SEHG-ISEHG
ZINE
Aku antar kamu sampai akhir n_0
Jum’at, 17 Februari 2023 pukul 18.48 di kamar mandi, sambil berak dengan jongkok di wc duduk ditemani satu batang filter, keriuhan mesin cuci, siulan ceret yang mendidih, obrolan santai penghuni rumah, dan tentunya telepon genggam yang kubawa. Aku iseng-iseng mencari ketenangan untuk menulis pengantar ini. Tepat kemarin, di siang hari yang sejuk dan kuyup kami memulai percakapan iseng soal zine. Bagaimana dulu aku pernah menggagas yang isinya bercerita soal iksan skuter yang tak lagi mengakui sebagai musisi aktivis, memangnya siapa juga yang menganggap begitu? Sayangnya, terlalu receh dan sepi peminat. Padahal iksan terang-terangan murka di akun twitter-nya. Kami sepakat, bahwa buat apa banyak baca kalau nyatanya tidak berak. Zine ini berisi keluhan akhir zaman yang tidak kunjung berakhir juga sampai zine ini kalian baca. Ternyata, hal pertama yang kami pikirkan adalah tentang kelahiran, kehidupan, dan kematian yang kalah dan lelap. Ingin tidur seharian di pangkuan kekacauan yang berapi-api tanpa merasa gerah. Karena malu dengan ketiak Ibrahim yang merasa nyaman dibakar kobaran api ketakutan namruj. Dengan iseng-iseng pula kami tidak memiliki kepentingan apa pun, urus saja urusan masing-masing. Kami mencoba menulis puisi, cerpen, opini, refleksi, atau pun lainnya yang telah kami bunuh sebelumnya. Tak ada bentuk kaku atau tema yang memaksakan. Kami semua lagi iseng mengeluh dan adu nasib di pelataran rumah kami masing-masing sambil ngopi dan planga-plongo. Tidak ada proyek besar yang perlu disiapkan berbulan- bulan. Tak perlu mengeluarkan uang dari dompet kami yang kembang-kempis. Bahan-bahan versi cetak yang kami curi dari berbagai sumber secara terang-terangan. Atau birokrasi asgfhslpbcruowkruakhh yang mematikan hasrat birahi kami. Hanya keluhan. Anying!
Semua Cuma tulisan biasa yang bebas dinikmati saat pagi, malem, sore, siang, overthinking, depresi, tinggi, serius, bercanda, berak, minum, kencing, makan, sibuk, santai, ereksi, sembahyang, bosen, mangkir, rajin, gabut, ujian, skripsian, kerokan, dongeng sebelum tidur, nanem, mangkir, istirahat, lupa, amnesia, kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Zine ini dibuat untuk merasa bebas dan lepas dari segala bentuk terikat. Jadi, jangan protes! Sabodo teuing lah anying. Kumaha aing weh anying! Sia kari maca, tong ripuh goblog!
Daftar Isi
Aku Antar Kamu Sampai Akhir i
Saya Pikir, Kekalahan 1
Tanahku, Apa Peduliku? 3
Memoar Api 5
Time Keeper 7
Puisi-Puisi Bunuh Diri 18
Biarkan Terbakar 19
Aku Tidak Tahu 20
Underground 21
Kebencian 22
Pemutusan Misterius 23
Kita Memang Tak Bisa Apa-Apa, Kasih 24
Saya Pikir, Kekalahan
Lucu sekali, satu-satunya alasan saya untuk masuk ke perkuliahan hanya untuk unjuk rasa. Dengan semangat yang membabi buta, saya selalu tidak ingin ketinggalan untuk berdemonstrasi. Namun seiring berjalannya waktu, rasa bosan dan amarah bikin sakit kepala sebab apa yang didapat dari demonstrasi hanya kutipan puisi seorang penyair. Apa yang bisa kita harapkan dari “hanya ada satu kata, lawan!” kalau kerjaan kita hanya mengepalkan tangan. Lihat, barisan-barisan polisi itu cengar-cengir dengan senjata yang di main- mainkan dan pulang dengan penuh rasa kemenangan. Sementara para demonstrasi pulang dengan tangan yang mengepal kekalahan. Dari masa-masa itu saya menginginkan kekacauan, karena saya pikir ini bukan hanya sekedar unjuk rasa tetapi juga perang dan balas dendam. Karena ini adalah perang dan ajang balas dendam maka badan harus penuh perbekalan untuk pertempuran jalanan, segala sesuatunya mesti sepadan. Seperti merakit bom, Molotov, batu atau bahkan pistol dari pasar gelap serta seni yang sifatnya menghancurkan seperti vandalisme. Ini semua dilaku- kan bukan untuk
meraih kemenangan melainkan untuk hidup di atas kekalahan. Sebab hidup saya pikir adalah kekalahan dan kita hidup hanya untuk berjuang, tak lebih dari itu tak ada imbalan apapun dari itu. Satu-satunya kemenangan yang bisa kita raih adalah kematian yang kita gemetar untuk menghadapinya.
Tanahku, apa peduliku?
Apa pentingnya tanah kelahiran? Bukankah aku belum tentu mati di tempat yang sama? Lalu, kenapa lebih jauh melibatkan tanah kelahiran sebagai acuan? Atau, kenapa harus repot-repot juga mencintai tanah yang sama sekali tidak berhubungan denganku? Huh, jangan dulu bicara soal tanah kelahiran, rumit. Kalau soal makanan, hal paling mendasar, lidahku ini telah mati. Tak ada namanya makanan enak atau busuk. Semua sama. Aku tak lagi memilah halal-haram, lezat-jijik, kalkulasi kalori, interpretasi gizi, atau segala-galanya yang bukan milikku. Pantanganku hanya duren. Sisanya, jangan tanya. Sekali waktu Ibu hanya memasak makanan seadanya, ia tak lagi berbicara layak/ancur. Setelah keringat dan liurnya mencampuri dapur, dalam pandanganku, Ibu akan bersedih jika masakannya harus ia buang kemudian hari. Dengan grabak-grubuk semiotika tubuhnya, memperkeras alunan sendok membuang makanan dari wadah, melemparkan plastik sampah kuat-kuat, sampai mencuci piring dengan sekuat kekecewaan terhadap anak-anak yang tidak menghargainya. Kataku, “makanan adalah pengisi perut.” Jadi, tak perlu kesetiaan cita dan rasa. Karenanya, apa peduliku dengan tanah kelahiranku? Jika klasifikasi menjadi alasnya, aku rasa aneh sekali jika klasifikasi sosial ini berlaku. Selepas spesies, sudah ada klasifikasi membingungkan semacam ras yang jadi perdebatan antar ulama pengetahuan. Di mana kita, aku dan kalian ini identik secara genetik entah dari mana pun kalian berada. Mungkin hanya berbeda kakek- nenek buyut saja, tak lebih dan tak kurang. Lalu? Klasifikasi tanah lahir yang tak jauh beda daripada ras, agaknya semakin membuat kita, aku dan kalian, berbeda dan cenderung menjatuhkan. Aku pikir, jika aku boleh memilih di mana aku akan lahir, lebih baik jika aku tidak dilahirkan sama sekali. Tidak di mana pun. Karma paling buruk adalah dilahirkan menjadi manusia lagi, dengan keadaan lupa dan hina. Aku sama sekali tidak membenci tanah lahirku, hanya saja, aku tidak mau melihat-lihat penghuni terbawah album kenanganku. Lagi. Untuk itu, aku akan membawa diriku jauh, lebih jauh, dari apa yang ditetapkan sebagai kebanggan. Aku melupakan dengan teguh
sampai tak peduli lagi akan tetek-bengek urusan tanah kelahiran. Tempat itu masih tercantum dalam segala bentuk pengelompokkan diriku tanpa persetujuan. Serta aku, tak perduli setelahnya.
MEMOAR API
M. Afif Permana Langit mendung. Burung-burung gagak bernyanyi. Isak tangis terdengar dari para pelayat. Menjadi perpaduan musik sedih nan suram bersama irama tanah yang sedang digali untuk jenazah. Aku di antara pelayat menatap jenazah itu. Di tengah-tengah ratapan, aku tiba-tiba teringat masa lalu. Aku ingat sekali, dahulu, aku sering bertengkar dengan ayahku. Karena ia otoriter dan aku seorang anak nakal yang selalu memberontak atas segala yang ia inginkan. Salah satu contohnya, ia menyuruhku kuliah manajemen lalu menjadi pengusaha agar menyelamatkan ekonomi keluarga yang rendah. Aku tak ingin hal itu. Aku ingin jadi seniman. Sebab menjadi seniman jauh lebih jujur mencatat keadaan dibanding menjadi bibit kapitalis yang memanfaatkan keadaan demi kepentingan pribadi. Tapi apa boleh buat, aku harus memendam mimpiku itu. Aku mau tak mau harus menerima untuk masuk kuliah manajemen. Sebab ayahku begitu keras memaksa. Setiap kali aku memberontak, aku habis dipukulinya- -yang sakit bukan fisik, melainkan batin. Karena menurutku, tangan orang tua lebih mudah menyentuh area kejiwaan anaknya dibanding orang lain. Maka dari itu, aku berjanji tidak akan melakukan kekerasan kepada anakku nanti. Aku ingin lebih membebaskan mereka. Aku akhirnya masuk manajemen. Tapi aku sering bolos kuliah. Aku lebih suka bermain bersama seniman-seniman jalanan yang kebetulan teman-teman lamaku waktu sekolah. Aku tak kuasa atas keinginanku untuk menjadi seniman. Aku tak kuasa atas diriku untuk bertanggung jawab kepada ayahku. Api pemberontakan dalam benakku semakin lama semakin menjadi. Sungguh aku tak berpikir panjang nasibku nantinya. Aku tak peduli. Namun nahas. Setelah dua tahun kuliah dengan kebiasaan bolos yang sama, akhirnya aku dikeluarkan dari kampus dengan alasan hampir tak pernah masuk kuliah dan nilaiku di bawah rata-rata. Membuat ayahku mengeluarkan amarah yang bukan main meledaknya. Aku pun dengan keras kepala juga turut membalas amarah yang tak kalah meledaknya. Sebab aku merasa punya hak
untuk tidak mengikuti kuliah tersebut dan menjalani apa yang aku inginkan. Pertengkaran antara aku dan ayahku tak usai-usai selama berhari-hari. Sempat tanganku melayang ke wajahnya karena begitu kesal ketika tangannya beberapa kali mendarat ke wajahku. Api dibalas api, begitulah makanan sehari-hari dalam rumahku. Ibu dan kedua adikku selalu menangis melihat peristiwa tersebut. Seringkali ibu sekuat tenaga memisahkan dan menenangkan kita berdua. Walau sesekali ibu kena imbasnya dari tangan ayahku. Hal itu yang membuat aku semakin benci ayahku. Singkat cerita, bertahun-tahun sudah. Aku tumbuh tua. Seperti sekarang ini, di pemakaman, aku meratapi jenazah. Jenazah seorang ayah yang telah mati terbunuh oleh anaknya. Seorang ayah yang selalu memukuli anaknya lantaran stres terlalu miskin. Sementara anaknya keluar masuk penjara. Mulai dari narkoba, mencuri, dan bacok anak orang. Membuat ayahnya banyak utang demi menebusnya. Sampai suatu ketika, saat berhasil mengeluarkan anaknya dari penjara terakhir kalinya, sang ayah sudah tak tahan lagi amarahnya lantaran terbayang-bayang kenakalan yang telah dibuat anaknya. Ia tak segan memukul anaknya bertubi-tubi. Sampai anak itu kabur ke dapur, lalu dengan kesetanan ia mengambil pisau dan menikam tepat
| di leher sang ayah. | Dan, sang ayah itu adalah seorang seniman |
|---|---|
| kere,aku, yang | kini sedang meratapi jenazahku sendiri di |
| antara | pelayat. |
Time keeper
Al Reza Marani
waktu adalah putaran paling indah bagi siapun yang ada di
dalamnya. yaa.....waktu. waktu
itu aku sedang duduk di sebuah
| cafe | tempat | menikmati | kopi | |
|---|---|---|---|---|
| yang berkumpul maupun bersantai, | katanya | berasama keluarga, mungkin | mahal, | tempat teman tempat sambari |
| menonton | film | drama | atau | |
| membaca | buku | romansa | dan |
tempat menunggu....menunggu
waktu pertemuan yg harusnya sudah terjadi satu setengah jam yg lalu. sekarang pukul 17.00. harusnya aku sudah menemani ibuku dirumah sakit bersama dengan perawat cantik yang selalu menelfonku ketika igauan ibuku mulai memanggil sebutan tersayangnya padaku sewaktu kecil. tapi aku masih disini, menunggu pemilik waktu yang bisa melar. seperti celana dalam yang sudah melar, meskipun tak nyaman tetapi masih dikenakan dengan alasan sudah terbiasa. aku ingin pergi dari tempat ini, tetapi dompet kulit dan kartu kartu ku yg berdekatan dengan kulit pantat sudah merengek rengek. bukan karena aroma taksedap yg keluar dari lubang
anusku, itu pasti. melaikan karena rindu senyuman bapak proklamator yang mampu melunakkan hati beberapa wanita yang menjadi istrinya itu. jadi... ku pesan lagi hot americano yang satu gelasnya sudah kosong dengan gula yang masih utuh dihadapanku. 15 menit kemudian pesanan ku datang di antar oleh waiters cantik bersamaan dengan datangnya orang yg ku tunggu tunggu "si pemilik waktu celana dalam". aku berdiri ketika ia berada dihadapan ku. saat ia mengulurkan tangan, ku sibakan tangannya dengan keras. " gila lo ya, kemana aja lo? janjian jam setengah empat datengnya jam segini. elo pikir, lo orang paling penting sedunia yang bakal ditungguin sama semua orang. jangan mentang mentang elo yang bakal danain event yang gua buat terus bisa seenaknya lu ngatur waktu. dateng senyam senyum, sok sokan ngajak salaman, elo pikir lo tuh keren? ngakunya orang kaya, sempak melar masih aja lo
pake. minum nih kopi pait, menuju rumah sakit yang bangsat!!!" kutempuh dengan waktu 42 yah kira kira seperti itu menit tanpa macet. dari parkiran lah hal yang tidak mungkin ku motor aku langsung beranjak lakukan. lagi pula mana ada menuju lift. tak lama aku sudah orang yg berani melakukan hal berada di depan ruang ICU. ku lihat malaikat maut yang sejak
| seperti | itu kepada | bos | yang |
|---|---|---|---|
| uangnya banyak kebutuhan dan beberapa harapan. yang pasti.... ku jabat | bisa | mengabulkan | |
| tangannya, duduk mempresentasikan akan ku buat setelah ia memesan coffe latte kepada waiters cantik dengan bapak pembangunan tapi tanpa mengangkat begitu lama rupanya, hanya dua puluh empat menit. nampaknya ia tidak begitu tertarik pada isi acaranya. ia hanya tertarik pada | ku dan tersenyum tangannya. | persilahkan event layaknya | ia mulai yg tak |
| angka akan datang dan berapa besar logo | perkiraan perusahaannya | orang | yang akan |
| terlihat. perduli. yang terpenting, dua gelas hot americano sudah ia | yah... | aku pun | tak |
| bayarkan, dapat tersampaikan persen memuaskan dompet serta kartu kartuku. meninggalkan | acara berjalan, keuntungan pukul 18.00 | yg ku isi acarnya dan beberapa mampu wib tempat | buat aku itu, |
ku melangkah keluar dari lift
| menuju | ruang | ICU selalu | |
|---|---|---|---|
| memperhatikan bertuliskan nama salah seorang di dalam yang mungkin masih | jam | saku | |
| tertidur bahkan tak menggubris ketika | bersama | ibu ku. | ia |
| ku mulai dibangku panjang tepat di arah ekor matanya. Ku biarkan saja | meletakkan | peluh | |
| malaikat | maut | lagi | pula |
| sepertinya menunggu. ia menunggu jam saku berhenti dan aku menunggu si perawat cantik keluar supaya | kami yang diperhatikannya | sama | sama |
| bisa | bercakap | cakap tanpa | |
| menggangu | pasien | di dalam. | |
| sebelum | kebosanan | datang | |
| untuk | mengganggu | kami, |
itu,
malaikat maut mulai bergerak menembus pintu ruangan ICU lalu disusul dering handphone dari dalam saku celanaku. "wah mungkin ini telfon dari malaikat maut yang ingin memita tolong untuk membacakan nama pada sisi ranjang yang ditulis dengan huruf alphabet" pikirku. aku
yakin betul jam saku yang tadi di
| mungkin | takut | hingga |
|---|---|---|
| memanggil | nama | ku dan |
| membuat berbincang dengan si perawat cantik diluar karena terbangun oleh suara dering telfonku. ya sudahlah, ku dekati ibuku. tanpa | ku | tidak bisa |
| perduli | sekelilingku, ku | belai |
| rambut beberapa helai putih yang tidak | hitamnya | dengan |
| begitu | ketara sambil | berkata |
| "aku secara berulang ulang hingga | mah, | aku disini" |
| membuatnya | pulas | kembali. |
| Kuperhatika si perawat cantik | ||
| sudah tak ada dibelangkangku | ||
| bahkan tempatnya berjaga. aku merasa | ia tak ada | dibangku |
| resah, waktu. tepat diatas galon yang | mataku sibuk | mencari |
| terbalik, menunjukan pukul 20.47 WIB. cepat cepat kuberanjak menuju | kulihat | waktu |
| lift dengan | harapan | bertemu |
| dengan | si perawat | cantik, |
| meninggalkan mungkin sedang terjaga dalam tidurnya. aku tau ini waktunya si perawat cantik pulang tapi di | ibuku | yang |
| dalam liftpun | tak | ku jumpai |
| batang | hidungnya. | bahkan |
| sesampainya pula ku dengar suara hembusan nafasnya yang lelah pada setiap | di | parkiran tak |
| celah | antar tiang | di bawah |
perhatikan malaikat maut tidak bertulisakan nama ibuku tetapi keyakinanku runtuh ketika aku melihat layar handphone yang berdering menunjukan foto dan nomor si perawat cantik. tanpa
| kuangkat | telfonnya | aku |
|---|---|---|
| langsung | masuk | kedalam. |
| serentak menuju ke arah ku, sepertinya karena nada dering hanphone | semua | pandangan |
| ku yang | melantunkan | lagu |
| careless michael yang berpadu dengan irama setelah ku tolak panggilan dari si | whispernya dari elektrokardiograf. | george |
| perawat | cantik, | para |
| perawat | kembali | menyibukan |
| dirinya | bersama | salah satu |
| pasien. | satu perawat | keluar |
| ruangang perawat lagi "si perawat cantik" sedang berdiri disamping ibuku | melewati | ku, satu |
| dengan menggenggam tangangan ibuku | tangan | yang |
| dan mememegang handphone yang mulai ia masukan saku ketika | tangan | kirinya |
| kami | saling menatap, | dan |
disini
kulihat
kanan
malaikat maut? ya.. ia tidak ada, mungkin sedang didalam toilet membersihkan dosa dosa yang muncrat pada wajah dinginya itu. sialan, garagara ia masuk tanpa membuka pintu, ibuku gedung rumah sakit ini. waduh
terlalu jauh pikiranku, seakan akan aku sudah mengenalnya cukup lama. padahal aku sendiri belum tau ia berangkat kerja naik motor, mobil, angkutan umum atau mungkin diantar jemput oleh kerabatnya, atau barangkali ia di antar jemput oleh kekasihnya? untuk hal ini aku tidak mau tau. ku nyalakan motorku dan bergegas pulang meninggalkan kawasan rumah sakit ini. di jalan raya kuperhatikan setiap angkutan umum, mencoba menerawang menembus kaca kacanya yang buram, melihat dari celah celah yang terbentuk oleh tubuh pengamen yang bertengger diambang pintu samping. bahkan ku salip para pengendar motor yg mangangkut wanita dengan tubuh yang mirip si perawat cantik, berusaha menerka wajahnya lewat pantulan kaca spion. Mungkin aku mulai terlihat seperti penguntit, padahal aku hanya ingin memastikan siapa tau si perawat cantik pulang searah atau mungkin melawati rumah ku. namun tak pula kutemukan pupil coklat matanya yang akan terlihat jelas bila diterpa cahaya pada sepanjang jalan menuju rumah.
sesampainya dirumah kumasukan motorku tak lupa mengucapkan salam kepada para penghuni di dalam. kulihat waktu menunjukan pukul 21.32 WIB. Dengan lelah yang belum begitu terasa ku ganti semua pakaian ku, ku seduh kopi shacet tanpa gula dan menyiapkan segala kebutuhan untuk bersantai pada singgasanaku. Sebagai pria, kunyalakan sebatang rokok yang menjadi seleraku. Ku kumpulkan asapnya dimulut, menggiringnya menuju paru paru lalu ku seruput kopi dengan sisa tarikan nafas membiarkannya mengajak kumpulan asap yang sedang sibuk menghitamkan paru mengalir kedalam lambung setelah itu kuhembuskan hanya kumpulan asapnya lewat mulut dan lubang hidungku semabari diiringing lantun jazz klasik yang ku setel dari salah satu web pemutar musik tak lupa ku pesan makanan lewat aplikasi dari handphon ibuku. Bagaimanapun juga aku harus mengisi tenaga bahkan dalam hal bersantai. Sambil menunggu makananku tiba, ku kirimkan pesan pada group yang berisikan para kepala divisi
dalam pembuatan acara yang
| akan | ku buat | guna |
|---|---|---|
| menyampaikan | kabar | bahawa |
| segala | pendanaan | sudah |
| terpenuhi. | Cuitan | cuitan |
| bergerak | cepat | memenuhi |
| notifikasi | dengan | hasil |
| kesepakan | pertemuan | pukul |
20.00 wib esok hari dan diakhiri beraneka ragam stiker pengganti kata dan eks- presi. Pukul
22.20 WIB makanan yang ku pesan tiba. 2 porsi sate pa- dang yang 1 porsinya tanpa lon- tong siapku santap sembari menonton salah satu film rilisan studio ghibli. inilah
belum sampai kepada isi dan mulai menghabisi hari dengan taksadarkan diri. Tanpa diduga aku tersadar ketika mendengar bunyi alarm keagamaan yang katanya tidak pernah berhenti memutari bumi. sempat Hampir kumatikan, kalu saja aku tak ingat hal seperti itu dapat menyebabkan kiamat, atau mungkin kumatikan saja. Dengan begitu kiamat akan terjadi. Meskipun tanda-tan- danya sudah ber- ubah, tapi setidak- nya manusia tidak perlu me- milih un- tuk hi- dup atau mati, manusia tidak
| Kenikmatan | bersantai | yang | |
|---|---|---|---|
| selalu | ingin ku | perpanjang, | |
| sendiri | merasakan | transisi | |
| pergantian | hari. | Sebelum | itu |
| terjadi | rasa kantukku | timbul |
perlu mengetahui ada nabi yang
| membunuh | musuhnya | yang |
|---|---|---|
| sudah lari tanpa memberikan | ||
| pilihan dan manusia tak perlu | ||
| dengan | bodohnya | mengikuti |
| seorang | pembunuh. | Sebelum |
mengalahkan rasa lelah, tanpa membereskan kertas nasi dan gelas berisikan ampas kopi, ku matikan film yang bahkan pikiranku telalu jauh. dengan malas, aku mulai lembaran hari.
| setidaknya | ikutilah | juga |
|---|---|---|
| perkembangannya. | Mulai | |
| memasarkan | dari mulut | ke |
mulut, memerintahkan para jin untuk menyebarkan brosur di sudut trotoar, memakaikannya kemeja dan celana bahan, dan
| itu | aku kembali | menuju | |
|---|---|---|---|
| singasanaku dengan sebotol air | |||
| putih dari dapur. Kulihat waktu | |||
| menunjukan pukul 04.50 WIB. | |||
| Dengan semangat yang perlahan | |||
| timbul, | ku bersihkan | sampah | |
| sampah dilantai, puntungan rokok yang didekap abu abunya ke dalam tempat | yang | berceceran memindahkan | |
| sampah, | menaruh | gelas | |
| berisikan | ampas | kopi | pada |
| wastuffle, notifiasi pada layar handphone | dan | mencari | |
| ku. Ku | temukan | satu | pada |
| kolom penawaran menggunakan jasa | pesan, | berisikan | |
| dukun | untuk | menghasilkan | |
| uang bagai mana orang mau percaya?. pada zaman dahulu, orang sakti | gaib. Hah | aneh | sekali, |
| mampu | memerintahkan | jin | |
| untuk dalam 1 hari, kenapa saat ini | membuat | 1000 | candi |
| untuk harus menggunakan teknologi. Seakan akan para dukun mulai kehilangan | mengirim | pesan kesaktiannya. | saja |
| Kalaupun memang para dukun | |||
| mau | mengikuti | zaman, |
| menyuruhnya | berjalan | dari |
|---|---|---|
| pintu ke pintu “selamat malam, | ||
| kami | dari rumah | dukun |
| corporation. Mohon maaf | bila | |
| menggagu ini, boleh kami minta waktunya | ketenangan | malam |
| sebentar.” | Mungkin | dengan |
| begini terlihat. kesakralannya | praktiknya | akan lebih meskipun memudar. |
| Setidaknya | orang | orang |
| kosmopolitan | akan | lebih |
mulai
Pergi ke kamar mandi, membuka pintu bendungan air seni pada kantung kemih yang terasa hangat bila terkena kaki dan membersihkan pingir pingir mata yang dilekati tahi. Setelah
percaya. aduh hal seperti ini membuat ku sebal, lebih baik aku melihat foto profile si perawat cantik guna menenangkan diri sekalian berandai andai. Ku perhatikan paras yang sedikit berbeda dengan aslinya yang tetap saja menennangkan pikiranku. Aku bisa saja mengerimkan pesan teks atau suara untuk mngucapkan selamat pagi, tapi bagai manapun aku hanya ingin memberikan kesan pertama secara langsung. menyampaikan ketertarikanku untuk lawan
jenis lewat gestur, mimik, dan giliran masuk. Tak beselang suaraku pada si perawat cantik. lama, ku dengar pintu ruang icu Waktu terus berputar terbuka, keluar seorang pemuda diatas kepalaku, hingga yang merangkul wanita paruh menunjukan pukul 15.30. seperti matanya
| baya | dengan | yang | |
|---|---|---|---|
| merah akan ada waktu yang tak bisa ia | dan bengkak. | Seakan | |
| lewati Dari depan pintu, perawat yang | bersama | pasangannya. | |
| tadi | menyuruhku | masuk. | |
| kulihat | ibuku | fokus | |
| menatap menempel di pojok atas ruang. | layar | kaca | yang |
| Sembil kearahnya ku perhatikan para | melangkah | menuju | |
| perawat | di tempat | mereka | |
| berjaga | dan diantara | mereka | |
| tidak | ku temukan | sosok | si |
| perawat | catik. | Tak | bisa |
| kupungkiri | ada | sediki | rasa |
| kecewa, kuperdulikan. | tapi | tak terlalu Lagipula | |
| tujuanku | memamng | untuk | |
| menemani pandang pada ibuku, ternyata ia | ibuku. | Ku alihkan | |
| sudah | menatapku | dengan | |
| senyuman seakan akan ia tau isi perasaan | yang | mengejek, | |
| ku. Ya…. sudah tau, rasa rasanya tak perlu | kalau | memang | ia |
| kuberitauhu | aku | ||
| merasakan hadapanya ku cium tangan serta | kecewa. | Saat | di |
| pipi | kanan dan | kirinya | lalu |
| mulai | menceritakan | semua |
biasa, aku akan menemani ibuku dirumah sakit. Ku bersihkan diri, berdandan rapi, memakai minyak wangi, makan lalu pergi pukul 16.30. Memacu sepeda motorku dengan laju cepat, aku sedang tak rela setelah mandi dengan mudahnya wajahku menjadi dekil akibat menabrak partikel polusi. Dalam waktu 15 menit aku sudah sampai parkiran motor. ku pandang kaca spion, memperhatikan ketampan ku yang belum berkurang satu persenpun. Dengan percaya diri aku melangkah menuju ruang icu. Ku lihat di depannya tak ada malaikat maut, sepertinya ada pertanda baik untuk ku. Dengan perlahan ku ketuk pintunya. dari balik kaca bertutupkan tirai wajah seorang perawat muncul memberikan isyarat untuk menunggu, bergantian dengan penjenguk di dalam. Aku duduk di bangku panjang masih alasan berfikir perawat tadi memberitahukan kedatangan ku pada si perawat cantik, dengan begitu ia akan keluar menemaniku sambil menunggu putaran waktuku yang belum ia
ketahui. Ia selalu tersenyum sambil mendengarnya, bahkan ku lihat air yang malu malu pada matanya mulai mengalir ketika ku beritahu bahwa acaraku akan berlangsung, seperti menujukan
si perawat cantik keluar. Degup jantungku berdetak cepat. dengan suara lirih kusapa dirinya, ia berhenti dihadapan ku membuat jantungku makin bertambah cepat. Bahkan kata kata tak mampu lagi ku
| kebahagian | yang | tiada | tara. |
|---|---|---|---|
| Memang sudahku | konsep buat lama | acara sebelum | ini |
keluarkan. Lalu ia tersenyum sampai menarik pangkal pipinya kedalam. Sungguh wajah yang ibuku menginap dirumah sakit, ia pun tahu prosesku agar acara
| memberikan | ketenangan | yang |
|---|---|---|
| mampu | membuat | detak |
| jantungku Dengan basi basi seadanya ku | kembali | normal. |
| perkenalkan mungkin ia sudah tau, dibalas | namaku | yang |
| dengan | kata anna | yang |
| terdengar | merdu | dari bibir |
| kecilnya. | Memendengar | itu |
| kucoba | memberanikan | diri |
ini terjadi tapi bagaimana ia bisa begitu bahagia mendengarnya padahal aku sendiri belum tau
| akan | sebahagia | apa | terhadap |
|---|---|---|---|
| hasilnya. kebahagian yang patut untuk di | Konsep | sebuah | |
| pertanyakan. seseorang merasa bahagia hanya dengan mengetahui kalau orang | Bagaimana | bisa | |
| yang bahagia. berjalan begitu cepat, ku dengar samar | ia sayang tak samar suara panggilan | akan terasa | merasa waktu |
| untuk | salah | satu | kaum |
| penyembah | dari | luar | jendela |
| ruang kulihat pukul 18.15. Dengan perasaan lega aku pamit meninggalkan ibuku, tak lupa meminta restu dan mencium tangan serta pipi | ICU. waktu | Pada menunjukan | dinding, |
| kanan | kirinya. | Aku | mulai |
| bengini | epertinya | aku | telah |
|---|---|---|---|
| memberikan | kesan | pertama | |
| yang pernyataan nampaknya ia sedang berusaha | cukup baik yang | dan dilontarkan | dari |
| mendahuli cukupkan pertemuan kami dan sisanya | waktu ku biarkan | jadi menjadi | ku |
melangkah pada lorong menuju lift. Dari lift yang terbuka kulihat
menatap tajam pada matanya sambil berkata “kamu adalah saya dan aku adalah semua”. Ia terdiam, pipinya mulai memerah seakan akan aku membuatnya terpesona. Padahal yang kuucapkan tadi hanyalah permainan bahasa. Yaha dengan
rahasia waktu. Dengan rasa tenang dan senang ku pergi meninggalkan rumah sakit menuju tempat pertemuan yang kutempuh dalam waktu 1 jam 10 menit. Sesampainya disana kuparkir motorku dekat pintu keluar, masuk kedalam, dan mencari tempat yang sudah di booking atas nama acaraku sambil memesan 1 hot americano pada waiters yang menghampiriku. Kulihat waktu menunjukan pukul 19.35. setelah melewati kesepakatan waktu, para kepala divisi mulai datang satu persatu. memang telat tapi hanya perihal hal uang saja mereka mencoba tidak terlalu. Rapat berlangsung pada pukul
20.30. dimulai dari pembagian uang yang ditalangi oleh beberapa orang, serta pelunasan pembayaran sewa segala macam kebutuhan yang belum dibayar penuh. Dilanjutkan pembahasan perihal waktu pamflet yang akan mulai di naikan. Semua kepala
untuk yang tepat?” sanggah ku. Mereka selalu berfikir hal seperti ini sudah biasa terjadi. Pemikiran yang sangat berbahaya bukan apabila telat sudah menjadi hal yang biasa dan menjadi kebiasaan yang akan menghasilkan sebuah budaya. Tapi lagi lagi semuanya di selesaikan dengan pengambilan suara. Suaraku memang lantang tapi satu suara lantang akan tetap kalah oleh suara lirih yang banyak. Hampir seperti sebuah pepatah. Jadi dengan berat hati ku setujui waktu acara pada pukul 19.00 dan di muali puku 20.00 tanggal 20 juni. dengan ini rapat diahiri dan selebihnya hanya tinggal menunggu waktu. 13 hari kemudian. Tibalah saatnya tanggal 20 juni, hari dimana satu mimpi akan terwujud. Berbondong orang mulai berdatangan, lampu warna warni liar menerangi langit. Pada tribun, aku duduk di kursi tengah barisan paling atas. Mangamati pasangan yang
| divisi | sepakat | untuk | |
|---|---|---|---|
| menuliskannya 19.00 sedangkan acaranya baru | dimuali | pukul | |
| dimulai alasan memberikan spere waktu | pukul | 20.00 | dengan |
| kepada | yang | telat. | “lalu |
mencari tempat duduk, rombongan kawula muda yang berkumpul di tengah dan pinggir tanah lapang depan panggung serta para crew yang telah siap pada posisi. Sesuai Bagaimana dengan harga waktu
kesepakatan acara dimulai puku
| 20.00. | mc mulai | naik | keatas |
|---|---|---|---|
| panggung mencoba membakar | |||
| semangat dilanjutkan para group group | para | penyaksi, | |
| musik panggung secara bergantian dan akhiri oleh group musik papan atas malam itu. Pukul 23.30 acara | yang yang menambah | beraksi | diatas euforia |
| selesai. | Orang | orang | mulai |
| inigin | mendengar | suaranya. | |
|---|---|---|---|
| Aku yakin ibuku sudah kembali | |||
| tidur | tapi saat | telfonnya | |
| diangakat | kudengar | isakan | |
| tangis | beserta | bahwa | |
| ibuku tanda untuk kembali bangun. | telah tertidur Secara naluriah | tanpan | aku |
| langsung | belari | menuju | |
| motorku. | menyelak | barisan | |
| pengendara mengatri bayar parkiran. Dijalan raya kupacu motorku dengan | motor | yang | |
| laju menerobos setiap lampu merah, | tercepat, | mencoba | |
| dilempari | suara | klakson | |
| kendaraan | beserta | makian | |
| pengendaranya | bahkan | ku | |
| acuhkan memata air. aku tidak mampu | awan | yang mulai | |
| lagi | menahan | tangis, |
kabar
melangkah pulang dengan rasa ketidak sia siaan untuk mengisi kekosongan waktu. Kurasakan air mata yang malu malu pada mataku mengalir menuju dagu. Mungkin ini kebahagiaan yang ibuku rasakan saat itu. Tidak, ini bahkan lebih dari itu. Aku berjalan pelahan menuruni tangga tribun untuk berkumpul dengan crew yang lain sembari memeriksa notifikasi pada layar bagaimanpun juga aku kecewa teradap waktu sambil bertanya dalam pikiran ku “kenapa waktu
| handponku. | Ku | temukan | 24 | |
|---|---|---|---|---|
| panggilan | tak | terjawab | dari | |
| salah | satu | kontak | bertuliskan | |
| anna | pada | pukul | 22.17. | Yah |
| mungkin memanggil igauannya. | lagi namaku Sepertinya | lagi | ibuku pada ibuku |
datang pada saat yang tidak
| tepat | kepada | ku yang | selalu |
|---|---|---|---|
| menepatinya?”. perempatan, aku terhalang oleh par pengendara motor lain yang | Di | suatu | |
| berhenti menyala. Di depannya ada 3 tiga | saat | lampu | merah |
| anak mengamen. Mereka bernyanyi | kecil | yang | sedang |
| dengan | nada | yang | tida |
tidak sabar untuk mendenger cerita tentang betapa meriahnya acaraku. Sambil mengumpulkan keberanian ku balas telfonnya dengan alih alih menanyakan kabar ibuku. Padalah aku hanya beraturan sambil tertawa yang entah menertawakan apa. Aku
| termangu | melihat | melihatnya. |
|---|---|---|
| Setelah lampu berganti hijau Ku | ||
| putuskan untuk berhenti pada | ||
| warung | sebrang | jalan, |
| menikmati | sebatang | rokok |
| sampai, | untuk | menghidupkan | |
|---|---|---|---|
| ibuku kuasaku dan harusnya tujuanku | kembali | itu | diluar |
| keerumahsakit penghormatan dan rasa timbal balik kasih sayangnya padaku. | hanya | untuk | |
| Jadi kembali ludah yang keluar dari | dengan | santai | kujilat |
| mulutku. tepatnya ku ludahi ludah yang pernah keluar dari mulutku, lalu berjalan pelan menuju rumah | Tidak | tidak, | lebih |
| sakit | mencoba | mengingat | |
| kembali waktu…, waktu adalah putaran paling indah bagi siapapun yang | putaran | waktu. | Yaa |
| ada | didalamnya | dan | mampu |
sambil memandang dari jauh 3 anak tadi yang masih bercanda ria di trotoar. Dengan air yang
| masih | mengalir | dari | mataku, |
|---|---|---|---|
| aku tersenyum, bahakan tertawa | |||
| melihat gelagat mereka. orang | |||
| orang memandangiku. | disekitar | mulai Mungkin | |
| mereka | mengganggapku | gila, | |
| tapi Bagaimanapun damai melihat 3 anak itu. Lagi | aku | tidak aku | perduli. merasa |
| pula | secepat | apapun | aku |
menikmatinya.
Puisi-puisi Bunuh Diri
Kuninghitam
Puisi-puisi bunuh diri menyerahkan diri kepada Guillotine. Satu persatu kepala puisi buntung di keranjang
Para penyair itu akan miskin lalu mencari pekerjaan lain
Biarkan Terbakar
Kuninghitam
Buang lagu-lagu itu beserta tepuk tangan. Aku bahkan tidak bisa mengingat kapan aku lahir. Jangan ditiup! Biarkan lilin menyala di atas kue aku suka melihat itu terbakar
Aku Tidak Tahu
Kuninghitam
Aku tidak tahu aku hanya suka meihatmu. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan aku hanya bosan dengan kata-kata indah itu sangat menyebalkan aku akan membuangnya sembarangan biar dipungut orang-orang. Aku tidak tahu aku hanya suka melihatmu. Aku ingin bernyanyi denganmu dengan kenyataan bukan bualan. Aku ingin berdansa denganmu di tengah dunia sialan ini. Aku tidak tahu aku hanya suka melihatmu
Underground
Kuninghitam
Aku suka kita selalu menciptakan ruang kedap suara. Itu melindungi diri kita dari orang lain. Seperti jalur bawah tanah yang dibuat tikus-tikus itu
Aku suka sesuatu yang sifatnya menghancurkan. Seperti musik yang kita dengarkan: menghancurkan keramaian untuk kesunyian
Kebencian
Kuninghitam
Betapa aku membenci situasi ini. Berada di antara orang-orang yang banyak bicara: mulutnya berbusa-busa keracunan perkataan mentah
Betapa aku lebih membenci diriku sendiri. Berada di antara orang-orang yang banyak bicara. Aku baru bisa tertawa melihatnya belum juga memukul wajahnya
pemutusan misterius Ahmad S. Habibie
suara ledakan terdengar dari dalam tubuhku. lebih dari seratus kali semenit. membuyarkan lamunanku di keramaian.
aku memutar-mutar kepalaku ke berbagai penjuru. ke arah reklame, tembok tua berlubang, tukang bakso di sebrang jalan. tapi dari balik keramaian, pandangan mereka seakan balik menudingku.
suara ledakan itu terdengar lagi. kali ini lebih nyaring. seperti lolongan seekor serigala. membuatku takut hingga hampir kencing di celana.
aku curiga pada musik blues, pada sayur genjer, pada semilir angin, dan pada kaleng kong guan berisi rengginang. tapi mereka hanya diam menelanjangi isi kepalaku.
setengah menyerah, aku merogoh kantong meraih ponsel. dua getaran, pesan darinya dan email perusahaan; oh! bunga kertas dan senapan.
Kita memang tak bisa apa-apa, Kasih
Syamsul Falah
Siap atau tidak, peperangan akan hinggap di keningmu, Kasih. Hujan dan kemarau tak laku dalam irisan matematis tak tentu. Ke sana- ke mari evolusi blueprint bahan debat kosong justru terbalik, atas luasnya simbol konvensional yang tersebar. Jutaan lembu tak sempat mencari rumput, kita juga, karena sabana akan bermandihujankan rudal— budak kehancuran. Perang ini, bukan fantasi novelis pasar. Kasih. Mustahil kita menangkan.
Lahad tak punya liang. Panji-panji propaganda akan menemani mayat- mayat penasaran. Zombi-zombi merajut jalur nasib di luar barisan kaki-kaki saat parade malam minggu. Karena ambisi telah membumikan sadar, karena gairah menghanguskan akal. Kita sibuk akan macet, padahal macet akan ketidakmampuan. Akhirnya kalah lalu dihidupkan kembali.
Kepala-kepala memanas, dalam pagelaran lomba sejagad. Blunder sana, blunder sini: dukungan kemerdekaan palsu! padahal produksi senjata dan tentara kejar target. Barangkali bencana kalang kabut, manalagi sengsara mau bunuh diri: dapat tuntutan yang tak lagi bisa dipenuhi. Segala sedih terus ada dan bereksponensial menuju infinite. Apakah badai bisa dihadang pawang hujan? Kutu buku di balik layar merekayasa langit, dibuat topan sepanjang arti. Mengumpulkan kawanan siklon tropis secara biner lalu tekan tombol like supaya duka. Karena mereka mampu. Bagaimana kalau mereka buat sungai raya terbentang di langit, bagai aliran takdir, invisible, inevitable. Di mana sadar-tak-sadar berlaku kekal, tanpa pijakan dan sandaran. Karena mereka mampu. Walau twitter-an lebih asyik daripada membaca tv, tetapi penghasut tetap menari, terbang, bermitosis di udara. Menjelma wabah tren pasar di hari libur yang tidak tidur. Karena mereka mampu.
Kasih, aku dan kamu lebih kangen bercinta daripada peperangan, bukan? Apakah kita akan berlari? Apakah kita akan bersembunyi? Apakah kita akan berpasrah? Apakah kita betul-betul hanya akan berdiam? Entah. Tentu perang tak punya Tuhan. Tentu cinta tak punya Kuasa. Tentu kita, tak bisa apa-apa.