PENANAMAN NILAI BUDAYA MELALUI TEMBANG TRADÍSIONAL
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Milik Depdikbud
Tidak diperdagangkan
PENANAMAN NILAI BUDAYA MELALUI TEMBANG TRADISIONAL
PENULIS
EDY SUHAEDI I WAYAN DIA I MADE PURNA
Penyempurna : Kencana S. Pelawi
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA
KATA PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nu- santara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisonal, Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk tahun anggaran 1992/1993 telah mengkaji dan menganalisis tembang-tembang yang terdapat dalam naskah-naskah lama. Tembang-tembang daerah yang dikaji dan dianalisis adalah Jawa, Sunda dan Bali. Dari kajian dan ana-
lisis tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkan-
dung di dalam naskah ini adalah nilai Budipekerti, etos kerja
dan nilai kedisiplinan. Pada prinsipnya dari nilai-nilai yang di-
sajikan itu adalah nilai-nilai yang dapat menunjang pembangun-
an baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang hati.
Harapan kami, semoga buku ini dapat merupakan sumbang- an yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan
budaya bagi para pembaca.
iii
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ke- pada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mereka yang telah membantu terwujudnya bukuini.
Jakarta, Juli 1993 Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara,
Trdosih
Sri Mintosih NIP. 130 358 048
iv
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudaya-
an yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan
integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota masyarakat untuk memperluascakrawala pandangan- nya.. Untuk membantumempermudah pembinaan saling penger- tian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Peneliti- an dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha tersebut, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Penanaman Nilai Budaya Melalui Tembang Tradisional.
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka peng- galian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan sehingga tujuan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.
v
Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya ke- lemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam penerbitan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Direktur Jenderal Kebudayaan
.M
Prof. Dr. Edi Sedyawati
NIP.130 202 902
vi
DAFTARISI Halaman
| KATA PENGANTAR. | iii | ||
|---|---|---|---|
| SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN .. | |||
| PENGANTAR. | vii | ||
| Bab I Pendahuluan. | 1 | ||
| Bab II Deskripsi Gending Tembang Tradisional Bali | 2.1 Gendhing Anak-anak. 2.2 Tembang Pupuh Macapat ........ 2.3 Beberapa Kidung | 1)Peteng Bulan 2) Pengelong .. 3) Sijang-sijang Bawang ... 4) Tunjuk-tunjuk Mendur. 5) Sa Dua Telu 1)Pucung 2) Pangkur 3)Ginada 4)Sinom. 5) Gambuh 6) Megatrun 1)Panji Marga Bawak. .. | 4 5 7 8 9 14 14 15 16 17 19 20 21 21 |
V
2) Welingi ......
3)Demung Sawit
vii
2.4 Beberapa Wirama Kakawin ............. 25
1) Pawitra .....
2) Indra Wangsa (Swandewi).. 26
3) Ragakusuma .. 27
Bab 3 Kajian Nilai.29
3.1 Lagu Gendhing Anak. 29
3.2 Tembang Pupuh Macapat. 30
3.3 Kidung.. 32
3.4 Wirama Kakawin 34
Bab 4 Penanaman Nilai Budaya Melalui Tembang Sunda-Jawa.. 39 Kesimpulan 59 Kepustakaan. 63
viii
BABI
PENDAHULUAN
Bila kita menelusuri lagu gendhing anak dan remaja
serta orang dewasa, maka kita akan teringat akan kenikmatan
tinggal bersama nenek dan mondok di tengah sawah. Dikala itu,
hadir hiburan alam tumbuhan dan alam binatang baik siang maupun malam. Paling tidak genta kayu dari kedua sapi pia- raan nenek selalu saja menghibur berdetak. Tidak jarang disela-sela vokal nenek berupa lagu anak, termasuk jenis:
'jenger", "Sanghyang", tembang macapat dan juga kidung,
bervariasi ragamnya dikuasai. Dapat diungkapkannya dengan memikat, dan tertukik dalam didasar hati. Kesempatan mendampingi nenek, sekalipun perempuan, ia pernah sebagai penyaji "PUNTA/PENASAR"tokoh peran ponakawan pria, dalam Opera Bali, ARJA. Itu, mendorong penulis untuk melatih lingkungan adik-adik dalam keluarga waktu itu untuk berolah vokal daerah. Hasilnya, secara ber- ualng kelompok adik-adik: IRAMA KUMARA GUNA, sempat penulis pimpinan tampil siaran langsung di RRI Studio Denpasar (1956-1957). Tumbuh berkembang di dunia seni pertunjukan, membuka peluang menyajikan TOPENG SIDHAKARYA yang sekral atau WAYANG KULIT WALI, di berbagai Pura di Jakarta dan sekitar. dalam rangka acara-acara puncak keagamaan, berlangsung sejak 1967 s/d sekarang. Dan kesempatan jenis ini akan merupakan dorongan, dan secara keseluruhan menggugah semangat kreatif untuk menjelajah intensip ke ialam sastra lisan dan tulisan masa lama, justru untuk membuka wawasan serta mencermatkan fokus. Pelaksanaan Penulisan Penanaman Nilai Budaya Melalui Tembang/Puisi Tradisional, tentulah disambut dengan gem- bira, dan penuh harapan serta tantangan. BEBERAPA LAGU GENDHING TEMBANG KIDUNG WIRAMA TRADISIONAL BALI, diangkat sebagai judul. Agar tujuan sasaran pokok dapat lebih mengena, titi laras yaitu simbul notasi dan tanda-tanda pencatatan lagu gen-
dhing, yang lumrah di dunia Karawitan, dengan penjelasan seperlunya, akan dituangkan. Agar penulisan dapat menjang- kau kwalitas para pembaca secara lebih luas, maka notasi naskah lagu gendhing sampai dengan kidung akan dituangkan dan menerapkan notasi Kapatihan asal Jawa Tengah. Padanan titi laras dengan simbul notasi nada Bali Pelog dan Selendro, diselaraskan dengan notasi Kepatihan, khusus- nya menggunakan sebuah gender Selendro dan Gender Pelog Bem,sebagai berikut:
NOTASI KEPATIHAN, RICIKAN GENDER PELOG BEM/ SELENDRO
6 6 1 3 5 i 2 1 2 6 3 2 3 5 D D D
| D D | D | D | D D D D D | D | D | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| a | i | 0 | e | u | a | i | o | e | u | a | i | 0 | e |
| n | n | n | n | n | n | n | n | n | n | n | n | n | n |
i e u a i o e u a 0 a i 0 e
g g g g g g g g g g g g g g 9 5 7 C G Q C 2 2 5 j
KESELARASAN DENGAN NOTASI: DING-DONG BALI, PELOG SELENDRO
Dengan paduan notasi, akan diharapkan bentuk dan suasana musikal dapat lebih jelas dipahami. Diusahakan juga adanya terjemahan bebas agar isi puisi dapat dimengerti oleh masyarakat luas. Apresiasi musikal yang lahir ketika kontak langsung mendengarkan, dan apresiasi puisi yang melejit ketika merenungi, akan menciptakan sesuatu dalam diri apresiator. Membaca Wirama Kakawin, sebagaimana tertuang pada halaman-halaman: 25, 26 dan27. Dimana permasalahan Guru Lagu diterapkan. Berikut ini adalah ulasan penjelasan tentang tanda Guru Lagu serta kegunaannya: Guru, dengan tanda: -(strip horisontal), tekanan berat Lagu, dengan tanda: O (lingkaran kecil), tekanan ringan Tekanan berat, menggunakan waktu baca lebih lama: guru Tekanan ringan, menggunakan waktu baca tak lama: lagu
Guru Lagu dengan tanda o (strip horisontal tepat di bawah
sebuah lingkaran kecil), digunakan pada setiap akhir sebuah wirama. Maksudnya bahwa setiap satu baris berakhir pada Guru Lagu. Supaya dibaca panjang atau pendek, sesuai dengan tuntutan arti seluruh baris kalimat. Sebuah Wirama Kakawin, tidak mempersaratkan laras, patet bahkan juga tidak mempersaratkan tangga-tangga nada. Namun demikian, nada-nada dapat membantu ingatan pe- nyaji. Baris ke dua berakhir pada nada rendah. Baris ke tiga
menanjak, landai dan selesai pada baris ke empat. Contoh Guru Lagu Wirama TOTAKA, sumber Arjuna Wiwa- ha, S11:
o 0
Sa si
| ba ha nengga ta me | si ba nyu | ||
|---|---|---|---|
| 0 0 | o o | o o | o |
| 一 |
o o a
Ndan
o o I wa o o
Ri nga
0 o o o o o wim
su ci nir ma la me si wu lan sing 一 o o o o o o o mangka na rak wa ki tengka da din 一0 o o o o o o be ki yo se ka la ngam ga ki teng
Demikian, ulasan materi teknis, dinarapkan agar dapat ber-
guna dalam mengaprisiasi puisi-puisi masa silam. Dan selebin- nya agar dapat melengkapi usaha pembangunan manusia
Indonesia, tumbuh berkembang seutuhnya dan berguna bagi
masyarakat sekarang serta generasi berikutnya.
BAB II DESKRIPSI GENDHING TEMBANG TRADISIONAL BALI
Sadar akan luasnya ruang lingkup sastra lisan, sekaligus kemampuan dan kesempatan meneliti sastra tulisan yang ada juga terbatas. Maka pada kesempatan kali ini, dengan alasan keterbatasan ruang waktu dan kemampuan itu, bebe- rapa bentuk lagu sekar rare, tembang-tembang, kidung dan juga wirama, khususnya yang mengandung nilai budi pekerti, etos kerja serta kedisiplinan: hendak diulas. Melihat pandangan hidup tradisi Bali, di mana kebudaya- annya sedikit banyak bersentuhan dengan agama Hindu, dengan ungkapan: Satyam-Siwam-Sundarem. Satyam, menyiratkan bahwa: sungguh, benar, dijadikan puncak nilai dalam menjalankan kehidupan. Siwam, menyiratkan arti bahwa: suci, murni, merupakan puncak nilai dalam menjalankan kehidupan.
Sundarem, menyiratkan arti bahwa. keindahan, merupakan
puncak nilai dalam menjalankan kehidupan. Maka, mengulas dan mendiskripsikan bentuk lagu anak-anak yang khas, yang mengungkap faktor ritma atau melodi yang mengungkap rasa keindahan tertentu, namun bagi kaum intelektual dianggap kurang mengandung arti filosofis dari segi arti kata, akan terdapat dalam ulasan deskripsi. Kejadian luar biasa, yang pernah terungkap di layar perak, seperti anak di bawah umur, dapat dengan fasih menghafal ayat-ayat suci. Atau anak di bawah umur dapat mengenali sejumlah nama presiden dari negaranya yang sejak abad ke 18 s/d abad ke 21 ini, telah menjalani sistem pemerintahan republik. Juga kenyataan bahwa ada anak di bawah umur mampu menyajikan wayang kulit dengan mahir. Kejadian luar biasa seperti itu, justru masih tetap mendukung usaha pengelompokan lagu-lagu tembang tradisional. Jenjang pengelompokan antara lain berdasarkan kese- derhanaan bentuk dan isi, berlanjut ke tingkatan bentuk
dan isi serta teknik ungkap yang semakin canggih. Akan dimulai dari yang sederhana ditujukan bagi anak balita, anak remaja, dan dewasa. Masa remaja dalam hal ini merupakan masa transisi, di mana kemungkinan-kemungkinan dan ke- pekaan pribadi, telah mendapatkan pengalaman-pengalaman: spiritual-intelektual-emosional dan vital. Maka deskripsi sebagai awal, dimulai dari jenis sekar rare/lagu anak.
2.1 Gendhing Anak-anak
1) PETENG BULAN Laras: Pelog
0
2 3 5 6 1 6 5 6 5
Pe teng an jan ba les ma bu lan u grudug 2 6 5 3 6 2 5 3 5 3 2 0 Katak dongkangpadagirangya me can da
5 3 3 3 3 2 2x kek kek kek Kung kung 3 3 5 3 2 3 2 3 5 3 6 0 ti e Di a tor pe san wak yang nge ngin 5 6 3 5 6 0 5 3 5 6 3 sa put jogba le tur mesa re Nye mak ngo
Arti setiap kata, kalimat dan ulasan. gelap, malam, gulita Peteng 二 candra, bulan bulan = ujan hujan = bales lebat = bunyi petir, halilintar magrudugan Katak katak, kodok dongkang jenis kodok lain, kulitnya tampak tebal, kering sama, bersama pada = girang, gembira girang = ya dia = mecanda bercanda
Kung kek kek kung kek = pengulangan bunyi kodok = Dingin dingin = amat, terlalu pesan =awak, tubuh awak =milikku tiyange =gemetar ngetor =mengambil Nyemak =selimut saput = menuju ngojog =bale, dipan bale =lalu, lantas tur = merebahkan diri, tiduran mesare
Di malam tanpa bulan ketika hujan lebat disertai guruh Katak-katak pada girang bercanda ria Kung kek, kek kung kek suaranya Dingin amat rasa diri gemetaran Ku ambil selimut menuju dipan lantas tiduran
Sang penyusun sajak, dan irama lagu, dalam malam kelam tanpa bulan, ketika hujan lebat dibarengi guruh gemuruh, dengan berselimut merebahkan diri, menikmati irama musik katak yang bersahut-sahutan dalam suasana mencekam. Lagu anak ini, pernah disiarkan di RRI studio Denpasar, oleh kelompok Irama Kumara Guna, para -adik-adik yang dipimpin penulis (1956-1957) di Lebah Denpasar. Berikut adalah lagu/gendhing "Pengelong", dipetik dari buku stensilan TAMANSARI I, kumpulan gendhing Bali, oleh Wayan Djirne dan Wayan Roeme, dalam laras Pelog.
2) PENGELONG
1 a. 2 x 2 2. 6. 5 3 6 5 3 6 5 3 2.. 0 Di ja bu lan ne sing nge nah' u li i bi ?
b. 2 x 5 3 5 3 2 3 6 6 6 1 2 3 1 2.. 0 I ya ja ni pu les, reh ma ja lan ‘e joh ga ti
2 a.2x U li di ja bu lan ne ma ja lan, ka ki ?
b. 2 x U li tang gu ka ngin te ked ka uh, ke to ce ning
3a. Pi dan la kar ba ngun bu lan ne tur mai ?
b. 2 x La mun i lang ke nyel ne ya te ka la kar. bu win Irama lagu 1 a, sama dengan 2 a, 3 a; baris b, 1, 2, 3 sama.
Arti kata-kata, sesuai susunannya dalam kalimat:
- a. Di mana bulan tak tampak sejak kemaren?
b. Ia kini tidur pulas, karena berjalan jauh amat. - a. Dari mana bulan itu berjalan, kek?
b. Dari ujung timur sampai barat, begitu cu ! - a. Kapan akan bangun bulan itu lalu datang ke sini?
b. Bila hilang capeknya ia datang lagi kembali.
Ulasan: Selama empat belas hari, setelah bulan purnama, bulan akan semakin mengecil, dan pada "tilem" bulan mati, sama sekali tidak menampakkan diri. Pengelong, artinya semakin berkurang. Maksudnya sehari setelah bulan purnama, sampai ke batas tilem atau bulan mati, kurun waktu selama empat belas hari itu dinamakan pengelong. Kurun waktu empat belas hari lawan dari pengelong diistilahkan dengan tanggal. Kegelapan di permukaan bulan sedikit demi sedikit tanggal menghilang, sampai akhirnya tiba saat- nya purnama Dalam lagu/gendhing ini, pengarang mengadakan dialog antara kakek dengan cucu secara akrab, se- bagaimana lumrahnya dalam masyarakat pedesaan Bali masa lalu. Keakraban antar manusia, adalah nilai.
Tentulah masih ada lagu/gendhing anak-anak tradisi
Bali yang diungkap dalam laras Pelog. Baik yang tercecer dalam bentuk tradisi lisan, maupun yang telah diungkap dalam bentuk tulisan. Bentuk-bentuk notasi lagu/gendhing yang tertulis itu, biasanya menggunakan notasi sederhana, deskriptif sifatnya. Hal demikian membuka peluang sangat leluasa dalam membaca dan menginterpretasikannya kembali. Berikut ini akan dikemukakan dua notasi lagu/gendhing anak-anak dalam laras Selendro. Satu bersifat musikal, biasa digunakan untuk mengiringi kegiatan permainan, yang lain digunakan dalam memulai satu permainan, guna menyatakan ikutnya seorang peserta dalam permainan yang hendak di- laksanakan itu, di mana jumlahnya telah dihitung dan di- daftar sebagai peserta. Judulnya sesuai kata awal dari lagu/ gendhing itu: SIJANG-SIJANG BAWANG, laras Selendro TUNJUK-TUNJUK MENDUR, laras Selendro 一 SA DUA TELU, laras Selendro
3)Sijang-sijang Bawang Laras: Salendro
3 6 6.5 6 1.5.6
.6 6
Si si jang jang ba wang su ka tik ba wang 3 1 5 3 33 6 3 5. 5 5 3 si lanuk sila nuk be ten lung gah Si la nak 6 3 5 5 3 3 ma jagur an I lung gah ∥3.3 33 3 3 3 Bur co blongci la kok Hanya baris ke tiga dari lagu/gendhing di atas, memberi- kan sebuah pengertian: "I Lunggah majaguran"artinyaSi Lunggah berantem! Sebuah kalimat seru, mengumumkan ten- tang seorang bernama Lunggah sedang beran tem, disiarkan se- cara lisan kepada orang-orang sekitar. Kata-kata lain, makna bunyi. Dalam menyanyikan baris ke empat, yang terakhir, di- laksanakan dengan menggerak-gerakan kedua tangan menge-
pal erat, seakan-akan menyembunyikan satu benda yang telan disepakati untuk alat sarana dalam permainan itu, yang di- sembunyikan dalam genggaman. Bila terkaan tepat dan jitu, maka yang kena tebakan diwajibkan mendapat giliran menebak. Dengan membelakangi peserta yang lain, lagu/gendhing di ulang, sampai lagu baris ke empat, dinyanyikan secara te- rus menerus, seakan-akan irama cak yang sederhana. Dengan mengepalkan tinju, pesertaseakan-akan menyembunyikan alat permainan dalam tinjunya.Sedangkan yang mendapat giliran menerka berusaha menebak dengan jitu. Kekhusukan ritmis, di sini menjadi unsur yang dapat berkembang secara unsur tari, menjelajah dinamika gerak, arah dan level dalam ruang waktu. Emosi-emosi kegiatan kebersamaan, dan inten- sitas gerak yang vital anak-anak, merupakan unsur dan aspek dalam ungkapan permainan jenis ini. Bagi penggemar lagu yang menuntut arti kata yang mengandung nilai intelektual, ajaran-ajaran nilai budi pekerti, etos kerja dan kedisiplinan yang tinggi, secara harfiah tidak akan ditemukan. Namun, kepekaan menangkap nuansa-nuansa yang tersajikan ber- sama-sama, disinilah sesungguhnya tersirat nilai-nilai kehidup- an, melejit secara sederhana dalam bahasa gerak, bahasa yang sangat universal, dalam lagu Sijang-Sijang Bawang.
4)Tunjuk-Tunjuk Mendur, laras Selendro.
3 6 i .6 5 i men dur
Tun juk tun juk
3 5 6 i 6 5 Men du re ja wat wa ja
3 3 2 !?
1 a a a A pit dang pit dung 3
2! 5
Ke ti mun gan tung 5 1 2 3 5 3
Me li e poh a ji ke teng 2 3 5 3 2!.. o
Da dong mo koh a jakngan ten
Arti terjemahannya secara bebas adalah sebagai berikut: Tunjuk-tunjuk mendur Mendure jawa jawat
Apit adang apit adung
Ketimun gantung
Meli epoh aji keteng
Dadong mokoh ajak nganten
Ulasan:
=cari gapailah nilai top = nilai top itu jauh, agar da- pat digenggam =diantara hadangan dan du- kungan (faktor pengham- bat, dan pendukung). =Mentimun gantung, lam- bang usia pendek. Seka- rang ditanam, usia 30 hari berbunga dan berbuah, usia 42 hari, mati. =membeli mangga seharga satu mata uang terkecil Kiasan artinya: dari angga raga ini manusia akan kem- bali (melipetan) ke asal- nya. =nenek gendut jadikan teman Siratan artinya: orang tua berpengalaman yang kreatif jadikanlah teman
Lagu ini secara lisan diungkap oleh almarhum Bapak Ketut Rinda di rumahnya di Blahbatuh, ketika, bersama Bapak Suka Harjana bersama-sama berkunjung di Tahun 1978. Menurut Bapak Ketut Rinda, 'henek adalah simbul kreatif", karena kaum kakek, tidak melahirkan. Jadi yang melahirkan, seperti kaum ibu, itu simbul kreatif kata beliau. Lebih mam- pu dari kaum Bapak, secara kodrati. Dalam budaya tradisi kehidupan Bali, anak-anak, dan remaja, diibaratkan seperti tumbuhan ilalang. Tajam seakan runcingnya pusut dan tegak lurus muncul dipermukaan ta- nah, menatap kuat ke alam raya. Setelah tua, ketajaman, keteguh kukuhan ilalang berkurang. Bahkan terombang-am- bing hembusan angin. Sebaliknya yang muda tidak. Kesem-
patan belajar disediakan dikala muda, selagi tajam dan kuat tegar menantang arus suasana alam dengan berani.
5) Sa Dua Telu Laras : SALENDRO
63 5 6 ì
Sa dua te lu 5 3
55 6 3 1
6533 65 一
nem Patlima pi tu ku tus si a dasa 5
63 6 i
Me la jan ma lu 5 5 3 5 5
653 3 6 6 3
Ne rima tutur gu ru a pang eng gal bi sa
Isi lagu anak-anak ini, pada kalimat baris satu sampai dengan baris dua, mengajarkan menghitung dari: sa = satu, dua = dua, telu = tiga, pat = empat, lima = lima, nem = enam, pitu = tujuh, kutus = delapan, sia = sembilan, dan dasa = sepuluh. Kalimat berikutnya dua baris adalah: dengan lagu baris satu sama dengan lagu baris tiga, dengan arti kata-kata: melajah] belajarlah, malu = dahulu. Lagu baris ke dua sama dengan lagu baris ke empat, dengan arti kata-kata: nerima = menerima, tutur = ajaran, guru = guru, apang = supaya, enggal = segera, bisa = pintar. Dengan bentuk lagu empat baris, baris satu dan baris dua adalah sampiran, baris tiga dan baris empat adalah isi ajaran yang menganjurkan anakdan remaja agar dengan gi- gih belajar selagi masih anak dan remaja, untuk menerima ajaran guru dengan tekun teliti dan mantap, agar tumbuh menjadi manusia dewasa yang pintar. Setelah tumbuh menjadi dewasa, dan telah melewati banyak pengalaman belajar, menatap alam dengan tajam, tegar, orang dituntun agar meniru ulah sifat padi; semakin berisi buahnya semakin merunduk. Dalam jenjang berikutnya, lagu/gending itu berkembang dari segi bentuk dan sifat musikalnya lebih canggih. Bila
pada sekar rare, satu nada lumrah mewarnai satu suku kata, maka dalam perkembangannya ditujukan bagi remaja dan orang dewasa, satu suku kata, dapat diwarnai dengan nada yang jamaksifat musikalpun secara teknis meningkat. Contoh-contoh dasar, tembang-tembang atau pupuh, memang dapat dituangkan secara sederhana, satu suku kata diwarnai satu nada. Namun dalam perkembangan berikutnya, ke- mampuan seseorang berungkap tembang (macapat) yang ter- golong sekar madia, seyogyanya kaya dengan warna dan relung-relung melodi dan nada-nada "pemero", serta iramanya. Daftar nama-nama gendhing tradisional Bali yang tercantum dalam TAMAN SARI I, yang dikelompokkan dalam istilah:
gendhing/lagu anak-anak, sejenis "gabor Parangan I, pependetan" dalam gamelan, dan gendhing janger. 一Parangan II, berbagai jenis gendhing Sanghyang, ada juga yang bercirikan "pengecet pelegong- an"an "(Dewa Ayu adalah pengecet Pelayon, Sanghyang Saci adalah pengecet Lasem). Ada juga jenis gendhing gamelan Luwang antara lain: Sekar Emas dan Suaran Kum- bang, dan lain sebagainya.
- Parangan III, berisikan tembang-tembang macapat, se-
perti:
- Dangdang Gula, 2. Durma, 3. Gambuh
- Ginada, 5. Ginanti, 6. Maskumambang
- Megatruh, 8. Mijil, 9. Pangkur,
- Pucung, 11. Semarandana, 12. Sinom.
- Parangan IV, yang teraknir dalam buku ini, berisikan
jenis-jenis kidung. Ciri-cirinya tidak ter- atur, jumlah suku kata dalam satu baris tidak tetap, jumlah baris dalam satu bait selalu berubah. Dan akhir baris tertentu, sangat bebas. Persaratan tembang macapat beraturan, sedangkan pada kidung bebas. Sebebas-bebasnya puisi lama, tentulah ada kebakuan wujudnya. Nama-nama yang
terkenal antara lain: 1. Warga Sari, 2. Ka-
witan Warga Sari, 3. Tikus Kepanting,
- Demung Kulang Kaling, 5. Demung, 6. Adri, 7. Alis-alis Ijo Dawa,8. Alis-Alis Ijo Bawak, 9. Wasih, 10. Purwajati, 11. Jarum, 12. Sidapaksa, 13. Rangganuja, 14. Wlingi, 15. Sudamala, 16. Layonsari,
Canggu, 18. Jurangan Danu, 19. Agal Dawa, 20. AgalBawak, 21. Panji Marga Dawa, 22. PanjiMarga Bawak, 23. Palu- gon, 24. Kancil, 25. Mayura Dawa, 26. Mayura Bawak. Demikian isi Taman Sari
I. Dan kidung, berfungsi dalam mengiringi pelaksanaan 'Yadnya" yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Resi, Pitara, Manusa dan Buta Yadnya. Secara tradisi, kidung tertentu untuk menyertai pelaksanaan Yadnya tertentu pula.
Wirama, yang sangat banyak jenisnya itu antara lain:Seronca, 2. Merdu Komala, 3. Malini, 4. Wawirat dan lain sebagainya, menerapkan jenis teknik guru lagu. Seperti bu- nyi tertentu, dan akhir setiap baris dibaca panjang, bervari- asi jenis suku kata dibaca panjang pendek. Memenuhi harapan yang tertuang dalam TOR, berikut ini dicantumkan beberapa tembang yang mengandung nilai wawasan etika dan filsafat yang secara lisan pernah penulis dengarkan, diungkap dalam geguritan seperti: Geguritan Sampik, Geguritan Basur, Geguritan Sucita Subudi dan seje- nisnya. Akan dilengkapi juga dengan bentuk kidung dan Wirama, yang kiranya tergolong Sekar Ageng. Diusahakan memilih secara pas, yang berisikan selaras.
2.2 Tembang Pupuh Macapat
Laras: Pelog/Selendro
1) Pucung
Plg.: 2.1.3.2...0 Sln.: 3 3 2 2... 0 Mer ta tu hu =pangan bergizi
Plg.: 6 1 2 3 2 1 65.2 1 6... 0
Sln.: 3 3 3 3 2 2 1 2. : .0 Pra na se ra na pu ni ku = sarana hidup itu
Plg.: 3.2. .3 21 653. ..0
Sln.: 1 3 1 3 21.: 6... 0
Ring di ja ge nah nya = dimana letaknya
5 6 5..536532.
Plg.: 3
6 Sln.: 6 6 2..12612165...0 Ring sarwa pa la ne yuk ti = pada setiap buah Plg.: 6.5. 1. 6.
Sln.: 5 1. 1 2.
= dan juga
Me lih i pun
Plg.: 2 .5.3. 2. 5. 3. 6. 5... 0 Slm.: 2 2 1 6 1 2 3 1 Ring sa to lan te tan dur an "pada hewani dan tumbuh-tumbunan
Tembang Pucung terdiri dari enam baris untuk satu ben- tuk atau bait. Baris ke 1, terdiri dari 4 suku kata, berakhiran U Baris ke 2, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi juga U Baris ke 3, terdiri dari 6 suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 4 terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 5, terdiri dari 4 suku kata, berakhir bunyiU Baris ke 6, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A Isinya memberikan wawasan intelektual, tentang makanan yang lengkap bervitamin dan bergizi. Bila ditambahkan dengan susu, lima sempurnapun akan didapat dari empat lengkap ini.
2) Pangkur Laras Pelog
i i i i 5 i i 6 sa kah da di ma nu ing
Ting
5 5 5 5 6 5 5 0 5 5 1 ! ti Pa la su luh ma kar ma ker ang gen 5 3 5 5 1 2 3 6 a a Ma da sar baan layù
3! 2 3 1! 1! e di nas A da tu tong get 3 3 3 3 5 6 1 1 2 5 1 5 e ka tu la cur da di tun Yan duh tong dung
3 3 3 3 1 1! 1 i Ke to ni ang ja dong nget 3 6 5 3
5 5!!
A kti mar gi pa gih cang pang
Tembang Pangkur di atas, mengingatkan akan persyaratan hidup sebagai manusia sesuai wawasan tradisi budaya Bali, yang berdasarkan ajaran Hindu, yaitu buah hasil perbuatan/ pala karma, agar dijadikan pegangan. Berlaksana baik, akibat- pun pasti baik. Paham "rua bineda" baik dan buruk agar di- gunakan sebagai landasan dasar. Keberuntungan tidak dapat diraih. Bila nasib, apalah jadinya. Banyak jalan terbentang panjang, butuh dipilih ditempuh dengan mantap. Bentuk tembang Pangkur terdiri dari 7 baris dalam satu pupuh. Baris ke 1, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 2, terdiri dari 11 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 3, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi U Baris ke 4, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 5, terdiri dari 12 suku kata, berakhir bunyi U
Baris ke 6, terdiri dari8suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 7, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Sumber, ungkapan rekaman Saudara Winda, ditemukan ke- tika menggarap mengisi suara film Pandan Sari, sutradara
H. Galeb Husein.
3) Ginada Laras: Pelog atau Selendro
Notasi di sini Ginada Kedis yang non pelog selendro. 2 2 2 2 2 3 2 2 A da nga den a wak bi sa
2 3 1 1 5 1 2 1 De panganake nga dan in
1 1 1 2 1 1 1 1 1 Ge gi nan ne bu ka ma nyam pat
1 2 1 2 1 1 5 5 A naksa i tum buh lu u
5 1 1 2 1 1 5 5 I lang lu ubuke ka tah
5 1 1.1 Ya din ri rih 5 5 5 5 2 1 5 5 Li u enu pe lajah ang
Isi tembang ini, ditujukan bagi orang dewasa, agar menerap- kan sifat-sifat padi: semakin berisi, semakin merendah arah wajahnya. Hal ini berbeda dengan isi lagu sekar rare atau lagu anak-anak TUNJUK-TUNJUK MENDUR (hal.: 7). Sumber tembang ini di tengah-tengah lingkungan ke- luarga, yang suka diungkap dalam berbagai gaya ungkap. Ada tiga bait pupuh, agar keutuhan tuntas terungkap. Pupuh
kedua dan ketiga, mengulas dan mengingatkan agar jangan memuji diri sendiri; diri ini belum apa-apa. Hyang Pencipta dan Hyang Pelestari berlaku sombong, lalu diuji dengan turunnya"lingga". Lingga dari Hyang Siwa/Hyang Pralina/ Pelebur. Hyang Pencipta mencari ujung atas, Hyang Pelestari mencari ujung di' bawah. Sampai kapanpun tak kesampaian. Maka itu nyala api arah ke atas, jatuh air ke bawah. Sambungan ungkapan ini biasanya disambung dengan tem-
| bang Sinom, sebagai berikut: | |||
|---|---|---|---|
| Laras: Pelog atau Selendro | |||
| Notasi di sini dalam Pelog. | |||
| 5 6 5 2 3 | 5 | 3 | 5 |
| ti Tri ru ru ang | ma | ting | kah |
| 3 3 5 2 3 | 5 | 3 | 6 |
| ne lih Ra ga ga | ga | lih | in |
| 3 6 6 5 5 | 5 | 2 | 3 |
| lu ba ne ma Go | pe | das | ang |
| 6 .5 5 3 | 3 | 2 | 2 |
| ka ma Me gon ang | nyu | luh | in |
| 6 6 2 6 6 | 3 | 5 | 6 |
| Di su ba tu si | nah | pas | ti |
| 3 2 5 5 2 | 3 | 6 | 5 |
| sar tu ba ka Go | wi | ba | gus |
| Me ne su ba ka | ang | ||
| e lih So ma lah |
4) Sinom
ngedeng
su luh in
2 3 3 5
A la ayu
5 3 5 5 6 3 6 5
Tu tur ma nah ang gen nyi ang
Isi tembang Sinom di atas ini, mengingatkan kita sebagai manusia dewasa, agar banyak belajar dari interaksi kita dengan orang di sekitar kita. Bandingkanlah diri dengan se- sama yang lain dalam masyarakat. Paras wajah sendiri kenali- lah terlebih dahulu. Lihat lewat cermin. Karena cermin meng- ungkap yang sesungguhnya. Kurang ataukah cukup atau berlebihan. Namun bila sifat-sifat watak diri hendak dilihat, maka bacaan dapat memberikan refleksi yang jitu. Deskripsi tentang bentuk pupuh Sinom adalah 10 baris, mem- bentuk satu tembang atau pupuh Sinom.
Baris ke 1, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A
Baris ke 2, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 3, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 4 terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 5, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 6, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi U Baris ke 7, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi A Baris ke 8, terdiri dari 8 suku kata, berakhir bunyi I Baris ke 9 terdiri dari 4 suku kata, berakhir bunyi A
Demikian deskripsi bentuk dan isi dari tembang Sinom di atas, akan disusul dengan dua tembang saja lagi: Gambuh tembang Megatruh, merupakan tembang-tembang yang kurang populer dalam budaya tradisional Bali, dipetik dari
buku TAMAN SARI I, yang masih berbentuk cetak stensilan.
Tembang-tembang Gambuh dan Megatruh hanya diungkap dalam laras Pelog. Maksudnya belum lumrah usaha untuk menyajikannya dalam laras Selendro.
5) Gambuh Laras: Pelog
3 1 3 5 6 5 3 3 2 0 Sa in buh lin tem bang gam
2 3 5 2 1 5 6 2 3 0 i Gen Ja wi li ba san pun dhing Ba 6 1 1 3 3 2 0 5 1 2 1 Ma ta de wi nu tur ne was ta as ang ma
| 1 | ||
|---|---|---|
| i | a | |
| 1 | 1 |
1 1 1 6 5 0 6 2 Ca ku tus cak an pun
6 1 3 0 5 1 2 2 Ma mi ma nah be ang ngung log
Tembang Gambuh di atas ini dengan polos menyatakan bahwa tembang gambuh adalah gendhing Jawa yang disajikan dalam bahasa Bali. Bermaksud mengungkap apa yang dikenal dengan Asta Dewi, yang dijabarkan daftar yang delapan, namun diakui sangat membingungkan bagi yang belum menguasai. Bila dalam budaya yang mengenal arah mata angin ber- jumlah delapan, dan dewa penjaga arah itu adalah delapan, ada kemungkinanyang dimaksud Asta Dewi itu adalah, sakti dari dewa-dewa Asta Palaka itu. Demikian sebuah inter- pretasi yang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Dan sangat disayangkan bahwa kelengkapan yang tuntas dari Tembang Gambuh di atas ini, belum mampu ditemukan. Bentuk tembang gambuh yang lengkap dalam satu bait/pu- puh hanya terdiri dari lima baris saja. Baris ke 1, terdiri dari 7 suku kata, berakhir dengan U Baris ke 2, terdiri dari 10 suku kata, berakhir dengan U Baris ke 3, terdiri dari 12 suku kata, berakhir dengan U Baris ke 4, terdiri dari 8 suku kata, berakhir dengan U Baris ke 5, terdiri dari 8 suku kata, berakhir dengan O
6) Megatruh
Laras: Pelog
5 6 3 3 1 2 3 2 1 6 3 3 Kacari ta ne ring margi sam pun ke bus 3 5 1 6 nu li tis
I Be log ma nge
1 53 3 6 6 6 2 taru nema ngrem bun sor
Ring
31 3 2 32 2 3 la a lit Ma nyan te ga ding 6 5 6 3 2 1 6 1 ri Su we i ka ma em bon
Isi tembang Megatruh di atas ini, secara harfiah tidak mengungkap pikiran yang penuh ajaran berbobot. Namun secara naluriah menyiratkan bahwa: bagi seseorang yang ber- jalan kaki jarak jauh pada terik mata hari, maka kesempatan berteduh di bawah pohon yang rindang berdampingan dengan sebuah telaga asri, merupakan kewajaran yang bernilai in- telektual.
Dari segi bentuk tembang, Megatruh merupakan sebuan
tembang berukuran kecil, sebagai mana halnya: Maskumam- bang, Mijil, Ginanti, Pucung, dan tembang Gambuh. Namun teknik ungkap oleh penyaji yang terampil dapat menggugah rasa yang khusus. Lebih-lebih lagi bila disajikan dalam garap- an gendhing yang pas mengena. Dalam bidang kesenian, apa, bagaimana dan mengapanya, sungguh memang menjadi hal sangat penting. Satu pupuh tembang Megatruh, telah lengkap dengan 5 baris. Baris ke 1, terdiri dari : 12 suku kata, berakhir pada U Baris ke 2, terdiri dari : 8 suku kata, berakhir pada I Baris ke 3, terdiri dari : 8 suku kata, berakhir pada U Baris ke 4, terdiri dari : 8 suku kata, berakhir pada I Baris ke 5, terdiri dari : 8 suku kata, berakhir pada O
2.3 Beberapa Kidung
Laras: Pelog atau Selendro
1) Panji Marga Bawak
6 1.
121 5..6 216..0
nya dhada dhi
Bhu ta yad si
3 5.653 5 6 5 .3 .5 .. .o
Ma nut la wan pari ca ra
- 5
3 3 6 6 6. 1 ...o
Pu-la ca ru
pa li ning 1 132.3 5 5. 6 1 6 .. .o Ma ka -di tum da ning sak-si
Isi kidung ini menyatakan telah terlaksananya dengan baik sesuai dengan tata cara yang berlaku pada aturan tentang caru, yaitu upacara bhuta yadnya, sebagai mana telah bersama kita saksikan pelaksanaannya. Sumber Kidung Keka-
win PANCA YADNYA oleh: I Nyoman Samur, Cempaka
2 Denpasar. Sebuah buku masih dalam bentuk stensilan. Baris ke 3 dan ke 4, masing-masing mendapatkan tambahan satu suku kata, dengan tidak mengurangi arti, untuk mendapatkan bentuk yang selaras dengan pupuh PANJI MARGA BAWAK dalam TAMAN SARI I. Pupuh PANJI MARGA BAWAK, sesuai titi laras atau no- tasi Taman Sari I, terdiri dari empat baris kalimat dalam satu pupuh tembang. Maka bentuk pupuh PANJI MARGA BAWAK adalah: Baris ke 1, terdiri dari 8 suku kata, berakhir aksaraI Baris ke 2, terdiri dari 8 suku kata, berakhir aksara E Baris ke 3, terdiri dari 7 suku kata, berakhir aksara A Baris ke 4, terdiri dari 8 suku kata, berakhir aksara I
Penyaji kidung di daerah asalnya Bali, adalah orang yang sering berungkap bersama atau sendiri, pada pelaksanaan upacara-upacara. Dari isinya telah tersirat fungsi kidung ini, yaitu menyertai pelaksanaan Bhuta Yadnya atau upacara yang ditujukan bagi mahluk halus (gumatat gumitit) agar menciptakan lingkungan hidup yang serasi didunia ini.
Unsur keindahan, dan pelaksanaan kearah kesucian dengan sungguh dan benar, merupakan desakan pupun ini dicantum- kan, sekalipun tidak secara harfiah mengadung ajaran intelek- tual tentang nilai kehidupan, namun tidak diragukan bila ketenangan dan keserasian diragukan bila ketenangan dan keserasian lingkungan tercipta, maka ketenangan kenyamanan hadir yang sekaligus merupakan kebahagiaan, yang didamba- kan manusia dalam hidupnya.
Laras : Pelog
2) Welingi
Sum ber: Taman SAri I hal.63 Lon tar KAKI TUA 5 3 6 3 3 2 a ku Ra me don ku don 3 6 5 3 2 23 ata re-Sang pa ko 2 3 262 6 2 A da lampah met pra si ning 3 5 3 3 2 1 6 2 a we
| met | pianga | sande | |
|---|---|---|---|
| 6 a | 2 ta paa | 1 | 6 2 |
Nga 12 3 1 1 1 nele a ngrenom si la Sang ngi
Isi kidungan ini menceritakan tentang kegigihan yang mantap bagi seseorang yang hendak membatasi diri dan akan melaksanakan pemusatan pikiran terhadap Tuhan, seperti perlengkapan semadi antara lain api (dupa/bara, dipa/nyala/ lilin) yang digunakan sebagai saksi. Jadi kidung ini dapat digunakan untuk persiapan mengiringi sebuah upacara. Bentuk WELINGI, terdiri dari lima baris kalimat dan des- kripsinya adalah sebagai berikut: Baris ke 1, terdiri dari 7 suku kata, berakhir aksara A Baris ke 2, terdiri dari 6 suku kata, berakhir aksara A/0 Baris ke 3, terdiri dari 8 suku kata, berakhir aksara A Baris ke 4, terdiri dari 8 suku kata, berakhir aksara E Baris ke 5, terdiri dari 13 suku kata, berakhir aksara A
Bila dikaji, isi kidung tidak lumrah mengungkap pitutur. Namun narasi secara kronologis menggambarkan suasana dan keadaan tentang kebesaran dengan segala atribut, tersirat terungkap dan berbau fiodal. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bahwa dalam fiodal gambaran status dan fungsi setiap manusia dan ciri-cirinya gamblang. Bahwasanya kita hidup bukan lagi pada jaman fiodal, tetapi masih perlu memilah, memilih baik buruk nilai hidup dan kehidupan, maka tembang-tembang berisikan pitutur, kidung mengungkap keadaan dan suasana, genching dolanan anak yang penuh ceria canda. Serta Wirama kakawin ada, jamak secara kuantitas dan kua- litas, semuanya masih sangat relevan dari kemarin, kini dan kemudian.
2) Demung Sawit
Laras: Pelog
Penglang Bawak
Kawitan Tantri Sumber: Kidung Tantri
a. 6 6 612335 563.52 3 3 21216 Wu wus an bhu pa ring –
ti -
b. 6 2 2 3232321
2 3 Pe ta li nagan tun
c. 112332 3 2 3 2 1 2 1 2 1 6 5..6352 Su ba ga wir ya -- 23 2 1232
wi Si ni 33 2 3 2 1 2 1 2 1 2 1 6
d. 6 22
in
Ka jrih
3 6612 2 ra tu ra sang pa
e. 1 2 3 3 61232321
232121216 Sa - -lwaning
1 2 3 2 3 2 1 2 1 2 165 65653 61 2 3
sa-jam -bu -war 35 2 65653232321
f. 2 Pra tapa tur 1 2 3 3
ta hon kem bang
Isi kidung ini menceritakan tentang seorang raja di kota Petali sangat mashur dijunjung, disegani para raja lain, diling- kungan negara jambuwarsa dwipa. Mereka seluruhnya mufa- kat/takluk kepada raja.ini (Prabhu Eswaryadala). Bentuk kidung Demung Sawit, terdiri dari enam baris kalimat. Telah dijelaskan bahwa ungkapan kidung tidak ber- aturan, seperti dalam tembang-tembang macapat, yang sangat baku jumlah suku kata dalam satu baris, dan jumlah baris dalam satu bentuk pupuh atau satu judul tembang. Namun, dalam ketidakberaturan, berbagai ciri ditangkap untuk me- nemukan aturan-aturan baru, aturan-aturan yang lain, guna kepentingan penularannya bagi generasi berikut.
Baris ke 1, terdiri dari 7 suku kata, berakhiran aksara I Baris ke 2 terdiri dari 6 suku kata, berakhiran aksara U
Baris ke 3, terdiri dari 8 suku kata, berakhiran aksara I
Baris ke 4, terdiri dari 8 suku kata, berakhiran aksara U Baris ke 5 terdiri dari 8suku kata, berakhiran aksara I Baris ke 6, terdiri dari 8 suku kata, berakhiran aksara O
Baris ke 1, guna mendapatkan 7 suku kata, kidung ini
menjadi: Wuwusan bhupati ring, disambung dengan Petali hegantun. Secara bahasa, akan lebih punya arti dengan ungkapan: Wuwusan bhupati, ring Petali negantu. Bahkan sangat seringdikumandangkan sebagai berikut: Wuwusan bhupati ring patalina gantun, sehingga akan tidak ada artinya sama sekali. Karena salah sambung antar suku kata-katanya. Dalam masyarakat biasa, pelaksanaan upacara potong gigi, dengan istilah "mapandes"yang tergolong "manusa yadnya" jenis-jenis kidung Tantri dan Malat biasa diungkap ketika pelaksanaan upacara. Gamelan Gender Wayang yang berlaras Selendro juga dikumandangkan di tempat yang sama. Ke- hadiran kidung berlaras Pelog, Gamelan Gender Laras Seln- dro, di tempat kejadian yang khusuk lengkap dengan orna- men hias dan sesaji dengan bau harum dan kembang segar.
Kesungguhan hati (satyam) untuk berkurban berupacara, dengan tulus hati suci murni (siwam), telah utuh terungkap
padu: pelog, selendro hiasan apik serta indah (sundaram)
di ruang waktu yang sama. Demikian itu, pengalaman manu-
sia yang spiritual-intelektual-emosional dan vitalitas yang mantap dalam budaya tradisional Bali tersajikan. Bait satu untuk Kawitan Tantri "Wuwusan" dalam
Demung Sawit, dan satu bait dari Kidung Tantri"Tuhuatut"
dalam Demung Sawit Bawak Dawa serta satu bait kidung Malat, lumrah dinyanyikan secara bersama oleh para ibu. Bagi
penyaji kidung yang profesional, mahir menghafal, dan
mengumandangkan dengan variasi irama lagu, merupakan kemampuan khusus. Dalam kegiatan "mabebasan"yaitu seseorang membaca, yang lain menterjemahkan secara tersurat dan tersirat, merupakan satu kegiatan interpretasi yang sangat kreatif dan menarik, di Bali.
Kidung yang berisikan pitutur-pitutur sebagaimana di-
kehendaki, memang tidak banyak bisa ditemukan. Kidung
lebih lumrah berisikan ungkapan keindahan-keindahan alam, kebesaran dan ketenaran seorang raja dengan segala atribut para penjabat serta para wanita-wanita ayu, dengan kemegah- an suasananya. Sumilir kesegaran suasana, kesejukan serta
keindahan lembah jurang, hijaunya pepohonan pegunungan.
Kemala lapangan langit dengan bintang-bintang menghiasi- nya. Suara alam dengan keragaman nada serta iramanya, warna-warna bunyi dan lain-lain.
Demikian ulangan-ulangan ungkap, untuk kembali meng- ingatkan. Bahwa pitutur budi pekerti, etos kerja kedisiplinan,
diungkapkan secara tersirat saja, dalam berbagai jenis kidung.
2.4 Beberapa Wirama Kakawin
1)Pawitra Sumber: Kakawin Ramayana Guru Lagu: - - - - - o o o o o Sangkaning wruh aji ginega Nitidnya cara kapuhara Pandyacarya dwija pahayun Gengen tatah ikanangasih
Isi dari wirama PAWITRA, satu bentuk wirama yang
tergolong kecil di atas ini, menyatakan bahwa: Orang menjadi
pintar karena membaca buku ilmu pengetahuan dan sastra. Karena kepintarannya, orang itupun pandai berpikir. Fasih berkomunikasi dan berlaku sopan. (Nasihat ini dituangkan oleh Rama Dewa kepada adiknya Bharata, dalam Kakawin Ramayana). Sebuah bentuk wirama, terdiri dari empat baris kalimat. Setiap baris terdiri dari suku kata berjumlah tertentu. PAWITRA, setiap satu baris kalimatnya terdiri dari sembilan suku kata saja. Empat suku kata pertama, diungkapkan secara guru, yaitu tekanan ucapannya berat, atau panjang. Dan empat suku kata berikutnya dibaca pendek dengan tekanan lembut. Suku kata terakhir dalam kalimat, yaitu yang kesembilan dapat dibaca secara Guru atau Lagu, karena akhir kalimat. Namun disesuaikan dengan arti dan maksud kalimat itu, untuk menentukan guru lagunya. Yang jelas, bahwa suku akhir dalam kalimat biasa dibaca: Guru. Berapa panjang waktu yang dibutuhkan untuk meng- ungkap guru, dan berapa saat saja lamanya untuk meng- ungkap lagu, inilah permasalahan yaug pelik, unik dan khusus dalam menyajikan wirama. Permasalahan perkembangan melodi, tinggi dan rendah, dan penerapan nilai musikal dari segi melodi, yang terpaut menyatu dalam panjang pendek ungkapan bunyi suku kata yaitu Guru-Lagu, menunjukkan ciri hakiki dari jenis wirama tertentu. Semakin banyak jumlah suku kata dalam satu baris kalimat sebuah wirama, semakin besarlah wirama itu, dan semakin meningkat pulalah faktor kesulitannya. Demikian antara lain ciri-ciri wirama, sekar agung itu. Berikut ini sebuah wirama yang lain, yang juga merupa- kan nasihat Sri Rama ditujukan kepada Wibisana, yang di- siapkan untuk menegakkan pemerintahan Alengkà meng- gantikan Rahwana.
2) Indra Wangsa (Swandewi) Sumber: Kakawin Ramayana Guru Lagu wirama Indra Wangsa atau Swandewi: --0--00-0-00
Prihen temen dharma dumaranang sarat Saraga sang sadhu sireka tutana Tan artha tan kama pidonia tan yasa Yasakti sang sadnyana dharma raksaka
Mencari darma yang baik dan benar, guna landasan kerja dalam hidup di dunia, menjalankan kehidupan'sebagaimana langkah-langkah orang bijaksana, agar dipertimbangkan dengan masak kebutuhan harta, serta tuntutan biologis dalam hidup Kekuatan orang bijaksana adalah dalam melak sanakan dan menjalankan darma hidup kehidupan. Demikian terjemahan bebas dari isi wirama di atas ini. Yang lebih pen- ting bagi kehidupan manusia dewasa ini adalah secara aktif dan kreatif menafsirkan butir-butir yang tersurat, serta me- nangkap siratan-siratan artinya. Kemudian, memilah-milah, memilih yang paling tepat bagi diri. Ciri yang lain, yang khas dan khusus adalah penggunaan dua bunyi dalam dua suku kata terakhir pada baris sebelum- nya, menjadi bunyi dua suku kata pada awal kalimat berikut. Perhatikan "sarat" jadi"saraga", "tutana" jadi"tan artha" "yasa''jadi"'yasakti". Dalam mencapai nilai top, betapa liku-liku gairah hidup dan kehidupan manusia-manusia masa lampau, telah di- ungkap dituangkan dalam berbagai bentuk: sekar rare, sekar media, sekar agung. Atau bentuk lagu gendhing anak-anak, remaja dan dewasa. Contoh terakhir yang dibahas pada kesempatan ini, ber- sumber pada kitab Nitisara, berupa sebuah wirama yang ter- golong besar. Alasannya, empat baris kalimat yang mem- bentuk satu wirama, masing-masing terdiri dari dua puluh tiga jumlah suku kata. Wirama Ragakusuma namanya.
Sumber: Nitisara
3) Ragakusuma
Guru Lagu Wirama "Ragakusuma": ---00-0-000-000000-0-00
Wriksha cendana tulia sang sujana sarpha mamileting i sor mangasraya
Ring paang wenara sikara pakshi kusumanika brengga mang- rubung Yan pinerangwinandung sugandha pemales nika meleking irung nirantara Mangka tingkahi sang mahamuni maropahita setata cita nirmala Isi wirama RAGAKUSUMA di atas ini, mengungkapkan perumpamaan bahwa: kayu cendana yang dijadikan contoh. Diibaratkan seperti nilai orang baik. Ular berbisa, orang pintar banyak akal, turut mengabdi merendahkan diri, kepada orang baik (penguasa top). Para orang pintar cendekiawan, bertindak sebagai penasihat di sekitar, di lingkungan atas menjejali penguasa top itu. Sekalipun orang bernilai top ditumbangkan, seakan pohon cendana ditebang, maka bau haruslah atau jasa-jasa baiklah tetap ditebarkan orang bernilai top itu, bak harumnya cendana ditebang, memuaskan hidung dalam radius sangat luas. Demikian senantiasa ulah tokoh top, orang bijak seorang pimpinan puncak. Selalu saja men- ciptakan kebaikan hakiki bagi manusia di sekelilingnya. Sebuah bentuk Wirama RAGAKUSUMA, terdiri dari empat buah baris kalimat. Setiap satu baris kalimat itu, terdiri dari 23 suku kata. Dapat dihitung jumlah suku kata yang membentuk satu Wirama RAGAKUSUMA adalah: (4 x 23) suku kata: 86 suku kata. Persyaratan yang lain yang harus dipenuhi adalah bahwa suku kata-suku kata itu harus memiliki guru lagu, atau aturan panjang pendek pas seperti telah digambarkan di atas. Bila dibandingkan dengan perkembangan bentuk-bentuk pengungkapan sastra dewasa ini, maka ungkapan kalimat pendek, lebih mendapatkan prioritas. Satu kalimat sederhana bentuknya, telah pas dan tuntas mengungkap makna dan isi, lebih mendapat pilihan. Sangat lain kenyataannya kini, bila dibandingkan dengan zaman lama, ketika berbagai" bunga- bunga kata, menghias ungkapan kalimat panjang.
BAB III KAJIAN NILAI
Mengkaji nilai sastra lisan dan tulisan masa lalu, walaupun hanya dengan bentuk contoh-contoh diketengahkan sangat terbatas jumlahnya, keragaman kesan-kesan dari hasil pen- jelajahan itu, bervariasi adanya. Ketika rencana menyelidik isi tembang yang mengandung nilai budi pekerti, etos kerja dan kedisiplinan difokuskan. Dan ketika langkah mulai diayunkan maju, penemuan- penemuan bentuk yang mengandung isi sesuai dengan pas sebagaimana telah direncanakan, ternyata sukar ditemukan. Kehilangan bentuk-bentuk yang ditemukan, sekalipun tidak sepenuhnya memenuhi syarat-syarat isi, mengingatkan untuk mencari-cari jalan.
3.1 Lagu Gendhing Anak Dalam lingkungan lagu gendhing sekar rare, atau lagu anak. Lagu PETENG BULAN, PENGELONG, SIJANG-SIJANG BAWANG, tidak mengandung isi tentang pitutur secara langsung. Dua yang pertama: PETENG BULAN, dan PENGELONG, memberikan wawasan tentang suasana alam malam kelam. Sesuai ajaran "TRIHITAKARANA" yang di- perkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta, dan menjadi pegangan dalam kehidupan budaya tradisional Bali, tentang: Membina keakraban antar manusia dengan Tuhan Membina keakraban antar manusia dengan manusia Membina keakraban antar manusia dengan alam Kedua lagu gendhing dimaksud, mengajak manusia membina keakraban dengan alam, alam malam kelam; tanpa bulan, kehadiran hujan dan kehadiran katak, suasana dingin dan seterusnya. Hal ini, tidak dapat dipungkiri adalah ajaran dengan cara lain tentang kehidupan manusia; sekalipun di- sampaikan tidak secara langsung, namun punya makna. Lagu gendhing PENGELONG, selain mengungkap tentang keadaan malam tanpa bulan, juga menjelaskan masalah ke-
akraban manusia dengan manusia. Dalam hal ini percakapan intim dan komunikatif antara kakek dan cucu. Bila dikaitkan dengan paham Bali tradisi yang Trihitakarana itu, jelas lagu anak jenis inipun mengandung pitutur. Kajian lagu gendhing SIJANG-SIJANG BAWANG. Lagu permainan anak ini menciptakan rasa kebersamaan "gotong royong" yang konon merupakan budaya masyarakat nusantara. Lebih terfokus dapat merupakan ungkapan salah satu butir dalam Pancasila kita: Persatuan Indonesia. Anak-anak dalam permainan mereka diiringi lagu Sijang-Sijang Bawang menciptakan rasa saling memiliki bersama. Memiliki kesederhanaan lagu, iramanya polos dan kerampak- an gerak seragam menjelajah ruang waktu dihasilkan peng- ulangan "Bur coblong cilakok", tanpa arti; akhir lagu Sijang-Sijang Bawang. Justru dalam kegiatan bercanda ria, seke- lompok manusia anak melejit dalam keadaan: khusuk/spi- ritual, intelektual, emosional, serta penuh vitalitas; anak yang total dalam kehidupan. Karena alasan demikian inilah, lagu gendhing permainan anak yang secara segi arti kata tidak mengandung ajaran pitutur pada dasar kenyataannya ternyata sangat lengkap, memandu hidup dan kehidupan manusia. Disamping, bentuk-bentuk yang pernah ada, dapat dijadikan bahan. Tentang lagu gendhing: TUNJUK-TUNJUK MENDUR dan SA DUA TELU dalam laras Selendro, memang ber- ungkap nasihat sepenuhnya, dan tandas tuntas dalam des- kripsi di muka.
3.2 Tembang Pupuh Macapat Tembang ini banyak dan mudah ditemukan dalam ber- bagai bentuk pupuh yang mengandung isi pitutur. Namun untuk memenuhi ulasan kita pada kesempatan sekarang, hanya dengan jenis tembang yang ketat aturan dan baku bentuknya dengan jumlah 12 (dua belas) buah judul tembang, rasanya tidak sreg. Maka sengaja dipilihkan sebagian kecil tembang/pupuh macapatan antara lain: 一 Yang lumrah di Bali : Pucung, Pangkur, Ginada, Si-
nom
- Yang tidak lumrah : Gambuh, dan Megatruh. Jenis yang lumrah, namun tidak dibahas pada kesempatan ini adalah: Maskumambang, Mijil, Durma, Semarandana, Dandang Gula, Ginanti, jenis ini digolongkan ke dalam macapatan. Sedangkan tembang Adri, dan Demung, digolongkan ke dalam kidung, sesuai Taman Sari I, oleh I Wayan Djirne dan I Wayan Roome. Tembang Pucung, dalam budaya tradisi Bali, lumrah diungkap laras Pelog atau Selendro. Pada zamannya, ibu-ibu dalam menimang anak suka berungkap Pucung, Maskumambang, Ginada dan Ginanti laras Selendro. Mengenai isi tembang tidak penting bagi mereka. Isi tembang Pangkur mengingatkan tentang "pala karma" buah hasil perbuatan, dan rua bineda yaitu dua wajah satu koin, baik dan buruk dalam kehidupan yang selalu ber- dampingan. Jalan itu banyak dan yang pantas hanya satu dipilih dan dijalankan dengan gigih dan mantap. Pangkur hanya lumrah diungkap dalam laras Pelog dalam tradisi Bali, dengan kehadiran nada-nada miring di sana sini. Tembang Ginada, merupakan tembang yang sangat banyak ditemukan dalam buku-buku "geguritan" mengungkap lakon, sering kali sarat dengan pitutur yang sangat pintar. Bentuk Tembang Ginada Kedis/Burung, pengarangnya dengan baik, nalar dan kreatif mengungkap dengan artistik kelompok burung, menciptakan pendukung seni pertunjukan Gambuh. Para seniman penyaji iringan musik, para pelaku bahkan lingkungan penonton atau penikmat Gambuh diungkap. Tentang siapa nama orang yang menciptakan, tidak pernah mampu diketahui dalam bentuk ciptaan sastra kuno, khususnya jenis sastra lisan itu. Sinom, adalah jenis tembang yang sangat lumrah ditemukan dalam budaya kehidupan tradisi Bali. Dua buku "Geguritan Sampik Ingtai" dan "Geguritan Salya Senapati" buku sumber lakon Arja, jenis seni pertunjukan Opera Bali, dimulai dengan tembang Sinom. Tokoh peran Mantri, hero dalam Arja, dan juga pemeran Limbur, raja putri tua dalam Arja,
senantiasa menampilkan diri dengan tembang Sinom, laras Pelog. Mantri Buduh/Edan, menampilkan diri dengan Sinom Laras Selendro, ketika ia masih di balik geber/langse. Adegan percumbuan dalam seni pertunjukan: Arja, Perembon lumrah menggunakan tembang Sinom. Sinom dicantumkan di sini dapat dikaji bentuk dan isi serta notasi deskriptifnya, pada halaman:15 dan 16, di muka.
Tembang Gambuh yang tercantum di sini dipetik dari buku Stensilan berjudul TAMAN SARI I, oleh I Wayan Djirne dan I Wayan Roeme. Pengakuan bahwa tembang Gambuh merupakan gendhing Jawi/Jawa dengan dukungan syair bahasa Bali, menandai bahwa tembang Gambuh kurang lumrah dinyanyikan dalam tradisi Bali. Membahas mithologi "Asta Dewi" yang pelik permasalahannya, dan tidak di- lengkapi kesinambungan isi ungkapan, maka terputuslah wawasan yang dapat ditangkap sampai di sini saja. Namun dari alur melodi dan guru basa, arti dan jumlah suku kata, guru wilangan, seyogyanya ada makna seni suara dan seni sastra mampu diserap. Tembang Megatruh, adalah tembang yang langka diguna- kan dalam budaya tradisi Bali, di sini dilukiskan hanya untuk menangkap bentuk notasi gendhing, dan makna yang lain. Dari segi isi, tembang Megatruh di sini mengungkap secara naratif tentang. Seseorang yang menempuh jalan panjang dengan berjalan kaki, di bawah terik matahari. Tentulah orang itu butuh mengaso. Tempat di bawah pohon rindang, bersebelahan dengan sebuah telaga indah/kecil, tentulah sangat wajar dan pas. Kelanjutan isi dari sambungan bentuk tembang Megatruh pada nomor-nomor berikut, secara sar- kasme pitutur disajikan. Maknanya adalah, dalam menjelajah sastra lisan sastra tulisan, seseorang seyogyanya jeli, perduli dan trampil melihat dan mengangkat nilai-nilai.
3.3 Kidung
Tembang pupuh macapat, pasti tata aturannya. Guru wilangan jumlah suku kata per baris, jumlah baris per bait/ bentuk, dan bunyi akhir pada setiap baris telah pasti aturannya. Bentuk kidung lain, tidak seketat aturan-aturan tem-
bang, bebas dari aturan tembang. Kidung dikenal dengan tata aturan kidung. Sikap ungkap penyaji kidung lebih khusuk; penyaji tembang sikapnya lebih intelektual. Ciri-ciri berupa besarnya bentuk, dikarenakan jumlah baris yang lebih banyak, juga jumlah suku kata dalam satu baris semakin banyak, seperti dalam Adri dan Demung, maka kedua bentuk Adri dan Demung dilepaskan dari pengelom- pokan tembang, dimasukkan ke kelompok atau parangan kidung; bersama-sama dengan: PANJI MARGA BAWAK;
WELINGI, DEMUNG SAWIT. Masih banyak lagi nama-nama
judul kidung dapat didaftar. 1. PANJI MARGA DAWA,
- ALIS-ALIS IJO BAWAK, 3. ALIS-ALIS IJO DAWA,
- SRI TANJUNG, 5. WASIH, 6. PURWAJATI, 7. SUDA-MALA,8. SIDAPAKSA, 9. RANGGANUJA, 10. LAYON SARI, 11 CANGGU, 12 JURANGAN DANU, 13. AGAL DAWA, 14. AGAL BAWAK, 15. PALUGON, 16. KANCIL,
- MAYURA BAWAK, 18. MAYURA DAWA, beberapa di antaranya dapat dipelajari lewat notasi dan juga bisa belajar langsung dari nara sumber yang masih ada. Liku-liku melodi, dan panjang pendek ungkapan atau guru lagu, sangat bervariasi dapat ditemukan di bidang kidung dari satu tokoh ke tokoh lain, yang tersebar menelusuri sifat-sifat daerah pedesaan yang sangat jamak mewarnai bidang kidung ini. Panji Marga Bawak, dapat dipelog atau diselendrokan, secara notasi, memetik bentuk Taman Sari, dan kalimat syairnya bersumber pada KIDUNG YADNYA oleh: I Nyoman Samur. Agar memenuhi guru wilangan, atau jumlah suku kata dalam baris tertentu, ripisi dengan tidak merubah arti, telah diterapkan. Namun sesungguhnya, bahwa: "perkembangan kidung tanpa aturan" bila ditinjau dari aturan tembang, Repisi dimaksud sesungguhnya tidaklah perlu. Isi Panji Marga Bawak menjelaskan tentang suasana pelak- sanaan "Bhuta Yadnya'. Bagi para intelektualis yang me- nuntut kata harfiah isi, tentulah bentuk ini tidak sesuai rencana. Namun bila dikaitkan dengan kehidupan tradisi, maka maknanya pun terasa tersirat.
Kidung yang dikenal dengan nama WELINGI ini, sekali
pun kecil, karena terdiri dari empat baris, itupun baris-baris yang relatif pendek, namun isinya menceritakan kegiatan intensif kaum tua, susana yang spiritual. Satu suku kata lumrahnya diungkap dengan warna melodi yang ganda dan berliku-liku. Dengan kenyataan demikian teknik dan isi ungkapnya menjadi khusus untuk yang telah dewasa. Alasan seperti itu yang melatarbelakangi, maka Welingi digolongkan ke lingkungan kidung. Kidung DEMUNG SAWIT, PENGALANG BAWAK, ber- sumber pada Kidung Tantri, bagian awalnya atau Kawitan
Tantri, dikumandangkan pada pelaksanaan upacara potong
gigi. Isinya tentang seorang raja (Eswaryadala) asal negara Petali yang sangat termashur dan dijunjung tinggi, serta di- segani para raja negara sekitar di lingkungan Jambuwarsa. Tidak ada pitutur intelektual yang langsung. Namun dari siratan makna kata dalam alam feodal, status, fungsi, sifat manusia, suasana lingkungan alam tandas jelas tergambar. Kandungan ungkapan: kesungguhan/kebenaran, satyam, secara suci murni tulus, keadaannya digambarkan sedemikian, di mana lingkungan kerajaan, istana, para pejabat dan rakyat digambarkan menerima keadilan, seluruhnya serasi, indah, atau sundarem. Gambaran-gambaran terungkap: khusuk
spiritual, intelektual, dan jabaran atribut-atribut yang me-
nyentuh emosi, khususnya pada nomor-nomor bentuk ungkapan "Tantri"selanjutnya. Gambaran keseluruhan me- nyajikan vitalitas kehidupan saat itu. Latar belakang demikian menyentuh nilai kehidupan manusia, sekalipun tidak secara langsung dan harfiah namun dalam ungkapan ke- kuatan sastra, yang berdimensi makna-makna kehidupan.
3.4 Wirama Kakawin
Bentuk dan jenis wirama ada banyak jumlannya, terdiri dari empat baris kalimat. Wirama tergolong kecil, terdiri dari sembilan suku kata untuk setiap baris kalimatnya sampai dengan jumlah empat belas suku katauntuk setiap baris kalimat. Dengan jumlah suku kata lima belas perbaris, sampai dengan delapan belas suku kata untuk setiap baris kalimat,
tergolong bentuk wirama sedang. Bentuk wirama dari sembilan belas suku kata untuk setiap baris kalimat, atau jumlah suku kata lebih dari sembilan belas, tergolong wirama yang
Nama-nama Wirama kecil dari daftar nama yang ditemu- kan dan gambaran guru lagunya masing-masing adalah sebagai
besar.
berikut:
- Pawitra
- Merta Totaka :
- Upeksa Bajra
Indrawangsa
5. (Swandewi)
Prakarsini
- Basantilaka
- Totaka
- Praharsini suku kata:
- Basanta Tilaka :
- Manda Mulo
- Girisa
- Rajani
- Prawiralalita atau
- Wiralalita
--0000-0-00 = 9 suku kata ---00-00000 = 11 suku kata 0-0--ο0-0-0 = 11 suku kata --0--00-0-00 = 12 suku kata
---0οο0-0-0-0 = 13 suku kata --0-000-00-0-0 = 14 suku kata 00-00-00-00 : 12 suku kata ---οοοο-0-0-0 = 13 suku kata
--0--000-00-0-0 = 15 suku kata 00000-000-00-000 = 16 suku kata O 0 O O O O - -- - 0 0 ---0 = 16 suku kata οοοο-0-0ο0-00-00 = 16 suku kata.
-00-0-000-0-0000 =16 suku kata
Beberapa Nama Wirama sedang dengan Guru Lagu, jumlah
Pretwitala 0-000-0-000-0--00
= 17 suku kataWangsapatrapatita: - 0 0 - 0- 0 0 0- 0 0 0 0 0 0 0
= 17 suku kata :
18. Asti 000000-----00000
= 16 suku kata
- Merdu Komala :---00-0-000-0-0ο00
= 18 suku kata
Beberapa Nama Wirama Besar/Gede, Guru Lagu, dan jumlah suku kata untuk setiap satu baris, antara lain:
Sardulawikridita:: ---00-0-000---0--
o o = 19 suku kataWikerti 0 0-0-000-000000-0-
o o = 20 suku kata --000000-0-000-0000Kilajumanedeng:
ooo 22 suku kataPadmakesara atau
Kalengengan : 0-000-0-000-000000-
=23 suku kata o-o ρAtidhreti---00-0-000-0000000
= 19 suku kataSeragdara----0--000000--0--
o -0 : 21 suku kataWawitra atauu 28. Wawirat, 29. Jagadita, 30. Ragakusuma: --00-0-0 00-000000-0-00= 13suku kata
- Aswalalita 0000-0-000-0-000-0-
o o o o = 23 suku kata.
Demikian dari segi bentuk, jenis-jenis dan beberapa nama wirama, gamaran Guru Lagu, serta jumlah suku kata dalam setiap satu baris. Satu bentuk wirama, terdiri dari empat buah
baris. Ukuran yang paling besar yang ditemukan sementara
ini, memiliki jumlah suku kata dalam satu baris hanya dua puluh tiga suku kata. Ada juga satu dua judul wirama, diluar aturan terungkap di atas. Masing-masing jenis tanpa aturan, yang terdiri dari
empat baris kalimat yang tidak sama jumlah suku katanya untuk setiap baris, melainkan berbeda-beda. Contohnya an- tara lain:
- Wirama Soraba Wisama (Rai Tiga):
a. 00-0-000-000000- 0-00 =20 suku kata
b. -0-000-00- =10 suku kata
C. 0000-000-0-00 = 13 suku kata
Sumber: Kakawin Sutasoma
Wekasan sirangliliradan ta pihangusapi luh tibeng pipi hah kakaji lingiran panawang ndi sawanta masku bapa sang mating hayu. Terjemahan bebas: sementara itu sadarlah (Dewi Marmawati), sambil mengusap air matanya yang meleleh dipipinya. "Aduh kanda (Jayawikrama) ratapnya, dimanakah letak jasad kanda
dimedan perang ini ?".
35. Wirama Udgata Wisama (Rai Tiga) Sumber: Kakawin
Sutasoma
a. 00-0-000-000000-0-0Q =20 suku kata
b. -000ο00-00o 11 suku kata
c. 0 0 - 0 - 0 o o - 0 - 0 o = 13 suku kata Na wuwus kawindra diyita rasa tuhu mareke nareswara Wanwadanangadegapet karana Pranateng siran kadi ta tuhwa mangkata. Terjemahannya secara bebas: (Dialug Diyah Suraga ke-
pada Dewi Candrawati, dipihak raja Dasabahu), seakan ingin menghadap raja; agak bersemangat ia berdiri bersopan santun akan berangkat. Diketahui bahwa Sutasoma merupakan kelanjutan Mana- bharata yang di Indonesia berbentuk ciptaan Kakawin Berata-
yuda. Dan selaku ajaran, merupakan perkembangan masa Hindu menjadi Buddha. Tersirat juga bahwa dalam pertumbuhan angkatan-angkatan dalam sastra, perubahan atau perkembangan bentukpun lahir, sebagai ciri pertumbuhan yang baru, pertumbuhan yang lain. Mengangkat wirama yang bersumber dari Kakawin Su- tasoma, oleh Empu Tantular tahun saka 1048, khususnya yang mengandung kalimat: "... bhineka tunggal ika, tanana dharma mangrua,"tentulahsangattepat dijadikanmateri. Ketimbang mengangkat bentuk-bentuk Rai Tiga, yang tentu- nya memberikan wawasan tentang adanya aturan-aturan, juga diluar aturan-aturan yang ada. Betapapun bentuk itu ada beraturan atau tanpa aturan, karena faktor waktu, melahir- kan aturan-aturan tertentu guna mengenali ciri-ciri sastra-sastra lama.
BAB IV
PENANAMAN NILAI BUDAYA MELALUI TEMBANG SUNDA-JAWA
Setelah berakhirnya pemerintahan Kerajaan Pajajaran pada Tahun 1579 M dengan rajanya Ragamulya Suryakanca- na, disebut pula Pucuk Umun atau terkenal dengan nama Panembahan Pulasari. Memerintah Tahun 1567 - 1579 M. Timbulah sejenis kesenian yang disebut seni Pantun. Seni Pantun adalah seni tutur yang menggunakan alat pengiring sebuah Kecapi atau ditambah dengan sebuah Tarawangsa. Ceritera-ceritera yang dibawakan adalah ceritera pada jaman Kerajaan Salakanagara, Taruma (Tarumanagara), Sunda, Galuh, Kawali, Galunggung, Pajajaran, Banten, Ci- rebon. Bahkan ada juga ceritera yang dibawakannya ceritera sebelum adanya pemerintahan di daerah Sunda seperti ceritera Situ Bandung (Danau Bandung). Ceritera-ceritera itu adalah merupakan suatu babak-babak untuk penyajian semalam suntuk. CeriteraCiung Wanara adalah mengisahkan Manarah yang memerintah di Kerajaan Galuh pada Tahun 739-783. Ceritera Mundinglaya Dikusumah adalah mengisahkan Prabu Surawisesa yang memerintah di Pajajaran pada Tahun 1521
- Perang Bubat yang mengisahkan gugurnya Maharaja Linggabuana yang memerintah di Kawali pada Tahun 1350
- 1357, menurut juru pantun terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja. Padahal Sri Baduga Maharaja adalah raja Pajajaran yang memerintah pada Tahun 1482 - 1521 ayah Prabu Surawisesa atau Mundinglaya Dikusumah. Pada Tahun 1813-1834 Cianjur dibawah pemerintahan Bupati Tumenggung Wiradireja yang lebih dikenal dengan nama Adipati Prawiradireja I, Beliau adalah seorang sponsor, pecinta, pendukung dari kalangan instansi pemerintah daerah terhadap Tembang Sunda. Dengan sendirinya dari kalangan masyarakatpun sangat menghargai kepada seni yang disenangi oleh bapaknya. Apalagi kesenian ini dapat dikatakan atau digolongkan kedalam "Kesenian Lebet''atau kesenian ling- kungan Pendopo dalam kata lain disebut "Kesenian Keraton".
Kesenian yang digolongkan kedalam Kesenian Lebet mu- tunya dianggap sangat tinggi. Tembang Sunda pun demikian dan sesuai dengan kenyataannya. Setelah beliau meņinggal, pemerintahan dan kancah per- juangan dalam seni diteruskan oleh Adipati Koesoemaning- rat yang mendapat julukan "Dalem Pancanitř'memerintah Tahun 1834-1863. Pada jaman inilah Tembang Sunda Ci- anjuran mengalami masa keemasannya. Selain beliau sangat menyenangi tembang juga bertujuan untuk memberi pene- rangan, bimbingan dan nasihat kepada masyarakat dengan melalui syair lagu yang diciptakannya. Adapun lagu-lagu yang diciptakannya adalah Lagu Pancaniti yang berpupun Dangdanggula atau disebut pula lagu Dangdanggula Pancaniti. Lagu Kentar yang berpupuh Dangdanggula yang disebut juga lagu Dangdanggula Kentar. Lagu Pangrawit yang berpupun Sinom atau disebut juga lagu Sinom Pangrawit dan lain-lain.
PANCANITI
Sekar Irama Merdika Laras: Madenda Pupuh : Dangdanggula Surupan : 4] Tugu
2 0 5 5 5 5 5 43⁻2 5 2 Pa-ja-ja- ran ti-las Si- li-wa ngi 2 2 3—5 1 215
0 3- 21
一 Wa-.wa -ngi na nu ka-ri a- 5 13- 一na yeu 5 5 4 3 5
0 2 1 5 043
da -yeuh Bo-gor A-yeu-na nya 1 1 5 0 2 2 2 23-54.5 12 nu tun Ba- tu tu-lis kan 0 2 1 5 .43 5 1 5 4 3 5 wung ja -ra- di pi-kir Kan-tun li- 0 2 2 2 2 1 5 i 2 is Mi-kir na nu di sa- da -
0 1 5. 4 3 5 4 5 1 2 Han-teu su-rud li-wung 2 1 5 5 5 5 5 5 1 5 4 3 5 4 5 1 2
Teu-teu leuman ko-ko-ja-yan Di Ci-li-wung
2 2 2 2 2i 2 1 5. 43-43-2.1513-5
nun-jang ngidul Si-li-wa-ngi
5 5 5 5 5 5 1 1 1 5 4 5
nan
Nu-us di Pa- mo- ya -
- Pajajaran tilas Siliwangi Wawangina nu kari ayeuna Ayeuna nya dayeuh Bogor Batu tulis nu kantun Kantun liwung jaradi pikir Mikir nu disadana Hanteu surud liwung Teuteuleuman kokojayan Di Ciliwung nunjang ngidul Siliwangi Nuus di Pamoyanan
- Pamoyanan jadi tepiswiring Dayeuh maneun nagara baneula Cirina nya gunung Gede Kiwari nya Cianjur Kaler wetan sajajar deui Jiga gunung Mandala Mandala hayu Hayu soteh hayu mulang Langlang-lingling dina luhur mega miring Nyangsang na mega malang
- Pajajaran bekas Siliwangi Harumnya sampai sekarang Yang sekarang kota Bogor Batu tulis yang tinggal Jadi ingatan dan pikiran Memikirkan suaranya
Tidak hilang dari ingatan Menyelam berenang
Di Ciliwung mengarah keselatan Siliwangi
Mengering di Pamoyanan
- Pamoyanan jadi perbatasan Kota tetap negara dahulu Tandanya gunung Gede Sekarang Cianjur Utara timur sejajar lagi Seperti gunung Mandala Mandala selamat Mari kembali Melihat diatas awan miring Nyangkut di awan melintang.
Setelah Dalem Pancaniti mangkat, kancah perjuangan seni dan pemerintahan diteruskan oleh putranya yang bernama
R. Alibasah beliau mendapat gelar Kangjeng Prawiradiredja II. Pada masa ini timbul penambahan fungsi yaitu sebagai alat komunikasi dalam birahi. Ini sangat dibutuhkan oleh para generasi muda agar lebih mudah dan cepat untuk men- dapatkan pasangan serta sesuai dengan perkembangan jiwa- nya. Kangjeng Prawiradiredja II mangkat pada Tahun 1910, pengelolaan seni diteruskan oleh muridnya yang bernama
R. Etje Madjid dan Bapak Djajalahiman. R. Etje Madjid menambah perbendaharaan lagu-lagu diantaranya lagu Go- yang dengan memakai syair/Guguritan "Laut Kidul", lagu panambih Titisan Degung dan lain-lain. Di bawah ini sebagian dari Guguritan Laut Kidul dalam pupuh Dangdanggula:
1. Laut kidul kabeh katinggali ngembat paul kawas dina gambar ari ret katebeh kaler Batawi ngarunggunuk
lautna mah teu katingali ukur lebah-lebahna semu-semu biru ari ret ka kaler wetan Gunung Gede jiga nu ngajakan balik meh bae kapiuhan
2.Matak waas pacampur jeung sedih gunung-gunung kabeh narembongan gunung Pangrango ngajogo bangun nu diharudum ngadagoan nu tacan sumping nyeri dumeh ditilar mani alum nguyung nguyung-muyung karungrungan ngan dijieun Pangrango ciciren nagri nagara Pajajaran.
1. Laut selatan semua kelihatan Kebiru-biruan seperti pada gambar melihat ke arah utara Batawi menghampar lautnya tidak kelihatan hanya kira-kira kebiru-biruan melihat ke utara dan timur gunung Gede seperti mengajak pulang hampir saja terjatuh
2. Terharu bercampur sedih gunung-gunung semua bermunculan gunung Pangrango bersiap-siap seperti yang berselimut menunggu yang belum datang sakit karena ditinggalkan menjadi tidak bersinar sedih tiada hentinya Pangrango dijadikan tanda negara negara Pajajaran.
Tembang Sunda selain berkembang dilingkungan pendo- po, seperti di Cianjur, Sumedang dan lain-lain, juga berkembang dikalangan masyarakat biasa dan di pesantren. Sesuai dengan perkembangannya maka tiap-tiap daerah mempunyai gaya dan visi yang berbeda. Dibawah ini syair pupuh Dangdanggula yang berkembang di pesantren Cigawir Tasikmalaya dengan nama Dangdanggula Talutur Cigawiran.
Ku ihtiar reujeung ku pamilih Kaduana mikiran akherat Supaya ulah kabendon Ku jalma doraka luput Sabab bontongor teu nguping Katimbalan Pangeran Dawuh Kangjeng Rosul Ari syaratna ihtiar Keur nyingkahan mamala lahir jeung batin Supaya meunang waluya
Dengan ihtiar dan dapat memilih Keduanya memikirkan akherat Agar tidak dapat siksaan Manusia jadi durhaka Penyebabnya tidak mau mendengar Perintah Tuhan Kata-kata Rosul Persyaratan ihtiar Untuk menghindarkan celaka lahir dan batin Agar dapat kemuliaan.
Ciawi adalah kota kecil di Kabupaten Tasikmalaya. Tembang Ciawian mempunyai gaya tersendiri. Pupuh pun sudah men- jadi miliknya.
KINANTI
- Tikukur diluhur gunung Nyeuseup kembang nagasari Sagara ombak-ombakan Basisir leber ku cai Laut diputer bangawan Sampan parahu sakoci.
Pikir sakalangkung bingung Tara-tara ti sasari Aringgis kaburu mulang Pikir pakait pandeuri Kapalang moal kapalang Sangkan laksana ngahiji.
(1. Tekukur di atas gunung Menghisap bunga nagasari Laut berombak Pesisir penuh dengan air Laut diputar bengawan Sampan perahu sekoci.Pikiran sangat bingung Tidak seperti biasanya Hawatir segera pulang Pikir terpikat kemudian Tidak akan kepalang Agar laksana menyatu.) Pada umumnya Tembang Sunda dibagi menjadi empat
bagian, yaitu: Papantunan, Jejemplangan, Rarancagan dan Dedegungan. Syair Tembang Sunda tidak semua bagian meng- gunakan pola pupuh terutama pada bagian Papantunan serta Jejemplangan.
MUPU KEMBANG
Laras Sekar Irama Merdika Pelog Surupan Bagian : Papantunan 1 =Tugu
0 2 2 2 2 2 2 2. 12 Bur bu- ri-nyay bray ba -ra – nyay 0 3-2 2
15 2 2 2 2.1 5
Siga ben-tang ka-beu-ra-ngan 2 2 0 5 2 2 1 5. 2 一 ci-i Ci-ga bun nga-gan-tung 2 2 2 2 2 2 21 15 一 La-in ci- i-bun gan-tung nga 0 215
| 54 3 | 45!.2 1 55 12 | |
|---|---|---|
| de | 一 | ta |
| 2 3 | 3 3 | 4 |
Ci-ga wa -keur leum-pang 2 0 4 3 345 De-wa nya-ta- nama-nu-sa geu-ning 3 54 5 5 5 5 3 2345
2.3
tan-leu-wih Dewi As-ri ding
Bur burinyay bray baranyay Siga bentang kabeurangan Siga ciibun ngagantung Lain ciibun ngagantung Siga dewata keur leumpang Dewa nyatana manusa geuning Dewi Asri tanding leuwih.
(Bagaikan sinar gemerlapan Seperti bintang kesiangan Seperti air embun menggantung Bukan air embun menggantung Seperti dewata sedang berjalan Dewa nyatanya manusia Dewi Asri tiada tandingannya.)
JEMPLANG BANGKONG
. Laras Sekar Irama Merdika Pelog : Surupan 1 = Tugu Bagian: Jejemplangan.
1 2 1 0 2 2 2. 2..54. Bang-kong di-kong-ko-rong ku-jang
5..43.5 1 1 543.51 2 3.2 1 Ka-ca kundang ca
me- ti da ko-le 2 2 1 0 2 4
5.
Ko-le di bu-ahhang-ga-sa 5 4 3.5. 1 5.4.351.2. 3.2 1 U- lah ngomong me-meh leumpang da hi-rup 3 4 4 3 4 03 2 23 ti ka-pa一 Hi -rup tungkul ku 4 3 3 5 5 3 2 4 4
0.1 3 3
ho sa Paeh teu-nya-di-mang- 3 3 3 3 3 4 3 0 4 2 4 ti ku Hi — rup ka-tung-kul pa - 5
21.32.44 4. 4 4 3 2 3.4 Pa-eh sa.
teu-nya-ho di-mang-
Bangkong dikongkorong kujang Ka cai kundang cameti da kole Kole di buah hanggasa Ulah ngomong memeh leumpang da hirup Hirup katungkul ku pati Paeh teu nyaho dimangsa Hirup katungkul ku pati Paeh teu nyaho dimangsa.
(Kodok berkalung kujang Ke air membawa cemeti ya kole Kole buah hanggasa Jangan bicara sebelum berjalan ya hidup
Hidup diambang mati Meninggal tidak tahu waktu Hidup diambang mati Meninggal tidak tahu waktu.)
Laras atau surupan yang dipergunakan pada lagu-lagu Tembang baik pada Tembang Sunda maupun Tembang bu- hun atau pupuh, yaitu surupan/Laras Salendro, Pelog, Degung dan Madenda. Lagu-lagu Pupuh yang berkembang di daerah Pasundan berjumlah17 pupuh, yaitu: Pucung, Maskumambang, Kinanti, Magatru, Balakbak, Asmarandana, Ladrang, Lambang, Mijil, Wirangrong, Gurisa, Sinom, Jurudemung, Gambuh, Pangkur, Dangdanggula dan Durma. Dari pupuh yang17 hanya 4 yang berkembang pada Tembang Sunda bagian ran- cag ialah pupun Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula serta disebut Sekar Ageung. Yang lainnya disebut Sekar Alit. Untuk membedakan Sekar Ageung dan Sekar Alit bukan dari wujud pupuhnya, tetapi kepada penyebarannya. Di bawah ini beberapa pupuh baik yang Sekar Ageung atau yang Sekar Alit.
ASMARANDANA
Laras/Surupan : Pelog/Degung 1 =Barang Gerakan : Anca
0 3- 3-. 3- 3-. 3- 2 5.
e-E - ling e-ling mang-ka ling 2 5
2 2. 2
di a-Ru-ming-kang bu-mi lam 5 5 5 5. 5 5 .5 43 Dar-ma wawa- yang-an ba- e
4 5. 5 5
ta-ya wa sa Ra- ga pa- nga-
1 5. 5 5 5 5
2 之i
lam-pah
| La-mun | ka − sa-sar |
|---|---|
| 5 | 3 2. 21 2345 |
| Ba-dan | a-nu |
4 Nap-su nu ma-tak ka- du-hung 4 5 55ii .2 2 i 2 i s. ka-tem -puh-an
Eling-eling mangka eling Rumingkang di bumi alam Darma wawayangan bae Raga taya pangawasa Lamun kasasar lampah Napsu nu matak kaduhung Badan anu katempunan
(Elingeling segera eling Hidup di bumi alam Hanya seperti wayang raga tidak bertenaga Kalau kesasar kelakuan Napsu yang menimbulkan penyesalan Badan yang kena akibat. )
SINOM
Laras/Surupan : Madenda 4 = Barang
atau Pelog Liwung 1=Galimer Anca Gerakan
0 4 32. 2 2. 2 2 2 34 War-na war-na la-uk em- pang 2 4 4. 3 2. 2 2 A- ya nu sa-mi jeung ping-ping
.5 5 5 5 5 5
2 2 1 2 3 4 5
Pa- gu lung pa-tum-pang tum-pang
5 4 3 4 3. 5 i 2. 2
li Rat-na Reng-ga-nga- nis ni- 5 4. 4 4 4 4 4 3 War-na- ning la-uk ca -i 5 5
5 5 1 2. 2 2 i 2 i 5 4 3 4
La-la- wak pa -ting su- ru-wuk 5 4 3 43 i.2 2 Se-pat pa-ting ka- ro -ce-pat 2 2 2 34. 54 35 12 Ju-lungju-lung nga -ga- rim-bung 2 221 2 3 4 4 4 4 4 3 4 5 4 Sisi ba-longba-ling-bing si-si ba- lung-bang
Warna-warna lauk empang
Aya nu sami jeung pingping Pagulung patumpang-tumpang Ratna Rengganis ningali Warnaning lauk cai Lalawak pating suruwuk Sepat pating karocepat Julung-julung ngagarimbung Sisi balong balingbing sisi balungbang
(Berwana-warna ikan empang Ada yang sebesar paha Bergulung saling tindin Ratna Rengganis melihat Macamnya ikan air Lalawak pada berenang Sepat pada kelihatan Julung-julung berkumpul Pinggir kolam belimbing dipinggir kolam kering.)
LAMBANG
Laras/Surupan : Salendro 1 = Barang
| Gerakam | Sedeng (Gumbira) | |||
|---|---|---|---|---|
| 3 | 3 | te 一 | 1 | |
| 0 | 2 | 1 | 4 2 | 3 |
| 0 2 | 2 | 2 2 | 1 | |
| 0 1 | 3 | 2 |
113 5.5 2 Na-wu ku-bangsi-si gal 11 bo-go meu-nang ka-dal Nyi-ar
A-tuin teu-pa ju-al
- yu di- 3 4
22 23 Rek di-da-da teu:-halal har
Nawu kubang sisi tegal Nyiar bogo meunang kadal Nawu kubang sisi tegal Nyiar bogo meunang kadal Atuh teu payu dijual Rek didahar da teu halal (Mengeringkan kolam pinggir lapang Mencari bogo dapat kadal Mengeringkan kolam pinggir lapang Mencari bogo dapat kadal Tidak laku dijual Mau dimakan tidak halal.)
PUCUNG
Laras/Surupan : Salendro1 = Barang GerakanSedeng
2 1: 2 2 2 3 Ha-yu tur di- ba -u-rang a-jar sing su-hud 2 1 U-lah la-la-wa-ra
5 4 3 2. 4 4 4 5 1
Bisi eng-ke hen-teu na-ek
1 5 4 3. 3 2 2 4 5. 1 5 4 3 Batur seu-ri u — rang su-meg -ruk na-lang-sa
Hayu batur urang diajar sing suhud Ulah lalawora Bisi engke henteu naek Batur seuri urang sumegruk nalangsa.
(Mari kawan kita belajar yang rajin Jangan sembarangan Hawatir nanti tidak b naik Yang lain tertawa kita menangis kesakitan.)
- PUCUNG Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawas kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara. Jenis laras :
• Patet
Deskripsi jumlah baris : 12 u, 6 a, 8 i, 12 a
Terjemahan: Ilmu itu dapat diraih dengan cara belajar, bila dilakukan lama kelamaan akan berhasil, arti berhasil itu, pandai, kokoh, kuat, baik budi bahasanya dan takut akan keangkaramurkaan.
Kajian: Bait dalam tembang ini merupakan nasehat yang ber- makna, bahwa ilmu dan pengetahuan itu sangat penting
dalam kehidupan manusia. Meskipun untuk memperoleh-
nya memerlukan kesungguhan, keuletan dan ketabahan.
Namun pada akhirnya akan mendatangkan keberhasilan, kebaikan, kebahagiaan dan ketenteraman.
2. MIJIL
Dedalane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane, tumungkula yen dipun dukani, bapang den simpangi, ana catur mungkur.
Jenis laras : Patet Jumlah baris : 10 i, 6 o, 10 e, 10 i, 6 i, 6 a.
Terjemahan : Jalan dari keberhasilan, kesaktian atau keluhuran itu, harus bertingkah laku sopan,
berani mengalah, karena orang yang berbuat demikian
pada akhirnya akan menemui kebahagiaan. Jangan membantah bila kena marah, hindarilah rintangan, bila ada pembicaraan pergilah.
Kajian :
Tembang ini berisi suatu nasehat yang mengandung nilai budi pekerti luhur, antara lain untuk menjadi manusia yang berguna dan disegani orang hendaknya selalu bersikap sopan santun. Selain itu ditanamkan sifat mengalah, rendah hati, mau mengakui kesalahan dn kekurangan, karena hal itu merupakan sikap yang terpuji. Selanjutnya dalam mencapai suatu tujuan harus menghindari perbuat- an yang tercela, dan jangan suka membicarakan orang lain.
- MASKUMAMBANG
Klek, klek, biyung sira aneng ngendi
enggal tulungana,
awakku kecemplung warih,
gulagepan wus meh pejah.
Bekakrakan babon arsa anulungi,
nanging nora bisa, gek kepriye anak mami,
pitik nora darbe tangan.
Jenis laras : Patet Jumlah baris:12 i, 6 a, 8 i, 8 a.
Terjemahan: Klek, klek, aduh ibu di mana engkau, cepat-cepat tolonglah aku,
diriku tenggelam dalam air,
mengap-mengap hampir mati. Ibunya kebingungan berusaha akan menolong, tetapi tidak bisa, bagaimana nasib anakku, karena ayam tidak punya tangan.
Kajian:
Tembang ini mengisahkan seekor anak ayam yang
terpisah dari induknya, yang kemudian tanpa sengaja
masuk ke dalam air, dan minta tolong karena hampir mati tenggelam. Nilai yang terkandung dalam tembang ini adalah, anak seharusnya mendengar nasehat orang tua, sebab orang tua senantiasa menginginkan keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Bagi anak yang tidak mau mendengar. nasehat orang tuanya, kadang-kadang akan mendapat kesulitan, sedangkan orang tuanya sendiri belum tentu dapat menolong.
- WELINGKU Jenis laras : Slendro Patet / 6 .6 1 / 5..0 / 2. 0 2 / 2 0.
angger Welingkungger 6. 1 / 6 .6 1 / 5 0 4. / 6 .6 1 / 5 0. Mumpung durung kadalarung
2 .1 21 21 / 1 .0 0 / 6. .1 / 1
ma ren nana ngger ang-ger
5.165.3. /2.5. /653. / 2.
la lu wih a la
- / 3 .1. / 6 .2. / 31 6./ 5.0 0 // me1lik dar bek ing wong li ya Terjemahan: Aku berpesan kepadamu anakku, semampang belum terlanjur hentikanlah hal-hal yang tidak baik, seperti mengingini barang kepunyaan orang lain. Kajian : Tembang ini berisi pesan dan nasehat kepada anak muda, agar belajar bersikap jujur, jangan mengambil atau mengingini milik orang lain, sebab perbuatan ter- sebut sangat tercela.
- NUMPAK SEPUR Jenis Laras : Slendro Patet 05 5556 / 15 Sin ten nunggang se pur 05 61 26 / 1 mba yare seta li
1 02 61 53 52 wong niki sepur pur
05 35 23 /1 Ⅱ
te rus teng Kedi ri
Kula mboten nunggang, kula trima mbonceng, mampir teng Semarang, mbyare karoteng. Moonceng mboten kena, konangan kondektur, sampeyan didenda, napa mboten kojur.
Terjemahan: Bagi siapa saja yang akan naik kereta api ini, harus membayar dua puluh lima sen, kereta api ini perjalanannya sampai ke Kediri. Saya tidak mau naik (sampai ke tujuan akhir, Kediri), cukup menumpang sampai di Semarang, ongkosnya satu setengah sen. Kalau hanya menumpang tidak boleh, ketahuan kondektur, anda akan didenda, celakalah kalau demikian.
Kajian: Meskipun lirik dlam tembang ini sangat sederhana dan penyampaiannya agak jenaka, namun di dalamnya mengandung nasehat tentang kedisiplinan. Sebagai con- toh, penumpang kereta api sebelum naik harus membayar ongkos, sebaliknya bagi penumpang yang ketahuan tidak membayar'akan di denda, hal ini akan memalukan. Oleh karena itu bila ingin berbuat atau melakukan sesuatu, hendaknya mematuhi aturan-aturan yang berlaku.
- GERONG LADRANG "SADPADA" Jenis Laras : Pelog Patet : 6 // 0 2.3 5 56 / 6. .6 /6 1 i 2 3 / 2 .. Waspadak na ta won ma du / 0 .2 2 21 / 6.. 56 / 2.356 / 5 Pralambang ingwong tabe /066 6/ i 2 2. 2 3 / i .i 2 i /6. .. Sengkud wiwit byar ra hina /0 2 2. 1 2 / i.. 65 / 2. 3 56 / 5. 0 2
ngan tanpa ken dat nam but kar di /35 56 / 6.. 65 /3.6 56 / 5.0 2
ti sasu rup ing sur ya tan
/35 56 / 61 2 65 / 3.56 53 / 2. .11
sep sa ri
do ma du ngi
Terjemahan: Perhatikanlah tawon madu itu, lambang dari orang yang selalu bekerja keras, cepat dalam bekerja, dari pagi sampai sore tiada berhenti bekerja, itulah cara kerja tawon madu dalam mencari makan.
Kajian: Lebah madu dapat menjadi contoh atau teladan dalam kehidupan kita, karena melambangkan keuletan, kesung- guhan dan kebersamaan dalam bekerja. Selain giat bekerja, tawon madu juga sangat rajin mengumpulkan makanan untuk disimpan. Nilai luhur yang terkandung dalam tem- bang ini antara lain mendorong untuk giat bekerja dan rajin menabung untuk masa depan.
- WITING KLAPA Tembang Dolanan anak, gending titi laras Kepatinan. /0000/5 1 52 / 52 5 35 2 1 6 /
Witing klapa mumpung kita isih muda /0000/5612 /.3.5 /.1 65 / mumpung waras lan santosa /0023 /55.0 / 6666 / 5256/ Den si yaga den saregep nambut karya / 0 0 5 1 / .5 .2 / 5 .3 / 2 .1 / Dimen cepak sandang teda
Witing klapa bocah desa lawan kutha Ayo maju ulah raga, aja kemba, saben dina olah raga, dimen waras lan santosa.
Terjemahan: Pohon kelapa, semampang kita masih muda, semampang masih kuat dan sehat, harus selalu siap dan tekun dalam bekerja, supaya mudah mendapatkan sandang pangan. Pohon kelapa, anak desa dan anak kuta, marilah kita giat berolahraga, jangan malas, tiap hari harus berolahraga, supaya sehat dan kuat.
Kajian : Tembang dua bait ini mengandung makna bahwa ge- nerasi muda hendaknya menggunakan masa mudanya se- baik-baiknya dengan kegiatan yang berguna. Tetap ber- semangat untuk belajar, bekerja, berolahraga, agar men- dapat kehidupan yang lebih baik dikemudian hari.
KESIMPULAN
Isi sastra lisan dan tulisan, prosa atau puisi, sangat kaya
ragamnya. Perkembangannya dari zaman ke zaman sangat
menarik untuk diteliti baik isi maupun bentuknya. Sastra tulisan bentuk puisi, jenis lagu gendhing anak, tembang pupuh remaja dan dewasa, serta berbagai jenis kidung, wi-. rama kakawin, dapat dinikmati isi juga bentuknya yang ketat dengan aturan-aturan. Satu bait bentuk, terdiri dari baris tertentu Dan jumlah suku kata untuk membentuk satu baris, dihitung, dan ditetapkan jumlahnya. Akhir baris tertentu ditakar huruf hidupnya. Semuanya diatur. Dan aturan-aturan ada, untuk setiap nama, untuk setiap rupa bentuk. Sastra yang tertulis, dicamkan oleh penyaji yang ahli serta trampil, bermanivestasi ke alam lisan secara nyerocos. Tidak jarang mendapatkan bumbu-bumbu menjadi baru, menjadi yang lain. Pameran Arja, Dalang, pemeran dalam Gambuh, Topeng dan sejenisnya, menggali dan membekali diri dari tulisan-tulisan. Namun juga tidak mustahil terjadi sebaliknya. Bahwa dengan melihat, mendengar serta me- ngalami, orang dapat meningkatkan kemampuan ungkapnya sebagai penyaji seni pertunjukan, dan sebagian ada yang menulisnya dan bernilai sebagai hasil sastra. Sastra lisan dapat menjadi sastra tulisan, atau sebaliknya. Seniman seni pertunjukan mengotak-atiknya virse-versa. Permasalahan "patet", sesungguhnya hadir dalam tradisi
Bali. Namun untuk menyebutkan secara baku pada patet
apa, sebuah lagu, gendhing anak, tembang macapatan, kidung serta wirama kakawin diungkap dan disajikan, namun belum waktunya untuk diungkapkan. Kata patet di dalam budaya Karawitan Jawa, sepadan dengan "tetekep"pada perangkat gamelan Gambuh.
Gambuh, salah satu jenis seni pertunjukan tradisional
Bali, yang merupakan bentuk drama tari yang paling tua dan paling lengkap. Tari, drama dan musik gamelan Bali me- nemukan aturan-aturan dan originalitas sumber pada Gambuh.
Jenis iringannya dikenal dengan Gamelan Gambuh, terdiri dari sebuah rebab dan paling tidak dua buah suling ber- ukuran besar dengan panjang di atas satu meter, berfungsi mengungkap melodi. Tentunya dilengkapi dengan ricikan lain-lain, berbagai perkusi, untuk menjalin ungkapan irama. Permainan melodi suling, dengan teknik tertentu, menutupi lubang-lubang yang enam jumlahnya untuk ditutup (= tekep/ Bali). Sehingga mode, yangdiciptakan, di Jawa bernama Patet, sepadan pengertiannya dengan tekep atau tekep di Bali.
- Tekep Selisir, untuk gendhing Subandar, penampilan tari putri Condong dan Kakan-kakan.
2. Tekep Baro, untuk gendhing Sekar Gadung, penampilan
para penari putra Arya.
3. Tekep Lebeng, untuk gendhing Sumambang, penampilan
tokoh utama putri: Galuh
4. Tekep Sundaren, gendhing Pengalang, dalam pergantian-
pergantian adegan dalam Gambuh. Juru Tandak, berungkap vokal dalam mengiringi Gambuh,
dapat nembang melagukan karya sastra, yang telah dihafal-
kannya selaras dengan Tetekep yang sedang berlangsung di- ungkap rebab dan suling. Vokalis yang mahir dapat berungkap selaras dengan laras dan patet gamelan yang siap untuk mengiringi. Patet atau tekep, lumrah disajikan dalam sajian gamelan Semara Pagulingan Atut Pitu, di mana tujuh nada dapat diungkapkan sebagaimana halnya gamelan Pelog di Jawa. Semara Pagulingan Atut Pitu, dewasa ini kurang dipakai oleh orang di Bali. Dengan jenis gamelan ini keragaman Tekep atau patet, lumrah tersajikan sebagaimana halnya
seperti dalam gamelan Gambuh. Karena itu, bila terungkap
rasa agung dalam gamelan Bali dewasa ini, orang-orang me- ngomentari dengan"Beh Pegambuhan ini"'!. Ungkapan yang lumrah di masyarakat Bali masa lalu untuk pengertian laras Pelog diistilahkan dengan atut gong. Untuk pengertian laras Selendro, diistilahkan dengan atut Gender. Maksudnya pengiring Wayang Kulit di Bali terdiri dari gender dengan laras Selendro. Dengan banyaknya jumlah
lulusan SMKI dan STSI Denpasar, istilah atut gong dan atut
gender, telah menjadi Pelog dan Selendro. Untuk patet, ada-
lah tekep ada empat jenis tekep laras Pelog: Selisir, Baro, Lebeng, Sundaren. Laras Selendro dalam gamelan Bali, terdapat pada jenis:
- Gamelan Angklung, satu perangkat gamelan lengkap dengan hanya empat nada, untuk setiap rancaan gender. Angklung berfungsi dalam mengiringi upacara "Pitra Yadnya"misalnya upacara perabuan jenazah.
2. Gamelan Gender Wayang, setiap satu rancaan gender
memiliki sepuluh bilahan. Fungsi utama alat ini adalah
mengiringi pertunjukan wayang, dan mengiringi upacara potong gigi, di mana lagu-lagu vokal dihadirkan, namun tidak sejajar dengan alunan gendhing gamelan, akan tetapi terungkap bersamaan di satu tempat, namun saling berjalan sendiri-sendiri. Kidung berlaras Pelog, tidak mustahil dihadirkan, ketika gamelan laras Selendro menyajikan ungkapannya di tempat yang sama.
Bentuk notasi deskriptif yang diterapkan, maksudnya bukan notasi preskriptif yang menerapkan simbul-simbul akurat dan lengkap, bukanlah bermaksud mengekang, namun justru untuk menggugah aktivitas dan kreativitas, untuk me- laju maju ke arah yang dicita-citakan.
Ciri budaya tradisional Bali yang diwarnai budaya dan
agama Hindu dengan pandangan: Satyam-Siwam-Sundaram; pastilah membias, menyiratkan makna-makna, dan kecenderungan-kecenderungan tertentu. Sekalipun direncanakan untuk menelaah hasil sastra yang mengandung ajaran tentang nilai-nilai: budi pekerti, etos kerja dan sejenisnya, namun ke- hadiran pandangan di atas menggugah sesuatu. Sesuatu yang lain, yaitu: : Irama lagu sederhana, yang terungkap kata-kata tanpa arti, contohnya pengulangan "Bur coblong cilakok" untuk lagu gendhing permainan anak Sijang-Sijang Bawang, dapat menciptakan ungkapan gerak bersama, senilai kualitas gerak yang lahir secara spontan dalam kebersamaan. Ke- sederhanaan irama, menjadi jembatan yang indah (sundaram) untuk terlibat dalam canda ceria secara khusuk, dan sungguh-
sungguh tulus ikhlas (satyam dan siwam). Keseluruhan kejadi- an mengulang kata-kata berirama, dan pada kesempatan yang bersamaan menjelajah gerak spontan rampak sekualitas, girang riang canda ria, hal ini mengungkapkan kebersamaan dan gotong-royong. Dengan ulasan ini, makna tidak saja dapat terlampiaskan lewat kata-kata harfiah yang mengan- dung arti, namun juga pada bunyi dan irama. Dengan demi- kian keakraban antar sesama dalam lingkungan, tercipta akrab dan padu. Simpulan-simpulan dikarenakan arti kata, dan makna makna yang melejit karena nada dan irama bunyi suara vokal dan tepukan-tepukan bagian tubuh, tidak kalah pentingnya. Dari bentuk yang telah dideskripsikan, sekalipun bentuk itu sekedar berisikan ungkapan alam dan keindahannya, upacara dengan atribut-atributnya, raja dengan ningrat dan segala pangkat kebesarannya. Bukanlah semua itu sama sekali di luar jalur. Namun justru sebaliknya bahwa bentuk dan ungkapan sastra itu membentangkan alam etika, yang perlu dalam membina keutuhan nilai kemanusiaan. Bentuk dan isi wirama PAWITRA (hal. 25) yaitu:
a. SANGKANING WRUH AJI GINEGA
b. NITIDNYA CARA KAPUHARA
c. PANDYACARYA DWIJA PAHAYU
d. GENGEN TATAH IKANANGSIH Dan
2. TUNJUK TUNJUK MENDUR
MENDURE JAWA JAWAT APIT ADANG APIT ADUNG KETIMUN GANTUNG MELI EPOH AJI KETENG DADONG MOKOH AJAK NGANTEN
- SA DUA TELU PAT LIMA NEM PITU KUTUS SIA DASA MELAJAH MALU NERIMA TUTUR GURU APANG ENGGAL BISA Masing-masing dari halaman 7 dan halaman 9, di depan, ditampilkan ulang, sebagai penutup kesimpulan ulasan sekar rare, sekar madya dan sekar agung pada kesempatan ini. Terima kasih.
KEPUSTAKAAN
- Narendra DewaSastri, Kidung Yadnya (Aksara Bali), Bhuvana Saraswati Denpasar 1960.
- I Wayan Djirne dan I Wayan Roeme, Taman Sari I (Buku Stensilan), Tabanan Klungkung Denpasar, Desember
- Ktut Ginarsa, Aneka Kidung, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta 1961.
- I Gede Madera, Gending Bali Merdu Sari Jilid I, Gema Denpasar, Mei 1971.
- I Nyoman Samur, Kidung Kakawin Panca Yadnya, Cem- paka 2 Denpasar.
- Arintoko B., Dolanan Djawi, Sinawung Gending Titi Laras Kepatihan, Jakarta, Noordhoff – kolff, 1957.
- Tembang Djawa, Kanggo Ing "Sekolah Pertama" serta "Sekolah Rakjat", Djakarta, Kantor Pengadjaran.
MIJIL
Laras Selendro Pt. Manyura
6 i í 3 3 3 3 1 2 3 e , 6 ti De da lan na la wan sek gu. i 1 i 6
i 2 6
• a sor
Ku du andhap
3 1 1 , 5 2 1 3 2 · 6 3 3 e Wa ni lu we kas an nga lah hur 。
- 1 2 1 3 1 1 1 1
2 , a di Tu kul du ka ni mung yen pun
2 3 3 3 3 3 , i Ba den sim pang pang
2 1 6 2 2 1 3 A kur na ca tur mung
Laras Pathet
Selendro Sanga
Pocung,
2 6 1 2 2 2 6 6 5. 5 3 2 i e mu ku la kan thi la ku
Ngel ka kon
6 1 1 6 5 2 le e la wan kas kas
6 1 6 5
| 1 | 6 2 | 6 |
|---|---|---|
| e | ||
| 1 2 | 1 | 6 |
| e |
te kas to sa nyan ni ges
se tya bu dur ka ra kes pa nge ang dya
PocungGagatrahina, Laras Slendro Pathet Sanga
5 5 3 5 3 2 3 5 6 5 2 ti nu ku ti nu lat lat Ye tut tu rut, pa
5 2 1.6 2 3 i ra sa tu duh pi
3 6 5 2 2 2 2 1 a man kin ka mang
ja ya ja
5 1 1 1 1 6 2 2 6 2 3 3 1 ra ra na keh mu dha mun dhidhi mak pra pat
Laras Pathet Nem
Mijil, Pelog
e 1 ii 2 6 6 2 2 2 2 2.3 a di Ku du ku du mrih wak ba pri
- 1
i 6 1 1 2
la li le Takon ing 1 2 6
.2 2 3 555 6 5 3
i tu a Ra tu Ra ne keh ku wong
2 5 6 5 3 3 3 3 3 3 e ka la na ri lan nem mun ti gu
6 5 6 6 6 6 sa wan sa mi pa mu
ra sa tu no bi me
Mijil,Laras Slendro PathetSanga
6 6 6 6 i 6 ii i i La mun si ra ma ti ra deg Na pa
6 5 6 6 5 16 we kas ya ngong yi Ing
5 2 6
| 5 6 | 6 61 | 2 2 |
|---|---|---|
| a 1 | a na | u |
| sas | a |
1.6
bu e panIng Pra ger
2 1 6 6 6 6 6 6 6 tra ce u lat tha na yi ya
1 2 2 2 2 2 o na den mah thi, pas
1 15 6 616 e wu tre ku sas lang
Pucung
(Wajibing lare)
Pl. Pathet Barang
5 6 7 2 6 5 5 67 7653
7653 236.7
Ja klu ke bat ta ngi a go ruk, ja nge pluk
6 7 2 2 2 327 ma Allah Tyas rek mring
7 3 2 2 2 2?6. Gre enggal nam but kar di gah
.3 2
2 ?
6.1sih mu tan da ta
dha mban as pra yo ga
Mijil Pl. Pathet Barang 5 6 6 6 6 5 3 3 6 67 sa ri na os ha tin mangke pri Ing 5 5 5 5566 Ndu lu la reyektos 5 6 7 3 2 2 2 2 327 56 klan tan nah kar ne Klon tang ge ya thung 3 6 2 2? 7 ?? 7? ki Mu la ka ku du gelwa sis pri 2 3 3 3 3 3 As ta den le la tih 2 2 ? 232 76 o men ra ki dhung
6.D
Mijil Laras PethetBarang Pelog 3 3 5 6 6 6 6 6 う 65 Po ma ka e dha di ki, pa pun ling 5 3 5 5 6 56 tu tur Mring ngong pi ing 6 う 3 6 3 2 2 2 u 9 si ra a sa tri ran e ga ya ???? Ku du an mi ka bu di teng jat ing
2 3 3 3 3 3 Ru ruh , sis sar ta wa
- 2 2 327 6
i mu ba rang
6.S pun
Pucung Sl. Pathet Manyura
6 9 i 6 6 3 6 5 3 一 2 5, ta a Ja ruk ke bat klu ja nge go ngi pluk
1 i 6 3 2 ¿ ma Allah Tyas rek mring
1 1 3 1 2 2 6 21 kar di Gre nam but eng gal gah
1 3 2 1 3 5 2 2 2 6 3
- 1 as ta sih mu dha da
tan yo ga mban pra
Dhadhanggula Padasih, Laras Slendro Pathet Sanga
2 2 2 2 2 2 i 6 •c
2i i a Ra ma ba dra ra mrih per ling
6 6 6 6 6 6 6 6 5 5 a la ru mek so Man dha ja ing pra
6 1 6 6 5 5i65 ne we sa wa kon ga weng pung
6 2 i 1 2 i a sa da lu ywa sah ben
1 1 1 5 2 1 6 5 32 si la ke en sa mi dur kes wong
5 5 5 3 3 2 53 a ri sa mrih les ta mya
6 6 5321 65 6i o ma lah ne kung kang
5 i i i 6 i i i a se ma di man tra pu ja
1 5 5 3 3 2 5 2 5 553 32 a ka nan ma
si su re
ywa sah go kong ling
1 2 2 1 212 6.1 0 lah ka beh ja kang pu
Dhandhanggula Ngajabsih
Laras Slendro Pathet Sanga
2 2 2 2 5 6 6 6 6 2 ma lih ki nar lu
Yo pi
gya ya pa
6 2 6 6 6 6 2 5 61 165 Sur tra Nar ti ga pa Nga ya pu wang
1 1 2 2 2 221 6.5 dha wa e lan Pan tur ka dang
1 1 i ibu Iyan ya yah tung gil
ta Ku ru su wi Sri ti mring pa
1 2 2 2 2 2 2 a ti na neng na Ngas gri
2 2 2 2 16 165 ki nar agul ya gul 1 2 2 2 2 2 2 2 la an mang ga go prang long ing 1 2 2 2 2 6 6 6
1.6 6 6 6
i se ta da na ti bra nga gen pa yu deg
2 1 2 2 12 5. 01 la ra wa ko nga ga ing
Dhandanggula
Sl. Pathet Manyura i i i一 3
, 2 3 3 i i i i 2 i ì.6·31
6.3 过
i i i i i 6 331 1
| i | 2 | 3 | 2 | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 6 | 3 | 1 | |||
| 1 | 2 | ||||
| 1 | 1 | 1 | 1 | ||
| 1 | 2 3 | 3 3 | 3 | 3 | |
| 1 | 1 1 | 1 1 | 1 2 | 3 3 | |
| 6 | 1 |
3 3 6 1 6 3 3 3 3 21 32121
6.
一 2 2 2 23 12 16 3 3 3 2 2 2 2 12 23 21
2.Ingsun arsa paring tutur nini Budi tama sira darbenana Unggah ungguh lan patrape Tumrap kanca lan guru Ora mung nut karseng pribadi Ecanen yen ngendika
Mulat mlampah lugu Ingsun suwun mring Hyang Suksma Nambahana santosaning batin nini Ingayoman Pangeran
Dhandanggula Pl. Pathet Barang (MusthikaningWanita) 7 2 c う 3.3 3 c 3 3 thi Wa no dya tri Mus ka sang pu ning 2 2 7 6 6 6 6 5 656 u ta Dar be an ma ge ga kang yuh 7 2 2 c r c 76 e sa lan ka um Nun tun bang; c 3 3.3 い n 3 i Sa pe pun pe teng king 7 2 3 2 2 2 2 2 67 ta mar ko ri gi lan mbi kak Ngra 3 3 3 2 2 2 ? te na la Tan ning ga jro 2 7 2 232 76 Mu ki lat nu rung kang 3 3 3 3 3 2 3 3 Sa wan te ter kad nya ing king
? 6. 6.6 ti a i Ka sem ba Drah ni war dan Kar nglu
Be da ne wa ta ban ni
2 Pa
i cu
5 da
5 na
5 da
1 a
1 ba
1 tu
2 ti
5 mrih
LarasSlendro Pathet
Dhandhanggula, 1 Sanga
6 6 一 i i i 5 i 6 e a ti wa si ta me dhar ning
6 6 6 6 6 6 6
i 3 6
man ka a ni ru tha ga pu jang
6 6 6 6 6 5 65 e hat mu dha ba tin ing
6 1 6 6 6 6 ke dah nging gi nung gung
5 2 2 2 2 2 2 16 a i tan ken sem
wruh yen nge
2 2 2 2 2 2 sa rum ka mek ang pa
1 6 6 5 16 ka lan tur sa kang
2 2 2 2 2 2 2 tur ka tu la tu la kang
1 2 2 2 16 6 6 6 6 6 6 na la ten ri nu ka wan ri rih ruh la
1 2 1 6 16 6 sas ta pa mi dhang ing
Dhandanggula Buminatan
Laras Slendro PathetSanga
2 5 6 6 6 1 2 2 2 2 Sas mita nengaurip pu ni ki ,
2 2 6 6 6 6 6 6 6
16 apane wuh yeno ra we ruh a
5 6 6 6 6 6 5 16 tanjume neng inguripe
6 i 2 i6i5 6 a keh kang nga kua ku
6 6 65 2 2 2 2 2 16 ra sa ne sam punudani pang
1 2 2 2 2 2 2 tur du rung wruhingra sa
3 5 1 1 21 65 ra sakangsa tu hu
1 2 2 2 2 2 2 2 ra sa ne ra sapu ni ka
5 3 216 6 6 6 6 6 1 2 2 upa yanen da rapon sam pur na ugi
5 6. 1 6 2161
ing ka uripan i ra
2 Jro
2 a
2 ka
6 no
i ing
1 mun
1 te
| sa | sur | |||
|---|---|---|---|---|
| 3 | ra na ne | a | 2 i ra | 2 |
| 1 | 1 | |||
| ra | ru | a |
1 yen
5 sam
2 si
Dhandhanggula Kadipaten (Prangwadanan)
Laras Slendro PathetSanga
5 6 一 6 6 2 2 2 2 an ra sa ti
Qur' nggo
ning ning yek
i i i i i i 6 6 2
na ta lih u ni
nging pi kang nga
i
2 i 6 2 oi 65
wan tu. e la duh ja ba # 2
i 2 2
2 162
na a ra ke den wur
i 2 2 2 2 2 16 65
sa te mah no ragih nang pi
2 2 2 2 2 2 ka ta lan an dak juk
12.
6. 6.1 6.5
mah sar su
2 2 2 2 2 was ki tha si yun
2 1 2 6 2
16 6 6 6. 6
dan ni ki
ing ba pu
pur
2 261 12 ang ge gu