SUREK POADA-ADAENGNGI
TANAE RI SOPPENG
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Milik Depdikbud Tidak diperdagangkan
SUREK POADA-ADAENGNGI TANAE RI SOPPENG
Pengkaji:
Drs. Haji Ahmad Yunus : Penanggung Jawab Pananrangi Hamid : Ketua/Penelit Dra. Tatiek Kartikasari : Anggota Drs. Mahyuddin Latuconsina : Anggota
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA 1994/1995
PRAKATA
Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan yang
berjudul Surek Poada Adaengngi Tanae Ri Soppeng.
Isinya tentang asal-usul penduduk dan terbentuknya pemerintahan kerajaan Soppeng; sejarah penaklukan kerajaan Soppeng dari kerajaan Gowa, pesan-pesan Daoke; pertemuan antara raja Soppeng dan Petta Malampee Gemmekna di Bontoala; jatuhnya kerajaan Cilellang ke tangan lasykar Soppeng, keputusan tentang kerajaan Beru; peristiwa kembalinya Arung Bila, dkk; dan petuah Arung Bila dan leluhur. Nilai-nilai yang tarkandung di dalam naskah ini adalah nilai kesejarahan dan pengabdian bagi seorang abdi negara/Raja. Pada hakikatnya nilai-nilai tersebut sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan, karena bukan berdasarkan hasil penelitian yang mendalam. Karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati. Harapan kami, semoga buku ini bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca. Kami sampaikan terima kasih kepada para pengkaji dan semua pihak atas jerih payahnya telah membantu terwujudnya buku ini
PimpinaProyek,
Drs. Soim un NIP. 130 525 911
iii
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluas
cakrawala pandangannya. Untuk membantu mempermudah pembinaan saling pengertian
dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya bukuyang berjudul Surek Poada-Adaengngi Tanae Ri
Soppeng
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka penggalian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun
dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di
seluruh Indonesia dapat ditingkatkan sehingga tujuan pembinaan
persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai. Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil
penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan
v
Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya kelemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam penerbitan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penerbitan buku ini.
Jakarta, Desember 1994 Direktur Jenderal Kebudayaan
&.M Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902
vi
DAFTAR ISI
Halaman PRAKATA iii
| SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN. | V | |
|---|---|---|
| BABI | PENDAHULUAN.. | 1 |
| 1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian. | 1 6 | |
| 1.4 Pertanggungjawaban Penelitian/Penulisan | 8 10 |
DAFTAR ISIvii
1.1 Latar Belakang dan Masalah...
1.3 Ruang Lingkup
BAB II TRANSLITERASI 15 BAB III TERJEMAHAN 53 BAB IV ANALISA DAN KESIMPULAN 103
4.1 Analisis 103
4.2 Kesimpulan 117
KEPUSTAKAAN. 118
vii
BABI
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Dan Masalah Masyarakat Sulawesi Selatan, sebagaimana halnya masyarakat Indonesia lainnya termasuk masyarakat majemuk, yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Di Sulawesi Selatan ada empat suku bangsa utama yang tersebar di seluruh pelosok yakni suku bangsa Bugis, Makasar, Mandar, dan suku bangsa Toraja. Tiap suku bangsa tersebut sejak lama telah menata dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, masing-masing sebagai kesatuan sosial yang menyebar dalam satuan-satuan pemukiman sendiri dengan latar belakang geografis, adat istiadat, agama, dan sistem kepercayaan yang satu sama lain berbeda. Kelompok suku bangsa Bugis menyebar dalam satuan-satuan sosial, mulai dari daerah pesisir pantai Teluk Bone, menyusur ke selatan sampai ke Kabupaten Sinjai dan Bulukumba, kemudian menyusur pesisir Selatan Makassar ke utara mulai dari Maros dan berturut-turut Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Barru, Pare-pare, Pinrang, sebagian Polewali. Sebagian pula menyebar di Kabupaten Luwu, daerah Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Soppeng. Sebelum masuknya penjajahan bangsa asing di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis sudah mengenal bahkan memiliki sistem pemerintahan yang umumnya berbentuk kerajaan. Salah satu kerajaan
lokal yang cukup banyak dikenal di samping kerajaan Bone dan Wajo di masa lampau ialah kerajaan Soppeng. Dalam kontok-s sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di daerah Sulawesi Sclatan, kerajaan Soppeng merupakan salah satu dacrah yang terkait dalam persckutuan antar kerajaan yang disebut Tellumpocco é (Tri Aliansi), masing-masing terdiri atas kerajaan: Bone, Wajo, dan Soppeng. Persekutuan kerajaan Tellumpocco-é itu terbentuk melalui suatu perjanjian khusus yang dihadiri oleh wakil-wakil dari ketiga kerajaan bersangkutan. Perjanjian terscbut terkenal sebagai Mallamung 'mpatu é ri Timurung (penanaman batu di Timurung). Terbentuknya persekutuan antara kerajaan Tellumpacco é, ternyata membawa keuntungan bagi masing-masing kerajaan pendukungnya, baik dalam usaha mempertahankan kerajaan sendiri dari serangan kerajaan lain maupun dalam rangka usaha perluasan wilayah taklukan masing-masing. Bahkan dalam berbagai naskah kuno lontarak ditemukan catatan-catatan sejarah, antara lain bahwa kekuatan gabungan antara kerajaan Tellumpocco-e berkali-kali memukul mundur lasykar orang Makassar dari kerajaan Gowa yang pada waktu itu sedang berupaya menyerukan dan menyebarluaskan agama Islam di kawasan Sulawesi Selatan. Namun akhirnya kerajaan Tellumpocco-e kalah dalam peperangan yang berlangsung selama bertahun-tahun dan meminta korban nyawa yang banyak. Kekalahan kerajaan Tellumpocco-é dalam peperangan melawan pihak kerajaan Gowa ketika itu bukan hanya mengakibatkan diterima Islam sebagai agama resmi dalam setiap kerajaan, melainkan sekaligus melemahkan kekuatan gabungan antara ketiga kerajaan Tellumpocco- é. Bahkan kerajaan Wajo kemudian mengikat tali persahabatan dengan pihak kerajaan Gowa. Berbeda halnya dengan kerajaan Wajo, maka kerajaan Bone tetap merasa tidak senang atas peristiwa kekalahannya terhadap kerajaan Gowa. Demikianlah, maka belasan tahun kemudian para tokoh dari kerajaan Bone mengajak sckutunya, yaitu kerajaan Soppeng dan Wajo untuk kembali mengukuhkan persckutuan Tellumpocco-é. Pihak kerajaan Soppeng menerima baik ajakan terscbut, namun kerajaan Wajo menyatakan tidak dapat melepaskan tali persahabatannya dengan pihak Gowa, dan dengan demikian tidak mungkin pula menerima ajakan bckas sekutunya. Bahkan, pada saat kerajaan Bone dan Soppeng melakukan penyerangan terhadap lasykar kerajaan Gowa, pihak Wajo turut membantu Gowa schingga kekuatan perang Bone-
Soppeng menjadi kacau. Bahkan pelopor perlawanan kerajaan Bone, yaitu Toballa mati terpenggal dalam peperangan tersebut. Peristiwa kekalahan kerajaan Bone-Soppeng tersebut telah mem- bangkitkan semangat juang di kalangan rakyat. Namun mereka menyadari akan ketidakseimbangan kekuatan dengan pihak Gowa, maka Arung Pelakka La Tounru Petta Malampee Gemmekna Torisompae Matinroe Ri Bontoala bersama beberapa sahabatnya dari Soppeng mengembara ke pulau Jawa, untuk mencari bantuan dalam usahanya untuk membebaskan negeri Bugis dari penjajahan kerajaan Gowa. Setelah lama berada di Batavia (Jakarta), Arung Pelakka dan kawan-kawannya kembali ke Bone dan selanjutnya mengatur strategi perjuangan pembebasan negeri-negeri Bugis dan para tokoh kerajaan yang tertawan di kerajaan Gowa. Demikianlah, satu demi satu wilayah taklukan yang masih berada di bawah kckuasaan Gowa dircbut oleh para pejuang yang tergabung dari orang-orang Bone dan Soppeng. Dalam penyerangan tersebut, Arung Palakka bersama lasykar dari Bone menelusuri pesisir Teluk Bone sampai ke Bantaeng. Kemudian dari Bantaeng menyusuri pesisir pantai ke utara menuju ke pusat kerajaan Gowa di Sombaopu, sementara armada Kompeni Belanda melindunginya dari arah lautan. Adapun orang Soppeng merintis perlawanan mereka dari arah utara, mulai dari Barru sampai ke Ujung Pandang. Kckuatan gabungan tersebut ternyata cukup tangguh, sehingga babollah pertahanan Gowa, kendatipun waktu itu kerajaan Gowa turut diperkuat oleh beberapa ribu tenaga bantuan dari kerajaan Wajo. Sejak itu Kompeni Belanda mulai menanamkan kuku penjajahannya di daratan Sulawesi Selatan, meskipun secara defakto politik penjajahan yang sesungguhnya baru terjadi sekitar tahun 1904, setelah tertawannya Raja Bone, La Pawawoi Karaeng Segeri. Berdasarkan uraian terscbut, banyak pihak yang telah menuduh Arung Palakka sebagai pengkhianat bangsa, kendati ada pula sebagian orang yang secara obycktif menanggapi masalah kerjasama Arung Palakka dengan pihak Kompeni di zaman lampau itu hanyalah dalam rangka membebaskan negeri dari rakyat Bugis dari dominasi kerajaan Gowa. Pendapat mana dari keduanya yang lebih mendekati kebenaran belumdapat dipastikan, tanpa adanya data yang memadai. Namun lepas dari persoalan pro dan kontra atas kedua informasi yang saling berbeda itu, pembahasan dalam kajian ini lebih dititikberatkan pada nilai-nilai luhur yang masih positif dan dapat digunakan untuk mendorong usaha pembinaan dan pengembangan nilai-nilai tradisional, sebagai bagian integral dari pembangunan bidang kebudayaan.
Dari sejarah pasang surutnya kekuatan dan kekuasaan kerajaan Soppeng di masa silam, terlihat adanya berbagai nilai-nilai tradisional yang masih positif, antara lain yang bertalian dengan nilai ke- pemimpinan, nilai persatuan dan kesatuan, nilai ctik dan moral, serta berbagai unsur nilai-nilai sosial budaya lainnya. Semua itu terpateri dalam naskah kuno lontarak, termasuk jenis surek (naskah) sebagai dokumen sejarah dan kebudayaan dacrah. Lontarak sebagai suatu dokumen sejarah, maka di dalamnya bukan hanya termuat catatan-catatan mengenai ancka macam peristiwa perang dan penaklukan antara kerajaan lokal di zaman lampau, melainkan di dalamnya termuat pula informasi mengenai asal-usul penduduk dan mula terbentuknya sistem pemerintahan kerajaan setempat di dacrah Soppeng. Bahkan, selain itu naskah kuno lontarak, khusus lontarak Soppeng memuat pesan-pesan dari cendekiawan tradisional maupun petuah-petuah dari para leluhur yang pernah hidup di zaman silam. Berbagai pesan, petuah dan naschat para leluhur tersebut ternyata masih positif dan dapat dikembangkan dalam rangka pemanfaatannya sebagai filter untuk menyaring pengaruh unsur nilai-nilai budaya asing yang terserap melalui proses dan kegiatan pembangunan. Lontarak, dengan demikian mempunyai arti penting, baik sebagai sumber informasi sejarah maupun informasi budaya. Pada umumnya naskah kuno lontarak merupakan catatan tulisan tangan yang dibubuhkan di atas lembaran daun lontar di samping kertas. Huruf yang digunakan dalam menuliskan lontarak biasanya terdiri atas huruf/aksara dacrah Bugis dan ada pula sebagian lontarak ditulis dalam huruf Arab yang disebut hurupuk serang. Dewasa ini banyak warga masyarakat Bugis tidak dapat lagi menulis ataupun membaca naskah lontarak yang tertulis dalam hurupuk serang, bahkan sebagian besar penduduk terutama yang berusia remaja tidak mengenal lagi aksara Bugis, lebih-lebih hurupuk serang. Keadaan seperti ini mengakibatkan kurangnya minat mereka untuk membaca dan mempelajari isi lontarak. Selain kurangnya minat baca terhadap naskah lontarak, maka banyak naskah kuno saat ini yang sudah hancur, baik karena lapuk maupun karena gangguan rayap dan hama lainnya. Hal tersebut makin mempercepat proses kepunahan naskah kuno yang pada hakekatnya amat potensial bagi pembinaan dan pengembangan nilai-nilai luhur bangsa. Gejala lain yang cukup menonjol pula saat ini ialah masih terdapatnya naskah-naskah kuno yang hanya disimpan oleh pemiliknya
sebagai benda pusaka, malahan sebagian orang memandangnya sebagai benda sakral yang harus dihormati, dijaga secara ketat dan tidak bolch dibaca isinya secara sembarangan. Akibatnya, banyak naskah lontarak yang manjadi rusak, tanpa diketahui kandungan isinya. Menyadari arti pentingnya fungsi lontarak sebagai sumber informasi kesejarahan dan nilai-nilai sosial budaya daerah, di samping kebcradaannya itu sendiri sudah termasuk salah satu unsur kebudayaan lokal, warisan leluhur dari zaman lampau, maka dipandang perlu adanya usaha penelitian, sekaligus pengkajian nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah kuno lontarak sebelum punah sama sekali. Salah satu naskah lontarak yang masih ditemukan saat ini di dacrah Sulawesi Selatan ialah Lontarak Poada-ada-engngi Tanae Ri Soppeng. Lontarak tersebut, sebagaimana halnya kebanyakanlontarak di kawasan Sulawesi Selatan adalah memuat berbagai macam informasi, antara lain: asal-usul penduduk Soppeng; sejarah terbentuknya pemerintahan lokal di kerajaan Soppeng; sejarah pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Soppeng mulai datangnya tokoh to-Manurung (orang yang dianggap turun dari kahyangan) sampai masuknya agama Islam, perang saudara antar kerajaan, bobolnya kerajaan Gowa, masuknya Kompeni Belanda, dan berbagai pesan, nasehat, serta petuah-petuah leluhur. Semua itu termasuk informasi kesejarahan dan kebudayaan yang cukup potensial bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah, sebagai bagian integral dari pembangunan kebudayaan bangsa.
Berdasarkan catatan yang terkandung di dalamnya, maka Lontarak Poada-adaeng-ngi Tanae Ri Soppeng pada kenyataannya, adalah
menyangkut ancka masalah yang bersifat kompleks, sehingga dapat
disoroti dari berbagai segi, antara lain: segi politik, undang-undang dan hukum, perang dan damai di samping segi sejarah dan kebudayaan. Dalam konteks penelitian ini fokus perhatian diarahkan pada segi
kesejarahan dan kebudayaan. Pokok-pokok masalah yang melatar-
belakangi penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Dircktorat Sejarah dan Nilai Tradisional belum memiliki data dan
informasi secara lengkap, hkusus mengenai naskah kuno lontarak yang memuat catatan sejarah dan budaya dacrah Bugis di Wilayah
Soppeng.
2. Sampai sekarang masih terlihat adanya gejala di mana anggota
masyarakat cenderung menyimpan naskah kuno lontarak, sekaligus memelihara dan menghormatinya sebagai suatu jenis benda sakral, bahkan sebagian orang menghayati lontarak itu sebagai suatu
simbol kebanggaan keluarga di zaman silam. Berdasarkan anggapan tersebut, banyak naskah lontarak yang menjadi lapuk di tempat penyimpanannya, tanpa ada usaha dari pemiliknya untuk membaca dan mengkaji kandungan isinya.
- Sejalan dengan arus pembangunan yang makin pesat, terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi modern, banyak anggota masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan saat ini menyibukkan diri dalam proses pengadopsian unsur-unsur ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari kebudayaan asing, hasil produk masyarakat dari berbagai belahan bumi terutama negara-negara super power. Keadaan ini mengakibatkan tersisihkannya naskah-naskah kuno yang memuat berbagai informasi kesejarahan dan nilai-nilai luhur bangsa.
- Sesuai dengan jenis program studi yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan selama ini, maka mata pelajaran bahasa daerah Bugis tidak diajarkan lagi, baik di tingkat Sckolah Dasar maupun Sekolah Lanjutan Menengah. Kalaupun sesekali anak didik diberikan materi pelajaran bahasa dacrah, maka hal itu kebanyakan diarahkan agar mercka dapat mengenal bentuk aksara/huruf lontarak, tanpa upaya pembimbingan untuk lebih menghayati struktur bahasa, apalagi arti dan makna simbolik yang termuat dalam kalimat-kalimat bahasa daerah Bugis. Keadaan ini menyebabkan kurangnya pemahaman kebanyakan anggota masyarakat, teņhadap isi naskah kuno lontarak.
- Terdapat gejala umum, bahwa naskah-naskah lontarak dewasa ini mengalami ancaman kepunahan, baik karena lapuk olch per- geseran masa maupun hancur karena gangguan rayap serta jenis hama pemakan kertas. Sementara di lain pihak tampak kurangnya minat anggota mașyarakat, termasuk para pemilik naskah itu sendiri untuk mengupayakan penyalinan ulang. Akibatnya, jumlah naskah kuno lontarak makin lama menjadi makin menyusut. Bahkan apabila keadaan terscbut tetap berkelanjutan, tidak mustahil suatu saat kelak seluruh naskah lontarak di daerah Sulawesi Selatan, punah dan sirna.
1.2 Tujuan dan Kegunaan Penelitian - Tujuan penelitian
a. Tujuan pertama dari penelitian ini ialah untuk mengupayakan tersedianya sebuah naskah hasil penelitian dan pengkajian
nilai dan isi naskah kuno Lontarak yang berjudul: Surek Poada- ada-engngi Tana-e Ri Soppeng.
b. Meningkatkan kesadaran anggota masyarakat pendukung naskah kuno lontarak, tentang arti pentingnya warisan budaya tersebut untuk dibaca dan dipelajari isinya. Bukan hanya benda sakral yang harus dipuja dan dihormati secara berlebihan, melainkan adalah sumber informasi dan sistem pengetahuan tradisional yang perlu dikaji, sebelum lontarak terscbut punah dan sirna, baik karena lapuk maupun karena dimakan rayap dan berbagai jenis hama pemakan kertas.
C.Merangsang, sekaligus mendorong minat anggota masyarakat, terutama para pemilik maupun pendukung kebudayaan ber- sangkutan, untuk menyisihkan sebagian waktu mereka dalam usaha mengkaji kandungan isi lontarak. Ini berarti, bahwa hasil penelitian dimaksud diharapkan dapat menjadi bahan dasar, sebclum masyarakat menentukan pilihan terhadap unsur-unsur kebudayaan asing yang ingin diserap dan diterap- kan dalam kehidupan mereka.
d. Mengupayakan tersedianya bahan bacaan dan sumber informasi kesejarahan maupun nilai-nilai budaya tradisional yang secara praktis dan mudah dipahami oleh pembacanya. Tujuan ini dipandang penting, mengingat makin banyaknya anggota masyarakat setempat yang tidak menguasai arti dan berbagai makna simbolik yang terkandung dalam naskah lontarak.
e.Akhirnya penelitian ini bertujuan untuk merekam, sekaligus mengungkapkan kandungan isi lontarak. Hal ini sangat penting, karena adanya kenyataan bahwa jumlah naskah lontarak makin lama akan makin berkurang, akibat gangguan rayap dan hama lainnya di samping adanya pula naskah yang menjadi lapuk karena gesekan zaman. Melalui penelitian ini, sebagian kandungan isi lontarak dengan sendirinya dapat terekam, sebelum naskah-naskah itu sendiri punah sama sekali.
2. Kegunaan Penelitian
a. Hasil penelitian dan pengkajian ini mempunyai kegunaan, terutama untuk melengkapi data dan informasi yang bertalian dengan naskah kuno dilingkungan Direktorat Sejarahdan Nilai Tradisional. Hasil penelitian' dimaksud, dapat pula
berguna sebagai bahan masukan (in-put) atau memberikan
umpan balik (feed back) bagi pihak pemerintah dalam rangka
pembinaan dan pengembangan naskah kuno sebagai warisan
budaya bangsa.
b. Naskah hasil penclitian dan pengkajian lontarak ini dapat berguna sebagai media penyerbarluasan informasi sejarah di samping kebudayaan daerah Bugis, baik di kalangan suku-suku bangsa di wilayah Sulawesi Selatan sendiri maupun di berbagai suku bangsa lainnya dalam kepulauan nusantara. Ini berarti pula bahwa hasil penelitian ini berguna untuk mempercepat proses pengenalan antar budaya di antara penduduk Indonesia yang bersifat majemuk dan tersebar di berbagai pelosok.
c.Selain itu, hasil penclitian dan pengkajian ini dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi muda dan semua pihak yang memerlukannya, kendati mereka tidak memahami bahasa dan aksara dacrah Bugis. Ini sesuai dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak penduduk berusia remaja yang kurang memahami tulisan dan bahasa dacrah bersangkutan.
d. Akhirnya hasil penelitian bersangkutan dapat berguna bagi
para mahasiswa dan peneliti, sebagai sumber informasi me- nyangkut sejarah dacrah Soppeng maupun unsur-unsur kebudayaan termasuk nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam masyarakat pendukungnya.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup material
Dalam upaya mengungkapkan kandungan nilai dan isi lontarak
yang menjadi sasaran penelitian ini, fokus perhatian ditujukan kepada
materi pokok sebagai berikut:
1) Menginventarisasi serta mendokumentasikan naskah-naskah kuno
lontarak yang ditemukan di wilayah satuan-satuan pemukiman kelompok suku bangsa Bugis daerah Sulawesi Sclatan. Dari
seluruh naskah yang berhasil diinventarisasi dan di dokumentasi-
kan itu dipilih scbuah naskah yang dianggap memenuhi kriteria tertentu, untuk diolah lebih lanjut.
2)Naskah kuno yang telah dipilih menurut punt. a tersebut, kemudian dialihaksarakan/ditransliterasikan, dari aksara daerah Bugis ke huruf Latin. Proses alih aksara ini dilakukan sedemikian rupa,
sehingga tiap kata dasar terpisah dari kata awalan, sisipan, dan akhiran, namun tetap berangkaian sehingga lebih mudah membacanya, kendatipun bagi mereka yang kurang mengetahui bahasa daerah bersangkutan.
3) Sebagai proses lanjutan dari alih aksara, dikemukakan hasil terjemahan dari bahasa daerah Bugis ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini terjemahan dilakukan kata demi kata. Sedangkan kata-kata/istilah Bugis yang sulit ditemukan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia, diterjemahkan secara bebas antara kalimat. Demikianlah maka hasil penerjemahan diupayakan selalu mendekati arti maupun makna yang terkandung dalam naskah/ bahasa aslinya.
4) Menyajikan hasil kajian dan analisis, tentang nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam naskah bersangkutan. Dalam konteks analisa isi naskah dikemukakan pula interprestasi, sekaligus mengaitkannya dengan bidang-bidang kehidupan, khusus dalam lingkungan masyarakat pendukung lontarak bersangkutan. Proses analisis dan interprestasi tersebut dibandingkan pula dengan hasil-hasil penelitian yang relevan, terutama untuk lebih mem- perjelas sekaligus memperdalam pemahaman tentang kandungan isi naskah kuno dimaksud. Ruang Lingkup Operasional Ruang lingkup operasional penelitian ini mencakup wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Soppeng. Wilayah ini merupakan salah satu bekas kerajaan lokal yang cukup besar pengaruhnya dalam sejarah perkembangan daerah Sulawesi Selatan di masa lampau. Penetapan lokasi penelitian terscbut didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut:
1) Daerah Soppeng terletak di pinggiran jalan raya propinsi, poros antara Ujung Lamuru (Bone) dan Wajo dengan kondisi jalanan cukup mulus dan transportasi cukup lancar, sehingga mudah di jangkau dalam rangka penelitian.
2) Daerah tersebut mempunyai potensi naskah kuno cukup banyak sehingga memudahkan bagi usaha pelaksanaan inventarisasi dan dokumentasi lontarak yang diperlukan sebagai bahan kajian.
3) Sebagian besar penduduk daerah bersangkutan sampai sekarang
tetap menggunakan bahasa daerah Bugis, bahkan masih ditemukan adanya beberapa orang penduduk setempat yang masih mengetahui
seluk beluk aksara lontarak serta cukup luas pengetahuannya tentang bahasa dan aneka ragam istilah kuno yang tercakup dalam lontarak. Adapun naskah lontarak yang dijadikan sasaran pengkajian dalam penelitian ini, sebagaimana telah disebutkan dalam sub bab lain di muka, ialah Surek Poada-Adaeng-ngi Tana-e Ri Soppeng (naskah yang membicarakan tentang negeri Soppeng). Metode pemilihan naskah tersebut sebagai sasaran pengkajian, dikemukakan secara khusus pada sub bab berikutnya.
1.4 Pertanggungjawaban Penelitian/Penulisan Metode Pemilihan Naskah. Pemilihan dan penetapan lontarak/ surek Poada-ada-engngi Tana-e Ri Soppeng, sebagai sasaran pengkajian dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode proporsional, sedangkan kriteria utama yang dijadikan bahan per- timbangan, adalah sebagai berikut:
1) Dari hasil survai pendahuluan dapat diketahui bahwa lontarak tersebut belum pernah diteliti, dikaji dan diungkapkan secara tuntas.
2) Catatan-catatan yang termuat dalam naskah lontarak dimaksud adalah cukup penting, bahkan dipandang sangat bermanfaat diketahui, baik oleh masyarakat masa kini maupun generasi yang akan datang.
3) Naskah tersebut mempunyai isi yang masih lengkap dan utuh dengan huruf-huruf yang tertulis cukup jelas sehingga dapat dibaca, tanpa mengalami kesulitan yang berarti.
4) Naskah lontarak tersebut merupakan karya tulis yang terpateri dengan tulisan tangan dengan usia lebih dari lima puluh tahun, sehingga sesuai dengan ketentuan "Monomenten Ordonantie" STLB 238/1931. Metode pengkajian. Dalam upaya mengungkapkan nilai-nilai serta kandungan isi naskah kuno lontarak yang menjadi sasaran penelitian ini digunakan metode "analisa isi" (content analysis). Penerapan metode ini dilakukan dengan cara menganalisa serta mengkaji isi naskah bersangkutan secara runtut, mulai dari lembaran pertama sampai lembaran terakhir. Berdasarkan hasil analisa isi tersebut, kandungan isi lontarak kemudian dikaitkan dengan realitas sosial yang hidup dalam
masyarakat pendukungnya. Melalui pencrapan motode ini, maka fungsi dan peranan naskah kuno lontarak dalam kehidupan masyarakat
luas, khususnya di lokasi penelitian tersebut dapat terungkap secara tuntas.
Metode dan Teknik Penelitian. Usaha pencarian dan pengumpulan data yang relevan dengan tujuan penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu:
1) Studi Kepustakaan Studi kepustakaan dipandang cukup efektip dalam rangka pengumpulan data dan informasi yang bertalian dengan materi penclitian ini. Melalui studi kepustakaan tersebut, diperoleh pengetahuan dan pemahaman secara mendalam mengenai teori dan konsep-konsep ilmiah yang dipadang perlu dalam rangka pendekatan masalah pokok yang menjadi sasaran penelitian. Sumber-sumber kepustakaan yang dijadikan referensi dalam penelitian ini, terdiri atas:
a) Buku-buku sejarah, termasuk: sejarah tentang pertumbuhan dan perkembangan dacrah Sulawesi Selatan di samping sejarah
kabupaten Daerah Tingkat II yang ada kaitannya dengan isi
naskah, seperti sejarah Soppeng, Sejarah Bone, Sejarah Wajo,
Sejarah Gowa, dan lain sebagainya.
b) Buku-buku yang membahas tentang limu antrologi, filsafat, sosiologi, ekologi, dan bahan-bahan kepustakaan yang bertalian dengan materi penelitian dimaksud.
c) Buku-buku hasil penelitian yang bertalian dengan bidang sejarah
dan sosial budaya dacrah Sulawesi Selatan.
d) Berbagai buku-buku metodologi penelitian. Ini cukup penting, terutama dalam rangka pendalaman tentang seluk-beluk metoda dan teknik penelitian yang dipandang dapat mempercepat proses penelitian secara menyeluruh.
2) Studi Dokumentasi Penerapan metode "studi dokumentasi" diarahkan pada usaha penjaringan informasi kesejarahan dan nilai-nilai budaya daerah. Dalamhalinidata/informasi dikumpulkan melalui sumber-sumber tertulis berupa dokumentasi verbal, antara lain berupa:
a) Naskah kuno lontarak, baik lontarak berbahasa dacrah Bugis maupun Makasar yang ada kaitannya dengan materi penelitian ini.
b) Berbagai laporan hasil penelitian, baik menyangkut naskah kuno maupun sejarah dan sosial budaya di daerah Sulawesi Selatan.
c) Makalah dan bahan-bahan seminar, pertemuan ilmiah dan lainnya yang bertalian masalah sejarah, budaya dan pernaskahan.
d) Berbagai peraturan, ketetapan dan peraturan pemerintah, khusus yang ada pertaliannya dengan obyek penclitian bersangkutan.
3) Selain metode penelitian yang berorientasi pada studi kepustakaan dan studi dokumentasi, pelaksanaan penelitian ini didukung pula oleh penerapan studi lapangan atau metode penclitian kancah. Dalam hal ini penjaringan data yang dipandang perlu, dilakukan dengan menggunakan berberapa teknik tertentu, antara lain sebagai berikut:
a) Survai Survai adalah teknik penjaringan data yang cukup ampuh dalam rangka identifikasi dan dokumentasi naskah kuno lontarak di lokasi penelitian. Kegiatan survai tersebut dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, survai bertujuan mencari sekaligus mencatat judul-judul naskah yang ditemukan. Sedangkan pada tahap kedua, survai dilakukan, untuk meng- identifikasikan naskah-naskah yang telah dicatat pada survai tahap pertama. Kegiatan ini dipandang penting, sebagai dasar untuk melakukan pemilihan naskah yang dijadikan sasaran pengkajian.
b) Pengamatan Tehnik pengamatan diterapkan untuk memperolah pengetahu- an awal yang bertalian dengan naskah lontarak maupun daerah dan masyarakat yang dipilih sebagai sasaran penelitian. Pengamatan terhadap naskah lontarak adalah sangat penting, antara lain untuk mengetahui keadaan fisik naskah, bentuk tulisan, dan unsur-unsur lainnya. Pengamatan terhadap daerah dan masyarakat di lokasi penelitian, dilakukan untuk memahami kondisi fisik lingkungan bersangkutan, di samping keadaan sosial budaya setempat. Hasil pengamatan tersebut merupakan unsur pelengkap sekaligus merupakan bahan perbandingan yang akan memudahkan terlaksana- nya proses penerjemahan dan analisa isi lontarak.
c) Wawancara Selain survai dan pengamatan, penelitian ini menggunakan pula teknik wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan dalam dua
tahap, yaitu tahap wawancara pendahuluan serta wawancara
mendalam.
akhiran, namun kata dasar dan imbuhannya dihubungkan dengan
menggunakan garis datar, sebingga tiap kata dapat dibaca secara tepat. Misalnya, kata yang berbunyi "poada-adaengngi" setelah ditransliterasi akan berubah bentuknya menjadi "po-ada-ada-éng-ngi".
Kata tersebut adalah kata jadian, berasal dari kata dasar ada (kata;
ucapan). Setelah mendapatkan imbuhan, maka kata tersebut berubah artinya menjadi "yang membicarakan".
Tanda-tanda baca Dalam upaya memudahkan bagi pembaca untuk melafalkan kandungan isi naskah lontarak, maka proses transliterasinya dilengkapi dengan beberapa tanda-tanda baca, sebagai berikut:
1) Garis datar yang dibubuhkan di antara dua kata, adalah menunjukkan bahwa masing-masing kata tersebut saling berkaitan satu sama lain, namun salah satu dari bagian kata dimaksud merupakan kata dasar. Dalam hal ini kata dasar dapat berbentuk tunggal, dapat pula berupa kata berulang, misalnya:
(a) na-po-ada-i, berbunyi napoada i (dikatakannya). Ini adalah kata jadian dengan akar kata ada, kamudian mendapatkan tambahan berupa awalan (na dan po); di samping akhiran (i). Dalam hal ini kata dasarnya (ada) adalah berbentuk tunggal.
(b) po-ada-ada-éng-ngi, berbunyi poada-adaengngi (yang mem- perkatakan; yang membicarakan). Tampak pada kata tersebut, bahwa kata dasar ada-ada, adalah berbentuk kata berulang.
2)Garis datar di atas huruf "e", contohnya (é). Garis datar tersebut
melambangkan bunyi "é" sebagaimana halnya bunyi "e" dalam kata (Indonesia) leceh; ledck. Sebaliknya huruf "e" tanpa garis datar di atasnya, adalah melambangkan bunyi (e) seperti halnya
dalam bahasa Indonesia: seteru; belenggu; menetas; dan
sebagainya.
3)Glotelstop yang dibubuhkan di antara dua kata, menunjukkan
bahwa kedua kata bersangkutan adalah berdiri sendiri, namun
dalam pengucapannya seolah-olah bersambung. Misalnya dalam
kata (Bugis) lamung'mpatu (penanaman; penguburan batu).
4)Garis miring (/), adalah pembatas kalimat yang digunakan sebagai pengganti tanda titik-tiga (.. .) yang dibubuhkan dalam penulisan aksara lontarak.
5) Tanda elipsis dengan tiga titik (... ), adalah penunjuk bahwa ada bagian naskah yang dilangkahi, karena tidak dapat terbaca/kabur. Tata cara Penerjemahan
a. Proses penerjemahan naskah lontarak dilakukan secara runtut, sesuai dengan urut-urutan nomor yang tercantum pada bagian transliterasi.
b. Penerjemahan dilakukan atas kata demi kata, kalau tidak mungkin, maka penerjemahan dilakukan persatu kalimat.
c. Jikalau terdapat istilah daerah Bugis yang perlu diberi penjelasan, maka istilah bersangkutan digaris bawahi dan diberi tanda berupa nomor yang dibubuhkan secara berurut. Misalnya: Petta Malampee Gemmekna1 Matinro-e2 Ri Bontoala ³. Penjelasan dimaksud, dituliskan pada bagian catatan kaki (foot note).
d. Apabila ada terjemahan yang dipandang perlu adanya kata tambahan untuk memperjelas arti dan maknanya, maka penjelasan tambahan tersebut dituliskan langsung dalam teks, namun diletakkan dalam kurung. Misalnya, dalam lontarak tertulis: na-luttu na Malampee Gemmekna datu Botto Arung Bila lao ri Jawa (maka terbanglah Malampee Gemmekna (dan) Datu Botto (serta) Arung Bila ke Jawa). Proses penerjemahan naskah lontarak dengan tatacara seperti itu diharapkan bermanfaat bagi para pembaca untuk memahami kandungan isi naskah, tanpa adanya kesulitan apapun.
BAB I∥I TRANSLITERASI
A.IYA NAÉ SUREK POADA ADAÉNG NGI TANA É RI SOPPÉNG
001. Iya naé surek poada adaéng ngi tana é ri Soppéng accapu na nat té é ri Galigo /
002.Na wélain na Séwo Gattareng / No ni mabbanua tau é ri Soppéng / Na ia to Séwo'é iya na ri aseng to Soppenriaja / Na ia to Gattareng ngé ia napo aseng Soppenrilau /
003.Aga na na enneppulo na matoa Soppenrilau Soppenriaja / Naé napaddua ni alé na to Soppéng ngé /
004. Lolloé / Kubba / Panincong / Talagaé / Riattassalo / Mang kuttu / Maccilé / Watuwatu / Akkampeng / Padduisen na Soppenrilau /
005. Na ia Pesse / Pising / Launga / Mattobulu / Ara / Lisu / Lawo / Madello Rilau / Tinco / Padduisen na Soppenriaja /
006. Na ia Cénrana / Salokaraja / Malaka / Mattoanging / Ilaleng Soppettopa / Ia na padduisen na /
007. Na tallapi na to Soppéng ngé / Na dék na puwan na mungga na té é ri Galigo /
008. Na ia mani matoa é enneng ngé pulo na paotok paléwuk i tana é /
- Na manurun na matoa Tinco / Jennappessé / Angkan na pak duiseng ngé to Soppénriaja / Napo adas si matoa Ujung / Matoa Botto / Matoa Bila / Makkeda é engka ro manurung ri Sekkan nyili /
- Naé makkeda i Arubbila / Matoa Botto / Matoa Ujung / Madécéng ngi ta paisseng ngi pak duisen na Soppenrilau / Matoa Salotungo /
- Na kado i pak duisenriaja / Nassi turusi ni suro é tampai wi / Puraik kuwa engka ni matoa pak duisenrilau é/
- Makkeda i matowa é Soppenriaja / Engka manurung ri Sekkanyili / Na pékkuwarék sosso tangnga mu /
- Makkeda i matoa é Soppenrilau / Ma décéng ngik lao takkareng ngi alé / Sarékkuwammeng ngi mamasé ammi puwang ngé / na iad dongi ri temmatippak kik / 'Mpawa ik ri mawék ri mabéla /
- Na mau na pattarom meng natéai wi ta téai toi / Puraikkuwa / Lokka ni matoa é enneng ngé pulo na /
- Lattuk ni ri to manurung ngé matoa é enneng ngé pulona Makkeda ni matoa Ujung / Matoa Botto / Matoa Bila /
- Ia na ki engkang mai é lamarupek é / Ma élokkeng mu amaséang / Ajak na muallajang / Na iko na ki popuwang /
- Mu-dongiri tem-matippak-keng mu-salipu-ri tem-madingik keng / Na iko na puwak-keng ri mawék ri mabéla é / Na mau-na pattarom-meng muteai-wi ki-teai muto-nisa /
- Makkeda ni petta manurung ngé ri Sekkannyili / Tem-muba léccorep-pak / Temmu-adduan-nawanawa-pak /
- Siceppa ni matoa é enneng ngé pulo na petta manurungngé ri Sekkannyili/
- Makkeda to-pi petta manurung ngé ri Sekkannyili / Engka to-tu sapposisek-ku manurung ri Libureng / Ma-décéng ngi mulibureng-ngalé iko toSoppeng ngé / Ku-duas-sappa-rekko décéng mennang!
- Na-ia datu Soppenrilau / Nai iak datu Soppenriaja / Mupa situru tangnga mu-lao mu-ala-i/
Puraik-kua / Lokka ni matoa é enneng ngé pulo na lattuk ri Libureng / Kuwa ri aseng ngé Gowarié /
023.Na-pole-i-ni to manurung ngé 'tudang ri balubu naddeppa ri é /
024.Makkeda ni matoa Ujung / Matoa Bila / Matoa Botto / Ia na mai ki-engkang lamarupek é / Ma-élok-keng mu-amasé-ang /Ajak na mu-allajang / Na iko ki-po puwang / Mu-dongi-ri tem-matippak-keng / Mu-salipu-ri temmadingik-keng / Mu-wesse i tem-makapak-keng/
026.Na iko puwak-keng ri mawék ri mabéla / Na mau-na nammeng na-pattarom-meng mu-tea-i-wi ki-tea-i mato-ni-sia /- Makkeda-i manurung ngé ri Gowari é / Tem-mu-baleccoreppak / Tem-mu-adduan-nawanawa-pak /Si-kadon ni ada é/
- Ia na ro ri aseng akkulu ada ngen-na to Soppéng ngé na puwan-na lattuk ri to ri munrin-na / Datu é ri Soppéng na-to ri munrin-na to Soppéng ngé /
- Apak ia tek-ke anak na-pa puwat-ta manurung ngé ia dua / Matoa Botto / Matoa Ujung / Matoa Bila po-ada ada nas-situru matowa é enneng ngé pulo na / Ada massu ada ri lelassoppéng /
- Na-é ké-anak ni ia dua engka ni Pangépak .é paddanreng ngé /
- Ia nassituru si datu é ri Botto Arubbila Datu é ri Ujung ala gauk ri lalessoppéng ala gauk massu / Ala ada ada ri lalessoppéng ala ada ada massu / Ten-ri ullé na giling ngi ri padan-na to Soppéng apak ri po-adek i-sia apak ri-po puwangngi/
B. IA NA-É SUREK PO-ADA ADA-ÉNG-NGI NA-LAO SU
ARUNG APPANANG ARUNG BILA SI-LAONG TO SOPPÉNG-NGÉ
- Ia na-é surek po-ada ada-éng-ngi na-lao su Arung Appanang / Arung Bila si-laong to Soppéng-ngé ia séllisck enreng ngé ia to-pa lili é engka é muannep-pa tel-lao ma-rola ri -Bakka é ri-pasi-laling lao ri Gowa/
033.Na tellum-penni pura na ma-nganro ri Manrai ri Lollo ri Kaluku é na-sosok lao ri Tellek Arung Bila Arung Appanang to Soppang-ngé ia séllisek / - Na-si duppa-na ri Ulu Batu pattoana-na Lombasak Bungoro Nala ni Arung Bila Arung Appanang pattoana-na Lombasa Bungoro.
035.Na-lao-na monro ri Temmaroja Lapanyanya Duampidang-ngé / Lattuk na-na-tuang alé na to Soppeng-ngé lao alau / Natingarai Cempa-Cempa / Pappa i baja é ri duwam-penni é / Mattebbak ni Arung Appanang Arung Belo si-laong Daeng Pabilla enreng-ngia to Siang-ngé na to Barrasa é / Engka tona sia maté /
Engka to-na rangen-na Daeng Pabilla Arung Belo maté / Na la-ni Mallewa Daeng Pabilla / Nala to-ni to Soppeng-ngé Bangkali / Kaluku / Bollopangai / Nala ni Lambasa / Cempa-Cempa / Biringngéréng /
- Pappa ni baja é ri-ma-tellum-penni é / Engka manet-toni to Barrasa é / To Siang ngé / Daeng Pabilla / Kuwa é to Soppéng ngé /
- Ma-éga na tau maté / Ma-ega-to na ri-ala ri to Soppéngngé tau décén na Barrasa / Siang / Na-sau-ren na Barrasa / Siang / Ménrék ri bulu na Lalisang /
- Pappa ni baja é ri-ma-duam-penni é / Na-assuas-si aléna ten-ri taro mallappa ri to Soppéng ngé /
- Apak labu ni esso é ri ma-duam-penni é / Lai ni alé na karaéng ngé ri Barrasa ri tella é Karaéng Allu / Inappa ni na-tinro si ri Gowa /
- To Barrasa é manganro ni lao ri pangkajéné Widappasa é ri Citta si-laong Bolong ngé ri Lompulle / Na-la ni La Pa -jikkiri ri Belo Bontomatekne / Lesang Bakkaé ri Marioriwawo / Na-la ni Arung Bila /
- Manganro ni Brrasa / Siang / Ku ni ri Ujung Bulué mujung ngi bessin na na-pa-éwa é to Barrasa é to Siang ngé na wawa i ri Arung Bila ri Arung Appanang /
- Na Lasilatu asen-na alameng mana é ri Appanang ri garuwang ngi tuak é na inung ngi to Barrasa é / Na-tanro i aléna maccuccu-piu / Dék ompo wija-wijan na naérékko na wélai wi datu é ri Soppéng / Kuwa é Malampé é Gemmekna na-nging ki raukkaju Barrassa Siang / Dék ma-sala ri suroang ngi/
- Na siarék mua esso na na-ngka suro na Malampé é Gemmekna si-laong Ambara Sepéléman mélorang ngi ri pa-no ri kappalak é to Barrasa é to Siang ngé ajak engka mu-taro ri wanu-wam-mu /
- Makkeda i Arung Bila / Arung Appanang / Arung Belo ri suro na Malampé é Gemmekna ma-élo manek-keng matu 'nrewek lao ri Benamo / Apak pura ni musu ta / Pura-to ni bicara ku / Barrasa Siang / Na tanro i alé na maccuccuppiu dék ompona ri mata jarung wija wijan na ala 'méwa-éng ngi datu é ri Sopéng kuwa é Melampé é Gemmekna /
- Apak ia ki-alang ngi apettung bicara Siang monro é ri wanuwan na / Ki-po-anu makkalépu i lattu ri to-ri munrin na Petta ri Soppéng ri Boné /
Dék Ma-sala ri suro-ang ngi / Elok na élo datu é ri Soppeng enreng-ngia Arumponé /
Makkeda-to pi Arung Appanang / Arung Bila / Arung Bélo / Ia to papperi-periwik-keng lao manaik na-asen na suro ten-na karawa Bénamo to Bone uleng ri monri é /
- Apa nonno ni tonang to ri suro é / Arung Appanang / Arung Belo / Kuwa é to Soppéng ngé ia séllisek na-sompek lao manaik ri Bénamo /
- Sita ni Malampé é Gemmekna ri Bénamo / Makkeda i Arung Appanang / Arung Bila ri Malampéé Gemmek na ri tana é ri Bénamo ia Karaeng Barrasa / Ia Arung Berruriajaé / Ada Ugi / Ku-pa-nganro sa tunruk maccucuppiu / Na ia Arung Berurilaué Ada Ugi / Na-éngngerang muannéng ngi sia asséajingen na Beru Soppéng / Beru polé Soppéng Su /
- Inak ku-pik ri Juppandang sita ko-to ri-wéréng tanroiwi ri déwata é mala i Juppandang / Kuwa é népo / Suppa / Ku-mato pik ri Juppandang sita /
- Makkeda i Arung Bila / Arung Appanang / Ada nap-paseng-ngeng-ngé ri anakdaran na ri sapposisenna / Ia si ceppa na akkuluadangem-meng arumpone kuwa é mattanam-meng ri Pattiro idik-keng polé ri Angké ten-ri legga warekkem-meng / Ten -ri tették limam-meng / Angka ulém-meng idik-keng polé ri Angké / Angkan na-to sappowekkatellum-meng /
- Na ia akkuluadangem-meng / Ia na na-tetto ngi déwata sé uwa é/ Tes-sisala kalésso é / Tes-si belléang ngé /
- Aga ki-pura mana siceppa ki-nappa joppa / To Boné sitin ro Malampé é Gemmekna mola ma-naik ri Bulukumpa angkan-na Bénamo/
- Idik to Soppéng ngé mola i Beru / Tanété / Lalo ma-naik angkan na Barrasa / Aga nangka to Soppéng ngé béta i Beru ri aja / Ada Ugi / Nangka-to na to Soppéng ngé pa-rola i lao mam-musu arung Berurilau é / Ada Ugi / Apak idik to-nak keng mala i (.. .) ri Gowa /
- Idik to-nak-keng tosoppéng ngé béta i ri awang Ségéri ri attang Ségéri / Barrasa / Siang / Idik to-na to Soppéng ngé pa-rola i lao mammusu ri Gowa Lambasa Bungoro / Idik tona to Soppéng ngé pa-rola i lala i ri alliliren na ri Gowa angkan na Beru wirin-ri attan na palili na Gowa ki-béta é en reng ngia ki-pa-rola é lao mam-musu ri Gowa ikkeng-to na to Soppéng ngé /
C. IA NAÉ SUREK PO-ADAADAENG NGI ADA
NAP-PASENGENG NGÉ DAOKE
- Ia naé surek po-ada-ada-éng ngi ada nap-pasengang ngé Daoké / Anauré na nala é aseng Arung Bila ri aseng ngé Weoké Ia na ku pasengek-ko adan na Malampé é Gemmekna / Si tudangen na Petta ri Soppéng ri bola ri ukik é ri Bontoala / Na pakkulik-kuling ngi mennang Malampé é Gemmek na nappasengeng nganak /
- Na na-po ada i Petta ri Soppéng mak-keda é rékkuwa engka wijan na anakdaran na Arung Bila / Arung Appanang / Ia to Angké / Rékko engka bicara tuju i / Map-pattuju arék gi bicaran na na-téa Soppeng po sarang ngi waramparan na / Ajak nangka 'lawa i lao ri Boné na Boné sappareng ngi waramparanna /
- Mak-keda to-pi Malampé é Gemmek na ri Petta Matinroé ri Adatunna / Boné mua massamaja na ikkeng po-décéng ngi to Soppéng ngé 'sompek é lao ri Jawa / TAMAT/
D.IA NAÉ SUREK PO-ADA-ADA-ÉNGNGI SITUDANGEN NA PETTA MATINROE RI ADATUNNA NA PETTA MALAMPE E GEMMEKNA - Ia naé Surek po ada-ada éng ngi si tudangen na Petta Matinroé riadatunna na Petta Malampaćéć Gemmekna ko i ri Bontoala / Pura na rumpak Sombaopu nal-lappa na tana é ri Gowa / Natokkon na pasoren na Malampéé Gemmekna /
- Makkeda i Malampee Gemmek na ri Matinroé riadatunna / Ia poadang ngik puwang ngarajan na karaéng ngé ri Gowa ia maneng ku-po atanang maneng ngi ri lelempulu /
- Ia to-pa ku-po ada puwang to Soppeng ngé kuwa é to Boné Ten-caji ni elo na karaeng ngé / Elo ku ma-ni sia élo / Marola mani sia /
- Ké-anynyarang palari ri Soppéng datu é ri Marimari / Datu é ri Citta / Datu é ri Lompulle / Na ia ri saliwen na é tem-mak-kullé mak-ké anynyarang palari lili na é Soppeng /
- Ma rola to ni ri Boné / Mak-ke anynyarang palari datu é ri Pattiro / Arung Palakka /
- Ku-ni ro na pasengeng ngék-keng puam-meng ri pa-si tudangen na to Soppéng ngé to Boné na pura é rumpak Sombaopu /
- Ten-na ri tokkong gallareng ngé anynyarang palarin na / Ata ri bola na tau wé sé-kuwa é ro lattuk ri anak eppo na ri anakdaran na Malampé é gemmekna / Na ia to na-sa ri appasak biang ri
Tellumpocco é / Tanrat ta tem-makkoja mak-katenni ri otit-tana é ri Marimari si laong Batuputé lattu ri-to ri munrin na / Na ia anak eppo na Matinro é ri Bontoala / Narauk kaju tanaé ri Attasségéri ri Awasségéri /TAMAT/
E. IA NAÉ SUREK PO-ADA-ADA ENG NGI RI BETA NA RI
CILELLANG
- Ia naé surek po ada-ada éng ngi ri béta na ri Cilellang ri Arung Bila / Ri Arung Appanang / Ri Arung Bélo / Lao ri Mampu i sa maddeppungeng baté ia maneng mappésau / Na-si tawa tawan na tettongeng baté /
- Na ia Cellak-Cellak é ia na ri Lisu tettongen na / Péngek na lao maniang Kalauna / Ia Kekei nala ni tettongen na Bakka é ri Soppéng / Na-la to-ni sia tettongeng baté La Bolong La Paidara Balosu / Na ia Maggalung na-la to-ni sia tettongeng baté Lombong ngé Lompulle / Na ia Bakka é ri Mario na-la to-ni sia tettongeng baté Kecca é / Na ia Lapaniki ri Bélo na-la to-ni sa tettongeng baté Ciniajo / Ia mato ri aseng paranika /
- Na ia mua sin na dék tettongen na Widappasa é ri Citta ri Awasségéri ma décéng ngi sullewatang Ta-tettongeng ngi Widappasa é ri Ségéri /
- Mak-keda i sullewatang ngé ri Citta ajak na-iya ritu ku wa-é pabbicara mu-jampa ngi / Mu-aseggi lomo lomo timangenna liman na karaéng ngé /
- Pappa i baja é / Lao ni ma-naik to Soppéng ngé ri attas salo / Ri-buan ni ri karaéng ngé ri lau Mangkaca / Lari ni Lattuk ri Arung Bila ri Arung Appanang ri Arung Belo makkeda engka ni bali é ri Attassalo puwang /
- Ma-pella ni Arung Bila / Arung Appanang / Arung Belo na ten-na pak-kedana padan-na to Soppéng makka i Lapaccalla La bolong Lapaidara ri attan-na pattelaseng ri wiring salo é/
- Pappa ni baja é / Mattebbak i Arung Bila / Arung Appanang / Arung Belo karaéngngé ri Mangambéi / Karaéng ngé ri Manisé / Karaéng ngé ri Marrang /
Tuju warek i esso é engka ni takkappo Bolong ngé ri Lompulle / La Pajikki ri Belo / Bakka é ri Mario / Widappasa é ri Citta / Cella-Cellak é ri Lisu /
Ri-buwan-ni Mangkasa é / Ri-wetta ni passalingan karaéng ngé ri Manisé / Manippek ni jowa na / Lari ni Karaéngngé ri Mangambéi /
- Lao mani ri-paccera-kang Bolong ngé / Lapaidara / La Paidda 'mpetta i pattaranak na to riala susun-na ri-wetta / Lebbi patappulo ri-pasi wetta /
- Passarom-masé rangen-na Arung Belo ri-aseng La Nangnga 'mpetta i Karaéng ngé ri Manisé / Tellu to Soppeng Riaja pawetta silaong pattar anak na Matinroé ri Salassa é (... ) aman-na Dalapi /
- Lebbi seppulo to Marioriwawo na-to Belo pa-wetta é / Mak biccam-pali wi anaure na sulletang ngé Tobare ri Mario /
- Nala ni kalukué Appanang / Seppé ni alé to Soppéngngé lao alé na Bolong ngé ri Lompulle / Widappasa é ri Citta Bakka é ri Mario / La Pajikkiri Bélo /
- Na-la ni Balusu to Tanete / Ri-pa-nganro ni Karaéng Marrang ri Arung Bila ri Arung Appanang ri Arung Bélo ku-wa ri Pangé-pangé ri-aseng ngé Robang ngé / Ri-ala ni La Sépatu /
- Na-ri rampu alameng mana é ri Appanang na-ri garua angtuak na-inung ngi Karaeng Marrang ri lollong ri Kaluku é /
- Na-tanro alé na Ma-cuccu-piu / Dék ompo na wija wijanna dékko na-éwa i Soppéng / Na-nging to Soppéng ngé na raukkaju Karaéng ngé ri Marrang silaong tana é ri Marrang ri Lollo ri Kaluku é / Kuwa é tana é ri Kaluku é / Dék ma-sala ri-suro-ang ngi ri datu é ri Soppeng / Élo na élo datu é ri Soppéng /
- Apak ia mi alé na Karaéng Mangambé i 'mpélai wi Mangkaca ri élé é / Nak-ku si ri Papperang monro mattebbak to Soppéng ngé Karaéng ngé ri Labakkang /
- Si giling-kiling puppu esso é ri wiring ngalék é / Nadapi ni wenni tebbak é / Ma lalem-penni mani na réwek ri wanuan na Karaéng ngé ia maneng/
- Ma pappa i baja é / Monro ni mappésau to Soppéng ngé ri attas-Ségéri / Na-la ni Bantosunggu / Kaluku é to Tanété / Nalan ni tettongeng Labolong Lapaidara Mangempang Riaja ri awan na Mangempang rilau-na Mangémpang tuttungi wi pottana é lao ma-naik ri-angkan na Pitu é /
- Na-la ni ri-tettongeng Lapanyanya ri Talaka lao uraik / Na-la to ni ri tettongeng Lapanyanya Poppong Alu é / Na-la to ni tettongeng Lapanyanya Balang ngé / Na-la to ni Lapanyanya tetongeng ri Atassalo-salo ri awang ri ajang na La-Topéok / TAMMAT /
F. IA NAÉ SUREK PO ADA ADA ÉNG NGI MULA RI-PA
TETTONGEN NA RAPANG RI BERU SOPPENG
- Ia na é Surek po-ada ada éng ngi mula ri-pa tettongen na rapang ri Beru Soppéng ri béta na Gowa ri lappa ri Sombaopu /
- Ia na ri suro arùng Beru arung Cibalu / Suro Alek é Tau Tongeng ngé Tokebbeng / Ia na ri suro ri-to ri-sampa é /
090.Mak-keda i Arumponé / Lao manek-ko mupassureng ngi atan na Daeng Mabéla ri to Beru é / Na-la ni cuké tana na telluppulo tau (... ) - Mak-keda i arung ngé ri Tanété / Ten-ri ala cuké na ana karung ngé / Tau tongeng ngé / Aga na-poji ni na-po rio ni arung Cabalu tec-cuké éng ngi ana-karung ngé / Na-kado i ni arung Cabalu adek na tana é/
- Mak-keda i / Ia na-tu na-ola ajé na 'passu i aje na pauling ngi / Ten-na ola poada-ada / Lao ma-no ri Liu /
- Aga ten-na poadan ni arung Cabalu ana-karungngé / Tau Tongeng ngé / Pura na na-tanro arung Cabalu / Upo-utanan ni rangek-ku na-la é cuké /
094.Mak-keda i arung Cabalu / Rekko na-ma élo lao i wi / Na rékko me-lo kirang kirang ngi to Beru é to Boné manet-tu / Makku-ni ro tanro na arung Cabalu / - Na ten-na paja mua maddua-rua to Beru é / Aga ri-pa lattuk ni ri arung ngé ri Tanété ri Arumponé /
- Nak-keda na Torisompa é / Ku-tea-i-tu na-pinra pinra na taro é Arung Cabalu /
- Na-ri suro gellareng ngé La Sapara ri Boné lao ri Beru / Na-léppan na ri Tanété 'pa-ka ingek i Arung Tanété ada na-po tanro é Arung Cabalu/
- Nak-keda na arung ngé ri Tanété / U-enggerang mua tu ada na-tanro é Arung Cabalu lao na ri Beru / Enreng ngé ia-to pa po-adang ngi arung Beru /
- Mak-keda i gellareng ngé / Ten-na élorang ri kirang kirang Arumponé na-po tanro é Arung Cabalu / Ma-rola tana niri Beru / Na kégi-kégi monro ko mato i sia marola na / TAMAT/
G. IA NA É PO-ADA ADA ÉNG NGI NA EWAN NA ADA SOPPENG PETTA MALAMPE E GEMMEKNA MELO MASSURO TERI WI TAMBORA
100. Ia na é po-ada ada éng ngi na-éwan-na ada Soppéng Petta Malampé é Gemmekna mé-lo mas-surot-téri wi Tambora / Apa nagelli wi arung Beru ri aja é/
101. Mak-keda i Arumponé ri datu é ri Soppéng / Éwa i ada séajim-mu Arung Beru rilau é / Apak ia mua tek-ku pap-pada i Labbakang Lambasa lao na Petta Torisompa é ron-na mak -keda dék walek ken-na inin-nawan-na Arung Beru rilau é /
102. Ada Ugi / Ia mua tek-ku ri-wtta ri salassa ku ri munri mu / Lao na ia 'dapiri-ak dua maranak ri tana é ri Soppéng / Tamat /
103. Ia na é ada (... ) Arung Beru rilau é / Ada Ugi / Ri Petta ri-Soppéng enreng-ngi-a to-pa ri tana é ri-suro-ang -ngéng-ngi Toammeng Toapasu /
104. Mak-keda i Petta ri Madello / Lao mano ko Toammeng Toa pasu kuwa ri Beru ri séajik-ku Arung Beru rilau é / Ada Ugi / Apak ia ritu tana é jaji ni ritu si-ampé / Dék na ma -béla asseajing-ngen-na /
105. Ia asséajing-ngek-ki Beru rilau é / Ada Ugi / Ma-wék ni sia asséajing-ngek-ku / Ri laleng asséajing-ngek-ku tep-pébela i ri-ak / Naé rékko pada mua ma-réngngerang ri ada to matoa ta /
106. Apak- ia tu toammaeng Toapasu tem-mé-lorang ngi ma-ja / Naleng-ngiak pa-si mé-lo rang-ngi ma-jak / Apak ia u-warekkeng tem-ma léré lattuk ri to ri-munrik-ku / Ia mua dapi ri wi Petta ten-na ri-wetta ri salassa na / Ten-na kurang lisek na Lamangilé /
107. Muka ia-na tu na-ia u-pa-ita i-ang ngi Toammeng Toapasu ada nas-si-turu-si é Bone Soppéng / Ku-pada joppa / U-pada 'soé / U-pada onro / U-pada 'lété ri pétau mak-jékko pétau mal-lempu / Mal-lempu toggi mak-jékko toggi na ia ta-lété i Ku pada tampu mangolo wali /
108. Ia-na ro ki-warekkeng tein-ma léré / Na uwaé ma-raja pasipulung ngik na-si bokoreng kaliao na /
109. Maddampu gajan-ni mak-keda Arung Beru rilau é / Ada Ugi Ita i Toammeng Toa Ujung / Ri-wetta-gak ku-maté ri laleng eccak na tana é ri Boné ri Soppéng / Iak-kénnéng na-ngatta-ngem-mu karaéng ngé tek-ku wélai wi / Naleng-ngia pa-si as séajing-ngek-ku mu-pa-kainge-keng-ngak / Tamat /
110. Ia naé surek po-ada ada éng ngi pura na Torisompa é nasi tudangen-ri alé Malampéé Gemmekna Arung Cabalu/
- Makkeda i Malampéé Gemmekna / Uwa-seng ngi Arung Cabalu Uwa-ses-sa mu-aseng tem-mas-sappa musu ta Karaéng ngé /
- Apak uwa-seng ngi puwang ia pa malang-ngik paimeng dé wata é rékko si-duppa-ik karaéng ngé /
- Na ia-na puwang ku-akkeda ma-décéng ngi ta-éwang ada séajit-ta to Soppéng ngé / Na si-turu adat-ta pa si-luttu-reng lao liweng ri Jawa / Apak dék u-wisseng tangngak puwang / Dua tellu ta-éwa si-luttu reng liweng ri Jawa / Sappa décéng /
- Apak ia asséajing-nget-ta to Boné ma-seng ngéng-ngi aléna makka-siri-sang ngik ri Boné tau manen-ni / Apak ma-décém mua rékkua ma-teppek i inin-nawan-na séajim-mu to Boné misseng-ngi tau lé na-timang ngi liman-na Karaéng ngé /
- Mak-keda i Petta Malampéé Gemmekna / Ia mémen-na tu ku mélo po-gauk Arung Cabalu / Naé mu-betta na po-ada i / Naé lettuk lalo ko uraik ri Soppéng / Apa ia u-saléwek na-seng-ngai kaka-u Arung Apparang / Anaure ku Arung Bila / Seajikku to Soppéng ngé ia séllisek tek-ku ingngerang-ngi wi ada assi-tarom-meng ki-si luttu-ran-na lao ri Jawa /
- Alak-ko gi angattang-ngeng Arung Cabalu ada nas-si turu si Boné Soppéng na-wawa é Toballa ri Atapang ri mak-kedan-nari datu é ri Soppéng enreng ngia to-pa tana é ri Soppéng / Tatetteng-ngi wi asséajing-ngen-na tana é ri Boné tana é ri Soppéng / Ta-pat-tonra ola i dewata ri wawo dewata ri awa / Ta-pap-pangerek gangka uttu i ta-duppa bessi kaliao i Karaéng ngé / Na jak ta-uru na-décéng ta-uru /
- Ia-to pa Arung Cabalu ri mak-kedan-na Toballa ajak nang ka ompo ompo na Boné enreng ngia to Boné rékko na wélai-akko ada Soppéng Boné / Ia-na ro na-warekkeng Soppéng adan-na Boné nap-pa sabbiyang dewata /
- Naé ri-wetta ni Toballa / Na-ten-nat-tau manen-na maseng-ngéng ngi alé na mak-ka sirisang ngi Boné /.
- Aga na-idik na engka to Soppéng ngé si-turu sompe-rangngi lisek na Soppéng / Mala i bokong kaliao Arung Bila na sappa i bali maka 'mewa éng-ngi Karaéng ngé / Naé-kéa (.... ) Arung Cabalu /
- Ia na maka 'méwa i / Aga ki-engka na 'nréwek / Pappani baja é ri ma-duam-penni é sompek ni lao uraik to Soppéng ngé Arung to Angké / Tamat /
H. IA NA É SUREK PO-ADA ADA ÉNG NGI LAO NA URAIK ARUNG APPANANG ARUNG BILA ARUNG BELO POLE NA RITIWORO
121. Na tellum-penni pole na ri Tiworo to Soppéng ngé Arung to Angké / Makkeda i Arung Appanang ri Malampéé Gemmekna / Maé-lok kak lao uraik ri Soppéng sappa i to Soppéng ngé tas-sé uwa é ta-si tinro-sang ngi lao su /
122. Mak-keda i Malampéé Gemmekna / Ma-décék-ko lao tellu / Na ia na 'koro ta-isseng ngi to Boné ma-élok é silaongeng ngik/To Bone ma-élok é silaong-ngeng-ngik mammusu / Té ri-wi Gowa 'méwa i Karaéng ngé /
123.Apak lao uraik ni ia tellu / Pappa ni baja é ko-ni mabbenni ri Goa / Engka to-ni to Soppéng ngé / Polé uraik i to Soppéng ngé /
124.Nak-keda na ArungBélo Arung Appanang / Engka i to Sawitto é ri masigik é ri Soppéng puwang /
125. Nak-ku na manré esso ri Paroto ri ajas-salo / Pap-pésaui to ma-éga na / Pat-tuju i ia tellu / Messo ni ia tellu / Lao uraik / Ku-ni ri Appanang na-labu esso é /
126. Mat-tou tou ni lao uraik ri wirin-na salo é ri Mangkuttu nak-benni/
127. Na denniarin-na / Sosok ni 'té ri Soppéng / Ku-ni rilau na Soppéng tudang tawa tellu i alé na/
128. Arung Bélo lao ri awan-na Malaka pénrék ri cempa é Paranru tudang/ Mangatta i to Sawitto é /
129. Arung Appang ri Tanété tudang mangatta / Arung Bila mut tama ri Soppéng Rilau /
130. Ma-rété ni langi é / Na ilé-ni alé na tellup-pulo tau lao karawa i masigik é /
131. Apa wajémpajéng ngi lattuk ni ri baban na masigik é / Mak-keda ni ajak mu-takkini o seng-ngata / Timpakeng ngaktangek / Na ia na ata ri Sawitto suro é maddék lao tampai wito Sawitto é / Nap-peri peri 'nréwek mano /
132. Apak na timpak ni tangek na masigik é monrowang-ngéngngi tangek na masigik é / Nagajam-muni tas-seuwan-na to Sawitto é/
133. Na-ma rukka tokkong / Si teppa-teppa buang ngi alé na/Lari / Mau pab-bekken-na saluarak na (... ) lariang ngi / Ma nippek maneng tettang parewa musu na monro é ri masigik é /
134. Na ia mua ten-na ri-wetta sulléwatang ngé ri Sawitto masigak na
mua luwang alé na lao uraik puppungi wi wanuwa é/
135. Ma-rukka ni Arung Bila ri appasareng ngé ri Soppéng / To ma
élo na Toballa pa-wetta ri tengnga na wanuwa é ri Soppéng
136. Apa engka ni to Sawitto é pokkongi alé na / Engka mellémba ritu
pallawangen na Bélo Appanang / na ola'lari ri awa na wanuwa é / Na-wélai ni galung ngé /
- Ri aruppan-ni ri Arung Belo ri Arung Appanang / Tas-séa séa ni 'lari / Ri tippan ni ajé na ri Arung Bélo ri Arung Appanang / Angkan-na ri ajan-na Tinco ri ola ri-wetta/
138. Nak-ko mana ri ajang Tinco 'nréwek to Sppéng ngé mangngaruk
ri appasa-reng ngé ri Soppeng /
- Lebbi siratu ulu ri-angaruk-kang ri olo na Arung Bila ri bulu é / Tampai wi to Soppéng ngé tel-lao é ri lalingngé lao ri Gowa/
140. 'Nréwek ni lao alau ri Pattiro Arung Appanang / Arung Bila /
Arung Bélo /
141. Pappa ni baja é / Ko-ni ri Goa-Goa monro tellum-penni / Tajeng
ngi to Soppéng ngé /
142. Mak-keda ni Arung Bila / Arung Bélo / Arung Appanang /
Ma-décéng ngi rékkotapo ada ri Malampéé Gemmekna rékko lattuk-kik ri Pattiro /
- Na-éwa i ada arung to Boné engka é muannéng lao ri Pattiro / Rékko ia mua (... ) nab-biang ngi warekket-ta ten-na peppék i lao limat-ta / Ma-élok munak-keng si-laong Petta ri Soppéng / Na-ri ases-sia lao liman-na / Na-seng to rimunritta/
144.Na-é rékkua ten-na-kado-i wi adam-meng to Boné / Ma-élo manak-keng monro ri Soppéng / Tek-kul-le na lao ma-béla / - Mak-keda i Arung Appanang / Mu iak mak-ko ma-to tangnga ku / Na-iko na 'méwa i ada Malampéé Gemmekna / Apak ma-rapek ko-sa tu iko duwa/
146.Na é na-rékko na-kado-i wi adat-ta to Boné'nréwek manik-sa ri Soppéng / Aré na-wéréng-ngik déwata é / Dék tonasa ten-na buruk Soppéng / Na lao na alau / Pappa bi baja é / Lettuk ni ri Pattiro / Ompo lolo-ni uleng ngé / Tamat /
Si-tudang-ngen ni Arung Appanang / Arung Bila / Arung Bélo / Nak-keda / Pole nak-keng ri Soppéng puwang / Ki abbuang-ngi to Sawitto é ri masigik é ri Soppéng /
- Mak-keda i Arung Appanang ri Malampéé Gemmek na / Mutama wennik-keng ri Soppéng lattuk mai urai ri Appanang / Engka ni to Sawitto é ri masigik é ri Soppéng /
- Na denniari mani ki-té-ri wi karawa i masigik é ri wajém-pajéng ngé / Ki at-tebbak na / Ri Ajang Tinco ri ola ri wetta ri ToSoppéng ngé /Na-ma loga duas-sebbu to Soppéng molai wi /
- Mak-keda i Malampéé Gemmekna ri Arung Bila / Engka mupa tau mu-taro ri lappa é ri Soppéng /
- Makkeda i Arung Bila / Dék na puwang / Jonga ém-ma ni si-laong bawi é / Monro ri pa-relle-sen na wanuwa é /
- Cukuk muni petta tak-kajennek / Tettik uwaé matan na / Ming-ngerang-ngi wi ri léccorin-na ri to Boné na-luttu lao ri Jawa /
- Makkeda i Petta Malampéé Gemmekna / Pékku arék i rékko pas-séuwa muni alé ta lao maniang / Ta ullé mua terek i Bénamo / Ta polé ri-attang-ngi wi Gowa / Na tuttung-ngi wi wirit-tasik é kappalak na Balanda é lao mano / Ta ma-wék to mal-labu /
- Mak-keda i Arung Bila / Ta éwan-ni ada ri olo puwang arung to Boné / Na éngngerang muarék ga ada na-wawa é Toballa ri Atapang / Mas-samaja na Boné décéng ri Petta ri Soppéng / Enreng ngia tana é ri Soppéng /
- Naé rékko na-engngeram-mui taro ni puwang ta-éwa sitelli ta-si pak-keda ma-tettek / Na baran-na tap-pada élo-ri / Apa ia u- saléwek si-léccoreng ngé paimeng naé pa-tau manenni to Boné ri Karaéng ngé ri Gowa /
- Mak-keda i Malampéé Gemmekna ri Arung Cabalu / Ewa-i ada lili si-mémengen-na é Boné Riaja Rilau Boné Tengnga ri Laleb bata / Gangkan-na 'ngka é lao ri Pattiro / Na-éngngerang aré ga ada na-wawa é Toballa ri Atapang / Massamaja na to Boné décéng ri Petta ri Soppéng ri kaka-u Arung Bila ri aman na Wédima / Enreng ngia tana é ri Soppéng /
Lao ni Arung Cabalu si tudangeng arung to Boné / Makkeda ni Arung Cabalu / Ia na-suro-ang ngak Petta Malampéé Gemmekna / Ia lili si-memengen-na Boné Riajang Rilau / Boné Tengnga ri Laleb-bata / Na-éngngerang muannép-pa ga ada nawawa é Toballa ri Atapang /
Mas-samaja na to Boné décéng ri Petta ri Soppéng enreng ngia Arung Bila ri aman-na Wedima enreng ngia ri tana é ri Soppéng /
- Na ia to-pa na-suro-ang ngak Malampéé Gemmekna / Ada matettek mu mé-lo é té-ri wi Gowa / Bali wi mallumu méwa-i Karaéng ngé/
- Mak-keda ni Bone Tengnga Riajang lili ri Lalebbata / Tekki élla-éllau ri dewata é Arung Cabalu 'mpélai-éng ngi ada na wawa é Toballa ri Atapang / Engreng-ngia mallupa-i manengngi ulu ada ceppa na Boné Soppéng / Ia nas-si-turu si-é Malampéé Gemmekna séajit-ta to Soppéng ngé Ceppa é ri Atapang /
162.Na-mu na-gi na-mu na-gi na-seng puwat-ta todongi wi / Mere-ki wi ulu adan-na Boné Soppéng ri Atapang ia-na tu 'kuwa/ - Makkeda si Arung Cabalu / Tem-mu abbaléccoreg-ga Malampéé Gemmekna / Ku-wa é séajim-mu to Soppéng ngé Arung to Angké / Ted- duwa nawa nawa ko / Apa ia nak-saléwek séajim mu to Soppéng ngé / Arung to Angké / Ri-baléccoreng ngé paimeng
- Mak-keda si to Boné Ia-na ro nas-sama turu-si é /Méllau i ri dewata é / Tep-po gauk éng-ngi wékka-duwa 'pa-luttu éng ngi Malampéé Gemmekna ri Jawa /
- Inappa ni 'té ri salassa é ri Pattiro Arung Cabalu ri Petta Malampéé Gemmekna / Palattuk i adan-na ro Boné /
- Mak-keda i Arung Cabalu ri Petta Malampéé Gemmekna 'palettuk i adan-na to Boné / Mak-keda i Arung Cabalu ri puwatta / Ia na é ada ma-tettek na si-Boné to Boné Allebu na / Nas sama turu-si é/
- Idik mana 'pa-kaingek i Boné / Méwa i ada séajit-ta to Soppéng ngé Arung to Angké / Na-mu gi na-mu gi na-ia ta-seng todo-ngi wi 'mere ki ada na-wawa é Toballa ri Atapang / ia-na tu ku-warekkeng /
- Mak-keda ni Petta Malampéé Gemmekna / Ia na tu ki-wa rekkeng tem-ma léré / Idik-keng to Soppéng ngé polé ri Angké / Ia to na na-tettongi déwata séuwa é Arung Cabalu / Adama-tettek na Boné / Na-éngngeran-na muannéng ada na wawa-é Toballa ri Atapang / Tet- tak-ka lupa na ri ulu ada ceppa -na to Soppéng ngé ri Atapang /
Ala 'kuwa gi angattangeng ki-si turu to Soppéng ngé Arung Cabalu / 'Mpéla-i wi Tana Ugi / Ia na mua si-turu To balla Petta ri Soppéng / Tampa-i wi mak-kulik-kuling Arung Matowa é ri Wajo / To Wajo é 'mola-i lamumpatu é ri Timurung 'messe ki wi at-tellum-pocco-na Boné Wajo Soppéng ta-éwa i Karaéng ngé /
Na téa to Wajo é / Na lao sia ri Karaéng ngé / Na-baléc co-rek-keng to Boné / Ki a-sau-ren na ri Karaéng ngé ri Gowa Aga-ki-sompek na ri Jawa / péng sola-lisek / Mau datu é ri Soppéng ma-ra-nak mal-lai bini ma-nippek-to na ri-laling ri-wawa ri Sanrangeng /
- Mak-keda i Arung Bila ri Malampéé Gemmekna / Ten-na jana to Boné / Samaja-i-ak-ko décéng dua kaka mu 'ncajiang-ngen ngak puwang / Tet-ta sope-rang ulawen-na tana mu ri Soppéng/Nae Boné mak-keda dék ri awa dék ri wawo to-éwa i Karaéng ngé /
- Ta-si sappa-rang décéng / Na ia rékko ta-timan ni lao liman-na Karaéng ngé / Ta-pada 'po-anu i ak-ké-anut-ta / Tes si-bawam-pawang ngik /
- Ia na ku-warekkeng tem-ma léré tana mu ri Soppéng ia to nat-tàjengeng to-ri munri /
- Pura ni leppek adan-na Arung Bila / I nappa ni Mangaruk mak-kedang-ngalé na / Ita ni matti oroané tel-lao soro é ri limpo ri tengnga padang / Ri-wetta-gak sia ri lalen-na jaktana é / Tallé tallé-gak / Ia mua matti puwang na-éngngeranna muannéng séajik-ku to Boné ada na-wawa é Toballa ri Atapang / Iak-kénnéng béla nang-ka mua-pa ki-wélai tek-ki arén naja-ngi sungek-ki / Na-leng ia-pa sia dék na ki-polé i/
182. Luppek ni mang-ngaruk Arung Appanang / Ia mu-to angngau
wang ngalé na Arung Bila na-po ada / Luppek ni mangngaruk arung Bélo ri-aseng ngé Tosaddeng / Ia mu-to angngaung ngaléna na-po ada é / Ri-na énggeran-na ia muannéng na-po ada décéng ngé ri tana é ri Soppéng / Enreng ngia ri datu é ri Soppéng / Kuwa é ri Arung Bila ri Soppénriaja / Tamat /
I. LAKKEK-LAKKEK NA WIJA TO MANGKAUK É
- Tania ku-po ma-busung / Lakkek-lakkek i wija to mangkauk é / Latemmamala asen-na manurung ngé ri Sekkanynyili / Ia to na datu ri Soppenriaja / Ia na si ala We Mapuppu / Anak ni La Maracinna /
- La Maracinna Mab-bawiné ri Suppa / Si ala We Patawari / Anak ni Lamba/
- Lamba mab-bawiné ri Balosu / Si ala Patimanratu / Anak ni We Takkéwanua/
- We Takkéwanua / mal-lakkai ri Léworeng / Si ala Arung Léworeng ri-aseng ngé La Temmapeo / Padaoroané na La Kanradu /
Anak ni La Wadeng / Anak ni Makkanengnga / Anak ni La Dumola Anak ni La Tumbeng/Anak ni Wé Baku /Anak ni Tenritabbire / Enneng ngi sé-ina sé-ama / Eppak orowané / Dua Makkunrai /
- La Makkanengna Datu ri Soppenriaja / Tenri Tabbire namal- lakkai ri Baringeng / Si ala La Panyonrongi / Anak ni La Tenrilélé / Anak ni La Terengang / Anak ni La Tessepala / Anak ni La Karekkeng / Anak ni Wé Linro Taji / Anak ni Date mata /
- La Makkanengnga mab-bawiné ri Bulu Matanré / Si ala We Tellang / Anak ni La Karella /
- La Karella mab-bawiné ri Bila / Si ala massappo siseng ri aseng ngé Wé Bollosugi / Anak ni La Wedda / Anak ni La Wi séang / Anak ni La Matagina / Anak ni Tanrauré / Anak ni We Bao / Anak ni Wé Bulutana / Anak ni Tenipalese /
- La Pawiséang si ala We Temmupage ri Pising / Anak ni La Pasampoi / Ia ma-to ri aseng Sorompali é / Anak ni La Panyorongi / Anak ni La Patau / Anak ni La Warani / Anak ni-Wé Takkélopi / Anak ni Wé Tappucinna /
- La Pasampoi mab-bawiné ri Baringeng / Si ala Wé Tappatana / Dawiri asen-ri anak na / Anak ni La Manussa / To Akkareng ngé asen-ri anak na / Ia ma-to ri aseng Matinroé Ri Tanana / Tellu i si-na si-ama /
- Matinroé Ritanana La Mannusa si ala massapposiseng riaseng ngé We Takkélopi / Anak ni Ladeng / Anak ni Lancong /
- La Wadeng si ala We Lulu / Anak ni La Pasajo / Anak ni La Galumpang / Anak ni We Bollosugi / Anak ni Tenrisapungeng
- Wé Bollosugi na si ala massapposiseng ri aseng ngé La Karella / Anak ni La Makkanengnga /
- La Ma'galumpang si ala Wé Cakkewanua ri Baringeng / Anak ni La Pasoréang / Anak ni Wé Lu / Anak ni Wé Benrigau /
- Wé Wulu si ala La Paccikkeng Soppeng Rilau / Anak ni La Pottobune / Anak ni La Padangkang / Anak ni La Pammasé /
- La Pottobune si ala Wé Takkélopi / Anak ni Wé Temmagumpa / Na-si ala massapposiseng / Si ala La Manussa / Anak ni La Deng / Anak ni Lancong /
- La Deng Mab-bawiné ri Marioriawa / Si ala Temmabuleng / Anak ni La Sekati / To Sawammegga asen-ri anak na / Ia mato ri aseng Mallajang ngé ri Asseleng / Anak ni La Mataesso / Ia ma-to ri aseng Puwang Lipu é / Anak na La Wale / Ia ma-to ri aseng Massanra Upe /
Anak ni La Paremma / Ia ma-to ri -aseng Teakkateru / Anak ni Topateddungi / Dacama aseng ri anak na /
- La Sekati mab-bawiné ri Lompengeng / Si ala We Soda / Darié asen-ri anak na / Anak ni La Makkateru / Topeo asen-ri anak na / Anak ni Tenrisamareng / Ia -ma-to ri aseng Matteddumpulaweng ngé / Anak ni La Malalaé / Anak ni La Mapulu /
- Wé Camang mal-lakkai ri Ajampulu / Si ala Karaeng Loé / Ia ma-to ri-aseng La Sangaji / Anak ni La Saliwu /
- La Makkateru mab-bawiné ri Bila / We Tenrisuke / Anak ni La Pababbari / Anak ni La Temmu /
- Pollipué mab-bawiné ri Ganra / Si ala Tenriunia / Anakni La Mappaleppe / Ia ma-to ri-aseng Patolaé / Anak ni Wé Pawépe / Anak ni Wé Mappamadeng /
- Wé Paweppek na mal-lakkai ri Mario Riawa / Si ala La Page / Anak ni La Mappalalaé / Anak ni La Panaungi / Anak ni La Pateddungi/
- Tellarien-na si ala La Sape / Anak ni Wé Temmatino / Da oké asen-ri anak na / Anak ni Wé Makkunraiselli /
- Wé Makkunraiselli mal-lakkai ri Citta / Si ala Topeo / Anak ni Wé Tenrijeka/
- Wé Tenrijeka mal-lakkai ri Panciro / Si ala Mapaé / Anak ni Tenrisolong /
- Wé Tenrisolong mal-lakkai ri Bila / Si ala Toipa / Anak ni La Musu / Anak ni Tokessing / Anak ni Toa Tuppuang / Anak ni Rajamuliang / Dalalé asen-ri anak na / Eppa i si-na se ama / Patolaé datu ri Soppéng / Tellarié Arung Ganra /
- Wé Pawéppek na mal-lakkai ri Saogenne / La Pangideng arung ri Salotungo / Na-mana to-i ri Sao Lampé / Ia ma-to mangépa ri Soppéng / Ia ma-to Malampéé jangkok na /
- Patolaé mab-bawiné ri Pattojo / Si ala massapposiseng / ri aseng ngé We Tessiewa / Anak ni Wé Panyai / Anak ni Béowé Anak ni Wé Tenrigella /
- Béowe datu ri Soppéng / Na-dék anak na /
Mal-lakkai wi ri Mampu anakdaran-na Béowé ri-aseng ngé We Tenrigella si ala arung ngé ri Mampu ri-aseng ngé Toaddusilla Toaki / Aseng ri-anak na La Tenribali / Ia ma to ri-aseng Matinroe ri Adatunna /
La Tenribali mab-bawiné ri Wana / Si ala Wé Bulu / Da sajo asen-ri anak na / Anak ni Tenrikawareng / Ia ma to ri aseng Macellak é Kanukunna / Anak ni Wé Adang / Ia ma-to ri aseng Matinroé ri Madello / Anak ni Toésa / Ia ma-to ri aseng Matinroé ri Salassana /
J. IA NAÉ SUREK PO ADA ADA-ÉNG NGI SOSOK NA LAO SU RI LISU ARUNG BILA ARUNG APPANANG ARUNG BELO- Ia-naé surek po-ada ada-éng ngi sosok na lao su ri Lisu Arung Bila / Arung Appanang / Arung Belo / Tosaddeng asen-na Na tettong Loppo Riaja / 'Méwa i ada Tanété /
- Mak-keda i Arung Bila / Arung Appanang / Arung Belo / O séajing / Mu-éngngerang mu-ga Soppéng Su Tanété Polé / Naérékko mu-ingngeram-mui / Lalo no matu apak ma-élo na té-ri Gowa / Karaéng ngé /
- Mau 'tettong mua-ko / U-bala ni alé-u mu-tulung / Apa-gi ta-silaong/
- Ia to-pa na-suro-ang-ngak Malampéé Gemmek na / Si-sappa reng muik décéng Tanété tes-si sappa-reng ja / Apak dék wale ren-na na-pa leppek ku ri wenni é 'mplélai wi Maruwala /
- Mak-keda i arung ngé ri Tanété ri-aseng ngé Daeng patinring ri-tella é Panggajongngé / Ku-ingngeram-mua seajing / Soppéng Su / Tanété Pole /
- Na ia ki-éllau éllau ki-a leppek é lolém-meng ri ulu adam-meng to Goa é enreng ngia Karaéng ngé /
- Apak labu i esso é / Engka ni Pabbicara na arung Tanété ri wenni é si-ta arung Bila / Arung Appanang / Arung Bélo /
- Mak-keda i Pabbicara é ri Tanété / Ia na-suro ang-ngak seajim-mu ri Tanété / Tat-tebbak baja ma-élé /
- Ia naé surek po-ada ada-éng ngi lao su na to Soppéng ngé / Na sosok lao su ri Balosu /
- Na pulo wenni pole na ri Tanété to Soppéng ngé na-sosok lao su ri Balosu /
- Tetton ni ri Madello Lapanyanya / Lao ni ri awan-na Cep paga / 'pa-tékke-ri wi Kanna Nepo/
Mas-saliwen ni arung Nepo 'kokkong ngi kawali mana na / Joppa ri Soppéng ri-a séllise /
Mak-keda i arung Bila / Arung Appanang / Arung Bélo / Ia na mu-ingngerang muannéng ngi-Népo / Ak-ké ina-mu ak-ké -ama-mu ri Soppéng / Lao no mai ta-té-ri wi Gowa / Ta-éwa i Karaéng ngé /
- Mak-keda i arung Népo / Ia na mu-ingngerang muannéng adek-ku ri Soppéng / Lao no matu ri olo ku-ri munri pa si-tin ro Suppa /
- Pura i si-éwang ada Népo Arung Bila / Arung Appanang / Arung Bélo / Engka ni Lapanyanya 'lao 'tettong ri awan na Bulu Alipeng / Ri Tanété / 'Méwa i ada Bcru /
- Apak to Beru é ko-ni monro ri Sawitto ri attan na Maloto / 'Ma-tu-ri wi bénéténg lao alau uraik / Ma-ngatta-iwi arung Appanang / Ma-élo méwa i mat-tebbak /
- Makkeda i Arung Appanang / Arung Bélo / Arung Bila / O séajing / Mu-ingngerang mu-pa ga / Soppéng SU Beru POLÉ / Naé rékkua mu-ingngeram-mui / Lao no matu / Apak ma-élok na téri Gowa 'méwa i Karaéng ngé / Apak mau-o 'tettom-mua / Ku-bilam mui alé ku mu-silaongeng /
- Mak-keda i Arung Beru Riaja é / Ada Ugi / U-wéngngerammua séajing / Beru polé Soppéng SU / Naé dék-pa al-lale-ngek ku 'mpélai wi Gowa enreng ngia Karaéng ngé /
- Mat-tebbak ni to Soppéng ngé / Engka na to Soppéng maté engka to-na to Beru maté / Pitu to Soppéng to Balosu / Aséra to Beru ri-ala puppu esso é /
- Engka ni suro na Gowa 'lao mak-keda / O Beru / Itang ngi alé mu a-tuong / Apa ten-na ullé na 'pa-rampa-i o panni inam-mu Gowa / Apak engka ni to Boné ri Bantaéng / Apak mau ni Tanété pura to-ni ku-leppessang-ngeng ada / Ia kéa ri saliwek-ko /
- Mak-keda ni Arung Beru Rianjaé / Ada Ugi / Pékko ni nawa nawam-mu to Beru é / Pusa nawa nawam-meng (... ) Karaéngngé
- Ma-pappa ni baja é / Ma-éga na to Soppéng mal-liweng ri Malotong / Ri Baban na Takkalasi / Mang-nganro ni ri to Beru ri aja é / Ada Ugi/
- Map-peri peri ni luppe-reng ngi Laréwo ri élé é Arung Beru ri lau é / Ada Ugi / ri Tanété ri awa na Lapanyanya'lao mak-keda ri Arung Appanang / ri Arung Bila /
Ma-élok nak-keng ri décéng ngé / Téa nak-keng ri ja é / Ma-élok nak-keng ri tuo é / Téa nak-keng ri maté / Ia mua ku éllau éllau ri Soppéng / Beru pole Soppéng su /
Mak-keda ni Arung Bila Arung Appanang / Ia na-warekkeng tem-ma léré Soppéng ri ada pura mu / Na tetto-ngi dewata séuwa é / Ma-élok-mu ma-rola ri tana é ri Soppéng ri perik nya men-na té-ri wi Gowa / 'Méwa i Karaéng ngé /
- Na ia Arung Beru Riaja é / Taro ni ku-pa-isseng ngi Malampéé Gemmekna kuwa é Ambarala Sepéléma / Na barang ki-ap-pada élo ri / Apak telluk-keng Makka-Jawa /
- Mak-keda i Arung Beru Rilau é / Aga Udi / Engka to-ni ku warekkeng/
- Mak-keda i Arung Bila / Arung Appanang / U-warekkeng ni tu lattuk ri to-ri munrin-na Beru Riaja é /
- Ada Ugi / Naé rékko na-wérék-kik dewata é / 'Timang ngi lao liman-na Karaéng ngé / Na tokkong passorem-meng / Nangka séajim-meng ia na tujun-na Soppeng /
- Luppek ni mang-ngaruk Arung Beru Naja é / Ada Ugi / ri Tanété ri awa na Bulu Alipeng / Mak-keda i / Ita Soppéng / Ri wetta-gak sia ri passirin-na Gowa / Tallé tallé-gak matti Mu-ingngerak-ku muannéng / Soppéng SU Beru POLÉ /
- Lasilatu asen-na alameng mana é ri Appanang ri-garu-angngé tuak na-inung ngi Arung Beru ri Lau é / Ada Ugi / Na tanro i alé-na / Ma-cuccu-piu / Dék ompo-ompo na dékko na-é wa i wijan-na Soppéng / Na-nging to Soppéng ngé na-rauk-kaju to Beru é Riaja é / Ada Ugi /
- Pura ni si-telli Arung Beru Rilau é / Ada Ugi / Inappani lao ma- naik ri Tanété Arung Bila / Arung Appanang / Tajen ngi to Soppéng ngé ma-ri munri é /
- Apa ia Arung Beru ri Lau é / Ada Ugi / Si-tanra-i-an nisa uleng lao ri Juppandang / Tingara i Gowa / Tamat /
- Na tellum-penni Arung Bila / Arung Appanang / Ri Tanété na-si tinro to Tanété Arung Bila / Arung Appanang / Karawa i Cilellang /
- Nat-tebbak na Arung Bélo / Arung Appanang / Arung Bila / Silaong to Tanété / Na-rung Cilellan na Arung Maggalun-na na éwa mat-tebbak /
- Engka na to Soppéng maté / to Tanété / Engka to-na to Cilellang maté / Na tellung-ngesso na mat-tebbak na-ri nippe na tau décén-na Cilellang / Na-sau ren-na / Na té mak-kappo ri bulu é /
Na-nganro na Cilellang ri Arung Bila / ri Arung Appanang / Ri Arung Bélo /
Na-ri puppun-na bessi pa-ewa na / Na ujungngi na wawa i ri Arung Bila / Ri Arung Appanang /
- Lasilatu na asen-na alameng mana é ri Appanang na-ri garuang tuak / Na-inung ngi arung Cilellang arung Maggalung / Na tanro ni alé na ma-cuccu-piu / Dék ompo na rékko na-éwa i wija wijan-na Soppéng / Kuwa é Malampéé Gemmekna / Na rauk kaju arung ngé ri Maggalung na-nging Ugi é / Élo na élo / Tamat /
- Ia na é surek po-ada ada-éng ngi pura na rumpak Sombaopu / Nal-lappa na tana é Ri pabbiring / Na-réwek na ri datu é ri Soppéng mal- lai bini ma-ranak / Kuwa-én na to Soppéng ngé sé-lili angkan-na tuo é muannép-pa /
- Na té mak-kasiwiang ri Soppéng anakdaran-na Arung Bila / Nang-ka na bola na ri Mangkuttu /
- Mak-keda i Petta Torisompaé ri matinroé riadatunna / Ia ku- passangadi mennang / Dék-ko dék wijak-ku / To-ri munrikku / Na-dék to wijan-na puwam-mu Malampéé Gemmekna mé-lo sappa-rang ngi akké-anun-na to-ri munrim-mu / Na-po adang-ngi-Boné / Na-lao tutungi to-ri munrim-mu ri Kompania / Na ia sarakeng ngi akké-anun-na waramparan-na dékkua engka mu-pi ri Tana Ugi / Tamat /
- Ia na é surek po-ada ada-éng ngi polé na ri Boné Matinro é Riadatunna si-ta Malampéé Gemmekna Matinroé Ribontoala / Na-si tudang-ngeng arung ngé eppa é / Arung Paddanreng ngé / Watal-lipu é / Tau Tongeng ngé /
- Mad-dampé rampé matinroé Riadatunna ri-lalin-na lao ri Gowa / Na-ri taro ri Sanrangeng /
- Mak-keda i Petta ri-Soppéng / Pangépak é ri paddanrengngé / Pekku-aré i matti cappak na ri Soppéng polé ri tana Mangkasa / Apak tania-na Arumponé ri-éwa macceppa ri Atapang Arung Pitu-ém mua kuwa é to Boné /
- Mak-keda i Petta ri Soppéng / Engka bawang nga matti mu asséuwa i / Ada ajjancingen-na Toballa Arung Bila ri Atapang Aja na-arumponé mu-éwang ada / Arung Pitué mua mu-éwang adasi- pakaingck/
- Apak mau mat-tanan-na ri Pattiro Malampéé Gemmekna / Arung Bila / Arung Bélo / Arung Appanang / Arung to Boné muto na éwa mak-kulu ada / Makjanci na-si kagong adan na Malampéé Gemmekna / Arung Bila / Arung Appanang / Tamat /
- Ia na é surek na eppo na Pagigié ri Soppéng Riaja ri-a aja ri-aseng ngé Tosida /
263. Mak-keda i Tosida / Ada Nap-pasengeng-ngé ri Arung Bila Ia
pak-kitak-ku enreng-ngia parengkalingak-ku / Mula matta nam-meng ri
Pattiro / Mulapolém-meng ri Butung / Tania Arum poné na-éwa
mak-kulu ada Petta ia sél-lise polé ri Angké /
- Arung to Boné mua / Kuwa é to Boné / Na-si kadong mana ada é na-nappa mac-ceppa / Na-si garu-ang tuak / Na-si akkedang ma- tettengeng / Na-tettongi dewata séuwa é / Tes-si sala ka-lésso é / Tes-si bellé-ang ngé ri tengnga laleng / Tessi-legga warekkeng-ngé / Tenri-peppék lima é / Tes-si alaiyé rappa / Na-tetto-ngi dewata séuwa é / Tamat /
- Ma-sennék baba / Aja ku-ma busung / Lakkek-lakkek i wi-ja to- mangkauk é/
- Wé Tenriawé asen-na arung-ngé ri Madello nal-lakkai ri Sidénréng / Na-si ala Karang Bénténg / Asenna Massao Locci é ri Sidénréng /
- Ia to-na addatuang ri Sidénréng / Na-po awiné i arung ngé ri Madello na-jajiang anak ri-aseng Wé Tappatana /
- Ia ma-to ri-aseng Dari Rilangi / Ia na si-ala arung ngé ri patila / Na jaji-ang anak séuwa makkunrai séuwa oroané / Topellu asen-na orowané / Wé Tenridi asen-na makkunrai é /
- Dawirilangi mu-si mallakkai ri Bakke si-ala Daémang / Anak ni We Tenrijello / Anak ni Tenriamparang /
- We Tenrijello si po-lakkai wi Toakkareng-ngé datu é ri Bakke / Anak ni Latenripeppa / La Tenripeppa si mab-bawiné ri mangkasa / Po-awiné i anak na Karaeng ngé / Tamat /
- Ia na é surek po-ada ada-éng ngi pura-na ma-ngaruk to Boné / Si- tudanges-si paimeng arung to Boné arung to Soppéng ngé arung to-Angké /
- Mak-keda i Petta Malampéé Gemmekna / Ma-décén-na ga mu aseng kaka bettuwan-na musu ta liweng ri Butung /
- Mak-keda i Arung Bila / U-wases-sa puwang tem-ma décéng Apak si-duppa muik ri tasik é tam-musu /
274.Mak-keda i Arung Appanang / Péga lili na Boné maka 'tap pingi wi Gowa / Palili na Gowa / - Mak-keda i Daimang / To Bulo Bulo é Lamatti/
Mak-keda i Arung Bila niga maka 'méwa i ada / Ta winru wetterem-musu/
Mak-keda i Daemang / Ia na lao adan-na Bulo Bulo Lamatti na-po ada é/
- Mak-keda ni Malampéé Gemmekna / Lao no mu-tuttungi Engka élé ko ta-sosso arawing / Engka arawik-ko ki-sossongngélé /
- No ni ri lopi é Daemang 'sompek lao ri Bulo-Bulo arung Sao Lebba /
- Pappa ni baja é / Lattuk ni ri Bulo-Bulo ri labu esso é Mut-tama ni ri Libong Daemang /
- Mas-suro ni Daemang ri Arung Lamatti / Engka ni Lamatti Gellareng Bulo-Bulo Gellareng Lamatti /
- Mak-keda ni Daemang ri Arung Lamatti Gellareng Bulo-Bulo / Mu-éngngerang mu-ga adam-mu mak-keda é ko-ma-ni Malampé é Gemmekna/
- Na-peri peri mu-i tudang / Makkeda i Arung Lamatti Gellareng Bulo-Bulo / Ku-éngngeram-mua adam-meng / Na-é ri-béta no ri Mangkasa é / Apa engka n Karaéng ngé ri Batuputé / Karaéng ngé ri Mamajang / Engka ni ri Bénamo ten-na sossong Mangkasa é’ lao mano ri Boné /
- Lao mu-ni ri lopin-na 'tonang / Massu ri tasik é mapperi peri 'lao ma-no ri Pattiro / Pappa ni baja é / Assarak i na lettuk ri Pattiro /
- Si-tudangen-ni to Boné to Soppéng ngé to Wangké / Mak keda i Daemang ri-Malampéé Gemmekna / Engka ni Mangkasa é ri Bulo-Bulo /
- Makkeda ni Malampéé Gemmekna ri Arung Bila ri Arung Appa nang ri to Boné / Ta-sossong baja / Aja na-ia Mangkasa é lao i wik ri Tana Ugi /
Aga na-jaji nà 'sossong to Soppéng ngé to Angké / Ku ni ri Attang Méru si-tajeng / Mak-deppu-ngeng ia maneng to Boné to Soppéng ngé /
288. Pappa i baja é ri-ma tellum-penni é / Sosson-ni 'tingara i Lamatti /
Puwang ri-lamatti ri-wulé mak-kawi ridi mak-kawi cellak na- lale-ngeng ngi alosu / Engka sératu coreccoren-na na-si tinro-sang 'soé am-palida /
290. Apak map-polo ni 'nréré i ri olo na to Boné- / Ri-paroto i-ni
ballilik / Tem-mawasa tel-laing joppa na / 'lao alau /
291. Apak 'nréwek si uraik 'nréré i olo na to Soppéng / Ri-paroto i-ni
ballilik / Ten-répok tem-ma wasa tel-lain jop pa na 'nréwek / Apak na
dapi si to Boné ri-pa roto i si ballik Arung Appanang to Boné ri
Mangkasa é /
- Ri-buwan-ni to Boné to Soppéng-ngé ri minanga na Libong Ku ma-ni ri ajang ri attang Salo Mékko ri lappa é mat-tebbak si giling- kiling puppu esso é /
- Ma-éga to Boné ri ala ulun na / Ma-ega to ri ala ulunna Mangkasa é ri to Boné ri to Soppéng ngé / Na tellung-ngessori ola to Boné to Soppéng ngé ri Mangkasa é ri-éwa mattebbak Na réwek Mangkasa é / Na uttama na ri Bulo Bulo / Mut-tamak-ni ri Pattiro To Boné to Soppéng nge to Angké /
- Apak tetllu 'mpenni ni ri Pattiro / 'Rewek si paimeng to Boné to Soppéng ngé Arung to Angké ri béntén-na /
- Pappa i baja é ri-dua 'mpenni é lattuk na ri benten na to Boné to Soppéng ngé arung to Angké / 'Tingara i paimeng Lamatti /
- Nat-tebbak si paimeng to Gowa é to Soppéng ngé to Angkéri élé é / Atompongen ni to Gowa é / Ma-ega na Mangkasa ri ala ri to Soppéng ngé ri to Boné /
- Ri-palari ni mal-liweng ri Tangka ri attang salo Mangkasa é /
- Apak metti ni pasang ngé ri Tangka / Na wussu-as-si alé na to Boné to Soppéng ngé arung to Angké ri attang salo / Ma éga na beta Mangkasa ri-ala ri attang salo ri to Soppéng ngé ri to Boné /
- Ma-seppé ni Mangkasa é / Map-peri-peri manen-ni Karaéng ngé 'no ri lopin na / Na-rulu na Mangkasa é mapperi-peri 'nréwek ri Gowa/
- na gilin-ni kaliao na Lamatti Bulo-Bulo / Na nganro / Réwek ni monro ri Pattiro to Soppéng ngé arung To Angké / Malai wawan na / Na lao su ri Beru ri Tanete / Tamat /
- Tania ku-po ma-busung lakkek-lakkek i wija to mangkauk é /
- La Mappaleppe asen-na / Patolaé pat-tella-ren na / Ia na datu ri Soppéng / Ia na mat-tellu 'mpocco mal-lamung 'mpatu ri Timurung Arumponé ri tella é Bongkaé Arung matowaé riwajo ri-aseng Toudama/
- Ia to-na datu ri Soppéng Pa-otto-ngi batu ri Timurung / Balosu / Népo / Mario Riawa sellolé i Belokka / Awanio / Cirowali / Lompulle / Baringeng / Ujumpulu / Lompéngeng / Citta Gowa-Gowa / Mario Riwawo / Lamuru / Sésé lili ri-attang si lolé / Duakkaséra é baté-baté di-attang Lamuru / Ia to na Patola é mara-nak mallamum-patu ri Timurung / Na-béta i Lamuru /
305.Ia na é datu ri Soppéng Matinroé riadatunna nas-si turu matinroé
ri Salemo pura-na rumpak Sombaopu mut-tamang ngi Sombaopu Nepo ri Balanda é ri Ambarala Sepéléman /
- Ia na é surek po-ada ada-éng ngi mula polé na Matinroé ri adatunna ri Boné / Mula map-palesso gemmek na Matinroé ri Bontoala /
- Mak-keda i petta ri Soppéng ri atung Pangepak é riarung Paddanreng ngé ri Watallipu é ri tau Tongeng ngé / Ia na ku pasengek-ko to Soppéng / Na-wélai-an nik ada to Boné na janci-ang ngéng-ngi Malampéé Gemmekna kuwa é Arung Appanang / Arung Bila / Kuwa é Arung Bélo mula mat-tahan-na ri pattiro to Angké Soppéng mua ma-élo tuttungi wi lumu na /
- Lamamung majeppu to Angké na tana é ri Soppéng ri lau é Ia to-na datu ri Soppéng Rilau é / Ia tona Datu ri Mario ri wawo / Ma-dua na Arung Bila ri Soppéng Riaja / Ma tellun -na datué ri Citta / Ma eppa na Arung Appanang / Ma lima na Arung Bélo / Séko mua tu to Angké engka ri wanuwa é ri Soppéng lima é / Tamat /
- Makkeda i puwan na Pagigié / Ia Soppéng Riaja ri aseng ngé Tosida / Na-la é ri Butung Arung Bila ri Karaéng ngé ri pattékné /
- Ada nap-pasengeng-ngé ri anak na enreng ngé ri eppo na / Ia paringgerak-ku / Mula mat-tanam-meng ri Pattiro / Polém-meng ri Butung / Tania arumponé na éwa makkulu ada Malampéé Gemmekna/
- Arung Bila mua Arung Appanang Arung Bélo / Arung to Boné mua kuwa é to Boné / Riakkulu-adangen na / Tes-si legga wa ramparang ngé / Tes-si peppék lao lima é / Na tettongi wi dé wata séuwa é /
- Na-si kadom-mana adan na na-inappa si-telli na-si garuwang tuak / Na-si pak-keda marek / Tes-sala kalésso / Tes-si bellé-ang ri tengnga laleng /
- Aga na-petta ma-ni Malampéé Gemmekna si-tinro to Boné lao ma-naik ri Bulukumpa ria-séllise /
314.Petta polé ri Angké lao su ri Beru ri Tanété / 'Mola i 'lao ma-naik angkan na Barasa Siang / - Aga na-idik-keng to Soppéng ngé béta ri Beru ri aja é / Ada Ugi / Idik-keng to Soppéng ngé pa-rola i 'lao mam-musu ri Gowa Beru Rilau é / Ada Ugi / Idek-keng lala i ri-appaliliren na ri Gowa / Idik tok-keng pa-polo lémpa i ri Gowa / Idi tok-keng béta i ri awas-Ségéri ri attas-Ségéri angkan na Barasa Siang /
Idik tok-keng to Soppéng ngé pa-rola i 'lao mam-musu ri Gowa Lombasa Bungoro / Idik-keng lala i ri al-lili-renna ri Gowa /
Angkan-na Beru wiring ri-awan na pa-lili na Gowa ri-beta é / Enreng-ngia ri-pa rola é 'lao mam-musu ri Gowa / Tamat
K. IA NA É SUREK PO-ADA ADA-ÉNG NGI PURA NA RUMPAK SOMBAOPU318. Nal-lappa tana é ri Gowa ri pura na ri-passarang tau é sé-sebbu é
oroané makkunrai tau lolo maneng /
- Karaéng ngé ri Gowa 'nrusak i ceppa é ri Bunga é Balanda ri-aseng ngé Sepéléman / Gorennadoro /
- Na-si tudangen na Malampéé Gemmekna Arung to Boné riasél- lise ri Bontoala ri Bola Riuki é / Na 'ngka to petta to Soppéng ngé Matinroé Riadatunna to Soppéng ngé ia sél-lise / Angkan na tuo é muannep-pa/
- Mak-keda i Malampéé Gemmekna ri to Boné / Ia ku-paddep- pungek-ko mennang to Boné ia Séllise / Apak maté ni kaka u Arung Appanang / Anaure u Arung Bila / Anrik-ku Arung Bélo /
- Mu-ingngerang muannép-pa ga akkulu adanget-ta ri ceppa tas-si kadongeng ngé ia mut-tama na ri Pattiro polem-mengri Butung to Soppéng polé ri Angké /
- Mak-keda i to Boné / Péga puwang / Makkeda i petta Malampéé Gemmekna / Ia ri makkedat-ta rékko ma masé i déwataé ta timang ngi lao liman na karaéng nge / Apa gi na wéréng ngik a-pa sau-reng dewata é / Ten-ri legga warekkem-meng ia ku to Soppéng Polé ri Angké angkan na sappo wék-ka tellum-meng /
324.Mak-keda i to Boné / Ki éngngerang mua / Ki ere ki mua / Ten-ri lere i / Tes-si peppék lima é / Tes-si legga warekken ngé / Tes-siala rappaé/ - Mak-keda i Petta ri Soppéng ri to Boné / Ia na ri warekkeng tem-ma léré enreng ngia tana é ri Soppéng / Na tettongi dewata séuwa é / Mu-ingngeran na muannéng tem-mu legga warek keng ngé Soppéng / Tem-mu peppék liman-na / Tem-mu ala é rap pa na mennang to Angke tana é ri Soppéng / To ri munrin-na to Angké na tana é ri Soppéng /
- To ri munri é to-pa samalai api / Uwaseng ngi mennang to Boné / Engka na mu-to sa to Angké ri tana é ri Soppéng léngkang ngi sungek ku angattangek ku ri Gowa ma-ranak mall-lai bini /
Ia mu-to esso é wé si-tudangen na Malampéé Gemmekna ri Bontoala arung to Boné Petta ri Soppéng mingngerang-ngi mula 'luttu na lao ri Butung Malampéé Gemmekna
Mak-keda i Petta ri Soppéng Matinroé Riadatunna ri Petta Malampéé Gemmekna / Pulo wenni wégang mui engka mu mu-ala ulawen na tana mu ri Soppéng / Mu-wélai wenni tana mu ri Soppéng lao mu ri Boné / Na 'ngka Karaéng ngé mak-ka dupang to Wajo é 'te ri wi Soppéng /
- Na 'nganro to Soppéng ngé / Na ma-élo mas-suro kamo 'mpatta wak ri salassa ku / Na ia mua tek-ku ri-wetta / Arung Beru Rilau é / Ada Ugi / 'Dapi-ri-ak Kui 'tettong ri pana é / Ten-na pura lisek na Lamangilé /
- Mak-keda i Petta Malampéé Gemmekna ri Petta ri Soppéng / Ku-pa sekkoren na na-ri wetta ri Pammantingeng / Tamat /
- Ia na é po-ada ada éng-ngi ri aseng ngé Petta La Wadeng Mula seppé i bila / Si-ala é We Bubbu / Na jajiang anak lima séuwa ri-aseng Lapasajo / Séuwa ri-aseng Lagalumpang / Séuwa ri-aseng Wé Bollosugi / Séuwa ri-aseng Tenrisumange /
- Lapasajo na pad-duwa i kasiwiang ngé ri Bila / Lagalumpan-na na-éwa mang-nguru kasiwiang /
- Na Lapasajo na 'lao mab-bawiné ri Amali / Si ala We Ten ri Lawi / Anak ni La Bune / Anak ni Latenripeppa / Anak-ni Lantenriadudu / Si ala Wé Tenri Séka / Anak ni La Makkawoto /
- La Tenri Séka si ala Lilatenro ri Amali / Na dua anak na-jaji-ang / Séuwa ri aseng Lamagila / Séuwa riaseng La Gessa /
- La Géssa na mab-bawiné ri Soppéng / Si ala Wé Tebbalana Na-jaji-ang ngi La Kecca / Totenratu asen-ri anak na /
- La Kecca na si ala We Tenribau / Anak ni La Pattokko / Kuwa é pagigi é / Anak ni Wé Pale / Anak ni Wé Majodo / Anak ni la Pasokori /
- La Patokkon na si ala Tenriatana / Anak ni Dadera / Dadera si ala La ri Apponang / si ala la Tennibengngareng / Anak ni Lalwu / Anak Temmu / Anak ni La Tenriangke / La Tenri Angke na mab-bawiné ni Wé Gima / Tamat /
- Ia na é surek po-ada ada éng-ngi La Galumpang mab-bawiné ri Baringeng si ala É Cakkewanua / Asen na / Sapposisem mui / Anak ni La Pasoréang / Anak ni We Wulu / Anak ni Wé-Benrigau /
- We Ulu na si ala La Paccikkeng Soppeng ri Lau / Anak ni La Pottobune / Lapadangkang / Anak ni La Kumala /
- La Kumala na si ala Wé Tenriparialima / Anak ni Wé Tenri Pulana/
- Wé Tenripulana si ala La Pawawoi ri Soppéng / Anak-ni Wé
Lise / Anak ni Wé Ati / Anak ni Muttia / Anak ni La Baga /
- Wé Lisek na La Pasasa / Anak ni Lawaniaga / To Akkaten-ni asen-ri anak na / Anak ni We Tenribau /
- Toakkatenni si ala Da Palebbi / Anak ni We Tenrijollé / Anak ni Wé maddualeng /
- We Tenribau na si ala La Tecca / Tenritung asen-ri anak na / Anak ni La Pattokko puwan-na Pagigi é / Anak ni Wé Pawellu / Anak ni Wé Pacodo / Anak ni La Pasellori / Anak-ni Lapasoso / Sé-tola ri anak na ri Bila La Tenriadudu asen na / Wé Tenri Jéka si tola Wé Gima / Tamat /
- Tania ku-po ma-busung'lakkek lakkek i wija to Mangkauk é / Simpuruguttu pareppa asen na / Ia na Jajiang ngi Anakaji Na jaji-ang ngi Toappanangi /
- Toappanangi na 'ncaji-ang ngi Tampa Balosu / Tampabalosu na 'ncajiang ngi Batara Guru / Bataraguru na 'ncaji-ang ngi Datu Maogé /
- Datu Maogé na 'ncaji-ang ngi Tosakawana / Tosakawana - 'ncajing-ang ngi Tomalala é / Tomalala é 'ncaji-ang ngi Toas-sengereng Ia mu-to ri-aseng Dewaraja /
- Dewaraja 'ncaji-angngi Topaio / Topaijo na 'ncaji-ang-ngi maningoé Ribajo / Maningoé Ribajo 'ncaji-ang ngi Matinro é ri Ware /
- Matinroé ri Ware 'ncaji-ang ngi Matinroé ri Malangké / Matinroé ri Malangké 'ncaji-ang ngi Matinroé ri Gowa / Matinroé ri Gowa 'ncaji-ang ngi Matinroé ri Tompok Tikka / 'Ncaji-ang ngi Matinroé ri Langkana na /
- Matinroé Rilangkanana 'ncaji-ang ngi Matinroé ri Pattiro / Matinroé Ri Pattiro 'ncaji-ang ngi Tenriléléang / La Makkarodda / La Tenriangka/
- Ia na é surek po ada-ada éng ngi pap-pasen-na Tau Tongeng ngé Matowa é ri Soppéng /
- Arung Ujumpulu / Tania ku-po ma-busung ri-aseng ngéLa Tenritippe / Ia m o ri-aseng Addatuwang ngé ri Sidenreng ma towa é / Ia ma-to ri aseng Matinro é ri Pammantingeng /
- Mak-keda i Arung Ngujumpulu ri sappo wék-ka tellun na / Ri Puwat-ta Ri Soppéng 'ncaji-ang ngéng-ngi Matinroé ri Madello / Ma décéng ngi ta-po ada-adang Tau Tongeng ngé na lao su ri Beru / Ada Ugi / 'Méllau-wang ngi ad-di bolang atam-mu Towalenna é /
- Mak-keda i Petta Ri Soppéng / Ku-puji ni-sa tu tangngamu / taro i matu watak-ku u-was-suro 'llele i wi séajit-ta / Arung Pangngépak é /
Arung Panddanreng ngé / Arung ngé ri Soppéng /
- Aga mas-suro ni petta 'lélé i wi Arung Pangepak é arung paddanreng ngé / Tem-ma itta to na-ngka ri Lamangilé /
- Si-tudangen ni Datu é to-ri lales-Soppéng ngé / Na ia nas-si turu si nap-pada élo-ri Tau Tongeng ngé matowa é silaong arung Paddanreng ngé arung Pangngépak é 'lao su é ri Beru / Méllau ang-ngi addi-bolang Towalennaé 'kuwa ri arung Beru Riaja é / Ada Ugi /
- Apak lao ni su Tau Tongeng ngé si-laong arung Pang-ngé pak é arung Paddanreng ngé/ Apa lattuk ni su ri Beru Tau Tongeng ngé si-laong pang-ngépak é Paddanreng ngé / Si-tuda ngen ni To Beru é ia Séllise /
- Na-pa lattuk ni ada ri-suro-ang ngéng-ngi tau Tongeng ngé ri Petta ri Soppéng/ 'Méllauwang ngi addibolang To Wa lenna é / Ku ri Arung Beru Riaja é / Ada Ugi /
- Na ia nas-si turu si To Beru é ia séllise nap-pada elori / Ma-élo é paddi bola i arung ngujumpulu /
- Mak-keda i Tau Tongeng ngé metowa é ri to Beru é / Mutarima muannén-na séajing adan-na puwat-ta ri Soppéng / Kuwaé Ujumpulu mani ro matu si-laong angépa ken-na puwat-ta Datu é ri Ujumpulu na-si tinro-sang sompa na / Si-tariman ni adanna Beru Soppéng /
- 'Nréwek ni Tau Tongeng ngé ri Soppéng pa-polé basa / Ada nas-si kadongi é Beru Soppéng / Purai 'kua jaji ni si ala Arung Beru Riaja é / Ada ugi / Ri tella é Daeng Manakku / I Lipa aseng ri alé na arung Ujumpulu ri aseng ngé La Tenri Tippe Towalenna é /
- Anak ni Wé Oputana / Ia to-na ri wéréng ri-nan na Beru Riaja é/ Ada Ugi / Anak ni La Maléwai /
- Na mawék pitut-taung na sit dua / Na ia ri aja é / Ada Ugi / Ia to-na nad-duwa i Beru Ujumpulu / Ia to-na na-ola pura jancin na / Ia napo aseng Sao Denra é ri Mangémpang /
- Ia na é surek po ada-ada-éng ngi mula-mulan-na ri Taneté / Na-po eppo é Rilau Pasa ri Mangémpang / Adan na mu-to-Tau Tongeng ngé Battowa é ri Soppéng /
- Ia maraja na Wé Kutana / Si-tuda-ngen ni To Tanété ia séllise Arung ngé ri Tanété ri-aseng ngé Iberahima / Daeng Patinri pad-daengen na / Majjangkok é pat-tella-ren na /
- Ia Nas-situru si suro-éng ngi Daeng Mamango / Daeng Mapata /
Si-laong Topasére ri Arung Beru Ri aja é / Ada Ugi / 'Mellau ang-ngi addi-bolang Arung Lipukasi /
367.Apa lao ni ri Beru mennang tellu é / Lattuk ni ri Beru na-pa polé ni ada ri-suro-ang ngeng-ngi /
368.Mak-keda ni to Beru Riaja é / Ada Ugi Tarok-keng paissengi wi Putwatta ri Soppéng to Soppéng ngé 'to-pa / Temmakkule ni Tek-ki pa-issengi Soppéng / Apa eppo na Matinroé ri Asséleng Wé Kutana /
369. Mas-suro ni To Beru é ri Soppéng / Engka ni Tau Tongeng-ngé Battowa é si-laong Arung pangépak é Arung Paddanreng ngé Kuwa é Ujumpulu/
370. Si-tuda-ngen ni Soppéng Tanété Beru / Inappa ni pa-tang kek to Beru Riaja é / Ada Ugi /
371. Mak-keda ni Daeng Mapata Daeng Mamangung Topasére / Ana mu-tarima na ada ada ki-wawa é / Awam-minanga na mu-ala sompa Arung Lipu Kasi ri Beru Riaja é/
372. Mak-keda ni Tau tongeng ngé si-laong To-ri lales-Soppén ngé / Ia na tu Tanete na warekkeng tem-ma léré tana é ri Soppéng / Na tettongi dewata seuwa é ada pura na-po ada é / Naé rékkua matti engka wija ri-wéréng ngi ri dewata é Wé Kutana / Ia na punna Beru Riaja / Ada Ugi / Ia to na Awamminanga /
373. Kado si paimeng Daeng Mapata Toapasére / Pura ni si-ka-dong adan-na Beru Tanété / 'Nréwek ni Tau Tongeng ngé ri Soppéng ri datu é / 'Pa-polé basa i ada nas-si kadongi é Beru Tanété /
374. Ma-keda ni Petta ri Soppéng 'ncaji-ang ngéng-ngi Petta ri Madello / Ia ku-pasengek-ko to Soppéng ngé / Rékkua matti jaji tongeng ngi Wé Kutana si alanArung Lipukasi / Na'ngka palék ri-wéréng ngi wija ri Déwata é / Tania mua ata tau sama na-lorongi wélaren na We Kutana / Na 'ngka séajit-ta pap-pettu wélareng ngi / Pakaingek i/
375. Apak jaji ni si ala Wé Kutana / Anak ni Wé Mappaganti / la puwan na Beru ri-aja é / Ada Ugi / Ia to na puwan na Awam minanga / Ia tona sao ri matuwan na ri Bulu Bangi puwak-ku Arung- ngujung-'mpulu / Tania ku-po ma-busung ri-aseng ngé La Tabutasa/ Pajumponga é pat-tella-ren na / Na éwa Mapapganti na-si ala Wé Soda / Arung ngé ri Alingé / Na-tettongi Arum poné Malampéé Gemmekna na-datu é ri Soppéng Matinro é ri Madello /
376.Na-wawa ni ri Alingé akké-anun na / Ia é Mappaganti ia maneng /
377.Mak-keda i Petta ri Madello ia pa mu-tikkeng ngi I La Mappaganti Arung Bila / Na-tettongi pi dewata séuwa é / Nawawa ni ri
Alingé akke-anun na ia maneng apak Mangkasa i / Tamat /
- Mak-keda i Matinro é ri Lau Pasa / Ri Mangempang / Ada nap-pasengang ngé La Téréngang / Wek-ka eppa i mab-bawiné / Na po ada i ron-na anrik-ku Matinro é ri Mangémpang dék nawa nawa i Beru Riaja é / Ada Ugi / Seuwa ni tania mana i / Madua naBeru Riaja é / Ada Ugi / Matti mua Soppéng riawamminanga / Si-ala na Puwang Rilipukasi /Tamat /
L. PAP-PASEN NA ARUNG BILA ADAN NA TO RI OLO É - Makkeda i pap-pasen na Arung Bila ri anak na ri-aseng-ngé Lawaniaga / Toakkatenni asen-ri anak na / Iapa tau 'nrapek ri arung mangkauk /
- Ma raja pak-katutu é na-ma tanré saléwek / tep-pa sala éng ngi nawa nawan na ri esso ri wenni 'sappa-rang ngi a-dé-céngeng datu é / Enreng ngia tana na /
- Mu-ita i wik gauk na pancennangeng ngé / Aja mu-taro i na-panré mamata datu é /
- Na rékko na-panré i mamata datu é / Pangaja ri wi / Nak ko teya i ri-pangaja ri si-paissengen no padam mu to ri laleng Soppéng / Enreng ngia to mabbicara é /
- Pangaja ri si paimeng / Nakko na-po gauk mui / Uno i / Maté pi na-isseng ngi datu é /
- Mu-atutui wi sio alebbireng mu-ranreng ngé / Apak dék sia laing ngé na polé i décét-ta ku mui puwat-ta /
- Ajak pura pura sio mu-sappa décéng ri saliwen na é tana mu enreng ngia to-pa ri datu é / Ten-ri ta ni ritu décéng / rékko tek-kui ri tana ta / Na tania datu é ri Soppéng pé-dé-cengi wi /
- Alitutu i to-i inanré na datu é apak ia-rek sa-ro adek ma-raja na datu é ritu / Apak ri-tuna i wi matti ri padan na Arung Mangkau/
- Idik ata é ri-po abusunget-to i nakko tapa soro i adek arajan na puwat-ta / Ajak to mu-pa encéng ngi / Ma-busungai matti / Mau ni na-datu muna tana é ri Soppéng / Na busungi nakko na-pa lallo i wi gauk to ri olo na / A-tuna i wi sio datu é /
- Mu-ello-rat-to i ajak to na-dék pangulu joa mabbenni ri salassa é / Ajak to ten-na gennek seuppulo oroané mabbenni ri salassa é manippek é maté maka majjallokang ngi datu é natanrapi to Soppéng ngé rékko engka rukka ri lalempola /
- Mu 'ita i wi gauk na datu é / Rékko ma-songeng gauk i tau wé ma poncok sungek i / Rékko ma-songeng ada ada i mani wo i / Na rékko
manggauk bawang ngi puppu i to ri-munrin na /
- Ajak to mu-manggingngi 'pakaingek i datu é / Na é engka ritu wettun na apak teng-ngadek na pura-pura i sa ri lawa é ri elok na é datu é / Ri-peppang ngé ada-dan na ri tengnga tau / Tudang mad-dua dua po mu-pa-ita i wi mu-akkeda iperu sang ngi/
- Mu-aritutu i wi waramparan na datu é / Apa duan-rupa ri tu waramparang ri Soppéng / Séuwa ni waramparan na Soppéng Bakka é / Ia na ritu mu-isseng iko maneng pangepak é / Pad-danreng ngé / Pabbicara é / Ia na ritu waramparan na dua-é datu é / Anré bicara é / Poléang musu na Bakka é / Enreng-ngia to pa sompa na pattudan na Bakka é / Kuwa é parosangngé
- Na ia waramparang mut-tamak é ri Soppéng ia na ritu na ilé i datu é ri Soppéng na-la i / Na inappa 'tawa tawa i pab bicara é pangépak é paddanreng ngé / Ia na ritu na isseng-paddanreng ngé / Pangépak é / lao na polé na /
- Na ia ri alé na datu é élo na élo datu é. Kégi kégi na taro / Nigi nigi na wéréng na-mana ri-ang / Anak na tania é anak pattola na / Ia na ritu ri aseng anu ri-ale na datu é / Tania é lolongen na Bakka é / Enreng ngé wijan na nyomparen na / Pattaranak na /
- Alitutu i toi ajak mu-alilu i wi jancin na tana é / Ulu adan na tana é na datu é / Apak ma-sero ritu jak na 'mpélaié janci / Tem-mita décéng / Lattuk ri to-ri munrin na / Tamat /
- Ia to u-po adak-ko / Isseng ngi sio ri-aseng ngé adek / Mu-atutu i wi / Mu-paka raja i to i / Apak ia ritu adek é ri-aseng tau / Na rékko tem-mu isseng ngi adek é Tejjaji ritu ri aseng tau /
- Mu-pé raja i to i tau mu ri dewata é / Mu-pé raja i toi siri mu / Apak ia matau é ri Dewata é tama tanré siri ta / Ia na ritu tet-taro i mas- sarang lempu é
- Ajak to mu silaongang to sala / Ajak mu amasé i to ma keccak enreng ngia to malio-lio é /
- Ajak mu bellé arung mangkauk / Enreng ngia pabbicara / Enrenggia pádam mu to ri lales-Soppéng / Enrengngia padammu tau / Dékko na ita i bellé mu namau ada tongem mu matti tenri ateppe ri to / Apak ia ritu to bellé-bellé ia na ritu jak dék pak-kawarun na / Tamat /
- Ia to pa upo adak-ko / Ajak lalo mu-éwa i si sala tangnga padam mu to ri laleng Soppéng /
- Ko na tuju i bali Soppéng / Si tudangeng si-Soppek-ko si laong datu é / Mu-si-pa-tangnga-reng / Na ia mu-assi turu si é mu-adduppa
ngi / Na iko na pallessuk i ri timummu é /
401.Makko ni ritu angata-nget-ta ri Soppéng / Atutu i wi ti mum mu / Apak ko ni ritu man-nessa upek é /
402.O Arung Bila / Angka u-wélain na arajang na-wélai é- ncajiang- ngéng-ngak / Tang nginang ku ita i massarang salé o sappa-ri ang-ngak a-décéngek-ku si laong tana é ri Soppéng /
403. Aga ku-élla éllau wi na-pannennungeng ngi baténg puwang séuwa é nawa nawam mu / Kuwammi na-lattuk ri to-ri munrim mu na to-ri munrik ku tosa / Ta pada 'pasengat to i to-ri munrit ta / Na si-sapparang décéng / Na-si addampengeng pulana gauk tappa sala na /
404. Ajak na kira-kira i arajak ku / Ajak to na cinna i wi jujung ma-tanek ku /
405. Mak-keda i Arung Bila / Dék na kuwa é rennuk ku puwang / Mengkalinga i ada ma-décém mu / Ku-sompa wali puwang / Ku pa énrék i ri uluk ku / Na ia mua sia ku-po ada mémeng ngi apasalang ku onro i idik keng ata é / Onrong ri-sala i na onroi puwang ngé / Onrong mad-dampeng na onro i puwang ngé / Onrong ri addampengeng ki onro i ikkeng ata é /
406. Na ia mua puwang ki-élla éllau / Engka bawang ngi matti sala to ri munrik-ku / Na sala na dapi tigerok na / Ia kuéllau ten-ri passu é rara na / Na ia ri makkedam mu puwang / Arajak-ku tem-mu acinna i / Ia na ritu laleng (... ) ma cinna i-éng ngi arajan na datu é ri Soppéng /
407. Cinna maté / Ulu ada é ritu 'lureng ngi musu énaérékko ma décéng ngi timu-timu é / Warani maneng to ni tem-parani é Pa-jikki maneng to ni tep-pa sikki é /
408. Ma-lempu ko sio / Ajak mu ala cékka ri dewata é ri to lino é / Ajak pura to mu-taro i 'mala cékka tau wé ri Soppéng enreng ngia datu é1
409. Ia na ri-tu ri-aseng cékka datu é ko tes-si turu i datu é pangngépak é paddanreng ngé na-po gauk é / Angkan na ritu na-rampé ko to ri laleng Soppéng tana é ri Soppéng mala ték-ka /
410. Ia na ritu na-ma sero ri-atutu i gauk é enreng ngia ada ada é / Ko ni ritu akké-puanget-ta ri tana é ri Soppéng enreng ngia to-pa ri datu é /
411. Dék na tau lebbi ri datu é sangadin na anak ri jajian-na / Pang-ngepak ém-mua naPaddareng ngé / Na ia ritu to-ri laleng Soppéng ngé na éwa é si-po lakkai si-po awiné datu é ri Rualetté sia /
412. Ia na ritu datu é ri Ujung / Datu é ri Botto / Mas-sao locci é Soppéng Rilau / Mallangkana é ri Sao Lampé / Datu é ri Soppéng/
- Ia na ritu tau sékuwa é ro ta-si anrengam-mu to si ritu ri bola na datu é ri Soppéng / Tamat /
414. Ia to ku-po adak-ko / Ajak pura-pura mu-akkać ri sali wengeng
ngi tana mu / Ajak to mu-tingarang ngi dua rupa datu é ri Soppéng / Sangadin na ko na-téai o/
- Apa ia ritu na-ri aseng na-téai ko-ten na-sala dapi ti-gerok na / Ia uwéllau ten-ri passu é rara na /
- Mak-keda i puwat-ta Puwang Lipu e ia mémen-na ritu ku pari laleng-ngada ta-si addampengang pulana ri gauk apa-salat-ta / Tamat /
- Mak-keda to-pi Petta Puwang Lipué / Ia ritu Arung Bila mu-élla éllaun-na tenri passu é rara na to ri munrim-mu / Ia wégan-na ritu nap-pasengang Petta Matinroé ri Tanana / Mak-keda é engka matti to ri munrik-kù apasalan-na na dati tigerok na mu-éwa mang-nguru néné / Ajak pura-pura mu-passu i ra ra na tau 'kuwa é ritu / Ia na 'kuwa é tau ten-nanré bessi to lino /
- Na ballalo na paléngeng palek na Arung Bila / Mak-keda ia na tu puwang ku-sompa wali / Ku-pa énrék ri uluk-ku / U-singkeruk tem-ma léré i / Ia wégan-na ritu ri nawa-nawak ku Ku-pa sosorang ngi to ri-munrik-ku / Tamat /
- Mak-keda musi paimeng Puwang Lipu é / O Arung Bila / Ia 'mpélai adan-na / Ia tem-mita décéng lattuk ri to-ri munrin na /
- Na-pa léngem-musi paimeng liman-na Arung Bila mak-keda / O puwang / Siseng ngik mak-keda / Ek-kadua wékka-tellu ia adak-ku puwang / Iko 'kénnéng puwang mak-keda 'kuwa / Naleng ngiyak pasi ta-po ata é / ta-pasengang to i to ri munrit-ta / Tamat /
- Mak-keda to pi puwat-ta Puwal-lipué / O Arung Bila / Na rékko 'malao tékka ri padam-mu tau mu olo ri rapang / Silasai gauk mu / Manippek pi lisek na salassa é ku-sorong enren ngia anu ri alé ku / Mu inappa 'mita i tem-ma décéng ngé / U pasenget-to i to ri munrik-ku / Tamat /
- Mak-keda i Arung Bila / Dék na u-waseng pammasé 'lélé-ri wawo i wi puwang adat-ta ta-po adang ngéng-ngak / Batara mani ri wawo na/
Mak-keda to-pi Arung Bila / Pappasen-na ri anak na / Dék ko ten-na wélai-ak-ko ada to ri-munrin na datu é / Ajak mucirinnai ang-ngi inin-nawa ma-décéng / Mu-atutung ngi adek ma-raja na / Saro saro-at-to i masé datu é ri lili é / Apak bessin-na mua tu tau wé na-ma solang / Sangadin-na lili pura é 'mewa i Soppéng / Na-tingara i Bakka é na-po olo o wi éwa-ngeng / Na ia si-tuppu-ang ma-élo bawampawang ngi/
Pa-ka ingek i datu ć / Engka tu attaro adangen-na Towum pungeng ngé / Ia si-tuppuwan-na Soppéng Riaja na Soppéng Rilau / Si-sala na Petta Mabbélua é puwat-ta Puwallipué / Nang ka to Wumpungeng ngé /
- Ku-wakkeda / Aga mu-lao-ang mai mu-engka si-Wimpungeng / Ia na mai ki-engkang ma-raja i pad-dennuam-meng ri Soppéng Riaja / Téak-keng si-laongeng ngi to sala é/
- Mak-keda i Arung Bila / O Wumpungeng / Ia-pa siak ada 'lattuk ri peru é /
- Mak-keda i Arung Wumpungeng / Ku-pa si-nennung botto u-lu palek kajé-ku / Ku-sapu peru / Ku-ala nawa-nawa tem-ma décéng ngéng ngi puwallipué /
- Makkeda si paimeng Arung Bila / Ku-pakkulim-musi ritu ada é Wumpungeng / Tem-musala Kalésso ga matti puwallipué / Tem-mu lupek ma-céko-ag-ga / Apak iaku-saléwe kuwaet-tosia lalengpura na-ola é Petta Matinro é ri Asséleng / Apak to Soppéng Rilau ko /
- Mak-keda i Wumpungeng / Ku-pattongeng ritu tikek mu / Naé engkalinga ni matu adak-ku / Dék-ko ada bellé peru u-poadak ko ajak na-engka nac-cékkéngi béppaja to ri-munrik-ku / Ma bisak pinceng mabbulu ga sia ittello é naleng mabbulu to ri munrik-ku / 'nawa maja- éng ngi puwallipué / Tamat /
- Apak menrek ni Arung Bila 'po-adang ngi Puwallipué adan na to Wumpungeng ngé /
431.Mak-keda i Puwalipué / Pé-adada i wi / Apak to Soppéng Rilau i sia / Makkeda i Arung Bila / Pura u-wéngkalinga ada 'lattu ri peru na / Enreng ngia tanro alé na/ - Mak-keda si puwat-ta Puwallipué / O Arung Bila / Iko mi si- laong pabbicara é ku-po sullé ma ri peri tana é /
- Ma-keda ni Arung Bila / Ku-mémenni ro adek angatangem-meng ri Soppéng / Tamat /
- Mak-keda i Arung Bila / Engka paun-na to-ri olo é / Ia na-seng ngé tékka enneng uwangen-na / Ia na tu na-wangungam-musu arung mangkauk é/
Seuwa ni / Majjalékka i é pétau / Ma-dua na / Riwélai-ang-ngé ulu ada / Ma-tellun-na / Ri té-ri paddangengen na ten-nabirittai-ang ngi tau é / Ma-eppa na / 'Mpuno eng-ngi rangenrangen-na tau wé / Na tania a-salang na-po amaténgeng / Ma lima na / 'Pelongko-ri éng-ngi tau décen-na tau wé / Ma ennen-na / 'Pangau-éng ngi gauk tek-kua padan-na arung mangkauk/
Ia na ro sékuwa é na-paddaungeng to riolo é / Mak-keda to-pi to ri olo é / Semperek mui tékka maraja é séuwa é na tékka baiccuk é na ma-éga / Tamat /
437. Mak-keda to pi to ri-olo é / Na ia 'pédécé-ngi assé-ajingeng-ngé
eppa i / Séuwa ni / Si amaséng ngé / Ma-dua na si-addampengeng pulana é / Ma tellun-na / Tes-si cirinnai-ang-ngé ri silasa na é / Ma eppa na / Si ala pakaingek é /
- Mak-keda to pi to ri olo é / Eppa doko ma-sero na tanaé Seuwa ni / Arung mangkauk é tem-mappa-si-tudangeng ngé / Ma dua na / Jowa maddapang ngé / Ma tellun na / Pabbicara malaé pasosok / Ma eppa na / Suro 'paonco-ki é passurong / Na lam-pé-ri aré gi pas-surong ngé / Tamat /
- Mak-keda to pi to ri olo é / Na ia 'peraja i é tana / Seuwa ni / Ada tongeng ngé / Ma dua na / Ampé ma-décéng ngé / Ma tellun na / Bicara lempu é / Apak ia ritu gauk ma-décéng-ngé bicara ma-lempu é / Ia na ritu 'umpawa i pat-taungengngé / Ma eppa na / Janci ten-ri allupai é enreng ngia ulu ada ten-ri welai é / Ma lima na / Adek ri pésekeng ngé / Ma enen na / Rapang massek é / Ma pitun na / Wari ri-atutung ngé / Ma rua na / Ada si-turu é ri lalempanua / Ma-séra na / Tangnga Tes-si sala-sala é / Ma seppulo na / Séakkasirisang ngé / Ma sep pulo séuwana / Tes-si melleki-ang ngé ininnawa sempanuwan-na enreng ngia ri séajin na / Tamat /
- Mak-keda to pi ro riolo é / Na ia to ri-ala é parewa ri tana é eppak mengka i wi / Séuwa ni / 'ké nawa nawa pi / Ma duwa na / Ma-lempu pi / Ma telun na / Warani pi / Ma'pa na / Sugik pi /
- Na ia tanran-na to 'ké nawa nawa é / Eppak to i / Séuwa ni / Matau i ri Déwata é / Ma duwa na / Matau i ri gauk appa siwalekeng ngé / Ma tellun na / Matau i 'po gauk gauk masala Ma eppa na / Matau é po-gauk gauk sala/
- Na ia tanran na to me-lempu é eppa to-i / Seuwa ni / 'Mélo ri é gauk makaitutu / Ma duwa na / 'Mélo rié gauk patuju / Ma tellun na / 'Mélo rie gauk madécéng / Ma eppa na / 'Melo-ri éng ngi gauk tonget- tongeng ngé /
- Na ia tanran-na to warani é eppa to i / Séuwa ni / Tem-matau é ri paddiolo / Ma duwa na / Tam-matau é ri paddimunri Ma tellun na / Tem-matau méngkalinga kareba / Ma eppa na / Tem matau é 'mita bali /
- Na ia tanran na to sugi é eppa to i / Séuwa ni / Tek-ku rang ngé nawa nawan-na / Ma duwa na / Tek-kurang ngé pabba-lancana / Ma
tellun-na / Ma sagéna é ring sinin-na gauk na / Ma eppa na /
Tek-kurang ngé ri sininna pattujun na / Tamat /
- Makkeda to i Arung Bila Pappasen na / Ajak sio mubbarak barani ri ala e paréwa ri tana é / Teb-barang tau ritu mullépo gauk i / 'Po nawa nawa i gauk na nawa nawan na to-ri ala é paréwa ri tana é/
446.Na ia gauk pa-tuju é / 'Ku-i ri to panré nawa nawa é / Na ia gauk ma-décéng ngé 'kui ri to macca é / Na ia gauk ma jaé e 'ku-i ri to- bongngo é / Na ia gauk pasala é 'ko-i ri to pusa é/ - Na ia appongen-na adek é / Ia na ritu gauk mappa-silasa é na sitinaja / Na ia appongen-na bicara é / Ia na ritu gauk silasa é enreng ngia ada si-turu é/
- Na ia rapang ngé / Ia na ritu map-pa senrupa é / Na ia Wari é / Ia na ritu gauk ma-pallaiseng ngé / Tamat /
- Mak-keda to pi Arung Bila / Dua gauk si-sappa na-si lo-longeng / Gauk ma-décéng ngé enreng ngia ampé sitinaja é /
- Na ia sapparen na décéng ngé / Ri-pabbiasa i alé 'pogauk i ma-décéng ngé / Na mau na mapperi-peri muna ri passangka biasa i alé ta / Ma duwa na / Pa-kutana é alé na ri si lasa na é / Ma tellun na / 'Saro é masé ri silsasana é / Ma eppa na / Arésong pa-tuju é / Ma lima na / 'Mola é ropponroppon na-réwék paimeng / Ma ennen-na / Mola é laleng na matike Na-sanré seng-ngi ri déwata é /
- Mak-keda to-i Arung Bila / Eppa ritu aju tabuk / Ajak mu- warani-warani 'sanré-si wi / Séuwa ni aju tabuk / Rékko macca-ik ta-isseng-ngi alé ta macca / Ma-duwa na / Rékko sugik kik ta-isseng ngi alé ta sugi / Ma-tellun-na / Rékko Arung-ngik ta-isseng ngi alé ta arung / Ma-eppa na / Rékko warani-kik ta-isseng ngi alé ta warani / Ajak mu-accowa-cowa 'sanré-si wi / Pajaneng aju tabuk ritu / Tamat /
BAB III
TERJEMAHAN
Sewo, itulah yang dinamakan to Soppeng Riaja7. Adapun orang
- Maka (ada sebanyak) enam puluh matoa9 (di) Soppeng Rilau (dan) Soppeng Riaja. Namun, orang-orang Soppeng itu membagi dua (kelompok) diri mereka.
- Lollo é / Kubba, Panincong, Talagae, Riattang, 'Salo, Mangkuttu, Maccilé, Watu-watu, Akkampeng, adalah (termasuk) wilayah Soppeng Rilau.
- Adapun Pesse, Pising, Launga, Mattobulu, Ara, Lisu, Lawo, Madello Rilau, Tinco, adalah (termasuk) wilayah Soppeng Riaja.
Adapun Cenrana, Salokaraja, Malaka, Mattoanging termasuk pula wilayah bawahan Soppeng. To Soppeng Riaja, adalah istilah bahasa daerah Bugis yang merupakan gabungan dari tiga kata, yaitu to (tau) berarti orang; Soppeng berarti nama sebuah negeri; ri-aja berarti di barat. To Soppeng Riaja, artinya orang Soppeng bagian barat. 8To Soppeng Rilau, adalah gabungan dari kata to Soppeng, artinya orang Soppeng; dan Rilau artinya bagian timur. Jadi to Soppeng Rilau, berarti orang Soppeng bagian timur. a matoa, artinya tetua; ketua; pemimpin kelompok. Matoa merupakan tokoh lokal yang memimpin dan membimbing anggota kelompok masing-masing.
Maka cerai-berailah orang-orang Soppeng itu. Dan tiada lagi junjungan nya sesudah (raja-raja) yang temuat dalam Galigo11.
- Maka hanya keenam puluh matoa itulah yang memimpin negeri.
- Maka ketahuanlah oleh Matoa Tinco, Jennang Pesse, sampai ke seluruh wilayah Soppeng Riaja, lalu disampaikan pula kepada Matoa
12di Ujung, Matoa Botto, Matoa Bila, bahwa ada to manurung
Sekkanynyili13
- Akan tetapi berkata Arung Bila, matoa Botto, matoa Ujung sebaiknya disampaikan kepada wilayah Soppeng Rilau (yaitu) matoa Salotungo.
011. Disetujui oleh warga Soppeng Riaja, maka disepakatinyalah
mengundang mereka. Sesudah itu datanglah para matoa dari warga Soppeng Rilau.
- Berkata matoa Soppeng Riaja, ada manurung di Sekkanynyili, maka bagaimana gerangan pandanganmu?
- Berkata·matoa Soppeng Rilau, sebaiknya kita pergi menemuinya. Semoga nian Tuhan memberi rahmat, agar beliau sudi 'dongiri tem-matippak-kik,14'mpawaik ri mawék ri mabela15
- Sekalipun (ada) aturan-aturan kita, namun (jikalau) tidak dikehendakinya, kita pun tidak kehendaki pula. Sesudah itu, pergilah keenam puluh matoa tersebut.
- Setelah tiba (di hadapan) sang to manurung keenam puluh matoa itu, berkatalah matoa Ujung, matoa Botto, matoa Bila.
10 Junjungan, merupakan terjemahan bebas dari kata puwang, yang dapat pula berarti : tuan;
pemimpin; raja. 11 Kalimat tersebut mengandung pengertian, bahwa raja-raja yang termuat dalam cerita "Goligo" sudah tiada, sehingga kelompok masyarakat di masa itu hanya dipimpin oleh matoa.
12 To manurung, adalah istilah yang terdiri atas gabungan dari kata to (tau) dan manurung
(turunan dari kayangan). Jadi to manurung, berarti orang yang turun dari kayangan.
13 Sekkanynyili, adalah sebuah tempat dalam wilayah Soppeng, di mana sang to manurung
ditemukan oleh penduduk.
14 dongiri (menunggui padi dari serangan burung pipit); temmatippak-kik (tanpa kita berkurang).
Maksudnya, memimpin dan menjaga keselamatan kita. 15 Mpawaik (membwa kita) ri mawek (ke tempat yang dekat) ri mabela (ke tempat yang jauh, maksudnya memimpin kita baik dalam hal-hal yang bertalian dengan urusan dalam negeri maupun urusan luar negeri. Dalam istilah tersebut terkandung pula konsepsi budaya orang Bugis tentang harapannya terhadap para pemimpin/penguasa atau raja berdaulat.
016. Adapun maksud kedatangan kami kemari wahai Lamarupek16
(adalah) karena kami semua mengharapkan rahmatmu. Janganlah engkau menghilang17, agar dikau menjadi junjungan kami.
- Engkau tunggui kami dari gangguan burung pipit (ibarat padi) agar kami tidak susut; engkau selimuti kami agar tidak kedinginan. Maka engkaulah junjungan kami, di tempat yang dekat maupun di tempat yang jauh. Sekalipun ada putusan kata kami, namun jikalau engkau tidak menghendakinya maka kamipun tidak menghendakinya pula.
manurung-ngé ri Sekkanynyili, hanya jikalau
018. Berkatalah petta18
kalian tidak menghianatiku. Namun jikalau kalian tidak menduakan diriku dalam pikiran kalian.
- Sepakatlah matoa yang enam puluh itu dengan petta Manurungngé ri Sekkanynyili.
- Berkata pula Petta Manurungngé Ri Sekkanynyili. Ada juga saudara misanku yang turun di Libureng. Baiknya jikalau kalian orang-orang Soppeng bersepakat, agar aku berdua mencarikan kebaikan bagi kalian.
- Biar beliau yang datu19di Soppeng Rilau dan saya datu di Soppeng Riaja. Adakanlah kata mufakat, dan pergilah kalian (untuk) menjemputnya.
- Sesudah itu, pergilah keenam puluh matoa tersebut ke Libureng20 di tempat yang dinamakan Gowarié.
023. Didapatinyalah To manurungngé duduk di (atas) balubunad-
deparie21.
- Berkata matoa Ujung, matoa Bila, matoa Botto : Adapun maksud kedatangan kami ini wahai Lamarupek, karena mengharapkan rahmatmu.
16 Lamarupek, ungkapan yang ditujukan kepada sang to manurung, sebagai tanda penghormatan
dan rasa takjub.
17 Mallajang = menghilang (hilang dari pandangan mata; kembali ke alam gaib).
18 Petta, identik dengan kata "baginda" (ucapan tanda penghormatan, dapat pula berarti gelar kebangsawanan). 19Datu, artinya raja yang dipertuan; raja berdaulat. 20 Libureng, nama sebuah kampung, tempat munculnya tomanurung di wilayah Soppeng Rilau. 21 Balubu naddepparie, berarti guci tempatnya (tomanurung) menetes (muncul; timbul; lahir).
engkaulah
| 025. Janganlah | engkau | menghilang. | Maka | yang | kami | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| jadikan kesejahteraan kami, mempersatukan kai secara utuh. 026. D anak-anak kami atau putusan-kata kami pun, jikalau tidak berken bagimu, maka kami semu takkan menyukainya pula. | junjungan engkaulah junjungan (raja) kami, dekat maupun jauh. D | (untuk) | menjaga | keselamatan | kami, membina | |
| 027. | Manurung-nge | |||||
| mengianati 22, | c abang 23. |
Berkata Ri Goarie, hanya jikalau kalian tidak hanya kalau fikiran kalian tidak ber Terjadilah kata sepakat (antara kedua pihak).
- Itulah yang disebut perjanjian antara rakyat Soppeng dan junjungannya, sampai kepada ketunannya baginda datu Soppeng dan ketunan rakyat Soppeng.
- Maka sebelum adanya keturunan junjungan kita berdua, matoa Botto, matoa Ujung, matoa Bila (lab) yang mengemukakan pendapat (gagasan) lalu disepakati oleh keenam puluh matoa, baik masalah luar maupun masalah di dalam negeri Soppeng.
Namun setelah keduanya berputera (mempunyai maka timbul (muncul; ada; lahir)lahpangepak e-
24 (dan) nge.Apa yg disepakati oleh datu Botto, ang Bila, datu Ujg, baik menygkut hubungan dalam negeri Soppeng maup hubg
. luar negeri, tidak dapat lagi dibantah oleh sesya org Soppeng, sebab demikianlah ketentuan adat ki, sebab beliau ki pe.
| B. INILAH | SUREK | YANG | MEMBICARAKAN | KETIKA | |
|---|---|---|---|---|---|
| ARUNG | APPANANG, ARUNG | BILA BERSAMA | ORANG | ||
| ORANG | SOPENG KE SU | ||||
| 032. Inilah | r yang | .membicarakan | ketika arung | Bila, | |
| Appanang bersama | orang-orang 27ang masih ada, tidak turut menyertai | Soppeng | luarga | ke Su26 Baa-e | |
| digiring | Gowa. |
su ek arung seke serta 28 segenap Lili y ke
Tidak ianat, berarti taat; patuh; setia. 23 Firan tidak beang, setia sipenuhnya, baik dalam ucapan maupun sikap tink. Pangepak, salah satu gelar/jabatan dalam kerajaan. Padnreng, gel/jabatan di mping pangepak di Soppeng. Su, artinya wilayah di pesisir pantaiekuasa wa. 27 Lili, wilayah kerajaan di bawah kerajaan pusat. Baae, salah tu bendera kerajaan Soppeng. 56
- Maka tiga malam sesudah takluknya Manrai, Lollo, Kaluku menyerbulah ke (daerah) Tellek arung Bila, arung Appanang disertai oleh orang-orang Soppeng seluruhnya.
Maka (mereka) bersualah dengan rombongan pembawa rangsum-nya Lombasa Bungoro di Ulu Batu. Maka diambillah (oleh) Arung Bila, Arung Appanang pembawa rangsum-nya Lombasa Bungoro.
29-30Maka Lapanyanya (dan) Duampidang-nge pun segera menguasai Temmaroja. Kemudian orang-orang Soppeng itu menyerbu ke arah timur, menuju ke Cempa-cempa.
- Keesokan harinya pada malam kedua berperanglah Arung Appanang, Arung Belo dan Daeng Pabilla melawan orang Siang serta orang-orang Barrasa. Sudah ada yang tewas.
- Sudah ada pula teman-teman Daeng Pabilla (dan) Arung Belo yang gugur. Direbutnyalah Mallewa (oleh) Daeng Pabilla. Orang- orangSoppengpun merebut pula Bangkali, Boloppangi, direbutnya Lambasa, Cempa-cempa, Biringgereng.
- Keesokan harinya pada malam ketiga datang pulalah segenap orang Barrasa (dan) orang Siang, Daeng Pabilla dan orang-orang Soppeng.
- Sudah banyak orang yang tewas. Sudah banyak pula orang-orang baik dari Barrasa, Siang yang tertangkap oleh orang-orang dari Soppeng. Maka mundurlah orang Barrasa (dan) Siang ke atas pegunungan Lalisang.
- Keesokan harinya pada malam kedua, merekapun melakukan penyerangan, namun tidak diberi kesempatan menguasai medan pertempuran oleh orang-orang Soppeng.
- Ketika matahari tenggelam pada malam kedua, Karaeng Barrasa yangbergelar Karaeng Allu memisahkan diri, lalu mengiringkan (pasukannya) kembali ke Gowa.
- Orang-orangBarrasa pun menyerah. Maka Pangkajene direbut
31 32 oleh Widappasae ri Citta bersama Bolongnge ri Lompulle.
29 Lapanyanya, adalah salah satu bendera/panji-panji kerajaan Soppeng.
30 Duampidang ngé, adalah bendera/panji-panji kerajaan Soppeng di samping Lapannyanya dan
Bakkae.
31 Widappasae, bendera/panji-panji kerajaan Soppeng dri daerah Citta
32 Bolongnge, bendera/panji-anji kerajaan Soppeng dari derah Lompulle.
ri Marioriwawo, serta arung Bila. 35
- Menyerah/takluklah Barrasadan Siang
36. Di Ujung Bululah
segenap senjata mereka diikat menjadi satu lalu dibawa kepada arung Bila (dan) arung Appanang.
- Maka Lasilatu namanya alameng-mana37dari Appanang yang digunakan (untuk) menyeduh tuak, kemudian diberi minum kepada orang-orang Barrasa, sambil mengangkat sumpah rela hancur lebur (dan) anak-anak cucunya takkan beroleh kebaikan manakala mereka (ternyata kelak) meninggalkan datu Soppeng, serta Malampee Gemmekna38 dan angin lah (beliau) sedangkan orang Barrasa (dan) Siang adalah dedaunan40 (sehingga bersedia melakukan) apa pun yang diperintahkan kepada kami.
Maka hanya beberapa hari kemudian, datanglah utusan Malampee
41 Gemmekna bersama dengan Ambara Sepeleman 1, memerintahkan agar orang Barrasa (dan) orang Siang itu diturunkan ke kapal, jangan ada seorangpun yang engkau tinggalkan di negerimu.Berkata Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo kepada utusan Malampee Gemmekna: Kami semua segera akan kembali ke Binamu kami. Adapun Barrasa (dan) Siang telah bersumpah, rela hancur lebur dan keturunannya takkan beroleh kebaikan seujung jarumpun apabila mereka menentang baginda datu Soppeng bersama Malampee Gemmekna. 33 Lapajikkiri, bendera/panji-panji kerajaan Soppeng dari daerah Belo. 34 Lesang Bakkae, bendera/panji-panji kerajaan Soppeng di daerah Marioriwawo. 35 Barrasa, adalah wilayah taklukan di bawah kerajaan Gowa. 36Siang, adalah termasuk wilayah taklukan kerajaan Gowa, sebagaimana halnya daerah Brrasa. 37Alameng-mana, adalah jenis senjata pusaka yang banyak digunakan lasykar Bugis di zaman kerajaan. 38 Malampee Gemmekna, adalah salah satu gelar Lotonuru di samping gelar-gelar lainnya, seperti Arung Palakka, Datu Mario, Petta Torisompae, Matinroe Ri Bontoala. Dalam bahasa daerah Bugis, Malampee Gemmekna berarti "yang panjang rambutnya" atau si-rambut gondrong. 39Angin, adalah simbol kekuatan pihak penakluk (Soppeng dan Bone) yang berkuasa sepenuhnya atas taklukannya. 40 Dedaunan, adalah simbol kelemahan bagi wilayah taklukan, yang hanya mampu bergoyang ke timur ataupun ke barat sesuai dengan tipuan angin. 41Ambarala Speleman, maksudnya Admiral Speelman. 42 Binamu, kota-lama di daerah Jeneponto Sulawesi Selatan.
Ada pun keputusan peradilan yang dijatuhkan atas Siang ialah (membiarkan mereka) tinggal di negerinya sehingga seutuhnya (negeri bersama penduduknya) menjadi milik sepenuhnya sampai ke anak- cucu paduka (datu) Soppeng (dan) Bone.
- Sembarang saja dititahkan kepadanya, terserah pada kemauan datu Soppeng serta Arumpone 43.
- Berkata pula Arung Appanang, Arung Bila, Arung Belo: (bahwa) yang menyebabkan kami buru-buru pula berangkat naik (ke Binamu), sebab katanya, wahai suro44! tidak mungkin orang-orang Bone menjangkau Binamu sampai bulan berikut.
- Maka turunlah (ke kapal) orang suruhan itu (bersama): Arung Appanang, Arung Belo, beserta orang-orang Soppeng seluruhnya, menuju ke Binamu.
- Berjumpalah (dengan) Malampee Gemmekna di Binamu. Berkata Arung Appanang, Arung Bila kepada Malampee Gemmekna di Tana Binamo (bahwa): Adapun Karaeng Barrasa, Beru Riaja é, ungkapan/istilah Bugis, kutaklukkan, tunduk di bawah perintahku. Adapun raja Beru Rilau, istilah Bugis, diingatnya jugalah perkerabatan (antara) Beru (dan) Soppeng. Beru yang datang (ke pedalaman), Soppeng ke Su.
- Namun, nanti di Ujung pandang kita bersua apabila sang dêwata memberi rahmat sehingga kita merebut Ujung Pandang. Demikian pula Nepo, Suppa nanti di Jumpandang pula kita bertemu.
Berkata Arung Bila, Arung Appanang, kata pesan yang disampai- kan kepada saudara perempuan dan sepupu sekalinya: Adapun perjanjian dan kesepakatan kami (bersama) arumpone ketika kami mendarat di pattro, maka kami semua yang berasal dari Angke 46 genggaman kami takkan dibuka, takkan dicegah lengan kami. Semampu kami (orang-orang) yang berasal dari Angke, sampai kepada keturunan sepupu ketiga kali kami.
47Ada pun perjanjian kami, disaksikan oleh dewata-seuwae Tidak saling meninggalkan. Tidak saling mengkhianati.
43 Arumpone,adalah gelar bagi raja Bone di samping sebagai Arung Mangkauk (raja berdaulat).
44 Suro, adalah utusan; pembawa berita.
pattiro, Daerah pesisir di Bone. 46 Angke, tempat pemukiman lasykar Arung Palaka di Jakarta. 47 Dewata seuwae, artinya dewata yang Esa.
- Dan barulah kami sama berangkat setelah selesai membuat perjanjian. Orang Bone bersama (dengan) Malampee Gemmekna lewat atas, dari Bulukumba sampai ke Binamu.
- Kami orang Soppeng melalui Beru, Tanete menuju ke atas sampai ke Barrasa. Demikianlah maka ada orang Soppeng yang menaklukkan Beru Riaja, istilah Bugis. Ada pula orang Soppeng yang mengajak (untuk) turut pergi berperang Arung Beru Rilau, istilah Bugis. Kami pulalah yang merebut (... ) di Gowa.
- Kami pulalah orang-orang Soppeng yang mengalahkan awan Segeri, Attang Segeri, Barrasa, Siang. Kami pulalah orang Soppeng yang mengikutkan Lambase, Bungoro untuk pergi berperang di Gowa. Kami pulalah orang-orang Soppeng yang membawa serta, sekaligus membebaskan dari cengkeraman kekuasaan pemerintah kerajaan Gowa, mulai dari Beru sampai ke bagian selatan wilayah Gowa.
C. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN PESAN YANG DISAMPAIKAN DAOKE - Inilah surek yang membicarakan pesan-pesan yang disampaikan (oleh) Daoke, kemanakan yang namanya diambil/digunakan oleh Arung Bila yang dinamakan WE Oke. Yang kupesankan kepadamu ialah ucapan Malampee Gemmekna, ketika ia berhadapan (dengan) baginda datu Soppeng dalam rumah berukir di Bontoala, berulang kali Malampee Gemmekna mengungkapkan dan menyampaikannya sebagai pesan kepada anak-anaknya.
- Maka diucapkan oleh Baginda datu Soppeng, bahwa jikalau ada turunan dari saudara perempuannya Arung Bila, Arung Appanang, serta orang-orang dari Angke yang mendapat gugatan peradilan ataukah mereka yang mengajukan gugatan, sedangkan Soppeng tidak sudi berupaya melindungi harga bendanya, janganlah ada (pihak) yang mencegahnya ke Bone. Biarlah Bone yang mencarikan harta benda (hak) nya.
- Berkata pula Malampee Gemmekna kepada Matinroe riada tunna 48. Bone jugalah yang berkorban, namun kitalah orang-orang Soppeng yang telah merantau ke Jawa memperolch kebaikannya. Tamat. 48Matinroe Riadatunna, gelar anumerta salah seorang raja di daerah Soppeng.
D. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN PERTEMUAN BAGINDA MATINROE RI ADATUNNA DAN BAGINDA MALAMPEE GEMMEKNA
061. Inilah surek yang membicarakan pertemuan baginda Matinroe Ri Adatunna dan baginda Malampee Gemmekna, bertempat di Bontoala. Setelah bobolnya Sombaopu, sehingga ratalah negeri Gowa, dan kekuasaan Malampee Gemmekna telah menjadi kokoh kuat.
062. Berkata Malampee Gemmekna kepada Matinroe ri Adatunna, kusampaikan kepadamu wahai paduka, kekuasaan Karaengngé ri Gowa di bagian pedalaman telah kumiliki/kukuasai.
063. Kusampaikan pula wahai paduka, orang-orang Soppeng dan
orang-orang Bone (bahwa), gagallah keinginan Karaeng-ngé. Hanya sayalah yang berkuasa, sedangkan (karaeng-nge) hanya menurut saja.
- Berkuda-balapan datu Soppeng (dan) datu Mari-Mari, datu Citta, datu Lompulle. Ada pun selainnya, tidak boleh berkuda-balapan bagi para lili (raja bawahan) di Soppeng.
- Demikian pula di Bone. Berkuda-balapan raja Pattiro, Arung Palakka.
- Demikianlah pesan-pesan raja kita dalam majelis (antara) orang Soppeng (dan) orang Bone, setelah bobolnya Sombaopu.
tersebut tidak digantikan, demikian pula hamba sahayanya sampai ke anak cucu saudara perempuannya Malampee Gemmekna. Itu pulalah yang dipersaksikan kepada
Mari-Mari, serta Batu Pute hingga kepada keturunannya bersama anak cucu Matinroe ri Bontoala51. Sedangkan Attang Segeri dan Awang Segeri hanyalah bagaikan dedaunan. Tamat.
49Gellareng, adalah salah satu jenis gelaran/jabatan dalam sistem pemerintahan kerajaan lokal di zaman lampau. 50Tellumpoccoe, adalah tiga kerajaan yang turut dalam persekutuan kenegaraan yang terbentuk melalui perjanjian khusus yang terkenal sebagai Mallamumpatue ri Timurung (Penanaman batu di daerah Timurung). Kerajaan yang turut dalam Tri Aliansi Tellumpocce ialah Bone, Wajo dan Soppeng. 51Matinroe ri Bontoala, adalah gelar anumerta bagi Arung Palakka yang bernama La Tounru Petta Malampee Gemmekna. Gelar anumerta tersebut, berarti "yang tidur/bersemayam; berkubur" di Bontoala.
E. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN DIKALAH-KANNYA CILELLANG
068. Inilah surek yang membicarakan (tentang peristiwa) dikalahkan- nya Cilellang oleh Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo. Segenap bate52 berkumpul di Mampu, untuk beristirahat maka mereka pun saling membagi tettongeng-bate3
069. Adapun cellak-cellak é merebut Lisu sebagai tempat tancapannya. Pengek-lah yang ke selatan di daerah Kalauna. Sedangkan Kekei direbut sebagai tempat tancapan Bakkae ri Soppeng. Direbutnya pula sebagai tempat tancapan Labolong dan Lapaidara (di daerah) Balosu. Adapun Maggalung menjadi tempat tancapan bagi Lombongnge Lompulle. Adapun Bakkae Mario ri Wawo merebut wilayah Keccae, sedangkan Lapaniki menjadikan Ciniayo sebagai tempat tancapannya, itu juga yang disebut Paranika.
070. Adapun Widappasae ri Citta, tidak memiliki tempat tancapan di Awang Segeri, sebab pabbicara berkata kepada Sulle Watang (bahwa), ada baiknya, wahai Sullewatang jikalau Widappasae dikibarkan/ ditancapkan di Segeri.
071. Berkata Sullewatangnge ri Citta, wahai Pabicara! janganlah hendaknya engkau perhatikan hal seperti itu. Apakah engkau menyangka akan mudah mengalahkan perlawanan Karaengnge?
072. Keesokan harinya, orang-orang Soppeng pun beranjak kebagian selatan sungai, namun mereka diserang oleh Karaengnge dibagian selatan sungai, namun mereka diserang oleh Karaengnge di bagian sebelah timur Mangkaca. Maka mereka pun melarikan diri dan bahwa musuh sudah berada di sebelah selatan sungai, wahai paduka.
073. Panaslah (hati) Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo maka tanpa memberitahukan kepada sesamanya orang Soppeng, dibawanya- lah Lapaccella, Labolong, Lapaidara melintasi batas wilayah bagian selatan pinggiran aliran sungai.
074. Keesokan harinya, bertarunglah Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo (melawan) Karaengnge ri Mangambei, Karaengnge ri Manise, serta Karaengnge ri Marrang. 52Bate, adalah kata/istilah bahasa daerah Bugis yang mempunyai beberapa pengertian, antara lain: bekas; tanda; jejak; Dalam naskah ini bate berarti tanda atau lambang kerajaan berupa bendera/ panji-panji. Menurut kebiasaan, setiap wilayah kerajaan, baik kerajaan pusat maupun kerajaan bawahan mempunyai bate khusus sebagai simbol/lambang. 3Tettongeng bate, ialah daerah tempat menancapkan dan mengibarkan bate. Biasanya tempat tersebut menjadi wilayah kekuasaan dari kerajaan yang menancapkan bate di atasnya.
- Pada waktu tengah hari tibalah Lombongnge ri Lompulle, Lapajjikki ri Belo, Bakka e ri Mario, Widappasa e ri Citta, dan Cellak-Cellak e ri Lisu.
- (Lasykar) orang Makassar pun takluklah. Karaeng Manise pun tewas terpenggal, berguguranlah para pengawalnya. Maka Karaengnge ri Mangambei pun melarikan diri.
panji-panji
077. Maka (darahnya) digunakan untuk men-cerak4
Bolongnge, Lapaidara. La Pacidda namanya orang yang berhasil memenggal saudara sesusuan Karaeng Manise, lebih empat puluh orang seluruhnya yang terpenggal.
- Hamba sahaya pengawal Arung Belo yang bernama La Nangnangnga memenggal Karaeng Manise. Tiga orang Soppeng Riaja yang melakukan pemenggalan⁵ bekerjasama dengan pengasuh Baginda Matinroe Ri Salassana (.. .) amanna Dalapi.
- Lebih sepuluh orang Marioriwawo dan Belo melakukan pemenggalan, sedangkan kedua belah tangan kemanakan Sullewatang Tobare ri Mario membawa jinjingan.
- Appanang pun merebut Kalukue, kemudian orang-orang Soppeng saling memisahkan diri bersama dengan panji-panji masing- masing, yaitu Bolongnge ri Lompulle, Widappasae ri Citta, Bakka e ri Mario, Lapajjikki ri Belo.
- Orang-orang Tanete pun merebut Balosu. Karaeng Marrang lalu disumpah oleh Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo di Pange- pange (di tempat) yang bernama Robangnge. Lasepatu pun diambil alih.
- Alameng pusaka dari Appanang pun dihunus, untuk penyedu tuak yang kemudian diminumkan kepada Karaeng Marrang, lalu dibawa ke Lolo, Kalukue.
- Ia mengangkat sumpah, bersedia hancur luluh, segenap turunan- nya takkan beroleh kebaikan jikalau ia berani menentang Soppeng. Dan Soppeng adalah bagaikan angin, sedangkan Karaeng Marrang bersama Tana Marrang, Lollo, dan Kaluku hanyalah bagaikan de- daunan. Datu Soppeng boleh berbuat sekehendak hatinya.
54men-cerak, adalah salah satu tradisi di daerah Bugis yang berarti pelumuran darah, baik
pada panji-panji kerajaan, maupun peralatan/senjata, peralatan pertanian, hewan, dan sebagainya. Pelumuran darah dalam pertempuran adalah menggunakan darah musuh yang terbunuh, namun saat ini digunakan darah binatang, termasuk darah ayam.
55Sesuai dengan zamannya, orang-orang dahulu berperang dengan menggunakan senjata
tajam, sehingga mereka yang berhasil memenggal batang leher musuh, dianggap pemberani sehingga namanya disebut-sebut dalam naskah lontarak.
- Maka hanya Karaeng Mangambeilah yang berhasil meninggalkan Mangkaca di waktu pagi hari. Dan di Papperang, berperanglah pula orang-orang Soppeng itu melawan Karaeng Labakkang.
- Saling menyerang sepanjang hari di pinggiran hutan. Peperangan berlangsung sampai malam hari, nanti setelah malam menjadi larut barulah para Pakaraeng itu kembali ke negerinya.
- Pada keesokan harinya, orang-orang Soppengpun tinggal mengaso di bagian selatan daerah Segeri, maka direbutnyalah Bontosunggu, Kaluku é (oleh) orang Tanete. Lapaidara, serta Labolong merebut Mangempang Riaja dan Mangempang Rilau, menyusur ke udik sepanjang pinggiran aliran sungai sampai ke Pitue.
La Panyanya merebut Talaka ke barat. Lapanyanya merebut pula Poppongalue, Balangnge, riattang salo-salo, bagian utara dan barat Latopeok. Tamat.
F. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN MULA DIADAKANNYA RAPANG BAGI BERU (dan) SOPPENG
56Inilah surek yang membicarakan mula dikenakannya rapang bagi Beru (dan) Soppeng setelah bobolnya Sombaopu, jatuhnya Gowa.
089.Yang disuruh ialah Arung Beru, Arung Cibalu, Suro Ale, Tau- Berkata Arumpone, pergilah nian engkau (untuk) membebaskan hambanya Daeng Mabela dari orang-orang Beru. Biarlah mereka ambil pajak tanahnya tiga puluh orang (.. .).
- Berkata raja Tanete, tidak diambil pajak bagi anak turunan bangsawan, orang baik-baik. Maka Arung Cabalu setuju dan merasa gembira, untuk tidak memajak para anak turunan bangsawan. Maka arung Cabalupun mengiakan/menyetujui peraturan/adat negeri itu.
- Berkatalah ia, itulah jalan tempat berpijak yang akan dilaluinya (namun) ia tidak singgah memberikan penyampaian dan langsung turun ke Liu.
- Maka Arung Cabalu tidak menyampaikan hal tersebut kepada para turunan bangsawan, Tau Tongengnge. Setelah Arung Cabalu mengangkat sumpah, maka kutanyakanlah keluarga yang diambil pajaknya.
6Rapang, adalah putusan; peraturan yang diadakan sesuai peristiwa yang sama pada masa
sebelumnya. 57Torisompae, gelar bagi Malampee Gemmekna yang berarti pula "orang yang disembah".
- Berkata Arung Cabalu, jikalau ia ingin menyerbu, jikalau orang-orang Beru mengiming-imingkannya, maka semuanya itu adalah orang Bone. Demikianlah sumpahnya Arung Cabalu.
- Dan tiada henti-hentinya orang-orang Beru itu berpesta pora. Maka (hal itu) disampaikan oleh Arung Tanete kepada Arumpone.
- Maka berkatalah Torisompae, saya tidak kehendaki mereka mengubah-ubah janji yang telah dibuat oleh Arung Cabalu.
- Maka diutuslah sang Gellareng La Sapara di Bone pergi ke Beru. Maka ia pun singgah di Tanete; mengingatkan Arung Tenete (perihal) pernyataan yang diikrarkan oleh Arung Cabalu.
- Maka berkatalah sang Arung di Tanete, kuingat jua kata yang dipesankan oleh Arung Cabalu sewaktu datang di Beru, sebagaimana pula yang disampaikannya kepada Arung Beru.
- Berkata sang Gellareng, tidak dikehendaki (ada) yang mengiming-imingkan (menentang; menyerang) Arumpone sesuai dengan perjanjian ArungCabalu. Maka Tana/negeri Beru harus mematuhinya di mana pun ia berada. Tamat.
G. INILAH YANG MEMBICARAKAN (tentang) PENYAMPAIAN BAGINDA MALAMPEE GEMMEKNA KEPADA SOPPENG UNTUK MENYERANG TAMBORA - Inilah yang membicarakan (tentang) titah Baginda Malampee Gemmekna kepada Soppeng untuk menyerang Tambora, sebab Arung Beru Riaja dimurkainya.
- Berkata Arumpone kepada Datu Soppeng. Berbicaralah kepada kerabatmu (yaitu) Arung Beru rilau, sebab saya tidak menyamakannya dengan Labakkang, Lambasa hanya karena Baginda Torisompae telah menyatakan (bahwa) budi baik Arung Beru itu tak terbalas.
- Istilah Bugis. Hanya aku tak sampai terpenggal di istanaku, sepeninggalmu, karena beliaulah dua beranak melindungiku di Soppeng. Tamat.
- Inilah kata (.. .) Arung Beru Rilau. Istilah Bugis. Pada Baginda di Soppeng serta kepada Tana Soppeng yang dititahkan kepada Toammeng (dan) Toapasau. Beru wahai Toammeng-Toapasu pada kerabatku Arung Beru Rilau.
58ke bawah, istilah ini menunjukkan, tempat yang dituju berada di suatu wilayah yang letak
geografisnya lebih rendah jika dibandingkan dengan tempat si-pembicara.
Istilah Bugis. Sebab Tanah/negeri kita berdekatan, tidak jauh
perkerabatannya.
- Adapun hubungan kekerabatan kita dengan Beru Rilau, istilah Bugis, adalah cukup dekat. Demikianlah ia tidak mungkin jauh/lepas dari diriku, asalkan kita sama mengingat pada kesepakatan/perjanjian pendahulu kita.
106. Sebab, dia itu wahai Toammeng-Toapasu tidak mungkin
bermaksud jahat, lebih-lebih saya takkan mungkin mempunyai niat tidak baik.Sebab yang aku pegang kuat-kuat sampai ke anak cucuku, karena dialah yang memberikan perlindungan kepada baginda raja sehingga lolos dari pemenggalan di dalam istananya (dan) menyelamat- kan penghuni Lamangile.
- Demikianlah wahai Toammeng-Toapasu, maka saya menunjuk- kan kepadanya perjanjian antara Bone Soppeng (yaitu) sama-sama berjalan, sama-sama mengayunkan tangan, sama derajat, sama berjalan di atas pematang (yang) berlekuk-lekuk (ataupun) pematang (yang) lurus. Berkelok-kelok atau lurus, itulah yang sama kita titi, sama mengandung niat baik bagi kedua belah pihak.
- Itulah yang kami genggam sekuat-kuatnya. Kecuali apabila air bah memisahkannya maka barulah keduanya saling memerangi.
- Maka Arung Beru Rilau-pun menghunus keris lalu berkata (istilah Bugis): lihatlah wahai Toammeng (dan) Toa Ujung. Aku rela mati terpenggal manakala aku ternyata mengkhianati Tanah Bone (dan) Soppeng59. Sedangkan di saat Karaengnge menaklukanmu aku tidak tega meninggalkannya. Maka patutkah kiranya jikalau engkau mengingatkan aku tentang perkerabatanku (dengan)nya?. Tamat.
- Inilah surek yang membicarakan pembicaraan Torisompae, Malampee Gemmekna (dan) Arung Cabalu.
- Berkata Malampee Gemmekna. Saya kira wahai Arung Cabalu belum sempurna pertempuran kita dengan Karaengnge!
112.Menurut hamba, wahai paduka (raja), kita belum mendapatkan restu sang dewata apabila kita telah berhadapan dengan Karaengnge! - Maka itulahsebabnya, wahai paduka! sehingga hamba menyaran- kan agar paduka bermusyawarah dengan kerabat kita orang-orang Soppeng, untuk mengambil kata sepakat dengan mereka yang 59Sebuah ikrar; janji setia yang mengandung pengertian identik dengan pepatah (bahasa Indonesia) yang berbunyi: Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.
menyertai paduka dalam perantauan ke Tanah Jawa. Hamba tidak dapat berkata apapun, sebab dua tiga orang yang menyertai paduka (ketika) terbang menyeberang ke Jawa, untuk mencari kebaikan.
- Sebab adapun kerabat kita orang-orang Bone yang menamakan dirinya sebagai pembela/pahlawan di Tanah Bone, semua sudah takut. Ada baiknya kalau mereka mau percaya atas kemampuan paduka mengatasi kekuatan Karaengnge.
- Berkata Baginda Malampee Gemmekna. Memang itulah ke- inginanku wahai Arung Cabalu. Namun engkau sudah lebih dahulu mengatakannya. Akan tetapi sedapat mungkin engkau pergi ke Soppeng, sebab saya khawatir jangan sampai kakanda Arung Appanang, kemanakanda Arung Bila, sanak kerabatku orang Soppeng seluruhnya, menyangka aku tidak ingat lagi perjanjian kami sebelum bersama-sama terbang ke Jawa.
- Bukankah kita harus konsekwen, wahai Arung Cabalu pada kata sepakat (antara) Bone-Soppeng yang telah dibawa/dibuat oleh Toballa di Atapang, dengan ucapannya kepada datu dan Tanah Soppeng "kita kokoh-kuatkan persaudaraan Tanah Bone Tanah Soppeng, seiring sejalan dengan persaksian dewata yang di atas dan dewata yang di bawah. Kita singkapkan kain (sarung) sampai ke lutut60, kita songsong Karaengnge dengan senjata, kita seia sekata dalam keburukan seia sekata dalam kebaikan".
- Lagi pula wahai Arung Cabalu (kita tidak melupakan) ikrar yang diucapkan Toballa (bahwa) "Takkan beroleh kebaikan apapun Tanah Bone dan orang-orang Bone manakala Soppeng dikhianati oleh Bone". Itulah yang dipegang oleh Soppeng ikrar (janji setia) Bone yang dipersaksikan kepada sang dewata.
- Namun setelah Toballa tewas/terpenggal, maka semua pihak yang membanggakan diri sebagai pahlawan yang siap berkurban demi sirik61nya Bone ternyata ingkar janji.
- Maka kamilah orang-orang Soppeng yang bersepakat untuk bersama-sama melakukan perantauan, dengan membawa harta kekayaan Tanah Soppeng sebagai bekal dalam rangka usaha mencari bantuan/pendukung, untuk menghadapi kekuatan lasykar Karaengnge. Akan tetapi (.. .) wahai Arung Cabalu.
Istilah tsb. identik dengan ungkapan bahasa ladonesia "menyingsingkan lengan baju".
61Sirik, berarti malu; martabat; eksistensi manusia menurut konsepsi budaya yang didukung masyarakat Sulawesi Selatan.
- Dialah yang mampu melawannya, maka kami pun telah tiba kembali (dari perantauan). Keesokan harinya, pada malam kedua maka berangkatlah orang-orang Soppeng bersama Arung to Angke Tamat.
H. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN BERANGKAT-NYA KE BARAT62ARUNG APPANANG, ARUNG BILA, ARUNG BELO SEKEMBALINYA DARITIWORO - Maka tiga malam sekembalinya dari Tiworo segenap orang-orang Soppeng bersama Arung To Angke, berkatalah Arung Appanang kepada Malampee Gammekna, saya akan ke Soppeng, untuk mengumpulkan orang-orang Soppeng yang cerai-berai agar turut menyertai kita lao Su63
- Berkata Malampee Gemmekna. Sebaiknya kalian pergi bertiga, biarlah saya di sini untuk mengetahui orang-orang. Bone yang mau menyertai. Orang Bone yang bersiap sedia turut berperang, menyerang Gowa, menentang Karaengnge.
123. Maka ketiganya pun berangkat kebarat64. Keesokan harinya
mereka pun bermalam di Goa-Goa, datang pulalah orang-orang Soppeng. Orang -orang Soppeng itu berdatangan dari barat.
- Mereka menyampaikan kepada Arung Belo (dan) Arung Appanang, orang-orang Sawitto sedang berada di Mesjid Soppeng, wahai paduka.
- Mereka pun makan siang di Paroto bagian sebelah barat sungai, mengistirahatkan pasukan mereka bertiga. Setelah ketiganya selesai makan siang, mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah barat. Mereka sudah tiba di Appang ketika matahari tenggelam (di ufuk barat).
- Mereka langsung menyusuri pinggiran sungai ke barat, lalu bermalam di (daerah) Mangkuttu.
- Pada waktu dinihari telah tiba, mereka pun beranjak memasuki wilayah Soppeng. Didudukinya daerah bagian timur, lalu membagi diri menjadi tiga (kelompok).
- Arung Belo pergi ke bagian utara Malaka, menduduki Cempae, dalam keadaan siap-tempur menghadapi lasykar Sawitto.
62 Surek ini bertalian dengan sejarah perjalanan Arung Appanang, dkk. setibanya kembali di
Pattiro bersama Arung Palakka, kembali dari Jawa melalui Tiworo. Dari Pattiro, Arung Appanang. dkk. berangkat ke daerah Soppeng yang terletak pada bagian sebelah barat daerah Pattiro. 63 Lao Su, lihat (foot note) Nomor 29. 64Maksudnya pergi ke daerah Soppeng.
- Arung Appanang menduduki Tanete dalam keadaan siap siaga. Arung Bila masuk ke dalam (pusat kota) Soppeng Rilau.
- Ketika malam telah larut, dipilihnyalah sebanyak tiga puluh orang lasykar menuju ke mesjid.
- Ketika fajar menyingsing (di ufuk timur) mereka tiba di depan pintu mesjid. Berkatalah mereka, jangan kalian merasa kaget wahai sesama abdi. Bukakan pintu. Kami adalah abdi, utusan yang (bertugas) menyampaikan panggilan bagi orang Sawitto. Sesudah itu mereka pun bergegas turun (dari depan pintu mesjid).
- Maka lasykar yang bertugas menjaga di pintu mesjid pun membukakan pintu mesjid itu, tiba-tiba ditikamnya satu persatu lasykar orang Sawitto tersebut.
- Mereka pun terbangun dalam keadaan gempar, jatuh bangun saling menindih, berebutan melarikan diri sambil mengikatkan tali celananya (.. .). Tidak ada seorang pun yang tinggal, melupakan peralatan perang mereka yang tertinggal di dalam mesjid.
- Kalaupun Sullewatang Sawitto tidak sampai terpenggal, maka penyebabnya hanya karena ia cepat-cepat mengambil langkah seribu, melarikan diri menyusuri kampung ke barat.
- Maka ributlah Arung Bila di pasar Soppeng, pengawal/ pendukung Toballa yang siap bertarung di dalam negeri Soppeng.
- Maka orang-orang Sawitto pun melarikan diri. Ada (di antaranya) menyeberang antara Belo dan Appanang, sambil melarikan diri di bagian utara perkampungan. Dilewatinya areal persawahan.
- Mereka pun dikepung oleh (pasukan) Arung Belo dan pasukan Arung Appanang. Langkah-langkah mereka pun tertahan oleh (kekuatan lasykar) pasukan Arung Belo dan Arung Appanang, sampai mereka tersusul dan dipenggal di bagian barat daerah Tinco.
Setelah mencapai daerah di bagian barat Tinco, maka barulah lasykar orang Soppeng kembali mengamuk di kompleks pasar Soppeng. Genggaman tangan dan bekas tangan mengandung arti kiasan, khusus bertalian dengan peristiwa peperangan yang terjadi di zaman kerajaan lokal. Genggaman tangan berarti hasil jerih payah yang diperolah dari pihak musuh berupa pampasan perang, sedangkan bekas tangan berarti pampasan perang berupa pengambil alihan wilayah taklukan. Dalam konteks pengertian ini, pihak Soppeng hanya bersedia turut mengambil bagian dalam penyerangan ke Gowa apabila ada jaminan bahwa pihak Bone yang merupakan sekutunya tidak akan merampas segala pampasan perang maupun wilayah kerajaan Gowa yang nantinya diambi alih oleh Soppeng sebagai wilayah taklukan.
Lebih seratus kepala lasykar yang mengamuk (membangkitkan semangat peperangan)di hadapan Arung Bila di Bulue, menyeru kepada segenap orang Soppeng yang tidak diasingkan ke Gowa.
- Kembalilah ke timur, ke Pattiro Arung Appanang, Arung Bila, Arung belo.
- Keesokan harinya, mereka pun tinggal selama tiga malam di Goa-Goa menantikan kedatangan lasykar orang-orang Soppeng.
- Berkatalah Arung Bila, Arung Belo, Arung Appanang, ada baiknya jikalau kita menyampaikan kepada Malampee Gemmekna, kelak apabila kita tiba di Pattiro.
- Agar beliau menyampaikan kepada segenap Arung To Bone, yang sempat hadir di Pattiro. Jikalau itu jugalah (.. .), mereka tidak "mencampakkan genggaman tangan kita, tidak memukul lengan kita"65, maka kami bersiap-sedia turut menyertai baginda raja Soppeng, agar diketahui keperkasaannya sampai kepada anak-cucu kita kelak.
- Jikalau permintaan kita tidak disetujui oleh orang Bone itu, maka kami hanya ingin tinggal berdiam diri di Soppeng. Saya tak sanggup lagi pergi jauh6
- Berkata Arung Appanang. Saya pun berpandangan demikian. Tetapi sebaiknya engkaulah yang menyampaikannya kepada Malampee Gemmekna, sebab engkau berdua lebih dekat (kepada beliau).
- Akan tetapi jikalau pernyataan kita tidak disetujui oleh orang-orang Bone, maka kita segera kita kembali ke Soppeng. Apapun yang ditakdirkan sang dewata. Bagaimanapun juga negeri Soppeng akan mengalami kehancuran. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke timur.
- Pada keesokan harinya, mereka pun tiba di Pattiro. Bulan baru pun mulai terbit 67.
148. Diadakanlah pertemuan antara Arung Appanang, Arung Bila
(dan) Arung Belo, lalu berkatalah mereka: kami semua sudah datang/kembali dari Soppeng wahai paduka! Kami (telah) mengusir lasykar orang Sawitto dari mesjid Soppeng.
- Berkata Arung Appanang kepada Malampee Gemmekna: kami memasuki Soppeng di bagian barat Appang pada waktu malam hari. Lasykar orang Sawitto sudah berada di dalam mesjid Soppeng.
ergi jauh, berarti bepergian ke tempat yang jauh dari daerah atau negerí asal, namun
dalam naskah iņi istilah tersebut berarti pergi ke negeri-negeri yang dikuasai kerajaan Gowa, seperti Barru sampai ke Lamatti dan Bulo-Bulo. 67Bulan baru mulai terbit, maksudnya awal bulan.
- Nanti pada waktu dini hari baru kami menyerbu ke mesjid, sekitar waktu menjelang fajar, lalu kami berperang. Lasykar orang Soppeng mengejar dan membasmi mereka di daerah bagian barat Tinco. Tidak kurang dari dua ribu orang Soppeng mengejar-ngejarnya.
- Berkata Malampee Gemmekna kepada Arung Bila. Masih adakah orang yang engkau tinggalkan dalam lembah di Soppeng?
- Berkata Arung Bila. Tidak ada lagi, wahai paduka! Hanya rusa dan bawi saja yang masih tinggal di luar perkampungan.
- Maka tertunduklah sang baginda, sambil meneteskan air mata, mengenangkan saat-saat beliau dikhianati oleh orang-orang Bone, sehingga ia terbang ke Jawa.
- Berkata Malampee Gemmekna: bagaimana kira-kira pendapatmu kalau kita menyatukan diri ke selatan. Mampukah kiranya kita mencapai Binamo, sehingga kita menyerang Gowa dari arah selatan, sementara kapal Belanda itu menyusuri wilayah lautan ke bawah, tempat kita berlabuhpun lebih dekat.
- Berkata Arung Bila: bermufakatlah lebih dahulu, wahai paduka dengan segenap Arung to Bone. Apakah gerangan mereka masih ingat akan isi perjanjian yang dibawakan oleh Toballa di Atapang, ketika Bone memohonkan bantuan dari datu Soppeng beserta negeri Soppeng.
- Kalau mereka masih mengingatnya wahai paduka, maka biarlah kita mengajaknya membuat perjanjian, mengambil kata sepakat, menurut keinginan bersama. Sebab kami khawatir akan terjadinya pula pengkhianatan, apalagi segenap orang-orang Bone sudah tunduk kepada Karaengnge di Gowa.
- Berkata Malampee Gemmekna kepada Arung Cabalu: sampaikan kepada seluruh wilayah kekuasaan Bone Barat dan Timur, Bone Tengah, demikian pula Lalebbata, hingga kepada segenap pihak yang berada di Pattiro. Apakah mereka masih ingat akan perjanjian yang dicetuskan oleh Toballa di Atapang, ketika beliau memohonkan kebaikan/dukungan dari baginda di Soppeng, kakanda Arung Bila Amanna Wedima, serta segenap negeri Soppeng.
Pergilah Arung Cabalu berunding dengan pihak Arung to Bone. Berkatalah Arung Cabalu. Saya dititahkan oleh baginda, Malampee Gemmekna (untuk menyampaikan bahwa) apakah wilayah kekuasaan Bone barat dan timur, Bone tengah di Lalebbata masih ingat akan perjanjian yang dicetuskan (oleh) Toballa di Atapang.
Di mana pihak orang Bone mengharapkan bantuan/dukungan dari baginda datu Soppeng serta Arung Bila, Amanna Wedima di samping seluruh negeri di Soppeng.
- Beliau titahkan pula kepadaku (untuk meminta) pernyataan keteguhan hatimu, untuk menyerang Gowa, sumpah setiamu di dalam perlawanan menentang Karaengnge.
- Berkatalah Bone Tengah, timur, barat dan wilayah Lalebbata: kami tidak pernah mengharapkan restu dari sang dewata untuk mengikari perjanjian yang dibuat Toballa di Atapang, serta melupakan segenap perjanjian antara Bone – Soppeng menurut kata mufakat (baginda) Malampee Gemmekna dengan kerabat kita dari Soppeng (yaitu) Perjanjian Atapang.
- Apapun juga titah junjungan kita dalam rangka mengukuhkan perjanjian antara Bone – Soppeng di Atapang itu, maka kami taat dan mematuhinya.
- Berkata pula Arung Cabalu. Apakah kalian tidak akan berlaku khianat kepada junjungan kita Malampee Gemmekna, demikian pula terhadap kerabatmu dari Soppeng (dan) para Arung dari Angke. Kalian tidak mempunyai fikiran bercabang. Sebab yang dikhawatirkan oleh segenap kaum kerabat kalian yang berasal dari Soppeng serta Arung dari Angke (ialah) jangan sampai mereka dikhianati kembali.
- Berkata pula orang-orang Bone itu: Itulah kesepakatan kami, yaitu memohonkan kepada sang dewata (untuk) tidak mengulangi kembali perbuatan seperti halnya yang telah menyebabkan Malampee Gemmekna terbang ke Jawa.
- Barulah Arung Cabalu naik kembali ke istana di Pattiro, menghadap kepada baginda Malampee Gemmekna, untuk menyampaikan hasil kesepakatan pihak Bone.
166. Berkata Arung Cabalu, menyampaikan hasil kesepakatan
segenap pihak Bone kepada baginda Malampee Gemmekna. Berkatalah Arung Cabalu kepada junjungan kita: Inilah putusan kata segenap pihak orang Bone, yang mereka sepakati bersama.
Padukalah yang mengingatkan Bone, untuk menyampaikan kepada sanak kerabat kita dari Soppeng beserta para Arung – to Angke. Maka apapun yang dipandang oleh paduka dapat mengokohkan perjanjian yang diikrarkan oleh Toballa di Atapang, itu pulalah yang kupegang kuat-kuat.
Berkatalah baginda Malampee Gemmekna: Itulah yang kami pegang kuat-kuat bagi kami orang-orang Soppeng yang berasal dari Angke. Itu pulalah yang disaksikan oleh sang dewata, wahai Arung Cabalu, putusan katanya Bone yang masih tetap menaatiperjanjian yang dibawakan oleh Toballa di Atapang. Ketidak lupaannya dari ikrar dan janji setia orang Soppeng di Atapang.
- Memang demikianlah halnya wahai Arung Cabalu, saya jualah yang bersepakat dengan orang Soppeng untuk meninggalkan Tanah Bugis. Toballalah yang bersepakat dengan baginda datu Soppeng, menyeru berulangkali kepada Arung Matowa Wajo bersama segenap persaudaraan Tri aliansi Tellumpoccoe Bone – Wajo dan Soppeng, untuk menghadapi (serangan) pihak Karaengnge.
170.Namun orang-orang Wajo tidak sudi, bahkan mereka memberi- kan bantuan/dukungan kepada Karaengnge dan mengkhianati kita orang-orang Bone, sehingga kami kewalahan dalam menghadapi kekuatan Karaengnge di Gowa. Maka kami pun berlayar ke Jawa. - Keesokan harinya, dikibarkanlah segenap panji-panji kerajaan dari masing-masing wilayah kekuasaan Bone khusus bagi mereka yang turut hadir di Pattiro, menghadap kepada Malampee Gemmekna. Dikembangkan pulalah Pajumpulawengnge berdampingan dengan Bakka e.
- Maka bersepakatlah para Arung To Bone dan Arung To Soppeng serta Arung To Angke, kemudian saling menyajikan tuak/arak, lalu saling berjanji dan mengucapkan ikrar di bawah kesaksian dewata seuwae.
- Berkatalah junjungan kita Malampee Gemmekna, setelah menimbuni batu (pihak) Arung Appanang, Arung-arung dari Soppeng serta para Arung dan orang-orang Soppeng yang datang dari Angke: perbaharuilah wahai kakanda! kukuhkanlah kesepakatan kita selagi kita berada di seberang lautan (yaitu) di Angke melanglang buanà, namun sang dewata telah memberi rahmat sehingga kita sempat berada kembali di Tanah Bugis dalam keadaan baik-baik.
Lamumpatue r Tmurung, adalah nama perjanjian politik antara tiga kerajaan lokal yang
pernah membuat "Tri Aliansi" yaitu Bone, Wajo dan Soppeng. Pada umumnya perjanjian seperti ini dipersaksikan kepada sang dewata, sambil menjatuhkan batu ke suatu lubang/tempat tertentu sebagai tanda resminya perjanjian bersangkutan. Demikianlah maka perjanjian antara kerajaan disebut pula mallamumpatu (penanaman batu).
- Dapatlah kita membagi dua perjalanan. Orang-orang Soppeng bersama seluruh perkerabatannya lao Su di Beru Riaja, menghubungi kerabat kita Arung Tanete, kemudian menyusur ke daerah bagian bawah.
175. Berkata Arung Appanang: Kesepakatan manalah yang
diperbaharui?. Berkata Malampee Gemmekna: Tidak lain adalah kata sepakat sewaktu kita di Angke, bahwa "jikalau sang dewata merestui sehingga kita kembali ke Tanah Bugis (untuk) mengangkat senjata melawan Karaengnge, mengatasi kekuatan Karaengnge, apalagi kalau beroleh kemenangan, takkan dibuka genggaman tangan kita, takkan dipukul lengan kita, semampu kita, semau kita yang datang dari Angke sampai ke sepupu-tiga kali.
- Berkata Arung Appanang, Arung Belo, Arung Bila: sekali Paduka berkata, maka dua-tiga kali kami mengiakannya. Itulah pula yang kupegang erat-erat, ucapan katamu.
- Sebab, jikalau sang dewata belum juga mengabulkan keinginan kita untuk mengambil alih/merebut kembali wilayah dominasi Karaengnge, kami pun tidak mungkin turut serta. Kami tidak bakal jatuh, tidak pula bagi orang Soppeng seluruhnya. Sedangkan datu Soppeng anak-beranak sudah habis pula diasingkan ke Sanrangan.
- Berkata Arung Bila kepada Malampee Gemmekna: Sekiranya bukanlah orang-orang Bone yang memohonkan kebaikan bagi paduka, berdua (dengan) kakanda paduka yang melahirkan hamba, maka paduka takkan membawa emasnya negerimu di Soppeng sebagai bekal dalam pelayaran. Namun bone telah menyatakan: (bahwa) tidak ada yang di bawah/rendah, tidak ada yang di atas/lebih tinggi, marilah kita memberikan perlawanan kepada Karaengnge.
- Mari kita saling mencarikan kebaikan. Adapun kalau kita berhasil mengalahkan Karaengnge, kita sama menguasai hak/milik masing- masing. Kita tidak saling menyianyiakan.
- Itulah yang kupegang erat-erat, demikian pula negerimu di Soppeng. Itu pulalah yang bakal diwariskan kepada generasi pelanjut di kemudian hari.
- Setelah selesai ucapan Arung Bila, barulah ia berikrar, sambil memuji diri (bahwa): Lihatlah kelak kesatria nan tak kenal mundur dari kepungan (musuh) di medan perang. Apakah saya mati terpenggal dalam peperangan ataukah saya tetap hidup, itu tiada lain wahai Paduka! hanyalah karena kerabatku orang-orang Bone tetap
mengenang kata sepakat yang diikrarkan (oleh) Toballa di Atapang. Selagi beliau masih hiduppun kami siap mengorbankan nyawa, apalagi beliau sudah tiada!
- Arung Appanang pun meloncat (ke depan) dan mengamuk sambil mengucapkan ikrar, sebagaimana ungkapan kata yang di- ucapkan (oleh) Arung Bila. Meloncatlah sambil mengamuk, Arung Belo yang bernama Tosaddeng. Itu pula yang diikrarkan, perihal kesadaran mereka akan kebaikan negeri Soppeng, serta baginda datu Soppeng. Demikian pula Arung Bila di Soppeng Riaja. Tamat.
I. RINCIAN KETURUNANBAGINDA RAJA YANG BERDAULAT - Bukanlah kedurhakaan bagiku (karena) merincikan turunan Baginda Raja berdaulat. Latemmamala namanya sang Manurung di Sekkanynyili. Beliau pulalah datu di SoppengRiaja. Beliaulah yang menikah dengan We Mapupu, lahirlah La Maracinna.
- La Maracinna beristeri di Suppa, menikah dengan We Patawari, lahirlah Lamba.
- Lamba beristeri di Balosu, menikah dengan Pattimanratu, lahirlah We Takkewanuwa.
- We Takkewanuwa bersuami di Leworeng, menikah dengan Arung Leworeng yang bernama La Temmapeo. Saudara lelakinya La Kanradu. Lahirlah La Wadeng. Lahirlah Makkanengnga. Lahirlah La Dumola. Lahirlah La Tumbeng. Lahirlah We Baku. Lahirlah Tenritabbire. Enam orang bersaudara seibu seayah. Empat orang lelaki. Dua orang perempuan.
187. La Makkanengnga datu di Soppeng Riaja. Tenritabbirelah
bersuami di Baringeng. Menikah dengan La Panyorongi. Lahirlah Tenrilele. Lahirlah La Terengang. Lahirlah La Tessepala. Lahirlah Lakarakkeng. Lahirlah We Linrotaji. Lahirlah Datemata.
- La Makkanengnga beristeri di Bulu Matanre. Menikah dengan We Tellang, lahirlah La Karella.
La Karella beristeri di Bila. Menikah dengan sepupu sekalinya yang bernama We Bollosugi. Lahirlah La Wedda. Lahirlah La Wiseang. Lahirlah La Matagina. Lahirlah Tanraure. Lahirlah We Bao. Lahirlah We Bulutana. Lahirlah Tenripalesse.
La Pawiseang menikah dengan We Temmupage di Pising. Lahirlah La Pasampoi. Dia bernama pula Sorompolic. Lahirlah La Panyorongi. Lahirlah La Patau. Lahirlah La Warani. Lahirlah We Takkelopi. Lahirlah We Tampucina.
- La Pasampoi beristeri di Baringeng. Menikah dengan We Tampatana. Dawiri nama kecilnya. Lahirlah La Mannusa. Toak karengngé nama panggilannya. Dia pulalah yang bernama Matinroe ri Tanana. Tiga orang bersaudara se-ibu se-bapak.
- Matinroe Ri Tanana La Mannusa menikah dengan sepupu-sekalinya yang bernama We Takkelopi. Lahirlah Ladde. Lahirlah Lacok.
- La Wadeng menikah dengan We Lulu. Lahirlah La Pasajo. Lahirlah La Galumpang. Lahirlah We Bollosugi. Lahirlah Tenri Sampureng.
- We Bollosugilah menikah dengan sepupu sekalinya yang bernama La Karella. Lahirlah La Makkanengnga.
- La Maggalumpang menikah dengan We Cakkewanua di Baringeng. Lahirlah La Pasoreang. Lahirlah We Lulu. Lahirlah We Benrigau.
- We Wulu menikah dengan La Paccikkeng di Soppeng Rilau. Lahirlah La Pottobune. Lahirlah La Padangkang. Lahirlah La Pammase.
- La Pottobune menikah dengan We Takkelopi. Lahirlah We Temmagumpa. Lalu menikah dengan sepupu sekalinya (yaitu) La Mannusa. Lahirlah Ladde. Lahirlah Lacok.
- Ladde beristeri di Mario Riawa, menikah dengan Temmabuleng. Lahirlah La Sekati. Tosawammegga nama kecilnya. Ia bernama pula Mallajangnge ri Asseleng. Lahirlah La Mataesso. Dia pula yang dinamakan Puwang Lipue. Lahirlah La Wale. Dia pula yang bernama Massanraupe. Lahirlah La Paremma. Lahirlah La Topateddungi. Dacama nama kecilnya.
- La Sekkati beristeri di Lompengeng. Menikah dengan We Soda. Darie nama kecilnya. Lahirlah La Makkateru. Topeo nama kecilnya. Lahirlah Tenrisamareng. Dia pula bergelat Matteddung 'mpulawengnge. Lahirlah La Malalae. Lahirlah La Mapulu.
We Cama bersuami di Ajampulu. Menikah dengan Karaengloe Dia pula yang bernama La Sangaji. Lahirlah La Saliwu.
La Makkateru beristeri di Bila, menikah dengan We Tenri Suke. Lahirlah La Pababbari. Lahirlah La Temmu.
- Pollipue beristeri di Ganra, menikah dengan Tenriuniang Lahirlah La Mappaleppe. Ia disebut pula Patolae. Lahirlah We Paweppe. Lahirlah We Mappamadeng.
- We Mappaweppek-lah bersuami di Mario Riawa, menikah dengan Lapage. Lahirlah La Mappalalae. Lahirlah La Panaungi. Lahirlah La Pateddungi.
- Tellarie-lah menikah dengan La Sape. Lahirlah Temmatino Daoke nama kecilnya. Lahirlah We Makkunraiselli.
- We Makkunraiselli bersuami di Citta, menikah dengan Topeo. Lahirlah We Tenrijeka.
- We Tenrijeka bersuami di Panciro, menikah dengan Mapae. Lahirlah La Tenrisolong.
- We Tenrisolong bersuami di Bila, menikah dengan Toipa. Lahirlah La Musu. Lahirlah Tokessing. Lahirlah To Toppuang. Lahirlah Rajamulia. Dalalac nama kecilnya. Empat orang bersaudara seibu sebapak. Patolae Datu di Soppeng. Tellari edatu di Ganra.
- We Paweppek-lah bersuami di Saogenne/La Pangideng Arung di Salotungo, putera mahkota/pewaris Sao Lampe pula. Dia juga sang Pangepak di Soppeng, alias Malampee janggokna.
- Patolae beristeri di Pattojo, menikah sesama sepupusekali yang bernama We Tessiewa. Lahirlah We Panyai. Lahirlah Beowe. Lahirlah We Tenrigella.
- Beowe datu di Soppeng, dan tidak mempunyai anak.
- Saudara perempuannya Beowe yang bernama We Tenrigella bersuami di Mampu, menikah dengan baginda Arung Mampu, yang bernama To Addussila. La Tenribali nama kecilnya. Dialah juga yang bernama Matinroe ri Adatunna.
- La Tenribali beristeri di Wana, menikah dengan We Bulu. Dasajo nama kecilnya. Lahirlah Tenrikaware. Dia juga bergelar Macellak é Kanukunna69. Lahirlah We Adang. Dia pula yang bergelar Matinroe ri Madello. Lahirlah Toesa, yang bergelar pula Matinroe Ri Salassana.
69Macellak é Kanukunna, adalah nama gelaran/panggilan puteri dari raja Soppeng yang
bernama Latenribali dengan nama/gelar anumerta "Matinroe ri Adatunna". Nama/gelaran "Macelak e Kanukunna" berarti si merah kuku sedangkan gelar anumerta Matinroe ri Adatunna, berarti: yang tidur/dikuburkan di kedatuannya.
J. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN KEPERGIAN-NYA KE LISU ARUNG BILA ARUNG APPANANG ARUNG BELO
213. Inilah surek yang membicarakan bepergiannya ke Lisu Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo, Tosaddeng namanya, memegang tampuk pemerintahan di Lompo Riaja (untuk) berunding dengan (pihak) Tanete. Apakah engkau masih ingat Soppeng Su Tanete pola71? Kalau engkau tetap mengingatnya, ayolah kita berangkat! sebab kami sudah akan menyerang Karaengnge di Gowa.
215. Sekalipun engkau hanya tinggal berdiri, kuanggap engkau sudah membantuku, apalagi jikalau kita bersama-sama.
216. Saya dititahkan pula oleh Malampee Gemmekna (untuk) tetap saling mencarikan kebaikan dengan pihak Tanete, tidak saling mencarikan keburukan, sebab tiada mungkin terbalas budi baiknya yang telah melepaskan diriku di malam hari, meninggalkan (daerah) Maruwala.
217. Lalu berkata Arung Tanete yang bernama Daeng Pattinring yang bergelar Paggajongnge "Saya tetap mengingatnya, seajing Soppeng Su Tanete Pole.
218. Namun kami mohonkan, kiranya wilayah kekuasaan kami dibebaskan dari ikatan perjanjian terhadap pihak orang Gowa beserta Karaengnge.
219. Ketika matahari tenggelam, datanglah Pabbicaranya Arung Tanete di malam hari, bertemu dengan Arung Bila. Arung Appanang. Arung Belo.
220. Berkata sang Pabbicara di Tanete: yang dititahkan kerabatmu di Tanete (ialah) kita berperang, besok pagi-pagi.
221. Inilah surek yang membicarakan ketika orang Soppeng pergi ke Su, lalu menyerbu ke Balosu.
222. Maka belasan malam sepulangnya orang-orang Soppeng dari Tanete, mereka pun menyerang Balosu.
0Seajing, artinya kerabat; keluarga; saudara. Istilah tersebut digunakan oleh orang Bugis di
zaman kerajaan, untuk menyebut raja dan kerajaan lain yang terjaring dalam perjanjian persaudaraan/perkerabatan.
71Soppeng Su Tanete pole, adalah bunyi perjanjian yang dükrarkan antara pihak Soppeng
dan Tanete ketika keduanya bersepakat membuat ikatan persaudaraan antar kerajáan.
- Berkibarlah Lapanyanya di Madello, lalu bergerak ke bagian sebelah utara Ceppaga dan mempersiapkan senjata, untuk menyerang Nepo.
- Arung Nepo pun keluar sambil menggendong keris pusakanya, menemui seluruh lasykar Soppeng.
- Berkata Arung Bila. Arung Appanang. Arung Belo, sekiranya engkau, wahai Nepo! masih ingat (tentang) akke ina-mu akke ama mu ri Soppeng2, marilah kita (bersama-sama) menyerang Gowa. Kita lawan Karaengnge!
- Berkata Arung Nepo, syukurlah paduka masih ingat adekku ri Soppeng. Berangkatlah lebih dahulu, nanti belakangan hamba menyusul bersama dengan Suppa.
- Setelah selesai pembicaraan Nepo-Arung Bila. Arung Appanang. Arung Belo, Lapanyanya pun sudah berdiri tegak di bagian sebelah utara Bulu Alipeng, Tanete (untuk) melakukan pembicaraan dengan pihak Beru.
- Adapun orang Beru, sudah berada di Sawitto bagian selatan Malotong, menyusun benteng pertahanan dari timur ke barat, bersiap siaga untuk berperang dengan Arung Appanang.
- Berkata Arung Appanang. Arung Belo. Arung Bila, hai seajing! masih ingatkah engkau (bahwa) Soppeng Su Beru pole? Kalau kalian masih ingat, ayohlah kita berangkat, sebab saya sudah akan menyerang Gowa, melawan Karaengnge. Kendati engkau hanya berdiri tegak saja, sudah kuhitung (bahwa) engkau telah menyertaiku.
- Berkata Arung Beru Riaja, istilah Bugis. Aku tidak melupakan- nya, seajing! Beru pole Soppeng Su, namun belum ada jalan bagiku untuk meninggalkan Gowa maupun Karaengnge.
- Maka berperanglah lasykar orang Soppeng. Sudah ada anggota lasykar Soppeng meninggal, ada pula orang Beru yang meninggal. Tujuh orang Soppeng dan orang Balosu (dan) sembilan orang Beru yang gugur sepanjang hari itu.
- Datanglah utusan Gowa membawa pesan (bahwa) Wahai Beru! Selamatkanlah dirimu. Sebab indukmu di Gowa tidak mampu lagi 72Akke-ina mu akke-ama mu ri Soppeng, adalah perjanjian kenegaraan antara Soppeng dan Nepo yang menyatakan bahwa pi Soppeng adalah bagaikan ibu-bapak bagi Nepo. Perjanjian ini sekaligus merupakan ikrar pemerintah kerajaan Nepo, sebagai pernyataan takluk di bawah kekuasaan kerajaan Soppeng di zaman lampau.
tiba di Bantaeng. Walaupun Tanete, sudah kuberikan putusan kata, namun engkau tidak termasuk di dalamnya.
- Berkatalah Arung Beru Riaja. Istilah Bugis. Bagaimanalah pandangan kalian wahai orang-orang Beru. Pikiranku sudah bingung (.. .) Karaengnge.
- Keesokan harinya. Sudah banyak orang Soppeng yang menyeberang ke Malotong, di muara (sungai) daerah Takkalasi. Orang Beru pun mengaku kalah. Istilah Bugis.
235.Bergegaslah Arung Beru Rilau, pagi hari itu membawa Larewo ke bawah (naungan panji-panji) Lapanyanya, sambil berkata di hadapan Arung Appanang (dan) Arung Bila. - Kami sudah menghendaki kebaikan/perdamaian. Kami tidak lagi menginginkan keburukan/perselisihan. Kami sudah menghendaki kehidupan. Kami tidak lagi menginginkan kematian. Hakami senantiasa
- Berkatalah Arung Bila. Arung Appanang. Yang dipegang erat- erat oleh pihak Soppeng, ialah putusan katamu yang disaksikan oleh sang dewata seuwae. Kerelaanmu turut serta bersama Soppeng dalam kesusahan untuk menyerang Gowa, menghadapi Karaengnge.
- Adapun Arung Beru Riaja, biarlah kuberitahukan (kepada) Malampee Gemmekna serta Admiral Speelman. Tergantung dari ke- sepakatan bersama, sebab kami bertiga yang datang dari Jawa.
- Berkata Arung Beru Rilau é (istilah Bugis), sudah ada pula dalam genggaman tanganku.
- Berkata Arung Bila. Arung Appanang: Hal itu sudah
- Istilah Bugis, Sekiranya sang dewata merestui kita untuk merebut wilayah kekuasaan Karaengnge, kemudian cita-cita kita terkabul dan ada perkerabatan kita, itulah wewenang dari Soppeng.
73Ungkapan tsb. mengandung arti kiasan, bahwa kerajan pusat Gowa selaku induk tidak
mampu lagi mempertahankan keselamatan wilayah taklukan yang dikuasainya, seperti Beru. 74Peristiwa ini menggambarkan perubahan pikiran para pejabat pemerintah kerajaan Beru yang tadinya memihak kepada kerajaan Gowa, kemudian berbalik memihak kepada pihak kerajaan Soppeng dan Malampee Gemmekna.
75Maksudnya, pernyataa takluk dari pihak kerajaan Beru Rilau sudah mencakup pula
pernyataan takluk dari Beru Riaja.
- Arung Beru Riaja di Tanete serta-merta menghamburkan diri di bagian sebelah utara Bulu Alipeng (istilah Bugis) lalu berkata: Perhatikanlah, wahai Soppeng! Aku rela terpenggal mati tergeletak di pinggiran Gowa ataupun saya masih tetap tegak kelak, karena engkau masih mengingat/menerima perjanjian kami (yaitu) Soppeng Su Beru pole.
243. Lasilatu namanya Alameng Pusaka dari Appanang yang
digunakan mengaduk tuak, kemudian diminumkan kepada Arung Beru Rilau. Istilah Bugis. Mereka bersumpah, rela hancur, takkan beroleh kebaikan apapun apabila (kelak) ia menentang anak cucu Soppeng. Maka Anginlah orang Soppeng dan dedaunan jugalah orang Beru Riaja. Istilah Bugis.
- Setelah mengadakan perjanjian dengan pihak Beru Rilau. Istilah Bugis. Barulah Arung Bila. Arung Appanang berangkat ke atas, menuju ke Tanete, untuk menantikan kedatangan orang-orang Soppeng (lainnya) yang menyusul belakangan.
- Sebab, mengenai Arung Beru Rilau. Istilah Bugis. Memang sudah sepakat menetapkan hari keberangkatan menuju ke Ujung Pandang, menyerang Gowa. Tamat.
- Maka selama tiga malam Arung Bila (dan) Arung Appanang di Tanete, kemudian bersama-sama dengan pihak orang Tanete, Arung Bila dan Arung Appanang menyerbu Cilellang.
- Maka berperanglah Arung Belo. Arung Appanang. Arung Bila bersama lasykar orang Tanete melawan Arung Cilellang serta Arung Maggalu.
- Sudah ada orang Soppeng yang tewas. Orang Tanete. Telah ada pulà orang Cilellang yang gugur. Setelah berperang selama tiga hari, maka berguguranlah orang baik-baiknya Cilellang, sehingga mereka menjadi kewalahan dan mengundurkan diri secara berkelompok di atas daerah pegunungan.
- Maka menyerahlah Cilellang kepada Arung Appanang. Arung Bila, Arung Belo.
- Lalu segenap senjata yang digunakan dalam pertempuran, disatu- kan, kemudian diikat dan dibawakan ke hadapan Arung Bila. Arung Appanang.
- Maka Lasilatulah, alameng pusaka di Appanang yang digunakan mengaduk tuak untuk diminumkan kepada Arung Cilellang, serta Arung Maggalung. Mereka lalu bersumpah, rela hancur lebur, takkan
beroleh kebaikanapapun manakala ternyata kelak mereka berani mengangkat senjata melawan keturunan Soppeng, demikian pula kepada keturunan Malampee Gemmekna. Dan Arung Manggalung hanya bagaikan dedaunan, sedangkan orang-orang Bugis adalah bagaikan angin, bertindak sesuai keinginannya. Tamat.
- Inilah surek yang membicarakan sesudah bobolnya Sombaopu, maka terbebaslah seluruh negeri pesisir. Kembalilah Datu Soppeng suami isteri bersama anak-anaknya. Demikian pula segenap orang Soppeng yang masih hidup.
- Maka saudara perempuannya Arung Bila tidak mengabdi di Soppeng, telah ada pula rumahnya di Mangkuttu.
- Berkata Baginda Torisompae kepada Matinroe Riadatunna. Saya kecualikan apabila tidak ada turunanku, anak cucuku. Dan tiada pula turunannya junjunganmu Malampee Gemmekna yang sudi membela hak milik anak cucumu, maka hendaklah mereka menyampaikannya ke Bone, agar ia mengantarkan anak cucumu kepada Kompany. Dialah yang akan mencarikan harta miliknya, sepanjang ia masih berada di Tanah Bugis. Tamat.
- Inilah surek yang membicarakan sekembalinya Matinroe Ri Adatunna dari Bone, untuk menemui Malampee Gemmekna Matinroe Ri Bontoala. Maka bersualah keempat Arung. Arung Paddanreng. Watallipue. Tau Tongengnge.
- Matinroe Riadatunna berbincang-bincang tentang pengasingan dirinya ke Gowa dan ditempatkan di Sanrangeng.
- Berkata Baginda raja Soppeng. Pangepak é. Paddanrengnge. Bagaimanalah gerangan kesudahan negeri Soppeng dari Tanah Makassar. Sebab bukanlah Arumpone yang kita hadapi dalam perjanjian Atapang, melainkan Arung Pitue76 bersama orang-orang Bone.
- Berkata Baginda raja Soppeng, apabila suatu waktu kelak kalian ingin membuat kata sepakat (mengenai) perjanjian Toballa di Atapang, janganlah kalian merundingkannya dengan Arumpone. Rundingkanlah bersama dengan Arung Pitue.
- Sebab Malampee Gemmekna pun ketika beliau mendarat di Pattiro bersama Arung Bila. Arung Belo. Arung Appanang Arung to
76Arung Pitue, adalah dewan hadat kerajaan Bone, terdiri atas tujuh orang, masing-masing
sebagai raja yang memegang tampuk pemerintahan otonomi di bawah kerajaan pusat, Bone.
Bone jugalah yang diajaknya bermufakat dan membuat perjanjian yang disepakati bersama oleh Malampee Gemmekna. Arung Bila. Arung Appanang. Tamat.
- Inilah surek yang membicarakan (tentang) cucunya Pagigi é di Soppeng Riaja yang bernama Tosida.
- Berkata Tosida, yang dipesankan kepada Arung Bila: Menurut penglihatan dan pendengaranku, ketika kami mula mendarat di Pattiro saat kami tiba dari Buton, bukanlah Arumpone yang diajak mufakat oleh Baginda junjungan kita dan seluruh rombongannya yang datang dari·Angke.
- Hanya Arung-arung dari Bone. Beserta orang Bone itu sendiri. Setelah terjadi kata sepakat, barulah mereka saling berjanji setia. Lalu mereka saling menyajikan tuak, kemudian saling mengucapkan ikrar di bawah kesaksian dewata seuwae: tidak saling mengambil hak (antara sesamanya). Tidak saling mengkhianati. Tidak saling merebut rampasan perang. Tidak saling menghalangi keberuntungan masing- masing. Disaksikan dewata seuwae. Tamat.
- Mulut semoga tidak sobek, janganlah kiranya aku durhaka (karena) menyebut-nyebut keturunan raja berdaulat.
- We Tenriawe namanya Arung di Madello, lalu bersuami di Sidenreng, menikah dengan Karang Betteng, Massao Locci é di Sidenreng.
- Dia pulalah kedatuan di Sidenreng, lalu memperisterikan sang Arung di Madello, kemudian melahirkan anak yang bernama We Tappatana.
- Beliau pulalah yang bergelar Dari Rilangi. Beliaulah menikah dengan baginda raja di Patila, lalu melahirkan seorang anak wanita, seorang anak laki-laki. Topelu namanya yang laki-laki. We Tenridi namanya yang wanita.
- Dewi Rilangi kemudian bersuami di Bakke, menikah dengan Daemang. Lahirlah We Tenrijello. Lahirlah Tenriamparang.
- We Tenrijello lagi yang bersuamikan Toakkarengnge, Baginda datu Bakke. Lahirlah La Tenripeppa. La Tenripeppalah beristeri di Makasar, beristerikan puteri baginda Karaengnge. Tamat.
Inilah surek yang membicarakan (perihal) usainya pernyataan ikrar bagi orang-orangBone. Kembali lagi diadakan musyawarah antara para Arung dari Bone dan Arung Soppeng beserta para Arung dari Angke.
Berkata Baginda Malampee Gemmekna. Apakah menurut pendapat kakanda pertempuran kita di Buton itu sudah baik?
- Berkata Arung Bila, menurut saya (hal itu) belum baik. Sebab hanya karena kita berpapasan di lautan, maka kita berperang.
- Berkata Arung Appanang: Mana wilayah kekuasaan Bone yang mungkin membela Gowa, wilayah taklukannya Gowa.
- Berkata Daimang. Orang Bulo-Bulo dan orang Lamatti.
- Berkata Arung Bila: Siapa gerangan yang bisa berbicara padanya, untuk memancing gara-gara.
- Berkata Daemang: Ialah "janji setianya Bulo-Bulo (dan) Lamatti yang telah diikrarkannya".
- Berkatalah Malampee Gemmckna. Pergilah engkau menelusuri- nya. (Kalau) engkau tiba pada pagi hari, kita berangkat di sore harinya. Kalau engkau tiba (kembali) pada sore harinya, maka kita berangkat di waktu pagi hari.
- Daemang pun turun ke perahu, kemudian berlayarlah Arung Sao Lebba itu menuju ke Bulo-Bulo.
- Keesokan harinya, ketika matahari tenggelamn di ufuk barat tibalah Daemang di Bulo-Bulo, langsung masuk ke Limbong.
- Daemang pun mengirim utusan kepada Arung Lamatti. Maka datanglah Lamatti (yaitu) Gellareng Bulo-Bulo (dan) Gellareng Lamatti.
- Berkatalah Daemang kepada Arung Lamatti (dan) Gellareng Bulo-Bulo: Masih ingatkah pada pernyataan kalian, bahwa " terserah pada Malampee Gemmekna?"
- Buru-buru jugalah mereka duduk. Berkata Arung Lamatti, dan Gellareng Bulo-Bulo: Kami masih ingat pada ucapan kata kami (itu), tetapi engkau telah kalah (perang) oleh lasykar orang Makassar. Sebab, Karaeng Batu Pute dan Karaeng Mamajang serta Karaeng Benamo. Pastilah orang-orang Makassar, akan menyerang ke Bone.
- Bergegaslah (Daemang) pergi ke perahunya, lalu (berlayar) keluar di lautan dan cepat-cepat melayarkan banteranya (kembali) ke Pattiro. Keesokan harinya, pada waktu asar maka tibalah Daemang di Pattiro.
283. Bermufakatlah orang-orang Bone, orang-orang Soppengdan
orang-orang Angke. Berkata Dacmang kepada Malampee Gemmekna: orang-orang Makassar sudah tiba di Bulo-Bulo.
- Berkatalah Malampee Gemmekna kepada Arung Bila, Arung Appanang serta kepada segenap orang Bone. Kita serang besok. Janganlah sampai orang-orang Makassar yang menyerbu kita ke Tanah Bugis.
- Maka jadilah orang-orang Soppeng beserta orang dari Angke berangkat. Mereka saling menunggu di bagian selatan Meru, untuk berkumpul segenap orang Bone dan orang-orang Soppeng.
- Keesokan harinya pada malam ketiga mereka pun melakukan penyerangan dengan sasaran Lamatti.
287. Puwang Lamatti77 diusung dengan mengenakan kain sarung
berwarna kuning dan merah yang dililitkan78 (di pinggang), didahului
oleh iring-iringan alosu79. Ada seratus bissu mengiringkannya dengan
mengayun-ayunkan walida80
- Ketika mereka melintas di hadapan lasykar orang Bone, mereka pun diberondongi dengan senapan. Namun tidak ada yang terluka, mereka tetap berjalan ke arah timur.
- Ketika mereka kembali ke arah barat, menyambar di hadapan lasykar orang Soppeng, ia pun diberondongi lagi dengan senapan. Namun tidak ada yang terjatuh, tidak ada yang terluka bahkan tetap saja berjalan kembali (ke arah timur). Ketika tiba pula di hadapan rombongan lasykar Bone, maka Arung Appanang dan lasykar orang-orang Bone pun diberondongi senapan oleh lasykar orang Makassar.
- Lasykar orang Bone dan lasykar orang-orang Soppeng pun dipukul mundur sampai ke muara sungai Limbong. Nanti di sekitar bagian barat, sebelah selatan Salo Mekko di atas tanah datar mereka berperang, saling menyerang sepanjang hari.
- Banyak lasykar orang Bone yang diambil batok kepalanya, banyak pula kepala orang-orang Makassar yang dipenggal oleh lasykar orang Bone dan lasykar orang-orang Soppeng. Selama tiga hari lasykar orang Makassar memukul mundur lasykar orang Bone dan orang
"Puwang Lamatt, maksudnya Puwang Matua Bissu yang berfungsi sebagai tokoh agama
yang besar peranannya dalam kerajaan dan masyarakat.
78Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya jenjang kepemimpinan bagi Bissu. Pimpinan
tertinggi bergelar "puang matowa" dengan simbol pakaian berwarna kuning. Pimpinan kedua bergelar "Puwang Lolo" dengan simbol pakaian berwarna merah.
digunakan sebagai senjata.
Soppeng dalam peempur sengit. Lalu mereka masuk ke daerah Bulo-Bulo, sedangkan orang-orang Bone bersama lasykar orang Soppeng masuk ke perairan Pattiro.
Setclah tiga malam berada di Pattiro, kembalilah lagi para lasykar
· orang Bone, lasykar orang Soppeng bcscrta para Ang To Angke ke kubu pertahanannya.Keesokan harinya pada malam kcdua segenap lasykar orang Bone, lasykar orang Soppeng dan para Arung Toangke telah tiba kembali di dalam benteng pertahanannya, dan kembali pula menyerang LamattL
- Maka' berperanglah kembali para lasykar Gowa melawan para lasykar Soppeng dan Arung To Angke di kawasan hutan. Terdesaklah lasykar org-orang Gowa itu. Sudah banyak anggota pasuk Makassar jah ke tgan Iasykar Soppeng dan Bone.
- Maka lasykar Makassar pun dipukul mundur ke seberang sungai Tangka.
- Ketika pasang sudah tun di Tangka, orang-orang Bone, orang Soppeng dan pa Arung Toangke- menyerbu pula ke seberang bagi selatan sungai. Maka banyaklah pampasan perang yang disita dari lasykar org Makassar di seberang selatan sungai, oleh lasykar Bone dan Soppeng.
- Kacau-balaulh lasykar orang Makassar, maka bergegaslah segenap Karaeng menuju ke perahunya, lalu bu-buru berlayar kembali ke Gowa.
- Lamatti d Bulo-Bulo lalu menjat senjata, mengaku takl. Maka lasykar orang Soppeng bersama Ag To gke pun kembali ke Pattiro, untuk mengambil bawanya, kemudian berangkat ke Be d Tanete. Tamat.
Semoga aku tidak kena kutukan (karena)
· menyebut-nyebut tnan para raja berdaulat.La Mappaleppe namanya. Patolae gelaraya. Beliaulah datu di Soppeng. Beliaul yang (turut) dalam perjanjian persekutu tiga
. kerajaan (yaitu) Tellumpoccoe di Timurung bersama Arumpone yang bergelar Bongkae, Arung Matoa Wajo yang bemama Toudama.Beliau pulalah datu Soppeng yang menaklukkan Timg, Balosu, Nepo, Mario, Riawa, Bilokka, Awanio, Cirowali, Lompulle, Baringeng, Ujumpulu, Lompengeng, Citta,. Gowa-gowa, Mario Riwawo, Luru, seluruh lili riattang, Duaaserae Bate-Bate di 86
selatan Lamuru. Patolae ini pulalah yang melakukan perjanjian Tellumpoccoe Ri Timurung, kemudian mengalahkan Lamuru.
- Inilah datu Soppeng, Matinroe Riadatunna bersepakat dengan Matinroe ri Salemo, sesudah bobolnya pertahanan kerajaan Gowa di Sombaopu memasukkan Sombaopu dan Nepo kepada pihak Belanda, yaitu Admiral Speelman.
- Inilah surek yang membicarakan (tentang) kembalinya Matinroe Riadatunna dari Bone, sewaktu Matinroe Ri Bontoala meletakkan rambut.
- Berkata baginda datu Soppeng kepada Arung Pangepak, Paddanreng, Watallipue, Tau Tongengnge: Adapun yang kupesankan kepada kalian orang Soppeng (bahwa) orang-orang Bone itu telah mengingkari kata sepakat yang dijanjikan oleh Malampee Gemmekna beserta Arung Appanang, Arung Bila, Arung Belo, sewaktu orang-orang dari Angke berlabuh di Pattiro. Padahal Soppeng jualah yang bersedia membela kepentingan mereka.
- Lamamung, sesungguhnya To Angkenya negeri SoppengRilau. Dia pulalah datu di Soppeng Rilau. Dialah pula datu di Mario Riwawo. Kedua, Arung Bila di Soppeng Riaja. Ketiga baginda datu Citta. Keempat Arung Appanang. Kelima Arung Belo. Sekian itulah To Angke yang ada di negeri Soppeng, kelimanya Tamat.
- Berkata Puanna Pagigie: Adapun Soppeng Riaja yang bernama Tosida, yang diambil di Buton (oleh) Arung Bila (ialah) Karaeng Patenne.
- Ucapan kata yang dipesankan kepada anak dan cucunya (yaitu): menurut ingatanku, sewaktu kami mula berlabuh di Pattiro dari Buton, bukan Arumpone yang diajak Malampee Gemmekna membuat ikatan perjanjian.
- Arung Bila jua. Arung Appanang. Arung Belo (dan) para Arung beserta orang-orang dari Bone (yang) mengukuhkan perjanjian persaudaraan (yaitu): tidak saling mengambil harta benda, tidak saling menghambat usaha perluasan wilayah kekuasaan, disaksikan oleh dewata seuwae.
Setelah mereka memperoleh kata sepakat, barulah saling berjanji sambil minum tuak81, lalu sama mengucapkan ikrar: "Seia sekata, seiring sejalan". 81minum tuak, merupakan salah satu tradisi dalam rangka penyelenggaraan ikatan perjanjian antara pihak-pihak tertentu yang terkait dalam perjanjian bersangkutan.
Maka hanya Baginda Malampee Gemmekna bersama segenap orang-orang Bone yang berangkat menuju Bulukumpa.
- Baginda yang datang dari Angke berangkat menuju ke Beru dan Tanete, menyusur ke atas sampai ke Barrasa dan Siang.
- Maka kamilah orang-orangSoppeng yang menaklukkan Beru Riaja. Istilah Bugis. Kamilah orang Soppeng yang mengajak Beru Rilau untuk turut berperang di Gowa. Kamilah yang membebaskannya dari dominasi Gowa, kami pulalah yang memutuskan beban pikulannya terhadap Gowa. Kita pulalah orang-orang Soppeng yang menaklukkan daerah-dacrah di Awang Segeri dan daerah-daerahdi Attang Segeri sampai ke wilayah Barrasa (dan) Siang.
- Kita pulalah orang Soppeng yang menyeru Lombasa-Bungoro untuk turut dalam peperangan melawan Gowa. Kitalah yang memisah- kan dari pemerintahan Gowa. sampai ke Beru.
- Sampai ke daerah Beru pinggiran bagian utara kekuasaan pemerintah kerajaan Gowa yang kami taklukkan, serta yang berhasil diikutkan pergi berperang di Gowa. Tamat.
K. INILAH SUREK YANG MEMBICARAKAN SESUDAH BOBOLNYA SOMBAOPU - Maka jatuhlah negeri Gowa sesudah pemisahan seribu orang laki-laki dan perempuan, seluruhnya orang-orang muda.
- Karaengnge di Gowa yang merusakkan perjanjian Bungaya yang dibuat bersama dengan (orang) Belanda yang bernama Speelman.
- Maka diadakanlah pertemuan (antara) Malampee Gemmekna, dan segenap Arung dari Bone (bertempat) di rumah berukir dalam wilayah Bontoala. Hadir pula Baginda datu Soppeng Matinroe Riadatunna bersama segenap orang Soppeng yang masih hidup.
- Berkata Malampee Gemmekna kepada orang-orang Bone. Maksud saya mengumpulkan kalian orang-orang Bone, sebab kakanda Arung Appanang sudah wafat (demikian pula) kemanakanku Arung Bila, adikku Arung Belo.
- Apakah kalian masih ingat akan ikatan perjanjian bersama yang kita sepakati pada saat kami dan segenap orang Soppeng/To Angke mula berlabuh di Pattiro, dari Buton?
- Orang-orang Bone berkata: (perjanjian) yang mana, wahai paduka yang mulia? Berkata Malampee Gemmekna: yaitu ikrar kita, bahwa apabila sang dewata memberikan rahmatnya sehingga kita
mampu menghadapi kekuatan Karaengnge, apalagi kalau kita dirahmati dengan kemenangan oleh sang dewata, maka genggaman tangan orang-orang Soppeng yang datang dari Angke tidak akan diuraikan, hingga ke sepupu tiga kali mereka?!
- Berkata orang-orang Bone: Kami tetap mengingatnya. Kami tetap memegangnya dengan erat (yaitu) tidak saling memukul lengan, tidak saling menguraikan genggaman tangan, tidak saling merebut hasil rampasan perang.
322. Berkata Baginda raja Soppeng kepada pihak orang Bone: Itulah
yang kami pegang dengan erat, disaksikan oleh dewata seuwae, bahwa kalian takkan menghamburkan isi genggaman tangannya; takkan menghalangi usaha penaklukannya (atas wilayah kekuasaan musuh); takkan merampas hasil rampasan perang yang diperoleh para To Angke dan negeri Soppeng, sampai pula kepada anak cucu To Angke dan Tanah Soppeng.
- Biarlah generasi berikut yang mewarisinya, sebab bukanlah rupanya orang-orang Bone, melainkan karena ada juga To Angke di negeri Soppeng, sehingga nyawa kami suami-isteri dan anak beranak masih dapat selamat dari maut di Gowà.
- Hari itu pula berlangsung perbincangan di Bontoala antara Malampee Gemmekna (dan) para arung dari Bone serta baginda datu Soppeng, mengenangkan kembali peristiwa mula terbangnya Malampee Gemmekna ke Buton.
- Berkata Baginda datu Soppeng Matinroe Ri Adatunna kepada Baginda Malampee Gemmekna: Hanya belasan malam sesudah engkau datang mengambil emas milik negerimu di Soppeng, kemudian engkau meninggalkan Soppeng di waktu malam menuju Bone, datang- lah Karaengnge bersama orang-orang Wajo menyerang Soppeng.
- Orang Soppeng pun menyerah kalah. Ia ingin memenggalku di dalam istanakediamanku, dan aku hanya lolos dari pembantaian (karena) Arung Beru Rilau. Istilah Bugis. yang menolongku. Ia berdiri di ambang pintu, sehingga penghuni Lamangile tidak habis terbantai.
- Berkata baginda Malampee Gemmekna kepada baginda datu Soppeng: ia telah kusekap dan terpenggal di Pammantingeng. Tamat.
Inilah (surek) yang membicarakan tentang Petta Lawadeng mula membagi Bila. Ia menikah dengan We Bubu, lalu menurunkan lima orang anak. Seorang bernama La Pasajo. Seorang bernama La Galumpang. Seorang bernama We Bollosugi. Seorang bernama Tenrisumange.
Lapasajolah yang membagi abdi di (negeri) Bila, bersama La Galumpang.
- Maka Lapasajolah yang pergi beristeri di Amali, menikah dengan We Tenrilawi. Lahirlah La Bune. Lahirlah Latenripeppa Lahirlah Latenriadudu. Menikah dengan We Tenri Seka, maka lahirlah Lamakkawoto.
- La Tenriseka menikah dengan Lilatenro di Amali dan melahirkan dua orang anak. Seorang bernama Lamagila. Seorang bernama Lagessa.
- Lagessalah beristeri di Soppeng, menikah dengan We Tebbalana dan melahirkan La Kecca, Totenratu nama kecilnya.
- La Kecca-lah menikah dengan We Tenribau, lahirlah La Pattokko serta Pagigie. Lahirlah We Pale. Lahirlah We Majodo Lahirlah La Pasongkori.
- La Pattokko-lah menikah dengan Tenriatana. Lahirlah Dadera. Dadera menikah dengan Latemmu. Lahirlah La Tenriangke. La Tenriangkelah beristeri di Appanang, menikah dengan La Tenribarangeng. Lahirlah La Luwu/Lahirlah We Gima. Tamat.
- Inilah surek yang membicarakan (tentang) La Galumpang beristeri di Baringeng, menikah dengan E Cakkewanua, sepupunya. Lahirlah La Pasoreang. Lahirlah We Wulu. Lahirlah We Benrigau.
- We Wululah menikah dengan La Paccikkeng di Soppeng Rilau. Lahirlah La Pottobune. Lapadangkang. Lahirlah La Kumala.
- La Kumalalah menikah dengan We Tenriparialima. Lahirlah We Tenripulana.
- We Tenripulana menikah dengan La Pawawoi di Soppeng. Lahirlah We Lise. LahirlahWe Ati. Lahirlah We Muttia. Lahirlah La Baga.
- We Liseklah menikah dengan La Pasasa. Lahirlah Lawaniaga, Toakkatenni nama panggilannya. Lahirlah We Tenribau.
- Toakkatenni menikah dengan Da Palebbi. Lahirlah We Tenjolle. Lahirlah We Maddualeng.
We Tenribaulah menikah dengan La Tenca. Tenritung nama panggilannya. Lahirlah La Pattokko, puwanna Pagigie. Lahirlah We Pawellu. Lahirlah We Pacodo. Menyusul anaknya di Bila La Tenriadudu namanya. We Tenrijeka dan We Gima. Tamat.
Semoga aku tidak mendapat kutukan, karena menyebut-nyebut turunan raja berdaulat. Simpuruguttu Pareppa namanya. Beliaulah yang melahirkan Anakaji, melahirkan Toa Panangi.
343. Toa Panangilah yang melahirkan Tampa Balosu. Tampa
Balosulah yang melahirkan Batara Guru. Batara Gurulah melahirkan Datu Maoge.
- Datu Maogelah yang melahirkan Tosakawana. Tosakawanalah yang melahirkan Tomalalae. Tomalalae melahirkan Toasengereng, alias Dewaraja.
- Dewaraja melahirkan Topaio/Toapaio melahirkan Maningoe Ribajo. Maningoe Ribajo yang melahirkan Matinroe Ri Ware.
346. Matinroe Ri Ware yang melahirkanMatinroe Ri Malangke.
Matinroe Ri Malangke yang melahirkan Matinroe Ri Gowa. Matinroe Ri Gowa yang melahirkan Matinroe Ri Tompotikka. Melahirkan Matinroe Ri Langkanana.
- Matinroe Ri Langkanana yang melahirkan Matinroe Ri Pattiro. Matinroe Ri Pattiro yang melahirkan Tenrileleang. La Makkarodda. La Tenriangka.
- Inilah surek yang membicarakan pesan-pesan Tau Tongengnge Matowae di Soppeng.
349.Arung Ujung Pulu, semoga aku tidak kena kutukan, yang bernama La Tenritippe, alias Addatuangnge ri Sidenreng yang tua, alias Matinroe Ri Pammantingeng. - Berkata Arung Ujung Pulu kepada sepupu ketiga kalinya, junjungan kita di Soppeng yang melahirkan Matinroe Ri Madello: Sebaiknya diberitahukan kepada Tau Tongengnge agar berangkat ke Beru. Istilah Bugis. Memintakan tempat pondokan®2 (bagi) hamba83mu Towalennae.
Berkata junjungan kita di Soppeng, aku sudah senang pada pandanganmu. Biarlah saya memberikan penyampaian kepada segenap kerabat kita, Arung Pangepak e, Arung Paddanrengnge, Arungnge Ri Soppeng. 82Tempat pondokan, menurut istilah bahasa daerah Bugis disebut addibolang, artinya rumah tempat menumpang. Dalam konteks naskah ini istilah addibolang mengandung arti kiasan, sebagai basa-basi yang berarti peminangan atau pelamaran seorang wanita untuk dijodohkan dengan seorang lelaki. 8Hamba, berarti abdi; budak; namun istilah ini berarti pula tanda penghormatan terhadap bangsawan, menurut sopan-santun dan tatakrama pergaulan.
Maka junjungan kita pun segera mengirimkan penyampaian kepada Arung Pangepak e, Arung Paddanrengnge. Tidak lama kemudian, hadirlah semuanya di Lamangile.
- Maka bermufakatlah Baginda datu Soppeng bersama Torilaleng Tongengnge Matowae bersama arung Paddanreng dan arung Pangepak e (dipercayakan) berangkat ke Beru, untuk memintakan tempat pemondokan bagi Towalennae kepada Arung Beru Riaja. Istilah Bugis.
- Maka berangkatlah Tau Tongengnge bersama arung Pangepak e dan arung Paddanrengnge. Setelah Tau Tongengnge, arung Pangepak e, serta arung Paddanrengnge tiba di Beru, diadakanlah pertemuan dengan pihak orang-orang Beru sekeluarga.
- Disampaikannyalah maksud baik yang dititahkan oleh baginda datu Soppeng kepada Tau Tongengnge, untuk memintakan pondokan bagi Towalennae pada Arung Beru Riaja. Istilah Bugis
- Adapun kesepakatan pihak orang Beru sekeluarga yang disetujui bersama (ialah) "mereka bersedia memberikan pemondokan kepada Arung Ujumpulu".
- Berkata Tau Tongengnge Matowae kepada orang Beru: Karena kalian wahai kerabatku telah (menyatakan)menerima maksud baik junjungan kita di Soppeng. Maka nantinya Ujumpululah sendiri bersama dengan para pejabat kerajaan Ujumpulu yang bakal mengantarkan mas kawinnya. Maka putuslah pembicaraan Beru (dan) Soppeng.
- Kembalilah Tau Tongengnge ke Soppeng menyampaikan hasil kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak Beru-Soppeng. Sesudah itu, maka jadilah dijodohkan Arung Beru Riaja. Istilah Bugis. Yang bergelar Daeng Manakku. I Lipa nama kecilnya, dengan Arung Ujumpulu yang bernama La Tenritippe Towalennae.
- Lahirlah We Oputana. Dialah yang diberi Beru Riaja oleh ibundanya. Istilah Bugis. Lahirlah La Malewai.
- Menjelang tujuh tahun kemudian cukuplah dua. Adapun bagian sebelah barat. Istilah Bugis. Itulah yang diduai (antara) Beru-Ujumpula, sesuai dengan kata mufakat yang sama disetujuinya. Adapun Napo masuk ke Sao Denrae ri Mangempang.
Inilah surek yang membicarakan asal mulanya di Tanete, cucu- nya Matinroe Ri Lau Pasa di Mangempang. Adalah juga putusan kata dari Tau Tongengnge Battowae di Soppeng.
&Torilaleng Soppeng, maksudnya pejabat-pejabat istana/kerajaan.
Ketika We Kutana sudah besar, bermufakatlah orang Tanete sekeluarga bersama baginda raja Tanete yang bernama Iberahima, Daeng Pattinring nama panggilannya, bergelar Makjangkok é.
- Adapun yang disepakatinya (ialah) mengutus Daeng Mamango. Daeng Mapata bersama Topasere kepada Arung Beru Riaja. Istilah Bugis. Memintakan pondokan bagi Arung Lipukasi.
- Maka ketiganya pun pergilah ke Beru. Sesampainya di Beru, maka disampaikannya pesan yang dititahkan kepadanya.
- Berkatalah orang-orang Beru Riaja. Istilah Bugis. Biarlah kami menyampaikannya kepada junjungan kita di Soppeng, demikian pula kepada kerabat kita di Soppeng. Tidaklah mungkin hal itu tidak disampaikan ke Soppeng, sebab We Kutana adalah cucu dari Matinroe Ri Asseleng.
- Orang Beru pun mengirimkan utusan ke Soppeng. Maka datang- lah Tau Tongengnge Battowae bersama arung Pangepak e, arung Paddanrengnge serta Ujumpulu.
- Maka bertemulah Soppeng – Tanete – Beru. Maka orang Beru Riaja pun barulah menerima pinangan. Istilah Bugis.
- Berkatalah Daeng Mapata, Daeng Mamangun, Topasere. Ber- hubungan karena titah yang kami bawakan sudah diterima, maka kami serahkan Awamminanga sebagai mas kawin Arung Lipukasi kepada Beru Riaja.
- Berkatalah Tau Tongengnge bersama para orang dalam kerajaan Soppeng, itulah wahai Tanete! yang dipegang erat-erat, oleh Soppeng, disaksikan oleh dewata seuwae, janji yang telah engkau ucapkan. Jikalau kelak sáng dewata mengurniai anak kepada We Kutana, maka dialah yang berhak atas Beru Riaja. Istilah Bugis. Dia pulalah (pemilik) Awamminanga.
- Mengangguklah pula Daeng Mapata, Toapasere. Setelah terjadi kata mufakat (antara) Beru-Tanete, kembalilah Tau Tongengnge ke Soppeng menghadap kepada baginda datu, menyampaikan kata mufakat yang disetujui bersama (antara) Beru (dan) Tanete.
Berkatalah baginda datu Soppeng, ayahanda Petta Ri Madello. Yang kuamanatkan kepada kalian orang-orang Soppeng. Jikalau kelak benar-benar We Kutana jadi berjodoh dengan Arung Lipukasi, kemudian ia dikaruniakan anak oleh sang dewata, bukan jugalah orang sembarangan/orang biasa yang menitiskan turunannya We Kutana. Maka kalau ada perkerabatan kita yang memutuskan pertalian kekerabatannya, beri ingatlah!
Maka jadilah menikah W Kuntana. Lahirlah We Mappaganti. Dialah pewaris atas Beru Riaja. Istilah Bugis. Dialah pula pewaris atas Awamminanga. Demikian pula pada mertuanya di Bulubangi, junjungan kita Arung Ujumpulu yang bernama Tabutasa, yang bergelar Pajumpongae. Kemudian We Mappaganti menikah dengan We Soda, Arungnge di Alinge, dipersaksikan oleh Arumpone Malampee Gemmekna bersama Datu Soppeng, Matinroe Ri Madello.
- I We Mappaganti, lalu membawa serta kepunyaannya ke Alinge.
- Berkata Petta Ri Madello: wahai Arung Bila! janganlah engkau tangkap I La Mappaganti, kecuali jikalau sudah menjadi kehendak dewata seuwae. Maka dibawalah segenap kepunyaannya ke Alinge, sebab dia turunan Makassar. Tamat.
- Berkata Matinroe Ri Lau Pasa di Mangempang, pesan yang disampaikan La Terengang. Empat kali ia beristeri, namun dipesankan oleh adinda-ku Matinroe Ri Mangempang (bahwa) tidak ada yang memikirkan Beru Riaja. Istilah Bugis. Pertama, ia bukan pewarisnya. Kedua, Beru Riaja. Istilah bugis. Awamminanga sesuai kesaksian Soppeng ketika (We Kuntana) menikah dengan baginda di Lipukasi. Tamat. L PESAN-PESAN ARUNG BILA (dan) PETUAH ORANG DAHULU85
- Berkata pesan-pesan Arung Bila kepada puteranya, yang bernama Lawaniaga. Toakkatenni, nama panggilannya. Orang yang dekat pada arung-mangkauk86 hanyalah:
- Mereka yang sangat besar sifat kehati-hatiannya, lagi tinggi kewaspadaannya. Yang tidak habis-habisnya memikirkan siang maupun malam (untuk) mencarikan kebaikan bagi raja dan negerinya. kan menyajikan makanan mentah kepada Baginda.
- Kalau ia memberikan makanan mentah kepada baginda raja, nasihatilah! Jikalau ia tidak sudi dinasihati, maka beritahukanlah kepada sesamamu orang dalam, serta Pabbicarae.
- Nasihatilah lagi. Kalau ia tetap melakukannya, bunuhlah. Nanti setelah ia meninggal baru raja mengetahuinya.
Orang dahulu, maksudnya leluhur.
Pancennangeng, pelaksana urusan daur dalam istana raja.
- Kemudian peliharalah kemuliaanmu, para ranrengg88, sebab tiada lain sumber kebaikan kita kecuali hanya dari junjungan kita.
- Janganlah sekali-sekali engkau mencari kebaikan di luar batas negerimu maupun junjunganmu. Takan mungkin engkau menemukan kebaikan, kecuali di negeri sendiri serta dari junjungan kita baginda datu Soppeng.
383. Perhatikanlah santapan baginda datu, sebab itu merupakan
lambang kebesaran baginda, jangan sampai beliau dipermalukan oleh sasamanya arung mangkauk.
- Bagi kita para abdi, merupakan kedurhakaan pula apabila kita mengurangi adat kebesaran (santapan) junjungan kita, jangan pula engkau menambahkannya. Nanti beliau kualat, kendati beliau adalah raja berdaulat di seluruh negeri Soppeng, namun beliau akan durhaka apabila melampaui adat leluhurnya. Sayangilah junjunganmu.
- Perintahkanlah pula, agar selalu ada pengawal yang bermnalañ di istana. Jangan pula sampai kurang dari sepuluh lelaki yang bermalam di dalam istana, yang siap mengamuk serta mempertaruhkan nyawa sendiri sebelum datangnya bala bantuan, manakala terjadi keributan di dalam istana.
- Kemudian amatilah perilaku baginda datu. Kalau orang lancang tangan, ia akan pendek umur. Kalau ia lancang mulut ia akan menjadi hambar. Kalau ia bertindak sewenang-wenang maka turunannya takkan beroleh kebaikan.
- Jangan pula engkau merasa bosan memperingati baginda, akan tetapi ada waktunya. Sebab, tidak boleh sama sekali kita menghalangi kehendak raja (ataupun) memotong pembicaraannya di hadapan orang banyak. Nantilah pada saat .engkau duduk berdua-duaan, barulah engkau menunjukinya dengan hati ikhlas.
- Peliharalah harta benda raja. Sebab ada dua macam harta kekayaan di Soppeng. Pertama, harta kekayaan negeri Soppeng/ Bakkaé. Itulah yang diketahui oleh para Pangepak. Paddanreng para Pabbicara, yaitu harta bendanya baginda raja, jamuan makan, hasil rampasan perangnya Bakkae, serta pula upeti diwilayah kekuasaan Bakkaé.
- Adapun harta benda yang masuk ke negeri Soppeng, itulah yang dipilih oleh baginda raja Soppeng untuk diambilnya. Kemudian
®Ranreng, penasehat; pendamping raja.
dibagi-bagikan kepada para Pabbicara, Pangepak, serta para Paddanreng. Itu pulalah yang dipertanggungjawabkan oleh para
Panddanreng, dan pangepak, sumber dan penggunaannya.
- Ada pun bagi raja sendiri, terserah pada keinginan beliau. Di mana saja beliau simpan, siapapun yang diberikannya baik kepada anak-anak pewaris kerajaan maupun di luarnya. Itulah yang disebut milik pribadi raja (yaitu) di luar pendapatan Bakkać.
- Perhatikan pula! Janganlah engkau melupakan perjanjian negeri, kata mufakat antara datu/raja dan negeri. Sebab amat buruklah akibat mengingkari janji. Beliau takkan beroleh kebaikan sampai kepada anak cucunya. Tamat.
- Kuberitahukan pula kepadamu. Ketahuilah yang dinamakan adek, lalu pelihara dan hormatilah! Sebab adek itulah yang disebut manusia. Kalau engkau tidak mengenal adek, maka engkaupun takkan jadi orang.
- Perkuatlah taqwamu kepada sang dewata, peliharalah pula sirik- mu, sebab orang yang kuat taqwanya kepada sang dewata, hanyalah orang yang tinggi rasa siriknya. Itulah yang menimbulkan kecintaan kita pada kejujuran.
394. Jangan pula engkau bergaul dengan orang bersalah. Jangan pula
engkau mengasihani orang-orang jahat dan pemabuk.
395. Jangan engkau membohongi raja, serta Pabbicara, demikian pula
sesamamu orang-dalam, bahkan terhadap sesama manusia. Jikalau
kebohonganmu sampai ketahuan, maka kelak engkau takkan di-
percayai lagi kendati pun engkau berkata benar. Sebab adapun orang-orang pembohong, itulah nista yang tak ada obat penawarnya. Tamat.
396. Yang kupesankan pula kepadamu, jangan sekali-kali engkau
berselisih paham dengan para sesamamu orang dalam.
- Kalau Soppeng menghadapi serangan dari musuh maka ada- kanlah pertemuan antara segenap unsur di Soppeng bersama baginda raja, di mana kalian saling bertukar pikiran. Apa pun kata mufakat yang menjadi persetujuan bersama, itulah yang kalian lakukan, dan engkaulah yang menyampaikannya/mengungkapkan di bibir mu.
- Demikian itulah adat kebiasaan kita di Soppeng. Jagalah mulut- mu, sebab di situlah yang menentukan faktor kemujuran.
Wahai Arung Bila! Selama saya memegang kendali kerajaan yang diwariskan oleh ayahanda, tiada pernah kulihat engkau lalai mencarikan kebaikan bagi diriku dan negeri Soppeng.
Maka kumohonkan do'a semoga nian sang dewata menetapkan hati dan fikiranmu. Mudah-mudahan (hal terscbut) sampai pada turunanmu serta turunanku pula. Baiklah kita sama memesankan kepada turunan kita, agar mereka saling mencarikan kebaikan, serta saling memaafkan atas kekhilafannya.
- Janganlah hendaknya mereka mengincer kerajaaku, jangan pula mereka menginginkan kewajibanku yang berat ini.
- Berkata Arung Bila: Tiada terperikan kegembiraan hatiku wahai paduka, mendengarkan ucapan baikmu, maka kutengadahkan kedua telapak tangan, kujunjung diatas kepalaku. Itulah sebabnya, maka hamba memang lebih dahulu menyatakan bahwa kekhilafan memang sudah merupakan tempat bagi kami para abdi. Dikhilafi, adalah tempat bagi para junjungan. Pemberian ampunan/maaf adalah tempat bagi para junjungan, dan mendapatkan maaf/ampunan adalah tempat bagi bara abdi.
- Hanya yang hamba mohonkan, wahai paduka! Apabila kelak di kemudian hari turunan hamba melakukan kesalahan, sehingga terpaksa menjalani hukumam, maka hamba memohonkan kiranya yang bersangkutan tidak dikeluarkan darahnya. Ada pun titah paduka, bahwa kerajaanku tidak kamu inginkan. Itulah jalan (... ) bagi orang yang menginginkan kerajaan baginda raja Soppeng.
- Malapetaka. Perjanjian kenegaraan itulah yang menentukan timbulnya peperangan. Jikalau tutur kata itu baik, maka jadi beranilah semua orang yang pengecut.
- Hendaklah engkau jujur. Jangan berbuat khianat terhadap dewata dan sesama manusia. Jangan pula sekali-kali kau biarkan siapapun juga berbuat khianat di negeri Soppeng dan baginda raja.
apabila baginda raja melaku-
406. Itulah yang disebut cekka-datue89
kan sesuatu, tanpa mufakat bersama Pangepak é dan Paddanrengngé, sehingga engkau disebut-sebut oleh orang-orang dalam serta segenap
orang Soppeng "mala tekka"90.
- Demikianlah maka perlu kita menjaga tindak laku dan tutur kata. Demikianlah adat pengabdian kita bagi negeri serta baginda raja di Soppeng.
89Cekka datu = ketidakjujuran raja.
Mala tekka = bertindak sendiri, tanpa persetujuan pihak- pihak yang berkepentingan.
- Tiada lagi orang lebih dekat kepada raja, kecuali anak kandung- nya ialah Pangepak é serta Paddanrengngé. Adapun orang dalam di negeri Soppeng yang menjadi suami ataupun isteri datu Soppeng,
- Yaitu: datu Ujung, Datu Botto, Massao Locci é Soppeng Rilau, Mallangkana é ri Sao Lampé, Datu Rualetté.
- Orang-orang tersebut pada tempatnya bersantap bersama-sama dengan kita di rumah kediaman datu Soppeng. Tamat.
- Kupesankan pula kepadamu: jangan sekali-kali memburuk- burukkan nama baik negerimu di dacrah luaran. Jangan pula engkau berlaku khianat terhadap datu Soppeng, kecuali apabila baginda tidak menyukaimu.
- Yang dikatakan engkau tidak disukai, apabila ia melakukan kesalahan yang mengharuskan dijatuhkannya hukumam mati, maka yang kuharapkan ialah tidak mengeluarkan darahnya.
- Berkata junjungan kita Puwallipué: Memang demikian itulah kandungan ucapanku, agar kita senantiasa saling memaafkan atas kesalahan masing-masing. Tamat.
- Berkata pula Petta Puwallipué: Adapun, Arung Bila permohonan- mu, agar turunanmu tidak dikeluarkan darahnya, sungguh amat sesuai dengan apa yang dipesankan oleh junjungan kita Matinroe Ri Tanana, bahwa ada kelak keturunanku yang kesalahannya tidak dapat diampuni, sedangkan ia berasal dari nenek yang sama dengan dirimu, sama sekali janganlah ditumpahkan darahnya. Orang seperti itulah, pantang tergores senjata tajam dari besi, buatan manusia.
- Serta-merta Arung Bila menadahkan kedua tapak tangannya, menghaturkan sembah sujud, lalu berkata: Itulah wahai paduka yang mulia! yang kujunjung tinggi di atas kepala hamba dan kusimpul mati dalam hati. Tepat seperti itulah yang terkandung dalam pikiran hamba, dan akan hamba pesankan kepada anak cucuk keturunan hamba. Tamat.
- Berkata pula Puwallipu é: Wahai Arung Bila: Siapa-siapa yang mengingkari kata-katanya, dialah yang takkan beroleh kebaikan hingga anak cucunya.
Lagi-lagi Arung Bila menengadahkan kedua telapak tangannya, lalau berkata: Wahai paduka junjungan hamba! sekali paduka berucap, maka dua-tiga kali hamba meng "ia". Sedangkan paduka berkata demikian, apalagi hamba yang hanya abdi. Kiranya paduka memesan- kan pula kepada anak cucu paduka. Tamat.
Berkata juga junjungan kita Puwallipu é: Wahai Arung Bila! Kalau engkau mengambil tekka pada sesamamu manusia, sehingga engkau dikenakan sanksi hukum, sedangkan tindakanmu itu wajar, maka engkau tidak bakal merasakan siksaan sebelum habis seluruh kekayaan istana serta milik pribadiku. Hal ini kupesankan pula kepada anak cucuku. Tamat.
- Berkata Arung Bila: Menurut hamba, tiada lagi sesuatu rahmat- pun yang melebihi penyampaian paduka kepada hamba. Hanya dewatalah nian yang di atasnya.
- Berkata pula arung Bila: Pesan-pesannya kepada anaknya. Apabila anak cucu baginda tidak mengingkari ucapan katanya, maka curahkanlah pikiran dan perhatianmu sebanyak-banyaknya, perhatikan- lah adat kebesarannya. Berbaik-baik pulalah kepada segenap raja bawahan, demi kebaikan baginda. Sebab orang biasanya celaka, oleh senjatanya sendiri. Kecuali bagi wilayah taklukan yang pernah menantang Soppeng, menyerang Bakka é dengan senjata, dan nekad ingin mencelakakannya.
- Beri ingatlah kepada baginda. Ada nian perjanjian perkerabatan antara baginda dan orang Wumpungeng, ketika Soppeng Riaja ber- perang melawan Soppeng Rilau. Pada waktu Petta Mabéluak é dan junjungan kita Puwallipué berselisih paham, maka datanglahorang Wumpungeng itu.
- Lalu saya berkata: Apa maksud kedatanganmu kemari bersama segenap isi Wumpungeng. Maksud kedatangan kami (ialah), besar harapan kami pada Soppeng Riaja (sebab) kami tidak bersedia menemani pihak yang salah.
- Berkata Arung Bila: Wahai Wumpungeng! hanya pernyataan yang keluar dari hati nurani (mu).
- Berkata Arung Wumpungeng: Mulai dari ubun-ubun, sampai ke telapak kaki, dan seisi perutku, apabila terbetik maksud/niat buruk terhadap Puwallipue.
- Berkata pula Arung Bila: Kuulangi pula perkataanku wahai Wumpungeng! Apakah kelak engkau tidak akan meninggalkan Puwallipué? Tidakkah kelak engkau bakal mengkhianatinya, sebab saya mengkhawatirkan terjadinya peristiwa, sebagaimana halnya jalan yang telah dilalui oleh Baginda Matinroe Ri Asseleng. Sebab kamu ini orang Soppeng Rilau.
- Berkata Wumpungeng, kubenarkan kewaspadaamu, akan tetapi dengarkanlah ucapan kataku ini. Jikalau perkataan bohong yang
kusampaikan kepadamu, biarkanlah anak cucuku musnah, hancur bagaikan kaca beling. Anak cucuku takkan ditumbuhi bulu-bulu, sebagaimana halnya telur, sekiranya ada niat buruk dalam hatiku terhadap Puwallipué. Tamat.
- Maka Arung Bila pun naiklah ke istana menyampaikan kepada Puwallipué pernyataan orang Wumpungeng.
- Berkata Puwallipué: Tanyailah! sebab bagaimanapun dia adalah orang Soppeng Rilau. Berkata Arung Bila: sudah kudengarkan janji setia, serta sumpahnya.
- Berkata junjungan kita Puwallipué: Wahai Arung Bila! Hanya engkaulah bersama dengan Pabbicarać sebagai pengganti bapak dalam kesulitan negeri.
- Berkatalah Arung Bila: Memang demikian itulah adat pengabdian kami di Soppeng. Tamat.
- Berkata Arung Bila: ada petuah orang dahulu/leluhur, yang disebutnya tekka (ada) enam hal. Itulah yang menimbulkan peperangan bagi raja berdaulat.
432. Pertama, melangkahi pematang/tanggul91. Kedua, dikhianati atas
perjanjian yang telah diikrarkan bersama. Ketiga, diserangnya suatu wilayah tanpa mengabarkan kepada pusat kerajaannya. Keempat, membunuh kerabat orang, tanpa ada kesalahan yang pantas dijatuhi hukuman mati. Kelima, menurunkan martabat/merusakkan nama baik orang. Keenam, menuduh sesama raja tentang hal yang tidak sebenar- nya.
- Itulah semua yang mengakibatnya berkobarnya peperangan, bagi orang dahulu. Berkata pula leluhur: sama berat jugalah satu tekka besar dan tekka kecil namun banyak. Tamat.
- Berkata pula orang-orang dahulu: adapun yang menegakkan per- kerabatan itu ada empat. Pertama, saling mengasihi. Kedua, senantiasa saling memaafkan. Ketiga, saling memberi sewajarnya. Keempat, saling mengingatkan.
- Berkata pula orang-orang dahulu: empat penyakit parahnya negeri. Pertama, raja berdaulat yang bertindak sendiri/tanpa musyawarah. Kedua, abdi yang memutuskan perkara. Ketiga, pabbicara yang menerima sogokan. Keempat, utusan yang menambah atau mengurangi pesan yang dititahkan kepadanya. Tamat. 1pematang/tanggul, dalam konteks naskah ini berarti peraturan; ketentuan hukum; ketentuan adat; dan sebagainya.
436. Berkata pula orang dahulu: Adapun yang membesarkan negeri:
pertama, perkataan benar; kedua, sifat-sifat baik; ketiga bicara yang
jujur; sebab adalah perbuatan baik dan bicara yang jujur itu menentu-
kan keadaan musim. Keempat, janji yang tidak terlupakan serta kata mufakat yang tidak diingkari. Kelima, adat yang dipatuhi. Keenam, keputusan yang kuat. Ketujuh, peraturan yang terpelihara. Kedelapan, kata mufakat di dalam negeri. Kesembilan, pandangan yang tidak tumpang-tindih. Kesepuluh, saling membela kehormatan. Kesebelas, tidak saling membiarkan antara sesama penduduk negeri, serta sesama kerabat. Tamat.
437. Berkata pula orang dahulu: Adapun orang yang dijadikan aparat
negeri memiliki empat hal. Pertama, ia harus berakal pikiran. Kedua, ia harus jujur. Ketiga, ia harus berani. Keempat, ia harus kaya.
- Adapun tanda-tanda orang berakal, empat pula. Pertama, ia takut kepada sang dewata. Kedua, ia takut pada hukum karma. Ketiga, ia takut berbuat salah. Keempat, ia takut melakukan tindakan kejahatan.
- Adapun tanda-tanda orang jujur, empat pula. Pertama, menyukai kehati-hatian/ketelitian. Kedua, menyukai hal yang berguna. Ketiga, yang menyukai perbuatan baik. Keempat, yang menyenangi perbuatan bersungguh-sungguh.
- Adapun tanda-tanda orang yang berani, empat pula. Pertama, yang tidak takut didahulukan. Kedua, tidak takut dikemudiankan. Ketiga, tidak takut mendengar kabar berita. Keempat, tidak takut melihat musuh.
- Adapun tanda-tanda orang kaya, empat pula. Pertama, yang tak kurang akal pikirannya. Kedua, yang tak kurang belanjanya. Ketiga, yang longgar dalam segala tindakannya. Keempat, yang tidak pernah kekurangan gagasan. Tamat.
- Berkata pula Arung Bila, pesan-pesannya: janganlah nian engkau terlalu berani menjadi aparat bagi negeri. Tidak sembarang orang dapat melakukan, memikirkan akan perbuatan serta pemikiran orang-orang yang dijadikan aparat bagi negeri.
- Adapun tindakan yang berguna, ada pada orang yang berakal. Ada pun perbuatan baik, terdapat pada orang yang cerdik. Ada pun perbuatan jahat itu, terdapat pada orang dungu. Adapun perbuatan salah itu, ada pada orang yang sesat.
Adapun sumbernya adat, ialah tindakan yang wajar lagi patut. Adapun sumbernya bicara, ialah tindakan yang sewajarnya serta kata mufakat.
Adapun rapang itu, ialah (tindakan) mempersamakan. Adapun wari itu, ialah tindakan memilah-milih. Tamat.
- Berkata pula Arung Bila: dua hal saling mencari; dan saling bertemu (yaitu) perbuatan baik dan sifat wajar.
- Adapun cara mencari kebaikan itu (ialah) dibiasakan diri melakukan hal-hal yang baik. Sekalipun kita terburu-buru namun sedapat-dapatnya kita membiasakan diri. Kedua, merendahkan diri sewajarnya. Ketiga, mendekatkan diri (pada orang atau seseorang) sewajarnya. Keempat, usaha yang bermanfaat, Kelima, berbalik pulang ketika menghadapi hambatan di jalan. Keenam, meniti jalanan dalam keadaan waspada, kemudian menyerahkan diri pada sang dewata.
- Berkata pula Arung Bila: Ada empat kayu mati/keropos. Jangan- lah engkau berani menyandarkan diri padanya. Satu kayu mati/ keropos, kalau kita pintar dan kita mengetahui diri pintar. Kedua, kalau kita kaya dan kita tahu diri kaya. Ketiga, kalau kita bangsawan dan kita
BAB IV
ANALISA DAN KESIMPULAN
4.1ANALISIS Berdasarkan hasil transliterasi dan terjemahan naskah kuno lontarak Poada-ada-éngngi Tana é Ri Soppeng yang telah di- kemukakan dalam laporan ini, maka secara garis besar naskah tersebut memuat informasi yang bertalian dengan 12 (dua belas) hal pokok, yaitu: asal-usul penduduk dan mula terbentuknya pemerintahan kerajaan Soppeng; peristiwa/sejarah penaklukan kerajaan Soppeng atas kerajaan dominasi Gowa di Manrai, Lollo, Kaluku, Tellek, Lombasa, Bungoro, Barrasa, di samping beberapa daerah lainnya; pesan-pesan Daoke; pertemuan antara raja Soppeng dan Petta Malampee Gemmekna di Bontoala; jatuhnya kerajaan Cilellang ke tangan laskar Soppeng; keputusan tentang kerajaan Beru; peristiwa kembalinya Arung Bila dan kawan-kawannya dari Tiworo; silsilah kekerabatan raja-raja Soppeng; Arung Bila dan kawan-kawannya ke Lisu; sesudahnya bobolnya kerajaan Gowa; petuah Arung Bila dan leluhur. Analisis tentang isi masing-masing komponen isi naskah tersebut dapat dirinci sebagai berikut: Asal-usul Penduduk dan Mula Terbentuknya Sistem Pemerintahan di Kerajaan Soppeng. Bagian ini memuat catatan sejarah yang mengungkapkan, tentang keadaan masyarakat dan daerah Soppeng setelah punahnya sistem
pemerintahan yang pernah ada selama masa/periode Galigo1. Ketika
itu masyarakat sedang mengalami masa kesenjangan pemerintahan. Menurut pemberitaan lontarak, peristiwa kesenjangan pemerintahan pada masa itu terjadi pula di dacrah-daerah lain seperti Bone². Dalam lontarak Soppeng yang menjadi sasaran penelitian ini disebutkan, antara lain sebagai berikut:
a.Masyarakat Soppeng meninggalkan tempat kediaman yang lama di wilayah pegunungan Sewo serta daerah perbukitan Gattareng. Mereka kemudian pindah ke Soppeng, namun tetap berpisah tempat. Penduduk yang berasal dari Bulu Sewo menata per- kampungan di sekitar Lalabata dan menyebut diri mereka sebagai orang Soppeng Riaja (orang Soppeng bagian barat), sedangkan penduduk yang berasal dari Gattareng mendirikan satuan-satuan pemukiman di daerah Mario, sekaligus menamakan diri mereka sebagai orang Soppeng Rilau (orang Soppeng bagian timur).
b. Pada masa itu tidak ada lagi unsur pemimpin yang bergelar datu (raja), bahkan tidak ada aparat kerajaan. Negeri dan kerajaanpun sudah sirna, sehingga lama kelamaan terbentuklah kelompok-kelompok masyarakat. Lontarak Soppeng menyebutkan adanya scbanyak 60 (enam puluh) kelompok masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Soppeng, termasuk Soppeng Riaja dan Soppeng 1 periode Galigo, adalah periode pemerintahan tradisional yang pernah ada dan berlangsung selama kekuasaan raja-raja keturunan Batara Guru, san To-manurung di Luwu. Setelah musnahnya kerajaan yang diperintah oleh keturunan Batara Guru, masyarakat Sulawesi Selatan memasuki masa kesenjangan pemerintahan. Kisah tentang turunnya Batara Guru di bumi dan perkembangan masyarakat serta pemerintahan tradisional zaman itu, sampai karamnya Sawerigading bersama seluruh kerajaannya dapat dibaca melalui karya Pananrangi Hamid (1986), berjudul "Pau Paunna Sawerigading", buku 1, terbitan Balai Kajian Jarahnitra Ujung Pandang. Drs. Abu Hamid, dalam penelitiannya berjudul "Alat-alat Kerajaan Sulawesi Selatan (Daerah Bone)" (1974) mengungkapkan antara lain, bahwa masa pemerintahan yang berlangsung dalam periode Galigo terbagi menjadi dua bagian. Periode pertama, bermula pada saat turunnya Tamboro'Langi,atau PatotoE di puncak Gunung Latimojong. Kedatangan PatotoE ini merupa- kan masa peletakan konsep-konsep pemerintahan dan dasar-dasar sistem pemerintahan/ kemasyarakatan. Periode kedua adalah datangnya Batara Guru, putera sulung PatotoE di daerah Luwu. Kerajaan Luwu kemudian memperluas wilayah kekuasaannya di bawah pimpinan putera Batara Guru yang bernama Sawerigading. Demikianlah periode ini lebih dikenal sebagai periode Sawerigading. Sesudah usainya periode ini, terjadilah kekosongan/kekacauan pemerintahan. 2 Masa kekosongan atau kesenjangan pemerintahan di daerah Bone sebagaimana halnya yang terjadi di daerah lain dalam wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng adalah meng- akibatkan timbulnya kekacau-balauan di dalam kehidupan masyarakat bersangkutan. Hasil penelitian Pananrangi Hamid berjudul "lontarak Tellumpoccoe" (1990), menunjukkan, bahwa setelah berlalunya periode Galigo terjadilah masa kesenjangan pemerintahan, tiada lagi penguasa maupun raja. Masyarakat manusia ketika itu hidup saling memangsa bagaikan ikan. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Masa kekacauan tersebut berlangsung selama tujuh generasi.
Rilau. Tiap kelompok masyarakat tersebut dipimpin masing-
masing oleh seorang ketua kelompok yang disebut matoa (tetua).
C.Dalam keadaan pemerintahan yang sedang mengalami kekosongan atau kesenjangan itu, tiba-tiba muncullah to-manurung³ di daérah Sekkanynyili, sebuah perkampungan di wilayah Soppeng Riaja. Mengetahui adanya to-manurung tersebut, maka para ketua keləmpok di Soppeng Riaja memberikan informasi kepada rekan- rekan mereka para matoa di Soppeng Rilau. Setelah melakukan musyawarah, maka segenap matoa dari keenam puluh kelompok masyarakat bersangkutan mengambil kata mufakat untuk meng- hadap kepada sang to manurung, sekaligus memohonkan kesediaan beliau untuk menjadi raja, pemimpin yang senantiasa membimbing kehidupan mereka.
d. Hasil kesepakatan ketua-ketua kelompok tersebut, kemudian di- laksanakan secara bersama-sama. Mereka mendatangi sang to manurung dan menyampaikan maksud dan keinginannya. Sang to manurung menerima baik kedatangan mereka, bahkan sekaligus mengabulkan keinginan mereka. Dalam pada itu, para matoa memohonkan kesediaan sang to manurung untuk menetap, sekaligus menjadi raja di daerah Soppeng, dengan permintaan sebagai berikut:
1) Baginda to manurung dimohon untuk menjaga keselamatan;
2) membina kesejahteraan mereka, baik sandang maupun pangan. Permintaan tersebut dikabulkan oleh baginda to manurung, hanya dengan syarat, bahwa rakyat (Soppeng) tidak berlaku khianat dan harus setia kepada baginda raja seorang, tanpa menduakannya dengan pihak manapun juga. Selanjutnya baginda meminta kepada para matoa, untuk menjemput tokoh to manurung lainnya yang ketika itu sedang berada di Gowarie untuk dijadikan pula raja di Soppeng Rilau.
e. Sesuai dengan saran baginda to manurung di Sekkanynyili, para matoa tersebut menemui pula to manurung di Gowarie. Sama halnya dengan to manurung di Sekkanynyili, to manurung yang muncul di Gowarie itupun bersedia diangkat menjadi raja, dengan syarat-syarat yang sama dengan perjanjian Soppeng Riaja dengan rajanya (Manurungnge ri Sekkanynyili). Demikianlah, maka sejak 3 To-manurung, adalah tokoh pemimpin yang dianggap turun di bumi dari kayangan. Drs. Abu Hamid (1974) menyatakan, antara lain bahwa to-manurung berarti orang yang turun. Tentu saja orang yang turun dari langit, orang yang menjelma dari kayangan.
zaman silam di wilayah Soppeng terdapat kerajaan kembar, yaitu Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau. Masing-masing dipimpin oleh seorang Raja yang berasal dari jelmaan manusia dewa yang turun dari langit.
f.Kerajaan kembar tersebut kemudian mengalami perubahan, di mana kedua kerajaan bersatu di bawah pemerintahan seorang raja. Perubahan dan penyatuan kedua kerajaan bermula dari peristiwa pertengkaran yang terjadi antara pemerintahan kerajaan Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau. Pihak Soppeng Rilau meminta bantuan pasukan perang dari Bone, namun pihak kerajaan Bone menyaran- kan agar perselisihan dan peperangan antara sesama saudara itu dihentikan dan kembali berdamai. Demikianlah, raja Soppeng Rilau lalu menyerahkan sepenuhnya kepada raja Soppeng Riaja. Informasi tersebut menunjukkan, bahwa asal-usul penduduk Soppeng bersumber dari dua wilayah pegunungan, yaitu Bulu Sewo dan Gattareng. Penduduk yang berasaldari dua tempat yangsaling berbeda itu kemudian membentuk pemerintahan kerajaan tersendiri, masing-masing diperintah oleh seorang to manurung, yaitu manusia penjelmaan dewa yang turun dari langit atau kayangan. Dasar pembentukan sistem pemerintahan kerajaan pada mulanya adalah terjadinya perjanjian antara keenam puluh matoa sebagai wakil rakyat dan to manurung, sebagai raja. Menurut perjanjian tersebut, maka rakyat Soppeng bersedia patuh, taat dan setia sepenuhnya di bawah kepemimpinan rajanya, sepanjang raja tersebut melakukan kewajiban-kewajibannya yaitu: membina kesejahteraan rakyat, baik dalam arti sandang maupun pangan. Inilah yang disebut "perjanjian antara raja dan hambanya". Peristiwa Keberangkatan Arung Appanang dan Kawan-kawannya ke Daerah Kaluku dan Sekitarnya. Peristiwa ini mengisahkan usaha penyerangan pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Arung Appanang, Arung Bila, dan Arung Belo yang dilakukan terhadap daerah-daerah kekuasaan kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai Selat Makassar. Dalam penyerangan tersebut pihak kerajaan Soppeng, mengalahkan dan mengambil alih beberapa daerah, antara lain: daerah Manrai, Lolo, dan Kaluku. Setelah menaklukkan daerah-daerah tersebut, maka pasukan kerajaan Soppeng bergerak terus menuju ke Tellek, sambil melakukan
penyerangan dan penaklukan atas wilayah: Temmaroja, Cempa-Cempa, Barrasa, Siang, Pangkajene, Bontomatene. Dalam penyerangan tersebut, kerajaan Soppeng mengambil sumpah setia dan permyataan takluk dari raja Barrasa maupun raja Siang. Keduanya bersumpah tidak akan pernah berani mengangkat senjata lagi, melawan Soppeng dan Bone. Setelah itu Arung Appanang dan seluruh pasukannya berangkat menuju Binamu (kota tua di Jeneponto), untuk menyusul pimpinan tertingginya yaitu Petta Malampee Gemmekna. Dari uraian tersebut tampak secara jelas, bahwa kerajaan Soppeng bersama tokoh-tokoh setempat telah berbuat banyak demi kepentingan penyerangan mereka ke sasaran utama, yaitu ibu kota kerajaan Gowa di Sombaopu. Keadaan ini juga menunjukkan kemampuan para pimpinan perang tradisional untuk mengatur taktik dan strategi, dengan cara mematahkan perlawanan daerah-daerah kecil pendukung kerajaan Gowa. Barulah kemudian penyerangan ditujukan langsung ke pusat pemerintahan kerajaan Gowa yang menjadi musuh besarnya.
Pesan-pesan Daoke Daoke adalah salah seorang tokoh lokal di kerajaan Soppeng, mempunyai hubungan kekerabatan yang masih cukup dekat dengan Arung Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroe ri Bontoala. Beliau menyampaikan pesan, tentang hasil pertemuan antara Malampee Gemmekna dan Baginda raja Soppeng, yaitu Matinroe ri Adatunna. Adapun isi pesan beliau, bahwa Malampee Gemmekna berulang kali menyatakan kepada Baginda raja Soppeng tentang kesediaan pihak Bone membantu siapa sajadari keturunan rekan-rekannya dari Angke, seperti Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo untuk menuntut bela atas hak-hak mereka yang terinjank-injak oleh pihak manapun juga. Selain itu Petta Malampeee Gemmekna menegaskan kembali, bahwa pihak Bone telah berkorban, namun pihak orang-orang Soppeng turut beroleh keuntungan /kebaikan. Pesan tersebut menunjukkan adanya nilai kesetiakawanan, antara pihak Malampee Gemmekna selaku raja terhadap rekan seperjuangan dan seperjalanan dalam perantauan ke Tanah Jawa. Hal ini sekaligus mencerminkan keteguhan orang Bugis di dalam memegang janji setia yang telah diikrarkan dan disepakati bersama antara pihak-pihak yang terkait.
Pertemuan Baginda Malampee Gemmekna dan Datu Soppeng
Bagian ini memuat informasi, tentang pertemuan baginda
Malampee Gemmekna dan baginda datu Soppeng Matinroe ri Adatunna, bertempat di Bontoala. Pertemuan itu terjadi sesudah usainya peperangan antara pihak kerajaan Bugis (Bone bersama Soppeng) melawan Gowa yang berakhir dengan peristiwa bobolnya Gowa. Materi pembicaraan dalam pertemuan tersebut adalah pernyataan Malampee Gemmekna kepada Datu Soppeng, terutama menyangkut dua hal penting. Pertama, bahwasegenap wilayah kekuasaan raja Gowa di pedalaman Sulawesi Selatan telah beralih ke bawah kekuasaan Malampee Gemmekna. Kedua, bahwa sang Karaeng (raja) di Gowa tidak mempunyai kedaulatan lagi. Titahnya tidak berarti lagi, melain- kan yang bersangkutan hanya tinggal menurut atas titah Malampee Gemmekna. Informasi tersebut merupakan penegasan pihak pemerintah kerajaan Bugis (Malampee Gemmekna), bahwa setelah tumbangnya kerajaan Gowa4, maka sebagian besar wilayah taklukan kerajaan Gowa di daerah pedalaman diambil alih oleh pihak kerajaan Bone dan Soppeng. Dalam hal ini status daerah/kerajaan yang diambil alih tersebut terdiri atas dua kelompok. Pertama, kelompok wilayah kerajaan persaudaraan/persekutuan Bone serta Soppeng hanya mendapatkan kembali kebebasannya dari dominasi kerajaan Gowa. Kedua, kelompok kerajaan yang memang termasuk sekutu gowa, seluruhnya menjadi wilayah taklukan Bone atau pun Soppeng.
Penaklukan Daerah Cilellang Bagian ini mengungkapkan peristiwa peperangan dan penaklukan yang dilakukan oleh pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo di Cilellang dan sekitarnya. Dalam peperangan tersebut kerajaan Soppeng berhasil menaklukkan beberapa kerajaan, antara lain: Mangkaca, Lisu, Kekei, Balosu, Manggalung, Ciniajo, Mangambei Manise, Marrang, Labakkang, Bontosunggu, Kaluku, Mangempang, Pitue, Talaka, Allu, Balangnge, Latopeok.
4 Pananrangi Hamid menulis dalam karyanya, berjudul "Sejarah Soppeng" (1991:196) bahwa peristiwa kerajaan Gowa (... ) lazim disebut "Rumpak-na Sombaopu), ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya atau sering disebut ceppaé ri Bungaya yang terjadi dalam tahun 1667. Informasi ini tercantum pula dalam karya Pananrangi Hamid, berjudul "Sejarah Gowa" (1990); dan "Lontarak Tellumpoccoe" (1990).
Berdasarkan informasi lontarak tersebut, maka kerajaan Soppeng pada zaman lampau bukan hanya termasuk kerajaan lokal yang cukup mampu mengatasi kekuatan perang dari kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi pendukung kerajaan Gowa, melainkan sekaligus mengambil alih kekuasaan di wilayah taklukannya. Ini sesuai dengan perjanjian yang disetujui bersama antara pihak kerajaan Bone dan Soppeng sebelum memulai usaha penaklukkan tersebut, bahwa jikalau ternyata kelak pihak kerajaan Gowa dapat ditaklukkan, maka rampasan perang, termasuk wilayah taklukan masing-masing tidak akan diganggu-gugat oleh kerajaan lain yang turut dalam persekutuan Bone-Soppeng.
Mula Ditetapkannya Peraturan Daerah Beru oleh Soppeng Pada bagian ini lontarak Soppeng mengungkapkan, tentang peraturan yangdikenakan oleh kerajaan Soppeng kepada kerajaan Beru. Peraturan ini menyangkut pajak pembebasan tawananyang ditetapkan oleh Arung Cabalu, sebagai utusan dari Petta Torisompae (Arung Palakka Malampee Gemmekna). Menurut peraturan tersebut, maka ditegaskan bahwa bagi para anak-anak keturunan bangsawan tidak dikenakan pajak tawanan. Peraturan ini disepakati oleh semua pihak bersangkutan dan tidak dapat diubah-ubah. Informasi ini sudah merupakan suatu bukti autentik, bahwa sejak zaman silam masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan telah mengenal dan menerapkan berbagai peraturan, sebagai usaha menciptakan ketertiban dalam kehidupan masyarakat luas.
Perintah Dari Malampee Gemmekna Menyerang Tambora Dalam bagian ini lontarak Soppeng mencatat, bahwa Malampee Gemmekna murka terhadap raja Beru Riaja maka diperintahkannya kepada pihak kerajaan Soppeng untuk melakukan penyerangan ke wilayah Tambora. Namun, bagaimanapun juga, aksi penyerangan tersebut harus didahului dengan usaha pendekatan kekeluargaan, mengingat jasa raja Beru yang telah menyelamatkan nyawa Datu Soppeng dari Kematian. Peristiwa itu terjadi ketika Malampee Gemmekna bersama rekan-rekannya berangkat ke Jawa atas bantuan biaya dari raja Soppeng. Hal tersebut menimbulkan murka raja Gowa, sehingga diperintahkannyalah pasukan kerajaan untuk memenggal kepala raja Soppeng, untung saja ketika itu raja Beru memberikan perlindungan.
Berdasarkan budi baik raja Beru tersebut, maka Malampee Gemekna tidak ingin bertindak gegabah melakukan penyerangan sebelum ada pendekatan kekeluargaan terhadap raja bersangkutan. Hasil dari pendekatan tersebut membuahkan kata mufakat, bahwa pihak raja Beru tetap memegang janjinya yaitu menerima hubungan perkerabatan dengan pihak kerajaan Soppeng/Bone. Selain itu, lontarak Soppeng mencatat pula peristiwa terjadinya pertemuan/per- bincangan antara Malampee Gemmekna dengan Arung Cabalu. Pokok-pokok pembicaraan antara Malampee Gemmekna dengan Arung Cabalu adalah mencakup dua hal. Pertama, Malampee Gemmekna menyatakan kepada Arung Cabalu tentang kata mufakat, antara Malampee Gemmekna bersama dengan rekan-rekannya dari Soppeng sebelum mereka berangkat ke Jawa. Beliau menambahkan pula tentang budi baik raja Soppeng yang telah memberi biaya dan persenjataan, sebagai bekal untuk melanglang buana, mencari balabantuan di Tanah Jawa. Kedua, Malampee Gemmekna mengingatkan kembali perjanjian Toballa dengan pihak kerajaan Soppeng di massa hidupnya, bahwa biarlah raja Bone bersama seluruh rakyatnya tidak beroleh keberuntungan, manakala mereka meninggalkan atau mengingkari janji yang diikrarkannya, yaitu seia-sekata dan sering seperjalanan dengan pihak raja Soppeng bersama rakyatnya. Informasi tersebut sekali lagi menunjukkan keteguhan, kesetiaan orang-orang dahulu dalam menepati janji yang telah diucapkannya. Dalam hal ini berlaku prinsip, seperti pepatah yang berbunyi "lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai"
Kembalinya Arung Appanang Bersama Arung Bila dan Arung Belo ke Soppeng Menurut catatan lontarak seperti tertera dalam transliterasi dan terjemahannya, maka setelah Arung Palakka Malampee Gemmekna bersama rekan-rekannya tiba kembali dari Tiworo terjadilah ke- sepakatan antara sesamanya. Dalam pada itu, ketiga tokoh kerajaan Soppeng (Arung Bila, Arung Appanang, dan Arung Belo) bermaksud kembali ke Soppeng untuk mengkoordinasikan sisa-sisa pasukan yang akan diajak serta melakukan penyerangan ke Gowa. Sementara di lain pihak Arung Palakka tetap tinggal di wilayah Bone, untuk menggalang orang-orang Bone yang bersedia ikut berperang melawan Gowa. Setelah terjadi kata mufakat, berangkatlah para tokoh-tokoh kerajaan Soppeng tersebut menuju ke Soppeng. Namun mereka
kemudian mengetahui, bahwa pasukan kerajaan Sawitto selaku unsur pendukung kerajaan Gowa ketika itu sedang menguasai wilayah Soppeng dan mereka bermarkas di dalam mesjid. Mengetahui hal
tersebut, Pasukan Soppeng lalu menggerebek pasukan Sawitto ketika
mereka sedang tidur lelap di pagi hari. Penggerebekkan itu meng- akibatkan hancur-leburnya pasukan Sawitto. Banyak di antara mereka mati terpenggal, adapun yang masih hidup berusaha melarikan diri di bawah kejaran pasukan kerajaan Soppeng. Barulah sesudah menghalau pasukan Sawitto dari Soppeng, ketiga
datu dari kerajaan Soppeng itu menyeru serta mengajak segenap
rakyat, untuk turut memperkuat pasukan perang Soppeng, di dalam rangka perlawanan terhadap Gowa. Setelah itu mereka bersama-sama kembalimenemuiMalampee Gemmekna di wilayah Pattiro (Bone). Selanjutnya, Malampee Gemmekna mempersiapkan pemberangkatan pasukan menuju ke Binamu yang dijadikan daerah basis penyerangan.
Namun pihak Soppeng mengajukan usul, agar Malampee Gemmekna
lebih dahulu melakukan pertemuan dengan seluruh komponen pasukan Bone, guna meneguhkan perjanjian yang pernah dibuat oleh Toballa di Atapang, demikian pula segenap perjanjian yang pernah dibuat oleh
Malampee Gemmekna.
Menuruti usul pihak Soppeng tersebut, diadakanlah pertemuan antara semua komponen pasukan Bone dan Soppeng. Hasil pertemuan memperoleh kata sepakat, bahwa masing-masing pihak bersedia
memegang teguh perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, baik oleh Toballa maupun oleh Malampee Gemmekna.
Bertolak dari informasi lontarak tersebut maka jelaslah bahwa sejak zaman lampau masyarakat Bugis bukan hanya sangat hati-hati dalam menghadapi kekuatan lawan, melainkan selalu pula bersikap waspada terhadap sesama anggota persekutuan, terutama dalam upaya
menghindarkan terjadinya pengkhianatan dari salah satu pihak. Sejalan
dengan itu pula mereka sangat mengutamakan nilai kesatuan yang
disebut asseddi-sedding (kesatupaduan), baik dalam pandangan
maupun dalam sikap dan juga dalam tindakan. Demikianlah, maka hampir setiap jenis kegiatan, baik menyangkut urusan kenegaraan maupun kemasyarakatan senantiasa didahului oleh pelaksanaan musyawarah dalam rangka mufakat. Tindakan seorang penguasa tanpa proses musyawarah dipandang sebagai suatu hal yang tidak terpuji, bahkan dalam pengistilahan bahasa daerah Bugis termasuk salah satu jenis tekka, yaitu perbuatan khianat. Mengenai kriteria tindakan yang termasuk jenis tekka tersebut akan dibahas secara lebih rinci pada sub bab lain dalam laporan ini.
Silsilah Keturunan Raja-raja (Soppeng) Salah satu perangkat informasi yang tertuang dalam naskah kuno lontarak Soppeng ialah rincian tentang silsilah keturunan raja-raja Soppeng. Dalam hal ini catatan lontarak antara lain menunjukkan sistem jaringan hubungan kekerabatan baginda raja yang terbentuk melalui hubungan darah di samping hubungan perkawinan. Hubungan kekerabatan berdasarkan ikatan darah atau kelahiran dalam keluarga raja Soppeng bermula pada sepasang suami-isteri, yaitu Datu Soppeng pertama yang bergelar Manurungnge Ri Sekkanynyili, bersama isterinya yang bernama We Mapupu. Silsilah selanjutnya senantiasa dicatatkan setiap kali ada keluarga sang datu yang melahirkan, sehingga perkerabatan raja-raja Soppeng dapat ditelusuri melalui silsilah keturunan yang tercakup dalam naskah lontarak. Hubungan ikatan darah antara seseorang dengan anggota keluarganya tidak akan terputus, kendati orang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sebaliknya, ikatan kekerabatan yang terbentuk atas dasar ikatan perkawinan adalah lebih rapuh. Dalam hal ini hubungan kekerabatan hanya berlangsung selama pasangan suami isteri yang menjadi dasar hubungan tersebut masih hidup bersama. Manakala ikatan perkawinan itu sendiri terputus, maka putus pulalah pertalian kekerabatan di antara mereka. Menurut informasi yang tercakup dalam lontarak Soppeng ternyata sejak zaman silam keluarga bangsawan Soppeng umumnya melakukan hubungan perkawinan dengan keluarga bangsawan pula. Dalam hal ini perjodohan yang dianggap ideal adalah perkawinan/perjodohan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang masih saling berkerabat. Ini berarti bahwa pola pemilihan jodoh tersebut didasarkan pada prinsip endogami kerabat, maksudnya perjodohan cenderung berlangsung antara orang-orang yang saling berkerabat. Kendatipun demikian, perjodohan ataupun perkawinan antara keturunan raja-raja Soppeng banyak pula terjadi antar daerah, bahkan banyak di antara mereka menikah dengan lelaki ataupun wanita dari daerah/kerajaan lain. Sejalan dengan pola pemilihan jodoh yang diwarnai oleh prinsip endogami-kerabat, maka sejak zaman dahulu sampai sekarang kaum bangsawan di daerah Soppeng tetap memanfaatkan lontarak untuk mengusut garis keturunan bagi seseorang laki-laki yang mengajukan pinangan terhadap seorang puteri bangsawan. Hal ini dipandang perlu, untuk memastikan apakah lelaki bersangkutan masih termasuk anggota kerabat atau bukan. Selain penting dalam hal perjodohan, silsilah
keturunan raja-raja Soppeng yang tercantum dalam lontarak dimanfaatkan pula untuk mengetahui asal-usul keturunan bagi seseorang
yang dikenakan gugatan hukum ataupun untuk memperoleh kejelasan mengenai identitas anggota kerabat raja, hal mana diperlukan dalam
rangka penyebaran undangan di samping menyampaikan berita
keluarga, baik berita gembira maupun berita duka.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa lontarak khususnya
menyangkut catatan silsilah keturunan raja-raja sampai sekarang tetap dipelihara dan dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan.
Arung Bila Beserta Arung Appanang dan Arung Belo Menyerang Daerah Lisu
Pada bagian ini lontarak Soppeng mengungkapkan tentang
peristiwa sejarah penyerangan pasukan perangkerajaan Soppeng ke daerah Lisu, Beru Rilau dan Beru Riaja, serta daerah-daerah dominasi kerajaan Gowa lainnya. Peristiwa penting yang terjadi ketika itu dapat dirinci sebagai berikut:
a. Dalam rangka perjuangan kerajaan Bone-Soppeng untuk mem- bebaskan rakyat dan negerinya dari pengaruh dominasi kerajaan Gowa, maka pasukan kerajaan Soppeng menyerukan kepada raja Tanete, agar yang bersangkutan mengingat ikrar/ikatan perjanjian persaudaraan yang pernah disepakati bersama di masa sebelum- nya. Selain itu ketiga tokoh pemimpin pasukan kerajaan Soppeng (Arung Bila, Arung Appanang, Arung Belo) mengajak pihak kerajaan Tanete, untuk turut mengangkat senjata terhadap kerajaan Gowa. Mendengarkan seruan dan ajakan terscbut, maka pihak kerajaan Tanete menegaskan bahwa mereka tetap tidak lupa akan tali persaudaraan dengan kerajaan Soppeng, akan tetapi mereka pun tidak mampu berbuat apa-apa, sebab adanya ikatan perkerabatan pula dengan pihak Gowa. Bahkan pihak raja Tancte, melalui utusannya menyampaikan kepada pimpinan pasukan kerajaan Soppeng, tentang kesediaan mereka menghadapi pasukan kerajaan Soppeng dengan kekuatan senjata. Maka terjadilah peperangan sengit antara pasukan kerajaan Soppeng dengan kerajaan Beru, termasuk Tanete. Ketika peperangan tersebut berlangsung dengan hebatnya dan mulai berguguran pasukan kedua belah pihak, tibalah utusan dari kerajaan Gowa yang menyampaikan agar raja Beru dan pasukan-
nya berusaha menyelamatkan diri, sebab pihak Gowa selaku induk
tidak mampu lagi memberikan perlindungan. Mendengarkan pesan tersebut, maka raja Beru Riaja dan Beru Rilau/Tanete segera menyatakan diri takluk, sekaligus bersumpah tidak akan menentang lagi terhadap kerajaan Soppeng. Selain itu mereka menyatakan kesediaan membantu pihak Soppeng dalam peperangan meng- hadapi raja dan kerajaan Gowa.
b. Tiga malam kemudian sesudah takluknya kerajaan Beru/Tanete, maka Arung Appanang, Arung Bila, Arung Belo bersama pihak
kerajaan Tanete menyerang daerah Cilellang. Setelah peperangan
berlangsung selama tiga hari, pasukan kerajaan Cilellang pun menyerah kalah dan mengangkat sumpah, untuk setia, taat dan patuh terhadap raja Soppeng serta Malampee Gemmekna.
C.Belasan malam sekembalinya dari Tanete maka pasukan kerajaan
Soppeng melakukan pula penyerangan terhadap daerah Balosu.
Sementara itu Madello dan Ceppaga direbut, kemudian pasukan Soppeng bergerak menuju ke daerah Nepo. Raja Nepo ketika itu menyatakan kesediaannya untuk turut membantu pihak kerajaan Soppeng untuk menggempur Gowa.
d. Selain informasi tersebut, lontarak Soppeng memuat pula catatan
yang menginformasikan tentang penyerangan daerah Lamatti dan
Bulo-Bulo, oleh pasukan gabungan Bone-Soppeng. Perlu dijelas-
kan, bahwa dalam penyerangan tersebut pasukan kerajaan Bone dipimpin langsung oleh Malampee Gemmekna, sedangkan pasukan Soppeng dipimpin oleh Arung Bila, Arung Appanang dan Arung
Belo.
Penyerangan tersebut berlangsung dalam dua tahap. Pada tahap pertama pasukan gabungan Bone-Soppeng berhadapan dengan barisan Bissu dari Lamatti-Bulo-Bulo. Barisan Bissu tersebut hanya bersenjatakan walida (sejenis alat tenun tradisional yang berbentuk runcing) namun tidak ada satu pun yang terluka, kendati mereka diberondong dengan senapan. Setelah barisan bissu itu mendapatkan bantuan dari pasukan kerajaan Gowa, maka pihak pasukan gabungan Bone-Soppeng terpukul mundur.
Beberapa waktu berselang, pasukan Bone-Soppeng kembali melakukan serangan tahap kedua. Berbeda dengan penyerangan
tahap pertama, ternyata pada penyerangan tahap kedua tersebut
pasukan gabungan Bone-Soppeng bukan hanya mampu
memberikan perlawanan sengit, melainkan dapat mengatasi
kekuatan perang kerajaan Gowa, bahkan pada akhirnya pasukan kerajaan Gowa terpukul mundur. Daerah Lamatti dan Bulo-Bulo pun direbut oleh pasukan gabungan Bone-Soppeng. Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa Arung Palakka Malampee Gemmekna bersama segenap pasukan perang Bugis dari Angke telah menggunakan peralatan perang berupa senapan. Hal ini menunjukkan, bahwa berbagai jenis senjata api telah dikenal di daerah Bugis sebelum masa bobolnya kerajaan Gowa dalam tahun 1667. Pengetahuan dan ketrampilan menggunakan senapan dalam peperangan di zaman Arung Palakka, mungkin merupakan salah satu hasil pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan dan teknologi yang didukung oleh masyarakat Eropa, utamanya Belanda.
Pembicaraan Malampee Gemmekna dan Negeri-negeri Persekutu- an dari Bone-Soppeng Bagian ini mengungkapkan tentang pernyataan Malampee Gemmekna di hadapan raja-raja bawahan dari Bone serta raja dan wilayah persekutuannya, mengenai perjanjian dan sunıpah setia yang telah diikrarkan bersama di daerah Pattiro, sebelum mereka melakukan proses penyerangan ke pusat kerajaan Gowa. Dalam pada itu pihak kerajaan Bone maupun pihak kerajaan Soppeng sama menyatakan tetap memegang teguh perjanjian dan tidak melupakan ikrar/sumpah yang telah mereka ucapkan di Pattiro. Selain itu ditemukan informasi dalam lontarak Soppeng, tentang perbincangan antara Malampee Gemmekna dan datu Soppeng Matinroe Ri Adatunna. Dalam pada itu, datu Soppeng menyampaikan kepada Malampee Gemmekna bahwa belasan malam kemudian sesudah berangkatnya Petta Malampee Gemmekna ke Buton, datanglah pasukan perang kerajaan Gowa dibantu oleh pasukan perang kerajaan Wajo untuk menyerang Soppeng. Pasukan perang Soppeng tidak mampu mengatasi kekuatan gabungan antara Gowa-Wajo tersebut, sehingga mereka menyerah. Bahkan baginda raja Soppeng pada waktu itu nyaris mati terpenggal, namun untunglah datang pertolongan dari pihak raja Beru Rilau. Beliaulah secara tegas menolak keinginan pimpinan pasukan Gowa untuk menjatuhkan tangan maut kepada bangida raja Soppeng. Uraian tersebut menunjukkan, bahwa para leluhur di daerah Soppeng sejak lama telah memberikan perhatian sepenuhnya pada masalah hutang budi dan balas jasa. Terbukti pada pembahasan sub
bagian lainnya dalam naskah/penelitian ini, di mana diungkapkan bahwa ketika pasukan kerajaan Soppeng di bawah pimpinan Arung Bila dan kedua rekannya yaitu Arung Appanang serta Arung Belo melakukan penyerangan dan penaklukan beruntun atas wilayah- wilayah taklukan kerajaan Gowa di daerah Beru dan sekitarnya, maka kerajaan Tanete/Beru Rilau tidak langsung diserbu dengan kekuatan senjata, melainkan diusahakan penyelesaian secara damai dan bersifat kekeluargaan. Ini karena mengingat jasa-jasa raja Tanete yang pernah menyelamatkan nyawa raja Soppeng di masa dahulu. Dalam hal ini ternyata orang Bugis Soppeng menerapkan prinsip "hutang uang dapat dibayar, hutang budi dibawa ke liang kubur".
Pesan-pesan Arung Bila dan Orang Tua-tua Bagian akhir dari lontarak Soppeng memuat berbagai pesan, naschat dan fatwa Arung Bila maupun para leluhur. Secara garis besar pesan-pesan tersebut terdiri atas:
a. Syarat-syarat yang perlu dimiliki oleh abdi dalam.
b. Konsep/pandangan Arung Bila tentang adek (adat).
c. Nasehat tentang tata cara dan tata krama pergaulan antara sesama abdi dalam dan sopan santun terhadap raja.
d. Pesan Arung Bila tentang ikatan persaudaraannya dengan raja Soppeng, Toakkatenni Pulallipue.
e.Perjanjian antara Soppeng dan Wumpungeng.
f. Pesan Arung Bila tentang cekka (ketidakjujuran).
g. Hal-hal yang mengukuhkan persekutuan/perkerabatan.
h. Hal-hal yang merupakan wabah penyakit bagi negeri.
i.Hal-hal yang membesarkan negeri. Syarat-syarat yang diperlukan bagi aparat negeri.
j.
k.Pesan-pesan Arung Bila tentang hal-hal tertentu yang tidak dapat dijadikan sandaran, bagaikan pohon/kayu yang sudah keropos. Dari seluruh uraian dalam naskah hasil penelitian ini tampak secara jelas, bahwa lontarak Soppeng merupakan salah satu jenis naskah kuno yang cukup potensial sebagai potensi sekaligus sumber informasi sejarah dan nilai-nilai budaya, termasuk gagasan, pandangan dan konsep-konsep ideal dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
4.2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan kajian naskah kuno, khususnya yang termuat dalam lontarak pannessa-engngi tanaé Ri Soppeng maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Soppeng adalah salah satu wilayah bekas kerajaan lokal di kawasan jazirah Sulawesi Selatan. Pada mulanya, wilayah Soppeng merupakan kerajaan kembar, yaitu Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Kerajaan kembar terscbut kemudian bersatu di zaman pemerintahan raja Soppeng yang bergelar Puwallipue. Penduduk Soppeng Rilau berasal dari daerah Gattareng, sedangkan penduduk Soppeng Riaja berasal dari Bulu Sewo. Kedua kerajaan tersebut dipimpin oleh keturunan raja penjelmaan dewa yang turun dari langit. Kedatangan tokoh to manurung di daerah Soppeng terjadi dalam masa kesenjangan pemerintahan, yaitu sesudah berlalunya periode Galigo. Soppeng merupakan sekutu Bone dan turut aktif di dalam berbagai peperangan melawan pihak kerajaan Gowa yang ketika itu menjadi penakluk bagi hampir setiap kerajaan Bugis. Dalam upaya membobol- kan pusat kerajaan Gowa di Sombaopu, maka kerajaan Soppeng berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sepanjang pesisir pantai Selat Makassar, mulai dari Barru sampai ke Pangkajene Kepulauan dan sekitarnya. Silsilah keturunan raja-raja Soppeng berpangkal pada sang To manurung di Sekkanynyili, sedangkan jaringan hubungan kekerabatan raja-raja Soppeng tersebar ke berbagai kerajaan baik melalui hubungan darah maupun ikatan perkawinan. Silsilah keturunan raja-raja tersebut sampai sekarang seringkali dibuka dan ditelusuri kembali oleh kelompok masyarakat keturunan bangsawan-lokal. Bagian terakhir dari naskah lontarak Soppeng mengungkapkan berbagai nasehat orang tua-tua dahulu kala, berkenaan dengan dedikasi abdi dalam terhadap sang raja; persyaratan bagi para abdi negeri tata krama, sopan santun, serta tata cara dalam pergaulan hidup. Lontarak Soppeng, dengan demikian tetap merupakan sumber informasi sejarah dan nilai-nilai sosial budaya. daerah, sekaligus merupakan warisan budaya yang cukup efektif bagi usaha pembinaan dan pengembangan bidang kesejarahan dan kebudayaan daerah, sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.
KEPUSTAKAAN
Abdullah, Hamid, Manusia Bugis Makassar, Suatu Tinjauan Historis terhadap Pola Tingkah Laku dan Pandangan Hidup Manusia Bugis Makassar, Inti Idayu Press, Jakarta, 1985. Ali, A. Muh., Bone Selayang Pandang, Naskah (tidak diterbitkan), Bone, 1969. ,Sejarah Perjuangan La Tenritatta Datu Mario Arung Palakka, Kantor Cabang II Lembaga Sejarah dan Antropologi, Ujung Pandang, 1976. Ambo Enre, Fachruddin, dkk., Pappasenna To Maccae Ri Luwuq Sibawa Kajao Laliddong Ri Bone, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo, Ujung Pandang, 1985/1986. Daeng Patunru, Abdurrazak, Sedjarah Wajo, JajasanKebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ujung Pandang, 1964. Gani, Ambo, dkk., Sinrikla I Manakkuk (Lontarak Makassar), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1990. Hadimuljono, Drs., Prasejarah Sulawesi Selatan, Petunjuk singkat bagi pengunjung Taman Prasejarah "Leang-Leang" Maros, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, Ujung Pandlang, 1980. Hamid, Abu, Alat-alat Kerajaan Sulawesi Selatan (Daerah Bone), Laporan Penelitian, Fakultas Sastera Universitas Hasanuddin, Ujung, Pandang, 1974. Hamid, Pananrangi, Sejarah Dati II Soppeng, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1983., Sejarah Daerah Gowa, Balai Kajian Jarahnitra Ujung Pandang, 1984., Cerita Rakyat Sawerigading, Buku 1, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1986., Konsepsi Budaya Tentang Tipologi Manusia, Kajian naskah lontarak, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang,
1987.
, Cerita Rakyat Sawerigading, Buku 2, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1987.
Lontarak Galigo, Transliterasi dan Terjemahan, Buku 1, Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1988., Lontarak Galigo, Transliterasi dan Terjemahan (lanjutan), Balai Kajian Jarahnitra, Ujung Pandang, 1989. Tolok Rumpa'na Bone, Transliterasi dan Terjemahan Naskah Kuno Lontarak, Balai Kajian Jarahnitra Ujung Pandang, 1989.
, dkk., Lontarak Luwu Daerah Sulawesi Selatan,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penelitian & Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Jakarta, 1991.
Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek
Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1991. Kadir, Drs. Harun, Pra Sejarah di Sulawesi Selatan, Laporan Penelitian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I., Ujung Pandang, 1977. Mattulada, Latoa, Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang bugis, Gajah Mada University Pres, Jakarta, 1985.
M.D., Sagimun, Sultan Hasanuddin Menentang V.O.C., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Biografi Pahlawan Nasional, Jakarta, 1975. Punagi, A.A., Adat-Istiadat, Menoleh sejenak pada adat-istiadat, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Ujung Pandang, 1983.