Baca PDF (OCR): Seng-Iseng Zine Vol. 2

82 halaman · 19 halaman diproses dengan OCR· 7821 ms

Daftar isi
  1. SENG-ISENG
  2. ZINE#2
  3. BAD POEMS FOR BAD PEOPLE
  4. BXCH
  5. KAMI
  6. BOSHN
  7. JANGAN
  8. DIAM
  9. YOUR
  10. OPINIONS
  11. PUISI NAKAL UNTUK ORANG NAKAL
  12. TribunnewS.com
  13. Ratusan Juta Rupiah hingga
  14. LUAR PAGAR RUMAH GEDONG JADI GALERI, GEROBAK DIPAMERKAN, POL PP LALULALANG,
  15. PAMERAN DI BUBARKAN!
  16. Bagaimana Kita Meminimalisir, atau Menciptakan
  17. Komunitas Anti-Fasis (union-of-self-owning-one’s).
  18. Kesimpulan.
  19. Surel penulis: [email protected]
  20. SEPUTAR SJW SEBAGAI SIPIR GULAG: Para
  21. SJW yang Cacat Kognisi dan Cacat Observasi.
  22. SPrima Ayu dalam esainya berjudul; Oh, Betapa Aku
  23. Keliru Secara Linguistik dan Silogisme, Namun Merasa Ia yang Benar secara Absolut.
  24. Tindakan Teleologis/Tendensius SJW Untuk Mendapat
  25. Nama dan Disanjung Sebagai yang Berpower Oleh
  26. Masyarakat.
  27. Saking Moronnya, Kognisi dan Observasi Mereka Sekedar
  28. Mentok pada Perspektif Dogmatisme-Moralitas dan
  29. Konvensi-Sosial tanpa Tinjauan Kritis Lebih Lanjut.
  30. Penutup.
  31. HAH! BETAPA AKU MEMBENCI ISILOP
  32. KENDATI DEMIKIAN
  33. Oleh: Halluart
  34. NOTE 2 SELF
  35. RUEE
  36. PRIA YANG LAHIR DARI LUBANG PANTAT DAN MEMPERKOSA MAYAT IBUNYA
  37. Oleh: Deimos
  38. Sial! Hidupku berakhir begitu cepat!
  39. Pamulang, April 2023
  40. BAD POEMS FOR BAD PEOPLE
  41. Oleh: Human Mindset
  42. PUISI INI UNTUK MANTAN KEKASIHKU YANG JUGA SEORANG PENYAIR
  43. Oleh: Deimos
  44. BENTUK LAIN DARI KEGAGALAN
  45. READ MY LIPS
  46. Oleh: @_syauqiii
  47. SEMBILAN MALAM
  48. Hah....Hidupnya ?
  49. Dia tidak punya
  50. Siapa dia ?
  51. Bogor, 3 april 2023
  52. Oleh: Urban Han Urban
  53. Oleh: @_syauqiii
  54. ADALAH IDE DI RECYCLEBIN
  55. (SHUFFLE) CELENG-JANGAN-IA-...
  56. KENYANG
  57. TENTANG NEGARA DAN SENGSARA
  58. SEGENGGAM AMARAH MERANGKUM DERITA
  59. BARISAN AKSARA
  60. MENJELMA
  61. KEMENANGAN?
  62. Depok, Oktober 2020
  63. PIDATO ORANG-ORANG YANG TERBUANG
  64. Esok atau lusa nanti
  65. yang nyata dapat dilupa
  66. Oleh: @_syauqiii
  67. BUKAN BERANI
  68. PUISI-PUISI GAGAL BUNUH DIRI
  69. DI GEREJA BARAT
  70. ASYLUM
  71. Oleh: Rifki Syarani Fachry
  72. Dan tuhan placebo!
  73. Rifki Syarani Fachry
  74. PINTU
  75. KERINGAT DENDAM
  76. BAWAH
  77. Oleh: siouximular
  78. TERBAKARLAH
  79. TERBAKARLAH
  80. KAVHANYABUTUHNAUI UNTUKMELEDAKKAN
  81. SENG-ISENG

SENG-ISENG

ZINE#2

BAD POEMS FOR BAD PEOPLE

BXCH

KAL BERANI!

MNARCHY

  1. DEAD POETS SOCIETY - 1989
  2. LEON: THE PROFESSIONAL - 1994
  3. GET RICH DIE TRYIN - 2005
  4. THE DA VINCI CODE - 200G
  5. CONTROL - 2007
  6. SUPERBAD - 2007
  7. CHARLIE BARTLETT - 2007
  8. THE BAADER MEINHOF COMOLEX - 2008
  9. SOMETHING IN THE AIR - 2012
  10. THE EAST - 2013
  11. LES ANARCHISTES - 2015
    2

  12. CAPTAIN FANTASTIC - 2016

  13. ANARCHIST FROM COLONY - 2017
  14. HEROIC LOSERS - 2019
  15. TED k - 2022
  16. A MAN OF ACTION - 2022

KAMI

BOSHN

JANGAN

DIAM

Oleh: pulangnya_

YOUR

OPINIONS

Oleh: Drwss

PUISI NAKAL UNTUK ORANG NAKAL

Oleh: kuninghitam

Puisi itu nakal. Ia tidak akan merestui keinginan seorang penulis yang penuh tekanan dan paksaan untuk menulis. Ia tidak akan merestui seorang penulis atau penyair yang tidak bebas dalam menulis. Bahkan ia tidak merestui dirinya hadir dalam bentuk sebuah karya tulis; buku kumpulan puisi atau lirik musik jika dalam proses penciptaannya didasari atas keinginan pasar bukan atas dasar keinginan penulis yang bebas. Itu adalah siksaan bagi puisi serupa menulis pakai belati, lihat saja di antara spasinya ada darah omong kosong.

Bebas bukan berarti bebas tanpa aturan dalam menulis, tetap ada kode etik yang perlu diperhatikan sebab puisi juga tidak sudi jika sebuah puisinya hadir dalam bentuk sembarangan seperti sampah orang-orang. Ia tidak menginginkan keindahan, Ia menginginkan kebenaran. Benar dalam arti: kenyataannya memang begitu, kebenaran sebagai fakta nyata, bukan kebenaran sebagai ideal seharusnya. Menurut Sugiharto kebenaran di sini bukanlah kebenaran ilmiah (kebenaran tentang pola-pola teratur kerja alam), bukan kebenaran religious (kebenaran sesuai wahyu dan hukum Tuhan), bukan pula kebenaran moral (keberanan normatif ideal) melainkan ‘Kebenaran Eksistensial’ (the truth of being), yaitu kebenaran kenyataan hidup yang kita alami seperti adanya, kenyataan yang hampir tak pernah bersifat hitam putih, kenyataan yang pelik dan campur aduk.

Puisi nakal untuk orang nakal sebab untuk menulis puisi mesti nakal terlebih dahulu, nakal dalam pikiran dan tindakan. Menjadi nakal berarti menjadi liar dan tidak bisa dijinakan oleh aturan-aturan yang memperbudak dalam siklus kehidupan yang kacau, kecuali kode etik yang dipegang erat oleh puisi itu sendiri. Seperti pada masa perang dunia pertama,

banyak orang-orang nakal seperti seniman, pembelot, pasifis berlari ke Swiss yang netral untuk menghindari kegilaan perang. Lalu pada tahun 1916 Hugo Ball seorang penyair muda dan sutradara teater, Emmy Hennings seorang penyanyi dan penari cabaret membentuk sebuah grup dengan nama Cabaret Voltaire di Zurich. Menghancurkan seni dan menyerang tatanan borjuis adalah tujuan dari terbentuknya grup tersebut. Kemudian Dadaisme lahir dari rahim seorang penyair anarkis bernama Tristan Zara yang mendeklamasikan syairnya dengan judul Manifesto of Mister Fire Extinguisher. Syair tersebut untuk menghancurkan, untuk menegasikan tatanan yang mapan dengan membawa sebuah iklim ketidakteraturan, kekacauan dan kontradiksi yang berapi-api. Mereka para Dadais menyerang seni secara habis-habisan sebab mereka melihat seni sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Mereka menginginkan seni dapat diredefinisikan agar dapat menjelma menjadi pengalaman yang hidup serta untuk mencapai kebebasan total melalui seni.

Bahasa yang ada di puisi dalam perkembangannya terus beranak-pinak dari orang-orang nakal, bahasa itu fleksibel mudah dikembang-biakkan dan karenanya bahasa yang ada di puisi adalah puitis, menciptakan segala yang tak ada wujudnya manjadi ada, menghadirkan berbagai macam ruang-ruang abstrak, menghasilkan segala kemungkinan-kemungkinan mendalam yang mungkin bisa diwujudkan dan ditafsirkan. Para seniman memandang segala sesuatu apa pun itu dengan puitis, terlebih penyair dan musisi. Mereka dalam proses penciptaannya selalu menemukan hal-hal yang tidak terduga. Para anarkis juga hidup dalam bait-bait puisi yang penuh hasrat pemberontakan dengan individualitasnya melawan tatanan kemapanan dan merupakan sumber kebebasan individu. Seperti Hugo Ball dalam kutipan puisinya yang berjudul Matahari; “Tidak bisa menahan diri: kubah penuh dengan kebocoran organ. / Saya ingin menciptakan matahari baru. /

Saya ingin bertabrakan keduanya satu sama lain yang simbal dan mencapai tangan wanita saya.”. Filsuf Heidegger menyebut seni pada dasarnya adalah poieis (Yunani), dalam arti: menampilkan, membuat tampak dan berwujud. Artinya, setiap seni itu puitik.

Puisi itu nakal. Kepalanya adalah batu yang selalu dibenturkan kepada pikirian setiap penulis dan pembaca. Selalu membenturkan pada perkataan hal-hal yang tak terrumuskan. Ia ingin lahir sebagai bentuk persepsi baru untuk memporak-porandakan pikiran manusia yang dipenuhi kebosanan yang beranak-pinak di dalam kepala. Menghadirkan ruang utopia juga distopia bagi setiap penggiatnya. Menantang hiruk-pikuk peradaban dunia. Ia tidak akan tunduk pada otoritas, penerbit bahkan penulisnya sekalipun. Maka Ia ada untuk menantang kalian semua; “maju lu semua kalo berani!”.

TribunnewS.com

Home Nasional Umum Gaya Hidup Pejabat POTRET Gaya Hidup Mewah Keluarga Pejabat: Pamer Tas

Ratusan Juta Rupiah hingga

Anting Harga Rp 11 M Selasa, 14 Maret 2023 19:35 WIB

LUAR PAGAR RUMAH GEDONG JADI GALERI, GEROBAK DIPAMERKAN, POL PP LALULALANG,

PAMERAN DI BUBARKAN!

Oleh: Local Kid

ADAKAH KOMUNITAS SENI YANG NETRAL?:
Pelaku Seni yang Berada dalam Barikade Fasis dan Kripto-Fasis. Oleh: M.Iqbal.M “The body without organs is an egg”. — Delleuze-Guattari
S ejauh ini masih ada saja yang mengatakan bahwa; “kami membuat komunitas yang netral”, maka berangkat dari respon saya terhadap pernyataan semacam itu, dalam esai singkat ini, saya akan sekilas membahas soal; adakah komunitas yang netral? lebih tepatnya adakah komunitas seni yang netral?. Tetek-Bengek Komunitas, Dunia Seni yang Menjijikan, dan Fasisme. Adakah komunitas seni yang netral ?. Agaknya kita bisa menjawab bahwa komunitas seni yang netral itu tidaklah ada. Setiap komunitas tidak pernah netral, sebab selalu dapat dideskripsi sesuai dengan individu yang ada di dalamnya, semacam ada individu yang konservatif, individu yang dogmatis, individu yang pragmatis, individu yang fasis/kripto- fasis, dan seterusnya. Khususnya bila meminjam terminologi Delleuzian, maka individu-fasis (subjek-fasis) dapat diartikan sebagai sikap otoriter di kepala yang terungkap dalam perilaku eksploitatif sehari-hari; suatu subjek yang meloncat ke sana ke mari dalam relasional, sebelum bergema bersama dalam komunitas, bahkan dalam budaya-negara Nasionalis-Sosialis. Itu artinya, jika anda turut masuk atau berkontribusi pada suatu komunitas, maka anda juga turut menyamakan barikade dengan subjek-fasis, sebab komunitas tersebut telah merangkum segala perspektif termasuk fasisme di dalamnya. Jadi, tidak ada komunitas seni yang netral, yang ada adalah komunitas seni yang merangkum sekaligus memberi tempat untuk subjek-fasis

menjadi aktif (bahkan dikit demi sedikit mempromosikan fasisme/mengkontaminasi fasisme kepada setiap individu dalam komunitas tersebut/desir de’autre dalam term Lacanian). Dengan kata lain, komunitas yang netral adalah tetap saja merupakan komunitas yang berpihak, yakni memihak siapapun, termasuk memihak subjek-fasis. Komunitas yang netral adalah komunitas yang melayani, mewadahi, dan memfasilitasi siapapun, termasuk melayani, mewadahi, dan memfasilitasi subjek-fasis.

Misalnya, ada subjek-fasis yang mengikuti sebuah komunitas dan menjalin hubungan yang ‘baik’ dengan para anggota lainnya, lalu berpameran (katakanlah dengan karya yang bermuatan abstrak), maka subjek-fasis tersebut telah dibaptis sebagai bagian dari komunitas tersebut, padahal subjek-fasis tersebut (diluar kegiatan pameran) telah/pernah/tetap menganiyaya orang lain dalam kegiatan ospek tanpa rasa bersalah atau mengakui bahwa hal tersebut bukan suatu yang baik/relevan untuk dilakukan.

Disamping fasis yang semacam itu, ada pula subjek-fasis—atau bisa kita sebut sebagai kripto-fasis (fasis yang terselubung)— yang menutup-nutupi tindakan fasisme nya bahkan membungkusnya dengan citra baik ‘humanisme’ (tentu humanisme dalam tanda kutip), yakni subjek-fasis tersebut mengikuti sebuah komunitas dan menjalin hubungan yang ‘baik’ dengan para anggota lainnya, lalu berpameran dengan karya yang bermuatan simbol-simbol humanisme atau bernarasi humanisme, padahal subjek-fasis tersebut (diluar kegiatan pameran) telah/pernah/tetap menganiyaya orang lain dalam kegiatan ospek tanpa rasa bersalah atau setidaknya mengakui bahwa hal tersebut bukan suatu yang baik/relevan untuk dilakukan.

Itulah fakta yang ada pada suatu komunitas seni. Bila ada individu yang ingin berpameran tapi tidak punya teman yang sanggup membantu, atau menyewa jasa pengorganisir pameran, maka individu tersebut akan ikut atau submit kepada suatu komunitas—suatu komunitas yang mendeklarasikan diri sebagai ‘yang netral’—entah tujuan individu tersebut berpameran untuk mencari eksposur, mencari uang, mencari ketenaran, maupun sebagai alat/sarana transformasi sosial atau mempromosikan suatu gagasan humanisme (lantaran narasi karya nya sekaligus narasi kreator nya bermuatan gagasan humanisme).

Sangat disayangkan. Awalnya tidak menyamakan barikade dengan para fasis, namun ketika ada yang sekedar ingin berpameran untuk mencari eksposur, mencari uang, atau mencari ketenaran, secara otomatis ia telah menyamakan barikade dengan para fasis, atau bahkan terkontaminasi dengan para fasis. Apalagi individu yang tujuan awalnya hanya ingin berpameran untuk mempromosikan suatu gagasan tentang ‘humanisme/libertarianisme’, secara otomatis ia justru telah mempudarkan gagasan tentang humanisme/libertarianisme nya, sebab ia sendiri masih terperangkap dalam barikade para fasis yang berkontradiktif dengan gagasannya tersebut.

Semacam itulah tetek-bengek dalam dunia seni, dunia komunitas seni, termasuk pula dunia pada ranah apapun itu, entah komunitas akademis, komunitas olahraga, dan seterusnya. Itulah peradaban yang kita tempati ini; peradaban yang mempunyai logika bahwa bila kita ingin survive untuk hidup lebih lama lagi, maka terkadang ketika kita menemukan jalan buntu, seketika itu juga kita harus turut berkompromi kepada para fasis, menyamakan barikade dengan para fasis, bahkan menjadi fasis.

Bagaimana Kita Meminimalisir, atau Menciptakan

Komunitas Anti-Fasis (union-of-self-owning-one’s).

Untuk meminimalisir, mungkin kita bisa mulai untuk memberi narasi ‘anti-fasis’ (sebuah narasi yang gamblang, mulai dari anti-fasis, anti-senioritas, anti-autoritarian, anti-gender, anti- hierarki, anti-populis, dan seterusnya) dalam platform komunitas kita (saya pribadi—tentu dengan bermacam pertimbangan—lebih suka afinitas-kontemporer/asosiasi- kontemporer daripada komunitas/kolektif-dogmatis permanen). Dengan begitu, kita sudah dengan jelas menyatakan bahwa kita tidak sepakat dengan variabel-variabel fasisme. Soal ada tidaknya fasis yang ada di dalam tubuh komunitas tersebut itu urusan belakangan. Namun, tentu saja mungkin konsekuensi komunitas kita akan disebut sebagai komunitas yang kolot, dicemooh, dan tidak disukai oleh para populis, ultra-pragmatis, kiri-isme, tengah-isme, kanan-isme, sehingga akan berdampak pula pada kelancaran ‘komunitas/afinitas’ sebagai agen untuk melebarkan jaringan agar efektif dalam mendapat eksposur, mendapat uang, mutual-aid, atau mendapat ketenaran. Ini sudah merupakan konsekuensi logis yang berawal dari penyematan narasi ‘anti-fasis’ kepada komunitas kita.

Lebih dari itu, untuk menciptakan ‘komunitas/afinitas’ yang murni anti-fasis, maka kita bisa memulainya dari memberi literatur seputar anti-fasisme atau setidaknya menyelenggarakan dialog verbal (dialog bukan diskusi/debat) dengan topik anti-fasisme, sehingga siapapun yang turut mengakui bahwa fasisme itu tidak sejalan dengan laku hidup mereka, maka mereka pantas menjadi bagian dari komunitas tersebut. Namun, mungkin dialog ini akan sedikit terkendala (para calon anggota/kontributor/partisipan tidak terbiasa dengan suatu dialog), lantaran mengingat bahwa sistem pendidikan kita pada umumnya masih cenderung indoktriner-linier (pendidikan monolog/minim dialog) atau tidak membuka wacana mengenai perspektif-lain dalam melihat sesuatu atau sebuah fenomena

(deontologistik Kantian). Contohnya, para pendidik semata- mata hanya memasukan materi kedalam kepala murid (menggunakan pedagogi ‘gaya bank’), begitu pula dengan para muridnya memasukan materi kedalam kepala juniornya, setelah itu juniornya langsung memvalidasi bahwa materi tersebut patut diterapkan kepada generasi berikutnya (contoh materinya ialah tindakan-tindakan represifitas dalam kegiatan ospek, dan seterusnya), maka merebaklah dogmatisme dan fasisme yang mendominasi bahkan menghegemoni masyarakat.

Itulah wajah pendidikan kita yang justru cenderung menjadi agen fasisme itu sendiri. Bagi anda yang mendalami wacana pedagogi kritis, diskursus fasisme, serta menghendaki bahwa fasisme (termasuk fasis-kiri, kripto-fasis, dan segala jenis fasis) itu merupakan antagonisme autoritarian yang tidak perlu, maka tentu saja anda akan sepakat dengan saya dalam melihat fenomena ospek yang sejauh ini merupakan sebuah fenomena fasistik yang teramat laris di dalam lingkup terdekat kita (tidak terkecoh dengan segala dalil justifikasi dari para pendukung ospek). Apalagi justru fenomena represifitas dalam kegiatan ospek (dogmatisme dan fasisme di dalam aspek pendidikan) semacam itu merupakan fenomena yang sesungguhnya sangat krusial dalam kajian humaniora, bahkan merupakan aspek fundamental dibanding dengan aspek-aspek lain macam ekonomi-politik dan sebagainya. Sebab, di dalam pendidikanlah tempat dimana individu melatih dirinya untuk menghayati kehidupan, bukan untuk sekedar menjadi budak yang mematuhi segala perintah sekaligus mematuhi konvensi-sosial, ataupun menjadi serigala bagi sesamanya (Leviathan). Jadi, agaknya teramat aneh bila masih ada orang-orang, para mahasiswa, para seniman, yang bernarasi ‘humanistik/libertarian’, namun tetap mendukung ospek yang represif, dogmatis, sekaligus fasis.

Kesimpulan.

Dari uraian singkat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa tidak

ada komunitas yang netral, sebab setiap komunitas masih mewadahi subjek-fasis maupun subjek kripto-fasis, dan bila kita ingin survive untuk hidup lebih lama lagi, terkadang kita terdorong untuk berkompromi terhadap subjek-fasis tersebut, namun bila kita mempunyai kehendak untuk menolak menyamakan barikade dengan para fasis, maka kita bisa berupaya membuat komunitas yang mempunyai ‘komunike’ sendiri semacam menyematkan narasi ‘anti-fasisme’ sekaligus mengadakan dialog seputar ‘anti-fasisme’ kepada komunitas kita (meskipun tentu saja akan teramat sukar untuk membentuknya serta akan timbul banyak rintangan dan resiko sebagai konsekuensi dari terbentuknya komunitas anti-fasis ini).

Tentu esai ini bukan seruan untuk mendiskriminasi subjek-fasis, melainkan upaya meminimalisir adanya/merebaknya watak-watak fasistik, khususnya untuk mempromosikan upaya deteritorialisasi (meminjam term Delleuzian) di ranah seluk- beluk medan seni, dengan cara bersikap sebagai oposisi terhadap watak-watak fasistik. Dengan kata lain, esai ini adalah sebuah proyek yang mengharapkan bahwa para subjek-fasis bisa berubah dan menanggalkan sekaligus meninggalkan watak fasistiknya, sehingga watak fasistik tidak lagi timbul dan berlipat ganda (me-reteritorialisasi subjek/mesin-hasrat).

Atau lebih jauh lagi—bagi saya pribadi sebagai ‘tubuh-tanpa- organ’ ini—tidak mengharapkan apa-apa terhadap hidup, sebab bagi saya, yang bisa dilakukan oleh spesies remeh-temeh bernama manusia ini (kita semua) hanyalah meremehkan kehidupan sekaligus kematian, meremehkan optimisme sekaligus pesimisme, meremehkan utopia sekaligus distopia, meremehkan beban-historis sekaligus kehendak-futuris. Meremehkan segala tetek-bengek variabel yang hadir sekaligus tersingkap dihadapan kita. Singkatnya, meremehkan segala- galanya, sebab—seperti halnya diktum bercorak singular

ontologis sekaligus khaotik Stirnerite—semua hal bukanlah apa-apa bagi saya.

Surel penulis: [email protected]

SEPUTAR SJW SEBAGAI SIPIR GULAG: Para

SJW yang Cacat Kognisi dan Cacat Observasi.

Oleh: Max Labindividxi Maxy

“Fuck You para SJW dan Feminis Moron!” ***—***ChaosManifesto

aya sepakat dengan beberapa argumen yang dibangun oleh

SPrima Ayu dalam esainya berjudul; Oh, Betapa Aku

Membenci Feminis! (Upunknownpeopleup-2021, bisa langsung dibaca atau diunduh di situs: https://linktr.ee/upunknownpeopleup). Dan pada esai ini, saya hendak menambah beberapa argumen yang bagi saya perlu untuk dikemukakan sebagai tambahan dari esai yang disusun oleh Prima Ayu. Namun, tidak hanya mengenai feminis, esai singkat ini juga termasuk berkaitan dengan SJW secara keseluruhan (entah itu tetek-bengek SJW-punk, SJW-populis, SJW-seniman, dan istilah-istilah seterusnya), yakni para Social Justice Warriors yang dengan sok tahu kerap mencampuri berbagai macam fenomena secara gegabah, dengan sikap-sikap moron/minus yang mereka lakukan, sehingga mereka juga berada pada barikade yang sama dengan para feminis moron/minus tersebut. Dengan kata lain, ada beberapa poin yang perlu saya soroti dari sikap-sikap moronitas yang mereka lakukan.

Beberapa poin yang akan saya uraikan yakni; Pertama, poin mengenai kecacatan linguistik dan silogisme yang mereka terapkan, serta penjelasan mengenai apa yang saya maksud sebagai cacat ataupun istilah Sipir Gulag. Kedua, poin mengenai teleologis atau tendensi tertentu yang mendasari sikap-sikap mereka. Ketiga, poin mengenai sempitnya perspektif mereka dalam melihat/menyikapi suatu fenomena, bahkan mereka sekedar terkungkung oleh dogmatisme-

moralitas dan konvensi-sosial semata tanpa adanya tinjauan kritis lebih lanjut.

Sebagai catatan, esai singkat ini masih akan terus saya kembangkan lagi, bagi siapapun yang telah membaca/menghayati esai singkat ini dan tertarik untuk urun daya dalam mengembangkanya, silahkan kontak saya melalui surel: [email protected]. Sekarang, kita kembali pada pembahasan dibawah ini.

Keliru Secara Linguistik dan Silogisme, Namun Merasa Ia yang Benar secara Absolut.

Seringkali kita melihat para SJW menyerang siapapun yang bagi mereka ialah para pelaku pelecehan, misoginis, dst, padahal bila ditinjau lebih lanjut, justru mereka keliru dalam melihat sekaligus berpersepsi terhadap suatu fenomena. Mereka keliru dalam memahami pendekatan silogisme dan linguistik seputar tanda (sign) sekaligus penanda (signifier) untuk ditafsir oleh para petanda (signified). Padahal setiap fenomena atau sesuatu yang meng-ada membutuhkan sebuah pemahaman mengenai pendekatan kontekstual yang komprehensif agar dapat dilihat/dipersepsi/disimpulkan tanpa kekeliruan.

Itu artinya, otomatis setidaknya ada dua jenis pihak petanda yang menafsirkan suatu tanda sekaligus penanda sebagai yang negatif/tidak wajar/tidak pantas atau sebagai yang positif/wajar/pantas. Hasil penafsiran tersebut tentu sesuai dengan kualitas-kognisi (alat untuk mempertimbangkan segala sesuatu) serta kualitas-observatif (alat untuk melihat segala sesuatu secara kontekstual dan komprehensif) yang mereka punya. Sedangkan mereka para SJW-Sipir-Gulag tersebut selalu menjadi pihak yang semata-mata menafsir tanda sekaligus penanda sebagai yang negatif/tidak wajar/tidak pantas, lantaran kualitas-kognisi dan kualitas-observatif

mereka teramat sangat moron/minus. Bahkan mereka keliru dalam melihat adanya batas yang jelas secara empirik mengenai Hak-Properti (property of rights) atau ada tidaknya unsur Pemaksaan Value yang terdapat pada suatu fenomena. Sebab mereka melihat suatu fenomena sekedar secara quasi- imajinasi dan emosi pra-reflektif mereka, bukan secara perseptif yang reflektif menggunakan peralatan kognisi yang memadai dan observasi yang ketat.

Itulah yang saya sebut sebagai kecacatan/keminusan yang mereka punya. Tapi lucunya, mereka justru bangga dengan keminusan/kecacatan mereka, sama persis dengan sipir-sipir penjaga Gulag yang dengan bangganya menyiksa orang-orang demi merealisasi program-program kecacatan/keminusan yang mereka ciptakan. Itulah yang saya sebut juga sebagai para SJW Sebagai Sipir Gulag. Para SJW yang bangga dengan sikap kecacatan/keminusan, yang sama persis dengan sikap para Sipir Gulag.

Mereka menyerang siapapun dengan gegabah, memvonis siapapun yang mereka rasa layak untuk divonis dengan perspektifnya yang teramat minus/moron tersebut. Mereka menari-nari dalam keminusan mereka sebagai kerumunan SJW-Sipir-Gulag, dengan slogan mereka yang berbunyi; Lawan Seksis-Misoginis dan Women Support Women (yang kita bisa artikan sebagai Support Keminusan/Kemoronan Kita dan Kerumunan SJW-Sipir-Gulag Haruslah Kita Support). Lucunya lagi, ada beberapa dari mereka yang mengklaim diri sebagai yang bukan konservatif, padahal faktanya dengan sikap-sikap mereka yang sudah diuraikan diatas, mereka justru menjadi konservatif kembali dengan segala keminusan/kecacatan mereka. Hahaha, ya, demikianlah perilaku mereka yang sangat lucu dan memprihatinkan.

Tindakan Teleologis/Tendensius SJW Untuk Mendapat

Nama dan Disanjung Sebagai yang Berpower Oleh

Masyarakat.

Disamping keliru secara kognisi dan observasi, mereka para SJW-Sipir-Gulag tersebut mempunyai hasrat untuk mendapat Nama dan Disanjung Sabagai yang Berpower oleh Masyarakat (termasuk oleh sesama perempuan/makhluk yang mempunyai vagina, dst). Dengan cara, mereka selalu mencampuri suatu fenomena yang ada kaitannya dengan unsur seksualitas/gender sebab mereka merasa sebagai seseorang/warrior yang harus menegakkan keadilan sosial (tapi sosial yang/versi mana?). Padahal keinginan utama mereka hanyalah untuk mendapat Nama dan Disanjung Sebagai yang Berpower oleh Masyarakat. Dengan kekeliruan linguistik dan silogisme serta kualitas-kognisi dan kualitas-observatif yang minus, pun sikap mereka yang sok tahu itu, mereka selalu merasa bisa mengadvokasi/mengintervensi hal-hal seksualitas/gender, bahkan melayangkan vonis/mendiskreditkan/memberi stereotipe kepada seseorang/pihak secara gegabah. Lebih dari itu, bahkan mereka tidak peduli dengan soal gegabah atau tidak gegabah, sebab yang penting mereka bisa mendapat Nama dan Pengakuan dari Masyarakat (pengakuan bahwa dirinya secara personal bersimpati terhadap suatu isu gender/seksualitas, ataupun pengakuan bahwa makhluk bervagina ialah makhluk yang berpower).

Terlebih lagi, dengan bermacam sikap mereka sebagai populis tersebut, mereka menggunakan kepopuleran untuk meraup simpati kerumunan masyarakat yang juga sama-sama minusnya dengan mereka. Mereka selalu membuat konvensi- sosial yang memberangus adanya kebenaran yang empirik, silogistik, kontekstual dan komprehensif. Dengan kata lain, mereka tidak peduli dengan suatu hal yang bisa dilihat secara jernih. Sebab yang mereka pedulikan hanyalah mencari Nama dan Pengakuan dengan keminusan yang mereka punya; dengan

keminusan kualitas-kognisi dan kualitas-observatif yang mereka punya. Sebuah keminusan/moronitas yang teramat sangat lucu dan memprihatinkan tersebut.

Saking Moronnya, Kognisi dan Observasi Mereka Sekedar

Mentok pada Perspektif Dogmatisme-Moralitas dan

Konvensi-Sosial tanpa Tinjauan Kritis Lebih Lanjut.

Ambil contoh, misalnya ketika ada seseorang yang fisiologisnya nampak laki-laki (berkumis, berpenis, dst), tiba- tiba menanyakan hal-hal seputar fisiologis kepada perempuan (tidak berkumis, bervagina, dst) di area publik/dimana pun itu, maka laki-laki tersebut langsung dicap sebagai laten seksis, melecehkan, predator, antagonis, dsb. Padahal bila ditinjau secara linguistik dan silogisme, tentu itu merupakan sikap yang wajar dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang berada dalam area demokrasi (area freedom of speech), sebab si laki-laki tersebut hanya bertanya (mengajukan proposal), bukan merenggut kebebasan yang dimiliki oleh si perempuan (property of rights) atau Memaksakan Value kepada si perempuan.

Apalagi bila laki-laki tersebut hanya mendeskripsikan/memuji terhadap bagian tubuh perempuan tersebut (secara detonasi), maka laki-laki tersebut juga dicap sebagai seksis, melecehkan, predator, antagonis, dsb, lantaran si perempuan menganggap bahwa ucapan laki-laki tersebut ialah ucapan merendahkan/menjadikan dirinya sebagai objek seks. Dengan kata lain, si perempuan berasumsi (secara konotasi) bahwa sikap macam itu ialah sikap yang mempunyai tendensi merendahkan/menjadikan dirinya sebagai objek seks (bukan subjek yang bebas), tanpa mengonfirmasi (différance) lagi apakah memang benar tujuan laki-laki tersebut murni (secara detonasi) untuk memuji/menyukainya sebagai subjek, atau tujuannya untuk merendahkan/menjadikan dirinya sebagai objek seks (bukan subjek yang bebas).

Sebegitu minus/moronnya si perempuan tersebut, sehingga tidak dapat melihat suatu fenomena dengan jernih secara empirik, linguistik, silogistik, kontekstual dan komprehensif. Si perempuan hanya melihatnya secara asumsi abstrak. Atau barangkali, selain itu, bisa juga si perempuan tersebut sekedar mengikuti dogma-dogma moralitas yang dibuat oleh para SJW-Sipir-Gulag (dengan konvensi-konvensi/cetak biru moronitas/keminusan yang dibuatnya), sehingga ia tidak mampu mengaktifkan peralatan kognitif dan observatif yang dimilikinya. Lagi-lagi, sungguh lucu dan memprihatinkan.

Sebegitu sempitnya, hingga sama sekali tidak terlintas dibenaknya bahwa mungkin ada perspektif lain dalam melihat fenomena/sikap si laki-laki tersebut. Padahal bila kita mau berefleksi dan ambil contoh perspektif lain, maka salah satunya, kita bisa melihat bahwa sikap laki-laki tersebut merupakan sikap wajar dalam area demokrasi (freedom of speech/bebas bertanya apapun tanpa unsur merendahkan secara detonatif), ditambah lagi jika manusia ialah makhluk berkawin, maka sikap laki-laki tersebut ialah sikap yang wajar dilakukan sebagai makhluk berkawin (proposal untuk menjalin interaksi/hubungan secara fisiologis/aktivitas seksual). Sebab tidak ada perbedaan antara laki-laki yang tiba-tiba mengajukan proposal untuk berhubungan tanpa basa-basi, dengan laki-laki yang basa-basi terlebih dahulu kemudian baru mengajukan proposal untuk berhubungan. Jadi, laki-laki yang menggunakan metode pertama tidak lantas serta-merta disebut sebagai laki-laki laten predator/antagonis yang menjadikan si perempuan sebagai objek seks, melecehkan, merendahkan, dst, dibanding dengan laki-laki yang menggunakan metode kedua.

Penutup.

Tujuan esai singkat ini memang untuk membongkar tendensi serta mendeskripsikan para kerumunan SJW-Sipir-Gulag

(bahkan termasuk juga mereka para SJW-Sipir-Gulag yang menggunakan jubah martir-complex dan raggamufin dalam ‘meraup keuntungan’), namun seperti yang sudah saya uraikan dimuka, bahwa esai singkat ini rencananya masih akan saya kembangkan lagi, bahkan bakal menjadi sebuah buku yang secara detail membahas tetek-bengek betapa minus/moronnya para SJW-Sipir-Gulag tersebut. Meskipun tentu saja saya— sebagai subjek yang kontra terhadap sikap-sikap minus/moronitas mereka—sebetulnya sangat malas untuk menulis topik macam ini. Akan tetapi, saya rasa, secara spontan, sikap-sikap minus/moronitas macam itu ingin saya runtuhkan, hingga tidak ada lagi sikap-sikap minus/moronitas yang dilakukan oleh SJW-Sipir-Gulag yang berkeliaran di universe saya. Bahkan lebih dari itu, secara spontan, saya hendak meruntuhkan segala tetek-bengek yang meng-ada. Singkatnya, meruntuhkan segala-galanya.

HAH! BETAPA AKU MEMBENCI ISILOP

Oleh: Rembrandt

Kiranya begini, waktuku kecil ada seorang lelaki yang seorang polisi kecil dengan pangkat kecil dan gaji kecil yang menikahi saudari perempuan ibuku. Saat itu aku pikir polisi adalah pekerjaan biasa sama seperti buruh pabrik, atau karyawan restoran yang bisa habis kontrak atau dipecat kapan saja. Atau karena bergerak di bidang keamanan maka seharusnya mereka menjaga komplek perumahan atau kantor atau lahan parkir. Setidaknya, begitulah awalnya aku sebagai anak kecil yang masih hijau berpikir.

Tapi setelah itu mereka bercerita bahwa polisi adalah pahlawan yang mengerahkan tenaga untuk mengawal demonstrasi, berjibaku dengan kawan untuk beradu sikut, melayangkan tinju, dan menabrak mereka yang sudah kelewatan. Sungguh, demi zeus dan petirnya, aku tak suka perkelahian, jadi kupikir itu adalah pekerjaan yang buruk. Dan memang begitu.

Seiring berjalannya waktu aku melihat polisi menerima suap ketika kendaraan bapak masuk jalur yang salah, aku melihat polisi membunuh orang-orang yang menurut mereka salah, aku melihat polisi di berita-berita remeh temeh televisi terus melakukan kesalahan bodoh berulang kali, aku melihat polisi terang-terangan menggoda kekasih orang yang jelas tak mau dengannya. Yang bukan saja karena wajahnya buruk, tapi jelas perilakunya juga. Aku juga melihat polisi terbebas dari hukuman yang mereka kawal sendiri, aku melihat polisi salah tangkap, aku melihat polisi berperut buncit kesulitan menangkap penjahat, aku melihat polisi bangun kesiangan, aku melihat polisi kerjanya lelet di balik meja kerja yang lacinya banyak pelicin, terus saja aku melihat kesalahan berulang oknum, ah tidak, semua polisi! Melakukan kesalahan bodoh yang tidak masuk akal.

Dan beberapa malam ke belakang, di jalan raya, seorang polisi dengan motor besar dan sirine yang berisik mengawal mobil pejabat dengan plat nomor RI-sekian yang aku tak peduli karena sebagai warga negara yang terpaksa baik aku rutin membayar pajak, taat peraturan serta tak melanggar apapun. Tapi si polisi anjing bangsat yang perutnya buncit itu menoyor kepalaku yang memang tak pintar. Bukan itu saja, dengan gaya preman sok jagoan dia menatapku dalam seolah aku adalah seorang penjahat yang memang sudah lama dia incar. Sudah gila! Bahkan aku terlalu bodoh untuk mengetahui di mana letak kesalahanku hanya karena membalap mobil RI-sekian dan tak mempedulikan sirine bapak polisi buncit yang beraninya dengan warga sipil yang sedang mengejar waktu supaya tidak terlambat ke sebuah pertemuan.

Lantas apa yang harus kuperbuat? Bukan, apa yang bisa kuperbuat? Aku tak tahu, tiba-tiba aku jadi lebih bodoh karena polisi sialan itu. Sepertinya hanya ini yang bisa kulakukan. Aku membencinya! dan aku yakin kalian pun sama, jadi mari kita bersama membenci dengan lebih lantang. Merusak fasilitas, menolak membayar pajak, unjuk rasa untuk pertarungan jalanan, dan membunuh mereka ketika ada kesempatan. Karena aku yakin, mereka akan melakukan hal yang sama. Betapapun bodohnya aku, ternyata mereka lebih bodoh. Mereka hanya tau makan dan memukul. Mereka tak bisa berpikir dan merasa, karena itu mereka menjadi polisi. Karena itu mereka tak berguna. Sekali lagi, aku sangat membenci mereka dan aku yakin kalian pun sama.

Kalaupun ada orang yang menyukainya, mungkin karena orang tersebut belum merasakan pahitnya dan terlebih karena orang itu punya banyak uang, jadi untuk apa membuang-buang tenaga buat membencinya. Siapa pula yang menyukai polisi? Untuk kalian, biar kusebutkan; presiden, pejabat, orang kaya pemangku kepentingan, isteri dan anaknya, simpanannya, pak

majikannya, dan bla bla bla 1312x. Jika orang tersebut tidak termasuk dari daftar itu. Tunggu saja waktunya. Tak perlu repot-repot mencari referensi dari buku-buku kiri mampus yang tak akan orang itu temukan di perpustakaan nasional. Polisi-polisi sialan itu sendiri yang akan mendatangi orang-orang itu dalam keadaan paling menjengkelkan yang tak pernah mereka duga. Dan, selamat datang di klab!

MANUSIA-MANUSIA TERPURUK YANG ENTAH KAPAN IA AKAN BANGKIT KARENA YANG DITUNGGU HANYALAH WAKTU

Oleh: Artnas

KENDATI DEMIKIAN

Oleh: Fadhilmono

Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata- mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat dari padanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat- akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?

Gelap membenamkan labirin ke dalam jalanan kota di mana kesepianmu bersarang, mengungkap kembali saudaramu yang mati muda karena pencarian jati diri yang sia-sia. Gado-gado kata-kata, sandi dan teka-teki yang terus membisikkan frasa- frasa menawan dalam kepalamu.

Keberadaanmu mengelabui dirimu sendiri, sebuah kebun tak terawat berisi noda-noda yang menggingau sepanjang hari. Pertanyaan abadi tentang keseimbangan yang mustahil tercapai, mengunyah beling untuk mengisi dunia dengan cahaya, memenuhi kosong dengan tubuh-tubuh imajiner yang menyala dalam gelap.

Bunga bertanduk yang tumbuh dalam kesadaranmu menarik kedatangan mesin, memintal serat kain yang menggerakkan langkahmu, mengikuti benang-benangnya yang tergelincir dalam cahaya lalu menghilang. Cahaya di antara yang hidup dan yang sekarat mengemulasikan sebuah kaskade berkaki panjang dalam lenguhannya yang penuh nafsu. Hujan adalah

sebuah kaset pita yang sudah lama rusak. Senjata api
berpelurukan kalimat-kalimat bintang di langit. ganjil memprovokasi ketololonan yang diturunkan nenek moyangmu, untuk merancap di sepertiga terakhir malam, cahaya yang memisahkan tubuhmu dari kegelapannya sendiri. Sumbunya tegak berdiri, berjajar sempurna, menjilati tubuhnya sendiri di antara kerbau dan sekawanan bebek. Begitu elegan sekaligus kacau bak kesetanan, dirimu bisa melihat kilat menembus kulitmu. Kesenangan menyimpang milik pengantin perempuan yang terperangkap dalam persamaan matematis pusat kota yang dijadikan bukti kemajuan zaman oleh bintang- yang tak lengkap,
Manekin berkepala kalajengking, bersentuhan dengan alam liar. Genggaman kosong, lengan yang bergetar hebat dalam orgasme di tengah taman edan, kelopak mata yang memancarkan benih entropi dan ritus bayang-bayangmu
penghancuran. Gravitasi terbujuk masuk ke yang sama sekali tidak membosankan. berevolusi dalam sekuens gelap-terang yang membutakan mata, serupa bahasa isyarat suku barbar yang menggambarkan status sosialmu, kekayaan yang kau peroleh dengan usahamu sendiri, artefak kuno dari kepunahanmu sendiri. Wajahmu, atau ciri-ciri malam dalam demam tinggi arwah penasaran yang tak kunjung berhenti datang untuk mengisap cairan kehidupan dari tanganmu, sebuah bandul pendulum, film berdurasi empat jam Hanya ada anak perempuan Ikaros, tak ada cermin, bayang- bayang ketidakpastian yang mengepung tulang rusuk paradoks filosofis, hanya batu primitif yang memancarkan cahaya, yang kilaunya menetas dalam api, sumber utama dari pengetahuan yang mengamuk membabi buta, sandi rahasia yang memimpin dalam jimat panca warna
fosil fajar dan cahaya milik semua makhluk ghaib yang kau beri
makan setiap pagi, dengan darah yang menggenang di tengah impianmu. Terbang adalah tubuh yang terkoyak oleh cahaya, bertenagakan pikiran buruk dan prasangka. Sebuah koreografi pemenuhan nafsu syahwat yang tak akan pernah terpuaskan. Selalu ada ngengat raksasa yang memasuki matamu di tengah hiruk-pikuk penyerahan diri tanpa syarat, membersihkan sudut gelap untuk tempat bersarang burung bulbul dan benda-benda antik berharga miliaran yang tak pernah kau butuhkan.
Di antara gangguan dan penemuan pendaratan darurat di tempat-tempat terpencil, matamu adalah yang tak terduga,
sebuah resolusi darahku kini dipenuhi debu. terpenting yang segalanya. Begitu elegan sekaligus kacau bak kesetanan, dirimu bisa melihat kilat menembus kulitku—dan pembuluh bisa menyelamatkan

Oleh: Halluart

NOTE 2 SELF

Oleh: Al

(1) Penyesalanku cuma satu, waktu kita berpisah tujuh tahun lalu. Aku benar-benar melemparkan diriku ke dalam kegelapan yang dalam, waktu kamu bertemu denganku lagi. Aku sudah berbentuk nihilis tapi dengan bobot pengetahuan yang berbeda. Penyesalanku terbesar disini; Aku ingin hidup sama kamu sampai aku mati tenang atau sakit. Aku sayang kamu, dengan melihat kamu hancur seperti kemarin, aku sedih. Kenapa tidak terjadi semuanya ke padaku tetapi malah kepadamu. Alam maha adil aku tidak bisa mengganti itu semua! Aku hanya punya harapan yang kecil dari sisa-sisa kehancuran diriku kemarin, yang kamu bisa temuin. Dari sisa puing-puing itu akan tumbuh bunga dan bunga itu untuk kamu; milik kamu. Aku percaya ada kehidupan baru setelah penghancuran total di antara puing-puing!
(2) Aku akan datang di tengah kerumunan orang banyak yang kelaparan, putus asa, kosong, terutama yang kecewa dengan kehidupan dan siap menjadi pemberontak! Menghancurkan batasan berhala paganis modern dengan lemparan dinamit dan berjalan bersama bendera panji hitam. Aku tidak takut akan apapun itu karena aku berjalan dengan api termasuk dengan kematian. Kematian adalah konstruksi kehidupan dari setiap makhluk hidup yang kita tidak bisa lewati, tapi ini suatu kehormatan buatku sendiri di mana aku bisa mati karena cinta. Terutama dia yang sangatku dambakan keberadaannya di setiap harinya, ketika semuanya harus datang dengan waktu yang sama dan jarum jam menunjukku, “Kamu selanjutnya!”

aku akan datang menghampirinya dengan senyuman. Jangan pernah menanyakan tentang ini semua, pikiran nihilisme dari Nietszche dan jiwa yang terbakar dengan egoisme dari Stirner sendiri yang membuatku menemukan diriku sendirian tanpa ada kalian semua. Dimana kamu ketika aku kehilangan akal sehat di dalam kepalaku sendiri? Aku bersama wanita wanita?! Tidak! Buang-buang waktu! Aku hanya bersama diriku sendiri. Dan aku masih punya harapan dimana semuanya bisa seimbang buat diriku dan kamu. Itulah sebabnya cintaku padamu memudar di antara bayang-bayang ingatan, tetapi meninggalkan obor kekaguman yang paling kuat dan paling tulus menyala! Kami mungkin memulai dari aliran yang sama, tetapi kami memulai di jalur menuju dua gunung yang berbeda. Jika kami berdua mencapai puncak, kami akan merentangkan tangan kami di atas jurang karena kami akan menaklukkan takdir dan mengatasi jurang maut. Dan kemudian kami akan saling mencintai dengan cinta yang berbeda!

RUEE

Oleh: Bona PM

PRIA YANG LAHIR DARI LUBANG PANTAT DAN MEMPERKOSA MAYAT IBUNYA

Oleh: Deimos

(1) Lingkar cahaya runtuh di kedua mataku yang menganga Suara angin menikam tepat di altar malapetaka Seonggok daging busuk terlahir Dari desah usang wanita pandir Semerbak anyir Kerutan meki meneteskan lendir Sekali lagi sebelum akhir Aku terlahir
(2) Pernah kau mendengar kisah seorang pria yang lahir dari lubang pantat seorang wanita pandir? Begini, dua puluh empat tahun lalu, enam batang yang berlumuran nanah menikam tanpa ampun di sebuah tempat yang kalian sebut takdir. Tiga bulan berselang, lubang itu terus menerus meneteskan cairan kental berbau anyir yang menyeret si perempuan pada jurang kelaparan, ini menjadi semakin jelas karena tentu tidak ada yang ingin memuntahkan sperma ke perempuan yang lubang anusnya terus menerus mengeluarkan bau anyir dan perutnya kian lama kian membesar. Sore berlalu dengan gelontoran darah yang membanjiri seisi kamar kos kumuh di kecamatan pasarkemis, tidak ada gerimis, hanya erangan tangis yang terabaikan dengan bengis. Esoknya, perut si perempuan ini berangur mengecil, tapi saat itulah, sosok menyerupai janin manusia bersemayam di dalamnya hingga terlupakan hingga berlangsung selama dua puluh empat tahun.

Dua puluh empat tahun, perempuan itu tidak pernah pergi jauh dari tempatnya pernah menerkam tangis, sampai tiba satu malam, perutnya membesar dengan ukuran yang sangat tidak wajar, ribuan belati menikam serasa menikam dan mengocok perutnya hingga ia terkulai dan mati seketika.

Saat itulah, si pria terlahir, dengan ujung penis yang tidak henti- henti mengeluarkan cairan anyir, ia robek perut ibunya dan mengais sisa sisa whiskey yang belum sempat di olah oleh ginjal dan lambungnya.

Ia tuang whiskey itu kedalam gelas, menyampurkannya dengan cairan anyir yang menetes dari penisnya dan lalu memperkosa mayat si ibu

(3) Jika tuhan benar adanya, kemungkinan besar ia adalah mahluk usil yang menyebalkan. Ia menciptakan sesuatu yang di artikan oleh ciptaannya sebagai kesedihan, kesedihan paling mematikan yang bermuara pada kesialan. Entah bagaimana, tapi aku percaya tuhan sedang bermain-main di dunia nya yang antah berantah, ia sangat mungkin menciptakan garis hidup untuk orang-orang sepertiku, manusia yang diciptakan hanya untuk menjadi contoh buruk, jika ia pernah menciptakan sosok se keji hitler dan se bangsat rasputin, maka kemungkinan besar ia juga telah menyiapkan contoh naas seperti diriku. Dito, begitulah nama itu disebutkan oleh ibuku saat aku lahir. Cukup lama aku bersembunyi di dalam rahim seorang pelacur, aku yakin betul, tidak ada perbedaan antara rahim perempuan suci yang dibuahi oleh seorang suami yang soleh atau rahim pelacur yang di hantam bertubi tubi oleh triliunan sperma

preman pasar mabuk. Di dalam persembunyian pertamaku, aku setara dengan kalian semua, bangsat.

Oh ya, asal kalian tahu, aku lahir di pojok toilet umum sebuah rumah susun, saat lahir, usiaku sudah menginjak 24 tahun dan menenteng sebotol vodka murah yang tersimpan di dalam rahim, vodka murahan itu berasal dari tetesan ginjal ibuku yang bocor dan menetes kedalam ruang semacam kulkas yang tersimpan di dalam rahim. Ah cerita apa ini bangsat, tolol betul.

Biar bagaimanapun, aku mencintai ibuku, tapi bukan itu yang ingin akun ceritakan, karena setelah kelahiranku yang mengejutkan, ibuku mati seketika dan aku sebagai satu-satunya lelaki dewasa yang baru saja terlahir, mesti bertanggung jawab atas kesialan yang menimpa ibu.

Dalam keadaan berlumuran darah dan tanpa pakaian serta tanpa pengetahuan apapun tentang dunia, aku bergerak menghampiri ibuku dan menggendongnya, aku tidak tahu apa yang mesti dilakukan saat seseorang meninggal, aku mencoba meminta pertolongan tapi satu satunya yang bisa ku lakukan hanyalah menangis dan berkata "eaaakkk eaaakkk eaaakkk". Tangis dan teriakan minta tolong ku sangat kencang hingga aku mendengar suara langkah kaki dan tak lama kemudian suara ketukan pintu, suara itu, terdengar seperti suara ibuku sebelum ia meninggal, hanya saja yang satu ini lebih lembut dan teratur.

Aku mencoba mendekat dan membuka pintu dengan sangat perlahan sambil menyembunyikan diriku di balik pintu, aku yakin betul perempuan itu menunjukan ekspresi terkejut sebelum akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri. Oh sial! Kelahiranku yang baru berlangsung beberapa menit sudah menghabisi dua nyawa perempuan!

Aku mencoba untuk menggendong perempuan yang terkapar di depan pintu itu, tapi tubuhku tiba tiba saja merasa begitu lemah dan aku hanya mampu menyeret tubuhnya hingga berdekatan dengan jasad ibuku. Ada perbedaan diantara kedua tubuh ini, tubuh ibuku benar-benar hanya tergeletak, sedangkan tubuh perempuan ini menunjukan gerak kembang kempis terutama di bagian dada.

Saat melihat kebagian dada, ada sensasi aneh yang kurasakan dalam diriku, punggung ku terasa bergidik dan ada semacam sensasi geli, sesuatu di selangkanganku yang berbentuk lonjongan panjang tiba tiba mengeras.

Untuk memastikan keadaan, aku mencoba untuk menyentuh dada yang kembang kempis itu, seketika perasaan takut itu muncul dan tegangan di selangkanganku mengempis. Lalu, aku mencoba mengamati perbedaan itu dengan menyentuh dada milik ibu ku yang hanya terdiam dan tiba-tiba tegangan di selangkanganku kembali mengeras. Oh, aku merasakan sensasi getaran yang sangat tidak masuk akal-setidaknya untuk pria dewasa yang baru saja terlahir.

Seketika aku tersadar bahwa terlalu banyak darah di sekitar bagian bawah tubuh ibuku, aku melepas semua pakaiannya untuk menjadikannya kain untuk membersihkan darah yang membanjiri seisi ruangan, ternyata pakaian ibuku saja tidak cukup, maka akupun membuka pakaian perempuan itu untuk tujuan yang sama.

Saat aku sedang membersihkan darah di tubuh ibuku dibagian selangkangan tempat tadi aku lahir, aku merasa tegangan di selangkanganku semakin menjadi jadi, dengan tanpa terkendali, ia menjadi seakan-akan hidup dan menancapkan dirinya di selangkangan ibuku, ya! Tempat dimana aku berasal!

Perempuan yang sejak tadi terkapar nampaknya mulai siuman, dengan perlahan ia membuka matanya dan sekali lagi, berteriak sekencang-kencangnya! Kali ini, dia tidak rubuh seperti saat pertama, ia berteriak begitu kencang hingga mengundang banyak langkah kaki untuk menghampiri tempat kami.

Dalam keadaan membeku, tiba-tiba satu pukulan dari benda keras yang tak tahu apa lah mendarat di kepalaku. Saat terbangun, aku berada di sebuah ruang 3x4 meter yang sangat pengap, dipenuhi oleh banyak laki-laki dan satu benda panjang entah apa menancap di lubang pantatku.

Sial! Hidupku berakhir begitu cepat!

Malam menjumpai kami untuk kesekian kalinya di lantai depan ruko. Ruko-ruko yang berderet dan berhadapan dengan bentuk dan panjangnya yang sama. Ruko-ruko ini terlihat tua, dengan warung-warung kecil di sela-sela pelataran. Menjadi tempat kesukaan anak-anak muda di Pamulang untuk berkumpul dan bersenang-senang. Akan tetapi, di antara ramainya pemuda di sini, tepat di ruko paling tengah dan selalu tutup, ada kami, para remaja yang sedang berguru filsafat dengan abang filsuf bernama Sokret.

Ya, Sokret. Begitulah panggilan yang ia inginkan dari kami, para muridnya. Karena begitu bangganya ia terinspirasi dari seorang bapak filsafat, yaitu Sokrates. Ia pun membuat perkumpulan orang-orang pemikir ini untuk diajak berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan dengan mengandung dan mengundang segala pertanyaan dari hari ke hari.

Sebagaimana Sokrates pada zamannya. Menggunakan metode kebidanan. Membantu proses kelahiran pengetahuan melalui diskusi panjang.

Di lantai depan ruko ini memang menjadi keputusan kami untuk tetap menjadi markas perguruan kami. Di ruko bagian paling tengah, kita bisa mengamati manusia beserta kehidupan lebih luas. Bisa melihat kegiatan manusia sampai ruko paling kanan, paling kiri, lalu lalang lewat jalan di tengah-tengah antara deretan ruko yang berhadapan, manusia-manusia di jalan raya yang terdapat di ujung kanan, dan manusia-manusia di pasar yang terdapat di ujung kiri kala pagi menjelang. Ah, tengah-tengah ruko ini banyak menimbulkan kesan dan tanya.

Perihal di tengah-tengah ruko ini, aku jadi ingat sekali. Sangat lucu bila mengingat waktu awal-awal bertemunya Sokret. Waktu itu, kami, yang kini menjadi murid Sokret, sedang asyik-asyiknya bergembira sebagaimana anak-anak remaja yang mabuk dan bernyanyi bersama. Sementara ada seorang lelaki yang usianya kalau ditafsir hampir kepala tiga, berambut gondrong, dan berpakaian sederhana dengan tidak tahu asal-usulnya, sedang duduk dengan jarak yang hanya satu meter dari kami di lantai depan ruko yang sama. Ia melamun. Mengamati sekitar. Sesekali melirik kami. Lalu pelan-pelan menghampiri kami dengan memberikan pertanyaan, siapa kalian, bagaimana kalian bisa hidup, dan apa itu hidup yang sesungguhnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu jelas membuat kami seketika terkejut dan heran. Begitu juga membuyarkan euforia kami. Suasana pun jadi canggung. Sehingga beberapa teman kami tidak nyaman. Tiba-tiba pamit pulang dengan alasan-alasan klasik. Sementara kami yang tersisa lima orang kebetulan bibit- bibit para pemikir. Jadi, kami tanggapi pertanyaan tersebut dengan jawaban-jawaban seadanya dan semampunya.

Awalnya memang kami menaruh curiga. Selalu waspada. Takut si pria dewasa ini adalah seorang penjahat yang sedang mencari kesempatan untuk mencuri atau membegal kami. Sebab kita tahu sendiri bahwasannya Pamulang sudah tak asing lagi dengan aksi kriminal tersebut. Namun, lambat laun kami percaya bahwa ia benar-benar tulus untuk mencari teman diskusi. Terlihat dari mata, ekspresi wajah, ungkapan, dan gerak-geriknya yang sungguh-sungguh ingin memecahkan persoalan kehidupan beserta manusianya sampai ke akar-akar. Sehingga malam itu menjadi malam yang cukup berat, mendalam, dan seru untuk pertama kalinya bagi kami.

Bukan hanya itu, perkara sering diskusi bersama Sokret dari hari ke hari, kami berlima menjadi sangat tertarik dengan filsafat. Sehingga kami memutuskan untuk masuk jurusan filsafat apabila lulus SMA seperti sekarang ini. Namun nahas, jurusan ini sangat langka dari sekian banyaknya kampus di JABODETABEK. Untuk masuknya pun tidak murah sebagaimana masuk kampus di Pamulang. Oleh karena itu, kami tidak perlu kuliah, kami cukup menganggur saja. Cukup kuliah di sini, di lantai depan ruko bersama Sokret. Lagipula, kata Sokret, ia pernah belajar filsafat di universitas yang katanya nomor satu di Indonesia tapi masih ada birokrasi kursi. Jadi tak perlu diragukan lagi.

Meski Sokret berlatar belakang dari keluarga kaya. Tapi kekayaannya mendadak kandas. Kini ia sebatang kara. Tak punya saudara lagi di metropolitan ini. Satu keluarganya dibunuh waktu berlibur ke padepokannya di Jawa Tengah. Sedang ia tak ikut berlibur, ia lagi sibuk menyiapkan skripsi. Pelaku dari pembunuhan tersebut adalah mitra bisnis ayahnya. Bukan hanya dibunuh, melainkan mencuri harta sekaligus. Sempat ada beberapa orang yang berwajah garang dan bersenjata pun masuk ke rumah Sokret secara tiba-tiba. Mereka mengobrak-abrik seisi rumah. Sokret ketakutan. Ia mengintip dari sela jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Ia coba

mengabari keluarganya lewat gawai namun tidak ada yang aktif. Ia menduga ada yang tidak beres dengan kondisi keluarganya. Tanpa panjang pikir, lekas ia menyiapkan barang dan memasukannya ke dalam ransel. Kemudian ia diam-diam menyelinap keluar dengan hati-hati dan sembunyi, setelah itu berlari ke halaman belakang dan berhasil kabur dari Jakarta hingga ke Pamulang.

Entah apa motivasinya sampai ke wilayah ini. Entah lah. Ia pun tak sempat memikirkan itu. Ia hanya terus berlari, berjalan, menumpang kendaraan, menjual gawainya karena lapar, serta meminta makan di warung-warung makan atau mencari makan dengan menjadi musisi jalanan yang memiliki suara buruk dengan alat musiknya tepuk tangan, lalu ia menginap dari suatu tempat ke tempat lain di pinggir jalan dengan tidur yang tak nyaman. Dihantui mimpi buruk setiap malam.

Ia pun baru jelas mengetahuì keseluruhan peristiwa yang menimpa keluarganya dan pelakunya adalah mitra ayahnya ketika makan di salah satu warung makan yang menyediakan televisi. Televisi tersebut menyiarkan berita dengan pelaku yang membunuh keluarganya sudah tertangkap. Tapi ia masih waspada jika balik ke Jakarta. Takut anak buah mitra bisnis itu masih mencarinya. Jadi ia lebih memilih jalanan di sini.

Sepanjang kehidupannya yang nomaden, pikirannya selalu dan semakin mengakar. Bagaimana bisa manusia berperilaku kejam? Mengapa kejam itu dihadirkan di dalam kehidupan? Apakah sebegitu penting keberadaan aksi kriminal untuk jalannya kehidupan? Apakah orang yang melakukan kekejaman itu karena kurang menyadari akan kesatuan semesta dan kurang mengembangkan kebijaksanaan di dalam dirinya? Dan masih banyak pemikiran-pemikiran lainnya yang menghantui isi kepalanya dengan penuh kekecewaan dan kesedihan.

Maka dari itu, ia sangat berambisi. Mengajak dan menyebarkan ajaran filsafat kepada orang-orang, termasuk anak-anak muda yang masih kencang dengan sisi liar, guna mengembangkan cinta dan kebijaksanaan di dalam diri manusia agar tingkat kriminalitas berkurang. Secara gratis. Cuma-cuma. Tanpa pungut biaya macam kaum Sofis, kalau kata Sokret.

Bahkan ia pun tak ingin punya istri dan anak sampai kapan pun. Sebab itu akan membuat dirinya untuk wajib menanggung kebutuhan-kebutuhan yang bersifat materil. Dan itulah yang lambat laun akan membatasi, bahkan menghilangkan kebijaksanaan. Meski dirinya pun masih mengakui bahwa ia tak tahu apa-apa dan masih jauh dibilang bijak. Maka dari itu, ia selalu memberi tanya, tanya, dan tanya.

Karena ambisi tersebut, perguruan kami tidak hanya sekadar menghabiskan waktu untuk berdiskusi lalu aksi nyatanya tidak terlihat seperti kebanyakan mahasiswa yang di kepalanya hanya dipenuhi polisi moral.

Saban hari, kami turut mengekor Sokret. Kami menghampiri orang-orang di lantai depan ruko-ruko. Bahkan bukan hanya di ruko-ruko. Di jalanan pun juga. Selagi ketemunya orang-orang, Sokret akan mengajak mereka berfilsafat. Kami selalu masuk pembicaraan melalui sela-sela ungkapan Sokret. Tapi sial, hampir semua dari mereka tak tertarik berfilsafat. Ada yang hanya sibuk dengan gawai. Ada juga yang resah, buru-buru pulang seperti teman-temanku waktu awal ketemu Sokret. Ada juga sekawanan yang memperkenalkan diri bahwasannya mereka adalah mahasiswa, mahasiswa-mahasiswa itu sudah berdebat dengan Sokret namun pergi begitu saja di tengah-tengah perdebatan. Entah karena malu kalah debat atau malas berpikir panjang. Entahlah. Ia cukup berhak menutupi kebodohannya untuk menjaga diri agar tetap terlihat pintar sebagai mahasiswa.

Ya, dari sekian banyaknya orang-orang tersebut. Hanya dari mereka yang waktu lagi sendiri duduk di lantai ruko yang mau bergabung dengan kami. Kalau kutafsir orang itu pun sama bibit pemikirnya dengan kami.

Menurut perguruan kami, era digital ini sudah banyak menyediakan ruang kenyamanan sehingga orang-orang sibuk meningkatkan dopamin mereka dengan hal-hal yang kosong sejatinya. Membuat orang-orang menjadi malas berpikir dan bertanya perihal kehidupan dan manusianya. Memang lagi pula untuk apa? Kini semua sudah tersedia. Instan. Hanya mengikuti alur dan mencari aman. Meski itu tetap banyak masalah tapi segalanya lebih dari cukup untuk menghidupi hidup.

Tapi bukan itu konsepnya. Walau hampir seluruh manusia mempunyai filsafatnya sendiri-sendiri berdasarkan kesadaran pandangan terhadap kehidupan. Menurut perguruan kami, tidak cukup sebatas itu. Hanya sebatas kulit luar. Tidak memaksimalkannya. Dan tanpa memaksimalkan hidup berfilsafat, manusia akan menghitamkan diri bagai noda yang semakin lama semakin menutup cermin di dalam dirinya. Sehingga manusia tak mampu melihat dirinya. Apalagi mengamati kehidupan. Sebab semesta di luar dan di dalam diri saling berkaitan.

Bicara soal memaksimalkan. Kami pun memaksimalkan penyebaran dengan cara lain. Selain menghampiri orang-orang untuk berdiskusi, kami pun turut mengekor Sokret pula untuk memberi lembar-lembar kertas di jalanan bak orang yang menyebarkan lembaran brosur. Lembar-lembar kertas yang berisi sebuah pertanyaan mendasar. Siapa saya? Dimana saya? Apakah saya ada? Apa itu tidak ada? Dan lain-lain. Berharap pertanyaan-pertanyaan itu menimbulkan respon yang merangsang pembaca dapat berpikir secara mendalam seperti sosok Sophie di salah satu novelnya Jostein Gaarder.

Selain itu, kita juga mengadakan orasi di jalanan. Sokret berkumandang perihal betapa pentingnya berfilsafat. Sembari para muridnya membagikan lembar-lembar tersebut kepada orang yang lalu lalang.

Tapi terlihat dari respon orang-orang itu tidak seperti yang kita harapkan. Bahkan hanya sedikit mengapresiasi pun tidak. Banyak dari mereka mengambil lalu membuangnya bagai sampah yang terlantar di jalanan. Banyak dari mereka yang hanya melihat lalu tak peduli. Banyak dari mereka menertawakan kami. Mungkin mereka menganggap kami hanya sekumpulan orang bodoh, orang gila, atau naif, atau apa pun panggilan yang tidak menyenangkan atas aksi kami.

Maka kami pulang ke markas dengan berdiskusi kembali. Memikirkan rencana-rencana selanjutnya.

"Sepertinya orang-orang tak cukup dikenali filsafat dengan serenyah Jostein Gaarder yang memudahkan penjelasan kerumitan filsafat dibanding buku-buku filsafat lain. Sepertinya kita perlu menjadikan penyebaran ini melalui kesenangan. Juga menyatukan diri penyebaran tersebut ke orang-orang, misal melalui gawai." Usulku di tengah-tengah diskusi.

Sokret pun tersenyum. Para murid terpancing untuk berpikir bagaimana cara mewujudkan usulku. Sementara kita semua tidak memiliki gawai dan kali ini kita sama-sama menciptakan perubahan. Sebuah apresiasi yang selalu membuatku lebih bersemangat. Begitu juga Sokret. Aku tak pernah melihat Sokret senyum selebar itu kepadaku dan menanggapi respon tersebut dengan gagasan-gagasan liar.

Begitulah sepenggal kisah yang dapat tertulis pada beberapa lembar di dalam binderku yang menjadi catatan harianku. Ya, catatan harian. Sokret menjadi sebagaimana Sokrates yang tidak pernah mencatat buah pikirnya. Ia hanya selalu membawa

ransel yang besar dengan pakaian-pakaian dan binder serta alat tulis yang jumlahnya cukup banyak. Katanya, binder dengan kertas-kertas kosong dan alat-alat tulis itu merupakan sisa perlengkapannya waktu kuliah. Akan tetapi, lembar-lembar kertas itu hanya dibagikan ke para murid. Beserta alat tulisnya dibagi masing-masing. Kami lah, para murid yang mencatat semua ide pokok dan kisah perguruan ini. Guna menyebarkan ajaran bila kami punya penerus nanti.

"Pluto, kau harus bangun akademi. Ciptakan sosok Aristoteles." Pesan Sokret kepadaku.

Ya. Pluto. Itu panggilannya kepadaku. Sebuah pelesetan dari salah satu murid Sokrates. Hanya karena pada saat kali pertama bertemu dengannya, aku menjawab salah satu pertanyaannya yang mengenai pemahaman manusia di dunia nyata dengan menggunakan metafora. Sebagaimana metafora mengenai gua.

Kembali lagi pada misi kami. Kami merancang dan merampungkan rencana sematang mungkin. Hingga malam yang disebut di paragraf pertama menjadi pagi. Dari siang menuju malam kembali. Dari malam menuju pagi kembali. Begitu seterusnya selama beberapa hari di markas.

Tapi suatu siang, ketika kami ingin selesai merampungkan rencana, tiba-tiba ada mobil berhenti di depan kami. Dari mobil tersebut keluar orang-orang berwajah seram dengan menggunakan seragam petugas. Orang-orang itu menghampiri kami. Disusul ramainya warga mengerumuni kami. Kami ketakutan. Begitu juga Sokret.

Kami pikir ada yang tidak beres. Akan ada bahaya yang akan menjumpai kami. Jadi kami coba menghadang mereka guna melindungi Sokret, tapi entah mengapa para petugas dan warga dapat lewat begitu saja. Dapat menembus tubuh kami. Lalu mereka menarik paksa Sokret.

"Apakah kalian ini kaum Sofis? Tolong, jangan menyuruhku minum racun! Aku tidak menyesatkan pikiran generasi muda!" Teriak Sokret yang semakin ketakutan, mencoba berontak dari genggaman petugas.

Melihatnya seperti itu. Aku tidak tega. Aku coba mendekati Sokret dan para petugas. Aku coba pukul para petugas. Tapi, sial. Pukulanku tak berdampak apa-apa. Lagi-lagi aku seperti bayangan. Tanganku menembus wajahnya.

"Pluto... bantu aku, pluto. Ayok, pukul lagi!" Kata Sokret yang masih bertahan di tempat.

"Tenang, kami akan merawatmu." Kata salah satu petugas di hadapannya.

“Kalian yang membunuh keluargaku. Pluto... lari! Mereka berbahaya!”

"Begitulah, sebenarnya orang gila di jalanan rata-rata mengidap skizofrenia. Tapi karena tak terurus, jadinya seperti ini. Ia menjadi gelandangan dengan sering berbicara sendiri. Menciptakan tokoh khayalan tanpa ia sadari. Bahkan bisa menjadi bahaya bagi masyarakat apabila dibiarkan. Akan meresahkan warga. Bisa-bisa ia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan akibat suara-suara di kepalanya dan merugikan masyarakat." Kata seorang berpakaian layaknya mahasiswa kepada kawan di sebelahnya yang sempat aku dengar. Aku mendengar kata-katanya karena ia cukup dekat. Ia berada di hadapan antara aku, Sokret, dan para petugas.

Setelah kuperhatikan, ternyata kedua mahasiswa itu merupakan mahasiswa yang pernah berdebat dengan Sokret. Aku menduga ia dendam. Ia yang melapor semua ini. Bajingan! Ia sungguh-sungguh kaum Sofis, kalau kata Sokret.

Kata-kata mereka ternyata didengar juga oleh Sokret. Kata-kata itu cukup melemahkan Sokret. "Apa benar aku gila?" Tanya Sokret kepadaku. Aku menggelengkan kepala.

Tapi sial, semua berjalan begitu cepat. Para petugas dengan mudah menarik Sokret yang lemah. Sokret terlanjur dibawa ke mobil petugas dengan wajah pasrahnya. Sesekali ia melihat petugas yang lain mengambil ranselnya. Lalu menaruh ransel itu bersama Sokret. Di lain sisi, Sokret membayangkan kalau selama ini ia menyebarkan ajaran dengan sendirian. Sendiri menghampiri orang, sendiri berdebat dengan orang, sendiri berorasi dan membagi kertas, sendiri menulis di binder, bahkan sendiri di lantai depan ruko.

Sekejap lamunannya kabur. Dikagetkan suara mesin kendaraan yang menyala. Ramainya warga yang menonton pun buyar. Mobil petugas jalan. Di pertengahan jalan, kami, para murid muncul. Menemani Sokret di antara petugas-petugas yang menjaganya di dalam mobil.

"Tenang, Sokret. Kita akan menyebarkan ajaran filsafat di tempat selanjutnya. Kami akan buat akademi di sana." Seru kami, para murid. Sokret pun tersenyum lebar. Lalu mengajak diskusi.

Pamulang, April 2023

ARE You SUFF-ERING

TINGBOY

BAD POEMS FOR BAD PEOPLE

Oleh: Human Mindset

Pagi ini seharusnya damai. dari toko kecil, mall,
Tapi mengapa suaranya hingga gedung pencakar
ramai. langit sudah saling
Mesin itu sibuk bertatapan.
menggaruk-garuk tanah Beton-beton yang gagah
suaranya menyulut perkasa Mengalahkan
amarah. kokohnya pepohonan
Membuat Ku penuh ya jelas ini ulah si Rakus.

dendam, dan ingin marah. Tak ada upaya tuk

Hewan-hewan melata menghentikan,
bertebaran bahkan tuk sekedar
karna habitatnya telah di bersuara akan di
hancurkan. Burung-burung pun lenyapkan.
kebingungan mencari Si Rakus itu mulai berjalan
tempat pulang. membawa amplop-amplop
Karna seluruh pohon telah berisi uang.
di tebang Untuk membungkam mulut yang akan menjadi
Bumi Ku sudah tidak sehat pembakang.
Semenjak otak-otak Si Lantang di buat bisu,
kapitalis tumbuh melesat. bahkan yang aktif di buat
semua lahan di sikat. pasif. Si Rakus memang sangat
Tidak ada pelestarian yang handal untuk
ada hanya pengrusakan. mengendalikan segalanya.
Bahkan tempat bermain Mulai dari penolakan,
anak-anak pun menjadi pemberontakan semuanya
sasaran ia mampu selesaikan.
Gedung-gedung mulai sangat handal bukan?

bermunculan

PUISI INI UNTUK MANTAN KEKASIHKU YANG JUGA SEORANG PENYAIR

Oleh: Deimos

Oh! Kasihan betul kamu Kamu membaca sebuah cerita romansa dimana tokoh laki-laki nya berkata 'Hana, aku meninggalkan kesedihanku di halaman belakang, menguncinya serapat mungkin serupa kemewahan di brankas para Tiran, hanya untuk menyelami ke-dua matamu dan berlama-lama mengheningkan kesejukan nya' Namun Laki-laki di hadapan mu Hanya bisa mengatakan "Aku mencintaimu" Setelah mengelap ceceran spermanya di atas perutmu

BENTUK LAIN DARI KEGAGALAN

Oleh: Deimos

Ada secuil borok yang bersarang di selangkangan para Optimistis-Futuris Ia menjalar dari satu titik menuju titik lain setiap kali mereka mencoba satu solusi ke solusi lain Kebutuhan akan dunia baru yang mereka siarkan tidak pernah lebih dari sebuah ilusi untuk menutupi borok yang gagal mereka sembuhkan

Borok itu disebut sebagai Persatuan Ego-Nihilis Atau biasa mereka sebut sebagai "bentuk lain dari kegagalan yang bernapas dan berjalan"

READ MY LIPS

Oleh: @_syauqiii

SEMBILAN MALAM

Oleh: Urban Han Urban

Kemeja rapi dikenakan Dengan celana hitam dan sepatu kulit Menyusuri malam dipinggir jalan Menyerahkan diri pada keadaan yang kian sulit

Otaknya disetting pabrik Pabrik yang dinamai Sekolah dan rumah rumah tuhan Berkemampuan dan tanpa perlawanan Kelimis rapi dan tampan Pemberani dan siap ditekan Hidupnya ? Hidupnya ?

Hah....Hidupnya ?

Dia tidak punya

Hanya wajah lusuh yang tersisa Menempel pada raga milik negara Dengan jiwa takut hukuman dan dosa Dengan hidup yang tak dijamin bahagia

Dia di jaga tetap bernapas Dengan jaminan kesehatan Dia di jaga tetap bisa makan Dengan upah pas pasan Dia hanya mesin dalam wujud manusia Dengan pengaturan bawaan

Siapa dia ?

Bogor, 3 april 2023

Oleh: Urban Han Urban

Ada,

Di antara mereka yang Bulan sabit samar-samar
matanya lebih terlihat
merah daripada mata seperti lampu jalan di kala
seorang subuh
pemabuk Dimana awan-awan
Berdiri tegak dan berkeliaran
mendongak menhalangi
Membuat lelucon dan di hidungnya tercium bau
tertawa hujan yang
terbahak seperti mie instan baru
Tapi hatinya… matang di atas
Menjadikan kata kasar aspal panas
sebagai koma Sementara itu,
di antara jeda Seorang di antara pemabuk terdiam
Asap terus mengepul dari menutup mata tapi tidak
mulutnya tertidur
Dijepitnya sebatang rokok Terjaga
di sela-sela Hingga dunia berubah
jari menjadi lebih
Hingga pabriknya terbakar nyata
dan hilang Hanya untuknya
“Melampaui batas” Untukku
teriaknya Untukmu
Sambil melihat bara api hampir Dan untuk alam semesta
mengenai ruas jari 29 Maret 2023

telunjuknya

Oleh: @_syauqiii

ADALAH IDE DI RECYCLEBIN

Oleh: Syamsul Fallah

Sangkuriang menirukan Merangkul penyu
suara hujan bertumbuh
di kepalanya, Mengisi perut-perut ikan
sambil berteduh, Salinan sidik jari kita
beristirahat menjelajahi palung
menghela napas agar bahtera beres tepat mariana
waktu Tak perlu kita sadari
Alangkah tingginya pencemaran besar-besaran
birahi Sang Kuriang Mengubah ekosistem yang nyaman
Mari kita buang Dayang Menjadi uncomfortable
Sumbi! dengan sengaja
Si penyihir tak tahu diri Karena kitalah Sang
mengenakan tipu muslihat Pemilik
agar moral tetap terjaga Apanya yang moral? sampah
Apanya yang terjaga? Di palung mariana,
Datangnya pagi yang samudera pasifik
dicuranginya Berton-ton sampah terurai
Buat birahi Sang Kuriang membunuh Dayang Sumbi
jadi menendang bahtera menyuburkan Sangkuriang
Terjungkal, terlempar Walau perlu waktu sadar
menjadi sampah dalam berjuta-juta tahun

lamanya Sampah punya bak seluas samudera Jakarta, Februari 2022 Memberi warna lain pada laut

(SHUFFLE) CELENG-JANGAN-IA-...

Oleh: Syamsul Fallah

Koin-koin campuran Orok sedari kandungan
alumunium dijejali jargon:
Kertas lecak berbentang- "Apa guna hidup bahagia
bentang tanpa uang?"
Perut celeng terus-menerus Mulut sampai berbusa
lapar agar sungguh menjadi
Lilin terjaga sepanjang siang celeng
Karena siang, malam juga, Uang diatur menembus
bukan? Tuhan Tuhan disuruh
Kerja berganda sepanjang menyembah uang
siklus Tuhan ditenteng di ketiak
Sampai lusuh baju-baju si Tuhan dijadikan hamba
celeng video game
Menunduk melipat waktu: diperdagangkan
Matanya celeng oleh para pemuka kitab
Kepalanya celeng oleh para pembuat
Perutnya celeng peraturan
Badannya celeng dengan pemasaran
Ibunya celeng maksimal
Ayahnya celeng Padahal Tuhan tak butuh
Saudaranya celeng uang
Rekannya celeng Padahal Tuhan tak ingin
Bosnya celeng Kantornya celeng dipermainkan
Kotanya celeng Padahal menjaga jadi tugas
Negaranya celeng utama
Buminya celeng Apalah daya hanya celeng
Langitnya celeng si pemilik hasrat Mengeluhkan nyata yang
Celeng sedari orok serapah
Akan menjadi budak Sungguh celaka si celeng,
dalam permainan tidak terima dirinya
Tanpa tahu bahwa sudah celeng.

dipermainkan Jakarta, Februari 2022

KENYANG

Oleh: Habil Triantoro

Combro dua Combro dua Tempe dua Tempe dua Singkong satu, juga tahu Singkong, juga tahu

Singkong satu, juga tahu Singkong, juga tahu
Digoreng bersama dengan Pembeli protes, lantaran
minyak panas combro, tempe, singkong,
penjualnya ikut memanas juga tahu tak sesuai lagi
lantaran berita di koran impor kedelai mahal, bentuknya.
pedagang kian di peras Pembeli pun tak hilang
akal
Combro dua Pesannya;
Tempe dua Pisang molen dua
Singkong, juga tahu Ubi dua
Dikunyah bersama dengan Misro, juga piscok
cabai rawit yang diberi Kedelai dan cabai rawit
cuma tiga oleh penjualnya tak jadi soal, yang penting
Lantaran di pasar satu kilo cabai rawit menjulang urusan perut terganjal
harganya Bekasi-Jakarta, 2021

MEI Oleh: Habil Triantoro

Lusa, pekerja dan petani Tuntutannya dipenuhi
berunjuk rasa Sebagai peringatan setiap Tanahnya di gerogoti
tahun (3)
Pekerja menuntut sejahtera pekerja dan petani
Petani meminta subsidi berunjuk rasa
kebutuhan pertanian Sebagai peringatan setiap
tahun
Pabrik sepi pekerja Ada yg menuntut
Ladang menganggur lowongan pekerjaan
seharian Ada yg meminta tanah

(1) Petani di suruh datang,

untuk pertanian

(2)

Pengusaha tak hilang akal Pengusaha dongkol
Pekerja dipilah oleh Pemerintah konyol
mereka Akhirnya muncul
Sebagian di beri peraturan
tuntutannya Peringatan setiap tahun,
Sebagian lagi di phk masal ditiadakan!
Pemerintah tak ambil Jakarta, 2022-2023

pusing

TENTANG NEGARA DAN SENGSARA

Oleh: Frn

Jangan tanyakan ini habis sudah uangnya untuk
pertemuan apa, tapi coba pahami tentang konflik memperkaya kolega istana.
agraria yang diciptakan Jadi jangan tanyakan
penguasa mengapa dan jangan tanyakan apa setelah
Jangan tanyakan ini negara memukul kita
permufakatan apa, tapi coba lah lihat suara-suara untuk hidup sengsara!
itu yang berakhir di Tak ada bahagia dalam
penjara negara, tak ada cinta dalam negara dan hanya ada
Jangan tanyakan ini membicarakan apa, tapi neraka di dalam negara!
coba rasakan kembali Kita berhak hidup bebas
tentang akses pendidikan dan merdeka, maka
yang semakin sengsara enyahlah kalian para polisi dan tentara selaku robot
Dan jangan tanyakan kenapa kami membakar, dan kaki tangan negara!
tapi coba lihatlah ke dapur, Pergilah kalian ke neraka,
tentang tungku api yang dan sekali lagi "pergilah
tak lagi menyala karena kalian ke neraka bersama
habis sudah uangnya untuk negara yang kalian sembah
bayar pajak Negara melebihi Yang Maha Kuasa!"
Tak ada subsidi yang Yogyakarta, 25 Feb 2023

diterima, tak ada subsidi yang diterima dan tak ada rasa lapar yang usai karena

SEGENGGAM AMARAH MERANGKUM DERITA

Oleh: Frn

Kabar rona jingga di sederetan angka yang
penghujung malam yang sunyi layak mati untuk alutsista
Apakah dirimu akan gugur Begitu pun juga dihadapan
bersama matahari yang pemerintah, maka
menyinari abu-abu rapi? bagaimana mungkin
Ataukah dirimu akan mereka adalah tempat kita
redup pada pekatnya untuk bercerita
cumulus yang Sementara mereka tak
berkecamuk? Ah sialan, aku tak tahu apa pernah membiarkan kita untuk benar-benar terjaga
yang akan kemudian Seorang anak
terjadi pada putaran roda mengatakannya dengan
waktu di peradaban tua tangis di papua Dunia punya luka yang
Aku tak tahu sampai kapan sama dan Papua akan terus
kita akan terus hidup, tapi berdarah untuk tembok
yang ku tau, kita semua berhak hidup bebas tanpa putih milik istana
kekangan senjata polisi Atas nama NKRI hargai
atau sangkur baja milik mati, papua di aneksasi,
tentara papua di aneksasi Dan Indonesia
Membakar sebatang ganja memperkosa ideologinya
lalu kemudian terbang bagai asap sativa sendiri Free west papua, free west
Kasihku dihadapan papua, dan free west papua

senjata, kita adalah Yogyakarta, 5 Mar 2023

BARISAN AKSARA

Oleh: Ade Martir

Biarkan sajak ku berjalan Tapi aksara tetap ada
dalam kegelapan... untuk menampar keras
Dihempaskan kenyataan, diasingkan peradaban... muka para kekuasaan...
Biarkan syair ku tetap Merekalah barisan aksara
bergema kencang merobek perlawanan...
sejuta kepentingan Merekalah para pejuang,
golongan... dalam abjad rudal meroket hempaskan jiwa dalam
Aksara ku tak pernah imajinasinya...
binasa... Merekalah Merah yang
Mematahkan ilusi dan menghujat ketidakadilan akan berkibar gagah...
yang ada... Sajaknya tentang
Aksara ku takkan gentar perjuangan...
berhadapan dengan Sajaknya adalah bahasa
senjata... keadilan... Karena bahasa takkan
Karena tiap bait telah pernah mati, akan selalu
terbang ke angkasa... ada dalam pijar mentari...
Seperti Wiji Thukul yang Dan kami akan sadar diri
hilang dibalik meja, Munir bahwa itulah darah juang
yang dibinasakan dari peradaban dunia, Marsinah kami...
di pabrik-pabrik keji, Yogyakarta, 4 April 2023.

Tombak Tabuni di hutan- hutan Papua...

MENJELMA

Oleh: Ade Martir

Kami siapkan rima insureksi di setiap ketek skeptis yang menjelma kerangkeng agama...

Memblejeti setiap hegemoni dan kontrol atas nama kebaikan dan moralitas...

Kami siapkan manifesto "Kemerdekaan & Kebebasan Sejati" di tengah ribuan istilah alibinya rezim...

Engkau tidak perlu menjadi Emma Goldman, Bakunin, Marx, Engels, Lenin, atau Che Guevara...

Bahkan tidak perlu mengacungkan ibu jari untuk Zapatista...

Kita adalah korban dari kebiadaban, dan kebusukan sistem negara bangsa yang busuk...

Kita adalah sisa-sisa peluru moncong senjata Facist Militerisme...

Kita semua adalah anak haram jadah sejarah yang tidak diajarkan dengan sebenar-benarnya...

Maka, tetaplah hidup. Sebab, tulang belakang kita kuat agar tidak membungkuk di hadapan sebongkah daging dan tulang yang menamai dirinya Pemerintah...

KEMENANGAN?

Oleh: Labirin Hitam

Betapa merdeka orang- orang masa kini Ketika semen dan pasir diadupadankan Hingga membentuk kontruksi kesialan Merasa bangga akan kemegahan

Betapa merdeka orang- orang masa kini Jual beli tanah menjadi profesi yang menguntungkan Tapi jalan-jalan setapak dipenuhi cor-coran Dengan terang mereka merancang penghanyutan

Betapa merdeka orang- orang masa kini Bersekolah tinggi tanpa peduli keadaan Menjadi robin dengan almamater kebanggaan Menyibukan diri dengan diskusi tanpa solusi

Betapa merdeka orang- orang masa kini

Membentangkan bendera sebanyak banyaknya Bertarung keras dengan bendera tetangga Lupa mereka masih ada campur daging dan darah

Betapa merdeka orang- orang masa kini Mengesahkan keuntungan di tengah rembulan Kelicikan hidup di samping kesusahan Asal senang masa bodo terpinggirkan

Betapa merdeka kita ini Keadaan sudah sangat menjengkelkan Namun aku masih sibuk dengan tulisan Juga kau masih nyaman dengan buku bacaan Dan dengan tololnya setiap tahun kita bersorak rayakan kemenangan

Depok, Oktober 2020

PIDATO ORANG-ORANG YANG TERBUANG

Oleh: Labirin Hitam

Selamat malam saudara-Menghancurkan suatu saudara negara itu sangat mudah Dengan keberagaman jamaah sekalian persoalan yang ada Hanya dengan Akhirnya kita berjumpa menyaksikan tanpa diatas keresahan berbuat apa-apa Yang juga terhimpit itu sudah menggugurkan dengan keadaan kewajiban membangun bangsa. Saudara-saudara sekalian

Mari bersama kita merusak Jamaah sekalian, segera
bangsa laksanakan mencari
Sebab jiwa kita tak bisa pekerjaan
melulu merana Menjadi pegawai,
Kawan-kawan serupa karyawan, atau buruh.
anjing yang menertawakan Itu lebih disebut
Orang-orang tua yang manusiawi daripada
sukanya mencampakan bergerak monoton meski di jalur kebaikan global.
Mari sama-sama kita Hidup kacung!! Rapatkan
menjadi liberal Jika menjadi idealis kita barisan perbudakan!!
ditertawakan Selepas pidato ini saya
Jika gagasan-gagasan kita minta semua bubarkan
disepelekan barisan, mengingat kita
Jangan takut disalahkan harus beristirahat
sebab kita sudah sebab besok kita harus
dikecewakan. pergi berkerja dengan seragam kebanggakan!!
Mari kita rapatkan barisan Lalu kembali pulang,
dan melangsungkan ibadah beristirahat, pagi pergi
pasif menjadi karyawan lagi.

Esok atau lusa nanti

Kita masih sama, dengan jamaah pasti akan
kecemasan-kecemasan mengerti
esok Menyaksikan keseruan
Kecemasan cicilan, biaya pertandingan di
makan, hingga modal judi gelanggang kemunafikan
dan prostitusi Lalu Bersiaplah kita akan
Kemaskulinan harus tetap berpesta merayakan sistem
kita jaga, sosial yang maha
agar masalah-masalah ancurnya!!

yang nyata dapat dilupa

Jangan perdulikan sosial, sebab tugas kita masih sama menghancurkan negara tercinta!! Sebentar lagi Pemuda akan mati dalam hitungan hari Dan kita akan menjadi besar tanpa memperdulikan sekitar Sebab kita hanya golongan yang terbuang Yang terasingkan, yang tak diterima di mata cendikiawan!!!

Jamaah sekalian yang sangat saya hormati

Egosentris, otoriter, bahkan ketergantungan. Bukan lagi milik kita Kebiasaan-kebiasaan buruk sudah menjadi kultur dari langit sampai akar Membangun Tembok- tembok kedunguan semakin tinggi Dan saat pertandingan telah usai, mari berpelukan Mari kita bangun gelanggang untuk orang- orang yang terbuang

Ngunut, 18 November 2020

Oleh: @_syauqiii

BUKAN BERANI

Oleh: sangat sangat jauh

di tempatku lahir dan besar tak kutemukan takut pada tuhan. sumpah cuma sebatas kata tak ada nyawa jadi sampah di selokan bikin banjir jalanan

di tempatku lahir dan besar tak kutemukan takut pada setan. ruang gelap atau kabut kelam cuma ilusi peliharaan tanpa majikan

di tempatku lahir dan besar tak kutemukan tempat untuk takut. asal dapat makan dan tak kelaparan urusan sorga dan neraka selesai tinggal nisan tanpa nama

PUISI-PUISI GAGAL BUNUH DIRI

Oleh: sangat sangat jauh

puisi-puisi gagal bunuh diri nafasnya tertahan pada tiang gantungan ditolong tangan-tangan penyair lembek yang menopangnya dengan susah payah

puisi-puisi gagal bunuh diri kini mereka terbaring sekarat pada lemari dingin penyimpan mayat

DI GEREJA BARAT

Oleh: Rifki Syarani Fachry

–Hedgerows

Revolusi dikubur di dinding gereja Bunga-bunga mati di halaman bercerita tentang surga-surga yang terkunci Pengemis buta menangis menahan lapar di tengah khotbah Dua anak kembar datang tanpa ibu dan ayah Seorang bayi bermimpi dipangkuan ibu angkatnya Para jemaah mendapati telinga mereka berdarah.

Dalam akapela Tentara dan tuhan menodongkan senjata ke leher bapak Mengawasi kalimat terakhirnya Setelah haleluya tak boleh ada kata bebas dan merdeka.

ASYLUM

Oleh: Rifki Syarani Fachry

Kesengsaraan adalah rumah sakit jiwa kosong yang kuhuni.

Di sana Bayangan-bayangan bunuh diri duduk di kursi loket pengambilan obat Lorong-lorong bisu meniru suara tertawa gilaku Jam-jam besuk keluarga melewatkanku Jadwal kontrol tak pernah memanggilku Harapan dikunyah waktu yang lapar Ranjang-ranjang besi ditiduri revolusi dan puisi Ruangan-ruangan berterali besi mengurung pelarian masa laluku.

Dan tuhan placebo!

Rifki Syarani Fachry

Penyair kelahiran Ciamis 1994.

PINTU

Oleh: Kuninghitam

Kegelapan adalah pintu. Menggali lubang kuburan sendiri adalah kunci. Maka masuklah merapal puisi meninggalkan dunia serupa sufi

Kegelapan adalah pintu. Dari silet cahaya peradaban dunia. Kabur membawa luka serupa musafir meninggalkan derita

Di balik pintu; pejamkan mata tidak ada yang benar-benar gelap. Di balik pintu; masuki goa tidak ada yang benar-benar hitam

KERINGAT DENDAM

Oleh: Kuninghitam

Tidak ada kemenangan hari ini biar luka peluru membusuk sampai hari akhir. Tanggung semua rasa sakit jawab semua dengan kenyataan pahit

Hidup tidak patut dimenankan. Tetapi keringat dendam masih mengalir sampai sekarang. Kekalahan menampung semua orang

BAWAH

NA UNG

Oleh: siouximular

TERBAKARLAH

Oleh: Burn Flamb

Di bawah negara ini, Kunyalakan sendiri api pemberontakanku terhadap semua kontrol kontrol yang mencoba mereduksi bara egoku. Aku ingin melihat dunia ini terbakar beserta semua jeratannya. Aku tak ingin mencoba mengubah dunia seperti para pembangkang utopis yang ingin mengubah tatanan sekarang menjadi kerangkeng baru.

Tak ada lagi harapan Tak ada lagi panduan yang harus diikuti Tentukan nasibmu sendiri

Di akhir kalimat, aku hanya ingin mengatakan; Bakar saja tulisan ini, kau tidak memerlukannya. Kau hanya butuh nyali untuk meledakkan semua apa yang ada di sekitarmu.

TERBAKARLAH

米 RI BAWAH NEBARA INI KUNYALAKAN SENPIRI API PEMBERONTAKANKU TERHADAP SEMVA KONTROL-KONTROLVAN6 MENCOBA MEREDUKSI BARAEGOKU 4KV INGIN MELIHAT DUNIA IM TERBAKAR BESERTA SEMUA JERATANNYA AKU TK INGIN MENCOBA MEN6UBAHIDUNIA SEPERTI PARA PEMBANGVANG UTORIS YANG INGIN MENEUBAH TATANAN SEVARANG MENJADI KERANGKEN6 BARU TAV ADA HARAPAN TAK ADA LAGI PANDVAN YANG HARUS DIIKUTI TENTUKAN NASIBMU SENDIRI D AKHRKACIMAT,AKVHANVA IN6INMENGATAVGAIN; BAAD SAYA TULBAN INI ,KAU TIDAK MEMERLKANNYA.

KAVHANYABUTUHNAUI UNTUKMELEDAKKAN

SEMUA APA VANGADA OISEKITARMU

ZINE#2

SENG-ISENG