Baca PDF (OCR): Bunga rampai syair

315 halaman · 314 halaman diproses dengan OCR· 251361 ms

Daftar isi
  1. BUNGA RAMPAI SYAIR
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
  3. BUNGA RAMPAI SYAIR
  4. RAMPAI SYAIR
  5. ISBN 979 459 053 2
  6. PUSAT PEMBINAAN
  7. DAN PENGEMBANGAN BAHASA
  8. Hasan Alwi
  9. TERIMA KASffi
  10. Tim Peneliti
  11. PENDAHULUAN
  12. 5. Syair Jamal al Asyik
  13. Syair Mimpi
  14. Jika bermimpi melihat surga
  15. Jika bermimpi bintang kemukus
  16. hendaklah kamu mengucap syukur
  17. Abukabar amirullahnya dan Ali
  18. Jika bermimpi dirinya berlayar
  19. beroleh harta tiadalah payah
  20. alamat beroleh anak kepadanya
  21. · datang menggoda
  22. SY AIR DAGANG
  23. ~--------11 L
  24. (iv) Syair Dagang
  25. Ini Syair Dagang
  26. sungguhpun hadnya tiada indah
  27. duduk di dalam menanggung nestapa
  28. filmu jangan se(m)barang-barang
  29. Isyarat berniaga hendaklah dipilih
  30. 8 Biar sedikit asal sempurna
  31. Demikian berlayar tiada bahayanya
  32. di situlah banyak jadi mudarat
  33. Tiada mendengar kabar yang tua
  34. supaya lepaslah di hawa
  35. 10 Kemuliaan itu senantiasa menantikan engkau
  36. Orang yang sungguhnya kaya itu
  37. 18 Sabar itu penawar segala kemarahan
  38. (VI) Songkok
  39. SYAIR PANTUN SEWKA
  40. 1 Syair Pantun Seloka
  41. 2 Syair Pantun Seloka
  42. ilrut bicara saya
  43. kepada tuan minta berguna
  44. cinta tidak ke mana pergi
  45. SYAIR TAJUL MULUK
  46. 2 Syair Tajul Muluk
  47. Siti yang duka
  48. Siti yang duka
  49. Siti sakit merana
  50. Siti ulama
  51. Sida yang bijaksana
  52. Sida Andelina
  53. Sida Andelina hadir di situ
  54. qi dalam tirai tulis berawan
  55. 205 takutkan Sultan duli yang gana
  56. memabawa/k/ diri entah ke mana
  57. di manakah tempat ibu dan bapa(k)
  58. Sida Andelina
  59. Tiadalah hamba berpanjang madah
  60. Kemudian berkata Tajul pun pula
  61. patut diberi harta dan benda
  62. payah didapat seperti dia
  63. 20 kepada 82 Rabiulawal sanat 1336.
  64. SYAIR JAMAL AL ASYIK
  65. sajaknya syair sukar dicari masuklah fakir seorang diri
  66. mengatur syair kisah dan peri
  67. Akan paras putra sangsana
  68. Amatlah cantik putra Sang Nata
  69. taji dibentuk keningnya itu wajahnya laksana sepuluh mutu barang yang melihat asyiklah tentu
  70. Siti paras yang syahda
  71. "Sila kakanda duduk kemari."
  72. pecap cawan di atas peti
  73. · dikabarkan oleh si Rindu itu."
  74. bukan sekarang baharu diterpa
  75. Puan berisi buah kurma
  76. Ttihanku malik al jari
  77. Yang Esa
  78. SUKAR
  79. : caci maki, kutuk (KD:346)
  80. PUSTAKA

BUNGA RAMPAI SYAIR

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

BUNGA RAMPAI SYAIR

RAMPAI SYAIR

Nikmah Sunardjo Nurul Supardan

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan N asional Jakarta

Tida.k diperdagangkan

072 SUN Sunardjo, Nikmah; Nurul Supardan. b

Bunga Rampai Syair--Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengem- bangan Bahasa, 2000.--X!+306 hlrn.; 21 ern.

ISBN 979 459 053 2

  1. PUISI MELA YU-KAJIAN DAN PENELITIAN
  2. KESASTRAAN MELA YU-KAJIAN DAN PENELITIAN

PUSAT PEMBINAAN

DAN PENGEMBANGAN BAHASA

Setiap kali sebuah buku diterbitkan, apa pun isinya dan bagairnanapun mutunya, pasti diiringi dengan keinginan atau niat agar buku itu dapat dibaca oleh kalangan masyarakat yang lebih luas. Seberapa jauh isi buku tersebut dapat memberi tarnbahan wawasan dan pengetahuan kepada para pembacanya, hal itu seyogianya dijadikan pertimbangan utama oleh siapa pun yang merasa terpanggil dan harus terlibat dalam berbagai upaya mencerdaskan kehidupan bang sa dalam pengertian yang luas. Dalam konteks itu, perlu disebutkan tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu tingkat keberaksaraan, minat baca, dan buku yang bermutu. Masyarakat yang tingkat keberaksaraannya sudah tinggi atau sekurang-kurangnya sudah memadai dapat dipastikan akan memiliki minat baca yang tinggi atau (sekurang-kurangnya) memadai pula. Minat baca kelompok masyarakat yang demikian perlu diimbangi dengan cukup ter- sedianya buku dan jenis bacaan lain yang bermutu, yang dapat memberi tambahan wawasan dan pengetahuan kepada pembacanya. Pada dasarnya setiap orang berkepentingan dengan tarnbahan wawasan dan pengetahuan itu, bukan saja karena faktor internal yang telah disebutkan (tingkat keberaksaraan dan minat baca orang yang bersang- kutan), melainkanjuga karena faktor eksternal yang dari waktu ke waktu makin meningkat dalam hal kualitas dan kuantitasnya. Interaksi antara faktor internal dan eksternal ini dalam salah satu bentuknya melahirkan keperluan terhadap buku yang memenuhi tuntutan dan persyaratan tertentu. Dilihat dari isinya, buku yang dapat memberi tarnbahan wawasan dan pengetahuan itu amat beragam dan menyangkut bidang ilmu tertentu. Salah satu di antaranya ialah bidang bahasa dan sastra termasuk peng- ajarannya. Terhadap bidang ini masih harus ditarnbahkan keterangan agar diketahui apakah isi buku itu tentang bahasalsastra Indonesia atau menge- nai bahasalsastra daerah.

Bidang bahasa dan sastra di Indonesia boleh dikatakan tergolong sebagai bidang ilmu yang peminatnya masih sangat sedikit dan terbatas, baik yang berkenaan dengan peneliti, penulis, maupun pembacanya. Oleh karena itu, setiap upaya sekecil apa pun yang bertujuan menerbitkan buku dalam bidang bahasa dan/atau sastra perlu memperoleh dorongan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Sehubungan dengan hal itu, buku Bunga Rampai Syair yang diha- silkan oleh Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1998/1999 ini perlu kita sambut dengan gembira. Kepada penyusun, yaitu Nikmah Sunardjo dan Nurul Supardan saya ucapkan terima kasih dan penghargaaan yang tinggi. Demikian pula halnya kepada Pemimpin Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta seluruh staf saya sampaikan penghargaan dan terima kasih atas segala upayanya dalam menyiapkan naskah siap cetak untuk penerbitan buku ini.

Hasan Alwi

TERIMA KASffi

Syukur alhamdulillah buku ini dapat diterbitkan tepat padl.i waktunya. Kami berharap rnudah-rnudahan buku ini dapat berguna bagi pernbinaan dan pengernbangan bahasa Indonesia. Dengan bertolak dati ketidaksern- purnaan, buku ini diharapkan dapat rnenarik rninat para peneliti yang lain untuk rnenggarap rnasalah ini lebih lanjut. Bunga Rampai Syair ini rnerupakan hasil penelitian Bagian Proyek Pernbinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah-Pusat, Pusat Pernbinaan dan Pengernbangan Bahasa Tahun 1996/1997. Sehubungan dengan itu, kami rnengucapkan terirna kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pernbinaan dan Pengernbangan Bahasa dan sernua pihak yang ter- libat dalam penyelesaian terbitan ini. Buku ini pasti banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami tidak rnenutup diri rnenerirna kritik dan saran yang berrnanfaat dari berbagai pihak derni perbaikan isi buku ini. Akhirnya, kami berharap agar buku ini dapat bermanfaat bagi studi sastra selanjutnya.

Tim Peneliti

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi.. ix Daftar Singkatan

  1. Pendahuluan
    6

  2. Ringkasan Cerita

  3. Transliterasi Cerita 10
    10
    3) Syair Pantun Seloka 74
    4) Syair Tajul Muluk.
    Daftar Kata Sukar 304

1) Syair Mimpi
41

2) Syair Dagang.
98 235

5) Syair Jamal al Asyik
Daftar Pustaka305

SM : Syair Mimpi
SO : Syair Dagang
SPS : Syair Pantun Seloka
STM : Syair Tajul Muluk
SJA : Syair Jamal al Asyik

PENDAHULUAN

Dalam kesusastraan Melayu Lama, kita mengenal sastra daerah, baik: yang berupa naskah maupun lisan. Sastra lisan itu umumnya diturunkan oleh seorang ibu kepada anaknya ketika mau tidur, atau dari seorang pencerita kepada para pendengar yang biasanya para petani yang sedang santai. Pemerintah telah banyak mendokumentasik:an kedua macam naskah itu. Sastra lisan telah banyak dibukukan sehingga dapat dibaca dan disebarluaskan. Naskah yang tersebar di masyarakat telah banyak diin- ventarisasikan kembali oleh Pemerintah. Naskah-naskah itu umumnya disimpan di Perpustakaan Nasional atau instansi pemerintah lainnya, tetapi masih ada yang disimpan di rumah penduduk. Pada umumnya naskah tersebut disimpan dengan baik, tetapi penyimpanan itu belumlah menjamin keselamatannya karena naskah-naskah itu tetap saja lapuk yang akibatnya tidak dapat terselamat- kan, baik dengan cara difoto maupun dibuat mikrofilm (Robson, 1978:5).

Foto dan mikrotilm itu hanya menyelamatkan isi teks, sedangkan nas-

kahnya sendiri menjadi lapuk karena dimakan waktu. Itulah sebabnya, berbagai instansi dan perorangan yang merasa terlibat dan bertanggung jawab atas naskah-naskah itu berupaya untuk menyelamatkannya dari kepunahan. Salah satu cara untuk melestarikan naskah itu ialah dengan mengalihaksarakannya. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ialah salah satu instansi yang peduli terhadap naskah tersebut dan berusaha untuk menyelamatkannya. Naskah-naskah itu ada yang bertuliskan huruf daerah atau huruf Arab Melayu. Tidak semua orang dapat membaca tulisan daerah atau Arab Melayu sehingga untuk mengetahui isi ceritanya harus dialihaksarakan dan diterjemahkan. Oleh karena itu, untuk melestarik:an cerita-cerita yang terdapat dalam naskah seperti itu haruslah dialihaksarakan dahulu. Pengalihaksaraan naskah itu tidak mudah, banyak waktu yang diperlukan dan tidak semua orang dapat melakukannya. Orang harus menguasai tulisan--dalam aksara daerah--dan bahasanya lebih dahulu. Jadi, tidak sembarang orang dapat melakukannya. Selain itu, masih banyak orang

Oleh karena itu, pengalihaksaraan dan penyuntingan naskah lama ban yak dilakukan sekarang ini. Pada kesempatan ini, naskah-naskah yang terdapat di Pusat Pembinaan dan Pengembangan. Bahasa dialihaksarakan, salah satu di antaranya ialah naskah yang berjudul "Cerita Binatang". Di dalam naskah itu terdapat sepuluh cerita, yaitu (1) "Syair Kancil", (2) "Syair Nuri Bermimpi", (3) "SyairUnggas", (4) "SyairBurungPungguk", (5) "Syair Raksi", ( 6) "Syair Mimpi", (7) "Syair Dagang", (8) "Syair Pan tun Seloka", (9) "Syair Tajul Muluk", dan (10) "Syair Jamal al Asyik". Dari sepuluh syair itu, empat judul di atas diberi judul "Syair Binatang", sedangkan lima judul selanjutnya (nomor 5--10) diolah dengan judul "Bunga Rampai Syair". Kelima cerita yang berjudul "Bunga Rampai Syair" itu ialah (1) "Syair Mimpi", yang berisi makna mimpi. Dalam syair itu diuraikan 4 pasal takbir mimpi, yaitu (a) mimpi yang berhubungan dengan Allah, nabi, malaikat, dan alam semesta; (b) mimpi yang berhubungan dengan sesama insan; (c) mimpi yang berkaitan dengan binatang; dan (d) mimpi yang berkaitan dengan lingkungan sekitar manusia, seperti rumah, kebun, dan bukit. Judul syair (2) adalah "Syair Dagang" yang berisi nasihat dan pelajaran bagi kaum muda mengenai bagaimana tata cara bersikap dalam penghidupan. Syair itu diawali dengan niat dan mengkaji baik buruknya. Berikutnya merupakan syair nasihat perilaku seorang anak kepada orang tua yang disusul dengan nasihat perilaku manusia dengan Tuhan. Judul

(3) "Syair Pantun Seloka" yang berbentuk pantun berkait. Syair tersebut tidak berisi cerita, tetapi hanya memperlihatkan kemahiran penulis menyusun kata sehingga berbentuk pantun berkait. Judul (4) "Syair Tajul Muluk" yang berisi tentang cerita Abdul Muluk, anak Raja Malik Sulaiman Syah. Judul (5) "Syair Jamal al Asyik" berisi tentang cerita Jamal al Asyik, putra Sultan Mahmud, yang jatuh cinta kepada putri Mangkubumi yang bemama Siti Permata. Penamaan kelima syair itu menjadi "Bunga Rampai Syair" didasari oleh karena syair-syair itu isinya beragam.

(" .... ") penga-
pit kalimat langsung yang didahului tanda koma. Di samping itu, transliterasi ini juga memperbaiki kata-kata sesuai dengan konteksnya. Perbaikan itu akan diberikan penjelasan pada catatan kaki.

Berikut ini adalah keterangan tentang naskah.

1) "Syair Mimpi" ditulis cap oleh Haji Mahmud Sayidina, Haji
Muhammad Irsad, Kampung Sidung pada tanggal 20 Zulkijah, Sanat

  1. Naskah ini berukuran 15 x 20 em, berjumlah 19 halaman, yang terdiri atas 24 baris setiap halaman. Naskah ini ditulis dalam huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu.
    2) "Syair Dagang" ditulis cap oleh Haji Muhammad Siraj bin Haji
    Muhammad Saleh di Mati'ah pada bulan Sapar 1328 atau Februari 1910. Naskah ini berukuran 15 x 20 em, berjumlah 18 halaman, yang setiap halamannya terdiri atas 22 baris. Setiap halaman mempunyai judul di atasnya. Naskah ini ditulis dalam huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu.

3) "Syair Pantun Seloka" ditulis cap di tempat Muhammad Idris,
Singapura, Ajelin nomor 20 pada tanggal 27 Zulhijah, Sanat 1335. Naskah ini berukuran 15 x 20 em, berjumlah 15 halaman, yang terdiri atas 20 baris setiap halaman. Naskah ini ditulis dalam huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu.

4) "Syair Tajul Muluk" ditulis cap di tempat Muhammad Idris,
Singapura, Ajelin nomor 20 pada 28 Rabiulawal, Sanat 1336. Naskah ini berukuran 15 x 20 em, berjumlah 88 halaman, yang terdiri atas 20 baris setiap halaman. Naskah ini berhuruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu.

"Syair Jamal al Asyik" ditulis oleh Haji Abdul Rahman bin Jabugis, seorang peranakan negeri Asahan, orang Mandailing Penyam- bungan Jaya di negeri Asahan, Kedai Tanjung Balai No. 1213, hari bulan Zulkaidah, Sanat 1332. Naskah ini dicap oleh Muhammad Idris, Singapura, Ajelin nomor 20. Naskah ini berukuran 15 x 20, berjumlah 42 halaman yang terdiri atas 24 baris setiap halaman. Naskah ini ditulis dengan huruf Arab-Melayu dan berbahasa Melayu. Kelima naskah yang akan dialihaksarakan ini dibuatkan pertang- gungjawaban transliterasinya sebagai berikut.

1) Kata Ulang yang terdapat dalam naskah ditulis dengan angka 2,
diubah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia, yaitu tanpa angka dua, tetapi ditulis utuh.

Contoh: (1) sehari-hari (SPS:6)

(2) berganti-ganti (SPS : 14)
(3) berseri-seri (STM:12)
2) Kata-kata yang berakhir dengan aksara k ada yang ditulis
dengan hamzah ( ) dan ada juga yang ditulis dengan qaf ( ). Dalam transliterasi dialihaksarakan dengan huruf k.

Contoh: (1) pelik (STM:ll)

(2) elok (STM:3)
3) Kata-kata atau kalimat yang di dalam tanda kurung ( .... ) adalah
huruf atau kata yang ditambahkan oleh pengolah untuk memudahkan pembaca mengerti konteks kalimatnya. Contoh: (1) Hendaklah ingat (siang) dan malam (SM:2)

(2) Ke sana ke(ma)ri mendapat puji (SM:3)
(3) termenu(ng) .... (SM:18)
4) Kata-kata atau kalimat yang di dalam tanda kurung ( ... ) adalah
kata-kata kalimat yang dihilangkan agar tidak mep.gganggu jalan cerita- nya.

· (STM: 11), memujuk 'membujuk' (STM:34), dipujuk 'dipujuk' (STM: 13), dan sentiasa 'senantiasa' (STM:2).

7) Nomor pada sisi halaman kiri transliterasi adalah nomor dalam
naskah.

  1. RINGKASAN CERITA
    Ringkasan cerita ini dibuat dalam lima ringkasan syair, yaitu "Syair Mimpi", "Syair Dagang", "Syair Pantun Seloka", "Syair Tajul Muluk", dan "Syair Jamal al Asyik".

  2. Syair Mimpi Syair Mimpi mengungkapkan makna sebuah mimpi. Dalam syair itu diuraikan takbir mimpi yang dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis. Pertama, mimpi yang berhubungan dengan Allah, nabi, malaikat, dan alam semesta. Misalnya, mimpi bertemu dengan Allah atau Rasul umum- nya bermakna baik. Jika bermimpi melihat arasy dan kursi pun bermakna mendapat pangkat yang tinggi. Jika mimpi melihat siratalmustakim bermakna akan mendapat kebajikan. Demikian pula jika bermimpi melihat surga akan mendapat kesukaan dan terbebas dari duka. Bermimpi melihat alam semesta, seperti bulan, matahari, awan atau mega, guruh, halilintar, hujan batu, atau angin puting beliung, semuanya mempunyai makna. Bagian kedua membicarakan mimpi yang berhubungan dengan anggota badan. Misalnya, mimpi mempunyai banyak kepala, mempunyai kuku panjang, berbadan gemuk atau kurus, bercukur, berdandan, ber- janggut panjang atau berambut panjang, semuanya mempunyai makna. Begitu pula bila bermimpi mati, mimpi menjadi raja, atau mimpi pindah rumah, semuanya mempunyai makna. Bagian ketiga membicarakan mimpi yang berhubungan dengan binatang. Misalnya, mimpi dimakan lintah, mimpi menjadi binatang, mimpi melihat kambing banyak, mimpi melihat atau naik kuda, lembu, gajah, atau harimau, semuanya mempunyai makna yang tidak baik. Akan tetapi, kalau mimpi membunuh harimau, mimpi itu bermakna baik. Begitu juga jika mimpi membunuh babi atau tikus lalu memakan da- gingnya akan bermakna naik haji. Binatang lain yang mempunyai makna dalam mimpi ialah anjing, kucing, pelanduk, dan unta. Bagian keempat ialah mimpi yang berhubungan dengan tanaman. Misalnya, mimpi melihat padang rumput atau pohon kayu, pohon kurma,

Syair mimpi ini selesai ditulis di bandar negeri Singapura, di tempat Haji Mahmud Sayidina Haji Muhammad lrsad. Kampung Sindang pada 20 Zulhijah Sanat 1326, Kampung Selong nomor 82.

  1. Syair Dagang Syair Dagang mengandung beberapa nasihat dan pelajaran bagi anak-anak muda. terutama untuk menghormati ibu bapaknya. Buku ini merupakan cetakan pertama Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Saleh, tukang cap dan penjual berbagai jenis hikayat, syair, dan kitab-kitab di Jalan Selatan Roda nomor 43 dan 52, Singapura. Apabila hendak bemiaga, kita harus memelihara ibu dengan baik karena ibu telah mengandung selama sembilan bulan. lbu mencari makan untuk anak. Anak juga dilarang durhaka kepada orang tua karena Tuhan akan marah. Jika hendak mencari pasangan hidup, mencari nasihat sebaiknya dari orang yang berbangsa, beriman, dan berbudi. Selain itu, diberikan nasihat bahwa setiap pekerjaan sebaiknya diniati lebih dahulu. Pekerjaan tanpa niat dianggap jauh dari sempuma. Setelah diniati, setiap pekerjaan harus dikaji baik buruknya. Nasihat berikutnya ialah perihal suatu perjalanan agar selamat sampai ke tujuan; nasihat perilaku seorang anak kepada orang tua yang disusul dengan nasihat perilaku manusia kepada Tuhan. Syair ini sangat syarat dengan nasihat tentang tata cara atau pengambilan sikap dalam kehidupan.
  2. Syair Pantun Seloka Bentuk syair ini adalah pantun berkait. Syair ini menceritakan seorang pedagang yang sedang berduka sedang mengambil kertas lalu menulis syair seloka ini. Tidak terdapat cerita dalam syair ini, tetapi syair ini semata-mata hanya memperlihatkan kelincahan penulisnya menyusun kata sehingga berbentuk pantun seloka.
  3. Syair Tajul Muluk Seorang raja bemama Malik Sulaiman Syah mempunyai seorang anak

Pada suatu ketika Tajul Muluk berjalan ke suatu negeri dan berjurnpa dengan seorang saudagar. Ketika membeli dagangan saudagar itu, ia melihat saputangan bersulam sepasang rusa yang sangat indah. Ketika saputangan itu hendak dibelinya, saudagar itu mencegahnya dan menceritakan kisah saputangan itu. Azis, nama saudagar itu, hendak melamar sepupunya yang bemama Azizah. Dalam perjalanan hendak melamar itu, Azis berjumpa dengan Dalilah dan tertarik, lalu bermalam di rumah Dalilah. Dalilah membe- rikan saputangan kepada Azis. Keesokan harinya Azis terbangun dan ingat pada tujuan semula. Ia segera bergegas ke rumah Azizah. Ketika bertemu dengan Azizah, ia menceritakan keterlambatannya. W alaupun telah berada di rumah Azizah, Azis tetap ingat kepada Dalilah. Ia berkali-kali mendatangi Dalilah. Azizah merana melihat sikap Azis sehingga Azizah pun meninggal. Sebelurn meninggal, Azizah mem- berikan saputangan dan sepucuk surat kepada Azis. Saputangan itulah yang dilihat oleh Tajul Muluk. Tajul Muluk bertanya kepada Azis, siapa yang menyulam saputangan itu. Azis menjawab bahwa yang menyulam sepasang rusa pada saputangan itu adalah putri Sultan Parsi yang bemama Sida Andelina yang cantik jelita. Mendengar nama dan kecantikan putri itu, Tajul Muluk berhasrat menemuinya. Tajul Muluk menyamar sebagai saudagar untuk bertemu dengan Sida Andelina. Dengan melalui berbagai rintangan, ia dapat bertemu dengan Sida Andelina. Setelah bertemu, keduanya saling jatuh cinta dan menjalin hubungan.Hubungan mereka didengar oleh Sultan Parsi. Sultan Parsi marah dan Tajul Muluk dimasukkan ke dalam penjara. Malik Sulaiman yang menantikan putranya kembali, akhimya me- nyusul Tajul Muluk ke negeri Parsi. Sultan Parsi sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Tajul Muluk adalah putra Malik Sulaiman. Ia segera mengeluarkan Tajul Muluk dari penjara dan menyetujui perkawinan pu- trinya dengan Tajul Muluk.

5. Syair Jamal al Asyik

Seorang raja yang bemama Sultan Mahmud berputra Jamal al Asyik. Jamal al Asyik jatuh hati kepada putri Mangkubumi yang bemama Siti

Permata. Siti mempunyai saudara kandung laki-laki bernama Hasyim, yang merupakan teman bermain Jamal al Asyik. Karena berahi yang amat sangat, Jamal menginap di puri Siti Permata dan tidur bersama. Seorang dayang melaporkan kejadian itu kepada Hasyim. Hasyim menjadi marah dan menantang Jamal berkelahi. Dalam perkelahian itu keduanya mati terbunuh. Siti Permata yang meli- hat kematian Jamal pun turut bunuh diri. Adapun Sultan Mahmud yang mendengar kematian putranya memerintahkan agar Mangkubumi dihu- kum mati. Setelah kematian yang berturut-turut itu, pemerintahan Sultan Mahmud menjadi kacau karena pemberontakan terjadi di mana-mana.

Syair Mimpi

Bismilah itu permulaan kalam dengan nama Tuhan khalikulalam mohonkan syafaat siang dan malam kepada segala mukmin dan Islam

Alhamdulilla puji Taala kepada Tuhan amir wajaala minta jauhkan segala bala jangan beroleh nama yang cela

Kanastaian sallalahu alaihi wasalam pengulu segala mukmin dan Islam hendaklah ingat (siang) dan malam supaya jangan hatimu kelam

Setelah sudah demikian itu hamba menyurat berhati matu kepada Allah mohonkan bantu dikarangkan syair kisah suatu

Mengarang syair berhati gundah mencari sajaknya tanda bertuah tidaklah boleh dibuat permudah jikalau tak patut apa faedah

Dengarkan hendak madah rencana karangan hamba fakir yang hina

Sebab dikarangkan berperi-peri yaitu kisah yang diberinya mimpi boleh saudaraku tuan dengari di dalam syair boleh dicari

Mimpi itu jadi tanda alamat ada yang baik ada yang jahat di dalam takdir hendak dilihat supaya diketahui di dalam wasiat

Dua puluh bab di dalam ceritera baiknya mimpi punya perkara hendak diketahui sanak saudara ada yang lega ada yang cedera

Mimpi yang tidak harus ditakdirkan baiknya perkara yang diceritakan tidur malam lalu dimimpikan inilah takbir hamba nyatakan

Ayuhai tuan abang dan adik menakbirkan mimpi hendak ditilik 3 jangan kepada orang yang fasik karena mimpi itu setengah meresik

Inilah bab mula pertama dikata oleh sidang ulama baiknya mimpi harus diterima takbir olehmu janganlah lama

Jika bermimpi melihatnya Allah alamat kebesaran dikaruniakanlah

sebarang maksud tentu sampailah sebarang pekerjaan dapat faedah

Jika bermimpi dimurkakan Allah taala atau kepada orang lain pula alamat itu berolehnya pahala terlalu daripada sekalian bahaya

Jika bermimpi bertemunya rasul alamat orang terlalu betul tidaklah ia menanggung masgul semua pintanya sekalian makbul

Jika orang kafir pula memimpikan alamat dia beroleh kebajikan masuk Islam tentu dikehendakkan ke dalam surga keluar masukkan

Jika bermimpi bertemu malaikat alamat orang itu mendapat berkat sebarang pekerjaan semua harkat beroleh rahmat tiada akhirat

Jika bermimpi melihat arasy dan kursi alamat beroleh pangkat yang tinggi tiadalah dia mendapat berkeji ke sana ke(ma)ri mendapat puji

Jika bermimpi melihat surga

alamat orang itu beroleh suka sebarang dicita dapat belaka tidaklah dia menanggung duka

Jika bermimpi titian siratalmustakim alamat orang itu benar dan yakin

dikarunia rahmat gafur al Rahim tidak menanggung papa dan miskin

Siratalmustakim dapat dititi/an/ alamat itu berbuat bakti tidaklah ia mau berhenti daripada hidup sampai ke mati

Jika tak lepas titian itu alamat orang dirasuk hantu pikiran tidak ada bertentu fitnah dan balad datang melulu

Jika bermimpi lepas dari titian alamat orang beroleh kebajikan 4orang pun banyak berkenan mendapat sentosa hari kemudian

Jika bermimpi luh lampu dilihatnya alamat orang itu terang hatinya menuntut ilmu juga kerjanya Quran pun dapat ditafsirkannya

Jika bermimpi melihat hari kiamat alamat orang itu mendapat berkat senantiasa di dalam selamat di dalam akhirat beroleh syafaat

Jika bermimpi naik atas awan atau orang lain ayuhai ikhwan alamat orang itu sangat kemudahan dikarunia Allah dengan kemurahan

Jika bermimpi matahari dan bulan baik turun di batas ribaan

alamat itu beroleh kebesaran senang sentosa dengan kekayaan

Jika bermimpi matahari dan bulan berilah dua pada penglihatan alamat itu datang kejahatan diharu iblis dan kebun

Jika matahari atau bulan gerhana alamat tidak dapat sempurna orang negeri gundah gulana pada rajanya akan hendak fana

Jika bermimpi bintang kemukus

alamat hendak mendapat makmur

hendaklah kamu mengucap syukur

kepada Tuhan Azizulgafur

Jika bermimpi awan di langit dipandang alamat orang mendapat senang rezekinya murah pagi dan petang sahabat handai berhimpun datang

Jika bermimpi guruh dan hali(li)ntar alamat hendak mendapat sukar fitnah banyak-banyaknya besar hendaklah kamu berbanyak sabar

Jika bermimpi mega hitam bercampur merah alamat hendak mendapat susah suatu bala diturunkan Allah ke dalam negeri itulah faedah

Jika bermimpi mega yang putih pandangan mata sangatlah perih

alamat rezeki senang beroleh negeri itu raja pun saleh

Jika bermimpi hujan terlalu lebat alamat negeri diturunkan rahmat 5makanan makmur mudah didapat semua orang senang selamat

Jika bermimpi hujan rintik-rintik serta lanjut di tubuhnya adik alamat itu kuranglah baik mendapat susah perkara yang pelik

Jika bermimpi angin dan ribut puting beliung sambut-menyambut alamat itu sangatlah kalut keturutan bala kelam kabut

Jika bermimpi demikian itu hendaklah ingat siap-siap waktu musuh yang besar alamat melutu ke dalam negeri datangnya tentu

Jika bermimpi angin sederhana lemah lembut siti sempurna alamat kebajikan datang di sana dikarunia oleh Tuhan robbana

Jika bermimpi pohon kayu buahan ditiup angin perlahan-lahan alamat rezeki dikarunia Tuhan di dalam negeri jadi kelimpahan

Jika bermimpi angin timur barat inilah takbir ayuhai sahabat

alamat menang daripada seteru jahat jika be(r)layar olehnya berkat

Jika bermimpi darat diturunkan angin bertiup itu rasanya dingin alamat kebajikan segala mukmin berbuat ibadah sangatlah yakin

Jika bermimpi hujannya batu turun ke dalam negerinya itu alamat harta halal datang ke situ jangan dipikir tiada bertentu

Jika bermimpi ribut dan hujan gelap gulita tiada kelihatan alamat itu datang kejahatan banyak orang mati kesakitan

Mimpi itu sangatlah jahat sedikit tiada memberi rahmat banyaklah orang berbuat maksiat diturunkan bala segala malaikat

Hendak segeralah bertolak bala mohonkan ampun kepada Allah taala berbanyak tobat kamu segala supaya ada rahim amir aza wa jala

Peri takbir bab yang kedua supaya boleh diketahui juga 6bilangan manusia adalah semua

laki-laki perempuan muda dan tua Jika bermimpi sahabatnya bani

Abukabar amirullahnya dan Ali

alamat orang itu beroleh bahagia amal ibadat sangat sufi

Jika bermimpi banyak pendeta mengerjakan amar syariat yang nyata alamat negeri bersuka-cita rajanya adil murah beserta

Jika bermimpi banyak laki-laki perempuan tanda alamat banyak kebajikan di negeri itu Allah turunkan amal ibadat orang kerjakan

Jika bermimpi pendeta pun mati alamat hendak bermurah hati tidak ketahuan di dalam hati kini agama banyak berhenti

Jika bermimpi kanak-kanak banyak terlalu berhimpun di dalam negeri itu alamat kesukaran orang di situ tiadalah gundah di dalam hatiku

Jika bermimpi banyak pekuburan alamat tiada dapat kebinasaan orang negeri itu bertaburan hidup di dalam menanggung kesukaran

Jika bermimpi ia beristri alamat hendak bersuka hati sangatlah mudah ia mencari tiadalah kurang beroleh rezeki

Jika bermimpi duduk beramai-ramai alamat banyak ayuhai handai jika perempuan mimpi sebagai tanda beroleh suami yang pandai

Jika bermimpi budak beranak alamat sampai segala kehendak

mendapat istri yang bersajak jika perempuan bersuami yang bijak

Jika bermimpi dirinya dibunuh orang alamat pekerjaan jadi terlarang pikiran itu tiadalah terang jika berlayar lambatlah pulang

Jika bermimpi dirinya terpenjara atau dia punya anak saudara alamat hidup di dalam sejahtera harta pun banyak tiada terkira

Jika bermimpi dirantai lehernya alamat itu jahat pada/h/nya 7tiadalah tentu barang kerjanya orang pun banyak benci kepadanya

Jika bermimpi kakinya patah alamat dia mendapat susah ke mana nyata saudara itulah parah tiada ketahuan barang dijarah

Jika bermimpi dirinya tergantung atau kaki tangan terkena potong alamat dia mendapat untung lepas penyakit yang ditanggung

Jika bermimpi menggantung dia atau ikat kaki tangan dia alamat hendak kena perdaya sebarang pekerjaan tiadalah jaya

Jika bermimpi dipalunya orang alamat hendak mendapat barang

hatimu suka pikiran terang jangan berkabar sebarang-barang

Jika bermimpi tangannya terpenggal alamat hendak menanggung kesal harta dicari satu tak tinggal jika berniaga habislah modal

Jika bermimpi dirinya kesakitan alamat itu datang kejahatan karena pikiran diharu setan porak-poranda tidak ketahuan

Jika bermimpi banyak kayu api alamat kesenangan di dalam negeri tiadalah susah beras dan padi semua makanan banyak menjadi

Jika bermimpi menjabat surat kitab Quran dapat dilihat alamat tidak menanggung mudarat tertolak daripada sega(la) maksiat

Jika bermimpi panjang dirinya alamat itu lanjut umurnya jika datang orang bertanya itulah tuan akan tabirnya

Jika bermimpi dirinya berlayar

alamat beroleh laba yang besar tiadalah boleh mendapat sukar itulah tuan takbir berkabar

Jika bermimpi dirinya bersesuaian dengan istri orang yang lain

8 alarnat jahat janganlah main-main dimurkai Tuhan robbal alamin

Jika bermimpi dicium orang (a)kan dia alarnat tertolak daripada bahaya hatimu senang bersuka ria pada/h/nya hendak mendapat mulia

Jika bermimpi ia bersahutan alarnat itu datang rajahan yaitu daripada iblis dan setan pada!h/nya kamu hendak berbantahan

Jika bermimpi setubuh dengan ibunya atau segala dengan muhrimnya alarnat itu baik faedahnya beroleh kekayaan dengan sempurna

Jika bermimpi berhimpun dengan makan alarnat itu suatu kebajikan sebarang kerja kamu segerakan janganlah banyak lagi dipikirkan

Jika bermimpi dirinya bertemu kepada orang mengerjakan ilmu alarnat tidak boleh bersemu Allah taala karuniakan bantu

Jika bermimpi bertemu dengan raja alarnat itu sekadar saja hendaklah ingat sebarang kerja jangan sampai kamu terpuja

Jika bermimpi neraca patah alarnat itu dimurkakan Allah

pekerjaan lalim auzubillah atau hendak kembali ke rahmatullah

Jika bermimpi banyak kepala ke sana kemari terhantar pula alamat itu mendapat pahala jauh dari sekalian ba/ha/la

Jika bermimpi dipenggal orang kepalanya atau orang lain dimimpikannya alamat kebinasaan akan pada/h/nya hendaklah segera tolak balanya

Hendaklah kamu memberi sedekah hatinya ikhlas karena Allah fakir miskin banyak sukalah supaya bala dijauhkan Allah

Jika bermimpi terang matanya serta sehat segala tubuhnya alamat itu baik pada/h/nya kebajikan besar datang kepadanya

Jika bermimpi matanya buta alamat kedatangan duka cita 9kesukaran sangat terlalu nyata tidaklah dapat mencari harta

Jika bermimpi telinganya tuli alamat itu jahat sekali orang pun tidak ada kecuali sama abdi dan kuli

Jika bermimpi patah dirinya alamat tidak baik pada/h/nya

akan bercerai dengan istrinya segala pekerjaan sukar kepadanya

Jika bermimpi menjabat pusatnya alamat tiada baik pada/h/nya akan bercerai dengan ibu bapaknya demikianlah tuan di dalam tabirnya

Jika bermimpi kukunya panjang alamat dia hendak memandang baik kepada kekasih sayang dari jauh akannya datang

Jika bermimpi bulu ketiak dicukurnya alamat itu baik pada/h/nya lepas daripada segala utangnya hilanglah susah di dalam hatinya

Jika bermimpi air liurnya yaitu bercampur dengan dahaknya alamat tiada baik pekerjaannya lagi pun dusta segala kabarnya

Jika bermimpi mulutnya berkerak alamat tiada sampai kehendak rezeki yang halal banyak tertolak pikiran yang baik menjadi rusak

Jika bermimpi mengu(bu)r-ngu(bu)r orang atau sendiri badannya gerang alamat lepas daripada berutang pikiran yang susah menjadi senang

Jika bermimpi jin dan setan hantu iblis banyak kelihatan

10 orang itu dimurka Allah taala sebarang kerja mendapat bala

Jika bermimpi menuju matahari alamat itu senang mencari jika berlayar lain negeri hendaklah hampir kepadanya menteri

Jika bermimpi dirinya jadi binatang alarnat penyakit hendaknya datang entahkan pagi entahkan petang menjadi kembali lain memandang

J ika bermimpi kurus dirinya atau tambun pula/k/ dirasanya alarnat itu banyak faedahnya dihormatkan orang akan dianya

Jika bermimpi menyukur dirinya alarnat bercerai dengan istrinya

serta gundah pula/k/ hatinya demikian tuan kena pada/h/nya

Jika bermimpi dirinya bertikam maka keluar darah yang hitam alamat banyak di dalam faham sekalian penyakit semua padam

Jika bermimpi keluar /t/ darah daripada tubuhnya bercurah alamat banyak dapat faedah

beroleh harta tiadalah payah

Jika bermimpi dirinya berpindah dari negeri atau lain rumah alamat tidak mendapat faedah barang kerja menjadi susah

Jika bermimpi dirinya ber(dan)dan atau memakai kain kencana alamat ia beroleh sempurna mendapat harta sangat berguna

Jika bermimpi dirinya dimakan lintah alamat tidak memberi faedah orang tak suka lawan bermadah ke sana kemari tunduk tengadah

Jika bermimpi melihat warnanya seperti orang perempuan dipandangnya

alamat beroleh anak kepadanya

atau harta itu akan pada/h/nya

Jika bermimpi dirinya bersumpah dengan menyebut nama Allah

kurang baik di dalam padah serta tidak memberi faedah

Jika bermimpi dirinya menangis alamat percintaan semua ikhlas 11duka cita semua habis bersuka-sukaan di dalamnya majelis

Jika bermimpi dirinya mati kemudian hendak dengan seperti alamat hendak bersuka hati barang kehendak semua didapati

Jika bermimpi dirinya fana alamat itu dapat sempurna dengan karunia Tuhan yang gana umurnya lanjut terlalu betina

Jika bermimpi dirinya kematian dibawa orang kepada kuburan alamat hendak beroleh kebajikan menjadi senang di dalam kekayaan

Jika bermimpi banyak orang mati alamat itu bersusah hati beroleh harta tiada seperti tiada boleh mengisi peti

Jika bermimpi dirinya berpindah sampai di sana ianya sudah alamat itu beroleh faedah mendapat harta memberi sedekah

Jika bermimpi dirinya berpesan-pesan pada orang mati pada perasaan

alamat datang suatu kebatasan tiada sempurna barang pekerjaan

Jika bermimpi dirinya menjadi raja atau orang lain menjadi raja alamat itu disengaja-sengaja tiada menjadi sebarang kerja

Jika bermimpi naik tempat yang tinggi batu dan kayu barang sebagi alamat laba tiadalah rugi mendapat martabat pangkat yang tinggi

Jika bermimpi panjang jenggotnya alamat itu banyak faedahnya tiadalah gundah di dalam hatinya mengerjakan amal dengan sepertinya

Jika bermimpi barang suatu benda yang tinggi dilihatnya itu alamat berlayar pada/h/nya tentu di mana sampai beroleh tentu

Jika bermimpi dirinya berpuru atau kudis bergaru-garu alamat banyak tiadalah karu mendapat harta benda yang baru

Jika bermimpi panjang rambutnya alamat banyak akan faedahnya 12 beroleh istri seperti kehendaknya atau beranak dengan sepertinya

Jika bermimpi sangat tambunnya atau kurus sangat badannya

alamat beroleh rumah pada/h/nya tetapi tiada kekal di dalamnya

Jika bermimpi dirinya sakit atau demam tiada terangkat alamat kerugian tiada sedikit payah kepada duit dan ringgit

Jika bermimpi duduk di atas batu alamat baik faedahnya itu beroleh pekerjaan yang amat tentu serta ada orang membantu

Jika bermimpi terbuang dirinya oleh syeh yang menguangkannya alamat itu baik faedahnya dipeliharakan Allah akan dirinya

Jika bermimpi syehnya murka alamat hendak mendapat duka banyaklah orang tiadalah suka melihat dia bermasam muka

Jika bermimpi raja pun murka alamat tidak mendapat suka sebarang kerja hendaklah jaga supaya jangan dapat celaka

Jika bermimpi dirinya berlawan dengan raja tidak ketahuan alamat menang diri seteruan hatinya keras tiada terlawan

Jika bermimpi diperhamba orang alamat hina bukan sebarang

akal pikiran tiadalah terang atau kerugian harta dan barang

Jika bermimpi menalak istri alamat jahat akan pada/h/nya duka cita hendak ditanggungnya pikiran maksiat datang kepadanya

Inilah bab pasa ketiga perihal binatang dikatakan juga dengarlah tuan adik dan kaka(k) supaya jangan was-was sangka

Banyak perkara orang bermimpi ada yang baik ada yang keji 13 menafsirkan itu hendaklah arti supaya jangan bersusah hati

Jika bermimpi kambing pun banyak alamat sempurna barang kehendak bersuka ria anak-beranak hamba sahaya semua tunak

Jika bermimpi daging kambing dimakannya alamat baik akan faedahnya harta halal diperolehnya demikianlah tuan di dalam takbirnya

Jika bermimpi aurat kambing jantan atau perempuan aurat kelihatan alamat banyak pada pendapatan tiadalah janji dapat kesakitan

Jika bermimpi kuda dan lembu serta naikkan di belakang itu

· datang menggoda

Jika bermimpi dirinya bergajah alamat orang itu mendapat tuah sebarang kerja mendapat mudah apa katanya orang ikutlah

Jika bermimpi gajah dibunuhnya alamat takut orang kepadanya tiada siapa dapat melawannya lagi pun harta banyak didapatnya

Jika bermimpi naik dengan perhiasan ke atas gajah pada perasaan jikalau raja, rtaik tahta kerajaan jika orang banyak, dapat kemuliaan

Jika bermimpi melihat gajah berjuang alamat berkelahi dengan orang sama berani sama memberang sampai binasa salah seorang

Jika bermimpi ditangkap harimau alamat kejahatan datang kepadamu hendaklah segera mandi berlimau kebinasaan itu jangan bertemu

Mimpi itu jahatnya sungguh alamat ada orang hendak membunuh

jika sakit tiadakan sembuh se(m)barang kerja memberi gaduh

Jika bermimpi harimau masuk ke negeri alamat seteru datang kemari 14 patah besar tidak terperi atau bergaduh sama sendiri

Bercelaka mimpinya itu penyakit pun banyak datang ke situ orang negeri tiadalah tentu diharu oleh setan dan hantu

Hendaklah segera tolak bala memohonkan ampun kepada Allah taala supaya tertolak sekalian bala jangan sampai rusak dan cela

Hendaklah kamu memberi sedekah serta tobat kepada-Nya Allah minta ampun orang yang salah di dalam takbir demikianlah itulah

Jika bermimpi (ha)rimau dapat dibunuhnya alamat menderita akan pada/h/nya tetapi menang daripada seterunya banyaklah orang takut kepadanya

Jika bermimpi daging (ha)rimau dimakannya alamat harta haram diperolehnya serta tidak ada gunanya janganlah hampiri kepada dianya

Jika bermimpi membunuhnya babi atau tikus dimakan lagi

alamat orang itu beroleh haji namanya baik tiadalah keji

Jika bermimpi bermain tikus alamat beroleh istri bagus tetapi di dalamnya tiadalah harus u(m)pama tali segeralah putus

Jika bermimpi menca(m)buknya anjing alamat baik tiadalah run(c)ing jika beristri tiadalah berpaling musuh pun tidak berani damping

Jika bermimpi kucing datang ke rumahnya entahkan sahabat atau keluarganya adalah orang datang ke rumahnya alamat banyak juga pada/h/nya

Jika bermimpi pelanduk pun jinak atau daging dimakan enak alamat hendak mendapat anak atau harta terlalu banyak

Jika bermimpi naik atas unta alamat baik tiadalah lata 15 beroleh istri bagai dicita tiadalah payah mencari harta

Jika bermimpi makan daging kuda alamat baik ayuhai anakda umurnya lanjut takbir bersabda banyak beroleh harta dan benda

Jika bermimpi banyak kuda putih alamat kebajikan hendak peroleh

rnendapatpangkatnruutabatyang lebih

Jika bermirnpi k:uda sebarang warna alarnat banyak rnendapat sernpurna tidaklah janji boleh terkena lepas daripada nama yang hina

Jika bermirnpi k:uda berbaju besi alarnat tidak rnendapat isi lepas daripada nama yang suci seteru dan rnusuh tiada berani

Jika berrnirnpi rnengejar binatang alarnat banyak akannya datang se(rn)barang kerja sernuanya lapang serta pula/kl urnurnya panjang

Jika bermirnpi binatang berhirnpun datang kepadanya berduyun-duyun alarnat sejuk u(rn)parna ernbun beroleh harta bertirnbun-tirnbun

Jika bermirnpi dirinya berkata-kata dengan binatang yang ada serta alarnat hendak bersuka-cita tiadalah payah rnencari harta

Jika bermirnpi dernikian peri rnenunggang karnbing atau biri-biri alarnat rnudah pada rnencari akan nafkah anak istri

Jika berrnirnpi dirinya rnernotong karnbing biri-biri di dalarn karnpung

alamat hendak mendapat untung beroleh harta tidak terhitung

Jika bermimpi demikian pula kerbau lembu punya kepala alamat hendak mendapat pahala beroleh kekayaan tidak bercela

Jika bermimpi kijang pelanduk alamat beristri perempuan elok tetapi resmi kuranglah elok karena payah hendak dipujuk

Jika bermimpi makan dagingnya alamat banyak akan pada/h/nya 16mencari rezeki dengan mudahnya barang yang halal diperolehnya

Jika bermimpi kuda dipermainkan yaitu kepada tempat yang bukan alamat tidak dapat kebajikan dimurka Allah takbir mengatakan

Jika bermimpi sangat dikasihnya akan sangkur kuda diperbelanya ditaruh pula/k/ di dalam rumahnya alamat tiada baik pada/h/nya

Jika bermimpi demikian itu khianat orang datang ke situ hendaklah ingat setiap waktu kepada Allah mohonkan bantu

Jika bermimpi binatang dikasihnya dikumpul ditaruh di dalam rumahnya

alamat seteru benci kepadanya tetapi tidak mengapa padanya

Jika bermimpi demikian peri binatang gemuk masuk ke negeri alamat mudah beroleh rezeki Allah taala karunia beri

Jika bermimpi binatang kurus alamat itu tidaklah bagus makanan payah binatang mampus orang pun banyak lapar dan haus

Jika bermimpi demikian ulah alamat negeri kedatangan musuh hendak mencari terlalu payah karena dia dimurkakan Allah

Inilah pasal bab keempat hamba suratkan mana yang dapat entahkan jarang entahkan rapat di dalam takdir hamba mendapat

Dari hal rumah sertanya bukit ke pohon buahan pada menjangkit ada tersebut serba sedikit tabirnya ada senang dan sakit

Jika bermimpi rumahnya runtuh atau rumah lain dilihatnya sungguh alamat itu terlalu waduh sebarang kerja memberi gaduh

Barang siapa mimpi yang demikian pada/h/nya itu datang kerugian

atau menanggung kematian orang pun banyak tiada kasihan

Jika bermimpi runtuh tangganya atau patah pada penglihatannya 17alamat jahat juga pada/h/nya orang pun banyak benci kepadanya

Jika bermimpi rumahnya tinggi atau tangganya demikian lagi alamat dianya beroleh lagi mendapat laba tiadalah rugi

Jika bermimpi bukit dan kayu dipandangnya tinggi amat terlalu alamat sentosa pada/h/nya itu tiadalah menanggung aib dan malu

Jika bermimpi pula demikian naik bukit pada perasaan alamat hendak dapat kekayaan atau menjadi penghulu kemuliaan

Jika bermimpi keluar di dalam hutan alamat baik di dalam pendapatan lepas daripada segala kejahatan tidaklah menanggung kesakitan

Jika bermimpi kepada perasaan kayu dan bukit keruntuhan alamat turun daripada kekayaan tidak sempurna segala pekerjaan

Jika bermimpi naik ke rumah besar alamat tidak menanggung sukar

padalhlnya barang yang halal diperolehnya

Jika bermimpi melihatnya padang atau pohon kayu yang rindang alamat hendak berolehnya senang hatinya suka pikiran lapang

Jika bermimpi pohon kurma atau sabit ataupun delima alamat baik j ika berhuma pada/h/nya Iekas boleh terima

Jika bermimpi delima berbuah dilihat masak merekah-merekah alamat itu hendak bertuah harta banyak tiadalah susah

Jika bermimpi bertanamnya tebu atau buah-buahan yang bermadu alamat Tuhan memberi bantu orang pun kasih tiadalah jemu

Jika bermimpi pohon gandumnya dilihatnya hijau segala daunnya 18 alamat pahala beras dan padi tiada menjadi se(m)barang kerjanya

Jika bermimpi daunnya luruh alamat bahagia besarnya sungguh

. dan bukit atau di kayuan alamat hendak dapat percintaan karena bercerai dengan kekasihan

Jika berrnimpi masjid pun rubuh alamat negeri kedatangan gaduh tiada ketahuan barang yang ditaruh ke sana kemari terlalu rusuh

Jika bermimpi demikian pekerti banyaklah orang bersusah hati raja negeri alamat hendak · mati atau agama tidak seperti

Itulah tuan takbir penyudah hamba mengarang berhati gundah seorang diri tunduk tengadah pinggang dan tengkuk bagaikan patah

Tamatlah tuan tabimya mimpi hamba menyurat belum mengerti karena tidak begitu mengerti mana yang salah tuan maafi

Karena hamba belum biasa tiada mengerti se(m)barang bahasa sekadar hendak membuat jasa supaya boleh dapat sentosa

Tambahan hati tiada bertentu perkabaran janggal tiada sekutu

boieh Iagi ditahani jikalau seiaku serupa ini resahiah hamba mati dan pati

Jika terkenang ini untungku air mata jatu(h) ke pangku

Ya ayuhai ya ratli/na Iihatlah rona hamba yang hina sangatlah pilu gundah guiana keiuh kesah serba tak kena

Salam takzim hamba yang buruk kepada segala kakang dan ambu/kl suratan jahat tiada menolak sajak dan kabar tiadalah elok

Sembah takzim hamba yang fana kepada segala ibu dan bapa(k) aturan janggal tiada serupa saudara, abang, ternan, jangan terlupa

Telah selesailah daripada mengecap di atas batu di dalam bandar Negeri Singapura di tempat cap Haji Mahmud Sayidina, Haji Muhammad Irsad, Kampung Sidung, kepada 20 Zulhijah sanat 1326, wasalam.

dicap selawat Quran dan selawat jemaah dan perhimpunan dengan maknanya dan Hikayat Waris. Harga seringgit lebih. Syair Muhammad kembali dan syair cerita diri sendiri, Kampung Selong nomor 82.

SY AIR DAGANG

(i) Terkandung di dalamnya beberapa nasihat dan pelajaran anak-anak dan menyatakan bagaimana kita mesti menghormati ibu bapak.
Cetakan yang pertama oleh Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad S1leh penjual seribujenis-jenis hikayat dan syair-syair. Nomor 43 dan 52 street/penerbit Singapura, 1910.

(ii) Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Saleh. Nomor 43 dan 52 street. Penerbit Selatan Roda serta nomor 720, Pusat Banjaru di Singapura. Tukang cap tinta dan cap batu, penjual koran-koran cap stempel Rusia dan Tambi serta penjual serta jenis kitab-kitab Arab Melayu Jawa dan Bugis; sama dicap Mekah, stempel Tambi dan Singapura. Senantiasa menghimpun hikayat-hikayat dan syair-syair yang elok-elok ceritanya. Membuat cap nama daripada getah. Wakil surat-surat kabar Melayu, Belanda dan Inggeris dan surat kabar Arab yang diterbitkan di Singapura, Pulau Penang, Jawa-Surnatera Deli, Borneo Besar, dan stambul dan stempel senantiasa. Menyediakan rnacam-rnacam kar guna surat-surat jemputan sahabat, selamat hari, dan lain-lainnya. Dipetera nama-nama dan harga kitab-kitab dan lain-lain barang yang ada terjual di kedai Haji Muhammad Siraj itu akan diberi percurna kepada siapa minta adanya.

(iii) Kata ini menunjukkan di mana sedia dituju kedai-kedai kitab Haji Muhammad Siraj dan kedai sungguh-sungguh barang mana Siraj.

~--------11 L

Arab Street Kampung Jawa Arab Street

::c 0 Q.. I» Serajan Siraj
kedai 52 songkok '
a § Basrah Street Basrah Street
-l s· kedai 43
(JQ 03. ~ ttl c.::: : - · ::c 0 Q.. I» kitab Haji M. Siraj

(iv) Syair Dagang

Terkandung di dalamnya beberapa nasihat dan pelajaran bagi anak- anak muda dan menyatakan bagaimana kita mesti menghormati ibu bapak.

Cetakan yang pertama oleh Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Saleh. Tukang cap dan penjual serba jenis hikayat- hikayat, syair-syair dan kitab-kitab. Nomor 43 dan 52 besar Street (Selatan Roda) serta nomor 729 Pusat Banjaru di Singapura.

Tegahan : tiada dibenarkan sekali lain-lain tukang cap meniru mengecap Syair Dagang yang semacam ini yakni membuat perka-

Siraj

1 Niat baik itu punya serba kebajikan

Ini Syair Dagang

Bismilah, itu permulaan kata fakir mengarang serba cerita siang dan malam duduk bercinta sudah kehendak Tuhannya kita

Dengarlah Encik permulaan kabar asalnya kalam daripada akar asal dawat daripada damar hamba mengarang baharu belajar

Adalah konon suatu hari duduk termenung seorang diri di dalam pilu terlalu ngeri mengenangkan nasib badan sendiri

Malam Jumat bulan pun terang masgulnya dagang bukan se(m)barang pada masa itu syair terkarang jam berbunyi berderang-derang

Disuruh juga hendakkan cepat hanya inilah yang terdapat

Sudah nasib hamba merana tambahan diri dagang yang hina daripada sangat gundah guiana meninggaikan negeri terialu lena

2 Pekerjaan yang tidak: dengan niat itu jauh daripada sempuma

Lagi miskin yatim piatu tangan pun berat seperti batu hamba suratkan tiada bertentu jauh daripada reia dan suku

Sudah nasib untung badanku kiri dan kanan bukan dagingku ke mana Iagi membawa diriku kehendak: Allah sudah berlalu

Sak:itnya tidak: berdaging darah lak:sana minyak: di laut tercurah tiada berketahuan tempat dan arah kepada Allah juga berserah

Madah terikat dengan cumbuan syair dikarang menjadi hewan laksana bulan dikandung awan membawa pilu gundah dan rawan

Rawannya bukan kepalang lagi rasa terendam di lautan api ditolong oleh robbal azati lepaslah dagang daripada mati

Dengarkan tuan suatu madah karangan fakir bebal madah

sungguhpun hadnya tiada indah

dibuat peng(h)ibur hati yang gundah

Ayuhai tuan janganlah murka kepada hamba orang yang duka umpat-mengumpat hendaklah jaga kepada sekalian adik dan kaka(k)

Hamba pun dagang yang hina papa kepada orang tiada serupa

duduk di dalam menanggung nestapa

tambahan jauh ibu dan bapa(k)

Miskin pula tiada berharta sebab itulah dagang bercerita mudah-mudahan sekalian kata dibuat tauladan tuan yang kuata

Madah dikarang dengannya rela dengan kehendak Tuhan yang baka dengarlah juga adik dan kaka(k) jikalau hendak tuan berniaga

Ayuhai sahabatku encik dan tuan jika berniat mencari uang jangan dipermain jangan dibuang pelihara ibumu jangan kepalang

3 Dan pikir yang bersalahan dengan tujuannya itu kerap mendatangkan binasa

Harapnya ibu bukan sedikit tinggi daripada gunung dan bukit sedang lama merasai sakit sembilan bulan tiada berbangkit

Baiklah juga engkau pikiri sakit ibumu tiada terperi mencari makan sehari-hari suka dan manis semua diberi

Dengar olehmu sekalian sanak tatkala engkau lagi kanak-kanak apabila sudah tidurmu nyenyak dicarikan makan mayur dan lauk

Entah berutang ke sana kemari sedapat-dapat ia mencari anaknya tiada tahukan diri makan dan minum sambil berdiri

Tidur ibu sambil duduk daripada sangat mata mengantuk karena berjaga semalam suntuk mengail ikan tiada mematuk

Sakit tiada menaruh belas kasih ibumu tiada terbalas

diberi pakaian serba antalas sekarang disuruh terlalu malas

Itulah anak amat celaka Allah taala sangatlah murka kepada ibumu jangan durhaka dimasukkan Allah ke dalam neraka

Dengar olehmu muda bangsawan ibu bapakmu jangan dilawan di dalam dunia itulah tuan di dalam akhirat menjadi kawan

Meski dijual oleh bapa(k)mu sepuluh kali janganlah jemu jika dikarunia oleh tuhanmu barang yang dicari menjadi bertemu

Insya Allah hamba berkata sabda nabi tiadalah dusta meskipun hendak mencari harta dapatlah juga kehenda(k) kita

Harta dicari dapatlah boleh dipandang air senantiasa leleh judi dan sabung jangan ditoleh baik berbuat amal yang saleh

4 Jika berjalan menuju haluan menanti sebentar

Dimintakan harta kita dapati judi dan mokah tiada berhenti banyaklah sudah hamba lihati daripada muda hampirkan mati

Sampai diturut turun ke tanah anakku jangan membuat fitnah harta yang ada habislah punah sakit demikian belum pemah

Sampailah budah engkau jualkan dengan pakaian dihabiskan masak pagi petang tak makan hidup sengsara serta ditahankan

Dengan kodrat Tuhan yang ngati nyawa dan badan bagaikan pati sakit sengsara semasa ini maka sampai jadi begini

Karena anakku apatah daya menjadi badan tiada bergaya harapkan tolong Tuhan yang kaya habis terjual harta yang mulia

Sekali-kali tidak ditaksir anakku tiada menaruh pikir sebab mengikut permainan kafir sampaikan ia orang musafir

5 Kelak tibanya ke rumah tak boleh menjadi

Banyaklah juga engkau pikiri emas dan perak baik dicari jangan bersuka sehari-hari sakit dan kurang siapa memberi

Ayuhai anakku jangan bermain jangan diturut orang yang lain pandanglah olehmu akan pakaian basah tiada berganti lain

Sakitnya badan tiada terperi mencari uang ke sana kemari hendak berutang suku setali orang pun tidak ada peduli

Mula bunting aku bernazar dari kecil sampai ke besar

sedikit tidak masuk pengajar segala menjawab kata yang kasar

Jangan dijawab kata yang salah kata ibumu pikirkanlah memeliharakan engkau terlalu Ielah perut mengandung bagaikan belah

lbu mengandung sepuluh bulan nasi dan air tiada tertelan lutut pun berat tiada tertahan urat perutnya bersimpulan

Apabila datang guruh dan petir dilabuh kelambu dibukakan tabir bangli dan bawang adalah hadir anakku tiada menaruh pikir

Diambil sampah dibuangkan rabun di dalam pasir bertimbun-timbun sembur dilungguhkan dirabun-rabun sanak saudara datang berhimpun

Memelihara engkau bukan kepalang siang dan malam tiada selang sanak saudara datang berulang ada yang datang ada yang pulang

Sakitnya itu bukan kerja memeliharakan engkau seperti raja dari kecil sarnpai remaja sekarang masgul terlalu manja

Kepada ibumu janganlah durhaka kepada bapa(k)mu serta belaka

· bapa(k) dan ibu mengajar sekalian jalan yang betul diikutkan jangan dijawab, baik dengarkan

Jikalau semua ia kabarkan hal akhirat disebutkan jangan sekali engkau bantahkan dosanya besar engkau dapatkan

Pengajar ibumu engkau pikirkan sabda ibu engkau dengarkan firman Allah kita ingatkan barang yang disuruh kita kerjakan

Barang siapa meninggalkan firman putuslah harap ayuhai ternan itulah orang tiada beriman di dalam neraka tempat kediaman

Barang siapa meninggalkan hadis tubuhnya hitam bercampur kudis dibacakan neraka semuanya habis dari kepala sampai ke betis

Sakit tiada lagi terkata digigit ular, ikan, dan kala ke dalam neraka badan terhela harapkan tulang hancu(r) cela

Syair bernama fakidalbia sanat diturut di dalam dunia

pekerjaan jangan diberi sia-sia simpulan berniaga dimakan dia

Hamba kabarkan suatu pendapat berniaga itu fardunya empat pertama, cerdik, kedua, cepat ketiga, bujur bagai disifat

Keempat, menjaga hartanya orang

filmu jangan se(m)barang-barang

nafsu yang jahat lawan berperang orang percaya tiadalah kurang

Makna yang empat berilah tentu banyaklah jaga kita di situ jika tinggal barang suatu tiada sempurna perbuatan itu

Empat makna engkau pahamkan artinya itu engkau nyatakan sungguhpun hamba sudah mengatakan entah ia entahkan bukan

Jikalau paham empatnya makna meskipun pergi barang ke mana baik ke Negeri Belanda dan Cina mulia juga kita di sana

Isyarat berniaga bukannya mudah sungguhpun kabar tiada indah jikalau filmu tiada indah perbuatan itu tiada faedah

Ingat-ingat sekaliannya kita ibarat hamba di sini nyata

jikalau benar tiada dusta tentulah murah barang dicita

Isyarat orang belum mengerti maknanya baik engkau tuntuti jikalau dikarunia robbal azati barang yang dicari dapatlah pasti

Isyarat berniaga hendaklah dipilih

pandangkan air senantiasa meleleh jikalau tidak kita ditoleh harta dicari dimakan boleh

8 Biar sedikit asal sempurna

Pikir olehmu akan maknanya air yang surut ada pasangnya ingat-ingat sekalian kebenarannya tiap-tiap murah ada mahalnya

Berniaga ibarat menggunting baju tamsil emas di dalam teraju maknanya be(r)layar perahu yang laju ke tengah lautan baik dituju

Demikian berlayar tiada bahayanya

tiadalah tentu tuju haluannya berniaga tiada dengan gurunya tiadalah tentu jual belinya

Meski berdagang tiada berhenti akan isyaratnya belum mengerti dapatkan harta engkau dapati dari muda sampai ke mati

Jika pangkalnya tiada tinggal harta dicuri berlalu sial tambahan pula filmu nakal judi bermukah juga yang kekal

Barang siapa meninggalkan isyarat

di situlah banyak jadi mudarat

pekerjaan tiada dengan ibarat akhirnya kita jadi melarat

Tiada mendengar kabar yang tua

akal bungkuk juga dibawa di situlah banyak kita kecewa sebab mengikut nafsu dan hawa

Nafsumu itu saudara setan jangan sekali engkau ikutkan tentu menjadi akan keberatan ke dalam api seperti lautan

Barang siapa melawan hawa pikir yang baik juga dibawa tambahan ingat sepatah yang tua

supaya lepaslah di hawa

Bukan sekarang hamba dapati dari dahulu hamba lihati meski berjual malaksakati judi dan mukah jangan diikuti

Dengarkan juga adik dan kaka(k) isyarat orang baik dipeka judi dan mukah sangat celaka berdagang buduk salam belaka

membuangkan· emas dosanya besar hukumnya panas akhirul mukmin aljanas di dalam neraka badan diremas

Baiklah juga ingat dahulu pandangkan umur yang telah lalu pekerjaan jaga diri dahulu supaya jangan beroleh malu

Jikalau ada akal sempuma barang suatu dengan makna supaya jangan kita terkena sesal kemudian tiada berguna

Ayuhai sahabat dan ahli apabila engkau berjual beli kata yang kasar jangan sekali barangkali orang tiada peduli

Ayuhai anak cucuku tuan tawar-menawar dengan perlahan orang tua jangan dikata kawan itulah kelak menjadi lawan

Yang membeli itu jadi seterumu jika ada tersalah bahasamu meski murah ditawar dagangmu janganlah marah janganlah jemu

Adat bemiaga tawar-menawar meski seduit jangan digusar

10 Kemuliaan itu senantiasa menantikan engkau

Adapun nakhoda di dalam perahunya misal raja di dalam negerinya se(m)barang apa dikatakannya pasti diikut anak buahnya

lsyarat nakhoda empat perkara barang suatu dengan bicara kepada sekalian sanak saudara supaya perahumu terpelihara

Orang pun banyak kasihan kita bukannya sebab emas dan harta j ikalau baik tutur dan kata jangan pula maki dan nista

Meski berapa uang engkau beri kepada yang kasar sehari-hari hatinya sakit tidak terperi ada yang membayar ada yang lari

Nakhoda itu tempat kan kembang anak buahnya seumpama kumbang jikalau tahu kita memandang cahaya. seperti bulan mengembang

Nakhoda itu laksana bayu limpah kepada sepohon kayu sahabat seperti kembang mendayu akan menjadi bunga yang layu

Dengar olehmu cucu dan anak menaruh uang terlalu enak seperti umpama kayu yang remak buahnya itu manis dan lemak

Jikalau kayu tiada buahnya batang dan daun apa gunanya meskipun banyak jarang rantingnya kepada burung tiada indahnya

Sakitnya badan tiada berharta ke sana-sini terlata-lata meskipun ada orang berkata dijawabnya dengan kerlingnya rnata

11 Mengapa tiada mencari helah akan mencapainya

Dernikianlah badan tiada beruang ke sana-sini engkau terbuang sahabat yang rapat menjadi renggang orang tak rnau tempat berpegang

Susahnya dagang bukan kepalang di dalam kalbu terang dan kelam nyawa dan badan bagaikan hilang susahnya dagang seorang-orang

Bimbang tidak lagi terperi mulanya dagang membuang negeri daripada sangat dendam berahi melaratlah dagang kawan hati

Sebab dagang muda melarat kalbunya dagang sangat galurat seumpama perahu yang amat sarat dipukul angin jatuh ke barat

Rasanya bingung seperti budak usahkah emas tembaga pun tidak

kain pun buruk berseluamya pandak tiada berlaku se(m)barang kehendak

Laku seperti buyan yang jati jala dipikul bersungguh hati menjala ikan di Tanjung Jati menebar juga dengan seperti

Sahiknya dagang tiada bertolak habislah kurus tinggallah kuluk azabnya dagang daripada menohok diperbuat seperti olok-olok

J ika demikian laku pekerti daripada hidup baiklah mati duduk dengan bersusah hati habis petang berganti pagi

Jikalau dagang mana berharta semuanya itu saudara kita ke mana pergi orang berkata semuanya tolak. mendengar warta

Meski ilmu pangkat ulung jika tiada menaruhnya uang sanak saudara semua membuang masam mukanya bukan se(m)barang

Demikian itu hamba lihati baru sekarang dagang mengerti jikalau tiada rela dapati membecinya orang sahajakan pasti

Orang yang sungguhnya kaya itu

Bukan tiada sedih dirasa tatkala ia lagi termasa maid dan sumpah dengan paksa lagi miskin tiada berbangsa

Meminta tolong ke sana kemari seorang pun tiada yang memberi sakitnya tidak lagi terperi duduk menangis sehari-hari

Jika ada rela dapati sahabat pun banyak yang mendekati rumah pun ramai tempat berhenti sakit pun ada yang mengobati

Sekarang baru rezeki didapat sanak saudara jauh dan dekat sahabat yang renggang menjadi rapat baharu berkata terlalu cepat

Dengarkan isyarat orang bersahabat jangan dipercaya jangan diumpat jikalau datang segera didapat barang yang ada dicari cepat

Jika ada orang mengumpatkan jangan sekali engkau sampaikan serta sekali engkau jawabkan jika benar engkau lawankan

Apabila sahabat berkata-kata mukanya itu berubahlah serta

Orang bersahabat karena Allah barang sedikit berhalal-halallah jangan takut tnembuang Ielah itulah pengobat sudah terjumlah

Bersahabat jikalau bukan setara itulah kerap meniadi cedera apabila datang sesuatu perkara tiada mau bersama sengsara

13 Ialah orang yang banyak membuat kebajikan

Karena takutkan salah sahabatnya rusak demikian itulah meskipun sampai kehendak Allah bertanya kabarnya ia tiadalah

Karena ia bukan sebangsa budi yang sudah tiada dirasa membuang kebaikan lagi memangsa memikirkan rumah senantiasa

Sedikit tidak ia ingatkan barang yang rusak engkau membetulkan budi yang baik tiada dikenangkan akal yang bungkuk juga dikerjakan

Lain kepada zaman dahulu waktu sekarang jahat terlalu sahabat menolong diberi malu sampai kepada tuan penghulu

Apabila sudah merasai senang budinya orang tiada dikenang tambahan pula pikirnya lapang di dalam neraka nanti bersenang

Jangan dipandang orang yang saleh dibuangnya malu asalnya boleh perkataan orang tiada dipilih sebab hendak melawan katalah

Sedikit tidak menaruh malu akan perkataan yang telah lalu ketika berutang mendapatkan ulu waktu dipinta marah terlalu

Banyaklah sudah hamba lihati baru sekarang hamba mengerti apakah guna berbuat bakti sedikit tiada budi pekerti

Jahat sekali zaman sekarang tiadalah ingat ditolong orang kata yang manis juga dikarang puji dan puja/k/ tiadalah kurang

Tiada menoleh kiri dan kanan membuat fitnah terlalu nyaman asalkan boleh makan makanan itulah seteru malakulrahman

Memberi makan bini dan anak serta yang haram terlalu enak ingatlah tuan saudara dan anak di dalam akhirat neraka jinak

14 Jauhi olehmu kelakuan pencuri, penjudi, pemadat, perempuan, dan pembohong

Jangan mengatai harta orang di dalam dunia semuanya kurang tiada percaya peranak dagang mencari negeri tiada terbilang

Di dalam karangan orang menyurat baik dengarkan tuan sahabat jikalau tidak memakai isyarat dunia akhirat jadi mudarat

Jikalau fiilmu tiada seperti sekalian orang habislah benci seorang pun tiada memuji ia mendoa segeralah mati

Ingat-ingat awang dan dayang waktu zaman ini sekarang jikalau tiada menaruh uang bangsanya itu sudah terbuang

Baik-baik orang beriman waktu ini akhirul zaman

pahit dan masam menjadi nyaman lawan seteru dibuat teman

Jikalau tiada emas dan perak seperti sakit tak boleh bergerak anak istri datang membarak sehari-hari hendak bersorak

Jikalau tiada menaruh emas hidup di dunia bagaikan lemas rasanya hati seperti diremas seperti rumput tengah panas

Adapun akan segala Islam artinya Tuhan menjadikan alam penerang kerajaan, siang dan malam Allah dan rasulnya kita ingatkan

Ingat-ingat janganlah lupa jangan durhaka kepada bapa(k) meski ibadat senantiasa apa yang dibuat menjadi lupa

Kita ini umpamanya wayang karena kita pelihara orang disuruh sebut malam dan siang kalimah Laillahailallah berulang-ulang

Jika tersebut olehnya kita Islam itu sempurna semata serta di aksara di lidah yang nyata niat dan yakin bersama serta

Pikir suatu tiada terpakai apalah gerangan hendak dicapai jika terkurung makan dan pakai akal pun hilang tiadalah sampai

Karena kita tiada berakal barang yang dicari semuanya sangkal sebab pekerjaan terlalu nakal meskipun dapat tiadalah kekal

Manatah uang dapat dihimpunkan apabila engkau suka memainkan karena tak mampu engkau buangkan manakah boleh engkau simpankan

Pikir tiada menjadi salah di dunia ini tiada apalah Allah membalas dengan yang mudah akhirnya sekarang kita disalah

Perbuatan tiada datang tentu sekarang mendapat sajanya itu

kepada siapa hendak mengadu menerima balas kita di situ

Ingat-ingat adik dan kaka(k) janganlah kita tersalah sangka bukannya dunia negeri yang baka akhirat juga tempatnya kita

Janganlah dengki samanya Islam ialah seteru Tuhan seru alam kepada kita orang yang kelam ikutlah olehmu siang dan malam

Inilah pesan hamba yang muda boleh ingatkan kepada anakanda bukannya hamba bergurau senda sanak saudara mana yang ada

Ayuhai awang dan dayang baik pun malam ataunya siang jikalau tubuh tampak terbayang janganlah tuan mandi telanjang

Telanjang itu sangat jahatnya Allah pun murka pada dianya kepada nabi amat durhakanya malaikat sekalian sangat marahnya

Keempatnya berdosa yang memandang dosanya besar akhirnya datang ingatlah tuan pagi dan petang di dalam hadis ada terbentang

Jika berbasahnya tuan pun mandi Allah taala membalas budi

sebab menutup kemaluan nabi sekalian malaikat mendoa nanti

Inilah pesan yang terdahulu jikalau anakmu memberi malu jangan disumpah biar dipalu janganlah sampai kata terlalu

17 Terlebih baik daripada bersahabat dengan orang yang bebal

Karena sumpah ibu dan bapa(k) kepada anak jadi serupa janganlah pula dicapa-capa rusak binasa anak siapa

Kita beranak yang kecil molek sebentar marah sebentarnya baik perkataan sumpah tak boleh baik anak pun rusak tak boleh baik

Inilah pesan hamba seorang jikalau besar anakmu garang barangkali ada khilaf dan kurang jangan dimarahkan di tengah orang

Jikalau anakmu sudahnya besar jangan dikata dengan yang kasar di tengah orang janganlah gusar bawa ke pinggir boleh diajar

Jikalau dimarah di tengah orang anak pun malu bukan se(m)barang jika kena akal yang kurang dijawabnya se(m)barang-barang

Hari Rabu tamatlah syair pukul empat petang jika tak mangkir bulan Rajah bilangan fakir hamba menyurat belumlah mahir

Jika tersalah hamba surati haraplah juga tuan maafi hamba menyurat belum mengerti karena gundah di dalam hati

Syair dikarang fakir yang ngari dikarang oleh se(m)barang peri karena hati dendam berahi hati di dalam bercampur ngeri

Telah selesai yang demikian dengan seribu puji-pujian mintalah maaf tuan sekalian inilah pesan hamba kemudian

Penyudah karangan akhir menyurat fakir berpesan dan bermadat jangan syair tuan peralat jangan dibawa ke laut ke darat

Syair ini pesan bersama jikalau dipinjam janganlah lama sehari dua sampai kelima pulanglah segera pada yang punya

18 Sabar itu penawar segala kemarahan

Tamatlah sudah syair karangan disuratkan oleh dagang di buangan tuan membaca mencela jangan suratan buruk ayuhai gerangan

Segala saudara yang bijaksana encik -encik dan tuan arif maul ana jangan dicela fakir yang hina karena maksudnya ada berguna

Dagang sebutkan suatu perkataan kelakukan nasib dagang sebutkan dagang piatu hamba namakan inilah rencana yang dikarangkan

Habislah syair tarnal al kalam dikarangkan fakir orang yang kelam beribu maaf berbanyak salam kepada pembaca /h/arif bu(d)iman

Tamat. Tercetak di Mati'ah. Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Saleh. Nomor 43 dan 52 Besar Street Singapura pada bulan Sapar 1328 bersamaan Februari 1910.

(VI) Songkok

Manis anyaman Siraj, tukang songkok yang terpuji baik. Nomor 52 Besar Street Singapura.

Perbuatannya baik. Rupanya molek. Dipandang cantik. Harganya murah sahaja.

Segeralah membeli satu dahulu akan jadi contoh. Tuan-tuan yang berdiam di negeri asing boleh memesan sebuah songkok atau lebih kepadanya dengan harga murah belaka. Segeralah tulis surat me- nyatakan harga dan lain-lain keterangannya.

SYAIR PANTUN SEWKA

1 Syair Pantun Seloka

Bahwa inilah "Syair Pantun Seloka" yang amat indah-indah ceritanya. Tercap di tempat Muhammad ldris Singapura, Ajelin nomor 20.

2 Syair Pantun Seloka

Dengarkan tuan segala mereka dikarangkan oleh dagang yang duka sehari-hari duduk tak suka kertas diambil lalu dibuka

Kertas diambil kalam dipegang dawat mengikut dari belakang jalannya deras seperti lenggang seumpama jalan sf Burung Enggang

Kalam dawat adik jemari kertas dilipat cara melebar boleh disuruh ke sana kemari boleh ia menggantikan diri

Ada suatu muda yang sabar ilmu akhirat suka berkabar siang dan malam mengucap Allahu Akbar menurut firman khalakuljabar

Orang Bintan membuat sawah dipagar dengan pandan berduri tuan kapten sangat bertuah seekor pelanduk menyerahkan diri

Dipagar dengan pandan berduri bunga ditaruh di dalam puan seekor pelanduk menyerahkan diri minta sudikan kepadamu tuan

Bunga ditaruh di dalam puan bersama-sama dengan buah rambutan minta sudikan kepadamu tuan jikalau suka tuan kepitkan

3 Bersama dengan buah rambutan buat paku di dalam timba jikalau sudi tuan kepitkan selaku orang minta perhamba

Buah Paku di dalamnya timba mari dibelah boleh dimakan selaku orang minta perhamba kepada tuan minta sudikan

Mari dibelah boleh dimakan kulit tercampak ke dalam paya kepada tuan minta sudikan karena tuan orang yang mulia

Kulit tercampak ke dalam paya ambil sendok kayu cendana karena tuan orang yang mulia sebab pelanduk binatang yang hina

Ambil sendok kayu cendana hendak masak tentu berkancing karena pelanduk binatang yang hina umpama tuan hambala(h) kucing

Hendak masak pintu berkancing pintu bernama awan selampit umpama tuan hambala(h) kucing boleh disuruh menunggu tempat

Pintu bernama awan selampit tangkap kipas cara Rasilanda boleh disuruh menunggu tempat boleh juga dilawan bersenda

Tangkap kipas cara Wilanda rumah limas empat persegi boleh juga dilawan bersenda atau disuruh meremas kaki

diafumya meja tidak pula menjadi cacat karena tuan tempat yang manja

Sarna tengah diatumya meja diatumya pula dengan kursi karena tuan tempat yang manja laksana bunga jadi peraksi

Diatur pula dengan kursi tempat makan buah-buahan laksana bunga jadi peraksi umparna kain jadi basahan

4 Tempat makan buah-buahan akan jaminan orang yang datang umpama kain jadi basahan jadi landasan pagi dan petang

Akan jaminan orang yang datang di luar pintu ada paseban jadi landasan pagi dan petang atau membawa cerita ke jamban

Di luar pintu ada paseban awan larat jadi bunganya atau membawa cerita ke jamban inilah tuan akan ibaratnya

Bunga cina jambangan cina mari dibungkus dengan kertas sungguh tuan bina tak bina tuan di hati haram tak lepas

Mari dibungkus dengan kertas dikarang pula berjalur-jalur tuan di hati haram tak lepas terang laksana cermin hablur

Dikarang pula berjalur-jalur buah zaitun dari Kamboja terang laksana cermin hablur patut terletak di atas meja

Buah zaitun dari Kamboja santapan anak Raja Arafah patut terletak di atas meja cahayanya terang terlalu limpah

Santapan anak Raja Arafah kedua dengan Raja Yaman cahayanya terang terlalu limpah merusakkan hati merusuhkan iman

Kedua dengan rajanya Yaman kain seperti bunganya dadap merusakkan hati merusuhkan iman darah gemuruh jadi tak tentu

Kain seperti bunganya dadap dibawa dari Negeri Keling darah gemuruh menjadi tak tentu kepada cinta tidak berpaling

Orang W olanda memakan pasta meja beratur di tengah majelis tidaklah abang berduka cita durjanya tuan di hati tertulis

Meja beratur di tengah majelis majelis terbentang hamparan gelat durjanya tuan di hati tertulis sedikit tidak rasanya ngalat

Majelis terbentang hamparan gelat hamparan datang dari Eropa(h) sedikit tidak rasanya ngalat tidak percaya bibir sumpah

Hamparan datang dari Eropah mari ditabur dengan permata tidak percaya bibir sumpah barangkali bohong abang berkata

Kapal Jerman dari Eropah lalu singgah ke Surabaya jangan sangat abang bersumpah bukannya saya tidak percaya

Lalu singgah ke Surabaya juragannya masuk ke dalam kota bukannya saya tidak percaya didengar telinga dipandang mata

Juragannya masuk ke dalam kota naik ke balai meng(h)adap tumenggung didengar telinga dipandang mata di dalam hati sudah tertanggung

Naik ke balai meng(h)adap tumenggung ia semayam di singgasana di dalam hati sudah tertanggung serta ada kias dan makna

Ia semayam di singgasana kain bertabur bersampul putih serta ada kias dan makna hendak dinyatakan tiada boleh

Kain bertabur bersampul putih puan dibawa dari Semarang hendak dinyatakan tiada boleh karena tuan maklumnya orang

Puan dibawa dari Semarang cempedak darinya hulu karena tuan maklumnya orang apa kehendak sabar dahulu

Sari putih pauh di dalamnya dulang tiga tahun adinda mencari abang jauh di negeri orang

Putih pauh di dalamnya dulang pita-pita di pohon kelapa abang jauh di negeri orang sangat haram abang tak lupa

Pita-pita di pohon kelapa orang ladang mengetam padi sangat haram abang tak lupa abang taruh di dalam hati

Orang ladang mengetam padi padi diketam dimakan pipit abang taruh di dalam hati menaruh gundah bukan sedikit

Keris sempadan ganja meno/m/pang pakaian anak Raja Melayu jangan lama di negeri orang bencana banyak mendaun kayu

·

Merpati menitinya batang batang melintang di tengah jalan menantinya abang lambatnya datang duduk menanti meng(h)itung bulan

Batang melintang di tengah jalan batang lalang berduri-duri duduk menanti meng(h)itung bulan menaruh walang sehari-hari

Dari bulan berjalan ke pantai ikan dikupas dengan tangan ambil bulang mari dipakai intan terlepas darinya tangan

7 Ikan dikupas dengannya tangan dipuput bayu di Sri Medan ikan terlepas daripada tangan baju te(r)lucut darinya badan

Puput bayu di Sri Medan tengah bermain disambar enggang baju te(r)lucut dari badan terurai kain dari pinggang

Tengah bermain disambarnya enggang patah galah tepinya paya terurai kain dari pinggang kehendak Allah apakah dia

Burung pipit memakan padi layarnya sampai ke Bandamu Lama kepada niat di hati sahaya hendak mati bersama-sama

Layarnya sampai ke Bandar Lama mari dikejar dengan jungkung hendak mati bersama-sama hendak bersama berkafan karung

Mari dikejar dengannya jungkung Merbah burung dewata hendak bersama berkafan karung tiadalah sahaya mengubahkan kata

Merbah, burung dewata mati dipanah dewa yang sakti tidak saya mengubahkan kata begitulah niat di dalamnya hati

Mati dipanah dewa yang sakti cendawan hancur berperai begitulah niat di dalamnya hati dengan bangsawan jangan bercerai

Cendawan hancur berperai merpati di tengahnya huma dengan bangsawan jangan bercerai hendak mati bersama-sama

Pohon zaitun di dalam desa dimakan oleh Raja Usarang mohonkan ampun dengan periksa tuan pun tidak dapat dilarang

Dimakan oleh Raja U sarang sarang lebah bergalak paku tuanku tidak dapat dilarang dengarlah sembah jika berlaku

Sarang lebah bergalak paku buah berangan di Padang Sujana dengarlah sembah jika berlaku jangan tuan gundah guiana

8 Buah berangan di Padang Sujana merpati terbang dari scberang jangan tuan gundah guiana karena Siti maklumnya orang

Cempedak di kampung Tuk Bandar daunnya jangan diberi layu tuan hendak berkata benar saya jangan diberi malu

Daunnya jangan diberi layu daun mempelas di tengah padang saya jangan diberi malu tidaklah belas tuan mt:mandang

Daun mempelas di tengah padang buah berangan di atas batu tidaklah belas tuan memandang jangan sampai jadi begitu

Buah berangan di atas batu buah duku di dalam goni jangan sampai jadi begitu melihat saya selaku ini

Tumbang berangan di muka pintu buahnya luruh berbadang-badang jangan tuan kata begitu hancur luluh hati abang

Buahnya luruh berbadang-badang santapan raden kesuma pengerat hancur luluh hatinya abang rendahlah rasa jiwaku mengerat

Santapan raden kesuma pengerat perapat tumbuh di dalam karang redalah rasa jiwaku mengerat asalkan dapat anaknya orang

Perapat tumbuh di dalam karang dahinya tempat kera berjuntai asalkan dapat anaknya orang jika mati bertindih bangkai

Ayam berlaki di tengahnya padang ditangkap oleh hambanya raja sungguhpun cinta pada memandang haram tak boleh ditangkap saja

Ditangkap oleh hambanya raja mari diikat dengannya rotan haram tak boleh ditangkap saja bukan seperti binatang di hutan

hatiku rawan bagaikan fana menaruh dendam sehari-hari

Bunga betik pandan bertulis penganan rampai makan berjamu dendam tersurat bilakah lepas bilakah mau kita bertemu

Selasa kita berlayar haluan menuju ke Bandar Aceh bisa dan mabuk habis ditawar mendengarkan cumbu dari kekasih

Haluan menuju ke Bandar Aceh naik ke pasar tawar-menawar mendengar cumbu dari kekasih racun dimakan jadi penawar

10 Naik ke pasar tawar-menawar cawan berisi buah kapulaga racun dimakan jadi penawar tuan laksana aimya geliga

Cawan berisi buah kapulaga ambil sebiji simpankan dulang tuan laksana aimya geliga sejuknya sampai ke dalam tulang

· berisi halwa maskat sejuknya sampai ke dalam tulang laksana kaca sudah terpikat

Bunga melur kembang sekali mari dibungkus dengan kertas di dalam telur lagi dinanti enta(h)kan pula/kl sudah menetas

Mari dibungkus dengan kertas dibawa orang dari Palembang enta(h)kan pulalk/ sudah menetas tidaklah lagi menjadi bimbang

Dibawa orang dari Palembang emas di tempat dari surati tidaklah lagi menjadi bimbang di dalam tangan sudah encik Siti

Emas ditempa dari surati dibuat puan santapan raja di dalam tangan sudah encik Siti tuanlah tempat kakanda manja

Lada dipetik burung kedidi anak pelanduk di dalam perigi tandanya kerja tidak menjadi duduk dengan berhati dengki

Anak pelanduk di dalam perigi anak belanak terkena sengat duduk dengan berhati dengki ayuhai anak hendaklah ingat

ilrut bicara saya

Alu-alu memakannya tanda tali ditarik tahan selembar mau tak mau kepada adinda baik kubanyak menahan sabar

Tali ditarik tahan selembar putus tali di tepi rimba baik kubanyak menahan sabar putus hati hendak perhamba

11 Putus tali di tepi rimba buah legundi berdandanjenggi putus hati hendak perhamba kayu yang tinggi hendak disagi

Buah legundi berdandanjanggi berbuat peti kayunya sana kayu yang tinggi hendak disagi berbuat hati gundah guiana

Bukan budak kami letakkan batang ketumbar berdahan-dahan bukannya tidak kami katakan biarlah sabar dengan perlahan

Batang ketumbar berdahan-dahan kelapa jatuh di tepi bangsal biarlah sabar dengan perlahan siapa gopoh nanti menyesal

Kelapa jatuh di tepi bangsal bangsal tempat memasak gula siapa gopoh nanti menyesal duduk dengan berhati gila

Anak itik mandi di pantai disambar ikan tuman di laut melihat encik duduk mengintai bagai gambar gading di raut

Disambar ikan tuman di laut Encik Salama memakai selop bagai gambar gading di raut tidur malam kami tak lupa

Encik Salama memakai selop Dang Ratna menyampai wali tidur malam kami tak lupa memandang intan cahaya usali

Dang Ratna menyampai wali Dang Judah memangku puan memandang intan cahaya usali menanggung gundah kepadamu tuan

Dang Judah memangku puan puan disertai tukang Cina menanggung gundah kepadamu tuan tuan sudikan abang yang hina

Puan diserdi tukang Cina awan kerawang tepi bertabuk tuan sudikan abang yang hina tuan seorang hatiku mabuk

Tumbuh bawah dengan bisul bisanya sampai ke /h/ujung jari tuan amarah dengan rasul timbang dengan hati sendiri

12Biasanya sampai ke/h/ujung jari dikenakan obat dari Wolanda timbang dengan hati sendiri maka boleh menjabat adinda

Dikenakan obat dari Wolanda jangan dibelah jangan dicangkuli maka boleh menjabat adinda kepada Allah tempat berwakil

Jangan dibelah jangan dicungkil darah ditaruh di dalam bokor kepada Allah tempat berwakil adinda berserah seribu syukur

Puyuh mengeram di dalam padi puan tercampak ke dalam rimba abang mimpi semalam tadi tuan terletak di atas riba

Puan tercampak ke dalam rimba kayu diraut dibuat paku tuan terletak di atas riba abang terkejut terpiku-piku

Kayu diraut dibuat paku daun terapa jatuh melayang abang terkejut terpiku-piku harapnya abang arwah melayang

Sarat bermuat buah kuini mempelam di dalamnya puan maka dibuat selaku ini tidaklah belas muda bangsawan

Daun mempelam di dalamnya puan buah duku dengan kuini tidakkah belas muda bangsawan melihat abang selaku ini

Air pasang bulan mengembang hanyut sampai dari Jawa jikalau datang hati yang bimbang bagaikan hilang rasanya jiwa

13 Hanyut sampai dirinya Jawa kuning-kuning pohonnya lada bagaikan hilang rasanya jiwa hati terkenang kepada adinda

Kuning-kuning di pohonnya lada buah kepayang di pintunya kota hati terkenang kepada adinda terbayang-bayang padanya mata

Buah kepayang di pintunya kota pintu berukir awan berenda terbayang-bayang padanya mata tinggi hati bagai di/h/irisnya

Raut sembilu berpucuk rebung rama-rama di dalamnya puan amat malu biar ditanggung asal bersama dengannya tuan

Rama-rama di dalamnya puan cempedak berbelah-belah asal bersama dengannya tuan apa kehendak perbuatlah

Cempedak berbelah-belah anak orang mati dituba apa kehendak perbuatlah anak orang kuambil juga

Anak orang mati dituba mati dituba sepanjang jalan anak orang kuambil juga biarlah mati bertindih tulang

Mati dituba sepanjang pantai pantai di Teluk Indragiri biar mati bertindih bangkai di mana lagi abang hendak cari

Sauh batu bertali sabut mari ditarik dengannya akar jikalau tentu biar disambut di dalam hati cinta berlingkar

Mari ditarik dengannya akar akar cerikit di tepi bukit di dalam hati cinta berlingkar jika dibongkar terlalu sakit

Akar cerikit di tepinya bukit bukitnya penuh dengannya lalang jika dibongkar terlalu sakit sakitnya sampai ke dalam tulang

14 Mempelam tumbuh di parit berbunyi burung Raja Deli kirim salam dagang yang arif kepada tuan minta kenali

Berbunyi burung Raja Deli hendak dijolok dengannya galah kepada tuan minta kenali mana perintah daripada Allah

Hendak dijolok dengannya galah galah didirikan berganti-ganti mana perintah daripada Allah menyerahkan diri sampai ke mati

Galah didirikan berganti-ganti naik ke darat berjalan pantai menyerahkan diri sampai ke mati jahat dan baik mana-mana pandai

Naik ke darat berjalan pantai puan berisi bunga angsana jahat dan baik mana-mana pandai

kepada tuan minta berguna

Puan berisi bunga angsana burung dibuat terbang tinggi kepada tuan minta berguna

cinta tidak ke mana pergi

Elok-elok raja di Bintan awan bergaluk berganti-ganti tidak ternilai harganya intan jatuh ke lubuk meligi hati

Awan bergaluk berganti-ganti burung pipit di dalam belukar jatuh ke lubuk meligi hati kepada niat tidak bertukar

Burung pipit di dalam belukar patah galah di dalam perahu kepada niat tidak bertukar kehendak Allah siapakah tahu

Patah galah di dalam perahu kelapa masaknya hutan kehendak Allah siapa tahu tidaklah boleh abang katakan

Patah teladan hambalah batu kena cupu tatah mutia nyawa dan badan sudah bersatu apalah tipu menceraikan dia

Kena cupu tatah mutia pandan pudak pandan di hutan apa tipu menceraikan dia tidaklah boleh abang katakan

15 Pandan pudak pandan di hutan padi segenggam habislah lecah tidaklah boleh apa buatan kehendak Allah juga yang singgah

Padi segenggam habislah lecah tidaklah boleh kehendak hati

Orang beria di pohon rukum laju sampai pada caknya orang bermain dengan cak (h)itam laksana cambul dengan tutuknya

Laju sampai pada caknya bunga Silan di dalamnya ketang laksana cambul dengan tutuknya umpama bulan di pagar bintang

Bunga Silan di dalamnya ketang mari dijamu di batas kota umpama bulan di _pagar bintang haram tak jemu kepadanya mata

Mari dijamu di batas kota rumah merpati bertingkat-tingkat

Sri Dewa raja yang tua kekasih tidak abang tinggalkan kepada mata tidaklah dua

Sri Dewa raja yang tua dipancung mati Sri Rama kepada mata tidaklah dua hendak mati bersama-sama

Dipancung mati Sri Rama puan bertatah abang hempaskan hendak mati bersama-sama tuan tidak abang lepaskan

Telah selesai daripada menulis Syair Pantun Seloka kepada 27 Zulhijah sanat 1335 tercap di tempat cap Muhammad ldris Singapura, kampung Ajelin nomor 20.

SYAIR TAJUL MULUK

Bahwa inilah Syair yang bemama "Tajul Muluk" istrinya bemama Sedati. Tercap di tempat Muhammad ldris Singapura, Ajelin nomor 20.

2 Syair Tajul Muluk

Dengarkan tuan suatu kisah syair asyik orang yang susah seorang raja kabamya sah namanya konon Malik Sulaiman Syah

Adapun akan Malik Sulaiman asal baginda raja yang ngani turun-temurun bangsa Sultani serta dengan gagah berani

Kerajaannya besar bukan kepalang gagah berani Sultan terbilang senantiasa perang berulang setiap tahun tidak berselang

Terlalu adil memerintah dia negaranya aman senang sentosa seorang dirinya bijak perkasa dihadap Sultan raja berbangsa

Demikianlah konon ceritanya tuan segala raja malu-maluan

Sultan pahlawan takut dilanggamya takut melawan

Ada kepada suatunya hari Sultan berpikir seorang diri ingin rasanya hendak beristri lalu memanggil perdana menteri

Kepada wazimya Sultan bersabda "Ayuhai wazir menteri berida ingin rasanya di dalam dada hendak mencari istri yang muda

Sedang lamanya di atas tahta sungguh sampai tuan merenta seorang putra tiadalah nyata siapa mengganti kerajaan beta

3 Akan sembah Perdana Menteri jikalau tuanku hendak beristri Malik Johansyah raja bestari ada berputera seorang putri

Parasnya baik tidak bercela wajah laksana intan kernala sifat serupa dewa sarna setala barang yang melihat hati pun gila

Jikalau dipinang mahkota negeri tak dapat tiada diperoleh istri Malik Johansyah tentu memberi bolehlah segera dibawa kembali

Setelah sudah ia merencana merninanglah sultan raja yang fana

makbullah maksud dengan sempuma dapatlah putri yang bijaksana

Selama sudah Sultan beristri sukanya tidak lagi terperi kerajaan bertambah sehari-hari terlalu adil memerintah negeri

Berapa lama di atasnya tahta lalu berputra duli mahkota seorang laki-laki elok semata paras laksana tulisan kata

Lalu dinamakan Tajul Muluk seluruh negeri tiada bertuluk berpatutan dengan laku dan khaluk memberi berahi segala makhluk

Setelah besar Tajul bangsawan elok bertambah tiada berlawan putih kuning emas tempawan banyak berahi segala perempuan

Tujuh belas tahun sampai umumya mangkin bertambah elok parasnya pada zaman itu tiada bandingnya serta dengan tegur sapanya

Tajul Muluk mahkota raja kepada ayahnya terlalulah manja barang kehendak diturutkan saja sehingga sampai sedang remaja

Rambutnya bagai malam yang kelam berkilat-kilat seperti nilam

barang yang memandang putra syah alam tiadalah lupa siang dan malam

4 Giginya bagai delima merekah dengan lemah lembut membawa sikah gayanya kena menggigit langkah kabarnya masyhur terlalu megah

Apabila berjalan Tajul terhela ramai be(r)lari perempuan segala laku seperti orang yang gila ada yang menepuk dada kepala

Ramai berkata perempuan yang mabuk seperti makan ganja dan serbuk ambillah patik buat pintu mabuk menyapukan sampah membuangkan (r)ebuk

Demikianlah kata setengah perempuan kepada baginda berhati rawan banyak berkata tidak ketahuan seperti orang mabuk cendawan

Masyhurlah kabar ke sana kemari Tajul Muluk mahkota negeri panas elok tidak terperi seperti bulan empat belas hari

Ada kepada suatu masa Tajul Muluk mahkota desa pergi bermain bersuka rasa ke dalam hutan memburu rusa

Berapa banyak hulubalang menteri dititahkan Sultan mahkota negeri

mengiring anakda Tajul bestari ramainya tidak lagi terperi

Setelah sampai ke dalamnya hutan binatang banyak tampa(k) kelihatan dikejar anjing terlompat-lompatan segala tentara ribut-ributan

Tajul Muluk di atas kudanya terlalu suka rasa hatinya melihat binatang banyak dapatnya lalu menyuruh membentang kemahnya

Kemah dibentang orangnya segera yang berumbaikan intan dengan mutiara semayamlah Tajul perwira dihadap wazir hulubalang batara

Seketika semayam Muluk bangsawan tampaklah saudagar berkawan-kawan terlalu banyak dagangan tuan masing-masing dengan kelakuan

5 Telah dilihat mahkota negeri baginda bertitah wajah berseri suruhkan seorang khadam berlari "Saudagar panggil segera kemari. "

Mendengarkan titah duli baginda lalu berlari khadam yang muda menyampaikan titah dengannya sabda memanggil saudagar mana yang ada

Saudagar datang tiadalah lena meng(h)adap Tajul Muluk teruna

diberi takzim dengan sempurna dagangan dibawa berbagai rona

Dagangan itu lalu dibuka ke hadapan baginda dengan manis muka sekaliannya itu dibeli belaka dengan yang mahal dibayarnya harga

Saudagar sekalian suka hatinya berseri-seri rona mukanya karena habis segala dagangannya berganda-ganda dapat labanya

Di dalam banyak sekalian saudagar ada seorang muda pendekar parasnya elok tidak bertukar manis laksana lawatan sekar

Aziz namanya saudagar muda parasnya elok cela tiada bungkus dagangnya dibawanya ada tetapi belum dilihat baginda

Tajul pun sedang berkata-kata terpandang kepada saudagar yang puata cantik molek mengerna derita laku seperti orang bercinta

Baginda berpikir dalam hatinya tak heran baik sifatnya tetapi bercinta rupa lakunya seperti bercerai dengan kasihnya

Sudah berpikir mahkota negeri lalu menitahkan khadam sendiri

membuka bungkus saudagar bestari barang yang baik bawa kemari

Mendengarkan titah muda teruna khadam membuka tiadalah lena dagangan indah amat sempurna perbuatan orang di sebelah sana

6 Khadam sedang membuka dagangan bertemulah ia sehelai saputangan dipegangkan saudagar kata, "Jangan, cahaya mataku itu gerangan"

Tangan khadam segera dipegangnya saputangan itu lalu diambilnya diletakkan Aziz di bawah lututnya serta pulang dengan tangisnya

Telah dilihat mahkota negeri baginda bertitah wajah berseri apakah sebab kelakuan diri dengan saputangan demikian peri

Sembah saudagar dengan air mata "Ampun tuanku duli mahkota tiadalah dapat disembahkan warta karena saputangan jadi bercima."

Mendengar sembah saudagar muda sangat takjub duli baginda dengan manis memberi sabda ceritakan olehmu jangan tiada

Dengan sebenarnya saudagar katanya "Satu pun jangan diri tinggalkan

"Jika dengan titah perintah patik tak lalu barang sepatah"

Sembah saudagar muda jembawan, ampun tuanku raja bangsawan patik sembahkan segala kelakuan Aziz nama patik pun tuan

Patik ini anak saudagar orang yang kaya lagi pendekar banyak menaruh rakyat asykar di dalam kampung suara bertegar

Adalah seorang anaknya hamba Azizah dia empunya nama dengan bapak patik tiga diam bersama ialah awal mula pertama

Bapa(k) Azizah sudahlah mati bapak(k) patik menjadi ganti kasihkan dia bersungguh hati beta pelihara dengan seperti

7 Dengan patik tidak berbeda kasihnya sama di dalamnya dada tambahan tidak ayah dan bunda belas bertambah kurang tiada

Patik pun kasih juga begitu akan Azizah yatim piatu

Patik pun tidak ia mengerti akan Azizah menaruh hati akan petualangan robbal azati remuk redam rasanya Siti

Siang dan malam duduk menanti memakai bahuan tidak berhenti jika malam menangislah Siti mengeluh mengucap tiada berhenti

Besarlah sudah patik pun kedua hukum bala sudah dibawa tidur dan makan bersama jua tetapi hati belum berhawa

Patik tak sangka demikian peri niatnya hendak menjadi istri berkasih-kasihan sehari-hari tidak bercerai barang sehari

Telah dilihat ibu dan bapa(k) akan patik demikian rupa

Laid istri berbicara Aziz, baik kawinkan segera janganlah lagi berwara-wara takut memberi nama yang cedera

Lagi pun ia sudah bertunang bukannya payah pinang-meminang janganlah banyak lagi dikenang kawinkan dia supaya senang

8 Sudah mufakat laki-istri lalu berhadir se(m)barang peri menjemput orang kanan dan kiri hendak mengawinkan anak sendiri

Di dalam rumah sudahlah sedia beberapa perhiasan yang mulia-mulia sehabis elok di dalam dunia betapa adat orang yang kaya

Banyaklah menyembelih kerbau dan lembu akan makanan orang berjamu dinar pun habis beribu-ribu sedikit tak sayang di dalam kalbu

Setelah hari sudahlah petang orang jemputan semuanya datang duduk di atas hamparan terbentang tanglung pendil seperti benteng

Akan Aziz muda yang tentu laki-istri kehamum batu

adat azab sahaya begitu sudah kehamum baharu bersatu

Demikianlah sembah Aziz teruna baharu bersatu dengan sempuma Aziz memakai sudahlah kena cantik majelis sudah sempuma

Terkenalah tajuk dengannya diabah diselang dengan melur dikubah dua raja berseri manis bertambah barang yang memandang hati ngelabah

Sudah memakai muda teruna berjalan keluar dur haman sana hendak mendapatkan kadi maulana mengkadikan nikah dengan sempuma

Berjalanlah Aziz wajah gemilang hendak segera kembali pulang sudahlah nasib muda terbilang di tengah jalan beroleh malang

Adapun itu rumah suatu dengan aman bertentang pintu rumahnya kecil berdinding batu Aziz pun lalu di jalan itu

Yang empunya rumah itu perempuan parasnya elok kilau-kilauan laksana bulan di dalam awan Siti Dalilah namanya tuan

Siti Dalilah al mahkotalah rupanya bagai bulan tersulah

Siti menaruh gundah di dalam hati berahikan Aziz muda yang sakti sehari-hari duduk menanti

Kepada Aziz Dalilah terpandang parasnya elok usulnya sedang terlalu suka Siti yang bidang Aziz teruna hendak di(h)adang

Setelah dekat Aziz bestari dibuka jendela sambil berdiri dijengukkan muka menuju sendiri sambil mengisyaratkan lima jari

Saputangan, surat, dilemparkan pula kepada Aziz muda terata kemudian lari pula semula sambil menutup kerudung jendela

Serta terpandang Aziz pun goyang minum seperti mabuk kepayang

arwah dendam habis melayang kepada Dalilah berpindah sayang

Rasanya dada bagaikan hampa naik pengantin menjadi lupa tiada takut ibu dan bapa(k) sebab Dalilah yang putih sapa

"Lalulah patik singgah ke situ berjalan naik ke tangga batu hendak bertemu perempuan itu dilihat terkunci tingkap dan pintu

Di luar pintu patik berhenti hendak bertemu Dalilah Siti semalam-malaman duduk menanti sungguh siang nyatalah pasti

I 0 Menanti sampai dini hari keluh kesah tidak terperi di dalam hati sangat berahi hendak bertemu Dalilah Siti

Terhenti madah Aziz yang lena tersebut kisah di dalam istana saudagar hadir dengan sempurna sudahlah datang kadi maulana

Orang pun penuh di dalamnya rumah berhadir jamuan akan walimah sekadar menanti Aziz yang Ielah lagi bersiram kuhamam timah

Adapun Azizah yang baik budi sudah dihiasi lalulah mandi

Sudah memakai Siti bangsawan diarakkan dikata tulis berawan lakunya manis malu-maluan memberi hati pilu dan rawan

Akan makanan sudahlah sedia di dalam rumah saudagar kaya sekadar menanti Aziz yang mulia belumkah juga datangnya dia

Lama menanti imam dan kadi belumlah datang Aziz bestari sungguh sampai siangnya hari saudagar pun marah tidak terperi

Sekalian jemputan kembali pulang tinggal saudagar berhati walang marahnya bukan alang kepalang akan anaknya Aziz gemilang

Terlalu marah datuk saudagar perbuatnya Aziz muda pendekar kilau bemyala bagai dibakar pelamin di/r/ubah segera dibongkar

Mana makanan yang telah hadir disedekahkan saudagar kepada fakir pekerjaan walimah jadilah mangkir sebab Aziz empunya pikir

Adapun akan Aziz teruna hari siang nyata sempuma

bimbang guiana

11 Matahari terbit Aziz pula ingat seperti orang hilang semangat wajahnya persih berubah sangat lalaulah pulang kembal i bang at

Serta sampai Aziz pun girang dilihat rumah sudahlah terang pelamin habis merintihkan orang karena saudagar terlalu berang

Saudagar terpandang Aziz terala mangkin bertambah kal hu bernyala hatinya hancur tidak berkala perkataan marah dikatakan pula

Saudagar berkata sambil berdiri menunjuk anaknya kanan dan kiri, "Hai Aziz demikianlah peri menconteng muka bapa(k) sendiri

Haram sekali tidak kusangka akan kelakuan anak celak.a dengan aku berbuat durhaka sampai dianya mengitahk.an muka

Demi Allah robbal azati tidak kusatukan dengan seperti haraplah engkau kepadanya hati hingga setahun duduk menanti"

Patik mendengar bapa(k) pun minta sangatlah takut di dalam cita

"Semalam apa pandangnya masa makanya tidak kembali serta

Azizah bertanya, patik jawablah, aku terpandang Siti Dalilah di jendela tembaga tampak tersalah rasa dadaku bagaikan belah"

12 Kelakuan habis patik kabarkan suatu pun tidak dilindungkan Azizah tertawa lakunya tertekan murka di hati Siti samarkan

Setengah tertawa dengan marahnya kepada patik Azizah bertanya "Mengertikah Aziz akan tafsimya hasrat Dalilah apa artinya?"

Patik pun segera menjawab senda "Haram tiada di mengerti kakanda

dada"

Anak hamba menjawab peri suaranya manis berseri-seri "Adapun tafsir surat diberi artinya berahi ia akan diri

Saputangan itu ketahui olehmu artinya salam pada dirimu lima hari lagi baharu bertemu demikianlah fatwa orang berilmu

Akan sekarang baik berhenti Aziz wa(ha)i jangan gundah hati sekadar lima hari boleh dinanti bertemulah tuan dengan Dalilah Siti

Mendengar kata Siti pendeta patik pun diam menurut kata tetapi hati sangat bercinta Siti Dalilah di mata-mata

Patik pun naik ke atas bangku kepada bantal baring te(r)laku anak hamba hadir bertunggu duduk memijat patik tuanku

Memijit itu dengan manis muka duduk demikian patik tak peka sudahlah takdir Tuhan yang baka kepada patik orang celaka

Sarnpai kepada hari yang lima patik disuruh oleh anak hamba,

Serta sarnpai ke rurnah sendiri rnasuk peraduan rnerebahkan di(ri) Aziz pun datang rnengharnpiri rnernijit patik kanan dan kiri

Dengan rnanis ia berrnadah terlalu fasih berbunyinya lidah, "Wahai Aziz paras yang indah yang engkau sudah berternulah."

Patik pun segera rnenjawab kata, "Belurn lagi bertemunya beta sekadar jendela terpandang rnata dua hari juga ditunjuk nyata

Saputangan merah lambaikan pula wajahnya terang seperti gemala

Siti pun pilu bagai di/h/iris dengan sembilu hendak marah rasanya malu kasihkan patik sudah terlalu

Karena dia orang yang mulia laku seperti perangainya aulia sebab kasihnya hilang upaya tersenyum sedikit tiada berdaya

Sungguh tersenyum rupa tampaknya akan tetapi rusak hatinya kepada patik ia bertanya "Mengertikah Aziz akan tafsirnya?"

Patik pun segera menjawab kata "Tiada sekali mengerti beta jikalau sungguh kasihan serta berilah tafsirnya supaya nyata. "

Anak hamba menjawab peri mukanya manis berseri-seri, "Adapun tafsir duanya jari kekasihmu bertunggu/h/ dua hari

14 Saputangan merah artinya makna sebuah rumah ada di sana tempat orang mencelup rona di situlah menanti Aziz teruna."

Patik mendengar kabar yang mesti daripada usul bijak mengerti

· memandang lena hendak bertemu lila mengerna

Usah antara memandang muka pintu jendela tidak terbuka rasanya hati sangatlah duka sampai petang dinanti juga

Sehari-hari gila mengembang hendak melihat bunga yang kembang kedengaran sudah mak dan bang mangkin bertambah hatinya bimbang

Lalulah patik mengangkat asal sembahyang di situ sudah sekali lepas sembahyang salah berduli langsung lalu patik kembali

Akan Aziz muda yang syahda berdiri di tiang bangsawan muda sebelah tangannya menangkapnya dada menahani hati sangat menggoda

Serta terpandang patik pun tuan Siti menegur manis kelakuan

"Hai Aziz muda cumbuan sudahkah bertemu angin bangsawan?"

Setelah patik mendengar kata datanglah marah amat gempita sangat berpusing pandangan mata dibawa oleh hati bercinta

Patik pun datang marahnya serta dengan pandang ter/a/jangnya Azizah tersungkur jatuh dianya luka sedikit pada dahinya

15 Siti bangkit darahnya cucur ditangkapnya dengan jari yang bujur anak hamba hatinya hancur perbuatan patik amat telanjur

la pun bangkit lalu berdiri sambil tertawa durja berseri Aziz di/p/(b)ujuk dipimpin jari dibawa masuk ke tempat sendiri

Siti pun hendak memberi makan ke hadapan patik dihadirkan kahar pun segera patik terjangkan habis pecah mangkuk dan pinggan

Telah dilihat Siti pendeta kelakuan Aziz amatlah menta terlalu syak di dalamnya cinta Siti pun cucur airnya mata

Sangat berubah wajahnya Siti seraya berpikir di dalamnya hati,

Sungguh bercinta keduanya rupa patik pun masih juga di sana belumlah Aziz engkau berjumpa dengan Dalilah yang putih sapa

Patik pun segera menjawab kata hari pun belum bertemunya kita suatu tidak memandang mata pintu dan tingkap berkancing rata

Mendengar kabar patik yang rawan Siti menjawab kepilu-piluan sebab demikian hal kelakuan hendak melihat hatimu tuan

Jikalau sungguh Aziz teruna kasih dan sayang dengan senipuma datanglah lagi engkau ke sana alamat orang yang bijaksana

16 Setelah patik mendengarkan kabar daripada Aziz orang yang sabar

kurang sedikit hati yang ngubar lalulah tidur berselimutkan kebar

Setelah siang nyatalah pagi patik pun bangun lalu berangi mengambil kasut memasukkan kaki ke kampung Dalilah berjalan pergi

Serta patik sampai ke situ tampaklah Dalilah hadir di situ laksana emas sepuluh mutu memakai subang permata satu

Duduk di(h)adap hamba dan ternan suatu meja tempat minuman umpama bunga kembang setaman merusakkan hati muda berahian

Serta terpandang patik yang gila pundi tanglung dikeluar(kan) pula mangkuk berisi betih segala sambil mengetuk pintu jendela

Patik melihat demikian peri berjalan pulang ke rumah sendiri mendapatkan Aziz muda bestari dilihat barang Siti jauhari

Patik datang lihat Aziz terhala ia tersenyum menegur pula hendak bangun tidak terhela tulang dan sendi lemah segala

Dengan perlahan mengeluarkan peri ayuhai Aziz muda bestari

Siti bersabda kepada patik ayuhai kakanda sudahlah bertemu bangsawan muda dengan Dalilah usul yang syahda

Patik pun segera menjawab kata hari pun sudah bertemunya beta ada seketika berpandang mata ia pun lari pula serta

17 Kelakuan habis patik kabari semua dilihat patik keluari tersenyum sedikit Siti jauhari berkata sambil mengeluarkan peri

Mangkuk betih artinya makna suatu kebun ada di sana pundi-pundi itu artinya istana peraduannya indah terkata

Tanglung itu diperbuatnya tanda bald/rang di mana tampaknya ada tujulah saja oleh kakanda niscaya bertemu Siti yang syahda

Patik pun tidak panjang madah hari malam nyatalah sudah

Serta sampai patik ke sana lalu bertemu sebuah istana perhiasan indah amat sempurna patik pun naik tiadalah lena

Serta sampai patik pun meluk ke dalam rumah perhiasan elok dilihat tiada seorang makhluk patik pun diam tangan memeluk

Adalah pula kabar suatu berisi nikmat berbagai di situ hamparan terbentang bertatah mutu duduklah patik di atas itu

Patik menanti ada seketika hampir tengah malam gerangan jingga orangnya tidak dipandang muka perut pun lapar serta dahaga

Kepada fakir hati sendiri hidangan ini orang memberi perut pun lapar tidak terperi baik kumakan begini hari

Sudah berpikir di dalamnya cita lalu dimakan nikmatku serta mana yang ada dipandang mata sekalian itu dirasai nyata

Sudah makan demikian peri lalu mengantuk mata sendiri

Siti sangat berubah patik lihati terlalu belas rasanya hati

Daripada sangat Siti kurayu suara berubah muka pun layu mengembur kalam mendayu-dayu patik mendengar terlalu sayu

Dengan perlahan Azizah berkata ayuhai Aziz muda yang kuata sampailah sudah engkau cita dengan Dalilah berjumpa mata

Patik menjawab segeralah cepat "Belum lagi usul bersifat kakanda kemalangan beradu zakat serta terjaga pisau yang dapat. "

Mendengar jawab Siti pun pilu "Baik di/h/iris dengan sembilu

Siti, "Hai Azizah, dengarlah pasti akan maksud ditafsirnya Siti

Adapun artinya pisau sebelah engkau binatang, kata Dalilah bodoh dan dungu sudah terjumlah boleh dibuat sebarang ulah

Sekarang malam pergilah jua ke rumah Dalilah utamajiwa jangan dimakan segala kahwa serta tidur jangan dibawa

Sekali demikian pekerti engkau di sana tidur berhenti niscaya Aziz engkau pun mati dibunuh oleh Dalilah Siti."

19 Seketika duduk berkata-kata hari malam sudahlah nyata hati patik sangat bercinta Siti Dalilah di mata-mata

Masa itu bulan pun terang cinta bertambah tiadalah kurang patik berjalan seorang-orang ke kampung Dalilah Siti yang garang

Serta sampai patik yang lata ke dalam rumah dijalani rata

Siti yang duka

Malam pun hampir dinihari sunyi senyap kanan dan kiri lalulah datang Siti jauhari membawa pisau tatah baiduri

Serta sepuluh orang perempuan mengiring di belakang Dalilah tuan lalulah masuk Siti bangsawan parasnya elok memberi rawan

Setelah dilihat Siti terala patik pun juga duduk tersala tiadalah berbuat sala(h) mangkin bertambah kayanya pula

Sehelai saputangan dipegang serta kepada patik Siti berkata, II Hai Aziz mud a yang puata ambillah saputangan pemberian beta. II

Patik pun bangkit segera berdiri menyambut saputangan berperi-peri oleh Dalilah tidak diberi berpura-pura Siti pun lari

Lari kepada suatunya tempat kepada peradu~ awan selompat

20 Duduklah patik bersuka-suka dengan Dalilah gurau jenaka di dalam peraduan sangatlah leka sampai siang duduklah jaga

Dalilah sangat suka hatinya kepada patik jadi kasihnya sehelai saputangan dikeluarkannya kepada patik diberikannya

Saputangan diunjuk sambil berkata, "Suatu hajat hendak kupinta kepada Aziz muda yang kuata setiap malam dapatkan beta. "

J adi patik ialah tuan janganlah walang emas tamparan kakanda ini sudah tertawan badan terserah kepada bangsawan

Saputangan disambut patik bertanya, "Siapakah Siti gerangan tukangnya terlalu sangat indah tekannya berpatutan dengan suci tulisnya. "

Jawab Dalilah muda cumbuan "Adapun yang manakah ini saputangan

Siti dilihat seperti orangnya mati

Siti mendengar patik pun ada dengan perlahan ia bersabda, "Apak:ah kabar sekarang kak:anda sudahlah bertemu Siti yang syahda"

Mendengar madah Siti pendeta patik pun belas menjawab kata, "Sudah tuan bertemulah beta dengan Dalilah muda yang kuata

Ini saputangan daripada Siti mengupah kak:anda ayuhai Siti tanda ikhlas di dalamnya hati minta ulangkan jangan berhenti"

21 Suatu ·pun tidak: bertinggalan diberikan kepada Siti handalan Aziz mendengar bertambah rawan air pun tidak: boleh ditelan

Dengan perlahan Aziz berkata sambil meleleh aimya mata,

Serta lagi beta pesankan kepada Dalilah minta disampaikan menanggung berahi hati ditekan apalah baik kita obatkan

Berahinya penuh di dalamnya hati mangkin bertambah tiada berhenti baik hidup baikkah mati nyatakan olehmu supaya pasti

Tetapi jangan diberi nyata kepada Dalilah bijak yang kuata perkabaran ini daripada beta sekadar kan Aziz berkata

Orang berahi sama sepadu sudahlah nasib tidak sejodo(h) siang malam menaruh rindu makan dirasai seperti /h/empedu

Sungguh dernikian dengan hasrat patik pun tidak (meng)erti ibarat anak hamba bercinta berat karena patik jadi mudarat

Seketika duduk bercinta hari malam nyata sempurna lalu berjalan patik yang hina ke kampung Dalilah yang bijaksana

Serta sampai Aziz bestari Dalilah pun suka wajah berseri

Siti yang duka

Patik bermadah sambil tertawa kepada Dalilah utama jiwa, "Aduhai tuan dengarkan jua suatu nizim yang beta bawa

22 Demikian konon bunyinya pantun daripada Siti muda yang santun menanggung berahi tidak terbantun hatinya putus bagai dirantun

Menaruh berahi terlalu sukar tiada tertanggung oleh pendekar hatinya (h)angus bagai dibakar tulang dan sendi bagai dibongkar

Dernikianlah pesan daripadanya taulan cerita di dalam masgul-masgulan menanggung berahi berapanya bulan air pun tidak dapat ditelan. "

Siti yang bijak menjawab serta "Siapakah Aziz empunya kata belas mendengar rasanya beta perempuan itu sakit bercinta

Itulah perempuan yang bijaksana ia berahikan muda teruna

daripada belum akal sempuma jatuhlah sakit jadi merana. II

Patik tersenyum menjawab kata, 11 0rangnya tidak boleh dinyata sekadar pesan kepadanya beta putih yang permai muramlah lata. II

Mendengar kata Aziz bestari Dalilah tertawa wajah berseri, IIHaram tak tabu Siti jauhari akan Azizah empunya peri. II

Siti tertawa sambil bermadah, 11 Ayuhai Azizah paras yang indah sampaikan kepada Siti yang gundah menahani hati bukannya mudah

Adatnya orang yang bijaksana akal dan budi dengan sempuma daripada sakit duduk merana hidup pun tidak lagi berguna

Kabarkan olehmu pesanku ini kepada Siti usul yang seni jikalau selalku sandan ini daripada hidup baiklah mati. II

Setelah sudah syair dipadu /h/ a yam berkokok bunyi sedu keduanya itu lalu beradu di dalam katil hamparan beledu

23 Hari siang nyata sempuma lalulah pulang patik ke sana

Siti sakit merana

Patik melihat Siti pun baring tubuhnya halus bertambah gering ayahanda bunda duduk mengiring dengan air mata tidaklah kering

Mendengarkan datang Aziz pilihan Azizah bermadah dengan perlahan suaranya putus tertahan-tahan memberi hati belas kasihan

Kepada patik Azizah berkata sambil meleleh airnya mata, "A pakah kabar pesannya beta adakah balasnya dibawa serta?"

Patik menjawab lakunya mutu, "Ada tuan balasnya itu, kata Dalilah jikalau begitu baiklah mati supaya tentu

Itulah pesan Siti mengerna adapun orang yang bijaksana tiada kuasa duduk merana baiklah mati biar sempurna. "

Mendengar madah patik telanjur hati Azizah luluh dan hancur dibetulkan tangan, kaki dilunjur air mata juga sebagai cucur

Dengan perlahan ia berkata, "Dengarkan olehmu madah dan warta

celaka."

Habis bermadah lalu berhenti diam termenung rupanya Siti sedikit tidak lupa di hati menantikan gerak daripada rati

Sungguhpun Siti sudahlah lena patik tak mengerti duli yang gana berjalan juga patik ke sana mendapatkan Dalilah laila mengema

24 Serta sampai lalu bermadah menyampaikan pesan Siti yang gundah semuanya habis kabarkan sudah kepada Dalilah paras yang indah

Dalilah mendengar hati berdebar sambil memandang Aziz muktabar, "Belas hatiku mendengar kabar mati rupanya Siti yang sabar."

Dalilah berkata merawan-rawan kepada Aziz muda cumbuan, "Perempuan (i)tu apa kepadamu tuan kabarkan juga supaya ketahuan."

Patik pun segera menjawab kata sambil berlinang aimya mata,

Siti ulama

Sudah mati Siti jauhari tiadalah dapat lagi dicari orang yang bijak di dalam negeri akalnya tajam tidak terperi

Segeralah Aziz pulang dirimu mendapatkan Siti yang berilmu jikalau ada untung tuahmu dengan nyawanya boleh bertemu."

Mendengar madah Siti terbilang patik pun gundah bukan kepalang arwah di dada habislah hilang segeralah turun berjalan pulang

Patik pun sampai ke pintu pagar didengar tangis bunyi bertegar terlalu riuh kampung saudagar sayangkan Siti dicari sukar

Patik pun masuk ke dalam rumah terpandang jenazah Siti yang ramah

Siti Aziz taruna jangan berjalan ke mana-mana takutkan datang bala bencana

Lain dahulu ada anak mama(k)mu boleh menegur mengajar dirimu karena ia orang berilmu tiadalah ia Aziz tersemu

Orang bijak beta kabari tiga orang juga di dalam negeri yang terlebih Aziz empunya istri sekarang tak dapat lagi dicari

Dibawanya dia hanyalah beta seorang dikandung beranak bata

"Ayuhai Aziz kemari juga bacakan surat barang seketika apakah bunyinya madah dan reka."

Patik dicubit ajuz ke situ "Baik ke gunung berdinding batu" patik berdiri di luar pintu sambil membaca suratnya itu

Surat dibaca seketika jua lalu berhenti utama jiwa

Siti berjalan terpontang-panting habis terjatuh tajuk dan ranting menangkap Aziz elok melinting dianya naik ke atas loteng

Perempuan yang molek lalu berkata, "Baharulah senang rasanya beta tiga tahun duduk bercinta berahikan Aziz muda yang kuata

Kehendak beta minta kawini kepada Aziz menjadi bini jika tak mau usul yang Siti kupancung dengan pedangku ini

Beta pun bukan Siti mulialah jahat perangai yang banyak helah suka berzinah perbuatan salah minta ampun kepada-Nya Allah. "

Patik pun tidak terkata-kata lalulah kawin muda yang kuata dengan Siti di gedung nyata kadi Maulana adalah serta

Adapun akan gedungnya batu setahun sekali terbuka pintu

Siti menegur, "Marilah tuan kekasihku ke mana pergi berjalan hilang tak tampa(k) beberapa lama."

Patik pun segera menjawab kata "Ditangkap Siti di gedung nyata

II

Dalilah mendengar patik bersuruh Siti Dalilah terlalunya marah muka yang putih menjadi merah sekalian dayang habis dikerah

Datanglah dayang sepuluhnya orang menangkap patik lebih dan kurang Dalilah pun marah terlalu berang lehernya patik hendak diparang

Patik pun pilu rasanya hati bermadah kepada Dalilah Siti IIBaiklah ingat muda yang sakti seperti pesan orang yang mati. II

Setelah Dalilah mendengar kata baharu teringat di dalanmya cinta seperti pesan Siti yang pendeta lalu dicampak(k)an pisau permata

Sambil berdiri bermadah Siti, IIHai celaka yang jahat pekerti apatah daya pesannya Siti j ikalau tidak engkau pun mati

28 Akan tetapi, tahanlah olehmu engkau menyakiti Siti berilmu memutuskan harap anak mama(k)mu sehingga mati tiada bertentu

Tak dapat tidak balas juga tertanggung atasmu hai celaka

"

Patik pun segera dipukulnya seratus kali pula bilangannya keluar pagar dicampakkannya Aziz pun pingsan seorang diri(nya)

Seketika pingsan demikian peri kemudian baharu sadarkan diri bangun merangkak mendapat istri ke gedung batu Siti bestari

Dilihat Siti di gedung bata patik pun datang dengan air mata Siti be(r)lari mendapatkan serta sekalian tubuh ditatapi rata

Nyata dipandang Siti yang mulia patik dipandang tidak berkata Siti pun benci memandang dia disuruh campakkan kepada sahaya

Patik pun pilu rasa hatinya melihatkan diri sangat nasibnya merangkak pulang dengan segeranya mendapatkan ibu bapa(k) keduanya

Dilihatnya saudagar laki-istri hal anaknya Aziz bestari dipeluk dicium putra sendiri meratap sambil ia berperi

Saudagar meratap merencana, "A yuhai anakku Aziz teruna

apakah sebab mula karena muka anakku dapat bencana?"

Patik pun segera menjawab kata sambil menyapu aimya mata, "Kehendak Allah juga semata kodrat berlaku di atas beta."

Saudagar memanggil tabib yang ada minta obatkan paduka anakda dibubuhkan obat cara Olanda baiklah patik demikian ada

29 Sungguhnya baik patik pasti tetapi sangat bercinta hati tambahan terkenangkan Siti yang mati hilang tak dapat lagi diganti

Sangatlah sesal di dalamnya cita memutuskan harap Siti pendeta mangkin bertambah patik bercinta tunduk menyapu airnya mata

Patik menangis berapa lama menyebut-nyebut anaknya mama(k) "Sampainya hati Siti ulama bawalah Aziz mati bersama."

Setelah didengar bunda sendiri tangisnya patik demikian peri menyebut nama Siti jauhari belas kasihan ia mendengari

Ibu patik lalu berkata, "Ayuhai anakku cahayanya mata

Siti pendeta saputangan dan surat ada serta

Kepada bunda pesan diri jikalau tangis Aziz bestari terkenangkan beta menyesal diri saputangan dan surat baharulah beri. II

Demikian pesan Siti aulia kepada bunda berkata ia daripada saputangan beroleh bahaya mendapat kebesaran Aziz yang mulia

Tinggal sakit belumlah mati bunda bertanya tiada berhenti, IIDapatkah Aziz engkau pun Siti kepada bunda berilah pasti

Itulah jawabnya kepadanya bunda berbuat jahat Aziz tiada perkataan baik juga yang ada tetapi tubuhnya sangat berbeda. II

Aziz mendengar madahnya ibu bertambah rawan di dalam kalbu seperti di/h/ayun ombak salbu tunduk menangis muda yang cumbu

Setelah dilihat bunda sendiri belasnya tidak lagi terperi saputangan dan surat lalu diberi kepada Aziz muda bestari

30 Patik menyambut dengan segeranya surat dijunjung lalu dibacanya

Siti air mata cucur tiada berhenti sesal bertambah di dalam hati hidup pun tidak dengan seperti

Saputangan ini surat bersama ditinggalkan oleh Aziz ulama patik diberi Siti Utama lalu dipinta/k/ oleh anaknya mama(k)

ltulah sebabnya maka begini patik dengan saputangan ini tiada bercerai ke sana-sini karena Siti sudahlah mati

Habis cerita Aziz yang kuata kepada baginda Tajul mahkota sambil berhamburan airnya mata sangat teringat di dalam cita

Lalu bertitah mahkota negeri wajahnya manis amat berseri, II Saputangan itu bawalk/ kemari 11 beta pun hendak melihat sendiri.

Mendengar titah duli mahkota lalu disembahkan Aziz yang kuata

Sudah berpikir di dalam hatinya kepada Aziz baginda bertanya, "Saputangan sangat indahnya siapakah tukang yang membuatnya?"

31 Sembah Aziz usul yang Siti ampun tuanku mahkota negeri adapun tukangnya saputangan ini namanya masyhur ke sana-sini

Sida Andelina namanya mengindra Sultan Parsi empunya putra parasnya elok tidak bertara meng(h)ilangkan budi akal bicara

Saputangan ini jadi jualannya di dalam setahun keluamya patik pun sudah melihat rupanya terlalu sekali baik parasnya

Patik melihat nyata sendiri tatkala di kebun bermain putri

indahnya tidak lagi terperi tiada berbanding seluruh negeri

Jikalau disifatkan putrinya itu keelokan rama bukan suatu tukangnya tidak dapat dibantu barang yang melihat berhati mutu

Rambutnya hitam beserta lebat manis laksana minuman serbat kepadanya habis cinta bertambat patut sekali diambil sahabat

Mukanya bujur hidungnya mancung laksana kelam baharu dirancung jarinya halus lentik di /h/ujung bagai manikam sudah dijunjung

Lehernya jenjang seperti kendi betisnya bagai batangnya padi hilanglah akal luputlah budi sebab karena kerja tak jadi

Pendiriannya bagai ranting delima sedang sederhana bersama-sama berpatutan rupa dengannya nama seluruh negeri cari tak sama

Bulu mangunya bagai dialis senyumnya patut dengan memalis dipandang jauh terlalu majelis laksana gambar baharu ditulis

Putih kuning cemerlang rona cantik majelis dan bijaksana

Serta tukang lagi berilmu tiada berbanding di dalamnya bumi terlalu baik laku dan rasi tetapi tak mau nama suami

Berapa banyak raja-raja yang kena datang meminang Sida Andelina mengantar permata yang mulia-mulia seorang tidak diterima dia

Setelah baginda mendengarkan kabar dengan seketika datanglah ngubar cinta berahi hati berdebar beroleh muka usul yang sabar

Seketika duduk berkata-kata sekalian saudagar bermohon rata Aziz seorang tiadalah serta karena dipegangkan Tajul mahkota

Setelah petang sudahlah hari berangkat pulang mahkota negeri diiringkan oleh Aziz bestari langsung lalu ke istana sendiri

Serta ke dalam sampai istana semayam di kursi tatah kencana sedu lakunya ma(h)luk teruna terkenangkan Sida yang bijaksana

Baginda tak mau santap nasi karena berahi sudah ter/h/isi

Sultan mendengar dada pun kering laki-istri pergi beriring

Serta sampai duli baginda langsung lalu mendapatkan anakda dengan manis Sultan bersabda, "Apakah sakit jiwa Ayahanda?

Dengan sebenamya engkau bermadah apa dimasgulkan paras yang indah?"

"Ampun tuanku mahkota desa hati anakda dipatuk ular yang bisa sekalian anggota habis binasa

Patik pun ada mendengar kabar di Negeri Parsi suatu gambar ialah jadi obat penawar boleh meng(h)ilangkan hati yang ngubar."

Mendengarkan sembah paduka anakda Sultan tersenyum seraya bersabda, "Jika demikian kehendakmu ada janganlah gundah di dalam dada

Biar ayahanda menyuruh menteri serta dengan Aziz bestari bertemu Sultan Parsi sendiri dipinang masak tidak diberi

Pada pikirku jikalau-kalau jika ia memberi malu kehendakku tidak diberi lalu negerinya itu hendak kupalu."

Sudah bertitah demikian peri Sultan menyuruh memanggil menteri lalulah datang wazir bestari duduk serta takzim diberi

Sultan bertitah manis suara, "Wazir pun tidak pergilah segera

Si Alam menyampaikan surat serta salam

Sultan Parsi terlalu suka surat disambut lalu dibuka dibaca baginda dengan seketika mahfurnlah kehendak Sultan paduka

Seketika membaca berhenti baginda kepada utusan memberi sabda sedikit masgul di dalam dada takutkan murka Sultan syahda

"Karena anakku jahat resmi tiada menurut perkataan kami berapa dipujuk ibu dan umi tak mau juga diri suami

Akan beta jangan dikata terlebih suka di dalam cita

II

Utusan dibawa Sultan Parsi naik ke mahligai berkisi-kisi jika pintanya tiada berisi supaya wazir jadi saksi

Telah sampai duli baginda ke dalam mahligai mendapat anakanda utusan kedua bersalamlah ada meng(h)adap Sida usul yang syahda

Sultan bertitah wajah berseri sambil memujuk putra sendiri, II A yuhai anakku kemala negeri dengarkan juga ayahanda berperi

Muluk Sulaiman Syah empunya suruhan meminangkan anakanda Tajul pilihan pintanya itu mudah-mudahan baginda pun hendak berkasih-kasihan

Baiklah juga anakda turuti kehendak baginda Muluk yang sakti janganlah banyak pikir di hati terlebih baik berbuat bakti. II

35 Berbagai nasihat pengajaran baginda supaya lembut hati anakda tiadalah rida putri yang syahda sambil menangis menjawab sabda

Dengan tangsinya ia berkata, "Ampun tuanku duli mahkota

nama bersuami mohonlah beta sedikit tak niat di dalam cita"

Jikalau dikerasi demikian itu niscaya kubunuh suaminya tentu jikalau tiada dapat begitu membunuh diriku mati di situ

Mendengar jawab Sida Andelina diam seketika Sultan yang mulia hilang akal budi upaya tiadalah dapat dikerasi dia

Mendengar madah putra sendiri kepada utusan Sultan berperi, "Jawabnya putra Sultan kabari bukannya Sultan tidak memberi

Mahfumlah utusan di dalam cinta akan kehendak perkataan beta anak pun tidak menurut kata lebih-lebih maaf duli mahkota."

Mendengar titah Sultan asali wazir bermohon pulang kembali persembahan kabar ke bawah duli Sida Andelina tiada radhi

Kelakuan habis disampaikan rata ke bawah hadirat duli mahkota Sultan Parsi sangat bercinta anaknya tidak menurut kata

Tajul Muluk mendengarkan sembah dengan seketika pucat berubah

Setelah dilihat Sultan berbilang kelakuan putranya wajah gemilang penyakit lama kembali pulang Sultan pun gundah bukan kepalang

Lalu bertitah Sultan perwira, "Akan sekarang akallah bicara takutkan anakku berubah cedera baik dilanggar negerinya segera."

36 Berkata dengan usul periksa, "Ampun tuanku mahkota desa bukannya salah raja berbangsa anakda tidak boleh dipaksa."

Jika ada izin serta diri mohonlah patik pergi sendiri menjadi tajir masuk ke negeri serta Aziz wazir bestari

Kita menjadi tajir yang besar membawa dagangan elok dan kasar duduk berniaga elok dan kasar orang pun ramai datang bersasar

Bawalah kain pakaian yang mulia barang yang tiada negerinya dia di situlah kelak mendapat rahasia akan hal Sida Andelina

Demi didengar baginda Sultan kehendak Anakda berapa tuan

Sida beberapa khadam yang muda-muda akan mengiring Tajul yang syahda

Sekalian itu dibawanya serta oleh menteri wazir yang kuata kerani emas tatah permata tempat semayam Tajul mahkota

Sudah dihadirkan oleh menteri Tajul Muluk pergi sendiri meng(h)adap ayahnda laki-istri diiringkan Aziz serta menteri

Sultan melihat paduka anakda ditegur baginda seraya bersabda, "Marilah Siti jiwa ayahanda bilakah berjalan bangsawan muda?"

Tajul pun segera berdatang sembah, "Ampun tuanku duli khalifah berkat daulat karunia yang limpah hari ini juga bermohon ayah."

37 Setelah Sultan mendengar peri baginda bertitah kepada menteri

II Anakku sedang muda teruna belum sampai akal sempurna jika suatu hal di sana memberi tahu janganlah lena. II

Telah habis Sultan bertitah lalu bermohon putra yang pitah naik kuda pelana bertatah serta dengan alat perintah

Terlalu besar rupa angkatan asykar berjalan bagai lautan mengiring Tajul putra Sultan lintas lalu ke dalam lautan

Adalah pada /r/empat puluh hari lalulah sampai Tajul bestari berbuat singgahan di luar negeri bermusyawarat dengan segala menteri

Sudah musyawarat sama sekata Tajul Muluk lalu berkata, II Aziz dan wazir marilah serta masuk ke negeri berjalan kita. 11

Lalu bermadah menteri yang tua IISilakan tuanku utama jiwa janganlah banyak khadam dibawa biarlah sama barang berdua. II

Setelah sudah berperi-peri lalu berjalan masuk ke negeri

"

Ada yang berkata demikian peri, "Malaikat gerangan datang kemari maka wajahnya berseri-seri laksana bulan empat be las hari."

38 Wazir berjalan berbalik hendak mencari dukan pelik mangkin ramai orang menilik melihat Tajul usuli yang molek

Seketika berjalan wazir yang tua dapatlah satu dukan kahwa masuklah Muluk utama jiwa segala dagangan disuruh bawa

Dagangan diangkat habis sudah serta dengan khadam dan abdah dimasukkan ke dalam dukan yang indah di situlah tempat Muluk berpindah

Mengaturlah Aziz wazir serta dagangan dikeluar sekalian rata

Serta terpandang saudagar muda heran tercengang tidak bersabda sambil berpikir di dalamnya dada tajir pun elok cela tiada

Anak siapa gerangan dia parasnya elok sifatnya mulia giginya putih seperti mutia meng(h)ilangkan akal budi upaya

Yang tua hendak dikatakan bapa(k) kepada saudagar yang putih sapa

Orang pun ramai bukan kepalang penuh suka tiada berselang setiap hari datang berulang suka melihat wajah gemilang

Setelah dilihat perdana menteri orang pun datang setiap hari datang melihat rnahkota negeri penuh suka di dukan sendiri

Berdatang sembah wazir yang kuata, "Jika demikian hampirkan nyata persilakan rnasuk duli mahkota ke dalam dukan duduk bercinta."

Mendengar sembah datuk perdana lalulah masuk muda teruna ke dalam dukan duduk bertahta di(h)adap Aziz yang bijaksana

Seketika sernayam utama jiwa tampillah lalu Ajuz yang tua mencampak lenggang kayu dibawa pengiring perempuan ada berdua

Ialah tua-tua sidah yang pitah di dalam mahligai ia memerintah

Serta sampai perempuan Parsi disuruhnya duduk di atas kursi dua khadam disuruh mengipasi Tajul dan Aziz hadir di sisi

Ajuz muliakan Tajul mahkota dilawan duduk berkata-kata, IIMaukah ibu membeli harta pakaian indah elok semata

40 Karena Ajuz tua yang bahari duduk memerintah di dalam kasri jualkan pakaian dagang yang ngari berapa upahnya beta pun beri. II

Bungkusnya itu segera ada bawa kehadapan Ajuz orang yang tua Ajuz melihat suka tertawa katanya, "Aduhai utama jiwa! II

Sambil tertawa Ajuz berkata, II Indahnya kain pemandangan mata

"Tiga ribu dinar harganya benda di dalam sehelai demikian yang ada."

Mendengarkan madah demikian peri Ajuz menjawab muka berseri, "Jika harganya demikian peri boleh dibawa kepada Tuan Putri

Kain pun indah sangatlah cahaya patut pak:aian raja yang mulia jikalau dilihat Sida Andelina hampirlah gerangan membelanya dia."

Tajul Muluk mendengar kata berdebar lenyap di dalam cita bangkit berahi duli mahkota diambil kalam disusunnya serta

Adapun bunyi surat Syah Alam kepada Sida berkirim salam menanggung berahi siang dan malam hancur luluh hati di dalam

Tersenyum Sida menaruhnya rindu siang dan malam tidak beradu terkenang tuan usul yang syahdu barang dimak:an rasa /hlempedu

Matahari (i)tu sahaja berahikan bulan sahajak:an patut ia bertautan

Sudah disurat Tajul mahkota dilipatnya kain dimasukkan serta kepada Ajuz raja berkata, "Adalah sampai hajatnya beta?"

41 Ajuz pun segera menjawab sabda, "Janganlah gundah bangsawan muda jika demikian hajatmu yang ada terlalu mudah kepadanya benda. "

Mendengar madah Ajuz jauhari terlalu suka Tajul bestari wajah bercahaya amat berseri seribu dinar Ajuz diberi

Serta dinar sudah didapat Ajuz bermohon kembali cepat membawa sebungkus kain berlipat meng(h)adap Sidati usul bersifat

Serta sampai Ajuz yang tua kehadapan Sida kain dibawa berkata dengan suka tertawa, "Maukah kembali utama jiwa?"

Oleh putri lalu dibukanya dilihat surat di dalam lipatannya lalu dibaca dengan segeranya terlalu marah rasa hatinya

Sida bertitah lakunya murka merah padam rupanya muka

"Ajuz ini sangat celaka entahkan apa madah dan reka

Engkaulah berbuat kelakuan ini duduk berkabar ke sana-sini maka saudagar jadi berani jikalau tidak masa begini."

Ajuz terkejut pura berkata, "Hai Sida janganlah minta haram tidak mengetahui beta akan surat dibubuhnya serta."

Sida menjawab dengan marahnya, "Jika Ajuz tiada mengetahuinya pergilah kabarkan kepada dianya demikian ini akan kelakuannya

Jikalau berbuat lagi sekali dengan khadam kusuruh pukuli tangan diikat dengannya tali kehendak tidak aku peduli. "

Ajuz bermadah melaku hina, "Hai Sida yang bijaksana patik tak tabu meng(h)ambur baha berilah surat supaya sempurna"

42 Siti menjawab lakunya manta, "Jika dibalas suratnya serta jadilah ia berbesar cita aku pun suka melawan kata. "

Ajuz bermadah sambil tertawa, "Baik dibalas surat pun jua

dibawa. "

Mendengar bujuk Ajuz jauhari diambil kalam menyurat sendiri marahnya tidak lagi terperi kepada Ajuz surat diberi

Ajuz menyambut lakunya matu berjalanlah ia seketika itu dari jauh dilihatnya tentu saudagar hadir menanti di situ

Surat diunjukkan Ajuz segera kepada saudagar remaja putra lalu dibaca muda perwira bunyi dalam surat sangat gembira

Mendengar surat perkataan cela mangkin bertambah hatinya kira surat dibalas muda terala demikianlah bunyi rencana pula

Orang yang hendak dipukul tadi sahaja dia minta persudi menjadi hamba kepada sedati akan mengiring jiwaku mandi

Surat beserta dengan gurindam hal menyatakan hati yang dendam laksana api nyala tak padam ridalah ia dipukul khadam

Ayuhai Sidati putih yang sapa hati kakanda tuan pengapa

bergerak seperti diguncang gempa barang sangat haram tak lupa

Sudah habis madah dan cumbu surat diberikan kepada ibu sangatlah gundah di dalam kalbu Ajuz diupah lagi seribu

Ajuz pun suka bukan kepalang sedikit tidak berhati walang surat disambut berjalan pulang meng(h)adap Sedati wajah gemilang

43 Serta sampai Ajuz yang jawara surat disampaikan dengan segera demi dilihat putri mengindra mangkin bertambah hati gembira

Terlalu murka paras yang indah kepada Ajuz ia bermadah, "Hai Ajuz yang haram jadah bukankah tadi kukatakan sudah

Jangan dibalas dengannya surat menjadilah panjang kalam berlawat besar hatinya Tajir keparat berani berbuat demikian hasrat

Pergilah Ajuz kabarkan serta kepada saudagar yang hina lata mengapa berani berbuat kata kepadaku berbesar cita?

Mengapa tidak takut dan ngeri berbuat sombong datang kemari

"

Mendengar pujuk berganti-ganti padamlah marah di dalam hati bangkit berdiri segera Sedati diambil kalam menyuratkan Siti

Setelah sudah disurat setina diberi kepada Ajuz pesona Ajuz berjalan tiadalah lena ke dukan saudagar ia di sana

44 Serta sampai Ajuz yang bahari kepada saudagar surat diberi

Sebab karena kakanda berani maka kakanda datang ke sini biarlah datang asykar berani beta tak undur negerinya ini

Ayuhai adinda sapa mengerna dengarkan juga rnadah rencana sungguh saudagar bukannya hina boleh sebobot duduk bersarna

Pada pikiran kakanda sendiri patutlah sudah demikian peri kakanda dengan adinda putri duduk bersanding laki-istri

Ayuhai adinda yang putih sapa inginnya abang hendak berjumpa

Syah Alam kepada Ajuz tua-tua dalam

Dikarunia lagi oleh mahkota seribu dinar Ajuz yang kuata terlalu suka di dalamnya cinta Ajuz pun banyak beroleh harta

Surat disambut Ajuz yang jalak ke dalam rambut dimasukkan pula/k/ suka tertawa-tawa gelak-gelak berjalan sambil lengan ditolak

45 Lalulah sampai Ajuz yang tua satu pun tidak kabar dibawa duduk meng(h)adap suka tertawa ke hadapan Sida utama jiwa

Perkataan lain pula diingkar sambil bermadah membuat kelakar pura-pura rambutnya disukar-sukar serta digaruk dicakar-cakar

Sambi! bersungut seorang diri, "Gatal apakah demikian peri sedang kusikat sehari-hari masihlah juga kutu be(r)lari."

Sudah demikian ia berkata kepala itu dihantarkan serta

II

, Ajuz me(n)takzim menjawab sabda, II Ampun Sida bangsawan muda haram tak sadar di dalamnya dada kepala rambut surat pun ada

Patutlah telah gatal kepala keparat seperti menjunjung harta yang berat rupanya ada di dalamnya surat dibubuhkan oleh saudagar mudarat. II

Siti mendengar Ajuz berkata mangkin murka di dalamnya cita

/aida terang

Sangatlah marah hatinya putri murkanya tidak lagi terperi lalu dipalu Ajuz yang bahari ditampar digocoh kanan dan kiri

Seraya berkata lakunya murka "Pergilah engkau sebentarnya juga kabarkan kepada saudagar celaka mengapakah sangat berbuat durhaka

Apa sebab berbuat karang sedikit tidak membilang orang tiada sekali boleh dilarang hendak mati sungguhpun gerang

Hai Ajuz pergilah serta kepada saudagar gila bercinta janganlah lagi berbanyak kata niscaya kudatangkan dengan senjata."

Ajuz menjawab melakukan hina, "Mohonlah patik menghambur bahana j ika bersalahan kabar di sana menjadi murka hati setina

Pikiran patik ayuhai Sedati baiklah surat supaya pasti

Siti mengerna mengambil kalam tiadalah lena lalu menyurat madah rencana

Di dalam surat sangatlah manta hai saudagar yang tuli buta mengapakah tidak mendengar kata laku seperti kuda dan onta

Rasanya aku sangatlah heran melihat engkau punya /h/(i)ngkaran tiada sekali akal pikiran bodoh seperti binatang jaran

Mendengar suratmu hatiku murka panas seperti api neraka tak usah antara memandang muka mendengar namamu aku tak suka

47 Haraplah engkau saudagar hewan berahikan bulan di dalam awan jangan disangka boleh berlawan tentu tak dapat adatnya tuan

Patutlah engkau orang yang hina akal dan budi tiada semata berbuat gila tidak sempurna hendak menyama raja yang gapa

Hai saudagar yang hina budi engkau itu seperti kedidi

Serta sampai Ajuz yang tua ke dukan Tajir utama jiwa Aziz menegur sambil tertawa, "Marilah sini ibu, kubawa. "

Mendengarkan madah Aziz yang kuata Ajuz tertawa duduklah serta surat dikeluarkan dengan suka cita disampaikan kepada Tajul Mahkota

Lalu dibaca muda bestari mahfurnlah baginda perkataan putri marahnya tidak lagi terperi Tajul pun pilu hati sendiri

Mendengar perkataan dernikian itu akal baginda menjadi buntu

diam seketika usul yang tentu tiada bermadah barang suatu

Sudah berpikir demikianlah ada kepada wazir memberi sabda, sekarang apa bicara mamanda segeralah jawab jangan tiada

48 Beta ini sudahlah kelu mendengar murka bertalu-talu mangkin bertambah hatiku pilu bagai di/h/iris dengan sembilu

Sangatlah kita perhambakan diri merendahkan diri kepada putri tiada yang masuk suatu peri dengan marah juga jawab diberi

Malaslah sudah rasanya beta membalas surat Siti yang kuata biar kutahan hati bercinta hingga lenyap nyawa anggota

Jikalau baginda rasanya hati hampir gerangan diberiku mati apalah jawab bunda yang sakti kepada beta berilah pasti

Mendengarkan titah duli yang gana wazir menjawab tiadalah lena pikiran patik wahai maulana dibalas baik surat mengerna

Tetapi jangan puji-pujian bagai yang lalu itu sekalian

ada."

Mendengar sembah Aziz bestari tersenyum sedikit mahkota negeri titahnya, "Mana bicaranya menteri beta pun sudah be(r)lepas diri

Bicara beta suatu tiada semua terserah kepada bunda serta dengan Aziz yang syahda perbuatlah mana suka yang ada. "

49 Mendengar titah paduka hasrat menteri menyuruh Aziz menyurat beberapa pula kias ibarat perkataan halus memberi ngirat

Demikian bunyinya suratnya itu ya Allah Tuhan yang satu

Ya Allah Tuhan robbani yang kuasa lagi mengasihani matikan apa maksudku ini bertemu dengan usul yang Siti

Y a Allah auzubika sampaikan maksud hamba-Mu segala hendak bertemu intan kemala supaya hilang hati yang gila

Tolong apalah robba maulana hatiku hancur tiada semata daripada hidup tiada sempuma j ika demikian baiklah fana

Y a Allah robbal azati remuk redam rasanya hati daripada hidup tidak seperti j ika demikian baikiah mati

Inilah penyudah kalam berkata daripada saudagar yang hina lata berkat keramat duli pendeta disampaikan Allah barang dicita

Sudah disurat Aziz bestari diunjukkan kepada Ajuz jauhari Ajuz dikarunia mahkota negeri seribu dinar lagi diberi

Terlalu suka Ajuz perempuan dikarunia oleh muda teruna

Sida yang bijaksana

Surat itu diset'nbahkan pula kepada putri muda terala dilihat Sida dibaca segala makin bertambah pilu bemyala

Surat pun habis dibaca mengindra murka bertambah bangkit gembira sambil bertitah dengannya segera, "Ajuz celaka membuat angkara."

50 Lalu bertitah tuannya putri mana-mana khadam di dalam kasri mukanya Ajuz disuruh tampari dengan kasut kanan dan kiri

Mendengarkan titah Siti mengindra segala khadam datanglah segera menggocoh menampar Ajuz yang juara ramainya tidak lagi terkira

Terlalu ramai dayang menampar setengah dari jauh ia melempar berhamburan darah Ajuz celopar dia pun pingsan rebah terkapar

Seketika pingsan sadarlah pasti Ajuz bermadah kepada seudati, "Boleh sekali biarlah rnati supaya puas rasanya hati. "

Setelah didengar Sida terala mangkin bertambah pilu menyala

Sudah dipulrul disuruh campakkan dari pintu disuruh tolakkan khadam pun segera mengerjakan Ajuz pun tidak disegan-segan

Khadam membuat tiada mengerah karena hatinya terlalu marah Ajuz ditolakkan berhamburan kain dan baju habislah pecah

Itulah rasanya orang yang bunglruk tubuhnya habis semuanya bengkak pulang ke rumah dengan merangkak tiadalah dapat berjalan tegak

Ajuz pun naik ke rumahnya serta pula dengan tangisnya dibubuhnya obat segala badannya baik sedikit rasa tubuhnya

Ada pada /r/ dua tiga hari berjalanlah ia Ajuz jauhari dengan perlahan berpenat diri menuju dukan saudagar bestari

Serta A juz sampai ke sana ditegur saudagar tiadalah lena sambil tersenyum cemerlang rona, "lbu wahai mari duduk bertihna

lbu(ha)i mengapa gerangan diri makanya lama tidak kemari

"

Sungguh baginda berkata-kata Ajuz yang tua dipandang mata tubuhnya bengkak sekalian rata bekas dipalu pemandangan mata

Ajuz berkata lakunya pilu ayuhai saudagar junjungan ulu Sida Andelina marah terlalu lihatlah badan bekas dipalu

Ibu pun ajaib kabar akan diri terlalu keras hatinya putri sedikit tak masuk kabar diri kita pula/k/ yang digusari

Tetapi tiada juga apanya berbuatkan ibu begini rupanya kucarikan juga tipu helahnya supaya saudagar bertemu dianya

Ayuhai saudagar muda yang sakti jiwaku jangan berulang hati kupertemukan juga dengan seperti supaya puas rasanya hati

Entah bagaimana tipu dan daya kuhelanya juga Sida Andelina janganlah gundah muda yang mulia masak tak dapat gerangan dia

Mendengar kata Ajuz jauhari suka tertawa mahkota negeri

"Ayuhai Ajuz beta bertanya, sedikit itu apa mulanya tak rnau bersuami apa sebabnya terlalu sangat keras hatinya."

Ajuz pun segera menjawab kata ayuhai saudagar muda yang kuata ibu_pun ada mendengar warta demikianlah awal mula cerita

Suatu rnalam bermimpi sedati melihat dua ekor merpati berkasih-kasihan keduanya pasti di ujung dahan ia meniti

52 Seketika menanti unggas keduanya kenalah jerat kaki lakinya segera dilepaskan oleh bininya lalulah pulang terbang keduanya

Merpati terbang dari situ hinggap kedua dahan yang satu terkenalah pulut bininya itu lakinya tidak datang membantu

Bini merpati terjerat kaki lakinya sudah mengawan tinggi entahkan ke mana terbangnya pergi tidaklah dia kembali lagi

Kata Ajuz, "Itulah sebabnya maka Sida demikian adanya

Sida Andelina laki-laki pun tidak teguh setia daripada aku kena perdaya engkau tak usah suami dia. 11

Mendengarkan Ajuz ia berceritera suka tertawa Tajul mahkota tampak giginya seperti denta menambah manis jangan dikata

Dengan manis mengeluarkan madah II Jika demikian kehendak Sidah ia tak suka itu pu sudah tidaklah lagi berhati gundah

ltulah saja yang beta minta kepada Ajuz ibunya kita jikalau boleh melihat beta Sida Andelina dipandang mata. 11

Jawabnya Ajuz dengan sempuma baiklah tuan muda teruna bunuhlah ibu bawa ke sana melihat Sedati sapa mengema

Tetapi ibu meminta nanti kepada saudagar muda yang sakti nanti kebunnya bermain Siti di sana boleh tuan lihati

Karena adat Sida Andelina sebulan sekali perginya dia

"

Mendengar titah demikian adanya makanan hadir dengan segeranya

"Ayuhai orang penunggu pintu berapakah dapat gajimu itu di dalam sebulan dikarunianya ratu?"

54 Penunggu pintu menjawab peri. "Ayuhai tuan muda bestari sepuluh dinar sebulan diberi itulah karunia mahkota negeri."

Setelah didengar Tajul mahkota baginda pun suka di dalam cinta seratus dinar dikarunia serta diberikan penunggu pintu yang nyata

Penunggu pintu sangat sukanya berseri-seri rupa mukanya

dinar disambut dengan segeranya dimasukkan ke dalam kocek bajunya

Kemudian baharu Tajul berkata, "Hai penunggu kebun mahkota adakah boleh kiranya beta menumpang main bersuka cita

Tiadalah lama setengahnya hari kami bermain di kebun putri makan dan minum sama sendiri adakah izin tuan putri?"

Penunggu pintu menjawab sabda, "Baiklah tuan bangsawan muda perbuatlah mana suka yang ada janganlah segan di dalamnya dada."

Setelah baginda mendengarkan kata terlalu suka di dalamnya cita Tajul bersiar keliling rata tukang penulis galah serta

Tukang penulis tiadalah lena berbagai-bagailah peta ada di sana segala unggas berbagai rupa hingga penuh dinding istana

Diperbuatnya pula gambar merpati dua laki bini singgah berhenti di /h/ujung dahan ia meniti lakinya terjerat lalulah mati

Sangatlah pandai tukang menyangka membuat gambar berbagi tiga

Setelah sudah menulisnya peta tukang dikarunia Tajul mahkota tiga ratus dinar diberinya nyata penulis pun suka di dalam cinta

55 Setelah petang sudahlah hari berangkat pulang Tajul bestari diiringkan Aziz serta menteri menuju dukan tempat sendiri

Duduklah konon muda yang sabar menantikan Ajuz membawa kabar sehari-hari berhati gubar hendak melihat putri maktabar

Terhenti madah Tajul yang duka tersebut Sida putra paduka genap sebulan sampailah jangka hendak ke kebun bersuka-suka

Ada kepada suatu hari menyuruhlah konon Siti bestari berhadir makanan segala abdi hendak ke kebun bermain putri

Mendengar titah Siti paduka segala abdi terlalu suka berbuat makanan bagi tiga bedak dan langir ada belaka

Semuanya itu hadirlah sedia berhimpun sekalian hamba dan sahaya

Sida Andelina

Sekalian berhimpun segala jauhari hanyalah tiada Ajuz yang bahari putri menyuruh khadam sendiri, "Ajuz yang tua panggil kemari."

Mendengar titah putri mengindra lalulah pergi seorang bintara memanggil Ajuz tua yang juara ia pun datang dengannya segera

Sepatah tidak madah dan ngeri sandarkan hikmat kepada putri serta sampai Ajuz yang bahari tunduk kepala berdiam diri

Berdiam diri tidak berkata seperti laku orang bercinta berlinang-linang aimya mata supaya ke kebun Siti yang kuata

Demi dilihat oleh sedati Ajuz yang tua bercinta hati betas sedikit rasanya Siti lalulah segera Ajuz didapati

56 Dengan manisnya Sida berkata "Ayuhai Ajuz jangan bercinta itulah sahaja yang aku pinta janganlah lagi berbuat dusta

Jika berbuat seperti dahulu bagai perbuatan yang telah lalu

"Jika ke kebun junjungan ulu biarlah patik kembali dahulu

Patik kembali tiadalah lena seketika juga patik ke sana sekadar berganti pakaian yang hina jangan mengabarkan duli yang gana."

Mendengarkan sembah Ajuz yang cora menteri menjawab manis suara, "Pergi kembali dengannya segera janganlah engkau di sana dur(j)a."

Ajuz menjawab suka tertawa, "Aduhai tuanku utama jiwa tiadalah lengah hamba yang tua sekadar berganti pakaian jua."

Ajuz pun sangat suka hatinya turun berjalan dengan segeranya

II Ayuhai saudagar pergilah segera menanti di busitan muda perwira. II

57 Sudah berkabar lalu kembali pantas seperti si rajawali berganti pakaian tidak peduli langsung meng(h)adap Sida sekali

Adapun akan Tajul teruna sudah kembali Ajuz ke sana baginda memakai dengan sempuma dipatut Aziz dengan perdana

Baju di dalam perbuatan Basrah wamanya putih bukannya merah durjanya manis terlalu cerah bagaikan titik madu dicurah

Kemudian baharu terkena banis tepi bersulam perbuatan Paris perhiasannya indah berjenis-jenis perbuatan tangan jadi pemanis

Terkenalah baju selapis lagi perbuatan tukang ditatah tursi

Sultan

Berikut pinggang kain kusambiri disiapkan jembaya di sebelah kiri perbuatan indah tidak terperi buatan tukang negeri sendiri

Sudah mernakai duduklah serta diambilnya cermin bercelah mata paras laksana tulisan peta tiadalah dapat ditentang nyata

Diambil minyak digosokkan jari baunya harum tidak terperi mahkota dipakai bangkit berdiri berjalan keluar diiringkan menteri

Berjalan itu tiga bertaulan Aziz dan wazir bertambalan lalulah sampai Tajul handalan masuk ke kebun pintu sembilan

Serta sampai usul berbangsa berhenti di bawah pohon beraksa karena baginda sudah biasa tidaklah lagi bertampak rasa

58 Di situ berhenti Tajul utarna di bawah rajasa berupa kurma

wazir dan Aziz bersama-sama menanti Sida muda kesuma

Terhenti madah Tajul yang mulia tersebut pula Sida dia telah berhimpun hamba dan sahaya lalulah segera memakainya dia

Berseluar rantalas kaki bersulam diseling dengan permata nilam cahaya memancar siang dan malam menjadi keelokan siang dan malam

Memakai baju warna cemerlang indahnya bukan lagi kepalang bersambutan dengan subang dan kalung mana yang melihat arwah pun hilang

Suatu dukuh di leher bergantung berpending intan berpahat putung wajah terseralah seperti patung cantik tidak dapat terhitung

Suatu kain tudung kepala warnanya hijau bernyala-nyala mangkin menambahi eloknya pula siapa melihat berhati gila

Dikenakan melayah cara stambul warnanya putih bertikat timbul cincin dikarang (e)mas tul bertambah elok durjanya usul

Setelah sudah memakai putri eloknya tidak lagi terperi

akan Ajuz yang tua ia pun hadir meng(h)adap jua bermadah dengan suka tertawa kepada Sedati utama jiwa

59 Berkata sambil mengangkat tangan, "Ayuhai Siti mahkota junjungan naik bersiar kita gerangan melihat segala pohon jambangan. "

Mendengarkan sembah Ajuz pesona terlalu suka hati mengema turun di balai tatah kencana bersiar segenap jambangan ratna

Segala jauhari yang muda-muda hadir di belakang putri yang syahda serta dengan gurau dan senda mengambil bunga mana yang ada

Adapun akan Ajuz jauhari dengan Sida berpimpin jari

Sida dibawa Ajuz pun serta berjalan di kebun keliling rata sampai kepada sekalian peta Sida pun heran di dalam cinta

Terpandang kepada gambar merpati dua laki bini ada berhenti yang lakinya itu sudahlah mati terkena jerat nyatalah pasti

Oleh Sida dihampirinya gambar merpati ditatapinya sambil berpikir di dalam hatinya gambar pun seperti di dalam mimpinya

"Di dalam mimpiku tidak begitu bininya terkena jeratnya itu sekarang salah mimpiku tentu laki-laki rupanya terjerat di situ. "

Ta(h)ulah hati Sida Andelina akan mimpinya tiada percaya

60 Seketika berpikir berjalan putri Ajuz yang tua memimpin jari parasnya elok tidak terperi laksana bulan empat belas hari

Terlalu suka Ajuz yang tua bercakap sambil ia tertawa dengan Sida dipimpinnya jua ke pohon kurma jalan dibawa

Karena Ajuz tua kuasa berrnain tipu sudah biasa diketahuinya ada mahkota desa berdiri di bawah pohon rajaksa

Setelah dilihat muda yang sabar paras Sedati seperti gambar arwah melayang hati berdebar Tajul Muluk pingsan tak kabar

W azir dan Aziz terkejut belaka rasanya hati sangatlah duka diambil air disapunya muka baginda pun sadar dengan seketika

Lalulah bangun Muluk mahkota di bawah rajaksa berdiri serta paras laksana anakan danta tiadalah dapat ditentang rnata

Adapun akan Sida kesurna dengan Ajuz bersama-sama

serta sampai ke pohon kurma terpandang kepada Tajul Utama

Sudah terpandang putih dan sapa akan Tajul yang baik rupa Sida dadanya hampa arwah seperti diguncang gempa

Daripada hati sangat gempita wajah yang manis bertambah lata tiada bertahan hati bercinta kepada Ajuz bertanya warta

Dengan perlahan bertanya peri, "Hai Ajuz yang jauhari siapakah laki-laki yang berdiri parasnya elok tidak terperi

Tiadakah Ajuz mengenal dia siapakah nama muda belia mukanya bersih bercahaya-cahaya meng(h)ilangkan akal budi upaya."

61 Mendengar madah Siti mengindra Ajuz pun suka tidak terkira berdatang sembah dengannya segera mengata tak tabu berpura-pura

"Tiada pernah patik berjumpa baharulah ini melihat rupa namanya itu entah siapa di manakah tempat ibu dan bapa(k)."

Mendengarkan Ajuz ia berperi mangkin bertambah rawannya putri

wajahnya pucat berseri-seri laksana bu/k/(l)an kesiangan hari

Dengan perlahan putri berkata, Ayuhai Ajuz tolonglah beta menanggung rahasia di dalam cita seribu dinar kuberi nyata

Karena hatiku sangatlah rawan gundah gulana tiada ketahuan berahi kepada muda bangsawan seperti orang mabuk cendawan

Kepadamu kutaruh rahasia carilah Ajuz tipu dan daya supaya terbawa muda belia naik ke mahligai tatah mutia

Jika sampai hajatku kala seperti tersebut itu segala bertemu dengan muda terala seribu dinar kutambah pula

Setelah didengar Ajuz jauhari sukanya tidak lagi terperi pura-pura ia mengangkat jari diisyarat kepada muda bestari

Artinya itu kembalilah tuan janganlah lagi berhati rawan sampailah hajat muda bangsawan Sedati sudah tertawan

Artilah sudah wajah gemilang akan maksud Ajuz jambalang

II Ajuz berkata perlahan-lahan dengan putri muda pilihan

"Kepada pikir patik sendiri adapun akan muda bestari baharu juga datang kemari dukannya ada di dalamnya negeri

Biarlah patik pergi beranggar berjalan segenap dusun saudagar parasnya itu masa bertukar tentulah dapat patik selungkar. II

Berbagailah madah Ajuz yang tua serta dengan suka tertawa, 11 Janganlah susah utama jiwa sekarang pun dapat patik bawa. II

Mendengar madah Ajuz celaka Sida Andelina baharulah suka hilang sedikit hati yang duka baharulah manis dipandang muka

Dengan perlahan titah mengindra lemah lembut bunyi suara,

" Ajuz mengerahkan sekalian kawan Sida pun naik ke tahta rawan

Lalu berjalan sekalian rata ramainya tidak lagi menderita menuju masuk ke dalam kota langsung ke mahligai tatah permata

Telah sampai ke dalamnya istana semayam di atas (ta)hta ratna se(n)du lakunya sapa mengema terkenangkan Tajul muda teruna

Adapun akan Ajuz yang cora setelah malam nyata ke(n)tara pergilah ia dengannya segera mendapatkan Tajul remaja putra

Sangatlah bijak Ajuz pu/hladai bermain tipu terlalulah pandai serta sampai ke dalamnya kedai di atas kursi duduk tersadai

63 Duduk serta memberi salam kepada Tajul duli Syah Alam dijawab baginda, "Alaikum salam, apakah kabar dibawa malam?"

Segera dijawab Ajuz yang tua serta dengan suka tertawa,

II Aduhai tuan utama jiwa kabar pun baik ibu pun bawa. II

Sambil tertawa Ajuz berkata kepada Tajul mengema di peta, 11 Silakan segera emas juwita Sedati. itu sangat bercinta

Tetapi baik emas tempawan mengubah pakaian cara perempuan supaya boleh menyamar tuan kepada segala jauhari dan ternan

Jika ditanya Sultan yang mulia dengan sebenamya kujawab baginda baharu dibayar Sida ia masakan baginda tidak percaya. "

Telah sudah didengar teruna Ajuz yang tua menghambur bahana baginda tertawa cemerlang warna manis seperti halwanya Cina

Lalu memakai muda bangsawan mengubah dirinya seperti perempuan wajahnya bersih kilau-kilauan laksana bulan di dalam awan

Sudah memakai muda bestari di cermin besar menatap diri melayah dipegang kanan dan kiri manisnya tidak lagi terperi

Boko melayah sudah terkena berkaus duli bertatah ratna

Sida Andelina hadir di situ

Serta masuk mahkota negeri ke dalam peraduan tatah baiduri

pennata dengan Sedati bersuka cita keduanya sarna kasih beserta

Ajuz pun hadir tunggu di situ di luar bilik bertatah mutu karena ia menjagakan pintu seorang tidak berani ke situ

Mana-mana khadam di dalam puri hampir ke bilik A juz tak beri sekalian takut khadam jauhari karena Ajuz dikasihi putri

Ajuz pun tidak laginya balik bimbangkan Tajul usulnya molek penat duduk baring tergolek tidak bergerak di pintu bilik

Terlalu bijak Ajuz yang ratna pandai bermain bersilak mata sekian larnanya Tajul mahkota seorang pun tidaklah nyata

65 Berhenti madah dalam istana tersebut pula/k/ Datuk Perdana

Perdana Menteri tiadalah pulang mahkota negeri wazir pun susah tiada terperi

Kepada Aziz menteri berkata sangatlah gundah di hati beta akan baginda Tajul mahkota tidak mendengar kabar dan warta

Apa sebab wajah gemilang makanya tidak kembali pulang serta pergi lalulah hilang sebulan cukup sudah dibilang

Ajuz pun sama juga beserta tiada kelihatan kepadanya mata hendak pun ia bertanyakan warta supaya beroleh kabar yang nyata

Sedang lamanya duduk menanti tiada mendengar kabar yang pasti entah hidup entahkan mati sangatlah susah rasanya hati

Kepada pikiran kepadanya ayahanda pulang ke negeri kita pun ada persembahkan kepada Sultan yang syahda akan hal bangsawan muda

Dijawab Aziz dengan sempuma betullah sabda ayahanda perdana

baik kembali janganlah lena sembahkan kepada paduka Maulana

Akan sekarang marilah kita pulang ke dukan bersimpan harta pekerjaan ini sangat gempita £akutkan Tajul beroleh lata

')etelah sudah berperi-peri keduanya sama bangkit berdiri herjalan pulang Perdana Menteri .;erta dengan Aziz bestari

')ampai ke dukan Menteri bersabda Kepada sekalian khadam yang ada Bersimpan kamu harta dan benda 'lan ini juga jangan tiada. "

,,.. '\etelah khadam mendengarkan kata 1a bersimpan segala harta llabis dipapasnya sekalian rata lalu dinaikkan di atas unta

Selesailah sudah harta bendanya wazir berjalan dengan segeranya dua bulan juga akan lamanya wazir sampai ia ke negerinya

Telah sampai Datuk Perdana lalu meng(h)adap Sultan yang gana serta Aziz yang bijaksana berdatang sembah dengan sempurna

Keduanya sama menjunjung duli, "Daulat tuanku Sultan usali

beribu-kali padulea analeda tidak leembali

Alean selearang padukanya anakda di dalam leasri bangsawan muda dibawa seorang Ajuz berida mendapatlcan putri usulnya syahda

Di leebun patile menanti lama hingga sampai satu purnama anakda ini tidak datang menjelma Ajuz yang tua itu pun sama

Semuanya habis disembahlcan menteri leepada baginda Sultan yang bahari, "Demileianlah hal Tajul bestari alchirnya tidak patile dengari. "

Mendengarlean sembah menteri berida sangat terleejut duli baginda hilanglah arwah di dalamnya dada seleetilea diam tidak bersabda

Seleetilea diam lalu berperi leepada Datule Perdana Menteri, "Baile berhadir selearang diri himpunkan asylear leanan dan leiri

Perbuatan seperti akannya menyerang asylear serdadu janganlah lcurang pahlawan panglima biasa perang hari ini juga leehendaklcu serang

Bawalah olehmu dengannya segera lee Negeri Parsi lndra negara

jikalau anakku dapat cedera langgar olehmu jangan berkira. "

67 Berjalan dahulu wazir utama di belakang itu aku bersama dengan segala hulubalang panglima mendapatkan anakku muda kesuma

Mendengar titah Sultan yang besar menteri mengerahkan hulubalang pendekar dengan seketika datang bersasar penuh segenap lorong dan pasar

Terlalu ramai hulubalang yang datang di atas kuda memegangnya pedang ada yang setengah panah tersandang sehingga sampai ke tengahnya padang

Telah berhimpun rakyat tentara serta dengan tunggul bendera ramainya tidak lagi terkira wazir berjalan dengan segera

Lepas angkatan wazir yang kuata baharulah Sultan duli mahkota diiringkan raja takluk semata rakyat seperti semuanya melata

Terlalu besar rupa angkatan tombak dan kenjor berkilat-kilatan seperti rupa unggas di hutan mengiring belakang paduka Sultan

Terhenti perkataan duli Syah Alam baginda berjalan siang dan malam

Sida gurau dan senda sehabis kasih di dalamnya dada

Kata seorang empunya rencana sungguhpun Tajul di dalam istana tiada bergerak ke mana-mana tetap semayam muda teruna

Terhenti perkataan Tajul yang kuata Muluk Suherman tersebut kata suatu hari duli mahkota di(h)adap menteri hulubalang serta

Sedang semayam baginda Sultan lalulah datang suatu utusan persembahkan kain yang keemasan indahnya bukan lagi buatan

68 Kainnya indah sangatlah mulia Sultan pun suka memandang dia diunjukkan baginda kepada sahaya disuruh hantarkan kepada Sida ia

Mendengarkan titah duli yang gana khadam pun pergi tiadalah lena baik kasri tatah kencana langsung lalu ke tengah istana

Kepada masa ketika pun tuan lagi berdua putri bangsawan

dengan Tajul Muluk cumbuan

qi dalam tirai tulis berawan

Khadam pun segera meng(h)ampiri kepada bilik tatah baiduri dilihatnya tiada keluar putri hanyalah Ajuz seorang diri

Ajuz yang tua memandang serta dilihatnya khadam Sultan mahkota ia pun bangun seraya berkata, "Apakah hajat berilah nyata."

Khadam menjawab terlalu cepat, "Beta dititahkan Sultan Makrifat meng(h)adap Sida usul bersifat mengantarkan kain baharu didapat. "

69 Sultan mendengar khadam berperi terlalu murka Sultan bikari mengambil pedang hulu baiduri naik kasri anakda putri

Serta sampai baginda yang syahda langsung ke peraduan paduka anakda dilihatnya sungguh laki-laki yang ada parasnya elok cela tiada

Sultan terpandang muda teruna bertambah murka Sultan Maulana niat celaka laki-laki yang hina berbuat cabul di dalam istana

Karena baginda sangatlah menta Tajul Muluk ditariknya serta

Oleh Sida tidak diberi dipa/h/utnya tunggang Tajul bestari ke atas ribaan meng(h)empaskan diri serta dengan tangisnya putri

Ajuz menjawab bunyi tak tentu, IIBukankah Sida beradu di situ nantilah khadam engkau di situ biarlah aku membuka pintu. II

Ajuz melarang khadam tak peka bilik peraduan segera dibuka putri pun sedang beradu leka di dalam tirai kelambu kesumaka

Disingkap khadam kelambu beledu dilihat Sida tengah beradu seorang laki-laki dilawan berjodo(h) rnanis seperti mengalum rnadu

Seketika tercengang khadam berdiri melihat paras Tajul bestari patutlah dengan Sida putri seperti bulan dengan rnatahari

Setelah sudah dilihatnya nyata ia berlari pulanglah serta meng(h)adap Sultan duli mahkota persembahkan mana mernandang rnata

Dengan tangisnya putri berkata, II Ampunkan apa di bawah tahta

jangan dahulu ayahanda minta bukannya usul orang yang lata

Jikalau dibunuh muda terala atau beroleh cacat dan cela tak dapat tidak kemudian kala niscaya ayahanda mendapat bala. II

Mendengarkan sembah paduka anakda rnangkin bertambah murka baginda dengan marahnya Sultan bersabda, IIJanganlah engkau berbanyak canda. II

Sultan bertambah dengannya murka kepada wazir menteri belaka, IITarikkan olehmu dagang durhaka ceraikan dengan anak celaka. 11

Mendengarkan titah Sultan terbilang hampir segala menteri hulubalang menangkap Tajul wajah gemilang gemparnya bukan alang kepalang

Tajul Muluk tertangkap nyata Sedati itu larikan serta ke dalam bilik tatah perrnata tentu dikunci duli mahkota

70 Di situ ditaruhkan Sedati tangis dan ratap tiada berhenti terkenangkan Tajul yang baik pekerti niatnya hendak bersama rnati

Akan A juz tua pesona tiadalah tampak di dalam istana

205 takutkan Sultan duli yang gana

memabawa/k/ diri entah ke mana

Adapun akan Tajul bestari dengan ikatnya dibawa menteri turun dari mahligai putri langsung lalu ke balai seri

Baginda pun naik ke tahta ratna di(h)adap segala menteri perdana hendak mencari akal sempurna supaya lepas bala bencana

Sultan bertitah seri menyapa kepada Tajul yang baik rupa, "Engkau ini anak siapa

di manakah tempat ibu dan bapa(k)

Mengapakah engkau sangat berani berbuat laku sedemikian ini bongkah dan pongah datang ke sini sedikit tidak takutkan mati."

Tajul segera menjawab kata sambil berhamburan airnya mata, "Tajul Muluk namanya beta Muluk Sulaiman Syah bapa(k) yang nyata

Sudahlah nasib hambamu tuan laksana burung ditinggalkan kawan menurutkan hati tiada ketahuan jatuh kemari jadi tertawan."

Sudah berkata bangsawan muda diam tidak lagi bersabda

terkenangkan malu aib pun ada sesak dan belah rasanya dada

Mendengarkan sembah Muluk bestari Muluk Suherman herankan diri adalah tampak Sultan yang bahari hampirlah sungguh gerangan peri

Sultan berpikir di dalam cinta laki-laki pun sungguh raja bertahta parasnya elok bagai di peta sedap manis dipandang mata

71 Sudah berpikir Sultan jauhari bertitah kepada wazir sendiri II Sekarang bagaimana bicara menteri keluar juga hamba dengari

Dengan sebenarnya hamba bersabda bicara yang baik jangan bersenda adapun akan laki-laki yang muda baik dibunuh atau tiada. 11

Mendengarkan titah paduka ratu berdatang sembah menteri yang satu, 11 Bicara patik jikalau begitu baik dibunuh supaya tentu.

Patut dibunuh orang durhaka karena ia menghitamkan muka padamkan segera anak celaka ditaruh panas bagai neraka. II

Mendengarkan sembah wazir yang garang Sultan Parsi terlalu berang

Sudah wazir berida demikian juga titah baginda, II Apa bicara wazir yang ada baik dibunuh atau tiada?ll

Akan sembah wazir yang kedua mohonkan ampun hamba yang tua yang baik itu dibunuh juga supaya jangan dapat kecewa

Karena dianya orang khianat bukannya boleh tempat amanah baik dipadamkan dikutuk laknat tiadalah lagi harus amanah

Mendengarkan sembah wazir jauhari Sultan murka tiada terperi diambilnya pedang tatah baiduri dipancung baginda perdana menteri

Dengan seketika menteri pun fana bertitah pula bagai maulana kepada sekalian datuk perdana, IIBicara ini sudah bagaimana. II

Berdatang sembah wazir ketiga, 11 Ampun tuanku Sultan paduka yang baik itu dibunuh juga karena ia sangat durhaka. II

72 Mendengarkan sembah datuk perdana terlalu murka Sultan yang gana

dipancungnya dengan pedang kencana dengan seketika wazir pun fana

W azir ketika sudahlah mati Sultan berpikir di dalarnnya hati j ika demikian laku pekerti penjarakan dahulu muda yang sakti

Jikalau anaknya Sultan Muktabar masakan tidak mendengar kabar karena baginda Sultan yang akbar anaknya hilang pastilah gubar

Tetapi dipandang kepadanya rupa bukannya asal orang yang fana kulitnya halus wajahnya sapa laksana emas baharu tempa

Sudah berpikir duli baginda kepada hulubalang memberi sabda, "Penjarakan segera laki-laki yang muda rantai kakinya jangan tiada."

Mendengarkan titah Sultan perwira hulubalang pergi dengannya segera membawa Tajul remaja putra lalu dimasukkan ke dalam penjara

Duduklah konon Tajul mahkota di dalam penjara dengan bercinta diam tidak berkata-kata hingga berhambur aimya mata

Daripada petang malamlah hari di dalam penjara Tajul bestari

"

73 Terhenti perkataan Tajul yang gundah Muluk Sulaiman Syah tersebut madah baginda berjalan lamalah sudah di dalam hutan yang tinggi rendah

Dua bulan lamanya masa sampailah sudah Sultan perkasa lalu berhenti di pinggir desa rak:yat yang serta beribu lak:sa

Sultan bertitah sambil berdiri kepada Datuk Perdana Menteri, "Suruhlah bentang himah kosambiri yang berumbaikan in tan baiduri. "

Mendengar titah paduka maulana himah dibentang tiadalah lena

benang bersendi emas kencana cahaya memancar ke mana-mana

Di situlah semayam duli paduka di atas kursi tatah permata di(h)adap menteri hulubalang serta siaplah dengan alat senjata

Adapun akan wazir utama serta dengan hulubalang panglima dititahkan oleh Sultan ulama masuk ke negeri bersama-sama

Aziz pun sama juga beserta dititahkan oleh duli mahkota mendapatkan Sultan di dalam kota memeriksa putranya supaya nyata

Karena baginda hendakkan pasti hal kelakuan Tajul yang sakti betapakah hal adinda ke sini atau hidup atau akan mati

Tiada berhenti wazir yang kuata langsung masuk ke dalamnya kota Raja Parsi sedang bercinta di(h)adap menteri hulubalang serta

Telah sampai datuk perdana naik ke balai duduk berbahana meng(h)adap Sultan yang bijaksana memberi takzim dengan sempuma

Telah dilihat Sultan Parsi baginda menegur wajah berseri,

mana gerangan diri apakah hajat datang kemari?"

74 Wazir menjawab lakunya susah, "Mohonkan ampun yang amat limpah patik dititahkan Muluk Sulaiman Syah meng(h)adap tuanku duli khalifah

Karena baginda sangat bercinta akan anaknya Tajul mahkota maksudnya hendak bertanya warta kepada tuanku diberi nyata

Adapun putranya Tajul yang syahda di negerinya ini khabamya ada dibawa /k/ seorang Ajuz berida naik ma(h)ligai paduka anakda

Sekarang tentulah Tajul bestari di dalam ma(h)ligai anakda putri itulah Sultan datang kemari ada berhenti di pi(ng)giran negeri."

Sultan Parsi mendengar sembah rasanya hati sangat gelabah susah baginda mangkin bertambah dengan seketika pucat berubah

Rasanya hati terlalu ngeri mendengar sembah perdana menteri Muluk Sulaiman Syah datang sendiri muka pun pucat tiada berseri

Dengan ketakutan memberi sabda kepada menteri wazir berida

jika demikian kabarnya ada sungguhlah itu putra baginda

Dengan sebenarnya hamba berkata haram tiada mengetahui nyata akan putra Sultan mahkota di dalam kasri duduk bertahta

Akan sekarang muda perwira adalah nyata di dalam penjara kusangkakan dia dagang angkara nyarislah lagi mendapat mara

Marilah pergi wazir utama dengan beta pergi bersama mendapatkan putra nila utama di dalam penjara muda kesuma

Lalu dibawa Sultan Parsi masuk ke penjara perdana menteri meng(h)adap Tajul muda bestari duduk serta takzim diberi

75 Setelah dilihat menteri yang kuata berantai kakinya Tajul mahkota diperbuat seperti orang yang lata wazir pun cucur airnya mata

Wazir menangis sambil bersabda, "Aduhai tuanku bangsawan muda jika dilihat paduka ayahanda bagaimana gerangan hatinya baginda."

Tajul Muluk bertambah pilu bagai di/h/iris dengan sembilu

bestati pingsan tiada kabarkan diri

Muluk Suherman sangat berdebar melihat Tajul pingsan tak kabar disambutnya ulu muda yang sabar disapunya dengan airnya mawar

Rantai kakinya ditanggalkan serta sambil menangis Sultan berkata, "Bangunlah anakku cahayanya mata janganlah sangat dibawa/k/ bercinta. "

Tajul Muluk sadarkan diri di hadapan baginda beserta menteri wajahnya bersih berseri-seri baginda pun belas tiada terperi

Muluk Syah Ramana lalu bersabda kepada menteri wazir berida, Hamba pinta kepadanya kakanda jangan dikabarkan kepada baginda

Jika diketahui Sultan mengindra akan anaknya kena penjara tak dapat tidak hatinya cedera jadilah hamba berolehnya mara

Rasanya beta sangatlah ngeri gundahku tidak lagi terperi

Parsi terlalu ngeri takutkan Sultan melanggar negeri muka pun pucat tiada berseri

Adapun ia berkata-kata sambil berlinang aimya mata wazir pun belas di dalam cita ia pun segera menjawab kata

Wazir menjawab terlalu pitah, "Mohonkan ampun yang amat limpah mahfumlah patik seperti titah maksud di hati duli khalifah."

Setelah sudah ia merencana bermohon pulang Sri Perdana Sultan masuk ke dalam istana membawa Tajul muda teruna

Telah sampai ke dalamnya kasri lalu disiramkan Tajul bestari

Sudah bersiram dengan sempurna dihiasi pula muda teruna usul parasnya sedang sederhana seperti peta gambar laksana

Sultan pun suka laki-istri melihat paras Tajul bestari patutlah dengan anakanda putri seperti bulan dengan matahari

Sudah memakai bangsawan muda elok tiada bandingnya jua lalu dipimpin oleh baginda dibawa ada ma(h)ligai paduka anakda

Adapun akan Sida putri di dalam peraduan seorang diri percintaan besar tidak terperi keluh kesah sehari-hari

Di dalam hati wajah gemilang jikalau terbunuh Tajul terbilang matinya hendak bersama hilang biarlah mati bertindih tulang

77 Diputuskan sudah rasa hatinya pada kedua ayahanda ibundanya hilanglah segala kasih sayangnya Tajul Muluk juga pada cintanya.

Sebilah pedang di pinggangnya Siti kepada perutnya hadir menanti

"Jangan membunuh diri inilah dia Tajul bestari

Jangan anakku sangat bercinta tiadaku apakan Tajul mahkota inilah dianya kubawa serta mendapat tuan cahayanya mata. "

Dengan sebenar kukatakan tuan, "Anakku jangan berhati rawan sahlah sudah muda bangsawan anak Sultan Sulaiman pahlawan

Datan.g suruhan seorang menteri bertariyakan Tajul Muluk bestari Muluk Sulaiman Syah datang sendiri ada berhenti di luamya negeri."

Setelah didengar oleh Sida/h/ dengan seketika hilanglah gundah

Siti bermadah bukankah patik berkata sudah

J angan dibunuh muda yang mulia akhimya kita mendapat bahaya ayahanda juga tidak percaya dikatakan hina bangsanya dia

Baiknya tidak apa sekarang cacat cela anaknya orang jikalau tidak, pasti berperang dilanggar Muluk Sulaiman yang garang

78 Mendengarkan rnadah anakda Siti bijaksana lagi mengerti sangatlah benar kepadanya hati sepatah tidak baginda sahuti

Datanglah pula permai(suri) yang syahda naik kasri paduka anakda diiringkan istri wazir berida mendapatkan Sida bangsawan muda

Serta datang permaisuri memeluk mencium putra sendiri sambil menangis ia berperi, "Aduhai anakku kernala negeri

Sangat terkejut rasanya bunda hilang arwah di dalamnya dada mendengar kabar paduka anakda nyarislah laki tuan berbeda".

Setelah sudah ia merencana lalu bertitah Sultan yang gana

"Daulat Tuanku duli mahkota kabar anakda sudahlah nyata di Negeri Parsi duduk bertahta

Syah Ramana sangat kasihnya hati akan anakda Tajul yang sakti bela pelihara dengan seperti laki-istri adalah pasti

Niatnya hendak dibuat menantu tetapi belum lagi bersatu hendak mendengar kabar yang tentu dari mana asalnya muda piatu. "

Telah didengar Muluk Sulaiman Syah dengan seketika hilanglah susah

Sultan bertitah wajah berseri pada segala hulubalang menteri, "Bersiaplah kamu sekalian diri aku pun hendak masuk ke negeri. "

Mendengar titah Sultan terbilang berjalan laskar menteri hulubalang angkatan besar bukan kepalang habsyi tentara tiada berselang

Berangkat masuk Sultan terala dengan beberapa kebesaran pula paras daulatnya sama segala dari jauh tampak bemyala

Seketika berjalan duli mahkota sampai ke Parsi sempuma nyata Muluk Syah Ramana keluarlah serta menyambut Sulaiman Syah dengan suka cita

Setelah bertemu duli Syah Alam keduanya sama bersalam-salam berjalan masuk ke kota dalam semayam di kursi bertatah pualam

Adapun Tajul usulnya tentu duduk bersama juga di situ sebelah lambungnya Syah Ramana itu meng(h)adap ayahanda baginda ratu

Tajul Muluk muda bestari muda pun bangkit mencium jari

kepada Sulaiman ayahanda sendiri Sultan pun suka tiada terperi

Lalu segera disambut baginda dipeluk cium paduka anakda sangatlah rindu di dalam dada putra pun seorang juga yang ada

Dengan manis Sultan bertitah, "Anakku tuan usul yang pitah ayahanda bercinta hati tak betah ibumu seperti orang yang lata(h)."

Tatkala datang wazir terbilang jiwaku tidak bersama pulang ayahanda terkejut berhati walang bertambah gundah bukan kepalang

80 "Ayuhai anakku cahayanya mata sangat terkejut di dalam cita kusangka tuan emas juita sudah beroleh muram yang lata".

Mendengarkan titah duli yang gana tunduk diam muda teruna sambil tersenyum cemerlang wama suatu tidak ia berbahana

Mendengarkan titah Sultan yang bahari Muluk Syah Ramana /Syah/ amatlah ngeri mangkin bertambah merendahkan diri takutnya tidak lagi terperi

Dengan lemah lembut ia berkata, "Ayuhai kakanda Sultan mahkota

Sida Andelina

Muluk Sulaiman menjawab madah, "Janganlah kita berbanyak gundah pekerjaan baik segeralah sudah ditahan lama tiada berfaedah."

Tidak dipanjangkan madah rencana hari malam nyata sempuma datanglah segala kadi maulana berhimpun ke majelis raja yang gana

Beberapa pula lebai dan haji ulama dan kari pandai mengaji duduk di atas hamparan suji menjadi saksi memegang janji

Akan Tajul Muluk yang limpah dipatut oleh duli khalifah berbaju toga buatan lrufah nur wajahnya bagaikan tumpah

Berserban putih warnanya awan bercincin zamrud dua sekawan cahaya cemerlang kilau-kilauan memancar sampai ke mukanya tuan

Mukanya bagai telur dilrupas giginya bagai seumpama kapas

Sudah memakai muda bestari dipimpin Sultan kanan dan kiri langsung lalu ke tengah kasri semayam di hamparan buatan Mesri

Lalulah tampil kadi baulana menikahkan Tajul yang bijaksana ijab kabul sudah sempurna membaca doa tiadalah lena

Adapun akan Sida putri sudah dihiasi bunda /r/ sendiri pakaian indah tiada terperi cahaya memancar ke sana kemari

Memakailah putri-putra paduka berbaju wiron warnanya jingga berpending intan bertulis naga berdukuh intan yang mahal harga

Tudung manoreh terkena pula gemerlapan cahaya di atas kepala mangkin bertambah elok segala barang yang melihat berhati gila

Dikenakan kalung tatah baiduri bercincin intan manis dijari disapukan minyak amar kesturi balh/unya harum di tubuh putri

Sudah memakai Sida Andelina didudukkan di peraduan yang mulia

wajahnya putih bercahaya-cahaya laksana bulan purnama raya

Adapun akan Tajul bangsawan selesai nikah berdirilah tuan berjalanlah masuk dalam peraduan semayam di sisi Siti dermawan

Sudah masuk muda asali Sultan kedua turun kembali semayam kursi duduk terjali baginda berjamu sekalian ahli

Adapun akan bangsawan muda di dalam peraduan gurau dan senda bersuka-sukaan dengan adinda sehabis kasih di dalam dada

Sampailah sudah tiganya hari lepas nikah Tajul bestari baharu bermain tepuk dan tari berbagai macam yang dikeluari

82 Ramai berhimpun masuk ke dalam melihat permainan siang dan malam berapa sedekah dikarunia Syah Alam dinar dan ringgit permata nilam

Demikianlah adat di sebelah Mekah tiada bekerja tatkala bernikah lepas tiga hari adat termegah baharu berjamu serta bersedekah.

Adapun akan Tajul bestari hadirlah ia di dalam puri

meng(h)adap baginda laki-istri serta melayani duduk berdiri

Tiadalah hamba berpanjang madah

sebulan bekerja lalulah sudah duduklah Tajul paras yang indah berkasih-kasihan dengan Sida/h/

Kemudian berkata Tajul pun pula

pada ayahanda Sultan terala menyatakan budi Aziz segala menjadi khadam berbuat pahala

Budinya banyak tiada terperi berkhodamat serta perhambakan diri mengikut patik ke sana kemari hingga berhenti pulang ke negeri

Dan lagi ayahanda mamanda menyampaikan hajat paduk anakda meng(h)ilangkan duka di dalam dada

patut diberi harta dan benda

Sedang lamanya saudagar pilihan mengikut patik berbuat kasihan pulang ke negeri jadi tertahan patut dikarunia dengan kelimpahan

Karena Aziz orang yang mulia anak saudagar terlalu kaya akal sempurna pekerjaan dia

payah didapat seperti dia

Mendengar sembah putra sendiri Sultan menjawab berseri-seri,

madah muda bestari ayahanda memandang demikian peri

Akan titah baginda ratu sebenarlah tuan katamu itu membalas budi Aziz piatu seratus jamal diberinya tentu. II

83 Mendengarkan titah paduka ayahanda terlalu suka di dalamnya dada Tajul pun menyeru Aziz yang syahda demikian bunyinya madah dan sabda

II Y a akhi saudaranya beta dengan sebenarnya kuberi nyata ini ambillah segala harta tandanya ikhlas di dalam cinta

Inilah harta beta memberi berhadiah kepada Aziz bestari sebab kasihku demikian peri Aziz seperti saudara sendiri

Akan sekarang saudaranya beta kembali ke negeri Aziz yang kuata ibu bapa(k) tuan amat bercinta lama tiada dipandang mata. II

Mendengar titah muda bestari Aziz pun suka tiada terperi kepada bumi meniarapkan diri antara di hadapan Sultan yang bahari

Berjanjilah Tajul yang sapa kepada Aziz yang baik rup~

"

Setelah sudah berperi-peri Tajul Muluk keluar di kasri duduk hampir dekat istri bersuka cita dengannya putri

84 Adapun akan Aziz yang rawan dengan segeranya berjalan tuan segala harta ditanggung hewan pada negerinya dituju haluan

Dengan tidak berapa lamanya sampailah Aziz dengan segeranya

II Ayuhai Siti bijak yang indah duduklah abang cinta tak sudah

Ayuhai Azizah bintinya Ami perempuan baik laku resmi yang malu itu hanyalah kami hidup tak guna di dalam bumi. II

Disebut syair berbagai pula menyatakan sesal itu segala sebab menurut hati yang gila menjadi ia beroleh cela

IIOleh sebab menurutkan hati jadilah dapat pinta/h/nya Siti

Siti celaka hidup demikian tiada disangka."

Selesailah sudah syairnya Aziz pun masuk ke rumahnya bersama-sama dengan ibunya mendapatkan saudagar bapa(k)nya

85 Setelah dilihat saudagar jauhari akan Aziz anak sendiri jatuh kesukaan tiada terperi wajah saudagar berseri-seri

Bangkit berdiri dengan segera sukarnya tidak lagi terkira lalu disambut diriba putra serta dengan kasih dan mesra

Sudah diraba dicium pula sekalian tubuh Aziz terala, "Aduhai anakku in tan kemala seperti mati hidup semula."

Kemudian baharu bertanya peri kepada Aziz anak sendiri, ke manakah gaib muda bestari maka tidak pulang ke negeri

Selama pergi emas juita ayah pun duduk dengan bercinta

Sebab buatan Dalilah Siti jadilah Azis bercinta hati siang dan malam tangis tak ranti seumur hidup demikian pekerti

Berhenti madah Azis bercinta tersebutlah Tajul Muluk mahkota di negeri Parsi muda bertahta niatnya hendak kembali serta

Hadirlah sudah tahta cempana bertatah intan emas kencana

bertabir di angka pancawama tempat Sida laila mengema

Sudahlah hadir tempat istri Tajul pun masuk ke dalam kasri semayam hampir dekatnya istri durjanya manis amat berseri

Dengan manisnya memberi Sida, "Ayuhai nyawa paduka kakanda itulah turon titah ayahanda pulang ke negeri kita adinda

Adapun akan ayahanda memberi secukup lengkap intan diberi akan perbekalan putra sendiri serta dengan khadam jauhari

Laki-istri duli baginda mengatur bagian paduka anakda beberapa hadiah permata benda mana yang indah semuanya ada."

Kemudian meminta Muluk Syah Rahman kepada baginda Syah Sulaiman tiga hari tangguh supaya aman hendak mengantar Sultan budiman

Tiadalah hamba berpanjang madah tiga hari sampailah sudah berangkat Sultan duli saadah diiringkan anakda paras yang indah

Adapun akan Sida putri bertahta di mangkur berkisi

Syah Rahman berangkat kembali pada kursinya duduk terjali

87 Duduklah konon duli mahkota me(me)rintah kerajaan di atas tahta hukurnan adil sama sekata siang dan malam bersuka cita

Terhentilah madah raja bestari orang berjalan tersebur peri sampailah sudah enam puluh hari baginda pun sampai masuk ke negeri

Keluar segala menteri perdana menyambut Sultan duli yang gana dengan beberapa perhiasan terkena negeri terhias dengan sempurna

Masuklah konon duli mahkota di atas kursi duduk bertahta

ana1cda itulah menjadi ganti serta istri Sida putri samalah kedua kuberi kasri. "

Setelah sudah berkata-kata masuklah Tajul ke istana bertahta mendapatkan Sida cahayanya mata meng(h)adap tidak permai yang kuata

Terlalu suka permaisuri bertemu dengan putra sendiri serta (me)nantu Sida putri seperti mendapat gunung baiduri

Sudah berhimpun sekalian rata anak beranak bersuka cita kekal ikrar di atas tahta Sida dengan Tajul mahkota

Duduklah konon Tajul bestari berkasih-kasihan laki-istri memerintah kerajaan di dalam negeri di(h)adap segala hulubalang menteri

Tetaplah tuan Tajul yang mulia serta istri Sida A(nde)lina

· Khatamlah Tajul Muluk yang gana hitam huduh tiadalah kena jika dilihat yang bijaksana maaf dan ampun yang membacanya

Inti kalam syaimya ini cerita datuk wazir dandani kepada baginda Dul Makati sedang bercinta bagai Sultani

Percintaan besar tidak terkira akan saudaranya terkena(l) perwira ditipu dua Ajuz angkara menjadi sahid berpura-pura

Sebab karena setianya terenta membunuh Syurkan duli mahkota Dul Makati jadi bercinta mabuk berendam aimya mata

Maka inilah hamba nyatakan perinya syair Muluk Syurkan barang siapa yang membacakan dengan bagusnya tuan lakukan

Supaya suka yang mendengarkannya boleh dapat tentu ceritanya berapa banyak isyarat di dalamnya itu pun banyak faedah gunanya

Jikalau suka yang mendengar jua kemudian dapat air teh kahwa

20 kepada 82 Rabiulawal sanat 1336.

SYAIR JAMAL AL ASYIK

1 Bahwa inilah Syair Jamal al Asyik yang indah-indah ceritanya. Tercap Muhammad ldris Singapura, Ajelin nomor 20.

2 lnilah Syair yang bemama "Jamal al Asyik"

Kumulai mengarang dengan bismillah kemudian mengucap alhamdulillah siang dan malam badanku lelah karena teringat nasib terjumlah

Duduk termenung seorang -orang diambil kertas lalu mengarang kisah dahuiu ceritanya orang sajaknya janggai banyaklah kurang

Dawat diambil Ialu menyurat bimbang guiana takut mudarat umpama perahu yang amat sarat dipukul angin jatuh ke barat

Gundah guiana bukan se(m)barang dari dahulu sampai sekarang susahnya fakir seorang-orang sanak dan suku bertemu jarang

Demikianlah tuan senantiasa · berenang di dalam lautan dosa khilaf dan bebal tiada sentosa harapkan maaf Tuhan Yang Esa

Dipohonkan kepada Tuhan ilahi dimaafkan dosa rahmat (a)nugerahi sekalian kebajikan Allah tambahi doa makbul tiada disalahi

Sungguhpun fakir mengarang syair jangan diumpat fakir yang tafsir entahkan benar entahkan mangkir karena tiada kita pun hadir

Syair dikarang fakir yang rawan jangan diumpat encik dan tuan harap dimaaf dengan setiawan jikalau tersalah betulkan ikhwan

3 Khatnya buruk banyak tak kena karena akal belum sempurna fakir terima teguran maulana jangan dibiarkan jadi merana

Tambahan fakir dagang yang hina mengarang syair belum sempurna Ayuhai ikhwan yang bijaksana segala yang salah jangan dilena

Inilah sahaja fakir berperi

sajaknya syair sukar dicari masuklah fakir seorang diri

mengatur syair kisah dan peri

Jikalau bulan cahayanya terang banyaklah suka sekalian orang angin bertiup sederhana sedang sekalian kuntum habislah kembang

Sultan Mahmud konon narnanya sangatlah besar kerajaan tahtanya gagah berani serta adilnya hamba rakyat kasih semuanya

Baginda raja sangat berakal barang bicara sangatlah tuakal di atas tahta tiadalah janggal bersambutan pukul sikap dan misal

Menteri hulubalang lengkap segala Datuk Sri pada wazir kepala mengatur perintah tiada yang cela harapan Sultan raja terata

Berapa banyak menteri perkasa memerintah jajahan rang berbangsa makmurnya limpah sebilang masa takluknya ratus kampung dan desa

Negerinya penuh dagang dan rakyat habis bertumpah laut dan darat ada yang jauh ada yang dekat kepada baginda sekalian hormat

Adapun permaisuri baginda puteranya seorang usulnya syahda sangatlah kasih ayah dan bunda diberi pengasuh dayang bedunda

4Adalah nama putra yang syahda Jamal al Asyik timangan baginda segala dayang tua dan muda memelihara putra tiada berbeda

Asal baginda raja bangsawan cantik majelis lagi dermawan sangatlah kasih yang dipertuan tidak berbanding di bawah awan

Asal baginda dewa bangsanya sigap dan gagah tiada taranya pada masa itu tiada bandingnya siapa yang melihat jatuh kasihnya

Akan paras putra sangsana

laksana dewa turun menjelma ditentang seperti bulan purnama sehari-hari bercengkerama

Amatlah cantik putra Sang Nata

seperti gambar baharu di peta lama ditentang tak lenyap di mata memberi asyik hati bercinta

Sehari bulan dahinya tentu

taji dibentuk keningnya itu wajahnya laksana sepuluh mutu barang yang melihat asyiklah tentu

bagai pauh dilayang lehernya jenjang gambaran wayang liur ditelan kelihatan berbayang lama ditentang bertambah sayang

W arnanya limpah berseri-seri seperti kemala intan baiduri malam yang kelam jadilah seri laksana bulan empat belas hari

Lemah lembut lakunya wayang seperti manikam di dalam balang laku dan sifat gilang gemilang kasihkan rakyat bukan kepalang

Jamal al Asyik iharat di dalam cerita baginda tiada beroleh saudara bertaulan Jamal anak mangkubumi negara berkasih-kasihan terlalu mesra

Adapun akan Datuk Mangkubumi dua orang putranya peri yang laki-laki bernama Hasyim Sami perempuan bernama Siri Permata Bumi

Adapun paras Siti Permata sifatnya cantik bagai di peta kecil molek sederhana kata me( ng)hilangkan budi di dalam cinta

5 Cantik majelis baik parasnya lemah lembut barang lakunya barang yang melihat jatuh kasihnya tiada berbanding pada masanya

Pinggang ramping dadanya bidang rambut seperti mayang selurang mukanya bujur pauh dilayang bersambutan pula lehernya jenjang

Sifatnya lengkap tiada terperi tiadalah banding di dalam negeri putih kuning durja berseri laksana dewa peranakan peri

Tinggi dan besar amatlah sedang seperti kuntum yang baharu kembang sikapnya majelis tiada bertentang memberi asyik orang memandang

Adalah kepada suatunya hari Jamal bermain suka sendiri bersama (H)asyim usul bestari demikianlah tuan sehari-hari

Di kampung mangkubumi wazir bandara kepada taman pelipur lara tamannya indah buatan udara asyiklah Jamal tiada terkira

Tersebut kisah ayahanda sendiri mufakat dengan permaisuri, "Adinda wai apalah bicara diri anakda Jamal dibagi istri."

Lalu bertitah paduka bunda berpaling menentang paduka anakda "Utama jiwa paras yang syahda maukah beristri bangsawan muda

Siti putri anakku sejodoh sarna bestari anak Mangkubumi di dalam negeri."

Jamal mendengar titah bundanya tersenyum tunduk malu lakunya tiada menjawab titah suatunya akan titah ayah-bundanya

Sultan berpikir di dalam bicara "Entahkan menjadi huru-hara anak Mangkubumi Siti mengindra tunangan sudah lama antara. "

Tahulah sudah paduka bunda akan kehendak Jamal anakanda kepada Siti Permata yang syahda lamalah asyik di dalam dada

6 "W ahai anakku jangan mengedan suka bermain di tengah medan Datuk Mangkubumi layaklah padan takut menjadi celaka badan

Jiwaku jangan gila ke sana anakku tuan muda teruna takut menjadi fitnah pesona sesal kemudian tiada berguna."

Jamal mendengar titah bundanya sangatlah malu rasa hatinya suatu tiada menjawab titahnya lalulah masuk ke peraduannya

"Panggil si Lamat si Laba kemari." Jamal terkejut takut dan ngeri mendengar murka ayahanda sendiri

Baginda pun murka terlalu sangat hendak membunuh Laba dan Lamat, "Barang lakunya tiadalah cermat akhir anakku mendapat laknat. "

Dititahkan bebunda pergi memanggil pura-pura keduanya demam menggigil katanya, "Bedunda tolonglah kapil supaya terlepas bahaya yang sakil."

Keduanya menangis sangatlah sebal sujud menyembah di kaki Jamal sembahnya, Patik pun bebal paduka ayahanda murkanya kekal

Tuanku pohonkan kiranya patik karena telepakkan lama kudidik nyawa dan badan rasa terhinjit menantikan darah bilakan titik

Sultan memohonkan ampun di bawah telapakan 11 Sembah patik anakda yang rawan si Laba si Lamat patik pohonkan. II

Teruna berkata memohonkan nyawanya patik pohonkan pacal keduanya jikalau ayahanda bunuh keduanya patik ikut serta keduanya

Si Lamat dan si Laba hendak pergi patik juga tiada membagi seberang kali kerja tiada sebagi kawan bermain petang dan pagi

Sembah diampuni yang dipertuan baginda memeluk Jamal bangsawan ltulah pekerjaan Jamal kelakuan takutkan anakku dapat kecelakaan. II

Siti paras yang syahda

Si Lamat si Laba akan pengiringnya pergi bersiap-siap akan khadamnya Datuk Mangkubumi patuh padanya takut menjadi kecelakaannya

Jamal mendengar titah Sultan turun bermohon dengan perlahan hatinya hancur bercampur rawan memikirkan titah paduka Sultan

Jamal berjalan berhati mutu lakunya asyik tiada bertentu teringatkan Siti setiap waktu dendam berahi pecah bersatu

Jamal pun sampai di singgasana sernayam bertahta dengan sempurna mengambil cermin tatah kencana selengkap pakaian sudah terkena

Bibirnya merah mara dewanta gigi berkilat semuanya rata memakai tajuk sunting mahkota paras sigap dipandang mata

Mernakai cincin di jari kiri manikam diselang intan baiduri bersambutan dengan jingga di kiri cantiknya tiada lagi terperi

"A bang berempat marilah kita ke kampung bunga bermain kita dengan saudara Siti yang kuata."

Hadirlah budak empat sekawan menjunjung duli Jamal pahlawan hormat takzim segala kelakuan "Patik mengiring duli bangsawan. ''

Jamal pun naik ke atas kuda dipayungi dengan payung perada lengkap pakaian sudah terada laksana gambar tulis belanda

Jamal berjalan berhati lara menuju kampung Datuk Perada lemah lembut tiada terkira paras laksana dewa udara

Tiada lama kadar masanya di kampung mangkubumi sampai semuanya orang bermain sampai jangkanya Jamal dan dew a ada keduanya

Orang bermain bersuka hati meng(h)iburkan gundah bukan seperti apalagi Jamal yang gusti gigi dan cincin berkilat pasti

II Ambil sepak raga ayuhai tuan kita bermain menirukan rawan menangkal zaman budi setiawan. 11

Raga diambil serta dilambung kaki dan tangan hubung-berhubung Hasyim dan Jamal kepung-mengepung sepak raga tinggi melambung

Jamal menyepak lemah dan lembut sapu tangan dipegang, raga disambut orang yang banyak jangan disebut tak sempat jatuh sudah diribut

Berrnainlah juga segala mereka Hasyim dan J arnal bersepak raga Jamal bermain amatlah suka lalu kelihatan terpandang muka

Jamal terpandang muka cik Siti memberi isyarat makna di hati dikisar langkah kirinya pasti alarnat tanda hendak dinanti

9 Sungguhpun J arnal raga disepak tunduk tersenyum rupa tergelak melihat Siti mata bercelak hancurlah hati seperti dedak

Tersebut kisah Siti seorang bersama dayangnya keempat orang melihat dari anjung cemerlang lenyap dipandang di hati tak hilang

"

Berdatang sembah dayang sekalian "Sungguhlah pantun Sitiku tuan Jamal pun cantik lagi bangsawan berpatutan tingkah dengan kelakuan."

Memujilah dayang Ratnawilis, "Jamal (i)tu bagai gambar ditulis laksana laut madunya kendis sebarang lakunya semuanya manis. "

"Kita seperti telur di sarang Jamal pahlawan sangatlah garang dari dahulu sampai sekarang. II

Mendengar kata dayang sekalian semua memuji Jamal pahlawan bertambah asyik Siti pun tuan dendam berahi bertambah rawan

Lalu bersabda lakunya gundah memanggil dayang lalu bermadah dayang pun hampir lalu menyembah, "Apalah maksud diparas yang indah. II

10 Tersenyum malu Siti dermawan sambil mengambil sirih di puan, "Apalah day a bicara pun tuan meng(h)adap Jamal muda bangsawan

Sampaikan sembah beta yang lara kepada orang jangan ketara inilah kiriman daun bidara tanda terikat hatiku mesra

Katakan bangsawan datang kemari besar maksud beta sendiri lebih tabu kakanda berperi jangan diketahui dewa dan peri. "

Dayang mendengar madahnya Siti bimbang dan rawan di dalam hati lalu bermohon dengan seperti berjalan menyamar dirinya pasti

tabu suruhan peri Jamal pun pura-pura berlelah diri dayang pun dekat datang menghampiri

Sirih disembahkan dayang setiawan disambut Jamal manis kelakuan datang berpantun bunyinya rawan Jamal tersenyum durja tempawan

"Labuh pukat di Tanjung Jati ombak memerah di Tanjung tuan inilah sirih dari Encik Siti ganti peng(h)ibur hati yang rawan

Ombak memecah di tanjung tuan angin selatan mendayu-dayu ganti peng(h)ibur hati yang rawan pinangnya kulit sirihnya layu

Angin selatan mendayu-dayu kapal berlayar dari Berandan pinangnya kulit sirihnya layu ganti nyawaku dengan badan."

Jamal mendengar dayang seloka tersenyum lalu menundukkan muka hatinya Jamal amatlah suka hilanglah rindu hati yang duka

Jamal bertitah laku budiman, "Kusambut sudah sirih kiriman salah sedikit rasa tak nyaman Siti pun tidak kupandang zaman

dikirimkan memakanlah aku menambah rawan dalam hatiku dari jauh bimbang rasaku tiadalah sambut rindu dendamku."

11 Dayang tersenyum mendengarkan peri mengangkatkan sembah menyusun jari, "Patik menilik Siti bestari adinda (i)tu pun berserah diri

Patik disuruh datang kemari minta silakan mahkota negeri patik di atas anjung baiduri menyampaikan maksud adinda peri. "

tersenyum manis muda terbilang sambil menjawab katanya dayang, "Baik dahulu tuan pun pulang katakan beta datang sekarang

Janganlah Siti berhati walang kita pun tidak menaruh bimbang sehingga tiada jiwaku hilang Siti kudatangi rnalam sekarang."

Dayang bermohon menyusun jari menuju anjung tatah baiduri jalannya cepat tiada terperi takutkan orang kanan dan kiri

Berkata seorang nama Jawadani, "Dari mana datang dayang-dayang ini tiada pemah lakumu begini kelihatan melepas di jalan ini. "

Siti lalu tersenyum bangsawan gusti "Patik disuruh paduka Siti meng(h)adap kakanda Jamal yang bakti

Patik sampaikan maksud seperti disantap sirih bersuka hati lalulah patik kabarkan peri segala pesan paduka Siti

Kakanda (i)tu mendengar madah cemburu tersenyum manis tertib kelakuan bertambah gundah usul bangsawan disilalah ke atas anjung berawan

Pasti kakanda Jamal bestari kepada tuanku minta kabari hajat bangsawan ia berperi malam sekarang berangkat kemari

Hendak berjumpa dengannya tuan dendam berahi hati yang rawan." Siti mendengar madah cumbuan rasanya malu usul bangsawart

12 Lalu bertitah Siti bangsawan titahnya, "Ayuhai adikku tuan pergilah meng(h)adap Jamal dermawan janganlah lambat usul setiawan

pasti."

Datang bermohon lalu berjalan meng(h)adap Jamal arif dermawan dayang sembunyi bertudung awan lalu meng(h)adap Jamal bangsawan

Setelah bertemu dayang perwira meng(h)adap Jamal dengan segera pesan Siti dayang pun ce(ri)tera sukalah hati Jamal yang lara

Jamal mendengar pesan Cik Siti berdebar darah asyik di hati, "Ayuhai dayang inang yang bakti takut rasanya bukan seperti."

Dayang menyembah lalu berkata, "Jangan tuanku takut dicita adinda menanti di anjung tahta seorang dirinya di katil permata

Jangan tuanku takut di hati Siti pun mau bersama mati harapan Siti bukan seperti supaya lipur dendam berahi. "

Mendengar kata Jamal bangsawan dayang disuruh pulanglah tuan, "Beta lagi memanggil kawan meminta nanti kepada kawan. "

"Hai saudaraku adalah maksud di dalam hatiku abang keempat tinggal menunggu beta pun hendak pergi dahulu. "

Si Lamat si Laba mendengar titah rasanya takut ngeri bertambah demikianlah pula nasib dan tambah hati di dalam sangat ngelabah

Lalu berkata si Lamat si Laba, "A bang kedua kita perhamba tuanku sudah asyiknya tiba seperti orang terminum tuba."

Sangat ngelabah empat berkawan melihat kelakuan Jamal pahlawan takut bercampur dengannya rawan oleh kelakuan Jamal bangsawan

13 Berkata mereka empat setara, "A bang kedua, apa bicara pekerjaan ini jikalau ketara tentulah murka Mangkubumi negera."

Berbagilah kata setengah kawan takut diketahui dewa bangsawan karena asyik Jamal tempawan akan Siti sari dermawan

Tersebut kisah Jamal bestari ia berjalan seorang diri sampai di atas anjung baiduri disambut dayang istana puri

Siti yang bakti darah terhambur di dalam hati

Jamal pun duduk teriba laku di atas permadani awan berbiku menanti Siti duduk menunggu seorang diri duduk terpaku

Siti keluar seorang diri lakunya sigap tiada terperi tunduk malu durja berseri seperti bulan empat belas hari

Siti terpandang kepada baginda hilang pikiran di dalam dada sifatnya cantik parasnya syahda sedikit tiada dapat dibeda

Siti pun tunduk malu-maluan menentang wajah Jamal bangsawan kalbunya asyik bertabur awan tingkah lakunya ikut-ikutan

Bersabda manis Siti bestari, "Sila kakanda duduk kemari." Jamal pun bangkit seorang diri duduk berhadapan Siti Jauhari

Siti pun mengambil sirih di puan diedarkan kepada Jamal bangsawan ia bersabda manis kelakuan, "Santaplah sirih ayuhai tuan. "

"Ya kakanda mahkota negeri apalah maksud datang kemari?"

Jamal menjawab dengan perlahan, "Kakanda ini datang mendapatkan tuan hatiku asyik tiada tertahan maka kemari berhari rawan."

14 Lalu berpantun Jamal perwira suaranya manis tiada terkira lemah lembut bunyi suara laksana manis madu segara

Katanya, tinggi-tinggi matahari labuh pukat di Tanjung Jati berapa lama kakanda mencari baharulah bertemu kehendak hati

Labuh pukat di Tanjung Jati orang bermain di atas kota baharulah bertemu kehendak hati seperti menentang gunung permata

Orang bermain di atas kota panjang gelanggang di tengah medan seperti menentang gunung permata laksana nyawa pulang kibaran

Panjang gelanggang di tengah medan tempat menari budak si Lamat laksana nyawa pulang ke badan sebagai bertemu nyawa semangat

Siti mendengar pantun dan peri tersenyum sambil mengisar diri katanya, "Tiadalah kakanda takut dan ngeri entah diketahui dewa jauhari."

Berpantun Siti laila mengindra lakunya manis halus suara Jamal mendengar pilu dan lara asyik bertambah dengan segera

Katanya, "Kaya hara condong ke balai santap raja bulan puasa orang muda janganlah lalai jikalau lalai di badan binasa

Santapan raja bulan puasa memakai cincin mata berlian jikalau lalai badan binasa menjadi sesal hari kemudian. "

Jamal mendengar pantun Cik Siti dijawabnya dengan bersuka hati, "Janganlah walang adinda gusti ridalah kakanda bersama mati. "

Katanya, "Bunga melur di atas kota burung serindit makan di papan jikalau ditikam matilah beta adindalah jadi kainnya kafan

Burung Serindit makan di papan minyak wangi di dalam dulang adindalah jadi kainnya kafan ridalah mati bertindih tulang

II

Siti mendengar pantun yang syahda katanya, ¹¹Wahai paduka kakanda kelakuan ini takut menggoda diketahui dewa saudara adinda

Jikalau diketahui dewa di balai lakunya itu sadar dan lalai hatinya besi disalai gagah berani tiada temilai. 11

Jamal mendengar lalu ketawa, II Adalah seperti hikayat Jawa Panji dan Galuh hilang berdua itulah gerangan utama jiwa."

Jamal bersabda lakunya sendu tersenyum di atas hamparan beludru suara manis sangatlah rindu seperti suara buluh perindu

"Awan dikarang Dang Juadah bunga tanjung di atas kota adinda manikam terlalu indah kakanda junjung jadi mahkota

Bunga Tanjung di atasnya kota limau manis berbungkus kain kakanda junjung jadi mahkota cintaku tidak pada yang lain. II

"

Jamal mendengar pantunnya Siti remuk redam rasanya hati asyik berahi bukan seperti rasanya tiada ingatkan mati

16 Jamal pun habis akal upaya katanya, "Adinda tiada percaya di dalam titah tiadalah dua kakanda berani sumpah setia

Selama kupandang wajah asli cintaku panjang umpama tali kakanda berdua di atas balai sedikit tiada berhati lalai

Siti mendengar cumbu bangsawan berahi di hati tiada terperi bersungguh rupanya kakanda dermawan tiada berubah tertib kelakuan

Habislah cumbu pujuk setiawan Siti permata berhati rawan hari pun malam sudah ketahuan masuk keduanya di peraduan

Beradulah Siti di katil kencana serta Jamal muda teruna maklumlah tuan asyik merana laksana mambang bayu terkena

Hari pun hampir waktu dinihari takutkan orang kanan dan kiri Siti dan Jamal takutlah ngeri muka seperti bulan kesiangan hari

Lalu berpantun Jamal terbilang kepada Siti wajah cemerlang, "Janganlah lelap wajah gernilang hari pun hampir sudahlah siang

Tanam halia tiadakan tumbuh dahan dan ranting dibuat tali dipohonkan kanan bekasnya tubuh akan bekalan kakanda kembali

Dahan dan ranting dibuatkan tali kiriqum kepada raja di Jawa akan bekalan kakanda kembali gantinya badan dengan nyawa

Kiriman kepada raja di Jawa buah selasih di dalam puri tinggal adinda badan dan nyawa malam esok kakanda kemari. II

Jamal tersenyum lalu berperi meminta tukar cincin di jari cincin ditukar Siti bestari buat pelipur hati yang ngeri

17 Jamal kembali bulan mengembang cahayanya bersih amatlah terang budak keempat sangatlah bimbang takut bertemu dewa dan mambang

Kembalilah Jamal lima berkawan di situ cahaya bulan dan awan hatinya gundah bercampur rawan mengenangkan Siti usul tempawan

Hati ngelabah bukan seperti berbagailah kawan meng(h)iburkan hati sepanjang jalan tiada berhenti bersyairlah burung bayan yang bakti

Bayan pun hinggap di pohon delima menyandarkan Jamal muda utama, II Ayuhai tuanku orang berlima kumbang jangan diberi saksama

II

Bersyair pula si burung nuri, 11 Kumbang pun baik ingatkan diri sungguh pun boleh kumbang edari akhirnya jatuh ke padang duri. II

Jamal mendengar bunyi sindiran lalu tertahan Jamal berjalan Jamal menoleh keempat kawan bertitah manis emas tempawan

Di hati Jamal tiada peduli akan sindiran burung ternili dipuarakan saja berdiam diri tiada diharap kanan dan kiri

Tiada berapa lama masanya lalulah sampai di istananya Jamal pun naik dengan rawannya lalu beradu di atas kotanya

Beradulah Jamal di kota berawan hatinya gundah bercampur rawan seperti orang mabuk cendawan rasanya Siti di dalam pangkuan

"Terbang pungguk menepi-nepi hinggap di dahan keramunia memberi harap engkau hai mimpi kusangka benar bukannya dia

Hinggap di dahan keramunia burung bayan hinggap di paku kusangka benar bukannya dia memberi harap di dalam hatiku. "

Setelah sudah sianglah hari bangun baginda durja berseri memanggil kawan lalu berperi, "Marilah siram ayuhai diri."

Bangunlah budak empat sekawan lalu mengiring Jamal bangsawan menuju kolam pusparawan lalulah mandi sekalian kawan

Setelah sudah Jamal bersiram naik istana pusparagam berapa gurau dengan gurindam Jamal pun juga bertambah muram

Santapan diangkat dayang berida santaplah Jamal usul yang syahda setelah santap duli suripada santaplah sirih di puan berenda

Sudah terkena tajuk dan malai terikat pinggang buatan balai parasnya sigap tiada ternilai memberi hati membawa lalai

Lalulah turun Jamal terbilang sambil mengisar keris di pinggang diiringkan kawannya berempat orang lakunya khaluk memberi bimbang

Lalu berjalan Jamal perwira menuju kampung mengubur lara jalannya Jambat tiada bersegera takut menjadi dapat ketara

19 Lalu bersabda Jamal yang kuata II A bang wai apa bicara kita barangkali tahu Hasyim mahkota niscaya kita mendapat lata. II

"

Mendengar sembah keempat kawan bertambah be rani Jamal bangsawan karena Siti usul tempawan tiada sadarkan nyawa mengawan

Tiada berapa selang antara sampai di kampung Datuk perwira Hasyim melihat Jamal perwira lalu bersabda dengan segera

"Silalah adinda ayuhai gusti tiga hari sudah kakanda menanti hendak bermain bersuka hati di bawah pohon kayu jati. "

Jamal tersenyum menjawab sabda sambil menoleh Hasyim kakanda, "Penting rasanya kepala adinda Ielah semalam bermain kuda."

Hasyim dan Jamallalu berjalan bersama-sama ternan dan kawan berbagailah gurau dengan cumbuan lalu mengambil segala permainan

20 "Beta pun hendak ke anjung Siti abang keempat di sini menanti jagalah orang amat-amati janganlah abang berlengah hati

Jikalau diketahui Hasyim yang mulia ingatlah abang jangan sia-sia carilah abang tipu upaya memberi tabu kepada sahaya. "

Si Lamat si Laba menjawab sabda, "Ampun tuanku duli sripada jikalau tuanku dapat berbeda ridalah hilang nyawa di dada

"Sila kakanda duduk kemari."

Jamal pun bangkit menghampiri lalu dicium Siti jauhari Siti pun malu bercampur ngeri tunduk tersenyum berdiam diri

Siti pun tunduk lalu bersabda, "Ayuhai kakanda nyawa adinda jikalau tahu adinda bunda adinda ini mendapat beda. "

Siti berpaling lalu memalis durja berseri bagaikan tiris sebarang laku semuanya manis wajah laksana gambar ditulis

"Sabdanya kita bukan tunangan maka berlaku hal yang demikian memohonlah patik ayuhai tuan pekerjaan ini tuan rantaikan

"

Setelah didengar Jamal pahlawan akan madah Siti cumbuan hatinya ngeri bercampur rawan lalu berpantun dengan perlahan

21 Anak Cina main ke lumbung sawah dibongkar jaga panduman adinda seperti bulan mengembang cahayanya melimpah di dalam taman

Tajam kapak dari beliung akan penayang kayu be(r)duri adinda di atas kemancak payung kakanda di bawah menyerah diri

Akan penayang kayu be(r)duri dipatah oleh laksamana kakanda di bawah menyerahkan diri boleh dibuat sebarang guna

Dipanah oleh laksamana buah kandis di dalam dulang boleh dibuat sebarang guna tiada sekali bertitah pulang

Buah kandis di dalam dulang limau manis di dalam puan tiada sekali bemiat pulang ridalah mati di dalam pangkuan

Siti mendengar pujuk dan cumbu habis akal di dalam kalbu rasanya bengkak hati dan rayu karena iblis masuk menyerbu

Katanya, "Ayuhai paduka kakanda habiskan pikir di dalam dada jikalau diketahui ayahanda bunda binasalah badan tak dapat tiada."

Jamal tersenyum manis sahwa, "Wahai adinda utama jiwa titah kakanda tiadalah dua tuanlah tempat berserah nyawa."

Berapa madah dengan cumbuan Siti mendengar belas kasihan Jamal pun baring atas pangkuan maklumlah encik ayuhai tuan

Cantik majelis sifatnya sama laksana bulan awal purnama Siti dan Jamal kasihnya sama intan diapit batu delima

Siti berpikir malu-maluan pekerjaan sudah berlaluan kasih dan sayang berlangsungan ridalah mati dua berkawan

Siti menjeling Jamal yang bakti kasih mesra di dalam hati Jamal pun baik budi pekerti patutlah juga bila kumati

~eorang diri

Budak bermain berlari-lari

pecap cawan di atas peti

tinggal adinda seorang diri dendam berkurung di dalam hati

Pecah cawan di atas peti anak raja makan berjamu dendam berkurung di dalam hati bila gerangan kita bertemu"

Jamal mendengar Siti berpantun aturannya sajak bagai disusun, "Adindaku tuan ria ningsun, Jamal pun segera menjawab pantun"

"Bulan terbit cahayanya terang anak enggang rata paku j ikalau kakanda pulang sekarang jikalau rindu sebut namaku

Anak enggang rata paku angin selatan menimba ruang jikalau rindu sebut namaku air mata jangan dibuang"

23 Demikianlah asyik ayuhai tuan habislah gurau madah cumbuan Siti dan Jamal berkasih-kasihan tukar-menukar kain pakaian

Hari pun hampir tengah malam, "W ahai adinda permata nilam bangunlah tuan kita bersiram bersuka-suka mandi di kolam"

Siti dipimpin sebelah ldri wajah yang bersih pucat berseri laksana bulan kesiangan hari

Siti dan Jamal muda pulh/alam lalulah sampai di tepi kolam Siti dan Jamal turun bersiram gurau dan pujuk macam gurindam

Sudah bersiram oleh keduanya kembali berpimpin pula padanya di atas anjung sampai dianya Siti tersenyum manis mukanya

Siti pun tunduk malu-maluan lalu menyorongkan sirih di puan nikmat juadah makan-makanan serta memakai ba/h/u-ba/h/uan

Kisahnya tiada fakir panjangkan sekadar itulah yang didapatkan entah ia entahkan bukan kisah yang lain diceritakan

Seorang hamba nama si Rindu hamba kepada Harjuna yang se(n)du tahulah ia Jamal beradu dengan Cik Siti istana belud(r)u

Ia pun naik dkatas kota memberi tabu Hasyim yang kuata katanya, "Apalah bicara ldta kita mendapatnama yang:,lata."

"

Si Rindu berkata, "Wahai tuanku paduka adinda Siti berlaku sekali-kali patik tak sunggu berdua dengan Jamal yang liku."

Hasyirn rnendengar lalu berdiri rnarahnya tiada dapat diperi diarnbil keris tatah baiduri mendapatkan Jarnallaila jauhari

24 Katanya, "Hai Jamal yang lali tiadalah patut sekali-kali engkau berlaku pantang pernali niscaya kubunuh rnati sekali."

Hasyirn bersabda lakunya murka merah padarn warnanya muka "A bang keernpat rnarilah kaka(k) Jamal pun sudah rnernbuat celaka."

Budak rnendengar lakunya mutu rnengarnbil pisau seorang satu, "Apa maksud duli tuanku patik rnenjunjung setiap waktu."

Hasyirn bersabda lakunya menta "A bang keernpat iringlah beta rnasuk ke taman di atas kota ke dalarn anjung saudara kita."

"Di mana Jamal sekarang kabarkan Iekas supaya terang"

Budak menjawab badannya gentar, "Ampun tuanku duli muktabar patik keempat tiada ber/h/onar kabar si Rindu tiadalah benar

Tiada patut di hati patik karena tuanku adik beradik hal demikian hendaklah selidik sabar dahulu tuanku balik

Jangan diturut hati yang marah entahkan orang membuat fitnah tuanku pikir janganlah gundah iblis/setan jangan ditulah. "

Hasyim mendengar kata si Lamat Hasyim pun murka amatlah sangat, "Patutlah engkau jadi si L3mat engkau pun sudah jadi alamat

· dikabarkan oleh si Rindu itu."

Hasyim bertitah lakunya berani, "A bang keempat marilah sini tangkap si Lamat si Laba ini sekalian tolannya yang ada di sini. "

Budak mendengar titah paduka si Lamat si Laba tangkap seketika, "Titah tuanku ayuhai kaka(k) abang keempat dibunuh belaka."

Setelah mendengar Laba dan Lamat lalu menjawab marak tak ingat, "A bang keempat janganlah rapat membunuh orang hendaklah cermat

N antilah bersiap sekalian beta jangan menurut hati yang manta janganlah mati setengah melata ingat fatwa ulama pendeta. "

Budak keempat mendengar peri masing-masing sudah bersiap diri sambil mengingatkan guru sendiri mengisar keris sebelah kiri

Lamat si Laba gentar tiada semuanya ingat di dalam dada kedua pihak siaplah pada menanti gerak mana yang ada

Lalu berkata Laba dan Lamat, "Sudahlah siap abang keempat j ikalau sudah marilah rapat lakukan maksud di dalam makrifat."

Budak keempat mendengarkan peri marah mereka tiada terperi si Lamat si Laba mereka hampiri sedikit tiada diingatkan diri

Budak melompat sambil menikam lalu seperti harimau menerkam si Lamat menangkis hatinya kelam tiadalah sempat membalas tikam

Si Laba si Lamat riuh berbeda lakunya sikas di bawah dada mati tersungkur bela tiada lalulah mati dua berida

Hanyalah tinggal kawan berdua tikam menikam tiada kecewa sigap seperti si burung rawa basahlah peluh kain semua

26 Tikam-menikam tiada berselang kenalah budak ketiga orang lakunya cepat bukan kepalang kena di dada terus ke belakang

Siti

Hasyim menyeru murka terlalu, "Hai Jamal yang membuat malu membuat angkara tiada kelulu tahan olehmu keris sembilu. "

Jamal dan Siti mendengar kedua berdebar lenyap manis semua Jamal melihat dari jendela terpandang mata nyata kecewa

Ayuhai adinda intan baiduri badan kakanda rasanya ngeri ingatkan kita kepada diri kakanda Hasyim hampir kemari

Wahai adinda utama jiwa datang rupanya Hasyim yang syahda Jamal bersabda manis semua laksana serbat buatan J awa

Jamal berpantun merdu suara, dengarlah tuan pesan lara nyatalah Hasyim kepada ketara hampirlah kakanda mati sengsara

Bukan parang baharu ditempa parang tersalit tiada berhulu

bukan sekarang baharu diterpa

sudah tersurat dari dahulu

Anak tiung di paya paku parang tersalit tiada berhulu sudah nasib untung badanku minta berlaku asal dahulu

Parang tersalit tiada berhulu bunga melati di dalamnya puan sudah nasil asal dahulu bercerai dengan adinda tuan

27 Bunga melati di dalam puan puan berisi buah kurma bercerai dengan adinda tuan kasih pun tidak berapa lama

Puan berisi buah kurma

buah cempedak di atas peti kasih pun tiada berapa lama sekali ini ajalku mati

Siti mendengar pantun dan madah muka yang manis pucat berubah hatinya Siti sangatlah gundah sampai rupanya ajalku sudah

Siti menangis tiada tertahan rebah menerpa kepada bangsawan, "Ayuhai kakanda usul pilihan dari dahulu dilarang tahan."

lngatlah Jamal segala ajaran lalu berkata dengan perlahan, "Tinggi hati emas tempawan tinggallah adinda janganlah rawan

Tinggal adinda emas sekati baiklah budi laku pekerti kakanda pergi jangan dinanti entahkan sampai akhirku mati. "

Jamal memeluk Siti permata habis berhamburan aimya mata dipeluk dicium seluruh anggota, "Tinggallah tuan emas juita. "

Jamal pun bangkit lalu berdiri mengisar keris sebelah kiti, "Ayuhai adinda intan baiduri hampirlah ini kita bercerai."

Setelah bersabda Jamal terala lalulah turon gundah gendala sampailah sudah setengah tangga Jamal pun naik kembali pula

Mendapatkan adinda Siti yang kuata dicium kembali seluruh anggota, "Bawa kakanda tajuk mahkota sirih sekapur berilah beta."

"

Siti mendengar Jamal berpesan sambil menangis mengambil puan air mata cucur di pangkuan sirih sekapur lalu disembahkan

"Adinda kapurkan sirih ini peng(h)abisan kasih di dunia pati dari menanggung laku begini ridalah rasanya adinda fani

Mendengarkan madah Siti dermawan Jamal mendengar bertambah rawan Jamal menjawab dengan perlahan, "Tinggal adinda emas tempawan."

Masgulnya Jamal tiada terhingga lalulah turun dengan seketika kira-kira sampai setengahnya tangga kembali pula Jamal bertiga

Setelah naik lalu berperi, "W ahai adinda gembala negeri tinggal adinda intan baiduri naik tuan me(me)liharakan diri. "

Terbang seekor si burung bayan lalulah hinggap di tepi taman, "Tuanku jangan banyak cumbuan Hasyim menanti di tengah taman. "

Bersyair pula si burung nuri, "Tuanku baik ingatkan diri siapkan keris tatah baiduri Hasyim pun sudah hampir kemari. "

Mendengar Nuri, Bayan berkara Jamal berdebar di dalam cita, "W ahai adinda bercerai-belah kita bila gerangan berjumpa beta

Buah delirna di dalam puan buah berangan di atas peti ernas merah tinggallah tuan hampir gerangan nyawaku rnati

Buah berangan di atas peti lirnau manis di dalam puan hampir gerangan nyawaku rnati tinggallah kasih seekor tuan

Siti terbilang apalah membuat garang memberi malu di tengah terang."

Jamal bermadah menjawab peri, "Beri adinda tapah sejati tiadalah adat laki-laki bestari wallahu tiada adinda lari

30 Lelah sudah rasanya adinda menyilakan tikam paduka kakanda hanyalah adinda menahan kuda patutlah dibalas tikam kakanda."

Jamal menikam sikap terjali Hasyim menangkis pantas sekali pantas seperti si rajawali Hasyim dan Jamallupa dan lali

Ttihanku malik al jari

Ya Allah ya Tuhanku matilah rupanya gerangan aku berilah olehmu akan belaku haraplah.harnba pinta berlaku."

"Sampailah rupanya akan janjiku kehendak tuhan sudah berlaku sebab si Rindu empunya laku membuat fitnah atas diriku."

Katanya, "Ayuhai jamal kakanda ridalah mati rasa adinda matilah kita sama tersanda ketiganya mati samalah pada."

pun rawan tiada tertahan teringatkan budi kakanda bangsawan serta setia tiada salahkan mengambil pisau dengan perlahan

Habislah pikir di dalam makrifat mengambil pisau tajam berkilat terlihat kepada dayang keempat dayang merebut tiadalah sempat

Siti menikam dada sendiri darah rnenyembur tiada terperi badannya lemah mati terdiri lalulah mati Siti bestari

Dayang keempat susah di hati melihat Cik Siti sudah mati riuh dan rendah bukan seperti gempar istana tiada terhenti

Dayang pun takut tidak terperi takut diketahui mahkota negeri diambilnya pisau ditikamnya diri sama keempat membunuh diri

Cahaya anjung menjadi kelam tinggal sekalian taman dan kolam tempat bermain siang dan malam pada masa itu bulan pun kelam

Gemparlah orang di dalam negeri malam pun hampir akan dinihari gegap gempita tiada terperi terlompat-lompat terlari-lari

Seorang· dayang lila mengindra ia berlari dengannya segera menuju rumah mangkubumi lara mengabarkan Jamal-Hasyim cedera

32 Serta sampai pintu dibuka lalu menyembah dengan seketika, "Hasyim dan Jamal mati mereka Siti membunuh diri belaka."

Datuk pun bangkit lupakan diri dada Datuk kanan dan kiri ia pun bangkit lalu berdiri hatinya pilu tiada terperi

Laki-istri Mangkubumi berjalan menuju anjung ukir berawan Mangkubumi sampai di minta tempawan Hasyim dan Siti anakda tuan

Mangkubumi mengucap hatinya duka, "Apalah demikian datang celaka sekali-kali tiada disangka. " lalu mengucap dengan seketika

Datuk Mangkubumi datang pikiran lalu dipanggil seorang ternan, "Hal kematian engkau sembahkan ke bawah duli yang dipertuan

Sembahkan kematian Hasyim dan Siti serta keempat dayangnya pasti pergilah segera jangan berhenti meng(h)adap duli sri bupati."

durG)a. bercampur takut tiada terkira

Dayang berlari tiada bermadah meng(h)adap Sultan duli khalifah hati di dalam sangat ngelabah sebaik sampai lalu menyembah

Meniarap sujud di kaki Sultan, "Ampun tuanku yang di pertuan hal anakda Jamal bangsawan sudahlah mati berkepadan

Hasyim dan Siti dua saudara serta empat dayang mengindra di kampung halaman Datuk mengindra Datuk pun susah tiada terkira. "

Telah didengar paduka Sultan permaisuri menangis lalulah pingsan baginda pun sudah hilang ingatan bangkit berdiri lalu berjalan

Laki-istri Sultan negara menangis meratap tiada terkira, "Ayuhai anakku Jamal putra apalah sebab mula bicara. "

33 Baginda berjalan laki-istri rebah rempah kanan dan kiri keduanya tiada ingatkan diri memandang mita Jamal bestari

"Wahai kemala gusti sampailah hati Hasyim dan Siti

Engkau mati di halaman ini apalah sebabnya maka begini wahai anakku wajah nurul aini · ridalah ayahanda bersama pati

Anakku seorang mahkota negeri tajuk sunting bundamu suri jarat semata di dalam puri putus tak dapat ayahanda cari. "

Datuk Mangkubumi demikianlah tuan anaknya mati dua sekawan laki-istri bagaikan hewan sebentar sadar sebentar pingsan

Riuhlah tangis tiada terkira serta sekalian dayang mengindra tiadalah kuasa fakir cerita takut menjadi syaimya lara

"Wahai Jamal paduka anakanda tuan seorang putranya bunda buah hati jantungnya bunda kalbuku hancur sangatlah beda

Suri menangis seperti gila hampirlah hilang akal segala jadilah bercampur suara gandola inang dan dayang menangis pula

Katanya, "Wahai putra mahkota tempat berlindung patik yang lata kemanalah patik mengadukan cinta karena hilang duli juita

Tuanku seorang cahayanya negeri hilang ke mana patik mencari tempat berlindung pertaruhan diri timbangan menjadi sehari-hari."

Berbagailah tangis rakyat sekalian akan kematian putra Sultan serta Cik Siti, Hasyim bangsawan ayah bundanya bagaikan hewan

Berbagailah tangis inang yang menta nama si Rindu disebut nyata tiada berpikir mengeluarkan kata akhimya ia menjadi lata

Demi didengar menteri hulubalang ratap dan tangis segala dayang lalu dipanggil si Rindu pun datang menteri bersabda lakunya berang

Lalu bertanya perdana menteri, wahai Rindu apalah begini kudengarkan ratap dayang di puri engkau meng(h)adap Hasyim jauhari

Berani engkau hai jambalang membuat fitnah menjadi walang sebab fitnah engkau yang terang kujadikan engkau /h/abu dan /h/arang

Karena engkau dayang yang tua patut sekali pelihara jiwa jikalau terkhilaf Jamal sebahwa ataupun Hasyim putra yang tua

Engkau tak pikir lebih dahulu · kepada Hasyim empunya malu engkau -adukan hal selalu patutlah, mati junjungan ulu

Sri titahkan "Datuk Mangkubumi jangan dihidupkan dengan segera engkau bunuhkan. "

Lalu menyembah menteri perdana, "Ampun tuanku duli maul ana duli tuanku raja yang gana pikiran patik tiadalah kena

Mangkubumi tiada tabu pesona dibunuhkan dia tiada semena banyaklah pikir duli mengema sesal kemudian tiada berguna."

"Karena Hasyim anakku celaka anakku mati Hasyim petaka akhimya nanti dia durhaka."

Menteri menjawab titah batara, "Ampun tuanku mahkota negara tiadalah salah Datuk mengindra hanyalah anaknya Hasyim angkara

Hasyim dan Siti sudahlah mati dayang keempat sama sejati pikiran patik di dalam hati mangkubumi jangan dibunuh mati. "

Mendengar kata jawab menteri murkalah baginda tiada terperi, "Jikalau tiada ma/h/unya diri biarlah aku membunuh sendiri. "

"Ampun tuanku duli telapakkan jikalau patik tuanku titahkan mohonlah patik akan menyampaikan hulubalang yang lain tuanku suruhkan

Me(ng)hukum tiada dengan kebetulan membunuh tiada dengan kesalahan akhimya kelak beroleh kerugian menjadi sesal hari kemudian. "

Baginda menjawab lakunya murka, "J anganlah engkau ban yak mereka

menyuruh hulubalang pergi bertiga membunuh mangkubumi datuk paduka. "

36 Turun menyembah hulubalang perwira mendapatkan datuk dengan segera hati yang pilu bercampur lara karena titah sri batara

Hulubalang pun sampai dengan seketika hati di dalam sangatlah duka sujud menyembah hulubalang bertiga "Patik dititahkan sri paduka

Ampun tuanku Datuk Mangkubumi patik (di)titahkan mahkota negeri membunuh Datuk datang kemari tak boleh mangkir barang sejari."

Datuk mendengar titah sang nata lalulah cucur airnya mata "Apalah pula kesalahan beta akan kakanda duli mahkota

Hasyim dan Siti mati berida serta sekalian dayang yang ada itu pun rupanya belumlah pada maulah dibunuh nyawanya senda

Mendengar titah hulubalang suruhan patik tiada boleh bantahan tambahan tiada lama bertahan menjunjung titah yang dipertuan."

Mangkubumi menjawab, "Alhamdulillah sudah rupanya takdir Allah tiadalah boleh hamba menyalah." Mangkubumi pingsan lalulah rebah

.duli telapakkan j ikalilU sudah hamba dibunuhkan dengan anakku di sana kuburkan."

Habis kisah datuk batara hulubalang menikam dengan segera terkena dirusuk tiada antara mukanya bercahaya tiada terkira

Datuk Mangkubumi lalulah mati hulubalang melihat belas di hati hukum tak patut sri bupati dibunuh · tiada adat seperti

Lalu kembali tiga berkawan meng(h)adap duli yang dipertuan menyembah duli tertib kelakuan "Patik sampaikan dengan setiawan

Mangkubumi sudah dibunuh mati mengikut titah sri bupati tetapi wasiat datuk yang jati ke bawah duli sampaikan pasti

37 Wasiat Datuk minta sampaikan ke bawah hadirat duli telapakkan anaknya kedua minta di tanamkan beserta mayatnya disertakan

Mendengar wasiat mahkota negeri baharulah baginda ingat saudara sesal baginda tiada terkira membunuh Datuk tiada setara

Siti usul yang syahda bersama-ditanam oleh baginda secukuplah mana yang ada

Setelah selesai demikian peri tiadalah tentu kebesaran negeri umpama bulan dengan matahari cahaya kelam tiada berseri

Sebab adat tidak kebetulan jadi menyesal hari kemudian karena anak empunya ulahan serta mengikut nafsu yang hewan

Baginda tiada senang sentosa me(ng)hukum tiada usul periksa jadilah ibarat raja berbangsa hendaklah adil senantiasa

Dari hal baginda berhati mutu sebab kematian putranya ratu baginda pun susah setiap waktu segala hukuman tiadalah tentu

Tiada berapa selang adanya tujuh bulan lama rasanya baginda semangkin susah hatinya negeri bertambah pula sunyinya

Selama baginda berhati walang bertambah gila bukan kepalang paln/da segala menteri hulubalang dagang pun tiada datang berulang

Me(ng)hukilmkan adat sekaliannya mana kehendak hawa nafsunya hukilm Allah dengan nabinya tiada peduli akan dianya

Selama terbunuh Datuk paduka baginda tak dapat merasa suka duduk bertahta menanggung duka akhimya negeri sunyi belaka

38 Karena tiada harapan orang rajanya lalim lagi pun garang tumbuh-tumbuhan sangatlah kilrang kadinya jahallagi pemberang

Kecuali yang benar sekarang ini melalui hukilm sangat berani mencari dunia negeri yang fani tiada ditakuti tuhan yang gani

Ilmunya tinggi arif makrifat setengah sampai hal tarikat jalannya tunduk bagai bertongkat mana yang haram habis didapat

Kepalanya tunduk bukan kepalang lak.sana pengantin di hadapan dayang mengakil dirinya tarikat yang panjang padahal sunyi nyatalah terang

Sebab tiada ia ahlinya hanyalah meniru sahaja adanya mana yang jahil ikut padanya setengah membawa gila padanya

Ayuhai saudaraku arif dermawan pikir olehmu jangan tertawan tuntut ilmu diuji tahan jangan beramal tiada gurauan

Ingat olehmu masa sedikit dunia ini tempat yang picik tuntutlah ilmu banyak sedikit supaya selamat tiada terhimpit

Ilmu usul dahulu pelajarkan kepada yang mahir tuan gurukan wajiblah mualaf mengetahuikan supaya ilmu amal disahkan

Kemudian baharu jalan ibadah ilmu menyembah robbal ibadah amallah bersungguh serta taat mudah-mudahan dapat selamat

Jikalau tiada demikian itu jahil akaid ila imanmu itu tiada faedah amal suatu walaupun bertapa di gua batu

Janganlah tuan ikutkan itu di dalam kitab tiada begitu ataupun syarah nanar suatu tiada menyebut demikian itu

Ulama Mekah serta Mesir fikih usul semua mahir sehingga halaz bernama tafsir mengata makalap sama dikafir

Jikalau tuan tidak benarkan cobalah lihat hadis firman tuan tiada guru andalan supaya terang kepada tuan

Jikalau mangkir yang demikian tahanlah hamba ditafsirkan asalkan jangan buntu dikotakkan di hadapan hakim hamba jadikan

Janganlah malu sebab berjenggot atau serbanmu besarnya patut karena jubah menutup lutut amal tak sah berka.rut-karut

40 U mur pun kurang pagi dan petang demikianlah saat sudah bertentang malaikulmaut hampirlah datang entahkan pagi entahkan petang

Hendaklah jaga lebih dahulu sediakan amal bertalu-talu ia bekalan menahan palu supaya jangan beroleh malu

Kubur pun sempat sudah bertentang ia memanggil pagi dan petang sedialah amal dibawa pulang supaya jangan menjadi walang

Kesudahan dunia jangan terkena sekalian itu habislah fana ingatlah kita akhirat sempuma sesal kemudian tiada berguna

Tatkala dapat sekaratulmaut tapis pun naik tuan berebut ahli menentang tangis berkabut mita telentang harta direbut

Datanglah waris sekalian rata setengahnya datang merebut harta kunci dan peti dijaga semata anak yang kecil terlata-lata

Setelah sudah kita dikubur baharu di sana sesal berhambur ular dan kala menggigit hancur jasad yang cantik menjadi lebur

Di dalam kubur seorang diri menanggung azab tiada terperi azabnya pedas tak boleh lari hancurlah jasad tiada terperi

Yang Esa

41 Jikalau taat kepada tuhan sentosa tiada berkeputusan mallakulrahman pun kasihan di negeri akhirat besar balasan

Berkat nabi mendapat rahmat di negeri akhirat mohon safaat barang siapa berbuat taat itulah orang nanti selarnat

Tarnatlah tuan karangan ini di negeri Asahan tahun ini lima hari Safar ayuhai ikhwani tahun tiga puluh berganti-ganti

dikarang dari asalnya banyak bertukar atur sajaknya bagai saudara segala membacanya harap dibetulkan barang salahnya

Karena hamba baharu belajar hadnya buruk tiada terkabar encik membaca atau mendengar di syair ini harap muktabar

Betul pun syair jahat bunyinya jadi ibarat buat kiranya hamba syairkan dari asalnya cerita dahulu konon adanya

Syair ini jangan ditoleh bicara bunyi hendaklah pilih jikalau bertemu bunyinya salah amallah kita seboleh-boleh

Jikalau bertemu perkataan mudarat jangan diambil jadi ibarat buanglah ia ke laut hasrat supaya jangan jadi melarat

Syair ini ibaratnya pancing ditaruh umpan bunga bersunting jikalau dibaca hendaklah banding supaya jangan kita terdamping

lnilah akhir fakir berkata harapkan ampun dosa semata sekalian Islam ahli yang nyata dikaruniakan Allah suka yang nyata

,dengan' sal am .takzim kepad~ sekaliaaahli muslim daripada hamba Abdul Salim harap sentosa. alinalsalim

Dunia akhirat hendaklah pikir janganlah kita menjadi tafsir pelihara ibadat janganlah mangkir takutlah kepada tuhan yang basir

42 Daripada sekalian encik doakan ke jihat langit tangan ditadahkan iman dan taat itu mutukan di dalam iman minta dimatikan

Dijauhkan kita dari fitnah iblis setan yang kena laknat dimatikan di dalam hasanulhikmat harap dimasukkan di surga janah

Telah selesailah fakir nama Haji Abdul Rahman bin Jabugis peranakan negeri Asahan, orang Mandailing Penyabungan Jaya, mengarangkan syair ini di negeri Asahan, kedai Tanjung Balai nomor 1213, hari bulan Zulkijah sanat 1332.

Tiada dibenarkan bagi siapa mengecapkan ini syair dengan ketiadaan izin mulanya atau wakilnya yang menaruh naskahnya ini. Ngapurallahullah aulla wa illadih, amin.

Tercap oleh Mohammad Idris, kampung Ajelin nomor 20, Singapura.

SUKAR

  1. ma' dan bang (ATM : 14)
  2. gubar (ATM: 16)
  3. nazam (STM:21)
  4. sandan (STM:22)
  5. radu (STM:22)
  6. lunau (STM:36)
  7. kerentah=renchat (STM:36)
  8. kasrilkasroh (STM:40)
  9. di dukan (STM:45)
  10. kekebun (STM:53)
  11. bokok (STM:63)
  12. sikah (STM :4)
  13. ke hamum!hanum (STM :8)
  14. di wadakkan (STM: 10)
  15. benelaku (STM:12)
  16. paragu (STM : 18)
  17. razasi (STM:21)
  18. kuhdi (STM:62)
    : antara orang azan dan qomat : kurang baik, surau, red up (KD:323) karangan, sajak/syair (KD:768) gadai (KD : 1009) Br. Tenggala (KD:915) lumpur (KD :691) tangkas, giat (KD:925) tanda baca dalam bahasa Arab (KD:467) bangsal, kedai atau tempat ber- jualan (KD:251) pengeset kaki (KD: 541) : lemak, lembut (KD: 128)

: caci maki, kutuk (KD:346)

PUSTAKA

Ali, Lukman dkk. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka. Djamaris, Edwar. 1977. "Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi ". Dalam Bahasa dan Sastra III (1) halaman 20--30. Howard, Joseph. 1966. Malay Manuscripts: A Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: University of Malay Library. Iskandar, Teuku. 1970. Kamus Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Klinkert, H.C. 1947. Nieuw Maleisch-Nederlandsch Handwoordenboek. Lei den: Boekhandel en drukkerij. Robson, S.O. 1978. "Pengkajian Sastra Tradisional". DalamBahasa dan Sastra IV ( 6) halaman 26--46. Ronkel, Ph. S. van. 1909. Catalogus der Maleische Handschriften in het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albricht & Co. Sutarga, M. Amir dan Jumsari Jusuf. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebu- dayaan.

j "'0 I )> - (Jl -< )> - ;:a

. !