BLACKPEPPER #1
EDISI INTERNATIONAL WOMEN'S DAY
8 MARET 2024
DAFTARISI
Hal. 2 Selayang Pandang Blackpepper Collective
Hal. 3 Selamat Hari Perempuan Internasional; Liburkan Pabrik dan Sekolah! Nana Miranda
The Great Weaver Hal. 5 Jots Legumes
Te Aro Neweak Lamo Hal. 7 Ana
Hal. 9 Girls! Support Each Other Alienpang
Hal. 11 Mantra Penyintas Siti Romanah
Hal. 13 In The Name of Gods; Burn The Witches Kelanadestin
Hal. 16 Perempuan Dalam Cengkraman Kolonialisme Indonesia Fhi Bamulki
Hal. 19 If Only We Could Realize We Live in a Fantasy- an insane normalized insanity Childistbitch Hal. 21 My Sexual Expression is Beautiful Childistbitch PADA KE MANA SIH LESBI? Hal. 22
G.S.Praja
Hal. 23 Dream Icankami Hal. 25 Permulaan Refani Hal. 27 Teriakan novii.yp Hal. 29 Red Shoes Taro
Hal. 31 Hermoso Jinete dan Pepper Spray Freya Hal. 33 Mendengar Taqbir; Mengenal Penderitaan, Membalikan Ketakutan Jagadhita Indurasmi Hal. 39 Contributor
COL
Selayang Pandang
Blackpepper Collective
Blackpepper adalah sebuah gerakan yang tergabung dari beberapa perempuan di Bandung. Kami memilihnya sebab Blackpepper merupakan bahan utama spray pepper yang digunakan untuk melindungi diri dari pelaku pelecehan seksual. Sejalan dengan prinsip, Blackpepper pun bercita- cita untuk mengentaskan kekerasan seksual dari muka bumi.
Berjalan tertatih sejak 2021, mengusahakan gerakan perlawanan yang konsisten, tentu tak mudah. Pendidikan politik, sekadar ngumpul, bahkan merumuskan bentuk dan arah organisasi pun sudah dilakukan. Namun, nampaknya kapitalisme terlalu kejam bagi gerakan yang berbasis buruh perempuan di sektor formal-informal ini, hingga kami sering tak bisa menemukan waktu yang tepat untuk bertemu. Kami pun hiatus agak lama.
Barangkali, istirahat itu sudah sangat cukup. Hari-hari ke depan akan lebih berat, maka kami memutuskan untuk membuat zine ini sebagai permulaan.
Hari Perempuan Internasional selalu menjadi pemantik bagi kami. Maka, Zine Blackpepper edisi pertama dirilis pada Hari Perempuan Internasional 2024 -akan ada edisi #2, #3, dan seterusnya.
Zine Blackpepper memuat "suara" perempuan serta berbagai gender yang diminoritaskan, dari kelompok maupun individu. Tidak terpusat di Bandung, beberapa kontributor berasal dari luar kota maupun luar negara.
Kami pun terbuka pada edisi kedua untuk memberi kesempatan pada kontributor lain yang bersedia mengirimkan “suara" berbentuk tulisan berjenis apapun, gambar, juga musik melalui email. Tentu ada proses kurasi untuk menyesuaikan karya dengan prinsip kami.
Kami percaya bahwa Zine Blackpepper merupakan salah satu cara untuk menjaga suara agar tetap terdengar. Kami juga berharap bahwa manusia- manusia tertindas seperti kita mempunyai kekuatan yang besar dalam meneriakan keresahan untuk dibagi demi memantik perlawanan bersama.
Tidak hanya sampai hari ini, tidak hanya pada momentum ini. Tapi untuk seterusnya! Untuk dunia yang kita inginkan! Another World is Possible, Let's it On!
Kirim kritik, saran, dan “suara"mu ke: [email protected] @blackpepper.collective
Selamat Hari Perempuan
Internasional; Liburkan Pabrik dan Sekolah!
Nana Miranda
International Women's Day (Hari Perempuan Internasional) berawal dari letupan-letupan pemogokan yang dilakukan buruh perempuan: protes buruh perempuan pabrik garmen dan tekstil tahun 1857 di New York, pemogokan oleh buruh garmen dari Manhattan's Lower East Side untuk memprotes kondisi kerja dan gaji yang buruk pada 1908, pemogokan pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1909 selama 14 minggu, pemogokan ILGWU (Serikat Buruh Perempuan Garmen Internasional ) di New York pada 1910 selama 5 bulan, pemogokan yang dikenal sebagai "Bread and Rose Strike" oleh buruh perempuan pabrik garmen di Amerika pada 1912 selama 2 bulan, gerakan perempuan "Bread and Peace" menentang Perang Dunia I pada 1917 di Rusia, serta pemberontakan lainnya (Sejarah Hari Perempuan Dunia-Trimurti.id).
Isu buruh perempuan di masa lalu relevan hingga hari ini. Kondisi kerja masih sangat buruk.
Upah buruh perempuan masih timpang, belum lagi upah yang tak kunjung naik. Tak lupa juga cuti haid, cuti hamil, yang wujudnya antara ada dan tiada. Dan yang paling UTAMA adalah pelecehan yang terjadi di pabrik.
Buruh perempuan kesulitan untuk berserikat. Ancaman pabrik terhadap serikat buruh sudah pasti menyurutkan niat untuk berserikat. Ditambah masalah patriarki yang berdampak pada domestifikasi perempuan, hingga mereka sulit untuk melakukan kegiatan di luar pabrik dan luar rumah. Ini harus diakui! Perempuan dibelenggu berlapis jenis penindasan.
Tak hanya buruh perempuan di pabrik. Perempuan lainnya juga mengalami hal yang sama: buruh tani, buruh retail, kaum miskin kota, pekerja rumah tangga, tani, driver ojek online, pengamen, pelajar, guru, seniman, dan masih banyak lagi.
Berangkat dari penindasan yang struktural dan sistematis oleh penguasa terhadap perempuan, Hari Perempuan Internasional merupakan momentum PENTING bagi perempuan tertindas untuk bertemu, sekaligus jadi wadah konsolidasi besar untuk saling bercerita soal keresahan di segala tempat mulai dari pabrik, sekolah, jalanan, hingga rumah.
Kelompok-kelompok perempuan tertindas harus segera dibentuk. Sebab Hari Perempuan Internasional bukan hanya perayaan, namun PERINGATAN bahwa telah lebih dari seabad setelah Hari Perempuan Internasional pertama diperingati pada tahun 1911, perempuan masih tertindas.
Mari berserikat! Lawan bersama!
-Profil-Seorang perempuan yang nge-fans sama Avril Lavigne. Tidak berorganisasi, tapi mau, sebab hari-hari ke depan akan sulit. Peace, love, and resist!
Judl r ungTahun:M M002Deskpsi: me d d d dah.Tet 'emd dek e ket es dia Proii skat: Jots-d n danhr r a e ea e dadi UKu000900:0DP en ns ng dnd dersg ea n ndibena s n 't ikndi s a d n s d dikos d asd d d d d d tkharn n a d nanyanag dai tk daberek na a a ada dart.Mem a ad a a diisendi. seor on n sn Mn Malahsemu i s hniserike a at.
dui n mi dia n 'u rena
oleh Ana
"TE ARO
NEWEAK LAMO'
*Bahasa daerah Amungme
"Kita memiliki hubungan dengan wilayah-
wilayah yang dirusak oleh ekstraktivisme sebagai hubungan 'tubuh-tanah Air'. Hubungan yang menjadi-
kan kita memiliki tubuh yang bertanggung jawab, termasuk aktif menjadi bagian dalam perjuangan yang
melawan kekerasan terhadap perempuan
dan alam." -Siti Maimunah-
Satu hal penting yang perlu disorot adalah bahwa tugas menjaga alam bukanlah tugas masyarakat adat atau perempuan adat saja; melainkan juga merupakan tanggung jawab kita yang tinggal di perkotaan. Mengapa tidak? Segala kemewahan yang dinikmati di kota hari ini seperti listrik, infrastruktur, hingga alat kosmetik pun diperoleh dari penetrasi kapital di hutan adat, gunung adat, tanah adat, ancaman pembunuhan dan perkosaan, serta penggusuran, dan pelanggaran hak masyarakat adat.
Di sini cara pandang tubuh-tanah air menjadi penting digunakan. Cara pandang tersebut lahir dari pengetahuan masyarakat adat dalam memandang relasi manusia dan alam. Masyarakat adat di Mollo memandang tubuh manusia merupakan bagian dari tubuh alam.
Masyarakat Amungme memiliki pandangan Te Aro Neweak Lamo yang berarti alam adalah diriku. Kesadaran akan relasi tersebutlah yang membawa perempuan adat di Mollo dan Amungme melakukan perlawanan terhadap perusahaan tambang. Hubungan tubuh-tanah air juga perlu kita terapkan guna menjadi pemantik kesadaran berikut pergerakan melawan sistem-sistem yang menindas.
Profil: Halo kawan-kawan pembaca! Perkenalkan saya Ana dari West Papua. Tulisan di atas itu hasil pikiran di kepala yang belum sempat dibawa ke ruang diskusi jadi saya salurkan saja di sini hehehe. waa waa waaa!
AiAinsd ennce
Itl G HER RUU hodp
tenrtg aork: :ng aangalin in ii vi t viinvarirc ng Maing ing mdvesep theidam dlecas-sandsra wi Wraking kig watheFih ooi o o il tiecolllage. Pun ck oWii nt ilcole e lel.R d ex.ur oriny woriasIlusr a ha mtsges pr e r nn nn uldibngmg g bintkeu an d 'bkisaera a aaang-sen bma. sine e g neo-now s t sd w an
sau angsaiin mng g ang
"Mantra Penyintas"
oleh Siti Romanah
Aku bersih Aku tidak bersalah Aku bukan kejadian itu Aku bisa pulih
Aku bersih Aku tidak bersalah Aku aman
Aku bisa pulih
Aku bersih Aku tidak bersalah Aku tidak menghancurkan hidup pelaku Aku bisa pulih
Aku bersih, Aku tidak bersalah, Aku bukan trauma, Aku bukan hanya korban,
Aku penyintas,
Aku pemenang hari ini
*** Siti Romanah adalah penyintas kekerasan seksual dalam pengobatan dan perjalanan mencari sedikit kesenangan bersama kawan-kawannya. Saat ini sedang berusaha menyelesaikan S2, terlibat di organisasi bernama PEMBEBASAN, dan membesarkan seorang putra (kucing) bernama Kamerad Pancake.
"In the Name of Gods: Burn the Witches"
Kelanadestin (2024)
Pada awalnya, saat mencari inspirasi untuk visual, aku mengingat sebuah kutipan dari buku Tish Thawer yang berjudul: The Witches of BlackBrook. Kutipan itu berbunyi "We are the granddaughters of the witches you weren't able to burn."
Di sana aku menggambarkan seorang perempuan yang sedang dibakar hidup-hidup namun tetap dalam keadaan santai sambil mencoba menyalakan rokok dari kobaran api yang membakar tubuhnya, karena ia tahu bahwa ia adalah generasi dari penyihir yang kini sudah tidak bisa lagi dibakar. Rokok di sini juga bukan tanpa makna, dalam penelitian Studi Etnografi Tentang Stigmatisasi dan Konformitas Perempuan Perokok dalam Budaya Patriarki (2023) dijelaskan, citra perempuan merokok yang tertanam di masyarakat umumnya bersifat negatif. Perempuan yang merokok dicap nakal bahkan amoral oleh masyarakat.
Dalam perjalanan membuat ilustrasi, aku teringat sebuah buku bejat dalam dunia sastra berjudul “Mallevs Maleficarvm" atau yang lebih dikenal dengan “Palu Para Penyihir" yang memaksaku untuk kembali menggali lebih jauh lagi, membaca berbagai artikel dan menonton tayangan youtube hingga terciptanya sebuah tali alat eksekusi yang digunakan oleh Matthew Hopkins sebagai witch-hunter juga ilustrasi buku Mallevs Maleficarvm yang terbakar.
Saat membuat ilustrasi buku Mallevs Maleficarvm, muncul sebuah pertanyaan di kepala: “Why Organized Religion is the Most Misogynist Institution Man has Ever Created(?)", yang menarikku kembali membaca sejarah hingga era di mana masyarakat Arab Badui mengubur anaknya jika yang lahir adalah perempuan. Bahkan setelah munculnya agama-agama yang saat ini ada pun, perempuan tetap diatur dan dipaksa tunduk kepada laki-laki di dalam berbagai kitab keagamaan. Dari sini terciptalah visual buku-buku yang menyimbolkan berbagai religi.
Proses gambar hampir sepenuhnya selesai, namun rasanya ada yang kurang jika aku tidak memasukan perjuangan buruh perempuan tekstil pada 8 maret 1857 di New York yang menuntut kesetaraan upah dengan laki-laki, yang mana ini juga menjadi salah satu cikal bakal munculnya Hari Perempuan Sedunia. Maka terciptalah sebuah visual mesin jahit.
Tidak cukup sampai di situ, aku masih ingin memasukan situasi di Indonesia. Hingga aku teringat sebuah adegan film propaganda busuk di era ORBA ketika seorang perempuan berkata: “Penderitaan itu pedih jenderal, pedih. Coba rasakan sayatan silet ini, juga pedih tapi tidak sepedih penderitaan rakyat," kata seorang perempuan. Dia pun mulai menyayatkan silet itu pada wajah Mayjen Soeprapto.
15 Hingga terciptalah visual sebuah silet yang menyayat pipi, sebagai simbol propaganda dalam penyingkiran gerakan perempuan di Indonesia (read: GERWANI) yang dilakukan oleh Soeharto. Di samping itu, aku juga menambahkan visual-visual lainnya seperti sumur, kemudian peralatan dapur dan selimut-selimut juga berbagai peralatan rumah tangga yang terbakar, menyimbolkan domestikasi dan untuk melucuti pendefinisian gerak perempuan dari istilah dapur, sumur dan kasur.
Mungkin cukup sekian, meskipun sebenarnya masih ada berbagai hal yang ingin aku masukan, seperti protes kelaparan, kemiskinan penindasan politik, dan perang yang dilakukan oleh ribuan buruh perempuan di Rusia pada 1917, yang mana mampu menggulingkan pemerintahan Kekaisaran Rusia hingga terjadinya eksekusi mati terhadap Tsar Nicholas II beserta keluarganya. DII..
Profil Kelanadestin
Kelanadestin adalah ilustrator, 3d
animator dan desainer grafis. "Kelanadestin" sendiri pada mulanya hanyalah proyekan kampanye digital untuk merespon perampasan ruang yang kerap terjadi di lingkungan sekitar, sebelum pada akhirnya digunakan juga pada media wheatpaste, poster, dan stencil secara anonim. Karya-karya yang dibuat juga bebas di unduh, di cetak dan disebarluaskan secara gratis, baik itu untuk keperluan kampanye maupun kebutuhan penggalangan donasi.
Pameran-pameran yang dilakukan
selama ini hanya dilakukan di tempat- tempat konflik ruang (lokasi penggusuran) dan ruang-ruang publik untuk menarik massa agar ikut terlibat dan bersolidaritas di lokasi konflik ruang.
Perempuan Papua
Dalam Cengkraman
Kolonialisme Indonesia
Fhi Bamulki
"Perjuangan pembebasan perempuan Papua akan
tercapai jika disatukan dengan perjuangan pembebasan sejati rakyat Papua. Dan sebaliknya, perjuangan pembebasan rakyat Papua akan tercapai jika perjuangan ini menempatkan pembebasan perempuan Papua sebagai salah satu tujuan utamanya".
Pembebasan perempuan Papua tidak bisa dipisahkan dari perjuangan pembebasan sejati rakyat Papua secara keseluruhan. Penindasan perempuan di Papua mungkin serupa dengan yang terjadi di belahan dunia lain. Namun, pada level tertentu, apa yang dialami perempuan di Papua jauh lebih berat. Perempuan Papua secara khusus dan masyarakat Papua secara umum sedang mengalami penindasan akibat kolonialisme Indonesia. Akibatnya, agresi militer semakin massif dari hari ke hari. Dalam situasi seperti ini, perempuan tentunya mengemban beban lebih besar. Selain budaya patriarki yang senantiasa membayangi, perempuan Papua pun dihantui moncong senjata. Maka bagi kami, pembebasan perempuan di Papua berarti melawan patriarki dan kolonialisme Indonesia.
Bagi kami, jalan satu-satunya melepas ketertindasan di Papua ialah merdeka. Tidak ada jalan lain. Perlu diketahui, sesungguhnya kami pernah mendeklarasikan kemerdekaan pada tanggal 1 Desember 1961. Sayang, hanya berselang beberapa hari, Indonesia menjajah melalui berbagai operasi militer. Nasib Papua kemudian ditentukan oleh negara imperialis melalui New York Agreement tahun
- Sebagai catatan, tidak ada satu pun orang Papua yang dilibatkan selama perundingan. Begitulah nasib menjadi orang Papua, hidup dalam cengkraman kolonialisme. Sejak Papua berada dalam cengkraman Indonesia, nasib bangsa ini semakin ironi. Kami sering berpikir bahwa bangsa Papua bisa lenyap tak tersisa, sebab begitulah kenyataan hari ini.
Orang Papua semakin tergusur dari sumber kehidupannya yang diganti oleh kebun sawit, tambang, dan food estate. Di sisi lain, satu per satu orang Papua mati karena dibunuh oleh militer Indonesia, baik dengan dalih melawan separatisme atau tanpa dalih sekalipun. Operasi-operasi militer yang terjadi memaksa orang-orang Papua mengungsi dari distrik ke distrik, dari gunung ke gunung. Entah berapa banyak yang meninggal. Seperti
misalnya seorang mama yang
meninggal saat melahirkan ketika mengungsi di hutan karena tempat asalnya, Nduga, telah terjadi operasi militer pada tahun 2019.
Kondisi ini kian memburuk. Kasus terakhir yang menyayat hati yakni kasus pemerkosaan dan pembunuhan dua perempuan di Yahukimo tahun lalu oleh militer Indonesia. Hingga kini kasus tersebut tak kunjung mendapatkan keadilan.
Sampai hari ini, pemerintah Indonesia tidak pernah menunjukan itikadnya dalam memenuhi hak menentukan nasib sendiri bangsa Papua. Pemerintah Indonesia justru melanggengkan kekuasaannya dengan perpanjangan OTSUS dan pemekaran. Bagi kami, OTSUS tidak lebih dari permen gula yang mengalihkan pikiran orang Papua dari akar persoalan bangsanya.
Dalam kesempatan peringatan International Women's Day ini, mungkin aksi massa di Papua tidak seramai di Indonesia atau di negara- negara lainnya, bahkan ragu terlaksana.
Sebab, aksi peringatan IWD tahun 2021 lalu di Jayapura dibubarkan dan direpresi, begitu pun aksi massa lainnya yang selalu dibatasi. Tetapi, semangat pembebasan perempuan tentu harus dikobarkan setiap hari bersamaan melawan kolonialisme dan kapitalisme.
Kami sebagai perempuan Papua
menyadari tugas berat ini. Kami juga menyadari, suara kami kerap tidak diperhitungkan. Maka bagi kami, membuka ruang bagi kaum perempuan Papua untuk mengekspresikan pendapat, ide, gagasan harus menjadi bagian dari perjuangan pembebasan Papua dewasa ini. Menempatkan perempuan Papua ke dalam kerja-kerja pembebasan rakyat menjadi hal yang penting dalam konteks perjuangan Papua hari ini.
Profil Halo perkenalkan saya Fhi Bamulki dari Aliansi Mahasiswa Papua. Saya adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Papua yang sedang tidak baik-baik saja, dikarenakan sistem penjajahan yang terjadi di tanah Papua. Untuk saat ini Walaupun realitanya Sangat berat dan kejam saya sedang melatih diri saya untuk tetap bertahan dalam berjuang melawan penindasan.
Salam Revolusi!
If only we could realize we live in a fantasy- an insane normalized insanity.
Childistbitch
setiap malam aku menemuimu dalam ruang imajinasiku. suara detak jarum jam yang begitu kencang membawaku larut dalam pelukan dan ciuman panas. aku ingin berteriak sembari menggigit selimut. dan menikmati kenikmatan itu lagi. malam yang sama aku merasa sangat bebas untuk memberitahu bagian tubuhku mana yang paling aku sukai dan kau akan menciumnya dengan lembut. aku ingin mengingat masa-masa betapa kita telah membuat daftar tulisan perihal apa yang akan kita kenakan saat malam pesta persetubuhan kita, atau minuman apa saja yang harus kita beli. apa perlu kita beli jamu dan suplemen? tidak? baiklah. sepertinya semua fantasi sudah kita jelajahi, bagaimana kalau kita telanjang seperti biasanya saja, dan biarkan masing-masing tubuh kita hangus terbakar keringat. aku akan menciummu dan memelukmu, saat kita menari perlahan menuju bencana, yang bisa kita lakukan hanyalah mendesah dan hancur seperti reruntuhan yunani yang sekarat di kota modern.
seorang teman sering bertanya padaku bagaimana gairahnya mencintai seseorang selama satu tahun tanpa pernah berjumpa, tanpa pernah berbicara meskipun melalui telepon singkat whatsapp. ah, sial. aku terjerembab dalam keagungan sajak-sajak dan puisi yang dikhotbahkan oleh para penyair tak bertanggung jawab. sama hal-nya dengan kau, yang tidak pernah bertanggung jawab setelah membuatku nyaris gila.
aku merasa hidup beberapa waktu saat ber-imajinasi, sungguh. disini adalah ruang paling bebas dalam hidup setelah terus-terusan diperkosa realitas. aku bisa melakukan apa dan siapa saja tanpa harus peduli orang lain. disini tempat paling tepat untuk menjadi liar dan tak terkendali.
jadi, setelah saling menelanjangi kejahatan di dalam hati masing-masing, masihkah kerinduan bergelayut di pelupuk matamu, kekasih?
Artwork by Childistbitch
"seorang buruh perempuan yang hobi dan keinginannya tergadaikan oleh jam kerja yang panjang. "
PADA
KE MANA
SIH
G.S.Praja
LESBI?
Kalau pertanyaan ini muncul seperti layaknya dimana perempuan di lautan pekerjaan yang didominasi laki-laki? Perasaan waktu sekolah para perempuan ini jadi juara kelas, tapi kenyataannya si juara kelas ini pada kemana? Cita-cita seringkali dibatasi oleh gender. Betina lahir bukan sebagai perempuan tapi untuk menjadi perempuan. Kami sudah terbiasa kalau keadilan itu tidak diberikan tapi harus kami ambil. Hidup itu pilihan. Terlepas dari kedepannya, apapun pilihan kita yang begitu terbatas.
Kalau lesbi? Apalagi lesbi. Muncul makin banyak pertanyaannya. Muncul juga makin banyak keterbatasan pilihannya. Bukankah harusnya kesempatan kita semua sama? Bahkan terlihat saja tidak, apalagi bersuara. Lalu mereka dimana? Bagaimana bisa
mereka bertahan hidup? Apakah mereka sedang mengubur hidup-hidup impian mereka? Apakah mereka sedang hidup di balik bayang-bayang “kenormalan"? atau memang sudah mati? Mereka ingin terlihat tidak sih, atau mungkin memang ingin tidak terlihat? Kapan mereka akan bermunculan? Atau mereka ada disekitar kita tapi tidak terlihat? Aku sudah siap! Ayo rebut keadilan sama-sama! lya sama-sama! Kalau sendiri aku ga bisa.
Profil Penulis merupakan anggota aktif di sebuah koperasi minoritas. Penulis memiliki harapan untuk berjuang bersama-sama dan memiliki hambatan untuk terus menulis dari segi ketersediaan waktu, materi dan kawan untuk brainstorming.
Icankami
2o24
Icankami
Seorang pekerja lepas yang hobi ngegambar dan nulis. Memiliki passion sesuai dengan KTP yaitu Seniman.
Kebanyakan sumber duitnya dari kerjaan hasil referensi teman- temannya. Sedang menyibukan diri dengan berkarya, meramu kata dan bercinta sambil menjalani kehidupan yang random.
"Permulaan"
Refani
Ditutupnya kelopak matanya perlahan mengikuti suara ketukan langkah yang menuju kamarnya Anak Kecil Berkepang Dua itu tau, segera ia akan menemui Ketakutannya Dibuatnya tidur tubuhnya yang mungil, mengikuti suara detak jantung dengan harapan semakin melambat
Pintu yang terbuka pertanda malamnya akan sama, menunggu dalam tidur yang pura-pura Membatu dalam diam, tanpa bersuara Sakit tidak lagi dianggapnya ada, semakin lama semakin pupus
Tik, tok, tik, tok, tik, tok, tik tok, tik, tok, tik, tok, tik, tok
Ingatannya menjadi awawarna kali ini, Anak Kecil Berkepang Dua memaki Suara yang sangat bingar, terdengar lagi, “aduh sungguh sialan" katanya Kata-kata tak terucap, namun tubuhnya yang tidak lagi kecil masih menaruh satu harap
Dia akan bangun, suatu hari nanti Tanpa perlu membatu lagi Tanpa perlu menahan tangis Tanpa perlu menghadapi Ketakutannya
“Mari jumpa dalam satu waktu dimana Ketakutannya mati. Lilin ini terus menyala, sampai nanti“
Profil: Dulu bekerja sebagai freelancer dalam kekacauan menarik proyek-proyek NGO sampai suatu kantor mengira saya terlalu unik dan dengan segera menunjukkan pintu keluar! Ada semangat dalam mengurai benang-benang wacana feminis, terutama dalam memerangi kekerasan berbasis gender. Dalam pencarian seumur hidup untuk mengubah trauma menjadi kejayaan, tulisan sebagai teman setia dalam rollercoaster liar yang kita sebut hidup. Temukan saya dalam satu buku menarik dan akan menggambar dengan tangan yang gemetar. Ingatlah, seperti yang dikatakan terapis saya, "Peluklah keanehan, dan jangan pernah malu untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang tidak biasa."
novii.yp
"Teriakan"
Parade pinggir jalan tanda pembebasan kain melingkupi tubuh warna-warni dunia tak pernah berputar rapih apalagi untuk mereka yang dianggap ringkih
Sekejap terucap pada mulut kesetaraan kertas-kertas berisi peminggiran dan pada bola mata tatap sinis kesalahan dianggap tabu karena pakaian melanggar aturan
Pada ujung jalan melanggeng patriarki cepat seperti jalan tol datang pada pikiran orang-orang keji tak pernah salah sangka ia memang pakar manipulasi membentuk koalisi menghancurkan intuisi
Hingga sesak dada penuh dendam berganti-ganti hari dilingkupi demam sampai sebagian perih biru lebam namun kita tak pernah padam kita tak pernah padam
*** Profil Penulis merupakan seorang perempuan yang selalu menulis puisi namun selalu berakhir berserakan. Baginya puisi dan kebebasan menjadi dua hal romantis
yang berkaitan karena kadang bisa menjerit atas
ketidakadilan atau bersorak atas hukuman para pembuat kesalahan.
Taro Profil: otab-k n at aru.diai d ikir
Seor gg dorg eo sg eog oeienneur u bi didarir-a-- Sa ad a destahug a a-ang g n nimemm-hl t -al hman)berb hdl be h-iteo-on () sxn -non.
Redd oes yanyg d d y d tg g ti ku.
WeaDti
can d dq ii u ihlu muk n cabeKkrh eeburSee ' n ndPina k aalutamb m k mayrbin an isaan aagn pupaalebih ' d p ae.Setteat d n rrt g tt g ad udhkampue tt b um ep bum(ens s y).Setla n tknyem plelkedaaaNoten ag g g ngnplast a ngak> mnd a an a3
Ana aku
'caqbealkohkhol,min sayur.lemmon R nKe ray)Kke ek ee eebisal I s nTKUNU AANGA h mah math gabh mah tatpep sers ss ses seandi n m eu nn asnmau dunal.Beber i it n si uanpepr g y ebadiban Man ban dadiddpdtBah htkg yt b yidiantaaraya:
Jinete
Bermg smg se agiseu mu as ma anganmas Pun Paut Psunyghmoern in morn morn rakpan c aa canmadberio cro cera c ukupago d ' da ' danngu ' a a sahalpPeren n n bdsn ngmert or hr ot atLakunn n Kn unn amuIluke kliSa a m d dplemDaptn 'uuit ui tbakucmbukein a imqolema b uanmemn h he hegankau-Idk
Ppepr pppay
Hermosoupp Freya
"Saya berbicara kepada orang-orang dengan memberitahu mereka bahwa saya akan menemukan mereka, di jalan- jalan yang gelap, bahwa mereka tidak akan memiliki
tempat untuk bersembunyi."
-Taqbir
Mendengar Taqbir:
Mengenal Penderitaan,
Membalikan Ketakutan
Jagadhita Indurasmi
Tepatnya 2021 lalu saya berkenalan dengan Taqbir, sebuah band hardcore punk Maroko yang tidak pernah kita tahu siapa yang ada di dalamnya. Musik dan vokal yang marah namun seperti tetap merayakan hidup, membuat saya berkesimpulan bahwa akan terlalu sayang jika kita tidak pernah mendengarkannya. Seperti menemukan sahabat baru, Taqbir adalah yang berpengaruh untuk tetap menjaga kewarasan dan membantu memupuk keberanian tatkala hidup sedang meminta untuk menyerah. Kita tahu banyak band hardcore punk yang menulis lirik pemberontakan, tapi sedikit yang berteriak dengan gembira untuk menentang institusi besar seperti agama yang berkontribusi besar terhadap penindasan perempuan. Apalagi di negara tempat kita tinggal sekarang, akuilah mengenai resikonya; kemungkinan akan dipersekusi di hadapan masyarakat, dibunuh oleh komunitas sayap kanan, dicambuk sampai kulit punggung mengelupas, disebut islamofobia, dicap kafir, diasingkan, dianggap tidak waras, atau bahkan mati di ditembak barisan tentara suci atas tuduhan penistaan agama.
Di hadapan kekerasan yang sama, beratnya beban yang berkali lipat, dan
dihadapan ketakutan akan
pembunuhan, saya rasa bahwa akhirnya kita pun memiliki hak untuk menentang apa yang telah institusi agama dan keluarga konservatif lakukan terhadap perempuan. Ini adalah hasil dari penderitaan yang dilakukan oleh otoritas yang memaksa kita tunduk pada aturan yang tidak bisa disanggah, polanya selalu sama dan begitu juga dengan tingkatannya; moralitas agama, ayah, kakak laki-laki dan suami.
Di sisi lain, media dan dunia
menganggap perempuan islam
dengan stereotip bodoh, penakut, tidak bergaul, seorang budak dan tidak mengikuti perubahan zaman. Namun ketahuilah, ada akar yang menumbuhkan perempuan islam hidup seperti apa yang diberitakan. Kita telah lahir dan hidup dalam masyarakat yang moralitas agamanya begitu membatasi kehidupan perempuan dan sejak kecil tumbuh dalam keluarga konservatif, apa yang kita bisa lakukan jika melangkah keluar rumah saja
bisa menjadi tabungan dosa? Tidak ada alasan lain yang membuat kita seolah dianggap tertinggal, selain institusi agama juga yang membuat kita terperosok jauh ke lubang stereotip buruk ini.
Ketakutan itu layaknya tanaman yang disirami dan beri makan setiap hari, tumbuh menjadi sesuatu yang melekat pada tubuh kita. Tidak jarang kita menemukan perempuan islam dan agama lainnya menganggap bahwa ini bukanlah suatu penindasan, melainkan sesuatu yang harus dijalani karena seperti itulah adanya. Begitupun dengan saya, saya hanya disuapi pahala dari menikah dini dan kebahagiaan menjadi istri yang sholehah. Saya juga hanya menerima ajaran bagaimana saya diposisikan menjadi makhluk berharga layaknya permata dan menjadi perempuan yang mulia, tapi saya tidak pernah melihat perempuan dihormati kedudukannya, yang terjadi adalah sebaliknya. Inilah yang saya dan mereka tahu, bahwa kita telah dipaksa tunduk pada aturan yang menghilangkan harga diri perempuan itu sendiri, bahwa sejak lahir pun perempuan adalah sebuah aib dan tidak pantas diakui, dan bahwa hidup perempuan di hadapan ketakutan dan ancaman adalah tabungan untuk kebahagiaan abadi yang didapat atas penderitaan kita sendiri. Saya hampir tidak bisa mengenali kebahagiaan apa yang akan saya dapat jika saya menjalani kehidupan di bawah ancaman kekerasan dan kematian. Di balik kain yang menutupi wajah dan mata yang dijaga untuk melihat, saya melihat penderitaan.
Saya mengerti mengapa perempuan
islam dianggap demikian, karena dalam hidup saya sendiri, saya hanya boleh mengakses segala sesuatunya
yang bermuatan agama. Berjilbab
tertutup tanpa sehelai rambut, berjalan delapan langkah di belakang laki-laki, suara saya adalah neraka bagi saya sendiri, tidak boleh
melakukan hal apapun yang saya
inginkan, dan saya tidak memiliki pilihan apapun selain tunduk. Ini menghancurkan diri saya perlahan, menggerogoti pikiran sampai habis.
Tidak mudah menjalani kehidupan yang kita inginkan dalam masyarakat yang terbentuk oleh moralitas agama yang kuat. Jika mereka semua mengetahuinya, penghakiman dan cap pembangkang-lah yang melekat pada identitas kita. Saya menentang kekerasan agama secara institusi dan organisasi, bagaimana prakteknya banyak yang tidak adil untuk kehidupan perempuan. Saya tidak sanggup lagi membayangkan berapa banyak lagi perempuan dan anak kecil diperkosa dan menderita lalu harus dibungkam kemarahannya. Bukankah kekerasan adalah kekerasan tanpa ada pengecualian termasuk yang melakukannya adalah institusi agama itu sendiri? Saya memiliki keyakinan bahwa agama adalah perdamaian dan kebaikan, adalah menjunjung harga diri setiap manusia dan menghargai apa yang diyakini, adalah perjalanan spiritual yang tidak membuat hidup menderita, bukan
yang dipertontonkan dan dipraktekan
selama ini.
Ketika mendengar Taqbir, ada sesuatu yang menjadi roh bagi diri saya sendiri. Bayangkan berapa banyak masyarakat tidak percaya bahwa perempuan di negara mayoritas islam tidak pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual? Buktinya, bahkan di tempat yang dikenal sebagai 'holiest city', ratusan lebih perempuan membagikan pengalamannya mengalami pelecehan seksual. Di hadapan Ka'bah sekalipun, perempuan mengalami kejadian yang membuat terluka seumur hidup. Seperti yang dikatakan vokalis Taqbir dalam wawancaranya, "Di tempat kita lahir dan tumbuh, Maroko dengan islam yang konservatif, perempuan selalu identik dengan pelecehan dan pemerkosaan yang dinormalisasi. Apapun yang kita kenakan, apapun yang kita lakukan, perempuan tetap dipandang sebagai makhluk tidak terhormat. Pelecehan dan pemerkosaan selalu distandarisasi dengan kami." dan ini juga mewakili saya tentang kehidupan saya sebagai perempuan yang dilecehkan berkali-kali oleh keluarga dan institusi agama itu sendiri.
lalu perempuan dengan spike yang terpasang di kain burqa, dan bagaimana perwakilan agama yang seorang laki-laki berjanggut ikut dihancurkan di bawah telapak sepatu boots. Itu sebagai simbol dari imajinasi dimana kehancuran dikembalikan kepada mereka yang membuat hidup sebagian besar hidup kita penuh dengan ketakutan. Kita telah menghabiskan hidup untuk menangis di bawah ancaman mereka, diperkosa perwakilan agama, disebut pelacur dan budak, dianggap bodoh dan pasrah, hanya diakui jika melayani dengan benar, dan hidup dimana masyarakat dan institusi agama adalah pelaku nyata yang tetap dijunjung kekerasannya.
Bisa saya akui, bahwa hardcore punk menyelamatkan masa remaja saya sampai sekarang. Itu sebabnya saya mengenal Taqbir di hari ini, meski orang tua saya akan bilang bahwa hardcore punk adalah haram, tapi bagi saya itu adalah kehidupan provokatif yang memperlihatkan kenyataan kepada saya secara pribadi. Saya belajar nilai-nilai baru dan imajinasi yang tampaknya memiliki sisi positif bagi hidup saya sendiri. Saya melihat masa depan yang lebih baik dengan apapun yang bisa saya lakukan dan apa yang saya cintai. Dari sma3 sampai Aisha Qandisha, saya meyakini bahwa Taqbir adalah ancaman besar untuk mereka yang selalu membungkam perempuan, dan saya juga meyakini bahwa perempuan hidup bukan untuk diperbudak oleh institusi agama manapun.
Dalam EP yang berjudul Victory Belongs To Those Who Fight For A Right Cause, kita akan seketika gemetar dan takjub dengan teriakan perempuan yang berhati besar untuk pemberontakannya sendiri. Saya bisa menangkap dengan jelas mengapa sampul album Taqbir memuat gambar Ka'bah dengan bola besi yang menghantamnya,
Kita lahir sebagaimana manusia lainnya, memiliki kedudukan dan derajat yang sama. Jika pada zaman dan ajaran kapanpun itu sejak lahir perempuan harus disembunyikan atau dibunuh hidup-hidup, maka bagi saya saat ini perempuan harus hidup dengan semestinya, membunuh hidup-hidup segala ketakutan dan ancaman itu sendiri.
Saya pribadi menganggap hampir
semua agama bersifat patriarkis, homofobik, misoginis dan menindas
perempuan. Hal ini seharusnya
menjadi hal yang bisa tampak ke permukaan, apa gunanya melawan semua institusi tapi tidak dengan moralitas agama itu sendiri, yang sama-sama menindas kehidupan
perempuan sejak lahir. Saya tidak mengerti lagi jika pada akhirnya saya
dibungkam hanya karena mengkritik sesuatu yang menindas kehidupan perempuan dan bahkan manusia pada umumnya. Dengan seluruh
perjalanan saya, maka dengan
mendengar Taqbir, saya mengenal penderitaan, memiliki kekuatan untuk berdiri dan menentang penindasan yang sama- membalikan ketakutan. Hurriyah, Hurriyah, Insya Allah!
Profil: Seorang buruh di salah satu perusahaan penjual alat ibadah. Penabuh gendang di salah satu
grup Qasidah modern. Hanya
sedang berusaha menjalani hidup
B dengan sebaik mungkin, penuh
cinta dan kedamaian.
FEMI
e
IM MMa y P,.
i1I
FUUD
Media. Abooe Rise CorntiutorNannaa ndarotsgg lumesAad KelastinFhimu lki!CchiltbitchG.'. Pradlcankami Taro Covr A byKelastinLayouu byRise dia AliudpngSimmma anah Reani Fryadraga aasmnovii.yp
Kirim kritik, saran, dan “suara”mu ke: [email protected] @blackpepper.collective