SYAIR BURUNG BAYAN DENGAN BURUNG KARUANG
SYAIR BURLING BAYAN DENGAN BUR~G KAR~~\
\ _· \ L---··--
Pengkaji:
Ors. H. Ranlli Nawawi (Ketua/Anggota) H. Yohana (Anggota) Nurhasinah, B.A., (Anggota)
Penyempurna: I Made Puma
.. ~---"'· ,--·~:: ~ H~$F .\I I ,;t \ r. - ·. l ' . l... - "' ·:_:'._ - DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BAGIAN PROYEK PENELITIAN DAN PENGKAJIAN KEBUDAYAAN NUSANTARA 1993 r .. . (: ~· l ·. ·r .. Frft~ Df 1 , -- ·t';:\UDPAR ~''"-·- ·· ... ··-.. --·-~-~----'
KATA PENGANTAR
Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama diantaranya naskah yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan yang berjudul Syair Burung Bayan dengan Burung Karuang isinya membicarakan tentang watak dan kehidupan manusia yang pelakunya diperankan oleh berbagai jenis burung.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai kemasyarakatan, tidak sombong, nilai kasih dan lain-lain nilainilai sangat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil.
Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, semua saran untuk perbaikan yang disampaikan akan kami terima dengan senang ha ti.
Harapan kami, semoga buku ini dapat memberi sumbangan yang berarti dan bermanfaat serta dapat menambah wawasan budaya bagi para pembaca.
Kami mengucapkan terma kasih yang sebesar-besamya kepada para peneliti dan semua pihak atas jerih payah mereka yang telah membantu terwujudnya buku ini.
Jakarta, Juli 1993 Pemimpin Bagian Proyek Penelitian Dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
~~S!f Sri --Min tosih
NIP. 130 358 048
· ... l
SAMBUT AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAY AAN DEP ARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN
Usaha untuk mengetahui dan memahami kebudayaan daerah lain selain kebudayaan daerahnya sendiri baik lewat karya-karya sastra tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain merupakan sikap terpuji dalam rangka perwujudan integrasi nasional. Keterbukaan sedemikian itu akan membantu anggota inasyarakat untuk memperluas cakrawala pandangannya.
Untuk membantu mempermudah pembinaan sating pengertian dan memperluas cakrawala budaya dalam masyarakat majemuk itulah pemerintah telah melaksanakan berbagai program, baik dengan menerbitkan buku-buku yang bersumber dari naskah-naskah nusantara, maupun dengan usaha-usaha lain yang bersifat memperkenalkan kebudayaan daerah pada umumnya. Salah satu usaha itu adalah Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Mengingat arti pentingnya usaha terse but, saya dengan senang hati menyambut terbitnya buku yang berjudul Syair Burung Bayan Dengan Burung Karuang.
Saya mengharapkan dengan terbitnya buku ini. Maka penggalian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tradisional maupun dalam wujud kebudayaan yang lain yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dapat ditingkatkan sehingga tujuan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang kita laksanakan dapat segera tercapai.
Namun demikian perlu disadari bahwa buku-buku hasil penerbitan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini baru merupakan langkah awal. Kiranya kelemahan dan kekurangannya yang masih terdapat dalam pener· bitan ini dapat disempurnakan di masa yang akan datang.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini.
Direktur Jenderal Kebudayaan
Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP. 130 202 902 r.:I"""..._,.,_ ....... .,,,.,.,.~~~~ ----._...,__.~~~~~~~~~~ .......... ~-,,,,._-_._ .. -.:,~ ~ ·, ,, il•.1
DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ........................ . ... . iii SAMBUT AN DIREKTUR JENDERAL KEBUDA Y AAN .. v DAFTAR ISi ......... ..... . ................... . vii Bab I. Pendahuluan ............................ . 1 1. Latar Belakang ... .. .................. . 1 ' 2. Maksud dan Tujuan ..... .. ............ . 5 I 3. Ruang Llngkup dan Sumber Data ......... . 5 4. Metode Pengkajian . ................ : . . . 8 5. Pertanggungjawaban Penulisan ........... . 9 Bab 2. A1ih Aksara 11 Bab 3 . . Alih Bahasa 71 Bab 4. Kajian/Pengungkapan Nilai Tradisional dari lsi Nask.ah .................... : . . . . . . . . . . . . 129
Bab 5. Relevansi dan Peranannya dalam Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Nasional . . . . . . . . . . 140 Bab 6 .. Kesimpulan dan Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 147 1. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14 7 2. Saran .. . ........... : . . . . . . . . . . . . . . . . 148 Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 149
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Bela.kang Masalah
Usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat tidak dapat dilepaskan dari upaya penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang banyak tersebar di selurun Indonesia. Kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional, yang memberikan corak dan karakteristik kepribadian bangsa . Betapa pentingnya peranan kebudayaan daerah dalam pembangunan di sektor kebudayaan, hal ini jelas tentang di dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945, bahwa kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa.
Upaya menggali kebudayaan daerah memerlukan data clan informasi selengkap dan sebaik mungkin, sehingga keaneka ragaman kebudayaan daerah dapat dipadu untuk mewujudkan satu kesatuan budaya nasional. Unsur-unsur budaya daerah inilah yang memberikan corak monopluralistik Kebudayaan Nasional Indonesia yang beraneka ragam, tetapi pada dasamya adalah satu Bhineka Tunggal Ilea.
Salah satu sumber informasi kebudayaan daerah yang sangat penting artinya ialah naskah-naskah kuno atau buku lama. Naskah-naskah kuno atau buku lama itu merupakan arsip kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah. Sebagai sumber informasi kesejarahan dan kebudayaan daerah, naskah-naskah kuno atau buku lama memuat berbagai peristiwa bersejarah dan kronologi perkembangan masyarakat, sehingga dapat memberikan bahan rekonstruksi untuk memahami situasi dan kondisi yang ada pada masa kini dengan meninjau akar peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Sebagai sumber informasi sosial budaya, naskah kuno adalah salah satu unsur budaya terutama sebagai sumber warisan rohani yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat di mana naskah-naskah tersebut lahir dan mendapat dukungan.
Di berbagai daerah di Indonesia penulisan naskah kuno menggunakan bermacam-macam bahan, seperti Tai (ronta), bambu, daluang (kertas yang dibuat dari kulit kayu) dan bahan kertas biasa. Penulisannya semuanya dengan ditulis tangan. Sedangkan aksara yang dipakai bermacam-macam seperti aksara Jawa, Bali, Bugis, Rencong. Khusus di Kalimantan Selatan umumnya naskah kuno ditulis menggunakan huruf Arab dan memakai bahasa Melayu Ban jar.
Ditinjau dari isinya naskah-naskah kuno atau buku lama tersebut mengandung ide-ide, gagasan-gagasan · utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan seperti ajaran keagamaan; filsafat, perundang-undangan, usada, kesenian, sejarah dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai-nilai luhur yang dituturkan sesuai dengan tradisi masyarakat bersangkutan. Para pujangga terdahulu setiap berkarya tidak saja berkarya hanya berdasarkan fenomena yang lugas, imajinatif, dan fiktif yang diwujudkan lewat puisi dan prosa semata-mata, namun jup barus melayani misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sehubungan dengan itu maka upaya penelitian, penerjemahan dan pengkajian naskah-naskah kuno tersebut mutlak perlu dilakukan untuk dapat mengungkapkan nilai~ luhur yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya telah banyak usaba yang dilakukan untuk mengumpulkan naskah-naskah kuno, ada yang disimpan di perpustakaan-perpustakaan, maupun merupakan koleksi pribadi yang ada dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagian dari naskah baik yang terdapat di dalam negeri maupun di luar negeri tersebut telah ditransliterasikan ke dalam huruf Latin , dan banyak juga yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa asing.
Langkah selanjutnya yang sangat penting. adalah mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalain naskahnaskah tersebut melalui kegiatan pengkajian ~an penganalisaan. Selanjutnya diinformasikan kepada masyarakat luas guna menjalin saling pengertian di antara berbagai suku banpa yang ada di Indonesia, sehingga dengan demikian dapat mengbilangkan sifat-sifat etnocentris dan steriotipe yang berlebihan serta menghindari terjadinya prasangka sosial yang buruk. Yang menjadi permasalahan ialah belum meratanya kesadaran tentang arti dan pentingnya peranan naskah:..naskah kuno dalam rangka Pembangunan Nasional secara keseluruhan. Bahkan ada kecenderungan semakin tersisihnya naskah-naskah kuno ini sehubungan dengan semakin giatnya usaha pengadopsian teknologi dan ilmu pengetahuan yang diadopsi dari budaya asing, dan semakin langkanya orang-orang yang menekuni dan memahami naskahnaskah kuno tersebut. Pengadopsian teknologi dan ilmu pengetahuan memang diperlukan untuk mempercepat proses pembangunan, tetapi proses itu akhirnya menuntut penyesuaian sosial budaya dalam proses penyerapannya, untuk menghindari timbulnya kesenjangan budaya.
Dalam hal ini, naskah~naskah kuno selain menyediakan data '""dan informasi tentang sosial budaya masyarakat, juga memiliki kekayaan untuk pendewasaan mental yang dapat menjadi penangkal terhadap ekses-ekses yang ditirnbulkan oleh teknologi dan ilrnu pengetahuan modern.
Bertolak dari kenyataan itu , maka konsepsi pembangunan yang diterapkan di negara kita adalah konsep keselarasan dan ·keseimbangan lahir dan batin. Di sinilah arti pentingnya naskahnaskah kuno sebagai sumber informasi yang dapat dijadikan kerangka acuan bagi suatu pengambilan keputusan , di samping naskah kuno itu sendiri merupakan obyek pembangunan, dalam arti sasaran yang harus dikaji dan dilestarikan ke beradaannya.
Ada beberapa masalah yang berkaitan dengan naskah kuno sampai dewasa ini, yakni:
a. Masih banyak naskah yang sekarang masih disimpan di rumah-rumah penduduk, bukan untuk dibaca melainkan unfak disimpan sebagai benda-benda pusaka orang-orang tua yang harus ditawat secara turun temurun . Padahal naskahnaskah tersebut umurnnya terbuat dari bahan yang mudah rusak dimakan bubuk, maupun rusak oleh suhu udara. Lama kelamaan akan semakin hancur dan tidak dapat dibaca lagi.
b. Jumlah orang yang bisa menulis naskah dan membaca secara tradisional kian berkurang dan pada akhirnya akan · habis. Tradisi pernaskahan di daerah akan mati, sedangkan sebenarnya dalam tradisi itu terkandung nilai-nilai pendidikan masyarakat yang sangat baik dan tinggi nilainya. Ini berarti kita akan kehilangan unsur kebudayaan nasional yang sanga t berharga.
c. Jumlah ahli sastra yang menggarap naskah kuno masih sedikit, sehingga penggalian isi naskah-naskah itu sangat lamban dan tidak segera dapat diketahui oleh masyarakat umum. Di daerah-daerah umumnya minat kaum muda untuk menjadi ahli bidang pernaskahan juga sangat kecil.
d. Banyak naskah lama yang lepas dari pemiliknya, dibeli oleh orang-orang asing dan dibawa ke luar negeri unruk diperdagangkan sebagai barang antik atau dijual ke perpustakaan-perpustakaan dengan harga yang sangat tinggi. Dalam hal ini, pemilik naskah tidak menyadari pentingnya naskah kuno sebagai cagar budaya bangsa dan lebih mementingkan uang untuk kepentingan pribadi.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud kegiatan melakukan alih aksara dan alih bahasa serta pengkajian terhadap naskah kuno ini adalah agar hasil karya peninggalan masa lalu yang umumnya tidak dipahami isinya oleh masyarakat tersebut bisa diketahui, sehingga berguna untuk menambah pengetahuan masyarakat.
Sementara itu kegiatan penulisan naskah ini bertujuan dapat melestarikan naskah-naskah kuno yang terdapat di masyarakat. Kalau hal ini tidak segera dilakukan maka akan terjadi hilangnya informasi yang terdapat dalam naskah-naskah terse but, karena naskah-naskah ini umumnya tidak terpelihara dengan baik, sehingga umumnya diancam oleh kerusakan atau hilang.
Tujuan lainnya agar Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional selaku lembaga pengelola yang berada di pusat serta Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional yang ada di daerah dapat menyediakan data informasi kebudayaan untu.k keperluan pelaksanaan kebudayaan , pendidikan dan masyarakat pada umumnya.
1.3 Ruang Lingkup dan Sumber Data
Propinsi Kalimantan Selatan yang luasnya 37.660 km persegi saat ini menurut sensus tahun 1990 berpenduduk 2.597.572 jiwa. Penduduk yang dominan terdiri dari orang Banjar tersebut umumnya beragama Islam. Agama Islam yang secara resmi menjadi agama masyarakat sejak awal abad ke-16, yakni sejak lahirnya Kerajaan Banjar di bawah Sultan Suriansyah, banyak mewariskan perkembangan budaya yang bernapaskan atau bercirikan keislaman. Perkembangan Islam di daerah ini pula yang memberikan kemampuan menulis yang pertama dengan menggunakan huruf Arab. Ajaran Islam yang dikembangkan berdasarkan kitab-kitab berbahasa Arab yang dipelajari di pengajian, namun bahasa Arab tidak banyak berkembang dan memasyarakat seperti halnya aksara Arab yang umumnya dikuasai terutama untuk kemampuan membaca. Hal ini juga banyak berkaitan dengan tuntutan dalam Islam agar pemelUlmya dapat membaca Al Qur'an.
Sejak adanya kemampuan baca tulis di masyarakat dengan menggunakan aksara Arab tersebut, diduga sejak itulah mulai lahir tulisan-tulisan berupa naskah kuno di daerah ini. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, seperti:
a. Semua naskah kuno yang terdapat di daerah ini ditulis dalam aksara Arab. Umumnya menggunakan bahasa MelayuBanjar dan hanya khusus untuk kitab-kitab agama yang menggunakan bahasa Arab.
b. Ceritera naskah yang ditulis termasuk pula tentang kerajaan dan kehidupan raja-raja yang berkuasa sebelum Islam di daerah ini. Hal ini merupakan upaya penulisan ceritera yang diwariskan turun temurun selama beberapa generasi secara lisan. Akibat pewarisan dengan lisan-inilah, sehingga kemudian berkembang versi-versi yang ada perbedaan untUK masing-masing daerah dalam menggambarkan kehidupan kerajaan dan raja-raja yang sama dalam beberapa naskah yang terdapat di daerah ini. lni salah satu bukti bahwa naskah-naskah tersebut ditulis lama sesudah kerajaan dan rajaraja tersebut berlalu. Contohnya tentang naskah Hikayat Banjar atau naskah Hikayat Lam bung Mangkurat.
c. Isi naskah kuno dari Kalimantan Selatan umumnya tentang kehidupan dalam Islam, falsaf ah a tau pandangan sofi Islam dalam melihat kehidupan masyarakatny(h
Banyaknya naskah kuno di daerah ini yang sudah dapat diinventarisir sudah berjumlah 50 buah lebih. Sebagian besar sudah disimpan di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Semuanya ditulis dalam dengan aksara Arab dalain bahasa Melayu-Banjar. Sebagian dari naskah tersebut sudah tidak lengkap lagi lembar halamannya, atau hilang pada bagian akhimya.
Khusus ruang lingkup materi tentang naskah kuno yang dibahas ini dapat diuraikan sebagai berikut:
Judul naskah adalah Syair Burung Bangau dengan Swung Karuang. Nama judul tersebut diambil dari Daftar Naskah KWlO Koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Sela tan. Sedangkan pada naskahnya sendiri tidak mencantumkan atau tidak terdapat judulnya.
Tim pengkajian naskah memilih Syair Burung Bangau dengan Burung Karuang untuk dibahas saat ini terutama karena naskah ini · lembarannya masih lengkap. Tidak sangat tebal seperti naskah lainnya, sehingga sepadan dengan waktu penggarapan yang tersedia.
Penuli_s naskah maupun pemiliknya yang pertama tidak diketahui. Terakhir naskah ini menjadi milik Museum Negeri Banjarbaru yang didapatkan dengan jalan memberikan ganti rugi sekedarnya kepada orang yang menyerahkannya (nama tidak tercatat)... Naskah ini sekarang ditempatkan di salah satu ruangan khusus bersama-sama dengan naskah-naskah lainnya yang ~njadi tanggungjawab Seksi Koleksi.
Naskah kuno yang diberi judul Syair Burung Bangciu dengan Burung Karuang ini tercatat sebagai koleksi dengan Nomor 4898. Menurut jenisnya maka naskah ini ditulis dalain bentuk puisi, yakni berupa syair.
Ada data-data tentang naskah ini yang tid&k ""dapat _ diketahui, seperti kapan tanggal atau waktu penulisannya. Tentang ini tidak terdapat baik pada kulit naskah maupun dalam kalimat atau kata-kata yang terdapat dalam isi naskah. Demikian juga temang tempat di mana naskah ini ditulis tidak ada catatan atau petunjuk yang terdapat dalam isi naskah.
Ukuran naskah syair ini terdiri atas panjang 20,5 cm, lebar 16 cm dan-tebal kurang lebih I cm. Jumlah ~fill ~ah ada
71. Sedangkan jumlah baris rata-rata pada setiap halaman ada 15 baris termasuk halaman pertama, kecuali halaman akhir hanya terdiri atas 7 baris. Jenis tulisan atau aksara yang dipakai adalah aksara Arab. Panjang baris pada setiap halaman berkisar antara 12 cm hingga 14 cm. Alas tulis yang dipakai adalah kertas. Ditulis tangan dengan menggunakan mata pena dengan tinta warna hitam. Naskah ini tidak ada hiasannya. Demikian juga tentang kertas yang dipakai tidak ada petunjuk tentang cap kertas yang dipakai, juga tidak terdapat garis tebal dan garis ti pis.
Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa jarak antara baris pertama dengan baris terakhir dalam satu halaman ada 17 cm, nomor halaman seluruhnya terdapat di bagian tengah atas menggunakan angka Arab. Tidak terdapat nomor halaman tempat hiasan dan tidak ada tanda-tanda pemandu untuk petunjuk tempat baris. Sementara kesan umum tentang keadaan naskah adalah tulisannya masih jelas, hanya kertasnya sudah berwarna agak kekuning-kuningan. Catatan lain yang dapat dicantumkan bahwa naskah ini sudah menjadi milik Museum Lambung Mang kurat Banjarbaru, dan naskah ini tercatat dalam sebuah buku Daftar Naskah Kuno Daerah Kalimantan Selatan.
1.4 Metode Pengkajian
Metode pengkajian yang digunakan adalah metode analisa isi. Sehubungan dengan ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan dimulai dengan mengumpulkan berbagai macam naskah, kemudian sesuai dengan kepentingannya menetapkan naskah mana yang perlu digarap lebih dahulu. Sebagai tolok ukur untuk menetapkan pentingnya sebuah naskah dapat dilihat apakah naskah tersebut belum pernah digarap atau diteliti; isinya bermanfaat untuk diketahui masyarakat; serta diperhitungkan juga tentang tua:nya naskah, lengkapnya naskah dan jelasnya hurufhuruf dalam naskah tersebut.
Selanjutnya melakukan translit kehuruf Latin, kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Barulah melakukan pengkajian dan penganalisaan meliputi latar belakang dan isi naskah, dikaitkan dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang terdapat dan berkembang di masyarakat.
1.5 Pertangungjawaban Penulisan
Langkah pertama yang dilakukan Tim untuk penggarapan naskah ini adalah mengadakan kunjungan ke Musewn Negeri Lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru untuk mendapatkan data tentang naskah kuno yang ada di Museum. Dari koleksi yang terdapat di Museum tersebut dapat disimpulkan bahwa semua naskah kuno yang berjwnlah tiga puluhan itu semuanya ditulis dalam aksara Arab dengan bahasa Banjar (Melayu) lama. Umumnya naskah-naskah tersebut ditulis dalam bentuk syair. Ada beberapa naskah yang sudah dialihaksarakan dan dialihbahasakan . Hal itu dilakukan lebih dahulu, karena isinya tentang hal-hal ajaran Islam atau ceritera tentang sejarah daerah.
Naskah-naskah tersebut banyak yang sudah tidak lengkap lagi halamannya. Ada juga yang tulisannya sudah kabur, sehingga memerlukan kejelian dalam membacanya.
Pertimbangan Tim memilih Syair Burung Bangau dengan Burung Karuang dalam kegiatan pengungkapan nilai budaya dari naskah kuno ini, adalah di samping naskah ini belum pernah diteliti atau dialihaksarakan dan dialihbahasakan, juga merupakan salah satu naskah yang halamannya lengkap serta mempunyai jumlah halaman yang tidak terlalu tebal j-uga tidak terlalu tipis dan hanya terdiri atas satu jilid/satu naskah saja. Demikian juga penulisannya, walaupun ditulis tangan tetapi penulisan huruf-hurufnya jelas sehingga lebih mudah membacanya.
Urutan kegiatan selanjutnya sesudah pemilihan naskah tersebut, maka Tim melakukan alih aksara dari tulisan Arab ke tulisan Latin . Selanjutnya melakukan kegiatan pengalihan bahasa dari bahasa Banjar ke bahasa Indonesia. Kegiatan-kegiatan dimaksud dilakukan secara bersama oleh Tim penulis, yakni setiap anggota tim telah melakukan kegiatannya sesuai dengan tugas masing-masing, namun dalam melaksanakan kegiatan tersebut selalu melakukn konsultasi sesama anggota Tim. Apabila terdapat hal-hal yang meragukan atau ada tulisan yang sulit dipecahkan atau dipahami, maka hal-hal tersebut selalu didiskusikan.
< Khusus bagi Ketua Tim maka di samping mengatur penugasan kegiatan yang harus dilakukan dan mengkoordinasikan semua kegiatan penulisan, juga bertanggung jawab atas penyelesaian tentang kajian isi naskah serta masalah relevansi dan peranan isi naskah kajian ini dalam pembinaan dan pengem bangan kebudayaan nasional pada umumnya.
Di samping itu, mengingat bahwa dalam kajian naskah ini banyak terdapat istilah-istilah bahasa daerah Banjar lama yang sudah terasa asing karena sudah tidak dipakai lagi oleh masyarakat, maka Tim juga melibatkan para ahli bahasa Indonesia yang banyak mengerti bahasa Banjar lama dalam kegiatan penerjemahan hasil aksara naskah tersebut ke bahasa Indonesia.
Selanjutnya tentang hal-hal lain berupa kegiatan yang tidak disebutkan dalam rangka pengkajian dan penulisan naskah ini, semuanya dikerjakan oleh para anggota Tim baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
Akhirnya ucapan terima kasih kepada Kepala Museum Negeri Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan yang telah bersedia memberikan informasi dan data-data kenaskahkunoan yang menjadi koleksi museum tersebut. Terima kasih pula kepada Pemimpin Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Ke- <. budayaan Nusantara Jakarta tahun 1991/1992 yang telah mem- : berikan kepercayaan kepada kami untuk mengerjakan penulisan naskah ini.
BAB II ALIH AKSARA
(1) Si burung sungsang lalu-lalu Kalau earl pinggir tapih kau Dari pada raminya orang barwayang Nonton banyak bukan kepalang Orang bany ak tiada terkira Dan bujang clan dara-dara Harl hampir kan siang Kandi di atasku dipangku dibuang Habis berbunyi agung gamelan Sekalian banyak datangan Si raja anggang sigra berperl Gamelan dipalu dengan lestarl Gamelan dipalu orang Tontonan banyak tiada terbilang Sakalian burung persidangan Si burung punai bangun di istana Burung putih lalu menjapai kasau Semuanya kukurlak tiupkan suling Sarubung panuh tiada yang lapang Terhimpun segala b~lantara
Gemuruh seperti teromp.et sugara Lalu berhenti orang bawayang Gamelan yang ada dipalu orang Didengar jamaah lemah lembutnya Banyak tiada lagi kabilangan adanya sekalian menteri Kita main bar rami-rami Ramainya bukan alang kapalang Sarobong jajallah pulang Hasilnya bilal pangulu tuan
(2) Habis terhimpun segala burung Ada berkata ber barung-barung Lalulah turun si raja anggang Marnakai sabuk seperti berjamang Pegang tiap raja bestari Membuang senyum ka kanan dan kiri Lalu benigal si raja anggang Ialulah si burung halang Halang berigal terlalu bingking Utas bersirat jari kelingking Halang berigal sangat pandainya Elok majlis barang lakunya Tersebut sekalian orang Ia beriga t kanan kiri Sudah penuh di dalam serobong Gemuruh seperti mega manggulung Parigal tamahir mamandang Perkeris tanduk malang di pinggan11; Ia baigal menari nari Gemuruh suara kakanan kiri Undurlah ia pada sekarang terlalu patuti juga dipandang Mamakai sabuk dan bersumping Lakunya seperti bertopeng Membuang senyum ka kiri kanan Tuntung berigal undurlah ianya
Ada yang rabah tertalantang Berlenggang lenggok kanan dan kiri
(3) Sekalian burung sang gagak lagi Mangga nti pula paruh batakuuk Sekalian burung pada bersorak Pambakal palung mengganti pula Dengan melata bersila-sila Turon ber igal burung belibis Lakunya patuh elok di majlis adapun akan si cuncuruak Elok majlis lakunya segala Ia ber igal terlalu laju Setengah gila mem bawa laku Melihatlah ia burung kakatua Di dalam batu talu dan dua tatkala orang bersorai itu Banyaklah kena bujang dan balu Sesudah tuntung undurlah ia Ia ber igal sing kujuk-kujuk Bukan kapinggir lalu manampik-nampik Mamakai kopiah atas kepala Laungnya merah atas kepala Ia ber igal terlalu ceplis Kiri kanan tangkis menangkis Berigallah ia dengan seketika Sekalian burung memandang murka Berlenggang lenggok memacah gulu Ber igal sambil maulu-ulu Anak itu sigera membawa Handak manawak Cuncuruah Kakatua melamar untuk buatku Serobung berlenggang orang baharu
(4) Kita bergembira bukan terkira-kira Ada yang terkana anak dara-dara . Geger gempar bukan seperti
Tumbak menusuk ganti berganti Adapun makan si cuncuruak Orang subalah banyaklah luka Si Cuncuruak sangat berani Kemari bersuduk siapa wani Adapun akan burung pialing lapun bukan berkeliling-keliling Larilah pula sikakatupi Kepalanya bincul japai menjapai Adapun akan burung pialau Punai tanah inilah ngarannya Ada ber undur ada bermara Tontonan setengah berhati Iara Tumbur bukahan para dan sunyi Banyak yang luka ada yang mati Membalas ia dengan seketika kalah-nasib dengan belungka Ia membalas kasana kasini . Tiada berpilih tamparku menganai Membawa ilmu terpaling-paling Lalu bersembunyi dirapun paring Dengan barunak bukah tarambahi Lalu bersembunyi dibawah kumpai lapun lari bardadahulu Melindungkan dirinya se aman-amannya
(5) Panawak orang kedusun raya Si burung putih membawa anak lapun bukah tiada bermandak Adapun akan pembakal palung Kehulu kehilir lawan pamangkung Halang sangat namanya halang Ia bertingkah tiada berselang Halang Tambunaw yang satu lagi Ilmunya, basar tak mau rugi Adapun pikakah itulah ngarannya Halat mahalat ta heran-heran
Adapun akan pikakah tua Hendak bertangguh tiada kawa Bertangguh jua seboleh-boleh l Tiadalah orang mau baampih Terkena batu tiada heran Dengan kuntotor berdansanak Sebabnya takut kena tawak Berdua dengan dibini tiung Katanya kemari takut mamangkung Itulah panglima sangat terbilang Kiri dan kanan tendang menendang I tulah panglima orang bahari Ia bertangguh dengan destari Ia bertangguh saling nyamannya Tangkap menangkap kiri dan kanan Dengan takut menurut berdua Setelah manggah dimapa jua Tangkap menangkap alih beralih Hinggalah paluh juga maleleh
(6) Pikakah tuha inilah mauk Tangkap menangkap sudahlah tuhuk Pikakah i tulah sanga t am arah Mencabutlah tangan sabalah Tiadalah orang mau berhenti Tikam menikam ganti berganti Segeralah turun si raja anggang Kataku ini dangarlah garang Si burung anggang raja bestari Kataku ini engkau dangari Orang kalahi itu ampihan Orang tontonan naikkan pulang Dangar palu pada sekarang Ia baigal menari-nari Ia terlalu sibuk Mencabut badik handak menyuduk Mukanya putih terbeliak marah
Badik ini merninta darah Geger gempar bukan seperti Banyaklah luka ada yang mati Berkata sambil memandang Baik berhenti pada sekarang Berkata sambil berdiri lakas berhenti engkau kelahi Mendengar titah anggang bangsawar Sepuluh mantuk sepuluh datang Turun baigal si kala Jiang Baigal yang sacara bahari
(7) Membuat lambat kanan dan kiri Raminya tiada lagi bangaran Masing-masing mem bawa kalakuan Tatkala sumbangan itupun datang Terpandang galuh karuang sekarang Meminang itu berbicara Memikat segala bala hen tara Surnbangan itu hati tiada senang Hati didalam tiada tanang Anggang itu panjang gulunya Didalam serobong banyak orangnya Berkata pula burung pialing Sadang dipasak didalain dinding Berkata pula si burung palung Muka dipandang sangat mencorong Sudahlah tun tung undur lestari Ia bar igal saling gan tian Gemuruh suara kiri dan kanan Terpandang kepada galuh karuang Rasanya sudah handak maminang Terpandang segala yang tuha-tuha Bicara jangan rnenjadi cidara liada keruan barang dipandang Tercinta kepada galuh karuang Segala Tontonan dipandanginya
Hanya keruang ketuju hatinya Siapakah itu terlalu bingking Sarnalarnah rasaku tiada terguring Anak siapakah yang tinggi galung Jakanya parak pasti ku gendong
(8) Cuncuruak berkata pulang Dimana tempat dimanakah gerang Berkata pula sikakatupi Dipandang lenyap patut sekali Berkata pula sikakatupi Kemakai bunil lagi barlipai Burung begal duduk menyarun Memandang orang banyak terhimpun Adapun akan burung pialing Marnandang terlalu karuang bingking Burung santar berkata pulang Terlalu patut lamun dipandang Amas murah kasuma ratu Jaka taparak lawan diaku Berkata siburung suwit Siapakah itu gerangan Siapakah itu galuh karuang Anak siapakah itu panjang rapi Jika parak aku takuni Anak siapakah berkalung batatai Jaka parak patut kujapai Sarnbil barundur kapinggir watun Hatiku sudah rasa diruntun Kasitu karnari sing kakarihing Mukanya seperti raja toping Siapakah itu berbaju habang Balukah ia atau bujang Terlalu bimbang rasa hatiku Pasti kujapai rob cahayaku Meminta sirih barang sadikit
(9) Meminta gambir barang sedikit Halang malam duduk tarpakur Tapihnya berkunir mengibur Datanglah merpati maura-ura Teriakan hati anak dara-dara Sangat pandainya si dalang merpati Ia pun jangan meminum kasini Sangat ramainya orang berwayang Akan arjuna dipinggir seberang Lakunnya berlucu bersungguh hati Berhenti dayang-dayang dan satwa Semar dan Bagong berhati pusang Katanya kemari ratu seberang Tengah malam hari ini sudah Yang punya gawi berhati gundah Pakai tatamba mata yang sakit Matanya kalat memandang kabur Memakai badik berhulu haur Terlalu harum bunyi suara Siapa mendengar berhati Iara Ia nyindin merawankan sanubari Terkejut mendengar merawankan sanubari Burung marpati pandai mandalang Serikandi dibawanya terbang Kehilangan mas biduri di perigi Semar dan Bagong turun kelahi Kedua itu turun berperang Inilah bemama belah sihirang Serobong rubuh serambi rabah Tuntunan banyak gugur katanah
(10) Tonggak tungkat banyak yang tanggal Gugur ketanah bertum bu ran Ada sapalih kuriakan Lain pekerti si tapai-tapai Lalu terlihat siburung punai Adapun akan si burung putih
Lalu terlihat si burung cenderawasih Adapun akan bayan terbilang Bergeraklah hatinya pada sekarang Bayan memandang lalulah handak Sekalian burung rata bersurak Hati bayan terlalu sakit Tubuh menyandang rasanya marait Bayan berkata dengan isteri Bagaimana juga pikirku ini Orang tuntunan semuanya gempar Gigir gem par kadengaran Anaknya banyak bertangisan Ia membungun dibawah rambai Ia menyasah tertinggih Turun kebatang handak bakamih Lalu menangkap kapinggir tapih Ia terpandang pada karuang Ruh sumangat rasanya hilang Memukul agung lalu termandak Mengatakan bayan hati rusak Kepada karuang sudah merikit Lalu memanggil pada serindit Aduh kakanda serindit padi Rasanya tiada tertahani
(11) Sarindit manyahut dengan perlahan Sabarkan dahulu hati dandaman Bayan tiada menaruh senang Tiada senang malam dan siang Tersebut pula suatu kabar Barulih ia mendengar kabar Kalalawar itu hendak tuntunan Anaknya banyak bertangisan Anaknya itu sangat kecilnya Ia tentu yang dibawanya Setelah sampai ketengah jalan Katanya berhenti orang bangsawan
Sepanjang jalan ia kelahi Bininya sangat memusuhi Ia kalahi tampar bertinjak Aduh adiku siburung bayan Tiadalah hilang karuang bangsawan Tercinta kepada galuh karuang Rasanya tiada akan tersandang Akan ceritera si kalalawar Pucuk pisang si kalalawar Hendak berjalan seperanakan Tuntunan urang berbangsawan Ada yang belum tanggal pusatnya Lalu di gendong oleh umanya Bertemu lawan burung Manbangan Kalalawar bulik manangah jalan Pisuh mamisuh ganti berganti Radung membalas dua kali Anak kampung anak napanak
(12) Bininya menyumpah berkukuriak Ia bertampar tiada bermandak Sepanjang jalan berhantak Tuhuk kelahi tiada terperi . Badung membadung berpuluh kali Tiadalah lagi kami se bu tkan Ia kelahi berserakan Tersebut pula bayan bestari Tercinta karuang muda perlente Galuh karuang kekasih cin ta Sedang mencari sejagat mata Gundah hatinya bertambah rawan Pikiran tiada lagi karuan Hatinya bayan tiadalah senang Siang dan malam masih terganang Ia kelahi lalu bersorak Habis terbalik lanjung iwak Ia kelahi berjajak anak
Tunjuk menunjuk ganti berganti Batisnya benjol balawi-lawi Akannya tingkah dan kalakuan Sebabnya itu hendak tuntunan Tunduk menangis kusur suri Bayan berpangsar sebegini mati Persis seperti tulisan nyata Karuang juga di mata-mata Berhampas-hampas di dalam peraduan Tercinta karuang emas tempayan Sebab tercinta galuh karuang Rasanya tiada berumur panjang
(13) Cinta bayan sudah terikat Meski berbagai penawar obat Karena akan galuh karuang Persis seperti bulan yang terang Kecil molek tubuhnya tipis Anak rambutnya melantik wills Elok majlis patut dipandang Gulunya lengkuk laksana wayang Cahaya amas intan parimata Rasanya hancur segala anggota Ia ini tiada karua pikir Dibawa berjalan hulu dan hilir Subhanallah untungku tuan Tercinta akan karuang muda perawan Rasanya hilang ruh sumaggat Pada karuang muda yang capat Jangankan senang bertambah melarat Terlalu patut lamun dipandang Matanya landap seperti bintang Bahunya bidang pinggangnya kurus Mukanya seperti bulan sehiris Tangannya lantik bagai dikerang Sirih dimakan berbayang-bayang Tumbahlah abdi yang lata
Dari pada sangat menaruh cinta Temyata untung kedatangan takdir Dangau air manajuga mengalir Bergantikah juga berlawasan Rasanya hilang nyawa dibadan Lemah segala tulang dan urat
(14) Tercin ta karuang kesuma ningrat Jikalau begini sepanjang-panjang Sangat tercinta kepada galuh karuan Cih Cih emas kesuma ratu Jika tiada sopan dan malu Bayan tiada karuan malam dan siang Tiada lama satumat barang Ya Allah emas hatiku rindu Manis seperti sakira madu Ya Allah karuang orang berbangsa Seumur hid up tiadalah bisa Jika umpama pudak dan pandan Ditirnang-timang dipermainkan Sakitnya hati bukan sebagai Bukannya kurang makan dan pakai Pastilah diri jadi mudharat Diri rasanya tiada tersandang Baiklah mati diriku gerang Sebegini belah rasa hatiku Pasti kubawa pada penghulu Mudahan berjodoh wan karuang Sebab nian sudah tersebut orang Emas dipandang yang dipinandu Mudahan hingga lakas berjudoh Hamba yang hina bimbanglah rasa Mudahan mati terkena siksa Galuh karuang muda perawan Dipeluk dicium atas ranjangan Urat dan tulang rasanya rakai Sebab nian maksut balumkan sampai
(15) Bayan berpikir di dalam hati Hendak berdatang sopan sendiri Aduh saudara akan sarindik sungsang Tiada akan lama barang sekarang Aduh saudaraku sarindit padi Bawakan rupiah sepuluh bigi Jikalau kakanda kasubarang tentu Kepada karuang kasuma ratu Sarindik sigera menyahut kata Gampang sekali membuang harta Serindit melayang kesubarang Lalulah naitu kemuka lawang Keruang berkata dengan perlahan dengan serindit berhadapan Galuh karung menjulung puan Tergenang karuang muda perlente Jadi memanggil serindit padi Tuanku pinjam akan kasubarang Manakuni akan galuh karuang Galuh karuangkiranya sudi Tanda mengikut kata yang pasti Unjukkan rupiah sepuluh buku Tanda mau lawan diaku Ditanyai saja supaya nyata Kakanda dahulu mendengar pata Membasuh muka singgah dibayang Cigera ditagur oleh karuang Duduk kemasi apalah tuan Suratlah lalu menjulung puan Mengenang serindit mengenang tuan
(16) Sirihnya kering tiada karuan Serindit mengangkat pada sekarang Sirihnya hidup lagi bergagang Perkata pula kalalawar karuang Adakah gawi kakang berilang Sigera menyahut sarindit padi
Bukannya ada yang beta cari Galuh karuang hatinya heran Datang kemari bersuruhan Sarindit menyahut sambil mengenang Manakuni akan galuh karuang Sarindit sangat pandai berkata Lemah lembut barang cerita inilah maksud bayan bestari Jikalau tuan kiranya sudi Kapur katuyung tolong bungkusan Jangan begitu kata pun kakang Gambirnya wangi kapurnya larang Apakah kerja kemari datang Boleh katakan pada sekarang Datang kemari besanlah gawi Beta disuruh bayan bestari Apakah maksud kakanda bayan Apakah tuan yang kekurangan Bayan menyuruh pada pun kakang Kalaunya mau boleh berdatang Harum manis membawa sabda Karena hendak meminta perhamba Hendak meminta perhambakan diri Pahalaran pakai membasuh kaki
(17) Inilah maksud bayan bangsawan Jikalau sudi adinda tuan Tuan pikirkan di dalam kalbu jikalau sudah kiranya mau Bayan berkirim minta sampaikan Jikalau kiranya tuan berkata Karuang berangkat dengan lestari Aku tiada hendak berlaki Karuang berkata berulang-ulang Baiklah aku membari kucing Karuang lari tapih disingsing Dalas kusalai ku garinting
Mengapa bayan begitu laku Rupanya jahat seperti hantu Bayan naini jangan kata begitu Hendak meminta perhambahan badan Jangan kiranya salah ambilan Akan cerita patik begitu lnilah rupiah sepuluh buku Kepada Karuang muda bangsawan Tetapi jangan sating gusaran Sarilc bermamai dan menuduhi Bayanpun jahat seperti babini Lalu berangkat serta menjalin Aku tak suka berlaki maling Katanya itu seperti anjing Tiada perduli mambarah karing Bayan tiada bandinganku Tiadalah patut lawan diaku Bencinya sangat rasanya aku
(18) Rupanya itu jahat terlalu Karuang berkata terlalu benci Aku tak mau mengambil laki Burung sarindit terlalu malu Serindit merasa akan dirinya Patuknya bayan membalit dagu Dibajah karuang sangat malunya Serindit sangat malunya sudah Berjajak ditangga batis sabalah Serindit datang berpelukan Ditegur oleh siburung bayan Serindit berkata dimuka lawang Dikatakannya patuk sama tang terlalu sangat malunya sudah Patuk membalit kebawah dagu Jalan sarindit angkuh kembali Batuk nya kait seperti taji Mandangar karuang kata begitu
Mernotong saja lawan diaku Dangannya bayan mematuknya membajah bayan membajah dirinya Bayan mantuk tiada berpadah Kepada bayan handak berpadah Hatinya amarah bertambah sopan Serindit menyahut dengan perlahan Kita pun ini mendapat berang Sama membalit kebawah wihang Karuang menampik serta membajak
(19) Serindit sangat malu sudah Berjajak ditangga batis sebalah · Serindit datang berpelukan Ditegur oleh siburung bayan Ia membajak sangat terlalu Tambahan patuk membelit dagu ltulah kata burung karuang Dikatakannya engkau orang terbuang Burung karuang ia tak mau Membari supan sangat terlalu Bayan itu hatinya gundah Air matanya cucurlah sudah Bayan barabah kaatas tilam Pikirannya bayan sebagai karam Bangunlah bayan pada sekarang Ia pun mantuk tiada berpadah Kepada bayan hendak berpadah Hatinya amarah batambah supan Serindit menyahut dengan perlahan Diserupakannya anjing dengan hantu Tiada berkata rasanya aku Disamakan anjing dengan binatang Tiada pan tas diam bil tunang Berganti-ganti membajah kamu Membajah engkau membajah aku Naik kedalam bertengabah
J
Sapu tanganku satu habislah basah _ Tunduk tingadah mata berpajam Rasanya hancur hati didalam Menjaemput carasmin jualan wangkang
(20) Lalu berduduk dari lalungkang Habis dilihat seluruh badan Salahnya patuk ada labihan Tubuhnya dipandang semuanya habis Putih kuning pinggangnya laris Serindit berkata malunya aku Janganlah diam dirimu itu Akupun malu bukan kepalang Dihadapan tunjuk orang berilang Serindit itu orang budiman Janganlah kiranya dirasa kan Berkata pula siburung pipit Kiranya bayan orang prajurit Uangnya banyak tiada terkira Tiadalah pantas karuang Mawada Ditating caramis semuanya terang Sedikit tiada berperbedaan Tetapi sudah nugraha tuhan Seperti gambar baru ditulis Dihampas carasmin lalu menangis Membajah engkau seperti hantu Supaya terbalas supan dan malu Demikian katanya burung karuang Muka rasanya kadap dan tarang Patut sekali barang kalakuan Karena sangat terdapat sopan Alrn pun malu jua sedikit Tambahan banyak baisi ringgit Seribu mas semuanya ada Dengan bayan samalah muda
(21) Karena sebab asalmulanya Tatkala sudah diparainya Burung karuang bercucuburan Laginya asal permulaan Bayanpun malu bukan kepalang Sebab selurong lagi sebatang Bayan berpikir didalam hati Malunya sangat bukan seperti Malunya ini sepanjang-panjang Akan budi sasanya sedang Inilah sudah untung diriku Karena patih orang piatu Bayan berpikir didalam hati Bercampur Iara berat hati Bayanpun sangat hatinya sakit Burung karuang pa tut katanya Ia tak mau kemudiannya Kepada bayan orang bangsawan Tiada pantas yang demikian Dibajah oleh burung karuang Menjadi bayan mestilah berang Bagaimana . jua diriku pasti Mudahan jangan terbawa mati Didangar oleh sekalian orang Sekarang tiada derita orang Sekarang ini mendapat malu Patut karuang tiada akan mau Berdiri duduk tiada berhenti Biarpun hidup rasanya mati Terdengar katanya burung serindit
22) Malunya basar bukan sedikit Ya ilahi tuhan Rabbul Izzati Malunya tiada lagi tertahani Aduh saudaraku sarindit sungsang Membalas malu pada karuang
Lalu berkata si kala liang Kamaluan adinda bukan sembarang Berkata pula burung keladi Ikam apakah lagi karuang cari Menyahut kata burung belatuk Karena bayan sikait patuk Apakah juga panglihat karuani Tetapi bayan janganlah goyang Mun karena karuang yang bijaksana Bayan bangsawan tiada berguna Rsanya gugur di atas langit Bagaimanajua halnya diri Mudahan karuang menjadi isteri Bagaimana juga akalku kakang Supaya ia datang seorang Mencari ilmu janganlah kurang Sampai kiamat tiadakan hilang Aku mendangar terlalu benci Bayan pun sugih lagi pengaji Kepada bayan datang menunduk Kepada aku tiada mematuk Maka demikian membajah orang Kamaluan itu terbalas pulang Aku mendangar sangat tarima Berat lagi diri yang hina
(23) Menyahut kata burung pihulu Jika karuang membajah diaku Berkata pula siburung palung Jika tiada diingat kampung Adapun akan siburung pipit Pingking parlente lagi prajurit Dirumahnya banyak yang muda Ada yang menyungkit bertenun renda Sekalian burung mendengar kata Karuang memberi malu semata L
_ ---~-~Ba --rajurit bingkingnya sedang I ~
-~,._--·-:- ---c-:v·':<"-·.......-r..,_..·~¥ • .,....~::c-~.---~ ... -, L. r OJTJE'
Benar berbini cakap membuang
Jika umpama bayan pangulir
Lawin kadang-warga pikirnya mungkir
Sekadar bayan orang piatu
Dengan bayan rumah bagapit Pantas ditampik ditimbang buhir Tempat kecijaman nyata bertentu
Mendengar kabar malunya aku
Rumahnya kutuken lawan halu
Sambil merangut rupanya murung
Rumahnya kutawak lawan puntung
Bisa menyulam bisa mengungkit
Bujang dan balu samuanya ada
Sapalih menyulam sam barada
Berhawasan terang kadangan nyata
Menampik bayan urang baharta
Mukanya elok sedang orang
Mengapa ditampik oleh karuang
fa ·berja:lan-kdwlu dan kehilir
..._ ____ i".2'.'2ti1'i1rtr-hfe'M'fl~:muanyatahu Karena bayan orang artawan Banyak berisi talam sasanggan Berkata pula burung kakatua Jika kaya, diaku bayan bermara Menyahut pula burung barunak Segenap teluk bergantung ancak berkata pula si damak-damak Jakanya bayan diaku hendak ·Menyahut pula siburungjujuk Lawan diaku maka bertuhuk Berkata pula si burak-burak Mesti barlaki akupun sarak Datanglah pula burung galatik Ia berjalan sing latik-latik Tiada pantas dibikin begitu
Galuh karuang salah arnbilah Dengan kulawarga sangat rarnahan Mendengar kabar dernikian pula Ku ulahkan tilarn tinggi seasta Jikanya bayan diaku hendak Pastilah tulusan barang sakahandak Barang haja aku pun serasa agak Peluk dan cium sekahandak Badakat bayan ia naini duduk Alrn tak heran pinggang manggaripuk Jakanya bayan diaku hendak Tiada perduli menjulung anak Bertapih rukuh kakamban batik Seperti kembang baru diputik
(25) Gelatik itu duduk berparak Ujar kabar tu burung barunak Menyahut kata burung kuldi Berluputan saja yang ditanyai Asam pauh widara pandan Burung bayan beroleh sopan Semuanya burung berkumpulan Kepada bayan yang kerindangan Burung gelatik berkata pulang Burung bayan yang sangat rindang Menyahut kata kalalayangan Rasanya hati karindangan Demikian lakunya sehari-hari Burung kakatua dai:i katutupi Sekalian burung semuanya datang Apakah kabar orang yang banyak Bayan beroleh malu bertindak Engkau ini salah pekerti Dangarlah tuan karni berperi Asalnya jangan widara padi Berdua dengan serindit padi
Ia berpan tun sating gan tian Jadi berkata yang demikian Bungas kanda dengan melati Salah tatamba membawa ma ti Adalah pauk tumbuh ditaluk Rasa ditampuh kambing randuk Burung gelatik burung keladi Puas berpantun inya beraksi Kerumah bayan inya bailang
(26) Burung katutut dan pipit hirang Serindit berkata dengan lestari Ilmu pitua adalah dicari Jikalau bayan hendak meminta Karena sidin tiada berdusta Janganlah engkau berdiam diri Tiada terganang kamu kemaluan diri Berkata bayan dengan perlahan Didalam hati buta dan panpan Sibarang apa tuan padahi Akal dan pikir didalam hati Berkata sambil bertangisan Beberapa sudah dan sopan Serindit berkata dengan lestari Ilmu pitua baik mencari Burung titikusan burung tiung Bayanpun jangan berdiam diri Pakai membalas kemaluan diri Kini paragam dapati nyata Dilain banyak sudah tercoba Tiada berguna memakan nasi Sehingga menangis setiap hari Aduhai tuan yang sekalian Barang suatu tiada pikiran Karena hamba bodoh sekali Banar pun hidup sebagai mati
Dangan serindit berhahadapan Dibajah oleh siperempuan Jangan engkau berdiam diri Janganlah sayang rupiah satali
(27) Bayan berangkat dengan sigeranya Terbang mencari peragam nininya Serindit berkata dengan lestari Badik sebilah yang melompati Bayan pun tarbang para kahulu Tempatnya paragam yang dituju Bayanpun terbang amat tangkasnya Menconto ilmu yang sebenamya Bayanpun terbang dengan lestari Ketempat paragam datanglah pasti Bayan itu datanglah tantu Paragam memandang berdiri kalbu Hidup cucunda beroleh malu Katanya paragam aduh cucuku Aduh cucuku bayan yang indah Membawa sabilah bakal parangnya Mencari ilmu yang sebenamya Aku ini sopan ekali Badik pusaka peninggal nini Hatinya gundah sangat terlalu Ilmu paragam hendak diconto Rumah paragam yang ditujunya Membawa sabilah bekal parangnya Tiada menoleh kanan dan kiri Beroleh sopan ulun pun naini Kepada paragam menundukkan gulu Apakah sakit engkau gucuku Karuang mambajah sangat terlalu Janganlah gundah didalam kalbu Engkau juga berhati gundah
(28) Kita berpegang kepada Allah Aduh cucuku bayan lestari Tempat perempuan didalam diri ltulah sangat terbilang ilmu Cobalah tuan pakai ilmuku llmujanganjauhmencari Tempatnya sangat sukar dicari Aduh cucuku muda utama Jikalau dipakai selama-lamanya Engkau pikirkan didalam kalbu Jahat dan baik boleh tentu Bayan menyahut aduh niniku Jikalau tiada terbalas malu Aduh cucuku bayan yang indah Sekalian maksud didalam musnah Jodomu itu kusangka mudah Engkau jangan berhati ngeri lilik oleh mu dilambung kiri Engkau jangan bersakit kalbu Sudah tercoba lagi dahulu Tempatnya ada ·didalam diri Kepada orang boleh tanyai Ilmuku itu sangat sayangnya Niscaya kasih orang selamanya Semuanya ilmu ada disitu Tetapi rukun saja dahulu terlalu sakit didalam kalbu Dibajah peremp uan . sangat terlalu Engkaupun jangan berhati gundah Perempuan itu pandai berserah
(29) Mamadahakan ilmu berbisik-bisik Bayan membawa sabilah badik Batunya lagi pula kupinta Engkau memakai jangan sembarang Batu lagi kupinta pulang
Bayan menyahut sambil memandang Meski dua rial ditambah pulang Terlalu malu ulun pun naini Kalau tiada menjadi bini Peragarn berkata pada sekarang Jikalau madam cucuku hilang Hadang dahulu cucuku pergi Tanda peragam engkau tinggali · Mahalarat cucuku jangan tiada Ilmu ditujukan yang tiga batik Supaya ilmu bertambah baik Dua rial uang salaka J angan berpadah kepada orang Dua rial mas uang Diriku jangan berhati goyang Asalnya malu rupanya hilang Dibajak oleh sibini-bini Ukurannya hilang dinegeri ini Cucuku jangan berhati goyang Baik dibunuh galuh karuang Janganlah handak membuang diri Malu tiada terbawa mati Tikar putih carinya ada
(30) Cucuku jangan suka sangka Bayan itu mudah mendapat Serta bemasi dan berhalarat Sekalian ilmu dipadahaka Sedikit jangan salah ambilan Paragam maajar bersungguh-sungguh Asalnya perempuan didalam tubuh Sumangatnya digaduh malam dan siang Cucuku jangan berhati goyang Semuanya habis dipadahanak Akan sumbunya lilin lalawangan Dayan kembali pada rumahnya
Serta mandi dari badannya Setelah bayan tatkala mandi Baik kedalam berminyak wangi Supaya ilmu menjadi tanda Mengaji ilmu akan ma'rifat Sekalian ilmu mudah didapat Kepada bayan disalinakan Kepada nafas kita himpunkan Cucu jangan berhati gopoh Semangatnya itu yang gaduh Marifatnya itu jangan goyang Tempat perempuan ada disaorang Engkau memulainya malam senayan Di muka lawang engkau hadapkan Manggusuk pinggang dengan kakinya Menyatu ibu pada ibunya Selain tilasan tapih barganti Barsurui rambut surui dibeli
(31) Bayan masuk kedalam peraduan Tercinta karuang muda perawan Sampailah waktu tengah malam Tercinta karuang terlalu dandam Kilatpun mancar sambung-sambungan Ujan ribut perlahan-lahan Sampailah waktunya dimata hari Melikis lilin panjang sejari Lilin dipusing kebelakang Latu berpasan pada umbayang Aduh saudara kuyang seri Galuh karuang tidur sendiri Setelah sudah yang demikian Berbagi bagi tingkah dan kelakuan Tersebut pula perkataan Berkaliling seorang orang badan Elok seperti perimata intan
Berbunyi guntur mandarasaang Rasanya hancur hati didalam Guruh jauh sahut-sahutan Turunlah angin masuk kabadan Bangunlah bayan wajah berseri Mengeluarkan umbayang didalam diri Umbayang turun kemuka lawang Minta ambilkan roh karuang Engkau kupinjam untuk karung ini Kedalam tubuhnya engkau masuk Burung bayan muda bangsawan Adatnya orang bercintaan Burung karuang kami sebutkan
(3 2) Didalam peraduaan seorang badan Karuang tidur malam sanayan Peram bung-am bung ada sekilan Karuang tidur malam selasa Terkejut terambung lebih seasta Mimpi kasiang tiada taguring Berdiri lalu rabah terpaling Tiadalah ia rasa-rasaan Memeluk pinggang mencium badan Lagi membujuk kata yang manis Badan rasanya handak menangis Karuang sangat berhati rawan Makan dan minum tiada karuan Tersandar pingsan galuh karuang Badan berjalan rasa umbayang Umbayang masuk menyerupai bayan Umbayang masuk kedalam badan Bermimpi dililit naga sakataraan Um bayang masuk kedalam dada Dibelit ular dan sawa Burung bayan rasabersanding Lalu mamakai pipilis dikaning
Nyata kakanda bayan bangsawan Serta maandak atas rabaan Seluruh tubuh dijapai habis Bayan pun bilang seperti iblis Tercinta kepada siburung bayan Berdiri kalu rabah kepingsan Pari pada sangat berhati pusang Roh sumangat sebagai hilang
(33) Gal uh karuang duduk terpakur Hati didalam sebagai hancur Jikalau begini diriku sekarang Lemah segala urat dan tulang Badannya sebagai kembang yang layu awaknya uyuh kepala ngalu Susah pikiran galuh karuang Lalu memanggil sitinjau garang Tinjau pun datang dengan bestari Apakah beta dipanggil kemari Karuang berkata dengan perlahan Mimpiku itu minta tangguhkan Galuh karuang sigra bersabda Limbah bermimpi dibelit naga Seumur hidup tiadalah bisa Tiada karuan laku dan tutur Rasanya tiada landanglah urur Tentu rasanya diperbuat orang Tilam dijajak rasa berlenggang Dari pada sangat menaruh rindu Kakanda bayan sangat terlalu Bersakit hati malam dan siang Kemari jua hampir sekarang Kepada karuang ia hampiri Adakah warta disuruh cari Cobalah akupun mehabarkan Bermimpi dibelit naga gumbara
Dangarlah aku bercerita ada Hatiku sakit tiada berhingga Tidur bermimpi dibelit naga
(34) Tinjau menyahut dangan bersigra Lalu berkataburung kakatua Tiada lawan yang aku dawa Burung pialau menyahut sudah Bermimpi dipatuk ular tanah orang berdayung tiada tertentu Harganya itu dua riyal sasuku Nuri menyahut sambil tertawa Pakai sangu madam karimba Menyahut kata siburung jujuk Bahu dan pinggang ada manggarupuk Galuh karuang tunduk tingadah Hati didalam terlalu gundah Berkata pula siburung nuri Jikalau tidur malam dini hari Orang berdatang tentulah ada Alm bermimpi dililit sawa Tiada jauh disitu jua Aku bermimpi tiga malam sudah Orang berda tang tiada kurinah Sudah menjahit bekal kelambu Muat berdua dalam nya ini Injam kalambu muat bardua Batahur hajat hendak berdewa Bardewa jangan terlalu mabuk Rasa ditampuh kambing randuk Suatu tiada menyahut madah Makin sehari makin bertambah Karuang jangan berdiam diri Bantal digandah tiga kali
(35) Niat hati mau manapak dadanya Betul-betul ma'rifatnya Pikiranku sikuncang kirap Hatinya bayan rasa terkirap Itulah ilmu urang bahari Tetapi aku meminta cari Ringgi t sasuku pakai pikaras Karena aku terlalu maras Burung bastari seraya bersabda Didalam cawan minyakku ada Minyakku tiada sebarang-barang Siapa meminta memberi parang Menyahut kata si damak-damak Lamun dipakai di urang banyak Adapun akan tinjau Papidatoan Jikalau tidur menggarak badannya lnilah tuan pakai doanya Bantalku masgandawari Badannya datang kemari Engkau jangan berhati peri Ringgi t sasuku ikam mem bari Serta segan tang mem bari baras Melihat engkau kurus dan kalas Aduh karuang bangsawan muda Peninggalan oleh arwah bunda Buluh perindu tanggungan halang Kalau terpalit menjadi pusang Akupun ada baisi minyak Siapakah melihat tentulah hendak Kehulu hilir mekabarakan
(36) Kepada burung yang sekalian Sekalian burung mendangan kabar Kepada bayan orang pendekar Tersebut pula murai clan nuri Burung putar burung kaladi
Burung bestari burung siwayang Katutupi tinjau dengan halang Sigera berkata siburung putar Kami banyak bertekun kabar Lalu keluar galuh karuang Ia berkata sambil memandang Berkata pada siburung binti Apakah mulanya gerang diri Siburung pipit seraya bersabda Apakah sakit didalam dada Menghabar karuang karindangan Galuh karuang hatinya gamar Terkena guna si ampar tikar Berkawan-kawan terbang menari-nari Karumah karuang datang bestari Kepada karuang ia berilang naiklah ia pada sarang Mengapa karuang tiada kaluar Galut ada bicara sukar Dilihatnya banyak orang bailang Katanya duduk sekalian kakang Aduh karuang muda parlente Kurun kalas badan kakanda ini Aduh karuang bangsawan muda Maka nian kalas muka kakanda
Sekalian burung balas memandang I -~J
(37) Karuang menyahut suaranya merdu Tolonglah kakang sekalian itu Galuh karuang rupanya tentu Adinda ini mendapat malu Garing berpilu tiga malam sudah Sambil menangis tunduk tengadah Asalnya rusak tiada tertentu Menjadi demikian rasa hatiku Didalam hati terlalu pusang
Burung nuri berkata pula Karena ini itu kelak adatnya Janganlah engkau berdiam diri Naik senja dibawa mandi Perkata burung galuh bayan Sekarang ini mendapat malu Terlalu sakit didalam kalbu Aduhai .. . kakang saudaraku Siang dan malam garing berpilu Selama kami ada membajah Pastilah bayan empunya tingkah Hancur luluh didalam kalbu Pastilah bayan orang berilmu Suatu tiada berhati senang Melihat lakunya burung karuang Aduh karuang bangsawan muda Engkau rawa jangan tiada Karindangan itu engk~u kurangi Serta be.rtudung da un kaladi Aku bahari ada karindangan
(38) Dibawa mandi kaburitjamban Lalu berpantun merak dan nuri Burung karuang muda bestari Orang ingga berjual kain Bukannya karuang gila dilain Benteng komandan dari kandangan Jikapun kami yang karindangan Karuang itu pula bersabda Tolong apakah kiranya adinda Kalau ada ilmu tuanku Kepada bayan yang jahat laku Nuri berkata menyahuti lnilah orang sangat pengaji Coba sini tuan bertakun Karena inya orang patakun
Baharu Jua rasanya nyaman Tergenang tempo lagi bahari Dangarlah tuan kami berperi Dibeli oleh anak Belanda Gila kepada si bayan muda Anak Belanda komandannya Kami mencari tatambanya Aduhai kakang mana yang ada Membalas malu didalam dada Pakai membalas supan dan malu Boleh gunakan supaya tentu Ada kepada siburung binti Bangun kadatu sampai kanini Sekarang ilmu sudah terhimpun Seberapa tamu sudah tersantun
(39) Menyahut kata sidara kuku Cama bar ajar lagi dahulu Huri berduduk lalu berkisar Kaina dibawa selembar tikar Dara kuku berkata pada sekarang Harganya isu terlalu larang Burung keladi menyahut madah Keris sebilah tiada akan susah Berkata pula siburung siter Siapa meminta memberi panjar Menyahut pula sicendrawasih Siapa meminta membawa tapih Berkata pula burung barunak Namanya itu sibuang anak Ujar umanya peninggal ayah Lawan diaku nyata saguru Tetapi mendapat dahulu aku Kepadam u aja kami berajar Serta ditambah sabilah pancar Tiada mendapat demikian garang
Keris sebilah beras segantang Kepada aku terlalu murah Asal memberi segantang uyah Minyakku ada aturan diajar Ratu terpilih pasti maunjir Aku ada baisi pakasih Orang memandang tantulah kasih Aku ada baisu minyak Kalau terpilih pastilah handak Tak dapat memakan nasi arwah
(40) Kemudian jangan menjapai kipayah Berkata pula sikalaliang Tatkala pipikau aruh berwayang Hujungmata sing kakarujut Itu makanya diputing sudut Burung buak pula berkata Inilah aku maajari sumpahan Terang bulan empat belas hari Cahayaku sebaik matahari Inilah sumpah orang bahasi Tetapi aku meminta ciri Burung pipikau menyahut pula Kalau berminyak ini dikata Sumpah ini baik sekali Tetapi aku minta ciri Memutuskan harap kepada Allah Aku bahari adalah rindang Rasa merujuk hujung pamantang Sebab nini ada membajah bubut Hati di dalam rasa kusut Aduh Karuang bangsawan rinda Kalu berminyak ini dikata Terangsampaikedinihari Rupaku seperti bidadari namanya sumpah matahari
Kupiah sabuku ilcan membari Alm ada baisi sumpah Lagi anum rahat tercuba Sudah terpakai lagi bahari Seringgit perak ikam memberi
( 41) Pipikau menyahut dengan sigranya Sumbaga angui berbalik Jikalau salah kita memilih Tmjau berundur kepinggir watun Biar tiada jadi bertahun Menyahut pula sidarakuku Apa kehendak di dalam hatimu llnm yang lain tiada berguna Berbuang-buang duit pikirannya Cobalah tuan yang mendangari Jikalau bertemu si laki-laki Dmuku itu rahat tercoba Kapur dan sirih jangan tiada Burung curiak sigra menyahut Berluputan aja yang ia sebut Sumbaga angui itu ngarannya Rupanya jahat panglihat baik Lamun mati menjadi warik Menjadi warik kada lab hakun P'atutlah ia menjadi ampun Kepada aku banyakkah ilmu Meski beroleh belah seribu Tiup dan tari tiada paedahnya Coba mencari yang satu nama Dmu ku sangat kusayangi Ditangap pasti menjadi laki Tatkala jaman aku lagi muda Cobalah tuan kalunya dusta Sidara kuku saat mengararnput Kami tiada hendak menurut
(42) Menyahut pula si tukun-tukun Ditangkap lamunnya hakun Laki-laki asalnya anamuk Meski tiada berisi ilmu Ada sepasal ilmu ku tuan Tetapi memakai bersuci badan Kain putih tilasan mandi Limbahnya itu membuang nasi Inilah ilmu yang sebenarnya Tetapi ikam sangat rukunnya Haripun sudah hampirlah petang Burung nuri dengan tiwayang Adapun burung si kalayangan Kalu begini lebatnya ujan Sekalian burung banyak pikiran Ia berduduk di pinggir wa tun . Kalau dipisuhinya meluluh simpun Lamun ditangkap ia kujuk Sebab ditangkap jadi berjudo Terlalu baik pakai keanuman Kain putih pakai tilasan Naik sesudah. bersuci diri Akan saratnya pirak dan besi Orang pun kasih sekaliannya Sama rupiah matan peraknya Sekalian burung handaklah pulang Katataguk siburung dandang Handuk mantuk kahujanan Dirnana jua akal menentukan Ada mematuk daun tebangan
(43) Tiada kuasa menaruhkan Burung pipikau meminta suluh Ujannya lebat angin mangguruh Adapun akan siburung jujuk Minyaknya habis setengah mangkuk
Setelah burung habis mantukan Burung katutut dan kalayangan Galuh karuang tinggal sendiri Tergenang Bayan wajah berseri Galuh karuang hatinya pusang Burung bayan juga terganang Gundahnya hati bukan kepalang Janganlah lipur bertambah pulang Karuang tidur seorang diri Bayan rasanya dihiga kiri Karena ja uh perjalanan Sebab jalannya selalu jauh Rasa ku lambat mahadang taduh Beroleh juluk seperti tunjuk Ia melikit lalulah mantuk Burung bantiung dan titikusan Burung nuri dan bubut utan Susah pikirnya di dalam hati Rasanya hendak mendatanginya Tiada karuan malam siang Roh sumangat rasanya hilang Tidur dan makan tiada senang Sangat terlalu durhakanya orang Tiada berteman dikasur seri Rasanya panas higa pipi
(44) Galuh karuang rusaklah badan Dikapur sirih disuapakan Dipeluk dicium bantal ruguling Siang malam tiada terguring Karuang menangis her kusur-kusur Tikar dan bantal habis terhambur Ia menangis tiada terperi Terpandang bayan wajah berseri Siang dan malam bertangisan Hendak mengunjir rasanya supan Tersandar pingsan galuh karuang
Karuang berpi.kir tunduk tangadah Sebab terkenang ada membajah Tamatlah pi.kir galuh karuang Pengrasaan duduk berdekat bayan Tesuapi bantal tutumpangan Pengrasaan ia bayan nang bing.king Tiada lepas bantal dibanting Berurai rambut berhunjur-hunjur Hatinya di dalam sebagai hancur Siang malam tiada berhenti Penglihat nyata di dalam mimpi Sangat tercinta si burung bayan Berdiri lalu rabah bertangisan Dari pada sangat berhati pusang Di dalam hatinya terlalu gundah Baiklah aku berkirim warkah Ia lalui duduk dari lulungkang
(45) Dengan segeranya menyurat kakang Galuh karuang duduk menyurat Sebarang apa ada pengingat Aluh karuang terlalu patut Kalam dan dawat segera dijumput Terse but pula bunyinya la yang Kebawah pangkat bayan terbilang Karuang menyurat beberapa ragam Dirinya sembah dengan salam Sem bah sujud ham ba yang hina Dibaca jangan diam saja lnilah sembah adinda datang Mudahan sampai pada sekarang Jikalau .kiranya kakanda sudi Sambil berpi.kir ia mengarang Di dalam tamsil dengan bara t Tetapi hati masihlah hirat Membuat kata yang lemah lembut Di dalam warkah habis tersebur
Minta perhambaan diri karuang Tetapi harap dibalas pulang Di dalam tamsil dengan gurindam Ta'zim wattakrim asubalatu wassalamu Mendapatkan bayan yang bijaksana Kalau menjadilah banyak rencana Dia dangan tarabang melayang Kepada kakanda persis gemilang Haraplah ampun bayan bestari
(46) Haraplah ampun gusti pangeran Menahankan sehat garing-garingan Adinda gating terlalu lawas Mencari dudukan sudah puas Tiada bertemu dudukan sakti Kalau kakanda ada mengaji Obat tatamba kalu nan ada Seboleh-boleh diharap juga Permintaan tiada bolehkan sabar Harap diconto obat penawar ltulah maksud abdi tuanku Tiadalah bisa membawa laku Kakanda ampun yang amat limpah Kepada kakanda ada membajah Jangan menjadi risau nan tuan Meminta tatamba adinda tuan Mehilangkan penyakit di dalam badan Badanpun jadi kurus dan kalas Membuang penyakit supaya waras Membuang penyakit di dalam diri Adinda rninta tatambai Menghilangkan penyakit di dalam dada Supaya waras badan adinda Supaya adinda lekaslah sigar Terlampir salah pada se bentar adinda ini terlalu bodo
Sembarang adat tiadalah tahu Perkataan patik banyak yang salah Jangan kiranya menjadi marah Kadar sedikit perkataan
(47) Saluh dialah yang damikian Seperti cerita orang bahari Saat disiksa kalu inya mari Gunung ringgit sukalah carai Sakit pula dandan terkurung Orang jawa dipelayaran Sakit menanggung Iara kasmaran Mendua hari memangku tuan Kamipun datang menghadap tuan Ikam bertungap di bawah sampan Meminta ampun barang kesalahan Kalau sulasih sepinggan dua Lamun ini kasih minta tatanda Jikalau kakanda pergi kemurung Lamunnya banar dandam terkurung Lamunnya mati berpanjangan Maulah orang demikian perkerti Tetapi kakanda sudah mengerti Ketiga puluh bekirtangan Selama tiada berpapandangan Berlayar tiada dengan pedoman Dibawa tidur makin ta'nyaman Ikam bertungap di bawah sampan Meminta ampun barang kesalahan Menahan memangku tuan Pada kakanda bayan bangsawan Bunga sukundi diujung paru Supaya adinda lekaslah sigar Tukarkan adinda peti berantai Maksud adinda harap sampai
(48) Peti berantai minta tukarkan Jikalau sampai maksudnya tuan Kalau mandi fatale pi.kir capat Jikalau sungguh .kiranya kasih Lemah lem but perkataan Mudahan kiranya disampaikan Ia menyurat sudahlah tamat karena sangat pandainya cepat Alamat ini surat minta sampaikan Dengan lakas-lakas itu pekerjaan Karuang memanggil sisinjau karang Tiada ikan lama barang sekarang layang ini engkau yang bawa Padahakan bangsa datang dijiwa layang anjurka dangan bestari J ualan oleh anak paruan Dunia akhirat ta' kabalasan Turunlah mandi kedingar batat Kakanda datang membawa akat Memohonkan ampun apalah tuan Kepada kakanda gusti pangeran Dengan sigra lalu dilipat Di luarnya pula ada alamat Dangan sigranya mudah-mudahan Kebawah pangkat bayan bangsawan Engkau kusuruh kasubarang Kepada sibayan anjurkan layang Janganlah lam bat sekarang jua Kepada kakang utama ji wa Kepada kakang yang baik budi
(49) Tiada yang lain diharapkan lagi Habislah sudah diwakilkan lapun terbang dengan perlahan Tinjaupun datang dangan sigranya Bayan menegur dangan bestari Apakah kerja adinda ini
Gawipun basar bukanlah mudah Disuruh orang membawa warkah Tinjau menjulung surat kiriman Kartas kuning berkakambangan Bayan berkata jangan perlahan Seperti laut punya bikinan lnilah kiriman galuh karuang Kiranya seperti buatan palembang Bayan barduduk dari lulungkang Menanti kasih kakanda_gusti Kepada tinjau jadi suruhan Lakunya manis mambari rawan Me~bawa bingkisan itu dirinya Naiklah tinjau duduk kemasi Tinjau menyahut basarlah gawi Kepada bayan burung yang indah Kepada kakanda mengaturkan sembah Bayan menyahut dengan perlahan Dawatnya emas girap-girapan Surat apakah yang demikian Bakuncir em as berkakam bangan Lipatan seperti cerebon semarang Baham ini aku memandang Membaca surat seorang orang
(50) Lalu dipanggil sarindit sungsang Bayan membaca surat kiriman Dangan sarindit berhadapan Atur sembah diri yang hina Berkirim warkah dikertas cina lnilah sembah hamba yang hina Galuh menjadi banyak rencana Sembah sujudku dangan takzim Disuruh mahadap muda alim Akan surat abdi lata Disuruh mehadap atas juwita Pikiran sudah tulus dan ihlas
Disuruh mehadap paduka emas Diri hina dipersembahkan Safaat nabi achirin zaman Dangarlah surat galuh karuang Di dalarnnya banyak perkataan Membari bimbang hati yang rawan Kepada bayan bijaksana Harapkah ampun bayan laksana Membaca jangan diam haja Fitnah banyak bawama-wama .di inayatullah rabbir Rahim Suatu tiada ada tanda pakirim Tempo menyurat rindu tercinta Menarangkan maksud supaya nyata Jacli membuat sepotong kertas Boleh terang didangar lakas Dangan takdir chaligur rahman 1<.akanda beroleh karuniaan
(51) Sembah sujud adinda tuan Sampaikan Allah mudah-mudahan Kakanda tuan orang berdosa Tiadakah takut akan berdosa Karena adinda terlalu bodo Sekarang adat tiadalah tahu Inilah mulanya adinda karang Menjadi mimpi berkirim layang Suatu lagi sembah adinda Jikalau maksud kiranya ada Karena adinda bersaki t ha ti Kakanda tuan ampun pekerti Dapat sangsara tiada terperi Obat tatamba sukar dicari Anak baginda membeli kain Kepada kakanda muda bangsawan Dengan sepenuh-penuhnya pengharapan Sediki t kada menim bang rasa
Mudahan mati terkena siksa Tiadalah bisa membawa laku Kakanda jangan menjadi pilu Tersalak mimpi pada sekarang Tiada kuasa tidur seorang Pada kakanda bangsawan muda Jangan ditaruh di dalam dada Siang dan tiada berhenti Baik dibunuh supaya mati Penyaki t masuk ke dalam diri Menanti sebab kakanda gusti Orang cian yang menjuali
(52) Pukannya gila lawan lainnya Kerahkan jua kota Malaka Jikalau tulus seujar sekata Tiada yang lain dia angan-angan Adinda turut lxlrang perkatran Adinda serahkan badan dan nyawa Umpama dibawa ke negerijawa Adinda mengikut tiadalah enggan Sakitnya sangat tiada tertahan Aduh kakanda bayan bestari Janganlah lambat beri lestari Diri adinda sanga t piasat Tiada senang orang sesifat Hendak mendapat barang sekarang Kakanda jangan berhati berang Gila kakanda yang menggunainya Kapan di jawa saya tarahkan Menanti kasih kakanda tuan Mana perintah tiadalah enggan Maski setia kemana kakanda bawa Adinda tuan mengikut jua Asal kiranya waraslah badan Salah tatamba jadi lantaran
Obat tatamba bawa kemari Supaya jangan rusaklah diri Kalau tiada diberi obat Dengan kakanda hendak berdapat Dengan kakanda persis gemilang Tiada berum ah di tanah orang
(53) Apakah guru bayan bestari Dipohonkan jangan berhati ngeri Inilah niat hambanya ini Jikalau ~gguh si laki-laki Itulah niat ham ba yang mi skin Dinihari waktunya dingin Tamatlah layang sudah sibaca Beriak-beriak bunyinya kata Sigera berkata burung belatuk Alm ta 'rigi berbau buruk Tinjau menyahut sambil merangut Miski berbau di bawah parut Belatuk itu menyahut pu1ang Apakah bahan itulah karang Belatuk itu berkata pulang Meminta obat tiada membari Janganlah takut membuang diri Kakanda tuan sudah mengerti Janganlah takut Iuka sejari Tidur tinda beralas kain Tambahan pula ditiup angin Olehnya bayan bangsawan muda Tamjatu obat larang barangnya Jalan tinjau ikan mantuk Dibawah pusat bunyi manggaluruk Belatuk ini sangat mengaremput Selawar yaitu terlalu lanjut Aduhai jing ditinjau karang Di bawah perut muka berlobang Aduhai tinj au umanya siamang
(54) Lawan diaku maukah garang Tinjau berkata bermangkal-mangkal Cerita ikan tiada berakal Tinjau pun lari tapih disingsing Anak tapatuk anak anjing Belatuk menyahut dengan lestari Baik dibawa kahutan sunyi Belatuk berkata sambil melucu Siang dan malam di dalam kelam bu Tinjau itu hatinya menyasak Baik aku berlaki siburak-burak Belatuk berkata sambil barparak. Tantu sulbimu rasa menyasak Karena burak-burak orang pendekar Baiklah guring kepalatar Marilah kita ke bawah pisang Muka belatuk ini anak kampung suadal Muha belatuk pinda bakal Terlalu jua anak siguntung Biar kusalai ku garin ting Diamuk jangan disimpani Dijulung kepada anjing dan babi Baiklah tinjau berlaki diaku Merasaijua pancuk mingkudo Belatu kanak tapatak Lawan diikam aku tak hendak Lamun ikam berlaki siburak-burak Sebab halunya lebih sakacak Halunya itu terlalu oosar Supaya tongkatnya jangan tagantar
(55) Tinjau menyahut dengan lestari Anjing belatuk aku tapaki Tinjau berkata berbagi Muha ikam ada kuliheni Bayan berkata dengan perlahan Belatuk itu jangan dilawan Burung bayan sigra berkiau Belatuk itu orang ranyau
Adapun akan tinjau bestari Dangan sekiranya ia kem bali Tinjau melayang ka subarang Bajunya putih belang hirang Tinjau datang dangan perlahan Menghabarkan hal surat kiriman Galuh karuang seorang diri Belatuk anak kampung babi Laki-laki ini handak sekali Belatuk itu kalu bawa kasini Belatuk berundur sing akai-akai Tinjau jangan berkalahian Karena belatuk gila-gilaan Aduh saudaraku sibunmg tinjau Jadi katanga bunyi berhayau Setelah ia mendangar dari K.asubarang terbang menarinari Hinggap dikertak titian panjang l.alulah naik pada sekarang Menghadap karuang emas tempawan Sampai diterima bayan bangsawan Tinjaupun datang dengan lestari
(56) Tirtjaupun sigra ditanyai Tersebut pula siburung bayan Surat tiada lepas ditangan Setelah tuntung bayan rrembaca Adalah masgul di dalam hatinya Pikiran bayan sudahlah tama t Berolah pantun sidangan hormat Bayan meatur sangat lah bingking Dawatlah perada kertasnya kuning Juru tulis bayan menyuruh layang Hati di dalam rasanya goyang Juru tulis bayan memcuat madah Beberapa bljuk di dalam warkat Duduk menyurat si burung bayan
Berbaik-baik perkataan Sudah surat dijulung tadi Iapun duduk dakat peraduan Memikirkan mem balas surat kiriman Surat kiriman demikian bunyinya Menjadi surat dibuka isinya Lalulah ia duduk menyurat Kepada karuang yang amat cepat Kertas cina sigra digunting Supaya karuang enggan berpaling Balas warkat gal uh karuang Inilah jadi dibalas pulang Mencari pikir tunduk tingadah Mengatakan diri yang sangat susah Bunyinya banyak di dalam tulisan Dari }llda sangat malu dan supan
(5 7) Setelah tuntung membuat tamsil Ia pun datang duduk dikatil Berkata bayan orang terbilang Engkau ini kupinjam pulang Sigra mendengar siburung barat Sampaikan kepada galuh kasikat Amunkah handak madam karimba Lamunnya sampai kasimpang dua Mendengar pula si bu rung pal ung Handak kagunung badua-duaan Ka ba tu piring ki ta berjalan Ki ta singgahan di rum ah paduka pa wang Kalau tiada terlihat orang Mendengar pula sikala liyang Kepada si rnolek si piki t hirang Burung serindit lalu dipanggil Serta lalu diberi wakil Ad uh kakanda serindi t sungsang Ma atarakan surat karuang Kami naini umpat bakirim surat
| Kalau mau ia mufakat | |
| Lamunnya mau sajukung badua | |
| Batakun hajat handak berdewa | j .. : -~ |
| Handak mufakat madar kagunung Lamun bertolak bersatubuhan | OLTA |
| Terhadap pondok kita singgahan | |
| Kita berduduk serta manginang | |
| Daging latihan diangkat pulang | |
| Kami umpat berkirim layang | Jo 0 |
| Jum'at kaina ambillah uang | |
| (58) Ambillah duit seringgit perak | ; .~ i, '~(j |
| Peluk dan cium sakakahandak | ;J: 'f !~.~1 |
| Mendengar pula siburung baru | |
| Padahakan kepada katutupi balu | ,''. i.. |
| Kurang ampat uang sesuku ambil kemari | |
| Kaina kubari nangkaya bandi | ., - .·'-· . . f I . : ~; ~ |
| Mendangar pula si burung suwit | |
| Padahakan kepada belatuk sanit | |
| Ambillah duit kapakan angkinang | praill |
| Disitulah banyak lakatan hirang | stirs) |
| Sekalian burung bertatawaan | it ·.;~~·)l |
| Rubuhan karuang perempuan | .·i :~d~12 |
| Tetapi cerita inilah dusta | |
| Maaf dan ampun sekalian kita | |
| Bayan berkata dengan sigranya | |
| Lamunnya sungguh berdangsanak | |
| Kaina kutambah rupiah batatak | |
| Lamun serindit seorang itu | drea |
| Ambillah dui t kurang am pat uangsuku | |
| Serta bawakan jaruk sasawi | |
| Kutambah ja am pat ikung wadi | |
| Aku barpasan jua sadiki t | size? |
| Kapakan angkinang ambillah duit | .~t.i ~-;;b |
| Galuh adinda handak malamang | ' ' i.l ;h ~j |
| Tetapi jangan berkawan orang | |
| Bubuhan bayan lalakian |
Masing-masingnya lawan hiburan Dimana ada burung berkata Laki-Jaki perempuan jangan merasa Kepada sarindit saudaranya
(59) Jangan didangar perkataannya Sarindit menyahut pada sekarang Maanjur surat angkin dipinggang Di pinggang angkin sekali -kali Sebabnya malunya tiada terperi Sarindit berkata dengan perlahan Baik belatuk tuan sembahkan Rayan berkata pada sekarang Mara kamari paduka kakang Aduh kakanda orang yang cepat Kepada karung kasuma ningrat Pelatuk berkata hidmat laku Surat lalu dijumput itu Belatuk melayang kasubarang - ----mnmir.wmimtakltitian panjang MlUK ltfe~il' lli ' ~. t yanya r·'""f"'V'1" 6t}ida'. f)~yl · fill a terbilang Sebab pian mafttp da karuang Maanjur surat ada bertanda ini Dipintajangan tadua kali Aduh Saudaraku bayan bangsawan Pakai maanjur surat kiriman Bur.ung belatuk dipanggil pulang Maukah kiranya maanjurkan layang Anurkan sebentar inilah surat Supaya jangan jadi mendarat Kakanda berjalan suka terlalu Serta dibuat ke dalam sak baju Bajunya putih basirat hirang Lalu bertemu si tinjau karang
. i -·
(60) Tinjau berkata sambil menjaling Ia menyumpah tapih disingsing Belatuk berkata dengan lestari Kita ini sepupu sekali Kita bakula tumat didatu - Kemudian kubari dua rial sasuku Pakai sangu katihang talu Tinjau berkata marah terlalu Kalu _ kutapak muha lawan habu Katanya belatuk janganlah ading Halu ditangan buang kahiring Burung tinjau mulutnya lantik Belatuk berundur sambil menoleh Karuang tarkajut didalam peraduan Lalu kaluar dengan perlahan lni pang datang anak si gunting Muha belatuk seperti anjing Janganlah ding janganlah adi Tumat didatu sampai kanini Kaina kubari ringgit sabuku Pakai adinda manukar kalambu Kita menghabiskan penjuluk mingkudu Mingkudu paninggal datu matimu Tinjau lalu manjumput halu Kaina aku menukarkan anting--anting Malam kaina aku mendagani guring Menyumpah sambil barsingsing tapih Ia tertawa tar kamih-kamih Mandangar tinjau berjajawapan Katan ya jangan berkalahian
(61) la berkata manis kelakuan Belatuk itu jangan dilawan Belatuk berkata pada sekarang Kami ini membawa layang Surat dijulung dengan lestari tiada menoleh kanan dan kiri Tiada terse but burung balatuk Datang kepada bayan yang elok Tersebut karuang amasjuwita Sasteranya melayu bukannya jawa Salamullah alad dawamu Kertas kuning dibuat ragam Salam ta 'zim kakanda datang Jatuh kaharibaan amat cemerlang Jadi kakanda berkirim layang Wahai tinjau adinda tuan Kalu belatuk ada bawaan Tarlalu culas tinjau karang Disuruh oleh bayan terbilang Belatuk itu sigra kembali Mantuk menuju bayan bertari Karena ia sudahlah man tuk Dangan bayan bersama duduk Surat kiriman lalu di buka Hatinya gundah sambil membaca Wa madamatil laili wal ayyami Pantunnya bersama dangan gurindam Dibawa angin terbang melayang Dip in ta jangan berhati walang Sangat berahinya · bukan kepalang
(62) Mudahan sampai pada sekarang Jadi kakanda min ta sampaikan Taqdir berlaku yang damikian Tiada berkata adinda ratu Tambahan miskin lagi piatu Tiada berguna diriku gerang Hendak kepada orang terbilang Adinda tuan yang bijaksana Sedang mencari kemana-mana Tiada berguna diriku tuan
Diri yang miskin manruh rawan Jadi kakanda berkirim surat Seribu Allah puji dibuat Cih amas kasuma gusti Sedang mencari kasana kasini Datang menghadap intan dikarang Kepada adinda intan cumbuan Diripun hina lagi buangan Sebab kakanda orang yang bodo Tiada barguna rasa badanku Diri yang miskin tiasda beruang Patut disumpahi oleh karuang Lagi tuan bingking mandaraguna Seperti in tan kumala ratna Tambahan tempat tiada karuan Rasanya tiada berkasudahan Kepada adinda kasuma ningrat Menyampaikan pesan yang rindu harat Menjadi apa diriku ini Hanya adinda pamutus hati
(63) Selama kakanda dihidupkan Allah Mendapat suka balum paranah Gundahnya hati bukan terperi Seperti ini jadinya diri Subhanallah celakanya badan Adinda juga punya buatan Air ma ta jatuh tiada berhenti Jika diturutkan kahandak hati Aduh ratu mas bintang sawasa Menaruh rindu tiada bermasa Peri terganang adinda tuan Turun ketanah memandang bulan Emas me rah kasuma ningra t Dibawa berzikir serta keringat Selama kakanda berhati rindang
Didalam dunia lamalah sudah Hanya menaruh rawan dan gundah Beberapa sudah lamanya hari Tetapi sudah tuhan memberi Air mata jatuh berhamburan Ampat belas hari tiada makan Malu bercampur Iara berganti Sampailah ajal diriku mati Si kecil molek timbanglah rasa Jikalau lama tentu binasa Tiada lupanya berlawas-lawasan Hati berombah bagai lautan Beberapa lamanya tiada melihat Jangan berampih makin berbangat Tamsilkan rumput ditengah padang
(64) Jikalau dapat hangat yang kancang Dandam rindu terlalu sangat Lanyap pikiran hilang.pengingat tatkala kakanda duduk terpakur Hanya air ma ta juga yang cucur Handak bailang jalannya jauh Mandangar angin ujar mangguruh Sudahlah untung pasti diriku Terkenang adinda demikian laku Sudahnya untung napasnya badan Terganang adinda yang damikian Tatapi janji dariku sudah . Sekadar adinda terlanjur salah Kakanda terdangar didalam warkah Obat dicari bukannya mudah Daunnya luruh tertinggal batang Didalam hati bagai kiamat · rasanya tiada bersumangat Mata yang kalat tak mau tidur Didalam hati rasanya hancur
Barpasan tiada yang disuruh Tangkai jantung rnsanya luruh Terkurang sakit terlebih malu Rasanya buruk mendalam kalbu Terkurang sakit terlebih sopan Sebaik buruk mendalam badan Terkurang malu terlebih susah Jangan menyasal ratu mas merah Rasa diruntuh didalam musnah Ditikin hati lalu barabah
(65) Hati kakanda rasanya hibak Penyakit ditim bang basar kahandak Tamsil perahu karam dilaut Karena janji sudah tersangkut Tamsil kalayangan pagat talinya Kertasnya hancur tinggal rangkainya Air mata jatuh berlinang-linang Hatipun kusut seperti banang Beberapa lama bersandang kasih Umpama berhalat gunung bartindih Kakanda terkenang sudahlah nyata Rupapun jahat se mata-mata Kakanda ini sudah terbuang Tambahan lagi tiada beruang Jikalau adinda hendaklah tahu Didalam hati rasanya sasak Salah tatamba jadi manyamak Siapa yang harus lagi menyambut Jangan dilapas kakanda bapingkut Derita jatuh disitu tempatnya Jadi bercinta tiada putusnya tiada akan putus hati mengganang Makan sasuap rasanya kanyang Tercintakan adinda muda yang putih Dibawa bertemu maka berampih
Janganlah lagi di cita-cita Tetapinya he bat baik senjata Janganlah lagi diganang-ganang Patut dibajah oleh keruang Akannya hati kakanda itu
(66) Rayan tiada dua dan tiga Ji.kalau hendak tahu sekarang lbulah rupanya membajah orang Surat adinda minta tatamba Kalau marasa atau tiada Galuh karuang membaca warkah Hati didalam terlalu gundah Galuh karuang sakit hatinya Makin bertambah sopan malunya Kapal berlayar datang di Aceh Katanya karuang banarlah kasih Sayang sadi.kit sampannya pecah Kakanda berdatang maka dibajah Anak kapiting diatas baru Orang miskin yatim piatu Coba kasubarang tuan berlaku Akan pahatian orang subarang Seumur hidup tak mau hilang Kasubarang aja ber coba-coba Akannya penyakit didalam dada Lemah lembutnya bunyinya lidah Sebab tergantung ada membajah Mendangar layang dami.kian bunyinya Tunduk terhambur air matanya Sayang sedi.kit sampannya pecah Kakanda bardatang maka dibajah Sarat membuat bunga teratai Terlalu saat sampainya hati Anak beruang berjalan lalu Patut karuang tiada ketuju
(67) Karuang membaca surat kiriman Dangan tinjau berhadap-hadapan Galuh karuang muda bangsawan Perkasa ungu berkakam bangan Kepada tinjau ia berkata Tiadalah ingat seberang apa Rasanya tiada lagi tertahan Kepada kakanda bayan bangsawan Rasanya tiada tertahan lagi Kepada bayan baik budi Jikalau kakanda tinggal seorang Habis terserah padamu kakang Tinjau itu menyahut kata Jikalau ada habar dan warta Karuang menyahut manis kalakuan Didalamnya banyak perkataannya Membari bimbang hati yang rawan Lalulah sigra bersalin pakaian Perbaju sating berwawalangan Patikpun hilang budi bicara Kakanda bayan di mata-mata Baik aku mendapatkan Hendak meminta perhambaan Kiranya handak mendatangi Handak meminta perhambaan diri Hati didalam tiadalah-senang Patik rasanya handak berilang Kakanda berilang apakah kerja Baik habarkan supaya nyata Baik inya handak berjalan :
. ( 68) Karena ceri ta tiada karuan Tinjau itu berkata lalu Janganlah mimpi lakun begitu Kakanda jangan handak berilang Cobalah pikir tuan seorang
Galuh karuang muda bangsawan Masih talc dapat ia menahan Adapun akan galuh karuang lalu bardiri dimuka lawang Bayan itu lalu terpandang Ia tak heran rupanya sekarang Karuang naik dengan perlahan Lalulah duduk berdakat bayan Karuang berkata dangan lestari Jikalau kakanda kiranya sudi Susahlah patik mehabarkan Aduh karuang saudaraku Terlalu sangat membari malu Terlalu membari wirang Sudah membajah mausir pulang Mendangar kata yang demikian Kasubarang tarbang perlahan-lahan Setelah sampai dari subarang Kalungnya barulas kembang berkarang Dilihatnya datang galuh karuang Lalulah ia membalakang Lakunya manis membari rawan Katanya ampun apalah tuan Katanya ampun badanpun abdi Adinda min ta tatambai.
(69) Sigra berkata si burung bayan penyakit apa itu gerangan Cih cih Ya Allah mimpikah kakang Labih sabulan nyata dibilang Bayan berkata memberikan wejang Jikalau sungguh kasih dan sayang Janganlah berang emas juwita Sekarang ini bertemu kita Sekarang ini kita bertemu Jangan kiranya menaruh malu
Cih cih emas dewa susunan Malam dan siang tak kulupakan Dewa menjodokan kita bardua Kakanda mencinta selamanyajua Galuh karuang duduk bersanding Katanya aduh ratu mas bulan Kakanda tiada tatabipan Kepada adinda tiada manimbang Makan dan minum tiadalah sanang Kemari duduk intan dikarang Jangan kiranya menaruh berang Tiada yang lari kakanda cinta Rasanya mendapat kantung parimata Dangan puan emas kasuma ratu emasku seorang sedang dipangku Emasku seorang sedang dipangku Sekarang ini bapartamuan Dangan puan emas utama jiwa Emasku seorang timbangan jiwa Memandang bayan terkukurihing
(70) Tetapi rupanya pucat dan kuning Susah pikiran galuh karuang Dimapa lamun katahuan orang Bayan itu mula bersabda Kalau orang kamari ada Bayan membawa kedalam peraduan Dipegang pinggang dicium tangan Bayan itu handak didukung Lapar dahaga lama terkurung Galuh karuang sangat murkanya Terlalu sangat gilanya kakang Tapihku marl jangan dibuang Bayan berkata dengan perlahan Sudah adatnya di dalam peraduan Bayan itu muda bestari
Bayan mencium karuang berpaling Ia berpikir dihati seorang Pasti rasaku dibunuh orang Janganlah gundah emas adinda Handak marasai sudukan kakanda Dibujuk dengan senandung cum buan Lalu diandak atas rimbaan Galuh karuang berserudung Diluar tapih mencium hidung Kepada bayan diracuninya Seperti melakukan bini seorang Tiadakah malu bertelanjang Kakanda tiada malu dan sopan Kakanda ini sudah gagilaan Mamaluk pinggang mencium pipi
(71) Dipegang tangan kanan dan kiri Emas merah utama jiwa Meski dibawa ketanah jawa Tamsil emas perimata intan Jika umpamakan ikan Tamsilkan emas parimata intan Jika umpamajual tukaran Emas susun memanglah aseli Emas seperti kumala ratna Sukar didapat perbandingannya Pasti dijumput lalu diamban Pantas dikait lalu dimakan Tingginya jauh diatas awan Seribu kada singtawaran.
BAB Ill ALIH BAHASA
(1) Si burung sung.5ang lalu-lalang Kalau robek ditepi sarung ku Daripada ramainya orang berwayang Penonton banyak bukan kepalang Orang oonyak tiada terkira Dan bujang dan dara-dara Hari hampir kan siang Kandi di atasku dipangku dibuang Habis berbunyi agung gemelan Sekalian banyak berdatangan Si raja anggang segera berperi Gemelan dipalu dengan lestari Gemelan dipalu orang Tontonan banyak tiada terbilang Sekalian burung persidangan Si burung punai berhenti di istana Burung putih lalu memegang kasau Semuanya berteriak ti upkan suling Serubung penuh tiada yang lapang Terhimpun segala belantara
Gemuruh seperti terompet sugara Lalu berhenti orang berwayang Gemelan yang ada dipalu orang Didengar jemaah lemah lembutnya Banyak tiada lagi terbilang Adanya sekalian menteri Kita main beramai-ramai Ramainya bukan alang kepalang Serobong penuhlah pulang Hasilnya penghulu tuan
(2) Rabis terhimpun segala burung Ada berkata bersahut-sahutan Lalulah turun si raja anggang Memakai sabuk seperti berjampang Pegang tiap raj a bestari Membuang senyum ke kanan dan kiri Lalu menari si raja anggang Lewatlah si burung halang Halang menari terlalu elok Cincin bercahaya jari kelingking Halang menari sangat pandainya Elok majlis barang lakunya Tersebut semua orang Ia menari kanan kiri Sudah penuh di dalam serobong Gemuruh seperti mega menggulung Menari lincah memandang Berkeris tanduk melekat di pinggang Menari ke sana ke mari Gemuruh suara ke kanan kiri Mundurlah ia pada sekarang Terlalu patuh juga dipandang Memakai sabuk dan bersum ping Lakunya seperti bertopeng Membuang senyum ke kiri dan kanan Selesai menari mundurlah ia nya
Ada yang roboh tertelantang Berlenggang lenggok kanan dan kiri
(3) Sekalian burung sang gagak lagi Mengganti pula paruh berkokok Sekalian burung pada bersorak Lurah palung mengganti pula Dengan melata bersila-sila Turun menari burung belibis Lakunya patuh elok di majlis Adapun akan si cuncuruak Elok majlis lakunya segala Ia menari terlalu cepat Setengah gila membawa laku Meliha tlah ia burung kakat ua Di dalam ba tu tiga dan dua Tatkala orang bersorak itu Banyaklah terikat perawan dan janda Sesudah selesai mundurlah ia Ia menari ke sana ke mari Lari ke samping lalu menepuk-nepuk Memakai kopiah atas kepala Laungnya merah a tas kepala Ia menari terlalu luwes Kiri kanan tangkis menangkis Menarilah ia dengan segera Sekalian burung memandang murka Berlenggang lenggok memecah leher Menari tidak sungguh-sungguh Anak itu segera membawa Hendak melempar cuncuruak Kakatua melamar untuk buatku Serobong berlenggang orang baru
(4) Kita bergembira dengan sungguh-sungguh Ada yang tertarik anak perawan Geger gempar bukan seperti
Tombak menusuk ganti berganti Adapun nanti si cuncuruak Orang sebelah banyaklah luka Si cuncuruak sangat berani Kemari berkelai siapa berani Adapun akan burung pialing lapun lari berkeliling-keliling Larilah pula sikakatupi Kepalanya benjd pegang memegani Adapun akan burung pialau Punai tanah inilah namanya Ada mundur ada maju Tontonan setengah berhati lara Ribut berlarian semua dan sepi Banyak yang luka ada yang mati Membalas ia dengan segera Kalah nasib dengan men timun Ia membalas ke sana ke marl Pukullah aku di mana kamu sukai Membawa ilmu bukan kepalang Kemudian bersem bunyi dirum pun pering Dengan barunak lari tak berani Lalu bersembunyi di bawah rumput Ia pun lari berdahulu Melindungi dirinya semau-maunya
(5) Melempar orang ke dusun raya Si burung putih membawa anak Iapun lari tiada berhenti Adapun akan lurah palung Ke sana ke marl dengan pemukul Halang sanga t namanya halang Ia bertingkah tic:rla berselang Halang Tambunau yang satu lagi Ilmunya besar tak mau rugi Adapun pikakah itulah namanya Sela-menyela tidak bingung-l::ingung
Ada pun kaka pikakak tua Hendak menerka tiada bisa Menerka jua seboleh-boleh Tiadalah orang mau berhenti Terkena ootu tiada heran Dengan kuntotor bersaudara Sebabnya takut kena lempari Berdua dengan isteri tiung Katanya kemari takut memukul Itulah panglima sangat terbilang Kiri dan kanan tendang menendang. Itulah panglima orang dahul u Ia menerka dengan lestari Ia menerka sangat mudahnya · Tangkap menangkap kiri dan kanan Dengan takut menurut berdua Setelah payah bagaimana pula Tangkap menangkap berpindah-pindah Hingga keringat pula membasahi
(6) Pikakak tua ialah mabuk Pegang-memegang sudahlah sering Pikakah itu sanga t marah Mencabutlah tangan sebelah Tiadalah orang rrau berhenti Tikam menikam ~nti ber~nti Segeralah turun si raja anggang Kataku ini dengarlah garang Si burung anggang raj a bestari Kataku ini engkau dengari Orang berkelahi itu bubaran Orang tontonan naikkan kembali Dengar palu pada sekarang Ia berjoget menari-nari Ia terlalu sibuk Mencabut badik hendak menusuk Muakanya putih sangatlah marah Badiku ini meminta darah Geger gempar bukan seperti
Banyaklah Iuka ada yang mati Berka ta ketika memandang Baik berhenti dari sekarang Berkata ketika berdiri Cepat berhenti engkau berkelahi Mendengar titah anggang bangsawan Sepuluh kembali sepuluh datang Turun menari si kalaliang Menari yang secara klasik
(7) Membuat pelan kanan clan kiri Ramainya tiada lagi terkira Masing-masing membawa kelakuan Tatkala sumbangan itupun datang Tertoleh galuh karuang sekarang Meminang itu berbicara Memikat segala bala tentara Sumbangan itu hati tiada ~nang Hati di dalam tiada tenang Anggang itu µinjang lehemya Di dalam serobong banyak orangnya Berkata pula burung pialing Sedang dipasak di dalam dinding Berkata pula si burung palung Mukanya dipandang sangat bening Setelah selesai mundur lestari Ia menari silih berganti Gemuruh suara kiri clan kanan Tertoleh pada galuh karuang Rasanya sudah hendak meminang Terlihat segala yang tua-tua Bicarajangan menjadi cedera Tiada tentu barang dipandang Tercinta pada galuh karuang Segala tontonan dipandanginya Hanya karuang senang hatinya Siapakah itu terlalu cantik
Satu malam rasanya tiada tertidur Anak siapakah yang bersanggul tinggi Jika dekat pasti ku gendong
(8) Cucuruak berkata lagi Di mana tempat di manakah gerang Berkata pula sikakatupi Dipandang lenyep patut sekali Berkata pula sikakatupi Memakai anting-anti~ Jagi berurai Burung begal duduk berpantun Memandang orang banyak terhimpun Adapun akan burung pialing Memandang terlalu karuang cantik Burung santar berkata lagi Terlalu patut kalau dipandang Emas murah kasuma ratu Jika dekat denganku Berkata siburung suwit Siapakah itu gerang Siapakah itu galuh karuang Anak siapakah itu tinggi clan rapi Jib dekat aku lempari Anak siapa berkalung rantai Jika dekat patut kugapai Ketika mundur ke samping watun Hatiku sudah rasa diruntun Ke sana ke mari sering tersenyum Mukanya seperti raja toping Siapikah itu berbaju merah Jandakah ia atau perawan Terlalu bimbang rasa hatiku Pasti kuraba roh cahayaku Meminta sirih barang sedikit
(9) Meminta gambir barang sedikit Halang malam duduk terpakur Sarungnya berkunyit menghibur Datanglah merpati meria-ria Teriakan hati anak perawan Sangat pandainya si dalang merpati Ia pun jangan meminum ke mari Sangat ramainya orang berwayang Akan arjuna ditepi seberang Lakunya berlucu bersungguh hati Berhenti dayang-dayang dan satwa Semar dan Bagong berhati pusing Katanya kemari ratu seberang Tengah malam hari ini sudah Yang puny a kerja berhati gundah Untuk obat mata yang sakit Matanya kelap memandang kabur Memakai badik bertatah bambu Terlalu harum bunyi suara Siapa mendengar berhati lara Ia berdendang menusuk sanubari Terkejut mendengar menusuk sanubari Burung merpati pandai mendalang Serikandi dibawanya terbang diperigi Kehilangan mas biduri Semar dan Bagong turun berkelahi Kedua itu turun berperang Inilah bernama belah sihitam Serobong roboh serambi rebah Tuntunan banyak gugur ke tanah
(10) Tonggak tongkat banyak yang tangga Gugur ke tanah berhamburan Ada sebagian terikan Lain seperti si tapai tapai Lalu terlihat si burung punai Adapun akan si burung putih
Lalu terlihat si burwig cenderawasih Adapun akan bayang terbilang Bergeraklah hatinya pada sekarang Bayan memandanglah hendak Sekalian burwig semua bersorak Hati bayan terlalu sakit Tubuh menyandang rasanya sakit Bayan berkata dengan isteri Bagaimana pikiran ku ini Orang totontonan semuanya gempar Geger gempar kedengaran Anaknya banyak bertangisan Ia menunggu di bawah rambai Ia menyusul terrebah Turon ke kali hendak kencing Lalu menangkap di sisi sarong Ia terpandang pada karuang Roh semangat rasanya hilang Memukul agwig lalu terhenti Mengatakan bayan hati rusak Kepada karuang sudah terikat Lalu memanggil pada serindit Adu kakanda serindit padi rasanya tiada tertahani
(11) Sarindit menyebut dengan perlahan Sabarlah dahulu hati dendam Bayan tiada menaruh senang Tiada senang malam dan siang Tersebut pula suatu kabar Barulah ia mendengar kabar Kalalawar itu hendak tontonan Anaknya banyak bertangisan Anaknya itu sangat kecilnya Ia tentu yang dibawanya Setelah sampai ke tengah jalan Katanya berhenti orang bangsawan
Sepanjang jalan ia berkelahi Isterinya sangat memusuhi Ia berkelahi pukul clan injak Aduh adikku si burung bayan Tiadalah hilang karuang bangsawan Tercinta pada galuh karuang Rasanya tiada akan tersandang Akan cerita si kalalawar Pucuk pisang si kalalawar Hendak berjalan seperanakan Tontonan orang bangsawan Ada yang belum tanggal pusatnya lalu di gendong oleh ibunya Bertemu dengan burung Mambangan Kalalawar pulang ke tengah jalan Gusar menggusar ganti berganti Badung membalas dua kali Anak kampung anak beranak
(12) Isterinya marah berteriak Ia memukul tiada berhenti Sepanjang jalan menghentak Sering berkelahi tiada terperi Tendang menendang berpuluh kali Tiadalah lagi kami sebutkan Ia berkelahi berserakan Tersebut pula bayan bestari Tercinta karuang muda perlente Galuh karuang kekasih cinta Sedang mencari sejagat nyata Gundah hatinya bertambah rawan Pikiran tiada lagi temteram Hatinya bayan tiadalah senang Siang dan malam masih terkenang Ia berkelahi lalu bersorak Habis terbalik tempat ikan Ia berkelahi menginjak anak
Tuduh-menuduh ganti berganti Betisnya benjol banyak sekali Akannya tingkah dan kelakuan Sebabnya itu hendak tontonan Tunduk menangis tiada terhenti Bayan berputar bagaikan mati Persis seperti tulisan nyata Karuang juga di mata-mata Berhempas-hempas di dalam peraduan Tercinta karuang emas tempayan Sebab tercin ta gal uh karuang Rasanya tiada berumur panjang
(13) Cinta bayan sudah terikat Meski berbagai penawar obat Karena akan galuh karuang Persis seperti bulan yang terang Kecil molek tubuhnya ramping Anak rambutnya lentik wills Elok majlis patut dipandang Lehe~nya lengkuk laksana wayang Cahaya emas intan permata Rasanya hancur segala anggota Ia ini tiada menentu pikir Dibawa berjalan hulu dan hilir Subhanallah untungku tuan Tercinta akan karuang muda perawan Rasanya hilang roh semangat Pada karuang muda yang cepat Jangankan senang bertambah melarat Terlalu patut lamun dipandang Matanya tajam seperti bintang Bahunya bidang pinggangnya ramping Mukanya seperti bulan sehiris Tangannya lentik bagai dikarang Sirih dimakan terbayang-bayang Tumbuhlah abdi yang nyata
Daripada sangat menaruh cinta Temyata untung kedatangan takdir Dengan air air mana juga mengalir Bergantikah juga berterusan Rasanya hilang nyawa dibadan Lemah segala tulang dan urat
(14) Tercinta karuang kesuma ningrat Jikafau begini terus-menerus Sangat tercinta kepada galuh karuang Cih cih .... emas kesuma ratu Jika tiada sopan dan mal u Bayan kebingungan malam dan siang Tiada lama sebentar pun saja Ya Allah em as hatiku rindu Manis seperti umpama madu Ya Allah karuang orang berbangsa Seumur hidup tiadalah bisa Jika umpama pudak dan pandan Ditimang-timang di permainkan Sakitnya hati bukan sebagai Bukannya kurang makan dan pakai Pasti .... lah diri jadi mudharat Diri rasanya tiada tersandang Baiklah mati diriku gerang Begini belah rasa hatiku Pasti kubawa pada penghulu Mudahan berjodoh dengan karuang Sebab sekalian sudah disebut orang Emas dipandang yang dituju Mudahan hingga cepat berjodoh Hamba yang hina bimbanglah rasa Mudahan mati terkena siksa Galuh karuang muda perawan Dipeluk dicium di atas ranjang Urat dan tulang rasanya bercerai Sebab nian maksud belumkan sampai
(15) Bayan berpikir di dalam ha ti Hendak melamar sopan sendiri Aduh saudara akan serindit sungsang Tiada lama akan sekarang Aduh adikku sarindit padi Bawakan rupiah sepuluh biji Jikalau kakanda keseberang tentu Kepada karuang kasuma ratu Sarindit segera menyahut kata Mudah sekali membuang harta Serindit melayang keseberang Lewatlah ia ke muka pintu Karuang berkata dengan perlahan Dengan serindit berhadapan Terkenang karuang muda perlente Jadi memanggil serindi t padi Tuanku pinjam akan keseberang Menanyai akan galuh karuang Galuh karuang kiranya sucii Tanda mengikut, kata yang pasti Serahkan rupiah sepuluh biji Tanda mau denganku Ditanyai saja supaya nyata Kakanda dahulu mulai mendengar data Mencuci muka hampir dibayang Segera ditegur oleh karuang Duduk kemari apalah tuan Suratlah Ialu mengasih puan
(16) Sirihnya kering kebingungan Serindit mengangkat pada sekarang Sirihnya hidup lagi berganggang Berkata pula kalalawar karuang Adakah kerja kakang mendatang Segera menyahut serindit padi Bukannya ada yang beta earl Galuh karuang hatinya heran Datang kemari atas perintah
Sarindit menyahut sambil mengenang Menanyai akan galuh karuang Sarindit sangat pandai berkata Lemah lembut htrang cerita lnilah maksud bayan bestari Jikalau tuan kiranya sudi Kapur katuyung tolong bingkisan Jangan begitu kata pun kakang Gambirnya wangi kapurnya mahal Apakah kerja kembali datang Boleh katakan pada sekarang Datang kemari besarlah kerja Beta diperintah bayan bestari Apakah maksud kakanda bayan Apakah tuan yang kekurangan Bayan menyuruh pada µ.m kakang Kalaunya mau boleh berdatang Harum manis membawa sabda Karena hendak meminta pada hamba Hendak meminta serahkan diri Pahalaran untuk mencuci kaki
(17) Inilah maksud bayan bangsawan Jikalau sudi adinda tuan Tuan pikirkan di dalam kal bu Jikalau !Udah kiranya mau Bayan berkirim minta sampaikan Jikalau kiranya tuan berkata Karuang berangkat dengan lestari Aku tiada hendak bersuami Karuang berkata beniang-ulang Baiklah aku memberi kucing Karuang lari sarung disingsing Walaupun kuasap ku jinjing Mengapa bayan begitu laku Rupanya jahat seperti hantu Bayan begini jangan kata begitu
Hendak meminta serahkan diri Jangan kiranya salah ambilan Akan cerita patik begitu Inilah rupiah sepul uh biji Kepada karuang muda bangsawan Tetapi jangan sating gusaran Serta menggerutu dan memusuhi Bayan pun jahat seperti isteri Lalu berangkat serta hubungan Alcu tak suka bersuami mating Katanya itu seperti anjing Tiada perduli membelah kering Bayan tiada ~ndinganku Tiada patut dengan ku Bencinya sangat rasanya aku
(18) Rupanya itu jahat terlalu Karuang berkata terlalu benci Aku tak mau mengambil suami Burung serindit terlalu malu Serindit merasa akan dirinya Patuknya bayan membelit dagu Dibujuk karuang sangat malunya Serindit datang berpelukan Ditegur oleh si burung bayan Serindit berkata dimuka jendela Dikatanya pan.ID sama tang Terlalu sangat malunya sudah Paruh membelit ke bawah dagu Jalan serindit sombong kembali Paruhnya berkait seperti taji Mendengar karuang berkata begitu Memotong saja dengan ku Bersama bayan menggigitnya Menghing bayan menghina dirinya Hatinya marah bertambah sopan Serindit menyahut dengan perlahan
Kita pun ini mendapat berang Sama membelit ke bawah rahang Karuang menepuk serta menghina
(19) Serindit sangat malu sudah Menginjak tangga kaki sebelah Serindit datang berpelukan Ditegur oleh si burung bayan Ia menghina sangat terlalu Panjangnya paruh membelit dagu ltulah kata burung karuang Dikatanya engkau orang terbuang Burung karuang ia tak mau Memberi sopan sangat terlalu Bayan itu hatinya gundah Air ma tanya cucurlah sudah Bayan duduk di atas kasur Pikiran bayan bagai tenggelam Bangunlah bayan dari sekarang Ia pun pulang tanpa bilang Kepada bayan hendak pamitan Hatinya marah bertam bah sopan Serindit menyahut dengan perlahan Disamakannya anjing dan hantu Tiada berkata rasanya daku Disamakan anjing dengan binatang Tiada pantas diambil pendamping Berganti-g~mti menghina kamu Menghina engkau menghina aku Naik ke dalam menengadah Sapu tanganku satu habislah sudah Tunduk tengadah mata berpejam Rasanya hancur hati di dalam Mengansih cermin jualan wangkang
(20) Lalu duduk darijendela Habis dilihat seluruh oodan
Salahnya paruh ada kelebihan Tubuhnya dipandapg semuanya kecil Putih kuning pinggangnya laris Serindit berkata malWlya aku Janganlah diam dirimu itu Akupun malu bukan kepalang Di depan tunjuk orang datang Serindit itu orang budiman Janganlah kiranya dirasakan Berkata pula si burung pipit Kiranya bayan orang prajurit Uangnya banyak tiada terkira Tiadalah pantas karuang menghina Melihat cermin semuanya terang Sediki t tiada perbedaan Tetapi sudah kurnia Tuhan Seperti gambar taru ditulis Menghempas cermin terus menangis Membajah engkau seperti hantu Supaya terbalas sopan dan malu Demikian katanya burung karuang Muka rasanya gelap dan terang Patut sekali dengan kelakuan Karena sangat terdapat sopan Aku pun malujuga sedikit Sangat banyak mempunyai ringgit Seribu mas semuanya ada Dengan bayan samalah muda
(21) Karena sebab asal mulanya Tatkala sudah diakhirinya Burung karuang berhubungan Laginya dari permulaan Bayan pun malu bukan kepalang Sebab sejalan lagi sebatang Bayan berpikir di dalam hati Malunya sangat bukan seperti
Malunya ini terus-menerus Akan budi rasanya sedang hriJah sudah untung driku Karena patih orang piatu Bay an berpikir di dllam ha ti Bercampur Iara berat hati Bayan pun sangat hatinya sakit Burung karuang patut berkata Ia tak mau sesudahnya Kepada bayan orang bangsawan Tiada pantas yang demikian Di wajah bunmg karuang Menjadi bayan pastilah berang Bagaimanapun juga diriku pasti Mudahan jangan terbawa mati Didengar oleh semua orang Sekarang tiada derita orang Sekarang ini mendapat malu Patut karuang tiada akan mau Berdiri duduk tiada berhenti Biarpun hidup rasanya mati Terdengar katanya burung serindit·
(22) Malunya besar bukan sedikit Ya ilahi Tuhan rabbul izzati Malunya tiada lagi terperi Aduh diriku serindit sungsang Membalas malu pada karuang Lalu rerkata si kalaliang Kesopanan adinda bukan sem barang Berkata pula burung keladi Kamu apakah lagi karuang sari Menyahut kata burung belatuk Karena blyan sikait paruh Apakah juga melihat karuang Tetapi bayan janganlah goyang Lagi pula karuan_g yan,g bijaksana
Bayan bangsawan tiada berguna Rasanya gugur di atas langit Bagairnana juga halnya diri Mudahan karuang menjadi isteri Bagaimana juga akalku kakang Supaya ia datang seorang Mencari ilmu janganlah kurang Sampai kiamat tiadakan hilang Aku mendengar terlalu benci Bayan IXIn kaya lagi pengaji Kepada bayan datang menunduk Karena aku tiada menggigit Maka demikian membajah orang Kesopanan itu terbatas kembali Aku mendengar sangat terima Berat bagi diri yang hina
(23) Menyahut IXIla burung pihulu Jika karuang mem bajah dengan ku Berkata pula si burung palung Jika tiada dii~at kampung Adapun dengan si burung pipit Cantik perlente lagi prajurit Di rumahnya banyak yang muda Ada yang menyongket bertenun renda Sekalian burung mendengar kata Karuang memberi malu semata Bayan prajurit cantiknya sedang Benar beristeri cakap membuang Jika umparna bayan pemalas Dengan sanak pamili pikimya mungkir Sekedar bayan orang piatu Mendengar kabar malunya aku Rumahnya ku lempar dengan halu Sambil irerengut rupanya murung Rumahnya ku lempar dengan puntung Dengan bayan rumah berhimpit
Bisa menyulam bisa menyongket Peraw<ll! dan janda semuanya ada Sebagian menyulam sem berada Penglihatan terang sewaktu nyata Menepuk bayan orang kaya Mukanya elok sedang orang Mengapa ditepuk oleh karuang Ia terjalan kesana dan kemari Cocok ditepuk ditimbang mahir Tempat kediaman nyata bertentu
1 "":.:M•ti'15ersuami akupun cerai Datanglah pula burung gelatik Tiada co~ok dinuat begitu Galuh karuang salah mengambil Dengan pamili sangat lembutnya Mendengar ka bar demikian pula Ku buatkan kasur tinggi sehasta Umparnanya bayan denganku mau Pastilah ikhlas dengan bebasnya Jika semua aku pun berlagak Peluk dan cium sebebasnya Dekat bayan ia duduk Alm 1ak heran pinggang menggarepok jikanya bayan denganku hendak tiada perduli menyerahkan anak Bersarung rukuh berselendang batik
(25) Gelatik itu duduk mendekat Kata burung barunak Menyahut kata burung kuldi Tidak tepat yang ditanyai Asam pauh widara pandan Burung bayan beroleh sopan Semuanya burung berdatangan Kepada bayan yang kerinduan Burung ~latik berkata lagi Burung bayan yang sangat rindu Menyahut pula kelaayangan Rasanya hati kerinduan Demikian lakunya sehari-hari Burung kakatua burung kakatupi Sekalian burung semuanya datang Apakah kabar orang yang banyak Bayan beroleh malu bertindak Engkau ini salah mengerti Dengarlah tunan kami berperi Asal jan~n widara padi Berdua dengan serindit padi Ia berpantun silih berganti Jadi berkata yang demikian Elok kanda dengan melati Salah obatnya membawa mati Adalah pauh tum buh diteluk Rasa diseruduk kambing tanduk Burung gelatik burung keladi Puas rerpantun ia beraksi Ke rumah bayan ia da tang
(26) Burung katutut dan pipit hi tarn Serindit berkata dengan lestari Ilmu pitua adalah dicari
Jikalau bayan hendak meminta Karena dia tiada berdusta Janganlah engkau berdiam diri Tiada terkenang kamu malu diri Berkata bayan dengan pelahan Di dalam hati buta dan susah Sembarang apa tuan nasehati Akal dan pikir di dalam hati Berkata sewaktu bertangis-tangisan Beberapa sudah dan sopan Serindit berkata dengan lestari Ilmu pi tua baik mencari Burung titikusan burung tiung Bayan pun jangan berdiam diri Untuk mendendam kemaluan diri Kini peragam temui nyata Di lain banyak sudah tercoba Tiada berguna memakai dasi Sehingga menangis setiap hari Aduhai tuan yang sekalian Barang suatu tiada pikiran Karena hamba bodoh sekali Biar pun hidup bagaikan mati Dengan serindit berhadapan Dibajak oleh si perempuan Jangan engkau berdiam diri Janganlah sayang rupiah setali
(27) Bayan berangkat dengan cepatnya Terbang mencari peragam neneknya Serindit berkata dengan lestari Badik sebatang yang melompati Bayan pun terbang menghadap kehulu Tempatnya peragam yang dituju Bayan pm tetbang sangat tangkasnya Bayan pun terbang dengan lestari Ke tempat peragam datanglah pasti
Bayan itu datanglah tentu Peragam memandang berdiri kaku Hidup cucW'lda beroleh malu Katanya paragam adu cucuku Aduh cucuku bayan yang indah Membawa sebatang bekal goloknya Mencari ilmu yang sebenarnya Aku ini malu sekali Badik pusaka peninggalan nenek Hatinya gundah sangat terlalu Ilmu peragam hendak ditiru Membawa sebatang bekal goloknya Tiada menoleh kanan dan kiri Boroleh malu saya ini Kepada peragam menundukkan leher Apakah sakit engkau cucuku Karuang membajak sangat terlalu Janganlah gundah di dalam kalbu Engkau juga berhati gundah
(28) Kita berpegang kepada Allah Aduh cucuku bayan lestari Tempat perempuan di dalam diri ltulah sanga t terbinng ihnu Cobalah tuan pakai ilmu ku Ilmu jangan jauh mencari Tempatnya sukar dicari Aduh cucuku muda utama Jikalau digunakan selama-lamanya Engkau pikirkan di dalam kalbu Jahat dan baik boleh tentu Bayan menyahut aduh nenekku Jikalau tiada membalas malu Aduh cucuku bayan yang indah Sekalian maksud di dalam musnah Jodohmu itu kusangka mudah Engkau jangan berbuat ngeri
Mengintip dirimu dilambung kiri Engkauj;mgan bersakit kalbu Sudah tercoba dari dahulu Tempatnya ada di dalam diri Kepada orang boleh tanyai Ilmuku itu sangat sayangnya Ni!caya kasih orang selamanya Semuanya ilmu ada di situ Tetapi rukun saja dahulu Terlalu sakit di dalam kalbu Dihina perempuan sangat terlalu Engkau jangan berhati gundah Perempuan itu pandai berserah
(29) Memberi ilmu berbisik-bisik Batunya lagi pula ku minta Engka u memakai jangan sem barang Batu lagi ku minta kembali Bayan menyahut sewaktu memandang Meski dua rial ditambah lagi Terlalu malu saya pun begini Kalau tidak menjadi isteri Peragam berkata jika sekarang Jikalau merantau .cucuku hilang Tunggu dulu cucuku pergi Tanda peragam engkau bekali Selamatan cucuku jangan tiada Supaya ilmu bertambah baik Dua rial uang selaka Jangan l:ilang kepada orang Dua rial mas uang Nenekku jangan berm ti goyang Asalnya malu rupanya hilang Dihina oleh wani ta-wani ta Saya pun hilang di negeri ini Cucuku jangan berhati goyang Baik dibunuh gflluh karuang Janganlah hendak membuang diri
Malu tiada terbawa mati Tikar putih carinya ada
(30) Cucuku jangan sakwa sangka Bayan itu mudah mendapat Serta bernasi dan selamat Sekalian ilmu diberikan Sedikit jangan salah ambilan Peragam mengajar bersungguh-sungguh Asalnya perempuan di dalam tubuh Semangatnya dijaga malam dan siang Cucuku jangan berhati goyang Semuanya habis diberikan Akan sumbunya lilin lalawangan Bayan kembali ke rumahnya Serta mandi dari badannya Setelah bayan tatkala mandi Masuk ke dalam berminyak wangi Supaya ilmu menjadi tanda Mengaji ilmu akan ma 'rifat Sekalian ilmu mudah dia da pat Kepada bayan dituliskan Kepada napas kita himpunkan Cucu jangan berhati rapuh Semangatnya itu yang luluh Ma 'rifatnya itu jangan goyang Tempat perempuan ada pada diriku Engkau memulai malam senin Dimuka lawan engkau hadapkan Menggosok pinggang dengan kakinya Menyatu ibu pada ibunya Selain pakaian sarung berganti Bersisir rambut sisir dibeli
(31 ) Bayan masuk ke dalam peraduan Tercinta karuang muda perawan Sampailah waktu tengah malam
Tercinta karuang terlalu dalam Kilatpun memancar bergantian Hujan ribut perlahan-lahan Sampailah waktunya di mata hari Melihat lilin panjang sejari Lilin diputar ke belakang Terus berpesan pada bayangan Aduh saudaraku yang seri Galuh karuang tidur !endiri Setelah selesai yang demikian Bermacam-macam tingkah dan kelakuan Tersebut pula perkataan Berkeliling seorang diri Elok seperti permata intan berbunyi guntur gementaran Rasanya hancur hati di dalam Guruhjauh sahut-sahutan Turunlah angin masuk ke badan Bangunlah bayan wajah berseri Mengeluarkan bayangan di dalam hati Bayangan turun ke muka fintu Minta ambilkan roh karuang Engkau ku pinjam untuk karuang lari Ke dalam tubuhnya masuki Burung bayan muda bangsawan Adatnya orang bercintaan Burung karuang kami sebutkan
(32) Di dalam peraduan seorang badan Karuang tidur malam senin Melambung-lambung tinggi sekilan Karuang tidur malam selasa Terangkat melambung lebih sehasta Mimpi siang antara tidur Berdiri lalu roboh terpaling Tiada ia mencoba-coba Memeluk pinggang mencium badan
Lagi merayu kata yang mart.is' . J Badan rasanya hendak menangts' ·' Karuang sangat berhati rawan Makan dan minum tiada _ped5>m1lh · Tersandar pingsan galuh karuarig' Badan berjalan rasa bayang-ba'yartg · Bayangan masuk menyerupaf 'ba:yah Bayangan masuk ke dalam badari ' ' Bermimpi dililit naga semuariya Bayangan masuk ke dalam claqa · · Dibelit ular clan sawa Burung bayan serasa bersariding Lalu memakai pelipis dikening · ' Nyata kakanda bayan bangsawan Serta menaruh atas rabaan Seluruh tubuh digapai habis . Bayan pun bilang seperti i\:>Us . Tercinta kepada si burung kar'1a11S , Berdiri lulu roboh dan ping_S.an Daripada sangat berhati pusing Roh semangat sebagai hilang
., ' 1 ':.;' ~ •• 1 : 11,- ·, ' ! -.~ • ' t • ' ~- _, ' /". '-~'I. - ~- ' .. ~:~. . )! .• ,, . _ _,.,.. •. <
(33) Galuh karuang duduk terpakur Hati di dalam bagaikan ban~ur Jikalau begini diriku sek~ Lemah segala urat Qlin. tuhmg Badannya bagaikan kem bang yaµg ,la,yu Badannya lelah kepala pusing. Susah pikiran galuh karuang Lalu memanggil setan jin garang Tirtjau pun datang dengan bestari Apakah beta di panggil kem~i Karuang berkata dengan perlahan Mimpiku itu minta tangguhkan Galuh karuang segera bersabda Sesudah bermimpi dililit naga Seumur hidup tiadalah bisa
Tiada pedoman laku dan tutur Rasanya tiada panjanglah umur Tentu rasanya diperbuat orang Kasur diinj ak rasa bergoyang Daripada sangat menaruh rindu Kakanda bayan sangat terlalu Saki t ha ti malam dan siang Kemari jua mampir sekarang Kepada karuang ia hampiri Adakah berita diperintah cari Cobalah aku pun mengabarkan Berrnimpi dililit naga gumbara Dengarlah aku bercerita ada Hatiku sakit tiada terhingga Tidur bermimpi dililit naga
(34) Tinjau menyahut dengan segera Lalu berkata burung kakatua Tiada lawan yang aku duga Burung pialau menyahut sudah Bermimpi digigit ular tanah Orang berdayung tiada tert,entu Harganya itu dua rial sesuku Nuru menyahut sambil tertawa Untuk bekal merantau ke hutan Menyahut kata si burung jujuk Bahu dan pinggang ada menggerepok Orang melamar tentulah ada Aku bermimpi dililit sawa Tiada jauh itujuga Aku bermimpi tiga malam sudah Orang melamar tiada pernah Sudah menjahit bekal kelambu Bisa berdua dalamnya itu Pinjam kelambu untuk berdua Membayar hajat hendak berdewa Berdewa jangan terlalu mabuk Bantal dipukul tiga kali
(35) Niat ha ti ingin menepuk dada Betul-betul ma'rifatnya Pikiranku sekilas sekejap ltulah ilmu orang dahulu Ringgit sesuku pakai pikiran Karena aim terlalu kasihan Burung bestari seraya bersabda Di dalam cawan minyakku ada Minyakku tiada sembarang Siapa meminta memberi golok Menyahut kata sidamak-damak Namun dipakai di orang banyak Adapun akan tinjau berpidato Jika tidur menggerak badan lnilah tuan untuk doanya Badannya datang kemari Engkau jangan berhati peri Serta segantang memberi beras Melihat engkau kurus dan pucat Aduh karuang bangsawan muda Peninggalan oleh arwah bunda Bambu meninda tanggungan halang Kalau dicolek menjadi pusing Aku pun ada berisi minyak Siapakah melihat tentulah hendak Ke sana ke marl memberitakan
(36) Kepada burung yang sekalian Sekalian burung mendengar kabar Kepada bayan orang pendekar Tersebut pula murai dan nuri Burung putar burung keladi Burung bestari burung siwayang Kakatupi tinjau dengan halang Segera berkata si burung putar Kami banyak bertanya kabar Lalu ke luar galuh karuang la berkata ketika memand~ Berkata pada si burung binti Apakah mulanya maksud diri Si burung pipit seraya bersabda Apakah sakit di dalam dad~ Berita karuang kerinduan Galuh karuang hatinya ge11tar ,. , . ·. Terkena guna menghamp~rtikar .. Berteman-teman terbang meJ)ari-naf:i. Kepada karuang ia datang . Naiklah ia pada sarang Mengapa karuang tiada )teJuar Ribut ada bicara sukar Dilihatnya banyak orang datang Katanya duduk sekalian kakang Aduh karuang muda perlente · Kurus kelas badan kakanda ini. Aduh karuang bangsawan.muda Maka nian kelas muka kakanda , .·
1' •• •
(37) Karuang menyahut suaranya merc;tu Tolonglah kakang sekalian itu Galuh karuang rupanya ten tu . Adinda ini mendapat malu Sakit berpilu tiba malam sudall . Sambil menangis tunduk teng~da.11 . . Asalnya rusak tiada bertentu Menjadi iri rasa hatiku Di dalam hati terlalu pusing . Sekalian burung sating memandang . Burung nuri berkata pula . : . Kama itu dan itu kelak adany~ Janganlah engkau berdiam diri Sekarang ini mendapat malu Terlalu sakit di dalam kalbu Aduhai kakang saudaraku Siang dan malam sakit berpilu
Selama kami ada membajak Pastilah bayan empunya tingkah Hancur luluh di dalam kalbu Pastilah bayan orang berilmu Suatu tiada berhati senang Melihat lakunya burung karuang Aduh karuang bangsawan muda Engkau tegur jangan tiada Rindu itu engkau kurangi
(38) Naiklah senja cepatlah mandi Cepatlah mandi ke belakang Kemudian berpantun merak dan nuri Burung karuang muda bestari Orang ingga berjual kain Bukannya karuang gila dilain Benteng komandan dari kandangan Walaupun kami yang kerinduan Karuang itu pula bersabda Mohon kiranya adinda Kalau ada ilmu tuanku Kepada bayan yangjahat itu Nuri berkata membalasi Inilah orang hebat mengaji Coba ke sini tuan bertanya Karena ia orang yang tekun Aku dahulu kala adapun rindu Gelisah juga rasanya senang Terkenang waktu zaman dulu Dengarlah tuan kami berperi Dibeli oleh anak Belanda Gila kepada si bayan muda Anak Belanda komandannya Maki mencari penawarnya Aduhai kakang tidak ada yang sama Membalas malu di dalam dada Untuk melawan karena malu
Boleh gunakan supaya tentu Ada kepada si burung binti Turun ke datu sampai ke nenek Sekarang ilmu sudah terhimpun Beberapa tamu sudah tersantun
(39) Menjawab kata si dara kaku Sama belajar zaman dahulu Nuri berduduk kemudian bergeser Nanti di bawa selembar tilrnr Dara kuku berkata dari sekarang Harganya itu terlalu mahal Burung keladi menjawab madah Keris sebatang tiada susah Berkata pula si burung sentar Siapa meminta memberi panjar Menjawab pula si cendrawasih Siapa meminta membawa sarong Berkata pula burung barunak Namanya itu si buang anak Kata ibunya peninggalan ayah Dengan aku pasti satu guru Tetapi mendapat dulu aku Kepadamu juga kami belajar Serta ditambah sebatang pancar Tiada dapat demikian garang Keris sebatang beras segantang Kepada aku terlalu murah Asal memberi segantang garam Minyak ku ada aturan mengajar Ratu terpilih pastilah jujur Aku ada mempunyai obat guna-guna Orang memandang tentulah kasih Aku ada mempunyai minyak Kalau terpilih pastilah hendak Tak dapat memakai nasi arwah
(40) Kemudianjangan meraba kipayah Berkata pula si kalaliang Tatkala pipikau selamatan berwayang Ujung pematang yang terkerucut ltu makanya di ujung sudut Burung buak pula berkata Inilah aku mengajari sumpah Terang bulan empat belas hari Cahayaku sebaik matahari Inilah sumpah orang dahulu Tetapi aku meminta ciri Burung pipikau menjawab pula Kalau berminyak ini dikata Sumpah ini baik sekali Tetapi aku minta ciri Memutuskan harap kepada Allah Aku dahulu adalah rindang Rasa menabrak ujung pematang Sebab nenek ada menghina bubut Hati di dalam rasa galau Aduh karuang bangsawan rimba Kalau berminyak ini dikata Terang sampai ke dini hari Rupaku seperti bidadari Namanya sumpah matahari Rupiah sesuku kamu memberi Aku ada mempunyai sumpah Lagi muda sering tercoba Sudah terpakai waktu dahulu Seringgit perak kamu memberi
( 41) Pipikau menjawab dengan segeranya Sum baga angui berpaling Jikalau salah kita memilih Tinjau berundur ke samping watun Biar tiada jadi bertanya
Menjawab pula si darakuku Apa kehendak di dalam hatimu Ilmu yang lain tiada berguna Menghambur-hamburkan uang lebihnya Cobala tuan yang mendengari Jikalau bertemu si laki-laki Ilmu itu sering tercoba Kapur dan sirih jangan tiada Burung curiak segera menjawab Berbohong saja yang ia sebut Swnbaga angui itu namanya Wajahnya jahat dilihat cantik Apabila mati menjadi monyet Menjadi monyet tidaklah mau Patutlah fa memohon am pun Kepada aku banyaklah ilmu Meski boleh dibelah seribu Tiup dan tari tiada gunanya coba mencari yang satu nama Ilmu ku sangat ku sayangi Dipinang pasti menjadi suami Tatkala zaman aku masih muda Cobalah tuan tidak berbohong Si darakuku · saat berbohong Kami tiada hentak menurut
(42) Menjawab pula Si tukun-tukun Ditangkap kalau mau Laki-laki mulai mengamuk Meski tiada mempunyai ilmu Ada sebagian ilmu ku tuan Tetapi dipakai bersuci badan Kian putih tilasan mandi Sesudahnya itu membuang nasi Inilah ilmu yang sebenarnya Tetapi kamu Sallgat rukunnya Hari pun sudah hampirlah petang
Burung nuri dengan tiwayang Adapun burung si kalayangan Kalau begini lebatnya hujan Semuanya burung banyak pikiran Ia berduduk di tepi watun Kalau dimarahi meluluh tertib Kalau ditangkap ia kasak-kusuk Sebab ditangkap jadi berjodoh Terlalu baik untuk kemudaan Kain putih untuk tilasan Naik sesudah bersuci diri Akan syaratnya perak dan besi Orang pun kasih semuanya Dengan rupiah dari peraknya Semuanya b-urung hendaklah pulang Kata taguk si burung dandang Hendak pulang kehujanan Bagaimana juga akal menentu Ada memakan daun tebangan
( 43) Tiada kuasa menyimpankan Burung pipikau meminta suluh Hujan lebat angin mengguruh Ada pun si burung jujuk minyaknya habis setengah mangkok Setelah burung selesai pulang Burung katutut dan kalayangan Galuh karuang tinggal sendiri Terkenang bayan wajah berseri Galuh karuang hatinya pusing Burung bayan juga terkenang Gundahnya hati bukan kepalang Janganlah lipur bertambah pulang Karuang tidur seorang diri Bayan rasanya.disamping kiri Karenajauh perjalanan Sebab jalannya selalu jauh
Rasa ku lama menunggu teduh Mmeperoleh gajah seperti tunjuk la melekat lalulah kembali Burung bantiung dan titikusan Burung nuri dan bubut hutan Susah pikirnya di dalam hati Rasanya hendak mendatanginya Tiada tenang malam dan siang Roh semangat rasanya hilang Tidur dan makan tiada senang Sangat terlalu durhakanya orang Tiada berteman dikasur seri Rasanya panas di samping pipi
(44) Galuh kurang rusaknya badan Dikapur sirih dimakankan Dipeluk dicium bantal geguling Siang dan malam tiada tertidur Karuang menangis ke sana~e mari Tikar dan ban tal ha bis terham bur la menangis tiada terperi Terpanadang bayan wajah berseri Siang dan malam bertangisan Hendak mengunjir rasanya malu Tersandar pingsan galuh karuang Karuang berpikir tunduk tengadah Se bab terkenang ada menghina Tamatlah pikir galuh karuang Pengrasaan duduk berdekat bayan Menyuapi bantal berlapisan Pangrasaan ia bayan yang cantik Tiada terlepas bantal dibanting Berurai rambut berjejer-jejer Hatinya di dalam bagaikan hancur Siang malam tiada berhen ti Penglihat nyata di dalam mimpi Sangat tercinta si burung bayan
Berdiri lalu roboh bertangisan Daripada sangat berhati pusing Di dalam hati terlalu gundah Baiklah aku berkirim warkah Kemudian duduk dari jendela
(45) Dengan segeranya menyurati kakang Galuh karuang duduk menulis surat Sembarang api ada yang diingat Galuh karuang terlalu cocok Kalam dan dawat segera dijemput Tersebut pula bunyinya layang Karuang bersurat beberapa ragam Dirinya sembah dengan salam Sembah sujud hamba yang hina Dibaca jangan diam saja Inilah sembah adinda datang Jikalau kiranya kakanda sudi Waktu berpikir ia mengarang Di dalam tamsil dengan berat Tetapi hati masihlah hirat Membuat kata yang lemah lembut Di dalam warkah habis tersebut Min ta perham baan diri karuang Di dalam tamsil dengan gurindam Ta'zim wattakrim asshalatu wassalam Mendapatkan bayan yang bijaksana Kalau menjadilah banyak rencana Kepada kakanda persis gemilang Haraplah ampun bayan bestari
(46) Haraplah ampun gusti pangeran Mempertahankan sehat sakit~akitan Adinda saki t terlalu lama Mencari dudukan sudah puas Tiada bertamu dudukan akti Kalau kakanda ada mengaji
Obat mengobat kalau pun ada · Seboleh-boleh diharap juga Permintaan tiada bolehkan sabar Harap dicontoh obat penawar Itulah maksud abdi tuanku Tiadalah bisa mem ba wa laku Kakanda ampun yang amat limpah Kepada kakanda ada menghina Jangan menjadi pahlawan tuan Meminta obat adinda tuan Menghilangkan penyakit di dalam badan Badanpun jadi kurus dan pucat Membuang penyakit supaya waras Mem buang penyaki t di dalam diri Adinda minta diobati Menghilangkan penyakit di dalam dada Supaya waras badan adinda Supaya adinda lekaslah segar Terlampir salah juga sebentar Adinda ini terlalu bodoh Sembarang adat tiadalah tahu Perkataan patik banyak yang salah Jangan kiranya menjadi marah Kadar sedikit perkataan
( 4 7) Gal uh dialah yang demikian Seperti cerita orang dahulu Saat disiksa bagaimana ia mati Gunung ringgit sukalah orang Sakit pula dendam terkurung Orang jawa dipelayaran Sakit menanggung rindu Mendua hari memangku tuan Kami pun datang menghadap tuan Kamu menganga di bawah sampan Mernin ta ampun barang kesalahan
Kalau Sutasih sepinggan dua Lamun ini kasih minta obati Jikalau kakanda pergi ke murung Lamunnya benari dendam terkurwig Kalaupun mati selamanya Membuat orang demikian pekerti Tetapi kakanda sudah mengerti Ketiga puluh berimbangan Selama tiada berpandangan Berlayar tiada dengan pedoman Di bawa tidur makin tak enak Kamu menganga di bawah sampan Meminta ampun dengan kesalahan .Menahan memangku tuan. Pada kakanda bayan bangsawan Bunga sukandi di ujung paru Supaya adinda lekaslah segar Belikan adinda peti berantai Maksud adinda harap sampai
(48) Peti berantai minta belikan Jikalau sampai anak tuan Kalau yang ini tuan pikir cepat Jikalau sungguh kiranya kasih Lemah lembut perkataan Mudahan kiranya disampaikan Ia bersurat sudahlah tamat Karena sangat pandainya cepat Alamat ini surat minta sampaikan Dengan · tergesak-gesak • i tu pekerjaan Karuang memanggil sitinjau karang Tiada kamu lama barang sekarang Layang ini engkau yang bawa Serukan bangsa datang dijiwa . La yang serahkan dengan bestari Jualan oleh anak paraman Dunia akhirat tak terbalaskan
Turunlah mandi kadangan babat K.akanda datang membawa janji Memohonkan ampun apalah tuan Kepada kakanda gusti pangeran Dengan segera lalu dilipat Diluarnya pula ada alamat Dengan segeranya mudah-mudahan Ke bawah pangkat bayan bangsawan Engkau ku perintahkan menyeberang Kepada si bayan anjurkan layang J anganlah lam bat sekarang juga Kepada kakang utama jiwa Kepada kakang yang baik budi
(49) Tiada yang lain diharapkan lagi Habislah sudah diwakilkan Ia pun terbang dengan bertari Tinjau pun datang dengan segera Bayan menegur dingan bestari Apakah kerja adinda ini Kerjapun besar bukanlah mudah Disuruh orang membawa surat Tinjau menyerahkan surat kiriman Kertas kuning berbunga-bunga Bayan berkata dengan perlahan Seperti laut punya bikinan Inilah kiriman gauh karuang Kiranya seperti buatan Palembang Bayan berduduk dari jendela Menanti kasih kakanda gusti Kepada tinjau jadi suruhan Lakunya manis memberi rawan Membawa bingkisan itu dirinya Naiklah tinjau duduk kemari Tinjau menjawab besarlah keris Kepada bayan burung yang indah Kepada kakanda manghaturkan sembah
Bayan menjawab dengan perlahan Dawatnya emas kilau-kilauan Surat apakah yang demikian Berkuncir emas berbunga-bunga Lipatan seperti cerebon Semarang Baru ini akan memandang Membaca surat seorang diri
(50) Lalu dipanggil serindit sungsang Bayan membaca surat kiriman Dengan serindit berhadapan Atur sembah diri yang hina Berkirim surat dikertas cina lnilah sembah hamba yang hina Galuh menjadi banyak rencana Sembah sujudku dengan takzim Diperintah menghadap orang berilmu Akan surat diri hamba Diperintah menghadap atas juwita Pikiran sudah tulus dan ikhlas Diperintah menghadap paduka emas Diri hina dipersembahkan Safaat Nabi achriz zaman Dengarlah surat galuh karuang Di dalamnya banyak perkataan Memberi bimbang hati yang rawan Kepada bayan bijaksana Harapkan ampun bayan laksana Mem baca jangan diam saja Fitnah banyak berwama-wama Bi inayatullah rabbir rahim Suatu tiada ada tanda kiriman Waktu bersurat rindu tercinta Menjelaskan maksud supaya nyata Jadi membuat sepotong kertas Boleh terang didengar cepat Dengan takdir chaligur rahman Kakanda beroleh karunia
(51) Sembah sujud adinda tuan Sampaikan Allah mudah-mudahan Kakanda tuan orang berdosa Tiadakah takut akan berdosa Karena adinda terlalu bodoh Sekarang adat tiadalah tahu Inilah mulanya adinda karang Menjadi mimpi berkirim layang Suatu lagi sembah adinda Jikalau maksud kiranya ada Karena adinda bersakit liati Kakanda tuan ampun pekerti Dapat sengsara tiada terperi Obat penyembuh sukar dicari Anak baginda membeli kain Kepada kakanda muda bangsawan Dengan sepenuh-penuhnya pengharapan Sedikitpun tidak menimbang rasa Mudahan mati terkena siksa Tiadalah bisa membawa laku Kakanda jangan terkena pilu Tersalah mimpi pada sekarang Tiada kuasa tidur seorang Pada kakanda bangsawan muda Jangan disimpan di dalam dada Siang dan malam tiada berhenti Baik dibunuh supaya mati Penyakit masuk ke dalam diri Menan ti sebab kakanda gusti Orang cina menjuali
(52) Bukannya gila dengan yang lain Kerahkan juga kota Malaka Jikalau tulus sedia sekata Tiada yang lain dia kayalkan Adinda turut seperkataan Adinda serahkan badan dan nyawa Umpama di bawa ke negeri jawa
Adinda ikut tiadalah enggan Sakitnya sangat tiada tertahan Aduh kakanda bayan bestari Janganlah lama beri lestari Diri adinda sangatlah sesat Tiadalah senang orang yang bersiasat Hendak mendapat barang sekarang Kakanda jangan berhati berang Gila kakanda yang mengobatinya Kapan di jawa saya potongkan Badan dan nyawa saya serahkan Menan ti kasih kakan da tuan Mana perintah diadalah enggan Pasti setia ke mana kakanda bawa Adinda tuan ikut juga Asal kiranya sembuhlah badan Salah obatnya jadi benturan Obat penawar bawa kemari Supaya jangan rusaklah diri Kalau tiada diberi obat Dengan kakanda hendak ketemu dengan kakanda persis gemilang Tiada berumah di tanah seberang
(5 3) Apakah guru bayan bestari Dimohonkan jangan berhati ngeri lnilah niat hambanya ini Jikalau sungguh si laki-laki ltulah niat hamba yang miskin Dihari waktunya dingin Tamatlah layang sudah dibaca Beriak-riak bunyinya kata Segera berkata burung belatuk Aku tak suka berbau busuk Tinjau menjawab ketika muram Meski berbau di bawah perut Belatuk itu menjawab lagi
Apakah bahan itulah karang Belatuk itu berkata lagi Meminta obat tiada yang memberi Janganlah takut membuang diri Kakanda tuan sudah mengerti Janganlah takut luka sejari Tidur tiada beralaskan kain Tambahan pula ditiup angin olehnya bayan bangsawan muda Mengambil obat mahal harganya Jalan tinjau kamu pulang Di bawah pusat bunyi menggaruk Belatuk ini sangat pembohong Celana itu terlalu molor Aduhai ding ditinjau karang Di bawah perut muka berlobang Aduhai tinjau ibunya si amang
(54) Dengan aku maukah sekarang Tinjau berkata tersendat-sendat Cerita kamu tiada berpikir Tinjau pun lag sarong disingsing Anak tersambar anak anjing Belatuk menjawab dengan lestari Baik di bawa ke hutan sunyi Belatuk berk-ata sambil melucu Siang dan malam di dalam kelambu Tijau itu hatinya menyesak Baik aku bersuami si burak Belatuk berkata sambil .mendekat Tentu sulbimu rasa menyasak Karena burak-burak pendekar Baiklah tidur ke teras Marilah kita ke bawah pisang Muka belatuk ini anak kampung sundal MUlca belatuk seperti bekal Terlalu juga anak sigunting
Biar ku asap kujinjing Mengamuk jangan dipendami Diserahkan kepada anjing dan babi Baiklah tinjau bersuami dengan ku Merasai juga rujak mengkudu Belatuk anak terkubur Dengan kamu aku tak setuju Ketika kamu bersuami si burak-burak Sebab halunya lebih segenggam Halunya itu terlalu besar Supaya tongkatnya jangan tergentar
(55) Tinjau menjawab dengan lestari Anjing belatuk aku tepuki Tinjau berkata berbagi-bagi Muka kamu kalau ku injak Bayan berkata dengan perlahan Belatuk itu jangan dilawan Burung bayan segera memanggil Belatuk itu orang mabuk Adapun akan tinjau bestari Dengan sekiranya ia kembali Tinjau melayang ke seberang Bajunya putih berwama hitam Tinjau datang dengan perlahan Mengabarkan hal surat kiriman Galuh karuang seorang diri Belatuk anak kampung babi Laki-laki ini hendak sekali Belatuk itu kalau bawa ke sini Belatuk mundur sambil teriak-teriak Tinjau jangan berkelahi Karena belatuk gila-gilaan Aduh saudaraku si burung tinjau Jadi katanya bunyi kacau Setelah ia mendengar dari Ke seberang terbang menari-nari
Mampir di jalan titian panjang Lalulah anik pada sekarang Menghadap karuang emas tempawan Sampai diteri bayan bangsawan Tinjau pun datang dengan lestari
(56) Tinjau pun segera ditanyai tersebut pula si burung bayan Surat tiada lepas ditangan Setelah selesai bay an mem baca Adalah masgul di dalam hatinya Pikiran bayan sudahlah tamat Beroleh pantun sidangan hormat Bayan mengatur sangatlah cantik Dawatnya perada kertasnya kuning jurutulis bayan memerintah layang Hati di dalam rasanya goyang Jurutulis bayan menulis madah Beberapa rajuan di dalam warkat Duduk menyurat si burung bayan Berbaik-baik perka taan Sudah surat diserahkan tadi Ia pun duduk dekat peraduan Memikirkan membalas surat kiriman Surat kiriman demikian bunyinya Menjadi surat dibuka isinya Lalulah ia duduk menyurat Kepada karuang yang amat cepat Kertas cina segera digunting Supaya karuang enggan berpaling Membalas warkat galuh karuang Inilah jadi dibalas kembali Mencari pikir tunduk tengadah Mengatakan diri yang sangat susah Bunyinya banyak di dalam tulisan Daripada sangat malu dan sopan
(5 7) Setelah selesai membuat tamsil Ia pun datang duduk didipan Berkata bayan orang terbilang Engkau ini ku pinjam kembali Segera mendengar si burung barat Sampaikan kepada galuh kasikat Kalaupun hendak pergi ke hutan Kalaunya sampai ke simpang dua Mendengar pula si burung palung Hendak ke gunung berduaan Ke batu piring kita berjalan Kita mampir di rumah paduka pawang Kalau tiada terlihat orang Mendengar pula si kalaliang Kepada si molek si pipit hitam Burung sarindit lalu dipanggil Serta lalu diberi wakil Aduh kakanda serindit sungsang Membawakan surat karuang Kami ini ikut berkirim surat Kalau mau ia mupakat Kalaunya mau seperahu berdua Bertanya hajat hendak berdewa Hendak mupakat pergi ke gunung Kalaupun bertolak dipagi hari Terdapat pondok kita mampir Kita berduduk serta menginang Daging lebihan diangkat kembali Kami ikut berkirim layang Jum 'at nanti ambillah uang
(58) Ambillah duit seringgit perak Peluk dan cium sesukahati Mendengar pula si burung baru Bilangkan kepada katatupi janda Kurang empat uang sesuku ambil kemari Nan ti ku beri seP,erti bendi
Mendengar pula si burung suwit Bilangkan kepada belatuk manit Ambillah duit kepekan angkinang Disitulah banyak ketan hitam Sekalian burung sating tertawa Keluarga karuang perempuan Tetapi cerita inilah dusta Maaf dan ampun sekalian kita Kalaunya sungguh bersaudara Nan ti ku tambah rupiah berkeping-keping Kalau serindit seorang itu Ambillah duit kurang empat uang suku Serta bawakan manisan sesawi Ku tambah juga em pat ekor ikan asin Aku berpesan juga sedikit Kepekan angkinang ambillah duit Galuh adinda hendak malamang Tetapi jangan berteman orang Keluarga bayan lelakian Masing-masingnya dengan hiburan Di mana ada burung berkata Laki-laki perempuan jangan merasa
(59) Kepada serindit saudaranya Kepada bayan muda terbilang Sebab kamu malu pada karuang Mengantar surat ada bertanda ini Dipintajangan kedua kali Aduh saudaraku bayan bangsawan Untuk mengantar surat kiriman Burung belatuk dipanggil kembali Menuju kemari paduka kakang AdUh kakanda orang yang cepat Kepada karuang kasuma ningrat Belatuk berkata hidmat laku Surat lalu dipungut itu Belatuk melayang ke seberang
Mampir di jalan titian panjang J angan di dengar dengan segeranya Serindit menjawab dari sekarang Mengantar surat taruh dipinggang Dipinggang ditaruh terus-menerus Sebab malunya tiada terperi Serindit berkata dengan perlahan Baik belatuk tuan sembahyang Bayan berkata dari sekarang Maukah kiranya mengantarkan layang Antarkan sebentar inilah surat
Supaya jangan menjadi melarat Kakanda berjalan suka selalu Serta dibuat ke dalam saku baju Bajunya putih berserat hitam Kemudian bertemu si tinjau karang
(60) Tinjau berkata sambil berselang la marah satung disingsing Kita ini saudara sepupu Kita berkata dari datuk Kemudian ku beri dus rial sekuku Untuk bekal ketiang tiga Tinjau berkata marah selalu Kalau ku tepuk muka dengan abu Katanya belatuk janganlah acting Halu ditangan lempar ke samping Burung tinjau mulutnya lentik Belatuk mundur sambil menoleh Karuang terkejut di dalam peraduan Kemudian ke luar dengan perlahan ini akan datang anak si gunting Muka belatuk seperti anjing Dari datuk sampai ke nenek Nan ti ku beri ringgit satu Untuk adinda membeli kelambu
Kita menghabiskan mengambil mengkudu Mengkudu peninggalan datuk dahulu Tinjau lalu memungut halu Nanti aku membelikan anting-anting Malam nanti aku menemani tidur Menyumpah sambil menyingsing sarung la tertawa terkencing-kencing Mendengar tinjau tanya jawab Katan ya jangan berkalahi
(61) la berkata manis kelakuan Belatuk itu jangan dilawan Belatuk berkata dari sekarang Kami ini membawa layang Surat diserahkan dengan lestari Tiada menoleh kanan dan kiri ____ .,__.,~,lia~ t~~~~~t 00rung belatuk MiUK '} '.~ ;Ila.tan,~ ~efJ?~Wa yang yang elok m-=Kl:.~ '.~l!~ _ g emas juwita D E~ NS§il-fl.ifa ~n! ' 1 bukannya jawa Dft'J · bahan dakwamu Kertas kuning dibuat ragam Salam ta 'zim kakanda datang Jatuh kaharibaan amat cemerlang Jadi kakanda berkirim layang Wahai tinjau adinda tuan Kalau belatuk ada bawaan Terlalu culas tinjau karang Diperin tah oleh bay an terbilang Belatuk itu segera kembali Kembali menuju bayan bestari Karena ia sudahlah kembali Dengan kiriman lalu dibuka Hatinya gundah ketika membaca Wa madawatil laili wal ayyami Pantunnya bersama dengan gurindam Di bawa angin terbang melayang
Dipinta jangan berhati wayang Sangat beraninya bukan kepalang
(62) Mudahan sampai dari sekarang Jadi kakanda min ta sampaikan Takdir berlaku yang demikian Tiada berkata adinda ratu Lagi pula miskin dan piatu Tiada berguna dirik u gerang · Hendak kepada orang terbilang Adinda tuan yang bijaksana Sedang mencari ke sana ke marl Tiada berguna dirik u tuan Diri yang miskin menaruh rawan Jadi kakanda berkirim surat Seribu Allah puji dibuat Cih emas kasuma gusti Sedang mencari ke sana ke sini Datang menghadap in tan dikarang Kepada adinda intan cumbuan Diripun hina lagi buangan Sebab kakanda orang yang bodoh Tiada berguna rasa badanku Diri yang miskin tiada beruang Patut dimarahi oleh karuang Lagi tuan can tik bagi Arjuna Seperti intan kumala ratna Lagi pula tempat tiada menentu Rasanya tiada berkesudahan Kepada adinda kesuma ningrat Menyampaikan pesan yang rindu kuat Menjadi apa diriku ini Hanya adin pemutus hati
(63) Selama kakanda dihidupkan Allah Mendapat suka belum peramah Gundahnya hati bukan terperi
Seperti inijadinya diri Subhanallah celakanya badan Adinda juga puny a buatan Air mata tatuh tiada berhenti Jika diturutkan kehendak hati Aduh ratu mas bintang sewasa Menaruh rindu tiada bermasa Peri terkenang adinda tuan Turun ke tanah memandang bulan Emas merah kesuma ningrat Di bawa berzikir serta keringat Selama kakanda berhati rindang Di dalam dunia lamalah sudah Hany-a menaruh rawan dan gundah Beberapa sudah lamanya hari Tetapi sudah Tuhan memberi Air mata jatuh berhamburan Empat belas hari tiada makan Malu bercampur Iara berganti Sampailah ajal diriku mati Si kecil molek timbanglah rasa Jikalau lama tentu binasa Tiada lupanya lama kelamaart Hati berubah bagai lautan Beberapa lama tiada melihat Jangankan berhenti bertambah gila Tamsilkan rumput di tengah padang
(64) Jikalau dapat hangat yang keras Dendam rindu terlalu sangat Lenyap pikiran hilang pengingat Tatkala kakanda duduk terpakur Hanya air mata juga yang mencucur Hendak menamu jalannya jauh Mendengar angin kata gemuruh Sudahlah untung pasti diriku Terkenang adinda demikian laku
Sudahnya untung napasnya badan Terkenang adinda yang demikian Tetapi janji diriku sudah Sekedar adinda terlaj ur salah Kakanda terdengar di dalam warkah Obat dicari bukannya mudah Daunnya rontok tertinggal batang Di dalam hati bagai kiamat Rasanya tiada bersemangat Mata yang ngantuk tak mau tidur Di dalam hati rasanya hancur Berpesan tiada yang diperintah Tangkai jantung rasanya luluh Terkurung sakit terlebih malu Rasanya busuk di dalam kalbu Terkurung sakit terlebih sopan Lebih baik busuk di dalam badan Terkurang malu terlebih susah Jangan menyesal ratu mas merah Rasa diruntuh di dalam musnah Tertekan hati lalu berebah
(65) Hati kakanda rasanya penuh Penyakit ditimbang besar kehendak Tamsil perahu tenggelam di laut Karena janji sudah terpaut Tamsil layang-layang putus benangnya Kertasnya hancur tiga rangkanya Air mata jatuh berlinang-linang Hatipun kalut seperti benang Beberapa lama bersendang kasih Umpama berbatasan gunung bertampang Kakanda terkenang sudahlah nyata Rupa pun jahat semata-mata Kakanda ini sudah terbuang Lagi pula tiada beruang Jikalau adinda hendaklah tahu
Di dalam hati rasany sesak Salah pengobatan jadi menyamak Siapa yang harus lagi menyambut Jangan dilepas kakanda berpegang Deritajatuh di situ tempatnya Jadi bercinta tiada putusnya Tiada akan putus hati mengenang • Makan sesuap rasanya kenyang Mencintai adinda muda yang putih Di bawa bertemu maka berhenti Janganlah lagi dicita-cita Tetapi hebat baik senjata Janganlah lagi dikenang-kenang Patut dihina oleh karuang Akannya hati kakanda itu
( 66) Bay an tiada d ua dan tiga Jikalau hendak tahu sekarang Itulah rupanya menghina orang Surat adinda minta obati Kalau merasa atau tiada Gal uh karuang membaca warkah Hati di dalam terlalu gundah Galuh karuang sakit hatinya Makin bertambah sopan malunya Kapal berlayar datang dari aceh Katanya karuang benarlah kasih Sayang sedikit sampannya pecah Kakanda datang maka dihina Anak kepiting di atas batu Orang miskin yatim piatu Coba kese berangkan tuan berlaku Akan sikap orang seberang Seumur hidup tak mau hilang Ke seberang saja mencoba-coba Akannya penyakit di dalam dada Lemah lembut bunyinya lidah
---~-------·-···-···-· ••--·--- HO-••-•••
Sebab tergantung ada yang menghina Mendengar layang demikian bunyinya Tunduk berderai air matanya Sayang sedikit sampannya pecah Kakanda datang maka dihina Syarat membuat bunga teratai Beberapa saat sampainya hati Anak beruang berjalan lewat Patut karuang tiada setuju
(67) Karuang membaca surat kiriman Dengan tinjau berhadap-hadapan Galuh karuang muda bangsawan Berkasa ungu berbunga-bungaan Kepada tinjau ia berkata Tiadalah ingat sembarang apa Rasanya tiada tertahan Kepada kakanda bayan bangsawan Rasanya tiada tertahan lagi Kepada bayan baik budi Jikalau kakanda tinggal seorang Habis terserah padamu kakang Tinjau itu menjawab kata Jikalau ada kabar dan warta Karuang menjawab manis kelakuan Di dalamnya banyak perkataan Memberi bimbang hati yang rawan Lalulah segera berganti pakaian Berbaju seteng berwawalangan Patik pun hilang budi bicara Kakanda bayan dimata-mata Baik aku mendapatkan Hendak meminta persembahan Kiranya hendak menemui Hendak meminta persembahan diri Hati di dalam tiadalah senang Patik rasanya hendak menamu
Kakanda menarnu apakah kerja Baile kabarkan supaya nyata Baile ia hendak berjalan
(68) Karena cerita tiada menentu Tinjau itu berkata lalu Janganlah mimpi seperti itu Kakanda jangan hendak menamu Cobalah pikir tuan seorang Galuh karuang muda bangsawan Masih tak dapat ia menahan Adapun akan galuh karuang Lalu berdiri di muka pintu Bayan itu lalu terpandang fa tak heran rupanya sekarang Karuang naile dengan perlahan Lalulah duduk mendekat bayan Karuang berkata dengan lestari Jikalau kakanda kiranya sudi Susahlah patik mengabarkan Aduh karuang saudaraku Terlalu sangat memberi malu Terlalu memberi wirang Sudah menghina diusir lagi Mendengar kata yang demikian Keseberang terbang perlahan-lahan Setelah sarnpai dari seberang Kalungnya berulas kembang berkarang Dilihatnya datang galuh karuang Lalulah ia membelakang Lakunya manis memberi rawan Katanya maaf apalah tuan Katanya maaf badan pun abadi Adinda min.ta obati
(69) Segera berkata si burung bayan Penyakit apa itu gerangan
Cih, cih ya .Allah mirnpikah kakang Lebih sebulan nyata dibilang Bayan berkata memberikan wayang Jikalau sungguh kasih dan sayang J anganlah barang emas juwita Sekarang ini bertemu kita Sekarang ini kita bertemu Jangan kiranya menaruh malu Cih, cih emas dew a susunan Malam dan siang tak kelupaan Dewa menjodohkan kita berdua Kakanda mencintai selamanyajuga Caluk: karuang duduk bersanding Katanya aduh ratu mas bulan Kakanda tiada ke dukun Kepada adinda tiada menimbang Mak an dan min um tiadalah senang Kemari duduk intan dikarang Jangan kiranya menaruh berang Tiada yang lari kakanda cin ta Rasanya mendapat kadut perimata Dengan puan emas kasuma ratu Emasku seorang sedang dipangku Dengan puan emas kasuma ratu Emasku seorang yang terkenang Sekarang ini bertemu Dengan puan emas utama jiwa Emasku seorang ketimbangjiwa Memandang bay an tersenyum.
(70) Tetapi rupanya pucat dan kuning Susah pikiran galuh karuang Bagiamana kiranya ketahuan orang Bayan itu muda bersabda Kalau orang kemari ada Bayan membawa ke dalam peraduan Dipegang pinggang dicium tangan
Bayan itu .hendak didukung Lepas dahaga lama terkurung Galuh karuang sangat murkanya Terlalu sangat gilanya karuang Sarungku inijangan dibuang Bayan berkata dengan perlahan Sudah adatnya di dalam peraduan Bayan itu muda bestari Bayan mencium karuang berpaling Ia berpikir dihati seorang Pasti perasaanku dibunuh orang Janganlah gundah emas adinda Hendak mencobai tikeman kakanda Dibujuk dengan senandung cumbuan Lalu ditaruh di atas rimbaan Galuh karuang berserudung Di luar sarung mencium hidung Kepada bayan diracuninya Seperti melakukan isteri sendiri Tiadakah malu bertelanjang Kakanda tiada malu dan sopan Kakanda ini sudah kesurupan Memeluk pinggang mencium pipi
(71) Dipegang tangan kanan dan kiri Emas merah utama jiwa Meski dibawa ke tanah jawa Tamsil emas permata intan Jika umpamakan ikan Tamsilakan emas permata intan Jika umpamajual bell Emas susun memanglah asli Emas seperti kumala ratna Sukar didapat perbandingannya Pasti dipungut lalu diikat Persis terkait lalu dimakan Tingginyajauh di atas awan Seribu tidak bisa kurang.
BAB IV KAJIAN/PENGUNGKAP AN NILAI TRADISIONAL DARI ISi NASKAH
Naskah kuno yang ditulis dengan huruf Arab clan memakai bahasa Banjar ini merupakan sebuah fabel yang menceriterakan tentang watak clan kehidupan manusia yang pelalrunya diperankan oleh berbagai jenis burung. Pemaparannya dalam bentuk syair dengan kata-kata bahasa Ban.jar yang kocak. Sehingga apabila di baca dalam bentuk aslinya akan senantiasa acla rasa humornya.
Isinya dimulai dengan menceriterakan berbagai sifat clan sikap manusia yang diperankan oleh burung-burung tersebut, menggambarkan bagaimana mentalitas masyarakat setempat pada waktu naskah ini ditulis. Adanya struktur dalam kehidupan masyarakat tergambar dari terdapatnya sebutan-sebutan seperti Raja Enggang, Panglima Halang, Pembekal Palung yang disebutkan memakai pakaian kebesaran sesuai dengan jabatan yang diembannya. Selain itu terdapat juga tokohtokoh masyarakat yang dikenal bijaksana/berilmu, berani atau mampu melerai pertengkaran yang terjadi.
Digambarkan juga kebiasaan yang terjadi apabila berlangsung suatu keramaian (pesta) atau suatu pertunjukan kesenian
(wayang) sering terjadi kericuhan di kalangan penonton. Masalahnya selalu ada orang yang suka membuat onar. Dalam naskah ini digambarkan bahwa dengan tampilnya burung Cuncuruak menari di hadapan hadirin yang karena perilakunya gila-gilaan dan sambil mengolok-olok, maka burung Kaka tua yang berdarah muda merasa tidak senang. Apalagi Cuncuruak tersebut bukan penduduk desa bersangkutan, tetapi sebagai penonton yang berasal dari desa luar. Diam-diam Kakatua mengambil beberapa buah batu, dan ketika orang-orang sedang bersorak-sorai ia lemparkan batu-batu tersebut ke tengah gelanggang. Akibatnya banyak hadirin yang terkena. Keadaan jadi kacau karena penonton banyak yang berusaha berlari meninggalkan tempat keramaian. Akibat berdesak-desakan, maka terjadilah perkelahian. Karena kebiasaan masyarakat selalu membawa senjata tajam, maka tusuk menusuk menggunakan pisau dan kerispun terjadi, bahkan ada yang menggunakan parang dan tom bak.
Dalam keadaan seperti tersebut di atas tergambar pribadipribadi setiap orang. Dalam naskah ini dikemukakan seperti Cuncuruak yang membuat masalah karena prilakunya yang menjadi ga_ra-gara sehingga ia tidak disenangi dan dilempari oleh Kakatua. Cuncuruak memang burung yang berani dan suka membuat gara-gara. Sehingga tindakan hendak mencelakakannya dihadapinya dengan senjata terhunus, akibatnya terjadi tusuk-menusuk dan banyak lawannya yang terluka. Bahkan ia menantang terhadap siapa saja yang berani menghadapinya .
. Gambaran lainnya tentang mereka yang hanya berusaha mencari selamat diri sendiri saja. Misalnya, seekor burung Pialing yang lari bersembunyi di rumpun paring (bambu), burung Pialau yang lari paling awal, serta yang lain-lainnya seperti burung Punai, burung Putih dan lain-lain.
Dalam keadaan seperti tersebut di atas tampaklah pula peran tokoh-tokoh masyarakat. Dalam even sererti ini ketokohan yang berkaitan dengan keberanian (kejagoan) seseorang akan tampak. Dalam hal ini bukan tidak mungkin tokoh wanitapun bisa tampil. Seperti digambarkan dalam' peristiwa ini, burung Palung selaku seorang Lurah yang dibantu isterinya burung Tiung, hanya dengan bersenjatakan pel1lllkul tampil di tengah kericuhan untuk mendamaikan keadaan. Sementara Elang yang menjabat sebagai Panglima sibuk ke sana ke mari untuk melerai perkelahian. Terhadap mereka yang tidak mematuhi terpaksa harus ditendangnya. Tetapi bagi Elang Tambunan yang dikenal sebagai tokoh panglima masa dulu, ia melerai dengan penuh bijaksana, pengaruhnya besar sehingga tidak perlu dengan kekerasan. Lain halnya dengan Pikakah yang punya ilmu digjaya sendiri, ia melerai perkelahian dengan mudah. Walaupun mereka yang bermusuhan sama-sama bersenjata ia masuk di antara keduanya dan memisahkannya, dan kedua mereka yang bermusuhan sama-sama merasa takut kepadanya. Namun demikian karena kericuhan tersebut sudah sangat meluas, mereka yang terlibat perkelahian sangat banyak, maka usaha para tetua masyarakat tidak berhasil melerainya. Untuk itulah perlu tindakan pimpinan tertinggi, yakni oleh si Raja Enggang.
Si Raja Enggang pun berdiri, sambil memandang ke kanan dan ke kiri ia berkata agar semuanya mendengarkan dan supaya perkelahian segera dihentikan. Wibawa raja tersebut sangat disegani, sehingga perkelahianpun berhenti. Bahkan mereka yang tidak meninggalkan tempat hiburan tersebut masih bisa menyaksikan dan melanjutkan pertunjukan keramaian.
Dari peristiwa tersebut di atas, tergambar tentang keadaan dan perilaku masyaraka t di daerah yang bersangkutan pada waktu itu. Raja atau orang yang dirajakan, yang umumnya di masyarakat disebut Ketua Suku dalam kehidupannya tidak mernisahkan diri dari masyarakat. Dllam waktu-waktu tertentu raja bersama-sama anggota masyarakat mengadakan dan menyaksikan hiburan. Di mana para pimpinan masyarakat dan rakyatnya bisa menyaksikan pertunjukan wayang atau yang lainnya. Bahkan dalam kesempatan lain bisa menari dan menunjukkan keahliannya dalam bidang seni.
Hal yang seriilg terjadi dan tidak dikehendaki adalah terjadinya perkelahian antara pengunjung pertunjukan/hiburan tersebut. Umumnya karena olah mereka yang memang mencari .gara-gara dan biasanya tidak bisa diterima oleh pihak lain, !Jiasanya oleh para pemuda/jagoan dari kelompok dan desa lain Manakala hal tersebut terjadi, maka mereka yang bertanggung j awab harus kerja keras dengan penuh resiko. Namun tokoh-tokoh masyarakat biasa turut menanganinya. Apabila kericuhan sudah sangat kacau dan sudah sulit diatasi oleh tokoh-tokoh masyarakat biasa, maka pimpinan teratas perlu turun agar kericuhan dapat dihentikan dalam waktu singkat. Peran pimpinan teratas (raja , ketua suku) sangat dominan, ditaati, disegani dan dihormati.
Berkai1an dengan hal di at~. maka sesuai dengan pola kepemimpinan dalam masyarakat Banjar, di mana naskah kuno ini ditulis, bahwa bentuk kepemimpinan yang menyatu antara kepemimpinan formal dan informal dalam diri seseorang, merupakan kepemimpinan yang sangat dominan. Seperti diketahui bahwa dalam masyaraka t Banjar dikenal kepemimpinan formal dan informal (tradisional). Pimpinan adalah struktural yang ditetapkan berdasarkan penugasan dari atas. Mereka itu adalah Lurah (Pembekal) dan perangkatnya. Sedangkan pimpinan informal lahir karena pengakuan masyarakat. Mereka ini seperti ulama/ orang berilmu, orang kaya yang sosialnya tinggi, orang yang berani/mempunyai kesanggupan mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang timbul di antara anggota masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kepemimpinan masyarakat Banjar, bahwa pimpinan informal (tradisional) dalam masyarakat lebih dominan pengaruhnya daripada pimpinan formal. Akibatnya dalam masyarakat tersebut apabila pejabat formal mempunyai kebijaksanaan yang bertentangan dengan para pimpinan informal, maka anggota masyarakatnya akan memihak kepada pimpinan informal. Karena itulah suatu ' kebijaksanaan atau program kegiatan yang dibuat oleh para pimpinan formal mutlak harus mendapat dukungan atau paling tidak serasi dengan pendapat para pimpinan informal (tradisional) di masyarakat. Dari hal di atas, bagi seorang pejabat formal yang bertugas di masyarakat Banjar, untuk dapat berhasil ia perlu lebih dahulu menjalin hubungan baik dan mendengarkan pendapat-pendapat para pemimpin informal (tradisional) khususnya para ulama sebelum ia melakukan tindakantindakan dalam pelaksanaan tugasnya.
Membaca gambaran kepemimpinan yang dilukiskan dalam naskah ini, di mana dalam mendamaikan suatu kericuhan para pimpinan formal dan informal, mereka sama-sama melakukan tindakan. Tindakan mereka ditaati dan tidak ada yang berani melawannya. Namun karena kericuhan sudah sangat meluas, maka perlu raja/pimpinan tertinggi turun tangan menghentikan hanya dengan berkata agar semua menghentikan perkelahian, yang langsung ditaati.
Dalam ketatamasyarakatan masa lalu, di daerah Banjar umumnya mereka yang menduduki jabatan struktural adalah mereka yang sebelumnya sudah dikenal sebagai pemimpinpemimpin informal di masyarakat. Sehingga gambaran seorang pimpinan dalam masyarakat Banjar waktu dulu adalah seorang yang: (l) bijaksana karena ilmu dan pengetahuannya, (2) menjadi panutan dalam kehidupan beragama karena kealiman dan kearifannya, (3) dicintai dan dibela masyarakat karena kekayaannya banyak digunakan untuk kemaslahatan masyarakat, serta ( 4) disegani bahkan ditaku ti karena keberaniannya clan kesanggupannya menghadapi mereka yang mau berbuat jahat di masyarakat.
Gambaran kehidupan lainnya yang terdapat dalam masyarakat adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan mudamudi. Banyak hubungan muda-mudi ini terjalin melalui peristiwa-peristiwa ketika mereka sama-sama menghadiri keramaian yang diadakan di lingkungan desa mereka. Maklumlah tradisi desa masa itu yang tidak memungkinkan anak-anak dara ke h.iar rumah dengan bebas. Umumnya mereka yang meranjak gadis sudah merupakaJI anak pingitan. Para orang tua akan maltl apabila anak-analmya bebas ke luar rumah, apalagi berani berhubungan dengan f'emuda secara terang-terangan di hadapan masyarakat.
Diceriterakan dalam naskah ini bahwa setelah peristiwa ribut-ribut dalam arena keramaian tersebut dapat dihentikan, maka pertunjukan diteruskan dengan menampilkan mereka yang mau menari. Suasanapun menjadi ramai kembali.
Dalam suasana penuh gembira tersebut, semua yang hadir terkesimak dengan munculnya di antara para penonton seseorang yang menjadi perhatian karena cantik, sehingga menarik perhatian orang. Ia adalah yang disebut Galuh Karuang. Galuh adalah sebutan kesayangan bagi seorang remaja puteri. Penampilannya yang dilukiskan memakai baju merah dengan kalung di leher serta bunil (gewang) di telinga, membuat banyak burung-rorung jantan yang mengaguminya. Ada yang menyatakan ingin melamamya, ada yang ingin menanyai identitasnya, ada yang menyatakan ingin memegangnya, ingin bersatu roh dengannya, dan bahkan banyak yang mengaku tidak bosanbosan memandangnya.
Dari sekian banyak yang tertarik terhadap Galuh Karuang tersebut, maka ada seekor burung yang bemama Bayan yang dalam arena keramaian tersebut bertugas sebagai pemukul gong. Ketika ia memperhatikan Galuh Karuang, hatinya juga tertarik sehingga ia kehilangan konsentrasi dalam tugasnya sebagai pemukul gong dalam keramaian tersebut. Akibatnya banyak bunyi gong yang tidak sesuai dengan irama gamelan yang dibunyikan. Karena kesalahan-kesalahan yang berulangulang tersebut, orang-orang pada paham kalau Bayan tidak konsentrasi lagi karena pandangan dan hatinya selalu tertuju kepada Galuh Karuang. Penonton bersorak menyatakan Bayan hatinya rusak kepada Galuh Karuang. Begitu malunya maka Bayan pun meninggalkan tempatnya demi melepas tugasnya sebagai pemukul gong.
Demikianlah awal kisah percintaan antara Bayan dengan Galuh Karuang. Bersamaan dengan berakhimya keramaian tersebut, Bayan pulang membawa perasaan jatuh hati terhadap Karuang. Ia selanjutnya meminta nasihat saudaranya yang bernama Sarindit, yang menganjurkan agar Bayan dapat bersabar.
Rasa cinta yang · menggelora di hati Bayan tidak dapat disadarkan lagi dengan nasihat bahkan dengan obat. Ha:tinya dan matanya telah sangat rusak. Galuh Karuang di hadapannya laksana bulan yang terang, matanya tajam seperti bintang, tubuhnya ramping, muka seperti bulan seiris, tangannya lentik, leher lengkuk seperti wayang, dan bila menelan sirih tampak karena putih dan bersihnya.
Bayan akhirnya menyuruh saudaranya Sarindit menyampaikan pesan lamaran kepada Karuang. Berangkatlah Sarirtdit ke seberang sungai, di mana Karuang tinggal. Namun walaupun Sarindit pandai berbahasa yang lemah lembut, bahkan dengan membawa sepuluh biji rupiah sebagai hadiah, ternyata Karuang tidak sudi menerimanya. Bahkan lebih dari itu Karuang mencaci maki terhadap Bayan. Disebutlah oleh Karuang kekurangan-kekurangan diri Bayan. Bahkan Bayan disamakan dengan anjing dan hantu, sehingga sungguh tidak tahu malu bila ingin mempersuntingnya yang dikatakannya sebagai bukan bandingannya.
Betapa sakitnya hati Bayan serta malunya dia karena cintanya yang ditolak. Apalagi tersebar berita oohwa Bayan karindangan (kasmaran) terhadap karuang, yang telah menolak dan mencaci-makinya. Bayan sangat terpukul dan menyesali dirinya. Di kalangan wanita juga Bayan menjadi pembicaraan, bahkan banyak di antaranya yang menyatakan seandainya Bayan menyukai mereka , maka akan ada diantaranya bersedua sarak (cerai) dengan suaminya.
Melihat keadaan Bayan tersebut maka beberapa burung memberi nasihat agar Bayan mencari ilmu pitua untuk menebus malunya terhadap Karuang tersebut. Atas nasihat dan petunjuk burung-burung yang bersimpati terhadapnya Bayan, maka dengan di temani saudaranya Sarinlit ia mendatangi Paragam yang dikenal tinggi ilmunya. Bayan menceriterakan rasa malunya dan meminta agar Paragam dapat menolongnya. Merasa kasihan terhadap Bayan maka Paragam memberinya ilmu pitua tentang asal usul wanita dan menyuruh bayan menoleh ke lambung kiri.
Dengan ilmu yang diberikan Paragam tersebut , ia lakukan pada suatu malam terhadap Karuang. Diceritakan pada waktu malam itu hujan turun, kilat sambar menyambar, guntur berbunyi bersahutan. Karuang sedang tidur nyenyak, bayangbayang menyerupai Bayan masuk ke dalam tubuhnya. Karuang terkejut dan badannya terangkat. Sejak itu sampai pagi ia tidak bisa tidur, rasanya Bayan selalu ada di sisinya, memeluknya dan meraba seluruh badannya.
Sejak peristiwa itu, Galuh Karuang selalu termenung. Makan dan minum tidak terperhatikan lagi. Rohnya serasa hilang karena selalu teringat si Bayan. Hatinya berubah dan seJalu teringat kepada si Bayan yang pemah melamamya dahulu. Bahkan lebih dari itu, badannya menjadi kurus, kepalanya selalu terasa sakit, dan kata-kata yang ke luar dari mulutnya tidak menentu.
Akhirnya dengan rasa berat Karuang memanggil kawannya si burung Tinjau. Ia ceriterakan bahwa ia pernah bermimpi dibelit naga gumbara, dan sejak itu kepalanya selalu terasa pusing. Di samping itu ia selalu teringat kepada si burung Bayan. Dikatakan oleh Tinjau bahwa Karuang terkena pitua (guna-guna) orang bahari (dahulu). Sejak itu tersiar kabar bahwa Karuang sedang sakit kerindangan (kasmaran) ke pada si Bayan. Banyaklah kawan-kawan Galuh Karuang datang mengunjunginya. Ada yang memberi nasihat agar melakukan usaha mengbilangkan kerinduan tersebut dengan mandi di sungai di belakang jam ban (kakus ), tapi banyak juga yang hanya menggodanya (mengoloh-oloknya ).
Selanjutnya Galuh Karuang meminta kepada kawan-kawannya untuk mencarikan orang pintar untuk melawan si Bayan, ·yang telah memberi malu dirinya terse but. Banyak pitua dan orang pintar yang memberinya ilmu untuk mengalahkan pitua yang dimiliki si Bayan. Tetapi satupun tidak ada yang mujarab. Malulah rasanya Karuang datang ke tempat Bayan. Karena itu ia hanya mengirim surat yang isinya minta maaf atas kata-katanya yang salah, mengaku diri bodoh, dan mengharap si Bayan dapat mengobatinya.
Bayan menerima surat yang dibuat Galuh Karuang. Ia memahami isinya bahwa Karuang menyesali akan tindakannya waktu yang lalu. Setelah lama mempertimbangkan kemudian ia membalasnya. Ia mengatakan bahwa Karuang tidak bersalah, karena ia memang tidak pantas mencintai Karuang yang lebih dari dia. Karena itu kalau Karuang pernah mengatakan kekurangan dirinya itu sepenuhnya dapat diterimanya. Ia menyadari bahwa ia seorang anak terbuang, karena itu ia meminta agar Karuang tidak usah mengingat-ingat dia lagi.
Ketika surat balasan Bayan tersebut dibaca oleh Galuh Karuang hatinya bertambah sakit, karena penyesalannya telah mengeluarkan caci maki terhadap Bayan pada waktu yang lalu tersebut. Sehubungan dengan itu ia nekad akan mendatangi Bayan di rumahnya. Ia sekarang merasa takut kehilangan Bayan , ia telah benar-benar mencintainya.
Ketika Karuang sampai di rumah Bayan dan berdiri di muka pintu, Byan pun lalu memandangilya. Tanpa dipersilakan naiklah/masuklah Karuang, lalu duduk di samping si Bayan. Dengan mengucapkan maaf kepada si Bayan ia kemudian memin ta agar Bayan sudi mengobati sakit rindunya. Bayan memahami gejolak jiwa Galuh Karuang. Karena itu dia pun kemudian mengungkapkan isi hatinya. Dengan kedatangan K.aruang tersebut ia rasanya mendapatkan kantung permata sebab ia pun sangat mencintai Galuh Karuang. Dan sekarang telah dapat bertemu, diciumnya Karuang dan diangkatnya ke peraduan. Karuang memperingatkan bahwa apa yang mereka lakukan ini berbahaya Namun Bayan mengatakan bahwa ia menjamin segala-galanya dan bertanggung jawab sepenuhnya.
Kalau di bagian muka telah diuraikan pengungkapan nilai yang berkaitan dengan gambaran dan perilaku masyarakat serta sistem kepemimpinan yang terdapat di daerah Banjar, maka pada bagian akhir naskah ini akan diuraikan pengungkapan nilai yang berkaitan dengan kehidupan muda-mudi masyarakat Banjar masa lalu. Dalam naskah ini ditampilkan seorang lelaki yang sebenarnya mempunyai kedudukan di rnasyarakat, namun berpenampilan sebagai orang biasa yang polos. Di pihak lain ditampilkan seorang wanita yang mempunyai daya tarik memikat, yang membanggakan diri karenanya dan memandang orang lain lebih rendah.
Bayan, pemuda yang tidak mempersoalkan kelebihan dan kekurangan seseorang ini, memang benar-benar terpikat olah kecantikan Galuh Karuang. Maksudnya benar-benar apabila diterima akan mengawininya. Lain halnya dengan ke banyakan pemuda lainnya yang juga tertarik dengan kebagusan wajah gadis tersebut, tetapi mereka segera melupakannya karena memang merasa tidak sebanding. Apa yang ditempuh para pemuda umumnya, dapat juga disimak sebagai suatu tindakan kehatihatian. Sikap ini memang masih tumbuh di masyarakat Banjar, yakni sikap tahu (sadar) diri.
Akan lain halnya dengan pemuda Bayan yang tidak memperdulikan latar belakang kedudukannya, ia secara polos mengemukakan keinginannya, tanpa memperdulikan pula reaksi yang bakal diterimanya. Maka akibatnya rasa pahit, malu di perolehnya.
Demikian pula dalam naskah ini digambarkan tentang kebiasaan jelek yang dimiliki wanita cantik, seperti sombong dan memandang rendah orang lain. Kesombongan itu mudah timbul karena yang bersangkutan mengetahui banyak orang yang mengaguminya, bahkan juga menyatakan rasa cintanya.
Sebenarnya perasaan sombong tersebut timbul pada seseorang karena yang bersangkutan tidak menyadari bahwa kelebihan seseorang itu terdapat pada f aktor atau bidang yang lain. Jadi kecantikan bukanlah satu-satunya ciri kelebihan seseorang
Dalam naskah ini dilukiskan kesombongan Galuh Karuang yang mencaci maki pemuda Bayan, karena yang bersangkutan menyatakan cinta kepadanya. Sebenarnya kesombongannya yang dinyatakan dengan caci makinya tersebut tidaklah beralasan, karena sebenarnya Bayan juga punya kelebihan. Bayan bukan pemuda sembarangan, ia cukup tampan dan punya kedudukan di masyarakat, sehingga banyak gadis yang menyatakan bersedia menerima cintanya seandainya Bayan memilih dirinya.
Digambarkan pula dalam naskah ini bagaimana simpati orang banyak terhadap Bayan yang cintanya ditolak oleh Karuang tersebut. Simpati ini lahir karena mereka menganggap Bayan cukup sepadan dan wajar bila menyanding Karuang sebagai isteri. Sebaliknya timbul rasa antipati terhadap Karuang karena sikapnya yang mereka nilai tidak wajar tersebut. Karena itulah ketika mengetahui si Bayan dalam keadaan bersedih karena malu ditolak cintanya oleh .Karuang, mereka .kemudian menyarankan agar Bayan meminta petunjuk kepada orang berilmu, di mana ia kemudian mendapatkan ~'Pitua" sehingga Karuang yang mencaci makinya merasa panasaran, dan selalu teringat kepada si Bayan.
Secara tidak langsung naskah ini memperingatkan kepada gadis dan perempuan cantik agar membuang sifat sombong yang biasa dimilikinya. Apalagi dalam masyarakat Banjar sanksi dari sifat dan sikap sombong dan menyakitkan hati orang lain tersebut sangat membahayakan bagi diri sendiri. Sebab orang Banjar dikenal banyak yang pintar yang memiliki pitua (gunaguna), yang bisa membuat seseorang sakit bahkan meninggal, atau setidak-tidaknya tanpa sadar menanggung rasa cinta (kerindangan) kepada yang dipermalukan/disakiti perasaannya. Sehingga tanpa mengenal malu datang meminta ampun kepada orang yang dipermalukan, bahkan meminta agar pemuda yang dipermalukan tersebut mau mengawininya.
BAB V RELEV ANSI DAN PERANANNY A DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDAY AAN NASIONAL
Dalam GBHN 1988 disebutkan bahwa budaya merupakan salah satu modal dasar pembangunan nasional. Selain dikemukakan pula bahwa kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus terus dipelihara, dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa, memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa serta mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsadi masa depan.
Memperhatikan isi naskah kuno Burung Bayan dengan Burung Karuang yang menjadi perlambang tokoh dalam ceritera ini, ada hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur yang sesuai dengan kebijaksanaan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Terhadap nilainilai positif yang dapat menunjang pembangunan mental spiritual bangsa perlu dilestarikan. Apalagi dalam menghadapi era globalisast sebagai akibat perkembangan teknologi di bidang
infonnasi dan komunikasi saat ini, sudah dapat dipastikan ba140 nyak masuk pengaruh budaya dari negara-negara maju yang tidak sesuai dengan kepribadian Pancasila bangsa Indonesia.
Beberapa nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Banjar, yang tergambar dalam naskah ini antara lain adalah:
1. Hidup bennasyarakat
Dalam kehid upan ini tidak ada seorangpun yang bisa hid up tanpa orang lain. Siapapun orang itu, ia selalu memerlukan orang lain. Karena itu dalam masyarakat masa lalu orang senantiasa berusaha menjalin hubungan baik sesama anggota masyarakat Karena itulah pada masa dahulu kebiasaan bergotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, seperti gotong royong dalam membenahi lingkungan desa, bahkan gotong royong dalam menanggulangi masalah atau musibah yang menimpa anggota masyarakatnya.
Gambaran lain dari kehidupan bermasyarakat pad.a masa dahulu tersebut, seperti selalu dapat menghargai orang lain, dan umumnya yang ber8angkutan akan dihargai oleh orang lain,. Untuk dapat terciptanya keadaan seperti yang digambarkan tersebut di atas, maka pada masa itu orang berusaha akan selalu hadir dalam setiap kesempatan di mana orang sedesa berkumpul, seperti dalam suatu keramaian yang diadakan oleh desa bersangkutan. Hal lain juga yang besar artinya adalah kebiasaan hadirnya tokoh-tokoh masyarakat dalam even seperti tersebut di atas, di mana yang bersangkutan mau berbaur dengan orang banyak tanpa membedakan jabatan, keturunan dan kekayaan. Kebersamaan para tokoh masyarakat dalam peristiwa seperti itu melambangkan keluhuran budi para pemuka masyarakat tersebut.
Lebih jauh bahwa hidup bermasyarakat tersebut termasuk pula kebiasaan menenggang hidup bertetangga, sehingga dapat berdampingan dengan damai dan saling tolong menolong dalam hal-hal yang perlu dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila orang menyadari sepenuhnya kepentingan hidup bermasyarakat, maka yang bersangkutan akan selalu berusaha mencegah hal-hal yang bisa menghilangkan menyebabkan terputusnya 'hubungan bermasyarakat.
2. Menentang hal-hal yang menimbulkan kekacauan di masyarakat
Orang yang lahir dan dibesarkan dalam suatu masyarakat yang damai dan toleransi antar penduduknya sangat tinggi akan selalu merasa terganggu apabila ada seseorang yang membuat onar di lingkungannya. Ada rasa kewajiban mereka untuk mencegah terjadinya hal tersebut di masyarakatnya.
Rasa tanggungjawab yang kuat untuk mencegah hal-hal yang mengganggu tersebut, sayangnya kadang-kadang dipengaruhi emosi sehingga tidak terkendali dan bisa menyebabkan terjadinya perkelahian. Karena itu pola pikir yang anti terhadap .hal-hal yang menimbulkan kekacauan di masyarakat ini perlu dicegah jangan sampai menjadi panatisme yang hidup dimasyarakat.
Pola pikir dan sikap masyarakat seperti yang disebutkan di atas akan banyak pengaruhnya khususnya terhadap setiap anggota masyarakatnya sendiri. Karena mereka sudah menyadari resiko berupa tindakan masyarakat apabila dia melakukan sesuatu yang menyebabkan terganggunya ketentraman masyarakat.
Gambaran masyarakat seperti disebutkan ini, umumnya terdapat di pedesaan di daerah Banjar. Olah laku seseorang anggota masyarakat di desanya selalu diperhatikan oleh anggota-anggota masyarakat lainnya. Lebih-lebih lagi apabila yang bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat tersebut bukan orang dari desa mereka, maka reaksi keras timbul cepat sekali dari anggota masyarakat bersangkutan. Tindakan mereka umumnya langsung menghukum, berupa reaksi yang sifatnya memaksa pelaku dimaksud untuk menghentikan perbuatannya.
Banyak peristiwa yang terjadi di masyarakat yang sifatnya mengadili segala perbuatan atau tingkah laku seseorang atau lebih-lebih yang dinilai bertentangan dengan norma-norma yang ada di masyarakat bersangkutan. Kejadian-kejadian itu antara lain :
a. Tindakan/perlakuan masyarakat terhadap seorang laki-laki dan seorang wanita yang diketahui berbuat serong/zina, maka masyarakat biasanya akan bertindak mengadili dengan cara mereka sendiri.
b. Seseorang yang melakukan pencurian terhadap milik orang lain kemudian dapat ditangkap oleh masyarakat, maka resikonya juga menghadapi pengadilan masyarakat sebelum diserahkan kepada yang berwajib.
c. Kalau ada seorang pengendara motor atau mobil yang menjalankan kendaraannya cukup kencang, apalagi ngebut, kemudian menabrak seseorang apalagi anak kecil di jalan desa tersebut, maka yang bersangkutan juga beresiko menghadapi kemarahan atau tindakan yang berutal dari anggota masyarakat bersangkutan.
Dari beberapa contoh peristiwa tersebut di atas, maka sepatutnya orang berantisipasi terhadap kelompok masyarakat yang mempunyai pola pikir dan sikap menentang hal-hal yang menimbulkan kekacauan di masyarakat mereka tersebut.
3. Agar menghindari sifat sombong
Salah satu missi ceritera dalarn naskah Burung ~ayan dengan Burung Karuang ini adalah menggam barkan bagaimana akibat yang diderita oleh seorang wanita yang bersifat sombong terhadap seorang laki-laki. Sehubungan dengan kegiatan melakukan pembangunan mental spiritual bangsa Indonesia menuju pembentukan manusia seutuhnya, maka sifat-sifat negatif harus bebas dari diri setiap bangsa Indonesia. Apalagi pada dasarnya sifat sombong bukanlah merupakan kepribadian bangsa kita. Karena orang Indonesia dikenal sebagai bangsil' yang ramah.
Ada beberapa hal yang perlu diingat dan diperhatikan yang menyebabkan seseorang bisa bersifat sombong, salah satu diantaranya seperti yang dilukiskan dalam naskah ini adalah keterbatasan pergaulan. Dampak hal yang demikian menyebabkan seseorang tidak jeli terhadap keadaan lingkungannya. Pandangan yang sempit tidak mampu membandingkan apa yang ada pada dirinya dan yang ada pada orang lain. Ia hanya mengetahui tentang dirinya sendiri. Karena itu apabila ia mengetahui ada pujian atau sesuatu yang dianggapnya lebih dari orang lain, maka timbullah sikap angkuhnya.
Padahal apabila seseorang banyak berhubungan dengan orang lain, maka ia akan banyak mengetahui tentang sifat tabiat, karakter, kepribadian orang lain, di samping tentang dirinya sendiri. Apabila ia menyadari bahwa semua manusia ini sama-sama diciptakan Tuhan dengan keanekaragamannya, yakni ada yang mempunyai kelebihan di satu pihak dan kekurangan di pihak lain, demikian pula sebaliknya, dan hal ini bahkan berlaku untuk semua manusia.
Khusus yang berkaitan dengan hal ini, pada wanita umumnya terdapat rasa bangga terhadap kecantikan wajahnya. Demikian juga pada laki-laki terdapat rasa bangga karena ketampanannya. Padahal banyak pendapat dan data yang berkaitan dengan kecantikan dan ketampanan ini, bahwa kedua hal itu biasanya berbanding terbalik dengan kecerdasan. Barangkali akibat kesombon~an yang biasanya terdapat pada mereka yang diberi kelebihan jasmaniah tersebut, mengakibatkan terdapatnya keterbatasan hubungan sosial dengan masyarakatnya. Secara tidak langsung mereka tidak populer dan tidak disenangi oleh orang sekitarnya, . sehingga menyebabkan sempitnya wawasan yang bersangkutan. Karena itu menghindari sifat sombong adalah merupakan nilai tata laku yang perlu kita warisi d$m rangka pembangunan moral bangsa Indonesia ini.
4. Kepedulian terhadap warga yang menderita
Pada bagian akhir naskah Burung Bayan dengan Burung Karuang ini digambarkan bagimana penderitaan, malu dan putus asa yang diderita oleh si Bayan karena olah perbuatan seorang yang bernama Karuang. Maks""d baik yang disampaikan secara jujur oleh Bayan, ternyata dilecehkan serta mendapat perlakuan yang tidak semestinya oleh Karuang. Kekecewaan yang dalam yang dialami si Bayan sehingga dapat merubah kepribadiannya dan kehidupannya ini, mendapat perhatian dan sirnpati dari masyarakat pada umumnya.
Kepedulian masyarakat terhadap masalah yang menimpa seorang warganya seperti yang digambarkan dalam naskah ini merupakan tata kelakuan yang terdapat dalam masyarakat Banjar sejak masa lalu. Tradisi yang bernilai sosial kemasyarakatan ini masih tampak dan dapat dirasakan terutama di daerah pedesaan pada saat ini. Sementara di masyarakat perkotaan sudah mulai meluntur. Bahkan di bagian-bagian perkotaan di mana terjadi persaingan ekonomi dan pamer kelebihan semakin menjadi-jadi, kepedulian sosial dimaksud semakin menipis. Sudah banyak terjadi dan terbukti antara mereka yang bertetangga, bahkan yang rumahnya berdampingan sudah tidak saling kenal mengenal. Satu sama lain masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, dan seperti tidak ada kesempatan untuk bertegur sapa, apalagi bersilaturrahmi saling kunjung mengunjungi.
Penderitaan yang dialami si Bayan yang d.idengar oleh seluruh anggota masyarakat karena perbuatan seseorang itu, kemudian mengundang banyak orang bersimpati untuk memberikan petunjuk dan saran-saran kepadanya. Demikian juga banyak mereka yang menyesalkan perbuatan si Karuang yang tega berbuat hal yang menyebabkan penderitaan si Bayaii:-- ·· Penyesalan tersebut umumnya datangnya dari pihak kaum perempuan.
Dari sekian banyak rasa simpati dan saran yang disampaikan kepada si Bayan tersebut, ada pula yang mendapat perhatiannya. Apalagi yang dampaknya akan dapat mewujtidkan keinginannya semula. Karena itu setelah mempertimbangkannya dengan masak, akhirnya dengan didasari niat baiknya ia pun menuruti saran tersebut, yakni mendatangi seseorang yang 'tt>erihnu,. yang dikenal dapat memberi sesuatu jalan guna terwujud harapannya. Walaupun sikap seperti ini tidak perlu ditiru pada zaman sekarang. Isilah kekurangan pada diri kita dengan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Seperti diceriterakan dalam naskah ini, Karuang yang sombong akhimya merasakan sesuatu yang tak tertahankan, sehingga ada dorongan keras untuk minta maaf kepada Bayan yang telah disakiti hatinya. Bahkan dengan ikhlas ia hendak membaktikan dirinya terhadap Bayan yang pernah dibinanya.
Dari kasus ini dapat diambil kesimpulan bahwa nilai tradisi di masyarakat masa lalu yang mempunyai kepedulian sosial tinggi terhadap orang lain, lebih-lebih terhadap warga yang ditimpa musibah, perlu tetap dihidupkan dalam masa pembangunan ini. Sekaligus dapat digarisbawahi bahwa perbuatan, sikap dan tingkah laku yang mendatangkan kerugian, penderitaan dan rasa malu terhadap seseorang itu, manakala orang yang dimudharatkan tersebut tidak clapat menerimanya, maka resikonya akan dirasakan sendiri oleh si pelaku, karena Tuhan Yang Maha Kuasa murka terhadap mereka yang membuat malapetaka di muka bumi ini. Sebaliknya Tuhan akan selalu membela orang yang benar dan menanggung penderitaan karena dizalimi oleh orang lain.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
Secara kesel uruhan dari isi naskah ini dapat disirnpulkan sebagai berikut :
a. Seni budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Banjar pada masa lalu, karena dapat berfungsi selain memberil<an hiburan even ini juga merupakan wadah untuk bersilaturrahmi.
b. Dalam arena pertunjukan seni tersebut tergambar kebiasaan tokoh-tokoh masyarakat yang mau berbaur dengan anggota masyarakat lainnya dari segala lapisan dan golongan.
c. Dalam masyarakat Banjar peran/pengaruh pemuka masyarakat sangat besar, terutama tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh-tokoh yang mau mengayomi masyarakat seperti orang kaya yang pemurah atau orang kuat/pemberani yang suka membela yang lemah.
d. Ada kebiasaan jelek yang perlu perh.atian para petl}impin/ tokoh masyarakat sekaligus perlu pembinaannya, yakni kebiasaan beberapa pemuda yang suka membuat kerusuhan dalam setiap even pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh masyarakat.
e. Ada beberapa sumber kerusuhan yang timbul dalam arenaarena keramaian yang perlu perhatian dan pengamanan, seperti :
1) adanya suara-suara a tau tingkah laku yang menyinggung a tau melecehkan kelompok lain/penduduk desa tetangga yang ikut hadir dalam arena tersebut,
2) adanya perbuatan seseorang atau sekelompok pemuda yang mengganggu wanita/anak gadis,
3) arena tersebut sering menjadi tern pat dua orang atau kelompok pemuda yang sudah saling mendendam.
f. Disegi lain arena pertunjukan seni merupakan wadah kenal mengenal antara pemuda dan gadis yang selanjutnya menjalin tali percintaan hingga sampai kepada · perkawinan.
g. Dari even pertunjukan seni ini juga sering muncul anak gadis yang karena banyak dikaguni oleh para pemuda menjadi angkuh.
h. Merupakan suatu hal yang umum walaupun bukan selalu, bahwa gadis cantik memiliki sifat sombong.
i. Dalam masyarakat Banjar masa lalu, di mana banyak terdapat orang pintar yang memiliki ilmu "pitua", sehingga kesombongan seorang wanita/gadis yang sampai membuat malu · dan sakit hati seorang laki-laki, maka malu dan sakit hati ini melalui orang pintar tersebut akan dapat dibalas dengan malu dan sakit hati pula, sehingga sang wanita/gadis tersebut terpaksa dapat untuk meminta maaf bahkan menyatakan bersedia untuk dikawini.
2. SARAN
Agar nilai-nilai positif yang terkandung dalam naskah ini dapat dilestarikan, sebaliknya segala perilaku yang bertentangan dengan bltir-butir Pancasila supaya ditinggalkan.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, 1992 Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Mulyadi, S.W.R., Dr. Teknik Mengkaji dan Menganalisis Naskah 1991 Kuna , Makalah, Jakarta. Suharto, Ors., Wibowo, R. , S.H., Memahami UUD 1945, P4, 1988 GBHN 1988 - 1993 dan Waskat, lndah, Surabaya. Tuti Munawar, Teknik Alih Aksara dan Alih Bahasa dalam Naskah Kuna, Makalah, Jakarta.
Rarnli Nawawi, H., Ors. , et. al ., Tata Kelakuan. di Lingkungan 1986 Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Da.erah Kalimantan Selatan, Proyek Inve11tarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
Ramli Nawawi, H., Ors., et. al. , Sistem Kepemimpinan dalam 1983 Masyarakat Pedesaan Da.erah Kalimantan Selatan, Proyek Inventarisasi clan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Kalimantan Selatan, Banjarmasin.