Baca PDF (OCR): Cerita rakyat daerah Sumatera Selatan

103 halaman · 103 halaman diproses dengan OCR· 172695 ms

Daftar isi
  1. MILIK DEPDIKBUD TIDAK DIPERDAGANGKAN
  2. CERITA RAKYAT
  3. DAERAH SUMATERA SELATAN
  4. EPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  5. bu Yulis Feb'15
  6. CERITERA RAKYAT DAERAH
  7. SUMATERA SELATAN
  8. SUMATERA SEELATAN
  9. AUG 1984
  10. Palembang, 1 Nopember 1983
  11. PROYEK
  12. INVENTARISASIDDDKUMENTASI
  13. K Drs, Zainal Abidin Hanif
  14. 1983/1984 NIP. 130232522
  15. Drs H. Bambang Suwondo
  16. budayaan Daerah Sumatera Selatan tahun 1983 ini. Kepercayaan yang
  17. Kepada Tim peneliti serta penyusun naskah yang telah bekerja
  18. Kiranya buku ini dapat memberikan dorongan untuk lebih me-
  19. Pendidikan dan Kebudayaan RI juga untuk pengetahuan bagi pemba-
  20. Palembang, Desember 1983
  21. NIP. 130036246
  22. DAFTAR ISI
  23. PUYANG BEGE
  24. pengalaman-pengalaman yang dialami oleh kelompok-kelompok
  25. pesta. Mendengar laporan itu Kimas Bandung berkata: "Dusun
  26. ryak yang sakti, tidak kelihatan, telah banyak membunuh pen-
  27. dusun Ulak Bandung sekarang ini dengan maksud agar supaya
  28. "Sudahlah nak, jangan mengikuti bapak, kalau bapak pulang
  29. Berkatalah isteri Kimas Bunang: "Oi, kakak Kimas Bunang,
  30. yang mendirikan marga yang bernama "Marga IV Petulai Dalam
  31. Setelah pesta selesai, Remanjang Sakti mohon diri akan
  32. Bekurung: "Hai bujang, siapakah kamu ini dan (lari mana ?"
  33. sebagai isteri. Timbul keinginan Bujang Bekurung akan berjudi
  34. Lamaran diterima oleh Kayu Temenggung. Kayu Temenggung
  35. 5. "LAYE"
  36. Tanjung Sirih dapat ditangkap. Karena musuh mengetahui bahwa
  37. perang "Mancer Alam" Demikianlah perang berakhir namun di
  38. musuh, maka Laye selalu dapat dilihat. Ia hadir sebagai orang
  39. menghadap ke Gua Laye. Namun demikian, apabila yang berniat
  40. -000-
  41. pohon tempat berlindung dan payung di waktu hujan. Susah duka
  42. ia selalu merasa khawatir akan terjadi malapetaka berupa peram-
  43. an sebab daerahnya terkenal subur sehingga orang-orang hidup
  44. rampok. Akan tetapi Puyang tak pernah menunjukkan sikap seolah-olah ia dalam kesusahan. Walaupun berita-berita perampok-
  45. seolah-olah tidak tahu dan tak pernah mendengar. Akan tetapi dalam hati ia selalu bertanya-tanya bagaimana
  46. hadap musuh-musuh rakyatnya. "tuanku, daerahku terancam
  47. menganiaya atau menyerang daerah lain."
  48. Ratu kemudian meludahi sedikit mulut Serunting, kemudian
  49. bunuhan itu tersebar dan akhirnya Puyang Bege dikenakan denda
  50. yoran maka kedua suami isteri itu melarikan diri dari dusun dan
  51. Dengan berterus terang dikemukakannya kepada Ratu Alas apa sebabnya maka ia meninggalkan kampung halamannya. Dari
  52. ceriteranya ini mengertilah Ratu Alas bahwa Puyang Bege adalah
  53. duk. Sudah banyak korban yang ditimbulkan oleh ular ini, sudah
  54. Ratu Alas mengemukakan kepada Puyang Bege sekiranya ia
  55. dapat dan sanggup untuk membunuh ular itu maka ia akan mem-
  56. hendak ke mana dan apa maksud kedatangan kamu ?"
  57. "Hai kawan, sekiranya apa yang kudengar adalah betul keluar
  58. menimbulkan perselisihan atau pertengkaran antara orang-orang
  59. Darah Putih membuka sidang segi tiga: "Terima kasih atas keha-
  60. diran adik-adikku sekalian". Putri Kembang Mustika, mulai saat
  61. ini, kau kuangkat menjadi pengawal kerajaan Suhunan dan kau
  62. Jadi kita mulai saat ini menjadi tiga beradik, atas nama rakyat
  63. Belanda.
  64. an digulung dimasukkan ke dalam botol dan ditutup rapat-rapat.
  65. landa. Kebetulan Raja Belanda sedang memancing di tepi laut.
  66. "Coba, lihat, di tengah laut itu seperti ada barang yang aneh,
  67. coba ambil" kata raja Belanda kepada Pengawal. Pengawal berang-
  68. Suhunan serta hulubalang pengawalnya, tetapi tidak ketemu.
  69. pada orang berkhianat kepada bangsa sendiri.
  70. jaan Suhunan jatuh ke tangan Belanda, akhirnya Ratu Agung me-
  71. ninggalaa rgen uia al lanet dabue avansins
  72. iqet asmsloa gasy ssynsd un unaw chsq asumsshet gasio nab
  73. s s a
  74. seed nssase " ssmed dss isg
  75. "Hai Langkusa, coba kamu tangkap kerbau liar di dusun ini.
  76. Suhunan, setelah menerima cincin itu Suhunan dan hulubalang-
  77. hulubalang pulang kembali ke Palembang.
  78. sudah dibawa Suhunan ke kapalnya."
  79. bentar kemudian pergulatan seru terjadi. Dengan kukunya yang
  80. cing. "Baginda... ," kata Ni Ingsal Nyawa setelah dia berada di
  81. "Kau jauh lebih tangkas dari harimau, aku ingin memberimu
  82. ngan seksama, dan dengan susah payah, akhirnya para sisasat
  83. penangkapan ini, segera pula sampai di telinga sang Puteri. Bagai-
  84. bayangkan, sambil bermuram durja ia mendekati sahabatnya yang
  85. Setelah berunding beberapa saat, maka didapat suatu keputus-
  86. na. Akhirnya sampailah mereka pada sebuah lebak yang cukup lu-
  87. as, yang kelak lebak itu bernama lebak Meranjat. Pada sebuah
  88. ke teluk tersebut, dan langsung melayari sebuah paya yang sangat
  89. diperkirakan tak mungkin lagi ditemukan oleh pengawal istana,
  90. mereka bermukim di tempat itu. Kedatangan sang Puteri diketahui
  91. oleh penduduk sekitarnya, tiada berapa lama tempat itu makin
  92. bernama Abdul Hamid, yang ternama dan berasal dari pulau Jawa.
  93. Pada suatu ketika Sunan ingin membangun istana yang besar,
  94. berikan kepercayaan dan memerintahkan Sang Sungging untuk
  95. ngan megah dan indah. Dengan beberapa tenaga pembantu yang
  96. ging membangun istana tersebut. Setelah bekerja keras dan mema-
  97. Mendengar laporan Sang Sungging bahwa istana Sunan sudah
  98. dibalik kegembiraannya ini timbul pula suatu kecemasan yang
  99. istana, maka ada-ada saja pekerjaan diberikan kepada Sang Sungging.
  100. Karena diejek terus menerus dengan kata-kata "orang hulu",
  101. maka Raden Singo Layang menanyakan istilah tersebut pada
  102. berasal dari dusun Karang Agung". "Bagaimana kisah tentang dusun itu bak? Aku ingin sekali
  103. ngar ceritera tersebut, Singo Layang mendesak bapaknya untuk
  104. pulang ke dusun.
  105. pasukan musuh. Lalu salah seorang anggota pasukan musuh ini ber-
  106. "tengah laman". Selain maksud untuk memperhatikan keadaan
  107. menjumpai orang-orang yang memakai senjata tajam, lebih-lebih
  108. 1) dagang tikam = merampas senjata orang lain.
  109. bil "gubang pulu pundak"3), yang dipakainya untuk meraut
  110. penguasa di Muara Bayo itu merupakan kawan baik. Kunjung
  111. -000-
  112. di atas tanah. Bagaimana Demak Lebar Daun dan isterinya ? Sela-
  113. pada perkampungan dan Putri Kembang Dadar dirampas musuh".
  114. din dan hulubalang Marta mengikuti pulang bersama-sama.
  115. "Hai burungku, telah lama engkau kupelihara, kini engkau
  116. tiung, hidupnya tidak akan selamat."
  117. Agung.
  118. 2. Sang Sungging
  119. 2. Patih Senggilur
  120. Pekerjaan
  121. Tempat/tgl. lahir : 41 tahun
  122. LEMBAR-RALAT
  123. Tertulis Judul Masalah
  124. LIOT

MILIK DEPDIKBUD TIDAK DIPERDAGANGKAN

ATEIIA SELATA

CERITA RAKYAT

DAERAH SUMATERA SELATAN

98 an ariwisata

8.259 816

EPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

bu Yulis Feb'15

CERITERA RAKYAT DAERAH

SUMATERA SELATAN

SUMATERA SEELATAN

7 DIREKTORAT2 JENDERAL ÷ KEBUDAYAA A T KAR Diterbitkan oleh : PROYEK PENELITIAN DAN PENCATATAN KEBUDAYAAN DAERAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEDUDAYAAN TANCOALNo. INDUK

AUG 1984

PRAKATA

Buku Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan ini merupa kan hasil penelitian tim daerah yang mendapat kepercayaan dari Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Direk torat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudaya an Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam tahun anggar- an 1978 / 1979. Buku ini telah diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Pusat yang dalam tahun 1978/ 1979 masih bernama Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudaya an Daerah dalam bentuk stencilan dan kulit luar yang dicetak lebih sempurna. Kini,melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan dalam tahun 1983/1984 atas per setujuan Pemimpin Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Pusat buku tersebut dicetak ulang dalam bentuk yang lebih baik untuk disebarkan keseluruh pihak yang ada kait annya dengan ruang lingkup kegiatan proyek dimaksud. Atas kepercayaan serta restu Pemimpin Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Pusat ini kami banyak mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya hingga terlaksana penerbitan buku Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan ini. Kepada pembaca, kami sangat mengharapkan saran serta ma sukan yang berguna bagi penyempurnaan isi buku ini,sehingga mu tunya akan lebih baik serta dapat lebih imenarik sebagai bahan bacaan yang segar dan dapat pula menghibur kita, disamping ki ta mengetahui keadaan daerah-daerah di·tanah air kita tercinta ini

Palembang, 1 Nopember 1983

Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan

Pemimpin

09.3.09
584312.23. D m

PROYEK

INVENTARISASIDDDKUMENTASI

K Drs, Zainal Abidin Hanif

SUMATERA S iii

1983/1984 NIP. 130232522

PENGANTAR

Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jende- ral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah menghasilkan beberapa macam naskah kebudayaan daeran dian- taranya ialah naskah CERITA RAK YAT DAERAH SUMATE. RA SELATAN TAHUN 1978/1979.

Kami menyadari bahwa naskah ini belumlah merupakan suatu hasil penelitian yang mendalam, tetapi baru pada tahap pencatatan, yang diharapkan dapat disempurnakan pada waktu waktu selanjutnya. Berhasilnya usaha ini berkat kerja sama yang baik anta ra Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional dengan Pimpinan dan Staf Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perguruan Tinggi, Leknas / LIPI dan tenaga ahli perorangan didaerah.

Oleh karena itu dengan selesainya naskah ini, maka ke pada semua pihak yang tersebut diatas kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih.

Demikian pula kepada tim penulis naskah ini di daerah yang terdiri dari : Awaluddin Rasyid, M. Alimansyur, B.A., Tabrani Sidin, B.A., Drs. Ma'moen Abdullah, Drs. Djoemiran dan tim penyempurna naskah dipusat terdiri dari : Bambang Suwondo, Ahmad Yunus, Singgih Wibisono, Djenen, Sarwito Wijoyo, Sri Mintosih, T.A. Sjukrani, Sagimun M.D.

Harapan kami, terbitan ini ada manfaatnya.—

Palembang, 10 Nopember 1983 Pemimpin Proyek,

per

Drs H. Bambang Suwondo

NIP. 130 117 589

iv

SAMBUTAN K EPALA KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

Penulisan naskah penelitian kebudayaan daerah Sumatera Selatan tahun 1978/19.79 telah lama selesai dan bahkan selesai dievaluasi dan-dicetak oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah tingkat pusat. Dalam tahun 1978/1979 sasaran yang hendak dicapai adalah un tuk menghasilkan 5 buah naskah yang terdiri dari aspek Sejarah Daerah Sumatera Selatan, Adat Istiadat Daerah Sumatera Selatan, Geografi Budaya Daerah Sumatera Selatan, Ensiklopedi Musik / Tari Daerah Sumatera Selatan dan Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan.

Naskah Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan diberi kesempat an untuk dicetak ulang oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Ke-

budayaan Daerah Sumatera Selatan tahun 1983 ini. Kepercayaan yang

telah dilimpahkan oleh IDKD pusat kepada IDKD Sumatera Selatan un tuk mencetak dan menerbitkan buku tersebut merupakan suatu peng- hargaan dan kepercayaan yang perlu dihargai.

Kepada Tim peneliti serta penyusun naskah yang telah bekerja

keras, yang terdiri dari tenaga Universitas Sriwijaya, dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan, mela lui kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan- yang setinggi-tingginya atas terhimpunnya buku Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan sebagai bahan bacaan dan informasi kepada pemba- ca tentang budaya yang ada di Sumatera Selatan.

Kiranya buku ini dapat memberikan dorongan untuk lebih me-

ningkatkan apresiasi budaya daerah daiam mencapai upaya melestari- kan kebudayaan nasional.

Diharapkan agar buku Cerita Rakyat Daerah Sumatera Selatan tahun 1978 / 1979 dapat menambah bahan koleksi di lingkungan Di- rektorat Sejarah dan Nilai Tradisional Dirjen Kebudayaan Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan RI juga untuk pengetahuan bagi pemba-

ca dalam membinaserta mengembangkan kebudayaan bangsa.

Palembang, Desember 1983

dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan KANTOR WILAYAN PLOPINSI fac SUMATERA SELATAN

Drs. Ahmad Musa V

NIP. 130036246

A

DAFTAR ISI

Halaman PRAKATA iii 一 PENGANTAR iv 一 SAMBUTAN V

1. KIMAS BUNANG 1
2. PUYANG REMANJANG SAK TI 7
3. BUJANG BEKURUNG 12
4. PEKIK NYARING 18
5. 22
6. PANGGAR BESI
7. PAGAR GUNUNG 30
8. 33
9. ASAL MULA BATU HARIMAU 36
10. SANG PENENCA DI NEGERI IRIK 39
11. RATU AGUNG PUTRI RAMBUT PUTIH USANG RIMAU MERANJAT PUTRI PINANG MASAK ( PUTRI SENURO) 44 48 52 62
15. SANG SUNGGING 67
16. BAGAL 70
17. SANGSI PURU PARANG 75
18. PATIH SENGGILUR
19. GINDE SUGIH
20. PUTRI KEMBANG DADAR 86

LAYE 25

PUYANG BEGE

12.
13.
14.
80 83

  1. "KIMAS BUNANG"
    Pada zaman dahulu sebelum berdirinya suatu dusun atau kampung hiduplah beberapa kelompok keluarga yang terpencar- pencar tempat tinggalnya dan selalu berpindah-pindah tempat dari suatu tempat ke tempat lain. Hidupnya sangat tergantung kepada alam sekitarnya. Jika di sekitarnya tidak lagi memberi bahan makanan yang dibutuhkan mereka berpindah tempat. Pada waktu itu masing-masing kelompok keluarga mempunyai nama sendiri-sendiri di antaranya ialah :

  2. Kelompok Jipang di Karang Laut diketuai oleh Depati Jipang dan dibantu oleh 2 orang yaitu Singgang Sana Jaya Sampurna dan Adipati Remangkeh.

  3. Kelompok Susukan di Karang Hanyut diketuai oleh Kimas Bunang dan dibantu oleh 3 orang yaitu Kerie Baok, Puyang Ketib dan Puyang Bajang.
  4. Kelompok Teduhan di Tumbang Besar diketuai oleh Kerie Ismail dan dibantu oleh3 orang yaitu Puyang Kapuk, Puyang Perwakeng dan Puyang Bunting.
  5. Kelompok Rumbai Kuning di Karang Tengah diketuai oleh Puyang Keradi dan dibantu oleh 2 orang yaitu Puyang Siap dan Puyang Kejake alias Malim Sampurna. Kimas Bunang terkenal karena bijaksana dan sakti. Karena

    pengalaman-pengalaman yang dialami oleh kelompok-kelompok

itu, Kimas Bunang mengajak kelompok-kelompok itu bermu- syawarah untuk memilih pemimpin dan mendirikan dusun untuk tempat tinggal bersama Musyawarah berhasil memilih pemim pin dan tempat yang akan dibangun untuk dusun. Mereka yang terpilih ialah :

  1. Puyang Jipang diangkat menjadi Depati.
  2. Puyang Kimas Bunang diangkat menjadi Panglima.
  3. Puyang Kerie Ismail diangkat menjadi Hulubalang I.
  4. Puyang Kapuk diangkat menjadi Hulubalang II.
  5. Puyang Talib diangkat .menjadi Pemimpin peribadatan. Dusun didirikan di daerah Sungai Lagan dan diberi nama

Ulak Terbandung. Kemudian Ulak Terbandung diubah menjadi Ulak Bandung. Sesudah Ulak Bandung diresmikan sebagai dusun maka dengan mempergunakan perahu Depati Jipang, Puyang Kerie Ismail, Puyang Kapuk dan pembantu-pembantu lainnya berangkat memeriksa hutan-hutan di daerah Lagan yang termasuk daerah kekuasaannya. Dalam perjalanan mereka melihat daun-daun kelapa mudah berhanyutan dari hulu sungai Lagan. Depati Jipang memerintahkan salah seorang hulubalangnya mengambil daun-daun itu. Depati Jipang memperkirakan bahwa di hulu sungai Lagan ada dusun yang baru saja mengadakan pesta, daun-daun kelapa muda ini bekas dipergunakan untuk menghias pintu-pintu gerbang. Untuk menyelidiki lebih jauh Depati Jipang memerintahkan Kerie Ismail dan Puyang Kapuk menyusuri sungai Lagan sampai ke hulunya dengan pesan bahwa kalau di sana ada dusun supaya diajak bergabung menjadi satu dengan dusun Ulak Bandung. Kerie Ismail dan Puyang Kapuk berangkat melaksanakan Perintah Depati Jipang. Tiba-tiba ada 3 orang selang (orang asing) 1) masuk ke dusun Ulak Bandung. Dari mana orang selang itu asalnya dan kedatangan- nya tidak diketahui. Kedatangan orang selang itu disampaikan oleh rakyat dusun Ulak Bandung kepada Depati Jipang. Oleh Depati Jipang ketiga orang selang itu diperintahkan menghadap. Waktu ditanyai oleh Depati Jipang, mereka itu menjawab bahwa kami berasal dari negeri"Silam"(tidak kelihatan) dan dusun kami bernama "resam", kami datang karena diutus oleh raja negeri Resam untuk menemui Puyang Kimas Bunang. Ketiga orang selang itu adalah :

  1. Putra Maya, anak raja negeri Resam.
  2. Sejagat, hulubalang raja negeri Resam.
  3. Sebumi, hulubalang raja negeri Resam. Ketiga orang ini dapat menghilang dan dibawa ke balai dusun
    untuk diperlihatkan kepada seluruh pimpinan dan rakyat dusun Ulak Bandung.

1) selang = sebangsa mahluk siluman.

Kerie Ismail dan Puyang Kapuk datang dan melaporkan perjalanannya. Mereka melaporkan bahwa tidak ada dusun di se- kitar hulu sungai Lagan dan tidak ada bekas orang mengadakan

pesta. Mendengar laporan itu Kimas Bandung berkata: "Dusun

yang dicari tidak kelihatan (silam) akan tetapi utusannya sudah sampai, ini orangnya" Putra Maya meneruskan ceriteranya sebagai berikut. Kami ini penduduk negeri, Silam yang bernama negeri Resam. Kami ini orang baik-baik, jujur, tidak pernah dusta, sebab bilamana kami berbuat yang tidak baik akan dibuang dari negeri Silam dan ditempatkan di ujung dusun. Orang Silam yang dibuang di ujung dusun itu suka mengganggu orang. Kedatangan kami menemui Kimas Bunang dengan maksud :

  1. Mengucapkan terima kasih atas budi baik Kimas Bunang yang telah menerima dan memelihara ibu dan adik perem puan kami yang sedang menderita suatu penyakit pada waktu dusun Ulak Bandung belum berdiri dan Kimas Bunang belum ber isteri. Ibu dan adik perempuan kami mengholang pulang ke negeri Silam pada waktu dusun Kimas Bunang ditim- pa wabah penyakit. Kepergian ibu dan adik perempuan kami tidak diketahui oleh Kimas Bunang. Kimas Bunang mencarinya tetapi tidak bertemu.
  2. Kami datang melamar Kimas Bunang untuk menjadi suami adik perempuan kami, untuk ini kami serahkan azimat ini kepada Kimas Bunang. Dengan azimat ini Kimas Bunang akan dapat masuk ke negeri Resam. Azimat diterima oleh Kimas Bunang setelah diberi petunjuk, pantangan- pantangan orang Resam. Sesudah selesai berceritera, Putera Maya dan kedua orang
    hulubalangnya dijamu makan seadanya. Sesudah itu mereka mohon diri pulang ke negeri Silam Resam. Kimas Bunang memang sudah melihat anak raja Resam yang jatuh cinta kepadanya. Orangnya cantik tak ada bandingannya pada zaman itu. Kimas Bunang datang melamar anak raja negeri Resam dan diterimanya dengan syarat Kimas Bunang tidak boleh berdusta. Syarat ini diterima oleh Kimas Bunang. Kawinlah Kimas Bunang dengan anak raja negeri Resam. Dari perkawinan ini Kimas Bunang mendapat seorang anak laki-laki.

Pada suatu waktu dusun Ulak Bandung diserang oleh orang Silam Resam yang dibuang di hulu negeri Resam. Orang Silam ba-

ryak yang sakti, tidak kelihatan, telah banyak membunuh pen-

duduk dusun Ulak Bandung. Kimas Bunang dapat menghilang dan melawan orang Silam tidak perduli itu pihak keluarga isterinya. Di samping dapat menghilang, Kimas Bunang dapat pula menghilangkan dusun Ulak Bandung dengan jalan menutupi pinggiran dusun itu dengan sayak2) sehingga tidak dapat dilihat oleh orang Silam. Kebiasaan menutupi pinggiran dusun atau rumah dengan sayak pernah dilakukan oleh Kimas Bunang ditiru oleh penduduk

dusun Ulak Bandung sekarang ini dengan maksud agar supaya

"orang bunia"3) tidak masuk dan tidak mengganggu. Ini meru- pakan ciri-ciri khas di dusun Ulak Bandung. Barangkali sudah kehendak Tuhan, kisah sedih menimpa Kimas Bandung beserta isterinya. Kimas Bunang tanpa disengaja sudah berkata dusta. Pada waktu Kimas Bunang akan berangkat menyerang Silam yang bermusuhan dengan penduduk Ulak Bandung, anak menangis, "Bapak, bapak, hendak pergi ke mana? Sudah berkali-kali Kimas Bunang berusaha menghentikan tangis anaknya akan tetapi masih menangis terus. Akhirnya berkatalah Kimas Bunang :

"Sudahlah nak, jangan mengikuti bapak, kalau bapak pulang

nanti akan kubawakan "telor kerbau." Kedustaan Kimas Bunang adalah mengatakan telor kerbau. Kebohongan Kimas Bunang ini didengar oleh isterinya. Nasi sudah menjadi bubur, kata sudah terkatakan.

Berkatalah isteri Kimas Bunang: "Oi, kakak Kimas Bunang,

syarat bapak sudah kakak langgar dengan kata-kata dusta yang telah kakak katakan kepada anak kita". Hari itumerupakan hari naas bagi Kimas Bunang. Azimat yang diberi oleh orang Resam hilang dan isterinya menghilang. Kimas Bunang mencari azimat dan isterinya yang hilang, tetapi tidak bertemu.

2) Sayak = kulit kelapa.
3) orang bunian = orang hahus.

Dengan hilangnya azimat itu .Kimas Bunang tidak dapat menemui isterinya dan tidak dapat datang ke negeri orang Resam. Dusun Ulak Bandung hancur lebur diserang oleh orang Silam pinggiran, akibat penduduk Ulang Bandung melanggar pantang- annya sendiri yaitu. menanam labu di hulu dusun. Pernah dijan jikan tidak boleh menanam labu di hulu dusun. Labu ditanam dan berbuah, masuklah orang Silam menyerang dusun Ulak Bandung. Kimas Bunang pulang ke rumah tetapi tidak bertemu lagi dengan isterinya. Isterinya sudah menghilang. Baru disadari oleh Kimas Bunang dan berkata: "Aku benar-benar melanggar janji, sudah membohongi anakku." Pantun di bawah ini masih berkesan di hati penduduk dusun Ulak Bandung.

Sumbailah mulanya menjadi Berpadu janji di dusun Tanjung Sampainya menjadi sejarah ini Maka terjadilah dusun Ulak Bandung.

Karang Depati Jipang Mulanya menjadi dusun kita Adat terpaut rasanya senang Semuanya janjinya Puyang kita

Karang Hanyut dusun Susukan Tempat tinggalnya Kimas Bunang Garang tersebut dalam pasukan Tumbang Besar Tanah Teduhan.

Ulak Bandung berkota sayak Orang menolong menanam tebu Rakyat Silam selalu berayak Ulak Bandung tak dapat diserbu

Ulak Bandung tumburan Lagan Anak seluang meniti buih Janji terlanggar Kimas Bunang Terpaksa isterinya cerai-kasih

Ulak Bandung tumburan Lagan Dusun Guci Muara Tumbukan

Ujian Mas di Simpang Empat

  • Karang Agung Pinang Belarik Dusun-dusun seberang Palembang.
    Muara gula Pal Batu Tanjung Raman meretas Tanjung Timbul tenggelam Tanjung Srian.

Alangkah indahnya dusun Kapur Pemudanya cantik gadis pilihan Muara Enim tumpukan dagang
Akhirnya....
Tegak bingung Rie Tungkal Dusun-dusun diserang Belanda Habis riwayat orang kita Hanya yang timbul.... penjilat semua.


  1. "PUYANG REMANJANG SAKTI"
    Pada zaman dahulu, ada seorang Puyang1) yang sangat terkenal bernama "Puyang Remanjang Sakti" bergelar "Rie Dinding". Ia adalah seorang yang gagah perkasa dan sakti. Ceritera Puyang Remanjang Sakti ini terkenal di Kabupaten LIOT di daerah Le- matang, Belide dan Talang Ubi. Jalan ceriteranya Puyang Remanjang Sakti ini adalah sebagai berikut : Di Marga IV Petulai Belimbing yang sekarang ini disebut Marga IV Petulai. Dalam Belimbing ada seorang puyang bernama Puyang Remanjang Sakti. Pada zaman dahulu, puyang ini berjasa memban- tu Sunan Palembang menaklukkan mahluk halus bernama Dandai. Karena menang berperang melawan Dandai, ia diberi gelar oleh Sunan dengan gelar "Rie Dinding". Pada zaman Kerajaan Majapahit di daerah Banten ada sebuah kerajaan kecil diperintah oleh seorang sakti bernama "Bidik Nang- geling Nanggeliman", yang sangat berkesan dalam kerajaan kecil itu ialah peraturannya yang membatasi keluarga-keluarga yang tinggal di situ. Menurut peraturannya yang boleh tinggal di situ hanya sembilan keluarga, selebihnya harus meninggalkan kerajaan itu. Setelah diadakan perhitungan, ternyata yang harus meninggalkan kerajaan itu ada tiga kepala keluarga, yaitu "Seramphu Sakti beserta isteri, Seramphu Samat beserta isteri dan Senang Hati beserta isteri". Setelah mereka itu pergi, sampailah Puyang Seramphu Sakti di suatu tempat. Karena tempat itu baik maka diberinya nama "Belimbing". Di sinilah Puyang Seramphu Sakti beserta isterinya menetap dan mendapat 4 orang anak. Anak pertama bernama "Melur" (perempuan) dan berdiam di dusun dalam. Anak kedua bernama "Remanjang Sakti" (laki-laki) dan berdiam di dusun Tanjung. Anak ketiga bernama "Rie Anggeris" (laki-laki) dan berdiam di dusun Bulang. Anak keempat bernama "Seramphu Gamu"(laki-laki) dan berdiam di Belimbing. Dari keempat orang keturunan Puyang Seramphu Sakti inilah

1) Puyang = sebutan untuk tokoh satria.

yang mendirikan marga yang bernama "Marga IV Petulai Dalam

Belimbing". Banyak keturunan di Marga IV Petulai Dalam Belimbing sekarang ini berasal dari mereka itu. Pada waktu itu Remanjang Sakti terkenal sakti, garang, dan gerot²). Ceriteranya sampai ke penjuru sungai Batang Hari Sembilan. Pada waktu itu di Batang Hari Sembilan terkenal suatu kerajaan disebut Kerajaan Batang Hari Sembilan. Pada masa jayanya Remanjang Sakti menyusuri sungai Batang Hari Sembilan dan terkenallah ia di daerah itu. Remanjang Sakti gemar berkelahi untuk membela kebenaran, berani menentang kezoliman untuk menegakkan keadilan, dan taat beribadah. Kejayaan Kerajaan Batang Hari Sembilan ada yang tidak me- nyenangi. Pada waktu itu tersiar berita yang memburukkan nama baik Raja Palembang. Di bawah pemerintahan raja itu tidak ada orang yang berani menentang raja, kecuali Remanjang Sakti. Pada suatu hari, raja Palembang ditimpa malapetaka. Rak- yatnya kacau balau. Ada yang bersembunyi, ada yang meng- abdikan diri dan ada yang masuk ke dalam gong, sebab di situ ada penyakit. Penyakit ini namanya "Dandai". Dandai membunuh, dan makan orang. Dandai tidak dapat dilawan. Kalau kamu me- lawan Dandai akan kena penyakitnya jika tidak sakti. Dandai tidak dapat dipegang, sebab ia adalah mahluk halus. Malapetaka inilah yang menimpa Negeri Palembang dan dusun-dusun, marga-marga yang takluk kepada Raja Palembang. Mula-mula Dandai mengamuk di muara sungai Ogam yang menghadap ke hulu sungai Musi. Dandai hebat sekali. Kaki kanan- nya di seberang Ilir, kaki kirinya di seberang ulu dan tinggi badan- nya menjelang awan. Ribuan rakyat kalau ada sekali saja dipegang dengan tangannya. Pada waktu itu banyak pahlawan-pahlawan raja Palembang dikerahkan untuk membunuh Dandai tetapi semuanya tewas. Maka tersiarlah berita itu ke seluruh jagat Batang Hari Sembilan. Sunan mengeluarkan pengumuman bahwa siapa saja pahlawan, orang gerot, yang berada di uluan (pedalaman) yang dapat menak-

2) gerot = terpandang.

lukkan Dandai akan diberi hadiah dan akan dikabulkan semua permintaannya sebagai tanda balas jasa. Pengumuman ini terdengar oleh Seramphu Sakti. Seramphu Sakti ingin membantu Sunan Palembang menaklukkan Dandai. Seramphu Sakti memerintahkan Remanjang Sakti untuk me- nemui Sunan, dan akan melaksanakan semua tugas. Remanjang Sakti dengan beberapa orang kawannya yang setia kepadanya berangkat menghadap Sunan. Sunan mencatat permintaan Remanjang Sakti sebagai tanda balas jasa nanti apabila sudah dapat membunuh Dandai. Remanjang Sakti meminta :

  1. Supaya dihapuskan pemberian wajib gadis-gadis cantik dari marga-marga kepada Sunan.
  2. Supaya diperingan upeti/cukai dari rakyat kepada Sunan. Permintaan Remanjang Sakti diterima oleh Sunan. Remanjang
    Sakti melakukan sembahyang dua rakaat minta kekuatan dan per- lindungan dari Tuhan supaya dapat membunuh Dandai. Setelah selesai bersembahyang Remanjang Sakti berangkat menuju ke tem- pat di mana Dandai berada. Dari jauh Dandai sudah kelihatan. Dengan mengucapkan : "Bismillah", Remanjang Sakti melompat ke bahu Dandai dan memotong batang leher Dandai dengan pedang. Batang leher Dandai putus dan badannya jatuh ke dalam sungai Musi. Karena badan Dandai sangat panjang, maka terhalanglah aliran sungai Musi dan menyebabkan terjadinya banjir besar pada waktu itu. Sungai Musi terbendung oleh badan Dandai sehingga airnya rawang. Sejak saat itu terjadi air pasang di sungai Musi. Berita keme- nangan Remanjang Sakti atas Dandai sampai kepada Sunan. Kata Sunan, kalau begitu memang gerot niat Remanjang Sakti. Kita mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk menghormat Remanjang Sakti, sebab Dandai sudah ati. Dalam pesta ini Remanjang Sakti diberi gelar "Rie Dinding" oleh Sunan. Sejak saat itu Puyang Remanjang Sakti terkenal dengan nama Rie Dinding. Rie Dinding artinya: Rie yang dapat melindungi – me- naungi dari semua malapetaka. Puyang Remanjang Sakti diang- gap oleh penduduk mempunyai keahlian dapat membunuh mahluk halus Dandai. Pada waktu itu sukar membunuh Dandai, baru me- lihat saja sudah mati. Kesaktian Remanjang Sakti/Rie Dinding akhirnya terkenal sampai ke uluan, yaitu di daerah Talang Ubi, tanah Abang dan Lematang.

Setelah pesta selesai, Remanjang Sakti mohon diri akan

pulang ke tempat asalnya. Sesudah sekian lama Remanjang Sakti berada kembali di Marga IV Petual Dalam Belimbing, terdengar pula suatu peristiwa di jagat Batang Hari Sembilan ditemukan orang "K u n t u m". Kabarnya Kuntum ini berupa benda bola besar dan ada di tanah Basemah. Kabar lain juga di Basemah bukan Kuntum, akan tetapi seperti sebuah labu, buah semangka dan besarnya luar biasa, benda ini tidak terpegang oleh orang biasa, yang tumbuh hidup berbuah hanya sebuah. Benda ini tidak dapat di- pecah dan dibagi. Dibelah dengan pedang tidak pecah, dipotong dengan tombak tidak tembus. Diumumkan pula di Basemah bahwa dicari orang yang dapat memecahkan buah itu. Pengumuman ini terdengar pula oleh Remanjang Sakti. "Aku akan mencoba memecahkannya", kata Remanjang Sakti dalam hatinya. Rie Dinding/Remanjang Sakti tertarik akan pengumuman itu. Remanjang Sakti berbicara kepada bapaknya, Seramphu Sakti. "Pak, aku akan berangkat pula untuk membuktikan penemuan orang Besemah. Ada berita orang mene- mukan labu besar. Ada pula berita bukan labu yang ditemukan, tetapi semangka besar, besarnya luar biasa". Oleh bapaknya diizinkan. Remanjang Sakti beserta kawan-kawannya atau penasehatnya berangkat. Sesudah sampai di pintu gerbang Basemah, Rie Dinding/Remanjang Sakti yang terkenal disambut dengan semestinya. Remanjang Sakti/Rie Dinding bersembahyang dahulu sebelum memecahkan benda itu. Memohon dahulu kepada Tuhan: minta selamat, minta ridhoi, minta petunjuk jalan dan cara untuk mem- belah benda itu. Datanglah kata-kata kecil dalam arti "ilham" kata orang zaman dahulu. Benda tersebut cukup ditoreh saja dengan kuku jari tangan. Akhirnya memang benar terbelahlah benda yang dikatakan keramat itu dengan kuku jari Remanjang Sakti. Benda itu terbelah menjadi dua bagian. Setelah disaksikan oleh orang banyak, benda itu berisi anak kecil. Anak kecil ini kalau di Basemah disebut "Suke Milong Sakti". Suke Milong Sakti inilah asal usul kepuyangan orang Basemeh. Kabarnya makam Suke Milong Sakti masih ada sekarang ini di Besemah. Dengan peristiwa itu Remanjang Sakti bertambah terkenal pula di uluan di Besemah. Sesudah menuaikan tugas, Remanjang Sakti pulang ke Marga IV petulai Dalam Belimbing. Remanjang

Sakti meninggal dunia di tempat kelahirannya. Makamnya terdapat di Muara Sungai Manau di ulu Tanjung, Marga IV Petulai Dalam Belimbing, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten LIOT.

  1. "BUJANG BEKURUNG"
    Pada zaman dahulu ada dua orang bersaudara memerintah di Mekam Sari, yaitu Ratu Agung dan Kayu Temenggung. Ratu Agung memerintah di Palak Tanah dan Kayu Temenggung memerintah di Ujung Tanjung. Ratu Agung mempunyai seorang anak laki-laki bernama Bujang Bekurung dan Kayu Temenggung mempunyai seorang anak perempuan bernama Itam manis. Pada suatu saat Ratu Agung menyuruh Bujang Bekurung beristeri. Untuk maksud itu Ratu Agung mencalonkan dua orang gadis cantik untuk dipilih menjadi isteri Bujang Bekurung, Bujang Bekurung belum dapat menerima, sebab setelah diselidiki selama tiga bulan kedua orang gadis itu ternyata mempunyai cacat yang luar biasa. Karena Bujang Bekurung seakan-akan menolak, maka Ratu Agung marah dan berkata: "Mulai hari ini kami tidak kuang- gap sebagai putera Kerajaan. Lepaskan pakaian kerajaanmu dan ke- luarlah dari kerajaan ini. Kamu kuusir dari kerajaan ini dan jangan kembali sebelum kamu beristeri, isteri pilihan mu sendiri." Dengan berpakaian celana buruk, baju buruk dan bersenjata pisau tumpul, Bujang Bekurung keluar meninggalkan kerajaan itu. Masuk belukar keluar belukar, masuk hutan keluar hutan, sam- pailah Bujang Bekurung di suatu rimba yang sunyi. Itam manis mendengar bepergian Bujang Bekurung. Dengan berpakaian kerajaan, Itam Manis menyusul Bujang Bekurung, te- tapi tidak bertemu dan kembali ke Ujung Tanjung. Itam Manis berkata: "Akan hancurlah kerajaan Mekam Sari kalau musuh mengetahui Bujang Bekurung tidak ada di Kerajaan." Bujang Bekurung meneruskän perjalanan. Dengan rakit batang pisang yang dibuatnya sendiri Bujang Bekurung mengikuti aliran sungai. Setelah lama terdamparlah rakitnya di suatu pulau bernama Pulau Burung. Di Pulau itu sedang diadakan perjudian. Bujang Bekurung mendarat di pulau itu. Setelah dua hari Bujang Bekurung di ulau Burung dätanglah dua orang Pemuda dari Kayangan Tinggi, yaitu Raden Umang dan Raden Bungsu./ Kedua pemuda ini bertanya kepada Bujeag

Bekurung: "Hai bujang, siapakah kamu ini dan (lari mana ?"

Jawab Bujang Bekurung: "Aku Bujang Bekurung, anak Ratu Agung di Mekam Sari". Siapa kamu ini ? tanya Bujang Bekurung. "Kami adalah Raden Umang dan Racen Bungsu dari Kayangan

Tinggi. Adik kami perempuan Bidadari Sinjaran Bulan, ada di sa- na". "Bujang Bekurung", kata Raden Umang dan Raden Bungsu, Mari kita berjudi. Semua pemain sudah kami kalahkan, hanya kamu yang belum. Kami belum merasa puas sebelum menga- lahkan kamu. Perjudian dimulai. Bujang Bekurung memasangkan celana buruk, baju buruk dan pisau tumpul, karena tidak mempunyai uang. Dalam perjudian ini Raden Umang dan Raden Bungsu kalah. Semua harta benda yang dibawa dari Kayangan Tinggi dan kemenangan-kemenangan yang diperoleh sebelumnya habis. Adiknya yang bernama Bidadari Sinjaran Bulan dipasangkan pula. Setelah kalah, Raden Umang dan Raden Bungsu minta izin kepada Bujang Bekurung pulang ke Kayangan Tinggi untuk menjemput Bidadari Sinjaran Bulan dan berjanji akan kembali di Pulau Burung setelah tujuh hari. Raden Umang dan Raden Bungsu meninggalkan dunia menuju ke Kayangan Tinggi. Sampai di Kayangan Tinggi, Raden Umang dan Raden Bungsu menghadap kepada orang tuanya dan berceritera sebagai berikut: "Dalam perjudian di Pulau Burung kami mendapat kemenangan yang tak terhitung jumlahnya. Rakyat Pulau Burung akan meng- adakan pesta dan meminta supaya Bidadari Sinjaran Bulan datang menghadiri. Kalau Bidadari Sinjaran Bulan tidak Bapak izinkan untuk menghadiri pesta di Pulau Burung, Kayangan Tinggi akan diserang. Setelah mendengar ceritera dari Raden Umang dan Raden Bungsu, mula-mula Ratu Agung dari Kayangan Tinggi melarang, tetapi kemudian membolehkan Bidadari Sinjaran Bulan untuk turun ke dunia dengan pesan supaya berhati-hati jangan sampai ter- gelincir ke dalam lembaga kehinaan, sebab manusia di dunia ba- nyak olah. Sebelum turun ke dunia, Bidadari Sinjaran Bulan men- jelma menjadi gadis buruk, kakinya pincang dan rambutnya ter- urai. Raden Umang, Raden Bungsu dan Bidadari Sinjaran Bulan turun di Pulau Burung menemui Bujang Bekurung. Raden Umang dan Raden Bungsu berceritera sebagai berikut: Kami datang dari Kayangan Tinggi membawa gadis buruk ini sebagai ganti adik kami Bidadari dari Sinjaran Bulan. Kami tidak dapat membawa Bidadari Sinjaran Bulan, sebab ia telah hilang tatkala Kayangan Tinggi diserang musuh dan hancur. Gadis buruk diterima oleh Bujang Bekurung dan dijadikan

sebagai isteri. Timbul keinginan Bujang Bekurung akan berjudi

lagi sebab gadis buruk dari Kayangan Tinggi tidak membawa apa- apa. Bujang Bekurung berjudi dan kalah. Kemenangan yang diper- oleh dahulu habis semua dan yang tinggal hanyalah celana buruk, baju buruk dan pisau tumpulnya. Bujang Bekurung ingin pulang ke Mekam Sari, tetapi rakit batang pisangnya yang dipakai dahulu tidak ada lagi. "Berpeganglah kuat-kuat pada rambutku dan pejamkan mata kakak, kita berangkat ke Mekam Sari", kata gadis buruk kepada Bujang Bekurung. Belum berapa lama sampailah di mandian Mekam Sari. Bujang Bekurung minta tolong kepada seorang anak yang sedang memancing ikan untuk memberitahukan kepada Ratu Agung di Mekam Sari bahwa Bujang Bekurung pulang membawa seorang gadis cantik dan minta dijemput di mandian. Ratu Agung dan diiringi rombongan menjemputnya. Ratu Agung marah karena Bujang Bekurung tidak membawa gadis cantik, akan tetapi gadis buruk. Ratu Agung tidak mengakui gadis buruk sebagai menantu dan disuruh tinggal di rumah Kayu Temanggung di Ujung Tanjung. Setelah kira-kira setahun lamanya di Ujung Tanjung, Kayu Temenggung memerintahkan rakyat Ujung Tanjung bergotong royong mendirikan rumah untuk Bujang Bekurung dengan gadis buruk. Dari Perkawinan Bujang Bekurung dengan gadis buruk lahirlah seorang anak laki-laki dan diberi nama "Ali Rindu". Pada waktu lahir, Ali Rindu sangat ajaib sekali sebab seperti seorang panglima perang dengan perlengkapan yang lengkap. Pada suatu saat datang di Ujung Tanjung Ratu dari Ujung Rembun, melamar Itam Manis untuk dijadikan dengan puteranya.

Lamaran diterima oleh Kayu Temenggung. Kayu Temenggung

memerintahkan rakyat Ujung Tanjung mempersiapkan segala sesuatunya untuk menerima tamu-tamu baik dari Ujung Rembun maupun dari Palak Tanah dalam pesta perkawinan Itam Manis nanti.X Sehari sebelum pesta perkawinan dilangsungkan, gadis buruk memanggil Raden Umang dan Raden Bungsu turun di Ujung Tanjung dan membawa ambal pusaka Kayangan Tinggi dan membawa nasi serta gulai secukupnya sebab akan menjamu tamu. Pesta Perkawinan Itam Manis berlangsung. Ratu Agung dari Palak Tanah diiringi oleh beberapa orang datang ke rumah gadis buruk. Mereka itu tercengang melihat ambal

yang belum pernah dilihat selama ini. Hari berikutnya gadis buruk mandi keramas dengan limau nipis dan berpinta kepada Dewata supaya menjelma kembali menjadi Bidadari Sinjaran Bulan. Dalam sekejap mata permintaan gadis buruk terkabul. Gadis buruk menjelma menjadi Bidadari Sinjaran Bulan. Berdetaklah hati Bujang Bekurung sebab belum pernah melihat gadis cantik seperti Bidadari Sinjaran Bulan. "Kakak Bujang Bekurung", kata Bidadari Sinjaran Bulan, "pergilah mandi keramas dengan limau nipis sisaku ini sebab kita diundang untuk menari" di balai panjang. Bergilir-gilir orang menari. "Bidadari Sinjaran Bulan menari berpasangan dengan menan- tu Ratu Agung dari Ujung Rembun. Bujang Bekurung menarik berpasangan dengan putera Ratu Agung dari Ujung Rembun. Mereka sangat lincah menari. Sesudah menari bidadari Sinjaran Bulan pulang ke rumahnya. Ali Rindu menangis sambil menunjuk-nunjuk ke loteng. Bidadari Sinjaran Bulan naik ke loteng dan melihat sebuan bakul putih ber- isi baju rambut. Baju rambut ini adalah peninggalan Raden Umang yang disembunyikan di loteng oleh Bujang Bekurung. Dengan me- makai baju rambut ini, Bidadari Sinjaran Bulan dapat terbang. Bidadari Sinjaran Bulan dan Ali Rindu terbang ke Kayangan Tinggi. Bujang Bekurung meninggalkan Mekam Sari cari anak dan is- terinya. Sampai di suatu rimba Bujang Bekurung mendengar bu- nyi anak burung mencicit-cicit. Tatkala dilihat, ternyata seekor anak burung Garuda akan ditangkap ular. Bujang Bekurung dapat menyelamatkan anak burung garuda itu dan dibawa berja- lan. Pada suatu saat Bujang Bekurung berkata kepada anak burung garuda: "Hai anak burung garuda, kamu tinggallah di sini, aku akan meneruskan perjalanan ke Kayangan Tinggi menyusul anak dan isteriku". Anak burung garuda berkata: "Kamu tidak akan sampai di Kayangan Tinggi, tunggulah di sini, aku akan menemui orang tuaku: "Tolonglah kawanku yang telah menyelamatkan aku dari cekaman ular. Aku telah mati kalau tidak ditolong olehnya. Kawanku itu hendak ke kayangan Tinggi". Burung garuda turun. Bujang Bekurung dimasukkan ke dalam tangkai bulu sayapnya dan dibawa terbang ke Kayangan Tinggi. Sampai di Kayangan Tinggi, burung garuda hinggap pada pohon besar dan Bujang Bekurung diturunkan dengan pesan:

"Kalau kamu memerlukan bantuan, panggil aku". Bujang Bekurung berjalan dan berhenti di pondok nek Sepat penunggu kebun bunga Bidadari Sinjaran Bulan. Pada malam tanggal 14 Bidadari Sinjaran Bulan dan Ali Rindu datang ke kebun Bunga.'Pada malam itu juga Ali Rindu bertanya kepada orang yang ada di pondok nek Sepat. Siapa kamu ini? Jawab orang itu: "Aku ada- lah Bujang Bekurung"Ali Rindu berlari ke rumah dan memberi- tahu bahwa Bujang Bekurung datang dan ada di pondok nek Sepat. Sesudah dua malam Bujang Bekurung di rumah Ratu Agung, datanglah Malim Kumat Malim Muhammad menemui calon isteri- nya, Bidadari Sinjaran Bulan. Malim Kumat Malim Muhammad minta sirih dan rokok, tetapi tidak diberi dan ia marah. Malim Kumat Malim Muhammad naik darah dan berkata: "Hai Bujang Bekurung, mari kita bertanding jauh menyepak bola". Dalam pertandingan ini Bujang Bekurung menang. Bertanding lagi meng- adu ayam dengan taruhannya segala hak milik. Pertandingan ini dimenangkan pula oleh Bujang Bekurung. Malim Kumat Malim Muhammad bertambah naik darah dan mengajak berperang. Perang terjadi di Padang Pasir. Dengan senjata tombak dan pedang pusa- ka Ali Rindu mengamuk di medan perang. Perang belum selesai Bujang Bekurung, Bidadari Sinjaran Bulan dan Ali Rindu mening- galkan Kayangan Tinggi menuju ke Mekam Sari. Di tengah perjalanan mereka ini dihadang oleh Malim Kumat Malim Muhammad bersama dengan hulubalang-hulubalangnya. Bujang Bekurung mengambil beras kunyit dan memanggil burung garuda. Ketiga-tiga burung garuda datang. Bujang Bekurung berkata: "Hai burung garuda, tolong bunuhkan Malim Kumat Malim Muhammad dan hulubalang-hulubalangnya, sebab kami akan pu- lang ke Mekam Sari". "Tinggalkanlah, kami bertiga akan mem- bunuhnya", kata burung garuda. Bujang Bekurung, Bidadari Sinjaran Bulan dan Ali Rindu meneruskan perjalanannya. Sampai di Mekam Sari, Ratu Agung Mekam Sari sudah mati dibunuh musuh."Kedua tangan Ratu Agung dipaku di pohon asam Jawa. Bujang Bekurung dan Ali Rindu menurunkan Ratu Agung. Ratu Agung dimandikan dan Ali Rindu mengucapkan: "Ucapan sebalik napas". Ratu Agung dipikul, dan hidup kembali. Ratu Agung berterima kasih, minta maaf dan menyerahkan Mekam Sari dari Palak Tanah sampai Ujung Tanjung kepada Bujang Bekurung. Atas desakan Ali Rindu, Ratu Agung rujuk kembali dengan isteri-

nya, sebab jika tidak, Ratu Agung akan dimatikan lagi dan Mekam Sari akan dihancurkan. Sebagai tanda terima kasih dan penyerahan Mekam Sari, di- adakan sedekah besar memotong ternak-serba tujuh. Bujang Beku- rung memerintah Mekam Sari. Mekam Sari ramai kembali.

  1. "PEKIK NYARING"
    Pekik Nyaring adalah orang gagah lagi sakti, dapat menghilang, kebal dapat terbang dan nyawanya dapat disangkutkan di mana saja. Pekik nyaring ini sampai sekarang menjadi ceritera dari mulut ke mulut terutama di daerah Muara Enim. Kuburan Pekik Nyaring yang hanya berisi tikar dan bantalnya di- anggap keramat. Sebenarnya yang disebut Pekik Nyaring ialah nama suatu ilmu zaman dahulu, ilmu kesaktian yang dimiliki oleh orang-orang gagah perkasa. Salah séorang pahlawan uluan zaman dahuiu yang berilmu Pekik Nyaring ialah Rie Isiran, bapak dari Dayang Rindu dan Kerie Carang. Jalan ceriteranya Pekik Nyaring/Rie Isiran adalah sebagai berikut : Menurut ceritera orang-orang tua bahwa Rie Isirin adalah Ketua dusun Ulu Niru yang berpusat di Muara Sudung Batas wilayah kekuasaan Rie Isiran dari Ulu Niru sampai ke Muara Nakau dan Karang Bidare. Semua dusun-dusun dalam wilayah kekuasaan Rie takluk kepada Sultan Palembang. Dusun-dusun ini tiap tahun- nya memberi cuki 1). kepada Sultan Palembang dan diantarkan langsung oleh Rie Isiran. Dari isterinya yang pertama mendapat seorang anak perempuan dan diberi nama "Dayang Rindu". Sesudah melahirkan Dayang Rindu, isterinya tidak lagi melahirkan anak. Rie Isiran ingin beristeri lagi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki. Untuk maksud ini Rie Isiran mencari orang yang akan dijadikan isteri kedua. Pada suatu waktu sesudah pulang mengantarkan cuki ke Palembang, Rie Isiran melihat seorang perempuan yang mengan- dung 6 bulan sedang menjemur padi. Perempuan ini adalah isteri Patih Temedak dari dusun Bilide. Rie Isiran jatuh cinta kepada perempuan itu dan dilarikan ke Niru dan dijadikan isteri kedua. Sesudah 6 bulan menjadi isterinya, perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Kerie Carang.

1) cuki = upeti.

Rupanya sudah takdir Ilahi bagi Dayang Rindu akan jadi rebutan dan mati dalam usia muda. Pada suatu hari air sungai Niru naik dan mengakibatkan sangku (tempat mandi), mundam (tempat sisir), Pelimauan dan sang- gul) Dayang Rindu hanyut. Sangku dan mundam Dayang Rindu hanyut ke sungai Musi di Palembang dan terapung-apung di pang- kalan mandi raja Palembang. Tatkala raja akan mandi terlihatlah olehnya sangku dan mundam itu. Raja memerintahkan pengawalnya mengambil benda itu tetapi tidak dapat. Raja sendiri berenang mengambilnya. Ketika dilihat benda itu berisi sisir, rambut dan limau, Raja sangat tertarik akan rambut itu karena bagus seperti emas dan panjang. Raja menduga bahwa rambut itu pasti kepunyaan seorang perempuan yang cantik jelita. Karena sangat tertarik akan rambut itu raja memerintahkan Temenggung Widara mencari pemiliknya sampai dapat. Temenggung Widara dengan mempergunakan pencalang raja mudik me- nyusuri tepian sungai Lematang. Temenggung Widara berhenti di tiap dusun yang dilaluinya. Tiba di Muara Niru Temenggung Widara berhenti dan menyamar seakan-akan orang bodoh. Di sini Temenggung Widara mengetahui bahwa di dusun Niru ada seorang gadis cantik jelita bernama Dayang Rindu yang dirahasiakan oleh orang Niru selama ini Temenggung Widara cepat-cepat kembali ke Palembang dan menyampaikan semua penemuannya selama di dusun Niru kepada raja. Raja memerintahkan lagi Temenggung Widara untuk mengambil Dayang Rindu dengan jalan apapun juga. Temenggung Widara beserta pengawalnya berangkat ke Muara Niru. Tiba di sini Rie Isiran sedang bepergian. Tanpa berpikir panjang lebar Temenggung Widara mengambil Dayang Rindu dan dibawa ke Palembang. Pada waktu Rie Irisan pulang dari bepergian ia diberitahu bahwa pencalang raja Palembang datang dan mengambil Dayang Rindu. Rie Irisan marah karena merasa dirinya dihina dan me- ngumpulkan rakyat dusun Niru dan dipilihnya beberapa orang untuk menyerang raja Palembang. Perang terjadi dan berlangsung lama. Karena sudah banyak yang mati baik pihak raja Palembang maupun di pihak Rie Irisan maka raja Palembang mengajak damai dan memberi Rie Irisan seorang gadis cantik berumur 14 tahun bernama Suri Lakam untuk menjadi isterinya. Suri Lakam dibawa

oleh Rie Irisan ke Niru. Pada suatu saat, siang hari, Suri Lakam mengajak Rie Isiran tidur. Pada waktu itulah Suri Lakam menanyakan kesaktian Rie Irisan. Tanpa rasa curiga Rie Isiran membuka rahasia dirinya. Ilmu Pekik Nyaringnya, azimat, di lipatan pinggangnya dan tempat sangkutan nyawanya diberitahukan kepada Suri Lakam "Nyawaku", kata Rie Isiran, "Kesangkutan di lalang biring kalau aku se- dang berperang. Kalau ada terlihat lalang biring terbang tegak te- ngah hari di sanalah nyawaku, dan kematianku hanya ditombak dengan buluh bemban burung pancut. Tombakkanlah buluh ter sebut ke lalang biring itu. Ketika Rie Isiran sudah tertidur dengan nyenyaknya, Suri Lakam berlari ke Palembang. Semua rahasia Rie Isiran oleh Suri Lakam dikemukakan kepada raja Palembang. Tatkala Rie Isiran bangun dari tidurnya, azimatnya dan Suri Lakam tidak ada lagi. Tidak berapa lama antaranya raja Palembang mengajak berperang lagi. Perang berkobar lagi. Dengan senjata tombak Rie Isiran me- ngamuk di medan perang. Sesudah banyak orang Palembang yang gugur di medan perang, Temenggung Widara yang gugur di medan perang, Temenggung Widara mencari-cari lalang biring. Terlihatlah oleh Temenggung Widara lalang biring terbang melayang-layang di udara lalu ditombak dengan buluh bemban burung. Rie Isiran jatuh ke Lubuk Pendam di muara sungai Lematang. Sesudah menjadi isteri raja Palembang, Dayang Rindu mende- rita suatu penyakit dan oleh raja diasingkan. Dayang rindu meng- harapkan kepada Kerie Carang dapat membebaskan dirinya dan membalas kematian bapaknya, karena perbuatan raja. Untuk maksud ini Dayang Rindu mengirim kepada Kerie Carang di Niru; barang-barang serba kecil, yaitu: berupa isaran, lesung, ayakan dan niru. Semua kiriman diterima oleh Kerie Carang, Kerie Carang naik darah karena tahu akan makna kiriman itu. Kerie Carang me- ngumpulkan sanak / familinya untuk melepaskan keberangkatan- nya berperang melawan Sunan Palembang. Dengan rakit 3 batang pohon pisang Kerie Carang menuju Palembang. Dalam perjalanan menuju Palembang Kerie Carang berhenti di balai dusun yang telah ditinggalkan oleh penduduk dusun itu. Dusun itu ditinggalkan oleh penduduknya karena diserang penyakit Dandai. Malam hari sebelum Kerie Carang akan tidur ia

memasang beberapa binatang berpenyengat seperti semut semba- da, lebah dan lain-lain. Pada malam itu juga datangiah anak buah Dandai mengganggu Kerie Carang. Anak buah Dandai lari semuanya karena disengat oleh binatang-binatang penyengat tadi. Ketua Dandai mendatangi Kerie Carang dan mengajak adu kesaktian. Dalam mengadu kesaktian ini Kerie Carang dapat menangkap rambut Ketua Dandai dan dililitkan di batang jambi (pinang). Menjelang matahari terbit, anak buah Dandai minta kepada Kerie Carang supaya ketuanya dilepaskan dan berjanji akan membantu Kerie Carang. Ketua Dandai dilepaskan dan Kerie Carang meneruskan perjalanan menuju Palembang. Di tengah perjalanan Kerie Carang mencoba kesetiaan Dandai dan memanggilnya. Ketua Dandai beserta anak buahnya datang menghadap Kerie Carang : "apa maksud Kerie Carang memanggil kami ?"Tanya Ketua Dandai. "Aku hanya ingin melihat kesetiaan- mu", Jawab Kerie Carang. Marahlah Ketua Dandai itu, karena merasa dipermainkan oleh Kerie Carang. "Hanya sampai di sini kesetiaan kami", kata Ketua Dandai. Menyesallah Kerie Carang akan perbuatannya, dan ia meneruskan perjalanan menuju Palembang. Sampailah Kerie Carang di Palembang. Di Palembang Kerie Carang mencari tempat di mana Dayang Rindu diasingkan dan ia mengamuk. Perbuatan Kerie Carang ini diketahui oleh Sunan Palembang dan dipanggilnya. Dalam tanya jawab dengan raja Palembang, Kerie Carang berkesimpulan bahwa ia akan pulang ke Muara Niru bersama Dayang Rindu. Kerie Carang dan Dayang Rindu pula ke dusunnya. Setelah sampai di dusun Muara Niru, Dayang Rindu dima- sukkan ke dalam cupu oleh Naring Cili dan dibawa menghilang. Naring Cili adalah teman Dayang Rindu pada waktu masih anak-anak. Kerie Carang menjadi ketua dusun di Muara Niru dan turun kepada anak cucunya.

5. "LAYE"

Tersebutlah berita bahwa Sultan Palembang mempunyai seorang hulubalang yang gagah berani. Dalam setiap peperangan melawan musuh yang ingin menaklukkan Palembang, maka hulubalang ini selalu memimpin pasukan-pasukannya dan selalu me- nang. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, dalam suatu pertempuran yang sengit yang sudah berlangsung berminggu- minggu dan berbulan, Sultan dapat dikalahkan. Korban di kedua belah fihak bukan sedikit, harta benda mus- nah dan penderitaan bertambah-tambah. Akan tetapi keadaan yang demikian tidak menjadikan hulubalang ini putus harapan. Dengan semangat yang berkobar-kobar "Putu Indra" berusaha mengumpulkan sisa-sisa pasukannya untuk terus melawan musuhnya (Belanda). Untuk mempersiapkan pasukannya dan juga mendapatkan bekal untuk persiapan selanjutnya, maka ia menying- kir meninggalkan Palembang dan menetap di Indra Layal) dan sejak saat itu tempat ini disebut "Indra Laya" (laye) dan sebutan laye malahan menjadi nama atau panggilan untuk Putu Indra. Pada setiap ada kesempatan, laye selalu menyerang musuhnya, sehingga fihak musuh merasa tidak tenteram, selain itu iapun mencari hubungan ke pedalaman untuk mendapatkan hubungan-hubungan dengan fihak-fihak yang simpati terhadap perjuangan sampai-sampai di pedalaman. Hampir semua puyang-puyang dan penguasa-penguasa seluruh Batang Hari Sembilan menjadi temannya. Apalagi untuk dapat bertemu dengan teman-temannya ini, kadang-kadang hanya dalam waktu sekejap mata saja. Di Pagar Gunung banyak pula teman-temannya seperti : Rie Anak Dalam, Rie Penunjuk dan Nenek Kibas, orang-orang Pagar Gunung pada umumnya dan juga Gumay. Nama Laye jadi terkenal dan oleh musuh, Laye dianggap semakin berbahaya. Fihak musuh berusaha untuk mencari dan menangkap Laye, akan tetapi Laye ini seperti dikemukakan di atas: punya kesaktian dan dapat meng-

1) Indra = nama orang; laya/laye = tanah yang datar.

hilang dan juga muncul dengan tiba-tiba pada tempat-tempat yang dikehendakinya. Setelah usaha untuk menangkap Laye tiada berhasil juga lalu musuh menggerakkan pasukannya yang banyak, mudik su- ngai Lematang dengan maksud menyerang Pagar Gunung di mana banyak pengikut dan teman-teman Laye. Sebelum fihak musuh sampai ke Pagar Gunung, maka Laye sudah lebih dahulu mengetahui dan ia menyiapkan pertahanan Daerah di Jati. Batu-batu sebagai benteng telah disusun, pohon-pohon aur berduri disiapkan sehingga benteng ini jadi kuat .dan langkap. Para hulubalang dan prajurit telah siap dan terlatih. Semua yang akan berperang telah mendapatkan gosokan minyak milik Laye. Minyak ini gunanya agar tahan kulit, baik terhadap peluru senjata maupun alat-alat tajam lainnya. Alhasil, pada suatu ketika, datanglah musuh yang sudah di- nanti-nanti dan perang hebat terjadilah. Pasukan Nek Kibas selalu dapat memusnahkan musuh dan Nek Kibas inipun adalah orang yang aneh. Nek Kibas pernah dijatuhi hukuman pancung oleh Sultan, oleh karena sesuatu kesalahan besar, akan tetapi ia tidak mati dan dapat kembali lagi serta ikut dalam perang Jati ini. Setelah lama fihak musuh tidak dapat mengalahkan benteng Jati, maka musuh meminta damai saja. Prinsip damai memang merupakan kehendak pula dari pihak Laye sepanjang kemerdekaan mereka tidak dirampas. Lalu diadakanlah perundingan dan dalam perundingan itu rupanya musuh masih ingin memaksakan keinginannya saja. Musuh menghendaki untuk menguasai pemerintahan seluruhnya dan kepada daerah Gumay diberikan kemerdekaan. Pangeran Tanjung Sirih tidak dapat menerima perdamaian ini, apalagi yang dimerdekakan hanya Gumay saja. Pangeran Tanjung Sirih berpendapat bahwa Perang Jati adalah perang Batang Hari Sembilan dan bukan Perang Gumay saja. Kalau Gumay akan dimerdekakan, maka seluruh Batang Hari Sembilan juga harus merdeka. Karena tuntutannya tidak dipenuhi oleh musuh, lalu Pangeran Tanjung Sirih mengadakan perlawanan kembali. Laye terus mem- bantu dan ia tinggal dalam sebuah Gua yang dikenal dengan sebut- an "Gua Laye" di Ilir Gunung Agung Pagar Gunung. Entah oleh karena apa maka pada suatu ketika, Pangeran

Tanjung Sirih dapat ditangkap. Karena musuh mengetahui bahwa

pasukannya akan terus melawan, lalu Pangeran dibawa ke Betawi. Namun demikian perlawanan terus menjalar hingga timbul

perang "Mancer Alam" Demikianlah perang berakhir namun di

Gua Laye masih terdapat "Bekas tapak kaki Laye. Laye masih sewaktu-waktu muncul, kadang-kadang di Pagar Gunung dan ada kalanya pula muncul di Indra Laya. Pendeknya pada setiap waktu akan ada perlawanan kepada

musuh, maka Laye selalu dapat dilihat. Ia hadir sebagai orang

biasa dan kadang-kadang sebagai pimpinan suatu pasukan. Untuk lebih mudah bertemu dengan Laye, maka haruslah

menghadap ke Gua Laye. Namun demikian, apabila yang berniat

belum dengan setulus hati maka Laye tidak akan dapat ditemui. Laye akan berada di mana-mana, baik dengan secara kasar, lebih-lebih dalam bentuk "halus" jika saat diperlukan tiba. Nah, hingga sekarang tidak diketahui di mana Laye: "Putu Indra" berkubur, namun tempat tinggalnya Gua Laye masih ada.

-000-

  1. "PANGGAR BESI"
    Tersebutlah kisah pada masa dahulu kala di daerah Tanjung Sakti yang termasuk bumi Pesemah ada seorang Puyang yang men-

jadi pimpinan kelompok. la sangat disegani dan dihormati dan dialah yang merupakan

pohon tempat berlindung dan payung di waktu hujan. Susah duka

5 anggotanya adalah susah dukanya juga, bahkan semuanya berada di pundaknya. Alkisah pada suatu masa bumi Pesemah tidak aman. Di mana- mana terjadi perampokan, yang lemah jadi makanan yang kuat, yang kuat merajalela. Hal ini sangat memberatkan hati Puyang ini

ia selalu merasa khawatir akan terjadi malapetaka berupa peram-

pokan terhadap rakyatnya. Kekhawatirannya ini sangat beralas-

an sebab daerahnya terkenal subur sehingga orang-orang hidup

dalam kecukupan. Keadaan yang demikian sudah tentu menjadi intaian para pe-

rampok. Akan tetapi Puyang tak pernah menunjukkan sikap seolah-olah ia dalam kesusahan. Walaupun berita-berita perampok-

an sampai juga ke telinganya namun di hadapan pengikutnya ia

seolah-olah tidak tahu dan tak pernah mendengar. Akan tetapi dalam hati ia selalu bertanya-tanya bagaimana

seandainya terjadi perampokan terhadap rakyatnya. Mampu- kah ia mengatasinya ? Dan sekiranya para perampok mempunyai ilmu-ilmu yang cukup tinggi, serta dalam jumlah yang lebih besar dari rakyatnya pastilah mereka akan kalah. Apabila kalah tentunya akan lebih sengsara, hidup sebagai budak atau mati terpotong-potong. Yang kalah akan ditawan, kaum wanita terutama gadis-gadis akan diambil sebagai rampasan. Kesusahan ini rupanya bukanlah dihadapi oleh Puyang ini saja, bahkan Puyang Seruntingpun sedang berusaha juga bagaimana caranya untuk bersiap menghadapi kalau-kalau terjadi perampokan pula atas rakyatnya. Puyang Serunting juga berdiam dibumi Pase- mah dan memimpin dusunyang cukup luas pula. Berita-berita tentang mengganasnya perampok pada beberapa tempat telah didengarnya pula. Begitu pula tentang keganasan perampok-perampok ini terhadap mangsa-mangsanya. Tetapi sebagai pemimpin ia tiada menunjukkan sikap yang dapat di- simpulkan bahwa ia merasa ragu. Setiap ada berita demikian ia

selalu berpesan pada rakyatnya bahwa tak usah merasa takut atau khawatir apalagi akan meninggalkan tempat mereka. Pada suatu hari bertemulah Puyang Tanjung ini dengan Puyang Serunting, Puyang Seruting berkata : 'Hai Puyang Tanjung apa kabar? Sudah berapa kali perampok-perampok mencoba masuk ke dusunmu? Sudah berapa cucu-cucumu dibawanya ?" Puyang Tanjung menjawab : "Selagi aku masih bernafas tak kurelakan daerahku serta anak cucuku dirampas, apalagi dijadikan budak. Aku akan mencari ilmu bekal untuk anak cucuku agar mereka tak akan diganggu oleh para perampok lagi". Betul sekarang beritanya mereka sedang merampok pada be- berapa dusun yang dekat, tetapi mereka tidak akan dapat masuk ke Tanjung. Akupun akan berbuat demikian dan merekapun tidak akan pernah masuk ke daerahku kata Serunting. "Hai kawan, kalau begitu apa usaha kita agar dapat menye- lamatkan anak cucu kita, kata Serunting. Puyang Tanjung lalu berceritera bahwa ia mendengar Majapahit sekarang akan damai. Tak satu pun musuh berani menyerbu kerajaan yang luas terbentang itu. Para penghuninya gagah berani dan berilmu tinggi. Semuanya ini oleh karena kebaikan rajanya. Ratu Majapahit adalah orang yang berilmu tinggi, sangat arif bi- jaksana. Siapa saja yang minta bantuan pasti diperkenankannya, asal semuanya untuk kebaikan rakyat dan negaranya. Tak ada Ratu yang begitu baik dan disegani oleh semua orang di dunia ini. "Bagaimana kalau kita pergi saja menghadap Ratu mohon ilmu kesaktian, agar anak cucu kita dapat kita selamatkan dari mara- bahaya", kata Puyang Tanjung. Mendengar penjelasan ini maka Serunting berbalik dan menyatakan persetujuannya. Setelah mufakat maka pada suatu hari berangkatlah keduanya menghadap Ratu Majapahit, Entah berapa lama dalam perja- lanan maka tibalah mereka di istana Ratu. Istana Ratu sangat besar dan dengan mudah mereka diterima oleh Pengawal istana yang ramah, serta diberikan tempat menginap di tempat tamu- tamu istana. Karena terlalu letih keduanya beristirahat tidak terus menghadap Ratu. Ke esokan harinya pagi-pagi Puyang Tanjung telah bangun dan bersiap-siap untuk menghadap Ratu. Puyang Serunting karena terlalu letih masih tertidur lelap.

Setelah ia datang menghadap maka dikemukakannya maksud- nya untuk mohon ilmu guna mendapatkan kekuatan dalam meng-

hadap musuh-musuh rakyatnya. "tuanku, daerahku terancam

perampokan dan apabila aku tidak dapat mengusirnya tentulah anak cucu serta rakyatku akan hancur dibinasakan para perampok", kata Puyang Tanjung Sakti. Patik mendengar bahwa tuanku akan selalu menolong orang-orang yang dalam kesulitan. Tanpa bantuan tuanku tentunya kami tak akan dapat bertahan apabila betul-betul ada serangan. Para perampok itu sangat kejam, bukan saja harta yang dirampasnya akan tetapi konon beritanya orang-orang yang telah teraniaya itu kemudian ditawan dan dijadikan budak-budak. Akan lebih menyakitkan hati lagi oleh karena perempuan dan anak-anak wanita merupakan rampasan yang pa- ling digemari mereka. Oleh karena itu hamba mohon bantuan tuanku agar hamba dapat bertahan terhadap para perampok itu nantinya. Ratu tertegun sejenak lalu ia berkata: "Itu mudah saja, sekarang berjongkoklah engkau danakanku beri engkau kekuatan itu." Segera Ratu mencabut tulang belakang Puyang dan digantikan- nya dengan besi. Nah, sekarang telah selesai dan kembalilah segera ke negerimu, kalau-kalau perampok-perampok itu sementara engkau tak ada, anak cucumu akan dihancurkannya. Musuh-musuhmu akan dapat kau hancurkan, dan ingat, jangan sekali-kali engkau

menganiaya atau menyerang daerah lain."

Puyang sangat berterima kasih dan besar hatinya karena telah mendapatkan ilmu dari Ratu.Puyang pun mengatakan bahwa se- benarnya bukan ia sendiri yang mendapatkan ancaman. Negeri temannya juga dihadapkan pada ancaman pula, dan ini pun me- merlukan bantuan Ratu. Ratu bertanya : "Di mana negeri itu dan siapa pula pemimpinnya ?" Puyang menjawab : "Negerinya berbatasan dengan negeri hamba dan pemimpinnya sekarang ada pula di sini bersama hamba akan tetapi sekarang ia sedang tidur, kalau tuanku berkenan maka ia akan hamba bangunkan dan bawa pula menghadap." Biarkan dia tidur dan jangan diganggu, mari kita lihat di mana ia sekarang," kata Ratu. Lalu mereka menuju tempat Serunting yang sedang tertidur. Mulutnya ternganga dan tidurnya lelap sekali, oleh karena perja- lanan yang begitu jauh membuatnya terlalu letih.

Ratu kemudian meludahi sedikit mulut Serunting, kemudian

ia pergi. Sebelum itu Ratu berpesan pada Puyang Tanjung agar apabila Serunting terbangun beritahukan bahwa ia telah diberi ilmu oleh Ratu. Dalam menggunakan ilmu itu Serunting harus teliti dalam berkata-kata, jangan berkata yang bukan-bukan dan hendaknya selalu memberi petunjuk serta berkata benar. Kekuatannya terletak di "mulutnya". Mendengar kata Ratu demikian, Puyang Tanjung sangat gem- bira, oleh karena maksud keduanya telah tercapai. Karena kegem- biraan yang tiada tertahan, apalagi Ratu telah mengatakan pula agar ia berdua segera pulang untuk menghindari kemungkinan terjadi perampokan di daerahnya maka segera ia membangunkan Serunting. Serunting terkejut dan bangun, kemudian diceriterakan- nya apa-apa yang telah diperbuat dan dipesankan Ratu. Keduanya lalu pulang! Setibanya di kampungnya benarlah apa yang diduganya. Baru beberapa hari datanglah kawanan perampok ke tempat Serunting. Melihat para perampok yang banyak dan dengan muka-muka yang menyeramkan itu Seruting agak gentar. Apa yang harus diper- buatnya. Lalu ia teringat akan kata temannya, bahwa kata Ratu, kekuatan yang diperolehnya terletak di mulutnya. Apa gerangan kesaktian itu ? Ia teringat bahwa ia harus berkata benar dan ber- buat bijaksana dalam menghadapi semua keadaan. Dilihatnya kawanan perampok ini semakin dekat dan rakyatnya sudah siap menanti dan hanya menunggu perintah Puyang Serunting, mela- wan atau menyerah kalah. Puyang Serunting tampil ke muka lalu berseru : "Hai kawan- kawan apa maksud kalian ke mari ? Kalau maksud baik silahkan datang dan duduk, dan jika tidak silahkan pergi saja dari sini, oleh karena kami tak ingin jika sampai timbul keonaran di dusun ini." Suara Serunting yang lantang dan lunak itu bagi para perampok seperti mendengar halilintar yang memekakkan. Tubuh me- reka menjadi gemetar dan lemah lunglai. Pucat pasi sehingga banyak yang jatuh terjerambab. Tanpa menjawab sepatahpun maka para perampok itu serta merta berbalik dengan merangkak dan terjongkok-jongkok dan terhindarlah k'ni bahaya yang meng- ancam itu. Sejak saat itu maka ia disebut oleh anak cucu dan pengikutnya Puyang "Si pahit Lidah" sehingga segala apa yang

1) Pahit lidah = scgala apa yang dikatakannya dapat terpenuhi.

dikatakannya selalu dipatuhi oleh pengikutnya. Puyang Tanjung lain lagi halnya. Pada ketika para perampok datang, ia telah siap menanti. Lalu ia berkata: "Kalau kalian akan membinasakan anak cucu dan rakyatku harus berhadapan dengan aku. Tak perlu kalian membinasakan mereka satu persatu, cu- kup aku sendiri. sebagai tebusannya. Mendengar kata demikian maka para perampok sangat berbesar hati dan sombong. Oleh karena mereka mengira akan dengan mudah dapat mengalahkan orang tua itu tanpa timbul korban dari pihaknya, serta mendapat harta benda yang banyak. x+ Dengan keris terhunus dan tombak-tombak maka berdatang- anlah perampok-perampok untuk membunuh Puyang. Mereka satu persatu menikam dan menombaknya, akan tetapi begitu mereka menombak atau menikam, sedikitpun Puyang tiada luka. Satu persatu perampok itu dikalahkannya. Sedikit saja tangannya mengenai tubuh para perampok, mereka sudah babak belur dan patah kaki tangannya. Melihat hal yang demikian lalu mereka berlari meninggalkan tempat itu. Sejak itu terkenallah Puyang ini dengan sebutan "Puyang Panggar Besi"2) dan tiada lagi perampok yang berani meng- ganggu daerahnya. Demikianlah Puyang Panggar Besi yang kuburannya kini ada di Tanjung Sakti.

2) Panggar = tulang. Panggar besi = bertulang besi.

  1. "PAGAR GUNUNG"
    Adalah sepasang suami isteri, yaitu "Kerie Jimak" yang berasal dari Gumay dan isterinya "Puyang Dayang Jagani" dari dusun Muara Danau. Kerie Jimak ingin agar dapat hidup aman tenteram dengan keluarganya. Berhari-hari ia berjalan-jalan naik bukit turun bukit manyelusuri anak-anak sungai naik turun ju- rang, untuk mencari tempat di mana akan menetap. Pada suatu ketika sampailah ia di atas sebuah bukit dan dari atas bukit itu ia melihat lembah yang luas terbentang di mana mengalir anak-anak sungai yang banyak pula ikan-ikannya. Rie Jimak berpikir-pikir alangkah baiknya tempat itu untuk tempat menetap. Tentunya akan aman, apalagi sekeliling bukit dan gunung yang tinggi. Akhirnya sampailah pada satu keputusan bahwa ia bersama isterinya "Puyang Dayang Jagani"akan menetap di lembah itu. Segala persiapan disiapkan setelah semua selesai maka berangkat- lah Rie Jimak. Alkisah maka Rie kemudian mendapatkan seorang putera bernama Rie Cermin. Rie Cermin adalah seorang yang cakap gagah dan berani. Tersebarlah berita bahwa kehidupan Rie Jimak amat menyenangkan, tanaman subur, ikan dan binatang buruan berlimpah ruah, maka dari hari ke hari ada saja orang yang datang yang ingin tinggal bersama Rie. Lama kelamaan tempat itu ber- tambah penghuninya. Hubungan dengan dusun-dusun di sekelilingnya mulai dirin- tisnya dan makin lama tambah juga orang-orang yang datang ingin menetap serta berbagai usaha timbul seperti menanam 'sayur- sayuran, buah-buahan berladang. Makin hari ke hari, bulan ke ta- hun akhirnya tempat itu berkembang dan keinginan untuk- memperluas tempat tinggal itu oleh pengikut-pengikutnya dimu- lailah. Alkisah Rie Cermin kemudian mempunyai empat orang anak dan di antara keempatnya ini sama-sama cakap, gagah dan ber- pengaruh. Setelah dewasanya mereka hidup rukun tiada terjadi silang sengketa. Masing-masing dihormati dan disegani oleh pen- duduk. Melihat hal demikian, maka Rie Cermin sangat berbesar hati dan pada suatu ketika dipanggilnya anak-anaknya untuk menghadap.

Setelah semuanya kumpul maka Rie berkata bahwa ingin sekali agar anak-anaknya terus bekerja sama dan mengembangkan tempat tinggal yang telah dipilih oleh ayahnya (nenek anak-anaknya). Nasehat dan harapan Rie Cermin ini dipatuhi oleh anak-anaknya. Setelah semuanya mufakat maka pada suatu ketika mereka masing-masing dengan pengikut-pengikutnya berangkat mencari tempat tinggal yang baru atau membuka dusun yang baru. Oleh karena dalam lembah yang luas dan subur ini, semua tempat hampir-hampir sama maka tidaklah sulit bagi mereka un- tuk mencari atau menentukan tempat-tempat yang baik. Mabilek mengambil tempat di "Air Lingkar" sejak saat itu"para pengikutnya berusaha membuka tempat yang baru itu. Segala keperluan bagaimana layaknya sebuah dusun dipersiapkan. Demikianlah usaha Mabilek berhasil mendirikan tempat tinggal yang baru di Air Lingkar. Anak Dalam lalu memilih tempat di Dusun Garmidar Ulu dan Garmidar Ilir. Semuanya diatur dan dibuat sebaik-baiknya hingga menjadi dusun-dusun dan tempat tinggal yang baik. Mata penca- harian mudah didapat tanah yang subur dan anak-anak sungai yang banyak, ikan-ikannya menjadikan penduduknya bertambah gembira tinggal di tempat baru ini. Hubungan dengan saudara-saudaranya terus dijalankan. Walau pun mereka mengambil tempat yang terpisah namun sebenarnya mereka masih tunduk dan satu dalam segala bentuk adat dan cara. Kace Gine, menuju ke bukit yang sekarang menjadi dusun "batu Rusa" seperti saudaranya yang lain Kace Gine dengan orang- orangnya berusaha agar tempat ini pun dapat menjadi tempat yang menyenangkan. Para pengikut Kace Gine juga-menyadari bahwa mereka harus, dapat pula berbuat seperti yang lainnya baik yang di "Air Lingkar" Padang ataupun Garmidar Ulu dan Ilir. Bukan cuma membuat dusun tetapi juga hiasan-hiasannya, seperti: tugu, dan patung (mungkin sekali Arca "Batu Rusa" adalah dibuat oleh Kace Gine). - E Rie Rinjang lalu menuju ke Tanjung Agung, Bandung Agung, Karang Agung, Kedator dan Penantian. Dengan usaha keempat Saudara ini maka daerah yang pertama didiami oleh nenek mereka Rie Jimak telah menjadi lebar dan luas. Hampir seluruh lembah yang dilihat oleh Rie Jimak yang dulunya

merupakan hutan lebat yang subur itu telah mereka diami bersama anak cucu dan pengikut-pengikutnya. Pada setiap saat di mana diperlukan bantuan secara umum mereka berkumpul dan segala "senang susah" selalu dirasakan atau dimusyawarahkan. Kalau satu dusun akan pesta maka dusun yang lain menjadi kewajiban untuk membantu. Oleh karena segala se- suatu seolah-olah jadi satu, maka adat-adatpun tak berbeda. Kemudian datang pula Saudara laki-laki Rie Jirak yang berna- ma Rie Tora. Rie Tora rupanya tertarik pula untuk tinggal di lembah yang baik ini. Ia meminta pada keempat Saudara yang telah lebih dahulu, untuk membuat tempat tinggal di Muara Dua seka- rang. Maksud Rie ini dipenuhi oleh mereka dan dengan demikian maka dusun Muara Dua pun menjadi dusun pula dan mulai dibuat dusun. Tersebutlah pula nama Depati Kecik yang oleh karena hu- bungan perkawinan dengan Palembang yaitu "Puyang Mangku In- tan"dan dari turunannya mereka kemudian mendirikan dusun"Le- sung Batu". Nah beginilah makin lama makin banyak orang-orang datang ke lembah ini dan bertambah ramai. Datang pula orang dari "Ulak Angkasa dan mereka ini merupakan asal-usul dari penghuni dusun Kupang, Danau dan Sawah Da- rat. Kemudian pada waktu perang jadi, datang pula orang-orang dari suku Dalam Bengkulu, Rejang dan Minangkabau dan sebagai pimpinannya ialah "Nyale Raye". Mereka ini akhirnya memilih tempat tinggal di Tinggi Hari". Demikianlah maka seluruh lembah itu dihuni dan oleh karena sekeliling lembah ini terdapat gunung maka daerah ini disebut Pagar Gunung.

-o0o-

  1. "PUYANG BEGE"
    Tersebutlah nama putra Puyang Araran dengan isteri keduanya bernama Puyang"Bege". Pada masa mudanya Puyang Bege tidak- lah menunjukkan keajaiban atau hal-hal yang menonjol bahkan ia sering menjadi ejekan dan hinaan orang. Pada suatu ketika terulang lagi ejekan dan hinaan terhadapnya.

Oleh karena Puyang Bege sudah habis kesabarannya maka akhirnya orang yang menghinanya itu dibunuhnya. Berita tentang pem-

bunuhan itu tersebar dan akhirnya Puyang Bege dikenakan denda

100 ringgit oleh Sunan Palembang. Orang-orang kampung mengerti apabila Puyang Bege tak dapat membayar denda tersebut maka pasti ia akan dijatuhi hukuman mati. Seluruh sanak famili Puyang Bege berkumpul dan bermufakatlah untuk mendapatkan uang sejumlah tersebut, namun demikian uang itu tiada didapatkan juga. Puyang Bege

sadar bahwa nyawanya terancam. Pada suatu hari setelah mufakat dengan isterinya putri Keba-

yoran maka kedua suami isteri itu melarikan diri dari dusun dan

menuju Bengkulu. Setelah susah payah menempuh perjalanan jauh sampailah ia di Bengkulu dan ia diterima baik oleh penguasa Bengkulu yaitu Ratu Alas. Demikianlah Puyang Bege tinggal di Bengkulu dari tahun ke tahun akhirnya sampailah ke tahun yang ketiga. Pada suatu hari ia dipanggil oleh Ratu Alas dan Ratu menanyakan apa sebabnya maka sudah sedemikian lama ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya. Apakah Puyang Bege tidak mempunyai sanak ke- luarga lagi di kampungnya.

Dengan berterus terang dikemukakannya kepada Ratu Alas apa sebabnya maka ia meninggalkan kampung halamannya. Dari

ceriteranya ini mengertilah Ratu Alas bahwa Puyang Bege adalah

orang yang berani dan mungkin sekali mempunyai kesaktian. Tersebutlah berita bahwa di daerah Ratu Alas terdapat seekor ular yang sangat besar yang selalu mengancam keselamatan pendu-

duk. Sudah banyak korban yang ditimbulkan oleh ular ini, sudah

banyak hulubalang yang diperintahkan untuk membunuh ular itu namun tak ada yang berhasil. Bahkan tak ada yang berani mendekatinya.

Ratu Alas mengemukakan kepada Puyang Bege sekiranya ia

dapat dan sanggup untuk membunuh ular itu maka ia akan mem-

berinya hadiah sebanyak denda yang harus dibayarnya pada Sunan Palembang. Tawaran Ratu Alas ini disambut oleh Puyang Bege dengan gembira. Pada suatu ketika pergilah Puyang Bege ke tempat ular yang dimaksud dengan diiringi oleh para hulubalang. Setibanya di tempat ular itu maka hulubalang dari jauh menunjukkan bahwa di sanalah ular itu. Puyang Bege segera maju dan benarlah seperti yang ditunjukkan hulubalang tadi. Ular itu dalam keadaan ter- tidur dan mulutnya ternganga, dengan gigi yang tajam dan besar. Dengan langkah tegap dan penuh keyakinan didekatinya ular itu dan serta merta dipukulnya kepala ular itu dengan sepotong rotan semambu yang merupakan perkakas Puyang. Ular yang besar itu menggelepar-gelepar sejenak lalu mati seketika itu juga. Para hulubalang serta orang-orang yang melihat tertegun heran melihat keberanian serta kesaktian Puyang dengan senjatanya itu. Dengan rasa lega dan gembira pulanglah mereka dan melapor- kan pada Ratu Alas bahwa ular tersebut sudah mati. Karena suka hatinya Ratu Alas memenuhi janjinya. Keesokan harinya dengan bekal 100 ringgit itu berangkatlah Puyang Bege ke Palembang ber- sama isterinya untuk menghadap Sunan. Setibanya di Palembang ia menemui Sunan untuk membayar denda. Rupanya Sunan ber- baik hati, denda yang seharusnya mesti dibayar itu sudah dihapus- kan dan Puyang Bege dibolehkan kembali ke kampung halaman- nya. Ia segera meninggalkan Palembang mudik sungai Musi dan akhirnya tiba di muara Sungai Lematang. Setibanya di Muara Lematang ia berhenti dan timbullah keinginannya untuk tinggal saja di sana. Ia tertarik akan lalu lintas yang ramai di sungai itu oleh para pedagang. Tetapi rupanya ia bukan mau berdagang atau berusaha melainkan kemudian merampok setiap orang yang me- lalui sungai itu. Berita tentang perampokan ini didengar oleh Sunan lalu dikirim hulubalang untuk menangkap perampok ini, tetapi tidak kembali ke Palembang. Kemudian dikirim lagi 4 orang hulubalang namun tidak juga kembali semuanya ditangkap oleh Puyang Bege. Puyang Gumay penguasa hulu Lematang mendengar pula berita ini, apalagi ada juga orang-orangnya yang tidak kembali dalam perjalanan ke Palembang. Untuk cenyeiiiiki hal ini Puyang Gumai

mengutus orang-orangnya. Setelah utusan berangkat dan tiba di Muara Lematang maka dari jauh mereka sudah berteriak berupa "ucapan tuanguan1) Gumay. Mendengar ucapan dan tungguan itu tahulah Puyang Bege bahwa yang datang itu adalah dari keluarganya dan diperkenankannya untuk mendarat. Mereka lalu bertemu dan dalam pertemuan itu disampaikanlah pesan Puyang Gumay agar Puyang Bege kembali saja ke Gumay. Puyang Bege ingin juga pulang tetapi ia masih menunggu sampai isterinya melahirkan dan anaknya nanti sudah besar, setelah anaknya lahir diberinya nama "Sentan". Setelah besar lalu Sentan disuruh pulang ke Gumay bersama para utusan terdahulu. Ketika mereka berangkat kemudian 4 orang hulubalang Sunan yang di- tawannya didorongnya ke sungai Lematang, lalu menjelma menjadi "buaya." Setelah itu Puyang Bege meninggalkan Muara Lematang menu- ju Berumbung Matahari tempat asal mula Gumay, akan tetapi se- tibanya di Gumay ia merasa kecewa oleh karena penduduk kurang menghormatinya. Ia berkemas dan meninggalkan Gumay kembali ke Muara Lematang. Di sanalah ia meninggal dan dikenal dengan sebutan "Puyang Muara Lematang" atau "SingaLematang".

1) Ucap dan tungguan = suatu kata Sandi yang hanya diperuntukkan dan dimenger- ti oleh orang-orang turunan Gumay saja.

  1. "ASAL MULA BATU HARIMAU"
    Pada zaman dahulu kala ada seorang perantau datang dari Banten bernama "Puyang Lubuk Simpur". Entah bagaimana terjadinya, maka pada suatu hari baik, bulan baik, sampailah Puyahg Lubuk Simpur di Tebat Kolam. Sudah sekian lama di Tebat Kolam, maka pada suatu ketika berjalan-jalanlah ia ke Pagar Gunung. Setelah tiba di Pagar Gunung, Lubuk Simpur tertarik hatinya untuk dapat tinggal di daerah ini. Ia melihat tanah yang subur, tanam-tanaman menghi- jau dan penghuninya ramah tamah. Setelah cukup lama ia berkeliling sekitar Pagar Gunung, maka bertemulah ia dengan Puyang-Puyang penguasa Pagar Gunung. Lalu Puyang Pagar Gunung bertanya : "Oiii., kamu dari mana,

hendak ke mana dan apa maksud kedatangan kamu ?"

Puyang Pagar Gunung bertanya demikian oleh karena Lubuk Simpur kelihatannya seperti orang Gerot1) lain halnya dengan orang-orang yang biasa masuk ke luar Pagar Gunung. Puyang Lubuk Simpur dengan rendah hati berkata : "Alang- kah bahagianya orang-orang yang hidup di lingkungan bukit-bukit ini, semua serba cukup dan baik, ingin rasa saya menumpang hidup di sini".

"Hai kawan, sekiranya apa yang kudengar adalah betul keluar

dari hati yang suci, tentulah kami pun tidak berkeberatan", kata Puyang Pagar Gunung. Akan tetapi di balik semuanya ini, Puyang Pagar Gunung masih memajukan persyaratan agar ia dapat me- nunjukkan apa "ke akhliannya". Sekiranya Puyang Lubuk Simpur betul-betul dapat mengatur tempat yang akan didiaminya, maka ia akan diberi seperempat dari daerah Pagar Gunung. Puyang Lubuk Simpur berjanji bahwa ia akan mengatur tempat kediamannya sebaik-baiknya dan ia akan menentukan di mana ia akan mulai menetap. Setelah mencari-cari daerah mana yang baik, maka jatuh-

1) gerot = orang terpandang.

lah pilihannya untuk daerah Pagar Alam (Pagar Gunung). Apa yang menjadikan pilihannya jatuh pada Pagar Alam, oleh karena ia telah mendapat petunjuk "Pesunah", bahwa tempat itulah yang baik dan cocok baginya. Di tempat itu terdapat lesung batu, putri jemur padi, dan juga batu macan. Mengenai maksud dan arti dari benda-benda ini sudah lama dipa- hami oleh Puyang Lubuk Simpur. Jauh sebelumnya ia selalu mendapat petunjuk bahwa apabila pada suatu saat dalam peran- tauannya ia menemukan benda-benda demikian, maka di sanalah tempat yang baik untuk ditempatinya dan di sana pula derajat- nya akan naik. Oleh karena itulah setelah ia melihat tempat itu, ia memutus- kan untuk memintanya kepada Puyang Pagar Gunung. Ia akan mengatur dusunnya dengan petunjuk-petunjuk yang sudah lama didapatinya. Falsafah aturannya tercermin pada batu macan. Adapun batu macan menggambarkan seorang anak kecil yang sedang diterkam oleh harimau betina. Harimau betina ini kemudi- an, ditunggangi oleh seekor harimau jantan. Dari gambaran ini dimaksudkan untuk keamanan hidup serta sopan santun dalam bermasyarakat. Apabila salah seorang dari penduduk/anggota masyarakat, terutama muda mudi berbuat me- sum, maka selama mereka belum mengakui perbuatannya, artinya mereka belum dikawinkan, maka alam akan menghukumnya,akan datang harimau masuk ke kampung dan harimau tersebut akan menghukum yang berbuat, ataupun bagi masyarakat yang tidak mau bertindak. Demikianlah selama belum ada yang mengaku atas perbuatannya ini selama itu pula harimau akan selalu muncul dan mengganggu keamanan kampung. Demikianlah cara Puyang Lubuk Simpur mengatur pergaulan dalam dusunnya. Agar orang-orang tidak mengganggu orang lain, maka tidak diperkenankan pula untuk menjemur padi di tengah dusun. Hal ini perlu diatur, sebab dapat menganggu lalu lintas dalam dusun. Di samping itu menjemur padi di tengah dusun besar pula bahaya bagi orang lain, sebab jemuran padi itu akan selalu diintai oleh ternak orang lain, seperti: ayam dan itik. Apabila terjadi demikian, maka penjemur padi akan me- mukul atau mengusir ternak-ternak itu. Kalau sampai ia tidak sa- bar maka dapat saja ternak itu dipukul sampai mati, dan ini akan

menimbulkan perselisihan atau pertengkaran antara orang-orang

di dusun tersebut. Jadi dusun akan tidak aman. Dengan batu putri menjemur padi dan batu macan sebagai lambang, maka Puyang Lubuk Simpur dapat mengatur orang- orangnya, sehingga ia menjadi pimpinan yang ditaati. Tersebutlah Saudara Puyang Lubuk Simpur ialah : "Puyang Kunduran" yang lebih terkenal dengan "Puyang Ulubalang", karena keberaniannya, maka ia jadi terkenal dan berkuasa hingga di Belimbing. Puyang Kunduran selalu datang mengunjungi Saudara-saudara- nya Puyang Lubuk Simpur, di Pagar Alam, kalau ada hal-hal yang menyulitkan Puyang Lubuk Simpur, maka ia selalu membantu. Demikianlah Puyang Lubuk Simpur dapat mendirikan Pagar Alam dan batu macan menjadi lambang pemerintahannya.

  1. "SANG PENENCA DI NEGERI IRIK"
    Pada zaman dahulu menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut ada sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja bernama "Sang Penenca". Negeri itu yakni bernama "Irik" Adapun negeri Irik ini dekat Kertajaya sekarang terletak pada daerah perbatasan Marga Sungai Keruh dengan marga Lawang Wetan. Di situ ada sungai bernama Irik. Ada bekas perkampungan dan ada pula kuburan-kuburan yang tidak tersusun, di antaranya ada yang luar biasa panjangnya. Tempat ini kurang lebih 15 Km dari dusun Kertajaya, dan 40 Km dari dusun Jirak sekarang. Raja Sang Penenca ini sangat kejam, karena itu sangat ditakuti oleh rakyatnya. Negeri ini sangat padat penduduknya. Banyak pedagang garam dan sejenisnya datang ke negeri ini untuk berda- gang. Dalam waktu sebentar saja, garam 3 perahu habis diambil oleh anak-anak untuk campuran sejenis asam (seperti pauh, cer- min dan lain-lain). Melihat garamnya habis dimakan oleh anak-anak. Pedagang garam ini lalu melapor kepada raja Sang Penenca, memohon agar garamnya yang habis itu dapat diganti. Mendengar hal ini raja menyuruh orang memukul ketuk. Maka semua penduduk negeri Irik berkumpul di depan rumah raja. Raja lalu memerintahkan anak-anak yang memakan garam di perahu pedagang garam itu supaya membayar dengan lada. Dengan perintah raja itu, maka seluruh anak-anak yang makan garam yang di perahu itu menyerahkan lada 2 perahu kepada penjual garam itu. Karena perahunya sudah penuh berisi lada, maka penjual garam itu lalu mohon diri kepada raja Penenca dan kemu- dian pulanglah menuju ke negerinya menyusuri sungai. Hubungan Tumamiah/Puyang Burung Jauh dengan Sang Penenca Burung jauh ini berasal dari negeri Jawa dan masih keluarga/ ada hubungan keluarga dengan Burung Binang (Sabokingking Pa- lembang sekarang). Dengan kendaraan perahu akhirnya ia sampai- lah di negeri Irik. Karena waktu itu ia dalan keadaan menderita sakit (sakit kulit), untuk itu ia kurang mendapat perhatian rakyat negeri Irik,dan tidak ada orang yang menghampirinya. Kebetulan ia dapat menumpang/singgah di rumah seorang janda yang miskin. Janda miskin ini merasa malu/berkeberatan menerima tamu ini karena tidak ada/kurang bahan makanannya. Tidak lama setelah Bu-

rung jauh berada di rumah, janda miskin, kemudian ia pergi ke dapur yang maksudnya akan memasak. Tapi ia sudah tahu bahwa di rumahnya itu tidak ada bahan yang akan dimasaknya. Sampai di dapur dilihatnya ada bahan makanan. Ia merasa terkejut karena barangini semulanya tidak ada, tapi sekarang menjadi ada. Maka dengan demikian kata janda miskin ini ta- munya/burung Jauh adalah seorang yang makbul, sebab waktu ia masuk ke rumah itu tidak membawakan atau memberikannya, tahu-tahu barang-barang itu sudah ada di dapur/ada pikir janda miskin ini. Setelah beberapa hari ini rumah janda miskin ini, Tumamiah/ Burung jauh ini mengambil upahan membuat ketuk/getuk ganai pada raja Sang Penenca, dengan upahnya/ongkosnya gadis cantik. Atasperundingan dengan raja, maka ketuk/getuk ganai itu dibuat- lah oleh Tumamiah/Burung Jauh. Soal upah/ongkosnya kata Raja tidak keberatan, yang penting getuk itu harus dibuat dengan cepat. Ketuk/getuk (sebuah/sepotong kayu yang besar ± 1.50 cm panjangnya yang dibuat lobang menurut panjang kayu itu) sele- sai, Tumamiah/Burung Jauh datang menghadap raja Sang Penenca untuk mengambil upah membuatnya. Setelah menghadap raja ini upah tidak dibayar bahkan raja Sang Penenca itu marah pula. Mendengar raja itu marah, maka Burung Jauh pulang. Setelah beberapa hari kemudian Burung Jauh datang menghadap raja pula, bukan minta upah membuat ketuk itu tetapi minta izin untuk memukul ketuk ganai yang sudah dibuatnya itu. Karenanya raja Sang Penenca tidak mau membayarkan upahnya, dan tidak tahu akibatnya, maka Burung Jauh/Tumamiah ini diizinkannya. Setelah mendapat izin ini pulanglah Burung Jauh, sampai di rumah janda miskin tempatnya tinggal ia memberi tahukan kepada janda miskin, beritahukan kepada anak/sanak saudara kita supaya dapat menutup telinga karena saya akan memukul ketuk ganai. Tutuplah telinganya dengan tanah liat/sejenisnya, gunanya jangan sampai dapat mendengar suara/bunyi getuk ganai. Kemudian Tumamiah mengatakan seluruh keluargamu harus berkumpul di ru- mahmu semuanya dan saya akan pergi memukul ketuk ganai. Kemudian pergilah ia ke rumah raja untuk memukul ketuk ganai tadi. Sampai di rumah raja/tempat getuk mulailah Tumamiah/BurungJauh memukulnya. Sekali di pukulnya, berkum-

pullah semua penduduk negeri Irik itu (di sawah, ladang dan lain-lain) di depan rumah raja Sang Penenca. Dua kali dipukulkannya, keadaan penduduk ini siap (seperti menunggu perintah dari atasannya). Tiga kali dipukulkannya, hari hujan lebat dan keadaan air sungai naik dan tenggelam/banjir negeri Irik itu. Selesai Tumamiah/Burung Jauh memukul ketuk itu ia cepat-cepat pulang me- nuju rumah janda miskin tempat tinggalnya itu. Lantas Tumamiah/Burung Jauh mengatakan kepada janda miskin, kamu semua- nya ini lari ikut saya, karena negeri Irik ini "silam". Kemudian larilah mereka ini dari negeri Irik itu berperahu menyusuri sungai. Akhirnya mereka ini sampai di muara sungai punjung (sekarang dusun Muara Punjung). Sampai di muara Sungai Punjung ini, Tumamiah tidak begitu lama tinggal di sini, kemudian ia pergi. Sebelum ia pergi meninggalkan "Bilah Seratus", tiap-tiap bilah ini bertuliskan dengan tulisan Ulu. Kata Burung Jauh/Tumamiah : "ini bilah seratus apabila ada kesulitan, dan sakit, bilah seratus ini kamu rasapkan (rasap = ke- menyan dibakar sedikit-sedikit pada api, bilah-bilah itu dikenakan pada asapnya) sesudah itu kamu kelilingkan pada badan kamu sebanyak tujuh kali, sambil membaca tulisannya". Kemudian berangkatlah Burung Jauh/Tumamiah ini. (Bilah seratus ini sekarang ada di Muara Punjung). Selanjutnya hubungan Burung Jauh/Tumamiah dengan Prawatin/Ginde Muara Bayo/Pricol. Prawatin/Ginde Muara Bayo nama sebenarnya menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut adalah "Pricol". Nama Muara Bayo ini adalah nama sebuah sungai (sekarang di seberang dusun Bumi Ayu). Karena negerinya terletak/menjadi Gindo di Muara Bayo, maka lebih dikenal dengan muara Bayo namanya Pricol. Ada pun Prawatin/Gindo Bayo ini mempunyai tiga orang putri yakni: seorang yang kawin dengan Tumamiah/Burung Jauh, satu orang kawin dengan orang keramat di muara sungai Lematang, satu orang kawin dengan Cikok anak Gindo Sugih. Pada waktu Tumamiah melamar anak Muara Bayo/Pricol, maka banyak sekali permintaannya, antara lain Gindo Muara Bayo minta dibuat terusan, (sungai kecil/tembusan/Lintasan) yang menghubungi Muara Bayo dengan negeri Irik. Apabila terusan ini selesai barulah dilaksanakan perkawinannya, dengan putri Muara Bayo. Ternyata dalam waktu yang cukup lama, terusan itu dapat

diselesaikan oleh Tumamiah, tapi sampai sekarang belum kita ketahui apakah Tumamiah waktu itu sebagai raja, ataukah sebagai putera mahkota dari suatu negeri/raja. Selanjutnya apakah puteri Muara Bayo ini sebagai permai- surinya atau selirnya, karena Tumamiah ini ada mempunyai dua orang isteri. Satu orang yang bernama "Sekak" dan satu lagi bernama "Sakai". Dari kedua orang isterinya ini belum diketahui yang mana dan siapa namanya anak dari Ginda Muara Bayo/Pricol. Hilang dan meninggalnya Tumamiah/Burung Jauh. Pada waktu sebelum ia meninggalkan rumah, ia berpesan kepada kedua isterinya, "jika aku lama tidak pulang/hilang jangan dicari, berarti aku sudah mati". Dalam hal ini memang ternyata ada, Tumamiah hilang. Setelah hilang dalam waktu beberapa bulan lamanya, maka kedua isteri dan ibunya Marbiah memberitahukan kepada orang di situ bahwah Tumamiah sudah meninggal. Hal ini diceritakan- nya, tentang pesannya sebelum ia hilang/pergi. Selanjutnya setelah beberapa waktu/tahun kemudian Tumamiah datang ke rumahnya menemui isteri dan ibunya. Dalam hal ini keluarganya merasa terkejut sebab mereka sudah memberitahukan kepada masyarakat setempat Tumamiah sudah meninggal dunia. Dengan adanya Tumamiah datang sesudah menghilang ini, maka isterinya berkata: "kata kamu (Tumamiah) kamu sudah mati" (berdasarkan pesannya). Mendengar perkataan isterinya demi- kian, Tumamiah merasa malu, maka dalam waktu yang tidak lama ia menghilang, kedua kalinya ia berpesan pula katanya: "Kalau aku hilang jangan dicari lagi, berarti aku sudah mati, di mana ber- temu dengan tongkatku di situlah kuburanku, dan kalau akan mencari aku, carilah di ujung sebuah sungai yang beratlah anak dari pada ibunya" Sesuai dengan kata-katanya di .atas lama kelamaan dengan tidak setahu isteri dan orang tuanya, Tumamiah ini hilang. Setelah ia hilang, oleh sanak keluarganya/isteri/ibunya memberitahukan kepada orang-orang di situ, bahwa Tumamiah sekarang sudah hilang pula, dengan menceriterakan pesannya sebelum ia hilang. Mendengar hal ini maka orang-orang berkumpul guna mencari jejaknya ke mana ia pergi, yang tidak tahu sedikitpun arah dan tujuannya. Dengan berpedoman pada pesan-pesannya sebelum ia hilang itu dicarilah oleh masyarakat setempat dikerahkan secara merata.

Dengan pesannya maka mereka ada juga yang mencari menyusuri sungai-sungai, baik sungai besar maupun yang kecil/anak sungai. Di antara orang-orang yâng mencarinya itu ada yang menimba air sungai antara lain yang ditimbah itu adalah sungai Keruh (anak sungai Musi sekarang yang muaranya di seberang kota Sekayu), dengan air sungai Musi. Entah dengan alat apa (dacing atau dengan perkiraan secara diangkat dengan tangan orang). Di mana air sungai Keruh anak sungai Musi ini lebih berat dari pada air sungai Musi/induknya. Bersamaan dengan pesannya sebelum ia hilang, untuk itu se- luruh masyarakat pergilah mencarinya menyusuri.sungai Keruh yang dimulai dari muara sungai Keruh sampai dengan ujungnya. Sampai di dekat Kartayu (sekarang) orang-orang yang mencarinya ini bertemu dengan "Tongkat dan bekas tapak kakinya". Untuk ini tongkat, dan bekas telapak kakinya ini dikuburkan di situ juga. Karena sesuai dengan pesannya sebelum ia hilang dan pada tong- katnya itu ada bekas darah. Sampai sekarang kuburan yang dimaksudkan di atas ada dekat dusun Kartayu sekarang. Menurut kepercayaan masyarakat Kartayu, khususnya dan pada umumnya marga Sungai Keruh Puyang Tumamiah/Burung Jauh ini dianggap sebagai keramat Sakti. Dan setelah isterinya meninggal dikuburkan pula kedua- duanya dekat Puyang Burung Jauh/Tumamiah ini. Sedangkan kuburan ibunya terletak kira-kira 3 Km.

  1. "RATU AGUNG"
    Di zaman Suhunan, di dusun Sukadana Marga Kayu Agung Kabupaten O.K.I. ada seorang puteri yang bernama "Putri Kembang Mustika". Siapa saja yang dipandangnya menundukkan kepala, tidak berani memandang wajahnya. Sewaktu Suhunan akan memperkuat pertahanan Palembang, Suhunan memanggil semua orang dari daerah-daerah, dusun-dusun dari jauh setiap orang diharuskan membawa 10 butir telur ayam untuk mencampuri adonan semen membuat benteng dika- renakan Belanda akan menyerang Palembang. Setelah Benteng selesai dibuat, kemudian antara benteng dengan sungai dibuat galangan untuk ditanami kayu berduri antaranya Kembang putri malu dan lain-lain. Agar musuh tidak dapat mendekati Benteng. Suhunan tinggal di dalam benteng bersama laskar-laskarnya (hulubalang). Ada hulubalang yang kuat dan sakti sebagai pe- ngawal Suhunan, yakni Putri Darah Putih dan Putri Iran. Putri Darah Putih apabila terluka memang keluar darahnya putih. Pada waktu itulah putri Kembang Mustika ikut ke Palembang menggabung dengan orang-orang banyak untuk mempertahan- kan Palembang. Kapal-kapal Belanda masuk, menyerang dan mengadakan tembakan-tembakan dengan meriam dan senjata lainnya ke pantai arah benteng. Berulang-ulang kali serangan Belanda dapat ditang- kis, akhirnya Kapal Belanda mundur, untuk mengatur siasat. Sebulan kemudian dengan tidak diduga sama sekali, Belanda menyerang lagi dengan gencar dan dahsyat Gemuruh suara meriam dan tembakan ke arah benteng. Kalang kabut dan kacau keadaan dalam benteng, karena belum siap sama sekali. Begitu mendadak serangan itu.. Putri Kembang Mustika dan Putri Darah Putih serta Putri Iran, membalas tembakan Belanda. Dengan tangkasnya Putri Kembang Mustika menangkapi tembakan peluru dan meriam Belanda, berlari ke sana ke mari dengan kumpulan peluru yang didapatnya dari tembakan Belanda dari Kapal. Kebanyakan peluru Belanda tidak meledak karena ditangkapi oleh Putri Kembang Mustika, Belanda keheranan melihat kejadi- an itu, lalu mundur, untuk tak akan menyerang kembali ke benteng Suhunan.

Rupanya semua perbuatan Putri Mustika diperhatikan oleh Putri Darah Putih dan adiknya Putri Iran. Mereka mengagumi ke- saktian Putri Kembang Mustika yang mampu "mengandungi

peluru Belanda" sehingga Belanda mundur. Setelah kapal Belanda mundur, keadaan aman, Putri Darah Putih memanggil Putr Kembang Mustika dan adiknya Putri Iran. Setelah ketiganya berkumpul dalam satu ruangan, mulailah Putri

Darah Putih membuka sidang segi tiga: "Terima kasih atas keha-

diran adik-adikku sekalian". Putri Kembang Mustika, mulai saat

ini, kau kuangkat menjadi pengawal kerajaan Suhunan dan kau

kuangkat menjadi adik kandungku sebagai saudara seperjuangan mempertahankan kerajaan Suhunan ini", kata Putri Darah Putih. Dengan senang hati Putri Kembang Mustika menjawab: "Terima kasih atas penghargaan ini, sebenarnya walaupun bukan sebagai pengawal, ini sudah kewajiban saya, untuk mempertahankan kerajaan Palembang, dan patuh pada Suhunan".

Jadi kita mulai saat ini menjadi tiga beradik, atas nama rakyat

dan hulubalang, kau kami beri gelar "RATU AGUNG" kata Putri Darah Putih". Kita pertahankan Suhunan jangan sampai dikuasai

Belanda.

Dalam pertemuan ini, rupanya ada seorang adik Suhunan sendiri dengan sembunyi-sembunyi mendengarkan percakapan bertiga ini. Setelah semua didengarnya, lalu cepat-cepat ia me- ninggalkan tempat persembunyiannya, jangan sampai ketahuan. Kemudian terus dia membuat surat di atas daun pandan, kemudi-

an digulung dimasukkan ke dalam botol dan ditutup rapat-rapat.

Kemudian botol tersebut, dibawa ke sungai, lalu dicampakkan ke sungai. Timbul tenggelam, hanyut, terus keluar sungai, di ombang-ambingkan ombak. Akhirnya sampai ke laut Negeri Be-

landa. Kebetulan Raja Belanda sedang memancing di tepi laut.

Dilihatnya ada barang timbul tenggelam, kemudian dipanggil- nya pengawal.

"Coba, lihat, di tengah laut itu seperti ada barang yang aneh,

coba ambil" kata raja Belanda kepada Pengawal. Pengawal berang-

kat, lalu menurunkan sekoci, terus menuju ke tengah laut. Sampai di tengah laut, rupanya sebuah botol yang terhanyut, lalu diam- bilnya, kemudian kembali ke tepi pantai. Setelah sampai di pantai lalu diserahkannya botol tersebut kepada Raja Belanda. Rupanya ada gulungan daun panda di dalamnya. Dengan perlahan-lahan gulungan dibuka, dilihat ada tulisan yang berbunyi 'berangkatkan-

lah kapal perangmu, pertahanan benteng Suhunan sekarang tidak kuat lagi" tapi dengan perjanjian apabila Suhunan nanti sudah ka- lah, jadikan saya sebagai raja Palembang, menggantikan Suhunan. "Haaaaa... haaaaa... haaaaa... haaa bagus", raja Belanda tertawa, setelah membaca tulisan itu, kemudian memerintahkan pengawal. Hai pengawal, siapkan kapal perang kita berangkat menyerang Suhunan Palembang. "Isilah meriam kita dengan uang ringgit, tidak usah mem- bawa peluru". Setelah peralatan dan penembakan kawakan siap semua, berangkatlah kapal perang Belanda menuju Palembang. Sedang kapal dalam perjalanan, adik Suhunan mengangkuti segala peluru meriam dibuang ke sungai, kemudian semua meriam diisinya dengan peluru jeruk, agar semua pertahanan Benteng tidak ada kekuatan sama sekali. Setelah selesai, tidak berapa hari kemudian kapal Belanda ma- suk Palembang, begitu dilihat pengawal Suhunan terus memberi- tahukan kepada teman-temannya. Meriam dipasang dan diarahkan pada kapal Belanda terus dibakar pada lobang kecil tempat meledakkan mesiu meriam. Menggelegar suara letusan meriam tepat kena kapal Belanda. Tetapi Belanda hanya tersenyum melihat kapalnya kena pelor jeruk. Melihat kejadian ini pegawai pengawal Suhunan jadi panik. Dalam kepanikan ini Belanda menembak pula. Maka berham- buranlah uang ringgit dari lobang meriam Belanda ke arah dinding benteng. Begitu banyak uang yang berhamburan, maka semua orang dalam benteng keluar berebut rebutan mengambil uang tersebut. Semua batang berduri dibuang, ditebas, dan dicabut di- bersihkan agar mudah mengambil uangnya. Dalam kesibukan orang mengambil uang, Belanda mencari

Suhunan serta hulubalang pengawalnya, tetapi tidak ketemu.

Rupanya Suhunan sudah pergi, begitu juga Putri Iran pergi ke Penukal, sedang Ratu Agung kembali melompat ke Sukadana, dengan sekali lompatan. Karena semua pengawal Suhunan, sudah pergi, dan yang ting- gal hanya adik Suhunan, maka ia terus menghadap raja Belanda. "Nah, raja, kamu sudah menang, Suhunan sudah pergi, benteng sudah kamu kuasai." "Ooperdam, mau apa kamu orang, kutu busuk". "Hai, raja akulah yang mengirim surat tempo hari".

"Haa ?, jadi kamu yang mengisi botol daun pandan itu? Pengawal, pancunglah orang penghianat ini". perintah raja Belanda. Pengawal segera melaksanakan tugasnya. Bet, putuslah le- her adik Suhunan, mati seketika itu juga, karena Belanda benci

pada orang berkhianat kepada bangsa sendiri.

Setelah Ratu Agung sampai di dusun Sukadana — Marga Kayu Agung Kabupaten O.K.I., ia jatuh sakit, karena memikirkan kera-

jaan Suhunan jatuh ke tangan Belanda, akhirnya Ratu Agung me-

ninggalaa rgen uia al lanet dabue avansins

iqet asmsloa gasy ssynsd un unaw chsq asumsshet gasio nab

ib dameq Asbit svmemsiom gasieb gnsy snsio sumee gaavse

s s a

dsi rsbul us soisd dt ibstasn svaudmer aggnid sva -mema el "diu tudmeR imu9" ralog isqsboam int itoq delut

seed nssase " ssmed dss isg

-ee sluq isnehst deist avmasitéece nsnijados um dalogusm symigmibnensm tsqsb gney auqgnsioee dsl.snem-snsm gnsdmelsy usaudu dso ii ht nalinsoss slq isdsheT Judoszs1 tuug gnsnmmsm niani si saM tsmaiem bualsm nsgnob syaraud laus aqezedod svaautuid diru9 tadma ą teqebnenr dsbi ai iuq qebsdgnsm asausu dsiaioa synsquA -mst eganid ,uli asnurue nsautu eynidsbulib usrisiem natudmsa -u2 sbaq syansksratisoib aab gnsiuq ulsl asuiU rdinug syad li neibstad esmes nsnud eynroud-dege igsi duuyaam oisi .uism sasram nemdu2 dituq mudmst hetuq nsisuoed snsm tb isqmse babieynam dlutau jtuq Xiluenom nsds buadsm asgnsb.ut ib xsbi asgneb maib-ameib sisooz iba) menu daigzq slaM de nsauto dshisluM igirs auzub gauqmasd gasio. rsio indated niuq astsuoíol gnsinet nlibieyae asdshagasm nemud saorsd gnodmuoz tsgnse ui ntuq swded udst uued symidlA us .U smenied nsy is gsy asis isuqasa -e sansiise asae lunaianem dsbue regn asb Rub due -mole ee aasiu -iaee sl an rsautu judetegno debue gasdse ib si suigns euieed sqm aagsi as gsd saan asilsass nssitinom enuru qebedgnom ziat lss synrisoi sas auiugd dsht si iqsl iujaasi egui asnusiu sauxgnel dunudmsm suso sremiegsd tsil uadias rossss qubid iaieg auaub lilsd ibastud msisb i

  1. "PUTRI RAMBUT PUTIH"
    Di zaman dahulu pada masa kekuasaan Suhunan Palembang, di dusun Perigi Marga Kayu Agung Kabupaten Ogan dan Komering Ilir, hiduplah seorang putri yang cantik tiada bandingan, terkenal dengan sebutan "Putri Rambut Putih". Ia mempunyai kesaktian yang terletak pada air ludahnya serta terkenal keangkuhannya. Kecantikannya sudah terkenal ke seluruh negeri. Para bujang dan orang terkemuka pada waktu itu banyak yang melamar, tapi sayang semua orang yang datang melamarnya, tidak pernah di- terima dengan baik malahan sebaliknya kepala orang itu diludahinya, hingga rambutnya menjadi putih karena air ludah. Sejak itulah putri ini mendapat gelar "Putri Rambut Putih." Ia mempunyai kakak, bernama "LANGKUSA", pekerjaannya bertapa mengolah ilmu kebatinan. Kesaktiannya telah terkenal pula ke- mana-mana, tak seorangpun yang dapat menandinginya. Terkabar pula kecantikan Putri ini oleh Suhunan Palembang. Maka ia ingin meminang putri tersebut. Diutusnya beberapa anak buahnya dengan maksud melamar putri Rambut Putih. Rupanya setelah utusan menghadap putri, ia tidak mendapat sambutan, malahan diludahinya utusan Suhunan itu, hingga rambutnya putih. Utusan lalu pulang dan diceriterakannya pada Suhunan semua kejadian itu. Suhunan merasa malu, lalu menyuruh lagi anak-buahnya, untuk menyelidiki sampai di mana kekuatan puteri rambut putih itu, dengan maksud akan menculik putri. Maka pergilah utusan tadi secara diam-diam dengan tidak di- ketahui oleh orang kampung dusun Perigi. Mulailah utusan Suhunan mengadakan penyelidikan tentang kekuatan putri. Akhirnya baru tahu, bahwa putri itu sangat sombong, karena mempunyai kakak yang sakti, yang bernama LANGKUSA. Seluruh dusun dan negeri sudah mengetahui akan kesaktiannya. Se- sudah mengetahui, utusan itu lalu cepat-cepat pulang ke Palembang agar jangan sampai ketahuan Langkusa. Tiba di Palembang, terus menghadap Suhunan, menceriterakan kesaktian Langkusa. Suhunan juga terkejut, tapi ia tidak berputus asa. Dicarinya akal bagaimana cara membunuh Langkusa. Di dalam hutan di balik dusun Perigi hidup seekor kerbau liar

seperti Banteng. Dalam telinganya ada tempat bersarang lebah penyengat (tawon). Apabila kerbau liar mencium darah manusia. ia menjadi mabuk dan mencarinya sampai berhasil diketemukan lalu dibunuhnya. Di dusun Perigi itu ada pula sebuah sumur yang dalam dan luas. Setelah Suhunan menemukan suatu siasat, berangkatlah Suhunan dan hulubalangnya ke dusun Perigi. Kebetulan pada waktu itu Langkusa sedang tidak di rumah, bertapa di ujung Tulung. Kemudian Suhunan menyuruh orang agar menjemput Langkusa menghadapnya. Setelah utusan Suhunan sampai dan bertemu dengan Langkusa, lalu diceriterakan maksud kedatangannya. Setelah Langkusa mendengarnya, lalu pulang untuk menemui Suhunan: "Gusti, apakah perintah Gusti," kata Langkusa setelah berhadapan.

"Hai Langkusa, coba kamu tangkap kerbau liar di dusun ini.

kabarnya selalu mengganggu penduduk" "Baik Gusti" jawab Langkusa: "Saya segera berangkat." "Tanpa berpikir panjang Langkusa berangkat, masuk hutan mencari kerbau (banteng). Di tengah hutan, rupanya banteng telah lebih dahulu mencium bau Langkusa. Ia mengamuk, suaranya gemuruh seakan-akan du- nia akan belah. Langkusa siap menghadapi serangan si kerbau alias banteng ganas. Langkusa mengelak dari tandukan banteng. Tan- dukannya terliwat, banteng berbalik menyerang lagi. 'huuuuusss, huuuuuss, huuuuuss." suara napas banteng makin ganas. Begitu kepala banteng menyodok badan Langkusa, pecahlah berhambur- an kepala Banteng, mati tidak berkutik lagi... Banteng dipikul Langkusa pulang ke dusun untuk diserahkan pada Suhunan: "Gusti inilah banteng itu. Rupanya Suhunan sudah tahu kalau banteng sudah dapat dikalahkan Langkusa. Maka dicarinya akal lagi. Sumur dalam dan besar tadi sudah diisi dengan tombak-tombak yang tertancap, matanya menghadap ke atas. Kemudian Suhunan berkata: "Langkusa, coba ambilkan cincin saya yang terjatuh di dalam sumur itu." Langkusa sudah tahu kalau dalam sumur penuh dengan tombak yang tajam". "Baik Gusti" jawab Langkusa Lalu melom- pat terjun ke dalam sumur, Byuurr Braaakkk, patah semua tombak-tombak dalam sumur kena badan Langkusa. Langkusa naik kembali. Nah: "inilah cincin itu", sambil menyerahkannya pada

Suhunan, setelah menerima cincin itu Suhunan dan hulubalang-

hulubalang pulang kembali ke Palembang.

Sampai di Palembang Suhunan mengadakan sidang, semua hulubalang berkumpul, mulailah Suhunan berkata: "Siapa di antara kamu yang sanggup menangkap putri Rambut Putih ?" Semua hulubalang tidak ada yang menjawab, sepi hening, apabila jarum jatuh kedengaran. "Kalau begitu tak ada yang sanggup. Baiklah semua huluba- langku, kita membuat sungai pentasan mulai dari Teloko sampai Tanjung Agung. Kita gali, semua hulubalang bekerja sampai sungai galian itu selesai. Berangkatlah Suhunan beserta hulubalangnya dengan kapal dayung, sampai pada batas galian sungai di dusun Tanjung Agung, mendaratlah Suhunan berjalan kaki yang jaraknya lebih kurang 2 km dari Perigi. Sampai di Perigi, kebetulan Langkusa tidak ada di rumah. Ia sedang mandi ke sungai, sedangkan Putri Rambut Putih sedang membuat periuk dan keran dari tanah di bawah rumahnya. Terus saja putri itu diculiknya dan dibawanya ke kapal Suhunan, lalu dimasukkan ke kamar Suhunan. Kejadian ini dilihat orang kampung, lalu dilaporkannya kepada Langkusa. Langkusa: "adikmu Putri Rambut Putih diculik Suhunan", Langkusa menjawab: "Biarlah, kamu pulang saja". Karena tidak ada tanggapan dari Langkusa, maka disusul lagi oleh orang yang kedua. "Hai Langkusa. Lihatlah adikmu dipikul Suhunan, dibawa ke kapalnya," Langkusa menjawab: "Sudah kukatakan, biarlah aku sedang kepalang mandi". "Rupanya masih ada lagi susulan ke tiga memberitahukan Langkusa, Kini Langkusa sudah selesai mandi, lalu Langkusa bertanya: "Di mana adikku ?" Maka jawab orang itu: "Adikmu

sudah dibawa Suhunan ke kapalnya."

"Nah, kalau begitu kamu pulanglah nanti aku menyusul". Kata Langkusa. Lalu Langkusa melompat, sudah sampai di Tanjung Agung, tempat kapal Suhunan berlabuh: "Gusti, tolong imbangi kapal ini, aku akan melompat", kata Langkusa". "Lompatlah", jawab Suhunan. Kapal ini besar, tidak mungkin tenggelam. Langkusa melompat naik kapal, terus mengambil adiknya Putri Rambut Putih. Susuhan dan hulubalang lainnya diam saja, melihat Langkusa, sedang kapal sudah miring dan leng. Adiknya diapit Langkusa di ketiaknya lalu melompat kembali ke darat, sewaktu

melompat ke darat, rupanya tusuk konde (tangabai) jatuh ke sungai. Kini tempat tusuk konde itu terjatuh bernama "Lubuk Tangubai". Langkusa pulang ke dusun kembali, sedang Suhunan dengan rasa kecewa pulang ke Palembang dengan kapal duyung- nya, sampai di Palembang Suhunan bersumpah, "Mulai saat ini sampai yang akan datang, keturunanku tidak selamat apabila me- ngawini orang dusun Kayu Agung". Inilah akibat perbuatan Putri Rambut Putih, sombong serta congkak, sampai ia mati tidak ada lagi yang melamarnya, sehingga meninggal dalam keadaan gadis tua.

  1. "USANG RIMAU MERANJAT"
    Kira-kira tiga ratus lima puluh tahun yang lalu, di sebuah du- sun kecil yang bernama "Lintang Empat Lawang" Pagar Alam, ada sebuah keluarga yang berasal dari Banten. Beberapa tahun kemudian, ayah dan ibunya meninggal dunia. Sekarang mereka tinggal lima bersaudara, tiga pria dan dua wanita. Semuanya sudah menginjak dewasa, semuanya dibekali dengan bermacam-macam ilmu dan kepandaian yang diwariskan oleh orang tuanya, terutama bagi ketiga anaknya yang laki-laki. Pada suatu ketika, saudaranya yang tertua yang bernama si "buku Nyawa", bermaksud untuk pergi merantau. Ingin menda- patkan pengalaman di negeri orang. Tapi keinginan merantau itu bukan hanya kehendak abangnya saja, tetapi kedua adiknya yang lain juga bercita-cita untuk pergi mengembara, meninggalkan kam- pung halamannya. Mendengar keinginan kedua adiknya itu si Buku Nyawa berkata kepada adiknya: "Kalau kalian berdua ingin pula merantau, alangkah baiknya kalau kita berangkat bersama-sama. Setuju bukan?" Adiknya yang pertengahan menjawab: "Sebenar- nya saya setuju dengan rencana abang, akan tetapi kami mem- punyai usul cara lain yang lebih baik. Saya menyarankan agar masing-masing kita ke tempat-tempat yang berbeda-beda. Mak- sudnya supaya pengalaman yang kita peroleh lebih banyak dan lebih luas.""Itu saya kira memang baik", menjawab adiknya yang bungsu yang bernama Si Terang Nyawa. "Kalau demikian pen- dapat adik-adik, saya setuju saja. Bagaimana kalau kita berangkat lusa ? Karena bekal yang perlu dipersiapkan tidak terlalu banyak, saya kira sudah dapat berangkat. Setuju ?" "Kami setuju," adik-adiknya menjawab serentak. Setelah hari keberangkatan yang ditetapkan itu tiba, ketiganya mulai berkemas-kemas, dan setelah berpamitan dengan kedua saudaranya yang perempuan, ketiganya berjalan beriring-iringan melalui jalan setapak, menuju sebuah hutan. Di dalam hutan itu ada jalan yang bersimpang tiga. Di samping jalan itu mereka ber- henti sebentar. Kakaknya mengeluarkan sebentuk cincin dari saku bajunya dan berkata kepada kedua adiknya. "Siapa di antara kita yang pulang terlebih dahulu, agar mengambil cincin ini yang akan saya tanamkan di bawah kayu itu" sambil menunjuk ba- tang pohon besar yang tak jauh dari situ.

"Apa maksud abang ?", Ni Ingsal Nyawa bertanya. Abangnya menjelaskan: "Maksudnya, kalau yang datang kemudian tidak lagi menemukan cincin itu, artinya sudah ada yang pulang lebih dahulu. Jadi sebelum dia tiba di dusun, dia sudah tahu bahwa salah seorang di antara kita sudah ada yang pulang". "Kalau demikian, baiklah bang", adik-adiknya menyetujui. Sebentar kemudian, ketiganya mulai mengayunkan langkah menuju jalan yang berbeda-beda. Si Buku Nyawa menuju ke barat, Ni Ingsal Nyawa ke timur dan adiknya si Terang Nyawa menuju ke selatan, sesuai dengan rencana mereka semula. Setelah lebih kurang dua setengah tahun kemudian, yang tertua pulang terlebih dahulu. Adik-adiknya masih berada di rantau. Dalam pengembaraannya selama itu, Si Buku Nyawa telah mempunyai isteri, sudah kawin di rantau orang. Enam bulan yang lalu anaknya yang pertama lahir. Isteri dan anaknya itu diajaknya pulang ke tempat kelahirannya. Setelah dia sam- pai di simpang jalan dalam hutan dulu, dia langsung menggali cincin yang ditanam di bawah pohon kayu dulu, dan masih ada. Artinya adik-adiknya belum kembali. Untuk mata pencahariannya, si Buku Nyawa membuka sebuah hutan untuk dijadikan tanah perladangan, yang menghasilkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan. Enam bulan kemudian, seperti ada komando, kedua adiknya pulang secara serentak, dan tiba di simpang jalan dalam hutan itu- pun secara serentak pula. Pertemuan yang tidak diduga-duga itu sangat menggembirakan keduanya. Mereka berpeluk-pelukan, me- lepas rindu. Sambil duduk sebentar mereka menceriterakan secara ringkas pengalaman masing-masing. Tidak berapa lama kemudian keduanya teringat kepada cincin yang ditanam kakaknya dulu. Keduanya menuju batang kayu itu, kemudian lalu menggalinya. Ternyata cincin itu sudah tidak ada lagi. Keduanya tambah gem- bira, karena mereka tahu bahwa abangnya telah pulang lebih dahulu. Di tempat itu kebetulan lalu seorang tua yang baru pulang dari ladang. Langsung saja si Terang Nyawa bertanya: "Pak, apakah bapak pernah melihat abang kami si Buku Nyawa ?" "Si Buku Nyawa?" orang itu balik bertanya. 'Ya pak, abang kami si Buku Nyawa" jawab Ni Ingsal Nyawa". "Ada apa gerangan pak?" lan- jutnya. Apa anak-anak tidak tahu? Ladang yang tak jauh dari sini itu, yang ada di balik hutan ini, adalah ladangnya", kata pak

tua itu sambil menunjuk ke satu tempat."Terima kasih pak, kami akan pergi ke sana", ujar mereka. Kemudian keduanya pergi ke ladang yang ditunjukkan orang tua tadi. Tapi waktu mereka sampai ke pondok itu, pintunya tertutup. Rupanya abangnya sedang bepergian. Karena mereka sudah tahu bahwa itu adalah pondok abangnya, dengan tidak ragu- ragu keduanya membuka pintu pondok itu dan terus masuk. Sesampai di dalam pondok, keduanya mencari-cari kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dimakan. Karena waktu itu mereka sangat lapar dan dahaga. Perjalanan yang jauh sangat melelahkan, membu- at mereka haus dan lapar. Untuk berbuat begitu mereka tidak me- rasa malu-malu, karena mereka tahu pasti bahwa rumah itu ialah rumah abangnya sendiri. Ternyata makanan yang sudah masak tidak ada yang ditemukan. Karena perut mereka memang benar- benar terasa lapar, maka keduanya mupakat untuk memasak nasi. Diambilnya beras, kemudian ditanaknya. Sementara itu salah se- orang di antaranya mencari-cari sesuatu untuk dijadikan lauk, dan kebenaran menemukan peda atau pekasam yang dimasukkan dalam bumbung bambu yang terletak di atas para. Dengan tidak berpikir panjang lagi pekasam itu terus dimasaknya. Baunya ter- sebar ke mana-mana, bau yang sedap mendatangkan selera makan. Agar supaya makannya tambah enak, cabai muda yang banyak di- tanam abangnya di dekat rumah atau pondok itu diambilnya untuk menjadi ulam. Setelah segalanya masak, keduanya makan dengan lahap, sehingga semua makanan yang ada disikatnya habis tak ada yang bersisa. Perut yang kosong tadi kini telah terisi penuh. Keduanya tersadai kekenyangan. Sambil bersandar di dinding rumah dekat pintu, keduanya mengipas-ngipas badannya, mengeringkan keri- ngat yang keluar bercucuran. Pada waktu itu, Ni Ingsal Nyawa menggamit adiknya sambil berkata: "Hei dik, kudengar ada suara di bawah. Barang kali abang pulang". Keduanya melihat ke bawah dan ternyata abangnya memang nampak menuju pondoknya. Mula-mula dia heran melihat ada orang di pondoknya, hatinya menjadi panas ada orang yang lancang memasuki pondoknya tanpa permisi lebih dulu. Tetapi waktu dilihatnya yang ada di pondok itu adalah adik-adiknya yang sudah lama tidak berjumpa, hatinya yang tadi panas itu berganti dengan gembira. "Hei..., kau dik Ingsal dan dik Terang, bila kalian sampai ?

tegur kakaknya dari bawah. "Baru sebentar tadi bang", ujar Ingsal Nyawa, kami sudah lama menunggu abang", tambah Terang Nyawa. "Oh ya, adik-adikku, ini kakakmu, dan ini anak kami", kata abangnya sambil menunjuk isteri dan anaknya setelah mereka berada di dalam pondok. "Kami kawin dua tahun yang lalu, dan bayi ini sudah berumur enam bulan,"abangnya memberi keterang- an. "Anak yang lucu," sambil mendekati kakak iparnya Ingsal Nyawa bermaksud menggendong bayi itu. "Yuk, paman gendong", katanya. Anak itu digendong dan diciumnya berganti-ganti. Si Buku Nyawa dan isterinya merasa bangga. Sebentar kemudian kakak iparnya bertanya: "Apa adik-adik sudah makan ?" katanya ramah. Dengan malu-malu Terang Nyawa menjawab mewakili kakaknya: "Kami baru saja sudah makan kak, malah segala yang kami masak tadi semuanya kami habiskan, termasuk simpanan pekasam kakak, yang ada di dalam bumbung di atas para". Mendengar penjelasan adiknya kedua suami isteri itu benar-benar terkejut, bukannya karena mereka itu telah menghabiskan persediaan makannya, tetapi mereka terkejut mendengar bahwa adik-adiknya itu telah memasak dan memakan yang dikatakan pekasam yang ada di dalam bumbung buluh yang terletak di atas para itu. Karena menurut ingatannya, mereka tidak pernah menyimpan persediaan peda atau pekasam. Kalau demikian pikir abangnya, adik-adiknya pasti salah makan. Sebab yang ada di dalam bumbung bambu itu adalah tembuni anaknya ketika lahir dulu. Karena anaknya yang lahir itu adalah seorang anak laki-laki yang pertama, untuk jadi kenang-kenangan tembuninya disimpan dalam bumbung bambu, dan diletakkan di tempat yang agak panas agar jangan cepat membusuk. Melihat abang dan kakak iparnya yang kelihatan begitu terkejut, lantas Ni Ingsal Nyawa terheran-heran, dan terus bertanya: "Ada apa bang? bila perbuatan kami tadi melukai hati kakak berdua, maafkan kami bang. Pada waktu itu kami benar-benar kelaparan bang". Ni Ingsal Nyawa menyesali perbuatannya. Mendengar itu kakaknya tergagap, sukar untuk menjelaskannya. Melihat kedua adiknya menjadi murung dan agar jangan timbul salah pengertian maka dengan terputus-putus dijelaskannya per- soalan yang sebenarnya. "Adik-adikku .. .", katanya terbata-bata". Sebenarnya bukannya kalian... telah berbuat tidak pantas, tetapi terjadi kekeliruan", tambahnya. "Bang, kami mohon agar abang menjelaskannya",

ujar si Terang Nyawa". "Begini adik-adik,... sebenarnya abang tak sampai hati untuk mengatakannya. Tetapi ..., tetapi. .. karena kalian berkeras memintanya, walaupun secara terpaksa akan abang terangkan. Ke... ke... tahuilah dik bahwa yang telah adik-adik tadi makan, bukanlah pekasam sebagaimana per- sangkaan adik-adik". "Bukan pekasam.. .? Ni Ingsal Nyawa memotong kata-kata abangnya. "Kalau begitu apa yang telah kami makan tadi ?" ka- tanya cemas. "Itulah yang sulit bagi abang untuk menerangkan- nya. Tapi baiklah, sesungguhnya, yang di dalam bumbung bambu
itu bukannya pekasam, tetapi itu adalah ..., adalah ... tem ...
... tembuni bayi kami". Mendengar itu kedua adiknya menjadi terkulai lemas. Dunia seakan-akan berputar. Kepala jadi pening. Di dalam perut rasa nyempual-pual ingin muntah. Keduanya berlari turun ke bawah rumah, terus muntah-muntah, sehingga semua isi perutnya keluar semuanya. Tidak ada lagi yang tinggal. Kedua kakaknya merasa sangat kasihan, dan menyesal telah memberikan keterangan itu. Tapi semuanya sudah terlanjur. Apa boleh buat. Di bawah rumah itu keduanya saling mendekat, dan saling berpandangan penuh arti. Dengan syarat anggukan kepala, keduanya kemudian bergerak menuju pinggir hutan. Di sana keduanya berunding, dan sependapat bahwa sebaiknya meninggalkan kembali pondok abangnya. Mereka menilai perbuatan mereka itu benar-benar sangat memalukan. Tidak ada rasanya malu yang lebih besar dari itu. Mereka tak sanggup lagi memandang mata kakak iparnya. Mula-mula abangnya mengira bahwa kepergian adik-adiknya ke tepi hutan tadi hanya sekedar untuk menenangkan perasa- an saja. Karena itu kepergian keduanya hanya diikutinya dengan pandangan mata kasihan. Rupanya kepergiannya itu, merupakan saat-saat perpisahan yang tak terlupakan. Keduanya tidak pernah lagi kembali ke kampung halamannya. Keduanya berada di rantau orang sampai akhir hayatnya. Keduanya semakin jauh masuk ke dalam hutan, dan berhenti di simpang jalan tempat mereka mena- nam cincin dulu. Sambil duduk-duduk di bawah pohon kayu, mereka bercakap-cakap kurang bernapsu. "Dik kata Ni Ingsal Nyawa, dengan suara yang agak tersendat. "Aku benar-benar merasa malu dengan kejadian tadi. Ke mana nian muka kita ini akan dibuang. Aku tidak sanggup lagi melihat muka kakak. Jadi hari ini juga kita kembali pergi

merantau. Mudah-mudahan saja kita akan bertemu kembali pada suatu ketika. Seperti dulu di simpang jalan ini kita berpisah. Aku akan menempuh jalan kehidupan sendiri, dan akan mencari tempat berteduh pada suatu tempat yang dapat mengobat hatiku". "Akupun merasa sama seperti yang kakak rasakan, kita akan berpisah kembali setelah berjumpa. Aku akan kembali menempuh jalan yang lama, karena di tempat itu rasa sesuai dengan keinginan- ku", kata adiknya Si Terang Nyawa. Sebenar kemudian keduanya mulai berjalan menuju arah yang berlainan. Ni Ingsal Nyawa menuju ke timur dan Si Terang Nyawa menuju ke arah yang lain. Setelah berbulan-bulan di jalan akhirnya Ni Ingsal Nyawa, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Usang Rimau dalam ceritera ini, sampailah pada suatu tempat yang bernama Dusun Lintang, yang kelak jadi tempat di mana dia dikuburkan dan mendapatkan kemashuran namanya yang besar itu. Dusun Lintang tersebut terletak di seberang dusun Me- rajat sekarang yang dibatasi oleh sebuah lebak yang indah. Kalau musim penghujan lebak tersebut menjelma menjadi sebuah danau kecil yang indah, dan bila musim kemarau merupakan persawahan yang luas. Di tempat itulah Usang Rimau menetap. Letaknya lebih kurang 50 km dari kota Palembang. Itulah asal usul mengapa Ni Ingsal Nyawa sampai berada di Meranjat atau Lintang, yang juga merupakan nenek moyang orang Meranjat. Orang-orang tua di Meranjat biasa pula menyebut dirinya sebagai anak cucu dari Usang Rimau. Sudah beberapa tahun Ni Ingsal Nyawa berdiam di dusun Lintang. Dia sangat kerasan tinggal di tempatnya yang baru ini. Oleh kepala dusun yang bernama Rio Siropati yang berasal dari Banten itu, ia ditunjuk sebagai Kepala Keamanan daerahnya. Walaupun perawakan Ni Ingsal Nyawa tidak kekar, malahan agak kerempeng, tetapi gerakannya sangat gesit. Kumisnya agak lebat. Matanya memancarkan sinar hipnotis yang mempesona. Orangnya agak pendiam, tapi kata-katanya bernas. Dia disegani oleh kawan maupun lawan. Di telapan kakinya terdapat penyakit bubul yang kelihatannya sangat mengganggu gerakannya. Karena penyakitnya itu jalan sering kelihatan berseok-seok. Ada yang mengatakan penyakitnya itu hanya dibuat-buatnya saja untuk mengelabui musuh-musuhnya, agar menimbulkan kesan bahwa dirinya adalah orang yang lemah dan mudah ditundukkan.

Sebagai Kepala Keamanan daerahnya, Ni Ingsal Nyawa mela- kukannya dengan sepenuh hati. Dusun Lintang yang memang sudah makmur itu bertambah makmur. Rakyatnya hidup dari hasil pertanian yang melimpah ruah. Hewan ternak berkembang biak. Karena itu banyak orang-orang dari luar yang datang mene- tap di sana. Di antara kerbau ternak Siropati, Kepala Dusun Lintang tadi, terdapat seekor yang terkenal melawan. Seekor kerbau jantan yang perkasa, setiap diadakan aduan kerbau, kepunyaan Siropati selalu menang. Karena itu kerbau itu terkenal ke mana-mana. Dusun Lintang, termasuk daerah takluk Sunan Palembang. Setiap rakyat dalam daerah kekuasaannya harus tunduk patuh kepadanya, tidak kecuali penduduk dusun Lintang. Sunan Palembang itu sering mengadakan bermacam-macam aduan, baik sebagai penyalur hobbynya maupun sebagai tontonan yang sangat menarik. Di antaranya Sunan mempunyai seekor harimau besar dan ganas yang baru ditangkap, dia ingin sekali mengadu harimau itu. Siropati kepala dusun Lintang diperintahkannya agar memba- wa kerbaunya yang terkenal melawan itu ke Palembang, untuk diadu dengan harimaunya yang baru tertangkap itu. Siropati me- menuhi perintah itu tanpa membantah. Dan Ni Ingsal Nyawa di- tunjuk sebagai Kepala Rombongan. Pada hari aduan yang sudah ditetapkan, manusia datang ber- jejal-jejal ingin menyaksikan pertunjukkan yang mengerikan itu, menuju arena yang sudah dibangun sedemikian rupa. Setelah segala sesuatu telah siap maka dalam keheningan yang mencekam, kerbau Siropati dimasukkan ke tengah gelanggang. Ketika harimau besar yang ganas itu dikeluarkan dari kurungannya, semua penonton menarik napas panjang, merasa takut dan ngeri, harimau itu berjalan lambat-lambat tapi pasti menuju di mana kerbau berada. Sementara itu kerbau yang perkasa itu, mengais-ngais tanah dan mendengus keras-keras membuat debu beterbangan ke udara. Kini kerbau dan harimau itu sudah berhadapan. Harimau sambil menggeram-geram mengàmbil ancang-ancang dan meliuk- kan badannya bersiap untuk menerkam kerbau, sedangkan kerbau sambil mendengus-dengus keras, menundukkan kepalanya siap menyambut terkaman harimau itu dengan tanduknya yang run- cing. Sementara itu sorak sorai penonton mulai kedengaran untuk menghasut binatang yang sedang menyabung nyawa itu. Se-

bentar kemudian pergulatan seru terjadi. Dengan kukunya yang

runcing-runcing itu harimau menerkam kerbau, dan kerbau itu ber- usaha mengelakkan setiap serangan dengan mengandalkan tanduk- nya yang runcing pula. Darah mulai berceceran. Semakin banyak darah yang keluar pergulatan itu semakin seru, dan sorak penonton bagai membelah langit. Sekali waktu, harimau itu melancarkan serangan yang sangat berbahaya yang mengarah pada bagian-bagian tubuh kerbau yang lemah. Serangan itu rupanya menentukan nasib kerbau yang perkasa itu. Dia menggoyang-goyangkan kepalanya dengan keras untuk melepaskan kuku dan taring harimau yang menancap di lehernya, tapi tak berhasil. Setelah berputar-putar sebentar, tubuhnya yang tambun itu rubuh jatuh ke bumi. Sorak dan pekik penonton seperti gila, tapi ada juga yang diam seperti terpanah. Kengerian yang mengesankan. Sunan nampak sangat senang. Mereka tertawa-tawa sambil menunjukkan jempol- nya kepada harimaunya yang keluar sebagai pemenang. Dalam suasana yang kacau itu, tiba-tiba Ni Ingsan Nyawa me- lesat dengan cepat ke tengah gelanggang terus menuju ke hadapan Sunan yang berada di panggung kehormatan. Orang yang menyak- sikan menjadi terkejut dan heran, dan ada yang berteriak-teriak menyuruhnya cepat-cepat keluar dan menghindar dari arena, orang-orang itu mengkhawatirkan keselamatan nyawanya. Melihat ada orang yang berani memasuki gelanggang, harimau itu dari tempat yang agak jauh menggeram-geram sambil menga- ngakan mulutnya, mempertontonkan giginya yang runcing-run-

cing. "Baginda... ," kata Ni Ingsal Nyawa setelah dia berada di

hadapan Sunan", beta mohon perkenan baginda untuk dapat melawan harimau itu". "Apa katamu", kata Sunan tak percaya. "Kau ingin melawan harimau ganas itu? Apa kau sudah gila? Se- dangkan kerbau yang perkasa itu habis dikoyak-koyaknya, musta- hil badanmu yang sekecil dan sekurus ini dapat melawannya. Kau ini sudah benar-benar gila". "Tapi beta akan mencobanya, baginda, beta mohon perkenan baginda. Beta merasa malu kerbau yang kami bawa sejauh itu dari dewa ternyata mati dalam pertarungan." Ni Ingsal Nyawa mendesak terus. "Jadi kau berasal dari dusun Lintang ? tanya Sunan kemudian. "Benar Baginda". Apa sudah kau pikir akibatnya ? kau mati dikoyak-koyaknya. Jangan kau coba itu", lanjut Sunan. Tapi da-

lam hatinya dia merasa kagum atas keberanian Ni Ingsal Nyawa. Ketika berkata-kata itu harimau tadi dengan menyeramkan menuju tempat Ni Ingsal Nyawa berada. Karena itu Ni Ingsal Nyawa disuruh Sunan naik ke atas panggung melalui sebuah tangga. Setelah berada di dekat Sunan Ni Ingsal Nyawa mengulangi lagi permintaannya. "Sekali lagi beta mohon perkenan baginda, izinkanlah beta untuk melawan harimau itu". Sementara itu semua yang hadir menjadi terdiam. "Kau betul-betul ingin mencobanya?, tapi kau jangan menyesal nanti", Sunan menjawab tersinggung. "Beta akan melakukannya baginda", jawabnya mantap. Semua orang menanti hasil pembicaraan itu. Ternyata Sunan mengizinkan, dan pertarungan antara harimau dan Ni Ingsal Nyawa akan dimulai. Setelah Ni Ingsal Nyawa mendapat perkenan Sunan, dengan gerakan yang lamban setengah berjingkat karena penyakit bubul yang ada di bawah telapak kakinya, dia terjun ke tengah gelang- gang. Penonton yang sedari tadi belum meninggalkan tempatnya, kini saling berdesak untuk menyaksikan tontonan yang luar biasa itu. Semuanya memusatkan perhatiannya kepada harimau dan Ni Ingsal. Keduanya sudah berhadap-hadapan. Ni Ingsal Nyawa dengan keris yang terpegang di tangan kanannya dan harimau dengan kuku dan taringnya yang runcing. Mata Ni Ingsal Nyawa seakan tak berkedip menatap dengan tajam mata harimau yang ganas itu. Harimau itu meliukkan badan- nya ke kanan, mengatur ancang-ancang untuk menerkam. Seperti sebuah bayangan saja harimau itu menerkam dengan kukunya yang terarah kepada Ni Ingsal Nyawa. Dengan sedikit menunduk dan berkelit ke samping kiri Ni Ingsal Nyawa dapat mengelakkan serangan harimau itu. Semua penonton menarik nafas. Setelah sama-sama memutar badan masing-masing keduanya kembali berhadap-hadapan. Harimau itu jadi tambah geram karena terkamannya dapat dielákkan dengan mudah. Sebab itu terkaman kedua dilancarkannya lagi dengan secepat kilat. Semua penonton terpekik ngeri ketika badan Ni Ingsal Nyawa terhuyung-hu- yung kena sambaran kuku harimau itu. Tapi rupanya kuku harimau itu hanya mampu mengoyak baju yang dipakai Ni Ingsal Nyawa dan sedikit merobek kulitnya. Pada terkaman yang ketiga, Ni Ingsal Nyawa tidak lagi berkelit dan tidak mengelak. Tapi terkaman harimau yang bernapsu itu diterimanya dengan keris yang terpegang di tangan kanannya.

Pada waktu itu terdengar raungan keras yang dahsyat ternya- ta keris Ni Ingsal Nyawa telah bersarang di perut harimauitu, yang kemudian diangkatnya tinggi-tinggi diputar-putarnya untuk dipertontonkannya kepada semua penonton yang ada kemudian dijatuhkannya ke tanah. Hanya sebentar harimau ganas itu meng- geliat-geliat, akhirnya mati tak berkutik lagi. Ni Ingsal Nyawa sam- bil menghapus-hapus darah yang melekat di tangannya terus ber- jalan ke hadapan Sunan, duduk di panggung kehormatan. Sorak sorai penonton tak dapat dikatakan lagi. Semuanya memuji ke- tangkasan dan keberanian Ni Ingsal Nyawa. Peristiwa itu sangat berkesan dan sangat mengagumkan. "Kau sungguh hebat Ni Ingsal Nyawa", kata Sunan pada ke- esokan harinya di istana. "Seekor harimau yang terkenal ganas sudah dapat kau taklukkan. Sungguh luar biasa", Sunan memuji secara jujur.

"Kau jauh lebih tangkas dari harimau, aku ingin memberimu

nama baru, nama yang sesuai dengan kegagahanmu, namanya terkenal di mana-mana. Tapi walaupun demikian banyak pula orang yang hanya kenal namanya, tetapi tidak kenal rupa orangnya. Itulah asal usul mengapa Ni Ingsal Nyawa dinamakan Usang Anak Rimau atau Usang Rimau. Perkataan "Usang", adalah nama panggilan kepada seseorang yang dihormati dan disegani karena kesaktiannya. Nama itulah yang dipakainya sampai dia wafat. Masih banyak lagi ceritera Usang Rimau yang berhubungan dengan kesaktian yang dipunyainya.

  1. "PUTRI PINANG MASAK (PUTERI SENURO)"
    Konon menurut ceritera pada lebih kurang 350 tahun yang lalu, tersebutlah seorang puteri yang bernama Napisah dan bergelar juga dengan Puteri Pinang Masak. Puteri tersebut berasal dari Banten Jawa Barat, dan bermukim di 4 Ulu laut Palembang. Di Palembang pada masa itu diperintah oleh seorang Raja atau lebih terkenal dengan sebutan "Sunan". Sunan ini terkenal mempunyai kegemaran dengan mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk dijadikan dayang-dayang istana. Terbetiklah suatu berita yang sampai kepada Sunan, bahwa di seberang ulu laut Palembang ada seorang puteri yang bernama dan bergelar Puteri Pinang Masak, yang sangat cantik dan tiada bandingannya di seluruh Kerajaan Palembang. Berita kecantikan Puteri Pinang Masak tersebut, tersebar luas di kalangan Kerajaan, serta menjadi pembicaraan hangat para pemuda di seluruh negeri, sehingga bagi para pemuda berlomba-lomba untuk memiliki sang Puteri. Konon menurut ceritera, kecantikan Puteri itu, akhirnya sampai juga ke istana Sunan. Alkisah pada suatu ketika timbullah hasrat di hati Sunan untuk membuktikan kebenaran ceritera akan Puteri yang terkenal cantik itu. "Benarkah apa yang menjadi per- hatian anak-anak muda pada waktu itu?"Kemudian timbullah hasrat di hati Sunan untuk melihat dari dekat akan Puteri itu, dan kalau memang benar, akan dijadikannya dayang penambah dayang yang ada dalam istana. Dengan serta merta Sunan Palembang langsung mengurus beberapa orang pengawal istana untuk men- jemput dan membawanya sekali akan Puteri Pinang Masak itu ke istana. Tentang berita dari istana ini, sebelum pengawal datang, untuk menemui Puteri, sang Puteri sendiri sudah mengetahuinya lebih dahulu, sehingga Puteri Pinang Masak sangat bersedih hati dan bermuram durja. Puteri sendiri berusaha dan berikhtiar bagaimana akal, agar ia terhindar dari malapetaka yang menimpa dirinya. Puteri sendiri bertekat lebih baik ia mati dari pada menjadi dayang Sunan. Akan tetapi untuk menghindari dari perintah Sunan tidak mungkin, karena kekuasaan Sunan sangat kuat, dan mempunyai hulubalang

dan pengawal yang sangat gagah berani. Sedang Puteri Pinang Masak adalah seorang yang tidak berdaya sama sekali dibanding dengan kekuasaan Sunan. Sang Puteri dan keluarganya berpikir dan merenung akan nasibnya, maka timbullah suatu tipu muslihat untuk mengelabui istana. Di mana sebelum jemputan dari istana datang, sang puteri merebus jantung pisang. Setelah air rebusan agak dingin lalu dimandikannya pada seluruh badan sang Puteri. Akibat dari air rebusan jantung ini, tubuh Puteri Pinang Masak menjadi hitam pekat, sehingga kecantikannya menjadi pudar sama sekali. Bahkan bukan itu saja, akan tetapi sangat kotor dan menjijikkan bagi orang yang melihatnya. Keadaan demikian sengaja dibiarkan Puteri, sambil mengurung dirinya di dalam kamar tidur, hingga jemputan dari istana tiba. Di waktu keadaan tubuh sang Puteri buruk ini, tiba-tiba datanglah pengawal istana untuk menjemput Puteri Pinang Masak sebagai menjalankan perintah Sunan. Tatkala para pengawal melihat rupa sang Puteri mereka sangat heran dan ragu-ragu apakah benar orang tersebut Puteri Pinang Masak yang kecantikannya menggemparkan seluruh negeri. Sebenarnya pada waktu itu pengawal sudah terpikir akan membawa sang Puteri ke istana, tapi mengingat perintah yang tidak boleh dilanggar, akhirnya dibawa juga sang Puteri untuk di- persembahkan ke hadapan Sunan. Ketika beliau melihat akan wa- jah Puteri Pinang Masak yang dalam berita bukan main cantik, menggemparkan seluruh negeri itu, maka Sunan pun sangat ter- kejut, dan seketika itu juga sangat murka. Dengan tidak berpikir panjang lagi, dengan secara kasar, diusirlah sang Puteri untuk meninggalkan istana seketika itu juga. Maka dengan bergegas-gegas sang Puteripun meninggalkan istana kembali ke rumahnya. Bagai- mana senang dan gembiranya hati sang Puteri tak dapat dibayang- kan karena tipu muslihatnya berhasil dengan baik. Alkisah menurut yang empunya ceritera, Puteri Pinang Masak tak putus-putusnya dirundung malang. Lepas dari kesusahan yang satu, disusul pula oleh kesusahan yang lain, seperti kata pepatah, "Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih". Rupanya berita akan kecantikan Puteri Pinang Masak masih tetap tersebar luas di seluruh kerajaan. Di kalangan pemuda-pemuda selalu menjadi pembicaraan yang utama dan masing-masing ingin untuk memilikinya, lebih-lebih pada anak raja. Konon kabarnya ada saja

yang sampai tergila-gila. Hal inipun akhirnya sampai juga ke istana dan langsung kepada Sunan. Setelah mendengar berita tersebut, Sunan sendiri merasa tertipu dan dalam hatinya timbul hasrat untuk menyelidiki ke- adaan sang Puteri yang sebenarnya. Karena atas perintah Sunan sendiri Puteri tersebut telah pernah datang ke istana, dan di usir oleh beliau dengan kasar. Setelah beberapa lama para siasat menjalankan tugasnya de-

ngan seksama, dan dengan susah payah, akhirnya para sisasat

dapat membuktikan bahwa berita yang tersiar itu memang benar adanya. Dari hasil penyelidikan dapat diketahui, bahwa Puteri Pinang Masak sangat cantik dan tidak ada tolok bandingannya di seluruh negeri, juga disampaikan bahwa di kala Puteri Pinang Masak dihadapkan kepada Sunan beberapa waktu yang lalu, Puteri Pinang Masak merobah parasnya menjadi sangat buruk dan menjijikkannya, karena sang Puteri tidak suka dijadikan dayang. Dengan adanya laporan dari pada siasat itu timbullah kemur- kaan Sunan yang amat sangat, karena beliau merasa tertipu oleh Puteri Pinang Masak. Segeralah diperintankan hulubalang dan beberapa pengawal agar dengan secara paksa menangkap sang Puteri Pinang Masak dan membawanya ke istana. Adapun tentang berita

penangkapan ini, segera pula sampai di telinga sang Puteri. Bagai-

mana sedih dan pilu hati sang Puteri waktu itu taklah dapat di-

bayangkan, sambil bermuram durja ia mendekati sahabatnya yang

setia, untuk berunding bagaimana akal dan ikhtiar untuk mele- paskan diri dari tangkapan Sunan.

Setelah berunding beberapa saat, maka didapat suatu keputus-

an bahwa satu-satunya jalan ialah melarikan diri. Pada suatu ma- lam bersama-sama dengan empat orang sahabat yang setia dan dua orang pengawal berangkatlah mereka dengan sebuah perahu me- nuju ke uluan sungai Ogan. Berbulan-bulan mereka mengarungi sungai dan lebak, dengan menghindari dari kejaran pengawal ista-

na. Akhirnya sampailah mereka pada sebuah lebak yang cukup lu-

as, yang kelak lebak itu bernama lebak Meranjat. Pada sebuah

teluk yang bernama Teluk Lancang, rejung mereka dihadapkan

ke teluk tersebut, dan langsung melayari sebuah paya yang sangat

deras airnya. Pada suatu tempat yang dipandang cukup aman

diperkirakan tak mungkin lagi ditemukan oleh pengawal istana,

mereka bermukim di tempat itu. Kedatangan sang Puteri diketahui

oleh penduduk sekitarnya, tiada berapa lama tempat itu makin

ramai, akhirnya menjadi sebuah dusun yang bernama dusun "Senuro". Nama ini diambil dari nama sang Puteri, karena sejak ia berdiam di tempat itu, ia mengobah namanya menjadi "Puteri Senuro". Puteri Pinang Masak di tempat ini hidup bersama empat orang dayang-dayang dan dikawal oleh dua orang pengawal dengan sangat ketatnya, dan mereka bertekad akan menjaga sang Puteri sampai tetes darah yang penghabisan. Di tempat yang baru inipun sang Puteri selalu menjadi idam- an pemuda-pemuda, terutama anak-anak orang terkemuka. Di tempat yang baru ini Puteri Pinang Masak mengajarkan beberapa ke- paņdaian kepada gadis-gadis, antara lain anyam-anyaman alat-alat dapur seperti bakul dan lain-lain. Sampai sekarang wanita-wanita di dusun Senuro masih sangat pandai dan mahir menganyam. Ko- non kabarnya Puteri Pinang Masak pandai menganyam bakul yang tidak tembus oleh air. Tidak berapa jauh dari tempat tinggal sang Puteri, berdiamlah seorang pelarian juga dari Palembang, yang bernama Abdul Hamid. Beliau adalah seorang ahli pertukangan kayu dan juga ahli pandai emas. Di tempat ini beliau lebih terkenal dengan nama "Sang Sungging", Abdul Hamid pun juga mengajarkan beberapa keahlian kepada penduduk asli, sampai sekarang ilmu pertukangan dan pandai emas masih tetap dimiliki rakyat, dan menjadi mata pencaha- rian sebagian besar penduduk di daerah ini. Kedua orang tersebut sering mengadakan hubungan, dan dalam pertemuan tertentu mereka sering menunjukkan keahliannya masing-masing. Diceritera- kan pada suatu hari pernah sang Sungging minta masakkan gulai pada Puteri, lalu dimasakkannyalah oleh sang Puteri. Setelah sele- sai gulai itu masak, dibuatlah oleh Sang Puteri sebuah bakul ber- tudung untuk tempat gulai tersebut. Langsung dikirimlah kepada sang Sungging, apabila sampai kepada sang Sungging, terus bakul itu dibuka, ternyata isinya gulai yang dipesan tempo hari. Bagaimana herannya beliau karena sedikit air gulai itu tidak menetes ke luar. Setelah habis gulainya dimakan, lalu baku itu dikirimnya kembali kepada Puteri Senuro, dengan diisi umbang sugu panjang sembilan depa. Dengan hati gembira sang Puteri me- nerima balasan ini, lalu dibuka seketika itujuga. Apabila dibuka sang Puteri, ternyata isinya hanya umbang sugu. Lalu dikeluarkan- lah oleh sang Puteri dan diuraikannya, sambil diukur, dan alang- kah kagumnya sang Puteri karena umbang itu panjangnya sampai

sembilan depa sang puteri. Akhirnya pada suatu hari, sang Puteri Senuro jatuh sakit, dan sakitnya kian lama kian parah, sehingga sang Puteri merasa ia akan wafat. Pada saat terakhir dan kritis ini, Puteri Pinang Masak masih sempat menyatakan sumpah atau doa yang terkenal, sumpah itu berbunyi sebagai berikut: "Aku mohon pada Tuhan agar anak cucuku kelak kemudian hari jangan cantik seperti aku, karena kecantikan itu akan membawa kesengsaraan seperti aku". Setelah sang Puteri mengucapkan sumpah tersebut, maka Puteri Pinang Masak pun menghembuskan napas penghabisan. Be- liau wafat meninggalkan empat orang sahabat yang setia dan dua orang pengawal yang sangat setia. Bagi anak cucunya, Puteri Pinang Masak menjadi Pelambang kaum wanita yang menjunjung tinggi martabat kaumnya. Setelah sang Puteri meninggal dunia, sahabat yang setia dan pengawalnya bertekad akan tetap berdiam di tempat itu, dan akan mati berkubur di samping kubur sang Puteri. Kalau kita datang ke makam Puteri Senuro, kita akan dapat melihat kubur para sahabat yang setia dan pengawalnya. Selanjutnya sebagai pembuk- tian kisah ini, kita dapat melihat bahwa gadis-gadis di dusun ini memang kurang cantik dibanding dengan dusun lain. Keadaan tersebut dihubungkan dengan sumpah Puteri Senuro, seolah- olah terkabul, atau hanya bersifat kebetulan saja.

  • oOo -
  1. "SANG SUNGGING"
    Alkisah pada zaman dahulu kala, kira-kira abad ke 16 Masehi, di Palembang memerintahlah seorang Sunan yang amat terkenal dan sangat besar kekuasaannya. Salah seorang pegawai istananya

bernama Abdul Hamid, yang ternama dan berasal dari pulau Jawa.

Abdul Hamid ini sangat disayangi oleh Sunan, karena dia mempunyai bermacam-macam keahlian seperti; bertukang kayu, melukis dan panda emas. Konon kabarnya oleh karena Abdul Hamid ini mempunyai bermacam-macam keahlian dalam pertukangan ini- lah kemudian terkenal dengan sebutan "Sang Sungging".

Pada suatu ketika Sunan ingin membangun istana yang besar,

megah dan indah. Tentunya pekerjaan ini adalah pekerjaan yang berat yang memakan biaya cukup besar dan menghendaki tenaga yang ahli pula. Dalam pelaksanaan pembangunan istana tersebut, Sunan mem-

berikan kepercayaan dan memerintahkan Sang Sungging untuk

mengatur bagaimana supaya istana itu nanti dapat berdiri de-

ngan megah dan indah. Dengan beberapa tenaga pembantu yang

ahli dan para pekerja lainnya maka dimulailah oleh Sang Sung-

ging membangun istana tersebut. Setelah bekerja keras dan mema-

kan waktu yang lama akhirnya istana yang diingini oleh Sunan itu selesai dengan bentuk dan rupa yang sangat indah yang mung- kin tidak ada bandingannya pada masa itu.

Mendengar laporan Sang Sungging bahwa istana Sunan sudah

selesai maka Sunan beserta permaisurinya mengadakan pemeriksaan. Waktu pemeriksaan itu bukan main Sunan merasa terpesona dan kagum akan keindahan istana itu. Sebentar-sebentar beliau ter- tawa dan memuji-muji akan keahlian Sang Sungging. Setelah istana itu diresmikan dan didiami oleh sunan, maka

dibalik kegembiraannya ini timbul pula suatu kecemasan yang

mendekam di hatinya, jangan-jangan nanti ada orang lain yang akan meniru istananya tersebut, dia tidak mau mendapat saingan dari orang lain/raja lain. Untuk itu, agar hal tersebut jangan sampai terjadi, maka Sunan melarang Sang Sungging keluar dari istana, agar supaya Sang Sungging jangan sampai merasa bosan tinggal di

istana, maka ada-ada saja pekerjaan diberikan kepada Sang Sungging.

Kemudian melihat Sang Sungging juga sangat pandai melukis

maka terniatlah di hati Sunan untuk membuatkan lukisan permaisuri yang sangat dicintainya. Tugas tersebut dikerjakan oleh Sang Sungging dengan rasa masgul sebab takut kalau-kalau lukisan itu nanti tidak seindah atau secantik permaisuri yang sebenarnya. Pada waktu lukisan itu hampir selesai, Sang Sungging terkantuk sebab pada malam harinya ia melukis sampai jauh malam, karena perintah dari Sunan harus cepat diselesaikan. Dalam keadaan terkantuk inilah dengan tidak disengaja, ter- jatuhlah setitik cat dari kuasnya dan tepat terjatuh pada bagian badan permaisuri yaitu dekat kemaluannya. Tiada berapa lama selesailah lukisan itu dan langsung dise- rahkan Sang Sungging kepada Sunan. Tatkala dilihat oleh Sunan lukisan itu, maka ia sangat gembira dan kagum, karena lukisan itu benar-benar seperti wajah permaisurinya. Sedangkan setitik cat gambar yang jatuh tidak disengaja dalam kantuknya Sang Sungging, juga bersifat kebetulan, karena memang tepat di tempat tersebut ada tahi lalat pada permaisuri. Akan tetapi di balik ke- gembiraan tadi juga timbul suatu kecurigaan terhadap Sang Sungging, karena dari mana Sang Sungging tahu bahwa di tempat itu ada tahi lalat, dan kapan ia melihat apalagi bagian badan permaisuri yang sangat rahasia. Dengan adanya setitik cat inilah dengan tidak diduga sama sekali akan mendatangkan malapetaka pada Sang Sungging. Kalau semula ia disayangi dan dipuji, maka akhirnya ia mendapat hukuman dari Sunan, Sang Sungging dituduh berbuat mesum dengan permaisuri secara rahasia dan Sunan memutuskan hukuman mati buang Sang Sungging. Akan tetapi sebelum hukuman tersebut terlaksana, rupanya Sang Sungging berusaha melarikan diri ke luar istana. Dan akhirnya Sang Sungging dapat lari, dan terus ke daerah uluan sehingga tidak mungkin didapatkan oleh pengawal istana lagi. Setelah berbulan-bulan dalam perjalanan sampailah Sang Sungging ke suatu daerah di mana penduduknya telah beragama Islam dan dipimpin oleh seorang pemimpin dari Banten. Sang Sungging berdiam di suatu tempat yaitu Tanjung Batu yang ter- letak di pinggir lebak yang sekarang ini dinamakan lebak "Meran- jat". Di tempat inilah Sang Sungging mendapat perlindungan dan menetap sampai akhir hayatnya. Di tempat kediamannya yang baru ini Sang Sungging memper-

lihatkan, keahliannya dan akhirnya ia mengajarkan bermacam-ma- cam keahlian seperti ilmu pertukangan kayu, pandai emas dan lain-lain, sehingga banyaklah orang yang datang untuk belajar terutama ilmu pertukangan kayu. Lain halnya dengan pandai emas, di sini menghendaki ketekunan dan memakan waktu yang agak lama, sehingga orang yang belajar pandai emas hanyalah bertempat tinggal di dusun Tanjung Batu saja. Akhirnya banyaklah muridnya dan ada juga yang menyebar- kan keahliannya. Dengan keahlian ini rupanya penduduk di daerah Tanjung Batu banyak pergi merantau dan makin ter- kenallah bahwa penduduk daerah Tanjung Batu adalah orang-orang ahli dalam pertukangan. Sampai saat sekarang merupakan suatu kenyataan di mana pertukangan kayu dan pandai emas adalah merupakan pencaharian penduduk daerah Kecamatan Tanjung Batu. Akhirnya dari ceritera ini bahwa Sang Sungging wafat dan dimakamkan di seberang Tanjung Batu. Salah satu hasil buah tangan Sang Sungging yang masih ada ialah berupa puncak dari mesjid Tanjung Batu. Walaupun mesjid itu telah beberapa kali dibangun, namun sebagai kenang-kenangan kepada Sang Sungging, puncaknya tidak berubah-ubah masih dipakai sampai sekarang.

16."BAGAL"
Pada zaman dahulu kala terdapat seorang "gerot" bernama Bagal. Seorang yang gagah perkasa; yang juga terkenal dengan nama Mangku Sila ataupun Mangku Gila. Bagal adalah seorang "Haluan" yang karena cita-cita serta kemauannya akhirnya menjadi seorang pahlawan dan orang besar. Waktu terjadinya cerita Bagal ini, alam sekitar kita belum- lah ramai oleh penduduk, masih penuh dengan hutan rimba belan- tara. Kalau kita akan bepergian dari suatu tempat ke tempat yang lain kita arus berjalan kaki melalui hutan, semak dan belukar, atau menaiki rakit menghiliri sungai. Mengenai asal usul Puyang Bagal tidaklah jelas. Ada yang mengatakan bahwa ia berasal dari Pulau Jawa (orang Jawa). Bagal dianggap seorang yang "kebal kulit" dan "Sakti" mempunyai sifat pantang mundur dalam menghadapi mara bahaya, terutama untuk mempertahankan hak dan kebenaran. Pertama kali ia bertempat tinggal di dusun Karang Agung yang sekarang diperkirakan berseberangan dengan dusun Karang Raya, Marga Tembilang Karang raja, Kecamatan Muara Enim. Dusun Karang Agung, dianggap sebagai dusun tua ataupun kota tua, walaupun sekarang sudah tidak ada lagi. Puyang Bagal beristerikan Puyang Genap Bulan dan berputera dua orang. Seorang putera bernama Puyang Jernih dan seorang putri bernama Puyang Murni. Pada suatu ketika Sultan Palembang mengeluarkan/menye- barkan suatu pengumuman, yang juga sampai ke daerah huluan, termasuk dusun Bagal. Pengumuman tersebut berisikan maksud Sultan untuk mengambil/memanggil orang-orang gerot, pahlawan yang akan memperlengkapi/memperkuat angkatan Perang Sultan. Mendengar pengumuman ini berdetaklah hati Puyang Bagal. Ia sangat tertarik akan pengumuman tersebut dan bulatlah hasrat dan tekadnya akan melamar untuk menjadi pahlawan, mengabdi- kan diri sebagai pahlawan Sunan. Akan terkabullah cita-citanya sejak kecil untuk menjadi orang

gerot = terpandang, huluan = terkemuka.

gerot, sebagai pahlawan. Hasrat dan keinginan tersebut disampai- kannya kepada isterinya Genap Bulan. Setelah mendengar ucapan sang suami, maka Genap Bulan terdiam sejenak, karena terbayang di alam fikirannya bahwa mereka akan berpisah, akan cerai kasih, apakah setelah perpisahan ini akan pulang kembali atau tidak, mengingat akan perjalanan ke Palembang yang sangat jauh. Namun mengingat kehendak sang suami, diizinkannya juga Puyang Bagal untuk mengikuti sayembara tersebut. Sesudah mendapat persetujuan dari isterinya, berkatalah Puyang Bagal: "siapkanlah segala sesuatunya untuk perjalananku". Sang isteri menyiapkan ramuan/bekal berupa beras bertih, beras kering dan umbi-umbian, korek api untuk perjalanan tersebut, mengingat sebelum sampai di tempat tujuan tidak terdapat rumah makan. Pada hari keberangkatannya, Puyang Bagal berkata kepada isterinya: "Dik, kakak akan berjalan, untuk ini kakak berpesan, peliharalah anak kita kedua-duanya, anak kita ini masih kecil, yang seorang belum berumur setahun dan lainnya baru satu se- tengah tahun. Mereka berdua belum terlihat akan wajahku. Mungkin kepergianku akan lama mungkin sampai aku tua, maka sampai- kan/beritahukan akan namaku dan ciri-ciriku". Mendengar itu isterinyapun menangis, karena akan berpisah lama. Keduanya sama-sama terharu dan berlinang air mata. Selanjutnya, sebagai tanda akan berpisah, Puyang Bagal berkata pula kepada isterinya: "Kupaslah kulit kelapa itu, ke- mudian kita belah dua, sebelah bagian atas, yang bermata engkau simpanlah Genap Bulan dan bagian bawahnya aku yang menyim- pan. Kelak jika sewaktu aku kembali pulang janganlah cepat-cepat kau terima. Sebab mungkin saja ada orang lain yang mengaku sebagai suamimu Genap Bulan. Perhatikan dan telitilah dengan seksama, jangan cepat-cepat engkau anggap sebagai suami yang sesungguhnya. Mungkin ada orang yang menyamar ataupun orang berpura-pura berbaik hati kepadamu. Maka pandai-pandailah engkau membawa diri, bersikap baiklah dengan orang lain. Selanjutnya jagalah dengan baik anak-anak, didiklah mereka sebaik mungkin, didiklah dalam kejujuran. Didiklah yang laki-laki dengan si- pat dan tata cara kepahlawanan. Berilah pelajaran pencak silat sedikit demi sedikit kepadanya." Segala pesan dan nasihat Puyang Bagal diterima oleh isterinya dengan iringan derai air mata. Melihat hal ini Puyang Bagal

berkata: "Yakinlah engkau adikku Genap Bulan, aku akan pulang menemuimu, yakinlah, aku tidak akan melupakan engkau". Kemudian berangkatlah Puyang Bagal menuju Palembang dengan meninggalkan anak isterinya. Jika malam tiba, iapun tidur di hutan, makan sekadar dari bekal yang dibawa dari dusun. Walaupun demikian tidak menurunkan semangatnya dalam per- jalanan, karena ia yakin kelak akan berhasil menjadi orang gerot. Setelah berjalan selama sebulan 12 hari, sampailah Puyang Bagal di Palembang. Setelah beristirahat sejenak, dengan diantar oleh penjaga/ pengawal, Puyang Bagal menghadap Sunan yang pada pagi hari itu berada di penghadapan di pendopo. Ia duduk dan menyem- bah lalu berkata: "Sunan, saya akan mengikuti sayembara. Saya akan mengabdikan diri kepada Sunan jika sekiranya dalam ujian yang akan saya tempuh dapat lulus dengan baik". Permohonan ini dijawab Sunan: "Jika sungguh-sungguh berhasrat, engkau me- miliki ilmu serta ketangkasan, maka akan saya test/coba kemam- puanmu terlebih dahulu". Puyang Bagal kemudian ditombak dan dikapak oleh Sunan, maupun semuanya dapat ditangkis dengan baik dan sedikitpun tidak terluka. Maka Sunan pun berkata: "Kamu lulus dengan baik dan kamu akan menjadi tenteraku". Sejak itu Puyang Bagal dimasukkan dalam pendidikan keper- wiraan dan dua tahun kemudian ia berhasil lulus dengan baik. Kemasyhuran Puyang Bagal semakin menanjak sewaktu kerajaan diserang musuh. Dengan segala ketangkasan dan ilmu yang tinggi Puyang Bagal dengan mudah menumpas habis seluruh musuh. Setelah Sultan mendengar berita atas kemenangan tersebut, maka diperintahkannya kepada Perdana Menteri untuk mengadakan pesta kemenangan guna penghormatan dan pemberitan pangkat kepada pahlawan Puyang Bagal. Sultan sangat kagum akan ke- pahlawanan Puyang Bagal. Timbul niat Sultan untuk memberi Puyang Bagal keris dan tombak pusaka. Namun niatnya dibatal- kan, sehubungan kedua jenis senjata tersebut sudah dimiliki Puyang Bagal sejak kedatangannya dari dusun, senjata orang gerot. Pada upacara pesta kemenangan yang dihadiri oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, Sultan mengajukan tawaran pada Puyang Bagal: "Apakah yang engkau kehendaki/ingini? Saya akan memberikan penghargaan padamu. Katakanlah, jangan merasa ta- kut dan segan". Tawaran ini dijawab oleh Puyang Bagal: "Saya

tidak banyak berkeinginan. Tetapi jika Sultan benar-benar ingin memberikannya pada saya, saya ingin memperistri seorang gadis cantik yang sungguh cantik, yang menyebabkan pikiran saya terngangah. Jiwa saya tidak tenteram jika tidak berjumpa dengan dia. Gadis tersebut sudah mendapat tempat di hati saya. Walaupun dikatakan orang gadis tersebut jahat/buruk, saya tetap ingin mem- peristeri dia". Sultanpun mengabulkan permohonan Puyang Bagal dan per- kawinan pun dilaksanakan dengan gadis cantik dari Serengam tersebut. Kepada kedua suami isteri tersebut Sultan memberikan tempat tinggal yang baik, mengingat Puyang Bagal sebagai seorang pahlawan, orang gerot. Lebih kurang dua tahun kemudian mereka dikurniai seorang anak. Karena isterinya berasal dari Palembang, maka anaknya di- beri gelar "Raden", ialah Raden Singo Layang. Raden Singo Layang semenjak kecil mempunyai tingkah laku yang nakal. Gemar bermain gasing, mengadu ayam, dan lain-lainnya. Ia pun gemar bersepak raga dan selalu menang. Jika bermain gasing maka gasing lawan akan hancur. Jika mengadu ayam, akan punahlah ayam lawan. Kemenangan-kemenangan Singo Layang tersebut menyebabkan iri hati dan kedengkian orang-orang di Palembang, sehingga ia selalu diejek dengan ejekan "orang hulu", dan selanjutnya dikatakan tidak tahu main (main curang). Jika mengadu ayammaka kepala ayam lawan akan dipukul.

Karena diejek terus menerus dengan kata-kata "orang hulu",

maka Raden Singo Layang menanyakan istilah tersebut pada

ayahnya: "apakah artinya 'orang hulu', bak ?" Jawab bapaknya: "perkataan itu menghina, nak. Memang bapakmu ini orang hulu,

berasal dari dusun Karang Agung". "Bagaimana kisah tentang dusun itu bak? Aku ingin sekali

mendengar dan melihatnya", kata Singo Layang. Maka diceriterakanlah orang Puyang Bagal mengenai dusun tersebut dengan segala keindahannya, disertai gunung, bukit, tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kebunnya, dan setelah mende-

ngar ceritera tersebut, Singo Layang mendesak bapaknya untuk

pulang ke dusun.

Sultan memberikan izin kepada Bagal untuk pulang ke dusun dengan syarat harus kembali lagi ke Palembang, karena tanpa Pu-

yang Bagal, Sultan merasa kurang mampu untuk memerintah. Sewaktu akan berangkat, Puyang Bagal menghadapkan putranya kepada Sultan, dan Sultan kagum akan kegantengan anak tersebut. Menurut pendapatnya hal ini wajar disebabkan karena bapaknya orang hulu, orang gerot dan ibunya orang Palembang yang cantik. Dan kemudian Sultan menghadiahkan sebuah gasing intan kepada Singo Layang. Setelah berjalan selama lebih kurang sebulan 12 hari, dengan melintasi hutan rimba, gunung dan sungai, menjelang malam hari sampailah Puyang Bagal beserta anaknya ke rumah isterinya di dusun Karang Agung. Ketukan pada pintu dijawab oleh isterinya, bahwa ia tidak menerima tamu pria sehubungan suaminya tak berada di rumah, dan jika ingin bertemu supaya menantikan hari siang besok hari. Yang diizinkan masuk ke dalam rumah hanyalah Raden Singo Layang karena ia masih kecil dan memerlukan makan dan menghindari kedinginan malam. Genap Bulan bertanya kepada Singo Layang mengenai laki-laki bersamanya yang berada d luar rumah. Oleh Singo Layang di- jelaskannya bahwa orang tersebut adalah bapaknya, bernama: "Bagal" berasal dari dusun Karang Agung, sedangkan ibunya berasal dari Serengan, Palembang. Tahulah Genap Bulan bahwa laki-laki tersebut adalah suaminya. Namun demikian barulah keesokan harinya Bagal disuruhnya masuk ke rumah. Sewaktu Puyang Bagal berada dalam rumah, Puyang Jernih datang dan menyerang Puyang Bagal secara bertubi- tubi dengan keris dan tombak, karena dikiranya bahwa laki-laki itu bukanlah bapaknya. Lebih-lebih menurut penjelasan tetangga laki-laki tersebut telah "mengerasi" ibunya. Setiap serangan Puyang Jernih dielak- kan tanpa membalas. Tetapi karena sudah merasa kesal, maka akhirnya dipukulnya juga Puyang Jernih hingga jatuh terjeram- bab. Kemudian Puyang Bagal menyuruh isterinya menangkupkan kelapa yang ditinggalkan sewaktu ia akan berangkat ke Palembang. Kelapa tersebut tertangkup dan yakinlah Puyang Genap Bulan bahwa laki-laki tersebut adalah suaminya. Setelah marah kepada anaknya, Puyang Jernih, atas tingkah lakunya yang tidak terpuji terhadap bapaknya sendiri, iapun pergi ke Gedung Agung untuk menemui anaknya: "Puyang Dayang Murni". Puyang Bagal meninggal di Karang Agung, sedangkan kuburan yang berada di Tanjung Jambu Gedung Agung, menurut ceritera orang adalah kuburan anjingnya.

  1. "SANGSI PURU PARANG"
    Pada zaman dahulu kala ada dua orang bersaudara. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya hidup rukun sampai masa dewasanya dan kemudian yang perempuan bernama: "Dayang Murni" pindah ke sebuah dusun yang lain mengikuti suami- nya. Sedangkan yang laki-laki bernama "Puyang Jernih", tinggal di dusun Karang Agung. Pada suatu ketika timbul perselisihan antara Puyang Jernih dengan ayahnya. Oleh karena perselisihan ini tidak dapat disele- saikan dengan baik-baik maka akhirnya si ayah terpaksa meninggalkan Karang Agung dan pergi ke tempat tinggal anak perempuan- nya "Dayang Murni" di Gedung Agung. Kepergian orangtuanya ini kemudian sangat memberati hati Puyang Jernih dan ia merasa berdosa sehingga pada setiap saat ia dihantui rasa takut seolah-olah ada musuh yang selalu mengintainya dan mala petaka akan menim- panya. Kekhawatirannya ini rupanya terbukti oleh karena pada suatu ketika terjadilah serbuan oleh orang,Pasemah terhadap dusun Karang Agung,sehingga banyak orang yg.meninggal. Puyang Jernih sadar bahwa ini merupakan laknat sebab ia telah banyak berbuat dosa terhadap orang tuanya. Ia bermaksud untuk mohon ampun kepada orang tuanya serta mengajak pengikut-pengikutnya untuk meninggalkan Karang Agung, sebab mereka tiada sanggup mena- han serbuan orang Pasemah. Mereka lalu membuat rakit-rakit dan segera setelah selesai lalu mereka menghiliri Sungai Enim, terus mengikuti arus sungai dan sampailah di Sungai Lematang. Setelah sekian lama rakit ini di Sungai Lematang, maka pada suatu ketika rakit tersebut tertumbuk pada tebing dusun Ujan Mas. Begitu keras benturan rakit itu di tebing sungai, sehingga menimbulkan getaran yang kuat sekali. Penduduk Ujan Mas terkejut oleh karena seolah-olah terjadi gempa bumi. Dalam suasana yang panik ini barulah diketahui bahwa goncangan yang baru terjadi adalah akibat dari benturan rakit Puyang Jernih. Mengetahui hal itu lalu ketua dusun Ujan Mas "Bang Bengak"memerintahkan orang-orangnya untuk memanggil Puyang Jernih datang menghadap. Setelah Puyang Jernih tiba,

maka Bang Bengak bertanya kepada Puyang Jernih akan hal ikh- walnya hingga sampai ke Ujan Mas, begitu pula sebab-sebab ter- jadinya kecelakaan rakit itu. Setelah selesai Puyang Jernih dengan ceriteranya, maka me- ngertilah Bang Bengak bahwa sebenarnya Puyang Jernih dalam keadaan bersusah hati. Bang Bengak pun merasa kasihan atas nasib Puyang Jernih. Puyang Jernih lalu meminta kepada Bang Bengak agar ia diperkenankan untuk dapat menumpang di dusun itu dan hal ini pun diperkenankan oleh Bang Bengak. Akan tetapi isteri Puyang Jernih tidak sependapat. Menumpang di rumah orang lain, apalagi untuk waktu yang cukup lama adalah kurang baik. Isterinya meng- usulkan agar Puyang Jernih meminta saja bantuan Bang Bengak untuk diperkenankan menempati sebidang tanah guna tempat tinggal. Rupanya usul isterinya ini kurang dapat diterima oleh Puyang Jernih. Mereka kembali ke rakitnya dengan maksud untuk mencari tanah tempat tinggal. Begitu rakit mereka bertolak dari tebing dengan maksud untuk terus menghiliri sungai, tetapi kenyataannya rakit itu hanya hilir mudik pada tempat itu saja. Berkali-kali dicoba untuk menghilirkannya, namun akhirnya masih juga berada di sekitar tempat mereka kandas semula. Meli- hat kenyataan yang demikian maka sadarlah Puyang Jernih, bahwa ia tak akan mungkin dapat mencapai tempat yang lain, dan tempat ini kiranya sudah merupakan takdir untuk dapat ditempati. Puyang Jernih lalu turun ke darat dan sekali lagi ia minta pada Bang Bengak agar diizinkan untuk membuat tempat tinggal di dusun sekitar rakitnya. Atas belas kasihan Bang Bengak maka kepada Puyang Jernih beserta pengikut-pengikutnya diperkenankan untuk menempati sebidang tanah yang telah ditunjuk oleh Bang Bengak. Mereka diizinkan untuk membuat kampung dan berdiri sendi- ri, akan tetapi dengan syarat bahwa mereka harus tunduk kepada penghuni Ujan Mas yang telah ada, jadi tunduk pada ke Puyangan Ujan Mas. Hal ini diterima oleh Puyang Jernih lalu ia menyuruh pengikut-pengikutnya untuk memulai membuat tempat tinggal. Semak belukar dibersihkannya, pohon-pohon ditebang dan kini siaplah tempat yang baru itu. Tempat ini kemudian dikenal dengan sebutan dusun "Pinang Belarik". Lain halnya dengan saudara perempuan Puyang Jernih, yaitu

"Puyang Dayang Murni" yang berdiam di Gedung Agung, di mana ia menjadi orang yang terpilih, orang yang ternama. Di Gedung Agung, suami Puyang Dayang Murni telah terpilih menjadi pe- mimpin kelompoknya, mereka menjadi "orang terhormat". Di antara anak-anaknya yang terkenal, ialah: "Sangsi Puru Parang". Disebut demikian oleh karena badannya penuh dengan Puru Parang.1) Ketika Sangsi Puru Parang bangkit dewasa (12-13 tahun) keadaan Gedung Agung tidak aman. Gedung Agung selalu dise- rang oleh orang-orang dari Merapi. Pada setiap kali akan terjadi serangan, maka orang-orang Gedung Agung membunyikan bunyi- bunyian untuk mengumpulkan orang-orang kampung. Setelah semuanya berkumpul lalu mereka membuat barisan yang panjang. Akan tetapi apabila saatnya tiba dan musuh telah kelihatan, maka mereka segera berlari menyelamatkan diri bukan melawan musuhnya. Demikian terjadi berulang-ulang. Pada saat seperti ini di mana musuh akan datang menyerang, maka Sangsi Puru Parang yang penyakitan ini biasanya disembunyikan di dalam hutan. Ia tidak ikut berperang. Apabila musuh datang ia pun bersembunvi Pada suatu ketika dengan tidak disangka-sangka ia ditemui oleh

pasukan musuh. Lalu salah seorang anggota pasukan musuh ini ber-

tanya kepadanya mengapa ia tinggal sendiri di dalam hutan itu. Sangsi Puru Parang mengatakan bahwa sebenarnya ia merasa malu melihat tingkah laku orang-orang Gedung Agung di mana mereka selalu berlari pontang-panting kalau terjadi serangan musuh. Ia sendiri ingin melakukan perlawanan, akan tetapi ia masih menung- gu kesempatan yang baik untuk dapat berperang dan menyerbu Merapi. Akan tetapi penjelasan Sangsi Puru Parang yang demikian sama sekali tidak dihiraukan oleh pasukan Merapi dan mereka meneruskan saja perjalanannya. Harapan Sangsi Puru Parang terkabul! Pada suatu hari ber- kumpullah orang-orang Gedung Agung dan mereka telah sepakat untuk membalas serangan pasukan Merapi yang telah berkali-kali menyerang Gedung Agung. Sangsi Puru Parang akan ikut berperang. Akan tetapi sayangnya ia tidak mempunyai senjata. Tanpa

1) Puru parang = sejenis penyakit kulit, kurap atau patek.

senjata tidak mungkin akan ikut di Medan Perang. Sangsi Puru Parang berpikir, apa yang dapat dijadikannya senjata. Bagaikan mendapat petunjuk, maka diangkatnyalah "bubu"2) dan dari bubu itu dilihatnya ada seekor ikan "pilok"3) lalu diambilnya ikan itu. Kemudian ikan itu dipijit-pijitnya dan jadilah senjata yang di- sebut "Pilok". Sangsi Puru Parang telah mendengar, bahwa orang-orang Gedung Agung akan melakukan serbuan balasan terhadap Merapi. Sebelum orang-orang ini berangkat, maka dengan empat orang temannya Sangsi Puru Parang berangkat menuju Merapi. Setibanya di Merapi dilihatnya orang-orang sedang mengada- kan pesta olah raga dengan bermain bola kaki, perlombaan berlari dan lain-lain. Sangsi Puru Parang dan temannya masuk di tengah keramaian itu. Kemudian ia memerintahkan kepada keempat orang temannya untuk masing-masing menjaga tempat-tempat pintu ke luar apabila nanti terjadi serbuan. Setiap orang yang akan menyelamatkan diri harus dimusnahkan. Sangsi Puru Parang lalu diajak bermain bola oleh orang-orang Merapi. Dalam bermain, ia mulai memperlihatkan kekuatannya. Ketika para pemain berebutan menendang bola, maka Sangsi Puru Parang menendang batu-batu yang ada di lapangan, batu-batu berpelantingan ke semua arah dan orang-orang jadi kagum akan kekuatannya, mereka jadi terkejut. Melihat hal yang demikian, maka ia dipanggil oleh Depati Merapi: "Hai, siapa kamu ?". Sangsi Puru Parang menjawab: "Aku adalah cucu orang Gedung Agung, anak Dayang Murni, cucu Bagal. Kedatanganku kemari ialah mencari kamu inilah, musuh- musuh Gedung Agung". Serta merta dicabutnya piloknya, lalu mengamuklah ia. Orang-orang yang ramai itu jadi panik dan lari kocar-kacir sehingga banyak yang terbunuh. Mereka yang menyelamatkan diri melalui pintu-pintu yang ada tidak dapat lepas dari maut, di mana teman Sangsi Puru Parang telah siap menantikan. Terhadap para korban ini diptongnya telinga-telinganya, lalu di- lobangi dan dilingkarkan dengan seutas tali. Melihat korban yang begitu banyak, maka Depati Merapi

2) bubu = sejenis alat untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu yang dibe-
lah-belah dan dianyam.

3) Pilok = nama sejenis ikan.

berlari untuk menyelamatkan diri masuk hutan. Sangsi Puru Parang yang melihat Depati Merapi berlari itu segera mengejarnya. Ketika ia berlari ke dalam hutan ia terjerambab ke onak berduri sehingga onak berduri itu jadi sungsang. Kini selesailah penyerbuan terhadap Merapi, dan Sangsi Puru Parang kembali dengan kemenangan bersama teman-temannya. Setibanya di Gedung Agung, Sangsi Puru Parang mendengar bunyi gendang gegap gempita sebagaimana biasanya tanda untuk mengumpulkan penduduk bahwa akan ada bahaya ataupun per gi berperang. Kepada orang-orang yang sedang sibuk bersiap-siap itu, lalu Sangsi Puru Parang bertanya: "Oi, ada apa dan hendak ke mana kamu ?" Mereka menjawab: "Kami hendak pergi berperang me- lawan Merapi". Sangsi Puru Parang diam sejenak, lalu ia menge- luarkan rangkaian telinga orang-orang Merapi yang telah dimusnah- kannya dan mengatakan bahwa orang-orang Merapi telah ditak- lukkannya dan inilah sebagai buktinya. Mendengar itu maka se- nanglah hati mereka, oleh karena apa yang selama ini selalu meng- ancam ketenteraman serta kehidupan mereka telah dapat dimus- nahkan. Dan sejak itu hiduplah mereka dalam kedamaian. Puyang Murni kemudian berangkat ke Pinang Belarik mene- mui saudaranya dan iapun akhirnya meninggal serta dikebumikan di Pinang Belarik. Sangsi Puru Parang lalu menjadi penguasa Gedung Agung dan menurut ceritera, setelah ia meninggal dikebumikan di Labu kumbang.

-oOo-

  1. "PATIH SENGGILUR"
    Dalam sebuah kampung tersebutlah seorang tua yang sangat dihormati bernama "Patih Senggilur",ia adalah orang yang rendah hati dan bijaksana. Semua suka duka orang yang dihadapkan padanya ia selalu menerima dengan baik. Hampir setiap hari dan malam ia selalu berada di luar rumah

"tengah laman". Selain maksud untuk memperhatikan keadaan

kampungnya, juga ia memanfaatkan waktu itu dengan membuat berbagai-bagai alat perkakas dari rotan ataupun bambu. Pendeknya tak ada waktu yang hilang dengan percuma. Dengan demikian, maka segala peri lakunya menjadi contoh dan teladan sehingga tidak ada orang yang berani berbuat jahat padanya, apalagi membantah atau akan memusuhinya. Dia jugalah yang turut menentukan apabila sesuatu pekerjaan akan dimulai seperti saat-saat akan bertanam di ladang atau kebun. Begitu juga kalau orang akan mengadakan pesta perkawinan ataupun akan mendirikan rumah dan sebagainya. Pendeknya dialah pedoman dan turutan semua orang di sekitarnya. Ia mengenal semua orang kampungnya dan apabila ada pen- datang baru yang datang ke kampung itu, ia dapat mengenalnya

denganmudah. Hal ini dikarenakan ia selalu berada di luar rumah, dan sambil berbuat demikian ia memanfaatkan waktu dengan berbagai kegiatan kerajinan. Alkisah tersebutlah tiga orang yang angkuh dan congkak pe- nuh dengan ilmu-ilmu di antaranya tahan kulit. Mereka ini konon ceriteranya berasal dari "Spoh Gunung Talang". Mereka ini dikenal sebagai "pedagang tikam."1) Telah banyak desa-desa yang mereka lalui dan pada setiap desa apabila mereka

menjumpai orang-orang yang memakai senjata tajam, lebih-lebih

keris, selalu dirampasnya. Apabila ada orang yang bersenjata, maka orang tersebut di- suruhnya menikam badannya. Kalau ternyata ia tidak terluka, maka keris mereka kemudian dirampas Begitulah kerjanya dari hari ke hari dan dari dusun ke dusun, sehingga berita tentang pe-

la m an = halaman

1) dagang tikam = merampas senjata orang lain.

dagang tikam ini jadi tersebar ke seluruh daerah. Orang-orang menjadi takut akan berita dan ada yang tidak berani bepergian dengan membawa keris, takut dirampas oleh orang-orang Spoh ini. Akan tetapi berjalan atau bepergian tanpa membawa keris merupakan hal yang janggal dan tak mungkin bagi masyarakat di sini. Keris, selain merupakan senjata juga sebagai lambang bagi seorang laki-laki. Setelah sekian lama berita tentang pedagang tikam ini tersebar luas, maka pada suatu ketika ketiga pedagang tikam ini ber- jumpa dengan Patih Senggilur. Seperti biasa Patih Senggilur sedang duduk di halaman dan ia sedang menekuni pekerjaannya meraut "u i"2). Tiba-tiba datang- lah ketiga orang Spoh tadi mendekat. Dengan congkaknya salah seorang dari mereka berkata : "Siapakah di antara orang-orang di sini yang berani, kami ini berdagang tikam". Mendengar itu sadarlah Patih Senggilur, bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang selama ini telah didengarnya congkak, angkuh, suka menganiaya serta merampas, terutama senjata-senjata. Badan mereka basah dengan peluh, wajahnya merah ke hitam- hitaman, karena terik matahari. Jelas kelihatan mereka baru dari perjalanan yang jauh. Melihat keadaan yang demikian, sadarlah Patih Senggilur, bahwa ia dihadapkan pada kesulitan. Tetapi Patih Senggilur yang bijaksana ini tidak gentar dihadapkan pada tantangan ini. Tanpa begitu menghiraukan ketiga orang itu, ia berkata: "Duduklah dahulu, hari ini cukup panas, tentunya kalian capek, dan makanlah dahulu timun-timun muda ini". Setelah berkata demikian, maka Patih Senggilur meneruskan pekerjaannya meraut ui. Sambil meneruskan pekerjaannya ia terus melirik tingkah laku ketiga orang Spoh itu. Ketiga pedagang tikam ini sangat ingin akan mentimun muda yang diberikan oleh Patih Senggilur. Apalagi dalam cuaca yang begitu panas timun muda tentunya dapat menghilangkan hausnya dengan segera. Lalu masing-masing mengambil timun itu dan akan memotong- nya dengan senjata yang ada pada mereka. akan tetapi begitu me-

2) ui = rotan.

reka mulai memotong mentimun itu, mentimun tersebut tidak putus-putus. Berkali-kali dicoba namun tidak juga berhasil Setelah beberapa kali dicoba dan tidak juga berhasil, maka mereka berpandangan satu sama lain dengan penuh keheranan. Patih Senggilur mengetahui hal itu, namun ia terus juga menekuni pe- kerjaannya. Setelah beberapa lama, maka ia menoleh kepada ketiga pedagang tikam itu. Patih Senggilur melihat timun-timun itu telah di- letakkan kembali oleh ketiga pedagang tikam tersebut, dalam ke- adaan utuh lalu ia berkata: "Mengapa timun-timun itu tidak saudara makan ? Tiada yang lain yang dapat saya sediakan selain timun muda itu saja". Ketiganya berdiam diri tiada yang men- jawab. "Ah, ! kalau begini mungkin saudara-saudara malu. Baiklah, saya sendiri yang memotongnya. "Patih Senggilur segera mengam-

bil "gubang pulu pundak"3), yang dipakainya untuk meraut

ui itu. Dikilirkannya beberapa kali senjata itu, lalu dipotongnya timun-timun itu. Tak..., tak..., tak. ... dan akhirnya batu dahan itupun ikut terpotong. Lalu ia berkata: "Nah, silahkan saudara-saudara memakan- nya", ketiga pedagang tikam itu tertegun dan sadarlah mereka bahwa Patih Senggilur adalah orang yang berilmu tinggi dan lebih tinggi dari ilmunya. Mereka tertunduk merasa malu, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Demikianlah Puyang Patih Senggilur menaklukkan keangkuhan dan kesombongan ketiga orang pedagang tikam itu, oleh karena ia menunjukkan kesaktiannya ini di tengah kampung (di alam terbu- ka) maka ia kemudian dikenal dengan sebutan "Puyang Tengah Laman"4) dan kuburannya terdapat di pinggir "Ayek besemah"di sekitar lubuk Buntak.

3) gubang pulu pundak = sejenis senjata tajam.
4)laman = halaman, pekarangan, tanah lapang dalam kampung.

  1. "GINDE SUGIH"
    Tersebutlah kisah sebuah ceritera rakyat yang disampaikan dari mulut ke mulut, suatu dongeng yang terjadi beberapa abad yang lalu di sekitar sungai Musi, tempat itu masih merupakan tempat yang rawan, di mana pohon bambu serta kayu rindang menu- tupi tempat yang penuh dengan margasatwa yang hidup dengan bebas. Katanya; di hulu sungai Musi terjadilah suatu kisah dua in- san keturunan Adam dan Hawa yang berakir dengan duka nestapa, karena mereka itu tidak direstui oleh orang tuanya. Dapat kita fahami mengapa Ginde Sugih, sang pemuda, tidak disetujui oleh orang tua si gadis, justru ia berasal dari orang biasa dan miskin. Walaupun kedua orang itu tidak mendapatkan persetujuan dari orang tua si gadis, namun mereka telah sepakat mengikat janji untuk sehidup semati, meskipun bahaya yang akan tiba mereka rasakan nanti. Konon kabarnya mereka itu melarikan diri menurutkan suara hatinya, dan pergilah mereka itu pada suatu tempat, menghilir sungai dengan mempergunakan perahu (sampan), sambil menden- dangkan mahligai yang indah dan akan dibina oleh mereka itu menuju pantai bahagia. Setelah beberapa hari mereka mendayung sampan sambil melagukan nyanyi bahagia, maka sampailah mereka itu pada suatu tempat yang belum dihuni oleh seorang manusia pun, suatu tempat yang tidak seberapa jauh dari kampung. Kebetulan tempat itu terdapat bekas pondok sawah (talang) yang sudah rapuh tanpa beratap. Malam dan siang berganti, hujan dan halilintarpun tiba, namun mereka tidak merasakan pahit getirnya hidup. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, maka tiba-tiba sang puteri jatuh sakit, sakit yang tak dapat dielakkan karena memikirkan nasibnya yang malang itu, jauh dari sanak famili dan tidak direstui oleh orang tuanya. Tempat mereka itu diperkirakan letaknya di sebelah hilir dusun Toman. Akhirnya berobatlah ia kepada orang kampung di situ dan kemudian sembuhlah penyakit yang dirasakan olehnya. Satu demi satu tiang-tiang pendek digantinya dan atappun diganti dengan atap serdang, sehingga pondok itu menjadi lebih kuat. Dari hari ke hari mereka itu membuka hutan di sekitar itu

untuk dijadikan kebun sambil menanam padi di sana. Sayur-sa- yuran pun mulai ditanam di sekitar rumahnya, ayampun mulai dipelihara dengan hasil yang memuaskan. Rupa-rupanya hubungan mereka dengan orang kampung yang tidak begitu jauh letaknya, telah terjalin sedemikian rupa bahkan mereka saling bantu mem- bantu dalam usaha membuat suatu ladang. Kemudian usaha mereka itu sedikit demi sedikit telah berhasil dengan baik, dan dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa merekapun mendapat dua orang anak laki-laki ialah : "Raden Cikuk dan Raden Buluh", namanya. Rupa-rupanya atas kehendak dewa-dewa, kedua anak itu cacad tubuhnya, yang tua cikuk ta- ngannya dan yang muda cacad matanya sebelah. Dari tahun ke tahun mereka hidup bertani, namun hasilnya tidak lagi membawa hasil yang memuaskan, karena bermacam- macam yang menyerang padinya ketika akan berbuah. Akhirnya mereka tak dapat lagi mengatasi kesulitan itu, karena persediaan padi semakin menipis dan hasilnya setiap tahun tidak memuaskan. Oleh sebab itu Ginde Sugih bermuram durja memikirkan nasib anak-anaknya di kemudian hari, disamping itu Ginde Sugi merasa kecil dan malu di kalangan masyarakat sekitarnya, karena ketu- runannya menjadi buah mulut orang. Tak dapat kita bayangkan betapa sedih dan pilunya keluarga Ginde Sugih itu, disamping hidupnya yang melarat, juga mempunyai anak yang cacad dan tidak dapat diharapkan di kemudian hari. Konon kabarnya, Ginde Sugih mulai bercocok tanam gambir (gambo). Setelah mereka menanam gambir di sekitar rumahnya menjadi subur dan menunjukkan hasil yang memuaskan, maka penduduk sekitarnya meniru Ginde Sugih menanam gambir ter- sebut. Dari tahun ke tahun gambir yang ditanam itu menjadi le- bih banyak dan getahnya dijual ke kota dengan harga yang mahal sekali pada waktu itu. Pada suatu ketika Ginde Sugih dengan anaknya membawa gambir ke kota dengan perahu, di mana isi perahu itu penuh dengan getah gambir yang berbentuk segi empat berla- buh di sebuah kampung tepian mandi Muara Bayo (Bumi Ayu) sekarang. Penguasa Muara Bayo mempunyai seorang puteri yang cantik jelita bernama Dayang. Ketika puteri Dayang turun mandi bersama-sama dengan pengiringnya, maka nampaklah oleh puteri itu dua orang pemuda anak Ginde Sugih di dalam perahu yang ter- kenal cacad tubuh itu. Adapun hubungan Ginde Sugih dengan

penguasa di Muara Bayo itu merupakan kawan baik. Kunjung

mengunjungi kedua orang itu merupakan hal yang biasa dan kemudian terjalinlah hubungan kedua orang itu, kemudian anak Ginde Sugih berminat dengan puteri Muara Bayo untuk dijadikan isteri. Pada suatu hari Ginde Sugih mengajukan lamaran kepada Pe-

nguasa Muara Bayo, di mana anaknya bermaksud untuk menga- wini puteri tersebut. Untuk menolak lamaran itu, Penguasa Muara Bayo meminta syarat-syarat yang berat seperti; rotan yang pan- jang, tungau yang tak terhitung jumlahnya, semua permintaan itu disediakan oleh Ginde Sugih, sehingga segala sesuatu yang diang- gap rintangan sekarang ini sudah tidak ada lagi. Dengan rasa me- nyesal Ginde Muara Bayo mengajukan syarat-syarat itu, sehingga untuk menolak permufakatan itu sudah tidak dapat lagi. Akhirnya terjadilah perkawinan kedua insan itu, sedangkan puteri diboyong ke Toman. Demikianlah ceritera perkawinan itu tidak begitu direlakan oleh orang tua si gadis, karena anak Ginde Sugih tersebut cacad tubuhnya. Sampai saat ini perkawinan antara Muara Bayo dengan Toman jarang terjadi, namun tradisi tersebut sudah tidak berlaku lagi di kalangan pemuda-pemudi sekarang ini.

-000-

  1. "PUTRI KEMBANG DADAR "
    Di lembah sungai Selebar Daun, dalam sebuah perkampungan, penduduknya merasa aman dan bahagia dan serta hasil taninya berkecukupan. Kampung ini dipimpin oleh seorang disebut "Demak Lebar Daun", beristrikan seorang Tuan Putri Mayang Sari. Dari perkawinan kedua insan ini, lahirlah seorang anak tunggal wanita cantik. Di samping paras dan wajahnya yang menarik, di- tambah pula dengan pandai berhias. Sehingga sukarlah untuk men- cari bandingan kecantikan dari Putri ini, putri ini bernama: "Putri Kembang Dadar". Ketiga insan ini hidup rukun damai di sebuah perkampungan di pinggir sungai Selebar Daun. Selain dari mereka turut pula dalam keluarganya seorang Dukun/Ahli nujum bernama "Kaharuddin", dan seorang Hulubalang "Marta". Ahli Nujum dan hulubalang Marta adalah sebagai bahu kanan dan bahu kiri dari kehi- dupan Demak Lebar Daun. Teristimewa ahli Nujum Kaharuddin yang sangat dipercaya. Segala rencana, memecahkan segala se- suatu kemungkinan dalam perkampungannya bermusyawarah dan lain-lainnya, dirumuskan oleh kedua orang tersebut. Se- belum mendapat persetujuan dari ahli nujum segalanya belum dapat dilaksanakan. Tidak jarang mereka berdua ini pergi bertapa/ bersemadi untuk mendapatkan petunjuk jalan kebenaran dalam menempuh rencananya, dalam memimpin perkampungan Selebar Daun. Karena kecantikan paras serta pandai bersolek, Putri Kembang Dadar telah tersiar di perkampungan-perkampungan sekitarnya. Perkampung Demang Lebar Daun dengan putrinya yang cantik menjadi buah pikiran dan inceran para Pemuda Bangsawan yang telah mendengar berita itu. Banyaklah pemuda-pemuda turunan Bangsawan yang berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan putri tersebut. Bermacam-macam cara dan' jalan yang ditempuh pemuda-pemuda untuk mendapatkan putri Kembang Dadar. Namun kesemuanya dipatahkan dan ditolak oleh Demak Lebar Daun. Dengan gigih Demak Lebar Daun mempertahankan pekampungannya, dan men- jaga kehormatan putrinya. Demak bercita-cita, putri ini adalah sebagai penerus dari cita-citanya sebagai pengganti dari Demak

di kemudian hari. Telah banyak pemuda-pemuda turunan Bangsawan berusaha mendapatkan Putri Kembang Dadar, semuanya selalu gagal, namun perhatian pemuda-pemiuda tersebut tetap selamanya tertuju pada putri tersebut. Tidak puia ketinggalan dua orang pemuda yang tidak dikenal oleh penduduk Selebar Daun. Kedua pemuda ini bertekad dengan apa saja dan jalan bagaimana harus ditempuh, walaupun terjadi pertumpahan darahpun mereka berusaha untuk mendapatkan Putri Kembang Dadar, serta melemahkan kekuatan Demak Lebar Daun. Sebelum kedua pemuda tersebut datang ke Selebar Daun, ahli nujum Kaharuddin mengadakan pertemuan dengan Demak, ia menceriterakan hasil ramalannya. "Tuanku Demak Lebar Daun..., perkampungan kita ter- ancam bahaya, daerah ini akan diserang oleh musuh yang tidak kita kenal sama sekali. Musuh ini gagah serta terlatih, sehingga kita sulit untuk menandingi kekuatannya. Mereka selain akan menaklukkan tuan, akan merampas Putri Kembang Dadar." Mendengar ramalan ahli nujum, Demak Lebar Daun sangat terkejut, lalu memerintahkar kepada seluruh hulubalang dan ba latentaranya untuk mengadakan pertahanan. Diperkirakan musuh akan datang dari sebelah hulu, pertahanan yang kuat dibuat di suatu tempat, dekat sebuah sungai, berdekat- an pula dengan sebuah pulau. Barang-barang perlengkapan bala- tentara, yaitu barang-barang yang dipersiapkan dalam menghadapi musuh yang akan datang dari sebelah hulu sungai, ditimbun di sebuah pulau dekat pertahanan itu, yang kemudian pulau tersebut dinamakan pulau "Borang" (pulau Borang berada di bagian sebelah hilir dari Dusun Mariana sekarang). Demak Lebar Daun dengan ahli nujumnya pergi bertapa untuk mendapat petunjuk yang besar, dan untuk menghadapi musuh kuat yang akan datang menyerang. Dalam pertapaan kedua orang ini, ahli nujum Kaharuddin, menceriterakan kepada Demak Lebar Daun apa yang diper- olehnya sebagai hasil dari pertapaan tersebut. "Tuanku Demak Lebar Daun, sebagai hasil dari pertapaan kita ini, saya mendapat ramalan sebagai berikut: Musuh yang akan kita hadapi adalah musuh terkuat, gagah, berani dan terlatih dalam perang, sehingga bagi kita di Sungai Selebar Daun ini sulit akan mempertahankan kekuatan musuh tersebut, niscaya tuanku akan kalah dan Putri

Kembang Dadar akan dapat dirampasnya. Oleh sebab itu, lebih baik kita mengatur cara baru untuk menghadapi musuh ini." Keduanya terdiam... dan ahli nujum melanjutkan ramalannya: "Perkampungan di Sungai Selebar Daun seluruhnya kita tinggalkan, mencari tempat persembunyian. Kita pun mencari tempat persembunyian yang lebih aman, diperkirakan tempat tersebut tidak akan diketemukan oleh musuh. Putri Kembang Dadar kita tinggalkan di sini, agar musuh terlena dengan mencari putri di daerah ini." Demak Lebar Daun tertegun diam seribu basa, memikirkan masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan. Selanjutnya ahli nujum Kaharuddin meneruskan saran dan hasil ramalannya. "Tuanku Demak Lebar Daun... hulubalang dan tentara yang sekarang berada dipertahanan segera ditarik mundur, mencari tempat persembunyian. Putri Kembang Dadar kita tinggalkan, sebelum kita tinggalkan terlebih dahulu disiapkan dua buah Geda. Kedua Geda tersebut tanamkan dalam tanah dan salah satunya masukkan putri, penanaman geda ini hendaknya sangat kira rahasiakan sedapat-dapat- nya, dan satu matapun tidak ada yang melihat, kecuali petugas yang menanamkan geda tersebut. Setelah ditanamkan barulah di tinggalkan". Demikianlah saran yang diajukan oleh ahli nujum kepada Demak Lebar Daun. Kemudian mereka berdua bermusyawarah, se- gala akibat baik buruknya saran itu dipecahkan bersama. Akhirnya putuslah permusyawaratan mereka, menyetujui dan segera melaksanakan saran yang diajukan ahli nujum Kaharuddin. Orang yang melakukan penanaman dirahasiakan. Kedua Geda ditanamkan dengan letak yang berjauhan, setelah selesai semua- nya, Demak Lebar Daun memerintahkan kepada seluruh penghu- ni Sungai Selebar Daun agar meninggalkan tempat dan lari ber- sembunyi. Bala tentara dipertahankan dan hulubalang di perta- hankan diperintahkan mundur meninggalkan pertahanan meng- ikuti persembunyian Demak dan penduduk lainnya. Sungai tempat tentara dan hulubalang mendapat perintah mundur itu, kelak dinamakan orang "Sungai Kundur" (Sungai di Dusun Mariana sekarang). Dua orang pemuda yang gagah berani tersebut datang dari arah matahari terbenam memasuki perkampungan Selebar Daun

Langsung menuju ke kediaman Demak Lebar Daun dan Putri Kembang Dadar. sungguh mereka berdua merasa sangat kecewa ketika dilihatnya. perkampungan sudah ditinggalkan. Mereka berdua mundar-mandir. berkeliling memperhatikan jejak penghuni perkampungan itu. me lurut ramalan kedua pemuda itu pastilah gadis cantik Putri Kembang Dadar masih berada di Daerah perkampungan yang sedang dimasukinya. Oleh sebab itulah pencarian dilakukan dengan teliti sekali segala usahanya dari satu rumah ke rumah lainnya. Tetapi sia-sia saja karena satupun tidak bertemu dengan manusia. Hanya dalam satu rumah, rumah tempat tinggal Demak Lebar Daun ter- dapat seekor burung Tiung dalam sangkar. Burung Tiung ini pe- liharaan Demak, sejak lama burung tersebut dipeliharanya, sekarang sudah fasih berbicara seperti manusia. Dengan kata-kata yang lunak dan lemah lembut. kedua pemuda tadi menanyakan ke mana kepergian penduduk di sini dan tempat persembunyiannya Putri Kembang Dadar. Dengan bujukan dan rayuan kedua pemuda itu, maka diceriterakannyalah keadaan yang sebenarnya, selanjutnya burung tiung menyebutkan: "Yang tinggal dalam kawasan perkampungan hanyalah saya bersama dengan Puteri Kembang Dadar, sedangkan yang lainnya menyem- bunyikan diri bersama Demak Lebar Daun dan isterinya, sedangkan Puteri Kembang Dadar disembunyikan dalam geda ditanam dalam tanah. Geda itu tidak jauh dari tempatku ini." Mendengar perkataan burung tiung itu. kedua pemuda tadi. tanpa membuang waktu segera mencari jejak geda yang ditanam- kan. Perhatian mereka tertuju di sekitar sangkar burung, sungguh ia merasa lega dan berbangga hati ketika geda yang dimaksud di- temukan. Betapa mereka tidak bergembira karena apa yang diharapkan sekarang sudah bertemu. Dengan dapat merampas Putri Kembang Dadar. berarti kekuatan dan kedudukan Demak Lebar Daun dapat dipatahkan. Keduanya bekerja keras menggali geda itu, dan diangkat ke atas tanah. Tetapi. segala apa yang tergores di kepalanya, yang menjadi angan-angan merupakan suatu kemenangan, kini malah menjadi sebaliknya. kegembiraan yang diharapkan bertukar menjadi kekecewaan. Ternyata geda yang digali dan diketemukan adalah geda yang kosong sama sekali. Karena kekecewaan kedua pemuda itu, mereka menarik ke-

simpulan untuk kembali pulang meninggalkan geda yang terletak

di atas tanah. Bagaimana Demak Lebar Daun dan isterinya ? Sela-

ma dalam persembunyian, selama itu pula merasa gelisah dan pe- nuh rasa kekuatiran, khawatir daerahnya diduduki musuh dan khawatir pula akan anaknya Puteri Kembang Dadar dirampas musuh. Ketenangan dalam bersembunyi sudah tidak tertahankan lagi dan mereka baru bersembunyi satu hari, perasaan Demak sudah

setahun lebih lamanya. Bermacam-macam persoalan terlintas di benaknya, yang harus dipecahkannya sendiri pula. Dan akhirnya ia menarik kesimpulan : "Dalam waktu yang sangat singkat ini saya bersama Putri Kembang Dadar dan isteriku Putri Mayang Sa- ri harus berada kembali di perkampungan dan hidup bersama di kampung Selebar Daun. Lebih baik kami mati bersama dari

pada perkampungan dan Putri Kembang Dadar dirampas musuh".

Tanpa mengadakan perundingan dan musyawarah dengan ahli nujum Demak Lebar Daun memerintahkan seluruhnya keluar dari persembunyian dan pulang ke perkampungan. Demak dan isterinya berangkat menuju perkampungan, ahli nujum Kaharud-

din dan hulubalang Marta mengikuti pulang bersama-sama.

Setibanya Demak dan isteri di perkampungan, alangkah ter- kejutnya mereka ketika dilihatnya geda yang berisi Putri Kembang Dadar sudah terletak di atas tanah dalam keadaan kosong. Dengan perasaan yang sangat sedih disertai dengan tangis yang terisak-isak, Demak dan isterinya menanyakan hal ini kepada burungnya, yaitu burung tiung peliharaannya. Burung Tiung berceritera: "Tuanku Demak Lebar Daun ... tidak berapa lama sewaktu tuan meninggalkan kampung, keluar- lah dua orang pemuda dari arah sebelah matahari terbenam. Pemuda tersebut menyebutkan dirinya bernama "MAULANA dan MAULANI", keduanya datang dari bukit Siguntang Maha- meru. Maksudnya datang ke mari untuk menemui Tuan Demak dan Putri Kembang Dadar untuk menjadi isterinya. Keduanya berkata dengan lemah lembut menunjukkan ia akan berbuat baik dengan Tuanku Demak. Maka saya tunjukkan di mana tempat geda disimpan Putri Kembang Dadar. dan tempat tuanku tidak iapat saya tunjukkan, karena berjauhan dari sini." Setclah mendengar ceritera burung tiung, Demak menjadi pa- nik dan timbullah amarahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi,

sangkar burung tiung disentaknya dan dihempaskan ke tanah. Saat itu juga sangkar burung hancur dan burung tiungpun mati. Ketika sangkar burung dihempaskan, keluarlah dari mulut Demak Lebar Daun kata-kata sebagai berikut :

"Hai burungku, telah lama engkau kupelihara, kini engkau

berkhianat... kepada seluruh anak cucuku tidak ku redoi untuk memelihara burung tiung, bila anak cucuku memelihara burung

tiung, hidupnya tidak akan selamat."

Sumpah telah diucapkan burung tiung sudah mati dihempaskan, keadaan menjadi hening, satupun tak ada yang bersuara. Di tengah keheningan dan kesepian itu, dengan suara yang terpu- tus-putus ahli nujum Kaharuddin berkata: "Tuanku. .., tadi ada dua geda yang ditanamkan, satu berisi Puteri Kembang Dadar dan yang satunya lagi kosong, kebetulan geda yang diketemukan musuh ini, adalah geda yang kosong dan yang berisi Puteri ditanam di tempat lain, tidak diketemukan oleh kedua pemuda ini. Marilah kita ke sana mendapatkan Puteri Kembang Dadar dalam persem- bunyiannya." Segera mereka berangkat menuju ke tempat yang dituju, yaitu tempat persembunyian Putri Kembang Dadar dan ternyata me- mang benar keadaan putri masih selamat.

DAFTAR INFORMAN

  1. Judul Ceritera 1 Bagal
  2. Pekik Nyaring
  3. Puyang Remanjang Sakti
  4. Kimas Bunang L
  5. Sangsi Puru Parang
Nam a K.A. MUNIYER ALBA
Tempat/tgl. lahir : Palembang, 5 - 1 – 1925
Pekerjaan Agama Islam Penilik Kebudayaan Kandep. P dan K Kecamatan Muara Enim Kabupaten
LIOT
Pendidikan Bahasa yang di-: Indonesia / LIOT kuasai. K.P.A.A.
Alamat : Jl. Letnan M. Akip No. 460 Pasar Muara
Enim.
2. Judul Ceritera : 1. Bujang Bekurung
Nam a Agam a Pekerjaan HANIPAR
Pendidikan S.P.G. Indonesia / Muara Enim.
kuasai.Alamat : Tanjung Enim.
3. Judul Ceritera : 1. Ratu Agung
Nam a M.DENEN 2. Putri Rambut Putih
Umur 59 tahun

Tempat/tgl. lahir : Padang Bindu, 40 tahun. Isl am Penilik TK., SD., SIB. Kec. Tg. Agung.

Bahasa yang di-

Islam Agama Pekerjaan Pendidikan

Bahasa yang di- : Indonesia/OKI kuasai. : Kampung II Sukadana Marga Kayu Alamat

Agung.

4.Judul Ceritera: 1. Putri Pinang Masak

2. Sang Sungging

: M. ISA SIDIN Nama Umur : 45 tahun Agama : Islam : Penilik Kebudayaan Kandep P dan K Pekerjaan Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten

O.K.I.
Pendidikan Bahasa yang di- : Indonesia / O.K.I. kuasai. Alamat : Tanjung Batu Kabupaten O.K.I.

  1. Judul Ceritera : Putri Kembang Dadar Nam a : SYUKRI
    : 43 tahun Umur Agama : Islam Pekerjaan : Petani Bahasa yang di- : Indonesia/MUBA kuasai. : Musi Banyuasin I Pematang Palas Desa Alamat Upang, S e k a y u.

  2. Judul Ceritera: 1. Sang Penenca di Negeri Irik.
    :IDRIS Nama : 45 tahun Umur : Islam Agama Pekerjaan Bahasa yang di-. : Indonesia/MUBA kuasai. Alamat : Marga Sungai Keruh Musi Banyuasin, Sekayu.

  3. Judul Ceritera : 1. Ginde Sugih
    : MADANI HARUM Nam a : 50 tahun Umur : Islam Agama Pekerjaan : Petani Bahasa yang di- : Indonesia/MUBA kuasai. Alamat : Babat Toman, Sekayu.

  4. Judul Ceritera : 1. Asal Mula Batu Harimau
    : M.YARI Nam a Tempat/tgl. lahir : Pagar Gunung, 50 tahun Agama : Islam Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil Bahasa yang di- : Indonesia/Daerah kuasai. Alamat : Pagar Alam.

  5. Judul Ceritera : 1. Usang Rimau Meranjat. Nam a : A. DANI JUNI Tempat/tgl. lahir : Meranjat, Kabupaten O.K.I. 40 tahun.
    : Islam Agama : Kepala SD. No. 1 Meranjat Pekerjaan Pendidikan : Sarjana Muda Bahasa yang di-: Indonesia/O.K.I. kuasai. : Meranjat, Tg. Batu, O.K.I. Alamat

  6. Judul ceritera : 1. Panggar Besi

    2. Patih Senggilur

Nam a : YASIN Tempat/tgl. lahir : Tanjung Sakti, 20-8-1920 Agama : Islam : Purnawirawan Dinas Pertanian Kec. Pa-

Pekerjaan

gar Alam. Pendidikan : Pend. Pertanian Bahasa yang di- : Indonesia/Daerah kuasai.

Alamat : Kompleks Pertanian Pagar Alam.

  1. Judul Ceritera : 1. La y e
  2. Pagar Gunung
    Nam a : MARIS Tempat/tgl. lahir : Bandar Agung, 75 tahun Agama : Islam Pekerjaan : Petani Pendidikan : S.D. Bahasa yang di- : Indonesia/Daerah
dikuasai.
Alamat : Talang Jawa, Lahat.
N am a : RASUKI
Pekerjaan Agam a : Pegawai Negeri Sipil : Islam
Pendidikan
Alamat : Pasar Lama, Lahat.
  1. Judul Ceritera : 1. Puyang Bege

    Tempat/tgl. lahir : 41 tahun

: Sarjana Muda Bahasa yang di- : Indonesia/Daerah kuasai.

LEMBAR-RALAT

No. No. Seharusnya
Hal 1 4 Baris ke
7 Muara Enim
11 Muara Enim

Tertulis Judul Masalah

13 " orang bunia " "orang bunian"

2. 4 LIOT
3. 3
4. 12 13 kami kamu
5. 92 semua P& K Dikbud.

LIOT

6.

00521.5