Baca PDF (OCR): WreckageZine-03

15 halaman · 15 halaman diproses dengan OCR· 35082 ms

Daftar isi
  1. Orang seumuran kita tak pantas saling mencintai.
  2. Kita hanya saling menggembirakan.
  3. Wreckage
  4. MenantikanPagi
  5. Nyalang
  6. "Tapi kau bangkit kembali," kata sang kyai.
  7. (Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan)
  8. Nunaaena
  9. RUMAH BERLANTAI PAPAN
  10. Sekecil apapun bantuan kita ke orang lain yang
  11. @elmo_rahardiyan's : Orang menyetut motor saya
  12. @ruthfeliani_ : di step motornya tengah malam
  13. bensin karena motor mogok dan gak bawa uang cash
  14. @ayurmnda : ke spore, nyari hotel yang dipesan
  15. DAUN JUANG
  16. Bagaimana bisa la melupakan hari itu.
  17. tinggal di rumah untuk menjaga harta benda. la, ibu dan kakaknya yang paling
  18. oleh perempuan dan anak-anak lain yang berasal dari daerah sekitar. Ibu-ibu
  19. bergerombol saling berbagi cerita tenang berbagai isu yang berkembang. Anak-
  20. ampar-ampar pisang di dalam tempat pengungsian. Sejenak mereka terlupa
  21. tv (saat itu keadaan di Kota masih belum kondusif dan kakaknya yang kedua
  22. belum juga bisa pulang). Lalu diluar ada suara pria dewasa memanggil-manggil
  23. nama Bapaknya dengan logat yang dikenalnya betul. Belum sempat Bapaknya
  24. beranjak, si Gadis Kecil yang rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya itu
  25. telah terlebih dahulu berlari ke jendela di sisi pintu samping dan mengintip dari
  26. terfokus pada kantong yang dibawanya. Kantong berwarna merah yang
  27. Bapak tampak kebingungan dan berusaha menelaah apa maksud orang asing
  28. Pría itu kembali menyodorkan kantongnya, "Ini kan yang kemarin kau pesan,
  29. Bapak mulai mengerti, “Abang salah orang sepertinya”, karena ia merasa
  30. "Maaf bang, sepertinya yang abang maksud bukan Bambang saya, mungkin
  31. Bambang yang rumahnya di sebelah sana." Kata bapak sambal menunjuk ke
  32. Beberapa minggu kemudian suasana berangsur mereda, kakak
  33. keduanya sudah kembali menandakan situasi yang kondusif sudah merata. SiKutipan "Nadira"(Leila S.Chudori)
  34. Gadis Kecil kembali ke sekolah dan mendengar banyak cerita-cerita dari teman-
  35. temannya yang lain, tak kalah mengerikan. Sering waktu berjalan, la
  36. mendengar lebih banyak cerita mengerikan tentang konflik itu dari berbagai
  37. bagian barat Kalimantan. Dan ia berharap hal tersebut tidak akan pernah
  38. Kita menyaksikan Yu Nina belajar untuk menjadi
  39. Tapi saya tak pernah membayangkan Ibu mati.
  40. .Atau kedua, Nina memang terlalu pragmantis dan
  41. dalam masyarakat. Masyarakat wartawan mirip
  42. Mimpi yang mana? Aku mimpi melulu setiap jam
  43. Kita membutuhkan sebuah
  44. jeda dari hiruk-pikuk
  45. aliran hidup kita.
  46. (Nadira, Leila S. Chudori)
  47. pertanggungjawaban kepada dunia tentang pilihan
  48. (SAD PERSONS) A-ge : kurang dari 19 tahun atau lebih dari 45 tahun
  49. Perairan mendadak ungu
  50. Laut sungguh gelap
  51. pada suatu hari yang cukup burukS-eparated: bercerai atau janda
  52. Matahari
  53. LOVE WILLAPART
  54. TEAR US
  55. Lala Bohang
  56. @|alabohang dan mendambakan pelukan.
  57. Randam thoughts Menacing
  58. thoughtsmenggebu gebu kayak dulu ya mau hadir kesana."
  59. caliguta Malam terakhir Bilangan Fu1084 BHMI MANUSIAThe Black Cat
  60. gadis PantauThe Age of ReasonLELAKI HARIMAYImaginary CihyThe long walk Ayat-ayat Aprnorvegian woodl
  61. Animal Farmthe hondmaid't teleThe Alchemist
  62. No. GBL8715201504A2
  63. NaSEBATANG SAJAK LISONG
  64. peopledan papantulis-papantulis para pendidik people

Orang seumuran kita tak pantas saling mencintai.

Kita hanya saling menggembirakan.

Nanti setelah kita tua dan lemah,

Wreckage

Baru kita saling mencintai. (Mati Bahagia, Albert Camus)

vol.03

MenantikanPagi

Kucing kucing putih Berjalan Beriringan Menembus pekat malam

Bunyi-bunyi di kepala Menjelma Berkabut U

Nyalang

Kicau burung terdengar Murung Bersenandung Air mata

Pepohonan termenung Merenung Melamun Menyaksikan serbuk sari berkejaran

Namun pagi tak pernah datang Maafkan

"Seperti apa rasanya mati?" tanya Kyai Jahro "Sebenarnya menyenangkan. Itulah satu-satunya alasan keñapa orang mati tak ada yang kembali.“

"Tapi kau bangkit kembali," kata sang kyai.

"Aku kembali untuk mengatakan itu.

(Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan)

Membuat zine belakangan tak lagi berbeda dengan aktivitas saya sebelumnya, kolase. Masih dengan keterbatasan yang sama yaitu ketidakmampuan saya menggunakan photoshop (fyi aku udah bisa layout dikit-dikit dan 28 bikin pie chart loh) yang mengharuskan saya untuk me-layout secara manual. Tulis/ketik-print-gunting-tempel-fotokopi. Menjadi bagian baru dalam hidup saya sebagai sarana untuk menguraikan ketegangan b/d pekerjaan atau kehidupan sehari-hari dan ini sangat menyenangkannya. Disini saya bisa membagikan cerita pendek, pikiran nyeleneh, puisi, kolase, dan gambar. Intinya segala hal yang saya sukai. Selain sebagai mekanisme koping zine juga menjadi wadah saya untuk mengumpulkan 'hasil kerja' saya yang selama ini bertaburan di Instagram, twitter, wordpress, tumblr atau bahkan masih mengendap di hardisk laptop. Semoga hingga saya tua nanti masa muda saya bisa tetap terekam disini.

Nunaaena

600-700-800

Loves, Elys

RUMAH BERLANTAI PAPAN

Dimana angin mengintip disiang hari Dan nyamuk lalu lalang saat gelap mulai turun Rumah berlantai papan tempat aku membaringkan tubuhku sepulang sekolah Dan mengintip apa yang ada dibawah sana Seorang anak perempuan diam diam masuk ke kolongnya memburu harta karun Kadang ia mendapatkan uang koin l00perak dengan gambar wayang diatasnya, Kelereng, pensil warna atau sampah-sampah kecil lainnya Seiring bertambahnya usia tubuhnya tak lagi bisa menyelinap dan yang ia hanya bisa mengintip kebawah Ia selalu suka bagaimana angin berhembus dari bawah sana Oh ya, kadang saat hujan deras air memenuhi kolong rumah lantai papan itu dan ia menantikan saat-saat air tiba ke permukaan ruang tamu dari celahnya Terlena hingga saat air sudah menggenangi permukaan lantai papan Kini tidak ada lagi lantai papan yang tersisa juga kolongnya

Sekecil apapun bantuan kita ke orang lain yang

bahkan belum kita kenal sekalipun itu sangat berarti, tetap sebarkan semangaaaat kebaikan teman-teman <3

@pojokpustakaptk : motor didorongin malam-malam di ayani2

@reza ernanda: tiba-tiba dikasi tiket gratis beserta merchandise gigs padahal sebelumnya datang ke gigs telat dan tiketnya udah sold out

@elmo_rahardiyan's : Orang menyetut motor saya

ketika saya kehabisan bensin di jl. Roban

@ulyszm : dianterin warga sekitar pergi ke pasar buat beli charger hp, waktu itu aku sendirian di Batu dan udah hamper hampir nangis karena hp ngedrop

@ruthfeliani_ : di step motornya tengah malam

sama abang-abang huhu

@yukaaaaaaaaaaaaaaaaaa : Pernah dibeliin

bensin karena motor mogok dan gak bawa uang cash

serta gak ada mesin atm

@ayurmnda : ke spore, nyari hotel yang dipesan

via traveloka pake google maps offline malah nyasar, trus beraniin diri minta wifi ke foreigner, trus malah dipesenin uber sama bule nya biar ga ribet nyarinya katanya.

DAUN JUANG

Ingatan itu kembali lagi. la takkan lupa perayaan ulang tahunnya kali itu. Saat itu akhir Maret. Beberapa anak-anak kecil dari sekitar rumahnya sedang berkumpul di ruang tamu, mengelilingi meja yang di atasnya diletakkan kue tart sederhana dengan lilin yang sudah dinyalakan. Meski tidak seramai tahun-tahun sebelumnya namun mereka tetap menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun" dengan lirih. Lagu itu belum selesai dinyanyikan namun tiba-tiba dihentikan karena terdengar suara derap langkah barisan tentara bersenjata lengkap diluar sana. Setiap dari mereka menenteng senjata laras panjang dan berdandan seolah ingin berkamuflase menjadi semak belukar. Suasana mencekam, anak-anak merunduk rendah ke lantai dan beberapa ada yang mengintip lewat jendela, ada pula yang langsung menghamburkan diri ke pelukan ibunya.

Lagu "Selamat Ulang Tahun” itu memang tidak pernah terselesaikan, setelah barisan tantara itu lewat dan suaranya tak lagi terdengar lilin ditiup dan kue langsung di potong tanpa iringan lagu seperti biasanya. Tak ada permainan seru untuk memperebutkan balon, tak ada pula anak-anak yang bergantian menyanyi di hadapan teman-temannya yang lain. Perayaan itu diakhiri setelah cinderamata dibagikan dan anak-anak kembali kerumahnya masing-masing.

Bagaimana bisa la melupakan hari itu.

Saat itu si Gadis Kecil duduk di kelas 2 SD, usianya baru 7 tahun karena dia mulai bersekolah lebih awal. Tahun 1999 merupakan tahun terkelam sepanjang hidupnya. Saat perayaan ulang tahunnya itu suasana sudah mulai tenang, keadaan sudah kacau sejak 3 bulan sebelumnya. Kakak perempuannya terjebak di kota dan tidak bisa pulang karena konflik antar-suku itu terjadi saat ia tengah berlibur disana dan dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lainnya, pantai barat dan daerah sekitar kaki gunung tak luput dari kekacauan itu. Hampir di setiap rumah ada tulisan “Orang Jawa" yang di coretkan begitu saja di dindingnya atau dituliskan di selebar triplek. Tak lupa seikat daun juang yang diikatkan di tiang depan setiap rumah.

Sekolah diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Perempuan dan anak-anak diungsikan ke rumah ibadah dan sekolah. Sementara para pria

tinggal di rumah untuk menjaga harta benda. la, ibu dan kakaknya yang paling

tua diungsikan ke rumah wakaf di komplek masjid desa. Disana sudah disesaki

oleh perempuan dan anak-anak lain yang berasal dari daerah sekitar. Ibu-ibu

bergerombol saling berbagi cerita tenang berbagai isu yang berkembang. Anak-

anak membunuh rasa bosan (karena tidak bisa bermain diluar) dengan bermain

ampar-ampar pisang di dalam tempat pengungsian. Sejenak mereka terlupa

akan kengerian yang tengah terjadi diluar sana.

Pernah pada suatu malam, saat suasana sudah sedikit mereda. Masing-masing sudah kembali ke rumah. la dan keluarganya sedang menonton

tv (saat itu keadaan di Kota masih belum kondusif dan kakaknya yang kedua

belum juga bisa pulang). Lalu diluar ada suara pria dewasa memanggil-manggil

nama Bapaknya dengan logat yang dikenalnya betul. Belum sempat Bapaknya

beranjak, si Gadis Kecil yang rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya itu

telah terlebih dahulu berlari ke jendela di sisi pintu samping dan mengintip dari

kacanya. Kemudian saat Bapak keluar dan berbicara dengan orang asing itu ia

terfokus pada kantong yang dibawanya. Kantong berwarna merah yang

menampakkan isinya secara samar.

"Ini pesananmu kemarin, bang"”, katanya pada Bapak.

Bapak tampak kebingungan dan berusaha menelaah apa maksud orang asing

itu.

Pría itu kembali menyodorkan kantongnya, "Ini kan yang kemarin kau pesan,

bang”, ujarnya dengan bahasa daerah setempat.

Bapak mulai mengerti, “Abang salah orang sepertinya”, karena ia merasa

memang tak pernah mengenal orang asing tersebut. "Ini betul rumah pak Bambang, kan?" "lya, betul dan saya sendiri bernama Bambang." "Kalau begitu ini pesanan anda”

"Maaf bang, sepertinya yang abang maksud bukan Bambang saya, mungkin

Bambang yang rumahnya di sebelah sana." Kata bapak sambal menunjuk ke

arah timur. 回

"Disini memang ada tiga orang yang bernama Bambang, saya sendiri seorang muslim jadi tidak mungkin memesan ini'. Jadi mungkin yang Abang maksud Bambang yang satu lagi yang rumahnya di sebelah sana, kalua memang dugaan saya salah mungkín Bambang itu juga akan mengarahkan Anda ke rumah Bambang yang lainnya. Sekali lagi saya mohon maaf." Lanjutnya. Orang asing itu tampak mengerti, dan setelah pamit dan meminta maaf ia pun pergi ke arah yang Bapak tunjuk.

Tepat sebelum ia beranjak, si Gadis kecil menyadari apa yang ada di dalam kantong plastik itu. Guratan bentuknya menunjukkan bahwa benda tersebut berwarna putih. Itu adalah sebongkah otak. Dan sontak la pun berteriak. Orang asing tersebut menoleh ke rumah dan Bapak kembali berbicara dengannya lalu la pergi begitu saja. Ibu dan kakak tertuanya datang menghampiri si Gadis Kecil dan menanyakan apa penyebab si Gadis Kecil menjadi tiba-tiba histeris seperti itu. la hanya menangis. Tak mampu berkata- kata.

Saat Bapak masuk ke rumah, sambil tersedu-sedu ia memastikan dugaannya. "Pak, itu tadi otak kan ya...?" Bapak terdiam "Otak manusia kan, Pak..." Ibu dan kakaknya hanya terdiam la kembali menangis. "lya, itu otak manusia. Mereka kira itu pesanan bapak makanya mereka antar kesini." Jawab Bapak singkat. Si Gadis Kecil lanjut menangis ngeri dipelukan ibunya.

Selang beberapa saat suasana kembali memanas, dan mereka kembali diungsikan. Si Gadis Kecil tidak seceria sebelumnya. la membayangkan diluar sana orang-orang saling membunuh satu sama lain. Seringkali ia menangis pelan saat membanyangkan kengerian itu. Tak ada kengerian lain yang dibayangkannya. Hanya bagaimana otak manusia bisa keluar dari tempurung kepala itu dan hal itu sudah cukup untuk membuatnya teringat hingga hari ini.

Beberapa minggu kemudian suasana berangsur mereda, kakak

keduanya sudah kembali menandakan situasi yang kondusif sudah merata. SiKutipan "Nadira"(Leila S.Chudori)

Gadis Kecil kembali ke sekolah dan mendengar banyak cerita-cerita dari teman-

temannya yang lain, tak kalah mengerikan. Sering waktu berjalan, la

Saya adalah pohon yang tumbuh dari langit, Ibu

mendengar lebih banyak cerita mengerikan tentang konflik itu dari berbagai

saya lahir di Lampung; ayah dari Palembang, jadi saksi hidup dan itu semakin meyakinkanya bahwa itulah masa terkelam di saya tumbuh dari langit, tanpa akar_ (hal.14) Tidak ada pilihan kedua. Pilihan kedua

bagian barat Kalimantan. Dan ia berharap hal tersebut tidak akan pernah

menunjukkan hidup yang terlalu tertata. (hal.17) sekalipun terulang lagí. Aku lebih banyak bercerita tentang buku-buku yang tengah kubaca. (hal. 18) Pengalaman Ibu mengatakan, perempuan yang jatuh cinta memilih untuk menyangkal tingkah-laku pasangannya yang tidak setia. Mereka cenderung bermusuhan dengan pembawa berita buruk itu. (hal.56)

Kita menyaksikan Yu Nina belajar untuk menjadi

dewasa; belajar menghadapi resiko dari keputusannya. (hal.57)

Tapi saya tak pernah membayangkan Ibu mati.

Untuk saya, Ibu adalah perwujudan puisi Chairil Anwar. Ibu akan hidup1.000 tahun lagi (hal.57)

.Atau kedua, Nina memang terlalu pragmantis dan

tak peduli pada kegairahan manusia lain di luar dirinya. (hal.77) Masyarakat wartawan, di mata Nadira adalah sebuah masyarakat yang selalu menuntut hal-hal yang besar, yang terbaik, terkadang muluk dan paradoksal. Sebuah masyarakat yang, terkadang secara tidak sadar merasa moralnya berada di atas apa yang disebut sebagai 'masyarakat awam'. Sebuah kelompok yang mengklaim dirinya sendiri sebagai pembawa kebenaran, atau bahkan messiah yang bisa menyembuhkan borok dalam pemerintah dan borok

dalam masyarakat. Masyarakat wartawan mirip

rombongan komentator olahraga yang dengan asyiknya berkata, " Ya, tendangannya kurang akurat kali ini saudara-saudara..," dan ereka sendiri bukanlah pemain bola. Bahkan menyentuh rumput lapangan bola pun tak pernah.

Mimpi yang mana? Aku mimpi melulu setiap jam

dalam hidupku. Berganti-ganti. Bisa jadi badut, lalu jadi ratu, lalu jadi pelacur... (hal. 87)

Soal Ibu... Dia memang tak pernah bahagia... Dia
terlalu mencintai Ayah, dan tak mampu menampung semua persoalan Ayah dan persoalan dirinya, persoalan keluarga Ibunya. (hal.88) Ketika kita menemukannya dengan wajah membiru di pinggir tempat tidur dan botol obat tidur yang menggeletak di sampingnya, mungkin ibu baru menyadari bahwa apa yang dilihatnya selama ini adalah hasil lukisannya di langit. Bukan hasil lukisan Tuhan di kanvas hidup. (hal.89) Saya sering bermimpi,saya celentang.…. tidak bergerak, tidak berbicara apa-apa. Hanya celentang di lubang kubur. Saya merasa tenang disana. Dan saya selalu menyesal setiap kali bangun dari mimpi itu. (hal.101) Mata adalah pancaran jiwa; Mulut adalah pancaran hati. (hal.108) Bagi saya, perceraian adalah bentuk lain dari sebuah perdamaian. Jika itu bentuk yang harus saya lalui, maka saya harus melakukannya. Bukan sesuatu yang saya banggakan, tapi itu semua harus saya lalui. (hal.156)

Kita membutuhkan sebuah

Nadira mempunyai dunianya sendiri. Dan aku tak pernah berhasil meraba isinya. (hal.184)

jeda dari hiruk-pikuk

Karena sekali aku jatuh cinta, aku bisa jadi obsesif, terlalu konsentrasi pada satu hal. Pada

aliran hidup kita.

hal yang kucintai.

(Nadira, Leila S. Chudori)

Mungkin Chairil Anwar yang ingin hidup 1.000 tahun lagi akan berdebat dengan orang-orang seperti Virgina Woolf, Sylvia Plath, dan Anne Sexton yang memutuskan tidak ingin hidup selama itu.. Itu betul, Chairil akan sangat marah pada mereka yang meninggalkan hidup. (hal.204) Aku tidak pernah suka rokok. Aku tidak suka asapnya dan sangat tidak cocok dengan aktivitasnya (keluar masuk menghisap sebatang kesia-siaan hanya untuk mengotori udara. Untuk apa? (hal.236) Kita membutuhkan sebuah jeda dari hiruk-pikuk aliran hidup kita. (hal.238) Lagi pula -Nadira berpikir dengan defensive- kenapa harus memberikan alasan atau

pertanggungjawaban kepada dunia tentang pilihan

hidupnya? (hal.257) ..Keputusan hidupmu selalu impulsive karena kau ngotot ingin bahagia. (hal.289)

8 888 8

Risiko Bunuh Diri S-ex: laki-lakii20f9

(SAD PERSONS) A-ge : kurang dari 19 tahun atau lebih dari 45 tahun

D-epression: pasien MRS dengan depresi atau penurunan konsentrasi, Air (laut) sewarna giok gangguan tidur, gangguan pola makan, dan/atau gangguan libido Langit meyala-nyala P-revious suicide : ada riwayat percobaan bunuh diri atau perawatan psikiatri

Perairan mendadak ungu

E-xcessive alcohol: ketergantungan alkohol atau pemakai narkoba

Laut sungguh gelap

R-ational thinking loss : kehilangan pikiran rasional: psikosis, organic Setidaknya pada waktu-waktu tertentu brain syndrome

pada suatu hari yang cukup burukS-eparated: bercerai atau janda

O-rganized plan : menunjukkan rencana bunuh diri yang terorganisasi atau niat yang serius N-o social support : tidak ada pendukung S-ickness : menderita penyakit kronis

Matahari

(i) Seberapa banyak rahasia yang dimiliki sang Matahari? Warna-warni keriaan bumi yang dipantulkannya, Tragedi merah tertumpah ruah yang berulang dan terulang, Air mata bandang tak terkira deras arusnya, menghanyutkan Tidur lelapmu yang disaksikannya melalui pantulan bulan, Begitu banyak rahasia yang dimiliki Matahari, Namun tak sedikitpun ia berniat membaginya pada bintang lain, Atau aku sekalipun.

LOVE WILLAPART

TEAR US

(iii)

Matahari yang sepanjang hidupnya tak kau hiraukan, Setiap harinya menyaksikan kelak-kelok anak sungai, layang-layang berekor, anak-anak berkejaran, rumpun ilalang di pematang, muda-mudi berpelukan, rekah tanah kemarau panjang, serta berbagai kebijaksanaan,

Matahari yang sepanjang hidupnya tak kau hiraukan, kini mulai kelelahan,

Lala Bohang

@|alabohang dan mendambakan pelukan.

eat healthy, stay in more,fewer expenses,small circle,thoughts management, Simple routine, mental maintenance, more sweat, morning Sun.

Randam thoughts Menacing

“Besok ada gigsnya Matarantai nih”, ucapnya. “Kok udah gak

thoughtsmenggebu gebu kayak dulu ya mau hadir kesana."

Saat itu kami diperjalanan pulang dari Bioskop, dan sejenak aku memikirkan perkataannya. Kenapa ya, kok rasanya sedikit beda'?

Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya, “Apakah karena udah gak relate lagi atau apa ya?"

GEMERICIK Aku masih terdiam dan menelaah pertanyaannya. CAHAYAMELINTAS Menelaah apa yang aku bayangkan tentang gigs besok serta DI DAUN JENDELA berusaha jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku sendíri harus siap pada jawaban terburuk sebagaimana kecurigaan pasanganku 'kami sudah dewasa sudah tidak relate lagi dengan perskenaan (sebut saja bawah tanah)

Ya, memang tak bisa dipungkiri hari demi hari usia bertambah dan kita mulai menua. Meski kita berkedok 'gak apa tua yang penting jiwa tetap muda' tapi penuaan sel tubuh tidak dapat dihindari, saudaraku! apalagi dengan gaya hidup serabutan jadinya malah usia sel tubuh malah jadi lebih tua daripada usía kita sebenarnya. Mulai mengalami darah tinggi, kolesterol, gula darah tinggi, asam urat atau pegal-pegal ringan. Yang dulunya main hujan-hujanan seharian gak sedikitpun tubuh merasa gentar namun belakangan terpapar hujan saat jalan pulang dari minimarket MENGHANTARKAN terdekat saja sudah meriang. Sudah, jangan disangkal lagi. Tubuhmu mulai PESAN KEHANGATAN menua. DARI KETERASINGANMU, ...MENYESAKKAN

caliguta Malam terakhir Bilangan Fu1084 BHMI MANUSIAThe Black Cat

gadis PantauThe Age of ReasonLELAKI HARIMAYImaginary CihyThe long walk Ayat-ayat Aprnorvegian woodl

Animal Farmthe hondmaid't teleThe Alchemist

4ly5zm, 201g ~

Apalagi aku yang baru saja melahirkan dua bulan lalu. Tubuh belum pulih total dan full time mengurus bayi selama masa cuti ini. Begitu pula pasanganku yang juga mendapat tugas serupa, mengasuh bayi pertama kami. Dan ya, aku akui disinilah sebagian energiku kugunakan saat ini, bayi yang masih rapuh, perlu kasih sayang dan waktu yang ekstra, serta aku yang mudah kangen bila pergi keluar rumah meskì hanya sebentar.

Maka kesimpylanku, seiring bertambahnya usia maka selain semakin mudah Lelah atau sakit (bagi yang sudah berkeluarga) energi juga habis di rumah. Namun harusnya ini tidak benar-benar menghambat dalam proses berkarya, dengan 'energi' yang tersisa ini sambil berkegiatan di rumah ada banyak hal yang masih bisa dilakukan. Aku pribadi malah merasa jadi punya waktu lebih banyak untuk membaca buku, sesekali NANG JAHIT SYNTE TIS 100% SPUN POLYESTER berkolase serta menulis puisi dan tulisan-tulisan ringan seperti ini. Minimnya 'energi' ini tidak sama sekali menyurutkan arus ide di pikiranku malah rasanya semakin banyak dan liar. Nah tinggal harus pintar-pintar

No. GBL8715201504A2

merunutnya satu persatu. Ya, inilah hal-hal yang masih bisa aku lakukan dengan sisa "energi” ku saat ini. Karena ini hanya perkara ‘energi yang bersifat sementara maka akan tiba saatnya bayi sudah tumbuh dan tidak lagi tergantung sepenuhnya dan aku akan memiliki pilihan yang lebih banyak. Jauh didalam hatiku sungguh aku ingin hadir di gigs besok, betapa ini adalah hal yang sangat dinanti setelah bertahun-tahun. Melihat line-up yang berisi band-band yang sering kusaksikan sebelumnya dan yang belum hingga membuat penasaran. Kesempatan bersilaturahmi dengan teman-teman lain yang meskipun singkawang merupakan kota kecil namun kedewasaan ini merenggut waktu dan kesibukan kami masing-masing, maka inilah kesempatan berbagi kabar berita dan semangat tentunya. Salut kepada teman-teman Matarantai yang akhirnya dapat membawa kembali semangat hc/punk ke masa sekarang. Ditengah terpaan zaman, trend hijrah, kesibukan sebagai manusia dewasa dan inilah mereka yang berhasil melewati proses dan bertahan (bahkan semakin berkembang).

NaSEBATANG SAJAK LISONG

Oleh: W.S. Rendra

you are Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit loved dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku the membentur meja kekuasaan yang macet,

peopledan papantulis-papantulis para pendidik people

yang terlepas dari persoalan kehidupan. Delapan juta kanak-kanak help menghadapi satu jalan panjang, tanpa pilihan, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan, tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara Kata-kata tak lagi diperlukan Makna tak lagi bersenyawa yang disemprot deodorant, Gelembung udara pekat aku melihat sarjana-sarjana menganggur Berkabutberpeluh di jalan raya; Kalutaku melihat wanita bunting Sangkut di palung hatinya antri uang pensiun. Dan di langit; para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas, bahwa bangsa mesti dibangun; mesti di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor Gunung-gunung menjulang. Langit pesta warna di dalam senjakala Dan aku melihat protes-protes yang terpendam, terhimpit di bawah tilam. Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian. Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya, di bawah iklan berlampu neon, Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau, menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata. Inilah sajakku Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.