Baca PDF (OCR): Perpustakaan Jalanan Bandung #15

32 halaman · 32 halaman diproses dengan OCR· 44804 ms

Daftar isi
  1. Tumbuh & Bersemi PERPUS Dijalanan
  2. JALANAN
  3. UILAILAH MEMBAC
  4. MATIKANTV
  5. Jika taman yang dibangun oleh pemerintah menciptakan ruang-ruang di mana
  6. menjadikan kita individu-individu yang penuh kecurigaan satu sama lain. Di
  7. Menyemai Api, Melampaui Mimpi
  8. Salah satu momen penting adalah ketika kami terlibat dalam aksi penolakan
  9. pertemuan WTO di Bali. Setelah itu, kami semakin aktif dalam konsolidasi
  10. mengubah taman menjadi ruang yang penuh kegembiraan dan kenyamanan—tempat di mana orang-orang tidak merasa sendirian.
  11. Ketika Represi Datang, Solidaritas Menguat
  12. Solidaritas Menyebar Serupa Dandelion
  13. bahkan materi seperti logo, buku-buku, dan zine. Namun, kami juga
  14. Menertawakan
  15. Otoritarianisme,
  16. Merawat Perlawanan, dan Bersenang-senang
  17. di Era Internet
  18. kiri kelabakan untuk merespons dengan tepat. Dari sinilah muncul
  19. spesifiknya. Kadang-kadang, meme bahkan berhasil menyampaikan informasi baru kepada penontonnya,
  20. Aksi langsung, karya, meme atau apapun itu yang
  21. gema sayap kanan terus berkembang, suara-suara kiri
  22. ONLYGOODCOPS
  23. IS ADEADCOPS!
  24. 網民國法跟的跟道美! 美義美藏美服品服 強發發發發
  25. ARTWORK BY MERZSAULT
  26. Menelusuri
  27. Jalur Alternatif
  28. JALAN
  29. MUILAHMEMBAC
  30. Pemblcd
  31. PERPUSTAKAAN JALANAN
  32. Mulailah
  33. Membaca,
  34. Semua akan.
  35. Tertipull
  36. Bahaya Laten
  37. Anti-Intelektualisme*
  38. oleh Zen RS
  39. semacam dildo dan vibrator-- bagi industri ini, bermuara pada apa yang
  40. diledek: "Ah, teori!" Ledekan yang begitu santai, sudah jamak dan lazim,
  41. ILLSURREKSHUN
  42. Kisealmve
  43. HOPE
  44. Manifesto Perpustakaan Jalanan "Merawat Ruang Bersama, Menegaskan Perlawanan!"
  45. PERPUS
  46. JALANAN
  47. 1. Anti Fasis: Kami melawan segala bentuk fasisme yang mencengkram
  48. 2. Anti Rasis: Kami menentang segala bentuk diskriminasi rasial,
  49. 3. Anti Seksis: Kami melawan seksisme dalam segala bentuknya, baik yang
  50. 4. Inklusif: Kami membuka ruang bagi semua orang tanpa memandang latar
  51. 5. Anti Militerisme: Kami menentang dominasi kekuatan militer di ruang
  52. 6. Otonom: Kami percaya pada kemandirian dalam mengelola ruang dan
  53. 7. Anti Otoritarian: Kami menolak segala bentuk otoritarianisme, baik
  54. Memahami Apa itu
  55. Perpustakaan Jalanan
  56. Oleh: Dodo
  57. Kegiatan yang Perpustakaan Jalan Bandung lakukan tentunya bukanlah
  58. kurun waktu 1775-1783. Terkuak sebuah fakta di kemudian hari yang
  59. terbentuk berbagai lembaga penerbitan buku dan debat publik yang
  60. diselenggarakan secara rutin. Dengan kondisi demikian, mereka (pejuang
  61. "Matikan Ponsel,
  62. Mulailah Membaca!"
  63. Pergulatan pemenuhan hak perempuan juga dialami oleh kaum
  64. KAMI INGIN
  65. TUMBUH DAN MAMBUSUK
  66. DIJALAN!
  67. PERPUSTAKAAN JALANAN BANDUNG (2024)

BDG

PERPUS JALANAN BDG MATKANUMULALAIMBCS

Tumbuh & Bersemi PERPUS Dijalanan

JALANAN

BDG

UILAILAH MEMBAC

MATIKANTV

Berangkat dari ketertarikan dan semangat yang sama yakni hal ihwal perbukuan, kami mulai berkumpul membawa koleksi buku masing-masing di tahun 2010. Di bawah terang lampu taman Cikapayang, Bandung, koleksi buku tersebut kami susun dan letakan di atas kain lusuh dan spanduk bekas sebagai alas. Di tempat itulah, di antara buku-buku yang saling berendeng dan berdampingan, berbagai wacana juga ide-ide berlalu-lalang dalam diskusi-diskusi kecil kami.

Tak jarang topik tiba-tiba berbelok ke arah obrolan tentang hidup dan hal-hal yang kami lalui setiap hari; pekerjaan, sekolah, asmara dan lain-lain. Ruang yang kami bangun, rupanya melampaui apa yang kami rencanakan sebelumnya. Alih-alih jadi ruang yang ekslusif di mana para kutu buku menclok, ruang yang kami bangun justru jadi ruang di mana orang-orang dapat berinteraksi dan bertukar cerita. Mendobrak batas-batas yang lahir dari kehidupan yang memisahkan kita jadi individu-individu yang terasing dan teralienasi.

Negara boleh saja bilang kalau mereka telah memfasilitasi itu semua. Membangun taman-taman dan melabelinya dengan ruang publik yang dapat diakses siapa saja secara cuma-cuma. Orang-orang dari berbagai latar belakang dan berbagai tujuan memang datang kapanpun mereka mau, sekedar rekreasi atau sekedar mampir sebelum berpindah ke tempat lain. Tapi tetap saja, orang-orang berjarak dengan satu sama lainnya. Tenggelam dalam urusan dan persoalan masing-masing yang mereka pikul sendiri atau bahkan bersaing satu sama lain, demi meniti karir atau bertahan hidup hari ke hari. Jika semua orang tetap terasing di ruang publik, apa yang membedakannya dengan ruang privat?

Itulah kenapa kami memilih taman sebagai tempat berkumpul dan berkegiatan.

Jika taman yang dibangun oleh pemerintah menciptakan ruang-ruang di mana

orang-orang tetap terjebak dalam labirin persoalan di hidupnya. Kami ingin mengembalikannya menjadi ruang di mana interaksi dan komunikasi itu terjadi, melampaui batas-batas yang selama ini mengisoliasi kami dan menjadikan kami sebagai individu yang terasing dan teralienasi.

Di ruang yang kami bangun ini, semua orang boleh datang, berkenalan dan menyapa kami. Baik dengan tujuan untuk sekedar membaca, ngobrol atau hanya mampir sejenak. Dengan berkenalan, kita mengenal satu sama lain dan terbebas dari prasangka dan pikiran buruk terhadap orang lain.

Sebab, bagaimanapun, kompetisi yang dibidani oleh sistem kapitalistik ini telah

menjadikan kita individu-individu yang penuh kecurigaan satu sama lain. Di

mana-mana, di sekolah, di tempat kerja dan di lingkungan tetangga, tak jarang perasaan resah dan terancam gagal dalam kompetisi di hidup ini hinggap di kepala kita. Hingga pada akhirnya hubungan dan kepedulian terhadap orang lain dibingkai sebagai hal-hal yang kontraproduktif dalam relasi yang transaksionis dan ekonomis.

Untuk itulah, perpustakaan yang hendak kami bangun hendak menegasikan itu semua. Dengan menciptakan ruang di mana semua orang dapat datang dan terlibat, kami berharap ruang yang kami ciptakan ini bisa membangun relasi baru melampaui relasi transaksional ekonomi yang selama ini menciptakan jarak di antara kita. Inilah perpustakaan versi kami, inilah Perpustakaan Jalanan Bandung, tempat kami tumbuh dan bersemi.

Menyemai Api, Melampaui Mimpi

Apa yang kami bicarakan sebelumnya tentang ruang dan relasi hanya akan menjadi sebatas mimpi tanpa pernah kami raih, jika tak ada praktik nyata. Sejak kami berkumpul di tahun 2010, kami lantas menginisiasi berbagai inisiatif kolektif dengan semangat kemandirian dan persahabatan.

Orang-orang mungkin akan melabeli kami sebagai aktivis, kiri, komunis, anarkis atau apa pun, tapi kami tak peduli. Buku-buku, zine-zine dan diskusi-diskusi yang kami jalani telah membuat kami mengerti bahwa di mana-mana orang-orang diperlakukan tidak adil.

Pada tahun 2010-2013, kegiatan kami di luar lapak buku sering berupa diskusi buku, aksi solidaritas terhadap korban penggusuran, dan dukungan terhadap petani yang mengalami kriminalisasi. Di akhir tahun 2013, kami mulai terlibat secara aktif dengan gerakan politik yang lebih luas. Bukan berarti aktivitas sebelumnya tidak politis, namun kini beberapa individu di antara kami mulai aktif dalam gerakan politik yang lebih terorganisir.

Salah satu momen penting adalah ketika kami terlibat dalam aksi penolakan

pertemuan WTO di Bali. Setelah itu, kami semakin aktif dalam konsolidasi

gerakan politik dan meningkatkan aksi solidaritas terhadap kelompok-kelompok yang tertindas dan komunitas yang terancam penggusuran. Kami merasakan perubahan signifikan dalam Perpustakaan Jalanan Bandung sendiri. Lapak buku kami semakin ramai, orang-orang dari berbagai latar belakang mulai berdatangan. Bahkan setelah kami terlibat dengan gerakan politik yang lebih luas, orang-orang yang mungkin dilabeli sebagai "aktivis" pun mulai bergabung dalam diskusi-diskusi kami. Sejak awal, kegiatan kami merupakan inisiatif pemuda kota yang bersifat inklusif—tidak sembunyi-sembunyi namun juga tidak terlalu formal.

Kami menciptakan ruang yang memungkinkan siapa saja untuk datang, entah untuk membaca buku atau berdiskusi tentang isu-isu yang terjadi di wilayah mereka masing-masing. Tahun 2013 menjadi titik balik bagi kami. Kegiatan kami menjadi semakin beragam dan intens. Kami mulai rutin mengadakan galeri jalanan, pemutaran film, dan pameran karya seni mingguan. Perubahan ini menjadi sumber semangat baru. Kami semakin sering berpartisipasi dalam aksi-aksi solidaritas dan mulai membangun jejaring dengan perpustakaan jalanan lain di berbagai kota.

Tahun 2016 menjadi momen yang tak terlupakan. Untuk pertama kalinya, kami merayakan ulang tahun Perpustakaan Jalanan Bandung dengan mengokupasi seluruh area taman. Selain lapak buku yang menjadi agenda utama, kami

mengubah taman menjadi ruang yang penuh kegembiraan dan kenyamanan—tempat di mana orang-orang tidak merasa sendirian.

Antusiasme pengunjung membuktikan bahwa ruang publik seharusnya hidup, dinamis, dan menjadi tempat bersosialisasi yang bebas dari logika transaksional. Kami mengadakan berbagai acara seperti malam puisi, galeri jalanan, pertunjukan musik akustik, sesi menggambar bersama, dan lapak gratis. Seluruh taman kami hias sesuai imajinasi kami, melampaui batasan-batasan konvensional yang sering mengekang kreativitas.

Ketika Represi Datang, Solidaritas Menguat

Tahun 2016 juga menjadi tahun yang penuh tantangan bagi kami. Di tahun yang sama dengan perayaan ulang tahun kami, Perpustakaan Jalanan Bandung mengalami tindakan pembubaran paksa yang dilakukan oleh aparat TNI. Beberapa minggu sebelum pembubaran, situasi di Bandung menjadi tegang akibat insiden penusukan yang melibatkan anggota TNI. Fokus aparat keamanan saat itu tertuju pada komunitas klub motor yang sering berkumpul di akhir pekan. Suasana malam di Bandung menjadi mencekam, mengingatkan pada era Orde Baru dengan pemberlakuan jam malam. Meski awalnya kegiatan kami tidak dibubarkan, situasi berubah secara mendadak. Tanpa peringatan, salah satu anggota aparat—berpakaian preman—tiba-tiba melakukan tindak kekerasan terhadap salah satu anggota kami dan memerintahkan pembubaran. Kami berusaha berdialog, namun sia-sia. Dalam waktu singkat, satu kompi pasukan Kodam TNI mengepung kami, memberikan ultimatum sepuluh menit untuk membubarkan diri.

Hingga kini, alasan sebenarnya di balik pembubaran paksa tersebut masih belum jelas. Meski ada pernyataan pers yang menyebut kegiatan kami sebagai "kedok", tuduhan tersebut tidak pernah bisa dibuktikan. Namun, di tengah situasi yang menekan ini, kami menemukan kekuatan baru.

Solidaritas Menyebar Serupa Dandelion

Satu minggu setelah pembubaran paksa, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan kegiatan rutin kami. Apa yang kami saksikan sungguh mengharukan: solidaritas mengalir deras dari berbagai penjuru. Taman Cikapayang dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk menunjukkan dukungan mereka.

Lebih dari itu, peristiwa ini justru memicu gelombang inspirasi. Banyak kelompok danindividu mulai menghubungi kami, tertarik untuk mendirikan perpustakaan jalanan di kota mereka masing-masing. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana memulai dan mengelola perpustakaan jalanan.

Kami menyambut antusiasme ini dengan tangan terbuka. Bagi kami, ini adalah bukti bahwa semangat literasi dan solidaritas masih berkobar di hati banyak orang. Kami percaya bahwa perpustakaan bisa diciptakan di mana saja—tidak harus di ruang-ruang formal yang kaku dan sunyi.

Dalam merespons minat ini, kami selalu menekankan kebebasan berekspresi. Kami tidak pernah menganggap Perpustakaan Jalanan Bandung sebagai "pusat" atau perpustakaan jalanan lain sebagai "cabang". Sebaliknya, kami mendorong setiap kelompok untuk mengembangkan identitas dan cara kerja mereka sendiri.

Kami dengan senang hati membagikan pengalaman, sumber daya, dan

bahkan materi seperti logo, buku-buku, dan zine. Namun, kami juga

mendorong mereka untuk bebas mengadaptasi, mengubah, dan mengembangkan segala sesuatu sesuai konteks lokal mereka. Penyebaran gagasan perpustakaan jalanan ini mengingatkan kami pada bunga dandelion.

Ketika tertiup angin, benih-benihnya menyebar ke berbagai arah, tumbuh di tempat-tempat yang tak terduga. Begitu pula dengan solidaritas dan semangat literasi yang kami semai—kini tumbuh dan berkembang di berbagai sudut kota, menciptakan ruang-ruang baru untuk belajar, berbagi, dan membangun komunitas.

Melalui pengalaman ini, kami semakin yakin bahwa pengetahuan dan solidaritas adalah kekuatan yang tak terbendung. Meski menghadapi tantangan dan tekanan, spirit Perpustakaan Jalanan terus hidup, beradaptasi, dan menginspirasi generasi baru pegiat literasi dan aktivis sosial di seluruh Indonesia.

Menertawakan

Otoritarianisme,

Merawat Perlawanan, dan Bersenang-senang

di Era Internet

Menjelang pemilu presiden AS tahun 2016 lalu, internet dibanjiri dengan meme-meme sayap kanan. Baik para komentator maupun pihak lawan dari sayap kanan terkejut dengan jenis mobilisasi baru ini. Sangat luasnya jangkauan dan intensitas konten yang dibuat dengan sangat sinis, merendahkan, dan sering kali secara terang-terangan fasis. yang langsung menjangkau jutaan orang di dalam maupun luar AS, benar-benar tak terduga. Strategi untuk melawan hal ini pun belum tersedia saat itu, dan khususnya pihak

kiri kelabakan untuk merespons dengan tepat. Dari sinilah muncul

ungkapan "the left can't meme" (kiri tidak bisa bikin meme), karena meme hampir tidak digunakan di kalangan kiri sama sekali, memberi sayap kanan keunggulan di ranah budaya internet.

Tapi itu dulu, banyak yang telah berubah sejak saat itu. Meme sebagai pembawa makna yang bersifat langsung dan emosional, seperti halnya politik masa kini. Agar berhasil, meme harus mampu memicu respons emosional dari orang yang melihatnya. Jika tidak, mereka hanya akan tenggelam dalam algoritma media sosial.

Untuk mencapai itu, meme sayap kiri saat ini sering kali merangkum topik-topik kompleks secara komedi dalam rata-rata satu hingga empat gambar. Topiknya bisa berupa konflik internal di kalangan kiri, diskusi teori, respons terhadap peristiwa terkini, komentar terhadap isu umum, hingga referensi budaya pop. Format meme sangat beryariasi, mulai dari teks saja, gambar dengan atau tanpa teks, kolase dari beberapa gambar, hingga gif dan video. Dengan kata lain, tidak ada batasan pasti tentang seperti apa meme seharusnya. Walaupun ada pola tertentu, banyak meme yang melampaui pola tersebut. Bahkan bisa dibilang, segala bentuk

konten daring yang menyampaikan makna yang mudah dipahami dan dapat dibagikan oleh orang lain, dapat disebut sebagai meme. Saat ini di mana pun politik sayap kanan dan otoritarianisme sedang meningkat, meme sayap kiri tampaknya muncul, baik sebagai strategi melawan maupun mekanisme untuk bertahan. membantumenciptakan ekspresi bersama atas Meme ketidakpuasan dan perlawanan terhadap status quo.

Meme yang dibagikan secara publik membuka ruang untuk menyadari bahwa kamu tidak sendirian dalam rasa kecewa, marah, atau tidak percaya terhadap suramnya realitas politik saat ini. Ada orang lain yang merasakan hal yang sama. Dengan cara ini, meme menjadi kendaraan yang kuat untuk emosi bersama, semacam penanda digital atas komunitas (politik) dan rasa memiliki satu sama lain di tengah dunia yang semakin tidak ramah.

Studio Pancaroba sebagai entitas yang kami rasa cukup sulit untuk didefinisikan apa, mencoba ikut berselancar menggunakan pendekatan meme tersebut, berangkat dari kegelisahan yang sama dan medium yang bisa apa saja kami mulai terlibat secara langsung dengan isu sosial dan keseharian yang ada di ruang publik maupun di internet. Pendekatan meme dan humor bisa jadi alternatif untuk melakukan propaganda saat ini, pesan mereka yang sederhana membuatnya mudah dipahami, bahkan jika audiens tidak sepenuhnya akrab dengan konteks

spesifiknya. Kadang-kadang, meme bahkan berhasil menyampaikan informasi baru kepada penontonnya,

misalnya tentang adanya masalah di infrastruktur publik yang aneh dan jelek. Lalu jika kita ingin menyampaikan pesan yang mungkin bagi masyarakat awam cukup sensitif, pendekatan humor dan meme bisa dicoba, untuk hanya sekedar memberitahukan info atau sebuah kejadian yang kelam. Dengan pendekatan ini masyarakat yang sebelumnya tidak tau bisa mencari tahu dan penasaran atau hanya sekedar tertawa dan mengernyitkan dahi pun tak apa.

Aksi langsung, karya, meme atau apapun itu yang

masyarakat maknai tidak hanya berisi kritik politik. Mekanisme reproduksi sosial, gentrifikasi, masalah di industri kreatif hingga ketidakmampuan kalangan kiri sendiri untuk sesekali menciptakan alternatif yang layak juga sering jadi bahan meme. Dengan begitu, kita bisa mengundang penontonnya untuk mempertanyakan dan mengkritisi dunia luar, sekaligus posisi mereka sendiri di dalamnya.

Ada beberapa hal yang harus kita siasati jika memilih alternatif ini, adalah algoritma media sosial, Karena ruang

gema sayap kanan terus berkembang, suara-suara kiri

bisa dengan mudah dibungkam dan dipinggirkan di platform media sosial. Mereka dengan kekuatannya melakukan upaya terang-terangan untuk mengarahkan opini publik secara rutin untuk melawan apa yang kita yakini. Tapi ingat, kita bisa hadir dalam berbagai bentuk dan menjalankan beragam fungsi.

Kita bisa mengkritik dan mengecam; mengejek dan menyerang; menghibur dan menyemangati; mengajak introspeksi sekaligus melakukan analisa ke luar. Selain itu, kita terbebas dari batasan yang biasanya diterapkan pada banyak bentuk komunikasi publik, seperti aturan kata, format, atau pola yang sudah mapan untuk menyampaikan informasi. Meme bersifat tajam, cerdas, dan sering kali to the point bahkan keras, terutama saat menyerang status quo yang dianggap merugikan planet ini dan kesejahteraan kita.

Di tengah meningkatnya otoritarianisme dan mobilisasi sayap kanan yang semakin meluas di berbagai belahan dunia, meme menawarkan semacam penghiburan yang memaksa kita untuk mengenali masalah bersama kita. Dengan mengekspresikan masalah-masalah ini secara humoris, meskipun terkadang mendekati sinis. Meme menciptakan pemahaman emosional bersama: ada sesuatu yang benar-benar salah.

Meme dengan demikian bisa menyebarkan, dan bahkan sebagian bisa menciptakan, persepsi kolektif tentang apa yang keliru dalam politik hari ini. Menyadarkan akan suatu masalah, baik secara faktual maupun emosional.

Merangkum, menggabungkan dan Menyusun ulang, celotehan kawan Fabio Braun Carrasco, doctoral student at the Institute for Asian and African Studies, Humboldt University Berlin (Germany) and the Universidad del Salvador, Buenos Aires (Argentina)

ONLYGOODCOPS

IS ADEADCOPS!

網民國法跟的跟道美! 美義美藏美服品服 強發發發發

aCmmmm.a.mmCm.a.0.

ARTWORK BY MERZSAULT

Menelusuri

Jalur Alternatif

oleh Hilmy Fadiansyah

Mari kita mulai tulisan ini dengan pandangan sinis tentang wacana alternatif.

Di beberapa momen, kata alternatif sering sekali kita temukan; entah itu untuk tandingan, jalan pintas, hak yang berbeda atau pemaknaan lain dari penggunaan narasi alternatif. Dalam berbagai peristiwa, terkadang pemecahan masalah menggunakan jalur "alternatif" terlihat seperti sikap pembenaran, bergemuruh di balik jalan tersebut sebagai tindakan perlawanan, atau bahkan lebih busuknya lagi jika ada buntut kepentingan mendominasi (untuk elit, dsb).

Kesan alternatif juga-dalam beberapa kasus-kadang jadi terkesan eksklusif, hal ini dapat dilihat dari gejala ketika sebuah pergerakan mulai menutup diri saat gerakan tersebut sudah setara, atau melampaui apa yang mereka tandingi. Keterbukaan ruang bagi pihak lain pelan-pelan tertutup, mengkultuskan diri yang memiliki peranan penting, menjadi si "paling" diantara jinis-jinis lainnya yang serupa. Keterlenaan ini yang banyak ditemukan pada gerakan dengan embel-embel alternatif-dalam bidang apapun.

Memilih untuk "berbeda", dengan tujuan apapun, saya masih menganggap itu adalah upaya terhormat, berusaha untuk menandingi hal yang dianggap mengganggu, memiliki niatan untuk menciptakan tatanan baru. Akan menjadi paradoks, memang, ketika mengikrarkandiri untuk jadi alat tanding sesuatu (yang sebagian besar ditujukan kepada hal lebih mapan) dengan ideologi yang dimiliki, namun kalau kebablasan atas apa yang dilakukan dan merasa superior, pada akhirnya sistem dan gagasan yang dibangun memiliki nilai yang sama, hanya beda "baju" saja. Jadi apa bedanyamembuat gerakan alternatif?

Dalam tulisan personal ini saya berusaha seobjektif mungkin, tanpa menghakimi pihak manapun. Memang benar bahwa budaya tanding (disini saya anggap menjadi kata lain dari gerakan alternatif) menciptakan jalur baru untuk seseorang dapat memilih jalan mana yang ingin ditempuh. Tetapi disisi lain, aktivitas atau gerakan yang dilakukan seringkali tidak disadari; seperti pelukis yang ketika ditanya maksud dari lukisannya menjawab "Ah, nyieun we da resep". Tidak salah memiliki pernyataan tersebut, toh tidak ada aturan atau pihak yang akan menyalahkan. Namun sekali lagi, akan jadi berbeda

JALAN

nilainya jika terlalu naif, tanpa ada kesadaran akan dan pegangan tujuan hidup. Sekalipun bermain bersenang-senang, pada akhirnya hal "naif" tersebut adalah awal untuk menuju tujuan yang diinginkan, seiring berjalan dengan konsisten dan berkelanjutan, setidaknya, *** BDG Saya cukupkan pandangan sinis tentang apa itu alternatif, bagian di atas saya anggap sebagai bahan refleksi saja, setidaknya untuk diri saya sendiri yang memiliki perhatian lebih terhadap wacana "alternatif". Pada posisi ini saya tak ingin juga mencampakkan upaya kawan-kawan yang masih bertahan dengan gagasan dan gerakannya, walau babak belur. Untuk melanjutkan refleksi ini, saya coba merangkum beberapa contoh kasus yang pernah dilakukan dalam lingkup wacana gerakan alternatif, sehemat dan sependek ingatan saya.

Mari berselancar menuju 30 tahun yang lalu, periode 90-an, zaman gelap di era akhir kepemimpinan jendral jagal. Pada masa itu, tepatnya diBandung, muncul beberapa insan-insan "radikal" yang melabeli drinya dengan label punk. Sama seperti anak muda usia 20an lainnya; semangat yang berapi-api, ingin tampil beda dan kehausan akan informasi yang baru. Entah disengaja atau tidak, budaya populer yang masuk ke Bandung, keterbatasan arus informasi, dengan segala k

MUILAHMEMBAC

remaja-remaja ini memilih punk sebagai produk budaya yang diimplementasikan menjadi sikap, dandanan serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Singkat cerita, setelah mengenal lebih jauh dan menjalani hidup sebagai seorang "punk", inisiasi untuk berjejaring semakin luas. Disinilah muncul pertukaran pengetahuan melalui media yang-mungkin-masih baru di masa tersebut, yaitu zine. Pada masanya, jelas bahwa zine menjadi sebuah media alternatif, entitas baru untuk penyebaran informasi. Produk yang dapat dibuat dengan isi kantong yang bersahabat, distribusi secara mandiri dan kebebasan menulis dan menuangkan ide berpikir tanpa adanya "tekanan" dari pihak manapun.

Pemblcd

bandur emei creati city

Zine yang bersifat mandiri, selaras dengan semangat punk yang diusung pada masa tersebut. Dari Tigabelas Zine sampai Membakar Batas, dan masih banyak lagi zine-zine yang tersebar kreasi anak muda di Bandung. Zine sebagai media alternatif yang dapat mengakomodir ide, gagasan dan pengetahuan yang otonom menjadi alat tanding untuk media arus utama yang terdapat kontrol dari pemodal, serta memiliki sistem birokrasi dalam hal konten dan struktur yang bertentangan dengan budaya barudak saat itu. Sampai ada slogan "Fuck Magazine" di salah satu fanzine (saya lupa dalam fanzine garapan siapa).

Sama halnya dengan perkara musik, pertentangan soal independen dan mainstream. Di masa yang sama, label independen menjadi jalur alternatif pegiat musik yang ingin mendistribusikan karyanya secara mandiri, bebas dari kekangan industri major. Kembali lagi, pada masanya semangat DIY menjadi bensin utama para pegiat musik-di semua pemangku kepentingan-untuk membuat gerakan baru; baik itu penyebaran hasil rekaman, publikasi karya sampai organisir acara dilakukan secara mandiri.

Dekade 2000an, ketika usia semakin matang dan pemahaman soal sikap serta ideologi yang dipegang kian mantap, muncullah inisiasi pemakaian ruang-ruang yang dapat menjadi media untuk aktivasi. Hadir di sana iFVenue, Ultimus, Common Room dan ruang-ruang kecil lainnya yang menjadi titik temu kawan-kawan dari berbagai komunitas dan lintas disiplin. Untuk melakukan diskusi rutin, pertunjukan musik, pameran, juga ruang aman bagi beberapa kawan yang membutuhkan.

Selain menjadi media alternatif, hadirnya ruang-ruang tersebut juga secara semangat menjadi daya tanding untuk ruang besar (GOR Saparua, salah satu contohnya) yang telah dikooptasi oleh pihak yang "tidak sejalan" dengan semangat kawan-kawan pada saat itu. Disisi lain juga eksisnya ruang-ruang yang tersebar menjadikan aktivitas di Bandung tidak tersentralisasi, lebih parahnya lagi mengkultuskan kepada pemangku modal yang dapat mendikte gerakan. Upaya desentralisasi pada saat itu berhasil dilakukan, kolaborasi antar kolektifmenjadi cair karena memiliki antusias yang sama.

Gerakan "alternatif" di Bandung sudah bersemi sejak lama, tentu dengan dinamika yang naik turun, konflik pun jelas tak terhindarkan. Bagaimanapun, siklus terus berputar, dan itu nyata adanya. Ruang yang berhenti, kolektif bubar jalan, orang-orang yang tiba-tiba berpindah haluan, tetapi karena habit yang telah lama terbentuk, generasi baru pun tumbuh, gerakanyang diorganisir akan selalu ada walau dengan cara yang berbeda tentunya. Hal yang sangat patut untuk disyukuri. AAA Yang menjadi catatan, bagaimana menyikapi dan menyusun cara pandang kita pada wacana "alternatif". Jika mengerucut pada media, hari ini pengertian media pun sangat luas, dari ihwal yang paling mikro, diri kita sendiri pun adalah media. Jika media alternatif masih dalam lingkup alat tandingan, pertanyaannya apa yang harus ditandingi? Siapa"musuh bersama" yang perlu dilawan? Sebesar apa urgensi memakai narasi alternatif?

Saya coba menyusur pertanyaan naif di atas: "musuh" pasti akan selalu ada, di era (yang katanya kontemporer ini) sekarang mungkin telah berada di level yang berbeda, "musuh" yang multi-dimensi.

Untukmencapai imaji-imaji melaluii jalur "alternatif", mungkin hari ini bergerak secara dinamis dan adaptif, melakukan hal kecil yang berkelanjutan dan bertanggung jawab (diskusi rutin, okupasi ruang publik, penyebaran bacaan dan pengetahuan melalui kanal apapun) rasanya menjadi terkecil paling gerakan yang memungkinkan untuk dilakukan, rutin dan konsisten. Karena wacana alternatif, dalam hemat saya; otonom, kolaboratif, inklusif, memiliki kebebasan dalam bentuk apapun (dengan syarat tak tertulis yang semuanya sudah paham, pastinya). Melalui media apapun.

Pada akhirnya jawaban konkrit ada pada pilihan masing-masing, tulisan ini sama sekali tidak ada tendensi untuk merumuskan satu jawaban, apalagi mendikte. Tapi saya percaya, bahwa di Bandung, khususnya, kawan-kawan sudah memiliki modal dasar untuk "bersenang-senang", ratusan kisah yang pernah terjadi adalah buktinya. Dan sekarang tinggal melanjutkan, benar salah mah belakangan.

Gaspol terus, barudak!

PERPUSTAKAAN JALANAN

Mulailah

Membaca,

ataul kita

Semua akan.

Tertipull

Bahaya Laten

Anti-Intelektualisme*

oleh Zen RS

Anti-intelektualisme adalah pandangan, sikap, dan tindakan yang merendahkan ide-ide, pemikiran, kajian, telaah, riset, diskusi, debat.Dalam Richard Hofstadter, hingga rumusan diindikasikan dengan anti-intelektualisme perendahan, purbasangka, penolakan, dan perlawanan yang terus menerus, ajeg dan konstan, terhadap dunia ide dan siapa pun yang dianggap menekuninya. Turunan dari hal itu adalah syak wasangka yang akut kepada filsafat, sains, sastra, seni – pendeknya: mencurigai teori. Secara teori meniscayakan kesediaan etimologi, mempertimbangkan, berspekulasi, menggugat, mempersoalkan (dari kata theoria dan theorein dalam Yunani). Teori tak akan pernah lahir dari para "pemeluk teguh" kebenaran, yang memandang segala sesuatu sebagai beleid-beleid, pasal-pasal, ayat-ayat, yang mesti diterima tanpa syarat, juga mesti bulat, tanpa cacat, minus keraguan.

Dalam ilmu pengetahuan, teori selalu merupakan agregasi tiada henti dari berbagai fakta, beragam hipotesa, yang satu sama lain saling berdialog dan kadang bertarung, sampai kemudian dapat ditemukan sebuah rumusan. Dalam perjalanannya, setiap rumusan, katakanlah sebuah teori, juga akan (bukan harus, karena akan mengandaikan sesuatu yang alami, niscaya terjadi) menghadapi tantangan dari fakta-fakta baru, konteks-konteks baru, temuan baru.

Melalui falsifikasi ala Popperian atau patahan paradigmatik ala Thomas Kuhn, teori terus berkembang, niscaya bertumbuh. Masyarakat yang didominasi sikap anti-intelektualisme, dengan sendirinya, sulit melahirkan ilmu pengetahuan. Masyarakat jenis itu yang tidak cukup memiliki kadar asam-basa yang dibutuhkan bagi merekahnya kecambah peradaban. Sebab hanya butuh seekor angsa berwarna hitam untuk mematahkan "teori" bahwa angsa itu berwarna putih. Kebebalan – yang dicirikan oleh sikap tidak sudi mempertimbangkan lagi dan meninjau ulang; ingat soal etimologi teori dari theoria dan theorein-- akan membuat fakta tentang seekor angsa berwarna hitam bisa dibantah dengan rupa-rupa dalih, misalnya: itu bukan warna hitam, karena kadar hitamnya cuma 75 persen.

Anti-intelektualismetidaksama dengan anti-logika atau anti-rasio(nalisme). Logika hanyalah salahsatu metode penalaran, cara berpikir, dan bukan satu-satunya – apalagi jika logika semata dirujuk kepada silogisme aristotelian. Seseorang bisa tekun dengan nalarnya, ber-uzla, bermeditasi berkontemplasi dengan akal-budi, melalui jalur yang lain. Metode kreatif di kalangan para penyair, misalnya, sangat mungkin tidak bekerja dengan logika macam itu.

Dari situlah menjadi lebih mudah memahami anti-rasio(nalisme). Dirunut jejaknya sejak Yunani kuno, dan menemukan bentuknya yang mapan melalui pentahbisan res-cogitan (aku-berpikir) sebagai fakultas puncak kemanusiaan oleh Rene Descartes, rasionalisme sudah ditentang oleh kalangan romantik (terutama dari Jerman) sejak abad 18 dan memuncak melalui Nietzsche. Melalui pembelahan spirit Dionysian dan Apollonian, Nietzsche tampil menjadi advokat paling keras kepala dari pandangan yang menganggap bahwa kemabukan – yang diwakili dewa anggur bernama Dyonisius—sebagai cara paling menjanjikan untuk menjalani hidup, dan bukan pandangan Apollonian – yang diwakili dewa matahari dan kedokteran bernama Apollo—yang memuja keseimbangan, tatanan, pengendalian diri, juga pencerahan (yang berporos pada akal-budi dan nalar). Itulah mengapa, bagi Nietzsche, spirit agung Yunani itu terletak pada (drama) tragedi bukan filsafat.

Selain Nietzsche, anti-rasionalisme ini juga banyak "cabangnya", salah satu di antaranya tentu saja Sigmund Freud. Dialah "murid" Nietzsche dari lapangan psikologi, walau awalnya metode psikoanalisis Freud yang meneliti mimpi dianggap sebagai pseudo-sains. Melalui Freud, akhirnya, manusia mulai menyadari bahwa banyak hal dalam diri tidak ditentukan atau dipengaruhi secara sadar atau oleh kesadaran, melainkan oleh alam bawah sadar, yang disebut Freud sebagai "id". Nalar, akal budi, hukum, hingga agama hanyalah supra-struktur yang ditentukan oleh "id". Bukan "saya berpikir maka saya ada" ala Cartesian, melainkan "saya tidak sadar maka saya ada".

Anti-intelektualisme sudah ada sejak manusia mengenal kegiatan intelektual. Jika membaca buku Fernando Baez, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, daftar kebencian terhadap ide-ide sudah ada sejak zaman sebelum masehi. Dari era Raja Joachim pada 700 tahun sebelum masehi hingga ketika Gramedia memusnahkan buku karena diprotes FPI. Dari penghilangan paksa buku kedua Poetics karya Aristoteles tentang komedi hingga pemusnahan variasi al-Quran demi kodifikasi Mushaf Utsmani. Dari penghancuran Bait al-Hikmah di Baghdad oleh bala tentara Hulagu Mongol hingga pemboman perpustakaan Baghdad oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat di awal abad-21. Dari dibumihanguskannya koleksi Pramoedya hingga pembubaran paksa lapak Perpustakaan Jalanan di Dago.

Itu semua bentuk-bentuk anti-intelektualisme yang kasar, telanjang, dan terejawantah dalam laku fisikal yang kasat mata. Yang lebih berbahaya justru anti-intelektualismeyang samar-samar, tidak terasa secara langsung, namun berlangsung secara masif dan sistematis. Untuk yang terakhir ini, banyak literatur menyebutkan, sudah dimulai sejak merekahnya fajar revolusi industri.

Revolusi industri mengubah lanskap Eropa dan -- pelan tapi dengan tingkat kepastian yang tak tertahankan—juga mengubah wajah dunia. Industri membutuhkan banyak sekali pekerja, dari tingkat para penemu teknologi, direktur, manajer, hingga buruh rendahan. Dan itu membutuhkan pendidikan yang spesifik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, pendidikan dirancang untuk menjawab kebutuhan produksi (baca: industri). Pendidikan-pendidikan keteknikan, ataulebih tepatnya: pendidikan bercorak spesialis, berkembang dengan pesat. Dimulai dari revolusi industri inilah ilmu-ilmu bersifat teoritis pelan-pelan dikalahkan, atau kurang diminati, dibandingkan ilmu-ilmu praktis.

Dalam bentuknya yang kiwari, fenomena di atas terwujud dalam -- misalnya-pengkondisian agar mahasiswa lulus dalam empat tahun, jika perlu kurang dari empat tahun. Tidak perlu berlama-lama di kampus, pelajari yang penting-penting saja (baca: buku diktat), tidak perlu membaca yang aneh-aneh, tidak

Dari sanalah lahir apa yang disebut sebagai "kredensialisme" (diambil dari bahasa Latin, "credere", yang berarti "to believe"). Term "kredensial" merujuk pengakuan dari pihak ketiga yang memiliki otoritas tertentu bahwa seseorang memiliki pengetahuan dan izin yang diperlukan terkait bidang tertentu dalam pengetahuan. Secara fisik, kredensial dibuktikan melalui ijazah. Otoritas yang memberi bisa macam-macam: sekolah, perguruan tinggi, lembaga profesi hingga institusi agama.

Persoalannya menjadi lain ketika sertifikat dijadikan standar untuk menilai validitas argumentasi seseorang. Kredensial, sekali lagi, seharusnya menjadi salah satu rujukan untuk memecahkan persoalan dengan mencari seorang yang dianggap pakar. Jika seseorang punya kredensial, diasumsikan ia dengan sendirinya adalah seorang pakar. Tapi hanya berhenti di sana saja! Seorang pakar pun bisa salah berargumentasi, sebagaimana seorang awam pun bisa benar membangun argumen. Kekokohan argumentasi seseorang diukur dengan koherensi antara data-data dan caranya menarik kesimpulan, bukan berdasarkan selembar ijazah. Kredensialisme, kira-kira, bisa diwakilkan dengan contoh kalimat: "Aku profesor, maka argumentasiku sudah pasti benar. Kau lulusan SMA, sudah pasti argumentasi kau salah."

Dunia masih dipenuhi para pemuja kredensialisme, tak terkecuali di Indonesia. Ini sangat berbahaya karena, terutama, ilmu pengetahuan diukur semata sebagai formalisme yang bercorak birokratik. Dalam bentuknya yang terburuk, kredensialisme bisa menjerumuskan ilmu pengetahuan semata sebagai doktrin dan para pemilik kredensial tak ubahnya pemimpin sekte yang selalu benar. Pasal 1: pemilik kredensial tidak bisa salah. Pasal 2: jika pemilik kredensial ternyata salah, maka kembalilah ke pasal 1.

Kredensialisme adalah gejala di mana-mana. Di Indonesia, misalnya, seorang Ph.D., bisa dengan gampang hilir mudik di televisi sebagai pengamat. Dianggap pakar karena sudah punya ijazah doktor ilmu politik. Tidak lagi dipersoalkan apakah yang bersangkutan masih rutin melakukan penelitian atau tidak, masih membaca buku-buku terbaru atau tidak, dan apakah masih menulis atau tidak. Tidak penting lagi proses bernalar di belakang layar, yang penting bicara dengan licin di televisi. Syukur-syukur punya koneksi dengan faksi-faksi elit politik.

Tidak terlalu keliru jika ada yang mengatakan mewabahnya fenomena pakar/pengamat sebagai gejala anti-intelektualisme.

Nalar pendidikan yang menempatkan sekolah sebagai pemuas nafsu -

semacam dildo dan vibrator-- bagi industri ini, bermuara pada apa yang

saya sebut di awal sebagai "kecurigaan kepada teori".

Teori, juga aktivitas mempelajari dan menelaah teori, dianggap sebagai hal yang tidak praktis, mengawang-awang, ndakik-ndakik, tidak membumi, dan tak memberikan dampak apa pun pada kehidupan. Jika pun teori dipelajari, pada awal dan pada akhirnya, itu dilakukan untuk menciptakan penemuan-penemuan baru, atau menjawab persoalan-persoalan, yang dibutuhkan dan dihadapi oleh industri. Teori kadang direndahkan sebagai mimpi basah para pelamun, sebagai takhayul lama yang tak berguna, karena para resi sudah tidak sesuai dengan zaman, dan para empu bisa diciptakan hanya dalam 7 semester.

Dalam konstelasi sejarah politik di Indonesia, khususnya dimulai sejak Orde Baru, dan inilah yang akan menjadi pokok pembahasan kita sore ini, kecenderungan anti-intelektualisme, dan syak wasangka kepada teori, dijadikan alasan untuk mencurigai diskusi, debat, telaah, dan kajian. Studi Daniel Dhakidae yang menghasilkan buku Cendekiawan dan Kekuasaan, memuat banyak sekali contoh kasus bagaimana komunitas-komunitas akademik (termasuk Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial/ HIPIIS, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia/ISEI) seperti menjauhi teori dan sibuk serta sigap menjawab kebutuhan-kebutuhan rezim yang sedang tergila-gila dengan pembangunanisme. Jika pun ada teori, ia lebih menyerupai "bispak": bisa dipakai untuk melegitimasi kebijakan.

Dengan alasan tidak praktis (persisnya: tidak praktis bagi kepentingan pembangunanisme ala Orde Baru), diskusi-diskusi dicurigai, kajian-kajian yang tidak lazim, hingga debat di parlemen sekali pun dihalangi dan dibatasi. Jangan heran Soeharto selalu menjadi presiden secara aklamasi, sebab mufakat adalah keutamaan, dan ketidaksetujuan sebagai tidak berkepribadian Timur. Teori, sekali lagi, tidak cocok dengan kultus terhadap mufakat, karena teori pada dasarnya membuka diri pada retakan, pada kesalahan, pada fakta-fakta dan temuan baru.

Dengan sendirinya budaya kritik dihambat. Macam-macam caranya: dari mulai interogasi, kemudian ditangkap, diadili dan akhirnya dipenjara-hingga omong kosong slogan "kritik harus bertanggungjawab", "kritik harus disertai solusi". Siapa pun yang mengkritik, tapi tak disertai solusi, sering

diledek: "Ah, teori!" Ledekan yang begitu santai, sudah jamak dan lazim,

seakan angin lalu dan memang dilakukan dengan sambil lalu, namun sesungguhnya mencerminkan sesuatu yang begitu serius.

Slogan "kritik harus bertanggungjawab" dan "kritik harus disertai solusi" ini segendang-sepenarian dengan doktrin yang sampai sekarang masih sering kita lihat di berbagai tempat: "tamu yang menginap lebih dari 24 jam harus lapor kepada RT/RW dan Babinsa". Semua itu dialas-dasari oleh nalar: kontrol! (bisa dihilangkan huruf "r"-nya jika diniatkan memaki Orde Baru).

Mestikah diherankan jika perlawanan sistematis terhadap Orde Baru, dimulai pada awal dekade 1980an, dipupuk melalui kelompok-kelompok diskusi. Seakan mengulang apa yang dilakukan para seniornya di Stovia, atau yang dilakukan di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh, studi klub mewabah di berbagai kota. Dari studi-studi klub inilah, yang mendiskusikan berbagai tema dan isu, bermunculan bibit-bibit perlawanan "konkrit" terhadap rezim Orde Baru.

Anti-intelektualisme tidak ada urusannya dengan tingkat pendidikan, juga tidak bergantung pada latar belakang militer atau sipil. Sangat banyak contoh, lagi-lagi bisa dimulai dengan menukil fakta-fakta yang disusun Fernando Baez, juga dengan melihat kenyataan sehari-hari di sekitar kita saat ini, yang memperlihatkan dengan telanjang betapa anti-intelektualisme sangat jamak berlangsung di kepala orang-orang yang berpendidikan, juga di kalangan sipil.

Hoax tersebar dengan luas dalam kecepatan tak terhingga, tautan sebuah tulisan/berita disebarkan hanya karena judulnya, politikus diserang karena lingkar perutnya atau karena warna kulitnya, video ceramah pendakwah dibagikan jutaan kali hanya karena lidahnya licin membantah Darwin, serial kultwit dijadikan bahan untuk berdebat seakan telah membaca sebuah jurnal ilmiah yang disunting editor profesional dan diperiksa para pembaca ahli sekelas para profesor. Segenap perilaku macam itu berlangsung dengan masif, seakan hal biasa saja, namun sesungguhnya merupakan bentuk tak kasat mata dari anti-intelektualisme, sekaligus versi lain dari pembubaran paksa Perpustakaan Jalanan dan pertunjukan teater atau diskusi dan pembakaran buku oleh FPI.

Orang seperti Felix Siauw yang berkampanye perempuan-ibu bekerja sebagai marabahaya, sebagai misal, bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Ia bisa menulis buku, dan sampai batas tertentu mampu mengartikulasikan pikirannya dengan cara yang lumayan runtut. Ia sama berpendidikannya dengan, misal yang lain, Letjen (purn) Kiki Syahnakri yang nyambung-nyambungin Aristoteles, materialisme, marxisme dan ateisme atau Jenderal Gatot Nurmantyo yang gagal membedakan kapitalisme, sosialisme, komunisme dan (lagi-lagi) dengan ateisme. Juga sepadan dengan Letkol Desi Ariyanto yang ngacapruk perkara buku-buku yang dibawa Perpustakaan Jalanan itu sudah "diketahui kredibilitasnya" dan "diijinkan untuk dibaca oleh kaum muda, atau malah buku-buku yang didalamnya berisi topik yang tidak sesuai".

Anti-intelektualisme di tubuh militer Indonesia menjadi lebih berbahaya karena mereka memegang bedil. Dengan bedil, dan keterampilan fisik yang terlatih, juga legitimasi politik, militer bisa tak terhentikan ketika bertindak dengan semangat anti-intelektualisme. Situasinya menjadi lebih mudah bagi militer karena, tidak bisa tidak, mereka tak sendirian berdiri di bawah payung anti-intelektualisme. Militer ada di medan energi yang sama dengan khalayak dalam soal anti-intelektualisme ini. Pembubaran diskusi buku-buku kiri oleh militer, misalnya, menjadi dimudahkan karena mendapatkan legitimasi sosial dari khalayak yang masih juga tidak mau peduli dengan temuan-temuan terbaru soal 1965 yang membantah pandangan Örde Baru.

Politik Indonesia hari ini bukan seperti ketika Sjahrir menentang bandul politik Soekarno-Hatta di awal kemerdekaan dengan menerbitkan pamflet Perdjoangan Kita. Juga bukan lagi zaman ketika Tan Malaka, di dalam penjara, menulis buku tipis berudul Thesis, yang kemudian dibantah oleh Alimin dengan buku tipis berjudul Analysis. Ini zaman ketika walikota gaul mempromosikan jenderal penculik sebagai calon presiden dengan alasan wajah yang ganteng, saat seorang gubernur pemarah dibela setengah mampus karena merekam setiap rapat-rapat yang dipimpinnya, ketika seorang presiden didukung habis-habisan sebagai representasi wong cilik hanya karena merayap dari bawah sebagai tukang mebel -- sekaligus dihinakan karena wajah ibunya dianggap terlalu muda untuk menjadi ibu kandungnya. Kita sedang hidup di lingkungan anti-intelektualisme, dan ini menjadi alasan yang sangat kuat untuk waspada agar kita tak terjerembab pada lubang serupa. Sebab kadang seseorang tidak tahu kalau dirinya sudah tidak lagi berpikir dengan kritis. Tahu-tahu seseorang, dan semogalah kita tidak termasuk di dalamnya, menjadi pembela sesuatu yang kita tidak tahu persis apa duduk perkaranya. Karena seringkali kita merasa sudah berpikir, padahal yang bekerja sebenarnya hanyalah favoritisme, subyektifisme, dan pikiran-pikiran ideologis yang dogmatis dan membeku.

ATAS

*) Ditulis sebagai pengantar diskusi "Politik dan Maraknya Anti-Intelektualisme" di Co-op Space, Universitas Parahyangan, Bandung, pada 2 September 2016

WE NEED THE JUSTICE NOT FUCKING BULLSHIT WHAT ARE U SEE? WHERE ARE THE PEACE? NEW PERSON, SAME BASTARD NEW PERSON, SAME BASTARD

STILL NOT LOVING POLICE! ARTWORK BY BANYENG

ILLSURREKSHUN

COMIC STRIP BY MERZSAULT

Kisealmve

m

HOPE

Hor

Manifesto Perpustakaan Jalanan "Merawat Ruang Bersama, Menegaskan Perlawanan!"

PERPUS

JALANAN

BDG

Perpustakaan Jalanan, terbentuk sebagai ruang otonom yang menekankan pentingnya pendudukan ruang publik sebagai milik bersama, bukan alat kekuasaan segelintir elit atau korporasi. Di tengah semakin memburuknya realitas ekonomi-politik Indonesia, kami hampir satu dekade lalu memilih jalan perlawanan dengan menduduki ruang-ruang ini, menghadirkannya kembali sebagai tempat belajar, berbagi, dan menyemai kesadaran kritis dari bawah ke atas. Kami menolak diam di tengah represi, eksploitasi, dan ketidakadilan yang mengancam kehidupan sehari-hari rakyat.

Perpustakaan Jalanan bukanlah tentang proyek mencerdaskan bangsa— ini bukan tentang memposisikan diri kami sebagai pendidik atau penyelamat yang berusaha meningkatkan kemampuan intelektual rakyat. Ini adalah tentang perebutan ruang. Kami hadir untuk mendefinisikan kembali ruang publik sebagai tempat yang bebas dari cengkeraman kuasa negara, kapitalisme, dan kekuatan militer. Ini adalah ruang di mana kita bisa berkumpul tanpa pengawasan, tanpa rasa takut, dan tanpa batasan. Dalam ruang ini, kita menciptakan kesempatan untuk belajar dari satu sama lain, berbagi realitas yang kita hadapi, dan menyusun strategi perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan yang berusaha mencabut hak kita atas kota dan kehidupan yang adil.

Kami menolak gagasan paternalistik bahwa rakyat perlu "dicerdaskan" oleh otoritas tertentu. Sebaliknya, kami percaya bahwa rakyat memiliki potensi untuk membangun kesadaran kritis mereka sendiri melalui solidaritas dan pengalaman bersama. Oleh sebab itu Perpustakaan Jalanan menjadi penting untuk menyadari bahwa perebutan ruang adalah bagian dari perebutan hak hidup dan kebebasan dari penindasan ekonomi-politik kapitalistik dan otoritarianisme yang semakin mencengkeram. Ruang ini adalah perlawanan nyata yang berlandaskan prinsip-prinsip dasar berikut:

1. Anti Fasis: Kami melawan segala bentuk fasisme yang mencengkram

ruang-ruang publik dan membatasi kebebasan berekspresi, serta segala praktik kekerasan negara dan dominasi satu kelompok atas yang lain.

2. Anti Rasis: Kami menentang segala bentuk diskriminasi rasial,

memperjuangkan persamaan hak, dan menghargai keragaman sebagai fondasi kebersamaan yang sejati.

3. Anti Seksis: Kami melawan seksisme dalam segala bentuknya, baik yang

dilakukan oleh individu maupun sistem yang mempertahankan kondisi ini. Kami memperjuangkan kesetaraan gender dan kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa batasan normatif.

4. Inklusif: Kami membuka ruang bagi semua orang tanpa memandang latar

belakang perbedaan spektrum ideologi anti-kapitalis, identitas, gender, atau perbedaan lainnya, dengan semangat gotong royong dan persatuan dalam perlawanan.

5. Anti Militerisme: Kami menentang dominasi kekuatan militer di ruang

sipil dan berjuang melawan segala bentuk represi yang dilakukan oleh aparatus negara yang bersenjata, karena sejatinya militer harus tetap berdiam diri di barak!.

6. Otonom: Kami percaya pada kemandirian dalam mengelola ruang dan

aktivitas tanpa intervensi dari otoritas kekuasaan negara. Kami membangun jaringan solidaritas secara mandiri, berdasarkan partisipasi sukarela dan kesetaraan.

7. Anti Otoritarian: Kami menolak segala bentuk otoritarianisme, baik

yang berasal dari negara, korporasi, atau lembaga lainnya yang bertujuan untuk mengontrol dan menguasai kehidupan rakyat.

Kami berkeyakinan bahwa perjuangan ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menciptakan dunia yang lebih adil, setara, dan bebas dari penindasan-yang tumbuh dari bawah ke atas untuk kepentingan rakyat dibawah demokrasi sejati, bukan demokrasi kotak suara. Perpustakaan Jalanan hadir sebagai ruang perlawanan yang tidak hanya fisik, tetapi juga ideologis. Melalui perebutan ruang ini, kami berharap front ini terus menyebar dan di inisiasi oleh siapapun untuk memperkuat kesadaran politik rakyat dan memperjuangkan hak atas ruang dan kebebasan.

Mari terus memperluas ruang publik sebagai tempat belajar, berkumpul, dan berjuang bersama!

PER

JAL

BDG

Memahami Apa itu

Perpustakaan Jalanan

Oleh: Dodo

Anti Seksis, Anti Fasis, Anti Rasis, Anti Militerisme, Anti Otoritarian, Inklusif dan Otonom. Prinsip-prinsip itu adalah prinsip yang dianut oleh para komponen penggerak Perpustakaan Jalanan sejak pertama kali muncul di tahun tahun 2010. Dengan berbekal solidaritas, Perpustakaan Jalanan mengumpulkan buku-buku dengan berbagai genre, dimulai dari koleksi pribadi dan juga kiriman berbagai teman yang peduli akan keberlanjutan budaya literasi Kota.

Motivasi utama berjalannya aktivitas Perpustakaan Jalanan adalah untuk menyediakan akses membaca bagi masyarakat luas tanpa adanya sekat-sekat birokrasi dan administrasi. Hematnya, Perpustakaan Jalanan memindahkan seluruh buku yang ada di ruangan ke jalanan. Para pembaca bisa datang ke lokasi untuk membaca, berdiskusi atau sekedar melepas penat sembari memperhatikan kondisi Kota Bandung yang semakin hari semakin sesak dengan kendaraan bermotor dan bangunan-bangunan bermasalah.

Selain itu, Perpustakaan Jalanan juga percaya bahwa membaca sejatinya adalah bentuk perlawanan yang paling kuat. Dengan membaca kita semua menjadi paham tentang kedudukan luhur seorang manusia, kita paham tentang struktur kelas sosial manusia, kita paham tentang ketidakadilan yang akhir-akhir ini dapat menjelma lewat berbagai bentuk, kita paham bahwa hak adalah sesuatu yang harus diraih, bukan sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Hal itu sejalan dengan prinsip Perpustakaan Jalanan dan dengan demikian, membaca-bagi Perpustakaan Jalanan -adalah melawan.

Kegiatan yang Perpustakaan Jalan Bandung lakukan tentunya bukanlah

barang baru. Jauh sebelum Perpustakaan Jalanan-beroperasi, para pejuang kemerdekaan yang rata-rata adalah kaum bangsawan yang terpelajar telah membuktikan bahwa pada akhirnya, kemerdekaan diraih melalui jalur-jalur intelektual, bukan yang berdasar pada kekerasan. Lebih jauh lagi dari masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, orang-orang di Amerika telah membuktikannya terlebih dahulu dengan kesuksesannya menumbangkan hegemoni Inggris terhadap tanah kelahirannya melalui Revolusi Amerika pada

kurun waktu 1775-1783. Terkuak sebuah fakta di kemudian hari yang

menyebutkan bahwa pada era revolusi tersebut, tingkat literasi di Amerika berada di angka 95% dari total penduduk. Dalam kurun waktu itu pula mulai

terbentuk berbagai lembaga penerbitan buku dan debat publik yang

diselenggarakan secara rutin. Dengan kondisi demikian, mereka (pejuang

Indonesia dan pejuang Amerika) dapat bersaing secara intelektual dengan para kolonial (Belanda di Indonesia dan Inggris di Amerika) dan menjadi berani untuk menyuarakan pendapatnya.

"Matikan Ponsel,

Mulailah Membaca!"

Revolusi Amerika pun pada akhirnya juga memotivasi rakyat Perancis untuk melakukan hal serupa terhadap kondisi negaranya yang kian rusak digerogoti oleh kelakuan keluarga kerajaan pada masa itu yang terjadi pada kurun waktu 1789-1799. Dari Asia Timur, kita juga dapat melihat bagaimana Jepang bisa menjadi kekuatan besar pertama Asia sekaligus menjadi negara Asia pertama yang mengalahkan Rusia sebagai kekuatan Eropa pada tahun 1904-1905 di Manchuria. Semua berawal dari diskursus intelektual yang membuat masyarakatnya sadar akan haknya, dan memiliki kepercayaan diri sebagai bangsa.

Pergulatan pemenuhan hak perempuan juga dialami oleh kaum

perempuan yang sebelumnya dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Melalui diskursus intelektual (membaca), kaum perempuan menjadi sadar akan haknya sehingga bisa bersaing secara intelektual dengan kaum Patriarki dan akhirnya bisa melakukan berbagai perlawanan yang telah berlangsung lewat beberapa arus pemikiran dengan macam-macam tuntutannya; hak untuk memilih dalam Pemilu, hak untuk diperlakukan setara dan hak untuk memilih jalan hidupnya secara mandiri. Perpustakaann Jalanan berpendapat bahwa pembahasan tentang penting dan kuatnya daya "rusak" yang bisa dibuat oleh seseorang akibat dari baiknya kualitas budaya literasi suatu masyarakat harus terus disemarakkan agar dapat memberi kesadaran terhadapnya tentang hal-hal yang telah disinggung di atas, sehingga pada praktiknya sebuah pemerintahan akan mendapatkan sistem pengawasan langsung dari warganya yang sudah dibuat sadar akan hak-hak dasarnya sebagai warga negara

Di tengah budaya literasi Indonesia yang masih rendah, ditambah dengan semakin tergerusnya budaya membaca buku akibat dari perpindahan trend masyarakat sekarang yang lebih memilih media sosial dengan video-video pendeknya dan bermacam tindakan represif yang telah dialami. Perpustakaan Jalanan akan tetap terus ada, berlipatganda dan tidak akan pernah bisa redup sampai kapanpun.Matikan TV, Mulailah Membaca, atau dalam konteks hari ini;

KAMI INGIN

TUMBUH DAN MAMBUSUK

DIJALAN!

PERPUSTAKAAN JALANAN BANDUNG (2024)