Baca PDF (OCR): Geguritan rusak Banjar

48 halaman · 48 halaman diproses dengan OCR· 54037 ms

Daftar isi
  1. Geguritan
  2. Rusak Banjar
  3. budayaanrtemen Pendidikan dan Kebudayaan
  4. 899.2238
  5. GEGURITAN
  6. RUSAK BANJAR
  7. DIREKTORAT
  8. JENDERAL
  9. KEBUDAYAA
  10. DEAN
  11. TANGGAL No. INDUK
  12. 19-2-82 98
  13. pemerintah Belanda. Dengan terpaksa rakyat Banjar bersama
  14. pemimpinnya kembali ke desa Banjar dengan tangan kosong,
  15. Buleleng dipimpin oleh seorang Komisaris Belanda dari Banyuwa-
  16. Belanda. Ida Ngurah sebagai pemimpin tidak mengijinkan. Tidak
  17. kucar-kacir. Tetapi tentara Belanda sementara itu diam saja tidak
  18. Belanda yang dipimpin oleh seorang Kornel tadi menyerang desa
  19. Dengan demikian selesailah cerita "GEGURITAN RUSAK BANJAR"
  20. PUH SINOM
  21. titiang mangiring mapalpal.
  22. Rakyat Desa Banjar berunding dipimpin oleh Ida Made Rai untuk
  23. nene ngupah mangadaang.
  24. Jikalau hanya pembesar
  25. naen deweknya sisip,
  26. Temukus — Buleleng
  27. semua berjalan di pinggir
  28. dan mereka tahu,
  29. diceritakan Ida Sang Nata
  30. serdadu lalu turun, goo
  31. Residen Banyuwangi,
  32. 29. Raris budal mangenggalang,
  33. ring Tuan Gupernur Jendral.
  34. 34. Saur ida tuara panjang,
  35. Saut beliau tidak panjang,
  36. Diceritakan Ida Made Ngurah,
  37. 35. Kocap Ida Made Ngurah,
  38. 37. Arin ida muah kelian,
  39. Belanda ke mari berperang.
  40. 45. Suradadu ngamaraang,
  41. mangraos di pasanggrahan.
  42. Perang Banjar antara masyarakat
  43. kalau Tuan (Belanda)
  44. tidak murni hormat saya
  45. Jadi bicaranya itu sangat
  46. 61. Sampun katur ring I Tuan,
  47. 63. Kocapan mangkin ring Banjar,
  48. tahu-tahu ada yang
  49. beliau memerintah punggawa.
  50. Rakyat sudah diberi tahu,
  51. 71. Kocap prajurite ring Jawa,
  52. Rakyat Banjar semua
  53. 74. Lemah wengi kaancaran,
  54. 79. Mayor Kumendan
  55. ngewehang lsbi es
  56. nene karaos sisip, gs
  57. kaula miwail nagara.b
  58. 80. Sampun matur mapinunas,
  59. makiib insi sin
  60. sesudah beliau pulang.
  61. malaib pati tarumbag.
  62. 90. Wenten malih gala-gala,
  63. Diceritakan sekarang
  64. 96. Kocapan mangkin i Tuan,
  65. 101. Kaula Mengwi ngruruh ida,
  66. 102.'Wenten kari durung munggah,

Geguritan

K

Rusak Banjar

Drs. I Gusti Ngurah Bagus I Ketut Pasek Suyasa

P Direktorat

budayaanrtemen Pendidikan dan Kebudayaan

Milik Dep. P dan K PPS/BI/5/78 Tidak diperdagangkan

899.2238

GEGURITAN

RUSAK BANJAR

DIREKTORAT

JENDERAL

A

KEBUDAYAA

R Alih aksara dan Alih bahasa K A Drs. I GUSTI NGURAH BAGUS I KETUT PASEK SUYASA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROYEK PENERBITAN BUKU BACAAN DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1979

DEAN

Diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah Hak pengárang dilindungi undang-undang

TANGGAL No. INDUK

19-2-82 98

KATA PENGANTAR

Bahagialah kita, bángsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu, di segala bidang. Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya. Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya. Saling pengertian antardaerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antarsuku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segalá sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia. Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Bali yang

berasal dari Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1979 Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah

GEGURITAN RUSAK BANJAR

Ringkasan Diceritakan di desa Banjar (Buleleng) terjadi suatu perteng- karan antara rakyat Banjar dengan raja Buleleng yang bersatu dengan pemerintah Belanda. Di mana rakyat Banjar tidak mau mentaati peraturan-peraturan maupun perintah yang dikeluarkan oleh raja Buleleng dan pemerintah Belanda. Karena raja Buleleng dan pemerintah Belanda dikatakan selalu menyakiti/memeras rakyat Banjar, maka dengan itu rakyat Banjar mencari pemimpin yang bernama: Ida Ngurah dan Ida Made Rai di mana beliau ini bekas penguasa di desa Banjar dahulu. Hal ini diketahui oleh raja Buleleng dan dengan terpaksa. minta bantuan kepada pemerintah Belanda yang ada di Banyuwangi: Tidak berapa lama datanglah tentara Belanda yang dipimpin oleh seorang Komisaris akan me- nangkap yang bersalah di Banjar. Yang bersalah itu ialah rakyat Banjar dan empat kepala kelompok di Bali disebut "Kelian Banjar"yang bernama: Made Guliang, Ida Dehi, Kamasan dan Ida Ka- ler Kayuputih. Oleh karena rakyat Banjar yang dipimpin oleh Ida Ngurah dan Ida Made Rai, mengetahui bahwa: raja Buleleng minta bantuan kepada pemerintah Belanda di Banyuwangi dan mengadakan tembusan kepada pemerintah Belanda yang ada di Betawi (Jawa Barat) yang sebagai Pusat pemerintahan Belanda (Kompeni) pada jaman dahulu, maka akhirnya rakyat Banjar bersama pemimpin- nya mendahului pergi ke Banyuwangi, minta maaf kepada pemerintah Belanda yang ada di Banyuwangi supaya kesalahan rakyat Banjar yang kadung terlanjur supaya dapat dimaafkan. Sampai di Jembrana diketemui oleh petugas kontrol tentara Belanda dengan terpaksa Ida Ngurah, Ida Made Rai, empat kepala kelompok beserta rakyat Banjar 500 orang ditahan oleh tentara Belanda yang bertugas kontrol keliling. Ida Ngurah, Ida Made Rai dan rakyat Banjar semuanya disuruh kembali oleh tentara Belanda sebab marahnya pemerintah Belanda meluap-luap. Di mana rakyat Banjar terlalu berani menentang pemerintah raja Buleleng dan

pemerintah Belanda. Dengan terpaksa rakyat Banjar bersama

pemimpinnya kembali ke desa Banjar dengan tangan kosong,

sebab segala yang dicita-citakan sia-sia belaka. Setibanya mereka di desa Banjar lalu mengadakan perundingan, dengan memutus- kan bahwa; segala yang akan terjadi, atau kesalahan dari perbuatan ini akan dihadapi. Tidak berapa lama datanglah tentara Belanda di

Buleleng dipimpin oleh seorang Komisaris Belanda dari Banyuwa-

ngi. Rakyat Buleleng bersaru dengan tentara Belanda serta bersiap- siap menyerang desa Banjar. Rakyat Banjar dalam hal ini mau me- ngalah dan menjamu Komisaris Belanda dengan membawa beras, sapi, itik, babi dan kelapa muda, meskipun demikian marah dari- pada Komisaris Belanda malah makin menjadi serta menangkap langsung pemimpin rakyat Banjar yang bernama I Kamasan kemudian langsung dinaikkan ke dalam kapal laut Belanda. Setelah seorang pemimpin itu ditangkap dengan tergesa-gesa rakyat Banjar lari kucar-kacir sambil membawa beras, sapi, itik tadi tetapi kelapa mudanya banyak yang berserakan. Ada tangannya dipegang kuat oleh tentara Belanda dengan memaksa diri melepaskan tangannya sampai jatuh terguling. Kemudian ada yang melaporkan kepada Ida Ngurah dan berkata bahwa ingin mengamuk karena pemimpinnya I Kamasan sudah dinaikkan ke 'dalam kapal laut

Belanda. Ida Ngurah sebagai pemimpin tidak mengijinkan. Tidak

berapa lama datanglah tentara Belanda menembaki serta me- nyerbu desa Banjar, dengan cepat para wanita di Banjar mengungsi ke daerah lain, ada yang membawa kekayaan, menanam uang dan lain-lainnya. Akhirnya terjadilah pertempuran antara Belanda di- tambah rakyat Buleleng dengan rakyat Banjar yang dipimpin oleh Ida Ngurah dan Ida Made Rai. Oleh karena tentara Belanda tidak ada memberikan petunjuk tentang siapa yang bersalah dan yang harus ditangkap, maka dengan itu pertempuran diberhentikan. Kemudian tentara Belanda bersama rakyat Buleleng mengundur- kan diri pergi ke asrama dan ke rumahnya masing-masing. Semen- tara di Banjar telah sepi yang ada hanya mayat-mayat saja maka rakyat Banjar banyak ke luar rumah sangat berani dan bersorak, setelah dilihatnya bahwa. saudaranya mati/gugur di dalam pertempuran tadi berubah menjadi menangis. Akhirnya Ida Ngurah sebagai pelindung dalam keadaan ini memberikan kain, serta diba- wa ke kuburan. Setelah beberapa hari kemudian datanglah lagi tentara Belanda bersama rakyat Buleleng menyerang desa Banjar yang kedua kalinya. Di dalam penyerangan kedua kali ini, rakyat

Buleleng banyak merampas kekayaan rakyat Banjar dan akhirnya rakyat Banjar makin berani dan marahnya berapi-api. Setelah rakyat Banjar menyerang dengan sorakan maka rakyat Buleleng lari

kucar-kacir. Tetapi tentara Belanda sementara itu diam saja tidak

melakukan penembakan akhirnya semua punggawa (menteri) raja Buleleng memihak Banjar yang menyebabkan tentara Belanda makin marah. Tidak berselang berapa lama datanglah Kornel dan tentara Belanda yang makin banyak. Atas kedatangan Kornel Belanda tersebut sangat menyinggung perasaan Mayor Belanda yang ada di Bali. Beberapa waktu kemudian berangkatlah pasukan

Belanda yang dipimpin oleh seorang Kornel tadi menyerang desa

Banjar yang terakhir. Terjadilah pertempuran antara tentara Belanda dengan rakyat Banjar yang ketiga kalinya, secara langsung sebagai perang puputan bagi rakyat Banjar. Di mana pemimpin rakyat Banjar Ida Made Rai mati tertembak oleh tentara Belanda. Kemudian kakaknya Ida Ngurah mengungsi menuju daerah lain bersama istrinya serta semua kepala kelompok (kelian banjar), bagaimanapun juga karena ketegangan dari kedua belah pihak menjadi. Kepala kelompok seperti: Made Guliang, Ida Dehi, Ida Kaler Kayuputih dapat ditangkap serta langsung dinaikkan ke da- lam kapal laut Kumpeni demikian pula Ida Ngurah diketemukan di lain daerah secara langsung dibawa ke Jawa diserahkan kepada pemerintah yang berpusat di Betawi (Jawa Barat).

Dengan demikian selesailah cerita "GEGURITAN RUSAK BANJAR"

TRANSKRIPSI GEGURITAN RUSAK BANJAR*)

PUH SINOM

Terdapatlah karangan puisi,

  1. Ada kidung geguritan,
    tentang desa Banjar tersebut Banjare mungguh ring gurit, dirusak desane reko, dalam karangan, kegebug antuk Kumpeni, konon pada waktu desanya kaulaneng gawe sisip, terusak oleh Belanda, mamandal kayun sang prabu, diserang oleh Kumpeni, kalih dane I Tuan, rakyatnya berbuat salah, ngempet patilase mangkin, menentang kehendak raja dadi murug, Buleleng, juga kehendak pemerintah parentah dane I Tuan. Belanda, makin parahlah keadaannya sekarang, karena melalaikan perintahnya Belanda.l
2. Awanannyane matilas,keraos ida ngamanesin, Sebabnya mereka melanggar, dikatakan beliau (raja
Buleleng) memeras,
wikaran kaula alit, lagi pula menyebabkan
sampun manunas gusti, sengketa,

kalih ngeranengang pengraos,

perdebatan rakyat kecil, ring Ida Anake Agung, gustinyane ring kuna, sudahlah mereka mencari ida irika tindihin, seorang pemimpin, nene matur, pemimpinnya yang dahulu, keling wantah tetiga. di sanalah beliau dibela, yang berbicara, kelian banjar (kepala kelompok) bertiga. *)Transkripsi diambil dari Lontar Geguritan Rusak Banjar, Kropak No. 168, Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana Denpasar.

  1. Keliyang matur mapinunas,
    Kelian banjar minta ampun, juga tidak dikabuli, taler tuara kalinggihin,
pinunas keliane reko, permintaan kelian banjar
nunas Ida Made Rai, iwang raose kidik, minta Ida Made Rai,
dadi maawanan bendu, terlanjur ucapannya sedikit,
kadunga saling turah, yang menyebabkan Belanda
menyarundup, karena saling menuduh,
nangtangin manah kaula. jadinya Ida Made Rai dikatakan bersalah, secara diam-diam, menentang kemauan rakyat
4. Sampun katur ring I Tuan, Sudah diserahkan kepada Belanda,
rauh manabdabang reko, Kumisaris Banyuwangi, datanglah ia mengatur,
muah kelian petang diri, Ida Ngurah akan disalahkan, serta kelian Banjar empat
Ida Dehi Kamasan, orang,

tersebut,

marah, dadi ida karaos sisip,

Banjar.

Kumisaris Banyuwangi, Ida Ngurah jagi sisip, Made Guliang wastan ipun, Ida Kaler Kayuputih, dadi milu, iwang ida makta raga.

  1. Kaulane mapinunas,
ngiring ida kapisisip, mengikuti beliau (raja Banjar)
tong dadi belasang reko,
manah kaulane sami, tidak bisa dipisahkan sekarang,
sampun katundung budal, ida lan kaula sami, tan kav/uwus, bertambah berbuat salah,
pamargin idane budal. raja Banjar dan rakyat semua,

muwuh manggawe sisip, I Tuan kalangkung bendu,
Made Guliang namanya, Ida Dehi Kamasan, Ida Kaler Kayu Putih, jadinya ikut, mereka salah membawa diri. Rakyat semua minta maaf, bersalah,

kehendak rakyat semua, Belanda sangat marah, sudah diusir semua, secepatnya, perjalanan mereka pulang.

  1. Kocapan dane I Tuan,
    Diceritakan sekarang Belanda, Residening Banyuwangi, Residen Banyuwangi, diajak ke istana ka iring puri agraos,
ring Ida Sri Narapati, bermusyawarah,
tangarin malu dini,
titiang nunas Suradadu, bersiap-siaplah dulu di sini,
ne pacang mangejuk ida, saya minta serdadu,
nawi ida mangriinin, mai ngamuk, yang akan menangkap beliau (Ida Ngurah),
yatnain dane I Tuan. supaya mereka mendahului,

oleh beliau (raja Buleleng),

ke mari mengamuk, terimalah serangan mereka Belanda. Kalau tidak mencukupi,

manyandang, punggawanya menjaga di sini,
Punggawane nyaga dini,
jani titiang jagi ngentos, mencari asistennya ke
saur punggawane sami, menyautlah punggawanya semua,
sameton Tuan iriki, jikalau saya masih hidup,turut mengikuti akan
yadian rauh, bertanggung jawab,

sekarang saya akan pergi, Banyuwangi,

  1. Yen mangde stuara asistene ke Banyuwangi, kewala titiang enu hidup, ngiring pacang nanggungang,

    titiang mangiring mapalpal.

  2. Dadi dane lebih kenak, inggih titiang mangkin mulih,

sampun mangunggahin ejong, ya sekarang saya pulang,
pemargine sada gelis, sudahlah ia menaiki kapal,
tan kocapan di margi, rauh ring Banyuwangi perjalanannya agak cepat,
raris mangeto kawat, sudah sampailah di Banyuwangi,

sampun, manunas Kumpeni gelis, pacang ngejuk,
saudara Tuan (Belanda) di sini, meskipun datang (serangan rakyat Banjar), saya akan melawan. Jadinya Belanda sangat senang,

diceritakan di perjalanan,

lalu membuka pintu, ia minta serdadu cepat,b

ne karaos sisip di Banjar. akan menangkap,
yang bersalah di desa Banjar.
Kumisaris Banyuwangi, Belanda,
di Bali kocapan reko, kaulane tedun sami, di Balilah diceritakan sekarang,
ring purin Ida Sang Prabu, rakyatnya turun semua,
kalih jeron I Tuan, menjaga di jalan-jalan,
sampun sami katangarin, ada di istana raja,
tan kawuwus,tingkah kaulane yatna. juga kantornya Belanda, sudah siap semua, perbuatan rakyat Buleleng bersedia.
disampune teka mulih, malih ida mangraos, Banjar,
ngandika manahen pelih, lagi beliau (Ida Ngurah
kenken pada baan jani, pemimpin rakyat Banjar)
tan urungan dadi awu, bermusyawarah, merasa pada diri berbuat
yan tuah patut, salah,
sing nya dadi pagaenang. tidak bisa dihindari akan
  1. Tan kocap mangkin I Tuan, Tidak diceritakan sekarang,
    Kumisaris Banyuwangi,

manyaga di margi-margi,

tidak diceritakan,

  1. Kocapan mangkin ring Banjar, Diceritakan sekarang di desa
    sesudahnya pergi pulang,

tan wangde kebakatang, masih payu bakal sisip, bagaimanakah sekarang,

menjadi abu, tidak ada ampun kita ditangkap, juga pastilah kita disalahkan, jika benar, tidak bisa berbuat apa-apa.

  1. Melah suba jalan luas, Baiklah kita berjalan ke Banyuwangi maluin, berangkat, sing nya dadi purnayan reko, ke Banyuwangi mendahului, dukan I Tuane jani, tidakkah bisa dimaafkan,

Rakyat Desa Banjar berunding dipimpin oleh Ida Made Rai untuk

menghadapi Belanda

raris ida mamargi, wenten ngiring limang atus, sampun manuncap alas, peteng lemah ka marginin, sampun rauh, Ida Ngurah ring Jemberana.

  1. Kandeng ring dane I Tuan, tuara kicen mangraris, bane manglangkar pangraos, kalih iringane sami, nagih milu kapi sisip, Tuan kontroling tan kayun, mangicen surat lepas, raris kabudalang sami, tuara kayun, I Tuan manampi ida.
    marahnya Belanda sekarang, lalu mereka berjalan, ada mengikuti lima ratus orang, sudah melewati hutan, siang malam di perjalanan, sudah tiba, Ida Ngurah di Jembrana.

Disetop oleh Belanda, tidak diberikan lewat langsung, karena melewati batas ucapannya, serta pengikutnya semua, supaya ikut disalahkan, Tuan (Belanda) petugas kontrol tidak mengizinkan, tidak memberikan surat lepas, lalu dipulangkan semua, tidak mau, Belanda menerima mereka.

Lalu seketika pulang, bersama pengikutnya semua, perjalanannya agak cepat, cepat tiba di desa Banjar, lagi beliau dihadap, kelian Banjar semua datang, Ida Ngurah berkata, bagaimanakah bapak kakak sekarang,

  1. Raris para mangkin budal, sareng iringane sami, pamargine sada seso, gelis napak Banjar sami, malih ida katangkil, para keliang pada rauh, Ida Ngurah ngandika, kenken bapa beli jani, suba tuyuh,
ajak icang masoaka. sudah payah,
mengikuti saya minta maaf.
14. Melah suba jalan tatak, Baiklah sudah kita terima
yadin hidup yadin mati, saja,

yadiapin madewek kaon, nyen ja selselang jani, suba kopagaenin,
antara hidup dan mati, biarpun kita kalah, siapa lagi disediakan sekarang,

keliane pada matur, kija malih mangojog, becik mangkin entelin data ruruh, kenang manuyuhin raga.

  1. Taen titiang doh pisan, pacang Kumpeni meriki, manahang titiang pangangob, mangde i ratu nututin, manah Tuan Banyuwangi, keni kaulane mawug, ring ida guru jumada, kadenang dadi angobin, anak tuhu, manindihang ka muanian.
    sudah kita kerjakan, kelian Banjar semua berkata, ke mana lagi menghadap, baiklah sekarang dipertahankan saja, serba yang dicari, menyebabkan kita menderita. Pendapat hamba sangat jauh sekali, Kumpeni akan ke mari,. menurut hamba itu hanya menakut-nakuti saja, supaya tuanku mengikuti, kemauan Belanda di Banyuwangi, mungkinkah rakyat semua mau menyerah, oleh karena terlalu menderita, diperkirakan bisa ditakut-takuti, orang benar-benar, membela keperwiraan.

Ada yang berbicara sangat

  1. Ada matur manyajayang,
bikase mairib uning, tekening anak mangraos, keras, tabiatnya seperti mengetahui,
yadian Suradadu meriki, kepada maksud persidangan,
boya ja raja Betawi, biarpun serdadu ke mari,
duka ring cokor i ratu, bukanlah raja Betawi,
wantah upah upaan, wenten mati masilihin, yang marah kepada tuanku, hanya orang bayaran,
miwah sangu, adalah yang mati

nene ngupah mangadaang.

  1. Yan wantah I Tuan besar,
    pembalasannya, serta penjamu, yang membayar adalah yang membuat gara-gara.

Jikalau hanya pembesar

dane ageng di Betawi,

boyai ratu mangantos, pembesarnya di Betawi,
matulak rauh mariki, bukannya tuanku patutnya
sampun i ratu kaejuk, menunggu, kedatangannya ke mari,

boya ngantos awengi, wantah anteg-antegan, kayun I Tuan Banyuwangi, tan kawuwus, di Banjar mareraosan.

  1. Ring Buleleng mangkin kocap,
    Belanda saja,

bukannya sampai malam, sudahlah tuanku ditangkap, hanya gara-gara saja, kehendak Belanda dari Banyuwangi, tidak diceritakan lagi di desa Banjar bermusyawarah. Di Buleleng sekarang diceritakan,

sampun sami ati-ati, sudah semua berhati-hati,
makejang pada maninjo,
asing paek ka pedasin, segala yang dekat
kakadenang kapal api, diperhatikan,
masih tonden ada rauh, diperkirakan kapal api,
sampun sedia pondok, sami sampun kakarianin, sudah disediakan asrama,
ring Temukus, semualah yang dikerjakan,
kuli pada macawisan. di Temukus, pembantu semua memperhatikan.
pada liu mamboyanin, banyaklah yang menyangkal,
ngalih Ida Made Rai, mencari Ida Made Rai,
pada saling jailin, semua membuat gara-gara,
beloge pada ka pundut, kebodohannya dilaksanakan,
tuara nawang pangraos, tidak tahu tentang prosedur, hanya banyak berbicara,
saget rauh, kapal saslieran. tahu-tahu datang, Semuanya diantre,
kapal ageng kapal alit, kapal besar dan kapal kecil,

semualah melihat-lihat,

juga belum ada yang datang,

  1. Petane saling paliwat, teka suradadu reko, kewala pentes mamunyi,
  2. Makejang pada maronda,
    Bicaranya sangat tekebur, datanglah serdadu sekarang,

kapal berkeliaran.

ke pelabuhan Bulelenge ngojog, rauhe malabuh sami, pada ngaba Kumpeni, kapal api petang ukud, seos kapal preman, kurawis pada nyarengin, sampun tuun, Mayore sareng Komendan.

  1. Suradadu katuunang, kajak ke Buleleng sami, sue irika mangraos, marahang bakal makemit, lene manyaga puri, kantore kajaga sampun, kuli sami keperiksa, bajunyane ketandain, pang da saru, di jalannyane madukan.
    pelabuhan Bulelenglah yang dituju, datanglah berlabuh semua, semua membawa Kumpeni, kapal api empat buah, yang lainnya kapal pribadi, semualah mengikuti, sudah turun, Mayor bersama komendan.

Serdadu semua diturunkan, diantarlah semua ke Buleleng, lamalah di sana bermusyawarah, mengatakan akan menginap, yang lainnya menjaga istana, kantornya juga telah dijaga, pelayan semua diperiksa, bajunya diberi tanda, supaya jangan mengelirukan, pada waktu bercampur di perjalanan. Sudah banyaklah

  1. Liu sampun mangriinang,
madaat pada ngambain, di Temukus jagi ngantos, mendahului, mendaratlah ia berjalan,
tuara bani mangiwangin, di Temukus ia akan menunggu,
tilaring pamekel ipun, keto karana kaperintah, merasa pada dirinya bersalah,
kapiteng dadi kuli, sepeninggal pemimpinnya,
tan kawuwus, itulah sebabnya ia diperintah,
kocapan dane I Tuan. lantas menjadi buruh,

naen deweknya sisip,

tidak berani ia menolak,

tidak diceritakan lagi, diceritakanlah.sekarang Belanda.

23. Suradadu sampun munggah, Serdadu semuanya sudah
ring banawi sami gelis, naik,
telas sagagawan reko, di pelabuhan cepat-cepat,

Temukus — Buleleng

Rauh Tuan Banyuwangi, kalih len Sri Narapati, sampun munggah ke perau, mairingan Punggawa, pawilangan petang diri, pacang kutus, mangiring kayun I Tuan.

sudah habislah sekarang semua senjata, serta tentara Belanda dari Banyuwangi, lagi pula Sri Narapati, sudah naik ke perahu, diikuti oleh punggawa, yang banyaknya empat orang, yang akan disuruh, mengikuti kemauan Belanda.

Sudah semualah yang naik, mencabut anggarnya sekarang,

  1. Sampun telas sami munggah, mangabut nganggare gelis, palayare sada alon,
makaronan ia di margi, perlayarannya agak pelan, bermain-mainlah mereka di
alayar minggir, sampun nampekin Temukus, perjalanan,
pada nyujung pelabuhan, lautan,
pada manyujugin sami, sudah mendekati Temukus,
sami weruh, semua menuju ke pelabuhan,
ngelingin pelabuhan kapal. semua cepat-cepat,

pada,

25. Sampun wenten dauh lima, Sudah ada kira-kira lima
kapale melabuh sampun, buah,
kocapan Ida Sang Nata, kapal mereka yang sudah
sampun tedun muang pangiring, berlabuh,
Suradadu raris tedun, (beliau Sang Raja Buleleng),sudah turun serta
Upsir miwah Kumendan, pengikutnya, lalu diberi tanda sekarang,
mangraris ke pasanggrahan. Upsir serta Kumendan,

raris kapacinan mangkin,

Mayor Residen Banyuwangi, pada laju,

semua berjalan di pinggir

dan mereka tahu,

menunjukkan pelabuhan kapal.

diceritakan Ida Sang Nata

serdadu lalu turun, goo

Mayor Residen Banyuwangi,

agak cepat, lalu menuju asrama.

  1. Enengakena wengi punika,
    Mengasolah pada malam itu, benjang wenten dauh kalih, besoknya datanglah dua rauh utusan Ida Ngurah, orang, ngandikaang ngayuh utusan Ida Ngurah, mangkin, akan menyerahlah sekarang, tan mari nunas urip, dan lagi minta maaf, mangaba aturan liu, membawa jamuan sampi celeng lan ayam, banyak-banyak, bebek beras kuud tasik, sapi babi dan ayam, pacang katur, itik beras kelapa muda dan ring Tuan Mayor yen kenak. garam, akan diaturkan, kepada Mayor Belanda jikalau mau.
27. Mangawanin I Kamasan, Karena I Kamasan,
pacang matur nunas urip, akan bertujuan minta maaf,
sampun katur ring I Tuan, sudah sampai kepada Belanda,

Residening Banyuwangi, dukane tan sinipi, aturane sarwa liu, Mayor miwah Kumendan, Letnan Suradadu sami, tur karebut, kelian I Kamasan.

  1. Timpalnyane manunasang, manhdenyane wangde sisip, taler I Tuan tan ica, lawut ka unggahang gelis, ke kapal api Kumpeni, madan I Baroma Agung, tan kocap I Kamasan, kocap timpalnyane sami, tur katundung, katulakang ring I Tuan.

    Residen Banyuwangi,

marahnya sangat keras, pemberiannya serba banyak, Mayor dan Kumendan, Letnan serdadu semua, lagi pula direbut, kelian Banjar I Kamasan.

Temannya menanyakan, supaya tidak jadi disalahkan, juga Belanda tidak mengabuli, lalu dinaikkan cepat, ke kapal apinya Belanda, bernama I Barome Agung, tak diceritakan I Kamasan, diceritakan temannya semua, serta diusir, dikembalikan oleh Belanda.

29. Raris budal mangenggalang,

melaib saling langkungin, gegawane kutang reko, pada melaibang sampi,

ada enu ditu ngeling, ada melarikan sapi,
adinnyane bane kejuk,
ada buin malipetan, oleh karena adiknya ada lagi yang kembali,
pati antep ngungsi budal. memutuskan tangan sampai

ngampegang lima nguliling, tur ngadubug,

  1. Kocapane enu kekutang, kuudnyane paguliling, Suradadu pada encol, makejang pada ngrandain, kocapan I Tuan mangkin, Residen Mayor mangutus, Punggawa pada ke Banjar, nganteg Ida Made Rai, mangde kayun, ida manyerahang raga.
  2. Utusan sampun memarga, mangawanin petang diri, pamargine sada encol, tan ceritanen di margi, kocap di Banjar mangkin, panangkilan bebet sampun, wara kelian-kelian, sane karaosan sisip, kaget rauh, utusan dane I Tuan.
    Lalu pulang tergesa-gesa, berlari saling mendahului, pembawaannya ditinggalkan saja,

ada masih di sana menangis,

ditangkap,

terguling, serta berlari, bertabrakan dengan temannya menuju pulang.

Diceritakan yang masih ditinggalkan, kelapa mudanya berserakan, serdadu agak cepat, semualah menakut-nakuti, diceritakan Belanda sekarang, Residen Mayor menyuruh, punggawa semua ke Banjar, menyampaikan kepada Ida Made Rai, supaya mau beliau menyerahkan diri.

Utusan sudah berjalan, punggawanya empat orang, perjalanannya agak cepat, tidak diceritakan di perjalanan, diceritakan di Banjar sekarang, sudah banyak yangu menghadap, para pimpinan-pimpinan kelompok,uqmaa lahud

  1. Raris pada matur bangras, titiang kautus mariki, ring dane I Tuan reko, kalih lan Sri Narapati, yan kenak i ratu mangkin, serahang ragane sampun, raka rai muah kelian, sane keraos sisip, mangde rahayu, kaula miwah nagara.
    yang dikatakan salah, tiba-tiba datang utusan Belanda.

Lalu semua berkata keras, saya disuruh ke mari, oleh beliau Belanda sekarang, juga oleh Sang Raja, kalau mau tuanku sekarang, serahkanlah sudah diri tuanku, kakak adik serta pemimpin kelompok, yang dikatakan bersalah, supaya selamat, rakyat dan negara.

Kalau tuanku tidak mau, Belanda akan ke mari, besok tuanku supaya

  1. Yan mande ratu tan kenak, I Tuan taler maregili, benjang mangda ratu ngantos,
ingan wau dauh kalih, menunggu,
I Tuan jagi mariki, keringanannya baru dua kali,
mairingan Suradadu, Belanda akan ke mari,
pacang mangejul ida, diikuti oleh serdadu,
miwah keliane sami, akan menangkap tuanku,
pacang katur, serta pemimpin kelompok

ring Tuan Gupernur Jendral.

34. Saur ida tuara panjang,

icang enu makeneh jani, kalih midarta-dartaang, teken kaulane sami, kema suba bapa mulih, aturang jua keto malu, buka munyine ibusan, utusane matur pamit, budal sampun,

semua, akan dibawa, di hadapan Gubernur Jendral Belanda.

Saut beliau tidak panjang,

saya masih berpikir sekarang, serta memberitahukan kepada rakyat semua, pergilah bapak pulang, katakanlah demikian dahulu, seperti kata-kata saya tadi, utusan minta permisi, sudah pulanglah ia,

tidak diceritakan di tan kacerita ring marga. perjalanan.

Diceritakan Ida Made Ngurah,

35. Kocap Ida Made Ngurah,

kari ring puri katangkil, masih di istana dihadap,
utusan idane prapta, utusan beliau datang,
atur nyaup cokor mangeling, berkata mengambil kaki dan
ratu sapunapi mangkin, sampun ke unggahan ke menangis,
kapal, sudah dinaikkan ke kapal,
mangkin titiang nunas pamit, sekarang saya minta permisi,
manindihin I Kamasan. akan mengamuk, membela I Kamasan.
bapa beli adi sami, bapak kakak adik semua,
melah icang suba serahang, baiklah saya diserahkan, supaya negaranya selamat,
miwah panjake sami, serta rakyat semua,
okan bapa pada liu, anak bapak agak banyak,

I Kamasan ipun kejuk, tuanku bagaimana sekarang; I Kamasan dia ditangkap,

Ida Ngurah berkata,

kasihan berlari, sangat susah menghindari, kalau kiranya benar, oleh bapak memikirkan.

jagi ngamuk,

  1. Ida Ngurah mangandika, mangde negarane becik, pedalem pabelesat, pati luplup, pati kelid, yen tuah patut, baan bapa mangenehang.

    37. Arin ida muah kelian,

maatur pada pajerit, manguda tani sepala, paican i ratu mangkin, titiang ngeranaang sapuniki, ngarianang rusak i ratu, yan titiang mangaturang, ring I Tuan ratu mangkin, lebih lacur anake ngayahang titiang.

Adik beliau serta kepala kelompok, berkata serta menjerit, mengapa terlalu keras, pemberian tuanku sekarang, saya menyebabkan begini, membuat rusaknya tuanku, kalau saya menyerahkan, kepada Belanda tuanku sekarang, sangat menderita, orang membantu saya.

Ya tuanku janganlah,

pacang kayun manandingin, akan kita hadapi,
semanah-manah I Tuan, kehendak Belanda,
kalih kaulane sami, suka pada ipun lebur, kalau saya masih hidup,
papucuk dadi bela, latar belakang karena
pang da lacur, membela, membela tuanku di sini, agar jangan rugi, Kata-katanya sangat keras,
pada saling patindihin, semua akan membela, Ida Ngurah berkata,
enah lamun kenken jani, kema ke malu mulih, ya biar bagaimana sekarang, beritahukanlah rakyat
enggalang manebengan, cepatlah laksanakan,
apan malu, kentongannya dipukul

lagi rakyat semua, lebih baik hancur,

Belanda ke mari berperang.

  1. Inggih ratu sampun pisan, yen titiang kari maurip, matindi ida iriki, I Tuan mariki mayuda.
  2. Sang supma geden-gedenan, Ida Ngurah mangandika, orahin panjake malu, kulkule bulusang jani, suba ia masemaya.
  3. Kelian·miwah kesatria,
mapamit budal pada gelis, pemimpin perang,
pada ngarahin kuala, makulkulan pada titir, permisi pulang sangat cepat, semua memberitahu rakyat,
kaulane tedun sami, memakai kentongan sebagai tanda, rakyat turun semua,
pada matebengan mangkin, membawa tombak-tombak,
sampun rauh, patahan kayu dan bambu

ngaba tumbak ngaba tulup, gagitik lan galanggang, delod desane ring Banjar.
ke sanalah dahulu pulang, dahulu,

sekarang, sebab dahulu, sudah dia berjanji. Pemimpin kelompok dan

runcing, semua berkumpul sekarang, sudah tiba, di sebelah selatan desa Banjar.

41. Tan kocap mangkin ring Tidak diceritakan sekarang
Banjar, tingkah pagelare sami, di Banjar, sifat persiapannya semua,
kocap utusane reko, diceritakan utusannya
ring I Tuan Banyuwangi, sudah datang menghadap sekarang,
pangandikan ida sampun, semua,
I Tuan ica mangantos, kepada Belanda Banyuwangi,

sampun rauh matur sami,

katanya sudah, kalih Adi Sri Bupati, tan kawuwus, Belanda mau menunggu, jengahe di pasanggerahan. serta Sang Raja, tidak diceritakan, marahnya di asrama.

Diceritakan sekarang di

  1. Kocapan mangkin ring Banjar, luh-luhe rarud sami,
    Banjar,
pada ya mangungsi kubon, ada melaibang sok nasi, wanita-wanitanya pergi semua,
ada menanem pipis,
ada melain ke gunung, ngiring Ida Made Rai, ane takut, ada melarikan tempat nasi, .ada menanam uang,
manerak di pararudan. mengikuti Ida Made Rai,

semua ia menuju gubuk,

ada ne mabudi pejah,

  1. Tan kocap mangkin ring Banjar, ngerarudang gelah sami kocap benjangane reko, wenten wau dauh kalih, Kumpenine mangkat sami, kalih Ida Sang Nata, tan kacerita ring margi, tampek sampun, desane mangkin ring Banjar.
    ada berlari ke gunung, ada yang ingin mati,

yang takut, termenung di dalam pengungsian.

Tidak diceritakan sekarang di Banjar, memindahkan kekayaan semua, diceritakan besoknya sekarang,

Belanda berangkat semua, Kumendan Mayornya tidak lain, juga beliau Sang Raja, gg

ada baru dua kali, Kumendan Mayor tan kantun,

  1. Musuh akeh pada ngenah, suradadu raris medil, maberiuk ka pojok-pojok, mariem pada mamunyi, kaula Banjare ngilis, sing jalan-jalan mangengsub, pada ngalih alingan, takut ka kenain mimis, asing pesu, budi ngamuk raris pejah.
    tidak diceritakan di perjalanan, dekatlah sudah, desanya sekarang di Banjar.

Musuh banyak semua kelihatan, serdadu lalu menembak, serempak tiap-tiap kelompok, meriem pada berdentuman, rakyat Banjar bersembunyi, tiap-tiap jalan memasuki, semua mencari persembunyian, takut dikenakan peluru, setiap ke luar, ingin menyerbu lalu mati.

Serdadu memulai, ingin mendesak lagi,

45. Suradadu ngamaraang,

budinnya nesekang,

malih, diceritakan ada yang
kocapan wenten gegawot, mengamuk,
babecik Banjare nguni, pengatur desa Banjar dahulu,
tuara ngalinguang mati, tidak menghitung mati,
irika yudane mamuk, di sana perang puputan, ada yang menusuk,
ada numbak ada medil, ada nyuduk, ada main tombak ada
ada nyempal baan kalewang. ada yang mengipuh,

pada ya saling gorok,

46. Bangkene liu masahsah, bangke Jawa bangke Bali,bergelimpangan, Mayat banyak
mayat Jawa mayat Bali,
mangujanin baan mimis, bedil masih berdentuman,
kaula banjare sami, menghujani dengan peluru,

bedile kari ngaropod,

malaib pada ngadupung, pada ngungsi milidan,

nembak,

ada memotong dengan kelewang.

rakyat Banjar semua, larinya semua cepat,

bas tong nyandang ke bedilin, sampun suwung, tepin desane ring Banjar.

  1. Kayun Mayor mangerantekang, kuline gelis melaib, gagaene kutang reko, mausungan paguliling, pangiring Baline sami, malain pada ngarudug, ada manyeburin soan, ada len manuut padi, ada lacur, makakeb jejek timpal.
  2. Ane maan malaib lasia, manglaut ngrobok pasih, len ada ngatimel sampan, manguman ya makerengin, buin tong dadi gelemekin, laut ka panteg baan dayung, ngapekpek laut nemah, kene ko awake pelih, ada rauh, maririan jabaning pura.
  3. Ada ne suba ngaliwat, mangangsehang udiding, pasanggrahane kaojog, mulihan mangubet kori, buin tong dadi takonin, dekah angkihane uwus, ada buin teka di jalan, malipetan tur kabilbil,
    semua mencari persembunyian, oleh karena terlalu ditembaki, sudah sepi, pinggir desa di Banjar.

Kemauan Mayor sangat keras, pelayan cepat lari, pekerjaannya dibiarkan sekarang, berjungkir dan berbarinfg, pengikut Bali semua, lari semua ribut, ada terjun di selokan, ada yang lain menjerumuskan padi, ada menderita, telungkup diinjak teman.

Yang dapat lari selamat, berlalu menerobos laut, lain ada mengambil sampan, memakai ia memaksa, lagi tak bisa ditegur, lalu dipukul dengan dayung, kesakitan lalu memaki, beginilah kamu bersalah, ada datang, berhenti di luar pura.

Ada yang sudah lewat, memaksa berlari, asramanya dituju, masuk ke rumah menutup pintu, lagi tak bisa disapa, tergesa-gesa nafasnya keluar, ada lagi datang di

tan kawuwus, tingkahe nglaut budal.

  1. Kocap ne enu di payudan, prajurit Tuane sami, makilesan ngungsi enggon, tong dadi mayuda mangkin, baan tuara ada ngayahin, pangenternyane mawuwus, jalan suba malipetan, manian buin wawanin, buin gebug, masa ia tani kalah.
    perjalanan, berbalik dengan malu, tak diceritakan, sifatnya pergi pulang.

Diceritakan yang masih di dalam pertempuran, tentara Belanda semua, mundur menuju asrama, tidak jadi bertempur sekarang, oleh karena tidak ada membantu, pengantarnya tidak ada, marilah kembali, besok lagi diulangi, lagi serang, apabila ia tidak merasa kalah.

Semua sudah dipulangkan, trompet dipakai tanda,

ngawangsitin, seketika ia mundur,
sagrahan is makilesan, sagagawan telas sami, tidak diceritakan di
tan kocapan di margi, perjalanan,
sampun matutur-tuturan, sudah menceritakan keadaan
tingkah yudane ituni, pertempurannya tadi,
tan kawuwus, tidak diceritakan, bermusyawarah di asrama.
di sampune kakalahin, Banjar,
baan Kumpeni reko, pesu ia jani padingkrik, sesudah ditinggalkan,
ngalih bangken nyaman ipun, paselian pada ngeling, ada ngojog ke tukad, hati,
len ada manyabaab padi, mencari mayat saudaranya,

semua senjata habis semua,

sudah tibalah di asrama,

  1. Sami sampun ka budalang, somperet kanggon rauh di pondoke sampun,

    mangraos di pasanggrahan.

  2. Kocapan mangkin ring Banjar,
    Diceritakan sekarang di

oleh Belanda sekarang, keluarlah ia dengan senang

terkejut ada yang menangis,

Perang Banjar antara masyarakat

apan ditu, ituni maan mayuda.

  1. Layon bangke ka kenyang, lanang istri mapasihin, mamargi ratu dumunan, titiang tan wangde ngeranemin, pagelur pada mangeling, Ida Dalem ngioen kampuh, samian kabecikang, sampun sami kaberesihin, tan kawuwus, tingkahe ngaba ke sema.
  2. Kocap ne mapapondokan,
    ada menuju sungai, lain ada memeriksa padi, sebab di sana, tadi dapat bertempur.

Mayat-mayat sudah kenyang, laki perempuan menjadi satu, berjalanlah tuanku dahulu, saya lama mengikuti, keras-keras semua menangis, Ida Dalem memberi kain, semua diperbaiki, sudah semua dibersihkan, tidak diceritakan, pekerjaannya membawa ke kuburan.

Diceritakan yang di pondok,

petane saling sahutin, perkataannya saling
ngorahang mabahan ngorok, ditu ka desa Lingsabit, menyauti, mengatakan dapat menusuk,
ada ngaku ngengkebin, di sana ke desa Lingsabit,
di padine nyisi kauh, ada mengatakan
ada ngaku maan nyerah, menyembunyikan, di dalam padi di tepi barat, ada mengaku dapat
mapeta magagonjakan. menyerah,

bedil Kumpenine mati, pada muwug,

  1. Kocap malih benjangan, I Tuan jagi ngawawanin,
magebug ke Banjar reko, menyerang ke Banjar
sampun ia makire sami, raris mandauhin kuli, sekarang,
kalih mamaid kereta, lalu memanggil pembantu, disuruh mengusung tandu,

ka tunden manegen tandu, mariem rauhing mimis,
bedil Belanda macet, sangat ribut, berbicara saut menyauti.

Diceritakan lagi besoknya, Belanda lagi mengulangi,

sudah ia bersiap semua,

lagi pula menjalankan kereta,

raris matur, meriem dan peluru,
soroh keliane makejang. pacang malih dadi kuli, lalu berkata, para pembantu semua. Saya mohon berpikir
santukan titiange patuh, akan lagi menjadi pembantu,
  1. Titiang matur mindah pisan, yadiapin titiang matanda, taler titiang kabedilin, dening saru, akeh timpal titiange kena.
  2. Pisan musuh ngamatiang, tan wenten ko titiang wedi, pacang ngiring Tuan reko,
magebug ke Banjar malih, menyerbu ke Banjar lagi,
yan Tuan ica mangkin,
wentenan titiang papucuk, memberikan sekarang,
keni tulus, ngarereh ne karaos sisip, baktin titiange ring Tuan. mencari yang bersalah, kepada Tuan (Belanda).
saatur kuline sami, benar,
malih ngawentenang raos, seperkataan pembantu
jagi mantuk ke Banyuwangi, matur manunas kuli, lagi mengadakan
mangdanya dane kadurus, pembicaraan,
ring dane ! Tuan besar, akan pulang ke Banyuwangi,
ane ageng di Betawi, tan kawuwus, supaya beliau jadi, berkata minta pembantu,

yan tan kalabonan,
58. Dadi karaos patut pisan,
sebentar,

oleh karena Belanda sekarang, bermusuhan dengan orang Bali, tidak diingatkan saya sekarang, oleh karena saya sama, meskipun saya ditandai, juga saya ditembak, oleh karena keliru, banyaklah teman saya kena.

Sekaligus membunuh, tidak maulah saya lagi, mengikuti Belanda sekarang,

kalau Tuan (Belanda)

berikanlah saya petunjuk, kalau tidak saya kerjakan,

tidak murni hormat saya

Jadi bicaranya itu sangat

semua,

pamargin I Tuane budal. kepada pembesar Belanda,

  1. Kocap Ida Made Ngurah, limbak pangeraose mangkin, gununge kadakep reko, miwah kaula Dencarik, sampun pada mangiring, ke Banjar mangkin makukuh, kadonga pada iwang, dadi bani ring Kumpeni, baan kawuwus, suradadu upah-upahan.
  2. Malih wenten kadanaan, ring Ida Sri Narapati, buka tuara madue raos, dadi ida ngamarginin, tuara manaen pelih, nindihin anak mangelagu, nakutin kunang-kunang, apine dadi baninin, sampun katur, ring Ida Sri Naranata.

    61. Sampun katur ring I Tuan,

gununge sami mabalik, rauh ke Dencarik reko, ngiring Ida Made Rai, sampun pada kaadenin, I Tuan kalangkung bendu, kalingke wau ambulto, kadong telahan mabalik, sadauh nyajung, tuara nira takut ngalawan.

pembesar di Betawi, tidak diceritakan, perjalanan Belanda pulang.

Diceritakan Ida Made Ngurah, berkelebihan perkataannya, gunung dituju sekarang, serta rakyat Dencarik, sudahlah semua mengikuti, ke Banjar sekarang bertahan, oleh karena semua bersalah, jadinya berani kepada Belanda, karena diceritakan, serdadu bayaran.

Lagi ada dikorbankan, kepada beliau Sang Raja, seperti tidak punya perkataan, kenapa beliau menjalankan, tidak merasa bersalah, membela orang kebiasaan, menakuti kunang-kunang, api yang dilawan, sudah sampai, kepada sang raja.

Sudah sampai kepada Belanda, desa Gunung semua kembali, sampai ke Dencarik sekarang, mengikuti Ida Made Rai, sudah semua diadakan, Belanda sangat marah, barulah hanya sekian, biar semua berbalik, sebelah barat semua, saya tidak takut melawan.

62. Raris mangkin kalugrahang, Lalu sekarang diberikan,
kubunnyane ngarandahin, pondoknya diperiksa,
ngurugin jarahan reko, membalas rampasannya
gelah Banjar muang Dencarik, Bali Bugise sami, sekarang,
mula ngagen uli malu, Dencarik,
mabudi majajarah, peteng lemah ngelawanin, Bali Bugis semua,
kurinnyane katunjelan. sampun gempung, berkeinginan merampas, siang malam dikerjakan,

STED kepunyaan Banjar dan

memang bersedia dari dahulu,

sudah hancur pintu masuk dibakar.

Diceritakan sekarang di

63. Kocapan mangkin ring Banjar,

peteng lemah ke bedilin, Banjar, mimise ngaliwat pondok, siang malam ditembaki,

uli di kapal Kumpeni, pelurunya melewati pondok,
keweh Banjare sami, mangingsirang tongos rarud, dari kapalnya Belanda,
ada tuara makaad, mengerjakan tempat
kena ia belahan mimis, pengungsi,
paka busut, ada yang tidak pergi,
magingsir saling paliwat. kenalah ia belahan peluru,

susahlah Banjar semua,

  1. Kocap mangkin I Tuan,
sampun dane madue kuli, tigang atus rauhing mandor, sudah ia punya pembantu, tiga ratus sampai mandor,
ring Surabaya Banyuwangi,
wenten mangeraos malih, ada yang berbicara lagi,

Residen miwah Sang Prabu, ngandika ring Punggawa, manyarengin I Kumpeni, pacang ngejuk, sane karaosan salah.
65. Sampun sami kadauhan, Punggawa Manca Pra Gusti,
sangat cepat, berpindah saling melewati.

Diceritakan sekarang Belanda,

di Surabaya Banyuwangi,

Residen dan raja, berkata kepada punggawa, mengikuti Belanda, akan menangkap, yang dikatakan bersalah.

Sudah semua diperintah, punggawa Manca para Gusti,

BE magebug ke Banjar reko, menyerbu ke Banjar sekarang, keni wenten mangibulin,

tahu-tahu ada yang

nanging tan saka ring jerih, berbohong, tetapi tidak ingin kalah, I Tuan mengalih bantu,

maring Punggawa, Belanda mencari bantuan,
dari para punggawa,
apan katur, maksudnya mencari-cari,
ida mangoles Punggawa. oleh karena diserahkan,

kayun dane mangalihin,

beliau memerintah punggawa.

Rakyat sudah diberi tahu,

semua turun sekarang, perjalanannya setengah-setengah,

baninnyane baan takut, baan babikase ngenakin, takutnya tidak sedikit, karena sifatnya
menyenangkan,
anging ngalawan-lawanan, beraninya berdasarkan takut, seperti bersedia,
pamargine ngeriinang, tetapi dengan memaksa,

serdadu, berjalan mendahului.

Bali sudah diberi tanda,

  1. Bali sampun kicen tanda,
  2. Kaula sampun karahan, sagrahin tedun mangkin, pajalane sango-sango, jejehnyane tidong gigis, mairib manyadiaang, Suradadu,xerroem
antuk bendera Kumpeni, dengan bendera Belanda,
dening malianan tongos, tetapi berlainan tempat,
pamargin prajurit sami, doning pada ngarepin, perjalanan tentara semua,oleh karena semua
Bali wenten uli kauh, menghadapi,
Kumpeni uli kelod, Bali ada dari barat,
sampun musubaya mangkin, Belanda dari selatan,
sampun rauh, sudah berjanji sekarang,
di Banjar matetunjelan. sudah datang,

di Banjar melakukan pembakaran.

Baru mendekati desa, Bali Buleleng sekarang, berkelompok-kelompok

  1. Dumara nampek desa, Bali Bulelenge mangkin, marumpiuk-rumpiuk
    EE

manyongkok, peluhnyane pakuritis, buin tong dadi kaukin, enggalan suriakin musuh, laut ia mangencotang, bangun majibras, malaib paka busut, pada manyurung gustinya.

  1. Banjare pada ngalokang, apa alih iba mai, tidong ditu malu nongos, manguda iba melaib, tonden kai ngenemin, enggalan iba ngadupung, nguda mangutang takilan, apa amah iba jani, tan kalingu, munyin musuhe ring Banjar.
  2. Sumangkinnya mangangsehang, melaib saling langkungin, ada mangeliwat pondok, palaibnya pada paling, tuara manepukin margi, dadi gunung katuut, ada nyusupin alas, ada malaib masisi, ada bingung, kaget umahnyane liwat.

    71. Kocap prajurite ring Jawa,

pageh danene tan sipi, babikasan mirib belog, kaamuk tuara angan gingsir,

berjongkok, keringatnya sangat deras, lagi pula tak boleh dipanggil, didahului disoraki musuh, lalu ia secepatnya, bangun terkejut lantas lari, sangat cepat, semua mencari pemimpinnya.

Rakyat Banjar semua

memanggil, apa yang kau cari ke mari, tunggulah dahulu di sana, mengapa engkau berlari, belum saya melawan, mendahului engkau lari, mengapa kau meninggalkan bingkisan, apakah yang engkau makan sekarang, tidak didengarkan, kata-kata musuh di Banjar.

Semakin lagi ia memaksa, berlari saling melewati, ada yang melewati pondok, larinya semua keliru, tidak menemui jalan, akhirnya Gunung dituju, ada memasuki hutan, ada lari ke laut, ada bingung, tahu-tahu rumahnya lewat.

Diceritakan tentara dari Jawa, tenangnya tak sedikit, sifatnya seperti orang bodoh,

kalih kapelaibin, baan Baline uli kauh, diamuk tidak mau pergi, dan ditinggalkan,
ada pageh manongos, anging bani mangejohin, ada yang tenang berdiam,
yan nya kaamuk, tan urung masi madagal. kalau ia diamuk, tetapi berani menjauhi, dengan terpaksa akan, Ada lagi sudah setia,
ring prajurit I Kumpeni, dening kapegokang reko, antuk punggawane sami, kepada tentara Belanda,
sampun dane ngilesin, sudah ia mendahului,
tan kocapan I Tuan, mencari pondok berlari,

oleh tentara Bali dari Barat,

berlari.

  1. Wenten sampun manyatiang, ngalih pondok pagerudug, di Banjar kocap malih, buin pesu, galaknyane mangedenang.
  2. Baane tuara nyidaang, suradadu miwah wong Bali, malih ida mangeraos, pacang ida mangeriinin, tan wangde babal uwugin, katunjulin purinnya, pang makejang dadi api, lebih kebus, panjake ne di Banjar.

    74. Lemah wengi kaancaran,

ring baita ka bedilin, dari Baita ditembaki,
beritahulah semua demikian,
petenge bakal rarudin, malamnya akan diungsi,
panjake sampun cumawis, rakyat sudah bersedia,

orahin makejang keto,

pacang pamargine ngunung, sampun wenten ajahan,

oleh karena diingkari sekarang, oleh punggawa semua,

tidak diceritakan Belanda, di Banjar diceritakan lagi, lagi ke luar, beraninya makin besar.

Oleh karena tidak mampu, serdadu dan orang Bali, lagi beliau bermusyawarah, akan beliau mendahului, akan mulai dirusak,

luluh, dibakar rumahnya, supaya semua menjadi api, sangat panas, rakyat di Banjar.

Siang malam dilancarkan,

akan perjalanan ke Gunung, sebelum terlambat,

pang pisanan dekdek rampung,supaya satu kali hancur

ada maatur pakeling, ada minta maaf,
inggih ratu, ya tuanku,
titiang wantah mamindaha. saya hanya berpikir.

Kalau mau diikuti oleh saya,

  1. Lamun kayun iring titiang, iriki pisan tindihin,
    di sini sajalah dipertahankan,
manguda sih pati encol, mengapa sangat cepat-cepat,
gumin anake belanin, desa orang lain dibela,
yadin kaulane sami, walaupun rakyat semua,
tan wenten.titiang mangugu, saya tidak percaya, akan meninggalkan rumah, istrinya di sini,
namping musuh, mendekati musuh,
dayanin ipun ka jarah. jangan-jangan ia dirampas.
beneh keto bapa beli, dini jalan mati reko, benar demikian bapak kakak,
gumin gelahe belanin, desa kita dipertahankan,
tan urungan pacang lampus, dija buin alih, tidak bisa dihindari akan
mangelah pianak somah, mati,
apang ia manepukin, mempunyai anak istri,
titiang wantah ngiring pisan. saur manuk, supaya ia tahu, sautnya setuju,

antuk maninggal umah, kurenannyane iriki,

  1. Ida Ngurah mangandika,
    Ida Ngurah berkata,

di sinilah mati sekarang,

ke mana lagi pergi,

  1. Kocapan dane I Tuan, malih dane ngawawanin, telasan di pondok-pondok, rauhing manyaga puri, sámpun dane mamargi, ka Banjar malih magebug, dadi tuara manyidaang, sane karaos sisip, mati liu, panjake jani di Banjar.
  2. Kacingak antuk I Tuan, dadi dane mangilesin,
    saya'mengikuti saja.

Diceritakan Belanda, lagi ia mengulangi, habis di pondok-pondok, serta menjaga istana, sudahlah ia berjalan, ke Banjar lagi menyerang, kenapa tidak mampu, yang dikatakan bersalah, banyak mati, rakyat di Banjar.

Dilihat oleh Belanda, jadi beliau kembali,

malih dane ngungsi pondok, karaos ragane sisip,sbs antuk raja Batawi,BV kaulane liu gempung, baane wenten perentah, tuara kicen makirasin, dadi enu, kayun danene cuntaka.

79. Mayor Kumendan

ngewehang lsbi es

len Residen Banyuwangi, ping tiga kagebug reko, masih enu katindihin,

nene karaos sisip, gs

masih tuara nyak mangayuh, ida miwah pra kelian, dadi nunas makerengin, fima ib mangde gempung,

kaula miwail nagara.b

lasf snem sx nas tsbnirib said lsbi

80. Sampun matur mapinunas,

mangda wenten Kornel prapti, kalih suradadu mangentos, gelis rauh napak Bali, sampun sami kadauhin, Kornel miwah suradadu, sampun pada mamarga, rauh di Temukus Bali, laut tuun,d ai risirsbuz .sami suradadu mendak, eg

  1. Sasukat gustinya teka, galaknya mangubat abit, nanging mirib sango-sango, makadi Kumendan Upsir, dadi kadi papiring, mirib karaosan taku t
    lagi beliau menuju pondok, dikatakan dirinya bersalah, oleh raja Betawi, rakyatnya banyak rusak, oleh karena ada perintah, tidak diberikan menghindari, masih ada, maksud beliau pendek. ibBV Mayor Kumendan etnow nst memberikan, yang lain Residen VIEISTUA Banyuwangi, tiga kali diserang sekarang, masih tetap dipertahankan, yang dikatakan bersalah, juga tidak mau mengalah, beliau serta para kepala

keinginannya tetap memaksa, nu b supaya hancur, T1 13 rakyat dan negara. m Sudah mengadakan permintaan,Aun supaya ada Kornel datang, serta serdadu menambahkan, cepat tiba dekat Bali, sudah semua diberi tahu, Kornel dan serdadu, sudah semua berjalan, sampai di Temukus Bali, lalu turun, sneb muquue semua serdadu menjemput. gassbivasmt stsut ibsb Setelah pemimpinnya datang, beraninya sampai mencaci

makiib insi sin

tetapi hanya setengah-setengah8 seperti Kumendan Upsir,

tonden ada perentah, sampai seperti menyinggung,
dadi dane ngerauhin, kiranya dikatakan takut,
nyennya malu, belum ada diperintahkan,
kalugra meh suba kalah. jadinya beliau mendatangi,

kalau dahulu, diberikan mungkin sudah kalah.

Jadi Tuan Mayor menyesal,

  1. Dadi Tuan Mayor nyungkan, di sampun Kornele prapti,
    sesudah Kornelnya datang,
jengah ring raga karaos, menyesal pada diri dibicarakan,
ne malu kapiserahin, marentah i suradadu, oleh karena beliau sebagai
tonden ada nyidaang, waktu dahulu diserahi,

baan dane ne ngemagengin,

dadi dane kagentosin, tan kawuwus, di sampun danene budal.

  1. Tuan Kornel mangandika, teken Kumpenine sai, cawisang bekele reko, barange pada periksain, penekang ka kapal api, ne mani nira magebug, tuara buin malipetan, peteng lemah lakar jalanin, teka ditu, di Banjar mapapondokan.
  2. Sampun sami macawisan, barang sami·katelahin, kunggahang ka kapal reko, kocap benjangane malih, suradadune cumawis, pasemengan kari ruput, kapal sami malayar,2 mamuat barangnya sami,
    pembesar,

memerintah serdadu, belum ada hasilnya, jadi beliau diganti, tidak diceritakan,

sesudah beliau pulang.

Kornel Belanda berkata, kepada Belanda semua, perhatikanlah bekal semua, barangnya diperiksa, naikkan ke kapal api, besok saya akan menyerang, tidak lagi kembali, siang malam dilaksanakan, datang ke mana, di Banjar berasrama.

Sudah semua diperhatikan, barangnya semua dihabiskan, dinaikkan ke kapal sekarang, diceritakan besoknya lagi, serdadu memperhatikan, pagi-pagi masih sunyi, kapal semua berlayar, membawa barangnya semua,

serta berlabuh, di sebelah selatan pura di Banjar. Rakyat di Banjar,

pada kagiat ngiwasin, semua cepat melihat,
kapale masalin tongos, kapalnya berlainan tempat,
mirib jani kapenekin, kiranya sekarang dinaikkan,
enggalang maneben,apang eda enggal macuncuk, awak bakal mangengkebin, cepatlah enurun, agar jangan cepat bertemu, supaya dapat mendahului,
pada gisu, semua cepat,
pada nuunin telabah. semua menuruni saluran air.

kita akan bersembunyi,

Tidak diceritakan sekarang di Banjar, sudah bersedia semua, diceritakan Belanda sekarang, sudah semua membaharui,

tur malabuh, delod purane di Banjar.

  1. Kaulane ne ring Banjar, apang maan ngriinang,
  2. Tan kocap mangkin ring Banjar, sampune matadah sami, kocap Kumpenine reko, sampun sami ngamaranin,
ngambahin ka Dencarik, melalui desa Dencarik,
di pinggir desanyalah sudah,
pada ya mabebedilan, semua ia menembak,
mangujanin baan mimis, menghujani dengan peluru,

di pinggir desane sampun, dadi geyur, soroh gunung Pangulahan.
87. Pada magedi ngenggalang,

malaib mangungsi mulih, berlari menuju pulang,
yang terkurung di sana
tong ada ambah malaib,
bedile kumaritig, tidak ada jalan untuk lari,
sing bangun ngemasin lampus, bedil berdentuman, tiap-tiap bangun korban
sukat gumine mabalik, mati,wom
lebih lucu, punggawa menyebabkan,
dadi enyak mamunggawa. setelah negaranya berbalik,

ne kabelet ditu manongos, punggawa wawangunan,
jadi eboh, kelompok Gunung Pengulahan. Semua pergi cepat-cepat,

tinggal,

sangat lucu,

  1. Yan baan bikas mirib bisa, cocok ida ne tan gigis, tonden mangelah pamupon, enggalan ngemasin mati, panjaknyene ditu maid. ngisidang ngaliwatang pangkung, telahan pada bungkah, Dencarik kasuungin, suba kawug, wantilane katunjelan.
    kenapa mau menjadi punggawa.

Kalau sifat-sifatnya seperti orang pandai, kebeneran beliau tidak sedikit, belum punya hasil, mendahului sudah meninggal, rakyatnya di sana menyebabkan, memindahkan melewati jurang, habislah sudah terbongkar, desa Dencarik disunyikan, sudah dihancurkan, balai desanya dibakar.

Desa Banjar Munduk dituju,

tuara ada manawengin, tidak ada menghalangi,
prajurit Banjare nguni, tentara Banjar dahulu,
selat tembok baan elu, baninnyane manimpugin, dari balik tembok dengan beraninya melempar,
kabales baan sinapang, alu,
mariem kanggen ngencurin, dibalas dengan bedil,
pakabusut, meriam dipakai menyerang,

bedil tetap berdentuman,

  1. Banjar Munduke katungkap, bedile masih ngaropod,

    malaib pati tarumbag.

90. Wenten malih gala-gala,

mula kasub prajurit, memang terkenal menjadi
pangenter Banjare reko,
maka kalih nandangkanin, pengatur desa Banjar dahulu,
mara naen raga lacur, keduanya menderita, sama-sama tidak menjadikan,
maciri bakal rusak, barulah merasa diri

pada tuara mintulin,

panjak pada malaib, paclubcub, ngungsi ngalih kurenannya.

tergesa-gésa, larinya tidak menentu. Ada lagi rakyat,

tentara,

menderita, menandakan akan hancur, rakyat semua berlari,

  1. Kocap Ida Nyoman Ngurah, di sampune nandangkanin, matur ring rakane seso, dekah angkihane ndiis, beli margi kamedalin, satrun beli sampun rauh, titiang nunas mamindah, titiang nyeburin bedangin, yen nya rauh, beli seda di bancingah.
  2. Ida Ngurah mangandika, beli manuutang adi, raíne ngelus panganggo, tan pagae mamaripih, awake nandangkanin, mapamit mamargi sampun, dadi mangaluang raga, jengahe manandangkanin, yadin hidup, masa buung maneraka.
  3. Suradadu nesekang, dangin pasare kagisi, pada manyaga lalompong, asing pesu ngemasin mati, batu kanggo nimpugin, Ida Nyoman Ngurah ngamuk, mairingan sametonan, rangseng ida ne nyarengin, tur kasambut, layone di dangin pasar.
    satu persatu, pergi mencari istrinya. Diceritakan Ida Nyoman Ngurah, sesudahnya menderita, berkata kepada kakaknya sekarang, tergesa-gesa nafasnya ke luar, kakak marilah kita ke luar, musuh kakak sudah datang, saya minta pendapat, saya turun di timur, kalau ia datang, kakak meninggal di luar puri (istana).

Ida Ngurah berkata, kakak mengikuti adik, adiknya menaruh pakaian, tidak ada gunanya kita hidup, kitalah menderita, permisi dan sudah berjalan, jadinya ikhlas pada diri, oleh karena sangat menderita, meskipun hidup, kiranya tidak jadi akan menderita.

Serdadu mendesak, di sebelah timur pasar ditangkap (pegang), ada yang menjaga tempat ke luar, tiap-tiap ke luar menerima kematian, batu dipakai melempar, Ida Nyoman Ngurah mengamuk, diikuti oleh keluarga,

  1. Ada matur ring Ida Ngurah, Ida Nyoman mangemasin, dadi nangis tur makaon, rabin idane kaungsi, yen kayun ida sami, pacang katurin manyuud, sami matur mamindah, titiang takut ngiring mati, bane liu, okan ida not titiang.
  2. Lanang istri mapinunas, ngawangdeang nyuduk rabi, raris katurin makaon, desane jalan kalain, yadian i nyoman mati, suba ya mairingan liu, brahmana muang kaula, dadi ida manglinggihin, ne manutang, lanang istri karobelah.
    pembelanya mengikuti, serta disambut, mayatnya di sebelah timur pasar.

Ada menghadap kepada Ida Ngurah, Ida Nyoman sudah korban, lalu menangis dan berpindah, istri beliau dituju, kalau mau beliau semua akan diajak puputan, semua berkata berpikir, saya takut mengikuti mati, karena banyak, anak beliau yang saya lihat.

Laki perempuan minta ampun, agar jangan melupakan istri, lalu disuruh pergi, desanya ditinggalkan, meskipun nyoman meninggal, sudahlah dia mendapat pengikut banyak, brahmana serta rakyat, jadinya beliau setuju, yang mengikuti, laki perempuan seratus lima puluh.

Diceritakan sekarang

Belanda, sudah ia merusak istana, dirobohkan dibakar sekarang, mayat banyak dibakar, rakyat mengalah semua, kepada beliau sang raja, serta kepada pembesar

96. Kocapan mangkin i Tuan,

sampun dane ngawug puri, karubuh katunjel reko, bangke liu katabunin, panjake ngayuh sami, ring Ida Anake Agung, kalih ring i Tuan besar, Residening Banyuwangi,

ngicen sampun, kalih Ida Sri Narendra.

  1. Kocap mangkin Ida Ngurah, sampun mangliwat bukit, panepin Tabanane kojog, asing kungsi tan manampi, sampun matulak malih, sukun gununge kaduluh, peteng lemah mamarga, ngungsi nagara Mengwi, sampun rauh, pra istrine di Denkayua.
    Belanda, Residen Banyuwangi, memberi maaf, serta beliau sang raja.

Diceritakan sekarang Ida Ngurah, sudah melewati bukit, perbatasan kota Tabanan dituju, siapa yang dituju tidak menerima, sudah kembali lagi, kaki gunung yang dituju, siang malam berjalan, menuju kota Mengwi, sudah tiba, vara wanitanya di Denkayu. Di Buleleng sekarang

kendelnyane tidong gigis, diceritakan,
ne kajerihin morta mati, baan Banjare kalah reko, laut mesuang bani, karena desa Banjar kalah
pada luas marerusuh, yang ditakuti beritanya
ada mangokoh bangbang, ada manyarahin sampi, sudah mati, lalu mengeluarkan
sampun lebur, keberanian,
desane mangkin ring Banjar. semua pergi merampas,

senangnya tidak sedikit,

sekarang,

  1. Bulelenge mangkin kocap,
  2. Sami kaicen parentah, ngruruh Ida Made Rai, ka jaba kuta karaos,m pamargin ida ne sami, kontroling sampun mamargi, ring Jembrana mangruruh,
    ada yang menggali lubang, ada merampas sapi, sudah dibongkar, desa Banjarnya sekarang.

Semua diberi perintah, mencari beliau Made Rai, nsq keluar kota katanya, perjalanan beliau semua, pemeriksanya sudah berjalan,

oleh Belanda dan Ida Made Rai dan beberapa tokoh lail dibawa ke Batavia.

kayun danene mangliwat, Mengwine kamaluin, yen nya tepuk, kapangandikaang mamata.

  1. Nagarane sami yatna, nyaga Ida Made Rai, mawah keliane reko, sane karaosan sisip, sampun kasusupin sami, rauh nagara Denkayu, ditu sami kacandak, nanging sami para istri, nene kakung, enu dadi kutu alas.

    101. Kaula Mengwi ngruruh ida,

sampun kakeniang sami, katur ring i Tuan reko, raris katulakang gelis, samian lanang lan istri, ring Buleleng sampun rauh, raris kunggahang ring kápal, sane karaosan sisip, sane durung, kakeniang Made Guliang.

di Jembrana dicari, maksud beliau melewati, Mengwinya didahului, kalau dilihat, disuruhnya memata-matai.

Kota Negara sudah semua bersedia, menjaga Ida Made Rai, serta kepala kelompok sekarang, yang dikatakan bersalah, sudah dicari-cari semua, sampai di kota Denkayu, di sana semua dicegat, tetapi semua para wanita, yang laki, masih menjadi kutunya hutan. Rakyat Mengwi mencari beliau, sudah diketemukan semua, diserahkan kepada Belanda sekarang, lalu dikembalikan cepat, semua laki dan perempuan, di Buleleng sudah sampai, lalu dinaikkan ke kapal, yang dikatakan bersalah, yang belum, diketemukan I Made Guliang.

Ada lagi belum baik, bernama Ida Dungkelik, di hutan di Kubon-kubon, đi gunung Banjar desa yang terpencil, ke sana ke mari bersembunyi, takutnya beliau ditangkap,

102.'Wenten kari durung munggah,

mapesengan Ida Dungkelik, ring.alas di kubon-kubon, di gunung Banjare ngili, pati luplup pati kelid, takut ida ne kajuk, kaling karencang i Tuan.

pangangon masih palaibin, masih payu, ida mangunggahin kapal.

  1. Kocapan mangkin I Tuan, Komisaris Banyuwangi, mantuk mangaturang reko, ring dane raja Batawi, antuk ida nekeni, pamalese sampun rauh, ne marentah kabudalang, Kumpenine ne ring Bali, tan kawuwus, Kornel suradadu budal.
    lagi diikat oleh Belanda, penggembala juga ditakuti, juga jadi, beliau menaiki kapal. Diceritakan sekarang Belanda, Komisaris Banyuwangi, pulang menyerahkan sekarang, kepada beliau raja Betawi, oleh karena beliau diketemukan, pembalasnya sudah datang, yang memerintah dipulangkan, Belanda yang ada di Bali, tidak diceritakan, Kornel serdadu pulang.

Perp Jen PN BALAI PUSTAKA — JAKARTA