Baca PDF (OCR): Batu Merah Lembah Merapi

29 halaman · 1 halaman diproses dengan OCR · 4.8 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Batu Merah Lembah Merapi
  2. Publisher Note
  3. Digitizer Note
  4. Tokoh-tokoh Utama

BACHTIAR SIAGIAN

Batu Merah Lembah Merapi

Kacabenggala Editions

Publisher Note

Naskah drama ini diterbitkan oleh Jajasan “Pembaruan” tahun 1959 dengan rencana kulit dibuat oleh Suparto.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Souvenir buat utusan dari kaki singgalang dan merapi!

Tokoh-tokoh Utama

1. MAWARDI . . . . . laki2 umur 35 tahun, tenang dan tegas.

2. BUJA RASAD seorang tua umur 60 tahun, ulama jang memihak Rakjat.

3. SUTAN . laki2 umur 25 tahun, pembimbang, baru setahun menikah.

4. SAMADAN . laki2 umur 30 tahun, pemberani dan periang.

5. RIDA . . . . laki2 umur 23 tahun, bersemangat, tapi kurang penjabar.

6. Perwira pengchianat . . . . . laki2 bertampan bengis, kedjam dan pengetjut.

7. Beberapa serdadu pengchianat

8. Rakjat Gunung Ledang

9. dll.

Sendjakala! Dikaki sebuah bukit berhutan lebat ada sekelompok manusia sedang ditawan dan dilingkari kawat berduri. Suasana sangat sepi dan muram. Sesekali terdengar seorangtua terbatuk-batuk. Semuanja mereka duduk memeluk lutut ataupun berbaring, terketjuali seorang laki2 jang sudah sangat kumuh, berdiri ditepi pagar duri itu, menatap hutan2 lebat jang tampak se-olah2 mendjulang awan2 merah di kaki langit. Orangtua jang sedjak tadi baring dan terbatuk-batuk mulai duduk dan memanggil sianakmuda ditepi pagar.

BUJA RASAD : (seraja ter-batuk2) Djangan mau digoda haru warna, Sutan! Nanti neraka ini tambah menjiksa. Tetapkan hati dan takdir kita lalui. . . . . . . . .

Sutan, anakmuda jang mengelamun memandang langit itu se-olah2 tersentak mendengar perkataan Buja Rasad, lalu dengan sikap orang baru tersadar ia berpaling dan mendekati orangtua itu. Seraja duduk dan menghela nafas ia menjahut:

SUTAN : (kesal) Langit begitu indahnya Buja, kita segelap ini!

BUJA RASAD : Siapa jang sanggup menantang takdir, Sutan. Semua berdjalan menurut hukumnja. Manusia mengharap, Tuhan menetapkan. Apa faedahnja berketjilhati. . . ..

SUTAN : (sedih) Tapi Bujapun tahu apa jang meredjam hatiku. Ah, tak terutjapkan Buja; terlalu sedih, terlalu pedih!

BUJA RASAD : Siapa jang tak pedih disiksa begitu, Sutan. Tapi kita harus sabar dan tawakal.

SUTAN : (mengelamun) Sendiri sadja istriku dirumah dan ia sedang hamil tua, Buja. Bageimana djika anakku lahir, sedangkan istriku sendirian dan aku dinaraka djahanam ini. . . ..

BUJA RASAD : (sedih) Menjerah sadja pada Tuhan, Sutan. Ia melindungi jang lemah. . . ..

Tiba2 pembitjaraan terhenti, demi seorang laki2 jang sedjak tadi memeluk lututnja. Rida, tiba2 berdiri lalu mendekati pagar seraja berteriak-teriak. . . . . . . . .

RIDA : (berteriak sekuatnja) Beri kami makanan, oooiiii. . . . . . !

Teriakan itu bersipongpang lalu sepi lagi. Rida gelisah mondar-mandir.

RIDA : (mengomel keras) Djahanam! Kita disuruh mampus kelaparan disini. . . ..!

Rida duduk pula dan keadaan mendjadi sepi. Sutan asjik bertopangdagu dan Buja Rasad terbatuk-batuk lalu meneruskan nasihatnja.

BUJA RASAD : Dalam saat2 begini iman kita terudji, Sutan!

SUTAN : Kalau sekedar lapar, masih sanggup aku menanggungnja, Buja, tapi. . . ..

Keharuan menjebabkan Sutan tak sanggup meneruskan perkataannja. Lidahnja se-olah2 kelu dan badannja gemetar menahan kesedihan jang me-njajat2. Buja Rasad memandangnja dengan penuh rasa hiba lalu meneruskan bitjaranja.

BUJA RASAD : (tenang) Hidup ini serba-dua, Sutan. Tak ada kedukaan jang tak disertai kebahagiaan. Hati kita kini luka, tapi dari darahnja menguntum bunga harum: bakti pada kebenaran!

SUTAN : Akupun rela berdjuang, Buja! Tapi malanglah istriku karena tinggal sendiri. Ach. . . ..

BUJA RASAD : (mulai kesal) Sutan se-olah2 tak mejakini keadilan Tuhan. Kalaupun Sutan dirumah, mungkinkah Sutan mendjadi bidannja, memotong pusar atau memandikan baji jang lahir itu?

Sutan terdiam, lalu menatap muka Buja Rasad se-olah2 mau menjelami isi hatinja. Seorang tawanan lainnja, Samadan, tiba2 tertawa seraja berkata:

SAMADAN : (seraja tertawa) Saja pernah mengalami hal begitu, Buja. Ketika istriku hamil saja sudah berniat mau membidaninja sendiri. Tapi waktu tiba saatnja, saja djadi lemas melihat istriku itu mengerang kesakitan. Ah, Buja, djangankan memotong pusar baji itu, melihat ia lahirupun saja takut. . . ..!

BUJA RASAD : (senjum) Lalu. . . ..?

SAMADAN : (tertawa) Lalu saja ber-teriak2 meminta tolong! Ah, gila betul. . . ..

Semua jang ada disitu tertawa mendengar omongan Samadan. Sutan terdiam dan merasa tersinggung. Dianggapnja gelak dan tawa itu sebagai edjekan terhadap dirinja. Dengan sikap seperti kalap ia marah dan berteriak.

SUTAN : (berteriak) Diam. . . ..! Tak berperasaan. Tjoba kalau kalian jang mengalami ini anakmu lahir dan kau mau dibunuh seperti aku sekarang ini.

Tiba2 keadaan mendjadi senjap. Masing2 terdiam. Sutan berdiri lalu berdjalan mondar-mandir dekat pagar kawat itu. Tiba2 ia berteriak seperti orang kesal.

SUTAN : (berteriak kesal) Bebaskan aku, bebaskan. . . ..! Aku tak bersalah. . . .. Bebaskan aku. . . ..!!!

Hanja sipongpang memberi djawab. Sutan tertunduk dan keduabelah telapaktangannja ditutupkannja kemukanja seperti orang menangis. Buja Rasad mendekatinja, menenteramkan hatinja.

BUJA RASAD : Bukan maksud kami memperolok, Sutan, tapi supaja hati tegak kuasa melalui pertjobaan berat ini.

Sutan menatap muka Buja Rasad, lalu tegak memegangi kawat berduri seraja menatap bukit2 dan hutan jang tambah kelam. Buja Rasad duduk pula dan Rida jang berteriak meminta makanan tadi mendekatinja.

RIDA : (me-nekan2 perutnja) Aku tak tahan lapar begini, Buja. Lebihbaik kita ditembakmati.

BUJA RASAD : (tegas) Njawa ditangan Tuhan, anak!

RIDA : (kesal, marah) Kalau pengchianat2 itu datang, aku akan melawan, Buja. Biar aku ditembaknja. Sekali, lantas selesai. . . . . . !

Buja Rasad terdiam. Jang lain memandangi Rida. Rida masih me-nekan2 perutnja sedangkan keningnja berkerut menahan pedih. Sedjurus kemudian ia berkata pula dengan dendam jang menjala-njala.

RIDA : Aku dendam, Buja. Kalau TNI sempat membebaskan kita dari tempat ini, aku akan membalas kekedjaman ini. Akan kubunuh keluarga pengchianat2 itu.

BUJA RASAD : (tenang, sedih) Itu dosa, anak. Djika dendam meradjai hati, hidup akan tjelaka. Pualam ‘kan mendjadi lumpur dan emas mendjadi air. Djangan anak, djangan memendam dendam.

RIDA : Sakit hatiku, Buja. Mereka berbuat sewenang-wenang.

Rida tiba2 membuka badjunja. Didadanja ada parut bekas luka lebar.

RIDA : (kesal) Buja lihat parutku ini. Ini andilku pada Republik, pada kemerdekaan. Dan mereka mengchianatinja. . . .. djahanam!

BUJA RASAD : Sorga ditjapai dengan derita, anak: derita ditempuh dengan iman dan iman dibangun oleh amal. Sebanjak pertama, sebanjak itu katja.

Rida terdiam kendatipun masih bersikap gelisah dan kesal. Samadan kini tjampur bitjara.

SAMADAN : Baik kita melarikan diri, Buja, sebelum dibunuh seperti andjing.

Buja Rasad menatap muka Samadan lalu sedjurus kemudian ia meneruskan pembitjaraannja.

BUJA RASAD : Lari kemana? Bukankah lembah ini dikuasai pengchianat2 itu?

SAMADAN : Dalam gelap begini, siapa jang dapat melihat kita, Buja?

Buja Rasad diam lagi. Ia me-mikir2kan perkataan Samadan dengan sikap agak ragu. Samadan meneruskan andjurannja dengan sikap sungguh2.

SAMADAN : Kalau tengahmalam ini kita lari, besok kita telah keluar dari hutan tjelaka ini. Dan mungkin kita bisa mentjapai pos TNI di Balai Tengah ataupun Buo.

Semua orang memperhatikan usul Samadan. Sutanpun telah mendekati Buja Rasad. Buja Rasad sendiri tak dapat mengambil keputusan lalu memanggil seorang laki2 jang sedjak tadi diam sadja dan bersikap tenang.

BUJA RASAD : (setengah berbisik) Mawardi, Mawardi. . . ..!

Mawardi dengan sikap jang tenang mendekati Buja Rasad, lalu sebelum Buja Rasad bitjara ia telah menjampaikan pikirannja terlebih dahulu.

MAWARDI : (tenang) Kita tak boleh bimbang, Buja. Tapi djuga harus berhati-hati.

BUJA RASAD : Bapak pikir usulnja itu baik.

RIDA : (mendesak) Aku setudju. Aku lari duluan.

SUTAN : Sebaiknja sekarang kita lari, Buja. Supaja lekas keluar dari hutan ini.

BUJA RASAD : (mengharap) Bagaimana Mawardi?

Mawardi jang tenang itu memandangi temannja satu persatu, tapi ia masih belum bitjara. Jang lainnja menunggu dengan penuh perhatian. Rida mendesak pula.

RIDA : (mendesak) Bagaimana, pak?

MAWARDI : (tegas tapi tenang) Kawan2. Saja setudju. Begitu kabut Merapi turun, begitu kita lari. Semoga kabut melindungi kita dari pandangan mereka.

BUJA RASAD : (ragu) Tapi siapa jang duluan keluar?

Tiba2 mereka terkedjut. Dua orang pemuda telah berdiri ditepi pagar sebelah luar. Mereka melemparkan bungkusan2 dan 2 sisir pisang, lalu menghilang lagi. Samadan dan Rida jang sigap itu tjepat mengambil bungkusan2 dan pisang itu, lalu buru2 mendekati Mawardi dan Buja Rasad. Pada salahsatu sisir pisang ada setjarik kertas.

BUJA RASAD : Tjoba batja, Madan.

SAMADAN : (membatja surat perlahan) Saudara2. Ini kiriman kami Rakjat disekitar Gunung Ledang. Semoga Tuhan melindungi kita sema. Selamat berdjuang. Hidup Republik kita!

Buja Rasad tak sanggup menahan airmatanja. Seraja menjapu2 matanja ia berkata tertegun-tegun.

BUJA RASAD : Tuhan maha pengasih!

Baru sadja ia menjatakan kesukuran itu, tiba2 terdengar suara tembakan berturut-turut.

RIDA : (tjemas) Mungkin mereka tertembak!

Semua mereka pergi ketepi pagar kawat lalu memandang keluar. Sedjurus kemudian mereka kembali setengah ruang. Buja Rasad menadahkan tangannja keatas mengutjapkan doa.

BUJA RASAD : Ja Allah! Lindungilah mereka!

SAMADAN : (kagum) Mereka senekat itu datang kemari.

MAWARDI : (tenang, terharu) Rakjat Minang selalu perwira, karena memihak keadilan, kawan. Itulah guru kita! Guru jang tak pernah dikalahkan!

Rida telah mengunjah pisang. Samadan dan Sutan mengambil pula lalu memberikan sebuah kepada Buja Rasad.

SAMADAN : Silakan Buja. Ia memberikan tenaga.

BUJA RASAD : Betapa kita sanggup memakannja, padahal jang memberi mungkin sudah tewas ditembus peluru. Kita seolah2 menelan darah. . . .. Ja Allah, sesisir pisang untuk kita, njawa pengantarnja. . . ..

Buja Rasad termenung dan menjapu airmatanja. Sepi sesaat sampai Rida bitjara.

RIDA : Pisang ini membawa bara dalam hatiku, Buja. Demi Allah aku bersumpah setia kepada Rakjat!

MAWARDI : Rakjat selalu setia pada dirinja, pada sahabatnja! Makanlah Buja. Kendatipun jang mengantar sudah djatuh, tidaklah korbannja siasia. Mereka untuk kita, kita untuk mereka. Semua buat Republik kita!

Buja Rasad baru sadja mengambil pisang, tiba2 muntjul seorang perwira pengchianat jang dikawal oleh beberapa orang serdadu bersendjata otomatis. Dengan mukanja jang bengis dan sikap kasar perwira itu masuk lalu melemparkan bungkusan dan pisang itu keluar. Buja Rasad lalu jang mau mengambil pisang jang terdjatuh dari tangannja tiba2 sadja kena teradjang. Dengan sombong dan kasar perwira itu berkata:

PERWIRA : (sombong) Kau jang mengchianati Minangkabau, masih mau memperbudak Rakjat Minang. Lihat kakitanganmu itu tergeletak seperti andjing disana. . . .!

Mawardi dengan tenang menjahut. Tak terbajang sedikitpun perasaan tjemas dan takut.

MAWARDI : Hm, tuan jang sombong. Semestinja tuan beladjar dari kematian sahabat kami itu. Dia merelakan njawanja sekedar mengantarkan makanan kepada kami. Adakah kesetiaan Rakjat jang lebih besar dari itu? Mungkinkah mereka begitu setia, djika kami tidak berdjuang untuk Rakjat Minang jang djaja? Tuanlah jang mengchianati Rakjat Minang!

Baru sadja Mawardi mengachiri perkataannja, perwira itu meneradjangnja. Mawardi terlentang. Perwira itu memberi perintah lagi.

PERWIRA : Subuh besok kamu dipindahkan semua.

BUJA RASAD : Bapak sudah tua, tuan. Tak sanggup lagi berdjalan djauh2 mendaki gunung.

PERWIRA : Tutup mulutmu, setantua! Mengapa sebelum menantang kami kau tak merasa tua, ha? Kau orangtua munafik jang memihak Komunis, sekarang sedar dituanja. Babi!

Rida jang tak sabar itu tegak lalu berkata.

RIDA : (kasar meluap) Sombong! Letakkan sendjatamu itu, supaja tahu mana jang djantan. Djahanam. . . ..

Seorang serdadu pengchianat meneradjang Rida dan memukulinja dengan gagang sendjata mereka.

PERWIRA : (meluap) Kuhantjurkan nanti benakmu itu, babi!

RIDA : (berteriak menantang) Nah tembak! Tembaklah. . . .. Tembak!

Perwira itu mendjadi ketjut lalu buru2 keluar bersama anakbuahnja. Pintu tempat tawanan itu sengadja dibuka, seolah2 mau memberikan kesempatan bagi orang tawanan untuk melarikan diri. Mereka menghilang dalam gelap. Orang2 tawanan saling berpandangan, tapi Mawardi tetap tenang. Samadan jang menggelisah itu mendekati Mawardi.

SAMADAN : (seperti berbisik) Sebaiknja kita lari sekarang, pak. Mereka lupa menutupkan pintu.

MAWARDI : (tenang seraja mengkerutkan keningnja) Kawan2! Kupikir mereka sengadja membuka pintu itu dan mereka sembunji. Mereka mau memantjing kita lari dan menembak kita dari belakang. . . ..

Sutan jang tak sabar itu mendekati Mawardi dan mendesaknja.

SUTAN : Tak mungkin mereka sengadja, pak. Mereka gugup lalu lupa menguntji pintu itu. Tuhan melindungi kita. . . ..

MAWARDI : (tenang) Kawan-kawan. Kita harus tetap waspada dan berhati-hati.

SUTAN : Pintu sudah terbuka. Apa lagi jang kita tunggu. . . .. Kalau kalian tak mau aku akan pergi sendiri. . . ..

BUJA RASAD : (tjemas) Sutan! Tenanglah, djangan terburu nafsu.

SUTAN : (gelisah) Nanti kita terlambat dan dibunuh seperti hewan. . . .. Ah, aku sudah tak sabar.

MAWARDI : (tenang) Dalam keadaan jang bagaimanapun, kita harus tenang. Kita akan lari sesudah kabut Merapi turun melindungi kita.

Semuanja terdiam dan tenang, terketjuali Sutan jang masih menggelisah. Keadaan sangat sepi. Dikedjauhan terdengar gonggong andjing. Melihat Sutan gelisah, Buja Rasad mendekatinja pula.

BUJA RASAD : Tenang dan bersabarlah Sutan. Sebentar lagi kabut Merapi turun kemari. . . ..

Sutan tak bisa menguasai dirinja. Ia seolah2 bingung lalu menangis.

SUTAN : (sangat terharu) Aku sudah mentjoba bersabar, Buja. Tapi aku serasa mendengar tangis bajiku lahir. . . ..Ah. . . .. djeritan ibunja menusuk djantung Buja. . . ..

BUJA RASAD : Tuhan akan melindunginja, Sutan.

SUTAN : (menutup mukanja) Aku menjesal, aku menjesal. . . ..

Keadaan tambah hening. Semua mata tertudju pada Sutan. Mawardi jang tenang itu mendekati Sutan.

MAWARDI : Kawan Sutan! Tak satupun hati kita jang tak luka. Tak satupun pengalaman sepahit ini. Tapi kitapun harus ingat bahwa tak satupun kehormatan sebesar ini, kehormatan membela negara dan Rakjat kita. Mengapa kawan harus menjesal. . . ..?

SUTAN : (menantang) Tapi aku bukan pemimpin seperti bung, mengapa aku ikut disiksa begini. Aku Rakjat biasa, aku hanja menuntut keadilan. . . ..

BUJA RASAD : Sutan. Baru sebentar ini kita berguru dari Rakjat. Begitu besar kasihnja kepada kita, sampai rela mengantar njawa datang kemari. Mengapa kita harus menjesal?

Sutan terdiam. Rida mengomel pula.

RIDA : Aku baru makan sedikit, mereka sudah merampasnja. Djahanam. Perutku masih lapar. . . !

BUJA RASAD : Mereka merampas segalanja dari kita.

MAWARDI : Tapi [. . . ] kesetiaan Rakjat jang dibawa pisang itu masih tetap pada kita, kawan!

Keadaan hening pula sedjurus. Sutan terpekur seraja menutupkan mukanja dengan kedua telapaktangannja. Sedjurus kemudian terdngar andjing meraung dikedjauhan. Sutan seolah2 disentakkan suara itu. Ia se-olah2 bingung, menggelisah. . . ..

SUTAN : (bingung) Buja Buja. . . .. Anakku lahir, Buja. . . .. Anakku lahir, Buja. . . ..

Tiba2 Sutan berdiri dan se-olah2 mendjadi liar, lalu lari keluar tempat tawanan itu. Semuanja terkedjut. Mawardi memanggilnja.

MAWARDI : (terkedjut, keras) Sutan. . . . . . . . . . Sutan!

Sedjurus kemudian terdengar suara tembakan sekali diiringi djeritan jang mengerikan.

Semuanja terpesona oleh suara itu lalu masing2 tunduk karena keharuan.

MAWARDI : (terharu) Dia sudah ditembak.

BUJA RASAD : (chidmad, terharu) Ina lilah waina ilaihi rodjiun, Ja Allah, lapangkanlah arwahnja dalam kubur. . . ..

SAMADAN : (terharu) Lahirlah baji jang tak bersalah lagi. . . .. Begitu pahtinja perdjuangan ini, Buja.

Semuanja terdiam. Masing2 dilanda keharuannja. Buja Rasad mulai tjemas.

BUJA RASAD : (gemetar) Mungkin mereka akan menembak kita semuanja. . . .. Ja, Allah, lindungilah kami. . . ..

MAWARDI : Djika kabut Merapi tjepat datang, kita mungkin selamat, Buja. . . ..

RIDA : (dendam) Kalau ada sendjata ditanganku, ach. . . .. begitu biadab mereka itu menembak si Sutan. . . ..

Keadaan hening. Masing2 terbenam pada perasaannja. Hanja Mawardi tetap tenang dan selalu me-lihat2 keatas menantikan kabut datang. Tiba2 ia tampak gembira. . . ..

MAWARDI : Kabut mulai datang, Buja. Sudah terasa dinginnja. . . ..

BUJA RASAD : Alhamdulillah! Tuhan Maha Besar.

MAWARDI : Kawan2 bersiaplah untuk lari. Dan kupikir sebaiknja kita lari berpentjar keberbagei djurusan.

SAMADAN : Mengapa tak bersama-sama, pak?

BUJA RASAD : Betul. Mengapa tak bersamasama. . . ..?

MAWARDI : Itu memudahkan mereka menjergap kita. Kalau kita lari keberbagei djurusan, mungkin djuga jang satu tertangkap, tapi jang lain bisa lepas dan bisa meminta bantuan TNI untuk menolong jang lainnja.

Semuanja terdiam. Masing2 memikirkan tjara jang diandjurkan itu. Mawardi meneruskan perkatannja pula.

MAWARDI : Djangan bimbang, kawan2!

BUJA RASAD : (tertegun) Sebaiknja bapak bersama kau, Mawardi. Mataku jang rabun ini tak mungkin melihat sesuatu dalam gelap dan kabut. . . ..

MAWARDI : Itu benar, kawan2. Buja Rasad harus ditemani, tapi sebaiknja bukan dengan saja.

Semuanja terdiam dan memandang Mawardi. Mawardi dengan tenang memandangi mereka satupersatu, lalu berkata:

MAWARDI : Ada siasat jang harus kita djalankan kawan. Djika kita sekaligus keluar dan tiba2 sadja kamp ini sunji, mereka tjuriga dan mungkin tjepat memeriksa tempat ini. Dan mereka sempat memburu dan mengepung kita.

BUJA RASAD : (penuh perhatian) Djadi. . . ..?

MAWARDI : Djadi salahseorang diantara kita harus tinggal dan ribut2 disini. Sesudah kawan2 jang keluar terdahulu agak lama pergi, barulah kawan jang terachir itu pergi. . . ..

Masing2 saling berpandangan dalam perasaan tjemas.

MAWARDI : Djadi salahseorang diantara kita harus berani memikul tugas itu. Dan ini adalah tugas berat, kawan2. Kawan2 setudju dengan siasat begitu?

Masing2 diam. Rida mendekati lalu bitjara.

RIDA : (tegas) Saja setudju, pak. Dan saja bersedia berangkat terachir.

MAWARDI : Kawan2 lainnja setudju.

Semuanja mengangguk menjatakan persetudjuan.

MAWARDI : Baiklah. Bersiaplah untuk pergi.

BUJA RASAD : Siapa jang berangkat terachir Mawardi?

MAWARDI : (tenang) Saja sudah menetapkan orangnja!

Semua mata terbelalak menunggu keterangan lebih landjut. Mawardi memandangi tiap wadjah jang menatapnja lalu dengan tenang ia berkata:

MAWARDI : (tenang, tegas) Saja sendiri!

BUJA RASAD : (terharu) Mawardi. . . ..!

MAWARDI : Bersiap dan berangkatlah sekarang. . . ..

Kabut mulai tebal. Dengan berhati-hati mereka keluar satu demi satu. Mawardi tinggal dan dengan tenang menjanjikan lagu „Sikambang” jang ditjintainja. Sesudah semua pergi ia masih meneruskan njanjian itu. Sedjurus kemudian terdengar djauh orang berteriak: berhenti. . . ..! Dan kemudian berondong tembakan sendjata otomatis, lalu sepi lagi. Tjepat Mawardi berlari keluar, tapi baru sadja ia sampai didekat pintu jang terbuka itu muntjul perwira dan beberapa serdadu pengchianat tadi.

SERDADU : Tinggal seorang lagi, pak. Jang lain sudah lari. . . ..

PERWIRA : (membentak) Babi! Mana kawan2mu, ha?

Mawardi diam sadja. Perwira itu membentaknja.

PERWIRA : Djawab, setan! Kemana kawan2mu?

MAWARDI : (tenang) Mengapa aku jang ditanja, padahal tuan pengawalnja!

PERWIRA : (meneradjang Mawardi) Bangsat! Kuhantjurkan kepalamu nanti!

Mawardi ditarikkan lagi dan ia berdiri dengan tenangnja.

PERWIRA : Djawab! Siapa jang berlalu disini tadi ha?

MAWARDI : Aku! Sudah sepekak itu telingamu sampai tak dapat mengenal suaraku lagi.

PERWIRA : Kau sengadja memperdaja kami supaja kawan2mu lolos, ja! Kau harus ditembak mati, mengerti!

Perwira itu mentjabut pistolnja. Mawardi tetap tenang, memandang sendjata2 jang ditudjukan kepadanja. Dengan hati teguh ia menjanjikan lagu kebangsaan Indonesia Raja. Perwira itu gugup lalu memerintahkan ia diam.

PERWIRA : (gugup, kalap) Diam! Diam, setan!

Mawardi tetap menjanji dengan sikap. Perwira itu tambah kalap, lalu menembak Mawardi jang gagah itu.

Mawardi rubuh. Perwira jang menembaknja itu merasa puas. Serdadu jang mengawalnja tertjengang melihat kedjadian itu.

PERWIRA : (puas) Mampus kau bangsat!

Perwira itu sudah mau pergi, tapi serdadu2 itu masih mentjengangi Mawadi jang terbaring itu dengan mata terbelalak. Perwira itu memerintahkan serdadu itu.

PERWIRA : (kasar) Ajo djalan, tolol!

Serdadu2 itu masih diam dan terus mentjengangi majat Mawardi. Perwira itu mulai kalap lalu membentuk pula.

PERWIRA : (kasar) Ajo djalan. Apa jang kalian tjengangi dari pengchianat itu. Ajo, djalan!

Salah seorang serdadu itu tiba2 menantang perwiranja itu.

SERDADU I : Kami tak jakin dia itu pengchianat. Begitu gagahnja, begitu ichlas. . . .. Tak kau dengar ia menjanjikan lagu keramat itu ketika menghadapi maut?

Perwira itu mau mentjabut pistolnja pula, tapi seorang serdadu lain mengatjungkan sendjatanja kepada perwira itu.

SERDADU II : (membentak) Djangan bergerak! Angkat tanganmu!

Perwira itu djadi gugup dan takut lalu mengangkat tangannja. Serdadu I jang pertama mendekati majat Mawardi.

SERDADU I : (terharu) Tahulah aku sekarang apa sebab Rakjat rela mengorbankan njawanja untuk hanja mengantarkan pisang pada mereka ini. Sesetia itu ia pada pendiriannja, seteguh itu imannja, sebesar itu tjintanja pada tanahair. . . .. Begitu tenang ia menghadapi maut, begitu mesranja ia menjanjikan lagu keramat kita. . . .. Ja, Allah. . . .. kami sudah tertipu.

Serdadu itu sangat terharu dan berlutut dekat majat Mawardi.

SERDADU I : (terharu dengan airmata) Maafkan kami bapak! Kami sudah tertipu.

Tiba2 serdadu I itu berdiri lalu mendekati perwira jang sudah ketjut itu.

SERDADU I : (penuh kebentjian) Kau jang menipu kami, kau kiranja jang mengchianati Republik, kau jang mengchianati Rakjat Minang!

Perwira itu tambat ketjut lalu memohon ampun.

PERWIRA : (dengan sikap ketjut) Ampuni aku. . . .. djangan bunuh aku. Ampun. . . ..!

SERDADU I : Begitu pengetjut kau kiranja! Kau lupa pada pepatah: tangan mentjentjang bahu memikul: hutang harus dibajar.

Kedua serdadu menggeret perwira itu keluar lalu menghilang dalam gelap.

Serdadu I kembali mendekati majat Mawardi.

Serdadu I mengeluarkan buku tjatatan dari kantong Mawardi. Dipasangnja lampu senternja (battery) dan membatja.

SERDADU I : (perlahan) Tentang moral Komunis. . . ..!

Suara tembakan terdengar disertai raungan dahsjat. . . ..

Lajar turun tjepat.

Solo, 28 Djanuari 1959.