Baca PDF (OCR): Kemelut

18 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR · 4.6 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Publisher Note
  2. Digitizer Note

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Kemelut

Kacabenggala Editions

Publisher Note

Cerita pendek ini ditulis Pramoedya tatkala ia mendekam di Pendjara Bukitduri pada bulan Februari 1948. Kemudian, diterbitkan dalam majalah Mimbar Indonesia pada 2 April 1949 edisi No. 14, Th. III. Cerita pendek ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

DI TJIKAMPEK, LOK DIGANTI. KERETA-API-TJEPAT DJAKARTA-SOLO SELALU berlok dua. Gerobaknja—barang atau penumpang—selalu pandjang: keadaan biasa. Kedjadian lain jang djarang diperhatikan: selalu terdengar salam „horas”! disetasiun ini. Dan selalu pula didekat datangnja salam tampak tumpukan barang—obat-obatan berpeti-peti, bohlam berkardus-kardus, bahan pakaian bergulung-gulung. Pendeknja barang-barang jang susah didapat didaerah jang didjerat blokkade.

Ini terdjadi dalam tahun 1946, beberapa puluh hari sesudah lahirnja Uri, diwaktu harga barang mulai pesat keatas, dan orang mulai putus-asa lagi, dan hingga uang seperti burung patah sajapnja.

Di Tjirebon dobbel-lok diganti lagi. Gerobak-gerobak penuh sesak, panas, ramai, terbungkus asap rokok. Dari Tjirebon kereta meluntjur kentjang menudju Kroja. Suasana dalam gerobak tiba-tiba berubah. Djuga diluar kereta. Hudjan djatuh dengan lebatnja. Sawah jang membentang lebar beratus-ratus hektar kian lama kian diseling-seling oleh hutan pegunungan. Panas dalam kereta lenjap—dingin! Obrolan tak meriah lagi. Seorang demi seorang djatuh tertidur: kelelahan.

Melalui katja djendela jang burik-burik oleh tetesan air, tampak puntjak pegunungan tersalut hutan, hitam kelabu oleh mendung, dan sebentar-sebentar ditjium oleh awan putih jang beranak keluar-masuk hutan. Bunji jang terdengar hanja desah kereta. Dan gerak jang terasa hanja geletar berirama, roda besi jang beradu dengan rel besi.

Tiba2 geletar kereta menegun-negun. Kian detik kian terasa. Sajup sampai antara desah lok dan geletar roda terdengar teriak „Ba-ha-ja.” Diam. Teriak lagi. Diam. Teriak lagi. Kemudian berpuluh kerongkongan membarengi, „Ba—ha—ja—. . . ” Pandjang. Sambung menjambung. Teriakan maut! Kereta menggigil sebentar. Kemudian berhenti mengedjut. Dobel-lok bertiduran dilumpur. Dua gerobak rusak, jang satu setengah remuk, jang lain menunggangi.

Orang berlontjatan mentjari djalan keluar, dari djendela atau pintu. Hanja penumpang gerobak setengah remuk tak bisa keluar. Seorang pun tidak. Karena gerobak itu kelas I-II. Dan kelas I-II sering dikuntji dari dalam—orang tak boleh masuk lagi. Kini, maut mengurung.

Satu teriak lagi, „djangan kekiri-i-i!!!” Dan orang jang lari kekiri kereta melihat tanggul tinggi, 45°. Dari atas tanggul tampak sebagian petjah, air kuat menerdjang dari kali diatas dan lari kebawah bersama gumpalan tanah djadi lumpur tebal, kuning-tua. Mengguruh bunjinja membenam dobbel-lok dibawah. Jang lari kekiri formasi segera menjeberangi kereta, lari kesebelah kanan—tanggul djuga, tinggi 45°. Orang berlontjatan. Terguling dulu dalam saluran air jang agak dalam, air menutup mulutnja dua senti. Merangkak, mendaki tanggul.

Hudjan jang lebat menitik djarang, renai-renai. Tapi kilat tak berhenti berkedjapan. Djam setengah enam kini. Dan langit abu-abu tua. Tiap muka digambari ketjemasan. Diatas gunung Lurah, antara Karanggandul dan Karangsari—daerah Purwokerto. Hari ‘lah redup dan matahari tertutup bukit dan daun dan mendung.

Desah lok jang garang tadi mati. Keduanja dibenam lumpur. Mesin mati. Hanja bunji asapnja kembang-kempis melalui terobong, seperti nafas orang sekarat. Seorang masinis jang melontjat kesebelah kiri disambar lumpur. Dibantingkan pada lok. Terpendam. Hilang. Tak timbul lagi.

Bunji gerimis dan asap lok jang menembusi lumpur kini bertjampur dengan suara baru—teriak, tangis dan keluh bersama. Dari sana—gerobak setengah remuk jang mulai dimakan lumpur. Didalamnja, orang bersusun tindih, patah-patah dengan barag bawaannja sendiri dan bangkubangku jang lepas, dan majat, dan pintu petjah, dan kaju atap, dan petjahan dinding. Dan lumpur merembes melalui petjah-petjahan dinding itu.

Ini jang aneh: jang datang menolong hanja enam orang.

Bunji meramai: tembakan bereretan dari mulut pestol otomatik. Dari sana—diatas tanggul kanan. Kemudian menjusul teriaknja jang garang, putus-asa dan kesal. „Semua laki-laki turun!” Tembakan menjusul—keatas. Dan teriak lagi, „Semua laki-laki turun!” Ledakan karabin menjusul. Teriak lagi. „Kalau berai naik gua petjain kepalanja.” Orang jang sudah sampai diatas tanggul tjepat-tjepat lari, bersembunji, memikirkan barangnja jang hilang. Jang masih merangkak tanggul litjin itu lebih ketakutan lagi dan turun kebawah. Mengerubungi gerobak jang setengah remuk.

Beramai-ramai orang mulai memetjahkan pintu, atas dan djendela. Penumpang didalamnja terkuntji. Tak seorangpun bisa keluar. Lumpur mulai masuk dengan teratur melalui lubang-lubang baru. Tapi sebagian dari laki-laki lainnja merangkak terus tak mempedulikan tembakan jang takkan mengenai. Dan diantara mereka ialah semua laki-laki jang membawa barang berpeti-peti dan dengan barangnja sekali. Orang sekarat? Apa peduli! Barang sendiri lebih berharga daripada djiwa berpuluh-puluh manusia.

Orang-orang memeras keringat membuat lubang. Dan itu berhasil. Seorang demi seorang masuk kedalam. Dan isinja dikeluarkan. Mula2 : pintu kakus. Kemudian: seorang opsir jang hampir mati lemas ketindihan barang. Seorang—dua—tiga—empat—lima—enam—tudjuh gadis palang Merah Alri dari pangkalan Tjirebon. Tiga orang bisa berdjalan. Jang lain luka-luka. Mereka berkemedja putih dikumal lumpur dan bertjelanan pandjang hidjau, basah-kujup oleh air lumpur. Mereka mau berkonperensi di Madiun, tapi disini mereka berkonperensi dengan nasib sendiri. Seorang, sekepal daging betisnja jang kiri hilang entah dimana. Seorang lagi patah-dua tangannja. Seorang lagi patah kakinja dan selebihnja luka enteng dan luka barut. Kemudian seorang Tionghoa peradjurit T.R.I. jang tak bergerak lagi. Kepalanja kemasukan paku: sepuluh senti! Kemudian: seorang kapten T.R.I. jang patah-dua kakinja. Sepatu tinggi penuh darah, air dan lumpur. Ia kedjatuhan barang bawaannja sendiri: sekerandjang besar mangga Indramaju. Bibirnja selalu menggetar dan suara lemah terdengar. „Sabar, sabar, sabar.” Dia betul-betul ia djadi sabar. Besar dan tinggi badannja. Tiga orang menggotongnja. Seorang djatuh tak sadar oleh kelelahan dan kepalanja tersungkur pada batu besar—batu pegunungan.

Jang belum tertolong, jang masih dalam gerobak, seorang demi seorang disambar djiwanja oleh lumpur. Jang ada dibagian atas hanja dengan pelan sekali bisa dikeluarkan—mati, luka berat, luka ringan, hanja kaget sadja, tidak apa-apa, atau berubah ingatan.

Hudjan turun lagi. Deras. Darah bertetesan, bertjampur lumpur dan air hudjan. Mendung bertambah tebal. Dan semua penumpang selain jang mati, ingatlah pada Tuhan. Djuga mereka jang lari bersembunji mengenangkan barangnja jang hilang. Djuga mereka jang lari dengan barangnja jang berpeti-peti. Dan obat-obatan itu bukanlah untuk para kurban. Teruntuk guna jang lain.

Seorang demi seorang dikeluarkan dari gerobak setengah remuk. Dan ada jang tak bisa dikeluarkan! Lenjap dalam lumpur tindih-tumpang dengan petjahan kaju didasar gerobak. Kurban-kurban diangkuti kerumah-rumah jang melekat pada balik-balik tebing pegunungan. Dan pondok2 itu tak banjak djumlahnja. Satu-dua berpentjaran diseluruh lembah dan tebing. Mau-tak-mau jang tak luka berkeliaran mentjari tempat penginapan. Hudjan disendjahari. Dingin dan gelap. Kiamat untuk para kurban. Keadaan terkutuk untuk jang sehat. Basah kujup. Dipuntjak gunung. Tak ada dokter. Tak ada pediangan. Tak ada matahari. Tak ada tempat berbaring jang lajak. Tak ada obat jang diamalkan. Gelap-gelita. Malam datang.

Disebuah rumah jang melekat pada suatu tebing orang telah berdjubal. Gadis-gadis dari pasukan Palang Merah Alri—kurban atau tidak—diangkut kesitu. Ribut mendendam suasana: erang, aduh, rintih, sebut, pertolongan pertama jang tak memadai, kotor, luka berat dan ringan jang kemasukan lumpur. Dan kembali semua menjebut dalam berbagai tjara dan bahasa, „Ja Tuhan”. Dengan tiba-tiba sadja mereka jakin adanja Tuhan. Karena, mereka tambah tak mengerti kemauan-Nja. Tambah tak tahu tempat-Nja, entah didalam mendung, entah didalam lumpur. Namun sebutan itu memandjangkan harapan. Tiba-tiba djuga mereka merasa berwadjib djadi orang sutji. Dan mereka jang membawa barang beratus lebih banjak dari kebutuhannja sendiri ter-putus2 hitungan keuntungannja. Dan di-sela2 putus-putusan itu ada dia—Tuhan jang Maha Kuasa. Kuasa merobohkan kereta-api.

Penghuni rumah, waktu mendapat tamu banjak, segera bangun. Tergopoh-gopoh membersihkan medja dan bale tumbukan kedelai, guna tempat tidur para kurban. Kemudian dengan tangkas membuat api: memasak air dan ubi merah. Saat itu terlupa oleh mereka—malarianja. Dipuntjak-puntjak pegunungan ini, dirumah-rumah jang tak berdjendela, berpintu paling banjak tiga, berlantaikan tanah jang selalu lembab—tempat malaria mentjari kurbannja. Dan mereka tak mau membeli pil kinine. Sebab, mungkin pil lebih mentjepatkan kematiannja. Lebih tjepat dari proses malaria sendiri. Karena, harga tak terbajar. Dan bunganja tambah minggu tambah banjak, mentjekik.

Purwokerto sarang setan uang.

Malam hitam. Hudjan djatuh tak teratur. Erang-aduh terus terdengar. Rumah penuh oleh orang tjelaka. Penolong hanja sedikit. Dan mereka ini ialah orang-orang jang masih punja sisa-sisa kemanusiaan. Mereka jang membawa obat berpeti-peti tak mau bertjampur dengan machlukmachluk jang djadi kurban. Barang tak boleh berkurang. Sebab, kalau keuntungan tak tjukup, bisa kedinginan tiap malam—nanti di Jogja.

Disana, dibalik tebing, dilekukan djalan kereta-api, penduduk dari tiga dusun turun—gotong-rojong—memperbaiki djalan kereta-api. Machluk-machluk jang djudjur, setengah malaria, setengah lapar, setengah telandjang, setengah mati, setengah bertenaga oleh sesapan setan-setan uang Purwokerto—dalam hudjan, diwaktu harus tidur—melemparkan lumpur jang membenam lok dengan patjul kedjurang. Dan mereka jakin, malam itu kerdjarela untuk negara. Tidak tahu, sebetulnja hanja untuk beberapa puluh orang jang bisa membawa barang berpeti-peti menerobosi blokkade.

Lampu-lampu stormking berpentjaran selajak kunangkunang dilekukan djalan kereta-api, dan teriak orang jang segera mengajun patjul berirama sedih seperti gonggong andjing hutan menurutkan mangsanja jang berlari-larian diseberang kali. Sebentar2 mereka menemukan barang penumpang jang terpendam dalam lumpur diikuti oleh teriak jang selalu terdengar dari abad keabad, „Sopo ora sutji mati! Sopo ora sutji mati! Sopo ora sutji, mati! Siapa tak sutji, mati!” Beratus-ratus, dari beratus kerongkongan.

Dan barang jang diketemukan ditumpuk disatu tempat. Tak peduli mereka setengah telandjang, bertjelana karung.

Purwokerto hanja beberapa kilometer dari tempat itu. Kereta api penolong baru datang kira-kira pada djam sebelas malam. Dokter beserta pembantunja datang. Tapi mulut lebih banjak bermain daripada tangan. Waktu sampai didekat pemudi-pemudi Alri, seorang diantaranja memanggil, „Oom, oom!” Segera dokter menghampiri. Suntikan, dan kembali bibirpun bekerdja dengan aktifnja. Dengan suaranja jang djernih, sedjernih bambu dibakar.

Disudut gelap seorang perempuan tua memanggil, „Tuan, tuan, tolonglah hamba”. Ada dua belas kali ia memanggil. Suaranja terlalu lemah. Tapi dokter tak boleh diganggu. Bibir punja kebutuhan sendiri. Kemudian ia pergi, lenjap dimalam gelap. Tapi paginja perempuan tua itu masih djuga hidup, terbudjur diatas selembar kainnja sendiri dilantai tanah. Kain jang hitam-hitam-tjoklat oeh darahnja sendiri dan lumpur.

Malam itu djuga, nasi diedarkan. Orang makan dengan diam-diam. Kurban-kurban hanja mau minum air hangat. Tapi diantara mereka, hanja jang barangnja berlebihlebihan mendjadi pendiam sekali, duduk diatas peti-petinja, takut kemalingan. Mungkin sedang mengingat bininja kedua, atau ketiga, atau keempat, atau kelima—sjah atau tidak.

Selain jang diamuk malaria, seluruh penghuni rumah sibuk menolong dan mengerdjakan ini-itu. Sonder harapan. Tak peduli tjadangan ubi merah dan kaju bakar habis. Tak merindukan upah kerugian barang dan tenaga. Orang jang membutuhkan pertolongan harus ditolong—naluri jang tumbuh dalam dada mereka jang hidup dipondok-pondok bambu, berlantai tanah, lembab, setengah mampus dimakan malaria, tak pernah ada pikiran memakan orang lain dengan tjara sjah atau tidak. Mereka jang tak pernah berpikir dan mengerti bahwa djalan kereta-api jang banjak memakan ladangnja itu, bukanlah untuk mereka. Dan kalau ada kereta-api berhenti didekat rumahnja, bukanlah ia membawa pil kinine dengan pertjuma, tetapi untuk memberi pekerdjaan berat sonder upah. Sebab, pil malaria hanja haknja mereka jang kuat membajar harga kartjis kereta-api. Purwokerto! Dan mereka hanja punja hak mati dimakan malaria. Atau mampus dimakan setan uang Purwokerto jang berdaulat disitu. Dengan satu hak penghibur jang manis: memperternakkan-diri dirumahrumah jang tak berdjendela. Dan memperternakkan-diri untuk dimakan malaria dan setan-uang pula. Purwokerto!

Malam itu serasa tak ada. Jang ada: pegunungan. Djuga orang jang tak luka dan membawa semua peti-petinja menanggung: keuntungan jang tertunda. Walau mereka tak perlu betul membajar makan dan keuntungan. Tarif tak ada. Tak ada tarif, tak ada kemustian membajar.

Para kurban memikirkan nasibnja. Terutama para gadis jang djadi tjatjat. Dan ini jang aneh: orang jang barangnja berlebih-lebih itu tak ada jang djadi kurban. Dan hampir semua kurban itu adalah anggota-anggota angkatan perang dan keluarganja—berpuluh-puluh! Barangkali inipun jang dinamai orang keadilan Tuhan. Dan Tuhan dalam istilah sehari-hari buat orang jang obatnja berpeti-peti adalah tumpukan kertas jang bergambar Sukarno atau Willhelmina. Semua itu jang mendjadikan malam serasa tak ada. Kalau orang tertidur hanja semenit rasanja, tidak sempat mengimpi, dan hari sudah pagi.

Malam tjelaka sudah lalu. Pagi datang, pagi jang memupuk pengharapan baru—setjemerlang surja jang muntjul dari balik bukit meninggalkan hutan. Tjuma para kurban jang tak tjemerlang harapannja—sederhana, sesederhana rumput. Pengharapan ini: matilah atau sembuhlah dengan lekas. Sebab, kesempatan sembuh djuga banjak, apalagi kalau lukanja ringan. Dan kesempatan matipun besar djuga: kehabisan darah atau diratjun kenahama. Dan kalau gadis-gadis jang djadi tjatjat itu mempunjai pengharpan besar, negatiflah harapannja. Siapa mau berkorban beristerikan perempuan jang tak lengkap batang tubuhnja? Dan mau-tak-mau mereka mendapat peladjaran baru. Jakni: tertawa! Mentertawakan djandji manusia! Apalagi kalau keadaan seperti ini: laki-laki itu muda dan djumlah wanita lebih banjak.

Anggota-anggota angkatan perang jang djadi kurban mengeluh. Mengapa patah dan robek-robek disini? Dibelakang, djauh dibelakang garis-depan? Mengapa tak digaris-depan? Kalau digaris depan memanglah sudah semestinja. Dan mereka heran. Inilah keadjaiban dunia. Dan djadi invalid karena ketjelakaan digaris-belakang, tak ubahnja dengan invalid digaris-depan oleh radjasinga. Tak beda! Dan mereka tak bersenang-hati dengan untungnja.

Pagi jang terang datang. Langit biru dan mendung tak ada. Dunia baru jang akan ditempuh manusia dengan niat baru. Djalan-djalan masih litjin. Dan djurang-djurang njata menganga dibawah kaki.

Peluit kereta-api terdengar. Tak djauh dari tempat bekas terdjadinja bentjana kemarin. Para penumpang merajap seperti semut dari pondok-pondok dipuntjak bukit kebawah. Atau dari bawah mendaki, melalui djalan setapak sempit dan litjin, dalam apitan djurang dan tebing. Tjepattjepat sadja maunja. Persetan dengan pondok-pondok jang tak berdjendela. Persetan dengan suguhan ubi dan tempattidur jang lembab. Persetan dengan penghuninja jang setengah mampus dimakan malaria. Dan orang-orang jag bawaannja berpeti-petilah jang menjumpah-njumpah dulu. Walaupun mereka tak rugi sepeserpun. Dengan tangan berlenggang hampa mereka mengiringkan tuan-tuan rumah jang kini djadi kulinja. Dunia memang terbalikbalik. Kadang-kadang tangan disaku. Tuhan dilangit tak teringat lagi. Sekukupun tidak. Jang teringat: Tuhan jang bisa dikantongi.

Dan orang-orang jang kini djadi kuli hanja bisa merasa kasihan pada mereka. Sebab rasa kasihanlah harta-benda mereka jang besar tuahnja. Harta jang masih tinggal, melebihi ubi dan kaju bakar tjadangan jang habis tandas. Melebihi harga badannja sendiri jang setengah mampus dimakan malaria.

Orang berebut-rebut mentjari tempat jang menjenangkan

dikereta, jang bisa memberi pemandangan baik. Pegu11 nungan Purwokerto dipagi hari alangkah indah! Para kurban djualah jang tak mendapat tempat. Setapak demi setapak mereka diturunkan atau dinaikkan melalui tebing dengan usungan oleh mereka jang masih punja sisa-sisa peri kemanusiaan—ditempat gerobak barang. Gerobak palang merah tak ada walaupun pusat djawatan kereta api daerah—Purwokerto—hanja beberapa kilometer lagi. Barangkali tak penting benar lekas-lekas mengangkuti kurban. Dan orang tak boleh membantah. Kurban boleh memperpandjang dan memperhalus erangnja; sebab, mengerang tidak membajar.

Djam setengah sepuluh. Kereta berangkat. Riuh-rendah orang jang barang-barangnja berpeti-peti menjanji—dalam hati—njanji kemenangan. Njanji keuntungan. Kereta-api berdjalan lagi dan nafsu meluntjur pula diatas relnja. Lupa lagi mereka pada Tuhan diatas langit, pada siapa mereka berdjandji akan tetap setia. Hanja para kurban djualah jang kini tahu harganja mempertjajai dan menaati Tuhan. Karena, mereka terlalu lemah. Dan oleh kelemahan pandangan djadi berubah. Mungkin kepertjajaan dan ketaatannja nanti ditebus Tuhan dengan sorga. Terutama buat para gadis jang harus dibuntungi anggota badannja karena kenahama. Mungkin sebelum berangkat mereka berdjandji akan segera kembali pada kekasihnja. Tapi djandji terpaksa dibatalkan, mereka akan tak sampai hati melihat kekasihnja harus mentjari kekasih baru jang belum tjatjat. . .

Lekukan tebing jang digarisi oleh garis besi dua djadjar, jang kemarin terputus oleh lumpur, kini telah bersih—berkat kerdja gotong-rojong. Machluk-machluk jang setengah mati dimakan malaria inilah jang mengerdjakan—tak membutuhkan penghargaan, karena itu djuga tak dihargai.

Kereta ‘lah lenjap. Perpisahan. Machluk-machluk jang ditinggalkan mendapat tjerita bagus jang sebentar2 diselingi dengan keluh „kasihan”. Kurban-kurban mendapat Tuhan jang punja sorga. Dan pemburu-pemburu keuntungan mendapat dongeng jang ngeri untuk menaikkan harga dagangannja.

Kemelut lalu. Kembali semua berdjalan diatas relnja masing-masing.

Pendjara Bukitduri, Pebr. 1948