dari waktu ke waktu, perlu mencari suatu penanganan tematik yang bersifat kolektif. Secara lebih khusus, suatu sel FAI/IRF, ketika menyerang sebuah target, lewat komunike tanggung jawabnya, bisa sekaligus membuka ruang dialog dengan sel-sel lain. Misalnya, andaikan beberapa kawan di Inggris memutuskan untuk menyerang kamera-kamera CCTV di jalan-jalan atau secara umum menargetkan alat- alat pengawasan dan kontrol sosial. Maka mereka bisa saja, lewat komunike mereka, mengangkat tema soal teknologi pengawasan dan kontrol terhadap hidup kita, menganalisisnya, menyampaikan sikap mereka, lalu mengusulkan kepada jaringan IRF agar sel-sel lainnya juga menanggapi isu tersebut. Tentunya, sel-sel dan individu lainnya (yang memang ingin dan memilih untuk itu) bisa melakukan aksi-aksi setara, misalnya menyerang toko-toko penjual kamera dan sistem keamanan, laboratorium DNA, kamera di ruang publik, perusahaan keamanan swasta, dan sejenisnya. Komunike-komunike yang menyusul tentu tidak akan sepenuhnya sejalan dengan komunike awal yang mengangkat isu tersebut. Namun di sanalah inti dari “dialog aksi” itu hidup: saat sel-sel dari berbagai penjuru dunia menyerang satu jenis target bersama-sama (misalnya kamera pengawas), dan pada saat yang sama, membuka ruang diskusi dan perenungan mengenai isu itu. Sebab semua bentuk ketidaksetujuan, persetujuan, keberatan, analisis, dan pandangan— membawa kesadaran kita sebagai individu anarkis melangkah lebih jauh. Diskusi semacam ini, yang menyusul praktik aksi nyata, jelas berbeda dengan anarkisme lama yang menunda-nunda perubahan sambil membuang semua militansinya ke dalam obrolan panjang di ruang-ruang seminar dan pesta-pesta gaya hidup alternatif yang tak membahayakan siapa pun.

FAI/IRF tidak berdiam diri menunggu pemberontakan sosial berikutnya atau krisis sosial selanjutnya. Kami mengambil alih ucapan dan tindakan ke tangan kami sendiri, karena waktunya adalah sekarang dan tempatnya adalah di sini. Tema-tema yang bisa kami angkat sebagai alasan untuk ekspedisi FAI sungguh tak terbatas. Ada militerisme—tentara, nasionalisme—fasisme, teknologi kontrol—sistem pengawasan, kepolisian—penindasan, tontonan—jurnalis, perusakan alam—peradaban, eksploitasi ekonomi—bank, solidaritas anarkis—penjara, dan puluhan tema lainnya yang membuat kami menjadi musuh bersumpah dari dunia ini.

Tentunya, setiap sel yang hendak mengajukan seruan aksi internasional mesti menyertakan strategi dan menjelaskan posisi mereka dengan jelas. Sebab itu, sangat penting dalam dialog yang ingin kami buka ini agar setiap tema dapat disertai dengan pemikiran-pemikiran di baliknya, sehingga isinya dapat dipahami bersama. Bahkan serangan terhadap target yang sama, misalnya sebuah bank, bisa ditafsirkan dengan sudut pandang yang berbeda dalam komunike-nya. Para anarkis tradisional biasanya melalui serangan semacam itu mengungkapkan penolakan mereka terhadap negara dan kapital. Sedangkan kami, yang merupakan bagian dari tendensi anti-sosial dan anarko-individualis, lewat pembakaran atau peledakan bank tidak hanya menyampaikan amarah terhadap negara, tetapi juga rasa jijik terhadap masyarakat yang—sementara mengeluh tentang krisis ekonomi—masih saja memberi makan bank, hidup dalam utang, dan menggadaikan hidupnya dengan kartu kredit wkwkwk.

Bagi kami, FAI/IRF adalah wajah baru anarki yang lahir dari keberanian untuk melampaui anarkisme tradisional dan prosedur- prosedur birokratisnya.

Usulan aksi koordinasi dalam ekspedisi internasional dengan tema-tema tertentu ini menjadikan sabotase yang dilakukan FAI/IRF lebih kuat dan efektif. Bayangkan jika dalam kurun waktu sebulan, misalnya, 30 perusahaan keamanan swasta dibakar dan diledakkan di berbagai negara. Tentu itu akan menjadi pesan kuat bagi para polisi swasta dan dunia kepemilikan. Tentu saja, kita harus ingat bahwa otoritas selalu mengintai dan membaca semua komunike dan seruan kita. Kita tidak boleh lengah, dan karena itu, kita harus berhati-hati dalam melakukan kerja-kerja ekspedisi FAI/IRF. Misalnya, jika target khusus ditetapkan, seperti perusahaan farmasi, mungkin saja, terutama di negara-negara di mana FAI memiliki kehadiran dan aksi yang intens, polisi akan mengawasi target-target tersebut dan berusaha menangkap para kawan yang menyerang.

Maka dari itu penting agar target-target khusus tersebut dihantam secara individual, atau disertakan dalam tema yang lebih luas. Misalnya, serangan terhadap perusahaan farmasi bisa dimasukkan dalam tema perlawanan terhadap sains yang mengalienasi kehidupan kita. Sebagian besar tema dan target yang setara (misalnya bank, kantor polisi, kantor politik, gereja, kendaraan jurnalis, fasis, dan lain-lain) sangat kacau dan sulit untuk dijaga oleh pengawal otoritas.

Di sini kami ingin menegaskan kembali bahwa sudah pernah tertulis bahwa FAI/IRF adalah jaringan anarkis informal yang terdiri dari sel-sel dan individu-individu yang bertindak secara anonim. Koordinasi yang kami usulkan (seperti yang juga pernah diusulkan oleh kawan-kawan FAI lainnya di masa lalu) sama sekali tidak menghilangkan otonomi tiap sel. Ekspedisi internasional dari aksi-aksi yang terkoordinasi ini tidak memonopoli karakteristik FAI. Sel-sel terus bertindak secara otonom dan hanya ketika mereka memutuskan dan ingin, mereka mengorganisir dan berpartisipasi dalam seruan internasional.

Selain itu, kami anggap sangat penting dalam dialog aksi ini agar selain individu dan sel FAI, juga ikut berpartisipasi para anarkis yang dipenjara dan mendukung usulan IRF. Ini menjadi cara bagi siapa pun yang terhalang menikmati aksi langsung karena terkurung, untuk tetap aktif dan menjadi “kawan seperjuangan” dalam revolusi anarkis.

Untuk penutup, kami ingin menyampaikan sebuah undangan kepada saudara-saudari kami di seluruh dunia. Kami bicara tentang kejadian-kejadian yang kami percaya bisa menjadi seruan dinamis untuk mengaktifkan FAI/IRF.

Yang pertama adalah berita yang sangat tidak menyenangkan dan tak terbatas membuat kami bersedih: penangkapan tiga kawan (seorang keempat melarikan diri dan menjadi buronan) setelah pembakaran sebuah bank di Indonesia. Menurut polisi, ketiga kawan yang ditangkap membawa komunike dari FAI/Indonesia yang menyatakan perang terhadap negara serta solidaritas bagi para anarkis yang dipenjara di seluruh dunia.

Kejadian kedua adalah dua kasus penindasan hukum yang akan berlangsung di Chili. Kami membicarakan penganiayaan terhadap kawan Luciano Tortuga, yang terluka parah ketika alat peledak yang dibawanya untuk diletakkan di sebuah bank meledak lebih awal. Luka-lukanya menyakitkan hati kami, dan cinta kami kepada anarki akan mendampinginya dalam setiap langkah sulit ke depan. Pada saat yang sama, pada tanggal 28 November, lima kawan anarkis (Francisco Solar, Monica Caballero, Felipe Guera, Omar Hermosilla, Carlos Rivero) akan menjalani persidangan dengan tuduhan tindakan subversif. Beberapa dari mereka pernah ditangkap sebelumnya terkait “caso bombas,” yang menjadi titik balik dalam strategi represif negara Chili terhadap anarkis. Mereka adalah saudara-saudari kami tanpa pernah melihat wajah mereka,

tetapi melalui teks dan ide mereka, kami tahu pikiran dan hati mereka menari dalam irama yang sama: kebebasan dan revolusi anarkis.

Kami percaya bahwa solidaritas internasional dan pembebasan kawan-kawan yang dipenjara adalah salah satu nilai teguh dan prioritas strategis bagi anarkis yang bertindak. Karena itu, kami, CCF periode FAI, mengajak semua individu dan sel FAI/IRF untuk tidak membiarkan saudara-saudari kami di Indonesia dan Chili sendirian.

Ada kata-kata yang begitu indah yang mengiringi api dan mesiu, mengirim salam dan sinyal solidaritas kepada para kawan yang terkurung. Setiap pukulan terhadap struktur negara dan masyarakatnya adalah wujud persahabatan nyata bagi mereka yang absen dari malam-malam penuh api dan kini terpenjara di suatu sel.

Dalam ekspedisi khusus solidaritas internasional FAI/IRF ini, kami anggap setiap simbol otoritas (bank, perusahaan keamanan, kantor polisi, pengadilan, penjara, dealer mobil mewah, kantor politik, kamera pengawas, dan lain-lain) punya kesempatan emas untuk dihancurkan.

Para kawan yang ditindas di Indonesia dan Chili dituduh atas berbagai aksi yang berbeda, dan oleh karenanya keberagaman serangan pada berbagai target adalah tanda nyata dari front tak terpecahnya gerilya perkotaan anarkis baru dan anarki baru itu sendiri. Selain itu, cara ini juga memudahkan organisasi ekspedisi, karena pilihan target yang otonom dari tiap sel sejalan dengan pengujian kesiapan FAI/IRF secara praktis. Pada waktu yang sama, mustahil bagi polisi melacak rencana kami karena kekacauan dan penyebarannya yang menyebar ke metropoli dunia seperti virus ketidakteraturan dan kehancuran.

Tentunya, semua kawan harus waspada dan jangan meremehkan lawan.

Dengan mengorganisir kekacauan, kita menjadi lebih berbahaya.

FAI/IRF hari ini adalah prospek baru dalam pembentukan
Internasional Hitam Anarkis, untuk penyebaran sabotase global dan
aksi langsung. Kami mengusulkan agar asap dari kehancuran,
kebakaran, dan ledakan, mengalir dari Chili ke Indonesia,

menyalurkan visi FAI melintasi lautan dan benua.

Anggota CCF yang dipenjara