Baca PDF (OCR): Sepakbola Sekarat #2: Kartu Merah

10 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 131 ms

Daftar isi
  1. Pelanggaran keras di dalam lapangan, membuat wasit memaksa mengeluarkan
  2. hukuman, entah itu kartu kuning atau kartu merah. Sama Hal nya dengan aparat
  3. yang seringkali melakukan kekerasan yang tak manusiawi kepada para suporter di
  4. Edisi zine #2 Sepakbola sekarat
  5. Edisi zine #2 Sepakbola sekarat
  6. Penulis Editor
  7. Menangkap ikan Mamat militan
  8. Kata Pengantar
  9. Extra Time
  10. TOMI DIBUNUH GAS AIR MATA
  11. Turut berduka untuk
  12. TAK TERIMA, BONEK BALAS DENDAM......
  13. HARI PEMBALASAN SELURUH ULTRAS ITALIA
  14. RATUSAN NYAWA DI EKSEKUSI DI
  15. KANJURUHAN
  16. HARI PEMBALASAN JAKMANIA!!!
  17. FAHREZA ADALAH BUKTI KEBRUTALAN APARAT
  18. Kartu Merah || Kartu Merah

Pelanggaran keras di dalam lapangan, membuat wasit memaksa mengeluarkan

hukuman, entah itu kartu kuning atau kartu merah. Sama Hal nya dengan aparat

yang seringkali melakukan kekerasan yang tak manusiawi kepada para suporter di

dalam maupun di luar lapangan. Suporter harus berani mengeluarkan kartu merah untuk aparat, dan mengeluarkan mereka untuk setiap pertandingan.

Edisi zine #2 Sepakbola sekarat

Edisi zine #2 Sepakbola sekarat

Penulis Editor

Menangkap ikan Mamat militan

Kata Pengantar

Zine ini adalah edisi kedua dari proyek Sepakbola Sekarat, produksi TukangSorban. Edisi kedua ini akan membahas bagaimana kejamnya orang – orang berseragam kepada masyarakat khususnya adalah suporter yang ada di dalam tribun. Aparat sendiri memiliki slogan sebagai pengayom masyarakat, dimana mereka adalah institusi pertama yang dicari masyarakat apabila masyarakat mengalami ketidakadilan. Sayangnya slogan tersebut sangat jauh dari kenyataan. 135 Korban jiwa di Kanjuruhan adalah bukti terbaru tentang kekejaman Aparat.

Keblunderan tersebut sebenarnya tidak hanya di dalam lingkup tribun atau suporter akar rumput, Aparat selalu berbuat diluar batas, lewat dalih pengamanan. Contohnya adalah penculikan kepada individu yang berani bersuara, mulai dari pelajar yang melakukan aksi, aktivis HAM yang membela masyarakat tertindas hingga mengarang cerita sebodoh mungkin.

“Dasar suporter kampungan, contoh tuh di Eropa mereka dewasa, gaada yang rusuh” ucap orang awam atau penikmat sepakbola. Kultur No Name No Face yang di terapkan di Eropa benar – benar dilakukan merekalah yang menjadi incaran – incaran aparat, mereka lah yang memakai brand Adidas hingga Nike tetapi dengan cara menjarah. Kultur No Name No Face sendiri juga banyak digunakan di Indonesia, namun semua itu hanya aksesoris, mereka tetap selalu mudah di giring oleh ketua atau korwil dan menjadi kambing yang digembala ketua umum.

Apakah kita tetap harus berteman dengan Aparat ? Jawaban tersebut ada di hati kalian masing – masing, namun Zine kedua ini akan membeberkan fakta bahwa Aparat tidak sebaik di depan kamera atau di depan Televisi.

Extra Time

Terimakasih untuk kawan – kawan yang telah khusyuk membaca dari awal dan telah mencapai akhir, serta saya ucapkan Alhamdulillah karena telah rampungnya Zine edisi kedua ini. Edisi yang menceritakan sejarah kebrutalan aparat, mohon maaf ini adalah sedikit dari banyaknya kejadian, entah itu yang tertulis dan kejadian yang tidak diketahui banyak orang dan media. Mereka tidak memiliki perasaan dan melakukan apa saja untuk memuaskan hasrat nya.

Apakah aparat adalah pelindung bagi kita? Saya rasa tidak, ini bahkan malah akan menjadi sebuah bumerang untuk kita, bagaimana tidak? Ketika kita kehilangan sesuatu mereka malah memeras kita, ini sudah menjadi rahasia umum, saya rasa tidak perlu saya beberkan bukti – buktinya. Dulu waktu kecil saya sangat bangga memakai seragam itu, juga dengan doktrin – doktrin di televisi serta di sekolah yang mencitrakan bahwa aparat itu baik.

Percayalah mereka tidak suka membaca dan berpikir, maka muncul sebuah istilah dari kawan – kawan di jalan bahwa orang banyak membaca akan menjadi pintar, dan malas membaca akan menjadi aparat. Ya mereka hanya mengikuti perintah, tidak hanya polisi, begitu juga tentara. Mereka menendang kepala petani dengan sepatunya, mereka memukulnya, mereka menyita buku-buku merah yang mereka sendiri tidak tahu apa isi di dalam buku tersebut.

Maka langkah revolusi pertama adalah secara sadar di dalam pikiran yang merdeka, tanpa ada doktrin – doktrin jahat. Jika kamu tidak berani melakukan ledakan di jalan, maka serendah – rendahnya revolusi adalah membenci mereka yang jahat sejak dalam pikiran.

Penulis Editor MENANGKAP IKAN MAMAT MILITAN

Kartu Merah | | Kartu Merah

TOMI DIBUNUH GAS AIR MATA

Source: Kompasiana

KUSNAENI, ARNOLD, BRIPKA ANDIK P., FAIZ AL FIKRY, JOVAN FARELLINO,

MOCH. ABID HUSNI, SYAHRULLAH, MOH. AKBAR ARRAHAN, RIYANG

AMBARWATI, MUH. NOVAL PUTRA A., INDHI RAHMA PUTRI, MOCH. RIKKY

ADITYA, HAFISKA DWI A., EKO VIKI SULISTIYONO, MUH. VIRDI PRAYOGA,

HANDIKA RIZKY TRIONO, REVANYA SALWA S. IWAN, HADIYATUS

TSANIYAH, KLARISTA DISCA S., RIA AMELIA PUTRI, M. UBAIDILLAH,

HERLANGGA ADITAMA, ABDAN AGENG FAUZAN,M. ILHAM SABILILLAH,

VERA PUSPITA AYU, MOKH. ABDURROHMAN, ALFINIA MAHARANI P.,

LUTVIA DAMAYANTI, FAREL ATYANABI, WAHYUDI,MOCH. ALI MUHTAR,

MOH. KINDI ARRUMI, MOH. BINTANG P., NAFISATUL M., DEVI RATNASARI,

RADINA ASTRID Y., GABY ASTA PUTRI, MUCH. YULIANTO, M. HAFIZH

APRILIANTO, EL VIDUALLY, ADION, SANDI SANJAYA, TASYA, NAJWA,

RADINA ASTRID Y., EVI NUR ROSIDAH, MUSTOFA, ANGGA

PRASDIYANSYAH, HADINATA, LALA, M. RIAN FAUZI, MUH. FEBRIANSYAH,

HERLANGGA ADITAMA, HENDRIK GUNAWAN, KAKA WIDAD, NOVAL

BUDIONO, HELEN PRICELA, ANDI SETIAWAN, REYVANO, FARZAH DWI DAN

KORBAN YANG LUPUT NAMANYA DAN TIDAK TERIDENTIFIKASI.

3 Juni 2012 dalam laga IPL, Persebaya 1927 memainkan laga kandang melawan Persija 1928 di stadion Gelora 10 November atau juga dikenal Stadion Tambaksari. Skor akhir pada saat itu imbang 3-3 lewat gol telat Persebaya di menit 90+3. Pada saat wasit meniup pluit panjang tanda laga berakhir, Suporter turun ke lapangan dengan maksud melepas spanduk – spanduk yang ada di stadion, sebab memang pertandingan telah selesai, namun aparat memiliki pemikiran yang berbeda, mereka mengira turunnya Bonek ke lapangan adalah menyerang pemain Persija Jakarta.Tindakan aparat yang berlebihan tersebut kepada Bonek yang turun kelapangan, memancing emosi Bonek lain yang ada di tribun, botol-botol pun menghujani para aparat, botol – botol yang sakit nya tak seberapa itu, sebab helm polisi sangat kuat menahan batu, apalagi hanya sekedar botol. Hujan botol tersebut dibalas dengan Hujan gas air mata yang di tembakan ke tribun, alasannya adalah agar tidak ada suporter lain yang ikut turun ke lapangan.

Source: Tempo

Perlu diketahui di dalam aturan FIFA pun gas air mata dilarang, dalam FIFA stadium safety and security regulations 19b yang berisi “No fire arms or crowd control gas shall, be carried or used” atau jika di artikan tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas air mata.

Gas air mata tersebut membuat para suporter chaos, panik mencari pintu keluar dan berdesak – desakan. Dan membuat suporter yang bernama Purwo Adi Utomo atau biasa di panggil Tomi. Ia kehabisan nafas dan juga terinjak – injak pada saat ingin menyelamatkan diri keluar stadion. Untuk menghormati Tomi, Persebaya menamakan salah satu lorong di Stadion Tambaksari dengan nama Lorong Tomi, untuk mengenang arogansi aparat pada saat itu dan mengingatkan betapa bahaya nya Gas Air mata apabila di gunakan di stadion.

Turut berduka untuk

MUCHAMAD ARIFIN ,AUDI NESIA ALFIARI, ANGGER A. P., ADITYA DIMAS

PRATAMA, MOCH. HASHFI AL WAFI, SHIFWA DINAR, LINDA SETYA, DAFFA

FAKHRUDIN P., RONI SETIAWAN, BRAGI KUSUMA, LAMHADI IRIAWAN,

RIYAN, ANGGRAENI DWI K., AGUS RIANSYAH P. P. GABRIEL, WAHYU NUR

UTOMO, MUH. MUNGIZUL H., VIKY ROHIBALA, ACH NUR CAHYO, MAYANG

AGUSTIN, IWAN JUNAEDI, FAIZ AL FIKRY, ACHMAD HUSEN R., NITA

MULIDYA, FAIQOTUL HIKMAH, RATNA INDRIYANI, RIYO EDIT SETYAWAN,

RANGGA P. SAPUTRA, FILLAH AZIZ FIRMANSYAH, FIRMAN NUR ABIDIN, M.

ARI MAULANA, M. HAIKAL MAULANA, ELISABETH AGUSTIN, M. RIZAL

ILHAMIN, RUDI HARIYANTO, EKA PRIYANTI MEI W., MOH. RIZKI

DARMAWAN, GEBY SETYAWARDANI, PRATIWI, RIZKY DWI, GILANG SURYA

R., MOH. IRSYAD AL JUNED, SEPTIAN RAGIL S., RIZKY WAHYUDI, ANIK HARIANI, CITRA AYU AMELIA, AHMAD KHOIRUL HUDA, FAJAR KHOIRUN AHMAD, HADI KURNIAWAN, SALSA YONAS OCTAVIA, YUNIA, IBNU M. RAFI, HUTRI ADI HERMANTO, REVANO PRASETYO, DAFA YUNANTO, YULIO DINI PRASTIAWAN, AHMAD WAHYUDI, MUNIFA LATIFUL IKSAN, PUTRI LESTARI, HILDAN ADISTA, MOHAMMAD ADIT, WILDAN RAMADANI, HINDUN DIANA, BAHRUL ULUM, JEFRI IKLASTUL AMAL, ABIAN HASYI RIFKI, MUHAMMAD NIZAMUDIN, HAIKAL, AHMAD DANI SAFARUDIN, ANDIKA BAYU PRADANA, YANUAR DWI BRAMANTYO, MUHAMMAD NAILUL, MOCH. TEGAR ARDIAN, BRIPTU FAJAR YOYOK, MOH. HENDRA,

Source: Arsip Pribadi Bonek

Hal ini benar – benar bisa disimpulkan kesalahan penuh aparat yang menembakan gas air mata ke tribun ditambah dengan pintu terkunci. Padahal dalam aturan FIFA sendiri, gas air mata saja bukanlah prosedur sebagai peleraian kerusuhan di dalam stadion. Berbeda dengan suporter lokal yang masih fokus terhadap tim kesayangannya, bagaimana mereka akan berprestasi dan mengingkan liga kembali berjalan, Suporter luar lebih peduli dengan kejadian di Kanjuruhan, mereka menganggap kejadian di Kanjuruhan adalah kebrutalan Polisi. Sebab kekerasan polisi dalam dunia sepakbola, sudah sangat sering ditemukan di Eropa.

Efek samping dari gas air mata antara lain adalah iritasi kulit, sesak napas, kebutaan hingga kematian. Gas air mata yang biasa digunakan dalam meleraikan masa demonstrasi yang di tembakan di tempat terbuka pun sudah membuat orang sesak napas, bisa di bayangkan bagaimana jika gas tersebut di tembakan di tempat tertutup dan terkurung seperti stadion.

Source: Arsip Pribadi Dortmund Fans

Bahkan setelah kejadian di Kanjuruhan, banyak teror yang datang kepada kawan – kawan Aremania serta saksi mata para pedagang di Kanjuruhan, teror itu semua datang dari aparat, mereka memaksa membungkam serta mengancam apabila semuanya menceritakan yang sebenarnya.

Dengan brutalnya para polisi dan tentara yang mengusir Aremania dengan pemukulan dan tendangan – tendangan sepatu tentara. Berhasil membuat para suporter keluar lapangan, tak puas para aparat pun menembakan gas air mata mereka ke beberapa titik tribun, namun yang paling banyak adalah tribun selatan. Di tambah orang – orang yang berada di tribun bingung ingin menyelamatkan diri kemana, pintu keluar stadion yang tertutup, dan tidak boleh masuk ke dalam lapangan, mereka seperti dipaksa mati oleh para aparat.

Source: Arsip Pribadi Bonek

Source: Tirto

TAK TERIMA, BONEK BALAS DENDAM......

Sebagian besar Bonek berhasil keluar dari stadion, mereka melampiaskan kemarahan mereka dan membakar mobil patroli polisi yang di parkir di pintu keluar stadion. Mereka benar – benar mengamuk dan bingung harus balas dendam bagaimana. Kerusakan mobil patroli pun tak seberapa, sebab mobil tersebut juga dibeli dengan uang pajak yang dibayar oleh rakyat. Tetapi nyawa Tomi tidak bisa kembali. Hingga kini tidak ada hukum yang memberikan solusi atas kerusuhan tersebut.

Kekacauan malam itu membuat esoknya banyak kejadian, seperti perdamaian palsu, berita cuci tangan, hingga pembelaan yang tak masuk akal. Berawal dari saling lempar tanggung jawab, Pembuatan video palsu tukang dawet hingga pernyataan STY yang membuat banyak kalangan merasa di adu domba. Padahal kuburan korban belum juga kering, tetapi banyak netizen yang membahas tentang kelanjutan prestasi timnas dan kelanjutan STY yang memberi tameng kepada Iwan Bule.

HARI PEMBALASAN SELURUH ULTRAS ITALIA

Source: Tifo Ultras

Usai kejadian tersebut banyak toko – toko merchandise Persija miliki Ultras di Italia memang dikenal dengan perselisihan yang mengakar, Jakmania banyak menjadi korban teror dan diserang serta dirusak dengan bahkan tidak jarang banyak yang terluka akibat perkelahian Ultras. Motif ada tulisan pesan yaitu “pembalasan”. dari permusuhan ultras di Italia biasanya adalah perbedaan pandangan politik. Tidak hanya laga lokal, laga internasional pun juga sering terjadi pertengkaran, bahkan ketika fans Manchester United harus menjalani laga away di Italia pada saat laga Champions. Belasan fans harus

RATUSAN NYAWA DI EKSEKUSI DI

menerima luka ringan, yaitu tusukan di tangan.

KANJURUHAN

Lautan awan gas air mata di Kanjuruhan telah menewaskan ratusan nyawa, secara cuma – cuma, ini adalah salah satu kejadian dengan korban jiwa terbanyak dalam dunia sepakbola. Kekalahan 3-2 atas Persebaya, memang mengecewakan bagi Aremania, banyak kawan – kawan suporter yang turun kelapangan untuk menyemangati pemain Arema, namun Aparat berpikiran lain, sebab ini adalah derby, mereka mengira bahwa akan terjadi kerusuhan. Padahal pemain Persebaya sendiri sudah keluar lapangan semua. Namun pemukulan brutal kepada banyak Aremania ini mengundang kawan – kawan lainnya turun ke lapangan.

Pada November 2007 laga panas antara Lazio dengan Inter akan dilaksanakan, Perjalanan away di lakukan oleh rombongan Ultras Lazio, namun di perjalanan mereka bertemu Ultras Juventus, tepatnya di kota Arezzo, Perkelahian kedua kelompok tak terhindarkan. Perlu diketahui bahwa setiap pertandingan di Italia adalah peperangan bagi para ultras. Mereka yang akan hendak datang ke stadion, mereka sudah tahu apa saja yang akan menjadi resikonya.

Perkelahian di Italia identik dengan tangan kosong, dan tidak membiarkan lawannya hingga tewas, mereka yang sudah menyerah akan ditinggalkan dan di rampas atribut klub nya. Namun di tengah perkelahian muncul beberapa polisi patroli untuk menenangkan masa yang bentrok. Peluru pertama di keluarkan di udara, namun peluru kedua mendarat tepat di leher salah seorang Ultras Lazio yaitu Gabriel Sandri.

Source: NOS

Karena kejadian tersebut laga antara Lazio melawan Inter ditunda. Di laga lain antara Atalanta melawan AC Milan juga ditunda, lantaran para ultras merusak stadion dan masuk ke lapangan untuk memberhentikan pertandingan, setelah mendengar kejadian kematian Sandri. Mereka merusak kaca – kaca pembatas di stadion, dan mulai menghancurkan mobil – mobil polisi yang ada di luar stadion.

HARI PEMBALASAN JAKMANIA!!!

Laga melawan Sriwijaya FC dalam edisi yang sama yaitu pada bulan Juni, banyak teror dilakukan Jakmania kepada aparat, yaitu mulai dari nyanyian hingga teriakan, hal ini dilakukan sebagai pembalasan dan meminta tanggung jawab atas kematian Fahreza, diluar stadion dan di dalam stadion telah terjadi penembakan gas air mata, yang membuat salah satu pendukung turun kelapangan, alasannya ia tidak kuat menahan perihnya gas air mata, namun pendukung tersebut justru di keroyok aparat dengan alasan turun ke lapangan. Hal itu mengundang kawan – kawan Jakmania untuk turun juga ke lapangan dan akhirnya terjadi bentrokan besar dan laga dihentikan. Satu polisi menjadi korban dan kritis.

Source: Tifo Ultras

Source: Arsip Pribadi Ultras Lazio

Source: Independent

Jakmania berduka dan menunjukan sikap solidaritasnya, mereka mengibarkan Bendera kuning yang menjadi simbol bahwa seseorang telah meninggal dunia pada laga melawan PS TNI, aksi solidaritas ini adalah bentuk protes dari brutalitas seorang polisi. Parahnya lagi dalam koran tempo membeberkan berita bahwa Aparat tidak mau mengakui perbuatannya Fahreza, mereka mengatakan bahwa Fahreza meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kakak Fahreza menepis semua itu, sebab dia adalah orang yang mendengar cerita langsung dari Fahreza, dengan bukti bekas luka – luka pukulan pada tubuh Fahreza.

Laga lainnya, laga AS Roma vs Cagliari pun ditunda. Ultras Roma membawa senjata dan mulai menghancurkan pos – pos polisi yang ada di kota Roma, tak hanya itu mereka juga menyerang kantor komite olimpiade Italia. Padahal Ultras Roma sendiri sangat benci dengan Lazio lantaran pandangan politik, namun mereka merasakan apa yang di rasakan Ultras Lazio pada saat seorang suporter di tembak mati oleh polisi. Mungkin sekarang Sandri yang menjadi korban, tapi besok atau lusa tidak menutup kemungkinan Ultras Roma, Milan hingga Tifosi lainnya yang menjadi korban kebrutalan Polisi.

Source: Liputan 6

FAHREZA ADALAH BUKTI KEBRUTALAN APARAT

Laga antara Persija melawan Persela pada tahun 2016 di Gelora Bung Karno menjadi sebuah saksi kebrutalan polisi kepada salah satu

Source: NOSsuporter Persija yaitu Fahreza, Pemuda yang masih duduk di bangku

SMP yang masih berusia 16 tahun. Kejadian diawali karena membludaknya stadion dan tiket sudah dinyatakan habis, tetapi banyak orang yang sudah mempunyai tiket tetapi tidak bisa masuk, dengan Kabarnya banyak Ultras dari klub – klub kecil juga membuat strategi untuk alasan di dalam sudah penuh. Cara klasik dilakukan oleh aparat yaitu melakukan pengrusakan di tempat mereka, ini semua adalah bentuk memukul banyak orang dengan pentungan kayu nya tersebut. Hal ini protes mereka kepada polisi dalam menangani sebuah kerusuhan. pernah saya alami secara langsung pada saat Arema melawan Persija Solidaritas Ultras ini membuat pengadilan mengubah hukuman Polisi yang pada tahun 2014 di tempat yang sama yaitu Gelora Bung Karno, pada menembak Sandri yaitu Luigi Spaccarotella, yang awalnya dihukum enam saat itu padahal saya memegang tiket, namun lantaran saya datang di tahun, menjadi sembilan tahun 4 bulan. waktu pertandingan akan dimulai sedikit lagi, saya tidak bisa masuk dan aparat juga menggunakan cara mengayunkan tongkatnya tersebut.

Alhasil pada laga 2014 tersebut, banyak massa yang memaksa masuk dan membobol tribun atas, padahal pada saat itu tribun atas dilarang untuk di tempati. Kembali pada kejadian Fahreza, Fahreza yang menjadi korban pemukulan polisi tersebut tidak langsung meninggal di tempat, ia masih sempat pulang kerumah dan menceritakan semua kejadiannya pada keluarga, ia akhirnya di bawa kerumah sakit, namun tidak bisa dicover oleh BPJS karena luka yang ada pada dirinya karena pemukulan, pada dua hari setelahnya Fahreza dinyatakan meninggal.

Source: media italia universal

Kartu Merah || Kartu Merah