Baca PDF (OCR): Kita Semua adalah Buruh

8 halaman · 8 halaman diproses dengan OCR· 12652 ms

Daftar isi
  1. KITA SEMUA
  2. ADALAH BURUH!
  3. Bustrin Br rin srii
  4. POLITIK ORDE BARU YANG
  5. MEMECAH BELAH KITACATUT
  6. Di tengah iklim Perang Dingin 1960'an, TNI AD yang
  7. Istilah 'kelas menengah' mengisolasi para pekerja yang
  8. dinikmati buruh kantoran sampai sekarang. Tapi yang lebih
  9. Ilustrasi sampul oleh Baron Von Darrin.

KITA SEMUA

ADALAH BURUH!

Bustrin Br rin srii

POLITIK ORDE BARU YANG

PUSTAKA

MEMECAH BELAH KITACATUT

lidak semua orang menyadari kedudukan kelas mereka di dalam tatanan kapitalisme. Orang sering kali memiliki gagasan yang bertentangan tentang diri mereka sendiri, pekerjaan mereka, dan kelas mereka. Sebagai contoh di Amerika, ada mitos bahwa hampir semua orang adalah kelas menengah atau bahwa siapa pun yang bekerja keras bisa sukses. Ini adalah gagasan kelas dominan yang membenarkan kapitalisme, yang sudah tertanam kuat di dalam masyarakat. Hilangnya kesadaran kelas tidak terjadi secara otomatis. Para pekerja menyerap mitos-mitos ini melalui berbagai cara: pendidi- kan, khotbah, siaran televisi, dst. la berkembang melalui perjuangan dan pertarungan ideologi, kerap kali lewat penumpasan dengan kekerasan aktor-aktor perjuangan kelas. Hal yang terakhir ini terjadi di Indonesia. Sekarang, kelas pekerja Indonesia mengalami frag- mentasi akibat hilangnya kesadaran kelas. Mereka tidak tahu, dan jika tahu, enggan disebut "buruh". Mereka lebih senang disebut "karyawan". Mitos karyawan ini punya akar historis yang bisa dilacak. Pada masa Orde Lama, apa yang sekarang disebut "karyawan" sebenarnya menganggap diri sebagai buruh atau setara dengan pekerja pada umumnya. Karena mereka buruh, mereka berserikat dan memper- juangkan hak di tempat kerjanya. Misal, karyawan pegadaian membentuk Serikat Buruh Pegadaian (SBP), pegawai di toko membentuk Persatuan Pekerja Toko (PPT), tenaga kesehatan membentuk Serikat Buruh Kesehatan (SBK), sipir membentuk Serikat Buruh Kependjaraan (SBP), dan pegawai negeri Pemda membentuk Serikat Buruh Pegawai Daerah (Sepda). Serikat buruh terbentuk di banyak toko,

industri, dan departemen pemerintahan. Semua serikat itu bergabung ke federasi Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang dekat dengan PKI.

Di tengah iklim Perang Dingin 1960'an, TNI AD yang

didukung Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggu- nakan istilah "Operasi Karya" untuk menyebut keterlibatan militer dalam berbagai ranah, termasuk ekonomi. Mereka juga mendirikan federasi sayap kanan, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)untukjadi tandingan SOBSI pada 1960, yang sebelumnya Persatuan Karyawan Perusahaan Negara (PKPN). Terakhir, Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) berdiri pada 1964. Saat terjadinya Peristiwa 1965, berbagai serikat yang menjadi anggota SOBSI dibubarkan dan ribuan anggotanya dibantai atau dipenjara. Semenjak itu, seluruh sektor tenaga kerja kerah putih tidak lagi menyebut dirinya "buruh", melainkan "karyawan". Perayaan Hari Buruh juga dilarang, dan istilah "buruh" menjadi lekat dengan komunisme serta PKI. Baru pada dekade 90'an kesadaran kelas itu perlahan dibangun kembali. Kelompok karyawan paling pertama di Indonesia yang mulai menyadari dirinya buruh adalah para jurnalis, yang menyebut diri mereka "buruh/kuli tinta." Hari ini, bahkan para dosen yang sadar juga membentuk Serikat Pekerja Kampus (SPK). Meski demikian, Reformasi masih belum mampu menghapus dampak deradikalisasi politik kelas yang awet dalam kesadaran masyarakat. Orde Baru berhasil menciptakan penyangkalan kelas (class denial) dengan memisahkan pekerja fisik (buruh) dengan pekerja non-fisik (karyawan). Istilah “buruh” masih dipahami dalam pengertian yang sempit, merujuk pada pekerja di industri

manufaktur, atau "pekerja material", atau yang lebih luas, “pekerja non-terampil yang mengandalkan tenaga fisik”. Pegawai, karyawan, petugas, aparatur, tenaga, mitra, atau magang misal, dengan demikian biasanya tidak dianggap sebagai buruh. Penyangkalan ini pada gilirannya menghasilkan sepe- rangkat nilai, yakni prasangka kelas (classist). Para karyawan yang tidak mengeluarkan keringatnya untuk kerja fisik biasanya menganggap dirinya jadi satu derajat lebih tinggi ketimbang pekerja fisik. Hal ini diperparah oleh ilusi "kelas menengah", yakni suatu golongan yang dibuat-buat, yang definisinya biasanya tidak mengacu kepada pengertian ekonomi apapun, tetapi lebih ke sosial budaya. Kenyataan- nya, kelas menengah yangdimaksud biasanya juga kelas pekerja yang mampu bergaya hidup lebih baik seperti para borjuis. Ini merupakan hasil rekayasa sosial yang menak- jubkan. David Graeber, menyatakan:

"'Kelas menengah' adalah kelas palsu. la tidak pernah benar-benar ada. Jika Anda punya bos, dan mendapatkan upah atau gaji, Anda adalah seorang pekerja, dan harus bangga berada di kelas pekerja.

Istilah 'kelas menengah' mengisolasi para pekerja yang

memiliki hak istimewa demi kepentingan mereka yang berkuasa sehingga siapa pun di luar lingkaran elit akan terpecah belah dan saling bertikai ketimbang melawan lembaga dan tatanan kekuasaan."

Ahasil, buruh di Indonesia berjuang sebagai segmen yang terpisah-pisah. Kehancuran gerakan buruh setelah 1965, membuat karyawan kehilangan kemampuan beror-

-ganisasi yang militan seperti pada masa kolonial dan awal kemerdekaan. Hal ini tidak pernah pulih sampai sekarang. Para karyawan (sektor swasta) biasanya merasa dirinya memiliki kedekatan dengan kelas manajerial seperti para direktur dan birokrat. Para pegawai sipil (sektor publik) juga lebih intim dan menjadi pembela kelas penguasa yang paling patuh. Mereka juga lebih mudah mengasosiasikan dirinya sebagai bagian dari "pemerintah". Karyawan dan pegawai menjadi merasa tidak perlu terlibat dalam per- baikan kondisi ekonomi secara kolektif. Ketimbang berorganisasi dan berjuang menuntut hak, budaya kerja Orde Baru menyediakan sarana untuk pen- capaian ekonomi yang lebih instan tetapi individualistik, misalnya korupsi, kolusi dan nepotisme, mental menjilat atasan, persaingan antar pekerja yang tidak sehat di kantor serta kebiasaan pungutan liar. Budaya kerja ini masih ken- tal sampai sekarang, sebagai dampak tidak langsung lain- nya dari deradikalisasi politik kelas. Absennya karyawan dari pengorganisiran membuat mereka tidak memiliki kepekaan yang dibutuhkan untuk terciptanya solidaritas kelas. Para buruh yangmenghadap komputer seringberlaku kurang ajar kepada buruh keber- sihan. Atau budak korporat tidak menghargai buruh resto- ran saat makan siang. Oleh karena itu, sepertinya akan sulit untuk melihat kembali Pemogokan Umum 1924 di Semarang yang dimulai buruh kereta api, tetapi menyebar hingga ke pedagang di pasar, tukang sado, pekerja beng- kel, kusir dokar dan pegawai sipil. Hilangnya solidaritas kelas adalah hal meresahkan, sebab peningkatan upah dan hak normatif yang diperjuang

kan buruh sebenarnya ditujukan untuk dinikmati angkatan kerja semua sektor. THR misal, adalah buah perjuangan buruh semasa krisis ekonomi 1950'an yang juga masih

dinikmati buruh kantoran sampai sekarang. Tapi yang lebih

buruk dari tidak terlibat dalam gerakan adalah ketiadaan empati. Buruh kantoran biasanya malah jadi yang paling lantang dalam mengecam aksi protes buruh pabrik karena menyebabkan kemacetan. Saya tidak bermaksud untuk memperdebatkan istilah mana yang tepat: apakah “buruh", “karyawan" atau cukup dengan istilah “pekerja” saja? Bukan. Itu bukan poin utama dalam tulisan ini. Poin saya adalah, suatu kosakata sering kali tidak lahir dari ruang kosong dan tidak bebas nilai. Ini artinya, kelas berkuasa secara politis juga menggunakan ranah linguistik untuk mempertahankan kepentingan kelas mereka, yang dalam kasus ini adalah memecah belah kekuatan kelas buruh dan melemahkan solidaritas kelas. Oleh karena itu, memahami politik ini sangat penting. Perjuangan kelas hanya dapat diwujudkan dengan ter- bangunnya kesadaran kelas, yaitu sadar kalau kita sesama buruh punya lebih banyak kesamaan dibanding dengan kelas berkuasa yang diuntungkan dari situasi penindasan terhadap kita. Tenaga kesehatan adalah buruh. Pekerja rumah tangga adalah buruh. Pekerja seks adalah buruh. Pemain sepak bola adalah buruh. Kesamaan ini yang men- dasari para buruh supaya bahu membahu dalam perjuangan kelas. Kita kelas pekerja, yang menjalankan roda kehidupan. Kita pekerja rumah sakit yang merawat orang-orang kaya, padahal obat diproduksi buruh pabrik obat yang diupah

murah. Kita yang memproduksi solar panel mahal semen- tara batubara dijual murah untuk PLTU yang polusinya membunuh ribuan orang demi keuntungan pengusaha nasional yang memenangkan Pemilu. Kita pekerja kons- truksi yang membangun gedung raksasa milik 4 kapitalis yang kekayaannya setara dengan 100 juta orang Indonesia. Kita yang memasak makanannya mereka, yang menjaga mereka ketika tertidur, yang menjahit pakaian mereka, menjalankan roda-roda di pabrik mereka, menjaga keka- yaan mereka di bank, yang mendidik anak-anak mereka. Kita bisa menghentikan ketidakadilan ini. Menghentikan roda kehidupan dan mengarahkannya ke jalan yang benar. Kesehatan untuk semua orang. Keamanan untuk semua orang. Pangan, pakaian dan perumahan untuk semua orang. Menyelesaikan krisis ekologi dan memastikan ruang bagi setiap insan. Kita bisa melakukannya sendiri dengan otonomi, gotong-royong dan solidaritas. Kekuatan ada di tangan kita. Kita berbahaya. Kapitalis paham akan anca- man ini dan mereka mencoba berbagai cara untuk mere- dam kita, termasukdengan membantaiatau mencuci otak kita para kelas pekerja jika diperlukan.

KITA MAMPU, JIKA TERORGANISIR, UNTUK MEMECAT PARA MAJIKAN!

Bangun kesadaran kelas. Sebar pamflet ini di kantormu menggunakan print di ruang kerja dengan format booklet:

  1. File > Print.
  2. Di kotak dialog, cari menu Copies & Pages di dekat bagian atas jendela. Anda akan menemukannya di bawah menu Printer and Presets. Klik menu dan pilih opsi Layout.
  3. Di jendela Layout, pilih Booklet dari menu Two-side.

Penerbit Pustaka Catut Instagram: @pustakacatut Facebook: Pustaka Catut Surel: [email protected]

Ilustrasi sampul oleh Baron Von Darrin.