Baca PDF (OCR): The Unique and Its Property (Indo)

377 halaman · 2 halaman diproses dengan OCR· 7665 ms

Daftar isi
  1. The Unique
  2. and Its Property
  3. MAX STIRNER
  4. The Unique and Its Property
  5. The Unique and Its Property
  6. MAX STIRNER
  7. Daftar Isi
  8. Pengantar Penerjemah
  9. Pendahuluan
  10. oleh Wolfi Landstreicher
  11. Mengapa membuat terjemahan baru?
  12. Untuk siapa saya melakukan ini?
  13. Stirner, Lelaki Bijak
  14. Tentang terjemahan
  15. Beberapa kata terakhir
  16. Max Stirner:
  17. Sang Egois yang Sadar
  18. Filsafat
  19. Etika
  20. Politik
  21. Kumpulan Karya
  22. Glosarium
  23. Aku tidak memiliki kepentingan apapun.
  24. BAB 1
  25. KEHIDUPAN MANUSIA
  26. BAB 2
  27. MANUSIA ZAMAN KUNO DAN ZAMAN MODERN
  28. I. MANUSIA ZAMAN KUNO
  29. II. ZAMAN MODERN
  30. 1. Roh
  31. 2. Kesurupan
  32. Spook
  33. Kelelawar-Kelelawar di Lonceng Gereja
  34. 3. Hierarki
  35. III. Yang Bebas
  36. mengacu pada apa yang terjadi kemudian.
  37. 1. Liberalisme Politik
  38. 2. Liberalisme Sosial
  39. 3. Liberalisme Humanis
  40. KEPEMILIKAN
  41. SANG PEMILIK
  42. YANG UNIK

EDISIBAHASAINDONESIA

The Unique

and Its Property

MAX STIRNER

The Unique and Its Property

E D I S I B A H A S A I N D O N E S I A

The Unique and Its Property

MAX STIRNER

Penerjemah Bima Satria Putra

Stirner, Max. The Unique and Its Property. Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Wolfi Landstreicher; Underworld Amusements, Baltimore (2017).

Cetakan Pertama, November 2019.

lxiii+281 hlm 14x21 cm

Fuck ISBN


Hak cipta bebas dan merdeka. Setiap makhluk dianjurkan dan dinasehatkan untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, menyebar isi serta materi-materi di dalamnya. Buku ini bisa diunduh gratis di pustakaanarkis.noblogs.org. Untuk keberlanjutan Pustaka Catut dalam proses penerjemahan dan penerbitan literature anarkisme, silahkan beli buku fisiknya. Itu adalah bentuk solidaritas yang nyata.


Pustaka Catut Facebook: Pustaka Catut Instagram: @pustakacatut Surel: [email protected]

“Menjauhlah semua hal yang tidak menjadi urusanku!” Max Stirner

Daftar Isi

Pengantar Penerjemah ......................................................... VII
Pendahuluan ............................................................................. X
Max Stirner: Sang Egois yang Sadar ............................. XXXI
Kumpulan Karya .................................................................... LX
Glosarium .............................................................................. LXI
BAGIAN 1 MANUSIA

I. Kehidupan Manusia ................................................... 3
II. Manusia Zaman Dulu dan yang Baru ..................... 13

I. Zaman Dahulu .................................................... 13
II. Zaman Modern ................................................... 26

  1. Roh ....................................................................
  2. Kesurupan ...........................................................
    Spook ..................................................................
    Kelelawar-Kelelawar di Lonceng Gereja ........

  3. Hierarki ..............................................................
    III. Yang Bebas ............................................................

  4. Liberalisme Politis ............................................

  5. Liberalisme Sosial ............................................
  6. Liberalisme Humanis .......................................
    Pos-skrip ...........................................................................
    BAGIAN 2 AKU

I. Kepemilikan .................................................................
II. Sang Pemilik .................................................................

I. Kekuatanku ..............................................................
II. Pertukaranku ..........................................................
III. Kenikmatan Diriku ..................................................
III. Yang Unik ....................................................................

vi

Pengantar Penerjemah

Max Stirner adalah seorang agitator Jerman yang tidak memiliki potret diri. Satu-satunya visualisasi fisik yang bisa kita dapatkan adalah sketsa kartun yang dibuat Engels (rambut cepak, berkacamata, kening yang lebar, dan menghisap sigaret sembari tersenyum sinis), dan ini menjadi sumber tunggal yang terus direproduksi hingga saat ini. Ia dikenal karena karyanya yang sedang anda pegang, Der Einziger und sein Eigenthum (1845). Dalam hal ini, saya lebih memilih mengikuti terjemahan Wolfi Landstreicher yang baru, The Unique and Its Property (2017) daripada terjemahan Byington, The Ego and Its Own. Saya sudah terlanjur menerjemahkan sebagian naskah Byington, tapi setelah membandingkannya dengan Wolfi, saya memutuskan untuk melakukan penyesuaian kembali dengan versi terbaru yang dikabarkan jauh lebih baik. Jadi, sekalipun pada mulanya ini adalah terjemahan dari naskah Byington, penyempurnaan yang saya lakukan membuat naskah ini pada dasarnya adalah terjemahan Wolfi. Saya akan berikan banyak catatan kaki di dalam naskah sembari membedakannya antara catatan dari saya (saya menggunakan -penj), Wolfi maupun Stirner. Saya menghilangkan pengantar penerbit dan penerjemah dari versi Byington dan menggunakan pendahuluan dari Wolfi. Sementara itu, biografi Max Stirner saya ambil dari bagian Demanding The Impossible karya Peter Marshall. Karena biografi ini disusun sebelum penerjemahan versi Wolfi, sebagian konsep-konsep penting masih menggunakan istilah lama. Dengan demikian pula, beberapa konsepsinya, menurut Wolfi, jelas meleset. Walau demikian, biografi oleh Marshall jelas salah satu penjabaran paling lengkap dan jelas yang pernah saya temui atas diri Stirner.

vii

Stirner banyak sekali menggunakan tanda baca koma untuk menyampaikan gagasannya yang panjang, sehingga menambah jeda dalam menuntaskan satu kalimatnya. Bagi kita yang tidak terbiasa dengan model penulisan semacam ini, kita akan dibuat pusing olehnya. Karena itu, saya sendiri tidak tahan untuk memindah-mindah penggalan kalimat tersebut ke dalam susunan bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami. Sisanya, cukup banyak parafrase khususnya dalam paragraf-paragraf yang jika diterjemahkan sebagaimana adanya, tampaknya, malah akan membuat pembaca menjadi kebingungan. Saya juga banyak memberikan catatan kaki tambahan untuk istilah-istilah yang tidak populer, juga menyusun glosarium yang berisi konsep penting dalam filsafat egoisme Stirner supaya anda lebih mudah memahaminya. Byington menggunakan spook, sementara Wolfi menggunakan phantasm. Saya memilih menggunakan yang pertama karena ia terlanjur populer dan karena dalam bahasa Indonesia, keduanya memiliki arti yang sama, “hantu” atau “menghantui”. Sebagai seorang individualis Kristen, Byington mengganti “kelelawar-kelelawar di lonceng gereja” dengan “roda di kepala”. Saya mempertahankan yang pertama karena ini adalah terjemahan yang benar atas naskah Stirner dan ia menekankan aura menyeramkan dari ide-ide yang baku. Saya menerjemahkan “involuntary egoist” sebagai “egois yang tak disengaja” dan bukannya “egois yang tak sukarela” karena yang pertama selain tetap sesuai dengan maksud Stirner dan terjemahan yang tidak benar-benar meleset, lebih mudah dipahami daripada yang kedua. Saya sangat menyarankan agar kalian mengenali terlebih dahulu filsafat hegelian, khususnya Feuerbach dan Bruno Bauer, yang menjadi salah satu sasaran kritik utama Stirner, sebagai pengantar awal untuk memahami karya ini. Selanjutnya adalah kontrak sosialnya Rousseau serta konsepsi propertinya Prodhon. Dengan sedikit usaha lebih,

viii

merampungkan buku ini adalah sebuah kepuasaan tersendiri. ’

Tambahan: Naskah terlantar ini tidak dilanjutkan lagi penerjemahannya. Saya tidak berminat lagi meneruskannya tetapi merasa sayang jika naskah ini tidak terbaca. Alhasil, saya putuskan untuk disebarkan. 2025

ix

Pendahuluan

oleh Wolfi Landstreicher

Mengapa membuat terjemahan baru?

Di atas segalanya, saya menikmati permainan bahasa dan kata. Bagi saya, menggarap terjemahan adalah suatu bentuk permainan. Dari aspek tertentu ia seperti bermain puzle, terkadang seperti lelucon yang kompleks, terkadang juga seperti eksperimen kimia (apa yang akan keluar nantinya saat menggambarkan konsep dari satu bahasa ke bahasa yang lain?) Semua tindakan ini menggerakan saya untuk melakukan penerjemahan, mengingat setiap terjemahan adalah interpretasi. Ketika saya pertamakali membaca The Ego & Its Own, saya sadar ada beberapa humor, sarkas, dan satire yang gagal di sepanjang buku tersebut. Saya tidak pernah paham bagaimana mungkin orang banyak bisa menyebut Stirner sebagai seorang yang “terlampau serius” –belum lagi beberapa kritikus (khususnya yang ingin mengenalkan ia sebagai pendahulu beberapa hak politik atau beberapa lagi yang membuatnya terlihat macam “iblis yang paling jahat”) yang mendakwanya demikian. Setelah penerjemahan Stirner’s Critics dan The Philosophical Reactionaries, saya menyadari beberapa ejekan, sarkasme, dan terkadang, humor kasar dan keluasan permainan katanya. Percobaan saya dengan terjemahan ini dan setelah sedikit berdiskusi dengan Jason McQuinn¹ mengklarifikasi beberapa

1 Jason McQuinn adalah editor Anarchy: A Journal of Desire Armed dan Modern Slavery: The Libertarian Critique of Civilization, dan pengarang “Clarifying the Unique and Its Self-Creation: An Introduction to ‘Stirner Critics’ and ‘The Philosophical of Reactionaries,’” yang mengenalkan dua terjemahan saya atas karya Stirner (Max Stirner, Stirner’s Critics, diterjemahkan oleh Wolfi Landstreicher, LBC Books dan CAL

x

kekurangan yang saya dapat dalam terjemahan Der Einzige und sein Eigentum yang ada, dan kenikmatan yang saya temukan selama kerja-kerja terjemahan membuat saya untuk melaksanakan proyek ini. Terjemahan Inggris pertama karya Stirner The Ego and His Own terbit pada 1907. Karya ini diterjemahkan oleh Steven T. Byington, anarkis individualis yang berada dalam lingkaran Benjamin Tucker. Tucker mendanai proyek (dan menerbitkannya hasilnya). Ia memutuskan menggunakan kata “ego” sebagai judulnya, bahkan walau itu bukan terjemahan yang akurat atas “Einzige”. Byington punya kemampuan bahasa yang baik dan bekerja hampir seumur hidupnya untuk menerjemahkan dan menyunting naskah. Jadi tidak mengejutkan kalau Tucker menyerahkan karya Stirner padanya. Tapi ada beberapa alasan untuk mempertanyakan benarkah Byington adalah orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Sekalipun ia adalah anarkis individualis, ia juga seorang Kristen –bukan seorang fundamentalis tentunya, tapi anggota aktif Gereja Kongregrasionalis Ballard Vale (sekarang Persatuan Gereja Ballard Vale) di Andover, Massachusetts dan menjadi pelayan gereja di situ selama tiga puluh dua tahun. Ia membuat proyek seumur hidup untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa Inggris modern dengan nama The Bible in Living English. Bisakah seorang Kristen yang baik menerjemahkan karya seperti Stirner tanpa mempelintir makna dasarnya? Saya ragu. Saya tidak mengabaikan betapa bernilainya terjemahan Byington. Tanpanya, saya tidak mungkin membaca Stirner atau termotivasi untuk memperbaiki kemampuan saya dalam bahasa Jerman. Tapi tidak ada yang kepikiran untuk melakukan terjemahan ulang. John

Press, 2012). Siapapun yang berminat mengeksplorasi latar belakang intelektual ide-ide Stirner, pengantar detail McQuinn adalah bacaan bagus untuk memulainya.

xi

Carroll² secara drastis menjembataninya dan membuat beberapa revisi. David Leopold³ merevisinya lagi dan menambahkan anakronisme (dan juga menambah beberapa kalimat dan frasa yang dihilangkan oleh terjemahan Byington), tapi Leopold sendiri juga melewatkan beberapa hal. 4 Terjemahan ini dengan demikian telah diperlakukan macam sebuah teks suci –sebuah ironi mengingat sudut pandang isinya. Saya memutuskan untuk membuat terjemahan yang baru karena, kalau dibaca dalam bahasa Jerman, saya menyadari ada beberapa kesalahterjemahan dari judul dan kalimat pertama dan terakhir⁵ yang bukan satu-satunya kekurangan utama Byington. Sepanjang buku ini, pembaca akan tahu nanti kalau kata “ego” tidak hanya digunakan untuk menerjemahkan “Ich” (aku), tapi berulang kali digunakan untuk menerjemahkan “Einzelne” (individual) dan “Einzige” (yang unik). Sebagai tambahan, ada beberapa kalimat yang kasar yang telah Byington hilangkan dan juga beberapa humor yang jadi gagal dipahami. Tapi dari semuanya, setelah membaca Stirner dalam bahasa Jerman yang asli, saya merasa bahwa Byington telah menghilangkan banyak keganasan Stirner yang menyenangkan, yang ingin saya munculkan lebih banyak lagi. Dan di samping itu, seperti saya bilang, saya suka bermain dengan bahasa. Saya suka dengan pergulatan untuk mencoba tidak hanya membawa makna, tapi juga perasaan, dari satu bahasa ke

2 Editor dari edisi “Roots of the Right”. 3 Editor dari edisi “Cambrige Texts in the History of Political Thought”. 4 Saya menemukan beberapa frasa dan paragraf asli yang tidak muncul dalam edisi Leopold. 5 Kalimat pertama dan terakhir dalam buku itu sama, sesuatu yang penting yang akan saya lakukan nanti, dan merupakan kutipan dari sebuah puisi Goethe. Di akhir buku, kesalahterjemahan ini membuat hubungan antara paragraf terakhir dengan kalimat ini jadi hilang.

xii

bahasa yang lain. Saya tahu tantangan yang saya hadapi (saya memulai terjemahan ini pada 2010). Ini adalah tantangan yang saya nikmati.

Untuk siapa saya melakukan ini?

Saya sudah menyediakan jawaban penting untuk pertanyaan ini, tapi tentunya jika saya melakukan ini bukan untuk saya sendiri, saya tidak sudi melakukannya. Tapi entah seberapapun saya menikmati permainan dengan diri sendiri, saya selalu menemukan kenikmatan tambahan ketika saya bermain dengan yang lain. Inilah kenapa saya ingin melempar keluar terjemahan ini ke beberapa orang lain untuk membuat permainan menjadi lebih menarik, tapi tidak untuk semua orang. Jadi saya akan mulai untuk menjelaskan dikit demi sedikit pada siapa saya tidak melakukan ini. Saya tidak melakukan ini demi akademisi, para intelektual institusional, yang ingin membedah kritik yang gigih dan menyenangkan atas semua ide-ide baku ini, layaknya sebuah teks belaka demi mempertahankan karir mereka. Saya kenal beberapa akademisi yang dalam banyak kasus akan menggunakannya demi tujuan mereka sendiri, dan sejauh mereka melakukan ini untuk kesenangan mereka, saya tidak akan mengharapkan apapun. Sebagai imbalannya, beberapa dari mereka mungkin bisa memberi saya makanan demi kepentingan tujuan egoistik saya sendiri. Tapi saya tidak akan melayani mereka. Karena – sampai batas tertentu mereka menerima peranan mereka dalam struktur institusional, sampai batas tertentu pula mereka menjauh dari “kejahatan yang besar, tidak bertanggung jawab, membanggakan, dan tidak kenal malu” yang penciptaan-diri dan kesenangan-dirinya membutuhkan birokrat, petugas kepolisian, atau pegawai pemerintah

xiii

lainnya⁶ dan dengan demikian tidak mungkin bisa menjadi kaki tangan saya dalam penciptaan-diri saya. Saya membuat terjemahan ini untuk mereka yang memberontak pada setiap hal yang disakralkan, pada tiap masyarakat, tiap kolektif, tiap ideologi, dan tiap abstraksi yang tiap otoritas, institusi, atau bahkan individu yang lain coba untuk menunjukan bahwa merekalah “kekuasaan yang tertinggi”; pada mereka yang tahu bagaimana menjarah buku macam ini, yang mengambil alat dan senjata konseptual dari buku ini yang dapat mereka gunakan untuk menantang, menertawakan, mengejek penciptaan-diri, untuk bangkit dan melawan penundukan diri oleh massa. Dengan kata lain, saya melakukan terjemahan ini pada mereka yang tahu bagaimana memperlakukan buku ini bukan sebagai teks yang suci ataupun juga mengikutinya atau membedahnya secara hermeneutik, tapi sebagai persenjataan atau kotak peralatan yang mana dalam mengambil kehendak apapun mempersenjatai mereka dalam penciptaan hidup, kenikmatan mereka, hubungan dan konflik mereka dalam lajur yang memberikan mereka kenikmatan. Jadi catatan saya pada tulisan Stirner sebenarnya singkat –ditujukan untuk menyediakan cukup banyak klarifikasi historis dan kontekstual untuk mempermudah kaki tangan pemberontak yang potensial untuk mempermudah hasrat mereka. Akademisi yang hendak membangun karir mereka melalui Stirner dapat melakukan riset mereka sendiri (atau cek catatan Leopold yang panjang sekali dalam terjemahan Stirner edisi Cambridge).

6 Semenjak sebagian besar universitas dijalankan oleh negara, mengejar karir berarti berkerja pada pemerintah. Sementara universitas yang tidak dijalankan oleh negara dijalankan oleh institusi negara atau kelompok yang terhubung ke struktur kekuasaan korporat, membuat karir mereka menghamba ke gereja atau institusi korporat.

xiv

Setelah menyampaikan ini, saya pikir akan menjadi berguna pada pembaca pemberontak jika saya mengatakan sedikit tentang proyek Stirner ini tentang bagaimana saya memahaminya dan tentang beberapa pilihan kata-kata terjemahan ini.

Stirner, Lelaki Bijak

Hampir setiap sarjana yang mempelajari Stirner, baik itu yang belajar sendiri atau di universitas, kukuh menunjuk pengarang ini sebagai seorang filsuf. Saya tidak bisa menyebut Stirner demikian, dan tentu saja, pada saat dia menulis buku ini, ia menyimpulkan bahwa filsafat adalah lelucon yang oleh para pemasoknya telah dianggap terlalu serius, sebuah lelucon yang perlu ditertawakan. Dan untuk menyebut si pengejek filsafat sebagai filsuf adalah sama absurdnya dengan menyebut seorang ateis tak beriman⁷ sebagai seorang teolog. Filsuf mengejar jawaban dengan akal sehat yang utama –jawaban universal. Dan mereka, tentu saja, adalah pecinta kebajikan. Mereka menerima kebajikan sebagai suatu objektif, sebagai sesuatu yang eksis dalam dirinya, melampaui individual lain, dan demikian menjadikannya sebagai sesuatu yang mereka kejar, ketimbang menjadikannya sebagai properti mereka, atribut mereka, untuk menggunakannya sebagaimana cocok pada dirinya. Mereka masih melampirkan ide kebajikan sebagai sesuatu yang lebih hebat ketimbang diri mereka, atau saya dan kamu. Stirner menyebut mereka sebagai “ateis yang beriman,” terutama menggigit duri di sebuah negara di mana orang-orang Kristen paling ekstrem dikenal sebagai “orang-orang beriman”. Selama seseorang masih mengejar sesuatu yang eksternal, mengharapkan kebijaksanaan universal, mungkin saja dia menjadi pria bijak (apapun

Berkebalikan dengan seorang teis atau “ateis” yang beriman yang menggantikan Tuhan dengan kesucian yang lain.

xv

artinya itu), tapi dia tidak akan pernah menjadi lelaki bijak. Stirner adalah lelaki bijak, karena ia mengakui tidak ada yang namanya tujuan utama, kebijaksanaan universal yang harus dicari; tujuan para filuf adalah demi buluh-buluh mimpi yang layak untuk diejek dan ditertawakan. Dan Stirner mengejek dan menertawakan lebih keras dengan cara yang menyenangkan dalam tulisannya. Sayangnya, baik pengkritik dan pengikutnya banyak yang melewatkan guyonannya. 8 Dan menjelaskan lelucon tidak seseru memainkan lelucon. Oleh karena itu, Stirner meningkatkan keganasannya (masih bercanda dan bahkan dengan kejam mengungkapkannya) dalam Stirner’s Critics dan The Philosophical Reactionaries. Sekalipun saya suntuk menjelaskan lelucon, saya berupaya untuk melakukan beberapa pengembangan, terutama karena beberapa orang yang telah memahami Stirner terlalu literal dan terlalu serius, yang justru menghasilkan kesimpulan yang paling konyol tentangnya dan para pemberontak itu, yang menemukan bahwa tulisannya berguna dalam mengembangkan pemikiran pemberontak mereka. Untuk memulainya, Stirner mengejek filsafat itu sendiri. Ini terbukti dalam komentarnya terhadap Sokrates dalam The Unique..., sebagaimana juga dalam The Philosophical Reactionaries. Sekalipun ia tentu saja mempersenjatai tawanya yang paling ganas pada filsafat dan filsuf Jerman pada zamannya –Hegel, pendahulunya, pengikutnya dan juga kritik para “Hegelian kiri” 9 -ejekan

8 Siapapun yang menangkap guyonan Stirner tidak bisa menjadi pengikutnya, semenjak ia tidak menyediakan jawaban apapun, tidak ada yang mempercayainya, tidak ada selain sekedar sebagai peralatan untuk merongrong semua kepercayaan, semua ide baku. Pengertian ini tidak digunakan oleh siapapun yang memberikan label, tapi dikenakan nanti oleh para sejarawan filsafat untuk memudahkan pemisahan kritik Hegel pertengahan abad

xvi

Stirner, logika konyol yang melemahkan keseluruhan proyek filsafat, tidak menyisakan tempat bagi metafisik, ontologi, etika, dsb, yang melampaui kepemilikan personal individu tentang perilaku. Fokus utama ejekannya adalah metode Hegelian, yang telah menjadi metode filsafat dominan di Jerman pada masa Stirner hidup. Dan guyonannya terangkai di sepanjang buku ini. Di atas semuanya, ia secara hati-hati mengkonstruksi garis besar buku ini paralel dengan The Phenomenology of the Spirit karya Hegel dan The Essence of Christianity dari Feuerbach, sambil merongrong pondasi kedua karya tersebut. Beberapa sarjana telah menyebutnya sebagai Hegelian terakhir, karena menggunakan metode dialektis Hegel¹⁰ dalam bukunya. Tapi bagaimanapun juga, dalam The Philosophical Reactionaries Stirner menjelaskan bahwa hal itu sebenarnya adalah lelucon juga: “Apakah kalian para filsuf benar-benar memiliki firasat bahwa kalian telah dikalahkan dengan senjata kalian sendiri? Tiada lain selain firasat. Apa jawaban yang bisa kalian lakukan terhadapnya, ketika aku secara dialektis menghancurkan lagi apa yang baru saja kalian tulis secara dialektis? Kalian telah tunjukkan kepadaku apa yang seorang secara fasih dapat membuat semuanya menjadi tidak ada dan yang tidak ada menjadi semuanya, hitam menjadi putih dan putih menjadi hitam. Apa yang telah kalian lakukan terhadapnya, ketika aku mengubah trik rapi kalian berbalik arah pada kalian? Tapi

sembilan belas dengan pengikut Hegel yang lebih ortodoks. Beberapa dari mereka adalah kawan atau paling tidak terhubung dengan kelompok seperti die Freein (the Free Ones), yang bertemu di bar Hippel. Stirner menjadi bagian dengan kelompok ini. 10 Secara spesifik saya menyebut “metode dialektis Hegel,” karena dialektikanya sangat spesifik, formulasi progresif yang ditujukan untuk mencapai sintetis utama pada akhir sejarah, tak seperti dialektika Yunani yang secara sederhana merujuk pada diskusi ide yang sedang berlangsung tanpa ada kulminasi akhir.

xvii

dengan tipuan dialektis tentang filsafat alam, kalian dan diriku tidak akan membatalkan sebagian besar fakta penelitian alam modern, tidak lebih dari apa yang dilakukan Schelling dan Hegel.” 11 Stirner memilih untuk menggunakan metode milik seseorang yang ia ejek untuk merongrong apa yang mereka klaim dari metode yang mereka tunjukan, bukan karena ia percaya dalam metode tersebut, tapi karena ia ingin untuk menunjukan bahwa, sebagus-bagusnya, mereka tidak lain daripada sekedar alat intelektual, sesuatu yang bisa diubah menjadi hampir tidak ada gunanya dalam ranah gagasan. Pada kenyataannya, apa yang Stirner katakan tidak menyisakan tempat untuk semacam kemajuan historis atau universal, dialektika atau semacamnya. Bukan suatu kebetulan jika Stirner memulai dan mengakhir bukunya dengan kata yang sama, diambil dari sajak Goethe “Vanitas! Vanitatum Vanitas!” Saya telah terjemahkan kata-kata ini (secara literal) sebagai: “Aku tidak menyandarkan kepentinganku pada apapun.” Sajak Goethe itu seperti lagu mabuk, yang kadang dinyanyikan bareng dengan nyaring di bar. Stirner menggunakannya di awal dan akhir buku sebagai cara untuk menyampaikan, “Aku bersenang- senang, dan itulah yang terpenting, jadi jangan terlalu serius.” Dan apa yang ia tawarkan –menyadari dengan penuh kenikmatan-diri dan penciptaan-diri untuk kenikmatan dirimu- sebenarnya ahistoris dan anti-progresif (dalam arti universal atau historis) sebagaimana moralis atau ideolog kiri dan kanan dapat klaim. Tapi inilah yang membuat tawarannya benar-benar memberontak dan benar-benar anti-otoritarian. Karena sejarah dan perkembangan selalu menjadi sejarah dan perkembangan kekuasaan yang ingin agar tiap orang hidup demi mereka dan demi ideal dan nilai yang mereka sodorkan.

Stirner, Max, The Philosophical Reactionaries,” dalam Stirner’s Critics (diterjemahkan oleh Wolfi Landstreicher), hlm 106-107, LBC Books dan CAL Press, 2012.

xviii

Dalam sudut pandang Stirner yang anti-historis, anti-progresif, yang hanya saat ini, berpusat pada diri-sendiri, pembaca perlu menyadari bahwa pembahasan proses historis apapun dan deskripsi progresif apapun dalam karya Stirner menjadi bagian dari lelucon, menjadi bagian dari ejekannya dari posisi yang ia coba robek. Baru-baru ini saya membaca sebuah pamflet¹² yang mana salah satu penulisnya berasumsi bahwa salah satu bagian dalam The Unique... berjudul “Kehidupan Manusia” mengekspresikan pandangan Stirner tentang bagaimana individu berkembang. Tapi di bagian paling akhir bagian ini, Stirner memberikan kita petunjuk yang kikuk bahwa ini bukanlah sudut pandang-nya, bahwa ini hanyalah guyonan. Sekalipun ejekan Stirner adalah serangan pada tiap ide baku, pada tiap ideal yang diletakan pada tiap insan yang unik dan menikmati-dirinya, serangan utamanya adalah pada humanisme yang Feuerbach, Bruno dan Edgar Bauer (dan “pengkritik kritis” lain), dan banyak liberal dan radikal pada masanya, telah letakan sebagai pengganti kekristenan dan teisme. Ketika Stirner berbicara tentang “kehidupan manusia,” dia sedang tidak berbicara tentang hidupnya, kehidupanmu, kehidupanku, atau kehidupan “kemanusiaan” secara umum¹³ (apalagi bagi Stirner, “kemanusiaan itu sendiri” tidak lebih daripada hantu, spook –sebagaimana secara eksplisit ia sampaikan berulang kali). Ia memberitahu pembaca yang berhasil memahami leluconnya bahwa ia mewakili karikatur, perspektif mengolok-olok tentang bagaimana lawannya memandang perkembangan manusia, dengan maksud mempelintir mereka lagi.

12 Max Stirner’s Political Spectography (Spectral Emissions, Seattle, 2015) oleh Fabian Ludueña, dengan pengantar oleh Alejandro de Acosta. Dalam bahasa Alejandro de Acosta, “kurang lebih gestur intensitas tentang momen antropogenik prasejarah” (ibid, hlm vii).

xix

Dengan cara yang sama, citra yang Stirner hadirkan sebagai kemajuan historis dalam “Bagian 1: Manusia” (dan khususnya di “Hierarki”) tidak menunjukan perspektifnya soal sejarah. Stirner cukup ahistoris. Alih-alih ia malah menertawakan pandangan progresif dialektis sejarah dalam rangka untuk mempelintirnya kembali pada siapapun yang menggunakan pandangan Hegelian ini untuk mendukung pandangannya. Hierarki rasial yang tampak jelas ditemukan dalam pandangan Stirner adalah ejekan yang keluar langsung dari Hegel¹⁴ (walaupun Hegel, seperti kebanyakan pemikir progresif pada masanya, tidak paham ras secara biologis dan mengasumsikan semua kemanusiaan dapat mencapai transformasi progresif dengan cara yang ia percayai), dan ejekan Stirner adalah lelucon menyenangkan yang secara politik salah dalam hierarki kebudayaan yang Hegel kira. Pendapat menyenangkan Stirner adalah bahwa, bahkan jika kamu berasumsi bahwa di sana ada sejarah yang berlangsung, dengan logika Hegel sendiri, kamu harus berakhir kembali pada egoisme. Semua perkembangan itu tidak membawa kita kemana-mana lagi, mentok.. dan dengan menyebut teman-teman Jerman kontemporernya sebagai “Mongolisme”, hal ini menunjukan bahwa, bahkan salah satu taktik untuk menghindari sensor (dengan menggunakan “China” atau “Jepang” ketimbang “Jerman” ketika ia menggunakan referensi yang kritis pada otoritas Jerman pada masanya) adalah bagian dari lelucon pula. Pada kenyataannya, Stirner mungkin telah membuat lelucon yang lebih dalam di bagian ini. Saat pertama kali membaca terjemahan Byington saya menyadari ada banyak paralel antara gagasan Stirner dan beberapa aspek taoisme dan budhisme. Sesudahnya, pada 1906, Alexandra David-Neel¹⁵ membanding gagasan Stirner dengan taois Yang-

Lihat dalam Encyclopaedia dan History of Philosophy dalam Hegel. Lebih dikenal karena petualangannya di Tibet dan tulisannya soal buddhisme Tibetan yang mencuat dari petualangannya,

xx

Zhu. Stirner mengembangkan transiensi tiap individu dan menolak tiap “aku” yang terkristalkan, permanen sebagaimana tiap ide permanen lain, dan melihatnya sebagai bentuk spook yang lain. Ia menerawang pelampauan batas pemikiran sebagai bagian penting untuk hidup sepenuhnya sebagai satu pribadi yang sementara di sini dan saat ini. Ia melihat penikmatan-diri sebagai yang paling banyak dicapai dalam melupakan diri sendiri. Dan dalam Stirner’s Critics, ia menyampaikan yang unik (der Einzige) dalam cara yang cukup sama dengan yang dibahas tentang tao dalam Tao Te Ching: “Stirner menamai yang unik dan pada saat yang bersamaan mengatakan ‘nama tidak menamainya.’ Ia mengucap nama ketika ia menamakan yang unik, dan menambahkan bahwa yang unik hanya sebuah nama. ...Apa yang Stirner katakan adalah kata, pemikiran, konsep; apa yang ia maksud bukan kata, atau pikiran, bukan pula konsep. Apa yang ia maksud bukan makna, dan apa yang ia maksud tak terkatakan.” 16 Apakah Stirner sadar dengan kesamaan ini? Saya tidak tahu kuliah Hegel mana yang Stirner hadiri saat berkuliah di Berlin, tapi saya sudah pastikan bahwa Hegel memberikan kuliah tentang filsafat Timur. Ini menandakan bahwa pada masa itu tulisan para taois, buddhis, dan tulisan Timur lain telah tersedia di Jerman. Dan saya menduga bahwa Stirner membaca beberapa diantaranya dan, menyesuaikannya untuk penciptaan-diri yang egoistik, mengambil temuan yang menarik dan berguna dari tulisan tersebut untuk menambahkannya pada cara hidup dan pandangan

Alexandra David-Neel adalah teman masa muda Elisée Reclus dan terkadang menulis untuk terbitan anarkis. Dalam The Theory of the Individual in Chinese Philosophy: Yang-Chou, ia membandingkan ide taois awal, Yang-Zhu, dengan Stirner. Esai ini dapat ditemukan dalam Neither Lord nor Subject: Anarchism and Eastern Thought, Enemy Combatant Publications, 2016. Stirner, Max, op. cit., hlm 54 & 55.

xxi

dunianya. Jika demikian, hal ini menambah beberapa kedalaman ironi saat ia memainkan kata “mongolisme”. Saya bisa saja menjelaskan lebih banyak lagi lelucon Stirner, lebih banyak lagi humornya, sarkasnya, ejekannya, tapi seperti saya bilang sebelumnya, menjelaskan lelucon tidak akan seseru menciptakannya. Bagi Stirner, sejarah tidak memiliki tujuan utama, tidak ada kemajuan yang inheren, dan dengan demikian baginya dialektika tidak lebih dari sekedar alat. Cara bagaimana ia menggunakan alat ini adalah persis sebagaimana ia menggunakan dialektika untuk merusak dialektika itu sendiri. Dan ini berkerja dengan baik dalam ejekan dan sarkasnya. Stirner benar-benar seorang ateis yang tidak beriman, yang lebih suka saya sebut ateis dengan tangan terkepal. Ia tidak memiliki kebutuhan atau hasrat bagi Tuhan dalam hidupnya, bukan pula “aku” utama yang membeku untuk dicapai, dan ia berkehendak –dan pada kenyataannya mengambil kenikmatan-untuk menerima akibat penuh dari ketidaktuhanannya. Tanpa Tuhan maka tidak ada basis untuk moralitas, tanpa Tuhan tidak ada basis bagi yang suci; tanpa Tuhan tidak ada makna universal, tiada capaian universal, tiada tujuan universal; pada kenyataanya, tidak ada alam semesta yang universal. Alam semesta adalah absurditas. Satu-satunya makna, capaian, tujuan, dan alam semesta adalah yang sangat efemeral, sesuatu yang transien yang individu ciptakan untuk diri mereka sendiri. Menghadapi semua absurditas ini, kamu dapat memilih untuk mengabaikannya atau mengira-ngira universalitas maknamu sendiri, lalu menjadi apa yang Stirner sebut sebagai “egois yang menipu”; ini adalah lajur yang tipikal relijius (termasuk ideolog seperti Marx dan pengikutnya, Hitler juga, dan Mises¹⁷). Kamu bisa membiarkannya

Ludwig von Mises adalah salah satu teoris utama sekolah ekonomi Austria, sekolah teori ekonomi ekstrim dari aliran laissez-faire. Proponen sekolah pemikiran ekonomi ini masih terperosok dalam cara berpikir Aristotelian dan mengira bahwa

xxii

menguasaimu dan jatuh pada agama baru atau pesimisme kosmik, dimana absurditas menjadi hantu menakutkan (terlepas dari apakah kamu menamakannya atau tidak), dan dengan demikian lagi-lagi menjadi “egois yang menipu.” Atau kamu bisa melakukan apa yang Stirner lakukan dan lihat humor yang ada dalam absurditas terakhir, mengakui bahwa kurangnya makna dan tujuan universal ini adalah apa yang membuat kamu dan saya memiliki kapasitas untuk bersungguh-sungguh menciptakan hidup kita sendiri untuk kita sendiri. Stirner sungguh-sungguh memahami kekuatan kreatif-diri miliknya dan mengambil tujuan yang dipertimbangkan sebagai sesuatu yang suci dengan niat untuk menghancurkannya. Ia tahu senjata terbaik untuk menghancurkan yang suci adalah dengan tertawa mengejeknya. Ketimbang menjadi pria bijak, Stirner memilih untuk menjadi lelaki bijak, dan jika kamu tidak memahami leluconnya, leluconnya sedang mengarah padamu...

Tentang terjemahan

Seperti saya katakan sebelumnya, saya menikmati tiap penerjemahan. Pada saat yang bersamaan, setiap terjemahan memiliki frustrasinya sendiri, dan terutama salah satu lingkup ini. Salah satu frustasi terbesar saya adalah bahwa Stirner menggunakan banyak permainan kata dalam kosakata Jerman yang orisinil, yang hampir tak dapat saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Permainan kata ini banyak menunjukkan sifat ejekan, candaan dan bermain- main dari tulisan Stirner. Beruntungnya, catatan kaki menunjukkan permainan kata-kata ini tidak memiliki nuansa sama seperti permainan kata itu sendiri (sebagaimana penjelasan suatu lelucon yang tidak membangkitkan gelak

nalar (dalam artian absolut, utuh) memberikan pemahaman terbaik permainan kekuatan ekonomi. Dengan alasan ini, mereka masih religius dalam cara berpikir mereka seperti para marxis. Beberapa libertarian, anarko-kapitalis, dan anarkis pasar bebas mengikuti doktrin sekolah Austria.

xxiii

tawa). Meskipun begitu, apa yang saya taruh di catatan kaki ditujukan untuk menunjukan tingkat permainan kata di buku ini. Ketika kamu menyaksikan serangkaian catatan kaki yang hanya menunjukan kata-kata Jerman, saya maksudkan ini untuk menunjukkan dimana Stirner melakukan permainan kata. Hal lain yang bikin frustasi penerjemah adalah terjemahan bakal selalu, dan tak terhindarkan lagi, adalah sebuah interpretasi. Saya tidak menemukan aspek frustrasi ini, sejak saya berniat untuk membuat tulisan yang saya baca dan dapat saya nikmati kapan pun sendirian. Tapi bagaimanapun juga, saya berpikir bahwa akan lebih berguna bagi pembaca apabila saya menjelaskan beberapa pilihan yang saya lakukan dalam terjemahan ini. Judul buku ini mengandung dua kata utama dari pemikiran Stirner, yaitu “Einzige” 18 dan “Eigentum.” Dalam Stirner Critics, Stirner dengan jelas menyampaikan bahwa “Einzige” baginya hanyalah sebuah nama, sebuah kata yang digunakan untuk menunjuk pada sesuatu yang tak dapat dijelaskan dan tak terbayangkan karena hal itu tak terbandingkan, dan tiap deskripsi, tiap konsepsi, membutuhkan perbandingan. Apa entitas yang tak terbayangkan, tak terjelaskan, tak terbandingkan ini? Ia adalah saya di sini dan saat ini, kamu di sini dan saat ini, tiap insan individu transien yang ada pada saat ini. Kata apapun yang tersedia untuk menjelaskan konsep ini sama sekali tidak memadai, karena mereka jatuh pada perbandingan dan dengan demikian sama saja bohong. Jadi Stirner sebenarnya memilih kata itu hanya untuk menamainya. Saya menemukan ada beberapa cara untuk menerjemahkan “Einzige.” Saya lebih sering menerjemahkannya sebagai

18 Dalam bahasa Jerman, tiap kata benda yang lain dari kata ganti, dikapitalkan. Ketika sebuah kata berbahasa Jerman digunakan baik sebagai kata benda maupun kata sifat, maka anda dapat mengetahui perbedaannya dengan melihat apakah ia dikapital atau tidak.

xxiv

“yang unik” (the unique). Bukan “the unique one,” karena Stirner tidak bermaksud untuk menjelaskan “Einzige” sebagai sebuah makhluk, tapi lebih untuk memberi nama pada apa yang melampaui deskripsi dalam rangka untuk menunjukannya dalam tulisan. Dalam terjemahan saya, “the unique” adalah nama. Selain itu, padanan lain untuk “Einzige” adalah “yang satu-satunya” (the only one). Ada beberapa bagian dalam buku ini yang terasa lebih baik dengan terjemahan ini, dan di bagian itulah saya gunakan kata tersebut. Ketika “einzige” digunakan sebagai suatu kata sifat, saya langsung saja gunakan “yang unik”. Pilihan saya untuk menerjemahkan “Eigentum” sebagai properti sebenarnya pilihan sederhana. Sama seperti dalam bahasa Inggris, istilah “properti” dalam bahasa Jerman punya spektrum makna yang luas, yang tak terbatas pada hal-hal ekonomi semata. Dalam buku ini, Stirner sering menggunakannya dalam artian yang paling luas, untuk merujuk pada semua perlakuan, pengalaman, tindakan, benda, dsb, yang membuat individu pada saat ini tak seperti individu yang lain. Seberapa luas Stirner memahami baik itu yang unik dan propertinya sebenarnya sudah cukup jelas, seperti disampaikannya dalam Stirner’s Critics: “Kamu, yang unik, adalah yang unik hanya bersama
dengan ‘propertimu’.*...*Sementara itu, tidak lupa juga bahwa
apa yang menjadi milikmu itu, pada saat bersamaan ia juga memiliki eksistensinya sendiri; ia sama uniknya denganmu...” 19 Jadi tidak ada yang humanistik dalam “yang unik.” Tiap binatang, tiap pohon, batu, dsb, juga, bagi dirinya, adalah yang unik dengan propertinya, dengan dunianya, yang membentang sejauh kapasitasnya, sebagaimana Stirner menempatkannya. Dan bagi Stirner, properti saya adalah tepat seluruh dunia saya yang membentang sejauh saya bisa menggapainya. Selanjutnya properti adalah “fenomenologi persepsi” digabungkan

Stirner, op. cit., hlm 63.

xxv

dengan kapasitas saya untuk memahami dan memperlakukan persepsi tersebut. Ketika saya menyadari kekuatan saya sendiri dalam hal ini, mengapa saya dapat memilih untuk mengurangi properti saya terhadap keadaan yang diizinkan oleh saya? Bagaimana mungkin saya membatasinya pada yang ekonomi? Ketika Stirner secara spesifik membicarakan properti ekonomi dalam bagian “Pertukaranku,” ia menunjuk bahwa properti privat adalah juga properti negara, bukan properti saya sendiri, karena ia hanya eksis oleh hukum, yang antara lain, dengan izin hukum. Bagi saya sendiri, saya memiliki dunia. Bagi negara, saya hanya bisa memiliki apa yang dimiliknya (misal, apapun yang bagi seseorang bisa mendapatkan manfaat dari adanya hubungan yang Anda dan saya sebut “negara” mungkinkan). Ketika Stirner membicarakan tentang properti, ia sedang membicarakan tentang dunia pengalaman, persepsi, imajinasi, dan aksi yang kamu dan saya ambil dan ciptakan, lahap, dan hancurkan untuk diri kita sendiri. Inilah apa yang kamu harus ingat jika kamu hendak memahami apa yang Stirner jelaskan tentang properti. Dua kata signifikan lain dalam tulisan Stirner adalah “Egoismus” dan “Egoist”. Saya tidak menggunakannya karena ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana menerjemahkannya dengan tepat. Sangat jelas, “egoisme” dan “egois” adalah terjemahan yang baik. Tapi ada beberapa orang bodoh yang percaya bahwa egoisme adalah sebuah kepercayaan pada sesuatu yang disebut dengan “ego” dan egois adalah orang yang percaya pada hal ini. Tidak, egoisme adalah bertindak sebagai pusat duniamu, dan seorang egois adalah seseorang yang menyadari dirinya demikian. Jadi egoisme yang disengaja, yang sadar, tidak lain daripada cara mementingkan diri sendiri dalam menghadapi duniamu, atau yang lebih baik, dalam sikap diri sebagai yang utama tanpa rasa malu.

Hal ini bukan berarti mengenyampingkan kemurahan hati, cinta, persaha-batan, asosiasi, dll. Sederhananya ini berarti saya,

xxvi

Dalam menyerang segala yang sakral, Stirner menyerang “Geist.” Anda bisa menemukan variasi kata (dalam bentuk kata benda, kata sifat, dan kata keterangan) sepanjang buku ini. “Geist” punya jangkauan makna yang lebih luas ketimbang padanan Inggrisnya, dan juga saya tidak dapat untuk memilih hanya satu kata untuk menggunakannya sepanjang buku ini. Dari beberapa terjemahan yang memungkinkannya misal adalah “roh,” “pikiran,” dan “intelektual.” Dalam konteks berbeda, salah satu dari kata ini akan sedikit lebih pas, jadi saya memilih berdasarkan konteksnya. Dengan cara yang sama, bentuk keterangan dari kata ini (sebagai contoh, “geistlich”) dapat diterjemahkan sebagai “spiritual,” “mental,” “intelektual,” dan semacamnya. Lagi saya membuat keputusan berdasarkan konteks. Tapi saya pikir akan menjadi lebih berguna jika kamu membaca buku ini untuk mengetahui bahwa kapanpun kata bahasa Inggris di atas muncul, mereka merujuk pada satu kata tunggal bahasa Jerman “Geist.” Serangan Stirner adalah pada apapun yang sakral, tapi ia juga menulis bahwa Feuerbach, Bruno dan Edgar Bauer, dan beberapa reformis dan revolusioner dari berbagai pandangan, telah menempatkan berbagai macam versi humanisme sebagai pengganti kekristenan. Sebagaimana Stirner tunjukan, para “ateis beriman” ini menciptakan kesakralan yang baru, “kekuatan tertinggi” yang baru. Jadi Stirner menyerang humanisme ini dengan berbagai sarkasme ganas. Untuk alasan ini, saya memutuskan bahwa adalah penting untuk menerjemahkan kata sifat “Mensch” sebagai “umat manusia” ketimbang “laki-laki”. Sebagai tambahan, sejak “Unmensch” secara spesifik merujuk pada kata Jerman untuk menamai monster, saya pikir akan lebih jelas mengungkapkan maksud Stirner

sebagai seorang egois, berhubungan dan berinteraksi, dengan cara yang saya hendaki, untuk kesenangan yang saya kehendaki.

xxvii

dalam membedakan “Mensch” yang ideal dari “Unmensch” yang sesungguhnya dengan menggunakan “monster yang tidak manusiawi” untuk yang terakhir. “Unman”-nya Byington bagi saya mengurangi pukulan sarkastik yang dihendaki Stirner. “Wesen,” seperti “Geist,” adalah istilah lain dengan signifikansi luar biasa dalam filsafat Hegelian. Dalam kebanyakan kasus, saya menerjemahkannya sebagai “esensi,” karena hal itu tidak merujuk pada benda yang sesungguhnya atas daging-dan-darah individu, tapi pada konsepsi “yang lebih tinggi” pada apa yang individu “seharusnya” menjadi. Beberapa kali saya menggunakan “menjadi” ketimbang “esensi” untuk menerjemahkan “Wesen” dalam bagian ketika Stirner menggunakan “höchste Wesen” (supreme being) untuk merujuk pada Tuhan. Stirner cukup sering menggunakan kata “Lump” sepanjang buku ini. Byington menerjemahkan istilah ini sebagai “ragamuffin –orang jahat.” Saya lebih memilih untuk menerjemahkannya sebagai “pauper-orang miskin,” karena saya kira yang terakhir ini lebih jelas dalam mengekspresikan apa yang Stirner ingin tunjukan dengan istilah ini: seseorang yang menganggap dirinya sebagai korban dari dunia sekelilingnya dan sebagai seseorang yang “tak berproperti” dan karena itu mulai mengemis sebagai cara hidup mereka. Istilah lain yang cukup sering Stirner gunakan sepanjang buku ini adalah “Spuk.” Sebenarnya ini adalah bentuk kata benda Jerman untuk “spuken” yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “to haunt – untuk menghantui.” Terjemahan literal yang paling sering dari “Spuk” mungkin adalah “*haunting -*menghantui” yang digunakan sebagai kata benda, tapi walau demikian saya merasa bahwa “spook” terlalu banyak mengandung konotasi untuk sesuatu yang menghantui, saya pikir “menghantui” belum cukup konkrit. Jadi saya memilih untuk

xxviii

menerjemahkan “spuk” sebagai “phantasm.” Istilah ini bagi saya mengekspresikan bagi orang yang percaya bahwa sumber yang menghantui ini cukup nyata, padahal sebenarnya hanya sekedar bayangan saja. Orang yang terhantui sebenarnya dihantui oleh ciptaannya sendiri. Akhirnya, saya menerjemahkan “Bürger” sebagai “borjuis,” “warga sipil,” atau “warga umum,” tapi istilah itu selalu memiliki konotasi seseorang yang memiliki properti legal, yang jika dibandingkan dengan proletar pada masanya Stirner, merujuk pada seseorang yang secara legal tidak memiliki properti. Sejak Stirner menggunakan pemisahan ini di beberapa bagian di dalam buku (di atas segalanya, diantara mereka yang gagasannya dia kritik adalah para komunis saat itu), saya biasa menerjemahkan kata tersebut sebagai “borjuis,” walau terkadang, akan sedikit lebih pas jika saya menerjemahkannya sebagai “warga sipil.” Saya kira inilah penjelasan yang cukup untuk pilihan saya dalam terjemahan ini. Saya paham bahwa tiap pilihan ini merefleksikan interpretasi yang saya buat. Saya buat interpretasi ini karena saya pikir bahwa mereka butuh untuk lebih jelas merefleksikan niat Stirner dan membuat buku ini menjadi lebih berguna bagi para pemberontak diri-yang- kreatif yang telah membuat terjemahan ini menjadi berarti.

Beberapa kata terakhir

Meski sudah cukup jelas bahwa siapapun dapat membaca buku ini dan menggunakannya sesuai dengan kehendak mereka, saya membuat terjemahan ini pertama- tama untuk kepuasan saya sendiri, dan yang kedua sebagai hadiah pada mereka yang sadar, yang berkehendak, dan para pencipta-diri pemberontak, sebagai alat dan senjata dalam proyek penciptaan hidup mereka berdasarkan kehendak mereka melawan semua yang memaksa mereka. Gagasan dan kata-kata Stirner punya cukup banyak untuk ditawarkan, tapi lebih dari itu, metode-nya menyediakan senjata yang berguna dan menyenangkan: olokan yang

xxix

menggembirakan dan tanpa ampun, penggunaan sarkastik atas metode lawannya untuk memelintir ide mereka balik pada mereka sendiri, tawa yang menyenangkan dan kejam dari orang yang melihat melewati delusi yang tetap membuat orang lain terpaku. Stirner menggabungkan lelucon ringan permainan kata-kata, (dan seringnya) kekejian dalam bentuk yang halus, dan sarkasme dengan lelucon yang menyeluruh yang merusak bangunan filsafat, agama, politik dan semua sistem pemikiran demi penghancuran fondasi kesakralan. Tapi ini adalah pertempuran yang oleh kita masing-masing harus perjuangkan demi diri kita sendiri. Stirner menemukan kepuasan dalam menuliskannya. Seringainya terbentang sepanjang halaman dan mengingatkan pada kita yang memberontak dan mencipta pada diri kita sesuatu yang hebat, yang liar, lelucon menyenangkan yang dimainkan pada tiap “nilai yang lebih tinggi,” buku yang ditujukan untuk menarik karpet dari bawah semua orang yang memegang erat kesakralan. ’

xxx

Max Stirner:

Sang Egois yang Sadar

oleh Peter Marshall

xxxi

MAX STIRNER berpihak kepada bentuk anarkisme individualis yang paling ekstrem. Dia tidak hanya mengingkari keberadaan kebajikan tetapi juga semua entitas abstrak seperti negara, masyarakat, kemanusiaan dan Tuhan. Dia menentang seluruh tradisi rasional filsafat Barat. Dalam ruang abstraksi filosofis, dia mengajukan pentingnya pengalaman pribadi. Karyanya berperan sebagai serangan frontal terhadap prinsip-prinsip dasar Pencerahan, berikut kepercayaan diri yang tanpa batas dalam kemenangan akhir akal, kemajuan dan tatanan. Tempat Stirner dalam sejarah filsafat adalah sama kontroversialnya dengan statusnya sebagai seorang anarkis. Telah dikemukakan bahwa dia lebih tergolong seorang nihilis ketimbang anarkis karena dia menghancurkan semua proposisi kecuali yang murni memenuhi fungsi estetis dalam “tujuan kaum egois yang mengesampingkan kesenangan- diri dan penampilan-diri. 21

Albert Camus melihat perlawanan metafisik Stirner terhadap Tuhan mengarah kepada penegasan absolut individu dan semacam nihilisme yang “tertawa dalam kebuntuan”. 22 Sementara kalangan lain menempatkan Stirner dalam tradisi eksistensial karena ia menekankan perhatiannya pada prioritas ontologis individu; Herbert Read menyebutnya “salah satu filsuf yang paling eksistensialis.” 23

Stirner memang menawarkan sebuah perlawanan yang berakar-cabang pada nilai-nilai dan institusi-institusi yang ada. Seperti Kierkegaard, dia merayakan kebenaran unik individu dan berupaya membebaskan dirinya dari cengkeraman kuat metafisika Hegelian. Dalam serangannya terhadap moralitas Kristen dan tuntutannya akan pemujaan- diri seluruh individu, dia mengantisipasi Nietzsche beserta eksistensialisme ateistik. Tetapi sementara ada unsur-unsur

R.W.K. Paterson, The Nihilistic Egoist: Max Stirner (Oxford
University Press, 1971), hal. 292-3. Lihat juga hal. 102, 127 Albert Camus*, L’Homme révolté* (Paris: Gallimard, 1951), hal. 83 Herbert Read, Anarchy and Order, op.cit., hal. 165

xxxii

nihilistik dan eksistensialis pada karyanya, Stirner bukanlah semata-mata seorang nihilis, karena dia tidak membongkar semua nilai moral dan sosial. Dia juga bukanlah seorang proto-eksistensialis, karena dia menolak upaya apa pun untuk menciptakan sesosok individu yang lebih tinggi atau lebih baik. Dia termasuk ke dalam tradisi anarkis sebagai salah seorang pemikir kreatif yang paling orisinil. Kendati banyak yang melihat karyanya menggemparkan dan tidak menyenangkan, setiap libertarian semestinya berhubungan dengan pemikirannya yang berani. Marx dan Engels merujuk Stirner secara serius dalam menyusun karya mereka, Ideologi Jerman, untuk menyangkal sang pemikir menjengkelkan yang mereka juluki ‘Santo Max’, ‘Sancho’ dan ‘Unique’. 24 Pada kenyataannya, Stirner memiliki banyak kesamaan dengan Marx: metode dialektikanya, kritisismenya terhadap abtraksi dan ‘esensi manusia’, analisanya tentang buruh, penolakannya terhadap materialisme statis dan penegasannya tentang keinginan manusia dalam perubahan sosial. Engels bahkan mengaku kepada Marx bahwa setelah membaca buku Stirner dia mengalami perubahan karena egoisme, dan kendati hanya sementara, dia masih bersikeras bahwa “kita kaum komunis adalah sama-sama berasal dari egoisme.” 25 Dalam karya terpentingnya, Der Einzige und Sein Eigenthum (1845), biasa diterjemahkan sebagai The Ego and His Own, Stirner menawarkan kajian paling konsisten dalam pembelaan individu melawan kekuasaan. Dia menguraikan kritisisme tajam tentang Negara dan institusi-institusi sosial. Dalam tempatnya masing-masing, ia juga mengajukan sebuah ‘serikat egois’ yang akan membentuk hubungan berdasarkan perjanjian dan bersaing secara damai satu sama lain. Pembelaan otonomi pribadi yang dilakukan Stirner tidak hanya

Lihat C.J. Arthur, ‘Introduction’, Marx & Engels, The German Ideology (Lawrence & Wishart, 1970), hal. 23 Dikutip oleh Paterson, The Nihilistic Egoist, op.cit., hal. 117

xxxiii

mempengaruhi Benjamin Tucker dan para individualis Amerika, melainkan juga para anarkis sosial seperti Emma Goldman dan Herbert Read dalam abad kita ini (abad ke-20 –penj). Kropotkin menyisihkan sedikit waktu menanggapi serangan anti-sosialnya dan tentang apa yang dia namakan ‘negasi yang dangkal terhadap moralitas’, tetapi Mussolini muda dalam masa-masa sosialisnya, berniat merayakan ‘kekuatan-kekuatan dasar individu’ agar sesuai kembali dengan jaman. 26 Stirner terus mengilhami dan membuat gusar kaum Libertarian baik pihak Kiri maupun Kanan. 27

Kehidupan Max Stirner sama sangarnya dengan ketelanjangan pemikirannya. Dilahirkan tahun 1806 di Bayreuth, Bavaria, nama aslinya adalah Johann Kaspar Schmidt. Orang tuanya miskin. Setelah kematian ayahnya, ibunya menikah lagi dan mengikuti suaminya ke arah utara Jerman sebelum mereka sekali lagi tinggal di Bayreuth. Perempuan itu akhirnya menjadi gila. Anaknya mengikuti kuliah di Universitas Berlin dari tahun 1826 sampai 1828. Di sana Stirner belajar filsafat dan menyimak kuliah-kuliah Hegel. Tetapi karir akademisnya jauh untuk bisa dikatakan terkemuka. Setelah masa singkat di dua universitas, Stirner kembali ke Berlin pada 1832 dan berusaha mendapatkan sertifikat mengajar, tetapi pemerintah Prussia menolak mengangkatnya dengan jabatan penuh. Pada 1837, ia menikahi putri induk semangnya. Namun perempuan itu meninggal ketika melahirkan beberapa bulan kemudian. Sulit untuk mengabaikan kebencian dan egoismenya yang dihubungkan dengan masa kecilnya yang sepi, karir yang pas-pasan dan nasib sial. Keberuntungan mulai datang

26 Kropotkin, Ethics, op.cit., hal. 338; Mussolini, dikutip dalam Joll, The Anarchist, op.cit., hal. 155 Lihat John P. Clark, Max Stirner’s Egoism (Freedom Press,

1976), hal. 87-90; James J. Martin, Men Against the State: The Expositors of Individualist Anarchism in America, 1827-1908 (Colorado Springs: Ralph Myles, 1970), hal. 250
xxxiv

ketika ia bertugas di kota Berlin, sebuah akademi untuk gadis-gadis muda milik Madam Gropius. Selama lima tahun berikutnya Johann Kaspar memiliki kerja tetap dan mulai bergaul dengan banyak intelektual muda yang bersemangat kala itu. Mereka menamakan diri Die Freien (Yang Bebas) dan mengadakan pertemuan pada awal 1840-an di Weinstube Hippel di Friedrichstrasse. Bruno Bauer dan Edgar Bauer adalah tokoh-tokoh terkemuka kelompok tersebut, serta Marx dan Engel yang hadir sesekali. Sosok Engels mengguratkan tampilan para Hegelian Muda ketika Arnold Ruge berkunjung, sembari ia menggambarkan Johann Kaspar sebagai figur yang terasing yang meminati debat ramai. Selama periode inilah Stirner menulis The False Principle of Our Education, yang diterbitkan dalam jurnal Marx, Rheinische Zeitung, pada 1842. Esai tersebut menunjukkan Stirner sudah mengarah ke libertarian. Dengan membedakan antara ‘orang terdidik’ dan ‘orang bebas’, dia berpendapat bahwa dalam kasus terdahulu, pengetahuan digunakan untuk membentuk karakter sehingga orang yang dididik menjadi dikuasai oleh Gereja, Negara atau Kemanusiaan, sementara dalam masa berikutnya pendidikan digunakan untuk memfasilitasi pilihan:

Jika seseorang membangkitkan ide kebebasan dalam diri setiap manusia, maka manusia-manusia bebas itu akan terus menerus membebaskan dirinya; sebaliknya jika seseorang hanya mendidik mereka, maka mereka sepanjang waktu akan menyesuaikan diri terhadap keadaan dengan sikap sangat terdidik dan elegan dan mereka akan merosot menjadi jiwa-jiwa mengerikan yang patuh.

Max Stirner, The False Principle of Our Education (Colorado Springs: Ralph Myles, 1967), hal. 23

xxxv

Yang Bebas (The Free Ones) kemudian dikenal sebagai kelompok Hegelian Kiri karena mereka mengadakan pertemuan untuk berdiskusi dan akhirnya menentang filsafat tokoh besar metafisik Jerman itu. Dalam reaksi terhadap Hegel dan para pengunjung tetap Free Ones itulah Johann Kaspar menulis klaimnya yang terkenal, The Ego and His own. Karya tersebut berposisi unik dalam sejarah filsafat. Gayanya yang ganjil memang menarik, ia berbelit dan berulang-ulang; maknanya seringkali samar dan kontradiktif. Karya itu seperti komposisi musik, memperkenalkan tema-tema dan lantas menjatuhkannya, dengan tujuan hanya untuk mengembangkannya pada fase berikutnya; keseluruhan karya itu merayakan kegemilangan penikmatan menjadi diri sepenuhnya dan diri yang berdaulat penuh atas hidupnya -sesuatu yang Stirner sendiri tidak pernah dapat mencapainya. Stirner mempunyai kesadaran yang hampir Wittgensteinian dalam soal bagaimana bahasa mempengaruhi persepsi kita tentang realitas dan membatasi dunia kita. “Bahasa”, tulisnya, “atau ‘kata’ menjadi tirani yang paling keras bagi kita karena ia membentur kita dengan kekuatan sepasukan ide-ide baku.” Stirner menegaskan bahwa perbudakan bahasa seluruhnya merupakan konstruksi manusia, namun ia mencakup semua hal. Kebenaran tidak berhubungan dengan realitas di luar bahasa: “Kebenaran adalah frase, cara berbicara... pemikiran manusia, disusun dalam kata dan karenanya ia ada seperti segala sesuatu lainnya.” 29 Lantaran kebenaran seluruhnya adalah ciptaan manusia yang diekspresikan dalam bahasa, maka kebenaran itu bisa dikonsumsi: “Kebenaran adalah benda mati, huruf, kata, segepok

Stirner, The Ego & His Own, terj. Steven Byington (Rebel Press,

1982), hal. 346-7. Edisi ini adalah cetak ulang terjemahan Inggris dari Byington berjudul The Ego and His Own yang diterbitkan oleh Libertarian Book Club pada 1963.
xxxvi

material yang dapat kugunakan.” 30 Tetapi dengan begitu Stirner menyadari kemungkinan ia sendiri diperbudak oleh bahasa beserta makna-maknanya yang baku. Juga bisa diperkirakan bahwa sangat sulit untuk mengekspresikan sesuatu yang baru. Ujung-ujungnya Stirner terreduksi menjadi impotensi verbal dalam tampilannya yang tidak bisa dilukiskan, dijelaskan dengan kata-kata atau diuraikan. Dia menyerukan ‘saya’ ‘yang tak terpikirkan’ dan ‘yang tak terkatakan’ : “Menentang saya, segala yang tak bernama, medan pikiran, berpikir dan benak semua tercerai-berai.” 31

Pengarang The Ego and His Own itu mengadopsi nom de plume Max Stirner agar tidak menggelisahkan Madame Gropius, pemilik akademi bagi gadis-gadis muda yang sangat terhormat itu, tempat ia mengajar. Kata ‘Stirne’ dalam bahasa Jerman berarti ‘kening’, dan calon filsuf itu merasa bahwa nama itu tepat bukan hanya karena dia memiliki kening menonjol tetapi juga karena nama itu serasi dengan citra-dirinya sebagai ‘orang pintar’. Pengingkaran yang dilakukannya terhadap semua keyakinan filsafat dan relijius dalam cara individu yang unik telah membuatnya terkenal dan mengilhami tokoh-tokoh lain yang menyangkalnya seperti Ludwig Fueurbach, Moses Hess, Marx dan Engels. Tatkala menulis magnum opus-nya, Stirner menikahi Marie Dahnhardt, seorang anggota Free Ones yang cantik dan cerdas (kekasih yang mana karya ini dipersembahkan untuknya –penj). Langkah ini menggoreskan masa paling bahagia dalam hidupnya. Madame Gropius rupanya tidak menyadari tulisan-tulisan sang pemikir yang subversif dan menghasut itu, berasal dari lembaga pendidikannya yang beradab. Toh itu tidak bisa mencegahnya memecat pegawainya yang menakutkan tersebut. Stirner kemudian mesti bekerja-menulis untuk membiayai hidup, menerjemahkan beberapa volume karya ekonom Inggris

J.B.Say dan Adam Smith. Istrinya kemudian pergi Ibid., hal. 354 Ibid., hal. 143
xxxvii

meninggalkannya, hanya untuk mengenangkannya beberapa tahun berikutnya bahwa Stirner memang egois dan licik. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan, dua kali dipenjara karena hutang. Kadang- kadang dia bertandang ke salon Baron von der Goltz. Di situlah pendapat-pendapat filsafat radikalnya menimbukan kejutan besar, terutama karena penampilannya yang tampak tenang. Satu-satunya karya yang muncul pada masa ini adalah History of Reaction (1852) (Geschichte der Reaction), sebuah karya yang menjemukan dan tidak istimewa sebagaimana akhir riwayat hidupnya pada 1856. Stirner adalah penulis karya besar: karya itu terbukti sebagai upaya nekat Stirner, meski tidak sukses, untuk melepaskan diri dari masa-masa dan keadaan hidup yang mencekik.

Filsafat

Filsafat Stirner hanya dapat dipahami dalam konteks kritik kaum Hegelian Kiri tentang agama yang berkembang di Jerman pada 1840’an. Dengan menentang idealisme filsafat Hegel, yang melihat sejarah sebagai realisasi dan bentangan Spirit, kaum Hegelian Kiri berpendapat bahwa agama adalah sebentuk alienasi yang di dalamnya para penganut agama tersebut memproyeksikan setingkatan kualitas yang diinginkan menuju ketuhanan transenden. Manusia tidak diciptakan dalam citra Tuhan, tetapi Tuhan diciptakan dalam citra ideal manusia. Guna mengatasi alienasi ini, mereka berpendapat bahwa penting untuk ‘mengadakan kembali’ esensi manusia dan menyadari bahwa kualitas-kualitas ideal yang dihubungkan dengan Tuhan adalah kualitas-kualitas manusia, yang sebagian disadari pada saat ini tetapi akan sepenuhnya mampu disadari dalam sebuah masyarakat yang telah mengalami transformasi. Kritik agama karenanya menjadi panggilan radikal bagi reformasi. Stirner mengembangkan gaya Hegelian, termasuk gerak laju dialektis tesis, antitesis dan sintesis. Ia juga

xxxviii

mengadopsi tema alienasi dan rekonsiliasi. Dia menganggap filsafat egoismenya sebagai puncak sejarah dunia. Sesungguhnya Stirner dipandang sebagai Hegelian terakhir yang paling logis. Dia tidak berupaya menggusur ‘universalitas konkrit*’* Hegel dengan gagasan-gagasan umum seperti ‘kemanusiaan’ atau ‘masyarakat tanpa kelas’, Stirner hanya meyakini realitas individu konkret. 32

Toh kritik Stirner bergerak lebih jauh daripada para Hegelian Kiri lainnya. Manakala Fueurbach menegaskan bahwa ketimbang beribadah kepada Tuhan kita harus mencoba dan menyadari ‘esensi’ manusia, Stirner menyatakan bahwa humanisme macam ini adalah semata-mata agama yang menyamar: “orang Kristen itu (Fueurbach) rindu dan mendambakan dunia lain.” 33 Mengingat konsep tentang esensi manusia adalah semata-mata pemikiran abstrak, konsep itu tidak bisa menjadi sebuah standar independen yang berlaku sebagai alat ukur tindakan- tindakan kita. Konsep tersebut sama seperti ide-ide baku tentang Tuhan, Negara dan Keadilan: ia tak lebih dari sekedar ‘roda-roda dalam kepala’ [dalam terjemahan yang baru: ‘kelelawar di lonceng gereja -penj] yang tidak punya realitas lebih selain sesosok ‘hantu’, spook. 34

Kendati Stirner merayakan keutamaan individu unik, dia bukanlah, dalam istilah metafisika, seorang solipsis *. Dia mengakui keberadaan independen dunia luar dan orang lain: “Saya bisa membuat sedikit dari diri saya; tetapi yang sedikit ini adalah segalanya dan lebih baik daripada apa yang diketahui orang lain tentang diri saya.” 35 Ego

32 David McLellan, The Young Hegelians and Karl Marx (New York: Praeger, 1969), hal. 119 33 Stirner, The Ego & His Own, op.cit., hal. 32 34 Ibid., hal. 43, 39 * Solipsisme adalah keyakinan seseorang bahwa satu-satunya soal yang dipercaya adalah bahwa dia ada dan kebenaran pengetahuan tentang segala sesuatu lainnya dianggap mustahil. Ibid., hal. 182

xxxix

karenanya tidak menciptakan semua hal, tetapi melihat semua hal sebagai alat menuju tujuannya sendiri: “bukanlah ego yang merupakan segala-galanya, melainkan ego yang menghancurkan segala-galanya.” 36 Stirner berbicara kadangkala seolah orang lain adalah milik dan ciptaan ego, tapi biasanya maksudnya adalah bahwa mereka hanya mesti dipandang demikian: “Bagiku, kamu bukanlah apa-apa kecuali -makananku, kendati aku pun adalah makanan yang dimanfaatkan olehmu. Kita hanya mempunyai satu hubungan satu sama lain, yaitu hubungan manfaat, pemakaian, kegunaan.” 37 Sementara ego bukanlah satu- satunya realitas atau keseluruhan realitas, ego karenanya adalah tingkatan tertinggi realitas. Ego memanfaatkan segala hal dan benda bagi tujuannya sendiri. Sifat dasar ego tidak seluruhnya jelas dalam karya Stirner. Ego adalah pusat segala anggapan, bukan benda bukan pula ide, tanpa bentuk atau substansi abadi. Dengan demikian, ego adalah ‘ketiadaan yang kreatif’, bukan satu diri melainkan sekumpulan diri: “Aku bukanlah ketiadaan dalam arti kekosongan, tetapi aku adalah ketiadaan yang kreatif, ketiadaan yang keluar dariku, diriku sebagai pencipta, yang menciptakan segala.” 38 Ego karenanya adalah sebuah proses yang ada melalui sekumpulan diri yang dibuatnya menjadi berwujud. Sayangnya Stirner tidak seluruhnya eksplisit atau konsisten. Dia tidak menerangkan bagaimana sebuah ego abadi dapat menjadi sekumpulan diri. Dia juga tidak mengaitkan konsepsinya tentang ego penciptaan-diri dengan penegasannya bahwa orang terlahir cerdas atau bodoh, pintar atau tolol. Ego menjadi kreatif sekaligus juga einzig-unik. Tiap individu secara keseluruhan adalah tunggal dan tidak bisa dibandingkan: “Dagingku bukan daging mereka, pikiranku

Ibid., hal. 182 Ibid., hal. 296-7 Ibid., hal. 5

xl

bukan pikiran mereka.” 39 Sehingga Stirner memiliki konsepsi atomistik sempurna tentang diri. Tetapi dia, beda dengan Rosseau, tidak menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah independen: “Bukan isolasi atau menjadi sendiri, tetapi masyarakat adalah kondisi asli manusia ... Masyarakat adalah keadaan alamiah kita.” 40 Masyarakat adalah sesuatu yang mana individu harus mengemansipasikan diri dari dalamnya untuk menjadi dirinya yang sejati. Untuk alasan inilah Marx dan Engels secara ironis menamakan ‘Santo Max’ sebagai ‘yang Unik’. Sebagai seorang ateis dan materialis, Stirner menganggap ego terbatas dan tidak kekal serta tampaknya diidentifikasikan dengan tubuh. Terhadap pertanyaan ‘Apakah aku?’, Stirner menjawab: “sebuah kedalaman jurang dorongan yang tanpa hukum dan tanpa aturan, hasrat, harapan, gairah, kekacauan tanpa cahaya atau bintang yang memandu.” 41 Dan tambahnya lagi, ketika ego adalah jasmani, maka produk-produk intelektual atau ide-ide tak lagi hadir independen. Hal ini menjuruskan Stirner pada posisi seorang nominalis, menolak unsur universal dan unsur spesies mengingat realitas hanya terdiri atas hal-hal khusus. Abstraksi atau gagasan-gagasan umum seperti ‘manusia’ karenanya hanya merupakan konsep dalam pikiran, apa pun yang dikatakan oleh Fueurbach atau Marx. Terkadang Stirner tampak menyadari bahwa kebenaran objektif itu ada, namun ia tidak memiliki nilai yang terlepas dari kegunaannya bagi ego. Stirner pada dasarnya mempertimbangkan jenis kebenaran eksistensial yang hidup, bukan semata-mata kebenaran yang diketahui. Stirner tidak berkata seperti Kierkegaard bahwa kebenaran adalah subjektif, melainkan

Ibid., hal. 138 Ibid., hal. 305-6 Ibid., hal. 161

xli

ia menggenggam subjektivitas sebagai soal yang lebih penting daripada kebenaran. 42

Berbeda dengan Godwin, Stirner bukanlah seorang perfectibilist, bukan seorang yang mengajukan metode demi masyarakat yang sempurna. Malah ego adalah sepenuhnya sempurna dalam keadaan terkininya dan di setiap saat: “Kita semua sempurna dan di seluruh penjuru bumi tidak ada seorang pun pembuat dosa!” 43 Hal yang mungkin hanyalah hal itu sendiri. Jika soal ini terlihat paradoks dengan penegasannya tentang perkembangan, ia menjadi kurang paradoks jika kita menafsirkannya dalam pemaknaan bahwa ego sempurna bisa berkembang dengan pengertian menjadi lebih sadar akan dirinya sendiri dan benda lain sebagai miliknya. Dengan demikian ego bisa mengembangkan ‘kepemilikan’-nya (eigenhert), rasa pemilikan-dirinya. Permasalahan yang tertinggal adalah bahwa jika kita ‘sempurna’, mengapa kita memerlukan pengetahuan dan kesadaran yang lebih? Kendati tidak menciptakan Tuhan baru seperti yang disiratkan Marx, Stirner menjadi hampir mistis dalam hal penjelasan negatifnya tentang ego. Bukan hanya tak terkatakan melainkan juga tak terpikirkan, sesuatu yang bisa dipahami hanya melalui pengalaman non-rasional. Dalam psikologinya, Stirner membagi diri ke dalam hasrat, kehendak dan intelektualitas. Tetapi kehendaklah unsur yang paling dominan lantaran jika mengikuti hasrat dan intelektualitas, ego akan terpecah. Diri adalah sebuah kesatuan yang bertindak dari keinginan pencarian-diri: “Aku adalah segalanya bagi diriku dan aku melakukan segalanya atas usahaku sendiri.” 44 Tetapi ketimbang mencapai sebuah keseimbangan antara hasrat dan intelektualitas, kehendak lebih mencari kekuasaan atas benda-benda, orang dan kedirian seseorang. Alhasil, Stirner mendahului Freud dalam penekanannya tentang dorongan hasrat utuk

Lihat Clar, Max Stirner’s Egoism, op.cit., hal. 30 Stirner, The Ego & His Own, op.cit., hal. 359 Ibid., hal. 162

xlii

mempengaruhi intelektualitas, dan mendahului Adler dalam penjelasannya tentang kehendak sebagai unsur tertinggi dalam ego. Stirner mengembangkan egoisme psikologis para moralis abad delapan belas menuju bentuknya yang paling ekstrem. Mengikuti kepentingan ego adalah sifat dasar ego itu sendiri. Altruisme adalah sebuah ilusi sempurna. Seorang altruis yang nyata sebenarnya adalah seorang egois yang tanpa disengaja, tanpa disadari. Bahkan cinta adalah sejenis egoisme: saya mencintai “karena cinta membuatku bahagia, aku mencintai karena mencintai adalah wajar bagiku, karena cinta menyenangkanku.” 45 Hal yang sama berlaku bagi kreativitas, agama dan persahabatan. Tetapi pendapat tersebut tinggal sebuah tautologi dan, karenanya, tak memiliki bukti. Jauh dari sekedar penegasan, Stirner tidak menawarkan satu bukti pun untuk mendukung keyakinannya bahwa kepentingan-diri universal adalah sebuah gambaran sejati tentang perilaku manusia. Akibat wajar dari egoisme psikologis bagi Stirner adalah egoisme etis. Dia berusaha menunjukkan bahwa egoisme yang sadar adalah lebih baik daripada egoisme yang disamarkan sebagai altruisme, karena egoisme tersebut memberikan kesempatan bagi berkembangnya keinginan yang memberi seseorang martabat sebagai manusia yang bebas.

Etika

Dalam etikanya, Stirner berpendapat bahwa ego adalah pencipta utama tatanan moral. Tak ada kebenaran moral abadi dan tak ada nilai-nilai yang bisa ditemukan pada alam: “Sebagai pemilik dan pencipta hakku, aku tidak mengakui adanya sumber hak selain diriku, tidak juga Tuhan, Negara, alam atau bahkan manusia itu sendiri.” 46

Seseorang tidak punya kewajiban bahkan terhadap dirinya

Ibid., hal. 291 Ibid., hal. 205

xliii

sendiri karena hal itu menunjukkan pembagian ego ke dalam dua diri. Diri yang lebih tinggi dan diri yang lebih rendah. Dalam kasus ini, seorang egois yang sadar harus memilih apa yang menyenangkan dia sebagai kebaikan utama: “penikmatan hidup adalah tujuan akhir. Sehingga masalahnya bukanlah bagaimana seseorang memperpanjang hidup atau bahkan menciptakan diri sejati dalam dirinya, tetapi bagaimana dia melarutkan dirinya dalam hidup, membuat dirinya terus menjalani hidup.” 47 Dia tidak lagi mempunyai panggilan moral seperti yang dimiliki sekuntum bunga. Jika dia bertindak, itu karena dia menginginkannya. Jika dia berbicara, itu bukanlah demi orang lain atau bahkan demi kebenaran tetapi demi kenikmatan murni:

Aku bernyanyi layaknya burung berkicau Yang hinggap di dahan besar; Lagu yang meluncur dariku Adalah membayar dengan balasan yang baik. 48

Dalam wilayah publik, hak moral hanyalah sebuah roda samar dalam kepala. Tak ada hak alam, hak sosial, hak sejarah. Hak adalah semata-mata: “Kekuatan yang kau miliki adalah hak yang kau miliki.” Hal ini memang sangat subjektif: “Aku memutuskan yang tepat dalam diriku; tidak ada yang tepat di luar aku.” 49 Moralitas dominan karenanya akan dilengkapi dengan nilai-nilai dari yang paling kuat. Individu tidak memiliki kewajiban terhadap hukum atau moralitas; satu-satunya kepentingan yang dimilikinya adalah pemuasan yang bebas akan hasratnya. Sehingga seorang egois yang sadar berada di luar kebaikan dan kejahatan, sebagaimana lazimnya didefinisikan:

Ibid., hal. 320 Ibid., hal. 296 Ibid., hal. 189

xliv

Menjauhlah semua hal yang menyita perhatian, yang tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kamu pikir “perbuatan baik” harus menjadi perhatianku? Apa itu kebaikan? Apa itu keburukan? Tak ada satu pun yang berarti bagiku. Keilahian adalah urusan Tuhan; manusia adalah urusan manusia. Perhatianku bukanlah yang maha kuasa maupun manusia, bukan juga kebenaran, kemuliaan, keadilan, kebebasan dan lain-lain, tapi semata-mata yang sesuai denganku, dan itu bukanlah sesuatu yang umum, melainkan menjadi diriku yang unik (Einzig), sebagaimana aku unik. Tak ada hal lain yang lebih penting kecuali diriku sendiri! 50

Stirner sesungguhnya melangkah jauh dalam menempatkan ‘kepemilikan’ seseorang di atas nilai kebebasan. Dia mengakui bahwa kebebasannya, tak bisa dihindari lagi, dibatasi oleh masyarakat, Negara dan siapa pun orang lain yang lebih kuat, tetapi dia tidak akan membiarkan ‘kepemilikan’ dirampas darinya:

seseorang menjadi bebas dari banyak hal, tidak dari segala hal... ‘Kebebasan hanya hidup di alam mimpi!’ Sebaliknya, kepemilikan adalah seluruh wujud dan keberadaanku, kepemilikan adalah diriku sendiri. Aku bebas dari apa pun yang menggenggamku, pemilik segala yang aku miliki dalam kekuasaanku atau segala yang aku kendalikan. Aku adalah milikku sepanjang waktu dalam segala keadaan, jika aku tahu bagaimana

Ibid., hal. 5

xlv

memiliki diriku sendiri dan tidak membuang waktuku untuk orang lain. 51

Dengan penekanan pada keunggulan ego, Stirner terus mengembangkan sebuah pandangan tentang kebebasan yang melibatkan pilihan bebas dan sadar dari individu yang tidak terbatasi: “Aku hanyalah milikku ketika aku adalah tuan dari diriku sendiri.” 52 Analisa Stirner tentang kebebasan memang tajam dan mendalam. Pertama-tama, membuat kebebasan itu sendiri sebagai sebuah tujuan berarti membuatnya menjadi suci dan melangkah mundur menuju idealisme. Kedua, kebebasan negatif dari ketidakleluasaan secara fisik tidak bisa menjamin bahwa seseorang secara mental akan bebas dari praduga, adat dan tradisi. Ketiga, jenis kebebasan positif yang dianjurkan Hegel—menjadi hal yang lebih tinggi—tidak akan berbeda dari menjalankan kewajiban seperti budak. Sebagaimana ditegaskan Stirner, permasalahan dengan teori-teori ini adalah bahwa semuanya berdasar pada ‘hasrat akan kebebasan khusus.’ Seseorang dimungkinkan menjadi bebas jika dia bertindak dengan kesadaran-diri, determinasi- diri dan keinginan bebas. 53 Tetapi penekanan apa pun yang ditempatkan Stirner dalam hal kebebasan individu, kebebasan tersebut selalu menjadi bawahan ego, menjadi alat untuk mencapai tujuan seseorang. Sehingga Stirner menempatkan kepemilikan (eigenheit) di atas kebebasan. Stirner lantas mengungkapkan bahwa ‘semua kebebasan pada intinya adalah pemerdekaan-diri sehingga aku hanya bisa memiliki kebebasan sebanyak yang kuperoleh bagi diriku karena kepemilikanku.’ 54

Yang dimiliki ego adalah properti. Konsep sentral ini dalam pemikiran Stirner disamakan dengan pemilikan

Ibid., hal. 157 Ibid., hal. 169 Ibid., hal. 159 Ibid., hal. 167

xlvi

aktual, tetapi ego dapat juga melihat segalanya sebagai kandidat bagi kepemilikan. Satu-satunya batas bagi properti adalah kekuatan sang pemilik: “saya pikir properti itu adalah milik orang yang tahu bagaimana mendapatkannya, atau orang yang tidak akan membiarkan properti itu dirampas darinya.” 55 Namun seorang egois tidak pernah bisa mengorbankan sesuatu yang paling penting, yaitu ego. Dia bisa memperlakukan segala hal lainnya ‘dengan humor’ dan ‘penuh senyuman’, baik ketika berhasil maupun gagal dalam perjuangan mendapatkan properti. 56 Jadi, ketika Sitrner biasa menekankan pentingnya eksploitasi maksimal terhadap orang lain dan dunia, terkadang dia juga menunjukkan penerimaan yang hampir bersifat pasrah terhadap pembatasan kekuasaan seseorang.

Politik

Sementara kebanyakan tokoh anarkis membuat sebuah pembedaan tajam antara Negara dengan masyarakat dan menolak yang pertama agar memungkinkan terjadinya perkembangan yang damai dan produktif bagi yang terakhir, Stirner menolak baik Negara maupun masyarakat yang ada. Negara, menurutnya, telah menjadi sebuah ‘ide-mati’ yang menuntut kesetiaan dan pengabdian saya. Dalam prakteknya, itu sama sekali bertentangan dengan individualitas dan kepentingan saya. Maksud utamanya adalah selalu untuk “membatasi, menjinakkan dan membawahi individu, membuatnya menjadi subjek terhadap keumuman atau yang lainnya.” 57 Dengan demikian Negara adalah “tumbuhan berduri, dan berperan sebagai ‘musuh dan pembunuh kepemilikan.’” 58

Stirner tidak menemukan justifikasi bagi negara dalam teori kedaulatan dan Kontrak Sosial menurut Rosseau.

Ibid., hal. 191 Ibid., hal. 358 Ibid., hal. 227 Ibid., hal. 224, 308

xlvii

Mengklaim bahwa negara mempunyai hak yang sah untuk mengatur dan membuat hukum karena negara mengekspresikan keinginan yang berkuasa, akan mengabaikan fakta yang tidak bisa dianggap kecil bahwa hanya ego individu yang mempunyai klaim atas kedaulatan. Bahkan jika dapat ditunjukkan bahwa tiap individu telah mengekspresikan keiginan yang sama, hukum apa pun yang diperkuat oleh Negara akan membekukan keinginan itu, dan membuat masa lalu memerintah masa depan. Sedangkan demokrasi berdasarkan kekuasaan mayoritas akan meninggalkan minoritas yang tidak sepakat dalam posisi yang sama seperti di negara monarki absolut. Mengingat kedaulatan, tak tertolak lagi, melibatkan dominasi dan penyerahan diri, Stirner menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada yang namanya ‘Negara bebas’. Kritisismenya terhadap teori kontrak sosial ini sama memikatnya dengan paparan Godwin. Dalam kenyataannya, Negara dikendalikan oleh kaum borjuis yang membangunnya dalam perjuangan melawan kelas dengan hak istimewa. Kelas buruh karenanya tetap menjadi sebuah “kekuatan yang memusuhi Negara ini, Negara para pemilik—‘kerajaan warga negara’”. Negara juga mengklaim sebuah monopoli kekuatan yang sah: “Negara mempraktekkan ‘kekerasan’, individu tidak boleh berbuat yang sama. Perilaku negara adalah kekerasan, dan negara menyusun ‘hukum’ kekerasan; sedangkan kekerasan yang diperbuat individu adalah “kejahatan.” 59 Akan tetapi Negara bukanlah semata-mata sebuah superstruktur legal yang dipaksakan terhadap masyarakat yang mengeluarkan perintah sebagai hukum; negara menekan sampai ke dalam hubungan subjeknya yang paling intim dan menciptakan sebuah ikatan semu; negara adalah “sebuah jaringan dan kesatuan kemerdekaan dan kesetiaan;

Ibid., hal. 115-6, 197

xlviii

negara adalah sebuah pemilikan bersama, sebuah pegangan bersama...” 60

Stirner menjelaskan bahwa “saya bebas tidak berada dalam Negara mana pun”, dan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berurusan untuk “memerintah tindakanku, untuk mengatakan jalan mana yang akan kuikuti dan menyusun kode untuk memerintahnya.” 61 Tetapi ketimbang berpaling ke masyarakat sebagai satu alternatif yang sehat dan menguntungkan dibanding negara, Stirner malah melihat masyarakat yang ada sebagai satu kesatuan pemaksa, yang setiap anggotanya dituntut utuk memikirkan kebaikan seluruh masyarakat tersebut. Dengan prioritas ontologis individu seperti ini, tidak ada masyarakat organik yang mampu mempertahankan kebebasan individu. Sehingga satu-satunya langkah maju adalah mentransformasikan baik masyarakat yang ada maupun Negara yang sifat dasarnya menentang dan menindas individu. Berkaitan dengan sifat dasar manusia, Stirner nyaris seperti Hobbes yang memandang masyarakat sebagai sebuah perang semua melawan semua. Manakala tiap individu berusaha memuaskan hasratnya, tak bisa dihindari lagi dia akan mengalami konflik dengan orang lain: “Kuasailah dan ambillah apa yang kau butuhkan! Dengan ini, perang semua melawan semua telah ditegaskan. Aku sendiri memutuskan apa yang akan kumiliki.” 62 Tetapi meski pandangan Stirner-manusia sebagai makhluk egois, bergairah dan selalu mencari kekuasaan-mendekati pandangan Hobbes, keduanya berujung pada kesimpulan yang saling bertentangan. Hobbes menyerukan adanya sebuah negara yang berkuasa penuh dengan pedang untuk memperkuat hukumnya dan untuk mengekang keinginan manusia yang tidak mau patuh. Sedangkan Stirner percaya

Ibid., hal. 223 Ibid., hal. 195, 226 Ibid., hal. 257

xlix

adalah mungkin dan layak-hasrat untuk membentuk sebuah asosiasi baru individu-individu yang berdaulat:

Kami berdua, Negara dan aku, adalah musuh. Aku, sang egois, tidak memiliki kesejahteraan ‘masyarakat manusia’ dalam hatiku, aku tidak mengorbankan sesuatu pun untuknya, aku hanya memanfaatkannya; tapi agar mampu memanfaatkannya secara sempurna aku mesti mengubahnya menjadi milik dan ciptaanku; yakni, aku akan menghapusnya dan menggan- tikannya dengan Serikat Egois. 63

Tidak seperti masyarakat yang bertindak sebagai suatu kelompok yang padu, terkristalisasi, pasti dan mati, serikat egois adalah asosiasi spontan dan sukarela yang ditarik dari kepentingan bersama yang saling menguntungkan. Hanya dalam serikat semacam itu individu akan mampu menegaskan keunikan dirinya karena serikat tersebut tidak akan menguasainya; “kau menguasainya atau memanfaatkannya.” 64 Kendati serikat tersebut akan memperluas kebebasan pribadi, objek terpentingnya bukanlah kebebasan, melainkan kepemilikan, untuk meningkatkan kepemilikan properti pribadi. Melalui persetujuan sukarela, serikat itu akan memungkinkan individu untuk menambah kekuasaannya, dan dengan kekuatan gabungan, serikat akan menyelesaikan lebih daripada yang dapat dilakukan oleh seseorang sendirian. Dari posisi sebagai seorang individualis ekstrem, Stirner menghancurkan masyarakat yang ada hanya untuk menemukannya kembali dalam sebuah bentuk baru. Para egois yang sadar bergabung dalam satu serikat karena mereka menyadari bahwa “mereka sangat peduli akan kesejahteraan mereka jika mereka berserikat dengan yang

Ibid., hal. 179 Ibid., hal. 312

l

lainnya.” 65 Seperti dalam model pasar Adam Smith tentang masyarakat, individu bekerjasama sejauh kerjasama itu bisa membuka kesempatan bagi mereka untuk memuaskan hasrat mereka sendiri. Walaupun Stirner mengemukakan banyak asumsi tentang liberalisme klasik dalam pandangannya mengenai ketertarikan-diri, individu yang penuh perhitungan, dalam kenyataannya dia tidak mengikutsertakan teori politiknya. Liberalisme politik, tegas Stirner, meniadakan ketidaksetaraan sosial; liberalisme sosial (sosialisme) membuat orang tidak memiliki properti; dan liberalisme humanis membuat orang tak bertuhan. Tujuan-tujuan ini memang progresif sampai taraf ketika tiga paham ini memungkinkan tuannya untuk bangkit lagi dalam bentuk Negara. Stirner tidak mengesahkan kapitalisme atau Protestan di baliknya. Stirner bukanlah kapitalis yang tekun dan asketis: “Kegelisahan tidak akan membiarkan kita bernapas, nikmatilah dengan santai: kita tidak memperoleh kenyamanan dalam memiliki.” Dia benar-benar kritis terhadap sistem pabrik yang mengasingkan para pekerja dari diri mereka sendiri dan dari pekerjaannya: “ketika tiap orang harus mengolah dirinya menjadi seorang manusia, menghinakan manusia menjadi pekerja seperti mesin adalah sama dengan perbudakan.” Dia menerima bahwa hanya kerjalah yang menciptakan nilai. Tetapi ketika seseorang secara mekanis mengerjakan tugas rutin, pekerjaan itu bukanlah apa-apa, tidak memiliki objek dalam dirinya, tidak ada yang sempurna dalam dirinya; dia bekerja hanya untuk tangan lain, dan dimanfaatkan (dieksploitasi) oleh tangan lain itu. 66 Dan untuk melengkapi analisanya yang luar biasa tentang alienasi dan eksploitasi, Stirner berpendapat bahwa ketika pekerjaan harus memenuhi kebutuhan dan berguna

Ibid., hal. 309 Ibid., hal. 119-20

li

bagi seseorang, maka dia harus menikmati hasil pekerjaannya itu. Pada saat yang sama, Stirner menolak hak ‘suci’ properti pribadi. Dia dengan tepat menegaskan bahwa Proudhon tidak logis ketika menyebut properti sebagai ‘pencurian’; konsep ‘pencurian’ hanya dimungkinkan jika seseorang memberikan validitas konsep ‘properti’ terlebih dahulu. Karenanya, tidak seperti Proudhon, dia melihat pemilikan tidak bertentangan dengan properti tetapi meyakini bahwa semua itu hampir serupa karena properti adalah semata-mata ekspresi bagi ‘kekuasaan tak terbatas terhadap sesuatu (benda, binatang, manusia)’ yang dapat saya atur sekehendak saya. Meski tidak tepat, tetapi ada kemungkinan untuk melegitimasi properti dan saya karenanya berhak “atas setiap properti yang deminya aku memberdayakan diri.” 67

Akan tetapi, jika tiap orang berusaha merampas apa pun yang mereka inginkan bagi diri mereka, apakah akan mengakibatkan sebuah masyarakat yang tidak setara? Tidak demikian, kata Stirner. Dalam serikat egois yang diajukannya, setiap orang akan bisa mengamankan properti yang cukup bagi diri mereka sehingga kemiskinan tidak ada. Stirner bahkan menekankan pentingnya para pekerja berkelompok bersama dan mogok untuk mencapai kondisi dan gaji yang lebih baik, dan siap menggunakan kekuatan untuk mengubah situasi jika diperlukan. Ini tidak membuat Stirner menjadi seorang proto-komunis, karena dengan melecehkan dia menolak ‘komunisme yang gembel’ dari Weitling yang hanya akan menjuruskan masyarakat sebagai satu keseluruhan yang mengendalikan anggota-anggota individunya. 68

Sambil menolak kontrak sosial teori liberal, Stirner mengajukan kembali gagasan tentang kontrak sebagai dasar hubungan sosial antara para egois. Tetapi ‘kontrak’

Ibid., hal. 256 Ibid., hal. 118

lii

Stirner adalah sebuah persetujuan sukarela yang tidak mengikat. Kaum egois bertemu sebagai orang-orang yang secara rasional memperhitungkan kepentingannya masing- masing dan membuat persetujuan satu sama lain. Stirner mengklaim bahwa hal ini tidak akan mengorbankan kebebasan pribadi, dan itu hanya akan menjadi kasus jika semua kelompok yang mengikat kontrak memiliki kekuasan tawar menawar seimbang yang jelas-jelas tidak mereka punyai. Ide tentang hubungan berdasarkan bakat di luar pemahaman Stirner. Karena hukum yang mendefinisikan kejahatan dan negara yang menghukum pelakunya, dalam sebuah masyarakat tanpa Negara yang terdiri dari serikat-serikat egois tidak akan ada hukuman bagi para pelaku kejahatan. Stirner menolak segala ide tentang hukuman; semua ide itu hanya akan berarti jika menghasilkan tindak penghukuman karena telah merusak sesuatu yang suci, sementara toh tidak ada yang suci dalam skema Stirner. Dia juga tidak akan menerima ide tentang menggunakan cara-cara kuratif untuk berurusan dengan para pelaku kejahatan karena hal ini hanyalah kebalikan dari hukuman. Sementara yang belakangan melihat bahwa dosa dalam sebuah tindakan adalah dosa terhadap kebenaran, yang terdahulu melihat dosa yang dilakukan seorang penjahat adalah dosa terhadap dirinya sendiri. Pandangan ini diabaikan oleh kebanyakan anarkis yang lebih menyukai ‘rehabilitasi’ ketimbang hukuman. Dengan menolak gagasan tentang ‘kejahatan’ dan ‘penyakit’, Stirner menyatakan bahwa tidak ada tindakan yang mengandung dosa; baik itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi saya. Sebagai pengganti hukuman, Stirner menyarankan bahwa individu mengambil hukum ke dalam tangan mereka sendiri dan menuntut ‘pemuasan’ atas luka. 69 Kendati hal ini mengungkapkan kecenderungan otoritarian dalam

Ibid., hal. 241

liii

pemikiran Stirner, dia bersikeras bahwa para egois yang sadar pada akhirnya akan melihat keuntungan membuat persetujuan damai melalui kontrak ketimbang mengambil jalan kekerasan. Tujuan akhirnya adalah untuk menikmati hidup. Alasan mengapa Negara dan bahkan institusi-insitusi formal masyarakat dapat dihilangkan dan diganti dengan sebuah serikat egois adalah karena kita kurang lebih setara dalam kekuasaan dan kemampuan. Orang cukup menjadi egois yang sadar sepenuhnya untuk mengakhiri tidak seimbangnya pembagian kekuasaan yang menghasilkan sebuah masyarakat hirarkis antara pelayan dan majikan. Masa persiapan dan pencerahan yang lama karenanya tidaklah diperlukan sebelum membentuk sebuah masyarakat bebas, sebagaimana dikemukakan Godwin. Orang hanya mesti mengenali siapa dirinya: “Sifat dasarmu adalah manusia; kau adalah manusia. Tetapi karena kau telah menjadi manusia, kau tidak perlu lagi menjadi manusia.” 70 Dalam peperangan ‘satu lawan semua’, kekuatan mungkin diperlukan untuk mengubah masyarakat dan mendistribusi ulang kekayaan. Kekuatan itu mungkin juga digunakan untuk membebaskan diri seseorang dari Negara. Negara menyebut kekerasan individu sebagai ‘kejahatan’ dan “hanya dengan kejahatanlah dia mengatasi kekerasan negara karena dia berpikir bahwa Negara tidaklah berada di atasnya, melainkan dia yang berada di atas Negara.” Tapi ini bukan cara satu-satunya; kita bisa menarik tenaga kerja kita dan Negara akan runtuh dengan sendirinya: “Negara bergantung pada perbudakan buruh. Jika buruh bebas maka Negara menjadi hilang.” 71 Dalam analisa akhirnya Stirner melangkah di luar revolusi keras yang berupaya membuat institusi-insitusi baru dalam perayaan terkenalnya, perayaan penonjolan-diri dan

Ibid., hal. 332 Ibid., hal. 197, 116

liv

perlawanan. Dia menuntut individu agar menolak ditata dan diperintah orang lain:

Sekarang, objekku bukanlah penggulingan tatanan yang sudah berdiri melainkan peninggian diriku di atasnya, tujuan dan perbuatanku tidak bersifat politis dan sosial, tetapi (sebagaimana diperintahkan oleh diriku dan kepemilikanku) yang egoistik. Revolusi memerintahkan seseorang untuk membuat tatanan; pemberontakan menuntutnya untuk bangkit atau memuliakan diri. 72

Stirner tidak merayakan keinginan berkuasa atas orang lain. Ia justru merayakan keinginan berkuasa atas diri seseorang. Jika semua orang menarik diri ke dalam keunikannya masing-masing, konflik sosial akan berkurang dan keadaan tidak memburuk. Manusia secara mendasar mungkin egois. Tapi sifat egois itu memungkinkan mereka tertarik untuk membuat persetujuan kontrak di antara mereka sendiri untuk menghindari kekerasan dan konflik serta untuk mengejar kepentingan diri mereka sendiri. Masalah dengan Stirner adalah bahwa, dengan pandangannya tentang manusia sebagai makhluk egois yang melakukan pencarian-diri, sulit membayangkan bahwa dalam sebuah masyarakat bebas mereka tidak akan merenggut kekuasaan dan mengambil jalan kekerasan untuk menyudahi perselisihan. Tanpa sanksi kewajiban moral, tak ada alasan untuk berharap bahwa persetujuan itu akan dibuat. Jika persetujuan semacam itu hanya menjauhkan diri dari kebijaksanaan, maka membuat persetujuan itu sebagai yang paling utama akan tampak tidak berarti. Karena manusia, sekali lagi, memiliki kesetaraan substansial. Gencatan senjata yang muncul

Ibid., hal. 316

lv

dalam perjuangan mencapai kekuasaan tampaknya tidak mungkin. Seorang egois ekstrem akhirnya akan menemukan dalam kepentingannya untuk merampas kekuasaan Negara atau memanipulasi para altruis untuk mencapai tujuannya ketimbang membentuk serikat-serikat sukarela yang terdiri atas individu-individu bebas. Seperti Hobbes, model manusia yang dikemukakan Stirner mencerminkan subjektivitas terasing masyarakatnya sendiri. Dia menerapkan asumsi-asumsi ekonomi kapitalis terhadap setiap aspek eksistensi manusia dan mereproduksi, dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal paling buruk dalam institusi-insitusi kapitalis. Dengan demikian pandangannya sedikit berbeda dari Adam Smith, yang Wealth of Nations-nya diterjemahkan oleh Stirner ke dalam bahasa Jerman, dan dia berada dalam tradisi individualisme yang posesif. 73

Dalam analisa finalnya Stirner tidak konsisten dalam doktrinnya tentang egoisme amoral. Seorang egois konsisten agaknya akan tetap diam dan mengejar kepentingannya sendiri dengan sikap yang benar-benar acuh terhadap orang lain. Tapi dengan menganjurkan setiap orang agar menjadi egois, Stirner menunjukkan sebuah pijakan moral. Seorang egois sempurna mungkin menganjurkan orang lain bertindak secara altruistik kepadanya, tetapi Stirner bertanya kepada orang lain, “Mengapa tidak akan kau ambil keberanian sekarang untuk membuat dirimu menjadi titik sentral sekaligus sosok utama?” 74 Stirner sekali lagi mungkin menolak nilai-nilai objektif, tetapi dia merayakan sebagian nilai, bahkan jika nilai-nilai itu yang egoistiknya saja. Dia karenanya dinamakan seorang nihilis karena dia mengurusi sejumlah hal dengan serius, terutama ego. Kendati sikap egois Stirner menghadapi orang lain “sebagai seorang Aku menghadapi seorang Kamu

Cf. Clark, Max Stirner’s Egoism, op.cit., hal. 57-8 Stirner, The Ego & His Own, op.cit., hal. 161

lvi

semuanya berbeda dariku dan berlawanan denganku”, hal ini menunjukkan tidak ada sesuatu pun yang “berpecah belah atau bermusuhan.” 75 Cinta, sekali lagi, adalah pertukaran sikap egois dan harus didasarkan bukan pada kemurahan hati, rasa sayang atau kebaikan tetapi “menuntut timbal balik (sebagaimana engkau pada aku, maka aku kepada engkau), tak ada yang ‘gratis’, dan mungkin dimenangkan dan dibeli.” 76 Tapi pandangan sinis ini tidak mencegah Stirner dari perasaan cinta dan mendedikasikan The Ego and His Own: “Untuk kekasihku Marie Dahnhardt”. Dalam tulisannya yang belakangan, Stirner bahkan menyajikan sifat artifisial dan penuh perhitungan dari serikat egois yang diajukannya, menyamakannya dengan persahabatan anak-anak pada saat bermain, atau hubungan antar teman atau kekasih yang, di dalamnya, kesenangan adalah motif terpenting. 77

Egoisme korosif Stirner membuatnya menolak masyarakat sebagai sebuah wujud organik, tapi perayaannya akan individu tidak membuatnya mengingkari eksistensi orang lain. Sartre mungkin telah menemukan ‘Neraka adalah orang lain’, tetapi bagi Stirner mereka adalah individu-individu yang memungkinkan seseorang mengisi dirinya dengan cara berserikat bersama orang lain. Sebagaimana ditegaskan Emma Goldman, Stirner bukanlah semata-mata seorang nabi yang berteori “tiap sesuatu bagi dirinya, setan mengambil bagian belakangnya.” 78

Marx dan Engels sepantasnya menuduh Stirner masih seorang Hegelian yang memiliki pendekatan idealis terhadap sejarah, meyakini bahwa “konsep harus mengatur

75 Ibid., hal. 179, 209 76 Ibid., hal. 310 Lihat Stirner, Kleiner Schriften und seine Entgegnungen auf die Kritik seines Werkes: Der Einzige und sein Eigenthum (Berlin: Schuster und Loeffler, 1898), hal. 164 Goldman, Anarchist and Other Essays, op.cit., hal. 44

lvii

kehidupan.” 79 Dengan mencari yang ‘suci’ di setiap tempat untuk dikuasai, dia mengabaikan basis material masyarakat. Ini membuatnya yakin bahwa untuk menjadi semakin buruk, negara hanya perlu mengubah ide-ide tentang hubungan individu dengannya. Dia juga bersalah karena berbuat sesuatu yang justru dia cela dari Fueurbach dalam serangannya terhadap ‘holy’, dengan menunjukkan bahwa memerdekakan kemanusiaan hanyalah perkara bagaimana menghancurkan ilusi-ilusi mental. Meski Stirner menolak abstraksi-abstraksi, konsep egonya justru menjelaskan bahwa ego itu sendiri adalah sebuah abstraksi dan dia gagal mengenali bahwa individu itu adalah seperangkat hubungan [tentang ini, baca penjelasan Wolfi selanjutnya -penj]. Stirner akhirnya tidak cukup jauh melangkah dalam mendesak buruh semata-semata untuk mogok dan mengklaim hasil kerja mereka. Kendati semua ini mungkin benar, tidaklah cukup menolak Stirner sebagai seorang ‘utopian borjuis- kecil’ seperti halnya kaum Marxis, atau mengatakan bahwa dia adalah penanda fasisme. Stirner adalah sebuah kehadiran yang aneh dan tidak mengenakkan. Dengan menyatakan berbagai hal dalam cara yang paling ekstrem, dan mengarahkan argumen- argumennya menuju kesimpulan-kesimpulan akhir, dia mengguncang ketenangan filsafat dan kepuasan moral para pembacanya. Nilainya terletak dalam kemampuannya menekan mistifikasi dan reifikasi terhadap negara dan masyarakat otoritarian. Kritisismenya terhadap cara-cara komunisme yang bisa menghancurkan individu memang mengena, dan dia dengan tepat menjelaskan bahwa sebuah Negara buruh tidak mungkin bisa lebih bebas daripada Negara liberal. Di luar hal ini, dia dengan brilian menunjukkan pegangan yang dimiliki ‘roda-roda dalam kepala’ di atas kita: betapa abstraksi-abstraksi dan ide-ide mati mempengaruhi cara kita berpikir. Dan lihatlah diri kita,

Marx & Engels, The German Ideology, op.cit., hal. 26. Cf. The Ego & His Own, op.cit., hal. 96

lviii

betapa hirarki menemukan akarnya dalam ‘dominasi pemikiran, dominasi benak.’ 80 Dia menyingkap tabir sosial, meruntuhkan ketundukan terhadap abstraksi, dan menunjukkan betapa dunia dipenuhi ‘hantu-hantu’ buatan kita sendiri. Dia menawarkan pembelaan kuat bagi individu dalam sebuah dunia yang terasing dan menempatkan subjektivitas pada titik pusat semua proyek revolusioner. Walaupun tuntutannya akan penonjolan-diri bisa mengarah pada kekerasan dan penindasan terhadap yang lemah, dan egoisme sadarnya akhirnya terlalu terbatas untuk mencakup seluruh pengalaman manusia, dia mengingatkan kita dengan baik sekali bahwa sebuah masyarakat yang bebas harus berada dalam kepentingan semua individu dan harus diarahkan pada kenikmatan dan pemenuhan-diri yang sempurna. Sang guru akademi perempuan yang dipenuhi rasa takut dan tak tercatat itu telah menjadi salah seorang pemikir abadi yang mengguncang dalam tradisi Barat. ’

Ibid., hal. 74

lix

Kumpulan Karya

Buku : The Ego & His Own (Der Einzige und sein Eigenthum, 1845), satu-satunya karya filsafat Stirner yang paling populer. Stirner’s Critics (Recensenten Stirners, 1845), respon Stirner terhadap komentar untuk The Ego & His Own yang ditulis Moses Hess, Bruno Bauer dan Ludwig Feuerbach. History of Reaction (Geschichte der Reaktion, 1852), ditulis soal konteks revolusi 1848 di Jerman. Mengutip Edmund Burke dan Auguste Comte untuk menunjukan dua sudut pandang revolusi yang berseberangan.

Esai-esai : The False Principle of Our Education (Das unwahre Prinzip unserer Erziehung), dalam jurnal Rheinische Zeitung (1842), kritik kepada Otto Friedrich Theodor Heinsius. Menurutnya pendidikan yang baik harus mempersiapkan seorang individu menjadi individual. Art and Religion (Kunst und Religion), dalam jurnal Rheinische Zeitung (1824), ditujukan pada Bruno Bauer, dengan topik luas soal filsafat, agama dan seni. The Philosophical Reactionaries (Die Philosophischen Reactionäre) dalam jurnal Die Epigonen (1847) dengan pseudonim G. Edward, ditujukan untuk membalas tulisan Kuno Fischer yang telah memisahkan dengan tegas antara filsafat dan Sufisme.

lx

Glosarium

Egois yang Tak Disengaja (involuntary egoist): dalam gagasan Stirner, semua orang adalah egois, tapi tak semua orang sadar. Egois yang sadar adalah egois, tapi egois yang tak sadar adalah egois yang tak disengaja (involuntary egoist). Egois yang tak sadar ini tidak ingin menjadi orang yang egois dan dengan demikian mencoba merendahkan dirinya sendiri, memerangi egonya, tapi pada saat yang bersamaan merendahkan diri hanya untuk “ditinggikan,” dan karena itu memuaskan egonya. Seseorang patriot misalnya, adalah egois karena ia senang, bangga, atau puas untuk mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu tanah air, bangsa, atau nasionalisme. Kelelawar-Kelelawar di Lonceng Gereja: seperangkat ide baku siap-pakai yang sudah dipasang ke dalam kepala orang banyak; penerimaan atas sikap-sikap tertentu – yang ditegakkan lewat struktur kewenangan dan kepatuhan-membentuk kondisi pemenjaraan intelektual yang sebagian aspeknya berwujud menjadi represi psikis; keyakinan-keyakinan baku yang kita amini begitu saja sebagai sesuatu yang berputar alamiah dan karenanya tanpa sadar membelenggu hidup manusia. Kontrak: persetujuan sukarela yang tidak mengikat; dasar hubungan sosial antara para egois. Kaum egois bertemu sebagai orang-orang yang secara rasional memperhitungkan kepentingannya masing-masing dan membuat persetujuan satu sama lain. Berbeda dengan kontrak sosial teori liberal Hobbes, kontrak Stirner tidak akan mengorbankan kebebasan pribadi, dan itu hanya dalam kasus jika semua kelompok yang

lxi

mengikat kontrak memiliki kekuasan tawar menawar yang seimbang. Mutual: pertukaran sikap egois dan harus didasarkan bukan pada kemurahan hati, rasa sayang atau kebaikan tetapi “menuntut timbal balik (sebagaimana engkau pada aku, maka aku kepada engkau), tak ada yang ‘gratis’; yang dapat dimenangkan dan dibeli.” Properti (Jerman: Eigentum, Inggris: property, its own, terkadang disebut sebagai “miliknya”): dunia pengalaman, persepsi, imajinasi dan aksi yang kita ambil dan ciptakan; yang membuat individu dalam suatu momen sementara tersebut tak seperti individual yang lain; gabungan antara fenomenologi persepsi dan kapasitas seseorang untuk memahami dan memperlakukan persepsi tersebut; duniamu atau duniaku. Konsep ini punya makna yang luas ketimbang kepemilikan benda atau dalam pengertian ekonomis semata, ia jadi penting karena dengan pemahaman yang demikianlah seorang egois dapat berlaku seenaknya. Serikat/perhimpunan egois: asosiasi spontan dan sukarela (voluntary) yang ditarik dari kepentingan bersama yang saling menguntungkan. Hanya dalam serikat semacam itu individu akan mampu menegaskan keunikan dirinya karena serikat tersebut tidak akan menguasainya, namun sebaliknya: “kau menguasainya atau memanfaatkannya.” Spook (Jerman: Spuk; Indonesia: menghantui): apapun yang sebenarnya tidak penting dan remeh namun terus menghantui dan bergentayangan; sesuatu yang abstrak dan membayangi; dalam artian lain sebenarnya semacam omong kosong. Yang Unik (Jerman: Einzige, sinonim lain: the only one, the unique, lebih populer disebut ego): abstraksi atas pusat segala anggapan, bukan benda bukan pula ide, tanpa bentuk atau substansi abadi; satu-satunya

lxii

realitas atau keseluruhan realitas, ego karenanya adalah tingkatan tertinggi realitas. Ego memanfaatkan segala hal dan benda bagi tujuannya sendiri. Bagi Stirner ini hanyalah kata. Kata ini ada hanya karena ia harus memilihnya, namun kerap dipadankan dengan selfish (ada benarnya sedikit). Padahal, apa yang kerap dimaksud banyak orang dengan ego tidak dapat dideskripsikan karena ia tak terjelaskan dan tak terbayangkan, dan setiap deskripsi, setiap pemahaman, membutuhkan perbandingan. Entitas macam apa yang tak terjelaskan, tak terbayangkan dan tak terbandingkan? Tiap individu yang hanya ada sementara saat ini di sini.

lxiii

Untuk kekasihku, Marie Dähnhardt

Aku tidak memiliki kepentingan apapun.

Sesuatu yang seharusnya tidak menyita perhatianku! Pertama dan yang paling penting, adalah perbuatan baik, lalu perintah Tuhan, tujuan umat manusia, kebenaran, kebebasan, kemanusiaan, keadilan; lebih jauh lagi, cita-cita bangsaku, pangeranku, tanah airku; akhirnya, cita-cita pikiran, dan ribuan cita-cita lainnya. Hanya urusanku yang tidak pernah kuperhatikan. “Malulah para egois yang tidak memikirkan dirinya sendiri!” Sekarang mari kita lihat bagaimana mereka mengatur apa yang menjadi perhatian mereka, mereka yang menjadi tujuan kepada siapa kita harus mengabdikan diri, ber- korban, dan berkembang dengan bersemangat. Kamu punya banyak informasi mendalam mengenai Tuhan untuk disampaikan, dan sudah ribuan tahun “menyelidiki kedalaman Ketuhanan,” dan melihat ke dalam hatinya, sehingga kamu pasti bisa mengatakan kepada kita bagaimana Tuhan sendiri berurusan dengan “perintah Tuhan,” yang mana kita dipanggil untuk melayaninya. Dan kamu juga tidak merahasiakan perintah Tuhan. Nah, apa perintahnya? Apakah dia, seperti yang dituntutnya kepada kita, menjalani perintah yang asing, menjalani perintah soal yang benar atau cinta, miliknya sendiri? Kamu mengamuk dengan kesalahpahaman ini, dan kamu bilang pada kami bahwa perintah Tuhan memanglah kebenaran dan cinta, namun perintah ini tidak dapat disebut asing bagi dirinya, karena Tuhan itu sendiri adalah kebenaran dan cinta; kamu terkejut dengan anggapan bahwa Tuhan bisa menjadi seperti cacing kita yang malang dalam mengajukan tujuan yang asing sebagai miliknya sendiri. “Untuk apa Tuhan membuat perintah soal kebenaran jika kebenaran itu bukan dirinya sendiri?” Dia hanya peduli dengan perkaranya, tapi, karena semuanya adalah dirinya sendiri, jadi itulah perkaranya! Tapi kita, kita bahkan sama sekali bukan apa- apa, dan perkara kita benar-benar kecil dan hina; karena itu

ii

kita harus “melayani perkara yang lebih tinggi.” –Sekarang sudah jelas, Tuhan hanya peduli pada dirinya sendiri, hanya berurusan dengan dirinya sendiri, hanya memikirkan dirinya sendiri, dan hanya memperhatikan dirinya sendiri; celakalah semua yang tidak baik baginya. Dia tidak melayani orang yang lebih tinggi, dan hanya memuaskan dirinya sendiri. Kepentingannya adalah –sebuah tujuan yang murni egois. Bagaimana mungkin hal tersebut berjalan berbare- ngan dengan kemanusiaan, yang mana tujuan tersebut harus menjadi tujuan kita? Apakah kepentingannya ada pada yang lain, dan apakah manusia melayani kepentingan yang lebih tinggi? Tidak, manusia hanya memperhatikan dirinya sendiri, umat manusia hanya akan mendukung kepentingan umat manusia, manusia adalah kepentingannya sendiri. Jadi hal itu berkembang, hal itu membiarkan rakyat berjuang dalam pelayanannya, dan ketika mereka telah mencapai apa yang dibutuhkan manusia, hal itu akan melemparkannya dalam tumpukan sejarah dengan penuh rasa syukur. Bukanlah tujuan manusia –sebuah tujuan yang murni egois? Aku tidak perlu menyinggung setiap hal yang ingin menyodorkan kepentingannya kepada kita dan menunjuk- kan bahwa apa yang ia perhatikan hanya untuk dirinya sendiri, bukan pada kita, hanya untuk kebaikannya sendiri, bukan pada kita. Lihatlah sisanya pada diri kita. Apakah kebenaran, kebebasan, kemanusiaan, keadilan, menging- inkan hal lain selain daripada kamu berkembang dengan bersemangat dan melayani mereka? Mereka semua melakukannya dengan sangat baik ketika mereka dengan sepenuh hati dihormati. Amati saja bangsa yang dibela oleh para patriot yang patuh. Para patriot jatuh dalam pertempuran yang berdarah-darah atau dalam pertempuran melawan kelaparan dan kekurangan untuk membela bangsa; tapi kemudian apa yang dikatakan bangsa tentang hal tersebut? Dengan pupuk kandang yang berasal dari bangkai mereka, bangsa tersebut sampai pada

iii

“kemekarannya”! Orang-orang telah meninggal “untuk tujuan bangsa yang mulia,” dan bangsa tersebut meng- irimkan beberapa ucapan terima kasih pada mereka dan – mendapatkan keuntungan darinya. Aku menyebutnya sebagai egoisme yang menguntungkan [secara ekonomi - penj]. Tapi coba lihat saja Sultan yang sangat peduli dengan “miliknya”. Apakah dia benar-benar tidak mementingkan diri sendiri, dan benarkah ia mengorbankan dirinya sendiri untuk “miliknya”? Oh, ya, untuk “miliknya.” Tapi coba sekali saja untuk menunjukkan bahwa kamu bukan sebagai miliknya, tapi juga milikmu sendiri; untuk melepas- kan diri dari egoismenya, kamu akan masuk ke dalam penjara. Sultan tidak menetapkan apapun selain dirinya sendiri; dia adalah untuk dirinya sendiri seutuhnya, dia adalah untuk dirinya sendiri satu-satunya, dan ia tidak mentolerir siapapun yang berani-beraninya untuk tidak menjadi miliknya. Dan tidakkah kamu belajar dengan contoh-contoh cemerlang ini bahwa mereka yang egois menjadi yang terbaik? Aku mengambil pelajaran dari mereka, dan mengusulkan, daripada melayani para egois besar yang tidak mementingkan dirinya sendiri tersebut, aku lebih memilih untuk menjadi egois bagi diriku sendiri. Tuhan dan umat manusia hanya mempedulikan dirinya sendiri, tidak untuk apapun kecuali hanya untuk dirinya sendiri. Biarlah aku juga memikirkan diriku sendiri, yang setara dengan Tuhan yang bukan apapun bagi semua yang lain, yang mana aku adalah diriku sepenuhnya, yang mana aku adalah yang unik. Jika Tuhan, jika manusia, seperti yang kamu tegaskan, memiliki cukup kadar dalam diri mereka untuk menjadi segalanya bagi diri mereka sendiri, maka aku akan tetap merasa kekurangan hal itu, dan bahwa aku seharusnya tidak akan mengeluh untuk memenuhi “kekosonganku”. Aku bukan apa-apa dalam arti kekosongan, tapi aku adalah kekosongan yang kreatif, tidak ada

iv

yang keluar kecuali aku sendiri sebagai pencipta yang menciptakan segalanya. Kemudian, menjauhlah, semua hal yang tidak menjadi urusanku. Kamu pikir “perbuatan baik” harus menjadi perhatianku? Yang mana yang baik, yang mana yang buruk? Aku sendiri adalah urusanku, dan aku tidaklah baik atau buruk. Tidak ada apapun yang berarti bagiku. Keilahian adalah urusan Tuhan; “kemanusiaan” adalah urusan manusia. Perhatianku bukanlah yang maha kuasa maupun manusia, bukan juga kebenaran, kemuliaan, keadilan, kebebasan dan lain-lain, tapi semata-mata yang sesuai denganku, dan itu bukanlah sesuatu yang umum, melainkan menjadi diriku yang unik, sebagaimana aku unik. Bagiku, tidak ada [kepentingan] yang lebih besar selain diriku!

v

B A G I A N P E R T A M A

MANUSIA

vi

Bagi manusia, manusia adalah makhluk yang hebat, ujar Feuerbach. Manusia baru saja ditemukan, ujar Bruno Bauer. Maka mari kita lihat dengan lebih cermat pada makhluk hebat dan penemuan baru ini.

BAB 1

KEHIDUPAN MANUSIA


Dari suatu momen ketika ia menatap cahaya dunia, manusia telah mencoba mencari tahu mengenai dirinya keluar dari kebingungan ini, yang mana ia dilemparkan dengan hal yang lain, dan menemukan dirinya sendiri. Tapi apapun yang datang untuk menghubungi anak kecil juga melindungi dirinya sendiri menangkis pelanggaran batas ini dan mempertahankan keberadaannya sendiri. Oleh karenanya, tiap hal yang berpegang pada diri sendiri pada saat yang bersamaan juga terus menerus mengalami tabrakan dengan hal lain, pertarungan dari penegasan diri ini tak dapat dihindari. Menang atau kalah –nasib dari pertempuran ini goyah di antara dua pilihan. Pemenangnya menjadi penguasa, sementara yang kalah menjadi yang takluk: yang pertama melatih keunggulan dan “hak atas keunggulan”, sementara yang terakhir memanggul “kewajiban sebagai yang ditaklukan” dengan penuh rasa takjub dan hormat. Tapi keduanya tetap bermusuhan dan bersiap untuk menyergap: mereka saling memperhatikan kelemahan masing-masing -anak-anak menunggu orang tua dan orang tua mereka menunggu anak-anak mereka (misalnya, ketakutan mereka); entah tongkat itu menundukkan manusia, atau sebaliknya manusia yang menundukkan tongkat itu. Pada masa kanak-kanak, pembebasan mencoba untuk mencari alasan atas segala sesuatu, untuk mendapatkan apa yang ada “di balik” suatu hal; oleh karena itu, kita memata-matai titik lemah semua hal, yang mana sebagaimana kita tahu, anak-anak memiliki naluri yang pasti;

oleh karena itu kita mendapatkan kenikmatan dengan menghancurkan sesuatu, dengan menggeledah sudut ruangan yang tersembunyi, membongkar sesuatu yang ditutup atau yang disembunyikan, dan menggerakan tangan kita pada semua hal. Ketika kita mendapatkan apa yang ada di balik suatu hal tersebut, kita tahu kita aman; ketika misalnya saat kita paham bahwa tongkat itu terlalu lemah terhadap betapa keras kepalanya kita, maka kita tidak lagi takut akan hal itu, “kita telah berhasil mengatasinya.” Di balik tongkat itu, yang lebih kuat daripada hal itu, terdapat bantahan kita, bantahan kita yang teguh. Dengan perlahan kita mendapatkan apa yang ada di balik segala sesuatu yang aneh dan mengerikan bagi kita, kekuatan aneh tongkat yang kita takuti, di balik wajah garang sang ayah dan lain-lain, dan di balik semuanya kita menemukan ketentraman kita, misal, ketenangan, keberanian, kekuatan perlawanan kita, kekuatan kita yang unggul, dan betapa tak terkalah-kannya kita. Sebelum hal-hal yang mumunculkan ketakutan dan rasa hormat pada diri kita, kita tidak lagi mundur dengan malu-malu, tapi mencoba berani. Di balik segala sesuatu kita menemukan keberanian, keunggulan kita; oleh karena itu, di balik segala perintah yang sengit dari orang tua dan pihak berwenang, bagaimanapun juga, pilihan kita untuk berani atau kelihaian kita untuk mengecoh tetap bertahan. Dan semakin kita merasakan diri kita, semakin nampak kecil apa yang sebelumnya terasa tak terkalahkan. Dan apa tipuan, kelihaian, keberanian, dan bantahan kita? Tiada lain adalah –pikiran! 1

Untuk beberapa waktu, kita terhindar dari pertarungan yang nantinya akan begitu melelahkan, yaitu pertarungan melawan akal. Masa masa kanak-kanak yang paling indah berlalu tanpa kita perlu melawan akal. Kita sama sekali tidak memikirkan hal tersebut, tidak ikut campur dengan hal

Kata ini akan diterjemahkan kadang sebagai “pikiran,” “akal,” “nalar” atau “roh” sesuai dengan konteks sang penulis di halaman selanjutnya –Penj.

tersebut, tidak mengakui akal apapun. Kita tidak diyakinkan dengan rayuan apapun, dan tidak mendengar akal atau prinsip yang baik, dll; tapi kita menemukan kekuatiran, hukuman, dan semacamnya yang sangat sulit kita lawan. Pertarungan hidup yang sengit ini nantinya akan memulai fase baru disusul dengan kedatangan akal; sementara pada masa kanak-kanak kita tergesa-gesa tanpa banyak berpikir. Pikiran adalah sebutan dari penemuan diri kita yang pertama, inilah hal ilahi pertama yang dibuang Tuhan; yaitu, dari “kekuatan yang berada di atas” kita, yang gaib, yang menghantui * kita. Perasaan muda kita yang segar, perasaan atas diri ini, sekarang tidak merujuk pada apapun; dunia akan dikesampingkan, karena kita berada di atasnya, kita adalah pikiran. Baru sekarang kita melihat bahwa kita tidak memandang dunia dengan penuh perhatian [mindfully], namun hanya menatapnya saja. Kita melatih kekuasaan pertama kita pada kekuatan alami. Kita tunduk pada orang tua sebagai kekuatan alami; tapi kemudian kita berkata: ayah dan ibu harus ditinggalkan dan semua kekuatan alami dianggap sebagai sesuatu yang rusak. Mereka ditaklukkan. Bagi yang berakal, yaitu “manusia yang memiliki pikiran,” keluarga tidak ada sebagai kekuatan alami. Sebuah penolakan terhadap orang tua, saudara kandung dan yang lainnya akhirnya muncul. Jika hal ini “dilahirkan kembali” sebagai kekuatan mental, rasional, mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya. Dan bukan hanya pada orang tua, tapi semua orang pada umumnya ditaklukkan oleh kaum muda tersebut; mereka tidak lagi jadi penghalang dan tak ada apa-apanya

  • Selanjutnya hantu diterjemahkan sebagai spook, dari bahasa Jerman, “Spuk”, sesuai dengan konteks yang tepat dalam naskah Stirner. Saya akan menggunakan hantu dan spook secara bergantian. Wolfi menggunakan “phantasm” sebagaimana ia jelaskan dalam pengantarnya -Penj.

lagi baginya; untuk saat ini ia berkata: Seseorang harus patuh kepada Tuhan dan bukannya manusia. 2

Dari sudut pandang yang tinggi ini segala sesuatu yang “duniawi” surut menjadi keterpencilan yang hina; demi sudut pandang yang baru, yang surgawi. Sikapnya sekarang benar-benar berubah; kaum muda mengambil posisi intelektual, sementara si anak kecil yang belum merasakan dirinya sebagai sebuah pikiran, tumbuh dalam pembelajaran yang tak berpikir. Yang pertama tidak berusaha untuk memahami hal-hal (misalnya memasukkan data sejarah ke dalam kepalanya), melainkan memahami pemikiran yang tersembunyi dalam segala sesuatu, misalnya tentang roh sejarah. Di sisi lain, anak-anak kemungkinan besar memahami hubungan, tapi tidak dengan gagasan, atau roh; karena itulah ia memetik semua senar sekaligus tentang apa saja yang bisa dipelajari, tanpa berjalan secara apriori * dan teoritis, yaitu tanpa mencari ide. Jika pada masa kanak-kanak seseorang harus mengatasi perlawanan hukum-hukum dunia, jadi sekarang dalam segala hal yang ia usulkan sendiri, ia menabrak pikiran, nalar, kesadarannya sendiri. “Itu tidak beralasan, tidak Kristiani, tidak patriotik,” dan sebagainya, meneriakkan suara hatinya pada kita, dan –membuat kita menjauh ketakutan darinya. Bukan kekuatan pembalasan Eumenides, bukan murka Poseidon, bukan Tuhan, atau sejauh ia melihat yang tersembunyi, bukan pula tongkat hukuman ayahnya, melainkan –kesadaran. Kita “menghuni pikiran kita” sekarang, dan mengikuti perintah mereka seperti sebelumnya kita mengikuti orang dewasa, manusia. Tindakan kita ditentukan oleh pemikiran

2 Merujuk pada Kejadian 5:29. * Apriori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman. Atau dengan kata lain, sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat berpikir dan memiliki asumsi tentang segala sesuatu, sebelum bertemu dengan pengalaman dan akhirnya mengambil kesimpulan -Penj.

kita (gagasan, konsepsi, iman) seperti pada masa kanak- kanak ketika diperintah oleh orang tua kita. Bagaimanapun juga, kita juga berpikir sebagaimana anak kecil, hanya saja pikiran kita tak berdaging, abstrak, mutlak, tidak ada yang lain kecuali pikiran, surga bagi dirinya adalah dunia yang murni pikiran, pemikiran yang logis. Sebaliknya, mereka hanya memiliki pikiran yang kita punya tentang sesuatu; kita memikirkan sesuatu dengan cara begini dan begitu. Jadi kita bisa saja berpikir bahwa “Tuhan menciptakan dunia yang kita lihat,” tetapi kita tidak memikirkan (“menginventigasi”) “kedalaman Ketuhanan itu sendiri”. Kita mungkin berpikir “itulah kebenaran tentang masalah ini,” tapi kita tidak memikirkan yang benar atau kebenaran itu sendiri, tidak juga kita simpulkan dalam sebuah kalimat yaitu “Tuhan adalah kebenaran.” Kita tidak menyentuh “Kedalaman Ketuhanan, yang adalah kebenaran.” Pilatus tidak berlama-lama pada pertanyaan logis, yang teologis: “Apa itu kebenaran?”, meskipun ia tidak ragu untuk memastikan dalam kasus individu tentang “kebenaran apa yang ada di dalam situ,” misalnya apakah sesuatu itu benar. Setiap pikiran terkait pada sesuatu yang tiada lain adalah sebuah pemikiran belaka, pemikiran mutlak. Untuk membawa pikiran yang murni pada cahaya, atau untuk menempelnya, adalah gairah kaum muda; dan semua bentuk cahaya yang berkilau di dunia pikiran, seperti kebenaran, kebebasan, kemanusiaan dan sebagainya, menerangi dan mengilhami jiwa yang muda. Tetapi jika roh dikenali sebagai hal yang penting, tetap saja hal tersebut membuat perbedaan apakah roh itu miskin atau kaya, dan karena itu seseorang berusaha untuk menjadi kaya dalam perkara roh. Roh ingin menyebar keluar supaya dapat menemukan kerajaannya -sebuah kerajaan yang bukan di dunia ini, bukan dunia yang baru saja ditaklukkan ini. Jadi, ia ingin untuk menjadi seutuhnya bagi dirinya

sendiri; misalnya, walaupun aku adalah roh, aku belum menjadi roh yang sempurna, dan karenanya aku harus mencari roh yang lengkap terlebih dahulu. Tapi dengan hal itu, aku yang baru saja menemukan diriku sebagai roh, dengan cepat juga kehilangan diriku lagi yang membungkuk di hadapan roh yang sempurna, bukan sebagai milikku, tapi sebagai yang supernatural, 3 dan merasakan kekosongku. Tentu saja, roh adalah hal penting bagi segalanya; tapi apakah setiap roh itu “benar”? Roh yang benar dan yang sesungguhnya adalah roh yang ideal, yaitu “Roh Kudus”. Bukan rohku atau rohmu, tapi hanya yang ideal dan yang berasal dari dunia lain, yaitu “Tuhan”. “Tuhan itu roh.” Dan yang berasal dari dunia lain ini, “Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” 4

Orang dewasa berbeda dengan kaum muda karena ia memandang dunia seperti apa adanya, malah menganggap itu ada di mana-mana di tempat yang salah dan mencoba memperbaikinya, yaitu menyesuaikan dengan idealnya. Dalam dirinya akhirnya ia menetapkan pandangan bahwa seseorang harusnya berurusan dengan dunia sesuai dengan minat-nya, bukan berdasarkan *ideal-*nya. Selama seseorang mengenali diri hanya sebagai roh, dan menempatkan semua nilainya untuk menjadi roh (mudah bagi kaum muda untuk memberikan hidupnya, “kehidupan jasmaninya,” untuk apa pun, untuk titik kehormatan yang paling dingin sekalipun), selama itu pula ia hanya ada sebagai pikiran, ide yang ia harapkan bisa merealisasikan sesuatu di saat ia telah menemukan sebuah

3 Aslinya jenseitigen. Kata tersebut bisa diterjemahkan sebagai “yang sebaliknya” atau “lain,” tapi hal itu secera umum digunakan dalam konteks teologis, hal ini menyiratkan “kelainan” [otherness] dalam pengertian yang secara spesifik bersifat mistis -Wolfi. Lukas 11:13.

ruang untuk bertindak; dengan demikian hanya ada satu ideal, gagasan atau pemikiran yang belum terpenuhi. Hanya ketika seseorang mengembangkan kolam dirinya di dalam daging, dan menikmati dirinya sendiri sebagaimana adanya (tapi kita hanya akan menemukan hal ini pada tahun-tahun yang sudah matang di dalam orang dewasa) hanya dengan demikian seseorang punya kepentingan pribadi atau kepentingan yang egoistik. Dengan kata lain, tak hanya kepentingan roh misal, tetapi lebih pada kepuasan total, kepuasan orang seutuhnya, minat yang mementingkan diri sendiri [selfish]. Bandingkan saja seorang dewasa dengan kaum muda, dan lihat apakah dia tidak tampak lebih keras, kurang berbudi, dan lebih mementingkan diri sendiri. Apakah dia lebih buruk? Tidak, kamu bilang; dia hanya menjadi lebih pasti, atau, seperti kamu bilang, menjadi lebih “praktis”. Tapi yang paling penting adalah bahwa dia telah lebih menjadikan dirinya sebagai pusat ketimbang yang dilakukan oleh kaum muda, yang tergila-gila tentang hal-hal yang lain, misalnya Tuhan, tanah air dan seterusnya. Oleh karena itu seorang yang dewasa menunjukkan penemuan diri yang kedua. Kaum muda menemukan dirinya sebagai roh dan kehilangan dirinya lagi dalam roh yang umum, yaitu dalam roh kudus yang utuh, umat manusia, kemanusiaan, atau sederhananya, semua yang ideal. Sementara orang dewasa menemukan dirinya sebagai roh yang tak terkandung (as embodied spirit). Seorang bocah hanya memiliki ketertarikan yang tidak intelektual (yaitu kepentingan yang mengenyampingkan pemikiran dan gagasan); sementara kaum muda hanya memiliki ketertarikan intelektual; dan orang dewasa memiliki ketertarikan tubuh, pribadi, dan ketertarikan yang egoistik. Jika seorang bocah kekurangan objek yang bisa ia kuasai, maka ia merasa bosan; karena ia tidak tahu bagaimana cara dirinya dapat menguasai hal tersebut dengan hal tersebut. Sebaliknya, anak muda justru

melemparkan objeknya ke samping, karena baginya pikiran muncul dari objek; ia menguasai dirinya dengan pikirannya, mimpinya, menempatkan dirinya secara intelektual, atau “pikirannya diduduki.” Anak muda itu mengurus apapun yang tak intelektual dengan nama “penampilan luar” 5 yang menghina. Namun, jika ia tetap melekat pada tampilan yang paling sepele (misalnya kebiasaan klub pelajar⁶ dan formalitas lainnya), hal itu terjadi hanya karena dan hanya ketika ia menemukan pikiran di dalam mereka, yaitu ketika mereka menjadi simbol baginya. Segera setelah aku menemukan diriku dalam suatu hal, yaitu sebagai pikiran, maka nantinya aku harus menemukan diriku juga di balik pikiran-yaitu, sebagai pencipta dan pemilik-nya. Pada waktunya, akal, pikiran, tumbuh dalam diriku sampai mereka berada di atas kepalaku, meskipun mereka adalah keturunannya; mereka melayang diatasku dan membuatku tersengal-sengal seperti mengigau saat demam. Sebuah kekuatan yang mengerikan. Pikiran telah menubuh bagi diri mereka, yang tak lain adalah spook, misalnya Tuhan, Kaisar, Paus, tanah air dan sebagainya. Jika aku menghancurkan upaya penubuhan mereka, maka aku membawa mereka kembali ke dalam milikku, dan berkata: “Aku sendiri menubuh.” Dan sekarang aku membawa dunia ini kepadaku apa adanya, sebagai milikku: Aku membuat semuanya mengacu pada diriku. Jika sebagai roh aku telah menyingkirkan dunia ini dengan penghinaan paling kasar, sebagai pemilik, aku mendorong jauh roh dan pikiran dari “kepongahan” mereka. Mereka tidak lagi berkuasa atas aku, karena tidak ada

5 Kata Jerman “Auβlerlichkeiten” juga dapat berarti hal-hal sepele, yang dangkal -Wolfi. Merujuk pada klub pelajar bawah tanah yang muncul di Jerman setelah Perang Napoleon, yang memperjuangkan persatuan nasional Jerman dan sering juga untuk mewujudkan institusi yang lebih demokratis.

“kekuatan duniawi” yang memiliki kekuasan atas roh. Seorang anak itu realistis, ia teringat akan hal-hal di dunia ini, sampai sedikit demi sedikit ia berhasil mendapatkan apa yang ada di balik hal-hal tersebut. Sementara kaum muda itu idealis, tertarik dengan pikiran, hingga akhirnya ia berusaha menjadi seorang manusia, seorang manusia yang egois, yang berurusan dengan berbagai hal dan pemikiran sesuai dengan kesenangan hatinya, dan menetapkan kepentingan pribadinya di atas segalanya. Lalu terakhir, bagaimana dengan orang tua? Nanti ketika saatnya, kita punya banyak waktu untuk membahas hal ini.

BAB 2

MANUSIA ZAMAN KUNO DAN ZAMAN MODERN


BAGAIMANA MASING-MASING dari kita berkembang, apa yang ia perjuangkan, yang ia capai atau gagal dapatkan, tujuan apa yang sebelumnya ia kejar dan rencana dan keinginan apa yang sekarang ada dalam hatinya, perubahan macam apa yang telah ia lihat, apa yang mengganggu prinsipnya, singkatnya, bagaimana ia hari ini menjadi apa yang kemarin atau yang tahunan lalu bukan dirinya –sedikit banyak dia membawa ini kembali lagi dari ingatannya, dan ia merasakan dengan sangat jelas perubahan apa yang telah terjadi dalam dirinya sendiri, ketika kehidupan yang lain membuka gulungan di hadapan matanya. Sekarang mari kita lihat kegiatan apa yang memerangkap leluhur kita.

I. MANUSIA ZAMAN KUNO

Sudah jadi kebiasaan kalau apa yang dimaksud dengan “orang zaman dulu” merujuk pada nenek moyang pra-Kristen kita. Kita tidak akan menyebut mereka demikian, karena jika dibandingkan dengan kita sebagai orang-orang yang berpengalaman, ada benarnya juga kalau kita menyebut mereka anak-anak. Namun akan lebih baik jika kita masih menghormatinya sebagai leluhur kita yang baik. Tapi bagaimana mungkin mereka ketinggalan zaman, dan siapa yang bisa memojokkan mereka kecuali jika ada yang berpura-pura punya sifat atau ciri kebaruan? Tentu saja kita tahu pembaharu revolusioner dan ahli

waris yang tak sopan, yang menyia-nyiakan kesucian hari sabat ayahnya untuk menguduskan hari Minggunya, dan menyela alur waktu untuk memulai dirinya dengan kronologi yang baru; kita tahu dan mengenalnya, mereka adalah orang Kristen. Tapi akankah ia tetap muda selamanya, dan apakah hari ini ia masih menjadi manusia yang baru, atau apakah dia akan digantikan, sebagaimana ia telah menggantikan “orang zaman dulu”? Para leluhur pasti telah melahirkan anak muda yang menyeret mereka ke kuburan. Mari kita lihat tindakan yang berulang ini. “Bagi orang zaman dulu, dunia adalah sebuah kebenaran,” kata Feuerbach, tapi dia lupa untuk membuat sedikit tambahan penting: sebuah kebenaran dusta yang mereka coba untuk sembunyikan, pada akhirnya benar- benar terjadi. Apa yang dimaksud dengan kata-kata Feuerbach tersebut akan lebih mudah dikenali selama mereka diletakkan di samping tesis Kristen tentang “kesia- siaan dan kefanaan dunia.” Sebagaimana orang Kristen tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri tentang kesiaan kata-kata ilahi, melainkan percaya pada kebenaran abadi dan tak tergoyahkan, yang jika semakin dalam dicari, maka pasti semua akan terungkap semakin cemerlang dan penuh kemenangan, orang zaman kuno di samping mereka, hidup dalam perasaan bahwa dunia dan hubungan duniawi (misalnya ikatan alamiah darah) adalah suatu kebenaran yang mana “aku” yang tidak berdaya ini harus membungkuk. Hal yang paling penting yang orang zaman dulu tentukan sebagai nilai tertinggi, ditolak oleh orang Kristen sebagai nilai yang tak berguna, dan apa yang mereka kenali sebagai kebenaran macam ini sebagai kebohongan belaka; anggapan tentang pentingnya tanah air yang mulia lenyap, dan orang Kristen harus menganggap dirinya sebagai “orang asing dan pendatang di bumi ini”;

Ibrani 11:13.

kesakralan upacara pemakaman yang melahirkan karya seni seperti Antigone oleh Sophocles * dipandang sebagai hal yang remeh (“Biarkan yang mati mengubur kematian mereka sendiri”); kebenaran absolut tentang ikatan keluarga menggambarkan kebohongan yang mana seseorang tidak akan melepas diri cukup cepat⁸; dan juga sebagainya dalam segala hal lain. Jika sekarang kita melihat dua sisi hal yang berseberangan ini mendekat sebagai sebuah kebenaran, yang satu alamiah, yang satunya lagi rohaniah, yang satu duniawi, yang satunya lagi surgawi (tanah air surgawi, “Yerusalem yang ada di atas, dsb), tetap harus dipertanyakan bagaimana mungkin zaman yang baru dan kebalikan yang tak terhindarkan ini dapat keluar dari kekunoan. Tapi orang zaman dulu sendiri bekerja untuk membuat kebohongan palsu mereka terbentang. Ayo kita terjun langsung ke tengah-tengah masa paling indah pada zaman dahulu, ke abad Periklean. * Pada masa itulah budaya Sofistik menyebar, dan Yunani mengejar penghiburan yang sampai sekarang merupakan masalah yang sangat serius baginya. Para ayah telah terlalu lama diperbudak oleh keberadaan yang tak tergoyahkan sehingga anak cucu

  • Suatu periode pada masa Yunani Kuno dari 495-429 SM, saat Yunani dipimpin oleh Perikles. 8 Markus 10:29 yang berbunyi : (29) Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudara laki-laki dan saudara perempuannya, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, (30) orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” * Suatu periode pada masa Yunani Kuno dari 495-429 SM, saat Yunani dipimpin oleh Perikles.

mereka tidak perlu belajar dengan pengalaman pahit untuk merasakan diri mereka sendiri. Oleh karena itu dengan keberanian yang lancang orang-orang Sofis mengucapkan kata-kata yang sangat meyakinkan, “jangan tergertak!” ujar mereka, dan menyebarkan ajaran pencerahan: “Gunakan nalarmu, akalmu, pikiranmu, melawan segala hal; dengan pemahaman yang baik dan benar ini seseorang punya pilihan terbaik untuk dapat melalui dunia, memberi dirinya banyak kebaikan, kehidupan yang paling menyenangkan.” Dengan demikian mereka mengenali senjata sejati manusia dalam melawan dunia. Itulah kenapa mereka menekankan kemampuan dialektik, kemampuan berbahasa, seni berdebat, dsb. Mereka mengumumkan bahwa pikiran harus digunakan untuk melawan segala hal; tetapi mereka masih jauh dari kekudusan Roh, karena bagi mereka itu adalah sarana, sebuah senjata, sebagaimana anak-anak menggunakan tipu muslihat dan membantah untuk tujuan yang sama; pikiran mereka adalah nalar yang tak dapat disogok. Hari ini kita harus menyebutnya sebagai pendidikan intelektual satu arah [one-sided intellectual education], dan tambahkan juga teguran mereka: “Kembangkan bukan hanya pemahamanmu, tapi juga, dan terutama, hatimu.” Sokrates melakukan hal yang sama. Sebab, jika hati tidak terbebas dari dorongan alamiahnya, melainkan tetap dipenuhi dengan muatan yang paling acak dan sebagai keserakahan yang tidak dapat dikritik, semuanya tetap ada dalam kekuatan benda-benda, yang tidak lain menjadi sarana bagi sebagian besar nafsu –maka pemahaman yang bebas harus melayani “hati yang buruk” dan siap untuk membenarkan segala sesuatu yang diinginkan oleh hati yang jahat. Makanya Sokrates mengatakan bahwa tidak cukup bagi seseorang untuk menggunakan pemahamannya pada segalanya, tapi juga harus mempertanyakan apa penyebab dari suatu hal. Saat ini kita dapat mengatakan bahwa

seseorang harus melayani “tujuan baik.” Tapi melayani tujuan baik berarti bersikap bermoral. Karena itulah Sokrates adalah penemu etika. Tentunya prinsip doktrin Sofistik harus mengarah pada kemungkinan bahwa budak yang paling buta dan paling tergantung pada hasratnya mungkin saja adalah seseorang sofis yang sangat baik, dan dengan ketajaman intelektualnya, mampu memangkas dan menguraikan segala sesuatu untuk mendukung hatinya yang kasar. Bagaimana jadinya jika seseorang barangkali tidak dapat menemukan “tujuan baik”, atau yang mana mungkin seseorang tak dapat memperjuangkannya? Oleh karena itu Sokrates mengatakan: “Hatimu harus murni”, jika seseorang ingin menghargai kebijaksananmu. Pada titik ini dimulailah periode kedua dari pembebasan pikiran Yunani, yaitu periode pemurnian hati. Yang pertama dibawa mendekat oleh kaum Sofis dalam memproklamirkan kemahakuasaan nalar. Tapi hati tetap berpikiran duniawi, tetap menjadi budak bagi dunia, selalu terpengaruh oleh keinginan duniawi. Hati yang kasar ini harus dibudidayakan mulai sekarang –inilah era dari pendidikan hati [education of the heart]. Tapi bagaimana hati ini dididik? Apa yang nalar, yang merupakan sisi sebaliknya dari pikiran, telah capai dengan kemampuan bermain yang bebas pada dan terhadap hampir setiap perkara, hati juga menantinya; segala sesuatu yang duniawi harus sampai pada kenestapaan yang sebelumnya, hingga pada akhirnya keluarga, kesejahteraan umum, tanah air, dan lain-lain, diberikan demi hati, demi pemberkatan, pemberkatan hati. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa nalar tersebut mungkin sudah sejak lama meninggalkan sesuatu sementara hati telah berhenti berdetak untuknya selama bertahun-tahun. Jadi nalar sofistik sejauh ini juga menjadi tuan atas yang dominan, kekuatan kuno yang mereka ketahui sekarang hanya butuh untuk diarahkan ke hati, yang mana mereka diam tanpa terganggu, untuk pada akhirnya

tidak ada bagian yang tersisa sama sekali dalam diri manusia. Perang ini dimulai oleh Sokrates, dan akhirannya yang damai takkan terjadi kalau dunia yang lama belum mati. Pengujian hati telah mulai dari Sokrates, dan semua isi hati diayak. Dalam perjuangan terakhir dan yang paling ekstrim, orang-orang zaman kuno melemparkan semua isi dari hatinya dan tidak lagi membiarkannya mengalahkan apapun: ini adalah perbuatan para Skeptik. Kemurnian yang sama akan dicapai oleh hati pada zaman skeptis, sebagaimana nalar dicapai pada zaman sofistik. Pendidikan sofistik membuatnya lulus bagi nalar itu untuk tidak diam berdiri di depan apa pun, dan pendidikan yang skeptis membuat hatinya tidak lagi tergerak oleh apapun. Selama manusia terlibat dalam kekacauan dunia dan terjerat dalam hubungan dengan dunia (dan dia tetap begitu sampai zaman kuno berakhir, karena hatinya masih harus berjuang untuk merdeka dari yang duniawi) maka selama itu pula ia tidak menjadi roh; sebab roh tak bertubuh, dan tak memiliki hubungan apapun dengan dunia dan yang jasmani; baginya dunia dan ikatan alamiah itu tidak ada, melainkan hanya yang rohaniah dan ikatan rohaniah saja yang ada. Sebelumnya, pertama-tama manusia harus menjadi orang yang benar-benar kejam dan nekat, benar-benar terputus, sebagaimana terwakili dalam pendidikan skeptis, sangat acuh tak acuh terhadap dunia sehingga keruntuhannya tidak akan menyentuhnya, sebelum ia dapat merasakan dirinya sebagai sesuatu yang duniawi; sebagai roh. Dan ini adalah hasil mahakarya zaman dahulu: orang itu mengenal dirinya sebagai makhluk tanpa hubungan dan tanpa dunia, sebagai roh. Baru sekarang, setelah semua perawatan duniawi menelan-tarkannya, sebagaimana ia menjadi dirinya seutuhnya, hanya untuk dirinya sendiri, misal roh untuk roh, atau lebih jelasnya lagi, ia hanya peduli pada yang rohaniah.

Dalam agama Kristen, kecerdikan ular dan ketulusan merpati melambangkan dua sisi pembebasan spiritual orang zaman kuno yang begitu sempurna, sehingga membuat mereka tampak muda dan baru lagi, dan tidak ada satu pun atau hal lainnya yang membiarkan dirinya tergertak lagi oleh hal-hal duniawi dan alamiah. Demikianlah orang-orang zaman dulu terangkat ke dalam roh, dan berusaha untuk menjadi rohaniah. Tapi seorang manusia yang ingin aktif seperti roh, tertarik pada tugas-tugas lain daripada yang bisa dia lakukan sebelumnya: terhadap tugas-tugas yang benar-benar memberikan kepada roh sesuatu untuk dilakukan, dan bukan hanya perasaan atau persepsi tajam semata, yang hanya berusaha untuk menjadi tuan atas segalanya. Roh menyibuki dirinya semata-mata pada yang rohaniah, dan mencari “jejak roh” dalam segala hal; kepada roh yang percaya bahwa “segala sesuatu berasal dari Allah,” dan itu menarik baginya selama hal itu menunjukkan asal-usulnya; bagi roh filsafat, semuanya muncul dengan cap nalar, dan menarik minatnya sejauh ia mampu menjelajah nalar, misal, muatan rohaniah, didalamnya. Jadi orang zaman dulu tidak mengerahkan roh, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang tidak spiritual, dengan hal apa pun, tetapi hanya dengan inti yang ada di belakang dan di atas hal-hal, dengan pikiran, karena mereka belum memilikinya; tidak, mereka hanya berjuang menuju hal tersebut, mendambakannya, dan karena itu mempertajam kepekaannya untuk melawan musuh mereka yang terlampau kuat, yaitu dunia akal (tapi apa yang tidak inderawi untuk mereka, karena Yehuwa atau dewa-dewa kafir sangat jauh dari konsepsi “Tuhan itu roh,” karena “tanah air surgawi” belum melangkah ke tempat yang inderawi, dan lain-lain?) -mereka mempertajam dunia indra mereka, kepekaan mereka. Sampai hari ini, orang-orang Yahudi, anak-anak zaman dahulu kala itu, tidak mendapatkan apapun; dan dengan segala kehalusan dan

kekuatan kehati-hatian dan pengertian, mereka dengan mudah menguasai beragam hal dan memaksanya untuk patuh, mereka tidak dapat menemukan roh, yang tidak menghasilkan apa pun. Orang Kristen memiliki kepentingan rohaniah, yang memung-kinkan mereka sendiri untuk menjadi manusia yang rohaniah; Yahudi bahkan tidak memiliki pemahaman ini dalam kemurnian mereka, karena mereka tidak memperbolehkan diri mereka sendiri untuk menetapkan nilai apa pun pada suatu hal. Ia tidak tiba pada kerohanian yang murni, kerohanian yang menjadi ekspresi religius dalam iman Kristen, yang sendirian membenarkan (tanpa kerja). Ketidakrohaniahan mereka membuat Yahudi selamanya terpisah dari orang Kristen; manusia yang rohaniah sangat tidak bisa mengerti pada yang tidak rohaniah, sebagaimana yang tidak rohaniah sangat tidak cocok pada yang rohaniah. Yahudi hanya memiliki “roh dari dunia ini.” Kepekaan dan kedalaman orang zaman dahulu terbentang jauh bagaikan surga dan bumi dengan roh dan dunia spiritual orang Kristen. Ia yang merasakan dirinya sebagai jiwa yang bebas merasa tidak tertekan dan cemas oleh sesuatu di dunia ini, karena ia tidak peduli dengan hal tersebut; jika seseorang tetap merasakan beban mereka, ia mestilah berpikiran cukup sempit untuk dapat menanggung beban mereka – seperti misalnya, ketika seseorang masih memperhatikan “kehidupannya yang tercinta”. Ia yang segala sesuatunya bergantung pada mengetahui dan memperlakukan dirinya sebagai jiwa yang bebas membangkitkan sedikit pertanyaan soal betapa minimnya dia dibekali sekarang, tentang betapa malangnya itu baginya, dan tidak berpikir sama sekali tentang pengaturan yang harus ia buat untuk memiliki kehidupan yang benar-benar bebas atau menyenangkan. Ketidaknyamanan hidupnya bergantung pada hal-hal yang tidak mengganggunya, karena ia hanya hidup secara

rohaniah dan pada makanan rohaniah. Selain itu, ia hanya memberi makan atau menelan berbagai hal hampir tanpa menyadarinya, dan ketika makanan memberikan pada dirinya, tentu saja, mati secara jasmaniah. Tetapi sebagai roh ia tahu kalau dirinya abadi dan menutup matanya dengan pengabdian atau pikiran. Hidupnya keasyikan dengan roh, pikiran; sisanya tidak penting baginya. Jika dia dapat berurusan dengan yang rohaniah seperti yang selalu dia dapat lakukan dan inginkan, dalam pengabdian, dalam perenungan, dalam wawasan filosofis, perbuatannya selalu berpikir. Demikianlah Descartes, seseorang yang membuat hal ini menjadi jelas, akhirnya dapat mengajukan dalil: “Aku berpikir maka ada.” Ini artinya, pemikiranku adalah keberadaanku atau hidupku; hanya ketika aku hidup secara rohaniah maka aku hidup; hanya sebagai roh aku menjadi yang sesungguhnya, atau –aku adalah roh melalui dan hanya melalui tiada lain kecuali sebagai roh. Peter Schlemihl * yang malang, yang telah kehilangan bayangannya, adalah contoh bagaimana orang ini menjadi roh; karena tubuh roh itu tidak berbentuk bayangannya. Dengan hal ini, betapa berbedanya orang zaman dahulu! Betapapun kuat dan gagahnya mereka dapat bertindak melawan kekuatan benda-benda, mereka masih harus mengakui kekuatan itu sendiri dan tidak mendapatkan apapun selain dari melindungi kehidupan mereka sebaik mungkin dari hal tersebut. Butuh waktu lama agar mereka menyadari bahwa “kehidupan sejati” mereka bukanlah dalam perjuangan melawan hal-hal duniawi, namun “kehidupan rohaniah”. Ketika mereka “berpaling” dari hal-hal ini, dan melihatnya sebagaimana adanya, mereka menjadi Kristen, yaitu orang-orang modern dan pembaharu terhadap zaman kuno. Tapi hidup berpaling dari apapun;

  • Tokoh utama dalam novela Jerman 1814 tentang seorang lelaki yang menjual bayangannya kepada iblis untuk memiliki dompet tanpa dasar, hanya untuk menemukan bahwa seseorang tanpa bayangan dijauhi oleh semua orang -penj.

kehidupan rohaniah tidak lagi menarik makanan apapun dari alam, tapi “hanya hidup dalam pemikiran,” dan karena itu bukan lagi “kehidupan,” tapi –berpikir. Tapi jangan kamu kira bahwa orang zaman dulu tak berpikiran, sebagaimana seperti manusia yang paling rohaniah sekalipun tidak boleh dipahami seolah-olah dia bisa tak berkehidupan. Sebaliknya, mereka memiliki pemikiran tentang segala hal, tentang dunia, umat manusia, para dewa, dll., dan dengan sangat giat membuktikan diri mereka sendiri membawa semua hal ini ke dalam kesadaran mereka. Tapi mereka tidak tahu tentang pikiran, bahkan sekalipun mereka memikirkan segala macam hal dan “terganggu dengan pemikiran mereka.” Kamu bisa bandingkan mereka dengan orang-orang Kristen yang berkata: “Pikiranku bukanlah pikiranmu, sebagaimana langit lebih tinggi dari pada bumi, demikian pula pikiranku lebih tinggi dari pikiranmu,” dan ingat apa yang telah dikatakan di atas tentang pikiran anak-anak kita. Lalu, apa yang dicari oleh orang-orang zaman kuno? Kenikmatan hidup yang sejati, kepuasan kehidupan! Pada akhirnya semuanya adalah tiada lain daripada “kehidupan sejati.” Penyair Yunani Simonides pernah bersenandung: “Kesehatan adalah kebaikan paling mulia bagi manusia yang fana, setelahnya adalah kecantikan, yang ketiga adalah kekayaan yang didapatkan dengan jujur, sementara yang keempat adalah menikmati kesenangan sosial bersama kawan-kawan muda.” Semua ini adalah kehidupan yang baik, kesenangan hidup. Apa lagi yang Diogenes dari Sinope cari selain daripada kenikmatan hidup yang sejati, dengan memiliki keinginan-keinginan yang sekecil mungkin? Apa lagi Aristippus, yang menemukannya dalam sikap untuk tetap bersemangat dalam segala situasi? Mereka mencari keberanian untuk menghadapi hidup, untuk keceriaan; mereka berusaha untuk “dapat bersukacita.” Kaum Stoik ingin mewujudkan manusia yang bijak,

manusia dengan kebajikan hidup, manusia yang mengetahui bagaimana caranya hidup, tiada lain, untuk kehidupan yang bijak; mereka menemukannya dengan menghina dunia, melalui kehidupan tanpa adanya perkembangan, tanpa adanya perluasan, tanpa hubungan yang bersahabat dengan dunia, misalnya, hanya dalam kehidupan yang terisolasi, dalam hidup sebagaimana hidup, bukan dalam kehidupan dengan yang lainnya; hanya kehidupan Stoik, yang lainnya tak berarti baginya. Sebaliknya, para Epikurean menuntut kehidupan yang terus bergerak. Karena mereka memiliki hasrat untuk hal-hal baik, orang zaman dulu menyerukan kehidupan yang baik (orang Yahudi khususnya, yang ingin berumur panjang, diberkati dengan anak dan harta), untuk eudaemonia, kesejahteraan dengan beragam bentuknya. Demokritus misalnya, memuji “ketenangan jiwa” di mana seseorang “hidup dengan tenang, tanpa rasa takut dan tanpa kegirangan.” Jadi, apa yang orang zaman kuno pikirkan adalah bahwa dengan berbuat begini ia mendapatkan yang terbaik, menyediakan sebanyak mungkin yang terbaik bagi dirinya, dan melewati dunia dengan sebaik mungkin. Tapi semenjak ia tidak bisa menjauh dari dunia –dan sebenarnya ia tidak bisa dengan alasan bahwa seluruh aktivitasnya dapat habis dalam usaha yang keras untuk menyingkirkannya, dalam menangkal dunia (karena apa yang dapat dan harus ditolak harus tetap ada, jika tidak, tidak akan ada lagi yang harus ditolak); dia mencapai tingkat pembebasan yang paling ekstrim, yang hanya dapat dibedakan dengan mereka yang kurang terbebaskan hanya dalam beberapa tingkat. Jika dirinya mencapai perasaan duniawi yang mematikan, yang akhirnya hanya mengakui bisikan monoton dari kata-kata “Brahm”, 9 bagaimanapun juga hal itu pada dasarnya tidak

Saya tidak tahu apa (atau siapa) yang dimaksud dengan Brahm. Namun jika ini merujuk pada nama orang, maka bisa saja yang dimaksud Stirner adalah Johannes Brahms (1833-1897), seorang komponis Jerman, yang walaupun lebih muda, namun

membedakannya dari manusia yang inderawi. Bahkan sikap stoik dan kebajikan hanya sampai sejauh ini, yaitu bahwa seseorang harus memelihara dan menegaskan dirinya melawan dunia; dan etika orang-orang Stoik (etika merupakan satu-satunya ilmu mereka, karena mereka tidak tahu apapun tentang roh kecuali bagaimana cara yang seharusnya untuk menyikapi dunia, dan tiada sifat [fisik] yang lain kecuali bahwa yang bijak harus menegaskan dirinya melawannya) bukanlah ajaran roh, tapi hanya ajaran tentang jijik terhadap dunia dan penegasan diri terhadap dunia. Dan ini terdiri dari “ketidaktertarikan dan ketenangan hidup”, dan demikian juga dalam kebijaksanaan Romawi yang paling eksplisit. Orang Romawi (Horatius, Cicero, dll.) juga tak melangkah jauh dari kebajikan hidup ini. Kesejahteraan (hёdonё) para Epikurean adalah kebajikan hidup yang sama seperti yang diajarkan para Stoik, hanya saja lebih rumit, lebih menipu. Mereka hanya mengajarkan perilaku yang lain terhadap dunia, meneguri kita untuk bersikap licik terhadap dunia; dunia harus ditipu, karena itu adalah musuhku. Terobosan soal dunia benar-benar dibawa oleh para Skeptis. Seluruh hubunganku dengan dunia itu “tidak berharga dan tidak benar.” Timon berkata, “perasaan dan pikiran yang kita ambil dari dunia tidak mengandung kebenaran.” “Apa itu kebenaran?” isak Pilatus. Menurut ajaran Pyrrho, dunia itu tidak baik atau buruk, tidak indah dan tidak jelek, dan sebagainya; semua ini hanyalah ciri yang aku berikan padanya. Timon mengatakan bahwa “dengan sendirinya tidak ada yang baik atau buruk, tapi manusia hanya memikirkannya dengan begini atau begitu”; untuk menghadapi dunia ini hanya ataraxia (ketidaktergoyahan) dan afasia (berdiam diri -atau, dengan kata lain, kekuatan

menjadi populer karena sudah mengadakan konser privatnya dalam usia 10 tahun. Saat buku ini terbit pada 1845, ia sudah menulis sonata piano dalam G minor -penj.

batin yang menyendiri) saja yang tersisa. Tidak ada lagi “kebenaran yang bisa dikenali” di dunia; segala sesuatu bertentangan dengan diri mereka sendiri; pikiran tentang segala sesuatu tidak membeda-bedakan (baik dan buruk sama saja, sehingga apa yang orang anggap lebih baik akan dilihat buruk oleh yang lain). Jadi pengetahuan tentang “kebenaran” hampir berakhir. Hanya orang yang tidak memiliki pengetahuan, yaitu orang yang menemukan bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa dikenali sajalah yang tersisa. Dan orang ini hanya meninggalkan kebenaran dunia yang lengang sebagaimana adanya dan tidak menggubrisnya. Jadi zaman dulu berakhir dengan dunia kebendaan, dengan tatanan dunia, dengan dunia secara keseluruhan; tetapi bukan hanya alam yang menjadi milik tatanan dunia atau milik benda-benda dari dunia ini, tetapi juga semua hubungan di mana manusia merasa sebagaimana alam telah menempatkannya, misalnya keluarga, komunitas, singkatnya, apa yang dianggap sebagai “ikatan alamiah”. Akhirnya Kekristenan memulai dirinya dengan dunia roh. Orang-orang yang masih dijaga untuk menghadapi dunia adalah orang yang kuno, orang-orang kafir (begitu pun Yahudi, yang non-Kristen); sementara orang yang tidak dibimbing oleh apa pun kecuali “hasrat hatinya,” simpatinya, perasaan atas sesamanya, roh-nya, adalah orang modern, orang Kristen. Sebagaimana orang zaman dahulu mengupayakan penaklukan dunia dan berusaha untuk melepaskan manusia dari kekangan berat yang berhubungan dengan yang lain, mereka akhirnya juga sampai pada pembubaran dengan yang lain, dan akhirnya mereka sampai pada perpecahan atas kondisi yang ada dan lebih menaruh perhatian pada segala sesuatu yang bersifat pribadi. Tentu saja komunitas, keluarga, dan lain-lain, sebagai hubungan yang alamiah, adalah rintangan yang memberatkan, yang mengurangi kebebasan rohaniah-ku.

II. ZAMAN MODERN

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru telah datang.” 10

Seperti sudah dikatakan sebelumnya, “bagi orang zaman dulu dunia adalah sebuah kebenaran,” harus kita katakan di sini bahwa “bagi orang modern, roh adalah sebuah kebenaran”; tapi di sini, sama seperti sebelumnya, kita tidak boleh lupa untuk menambahkan bahwa “sebuah kebenaran dusta yang mereka coba dapatkan, pada akhirnya benar-benar mereka dapatkan.” Haluan serupa yang terdapat pada zaman dulu dapat dilihat pula dalam Kekristenan, menjelang masa Reformasi, nalar adalah tahanan yang dipenjara di bawah kuasa dogma Kristen, namun pada abad sebelum Reformasi nalar dengan kejam bangkit dan memainkan prasangka sesat dengan seluruh dogma-dogma. Lalu, telah dikatakan, terutama di Italia dan di pengadilan Romawi: bilamana hanya tetap berpikiran Kristen, nalar mungkin saja dalam banyak kasus akan merengguh kenikmatannya. Jauh sebelum Reformasi, orang-orang begitu terbiasa berselisih dengan halus sehingga Paus, dan kebanyakan orang lain, pada awalnya memandang kemunculan Luther layaknya “pertengkaran para biksu”. Humanisme berhubungan dengan kesesatan, dan sebagaimana kaum Sofis pada zaman Yunani sedang mekar-mekarnya (pada zaman Periklean), dengan demikian hal-hal paling cemerlang terjadi pada masa humanisme –atau, sebagaimana seseorang mungkin telah katakan tentang Machiavellianisme (seni percetakan, Dunia Baru, dll.). Pada masa ini, hati masih jauh dari keinginan untuk membebaskan

2 Korintus 5:17. Kata “baru” dan “modern” itu sama dalam bahasa Jerman.

dirinya dari muatan Kristennya. Tapi pada akhirnya ketika Reformasi, sebagaimana Sokrates meletakkan hati itu sendiri ke dalam tindakan, dan sejak saat itu, hati telah menjadi tampak –menjadi lebih tidak kristiani. Semenjak orang-orangnya Luther mulai meletakan hal-hal pada hati, tahap Reformasi Reformasi ini mengarah pada hati yang juga meringankan beban Kekristenan yang berat. Hati, dari hari ke hari menjadi lebih tidak kristiani, kehilangan isi yang telah dikuasainya, sampai akhirnya tidak ada apapun yang tersisa selain cuma kehangatan hati yang kosong, sepenuhnya belas kasih yang umum bagi kebaikan manusia, cinta pada kemanusiaan, kesadaran akan kebebasan, “kesadaran diri.” Hanya dengan demikianlah kekristenan menjadi lengkap, karena ia sudah menjadi tandus, layu, dan hampa isinya. Sekarang sudah kosong isinya yang dengannya hati tak memberontak, kecuali jika hati tanpa sadar atau tanpa “kesadaran diri” membiarkan diri mereka tergelincir masuk. Hati dengan kejamnya tak berhati mengkritik sampai mati segala sesuatu yang hendak mengacau, dan ia mampu untuk tanpa persahabatan, tanpa cinta (kecuali, seperti yang sudah-sudah, terjadi tanpa sadar atau secara mendadak). Apa yang akan ada dalam diri umat manusia untuk mencintai, semenjak mereka semua sama-sama tampak seperti egois, misalnya tiada satupun dari mereka yang seperti manusia demikian, tidak ada satupun kecuali hanya roh. Orang Kristen hanya mencintai roh; tapi di mana kita bisa menemukan seseorang yang sesungguhnya tidak menjadi apapun kecuali hanya roh semata? Untuk mencintai manusia yang menubuh dengan kulit binatang dan bulu, hal tersebut tak dapat lagi menjadi kehangatan hati yang “rohaniah”, melainkan pengkhianatan terhadap kehangatan hati yang “murni”, yang mana merupakan sebuah “perkara yang teoritis.” Kehangatan hati yang murni sama sekali tidak seperti kebiasaan baik yang membuat setiap orang menjadi berjabat tangan dengan

ramah; sebaliknya, kehangatan hati yang murni terhadap orang lain hanyalah perkara teoretis, perhatian manusia sebagai manusia dan bukan perseorangan. Seseorang jijik padanya karena menjadi egoistis, karena karena ia bukanlah ide tentang umat manusia ini. Bagi kehangatan hati yang murni atau teori yang murni, manusia hanya ada untuk dikritik, diejek, dan benar-benar dibenci; hal macam ini kurang lebih seperti pendeta yang fanatik, mereka hanya dianggap sebagai sesuatu yang “kotor” dan hal-hal yang semacam itu. Karena terdorong oleh ketenangan hati yang tak menarik ini, akhirnya kita harus sadar bahwa roh, yang hanya dicintai orang Kristen, sebenarnya bukanlah apa-apa; dengan kata lain, roh itu -bohong. Apa yang telah ditetapkan di sini sebagai sesuatu yang hanya perkiraan saja, singkat, dan belum dipahami secara pasti, diharapkan menjadi jelas saat kita melanjutkannya. Mari kita periksa warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, dan sebagai pekerja yang aktif, lakukan itu sebisa mungkin! Dunia terbengkalai di kaki kita, jauh di bawah kita dan surga kita, di mana lengannya yang kuat tidak lagi disodorkan dan napasnya yang tidak masuk akal tidak akan datang. Sebagaimana ia dapat bertindak menggoda, hal itu tidak bisa menipu apapun kecuali nalar kita; ia tak bisa membimbing roh kita yang tersesat –dan bagaimanapun juga, kita hanya ada dalam kebenaran melalui roh. Setelah hal itu mendapat sesuatu kembali sesuatu yang ada di balik benda-benda, roh juga telah sampai di atas mereka, dan terbebas dari ikatan mereka, terbebaskan, dengan kebebasan dari yang bukan dari dunia ini. Jadi kita sedang membicarakan “kebebasan rohaniah”. Roh yang lama berkerja keras telah menyingkirkan dunia, roh yang tidak duniawi, tak ada lagi yang tersisa setelah kehilangan dunia dan yang duniawi kecuali –roh dan yang rohaniah. Namun, karena ia hanya bergerak menjauh dari dunia

dan menjadikan dirinya bebas dari dunia, tanpa dapat benar- benar menghancurkan dunia, hal ini tetap menjadi batu sandungan yang tidak dapat dibersihkan, keberadaan yang tidak dapat dikesampingkan; dan, karena, di sisi lain, ia mengetahui dan tidak mengenal apa pun kecuali roh dan yang rohaniah, ia terus-menerus membawa hasrat untuk merohaniahkan dunia, misalnya untuk menebusnya dari “tumpukan kotoran”. Oleh karena itu, seperti layaknya kaum muda, hal ini berlanjut dengan rencana untuk penebusan atau perbaikan dunia. Sebagaimana yang dapat kita lihat, orang zaman dahulu melayani yang alami, yang duniawi, tatanan alam dunia, namun mereka terus-menerus bertanya pada diri mereka sendiri tentang pelayanan ini; dan ketika mereka telah capek sampai mati dalam upaya pemberontakan yang terus diperbaharui, kemudian, di antara desahan terakhir mereka, lahirlah Tuhan mereka, “sang penakluk dunia”. Semua tindakan mereka hanyalah kebijaksanaan duniawi sebagai upaya untuk mendapatkan kembali dunia apa yang ada di balik dan yang ada di atasnya. Dan kebijaksanaan macam apa yang akan muncul berabad-abad yang akan datang? Apakah yang modern mencoba untuk kembali? Tidak lagi untuk mendapatkan dunia kembali, karena orang zaman dahulu telah menyelesaikannya; melainkan apa yang ada di balik Tuhan yang dahulu diwariskan kepada mereka, yang di balik Tuhan yang tiada lain “adalah roh,” kembali dari segala sesuatu yang adalah roh, yang rohaniah. Tapi aktivitas roh, yang “mencari bahkan ke kedalaman Ketuhanan,” adalah kajian atas keilahian. Jika orang zaman dahulu tidak memiliki apa-apa untuk ditunjukkan kecuali kebijaksanaan dunia, orang-orang zaman modern tidak pernah mengambil jalan mereka lebih jauh daripada sekedar teologi. Kita akan melihat nanti bahwa pemberontakan terbaru melawan Tuhan hanyalah upaya paling ekstrem dari “kajian atas yang ilahi,” misalnya, pemberontakan teologis.

1. Roh

Alam roh luar biasa luas, ada kesepakatan rohaniah yang tak terbatas; namun mari kita lihat dan perhatikan apakah roh, wasiat orang zaman dulu ini, memang benar demikian adanya. Dari kelahiran mereka yang menyakitkan, roh itu muncul, tapi mereka sendiri tidak dapat menampakan dirinya sebagai roh; mereka bisa melahirkannya, tapi hal tersebut harus menampakan dirinya sendiri. Adalah “Allah yang terlahir, Anak Manusia”, yang pertama mengucapkan Kata bahwa roh, yaitu ia, Sang Tuhan, tidak ada urusan dengan yang duniawi dan tidak memiliki hubungan dengan ikatan duniawi, melainkan semata-mata, dengan roh dan hubungan rohaniah. Adakah keberanianku tak terhancurkan di bawah semua pukulan dunia, ketidaklenturan dan ketundukanku telah memiliki roh dalam yang sepenuhnya inderawi, sejak dunia tidak dapat menyentuhnya? Dengan begini hal tersebut tetap memusuhi dunia, dan semua tindakannya akan dibatasi supaya tak dikalahkan oleh dunia! Tidak, asalkan tidak menyibukkan diri dengan dirinya sendiri, asalkan tidak ada hubungannya dengan dunia rohaniahnya sendiri, bukan roh yang bebas melainkan hanya “roh dunia ini,” maka roh dapat tergelincir ke sana. Roh adalah roh yang bebas, benar-benar menjadi roh, hanya di dalam dunia miliknya; “ini” yang kumaksud adalah dunia yang duniawi, orang yang asing. Hanya di tengah-tengah duniah rohaniah saja roh sungguh-sungguh roh, karena dunia “ini” tidak dapat memahaminya dan tidak tahu bagaimana mencegah “seorang gadis dari negeri asing” 11 beranjak pergi. Tapi harus pergi kemanakah untuk bisa mendapatkan dunia rohaniah ini? Dimana selain daripada dirinya sendiri? Hal itu harus mengungkapkan dirinya sendiri; dan kata-kata

Judul puisi Schiller.

yang diucapkannya, wahyu di mana ia mengungkapkan dirinya sendiri, inilah dunianya. Kehidupan yang visioner dan dunia yang dimilikinya hanya ada dalam gambaran visioner yang dia ciptakan sendiri, karena orang tolol menghasilkan dunia idamannya sendiri, tanpanya dia tidak mungkin menjadi tolol, jadi roh harus menciptakan dunia rohnya sendiri, dan ia sama sekali bukan roh sampai ia bisa menciptakannya. Dengan demikian ciptaannyalah yang membuatnya menjadi roh, dan oleh makhluk-makhluk yang kita kenal, pencipta; di dalamnya mereka hidup, mereka adalah dunianya. Sekarang, apa rohnya itu? Rohnya tiada lain adalah pencipta dunia spiritual itu sendiri! Juga di dalam dirimu dan diriku orang tidak mengenali roh ketika ia melihat bahwa kita telah menyesuaikan sesuatu yang rohaniah pada diri kita. Sebagai contoh, pikiran. Meskipun pikiran mungkin telah ditetapkan sebelumnya, setidaknya kita membawa mereka untuk hidup di dalam diri kita. Sebab, selama kita masih anak-anak, pikiran yang paling mendidik mungkin telah diletakkan di hadapan kita tanpa harapan atau tanpa kita mampu untuk memperbanyaknya dalam diri kita sendiri. Jadi roh juga ada hanya saat hal itu menciptakan sesuatu yang rohaniah; itu sungguh nyata hanya jika bersama dengan ciptaannya yang spiritual. Kemudian kita dapat mengenalinya dari karya- karyanya. Pertanyaannya sekarang adalah: apa yang dimaksud dengan karya-karya ini. Tapi karya atau anak suatu roh tidak lain hanyalah –roh. Jika aku memiliki Yahudi sebelum memiliki diriku, Yahudi yang sungguh tabah, aku harus berhenti di sini dan membiarkan mereka berdiri di hadapan misteri ini, karena hampir dua ribu tahun mereka tetap berdiri dengan tidak percaya dan tak berpengetahuan di hadapannya. Tapi, seperti kamu, pembacaku yang terkasih, setidaknya bukan orang Yahudi yang penuh kekejaman –karena orang seperti

itu tidak akan tersesat sejauh ini– kita bersama-sama masih akan menyusuri jalan kecil ini lebih jauh sampai mungkin kamu pada akhirnya juga memalingkan wajahmu dariku karena aku tertawa di hadapanmu. Jika seseorang mengatakan kepadamu bahwa kita sama-sama sepenuhnya terdiri dari roh, kamu akan memegang tubuhmu dan tidak mempercayainya, tapi jawablah: “Tidak diragukan lagi bahwa aku memiliki roh, tapi tidak hanya ada sebagai roh, tapi juga sebagai seorang manusia dengan tubuh.” Kamu masih akan memisahkan dirimu dari “rohmu.” “Tapi,” ujarnya, “sudah jadi takdiranmu kelak untuk menjadi ‘roh yang diberkati’, meskipun sekarang kamu masih berada dalam belenggu tubuh, dan bagaimanapun juga kamu membayangkan masa depan tampilan rohmu, dapat dipastikan bahwa kematianmu akan menunda tubuh ini, namun tetap mempertahankan dirimu, yaitu rohmu, untuk selama-lamanya; dengan demikian, rohmu adalah yang abadi dan sejati di dalam dirimu, tubuh hanya tinggal di sini rumah yang membumi, yang dapat kamu tinggal dan tukarkan dengan yang lain.” Sekarang kamu mempercayainya! Memang, untuk saat ini kamu bukan hanya roh, tapi suatu hari nanti, ketika kamu berpindah dari tubuh yang fana seperti kelak kamu harus melakukannya, maka kamu harus melakukannya sendiri tanpa tubuh, dan oleh karena itu kamu perlu bersiap dan menyediakan aku-mu yang sesungguhnya tepat pada waktunya. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya?” 12

Tetapi bahkan dengan membiarkan keraguan yang timbul selama bertahun-tahun melawan kepercayaan Kristen yang telah lama merampas keyakinanmu akan keabadian rohmu, kamu masih meninggalkan satu prinsip yang tak tergoyahkan, dan kamu masih bertahan tanpa hambatan terhadap satu kebenaran, yaitu roh adalah

Matius 16:26.

bagianmu yang lebih baik, dan bahwa yang rohaniah memiliki klaim lebih besar pada dirimu daripada hal lainnya. Kesampingkan ateismemu, kamu datang bersama dengan orang-orang yang percaya dalam keabadian rohmu melawan egoisme. Tapi atas nama egois, siapakah yang kamu bayangkan? Seorang manusia yang alih-alih menghidupi ide, misal, sesuatu yang rohaniah, tetapi malah mengorbankan keuntungan pribadinya untuk melayani hal tersebut. Seorang patriot yang baik misalnya, membawa pengorban-annya ke altar tanah air; tapi tak dapat dibantah bahwa tanah air adalah ide, karena bagi hewan tanpa kapasitas untuk berpikir atau anak-anak yang masih tak berotak, 13 tidak ada yang namanya tanah air dan patriotisme. Sekarang, jika seseorang tidak membuktikan dirinya sebagai patriot yang baik, dia mengkhianati egonya dalam hubungannya dengan tanah air. Dan begitulah yang terjadi dalam kasus-kasus lain yang tak terhitung jumlahnya: siapa pun yang dalam masyarakat manusia mengambil keuntungan dari dosa prerogatif secara egois melawan gagasan tentang persamaan; dia yang memegang kekuasaan disalahkan sebagai egois yang melawan gagasan tentang kebebasan. Kamu membenci para egois karena dia menempatkan yang rohaniah di belakang layar dibandingkan dengan yang pribadi, dan matanya memandang pada dirinya sendiri dimana kamu ingin melihatnya bertindak untuk menyukai sebuah gagasan. Perbedaan antara kamu dengannya adalah bahwa dia menjadikan dirinya titik sentral, sementara kamu malah mengutamakan roh; atau bahwa kamu membagi aku-mu menjadi dua dan meninggikan “aku-mu yang sesungguhnya”, yaitu roh sebagai penguasa atas sisa- sisa yang tak berharga, sedangkan dia tidak ingin tahu apapun mengenai pembagian menjadi dua ini, dan mengejar

Pembaca tidak boleh lupa bahwa “pikiran –mind” dan “roh – spirit” adalah satu kata yang sama dalam bahasa Jerman -penj.

kepentingan rohaniah dan jasmaniah apa pun yang dapat memuaskannya. Tentu saja, kamu berpikir bahwa kamu hanya menyerang orang-orang yang sama sekali tidak mementingkan kepentingan rohaniah, namun sebenarnya kamu mengutuk setiap orang yang tidak memandang kepentingan rohaniah sebagai kepentingannya yang “sejati dan tertinggi”. Kamu membawa bakti layaknya ksatria untuk hal yang indah ini, sejauh hal tersebut menyatakan bahwa hanya hal tersebutlah satu-satunya keindahan di dunia. Kamu hidup bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk roh-mu dan apa yang roh-roh, misalnya ide-ide. Sejak roh hanya ada sementara ia menciptakan yang rohaniah, maka mari kita lihat tentang penciptaan pertamanya. Jika ia pertama-tama telah mencapai ini, sejak saat itu reproduksi alami dari ciptaan menyusul, karena menurut mitos hanya manusia pertama yang harus diciptakan sehingga sisa ras dapat mereproduksi dirinya sendiri. Ciptaan pertama, di sisi lain, harus keluar “dari ketiadaan”, yaitu roh menuju perwujudan yang tiada lagi selain dirinya sepenuhnya, atau lebih tepatnya lagi sebenarnya belum, tapi harus menciptakan dirinya sendiri; maka ciptaan pertamanya itu adalah dirinya sendiri, yaitu roh. Sebagaimana hal ini terdengar mistis memang, kita belum bisa melakukannya sebagai pengalaman sehari-hari. Apakah kamu berpikir sebelum kamu berpikir? Ketika kamu menciptakan pikiran pertama, kamu menciptakan dirimu sendiri, sesuatu yang berpikir; karena kamu tidak berpikir sebelum memikirkan suatu pemikiran. Bukanlah nyanyianmu yang membuatmu menjadi penyanyi, pembicaraanmu yang membuatmu jadi pembicara? Nah, itu jugalah kenapa yang rohaniah membuatmu menjadi roh. Sementara itu, saat kamu membedakan dirimu dari para pemikir, penyanyi, dan pembicara, kamu tidak begitu membedakan dirimu dari roh, dan merasa sangat jelas bahwa kamu adalah sesuatu yang ada di samping roh. Tapi sebagaimana, dalam aku yang berpikir, apa yang terdengar

dan terlihat dapat dengan mudah lenyap dalam antusiasme pemikiran, demikianlah antusiasme-roh telah menguasaimu, dan kamu sekarang merindukan segenap kekuatanmu untuk sepenuhnya menjadi roh dan larut dalam roh. Roh adalah ideal-mu, yang tidak berperasaan, duniawi yang lain; roh adalah nama Tuhanmu, “Tuhan itu roh.” Kamu adalah seorang fanatik atas apapun yang bukan roh, dan karena itu kamu berperan layaknya orang fanatik yang melawan dirimu sendiri, sebagaimana kamu yang tidak menyingkirkan sisa-sisa yang tidak rohaniah. Bukannya mengatakan bahwa, “aku ini lebih dari hanya sekedar roh,” kamu dengan menyesal malah berkata, “aku lebih rendah daripada roh; dan aku hanya bisa memikirkan roh, roh yang murni, atau roh yang tidak lain hanyalah sebuah roh, tapi aku bukanlah hal ini; dan, karena aku bukan seperti itu, itu adalah yang lain, itu ada sebagai yang lain yang aku sebut sebagai ‘Tuhan’.” Hal itu terbentang di alam benda-benda, bahwa roh yang mana harus ada sebagai roh yang murni harus menjadi sesuatu yang ada di dunia lain, karena aku bukan hal itu, hal itu hanya bisa ada di luar diriku. Karena bagaimanapun juga manusia tidak sepenuhnya memahami konsep “roh”, maka roh yang murni, roh yang demikian, hanya bisa berada di luar manusia, di luar dunia manusia. Bukan yang duniawi, tapi yang surgawi. Hanya dari konflik inilah aku dan roh terbaring; hanya karena “aku” dan “roh” bukanlah nama untuk sesuatu dan hal yang sama, tapi nama yang berbeda untuk hal yang juga sama sekali berbeda; hanya karena aku bukan roh dan roh bukanlah aku: hanya dari sini kita mendapatkan penjelasan yang sepenuhnya tautologis tentang perlunya roh untuk berdiam di dunia lain, yaitu, tidak lain daripada Tuhan. Dari sini jugalah muncul bagaimana pembebasan yang sepenuhnya teologis yang Feuerbach¹⁴ telah sodorkan

Feuerbach, Essence of Christianity, edisi kedua yang diperbarui (1843).

pada kita. Apa yang Feuerbach coba katakan adalah bahwa kita telah salah mengira mengenai apa yang menjadi hakikat¹⁵ diri kita, dan karena itu kita harus mencarinya di dunia lain. Tapi sekarang, setelah kita melihat bahwa Tuhan hanyalah hakikat manusiawi kita, kita harus mengenalinya kembali sebagai milik kita dan memindahkannya kembali dari dunia lain ke dalam yang satu ini. Feuerbach memberikan nama pada Tuhan, yang mana adalah roh, sebagai “hakikat kita.” Bagaimana mungkin kita menyetujui bahwa “hakikat kita” diseret menjadi pertentangan bagi kita dan bahwa kita terbagi menjadi diri aku yang hakikat dan non-hakikat? Bukannya kita malah mundur kembali pada penderitaan yang suram karena melihat diri kita diusir dari diri kita sendiri? Apa yang kemudian kita dapatkan, ketika demi sebuah perubahan, kita memasang yang ilahi yang datang dari luar, ke dalam kita sendiri? Apakah kita benar-benar apa yang ada di dalam kita? Sama cetek sebagaimana aku adalah apa yang ada di luar kita. Aku adalah kasihku yang kecil sebagaimana aku adalah kekasihku, “diriku yang lain”-ku ini. Hanya karena kita bukanlah roh yang berdiam di dalam kita, hanya karena alasan itulah kita harus mengambilnya dan meletakkannya di luar kita; ia bukan kita, ia tidak pas dengan kita, dan karena itu kita tidak bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang lain daripada yang di luar kita, melampaui kita, di dunia lain. Dengan kekuatan keputusasaan Feuerbach mencengkeram keseluruhan substansi kekristenan, tapi bukannya dibuang, bukan, tapi malah ditarik ke dirinya sendiri untuk waktu yang sangat lama, dengan satu usaha terakhir menjatuhkannya dari surga dan menyimpannya untuk selamanya bagi dirinya sendiri. Bukankah itu pegangan dari keputusasaan yang paling dalam, pegangan

Dalam filsafat Feuerbach, dijelaskan sebagai “Wesen”, yang dapat terjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “essence”, atau hakikat, pokok, dan intisari -penj.

untuk hidup atau mati, dan benarkah pada saat yang bersamaan orang Kristen mendambakan dan berhasrat akan dunia yang lain itu? Sang pahlawan ini tidak pergi ke dunia lain, tapi untuk menarik dunia lain kepadanya, dan memaksanya untuk menjadi dunia ini! Dan sejak saat itu tidakkah semua dunia menangis dengan sedikit banyak kesadaran bahwa “dunia ini” tidaklah seberapa penting sehingga surga pun harus turun ke bumi dan bahkan dialami di sini? Mari secara singkat kita tetapkan pandangan teologis Feuerbach dan kontradiksi kita melawan satu sama lain! “Hakikat umat manusia adalah hakikat tertinggi kemanusiaan; sekarang, oleh agama, makhluk tertinggi itu disebut sebagai Tuhan dan dianggap sebagai hakikat yang obyektif, namun sebenarnya ia hanya hakikat manusia semata; dan karena itu titik balik sejarah dunia adalah bahwa sejak sekarang bukan lagi Tuhan yang tampil kepada manusia sebagai Tuhan, tapi manusialah yang harus tampil kepada manusia sebagai Tuhan.” 16

Terhadap hal ini ini kita membalasnya: Hakikat yang tertinggi memang hakikat manusia, tapi, hanya karena itulah hakikat-nya dan bukan dia sendiri, tidaklah penting apakah kita melihatnya di luar dirinya dan melihatnya sebagai “Tuhan,” atau menemukannya di dalamnya dan menyebutnya “hakikat manusia” atau “manusia.” Aku bukan Tuhan bukan pula manusia, bukan hakikat yang tertinggi ataupun hakikatku, dan karena itu secara keseluruhan tidaklah penting apakah apakah aku memikirkan hakikat seolah ia ada pada diriku atau di luarku. Tentu, kita benar- benar selalu memikirkan makhluk tertinggi seperti di kedua jenis ketidakduniawian lainnya, yang sekaligus di dalam dan ke luar; karena “roh Allah” menurut pandangan Kristen, juga “roh kita” dan “tinggal di dalam kita.” 17 Ia tinggal di surga

Lebih lanjut, coba lihat The Essence of Christianity, hlm 402. Lebih lanjut perika Roma 8:9, I Korinthus 3:16, Yohanes 20:22 dan beberapa pasal lainnya.

dan tinggal di dalam kita; kita sebagai hal-hal buruk hanya dianggapnya sebagai “tempat tinggalnya,” dan jika Feuerbach menghancurkan tempat tinggalnya yang surgawi dan memaksanya untuk bergerak, mengunci, menimbun dan memasukannya ke dalam tong, ke dalam diri kita, maka kita, tempat tinggalnya di bumi, akan sangat penuh sesak. Tapi setelah penyimpangan ini, yang mana, jika kita bermaksud agar semuanya berlangsung layaknya jam bekerja, kita akan menyimpannya untuk halaman terakhir. Supaya terhindar dari pengulangan, kita perlu kembali pada ciptaan roh yang pertama, yaitu roh itu sendiri. Roh adalah sesuatu yang lain dari diriku. Tapi apakah yang lain itu?

2. Kesurupan

Pernahkah kamu melihat roh? “Tidak, aku tidak pernah, tapi nenekku pernah.” Kamu lihat, aku pun begitu. Aku sendiri tak pernah sekalipun melihatnya, mereka kabur dengan segala cara antara kedua kaki nenekku, dan dari kepercayaan kita kepada nenek, kita dengan tulus percaya pada keberadaan roh. Tapi bukankah tidak demikian dengan kakek kita, dan bukankah mereka mengangkat bahu tiap kali nenek kita berbicara tentang hantunya? Ya, mereka manusia yang tidak percaya, yang telah menyerang agama kita yang baik, filsuf Pencerahan itu! Kita merasakannya! Lalu apa yang membentuk dasar yang kemudian menjadi kepercayaan penuh pada hantu ini, jika bukannya “keberadaan hakikat rohaniah secara umum,” dan bukankah yang terakhir itu sendiri terguncang ketika seseorang memperbolehkan para rasionalis yang kurang ajar untuk mengguncang yang pertama? Kaum Romantik benar-benar merasakan pukulan yang sangat percaya pada Tuhan yang menderita oleh karena menolak percaya pada roh atau hantu, dan berusaha untuk memperbaiki akibat dari bencana ini tidak hanya

melalui dunia peri yang telah mereka bangkitkan kembali, namun pada akhirnya, dan khususnya, melalui “ganggun terhadap sebuah dunia yang lebih tinggi”; mereka yang berjalan sambil tidur, si visioner novelis Prancis Antoine François Prévost, dll. Orang-orang yang percaya dan gembala yang baik tidak menyadari bahwa seiring dengan kepercayaan akan hantu, agama akan kehilangan dasarnya, dan sejak saat itu hal tersebut mengambang di udara. Seseorang yang tak lagi percaya pada hantu hanya perlu mengikuti secara konsisten dalam ketidakpercayaannya untuk melihat bahwa tidak ada hakikat yang terpisah sama sekali tentang hal-hal baik, tidak ada hantu atau –yang secara naif dianggap sinonim dengan kata-kata yang kita gunakan– tidak ada “roh.” “Roh itu ada!” Lihatlah sekeliling dunia dan katakan pada dirimu apakah roh tidak melihat segalanya darimu. Dari bunga kecil tersayang yang terdapat di sana yang menceritakan padamu suara Sang Pencipta, yang telah membentuknya dengan luar biasa; bintang yang menyatakan bahwa roh lah yang telah menempatkan mereka pada posisinya; dari puncak gunung, roh yang agung longsor; keluar dari air, roh yang ribut bergemuruh, dan –dari manusia dimana jutaan roh telah berbicara. Gunung mungkin saja terbenam, bunga berguguran, dunia bintang-bintang runtuh, umat manusia mati –apa lagi? Roh, “roh yang tak terlihat,” tetap kekal! Ya, seluruh dunia dihantui! –Hanya dihantui?- Tidak, ia sendiri dihantui, ia terus-menerus luar biasa menakutkan, ia adalah tampilan tubuh roh yang berubah, ia adalah spook. Apa lagi yang seharusnya menjadi hantu, kecuali tubuh yang nyata, kecuali roh yang sebenarnya? Nah, dunia yang “kosong” ini, hanya “sia-sia”, hanyalah “penampakan” 18

Selama beberapa paragraf berikutnya, Stirner memainkan kata “Schein” (saya menerjemahkannya sebagai “penampakan”). Jadi “penampakan” adalah “Erscheinungen,” yang dalam bentuk tunggal pada kalimat berikutnya menjadi “fenomena.” “Tampak”

yang mewah; kebenarannya adalah roh saja; ini adalah tubuhnya roh yang tampak. Lihat sekitar dari dekat atau jauh, dunia yang berhantu mengelilingimu dimana-mana, kamu selalu mengalami “penampakan” atau penglihatan. Apapun yang mendekatimu hanyalah hantu yang berdiam diri, dunia bagimu hanyalah “tampakan dunia”, dimana roh berjalan di belakangnya. Kamu “melihat roh.” Barangkali sempat terpikir bagimu untuk membandingkan dirimu dengan orang zaman dulu yang melihat Tuhan dimana-mana? Tuhan bukanlah roh wahai temanku yang modern; Tuhan tidak merendahkan dunia menjadi serupa, dan tidak merohaniahkannya. Tapi bagimu seluruh dunia terohaniahkan dan telah menjadi hantu yang penuh teka-teki; karena itu, jangan heran jika kamu juga tidak menemukan dirimu sendiri kecuali sebagai spook. Bukankah tubuhmu dihantui oleh rohmu sendiri, dan bukan yang terakhir [spook] saja yang benar dan nyata, yang pertama [manusia] hanya “sementara, hampa” atau “penampakan”? Bukankah kita semua hantu, makhluk luar biasa yang menunggu “pembebasan” –yang tidak lain daripada, “roh”? Sejak roh muncul di dunia, sejak “Kata menjadi daging”, sejak kemudian dunia menjadi terohaniahkankan, terpikat, suatu spook. Kamu memiliki roh, karena kamu memiliki pikiran. Terdiri dari apa pikiranmu? “Hakikat rohaniah.” Kalau begitu bukan benda? “Bukan, tapi roh dari segala sesuatu, inti utama dari segala sesuatu, yang paling segalanya bagi mereka, ide mereka.” Jadi, apa yang kamu pikir bukanlah pikiranmu? “Sebaliknya, inilah aspek yang sesungguhnya, apa

adalah “erscheint.” “Dunia fenomenal” adalah “Erscheinungwelt,” dll. – Wolfi.

yang paling benar di dunia; adalah kebenaran itu sendiri; jika aku sungguh benar berpikir, aku memikirkan kebenaran. Tentu aku bisa saja salah tentang kebenaran dan gagal untuk mengenalinya; tapi ketika aku mengenalinya, objek yang aku pahami adalah kebenaran.” 19

Jadi, aku kira, kamu selalu berusaha untuk mengenali kebenaran? “Bagiku kebenaran itu suci. Mungkin kebetulan aku menemukan kebenaran yang tidak lengkap dan menggantinya dengan yang lebih baik, tapi sebenarnya aku tidak bisa menelantarkan kebenaran. Aku percaya pada kebenaran, karena itu aku mencari di dalamnya; tidak ada yang melebihi itu, hal tersebut kekal.” Kebenaran itu sakral, kekal; yang kekal itu suci. Tapi kamu, yang membiarkan dirimu terisi dan diarahkan oleh sesuatu yang sakral ini, dirimu menjadi kudus. Lagipula, yang sakral ada bukan untuk inderamu (dan sebagai manusia yang inderawi kamu tidak akan pernah dapat menemukan jejaknya) tetapi untuk imanmu, atau lebih tepatnya, untuk roh-mu. Kamu tahu, untuk hal itu sendiri, ia adalah hal yang rohaniah, ia adalah roh melalui roh. Yang suci sama sekali tidak memungkinkan dirinya untuk dengan mudah dihilangkan, sebagaimana banyak orang yang tidak lagi mengambil kata yang “tidak pantas” ini ke dalam mulutnya seperti saat ini mereka nyatakan. Bahkan jika dalam satu hal pun aku masih terbungkam sebagai seorang “egois”, maka sisa pemikiran tentang sesuatu yang lain harus kulayani lebih dari diriku sendiri, dan yang pastinya lebih penting dari segalanya; singkatnya, yang mana aku harus mencari kebaikan sejatiku, sesuatu yang –

Ada permainan kata di sini dalam kata “verkennen” (prasangka, gagal mengenali), “erkennen” (mengenali, datang mengetahui) dan “Erkenntnis” (pengetahuan) –Wolfi.

“suci.” 20 Jika hal suci ini tampak mendekati manusia, meskipun hal itu adalah manusia itu sendiri, hal ini tidak menghilangkan kesuciannya, tapi kebanyakan lebih pada mengubahnya dari yang tidak wajar menjadi benda suci duniawi, dari yang ilahi sampai manusia. Hal-hal yang suci hanya ada bagi egois yang tidak mengakui dirinya sendiri, egois yang tak disengaja (involuntary egoist), bagi dia yang selalu menjaga dirinya sendiri namun tidak menganggap dirinya sebagai wujud tertinggi, yang hanya melayani dirinya sendiri dan pada saat yang bersamaan selalu menganggap dirinya untuk melayani wujud yang lebih tinggi, yang tak tahu apapun yang lebih tinggi dari dirinya dan masih saja tergila-gila dengan sesuatu yang lebih tinggi; singkatnya, bagi egois yang tidak ingin menjadi orang yang egois dan merendahkan dirinya sendiri, memerangi egonya, tapi pada saat yang bersamaan merendahkan diri hanya untuk “ditinggikan,” dan karena itu memuaskan egonya. Karena dia ingin berhenti menjadi orang yang egois, dia mencari-cari ke surga dan ke bumi untuk makhluk yang lebih tinggi untuk dapat ia layani dan agar ia dapat mengorbankan dirinya; tapi, betapapun dia mengguncang dan mendisiplinkan dirinya sendiri, pada akhirnya dia melakukan segalanya demi dirinya sendiri, dan egoisme yang hina tidak akan datang darinya. Karena hal inilah aku memanggilnya egois yang tak disengaja. Kerja keras dan kepeduliannya untuk menjauh dari dirinya sendiri tidak lain daripada dorongan yang disalahpahami untuk pembubaran-diri. Jika kamu terikat pada jam terakhirmu, jika kamu mengoceh hari ini karena kemarin kamu mengoceh, 21 jika kamu tidak dapat mengubah

20 Ada permainan kata di sini dalam kata “verkennen” (prasangka, gagal mengenali), “erkennen” (mengenali, datang mengetahui) dan “Erkenntnis” (pengetahuan) –Wolfi. Betapa para imam berdentang, betapa pedulinya mereka, Orang-orang itu datang dan mengoceh hari ini sebagaimana yang kemarin mereka lakukan!

dirimu setiap saat, kamu merasa dirimu terbelenggu dalam perbudakan dan dengan demikian merasa bersalah. Inilah sebabnya, di luar tiap momen keberadaanmu, momen segar dari masa depan memberi isyarat kepadamu, dan mengembangkan dirimu, kamu menjauh “dari dirimu sendiri,” yaitu, dari dirimu saat ini. Sebagaimana dirimu tiap saat, kamu adalah ciptaanmu sendiri, dan dalam “makhluk” ini kamu tidak ingin kehilangan dirimu sendiri, sang pencipta. Kamu sendiri adalah makhluk yang lebih tinggi daripada dirimu, melampaui diri sendiri. Tetapi bahwa kamu adalah orang yang lebih tinggi dari dirimu, yaitu, bahwa kamu bukan hanya ciptaan, tetapi juga pencipta dirimu sendiri, ini yang gagal kamu kenali sebagai egois yang tidak di sengaja; dan demikian “hakikat yang lebih tinggi” adalah untukmu –hal yang asing. Setiap hakikat yang lebih tinggi, misalnya kebenaran, umat manusia, dan lain lain, adalah hakikat yang berada di atas kita. Alienasi adalah tanda dari yang “sakral.” Dalam segala hal yang sakral terdapat sesuatu yang “seram,” yang asing, yang mana kita tidak begitu akrab. Apa yang suci bagiku bukanlah milikku; dan jika, misalnya, milik orang lain tidaklah suci bagiku, maka aku harus melihatnya sebagai milikku, yang harus kuambil untuk diriku sendiri saat kesempatan tersedia. Atau, di sisi lain, jika aku menganggap wajah kaisar Cina itu suci bagiku, hal itu tetaplah asing bagi mataku, dan aku akan menutupi penampakannya. Mengapa kebenaran matematis yang tak terbantahkan ini, yang bahkan bisa disebut kekal menurut pemahaman orang-orang pada umumnya, tidak dianggap sakral? Karena ia tidak diungkapkan, atau ia bukan wahyu dari hakikat yang lebih tinggi. Jika dengan mengungkap-kannya kita hanya paham apa yang disebut sebagai kebenaran agama, kita

Jangan memarahi pastor! Mereka tahu kebutuhan manusia: Untuk tahu bagaimana bahagianya seseorang, esok mengoceh sebagaimana hari ini. -Venetian Epigrams, Goethe.

tersesat, dan benar-benar gagal mengenali keluasan dari konsep “hakikat yang lebih tinggi.” Para ateis terus mengejek makhluk yang lebih tinggi, yang juga dihormati dengan nama “yang tertinggi” atau être suprême, 22 dan satu demi satu menginjak-injak debu “bukti keberadaannya”, tanpa memperhatikan bahwa mereka sendiri, karena kebutuhan akan adanya makhluk yang lebih tinggi, hanya memusnahkan yang lama untuk memberi ruang bagi yang baru. Bukankah “umat manusia” adalah hakikat yang lebih tinggi daripada manusia individual, dan bukankah seharusnya, kebenaran, hak dan ide-ide yang muncul dari konsep itu seharusnya dianggap sebagai wahyu dari konsep ini dan dianggap sakral? Karena jika seseorang sekali lagi menghapuskan beberapa kebenaran yang tampaknya dimanifestasikan oleh konsep ini, hal ini hanya akan membuktikan adanya kesalahpahaman di pihak kita, tanpa sedikit pun merusak konsep sakral itu sendiri atau mengambil kesakralannya dari kebenaran yang harus dilihat sebagai wahyu yang sama. Manusia melampaui setiap individu manusia, dan meskipun itu “hakikatnya;” hal itu sebenarnya bukan hakikatnya, yang sebaliknya akan seunik dia, individu yang membantu, tetapi lebih universal dan “lebih tinggi;” memang, bagi para ateis, “hakikat tertinggi.” Dan, karena wahyu ilahi tidak ditulis oleh Tuhan dengan tangannya sendiri, namun dipublikasikan melalui “alat-alat Tuhan,” demikian juga hakikat tertinggi yang baru tidak menuliskan wahyu-wahyu itu sendiri, tetapi membiarkan mereka sampai pada pengetahuan kita melalui “manusia-manusia sejati.” Sebenarnya hakikat yang baru mengkhianati dirinya sebagai konsepsi rohaniah yang lebih rohaniah daripada Tuhan yang lama, karena yang terakhir masih terwakili dalam semacam tubuh atau bentuk, sementara kerohaniahan yang tak terbantahkan dari yang baru dipertahankan, tetapi tidak ada tubuh materi yang

“Makhluk tertinggi,” dalam bahasa asli Prancis.

khusus yang tertarik untuk itu. Dan lagipula hal itu tidak kekurangan sesuatu untuk penubuhan, yang bahkan mengambil penampilan yang lebih menggoda karena terlihat lebih alami dan biasa-biasa saja dan tidak ada yang kurang dari pada setiap tubuh manusia -ya, atau langsung pada “kemanusiaan” atau “semua umat manusia.” Dengan demikian kehantuan roh dalam tubuh yang tampak, sekali lagi menjadi sangat solid dan populer. Jadi hakikat yang tertinggi itu mulia, bersamaan dengan apapun yang mana hakikat tertinggi ini terungkap atau mengungkapkan dirinya; tapi siapapun yang mengenali hakikat tertinggi ini dengan dirinya, misalnya dengan pengungkapan dirinya, terkuduskan. Yang suci pada akhirnya menyucikan penyembahnya, yang melalui persembahannya menjadikan dirinya suci, sebagaimana yang dia lakukan adalah hal yang suci, perubahan yang suci, pikiran dan tindakan yang suci, tulisan dan cita-cita, dsb. Konflik tentang apakah yang disembah sebagai hakikat tertinggi hanya dapat dipahami sebagai yang bermakna, selama lawan yang paling pahit saling mengakui titik utama, bahwa ada hakikat tertinggi yang harus dipenuhi dalam ibadah atau pelayanan. Jika seseorang harus tersenyum penuh kasih untuk seluruh perjuangan atas hakikat yang tertinggi, sebagai seorang Kristen, yang mungkin melakukan perang kata-kata antara orang Syiah dan Sunni atau antara seorang Brahmana dan seorang Buddhis, maka hipotesis hakikat yang tertinggi akan menjadi nol di matanya, dan konflik atas dasar hal ini merupakan permainan yang sia-sia. Entah itu satu Tuhan atau tritunggal, entah itu Tuhannya Lutheran atau étre suprême, atau bukan Tuhan sama sekali melainkan “umat manusia”, hal tersebut mungkin saja menandakan hakikat tertinggi, ini tidak ada bedanya sama sekali bagi orang yang menyangkal hakikat tertinggi itu sendiri, karena di matanya para pelayan dari hakikat tertinggi semuanya adalah orang-orang yang saleh, ateis yang paling keras kepala yang tidak ubahnya seperti

seorang Kristen yang paling taat. Di tempat yang paling suci, terdapat hakikat tertinggi dan iman dalam hakikat ini, iman “suci kita.”

Spook

Melalui hantu kita akhirnya tiba di dunia roh, pada dunia hakikat. Apa yang menghantui alam semesta, dan menciptakan hakikat “tak terbayangkan” yang misterius itu, adalah benar-benar hantu batin yang kita sebut sebagai hakikat tertinggi. Dan untuk sampai ke dasar spook ini, untuk memahaminya, dan menemukan kenyataan di dalamnya (untuk membuktikan “keberadaan Tuhan”) –ini adalah tugas yang manusia tetapkan untuk diri mereka sendiri selama ribuan tahun; dengan kemustahilan yang mengerikan, kerja Danaid tiada henti, 23 untuk mengubah hantu menjadi non- hantu, yang tidak nyata menjadi sesuatu yang nyata, mengubah roh menjadi suatu pribadi dan jasmani yang utuh –dengan ini mereka menyiksa diri mereka sampai mati. Di balik dunia yang ada mereka mencari “suatu hal dalam dirinya sendiri,” hakikatnya; di balik suatu hal mereka mencari hal yang tidak biasa, yang absurd. 24

Ketika seseorang melihat ke dasar suatu hal, yaitu mencari hakikat-nya, orang sering menemukan sesuatu yang berbeda dari yang tampak; ucapan yang manis dan hati yang bohong, kata-kata yang sombong dan pikiran yang bodoh dan sebagainya. Dengan memperbesar suatu

23 Merujuk pada putri Raja Danaus dalam mitologi Yunani Kuno, yang dihukum di alam baka untuk harus menimba air sumur dengan ember yang bolong untuk selamanya. Dalam bahasa Jerman, ada permainan kata-kata dalam Ding (benda) dan Unding (absurditas) -Wolfi.

hakikat, seseorang telah merendahkan suatu fenomena²⁵ yang sebelumnya telah salah dinilai, menjadi sebuah tampilan belaka, hingga sebuah penipuan. Hakikat dunia, yang sangat menarik dan indah, ada bagi dia yang dapat melihat ke dasarnya -kekosongan; kekosongan adalah hakikat dunia (kegiatan dunia). Sekarang, seorang yang religius tidak dapat menguasai dirinya dengan tampilan yang menipu, tidak dengan fenomena yang kosong, tapi dengan melihat hakikat, dan di dalam hakikatnya terdapat kebenaran. Hakikat yang muncul dari beberapa fenomena adalah hakikat yang jahat, dan sebaliknya dari orang lain adalah yang baik. Hakikat perasaan manusia misalnya adalah cinta; hakikat kehendak manusia adalah kebaikan; hakikat dari pemikiran seseorang adalah kebenaran, dan lainnya. Apa yang pertama kali diambil untuk suatu keberadaan, misalnya dunia dan semacamnya, sekarang tampak mirip tampilannya, dan keberadaan yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada hakikat yang wilayahnya penuh dengan dewa, roh, setan, dengan hakikat yang baik atau buruk. Hanya dunia yang terbalik ini, dunianya hakikat, yang benar-benar ada sekarang. Jantung manusia mungkin tanpa cinta, tapi intinya ada Tuhan “yang mencintai”; pikiran manusia mungkin berkelana karena kesalahan, tapi di inti kebenaran ada “Tuhan adalah kebenaran,” dan semacamnya. Untuk mengetahui dan mengakui hanya hakikat dan tidak lain daripada hakikat, itulah agama; wilayahnya adalah bidang terkait hakikat, roh, dan hantu. Kehendak untuk membuat spook menjadi nyata, atau untuk mewujudkan yang tidak masuk akal, telah membawa hantu jasmaniah, hantu atau roh dengan tubuh sungguhan, hantu yang diwujudkan. Bagaimana orang Kristen terkuat dan paling berbakat telah mengorbankan diri mereka untuk

Di sini Stirner memainkan kata “Erscheinung” (fenomena) dan “Schein” (tampakan atau tampilan) –Wolfi.

mendapatkan konsepsi tentang penampakan hantu ini! Tapi selalu ada kontradiksi dua kodrat, yang ilahi dan manusia, yang remang dan yang inderawi; tetap ada spook yang paling menakjubkan, sesuatu yang sebenarnya bukanlah apapun, yang absurd. Belum pernah ada hantu yang lebih banyak menyiksa jiwa, dan tidak ada dukun, yang mendorong dirinya sendiri pada amukan dan siksaan saraf untuk menghalau hantu, yang dapat menanggung siksaan jiwa orang-orang Kristen karena menderita akibat hantu yang paling tak dapat dipahami itu. Pada saat yang sama, hanya melalui Kristus kebenaran dari hal itu telah terungkap, bahwa roh atau hantu yang sebenarnya adalah manusia. Roh yang diwujudkan atau bertubuh penuh hanyalah manusia; dia sendiri adalah hakikat yang menakutkan dan pada saat yang sama merupakan tampakan dari hakikat dan keberadaan atau kehadiran. 26 Mulai sekarang manusia tak lagi merinding pada hantu di luar dirinya tapi pada dirinya sendiri; dia takut pada dirinya sendiri. Di kedalaman dadanya tinggal roh dosa; bahkan pikiran samar-samar (dan ini adalah roh, kamu tahu) mungkin adalah setan. Hantu telah mengenakan tubuh, Tuhan telah menjadi manusia, tapi sekarang manusia itu sendiri adalah hantu mengerikan yang ia ingin dapatkan kembali, untuk mengusir, memahami, membawa pada kenyataan dan mengamanatkan: manusia adalah –roh. Biarkan saja tubuh layu, asalkan roh terselamatkan, semuanya bersandar pada roh, dan kesejahteraan jiwa atau tujuan eksklusif “jiwa”. Manusia telah menjadi hantu bagi dirinya sendiri, sebuah hantu yang luar biasa, yang bahkan ada tempat duduk yang berbeda di dalam tubuh (meskipun ada perselisihan atas kursi suatu jiwa, entah di kepala, dll). Kamu bukan padaku, dan aku bukan padamu, hakikat yang lebih tinggi. Meskipun demikian, hakikat yang lebih tinggi mungkin terjebak dalam diri kita masing-masing, dan

“Dasein.”

menimbulkan rasa saling menghormati. Untuk segera mengambil contoh yang paling umum, manusia hidup di dalam dirimu dan diriku. Tapi jika aku tidak melihat manusia di dalam dirimu, untuk apa aku harus menghormatimu? Yang pasti, kamu bukan manusia dalam sosoknya yang benar dan cocok, tetapi cuma kulit yang fana miliknya, roh, yang darinya ia dapat menarik diri tanpa berakhir; tetapi masih untuk saat ini, hakikat umum dan yang lebih tinggi ini tetap ada di dalam dirimu, dan, karena roh yang tidak dapat binasa telah mengambil tubuh yang fana di dalam dirimu, sehingga sosokmu sebenarnya hanyalah sesuatu “yang dianggap,” kamu membawa ke pikiranku roh yang muncul, yang muncul di dalam dirimu, tanpa terikat pada tubuhmu dan dengan mode penampilan khusus ini, sebuah hantu. Inilah mengapa aku tidak memandangmu sebagai hakikat yang lebih tinggi, tetapi lebih kepada hanya menghargai makhluk yang lebih tinggi yang “menghantui” dirimu; aku “menghormati manusia di dalam dirimu.” Orang-orang kuno mengabaikan hal semacam itu dalam diri budak mereka, dan hakikat yang lebih tinggi, “manusia;” masih menemukan sedikit tanggapan. Sebagai gantinya mereka melihat satu sama lain hantu dari jenis yang berbeda. Rakyat²⁷ adalah hakikat yang lebih tinggi daripada seorang individu, dan, seperti manusia atau roh manusia, ia adalah roh yang menghantui individu: roh rakyat. Oleh karena itu, mereka menghormati roh ini, dan sejauh ia melayani hal ini, atau roh yang terkait dengannya, seperti roh keluarga, dengan demikian dapatlah seseorang tampil signifikan; hanya demi hakikat yang lebih tinggi, yaitu rakyat, adalah pertimbangan yang diizinkan untuk “anggota rakyat.” Seperti yang kamu alami kepada kita oleh “manusia” yang menghantuimu, maka setiap kali manusia dikuduskan oleh beberapa hakikat yang lebih tinggi atau lainnya, seperti rakyat, keluarga, dan seterusnya. Hanya demi hakikat yang lebih tinggi, siapa pun

Orang-orang dengan kebangsaan dan etnisitas spesifik.

pernah dihormati, hanya dianggap sebagai hantu bagi orang yang disucikan, yaitu, dilindungi dan mapan. Jika aku merangkul dan menghargaimu, karena aku memiliki cinta untukmu, karena hatiku menemukan makanan, dan kepuasan kebutuhanku, dalam dirimu, itu bukan demi hakikat yang lebih tinggi yang ada pada tubuh sucimu, jadi bukan karena aku melihat hantu, yaitu roh yang muncul dalam dirimu, tetapi karena kesenangan egoistik: kamu sendiri, dengan hakikat-mu, berharga bagiku, karena hakikatmu bukan yang lebih tinggi, tidak lebih tinggi dan lebih umum daripada dirimu; hal itu unik seperti kamu sendiri, karena itu adalah dirimu. Tetapi bukan hanya manusia, yang “menghantui,” tetapi segalanya. Hakikat yang lebih tinggi, roh, yang menghantui segalanya, pada saat yang sama terikat pada ketiadaan, dan hanya –“muncul” di dalamnya. Hantu ada di tiap sudut! Di sinilah tempat untuk membiarkan roh-roh yang menghantui melintas, jika mereka tidak harus keluar lebih jauh untuk menghilang dengan adanya egoisme. Karena itu, mari kita berikan hanya beberapa contoh penting dari mereka, agar dapat segera mengarah ke sikap kita terhadap mereka. Misalnya, di atas segalanya, “Roh Kudus” itu suci, kebenaran itu suci; benar, hukum, tujuan baik, keagungan, perkawinan, kebaikan bersama, ketertiban, tanah air, dll, dll., adalah suci.

Kelelawar-Kelelawar di Lonceng Gereja

Kawanku, kepalamu dihantui; ada kelelawar-kelelawar di dalam lonceng gerejamu! 28 Kamu membayangkan hal

“Du hast einen Sparren zu viel!” kalau secara harfiah diterjemahkan menjadi “kamu punya terlalu banyak kasau!", tetapi itu adalah kiasan Jerman yang berarti kamu gila. Byington

yang luar biasa, dan melukis ke dirimu sendiri suatu dunia yang penuh dengan dewa-dewa yang memiliki eksistensinya untukmu, dunia roh yang mana kamu pikir dirimu terpanggil, yang ideal yang telah mengisyaratkan dirimu. Kamu punya ide yang telah baku! Jangan pernah berpikir kalau aku sedang bercanda atau berbicara dengan perumpamaan, ketika aku menganggap orang-orang yang berpegang teguh pada sesuatu yang lebih tinggi sebagai orang yang benar-benar gila, termasuk sebagian besar, hampir keseluruhan dunia manusia, orang-orang gila di rumah sakit jiwa. Lalu, apa yang dimaksud dengan “ide yang baku”? Sebuah ide yang membuat orang tunduk pada dirinya sendiri. Ketika kamu mengenali ide baku seperti itu sebagai sesuatu yang bodoh, kamu mengunci budaknya di rumah sakit jiwa. Dan kebenaran iman, yang tidak perlu diragukan; keagungan rakyat, yang tidak boleh dipertanyakan (siapa pun yang melakukannya berarti berkhianat atas takhta raja); kebajikan, di mana sensor tak memper-bolehkan sepatah kata pun berlalu, sehingga moralitas akan tetap murni; bukankah ini adalah “ide yang baku”? Bukankah semua obrolan bodoh, misalnya, yang diocehkan oleh sebagian besar surat kabar kita, yang menderita ide-ide baku tentang moralitas, legalitas, kekristenan, dll., dan hanya tampak berjalan bebas karena rumah sakit jiwa di mana mereka keluyuran meliputi ruang yang begitu luas? Jika kamu menyentuh ide baku orang-orang gila, kamu harus pula menjaga punggungmu secepat mungkin melawan pengkhianatan orang gila itu. Dalam hal ini juga, orang gila

memilih untuk menerjemahkannya: “Kamu memiliki roda di kepalamu!”, tetapi saya tidak dapat menemukan bukti apapun untuk menunjukan bahwa ungkapan ini tepat, jadi saya telah memilih untuk menerjemahkannya: “kamu memiliki kelelawar- kelelawar di lonceng gerejamu!", seperti ungkapan Jerman yang menyiratkan untuk memiliki hal-hal yang tidak perlu dan berlebihan di dalam kepalamu -Wolfi.

yang hebat ini sama seperti orang gila yang disebut, dalam hal yang demikian mereka menyerang siapa saja yang menyentuh ide baku mereka. Pertama-tama mereka mencuri senjatanya, mencuri kebebasan berbicara darinya, dan kemudian mereka menumbangkannya dengan kuku mereka. Saat ini setiap hari terungkap kepengecutan dan pembalasan dendam orang-orang gila ini, dan penduduk yang bodoh bersorak atas tindakan besar mereka. Kita hanya perlu membaca koran harian pada masa ini, dan mendengar orang-orang Filistin berbicara, untuk mendapatkan keyakinan yang mengerikan bahwa seseorang dikurung di rumah orang bodoh. “Kamu tidak boleh menyebut saudaramu bodoh, jika kamu lakukan,
dll....”
29 Tapi aku tidak takut dengan kutukan, dan aku mengatakan bahwa saudara-saudaraku bodoh. Entah orang bodoh yang malang di rumah sakit yang kerasukan dengan khayalan bahwa ia adalah Allah Bapa, Kaisar Jepang, Roh Kudus, dll., atau entah seorang borjuis yang nyaman yang membayangkan bahwa sudah jadi tujuannya untuk menjadi seorang Kristen yang baik, seorang Protestan yang setia, warga negara yang loyal, orang yang berbudi luhur, dll. – dalam kedua kasus ini, ini adalah satu “ide baku” yang sama. Siapa pun yang tidak mau berusaha dan berani untuk tidak menjadi orang Kristen yang baik, seorang Protestan yang setia, orang yang saleh, dll., dipenjara dan dijerat dengan iman, kebajikan, dll. Sama seperti para skolastik yang hanya berfilsafat dalam iman Gereja; sama seperti Paus Benediktus XIV menulis buku-buku tebal besar dalam takhayul kepausan, tanpa pernah mempertanyakan kepercayaan ini;

29 Matius 5:22. Dalam Alkitab berbahasa Indonesia: “Akan tetapi, Aku mengatakan kepadamu bahwa siapa pun yang marah kepada saudaranya pantas berada dalam hukuman, dan siapa pun yang berkata kepada saudaranya, ‘Kamu tolol,’ pantas berada di hadapan Mahkamah Agama, dan siapa pun yang berkata, ‘Kamu bodoh,’ pantas berada dalam api neraka.” Ada beberapa versi lain, misalnya “jahil”, “kafir”, atau “gila”.

seperti halnya penulis mengisi seluruh jilid tentang negara tanpa mempertanyakan gagasan tetap tentang negara itu sendiri; sama seperti koran kita yang dipenuhi politik karena terkhayalkan sedemikian rupa bahwa manusia diciptakan sebagai zoon politicon, * –demikianlah seseorang kemudian tumbuh dalam penundukan, orang-orang saleh dalam kebaikan, kaum liberal dalam kemanusiaan, tanpa pernah mencari pisau kritik pada ide-ide baku mereka yang tidak terhindarkan ini. Tak tergoyahkan, 30 seperti khayalan orang gila, pikiran-pikiran itu berdiri di atas pijakan yang kokoh, dan siapapun yang meragukannya –berarti menyerang yang sakral! Ya “gagasan tetap”; itulah yang benar-benar suci! Apakah kita hanya pernah bertemu orang-orang yang kerasukan setan, atau apakah kita sering sebagaimana bertemu dengan orang-orang yang kerasukan oleh yang berseberangan, dirasuki kebaikan, kebajikan, oleh moralitas, oleh hukum, atau oleh “asas” lainnya? Kerasukan iblis bukanlah satu-satunya. Tuhan bertindak di dalam kita, demikian pula iblis; yang pertama “tindakan anugerah;” yang kedua “tindakan iblis.” Orang-orang yang kerasukan³¹ telah diatur pendapatnya. Baik, kalau istilah “kesurupan” membuatmu risih, maka kita sebut saja sebagai berburuk sangka; ya, karena roh memilikimu dan semua “inspirasi” datang darinya, sebut saja –pemuliaan dan antusiasme. Aku tambahkan antusiasme yang lengkap itu –karena kita tidak bisa berhenti pada jalan yang setengah-setengah, yang lamban– yang disebut sebagai fanatisme. Fanatisme ada persis di rumah orang-orang yang sopan; karena manusia telah dididik hingga ia menaruh

  • Zoon politicon, atau “binatang politik,” konsep yang diambil dari Aristoteles. “Unverrűckbar” juga dapat diterjemahkan sebagai “mutlak,” hal yang signifikan dalam terang kritik Stirner berkembang. Stirner melakukan permainan kata di sini dalam “Besessene” (kerasukan) dan “versessen” (diatur).

perhatian pada hal-hal yang rohaniah, dan kepentingan pada hal-hal yang rohaniah ketika masih hidup, itu artinya fanatisme. Inilah kepentingan fanatik terhadap yang suci (fanum). 32 Amati saja orang-orang liberal itu, lihat Die Sächsischen Vläzterlandsbldtter, dengarkan apa yang ditulis oleh Schlosser:

Perkumpulan Holbach menetapkan plot reguler melawan doktrin tradisional dan sistem yang ada, dan anggotanya sama fanatiknya dengan biarawan dan pendeta, Jesuit dan Pietis, Metodis, misionaris dan perhimpunan Alkitab yang umumnya diperuntukkan bagi ibadah ortodoks dan mekanis. 33

Perhatikanlah bagaimana manusia yang bermoral berperilaku, yang saat ini kerap dipandang telah selesai dengan perkara Tuhan dan membuang jauh-jauh kekristenan untuk hal yang baru. Jika kamu bertanya kepadanya pernahkah ia meragukan bahwa persetubuhan saudara laki-laki dan perempuan adalah inses, atau monogami adalah kebenaran pernikahan, atau bahwa berbakti adalah tugas yang suci, maka sebuah getaran moral akan menimpanya ketika ia menerima ide bahwa seseorang boleh untuk menyentuh adiknya seperti menyentuh istrinya sendiri. Dan bagaimana mungkin ia merinding? Hal itu menjadi mungkin karena ia percaya pada perintah moral tersebut. Iman moral ini berakar kuat di dadanya. Sama seperti dia mengamuk melawan orang-orang Kristen yang saleh, dirinya sendiri sebenarnya tetap menjadi seorang Kristen –dengan kecerdasan moral seorang Kristen. Dalam

32 Istilah Latin untuk kuil atau tempat yang dikuduskan pada dewa. Friedrich Christoph Schlosser, History of the Eighteenth Century and of the Nineteenth Century Till the Overthrow of the French Empire, volume II (Heidelberg, 1837).

bentuk moralitas, Kristen menjadikannya sebagai tahanan, seorang tahanan di bawah iman. Monogami menjadi sesuatu yang sakral, dan siapapun yang memutuskan untuk melakukan bigami dihukum layaknya seorang penjahat; siapapun yang melakukan inses merasakan penderitaan layaknya penjahat. Mereka yang merengek-rengek bahwa agama tidak boleh terlibat dalam bidang politik, dan bahwa orang Yahudi harus menjadi warga negara yang setara dengan orang Kristen menunjukkan bahwa mereka setuju dengan ini. Bukankah pandangan inses dan monogami ini adalah dogma? Coba saja sentuh, dan kamu akan lihat bagaimana manusia bermoral ini adalah pahlawan iman juga, mirip seperti Friedrich Wilhelm Krummacher, mirip Raja Philip II. 34 Perjuangan untuk iman Gereja ini, untuk keyakinannya pada negara, atau hukum moral negara; untuk pasal-pasal iman, keduanya mengutuk siapapun yang bertindak tidak sesuai dengan yang iman izinkan pada mereka. Stigma “kejahatan” dicap padanya, dan ia mungkin merana di rumah-rumah perbaikan, di penjara. Iman moral sama fanatiknya dengan iman religius! Mereka menyebutnya sebagai “kebebasan kepercayaan”, yaitu saat saudara laki-laki dan perempuan dilemparkan ke dalam penjara karena hubungan yang telah mereka tetapkan dengan “hati nurani mereka” sendiri. “Tapi mereka memberi contoh yang buruk.” Ya, tentu saja: orang lain mungkin telah mengambil keputusan bahwa negara tidak boleh ikut mencampuri hubungan mereka, dan dari sinilah “kemurnian moral” akan hancur. Jadi pahlawan iman yang religius

34 Keduanya mewakili kontroversi ortodoksi agama Kristen, yang pertama adalah seorang pastur reformasi Jerman, yang walaupun menjadi Menteri Gereja Reformasi, ia adalah seorang advokat Lutheranisme tua yang bersemangat. Sementara satunya lagi adalah Raja Spanyol (1556-1598), yang bersama Paus Sixtus V menjadi pemimpin penting dalam Perang Agama Prancis (1562-1598) antara Katolik Prancis dan Protestan (Huguenots).

sangat giat untuk “Tuhan yang kudus,” untuk “kebaikan suci” yang bermoral. Orang yang fanatik pada beberapa hal sakral kerap terlihat mirip sekali satu sama lain. Betapa orang-orang ortodoks yang taat dan bergaya lama berbeda dari pejuang “kebenaran, terang, dan keadilan,” para Filalet, Friends of Light, kaum Rasionalis, dan lain-lain. 35 Tapi, perbedaan tersebut tidak ada artinya! Jika seseorang mempertanyakan sebuah kebenaran tradisional (misalnya keajaiban kekuatan absolut seorang pangeran), maka para rasionalis turut mempertanyakannya, dan hanya orang-orang taat bergaya lama saja yang meraung. Tapi siapapun yang mempertanyakan kebenaran itu sendiri, ia akan langsung mendapatkan kedua orang yang percaya itu sebagai musuhnya. Dengan moralitas: orang-orang taat berpegang teguh tanpa henti, sementara yang berkepala jernih sedikit lebih toleran. Tapi orang yang menyerang moralitas harus menangani keduanya, yaitu orang yang taat dan yang agak toleran, karena “kebenaran, moralitas, keadilan, terang, dan lain-lain” bagi mereka harus tetap “sakral.” Apa yang orang temukan saat mengkritik agama Kristen, menjadi “tidak kristiani” menurut pandangan para rasionalis ini; kekristenan harus tetap mempertahankan pilarnya, dan yang mempertanyakannya berarti sudah keterlaluan, “sebuah penghinaan.” Yang pasti, para bidah yang melawan iman yang murni seperti dulu, tak lagi menghadapi kemarahan yang menyiksa, tapi sekarang makin banyak bidah yang berjatuhan karena melawan moral yang murni. Selama berabad-abad, orang saleh telah menerima begitu banyak serangan, dan karena terlalu sering mendengar hakikat manusia supernya dicerca karena dianggap “tidak manusiawi”, orang-orang tidak lagi merasa tergoda untuk menarik pedang melawannya. Demikian kerap hanya ada satu-satunya musuh moral yang muncul ke

Tiga istilah ini merujuk pada gerakan Kristen modern yang lebih “progresif” dan “rasional” pada masa Stirner –Wolfi.

arena untuk bersaing menjadi hakikat yang tertinggi, yaitu – hakikat tertinggi lainnya. Jadi, Proudhon dengan tak tahu malu mengatakan: “Manusia ditakdirkan untuk hidup tanpa agama, namun hukum moral (la loi morale) itu abadi dan mutlak. Siapa yang hari ini berani menyerang moralitas?” 36

Para moralis menyendok lemak terbaik dari agama, memakannya sendiri, dan sekarang melewati masa sulit untuk menyingkirkan scrofula (penyakit kelenjar –penj) yang diakibatkannya. Jika kita menunjuk bahwa agama sama sekali tidak terluka di bagian terdalamnya asalkan orang mencelanya hanya dengan hakikat manusia supernya, dan hal itu pada akhirnya menarik “roh” itu sendiri (karena Tuhan adalah roh), maka kita telah cukup menunjukkan kesepakatan akhir dengan moralitas, dan dapat meninggalkan konflik membandel dengan roh yang berada di belakang kita. Ini adalah pertanyaan tentang hakikat tertinggi bagi keduanya, dan entah ini adalah masalah manusia atau manusia super tak ada artinya bagiku, karena bagaimanapun juga hakikatnya ada pada diriku, atau boleh disebut, aku kuasai. Pada akhirnya sikap hakikat manusia atau “kemanusiaan;” begitu telah mengupas kulit ular dari agama lama, akan kembali mengenakan kulit ular yang religius. Jadi Feuerbach memerintahkan pada kita bahwa, “jika seseorang hanya memutarbalikkan filsafat spekulatif, yaitu selalu membuat predikat subjek, dan membuat subjek menjadi objek dan prinsip, seseorang tanpa tedeng aling- aling akan memiliki kebenaran, yang murni dan bersih.” 37

Dalam hal ini tentu saja kita kehilangan sudut pandang religius yang sempit, kita kehilangan Tuhan yang dari mana

36 Pierre-Joseph Proudhon, The Creation of Order in Humanity or Principles of Political Organization (Paris, 1843), hlm 36. Ludwig Feuerbach, “Preliminary Theses for the Reformation of Philosophy,” dalam Arnold Ruge (peny), Anekdota zur neuesten deutschen Philosophie und Publizistik, volume II (Zurich, 1843), hlm 64.

subjek tersebut berasal; tapi kita hanya menukarnya dengan sisi lain dari sudut pandang religius, yaitu sudut pandang moral. Sebagai contoh, kita tidak lagi mengatakan “Tuhan itu cinta,” tapi “cinta itu ilahi.” Kalau kemudian kita mengganti predikat “ilahi” dengan “sakral” yang sinonim, ujung-ujungnya semua perkara lama kembali lagi. Menurut sudut pandang moral, cinta menjadi sesuatu yang baik dalam diri manusia, inilah keilahiannya, yang membuatnya terhormat, inilah kemanusiaan sejatinya (yang “membuatnya menjadi manusia untuk pertama kalinya,” yang untuk pertama kalinya seorang manusia sungguh keluar darinya). Jadi, dapat dikatakan bahwa cinta adalah apa yang manusia pada manusia, dan apapun yang tidak manusiawi berarti egois tanpa rasa cinta (loveless egoist). Tapi apapun yang kekristenan dan juga filsafat spekulatif itu (yakni teologi) tawarkan sebagai kebaikan yang mutlak, adalah kepemilikan diri, sederhananya bukan hal yang baik (atau untuk mengatakan hal yang sama, hanya yang baik). Akibatnya, dengan transformasi predikat ke dalam subjek, hakikat Kristen (itu adalah predikat yang mengandung hakikat) jadi tidak kalah menindas. Tuhan dan yang ilahi akan menjalin hubungan yang lebih erat denganku. Mengusir Tuhan dari surga dan merampok “transendensi”- nya saja belum cukup untuk menyokong klaim kemenangan penuh, jika hal ini hanya diburu ke dalam dada manusia dan diberkahi dengan imanensi yang tetap. Sekarang mereka berkata: “Yang ilahi sesungguhnya adalah yang benar-benar manusia!” Orang yang sama yang menentang kekristenan sebagai basis negara, yang menentang negara Kristen misal, tanpa kenal lelah berkali-kali menyatakan bahwa moralitas adalah “pilar fundamental kehidupan sosial dan negara.” Seolah-olah kekuasaan moralitas tidak sepenuhnya berkuasanya yang sakral, sebuah “hierarki.” Jadi, setelah sekian lama para teolog bersikeras bahwa hanya iman saja yang mampu menangkap kebenaran

agama, bahwa Tuhan hanya terungkap bagi orang yang percaya, dan karena itu hanya hati, perasaan, imajinasi yang beriman itu saja yang religius, mereka meledak mende-ngar pernyataan bahwa “pemahaman alami,” nalar manusia, ternyata juga bisa mengenali Tuhan. Apa lagi artinya kecuali nalar itu mengklaim bahwa mereka mirip seperti pemimpi sebagai imajinasi? 38 Dalam pengertian inilah Reimarus menulis Noblest Truths of Natural Religion. 39 Seluruh umat manusia dengan semua kemampuannya telah menjadi religius; hati dan jiwa, akal dan pemahaman, perasaan, pengetahuan, dan kehendaknya –sederhananya, segala sesuatu dalam diri manusia tampak religius. Hegel telah memperlihatkan bahwa bahkan filsafat pun religius. Dan apa yang hari ini tidak disebut sebagai agama? “Agama cinta,” “agama kebebasan,” “agama politik”; singkatnya, setiap antusiasme. Dengan demikian hal itu juga. Sampai hari ini kita menggunakan kata Latin “agama,” yang mengungkapkan konsep tentang kondisi terikat (bondage). Yang pasti, kita tetap terikat selama agama menguasai bagian dalam batin kita; tapi apakah pikiran juga terikat? Sebaliknya, ia bebas, ia adalah satu-satunya tuan, tapi bukan pikiran kita, melainkan yang mutlak. Oleh karena itu terjemahan afirmatif yang tepat dari kata agama adalah “kebebasan spiritual!” Siapapun yang pikirannnya bebas, dengan cara yang sama dia jadi religius seperti manusia inderawi yang inderanya memiliki kendali yang bebas. Pikiran mengikat yang pertama, menginginkan yang terakhir. Agama oleh karena itu adalah kekangan atau religio yang mengacu padaku: aku terikat; kebebasan yang mengacu pada pikiran berarti pikiran atau rohku yang

38 Dalam versi Wolfi: a dreamer as the imagination, dalam versi Byington: visionary as the fancy, dalam versi asli: dieselbe Phantastin wie die Phantasie-penj. Herman Samuel Reimarus adalah seorang filsuf Jerman, seorang deis dan sarjana Ibrani yang menolak keajaiban dan wahyu.

bebas, atau memiliki kebebasan berpikir. Banyak yang mengalaminya tahu betapa kita akan kesulitan saat hasrat menjadi bebas tak terkendali melewati kita. Tapi pikiran yang bebas itu, intelektualitas/spiritualitas yang mulia, antusiasme untuk pencapaian intelektual, atau entah bagaimana pun kita menyebut sesuatu yang berharga layaknya permata ini, ia hanya membuat kita lebih macet lagi daripada perilaku aneh paling liar. Orang-orang juga tidak ingin memperhatikan ini; mereka juga tidak dapat melihatnya tanpa sadar telah menjadi egois. Reimarus, dan banyak lagi yang lain telah menunjukkan bahwa nalar kita, hati kita, dan sebagainya, juga mengarah kepada Tuhan. Artinya, kita terus menerus kerasukan. Yang pasti mereka telah menjengkelkan para teolog karena telah merebut hak istimewa pemuliaan agama mereka yang agung. Tapi melalui ini, mereka berhasil menaklukkan lebih banyak lagi demi agama dan kebebasan spiritual. Karena saat pikiran tidak lagi terbatas pada perasaan atau keyakinan, tetapi juga masuk sebagai pemahaman, akal dan pemikiran pada umumnya, menjadi miliknya sendiri, yaitu roh, maka dengan demikian ia menjadi mungkin untuk mengambil tempat dalam kebenaran spiritual⁴⁰ dan surgawi dalam bentuk pemahaman, dan juga bentuk-bentuknya yang lain. Maka keseluruhan pikiran hanya memusatkan perhatian pada hal-hal yang rohaniah, dengan dirinya sendiri, dan karena itu bebas. Sekarang kita terlampau religius sehingga para hakim menghukum kita sampai mati, dan setiap polisi, sebagai seorang Kristen yang baik, membawa kita ke penjara dengan “sumpah jabatannya.” Moralitas hanya bisa bermusuhan dengan kesalehan dalam bentuk pemberontakan, saat gemuruh kebencian muncul pada apapun yang tampak seperti “perintah” (keputusan, petuah, dsb) dan “penguasa mutlak” atas diri

Kata yang sama dengan “intelektual”, seperti “pikiran” dan “roh” adalah kata sama dalam bahasa Jerman -Byington.

kita dicemooh dan dianiaya. Akibatnya kemerdekaan hanya bisa dicapai melalui liberalisme yang mana bentuk pertamanya memperoleh signifikansi dalam sejarah dunia sebagai “kewarganegaraan borjuis,” dan melemahkan kekuatan religius saat ini (lihat “Liberalisme” di bagian selanjutnya). Sebab, ketika moralitas tidak hanya berjalan berbarengan dengan kesalehan, tapi juga berdiri di atas kaki sendiri, maka prinsipnya tidak hanya terletak pada perintah yang ilahi, tapi juga berdasarkan hukum akal, yang mana yang pertama tadi jika ingin tetap berlaku maka pertama- tama ia harus menunggu otorisasi validitasnya. Dalam hukum akal, manusia menentukan dirinya sendiri, karena “manusia” itu rasional, dan hukum tersebut mengikuti kebutuhan dari “hakikat manusia”. Kesalehan dan moralitas menjadi satu kongsi dalam hal ini: kesalehan menciptakan Tuhan sementara moralitas menciptakan manusia, sang pembuat hukum. Dari sudut pandang moralitas tertentu, seseorang biasanya kira-kira berpendapat seperti ini: manusia diarahkan oleh keinderawiannya dan nanti ia jadi tidak bermoral, atau ia diarahkan oleh kebaikan, yang ketika berubah menjadi kehendak disebut sebagai kepastian moral (keyakinan dan keberpihakan bagi kebaikan); sehingga dia menunjukkan dirinya bermoral. Dari sudut pandang ini, sebagai contoh saja, apakah perbuatan Sand terhadap Kotzebue dapat disebut tidak bermoral? 41 Yang pasti, apa yang orang pahami sebagai tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri, biasanya merujuk pada (antara lain) perampokan yang dilakukan St. Crispin demi orang-orang miskin. 42 “Seharusnya dia tidak dibunuh, karena ada

41 Pada 1819, mahasiswa radikal Karl Ludwig Sand, membunuh August von Kotzebue, seorang penulis reaksioner yang vokal menyerang liberalisme. St. Crispin adalah santo pelindung Kristen bagi tukang sepatu, kurator, penyamak kulit, dan pekerja kulit. Dipenggal pada masa pemerintahan Diocletian pada tanggal 25 Oktober 285 atau 286.

tertulis: Jangan membunuh!” Jadi, melayani kebaikan seperti Sand kehendaki atau demi kesejahteraan orang miskin seperti Crispin lakukan itu bermoral; tapi pembunuhan dan pencurian adalah tidak bermoral; tujuannya bermoral, tapi caranya tidak bermoral. Kok bisa? “Karena pembunuhan adalah sesuatu yang sangat salah.” Ketika gerilyawan memancing pasukan negara musuh ke jurang dan menembak mereka dari semak-semak tanpa terlihat, bukankah itu pembunuhan? Berdasarkan prinsip moralitas yang menghendakimu melayani kebaikan, kamu hanya dapat bertanya apakah pembunuhan dalam keadaan apapun tidak dapat mewujudkan kebaikan, dan kamu harus menyetujui pembunuhan yang mewujudkan kebaikan tersebut. Kamu sama sekali tidak bisa mengutuk perbuatan Sand, karena hal itu bermoral. Hal itu bermoral karena dilakukan demi pelayanan bagi sesuatu yang baik, karena tidak egois. Itu adalah hukuman yang dilakukan oleh perorangan, eksekusi yang dilakukan dengan risiko kehidupannya sendiri. Pada akhirnya, apa lagi yang dilakukan Sand jika bukan memberangus tulisan-tulisan dengan kekerasan? Tidakkah kamu familiar dengan prosedur “legal” yang sama dan yang disetujui? Dan prinsip moralitas apa yang bisa kamu bantah untuk menentangnya? –“Tapi... tapi ini adalah eksekusi ilegal.” Jadi, hal yang tidak bermoral ini cuma masalah karena dia tidak sah, ilegal, karena tidak sesuai hukum? Jadi kamu mengakui bahwa kebaikan itu tiada lain adalah hukum, moralitas tidak lain adalah kesetiaan. Moralitasmu harus tenggelam pula ke eksternalitas “kesetiaan” ini, ke dalam karya suci dalam penggenapan hukum Taurat ini, hanya saja yang terakhir ini lebih tiranik dan juga lebih memberontak daripada karya suci zaman dulu. Karena hal ini hanya mememerlukan tindakan, tapi kamu juga memerlukan sikap; seseorang tinggal membawa hukum dan undang-undang dalam dirinya, dan siapapun yang berpikiran paling legal adalah yang paling bermoral. Bahkan sisa terakhir keceriaan dalam

kehidupan Katolik harus binasa dalam legalitas Protestan ini. Akhirnya kuasa hukum ini, untuk pertama kalinya, selesai. “Bukan hidupku, tapi hukum yang hidup dalam diriku.” Jadi, sudah capek-capek aku datang sejauh ini hanya untuk menjadi “bejana (hukum) kemuliaannya.” “Setiap orang Prusia membawa gendarmerie⁴³ di dadanya,” ujar perwira Prusia berpangkat tinggi. Mengapa gerakan oposisi tertentu yang menentangnya gagal berkembang? Mereka gagal berkembang hanya karena mereka menolak meninggalkan jalan moralitas atau legalitas. Jadi, kemunafikan tiada akhir dari pengabdian, cinta, dan yang lainnya itu, dari kebodohan yang seseorang bisa tak tanggung-tanggung merasa jijik pada hubungan “oposisi legal” yang munafik dan busuk ini. Dalam hubungan moral dari cinta dan kesetiaan, suatu kehendak tidak dapat berlangsung jika ia terbagi dua atau saling bertentangan; relasi yang elok terganggu jika yang satu menghendaki ini dan yang lain justru sebaliknya. Tapi sekarang, menurut praktik yang bertahan sampai saat ini dan prasangka buruk para oposisi, relasi moral harus dipertahankan di atas segala-galanya. Apa yang kemudian tersisa bagi para penentang? Oh, mungkin ini, kehendak untuk memiliki kebebasan jika yang terkasih memutuskan untuk menolaknya? Tidak, tidak sedikitpun! Pasti hal tersebut tidak ingin untuk memiliki kebebasan, ia hanya bisa berharap, dan mengajukan permohonan lalu berkomat- kamit “please, please!” Apa yang akan muncul jika oposisi benar-benar berkehendak, berkehendak dengan energi penuh dari kehendak? Tidak, ia harus mengorbankan kehendak untuk hidup dengan cinta, mengorbankan kebebasan -demi moralitas cinta. Tidak boleh hal itu “mengklaim sebagai sebuah hak” atas apa yang hanya boleh untuk “diminta sebagai bantuan.” Cinta, pengabdian, dan lain-lain, menuntut dengan kepastian tak terhindarkan

Gendarmarie adalah semacam polisi pada abad pertengahan hingga awal masa modern di beberapa wilayah Eropa.

bahwa hanya ada satu kehendak yang dimiliki orang lain, yang mereka layani, ikuti, cintai. Apakah ini akan dianggap masuk akal atau tidak, dalam kedua kasus seseorang bertindak secara moral saat seseorang mengikutinya, dan jadi tak bermoral ketika seseorang melepaskan diri darinya. Sebuah keinginan yang memerintahkan penyensoran itu tampaknya tidak masuk akal; tapi siapa yang di ranah penyensoran menghindari bukunya tersensor maka ia bertindak tidak bermoral, dan siapa yang menyerahkannya untuk disensor telah bertindak secara bermoral. Jika seseorang membiarkan keputusan moralnya berjalan, dan mengelola sebuah pers rahasia misalnya, seseorang dapat menyebutnya telah bertindak tidak bermoral, dan juga tidak bijaksana jika ia membiarkan dirinya tertangkap. Tapi mungkinkah orang seperti itu akan mengklaim telah memiliki nilai di mata “moral”? Mungkin saja! Jika ia pada kenyataannya membayangkan dirinya melayani “moralitas yang lebih tinggi.” Jaring kemunafikan hari ini tergantung pada batas dua ranah, di antaranya kita berayun bolak-balik, menempelkan benang tipu daya dan pengibulan diri sendiri. Belum cukup kuat melayani moralitas tanpa keraguan atau kelemahan, belum cukup ceroboh untuk hidup sepenuhnya pada egoisme, sekarang bergetar ke satu sisi dan sekarang ke arah yang lainnya dalam jaring laba-laba kemunafikan, dan lumpuh oleh kutukan berukuran setengah, hanya menangkap laler yang tolol dan menyedihkan. Jika seseorang berani membuat permohonan untuk “bebas”, seseorang segera menyiramnya lagi dengan jaminan cinta, dan –pura-pura mengundurkan diri. Di sisi lain, jika seseorang akhirnya memiliki wajah untuk melawan balik permohonan “bebas” dengan referensi moral untuk dipercayai, keberanian moral juga segera tenggelam, dan seseorang meyakinkan sang pemohon bahwa mereka benar-benar menikmati saat mendengarkan kata-kata yang bebas; mereka adalah -persetujuan palsu. Singkatnya,

sesorang ingin memilikinya tapi tidak akan melakukannya tanpa yang lain; seseorang mungkin ingin punya kehendak bebas, tapi tidak bisa hidup jika tidak punya kehendak moral. Bergabunglah dengan para loyalis yang seram, hei kamu para Liberal. Kamu akan mempermanis setiap kata kebebasan dengan sikap percaya yang paling setia dan menunjukkan sikap mengabdimu dalam ungkapan kebebasan yang paling bagus. Kemudian kamu pergi terpisah, dan dia, seperti kamu, berpikir “Aku mengenalmu rubah!” Dia mengendusi bau iblis di dalam dirimu seperti yang kamu lakukan, Tuan Allah ada dalam dirinya. Di mata orang yang “baik”, Nero hanyalah orang yang “buruk”. 44 Bagiku dia hanyalah orang yang kerasukan, sebagaimana juga orang yang baik. Orang baik melihat di dalamnya ada seorang penjahat, lalu membuangnya ke neraka. Tapi mengapa tidak ada yang menghalangi Nero dalam tindakan sewenang-wenangnya? Mengapa orang bertahan dengan begitu banyak tekanan? Apakah orang Romawi yang jinak itu, yang membiarkan semua keinginan mereka diikat oleh seorang tiran seperti itu, mungkinkah rambutnya lebih baik? Pada zaman Roma yang lebih lama mereka akan segera mengeksekusinya, sudi mereka menjadi budaknya. Tapi “kebaikan” kontemporer di antara orang Romawi hanya menentang tuntutan moral kepadanya, bukan kehendak mereka. Mereka merengek ketika kaisar mereka tidak menghormati moralitas seperti yang mereka lakukan. Mereka sendiri tetap memiliki “mata pelajaran moral” sampai akhirnya menemukan keberanian untuk meninggalkan “kepatuhan dan ketaatan moral.” Dan kemudian “orang Romawi yang sama”, sebagai “subjek yang taat”, telah menanggung segala rasa malu karena

44 Nero Claudius, kaisar Romawi kelima yang dikenal tiran dan kejam. Mengeksekusi ibu, membunuh Raja yang merupakan ayah tiri dan juga saudara kandung adopsinya, mengeksekusi ketiga istrinya, membakar kota Roma, juga membantai orang Kristen awal.

kurangnya kehendak, bersorak atas tindakan pemberontakan yang keterlaluan dan tidak bermoral. Jadi di mana “kebaikan” adalah keberanian untuk melakukan revolusi, yang sekarang mereka puji, setelah orang lain menggenggamnya? Orang baik tidak dapat memiliki keberanian macam ini. Karena sebuah revolusi, dan bahkan sebuah pemberontakan, selalu menjadi sesuatu yang “tidak bermoral”; yang mana orang hanya bisa memutuskan kapan dia tidak lagi menjadi “baik” dan menjadi “buruk” atau – bukan keduanya. Nero tidak lebih buruk pada masanya, ketika seseorang hanya bisa menjadi salah satu dari keduanya, baik atau buruk. Waktu yang telah menghakiminya: dia jahat, dan memang sampai tingkat yang tertinggi, bukan sebagai seorang yang tidak bersemangat, tapi bajingan. Semua orang bermoral hanya bisa menyampaikan penghakiman ini padanya. Penyamun, sama seperti dia, masih hidup sampai sekarang, di sini dan di sana, (coba lihat memoar dari Ritter von Lang) di tengah para moralis. Tapi penyamun sangat tidak nyaman tinggal di antara mereka, karena untuk sesaat seseorang tidak yakin akan hidupnya. Tetapi dapatkah seseorang hidup dengan nyaman lebih lama lagi di antara orang-orang bermoral? Seseorang tidak lagi yakin akan kehidupannya di sana, hal itu hanya seseorang yang digantung “dengan cara yang legal” –tapi setidaknya ada yang yakin akan kehormatan seseorang, dan simpul pita nasional terbang melayang saat itu juga. Kepalan moralitas benar-benar memperlakukan sifat mulia egoisme tanpa ampun. “Tapi tetap, kamu tidak bisa menempatkan seorang bangsat dan seorang jujur pada tingkatan yang sama!” Sekarang, tidak ada manusia yang melakukan hal itu selain kamu wahai penilai moral. Ya, masih lebih daripada itu, kamu memenjarakan para pria jujur layaknya penjahat, karena mereka secara terbuka berbicara melawan konstitusi yang ada, karena melawan institusi suci, dan kamu mempercayakan portofoliomu dan bahkan hal yang lebih

penting lagi kepada para bajingan licik. Jadi kamu tidak perlu mencelaku secara praktik. “Melainkan secara teori!” Sekarang di sana saya menempatkan keduanya pada tingkat yang sama sebagai dua kutub yang berlawanan: yaitu keduanya pada level hukum moral. Mereka memiliki makna hanya di dunia “moral”, sama seperti di era pra-Kristen, baik seorang Yahudi yang taat hukum dan seorang Yahudi yang melanggar hukum hanya memiliki makna dan signifikansi sehubungan dengan hukum Yahudi; karena itu, sebelum Yesus Kristus, orang Farisi tidak lebih dari sekedar “pemungut cukai dan pendosa.” Begitu juga sebelum kepemilikan diri, moral orang Farisi sama berharganya dengan orang berdosa yang tidak bermoral. Nero sangat kerepotan dengan kesurupannya. Tetapi orang yang memiliki dirinya sendiri tidak akan secara terang- terangan menentang dia yang “suci,” dan mengeluh karena sang tiran tidak menganggap penting hal-hal yang sakral; dia akan menentang kehendaknya. Sebegitu sering kesucian hak-hak manusia yang tidak dapat dicabut, dan beberapa kebebasan atau yang lainnya terbukti dan ditunjukkan sebagai “hak asasi manusia yang suci!” telah dikuasai oleh lawan mereka. Mereka yang melakukan hal itu pantas ditertawakan di luar pengadilan –seperti mereka. Sebenarnya, bukankah itu sebenarnya yang mereka lakukan, bahkan walau tanpa sadar mengambil jalan yang mengarah pada tujuan tersebut. Mereka memiliki firasat bahwa, jika saja mayoritas memenangkan kebebasan itu, maka hal itu juga menghendaki kehendaknya, dan hendak mengambil apa yang kehendak miliki. Kesucian kebebasan, dan semua bukti yang memungkinkan dari kesucian ini, tidak akan pernah mendapatkannya; ratapan dan permohonan hanya menunjukkan sikap pengemis. Para moralis tentu saja berpandangan sempit karena tidak mengenal musuh lain selain orang yang “tidak bermoral”. “Siapapun yang bukan moral berarti tidak bermoral!” Dan karenanya merasa bersalah, tercela, dan

sebagainya. Oleh karena itu, seorang moralis tidak akan pernah bisa memahami egois. Bukankah hubungan seksual di luar ikatan perkawinan adalah tidak bermoral? Para moralis bisa berubah sebagaimana keinginannya, dia harus mematuhi pernyataan ini; Emilia Galotti menyerahkan hidupnya untuk kebenaran moral ini. 45 Dan memang benar, hal itu tidak bermoral. Seorang gadis saleh dapat menjadi babu tua; lelaki yang saleh bisa menghabiskan waktunya untuk melawan dorongan alamiah sampai dia akhirnya tidak merasa bernafsu lagi, atau dia mungkin mengebiri dirinya sendiri demi kebajikan seperti yang St. Origen telah lakukan demi surga. 46 Dengan demikian dia menghormati pernikahan suci, keperawanan suci, sebagai sesuatu yang tak terganggu gugat; dia adalah –moral. Perempuan yang tidak perawan lagi akan selalu menjadi perbuatan yang tidak bermoral. Namun walau para moralis dengan sabar dapat menghakimi dan memaafkan dia yang melakukannya, hal itu tetap merupakan sebuah pelanggaran, dosa terhadap perintah moral. Di sana menempel stigma yang tidak dapat dihapuskan. Sebagaimana kemurnian dulunya menjadi

45 Emilia Galotti adalah seorang tokoh perempuan saleh dalam naskah drama Jerman (pertama kali dipentaskan 1772) karya Gottholf Ephraim Lessing. Seorang pangeran yang hendak memilikinya meminta pembunuh menghabisi tunangan Emilia menjelang hari pernikahan, lalu mengamankan Emilia ke istananya. Untuk menjaga martabatnya karena rayuannya ditolak Emilia, pangeran membujuk ayahnya untuk membunuhnya, yang kelak merasa ngeri sendiri atas apa yang telah ia perbuat. 46 St. Origen (sering disebut sebagai Origenes) sebenarnya tidak pernah dikanonisasi sebagai santo karena ajarannya yang terang-terangan bertentangan dengan ajaran para rasul. Ia adalah seorang teolog Kristen awal yang mengikuti Matius 19:12 secara harafiah, mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origen sangat berhasrat untuk setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus -penj.

sumpah para monastik, * demikian juga perilaku moral. Kesucian itu baik. Sebaliknya bagi orang yang egois, kesucian bahkan bukanlah sesuatu yang baik, dia tidak bisa akur dengan kesucian; dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Sekarang, apa yang kemudian muncul dari penilaian moralis ini? Ini yang muncul: bahwa dia melemparkan para egois ke dalam satu-satunya kelompok manusia yang dia ketahui selain manusia bermoral, yaitu orang yang tidak bermoral. Dia tidak bisa melakukan sebaliknya; dia harus mencari-cari bahwa para egois dalam segala halnya selalu tidak bermoral sehingga egois harus membayar ketidakbermoralannya. Jika dia tidak menemukannya, tanpa mengakuinya dia akan menjadi murtad bagi moralitas, dia tidak akan lagi menjadi orang yang benar-benar bermoral. Seseorang seharusnya tidak membiarkan dirinya disesatkan oleh fenomena macam itu, yang pada saat ini pasti tidak lagi digolongkan sebagai sesuatu yang langka. Dan ingatlah bahwa siapa pun yang menghasilkan titik moralitas bisa sedikit diperhitungkan di antara yang benar-benar bermoral, seperti Lessing sebagai seorang Kristen yang saleh ketika dalam perumpamaan yang terkenal dia membandingkan agama Kristen, juga orang-orang pengikut Muhammad dan Yahudi, dengan “cincin palsu” –yaitu orang Kristen. Seringkali orang sudah jauh lebih berani daripada yang mereka akui soal diri mereka sendiri. Karena dalam budaya Sokrates berdiri di tingkatan moralitas, akan menjadi tidak bermoral jika dia bersedia mengikuti hasrat untuk menggoda Criton dan melarikan diri dari penjara bawah tanah; berdiam merupakan satu-satunya hal yang bermoral. Tapi hal itu semata-mata karena Sokrates adalah moralis. Orang-orang revolusioner yang “tidak berprinsip, yang tidak bermoral”, yang di sisi lain telah bersumpah setia pada Louis

  • Monastik atau monastisme adalah gaya hidup relijius di mana seseorang meninggalkan pencarian duniawi untuk pengabdian diri sepenuhnya pada pekerjaan spiritual.

XVI⁴⁷ dan menetapkan pengusirannya dan tentu saja, kematiannya; tapi perbuatan itu adalah salah satu tindakan yang tidak bermoral, yang mana orang-orang bermoral akan merasa ngeri untuk selamanya. Tapi semua ini, kurang lebih, hanya mengarah pada “moralitas borjuis,” yang mana orang-orang paling bebas dapat memandang ke bawah dengan pandangan menghina. Untuk itu, lebih jelasnya lagi, sama seperti tanah tempat ia berasal, gaya hidup borjuis secara umum masih sedikit terhapus dan bebas dari surga religius untuk tidak memasang hukum tersebut tanpa kritik atau pertimbangan lebih lanjut terhadap wilayahnya, alih-alih menghasilkan doktrin independennya sendiri. Moralitas menjadi sosok yang sangat berbeda ketika sampai pada kesadaran akan martabatnya, dan mengangkat prinsipnya, hakikat manusia, atau “kemanusian”, menjadi satu-satunya kekuatan otoritatif. Mereka yang telah menempuh jalan menuju kesadaran yang teguh seperti itu benar-benar putus dengan agama, yang Tuhannya tidak lagi ditempatkan di samping “kemanusiaannya;” dan, ketika mereka merobohkan kapal negara itu sendiri (lihat di bawah), mereka juga menghancurkan moralitas yang tumbuh subur hanya di dalam negara, dan secara konsisten seharusnya tidak menggunakan namanya lebih jauh. Karena apa yang disebut orang-orang “kritis” ini, moralitas secara meyakinkan dibedakan dari apa yang disebut “moralitas borjuis atau politik;” dan warga negara harus melihatnya sebagai “kebebasan yang tidak masuk akal dan tidak terkendali.” Tetapi pada dasarnya, hal itu hanya menguntungkan “kemurnian prinsip,” yang mana telah terbebas dari kontaminasi agama, sekarang telah mencapai kekuatan

47 Louis XVI adalah Raja Prancis dari Dinasti Bourbon (1754-1793). Ia dieksekusi dengan guillotine sebagai desakralisasi penduduk Prancis di bawah nama “Citizen Louis Capet”, yang merujuk pada Hugh Capet, pendiri Dinasti Capetian –yang oleh para revolusioner artikan sebagai nama keluarga Louis.

universal dalam pengertian ulangnya sebagai “kemanusiaan”. Oleh karena itu, seseorang harusnya tak perlu heran bahwa istilah “moralitas” dipertahankan bersama yang lain, seperti kebebasan, kebajikan, kesadaran diri, dst, dan sekarang cuma dihias dan kemudian ditambahkan dengan, moralitas “bebas” -sama seperti halnya meski negara sipil disalahgunakan, namun negara akan bangkit kembali sebagai “negara bebas”, atau bahkan jika demikian, sebagai “masyarakat bebas”. Karena moralitas yang disempurnakan menjadi kemanusian ini telah selesai sepenuhnya berurusan dengan agama yang dikembangkan secara historis, tidak ada yang menghalanginya untuk menjadi agama atas namanya sendiri. Karena perbedaan yang berlaku antara agama dan moralitas hanya ada selama hubungan kita dengan dunia manusia diatur dan dikuduskan oleh hubungan kita dengan makhluk super, atau selama perbuatan kita melakukan suatu hal adalah “demi Tuhan.” Tetapi jika sampai pada hal ini, bahwa “bagi manusia, manusia adalah hakikat tertinggi,” maka perbedaan ini lenyap, dan moralitas, dihilangkan dari posisi bawahannya, disempurnakan menjadi agama. Karena itu, hakikat yang lebih tinggi yang hingga kini telah ditundukkan oleh hakikat tertinggi sekarang telah naik ke ketinggian mutlak, dan kita bertindak mengarah ke sana seolah mengarah ke ketinggian mutlak, yaitu, secara religius. Moralitas dan kesalehan sekarang sama identiknya dengan awal mula Kekristenan, dan itu hanya terjadi karena hakikat tertinggi telah menjadi berbeda sehingga jalan hidup suci sudah tak lagi dianggap “suci,” tapi “manusiawi.” Jika moralitas telah ditaklukkan, maka perubahan tuan-tuan yang lengkap telah terjadi. Setelah pemusnahan iman, Feuerbach berpikir untuk masuk ke pelabuhan cinta yang mestinya aman. “Hukum yang utama dan tertinggi harusnya adalah cinta manusia

pada sesama manusia. Homo homini Deusest⁴⁸-ini adalah prinsip praktis tertinggi, ini adalah titik balik dari sejarah dunia.” 49 Tetapi kalau boleh bicara jujur, sebenarnya hanya Tuhannya saja yang diubah, yaitu deus; cinta masih tetap ada, kalau di sana ada cinta kepada Tuhan yang super, sementara di sini cinta kepada Tuhan yang manusia, homo adalah sama halnya dengan Deus. Karena itu manusia jadi suci bagiku. Dan segala sesuatu yang “benar-benar manusiawi” menjadi suci bagiku! “Pernikahan itu sendiri suci. Demikian juga dengan semua hubungan moral. Persahabatan adalah dan harus suci bagimu, dan properti, dan pernikahan, dan kebaikan setiap orang, tiada lain adalah suci dalam dan dari dirinya sendiri.” 50 Loh, bukankah ada pendeta juga di dalamnya? Siapa Tuhannya? Manusia! Apa yang ilahi? Manusia! Jadi predikat⁵¹ itu memang baru saja diubah menjadi subjek, dan, bukannya berkata “Tuhan itu cinta,” mereka bilang “cinta itu ilahi”; bukannya “Tuhan telah menjadi manusia,” mereka berkata bahwa “manusia telah menjadi Tuhan,” dan banyak bacotan lain. Hal ini tidak lebih dari sekedar agama baru. Semua hubungan moral bersifat etis, dibudidayakan dengan pikiran moral, hanya ketika mereka memperhi-tungkan bagi dirinya sendiri (tanpa pengurapan religius dengan restu imam) bahwa mereka dianggap religius. Dalil Feuerbach, “Teologi adalah antropologi,” berarti “agama harus menjadi etika, etika itu sendiri adalah agama.”

48 “Umat manusia adalah Tuhan bagi umat manusia.” 49 Feuerbach, The Essence of Christianity, hlm 402. 50 Ibid, hlm 403. 51 Stirner menggunakan kata “Prädikate” yang dapat diterjemahkan sebagai “predikat” dalam pengertian grammatikal, atau “atribut” untuk pengertian yang lebih teologis. Saya memilih untuk menggunakan kedua kata tersebut untuk kata Jerman ini, tergantung dengan konteksnya. Tapi pembaca harus selalu ingat bahwa dalam bahasa Jerman keduanya adalah satu kata -Wolfi.

Secara keseluruhan Feuerbach hanya menyelesaikan perubahan subjek dan predikat, berlaku istimewa pada yang terakhir. Tapi, karena dia sendiri mengatakan: “Cinta itu tidak suci (dan tidak pernah dianggap suci oleh manusia) dengan menjadi atribut Tuhan, tapi hal itu menjadi atribut Tuhan karena itu adalah yang ilahi dalam dan dari dirinya sendiri,” jadi dia menilai bahwa melawan atribut itu sendiri, yaitu melawan cinta dan segala kesucian, harus dimulai. Bagaimana mungkin Feuerbach berharap bisa menjauhkan manusia dari Tuhan saat ia meninggalkan pada mereka sesuatu yang ilahi? Dan jika seperti yang Feuerbach katakan, Tuhan sendiri tidak pernah menjadi hal utama bagi mereka, tapi hanya predikatnya, maka dia tampaknya akan terus meninggalkan soal sepele pada mereka lebih lama lagi, karena boneka itu, kernel (intinya) yang sebenarnya, masih tersisa. Dia juga mengakui bahwa baginya hal itu “hanya perkara memusnahkan ilusi”. Dia pikir, bagaimanapun juga efek ilusi pada manusia adalah “benar-benar menghancurkan, karena bahkan cinta dalam dirinya yang paling dalam, ketentuan yang benar, menjadi sesuatu yang buram dan kabur melalui agama, karena cinta religius mencintai manusia hanya demi Tuhan, oleh karena itu hanya mencintai manusia, tapi sebenarnya hanya mencintai Tuhan.” 52 Apakah hal ini berbeda dengan cinta moral? Apakah cinta umat manusia ini, umat manusia ini, demi umat manusia ini atau demi moralitas, dan sebagainya –untuk homo homini Deus ini-adalah demi Tuhan? *** Kelelawar di lonceng gereja memiliki sejumlah aspek formal lain, beberapa di antaranya mungkin perlu ditunjukkan di sini. Jadi, penyangkalan-diri itu lumrah bagi orang suci seperti halnya orang yang tidak suci, orang yang murni dan yang tidak murni. Orang yang tidak suci itu menanggalkan

Feuerbach, The Essence of Christianity, hlm 408.

semua “perasaan yang lebih baik,” semua rasa malu, bahkan semua sikap malu yang alami, dan hanya mengikuti nafsu yang menguasainya. Orang suci melepaskan hubungan alaminya dengan dunia (“meninggalkan dunia”) dan hanya mengikuti “keinginan” yang mengaturnya. Didorong oleh rasa haus akan uang, lelaki kasim itu menanggalkan semua nasehat nurani, semua perasaan hormat, kelembutan dan semua belas kasih; dia menempatkan semua pertimbangan dari pandangannya; nafsu menyeretnya. Orang suci juga berhasrat dengan cara serupa. Dia menjadikan dirinya “bekal dunia,” berkeras hati dan “kekeuh untuk menjadi seorang budiman”; karena keinginan itu menyeretnya. Orang yang tidak suci sebelumnya menyangkal dirinya pada Mammon *, maka orang suci itu menyangkal dirinya di hadapan Tuhan dan hukum ilahi. Kita sekarang hidup pada masa dimana orang suci yang tidak tau malu, tiap hari makin terasa dan terbongkar, dimana pada saat bersamaan terpaksa menyingkap dirinya sendiri, dan terbaring lebih lama, lebih dan lebih lagi setiap harinya. Bukankah ketidaktahumaluan dan kebodohan adalah alasan mengapa manusia menentang “kemajuan zaman” yang telah melampaui semua ukuran dan harapan? Tapi sudah pasti begitu. Para penyangkal diri harus menempuh jalan yang sama sebagai orang suci sebagaimana yang mereka lakukan jika menjadi orang yang tidak suci; karena yang tidak suci sedikit demi sedikit susut ke ukuran yang penuh dengan kerendahan dan ketidakpedulian pada diri sendiri, jadi yang suci harus naik ke kemuliaan yang paling tidak terhormat. Mammon di bumi dan Tuhan di surga sama-sama menuntut tingkat yang sama, yaitu penyangkalan-diri. Orang yang rendah, sama

  • Mammon dalam Alkitab Perjanjian Baru pada umumnya merujuk pada uang, kesejahteraan material, atau entitas lain yang menjanjikan kekayaan, dan terkait dengan pencarian keuntungan yang serakah. Pada Abad Pertengahan digambarkan sebagai tujuh pangeran neraka.

seperti orang yang ditinggikan, meraih “kebaikan” –yang pertama untuk material yang baik, yang terakhir untuk yang ideal, yang disebut “kebaikan tertinggi”; dan juga akhirnya keduanya saling melengkapi lagi, karena orang “yang berpikiran material” mengorbankan segalanya untuk menghasilkan sesuatu yang ideal, kesombongannya, dan orang yang “berpikiran rohaniah” untuk kepuasan material, kehidupan yang menyenangkan. Mereka yang menasehati orang lain agar “tidak mementingkan diri sendiri” atau berbuat altruis, percaya bahwa mereka telah mengatakan sesuatu yang tidak biasa. Apa yang mereka pahami? Mungkin, sesuatu seperti apa yang mereka pahami sebagai “penyangkalan diri.” Tapi siapakah diri yang akan ditinggalkan dan tidak mendapat keuntungan? Tampaknya kamu sendiri yang diharuskan demikian. Dan demi siapa keuntungan penolakan diri yang tidak mementingkan diri sendiri yang dianjurkan padamu ini? Ya sekali lagi demi kebaikan-mu, kecuali kamu mencapai “keuntungan sejatimu” melalui altruisme. Kamu diminta untuk mementingkan diri sendiri, tapi kamu tidak mencari keuntungan-mu. Orang-orang memandang penderma kemanusiaan sebagai sesuatu yang altruistik: misal Francke yang mendirikan rumah yatim piatu, O’Connell yang bekerja tanpa lelah demi orang-orang Irlandianya. Begitu juga dengan orang-orang fanatik macam St. Bonifasius yang membahayakan hidupnya untuk pertobatan orang-orang kafir, atau seperti Robespierre yang mengorbankan segalanya untuk kebajikan; seperti Körner yang mati demi Tuhan, raja, dan tanah air. Oleh karena itu, musuh O’Connell mencoba mengalahkannya dengan mengatakan bahwa ia egois atau mencari-keuntungan, yang olehnya dana O’Connell memberi mereka fondasi. Sebab, jika mereka berhasil mencurigai “altruisme-nya”, mereka akan dengan mudah memisahkannya dari para pengikutnya. Namun apa yang lebih jauh yang bisa mereka

tunjukkan selain bahwa O’Connell bekerja untuk tujuan lain daripada yang telah diakui? Tapi entah apakah tujuannya adalah untuk menghasilkan uang atau untuk membebaskan orang-orang, bahwa dia memperjuangkan cita-cita, dan tentu saja tujuan-nya, masih tetap yakin. Keegoisan yang ada di sini sama dengan yang di sana, hanya saja kepentingan nasionalnya juga bermanfaat bagi orang lain, dan juga demi kepentingan bersama. Sekarang, apakah menurutmu altruisme itu tidak nyata dan tidak eksis dimanapun? Sebaliknya, tidak ada yang lebih umum daripada altruisme! Seseorang bahkan bisa saja menyebutnya aksesoris fesyen di dunia beradab, yang dianggap sangat diperlukan itu, jika harganya terlalu menghabiskan banyak uang, mereka setidaknya akan menghias dirinya sendiri dengan perada imitasi dan berpura-pura. Dimana altruisme dimulai? Tepat di mana tujuan akhirnya berhenti menjadi tujuan kita dan harta benda kita, yang mana kita, sebagai pemilik, dapat memperlakukannya sesuai yang kita suka; di mana ia menjadi tujuan yang tetap atau gagasan tetap; di mana ia mulai menginspirasi, menipu kita, membuat kita menjadi fanatik. Singkatnya, di mana ia lewat melalui sikap keras kepala kita dan menjadi tuan atas diri kita. Seseorang tidak altruistik asalkan dia mempertahankan tujuannya dengan kekuatannya. Kita menjadi begitu hanya pada saat, “Di sini tempat aku berdiri, aku tidak dapat melakukan sebaliknya,” 53

dalil mendasar dari semua orang yang kerasukan. Seseorang menjadi begitu dalam kasus tujuan akhir yang sakral, melalui semangat suci yang sesuai. Aku tidak altruistik selama tujuan itu tetap menjadi milik-ku, dan alih-alih membungkuk untuk menjadi alat pemenuhan yang buta, aku selalu membiarkannya terbuka untuk dipertanyakan. Karena itu, semangatku tidak boleh kalah dengan yang paling fanatik, tetapi pada saat yang

Pernyataan Luther sebelum sidang pengadilannya.

sama aku tetap membeku kedinginan terhadapnya, tidak percaya, dan menjadi musuhnya yang paling keras kepala; Aku tetap menjadi hakimnya, karena akulah pemiliknya. Altruisme benar-benar tumbuh merajalela ketika kesurupan meluas, kerasukan iblis sebanyak orang-orang kerasukan roh yang baik: di sana, kejahatan, kebodohan, dll.; di sini, kerendahan hati, pengabdian, dll. Dimana seseorang dapat menyaksikannya tanpa harus menemui korban penyangkalan diri? Di hadapanku sana duduk seorang gadis, yang mungkin telah berdarah- darah berkorban untuk jiwanya selama sepuluh tahun. Kepalanya yang lelah yang mati ternganga melihat bentuknya yang menggairahkan, dan pipi pucat mengkhianati pendarahan yang lambat dari masa mudanya. Anak yang malang, seberapa sering gairah hidup dipukul di hatimu, dan kekuatan kaum muda yang kaya menuntut hak mereka! Saat kepalamu berguling di bantal yang lembut, bagaimana sifat terbangun bergetar melalui anggota badanmu, darah membengkak ke pembuluh darahmu, dan fantasi yang berapi-api menuangkan kilau keelokan ke matamu! Lalu muncullah hantu jiwa dan kebahagiaan abadi. Kamu ketakutan, tanganmu terlipat, matamu yang tampak tersiksa mendongak ke atas, kamu –berdoa. Badai alam terdiam, sebuah ketenangan melayang di atas lautan hasratmu. Pelan-pelan kelopak mata yang melelahkan tenggelam di atas kehidupan yang padam di bawah mereka, ketegangan merayap keluar dari anggota tubuh yang membulat, gelombang riuh mengembang di jantung, tangan terlipat itu menahan beban tak berdaya di dada yang tidak beraturan, satu helaan napas terakhir merintih, dan –jiwa itu tenang. Kamu terlelap, esok bangun pagi sampai nanti datang pertempuran baru dan doa baru lagi. Sekarang kebiasaan untuk menyangkal telah mendinginkan hasratmu yang hangat, dan mawar masa mudamu menjadi pucat karena anemia keselamatanmu. Jiwa diselamatkan, biarkan

tubuh binasa! Oh Lais, 54 oh Ninon, 55 kamu membenci kebajikan yang suram ini dengan sangat baik! Satu grisette gratis melawan ribuan gadis yang tumbuh pucat dalam kebajikan! 56

Ide baku juga dapat dipahami sebagai “pepatah”, “prinsip”, “sudut pandang”, dan lain-lain. Archimedes mempertanyakan sudut pandang dari luar bumi yang dapat menggerakannya. Orang-orang terus mencari sudut pandang ini, dan setiap orang berupaya mendapatkannya

54 Mungkin merujuk pada Lais dari Hyccara atau pada Lais dari Korintus, keduanya pelacur pada zaman Yunani kuno. Konon ketika filsuf Demosthenes mencoba mendekatinya, Lais dari Hyccara menaikkan harganya dari 1.000 drachmas per malam menjadi 10.000 drachmas ketika pertama kali melihatnya; di sisi lain, ia segera menawarkan keelokannya pada Diogenes dari Sinope (si sinis) dengan cuma-cuma. Jika benar, tampaknya dia punya selera yang bagus –Wolfi. 55 Anne (Ninon) de l’Enclos adalah pelacur, penulis, dan pemikir bebas abad 17. Ia memiliki banyak kekasih dan memilih untuk tidak pernah menikah untuk mempertahankan independensinya. Ia sangat terbuka dengan jalan hidupnya dan pendapatnya tentang agama (ia berpikir bahwa hidup akan jauh lebih baik tanpanya), dan menghabiskan banyak waktu dalam jeruji karena melakukan-nya. Dia juga dikenal karena wit (semacam larik humor cerdas khas Eropa) karyanya. Salah satu misalnya: “Banyak sekali orang jenius yang lebih butuh bercinta ketimbang memerintah pasukan” –Wolfi. 56 Ini adalah permainan kata-kata. Grisette pada mulanya merujuk pada pabrik pakaian murahan dan produk pakaian yang dibuatnya. Sejak perempuan pekerja muda di Prancis hanya dapat mendapatkan pakaian seperti itu, istilah itu mulai digunakan pada perempuan yang mengenakannya. Semakin lama istilah tersebut berkonotasi negatif pada perempuan muda genit dan terbuka dan kerap bermain-main secara seksual. Dengan demikian, seorang gadis yang mengenakan Grisette tidak terbebani oleh kebajikan terhadap ribuan perempuan lain yang berubah menjadi datar (gray) karena kebajikan mereka – Wolfi.

sebaik mungkin. Sudut pandang asing ini adalah dunia roh, pikiran, gagasan, pemikiran, konsep, hakikat; yaitu surga. Surga adalah “sudut pandang” dari mana bumi digerakkan, perbuatan duniawi yang dipantau dan dihina. Untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang surga, untuk menempati sudut pandang surgawi dengan kokoh dan tetap -betapa sakit dan tanpa lelahnya manusia berjuang untuk ini! Kekristenan bertujuan untuk membebaskan kita dari kehidupan yang ditentukan oleh alam, dari hasrat sebagai penggerak kita, dan karenanya, berarti, manusia harusnya tidak membiarkan dirinya ditentukan oleh hasrat hidupnya. Oh, bukan berarti dia diharuskan tidak memiliki hasrat, tapi hasrat ada tidak untuk menguasainya, bahwa mereka tidak menjadi baku, tak terkendali, tidak terpisahkan. Sekarang, tidak dapat kita terima apa yang agama Kristen perbuat untuk melawan hasrat supaya membantu silanya sendiri bahwa pikiran/roh (pemikiran, konsepsi, gagasan, iman) harus menentukan kita. Dapatkah kita meminta agar pikiran, konsepsi, gagasan, tidak diizinkan untuk menentukan kita, tidak menjadi tetap dan tidak dapat diganggu gugat atau “sakral”? Maka itu akan berakhir dengan pembubaran roh, pembubaran semua pemikiran, dari semua konsepsi. Seperti kita di sana harus mengatakan, “Kita memang memiliki hasrat, tapi hasrat tidak memiliki kita,” jadi sekarang kita harus berkata, “Kita memang memiliki pikiran, tapi pikiran tidak memiliki kita.” Jika yang terakhir tampaknya kurang masuk akal, pertimbangkan, misalnya, bahwa bagi banyak orang, suatu pikiran menjadi “pepatah” sehingga ia sendiri menjadi tawanannya, sehingga ia tidak memiliki pepatah, tetapi sebaliknya ia dimiliki olehnya. Dan bersama dengan pepatah, ia kembali memiliki “sudut pandang yang kuat.” Doktrin katekismus secara tidak sengaja menjadi prinsip kita dan tidak lagi mentolerir penolakan. Pikiran mereka, atau roh, memiliki kekuatan tunggal, dan tidak terdengar lagi keberatan dari “daging”. Meskipun demikian, aku hanya bisa menghancurkan tirani roh melalui “daging”;

karena hanya ketika seseorang juga merasakan kedagingannya maka dia mempersepsikan dirinya sepenuhnya, dan hanya ketika dia mempersepsikan dirinya sepenuhnya maka dia adalah makhluk yang memahami atau yang masuk akal. Orang Kristen tidak merasakan kesengsaraan dari sifatnya yang diperbudak, tetapi hidup dalam “kerendahan hati”; karena itu ia tidak menggerutu terhadap kesulitan yang menimpa orang-nya; dia yakin dirinya puas dengan “kebebasan roh.” Tetapi begitu daging membuat dirinya didengar, dan nadanya “bergairah,” “kasar,” “tidak bermaksud baik,” “pendendam,” dll., karena tidak mungkin sebaliknya, maka dia percaya dia mendengar suara setan, suara yang menentang roh (karena perilaku yang baik, tanpa roh, niat baik dan sejenisnya adalah roh yang tepat), dan dengan tepat mencerca mereka. Dia tidak harus menjadi seorang Kristen, jika dia ingin mentolerir mereka. Dia hanya mendengarkan moralitas dan menampar imoralitas di mulut; dia hanya mendengarkan legalitas dan membungkam kata-kata yang melanggar hukum. Semangat moralitas dan legalitas membuatnya tertawan; seorang tuan yang kaku dan tidak membungkuk. Mereka menyebut bahwa “aturan roh” –pada saat yang sama adalah sudut pandang roh. Dan sekarang siapakah pria liberal biasa yang bermaksud membebaskan diri? Kebebasan siapa yang mereka tangisi dan inginkan? Roh. Roh moralitas, legalitas, kesalehan, roh takut akan Tuhan. Itulah yang juga diinginkan oleh tuan-tuan yang anti-liberal, dan keseluruhan pertengkaran di antara keduanya berubah menjadi manfaat -apakah yang terakhir harus menerima “bagi hasil dalam menikmati keuntungan yang sama.” Bagi keduanya, roh tetaplah penguasa mutlak, dan mereka hanya bertengkar tentang siapa yang harus menduduki takhta hierarkis yang berhak menjadi “gubernur yang ditunjuk Tuhan”. Yang terbaik dari itu adalah bahwa seseorang dapat menonton apa yang terjadi, dengan tenang dalam kepastian bahwa

binatang buas sejarah akan saling merobek-robek, sebagaimana sifat mereka. Bangkai mereka yang membusuk menyuburkan tanah untuk –tanaman kita. Kita bakal kembali lagi nanti soal banyak kelelawar- kelelawar di lonceng gereja yang lain –seperti, panggilan, kejujuran, cinta, dll. *** Kamu tidak membawa apapun dengan keberatan bahwa kita tidak dapat memiliki sesuatu yang terisolasi Ketika milik seseorang dikontraskan dengan apa yang diberikan, kamu tidak menerima semuanya dengan keberatan bahwa kita tidak dapat memiliki sesuatu yang terisolasi, tetapi menerima segala sesuatu dalam hubungan global, oleh karena itu melalui kesan tentang apa yang ada di sekitar kita, dan dengan demikian menjadikannya sebagai sesuatu yang “diberikan”; karena ada jurang pemisah yang besar antara perasaan dan pikiran yang dibangkitkan dalam diriku oleh sesuatu yang lain, dan yang diberikan kepadaku. Tuhan, keabadian, kebebasan, kemanusiaan, dll., terkesan pada kita sejak kecil ketika pikiran dan perasaan yang menggerakkan batin kita kurang lebih kuat, dan entah memerintah kita tanpa sepengetahuan kita, atau dalam kodrat yang lebih kaya dapat menunjukkan diri mereka melalui sistem dan karya seni, tetapi selalu tidak terangsang, tetapi perasaan yang diberikan, karena kita harus percaya pada mereka dan bertahan padanya. Bahwa ada yang absolut dan bahwa kita harus menerima, merasakan dan berpikir yang absolut ini, ditetapkan sebagai iman oleh mereka yang mengabdikan semua kekuatan pikiran mereka untuk mengenali dan menggambarkannya. Perasaan untuk yang mutlak kemudian ada sebagai sesuatu yang diberikan, dan selanjutnya hanya membawa wahyu yang paling beragam dari dirinya sendiri. Jadi di Klopstock⁵⁷ perasaan religius adalah perasaan yang disampaikan, yang hanya

Friedrich Gottlieb Klopstock (1724-1803), penulis dan penyair Jerman.

diekspresikan secara artistik dalam Der Messias. Di sisi lain, jika agama yang ia temukan telah membangkitkan dorongan untuk merasa dan berpikir, dan jika dia tahu bagaimana sepenuhnya menghadapi miliknya terhadap hal itu, maka hal itu akan berujung pada pembubaran dan konsumsi agama itu sendiri. Sebagai gantinya pada tahun-tahun yang sudah matang dia hanya melanjutkan perasaan kekanak-kanakan yang diterimanya pada masa kecil, dan menyia-nyiakan kekuatan kedewasaannya demi merapikan omong kosong kekanak-kanakannya. Jadi perbedaannya terletak pada apakah perasaan itu diberikan kepadaku atau bangkit dariku sendiri. Yang bangkit dariku adalah milikku, yang egoistik, karena sebagai perasaan mereka tidak dicap ke diriku, tidak mendikteku dan mendesakku; tetapi ketika aku menerima yang pertama, yang diberikan kepadaku dengan tangan terbuka- menghargai mereka dalam diriku layaknya sebuah warisan, lalu mengolahnya, dan akhirnya aku kerasukan oleh mereka. Siapa yang tidak akan pernah memperhatikan, kurang lebih secara sadar, bahwa keseluruhan apa yang diasuh pada diri kita ditujukan untuk menghasilkan perasaan di dalam diri kita, misal, memberikan mereka kepada kita, alih-alih membiarkan produksinya berjalan sendiri pada diri kita apapun hasilnya yang keluar? Jika kita mendengar nama Tuhan, kita harus merasa takut padanya. Jika kita mendengar tentang keagungan sang pangeran, hal tersebut harus diterima dengan hormat, patuh, dan tunduk. Jika kita mendengar tentang moralitas, kita harus berpikir bahwa kita mendengar sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat. Jika kita mendengar tentang Yang Jahat atau yang jahat, kita harus tergidik. Tujuannya diarahkan untuk menghasilkan perasaan ini, dan sebagai contoh, siapapun yang merasa senang saat mendengar perbuatan dari “orang jahat”, maka mereka harus “diberi pelajaran dan dihukum” dengan tongkat. Terisi penuh dengan perasaan yang diberikan ini, kita muncul di hadapan gerbang kedewasaan dan

“mendeklarasikan usia kita.” Perlengkapan kita terdiri dari “peningkatkan perasaan, berpikiran tinggi, pepatah yang mengilhami, prinsip abadi,” dll. Kaum muda menjadi dewasa ketika mereka berkicau seperti orang tua; mereka didorong melalui sekolah untuk belajar lagu lama yang sama, dan, jika mereka sudah melakukan hal ini, barulah mereka dinyatakan dewasa. Pada saat menghadapi dan mengalami apapun, kita tidak diperbolehkan untuk merasa seperti apa yang kita bisa dan kita ingin rasakan; misalnya, kita diperbolehkan untuk berpikir bahwa tidak ada yang lucu dari sosok Tuhan, atau merasa tidak ada yang tidak sopan darinya, tapi apa dan bagaimana kita harus merasa dan berpikir dalam kasus ini, sebetulnya sudah diresepkan dan diberikan pada kita. Itulah tujuan bimbingan spiritual, 58 ketika jiwa atau pikiranku disetel seperti apa yang orang lain pikir benar, bukan seperti apa yang aku inginkan. Berapa biaya yang seseorang keluarkan untuk paling tidak mengamankan perasaan milik-nya tentang suatu hal atau yang lainnya, dan untuk tertawa di muka orang banyak yang berharap kita memasang wajah suci dan supaya tidak berekspresi menyeringai saat mereka berpidato. Pokoknya apapun itu yang diberikan pada kita adalah asing, bukan milik kita sendiri, dan lantaran ia “sakral,” dan bakal jadi hal yang menyusahkan untuk melemparnya ke samping “ketakutan suci akan hal itu.” Hari ini, sekali lagi, kita sering mendengar pujian atas “keseriusan,” “keseriusan di hadapan subyek dan topik yang sangat penting,” atau “keseriusan Jerman,” dan lain-lain. Keseriusan-keseriusan semacam ini dengan jelas menunjukan betapa tua dan betapa serius kegilaan dan

58 Istilah ini merujuk pada bimbingan atau konseling yang diberikan pastor, pendeta, atau pembakti di gereja. Ada beberapa pilihan lain yang memungkin. Saya memilih istilah yang sama seperti ketika orangtua membawa saya ke gereja saat saya masih kecil –Wolfi.

kerasukan telah terjadi. Karena tidak ada yang lebih serius dari pada orang gila yang telah sampai ke titik pusat kegilaannya; sehingga dari semangat membaranya itu ia jadi tak dapat menerima sebuah lelucon. (Lihat madhouses.)

3. Hierarki

Aku sedang tidak memberikan refleksi sejarah apapun tentang Mongolisme kita, yang kadang akan kumasukkan pada poin ini, dengan klaim ketelitian atau bahkan hanya kehandalan, namun semata karena menurutku hal itu tampak berguna untuk membuat sisanya yang lain menjadi jelas. Sejarah dunia, yang pada kenyataannya benar-benar terbentuk seluruhnya sesuai dengan ras Kaukasia, nampaknya hingga sekarang telah melewati dua zaman Kaukasia, yang pertama kita harus bekerja dan melunasi kemunduran Negroiditas bawaan kita; yang selanjutnya disusul dengan Mongoloiditas (Kecinaan), yang mau tak mau harus berakhir dengan buruk. Negroiditas mewakili masa kuno, pada waktu kita bergantung pada berbagai benda (misal pada memberi makan ayam, burung-burung yang terbang, pada bersin, petir dan halilintar, pada gemerisik pohon-pohon keramat, dll.); Mongoloiditas mewakili masa di mana kita tergantung pada pikiran, masa Kristen. Kata-kata inilah yang dicadangkan untuk masa depan: “Aku adalah pemilik dunia benda-benda, dan aku adalah pemilik dunia pikiran.” 59

Pada zaman Negroid ini, kampanye Sesostris⁶⁰ dan

59 Atau, roh. Masih ingat catatan Byington di bagian pertama buku ini, bahwa pikiran dan roh adalah kata yang sama dalam bahasa Jerman? –Penj. Tiga Firain Mesir yang dinamai pada abad ke-19 dan 20 SM, tiga orang yang mengkampanyekan penalukan sebagian Eropa dan Asia.

keagungan Mesir dan Afrika utara pada umumnya mendapatkan tempat. Pada zaman Mongoloid, ada invasi orang Hun dan Mongol yang sampai ke Rusia. Keberhargaan-ku tak mungkin dinilai begitu tinggi selama berlian keras dari yang bukan-aku telah berharga begitu mahal seperti halnya baik dengan Tuhan dan dengan dunia. Yang bukan-aku masih terlampau tabah dan gigih untuk kukonsumsi dan kuserap; sebaliknya, orang-orang cuma merayap dengan hiruk pikuk luar biasa pada entitas tak bergerak ini, tentang zat ini, seperti parasit binatang di tubuh dari jus yang mereka konsumsi, namun tanpa mengonsumsinya. Ini adalah hiruk pikuk kutu, sifat aktif orang Mongolia. Di antara orang Cina, kita tahu, semuanya tetap seperti dulu, dan tak ada perubahan yang “penting” atau “substansial”; mereka bekerja jauh lebih aktif daripada apa yang tersisa, yang menyandang nama “tua,” “nenek moyang,” dll. Karenanya, pada zaman Mongol semua perubahan yang kita alami hanya bersifat reformatif atau korektif, tidak merusak atau memakan dan memusnahkan. Substansi, benda, tetap ada. Semua hiruk pikuk kita hanyalah kegiatan para semut dan lompatan kutu-kutu, trik sulap yang berjalan di tali ketat tujuan kita, kerja paksa di bawah kepemimpinan yang tidak tergoyahkan atau “abadi.” Orang-orang Cina adalah orang yang paling positif, karena mereka benar- benar terkubur dalam sila. Tapi zaman Kristen juga tidak keluar dari yang positif ini, yaitu misal dari “kebebasan terbatas,” dari kebebasan “dalam batas-batas tertentu.” Pada tahap peradaban yang paling maju, kegiatan ini disebut sebagai kegiatan ilmiah, yang bekerja dengan premis yang tak bergerak, sebuah hipotesis yang tak terbantahkan. Bentuk moralitasnya yang pertama dan yang paling tidak jelas telah menunjukkan dirinya sebagai sebuah kebiasaan. Bertindak sesuai dengan kebiasaan dan adat

istiadat⁶¹ negara seseorang –kita harus bermoral di sana. Inilah kenapa tindakan yang murni bermoral, moralitas yang asli, dipraktikkan dengan sangat jelas di China; mereka tetap berpegang pada kebiasaan dan adat-istiada lama, dan membenci tiap inovasi sebagai kejahatan yang layak dihukum mati. Karena inovasi adalah musuh abadi bagi kebiasaan, bagi yang lama, bagi yang permanen. Pada kenyataannya, sebenarnya, ia juga tidak terbuka pada apapun yang tidak diragukan lagi bahwa umat manusia, melalui kebiasaan, menjamin dirinya sendiri melawan betapa mengganggunya sesuatu, dunia, dan menetapkan dunianya sendiri dimana dirinya sendirian dan merasa betah seperti di rumah sendiri, membangun surga bagi dirinya sendiri. Tentu saja, surga tidak lain berarti: tidak lain daripada rumah yang layak, di mana tidak ada orang asing yang menentukan dan mengaturnya lebih lama lagi, tidak ada pengaruh duniawi lagi yang membuatnya dirinya terasing; singkatnya, di mana sampah dari duniawi dilempar, dan pertempuran melawan dunia telah menemukan akhir-di mana, oleh karena itu, tidak ada lagi yang *menolak-*nya. Surga adalah akhir dari penyangkalan, itu adalah sebuah kenikmatan yang bebas. Di sana manusia tidak lagi menyangkal dirinya sendiri, karena tidak ada yang asing dan memusuhinya lagi. Tapi sekarang, kebiasaan adalah “alam yang lain,” yang menghapus dan membebaskan manusia dari kondisi yang pertama dan yang asli, yang mengamankannya dari setiap kemugkinan. Apapun yang terjadi, orang Cina tahu bagaimana caranya untuk bertindak, dan tidak perlu lebih dulu untuk memutuskan sesuai keadaan; tidak pernah ada kasus yang tak terduga yang menjatuhkannya dari surga. Orang Cina yang terdidik secara moral tidak terkejut dan tertangkap oleh pengawalnya; dia berperilaku dengan tenang, misal dengan hati atau temperamen yang setara, terhadap segala hal,

Sepanjang bagian ini, “moralitas” adalah “sittlichkeit,” “adat istiadat” adalah “sitte,” dan “moral” adalah “sittlich” -Wolfi.

karena temperamennya, yang dilindungi oleh kebiasaan berhati-hati leluhur-nya, tidak kehilangan keseimbangannya. Dengan demikian, di tangga budaya atau peradaban, umat manusia membangun anak tangga pertama melalui kebiasaan; dan ia membayangkan bahwa, dalam mendaki ke peradaban, pada saat yang sama ia mendaki ke surga, ranah peradaban atau alam kedua, sehingga ia benar-benar menaiki tangga pertama –tangga ke surga. Jika Mongolisme telah menetapkan keberadaan hakikat rohaniah, telah menciptakan dunia roh, atau surga, orang-orang Kaukasia telah bergumul selama ribuan tahun dengan makhluk spiritual ini, untuk sampai ke dasar⁶² diri mereka. Apa lagi yang mereka lakukan saat itu jika bukan membangun fondasi⁶³ Mongolia? Mereka belum terbangun di atas pasir, tapi di atas udara; mereka telah bergumul dengan Mongolisme, menyerbu surga Mongolia, Tian. Kapan mereka pada akhirnya memus-nahkan surga ini? Kapan mereka akhirnya menjadi orang Kaukasia yang sesungguhnya, dan menemukan diri mereka sendiri? Kapan “keabadian roh”, yang pada hari-hari terakhir ini menganggap bahwa ia memberi keamanan lebih banyak lagi jika ia menampilkan dirinya sebagai “keabadian roh,” pada akhirnya mengubah kefanaan roh? Jika dalam perjuangan yang rajin dari ras Mongolia, orang-orang telah membangun surga, bahwa suku bangsa Kaukasia, karena dalam corak Mongolia mereka yang harus mereka lakukan dengan surga, mengambil alih tugas yang berlawanan, tugas menyerbu surganya adat, bagai badai yang menyerbu. Untuk menggali di bawah semua peraturan manusia, untuk membuat yang baru dan yang lebih baik di tempat yang telah dibersihkan, untuk menghancurkan semua kebiasaan agar menempatkan kebiasaan baru dan lebih baik di tempat mereka -tindakan mereka terbatas pada hal ini. Tapi apakah hal itu sudah murni dan benar-benar

“Grund.” “Grund.”

sesuai cita-cita, dan apakah itu mencapai tujuan akhirnya? Tidak, dalam penciptaan “yang lebih baik” ini, mereka masih tercemar Mongolisme. Ia menyerang surga hanya untuk membuat surga kembali, ia menggulingkan kekuatan lama hanya untuk melegitimasi kekuatan baru, ia hanya- memperbaiki. Walau demikian, tujuannya, sebagaimana hal itu seringkali lenyap dari penglihatan pada tiap pendekatan baru, adalah kejatuhan yang nyata, kehancuran surga, adat istiadat, dan lain-lain –singkatnya, manusia aman hanya dengan melawan dunia, keterasingan atau kekuatan batin manusia. Melalui surga peradaban, manusia berusaha untuk mengucilkan dirinya dari dunia, untuk mematahkan kekuatan yang bermusuhan. Tapi pengasingan surga ini juga harus dipatahkan, dan akhir yang benar dari surga adalah -kejatuhan surga, penghancuran surga. Memperbaiki dan mereformasi adalah Mongolismenya orang-orang Kaukasia, karena dengan hal itu dia selalu membangkitkan lagi, apa yang sudah ada –dengan perintah, yang umum, surga. Dia menyimpan permusuhan yang paling tak terdamaikan ke surga, namun membangun langit baru setiap hari; menumpuk surga di surga, dia hanya meremukkan satu demi yang lain; surga orang-orang Yahudi menghancurkan surganya orang-orang Yunani, surganya orang-orang Protestan menghancurkan surganya orang-orang Katolik, dan begitu seterusnya. –Jika orang-orang berdarah Kaukasia penyerbu badai mengupas kulit Mongolia mereka, mereka akan mengubur para sentimentalis di bawah reruntuhan dunia sentimental yang mengerikan, orang yang terasing di dalam dunianya yang terasing, manusia yang dipuja di bawah surganya. Dan surga adalah ranahnya roh, alamnya kebebasan rohaniah. Alam surga, alam roh dan hantu, telah menemukan sistemnya yang tepat dalam filsafat spekulatif. Ini telah dinyatakan sebagai ranah pemikiran, konsep, dan gagasan; surga dipenuhi dengan pikiran dan gagasan, dan “alam roh” inilah yang menjadi kenyataan sejati.

Menginginkan kebebasan untuk roh adalah sebuah Mongolisme; kebebasan roh adalah kebebasan Mongol, kebebasan sentimental, kebebasan moral, kebebasan etis, dll. Orang-orang bisa saja melihat “moralitas” sebagai sinonim dari tindakan-diri, penentuan nasib sendiri. Tapi itu tidak ada di dalamnya, dan orang-orang Kaukasia telah lebih menunjukkan dirinya bertindak sendiri⁶⁴ meski hanya dengan moralitas Mongolnya. Surga Mongol, atau moral, tetap menjadi benteng yang kuat, 65 dan hanya dengan menyerbu tanpa henti ke benteng ini, orang Kaukasia menunjukkan dirinya sebagai moralis; jika dia sama sekali tidak berhubungan dengan kebiasaan, jika dia tidak berada di sana, musuh yang tak kenal lelah dan gigih, maka hubungan dengan moral akan berhenti, dan akibatnya moralitas juga akan berhenti. Bahwa tindakan-dirinya masih merupakan tindakan-diri moral sebenarnya hanyalah ke-Mongol-annya, adalah tanda bahwa ia belum sadar akan hal itu. “Aktivitas diri moral” sepenuhnya sesuai dengan “filsafat agama dan ortodoks,” “monarki konstitusional,” “Negara Kristen,” “Kebebasan dalam batas-batas tertentu,” “kebebasan terbatas pers,” atau, dalam gambar, untuk pahlawan yang terikat di ranjang orang sakit. Manusia belum benar-benar mengalahkan Shamanisme dan kengeriannya saat ia kerasukan untuk mengenyampingkan tidak hanya kepercayaan pada spook,

64 Byington menggunakan kata “spontaneity”, sementara Wolfi menggunakan “self-acting”. Keduanya dalam kosakata Inggris adalah sinonim untuk otomatis. Saya lebih memilih untuk menggunakan istilah “bertindak sendiri” karena mempertimbangkan bahwa otomatis punya konotasi sempit yang terkesan terlalu teknologis-mekanik -Penj. Saya memilih terjemahan ini, karena saya rasa Stirner merujuk pada hymne Martin Luther “Ein Feste Burg ist unser Gott,” yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “Benteng Paling Kuat adalah Tuhan Kita” –Wolfi.

tapi juga pada roh, tidak hanya keyakinan supernatural, tapi juga keyakinan rohaniah. 66

Mereka yang percaya pada spook tak lagi berasumsi “gangguan pada dunia yang lebih tinggi” ketimbang orang yang percaya kepada roh, dan keduanya mencari di belakang dunia inderawi yang superinderawi; singkatnya, mereka menghasilkan dan mempercayai dunia lain, dan dunia lain ini, produk dari pikiran mereka, adalah dunia rohaniah; tentu saja, indera mereka memahami dan tidak mengenal apapun yang lain, dunia yang tidak inderawi, hanya roh mereka yang hidup di dalamnya. Beranjak dari keyakinan Mongol akan adanya makhluk rohaniah ini, ke mana hakikat sejati manusia merupakan *roh-*nya juga, dan bahwa semua perawatan harus diarahkan pada hal ini saja, kepada “kesejahteraan jiwanya,” tidaklah sulit. Pengaruh pada roh, yang disebut “pengaruh moral,” dengan demikian, terjamin. Oleh karena itu, sudah jelas sekali bahwa Mongolisme mewakili kekurangan lengkap yang tidak mengakui hak atas sifat inderawi, mewakili alam yang non-inderawi, yang tidak alamiah, dan bahwa dosa dan kesadaran akan dosa adalah siksaan Mongolia kita yang berlangsung ribuan tahun. Tapi, siapa yang kemudian akan membubarkan roh tidak ke dalam kekosongannya? Dia yang dengan cara roh menetapkan alam sebagai sebuah nol, yang terbatas, dan sementara; ia sendiri jugalah yang dapat merendahkan roh untuk ke nol-an yang sama. Aku bisa; siapapun di antara kalian yang menang dan menciptakan sebagai aku yang berdaulat juga bisa; dengan kata lain, seorang egois bisa melakukannya. *** Sebelum yang suci, orang kehilangan semua kekuatan

Di sini, “percaya pada hantu” adalah “Gespensterglauben”; “percaya pada roh” adalah “Glauben an den Geist”; “wilayah supernatural” adalah “Geisterglauben”; dan “kepercayaan spiritual” adalah “Geistesglauben” -Wolfi.

dan semua keberanian; mereka menempati sikap tak berdaya dan rendah hati⁶⁷ terhadapnya. Namun, tidak ada yang suci dari dirinya sendiri, selain hanya melalui beatifikasi *, penghakimanku, pilihan hatiku, aku yang bertekuk lutut; sederhananya, oleh kesadaranku. Yang suci bagi egois adalah segala sesuatu yang tidak dapat didekati, disentuh, dan berada di luar kekuasaannya- yaitu yang ada di atasnya; singkatnya setiap permasalahan hati nurani adalah sakral, karena “ini adalah masalah hati nurani saya” yang secara sederhana berarti, “Saya memegang yang suci ini.” Bagi anak-anak kecil, sama seperti hewan, tidak ada yang sakral, karena, untuk memberi ruang bagi konsepsi ini, seseorang harus sudah berkembang sejauh ini dalam memahami bahwa dia dapat membuat pembedaan tentang “yang baik dan buruk,” “yang terjustifikasi dan yang tak terjustifikasi”; hanya pada tingkat refleksi atau kecerdasan seperti itu –sudut pandang agama yang benar-dapat (muncul menjadi kenyataan melalui berpikir) menghormati secara tidak alami, “kekaguman suci,” mengambil tempat sebagai ketakutan alami. Mempertimbangkan apa-pun yang berada di luar diri sebagai yang lebih kuat, lebih besar, lebih terjamin, lebih baik, dan lain-lain; berarti menghormati suatu kekuatan yang asing -tidak hanya merasakannya, tapi dengan tegas menghormati hal itu, yaitu mengakui, menurut, menyerah, membiarkan dirinya diikat (dengan pengabdian, kerendahan hati, merendahkan diri, penyerahan diri) –menjadi milik kekaguman suci ini. Disinilah seluruh momok menyeramkan “kebajikan Kristen” menghantui.

67 “Keberanian” adalah “Mut”: “rendah hati” adalah “demutig” – Wolfi. * Beatifikasi dalam Gereja Katolik Roma adalah deklarasi oleh Paus bahwa seseorang yang mati dalam keadaan bahagia, merupakan langkah menuju kanonisasi dan memungkinkan penghormatan publik –Penj.

Segala sesuatu yang kamu hargai atau hormati layak disebut sebagai yang suci; kamu sendiri juga mengatakan bahwa kamu akan merasakan “kekaguman suci” ketika menyentuhnya. Dan kamu bahkan memberi warna ini pada sesuatu yang tidak suci (tiang gantungan, kejahatan, dll.). Kamu ngeri menyentuhnya. Di sana ada sesuatu yang luar biasa, yaitu sesuatu yang asing atau bukan milikmu sendiri tentangnya. “Jika sesuatu tidak dianggap suci bagi seseorang, tentu pintu air akan terbuka pada kesediaan, untuk subjektivitas yang tak terbatas!” Ketakutan⁶⁸ menjadi awal, dan seseorang dapat membuat dirinya takut pada orang yang paling kasar; jadi mereka sudah menjadi penghalang terhadap kelancangan seseorang. Tapi dalam ketakutan selalu ada usaha untuk membebaskan diri dari apa yang ditakuti, tipu muslihat, catcalls, 69 dll. Sebaliknya, ia adalah hal yang sama dengan penghormatan. Di sini ada sesuatu yang tidak hanya ditakuti, tetapi juga dihormati: apa yang ditakutkan telah menjadi kekuatan batin yang tidak dapat kuhapus lagi; aku menghormatinya, terpikat olehnya dan mengabdi padanya, menjadi miliknya; dengan kehormatan yang kubayar, aku sepenuhnya berkuasa, dan aku bahkan tidak lagi berusaha membebaskan diriku. Sekarang aku terikat dengan semua kekuatan iman; Aku percaya. Aku dan yang aku takutkan menjadi satu; “Sekalipun aku masih

68 Di bagian selanjutnya, Stirner menggunakan sedikit permainan kata-kata untuk membuat poin ini: “Furcht” (takut), “Ehrfurcht” (penghormatan), “gefürchtet” (ketakutan) dan “geehrt” (terhormat) -Wolfi. 69 Kata Jerman untuk “Pfiff” memiliki beberapa makna, salah satu diantaranya adalah apa yang cocok di sini: catcalls –dengan kata lain mengejek apa yang menakutkan; dan pizzazz – menggunakan sedikit keterampilan atau yang mempesonakan untuk menunjukan apa yang menakutkan. Tapi itu murni pilihan pribadi-Wolfi.

hidup, bukan aku lagi yang hidup!” 70 Karena roh, yang tak terbatas, tidak mungkin untuk berakhir, oleh karena hal itu diam tak bergerak; ia takut mati, ia tidak bisa melepaskan Yesus yang terkasih, matanya yang buta tak bisa lagi mengenali kehebatan yang terbatas; objek ketakutan, yang sekarang diangkat untuk dihormati, tak tersentuh lagi; penghormatan menjadi kekal, yang dihormati didewakan. Manusia itu sekarang tidak lagi bekerja dalam menciptakan, tapi dalam belajar (mengetahui, menyeli-diki, dll.). Saya sibuk dengan objek yang tetap, kehilangan dirinya sendiri didalamnya, tanpa kembali pada dirinya sendiri. Hubungan dengan objek adalah mengetahui, memahami, dan validasi, bukannya pembu-baran (abrogasi, dll.). “Manusia harus beragama,” beres sudah hal itu; oleh karenanya, orang-orang sekarang menyibukkan diri hanya dengan pertanyaan bagaimana hal ini harus dicapai, atau apakah arti religiusitas yang sebenarnya, dan lain-lain. Sesuatu yang lain terjadi bersamaan saat seseorang membuat aksioma itu sendiri diragukan dan menanyainya, dan seharusnya juga runtuh dalam timbunan sampah. Moralitas juga merupakan konsepsi yang sakral; seseorang harus bermoral, dan hanya untuk harus melihat “bagaimana” yang benar, cara yang benar untuk menjadi demikian. Seseorang tidak berani pada moralitas yang demikian dengan pertanyaan apakah itu bukan ilusi belaka; itu terus ditinggikan di atas semua keraguan, tak dapat diubah. Jadi ia tetap lanjut dengan yang suci, kelas demi kelas, dari “yang suci” ke “yang tersuci dari yang paling suci.” *** Terkadang orang-orang membagi manusia menjadi dua kelas, yang berbudaya dan yang tidak berbudaya. Yang pertama, selama mereka layak untuk menyandangnya, memfokuskan diri mereka pada pikiran, dengan roh, dan karena mereka adalah orang-orang yang berkuasa pada

Merujuk pada Galatia 2:20.

masa setelah Kristus, yang mana prinsipnya adalah pikiran, mereka menuntut penghormatan yang baik terhadap pikiran yang mereka akui. Negara, kaisar, gereja, Tuhan, moralitas, ketertiban, dan lain-lain, adalah pikiran atau roh semacam itu, yang ada hanya untuk pikiran. Makhluk yang cuma hidup, seekor binatang, tidak begitu peduli pada hal-hal tersebut sebagaimana anak kecil. Tapi orang yang sama sekali tak berbudaya bukanlah anak-anak, dan dia yang hanya memperhatikan kebutuhan hidupnya tidak peduli dengan roh-roh itu; tapi, karena dia juga lemah di hadapan mereka, dia mengalah pada kekuasaan mereka, dan diperintah oleh –pikiran. Inilah artinya hirarki. Hirarki adalah kekuasaan oleh pikiran, kekuasaan oleh roh! Kita tetap hirarkis sampai hari ini, diturunkan oleh orang-orang yang didukung oleh pikiran. Pikiran adalah hal yang sakral. Tapi keduanya selalu bentrok, yang berbudaya melawan yang tak berbudaya dan sebaliknya, dan tentu menyerang satu sama lain tak hanya dalam dua orang saja, tapi dalam satu orang yang sama, karena tidak ada orang berbudaya yang begitu berbudaya untuk tidak dapat menemukan kenikmatan dalam suatu benda, dan menjadi begitu tak berbudaya; dan tidak ada orang yang tak berbudaya yang tak berpikiran. Melalui Hegel, akhirnya terungkap juga betapa merindukannya hal-hal yang bahkan dimiliki kebanyakan orang-orang yang berbudaya, dan betapa jijiknya dia terhadap setiap “teori yang hampa.” Baginya, kenyataan, dunia benda-benda, seharusnya sesuai sepenuhnya dengan pikiran, dan tiada konsep yang ada tanpa kenyataan. Hal ini menyebabkan sistem Hegel dikenal sebagai yang paling obyektif, seolah-olah di dalamnya pikiran dan benda-benda merayakan persatuan mereka. Tapi ini hanyalah kasus kekerasan paling ekstrem dari pemikiran, nada tertinggi dari despotisme dan kekuasaan tunggal, kemenangan akal, dan dengan demikian berarti

kemenangan filsafat. Filsafat tidak dapat mencapai sesuatu yang lebih tinggi, karena yang tertinggi adalah kemahakuasaan pikiran, kefasikan pikiran. 71

Orang-orang yang spiritual punya sesuatu yang mereka tanam dalam kepala yang ditujukan untuk diwujudkan. Mereka memiliki konsep tentang cinta, kebaikan, dan sebagainya, yang mereka ingin wujudkan. Oleh karena itu mereka ingin mendirikan kerajaan cinta di bumi, di mana tidak ada yang lagi bertindak berdasar keegoisan, melainkan masing-masing orang bertindak “berdasarkan cinta.” Cinta ada untuk memerintah. Apa yang mereka tanam di kepala mereka, apalagi jika kita tidak menyebutnya selain –ide baku? Tentu, hal itu “menghantui kepala mereka.” Spook paling menindas adalah insan manusia. Pikirkan pepatah, “jalan menuju kehancuran diaspal dengan niat baik.” Niat untuk mewujudkan kemanusiaan secara penuh dalam diri seseorang untuk menjadi manusia itu sangat menghancurkan; seperti niat untuk menjadi baik, mulia, mencintai, dll. Di bagian keenam Denkwürdigkeiten, halaman 7, Bruno Bauer mengatakan:

“Kelas borjuis itu, yang mana telah punya semacam kepentingan buruk dalam sejarah baru-baru ini, mampu untuk tidak melakukan tindakan pengorbanan diri, tidak memiliki rasa antusias pada sebuah gagasan, tanpa peninggian derajat; ia mengabdikan dirinya tidak untuk apa pun selain kepentingan yang biasa- biasa saja; yaitu tetap selalu terbatas pada dirinya sendiri, dan akhirnya menang hanya

71 Rousseau, seorang filantropis, dan yang lain, bermusuhan dengan budaya dan kecerdasan, namun mereka mengabaikan fakta bahwa ini hadir dalam semua manusia Kristen, dan menetapkan dirinya hanya melawan budaya yang dipelajari dan disempurnakan.

melalui kebesarannya, yang dengannya berhasil menguras ijtihad gairah, antusiasme, konsistensi, melalui permukaannya, di mana ia menyerap sedikit gagasan baru.” 72

Dan dalam halaman 6: “Hal ini telah mengubah gagasan revolusioner, yang mana tidak seperti itu, melainkan orang-orang yang tidak egois atau yang berapi- api mengorbankan diri mereka sendiri, semata-mata atas keuntungannya sendiri, telah mengubah roh menjadi uang. Tentu saja, setelah hal ini terhapus dari gagasan itu, konsistensi mereka, keseriusan destruktif mereka, menjadi fanatik terhadap semua bentuk egoisme.” Orang-orang ini, tidak mengorbankan diri, tidak punya antusiasme, tidak idealis, tidak konsisten, tidak fanatik; mereka egois dalam artian biasa, orang yang mementingkan diri sendiri, memandang sesuatu dari apa yang menguntungkan mereka, berkepala dingin, perhitungan. Lalu siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang “mengorbankan diri sendiri?” Dalam arti yang lebih luas, tentu, ialah mereka yang mengambil resiko untuk suatu hal, suatu tujuan, suatu hasrat, suatu gairah. Bukankah kekasih yang menelantarkan ayah dan ibunya, menanggung semua bahaya dan kesulitan untuk mencapai tujuannya, juga mengorbankan diri sendiri? Atau seorang yang ambisius, yang menyerahkan semua hasrat, harapan, dan kepuasannya kepada suatu gairah tunggal, atau orang yang malang yang menyangkal segala sesuatu untuk mengumpulkan harta, atau pencari kesenangan, dan lain- lain? Dia dikuasai oleh gairah yang mana sisanya adalah

72 Bruno Bauer, Die Septembertage 1792 und dieersten Kämpfe der Parteien der Republik in Frankreich, Bagian 1 (Charlottenburg, 1844), hlm 7. (Denkwürdigkeiten zur Geshichte der neueren Zeit seit der Französischen Revolution. Nach den Quellen und Original-Memoiren bearbeitet und hrsg. Von Bruno Bauer und Edgar Bauer).

pengorbanan. Dan apakah orang-orang yang mengorbankan diri yang mungkin tidak mementingkan diri sendiri ini, bukan seorang egois? Karena mereka hanya memiliki satu hasrat yang berkuasa, maka mereka hanya memberikan satu kepuasan, tapi untuk yang satu ini, semuanya terasa makin berat, mereka sepenuhnya terserap ke dalamnya. Seluruh aktivitas mereka bersifat egois, tapi ini adalah bentuk egoisme yang sepihak, berpikiran tertutup, dan keras kepala; artinya, ia kerasukan. “Baik, jadi itu adalah gairah yang patut dikasihani, yang mana sebaliknya, manusia jangan membiarkan dirinya diperbudak. Manusia harus berkorban untuk sebuah ide agung, sebuah nalar yang agung!” Sebuah “gagasan agung,” sebuah “maksud baik,” mungkin adalah kemuliaan Tuhan, yang karenanya lah banyak orang telah menemui ajalnya; kekristenan, yang telah menemukan para martir yang bersedia; gereja yang suci, yang dengan rakus menuntut pengorbanan para bidah; kebebasan dan kesetaraan, yang akan menanti guillotine * yang berdarah dalam pelayanannya. Siapapun yang hidup untuk sebuah ide agung, maksud baik, doktrin, sistem, panggilan tertinggi, atau pencarian kepentingan diri apapun, tidak akan membiarkan nafsu duniawi muncul dalam dirinya. Di sinilah kita memiliki konsep tentang klerikalisme, 73 atau, seperti yang mungkin juga disebut dalam kegiatan pedagogiknya, keperkepala- sekolahan (schoolmasterliness); karena kaum idealis berperan sebagai kepala sekolah atas kita. Para pelayan

  • Semacam alat pancung. 73 Wolfi menggunakan “priestliness” sementara Byington menggunakan “clericalism”. Klerikalisme punya pengertian yang lebih luas, seperti apapun yang berkaitan dengan tugas harian kantoran, maupun yang lebih spesifik dalam pengertian Eklesiastikal, yaitu apapun yang berhubungan dengan Gereja Kristen dan pelayanannya -Penj.

gereja tersebut terutama terpanggil untuk hidup sesuai dengan gagasan tersebut dan bekerja untuk gagasan tersebut, tujuan yang benar-benar baik. Oleh karena itu, orang-orang merasakan betapa sedikit hal yang sesuai dengannya untuk menunjukkan keangkuhan duniawi, menginginkan hidup yang baik, untuk bergabung dalam kesenangan seperti menari-nari dan bermain, singkatnya, untuk memiliki apapun selain “kepentingan suci.” Dari kemungkinan ini, ada juga gaji guru yang sedikit⁷⁴ yang seharusnya mendapat imbalan hanya karena kesucian panggilan mereka, dan karena telah “meninggalkan” kesenangan lainnya. Bahkan tidak ada kekurangan dalam daftar peringkat ide-ide sakral, satu atau lebih yang harus dilihat manusia sebagai panggilannya. Keluarga, tanah air, ilmu pengetahuan, dll., mungkin dapat menemukan dalam diriku seorang pelayan yang setia pada panggilannya. Di sini kita menemukan kegilaan zaman lama yang belum pernah dipelajari tanpa klerikalisme: hidup dan mencipta demi sebuah ide, itulah panggilan manusia, dan nilai kemanusiaan diukur berdasar pada kesetiaan kepatuhannya. Inilah kekuasaan ide atau klerikalisme. Robespierre, misalnya dan St. Just, dsb, adalah para imam yang terus menerus, terinspirasi oleh ide, para peminat, alat konsisten dari ide ini, umat manusia yang ideal. Jadi St. Just berseru dalam sebuah pidato:

“Ada sesuatu yang mengerikan dalam cinta suci negara; hal itu begitu eksklusifnya sampai- sampai tanpa ampun, tanpa rasa takut, tanpa pertimbangan manusia, mengorbankan segalanya demi kepentingan publik. Ia telah

Rujukan sarkastik, saya yakin, pada pengalaman pribadi Stirner sebagai guru sekolah -Wolfi.

melemparkan Manlius⁷⁵ ke jurang; ia mengorbankan kecenderungan pribadinya; ia menyeret Regulus⁷⁶ ke Kartago, ia melemparkan orang-orang Romawi ke dalam jurang, dan menetapkan Marat, 77 sebagai korban pengabdiannya, di Pantheon.”

Dunia fana “pribadi” yang fana yang tak terhitung, sekarang berdiri melawan perwakilan ide atau kepentingan sakral ini. Tidak ada ide, tidak ada sistem, atau tidak ada maksud suci yang begitu mulia yang dapat melebihi atau mengubah kepentingan pribadi. Bahkan walau ia hanya sekilas, di era penuh amuk dan fanatisme, tetap hening, mereka akan segera keluar ke atas lagi melalui “suara orang.” Ide-ide tersebut hanya menang seluruhnya ketika mereka tak lagi berseteru dengan kepentingan pribadi, misal, ketika memuaskan egoisme mereka. Mereka yang baru saja menangis tersedu-sedu⁷⁸ di

75 Dilempar sampai mati ke bebatuan Tarpeian setelah dituduh hendak mencoba menjadikan dirinya sebagai seorang tiran. 76 Tertangkap dalam perang melawan Kartago pada 255 SM, dikirim ke Roma untuk menegosiasikan pelepasan beberapa orang Kartago kaya yang telah ditangkap, di bawah sumpah untuk kembali ke Kartago, konon sekembalinya ia disiksa oleh orang-orang Kartago. Untuk beberapa alasan, kisah ini mendorong orang untuk menepati janji mereka. 77 Seorang revolusioner Prancis dan editor pendiri l’Ami du peuple, dibunuh oleh Charlotte Corday; Konvensi memerintahkan agar ia ditempatkan atau dikuburkan di aula Pantheon di Roma pada September 1794, tapi pada Februari 1795, jenazahnya dikeluarkan dari Pantheon karena tidak disukai. 78 Dalam menerjemahkan “tersedu-sedu,” Byington menggunakan “herrings”, sementara Wolfi menggunakan istilah “kippers”. Kipper adalah ikan haring utuh, seekor ikan berminyak kecil, yang dibelah dengan teknik kupu-kupu dari ekor sampai kepala di sepanjang punggungnya, dikeluarkan isi perutnya, diasinkan atau diasamkan, dan diasapkan di atas serpihan kayu (biasanya

depan jendelaku memiliki kepentingan pribadi, dan ketika istrinya atau orang lain berharap demikian, itu tetap merupakan kepentingan pribadi. Di satu sisi, jika pencuri merampas keranjangnya, maka pada saat itu juga akan timbul banyak kepentingan, dari seluruh kota, seluruh negeri, atau dengan kata lain dari semua yang benci pencurian; sebuah minat dimana orang penjual daging ikan asap akan menjadi acuh tak acuh, dan sebagai gantinya kategori “korban perampokan” akan maju ke muka. Tetapi bahkan di sini semua bisa menuju pada kepentingan pribadi, karena setiap peserta berpikir bahwa dia harus menyetujui hukuman bagi pencuri, karena jika tidak dihukum, pencurian dapat meluas dan dia juga dapat merampas miliknya sendiri. Tapi perhitungan seperti itu hampir tidak dapat diasumsikan untuk banyak orang, dan orang malah akan mendengar teriakannya: pencuri adalah “penjahat”. Sekarang masalah- nya begini: bahkan jika sebuah kejahatan tidak menyebabkan kerusakan sekecil apa pun bagiku atau orang-orang yang kuperhatikan, aku harus menyangkal-nya. Mengapa? Karena aku antusias dengan moralitas, aku terisi penuh dengan ide moralitas; aku menganiaya apapun yang memusuhinya. Proudhon misalnya, dalam pikirannya tanpa perlu dipertanyakan lagi menganggap pencurian sebagai kekejian, memper-cayainya dalam kalimat “properti adalah pencurian,” ia telah mencela properti. Dalam artian imamat (priestly), pencurian selalu merupakan kejahatan, atau setidaknya pelanggaran. Di titik ini kepentingan pribadi berakhir. Orang-orang tertentu yang telah mencuri keranjang ini masa bodoh sekali dengan kepribadianku; aku hanya tertarik pada pencuri, konsep yang orang itu gambarkan sebagai spesimen. Pencuri dan manusia ada dalam pikiranku bagai dua pihak yang tak terdamaikan; karena seseorang tidak menjadi

kayu eek) dengan nyala api kecil. Tampaknya ini metafor untuk mata yang berlinang terkena asap, atau lebih tepatnya, tersedu- sedu –Penj.

manusia sesungguhnya jika ia menjadi pencuri; seseorang merendahkan manusia atau “kemanusiaan” dalam dirinya ketika ia mencuri. Karena tersingkir dari perhatian pribadi, seseorang terjun ke filantropi, kebaikan manusia, yang biasanya kerap disalahpahami seolah-olah itu adalah cinta pada manusia, pada setiap individu, sementara itu tidak lain hanyalah cinta untuk manusia, konsep yang tidak nyata, spook. Bukan tous anthropous (τους ανθρωπος) atau manusia, tapi ton anthropon (του ανϑρωπου), umat manusia, 79 yang seorang dermawan bawa dalam hatinya. Yang pasti dia memang peduli terhadap masing-masing indi-vidu, tapi itu pun karena dia ingin melihat cita-cita kesayangannya terwujud di mana-mana. Jadi tidak ada lagi yang perlu ditanyakan di sini, untukku, kamu, kita; itu akan menjadi kepentingan pribadi, dan termasuk yang ada di bawah “cinta duniawi.” Filantropi adalah cinta surgawi, yang rohaniah, dan imamat. Manusia harus dipulihkan di dalam kita, dan bahkan walau setan kita yang malang harus berduka karena ini. Prinsip imamat ini sama dengan justitia fiat, pereat mundus⁸⁰ yang terkenal itu; manusia dan keadilan adalah sebuah gagasan, hantu, untuk cinta yang semuanya telah dikorbankan; oleh karena itu, roh imam adalah “yang mengorbankan diri sendiri.” Mereka yang tergila-gila dengan manusia selama kegairahan itu meluas, telah membuat orang tidak lagi dipertimbangan, dan membuat-nya mengambang dalam sebuah kepentingan suci yang ideal. Manusia, kamu lihat, bukanlah sesuatu sosok, tapi sesuatu yang ideal, yang spook. Sekarang, banyak hal dapat menjadi milik manusia dan dikenali sebagai manusia. Jika seseorang menemukan

79 Byington menerjemahkan yang pertama sebagai “men”, yang kedua sebagai “Man.” Sementara Wolfi menerjemahkan yang pertama sebagai “human beings” dan yang kedua “the human being.” “Biarlah keadilan ditegakkan, bahkan jika dunia harus binasa.”

persyaratan utama umat manusia dalam kesalehan, maka muncullah klerikalisme religius; jika seseorang melihatnya dalam moralitas, maka klerikalisme moral mendongak kepalanya. Roh imamat pada masa kita ingin membuat “agama” dari segala-galanya, sebuah “agama kebebasan,” “agama kesetaraan,” dan lain-lain, dan bagi mereka setiap gagasan menjadi “maksud suci,” misalnya, bahkan kewarganegaraan, politik, publik, kebebasan pers, persidangan oleh dewan hakim, dan seterusnya. Kalau begitu, apa arti “altruisme” dalam pengertian ini? Yaitu hanya untuk memiliki minat yang ideal, yang mana perilaku tidak menghormati orang lain pun diperbolehkan! Sikap keras kepala orang yang duniawi menentang hal ini, tapi selama ribuan tahun telah menjadi korban, paling tidak sejauh harus menekuk leher yang tidak dapat diatur dan “menghormati kekuatan yang lebih tinggi”; klerikalisme menekannya. Bila para egois duniawi telah melepaskan suatu kekuatan yang lebih tinggi, misalnya, hukum Perjanjian Lama, atau Paus Roma, maka seketika itu tujuh kali lebih tinggi seseorang mampu mengatasinya, seperti iman di tempat hukum, transformasi semua orang awam menjadi pendeta di tempat terbatasnya tubuh pendeta, dan lain-lain. Ia seperti orang yang kerasukan tujuh setan yang masuk ketika ia berpikir telah berhasil membebaskan dirinya. 81

Dari kutipan atas, semua kapasitas untuk mengidealisasikan ditolak ke kelas borjuis. Ini tentu saja bertentangan dengan konsistensi ideal yang ingin diterapkan Robespierre. Naluri dari kepentingannya mengatakan bahwa konsistensi ini sedikit selaras dengan apa yang dipikirkannya, dan bahwa hal itu akan bertentangan dengan dirinya sendiri jika ia bersedia untuk meneruskan antusiasme sebagai prinsipnya. Lalu apakah prinsip untuk bersikap tidak mementingkan diri sendiri untuk

Lihat Matius 12:43.

meninggalkan semua tujuannya, adalah agar bisa membawa teori yang keras menuju kemenangannya? Dengan mengagumkan, hal ini sesuai dengan para imam, tentu saja, ketika orang-orang mendengarkan panggilan mereka: “Buang semuanya dan ikuti aku,” atau “juallah semua yang kamu berikan kepada orang miskin, dan kamu akan memiliki harta di surga; dan datanglah, ikutilah aku.” Beberapa orang memutuskan bahwa para idealis mematuhi panggilan ini; tapi kebanyakan malah bertindak seperti Ananias dan Safira, 82 dengan mempertahankan perilaku setengah klerikal atau religius dan juga setengah duniawi, melayani Tuhan dan juga Mammon. Saya tidak menyalahkan kelas borjuis karena tidak ingin membiarkan Robespierre merampok tujuannya, karena mempertan-yakan egoismenya sejauh mana hal itu dapat memfasilitasi ide revolusioner. Tapi dapatlah disebut sebagai kesalahan (jika benar-benar disalahkan di sini) jika seseorang membiarkan kepentingan kelas borjuis merampok kepentingan mereka. Namun, bukankah mereka cepat atau lambat belajar untuk memahami apa keuntungannya bagi mereka? August Becker⁸³ berkata: “Untuk memenangkan produsen (proletar), sebuah negasi dari konsepsi tradisional tentang hak saja belum cukup. Orang-orang sayangnya tidak begitu peduli dengan kemenangan teoritis dari gagasan tersebut. Seseorang

82 “Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” Rebah dan putus nyawanya mereka berdua kemudian, dianggap sebagai tanda dari sikap Allah terhadap hati yang suka menipu di antara mereka yang mengaku pernah lahir kembali dan dipenuhi dengan Roh. Kisah ini terjadi dalam konteks ketika gereja-gereja awal terinstitusikan dalam komunitas yang lebih komunitarian dan egaliter. Lihat Kisah Para Rasul 5:1-11. Seorang sosialis utopis Jerman.

harus menunjukkan kepada mereka secara ad oculos⁸⁴ tentang bagaimana kemenangan ini dapat digunakan secara praktis dalam kehidupan.” 85 Dan (hal.32): “Anda harus menguasai orang-orang dengan kepentingan nyata mereka jika anda ingin bertindak atas mereka.” Segera setelahnya dia menunjukkan bagaimana kelonggaran moral yang halus sudah menyebar di kalangan petani kita, karena mereka lebih memilih untuk mengikuti kepentingan sebenarnya daripada perintah moralitas. Karena para imam revolusioner atau kepala sekolah melayani umat manusia, mereka memenggal kepala umat manusia. Orang-orang awam yang revolusioner atau orang-orang yang ada di luar lingkaran suci itu, tidak merasa ada halangan untuk dapat memotong kepala, tapi mereka tidak terlalu memikirkan hak asasi manusia, misal, hak seorang manusia, daripada soal mereka sendiri. Terlepas dari itu, bagaimana mungkin egoismenya orang-orang yang menegaskan kepentingan pribadi, dan selalu mempertanyakan hal itu, selamanya tetap mengalah pada kepentingan imam atau sekolah, yaitu kepentingan yang ideal? Pribadi mereka tampak terlalu kecil, terlalu tidak signifikan dan pada kenyataannya, terlalu hina untuk mengklaim segala sesuatu dan untuk dapat benar-benar membawanya terus. Ada tanda pasti akan hal ini, bahwa dalam kenyataannya mereka membagi diri mereka menjadi dua pribadi, yaitu yang abadi dan yang temporal, dan selalu peduli hanya pada salah satunya yaitu, hari Minggu untuk yang kekal, hari kerja⁸⁶ untuk yang sementara, doa untuk

84 “Before their eyes”, atau sederhananya kira-kira, “di depan mata”. 85 August Becker, Die Volksphilosophie unserer Tage (Neumünster near Zurich, 1843), hlm 22. Stirner di sini menggunakan “Werkeltage.” Ini mungkin hanya sebuah anakronisme, tetapi “Werkel” diterjemahkan sebagai “hurdy-gurdy;” “organ jalanan” dari penggiling organ. Mungkin Stirner membuat lelucon atau permainan kata –Wolfi.

yang kekal, bekerja untuk yang sementara. Mereka memiliki pendeta dalam diri mereka sendiri, tapi tidak disingkirkannya, dan malah pada tiap hari Minggu mendengar diri mereka didamprat dalam hati. Betapa orang-orang telah berjuang dan memperhitungkan untuk dapat menetapkan hakikat dualistik ini! Gagasan mengikuti gagasan, prinsip pada prinsip, sistem pada sistem, dan tidak ada yang tahu bagaimana caranya mencegah orang yang “duniawi” yang kerap disebut “egois” ini secara permanen. Bukankah ini membuktikan bahwa semua gagasan itu terlalu lemah mengambil seluruh kehendakku ke dalam diri mereka dan memuaskannya? Mereka selalu dan tetap menjadi musuh bagiku, bahkan jika permusuhan itu tersembunyi dalam waktu yang lama. Apakah hal seperti itu akan sama dengan kepemilikan? Apakah hal itu juga hanyalah upaya mediasi? Apapun prinsip yang mana aku akan berpaling, sebagaimana pada nalar, aku harus selalu berpaling darinya lagi. Atau bisakah aku selalu bersikap rasional, mengatur hidupku sesuai dengan akal dalam segala hal? Tidak diragukan lagi, aku pasti bisa berjuang untuk rasionalitas, aku dapat mencintainya, sama seperti aku juga bisa mencintai Tuhan dan setiap gagasan lainnya. Aku bisa menjadi seorang filsuf, pecinta kebijaksanaan, karena aku mencintai Tuhan. Tapi apa yang aku cintai, apa yang aku perjuangkan, hanya berdasarkan gagasanku, konsepku, pikiranku. Hal itu ada dalam hatiku, kepalaku, itu ada di dalam diriku seperti halnya hati, tapi itu bukanlah diriku, aku bukanlah hal itu. Aktivitas roh-roh imamat termasuk terutama yang kita sering dengar sebagai “pengaruh moral”. Pengaruh moral memulai awalnya tepat dimana penghinaan⁸⁷ juga dimulai. Ya, tiada lain daripada penghinaan itu sendiri, memecah dan menundukkan

Dalam bagian ini, Stirner lagi-lagi bermain pada hubungan antara “Demütigung” (penghinaan), “Mut” (atau dalam hal ini, variasi, “Mutes” -keberanian), dan “Demut” (kerendahan hati).

keberanian menjadi kerendahan hati. Jika saya meneriaki seseorang untuk berlari saat sebuah batu hendak diledakkan, saya tidak memberi pengaruh moral. dengan permintaan ini. Jika saya berkata kepada seorang anak “kamu akan kelaparan jika kamu tidak akan makan apa yang diletakkan di atas meja,” ini juga bukan pengaruh moral. Tapi, jika aku bilang, “kamu harus berdoa, menghormati orang tuamu, menghormati salib, mengatakan yang sebenarnya, karena inilah umat manusia dan inilah panggilan manusia,” atau bahkan “ini adalah kehendak Tuhan,” maka pengaruh moral telah lengkap. Maka seorang manusia harus membungkuk pada panggilan manusia, menjadi penurut, menjadi rendah hati, menyerahkan kehendaknya pada sesuatu yang asing yang ditetapkan sebagai peraturan dan hukum; dia harus merendahkan diri pada sesuatu yang lebih tinggi: penyiksaan diri sendiri. “Dia yang menghina diri sendiri akan dimuliakan.” 88 Ya, ya, anak-anak harus terlebih dahulu dibuat untuk mempraktikkan kesalehan, ketuha-nan, dan kemuliaan; mereka yang telah diasuh dengan baik adalah mereka yang telah ditanamkan dan dibuat kagum, ditempa, ditabrakan, dan dikhotbahkan soal “prinsip yang baik”. Jika seseorang mengangkat bahu soal ini, mereka yang baik segera meremas-remas tangannya dengan putus asa, dan menangis: “Tapi, demi Tuhan, jika seseorang memberi anak-anak perintah baik, mengapa mereka langsung berlari ke dalam kunyahan dosa, dan menjadi anak bandel yang tidak berguna!” Tidak secepat itu wahai kamu sang nabi malapetaka. Mereka tentu tidak berguna dalam pengertianmu; tapi pengertianmu itu adalah pengertian yang juga tak ada gunanya. Bocah-bocah brengsek tidak akan lagi membiarkan apa pun merengek dan membujuk mereka, dan mereka tidak akan bersimpati pada semua kebodohan yang selama ini kamu perkirakan dan ocehkan

Lihat Matius 23:12.

sejak ingatan manusia dimulai; mereka akan menghapus hukum waris; mereka tidak akan mau mewarisi kebodohan dari nenek moyangmu pada mereka; mereka menghancurkan dosa asal. 89 Jika kamu memerintah mereka, “Sujudlah pada Yang Paling Tinggi”, mereka akan menjawab: “Jika dia ingin kami bersujud, biarkan dia datang sendiri dan melakukannya; kami, setidaknya, tidak akan membungkuk atas kehendak bebas kami sendiri.” Dan, jika kamu mengancam mereka dengan murkanya dan hukumannya, mereka akan menerimanya seperti sedang diancam dengan gonggongan anjing. Jika kamu tidak juga berhasil membuat mereka takut pada hantu, maka kuasa hantu telah berakhir, dan kisah hantu menakutkan tidak dapat menemukan iman apapun. Dan bukannya justru para kaum liberal pula yang mendesak adanya pendidikan dan peningkatan sistem pendidikan yang baik? Bagaimana mungkin keliberalan mereka, “kebebasan asalkan dalam batas-batas hukum” mereka itu, terjadi tanpa disiplin? Bahkan andaikata mereka tidak benar-benar mendidik untuk merasa takut akan Tuhan, mereka menuntut rasa takut pada manusia dengan lebih ketat, dan membangkitkan “antusiasme untuk panggilan manusia yang sesungguh-nya” dengan disiplin. *** Sudah lama berselang ketika orang merasa puas dengan ilusi bahwa mereka memiliki kebenaran, tanpa berpikir serius apakah mereka sungguh memiliki kebenaran. Kali ini adalah Abad Pertengahan. Dengan kesadaran material yang hanya memahami benda-benda, atau untuk apa yang inderawi dan yang jelas saja, 90 yang umum⁹¹

89 Dalam doktrin teologi Kristen, dosa asal adalah kondisi saat manusia pertama kali berbuat dosa di Taman Eden. Ada permainan kata dalam “Simliches” (inderawi) dan “Sinnfälliges” (jelas) –Wolfi. Kata “gemein” dalam bahasa Jerman kadang memiliki konotasi negatif, menjadi “umum”, tapi juga “vulgar,” “dasar,” dll.

tersebut, mereka justru berpikir untuk menangkap sesuatu yang tidak penting dan tidak inderawi. Sebagai salah satu yang tentu memaksakan matanya untuk melihat apa yang jauh, atau yang dengan susah payah melatih tangannya sampai jari-jarinya telah menjadi cukup terampil untuk menekan tombol dengan benar, mereka menghukum diri mereka dengan cara yang paling beragam supaya dapat menerima yang superinderawi sepenuhnya ke dalam diri mereka sendiri. Tapi yang membuat mereka masih malu tetap hanya yang inderawi manusia, kesadaran umum, yang disebut pemikiran yang terbatas atau yang objektif. Tapi karena pemikiran ini, pemahaman ini, yang atas nama nalar oleh Luther “raspberi,” 92 tak mampu memahami yang ilahi, penyiksaannya menyumbang sama banyaknya seperti halnya memahami kebenaran, seolah-olah seseorang menggunakan kaki itu secara bertahun-tahun dan berharap dengan cara demikian mereka akhirnya bisa belajar memainkan seruling tersebut. Luther, yang mana karenanyalah Abad Pertengahan berakhir, adalah orang pertama yang mengerti bahwa manusia itu sendiri harus menjadi sesuatu yang lain jika dia ingin memahami kebenaran-harus menjadi sama nyatanya dengan kebenaran itu sendiri. Hanya dia yang sudah memiliki kebenaran dalam kepercayaannya, hanya dia yang percaya di dalamnya, bisa menjadi bagian dari itu; dengan kata lain,

Pembaca perlu ingat-ingat bahwa sepanjang bagian ini, Stirner menunjuk arogansi mereka yang memilih menjadi Kristen, yang rasional, filosofis, kesadaran “saintifik”, yang mengira bahwa kepercayaan dalam spiritual atau yang ideal memberikan mereka kesadaran yang lebih tinggi –Wolfi. 92 Stirner disini menggunakan “anpfuit,” kata kerja dari kata perintah “pfui” yang mewakili suara atau seruan atas kejijikan atau ejekan, sebagaimana “boo,” “yuck”, “fooey,” atau.. raspberi. Luther memiliki reputasi untuk hal-hal macam ini, sebagaimana cerita tentang dia yang mengejar iblis dengan kentut -Wolfi.

hanya orang percaya saja yang menemukannya lalu dapat mengakses dan mendengarnya dalam-dalam. Hanya organ manusia yang mampu meniup saja yang bisa mencapai kapasitas lebih jauh dalam bermain seruling, dan hanya manusia yang memiliki organ yang tepat untuk itu yang menjadi bagian dari kebenaran. Dia yang hanya mampu memikirkan apa yang inderawi, obyektif, atau benda material saja yang membayangkan dirinya sendiri dalam kebenaran. Tapi kebenaran adalah roh, sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima oleh indera kita, dan karena itu hanya dapat dirasakan dengan “kesadaran yang lebih tinggi,” bukan untuk sesuatu yang “berpikiran duniawi.” Oleh karena itu, dengan Luther, realisasi yang memunculkan kebenaran itu, semenjak itu adalah sebuah pemikiran, maka ada hanya untuk orang yang berpikir. Dan ini berarti bahwa manusia harus mulai mengambil sudut pandang yang sama sekali berbeda, dengan sudut pandang surgawi, percaya, ilmiah, atau pemikiran yang berkaitan dengan objek, yaitu pikiran, titik pijak roh dalam hubungan dengan roh. Akibatnya: ia hanya dapat mengenali sesuatu yang sama sepertinya. “Anda seperti roh yang anda pahami.” 93 Karena Protestanisme menghancurkan hirarki abad pertengahan, pendapat tersebut dapat berakar bahwa hirarki pada umumnya telah hancur olehnya, dan seseorang dapat mengabaikan sepenuhnya bahwa itu benar-benar

merupakan “reformasi”, dan sekaligus merupakan
revitalisasi atas hierarki yang ketinggalan zaman. Hierarki
abad pertengahan sebatas hierarki yang lemah, karena ia
harus membiarkan semua kemungkinan barbarisme dari
hal-hal tidak dapat dikoreksi berjalan tanpa di
sampingnya, dan inilah reformasi yang pertama kali

yang

memperkuat kekuatan hierarki. Jika Bruno Bauer berpikir:

Faust, Goethe, Bagian Satu, baris 512.

Sebagaimana Reformasi adalah penyingkapan abstrak atas prinsip religius dari seni, negara, dan ilmu pengetahuan, dan karenanya pembebasannya dari kekuatan yang dengannya ia bergabung dengan dirinya di zaman kuno gereja dan di hirarki Abad Pertengahan, demikian juga gerakan teologis dan imamat yang berlangsung dari Reformasi hanya konsisten melaksanakan abstraksi prinsip agama ini dari kekuatan kemanusiaan lainnya.” 94

Saya justru menganggap bahwa sebaliknyalah yang benar, dan berpikir bahwa kuasa roh atau pikiran (yang sampai pada hal yang sama), sebelumnya tidak pernah mencakup semua dan menjadi amat mahakuasa, karena sekarang, alih-alih merendahkan prinsip religius seni, negara, dan ilmu pengetahuan, malah mengangkat yang terakhir seutuhnya dari sekularitas, ke dalam “alam roh” dan menjadikan mereka religius. Orang-orang melakukan tindakan yang benar dengan meletakan Luther dan Descartes berdampingan dengan “Dia yang percaya kepada Tuhan” dan “Saya berpikir, maka saya ada” (cogito, ergo sum). Surga umat manusia adalah pikiran -roh. Semuanya bisa direbut darinya, kecuali pikiran, kecuali iman. Keyakinan tertentu, seperti iman pada Zeus, Astarte, Yehuwa, atau Allah, dapat dihancurkan, tapi iman itu sendiri tidak dapat dihancurkan. Pikiran adalah kebebasan. Yang kubutuhkan dan apa yang membuatku lapar tak lagi diberikan kepadaku melalui rahmat, oleh Perawan Maria, dengan doa syafaat para santo, atau oleh gereja yang mengikat dan melonggarkan, tapi kudapatkan

94 Bruno Bauer, ulasan Theodor Kliefoth, Einleitung in die Dogmengeschiste (Parchim and Ludwigslust, 1839) dalam Arnold Ruge (peny), Anekdota zur neuesten deutschen Philosophie und Publizistik, volume II (Zurich dan Winterthur,

1843), hlm 152-153.

dengan upayaku sendiri. Singkatnya, keberadaanku –a cogito (jumlah -sum) adalah kehidupan di surga pemikiran, roh, cogitare. Tapi saya sendiri tidak lain daripada pikiran, yang berpikir (menurut Descartes), atau yang percaya (menurut Luther). Tubuhku bukanlah aku; dagingku mungkin saja menderita sengsara atau nyeri. Aku bukan dagingku, tapi aku adalah roh, hanya roh, pikiran. Pemikiran ini berjalan sepanjang sejarah Reformasi sampai hari ini. Hanya filsafat yang lebih modern setelah Descartes yang membuat upaya serius untuk membawa kekristenan mencapai kelengkapan efektifnya dengan meningkatkan “kesadaran saintifik” untuk menjadi satu-satunya yang benar dan valid. Terlepas dari itu, hal ini dimulai dengan yang absolut yang tak terbantahkan, dubitare, dengan “penyesalan” atas kesadaran umum, dengan penolakan atas “roh” itu; “pikiran” tidak terlegitimasi. Alam sama sekali tidak menganggap hal ini, opini orang banyak, “institusi manusia” mereka tidak untuk apapun, dan ia takkan berhenti sampai ia membawa nalar pada semuanya dan dapat berkata, “Yang nyata itu rasional, dan hanya yang rasional saja yang nyata.” 95 Jadi hal ini pada akhirnya membawa roh, nalar, pada sebuah kemenangan, dan semuanya adalah roh karena segalanya rasional; semua alam, sabagaimana bahkan opini paling tidak masuk akal dari umat manusia, mengandung nalar; karena “semua tentu harus melayani yang terbaik,” misal, mengarah pada kemenangan nalar. Dubitare-nya Descartes berisi pernyataan yang membenarkan hanya cogitare, pemikiran, hanya roh -saja. Jeda yang lengkap dengan kesadaran “umum”, yang menganggap kenyataan sebagai hal yang irrasional! Hanya yang rasional saja, hanya pikiran saja! Inilah prinsip filsafat modern, prinsip asli Kristen. Descartes pada zamannya sendiri mendiskriminasikan tubuh dengan tajam dari pikiran,

Merujuk pada “Pengantar” Hegel dalam Elements of the Philosophy of Right.

dan “roh yang membangun dirinya sendiri,” ujar Goethe. 96

Tapi filsafat itu sendiri, yaitu filsafat Kristen, tetap tidak dapat menyingkirkan yang rasional, dan karena itu bertentangan dengan yang “hanya subjektif,” melawan “keinginan, kemungkinan, ketidak-teraturan,” dll. Hasratnya adalah bahwa yang ilahi harus menjadi terlihat dalam segala hal, dan semua kesadaran menjadi tahu yang ilahi, dan manusia dapat melihat Tuhan dimana-mana; Tapi Tuhan tidak pernah seperti itu, tanpa iblis. Inilah kenapa tidak seorang pun menyebut seseorang yang tentunya telah membuka mata pada sesuatu di dunia, pandangan yang jelas dan tak terhalang apapun, penghakiman yang akurat atas dunia, sebagai filsuf. Tapi hanya yang melihat dunia sebagai dunia semata, objek sebagai objek, singkatnya, segala sesuatu sebagaimana adanya. Tapi hanya filsuf satu-satu yang melihat, dan mendemonstrasikan atau menunjukan, surga di dunia, yang supernatural di yang duniawi, yang ilahi dalam yang duniawi. Yang pertama bisa saja menjadi sangat bijak, tapi kenyataan mereka tetap:

Apa yang tidak bijak dari yang orang bijak lihat, Dipraktekkan dengan sederhana seperti hati anak kecil. 97

Hati seperti anak kecil ini, mata untuk yang ilahi ini, adalah apa yang dibutuhkan untuk membuat seorang menjadi filsuf. Orang pertama yang disinggung di atas hanya memiliki kesadaran “umum”, tapi siapa yang tahu yang ilahi dan tahu bagaimana cara mengatakannya, memiliki pengetahuan “ilmiah”. Karena alasan inilah Bacon ditendang keluar dari bidang filsafat. Dan lebih lanjut, yang

Di sini Stirner membuat kesalahan, seharusnya kutipan ini berasal dari naskah Friedrich Schiller, Wallersteins Tod (The Death of Wallerstein), Bagian II, adegan 13 -Wolfi. Friedrich Schiller, “Die Worte des Glaubens”.

pasti apa yang disebut filsafat Inggris tampaknya tidak menghasilkan apapun yang melampaui sebuah penemuan yang disebut “kepala yang jelas” 98 macam Bacon dan Hume. Orang Inggris tidak tahu bagaimana meninggikan kesederhanaan hati seperti anak kecil terhadap signifikansi filosofis, tidak tahu bagaimana cara membuatnya -para filsuf keluar dari hati anak-anak. Ini sama seperti mengatakan, filosofi mereka tidak dapat menjadi teologis atau teologi, dan belum lagi hanya sebagai yang teologi saja akhirnya filsafat dapat benar-benar hidup sendiri, menyelesaikan dirinya sendiri. Bidang pertempurannya sampai mati adalah dalam bidang teologi. Bacon tidak menyinggung masalah teologis dan titik mata anginnya. Kognisi memiliki objeknya dalam kehidupan. Lebih dari pemikiran yang lain, pemikiran Jerman mencari pencapaian awal dan mata air kehidupan, dan hanya melihat kehidupan dalam kognisi itu sendiri. Cogito, ergo sum-nya Descartes berarti “Seseorang hidup hanya jika seseorang berpikir.” Hidup yang berpikir disebut “kehidupan intelektual!” Hanya pikiran yang hidup, hidupnya adalah kehidupan sejati. Lalu, hanya di alam saja, “hukum abadi,” pikiran atau nalar alam, yang adalah kehidupan aslinya. Dalam manusia, seperti di alam, hanya pemikiran yang hidup; segala sesuatu yang lain sudah mati! Bagi abstraksi ini, bagi kehidupan umum atau yang tidak bernyawa, sejarah pikiran harus datang. Tuhan (yang adalah roh) sendirilah yang hidup. Tidak ada yang hidup kecuali hantu itu. Bagaimana mungkin seseorang mencoba untuk memper-tahankan filsafat modern atau zaman modern yang membawa kebebasan, semenjak mereka tidak dapat membebaskan kita dari kekuatan objektivitas? Atau mungkinkah aku bebas dari para lalim ketika aku tidak takut pada penguasa pribadi, tapi setiap pelanggaran terhadap penghormatan yang kurasa aku berutang padanya?

Atau mungkin “berpikiran terbuka.” Kata Jerman “offener Köpfe” dapat diterjemahkan demikian pula –Wolfi.

Kasusnya sama dengan zaman modern. Mereka hanya mengubah objek yang ada, penguasa sebenarnya, menjadi obyek yang dapat dibayangkan, yaitu menjadi gagasan, kehormatan lama yang sebelumnya tidak hanya tidak hilang, namun meningkat dengan intens. Bahkan jika orang-orang menjentikkan jari mereka pada Tuhan dan setan dalam realitas mereka yang dulu terkalahkan, orang-orang hanya mengabdikan perhatian lebih besar pada gagasan mereka. “Mereka menyingkirkan si jahat; kejahatan tersisa.” 99 Orang-orang merasa sedikit keberatan untuk memberontak melawan negara atau hukum menindas yang ada, ketika mereka telah memutuskan untuk tidak lagi membiarkan apa yang ada dan yang jelas memaksakan hal tersebut pada mereka; tetapi untuk berdosa terhadap konsep negara, untuk tidak tunduk pada konsep hukum, siapakah yang berani melakukannya? Jadi seseorang tetap menjadi “warga negara” dan “orang yang mematuhi hukum,” seorang yang setia; ya, seseorang bagi dirinya hanya menjadi semakin taat hukum, semakin rasional membuang bekas hukum yang sebelumnya dalam rangka untuk memberi penghormatan kepada “roh hukum”. Dalam semua ini, benda-benda itu hanya mengalami perubahan bentuk. Mereka tetap berada di posisi dominan dan unggul. Singkatnya, seseorang masih terlibat dalam ketaatan dan ketulusan, hidup dalam bayangan, dan memiliki objek dalam apa yang mereka bayangkan, yang mereka hormati, dan sebelum mereka merasa hormat dan takut. Seseorang tidak melakukan apa- apa selain mengubah hal-hal menjadi konsepsi tentang berbagai hal, menjadi pemikiran dan gagasan, di mana ketergantungan seseorang menjadi semakin intim dan tidak dapat dipisahkan. Jadi, misalnya, tidak sulit untuk membebaskan diri dari perintah orang tua, atau untuk mengabaikan peringatan paman dan bibi, permohonan

Stirner memparafrasekan perkataan Mephistopheles dalam “The Witch’s Kitchen” dalam Bagian Satu Faust Goethe, baris 2509 -Wolfi.

saudara laki-laki dan perempuan. Tapi ketaatan yang ditolak itu dengan mudah masuk ke dalam hati nurani seseorang, dan semakin sedikit yang tidak sesuai dengan tuntutan individu, karena secara rasional dengan nalarnya sendiri mengakui bahwa hal itu tidak masuk akal, maka semakin sadarlah ia berpegang teguh pada kesalehan dan cinta keluarga, dan semakin sulit baginya untuk memaafkan dirinya atas pelanggaran terhadap konsepsi yang telah ia bentuk tentang cinta keluarga dan tanggungjawab untuk berbakti. Dibebaskan dari ketergantungan sehubungan dengan keluarga yang ada, seseorang jatuh ke dalam ketergantungan yang lebih mengikat pada gagasan keluarga. Seseorang diperintah oleh semangat keluarga. Keluarga yang terdiri dari John, Maggie, dan lain-lain, yang kuasanya telah menjadi tidak berdaya, hanya diinternalisasi, ditinggalkan sebagai “keluarga” pada umumnya, yang mana orang hanya menggunakan pepatah lama, “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia,” 100 yang artinya di sini adalah: “Saya tentu tidak dapat memenuhi tuntutanmu yang tidak masuk akal, tapi, sebagai ‘keluarga’ saya, anda tetap menjadi objek cinta dan perhatian saya”; karena “keluarga” ini adalah sebuah konsep sakral, yang mana tidak boleh diserang oleh individu. Dan keluarga ini menginternalisasi dan terdeinderawisasi menjadi sebuah pemikiran, sebuah konsepsi, yang sekarang berada dalam posisi “sakral,” yang lalimnya sepuluh kali lipat lebih menyedihkan karena membuat keributan dalam kesadaranku. Kelaliman ini hanya dapat hancur ketika keluarga sebagai konsepsi juga tidak menjadi apa pun bagiku. Kalimat Kristen, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?” 101 “Aku datang untuk memisahkan laki-laki dari ayahnya, dan anak perempuan dari ibunya,” 102 dan lainnya, disertai dengan sesuatu yang merujuk kita ke keluarga

Lihat Kejadian 5:29. Yohanes 2:4. Matius 10:35.

surgawi atau yang benar, dan berarti tidak lebih dari tuntutan negara, jika terjadi benturan antaranya dan keluarga, kita mematuhi perintah itu. Hal tersebut dengan moralitas adalah sama seperti dengan keluarga. Banyak orang menyangkal moral, tapi dengan konsepsi “moralitas” bakal jadi lebih sulit lagi. Moralitas adalah “gagasan” moral, kekuatan intelektual, kekuatan mereka atas hati nurani; Di sisi lain, moral terlalu material untuk menguasai pikiran, dan tidak membiarkan seorang “intelektual” manusia, yang disebut independen, “pemikir bebas”. 103

Biarkan orang-orang Protestan melakukan apa yang dia kehendaki, “kitab suci,” “firman Tuhan,” masih tetap suci untuknya. Siapapun yang baginya hal ini tidak lagi “suci” berarti telah berhenti menjadi seorang Protestan. Tapi dengan ini apa yang “ditahbiskan” di dalamnya, otoritas publik yang ditunjuk oleh Tuhan, dan lain-lain, juga tetap suci baginya. Baginya, hal-hal ini tetap tak terhindarkan, tak dapat didekati, “dibesarkan di atas semua keraguan”; dan, seperti semua keraguan, yang dalam praktiknya menjadi sebuah pukulan keras, adalah apa yang paling dimiliki manusia, hal-hal ini tetap “diangkat” di atas dirinya sendiri. Dia yang tidak dapat melepaskan diri dari mereka akan - percaya; karena untuk percaya pada mereka berarti harus terikat dengan mereka. Karena iman dalam Protestanisme menjadi iman yang lebih dalam, perbudakan juga menjadi perbudakan yang lebih dalam; Seseorang telah mengambil kesucian itu ke dalam dirinya sendiri, menjalin mereka dengan semua pemikiran dan harapannya, membuat mereka menjadi “masalah hati nurani”, dipersiapkan dari mereka sebuah “tugas kudus” untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, apa yang tidak dapat diketahui oleh hati nurani Protestan adalah yang sakral baginya, dan kesungguhan

Dalam Bahasa Jerman, “Freigeist,” dapat secara literal diterjemahkan sebagai “free spirit,” tapi ini juga digunakan untuk merujuk baik pada para freethinkers dan libertines.

hati jelas-jelas mendefinisikan karakternya. Protestanisme sebenarnya telah membuat manusia menjadi “polisi rahasia negara”. Mata-mata dan penyadap, “hati nurani”, mengawasi setiap gerak pikiran, dan semua pemikiran dan tindakan adalah untuk “masalah hati nurani” itu, masalah kepolisian. Protestan keukeuh dalam fragmentasi insan manusia menjadi “dorongan alami” dan “hati nurani” (masyarakat batin dan polisi batin -inner populace and inner police). Nalar Alkitab (menggantikan “nalar gereja” Katolik) masuk dalam kategori suci, dan perasaan dan kesadaran inilah yang disebut kata-kata suci-hati nurani. Dengan ini, kemudian, kesakralan “diletakkan di atas hati nurani seseorang.” Jika seseorang tidak membebaskan dirinya dari hati nurani, kesadaran akan yang sakral, dia mungkin bertindak secara tidak sadar, tapi tidak pernah tanpa hati nurani. Orang Katolik mendapati dirinya puas saat memenuhi perintah; tindakan orang-orang Protestan sesuai dengan “penghakiman dan nuraninya yang terbaik.” Orang Katolik sendiri pada kenyataannya hanyalah orang awam; sementara Protestan adalah pendeta. 104 Inilah tepatnya kemajuan periode Reformasi atas Abad Pertengahan, dan ini juga membawa kutukan: bahwa yang spiritual 105 telah menjadi lengkap. Apa lagi moral Jesuit jika bukan kelanjutan dari penjualan barang loak, 106 kecuali orang tersebut telah dipulihkan dari dosanya yang sekarang mendapatkan wawasan pada remisi dosa dan meyakinkan dirinya bahwa dosanya itu sebenarnya telah diambil darinya, semenjak dalam kasus-kasus tertentu apa yang telah ia tetapkan tak

104 “Geistlicher.” 105 “Geistliche.” “Ablaβkrames” dalam Bahasa Jerman. “Ablaβ” diterjemahkan sebagai “kegemaran.” “Kram” sebagai “bekas” atau “lama dan akhir” dan tampaknya lebih punya konotasi menghina. Kata kerja “kramen” diterjemahkan sebagai “mengubrak-abrik” -Wolfi.

berdosa sama sekali. Kegemaran menjual barang loak telah membuat semua dosa dan pelanggaran diizinkan, dan membungkam setiap gerakan hati nurani. Semua keinderawian mungkin terus bergoyang hanya jika dibeli dari gereja. Keutamaan inderawi ini diteruskan oleh para Yesuit, sementara orang-orang Protestan yang sangat bermoral, gelap, fanatik, bertobat, menyesal, dengan kata lain, sebagai seorang penyempurna Kekristenan sesungguhnya, hanya diakui sebagai seorang yang intelektual dan spiritual. Katolik, terutama para Yesuit, memberi bantuan pada egoisme dengan cara ini, menemukan penganut yang tidak sadar dan semaput dalam Protestanisme itu sendiri, dan menyelamatkan kita dari subversi dan kepunahan keinderawian. Meskipun demikian semangat Protestan menyebar lebih jauh dari wilayahnya dan semakin jauh. Dan semenjak itu, dibandingan dengan hal tersebut, yang “ilahi,” semangat Yesuit mewakili “kekezaman -diabolical” yang tidak dapat dipisahkan dari segala sesuatu yang ilahi. Semangat Yesuit ini tidak dapat menyatakan dirinya sendiri, namun harus melihat, sebagaimana di Prancis misalnya, filistinisme Protestanisme yang akhirnya menang, dan roh berada di puncak. 107

107 David Leopold dalam catatan di The Ego and Its Own (1995) edisi Cambridge University Press menyimpulkan bahwa ini merujuk pada Kalvinisme. Saya pikir Stimer lebih cenderung merujuk pada pemikiran Prancis dari Descartes melalui orang-orang seperti Diderot dan Rousseau dan pada masa Revolusi Perancis, yang memberikan penekanan utama pada Nalar sebagai cara untuk menilai pemikiran dan tindakan. Seseorang mungkin berpendapat bahwa dalam kasus orang-orang seperti Diderot, sebagian kecil Jesuit tetap berada dalam Protestantisme ateistik mereka, karena mereka memang mempertahan-kan tempat untuk hal-hal yang indrawi. Tetapi Calvinisme tidak pernah menang di Prancis, sedangkan rasionalisme Cartesian dan penjelajahan filosofis, ilmiah, dan sosial-politik yang mengikutinya, cukup untuk menjalankan revolusi dan untuk terus

Orang-orang tetap melengkapi Protestanisme karena telah dibawanya yang duniawi pada penghormatan, misalnya, pernikahan, negara, dan sebagainya. Tapi yang duniawi itu sendiri, sebagai yang duniawi, yang fana, masih jauh tidak penting bagi Protestanisme ketimbang Katolikisme, yang mana membiarkan yang dunia fana tetap ada, tentu saja, menikmati kesenangannya, sedangkan yang rasional, Protestan yang konsisten mempersiapkan penghancuran yang duniawi secara bersamaan, dan sederhananya itu dilakukan dengan membuatnya menjadi yang sakral. Jadi pernikahan telah dirampok dari kealamiahannya dengan menjadi sakral, tidak dalam sakramen Katolik, yang mana ia hanya menerima konsekrasi (penyucian) dari gereja dan karena itu pada dasarnya tidak suci, tapi dalam artian sesuatu yang menjadi sakral dalam dirinya sejak awal, yaitu hubungan yang sakral. Hal yang sama berlaku untuk negara dan sebagainya. Paus yang dulu memberikannya dan pangerannya ia berkati dan sucikan; sekarang negara secara inheren adalah suci, yang mulia adalah suci tanpa perlu diberkati oleh pendeta. Tatanan alamiah atau hukum alah telah dibuat suci secara mutlak sebagai “tatanan suci.” Seperti dikatakan, sebagai contoh, dalam Pengakuan Augsburg, Pasal II: “Jadi sekarang kita cukup mematuhi pepatah itu, sebagai tuan penghakiman telah secara bijak dan benar berkata: bahwa laki-laki dan perempuan harus bersama dalam hukum alam. Sekarang jika itu adalah hukum alam, maka itu adalah hukum Tuhan, karena itu ditanamkan di alam, dan karenanya juga itu adalah hukum yang suci.” 108 Dan apakah itu lebih dari

melawan rezim yang reaksioner dengan gejolak revolusioner baru untuk beberapa waktu sesudahnya. -Wolfi. 108 Dari penelitianku sendiri, tampaknya ini bukanlah pernyataan yang benar-benar dari Pengakuan Augsburg, tapi lebih sebagai rangkuman dari pasal II (“Of the Marriage of Priests”) dari bagian kedua Pengakuan (“Pasal yang mana diulas penyelewengannya dan telah dikoreksi”).

sekedar Protestanisme pencerahan, ketika Feuerbach menyatakan hubungan moral suci, tentu bukan perintah Tuhan, tapi lebih sebagai roh yang berdiam didalamnya?

Tapi pernikahan -yang kita maksud, tentu saja, pernikahan sebagai ikatan bebas dari cinta-adalah suci dengan sendirinya, oleh alam dari persatuan yang mana terbentuk disini. Satu- satunya pernikahan yang religius adalah pernikahan yang mana adalah pernikahan sejati, yang berhubungan dengan hakikat pernikahan, cinta. Dan begitupula dengan semua hubungan moral. Mereka dengan kemudian hanyalah moral, mereka dengan kemudian hanya tertanam dalam artian moral, ketika mereka dipandang sebagai yang kudus dalam dirinya. Persahabatan sejati hanya ada saat batasan persahabatan dipersiapkan dengan kesadaran religius, dengan kesadaran yang sama yang mana mereka yang percaya melindungi kehormatan Tuhan-nya. Biarkan pertemanan menjadi kudus, properti kudus, pernikahan kudus, setiap insan manusia yang kudus, bagimu, tidak lain daripada yang suci dalam dan bagi dirinya sendiri. 109

Ini adalah momen hakikatal yang sangat penting. Dalam Katolikisme, yang duniawi memang bisa dikuduskan atau dibuat kudus, tapi ini tidak mungkin menjadi kudus tanpa berkat para imam ini. Dalam Protestanisme, sebaliknya, hubungan duniawi adalah kudus dari diri mereka sendiri, yang sakral oleh eksistensi belaka. Pepatah Yesuit: “akhir membuat cara menjadi kudus,” sama persis dengan konsekrasi yang diberikan oleh kesucian. Bukan berarti suci

Ludwig Feuerbach, Das Wessen des Christentums,.. The Essence of Christianity (Leipzig, 1843), hlm 403.

atau tidak suci dalam diri mereka sendiri, namun hubungan mereka dengan gereja, penggunaannya bagi gerejalah yang memberi arti. Regisida (pembunuhan Raja) dinamakan demikian; Jika itu dilakukan untuk gereja, pasti ada yang dikuduskan oleh gereja, bahkan jika ucapan itu tidak secara terbuka diucapkan. Kepada orang-orang Protestan, keagungan itu dianggap suci; Bagi orang Katolik hanya keagungan yang dikuduskan oleh paus saja yang dapat dianggap seperti itu; dan hal itu sama saja dengan dia dianggap hanya karena paus, meski tanpa tindakan khusus, menganugerahkan kesucian ini sekali untuk selamanya. Jika dia menarik pengabdiannya, raja hanya akan ditinggalkan sebagai “orang dunia atau orang awam,” seorang “yang tidak dikonsentrasikan-unconsecrated” kepada orang Katolik. Jika orang-orang Protestan berusaha untuk menemukan kesakralan dalam inderawi itu sendiri, bahwa dia kemudian dapat dikaitkan hanya dengan apa yang suci, orang Katolik berusaha untuk mengusir inderawi dari dirinya ke dalam wilayah yang terpisah, di mana ia, seperti seluruh alam, terus menganggapnya untuk dirinya sendiri. Gereja Katolik menghilangkan pernikahan duniawi dari perintahnya yang dikuduskan, dan menarik orang-orang yang berasal dari keluarga dunia biasa; gereja Protestan menyatakan ikatan perkawinan dan keluarga menjadi suci, dan karena itu tidak sesuai untuk para pendeta. Seorang Yesuit mungkin, sebagai seorang Katolik yang baik, menguduskan segalanya. Dia hanya perlu, misalnya, untuk mengatakan kepada dirinya sendiri: “Aku sebagai imam perlu ke gereja, tetapi aku melayaninya dengan lebih giat ketika aku memuaskan keinginanku dengan baik; akhirnya aku akan merayu gadis ini, meracuni musuhku, dll; akhiranku suci karena itu adalah pendeta, akibatnya itu menguduskan cara.” Tentu saja, pada akhirnya, hal itu masih dilakukan demi kepentingan gereja. Mengapa pendeta Katolik itu menyusut dari menghidangkan

wafer beracun pada Kaisar Henry VII untuk kepentingan gereja? Orang-orang Protestan yang benar-benar imamat menentang semua “kesenangan yang tidak bersalah,” karena hanya yang suci, spiritual, yang tidak bersalah. Apa yang tidak dapat mereka tunjukkan tentang semangat suci, orang-orang Protestan harus tolak: menari, teater, otobrasi (misalnya di gereja), dan sejenisnya. Dibandingkan dengan Kalvinisme yang puritan ini, Lutheranisme sekali lagi lebih pada jalur yang religius, spiritual, yang lebih radikal. Sebab, yang pertama sama sekali tidak menyisihkan sejumlah besar hal sebagai yang inderawi dan duniawi, dan memurnikan gereja; Lutheranisme sebaliknya mencoba membawa roh ke dalam segala hal sejauh mungkin, untuk mengenali roh kudus sebagai hakikat dalam segala hal, dan untuk menguduskan segalanya secara duniawi. (“Tidak ada yang bisa melarang ciuman demi menghormati.” Roh kehormatan menyucikannya.) Oleh karena itu, Lutheran Hegel (dia menyatakan dirinya sebagai ini dalam beberapa bagian atau lainnya: dia “ingin tetap menjadi seorang Lutheran”) benar-benar sukses dalam membawa ide melalui segala hal. Nalar, roh kudus, ada dalam segala hal, atau “yang nyata itu rasional.” Yang mana harus dikatakan, yang nyata ada dalam segala kenyataan, yang mana di dalam tiap hal, sebagai contoh, kebenaran dapat dirasakan dalam tiap kebohongan; tidak ada kebohongan mutlak, tidak ada kejahatan mutlak, dll. “Karya pikiran” raksasa diciptakan hampir semata- mata oleh orang-orang Protestan, karena mereka sendiri adalah murid sejati dan penyempurna roh. *** Betapa mungilnya umat manusia sehingga dapat ditaklukan! Ia harus membiarkan matahari terbenam, laut menggelindingkan ombaknya, gunung-gunung naik ke surga. Sehingga ia berdiri tak berdaya di bawah yang tak

tertaklukan itu. Bisakah ia menolak kesan bahwa ia tidak berdaya melawan dunia raksasa ini? Inilah hukum tetap yang membuatnya harus tunduk, inilah yang menentukan nasib-nya. Sekarang, apa yang dilakukan kemanusiaan pada zaman pra-Kristen? Menuju penyingkiran gangguan takdir, tidak membiarkan diri kita dijengkelkan oleh mereka. Orang-orang Stoik mencapai hal ini dengan sikap apatis, menyatakan bahwa serangan alam acuh tak acuh, dan tidak membiarkan diri mereka terpengaruh olehnya. Horace mengucapkan admirari Nil 110 yang terkenal, yang dengannya dia juga mengumumkan ketidakpedulian pada yang lain: dunia. Hal itu bukan untuk mempengaruhi kita, bukan untuk membangkitkan kekaguman kita. Dan impavidum ferient ruinae¹¹¹ mengekspresikan ketidakteraturan yang sama seperti Mazmur 46:3: “Sebab itu kami tidak takut, meskipun bumi harus binasa.” 112 Dalam semua hal ini ada ruang yang dibuat untuk dalil Kristen bahwa dunia ini kosong, karena penghinaan orang-orang Kristen terhadap dunia. Roh “orang bijak” yang tak tergoyahkan, dimana dunia lama bekerja untuk mempersiapkan usahanya, sekarang mengalami pertengkaran batin tanpa henti, tanpa ada keberanian Stoik yang dapat melindunginya. Roh, terjaga dari semua pengaruh dunia, tahan dari guncangannya, naik di atas serangannya, tidak mengagumi apapun, tidak merasa bingung dengan kejatuhan dunia -berbusa tak tertahankan lagi, karena gas dalamnya (roh) berevolusi

110 “Untuk tidak kagum pada apapun,” dari Horace, Epistles, Buku 1, Epistle 6, baris 1: “Untuk kagum tidak pada apapun hanyalah tentang satu dan hanya satu hal, Numicus, yang dapat membuat manusia bahagia dan tetap demikian.” 111 “Serang dia tanpa rasa takut,” dari Horace, Odes, Buku 3, Ode 3, baris 7: “Jika dunia harus pecah dan jatuh keatasnya, itu akan menyerangnya tanpa rasa takut.” Yang dimaksud Stirner sebenarnya merujuk pada Mazmur 46:2 -Penj.

dengan sendirinya, dan, setelah kejutan mekanis yang datang dari luar menjadi tidak efektif, ketegangan kimiawi yang mengagetkan memulai permainan indah mereka. Kenyataannya, sejarah kuno berakhir dengan hal ini: bahwa aku telah memenangkan kepemilikanku atas dunia. “Semua hal telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” (Matius 11. 27). Ia (dunia) telah berhenti menjadi sangat kuat, tak tersentuh, suci, dan berhenti menjadi ilahi bagiku. Ia menjadi tak ber-Tuhan (godless), dan sekarang aku memperlakukannya seperti yang aku senangi. Jika aku mau, aku bisa mengerahkan semua kekuatan keajaiban itu, yang mana adalah kekuatan pikiran, atasnya. Menghancurkan pegunungan, memerintah pohon murbei untuk merontokkan diri mereka dan menanam diri mereka ke laut (Lukas 17:6), dan melakukan segala sesuatu yang mungkin, yang terpikirkan: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” (Markus 9:23). Aku adalah penguasa dunia, apa yang aku miliki adalah “kemuliaan.” [Herrlichkeit, yang, menurut turunannya, berarti “Ketuhanan”] Dunia telah menjadi sesuatu yang biasa, karena yang ilahi telah lenyap darinya: ini adalah milikku, yang mana dapat aku atur sebagaimana aku (yang mana adalah roh) rasa pas. Ketika aku meninggikan diri untuk menjadi pemilik dunia, egoisme telah memenangkan kemenangan pertamanya yang lengkap, telah menaklukkan dunia, telah menjadi tidak duniawi (wordless), dan menempatkan perolehan era dunia yang lama di bawah gembok dan kunci. Properti yang pertama, “kemuliaan” yang pertama, telah diperoleh! Tapi penguasa dunia belumlah menjadi penguasa atas pikirannya, perasaannya, kehendaknya: dia bukan penguasa dan pemilik roh, karena roh tetap suci, “Roh Kudus”, dan “ketidakduniawian” (wordless) orang Kristen adalah tidak dapat menjadi “tidak bertuhan.” Jika perjuangan kuno adalah perjuangan melawan dunia, perjuangan Abad Pertengahan (Kristen) adalah perjuangan melawan diri

sendiri, pikiran; yang pertama melawan dunia luar, yang terakhir menentang dunia batin. Orang abad pertengahan adalah orang “yang tatapannya berubah ke dalam,” orang yang berpikir, yang meditatif. Semua hikmat orang zaman dahulu adalah hikmat duniawi, sementara semua kebijaksanaan orang modern adalah ilmu tentang Tuhan. Orang-orang kafir (termasuk juga orang Yahudi) telah selesai dengan dunia; Tapi sekarang ini juga penting untuk menyelesaikan dirinya, rohnya; yaitu menjadi tanpa roh atau tidak bertuhan. Selama hampir dua ribu tahun kita telah berupaya untuk menundukkan Roh Kudus untuk diri kita sendiri, dan sedikit demi sedikit kita telah merobek banyak pecahan kesucian dan menginjaknya di bawah kaki kita, tapi musuh raksasa terus-menerus bangkit kembali dengan bentuk dan nama yang berubah. Rohnya belum kehilangan keilahian, kesuciannya, keduniawiannya. Yang pasti, ia tidak mengepakkan kepala seperti burung merpati. Yang pasti, ia tidak lagi senang pada orang-orang kudusnya sendiri, melainkan membiarkan dirinya tertangkap oleh kaum awam juga; tapi sebagai roh kemanusiaan, sebagai roh manusia, tetap saja merupakan roh yang asing bagiku atau kamu, masih jauh dari menjadi milik kita yang tak terbatas, yang kita buang dari kesenangan kita. Namun, satu hal pasti telah terjadi, dan dengan jelas membimbing kemajuan sejarah pasca-Kristen: satu hal ini adalah usaha untuk membuat Roh Kudus lebih manusiawi, dan membawanya lebih dekat kepada manusia, atau mengupayakan manusia untuk itu. Melalui ini, akhirnya, hal itu dapat dipahami sebagai “roh kemanusiaan”, dan di bawah ungkapan yang berbeda seperti “roh tentang kemanusiaan, manusia, humanitarianisme, cinta universal kemanusiaan,” menjadi tampak lebih menarik, lebih akrab, dan lebih mudah dijangkau. Tidakkah kamu berpikir bahwa sekarang setiap orang

dapat memiliki Roh Kudus, mengambil gagasan tentang kemanusiaan, membawa manusia untuk terbentuk dan eksis di dalam dirinya sendiri? Tidak, roh tidak dilucuti kekudusannya dan dirampas ketidakterjangkauannya (inaccessibility); ia di luar jangkauan kita, bukan milik kita; karena semangat kemanusiaan bukanlah roh-ku. Ia bisa saja menjadi yang ideal bagiku, dan sebagai sebuah pemikiran aku menyebutnya sebagai milikku; pemikiran tentang kemanusiaan adalah milikku, dan aku membuktikan ini cukup dengan mengemukakannya sesuai dengan pandanganku, dan meletakannya dengan cara demikian hari ini, dan besok dengan cara yang berbeda. Kita membayangkannya dengan berbagai macam cara. Tapi hal ini di saat yang bersamaan menjadi warisan yang terbatas, yang mana tidak dapat aku ingkari atau singkirkan. Di antara banyak perubahan, ketika Roh Kudus menjadi “gagasan yang absolut”, yang lagi-lagi, dalam berbagai perubahan, pecah berkeping-keping menjadi berbagai gagasan tentang kemanusiaan, rasionalitas, kebajikan masyarakat, dan lain-lain. Tapi bisakah aku menyebut gagasan itu milikku jika itu adalah gagasan tentang kemanusiaan, dan dapatkah aku menganggap roh telah berkuasa jika aku harus melayaninya, untuk “mengorbankan diriku sendiri” untuk itu? Zaman kuno pada akhirnya mendapatkan kepemilikannya atas dunia hanya jika hal itu telah menghancurkan kehebatan dan keilahian duniawi, mengakui ketidakberdayaan dan “kesia- siaan dunia”. Situasi dimana roh sesuai. Ketika aku telah menjadikannya spook, dan kekuasaannya atasku menjadi semacam roda di kepala, maka aku bisa melihatnya sebagai yang kehilangan kesuciannya, kekudusannya, keilahiannya, dan kemudian aku menggunakannya seperti ketika seseorang menggunakan sifat pada kenikmatannya tanpa keberatan.

“Sifat atas sesuatu,” “konsep hubungan,” bertujuan untuk membimbingku dalam upaya menangani sesuatu atau dalam penyempurnaan hubungan. Sebagaimana jika sebuah konsep atas sesuatu ada dalam dirinya, dan bukannya konsep suatu bentuk atas sesuatu! Seolah-olah sebuah hubungan yang mana kita masuki dengan sendirinya tidaklah unik karena keunikan siapapun yang memasukinya! Seolah-olah bergantung pada bagaimana orang lain mengkategorikannya! Tapi, saat orang memisahkan “hakikat Manusia” dari orang yang sebenarnya, dan menilai yang terakhir dari yang pertama, maka mereka juga memisahkan tindakannya darinya, dan menilainya dengan “nilai manusia.” Konsep ada untuk di mana-mana menentukan keputusan, konsep ada untuk mengatur hidup, konsep ada untuk memerintah. Inilah dunia religius, yang Hegel telah berikan ungkapan yang sistematis, dengan membawa metode ke dalam yang non-inderawi, dan dengan menyempurnakan hukum konseptual ke teologi dogmatik yang bulat dan berbasis teguh. Segalanya didongkrak sesuai konsep, dan manusia yang sebenarnya, yaitu aku, dipaksa untuk hidup sesuai dengan hukum konseptual ini. Mungkinkah ada kekuasaan hukum yang lebih menyedihkan, dan bukankah kekristenan mengakui pada awalnya bahwa itu hanya untuk menarik kekuasaan hukum Yudaisme menjadi lebih ketat? (“Satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat!” 113 ) Liberalisme hanya membawa konsep lain; manusia ketimbang yang ilahi, pemerintah ketimbang imamat, yang “ilmiah” ketimbang yang religius, atau yang lebih umum, konsep nyata dan hukum abadi ketimbang “dogma kasar” dan sila. Sekarang tidak ada apapun selain roh yang berkuasa di dunia. Banyak sekali konsep yang beredar di kepala orang-orang, dan kemudian apa yang mereka coba

Lihat Matius 5:17-18.

lakukan? Mereka meniadakan konsep-konsep ini untuk menempatkan yang baru di tempat mereka! Mereka berkata: “Anda telah membentuk konsep palsu tentang hak, negara, umat manusia, kebebasan, kebenaran, pernikahan, dll; konsep yang benar dsb, adalah sesuatu yang sekarang sedang kami persiapkan.” Jadi, kebingungan konseptual terus bergerak maju. Sejarah dunia telah memperlakukan kita dengan kejam, dan roh telah memperoleh kekuatan yang maha kuasa. Kamu harus memperhatikan sepatuku yang menyedihkan yang dapat melindungi kakimu yang telanjang, dan garamku yang membuat kentangmu menjadi lezat, dan gerbong negaraku, yang kepemilikannya akan membebaskanmu dari segala kebutuhan secara sekaligus. Kamu tidak diperbolehkan untuk menggapai mereka. Manusia harus mengakui independensi dari semua hal ini dan segal hal lain yang tak terhitung banyaknya: mereka harus menentukan di dalam pikirannya sebagai sesuatu yang tidak dapat disita atau didekati, harus dijauhkan darinya. Dia harus menguasainya, menghormatinya; Celakalah dia jika dia merentangkan jari-jarinya dengan penuh keinginan; kami menyebutnya “menjadi panjang tangan (light-fingered)!” Betapa sedikitnya yang tersisa dari kita, tentu saja, tidak ada sama sekali! Segala sesuatu telah dihapus, kita tidak boleh melakukan apapun kecuali jika hal tersebut diberikan kepada kita; Kita terus hidup hanya dengan rahmat sang pemberi. Kamu bahkan tidak diperbolehkan untuk menjumput jarum, kecuali jika kamu sudah mendapat izin untuk melakukannya. Dan mendapatkannya dari siapa? Dari rasa hormat! Hanya ketika hal tersebut membiarkanmu memilikinya sebagai properti, hanya bila kamu bisa menghormatinya sebagai properti, barulah kamu dapat mengambilnya. Dan lagi, kamu diperbolehkan untuk tidak membentuk pemikiran apapun, untuk mengucapkan suatu suku kata, melakukan sebuah tindakan, yang seharusnya

mendapat jaminan di dalam dirimu sendiri, alih-alih menerimanya dari moralitas atau akal atau kemanusiaan. Bahagia dengan kekurangan, betapa mereka dengan tanpa ampun telah mencoba membunuhmu di altarnya halangan! Tapi di sekitar altar bangkitlah lengkungan gereja, dan dindingnya terus bergerak lebih jauh dan lebih jauh lagi. Apa yang mereka lampirkan itu sakral. Kamu tidak bisa lagi sampai ke sana, tidak lagi menyentuhnya. Mengejutkan dengan rasa lapar yang melahapmu, kamu mengelilingi dinding ini untuk mencari sedikit yang profan, dan lingkaran jalurmumu terus tumbuh semakin lama semakin panjang. Segera gereja akan merangkul seluruh dunia, dan kamu diusir ke ujung yang paling ekstrem; Langkah lain, dan dunia yang suci telah menaklukkan: kamu tenggelam ke dalam jurang maut. Oleh karena itu beranilah saat masih dalam masanya, berkelana tidak lagi menjadi orang profan di mana sekarang makan kering, berani lompatan, dan bergegas masuk melalui gerbang menuju tempat kudus itu sendiri. Jika kamu melahap yang suci, kamu telah membuatnya sendiri! Intisari kue wafer yang sakramental, dan kamu menyingkirkannya!

III. Yang Bebas

Karena orang zaman kuno dan orang modern telah dijelaskan dalam dua bagian sebelumnya, sehingga tampaknya yang bebas akan dijelaskan di sini di bagian ketiga secara indipenden dan terpisah. Tapi tidak demikian. Yang bebas hanyalah yang lebih modern dan yang paling modern di antara yang “modern”, dan diletakan di bagian yang terpisah karena mereka dimiliki oleh masa kini, dan mengenai apa yang masa kini, di atas segalanya, sekarang menarik perhatian kita. Aku menyebut “yang bebas” hanya sebagai terjemahan atas “para liberal”, tapi tetap sesuai dengan konsep kebebasan, seperti umumnya begitu banyak hal lain yang antisipasinya tidak bisa aku hindari, aku harus

mengacu pada apa yang terjadi kemudian.

1. Liberalisme Politik

Setelah orang-orang mengeringkan cawan yang mereka sebut sebagai monarki absolut hingga ke ampasnya, mereka menjadi lebih sadar bahwa minuman mereka tidak terasa seperti manusia yang belum mulai mendambakan gelas yang berbeda. Semenjak ayah kita adalah manusia di atas segala umat manusia, mereka akhirnya ingin dianggap demikian pula. Siapa pun yang melihat di dalam diri kita sesuatu yang lain selain manusia, di dalam dirinya kita juga tidak akan melihat manusia, tapi makhluk yang tidak manusiawi, dan kita akan menemuinya sebagai makhluk yang tidak manusiawi. Di sisi lain, siapapun yang mengenali kita sebagai manusia dan melindungi kita dari bahaya yang akan memperlakukan kita secara tidak manusiawi, kita akan menghormatinya sebagai pelindung dan wali sejati kita. Marilah kita sesama manusia tetap kompak dan saling melindungi satu sama lain; maka kita akan menemukan perlindungan yang diperlukan dalam membuat kita tetap kompak, dan dalam diri kita sendiri, orang-orang yang kompak, sebuah komunitas orang-orang yang mengetahui martabat kemanusiaan mereka dan berpegang teguh sebagai “umat manusia”. Kita yang tetap kompak adalah negara; kita yang tetap kompak adalah bangsa. Dalam kekompakan kita sebagai bangsa atau negara yang akan datang, kita hanyalah manusia. Bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri sebagai individu, dan impuls pencari-diri apa yang dapat kita tolak dari milik mereka semata-mata hanya milik kehidupan pribadi kita; kehidupan publik atau negara kita adalah milik manusia yang murni. Segala sesuatu yang tidak manusiawi atau yang “egois” yang melekat pada kita terdegradasi menjadi “masalah pribadi” dan kita dengan teliti memisahkan negara dari

“masyarakat sipil” 114 yang mana “egoisme” kejar hakikatnya. Manusia yang sejati adalah bangsa, tapi individu selalu egois. Oleh karena itu, lepaslah individualitasmu atau pemisahan yang mana ketidaksetaraan dan perselisihan egoistik berada, dan baktikan diri sepenuhnya pada manusia yang sejati: bangsa, atau negara. Maka kamu akan dianggap sebagai manusia, dan memiliki semua itu adalah apa yang seharusnya dibutuhkan untuk menjadi manusia; Negara, manusia sejati, akan memberi hak kepadamu atas apa yang menjadi miliknya, dan memberimu “hak asasi manusia”; manusia memberikanmu haknya! Demikianlah pidatonya para borjuis. Borjuis itu tidak lain daripada pemikiran bahwa Negara adalah segala-galanya, manusia yang sejati, dan bahwa nilai seorang manusia individual terdiri dari bagaimana kita dapat menjadi warga negara. Sebagai warga negara yang baik, dia mencari kehormatan tertinggi baginya; Di luar itu dia tidak tahu apapun yang lebih tinggi selain daripada yang paling kuno, yaitu –“menjadi orang Kristen yang baik.” Borjuis mengembangkan dirinya dalam perjuangan melawan kelas-kelas istimewa, yang dengan seksama diperlakukan layaknya orang dari “kasta terendah,” 115 dan dilempar bersama dengan para canaille (rakyat jelata). Dengan kata lain, hingga sekarang Negara telah mengakui ketidaksetaraan orang-orang. Putra bangsawan dipilih untuk

114 Bahasa Jerman untuk ini adalah “burgerlichen Gesellschajt” yang juga dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat borjuis” – Wolfi. 115 Dalam kasus berikut ini, Stirner merujuk “third estates” kepada tingkatan terendah dalam tatanan masyarakat masyarakat Eropa Barat (terutama Inggris dan Prancis) yang dianggap membentuk bagian dari tingkatan status (estates of the realm), yang terdiri dari tiga unsur, yaitu pemimpin Gereja, kaum ningrat dan kemudian yang paling bawah, khalayak umum. Saya akan menggunakan “kasta terendah” sebagai padanan untuk “third estates” pada bagian-bagian selanjutnya -penerjemah.

posisi di mana warga borjuis yang paling terkemuka punya cita-cita yang sia-sia. Sensibilitas borjuis memberontak melawan hal ini. Tidak boleh ada perbedaan lagi, tidak boleh ada perlakuan istimewa terhadap orang tertentu, tidak ada perbedaan kelas! Biarkan semuanya sama! Tidak ada kepentingan khusus yang harus dikejar, tetapi lebih kepada kepentingan umum semua orang. Negara harus menjadi komunitas manusia yang bebas dan setara, dan setiap orang harus mengabdikan dirinya pada “kebaikan yang menyeluruh;” bergabung ke dalam negara, membuat negara mengejar tujuan dan idealnya. Negara! Negara! Demikianlah seruan umumnya, dan kemudian orang-orang mencari “bentuk Negara yang tepat,” konstitusi terbaik, dan karenanya negara dalam formulasi terbaiknya. Pikiran tentang Negara masuk ke dalam tiap hati dan membangkitkan antusiasme; Untuk melayani dewa duniawi ini, menjadi bentuk pelayanan dan penyembahan ilahi yang baru. Epos politik yang asli telah tiba. Melayani Negara atau bangsa menjadi cita-cita tertinggi, Negara tertarik dengan kepentingan tertinggi, Negara melayani (yang mana seseorang dengan cara apapun tidak perlu menjadi pejabat) kehormatan tertinggi. Jadi kepentingan dan kepribadian kemudian dikejar, dan pengorbanan untuk Negara menjadi shibboleth. 116

Seseorang harus menyerahkan dirinya, dan hidup hanya untuk Negara. Seseorang harus bertindak layaknya “tidak memiliki kepentingan apapun,” tidak boleh menguntungkan dirinya sendiri, selain daripada Negara. Dengan begini, yang terakhir telah menjadi orang yang benar, sebelum kepribadian individu musnah; bukan aku yang hidup, tapi hal itu hidup di dalam diriku. Karena itu, jika dibandingkan dengan pencari diri yang sebelumnya, hal ini tidak

Suatu kebiasaan, prinsip, atau keyakinan yang membedakan kelas atau sekelompok orang tertentu, terutama yang sudah lama dianggap sebagai ketinggalan zaman atau tidak lagi penting.

mementingkan diri sendiri dan impersonalitas itu sendiri. Sebelum Tuhan ini –yaitu Negara-semua egoisme lenyap, dan sebelumnya semuanya setara; Mereka meninggalkan semua perbedaan lain –umat manusia, tidak lain hanyalah umat manusia. Revolusi dinyalakan dari properti yang bahannya mudah terbakar. Pemerintah membutuhkan uang. Sekarang ia harus membuk-tikan dalil bahwa hal itu adalah mutlak, dan dengan begitu menguasai semua properti, menjadi pemilik yang tunggal; ia harus mengambil sendiri uang-nya, yang hanya dimiliki oleh subjek, yang bukan milik mereka. Alih-alih demikian, ia meminta Majelis Negara, 117 untuk membiarkan uang tersebut dijaminkan kepadanya. Ketakutan atas konsekuensi akhir menghancurkan ilusi pemerintahan absolut, karena siapapun yang harus membiarkan agar sesuatu “dijamin” kepadanya, tidaklah bisa dipandang sebagai yang absolut. Subjek mengakui bahwa mereka adalah pemilik sejati, dan itu adalah uang mereka yang diminta oleh pemerintah. Subjek yang pertama itu telah mencapai tingkat kesadaran bahwa mereka adalah pemilik. Bailly melukiskan ini dalam beberapa kata: “Jika Anda tidak dapat menentukan harta milik saya tanpa persetujuan saya, seberapa banyak Anda dapat menentukan pribadi saya, dari semua hal yang menyangkut kedudukan mental dan sosial saya! Semua ini adalah milikku, seperti sebidang tanah yang saya garap; dan saya memiliki hak, dan kepentingan, untuk membuat hukum saya sendiri.” 118 Kata-kata Bailly terdengar, tentu saja, seolah- olah sekarang ini setiap orang adalah pemilik. Namun, alih-alih pemerintah, alih-alih pangeran, sekarang bangsa yang menjadi tuan dan pemilik. Sejak sekarang yang ideal disebut

117 Estate-General (Inggris) atau États généraux (Prancis) adalah majelis legislatif dan konsultatif dari tiga kelas masyarakat, yaitu bangsawan, rohaniawan dan rakyat -Penj. Edgar Bauer, Bailly und die Ersten Tage der Französischen Revolution (Charlottenburg, 1843), hlm 89.

sebagai -“kebebasan populer” –“rakyat yang merdeka,” dll. Pada tanggal 8 Juli 1789, deklarasi Uskup Autun dan Barriére menghancurkan semua pretensi kepentingan masing-masing individu dalam legislasi. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan sepenuhnya dari para delegasi¹¹⁹; mayoritas perwakilan telah menjadi tuan. Ketika pada tanggal 9 Juli rencana pembagian kerja mengenai konstitusi diusulkan, Mirabeau mengatakan bahwa “pemerintah hanya memiliki kekuasaan, 120 tapi tidak memiliki hak; sumber segala hak hanya dapat ditemukan pada rakyat.” 121 Pada tanggal 16 Juli, Mirabeau yang sama berseru: “Bukankah rakyat adalah sumber dari semua kekuasaan?” 122 Oleh karena itu, sumber segala hak dan sumber segala kekuasaan! Omong-omong, di sini substansi “yang benar” menjadi terlihat; yaitu -kekuasaan. “Dia yang memiliki kekuasaan memiliki hak.” *** Borjuis adalah pewaris kelas-kelas istimewa. Sebenarnya, hak para baron, yang diambil darinya sebagai “hasil rampasan,” hanya saja diteruskan ke para borjuis karena sekarang berjouis disebut sebagai “bangsa.” “Ke tangan bangsa” semua hak prerogatif telah dikembalikan. Dengan demikian mereka berhenti menjadi “hak prerogatif”: mereka menjadi “hak.” 123 Sejak saat ini, bangsa ini menuntut persepuluhan, layanan wajib; ia telah mewarisi pengadilan para tuan, hak untuk berburu, dan para budak. Malam

119 Stirner menunjukan bahwa tiap delegasi individual tidaklah menjadi masalah, karena mayoritas yang berkuasa -Wolfi. 120 Dalam barisan ini dan kutipan yang selanjutnya Stirner menggunakan “Gewalt” yang mana juga dapat diterjemahkan sebagai “kekuatan” atau “kekerasan” bahkan dengan implikasi illegalitas. Edgar Bauer, op.cit., hlm 113. Ibid., hlm 133. Permainan kata antara “Vorrechte” (prerogatif) dan “Rechte” (hak) -Wolfi.

tanggal 4 Agustus adalah malam mematikan atas yang istimewa atau hak istimewa (kota, komune, dewan hakim, juga memiliki hak istimewa, dilengkapi hak prerogatif dan hak seigniorial -right of lordship), dan berakhir dengan pagi atas “hak,” hak negara, “hak bangsa,” yang baru. Raja di dalam pribadi seorang “penguasa kerajaan” adalah raja yang menyedihkan jika dibandingkan dengan raja baru ini: “bangsa yang berdaulat”. Monarki yang baru ini seribu kali lebih tangguh, lebih ketat, dan lebih konsisten. Terhadap monarki yang baru tidak ada lagi hak, tidak ada lagi hak istimewa apapun; jika dibandingkan, betapa terba- tasnya “raja absolut” dari rezim kuno tersebut! Revolusi mempengaruhi transformasi monarki terbatas menjadi monarki yang absolut. Sejak saat ini tiap hak yang tidak diberikan oleh raja hanya menjadi “asumsi”; tapi setiap hak prerogatif yang dia berikan adalah “hak.” Waktu menuntut kemahkotaan absolut, monarki absolut; inilah mengapa yang disebut sebagai monarki absolut, yang memiliki sedikit pemahaman bagaimana caranya menjadi absolut yang tetap dibatasi oleh ribuan tuan-tuan kecil lainnya, akhirnya runtuh. Apa yang dirindukan dan diupayakan selama ribuan tahun, yaitu untuk menemukan penguasa absolut di samping yang tidak ada lagi tuan dan penguasa lain yang mengurangi kekuatannya -borjuis telah menciptakannya. Ini telah mengungkapkan bahwa Tuhan sendirilah yang menganugerahkan “gelar yang legal,” dan tanpa ada permisi darinya maka tidak ada yang dibenarkan. “Tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.” 124

Terhadap hak seseorang tidak dapat lagi, seperti melawan hak, maju ke depan dengan pernyataan bahwa itu adalah “salah.” Seseorang dapat mengatakan bahwa itu hanya omong kosong, ilusi. Jika seseorang salah menyebutnya, seseorang harus membuat hak lain untuk

I Korintus 8:4.

menentangnya, dan mengukurnya dengan hak yang baru. Jika, sebaliknya, seseorang benar-benar menolak hak seperti itu, hak dalam dan dari dirinya sendiri, maka seseorang juga menolak konsep tentang yang salah, dan melarutkan keseluruhan konsep tentang hak (yang konsepnya termasuk salah). Apa artinya mengatakan bahwa kita semua menikmati “persamaan hak politik”? Hanya ini, yaitu bahwa Negara tidak memperhatikan diriku; bahwa untuk itu aku, seperti orang lain, hanya seorang manusia, tanpa memiliki arti penting lain untuk membuatnya terkesan. Aku tidak membuatnya terkesan sebagai aristokrat, anak seorang bangsawan, atau bahkan sebagai ahli waris seorang pejabat yang kantornya menjadi milikku sebagai sebuah warisan (seperti di zaman Abad Pertengahan, dll, dan kemudian di bawah raja absolut, di mana kantor yang turun temurun terjadi). Sekarang Negara memiliki banyak sekali hak untuk diberikan, misal, hak untuk memimpin batalion, perusahaan, dll; hak untuk kuliah di universitas, dan sebagainya; itu harus mereka berikan karena mereka adalah miliknya sendiri, yaitu hak-hak negara atau hak “politik”. Dengan sendirinya, negara tidak peduli siapa yang menerima mereka, selama sebagai penerima mereka memenuhi tugas yang berasal dari hak yang didelegasikan. Karenanya, kita semua berhak dan-setara, seseorang tidak lebih dan tidak kurang berharganya ketimbang yang lain. Semuanya setara bagiku yang menerima komando tentara, katakanlah Negara

yang menerima komando tentara, katakanlah Negara
berdaulat, permasalahnya dengan benar. “Kesetaraan hak-hak politik,” asalkan penerima hibah memahami
oleh karena itu, berarti bahwa setiap orang dapat

memperoleh setiap hak yang harus diberikan oleh Negara, jika saja dia memenuhi persyaratan yang dilampirkan padanya -syarat yang harus dicari hanya sesuai dengan hak khusus, bukan dalam pilihan untuk orang tersebut (persona grata): sifat hak untuk menjadi perwira membawa serta, misalnya, kebutuhan bahwa seseorang memiliki anggota

badan yang sehat dan ukuran pengetahuan yang sesuai, namun tidak memiliki kelahiran yang mulia sebagai sebuah kondisi; Jika, di sisi lain, bahkan orang biasa yang paling layak tidak bisa mencapai tingkat itu, maka ketidaksetaraan hak politik akan ada. Di antara Negara-negara di dunia saat ini seseorang telah melakukan pemaksaan persamaan itu lebih banyak, yang lain kurang. Monarki kasta -the monarchy of estates¹²⁵ (inilah apa yang aku sebut kemahkotaan absolut, pada masa raja-raja sebelum revolusi) membuat individu bergantung pada banyak monarki kecil. Ini adalah persekutuan (societies), macam gilda (guild), kebangsawanan (nobility), imamat (priesthood), borjuis, kota, komune, dsb. Di mana pun individu harus menganggap dirinya pertama-tama sebagai anggota masyarakat kecil ini, dan menghasilkan ketaatan tanpa syarat terhadap rohnya, esprit de corps, sebagai monarkinya. Bagi seorang lelaki terhormat, keluarga dan kehormatan klannya, harus lebih berharga ketimbang dirinya. Hanya dengan menggunakan korporasinya, kastanya, 126 maka seseorang dapat berhubungan dengan korporasi yang lebih besar, yaitu Negara -seperti halnya dalam agama Katolik ketika individu berurusan dengan Tuhan hanya melalui imam. Orang dari kasta terendah sekarang menunjukkan keberanian untuk meniadakan dirinya sebagai sebuah kasta, membuatnya berakhir. Ia memutuskan tidak lagi menjadi dan disebut sebagai kasta yang ada di bawah kasta lainnya, tapi untuk memuliakan dan menggeneralisasikan dirinya ke dalam “bangsa.” Dengan demikian, ia menciptakan monarki yang jauh lebih lengkap dan absolut, dan seluruh prinsip-prinsip kasta (principle of estates) yang sebelumnya berkuasa, prinsip dari monarki

125 Atau status -Wolfi. “Estates” dapat diterjemahkan sebagai “status” (seperti dimaksud Wolfi) atau “tingkatan” pada barisan selanjutnya, namun saya lebih memilih “kasta” karena hal ini lebih mudah dipahami -Penj.

kecil di dalam yang besar, musnah. Oleh karena itu seseorang dapat mengatakan bahwa Revolusi mempunyai tujuan untuk merebahkan dua kasta istimewa yang pertama; ketimbang mengarahkan tujuannya pada monarki kecil dari seluruh kasta secara umum. Tapi, jika kasta-kasta dan despotisme ini hancur (raja sebenarnya juga hanya seorang raja dari seluruh kasta tersebut, bukan raja atas warga), individu-individu yang dibebaskan dari ketidaksetaraan kasta ditinggalkan. Apakah mereka sekarang benar-benar tanpa kasta dan “menjadi liar,” tidak lagi terikat oleh kasta (status) apa pun, tanpa ikatan secara umum? Tidak, kasta terendah telah menyatakan dirinya sebagai negara hanya agar tidak menjadi kasta yang ada di samping kasta lain, tapi untuk menjadi kasta yang tunggal. Kasta yang tunggal ini disebut sebagai bangsa, “Negara.” Sekarang bakal menjadi apa individu? Seorang Protestan yang politis, karena dia berhubungan langsung dengan Tuhannya, adalah Negara. Dia tidak lagi sebagai seorang ningrat dalam monarki kebangsawanan, atau sebagai montir dalam monarki gilda; Tapi dia, seperti semua yang lain, diakui dan mengakui hanya satu tuan, Negara, yang mana dari pelayanannya mereka semua menerima gelar kehormatan yang sama, “warga negara.” Borjuis adalah aristokrat yang pantas; 127 mottonya adalah “demi yang pantas, mahkotanya.” Ia melawan aristokrat “pemalas”, karena menurutnya, aristokrasi pekerja keras diperoleh dengan usaha yang tekun dan pantas, itu bukan sesuatu yang “lahir” dengan bebas, atau bahkan aku yang bebas, tetapi “orang yang pantas mendapatkannya”; hamba yang jujur (dari rajanya, dari negara, dari orang-orang di negara-negara konstitusional). Dengan kata lain, seseorang memperoleh kebebasan dengan melayani, dan memperoleh “jasa;” bahkan jika

Barisan ini adalah permainan kata untuk “Verdienst” (pantas), “Verdienstvolle” (yang pantas), “Diener” (pelayan) dan “Dienen” (pelayanan).

seseorang melayani-Mammon. Seseorang harus memberikan layanan yang luar biasa kepada negara, yaitu, pada prinsip negara, pada semangat moralnya. Orang yang melayani semangat negara ini adalah warga negara borjuis yang baik, biarkan dia hidup dengan apa pun lini bisnis legal yang akan dia jalani. Di matanya, para inovator mengejar “seni yang tidak menguntungkan”. Hanya penjaga toko yang “praktis;” dan roh penjaga toko adalah sama seperti orang yang mengejar jabatan publik sebagai orang yang dalam perdagangan berusaha menggunting domba-dombanya atau dengan cara lain menjadi berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tapi jika yang pantas dianggap sebagai yang bebas (karena apa yang diinginkan borjuis yang nyaman, pejabat yang setia, kurangnya kebebasan yang diinginkannya?), maka “hamba” itu bebas. Hamba yang patuh adalah orang bebas! Omong kosong macam apa itu! Namun inilah artinya borjuis, dan puisinya, Goethe, seperti filsufnya, Hegel, telah mengetahui bagaimana caranya mengagungkan ketergantungan subjek kepada objek, patuh kepada dunia yang objektif. Seseorang yang hanya melayani maksud tersebut, mencurahkan dirinya sepenuhnya pada hal tersebut, telah memiliki kebebasan sejati. Dan pangkal diantara para pemikir adalah nalar, yang mana, seperti gereja dan Negara, memberikan hukum universal, dan melalui pemikiran kemanusiaan telah menempatkan individu manusia dalam rantai. Ia menentukan mana yang “benar”, yang mana seseorang harus mengikutinya. Tidak ada orang “yang lebih rasional” daripada hamba yang patuh, yang mana untuk sementara waktu menyebut warga negara borjuis yang baik sebagai hamba negara. Terlepas dari apakah kamu orang kaya yang dekil atau orang miskin yang kotor -negara borjuis meninggalkan itu untukmu-semua yang harus kamu lakukan hanyalah memiliki “sikap yang baik.” Ia menuntut hal ini dari kamu dan untuk mendirikan semua ini, telah mempertimbangkannya

sebagai tugas yang paling mendesak. Inilah kenapa ia akan melindungimu dari “bisikan jahat,” dengan menahan “pikiran jahat” dalam pemeriksaan dan membungkam pidato mereka yang menegangkan di bawah hukuman sensor atau pers dan di balik dinding penjara, dan sebaliknya, akan menunjuk orang-orang dari “sikap yang baik” sebagai sensor, dan dengan segala cara mencoba memberikan pengaruh moral kepadamu, orang-orang yang “bersedia dengan baik dan bermaksud baik.” Jika ia lagi-lagi akan membuatmu tidak mendengar bisikan jahat, maka ia akan membuka telingamu lagi dengan lebih sabar lagi pada bisikan baik. Pada masa borjuis, dimulailah liberalisme. Orang ingin melihat apa yang “rasional,” “sesuai dengan waktu,” dll, yang didirikan di mana-mana. Definisi liberalisme berikut ini, yang ditujukan supaya dapat diucapkan demi menghormatinya, menunjukan ciri-ciri kesempurnaannya: “Liberalisme tidak lain adalah pengetahuan rasional, yang diterapkan pada kondisi kita saat ini.” 128 Tujuannya adalah “tatanan rasional,” sebuah “perilaku moral,” sebuah “kebebasan yang terbatas,” dan bukannya anarki, pelanggaran hukum, atau kedirian. Tapi, jika nalar berkuasa, maka orang tersebut dikalahkan. Untuk jangka waktu yang lama, seni tidak hanya mengakui yang jelek, tetapi menganggapnya perlu untuk keberadaan seni itu sendiri, dan membawanya ke dalam dirinya sendiri; ia membutuhkan penjahat, dsb. Dalam ranah religius, kaum liberal paling ekstrem juga melangkah sejauh ini sehingga mereka ingin melihat orang yang paling religius dianggap sebagai warga negara -misal, penjahat yang relijius; mereka tidak lagi ingin mendengar aoaoun selain lebih banyak pengadilan para bidaah. Tapi tidak ada satupun yang memberontak melawan

Carl Witt (anonim) “Preuβen seit der Einsetzung Arndts bis zur Absetzung Bauers,” dalam Georg Herwegh (penyunting), Einundzwnzig Bogen aus der Schweiz (Zurich and Winterthur,

1843), hlm 12-13.

“hukum rasional”; jika tidak dia diancam dengan hukuman yang sangat berat. Mereka tidak menginginkan gerakan bebas dan hal yang masih berlaku pada orang-orang atau diriku, tapi nalar, berkuasanya akal, penguasaan. Kaum liberal adalah orang fanatik, bukan untuk iman, atau bagi Tuhan, tapi demi nalar, tuan mereka. Mereka tidak akan mentoleransi ketidaksopanan, dan karena itu tidak ada pengembangan diri dan penentuan nasib sendiri; mereka akan mengajukan kehendak mereka seefektif penguasa paling absolut. “Kebebasan politik,” apa yang seseorang harus pahami soal ini? Mungkin independensi individu dari Negara dan hukumnya? Bukan, melainkan sebaliknya, penundukan individu di dalam Negara dan undang-undang Negara. Tapi mengapa “kebebasan”? Karena seseorang tak lagi terpisahkan dari negara dengan adanya perantara, tetapi berdiri dalam hubungan yang langsung dan segera dengannya; karena seseorang adalah warga negara, bukan subjek dari yang lain, bahkan bukan raja sebagai seseorang, tapi hanya dalam kapasitasnya sebagai “kepala negara.” Kebebasan politik, doktrin fundamentalisme liberal ini, tidak lain adalah fase kedua dari Protestanisme, dan berjalan cukup paralel dengan “kebebasan beragama.” 129 Atau mungkinkah seseorang memahami yang terakhir sebagai sebuah kemerdekaan agama? Apapun selain itu. Hanya kebebasan dari perantara yang ditujukan untuk diekspresikan dalam dirinya, kebebasan dari pendeta yang memediasi, penghapusan “kaum awam,” dan juga, hubungan yang langsung dan sesegera mungkin dengan agama atau kepada Tuhan. Hanya dalam kondisi bahwa seseorang memiliki agama saja yang dapat menikmati

129 Byington menggunakan terjemahan yang tidak cocok dengan kata Jerman. Saya mengira bahwa Stirner tidak membandingkan penguasa “liberal” dengan penguasa yang absolut, tapi mengatakan bahwa bahkan di mana penguasa absolut tetap memerintah, kaum liberal memaksakan kehendak mereka -Wolfi.

kebebasan beragama; Kebebasan beragama tidak berarti tanpa agama, tapi dengan keintiman relijius, hubungan yang langsung dengan Tuhan. Bagi siapapun yang bebas secara religius bebas, agama adalah urusan hati, baginya ini adalah urusan pribadinya, ini adalah urusan “kesungguhan yang suci.” Jadi, bagi orang yang “bebas secara politik”, Negara adalah hal yang serius; Itu adalah urusan pribadinya, urusan utamanya, urusannya sendiri. Kebebasan politik berarti bahwa polis atau negara itu bebas; kebebasan beragama bahwa agama itu bebas, sebagaimana kebebasan kesadaran menandakan kesadaran itu bebas. Oleh karena itu, bukan berarti aku bebas dari Negara, dari agama, dari kesadaran, atau bahwa aku membebaskan diri dari mereka. Itu tidak berarti bahwa kebebasan-ku, tapi kebebasan dari sebuah kekuatan yang mengatur dan menaklukkanku; Itu berarti salah satu dari penindas diriku, seperti negara, agama, kesadaran, yang bebas. Negara, agama, kesadaran, orang-orang yang lalim ini, membuatku menjadi budak, dan kebebasan mereka adalah perbudakan bagiku. Bahwa dalam hal ini mereka perlu mengikuti prinsip, “akhir menguduskan cara -the ends sanctifies the means,” yang tak perlu dikatakan. Jika kesejahteraan Negara adalah akhir, perang adalah cara yang suci; Jika keadilan adalah tujuan Negara, pembunuhan adalah cara yang dikuduskan, dan disebut dengan namanya yang suci, “eksekusi”; Negara suci menguduskan segala sesuatu yang berguna untuk itu. “Kebebasan individual” yang mana para borjuis liberal tetap awasi dengan pandangan cemburu, tidak berarti bahwa semuanya menjadi penentuan diri yang merdeka, melalui tindakan-tindakan yang menjadi sepenuhnya dari diriku, melainkan ketidaktergantungan dari seseorang. Seseorang yang secara individual merdeka adalah mereka yang tidak merasa bertanggungjawab terhadap umat manusia. Dari pengertian tersebut -dan tidak seseorang pun yang diperbolehkan memahaminya dengan cara yang lain-

tidak hanya berarti bahwa sang penguasa secara individual merdeka, melainkan, tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap umat manusia (“sebelum Tuhan” ia tentu saja mengenalinya sebagai sesuatu yang ia pertanggungjawabkan), tapi semua orang yang “bertanggung jawab hanya terhadap hukum.” Kebebasan macam ini telah dimenangkan melalui gerakan revolusioner abad ini -yang disebut, kemerdekaan dari selera personal, dari tel est notre plaisir. 130 Karena itu, pangeran yang konstitusional telah dilucuti semua personalitasnya, merampas semua keputusan individual, sehingga orang macam itu, sebagai manusia individual, tidak melanggar “kebebasan individual” yang lain. Kehendak personal sang penguasa telah menghilang dalam pangeran konstitusional; sehingga dengan perasaan yang tepat bahwa pangeran absolut menentang hal ini. Tak perlu dikatakan lagi, yang satu ini ingin menjadi “pangeran Kristen” dalam pengertian terbaik. Tapi untuk menjadi demikian, mereka harus menjadi kekuatan spiritual yang murni, karena Kristen adalah subjek hanya bagi roh (“God is spirit”). Kekuatan spiritual yang murni secara konsisten hanya diwakili oleh pangeran konstitusional, ia yang bertahan di sana terspiritualkan, tanpa pengaruh personal apapun, hingga tingkat yang mana ia bisa dianggap sebagai yang sempurna, “roh” yang tidak duniawi, sebagai ide. Raja konstitusional adalah raja Kristen sejati, konsekuensi asli dari prinsip-prinsip Kekristenan. Dalam rezim monarki individual yang konstitusional -yang mana, penguasa yang sebenarnya berkehendak-telah menemui tujuannya; karenanya di sini kebebasan individual musnah, kemerdekaan dari tiap tuan individual, dari semua orang yang dapat mengaturku dengan tel est notre plaisir, musnah. Ini adalah kehidupan Kristen yang sempurna dari negara, kehidupan yang terspiritualkan.

“Demikianlah kesenangan kita.” Sebuah frasa yang digunakan oleh monarki Prancis ketika mereka memberlakukan sebuah undang-undang.

Tingkah laku borjuis adalah liberal dan seterus. Setiap gangguan pribadi ke dalam lingkup orang lain membuat marah para borjuis; jika warga negara borjuis melihat seseorang dipengaruhi dari perasaannya, kenikmatannya, kehendak manusia sebagai individual (bukan yang diakui sebagai “kekuasaan tertinggi”), ia dengan cepat mempertunjukan liberalismenya dan berteriak tentang “kesewenang-wenangan.” Singkatnya, warga borjuis menegaskan kebebasannya dari apa yang orang sebut sebagai perintah (ordonnance): “Tidak ada yang punya urusan untuk memberi saya perintah!” Ketertiban memiliki arti bahwa apa yang seharusnya aku lakukan adalah kehendak manusia yang lain, sedangkan hukum tidak mengekspresikan otoritas pribadi orang lain. Kebebasan borjuis adalah kebebasan atau kemerdekaan dari kehendak orang lain, yang disebut sebagai kebebasan pribadi atau individu; karena menjadi pribadi yang bebas berarti hanya menjadi begitu bebasnya sehingga tidak ada orang lain yang dapat merebut apa yang menjadi milikku, atau bahwa apa yang dapat atau tidak dapat aku lakukan tidak bergantung pada keputusan pribadi orang lain. Antara lain, kebebasan pers adalah salah satu kebebasan liberalisme semacam itu, liberalisme hanya melawan pembatasan sensor sebagai tingkah pribadi, tetapi sebaliknya menunjukkan dirinya sangat condong dan berkeinginan untuk melakukan tirani melalui “undang-undang pers”; dengan kata lain, kaum liberal borjuis ingin kebebasan menulis demi mereka sendiri; karena, semenjak mereka taat hukum, mereka tidak akan membuat tulisan-tulisan mereka melanggar hukum. Hanya liberal, yaitu, yang legal, maka materi harus diizinkan untuk dicetak; jika tidak, undang-undang pers mengancam dengan hukuman pers. Jika seseorang melihat kebebasan pribadi terjamin, seseorang tidak menyadari sama sekali bagaimana jika itu terjadi pada apa pun di luar ini, kebebasan yang paling mencolok menjadi dominan. Karena seseorang benar-benar menyingkirkan kekuasaan, dan “tidak seorang

pun punya urusan untuk memerintah kita,” tetapi seseorang telah menjadi lebih patuh kepada hukum. Sekarang seseorang diperbudak dalam bentuk hukum yang sah. Dalam negara-borjuis hanya ada “rakyat yang bebas” yang dipaksa melakukan banyak hal (misal, pertobatan iman, dan semacamnya). Tapi apa pentingnya hal tersebut? Hanya negara, hukum, bukan manusia mananpun, yang memaksa mereka! Apa yang diinginkan para borjuis dari penyusurannya terhadap setiap kekuasaan pribadi, setiap kekuasaan yang dapat ditemukan dalam “maksud,” 131 dalam “nalar,” dsb? Sederhananya ia hanya melawan karena “maksud” melawan kekuasaan “seseorang”! Tapi pangkal dari roh adalah yang rasional, yang baik, yang taat hukum, dsb; yang mana adalah “maksud yang baik.” Borjuis ingin penguasa yang impersonal. Lebih lanjut, jika prinsipnya adalah ini, bahwa satu- satunya perkara (cause) 132 yang dapat mengatur manusia, yang dinamakan, perkara moralitas, perkara legalitas, dsb, maka tidak ada pemotongan pribadi dari satu dengan yang lain yang dapat diotoritasi juga (seperti sebelumnya, misal, borjuis dipotong dari kantor aristokratik, pria terhormat dari perdagangan borjuis, dsb); singkat kata, kompetisi bebas

131 Seperti dijelaskan Wolfi dalam catatan kaki berikut ini, Stirner menggunakan “cause” yang memiliki pengertian yang luas dan padanannya cukup banyak dan sesuai dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan konteks kata tersebut digunakan. Dalam Bahasa Indonesia, kata tersebut bisa berarti “maksud,” “perkara,” “penyebab,” “pangkal,” atau hanya, “sesuatu” -Penj. 132 Dalam barisan ini, Stirner bermain dengan beragam arti dari kata “Sache” dan membuat poin signifikan dalam permainan kata ini. Di sini, “cause” adalah terjemahan yang paling sesuai, tapi ada beberapa kalimat kemudian ia menggunakannya dalam pengertian “thing” -khususnya uang, juga menyorot bahwa aturan yang jelas oleh suatu sebab sebenarnya bekerja sebagai aturan apa pun atas individu-individu yang benar-benar memiliki daging dan darah -Wolfi.

adalah sebuah keharusan. Hanya melalui sesuatu, atau benda, maka seseorang dapat memotong yang lain (orang kaya, misalnya, memotong yang miskin dengan uang, dengan benda), bukan sebagai seseorang. Sejak sekarang hanya ada satu ketuanan yang dianggap, tuan-tuan para negara; secara pribadi tidak ada lagi tuan yang lain. Bahkan saat lahir seseorang telah menjadi milik negara, dan menjadi milik orangtuanya hanya dalam nama negara -yang mana, sebagai contoh, tidak mentoleransi pembunuhan anark, membutuhkan pengkristenan anak, dsb. Tapi semua anak negara dianggap sepenuhnya setara dengan hal tersebut (“borjuis atau kesetaraan politik”), dan mereka dapat melihatnya dalam diri masing-masing bahwa mereka berurusan satu sama lain; mereka dapat bersaing. Kompetisi bebas tidak lain daripada bahwa setiap orang dapat menunjukan dirinya sendiri, menyatakan dirinya, bertarung melawan yang lain. Tentu saja, para feodal mengkonstruksi hal ini, semenjak eksistensi bergantung pada non-persaingan. Perjuangan menjelang periode Restorasi di Prancis tidak memiliki muatan lain selain hal ini: yaitu bahwa borjuis memperjuangkan kompetisi bebas, dan para feodalis mencoba membawa kembali sistem gilda. Sekarang kompetisi bebas telah menang, dan ia telah menang atas sistem gilda. (Lebih lanjut soal ini, lihat di bawah). Jika revolusi kehilangan jalannya dalam reaksi, hal ini hanya mengarah pada cahaya apa yang sebenarnya dimaksud dengan revolusi itu. Karena setiap pencampai melewati reaksi ketika hal tersebut tak memiliki waktu untuk berefleksi, dan menyerang maju dalam tindakan orisinil hanya sepanjang hal tersebut adalah sebuah hiruk-pikuk, “mencerminkan sebuah ketidaksabaran.” “Refleksi” akan selalu menjadi isyarat reaksi, karena refleksi memiliki keterbatasan, dan membebaskan apa yang sesungguhnya dicari, yaitu, prinsip, dari inisial “kekurangan kekangan” dan

“kekurangan larangan.” Anak-anak liar, pelajar sombong, yang mengesampingkan semua pertimbangan, adalah para filistin yang asli, semenjak bersama mereka, sebagaimana bersama para filistin, pertimbangan dari muatan aktivitas mereka; hal itu sama saja menyombongkan diri bahwa mereka adalah pemberontak dan terhubung secara negatif dengan pertimbangan, tapi yang terakhir, sebagai seorang filistin, mereka menyerahkan diri mereka pada pertimbangan ini dan menghubungkannya secara postif kepada diri mereka. Dalam kedua kasus tersebut, semua pikiran dan tindakan mereka berkembang disekitar “pertimbangan,” tapi para filistin adalah reaksioner terhadap yang liar, ia adalah kawan yang liar yang memiliki waktu untuk merefleksikan, sebagaimana yang terakhir adalah filistin yang tidak berefleksi. Pengalaman sehari-hari menunjukan kebenaran dari perubahan ini, dan menunjukan bagaimana zaman pembual berubah menjadi filistin berambut abu-abu. Jadi apa yang juga disebut sebagai reaksi di Jerman menunjukan bahwa hal itu hanyalah kelanjutan reflektif dari gejolak kebebasan yang seperti perang. Revolusi tidak diarahkan kepada yang eksis, melainkan kepada yang eksis itu, terhadap eksistensi tertentu. Ia melakukannya dengan penguasa ini, bukan dengan sang penguasa; sebaliknya, Francus adalah yang paling tanpa lelah untuk memerintah; ia membunuh penguasa tua yang ganas, tapi ingin untuk menjamin penguasa kebajikan yang baru sebuah eksistensi yang terjamin, yaitu, hal itu hanya mengganti kebaikan dengan kebajikan. (Kebaikan dan kebajikan, dalam bagian mereka, sekali lagi hanya berbeda tak ubahnya seperti anak liar dari seorang filistin.) Dan begitu seterusnya. Hingga hari ini, prinsip revolusioner telah hilang tak jauh dari demi pertarungan melawan eksisten yang ini atau yang itu, yaitu untuk menjadi reformatif. Sebagaimana hal ini dikembangkan, sekuat “perkembangan reflektif” dapat

menahannya, akan selalu ada tuan baru yang dibangun di atas tempat yang lama, dan perebahannya adalah sebuah rekonstruksi. Ia tetap menyisakan perbedaan antara filistin muda dengan yang lama. Revolusi dimulai dari cara borjuis, dengan pemberontakan dari kasta terendah, kelas menengah; dengan cara borjuis ia mengeringkannya. Manusia individual-dan umat manusia ini sendiri-tidak menjadi bebas, tapi borjuis, warga negara, manusia politis, yang mana demi nalar bukan sang manusia, melainkan spesimen dari spesies mansia, dan lebih tepatnya lagi spesimen dari spesies borjuis, warga negara borjuis yang merdeka. Dalam revolusi, bukan individu yang bertindak dalam sejarah dunia, 133 tapi rakyat; bangsa, bangsa yang berdaulat, ingin membawa segalanya. Aku yang sebatas bayangan (an imaginary I), yang mana adalah negara, muncul dengan aktif; individu menangani diri mereka sendiri sebagai alat untuk ide tersebut dan bertindak sebagai “warga negara borjuis.” Borjuis memiliki kekuatannya, dan disaat yang bersamaan juga punya kelemahan, dalam hukum konstitusional negara, dalam piagam, dalam pangeran yang legal atau yang “terlegitimasi”, yang mana dirinya dipandu oleh dan diatur berdasarkan “hukum rasional”; singkatnya, dalam legalitas. Periode borjuis diatur oleh semangat legalitas Inggris. Majelis kasta feodal selalu dipanggil ulang bahwa otoritasnya hanya dapat berjalan sejauh ini, dan bahwa hal tersebut benar-benar hanya melalui kesenangan dan dapat dilemparkan lagi melalui ketidak-senangan. Ia selalu mengingatkan dirinya dari panggilan-nya. Orang tentu

133 Kata Jerman, “weltgeschichtlich,” dapat juga diterjemahkan sebagai “word-historically” seperti gaya dari beberapa akademisi Marxis, tapi saya pikir tidak perlu untuk meniru akademisi Marxis dalam penggunaan istilah tersebut. Bagaimanapun juga, pembaca yang familiar dengan istilah tersebut mungkin ingin untuk sadar dengan hal ini -Wolfi.

tidak dapat menyangkal bahwa ayahku lah memperanakkan aku; tetapi sekarang setelah aku diperanakkan, tentu saja niatnya untuk mengemis tidak mempedulikanku sama sekali, dan apa pun yang dia minta, aku melakukan apa yang aku sendiri inginkan. Jadi, bahkan sebuah majelis yang disebut assembly of estates-majelis Prancis di awal revolusi dengan tepat mengakui bahwa itu independen dari yang memanggilnya. Ia ada, dan itu akan menjadi hal bodoh jika tidak menegaskan hak eksistensi, melainkan membayangkan itu tergantung, seperti pada seorang ayah. Orang yang dipanggil tidak lagi harus bertanya, “Apa yang diinginkan sang pemanggil ketika dia menciptakan aku?” melainkan “Apa yang aku inginkan setelah aku mengikuti panggilan itu?” Bukan sang pemanggil, bukan para delegasi, bukan piagam yang dengannya pertemuan mereka disatukan, tidak ada yang akan menjadi kekuatan suci yang tidak dapat diganggu gugat baginya. Dia berhak atas semua yang ada dalam kekuasaannya; ia tidak akan mengenal “hak” yang terbatas; tidak akan mau setia. Jika seseorang bisa mengharapkan kamar seperti itu sama sekali, ini akan menghasilkan ruang yang sepenuhnya egoistik, terpisah dari semua tali pusar dan kekejaman. Tetapi kamar selalu tunduk, sehingga orang tidak dapat terkejut jika begitu banyak setengah jalan atau ragu-ragu, yaitu, egoisme yang “munafik” menyebar di dalamnya. Para anggota estates harus tetap dalam batas-batas yang dipetakan untuk mereka berdasarkan piagam, dengan kehendak raja, dan sejenisnya. Jika mereka tidak mau atau tidak bisa melakukan itu, mereka seharusnya “ditarik”. Apa yang bisa dilakukan orang yang berbakti jika tidak, dapat menempatkan dirinya, keyakinannya, dan keinginannya; siapa yang bisa begitu tidak bermoral sehingga ingin menegaskan dirinya sendiri, bahkan jika tubuh korporat¹³⁴

“Körperschaft” dapat merujuk pada sebuah perusahaan dalam pengertian bisnis, tetapi juga kepada badan pemerintahan atau “politik”. Aspek penting di sini adalah bahwa ia adalah badan

dan segalanya akan hancur karenanya? Seseorang dengan hati-hati menjaga dalam batas otoritas seseorang; tentu saja, seseorang harus tetap dalam batas-batas kekuatannya dalam hal apa pun, karena tidak ada yang bisa melakukan lebih dari apa yang dia bisa lakukan. “Kekuatan saya, atau lebih tepatnya ketidakberdayaan saya, akan menjadi satu- satunya batas saya, tetapi otoritas hanya akan menjadi undang-undang wajib? Haruskah saya menyatakan pandangan ini yang menggulingkan semua? Tidak, saya warga negara yang taat hukum!” Borjuasi menyatakan moralitas yang paling dekat hubungannya dengan hakikatnya. Tuntutan pertamanya dalam hal ini adalah bahwa seseorang harus menjalankan bisnis yang solid, perdagangan yang jujur, dan menjalani kehidupan yang bermoral. Karena itu, penipu, pelacur, pencuri, perampok dan pembunuh, penjudi, pengangguran yang tidak punya uang, orang-orang yang sembrono, semuanya tidak bermoral. Warga borjuis yang jujur menggambarkan perasaan terhadap orang-orang yang “tidak bermoral” ini sebagai “kemarahan terdalamnya.” Semua dari mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yang stabil, kesolidan bisnis, kehidupan yang solid, terhormat, penghasilan tetap, dll. Singkatnya, karena keberadaan mereka tidak terletak pada dasar yang aman, mereka berada di antara individu-individu berbahaya atau penyendiri, proletariat yang berbahaya; mereka adalah “individu pengacau” yang tidak menawarkan “jaminan” dan “tidak akan kehilangan apa-apa:” dan dengan demikian tidak memiliki risiko apapun. Pembentukan ikatan keluarga, misalnya, mengikat manusia, yang tekekang pada sebuah janji yang dapat dipahami; tapi tidak demikian halnya dengan pelacur. Penjudi mempertaruhkan segalanya dalam permainan, menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain-tidak ada jaminan. Seseorang dapat mencakup semua yang

kolektif dan beroperasi sebagai otoritas atas individu di dalamnya.

tampak mencurigakan, bermusuhan, dan berbahaya bagi warga borjuis dengan nama “gelandangan”; setiap cara hidup gelandangan tidak menyena-ngkan dia, karena ada juga gelandangan intelektual yang kepadanya rumah nenek moyang mereka tampaknya terlalu sempit dan menindas bagi mereka untuk rela berpuas diri dengan ruang yang terbatas lagi, bukannya tinggal dalam batas-batas dengan cara berpikir yang berpikir, dan mengambil kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat tentang apa yang memberi penghiburan dan kepastian kepada ribuan orang, mereka melompati semua batasan tradisi dan menjadi liar dengan kritik mereka yang kurang ajar dan skeptisisme yang tak terkendali, para gelandangan yang luar biasa ini. Mereka membentuk kelas gelandangan, yang gelisah, yang dapat berubah, yaitu proletariat, dan ketika mereka menyuarakan hakikat mereka yang gelisah, mereka disebut “orang-orang yang nakal.” Apa yang kita sebut sebagai proletariat, atau fakir, punya pengertian yang begitu luas. Betapa seseorang telah sangat keliru jika memuji kaum borjuis dengan keinginan untuk menyingkirkan kemiskinan (kefakiran) dengan kemampuan terbaiknya. Sebaliknya, warga borjuis yang baik membantu dirinya sendiri dengan keyakinan kenyamanan yang tak tertandingi bahwa “barang kekayaan didistribu- sikan secara tidak merata sekarang dan akan selalu tetap begitu -menurut keputusan bijak Allah.” Kemiskinan yang mengelilinginya di tiap lembah tidak mengganggu borjuis sejati lebih jauh, selain daripada hal itu paling-paling hanya akan membuatnya melemparkan sejumput sedekah, atau menyediakan pekerjaan dan makanan untuk anak yang “jujur dan berguna”. Tetapi ia merasakan kenikmatannya yang tenang semakin terhalang oleh kemiskinan yang tidak terpuaskan, pencarian akan inovasi, oleh orang-orang miskin yang tidak lagi berperilaku tenang dan bertahan, tetapi mulai menjadi berlari-lari liar dan gelisah. Kuncilah gelandangan, lemparkan pembuat onar ke ruang bawah

tanah yang paling gelap! Dia ingin “membangkitkan ketidakpuasan dan membangkitkan orang terhadap peraturan yang ada” di negara –lempari dia dengan batu, lempari dia dengan batu! Tetapi dari ketidakpuasan ini, secara khusus, suatu alasan muncul sebagai berikut: tidak perlu menjadi masalah bagi “warga borjuis yang baik” yang melindungi mereka dan prinsip-prinsip mereka, apakah raja yang absolut atau konstitusional, sebuah republik, dll., selama itu melindungi mereka. Dan apa prinsip mereka yang pelindung mereka selalu “cintai”? Bukan pekerjaan; atau kelahiran. Melainkan untuk menjadi biasa-biasa (medioker) saja, orang biasa yang berbahagia: sedikit kelahiran dan sedikit kerja, yaitu, kepemilikan yang menghasilkan bunga. Kepemilikan di sini adalah sesuatu yang tetap, yang diberikan, yang diwariskan (dilahirkan), bunga adalah pengerahan tenaga (kerja), dengan demikian modal berkerja. Hanya saja tidak boleh ada kelebihan, tidak ada yang ultra, tidak ada radikalisme! Hak kesulungan, tentu saja, tetapi hanya harta warisan; bekerja, tentu saja, tetapi sedikit atau tidak ada yang menjadi miliknya sendiri, melainkan pekerjaan dengan modal dan pekerja yang tunduk. Jika zaman terbentang di atas sebuah kesalahan, beberapa orang akan mulai mendapatkan keuntungan dari hal ini, sementara yang lain menderita karenanya. Pada masa Abad Pertengahan, adalah suatu kesalahan umum di antara orang-orang Kristen untuk berpikir bahwa gereja harus memiliki semua kekuasaan atau supremasi di atas bumi; hierarki tidak kurang percaya pada “kebenaran” ini daripada orang awam, dan keduanya terpesona pada kesalahan yang sama. Tapi dari hal itu hierarki-hierarki ini mendapatkan keuntungan dari kekuasaan, dan orang-orang awam menderita atas penundukkan. Sementara apa yang tadi baru saja aku sebut masih terus berlanjut, “dalam penderitaan, seseorang tumbuh menjadi cerdas”; jadi pada akhirnya orang-orang awam tumbuh menjadi cerdas, dan

tidak lagi percaya pada “kebenaran” abad pertengahan. Hubungan yang sama dapat ditemukan antara borjuis dan kelas pekerja. Borjuis dan kelas pekerja percaya pada “kebenaran” uang; siapapun yang tidak kerasukan terhadap hal tersebut menjadi kurang berarti jika dibandingkan dengan orang yang mempercayainya; jadi, orang-orang awas menyukai pendeta. “Uang menguasai dunia” adalah landasan dari era borjuis. Aristokrat dan pekerja yang terusir, sebagai “orang malang yang kelaparan,” tidak memiliki keuntungan politis yang signifikan; lahir dan bekerja tidak dapat melakukannya, tapi uang¹³⁵ memberikan manfaat. 136 Para pemilik berkuasa, tetapi dari kalangan yang dirampas, negara melatih “pelayannya;” kepada siapa ia memberi uang (gaji), sebanding dengan seberapa banyak mereka menguasai (memerintah) atas namanya. Saya menerima semuanya dari negara. Apakah saya memiliki sesuatu tanpa persetujuan negara? Apa yang saya miliki tanpa persetujuan ini, akan hilang dari saya begitu ia menemukan kurangnya “hak hukum.” Jadi bukankah saya memiliki segalanya dengan rahmatnya, persetujuannya? Kaum borjuis didasarkan pada ini saja –hak legal. Kaum borjuis adalah dirinya apa adanya melalui perlindungan negara, melalui rahmat negara. Dia akan takut kehilangan segalanya jika kekuatan negara dipatahkan. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak rugi, bagaimana dengan kaum proletar? Karena tidak ada ruginya, dia tidak membutuhkan perlindungan negara untuk apa yang dia “tidak miliki.” Sebaliknya, ia bisa mendapatkannya jika perlindungan negara itu diambil dari anak yang dilindungi (protégés). Oleh karena itu, non-pemilik akan melihat negara sebagai pelindung para pemilik, yang mengistimewakan yang terakhir, tetapi hanya menghisap non-pemilik hingga

“Gelt”. “Geltung”.

kering. Negara adalah negara borjuis, itu adalah status borjuis. Ia melindungi manusia tidak sesuai dengan pekerjaannya, tetapi menurut ketaatannya (“kesetiaan”), yaitu, menurut apakah ia menikmati dan mengelola hak-hak yang dipercayakan oleh negara kepadanya sesuai dengan kehendak, yaitu undang-undang negara. Di bawah rezim borjuasi, kaum buruh selalu jatuh ke tangan para pemilik, yaitu mereka yang memiliki sedikit harta negara¹³⁷ (dan segala sesuatu yang dapat dimiliki adalah properti negara, milik negara, dan hanya menyerahkan tanah kosong kepada individu) yang mereka miliki, terutama uang dan tanah; oleh karena itu, ke tangan kapitalis. Pekerja tidak dapat memanfaatkan pekerjaannya sesuai dengan ukuran nilai yang dimilikinya sebagaimana orang yang menikmati hasilnya. “Pekerjaan dibayar dengan sangat buruk!” Sang kapitalis memiliki keuntungan terbesar darinya. -Hanya pekerjaan mereka yang meningkatkan kemuliaan dan kekuatan¹³⁸ negara, pekerjaan para pelayan negara yang tinggi, adalah baik, dan lebih dari sekedar, dibayar. Negara membayar dengan baik sehingga ia menjadi “warga borjuisnya yang baik;” pemilik, dapat membayar dengan buruk tanpa bahaya; melalui gaji yang baik, ia mendapatkan sendiri hambanya, dari mana ia membentuk kekuatan perlindungan, “polisi” (kepolisian adalah tentara, pejabat dari semua jenis, yaitu, keadilan, pendidikan, dll –singkatnya, seluruh “mesin negara”) 139

137 “Staatsgut” ketimbang “Eigentum,” jadi, secara spesifik merujuk pada properti dalam pengertian ekonomi. 138 Dalam contoh ini “Herrschaft,” secara khusus berkuasa, tetapi ini adalah referensi yang jelas untuk frasa “kekuasaan dan kemuliaan.” 139 Dalam The Ego and Its Own (Cambridge University Press,

1995) edisi David Leopold, terdapat catatan kaki (nomor 137, halaman 351) yang menjelaskan bahwa istilah “Polizei” di Jerman abad 19 memiliki makna yang lebih luas daripada istilah Inggris untuk “police”. Jika ini benar, itu benar-benar membuat

untuk “warga borjuis yang baik;” dan “warga borjuis yang baik” dengan senang hati membayar pajak tinggi untuk membayar upah yang jauh lebih rendah kepada pekerja mereka. Tapi kelas pekerja, karena mereka tidak terlindungi oleh apa yang pada dasarnya adalah (semenjak mereka tidak menikmati perlindungan negara sebagai pekerja, tapi sebagai subjek negara mereka telah berbagai kesenangan dalam polisi, yang disebut sebagai perlindungan legal), mempertahankan kekuasaan yang ramah terhadap negara ini, terhadap negaranya para pemilik ini, terhadap “monarki borjuis.” Prinsip dasarnya, yaitu kerja, tidak dikenali berdasarkan nilai-nya; ia dieksploitasi, menjadi jarahan perang¹⁴⁰ para pemilik, musuh mereka. Kelas pekerja harus memiliki kekuasaan yang luar biasa besar di tangan mereka, dan jika suatu hari mereka menjadi benar-benar sadar akan hal itu dan menggunakan, maka tidak akan ada yang dapat melawan mereka; mereka hanya perlu berhenti berkerja dan melihat hasil kerja mereka sebagai milik mereka sendiri dan menikmatinya. Inilah arti dari pergolakan buruh yang menjulang di sana-sini. Negara dibangun di dasar perbudakan kerja. Jika kerja menjadi bebas, maka negara akan hancur.

tanda kurung Stirner menjadi aneh dan tidak perlu, karena semua pembaca Jerman-nya (dan siapa pun yang akrab dengan penggunaan Jerman seperti itu) sudah akan berasumsi bahwa tentara dan pejabat resmi termasuk dalam istilah itu. Bahkan jika Leopold benar dan tidak memiliki agenda apapun, saya pikir Stimer bermaksud agar para pembacanya mengakui bahwa semua pejabat negara, entah secara teknis ia adalah polisi atau tidak, bertindak untuk menegakkan kontrol negara, dan bertindak sebagai polisi persis dalam artian “sempit” yang kamu dan saya gunakan hari ini. “Negara kesejahteraan” dalam pengertian Leopold adalah negara polisi, sebagaimana juga semua negara. “ausgebeuten.”

2. Liberalisme Sosial

Kita adalah manusia yang bebas dan dimanapun kita melihat, kita melihat diri kita dibuat menjadi pelayan para egois! Haruskah kita juga menjadi egois? Surga melarangnya! Kami lebih suka egois menjadi hal yang mustahil! Kami ingin menjadikan mereka semua menjadi “orang miskin”; semua tidak akan memiliki apapun, sehingga “semua dapat memiliki.” –Demikian kata para sosialis. 141

Siapa orang ini, yang kamu sebut “semua”? Itu adalah “masyarakat”! Tapi apakah itu adalah makhluk yang jasmaniah? Kami adalah tubuhnya! Kamu semua? 142

Kamu semua bukan dirimu sebagai tubuh. Tapi kamu, tuan, tentu saja tubuh jasmaniah. Kamu juga, nyonya, dan kamu. Tapi kamu semua sama-sama cuma tubuh (bodies), bukan tubuh (body). Oleh karena itu, masyarakat tentu akan memiliki badan-badan dalam pelayanannya, tetapi bukan badannya sendiri. Seperti “bangsa”-nya para politisi, hal itu akan berubah menjadi “roh”, tubuhnya hanyalah tipuan. Dalam liberalisme politis, kebebasan manusia adalah kebebasan dari seseorang, dari penguasa seseorang, dari

141 Saya telah memilih, seperti Byington, untuk menerjemahkan “Socialen” sebagai “sosialis” di sini. Ini, pada kenyataannya, memiliki makna yang lebih luas dari siapa pun yang “sadar secara sosial,” siapa pun yang menempatkan masyarakat di atas manusia individu. Tapi ide-ide kritik Stirner di sini tampaknya secara khusus sosialistik, bukan hanya sekedar “sadar sosial” – Wolfi*.* Dalam bagian ini Stirner menggunakan “Ihr,” bentuk jamak yang informal dari “kamu”; juga, “kamu sebagai kelompok,” dan “Du,” kata tunggal untuk untuk “kamu”, juga, “kamu sebagai individual yang spesifik” untuk membuat pemisahannya -Wolfi.

tuan; penjagaan dari tiap individu terhadap yang lain, kebebasan personal. Tidak ada satupun yang memberi perintah; hukum sendirilah yang memberi perintah. Tapi walaupun seseorang telah menjadi setara, kepemilikannya tidak demikian. Dan orang-orang miskin tetap butuh orang kaya, orang kaya tetap butuh orang miskin: yang pertama membutuhkan uangnya orang kaya, sementara yang terakhir membutuhkan kerjanya orang miskin. Jadi tidak ada seorangpun yang membutuhkan yang lain sebagai seseorang, tapi lebih pada dirinya membutuhkan yang lain sebagai pemberi, dengan demikian sebagai seseorang yang memiliki sesuatu untuk diberikan, sebagai pemegang atau pemilik. Jadi apa yang dia miliki, membuatnya menjadi apa yang dimaksud dengan Manusia. Dan dalam perihal memiliki, atau dalam “milik,” orang tidaklah setara. Sebagai akibatnya, liberalisme sosial berkesimpulan bahwa tidak seorang pun yang dapat memiliki, sebagaimana dengan liberalisme politik bahwa tidak seorangpun yang dapat memberi perintah. Dalam contoh yang demikian, hanya negara saja yang dapat memberi perintah, tapi sosialis berkata bahwa sekarang hanya masyarakat sendiri saja yang dapat memiliki harta. Dengan melindungi setiap orang dan setiap properti dari yang lain, negara memisahkan mereka dari satu sama lain; masing-masing adalah bagiannya untuk dirinya sendiri dan memiliki bagian untuk dirinya sendiri. Yang untuk apa dan siapa dia sudah cukup, menemukan bahwa situasi ini menjadi berharga untuk sementara waktu; tetapi orang yang ingin menjadi dan memiliki lebih banyak mencari lebih banyak untuk ini, dan menemukannya di kekuatan orang-orang lain. Di sini ia menemukan suatu kontradiksi: sebagai seseorang tidak ada yang menempati tempat kedua di tempat lain, namun satu orang memiliki apa yang orang lain tidak miliki tetapi ingin memilikinya. Jadi dia menyimpulkan

bahwa satu orang lebih dari yang lain, karena yang pertama memiliki apa yang dia butuhkan, dan yang terakhir tidak memilikinya; yang pertama adalah orang kaya, yang terakhir adalah orang miskin. Sekarang ia bertanya pada dirinya lebih jauh, haruskah kita membiarkan apa yang kita kubur untuk bangkit hidup kembali, haruskah kita membiarkan ketidakadilan muncul kembali dalam lajur melingkar agar ditahan? Tidak. Sebaliknya, kita harus terus-menerus membawanya apa yang sebelumnya hanya baru selesai sebagian hingga akhir. Kebebasan kita dari orang lain masih kurang memiliki kebebasan dari hal-hal yang dapat diperintahkan orang lain, dari hal-hal yang dia miliki dalam kekuatan pribadinya, singkatnya, dari “harta pribadi.” Jadi mari kita lakukan jauh dengan properti pribadi. Biarlah tidak ada yang memiliki apapun lagi, biarkan semua orang menjadi miskin. Biarkan properti menjadi impersonal, biarkan ia menjadi milik –masyarakat. Di hadapan penguasa tertinggi, satu-satunya komandan, kita semua menjadi sama, orang yang sama, yaitu, sama-sama nol. Di hadapan pemilik tertinggi kita semua menjadi orang miskin yang sederajat. Untuk sekarang, seseorang masih dalam perkiraan orang lain sebagai “orang miskin,” “yang tidak berpunya”; tetapi kemudian perkiraan ini berhenti. Kita semua miskin, dan sebagai massa masyarakat komunis kita dapat menyebut diri kita secara keseluruhan sebagai “rakyat jelata yang compang-camping.” Ketika kaum proletar benar-benar akan membangun “masyarakat” di mana kesenjangan antara kaya dan miskin harus dihilangkan, maka dia akan menjadi miskin, karena dengan begitu dia akan berpikir bahwa hal itu ditujukan untuk menjadi miskin, dan mungkin cukup mengangkat yang “miskin” menjadi bentuk tujuan terhormat, seperti yang revolusi lakukan dengan kata “warga negara.” Miskin adalah apa yang ia idamkan; bahwa kita semua menjadi orang

miskin. Ini adalah perampokan yang kedua dari yang “pribadi” demi kepentingan “kemanusiaan.” Tidak ada perintah maupun properti yang diserahkan kepada individu; negara mengambil yang pertama (perintah), sementara masyarakat yang kedua (properti). Karena di dalam masyarakat, kejahatan yang paling menindas membuat diri mereka secara khusus terasa bagi yang tertindas, sehingga anggota dari kelas masyarakat yang lebih rendah berpikir bahwa mereka telah menemukan kesalahan dalam masyarakat, dan sudah jadi tugas mereka untuk menemukan masyarakat yang tepat. Sudah jadi fenomena lama, bahwa seseorang pertama-tama mencari kesalahan dalam segala hal kecuali dirinya sendiri, yang dengan demikian, dalam negara, dalam pencarian diri orang kaya, dll., yang, bagaimanapun, menjadi kesalahan kita sehingga perlu berterima kasih atas keberadaan mereka. Refleksi dan kesimpulan komunisme terlihat sangat sederhana. Ketika segala sesuatu terletak pada saat ini, di bawah hubungan negara saat ini, beberapa orang, dan mereka adalah mayoritas, berdiri pada posisi yang tidak menguntungkan bagi yang lain, yaitu minoritas. Dalam keadaan seperti ini urusan yang belakangan berada dalam keadaan makmur, dan yang terakhir dalam keadaan membutuhkan. Dengan demikian, dalam keadaan sekarang ini, negara itu sendiri harus disingkirkan. Dan apa yang ada di tempatnya? Alih-alih kemakmuran tersebar –kemakmuran umum, kemakmuran bagi semua. Melalui revolusi, borjuis menjadi yang maha kuasa, dan semua ketidaksetaraan dihancurkan dengan cara meninggikan atau merendahkan seseorang ke dalam martabat warga negara borjuis: orang-orang umum ditinggikan, aristokrat direndahkan; situasi yang ketiga menjadi satu-satunya situasi, yang dinamakan sutiasi warga negara. Sekarang komunisme membalas: Martabat kita dan hakikat kita tidak terdiri dalam semua insan kita –anak-anak

yang sederajat dari ibu kita, yaitu negara, semua lahir dengan klaim yang setara atas cinta dan perlindungannya, tapi di dalam diri kita semua menjadi demi diri kita masing-masing. Inilah kesederajatan kita atau di dalam hal ini kita semua sama, bahwa aku begitupun kamu dan kalian semua, menjadi aktif dan bekerja demi satu sama lain; demikianlah di dalam diri kita semua adalah pekerja. Dalam hal ini, apa yang penting bukanlah perkara demi negara kita, yang dinamakan warga negara, demikian juga bukan kewarganegaraan borjuis kita, tapi apa yang demi satu sama lain kita, bahwa masing-masing dari kita hanya dapat eksis melalui yang lain, yang mana, sejak ia mengurus segala kebutuhanku, pada saat yang bersamaan melihat miliknya sendiri terpuaskan olehku. Ia berkerja, misalnya, untuk menyediakan pakaianku (penjahit), aku untuk dapat menghiburnya (penulis naskah komedi, penari tali), ia untuk makananku (petani), aku untuk tiap ajarannya (sarjana, dsb.). Jadi insan kelas pekerja kita ini adalah martabat kita dan kesetaraan kita. Apa keuntungan yang bisa didapat dari kelas menengah¹⁴³ terhadap kita? Tanggungan-tanggungan! 144

Dan seberapa tinggi kerja kita dihargai? Serendah mungkin! Tapi semua sama, kerja adalah satu-satunya nilai; satu-satunya hal terbaik tentang kita adalah bahwa kita adalah pekerja, bahwa itulah makna bagi di dunia; dan ini jugalah

143 “Bürgertum,” borjuis dalam artiannya yang paling luas yang mencakup borjuis kecil –pemilik toko kecil, pengrajin wiraswasta, dll., dengan demikian “kelas menengah.” Byington menerjemahkannya sebagai “kewarganegaraan.” Tapi “Bürgertum” kadang-kadang digunakan untuk “warga negara.” Tetapi “Bürgertum” memiliki konotasi kelas yang lebih spesifik, dan yang tampaknya signifikan dalam bagian ini -Wolfi. Atau “Pajak!” Kata Jerman untuk “Lasten” diterjemahkan secara harfiah sebagai “tanggungan,” tapi kata ini digunakan secara spesifik untuk merujuk pada pajak dan biaya lainnya-Wolfi.

mengapa hal ini harus menjadi keuntungan kita dan keunggulan yang dapat kita tunjukkan. Apa yang dapat kamu tunjukan kepada kami sebagai alternatifnya? Tentu saja, cuma bekerja sebaik mungkin. Hanya demi pekerjaan atau pelayanan maka kami berutang budi padamu, bukan karena keberadaanmu semata; juga bukan karena apa yang kamu lakukan bagi dirimu sendiri, tetapi hanya untuk apa yang kamu lakukan bagi kami. Bagaimana kamu memiliki klaim atas kami? Mungkin, melalui kelahiranmu yang tinggi, dll? Tidak, hanya dengan melalui apa yang telah kamu lakukan yang sesungguhnya diinginkan atau bermanfaat bagi kami. Jadi biarlah seperti ini: Kami bersedia menjadi berharga bagi kamu hanya sebanyak yang kami lakukan untuk kamu, tetapi kamu juga harus dimiliki oleh kami. Pelayanan menentukan nilai, layanan-layanan inilah yang berharga bagi kita, sehingga dengan demikian, berkerja demi satu sama lain, berkerja untuk kebaikan bersama. Biarkan masing-masing di mata orang lain menjadi pekerja. Orang yang melakukan sesuatu yang bermanfaat adalah tiada duanya, atau semua pekerja (pekerja, tentu saja, dalam arti pekerja “untuk kebaikan bersama,” yaitu pekerja komunistik) adalah sederajat. Tetapi, karena pekerja itu layak untuk ia sewa, 145 biarlah upahnya juga sederajat. Selama iman cukup untuk kehormatan dan martabat umat manusia, tidak ada keberatan yang bisa diajukan untuk menentang kerja apapun, sebetapa beratnya pekerjaan tersebut, jika itu tidak menghalangi seseorang dalam imannya. Bagaimanapun juga, sekarang semua orang mesti mengembangkan dirinya menjadi manusia, mengasingkan umat manusia pada kerja layaknya mesin untuk hal yang sebenarnya sama dengan perbudakan. Jika seorang pekerja pabrik harus membuat dirinya mati kelelahan selama dua belas jam dan lebih, dia dicegah untuk menjadi manusia.

Lihat Lukas 10:7, “Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.”

Semua pekerjaan harus bertujuan untuk memuaskan orang tersebut. Karena itu, ia juga harus menjadi ahli dalam perkara tersebut, yaitu, untuk mampu membuatnya sebagai sebuah totalitas. Seseorang yang hanya mencakok pikiran, yang hanya menarik kawat, dll., bekerja secara mekanis seperti mesin di pabrik pin; ia tetaplah seorang amatir, ia tidak menjadi ahli; apa yang ia kerjakan tidak dapat memuaskannya, hal itu hanya dapat membuatnya kelelahan. Diambil untuk dirinya sendiri, apa yang ia kerjakan bukanlah apa-apa, hal itu tidak memiliki tujuan dalam dirinya sendiri, tidak ada yang lengkap dalam dirinya sendiri; ia hanya bekerja di bawah orang lain, dan digunakan (dieksploitasi) oleh yang lain ini. Untuk pekerja ini dilayanan orang lain, tidak ada kenikmatan dari semangat yang dibudidayakan, paling banyak, hanya hiburan kasar; memang, budaya menjadi tertutup baginya. Untuk menjadi orang Kristen yang baik, orang hanya perlu mempercayai, dan itu bisa dilakukan di bawah kondisi yang paling menindas. Jadi, orang-orang yang berpikiran Kristen hanya peduli dengan kesalehan para pekerja yang tertindas, kesabaran, ketundukan mereka, dll. Kelas-kelas yang tertindas dapat menanggung semua kesengsaraan mereka hanya selama mereka adalah orang Kristen; karena kekristenan tidak membiarkan gerutuan dan kemarahan mereka muncul. Sekarang menenangkan keinginan tidak lagi cukup, tetapi kepuasan mereka dituntut. Kaum borjuis telah memberitakan Injil tentang kenikmatan dunia, kenikmatan material, dan sekarang terkejut bahwa doktrin ini menemukan penganut di antara kita orang-orang yang miskin; itu telah menunjukkan bahwa bukan iman dan kemiskinan, melainkan budaya dan harta benda yang membuat seseorang diberkati; kami kaum proletar juga memahami hal ini. Kaum borjuis membebaskan kita dari perintah dan kesewenang-wenangan perseorangan. Tapi kesewenang-wenangan yang bersemi dari kondisi genting, dan yang mana akan disebut sebagai kemungkinan [contingency] dari

suatu keadaan, tetap bertahan; mendukung keberuntungan dan mereka yang “disukai oleh keberuntungan” masih tetap ada. Misalnya, ketika suatu cabang industri runtuh dan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka, orang-orang berpikiran cukup adil dengan mengakui bahwa individu itu tidak bisa disalahkan, melainkan “kejahatan itu sudah ada dari sononya”. Maka mari kita ubah kondisinya kalau begitu, tapi jangan ubah hal tersebut secara keseluruhan, dan dengan cara begitu kemungkinan mereka menjadi tidak berdaya dan hukum! Janganl lagi kita menjadi budak kesempatan! Mari kita ciptakan tatanan baru yang menempatkan akhir pada suatu hal yang berubah-ubah. Maka biarlah tatanan ini menjadi sakral! Sebelumnya seseorang harus menyenangkan para bangsawan untuk datang pada suatu hal; setelah revolusi slogannya menjadi “rebut keberuntungan!” Perburuan keberuntungan atau permainan kebetulan: kehidupan borjuis dimulai dalam hal ini. Bersamaan dengan itu, persyaratan bahwa siapa pun yang mendapatkan sesuatu tidak secara sembarangan mempertaruhkannya lagi. Suatu kontradiksi yang aneh sekaligus juga alami. Persaingan, di mana kehidupan borjuis atau politik semata- mata beroperasi, adalah permainan kebetulan, dari spekulasi pasar saham hingga pengajuan untuk jabatan resmi, perburuan pelanggan, pencarian pekerjaan, pengejaran promosi dan dekorasi, tawar-menawar yang mengobrak-abrik tukang loak, dll. Jika seseorang berhasil mendorong dan mengalahkan saingannya, maka jadilah “lemparan keberuntungan”; karena itu harus dianggap sebagai keberuntungan, sehingga pemenang merasa dirinya berbakat dengan kemampuannya, bahkan jika dibiasakan dengan ketekunan yang paling hati-hati, di mana yang lain tidak tahu bagaimana caranya bangkit, sehingga dapat ditemukan lagi orang yang berbakat. Dan sekarang

mereka yang mengejar kehidupan sehari-hari mereka di tengah-tengah peruntungan yang berubah-ubah ini tanpa berbuat buruk darinya, dihinggapi kemarahan yang paling bermoral ketika prinsip mereka muncul dalam bentuknya yang paling telanjang dan “melampiaskan ketidakberuntungan” sebagai permainan atas peluang. Permainan atas kebetulan terlalu jelas, terlalu terbuka buat kompetisi, dan, seperti ketelanjangan yang pasti, menyinggung rasa malu yang terhormat. Para sosialis ingin mengakhiri aktivitas kesempatan¹⁴⁶ ini, dan untuk membentuk masyarakat yang mana orang-orang tidak lagi bergantung pada keberuntungan, melainkan bebas. Dalam cara yang paling alamiah, aspirasi ini mengekspresikan dirinya sebagai kebencian “ketidakberuntungan” terhadap “keberun-tungan,” misalnya, mereka yang beruntung melakukan sedikit atau tidak sama sekali terhadap mereka yang telah melakukan segalanya. Tapi sebenarnya bantuan ini tidak ditujukan bagi yang beruntung, sehingga keberuntungan ini, membuat keropos tempat borjuis. Semenjak komunis mendeklarasikan aktivitas bebas sebagai hakikat manusia, gaya berpikir mereka seperti orang yang kerja sehari penuh, mereka perlu hari Minggu; seperti semua aspirasi material, mereka membutuhkan Tuhan, peningkatan dan pendidikan sepanjang “kerja” mereka yang tak berakal¹⁴⁷.

146 “Ungefährs” adalah bentuk kata benda dari kata sifat “ungefähr” yang akan diterjemahkan sebagai “perkiraan” atau “kasar” dalam arti “perkiraan kasar.” Jadi itu berkaitan dengan menebak. Implikasinya di sini adalah bahwa kaum sosialis ingin mengakhiri tebakan dalam hidup. “Erhebung” juga dapat berarti “pemberontakan,” dan Stirner mungkin mela-kukan ini sebagai sebuah permainan kata karena komunis menyerukan untuk revolusi.

Bahwa komunis melihat manusia sebagai saudara, di dalam dirimu, hanyalah hari Minggu-nya komunisme. Dari sisi hari kerja, dia dengan cara apa pun tidak menganggap kamu sebagai manusia, tetapi sebagai pekerja manusia, sebagai orang yang berkerja. Prinsip liberal ada di pandangan pertama; ketidakliberalan disembunyikan dari yang kedua. Jika kamu seorang “pemalas,” dia pasti tidak akan gagal mengenali manusia di dalam dirimu, tetapi akan berusaha untuk membersih-kannya, sebagai “manusia yang malas,” dari kemalasan, dan untuk mengubahmu menjadi keyakinan bahwa pekerjaan telah menjadi “takdir dan panggilan” manusia. Karena itu ia menunjukkan wajah ganda: dengan wajah ia menjaga agar manusia spiritual terpuaskan; dengan yang lain dia mencari-cari alat untuk bahan tubuh manusia. Dia memberi manusia pekerjaan ganda, satu tugas materi dan satu lagi akuisisi spiritual. Kaum borjuis secara terbuka telah meletakkan barang-barang spiritual dan material, dan menyerahkannya kepada masing-masing orang untuk menjangkaunya andai ia mau. Komunisme sebenarnya menyediakan mereka untuk masing-masing, memaksakannya padanya, dan memaksanya untuk mendapat-kannya. Diperlukan gagasan serius bahwa, karena hanya benda spiritual dan material yang menjadikan kita manusia, kita harus memperoleh barang-barang ini tanpa protes agar menjadi manusia. Borjuasi membuat akuisisi terbuka; komunisme memaksa akuisisi, dan hanya mengakui pengakuisisi, pedagang. Tidak cukup bahwa perdagangan terbuka, kamu harus mengambilalihnya. Jadi satu-satunya yang tersisa untuk dikritik adalah untuk menunjukkan bahwa perolehan barang-barang ini sama sekali tidak menjadikan kita sebagai manusia. Dengan perintah liberal bahwa setiap orang harus menjadikan manusia sebagai dirinya sendiri, atau

menjadikan dirinya manusia, kebutuhannya adalah mengemukakan bahwa setiap orang harus mendapatkan waktu untuk pekerjaan pemanusiaan ini, yaitu, bahwa akan jadi mungkin bagi setiap orang untuk mengerjakan dirinya sendiri. Kaum borjuis percaya bahwa mereka telah mengatur ini jika memberikan segalanya kepada manusia untuk berkompetisi, tetapi memberi hak individu kepada semua manusia. “Masing-masing dapat berjuang setelah semuanya!” Liberalisme sosial menemukan bahwa masalahnya tidak diselesaikan dengan “mungkin”; karena mungkin sebenarnya berarti bahwa itu dilarang untuk siapa pun, tetapi tidak berarti hal itu dimungkinkan untuk setiap orang. Karena itu, ia mengklaim bahwa kaum borjuis hanya liberal dalam mulut dan kata-kata, tapi sangat tidak liberal dalam perbuatan. Pada bagiannya, ia ingin memberikan semua sarana untuk dapat bekerja pada diri kita sendiri. Prinsip rejeki atau persaingan tentunya kalah oleh prinsip kerja. Tetapi pada saat yang sama si pekerja, dalam kesadarannya bahwa hal terpenting tentang dirinya adalah “pekerja,” menjauhkan diri dari egoisme dan tunduk pada supremasi masyarakat pekerja, sementara warga borjuis berpegang erat pada pengabdian atas kondisi persaingan. Mimpi indah tentang “tugas sosial” masih sedang diimpikan. Orang berpikir lagi bahwa masyarakat memberikan apa yang kita perlu, dan karena itu kita berkewajiban untuk itu, berutang segalanya. 148 Mereka masih pada titik keinginan untuk melayani “pemberi tertinggi semua kebaikan.” Masyarakat itu sama sekali bukan aku, yang dapat memberi, meminjamkan, atau menyerahkan, tetapi sebuah instrumen atau sarana yang darinya kita dapat mengambil manfaat;

Proudhon menangis, misalnya, “Dalam industri sebagaimana sains, penerbi-tan penemuan adalah salah satu tugas paling suci dan paling utama,” De la creation de l’ordre dans l’hummanite, ou Principes d’organisation politique (Paris, 1843) hlm 414.

bahwa kita tidak memiliki kewajiban sosial, tetapi hanya kepentingan dalam mengejar yang mana masyarakat harus melayani kita: bahwa kita tidak berutang pengorbanan kepada masyarakat, tetapi jika kita mengorbankan sesuatu, kita mengor-bankannya untuk diri kita sendiri: kaum sosialis tidak memikirkan hal ini, karena mereka -sebagai kaum liberal- terperangkap dalam prinsip agama dan dengan gigih mengejar masyarakat yang suci, seperti yang dilakukan negara hingga saat ini. Masyarakat, yang dari mana kita dapat memiliki segalanya, adalah penguasa baru, hantu baru, “makhluk tertinggi” baru. yang “membawa kita ke layanan dan tugasnya”! Penilaian liberalisme politik dan sosial yang lebih terperinci hanya dapat menemukan tempatnya lebih jauh. Untuk sekarang kita lewati ini untuk membawa mereka ke pengadilan liberalisme kritis atau humanis.

3. Liberalisme Humanis

Semenjak liberalisme melengkapkan dirinya sendiri dengan otokritik, liberalisme yang “kritis”, 149 yang kritiknya masih liberal dan tidak melampaui prinsip liberalisme, yaitu insan manusia, maka liberalisme macam ini lebih pantas dinamai dengan manusia dan dengan demikian “manusiawi”. Pekerja dipandang sebagai insan manusia paling materialistik dan egoistik. Dia tidak melakukan apa pun untuk kemanusiaan; dia melakukan segalanya untuk dirinya sendiri, untuk kesejahteraannya. Borjuis, karena ia meloloskan insan manusia untuk lepas sebagai yang merdeka hanya dengan dilahirkan, mesti meninggalkannya dalam cakar monster (egois) sepanjang

Dalam hal ini Stirner merujuk pada “kampanye kritisisme murni” yang diusulkan oleh Bruno Bauer dan pengikutnya.

hidupnya. Karena itu, di bawah rezim liberalisme politik, egoisme adalah bidang yang besar untuk pemanfaatan secara cuma-cuma. Pekerja akan menggunakan masyarakat untuk tujuannya yang egoistik seperti halnya borjuis menggunakan negara. Kamu masih memiliki tujuan egois, yaitu kesejahteraanmu! Demikian liberal humanis menuduh sosialis. Ambil minat manusia yang murni-maka aku akan menjadi temanmu. “Tetapi hal ini adalah miliknya kesadaran yang lebih kuat, yang lebih komprehensif daripada kesadaran para pekerja.” “Pekerja itu tidak menghasilkan apa-apa, oleh karena itu dia tidak memiliki apa-apa; tetapi dia tidak menghasilkan apa-apa, karena pekerjaannya selalu bersifat individual, dihitung berdasarkan keinginannya sendiri, hari demi hari.” 150 Yang bertentangan dengan hal ini mungkin mempertimbangkan hal berikut: kerja Gutenberg tidak lagi individual, tetapi melahirkan anak-anak yang tak terhitung jumlahnya, dan masih hidup sampai sekarang; itu diperhitungkan untuk kebutuhan kemanusiaan dan merupakan kerja yang abadi dan tidak dapat mati. Kesadaran humanis membenci baik kesadaran borjuis maupun pekerja; karena borjuis hanya marah pada gelandangan (yang sama sekali “tidak memiliki pekerjaan yang pasti”) dan “amoralitas” mereka; pekerja itu “jijik” pada pemalas (“tulang malas”) dan “ketidakbermoralanya”; karena prinsip-prinsip yang meremehkan dan tidak sosial. Untuk ini, balasan liberal yang humanis: Kehidupan gelisah banyak orang hanyalah produkmu, filistin! Tetapi kamu, kaum proletar, menuntut kesibukan untuk semua orang, dan ingin membuat pekerjaan yang membosankan secara universal, adalah bagian dari kehidupan tas gendong yang kamu jalani hingga sekarang, yang masih melekat pada dirimu. Tentu saja kamu ingin meredakan kerepotan itu

Edgar Bauer (ditulis anonim), ulasan Flora Tristan, Union ouvrière (Paris, 1843), dalam Bruno Bauer (penyunting), Allgemeine Literaturzeitung, No. 5, (April 1844).

sendiri, yaitu agar semua orang harus sama-sama banting tulang, tetapi hanya demi satu alasan, yakni bahwa semua bisa mendapatkan waktu luang yang sama. Tapi bagaimana mereka akan menghabiskan waktu luang mereka? Apa yang dilakukan “masyarakat”-mu sehingga mereka akan menghabiskan waktu luang ini secara manusiawi? Ini lagi-lagi harus meninggalkan kesenangan yang didapat dalam pengertian egoistik, dan keuntungan yang didorong oleh masyarakatmu jatuh pada para egois, karena perolehan burjuasi, ketakbertuanan manusia, tidak dapat diisi dengan muatan manusia oleh negara, dan karena itu diserahkan pada pilihan yang sewenang-wenang. Tentu saja manusia tak bertuan itu sangat diperlukan; tetapi sebelum itu orang yang egois tidak boleh menjadi penguasa atas umat manusia lagi, tetapi sebaliknya manusialah yang menguasai orang yang egois. Tentu saja manusia harus menemukan waktu luang, tetapi jika egois memanfaatkannya, ia akan hilang bagi manusia; oleh karena itu kamu harus memberikan pada waktu luang tentang apa itu makna manusia. Tetapi kamu para pekerja juga melakukan pekerjaanmu dari dorongan yang egoistis, karena kamu ingin makan, minum, hidup; bagaimana seharusnya kamu menjadi tidak terlalu egois di waktu luangmu? Kamu cuma bekerja, karena setelah satu hari kerja selesai, bersenang-senang (bermalas-malasan) adalah baik, dan bagaimana kamu menghabiskan waktu luangmu dibiarkan begitu saja. Tetapi jika setiap pintu harus dikunci pada egoisme, seseorang harus berjuang untuk tindakan yang sama sekali tidak tertarik, ketidaktertarikan total. Ini saja adalah manusia, karena hanya manusia yang tidak tertarik; sementara si egois selalu tertarik. *** Jika kita membiarkan ketidaktertarikan tetap ada untuk sementara waktu, kita bertanya: Apakah kamu tidak tertarik pada apa pun, tidak bersemangat untuk apa pun, tidak untuk

kebebasan, untuk kemanusiaan, dll? “Oh, ya, tapi itu bukan kepentingan egoistik, tidak ada ketertarikan, kecuali manusia, yaitu minat teoretis, yaitu minat yang bukan untuk individu atau individu-individu (“semua”), tetapi untuk gagasan, untuk umat manusia!” 151

Dan tidakkah kamu memperhatikan bahwa kamu juga hanya antusias terhadap ide-mu, ide-mu tentang kebebasan? Dan lebih jauh, tidakkah kamu perhatikan bahwa ketidaktertarikanmu itu lagi-lagi, sama seperti ketidaktertarikan religius, adalah ketertarikan surgawi? Keuntungan secara individual tentu akan membuatmu kedinginan, dan secara abstrak kamu dapat menangis fiat libertas, pereat mundus. 152 Kamu tidak perlu khawatir tentang hari yang akan datang, dan sama sekali tidak memiliki keprihatinan serius terhadap keinginan individu, baik untuk kehidupanmu sendiri maupun orang lain; tetapi kamu tidak menghasilkan apapun dari semua ini, karena kamu adalah –pemimpi. Akankah liberal humanis dapat menjadi begitu liberal untuk meloloskan setiap hal yang mungkin pada umat manusia sebagai manusia? Sebaliknya! Tentu saja dia tidak berbagi prasangka moral filistin tentang pelacur, tetapi “bahwa perempuan ini menjadikan tubuhnya sebagai mesin penghasil uang” 153 membuatnya dirinya hina sehingga tidak pantas disebut sebagai “insan manusia”. Ia menghakimi: pelacur bukanlah seorang manusia, atau, selama

151 Wolfi menerjemahkannya “for the human being!” Artinya Stirner bermaksud untuk menjelaskan bahwa liberalisme humanis ada untuk gagasan, tapi tidak untuk manusia itu sendiri, karena menekankan “the”, kata gramatik Inggris. 152 “Biarlah terdapat kebebasan, sekalipun dunia harus musnah.” Edgar Bauer (anonim), “Béraud über die Freudenmädchen,” ulasan F. F. A. Béraud, Les filles publiques de Paris et la police qui les régit, 2 volume (Paris dan Leipzig, 1839), dalam Allgemeine Literaturzeitung, no.5 (April 1844), hlm 26.

perempuan tersebut menjadi pelacur, maka ia bukan tidak manusia, tertidakmanusiakan. Lebih jauh: orang Yahudi, orang Kristen, orang-orang yang memiliki hak istimewa, teolog, dsb., bukanlah manusia; selama kamu adalah Yahudi, dsb., kamu bukanlah manusia. Sekali lagi dengan dalil angkuh: singkirkan segala sesuatu yang berbeda darimu, kritiklah! Jangan menjadi orang Yahudi, Kristen, dll. Tetapi jadilah manusia, tidak lain adalah manusia! Tegaskan kemanusiaan-mu atas setiap sebutan yang membatasi; dengan cara demikian, jadikan dirimu manusia, dan bebas dari batasan itu; jadikan dirimu “manusia yang bebas”, misalnya, dengan mengakui kemanusiaan sebagai suatu hakikat darimu yang menentukan segalanya. Aku bilang: Kamu tentu saja lebih dari seorang Yahudi, lebih dari seorang Kristen, dll., Tetapi kamu juga lebih dari manusia. Itu semua adalah gagasan, tetapi kamu ada di dalam daging. Apakah kamu kemudian lantas berpikir bahwa dirimu bisa menjadi “manusia seperti itu”? Apakah kamu berpikir bahwa keturunan kita tidak akan menemukan prasangka dan batasan untuk menyingkirkan sesuatu yang mana kekuatan kita sendiri tidak mampu melakukannya? Atau apakah kamu mungkin percaya bahwa pada usia keempat puluh atau lima puluh tahun kamu akan datang sejauh itu sehingga hari-hari esok tidak akan ada lagi yang bisa kamu selesaikan, dan bahwa kamu akan menjadi manusia? Orang-orang di masa depan belum akan memenangkan banyak kebebasan yang bahkan tidak kita lewatkan. Untuk apa kamu membutuhkan kebebasan yang terakhir itu? Jika kamu tidak mau menganggap dirimu tidak sebagai apapun sebelum kamu menjadi manusia seutuhnya, kamu harus menunggu sampai “penghakiman terakhir” hingga hari dimana manusia, atau kemanusiaan, akan mencapai kesempurnaan. Tetapi karena kamu pasti akan mati sebelum itu tercapai, terus di mana hadiah atas kemenanganmu itu? Jadi, balikkan masalahnya, dan katakan pada diri

sendiri: Aku adalah manusia! Aku tidak perlu terlebih dahulu menghasilkan manusia dalam diriku, karena itu sudah menjadi milikku, seperti semua kualitas atas diriku. Tapi kritik muncul, bagaimana mungkin seorang bisa menjadi Yahudi dan manusia di saat yang bersamaan? Pertama-tama, Aku jawab, seseorang sama-sekali tidak dapat menjadi Yahudi atau manusia, jika “seseorang” dan Yahudi atau manusia itu berarti satu hal yang sama; “seseorang” selalu melampaui sebutan-sebutan tersebut, dan biarkan Ishak tetaplah menjadi Yahudi, tidak lain daripada Yahudi, yang tidak akan pernah bisa, hanya karena ia sendiri adalah Yahudi tersebut. Kedua, sebagai Yahudi, seseorang tentu tidak dapat menjadi manusia, jika menjadi manusia berarti menjadi sesuatu yang istimewa. Ketiga, dan ini yang paling penting, sebagai Yahudi, Aku dapat menjadi apa yang aku bisa. Sejak Samuel sampai Musa¹⁵⁴ dan yang lain-lain, kamu bersikeras mengira bahwa mereka telah ditumbuhkan di atas Yudaisme, meskipun kamu harus mengatakan bahwa mereka belum menjadi “manusia.” Sederhananya mereka adalah apa yang mereka dapat lakukan. Apakah ini berbeda dengan orang Yahudi hari ini? Karena kamu telah menemukan gagasan tentang kemanusian, apakah hal tersebut mengikuti dari hal ini bahwa tiap orang Yahudi dapat menjadi apa yang kebalikan dari dirinya? Jika ia bisa, ia tidak gagal untuk melakukannya, dan jika ia gagal melakukannya, maka ia tidak bisa. Apa permintaanmu yang tidak masuk akal, apa panggilan untuk menjadi manusia yang kamu keluarkan padanya, tentang dirinya? *** Di dalam “masyarakat manusia” yang dijanjikan oleh para liberal humanis, tidak ada apapun yang “istimewa” yang seseorang atau orang lain dapat kenali, tidak ada yang

Merujuk pada alkitabiah Samuel dan Musa, yang secara simbolik menjadi pemberi hukum bagi orang Ibrani, dan juga menjadi pusat untuk pembentukan agama dan budaya Yahudi.

memiliki karakter “pribadi” yang seharusnya memiliki nilai. Dengan cara ini, lingkaran liberalisme, yang memiliki prinsip baik dalam diri manusia dan kebebasan manusia, dan prinsip jahatnya dalam egoisme dan segala sesuatu yang bersifat pribadi, Tuhannya di masa lalu, iblis di masa lalu, melengkapi dirinya sepenuhnya; dan jika orang khusus atau pribadi kehilangan nilainya di dalam “negara” (tidak ada hak prerogatif pribadi), jika properti khusus (pribadi) tidak lagi diakui dalam “masyarakat pekerja atau yang miskin;” jadi dalam “masyarakat manusia” segala sesuatu yang istimewa atau pribadi akan diambil dari pertimbangan, dan ketika “kritik murni” akan menyelesaikan kerja kerasnya, maka orang akan tahu apa yang semuanya pribadi, dan apa yang seseorang “tusuk dengan rasa ketiadaan” akan-harus berdiri. Karena negara dan masyarakat saja tidak cukup untuk liberalisme humanis, hal tersebut menyangkal keduanya pada saat yang bersamaan dan mempertahankan keduanya pada saat yang bersamaan. Sehingga pada suatu waktu telah dikatakan bahwa tugas hari ini “bukanlah yang politis, tetapi yang sosial,” dan lagi, “negara bebas” adalah janji dari masa depan. Sebenarnya, “masyarakat manusia” adalah sekaligus negara paling universal dan juga masyarakat paling universal. Hanya terhadap negara terbatas yang diklaimnya membuat terlalu banyak keributan tentang kepentingan pribadi spiritual (misalnya, kepercayaan agama rakyat), dan terhadap masyarakat terbatas yang membuat terlalu banyak kepentingan material pribadi. Keduanya seharusnya menyerahkan kepentingan pribadi kepada orang pribadi, dan, sebagai masyarakat manusia, hanya memikirkan kepentingan universal manusia. Politisi, bermaksud menghancurkan kehendak personal, kemauan-diri atau kesewenang-wenangan, tidak

memperhatikan bahwa melalui properti¹⁵⁵ maka kehendak- diri kita menjadi tempat yang aman bagi para pengungsi. Kaum sosialis, yang juga merampas properti, gagal untuk mengamati bahwa hal ini memastikan dirinya terus memiliki kepemilikan. Apakah hanya uang dan barang yang merupakan properti saat itu, atau apakah setiap orang memandang barangku, sebagai barang milikku sendiri? Jadi tiap pandangan harus dirobohkan atau dibuat impersonal. Orang tidak dilekatkan dengan pandangan apapun, tapi sebagai kemauan-diri yang dialihkan pada negara, properti bagi masyarakat, jadi pandangan juga harus dialihkan pada sesuatu yang universal, “umat manusia,” dan kemudian menjadi pandangan universal manusia. Jika pandangan terus ada, maka aku memiliki Tuhan- ku (memang Tuhan hanya ada sebagai “Tuhan-ku”; ia adalah pandangan atau “imanku”), dan begitupun imanku, agamaku, pikiranku, cita-citaku. Karena itu, iman universal manusia harus muncul, “fanatisme untuk kebebasan.” Ini memang akan menjadi iman yang sesuai dengan “hakikat manusia;” dan karena hanya manusia yang masuk akal (kamu dan aku bisa sangat tidak masuk akal!), iman yang masuk akal. Sebagaimana kemauan-diri dan properti menjadi tidak berkuasa, begitupun kepemilikan atau egoisme pada umumnya. Dalam pengembangan tertinggi “umat manusia yang bebas,” egoisme, kepemilikan, diperangi berdasarkan prinsip, dan tujuan rendahan semacam itu sebagai “kesejahteraan” sosial kaum sosialis, dll., menghilang di hadapan “gagasan kemanusiaan” yang agung. Segala sesuatu yang bukan “hal universal manusia” adalah sesuatu yang berbeda, hanya memuaskan beberapa atau satu

Dalam bagian ini, Stirner menekankan “memiliki” (“Eigen”): “Eigentum” (properti dalam artiannya luas), “Eigenwille” (kemauan-diri), dan “Eigenheit” (kepemilikan, kekhususan).

orang; atau jika itu memuaskan semua orang, ia melakukan ini hanya kepada mereka sebagai individu, bukan sebagai manusia, dan karena itu disebut “hal yang egoistik.” Bagi kaum sosialis, kesejahteraan sosial masih menjadi tujuan tertinggi, sebagaimana pertikaian bebas adalah hal yang menyenangkan bagi kaum liberal politik; sekarang kesejahteraan juga gratis, dan siapa pun yang ingin memilikinya dapat memperolehnya, sama seperti siapa pun yang ingin terlibat dalam pertikaian (kompetisi) dapat memilih untuk melakukannya. Tetapi untuk ikut dalam pertikaian, kamu cuma perlu untuk menjadi borjuis; untuk ikut dalam kesejahteraan kamu hanya perlu menjadi pekerja. Tidak ada yang identik dengan “manusia.” Hanya yang “benar-benar baik” dengan manusia ketika dia juga “bebas secara intelektual!” Karena manusia adalah pikiran, oleh karena itu semua kekuatan yang asing baginya, pikiran-semua manusia yang super, surgawi, kekuatan tidak manusiawi -harus digulingkan, dan istilah “manusia” harus ditempatkan di atas segala istilah lainnya. Jadi pada akhir zaman modern ini (zamannya para modern), ia kembali sebagai titik utama, apa yang telah menjadi titik utama pada awalnya: “kebebasan intelektual.” Para liberal humanis berkata secara khusus mengenai komunis: Jika masyarakat menetapkan aktivitasmu kepada dirimu, hal ini memang bebas dari pengaruh individu, yaitu, egois, tetapi karena itu tidak perlu menjadi sepenuhnya (aktivitas) manusia, kamu juga tidak perlu menjadi organ kemanusiaan yang lengkap. Kegiatan seperti apa yang dituntut masyarakat dari dirimu masih tetap merupakan sebuah kesatuan; itu bisa mempekerjakan kamu untuk bekerja di sebuah kuil dan sejenisnya, atau, bahkan jika bukan ini, kamu mungkin masih aktif atas doronganmu sendiri untuk suatu kebodohan, dan karena itu tidak manusiawi; bahkan lebih lagi, kamu sebenarnya hanya bekerja untuk memberi makan dirimu sendiri, secara umum untuk hidup, demi kehidupan yang terhormat, bukan untuk

pemuliaan umat manusia. Akibatnya, aktivitas bebas dicapai hanya ketika kamu membuat dirimu bebas dari semua kebodohan, dari segala sesuatu yang bukan manusia, yaitu egoistik (milik individu, bukan milik manusia dalam individu), menghilangkan semua pikiran tidak benar yang menggelapkan manusia, atau singkatnya, ide kemanusiaan, ketika kamu tidak hanya terhindar dari aktivitasmu, tetapi juga isi aktivitasmu hanya manusia, dan kamu hidup dan bekerja hanya untuk kemanusiaan. Tetapi ini tidak terjadi selama tujuan perjuanganmu hanyalah kesejahteraan-mu dan itu menjadi segalanya; apa yang kamu lakukan untuk masyarakat miskin belum dilakukan untuk “masyarakat manusia.” Kerja saja belum membuatmu menjadi seorang manusia, karena hal tersebut merupakan suatu hal formal dan objeknya adalah sebuah kesatuan; tapi hal itu tergantung pada siapakah dirimu sebenarnya, yaitu, sebagai salah satu orang yang berkerja. Terlepas dari semuanya, kamu bisa berkerja berdasarkan dorongan (material) yang egoistik, semata-mata untuk menyediakan pada dirimu makanan atau semacamnya; itu haruslah sebuah karya yang memajukan kemanusiaan, diperhitungkan untuk kebaikan kemanusiaan, melayani sejarah, misalnya manusia, pembangunan, singkatnya, sebuah karya yang manusiawi. Ini termasuk dua hal: satu, bahwa itu baik untuk kemanusiaan; yang lain, bahwa itu berasal dari “manusia.” Yang pertama saja bisa menjadi kasus dengan kerja apa pun, karena bahkan kerja alam, misalnya, hewan, digunakan oleh umat manusia untuk kemajuan ilmu pengetahuan, dll; yang kedua mensyaratkan bahwa orang yang bekerja mengetahui tujuan manusia dari pekerjaannya; dan dia dapat memiliki kesadaran ini hanya ketika dia mengetahui dirinya sebagai manusia; jadi kondisi krusial adalah kesadaran diri. Tentu banyak yang sudah dicapai ketika kamu berhenti menjadi “pekerja spesialis;” (Wolfi: pekerja

fragmen) 156 Tetapi dengan ini, kamu hanya mendapatkan pandangan tentang seluruh pekerjaanmu, dan memperoleh kesadaran tentangnya, yang masih jauh dari kesadaran diri, kesadaran tentang “diri” atau “esensi,” umat manusia. Pekerja terus memiliki keinginan untuk “kesadaran yang lebih tinggi,” yang memuaskannya pada saat bersuka ria, karena aktivitas kerja tidak dapat memadamkannya. Oleh karena itu, pesta pora berdiri di sisi kerjanya, dan ia merasa terdorong untuk menyatakan pekerjaan dan kemalasan manusia dalam satu nafas, yang tentu saja, untuk mengatributkan ketinggian yang sesungguhnya kepada si pemalas, sang pewahyu, dia bekerja hanya untuk menjauh dari pekerjaan, dia ingin membuat pekerja bebas, hanya supaya dia bisa bebas dari kerja. Cukup, kerjanya tidak memiliki muatan yang memuaskan, karena hal ini hanya ditetapkan oleh masyarakat, hanya tugas, pekerjaan rumah; dan, sebaliknya, masyarakatnya tidak memuaskannya, karena itu hanya memberi kerja. Pekerjaan seharusnya memuaskannya sebagai seorang manusia; tapi sebaliknya hal itu hanya memuaskan masyarakat; masyarakat harus memperlakukannya sebagai manusia, dan hal itu memperlakukannya sebagai –pekerja kasar, atau pekerja yang miskin. Pekerjaan dan masyarakat hanya berguna baginya, bukan karena ia membutuhkannya sebagai manusia, tetapi sebagai “egois.” Ini adalah sikap kritis terhadap tenaga kerja. Hal ini menunjuk pada “pikiran;” memimpin pertempuran antara

156 Bahasa Jerman untuk kata ini adalah “Stückarbeiter.” Biasanya akan diterjemahkan sebagai “pekerja lapangan;” tetapi Stirner di sini merujuk pada pembagian kerja pada jalur produksi pabrik, di mana seorang pekerja benar-benar hanya melakukan sebagian tentang apa yang diperlukan untuk membuat suatu produk, dan karenanya memiliki sedikit kesadaran akan semua yang diperlukan untuk produksinya.

“pikiran dengan massa,” 157 dan menyatakan pekerjaan komunis sebagai kerja massal yang tidak ada artinya. Karena pekerjaan itu pemalu, massa senang membuat kerja menjadi mudah bagi diri mereka sendiri. Dalam literatur, yang diperlengkapi secara massal saat ini, keengganan untuk bekerja ini menghasilkan kedangkalan yang dikenal secara universal, yang menolak “upaya penelitian.” 158

Karena itu, liberalisme humanis mengatakan: kamu ingin bekerja; baiklah kalau begitu, kami juga sama menginginkannya, tetapi kami menginginkannya sepenuhnya. Kami tidak ingin mendapatkan kesenangan, tetapi untuk menemukan semua kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri. Kami ingin bekerja karena ini adalah pengembangan diri kami. Tetapi kemudian kerja juga harus disesuaikan dengannya! Manusia dihargai hanya oleh manusia, kerja yang sadar diri, hanya kerja yang tidak memiliki niat “egois”, tetapi hanya manusia untuk tujuannya, dan merupakan wahyu diri manusia, sehingga harus dikatakan: laboro, ergo sum: Aku bekerja, maka aku ada. Liberal yang humanis ingin agar kerja pikiran yang mengatasi semua masalah, pikiran yang tidak meninggalkan apa pun dalam keadaan diam atau dalam kondisi yang ada sekarang, yang tidak meyakinkan apa-apa, yang membersihkan segalanya, mengkritik lagi setiap hasil yang telah dimenangkan. Pikiran yang gelisah ini adalah pekerja sejati, ia menghilangkan prasangka, meledakkan penghalang dan batasan¹⁵⁹, dan mengangkat manusia di atas semua yang ingin berkuasa atas dirinya, sedangkan komunis hanya bekerja untuk dirinya sendiri, dan

157 Bruno Bauer (secara anonim), ulasan H.F.W.Hinrichs, Politische Vorlesungen, 2 volumes (Halle, 1843), in Allgemeine Literaturzeitung, No. 5 (April 1833), hlm 24. Ibid. Dalam bagian ini, Stirner menggunakan banyak permainan kata yang saya coba lakukan dengan menirunya melalui aliterasi - Wolfi.

bahkan tidak dengan bebas, tetapi berdasarkan keharusan; singkatnya, dia menandakan seseorang dihukum untuk bekerja dengan keras. Pekerja dengan tipe yang demikian tidaklah “egoistik,” karena ia tidak berkerja untuk pribadi tertentu, tidak bagi dirinya maupun pribadi yang lain, dan bukan pula insan manusia yang privat, tapi demi kemanusiaan dan kemajuannya; dia tidak meringankan rasa sakit individu, tidak memenuhi kebutuhan individu, tetapi membersihkan hambatan yang menekan kemanusiaan, menghilangkan prasangka yang memerintah seluruh zaman, mengatasi hambatan yang menghalangi semua jalan, menghilangkan kesalahan di mana orang melibatkan diri mereka sendiri, menemukan kebenaran yang ditemukan melalui dia untuk semua dan untuk selamanya; singkatnya dia hidup dan bekerja untuk kemanusiaan. Sekarang, pertama-tama, penemu kebenaran-kebenaran besar pasti tahu bahwa hal itu dapat bermanfaat bagi manusia lain, dan karena pemotongan kecemburuan tidak memberinya kesenangan, ia memberi tahu mereka tentang hal itu; tetapi meskipun dia memiliki kesadaran bahwa pesannya sangat berharga bagi yang lain, tetap saja dia tidak mencari dan menemukan kebenarannya demi orang lain, tetapi demi dirinya sendiri, karena dia sendiri melewatkannya, karena kegelapan dan khayalan tidak memberinya kedamaian sampai ia mendapatkan cahaya dan pencerahan untuk dirinya sendiri sebaik mungkin. Jadi dia bekerja demi diri-nya sendiri dan untuk memuaskan kebutuhannya. Bahwa dalam hal ini ia juga bermanfaat bagi orang lain, bahkan bagi generasi mendatang, tidak mengambil karakter egois dari karyanya. Selanjutnya, jika ia masih juga hanya bekerja demi dirinya sendiri, mengapa tindakannya menjadi manusia, sementara yang lainnya tidak manusiawi, yaitu egois? Mungkin karena buku, lukisan, simfoni ini, dll., adalah karya dari seluruh keberadaannya, karena ia telah melakukan

yang terbaik di dalamnya, ia telah meletakkan dirinya sepenuhnya dan harus sepenuhnya dikenal di dalamnya, sementara karya seorang pengrajin hanya mencerminkan pengrajin, yaitu, keterampilan dalam kerajinan, bukan “manusia”? Dalam puisinya kita memiliki seluruh Schiller; di begitu banyak tungku, di sisi lain, yang kita miliki di hadapan kita hanya pembuat tungku, bukan “manusia.” Tapi apakah hal ini artinya sudah bukan begini lagi: dalam karya seseorang, kamu dapat melihat bahwa aku sepenuhnya sebagai yang memungkinkan, dengan kata lain hanya kemampuanku? Apakah aku tidak lagi apa yang diungkapkan oleh tindakan itu? Dan bukankah lebih egois untuk menampilkan diri sendiri kepada dunia melalui sebuah karya, untuk bekerja dan membentuk diri sendiri, daripada tetap tersembunyi di balik pekerjaan seseorang? Tentu saja, aku mengatakan bahwa kamu mengungkapkan dirimu sebagain insan manusia. Tetapi manusia yang kamu ungkapkan adalah dirimu sendiri; kamu hanya mengungkapkan dirimu sendiri, tetapi dengan perbedaan ini dari pengrajin, bahwa ia tidak mengerti bagaimana menekan dirinya menjadi sebuah karya tunggal, tetapi untuk diakui sebagai dirinya sendiri, harus dikunjungi dalam hubungan kehidupannya yang lain, dan bahwa kebutuhanmu, melalui yang mana kepuasan atas pekerjaan ini ia muncul, adalah kebutuhan teoritis. Tapi kamu akan membalas bahwa kamu telah mengungkapkan insan manusia yang lain, yang lebih berharga, lebih tinggi, insan manusia yang lebih manusia daripada yang lain. Aku akan mengasumsikan bahwa kamu mempertunjukan kemungkinan yang manusiawi, yang kamu bawa untuk melewati apa yang orang lain tidak dapat lakukan. Lalu apa yang terdiri dari kebesaranmu itu? Tepatnya dalam hal ini, bahwa kamu lebih dari manusia lain (yaitu “massa”), lebih dari insan manusia biasa; tepatnya di ketinggianmu di atas manusia yang lain. Kamu membedakan dirimu dari manusia lain bukan dengan menjadi manusia,

tetapi karena kamu adalah manusia yang “unik”. Kamu menunjukkan dengan sangat baik apa yang bisa dicapai manusia; tetapi karena kamu, seorang manusia, mencapainya, oleh karena itu orang lain, yang juga manusia, sama sekali tidak mampu mencapainya¹⁶⁰; kamu telah melakukannya hanya sebagai manusia yang unik, dan yang unik ada di dalamnya. Insan manusia tidak menentukan kehebatanmu, tapi lebih pada kamu yang menciptakannya, karena kamu lebih daripada insan manusia, dan kamu lebih kuat daripada manusia yang lain. Orang-orang percaya bahwa hal tersebut tidak dapat lebih dari sekedar manusia. Ketimbang, seseorang tidak dapat kurang daripada itu! Orang-orang juga percaya bahwa apapun yang seseorang capai adalah baik untuk umat manusia. Sepanjang aku tetap menjadi seorang manusia, atau seperti Schiller, Swabia, seperti Kant, seorang Prusia, seperti Gustavus Adolphus, 161 orang yang berpandangan pendek, melalui kemampuanku, aku tentu saja menjadi manusia yang luar biasa, seorang Swabia, Prusia, atau orang yang berpandangan pendek. Tapi itu tidak jauh lebih baik dengan itu daripada dengan tongkat Frederick yang Agung, yang menjadi terkenal karena Frederick.

160 Ini adalah terjemahan yang lebih harfiah dari bahasa Jerman daripada terjemahan Byington: “ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa orang lain, juga pria, dapat melakukan sebanyak mungkin.” Stirner tidak mengatakan apapun tentang menunjukkan sesuatu, dan untuk alasan tertentu. Bagi Stirner, keunikan total masing-masing individu dalam setiap momen membuatnya menjadi tidak masuk akal untuk berpikir bahwa dua individu mana pun sebenarnya dapat mencapai hal yang sama. Mereka mungkin mencapai hal-hal yang tampak serupa, tetapi tidak pernah hal yang sama. Terjemahan Byington benar-benar melewatkan hal ini yang sangat mencolok dalam bahasa Jerman –Wolfi. Raja Swedia dari 1611 hingga 1632.

“Memberi Tuhan kemuliaan” sama halnya dengan “Memberikan manusia kemuliaan” yang modern. Tetapi saya bermaksud menyimpannya untuk diri saya sendiri. Kritik, dalam mengeluarkan permintaan kepada manusia untuk menjadi manusia, menyatakan kondisi yang diperlukan untuk bersosialisasi; karena hanya sebagai manusia di antara manusia saja seseorang menjadi ramah. Dengan hal ini ia membuat tujuan sosialnya dikenal, pembentukan “masyarakat manusia.” Di antara teoritikus sosial, kritik tidak dapat disangkal lagi adalah yang paling lengkap, karena menghilangkan dan melemahkan segala sesuatu yang memisahkan manusia dari manusia: semua hak prerogatif turun menjadi hak prerogatif iman. Di dalamnya, prinsip cinta-Kristianitas, prinsip sosial sejati, sampai pada penerapannya yang paling murni, dan percobaan terakhir yang mungkin dilakukan untuk menghilangkan eksklusivitas dan penolakan dari manusia: perjuangan melawan egoisme dalam bentuknya yang paling sederhana, dan karenanya paling sulit, dalam bentuk keunikan, keeksklusivitasan itu sendiri. “Bagaimana kamu bisa benar-benar hidup secara sosial selama hanya ada satu eksklusivitas di antara kamu?” Aku bertanya sebaliknya: bagaimana mungkin kamu bisa menjadi benar-benar unik selama hubungan seseorang tetap eksis diantara kamu? Jika kamu terhubung, kamu tidak dapat meninggalkan yang lain; jika “tali” meliputimu, maka kamu adalah sesuatu dengan yang lain, dan dua belas dari kamu menjadi selusin, ribuan dari kamu adalah rakyat, sementara jutaan dari kamu adalah kemanusian. “Hanya ketika kamu manusia maka kamu dapat memperlakukan yang lain sebagai manusia, sebagaimana kamu dapat memahami masing-masing patriot hanya ketika kamu menjadi seorang patriotik.” Baik kalau begitu, Aku balas: hanya ketika kamu unik baru kamu dapat berhubungan dengan yang lain sebagaimana dirimu.

Lebih tepatnya kritik paling tajam mendapatkan serangannya yang paling mematikan dengan mengutuk prinsipnya. Menggoyangkan satu hal eksklusif di atas segalanya, keagamaan, patriotisme dll, ia membubarkan satu ikatan dengan yang lain, dan memisahkan dirinya dari seorang yang relijius, patriot, dll, hingga pada akhirnya, di atas segalanya seluruh ikatan meledak berkeping-keping, ia bertahan –sendirian. Ia tentu mesti mengenyampingkan seluruh dari mereka yang memiliki apapun yang eksklusif dan privat, dan pada akhirnya apa lagi yang lebih eksklusif dari yang paling eksklusif, selain individu yang unik itu sendiri? Atau apa mungkin maksudnya akan lebih baik jika semua menjadi umat manusia dan menyerahkan eksklusivitasnya? Tentu, persis karena “semua” berarti “tiap individu,” kontradiksi paling mencolok tetap ada, karena “individualitas” adalah eksklusivitas itu sendiri. Jika liberal humanis tidak lagi membiarkan apapun yang privat, apapun yang eksklusif, pikiran privat apapun, kebodohan privat apapun kepada individu; jika ia mengkritisi apapun di depan wajahnya menjauh, karena kebenciannya pada yang privat sudah mutlak dan fanatik; jika ia tahu bahwa tiada ampun atas yang privat, karena yang privat adalah tidak manusiawi; ia tetap tidak dapat mengkritisi orang privat itu menjauh, karena kesulitan seorang individual menolak kritiknya, dan ia mesti terpuaskan dengan menyatakan orang ini sebagai “seorang privat” dan sebenarnya membiarkannya memiliki apapun yang privat lagi. Apa jadinya masyarakat yang tidak lagi memperhatikan dirinya lagi dengan apapun yang privat lakukan? Membuat yang privat menjadi tidak mungkin? Tidak, tapi “menundukkannya kepada kepentingan masyarakat, dan, sebagai contohnya, meninggalkannya pada kepentingan privat untuk menetapkan liburan, sebanyak mungkin sesuai yang ia inginkan, selama hal tersebut tidak menghasilkan tabrakan dengan kepentingan

universal.” 162 Apapun yang privat dibiarkan secara gratis, misal, jika hal tersebut tidak memiliki kepentingan apapun atas masyarakat.

Dengan meningkatkan hambatan mereka atas ilmu pengetahuan, gereja dan keagamaan telah mendeklarasikan bahwa mereka adalah sebagaimana adanya mereka, tapi apa yang tersembunyi di bawah penampakan yang lain ketika mereka diserahkan sebagai basis dan fondasi negara –urusan yang sepenuhnya privat. Bahkan ketika mereka terhubung pada negara dan membuatnya Kristen, mereka hanyalah bukti bahwa negara belum mengembangkan gagasan politik universal mereka, bahwa hal itu hanya menetapkan hak-hak privat –mereka hanya ekspresi tertinggi dari kenyataan bahwa negara hanyalah perkara privat dan hanya berurusan dengan perkara privat. Ketika negara pada akhirnya hendak memiliki keberanian dan kekuatan untuk memenuhi tujuan universalnya dan untuk menjadi bebas, jadi ketika itu juga mampu memberikan kepentingan khusus dan perhatian pribadi posisi mereka yang sebenarnya –maka agama dan gereja akan bebas sebagaimana bukan mereka yang sebelumnya. Sebagai yang sepenuhnya perkara privat, dan kepuasaan yang sepenuhnya kebutuhan personal, mereka akan ditinggalkan pada diri mereka sendiri; dan tiap individu, tiap jemaat dan komunitas gereja, akan menjadi mampu untuk pengorbanan jiwa sebagaimana mereka ingingkan dan sebagaimana mereka pikir butuhkan. Semua orang akan peduli

Bruno Bauer, Die Judenfrage, (Brunswick, 1843), hlm 66.

dengan pengorbanan jiwa mereka dan akan menerima dan membayar penjaga jiwa mereka yaitu seseorang yang tampak baginya sebagai jaminan terbaik terhadap pemuasan kebutuhannya. Ilmu pengetahuan pada akhirnya tidak dilibatkan dalam urusan ini. 163

Tapi apa yang semestinya terjadi? Apakah kehidupan sosial bakal berakhir, dan tiap keramahan, tiap persaudaraan, segala sesuatu yang diciptakan oleh prinsip cinta –atau masyarakat, menghilang? Seolah-olah seseorang tidak selalu mencari yang lain, karena dia membutuhkan-nya; seolah-olah seseorang tidak boleh bergabung bersama dengan yang lain ketika dia membutuhkan-nya. Tetapi bedanya adalah bahwa kemudian individu tersebut sebenarnya bergabung dengan individu, sedangkan sebelumnya mereka terikat; sebelum dia beranjak dewasa, sang putra terkait pada ayah dengan ikatan, setelahnya mereka dapat berkumpul bersama secara independen; sebelum ini, mereka milik bersama sebagai anggota keluarga (mereka adalah “budak” dari keluarga), setelah ini, mereka bergabung sebagai egois; status sebagai anak dan menjadi ayah tetap, tetapi putra dan ayah tidak lagi terikat satu sama lain kepada mereka. 164

Hak istimewa terakhir adalah, sebenarnya, “manusia”; semua memiliki hak istimewa atau berinvestasi pada hal tersebut. Karena, seperti yang dikatakan Bruno Bauer sendiri, “hak istimewa tetap ada bahkan ketika hal itu

163 Bruno Bauer, Die gute Sache der Freiheit und meine eigen Agelegenheit (Zurich and Winterthur, 1842) hlm 62-63. 164 Saya bisa juga menerjemahkan ini sebagai “tetapi putra dan ayah tidak lagi mengikat diri mereka sendiri pada mereka,” tetapi Stirner berbicara tentang dua orang yang berhubungan satu sama lain dan hubungan itu berubah melalui pelepasan ikatan timbal balik –Wolfi.

disebarkan untuk semuanya.” 165

Jadi liberalisme muncul melalui perubahan berikut: Pertama: individu itu [is] bukan manusia, karena itu kepribadian individu itu tidak berarti apapun; tidak ada keinginan pribadi, tidak ada ketidakteraturan, tidak ada tatanan atau dekrit! Kedua: individu itu bukanlah apapun selain manusia, karenanya tidak ada milikku dan milikmu, atau properti, yang diperhitungkan. Ketiga: semenjak individu itu bukanlah manusia atau tidak memiliki apapun yang manusia, dia tidak harus sama sekali, ia adalah, sebagaimana egois dengan hal-hal egoistiknya, dimusnahkan dengan kritik, untuk membuat ruang bagi insan manusia, “baru kali ini insan manusia ditemukan.” Tapi meskipun individu bukanlah manusia, manusia tetap ada pada tiap perorangan, dan, seperti tiap hantu dan apapun yang sakral, memiliki keberadaannya dalam dirinya. Lagipula, liberalisme politik menghargai pada perorangan apapun yang baginya tampak sebagai “manusia sejak lahir,” sebagai yang terlahir sebagai manusia, diantaranya yang mana termasuk kebebasan berkesadaran, memiliki, dll – singkatnya, “hak asasi manusia”; sosialisme menjamin perorangan bahwa apapun yang datang padanya sebagai manusia yang aktif, sebagai manusia yang “bekerja”; pada akhirnya, liberalisme humanis memberikan kepada perorangan apa yang ia miliki sebagai “umat manusia,” misal, apapun yang milik kemanusiaan. Akibatnya, yang unik tidak memiliki apapun, kemanusian memiliki segalanya; dan kebutuhan untuk “terlahir kembali” dipuji dalam Kekristenan adalah dituntut tanpa keambiguan dan pada tingkatan penuh. Menjadi ciptaan yang baru, menjadi “manusia”! Seseorang bisa saja merasa dirinya sendiri teringat kedekatan Pendoa Tuan. Bagi manusia yang menjadi milik

Bruno Bauer, Die Judenfrage, hlm 60.

ketuanan (“kekuatan” atau dinamis); karena itu tidak ada perorangan yang diperbolehkan pada tuan, tapi umat manusia adalah tuan perorangan; -umat manusia adalah kerajaan, dunia, karena itu tiap orang tidak boleh menjadi pemilik properti, tapi lebih sebagai umat manusia, “semua,” yang telah memerintah dunia sebagai properti;-dari segalanya, umat manusia pantas mendapatkan pujian, pemujaan, atau “kejayaan” (doxa), karena umat manusia atau kemanusiaan adalah tujuan akhir tiap orang, kepadanya ia bekerja, hidup, dan padanya tiap pemujaan harus menjadi “manusia.” Hingga sekarang umat manusia selalu berusaha keras untuk menemukan komunitas yang mana ketidaksetaraan dalam kehormatan yang lain menjadi “tidak penting”; mereka berjuang untuk kesetaraan, dan berakibat pada kesetaraan, dan ingin semuanya datang dalam satu topi, yang mana berarti tiada lain tiada bukan ketimbang apa yang mereka cari demi satu tuan, satu ikatan, satu keyakinan (“kita semua percaya pada satu Tuhan”). Tidak mungkin ada yang lebih komunal atau setara bagi umat manusia selain umat manusia itu sendiri, dan dalam komunitas ini pendaran cinta telah menemukan pemuasannya; ia tidak beristirahat hingga ia membawa penyetaraan akhir ini, meratakan seluruh ketidaksetaraan, terbaring umat manusia pada dada umat manusia. Tapi dalam komunitas ini yang membusuk dan runtuh menjadi yang paling menyolok. Dalam komunitas yang lebih terbatas, orang Perancis tetap melawan orang Jerman, yang Kristen melawan Muslim, dll. Sekarang, kebalikannya, [the] umat manusia bertahan melawan umat manusia, atau, sejak umat manusia bukan umat manusia, umat manusia melawan monster yang bukan manusia. Kalimat “Tuhan telah menjadi umat manusia” sekarang menjadi dengan “umat manusia telah menjadi Aku.” Ini adalah aku yang manusia. Tapi kita membalikan ini dan berkata bahwa aku tidak dapat menemukan diriku selama aku mencari diriku sebagai insan manusia. Tapi

sekarang tampaknya manusia berjuang untuk menjadi Aku dan untuk menggapai keberadaan ketubuhan dalam diriku, Aku mencatat dengan baik bahwa segala sesuatunya bergantung padaku, dan umat manusia bakal tersesat tanpa diriku. Tapi aku tidak mau menyerahkan diriku pada kuil dari hal yang paling suci dan mulai sekarang tidak akan bertanya apakah aku manusia atau monster yang tidak manusiawi dalam pengejaranku; biarkan roh ini menjaga leherku! Liberalisme humanis telah bekerja secara radikal. Jika dalam satu hal saja kamu mau menjadi atau memiliki sesuatu yang spesial, jika kamu mau menjaga bahkan satu hak istimewa untuk dirimu di atas segalanya, untuk meletakkan bahkan satu hak saja yang bukan “hak asasi manusia,” maka kamu seorang yang egois. Baiklah kalau begitu! Aku tidak ingin memiliki atau menjadi sesuatu yang istimewa di atas segalanya, aku tidak ingin mengklaim hak istimewa apapun dari mereka, tapi – aku tidak mengukur diriku dengan yang lainnya, dan tidak ingin memiliki hak apapun atau lainnya. Aku hanya ingin menjadi dan memiliki apa yang telah menjadi dan aku miliki. Jika yang lain adalah dan memiliki sesuatu yang mirip, apakah aku peduli? Sesuatu yang setara, yang sama, yang mereka sama-sama menjadi atau miliki. Aku tidak akan melukai, sebagaimana aku juga sebagaimana batu tidak melukai demi “memiliki keuntungan” dari gerakan di atasnya. Jika mereka dapat memilikinya, mereka bakal memilikinya. Untuk tidak melukai orang lain, inilah yang menjadi tuntutan untuk tidak memiliki hak prerogatif; untuk meninggalkan semua yang “memiliki keuntungan,”' teori penyangkalan yang paling ketat. Seseorang tidak seharusnya menganggap dirinya sebagai sesuatu yang istimewa, misalnya, seorang Yahudi atau seorang Kristen. Sekarang aku tidak menganggap diriku sebagai sesuatu yang istimewa, tetapi sebagai yang unik. Tanpa keraguan, aku mirip dengan orang lain, namun, ini hanya berlaku untuk

perbandingan atau refleksi; pada kenyataannya, aku tidak tertandingi, unik. Dagingku bukanlah daging mereka, pikiranku bukan pikiran mereka. Jika kamu membawa mereka dengan memukul rata “daging, pikiran;” itu adalah pikiran-mu, yang tidak ada hubungannya dengan daging-ku, pikiran-ku, dan yang paling tidak bisa mengeluarkan “panggilan” untuk apa yang menjadi milikku. Aku tidak bermaksud untuk mengakui atau menghormati apa pun di dalam dirimu, baik pemilik properti atau orang miskin, atau bahkan hanya manusia, tetapi lebih untuk menggunakanmu. Aku menemukan bahwa garam membuat makananku jadi enak, jadi aku menaburkannya; aku tahu ikan bisa jadi makanan, jadi aku memakannya; aku menemukan dalam dirimu suatu karunia untuk menjadikan hidupku menjadi lebih cerah, jadi aku memilihmu untuk menjadi temanku. Atau aku mempelajari kristalisasi dalam garam, kebinatangan dalam ikan, manusia di dalam dirimu, dll. Tetapi bagiku kamu hanyalah dirimu sendiri, yaitu objekku; dan karena itu adalah objek-ku, karena itu menjadi milikku. Dalam liberalisme humanis kemelaratan menjadi utuh. Pertama-tama kita harus jatuh pada kemelaratan, kondisi yang dilanda kemelaratan jika kita ingin mendapatkan kepemilikan, karena kita harus menghilangkan segala sesuatu yang asing. Tapi sepertinya tidak ada yang lebih miskin daripada manusia yang telanjang. Ini lebih dari melarat, bagaimanapun juga, ketika aku mengusir manusia juga, karena aku merasa itu juga asing bagiku dan bahwa aku tidak dapat berpura-pura. Ini bukan lagi sekadar kemelaratan: karena bahkan kain terakhir telah jatuh, di sini berdiri ketelanjangan yang sebenarnya, yang menelanjangi segala sesuatu yang asing. Orang miskin telah menghapuskan orang miskin itu sendiri dan dengan ini tidak lagi menjadi dirinya yang miskin. Aku bukan lagi orang miskin, tetapi aku sudah menjadi salah satunya.

*** Jadi sampai sekarang perselisihan tidak dapat mencuat, karena sebenarnya di sana hanya percekcokan antara liberal modern dan liberal yang ketinggalan zaman, percekcokan antara mereka yang memahami “kebebasan” dalam skala kecil dan mereka yang ingin kebebasan dalam “tingkatan penuh”, dan dengan demikian ini adalah percekcokan antara yang moderat dan yang ekstrimis. Semuanya hanya tentang: mesti seberapa bebas harusnya umat manusia itu? Bahwa umat manusia harus bebas, semua orang percaya ini, demikian juga para liberal. Tapi monster yang bukan manusia yang tersembunyi di dalam tiap perorangan, bagaimana seseorang dapat menyingkirkannya? Bagaimana caranya seseorang mengendalikan supaya monster yang tidak manusiawi ini pergi bebas di saat yang bersamaan manusia juga bebas? Liberalisme secara keseluruhan memiliki musuh abadi, oposisi yang tidak dapat ditaklukkan, sebagaimana Tuhan memiliki iblis: di samping manusia selalu ada monster yang tidak manusiawi, yaitu perorangan, para egois. Sementara negara, masyarakat, tidak dapat menjadi si jahat ini. Liberalisme humanis telah menjalankan tugas untuk menunjukkan bahwa liberal yang lain tetap belum menginginkan “kebebasan.” Jika liberal yang lain hanya mengisolasikan egoisme dari pandangan dan sebagian besar buta, liberalisme radikal memiliki egoisme “di dalam massa” untuk menentangnya, melempar semua yang tidak menjadikan perjuangan sebagai milik mereka sendiri seperti yang terjadi di antara massa, sehingga sekarang manusia dan monster yang tidak manusiawi, terpisah dengan kaku, saling berseteru sebagai musuh, yaitu “massa” dan “kritik” 166; lebih khusus lagi, “kritik

Bruno Bauer (secara anonim), ulasan atas H.F.W. Hinrichs, Politische Vorlestangen, 2 volume (Halle, 1843), dalam Allgemeine Literturzeitung, No.5 (April 1844), hlm 23-25.

manusia, yang bebas;” sebagaimana ia disebut demikian¹⁶⁷, sebagai lawan dari yang kasar, misalnya, kritik agama. Kritik mengekspresikan harapan bahwa hal itu akan menang atas massa dan “menunjukkan kekurangan umum mereka sendiri pada mereka.” 168 Jadi pada akhirnya ia ingin menjadi dalam yang benar, 169 dan untuk mewakili semua pertengkaran “pengecut dan pemalu” sebagai dogmatisme egoistik, 170 sebagai kepicikan, sebagai kerendahan. Semua perselisihan kehilangan makna, dan perselisihan kecil ditinggalkan, karena dalam kritik musuh yang sama datang ke lapangan. “Kamu semua adalah egois, yang satu tidak lebih baik dari yang lain!” Sekarang para egois berdiri bersama melawan kritik. Egois beneran? Bukan, lebih tepatnya mereka berjuang melawan kritik karena hal tersebut menuduh egoisme mereka; mereka tidak ingin mengaku pada egoisme. Karena itu kritik dan massa berdiri pada basis yang sama: kedua berjuang melawan egoisme, kedua menolaknya bagi diri mereka sendiri dan secara bergilir menyalahkan yang lain. Kritik dan massa mengejar tujuan yang sama, kebebasan dari egoisme, dan hanya bertengkar tentang siapa yang dapat mendekati tujuan atau bahkan mencapainya. Yahudi, Kristen, para absolutis, orang-orang kegelapan¹⁷¹ dan orang-orang dari yang terang, politisi,

167 Bauer, Die Judenfrage, hlm 114. 168 Konrad Melchior Hirzel, “Korrespondendz aus Zurich”, Ausgemeine Literaturzeitung, No.5 (April 1844, hlm 15. 169 “Recht.” 170 “Rechthaberei.” “Dunkelmann” (“man of darkness”) adalah istilah yang digunakan untuk menuduh seseorang yang telah secara sengaja mencegah fakta atau detail yang utuh dari sesuatu agar tidak diketahui [obscurantism]. Kebalikannya, “Lichtmann” (“man of

komunis, singkatnya, semua yang tetap menggugat egoisme menjauh dari mereka; dan karena sekarang kritik membuat tuduhan terhadap mereka secara terus terang dan dalam artinya yang luas, mereka semua membenarkan diri mereka sendiri terhadap tuduhan egoisme, dan memerangi egoisme, musuh yang sama yang dengannya kritik menyatakan perang. Baik itu kritik maupun massa adalah musuhnya para egois, dan keduanya mencari cari untuk terbebas dari egoisme, sebesar mereka memurnikan atau membersihkan diri mereka sendiri dengan melekatkan mereka pada pihak yang sebaliknya. Kritik adalah “juru bicara massa” yang sesungguhnya yang memberikan mereka “kalimat dan konsep sederhana” tentang egoisme, sedangkan juru bicara yang menolak kemenangan sesungguhnya tidak becus. 172 Ia adalah pangeran dan jenderal mereka dalam perang pembebasan mereka melawan egoisme; apa yang dilawannya, juga mereka lawan. Tapi di saat yang bersamaan ia juga musuh mereka, tapu bukan musuh mereka secara terang-terangan, tetapi lebih sebagai musuh yang ramah yang memegang cambuk di belakang para pemalu yang memaksa mereka agar berani. Ini mengurangi oposisi kritis dan massa untuk mengikuti kontradiksi: “kamu adalah egois!” “Tidak, kami tidak demikian!” “Aku akan buktikan padamu!” “Kamu semua akan mendengarkan pembenaran kami!” Mari ambil keduanya untuk apa yang mereka klaim sebagai dirinya, non-egois, dan untuk apa yang membuat

light”) merujuk pada seseorang yang tercerahkan dalam pengertian barat modern. Bruno Bauer (secara anonim), ulasan atas H.F.W. Hinrichs, Politische Vorlestangen, 2 volume (Halle, 1843), dalam Allgemeine Literturzeitung, No.5 (April 1844), hlm 23.

mereka saling peduli satu sama lain, egois. Mereka adalah dan sekaligus bukan egois. Kritik yang sesungguhnya berkata: Kamu harus membebaskan Aku-mu secara keseluruhan dari seluruh pengekangan yang sehingga hal itu menjadi aku yang manusia. Aku berkata: Bebaskan dirimu sejauh yang kamu bisa, dan kamu telah melakukan begianmu; karena hal ini tidak diberikan pada siapapun untuk membablaskan seluruh batasan kita, atau yang lebih fasih: itu bukan batas untuk semua orang bagi satu sama lain. Karena itu, jangan lelahkan dirimu pada batasan orang lain; itu masih belum cukup jika kamu menghancurkan milikmu sendiri. Siapa yang pernah mampu untuk menghancurkan bahkan satu batasan untuk semua orang? Bukankah orang yang tak terhitung jumlahnya saat ini, seperti biasanya, berlarian dengan semua “keterbatasan manusia”? Seseorang yang menjungkirbalikkan salah satu dari keterbatasan-nya mungkin telah menunjukkan kepada orang lain jalan dan sarana; menjungkirbalikkan batasan mereka tetaplah urusan mereka. Tidak ada orang lain yang melakukan hal lain juga. Meminta orang untuk menjadi manusia secara sepenuhnya berarti memanggil mereka untuk membuang semua batasan manusia. Itu tidak mungkin, karena [the] manusia tidak memiliki batas. Aku tentu memiliki beberapa, tetapi hanya hal itu merupakan milik-ku yang juga menjadi perhatian-ku, dan hanya itu yang bisa aku atasi. Aku tidak bisa menjadi aku yang manusia, karena aku hanyalah aku, dan bukan manusia biasa. Tapi mari kita tetap lihat apakah kritik masih belum mengajarkan kita sesuatu yang dapat kita taruh ke hati kita! Aku tidak dapat bebas jika aku tidak memiliki ketertarikan, berarti aku bukan manusia jika tidak memiliki ketidaktertarikan? Sekarang, bahkan jika aku tidak begitu tertarik untuk bisa bebas atau menjadi manusia, aku masih tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengedepankan diriku atau menegaskan diri. Kritik menawarkanku

kesempatan ini dengan mengajarkan bahwa, jika seseorang mengakar pada diriku dan menjadi tidak dapat dienyahkan, aku menjadi tawanan dan budaknya, misal, seorang yang kerasukan. Sebuah ketertarikan, entah pada apapun itu, telah menangkap budak dalam diriku jika aku tidak menyingkirkannya, dan hal tersebut tak lagi menjadi milikku, tapi itulah aku. Sebelumnya mari kita terima pelajaran dari kritik untuk tidak membiarkan satu bagian pun dari milik kita menjadi seperti layaknya kandang kuda, dan untuk berbahagia hanya dengan membubarkannya. Jadi jika kritik berkata: Kamu adalah manusia kalau kamu tanpa henti mengkritisi dan membubarkan! Maka kami berkata: aku adalah manusia bagaimana pun juga, dan aku adalah aku sebagaimana adanya; karenanya aku hanya ingin untuk peduli dan menjaga milikku hanya untuk dirikku, dan untuk mengamankannya, secara berkelanjutan aku akan mengambilnya untuk diriku sendiri, menghancurkannya dalam tiap gerakan menuju kemerdekaan, dan memakannya sebelum hal tersebut memperbaiki dirinya sendiri, dan menjadi “obsesi” atau “ide baku.” Tapi aku tidak melakukannya demi “penggilan kemanusiaan”-ku, tapi karena aku memanggil diriku demi hal tersebut. Aku tidak menopang pembubaran apapun yang bisa manusia bubarkan, dan sebagai contohnya, ketika masih di bawah umur sepuluh tahun, aku tidak mengkritisi omong kosong sepuluh firman Allah, tetapi aku tetap seorang manusia, dan bertindak secara manusiawi dalam hal ini, bahwa aku masih membiarkan mereka tidak dikritik. Singkatnya, aku tidak memiliki panggilan, dan tidak mengikuti, bahkan panggilan untuk menjadi manusia. Apakah sekarang aku menolak apa yang liberalisme telah capai dengan berbagai usahanya? Semoga apapun yang telah dicapai tidak hilang! Hanya, setelah “umat manusia” menjadi bebas melalui liberalisme, aku berbalik melihat pada diriku dan mengatakan pada diriku: Apa yang tampaknya dicapai oleh manusia, hanya aku yang

mencapainya. Umat manusia bebas hanya ketika “umat manusia tampak bagi umat manusia sebagai makhluk tertinggi.” Jadi ini menjadi bagian dari pemenuhan liberalisme yang oleh tiap makhluk tertinggi telah hancurkan, teologi dijungkirbalikan oleh antropologi, Tuhan dan rahmatnya tertawa saat, “atheisme” menjadi umum. Egoisme properti telah kehilangan hal terakhirnya ketika bahkan “Tuhanku” menjadi tak berarti lagi; karena Tuhan hanya ada ketika ia telah mengorbankan perorangan dari hatinya, sebagaimana yang terakhir mencari pengorbanannya padanya. Liberalisme politis menghancurkan ketidakadilan tuan dan budak. Ia membuat orang menjadi tak bertuan, anarkik. Tuan sekarang pergi lebih jauh dari perorangan, “yang egois,” untuk menjadi hantu: hukum atau negara. Liberalisme sosial menghancurkan ketidaksetaraan kepemilikan, antara yang kaya dan miskin, membuat orang menjadi tidak berkepemilikan. Properti diambil dari perorangan dan diserahkan kepada masyarakat berhantu. Liberalisme humanis membuat orang menjadi tak bertuhan, atheistik. Meski begitu, Tuhan perorangan, “Tuhanku,” harus dihancurkan. Sekarang ketidakbertuanan pada kenyataan di saat yang bersaaman merupakan kebebasan dari perhambaan, ketidakbermilikan pada saat yang bersamaan merupakan bebas dari rasa khawatir, ketidakbertuhanan pada saat yang bersamaan merupakan bebas dari prasangka; karena dengan adanya tuan, maka ada para hamba jatuh; dengan adanya kepemilikan, rasa khawatir muncul; dengan adanya Tuhan yang mengakar, ada prasangka. Tapi karena yang berkuasa bangkit lagi sebagai negara, hamba muncul kembali sebagai subjek; semenjak kepemilikan menjadi milik masyarakat, maka kekhawatiran menjadi kerja; dan semenjak Tuhan sebagaimana umat manusia menjadi prasangka, keyakinan baru bangkit,

keyakinan dalam kebebasan atau kemanusiaan. Di tempat Tuhan-nya perorangan, sekarang Tuhan atas segalanya, yang dinamakan, “umat manusia,” telah bangkit; “hal itu tentu saja merupakan hal tertinggi di dalam kita semua dalam menjadi manusia.” Tetapi karena tidak ada seorang pun yang bisa menjadi seperti yang disiratkan oleh gagasan “manusia”, maka manusia tetap menjadi individu yang sangat tinggi, makhluk tertinggi yang tidak terurus, seorang Dewa. Tetapi pada saat yang sama, ini adalah “Tuhan yang benar,” karena itu sepenuhnya memadai bagi kita —dengan kata lain adalah diri “kita” sendiri: kita sendiri, tetapi terpisah dari kita dan dibesarkan oleh kita.

  1. Notabene¹⁷³ Penilaian atas “kritik manusia bebas” yang sebelumnya, bersama dengan apa yang muncul dimana pun sehubungan dengan tulisan-tulisan tentang kecenderungan yang dibahas dalam buku ini, ditulis dalam potongan-potongan segera setelah munculnya buku-buku yang relevan, dan aku melakukan lebih dari sekedar menyatukan potongan-potongan itu, dan karena itu aku merasa perlu untuk kembali lagi setelah buku saya ini selesai, dan memasukkan komentar penutup ini. Di hadapan saya ada edisi kedelapan Allgemeine Literaturzeitung dari Bruno Bauer yang terbaru. Dalam tulisan ini, “kepentingan universal masyarakat” kembali ditempatkan di puncak. Tapi kritik telah mencerminkan, dan memberikan “masyarakat” ini sebuah pengertian, yang mana ia tidak dikaitkan dengan bentuk yang mana sebelumnya telah dicampuradukan dengannya: 173 Stirner telah menyelesaikan draft pertama dari Der Einzige und sein Eigentum dan kemudian membaca edisi kedelapan dari Allgemeine Literaturzeitung, yang mana termasuk beberapa artikel otokritik terbaru dari “kritik murni.” Stirner menambahkah notabene ini sebagai respon terhadap material baru.

“negara,” yang tetap dirayakan mulanya dalam ungkapan sebagai “negara bebas,” sekarang diterlantarkan sepenuhnya karena hal itu tidak dapat sepenuhnya memenuhi tugas “masyarakat manusia.” Kritik, hanya pada 1842, “merasa dirinya dikekang untuk sementara waktu untuk mengidentifikasi inti kemanusiaan dan politik”; tapi sekarang ia telah menemukan bahwa negara, bahkan walaupun sebagai “negara bebas,” bukanlah masyarakat manusia, atau, jika bisa dibilang demikian, bahwa orang- orang bukanlah “umat manusia.” Kami melihat bagaimana ia mengakhiri hal ini dengan teologi dan dengan jelas menunjukkan bagaimana Tuhan ada di hadapan manusia; kita melihat mereka sekarang berdamai dengan politik dengan cara yang sama, dan menunjukkan bahwa sebelum manusia, bangsa dan kebangsaan jatuh; jadi kita melihat bagaimana ini menjelaskan gereja dan negara, dengan menyatakan mereka berdua tidak manusiawi, dan kita akan melihat-karena sudah memberikan ini kepada kita-bahwa itu juga dapat membawa bukti sebelum manusia menjadi “massa;” yang bahkan disebut sebagai “inti rohaniah,” tampak tidak berharga. Bagaimana “inti rohaniah” yang lebih rendah seharusnya mampu bertahan di hadapan roh tertinggi? “Manusia” menjatuhkan berhala-berhala palsu. Jadi untuk saat ini apa yang menjadi sasaran para kritikus adalah memeriksa “massa;” yang akan dia tempatkan di hadapan “manusia” untuk memerangi mereka dari sudut pandang ini. “Apa yang sekarang menjadi sasaran kritik?” “Massa, inti spiritual!” Kritik akan mencoba “mencari tahu” mereka dan menemukan bahwa mereka bertahan dalam kontradiksi pada umat manusia; ia akan mencontohkan bahwa mereka tidak manusiawi, dan akan berhasil dengan bukti ini sebagaimana di awal barusan, bahwa yang sakral dan yang nasional, atau yang eklestik dan perkara negara, adalah tidak manusiawi.

Massa dapat dijelaskan sebagai “produk revolusi yang paling signifikan, sebagai gerombolan yang tertipu ilusi pencerahan politik, dan seluruh Pencerahan abad kedelapan belas secara umum, telah menyerah pada kebencian yang tak terbatas.” Hasil dari revolusi memuaskan beberapa orang tetapi tidak dengan yang lainnya; mereka yang puas adalah kelas menengah (borjuasi, filistin, dll.), mereka yang tidak puas adalah massa. Bukankah kritikus, begitu ditempatkan, dirinya menjadi kepunyaan massa? Tapi yang tidak terpuaskan tetap dalam ketidakpastian besar, dan ketidakpastian mereka menunjukkan bahwa dirinya hanya sebagai “kebencian tanpa batas.” Kritik tak terpuaskan yang setara sekarang ingin menjadi tuan atas hal berikut ini: entah ia mau atau ingin lebih banyak mencapai “benda rohaniah,” massa, keluar dari kebenciannya, dan “mengangkat” mereka yang dongkol, misal, dengan memberikan mereka sikap yang benar soal hasil revolusi yang akan datang; ia dapat menjadi pemimpin massa, juru bicara yang menentukan mereka. Karena itu, ia juga ingin untuk “menyingkirkan jurang yang dalam yang memisahkannya dari gerombolan.” Dia dibedakan dari mereka yang ingin “mengangkat rakyat kelas bawah” dengan ingin menyelamatkan tidak hanya hal tersebut dari “dendam,” tetapi juga dirinya sendiri. Tapi tentu saja, kesadarannya juga tidak menipunya, ketika ia berpikir massa sebagai “musuh alami teori,” dan meramalkan bahwa “semakin banyak teori ini mengembangkan dirinya sendiri, semakin banyak pula ia akan mengkonsolidasikan massa.” Karena kritik dapat melakukan baik itu mencerahkan atau memuaskan massa dengan keharusan-nya, umat manusia. Jika dalam melawan borjuis mereka hanyalah “rakyat kelas bawah,” massa yang secara politis insignifikan, lalu melawan “umat manusia” mereka sudah mesti lebih dari sekedar massa, kemanusiaan yang insignifikan, yang jelas tidak manusiawi, massa, atau

gerombolan dari monster yang tidak manusiawi. Kritik menyingkirkan apapun yang manusia, dan mulai dari keyakinan dasar bahwa manusia itu adalah yang sesungguhnya, ia bekerja melawan dirinya sendiri dengan menyangkalnya dimanapun hal tersebut telah ditemukan. Ia hanya membuktikan bahwa manusia akan ditemukan dimanapun kecuali di dalam kepalanya, tapi yang tidak manusiawi akan ditemukan dimanapun. Yang tidak manusiawi adalah yang nyata, apa yang ada dalam seluruh penjuru, dan melalui buktinya bahwa hal ini “tidak manusiawi” sang kritikus jelas-jelas hanya menunjukkan perulangan atas dalil yang percaya bahwa hal tersebut tidak manusiawi. Tapi bagaimana jika yang tidak manusiawi, yang dengan tegas berbalik pada dirinya sendiri dengan berani, juga berbalik menjauh dari kritik yang mencemaskan dan meninggalkannya diam berdiri, tak tersentuh dan tak terpengaruh oleh keberatannya? “Kamu memanggilku macam aku bukan manusia,” barangkali hal itu berkata padanya, “dan sesungguhnya memang benar begitu –bagimu; tapi aku begitu cuma karena kamu membawaku pada pertentangan dengan manusia, dan aku hanya dapat memandang rendah diriku sejauh aku membiarkan diriku terpesona dengan pertentangan ini; aku tercela karena aku mencari ‘diri yang lebih baik’ di luar diriku; aku tidak manusiawi karena aku memimpikan ‘manusia’; aku seperti orang saleh yang haus akan ‘orang benar’-nya mereka dan selalu tetap menjadi ‘orang berdosa yang malang’; aku hanya memikirkan diri sendiri dibandingkan dengan yang lain; cukup, aku bukanlah semuanya, aku tidak unik. Tetapi sekarang aku tidak lagi terlihat sebagai manusia yang tidak manusiawi, berhenti mengukur diri sendiri dan membiarkan diriku diukur oleh manusia, berhenti mengenali apa pun yang ada pada diriku;

dan karenanya-Tuhan memberkati, 174 kritikus yang manusiawi! Aku hanya tidak manusiawi, aku sekarang tidak lagi seperti ini, tetapi aku yang unik, memang, untuk rasa jijikmu, yang egoistis, tetapi egoistik yang tidak membiarkan dirinya diukur oleh manusia, yang manusiawi dan tidak mementingkan diri sendiri, melainkan egoistik sebagai yang unik.” Kita telah menaruh perhatian pada kalimat lain dalam masalah yang sama. “Kritisisme tidak menetapkan dogma apapun, dan tidak ingin mengetahui apapun kecuali hal-hal.” Kritikus ketakutan jika ia menjadi “dogmatik” atau merancang dogma-dogma. Tentu saja, karena dengan demikian ia akan benar-benar apa yang menjadi lawannya kritikus, yaitu sang dogmatis; karena dia baik sebagai kritikus, dia sekarang akan menjadi buruk, atau berubah dari orang yang tidak egois menjadi egois, dll. “Apa pun yang kamu lakukan, tidak boleh ada dogmanya!” Tapi ini adalah dogma-nya. Karena sang kritikus tetap dalam medan dan seorang yang sama dengan yang dogmatis, yaitu pikiran. Sebagaimana yang terakhir, dia selalu memulai dari sebuah pemikiran, tetapi dia berbeda dalam hal ini, dia tidak pernah berhenti untuk menjaga pemikiran mendasar yang terlibat dalam proses berpikir, agar tidak membiarkannya menjadi stabil. Dia hanya menegaskan proses berpikir melawan

174 “Gott befohlen,” (Indonesia: Perintah tuhan) digunakan sebagai cara untuk mengucapkan selamat tinggal kepada “kritik manusiawi,” tetapi juga sebagai sarkasme yang tajam dari Stirner untuk menunjukkan kesalehan terus-menerus dari kritik murni yang telah menetapkan “manusia” sebagai kekuatan atas daging dan darah manusia yang sebenarnya, sebagai yang layak untuk dihidupi. Ini khususnya adalah sarkasme yang tajam, karena menjadi murni, atau “manusiawi,” kritikus begitu bersikeras dalam menyatakan ateisme yang memproklamirkan diri. Keputusan Byington untuk menerjemahkan ini sebagai “perpisahan” yang lebih ringan, sepenuhnya menghilangkan secara halus ejekan ini sedikit –Wolfi.

kekolotan pemikiran, kemajuan dalam berpikir melawan kekakuan itu. Tidak ada pikiran yang aman sebelum kritik, karena ia berpikir atau pikiran yang berpikir itu sendiri. Karenanya aku ulangi bahwa dunia agamawi –dan ini sesungguhnya cuma karena dunia pikiran-mencapai pemenuhannya dalam kritisisme, dimana berpikir melanggar setiap pikiran, tidak ada yang diizinkan untuk “secara egois” membangun dirinya sendiri. Di mana “kemurnian kritik,” kemurnian pikiran, yang bakal diterlantarkan, jika bahkan satu pemikiran saja lolos dari proses berpikir? Ini menjelaskan mengapa di sini dan di sana bahkan pengkritiknya sudah dengan lembut mengolok-olok pemikiran tentang umat manusia, tentang manusia dan kemanusiaan, karena ia curiga bahwa di sini suatu pikiran sedang mendekati keteraturan dogmatis. Tetapi ia tidak dapat menghilangkan pikiran ini sampai ia menemukan sesuatu yang “lebih tinggi” di mana ia larut; karena dia hanya bergerak dalam pikiran. Pikiran yang lebih tinggi ini dapat diekspresikan sebagai gerakan atau proses berpikir itu sendiri, yaitu, sebagai pemikiran atau kritik. Kebebasan berpikir pada kenyataanya terlengkapi dalam perayaan kemenangan kebebasan rohaniah: karena tiap orang, pikiran “yang egoistik” telah kehilangan kekerasan dogmatik mereka. Tidak ada yang tersisa kecuali dogma berpikir bebas atau kritisisme. Terhadap apapun yang menjadi milik dunia pikiran, kritisisme telah berada di tempat yang tempat, misal, dalam kekuasaan; ini adalah juara. Kritisisme, dan kritisisme sendiri, “tetap menjadi yang terkini.” Dari sudut pandang pikiran di sana tidak ada kekuasaan yang bakal mampu untuk menjadi unggul dalam kekuatannya, dan adalah kenikmatan tersendiri untuk menyaksikan betapa mudahnya dan betapa bermain-mainnya naga ini melahap seluruh cacing pikiran yang lain. Lebih pastinya, tiap cacing menggeliat, tapi kritisisme menghantam tiap “pelintirannya.” Aku bukanlah penentang kritisisme, dll, aku bukanlah

seorang dogmatis, dan aku tidak merasa tersangkut oleh gigi kritik yang dengan mana ia merengek para dogmatis hingga tiap kepingnya. Jika aku seorang “dogmatis,” maka aku bakal menggantikan dogma, misal pikiran, gagasan, atau prinsip di puncak, dan melengkapinya sebagai sesuatu yang “sistematis,” dengan memintalnya keluar ke dalam sistem; dengan kata lain, ke dalam struktur pikiran. Sebaliknya, jika aku seorang kritikus, penentang para dogmatis, maka aku akan memimpin pertempuran antara pemikiran bebas melawan pemikiran yang diperbudak, mempertahankan berpikir melawan apa yang telah dipikirkan. Tapi aku bukanlah baik itu juara pikiran dan bukan pula berpikir: karena “Aku,” dari mana aku memulainya, bukanlah pikiran, tidak pula aku terdiri dalam pikiran. Yang menentangku aku, yang tak ternamakan, dunia pikiran, berpikir, dan roh berserakan. Kritisisme adalah pertarungan antara orang yang kerasukan melawan kepemilikan, melawan semua kepemilikan; perkelahian yang didirikan di dalam kesadaran yang memiliki -atau, seperti yang disebut oleh para kritikus, suatu sikap religius dan teologis- yang ada di mana-mana. Dia tahu bahwa orang berperilaku agamis atau saleh tidak hanya terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap ide-ide lain, seperti yang benar, negara, hukum, dll; dengan kata lain, dia mengakui kepemilikan di mana-mana. Jadi dia ingin memecah pikiran dengan berpikir -tetapi aku katakan, hanya kesembronoan yang benar-benar menyelamatkanku dari pikiran. Itu tidak berpikir, tetapi kesembronoanku, atau aku, yang tak terpikirkan, yang tak terbayangkan, yang membebaskanku dari kepemilikan. Para brengsek membuatku berpikir dengan sangat hati-hati, rentangan anggota tubuh mengenyahkan siksaan pikiran, lompatan ke atas melenyapkan mimpi buruk dunia agamis dari dadaku, berteriak bersorak dengan beberapa tahun yang membuang beban. Tetapi signifikansi luar biasa dari kegembiraan yang tidak terpikirkan tidak dapat dikenali

dalam malam yang panjang dari pemikiran dan kepercayaan. “Kekasaran dan kelakuan sembrono macam apa, yang ingin memecahkan masalah paling sulit, untuk berurusan dengan tugas paling komprehensif, dengan cara memutuskannya!” Tapi apakah kamu memiliki tugas jika kamu tidak menetapkannya untuk dirimu sendiri? Selama kamu yang menetapkannya, kamu tidak akan membiarkan mereka pergi, dan aku tentu saja tidak memiliki apapun atas pikiranmu, dan dalam berpikir, menciptakan ribuan pikiran. Tapi apakah kamu menetapkan dirimu pada tugas tersebut, apakah kamu ditujukan untuk dapat mampu meruntuhkan mereka kembali? Apakah kamu harus terikat pada tugas ini, dan apakah hal tersebut mesti menjadi tugas yang mutlak? Mengingatkan satu hal saja, pemerintah telah diremehkan karena ia telah menggunakan sarana kekerasan pada pikiran, telah mencampuri pers dengan kekuasaan sensor kepolisian, dan telah membuat membuat seseorang harus bersusah payah untuk dapat akses ke bacaan. Seolah-olah hal itu masalah pikiran semata-mata, dan seolah-olah seseorang harus memiliki yang tidak egois, menyangkal diri, dan sikap pengorbanan diri atas pikiran! Apakah pikiran tersebut tidak menyerang satu pemerintahan itu sendiri, dan memantik egoisme? Dan bukankah para pemikir-pemikir menetapkan sebelumnya bahwa mereka yang menyerang capaian religius untuk menghormati kekuatan pikiran, gagasan? Mereka seharusnya secara sukarela menyerah dalam penyerahan, karena kekuatan ilahi dari pemikiran, Minerva, bertarung di pihak musuh mereka. Itu memang akan menjadi tindakan kepemilikan, pengorbanan religius. Yang pasti, mereka yang memerintah diri sendiri terjebak dalam prasangka agama, dan mengikuti kekuatan utama dari sebuah ide atau keyakinan; tetapi mereka juga adalah egois yang tidak diizinkan, dan di sini, melawan musuh, egoisme mereka yang tertekan lepas: dimiliki dalam

keyakinan mereka, mereka pada saat yang sama tidak memiliki kepercayaan lawan mereka, yaitu, mereka adalah egois yang menentangnya. Jika seseorang ingin membuat tuduhan, itu hanya bisa menjadi kebalikannya, yaitu bahwa mereka dirasuki oleh ide-ide mereka. Tidak ada kekerasan egoistik terhadap pikiran, tidak ada kekerasan polisi dan semacamnya. Jadi mereka yang percaya dalam pikiran, percaya. Tapi berpikir dan pikirannya bukan yang sakral bagi-ku, dan aku juga melindungi kulitku dari mereka. Itu bisa jadi pertahanan yang tidak masuk akal; tapi jika aku mewajibkan diriku pada nalar, maka aku, sebagaimana Abraham, mesti mengorbankan yang terkasihku padanya! Di dalam kerajaan pikiran, yang mana, seperti kepercayaan itu, adalah kerajaan surga, semua orang tentu salah jika menggunakan kekuatan yang tak berpikir, sebagaimana semua orang itu salah jika dalam kerajaan cinta ia bertindak tidak mencintai, atau meskipun ia seorang Kristin, dan dengan demikian tinggal dalam kerajaan cinta, tetap bertindak dengan cara yang tidak kristiani; dalam kerajaan ini, yang mana ia berada dan meskipun menghindari hukum mereka, ia tetaplah seorang “pendosa” atau “egois.” Tapi ia cuma bisa kabur dari hukum kerajaan ini hanya ketika ia dipandang kriminal oleh mereka. Hasilnya juga ini, bahwa perjuangan para pemikir terhadap pemerintah tentu saja benar, yang dinamakan kekuasaan, hingga batas dimana ia mengobarkan terhadap pikiran pemerintah (pemerintah jatuh terdiam dan tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat keberatan literatur yang signifikan), dan di sisi lain, ia menemukan dirinya sendiri dalam kesalahan, yang disebut, ketidakberdayaan, hingga batas yang mana ia mengetahui bagaimana untuk membawa yang bukan apapun kecuali pikiran pada permainan terhadap kekuasaan personal (kekuatan egoistik mencucuk mulut para pemikir). Pertarungan teoritis tidak dapat mengakhiri kemenangan, dan kekuasaan sakral pikiran

dikalahkan oleh kekuataan egoisme. Hanya pertarungan egoistik, pertarungan egois di kedua belah pihak, yang membuat segalanya menjadi jelas. Yang terakhir ini, membuat berpikir sebagai perkara selera egoistik, perkara yang unik, sebagai sarana waktu luang atau hobi sebagaimana demikian, dan diambilnya signifikansi “kekuasaan dalam nenentukan yang terakhir,” kehinaan dan penodaan berpikir ini, penyetaraan yang tak berpikir dan Aku yang berpikir ini, yang kasar tapi sebenarnya “kesetaraan” –kritisisme tidak dapat memproduksi, karena hal itu sendiri merupakan imam berpikir, dan tidak menyaksikan apapun di luar berpikir kecuali hanya membanjirinya. Kritisisme tentu mengklaim, misalnya, bahwa kritisisme bebas dapat menang atas negara, tapi di saat yang bersamaan ia melindungi dirinya dari tuduhan, yang mana dibuat melawannya oleh pemerintah negara, bahwa itu adalah “tingkah dan kurang ajar”; jadi hal itu berpikir bahwa “tingkah dan kelancangan” mungkin saja tidak menang, tapi hanya itu yang mungkin. Justru sebaliknya: negara sebenarnya bisa dikalahkan hanya dengan perilaku kurang ajar. Untuk lebih dekat dengan hal ini, sekarang lebih jelas bahwa kritik, dalam giliran istilahnya yang baru, 175 belum mengubah dirinya, tapi “hanya membuatnya menjadi kesalahan yang baik,” “kekurangan objek,” dan berkata terlalu banyak ketika ia berbicara tentang “mengkritisi kritisisme itu sendiri”; hal itu, atau lebih tepatnya ia, hanya mengkritisi “kesalahannya” dan membersihkannya dari

175 Saya telah memilih untuk meletakkan dua terjemahan yang memungkinkan untuk kata “Wendung” di sini, “giliran” dan “istilah,” karena saya pikir ini adalah kata yang paling jelas untuk mencerminkan maksud Stirner. Tampaknya dia sering menggunakan kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna dengan maksud menyiratkan lebih dari satu makna tersebut – Wolfi.

“inkonsistensi”. Jika ingin mengkritisi kritisisme, ia bakal melihat dan menyaksikan entah apapun dalam asumsinya. Aku, dalam bagianku, mulai dari sebuah asumsi dalam mengasumsikan diriku; tapi asumsiku tidak berjuang demi kesempurnaannya, sebagaimana “manusia berjuangan demi kesempurnaannya,” tapi hanya melayaniku untuk aku menikmati dan memakannya. Aku tidak memakan apapun kecuali asumsiku, dan ada hanya karena memakannya. Tapi dengan alasan bahwa asumsi itu bukan asumsi sama sekali; karena sejak aku adalah yang unik, aku tidak tahu apapun tentang dualitas dari berasumsi dan aku yang diasumsikan (aku atau umat manusia “yang tidak lengkap” dan “yang lengkap); tapi dalam artian aku memakan diriku maka itulah aku. Aku tidak mengasumsikan diriku sendiri, karena setiap aku benar-benar mengatur atau menciptakan diriku untuk pertamakalinya, dan aku hanya diriku, bukan dengan menjadi yang terasumsikan, tapi dengan menjadi tersiapkan, dan lagi hanya menyiapkan pada saat aku menyiapkan diriku; misal, aku adalah pencipta dan ciptaan di saat yang bersamaan. Jika asumsi sebelumnya luntur dalam pembubaran utuh, mereka tidak dapat lagi bubar menjadi asumsi yang lebih tinggi misal, pikiran, atau berpikir itu sendiri, kritisisme. Pembubaran itu mesti menguntungkan aku; sebaliknya mereka hanya menjadi milik serangkaian pembubaran tak terhitung yang mana mendeklarasikan kebenaran lama pada kesalahan menyingkirkan asumsi lama yang mendukung orang lain, seperti manusia, Tuhan, negara, moralitas murni, dll.

B A G I A N K E D U A

AKU

Di pintu masuk era modern berdiri “Dewa-manusia.” 176 Akankah hanya Tuhan dalam manusia-Tuhan yang menguap pada saat ia keluar, dan dapatkah manusia-Tuhan benar-benar mati jika hanya Tuhan di dalam dirinya yang mati? Mereka tidak memikirkan pertanyaan ini, dan menganggap diri mereka sudah selesai, ketika di zaman kita mereka membawa hasil kerja zaman Pencerahan, yang mengatasi Tuhan, untuk mencapai kemenangan. Mereka tidak memperhatikan bahwa manusia telah membunuh Tuhan untuk sekarang menjadi – “Tuhan yang Maha Tinggi”. Dunia lain di luar kita benar-benar tersapu, dan usaha besar orang-orang zaman Pencerahan tercapai; tetapi dunia lain di dalam diri kita telah menjadi surga baru dan memanggil kita untuk sekali lagi menyerbu surga: Tuhan harus membuat jalan, tetapi tidak untuk kita, bukan untuk kemanusiaan. Bagaimana kamu bisa percaya bahwa manusia-Tuhan telah mati sebelum manusia, dan juga Tuhan di dalam dirinya, telah mati?

176Meskipun saya umumnya menerjemahkan “mensch” sebagai "manusia," dalam kasus khusus ini, referensi ke “manusia-Tuhan" dari teologi Kristen membutuhkan terjemahan seperti ini -Wolfi.

ii

BAB 3

KEPEMILIKAN


Bukankah pikiran haus akan kebebasan?” “Oh tidak, tidak cuma pikiranku, tetapi tubuhku juga sama hausnya atas hal itu, tiap saat! Ketika aku berdiri di depan “ harumnya dapur kastil dan hidungku mengatakan pada langit-langit mulutku tentang hidangan lezat yang disiapkan di sana, langit-langit mulutku, terjebak hanya dengan roti yang kering, merasakan pendambaan yang mengerikan; ketika mataku memberi tahu tentang tanah yang lembut di mana mungkin punggungku yang berbelulang lebih menyenangkan rebah di sana daripada di atas jerami yang dihancurkan, amarah yang suram mencengkeramnya; kapan -tetapi mari tidak mengikuti rasa sakit lebih jauh lagi. Dan kamu menyebutnya sebagai kerinduan akan kebebasan? Kamu ingin bebas dari apa memangnya? Dari tempat tidur dan jeramimu? Kalau begitu buang mereka! Tapi sepertinya hal ini tidak sesuai dengan tujuanmu: sebaliknya kamu ingin memiliki kebebasan untuk dapat menikmati makanan yang lezat dan tempat tidur empuk. Apakah orang-orang harusnya memberikanmu “kebebasan” ini -apakah mereka mesti mengizinkannya untukmu? Kamu tidak mengharapkan belas kasih mereka, karena kamu tahu bahwa mereka semua berpikir sama seperti dirimu: yang terdekat dengan dirinya masing-masing! Jadi bagaimana kamu berencana untuk bisa mencapai kenikmatan makanan dan tempat tidur seperti itu? Kemungkinan besar tidak ada jalan lain selain dengan menjadikannya sebagai milikmu! Jika kamu merenungkannya kembali dengan benar, kamu tidak ingin memiliki kebebasan untuk dapat memiliki seluruh benda-benda baik ini, melalui kebebasan ini kamu tidak dapat memiliki seluruh hal tersebut; kamu sesungguhnya menginginkan hal tersebut, untuk menyebut semuanya sebagai milikmu kamu dan mengangankan semuanya sebagai milikmu. Apa gunanya

kebebasanmu kalau ia tidak dapat memberikanmu apapun? Dan jika kamu bebas dari segalanya, kamu tak lagi memiliki apapun; karena kebebasan kekurangan muatannya. Bagi seseorang yang tidak tahu bagaimana cara menggunakannya, izin tak berguna ini tak ada harganya; tapi bagaimana aku menggunakannya tergantung pada kepemilikanku. Aku tak punya keberatan atas kebebasan, tapi aku menginginkan lebih dari sekedar kebebasan untukmu: kamu tidak cuma harus menyingkirkan apa yang tidak kamu inginkan, kamu juga harus memiliki apa yang kamu inginkan; kamu seharusnya tidak cuma jadi “orang bebas,” kamu juga mesti jadi “pemilik.” Bebas –dari apa? Oh, apa yang di sana itu, yang tak tergoyahkan itu? Mangkuk perbudakan, kedaulatan feodal, aritokrasi dan pangeran, hukum hasrat dan kehendak; ya, bahkan hukum kehendak milik diri seseorang, atau kehendak-diri, karena penyangkalan diri yang paling menyeluruh tidak lain adalah kebebasan-kebebasan, yaitu, dari penentuan nasib sendiri, dari kepemilikan diri sendiri; dan keinginan untuk bebas sebagai sesuatu yang mutlak, yang berharga tak terhingga, menghancurkan kepemilikan kita: itu menciptakan penyangkalan diri. Tetapi semakin aku bebas, semakin banyak hambatan yang menghadang di depan mataku; semakin aku merasa tidak berdaya. Seorang anak liar yang tidak bebas tidak merasakan semua batasan apa pun yang menekan manusia yang berpendidikan; dia tampaknya lebih bebas untuk dirinya sendiri daripada manusia yang berpendidikan. Sejauh aku mendapatkan kebebasan untuk diriku sendiri, aku membuat batasan dan tugas baru untuk diriku sendiri; jika aku menemukan rel kereta api, aku merasa loyo kembali karena aku masih tidak bisa terbang di udara layaknya burung; dan jika aku telah memecahkan masalah yang ketidakjelasannya mengganggu pikiranku, aku kemudian berharap untuk dengan cepat memecahkan orang lain yang tak terhitung jumlahnya yang kemisteriusannya menghalangi kemajuanku, meredupkan pandangan bebasku, dan membuat batas kebebasanku menjadi terlalu menyakitkan bagiku. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” 177 Bukankah kaum republikan, dalam kebebasan yang luas, juga

Roma 6:18.

menjadi hamba hukum? Betapa hati orang Kristen sejati setiap saat merindu kebebasan, betapa hati mereka melihat diri mereka dilepaskan dari ikatan kehidupan duniawi! Mereka memandang ke sana ke arah tanah kebebasan. (“Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.” 178 ) Bebas dari sesuatu artinya cuma menjadi tidak dilekatkan atau menyingkirkan sesuatu. “Ia bebas dari rasa pusing” sama artinya dengan “ia menyingkirkannya.” “Ia bebas dari prasangka” sama dengan “ia tidak pernah memilikinya” atau “ia telah membebaskan dirinya dari hal tersebut.” Dalam “yang kurang” 179 kita melengkapi anjuran kebebasan Kristen, dalam ketidakberdosaan, ketidakbertuhanan, dan ketidakmoralan, dsb. Kebebasan adalah doktrin Kekristenan. “Hiduplah sebagai orang merdeka” 180 “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekan orang.” 181 Jadi haruskah kita menyerahkan kebebasan karena hal tersebut mengkhianati dirinya sebagai ideal orang Kristen? Tidak, tidak ada yang hilang, termasuk juga kebebasan; tetapi itu harus menjadi milik kita, dan hal ini tidak dapat dilakukan dalam bentuk kebebasan. Betapa bedanya kebebasan dan kepemilikan! Seseorang dapat menyingkirkan banyak hal, tetapi seseorang tidak dapat menyingkirkan segalanya; seseorang menjadi bebas dari banyak hal, tetapi tidak dari semua hal. Seseorang dalam batinnya mungkin bebas dari kondisi perbudakan, meskipun, sekali lagi, itu hanyalah dari banyak hal, bukan dari segalanya; tetapi sebagai seorang budak, ia tidak bebas dari cambuk, sifat angkuh, dll., dari sang majikan. “Kebebasan hanya ada dalam mimpi!” Di satu sisi, kepemilikan adalah seluruh intisari dan keberadaanku, itu adalah diriku sendiri. Aku bebas dari apa yang aku singkirkan, pemilik dari apa yang aku miliki dalam kekuatanku, apa yang aku kendalikan. Aku sepanjang waktu dan dalam tiap keadaan adalah diriku sendiri, andai aku tahu bagaimana memiliki

178 Galatia 4:26. “los” dalam bahasa Jerman, kata tersebut dapat diterjemahkan sebagai “singkir (rid)” seperti dalam kalimat sebelumnya –Wolfi. 1 Petrus 2:16. Yakobus 2:12.

diriku sendiri dan tidak menyia-nyiakan diri sendiri pada orang lain. Menjadi bebas adalah sesuatu yang tidak bisa benar-benar aku kehendaki, karena aku tidak bisa membuatnya, aku tidak bisa menciptakannya: Aku hanya bisa berharap untuk itu dan -berjuang untuk hal itu, karena itu tetaplah yang ideal, sebuah fantasi. Tiap saat belenggu realitas memotong lekukan paling tajam dalam dagingku. Tapi aku tetaplah menjadi milikku sendiri. Diserahkan sembari terikat kepada seorang tuan, aku hanya memikirkan diriku sendiri dan apa yang menguntungkanku; pukulannya memang mengenaiku, aku tidak bebas darinya; tetapi aku menanggungnya hanya untuk menguntungkanku, mungkin dengan menipunya dan membuatnya merasa aman karena aku bersabar atau, sekali lagi, untuk menghindari kemarahan pada diri sendiri melalui pembangkanganku. Tetapi karena aku mengawasi untuk diriku dan kepentingan diriku, aku mengambil kesempatan baik pertama untuk menghancurkan pemilik budak. Bahwa aku kemudian menjadi bebas darinya dan cambuknya hanyalah hasil dari egoismeku yang sebelumnya. Pada titik ini seseorang mungkin bakal bilang kalau aku “bebas.” Bahkan dalam kondisi perbudakan —yaitu, “dalam diriku” atau “dalam hati.” Tetapi “bebas dalam seorang diri” bukanlah “kebebasan yang sesungguhnya,” dan “dalam hati” bukanlah “secara lahiriah.” Di sisi lain, aku adalah milikku sendiri seutuhnya, baik dari dalam dan dari luar. Di bawah kuasa sang tuan yang kejam, tubuhku tidak “bebas” dari siksaan dan cambukan; tetapi tulang-tulang-ku yang mengerang karena siksaan, urat-urat-ku yang berkedut di bawah pukulan, dan aku mengerang karena tubuh-ku mengerang. Bahwa aku masih menghela nafas dan menggigil membuktikan bahwa aku belum kehilangan diriku, bahwa aku masih menjadi milikku sendiri. Kakiku tidak “bebas” dari tongkat sang tuan, tetapi itu adalah kaki- ku dan tidak dapat dipisahkan. Biarkan dia memutuskannya dan lihat apakah dia masih memiliki kakiku! Dia tidak memegang apa pun di tangannya kecuali —bangkai kakiku, sebagaimana kakiku yang putus sama seperti anjing yang mati masih seekor anjing. Apa yang disebut sebagai seekor anjing itu jika ia masih memiliki detak jantung, yang disebut bangkai anjing bukan lagi anjing. Jika seseorang mengaku bahwa seorang budak bisa saja tidak bebas dari dalam hatinya, ia pada kenyataanya hanya berkata hal paling tidak terbantahkan dan sepele. Sebab siapa

yang cenderung mengaku bahwa siapa pun sepenuhnya tanpa kebebasan? Jika aku seorang hamba hanya jika aku dipantau, karena itu dapatkah aku tidak terbebas dari hal-hal yang tak terhitung jumlahnya, dari iman pada Zeus misalnya, atau keinginan akan ketenaran, dan sebagainya? Jadi mengapa seorang budak yang dicambuk juga tidak dapat secara batiniah terbebas dari sikap tidak Kristeniah, dari kebencian terhadap musuh-musuhnya, dll? Dia kemudian memiliki “kebebasan Kristen,” yang menyingkirkan apapun yang tidak Kristeniah; tetapi apakah ia benar-benar bebas, bebas dari segalanya, misalnya, dari khayalan Kristen, atau dari rasa sakit tubuh, dll.? Sementara itu, ini semua tampaknya lebih banyak diucapkan terhadap nama ketimbang terhadap hal tersebut. Tetapi apakah nama itu tidak penting, dan tidak memiliki sepatah kata pun, simbol, yang selalu mengilhami dan -diperdayai orang? Namun antara kebebasan dan kepemilikan, masih ada kesenjangan yang lebih dalam dari sekadar perbedaan antara kata-kata. Seluruh dunia menginginkan kebebasan, semua orang lama menunggu bangkitnya hal tersebut. Oh, mimpi indah mempesona dari “pemerintahan kebebasan,” “umat manusia yang bebas”! - siapa memangnya yang tidak mengimpikannya? Jadi manusia harus menjadi bebas, sepenuhnya bebas, bebas dari segala kendala! Dari semua kendala — sungguh, dari semua? Haruskah mereka untuk tidak pernah lagi membatasi diri? “Oh, ya, itu, tentu saja; tidakkah kamu melihat bahwa itu sama sekali tidak menjadi kendala?” Kalau begitu, bagaimanapun juga, mereka harus terbebas dari kepercayaan agama, dari tugas-tugas moral yang ketat, dari ketidaktertahuan hukum, dari... –“Sungguh kesalahpahaman mengerikan!” Kalau begitu, mereka seharusnya bebas dari apa, dan apa yang tidak? Mimpi yang menawan lenyap; seseorang terbangun, lalu menggosok matanya yang masih setengah terbuka dan menatap si penanya yang biasa-biasa saja. “Orang seharusnya bebas dari apa?” Dari kepercayaan buta, ujar seseorang menangis. Apa itu? Yang lain berseru, semua iman adalah kepercayaan buta; mereka harus bebas dari semua iman. Tidak, tidak, demi Tuhan —yang pertama mengamuk lagi— jangan membuang semua kepercayaan dari dirimu, jika tidak, kekuatan brutal bakal masuk. Kita harus memiliki republik —yang ketiga kedengaran suaranya—

dan dibebaskan —dari semua penguasa yang memerintah. Itu sama sekali tidak membantu, kata orang keempat: kita baru saja mendapatkan tuan yang baru, yakni “mayoritas yang berkuasa”; lebih baik kita bebaskan diri kita dari ketidaksetaraan yang mengerikan ini. —Oh, kesetaraan yang tidak membahagiakan, sekali lagi aku mendengar raungan kasarmu! Betapa aku baru saja memimpikan surga kebebasan yang begitu indah, dan apa? — kelalaian dan kurangnya pengekangan sekarang membangkitkan rona dan tangisan liar mereka! Jadi yang pertama menyesali, dan menarik dirinya bersama untuk mengangkat pedang melawan “kebebasan yang berlebihan.” Dengan cepat kita tidak mendengar apapun selain suara pedang yang saling bertentangan dari para pemimpi kebebasan yang tidak setuju. Dalam setiap contohnya, dorongan untuk kebebasan telah mengarah pada keinginan untuk kebebasan tertentu: misalnya, kebebasan beragama, yaitu, orang yang beragama ingin menjadi bebas dan mandiri; dari apa? Mungkin dari iman? Tidak! Tapi dari penyelidik agama! Jadi sekarang kebebasan “politis atau borjuis”. Kaum borjuis ingin menjadi bebas, bukan dari kaum borjuis, tetapi dari aturan para pejabat, kesewenang-wenangan para pangeran, dll. Pangeran Metternich¹⁸² misal, pernah berkata bahwa ia telah “menemukan cara yang cocok untuk memimpin orang di jalan kebebasan sejati untuk semua masa depan.” Comte de Provence¹⁸³ juga melarikan diri dari Prancis tepat pada saat ia mulai mempersiapkan “pemerintahan kebebasan,” dan ia berkata: “Penawanan saya telah menjadi tak tertahankan bagi saya: saya tidak memiliki gairah apapun, kecuali keinginan untuk kebebasan; Saya hanya memikirkan ini.” Desakan untuk kebebasan yang spesifik selalu mensyaratkan tujuan dari aturan baru, karena pada saat itu revolusi “dapat memberi para pembela perasaan yang menggembirakan bahwa mereka berjuang untuk kebebasan,” tetapi sejujurnya hanya karena mereka mengincar kebebasan

182 Seorang pangeran reaksioner yang berjuang melawan semua gerakan sayap kiri dan radikal pada masanya (1773-1859). Saudara Raja Louis XVI, yang lolos dari eksekusi ketika ia melarikan diri dari Perancis, berkonspirasi menentang revolusi Prancis, dan ketika pemberon-takan reaksioner berhasil pada tahun 1814, mengambil alih kekuasaan sebagai Raja Louis XVIII.

spesifik, dan dengan demikian aturan yang baru, aturan hukum. Kamu semua menginginkan kebebasan, kamu menginginkan kebebasan. Jadi mengapa kamu menawar kurang atau lebih? Kebebasan hanya bisa menjadi seluruh kebebasan; sebab cuma sepotong kebebasan saja sama sekali bukan kebebasan. Apakah kamu putus asa dengan kemungkinan untuk bisa mendapatkan seluruh kebebasan, kebebasan dari semua, apakah kamu menganggapnya gila bahkan untuk mengharapkannya? —Nah kalau begitu, berhenti mengejar hantu, dan habiskan upayamu untuk sesuatu yang lebih baik dari —yang tak mungkin tercapai. “Ya, tapi tidak ada yang lebih baik daripada kebebasan!” Jadi apa yang kamu punya ketika kamu memiliki kebebasan, yaitu —karena di sini aku tidak akan berbicara sedikit pun tentang kebebasanmu— kebebasan penuh? Maka kamu menyingkirkan segalanya, semua yang telah membebanimu, dan mungkin dalam hidupmu tidak akan ada yang tidak membebanimu dan membuatmu tidak nyaman. Dan demi siapa semua hal itu ingin kamu singkirkan? Jelas, demi dirimu sendiri, karena hal itu menghalangi-mu! Tetapi jika sesuatu membuatmu menjadi tidak begitu nyaman bagimu, tetapi sebaliknya seperti yang kamu suka, misalnya, tatapan lembut dan tak tertahankan dari kekasihmu — maka kamu tidak ingin bebas dari hal itu dan menyingkirkannya. Kenapa tidak? Lagi-lagi juga cuma untuk kepentinganmu sendiri! Jadi kamu membuat dirimu sendiri sebagai ukuran dalam menilai segala sesuatu. Kamu dengan senang hati melepaskan kebebasan ketika yang tidak bebas, pengorbanan cinta yang manis, tak lagi cocok untuk-mu; dan kamu mengambil kebebasanmu lagi ketika itu mulai cocok untukmu, lebih baik, dengan asumsi, yang bukan itu intinya di sini, bahwa kamu tidak takut akan pencabutan persekutuan untuk yang lain (mungkin agama misal). Mengapa sekarang kamu tidak ingin dengan sungguh, berani menjadikan dirimu sepenuhnya dan benar-benar menjadi titik utama dan hal yang utama? Mengapa merebut kebebasan, impianmu? Apakah kamu adalah mimpimu? Jangan pertama-tama menanyakan impianmu, visimu, 184 pikiranmu, karena ini semua adalah “teori kosong”. Tanyakan pada dirimu sendiri dan setelahnya tanyakan lagi pada dirimu sendiri -ini praktis dan kamu

Vorstellung.

tahu kamu sangat ingin menjadi “praktis.” “Tetapi ada yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Allahnya (tentu saja, apa pun yang ia bayangkan dengan nama Allah adalah Allahnya), dan yang lain untuk perasaan moral, hati nuraninya, kewajibannya macam apa yang dapat memutuskan hal itu, dan orang yang ketiga menghitung apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang hal itu —dan ketika masing-masing dengan demikian bertanya kepada Tuhannya Tuhan (orang-orang sama baiknya dengan Tuhannya Tuhan, dan memang lebih solid daripada, dunia lain dan yang imajiner: vox populi, vox dei¹⁸⁵), ia kemudian menyesuaikan diri dengan kehendak Tuannya dan sama sekali tidak mendengarkan apa yang ingin ia katakan dan putuskan. Karena itu berbaliklah kepada dirimu sendiri daripada kepada dewa dan berhalamu. Bawa keluar dari dirimu apa yang ada di dalam dirimu, bawa ke cahaya, bawa dirimu keluar sebagai manifestasi. 186 Bagaimana seseorang bertindak hanya dari dirinya sendiri, dan bertanya setelah tak ada lagi yang lainnya, orang Kristen telah digambarkan dalam “Tuhan.” Dia bertindak sesuka hati. Dan manusia yang bodoh, yang dapat melakukan hal yang persis sama, seharusnya bertindak sesuai kehendak Tuhan. —Jika seseorang berkata, Tuhan juga berproses sesuai dengan hukum abadi, itu juga cocok untukku, karena aku juga tidak bisa meninggalkan kulitku, tetapi memiliki hukumku di seluruh sifatku, yaitu, dalam diriku sendiri. Tetapi seseorang cuma perlu mengingatkanmu tentang dirimu sendiri untuk segera membawamu pada hilanganya gairah. “Apakah aku ini?” Kamu masing-masing sekalian kemudian bertanya pada dirinya sendiri. Jurang dorongan, keinginan, keinginan, dan nafsu tak berhukum dan tak teratur; kekacauan tanpa cahaya atau bintang penuntun! Bagaimana aku seharusnya mendapatkan jawaban yang benar jika —tanpa mengindahkan perintah-perintah Allah atau

185 Artinya: “suara rakyat adalah suara Tuhan”. 186 Offenbarung lebih sering diterjemahkan sebagai “wahyu.” Saya tidak yakin apakah akan mempertahankan ini dan berasumsi bahwa Stirner menyebutnya sebagai sarkasme halus terhadap agama, atau menggunakan terjemahan yang kurang religius. Saya memilih yang terakhir, tetapi dengan berat hati –Wolfi.

tugas-tugas yang ditentukan moralitas, tanpa memperhatikan suara nalar, yang dalam perjalanan sejarah, setelah pengalaman pahit, telah mengangkat hal-hal terbaik dan paling masuk akal menjadi hukum— aku hanya bertanya pada diri sendiri? Gairahku menyarankan pada dirimu supaya melakukan hal yang paling tidak masuk akal. —Jadi masing-masing menganggap dirinya sebagai —iblis; karena jika, karena kurangnya perhatian terhadap agama, dll., ia hanya menganggap dirinya binatang, ia akan dengan mudah menemukan bahwa hewan itu, yang hanya mengikuti dorongan hati (nasihatnya, bisa dikatakan begitu), tidak menyarankan atau mendorong dirinya sendiri untuk melakukan hal-hal yang “paling tidak masuk akal”, tetapi mengambil langkah yang sangat tepat. Tetapi kebiasaan berpikir religius telah membiaskan pikiran kita dengan begitu menyedihkan sehingga dalam ketelanjangan dan sifat alami kita, kita —menakuti diri kita sendiri; itu telah merendahkan kita sehingga kita menganggap diri kita iblis yang sudah bejat sejak lahir. Tentu saja, itu datang kepadamu secara sekaligus bahwa panggilanmu menuntutmu untuk melakukan “kebaikan,” moral, hak. Sekarang, jika kamu bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan, bagaimana suara yang tepat terdengar darimu, suara yang menunjukkan jalan yang baik, yang benar, yang sungguh, dll? Bagaimana caranya Tuhan dan Belial¹⁸⁷ menyelaraskannya? Tetapi apa yang akan kamu pikirkan jika seseorang mengatakan padamu: “seseorang mestinya mendengarkan Tuhan, hati nurani, tugas, hukum, dll., adalah omong kosong yang digunakan orang untuk menjejalimu, dari kepala dan juga hati, dan membuatmu jadi gila”? Dan jika dia bertanya kepadamu bagaimana kamu tahu dengan pasti bahwa suara alam adalah penggoda? Dan jika dia bahkan menuntut agar kamu membalikkan keadaan dan benar-benar menganggap suara Tuhan dan hati nurani sebagai pekerjaan iblis? Ada orang-orang yang tidak pernah bersyukur; bagaimana kamu akan menghadapinya? Kamu tidak dapat memohon kepada pendeta, orang tua, dan orang-orang baikmu, karena merekalah yang mereka tentukan sebagai penggoda-mu, sebagai penggoda sejati dan perusak masa muda, yang dengan rajin menaburkan rasa kebencian dan penghormatan terhadap Tuhan, menyumbat hati

Di sini digunakan sebagai nama lain dari setan.

anak muda dan membuat kepala pemuda jadi bodoh. Tapi sekarang orang-orang macam begitu pergi dan berkata: Demi siapa kamu mencari gara-gara atas Tuhan dan perintah lainnya? Tentunya kamu tidak berpikir ini dilakukan hanya sebagai kebaikan kepada Tuhan? Tidak, lagi-lagi kamu melakukannya —demi kebaikan dirimu sendiri. —Jadi di sini lagi-lagi kamu adalah hal yang utama, dan semua orang harus mengatakan pada dirinya sendiri: Aku adalah segalanya bagiku dan aku melakukan segalanya dan aku melakukan segalanya untuk diriku sendiri. Jika kelak jadi jelas bagimu bahwa Tuhan, perintah, dll., hanya membuatmu dalam bahaya, bahwa mereka merendahkan dan menghancurkanmu, tentu saja, kamu akan membuangnya dari dirimu sama seperti orang-orang Kristen mengutuk Apollo atau Minerva atau moralitas kafir. Diakui, mereka menempatkan Kristus dan kemudian Maria, serta moralitas Kristen, di tempat mereka; tetapi mereka melakukan ini juga untuk kesejahteraan jiwa mereka, dengan demikian dari egoisme atau kepemilikan. Dan melalui egoisme ini, kepemilikan ini, mereka menyingkirkan dunia para dewa lama dan menjadi bebas darinya. Kepemilikan menciptakan kebebasan baru; karena kepemilikan adalah pencipta segalanya, seperti kecemerlangan (kepemilikan tertentu), yang mana selalu orisinil, telah lama dianggap sebagai pencipta produksi sejarah dunia yang baru. Jika upayamu untuk membuat “kebebasan” menjadi diperhitungkan, maka tunjukkan tuntutannya. Siapa yang seharusnya bebas? Kamu, aku, kita semua. Bebas dari apa? Dari semua yang bukan kamu, bukan aku, bukan kita. Jadi aku adalah inti yang harus dibebaskan dari semua bungkus –yang harus dibebaskan dari semua cangkang kekangan. Apa yang tersisa ketika aku telah dibebaskan dari semua yang bukan aku? Hanya aku dan tidak lain kecuali diriku. Tetapi kebebasan tidak memiliki apa pun untuk menawarkan aku ini sendiri. Mengenai apa yang seharusnya terjadi sekarang, karena aku telah bebas, kebebasan diam, ketika pemerintah kita, ketika waktu tahanan sudah habis, lepaskan saja dia dan usir dia ke dalam kehancuran. Sekarang mengapa, jika seseorang mengupayakan kebebasan karena cinta kepada [the] Aku, mengapa tidak memilih diriku sendiri sebagai yang awal, tengah dan terakhir? Apakah aku tidak lebih berharga daripada kebebasan? Bukankah aku yang

membuat diriku bebas, apa aku bukan yang terutama? Bahkan dalam ketidakbebasan, bahkan dalam seribu belenggu, aku tetaplah diriku; dan aku tidak, sebagaimana kebebasan, hanya ada sebagai hal yang akan datang, dengan harapan, tetapi bahkan sebagai budak yang paling terdegradasi aku juga —tetap ada. Pikirkan baik-baik dan putuskan apakah kamu beneran ingin memasang spandukmu soal mimpi “kebebasan” atau resolusi “egoisme,” tentang “kepemilikan.” “Kebebasan” membangkitkan kemarahan-mu terhadap segala sesuatu yang bukan dirimu; “egoisme” memanggilmu untuk bersukacita atas dirimu sendiri, untuk kesenangan diri sendiri. “Kebebasan” adalah dan tetap merupakan kerinduan, ratapan romantis, harapan Kristen akan dunia yang lain dan masa depan; “Memiliki” adalah kenyataan yang, dari dirinya sendiri, menghilangkan banyak hal yang sama jadi rintangan dengan menghalangimu dengan caramu sendiri. Kamu tidak akan ingin meninggalkan apa yang tidak mengganggumu, dan ketika itu mulai mengganggumu, mengapa, kamu tahu bahwa “kamu harus menaati dirimu sendiri daripada manusia”! Kebebasan hanya mengajarkan: Jauhkan dirimu, legakan dirimu, dari segala hal yang memberatkan; tapi hal itu tidak mengajarimu siapakah kamu sebenarnya. Singkirkan, singkirkan! dengan demikian semboyannya bergema, dan kamu, ingin mengikuti panggilannya, bahkan menyingkirkan dirimu sendiri, kamu “menyangkal dirimu sendiri.” Tetapi rasa memiliki memanggilmu kembali ke dirimu sendiri, dikatakan, “Datanglah ke dirimu sendiri!” Di bawah perlindungan kebebasan, kamu dapat menyingkirkan banyak hal, tetapi sesuatu yang baru menindas kamu lagi: “Kamu telah menyingkirkan si Jahat; kejahatan ditinggalkan.” 188 Sebagai milik-mu, kamu sebenarnya terbebas dari segalanya, dan apa yang melekat padamu telah kamu terima; itu adalah pilihan dan kesenanganmu. Yang milik sendiri adalah yang dilahirkan dengan bebas, yang telah bebas dari awal; yang bebas, sebaliknya, hanyalah pencandu kebebasan, pemimpi dan seorang romantik. Yang pertama sudah bebas dari sononya, karena ia tidak mengenali apa pun kecuali dirinya sendiri; ia tidak perlu

Berasal dari kata-kata Mephistopheles dalam “The Witch’s Kitchen” dalam Bagian Pertama Goethe’s Faust. Baris ke-2509.

membebaskan dirinya terlebih dahulu, karena sejak awal ia menolak segala sesuatu di luar dirinya, karena ia tidak lebih menghargai apapun kecuali dirinya sendiri, dianggap tidak ada yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri -singkatnya, karena dia mulai dari dirinya sendiri dan “datang kepada dirinya sendiri.” Terkendala oleh berbakti pada anak (filial respect), dia masih bekerja untuk “membebaskan” dirinya dari kendala ini. Kepemilikan bekerja pada sang egois kecil dan memberinya kebebasan yang diinginkan. Ribuan tahun budaya beradab telah mengaburkan apa yang kamu miliki untuk dirimu sendiri, telah membuatmu percaya bahwa kamu bukan egois, tetapi dipanggil untuk menjadi yang idealis (“orang baik”). Kibaskan itu! Jangan mencari kebebasan, yang hanya membuatmu kehilangan diri sendiri, dalam “penyangkalan diri”; melainkan cari dirimu sendiri, jadilah egois, kalian masing-masing menjadi aku yang maha kuasa. Atau lebih jelasnya: kenali dirimu lagi, kenali dirimu yang sebenarnya, dan lepaskan segala upaya munafikmu, kecanduan bodohmu untuk menjadi sesuatu selain dirimu sendiri, yang bukan dirimu. Aku menyebut mereka munafik, karena kamu masih tetap menjadi egois selama ribuan tahun ini, tetapi tertidur, menipu diri sendiri, menjadi egois yang gila, kamu sama halnya dengan Heauton Timorumenoses¹⁸⁹, kamu penyiksa diri. Agama belum pernah bisa menghilangkan satu jenis “janji” atau semacamnya, entah itu mereka merujuk pada akhirat atau yang satu ini (“umur panjang”, dll); karena manusia haus akan keuntungan dan tidak melakukan apa pun secara “cuma-cuma.” Terus gimana dengan “berbuat baik demi kebaikan” tanpa prospek imbalan itu? Seolah-olah di sini hadiah itu juga tidak terkandung dalam kepuasan yang akan diberikannya. Dengan demikian agama juga dibangun di atas egoisme kita dan mengeksploitasinya; dihitung berdasarkan keinginan kita, demi salah satu dari mereka, hal itu menghambat banyak orang lain. Ini kemudian memberikan kita suatu kejadian mengenai paraegoisme yang tertipu, di mana aku tidak memuaskan diriku sendiri, tetapi salah satu keinginanku, misalnya, keinginan untuk diberkati. Agama menjanjikan ini padaku:

Judul drama yang dibuat oleh seorang dramawan Latin Publius Terentius Afer. Ini dapat diterjemahkan sebagai “penyiksa diri” [self-termentor].

“kebaikan tertinggi”; untuk mendapatkan ini aku tidak memperhatikan keinginanku yang lain dan tidak memelihara mereka. —Semua tindakanmu tidak diakui, rahasia; egoisme terselubung dan tersembunyi. Tetapi karena ini adalah egoisme yang tidak ingin kamu akui pada dirimu sendiri, yang kamu sembunyikan dari dirimu sendiri, maka itu bukan egoisme yang tampak dan jelas, akibatnya adalah egoisme yang tidak disadari, dan karenanya itu bukan egoisme, melainkan perbudakan, perhambaan, penyangkalan diri; Kamu adalah egois, dan kamu juga tidak, karena kamu menyangkal egoisme. Di mana kamu terlihat seperti itu, kamu telah membenci dan meremehkan kata “egois”. Aku menjaga kebebasanku terhadap dunia sejauh aku menjadikan dunia menjadi milikku sendiri, yaitu, “memenangkan dan mengambilnya” bagi diriku sendiri, dengan kekuatan apa pun yang dibutuhkan, dengan kekuatan merayu, meminta, membujuk, ya, bahkan dengan kemunafikan, atau bahkan penipuan, dll.; karena cara yang aku gunakan untuk itu tergantung pada siapa diriku. Jika aku lemah, aku hanya memiliki cara yang lemah, seperti yang disebutkan di atas, tetapi sebenarnya hal itu masih bisa dibilang cukup baik dibanding sebagian besar dunia ini. Bagaimanapun juga, penipuan, kemunafikan, dan kebohongan terlihat lebih buruk daripada hal-hal yang telah saya sebutkan. Tapi siapa yang tidak menipu polisi, atau hukum misal? Siapa yang langsung memperlihatkan kesetiaan yang terhormat saat bertemu dengan antek-antek kepolisian, walau itu untuk menyembunyikan tindakan ilegal yang mungkin telah dilakukannya? Siapa pun yang tidak melakukan ini berarti telah membiarkan kekerasan terjadi padanya; dia adalah orang yang lemah secara nurani. Aku tahu bahwa kebebasanku sudah berkurang ketika aku tidak bisa menjalankan kehendakku pada orang lain (entah apakah itu adalah sesuatu yang tidak memiliki kehendak, seperti batu, atau sesuatu yang memiliki kemauan, seperti pemerintah, individu, dll); Aku menyangkal kepemilikanku ketika —di hadapan orang lain— aku menyerah, yaitu, aku memberi jalan, berdiri di samping, tunduk; demikian pula dengan pengabdian, ketundukan. Untuk yang satu ini adalah ketika aku membalikan haluanku karena hal itu tidak mengarahkanku pada tujuan dan dengan demikian mengarahkanku ke jalan yang salah; dan lainnya ketika aku menyerah. Aku memutari batu yang menghalangiku, sampai aku

punya cukup mesiu untuk meledakkannya; Aku menyiasati hukum suatu bangsa, sampai aku mengumpulkan kekuatan untuk dapat menggulingkan mereka. Karena aku tidak bisa memahami bulan, apakah karena itu dianggap “suci” bagiku, seorang Astarte¹⁹⁰? Jika aku hanya bisa memahamimu, aku pasti akan, dan jika aku menemukan cara untuk mendatangimu, kamu tidak akan membuatku takut! Kamu yang tidak dapat dipahami, Aku tetap tidak akan memahamimu sampai aku memperoleh kekuatan pemahaman untuk diriku sendiri dan menyebut kamu sebagai milikku sendiri; Aku tidak menyerah di hadapanmu, tetapi hanya menunggu waktuku. Jika aku juga puas untuk saat ini menyentuh sesuatu dari dirimu, aku masih mengingatnya tentang kamu. Orang yang bersemangat selalu melakukannya. Ketika “yang berbakti” telah membangkitkan kekuatan yang tak terkalahkan untuk menjadi tuan atas diri mereka dan lalu menyembahnya, ketika mereka menuntut penyembahan dari semua, kemudian datanglah seorang putra alam yang tidak mau tunduk, dan yang mengejar kekuatan yang dipuja dari Olympus yang tak dapat dimasuki. Dia berujar “Diam!” pada matahari yang bergulir dan membiarkan bumi berputar; yang berbakti harus melakukan yang terbaik dari itu. Dia meletakkan kapaknya ke pohon ek yang suci, dan yang “berbakti” itu heran bahwa tidak ada api surgawi yang memakannya. Dia melemparkan Paus dari kursinya Petrus, dan yang “berbakti” tidak tahu bagaimana cara mencegahnya. Dia menghancurkan bisnis hak ilahi, dan para “setia” yang sia-sia dan, akhirnya, terdiam. Kebebasanku menjadi lengkap hanya ketika itu adalah kekuatan-ku; tetapi dengan ini aku tidak lagi menjadi orang bebas dan menjadi seorang diriku sendiri. Mengapa kebebasan orang-orang adalah “kata-kata hampa”? Karena rakyat tidak memiliki kekuatan! Dengan nafas dari aku yang hidup, aku meledakkan orang-orang, entah apakah itu nafas seorang Nero, seorang kaisar Cina, atau seorang penulis miskin. Lalu mengapa ruangan parlemen J– 191 merindukan kebebasan, dan mendapatkan kuliah mengenai hal itu dari para menteri kabinet? Karena mereka bukan

Dewi Semitik untuk kesuburan dan cinta seksual, disembah oleh para Phoenisian dan lainnya –Penj. Aslinya huruf “G” untuk “Germany”, digunakan untuk menghindari sensor.

yang “berkuasa”! Kekuasaan adalah masalah yang baik, dan berguna untuk banyak hal; karena “seseorang dapat melangkah lebih jauh dengan segenggam kekuasaan daripada seorang dengan segenggam penuh hak.” Aku merindukan kebebasan? Kamu bodoh! Jika kamu mengambil alih kekuasaan, maka kebebasan akan datang dengan sendirinya. Lihat, orang yang memiliki kekuasaan berdiri di atas hukum. Bagaimana pandangan ini terasa bagimu, kamu orang yang “taat hukum”? Tapi kamu tidak punya rasa! Seruan untuk “kebebasan” berdengung keras di sekitarmu. Tetapi apakah seseorang merasakan atau tahu apakah artinya kebebasan yang dilimpahkan atau dipaksakan? Orang-orang tidak mengenali sepenuhnya perkataan bahwa semua kebebasan pada dasarnya —pembebasan diri, yaitu, bahwa aku hanya dapat memiliki kebebasan sebanyak yang aku dapatkan melalui kepemilikanku. Apa gunanya bagi domba jika tidak ada yang membatasi kebebasan mereka untuk berbicara? Mereka terus mengembik. Berikan seseorang yang di dalam dirinya seorang Muslim, seorang Yahudi, atau seorang Kristen izin untuk mengatakan apa yang dia suka: dia masih akan menyatakan omong kosong berpikiran sempit. Jika, di sisi lain, orang lain merampas kebebasanmu untuk berbicara dan mendengar, mereka mengerti dengan benar di mana letak keuntungan sementara mereka, karena kamu mungkin bisa mengatakan dan mendengar sesuatu yang dengannya orang-orang tertentu akan kehilangan pujiannya. Jika mereka masih memberi kamu kebebasan, mereka hanyalah bajingan yang memberi lebih dari apa yang telah mereka miliki. Karena dengan begitu mereka tidak memberikan apa pun untuk kamu sendiri, tetapi barang curian; mereka memberi padamu kebebasan milikmu sendiri, kebebasan yang harus kamu ambil sendiri; dan mereka memberikan-nya hanya kepada kamu sehingga kamu tidak mengambilnya dan menahan para pencuri dan penipu yang bertanggung jawab untuk menendangnya. Dalam kelihaian mereka, mereka tahu betul bahwa kebebasan yang diberikan (dipaksakan) sama sekali bukanlah kebebasan, karena hanya kebebasan yang diambil seseorang untuk dirinya sendiri, dengan demikian yaitu kebebasan egois, yang berlayar dengan kecepatan penuh. Kebebasan yang diberikan menyerang layarnya segera setelah badai —atau ketenangan— datang; hal itu harus

selalu memiliki angin yang sedang dan lembut. Di sinilah letaknya perbedaan antara pembebasan diri dan pembebasan (pelunasan, diatur untuk bebas). Mereka yang dewasa ini berdiri dalam kehausan untuk menentang dan mereka berteriak untuk “dibebaskan.” Para pangeran harus “menyatakan usia mereka,” yaitu, membebaskan mereka! Berperilaku seolah-olah kamu telah cukup umur, dan kamu dengan demikian tanpa pernyataan mayoritas; berperilaku seolah-olah kamu tidak demikian, dan kamu tidak layak untuk itu, dan tidak akan pernah cukup umur bahkan melalui pernyataan mayoritas. Orang-orang Yunani yang dewasa mengusir tiran-tiran mereka, dan anak yang sudah dewasa membuat dirinya mandiri dari ayahnya. Jika orang-orang Yunani menunggu sampai para tiran mereka dengan ramah memberi mereka yang mayoritas, mereka mungkin bakal menunggu lebih lama lagi. Ayah yang bijak melempar putra yang tidak akan tumbuh dewasa, dan menjaga rumah untuk dirinya sendiri; melayani orang bodoh dengan benar. Mereka yang telah diatur untuk bebas tidak lain dari orang yang terbebaskan, seorang libertinus, anjing yang diseret-seret dengan rantai: ia adalah seseorang yang tidak bebas dalam pakaian kebebasan, seperti pantat pada kulit singa. Yahudi yang terbebaskan juga sama tidak lebih baiknya bagi diri mereka senderi, tetapi hanya difasilitasi sebagai seorang Yahudi, walaupun orang yang meredakan kondisi mereka tentu saja lebih dari seorang Kristen yang taat, karena yang terakhir tidak dapat melakukan ini tanpa ketidakkonsistenan. Tapi dibebaskan atau tidak dibebaskan, seorang Yahudi tetap menjadi seorang Yahudi; orang yang tidak membebaskan diri hanyalah seorang —pria yang dibebaskan. Negara Protestan tentu dapat membebaskan umat Katolik (membebaskan mereka); tetapi karena mereka tidak membebaskan diri mereka sendiri, mereka tetap semata-mata seorang —Katolik. Mementingkan diri sendiri dan tidak mementingkan diri sendiri telah dibahas sebelumnya. Sahabat kebebasan mengamuk pada apapun yang mementingkan diri sendiri karena dalam agama mereka diajarkan untuk berjuang demi kebebasan, mereka tidak dapat membebaskan diri dari “penyangkalan diri” yang luhur. Kemarahan kaum liberal ditujukan pada egoisme, karena si egois, memang, tidak pernah berjuang untuk hal apa pun demi hal itu: benda itu harus melayani dirinya sendiri. Adalah suatu hal yang

egois jika menganggap tidak ada itu yang namanya nilai sendiri, tidak ada nilai “absolut” untuk suatu hal, melainkan untuk mencari nilainya dalam diriku sendiri. Orang sering mendengar bahwa kita belajar untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga sering dianggap sebagai salah satu sifat perilaku egoistis yang paling menjijikkan, karena itu mewujudkan penodaan atas ilmu pengetahuan yang paling memalukan; tapi apa gunanya ilmu pengetahuan jika hal itu tidak digunakan? Jika seseorang tidak tahu bagaimana menggunakannya untuk sesuatu yang lebih baik daripada mendapatkan pekerjaan, maka egonya benar-benar picik, karena kekuatan egois ini terbatas; tetapi hanya seseorang yang memiliki, yang dapat menyalahkan elemen egoistik di dalamnya sebagai sebuah penodaan atas ilmu pengetahuan. Karena Kekristenan, yang tidak mampu membiarkan individunya dianggap sebagai yang unik, menganggap mereka hanya sebagai yang ketergantungan, dan benar-benar tidak lain sebagai teori sosial, doktrin hidup bersama antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia; karena itu di dalamnya, segala sesuatu “milik” harus masuk ke dalam kerendahan hati yang paling rendah: keegoisan, pikiran sendiri, kemauan diri sendiri, rasa memiliki, cinta diri, dll. Cara orang Kristen dalam memandang berbagai hal secara bertahap di semua sisi telah dicap ulang dengan kata-kata terhormat sebagai yang tidak terhormat; mengapa tidak membawa mereka kembali untuk menghormati? Jadi “cemoohan” 192 dalam pengertiannya yang lama sama dengan lelucon, tetapi untuk keseriusan orang Kristen, hiburan menjadi penghinaan, karena keseriusan ini tidak memiliki selera humor; “Gugup” sebelumnya hanya berarti tegas, berani; “Kemarahan” 193 hanyalah berani. Ia tahu betul apa yang terlihat kotor bagi kata “nalar” untuk begitu lama. Bahasa kita telah beradaptasi dengan cukup baik dengan sudut pandang Kristen, dan kesadaran umum masih terlalu Kristen bagi kita untuk tidak menghindar dari segala sesuatu yang bukan

192 Dalam bagian ini, saya menggunakan tesaurus dan kamus etimologis untuk menemukan kata-kata bahasa Inggris yang etimologinya akan bekerja dengan cara yang sama. Di mana saya tidak dapat menemukannya, saya telah menempatkan bahasa Jerman itu catatan kaki –Wolfi. “Frevel.”

Kristen sebagai dari sesuatu yang tidak lengkap atau jahat. Oleh karena itu, masih buruk untuk “keegoisan.” Keegoisan, dalam pengertian Kristen adalah sesuatu yang seperti ini: Aku hanya melihat apakah sesuatu bermanfaat bagiku sebagai manusia yang sensual. Apakah sensualitas kemudian seluruhnya menjadi milikku? Apakah aku dalam perasaanku sendiri ketika aku meninggalkan diriku pada sensualitas? Apakah aku mengikuti diriku sendiri, tekadku sendiri, ketika aku mengikuti itu? Aku menjadi milikku sendiri ketika aku berada di dalam kekuatanku sendiri, dan bukan dalam kekuatan sensualitas atau hal lain apa pun (Tuhan, kemanusiaan, otoritas, hukum, negara, gereja, dll.); keegoisanku mengejar apa yang berguna bagiku, yang dimiliki sendiri ini. Selain itu, seseorang merasa dirinya dipaksa setiap saat untuk percaya pada keegoisan yang terus menerus difitnah sebagai kekuatan yang menguasai segalanya. Dalam sesi 10 Februari 1844, 194 Welcker berargumen tentang mosi mengenai ketergantungan hakim dan mengemukakan dalam pidato yang terperinci bahwa hakim yang dapat dipindahkan, ditolak, dipindahtangankan, dan dipensiunkan -singkatnya, anggota hakim seperti itu dapat menjadi rusak dan terancam oleh proses administrasi belaka- benar-benar tidak dapat diandalkan, ya, dan kehilangan semua rasa hormat dan kepercayaan dari orang-orang. Profesi hakim, Welcker menangis, didemoralisasi oleh ketergantungan ini! Dengan kata-kata kering, ini tidak ada artinya selain bahwa para hakim akan merasa lebih menguntungkan jika mereka membuat penilaian mereka sebagaimana para menteri akan memilikinya daripada seperti yang diinginkan oleh hukum. Bagaimana itu bisa dibantu? Mungkin dengan mengingatkan para hakim akan rasa malu karena kekejaman mereka, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan bahwa mereka akan berhenti dan berpikir, dan mulai sekarang menganggap keadilan yang lebih tinggi daripada keegoisan mereka sendiri? Tidak, tubuh orang-orang tidak mencapai kepercayaan romantis ini, karena merasa bahwa keegoisan lebih kuat daripada motif lainnya. Jadi, orang yang sama yang telah menjadi hakim sampai sekarang mungkin tetap demikian, betapapun banyak orang telah meyakinkan dirinya

Dalam legislatur Baden, atau Landtag von Baden-Württemberg, semacam dewan perwakilan rakyat negara federal Jerman.

sendiri bahwa mereka bertindak sebagai egois; hanya saja mereka tidak lagi harus menemukan keegoisan mereka untuk mendapat manfaat dari keadilan, tetapi berdiri begitu independen dari pemerintah sehingga dengan penilaian yang tepat mereka tidak membayangi hal mereka sendiri, “kepentingan yang dipahami dengan baik,” melainkan mendapatkan kombinasi yang nyaman dari gaji dan harga diri yang baik di antara warga sipil. Jadi Welcker dan warga Baden mempertimbangkan diri mereka aman hanya jika mereka dapat menghitung keegoisan. Apa yang seharusnya dipikirkan orang tentang frasa ketidakegoisan yang tak terhitung jumlahnya yang meluap dari mulut mereka di lain waktu? Aku memiliki hubungan yang berbeda dengan tujuan yang aku kejar secara egois daripada hubungan yang aku layani tanpa pamrih. Seseorang dapat mengutip tanda-tanda identifikasi berikut: Aku dapat berdosa atau melakukan dosa terhadap yang terakhir, tetapi aku hanya bisa kehilangan, mendorong, atau menghilangkan diriku dari yang lain, yaitu, bertindak dengan tidak bijaksana. Perdagangan bebas dianggap dalam dua cara, dipandang sebagian sebagai kebebasan yang dapat diberikan atau ditarik dalam keadaan tertentu, sebagian lagi sebagai sesuatu yang harus dianggap suci dalam semua hal. Jika aku tidak peduli tentang sesuatu dalam dan untuk dirinya sendiri, dan tidak menginginkannya untuk kepentingannya sendiri, maka aku menginginkannya hanya demi keuntungan yang diberikannya, untuk kegunaannya, demi tujuan lain, seperti makan tiram untuk menikmati rasa enak yang menyenangkanku. Sekarang tidak akan setiap hal yang ujungnya dia sendiri, melayani egois sebagai sarana? Dan haruskah dia melindungi sesuatu yang tidak berguna baginya; misalnya, haruskah proletar melindungi negara? Kepemilikan mencakup semua yang dimiliki dalam dirinya sendiri, dan sekali lagi membuatnya menjadi terhormat apa yang dalam bahasa Kristen adalah yang tidak terhormat. Tetapi kepemilikan juga tidak memiliki standar asing, karena itu sama sekali bukan ide seperti kebebasan, moralitas, kemanusiaan, dll. Itu hanya deskripsi -pemilik.

BAB 4

SANG PEMILIK


Apakah aku menjadi diriku sendiri dan milikku melalui liberalisme? Siapa yang dianggap oleh kaum liberal sebagai yang sederajat? Manusia! Jika kamu hanya seorang manusia -dan tentu saja kamu memang demikian- orang liberal memanggilmu sebagai saudaranya. Dia bertanya sangat sedikit tentang pendapat pribadimu dan kebodohan pribadimu, apakah dia bisa melihat “manusia” dalam dirimu. Tetapi karena dia sedikit memperhatikan apa yang kamu privatim¹⁹⁵, memang, tidak memberi nilai lebih padanya dengan mematuhi prinsipnya secara ketat, ia hanya melihat dalam dirimu apa yang kamu generatim¹⁹⁶. Dengan kata lain, dia melihat dalam dirimu bukan kamu, tetapi spesies, bukan Hans atau Kunz, tetapi manusia, bukan yang sebenarnya atau yang unik, tetapi intisari atau konsep kamu, bukan individu yang diwujudkan tetapi roh. Sebagai Hans, kamu tidak akan setara dengannya, karena ia adalah Kunz dan karenanya bukan Hans; sebagai manusia kamu adalah hal yang sama seperti dia. Dan karena sebagai Hans kamu tidak ada untuknya, sejauh dia adalah seorang liberal dan bukan secara tidak sadar egois, dia benar-benar membuat “cinta persaudaraan” sangat mudah untuk dirinya sendiri: dia tidak mencintai Hans dalam dirimu, di mana dia juga tidak tahu atau ingin tahu apapun, kecuali manusia. Untuk tidak melihat apa pun di dalam dirimu dan aku selain “manusia” berarti membawa pada sudut pandang Kristen, yang menurutnya satu untuk yang lain tidak lain hanyalah sebuah konsep (mis., seseorang yang ditunjuk untuk keselamatan, dll.), hingga yang ekstrem. Kekristenan, yang disebut dengan benar, mengumpulkan

“Dalam kehidupan pribadi.” “Sebagai sebuah spesies, kelas, kategori.”

kita di bawah konsep yang kurang umum: di sini kita adalah “anak-anak Allah” dan “dipimpin Roh Allah.” 197 Namun, tidak semua orang dapat menyombongkan diri sebagai anak-anak Allah, tetapi “Roh yang sama yang menjadi saksi roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah, juga menyatakan siapa anak-anak iblis.” 198 Akibatnya, untuk menjadi anak Allah, seseorang tidak boleh menjadi anak dari setan; menjadi anak Tuhan tidak termasuk orang tertentu. Sebaliknya, untuk menjadi anak-anak manusia, yaitu, manusia, kita tidak perlu apapun selain menjadi milik spesies manusia, untuk menjadi spesimen spesies semata. Apa adanya aku ini, aku sama sekali tidak melihatmumu sebagai seorang liberal yang baik, tetapi semata-mata urusan pribadiku; sudah cukup bahwa kita adalah anak-anak dari satu dan ibu yang sama, yaitu spesies manusia: sebagai “anak manusia” aku setara denganmu. Sekarang apakah aku ini bagimu? Mungkin aku yang menubuh ini, sebagaimana aku berjalan dan berdiri? Tiada apapun kecuali hal ini. Aku yang menubuh ini, dengan pikirannya, keputusannya, dan hasratnya, dari matamu sebagai suatu “urusan pribadi” yang mana tidak kamu pedulikan, sebagai suatu “urusan bagi diriku sendiri.” Sebagai “urusan bagimu” hal itu adalah konsepku, konsep spesiesku, hanya umat manusia, yang mana, meskipun ia dipanggil sebagai Hans, bisa dengan mudahnya menjadi sama dengan Peter atau Mikhael. Kamu melihat dalam diriku yang bukan aku, seorang yang menubuh, tapi lebih sebagai makhluk yang tak nyata, yang spook, misalnya, umat manusia. Dalam wacana masa Kristen, kita menyatakan bahwa berbagai macam orang sebagai setaranya kita, tapi tiap waktu berdasarkan pada ukuran bahwa roh tersebut yang mana kita sangka mereka, setiap orang yang di dalamnya roh kebutuhan akan penebusan dapat diasumsikan, maka kemudian, setiap orang yang memiliki roh kebenaran, akhirnya, setiap orang yang menunjukkan roh manusia dan wajah manusia. Jadi prinsip “kesetaraan” itu bervariasi.

197 Roma 8:14. Bandingkan Roma 8:16: “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” dan Yohanes 3:10: Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?”

Semenjak kesetaraan sekarang dipahami sebagai kesetaraan roh manusia, suatu kesetaraan yang mencakup semua umat manusia tentu telah ditemukan; untuk siapa yang dapat menyangkal bahwa kita sebagai manusia memiliki manusia, mis., tidak lain adalah manusia, roh? Tetapi apakah kita sekarang lebih jauh dari pada di awal kekristenan? Pada waktu itu kita seharusnya memiliki roh ilahi, dan sekarang sebagai salah satu manusia; tetapi jika yang ilahi tidak melelahkan kita, bagaimana manusia yang seharusnya mengekspresikan diri kita sepenuhnya? Feuerbach, misalnya, berpikir bahwa jika ia memanusiakan yang ilahi, ia telah menemukan kebenaran. Tidak; jika Tuhan telah menyiksa kita, “manusia” mampu menyiksa kita dengan lebih menyakitkan lagi. Singkatnya: bahwa kita adalah manusia, itu adalah hal sekecil apa pun tentang kita, dan hanya memiliki makna sejauh itu adalah salah satu kualitas kita, milik kita. Memang, antara lain, aku adalah manusia, seperti aku, misalnya, makhluk hidup, oleh karena itu binatang atau binatang buas, atau orang Eropa, orang Berlin, dll .; tetapi siapa pun yang memilih untuk menghargai diriku semata- mata sebagai manusia atau orang Berlin akan memberikanku sesuatu yang tidak penting bagiku. Dan mengapa? Karena dia hanya memperhatikan salah satu kualitas-ku dan bukan untuk-ku. Ini juga sama seperti roh. Roh Kristen, roh yang lurus, dan sejenisnya mungkin bisa menjadi kualitas yang aku peroleh, yaitu, propertiku, tetapi aku bukan roh ini; itu milikku, aku bukan miliknya. Oleh karena itu, dalam liberalisme kita hanya melanjutkan penghinaan Kristen lama untuk Aku, Hans yang diwujudkan. Alih- alih menganggap aku seperti aku, orang hanya melihat properti milikku, kualitas-kualitasku, dan menjalin aliansi yang jujur dengan aku hanya demi —hartaku; orang menikah, seolah-olah, apa yang aku miliki, bukan apa yang aku miliki. Orang Kristen melekatkan pada saya sebuah roh, sementara liberal melekatkan kemanusiaan. Tetapi jika roh, yang tidak diperlakukan sebagai milik Aku yang menubuh, tetapi lebih sebagai aku yang benar itu sendiri, adalah hantu, spook, demikian juga manusia, yang tidak diakui sebagai milikku, melainkan sebagai aku yang sejati, tidak lain hanyalah sebuah fantasi, sebuah pemikiran, sebuah konsep. Inilah sebabnya mengapa kaum liberal juga berputar di sekitar lingkaran yang sama dengan orang Kristen. Karena roh

manusia, manusia, tinggal di dalam kamu, kamu adalah manusia, sama seperti ketika roh Kristus tinggal di dalam kamu, kamu adalah seorang Kristen; tetapi karena ia tinggal di dalam kamu hanya sebagai aku yang kedua, meskipun sebagai aku yang benar atau aku yang “lebih baik,” itu tetap duniawi bagimu, dan kamu harus berusaha untuk menjadi manusia sepenuhnya. Upaya yang sama tidak bergunanya dengan upaya orang Kristen untuk sepenuhnya menjadi roh yang diberkati! Sekarang, setelah liberalisme menyatakan umat manusia, seseorang dapat menyatakan bahwa hanya dengan hal itu saja membawa keluar konsekuensi akhir dari kekristenan, dan bahwa dalam kekristenan sejati sesungguhnya menetapkan dirinya tidak pada tugas apapun kecuali untuk mewujudkan “umat manusia,” “umat manusia yang sejati.” Oleh karenanya, Agama manusia hanyalah metamorfosis terakhir dari agama Kristen. Karena liberalisme adalah semenjak ia memisahkan intisariku dari aku dan menempatkannya diatasku, karena ia meninggikan “kemanusiaan” pada tingkat yang sama bahwa beberapa agama lain akan Tuhan atau idolanya, karena ia membuat apa yang menjadi milikku menjadi sesuatu yang ada di dunia lain, karena umumnya membuat dari apa yang menjadi milikku, dari kualitas dan milikku, sesuatu yang asing, yaitu “intisari”; singkatnya, karena itu menempatkan aku di bawah manusia dan dengan demikian menciptakan panggilan bagiku. Tetapi liberalisme juga mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah agama dalam bentuk ketika ia menuntut intisari tertinggi ini, yaitu kemanusiaan, semangat religius, “sebuah keyakinan yang pada akhirnya juga akan membuktikan semangatnya yang berapi-api, semangat yang tak akan terkalahkan.” 199 Karena liberalisme adalah agama manusia, mereka yang mengakuinya bertindak dengan toleransi terhadap mereka yang mengaku agama lain (Katolik, Yahudi, dll.), seperti yang dilakukan Frederick yang Agung terhadap siapa pun yang melakukan tugasnya sebagai subjek, apa pun gaya diberkati yang mungkin ia sukai. Agama ini sekarang harus diangkat ke yang universal, yang biasa digunakan, dan dipisahkan dari yang lain hanya sebagai “kebodohan pribadi,” di mana, omong-omong, seseorang bertindak sangat liberal

Bruno Bauer, Die Judenfrage [Pertanyaan Yahudi] (Brunswick,

1843) hlm 61.

karena mereka begitu tidak signifikan. Seseorang dapat menyebutnya agama-negara, agama “negara yang bebas,” bukan dalam pengertian yang telah digunakan hingga saat ini, bahwa itu lebih disukai atau diistimewakan oleh negara, tetapi sebagai agama “negara bebas” yang tidak hanya berhak, tetapi dipaksa, untuk menuntut setiap orang, terlepas dari apakah secara pribadi ia adalah orang Yahudi, Kristen, atau apa pun. Untuk hal itu ia melakukan pelayanan yang sama kepada negara seperti kesalehan berbakti kepada keluarga. Jika keluarga harus diakui dan dipertahankan dalam keberadaannya yang berkelanjutan, oleh masing-masing anggotanya, ikatan darah harus kudus baginya, dan perasaannya haruslah karena kesalehan, menghormati ikatan darah, jadi bahwa baginya setiap hubungan darah menjadi makhluk suci. Begitu juga untuk setiap anggota negara-komunitas, komunitas ini harus sakral, dan konsep yang tertinggi untuk negara juga harus paling tinggi baginya. Tapi apa konsep yang lebih tinggi bagi negara? Tentu saja, untuk menjadi masyarakat manusia yang sesungguhnya: masyarakat yang mana setiap orang yang sungguh-sungguh umat manusia, yang bukan monster tak manusiawi [inhuman monster], yang dapat mencapai pengakuan sebagai anggota. Tidak peduli seberapa jauh toleransi negara berlangsung, hal itu berhenti pada monster tak manusiawi dan apa yang bukan manusia. Dan belum lagi, “monster tidak manusiawi” ini adalah manusia, dan “manusia tidak manusiawi” itu sendiri adalah sesuatu yang manusia, tentu saja, hanya mungkin bagi manusia, bukan untuk binatang buas apa pun; itu hanyalah sesuatu yang “mungkin secara manusiawi.” Tetapi meskipun setiap monster yang tidak manusiawi adalah manusia, negara tetap tidak mengikutinya, yaitu, mengunci dia, atau mengubah dia dari kawan negara menjadi kawan penjara (rumah sakit jiwa- kawan rumah sakit kamerad untuk komunisme). Tidak terlalu sulit untuk mengatakan dengan kata-kata sederhana apa itu monster yang tidak manusiawi: itu adalah manusia yang tidak sesuai dengan konsep manusia, karena yang tidak manusiawi adalah sesuatu yang manusiawi yang tidak sesuai dengan konsep manusia. Logika menyebut ini sebagai “penilaian yang tidak masuk akal.” Apakah seseorang dapat membuat penilaian ini bahwa seseorang dapat menjadi manusia tanpa menjadi manusia, jika seseorang tidak mengakui hipotesis bahwa

konsep manusia dapat dipisahkan dari keberadaannya, bahwa intisari dapat dipisahkan dari penampakannya? Mereka berkata, memang, dia tampak seperti manusia, tetapi dia bukan manusia. Manusia telah mengucapkan “penghakiman tidak masuk akal” ini melalui serangkaian sepanjang abad! Memang, apa lagi, dalam waktu yang lama ini hanya ada —monster yang tidak manusiawi. Individu mana yang sesuai dengan konsepnya? Kekristenan hanya mengenal satu manusia, dan yang ini -Kristus- langsung menjadi monster yang tidak manusiawi dalam arti sebaliknya, yaitu manusia super, “Tuhan”. Hanya -monster yang tidak manusiawi itu saja yang adalah manusia yang sebenarnya. Manusia yang bukan manusia, akan jadi apa mereka selain menjadi hantu? Setiap manusia yang sebenarnya, karena dia tidak sesuai dengan konsep “manusia,” atau karena dia bukan “spesies manusia,” adalah tidak mungkin, selain sebuah fantasi. Tetapi apakah aku akan tetap menjadi monster yang tidak manusiawi jika aku mengurangi kemanusiaan, yang hanya menjulang di atasku dan tetap menjadi duniawi bagiku sebagai cita-cita, tugas, intisari atau konsepku, dengan kualitas diriku sendiri, melekat dalam diriku, sehingga keberadaan manusia tidak lain adalah kemanusiaanku, kondisi manusia diriku, dan semua yang aku lakukan karena itu adalah manusia, hanya karena aku melakukannya, tetapi bukan karena itu sesuai dengan konsep “manusia”? Sebenarnya aku secara bersamaan adalah manusia dan monster yang tidak manusiawi, sebagai satu; karena aku adalah manusia dan pada saat yang sama lebih dari manusia; aku adalah aku dari ini [I am the I of this], kualitas diriku belaka. Akhirnya harus begini, bahwa kita tidak hanya diharapkan menjadi orang Kristen, tetapi menjadi manusia; karena, meskipun kita tidak pernah benar-benar bisa menjadi orang Kristen, tetapi selalu tetap menjadi “orang berdosa yang malang” (karena orang Kristen juga hanyalah sebuah cita-cita yang tidak mungkin dapat tercapai), tetap saja absurditas ini tidak sampai pada kesadaran kita dan penipuan itu lebih mudah daripada sekarang, ketika tuntutan dibuat pada kita, yang adalah manusia dan bertindak secara manusiawi, dan memang tidak bisa melakukan sebaliknya daripada menjadi seperti itu dan bertindak demikian, bahwa kita harus menjadi manusia, “manusia yang sebenarnya.” Tentu saja, kondisi kita hari ini, semenjak segala sesuatu dari ibu gerejawi mereka masih melekat pada diri mereka,

memberlakukan berbagai kewajiban kepada anggotanya (mis., religiusitas gereja) yang benar-benar tidak memedulikan kondisi ini; tetapi tetap, secara keseluruhan, mereka tidak menyangkal signifikansi mereka, karena mereka ingin dilihat sebagai masyarakat manusia, di mana manusia sebagai manusia dapat menjadi anggota, bahkan jika ia kurang beruntung daripada anggota lainnya; kebanyakan memungkinkan pengikut dari setiap sekte agama, dan menerima orang tanpa perbedaan ras atau bangsa: Yahudi, Turki, Moor, dll dapat menjadi warga negara Prancis. Negara dalam penerimaannya hanya mengamati apakah seseorang itu adalah manusia. Gereja, sebagai masyarakat orang-orang percaya, tidak bisa menerima semua orang ke dalam kelompoknya; negara, sebagai masyarakat manusia, bisa. Tetapi ketika negara telah sepenuhnya melaksanakan asasnya, dengan anggapan bahwa semua anggotanya tidak lain adalah manusia (sampai sekarang, bahkan orang Amerika Utara menganggap anggotanya sendiri memiliki agama, paling tidak agama kejujuran, ketulusan), maka negara telah menggali kuburnya sendiri. Sementara itu akan membayangkan bahwa di dalam anggotanya ia tidak memiliki apa-apa selain manusia, sementara itu mereka tidak menjadi apapun selain menjadi egois, yang masing-masing menggunakannya untuk kekuatan dan tujuan egonya. “Masyarakat manusia” karam oleh kaum egois; karena mereka tidak lagi berhubungan satu sama lain sebagai manusia, tetapi tampil secara egois sebagai aku melawan kamu, dan kamu sama sekali berbeda dari aku dan menentangku. Jika negara harus mengandalkan kemanusiaan kita, maka itu sama ketika seseorang mengatakan: negara harus mengandalkan moralitas-mu. Untuk melihat kemanusiaan satu sama lain dan bertindak sebagai manusia terhadap satu sama lain, ini disebut perilaku moral. Dalam segala hal “cinta spiritual” dari agama Kristen. Jika, dengan demikian, aku melihat kemanusiaan dalam dirimu, seperti aku melihat kemanusiaan dalam diriku, dan tidak melihat apa pun selain kemanusiaan, maka aku merawatmu seperti aku menjaga diriku sendiri, karena kami sama-sama tidak menandakan apa-apa selain proposisi matematis: A=C dan B=C, oleh karena itu A=B, yaitu, aku tidak lain adalah manusia dan kamua tidak lain adalah manusia, jadi aku dan kamu adalah sama. Moralitas tidak cocok dengan egoisme, karena ia tidak menerimaku, tetapi hanya kemanusiaan dalam diriku. Tetapi jika

negara adalah masyarakat manusia, bukan persatuan Is [yaitu/adalah], yang masing-masing hanya melihat keluar untuk dirinya sendiri, maka ia tidak dapat eksis tanpa moralitas dan harus mementingkan moralitas. Karena itu, kami berdua, negara dan aku, bermusuhan. Bagi aku, sang egois, konsep tentang kesejahteraan “masyarakat manusia” tidak ada dalam hatiku. Aku tidak mengorbankan apa pun untuk itu, aku hanya menggunakannya; tetapi untuk dapat menggunakannya sepenuhnya, aku mengubahnya menjadi milikku dan ciptaanku; dengan kata lain, aku menghancurkannya dan sebagai gantinya membentuk asosiasi egois. Jadi negara mengkhianati permusuhannya terhadapku dengan menuntut agar aku menjadi manusia, yang menganggap bahwa aku bukan manusia dan dipandangnya sebagai “monster yang tak manusiawi”; itu memaksaku menjadi manusia bagiku, sebagai sebuah kewajiban. Lebih jauh lagi, hal itu menuntutku untuk tidak melakukan apa pun yang akan menghentikan-nya. Keberadaannya yang berkelanjutan seharusnya dianggap suci bagiku. Maka aku tidak harus menjadi seorang egois, tetapi seorang “manusia yang jujur, tulus,” yaitu manusia bermoral. Cukup: seharusnya aku tidak berdaya dan hormat padanya dan keberadaannya yang berkelanjutan. Kondisi ini, bukanlah sesuatu yang sudah ada sebelumnya, tetapi sesuatu yang masih perlu direalisasikan, sebagai cita-cita liberalisme progresif. Itu seharusnya menjadi “masyarakat manusia” yang sejati, di mana setiap “manusia” menemukan tempatnya. Liberalisme bermaksud untuk mewujudkan “kemanusiaan,” yaitu, menciptakan dunia untuk itu; dan ini akan menjadi dunia manusia atau masyarakat manusia yang universal (komunis). Seseorang berkata: “Gereja hanya bisa memperhitungkan roh; negara harus memperhitungkan manusia.” 200 Tetapi bukankah “manusia” adalah “roh”? Inti dari negara adalah “manusia,” ketidaknyamanan ini, dan hanya merupakan “masyarakat manusia.” Dunia yang diciptakan oleh orang percaya (roh yang percaya) disebut gereja; dunia yang diciptakan oleh manusia (roh manusia atau manusia) disebut negara. Tapi itu bukan dunia-ku. Aku tidak pernah mencapai

Moses Hess (secara anonim), Die europäische Triarchie [Triarki Eropa] (Leipzig, 1841, hlm 76).

sesuatu yang manusiawi dalam yang abstrak, tetapi aku selalu mencapainya dari hal yang merupakan diriku sendiri; yaitu, tindakan manusiawiku berbeda dari setiap tindakan manusia lainnya dan hanya melalui perbedaan ini tindakan nyata milikku. Manusia di dalamnya adalah abstraksi dan, dengan demikian, roh, yaitu, intisari yang diabstrakkan. Bruno Bauer menyatakan, misalnya pada halaman 84 dari Die Judenfrage, bahwa kebenaran kritik adalah kebenaran akhir, dan pada kenyataannya kebenaran yang dicari oleh kekristenan sendiri -yaitu “manusia.” Ia berkata: “Sejarah tentang dunia Kristen adalah sejarah perjuangan tertinggi untuk kebenaran, karena di dalamnya —dan hanya di dalamnya!— adalah kepedulian untuk menemukan kebenaran final atau kebenaran yang pertama —kemanusiaan dan kebebasan.” Baiklah kalau begitu, kita akan menyetujui keuntungan ini dan menganggap kemanusiaan sebagai hasil yang baru ditemukan dari Kekristenan dan upaya agama atau ideal umat manusia pada umumnya. Siapakah yang sekarang menjadi manusia? Aku! Manusia, akhir dan hasil dari Kekristenan, adalah, seperti aku, awal dan bahan yang dapat digunakan dari sejarah baru, sejarah kenikmatan setelah sejarah pengorbanan, sejarah bukan manusia atau manusia, tetapi dari -milikku sendiri. Manusia dianggap sebagai yang universal. Nah, aku dan yang egoistik sebenarnya universal, karena semua orang adalah egois dan pergi untuk dirinya sendiri tentang segalanya. Seorang beragama Yahudi misal, tidak sepenuhnya egois, karena orang Yahudi itu masih mengabdikan dirinya kepada Yehuwa; orang Kristen tidak demikian, karena orang Kristen hidup dengan karunia Allah dan menyerahkan dirinya kepadanya. Sebagai orang Yahudi dan Kristen, manusia hanya memenuhi keinginannya, hanya memenuhi kebutuhan tertentu, yang bukan kebutuhan dirinya sendiri; itu adalah egoisme yang nanggung, karena itu adalah egoisme yang setengah manusia, setengah dirinya, setengah Yahudi; setengah kepemilikan diri, setengah budak. Inilah sebabnya mengapa orang-orang Yahudi dan Kristen selalu saling mengecualikan; dengan kata lain, mereka saling mengenali sebagai manusia, tetapi mereka mengecualikan satu sama lain sebagai budak, karena mereka adalah pelayan dari dua tuan yang berbeda. Jika mereka bisa sepenuhnya menjadi egois, mereka akan benar-benar mengecualikan satu sama lain dan dengan

demikian lebih erat bersatu. Rasa malu mereka bukan karena mereka saling mengecualikan, tetapi karena mereka melakukannya hanya dengan setengah jalan. Bruno Bauer, di sisi lain, mengatakan bahwa orang Yahudi dan Kristen hanya dapat mempertimbangkan dan saling memperlakukan satu sama lain sebagai “manusia” jika mereka melepaskan intisari khusus yang memisahkan mereka dan mengikat mereka ke pemisahan abadi, mengakui intisari universal “kemanusiaan,” Dan menganggap ini sebagai “intisari sejati mereka.” Dalam catatannya, kesalahan orang Yahudi dan Kristen sama-sama terletak pada keinginan mereka untuk menjadi dan memiliki sesuatu yang “berbeda,” alih-alih hanya menjadi manusia dan berjuang untuk apa yang manusia, yaitu, “hak asasi manusia universal.” Dia berpikir kesalahan mendasar mereka terdiri dalam keyakinan mereka bahwa mereka “istimewa,” memiliki “hak istimewa,” pada umumnya dalam kepercayaan pada hak istimewa. Dia menentang ini dengan hak asasi manusia universal. Hak asasi Manusia! Manusia adalah manusia pada umumnya, dan sejauh ini, setiap orang adalah manusia. Sekarang, menurut komunis, setiap orang seharusnya memiliki hak asasi manusia yang kekal, dan menikmati diri mereka dalam “demokrasi” yang sempurna, atau sebagaimana orang seharusnya menyebutnya dengan tepat-antropokrasi. Tetapi hanya aku yang memiliki semua yang aku dapatkan untuk diriku sendiri; sebagai manusia aku tidak memiliki apapun. Seseorang ingin membiarkan segala sesuatu yang baik mengalir ke setiap manusia, hanya karena ia memiliki gelar “manusia.” Tetapi aku menekankan aku, bukan pada aku sebagai manusia. Manusia adalah sesuatu yang hanya ada sebagai kualitas (properti) diriku, seperti maskulinitas atau femininitas. Orang zaman dahulu menemukan cita-cita seseorang adalah laki-laki dalam pengertiannya penuh; kebajikan mereka adalah virtus dan aretē, yaitu, kejantanan. Apa yang seharusnya dipikirkan oleh seorang perempuan yang hanya ingin menjadi “perempuan sepenuhnya”? Itu tidak diberikan kepada mereka semua, dan beberapa akan menetapkan diri mereka sendiri sebuah tujuan yang tidak mungkin tercapai dalam hal ini. Dia, bagaimanapun juga, adalah perempuan dalam hal apapun, secara alami; feminitas adalah kualitasnya, dan dia tidak membutuhkan “feminitas sejati.”

Aku sebagai manusia, sama seperti bumi adalah sebuah planet. Konyolnya menetapkan bumi sebagai “bintang yang benar”, adalah sama konyolnya dengan membebani saya dengan seruan untuk menjadi “manusia yang benar.” Ketika Fichte berkata, “Aku adalah segalanya,” ini tampaknya selaras dengan pernyataanku. Tetapi bukan karena aku adalah segalanya, tetapi aku menghancurkan semua, dan hanya aku yang melarutkan diri, aku yang tidak pernah ada, aku —yang sebenarnya adalah aku. Fichte berbicara tentang aku yang “absolut”, tetapi aku berbicara tentang aku, aku yang sementara. Betapa mudahnya pendapat itu menyatakan bahwa manusia dan aku mengatakan hal yang sama, namun orang dapat melihat, misalnya, seperti dikatakan Feuerbach, bahwa ungkapan “manusia” seharusnya menggambarkan aku yang absolut, sebagai spesiesnya, bukan individu yang sementara, aku yang individual. Egoisme dan kemanusiaan seharusnya berarti dua hal yang sama, tetapi menurut Feuerbach individu dapat “mengangkat dirinya hanya di atas batas individualitasnya, tetapi tidak di atas hukum, kondisi esensial positif dari spesiesnya.” 201 Dengan sendirinya, spesies itu bukan apa-apa, dan jika individu mengangkat dirinya di atas batas individualitasnya, ini lebih tepatnya dia sendiri sebagai individu; dia demikian hanya selama dia mengangkat dirinya sendiri, dia demikian hanya selama dia tidak tetap seperti apa adanya; kalau tidak, dia akan berakhir, mati. [The] Manusia hanya yang ideal, spesies itu hanya sesuatu yang dipikirkan. Menjadi manusia bukan berarti memenuhi cita-cita manusia, melainkan menunjukkan dirinya sendiri, individu. Bukan bagaimana aku menyadari manusia pada umumnya yang perlu menjadi tugasku, tetapi bagaimana aku memuaskan diri sendiri. Aku adalah spesiesku, tanpa norma, tanpa hukum, tanpa model, dll. Mungkin aku dapat membuat sangat sedikit dari diriku sendiri; Namun, ini hanya sedikit, dan lebih baik dari apa yang aku izinkan untuk membuat orang lain memahami diriku, melalui pelatihan adat, agama, hukum, negara, dll. Lebih baik —jika kita berbicara yang lebih baik sama sekali— bocah nakal daripada anak yang terlalu dewasa; lebih baik manusia yang enggan daripada orang yang mau melakukan apa saja. Anak nakal dan yang enggan masih

Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity, edisi kedua yang diperbaharui (Leipzig, 1843), hlm 401.

dalam perjalanan untuk membentuk keinginannya sendiri untuk dirinya sendiri; yang mengetahui dan berkeinginan secara prematur ditentukan oleh “spesies,” persyaratan umum, dll.; ini adalah hukum baginya. Dia didefinisikan, ditentukan, olehnya: lalu, apa lagi spesies baginya selain sebagai sebuah “definisinya,” “panggilannya”? Apakah diriku memandang “kemanusiaan,” spesies, sebagai cita-cita untuk ditiru, atau pada Tuhan dan Kristus dengan hasrat yang sama, perbedaan mendasar apa yang akan ada? Paling-paling, yang pertama lebih plin-plan daripada yang terakhir. Karena individu adalah keseluruhan dari alam, maka ia adalah keseluruhan dari spesies. Segala sesuatu yang aku lakukan, pikirkan, dll., singkatnya, ekspresi atau manifestasiku, tentu memenuhi syarat tentang apakah diriku ini. Orang Yahudi, misalnya, hanya dapat menginginkan yang demikian atau lebih, hanya dapat menampilkan dirinya demikian; orang Kristen hanya dapat menampilkan dan memanifestasikan dirinya dengan cara Kristen, dll. Jika ada kemungkinan bahwa kamu bisa menjadi orang Yahudi atau Kristen, kamu tentu hanya akan membawa apa yang orang Yahudi atau Kristen jelaskan; tetapi itu tidak mungkin; melalui perubahan yang paling intens, aku masih tetap seorang egois, orang berdosa yang menentang konsep itu, yaitu, aku bukan = Yahudi. 202 Sekarang, karena egoisme selalu bersinar, beberapa telah meminta konsep yang lebih lengkap yang benar-benar sepenuhnya mengungkapkan siapa dirimu, dan bahwa, karena itu adalah sifat sejatimu, berisi semua hukum kegiatanmu. Hal yang paling sempurna dari jenis itu telah dicapai dalam “kemanusiaan.” Sebagai seorang Yahudi kamu terlalu kecil dan orang Yahudi bukanlah tugasmu; menjadi orang Yunani, orang Jerman, tidak cukup. Tetapi jadilah —manusia, maka kamu bakal memiliki segalanya; memandang manusia sebagai panggilanmu. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan

Saya telah memilih untuk menggunakan formulir yang digunakan Stirner dalam bahasa Jerman, di mana ia menulis frasa ini menggunakan simbol matematika: “Du bist nicht = Jude” –Wolfi.

katekismus * yang baru dapat ditulis. Lagi-lagi subjek tunduk pada predikat, individu terhadap sesuatu yang universal; pemerintahan sekali lagi dilindungi oleh sebuah ide, dan fondasi agama baru diletakkan. Ini adalah langkah maju dalam bidang agama, dan terutama Kristen, tidak sampai pada langkah yang melampaui itu. Langkah untuk melampaui ini mengarah kepada hal yang tak terkatakan. 203204 Bagi saya, bahasa yang menyedihkan tidak memiliki kata, dan “Firman,” Logos, bagi saya adalah “sekedar kata.” Seseorang mencari esensi saya. Jika bukan Yahudi, Jerman, dll., Bagaimanapun juga, manusia. “Manusia adalah esensi saya.” Aku mengerikan atau menjijikkan untuk diriku sendiri; Aku merasa ngeri dan jijik dengan diriku sendiri, aku adalah kekejian bagi diriku sendiri, atau, aku tidak pernah cukup untuk diriku sendiri dan tidak pernah puas untuk diriku sendiri. Dari perasaan seperti itu muncul pembubaran diri atau kritik diri. Religiusitas dimulai dengan penyangkalan diri dan diakhiri dengan kritik yang utuh. Aku kesurupan dan ingin menyingkirkan “roh jahat.” Bagaimana aku memulainya? Aku dengan yakin melakukan dosa yang bagi orang Kristen tampak sebagai sesuatu yang terburuk,

  • Katekismus adalah suatu ringkasan atau uraian dari doktrin yang umum digunakan dalam pengajaran agama Kristen (katekisasi), baik untuk anak-anak maupun dewasa -Penj. 203 “Unsagbare” juga dapat diterjemahkan sebagai “tanpa nama” atau “tidak dapat diekspresikan,” yang masing-masing membawa konotasi signifikannya sendiri bagi proyek Stirner-Wolfi. 204 Stirner kesulitan untuk mengekspresikan apa yang ia maksud, dan uraiannya berikut mungkin akan tidak memuaskan bagi beberapa orang. Saya akan menjelaskannya begini: bayangkan bahwa kehidupan kita, atau kamu, merupakan bingkai (frame) yang terus berjalan sehingga menjadi suatu rangkaian visual yang berpusat dari dan pada dirimu. Tiap bingkainya adalah unik, kamu terus menerus berubah, dan dengan demikian, tidak dapat didefinisikan, tidak dapat dijelaskan, dan tidak dapat dibandingkan. Sesuai dengan penjelasan Wolfi, “satu pribadi yang sementara di sini dan saat ini” –Penj.

dosa dan penghujatan terhadap Roh Kudus. “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama- lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” 205 Aku tidak menghendaki pengampunan dan tidak takut akan penghakiman. Manusia adalah roh jahat terakhir atau spook, pembohong paling menipu dan paling intim, yang paling licik bertampang jujur, bapa dari segala dusta. Karena si egois menentang penyimpangan dan konsep masa kini, ia tanpa henti melakukan penodaan yang paling tak terkendali. Tidak ada yang suci baginya. Adalah bodoh untuk mempertahankan bahwa tidak ada kekuatan di atas kekuatanku. Hanya sikap yang aku ambil terhadapnya akan sangat berbeda dari zaman agama: Aku akan menjadi musuh dari setiap kekuatan yang lebih tinggi, sedangkan agama mengajarkan kita untuk menjadikan kekuatan yang lebih tinggi itu sebagai teman kita dan merendahkan diri kita di hadapannya. Para penoda mengencangkan kekuatannya melawan tiap rasa takut akan Tuhan, karena takut akan Tuhan akan menentukan siapakah dia dalam segala hal yang dia pandang sebagai sesuatu yang suci. Apakah di dalam Tuhan-manusia, Tuhan atau manusia yang menjalankan kuasa pengudusan, entah apakah itu adalah sesuatu yang dianggap suci oleh Tuhan atau demi manusia (kemanusiaan), ini tidak mengubah ketakutan akan Tuhan, karena manusia dihormati sebagai “makhluk tertinggi” 206 seperti halnya dari sudut pandang agama yang khusus, Allah dipandang sebagai “makhluk tertinggi” yang membutuhkan rasa takut dan hormat kita²⁰⁷, dan keduanya memberi kesan pada kita.

205 Markus 3:29. 206 “Höchstes Wesen” juga dapat diterjemahkan sebagai “esensi tertinggi,” frasa yang penting dari sudut pandang filsafat Hegelian. Dalam konteks ini, Stirner pasti bermaksud menggunakan kedua arti tersebut, karena ia tanpa henti dalam ejekannya baik pada agama dan kategori dan istilah Hegelian – Wolfi. Ada sedikit permainan kata yang hilang dalam terjemahan di sini. Dalam bahasa Jerman, ketakutan adalah Furcht dan hormat adalah Ehrfurcht –Wolfi.

Ketakutan akan Tuhan, dengan demikian, menderita kejutan sejak lama, dan “ateisme” yang kurang lebih sadar, yang secara eksternal dapat dikenali dalam “ketidaktentraman” yang meluas, yang telah secara tak sadar menjadi suatu corak. Tetapi apa yang diambil dari Tuhan telah ditambahkan ke manusia, dan kekuatan manusia meningkat pada tingkatan yang sama dengan yang dimiliki oleh orang yang saleh, “manusia” adalah Tuhan masa kini, dan ketakutan akan kemanusiaan telah menggantikan ketakutan lama akan Tuhan. Tetapi karena manusia hanya menyatakan makhluk tertinggi lain, pada kenyataannya, tidak ada yang terjadi selain metamorfosis pada makhluk tertinggi yang lain, dan rasa takut terhadap manusia pada dasarnya hanyalah bentuk modifikasi dari yang dulunya merupakan rasa takut akan Tuhan. Orang-orang ateis kita ini sebenarnya adalah orang-orang saleh, yang beriman. Jika dalam masa yang kita sebut sebagai feodal kita memegang segala sesuatu sebagai perdikan dari Allah, kita menemukan dalam periode liberal hubungan feodal yang sama terjadi juga dengan manusia. Tuhan adalah Tuhan, sekarang manusia adalah Tuhan; Tuhan adalah penghubung, sekarang digantikan manusia; Tuhan adalah roh, sekarang manusia yang adalah roh. Dengan cara melipatgandakan tiga kali ini, hubungan feodal telah mengalami perubahan. Untuk saat ini, yang terutama, kita memegang kekuasan kita sebagai perwujudan dari umat manusia yang sangat kuat, dan karena kekuasan ini berasal dari makhluk yang lebih tinggi, itu tidak disebut kekuasan atau kekuatan, melainkan lebih sebagai “hak”: “hak asasi manusia”; kami lebih jauh lagi memegang posisi kami di dunia sebagai seorang perdikan darinya, karena penghubung menyambungkan hubungan kami, yang karenanya mungkin tidak lain dari “manusia”; akhirnya, kita menganggap diri kita sebagai bagian darinya, yaitu, nilai kita sendiri, atau semua yang kita hargai, karena kita sama sekali tidak bernilai apa-apa ketika itu tidak tinggal di dalam kita, dan ketika atau di mana kita bukan “manusia.” Kekuasaan adalah milik manusia, dunia adalah milik manusia, aku adalah milik manusia. Tetapi apakah aku tidak bisa menyatakan diriku sebagai penama, penghubung dan sebagai diriku sendiri? Maka hal itu akan berjalan seperti ini:

Kekuatanku adalah milikku. Kekuatanku memberikan-ku apa yang aku miliki. Kekuatanku adalah diriku sendiri, dan melalui itu aku menjadi milikku.

I. KEKUATANKU Hak adalah roh dari masyarakat. Jika masyarakat memiliki
kehendak, maka kehendak ini sederhananya adalah hak: ia terdapat hanya melalui hak. Tapi semenjak hal itu ada hanya dengan melatih penguasaan atas seseorang, hak adalah kedaulatan kehendak. Aristoteles mengatakan keadilan adalah kemajuan dari sebuah masyarakat. Seluruh hak yang ada sebenarnya adalah –hak yang asing, itu adalah hak yang “diberikan” padaku, “yang dengan benar aku lakukan.” Tetapi apakah karena itu, aku akan dalam hak jika seluruh dunia memberikan hak pada diriku? Dan belum lagi apa hak yang aku dapatkan dalam kondisi begini, dalam masyarakat, selain hak dari orang yang asing? Ketika orang bodoh membuat aku keluar untuk menjadi hak, aku akan mencurigai hak milikku; aku tidak suka dia menerima bahwa aku berhak. Tetapi bahkan ketika orang bijak menjamin bahwa saya berhak, aku tetap tidak berhak karena alasan ini. Apakah aku berhak, hal itu sepenuhnya terlepas dari orang bodoh atau orang bijak yang telah memberikannya padaku. Sekalipun demikian, kita telah mengusahakan hal ini sampai sekarang. Kita mencari hak dan beralih ke pengadilan untuk mencapainya. Kemana? Apalagi kalau bukan kepada kerajaan, kepausan, pengadilan rakyat, dll. Bisakah pengadilan sultan berbicara tentang hak yang lain, selain yang telah dinyatakan oleh sultan sebagai sebuah hak? Dapatkah itu memberikanku sebuah hak ketika aku mencari hak yang tidak disetujui sebagai sebuah hak oleh sultan sendiri? Bisakah itu memberikanku, misalnya, pengkhianatan tingkat tinggi atau pemberontakan pada sultan sebagai hak, karena itu tentu saja bukan hak berdasarkan pikiran sultan? Tentang pengadilan sensor, dapatkah badan ini memberikanku kebebasan berpendapat sebagai hak, karena sultan tidak ingin mendengar apa pun tentang hak milikku ini? Apa yang aku cari dari pengadilan ini? Aku mencari hak sultan, bukan hak milik diriku, aku mencari —hak yang asing. Selama hak yang

asing ini setuju dengan milikku, sudah pasti, aku akan menemukan haknya juga. Negara tidak mengizinkanmu untuk berselisih satu sama lain; ia melarang terjadinya duel. Bahkan perkelahian, bahkan meskipun tak satu pun dari para petarung memanggil polisi, akan dihukum, kecuali ketika itu bukan aku yang memukul-mu, tetapi, misalkan, seorang kepala keluarga yang memukul seorang anak. Keluarga berhak atas ini²⁰⁸, dan itu terjadi atas nama sang ayah; aku sebagai yang unik tidak demikian. Vossische Zeitung²⁰⁹ menyajikan kepada kita mengenai “keadaan hak.” Di sana dituliskan bahwa semuanya seharusnya diputuskan oleh hakim dan pengadilan. Pengadilan sensor tertinggi menganggapnya sebagai “pengadilan” di mana “hak dibebaskan”. Hak macam apa? Hak untuk menyensor. Untuk mengakui putusan pengadilan itu sebagai hak, seseorang harus menganggap sensor sebagai hak. Tetapi orang-orang masih percaya bahwa pengadilan ini menawarkan perlindungan. Ya, perlindungan terhadap kesalahan sensor individu: itu hanya melindungi legislator terhadap sensor dari interpretasi yang salah atas kehendaknya, tetapi membuat hukumnya menjadi keras terhadap para penulis melalui “kekuatan suci sebuah hak.” Entah apakah saya berhak atau tidak, tidak ada hakim selain diriku sendiri. Soal itu, orang lain hanya bisa menilai apakah mereka setuju dengan hakku, dan apakah itu ada untuk mereka juga. Sekarang mari kita selesaikan masalah ini dengan cara lain. Aku seharusnya menghormati hak sultan di kesultanan, hak-hak rakyat di republik, hak kanonik di paroki-paroki Katolik, dll. Aku seharusnya menundukkan diriku sendiri pada hak-hak ini; aku seharusnya menganggap mereka sebagai yang suci. “Rasa benar” dan “pikiran legal” tertanam begitu kuat di kepala orang-orang sehingga orang-orang paling revolusioner di zaman kita

208 Tentu saja, ini bukan lagi menjadi masalahnya. Sekarang negara akan ikut campur bahkan ketika seorang ayah memukuli anaknya, karena anak itu, secara hukum, pertama-tama menjadi milik negara, dan anak itu hanya menjadi milik keluarga hanya dengan seizin negara. Surat kabar Jerman liberal terkenal yang diterbitkan di Berlin (1721–1934).

ingin menjadikan kita sebagai “hak suci” yang baru, “hak masyarakat,” kelompok sosial, dan hak kemanusiaan, “hak untuk semua,” dan seterusnya. Hak “untuk semua” ini seharusnya berada di sebelah kanan-ku. Namun, sebagai hak untuk semua orang, itu juga akan menjadi hakku, karena aku termasuk dalam apa yang disebut sebagai semua itu tadi; tetapi pada saat yang sama itu merupakan hak orang lain, atau bahkan yang lainnya, tidak menggerakkanku untuk mempertahankannya. Aku tidak akan mempertahankannya sebagai hak untuk semua orang, tetapi sebagai hak milik-ku; dan semua orang dapat melihat bagaimana dia mempertahankannya untuk dirinya sendiri juga. Hak semua (misalnya, hak untuk makan) adalah hak setiap individu. Biarkan masing-masing menjaga hak ini tanpa gangguan untuk dirinya sendiri maka semua berlatih secara spontan; tapi jangan biarkan dia mengurus semuanya, jangan biarkan dia bekerja keras untuk itu semua. Tetapi para reformis sosial mengajarkan kepada kita soal “hak masyarakat.” Di sana individu tersebut menjadi budak masyarakat, dan hanya berhak ketika masyarakat memberikan dia hak, yaitu, ketika dia hidup sesuai dengan hukum masyarakat, dan dengan demikian —setia. Apakah aku menjadi seorang setia dalam rezim yang lalim atau dalam “masyarakat” àla Weitling, 210 itu berarti kita kekurangan hak yang sama, dalam kedua kasus itu aku tidak memiliki hak milikku sendiri, melainkan memiliki hak yang asing. Dengan hak orang-orang selalu bertanya: “Apa atau siapa yang memberikan saya sebuah hak?” Jawabannya: Tuhan, cinta, nalar, alam, kemanusiaan, dll. Tidak, melainkan hanya kekuatanmu, kekuatanmu lah yang memberikanmu hak (nalarmu, misal, mungkin memberikannya kepadamu). Komunisme, yang menganggap bahwa umat manusia “memiliki hak yang sama dari alam,” membantah pokok pikirannya sendiri sampai-sampai manusia pada dasarnya tidak memiliki hak sama sekali. Karena tidak ingin mengakui, misalnya, bahwa orang tua memiliki hak “secara alami” terhadap anak-anak mereka atau anak-anak terhadap orang tua mereka; itu menghapuskan keluarga. Alam memberi orang tua, saudara kandung, dll., tidak

Seorang sosialis utopis Jerman yang mempromosikan komunisme melalui semacam doktrin Kristen radikal.

ada hak sama sekali. Bagaimanapun juga, seluruh prinsip²¹¹ revolusioner atau Babouvis²¹² ini bertumpu pada sudut pandang agama yang salah. Siapa yang bisa meminta “hak” jika dia sendiri tidak datang dari sudut pandang agama? Bukankah “hak” adalah konsep agama, mis., sesuatu yang sakral? “Kesetaraan hak,” seperti yang dikemukakan dalam revolusi-revolusi, hanyalah bentuk lain dari “kesetaraan Kristen,” “kesetaraan saudara- saudara, anak-anak Allah, umat Kristen, dll.”; singkatnya, fraternité. Setiap dan segala pemeriksaan atas hak pantas dicambuk dengan kata-kata Schiller:

Bertahun-tahun saya menggunakan hidung saya Untuk mencium wewangian bawang dan mawar; Adakah bukti yang dapat menunjukkan Bahwa saya berhak atas hidung yang sama? 213

Ketika revolusi menetapkan kesetaraan sebagai sebuah “hak”, ia lari ke ranah keagamaan, wilayah yang sakral, dan yang ideal. Karena itu, sejak saat itu, perjuangan untuk “hak asasi manusia yang sakral dan tidak dapat dicabut.” Melawan “hak asasi abadi”, “hak yang diperoleh dengan baik dari tatanan yang ada” ditegaskan secara alami dan dengan hak yang sama: hak terhadap hak, di mana tentu saja yang satu dikecam oleh yang lain sebagai

211 Lihat Die Kommunisten in der Schweiz nach den bei Weitling vorgefundenen Papieren. Wortlicher Abdruck dew Kommissionalberichtes an die H. Regierung des Standes Zürich (Zurich, 1843), hlm 3. 212 Babouvist adalah sebutan bagi pendukung Francois Noël (Gracchus) Babeuf, seorang yang mengkampanyekan komunisme egaliter radikal yang aktif dalam revolusi Prancis, yang mengorganisir “Konspirasi Setara” [Conspiracy of the Equals] untuk menggulingkan Direktori, komite lima anggota yang memerintah Prancis dari 2 November 1795-9 November 1799, yang menurutnya telah mengkhianati cita-cita revolusi. Dia ditangkap, bunuh diri, tetapi masih dipenggal. Dari Xenien, koleksi epigram satir yang diterbitkan bersamaan oleh Goethe dan Schiller.

yang “salah.” Ini telah menjadi pertarungan hak²¹⁴ sejak revolusi. Kamu ingin “berada di sebelah kanan” melawan yang lain. Kamu tidak bisa melakukan ini; melawan mereka kamu tetap selamanya “dalam kesalahan”; karena memang mereka tidak akan menjadi lawanmu jika mereka tidak berada di “hak mereka” juga; mereka akan selalu membuat kamu menjadi “salah.” Tapi hakmu melawan yang lain lebih tinggi, lebih besar, lebih kuat, bukan? Tidak semuanya! Hakmu tidak lebih kuat jika kamu tidak lebih kuat. Apakah orang Tionghoa²¹⁵ memiliki hak atas kebebasan? Berikan saja kepada mereka saat itu, dan lihat betapa kamu telah membuat kesalahan besar: karena mereka tidak tahu bagaimana caranya menggunakan kebebasan, mereka tidak berhak untuk itu, atau, lebih jelasnya, karena mereka tidak memiliki kebebasan, mereka tidak punya hak untuk itu. Anak-anak tidak memiliki hak untuk menjadi mayoritas karena mereka belum dewasa, yaitu, karena mereka adalah anak-anak. Orang-orang yang membiarkan diri mereka tidak dewasa tidak memiliki hak untuk menjadi mayoritas; hanya ketika mereka berhenti menjadi tidak dewasa maka mereka akan memiliki hak untuk menjadi mayoritas. 216 Ini tidak lain tidak

214 “Rechtsstreit” biasanya merujuk pada gugatan atau perkara hukum. 215 Rujukan soal “Cina dan Jepang” dan pada “Cina” dan “Jepang” adalah taktik yang digunakan Stirner untuk menghindari sensor yang mereka perjuangkan. Tetapi di luar ini, ini juga merupakan lelucon dengan mengorbankan teori-teori sejarah dan budaya yang lazim di kalangan Hegelian dan intelektual Jerman lainnya pada waktu itu. Stirner telah menggunakan teori-teori ini secara mengejek di bagian “Manusia Zaman Dulu dan yang Baru” yang berjudul “Hierarki.” 216 Ada beberapa cara yang memungkinkan untuk menerjemahkan bagian ini yang dimainkan berdasarkan mayoritas dan minoritas dalam pengertian hukum yang berkaitan dengan usia hukum, tetapi juga pada kedewasaan dan ketidakdewasaan. Saya telah memilih untuk menerjemahkannya dengan cara ini untuk lebih memperjelas poin Stirner bahwa “hak” untuk dipertimbangkan dari “usia” tidak terletak pada sesuatu yang diberikan kepada seseorang, tetapi dalam kapasitas dan kemauan seseorang untuk bertindak “dewasa” atau “bertanggung jawab.” Dengan

bukan berarti: kekuatan apa yang kamu miliki untuk dapat menjadi demikian, kamu memiliki hak untuk itu. Aku memperoleh semua hak dan otorisasi dari diriku sendiri; Aku terlekat pada kuasa apapun yang aku miliki. Aku berhak untuk menggulingkan Zeus, Yehuwa, Tuhan, dll., jika aku bisa. Jika aku tidak bisa melakukannya, para dewa ini akan selalu tetap di samping hakku dan berkuasa melawanku, tetapi aku akan takut akan hak dan kekuasaan mereka dalam “takut akan Tuhan,” akan menaati perintah mereka dan percaya aku melakukan yang benar dalam semua yang aku lakukan demi hak mereka, sama seperti penjaga perbatasan Rusia menganggap diri mereka berwenang menembak mati tersangka hingga tewas, karena mereka membunuh atas “otoritas yang lebih tinggi,” yaitu, “hak.” Tapi aku sendiri berwenang untuk membunuh jika aku tidak melarangnya untuk diriku sendiri, jika aku sendiri tidak takut membunuh sebagai suatu hal yang “salah.” Pandangan ini menjadi dasar puisi Chamisso, Das Mordtal, 217 di mana pembunuh India yang beruban itu mendapatkan rasa hormat dari orang kulit putih yang saudara- saudaranya dia bunuh. Satu-satunya hal yang tidak diizinkan untuk aku lakukan adalah apa yang tidak aku lakukan dengan keberanian yang cuma-cuma, yaitu, apa yang tidak aku izinkan pada diriku untuk lakukan. Aku memutuskan apakah terdapat hak dalam diriku; di luar diriku tidak ada hak yang lain. Mungkin, ini tidak akan membuatnya menjadi hak bagi yang lain lain; itu masalah mereka, bukan aku: mereka dapat membela diri mereka sendiri. Dan jika sesuatu tidak tepat untuk seluruh dunia, tetapi tepat bagiku, yaitu, aku yang menginginkannya, maka aku tidak akan bertanya apapun tentang seluruh dunia. Inilah yang dilakukan setiap orang yang tahu bagaimana menilai dirinya sendiri, setiap orang sampai-sampai dia egois, karena kekuasaan berjalan di depan hak, dan itu —cukup tepat. Karena aku “secara alamiah” adalah manusia, Babeuf berkata, aku memiliki hak yang sama untuk menikmati semua barang. Bukankah seharusnya dia juga mengatakan: karena aku “pada hakikatnya” seorang pangeran yang sulung, aku berhak

kata lain, seseorang memberi yang mayoritas pada dirinya sendiri dengan cara bagaimana seseorang bertindak –Wolfi. “Lembah Pembunuhan”.

atas takhta? Hak asasi manusia dan hak yang “berpenghasilan baik” datang ke hal yang sama, yaitu, ke alam, yang memberikanku sebuah hak, yaitu, untuk lahir (dan, selanjutnya, warisan, dll.). “Aku dilahirkan sebagai manusia” sama dengan: “Aku dilahirkan sebagai putra raja.” Manusia alami hanya memiliki hak alami, dengan alasan kekuasaan, dan klaim alami: ia memiliki hak kesulungan dan kelahiran. Tetapi alam tidak dapat memberikan aku hak, yaitu, memungkinkanku atau membuatku kuat, untuk itu hanya tindakanku yang memberikan padaku sebuah hak. Bahwa anak raja menempatkan dirinya di atas anak-anak lain, bahkan itu adalah tindakannya, yang menjamin kepadanya hak istimewa; dan bahwa anak-anak lain menyetujui dan mengenali tindakan ini, itulah tindakan mereka, yang membuat mereka layak —untuk menjadi subjek, menjadi yang tunduk, di bawah. Entah apakah itu alam, atau Tuhan, atau pilihan rakyat, yang memberikan aku hak, itu semua sama saja hak yang asing, itu semua adalah hak yang tidak aku berikan atau ambil untuk diriku sendiri. Jadi, kaum komunis berkata: kerja yang setara membuat orang menikmati kesenangan yang setara. Dulu, orang-orang mengajukan pertanyaan apakah yang “berbudi luhur” tidak boleh “bahagia” di bumi. Orang-orang Yahudi benar-benar menyimpulkan: “Agar hal itu berjalan baik bersama kamu di bumi.” Tidak, kerja yang setara tidak membuat kamu berhak atas hal itu, tetapi kenikmatan yang setara saja membuat kamu menikmati kesenangan yang sama. Nikmati, maka kamu berhak menikmati. Jika kamu telah bekerja dan membiarkan kenikmatan direnggut darimu, maka— “Ini menyediakan hak bagimu.” Jika kamu mencoba menikmati, itu adalah hakmu; tetapi jika sebaliknya, kamu hanya mendambakannya tanpa membantu dirimu sendiri untuk mendapatkannya, itu tetap, seperti sebelumnya, hak “yang diperoleh dengan baik” dari mereka yang memiliki hak istimewa untuk kesenangan. Itu adalah hak mereka, karena dengan membantu dirimu sendiri itu kemudian akan menjadi hak-mu. Perselisihan tentang “hak properti” terhuyung dalam agitasi yang keras. Negara komunis: “Bumi adalah milik orang-orang yang memilikinya, dan produk-produk yang sama milik mereka

yang menghasilkannya.” 218 Aku pikir itu milik orang yang tahu bagaimana cara mengambilnya, atau yang tidak membiarkan itu diambil darinya, yang tidak membiarkan dirinya dirampas. Jika dia mengambilnya, maka bukan hanya bumi, tetapi juga hak atas hal tersebut, menjadi miliknya. Ini benar-benar hak yang egoistik, yaitu, itu tepat untukku, oleh karena itulah hak. Sebaliknya hak sederhananya memiliki “hidung lilin.” Macan yang menyerangku memiliki hak, dan aku, yang menjatuhkannya, juga memiliki hak. Aku tidak membela hak-ku saat melawannya, tetapi lebih karena membela diriku sendiri. Karena hak asasi manusia selalu merupakan sesuatu yang diberikan, hak itu selalu menjadi hak yang orang berikan, yaitu, “yang dijamin,” satu sama lain. Jika seseorang memberikan hak eksistensi kepada anak-anak yang baru lahir, maka mereka memiliki hak; jika seseorang tidak memberikannya kepada mereka, seperti yang terjadi di antara orang-orang Sparta dan Romawi kuno, maka mereka tidak memilikinya. Karena hanya masyarakat yang dapat memberikan atau menyerahkannya kepada mereka; mereka sendiri tidak dapat mengambil atau memberikannya kepada diri mereka sendiri. Seseorang kemudian akan menyatakan keberatan: anak-anak masih memiliki hak untuk hidup “secara alami”; hanya orang Sparta yang menolak pengakuan akan hak ini. Tapi kemudian mereka tidak punya hak untuk pengakuan ini, tidak lebih dari, mereka harus mengakui kehidupan mereka oleh binatang buas yang mereka lempar. Orang-orang berbicara banyak tentang hak kelahiran, dan mengeluh:

Itu—sayang!—bukanlah sebuah pertanyaan Dari hak yang telah melahirkan kami.

Jadi hak macam apa yang akan terlahir bersama diriku? Hak untuk menjadi pewaris anak sulung, untuk mewarisi takhta, untuk menikmati pendidikan bangsawan atau yang terhormat; atau, sekali lagi, karena orang tua yang miskin membuatku, untuk — mendapatkan sekolah gratis, untuk berpakaian yang kudapat dari sumbangan amal, dan akhirnya mendapatkan roti dan ikan

August Becker, Die Volksphilosophie unserer Tage (Neumünster near Zurich, 1843), hlm 22.

haringku di tambang batu bara atau kursi penenun? Bukankah ini hak kelahiranku, hak yang telah turun kepadaku dari orang tuaku sejak aku lahir? Kamu berpikir —tidak; kamu berpikir, ini adalah hak yang tidak pantas disebut; ini hanyalah hak yang kamu telah berusaha untuk hapuskan melalui hak kelahiran yang nyata. Untuk menegakkan ini, kamu kembali ke hal paling sederhana dan menyatakan bahwa setiap orang sejak lahir sama dengan yang lain, yaitu, manusia. Aku akan memberi kamu bahwa semua orang dilahirkan sebagai manusia, oleh karena itu bayi yang baru lahir setara satu sama lain dalam hal ini. Kenapa mereka? Hanya karena mereka muncul dan bertindak tidak lain dari sekadar —anak manusia, manusia kecil telanjang. Tetapi karena itu mereka segera berbeda dari mereka yang telah membuat sesuatu dari diri mereka sendiri dan tidak lagi sekadar “anak manusia,” melainkan -anak-anak ciptaan mereka sendiri. Yang terakhir memiliki lebih dari sekedar hak lahir: mereka telah memenangkan hak. Betapa kontrasnya, medan perang yang luar biasa! Pertempuran lama antara hak asasi manusia sejak lahir dan hak yang dimenangkan dengan baik. Teruslah memohon hak lahirmu; orang tidak akan gagal untuk menentangmu dengan hak mereka yang dimenangkan dengan baik. Keduanya berdiri di “tanah yang benar”; karena masing-masing dari keduanya memiliki “hak” terhadap yang lain, yang satu bawaan atau hak alami, yang lain menang atau hak “yang dimenangkan dengan baik.” Jika kamu tetap dengan alasan hak, kamu tetap berada dalam— kesombongan. 219 Yang lain tidak bisa memberikanmu hak

219 “Aku mohon, biarkan saja paru-paruku! Seseorang yang bersikeras untuk menjadi benar dan hanya memiliki lidah, memang akan benar!” [Komentar Penerjemah: Stirner memasukkan salah kutipan yang kelihatannya dari Faust Goethe ini sebagai catatan di sini. Kalimat di atas yang ditambahkan catatan ini adalah permainan kata. “Land of right” adalah Rechtsboden dan “arogance” adalah Rechthaberei. Kata terakhir ini memiliki beberapa kemungkinan terjemahan, di antaranya “sikap sok tahu atas segalanya,” “sikap mementingkan diri sendiri” (seperti yang dipilih Byington), “suka memerintah,” “tidak suka berperang,” “dogmatisme,” dan “kesombongan.” Keduanya (misalnya) kutipan dan konteks berikut menunjukkan bahwa “kesangkalan” atau “kesombongan” paling dekat dengan

milikmu; dia tidak bisa “berbuat yang berhak” daripadamu. Siapa pun yang memiliki kekuatan memiliki —hak; jika kamu tidak memiliki yang pertama, yaitu kekuatan, maka kamu juga tidak akan memiliki yang pertama. Apakah kebijaksanaan ini begitu sulit untuk dicapai? Lihat saja yang kuat dan perbuatan mereka! Tentu saja, yang kita bicarakan di sini hanya Cina dan Jepang. Coba sekali saja, kamu yang orang Cina dan Jepang, untuk membuat mereka salah, dan belajar dari pengalaman bagaimana mereka memasukkan dirimu ke dalam penjara. (Hanya jangan bingung dengan “saran yang bermaksud baik” yang —di negeri Cina dan Jepang— diizinkan, karena mereka tidak menghalangi yang kuat, tetapi mungkin membantunya.) Bagi siapa pun yang ingin membuat mereka menjadi berada di jalan yang salah, hanya satu cara yang terbuka untuk melakukan itu, yaitu kekuatan. Jika dia merampas kekuatan mereka, maka dia benar-benar membuat mereka menjadi salah, merampas hak mereka; dalam kasus lain, ia hanya bisa membuat kepalan kecil di sakunya atau menjadi korban sebagai orang yang tidak sopan. Singkatnya, jika kamu seorang Cina dan Jepang tidak meminta hak, jika kamu tidak bertanya, khususnya, setelah hak “yang terlahir bersamamu,” maka kamu tidak perlu lagi bertanya atas hak yang dimenangkan dengan baik juga. Kamu mundur dari orang lain, karena kamu percaya bahwa kamu melihat di sebelah mereka ada hantu hak, yang, seperti dalam pertempuran Homerus, tampaknya bertempur seperti seorang dewi di pihak mereka, membantu mereka. Apa yang kamu kerjakan? Apakah kamu melemparkan tombak? Tidak, kamu menyelinap untuk memenangkan hantu bagi dirimu sendiri, sehingga ia bertarung di pihakmu: kamu merayu hantu untuk kebaikannya. Yang lain hanya akan menanyakan ini: Apakah aku menginginkan apa yang diinginkan musuhku? “Tidak!” Nah, meskipun seribu iblis atau dewa mungkin bertarung untuknya, aku masih akan menyerang dia. “Hak berbasis negara,” seperti yang didukung oleh Vossische Zeitung, tuntutan-tuntutan hanya boleh dihapuskan oleh hakim, bukan oleh administrasi. Ilusi yang sia-sia. Jika ditentukan oleh hukum bahwa seorang pejabat yang terlihat

apa yang dimaksud Stirner. Saya memilih yang terakhir atas saran seorang teman -Wolfi]

mabuk sekali harus kehilangan kantornya, hakim harus menghukumnya atas perkataan para saksi, dll. Singkatnya, legislator hanya perlu memberikan semua kemungkinan alasan yang memerlukan hilangnya jabatan, betapapun menggelikannya mereka (misalnya, orang yang tertawa di wajah atasannya, orang yang tidak pergi ke gereja setiap hari Minggu, orang yang tidak menerima Komuni setiap empat minggu, orang yang memiliki hutang, satu orang yang melibatkan dirinya dalam urusan kotor, orang yang tidak menunjukkan tekad, dll, harus dihapus. Legislator mungkin berpikir untuk menetapkan hal-hal ini, misalnya melalui pengadilan kehormatan); maka hakim hanya perlu menyelidiki apakah terdakwa “bersalah” atas “pelanggaran” tersebut, dan setelah mengajukan bukti terhadapnya, “dengan menggunakan hak” mengucapkan hukuman penghapusan. Hakim hilang ketika dia berhenti menjadi mekanik, ketika “aturan bukti meninggalkan” ia. Maka dia hanya memiliki pendapat, seperti orang lain, dan jika dia memutuskan menurut pendapat ini, maka ini bukan lagi tindakan resmi. Sebagai hakim, ia harus memutuskan hanya berdasarkan hukum. Aku lebih suka parlemen Perancis yang lama, yang ingin memeriksa sendiri apa yang seharusnya menjadi masalah hak, dan hanya ingin mendaftar setelah persetujuan mereka sendiri. Mereka setidaknya menilai berdasarkan hak mereka sendiri, dan tidak bersedia untuk menjadi mesin legislatif, meskipun tentu saja, sebagai hakim, mereka harus menjadi mesin mereka sendiri. Orang mengatakan bahwa hukuman itu adalah haknya para penjahat. Tapi impunitas adalah haknya juga. Jika dia berhasil dalam usahanya, itu bermanfaat baginya, dan jika dia tidak berhasil, itu juga bermanfaat baginya. Kamu membuat tempat tidurmu dan berbaring di atasnya. Jika seseorang secara sembrono masuk ke dalam bahaya dan mati di atasnya, kita mungkin akan mengatakan: “itu memberikan baginya hak, dia tidak menginginkan yang lebih baik.” Tetapi jika dia mengatasi bahaya, yaitu, kekuatannya menang, dia juga akan berada dalam hak. Jika seorang anak bermain dengan pisau dan memotong dirinya sendiri, itu berguna baginya; tetapi jika dia tidak memotong dirinya sendiri, ini juga bermanfaat baginya. Dengan demikian, hak pasti menimpa penjahat ketika dia menderita apa yang menjadi risiko dia; kami juga bertanya mengapa ia mengambil risiko, karena ia tahu konsekuensi yang mungkin terjadi! Tetapi hukuman

yang kita berikan kepadanya hanyalah hak kita, bukan haknya. Hak kita bereaksi terhadapnya, dan dia “salah” karena —kita menanganinya. *** Tetapi apa yang benar, apa yang merupakan hal yang benar dalam masyarakat, juga sampai pada kata-kata —dalam hukum. Apa pun hukumnya, itu harus dihormati oleh —warga negara yang setia. Demikianlah pikiran hukum Inggris Kuno ini dipuji. Ini sepenuhnya sesuai dengan pepatah Euripidean (Orestes, 412): “Kami melayani para dewa, apa pun dewa-dewa itu.” Hukum pada umumnya, para dewa pada umumnya, sejauh itulah kita untuk saat ini. Orang-orang mencoba untuk membedakan hukum dari perintah yang sewenang-wenang, dari tata cara: yang pertama berasal dari otoritas yang sah. Tetapi hukum atas tindakan manusia (hukum etis, hukum negara, dll.) selalu merupakan deklarasi kehendak, dan dengan demikian juga perintah. Ya, bahkan jika aku menyerahkan diriku sendiri pada hukum, itu hanya akan menjadi perintahku, yang selanjutknya dapatku tidak patuhi. Seseorang dapat dengan jelas menyatakan apa yang ingin dia lakukan, dan dengan demikian, melalui hukum, menolak untuk mentolerir yang sebaliknya, jika tidak dia akan memperlakukan pelanggar sebagai musuhnya; tetapi tidak ada yang memiliki perintah atas tindakan-ku, untuk meresepkannya padaku atau membuat undang-undang untukku tentang mereka. Aku harus mempertunjukan pada dia yang memperlakukan aku sebagai musuh-nya, tetapi tidak pernah dengan dia memperlakukan aku sebagai ciptaan-nya, atau dengan dia membuat alasan-nya, atau bahkan tanpa alasan, pedomanku. Negara hanya bertahan selama ada kehendak berkuasa dan kehendak berkuasa ini dianggap sama dengan kehendak seseorang sendiri. Kehendak para tuan adalah —hukum. Apa gunanya hukummu bagimu ketika tidak ada yang mengikutinya; apa gunanya perintahmu, ketika tidak ada yang membiarkan dirinya diperintahkan? Negara tidak dapat menyerahkan klaimnya untuk menentukan kehendak individu, untuk mengira-ngira dan mengandalkan hal itu. Bagi negara, mutlak diperlukan bahwa tidak seorang pun memiliki kehendaknya sendiri; jika seseorang memilikinya, negara harus mengecualikan (memenjarakan, mengusir, dll) orang tersebut; begitu pun sebaliknya, jika semua

orang memiliki kehendak, mereka akan menyingkirkan negara. Negara tidak dapat dipikirkan tanpa dominasi dan perbudakan (penundukan); karena negara harus berkehendak untuk menjadi penguasa dari semua yang dikandungnya, dan kehendak ini disebut “kehendak negara.” Siapa pun yang mesti mengandalkan kurangnya kemauan pada orang lain untuk tetap eksis adalah produk yang buruk dari yang lain, karena keberadaan tuan adalah hasil yang buruk dari budak. Jika perhambaan berhenti, ketuanan akan berakhir pula. Kehendakku sendiri adalah penghancuran negara; karena itu yang terakhir mencela hal tersebut sebagai “kehendak sendiri.” Kehendak sendiri dan negara adalah kekuatan dalam permusuhan yang mematikan, di antaranya tidak ada “perdamaian abadi” 220 yang memungkinkan. Selama negara berpijak, ia akan menggambarkan kehendaknya sendiri, lawannya yang selalu bermusuhan, sebagai sesuatu yang tidak rasional, jahat, dll.; dan yang terakhir membiarkan dirinya dibicarakan mengenai hal ini, bahwa memang benar demikian, hanya karena ia masih membiarkan dirinya dibicarakan hal ini: ia belum sampai pada dirinya sendiri dan pada kesadaran akan martabatnya, dan karenanya masih belum lengkap dan mudah dibujuk. Setiap negara adalah despotisme, apakah despot itu oleh satu atau banyak orang, atau, seperti sebagian orang membayangkan republik, semuanya menjadi penguasa, mis., memainkan despotisme satu sama lain. Ini adalah kasus setiap kali suatu hukum tertentu, kehendak yang diungkapkan mungkin dalam pendapat majelis rakyat, sejak saat itu harus berdasarkan hukum bagi individu, yang kepadanya ia berutang ketaatan, atau yang kepadanya ia memiliki tugas kepatuhan. Bahkan jika seseorang membayangkan kasus di mana setiap individu dalam rakyat telah menyatakan keinginan yang sama, dan melalui ini “kehendak kolektif” sepenuhnya muncul, masalahnya akan tetap sama. Tidakkah aku akan terikat hari ini dan kelak esoknya oleh kehendakku sendiri kemarin? Kehendak diriku dalam hal ini akan dibekukan. Stabilitas yang melelahkan. Ciptaanku, yaitu ungkapan keinginan tertentu, akan menjadi komandanku. Tetapi aku dalam kehendakku, aku adalah pencipta, akan terhambat dalam arus dan

Merujuk pada esai Kant, Perpetual Peace: A Philosophical Sketch.

pembubaran diri. Karena kemarin aku bodoh, aku harus tetap menjadi salah satu dari sisa hidupku. Jadi dalam kehidupan negara, aku berada dalam kasus terbaik —aku bisa juga mengatakan kasus terburuk— seorang budak bagi diriku sendiri. Karena kemarin aku adalah seorang walikota, hari ini aku kurang berkehendak, kemarin sukarela, hari ini terpaksa. Bagaimana cara mengubahnya? Hanya dengan mengakui bahwa tidak ada yang namanya kewajiban, yaitu, dengan tidak mengikat diriku atau membiarkan diriku terikat. Jika aku tidak memiliki kewajiban, maka aku juga tidak mengenal hukum. “Tapi mereka akan mengikatku!” Tidak ada yang bisa mengikat kehendakku, dan keenggananku tetaplah bebas. “Kenapa, semuanya bakal kacau-balau, jika semua orang bisa melakukan apa yang dia inginkan!” Nah, siapa yang mengatakan bahwa semua orang bisa melakukan segalanya? Untuk apa kamu di sana, kamu yang tidak perlu menanggung segalanya? Pertahankan dirimu, dan tidak ada yang akan melakukan apa pun padamu! Siapa pun yang ingin menghancurkan kehendakmu sedang berurusan dengan kamu, dan menjadi musuh-mu. Bertindak melawannya seperti itu. Jika beberapa juta berdiri di belakangmu untuk perlindunganmu, maka kamu adalah kekuatan yang mengesankan dan akan memiliki kemenangan yang mudah. Tetapi bahkan jika kamu mengesankan lawan sebagai kekuatan, tetap saja kamu bukan otoritas suci; dia kemudian harus menjadi pencuri. Dia tidak berhutang rasa hormat atau harga diri kepadamu, selama ia memperhatikan kekuatanmu. Kita terbiasa mengklasifikasikan negara menurut berbagai cara di mana “kekuatan tertinggi” didistribusikan. Jika seseorang memilikinya kita menyebutnya monarki; jika semua memilikinya maka itu demokrasi; dll. Jadi kekuatan tertinggi! Kekuasaan terhadap siapa? Melawan individu dan “keinginannya sendiri”. Negara mempraktikkan “kekerasan,” individu tidak boleh melakukan ini. Perilaku negara adalah tindakan kekerasan, dan menyebut kekerasan itu sebagai “hak hukum”; bahwa individu, adalah “kejahatan.” Kejahatan, sehingga kekerasan individu disebut; dan dia mengatasi kekerasan negara hanya melalui kejahatan, ketika dia berpendapat bahwa negara tidak di atasnya, tetapi dia berada di atas negara. Sekarang jika aku ingin bertindak konyol, sebagai orang yang bermaksud baik, aku bisa memperingatkanmu untuk tidak

membuat undang-undang yang mengganggu pengembangan diri, aktivitas diri, dan penciptaan diriku. Aku tidak memberikan saran macam ini. Karena jika aku mengikutinya, kamu akan menjadi tidak bijaksana, dan aku akan ditipu dari seluruh keuntunganku. Aku tidak menuntut apa pun darimu, karena apa pun yang aku minta, kamu tetap akan mendominasi legislator, dan memang harus begitu, karena gagak tidak bisa bernyanyi, dan perampok tidak bisa hidup tanpa perampokan. Sebaliknya, aku bertanya kepada mereka yang ingin menjadi egois apa yang mereka pikir lebih egois, yang memungkinkanmu untuk memberi mereka hukum, dan menghormati mereka yang telah diberikan hukum, atau untuk mempraktekkan ketidaktaatan, ya, pembangkangan total. Orang-orang yang berhati baik berpikir bahwa hukum seharusnya hanya menentukan apa yang dianggap adil dan pantas menurut perasaan rakyat. Tetapi emangnya yang penting bagiku adalah apa yang dianggap sah dari dan oleh orang-orang? Orang-orang mungkin akan menentang penghujat macam itu; dengan demikian hukum melawan penistaan. Haruskah aku dengan demikian tidak boleh menghujat? Haruskah hukum ini lebih penting bagiku daripada “perintah”? Aku mempertanyakannya! Hanya dari prinsip bahwa semua hak dan semua kekuasaan adalah milik kolektivitas rakyat maka semua pemerintahan muncul. Karena tak satu pun dari mereka yang kurang tertarik terhadap kolektivitas, dan lalim seperti halnya presiden atau aristokrasi, dll., tindakan dan perintah “atas nama negara.” Mereka memiliki “kekuasaan negara”. Dan itu tidak masalah sama sekali apakah, jika mungkin, orang-orang sebagai kolektivitas dari semua individu menggunakan kekuatan negara ini, atau hanya perwakilan dari kolektivitas ini, ada di sana banyak dari mereka, seperti di aristokrasi, atau seorang, seperti di monarki. Selalu kolektivitas di atas individu, dan memiliki kekuatan yang disebut yang sah, yaitu yang benar. Bertolak belakang dengan kesucian negara, orang tersebut hanyalah bejana penghinaan, di mana semua yang tersisa adalah “kegembiraan, kedengkian, ejekan kompulsif dan penghinaan, kesembronoan, dll,” begitu dia tidak menemukan tempat suci tersebut, negara, layak mendapat pengakuan. Arogansi spiritual para pelayan dan rakyat negara memiliki hukuman yang sangat baik terhadap “kegembiraan” yang tidak spiritual. Ketika pemerintah menyatakan semua permainan mental

melawan negara dapat dihukum, maka kaum liberal moderat datang dan berkata: imajinasi, sindiran, kecerdasan, humor, dll., harus tetap menyembur dari mulut, dan orang jenius harus menikmati kebebasan. Jadi, memang, bukan manusia individu, tetapi orang jenius yang harus tetap bebas. Sepenuhnya dalam haknya, dalam hal ini negara, atau atas nama pemerintah, berkata: dia yang tidak bersamaku berarti menentang aku. Tingkah, kecerdasan, dll., singkatnya, membuat lelucon tentang intisari negara selalu merusak negara; hal itu bukannya “tidak bersalah.” Dan lebih jauh lagi, batasan apa yang harus diambil antara kecerdasan yang bersalah dan tidak bersalah, dll.? Kaum moderat sangat bingung dengan pertanyaan ini, dan semuanya direduksi menjadi permintaan agar negara (pemerintah) supaya tidak terlalu sensitif, tidak terlalu mudah tergelitik; bahwa itu berarti supaya tidak segera mengendus kebencian dalam hal-hal yang sebenarnya “tidak berbahaya” dan mungkin secara umum sedikit “lebih toleran.” Sensitivitas yang berlebihan tentu saja merupakan kelemahan, penghindarannya mungkin merupakan kebajikan terpuji; tetapi pada masa perang seseorang tidak bisa bersikap lembut, dan apa yang mungkin diizinkan dalam kondisi damai berhenti diizinkan begitu keadaan peperangan diumumkan. Karena kaum liberal yang bermaksud baik kemungkinan besar merasakan hal ini, mereka dengan cepat menjelaskan bahwa memang, karena “pengabdian rakyat,” tidak ada bahaya yang perlu ditakuti. Tetapi pemerintah akan lebih bijaksana, dan tidak membiarkan dirinya dibicarakan seperti itu. Ia tahu betul bagaimana orang memberi makan satu kata yang bagus, dan tidak akan membiarkan dirinya puas dengan hidangan ini untuk ditampilkan sedemikian rupa. Tetapi mereka ingin memiliki taman bermain, karena mereka anak-anak dan tidak bisa tenang seperti orang tua: anak laki-laki bakal tetap menjadi anak laki-laki. 221 Mereka tawar-menawar hanya untuk taman bermain ini, hanya untuk beberapa jam dengan bergembira melompat-lompat.

221 “Jugend hat keine Tugend,” yang secara harfiah diterjemahkan “Remaja tidak memiliki kebajikan,” tetapi sajaknya memperjelas bahwa ini adalah pepatah lucu yang paling mirip dengan ungkapan dalam bahasa Inggris “anak laki-laki akan menjadi anak laki-laki” [boys will be boys] –Wolfi.

Mereka hanya meminta agar negara tidak terlalu pemarah, seperti papa yang kesal. Itu harus mengizinkan beberapa Prosesi Pantat dan permainan beberapa orang bodoh, karena gereja mengizinkannya pada Abad Pertengahan. Tetapi masa-masa tanpa bahaya itu sudah berlalu. Anak-anak yang sekarang datang ke tempat yang terbuka sekali, dan menghabiskan satu jam tanpa tongkat, tidak mau terjaga kerahasiaannya. Karena terbuka sekarang bukan lagi pelengkap bagi sel bhikkhu itu, bukan rekreasi yang menyegarkan, tetapi kebalikannya, baik-atau. Singkatnya, negara harus tidak lagi tahan dengan apa pun, atau tahan dengan segala sesuatu dan mengarah pada kehancuran; itu harus sangat sensitif, atau tidak sensitif seperti orang yang meninggal. Toleransi selesai. Jika negara hanya mengulurkan jari, mereka akan segera mengambil seluruh tangan. Tidak ada lagi “lelucon tentang,” dan semua bercanda, seperti imajinasi, kecerdasan, humor, dll., berubah menjadi sesuatu pahit. Teriakan “liberal” untuk kebebasan pers bertentangan dengan prinsip mereka sendiri, kehendak nyata mereka. Mereka akan melakukan apa yang tidak mereka inginkan, yaitu, mereka berharap, mereka mau. Karena itu, mereka juga dengan mudah jatuh ketika yang disebut kebebasan pers nongol; karenanya mereka menginginkan sensor. Cukup alami. Negara juga sakral bagi mereka; seperti halnya moralitas, dll. Mereka hanya berperilaku seperti anak nakal terhadap negara, seperti anak-anak pintar yang mencoba menggunakan kelemahan orang tua mereka. Papa Negara seharusnya mengizinkan mereka untuk mengatakan banyak hal yang tidak menyenangkannya, tetapi Papa memiliki hak untuk memasang garis sensor melalui omong kosong kurang ajar mereka, dengan tampilan tegas. Jika mereka mengenalinya sebagai papa mereka, maka mereka harus tahan dengan sensor ucapan di hadapannya, seperti anak kecil lainnya. *** Jika kamu membiarkan orang lain membuat kamu keluar di samping hak, kamu harus sekurangnya membiarkannya membuatmu jadi salah; jika pembenaran dan hadiah datang kepada kamu darinya, harapkan penuntutan dan hukumannya juga. Di samping benar dan salah, di samping kejahatan legalitas. Jadi, sebenarnya kamu itu apa? Kamu seorang —penjahat! “Penjahat adalah kejahatan negara paling khas!” ujar

Bettina. 222 Orang dapat menerima kata-kata ini, bahkan jika hal itu tidak persis seperti yang dipahami Bettina sendiri. Dalam keadaan- ku yang tidak terikat, aku sebagai milikku sendiri, tidak mampu mencapai pemenuhan dan realisasiku. Setiap aku, sejak lahir sudah menjadi penjahat bagi rakyat, negara. Jadi, itu juga benar- benar menjaga semua; ia melihat dalam diri setiap orang seorang yang egois, dan ia takut pada egois. Ini mengasumsikan yang terburuk tentang semua orang, dan mendapatkan perhatian, perhatian polisi, bahwa “tidak ada kerugian bagi negara,” ne quid republica detrimenti capiat. 223 Aku yang tidak terkendali —dan kita begini pada awalnya, dan selalu tetap berada di dalam diri kita secara rahasia— adalah penjahat yang tidak pernah berakhir di negara ini. Orang yang dibimbing oleh keberaniannya, kehendaknya, kejam dan tak kenal takutnya, dikelilingi oleh mata- mata dari negara, dari orang-orang. Aku katakan, dari orang-orang! Orang-orang —kamu sebagai orang berhati baik menganggap apa yang kamu miliki di dalamnya merupakan keajaiban— orang-orang penuh dengan sikap polisi selama- lamanya. —Hanya orang yang menyangkal aku, yang mempraktikkan “penyangkalan diri,” adalah hal yang menyenangkan bagi orang-orang. Sepanjang buku yang aku kutip, Bettina cukup baik hati untuk menganggap negara hanya sebagai yang sakit, dan berharap untuk pemulihannya, pemulihan yang dia ingin lakukan dengan “demagog.” 224 Tapi negara itu tidak sakit. Sebenarnya ini lebih pada kekuatan penuhnya, ketika ia menolak para demagog yang ingin mendapatkan sesuatu untuk individu, untuk “semua orang.” Menurut Bettina, negara harus “mengembangkan benih kebebasan umat manusia; kalau tidak, ia adalah seorang ibu

222 Bettina von Arnim (secara anonim), Dies Buch gehört dem König (Berlin, 1843), hlm 376. “Agar negara tidak menderita kerugian,” bagian dari senatus Consultum ultimum, sebuah deklarasi darurat publik yang disahkan oleh Senat Romawi pada masa krisis nasional. Ibid, hlm 376.

gagak²²⁵ dan menyediakan makanan burung gagak!” 226 Ia tidak dapat melakukan hal lain, karena ia peduli dengan “kemanusiaan” (yang, omong-omong, sudah harus menjadi “manusiawi” atau “bebas”), “individu” karenanya adalah makanan gagak. Di sisi lain, betapa tepatnya perkataan burgomaster:

Apa? Apakah negara tidak memiliki tugas lain selain menjadi penjaga bagi orang-orang yang putus asa? —Itu tidak berhasil. Sejak dahulu kala, negara yang sehat telah membuang materi-materi berpenyakit, dan tidak bergaul dengannya. Tidak perlu begitu ekonomis dengan jusnya. Potong perampok — ranting-ranting tanpa ragu, sehingga yang lain bisa berbunga. —Anda tidak gemetar karena kekerasan negara; moralitasnya, politik dan agamanya, mengajarkan hal ini. Anda menuduhnya tidak berpera-saan; simpatinya menolak ini, tetapi pengalamannya menemukan kesejahteraan hanya dalam keparahan ini! Ada penyakit yang hanya membantu tindakan drastis. Dokter yang mengenali penyakit seperti itu, tetapi sementara beralih ke paliatif, tidak akan pernah sembuh dari penyakit, tetapi mungkin akan membuat pasien meninggal setelah penyakit yang lebih pendek atau lebih lama. 227

Frau Rat²²⁸ bertanya: “Jika Anda menerapkan kematian sebagai tindakan drastis, bagaimana penyembuhannya terjadi?” Tidak berhasil. Negara tidak menerapkan kematian terhadap dirinya sendiri, tetapi terhadap anggota badan yang

225 “Rabenmutter” (ibu gagak), adalah istilah Jerman yang artinya ibu yang buruk, karena orang-orang pada saat itu percaya bahwa induk gagak akan menahan makanan dari bayinya sampai dia melihat warna hitam pada sayap mereka. 226 Ibid, hlm 374. 227 Ibid, hlm 381. Frau Rat: Ibu Goethe, merujuk pada gelar yang diberikan kepada ayahnya pada tahun 1742. Frau Rat adalah peserta utama dalam dialog di Dies Buch gehört d em König, dan mengekspresikan perspektif Bettina von Armin.

menjengkelkan; itu merobek mata yang mengiritasi itu, dll. “Untuk negara yang sakit, satu-satunya jalan untuk penyembuhan adalah membiarkan manusia di dalamnya menjadi makmur.” 229 Jika, seperti Bettina, kamu di sini memahami manusia sebagai konsep “manusia,” ia benar; negara “berpenyakit” pulih melalui kemakmuran “manusia,” karena semakin banyak individu yang tergila-gila dengan “manusia,” maka itu semakin baik bagi negara. Tetapi jika kamu merujuknya kepada individu, untuk “semua” (dan penulis juga melakukan ini setengah dan setengah, karena dia masih terjebak dalam ketidakjelasan tentang “manusia”), maka itu terdengar seperti berikut: Untuk sekelompok perampok yang sakit, satu-satunya jalan menuju penyembuhan adalah membiarkan burjuasi yang loyal tumbuh subur di dalamnya! Dengan cara ini, gerombolan perampok akan dengan mudah hancur sebagai sekelompok perampok; dan karena memahami hal ini, oleh karenanya lebih suka menembak siapa saja yang memiliki kecenderungan untuk menjadi “seorang terhormat.” Dalam buku ini, Bettina adalah seorang patriot, atau lebih tepatnya lagi, seorang dermawan, dermawan umat manusia. Dia tidak puas dengan tatanan yang ada dengan cara yang sama seperti hantu dari judul bukunya²³⁰ itu, bersama dengan semua orang yang ingin mengembalikan iman yang baik, yang tua dan apa yang terjadi dengannya. Hanya dia yang berpikir, sebaliknya, bahwa para politisi, pegawai negeri, dan diplomat merusak negara, sementara yang sama mendorong yang jahat, para “penghasut,” ke dalam sepatu-sepatu ini. Apa lagi penjahat biasa kecuali ia telah melakukan kesalahan fatal dalam memperjuangkan apa yang menjadi milik rakyat alih-alih mencari miliknya sendiri? Dia telah mencari barang-barang asing yang tercela, telah melakukan apa yang orang percaya lakukan, mencari apa yang menjadi milik Allah. Apa yang dilakukan pendeta yang memperingatkan penjahat? Dia menetapkan di hadapannya kesalahan besar karena menodai oleh tindakannya sendiri apa yang dibuat sakral oleh negara, miliknya (di mana, tentu saja, kehidupan orang-orang yang termasuk dalam negara harus dimasukkan); alih-alih begini, dia bisa mencelanya

Ibid, hlm 385. Friedrich Wilhelm IV, Raja Prusia.

karena telah mengotori dirinya sendiri dengan tidak membenci benda yang asing, tetapi menganggap itu pantas untuk dicuri; dia bisa, jika dia bukan pendeta. Berbicaralah dengan penjahat yang disebut sebagai penjahat yang egois, dan dia akan malu, bukan karena dia melanggar hukum dan barang-barangmu, tetapi karena mempertimbangkan undang-undangmu layak dihindari dan barang-barangmu layak untuk diinginkan; dia akan malu bahwa dia tidak —memandang rendah barang-barangmu bersamamu, bahwa dia terlalu kecil untuk menjadi seorang egois. Tetapi kamu tidak dapat berbicara secara egois kepadanya, karena kamu tidak sehebat penjahat, kamu —tidak melakukan kejahatan sama sekali! Kamu tidak tahu bahwa dengan memiliki diri sendiri aku tidak bisa berhenti menjadi penjahat, bahwa kejahatan adalah hidupnya. Namun, kamu harus mengetahuinya, karena kamu percaya bahwa “kita semua adalah orang berdosa”; tetapi kamu berpikir untuk memperhalus jalanmu untuk berbuat dosa, kamu tidak mengerti —karena kamu takut pada iblis— bahwa rasa bersalah adalah nilai dari seorang manusia. Oh, jika kamu bersalah! Tetapi kamu adalah “orang benar.” Yah—buat semuanya baik-baik saja untuk tuanmu itu! Ketika kesadaran Kristen atau orang Kristen menulis sebuah pasal kriminal, apa lagi yang bisa terjadi dengan konsep kejahatan kecuali sekadar —tidak punya hati? Setiap pemutusan dan penghinaan terhadap hubungan yang tulus, setiap perilaku tak berperasaan terhadap intisari yang suci, adalah kejahatan. Semakin suatu hubungan sepenuh hati, semakin mencolok hal itu mengejeknya, dan semakin besar kejahatannya. Setiap orang harus mencintai tuannya yang ia membuatnya merendahkan diri: menyangkal cinta ini adalah pengkhianatan tingkat tinggi yang layak dihukum mati. Perzinahan adalah sebuah cela yang tak berperasaan: seseorang yang tidak memiliki hati, yang tidak memiliki antusiasme, tidak memiliki perasaan yang kuat untuk kesucian pernikahan. Selama hati atau jiwa menentukan hukum, hanya orang yang berhati atau berjiwa menikmati perlindungan hukum. Bahwa orang yang penuh perasaan membuat hukum sebenarnya berarti bahwa orang yang bermoral yang membuat mereka: apa yang bertentangan dengan “perasaan moral” dari orang-orang ini, bakal mereka melarang. Bagaimana seharusnya ketidaksetiaan, penjatuhan diri, pelanggaran sumpah, singkatnya, semua radikal memutuskan semua dan merobek-robek ikatan

waktu yang dihormati, yang tidak menjadi suci dan kriminal di mata mereka? Siapa pun yang melanggar tuntutan-tuntutan jiwa ini memiliki semua moral, semua manusia yang berjiwa sebagai musuh? Siapa pun yang melanggar tuntutan-tuntutan jiwa ini memiliki semua moral, semua manusia yang berjiwa sebagai musuh. Hanya Krummacher dan krunya yang merupakan orang-orang yang tepat untuk secara konsisten menetapkan hukum pidana, karena suatu rancangan undang-undang terbukti sangat baik. Undang-undang negara Kristen yang konsisten harus ditempatkan sepenuhnya di tangan —para imam, dan akan menjadi tidak murni dan tidak konsisten selama itu hanya dikerjakan oleh —hamba-hamba imam, yang selalu hanya setengah-imam. Hanya kemudian akan semua ketidakberjiwaan, semua berbelas kasihan, dinyatakan kejahatan tak terampuni, hanya akan semua agitasi jiwa, setiap keberatan kritik dan keraguan, akan menjadi yang terkutuk; hanya pada saat itulah manusia menjadi miliknya sendiri, sebelum kesadaran Kristen, seorang terpidana —adalah penjahat sejak awal. Orang-orang revolusi sering berbicara tentang “balas dendam” rakyat sebagai “haknya.” Balas dendam dan hak bertepatan di sini. Apakah ini perilaku Aku kepada Aku? Orang-orang menangis bahwa pihak lawan telah melakukan kejahatan terhadapnya. Dapatkah aku berasumsi bahwa seseorang melakukan kejahatan terhadapku, tanpa menganggap bahwa dia harus bertindak sesuai keinginanku? Dan tindakan ini, aku sebut benar, bagus, dll.; yang menyimpang merupakan kejahatan. Jadi, aku pikir orang lain harus pergi ke tujuan yang sama denganku; yaitu, aku tidak memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang unik yang menetapkankan hukum mereka sendiri dan menjalankannya, tetapi sebagai intisari yang harus mematuhi beberapa hukum “rasional”. Aku menetapkan apa yang “manusia” dan apa yang dapat dikatakan sebagai bertindak dengan cara yang berarti “benar-benar manusia”, dan permintaan dari semua orang bahwa undang-undang ini menjadi norma dan ideal baginya, gagal yang mana ia akan mengungkapkan dirinya sebagai “orang berdosa dan kriminal.” Tapi yang “bersalah” terkena “sanksi hukuman!” Lagi-lagi seseorang dapat melihat di sini bagaimana “manusia” yang membawa konsep kejahatan, dosa, dan bersama mereka konsep tentang hak. Manusia di mana aku tidak mengenali

“manusia” adalah “orang berdosa, orang yang bersalah.” Hanya terhadap hal yang suci maka ada penjahat; kamu tidak akan pernah bisa menjadi penjahat terhadap aku, tetapi hanya menjadi lawan. Tapi tidak membenci seseorang yang melanggar hal yang suci saja sudah merupakan kejahatan, sebagaimana Saint-Just berseru melawan Danton: “Apakah kamu bukan seorang penjahat dan menjadi seorang yang tidak membenci musuh-musuh tanah air.” 231 Jika, seperti dalam revolusi, “manusia” dipahami sebagai “warga negara yang baik,” maka dari konsep “manusia” ini muncul “pelanggaran dan kejahatan politik” yang terkenal. Dalam semua ini, individu, individu manusia, dianggap sebagai sampah, dan sebaliknya, manusia universal, yaitu “umat manusia,” dihormati. Menurut bagaimana hantu ini dinamai, sebagai Kristen, Yahudi, Muslim, warga negara yang baik, subjek yang setia, orang bebas, patriot, dll., demikian juga mereka yang ingin mengedepankan konsep manusia yang berbeda, juga mereka yang ingin untuk mengedepankan diri mereka sendiri, jatuh di hadapan “manusia” yang menang. Dan dengan pengurapannya, pembantaian dilakukan atas nama hukum, umat yang berdaulat, Tuhan, dll. Sekarang, jika orang yang telah dianiaya, secara cerdik menyembunyikan dan melindungi diri mereka dari hakim yang keras dan sok suci, orang mencaci maki mereka sebagai “orang munafik,” sebagaimana Saint-Just misalnya, mereka yang dia tuduh dalam pidatonya menentang Danton. 232 Seseorang seharusnya menjadi orang bodoh, dan menyerahkan diri ke Moloch * mereka.

231 Danton, adalah seorang pemimpin Revolusi Prancis, yang menentang Pemerintahan Teror. Ini menyebabkannya ditangkap, disidang, dan dieksekusi. Louis Antoine Léon de Saint-Just menuduh Danton hendak mendirikan monarki kembali. 232 Adolf Rutenburg (peny), Bibliothek politischer Reden ause dem

18. und 19 Jahrhundert, volume III (Berlin, 1844), hlm 153.
* “Moloch” di sini memiliki dua arti. Pertama, merupakan nama dewa Kanaan dalam alkitab yang diasosiasikan dengan tumbal anak, melalui api atau perang. Nama ini juga secara kiasan

Kejahatan muncul dari ide-ide yang baku. Kekudusan pernikahan adalah ide yang baku. Dari kesucian itu menyusul pandangan bahwa perselingkuhan adalah kejahatan, dan karena itu hukum perkawinan tertentu mengenakan hukuman yang lebih pendek atau lebih lama atasnya. Tetapi bagi mereka yang menyatakan “kebebasan sebagai yang suci,” hukuman ini harus dianggap sebagai kejahatan terhadap kebebasan, dan hanya dalam pengertian ini opini publik juga telah mencantumkan hukum pernikahan. Tentu, masyarakat akan meminta setiap orang datang pada hak-nya, tetapi tetap saja hanya melalui persetujuan masyarakat, pada hak masyarakat, jadi tidak benar-benar menjadi hak-nya. Tetapi aku memberi atau mengambil hak untuk diriku sendiri dari kekuatan penuhku sendiri, dan pada tiap kekuatan yang lebih tinggi, aku adalah penjahat yang paling tidak bertobat. Pemilik dan pencipta hakku, aku tidak mengenal sumber hak lain selain — diriku; baik Tuhan atau negara atau alam atau bahkan manusia itu sendiri dengan “hak asasi manusia abadi,” pun tidak yang ilahi maupun yang manusiawi. Benar-benar “dalam dan untuk dirinya sendiri.” Jadi, tanpa hubungan denganku! “Benar sekali.” Jadi, yang terpisah dariku! Sesuatu yang ada di dalam dan untuk dirinya sendiri! Mutlak! Hak abadi, sebagaimana kebenaran abadi! Menurut cara pikir liberal, hak harus menjadi kewajiban bagiku, karena hak itu diatur dengan nalar manusia, yang dengannya nalarku adalah “tidak masuk akal.” Orang-orang biasa mencerca atas nama nalar ilahi terhadap nalar manusia yang lemah; sekarang atas nama nalar manusia yang kuat, mereka menentang nalar para egois, yang mereka tolak sebagai “tidak bernalar.” Namun tidak ada yang lain kecuali yang sangat “tidak bernalar ini.” Baik nalar ilahi maupun manusia, tetapi hanya nalarku dan nalarmu saja yang sepanjang waktu aktual, sebagai dan karena kamu dan aku adalah aktual. Gagasan tentang hak pada mulanya adalah gagasanku, atau gagasan itu berawal dari aku. Tetapi jika itu muncul di luar dariku, ketika “Firman” keluar, maka ia telah “menjadi daging,” ide yang baku. Sekarang aku tidak lagi lepas dari gagasan; bagaimanapun

dipakai untuk menyebut orang atau benda yang membutuhkan pengorbanan sangat mahal dalam sastra Inggris -Penj.

aku berbalik, ia berdiri di depanku. Jadi manusia tidak lagi menjadi tuan dari gagasan tentang “benar” yang mereka ciptakan sendiri: makhluk itu melarikan diri bersama mereka. Ini benar sekali, yang bisa dilewati atau terlepas dariku. Sementara kita memuja itu sebagai yang absolut, kita tidak bisa mengkonsumsinya lagi, dan itu merampas kita dari kekuatan kreatif: ciptaan lebih dari pencipta, ia “ada dan untuk dirinya sendiri.” Sekali kamu tidak lagi membiarkan hak berjalan bebas, begitu kamu membawanya kembali ke asalnya, ke dalam dirimu, itu adalah hak-mu, dan hak adalah apa yang tepat untukmu. Hak harus mengalami serangan dari dalam dirinya sendiri, yaitu, dari sudut pandang hak, karena perang telah dinyatakan oleh liberalisme melawan “hak istimewa.” Diistimewakan dan diberkahi dengan hak yang setara — pertempuran yang keras kepala berputar di sekitar dua konsep ini. Dikecualikan atau diotorisasi —artinya hanya berujung pada hal yang sama. Tetapi ketika ada kekuatan —entah apakah itu imajiner seperti Tuhan, hukum, atau yang aktual, seperti aku, kamu— sebelum itu semua tidak akan “dianugerahi hak yang sama”, maka, tidak ada rasa hormat terhadap orang yang tidak akan dipegang? Setiap orang sama-sama sayang kepada Allah, jika mereka memujanya, sama-sama dapat diterima oleh hukum, jika mereka taat hukum; apakah kekasihnya Allah atau penaat hukum menjadi bungkuk atau lumpuh, apakah ia kaya atau miskin, dll., tidak berarti apa-apa bagi Allah dan hukum; dengan cara yang sama, ketika aku akan tenggelam, seorang kulit hitam sebagai penyelamat adalah yang aku sayangi sebagai seorang Kaukasia yang paling baik; memang, dalam situasi ini, seekor anjing tidak kurang bagimu daripada manusia. Tetapi bagi siapa, sebaliknya, bukankah semua orang juga akan menjadi orang yang lebih disukai atau lebih terabaikan? Allah menghukum orang jahat dengan murka-Nya, hukum menampar orang-orang durhaka; kamu akan membiarkan seseorang berbicara denganmua kapan saja dan menunjukkan pintu yang lain. “Kesetaraan hak” hanyalah sebuah hantu, spook, karena hak tidak lebih dan tidak kurang dari otorisasi, perkara rahmat, yang, omong-omong, bisa juga kamu dapatkan melalui jasamu; pantas dan karunia tidak bertentangan satu sama lain, kasih karunia itu juga ingin “diraih” dan senyum ramah kita hanya jatuh pada mereka yang tahu bagaimana memaksanya dari kita.

Jadi orang bermimpi bahwa “semua warga negara harus berdiri berdampingan, dengan hak yang setara”. Sebagai warga negara, mereka tentu saja sama untuk negara. Namun itu tetap akan memecah mereka, memajukan mereka atau mengesampingkannya, sesuai dengan tujuan khususnya; terlebih lagi, ia harus membedakan mereka satu sama lain sebagai warga negara yang baik dan buruk. Bruno Bauer menyelesaikan pertanyaan Yahudi dari sudut pandang bahwa “hak istimewa” tidak dapat dibenarkan. Karena Yahudi dan Kristen masing-masing memiliki kelebihan tertentu di atas yang lain, dan masing-masing eksklusif dalam keunggulan ini, karena itu mereka hancur menjadi nolitas²³³ oleh para kritikus. Bersama mereka, negara berada di bawah tanggung jawab yang sama, karena negara membenarkan mereka memiliki kelebihan dan mencapnya sebagai “hak istimewa” atau hak prerogatif, tetapi dengan cara demikian, negara menghambat panggilannya untuk menjadi “negara bebas.” Tetapi sekarang semua orang memiliki keunggulan di atas yang lain, yaitu dirinya atau keunikannya; dalam hal ini semua orang tetap eksklusif. Dan lagi, sebelum pihak ketiga, semua orang menegaskan keunikannya sebaik mungkin, dan jika dia ingin memenangkannya, berusaha membuatnya tampak menarik baginya. Sekarang, bukankah seharusnya pihak ketiga peka terhadap perbedaan yang satu dengan yang lain? Apakah orang bertanya ini adalah tentang keadaan bebas atau kemanusiaan? Maka ini harus benar-benar tanpa kepentingan pribadi, dan tidak mampu mengungkapkan kekhawatiran kepada siapa pun. Orang-orang tidak membayangkan Tuhan, yang memisahkan miliknya dari yang jahat, atau negara, yang tahu bagaimana memisahkan yang baik dari warga negara yang buruk, karena acuh tak acuh. Tetapi orang-orang yang mencari pihak ketiga ini yang tidak

233 “Nichtigkeit” dalam bentuk tunggal paling sering digunakan sebagai istilah hukum atau yudisial yang menyatakan ketidakabsahan atau pembatalan hukum, misalnya putusan, kontrak, pemilihan, dll. Karena penggunaan ini tampaknya sesuai dengan konteks ini, saya memilih untuk menerjemahkan itu sebagai nolitas [nullity], yang cocok dengan konteks itu, tetapi juga sekaligus menyiratkan ketiadaan -Wolfi.

lagi memberikan “hak istimewa.” Maka hal itu dapat disebut negara bebas, atau kemanusiaan, atau apa pun. Semenjak Kristen dan Yahudi diperingkatkan secara rendah oleh Burno Bauer karena mereka mengklaim hak istimewa, mereka harus mampu dan harus membebaskan diri dari sudut pandang sempit mereka melalui penyangkalan diri dan untuk tidak mementingkan diri sendiri. Jika mereka membuang “egoisme” mereka, kesalahan timbal balik akan berakhir dan dengan agama Kristen dan Yahudi pada umumnya; itu hanya akan menuntut agar keduanya tidak lagi ingin menjadi sesuatu yang khas. Tetapi jika mereka melepaskan eksklusivitas ini, tanah di mana permusuhan mereka benar-benar dilancarkan masih tidak akan tertinggal melalui ini. Paling-paling, mereka akan menemukan hal ketiga di mana mereka bisa bersatu, “agama universal,” “agama kemanusiaan,” dll.; singkatnya, penyamaan yang tidak perlu lebih baik daripada yang akan terjadi jika semua orang Yahudi menjadi Kristen, yang melaluinya juga “hak istimewa” yang satu nongol sebelum yang lain berakhir. Memang, ketegangan akan dihapus, tetapi intisari dari keduanya tidak terdiri dalam hal ini, melainkan hanya kedekatan mereka. Ketika mereka dibedakan satu sama lain, mereka harus tegang dan ketidaksamaan akan selalu tetap. Ini benar-benar bukan cacat dalam dirimu bahwa kamu menegangkan diri terhadap aku dan menegaskan perbedaan atau kekhasan dirimu: Kamu tidak perlu memberi jalan atau menyangkal diri. Orang-orang memahami pentingnya konflik secara formal dan lemah hanya jika mereka ingin “membubarkannya” agar memberikan ruang bagi hal ketiga yang “menyatukan”. Konflik menjadi lebih pantas untuk dikobarkan. Sebagai orang Yahudi dan Kristen, kamu berada dalam konflik yang terlalu kecil dan hanya berdebat tentang agama, tentang janggut kaisar, tentang hal yang sepele. Dalam agama memang tetap menjadi musuh, tetapi dalam segala hal lain kamu tetap berteman baik, dan misalnya, sebagai manusia, setara satu dengan yang lain. Sekalipun demikian, semua yang lain masing-masing juga tidak sama; dan kamu tidak akan lagi hanya menyembunyikan konflikmu ketika kamu benar-benar menyadarinya, dan semua orang menyatakan dirinya dari kepala hingga kaki sebagai yang unik. Maka konflik yang sebelumnya pasti akan bubar, tetapi hanya karena seorang yang lebih kuat telah mengambilnya pada dirinya sendiri.

Kelemahan kita bukanlah karena kita berada dalam konflik dengan yang lain, melainkan karena kita tidak sepenuhnya demikian, yaitu bahwa kita tidak sepenuhnya terpisah dari mereka, atau bahwa kita sedang mencari “komunitas,” suatu “ikatan,” bahwa dalam komunitas kita memiliki cita-cita. Satu Iman, Satu Tuhan, Satu Ideal, Satu Topi untuk semua! Jika semua dibawa di bawah satu topi, tentu tidak ada yang harus melepas topinya mendahului yang lain. Konflik terakhir dan paling tegas, yaitu yang unik melawan yang unik, berada di bawah dari yang kita sebut sebagai konflik, tetapi tanpa tenggelam kembali ke “persatuan” dan konsensus. Sebagai yang unik, kamu tidak lagi memiliki kesamaan dengan yang lain dan karenanya juga tidak ada yang memecah belah atau bermusuhan; kamu tidak berusaha untuk berada di pihak hak dalam melawannya di hadapan pihak ketiga, dan berdiri di sampingnya tidak “atas dasar hak”, atau landasan bersama lainnya. Konflik menghilang sepenuhnya —divergensi atau keunikan. Ini memang dapat dianggap sebagai fitur umum baru atau persamaan, hanya saja persamaan di sini yang justru terdiri dari perbedaan, dan itu sendiri tidak lain adalah perbedaan, setara dengan perbedaan, dan hanya untuk orang yang membuat “perbandingan.” 234 Polemik melawan hak istimewa adalah sifat liberalisme, yang mengetuk “hak istimewa,” karena itu sendiri menarik bagi “hak.” Ini tidak dapat berjalan lebih jauh dari sekedar mengetuknya; karena hak istimewa tidak jatuh sebelum hak jatuh, karena mereka hanyalah bentuk hak. Tapi hak hancur menjadi ketiadaan ketika dihabiskan oleh bentuk, yaitu, ketika seseorang menyadari apa artinya ini: “kekuasaan mendahului hak.” Jadi semua hak dijelaskan sebagai hak istimewa, dan hak istimewa itu sendiri sebagai kekuatan, sebagai –kekuatan superior. 235

234 Dalam kalimat ini, Stirner membuat sebuah kata —memainkan suku kata “gleich” yang dapat memiliki beberapa arti. Untuk meniru ini, saya memilih untuk menggunakan kata-kata dengan suku kata “par.” Dengan cara ini saya dapat memperluas permainan kata sejauh yang dia miliki dalam bahasa Jerman – Wolfi. Stirner mungkin telah membuat pelesetan di sini bahwa “Übermacht” (kekuatan superior) jelas terkait dengan kata kerja “übermachen” yang diterjemahkan sebagai “untuk

Tetapi bukankah pertempuran antara yang kuat melawan yang lebih unggul harus menunjukkan wajah yang sangat berbeda dari pertarungan sederhana melawan hak istimewa, yang harus diperjuangkan di hadapan hakim utama, yaitu “hak,” menurut pengertian hakim? *** Sekarang, untuk menyimpulkannya, aku masih harus mengambil kembali mode ekspresi setengah jalan yang ingin aku gunakan hanya selama aku masih menggali melalui isi perut hak, dan setidaknya membiarkan kata-kata berlalu begitu saja. Tapi, sebenarnya, dengan konsep itu, kata itu juga kehilangan maknanya. Apa yang aku sebut sebagai “hakku” adalah bukan hak sama sekali, karena hak hanya dapat diberikan oleh roh, entah apakah itu merupakan roh alam atau roh spesies, kemanusiaan, roh Tuhan, atau miliknya kesucian atau keagungan-Nya, dll. Apa yang aku miliki yang bukan dari roh yang memberi kuasa, aku miliki tanpa hak; Aku memilikinya sendiri dan semata-mata melalui kekuatan-ku. Aku tidak menuntut hak apapun, jadi aku juga merasa tidak perlu mengenali apa pun. Apa yang aku bisa dapatkan dengan paksa bakal aku dapatkan dengan paksa, dan aku tidak punya hak untuk apa yang aku tidak dapatkan dengan paksa, dan aku tidak membanggakan atau menghibur diri dengan hak-hakku yang tidak dapat diasingkan. Dengan hak absolut, hak itu sendiri mati; aturan soal “konsep yang benar” dihapuskan pada saat bersamaan. Karena tidak boleh dilupakan bahwa hingga kini konsep, gagasan, atau prinsip telah menguasai kita, dan di antara para penguasa ini, konsep hak, atau keadilan, memainkan salah satu peran paling penting. Sah atau tidak sah —itu tidak masalah bagiku; jika saja aku kuat, maka aku diberdayakan oleh diriku sendiri, dan tidak memerlukan izin atau permisi lainnya. Hak bagaikan kelelawar-kelawar di menara tempat lonceng berdentang, ditempatkan di sana sebagai sebuah spook. Kekuatan bahwa aku adalah diriku sendiri, aku adalah yang kuat dan pemilik

mewariskan,” dan “kekuatan superior” hak istimewa sering kali merupakan masalah warisan, karena ini soal dilahirkan dalam keluarga yang tepat –Wolfi.

kekuasaan. Hak ada di atas diriku, secara mutlak, dan ada dalam wujud yang lebih tinggi, mengalir kepadaku sebagai rahmatnya: hak adalah karunia dari hakim; kekuasaan dan kekuatan hanya ada dalam diriku, yang berkuasa dan yang kuat.

II. PERTUKARANKU

Dalam masyarakat, dalam kelompok sosial, pada saat manusia sangat perlu untuk dipuaskan, sementara yang egoistik harus tampil sebentar. Karena hampir tidak dapat melepaskan diri dari siapa pun bahwa saat ini menunjukkan minat hidup tanpa ada pertanyaan lain selain untuk pertanyaan “sosial”, sehingga seseorang harus mengarahkan perhatiannya terutama kepada masyarakat. Memang, jika minat yang diambil di dalamnya kurang bergairah dan buta, maka ketika berhadapan dengan masyarakat, orang tidak akan begitu sering melupakan orang-orang di dalamnya, dan akan menyadari bahwa suatu masyarakat tidak dapat menjadi baru selama mereka yang membentuk dan menetapkannya itu tetap orang yang tua. Jika hal tersebut harus muncul, misalnya, dalam masyarakat Yahudi suatu masyarakat yang menyebarkan iman baru di bumi, para rasul ini benar-benar tidak perlu harus menjadi orang Farisi. Sebagaimana dirimu, maka kamu menampilkan dirimu sendiri, sehingga kamu berperilaku terhadap orang lain: orang munafik sebagai orang munafik, orang Kristen sebagai orang Kristen. Karena itu, karakter masyarakat ditentukan oleh karakter anggotanya: mereka adalah penciptanya. Kamu harus mengenali hal ini setidaknya jika kamu tidak ingin memeriksa konsep “masyarakat” itu sendiri. Selalu jauh dari membiarkan diri mereka sendiri untuk mencapai perkembangan dan nilai penuh mereka, manusia belum dapat mendasarkan masyarakat mereka pada diri mereka sendiri; atau lebih tepatnya, mereka hanya mampu menemukan “masyarakat” dan hidup dalam masyarakat. Masyarakat-masyarakat ini selalu merupakan orang-orang, orang-orang yang berkuasa, yang disebut orang bermoral, yaitu, hantu, yang sebelumnya orang tersebut memiliki kelelawar yang tepat di menara lonceng gereja, yang takut akan hantu. Sebagai hantu seperti itu, mereka dapat disebut dengan tepat dengan nama

masing-masing “orang” 236 dan “suku” 237 : orang-orang dari para leluhur, orang-orang dari Hellenes, dll., akhirnya, orang-orang manusia, umat manusia (Anacharsis Cloots mengoceh tentang “bangsa” umat manusia), maka setiap subdivisi dari “orang-orang” ini, yang dapat dan harus memiliki masyarakat khususnya, rakyat Spanyol, Prancis, dll.; dalam hal ini juga, perkebunan, kota, singkatnya semua jenis perusahaan; terakhir, pada titik ekstrim suku kecil –keluarga. Alih-alih mengatakan bahwa Orang yang menghantui semua masyarakat sampai sekarang adalah orang-orang, maka dua ekstrem ini juga dapat dinamai, yaitu “kemanusiaan” atau “keluarga,” dua “unit paling alami.” Kami memilih kata “orang” karena asalnya telah disatukan dengan polloi * Yunani, “banyak” atau “massa,” tetapi juga karena “aspirasi nasional” pada tatanan situasi saat ini, dan juga karena bahkan pemberontak terbaru belum menyingkirkan orang yang menipu ini, meskipun, di sisi lain, pertimbangan yang terakhir harus memberi keuntungan pada istilah “kemanusiaan,” karena di semua sisi orang mulai membicarakan “kemanusiaan.” Jadi orang-orang -kemanusiaan atau keluarga-hingga sekarang memiliki, seperti yang terlihat, bermain dalam sejarah: tidak ada kepentingan egois yang seharusnya muncul dalam masyarakat ini, tetapi hanya kepentingan yang umum, nasional atau populer, kepentingan kelas, kepentingan keluarga, dan “kepentingan umum manusia.” Tetapi siapa yang telah membawa orang-orang yang sejarah kehancurannya berhubungan dengan kejatuhan mereka? Siapa lagi selain egois, yang mencari kepuasannya sendiri! Begitu minat egois merayap masuk, masyarakat itu “dimanjakan” dan menuju kehancurannya, seperti misalnya, dunia Romawi membuktikan dengan sistem hak-hak pribadinya yang sangat maju, atau agama Kristen dengan “penentuan nasib sendiri,” “Kesadaran diri,” “otonomi roh,” dll,

236 “Volk.” 237 “Völkchen.” * Hoi polloi (bahasa Yunani: ἱολλοί, hoi polloi, “the many”) adalah ungkapan dari bahasa Yunani yang berarti banyak atau, dalam arti yang paling ketat, orang-orang. Dalam bahasa Inggris, istilah ini telah memiliki konotasi negatif untuk menandakan penghentian kelas pekerja, rakyat jelata, massa atau orang biasa dalam pengertian ironis yang merendahkan -Penj.

yang tak terhindarkan, yang tak terelakkan. Orang-orang Kristen telah menghasilkan dua masyarakat, yang jangka waktunya akan tetap sama dengan keberadaan orang-orang itu yang juga berkelanjutan; masyarakat ini adalah: negara dan gereja. Bisakah mereka disebut persatuan egois? Apakah kita mengejar di dalam diri mereka egoisme, pribadi, minat sendiri, atau apakah kita mengejar yang populer (yang tradisional, yaitu pada orang-orang Kristen), yaitu kepentingan negara dan gereja? Bisakah dan bolehkah aku menjadi diriku sendiri di dalamnya? Bolehkah aku berpikir dan bertindak sesukaku, bolehkah aku mengungkapkan, menyadari, bertindak seperti diriku sendiri? Bukankah aku seharusnya meninggalkan keagungan negara, kesucian gereja, yang tidak tersentuh? Yah, aku tidak diizinkan melakukan apa yang aku mau. Tetapi akankah aku menemukan dalam masyarakat mana pun kebebasan yang tidak terukur seperti itu? Tentu saja tidak! Pada akhirnya, bisakah kita puas? Tidak semuanya! Tapi ini bakal berbeda apabila aku bangkit dari aku atau dari orang-orang, yang universal. Pada yang pertama aku adalah musuhku yang setara dan serasi, musuh musuh yang dihina dan dikendalikan yang terakhir, yang diperlakukan seperti anak kecil. Kalau yang pertama aku seperti seorang yang menantang pria dewasa, sementara pada yang terakhir aku layaknya anak sekolah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika menghadapi teman sekolahnya. Yang terakhir memanggil ayah dan ibunya untuk membantu dan bersembunyi di bawah celemek. Sementara yang pertama aku seperti bocah nakal yang dimarahi, dan tidak diizinkan untuk “menggerutu”. Kalau yang pertama aku bertarung melawan musuh yang memiliki tubuh, dalam yang terakhir aku melawan kemanusiaan, melawan yang universal, melawan “keagungan,” melawan hantu, spook. Tetapi bagiku, tidak ada keagungan, tidak ada yang sakral, adalah batas, aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Hanya apa yang aku tidak bisa atasi lah yang masih membatasi kekuatanku, dan aku dengan kekuatan terbatas sementara aku terbatas, tidak dibatasi oleh kekuatan yang ada di luarku, tetapi dibatasi oleh kekuatanku sendiri yang masih tidak memadai, oleh ketidakberdayaanku sendiri. Hanya saja, “penjaga itu yang mati, tetapi ia tidak menyerah!” Yang paling utama, hanya musuh yang bertubuh!

Saya salut pada setiap pejuang berani, Pada siapa yang saya bisa lihat, memperbaiki dari mata ke mata, Siapa, yang penuh keberanian, telah menyalakan keberanian Juga pada saya. —dll. 238

Banyak hak istimewa yang memang telah dihancurkan dari waktu ke waktu, tetapi hanya demi kebaikan bersama, demi negara dan kesejahteraan negara, tapi bukan berarti itu untuk memperkuatku. Keturunan budak, misalnya, hanya dihapuskan sehingga satu tuan rumah bangsawan, tuan rakyat, kekuatan monarki, akan diperkuat; perbudakan di bawah yang satu menjadi lebih ketat karenanya. Hanya demi kepentingan raja, apakah ia disebut “pangeran” atau “hukum,” memiliki hak istimewa yang pernah jatuh. Di Prancis, warga memang bukan budak dari raja, melainkan budak dari “hukum” (Piagam). Subordinasi dipertahankan, hanya negara Kristen yang mengakui bahwa seseorang tidak dapat melayani dua tuan (tuan tanah dan pangeran, dll.); oleh karena itu, seseorang menerima semua hak istimewa; sekarang dia bisa lagi menempatkan yang satu di atas yang lain, dia bisa membuat orang-orang yang “ditinggikan”. Tapi untuk apalah aku peduli kebaikan bersama? Kebaikan bersama bukanlah kebaikanku, tetapi semata-mata sebuah ekstremitas dari penyangkalan diri. Kebaikan umum dapat bersorak nyaring sementara aku harus “menyerah”; negara gemerlapan, sementara aku kelaparan. Dalam kebodohan liberal politik macam apa, jika tidak dalam mengadukan rakyat pada pemerintah dan membicarakan hak-hak rakyat? Jadi, orang-orang di sana harusnya sudah dewasa, dll. Seolah-olah orang yang tidak punya mulut²³⁹ bisa cukup umur²⁴⁰! * Hanya individu yang bisa

238 Friedrich Schiller, The Death of Wallenstein, Bagian 1, Adegan

  1. 239 “Mund.” “Mündig.” * Wolfi tidak menjelaskan apakah ini bentuk permainan kata Stirner atau bukan, tetapi kesamaan bahasa Jerman dalam catatan kaki Wolfi menyiratkan demikian. “Mündig” berarti dapat diartikan

menjadi cukup umur. Dengan demikian, seluruh pertanyaan tentang kebebasan pers dihidupkan ketika ia dianggap sebagai “hak rakyat.” Itu hanya hak, atau lebih baiknya kekuatan, dari perorangan. Jika suatu bangsa memiliki kebebasan pers, maka, bahkan di tengah-tengah orang ini, aku tidak; kebebasan rakyat bukanlah kebebasan-ku, dan kebebasan pers sebagai kebebasan rakyat harus memiliki hukum pers yang ditujukan kepada-ku. Inilah yang harus ditegaskan atas upaya kebebasan saat ini: Kebebasan rakyat bukanlah kebebasan-ku! Mari kita izinkan kategori-kategori ini: kebebasan rakyat dan hak rakyat: misalnya, hak rakyat yang dapat dipegang oleh semua orang. Tidakkah ada yang kehilangan hak seperti itu? Seseorang tidak dapat kehilangan haknya sendiri, tetapi aku bisa saja kehilangan hak yang bukan milikku, karena itu milik rakyat. Aku bisa dipenjara demi kebebasan rakyat, dan sebagai tahanan aku kehilangan hak untuk membawa senjata. Liberalisme tampaknya merupakan upaya terakhir dari penciptaan kebebasan rakyat, kebebasan komunitas, “masyarakat,” yang umum, kemanusiaan, impian kemanusiaan, rakyat, komunitas, “masyarakat,” yang sudah cukup umur. Rakyat tidak bisa bebas kecuali jika ia mengorbankan individu; karena individu bukanlah titik utama kebebasan ini, melainkan rakyat. Semakin bebas rakyat, maka semakin terikat seseorang; orang-orang Athena, tepatnya pada waktu senggangnya, menciptakan pengucilan, mengusir para ateis, meracuni para pemikir paling jujur. Bagaimana mereka memuji Sokrates karena hati nuraninya, yang membuatnya menolak saran untuk melarikan diri dari penjara bawah tanah! Padahal ia tolol karena memberikan hak pada orang-orang Athena untuk mengutuknya. Itulah mengapa hal itu benar- benar bermanfaat baginya; jadi mengapa dia tetap di tanah yang sama dengan orang Athena? Kenapa dia tidak memutuskan hubungan dengan mereka? Seandainya dia tahu, dan bisa tahu, apakah dirinya itu, dia tidak akan memberi hakim klaim seperti itu, tidak ada hak. Justru karena dia tidak melarikan diri maka itu adalah kelemahannya, khayalannya masih memiliki kesamaan dengan khayalan orang-orang Athena, atau bahwa ia berpendapat

sebagai “telah dewasa”, “usia akhir baligh”, atau “cukup umur” -Penj.

bahwa dirinya adalah anggota atau bagian dari orang-orang Athena, hanya sebagai anggota rakyat ini. Tetapi dia adalah orang-orang ini sendiri secara pribadi dan hanya bisa menjadi hakimnya sendiri. Tidak ada hakim atas dirinya, karena ia sendiri lah yang telah menjatuhkan hukuman di hadapan umum dan menilai dirinya layak atas Prytaneum. 241 Dia seharusnya terjebak dengan ini, dan karena dia tidak mengucapkan hukuman mati terhadap dirinya sendiri, dia seharusnya membenci orang Athena dan melarikan diri. Tetapi dia merendahkan dirinya sendiri dan mengakui rakyat sebagai hakim-nya; dia tampak kecil untuk dirinya sendiri di depan keagungan rakyat. Bahwa ia menjadikan dirinya sendiri sebagai kekuasaan, yang mana cuma bisa ia hilangkan, karena “hak”, adalah pengkhianatan diri: itu adalah kebajikan. Para narator menganggap ketelitian yang persis sama dengan Kristus, yang diduga tidak menggunakan kuasa atas pasukan surgawi-Nya. Luther bertindak sangat baik dan bijak dalam memastikan keselamatan perjalanannya ke Worms * secara tertulis kepadanya, dan Sokrates seharusnya tahu bahwa orang-orang Athena adalah musuh-musuh-nya, ia sendiri hakimnya. Penipuan diri atas “posisi legal, hukum,” dll., harus memberi jalan kepada pemahaman bahwa hubungan itu adalah hubungan kekuasaan. Dengan intrik dan kebawelan, kebebasan Yunani berakhir. Mengapa? Karena orang-orang Yunani biasa kurang mampu mencapai kesimpulan yang bahkan pahlawan pemikiran mereka, Sokrates, tidak mampu menunjukkannya. Lalu apa lagi itu kebawelan selain sebagai cara menggunakan benda yang ada tanpa menghilangkannya? Aku mungkin menambahkan “demi keuntungan pribadi,” tetapi memang itu terletak pada bagaimana “menggunakan.” Para teolog adalah orang yang suka berdalih,

241 Prytaneum adalah bangunan publik utama dari ibu kota setiap polis Yunani. Itu berisi kantor pejabat fungsionaris dan merupakan tempat di mana duta besar dihibur. Selain itu, warga negara terhormat akan dihargai di sana dengan penyediaan makanan dengan anggaran negara, biasanya seumur hidup. * The Diet of Worms 1521 (Bahasa Jerman: Reichstag zu Worms) adalah diet kekaisaran (majelis) Kekaisaran Romawi Suci yang diserukan oleh Kaisar Charles V. Itu diadakan di Taman Heylshof di Worms, kemudian Kota Bebas Imperial Kekaisaran sepanjang reformasi Protestan. -Penj.

“berselisih dan memutarbalikkan” firman Allah; apa yang harus mereka lakukan jika tidak ada firman Tuhan yang ada? Demikian juga orang-orang liberal yang hanya mengoceh dan memutarbalikkan “tatanan yang ada.” Mereka semua adalah penyimpangan, seperti para penyimpang hukum. Sokrates mengakui hak, hukum; orang-orang Yunani terus-menerus mempertahankan otoritas hak dan hukum. Jika, dalam pengakuan ini, mereka masih ingin mempertahankan keunggulan mereka, masing-masing menjadi miliknya sendiri, maka mereka harus mencarinya dalam distorsi hukum, atau intrik. Alkibiades, seorang intrik yang brilian, memperkenalkan periode “peluruhan” orang Athena; Lysander orang Sparta dan yang lainnya juga menunjukkan bahwa intrik menjadi bahasa Yunani secara universal. 242 Hak-hak Yunani, yang mana negara Yunani menyandarkan dirinya, harus terdistorsi dan dirusak oleh kaum egois di negara-negara ini, dan negara-negara menjadi binasa sehingga individu-individu dapat menjadi bebas, orang-orang Yunani jatuh karena orang-orang kurang peduli pada orang-orang ini daripada untuk diri mereka sendiri. Sebenarnya semua negara bagian, konstitusi, gereja, dll., telah melalui pelarian²⁴³ individu; karena individu adalah musuh yang tidak dapat didamaikan dari

242 Alkibiades adalah negarawan dan jenderal Athena, sementara Lysander adalah negarawan dan jenderal Sparta. Keduanya terlibat dalam rangkaian Perang Peloponnesia yang merupakan perebutan pengaruh antara Athena dan Sparta. Tampaknya Stirner bermaksud untuk mewakili karakter licik dari intrik keduanya. Singkatnya, Alkibiades berpaling kepada Sparta setelah ekspedisi Sisilia, sementara Lysander setelah memenangkan Pertempuran Notium diturunkan pangkatnya sesuai dengan hukum Sparta, tetapi menyabotase penggantinya, Kallikratidas, sehingga kelak ia walaupun tidak menjadi petinggi militer lagi, tetapi secara praktis telah memiliki kontrol atas militer Sparta sebagai wakil Arakus, pengganti Kallikratidas – Penj. 243 Sangat menarik bahwa kata “Austritt” juga dapat berarti “kemunculan” dalam keadaan tertentu. Jika Stirner mempermainkan makna ganda ini, maka implikasinya adalah negara, konstitusi, gereja, dll., runtuh ketika individu-individu melarikan diri dari institusi-institusi ini dengan muncul sebagai diri mereka sendiri –Wolfi.

setiap universalitas, setiap ikatan, yaitu, setiap belenggu. Namun orang-orang membayangkan sampai hari ini bahwa manusia membutuhkan “ikatan suci,” ia, musuh bebuyutan dari setiap “ikatan.” Sejarah dunia menunjukkan bahwa belum ada ikatan yang tidak terputus, bahwa manusia membela dirinya tanpa lelah melawan ikatan setiap menyortir; namun orang-orang yang buta berulang-ulang melihat ikatan baru, dan percaya bahwa mereka telah mencapai yang benar, misalnya, ketika mereka memakai ikatan yang disebut konstitusi bebas, ikatan konstitusional yang indah: ikatan sekolah, 244 ikatan kepercayaan antara “--,” tampaknya telah menjadi agak usang, tetapi orang-orang telah pergi tidak lebih dari tali celemek ke ikat pinggang dan dasi. Segala sesuatu yang sakral adalah ikatan, belenggu. Segala sesuatu yang sakral harus dan mesti didistorsi oleh para penyimpang hukum; oleh karena itu zaman kita sekarang memiliki banyak penyimpangan semacam itu di setiap bidang. Mereka bersiap untuk pelanggaran hukum, untuk ketiadaan hukum. Orang-orang Athena yang malang, yang dituduh karena telah berdalih dan menyesatkan; Alkibiades yang malang, yang dituduh melakukan intrik. Itu hanya poin terbaikmu, langkah pertamamu dalam kebebasan. Aeschylus, 245 Herodotus, 246 dll., hanya ingin supaya orang-orang Yunani bebas; kamu adalah orang pertama yang mengisyaratkan kebebasan-mu. Orang-orang menekan mereka yang menjulang tinggi di atas keagungannya, dengan melakukan pengucilan terhadap warga yang kuat, dengan menyelidiki para bidat gereja, dengan memeriksa para pengkhianat negara.

244 “Ordensbänder” secara harfiah merujuk pada medali yang direkatkan, seperti yang mungkin didapatkan di militer, tetapi ia membuat permainan kata “Band” atau dasi, dan terjemahan secara harfiah kehilangan koneksi itu. Jadi saya memutuskan untuk membuat referensi ke “ikatan sekolah” dari kelas menengah atas Inggris, dasi yang mewakili sekolah yang mereka kunjungi sebagai seorang anak yang dianggap sebagai tanda dari kewajiban yang seharusnya sebagaimana mereka berutang satu sama lain karena telah menjadi teman sekolah. Penulis tragedi Yunani. Sejarawan Yunani Kuno.

Karena semua yang penting bagi rakyat adalah penegasan diri sendiri; itu menuntut “pengorbanan patriotik” dari semua orang. Konsekuensinya, untuk itu setiap orang dalam dirinya sendiri tidak berbada, bukan apapun, dan ia tidak bisa melakukan, atau bahkan membiarkan, apa yang harus dilakukan oleh individu dan dirinya sendiri-yaitu, menyadari dirinya sendiri. Setiap rakyat dan setiap negara selalu merugikan individu. Selama masih ada bahkan satu institusi yang tidak dapat dibongkar oleh individu, maka kepunyaan dan kepemilikan diriku masih sangat jauh. Bagaimana aku bisa bebas ketika aku harus mengikat diriku di bawah sumpah untuk sebuah konstitusi, piagam, hukum, “mengabdikan diri tubuh dan jiwa” kepada rakyatku? Bagaimana aku bisa menjadi milikku ketika kemampuanku hanya diizinkan berkembang sejauh mereka “tidak mengganggu keharmonisan masyarakat” (Weitling)? Kejatuhan rakyat dan kemanusiaan akan membawa-ku pada kebangkitan. Sekarang dengar ya, bahkan ketika aku menulis ini, lonceng-lonceng mulai berdentang untuk besok, bergemerincing dalam perayaan seribu tahun keberadaan Jerman kita yang terkasih. Berdentang, berdentang keluar dari pemakamannya! Kamu tentu terdengar cukup serius, seolah-olah lidahmu bertindak berdasarkan dugaan bahwa itu mengiringi mayat. Bangsa Jerman dan rakyat Jerman memiliki sejarah seribu tahun di belakang mereka: betapa panjang umurnya! Kemudian beristirahatlah dengan tenang, jangan pernah bangkit lagi, sehingga semua orang yang telah kamu jaga selama ini akan bebas. –Rakyat sudah mati. —Panjang umur diriku! 247 Oh, kamu, orang-orang Jermanku yang sangat tersiksa — apa yang menyiksamu? Itu adalah siksaan dari suatu pikiran yang tidak dapat menciptakan tubuh untuk dirinya sendiri, siksaan dari roh yang menghantui yang melebur ke dalam kehampaan sebelum setiap burung gagak berkokok dan masih merindukan pembebasan dan pemenuhan. Aku juga sudah lama hidup dalam diriku, kamu sayangku —adalah pikiran, kamu sayangku —adalah

Secara harfiah, “Wohlauf Ich!”, kira-kira berarti “Aku cukup baik!” atau “Kesehatan yang baik untukku!”, tetapi dalam konteksnya, “Panjang umur diriku!” tampaknya kalimat yang tepat –Wolfi.

spook. Aku hampir membayangkan telah menemukan kata pembebasanmu, menemukan daging dan tulang untuk roh pengembara; kemudian aku mendengar mereka berdering, lonceng-lonceng yang membaringkanmu untuk peristirahatan abadi, lalu harapan terakhir menghilang, lalu cinta terakhir menghilang, lalu aku pergi dari rumah orang mati yang sunyi dan memanggil yang hidup:

Hanya mereka yang hiduplah yang ada dalam hak.

Dadah, kamu yang bermimpi jutaan kali, dadah, kamu tiran ribuan tahun atas anakmu! Besok mereka akan membawamu pada kuburanmu; segera saudaramu, rakyat, akan mengikutimu. Tapi ketika mereka semua telah mengikuti, maka –kemanusian terkubur, dan aku adalah milikku sendiri, aku adalah pewaris yang tertawa! *** Kata “Gesellschaft” (masyarakat) memiliki asal-usulnya dalam kata “Sal” (aula, kamar). 248 Jika banyak orang dikurung dalam sebuah ruangan, maka ruangan itu membuat mereka berada di tengah masyarakat. Mereka berada dalam masyarakat dan paling-paling membentuk masyarakat ruang tamu, bicara soal ruang tamu klise tradisional. Ketika saatnya untuk hubungan aktual yang sebenarnya, ini harus dianggap sebagai sesuatu yang independen dari masyarakat; bisa jadi timbul atau mungkin tidak tanpa mengubah sifat dari apa yang disebut masyarakat. Mereka yang berada di ruangan itu berada dalam masyarakat bahkan sebagai orang yang bisu, atau ketika mereka membuat seseorang tidak mau melakukan sesuatu satu sama lain hanya dengan kata-kata yang sopan. Hubungan adalah mutualitas, itu adalah tindakan, suatu komersium²⁴⁹ individu; masyarakat hanyalah kesamaan ruangan, dan bahkan patung-patung di ruang museum ada di

248 Karena etimologi ini hanya berlaku untuk kata-kata Jerman dan tidak untuk padanan bahasa Inggris mereka, saya pikir lebih masuk akal untuk meninggalkan kata-kata Jerman dalam teks dengan padanan bahasa Inggris mereka dalam tanda kurung di sampingnya. “Sal” tampaknya merupakan versi lama dari kata “Saal” atau “Säle” –Wolfi. Bahasa latin untuk “komunikasi.”

dalam masyarakat, mereka dikelompokkan. Orang-orang biasanya berkata: “mereka memiliki ruangan yang sama,” tetapi lebih tepatnya ruangan itu menahan kita atau membiarkan kita tetap di dalamnya. Sejauh itulah makna alami dari kata “masyarakat.” Dari sini muncul bahwa masyarakat tidak dihasilkan oleh aku dan kamu, tetapi oleh faktor ketiga yang membuat kita berdua menjadi rekan, 250 dan bahwa justru faktor ketiga inilah yang merupakan hal kreatif, hal yang membentuk²⁵¹ masyarakat. Ini sangat mirip seperti penjara masyarakat atau penjara kolektif²⁵² (mereka yang menikmati²⁵³ dirinya dalam penjara yang sama). Di sini kita akan masuk ke faktor ketiga yang bahkan lebih kaya daripada faktor yang cuma lokal seperti ruangan. Penjara tidak lagi cuma ruang, tetapi ruang yang dengan tegas merujuk kepada penghuninya: itu memang penjara karena ditujukan untuk para tahanan, yang tanpa para tahanan maka itu hanya akan menjadi bangunan biasa. Apa yang memberikan cap umum pada kolektivitas di dalamnya? Jelas, penjara, karena mereka hanya dapat menjadi tahanan dengan adanya penjara. Jadi apa yang menentukan cara hidup masyarakat penjara? Penjara! Apa yang menentukan hubungan mereka? Mungkin juga penjara? Tentu saja, mereka hanya dapat melakukan hubungan sebagaimana tahanan, yaitu, sejauh yang diizinkan oleh hukum dalam penjara; tetapi mereka sendiri melakukan hubungan, aku dengan kamu, ini adalah sesuatu yang tidak bisa disediakan dalam penjara; sebaliknya, harus berhati-hati untuk mencegah hubungan yang egois, yang murni pribadi (dan hanya dengan demikianlah hubungan yang sebenarnya antara kamu dan aku). Bahwa kita

250 “Erschaffende.” 251 “Schaffende.” 252 “Genossenschaft”: Kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai “kooperatif” atau “persahabatan.” Saya mempertimbangkan untuk menggunakan “kolektivitas” di sini untuk menekankan sifat tidak sukarela dari asosiasi ini, tepatnya analogi yang dibuat Stirner dengan masyarakat secara keseluruhan, tetapi ada adalah kata lain yang secara khusus diterjemahkan sebagai “kolektivitas” yang digunakan Stirner nanti, dan saya tidak akan terkejut bahwa Stirner memiliki niat khusus dengan penggunaannya di sini –Wolfi. “Geniessen.”

secara kolektif melakukan tugas, mengoperasikan mesin, menggerakkan sesuatu, penjara akan menyediakan ini dengan baik; tetapi bahwa aku lupa bahwa aku adalah seorang tahanan, dan melakukan hubungan denganmu yang sama-sama mengabaikannya, yang menempatkan penjara dalam risiko, dan tidak hanya tidak dapat disediakan olehnya, tetapi lebih jauh lagi tidak boleh diizinkan. Karena alasan ini, majelis Perancis yang berpikiran suci dan bermoral memutuskan untuk memperkenalkan kurungan isolasi, dan para orang suci lainnya akan melakukan hal yang sama untuk memotong “hubungan yang merusak moral.” Penjara adalah kondisi yang mapan dan sakral dimana tidak ada upaya untuk melukai yang diizinkan. Tantangan sekecil apa pun dari jenis ini dapat dihukum, seperti halnya pemberontakan terhadap hal yang suci yang dengannya manusia seharusnya dihambat dan dipenjara. Seperti ruangan, penjara membentuk masyarakat, kolektif, komunitas (mis., komunitas buruh), tetapi tidak ada hubungan, tidak ada mutualisme, tidak ada asosiasi. Sebaliknya, setiap asosiasi di penjara membawa benih berbahaya dari “plot”, yang dapat tumbuh dan berbuah dalam keadaan yang menguntungkan. Tetapi seseorang biasanya tidak memasuki penjara secara sukarela, dan jarang secara sukarela tetap berada di dalamnya, tetapi lebih memupuk keinginan egoistik untuk kebebasan. Dengan demikian, lebih mudah dipahami di sini bahwa hubungan pribadi bertindak dengan permusuhan terhadap masyarakat penjara dan cenderung ke arah pembubaran masyarakat ini, penjara umum ini. Jadi mari kita melihat-lihat komunitas seperti yang kita, sepertinya, dengan senang hati dan sukarela tetap berada di dalamnya, tanpa ingin membahayakan mereka oleh keinginan egoistis kita. Keluarga hadir sebagai komunitas dari jenis yang diperlukan pada awalnya. Orang tua, pasangan, anak-anak, saudara kandung, hadir secara keseluruhan atau membentuk keluarga, yang untuk kerabat tambahannya dapat juga melayani jika dekat. Keluarga hanyalah sebuah komunitas aktual ketika hukum keluarga, kesalehan keluarga atau cinta keluarga, dipatuhi oleh para anggotanya. Seorang putra yang orangtuanya dan saudara kandungnya acuh tak acuh dulunya adalah seorang putra; karena, semenjak status anak menunjukkan dirinya tidak lagi

beroperasi, itu tidak memiliki arti yang lebih besar daripada hubungan masa lalu ibu dan anak melalui tali pusar. Bahwa seseorang yang pernah hidup dalam hubungan jasmani ini adalah hal yang dilakukan yang tidak dapat dibatalkan, dan sejauh ini seseorang tetap menjadi putra dari seorang ibu dan menjadi saudara dari anak-anaknya yang lain; tetapi itu hanya akan sampai pada hubungan yang langgeng melalui kesalehan keluarga yang langgeng, roh keluarga ini. Individu hanya menjadi anggota keluarga dalam artian penuh ketika mereka menjadikan kelangsungan hidup keluarga sebagai tugas mereka; hanya para konservatif yang tidak akan meragukan dasar mereka, yaitu keluarga. Satu hal harus tegas dan sakral bagi setiap anggota keluarga, yaitu keluarga itu sendiri, atau, lebih tepatnya, kesalehan keluarga. Bahwa hidup keluarga harus terus berlangsung tetap merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal bagi anggotanya, selama hal ini tetap bebas dari egoisme yang memusuhi keluarga. Dengan kata lain: Jika keluarga itu sakral, maka tidak ada seorang pun termasuk keluarga itu yang dapat meninggalkannya; jika tidak, ia menjadi “penjahat” terhadap keluarga; ia seharusnya tidak pernah mengejar ketertarikan yang bermusuhan dengan keluarga, misalnya, terjadinya misaliansi. 254255 Orang yang melakukan ini telah “menghina keluarga,” “membuatnya malu,” dll. Sekarang, jika hasrat egoistis dalam diri seseorang tidak memiliki kekuatan yang cukup, maka ia tunduk dan masuk ke dalam perkawinan yang sesuai dengan persyaratan keluarga, mengambil profesi yang selaras dengan posisinya, dan sejenisnya; singkatnya, dia “melakukan apa yang disebut sebagai kehormatan keluarga.” Namun, jika darah egoistik mengalir dengan cukup berapi- api melalui nadinya, ia lebih suka menjadi “penjahat” terhadap keluarga dan menghindari hukumnya.

254 Karena konteksnya berurusan dengan keluarga, saya menduga bahwa “Mißheirat” kemungkinan besar berarti pernikahan yang tidak dapat diterima oleh keluarga atau hubungan seksual tanpa sanksi pernikahan –Wolfi. “Misalliance” sendiri dalam bahasa Inggris berarti aliansi atau pernikahan yang tidak cocok, tidak membahagiakan, atau tidak berjalan baik -Penj.

Manakah dari keduanya yang lebih dekat ke hatiku, kesejahteraan keluarga atau kesejahteraanku sendiri? Dalam banyak kasus keduanya berjalan bersama secara damai, dan manfaat keluarga sama-sama menjadi milikku dan sebaliknya. Maka mungkin adalah hal yang sulit untuk memutuskan apakah aku berpikir untuk mementingkan diri sendiri atau untuk kepentingan umum, dan mungkin, dengan sangat senang, aku menyanjungkan diri sendiri dengan keegoisanku. Tetapi suatu hari tiba ketika suatu keputusan atau keputusan membuatku gemetar, ketika aku berpikir untuk tidak menghormati pohon keluarga, untuk menyinggung orangtua, saudara kandung, kerabat. Lalu bagaimana? Sekarang akan tampak bagaimana kecenderung lubuk hatiku; sekarang akan menjadi jelas apakah kesalehan keluarga pernah berdiri lebih tinggi daripada egoisme bagiku; sekarang yang mementingkan diri sendiri tidak akan lagi bisa bersembunyi di balik penampilan tidak mementingkan diri sendiri. Sebuah keinginan muncul dalam jiwaku, dan tumbuh dari waktu ke waktu, menjadi hasrat. Siapa yang langsung berpikir, bahwa bahkan yang paling tidak berpikir yang mungkin bocor terhadap roh keluarga, kesalehan keluarga, melakukan di dalamnya suatu pelanggaran terhadap ini, memang —siapa yang kemudian, pada saat itu, sepenuhnya menyadari hal itu? Begitulah yang terjadi pada kisahnya Juliet dalam Romeo dan Juliet. Gairah yang tak terkendali akhirnya tidak lagi bisa dijinakkan, dan itu merusak bangunan kesalehan keluarga. Tentu saja, kamu akan berkata, dari keinginan sendiri keluarga mengusir dari dadanya orang-orang yang keras kepala, yang memberikan lebih banyak mengikuti hawa nafsu mereka daripada mengikuti kesalehan keluarga; Protestan yang baik menggunakan alasan yang sama untuk melawan umat Katolik dengan banyak keberhasilan, dan bahkan memercayainya. Tapi itu hanya alasan untuk mengalihkan kesalahan dari diri sendiri dan tidak lebih dari itu. Orang-orang Katolik berpegang teguh pada ikatan gereja bersama, dan mendorong bidat-bidat itu dari diri mereka sendiri, hanya karena yang terakhir tidak begitu memegang ikatan gereja untuk mengorbankan keyakinan mereka terhadapnya; yang pertama berpegang erat pada ikatan, karena ikatan, Katolik, yaitu, gereja yang umum dan bersatu, adalah suci bagi mereka; yang terakhir, di sisi lain, mengabaikan ikatan. Demikian pula bagi mereka yang tidak memiliki kesalehan keluarga. Mereka tidak diusir, tetapi

mengusir diri mereka sendiri, karena mereka memegang gairah, keinginan diri, menjadi hal yang lebih tinggi daripada ikatan keluarga. Akan tetapi, sekarang, ada secercah harapan dari dalam hati yang kurang bergairah dan disengaja ketimbang Juliet. Gadis yang patuh itu membawa dirinya sebagai pengorbanan demi kedamaian keluarga. Seseorang dapat mengatakan bahwa kepentingan pribadi juga berlaku di sini, karena keputusan itu berasal dari perasaan bahwa gadis yang patuh merasa lebih puas dengan persatuan keluarga daripada dengan pemenuhan keinginannya. Itu mungkin; tetapi bagaimana, ketika sudah jelas bahwa egoisme dikorbankan demi kesalehan keluarga? Bagaimana, ketika bahkan setelah keinginan yang diarahkan untuk menentang kedamaian keluarga diredam, hal itu setidaknya tetap dalam ingatan akan “pengorbanan” yang dibawa ke ikatan yang suci? Bagaimana, ketika gadis yang patuh itu sadar telah meninggalkan dirinya sendiri tidak akan puas dan dengan rendah hati menjadikan dirinya sendiri kekuatan yang lebih tinggi? Subjek dan yang menjadi korban, karena takhayul menjalankan dominasi kesalehan keluarga atas dirinya! Dalam yang pertama egoisme mengalami kemenangan, dalam yang terakhir kesalehan keluarga menang dan hati yang egois berdarah; yang sebelumnya egoisme itulah yang kuat, yang terakhir ia menjadi yang lemah. Tetapi yang lemah, seperti yang telah kita ketahui, adalah — yang tidak egois. Keluarga peduli pada mereka, untuk ini anggota yang lemah, karena mereka menjadi milik keluarga, adalah kerabat, 256 tidak menjadi dan merawat diri mereka sendiri. Hegel, misalnya, memuji kelemahan ini ketika dia ingin tahu bahwa pilihan ada pada orang tua dalam permainan pernikahan anak-anak mereka. Sebagai komunitas yang sakral tempat individu tersebut juga berutang ketaatan, fungsi peradilan juga menjadi milik keluarga, oleh karena itu pengadilan keluarga dijelaskan dalam

256 Di sini ada permainan kata yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. “Milik” dalam bahasa Jerman adalah “angehören.” Kata yang digunakan Stirner untuk “saudara” di sini adalah “Familienangehörige,” yang secara harfiah, “milik keluarga” –Wolfi.

Cabanis oleh Willibald Alexis. 257 Di sana sang ayah, atas nama “dewan keluarga,” menempatkan anak yang tidak patuh di antara para prajurit dan mendorongnya keluar dari keluarganya, untuk membersihkan keluarganya yang ternoda melalui tindakan hukuman ini. —Pembentukan tanggung jawab keluarga yang paling konsisten terkandung dalam hukum Tiongkok, yang mana seluruh keluarga harus menebus kesalahan individu tersebut. Namun, hari ini, kekuatan keluarga jarang meluas cukup jauh untuk secara serius melaksanakan hukuman terhadap para pengkhianat (dalam banyak kasus, negara bahkan melindungi pencabutan hak waris). Penjahat terhadap keluarga (keluarga-penjahat) melarikan diri ke wilayah negara dan bebas, seperti penjahat negara yang melarikan diri ke Amerika dan tidak lagi dijangkau oleh hukum dari negaranya. Dia yang telah mempermalukan keluarganya, putra yang tersesat, dilindungi dari hukuman keluarga, karena negara, pelindung ini, menghilangkan hukuman keluarga dari “kesakralan” dan mencemarkannya dengan menyatakan bahwa itu hanya—“balas dendam”: ia mencegah hukuman ini, hak keluarga yang suci ini, karena sebelum hukuman itu, negara, “kesakralan,” kesakralan bawahan keluarga selalu memucat dan dinajiskan, segera setelah terjadi pertentangan dengan kesucian yang lebih tinggi ini. Tanpa konflik, negara meninggalkan kesakralan keluarga yang lebih rendah; tetapi dalam kasus yang berlawanan, itu bahkan memerintahkan kejahatan terhadap keluarga, menuntut putranya, misalnya, untuk menolak ketaatan begitu mereka ingin merayunya ke kejahatan terhadap negara. Sekarang, egois telah memutuskan ikatan keluarga dan menemukan di negara pelindung terhadap semangat keluarga yang sangat tersinggung. Tapi ke mana dia sekarang? Langsung ke masyarakat yang baru, di mana jerat dan jebakan yang sama dengan egonya baru saja melarikan diri menantinya. Karena negara juga masyarakat, bukan asosiasi; itu adalah keluarga yang diperluas dan diperbesar (“ayah negaranya—ibu negaranya— anak-anak negara mereka”). Apa yang disebut negara adalah pita dan jaringan ketergantungan dan pengabdian; itu adalah kebersamaan, yang

Sebuah novel patriotik yang diterbitkan pada tahun 1832, berlatar masa pemerintahan Frederick II di Prusia.

saling menempel, di mana mereka yang diperintahkan bersama saling menyetujui, atau singkatnya, bergantung satu sama lain: itu adalah tatanan ketergantungan ini. Misalkan raja, yang wewenangnya memberikan semua wewenang kepada juru sita, menghilang; tetap saja, semua yang ada dalam rasa ketertiban terjaga akan menjaga ketertiban dari gangguan kebinatangan. Jika kekacauan menang, negara akan berakhir. Tetapi apakah pikiran cinta ini, yang saling menyetujui, saling menempel, dan yang saling bergantung satu sama lain, benar-benar dapat memenangkan kita? Menurut hal ini, negara akan menyadari cinta, makhluk untuk satu sama lain dan hidup untuk satu sama lain. Tidakkah kehendak-diri bakal tersesat karena rasa keteraturan ini? Tidakkah orang-orang tidak akan merasa puas ketika tenaga menyediakan tatanan, yaitu, memastikan bahwa tidak ada yang “menapak terlalu dekat” dengan yang lain; dengan demikian, kapan kawanan dikerahkan atau diperintahkan dengan bijaksana? Memang, maka semuanya ada dalam “tatanan terbaik,” dan tatanan terbaik ini hanya disebut— negara! Masyarakat dan negara kita demikian tanpa kita membuatnya, digabungkan tanpa kita menggabungkan mereka, ditakdirkan dan ada, atau memiliki eksistensi mereka sendiri; adalah tatanan mapan yang tidak bisa binasa terhadap kita yang egois. Pertarungan global hari ini adalah, seperti yang mereka katakan, diarahkan melawan “tatanan yang sudah mapan.” Masih ada orang yang salah paham tentang ini, seolah-olah tatanan yang ada sekarang hanya boleh ditukar dengan tatanan lain yang lebih mapan. Tetapi perang mungkin lebih baik dideklarasikan melawan tatanan yang mapan itu sendiri, yaitu, negara –state (status), bukan negara tertentu, atau, misalnya, hanya kondisi negara saat ini; orang tidak mengincar negara lain (katakanlah, “negara rakyat”), tetapi asosiasi mereka, kombinasinya, kombinasi mereka yang cair dan selalu berubah-ubah dari semua yang ada. —Sebuah negara ada bahkan tanpa bantuanku: aku dilahirkan dan dibesarkan di dalamnya, ditempatkan di bawah kewajiban untuk itu, dan harus “membayar penghormatan” 258 untuk itu. Ini membawa diriku ke dalam “kebaikannya,” 259 dan aku hidup dengan “rahmatnya.” Jadi,

“huldigen.” “Huld.”

keberadaan negara yang independen membuatku kurang mandiri; “kealamiannya”, organismenya, menuntut agar sifatku tidak tumbuh dengan bebas, tetapi dipangkas agar sesuai dengannya. Agar dapat berkembang secara alami, ia menerapkan gunting “peradaban” kepadaku; ia memberiku pendidikan dan budaya yang cocok untuknya, bukan untukku, dan mengajarku, misalnya, untuk menghormati hukum, untuk menjauhkan diri dari pelanggaran properti negara (yaitu, properti pribadi), untuk menghormati kedaulatan ilahi dan duniawi, dll.; singkatnya, ia mengajarkanku untuk —jangan sampai terkena hukuman, yang aku maksudkan untuk “mengorbankan” rasa memilikiku untuk “kesucian” (segala sesuatu yang dapat disebut suci; misalnya, harta benda, kehidupan orang lain, dll.). Inilah jenis peradaban dan budaya yang bisa diberikan negara kepadaku; ia mengajarkan aku untuk menjadi “alat yang berguna,” “anggota masyarakat yang berguna.” Setiap negara harus melakukan ini, negara rakyat serta negara yang absolut maupun yang konstitusional. Ia harus melakukan hal ini selama kita tetap terjebak dalam kesalahan bahwa itu adalah aku, yang dikaitkan dengan dirinya atas nama “orang bermoral, yang mistis, atau orang negara.” Aku, yang benar-benar aku, harus menguliti aku yang berkulit singa ini dari si pemakan onak. Betapa banyak perampokan yang tidak tertahankan terjadi bagiku dalam sejarah dunia! Di sana aku membiarkan matahari, bulan dan bintang-bintang, kucing dan buaya, mendapat kehormatan karena dianggap sebagai Aku; kemudian Yehuwa, Allah, dan Bapa Kami datang dan menampilkan diri sebagai Aku; kemudian keluarga, suku, bangsa, dan akhirnya bahkan umat manusia datang dan dihormati sebagai Aku; kemudian negara, gereja datang dengan kepura-puraan menjadi Aku, dan Aku menyaksikan semuanya dalam keheningan. Tidak heran jika kemudian selalu ada Aku yang sebenarnya yang melangkah ke sana dan menegaskan kepada wajahku bahwa itu bukan kamu, tetapi aku sendiri. Putra Manusia telah melakukan par excellence yang sama; mengapa tidak seorang anak lelaki yang melakukannya juga? Jadi aku selalu mencari Aku-ku di atas dan di luar diriku dan tidak pernah bisa benar-benar datang pada diriku sendiri. Aku tidak pernah percaya pada diriku, aku tidak pernah percaya pada aku yang sekarang, aku melihat dalam diriku hanya

dalam masa depan. Anak laki-laki itu percaya bahwa dia hanya akan menjadi Aku yang pantas, lelaki yang pantas, ketika dia menjadi pria dewasa; pria itu berpikir bahwa hanya di akhirat ia akan menjadi sesuatu yang pantas. Dan bagi kita untuk segera mendekati yang sebenarnya, bahkan yang terbaik hari ini masih menceritakan pada satu sama lain kisah bahwa seseorang harus mengambil ke dalam dirinya negara, rakyatnya, kemanusiaan, dan entah apa lagi, untuk menjadi Aku yang sebenarnya, “warga negara bebas,” “orang yang bebas atau sejati”; mereka juga melihat kebenaran dan aktualitasku dalam menerima Aku yang asing dan mengabdi padanya. Dan maka seperti apa Aku ini? Aku yang bukan Aku atau yang bukam kamu, tetapi Aku yang hayalan, spook. Selama Abad Pertengahan gereja dapat mentolerir banyak negara yang hidup bersatu di dalamnya; demikian pula, setelah Reformasi, dan terutama setelah Perang Tiga Puluh Tahun, negara-negara belajar mentoleransi banyak gereja (denominasi) untuk tidak terkumpul di bawah satu mahkota. Tetapi semua negara adalah religius dan, sebagaimana dalam banyak kasus sering kali adalah “negara-negara Kristen,” yang menempatkan diri mereka dalam tugas untuk memaksa yang tidak dapat diperintahkan [ungovernable], yaitu “para egois,” yang berada di bawah ikatan yang tidak alamiah, yaitu, untuk mengkristenkan mereka. Semua lembaga negara Kristen memiliki tujuan mengkristenkan rakyat. Dengan demikian, pengadilan memiliki tujuan untuk memaksa orang demi keadilan, sekolah memaksa mereka untuk budaya spiritual; singkatnya, tujuannya adalah melindungi mereka yang bertindak dalam cara Kristen dari mereka yang bertindak dalam cara yang tidak Kristen, menggunakan tindakan Kristen untuk dominasi, untuk menjadikannya kuat. Dari antara cara-cara pemaksaan ini, negara juga memperhitungkan gereja, ia membutuhkan —agama tertentu dari semua orang. Dupin²⁶⁰ baru-baru ini mengatakan menentang ulama: “Instruksi dan pendidikan adalah tugasnya negara.” Tentu saja, semua yang menyangkut prinsip moralitas adalah masalah negara. Dengan demikian, negara Cina banyak

Seorang pengacara, hakim, dan pemimpin politik Prancis, terlibat dalam revolusi 1830 di Prancis, yang kemudian menjadi lebih konservatif.

campur tangan dalam urusan keluarga, dan seseorang bukanlah apapun, jika seseorang bukan apapun, di atas segalanya, anak yang baik bagi orang tuanya. Bersama kami juga, urusan keluarga benar-benar urusan negara; hanya saja negara kita — menempatkan kepercayaan pada keluarga tanpa pengawasan yang cemas; itu membuat keluarga terikat melalui ikatan pernikahan, dan ikatan ini tidak dapat diputuskan tanpa itu. Tetapi bahwa negara membuat aku bertanggung jawab atas prinsip-prinsipku, dan menuntut prinsip-prinsip tertentu dari diriku, hal ini membuat aku bertanya: Apa hubungan antara “kelelawar dengan menara tempat lonceng gereja”-ku dengan prinsip itu? Sangat banyak, karena negara adalah prinsip yang berkuasa. Orang-orang mengira bahwa dalam masalah perceraian, dalam hukum perkawinan pada umumnya, itu adalah pertanyaan tentang hak antara proporsi gereja dan negara. Sebaliknya itu adalah pertanyaan apakah sesuatu yang sakral harus memerintah atas manusia, entah apakah itu bakal disebut sebagai iman atau hukum moral (moralitas). Negara, sebagai penguasa, berperilaku layaknya gereja. Yang terakhir didasarkan pada kesalehan, sementara yang pertama berdasarkan moralitas. Orang-orang berbicara tentang toleransi, membiarkan kecenderungan-kecenderungan yang saling berlawanan tetap bebas, dan semacamnya, sifat-sifat yang membuatnya berbeda sebagai negara-negara yang beradab. Memang, beberapa cukup kuat untuk duduk dan menonton bahkan pertemuan yang paling tidak terbatasi, sementara yang lain meminta pelayan mereka untuk memburu pipa tembakau. Hanya untuk satu negara seperti yang lain, permainan individu dengan satu sama lain, mereka bolak-balik berdengung, kehidupan sehari-hari mereka, adalah sebuah kemungkinan, yang tidak diragukan lagi harus diserahkan kepada individu itu sendiri karena tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka. Banyak, perlu diakui, yang masih tegang pada agas dan menelan unta, 261 sementara yang lain lebih cerdas. Dalam yang terakhir, individu “lebih bebas,” karena mereka kurang ditindas. Tapi Aku bebas dalam negara mana pun. Toleransi yang dipuji negara hanyalah toleransi dari yang “tidak

Matius 23:24 : “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.”

ofensif,” yang “tidak berbahaya”; itu hanya peningkatan di atas pikiran kecil, hanya despotisme yang lebih terhormat, lebih megah, lebih membanggakan. Untuk sementara waktu, negara tertentu sepertinya ingin diangkat lebih tinggi dari pertempuran sastra, yang bisa dijalankan dengan sangat panas; Inggris berada di atas massa populer dan —menghisap tembakau. Tetapi celakalah literatur yang menyerang negara itu sendiri, celakalah bagi gerombolan yang “membahayakan” negara. Dalam keadaan tertentu mereka mengidamkan “ilmu pengetahuan yang bebas”; sementara di Inggris tentang “kehidupan rakyat yang bebas.” Tidak diragukan lagi, negara membiarkan individu bermain sebebas mungkin, hanya saja mereka tidak boleh bertindak dengan sungguh-sungguh, mereka tidak boleh melupakan negara. Orang itu tidak boleh berinteraksi dengan riang dengan orang lain, kecuali jika “diawasi dan ditengahi dari yang lebih tinggi.” Aku tidak boleh melakukan semua yang aku mampu lakukan, kecuali hanya sebanyak yang diizinkan oleh negara; Aku tidak boleh menggunakan pikiran-ku sendiri, atau pekerjaan-ku sendiri, atau, secara umum, apa pun yang itu adalah diriku. Negara selalu memiliki tujuan tunggal, yaitu untuk membatasi, menjinakkan, serta menundukkan individu —untuk membuatnya tunduk pada beberapa universalitas atau yang lainnya; itu hanya berlangsung selama individu-individu menjadi tidak sepenuhnya dirinya, dan kecuali hanya pembatasanku yang ditandai dengan jelas, pengekangan diriku, perbudakanku. Dengan demikian, negara tidak pernah bertujuan untuk membawa individu pada kegiatan yang bebas, tetapi selalu pada apapun yang berpatok pada tujuan negara. Juga, melalui negara, sesuatu yang umum terjadilah, sedikit-dikitnya yang kamu sebut sebagai karya umum, semua menjadi bagian dari mesin; ini lebih merupakan kerja keseluruhan mesin sebagai suatu unit, kerja sebuah mesin. Dengan cara yang sama juga, semuanya dilakukan oleh mesin negara; karena hal itu menggerakkan roda-roda pikiran individu, sehingga tidak ada yang mengikuti dorongan hati mereka sendiri. Negara berupaya untuk menghentikan semua aktivitas bebas melalui sensornya, pengawasannya, polisinya, dan menganggap upaya penghambatan ini sebagai tugasnya, karena pada kenyataannya itu adalah tugas untuk mempertahankan dirinya sendiri. Negara ingin membuat sesuatu dari manusia, dan hanya membuat manusia dapat hidup di dalamnya; setiap orang

yang ingin menjadi dirinya sendiri adalah musuhnya dan bukan siapa-siapa. “Dia bukan apapun” berarti: negara tidak menggunakannya, tidak memberinya jabatan, kantor, dagang, dan sejenisnya. Edgar Bauer dalam Die liberalen Bestrebungen [Aspirasi Para Liberal] 262 masih bermimpi tentang “pemerintah yang mana, ia timbul dari rakyat, yang tidak akan pernah bisa menentangnya [rakyat].” 263 Memang benar, ia sendiri mengambil kembali kata “pemerintah”:

Di dalam republik sama sekali tidak ada pemerintahan yang berlaku, melainkan hanya otoritas eksekutif. Otoritas yang muncul murni dan semata-mata dari rakyat, yang tidak memiliki kekuatan independen, yang tidak punya prinsip independen, tidak punya pejabat independen yang menentang rakyat, tetapi yang lebih memiliki dasar, sumber kekuatannya dan prinsip-prinsipnya, dalam satu-satunya otoritas tertinggi negara, yakni para rakyat. Konsep pemerintahan sama sekali tidak cocok dengan negara rakyat. 264

Tapi masalahnya tetap sama. Apa yang “bangkit, yang didasarkan, yang memiliki sumbernya” menjadi sesuatu yang “independen” dan, seperti anak yang dilahirkan dari rahim, segera masuk ke dalam pertentangan. Pemerintah, jika tidak ada independensi dan tidak ada pertentangan, maka itu artinya tidak ada sama sekali. “Di negara bebas tidak ada pemerintahan, dll.” 265 Ini sebenarnya menyiratkan bahwa orang-orang, ketika ia berdaulat, tidak membiarkan dirinya dipimpin oleh otoritas yang lebih tinggi.

262 Apa yang dikatakan dalam kata penutup setelah “liberalisme humanis” memiliki yang baik sebagai berikut —yaitu, bahwa itu juga ditulis segera setelah penampilan buku yang dikutip. 263 Edgar Bauer, Die liberalen Bestrebungen in Deutschland [Usaha Keras Liberal di Jerman] (Zurich and Winterhur, 1843), No. 2, hlm 50. Ibid, hlm 69. Ibid, hlm 94.

Apakah itu berbeda dalam monarki absolut? Apakah mungkin ada pemerintahan di atas sana bagi penguasa, yang berdiri di atasnya? Di atas penguasa, entah apakah itu disebut sebagai pangeran atau rakyat, tidak pernah ada kedudukan pemerintah, yang dipahami dalam diri sendirinya. Tetapi akan ada pemerintahan yang berdiri di atas-ku di setiap “negara,” baik dalam yang absolut maupun yang republik atau “yang bebas.” Aku sama buruknya dalam salah satu atau yang lainnya. Republik tidak lain adalah —monarki absolut: karena tidak ada bedanya apakah monarki itu disebut pangeran atau rakyat, karena keduanya adalah “yang agung.” Konstitusionalisme sendiri menunjukkan bahwa tidak ada yang mau dan dapat menjadi alat. Para menteri mendominasi tuannya, yaitu sang pangeran, dan para wakil mendominasi tuannya, yaitu rakyat. Baik, setidaknya di sini partai-partai sudah bebas, yaitu partai pejabat (yang disebut partai rakyat). Sang pangeran harus tunduk pada kehendak para menteri, rakyat harus menari ke buluh ruang dewan. Konstitusionalisme lebih jauh daripada republik, karena ia adalah negara dalam proses disintegrasi. Edgar Bauer menyangkal²⁶⁶ bahwa orang-orang adalah “kepribadian” dalam negara konstitusional; sebaliknya, ke republik? Ya, di negara yang konstitusional, rakyatnya adalah — partai, dan partai tentu saja adalah “kepribadian,” begitu tentang “negara” 267 orang ingin berbicara sebagai pribadi yang benar- benar bermoral. Masalahnya adalah bahwa orang yang bermoral, entah apakah hal itu disebut partai rakyat, atau rakyat, atau bahkan “Tuhan,” hal itu sama sekali bukan orang, tetapi spook. Lebih lanjut, Edgar Bauer mengatakan: “Paternalisme²⁶⁸ adalah ciri khas pemerintahan.” 269 Memang, itu lebih dari pada

266 Ibid, hlm 56. 267 Ibid, hlm 76. 268 Kata Jerman di sini, “Bevormundung,” menyiratkan paternalisme dalam arti yang paling harfiah —memperlakukan seseorang layaknya anak kecil, mengambil keputusan untuk mereka. Dalam pengertian demikian, hal ini mungkin istilah yang lebih kuat dari sekedar “paternalisme.” Gagasan infantilisasi, dan penghinaan yang diderita seseorang, tersirat dalam istilah itu – Wolfi. Ibid, hlm 69.

rakyat dan “pemerintahan rakyat”; itu adalah karakteristik dari semua aturan. Negara rakyat, yang “menyatukan semua kekuatan absolut di dalam dirinya sendiri,” “sang penguasa absolut,” tidak dapat membiarkanku menjadi kuat. Dan lihat betapa khimaira *, yang tak lagi mau memanggil “pejabat rakyat” “pelayan, alat,” karena mereka “melaksanakan kehendak bebas, kehendak hukum rakyat yang rasional!” 270 Dia mengatakan: “Hanya ketika semua lingkaran resmi menundukkan diri mereka sendiri pada pandangan pemerintah maka persatuan dapat dibawa ke dalam negara”; 271 tetapi negara rakyatnya juga seharusnya memiliki persatuan; kurang apalagi penundukkan yang dibolehkan di sana? Penundukkan terhadap— kehendak rakyat. “Dalam negara konstitusional adalah penguasa dan sikap dasar-nya yang akhirnya menjadi fondasi seluruh struktur pemerintahan.” 272 Bagaimana hal itu akan berbeda dalam “negara rakyat”? Tidakkah Aku akan diperintah di sana oleh sikap dasar rakyat, dan apakah itu membuat perbedaan bagiku, apakah aku melihat diriku tetap dalam ketergantungan oleh sikap pangeran atau oleh sikap rakyat, yang disebut “opini publik”? Jika pada dasarnya ketergantungan berarti “hubungan agama,” seperti yang dikemukakan Edgar Bauer, maka di negara rakyat, rakyat bagiku tetap menjadi kekuatan yang lebih tinggi, sebuah “keagungan” (karena Tuhan dan sang pangeran memiliki intisari sejati mereka dalam “keagungan”) yang aku perjuangkan dalam hubungan agama. —Seperti penguasa yang berdaulat, rakyat yang berdaulat juga akan berada di luar jangkauan hukum apa pun. Seluruh upaya Edgar Bauer sama saja dengan pergantian tuan. Alih-alih ingin membebaskan rakyat, ia seharusnya lebih mementingkan kebebasan satu-satunya yang bisa diwujudkan. Dalam negara konstitusional, absolutisme akhirnya bertentangan dengan dirinya sendiri, karena absolutisme telah

  • Khimaira (Yunani: Χίμαιρα; Chímaira) adalah makhluk legendaris dari mitologi Yunani yang merupakan gabungan dari tiga hewan: ular, kambing, dan singa. Khimaira secara populer telah menjadi lambang kekuatan setan, dan tampaknya ini yang dimaksud Stirner dengan “negara rakyat” -Penj. Ibid, hlm 73. Ibid, hlm 74. Ibid, hlm 130.

pecah menjadi dualitas: pemerintah ingin menjadi absolut, dan rakyat ingin menjadi absolut. Kedua absolut ini akan saling memusnahkan. Edgar Bauer mencerca para penguasa yang ditentukan berdasarkan kelahiran, yang secara kebetulan. Tetapi ketika “rakyat” akan menjadi “satu-satunya kekuatan dalam negara,” 273 bukankah kita kemudian memilikinya secara kebetulan? Lalu apa itu rakyat? Rakyat hanya selalu menjadi badan pemerintah: itu adalah orang banyak yang ada di bawah satu topi (pangeran) atau orang banyak di bawah satu konstitusi. Dan konstitusi adalah — pangeran. Pangeran dan rakyat akan bertahan selama mereka tidak roboh bersama-sama. Jika ada banyak “rakyat” di bawah satu konstitusi, seperti misalnya dalam monarki Persia dan seperti hari ini, maka “rakyat-rakyat” ini hanyalah sebuah peringkat sebagai “provinsi.” Bagaimanapun juga, bagiku rakyat adalah — kekuatan yang tak disengaja, kekuatan alam, musuh yang harus aku taklukkan. Bagaimana seseorang membayangkan rakyat sebagai yang “terorganisir”? 274 Orang “yang tidak memiliki pemerintahan lagi,” yang memerintah dirinya sendiri. Di mana, oleh karena itu, tidak ada aku yang menonjol; sebuah orang yang diorganisir oleh pengasingan. Pengusiran Is [the banishment of Is], pengasingan, membuat rakyat menjadi otokrat. Jika kamu berbicara tentang orang-orang, kamu harus berbicara tentang sang pangeran; karena jika orang-orang seharusnya menjadi subjek dan membuat sejarah, ia harus, seperti halnya semua makhluk yang bertindak, memiliki kepala, “kepala tertinggi.” Weitling menetapkan ini dalam “Trio”-nya²⁷⁵ dan Proudhon menyatakan: “Une société, pour ainsi dire acéphale, ne

273 Ibid, hlm 132. 274 Ibid, hlm 132. 275 Meskipun tidak secara jelas Stirner menulisnya di sini, ini kemungkinan besar merujuk pada bagian kedua bab 9 dari karya Weitling, Garantien der Harmonie und Freihiet (Vivis, 1842), yang berjudul “Vom Trio” (“Tentang Trio”). “Trio” ini adalah puncak hierarki administratif Weitling dalam masyarakat idealnya, dan terdiri dari para pemimpin dari tiga cabang ilmu pengetahuan — penyembuhan, fisika, dan mekanika.

peut vivre” 276 Vox populi sekarang selalu dipegang teguh oleh kita, dan “opini publik” ditujukan untuk memerintah para pangeran kita. Tentu saja vox populi sama dengan vox dei; tetapi bukan karena keduanya tidak begitu berguna, dan bukankah vox principis²⁷⁷ sama juga dengan vox dei? Seseorang mungkin perlu diingatkan di sini tentang apa itu “kebangsaan”. Untuk menyatukan tiga puluh delapan negara bagian Jerman bertindak menjadi satu bangsa dapat diibaratkan sebagai keinginan yang tidak masuk akal tentang tiga puluh delapan kawanan lebah, yang masing-masing dipimpin oleh tiga puluh delapan ratu lebah, yang harus bersatu menjadi satu kawanan [swarm]. Mereka semua tetap lebah; tetapi bukan lebah seperti lebah yang menjadi kepunyaan yang lain dan dapat bersatu satu sama lain, melainkan hanya lebah yang tunduk yang terhubung dengan ratu lebah yang berkuasa. Lebah dan manusia tanpa kehendak, dan naluri ratu mereka menuntun mereka. Jika seseorang merujuk lebah pada kelebahan [beehood] mereka, 278 di mana mereka, dalam hal apa pun, semua sama satu sama lain, orang akan melakukan hal yang sama seperti yang sekarang mereka lakukan dengan sangat terburu-buru saat merujuk Jerman dengan Kejermanan [Germanhood] mereka. Kejermanan dalam hal ini persis seperti kelebahan, bahwa dalam dirinya sendiri diperlukan adanya perpecahan dan pemisahan, tetapi sejauh tanpa memajukan pemisahan terakhir, di mana dengan penerapan penuh pemisahan, pada akhirnya muncul:

276 Pierre-Joseph Proudhon, De la création de l’ordre dans l’humanité ou principes d’organization politique (Paris, 1843), hlm. 485. Kalimat ini, dalam bahasa Prancis yang aslinya, diterjemahkan sebagai: “masyarakat tanpa kepala tidak dapat hidup”. 277 “Suara penguasa.” 278 Sangat menarik bahwa dalam bagian ini kata yang diterjemahkan sebagai “beehood” adalah “Bienentum” dan yang diterjemahkan sebagai “Jerman” adalah “Deutschtum.” Dari sini, apa yang diartikan oleh Stirner dengan “properti,” yaitu “Eigentum,” harus menjadi lebih jelas. Properti saya adalah “kepemilikan” saya ... yaitu, itulah yang membuat saya menjadi milik saya –Wolfi.

maksudku pemisahan manusia dari manusia. Jerman memang membelah diri menjadi berbagai suku dan bangsa, yaitu sarang lebah; tetapi individu yang memiliki kualitas sebagai Jerman masih tidak berdaya seperti lebah yang terisolasi. Namun hanya individu yang dapat bergabung satu sama lain, dan aliansi dan liga semua orang adalah dan tetap komposisi yang mekanik, karena yang berkumpul, 279 setidaknya sejauh “bangsa” dilihat sebagai yang berkumpul, tanpa kehendak. Hanya dengan pemisahan terakhir saja maka pemisahan itu sendiri usai dan berubah menjadi asosiasi. Sekarang, para warga negara berusaha keras untuk membangun persatuan sarang lebah yang abstrak dan tak bernyawa; tetapi kemilikan diri akan memperjuangkan kesatuan kehendak diri, untuk berserikat. Inilah ciri dari semua keinginan reaksioner, bahwa mereka ingin mengatur sesuatu yang umum, yang abstrak, yang kosong, konsep yang tak bernyawa, sedangkan milik sendiri berusaha untuk melepaskan beban yang kokoh, hidup khususnya dari massa umum yang jelimat. Kaum reaksioner akan senang menumbuk rakyat, bangsa, dan sebagainya dari bumi; milik sendiri hanya dalam pikiran mereka. Pada dasarnya, dua upaya yang sedang berlangsung hari ini, yaitu, pemulihan hak provinsi, pemisahan suku yang lama (Frank, Bavarians, dll., Lausitz, dll.), dan pemulihan seluruh kebangsaan, bersama menjadi satu. Jerman hanya akan mencapai persetujuan, 280 yaitu, menyatukan²⁸¹ diri mereka sendiri, jika mereka merobohkan sarang lebah mereka dan juga semua sarang lebah; dengan kata lain, ketika mereka lebih dari —Jerman; hanya pada saat itulah mereka dapat membentuk “Asosiasi Jerman.” Mereka tidak ingin kembali ke kewarganegaraan mereka, mereka tidak ingin kembali ke dalam rahim, untuk dilahirkan kembali, tetapi membiarkan masing-masing masuk ke dalam dirinya sendiri. Betapa menggelikannya, ketika seorang Jerman menggenggam

279 “Die Zusammentretenden” -kata benda ini berasal dari kata kerja “zusammentreten” yang memang bisa berarti “merakit,” tetapi juga bisa berarti “menginjak-injak dengan kaki,” sehingga di sini kata benda ini mungkin memiliki makna ganda yang menyatukan “secara mekanis” sedang diinjak-injak –Wolfi. Einig. Vereinigen.

tangan kanan orang lain dan meremasnya dengan menggigil, karena “dia juga orang Jerman!” Dengan hal macam ini, dia memiliki beberapa klaim! Tetapi hal itu tentu akan dianggap menyentuh selama rakyat bergembira atas “persaudaraan,” yaitu, selama mereka memiliki “sikap kekeluargaan.” Mulai dari takhayul tentang “takwa bakti,” dari “persaudaraan” atau “kekanakan,” atau bagaimana pun ungkapan kesalehan yang lembut dapat dibacakan, warga negara, yang menginginkan keluarga besar Jerman, tidak dapat membebaskan diri dari roh keluarga. Bagaimanapun juga, yang disebut sebagai bangsa hanya dapat memahami diri mereka sendiri dengan benar untuk naik di atas hubungan mereka dengan para fanatik Jerman yang baik hati. Karena asosiasi untuk tujuan dan kepentingan material, yang mereka tuntut dari Jerman, benar-benar tidak lebih dari asosiasi sukarela. Carrière dengan antusias berteriak: “Jalur kereta api semakin tajam menembus kehidupan masyarakat, karena telah muncul di mana-mana dengan pengaruh besar seperti itu.” 282 Benar sekali, itu akan menjadi kehidupan rakyat yang muncul di mana-mana, karena itu bukan —kehidupan manusia. —Jadi Carrière membantah dirinya sendiri: “Kemanusiaan murni atau umat manusia tidak dapat diwakili dengan lebih baik daripada oleh orang yang memenuhi misinya.” 283 Memang, hanya identitas bangsa yang diwakili. “Generalitas samar-samar lebih rendah daripada bentuk yang mandiri, yang dengan sendirinya adalah keseluruhan, dan hidup sebagai bagian yang hidup dari yang benar-benar umum, yang terorganisir.” Rakyat justru adalah “generalisasi samar” ini, dan itu hanyalah seseorang dalam “bentuk yang mandiri.” Ketidakpribadiian [impersonality] dari apa yang orang sebut sebagai “rakyat, bangsa” juga jelas dari kenyataan bahwa orang yang ingin memanifestasikan Aku-nya dengan kekuatan terbaiknya, menempatkan penguasa tanpa kehendak di kepalanya. Ia berada dalam alternatif baik untuk tunduk pada seorang pangeran yang hanya menyadari dirinya sendiri, kesenangan pribadinya (maka ia tidak mengakui pada “penguasa

Moriz Carrière, Der Kölner Dom als freie deutsche Kirche. Gedanken über Nationalität, Kunst und Religion beim Wiederbeginn des Baues (Stuttgart, 1843), hlm 4. Ibid, hlm 10.

absolut” kehendaknya sendiri, apa yang disebut kehendak rakyat) atau untuk menempatkan pangeran di atas takhta yang tidak mau memaksakan kehendaknya sendiri (maka ia memiliki pangeran tanpa kehendak, yang tempatnya mungkin juga dipenuhi oleh beberapa jam kerja yang diperhitungkan dengan baik). Oleh karena itu, pemahaman soal ini hanya perlu melangkah lebih jauh, yaitu dengan sendirinya bahwa Aku yang rakyat ini adalah kekuatan “spiritual”, yang impersonal, yaitu hukum. Dari sinilah kemudian bahwa Aku yang rakyat ini adalah — spook, itu bukan Aku. Aku adalah Aku karena aku membuat diriku sendiri, yaitu, karena tidak ada orang lain yang membuatku, melainkan aku harus menjadi karya dan ciptaanku sendiri. Tetapi bagaimana dengan Aku yang rakyat? Peluang memainkannya ke tangan orang, kesempatan memberikan pada hal ini atau itu seorang tuan sejak lahir, kemungkinan menyediakannya dengan yang dipilih; ia bukanlah hal macam itu (yang “berdaulat”), karena aku adalah ciptaanku. Pikirkan tentang ini: seseorang mencoba meyakinkan kamu bahwa Hans atau Kunz adalah *aku-*mu, melainkan kamu bukan aku-mu sendiri! Tapi begitulah yang terjadi pada rakyat, dan memang demikian untuk itu. Karena orang-orang tidak memiliki Aku lebih dari yang dimiliki oleh sebelas planet yang dihitung bersama, meskipun mereka berputar di sekitar pusat yang sama. Pernyataan Bailly itu khas sekali dari mentalitas budak yang dimiliki orang sebelum dirinya berdaulat, sebagaimana di hadapan pangeran. “Saya tidak lagi memiliki,” katanya, “nalar tambahan ketika nalar umum telah diucapkan. Hukum pertama saya adalah kehendak bangsa; segera setelah itu berkumpul, saya tidak tahu apapun lagi selain kedaulatan kehendaknya.” Dia tidak ingin memiliki “nalar tambahan,” namun nalar tambahan ini saja yang menyelesaikan segalanya. Demikian pula, Mirabeau mencerca dalam kata-kata: “Tidak ada kekuatan di bumi yang memiliki hak untuk mengatakan kepada perwakilan negara: itu adalah

kehendakku²⁸⁴!” 285 Seperti halnya rakyat Yunani, orang zaman sekarang ingin menjadikan manusia sebagai zoon politicon, warga negara atau orang yang berpolitik. Dengan demikian, ia telah lama dianggap sebagai “warga negara surga.” Tetapi bahasa Yunani diturunkan bersama dengan negaranya, warga surga menjadi demikian pula dengan surga; kami, di sisi lain, tidak mau turun bersama rakyat, bangsa dan kebangsaan, tidak mau menjadi orang yang lebih politis atau politikus belaka. Sejak revolusi mereka berjuang untuk “kebahagiaan rakyat,” dan sejauh mereka membuat orang bahagia, hebat, dll., Mereka membuat kita tidak bahagia: kebahagiaan rakyat adalah ketidakbahagiaanku. Orang dengan mudah melihat lagi gosip kosong yang dilontarkan para liberal dengan cara santun dalam Über die Teilnahme am Staate karya Nauwerck. 286 Di sana penulis mengeluh tentang mereka yang acuh tak acuh dan tidak berpartisipasi, mereka yang bukan warga negara dalam pengertian penuh, dan berbicara seolah-olah seseorang tidak bisa menjadi manusia sama sekali jika seseorang tidak berpartisipasi dengan sungguh-sungguh dalam sistem negara, yaitu, jika salah satunya bukan politisi. Dia benar tentang itu; karena jika negara dianggap sebagai penjaga segala sesuatu “manusia,” maka kita tidak dapat memiliki manusia tanpa mengambil bagian di dalamnya. Tetapi apa yang dikatakan hal ini terhadap orang yang egois? Tidak ada sama sekali, karena egois sendiri adalah penjaga kemanusiaan untuk dirinya sendiri, dan hanya mengatakan kata- kata ini kepada negara: “Menyingkir dari matahariku.” 287 Hanya

284 “Ich will” secara harfiah diterjemahkan sebagai “Aku ingin/hendak,” tetapi terjemahan ini dalam bahasa Inggris sayangnya jadi ambigu –Wolfi. 285 Kutipan dari Bailly dan Mirabeau diambil dari Bailly und die ersten Tage der Französischen Revolution (Charlottenburg,

1843) karya Edgar Bauer.
286 “Tentang Partisipasi dalam Negara.” Buku Karl Nauwerck ini diterbitkan di Leipzig pada 1844. Merujuk pada kisah pertemuan antara Diogenes sang Sinis dan Alexander Agung. Ketika kaisar bertanya kepada orang yang sinis itu apa yang dia inginkan, Diogenes menjawab, “Menyingkir

ketika negara bersentuhan dengan kepemilikannya sendiri maka egois mengambil minat yang aktif di dalamnya. Jika kondisi negara tidak membebani sarjana kursi, apakah dia harus menghadapinya karena itu adalah “tugasnya yang paling suci”? Selama negara memperlakukannya seperti yang diinginkannya, kebutuhan apa yang harus dia pandangi dari studinya? Biarkan mereka yang dari minat mereka sendiri menginginkan kondisi yang berbeda, berurusan dengan mereka. Tidak sekarang, dan tidak akan pernah, “tugas suci” akan membawa orang untuk mempertimbangkan negara, sesedikit mereka menjadi murid ilmu pengetahuan, seniman, dll., dari “tugas suci.” Egoisme sendiri dapat mendorong mereka ke sana, dan dengan demikian akan segera setelah itu menjadi jauh lebih buruk. Jika Anda menunjukkan kepada orang-orang bahwa egoisme mereka memerlukan pertimbangan sistem negara, maka kamu tidak perlu memanggil mereka lama; tetapi jika kamu memohon cinta mereka pada tanah air dan sejenisnya, maka kamu akan berkhotbah tentang “layanan cinta” ini untuk hati yang tuli untuk waktu yang lama. Tentu saja, dalam pengertianmu, egois tidak akan berpartisipasi dalam urusan negara sama sekali. Nauwerck mengucapkan frasa liberal yang asli:

Orang itu memenuhi panggilannya sepenuhnya hanya ketika dia merasakan dan mengetahui dirinya sebagai anggota umat manusia, dan aktif seperti itu. Individu tidak dapat mewujudkan gagasan kemanusiaan jika dia tidak mendasarkan dirinya pada seluruh umat manusia, jika dia tidak menarik kekuatannya dari hal itu sebagaimana Antaeus. 288

Di tempat yang sama ia berkata: “Hubungan orang itu dengan res publica * direndahkan oleh perspektif teologis menjadi masalah pribadi semata, dan dengan demikian dihilangkan

dari matahariku!” sebab Alexander telah menghalangi sinar matahari Diogenes. Karl Nauwerck, Über die Teilnahme am Staate (Leipzig, 1844), hlm 16. * Res publica adalah kalimat latin yang secara longgar berarti “urusan publik” atau “perkara umum”. -Penj.

dengan penyangkalan.” Seolah-olah perspektif politik melakukan yang sebaliknya dengan agama! Di sana agama menjadi “masalah pribadi.” Jika, alih-alih “tugas suci,” “takdir manusia,” “panggilan untuk manusia seutuhnya,” dan perintah-perintah serupa, seseorang akan berpegang teguh pada orang-orang bahwa kepentingan pribadi mereka akan sia-sia jika mereka membiarkan semuanya berjalan jika itu terjadi dalam negara, maka seseorang akan mengatasinya, tanpa omelan, karena seseorang harus mengatasinya pada saat yang menentukan jika dia ingin mencapai tujuannya. Alih-alih, penulis yang membenci teologi itu mengatakan, ”Jika suatu saat negara mengajukan klaimnya sendiri, klaim kita adalah saat seperti itu. Orang yang berpikir melihat partisipasi dalam teori dan praktik negara sebagai tugas, salah satu tugas paling sakral yang jatuh kepadanya” —dan kemudian membawa “kebutuhan tanpa syarat bahwa setiap orang berpartisipasi dalam negara” lebih dekat ke pandangan. Siapa pun yang memiliki kepala atau hati atau kedua negara duduk, siapa pun yang dimiliki oleh negara, atau orang yang beriman di negara bagian, adalah seorang politisi dan tetap selamanya. “Negara adalah sarana yang paling diperlukan untuk pengembangan kemanusiaan yang lengkap.” Sudah pasti selama kita ingin mengembangkan kemanusiaan; tetapi jika kita ingin mengembangkan diri kita sendiri, itu hanya bisa menjadi sarana untuk menghalangi kita. Masih bisakah seseorang mereformasi dan meningkatkan negara dan rakyat sekarang? Sama seperti bangsawan, pendeta, gereja, dll.; seseorang dapat membubarkan, menghancurkan, memusnahkan mereka, tidak mereformasi mereka. Dapatkah saya mengubah sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal melalui reformasi, atau haruskah saya langsung menjatuhkannya?

III. KENIKMATAN DIRIKU

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru telah datang.”

BAB 5

YANG UNIK


Jaman pra-Kristen dan Kristen mengejar tujuan yang bertentangan; jaman pra-Kristen ingin untuk mengidealisasikan yang nyata, sementara jaman Kristen ingin merealisasikan yang ideal; yang pertama mencari “roh suci” dan yang terakhir menghendaki “tubuh yang mulia.” Lalu, yang pertama mengakhirinya dengan sikap tidak peka pada yang nyata, dengan “menghina dunia”; sementara yang terakhir berujung dengan membuang yang ideal, dengan “menghina roh.” Pertentangan antara keduanya tidak akan terselesaikan kecuali seseorang menghancurkan keduanya, dan yang satu tidak bisa menjadi yang lain: jika yang ideal menjadi nyata, maka ia tidak akan lagi menjadi yang ideal; dan jika yang nyata menjadi ideal, hanya akan ada yang ideal dan yang nyata tidak akan ada sama sekali. Hanya dalam “seseorang” ini, yaitu pihak ketiga, maka pertentangan itu usai sudah; sebab bagaimanapun juga yang ideal dan yang nyata tidak akan pernah bertemu. G tidak dapat direalisasikan dengan cara apapun yang tetap bakal mempertahankan ide, kecuali jika ia mati sebagai ide; dan hal yang sama berlaku pula jika diterapkan pada yang nyata. Tapi yang kita punya sekarang adalah sisa-sisa sebelum jaman kita, yaitu para pengikut yang ideal dari jaman dahulu, dan pengikut realitas dari jaman modern. Tidak ada yang lolos dari pertentangan ini, keduanya merana. Yang satunya sehabis roh, saat dambaan dunia kuno ini terpenuhi dan roh ini nampaknya bakal datang, segera demi sekularisasi roh ini sisi yang lain lagi-lagi harus tetap menjadi “keinginan imaniah” untuk selamanya. Keinginan imaniah orang jaman dulu adalah kesucian (sanctity), keinginan imaniah dari orang-orang modern adalah perwujudan, penubuhan (embodiment). Tapi sebagaimana halnya jaman purbakala harus turun ke bawah jika kehendaknya telah terpuaskan (karena ia hanya terdiri dari kehendak ini), maka

perwujudan juga tidak akan pernah bisa tercapai dalam lingkaran kekristenan. Seiring berjalannya proses pengudusan atau pemurnian melalui dunia lama (pencucian, dsb.) sehingga penggabungan berjalan melalui dunia Kristen: Tuhan merambah ke dunia ini, Tuhan menjadi manusia, dan ingin menebusnya, yaitu mengisinya dengan dirinya sendiri. Tapi karena dia adalah “ide” atau “roh”, pada akhirnya orang-orang (seperti Hegel misal) mengenalkan gagasan itu ke dalam segala hal, ke dalam dunia, dan membuktikan “bahwa idenya, nalar itu, ada dalam segala hal.” Apa yang orang-orang kafir Stoik sebut sebagai “orang bijak” berhubungan dengan pembelajaran pada “umat manusia” saat ini. Yang terakhir itu sebenarnya sama seperti yang pertama, adalah makhluk tanpa daging. Orang bijak yang tidak nyata, “yang suci” tak bertubuh dari orang-orang Stoik ini, menjadi pribadi yang nyata, seorang “yang kudus”; di dalam Tuhan dijadikannya daging. Artinya “manusia” yang tidak nyata; tubuhku yang kotor, akan menjadi nyata di dalam Aku yang terkandung, dalam diriku. Pertanyaan tentang “eksistensi Tuhan” menerobos kekristenan; diambil berulang kali, ia menyaksikan bahwa dorongan untuk eksistensi, perwujudan, kepribadian, aktualitas, terus-menerus menguasai pikiran, 289 karena ia tidak pernah menemukan solusi yang memadai. Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan akhirnya lenyap, namun malah muncul lagi dalam dalil bahwa “yang ilahi” memiliki eksistensi (misalnya Feuerbach). Tapi ini pun juga tidak memiliki eksistensi, dan upaya terakhir, bahwa “manusia murni” dapat direalisasikan, tidak akan menawarkan perlindungan untuk lebih lama lagi. Tidak ada ide yang eksis, karena tidak ada yang mampu mewujudkannya. Kontroversi para skolastik atas realisme dan nominalisme memiliki ihwal yang sama; singkatnya, ia terjalin dengan sendirinya sepanjang sejarah Kristen, dan hal ini tidak dapat berakhir di dalamnya. Dunia Kristen bekerja untuk mewujudkan gagasan dalam hubungan kehidupan individu, dalam institusi dan hukum gereja dan negara. Tapi mereka enggan, dan selalu menyimpan sesuatu kembali menjadi ter-unmaterialisasi (tidak dapat direalisasikan). Ia terus menerus tetap mengejar materialitas ini, mengenyampingkan berapa banyak perwujudan yang akan selalu

“Gemüt” (“jiwa,” “hati,” “alam,” “disposisi,” begitu pula “pikiran”) ketimbang “Geist” dalam hal ini.

tidak lengkap. Para perealisir hanya menaruh sedikit pada kenyataan, tapi menempatkan segala sesuatu pada realisasi yang sama dari ide. Dengan demikian, dia terus-menerus memeriksa ulang apakah yang terrealisasi, sebenarnya memiliki gagasan, apakah kernelnya tinggal di dalamnya. Dan saat dia menguji yang nyata, pada saat yang sama dia menguji ide, apakah itu bisa direalisasikan sesuai pemikirannya, atau apakah dia telah berbuat salah sehingga hal itu tidak bisa dijalankan. Karena keluarga, negara, dan lain-lain, sebagai eksistensi tak lagi jadi perhatian orang Kristen. Tidak seperti orang jaman dulu, orang Kristen tidak seharusnya mengorbankan diri mereka untuk “hal-hal ilahi ini”, tapi seharusnya mereka digunakan untuk membawa roh untuk hidup dalam diri mereka. Keluarga yang sebenarnya menjadi tidak penting, dan dari yang ideal itu, yang akan menjadi “yang benar-benar nyata”, seharusnya muncul keluarga suci yang diberkati oleh Tuhan, atau, dengan cara berpikir para liberal, keluarga yang “rasional”. Di antara orang jaman dulu, keluarga, negara, tanah air, dan lain-lain adalah hal yang ilahi sebagai sesuatu yang ada; di kalangan orang modern, mereka tetap menantikan keilahian, berdosa sebagaimana adanya, dan masih harus “ditebus,” yaitu, harus benar-benar nyata. Artinya: Keluarga dsb., bukanlah sesuatu yang ada dan nyata, tapi yang ilahi, yaitu idenya yang ada dan nyata; apakah keluarga ini akan membuat dirinya nyata dengan mengambil yang benar-benar nyata, idenya masih diperdebatkan. Bukan menjadi tugas seseorang untuk melayani keluarga sebagai sesuatu yang ilahi, namun sebaliknya, untuk melayani yang ilahi dan memberi makan keluarga yang tidak saleh kepada hal tersebut, untuk menundukkan segala sesuatu atas nama ide tersebut, untuk menerbangkan panji gagasan atas segalanya, untuk membawa ide untuk khasiat yang nyata. Tapi karena kepedulian Kekristenan, seperti yang kuno, adalah untuk yang ilahi, inilah dimana mereka selalu keluar dari jalan mereka yang berlawanan. Pada akhir heathenisme *, yang

  • Heathenisme merujuk pada suatu kekafiran, kebangkitan kembali paganisme Jermah. Istilah ini pertama kali muncul di antara komunitas Kristen di Eropa bagian selatan selama Jaman Pertengahan akhir sebagai suatu penjelasan atas agama-agama

ilahi menjadi duniawi yang lain (other-worldly); pada akhir agama Kristen, duniawi yang di sini (this-worldly). Jaman kuno tidak berhasil menempatkannya sepenuhnya di luar dunia, dan ketika Kekristenan menyelesaikan tugas ini, sang ilahi segera rindu untuk kembali ke dunia dan ingin “menebus” dunia. Tetapi dalam kekristenan, ia bukan dan tidak dapat mencapai titik di mana yang ilahi seperti duniawi yang di sini sebenarnya bakal menjadi yang duniawi: cukup banyak yang ditinggalkan, yang “buruk,” yang tidak rasional, yang acak, egois, yang “duniawi” dalam pengertian yang buruk, harus menjaga dirinya tidak terpikat. Kekristenan dimulai dengan Tuhan yang menjadi manusia, dan menjalankan pekerjaan pertobatan dan penebusannya sepanjang waktu, untuk mempersiapkan resepsi bagi Allah di dalam semua manusia dan dalam segala hal manusia, dan untuk menembus segala sesuatu dengan roh: hal itu terus berlanjut sampai pada disiapkannya tempat bagi “roh”. Lingkaran sakti kekristenan akan rusak, jika tegangan antara eksistensi dan panggilan berakhir. Misal, ketika ketegangan antara aku sebagaimana adanya diriku, dengan aku sebagaimana aku diharuskan, berakhir. Ia tetap bertahan hanya sebagai sebuah ide yang mendambakan perwujudan dan menghilang seiring berkurangnya pemisahan antara keduanya. Hanya jika ide tersisa –ide sebagai insan, atau kemanusiaan sebagai ide tak bertubuh- maka kekristenan akan tetap ada. Ide yang menubuh, atau roh yang menubuh atau “tersempurnakan, mengambang sebelum “akhir jaman” atau “tujuan sejarah” orang Kristen terjadi; artinya, hal itu tidak hadir baginya. Individu hanya bisa berpartisipasi dalam penemuan Kerajaan Allah, atau, yang menurut penggambaran modern pada hal yang sama, yaitu dalam pengembangan dan sejarah kemanusian. Dan hanya jika ia terlibat dalam hal itu, baik sebagai orang Kristen, atau dalam ekspresi yang modern, maka nilai manusia bakal serasi dengannya; dan dalam semua hal yang lain, ia tidak lain hanya sekedar debu dan sekarung cacing. Pandangan bahwa individu itu adalah sejarah dunia untuk dirinya sendiri dan memiliki propertinya di seluruh sejarah dunia, melampaui orang-orang Kristen. Bagi dunia Kristen, sejarah

selain agama mereka sendiri, atau agama Abrahamik terkait; yaitu Yudaisme dan Islam.

adalah hal yang lebih tinggi, karena itu adalah sejarah Kristus atau “manusia”. Bagi egois hanya sejarah-nya saja yang bernilai, karena dia hanya ingin mengembangkan dirinya sendiri, bukan gagasan tentang kemanusiaan, bukan rencana Tuhan, bukan maksud takdir, bukan kebebasan, atau sebagainya. Dia tidak memandang dirinya sebagai alat sebuah gagasan atau bejana Tuhan, dia tidak mengakui adanya panggilan, dia tidak membayangkan bahwa dia ada untuk melanjutkan perkembangan kemanusiaan dan bahwa dia harus menyumbangkan tungunya untuk itu. Namun dia menikmati hidup, tidak peduli tentang seberapa baik atau buruknya kemanusiaan dapat terjadi darinya. Jika hal itu tidak membiarkan kesalahpahaman bahwa keadaan alam (state of nature) harus dipuji, seseorang mungkin teringat pada The Three Gypsies karya penyair Austria Nikolaus Lenau. Apa, apakah aku ada di dunia untuk tujuan ini, untuk mewujudkan suatu gagasan? Untuk melakukan perananku merealisasikan gagasan tentang “negara” melalui kewarganegaraanku, atau untuk memikul gagasan tentang keluarga supaya eksis melalui pernikahanku, sebagai seorang suami dan ayah? Bagaimana mungkin aku membantah panggilan seperti itu! Aku baru menjadi hidup baru setelah ada panggilan, layaknya ketika bunga tumbuh dan memberi keharuman ketika ada panggilan. “Manusia” yang ideal tersadar ketika pandangan Kristen terjungkirbalikan dalam sebuah dalil, “Aku, yang unik ini, adalah manusia.” Pertanyaan konseptual “apa itu manusia?” telah berubah menjadi pertanyaan personal, “siapa itu manusia?” Dengan “apa” maka seseorang memeriksa konsep untuk merealisasikannya; tapi dengan “siapa” maka ia tidak lagi menjadi pertanyaan, tapi jawabannya adalah yang personal bagi si penanya: pertanyaannya adalah jawaban itu sendiri. Mereka berkata tentang Tuhan, “nama tidak menamaimu.” Hal tersebut menahan kebaikan bagi diriku: tidak ada konsep yang mengekspresikan diriku, tidak ada yang dirancang sebagai esensiku yang membuatku jadi rosok; mereka hanyalah sebuah nama. Layaknya seperti mereka mengatakan bahwa Tuhan itu sempurna dan tidak memerlukan kesempurnaan, itu juga berlaku bagi diriku sendiri. Akulah pemilik kekuasanku, dan aku demikian ketika aku mengetahui diriku sebagai yang unik. Dalam yang unik, pemilik itu sendiri kembali pada kreatifitasnya yang kosong, tempat ia

dilahirkan. Setiap esensi yang lebih tinggi diatasku, yang bisa jadi itu adalah Tuhan, bisa jadi juga itu manusia, melemahkan perasaaan keunikanku, dan perlahan memudar sebelum terbitnya mentari kesadaraan ini. Jika aku hanya mempedulikan diriku, 290 yaitu yang unik, maka perhatianku akan berhenti pada tempat pemberhentiannya, yaitu pencipta moral yang mengkonsumsi dirinya sendiri, dan aku akan berkata: Tak ada hal lain yang lebih penting kecuali diriku sendiri. 291

290 [Jerman: “Stell’ Ich auf Mich meine Sache.” Secara harafiah, “jika aku menaruh perhatianku pada diriku sendiri”] [Dalam tulisan asli Bahasa Jerman: “Ich hab’ Mein’ Sach’ auf Nichts gestellt.” Harafiahnya, “Aku tidak punya kepentingan pada apapun.”]