Apa Penguasa Kira
“apa penguasa kira rakyat hidup hari ini saja” ~Wiji Thukul
Apa Penguasa Kira ialah judul dari puisi Wiji Thukul dalam pelarian yang diterbitkan oleh Tempo tahun 2013 berupa kumpulan puisi.
Kumpulan puisi ini menjadi pengantar untuk dapat merefleksikan situasi saat ini dan mengkomparasinya dengan apa yang terjadi di masa orde baru, menjadi pembelajaran bagi kita untuk bergerak dan berkarya. Karena, bukankah dewasa ini harusnya kita sudah mampu bergerak satu atau dua
langkah “lebih” dari kondisi sebelumnya? Atau, kita hanya berjalan memutar di tempat yang sama?
Pada bagian pertama zine ini memuat puisi-puisi yang dibikin Thukul selama pelarian. Bagian selanjutnya merupakan Puisi pilihan dengan judul "Sajak Suara" dan"Maklumat Penyair".
Penyusun : Woituah Ilustrasi oleh : Pilegroove
- Puisi Pelarian -
Wani, Bapakmu Harus Pergi
Wani, bapakmu harus pergi kalau teman-temanmu tanya kenapa bapakmu dicari-cari polisi jawab saja: “karena bapakku orang berani” kalau nanti ibu didatangi polisi lagi menangislah sekuatmu biar tetangga kanan kiri datang dan mengira ada pencuri masuk rumah kità
Kekuasaan yang
Sewenang-wenang
kekuasaan yang sewenang-wenang membuat rakyat selalu berjaga-jaga dan tak bisa tídur tenang
sampai mereka sendiri lupa batas usianya tiba
dan dalam diamya rakyat ternyata bekerja menyiapkan liang kuburnya lalu mereka bersorak ini kami siapkan untukmu tiran! penguasa yang lalim ketika mati tak ditangisi rakyatnya
sungguh memilukan kematian yang disyukuri dengan tepuk tangan
Hujan Malam Ini
Turun
hujan malam ini turun untuk melindungiku
intel-intel yang bergaji kecil pasti jengkel dengan yang memerintahmu
hujan malam ini turun untuk melindungiku
agar aku bisa istirahat ağar tenagaku pulih setelah berhari-hari lelah agar aku tetap segar dan menang
hujan malam ini turun untuk melindungiku
bunyi kodok dan desir angin membikin pelupuk mataku membesar
aku ngantuk dan ingin tidur biarlaħ para serdadu di ibukota berjaga-jaga dengan senapan M-16nya biarlah penguasa sibuk sendiri dengan ketakutannya karena telah mereka taruh sendiri bom waktu di mana-mana
mereka menciptakan musuh dan menembaknya sendiri
mereka menciptakan kerusuhan demi mengamánkannya sendiri
hujan malam ini turun untuk melindungiku
malam yang gelap ini untukku malam yang gelap ini selimutku
selamat tidur tanah airku selamat tidur anak-istriku saatnya akan tiba akan tiba bagi merdeka untuk semua
Apa Penguasa Kira
apa penguasa kira rakyat hidup hari ini saja
apa penguasa kira ingatan bisa dikubur dan dibendung dengan moncong tank
apa penguasa kira selamanya ia berkuasa tidak! tuntutan kita akan lebih panjang umur ketimbang usia penguasa
derita rakyat selalu lebih tua walau penguasa baru naik menggantí penguasa lama
umur derita rakyat panjangnya sepanjang umur peradaban
umur penguasa mana pernah mēlebihi tuanya umur batu akik yang dimuntahkan ledakan gunung berapi?
ingaan rakyat serupa bangunan candi kekejaman penguasa setiap jaman terbaca di setiap sudut dan sisi yang menjulang tinggi
Ayo Kita Tebakan!
ayo kita tebakan!
dia raja tapi tanpa mahkota punya pabrik punya istana coba tebak siapa dia? dia adalah aku!
dia kaya keluarganya punya saham di mana-mana
tapi negaranya rangking tiga
paling korup di dunia coba tebak siapa dia? dia adalah aku!
dia tua tapi ingin tetap berkuasa tak boleh ada calon lain selain dia kalau marah mengerahkan angkatan bersenjata rakyat kecil yang tak bersalah ditembak jidatnya coba tebak siapa dia? dia adalah aku!
dia sakti tapi pasti mati meski seakan tak bisa mati coba tebak siapa dia? dia adalah aku!
siapa aku? aku adalah diktator yang tak bisa tidur nyenyak!
- Puisi Pilihan -
Sajak Suara
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan
nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan apabila engkau memaksa diam aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata ialah yang mengajari aku bertanya dan pada akhirnya tidak bisa tidak engkau harus menjawabnya apābila engkau tetap bertahan aku akan memburumu seperti kutukan!
Maklumat Penyair
pernah bibir pecah ditinju tulang rusuk jadi mainan tumit sepatu tapi tak bisa mereka meremuk: kata-kataku!
seperti rampok mereka geledah aku darah tetes di baju tapi tak bisa mereka rebut senjataku: kata-kataku!
ketika aku diseret diancam penjara si kecil yang bernama ketakutan kutendang keluar dan kuserukan maklumat “kalian bisa bikin tubuhku lebam membiru tapi tak bisa kalian padamkan marahnya kepalan kata-kataku!"
窓と紙
WINDOW AND PAPER