PONTIANAK um-m BAWAH TANAH FANZINE DAIANG KAMEK SAMBOT MARI BERPESTA KEEP STAND TO PUNKROCK DI AKAR Rekam Jejak RUMPUT SOLIDaRI Skena Musik Underground Pontianak 1999 s.d.2017
Pontianak bagi orang perantau seperti saya pada masa awal berniat menempuh pendidikan lanjutan adalah kota tak berujung, tahun pertama selama beberapa bulan di habiskan hanya untuk menghafal wilayah yang di lewati, dengan moda transportasi umum seperti oplet berbagai warna dan bis kota. Seringkali tersesat, terdampar di beberapa blok pasar hanya karena satu hal yaitu mencari toko kaset, sebuah tradisi di kampung yang meregenerasi kala itu entah siapa yang memulai, berburu kaset band-band dengan bermodal uang bulanan dan hafalan list di kredit sampul band favorit adalah sesuatu yang wajib hukumnya, lalu kemudian dibawa pulang untuk didengar bersama teman-teman adalah oase dari sebuah pencapaian, di samping menambah referensi menyenangkan dan juga kebanggaan dapat mengkoleksi kaset yang di buru teman-teman senasib yang sudah bosan mendengar lengkingan Axl Rose, band band ballad rock yang terkesan melempem serta terlalu dawam dinyanyikan dengan genjrengan gitar di tempat tongkrongan. Lumrah ketika besar di era hingar bingar Rock n Roll, Heavy Metal serta Hip hop. Di kampung banyak anak muda mendekor kamar nya dengan bejibun poster band serta membuat rak kaset koleksi berjejer di dinding membuat ilustrasi agar terkesan Rock n roll dengan cat kuda terbang di pintu kamar paling umum dan simple yang biasa saya temukan adalah bendera inggris atau gambar bibir dan lidah nya rolling stone.
Singkat cerita semua berlanjut, dua tahun pencarian, akhirnya bertemu juga dengan teman-teman yang selera musik yang sama, menyenangkan tentu saja. berbagai hal yang tak terbantah manfaat yang bisa saya bawa pulang adalah ide kreatif, wadah komunikasi, kemandirian serta gebrakan-gebrakan inisiasi di komunitas yang takkan kita temui dalam budaya umum masyarakat . Turut serta didalamnya adalah sebuah berkah,sekaligus kutukan yang butuh usaha berdarah-darah untuk lepas dari nya namun juga membangun kesadaran serta potensi para penggiatnya. Maka bagi yang membaca pengantar bodoh ini disarankan untuk lebih fokus menelusuri biografi skena Underground Pontianak dalam bab selanjutnya. Para penggiatnya adalah individu-individu yang melampaui anak-anak muda di zamannya bahkan hingga hari ini, setiap orang yang pernah berkubang di dalamnya mempunyai ceritanya masing-masing. Entah memposisikan diri sebagai penggiat sampai sekedar menjadi penikmat.
Dengan membaca biografi ini kita bisa membangun kembali memori yang hampir terkubur di dalam penatnya rutinitas serta semangat-semangat yang mewarnai gairah masa muda, dan juga pelbagai rencana yang pernah dibangun dari mimpi walau tidak sedikit kandas mengawang dan kemudian hilang serta mungkin kehilangan. Tidak mudah merekontruksi ingatan dengan mengumpulkan serpihan-serpihan memoar dari sumber beberapa personal yang mungkin masih aktif hingga saat ini. Hormat saya, ini jelas dan pasti lebih baik di banding para anak muda nolep sok senja yang nongkrong di warkop viral untuk panjat sosial, dan mempertanyakan elit atau tidak nya scene underground. Seolah-olah suatu pergerakan dapat diukur status sosialnya serta harus mempunyai kriteria seperti sinetron atau program entertainment yang biasa di tonton nya di tivi.
Pengantar ini bisa di skip tanpa harus mempertimbangkan hal-hal yang berlaku dan berlalu di dalamnya, setidak nya kita tahu bahwa setiap orang yang pernah terlibat di dalamnya mempunyai cerita nya masing-masing. Selamat bernostalgia, dan selamat membaca. Terimakasih tak terkira untuk para narasumber yang berpartisipasi di dalam biografi ini. Terutama untuk Tim Penyusun PONTIANAK BAWAH TANAH FANZINE.
Pontianak pada era 1990an adalah sebuah kota yang sedang berkembang. Pontianak saat itu tentu saja jauh berbeda jika kita bandingkan dengan Pontianak pada masa pertengahan tahun 2000an saat ini, namun ada banyak hal yang terjadi dan ada saat ini di Pontianak sebenarnya sudah dimulai jauh embrio nya pada masa 1990an. Penduduk di kota Pontianak saat itu sudah cukup padat, aktivitas perekonomian sangat tinggi pada beberapa titik seperti Pasar Tengah, Khatulistiwa Plaza, dan Kapuas Indah. Pergerakan penduduk kota Pontianak sehari – hari semakin lancar sejak Jembatan Kapuas 1 bebas dilalui oleh pengguna jalan dan anak muda kota Pontianak mulai memiliki beberapa tempat andalan untuk beraktivitas nongkrong dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.
Salah satu aktivitas anak muda Pontianak pada saat itu adalah bermusik. Aktivitas bermusik ini mencakup aktivitas seperti bermain musik di studio musik, menampilkan keterampilan bermusik di panggung musik, mendengarkan musik melalui radio dan kaset. Pada saat itu panggung musik yang ada di Pontianak antara lain acara musik di sekolah, acara tujuh belasan, dan festival/kompetisi band. Beberapa dari band – band tersebut memainkan musik rock, musik yang mereka kenal melalui program radio maupun kaset tape. Kaset tape dari band – band rock maupun extreme metal sudah mulai dijual di toko kaset yang ada di
Pontianak saat itu. Salah satu band yang manggung dengan mengcover band extreme metal salah satunya adalah CJDW yang beranggotakan tiga orang siswa salah satu SMA di Pontianak, mereka biasa mengcover lagu dari band Sepultura dan Metallica pada penampilan panggung nya diantara tahun 1993/1994. Bermain band dengan aliran musik extreme metal pada saat itu bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Studio musik di Pontianak pada tahun 1990an banyak yang menolak band – band yang memainkan musik hardcore/ punk/
metal/ underground untuk latihan di studio mereka. Sepertinya band – band yang memainkan musik tersebut di studio mereka akan merusak alat musik yang ada didalam studio. Pada akhirnya hanya beberapa studio yang menerima band – band dengan aliran musik tersebut untuk latihan. Diskriminasi yang terjadi seperti ini, juga perasaan bahagia memiliki teman berkumpul yang memiliki ketertarikan yang sama, pada akhirnya membuat banyak anak muda penggemar musik extreme metal/punk/underground saat itu sering nongkrong bareng.
Pada tahun 1990an beberapa anak muda yang menggemari musik extreme seperti metal/ black metal/grindcore/punkrock/ hardcore seringkali nongkrong bareng untuk saling bertukar informasi dan cerita mengenai musik yang mereka suka. Kaset – kaset band yang mereka dapatkan dari beberapa toko kaset di Pontianak, mail order distro (sistem jual beli dengan pemesanan, pengiriman barang dan uang via surat pos), ataupun barter dan duplikasi kaset pinjaman dari teman menjadi topik menarik untuk dibahas dikala nongkrong.
Begitulah pada tahun 1996 Wiwid beserta lima orang temannya sering berkumpul di daerah Sumur Bor (saat sekitar UPK Puskesmas Alianyan, Pontianak). Mereka semua dipertemukan karena sama – sama menyukai band – band grindcore dan death metal seperti Napalm Death, Bolt Thrower, dan Benediction. Seiring waktu berjalan tidak hanya mereka berlima dan tidak hanya karena menggemari band – band tersebut yang ikut nongkrong. Seperti apa yang disampaikan oleh Asep yang menyukai musik punkrock, setelah menyelesaikan studi di Pulau Jawa dia beserta teman – teman tongkrongannya di Jalan Kutilang juga ikut datang ke Sumur Bor. Pada awalnya belum ada ide untuk membentuk komunitas yang lebih terorganisir dari tongkrongan tersebut. Semua dilandasi karena minat dan hobi yang sama.
Melalui korespondensi dengan orang – orang lain yang juga memiliki minat dan hobi yang sama dari luar Kalimantan dan juga
melalui informasi yang didapat di media cetak akhirnya timbullah inspirasi untuk membentuk sebuah komunitas. Saat itu ada tulisan profil band TRAUMA(band death metal dari Jakarta) di koran Suara Pembaruan. Dalam tulisan tersebut ada banyak diceritakan mengenai band – band yang ada di Pulau Jawa. Lebih jauh lagi diceritakan juga mengenai Zine underground dan juga
komunitas – komunitas yang ada disana. “Ternyata masing – masing kota membentuk komunitasnya sendiri”, begitu yang ada di pikiran Wiwid saat itu. Maka mereka mulai mengorganisir tongkrongan tersebut menjadi sebuah komunitas yang lebih terorganisir dengan nama DEEP FOREST
Nama DEEP FOREST SCUM terinspirasi dari judul salah satu lagu Napalm Death yaitu “Scum”. Melalui nama komunitas itu mereka mengidentifikasi diri sebagai “buih dalam hutan” (pulau Kalimantan memang selalu identik dengan tempat yang memiliki banyak hutan).
Ada juga cerita di tongkrongan lainnya yang pada akhirnya membentuk komunitas ANTI RAPI. Salah satu teman yang ada disitu yaitu Aam, menularkan ketertarikannya pada punk kepada teman – teman tongkrongannya. Orang – orang yang ada di komunitas Anti Rapi ini pada awalnya adalah teman – teman setongkrongan sejak SMA. Kebanyakan dari mereka pergi kuliah ke Pulau Jawa, mendapatkan pengalaman mengenai musik dan subkultur punk disana lalu membawa semua semangat dan pengalaman tersebut ketika mereka pulang kembali ke Pontianak.
Pengaruh dan informasi yang dibawa oleh anak muda Pontianak yang kembali setelah kuliah di Pulau Jawa serta perjumpaan dengan teman – teman tongkrongannya di Pontianak pada akhirnya membuat dampak yang jauh lebih besar. Ada perjumpaan dan perkenalan dengan orang baru yang memiliki minat dan hobi yang sama. Dengan memiliki minat dan hobi yang sama, kesukaan pada musik yang sama, dan juga setelan berpakaian yang sama akan membuka komunikasi yang baik. Asep bercerita setelah nongkrong di DEEP FOREST SCUM, dia bertemu dengan Mukas dan mendapatkan informasi bahwa ada lebih banyak lagi teman yang menyukai punk saat itu bersekolah di SMAN 2 Pontianak.
Anak – anak punk sudah mulai nongkrong bareng di Pontianak sekitar tahun 1998-1999. Setelah bertemu di acara musik underground yang diadakan saat itu, mereka mulai nongkrong bareng di kawasan Siloam (Jl. RA Kartini/didepan GPIB Siloam Pontianak saat ini). Tongkrongan ini menamai diri PONTIANAK CITY PUNK REVOLUTION, mereka
biasa nongkrong disana sembari ngelapak kaset tape (berjualan di emperan). Anak – anak punk yang nongkrong disini berasal dari berbagai penjuru di kota Pontianak, beberapa dari mereka ada yang berasal dari kawasan Jeruju(Perum Dua). Mereka berjalan kaki untuk nongkrong di kawasan Siloam dan biasanya singgah untuk istirahat di halte bus yang terletak di simpang empat/ lampu merah Jl.Pancasila-Jl.Husein Hamzah. Karena kebiasaan singgah di halte tersebut pada akhirnya tongkrongan punk pun berkembang sehingga muncullah tongkrongan punk Halte Pancasila. Teman – teman punk ini seiring berjalannya waktu mengorganisir diri membentuk komunitas Parabajing
Diawali dari sekedar nongkrong, saling bertukar cerita dan informasi, membahas kiriman kaset, zine dan newsletter yang didapat dari teman diluar Kalimantan, kemudian mereka terpantik untuk melakukan lebih lagi. Melalui saling kirim surat dengan teman di Pulau Jawa, saling berbagi cerita mengenai apa yang dilakukan di komunitas masing – masing, anggota komunitas yang ada di Pontianak pun mulai tertarik untuk membuat band sendiri.
Salah satu band yang terbentuk di komunitas DEEP FOREST SCUM adalah Berhala. Band ini pada awalnya mengcover lagu – lagu dari band GOREFEST dan IMMORTALIST, pada kemudian hari arah musik mereka menjadi grindcore dan brutal death. Selain itu, Asep juga bercerita bahwa saat itu di Pontianak juga sudah ada lima band yang memainkan punkrock.
Band – band tersebut pada saat itu belum mendapatkan kemewahan dan kemudahan seperti band – band underground Pontianak saat ini. Permasalahan seperti tidak banyak studio yang mau menerima mereka latihan, kendala teknis seperti tidak adanya double pedal atau keterbatasan pengetahuan terhadap sound, termasuk juga kurangnya
panggung untuk tempat mereka unjuk diri. Salah satu studio yang menjadi andalan untuk tempat latihan band saat itu adalah sebuah studio musik di Gang Bambu-Jl.Pangeran Natakusuma. Kemudian khususnya untuk band – band yang memainkan musik extreme metal, saat itu studio juga belum menyediakan double pedal. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut, mereka biasanya meminjam bass drum dan pedal drum dari tempat lain lalu dibawa ke studio latihan mereka. Selain itu, mereka saat itu juga belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap hal – hal teknis seperti teknik memainkan instrumen (blast beat misalnya) dan pemahaman terhadap ampli gitar dan efek gitar. Keberadaan zine yang didapat dari teman – teman mereka diluar Kalimantan sangat membantu dalam hal ini. Ada beberapa zine yang juga menyediakan informasi hal – hal teknis dalam musik seperti bagaimana membentuk karakter sound dan juga teknis memainkan instrumen musik.
Sementara beberapa teman band punkrock yang biasa nongkrong di Jalan Kutilang juga memiliki cerita sendiri dalam kebiasaan ngeband di tongkrongannya. Saat itu mereka biasa ngumpul di salah satu rumah singgah di Jl.Kutilang. Lalu mereka mendapatkan satu set alat band yang sebelumnya milik buruh – buruh pabrik yang ada di Kuala Dua(kawasan industri besar di pinggiran kota Pontianak). Ada seorang bapak bernama Pakwe yang tinggal di Jalan Kutilang, saat itu beliau lah yang membantu memfasilitasi teman – teman punk Jl.Kutilang untuk mendapatkan alat band tersebut. Setiap malam minggu alat band tersebut mereka pakai untuk ngejamm bareng di Jl.Kutilang. Kegiatan ini terus terjadi hingga akhirnya menjadi cikal bakal street gigs kutilang di kemudian hari.
Pada masa tahun 1990an band – band underground Pontianak saat itu terbiasa manggung di acara – acara musik yang tidak spesifik. Mereka kadang manggung di acara musik tujuh belasan(peringatan kemerdekaan Indonesia), acara perpisahan sekolah, atau yang paling umum adalah festival/kompetisi band. Masalah yang sering terjadi pada saat itu adalah mereka tidak selalu mendapat sambutan di panggung acara tersebut. Bahkan jika tampil di festival kompetisi band sekalipun, musik extreme metal/punk/hardcore masih tidak mendapat tempat yang setara dengan band – band lainnya. Selain itu mereka juga kerapkali tampil di acara musik
yang memberi kesempatan manggung bagi band seluas – luasnya tanpa tujuan kompetisi, acara seperti ini biasanya disebut sebagai “parade”. Salah satu parade band yang terkenal adalah yang digelar di halaman Dinas Perhubungan Kota Pontianak.
Seiring waktu berjalan dan juga karena mendapatkan inspirasi dan informasi dari apa yang dibuat oleh teman – teman komunitas diluar Kalimantan (melalui zine dan bertukar kirim surat) para pelaku komunitas underground di Pontianak mulai berupaya untuk mengorganisir acara musik mereka sendiri. Kolektif ANTIRAPI yang saat itu anggotanya adalah anak muda Pontianak yang telah lulus kuliah dari Pulau jawa maupun yang sedang kuliah. Masa pekuliahan di perantauan tidak hanya
mereka isi dengan kuliah di kelas dan mengerjakan tugas kampus. Mereka juga turut melihat dan merasakan sendiri bagaimana euforia komunitas musik underground yang ada di kota tempat mereka kuliah. Menonton acara musik underground, merasakan getaran dan kebisingan distorsi, melihat tubuh – tubuh yang saling bertabrakan di moshpit, dan juga teriakan serta keringat sebagai manifestasi semangat mereka. Semua hal yang mereka rasakan dan mereka lihat ini memantik mereka untuk melakukan hal serupa di Pontianak. Selain untuk diri mereka sendiri juga untuk memfasilitasi beberapa band underground yang saat itu sudah aktif di Pontianak.
Kolektif ANTIRAPI bersama DEEP FOREST SCUM mengorganisir acara musik underground pada tahun 1999 bertajuk SELASA BAWAH TANAH. Acara musik ini sebagai media eksperimen dan belajar untuk komunitas underground pada saat itu. Bisa dibilang inilah kali pertama komunitas underground di Pontianak mengorganisir acara musiknya sendiri. Acara musik underground SELASA BAWAH TANAH diadakan pada hari Selasa, 30 November 1999 bertempat di Gedung Arena Remaja(saat ini menjadi gedung PCC). Acara tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa, baik dari penonton yang hadir saat itu termasuk juga banyak band underground yang ingin tampil di acara tersebut. Sempat terdaftar 27 band yang ingin tampil di acara musik SELASA BAWAH TANAH, namun pada akhirnya harus dilakukan audisi karena hanya bisa menampilkan 20 band. Proses audisi dilaksanakan di sebuah studio di Gg. Rawasari-Kotabaru. Perlu diingat bahwa media komunikasi dan informasi masih terbatas pada masa itu. Media flyer yang dicetak secara manual lalu diper-
| 20 | Nana Group | No. | Mana Gosp | |||
| 1 | ||||||
| :4.30 | s | 16.00 | ||||
| 2. | 15.00 | 16.30 | mating Cat | |||
| 1 | 一 |
banyak menggunakan mesin fotokopi menjadi andalan. Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana mereka pada saat itu memaksimalkan manfaat penyebaran informasi melalui media cetak flyer. Seperti yang mereka lakukan pada flyer pemberitahuan/undangan untuk mengikuti audisi bagi 27 band yang telah mendaftar, pada halaman belakang pemberitahuan audisi tersebut diselipkan sebuah tulisan mengenai sejarah musik black metal. Hal ini menunjukkan bahwa semangat untuk berbagi informasi dan edukasi mengenai musik underground sangat tinggi.
Diluar prediksi penonton yang datang ke acara musik SELASA BAWAH TANAH membludak. Acara musik tersebut menjadi pusat pertemuan seluruh pencinta musik ekstrim/ underground/rock pada saat itu di Pontianak. · “...mereka penasaran musik underground itu seperti apa, jadi berbondongbondonglah orang itu datang. Dari semua komunitas, laki, perempuan, tua, muda, ada semua disitu”- begitu Wiwid menceritakan suasana pada saat penyelenggaraan SELASA BAWAH TANAH. Pada saat acara musik tersebut terlihat bahwa ada banyak orang Pontianak yang sebetulnya penasaran dengan musik underground dan ingin melihat penampilan band-band underground Pontianak secara langsung. Satu ruangan utama di Gedung Arena Remaja dipenuhi hampir 1.000 orang penonton saat itu. Mereka datang karena mengetahui informasi diadakan acara musik SELASA BAWAH TANAH melalui media flyer fotokopi dan juga pemberitahuan di Radio Volare oleh penyiar bernama Hendi.
Hal menarik lainnya, segala biaya operasional acara SELASA BAWAH TANAH saat itu juga ter-cover melalui penjualan tiket. Biaya operasional antara lain sewa gedung, sewa alat, dan juga konsumsi untuk band. “Dulu acara underground ada konsumsinya, setiap band yang habis main dikasi snack(kue dan air minum), sebagai bentuk apresiasi”, begitu dituturkan oleh Wiwid(Berhala).
Begitu juga dari teman - teman panitia penyelenggara, apa yang mereka inginkan untuk melihat dan merasakan suasana menonton penampilan band underground seperti yang mereka rasakan ketika di kuliah di Pulau Jawa pun dapat terealisasi. Merasakan riuh suara distorsi gitar dan suara teriakan sang vokalis, bersenang - senang menikmati musik dengan moshing, begitulah perasaan bahagia yang mereka rasakan saat itu.
Acara musik SELASA BAWAH TANAH bisa dibilang menjadi awal segalanya. Semua orang yang memiliki ketertarikan dengan musik underground semenjak saat itu bertemu dengan teman - teman baru yang memiliki ketertarikan yang sama. Seterusnya mereka pun membentuk tongkrongan - tongkrongan baru bersama teman - teman yang memiliki ketertarikan yang sama. Teman - teman punk dan hardcore juga pada akhirnya membentuk tongkrongan baru setelah acara SELASA BAWAH TANAH. Selain itu melalui SELASA BAWAH TANAH memberi ide bahwa sangat memungkinkan untuk komunitas underground mengorganisir acara musiknya sendiri, bermodal kekuatan kolektif, serta semangat DIY (Do It Yourself) yang kuat. Salah satu buktinya adalah setelah acara musik tersebut salah satu panitia akhirnya mengorganisir acara musik underground di kota asalnya, Pemangkat(Kabupaten Sambas). Acara di Pemangkat diadakan pada awal tahun 2000 diinisiasi oleh Yudi, salah satu panitia acara SELASA BAWAH TANAH. Teman - teman underground Pontianak juga turut hadir ke acara di Pemangkat itu. Anak - anak punk, hardcore, metal, dll pergi bersama menggunakan bis. Teman - teman dari Pontianak hadir di Pemangkat tidak hanya menonton, tapi beberapa band Pontianak juga tampil disana bersama dengan band underground dari Pemangkat. “Satu bis dulu isinya yang punk, yang hardcore, yang metal, UNITED” - tutur Wiwid(Berhala band) dengan bersemangat.
Setelah acara musik SELASA BAWAH TANAH salah satu wujud komunitas yang berkembang adalah tongkrongan punk. Teman - teman punk semakin sering ngumpul di daerah Siloam, tongkrongan ini yang berikutnya dikenal sebagai PONTI-
ANAK CITY PUNK REVOLUTION. Kegiatan disana menjual stuff (kaset/emblem/t-shirt) di emperan, juga sembari bertukar informasi mengenai dunia underground. Tongkrongan ini pada perkembangannya juga dihadiri oleh teman - teman Metal yang menjual stuff metal disana. Sejak saat itu akhirnya orang - orang Pontianak mulai mengetahui bahwa anak - anak musik underground Pontianak ngumpul disana. Tongkrongongan di Siloam sempat diisi bersama oleh teman - teman punk (Pontianak City Punk Revolution atau kemudian komunitas Parabajing), Deep Forest Scum, dan juga Pontianak Metalforce. Tongkrongan lintas genre ini sangat positif, karena membuka diskusi yang lebih luas dan memungkin pertukaran informasi yang tidak eksklusif. Pertukaran informasi juga terjadi melalui tukar - tukaran kaset, zine, dan newsletter. “Yang punk baca zine metal, yang metal ya baca newsletter punk. Jadi dulu, nanya anak punk kalo ditanya soal metal hapal, yang anak metal ditanya soal band-band punk ya hapal juga, karena sama – sama ngerti, nongkrongnya sama – sama , tukartukaran kaset, tukar-tukaran zine, tukar-tukaran newsletter, semuanya kenal”, begitulah ditambahkan oleh Wiwid(Berhala).
Semenjak saat itu komunitas underground di Pontianak terus berkembang. Ada banyak band baru terbentuk, ada banyak orang baru juga yang ikut nongkrong. Band - band underground Pontianak juga semakin meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Band - band underground Pontianak sudah mulai menciptakan lagu - lagu karyanya sendiri saat itu. Lagu - lagu ini selalu dibawakan di penampilan panggung mereka. Kendalanya pada saat itu adalah belum bisa mendapatkan tempat studio rekaman. Akhirnya mereka pun tetap merekam lagu, salah satunya karena untuk tujuan menghapal lagu atau ngulik lagu, tapi mereka merekam sendiri dengan mini compo single deck, kaset kosong, dan juga mic standar di studio latihan. Praktik seperti ini bisa dibilang sangat umum dilakukan oleh banyak band atau musisi pada era 90an, rekaman live dan raw. Memang hasilnya ada banyak kekurangan dari kualitas suara rekaman. “Kendalanya adalah di posisi kita meletakkan tape itu kan menentukan suara yang terekam, jadi setiap merekam satu lagu kita dengarkan dulu, oh misalnya gitarnya terlalu besar, pindahkan lagi posisi tape nya”, begitu seperti yang diceritakan Wiwid(Berhala).
Seperti yang sudah dituliskan diatas, korespondensi dengan pelaku/komunitas underground dari luar Pulau Kalimantan merupakan salah satu faktor penting dalam kemunculan dan perkembangan komunitas underground di Pontianak. Selain itu tentu saja juga melalui kaset-kaset extreme metal/ punk/hardcore yang dijual di toko resmi maupun bajakan dan juga informasi yang didapat melalui media cetak (koran/majalah) maupun radio. Untuk media cetak sendiri, sejak awalnya komunitas underground di Pontianak juga sudah mulai membuat dan menerbitkan media cetak nya sendiri. Media cetak ini biasanya disebut sebagai “Zine”, sebuah media independen yang dibuat, diterbitkan, didistribusikan, dan dikelola secara mandiri oleh pegiat komunitas underground. Zine ini pada saat itu biasanya berupa lembaran kertas fotokopian ukuran A5. Zine biasa juga disebut “Newsletter”. Bedanya newsletter dengan zine biasanya hanya jumlah lembaran dari tiap terbitannya saja.
“Dulu kan setiap minggu, hal yang selalu ditunggu adalah Pak Pos. setiap minggu ada kiriman stuff baru. ada surat, newsletter, zine baru, atau kaset.”, begitu Wiwid (Deep Forest Scum) menceritakan bagaimana mereka mendapatkan zine ataupun newsletter kiriman dari teman korespondensinya di Jakarta yaitu Nino (Vokalis TRAUMA). Saat itu mereka sama - sama terpapar oleh media baru bernama Zine tersebut, dan juga merasakan bagaimana zine itu menjadi alat untuk berkomunikasi dan berbagi informasi didalam komunitas underground. Pada akhirnya komunitas Deep Forest Scum membuat sebuah zine bernama “Reinkarnasi”. Zine tersebut dibuat oleh Uun dan juga Wiwid serta dibantu oleh teman - teman di komunitas Deep Forest Scum. Zine Reinkarnasi berisi profil band, interview band, juga potongan-potongan flyer promo band, gigs, maupun zine. Zine ini dibuat dengan teknik layout gunting tempel (cut and paste), dan diperbanyak dengan mesin fotokopi. Teknik layout ini adalah teknik layout primitif yang banyak dipakai oleh para pembuat zine mulai dari dulu, bahkan hingga di era komputerisasi seperti sekarang ini. Uun sendiri bercerita bahwa dia banyak mendapatkan inspirasi untuk membuat zine ini setelah melihat pada saat itu kebanyakan komunitas underground di berbagai kota di Indonesia sudah memiliki media Zine didalam komunitasnya masing - masing. “Kalau orang lain bisa bikin, kenapa kita gak bikin?”, begitu kalimat yang baginya merupakan motivasi untuk bergerak membuat zine pada saat itu. Untuk teknik gunting tempel sendiri juga terinspirasi melalui zine - zine metal dari negara - negara Eropa Timur yang dia dapat dengan cara barter/saling bertukar. Cara pengerjaan teknik gunting tempel adalah, tulisan untuk zine diketik dan dicetak di mesin tik manual, lalu digunting - gunting dan ditempel ke kertas yang akan menjadi lembaran master(lembaran asli) zine, setelah keseluruhan zine selesai dilayout maka master tersebut dibawa ke tempat yang menyediakan jasa fotokopi. Setelah selesai diproduksi, zine tersebut didistribusikan/disebarkan di sekitar lingkungan komunitas Deep Forest Scum ataupun orang - orang lain yang juga penggiat didalam komunitas underground Pontianak saat itu. Salah satu momen untuk mendistribusikan zine ini adalah pada saat penyelenggaraan gigs SELASA BAWAH TANAH di tahun 1999.
Selain REINKARNASI ada zine lain yang juga sudah mulai terbit yaitu OVERHATE Zine. Zine ini dibuat oleh Ronny yang juga pada waktu itu turut nongkrong dan menjadi bagian dari komunitas Deep Forest Scum. Pola pengerjaan, produksi,
Begitu juga untuk konten zine yang masih berupa profil band, interview dan juga scene report(cerita mengenai keberadaan dan perkembangan scene underground di kota - kota selain Pontianak). Bisa dibilang pada masa 1990an awal hingga akhir hampir semua zine underground yang dibuat di komunitas underground Indonesia(termasuk Pontianak) masih menggunakan pola - pola yang serupa. Akan tetapi keberadaan zine - zine tersebut menjadi sangat penting saat itu untuk menyebarkan informasi dan juga yang paling penting adalah menjadi awal mula komunikasi antar scene hingga akhirnya menjadi pertemanan yang semakin erat pada masa - masa berikutnya.
Apa yang terjadi setelah acara musik SELASA BAWAH TANAH memberikan dampak yang besar kepada komunitas underground Pontianak pada awal tahun 2000an. Aktivitas nongkrong dalam komunitas underground terus berlanjut, menjual barang - barang produk dari komunitas ataupun band underground (kaos/kaset/emblem/zine) sembari ngobrol bertukar pikiran dan informasi mengenai underground. Kemudian tongkrongan pun semakin bertambah. Salah satunya yang mengakibatkan peningkatan ini adalah terus diadakannya acara musik underground di Pontianak. Kemudian tongkrongan punk yang lebih spesifik juga terbentuk setelah mereka bertemu di acara musik SELASA BAWAH TANAH. Mereka mulai intens nongkrong di emperan jalan depan GPIB Siloam(dekat Stadion Kebon Sajoek/PSP). Kegiatan nongkrong ditempat tersebut juga sering bareng dengan komunitas DEEP FOREST SCUM, dan lalu kemudian ada juga komunitas PONTIANAK METALFORCE. Komunitas punk sendiri semakin berkembang setelah anak - anak punk yang
bertemu di gig SELASA BAWAH TANAH. Dari awalnya nongkrong di DEEP FOREST SCUM, mereka membentuk tongkrongan sendiri bersama teman - teman yang sama sama tertarik dengan punk. Mereka melanjutkan nongkrong juga di emperan jalan depan GPIB Siloam, selain itu juga ada tongkrongan di Jalan Kutilang. Tongkrongan ini bermula dari sebuah rumah singgah, yang kemudian mendapatkan satu set alat band yang awalnya dimiliki seorang buruh pabrik di daerah Kuala Dua. Alat musik tersebut didapatkan berkat jasa “Pak We” (orang yang dituakan di daerah Jalan Kutilang). Akhirnya tongkrongan di Jalan Kutilang memiliki aktivitas ngejam rutin setiap malam minggu (yang kemudian hari menjadi cikal bakal street gigs di Jalan Kutilang).
Pada masa ini, band - band underground Pontianak masih belum bisa mendapatkan kesempatan manggung yang lebih banyak. Gigs musik underground yang dikelola komunitas hanya memanfaatkan momen liburan hari besar seperti malam lebaran, malam tujuh belasan, ataupun malam tahun baru. Selain itu juga memanfaatkan acara musik yang diselenggarakan oleh organisasi ataupun sekolah, salah satu yang terkenal adalah acara musik yang diadakan di halaman kantor DLLAJ (Jalan Alianyang).
Komunitas DEEP FOREST SCUM mengadakan acara musik HELL ON STAGE pada tahun 2001. Acara musik ini masih mengambil tempat di Gedung Arena Remaja (sekarang ‘Pontianak Convention Center’), dan kali ini mereka mendatangkan band brutal death metal dari Jakarta yaitu DELIRIUM TREMENS. Pengelolaan gigs ini dilakukan dengan pola kolektif dan semangat DIY. Band - band yang tampil ikut patungan uang sejumlah Rp20.000,-, begitu juga patungan dari panitia. Gigs HELL
ON STAGE ini diisi oleh penampilan band - band dari berbagai jenis musik yang tidak “umum” pada masa itu, seperti thrash, death, doom, brutal death, grindcore, dll.
Di masa ini juga mulai muncul tongkrongan underground di kampus Universitas Panca Bhakti (UPB) scene yang berasal dari tongkrongan kampus tersebut. Lalu Pontianak. Tongkrongan di kampus tersebut dimulai dari beberapa orang yang suka pada musik extreme metal, mereka membentuk band, dan juga membuat acara musik. Pada awalnya acara musik tersebut diorganisir dibawah nama “Biru Entertainment”. Kelompok tersebut adalah inisiatif dari mahasiswa UPB, yang saat itu ingin membuat event organizer. Mereka sempat mengorganisir beberapa acara musik yang diadakan di Auditorium UPB. Seiring berjalannya waktu, dalam tongkrongan tersebut muncul band metal seperti Death Harmonic, Golgotha, dan Tewas. Mereka ingin mengembangkan
karena isi dari tongkrongan tersebut adalah para pencinta musik extreme metal, maka mereka membuat nama UPB UNDERGROUND, yang mana ini juga merupakan bagian dari Biru Entertainment. Ada beberapa gigs musik underground yang diorganisir oleh UPB UNDERGROUND ini. Nantinya komunitas UPB UNDERGROUND berubah nama menjadi PONTIANAK METAL FORCE. Komunitas ini kemudian membuat gigs musik underground yaitu BLEEDING FEST. Gigs tersebut menampilkan band - band yang spesifik memainkan musik metal dan berbagai macam variannya (black metal, gothic, metal hardcore, grindore, dll). Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang datang kedalam tongkrongan PONTIANAK METAL FORCE. Gigs musik BLEEDING FEST sendiri terus berjalan berseri hingga edisi yang kelima. Bahkan dikemudian hari tongkrongan PONTIANAK METAL FORCE pun bertemu dengan tongkrongan band yang ada di daerah Podomoro (sekarang Jl. Putri Candramidi), dan semakin memperluas audiens tongkrongan ini. Meluasnya hubungan antar tongkrongan merupakan suatu hal positif, karena kami melihat pada saat penyelenggaraan BLEEDING FEST yang pertama, band - band yang tampil tidak hanya berasal dari lingkar tongkrongan kampus UPB saja, tapi juga bersama-sama dengan band-band dari tongkrongan lain seperti komunitas PERMISSION SKATEBOARDING.
Komunitas punk kemudian juga mengorganisir gigs musik. Inisiatif dimulai dari Kiki (saat tulisan ini dibuat adalah bassist dari band INJECTED asal Bandung), dan gigs nya mengambil tempat di Gedung Auditorium RRI Pontianak yang berlokasi di Jalan Maluku. Ini adalah untuk pertama kalinya komunitas punk membuat gigs kolektif. Mereka melakukan patungan uang, baik patungan uang dari band maupun dari teman-teman penyelenggara. Uang hasil patungan dipakai untuk membayar biaya operasional, seperti sewa gedung sebesar Rp 1.300.000 dan juga menyewa alat band milik seorang buruh pabrik seharga Rp 250.000. Kolektifan/patungan dalam gigs underground tidak hanya kaku dalam bentuk uang saja. Dalam menyelenggarakan gigs ini mereka juga mendapatkan bantuan pinjaman alat band dari teman-teman yang biasa nongkrong di sebuah warnet bernama Blackbox. Selain itu, kerjasama dari seluruh teman-teman secara sukarela yang mengambil peran dalam menjaga keamanan, kebersihan, tim angkut, dan lain-lain juga menjadi sebuah wujud nyata dari “kolektifan”. Gigs underground ini mereka beri nama NOW OR NOTHING, sebagai
itu, sulit tapi sangat mungkin untuk segera dilakukan, sekarang atau tidak sama sekali. Pada penyelenggaraan gigs ini, teman-teman komunitas punk dan hardcore saat itu sudah membawa nama PARABAJING. Komunitas PARABAJING sudah mereka bentuk sebelumnya saat mendirikan distro (distribution outlet) yang bernama NORTHSOUTH Distro pada tahun 2003. Distro ini adalah sebuah usaha yang kegiatannya menjual dan mendistribusikan merchandise seperti kaos, kaset, emblem, pin, zine, dan stiker yang merupakan hasil produksi teman-teman komunitas underground dari Pontianak maupun dari luar Pontianak.
wujud semangat mereka untuk memulai sebuah gerakan kolektif musik yang mandiri dan menyiasati segala keterbatasan dan kekurangan yang dihadapi saat
Suasana gigs NOW OR NOTHING memang tidak seramai gigs underground sebelumnya, tapi pada gigs ini hadir teman-teman punk dan hardcore dari luar kota Pontianak (Singkawang, Sanggau). Ada yang tampil bersama band nya, ada juga yang hadir untuk sekedar nonton dan nongkrong. Beberapa juga ikut membantu penyelenggaraan acara (kebanyakan adalah anak Sanggau/Singkawang yang sedang kuliah di Pontianak). Ada sekitar 25 band yang tampil di gigs NOW OR NOTHING. Suasana gigs sungguh chaos, hampir semua yang ada di dalam gedung Auditorium RRI saat itu aktif turun ke moshpit dan pogo di setiap penampilan band. Setelah gigs NOW OR NOTHING ini, perjalanan komunitas punk dan hardcore di Pontianak terus berlanjut dan aktivitasnya juga meningkat. Komunitas PARABAJING terus mengorganisir gigs seperti STAND
AS ONE dan NEVER STOP RIOT yang diadakan rutin hingga tahun-tahun berikutnya. Gigs musik underground saat itu masih sering mengandalkan momen libur hari besar, dan biasanya diadakan pada malam sebelum libur hari besar tersebut (contohnya pada malam tujuh belasan ataupun malam tahun baru). Mereka juga mulai mencari tempat-tempat (venue) lain untuk dipakai menyelenggarakan gigs musik underground. Komunitas PARABAJING juga kerap memanfaatkan pinggiran jalan untuk mengadakan gigs musik underground, kegiatan ini biasanya disebut street gigs. Biasanya mereka mengadakan street gigs di kawasan Jl. Jenderal Urip, di samping gerbang masuk Jl. Kutilang. Gigs musik jalanan seperti ini diadakan lebih sering setelah distro NORTHSOUTH yang
ada juga kelompok-kelompok yang melakukan pawai. Pada saat situasi jalanan ramai seperti itu biasanya otoritas kepolisian ataupun warga setempat tidak akan terlalu mengurusi/mempertanyakan perizinan acara musik. Selain itu, sebetulnya penyelenggaraan gigs jalanan seperti ini juga sedikit banyak memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat yang memiliki warung makanan/minuman. Strategi dan simbiosis yang patut diapresiasi, dipelihara, dan dikembangkan dari penyelenggaraan gigs jalanan. Penyelenggaraan gigs jalanan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh komunitas PARABAJING. setelahnya, cara seperti ini juga dilakukan oleh
nasional biasanya jalanan di kota Pontianak akan ramai oleh warga, baik yang hanya jalan-jalan atau
mereka jalankan pindah ke Jl. Jenderal Urip (mengenai distro akan kita bahas di sub bab selanjutnya). Gigs jalanan seperti ini lebih sederhana dan bisa lebih spontan, biasanya tanpa panggung ataupun hanya menggunakan panggung sederhana dari kayu. Sumber daya listrik juga bisa bekerja sama, meminjam sumber listrik dari rumah warga setempat (dengan biaya sewa yang lebih murah). Penyelenggaraan gigs musik underground di pinggiran jalan, yang biasanya memanfaatkan momen satu malam sebelum libur hari raya atau hari besar nasional, sebetulnya adalah sebuah taktik untuk mengakali masalah izin keramaian dan gangguan kebisingan pada warga ataupun otoritas kepolisian. Malam sebelum hari raya/hari besar
komunitas, organisasi, maupun EO lainnya. Bahkan sebetulnya pada tahun 90an hingga awal 2000an di Pontianak kerap kali kita menemukan acara musik di pinggiran jalan, diadakan hampir di setiap gang pada malam tahun baru (biasanya hanya berupa acara panggung karaoke atau membuat panggung diskotik dadakan).
Gigs musik di pinggiran jalan yang juga terkenal pada awal tahun 2000an adalah yang biasa diadakan di halaman kantor DLLAJ (Dinas Perhubungan Kota Pontianak). Gigs musik di halaman kantor DLLAJ ini bisa dibilang merupakan salah satu yang legendaris dalam perjalanan komunitas musik Pontianak dan juga yang ditunggu oleh penikmat musik dan band-band pada saat itu. Gigs musik ini memang tidak diorganisir secara khusus oleh komunitas musik underground, tapi oleh salah satu organisasi pemuda di Pontianak. Gigs musik di halaman DLLAJ menarik minat banyak penikmat dan pelaku musik underground karena pada saat itu mengakomodir semua jenis musik dan menjadi titik pertemuan banyak tongkrongan maupun komunitas yang ada saat itu.
Kembali ke komunitas PARABAJING, mereka terus menggelar gigs musik dengan mengandalkan pola pengorganisasian kolektif dan mandiri. Selain mengorganisir gigs musik di pinggir jalan, mereka juga menjelajahi berbagai alternatif gedung/aula yang bisa dijadikan tempat penyelenggaraan gigs musik underground. Salah satunya adalah gigs STAND AS ONE yang diadakan di gedung ANNEX Untan, sebuah aula berkapasitas 500 orang tepat di sebelah Auditorium
Universitas Tanjungpura (UNTAN). Gigs yang diadakan disini sempat mendatangkan sebuah band street punk dari Bekasi bernama GAMELANOINK, Melanjutkan tradisi berkorespondensi dengan komunitas underground dari luar Pontianak yang sudah dimulai sejak tahun 90an, kemudian mentransformasikannya menjadi kolaborasi dalam bentuk gigs musik. Seperti biasa, gigs musik underground yang diselenggarakan secara kolektif ini melibatkan juga partisipasi dan kehadiran teman - teman dari komunitas diluar kota Pontianak seperti Singkawang dan Sanggau.
Komunitas lain yang pada masa ini juga menggunakan gedung Annex sebagai tempat penyelenggaraan gigs musik adalah PERMISSION SKATEBOARDING. Komunitas ini adalah sekumpulan anak-anak yang bermain skateboard di Pontianak. Kegiatan bermain skateboard ini biasa dilakukan bergerilya, memanfaatkan banyak tempat secara acak di Pontianak. Tidak hanya bermain skateboard, banyak band terbentuk diantara teman-teman di PERMISSION SKATEBOARDING.
ataupun aksesoris lainnya. Kegiatan seperti ini juga adalah sebuah kegiatan yang konon sudah
kebanyakan saat itu memainkan musik punk rock. Band-band seperti Permission, Scarface Two, Step To Sky, 0561, mengcover lagu - lagu dari band punkrock yang populer di tahun 90an seperti No Use For A Name, Blink 182, Not Available, dan Sendal Jepit. Tentunya mereka juga manggung dengan memainkan lagu ciptaan mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, mereka kemudian juga punya keinginan untuk membuat sebuah gigs musik underground. Dilandasi dengan niat dan semangat untuk bersenang-senang bersama teman-teman, maka tahun 2005 mereka membuat gigs musik yang diberi nama JUST FOR FUN. “Pokoknya sebisa mungkin kita fun, patungan, tiket semurah mungkin, yang penting kita ada kegiatan, ada pergerakan, ada kejelasan”, kata Mas Lino, salah satu anggota PERMISSION
SKATEBOARDING yang kami wawancarai. Walaupun tujuannya untuk bersenang-senang, namun penyelenggaraan gigs JUST FOR FUN setidaknya menambahkan sesuatu yang baru pada dinamika penyelenggaraan gigs underground di Pontianak. Seperti pada penyelenggaraan gigs JUST FOR FUN yang pertama di gedung Annex UNTAN, mereka memberi ruang bagi usaha-usaha kreatif yang kebanyakan dimiliki oleh teman-teman yang aktif dalam komunitas underground di Pontianak.
Pada saat itu di Pontianak mulai bermunculan distro (distribution outlet) yang menjual dan mendistribusikan produk dari usaha kecil, yang biasanya juga berasal dari komunitas musik seperti T-Shirt, emblem, pin, stiker, kaset dan cd, gelang/spike/rantai
dimulai sejak awal mula kemunculan komunitas musik underground di Pontianak pada masa tahun 1990an. Pada awal masa 2000an kegiatan distro semakin berkembang, jumlahnya bertambah banyak, dan kegiatannya semakin kompleks dalam arti mulai memperhitungkan distro sebagai sebuah unit usaha/dagang yang layak dijalankan dengan serius, membuat perencanaan, menjalin kerjasama dengan produsen merk kaos independen lokal, dan pada akhirnya juga menjalin hubungan yang saling membutuhkan dengan komunitas musik underground Pontianak.
Teman-teman dalam komunitas PERMISSION SKATEBOARDING juga berusaha membuat hubungan pertemanan antar tongkrongan dalam komunitas underground di Pontianak semakin meluas dan mencair pada gelaran JUST FOR FUN yang kedua. Gigs tersebut diadakan pada tanggal 12 Februari 2006 di Taman Budaya Pontianak. Pada edisi kedua ini teman-teman PERMISSION SKATEBOARDING mengajak band yang berada diluar tongkrongan mereka untuk turut berpartisipasi tampil di acara mereka, khususnya teman-teman yang memainkan jenis musik yang berbeda dengan band-band yang ada di PERMISSION SKATEBOARDING. Usaha ini menghasilkan hubungan yang mencair. teman-teman dari tongkrongan PERMISSION SKATEBOARDING banyak yang ikut nongkrong di tongkrongan komunitas underground lainnya.
Dalam hal penyelenggaraan gigs, akhirnya terjadi hubungan timbal balik. PERMISSION SKATEBOARDING juga hadir dan berpartisipasi pada penyelenggaraan gigs musik yang dibuat oleh komunitas PONTIANAK METALFORCE yang diadakan di Auditorium Universitas Panca Bakti Pontianak, bernama BLEEDING FEST. Ada satu band dari tongkrongan PERMISSION SKATEBOARDING yang juga tampil di gigs tersebut. Wujud interaksi dan kolaborasi antar tongkrongan dalam komunitas underground Pontianak ini juga merupakan pertanda bahwa pada masa ini eksistensi dan dinamika komunitas musik underground di Pontianak semakin meningkat.
Persebaran tongkrongan pada masa 2000an awal juga terjadi pada tongkrongan punk. Komunitas punk yang pada saat itu nongkrong di emperan jalan depan GPIB Siloam kedatangan temanteman baru yang tinggal di Gang Matan, Perum Dua (daerah Jeruju). Teman-teman ini berjalan
Hamzah untuk menuju ke tempat tongkrongan punk di Siloam. Berjalan kaki menempuh jarak antara daerah GPIB Siloam dan Jeruju yang cukup jauh, ternyata membuat mereka seringkali keletihan dan akhirnya singgah untuk istirahat di sebuah halte yang terletak di dekat lampu merah perempatan Jl. Gusti Hamzah ( dulu Jl. Pancasila) di daerah Sui Jawi (baca : Sungai Jawi). Dari mulai sekedar singgah untuk beristirahat, akhirnya halte tersebut menjadi tongkrongan baru mereka. Mulai dari setiap minggu (weekend), akhirnya mereka hampir setiap hari nongkrong kaki berbarengan dari daerah Jeruju, menyusuri Jl. R.E. Martadinata, Jl. Jeranding, lalu Jl. Gusti di halte tersebut. “Di halte (Jalan) Pancasila tu, kite sampai tidok disitu, ndak ade yang ganggu. mau makan dekat, ada pecel bibi, dibelakang pecel ade WC, bise dipakai. Lama kelamaan makin kenal juga sama orang disitu.”, begitu cerita Erik, vokalis band Terror Bomb, salah satu orang yang sempat merasakan nongkrong di halte Jl. Pancasila. Kegiatan nongkrong di halte tersebut mulai mereka lakukan selepas penyelenggaraan gigs NOW OR NOTHING oleh komunitas PARABAJING. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa 1999 sampai
akan menghasilkan penyebaran tongkrongan baru setelah diselenggarakannya gigs musik.
dengan awal tahun 2000 di komunitas underground Pontianak
Tongkrongan punk di halte Jl. Pancasila akhirnya menambah tongkrongan baru dari beberapa tongkrongan yang sudah ada di Pontianak saat itu. Sebagai sebuah tongkrongan, awalnya kegiatan di tongkrongan punk halte memang hanya sebatas kumpul-kumpul. Tapi kegiatan nongkrong yang mereka lakukan bukan sekedar nongkrong biasa. Anak-anak punk di halte Jl. Pancasila nongkrong di situ dengan memakai setelan punk (sepatu boots, jaket kulit/jeans ditempeli emblem, tampilan lusuh, dan tak jarang rambut mohawk/spike). Tongkrongan ini pun akhirnya menjadi sorotan warga sekitar dan orang yang berkendara melewati halte tersebut. Salah satu teman pernah bercerita bahwa jika melewati depan halte pancasila dan berteriak “Oi! Oi! Oi!” maka akan segera dibalas pula dengan teriakan “Oi! Oi! Oi!” serempak oleh seluruh anak punk yang sedang nongkrong saat itu. Begitulah selanjutnya tongkrongan punk di halte Jl. Pancasila ini akan menjadi fenomena tersendiri di dalam sejarah perjalanan komunitas underground Pontianak.
Di kemudian hari tongkrongan punk di halte Jl. Pancasila ini mulai mengorganisir kegiatan-kegiatan mereka sendiri. Salah satunya yang paling umum dan hampir pasti dilakukan oleh tongkrongan di komunitas musik underground Pontianak saat itu adalah menyelenggarakan gigs musik. Seperti meneruskan apa yang pernah dibuat oleh tongkrongan punk sebelumnya, mereka juga menyelenggarakan gigs musik di pinggir jalan, lebih tepatnya mereka mengadakan gigs musik di halte Jl. Pancasila tersebut. Metode yang mereka pakai dalam mengorganisir gigs musik disana juga sama seperti yang dipakai oleh kebanyakan komunitas underground pada saat itu, yaitu dengan cara kolektif/patungan. Mereka mengumpulkan alatalat band yang diperlukan untuk kebutuhan penyelenggaraan gigs musik dari alat pribadi teman-teman mereka sendiri. Gigs musik diisi dengan penampilan BMX. Bisa dibilang ini juga awal mula kemunculan komunitas sepeda BMX frestyle di kota Pontianak. Keberadaan rider (sebutan untuk pemain sepeda) dari band-band yang ada dalam lingkar tongkrongan punk di halte Jl. Pancasila, dan teman dekat mereka lainnya. Penyelenggaraan street gigs mereka biasanya juga memanfaatkan momen malam sebelum hari libur nasional (Tujuh belas agustus, lebaran, ataupun malam tahun baru). Mereka menyelenggarakan gigs tersebut untuk mengisi kekosongan, jika street gigs serupa sedang tidak digelar oleh teman-teman kolektif PARABAJING di pinggir Jalan Jenderal Urip. Sinergi seperti ini dilakukan karena sebenarnya kedua tongkrongan ini sama-sama berisi orang-orang (dan juga band) dengan minat dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan gaya hidup punk.
Selain tongkrongan punk di halte Jl. Pancasila, komunitas PARABAJING juga melahirkan pelebaran tongkrongan lainnya. Saat itu beberapa orang yang nongkrong di PARABAJING juga aktif bermain sepeda
BMX di komunitas PARABAJING juga sudah terlihat sejak mereka menyelenggarakan gig musik NOW OR NOTHING. Pada sebuah dokumentasi video terlihat dua orang rider BMX yang asik beratraksi dengan sepedanya di dalam venue. Bahkan ada sebuah momen dimana seorang rider melakukan lompatan sepeda dari atas panggung kebawah area penonton. Lalu pada akhir tahun 2004 kumpulan rider BMX ini mulai mengorganisir diri.
Terinspirasi dari sebuah brand clothing (yang kemudian juga berevolusi menjadi tongkrongan BMX) di Amerika yang bernama “Little Devil”, merekapun menamai kumpulan mereka BABY DEVIL. Saat itu sudah ada beberapa anggota PARABAJING yang bermain sepeda BMX, lalu kemudian ada beberapa anak yang lebih muda dari area Jl. Alianyang dan Gg. Usaha (Jl. Penjara) yang tertarik dan ikut pula bermain sepeda BMX. Bahkan rumah dari salah satu rider BMX bernama Abung juga dijadikan semacam sekretariat unofficial untuk BABY DEVIL. Ini dikarenakan memang kebanyakan dari mereka sering nongkrong di rumah Abung yang berlokasi di Jl. Alianyang. Dan kemudian tempat ini pun menjadi saksi keberlanjutan tongkrongan BABY DEVIL, dengan berbagai kegiatan didalamnya seperti bermain sepeda BMX, ngeband, mengorganisir acara musik dan lomba BMX, serta membuat distro kolektif. Distro tersebut dibuka di garasi rumah Abung, menjual barang-barang yang identik dengan kultur musik underground saat itu seperti, stiker, kaset, CD, kaos band, dan juga pin. Tongkrongan BABY DEVIL ini juga berisi band-band yang memainkan musik hardcore. Musik hardcore mereka saat itu berkiblat kepada band-band hardcore Amerika dan Eropa tahun 90an dengan sound yang lebih berat dan banyak berisi part chugga-chugga/breakdown pada lagu-lagunya. Referensi musik ini didapatkan melalui rilisan kaset, CD, ataupun file transfer menggunakan flashdisk dari anak-anak PARABAJING. Band-band seperti BROTHER AGAINST BROTHER dan SMILE FROM HELL merupakan band yang ada di dalam tongkrongan BABY DEVIL.
Sebetulnya, tongkrongan ini bukan merupakan tongkrongan yang terpisah peran dan aktivitasnya didalam komunitas musik underground Pontianak. Mereka banyak turut ambil peran mengorganisir gigs musik underground bersama komunitas PARABAJING pada gigs musik rutin seperti NEVER STOP RIOT dan juga STAND AS ONE. Diluar itu, aktivitas dalam BABY DEVIL lebih banyak seputar bermain BMX, mencari tempat bermain di sekitar area kota Pontianak, menjadi pengisi acara pensi di sekolah-sekolah, dan nongkrong sesama rider BMX.
Pada era tahun 2000 hingga 2006 ini, pergerakan musik di kota Pontianak tidak hanya terjadi pada band ataupun penggemar musik underground (extreme metal, hardcore, punk, dan turunannya), tapi juga mulai ada pergerakan dari band-band yang memainkan genre lain. Ada banyak band yang karakter musiknya lebih mengarah ke pop, pop rock, nu-metal/hip metal, grunge, dan juga hip-hop. Walaupun seolah-olah terpisah dari lingkar tongkrongan HC/punk/metal, tapi apa yang mereka lakukan juga sedikit-banyak memiliki kesamaan. Keberadaan radio dan studio rekaman juga merupakan dua hal yang berkaitan dengan band-band Pontianak pada era ini. Pada tahun 2000an terdapat sebuah studio rekaman di Pontianak yang terletak di Jl. Pulau We bernama KANZ STUDIO. Saat itu sempat diadakan sebuah festival musik dimana band-band yang terpilih lagu ciptaannya akan direkam dan dirilis dalam sebuah album kompilasi oleh KANZ STUDIO. Model festival musik seperti ini kerap terjadi pada saat itu. Salah satu yang kami ingat juga pada tahun 2006/2007 ada sebuah festival yang diadakan di Cafe Alila dan album kompilasi merupakan hasil dari festival musik tersebut. Selain album kompilasi yang dirilis sebagai hasil dari festival musik, ada juga beberapa band yang mempunyai lagu ciptaan sendiri dan kemudian merekam lagu ciptaan mereka di beberapa studio rekaman yang terdapat di kota Pontianak saat itu. Kemudian mereka mengirimkan lagu-lagu hasil rekaman tersebut ke stasiun radio lokal. Salah satu stasiun radio lokal yang memiliki acara khusus memutar lagu dari band Pontianak adalah Radio Volare dengan acara mereka bernama AMPLITUDO. Kami ingat jelas beberapa band yang lagunya diputar di radio lokal Pontianak saat itu, seperti BAKAU dan LEMON TEA.
Band-band Pontianak yang berada diluar komunitas yang sudah diceritakan di bagian awal bab ini, waktu itu juga sering menjajal panggung-panggung musik yang ada di kota Pontianak. Yang sering kami lihat adalah bandband tersebut manggung di kafekafe sekitar kota Pontianak antara tahun 2000 s.d. 2006. Kami sempat mendapatkan cerita mengenai band-band yang memainkan hip metal/nu-metal kerap manggung di sebuah cafe yang terletak di depan kantor Pelni (Jl. Sultan Abdurrahman). Yang tampil adalah band seperti P185, WUNKWUNK, PUNKLIMA, BOTCORE, dll. Kesempatan lain yang bisa dimanfaatkan oleh bandband tersebut untuk manggung adalah acara festival (kompetisi) antar band. Festival (kompetisi) ini adalah acara musik dimana
band-band mendaftar, membayar sejumlah uang, tampil di panggung, dan saling berkompetisi untuk mendapatkan penilaian tertinggi dari juri untuk menjadi pemenang. Festival band seperti ini pada saat itu kerap menjadi pilihan untuk manggung karena memang inilah pilihan yang paling umum saat itu. Namun motivasi mereka untuk manggung tidak semata-mata untuk mendapatkan gelar pemenang, tapi juga untuk mendapatkan kesempatan manggung dihadapan penonton, dimana saat itu penonton festival band memang sangat banyak. Festival yang biasanya menjadi incaran mereka adalah festival bersifat freestyle, dimana pada festival seperti ini tidak mematok batasan genre musik ataupun lagu-lagu yang wajib untuk dibawakan.
Namun ada sebuah acara musik yang saat itu menjadi wadah pertemuan berbagai komunitas/ tongkrongan musik, termasuk komunitas musik yang sudah diceritakan pada awal bab ini. Acara musik tersebut adalah KOSONGKOSONG. Acara ini dimulai pertama kali pada tahun 2005. Diadakan di Duck Cafe, Jl. Jend. A. Yani (samping kampus Univ. Muhammadiyah Pontianak). Acara musik tersebut diselenggarakan oleh tongkrongan UBI 73, kumpulan anak muda yang biasa nongkrong di daerah Jl. Uray Bawadi. Acara musik tersebut diadakan beberapa hari setelah hari raya idul fitri, memanfaatkan momen ketika banyak orang mudik dan berkumpul di Pontianak. Acara ini diniatkan untuk dapat menjadi ajang silaturahmi anak muda, musisi, seniman, dan penikmat hiburan di kota Pontianak, termasuk anak muda yang merantau ke pulau Jawa. Penyelenggaraan acara ini tidak terlalu rumit, dicetuskan dan direncanakan di Warung kopi, panitianya juga berasal dari teman-teman dekat. Arbian Octora, salah satu panitia KOSONG-KOSONG bercerita, mereka memanfaatkan jasa seorang teman yang bekerja di perusahaan operator telekomunikasi untuk mengirimkan SMS massal berisi informasi acara musik KOSONG-KOSONG ini. Selain itu cara promosi seperti melalui radio dan juga menyebarkan flyer di perempatan lampu merah juga dilakukan. Bandband yang tampil juga dipilih dari berbagai tongkrongan yang ada di Pontianak. Seperti pada penyelenggaraan KOSONG-KOSONG yang pertama, yang diisi mulai dari band pop elektronik CROWN AND THE YODA hingga band hardcore dan punkrock seperti ABNORM POSITION dan PERMISSION. KOSONG-KOSONG akhirnya menjadi acara musik rutin yang setiap tahunnya dilaksanakan beberapa hari setelah perayaan Idul Fitri. Acara ini terus berlanjut diadakan setiap tahun, bahkan sampai sekarang. Bisa dibilang KOSONG-KOSONG adalah satu-satunya acara musik yang paling konsisten dan bertahan diadakan secara rutin di Pontianak. Eksistensi komunitas Hip-Hop di Pontianak juga mulai muncul di era awal 2000an ini. Komunitas Hip-Hop awalnya pada tahun 2003 dimulai oleh kelompok-kelompok breakdance. Ada banyak sekali B-Boy (sebutan untuk penari breakdance) pada saat itu, bahkan hampir di seluruh pelosok kota. Sebenarnya pada masa ini sudah ada beberapa orang yang tampil nge-rap di beberapa panggung perlombaan kesenian antar sekolah (dulu bernama EGP
- Ekspresi Gaya Pelajar). Juga sudah ada beberapa bomber (seniman mural/graffiti). namun pada saat itu semua belum terorganisir, masih random, dan kebanyakan belum sampai memahami roots budaya Hip-Hop secara mendalam. Tapi mereka terus melanjutkan eksistensinya dan menghidupkan kultur Hip-Hop di Pontianak. Rapper, sebagai salah satu elemen dalam Hip-Hop, semakin bertambah banyak di tahun 2006. Saat itu para rapper mulai tampil secara spontan di Cafe Golf yang terletak di Jl. MT. Haryono. Pada saat ini perlahan-lahan mereka yang menyukai Hip-Hop di Pontianak pun mulai semakin mendalami prinsip dan akar dari Hip-Hop. Bisa dibilang pada saat ini juga semakin terlihat eksistensi rapper sebagai representasi musik Hip-Hop di Pontianak. Ketika rapper semakin ramai, fenomena seperti diss track (lagu yang secara spesifik dibuat untuk mengkritik/menyindir pihak tertentu) pun kerap terjadi. Walaupun keluaran rapper Pontianak tidak hanya semata-mata pada diss track, tapi juga lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, yang kebanyakan setelah direkam didistribusikan melalui website layanan musik yang populer pada masa itu seperti ReverbNation ataupun Soundcloud.
Pada masa 2000 hingga 2006 ini, apa yang telah dimulai oleh orang-orang dan komunitas musik underground Pontianak sebelumnya, terus dilanjutkan oleh generasi yang lebih muda. Mereka yang sudah eksis di komunitas underground Pontianak sejak awal pun masih banyak yang tetap bertahan pada masa ini. Banyak dari mereka yang berkolaborasi dengan sangat cair, hingga membuat regenerasi secara tidak disadari pada komunitas musik underground di Pontianak. Dalam hal musik, pada masa ini kota Pontianak aktivitasnya tidak hanya didominasi oleh band yang memainkan musik dengan karakter spesifik yang ekstrim, tapi juga berbagai jenis musik lainnya. Namun bagi kami pergerakannya pada saat itu masih pada level yang sama. Semua saat itu sedang bersenang-senang, mengekspresikan diri dan kreativitas bermusik mereka, sembari memanfaatkan berbagai jalan, sarana, dan kesempatan yang ada untuk bisa tampil dan menyebarkan kesenangan mereka tersebut.
Pada awal era ini, eksistensi perjalanan media didalam komunitas underground setidaknya ditandai dengan terbitnya zine BORDER OF MISTY TIMES. Zine ini adalah kelanjutan dari zine REINKARNASI yang sebelumnya diterbitkan dan beredar di acara musik SELASA BAWAH TANAH. Menurut tim redaksi zine ini, pergantian nama ini dikarenakan sudah ada zine lain yang memakai nama REINKARNASI. Dari segi konten, zine ini tidak jauh berbeda dengan terbitan sebelumnya. Profil band, wawancara, dan konten - konten lain mengenai scene musik dan band underground lainnya ada disini. Distribusi zine ini semakin meluas hingga keluar Kalimantan, bahkan juga keluar Indonesia. Bisa dilihat pada cover dicantumkan harga jual zine ini dalam mata uang rupiah dan juga dollar.
Pada masa awal 2000an juga terbit sebuah zine musik underground yang lebih fokus kepada genre musik extreme metal bernama OVERHATE zine. Zine ini pertama kali terbit pada tahun 1999 dengan format cetak fotokopian dan layout menggunakan gunting tempel (cut and paste) serta menggunakan mesin ketik manual. Lalu pada awal tahun 2000an zine ini menerbitkan edisi kedua nya. Pada edisi kedua OVERHATE Zine mulai sedikit menggunakan komputer dalam proses produksinya. Yang menarik, pada edisi kedua, OVERHATE Zine dicetak dan dijilid seperti makalah/tugas kuliah, dengan kertas ukuran A4, cover kertas tebal, plastik sampul, dan juga jilid pinggir menggunakan lakban hitam. Pada edisi kedua yang terbit sekitar tahun 2000/2001 ini tulisan dalam zine sudah mulai berisi informasi-informasi yang didapatkan melalui internet, baik hasil berselancar di berbagai website maupun hasil korespondensi melalui e-mail. Pada saat itu, memang jaringan internet dan juga warung internet (warnet) baru saja muncul di kota Pontianak. OVERHATE Zine bisa dibilang salah satu zine yang cukup aktif dan memiliki hal-hal menarik yang ditampilkan dalam setiap terbitannya, terlihat selalu ada progess antar edisi. Pada edisi ketiga, cetakan zine ini semakin diperbaiki. Cover dicetak dengan printer dan tulisan serta gambar didalam zine sudah dilayout seluruhnya menggunakan program Microsoft Word. Edisi ketiga dari OVERHATE Zine terbit antara tahun 2002/2003. Edisi keempat akhirnya menjadi edisi terakhir dari OVERHATE Zine adalah edisi dengan tampilan yang paling profesional untuk zine dari Pontianak pada saat itu. OVERHATE Zine edisi keempat terbit pada tahun 2004, dicetak profesional(cover warna dan isi grayscale), dilayout menggunakan program Adobe Pagemaker. Untuk edisi keempat OVERHATE Zine dikerjakan oleh sebuah tim bukan individual. Ronny, founder OVERHATE Zine, menyebut nama-nama yang akhirnya menjadi teman satu tim nya, mulai dari teman-teman di Pontianak (Ogie, Ian, Luis) hingga Boy dari DISEMBOWEL RECORDS, sebuah record label independen dari Tangerang, Banten. Untuk memperluas jaringan pertemanan, menyebarkan dan mendapatkan informasi yang lebih luas, pada saat itu OVERHATE menyediakan space iklan bagi band, label, maupun distro. Tetapi yang unik adalah space iklan ini tidak dibayar dengan uang, tapi dengan barter CD. Ini merupakan sesuatu yang unik dari budaya zine. Ada banyak zine pada
masa 1990an sampai awal 2000an di Indonesia melakukan hal yang sama. Jika dalam media cetak mainstream space iklan adalah kesempatan untuk mendapatkan tambahan uang, dalam budaya zine space iklan tidak semata-mata hanya untuk uang. Space iklan justru dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperluas informasi dan menambah kuat jaringan pertemanan. Memang ada dan sah saja jika space iklan didalam zine dibayar dengan uang, jika itu memang memungkinkan untuk membantu ongkos cetak.cDengan bantuan DISEMBOWEL RECORDS, OVERHATE Zine edisi keempat dapat semakin luas cakupan distribusinya hingga luar Kalimantan dan luar Indonesia. 500 copy zine yang dibundling dengan CD Album Kompilasi band-band ekstrim metal akhirnya menandai akhir karya dari OVERHATE Zine.
Kami juga berkomunikasi dengan Dita Aditya, seorang yang aktif di scene underground Pontianak pada masa awal tahun 2000an. Dita adalah seorang mahasiswa perantau asal Jakarta, di Pontianak dia terlibat aktif dengan komunitas musik underground khususnya dalam scene hardcore punk hingga akhirnya dia kembali ke Jakarta sekitar tahun 2008. Dita juga aktif mengorganisir beragam aktivitas Zine di Pontianak. Menurut Dita pada awal tahun 2000an ada zine - zine lain yang juga terbit dan beredar dari komunitas punk. Dia mendapatkan Muka Bodo Zine yang dibuat oleh Asep (gitaris Jerones 343) yang berisi artikel/ opini, profil band dan komik. Juga ada sebuah newsletter(selebaran) yang dibuat oleh seorang skinhead bernama Abol yang berisi tulisan mengenai skinhead dan juga pandangan - pandangan politis dari kultur skinhead. Zine memang bukan sesuatu yang umum dan banyak beredar didalam komunitas musik underground Pontianak, apalagi dibuat oleh orang - orang didalam komunitas. Hal seperti ini sebenarnya juga sama saja terjadi juga hampir di semua komunitas undrground yang ada di kota - kota lain di Indonesia.
Dita membuat zine nya sendiri pada tahun 2002 dan diberi judul Invalid Zine. Invalid Zine secara umum juga sama seperti zine - zine lain yang dibuat dan beredar oleh pelaku komunitas musik underground Pontianak pada saat itu yang berisi profil band, interview band, scene report, tapi ada juga tulisan/essay yang berisi opini pribadi dari penulis. Tulisan sederhana yang berisi opini penulis seperti ini juga sempat kami temukan pada selebaran/newsletter Voice Of Pain yang dibuat oleh Uun(juga membuat zine Border Of Misty Time) yang berisi kabar berita dan ajakan untuk persatuan komunitas underground Pontianak. Selain Invalid Zine, Dia juga membuat dua judul newsletter bersama teman satu band nya Bade yaitu Ayam Sayur dan Omong Kosong.
Pada akhir periode ini (2000-2006) terbit beberapa zine baru dari orang - orang yang baru juga. Pada saat itu sudah ada sebuah komunitas skateboard yang bernama Permission Skateboarding dan mereka membuat zine untuk mengabarkan informasi - informasi terbaru dari komunitasnya, zine tersebut bernama Nevermind. Zine ini pada awalnya memang tidak dikhususkan hanya berisi topik musik saja, tapi juga skateboard dan segala macam fenomena kehidupan anak muda Pontianak saat itu.
Nevermind Zine dikerjakan beramai - ramai oleh orang - orang yang memang aktif nongkrong/terlibat dalam komunitas Permission Skateboarding. Bisa dibilang saat itu konten zine mereka sudah sangat beragam topiknya, begitu juga mereka menyasar segmen pembaca yang lebih luas lagi(anak muda Pontianak/ mahasiswa/pelajar SMA). Untuk menyasar segmen pembaca mereka, Nevermind Zine melakukan cara distribusi yang bisa dibilang militan. Mereka membuat kotak - kotak kayu yang digantung di beberapa kantin SMA dan kampus yang ada di Pontianak, lalu meletakkan beberapa buah zine edisi terbaru mereka disana untuk diambil dan dibaca gratis oleh pelajar SMA ataupun mahasiswa yang datang ke kantin - kantin tersebut. Selain itu mereka juga menitipkan zine nya di beberapa distro yang ada di Pontianak saat itu. Jika pada zine - zine lain di Pontianak saat itu kita menemukan perpaduan informasi antara apa yang ada dan terjadi di komunitas musik underground Pontianak dan kota - kota lain yang ada di Indonesia, di Nevermind Zine mereka membagikan apa yang ada didalam komunitas mereka dan apa yang terjadi di Pontianak kepada para pembaca.
Teknik distribusi ke sekolah dan kampus ini juga sempat dilakukan oleh Bullets In My Head Newsletter/Zine yang dibuat oleh Donny Raharjo(gitaris Dear Sarah/pemilik Distro Blindfold). Pada edisi pertama mereka memuat sebuah tulisan mengenai film dokumenter The Punks Are Allright dan sebuah tulisan opini berjudul Surviving Our Sub-Culture. Newsletter ini juga didistribusikan ke sekolah dan kampus, namun berbeda dengan Nevermind Zine kami menemukan Bullets In My Head Newsletter ditempel di mading sekolah. Memang beberapa sekolah saat itu memiliki mading terbuka yang biasa ditempeli juga oleh poster acara festival musik dari luar pihak sekolah. Kami tidak mengetahui bagaimana teknis pendekatan ataupun perizinannya dengan pihak OSIS ataupun sekolah(atau mungkin memang ilegal?), tapi teknik distribusi yang militan dan independen seperti ini menjadi sesuatu yang sangat keren dan menggugah orang lain yang melihat untuk tertarik pada Zine dan akhirnya tergerak untuk membuat zine.
Begitulah yang kami lihat pada zine lain yang mulai beredar pada tahun 2006, The Brews Zine. Zine ini dibuat oleh mahasiswa - mahasiswa yang memiliki banyak waktu luang untuk nongkrong setelah jam kuliah selesai, lalu mereka melihat bagaimana semangat kebebasan, kemandirian, dan militansi yang dilakukan oleh Nevermind Zine dan Bullets In My Head Newsletter hingga akhirnya mereka memutuskan juga untuk membuat zine sendiri. The Brews Zine dikerjakan oleh sebuah tim yang dimana masing - masing orang yang ada disitu berbagi peran secara merata,
ada yang menulis artikel ada juga yang menjadi editor menggunakan software Adobe Photoshop. Mereka juga mendistribusikan zine mereka sendiri ke distro - distro, membagikannya di gigs musik, dan juga di depan sekolah - sekolah saat jam pulang/jam keluar. Dari situ akhirnya mereka justru mendapatkan banyak dan beragam respon dari pembaca zine mereka. “Bang, bikin rubrik zodiak” ato “Masukkanlah band kamek”, begitulah antara lain respon yang didapat dari pembaca The Brews Zine yang mereka distribusikan kepada pelajar SMA.
Selain media independen dalam bentuk cetak, saat itu didalam komunitas musik underground Pontianak juga sudah ada sebuah media digital yang menggunakan platform website bernama Skullvacation. Website Skullvacation.com mulai publish online pada tahun 2006 oleh Arif dan Hanifan. Keputusan membuat website pada saat koneksi internet masih sesuatu yang jarang di kota Pontianak saat itu merupakan keputusan yang berani. Menurut mereka pada saat itu platform website adalah yang terbaik yang bisa dipakai untuk menyebarkan informasi lebih luas, lebih umum segmen nya, dan tentu saja bisa bagus tampilannya. Warung internet memang sudah mulai bermunculan saat itu di Pontianak namun masih sedikit dan kecepatan koneksi internetnya belum terlalu baik, keterbatasan seperti ini bukan sebuah penghalan bagi Arif dan Hanifan saat itu. “Ya menikmati aja sih. Kita datang ke pagelaran musik, kita nonton menikmati sambil kita review. Kita review penampilannya penontonnya. Trus kita bikin artikel. Udah nothing to lose aja. Modalnya gak gede. Lebih kepada fun lah. Waktu itu masih pada kuliah, jadi seru seruan aja. Trus waktu itu tujuannya, kan udah mulai sosmed MySpace tu waktu itu. Jadi kita awalnya mau bikinin unofficial page myspace nya untuk band band Pontianak”, begitulah Arif bercerita mengenai awal mula mereka mendirikan dan menjalankan website Skullvacation.com. Respon terhadap apa yang mereka buat sangat banyak dan beragam pada saat itu. Arif mengatakan bahwa jumlah komentar di tiap halaman review band bisa mencapai 100 komentar. Komentar yang masuk tidak hanya komentar yang membangun dan positif, tapi juga komentar negatif. Seringkali juga terjadi saling adu pendapat di kolom komentar bahkan sampai memakai kata - kata caci maki. Arif bercerita bahwa akhirnya situasi itu dibiarkan saja oleh tim redaksi website, tidak ada usaha untuk sensor/blokir ataupun menutup kolom komentar. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih ada gontok-gontokan didalam komunitas, dan biar saja itu dibuka agar menjadi pelajaran bersama. Begitu juga dalam hal menulis review untuk sebuah band, dalam hal ini khususnya Doni selalu menulis review apa adanya, bagus ya bagus, jelek ya jelek, kritik ya kritik. Dalam perjalanannya kemudian, website Skullvacation akhirnya memperluas segmen tulisannya hingga ke segala lini dunia panggung hiburan yang ada di kota Pontianak, untuk band tidak hanya band underground, dan akhirnya pun tidak hanya mengenai band/musik saja.
Keberadaan media baik itu dalam format cetak maupun digital nyatanya cukup berpengaruh didalam komunitas musik undrground Pontianak. Bahkan jika segmen pembaca dan distribusinya diperluas, akhirnya bisa berpengaruh juga keluar komunitas. Pada babak kedua perjalanan komunitas musik underground Pontianak yang kami catat didalam zine ini, pada masa tahun 2000-2006 memang terjadi perubahan yang cukup baik dalam geliat penerbitan media independen. Bisa kita lihat ada zine - zine baru, keragaman topik/isi zine yang bertambah, dan juga tentu saja kehadiran format media digital seperti yang dibuat oleh Skullvacation. Akan tetapi media - media yang hadir pada masa ini juga tidak terlalu panjang usianya. Dan selain itu, memang pertumbuhan media juga tidak sejajar dengan pertumbuhan jumlah band dan jumlah orang yang beraktivitas didalam komunitas. Hal ini bukan sebuah keburukan, tapi tentu saja sebuah kritik yang perlu dipikirkan.
Praktik merekam lagu dan membuat rilisan fisik band-band Pontianak sudah mulai dilakukan pada masa ini. Sejak awal band-band underground Pontianak memang sudah banyak yang arah bermusiknya menciptakan dan memainkan lagu karya sendiri (selain tentu saja mengcover beberapa band Hardcore/Punk/Metal lokal dan internasional). Salah satu dokumentasi video gigs underground pada awal dekade 2000an yang kami miliki adalah video dokumentasi gigs NOW OR NOTHING. Pada saat itu sudah terlihat banyak band yang memainkan lagu ciptaannya sendiri diatas panggung, antara lain JERONES 343, DEAR SARAH, POSITIVE IDEA, dll. Informasi yang diberikan oleh narasumber kami Wiwid “Berhala”, saat itu band-band yang ada di komunitas DEEP FOREST SCUM sering merekam lagu ciptaan mereka menggunakan tape recorder di dalam studio latihan. Menurut Wiwid beberapa kaset demo tape hasil rekaman live itu sempat diberikan dan diputar Radio Volare di acara
Volare Rock yang dibawakan oleh penyiar “Bang Hendi”.
Jejak lain yang kami temui adalah rilisan demo tape live dari band POSITIVE IDEA yang rilis sekitar tahun 2004/2005. Lagu-lagu yang ada di demo berformat kaset tape ini direkam menggunakan walkman di studio latihan sekitar tahun 2002-2004 oleh mereka sendiri. Sebuah lagu berjudul “Hate Junks” sempat diikutsertakan dalam album kompilasi “Mari Bung Rebut Kembali” yang dirilis oleh Taring Babi Records (Jakarta) pada tahun 2002. Menurut informasi dari Dita, pemain drum dari Positive Idea, mereka memang memberanikan dan mengharuskan diri untuk membuat lagu sendiri, merekam, dan merilisnya. Ini tidak lepas dari pengalaman Dita sendiri yang sudah sempat berada di band punkrock saat dia masih di Jakarta. Ketika akhirnya dia pindah ke Pontianak dan membentuk band POSITIVE IDEA, semangat itulah yang dia bawa. Sejauh penemuan kami hingga saat penyusunan zine ini, kaset demo tape milik POSITIVE IDEA bisa dibilang merupakan rilisan fisik pertama dari Pontianak yang direkam, dicetak, dan didistribusikan.
Pada awal dekade 2000an ini juga sudah terdapat studio musik yang menyediakan jasa rekaman di Pontianak, antara lain Cultural Studio, Spider Studio, dan Kanz Studio. Pada tahun tersebut band Pontianak seperti P185(band yang awalnya mengcover band-band nu-metal luar negeri) sempat rekaman di Spider Studio dan Kanz Studio. Kanz Studio bahkan sempat membuat sebuah festival musik dimana lagu milik band-band pemenang dari festival tersebut dimasukkan dalam sebuah album kompilasi yang diproduksi oleh mereka. Teknologi rekaman digital pun mulai dikenal pada masa ini.
Sekitar tahun 2004/2005 band punk JERONES 343 dan TAHANAN 252 melakukan rekaman di F Studio milik Ferdy (gitaris band LEMON TEA, band ini juga pernah masuk dalam album kompilasi Kanz Studio). Hasil rekaman dari mereka diproduksi menjadi sebuah album split dalam format kaset tape dengan nama label produksi Re-Union Records. Label produksi tersebut dikelola oleh Ulud (vokalis dari TAHANAN 252). Kaset split album tersebut kemudian didistribusikan dengan sistem titip-jual di beberapa distro (distribution outlet) yang ada di Pontianak. Split album tersebut diberi judul Viva La Revolution. Penulis sendiri sempat menemukan dan membeli album tersebut di salah satu distro, namanya Badsicknal. Bisa dibilang praktik-praktik merilis dan mendistribusikan album pada saat itu adalah sesuatu yang progresif dan menjadi pemantik untuk band-band lainnya di komunitas musik underground Pontianak untuk melakukan hal yang serupa (atau bahkan dengan skala yang jauh lebih besar lagi).
Distro adalah singkatan dari distribution outlet, sebuah wadah untuk distribusi dalam skala kecil dan/atau menggunakan jalur distribusi alternatif. Dalam sejarah perkembangan komunitas musik/ subkultur underground di Indonesia, nama distro kerap kita temui. Distro biasanya menyalurkan/menjual barang-barang produksi komunitas (biasanya merchandise band atau rilisan-rilisan musik). Keberadaan distro menurut penulis sebenarnya merupakan hasil dari interaksi para peminat subkultur ini, yang sebenarnya sudah dilakukan melalui surat menyurat sejak awal 1990an. Mereka bertukar kabar, bertukar informasi, bertukar produk/merchandise/rilisan/fanzine, dan hasil dari itu semua disalurkan lagi kepada komunitas lokal ataupun teman - teman terdekatnya. Pada tahun 1993 di Bandung ada sebuah studio musik yang bernama Reverse, selain sebagai studio musik dan tempat nongkrong Reverse pada saat itu juga menjual merchandise band lokal dan internasional(jaket, kaos, dll). Bisa dibilang Reverse pada saat itu adalah pionir dan menjadi format awal yang akhirnya diikuti dan diadaptasi oleh banyak distro lain berikutnya di Indonesia.
Di Pontianak sendiri, sejak awal terbentuknya komunitas DEEP FOREST SCUM, orang-orang seperti Wiwid, Uun serta beberapa lainnya yang berjualan di lapak jalanan didepan bangunan gereja GPIB Siloam (Jalan Patimura), mereka sudah melakukan praktik distro ini. Kami mendapatkan selebaran berisi barang-barang yang didistribusikan oleh Mental Illness Distro dan Blood Minor Distribution di Pontianak pada awal tahun 2000an. Mereka adalah distro yang berformat lapakan dan mail order yang dikelola oleh seorang pegiat distro underground bernama Oggie Oktavian. Lalu pada tahun 2003 berdirilah Northsouth Distro sebagai usaha kolektif dari beberapa individu yang ada di komunitas underground Pontianak saat itu. Northsouth Distro menjalankan praktik distribusi barang-barang produksi komunitas underground (jaket, kaos, emblem, stiker, kaset) dan mereka meletakkannya di sebuah tempat permanen (toko) yang berlokasi di Jalan Merdeka Barat. Barang-barang yang ada disini dikumpulkan dari berbagai sumber (Asep, Wendy, Wiwid), lalu mereka juga bergantian jadwal jaga di toko Northsouth Distro. Dalam perjalanan komunitas musik underground di Pontianak Northsouth Distro kemudian juga menjadi tempat bersejarah, karena ada banyak orang yang datang kesini karena tertarik ataupun untuk mengenali underground.
Pada tahun 2006 penulis sempat bertemu dengan Dita di kost nya dan dia bercerita mengenai Distro Zine yang dia jalankan bernama All Day Hell Zine Distribution. Distro Zine pada dasarnya sama seperti kegiatan distro lainnya yang umum pada saat itu di kota Pontianak (distro clothing yang menjual produk pakaian lokal) yang kegiatannya adalah mendistribusikan produk komunitas. All Day Hell sempat mendistribusikan zine dari Bandung berjudul Beyond The Barbed Wire yang dibuat oleh Dani Tremor(seorang artworker, ex personil Rajasinga, dan vokalis Milisi Kecoa). Kegiatan distribusi zine seperti ini dilakukan karena ada hasrat dan ketertarikan yang mendalam untuk membaca zine, mengoleksi zine, dan juga ingin menyalurkan akses informasi dari zine tersebut kepada komunitas.
Pada awal tahun 2000an distro zine juga banyak dibuat oleh penggiat zine di beberapa kota di pulau Jawa seperti Peniti Pink Zine Distro (Jakarta), Matamata Zine Distro (bandung), Kucing Nakal Zine Distribution (kediri). Di Pontianak sendiri, selain All Day Hell, distribusi zine juga dilakukan oleh PTK Distribution sejak tahun 2011, dan masih dijalankan sampai sekarang.
Pada perkembangannya di Pontianak kemudian muncul distro-distro yang terlihat lebih besar fokusnya mendistribusikan produk pakaian. Pakaian-pakaian yang dimaksud bukanlah pakaian bermerek yang diproduksi oleh perusahaan besar seperti Nike ataupun Adidas. Pakaian yang dijual di distro ini adalah produk dari usaha-usaha kecil yang kebanyakan terdapat di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Pada saat itu kami melihat ada nama-nama distro seperti Panic, Nebula, Badsicknal, Weefge, The Cat, The Scarface, Blindfold, dan Numerique.
Kami bertemu dengan Arbian Octora, salah seorang dari pendiri dan pengelola Numerique Distro. Distro tersebut dimulai pada tahun 2004 dan berlokasi di Komplek Navigasi, Jalan Pancasila. Menurut Arbian, mereka terinspirasi untuk mendirikan Distro ini setelah melihat gelombang kemunculan clothing (istilah untuk menyebut merek/usaha kecil yang memproduksi pakaian - pakaian yang dijual di distro) di Pulau Jawa pada awal tahun 2000an. Memang pada akhirnya distro clothing seperti ini menjanjikan sebagai sarana untuk mendapatkan uang, dan memang sebaiknya ketika sebuah usaha, dalam bentuk kolektif atau bentuk apapun, dijalankan dengan serius dan terorganisir. Seperti yang diceritakan oleh Arbian bahwa Numerique Distro pada awalnya didirikan untuk tujuan memiliki sebuah unit bisnis. Namun distro clothing pada dasarnya tidak pernah jauh dari keberadaan komunitas musik underground/independent/mandiri, karena beberapa pelaku distro clothing pun sebenarnya adalah orang - orang yang juga aktif didalam komunitas tersebut. Numerique distro contohnya, juga memberikan ruang untuk band/musisi mendistribusikan karya mereka, baik itu dalam bentuk CD/ kaset ataupun merchandise(kaos, jaket, stiker, emblem, dll).
Hal ini tidak hanya terlihat di Numerique distro, tapi juga di distro clothing lainnya yang ada di Pontianak pada saat itu. Sejak kemunculan banyak distro clothing di Pontianak pada 2003/2004, hingga sekitar tahun 2010 masih terus berlangsung kolaborasi antara distro clothing dengan komunitas musik underground di Pontianak.
Bentuk kolaborasi lainnya adalah distro juga memberikan bantuan uang untuk acara musik yang dibuat secara mandiri oleh komunitas. “Sejumlah uang tersebut adalah hasil yang disisihkan dari keuntungan penjualan kaos di distro”, begitu dijelaskan oleh Arbian. Bentuk kolaborasi seperti ini adalah yang paling umum terjadi, biasanya komunitas/kolektif yang mengorganisir acara musik membuat sebuah proposal yang menjelaskan mengenai acara musik mereka lengkap dengan rencana pembiayaan, lalu proposal tersebut diserahkan ke teman-teman yang menjalankan distro. Lalu logo ataupun nama dari distro tersebut biasanya dimasukkan dalam daftar nama pendukung acara dan sponsor dalam poster acara musik tersebut. Selain itu, kami juga melihat bentuk kolaborasi lainnya, ketika acara musik diadakan disebuah tempat yang cukup luas, ada ruang-ruang yang bisa dimanfaatkan untuk distro membuka lapak/booth untuk menjual barangbarang yang ada di toko mereka. Hal ini selain menambah daya tarik pengunjung, juga bisa menjadi peluang saling berbagi keuntungan dari uang yang dihasilkan melalui penjualan tiket acara musik, maupun penjualan barang di booth distro. Arif dari distro Dixxxie (sebelumnya juga diceritakan mengenai keterlibatannya dalam media website Skullvacation) juga menceritakan bentuk kolaborasi lainnya. Karena sudah sering berhubungan dengan usaha clothing ataupun konveksi, biasanya Distro memiliki jalur komunikasi eksklusif yang lebih intens dengan pengelola usaha tersebut. Arif bercerita bahwa Dixxxie Distro membantu produksi kaos yang hasil keuntungan penjualan kaos tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembiayaan penyelenggaraan acara musik, saat itu diterapkan ketika penyelenggaraan gigs HELLFEST. Arif menambahkan, “Kalo model proposal, trus distro ngasih 100ribu, trus logo masuk pamflet, ya dari sisi marketing sih, gak ada efek yang ngaruh banget. Cuma kalo ditanya kait-mengaitnya, ya ada. Anak muda kan suka musik, jadi penyelenggara acara nitip brosur di distro, nitip tiket pre-sale di distro, jadi kalo distro ga bisa support duit, ya minimal ngasih tempat untuk kaya gitu. Soalnya biasanya ‘kan yang penjaga distro anak band, owner nya anak band”.
Pada akhirnya penulis melihat bahwa antara distro dan komunitas musik underground tidak bisa dilepaskan keterkaitannya. Keduanya sama-sama membutuhkan kekuatan finansial dalam menjalankan usaha masing-masing. Namun karena berangkat dari dasar yang sama yaitu passion, maka keduanya memiliki banyak sekali peluang kolaborasi yang bisa digali dan diterapkan dalam berbagai bentuk.
dan distribusi dari OVERHATE Zine juga masih sama pada saat itu, teknik tradisional gunting dan tempel, produksi fotokopi, dan didistribusikan dari tangan ke tangan serta melalui surat menyurat melalui pos.
YANG TUMBUH DAN PATAH : Pontianak Bawah Tanah Tahun 2007 S.D. 2017
Tahun 2007 s.d. 2009
Jejak rekam skena musik underground Pontianak memasuki babak 2007-2017. Ini adalah Babak dimana massa skena underground Pontianak membludak. Dimana band dan tongkrongan banyak bermunculan, menampakkan dirinya dengan identitas “anak parade”. Anak parade adalah julukan khas masyarakat Pontianak kepada komunitas ataupun individu pelaku skena musik underground, karena gigs musik underground biasanya disebut “parade” sebagai identitas yang berbeda dengan acara musik kompetisi atau yang biasa disebut “festival”. Mulai dari anak SMP, SMA, mahasiswa, hingga yang sudah berusia 40 tahun semua bisa hadir bersenang-senang didalam gigs musik underground (parade). Di masa-masa ini, dapat dikatakan musik undergorund merupakan kultur yang menjangkiti kalangan muda-mudi kota Pontianak.
Salah satu ciri khas yang kami lihat menandai dimulainya masa ini adalah anak parade yang kebanyakan masih berstatus pelajar ini, mulai berkumpul dan mengorganisir gigs musik underground. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh tongkrongan FLIP FLOP. Mereka adalah tongkrongan anak-anak usia SMP yang awalnya dimulai dari nongkrong bermain skateboard pada tahun 2004-2006. Mereka awalnya main skateboard bersama teman-teman dekat, teman sekolah, lalu mulai ikut bermain skateboard dengan anak-anak PERMISSION Skateboarding di Taman Gitananda. Lama-lama mereka mulai mendapatkan spot bermain skateboard lainnya, seperti di belakang kantor BNI kompleks Universitas Tanjungpura, dan di area parkir Ayani Mega
Mall. Kegiatan nongkrong dan bermain skateboard mereka kemudian berlanjut ke kegiatan lain, ngeband. Karena mulai kenal dengan tongkrongan underground lainnya di Pontianak, dan melihat ada banyak gigs musik underground yang diselenggarakan saat itu, mereka juga tertular semangat yang sama dan ingin melanjutkan generasi penyelenggaraan gigs musik underground. Beberapa anak tongkrongan FLIP FLOP tersebut patungan dari uang jajan mereka, hingga terkumpul modal yang cukup. Mereka lalu mengorganisir sebuah gigs yang bertempat di Auditorium Universitas Tanjungpura. Dalam hal pengorganisiran ini mereka bekerja sama dengan beberapa orang dari Permission Skateboarding (Ijul Skateboard) dan juga Blindfold Distro (Doni dan Adi).
Gigs yang mereka organisir bertajuk ONE BECOME DISASTER terjadi di tanggal 21 Januari 2007. Bagi kami gigs ini cukup bersejarah, karena menjadi momen awal yang menandakan dimulainya babak baru dalam perjalanan komunitas musik underground di Pontianak. Gigs ini diorganisir oleh wajah-wajah baru, anak-anak usia sekolah yang berjiwa muda, polos, penuh rasa ingin tahu dan memiliki semangat yang tinggi. Tidak hanya mengorganisir acara musik, beberapa anak FLIP FLOP juga menampilkan band mereka di gigs ini. beberapa band baru yang kami ingat dan mencuri perhatian kami saat itu adalah BLOONT PANIC dan PISTOL FOR MOMS. Pengunjung ONE BECOME DISASTER ini memang tidak terlihat memadati ruang dalam Auditorium
ONE BECOME DISASTER Auditorium UNTAN - 2007
(karena memang ukuran ruangan yang sangat besar), tapi terlihat antusiasme yang tinggi dari para pengunjung, dimana dari berbagai tongkrongan yang hadir pun saat itu nampak beberapa wajah baru (yang terlihat sekali saat itu, dari tongkrongan halte punk Jl.Pancasila ada banyak wajah baru yang datang). Sayang sekali tongkrongan FLIP FLOP tidak berlanjut lama setelah mereka mengorganisir ONE BECOME DISASTER. Mereka mulai berpencar, nongkrong di tongkrongan-tongkrongan lain. Selain karena pergaulan didalam komunitas yang semakin meluas, juga beberapa dari mereka berpisah sekolah saat masuk SMA.
Tapi aktivitas yang telah mereka mulai di FLIP FLOP terus dilanjutkan. Mengorganisir gigs (bergabung bersama orang-orang di tongkrongan lainnya seperti Cacing Tanah Kolektif, mengorganisir gigs TIME TO WAKE UP dan GET UP STAND UP), bermain skateboard bersama circle pertemanan yang lebih besar di PONTIANAK SKATEBOARDING, dan juga ngeband (PISTOL FOR MOMS terus eksis, beberapa anggota FLIP FLOP kemudian juga main di band LOSER DAY dan SECRET WEAPON). Yang pasti apa yang telah terjadi dan mereka lakukan didalam FLIP FLOP cukup membekas dan membuat mereka semakin mengenal bagaimana untuk bergaul dan berteman yang lebih luas, begitu yang diutarakan oleh Cumi, salah seorang anggota FLIP FLOP yang kami temui.
Kemudian hari tongkrongan skateboard, sepeda BMX, dan graffiti banyak bermunculan, dimana isinya juga kebanyakan anak-anak band. Mereka juga mengorganisir gigs musik, antara lain ada CAT DOG(skateboard) dan juga INDEPENDENT EFFORT(sepeda BMX). INDEPENDENT EFFORT merupakan tongkrongan yang mengorganisir beberapa gigs yang cukup penting. Dua yang kami ingat betul adalah gigs FROM US TO ALL yang diadakan di Taman Budaya Pontianak pada tahun 2008. Gigs FROM US TO ALL didokumentasikan dengan video yang cukup profesional dan hasil dokumentasi dirilis menjadi sebuah DVD video. Lalu INDEPENDENT EFFORT juga menyelenggarakan gigs CHANGES FOR A BETTER LIFE pada tahun 2009 di GOR Pangsuma Pontianak, sebuah gigs yang mendatangkan band CLOSEHEAD dari Bandung dan dihadiri oleh banyak “anak parade” saat itu.
Dari awal cerita-cerita mengenai komunitas underground di kota Pontianak, sebuah kolektif dimulai dari tongkrongan disuatu tempat dimana orang-orang yang ada disitu bertemu dan berkumpul karena kesamaan selera musik. Namun ada sebuah
Poster gigs GET UP STAND UP dan penampakan CD Kompilasi GET UP STAND UP yang dibagikan kepada beberapa penonton pertama yang hadir ke gigs tersebut.
Poster gigs CHANGES FOR A BETTER LIFE dan foto komunitas INDEPENDENT EFFORT bersama CLOSEHEAD(Bdg)
kolektif yang memiliki cerita berbeda. mereka memulainya dari sebuah kamar yang berisi PC jadul dan software rekaman audio. Seseorang bernama ADI CAHYA berhasil memenangkan sebuah lomba karya tulis, dan uang hadiah dibelikannya seperangkat PC. Maka mulailah dia bersama rekan satu bandnya, OJEK (Drummer MORNING MIST) mencoba melakukan rekaman menggunakan PC rumahan. Band-band seperti STUPID KIDS, PISTOL FOR MOMS, dan TIMMY HORNY merupakan beberapa yang pertama rekaman ditempat mereka.
Akhirnya ketika kegiatan ini mulai semakin serius. Mulailah mereka menamai diri PATRIOT HATTA. Sebuah halaman di website media sosial MySpace mereka buat dengan judul PATRIOT HATTA RECORDS. Tongkrongan ini kemudian juga memperluas kegiatan produksi musik yang mereka lakukan. tidak hanya melakukan aktivitas rekaman, tapi juga memproduksi rilisan fisik dalam format CD. Awalnya mereka memproduksi album kompilasi UNDEPENDENT SUCK, album kompilasi ini merupakan hasil kurasi dari band-band yang melakukan rekaman di PATRIOT HATTA. Lalu mereka juga merilis album dari band-band yang ada di tongkrongan mereka seperti MORNING MIST,
STUPID KIDS, SABRINA (kini berubah nama menjadi MANDAU). Menurut Adi Cahya, rilisan fisik merupakan salah satu produk yang penting dari tongkrongan mereka. Kira-kira ada 10-15 rilisan dalam diskografi PATRIOT HATTA. Kami sendiri juga sangat terinspirasi dengan semangat kemandirian yang dijalankan oleh tongkrongan ini dalam hal bermusik. Mereka memiliki semua lini dari hulu sampai ke hilir, mulai dari rekaman, produksi rilisan fisik, mengorganisir gigs musik, dan membuat media cetak sendiri.
Semuanya dilakukan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki sendiri dan segala keterbatasan, diakali dengan sumber daya yang ada. Sebagai contoh dan yang seingat kami dahulu sempat menjadi bahan perbincangan adalah hasil rekaman lagu di PATRIOT HATTA menggunakan drum yang digambar secara digital, hasil dari software FL Studio. Kami tahu dan bisa memahami bahwa lagu yang suara drum nya hasil dari gambar digital memang akan berbeda dengan lagu yang direkam menggunakan drum sungguhan, tapi bagi kami prinsip dan cara yang dilakukan oleh PATRIOT HATTA justru prinsip dan semangat kemandirian yang tinggi. Alih-alih bersusah diri dengan keterbatasan finansial untuk menyewa studio rekaman demi menghabiskan beberapa shift untuk merekam drum, mereka memanfaatkan teknologi yang ada dan menjadikannya karya yang dapat mereka pertanggung jawabkan. Ya, walaupun hasil rekaman drum mereka menggunakan suara drum digital, tapi kami tahu persis beberapa band dari tongkrongan PATRIOT HATTA bisa mempertanggungjawabkannya dengan penampilan live yang kualitasnya sama seperti di rekaman (bahkan lebih liar).
Ruang studio rekaman PATRIOT HATTA saat mereka menempati rumah di Gang Ambo’tien,Jl.Penjara
PATRIOT HATTA dan teman-teman
Perangkat komputer yang pertama digunakan PATRIOT
HATTA
Untuk konteks kota Pontianak saat itu, bagi kami bukan masalah drum yang menggunakan gambar digital yang semestinya dipermasalahkan, tapi apakah band/individu/ pelaku/komunitas underground mau berusaha melawan keterbatasan dan memanfaatkan sumber daya apapun yang ada. Beberapa rilisan dari PATRIOT HATTA dikemas menggunakan DVD case yang berwarna hitam, ada juga yang hanya menggunakan sampul karton/kertas fotokopian, dan yang paling menarik adalah seluruh proses produksi dikerjakan di markas mereka yang akhirnya pindah ke rumah salah satu anggota yaitu Ojek (berlokasi di Gg. Ambotien). Rilisan fisik ini kemudian didistribusikan oleh mereka sendiri. ada yang melalui proses jual-beli langsung kepada teman-teman di komunitas underground Pontianak, dan ada juga CD yang dijual di lapakan ketika mereka menyelenggarakan gigs musik underground. Dengan aktivitas seperti ini mereka telah melakukan praktik yang terhubung dan berkesinambungan antara tongkrongan, band, rilisan, dan gigs.
Apakah sudah selesai disitu? Belum! Dalam beberapa gigs yang diselenggarakan oleh PATRIOT HATTA kami menemukan zine yang dibagikan secara gratis sebagai tanda bahwa kita sudah membeli tiket dan kadangkala ada juga zine yang dijual di lapakan. Jadi mulai dari produksi musik, lalu produksi rilisan fisik, kemudian mengorganisir sebuah gigs musik underground, dan mengerjakan publikasi serta distribusi informasi melalui zine, semua komplit dilakukan oleh tongkrongan PATRIOT HATTA, sebuah tongkrongan yang padahal awalnya hanya bertujuan menjadi studio rekaman. Mengenai gigs musik underground, PATRIOT HATTA pertama kali mengorganisir gigs musik underground bertajuk NO SEAT TO WATCH. Nama NO SEAT TO WATCH diambil sebagai respon mereka pada kebiasaan acara musik yang ada di Pontianak sebelumnya yang berbentuk kompetisi band dimana penonton yang hadir semuanya duduk rapi diatas kursi yang tersedia di venue. Mereka ingin pada gigs musik underground penonton yang hadir dapat bebas, berdiri, berdansa, moshing, pogo, sebagai bentuk apresiasi kepada band yang tampil sekaligus sebagai pengalaman yang baru dalam menonton acara musik.
Acara NO SEAT TO WATCH akhirnya sukses terselenggara di Auditorium Universitas Panca Bhakti (UPB) pada tahun 2009. Lalu ada juga gigs PONTIANAK ADVISORY dan Pontianak Metalforce. Dua nama yang disebutkan terGig Musik : No Seat To Watch yang juga diadakan pada tahun yang sama dengan gigs sebelumnya. Pada gigs PONTIANAK ADVISORY mereka membagikan sebuah zine kepada penonton yang membeli tiket masuk. Zine tersebut berisi profil band dan juga beberapa tulisan didalamnya. PATRIOT HATTA sering juga berkolaborasi dalam menyelenggarakan gigs bersama komunitas Pontianak Metalforce. Kolaborasi yang tercipta karena interaksi yang terjadi ditempat nongkrong mereka di sebuah warung di Jalan Podomoro. Sedikit cerita mengenai Jalan Podomoro ( sekarang bernama Jl.Putri Candramidi), jalan ini adalah kawasan yang cukup terkenal di kalangan penikmat dan pelaku dalam komunitas musik underground Pontianak antara tahun 2007 s.d. 2010. Ada banyak tongkrongan/komunitas yang rutin nongkrong di sepanjang Jalan Podomoro ini, mulai dari Northsouth Distro dan komunitas Parabajing, Mariyutawa, Patriot Hatta,
diorganisir oleh Patriot Hatta Record pada tahun 2009 bertempat di Aula Universita Panca Bakti akhir itulah yang akhirnya berkolaborasi dalam beberapa seri gigs musik Bleeding Fest. Bagi kami eksistensi PATRIOT HATTA sebagai record label dan juga tongkrongan yang aktif dan kreatif sangat menginspirasi. Mereka memiliki sebuah basecamp dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk aktivitas komunitas. Namun seperti cerita-cerita tongkrongan lainnya, pada tahun 2011/2012 akhirnya PATRIOT HATTA mulai tidak aktif. Tidak ada pembicaraan yang khusus dan serius pada akhir eksistensi komunitas ini, mulai banyak kesibukan pribadi di masing-masing anggota, mulai muncul tujuan dan pendapat-pendapat yang tidak bisa dipertemukan, maka itulah akhir dari perjalanan tongkrongan yang inspiratif ini.
Sebuah pergerakan lain dari sebuah tongkrongan yang disatukan karena kesamaan selera pada sebuah jenis musik tertentu, gerakan yang lagi-lagi masih berkutat dalam hal pengorganisiran gigs, pada tahun 2018 lahirlah kolektif DARAH MUDA. Mungkin banyak dari pembaca yang mengetahui bahwa subkultur punkrock tidak hanya melulu mengenai orang-orang dengan gaya berpakaian lusuh, jaket penuh emblem ataupun duri (spike), dan rambut mohawk plus piercing memenuhi wajah. Alkisah pada era 1990an di Amerika Serikat muncul gerakan punkrock yang baru dan tidak hanya mengenai musik, tapi juga mencakup kultur skateboard dan sepeda BMX. Subkultur punkrock yang dimaksud adalah seperti yang ditampilkan oleh band-band dari label FAT Wreck Chords, Epitaph, dan sejenisnya. Umumnya struktur musik mereka tetap bernafas punkrock dengan ciri khas tiga chord, namun diisi lirik yang bahasannya lebih ringan (biasanya bertemakan kehidupan sehari-hari, percintaan, seks, dan tongkrongan), dengan pakaian bergaya street seperti rider sepeda BMX ataupun skateboarder. Di Indonesia sendiri, style musik seperti ini kerap disebut dengan berbagai istilah seperti punkrock, melodic punk, skatepunk, skate rock, pop punk, dll (kami tahu pop punk memang memiliki definisi khas nya sendiri, tapi kami tidak membahas itu disini). Pada saat itu mulai banyak band dan anak muda yang menyenangi style punkrock ini di Pontianak. Mereka kerap menyebutnya sebagai melodic punk.
Sebenarnya band dengan warna seperti ini sudah eksis sejak masa 2000 s.d. 2006 di Pontianak. Kebanyakan berasal dari sekitar Permission Skateboarding. Pada era 2007an ini jumlahnya bertambah, seiring dengan bertambahnya tongkrongan anak muda yang bermain skateboard di hampir seluruh sudut kota Pontianak saat itu. Band seperti Pistol For Moms (PFM), Last Freedom, Tanda Tanya, Terrible Season, Duck Fighter, Sepatu Robek, Secret Story, dan lainnya bermunculan. Kebanyakan juga bermain skateboard ataupun sepeda BMX di lokasi seperti lapangan belakang kantor BNI Universitas Tanjungpura (UNTAN), halaman parkir Ayani Megamal, halaman ruko Komplek Sakura Permai di Jalan Adisucipto, halaman Auditorium UNTAN, dan banyak lagi tempat lainnya. Sebetulnya kolektif DARAH MUDA tidak bisa dikategorikan muncul dari sebuah tongkrongan, sebab mereka muncul dari sebuah ide untuk membuat sebuah gigs musik terlebih dahulu. Ceritanya, suatu ketika di depan Taman Budaya Pontianak, tiga orang bernama Aldiman, Samsenk dan Gede (dua nama terakhir adalah personil
PFM) sedang nongkrong. Sembari ngobrol santai dan didalam gedung Taman Budaya masih berlangsung sebuah gigs musik underground, tercetuslah sebuah ide mereka bertiga untuk menyelenggarakan sebuah gigs musik, dimana yang tampil seluruhnya adalah band punkrock/melodic punk Pontianak. Ide dan rencana ini sebetulnya masih sangat penuh tanda tanya. Mereka belum tahu berapa banyak band melodic punk yang ada di Pontianak. Lalu, di Pontianak belum pernah ada gigs dimana seluruh band yang tampil memainkan musik seperti ini sebelumnya. Timbullah keraguan akan ada penonton yang tertarik untuk datang. Namun segala keraguan itu dijawab oleh fakta yang tak terduga.
Acara KEEP STAND TO PUNKROCK #1 yang dilaksanakan pada 11 Oktober 2008 di Taman Budaya Pontianak dihadiri oleh ratusan orang, serta menampilkan puluhan band dalam sehari. Nama DARAH MUDA tercetus ketika mereka masih dalam masa persiapan dan perencanaan gigs KEEP STAND TO PUNKROCK (KSTP). Darah Muda adalah nama yang mereka anggap mewakili keberadaan mereka yang saat itu (kebanyakan) masih berusia muda, merupakan pendatang baru di komunitas underground Pontianak, dan memiliki semangat yang membara. Kolaborasi dan sub-kegiatan selain musik sudah menjadi dua hal yang selalu diusahakan dalam setiap penyelenggaraan gigs musik oleh kolektif Darah Muda. Pada gelaran KSTP #1 mereka berkolaborasi dengan komunitas LOMOGRAFI PONTIANAK untuk mendokumentasikan seluruh acara menggunakan kamera Lomo (biasa disebut juga dengan Toy Camera). Komunitas ini juga diberi kesempatan untuk dapat membuka Booth dan memperkenalkan komunitas mereka di lokasi acara. Pada tahun 2010, di gelaran KSTP yang kedua, selain menampilkan pertunjukan musik, di venue juga terdapat pameran stage photography yang menampilkan foto-foto hasil karya fotografer di Pontianak. Lalu juga ada lapak zine dan juga lapak Mp3 File Sharing. Semua hal itu diadakan dengan semangat dan kesadaran bahwa musik tidak hanya melulu mengenai musik itu sendiri, melainkan ada banyak elemen lain yang juga menggerakkan komunitas musik. Begitu juga sebaliknya, musik memberikan semangat dan inspirasi yang menggerakkan aktivitas lainnya. Tidak hanya gigs musik yang bertempat di venue besar dan dihadiri ratusan orang, kolektif Darah Muda juga menggelar gigs kecil dan akrab didalam sebuah studio musik atau yang kerap dikenal sebagai studio gigs. Mereka juga berkreasi dengan mengadakan sebuah gigs pada hari Minggu pagi, dan digabungkan dengan kegiatan senam pagi bersama instruktur senam sebelum penampilan band dimulai. Gigs ini diberi nama PUNKROCK PAGI-PAGI, sebuah nama yang sebenarnya terlalu cheesy untuk kegiatan yang cukup unik. Dari semua cerita mengenai pengorganisiran gigs ini, tidak hanya jalan yang mudah dan lancar yang sesungguhnya terjadi pada saat pelaksanaan maupun persiapan dan juga sesudah penyelenggaraan. Aldiman dan Adi Lewier sebagai dua orang perwakilan dari kolektif
Darah Muda yang kami temui, bercerita bahwa kesulitankesulitan dalam pengorganisiran gigs tentu saja terjadi. Sebut saja panitia yang sulit untuk disiplin waktu sejak masa rapat persiapan, sampai masalah menjaga komitmen teman-teman membayar iuran patungan untuk modal operasional. Perkelahian yang sering terjadi di venue acara juga menjadi kesulitan lainnya bagi mereka. Salah dua contoh perkelahian yang terjadi dan sangat mengganggu jalannya penyelenggaraan gigs adalah di gigs KSTP #1 (2008) dan acara SATU HATI UNTUK PALESTINA (2009). Perkelahian yang terjadi hanya karena saling senggol di moshpit berujung pemukulan, pengeroyokan, dan akhirnya jalannya gigs harus dihentikan beberapa saat. Ujungnya adalah pembuangan waktu yang sangat merugikan, karena jumlah band yang belum tampil masih cukup banyak, sementara tentunya pihak pengelola venue dan Darah Muda sebagai penyelenggara gigs sudah punya kesepakatan tentang batas waktu untuk pelaksanaan acara.
Keep Stand To PunkRock #1 (Tahun 2008) @Taman Budaya Pontianak
Satu Hati Untuk Palestina , diorganisir oleh DARAH MUDA Kolektif pada tahun 2009
di Cafe Galaherang
Pada bagian sebelumnya kami telah menuliskan mengenai distro (distribution outlet) sebagai sebuah unit usaha yang membantu mendistribusikan karya/ produk dari komunitas musik underground. Distro memiliki peran cukup besar bagi komunitas, pada perjalanannya distro juga turut membantu banyak kegiatan komunitas secara finansial (melalui dana yang disisihkan dari keuntungan penjualan produk). Distro juga menjadi tempat nongkrong dan pusat interaksi komunitas musik underground.
Pada tahun 2009 ada sebuah distro yang didirikan oleh beberapa orang, Meme (sempat bermain bass di band asal Malang, Toxictoast), Alm. Adi Bacok(sempat bermain di band Permission, Secret Weapon, juga sangat aktif di berbagai band dan aktivitas komunitas lainnya), Ijul (aktif di Permission Skateboarding), dan seorang teman mereka dari Bandung bernama Endar. Keempat sekawan ini sepakat untuk mendirikan distro yang juga bisa berfungsi sebagai tempat tongkrongan. Mereka patungan dan bahkan sempat menggadaikan sebuah sepeda motor untuk menambah modal operasional. Distro mereka dinamakan NUMSKULL, sempat memiliki toko di Jl. Uray Bawadi.
Atas : Alm.Bacok dan Meme Kanan : Teman-teman nongkrong didepan offline store NUMSKULL saat berlokasi di Jl.Uray Bawadi
Distro NUMSKULL saat itu memiliki keterkaitan dengan band SECRET WEAPON, sebuah unit hardcore yang didirikan pada tahun 2007 oleh Alm. Bacok dan teman-temannya yang lain. Kait-mengait tersebut selain karena Alm. Bacok adalah personil band SECRET WEAPON (Meme juga kemudian hari bergabung di band ini), dalam perjalanannya band ini juga menjadi semacam icon dari NUMSKULL. Distro NUMSKULL memproduksi dan mendistribusikan merchandise (T-shirt) band SECRET WEAPON, juga mendistribusikan merchandise band-band lokal, rilisan band lokal, serta produk T-shirt dari clothing brand lokal kota Pontianak, dan kota-kota lainnya di Pulau Jawa. Euforia musik underground yang sedang ramai di kota Pontianak saat itu akhirnya turut membawa NUMSKULL menjadi pusat perhatian banyak anak muda penggemar musik underground. Ada yang datang sekadar karena penasaran, ada yang memang khusus mencari merchandise band lokal, dan kemudian banyak yang nongkrong di NUMSKULL.
Tempat tongkrongan dan interaksi dari orang-orang yang ada didalamnya ini yang kemudian memberi kontribusi kepada komunitas musik underground. Memang tongkrongan seperti ini tidak terstruktur dan sangat cair, tapi dari sana tercipta berbagai obrolan ringan, muncul band-band, dan muncul juga sebuah acara musik underground. NUMSKULL pun akhirnya mengorganisir sebuah acara musik underground pertama mereka pada tahun 2009, diberi tajuk HARDCORE ATTACK. Mereka menangkap euforia musik dan band-band hardcore yang ramai saat itu. Acara musik HARDCORE ATTACK ini turut menambah perhatian orang-orang terhadap distro NUMSKULL. Meme dan Alm. Bacok pun aktif dalam berjejaring dengan teman-teman komunitas, baik yang ada di Pontianak maupun yang ada diluar Kalimantan Barat. Ada euforia, maka akan ada banyak juga lintas pendapat disekitarnya. Meme mengakui sempat ada polemik dan kritik yang mereka terima, khususnya mengenai sistem sponsorship di gigs musik HARDCORE ATTACK yang saat itu mereka terapkan. Menurut Meme, itu dilakukan agar mereka bisa menyelenggarakan gigs dengan menyewa sound system berkualitas terbaik untuk ukuran gigs musik underground Pontianak saat itu, dan teman-temanpun akhirnya bisa memahami alasan itu. Begitulah bagaimana komunitas musik underground terus berdinamika. Sebetulnya semua kembali kepada pilihan apa yang mau diambil, dan tujuan apa yang ingin dicapai.
Kemudian, dari jejaring komunikasi dan pertemanan yang baik dengan teman-teman komunitas diluar Kalimantan Barat, NUMSKULL kemudian membuat sebuah gigs musik yang mendatangkan band dari beberapa kota di pulau Jawa. Gigs RELAXING TOUR yang diadakan pada 3 Juli 2010 diramaikan oleh banyak band dari Pontianak, dan band-band dari pulau Jawa. Setelah menyelenggarakan dua gigs musik tersebut, dan dengan komunikasi yang terus terjalin baik mengenai band dan juga distribusi produk komunitas dengan temanteman diluar Kalimantan Barat, SECRET WEAPON pun berkesempatan untuk meramaikan panggung gig musik underground yang dibuat oleh teman-teman di Bandung. Yang berangkat tidak hanya band, tapi juga temanteman di tongkrongan NUMSKULL. Band mendapatkan kesempatan untuk manggung, teman-teman Pontianak lain mendapatkan teman baru, NUMSKULL pun mendapatkan benefit lain berupa jalur distribusi untuk produk-produk dari komunitas disekitarnya.
Begitulah kait-mengait yang terus berjalan beriringan antara distro NUMSKULL dan band SECRET WEAPON. Keberadaan NUMSKULL pada akhirnya kami lihat menjadi sentra tongkrongan PCHC (Pontianak City Hardcore). Istilah tersebut sebetulnya pertama kali kami dengar melalui sebuah lagu dari SECRET WEAPON yang berjudul sama. Ada yang datang karena penasaran dengan sepak terjang yang telah dibuat oleh band dan juga distro ini, ada yang datang karena ingin berdiskusi mengenai band dan dinamika skena musik underground, dan lainnya. Memang hal ini memberi dampak keuntungan finansial bagi distro NUMSKULL sebagai sebuah unit usaha, tapi bagi kami ini adalah dampak yang tercipta alami dan memang karena hasil kerja keras mereka. Mengenai band SECRET WEAPON sendiri kami tidak perlu membahas terlalu banyak disini. Teman-teman bisa menelusuri sendiri sepak terjang perjalanan mereka di sosial media ataupun dari obrolan bersama teman-teman lain di komunitas musik underground Pontianak. Namun dalam perbincangan kami dengan Meme, dia mengakui bahwa SECRET WEAPON lemah dalam mengelola manajemen band. Padahal dari awal kait-mengait antara band dan distro memang merupakan sesuatu yang penting dan bersifat saling menguntungkan satu sama lain. Setelah merilis album, melakukan tur, dan menyelenggarakan gigs launching album yang sangat besar di GOR Pangsuma, SECRET WEAPON mengalami mandek dalam menghasilkan album baru. Pada tahun 2017 distro NUMSKULL juga mengalami penurunan penjualan. Kami tidak mengatakan kebuntuan SECRET WEAPON dalam berkarya sebagai penyebab penurunan performa NUMSKULL, tentu ada banyak faktor-faktor penyebab yang lain. Tapi, disini cukup terlihat bagaimana pola yang unik dan mutual antara distro dan band, dan untuk menambah apa yang telah kami tuliskan di bagian sebelumnya tentang hubungan mutual antara distro dan komunitas musik underground.
Selain peningkatan jumlah anak muda yang turut aktif didalam komunitas musik underground pada awal dekade 2007-2017 ini, satu hal yang menurut kami perlu dicatat juga peningkatan partisipasi teman - teman perempuan didalam komunitas. Menjadi personil band, terlibat dalam kolektif, datang membeli tiket dan berpartisipasi sebagai penonton gigs, kita bisa melihat teman - teman perempuan disemua kegiatan tersebut. Dan pada tahun 2009 beberapa teman - teman perempuan menginisiasi sebuah gig musik bertajuk LADY RIOT FEST. Kegiatan ini awalnya diinisiasi oleh Rizka Edmanda, terlibat di band beraliran Oi/Punk PRETTY RIOT, juga menulis sebuah zine berjudul PRETTY POWER. Di semua kegiatan tersebut, pada dasarnya Rizka ingin menyampaikan gagasan - gagasan yang dia miliki seputar isu perempuan agar lebih meluas. Pada tahun 2009 gigs ini diorganisir bersama kolektif PARABAJING, teman - teman perempuan sendiri menamakan kumpulan kolektif mereka sebagai PRETTY DISORDERLY. Gedung ANNEX Untan pada 14 November 2009 akhirnya menjadi saksi penampilan 20an band underground Pontianak tampil dihadapan ratusan penonton saat itu. Gigs tersebut tidak hanya menampilkan band, tapi juga ada lapak - lapak workshop zine, tattoo, dan sablon di sekitar venue.
Lapak Zine di gigs LADY RIOT tahun 2009
Berlanjut pada tahun 2012, LADY RIOT FEST yang kedua kalinya digelar menampilkan lebih banyak lagi sub-kegiatan seperti food not bombs, nonton film, diskusi, bikin zine bareng, workshop sablon, workshop tattoo, pameran karya seni visual, serta lapak baca zine dan buku. Keterlibatan teman - teman perempuan dalam kolektif PRETTY DISORDERLY terlihat semakin meningkat kali ini, semakin banyak yang terlibat. Dalam kegiatan food not bombs, baik laki - laki maupun perempuan, semua berbagi tugas secara merata untuk memasak sup dan juga membuat rujak. Dalam kegiatan diskusi, teman - teman yang hadir saling berbagi pengalaman pribadi mereka dalam keseharian baik sebagai laki - laki maupun perempuan. Bisa dibilang gigs LADY RIOT FEST memberikan kesan yang sangat dalam, setidaknya bagi kami sendiri yang turut hadir dan menyaksikan suasana dan semua aktivitas teman saat itu. Ada banyak hal yang bisa ditampilkan, ada banyak hal yang bisa dibagikan, dan ada banyak orang yang bisa terlibat setara didalam sebuah gigs apapun gendernya.
Memasak bersama untuk aksi FOOD NOT BOMB di LADY RIOT tahun 2012
Sebuah era lanjutan, ledakan yang tidak diperkirakan, tidak direncanakan, dan tidak bisa dihindari lagi. Mengikuti gelombang perkembangan yang telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya, akhirnya pada tahun 2010 semakin banyak komunitas/tongkrongan/individu yang terlibat dalam penyelenggaraan gigs musik underground maupun yang hadir sebagai penikmat. Salah satu gigs yang masih membekas dalam ingatan kami adalah NEVER STOP RIOT #4 yang diorganisir oleh komunitas PARABAJING dan Northsouth Distro, sebuah persekutuan berisi teman-teman yang mayoritas penggila hardcore punk. Penonton yang hadir pada saat itu sangat banyak memenuhi gedung ANNEX Untan baik didalam ruang pertunjukan, maupun diluar ruangan (ditempat pemeriksaan tiket).
Kedatangan band-band dari luar Kalimantan Barat untuk manggung di gigs underground menjadi semakin sering di era 2010an ini. Sebelumnya memang sudah pernah terjadi, namun hanya terjadi sesekali. Kebiasaan ini semakin sering kita temui sejak tahun 2009, dan akhirnya di era 2010 hingga 2017 ini ada banyak komunitas penyelenggara gigs underground atau yang bekerja sama dengan pihak dari luar komunitas, bahkan pihak di luar circle komunitas juga ikut mendatangkan band-band beraliran musik hardcore/punk/ metal dari luar Kalimantan (dan kemudian diikuti juga dengan
mereka masih terus melakukan pola pengorganisiran gigs seperti ini hingga beberapa tahun berikutnya. Kesuksesan yang didapatkan saat mendatangkan band punk asal Jakarta, MARJINAL (waktu itu acaranya digelar di auditorium Universitas Muhammadiyah Pontianak), sepertinya menjadi modal semangat mereka untuk terus aktif mengorganisir berbagai gigs yang mendatangkan berbagai band dari luar Pontianak. genre musik lain yang tidak tergolong mainstream saat itu). Mengenai komunitas PARABAJING, Pada saat itu kami sempat mengetahui ada rencana untuk membuat sebuah tempat yang bisa difungsikan sebagai “rumah komunitas”, dengan memanfaatkan uang benefit yang didapat dari penyelenggaraan gigs STAND AS ONE #4 yang menampilkan Marjinal tersebut sebagai modal awal. Rumah Komunitas yang dimaksud adalah sebuah tempat dimana bisa melaksanakan berbagai aktivitas seperti; workshop sablon, cukil, diskusi, membuka perpustakaan zine, dan lain-lain. Namun rencana tersebut akhirnya batal karena banyak tarik-ulur pendapat diantara teman-teman
bersama teman2 scene punk Pontianak
didalam komunitas, juga karena ada kegagalan pengelolaan uang modal tersebut dalam penyelenggaraan beberapa gigs berikutnya. Namun komunitas ParaBajing tetap aktif dengan berbagai usaha dan kegiatan mereka didalam underground scene Pontianak saat itu.
Salah satunya pada tahun 2011, mereka sempat mengelola sebuah venue sendiri di Jalan Husein Hamzah (daerah PAL 5). Tempat itu sebelumnya adalah sebuah bangunan kafe milik seorang teman mereka. Bangunan tersebut mereka kelola untuk dijadikan tempat menyelenggarakan gigs dengan kesepakatan “pinjam pakai”, tanpa ada uang sewa yang dikenakan. Mereka juga mengusahakan sendiri beberapa renovasi skala menegah saat itu, agar bangunan tersebut menjadi nyaman untuk dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan gigs maupun kegiatan mereka yang lain. Venue tersebut mulai beroperasi pada tanggal 19 Maret 2011, ditandai dengan sebuah gigs bertajuk NEW BREED part.1. Venue tersebut diberi
nama UNDERGROUND VENUE. Kami masih ingat jelas situasi dan euforia di acara launching UNDERGROUND VENUE malam itu, tidak seriuh dan seramai gigs yang biasa diadakan di venue lain yang lokasinya di tengah kota (gedung Annex, Taman Budaya, atau kafe Galaherang), namun ada perasaan bahagia sebab akhirnya komunitas underground di Pontianak bisa memulai sebuah langkah baru dalam menjalani proses kreatifnya.
Tidak hanya acara musik yang diadakan di tempat ini, beberapa teman juga sempat menggelar kegiatan non-musik, seperti kegiatan diskusi dan belajar bersama. Namun perjalanan venue ini juga tidak terlalu lama. Di kemudian hari, pemilik bangunan tersebut melihat ada peluang untuk mendapatkan keuntungan dari penyelenggaraan gigs musik underground. Akhirnya pemilik gedung meminta uang sewa dari komunitas ParaBajing selaku pengelola venue, yang sepertinya melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. “Ya udah kita tinggalkan”, begitu Asep (gitaris JERONES 343) menjawab
Launching UNDERGROUND VENUE, sebuah venue yang dikelola oleh kolektif NORTHSOUTH dan teman-teman.
singkat dan tegas mengenai sikap dan tindakan yang mereka ambil saat itu. Komunitas ParaBajing tidak terlalu banyak lagi beraktivitas setelah itu. Hanya individu tertentu, ataupun band yang ada didalamnya saja yang masih bisa ditemui waktu nongkrong ataupun di gigs musik hingga saat ini. Di era ini kami mengingat dan mencatat, masih ada beberapa gigs yang dikelola oleh teman-teman, namun intensitasnya semakin berkurang. Ada LADY RIOT FEST #2 yang sekaligus menampilkan peluncuran album band hardcore FIGHT FOR FREE di tahun 2012, dan NEVER STOP RIOT #5 di tahun 2014. Menurut Asep, penurunan aktivitas teman-teman terlihat sejak tahun 2012 dikarenakan beberapa kesibukan pribadi, dan bukan karena masalah dalam pertemanan di komunitas, karena tidak ada paksaan untuk beraktivitas, dan pertemanan pun bisa tetap cair dan menyenangkan hingga saat ini.
Tongkrongan di halte street punk jalan Pancasila juga mulai sepi. Akan tetapi ada keunikan pada teman-teman di lingkaran ini. Sepertinya ungkapan “mati satu tumbuh seribu” cocok diberikan kepada mereka. Diantara tahun 2010 s.d. 2017, waktu penyelenggaraan acara musik underground di kota Pontianak sempat meningkat, terjadi juga peningkatan jumlah anak punk yang berjalan kaki beramai-ramai di pinggir jalan, pergi menonton gigs musik underground antar kota beramai-ramai dengan menumpang truk ataupun mobil pick-up. Tidak hanya itu, kegiatan pergi berkunjung antar kota ini juga bertujuan untuk silaturahmi dengan sesama teman di kota lain. Menurut salah satu teman yang kami datangi yaitu Boca (gitaris-vokalis band ATAP BOCOR), yang mereka tahu bahwa punk itu memiliki semangat kebebasan. Maka tidak ada hambatan jika mereka ingin bepergian mengunjungi teman-temannya di kota lain walaupun mereka tidak punya kendaraan atau memiliki uang yang hanya sedikit. Semua pasti bisa diusahakan bersama. Boca dan teman-temannya pergi mengunjungi teman-teman punk di berbagai kota. Disana mereka tidak hanya nongkrong, tapi mereka juga menekankan bahwa “kita harus berkarya” melalui apapun yang kita bisa. Maka merekapun mulai memiliki berbagai kegiatan. Ada yang nyablon, ada yang menekuni pembuatan tattoo, ada yang belajar untuk menyelenggarakan gigs musik, dan lain-lain. Jumlah anak punk yang terlihat di jalanan ini terus meningkat. kebanyakan dari mereka juga ada yang masih berstatus pelajar sekolah, dan ada yang sudah putus sekolah juga. Menurut Boca, mereka bisa tertarik untuk nongkrong di tongkrongan punk karena tertarik dengan kebersamaan di lingkaran teman-teman punk. Ada saling bertukar cerita disaat nongkrong, dan jika ada permasalahan bisa diselesaikan bersama.
Sementara itu kami juga bertemu narasumber lainnya yang juga sempat cukup lama bersama teman-teman punk di jalan, yaitu Yoga (sekarang aktif sebagai seniman mural dan relawan pendidikan). Ada banyak cerita, suka dan duka yang dialami oleh teman-teman street punk ini ketika berada di jalan, menumpang kendaraan, ataupun sedang berada di sebuah gigs musik underground. Yang pasti, Yoga bisa meyakinkan bahwa tidak ada permasalahan yang dimulai duluan oleh teman-teman street punk. Mereka berada disana bukan untuk membuat onar. Mereka berada disana biasanya karena ada sebuah tujuan, misalnya menumpang truk untuk pergi
di warung kopi atau lampu merah demi mendapatkan uang, sekadar untuk makan atau menonton acara musik. Justru seringkali permasalahan yang mereka dapatkan adalah bentuk gangguan dari pihak diluar mereka, misalnya, Yoga bercerita, mereka pernah disiram air panas saat sedang ngamen di warung kopi, atau mereka pernah diusir dan diludahi saat numpang istirahat di sebuah rumah ibadah.
ke gigs musik underground di sebuah kota, mengunjungi temanteman punk di kota lain, ngamen
Jika kita melihat dua kejadian yang baru disebutkan tadi, dan juga banyak kejadian penolakan maupun penangkapan lainnya terhadap anak punk yang ada di jalan, sebenarnya ini hanyalah imbas dari standar “penampilan normal” milik masyarakat, dan bukti bagaimana masyarakat kita masih sulit untuk melihat (apalagi sampai memahami dan menerima) perbedaan dan keberagaman. Begitu juga ketika mereka diangkut ketika razia Satpol PP. Sebenarnya mereka tidak melakukan pelanggaran apapun. Hanya karena mereka memiliki gaya penampilan yang dinilai “lusuh” menurut standar petugas Satpol PP dan
ditumpangi di jalan
-YogaStreet punk menghentikan kendaraan untuk
“Anak punk masuk gigs dengan kolektifan, sebenarnya tidak mutlak permasalahan, ada cara cara yang bisa dilakukan utk mencari solusi bersama. Karena mereka yang masuk ke gigs itu juga sungguh - sungguh untuk menyaksikan band lokal, menikmati musik. Mereka juga sudah melakukan usaha semampunya sebenarnya, ada yang mengamen dulu sebelum menonton gigs, utk mendapatkan uang.”
“Memang betul ada beberapa oknum, yang suka bikin ribut, tapi sesungguhnya mereka juga tidak punya “identitas jelas”, bukan merupakan bagian / anggota yang jelas utk tongkrongan manapun. Mereka memang tidak punya hubungan yang baik juga dengan tongkrongan, tidak punya sumbangsih apa apa utk skena”
masyarakat umum, dan mereka numpang tidur di depan pintu ruko yang tutup ataupun taman kota yang sudah tidak berpengunjung, itu tidak bisa dikategorikan sebagai kriminalitas. Menurut Yoga, biasanya mereka mendapat tindakan represif (kadang juga tidak). Biasanya tindakan represif ini terjadi setelah sempat terjadi adu mulut antara teman-teman street punk dan petugas Satpol PP. Biasanya setelah kejadian ini, mereka dibawa ke PLAT (Pusat Latihan Anak Terpadu).
Memang kami tidak bisa memungkiri, fenomena street punk ini membawa permasalahan tersendiri. Entah bagaimana jumlah teman - teman street punk semakin bertambah, tidak banyak dari mereka sebetulnya masih “dibawah umur”, dan masih berstatus pelajar. Permasalahan pertama adalah harus berhadapan dengan orang tau ataupun anggota keluarga dari teman street punk yang masih dibawah umur/ berstatus pelajar.
Tentu saja, kehidupan di jalanan tidak berisi hal - hal yang menyenangkan dan aman - aman saja (sekalipun tujuan awalnya untuk bersenang - senang saja). Kemudian karena banyak dari mereka yang terlibat dalam masalah perkelahian di gigs. Ada yang karena sudah keburu emosi karena mereka tidak berhasil untuk masuk kolektifan ke dalam gigs underground dengan uang yang sudah susah payah dikumpulkan hasil ngamen. Atau beberapa kali kami temui juga perkelahian yang terjadi hanya karena salah paham kecil saja. Kami tidak punya maksud untuk menggeneralisir ataupun membuat penghakiman sepihak disini, karena masalah perkelahian sebenarnya adalah masalah umum scene underground.
Hal ini bisa terjadi pada pelaku/ penikmat musik manapun, yang melabeli diri sebagai street punk, metalhead, hardcore kids, ataupun anak ska sekalipun. Jadi sebetulnya tidak bisa dikerucutkan
atau dibuat penghakiman sepihak bahwa masalah perkelahian di gigs underground itu selalu disebabkan teman-teman street punk. Mengenai fenomena ini, kami ingin mengutip pernyataan dari Yoga sebagai narasumber kami :
“Anak punk masuk gigs dengan kolektifan, sebenarnya tidak mutlak permasalahan, ada cara cara yang bisa dilakukan utk mencari solusi bersama. Karena mereka yang masuk ke gigs itu juga sungguh - sungguh untuk menyaksikan band lokal, menikmati musik. Mereka juga sudah melakukan usaha semampunya sebenarnya, ada yang mengamen dulu sebelum menonton gigs, utk mendapatkan uang.”
“Memang betul ada beberapa oknum, yang suka bikin ribut, tapi sesungguhnya mereka juga tidak punya “identitas jelas”, bukan merupakan bagian / anggota yang jelas utk tongkrongan manapun. Mereka memang tidak punya hubungan yang baik juga dengan tongkrongan, tidak punya sumbangsih apa apa utk skena”
Bertemu teman - teman baru, nongkrong, lalu mengorganisir kumpulan sudah menjadi pola yang biasa dilakukan di komunitas underground. Kumpulan - kumpulan ini biasanya dipertemukan karena ada satu kesamaan diantara mereka. Pada tahun 2015 beberapa anak muda yang sama - sama menyukai band SECRET WEAPON mulai berkenalan dan berkumpul setiap mereka menonton gig musik underground. Terinspirasi dari beberapa komunitas penggemar band yang ada diluar Kalimantan Barat dan hasil dari diskusi dengan salah satu personil band SECRET WEAPON, akhirnya mereka sepakat untuk membuat perkumpulan yang bernama SWHC FRIENDSHIP. Nama ini diambil dari salah satu lagu SECRET WEAPON yang berjudul “The Real Hardcore Friendship”. Kami bertemu dengan salah satu orang yang memulai kumpulan ini, Andi. Awalnya kumpulan ini beranggotakan orang-orang yang tinggal disekitar tempat tinggal Andi. Dikarenakan mereka sering pergi nonton gig musik underground bersama, dan di
SWHC Friendship gig tersebut mereka bertemu dengan teman-teman lainnya yang sama-sama menyukai band SECRET WEAPON. Kumpulan ini awalnya tidak terlalu serius, mereka hanya nongkrong bareng dan menjalin komunikasi melalui grup Blackberry Messenger (BBM), sampai tanpa terasa jumlah anggota di dalam grup BBM “SWHC FRIENDSHIP” sudah mencapai 230 orang. Selain nongkrong bareng, mereka juga melakukan berbagai kegiatan charity seperti bakti sosial ke panti asuhan, dan juga menggalang dana bantuan ketika ada salah satu anggota (ataupun anggota keluarga mereka) yang membutuhkan. Kendati kumpulan ini diawali kesukaan pada sebuah band yang sama, mereka tidak mengganggap ini seperti sebuah fans club yang menggemari habis-habisan band yang mereka sukai. Andi sendiri menceritakan bahwa dia menyukai SECRET WEAPON justru lebih karena para personilnya yang mudah akrab dan humble. Hingga saat tulisan ini dibuat, SWHC FRIENDSHIP tidak pernah dibubarkan oleh mereka, komunikasi masih terus terjalin, solidaritas dan saling bantu membantu sesama anggota juga masih tetap dilakukan.
Sejak tahun 2010 semakin bertambah penyelenggaraan gigs musik underground di Pontianak. Kebanyakan dari penyelenggara gigs musik ini tertarik untuk mencoba mengorganisir gigs karena sebelumnya datang menghadiri dan menonton gigs musik lainnya. Bisa saja sebuah gigs tersebut diinisiasi oleh satu orang atau bisa juga berawal dari teman - teman satu tongkrongan. Kami bertemu dan mendengarkan cerita dari Alpa, salah seorang yang juga mengorganisir gigs musik underground kala itu. Alpa memulai pejalanan ini setelah beberapa kali dia mengikuti Bang Andre (WANA Studio) sebagai vendor di beberapa gigs musik underground. Alpa sempat melihat bagaimana ada banyak gigs musik sempat diadakan di Taman Budaya Pontianak dengan puluhan band dari pagi
hingga malam dengan suasana yang gelap dan pengap. Setelah itu Alpa juga melihat pola pengorganisiran gigs musik underground yang diadakan di beberapa venue lainnya oleh teman - teman komunitas saat itu.
mencoba mendatangkan BESIDE (band death metal dari Bandung) dan menggunakan GOR Pangsuma Pontianak sebagai venue. Namun ambisi yang tinggi tidak serta merta membuahkan hasil yang baik.
Akhirnya Bang Andre yang mulai mencetuskan ide untuk mereka juga mencoba membuat acara musik sendiri. Maka perjalanan dimulai pada tahun 2010, Alpa beserta seluruh teman - teman yang biasa nongkrong di WANA Music Studio beserta Bang Andre juga menyatukan diri dibawah nama kumpulan/komunitas JEMBATAN untuk membuat sebuah gigs musik underground bernama THE LORD FROM HELL pada tanggal 6 November 2010 di Gedung Kartini Pontianak. Alpa dan teman - teman sangat bersemangat setelah menyelenggarakan acara tersebut, mereka tidak menyangka akan mendapat sambutan yang besar dari komunitas. Sambutan yang dimaksud adalah jumlah penonton yang hadir saat itu mencapai jumlah kira - kira 1.000 orang, semua memenuhi bagian dalam Gedung Kartini Pontianak.
Mendapat suntikan semangat dari antusiasme penonton di penyelenggaraan acara pertama ini mereka segera menyelenggarakan gigs musik lagi di tahun 2011. Kali ini dengan ambisi yang lebih tinggi dari sebelumnya, mereka
Panitia THE LORD FROM HELL #2 harus menderita kerugian, dikarenakan jumlah penonton yang ditargetkan tidak tercapai, maka uang pemasukan dari penjualan tiket tidak mampu menutupi seluruh biaya operasional penyelenggaraan acara musik tersebut. Namun kegagalan tersebut tidak menghentikan niat mereka untuk terus menyelenggarakan acara musik. THE LORD FROM HELL terus berlanjut hingga seri ke-5 dan berubah nama menjadi FROM HELL, Alpa dan teman - teman juga membuat acara musik lain yang berada diluar tema / lingkup komunitas musik underground. Pada akhirnya terjadi penurunan jumlah penonton yang datang ke acara musik underground, setidaknya ini yang dia rasakan dan lihat sendiri pada acara musik underground yang dia organisir bersama teman - teman di FROM HELL seri ke-5 di tahun 2015. Pada saat itu FROM HELL mengambil lokasi di halaman Nineteen UNTAN dan menggunakan dua panggung untuk menampilkan kurang lebih 65 band dalam satu hari. Penyelenggaraan acara musik seperti itu pasti membutuhkan jumlah pembelian tiket yang banyak dari penonton. Alpa bercerita bahwa target jumlah penonton adalah 2000 s.d. 3.000 penonton, namun kenyataannya hanya dihadiri oleh sekitar 800an penonton.
Analisa pribadi dari Alpa sendiri, hal ini kemungkinan karena ada rasa bosan/jenuh dari anak muda Pontianak saat itu yang biasa datang menghadiri gigs musik underground. Memang pada saat sekitar tahun tersebut sedang terjadi puncak antusiasme anak muda Pontianak (dan bahkan Provinsi Kalimantan Barat) terhadap musik/kultur underground (musik keras, punk, metal, hardcore, dan hal yang serupa). Acara musik diadakan dengan pola yang sama, band - band yang tampil dengan konsep musik yang juga kurang lebih sama saja satu dan lainnya. Menurut Alpa kembali, ada banyak yang mulai mendengarkan band dengan jenis musik lainnya(diluar lingkaran musik keras) dan juga mungkin mereka mulai menemukan berbagai pilihan hiburan lainnya. Sebenarnya Alpa dan teman - temannya masih memiliki rencana dan mimpi bersama acara musik FROM HELL, antara lain di tahun 2016 ingin membuat tour FROM HELL ke berbagai kota di Kalimantan Barat, menjaring band - band yang potensial, mengakomodir mereka rekaman di Pontianak, merilis lagu - lagu mereka dalam album kompilasi, lalu mendistribusikannya secara luas. Namun akhirnya rencana dan mimpi tersebut harus terkubur. Alpa dan teman - temannya mulai memakai nama event organizer mereka sendiri saat itu (iPro Event Organizer) selain tentu saja masih terus berjalan bekerja bersama Wana Production. Namun pilihan harus dibuat, iPro Event Organizer lebih fokus sebagai EO profesional dan mengambil tawaran mengorganisir acara - acara yang lain diluar dari lingkup acara musik underground. Persimpangan pilihan dalam hidup yang seperti ini selain dihadapi oleh teman - teman penyelenggara acara musik underground, juga terjadi pada
teman - teman penikmat acara musik(dan musik), serta teman - teman band.
Pada tahun 2012 ada sebuah tongkrongan yang akhirnya juga menghasilkan acara musik yang berbeda di lingkaran komunitas musik underground Pontianak saat itu. Ada anak - anak muda yang biasa nongkrong berkumpul di Kopma UNTAN, dimulai dari beberapa lalu masing - masing membawa teman baru hingga tongkrongan tersebut semakin
ramai. Rata - rata dari mereka adalah orang - orang yang juga sudah aktif berkegiatan di komunitas musik underground Pontianak sejak 2007/2008, ada yang memiliki band, ada yang sebelumnya tergabung dengan kolektif penyelenggara acara musik lainnya, ada juga yang aktif hadir sebagai penonton acara musik. Karena tema musik kesar dan acara musik yang berisi band - band cadas selalu mereka lihat dan dengar tiap minggunya, kejenuhan pun mulai datang. Mereka memiliki ide untuk membuat acara musik yang berbeda, masih membawa semangat yang sama dari apa yang telah mereka serap sebelumnya didalam komunitas musik underground namun membawanya kepada berbagai percobaan dan peluang baru. Mereka mulai dengan acara musik tribute band yang lebih kecil dan akrab, band yang tampil tidak terlalu banyak, musiknya akustik, dan diselenggarakan di cafe/warkop. Beberapa gigs tribute band digelar berturut - turut dalam waktu yang berdekatan, ada tribute to peterpan, padi, sheila on 7, dan coldplay. Namun pada akhirnya mereka juga memutuskan untuk membuat sebuah gigs musik yang kurang lebih sama seperti yang mereka kenal pada awal pertama mereka mengenal subkultur ini.
Suasana party di acara MUDA SAMPAI MATI yang diorganisir oleh Party Monster
Sebuah gigs musik berisi 20an band selama satu hari, panggung dan alat band yang digilir beramai - ramai. Hal ini tidak lain juga karena disebabkan kejenuhan mereka, beberapa dari mereka merasakan kerap kali harus bermain/tampil di acara musik dengan sarana alat musik seadanya, ruangan yang gelap dan pengap. Tanpa mengecilkan acara musik seperti itu, tapi menurut mereka ada baiknya mengusahakan kualitas teknis yang lebih baik lagi untuk sebuah acara musik komunitas.
PARTY MONSTER kerap mengadakan gigs kecil dan akrab dengan tata hias interior yang menarik didalam venue (Ket:Foto di sebelah kiri adalah gigs launching album LIMAPAGI
Panggung yang lebih besar, tata cahaya, dan tentu saja alat musik dan sound system yang lebih nikmat untuk didengar. Mereka pun mengadakan gigs musik MUDA SAMPAI MATI pada 8 September 2012 di Nineteen UNTAN-Pontianak. Kami ingat sekali menghadiri gigs ini, penonton yang hadir cukup ramai, memang menyenangkan menikmati penampilan band dengan tata cahaya dan juga sound system yang baik. PARTY MONSTER terus berjalan setelah itu, mengorganisir kembali acara musik tribute band, serta gigs kecil dengan venue kecil yang akrab (di halaman Numerique store, di Rumah Jepin Pontianak). Namun akhirnya kisah dari PARTY MONSTER juga tidak jauh berbeda dengan tongkrongan lainnya di lingkar komunitas musik underground, selesai tanpa akhir. Beberapa teman mulai menghadapi kesibukan akhir di kampus, ada yang memilih jalan untuk
bekerja, dan beberapa kesibukan masing - masing lainnya. Namun apa yang telah terjadi dan dialami didalam dan melalui PARTY MONSTER bukan sebuah kesia - siaan. Menurut narasumber kami, Yudi Uyap (MM Studio) salah satu yang aktif di PARTY MONSTER, mereka saat itu sudah belajar untuk melakukan manajemen organisasi, mereka kerap melakukan rapat/pembahasan ringan terkait aktivitas PARTY MONSTER, merencanakan gigs yang akan diselenggarakan, menjalankan uang kas, membuat beberapa usaha ekonomi untuk mendukung keuangan kolektif mereka (menjual snack saat penyelenggaraa gigs, menjual merchandise). Semangat untuk membuat sesuatu yang
berbeda diawal mereka memulai PARTY MONSTER mungkin juga adalah sebuah semangat dan sikap yang khas dimiliki oleh teman - teman lain dalam lingkar komunitas musik underground Pontianak, patut dicatat, dievaluasi, dipertahankan, dan dikembangkan.
Pada masa ini skena hip hop di Pontianak juga terus menampakkan gerak perkembangan. Salah satunya adalah muncul banyak rapper di kota Pontianak dimana salah satu pemantiknya adalah karena lomba rap yang diadakan rutin tiap tahun oleh BKKBN(Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Melalui lomba tersebut juga akhirnya komunitas semakin berkembang.
Kompetisi rap BKKBN (kemungkinan tahun 2011)
Rekaman mandiri dilakukan oleh ALGEBRA SQUADRA
Gigs launching MCF di halaman Numerique Store
Tur MCF dalam promo album WHOS THE FUX
Kami tidak mengatakan bahwa ajang lomba ini sangat penting dalam mempengaruhi komunitas, namun memang pada masa ini kami belum melihat banyak event hip hop yang digelar oleh komunitas sendiri, memang ada namun belum banyak.
Salah satu momen menarik bagi kami dalam linimasa perjalanan komunitas hip hop di Pontianak adalah saat tahun 2012 dimana BALADA SUNGAI KAPUAS manggung dalam format band untuk pertama kalinya. BALADA SUNGAI KAPUAS(selanjutnya disingkat BSK) awalnya adalah nama proyek solo rapper dari Adi Cahya(vokalis Morning Mist, aktif di Patriot Hatta Record, juga aktif di beberapa proyek band lain) yang sudah memproduksi beberapa lagu(dan CD??) pada tahun 2007/2008. Proyek solo BSK ini sempat membuat heboh skena musik bawah tanah di Pontianak karena sebuah lagu berjudul Kramak, dimana disitu berisi lirik yang nge-”diss” beberapa musisi kota Pontianak. Bertahun - tahun berjalan sebagai proyek solo, tiba - tiba pada tahun 2012 BSK bertransformasi menjadi sebuah band. Perjalanan BSK sebagai sebuah band yang membawa latar belakang hiphop dan memadu padankan musik nya dengan punk, hardcore, ataupun nu-metal menjadi sebuah hal yang segar pada saat itu. BSK “seperti” menjadi salah satu momen yang mempertemukan komunitas hip hop dengan
tongkrongan musik/band lainnya di Pontianak. Temanteman dalam komunitas hip hop Pontianak juga menjalankan etos DIY(Do It Yourself) yang kuat, dalam produksi rekaman lagu secara mandiri, rilisan fisik, tur mandiri, berjejaring, dan mengorganisir show kecil dan mandiri bersama teman - teman lintas tongkrongan lintas genre musik. Kemudian dengan semakin banyaknya jumlah rapper, jejaring komunikasi lintas tongkrongan yang semakin membaik, kami sering melihat acara hip hop spontan, kecil, akrab, dan “panas” yang digelar oleh komunitas. Baik itu hanya bersifat jamming di cafe/warkop, ataupun acara cukup besar yang disusun secara rapi dan bahkan dihadiri oleh teman - teman dari luar Kalimantan Barat. Hingga tahun 2015 s.d. 2017 beberapa rapper/grup rap merilis album dalam format CD(REOT, MCF, Vikrybo) dan juga berjejaring untuk manggung ataupun tur keluar Pontianak (MCF tur pulau Jawa pada tahun 2016).
Pada masa ini, band - band di komunitas underground Pontianak mulai melakukan invasi keluar Kalimantan Barat bahkan keluar Indonesia. Buah dari jalur komunikasi yang semakin mudah melalui sosial media facebook ataupun instagram, beberapa band melakukan tur ataupun hanya menjajal panggung di sebuah acara untuk membangun jejaring pertemanan dan juga promosi band ataupun karya milik mereka. Salah satunya ada SECRET WEAPON yang mulai melakukan tour pada tahun 2013 setelah mereka merilis album pertama. Tour dilakukan melintasi pulau Jawa dan Bali,
Dokumentasi tur LEMON DJIN di Malaysia pada tahun 2015
dan berdampak besar tidak hanya bagi SECRET WEAPON sendiri tapi juga bagi komunitas underground Pontianak kemudian. Selain itu juga ada BALADA SUNGAI KAPUAS yang mengunjungi kota Kuching-Sarawak, Malaysia pada tahun 2012. Mereka menjajal panggung acara TINY BORNEO DAY OUT #2, sebagai kunjungan balasan setelah band - band dari Kuching juga mengunjungi kota Pontianak setahun sebelumnya.
Salah satu band lain yang juga melakukan tour panjang keluar Indonesia adalah LEMON DJIN, band crossover thrash yang digawangi Eza dan teman - temannya. Kami bertemu Eza dan mendengar cerita - cerita mengenai pengalaman mereka bermain di gigs musik underground di Malaysia serta bagaimana teman - teman disana memandang komunitas musik underground di Pontianak. Lemon Djin pertama kali tur pada tahun 2015. Mereka mendapatkan kesempatan untuk bermain di sebuah acara musik di Malaysia, CHAOS IN RUMAH API. Dari satu kesempatan itu, akhirnya perjalanan menjadi lebih panjang karena mereka mendapatkan kesempatan untuk tampil di delapan kota lainnya di Malaysia. Kesempatan yang baik ini mereka manfaatkan juga untuk promosi album
pertama yang mereka rilis sendiri, TELAJAK. Semua komunikasi dengan teman - teman yang membantu tur mereka di kota - kota di Malaysia dilakukan jauh hari melalui media sosial. Pengalaman menarik yang mereka rasakan saat menjalani tur adalah antusiasme yang tinggi dari teman - teman di Malaysia mengenai band - band yang ada di scene underground Kalimantan Barat. Teman - teman disana ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai scene underground Indonesia diluar dari Pulau Jawa. Tur yang sederhana, direncanakan dan direalisasikan dengan kerja kolektif.
Selain CD album pertama, mereka juga membawa produk komunitas dari band ataupun clothing teman - teman underground di Pontianak/Kalimantan Barat untuk dijual pada saat pelaksanaan acara musik dan akhirnya bisa menambah uang kas mereka selama perjalanan. Selain itu teman - teman disana juga sangat antusias dan benar - benar memperhatikan karya milik band yang sedang tur. Menurut Eza, teman - teman disana akan datang ngobrol dengan sangat antusias ke meja lapakan kita jika kita sudah menampilkan penampilan panggung yang terbaik. Kami lihat, ini sesuatu yang menarik, scene disana sudah fokus pada karya dan juga attitude dari band. Untuk model pengorganisiran gigs underground disana juga sebetulnya tidak banyak berbeda seperti apa yang dilakukan di Pontianak, gigs kolektif DIY dan kebanyakan di Malaysia memanfaatkan studio musik ataupun venue - venue yang kecil. Namun sebuah hal yang patut diapresiasi adalah, kolektif yang mengorganisir gigs disana selalu mengusahakan dan mampu untuk memberi apresiasi dalam bentuk uang kepada band yang tour. Apresiasi dalam bentuk uang ini tidak bisa disamakan seperti fee baand manggung seperti yang kita pahami dan kita tahu dilakukan oleh banyak band - band yang cukup tenar di Indonesia, fee band ditetapkan lebih dahulu oleh band yang akan manggung dan biasanya bersifat kaku. Apresiasi dalam bentuk uang yang dimaksud disini biasanya hasil penjualan tiket yang memang disisihkan oleh penyelenggara gigs musik untuk diberikan kepada band yang sedang menjalani tour. Jumlahnya memang tidak seberapa, tapi ini adalah bentuk apresiasi dan bagaimana bukti kalau pola kerja kolektif mandiri pun masih bisa diandalkan.
Setelah tour tersebut LEMON DJIN kembali menjalani tour pada tahun 2018, masih mengunjungi beberapa kota di Malaysia (Sarawak dan Sabah) serta ditutup dengan beberapa kota di Kalimantan Barat. Secara garis besar tur ini direncanakan, dijalankan masih menggunakan metode yang sama seperti tour yang pertama, begitu juga teman - teman kolektif DIY di Malaysia dalam hal pengorganisiran gigs musik disana. Eza bercerita, ketika di Sabah mereka bermain di tiga kota. Teman - teman kolektif dari ketiga kota tersebut mengorganisir tour ini bersama - sama bergotong royong, mulai dari merencanakan hingga patungan uang untuk seluruth operasional tour(transportasi, akomodasi, pengadaan venue dan alat musik). Sekali lagi kita melihat bahwa pola kerja kolektif DIY dapat dilakukan dan ampuh untuk mengatasi berbagai kendala, asalkan ada niat dan komunikasi yang baik dari seluruh individu yang terlibat didalamnya.
Ada kemajuan maka akan ada juga dampak lain yang mengikutinya. Jika melihat dari apa yang telah kami tulis untuk era ini, komunitas musik underground di Pontianak sedang mencapai titik klimaks. Gigs musik diadakan setiap minggu, jumlah band yang ada mungkin ratusan (isinya mulai dari anak SMP, SMA, hingga mahasiswa), komunitas/tongkrongan/kolektif yang menyelenggarakan gigs musik juga semakin banyak. Bagi kami, bisa dibilang situasi gegap gempita ini pada titik tertentu sudah mencapai chaos dan bisa dibilang menjenuhkan. Kemajuan ini bukan sesuatu yang salah, tentu saja seru dan menyenangkan melihat gigs musik yang dulunya hanya dihadiri oleh muka - muka yang bisa kita kenali kini berisi ratusan(bahkan ribuan) orang yang berasal dari berbagai tempat dan latar belakang. Musik memang menyatukan namun tanpa pengelolaan berbasis komunitas yang baik akhirnya ada banyak kejadian yang tidak mengenakkan.
Diujung tahun 2016 akhirnya komunitas musik underground di Pontianak harus mengalami kejadian yang kemudian merubah situasi dan pola kegiatan pengorganisiran gigs musik underground. Pada tanggal 11 November 2016 sebuah halaman Facebook berjudul ENCORE mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa gigs musik yang seharusnya akan mereka adakan pada tanggal 12 November harus dibatalkan. Pembatalan tersebut menurut mereka disebabkan tidak mendapatkan perizinan acara dari pihak Polresta Pontianak karena ada beberapa gigs musik yang diadakan sebelumnya oleh penyelenggara lain yang tidak kondusif dan penyelenggara tersebut juga tidak bertanggung jawab. Situasi diantara pelaku dan penikmat musik underground di Pontianak saat itu sempat heboh, tidak hanya karena batalnya gigs musik ENCORE tapi juga desas - desus yang
Berbagai silang pendapat dan informasi beredar, salah satunya juga mengatakan bahwa situasi yang terjadi ini juga dampak dari situasi “siaga 1” nasional karena ada demo 4 November 2016 yang terjadi di Jakarta. Demo tersebut memang menjadi headline di berbagai surat kabar nasional pada saat itu.
“Aksi 4 November (juga disebut Aksi Bela Al-Qur’an atau Aksi Damai 4 November) terjadi pada 4 November 2016 ketika demonstran berjumlah antara 50.000–200.000 turun ke jalanjalan di Jakarta, Indonesia untuk memprotes pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (atau yang dikenal sebagai “Ahok”) yang dianggap menghina agama Islam.”(sumber : Wikipedia)
beredar bahwa gigs musik underground juga tidak bisa diselenggarakan seterusnya di Pontianak.
Sempat beredar beberapa hashtag di sosial media dengan bunyi #saveourgigs ataupun #savegigspontianak dari beberapa akun, ini semua menunjukkan keresahan sekaligus harapan yang dimiliki agar gigs musik di Pontianak(dalam hal ini khususnya musik underground) tetap dapat diselenggarakan. Salah seorang teman kami yang juga penikmat musik underground di Pontianak mengambil aksi lebih jauh dalam menyikapi kejadian ini. Galih Wahyudi (ex-vokalis Wai Rejected, MC, kolektor rilisan fisik) mendatangi langsung pihak kepolisian di kota Pontianak untuk mengkonfirmasi hal ini. Di dalam status facebooknya pada tanggal 12 November 2016 Galih Wahyudi menjabarkan beberapa poin hasil konfirmasi kepada pihak kepolisian. Dalam status facebook tersebut menyatakan bahwa peristiwa”Aksi 4 November” di Jakarta dan situasi “siaga 1” nasional menjadi penyebab izin untuk gigs musik ENCORE tidak dikeluarkan. Situasi ini juga situasi sementara, menunggu hingga status “siaga 1” nasional dicabut dan kondisi kembali aman.
Namun memang semua orang tidak menerima begitu saja situasi ini, ditambah lagi simpang siur informasi menyebabkan ada pihak - pihak yang sempat dipersalahkan atas semua kejadian ini. Pihak panitia penyelenggara ENCORE adalah salah satu yang sempat dipersalahkan oleh beberapa teman - teman kolektif/tongkrongan lainnya yang juga berkegiatan sebagai penyelenggara gigs. Kami bertemu dengan Keke dan Toriq sebagai perwakilan dari pihak panitia penyelenggara ENCORE, memang sempat ada pertemuan dengan beberapa kolektif penyelenggara gigs yang lainnya dan disitulah awalnya panitia penyelenggara ENCORE sempat dipersalahkan. “ jadi mereka datangin aku dan kayak nyalahin aku, tapi aku ndak mau lah disalahkan, soalnye kan aku udah berusaha maksimal”, begitu jawaban Keke terhadap teman - temannya.
Selain itu tidak jauh sejak kejadian batalnya gigs musik ENCORE juga diadakan pertemuan di kantor Tribun Pontianak, ada banyak pelaku yang biasa menyelenggarakan gigs musik underground yang dikumpulkan di kantor Tribun Pontianak. Namun pertemuan ini pun sesungguhnya tidak membawa dampak apa - apa, pertama karena ternyata tidak ada pihak kepolisian yang hadir untuk memberikan penjelasan resmi dan juga menurut kami pertemuan ini bukanlah pertemuan yang diinisiasi oleh teman - teman komunitas dan dilaksanakan dengan semangat kekeluargaan, kesetaraan, kesenangan didalam komunitas, berbagai prinsip - prinsip dasar yang sayang sekali seperti terlewatkan disaat masalah datang. Mengenai salah - menyalahkan sebenarnya sudah sebuah tanda bahwa kemajuan membawa dampak yang tidak mengenakkan. Komunitas yang sangat besar membuat berbagai pihak yang didalamnya tidak terlalu terhubung lagi satu sama lain.
Memang betul diantara kerumunan orang, tidak semuanya mempunya visi, misi, dan tujuan yang sama. Ada yang hanya memanfaatkan situasi dimana musik underground lagi diminati banyak orang. Dan memang betul ada juga yang tidak rapi dalam melakukan kegiatan - kegiatannya, dalam hal ini misalnya penyelenggaraan gigs musik. Kami setuju tidak ada alasan bahwa sebuah gigs musik underground, atau gigs musik yang dihadiri oleh penonton sedikit dapat dimaklumi jika diselenggarakan dengan tidak terencana dan tidak bertanggung jawab. Namun bukan berarti keterbatasan pengetahuan dalam penyelenggaraan acara musik harus menjadi halangan bagi orang ataupun sekelompok orang/komunitas untuk menyelenggarakan kegiatan bermusik bagi komunitasnya sendiri. Untuk panitia penyelenggara ENCORE sendiri, dari hasil obrolan kami dengan mereka, sebetulnya memang mereka sudah mempersiapkan segala hal dan yang paling penting lagi mereka mempunyai tujuan yang bukan semata - mata bagi panitia penyelenggara tapi bagi membangun dan memperkuat komunitasnya. ENCORE tidak dibuat sebagai gigs yang mengumpulkan band dengan cara pendaftaran terbuka(seperti cara yang umumnya banyak dilakukan saat itu), tapi panitia menerima submisi demo dari masing - masing band. Demo tersebut dikurasi, lalu band yang terkurasi tersebut dibuatkan materi promo oleh panitia penyelenggara(foto dan video promo). Lagu - lagu yang terkumpul juga akan dijadikan sebuah album kompilasi dan lebih jauh lagi ada rencana dari pihak panitia kedepannya untuk meriliskan album dari salah satu band yang mereka pilih dan membantu distribusi album tersebut. Hal yang tidak jauh berbeda juga sebenarnya ada di tongkrongan penyelenggara gigs yang lainnya.
Memang tentu karena euforia musik underground sedang tinggi, sebenarnya efek domino juga berpengaruh, kita akan melakukan sesuatu karena terdampak/melihat orang lain melakukannya juga. Tapi dari hampir semua tongkrongan/penyelenggara gigs yang kami temui sesungguhnya semua sama - sama memiliki tujuan untuk komunitas. Karena komunitas adalah tempat mereka berasal, tempat mereka berproses, dan apa yang dihasilkan dari proses tersebut juga dikembalikan kepada komunitas. Ketika ada permasalahan, maka sesungguhnya jalan keluarpun berasal dari komunitas, dari usaha bersama untuk saling bantu mengatasi masalah yang dihadapi bersama - sama. Bagi kami, perizinan dalam sebuah gigs musik bisa saja cukup penting. Tapi perizinan bukanlah segala - galanya. Jika ada otoritas yang melarang komunitas underground untuk berekspresi dan berkegiatan yang menyenangkan, maka ancaman sesungguhnya adalah pihak otoritas tersebut!!!
Selepas tahun 2016 pola pengorganisiran gigs musik underground di Pontianak berubah. Fenomena baru yang bisa kita sebut apapun tergantung sudut pandang dan pola pikir kita dalam menyikapinya. Bisa kita sebut babak yang baru, karena memang pola pengorganisirannya berubah, venue kecil dieksplorasi, rundown dengan jumlah band sedikit, orang - orang yang beredar adalah mereka yang masih terus berusaha ditengah - tengah segala keterbatasan. Bisa juga kita sebut anti-klimaks jika sudut pandang kita bahwa ini adalah sesuatu kemunduran/penurunan, dari frekuensi gigs yang diadakan setiap minggu, panggung besar dengan rigging yang kokoh dan lighting megah, jumlah penonton ratusan bahkan ribuan, anak muda dengan kaos band berseliweran di hampir seluruh jalan kota hingga berubah ketika semua itu sudah hampir tidak kita temui lagi. Kenyataan yang terjadi adalah skena musik underground di kota Pontianak tidak pernah hilang ataupun mati.
Tur SIKSA KUBUR di Kalimantan Barat dan foto bersama teman-teman metalhead di Pontianak
Orang memang datang dan pergi, situasi bisa saja berganti, tapi dari apa yang kami perhatikan dan rekam bahwa aktivitas musik underground tidak pernah berhenti. Pada akhir 2016 saja teman - teman kolektif KTL666 bisa membantu SIKSA KUBUR(band death metal asal Jakarta) melaksanakan tour promo album dengan bermain gigs musik underground di lima kota di Kalimantan Barat. Kemudian juga ada sebuah gigs bertajuk TINY BORNEO DAY OUT #4 yang diselenggarakan dalam merayakan bersama - sama kunjungan dari teman band asal Singapore(THE MISFIT RAMONES). Dan jangan pernah lupakan teman - teman yang bergerilya didalam studio gigs juga masih tetap melaksanakan kegiatan bersenang - senangnya.
Gigs TINY BORNEO DAY OUT dalam rangka tur band dari Singapore : THE MISFIT RAMONES
Apakah dengan mengatakan hal seperti ini, kami mengesampingkan simpati terhadap teman - teman yang harus mendapatkan musibah karena gigs yang mereka selenggarakan harus dibatalkan karena terbentur masalah birokrasi perizinan? Tentu tidak, simpati dan juga doa untuk harapan penuh semangat kami berikan kepada mereka. Lalu apakah gigs - gigs yang terselenggara setelah batalnya gigs ENCORE itu dilaksanakan dengan perizinan dari kepolisian? Pertanyaan seperti ini bagi kami tidak perlu dijawab! Hal yang paling penting adalah gigs bisa diselenggarakan, semua hal direncanakan dan diperhitungkan, dan ketika pelaksanaan semua orang bisa bersenang - senang tanpa harus ada yang jadi korban. Sekali lagi kami katakan, birokrasi perizinan mungkin memang perlu, tapi birokrasi perizinan atau otoritas manapun tidak boleh dan semestinya tidak ada yang bisa menghalangi hak kita untuk bersenang - senang.
Studio gig DOSA RINGAN yang diorganisir oleh lingkar kecil teman-teman kolektif hardcore punk Pontianak di Studio Cultural
boleh dikatakan sebagai babak berkembang pesatnya skena underground di Pontianak. Tak hanya acara gigs yang ramai, rilisan-rilisan kaset band lokal pun bermunculan. Tak ketinggalan, media-media lokal yang digarap secara Do it Yourself (DIY) terbit meramaikan dunia perskenaan underground di Pontianak.
dalam produksi. Selain tak memiliki keuangan yang cukup pun pada tahun 2000an awal, tak banyak orang yang memiliki mesin printer yang apik. Rata-rata orang hanya memiliki printer merk Cannon yang ringkih dan bawel. Di edisi pertamanya, Aldiman memanfaatkan seorang kawannya untuk menyetak terbitan yang selanjutnya dicetak di kantor
Revival Crew AA yang akhirnya printer yang diguPada warsa 2007 hingga 2012 Tampilan cetak Revival Newsrockletter
Adalah Revival Newsletter, salah satu media DIY lahir pada tahun 2007. Bermula dari pesan singkat Iin salah seorang crew Nevermind Magazine kepada Aldiman Sinaga—yang kelak menjadi awak militan Revival Newsletter—mengajak untuk mendirikan terbitan. Aldiman yang memiliki minat mendalam dalam dunia tulis-menulis tak perlu berpikir panjang untuk menimbang ajakan tersebut. Ia pun langsung menyetujui ajakan itu dan lahirlah Revival Newsletter dengan format terbitan selebaran print berwarna.
Revival tak memiliki umur panjang, Ia hanya bertahan selama dua tahun. Sepanjang perjalananya yang
terseok-seok, Revival menerbitkan sebanyak tiga belas terbitan yang dimana setiap terbitannya memuat rilisan band, liputan gigs, dan selipan catatan-catatan gaya hidup anak muda Pontianak yang disebar di acara gigs dan distro-distro. Selain selebaran, Revival juga membagikan rilisan cd band-band lokal yang dibagikan secara gratis dalam setiap terbitan. Revival memiliki awak lima orang yakni: Iin, Aldiman, Emen, Eko, dan AA. Di setiap penerbitan edisinya, Revival selalu mengalami kesulitan
PT Telkom tempat ayah kawan Aldiman bekerja. Pasca penerbitan edisi pertama, Numerique Distro tertarik untuk menyeponsori Revival dengan bantuan dana sebesar Rp 100.000 per edisi.
Bantuan dana ini cukup membantu untuk biaya pembelian tinta printer dan kertas. Di edisi-edisi selanjutnya, proses menyetak berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pertama di rumah Iin hingga printer yang digunakan rusak. Selanjutnya berpindah ke rumah Aldiman yang juga bernasib sial. Printer yang digunakan untuk menyetak juga rusak. Kemudian berpindah ke rumah
nakan juga rusak. Sepanjang perjalannya Revival Newsletter telah merusak tiga printer.
Di akhir tahun 2008 hingga 2009 Revival mengalami penurunan intensitas dalam produksi penerbitan. Hal ini disebabkan oleh Iin yang pindah ke kota Melawi untuk bekerja. kemudian, salah dua penyebabnya tidak memiliki alat produksi untuk menyetak selebaran. Di penghujung usianya, Revival menerbitkan edisi terakhirnya dengan lembar fotokopian.
Media Independen Dalam Arus PONTIANAK BAWAH TANAH Tahun 2007 - 2017
Tampilan Cetak Pretty Power Zine
Setelah Revival Newsletter tutup usia, Pretty Power Zine muncul menjadi salah satu media dalam skena yang boleh dikatakan sebagai pelopor media pertama dalam skena underground Pontianak yang berperspektif feminis. Nama Pretty Riot Zine sendiri diambil dari kata “Pretty” yang berarti cantik. Mengambil Kata “cantik” di sini bermaksud untuk mendobrak batasbatas kecantikan yang selama ini dibangun oleh industri kecantikan dimana perempuan cantik harus berkulit putih, bertubuh langsing, dan sebagainya. Pretty Power zine
KOB Radio dan gigs yang mereka organisir
hendak menyampaikan: “apapun bentuk wajah, warna kulit, ciri fisik perempuan, mereka semua cantik”.
Berawal dari sekadar mengikuti arus zaman pada warsa 2008 ketika pergerakan underground menjadi budaya populer di kalangan anak muda, Rizka Edmanda mendirikan Pretty Power Zine untuk memerotes budaya patriarkis yang mengakar dalam setiap lingkup kehidupan dan secara khusus dalam lingkar skena underground Pontianak. Budaya cat-calling yang dianggap biasa, pelecehan seksual terhadap perempuan yang terjadi dalam arena moshpit dan lebih dari itu, Pretty Power Zine berdiri untuk menghancurkan anggapan perempuan sebagai kelamin nomor dua dalam skena. Namun sayang, di tahun 2012 Pretty Power Zine sudah tidak lagi eksis dikarenakan beragam faktor.
Semakin berlanjutnya tahun, teknologi, informasi, dan sosial media berkembang pesat. Hal ini mengakibatkan munculnya media dengan berbagai platform. Salah satunya KOB Radio. Media ini muncul pada tahun 2010 dengan platform siaran Radio melalui Twitter. Radio ini didirikan untuk mewadahi band-band indie di Pontianak. KOB Radio memiliki jumlah delapan awak. Di awal siarannya KOB Radio hanya sekadar memutar playlist lagu.
Seminggu setelah on air, KOB Radio mulai menemukan bentuk dalam siarannya. Adanya program siaran hingga memiliki Announcer. Salah satu program yang pernah ada di KOB Radio yaitu Indi Origin. Program ini dibuat untuk menjembatani band-band indi Pontianak agar lagunya bisa diperdengarkan dalam program Indi Origin. Caranya dengan melakukan submit. Awal diumumkannya program siaran ini melalui twitter, justru band dari USA dan Jakarta yang mensubmit. Seiring berjalannya usia KOB Radio, band-band Pontianak yang mensubmit demo mereka ke KOB Radio semakin banyak dan mengubah aturan main playlist dalam siaran.
Selain melakukan siaran, KOB Radio juga mengorganisasi gigs. Ada dua alasan mereka mengorganisasi gigs, pertama untuk mempromosikan KOB Radio, kedua untuk merangkul band-band dan skena di Pontianak. Gigs pertama yang diselenggarakan bertajuk Punklentine yang diadakan pada tanggal 14 Februari 2011 dengan mengajak Sukarame, Disculture, Intruder, dan Heniboy. Gigs kedua adalah Kaolanit Project. Gigs ini terinsipirasi dari Alternation. Harapan diadakannya Kaolanit Project ini agar antar genre dan skena bisa saling aware satu sama lain mengingat bahwa saat itu di Pontianak antar skena dan genre seringkali masi ada jurang pemisah satu sama lain. Band-band yang mengisi dalam acara Koalanit Project yaitu
PFM dan Secret Weapon.
Di tahun 2013, aktivitas KOB Radio berhenti total. Hal ini dikarenakan kesibukan masing-masing awak.
Ada yang harus melanjutkan study ke pulau jawa, ada yang harus mengurusi keluarga, dan ada yang harus sibuk dengan pekerjaannya untuk mencari pundi-pundi rupiah.
program Vista Rock di Radio Vista Pontianak
Terakhir di babak 2007 hingga 2017 media yang masih bertahan dan tetap konsisten hingga saat ini yaitu PTK Distribution. Berangkat dari niat Aldiman Sinaga, seorang Pegawai Negeri Sipil sekaligus penggerak dari PTK Distribution, untuk berjualan rilisan fisik hasil orderan dan barter melalui Facebook, My Space, dan lapak gigs, PTK Distribution lahir. Sadar tak punya bakat berdagang akhirnya Aldiman mengubah PTK Distribution menjadi record label yang dijalankan dengan prinsip Do it Yourself. Tercatat dari rentang waktu 2011 sampai 2018 PTK Distibution
LAPAK BACA ZINE DI GIGS
menelurkan 39 rilisan. Dalam setiap rilisan yang ditelurkan PTK Distribution selalu mengutamakan band dari Pontianak, Kalimantan Barat, atau band dari Kalimantan bagian lainnya.
PTK Distribution selalu menekankan Low Budget dalam memproduksi rilisan dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan fasilitas kantor tempat Aldiman bekerja. Seiring berjalannya waktu, PTK Distribution tidak hanya sekadar menjadi Record Label, PTK Distribution mewujud menjadi media skena yang mengulas musik-musik underground, menjadi corong informasi kabar mengenai skena dan musik underground melalui website, sosial media, Youtube, dan zine.
Skena dan musik underground di Indonesia memang tak akan bisa terlepas dari budaya perlawanan terhadap sistem ekonomi-politik yang eksploitatif. Jejak itu tampak pada dekade 90an dimana musik dan skena underground di Indonesia turut mengambil peran dalam perjuangan demokrasi menumbangkan rezim otoriter Soeharto. Warisan Budaya perlawanan dalam tradisi skena dan musik underground ini muncul dalam tubuh PTK Distribution. Selain berbicara mengenai musik dan skena, PTK Distribution juga menyuarakan perlawanan terhadap sistem yang menindas. Perlawanan ini muncul dalam terbitan zine PTK Distribution yakni Swara PTK. Dalam edisi 6 Swara PTK misalnya, PTK Distribution menerbitkan catatan perlawanan terhadap militerisme ataupun dalam edisi ke 4 dimana PTK Distribution menerbitkan catatan yang menelanjangi komersialisasi pendidikan.
Beberapa catatan media yang muncul dalam skena underground di Pontianak babak 2007-2017 ini boleh dikatakan penting mengingat bahwa media dalam skena underground merupakan sarana pengabaran informasi seputar musik underground dan menjadi tempat catatan kritis yang tak akan mungkin hadir dalam arus media-media mainstream.
TRADISI RILISAN FISIK
Dalam tradisi musik underground atau dalam apapun yang berkaitan dengan musik, tradisi rilisan fisik merupakan hal penting yang membuat musik terekam dan tidak akan pernah mati. Di Pontianak sendiri pada tahun 2007 hingga 2017 walaupun saat itu adalah masa di mana musik underground digandrungi seantero anak muda sekota Pontianak, membludaknya band-band underground dan kemunculan skena/ tongkrongan musik di Pontianak, namun tradisi rilisan fisik belum cukup membudaya dalam dunia perskenaan underground Pontianak kala itu.
Setidaknya ada beberapa alasan kenapa hal tersebut terjadi: pertama karena banyaknya band dan skena bermunculan pada rentang waktu 2007-2017 merupakan hasil dari trend yang berkembang, dan kedua dikarenakan minimnya edukasi mengenai pentingnya rilisan fisik dalam bermusik.
Seperti yang dituturkan oleh Bang Bian dari Numerique Store/ Parklife People dalam wawancara pada tanggal 8 November 2020: "rilisan fisik belom jadi budaya budak-budak pada saat itu, salah satu alasan kenapa hal itu terjadi minimnya edukasi soal perilisan fisik".
Kendati demikian bukan berarti rilisan fisik ataupun upaya-upaya untuk mempopulerkan rilisan fisik tak pernah muncul di Pontianak. Salah satu upaya yang coba dilakukan adalah dengan diselenggarakannya acara tahunan Record Store Day (RSD). RSD adalah peringatan dimana para penjual cd, pemusik, penikmat musik bertemu dalam satu ajang yang dibuat komunal untuk merayakan pagelaran musik, merekam musik, saling berbagi rilisan fisik, dan membangun jejaring antar skena musik. RSD sendiri dihelat di Pontianak setiap tahunnya sejak 2014. Salah satu bom meledaknya rilisan fisik dalam acara RSD itu sendiri adalah pada momen RSD yang diselenggarakan pada tahun 2016 di Sugeban Resto & Cafe. Setidaknya ada 21 band yang meluncurkan rilisan
Pontianak Rilisan fisik band era 2007-2017
11 Mei 2017 PONTIANAK RECORDS DAY IS AT NUMERIQUE CC.DVD April 201 J. JOH NO.71 PONTIANAK PONTIANAK CORUMENTER PENAMPILAN OLEH: LAPAK: PTK DISTRIBUTION PARSLEY ( PONTIANAK ) BLOODMERCH DENNIS LEGSTONE ( SANGGAU) PERFORMANCES BV: MCF ( PONTIANAK ) BERSANDAR PONTIANAK PEMMER CLUR LEMON TEA SUCK1967 PENYELEKSI MOSIN: FOXZY SCND PISTOL FOR MOMS RENDISIKUDABESI SIR ROONGY TOKO POSITIF L+] #rstpontianak2017 BALADA SINSA KAPLAS RUMAH LAPAK KASET AJO 19:00 JEPIN PUKUL 6.30 MALAM - SELESAI TILL 22:00 DA PANDU OLEN: RUHAM STER C GILANG ARALE NANDA Q DI DUKUNG OLEH: MM SOUND SYSTEM & TEMAN-TEMAN MTE dokumentasi Record Store Day Pontianak
fisik dalam acara tersebut.
Di luar dari RSD sendiri, iniasiiniasi merilis fisik juga muncul dari beberapa skena di tahun-tahun sebelumnya. Seperti hadir pada tahun
2007 hingga 2010. Kolektif Darah Muda misalnya yang merilis kaset kompilasi band-band melodic punk dalam tajuk Keep Stand to Punk Rock pada tahun 2010. Selain itu juga ada sebuah CD kompilasi yang dijual sepaket dengan tiket gigs musik underground yaitu Get Up Stand Up Compilation pada tahun 2007. Tak hanya itu, Morning Mist, Bloon Panik, dan Future Project juga merilis CD di tahun-tahun tersebut. Dan yang menarik adalah disekitaran tahun yang sama terjadi tradisi perilisan CD sampler yang menjadi paketan bonus dari sebuah Newsletter. Tradisi tersebut muncul oleh inisiasi Revival Newsrockletter yang terbit setiap bulannya disepanjang tahun 2007.
Pada rentang tahun 2011 sampai 2017 band Morning Mist meluncurkan rilisan CD mereka di bawah label Patriot Hatta Records yaitu album seperti Stand Under The Sun, Mendung Pagi Ini, dan Kilometer Akhir Menuju Surga. Masih dibawah label Patriot Hatta lalu ada SenjaHatta dengan albumnya Merintis Awal yang Baik. Untuk album kompilasi ada CD kompilasi band-band reggae dengan judul album Kumpul Kepul Reggae. Selain itu, ada pula EP self titled dari Future Concept dengan cover album bergambar pesawat terbang, album dari Young Disease berjudul Stereo of My Syncronight, dan Dear Sarah yang merilis EP pada tahun 2012 berjudul Forgotten and Rebels.
Selanjutnya perilisan fisik yang dilakukan oleh PTK Distribution, salah satu label record DIY Pontianak. PTK Distribution sendiri, menaruh perhatian lebih terhadap perilisan fisik tinimbang perilisan digital mengingat bahwa perilisan fisik mempunyai nilai yang lebih sosialistik. Dimana dari perilisan fisik jejaring skena bisa saling mengenal satu sama lain lewat tukar-menukar CD. Setidaknya dari rentan tahun 2011 hingga 2017 puluhan rilisan fisik band pernah ditelurkan oleh PTK Distribution. Seperti Sukarame dengan judul album Epileuge di tahun 2011, Rota dengan album Resurrection di tahun 2014, dan lain sebagainya.
"rilisan fisik belom jadi budak-budak budaya pada saat itu, salah satu alasan kenapa hal itu terjadi minimnya edu- Aktivitas produksi kasi soal perilisan fisik" 7 rilisan fisik PTK Distribution
Berjamurnya rilisan kaset dan merchandise band Underground dari pulau Jawa di Pontianak telah membawa dampak signifikan terhadap culture anak muda Pontianak. Setidaknya itulah yang terjadi pada warsa 2008 hingga 2012. Perhelatan gigs Underground tak pernah sepi dari penonoton, merchandise band Underground laris-manis di distro-distro, dan skena-skena kecil dari Punk, Hc, Metal, Melodic, etc bermunculan.
Besarnya atensi ini tanpa disadari membuka celah pangsa pasar di dunia skena underground yang mengakibatkan terkikisnya semangat akar rumput, kolektivitas, dan kesetaraan dalam skena musik underground di Pontianak. Harga tiket masuk acara gigs underground semakin mahal, munculnya fenomena strata band dalam gigs, dan perhelatan gigs dipandang sebagai lahan basah untuk mencari pundi-pundi rupiah.
Melihat hilangnya semangat Do It Yourself (DIY) dalam skena musik underground akibat perhelatan gigs yang semakin komersil, sekelompok anak muda yang digawangi oleh Aldiman PTK Distribution, Bayu Sukarame, Fitro Sukarame, Wahyu United Drinkers, dan lain-lain memelopori gigs bertajuk Monterado
Makan Fastfood Pakai Uang Korrupt dalam Suasana Sukarame yang berlangsung pada hari Sabtu, 14 Januari 2012 di Rumah Mimpi Taman Gitananda Pontianak. Gigs yang diadakan ini berangkat dari rasa muak, rasa jenuh terhadap iklim Skena underground Pontianak yang semakin lama mengikis semangat akar rumput dalam skena.
Monterado Makan Fastfood Pakai Uang Korrupt dalam Suasana Sukarame merupakan anti-tesis atas gigs yang selama pada warsa 2009-2012 sekadar mencari keuntungan tanpa memperdulikan semangat kolektivitas antar skena di Pontianak—seperti yang dikatakan Aldiman PTK Distribution—ekosistem skena yang menumbuhkan sikap individualistik.
Tiket masuk hanya masuk dibandrol sebesar sebesar 5000 Rupiah yang jomplang dengan harga tiket gigs yang biasanya diadakan yakni berkisar antara 15.000- 30.000 Rupiah. Pengorgnisasian gigs dilakukan secara kolektif dimana setiap band yang bermain mengambil bagian dari panitia acara.
Sebagaimana yang diungkapkan Bayu Sukarame dalam wawancara di Parklife, Pontianak pada tanggal 8 Agustus 2020:
“Acara ini tuh pengen membangun semangat kolektif yang pada masa-masa itu mulai hilang. Kolektif dalam pengertian bukan sekadar persoalan uang. Kita bikin acara sama-sama, mengambil bagian kerja sama-sama, bersenang bersama-sama”
Semangat kolektivitas yang otonom merupakan ruh dalam skena musik underground. Mengutip Luvaas dalam Exemplary Center and Music Elsewheres: on Authenticity and Autonomy in Indonesian Indie Music (2013), Otonomi yang menjadi prasyarat untuk dapat bermusik secara DIY dan bebas dari praktik komersial dan solidaritas antar skena merupakan hal penting dalam musik underground. Monterado Makan Fastfood Pakai Uang Korrupt dalam Suasana Sukarame membangun semangat itu tanpa perlu ada hirarkis bintang dalam band, tanpa perlu panggung megah, dan menjadikan gigs milik bersama—meminjam lagu Straight Answer—small show great friends.
Keberadaan acara musik didalam sebuah komunitas musik perannya sangat penting, walaupun tidak tepat juga jika mengatakan bahwa acara musik adalah satusatunya tolak ukur aktivitas ataupun eksistensi sebuah komunitas. Acara musik dalam komunitas underground di Indonesia biasanya disebut gig. Gig sebenarnya adalah istilah dari bahasa Inggris, sebuah istilah populer untuk menyebut sebuah pertunjukan musik dimana didalam kegiatan tersebut ada keterikatan dan interaksi antara penampil dan penonton. Dan begitulah, gig musik ini merupakan salah satu aspek yang mengisi aktivitas dan dinamika didalam komunitas musik. Di bagian awal zine ini, kami menempatkan gig musik (Selasa Bawah Tanah) sebagai sebuah momen penting penanda awal mula perjalanan komunitas musik underground Pontianak. Momen tersebut adalah gig SELASA BAWAH TANAH yang merupakan gig musik yang diusahakan dan diselenggarakan secara kolektif oleh komunitas musik underground yang saat itu ada di Pontianak. Selain sebagai momen dimana prinsip DIY dan kolektivitas dipraktikkan, gig tersebut juga menjadi momen dan tempat pertemuan anak muda yang tertarik pada musik dan kultur underground di Pontianak pada saat itu. Kedua hal tersebut sebetulnya kami lihat merupakan poin penting dan bisa dibilang yang utama dari penyelenggaraan gig musik di dalam ruang lingkup musik underground.
Berikutnya penyelenggaraan gig musik terus diusahakan. Di era 2000an awal walaupun akses untuk menyewa venue dan alat musik masih sulit, tapi gig musik sudah semakin banyak diadakan. Salah satu cara untuk mengakali keterbatasan venue ini adalah dengan membuat gig musik di tepi jalan.
Pada era 2007-2017 penyelenggaraan gig musik sampai pada titik
FENOMENA DALAM
datangi gig musik pada beberapa orang adalah momen pertama mereka mengenali komunitas ini. Ada yang datang ke gig karena tertarik ketika melihat poster promo yang ditempel di mading sekolah ataupun tembok distro, ada juga yang datang karena diajak teman ataupun saudaranya. Pada awal era ini bermunculan komunitas/ kolektif baru yang menyelenggarakan gig dengan berbagai nama gig yang mereka buat. Penonton yang hadir pun terus bertambah. Selain jumlah penonton begitu juga dengan jumlah band yang ikut tampil di sebuah gig musik terus bertambah. Pada beberapa poster gig di tahun 2007 hingga 2010 jumlah band yang tampil kami melihat jumlah band yang yang cukup klimaks didalam komunitas musik underground Pontianak. Bisa dibilang momen menGIGS DAN SEGALA tampil bisa mencapai 20 hingga 25 band untuk tiap gig musik. Jumlah band yang tampil ini tentu juga seiring dengan peningkatan jumlah pengunjung yang datang ke tiap gigs musik underground.
Kami mengamati titik awal peningkatan ini pada sebuah gig musik yang kami anggap merupakan momen paling penting dalam membawa sejarah perjalanan penyelenggaraan gig musik underground Pontianak ke tahap berikutnya di tahun 2017. Gig musik tersebut adalah ONE BECOME DISASTER yang diorganisir oleh teman - teman kolektif Flip Flop Skateboarding. Memang yang terlihat di venue saat itu(Auditorium UNTAN) adalah kontras antara besarnya ruangan venue dengan jumlah orang yang ada didalamnya. Tapi menurut kami, pada gig inilah mulai bertambah dan beragam orang - orang yang hadir di gig musik underground. Salah satu penyebabnya tentu saja karena penyelenggara gig ini dan juga band - band yang main juga bisa
PONTIANAK BAWAHTANAH
tidak tepat juga jika mengatakan bahwa acara musik adalah satu-satunya “ “ tolak ukur aktivitas ataupun eksistensi sebuah komunitas
dibilang orang - orang yang baru turut ambil bagian dalam aktivitas komunitas musik underground di Pontianak saat itu. Orang - orang yang baru tentu juga akan membawa teman - teman yang baru juga pada penyelenggaraan gig musik berikutnya. Hal ini bagaikan efek domino yang terus terjadi, dimulai dari tahun 2007 hingga tahun 2017 dimana kami nanti akan menyelesaikan cerita kami didalam zine ini.
Dalam setiap perubahan akan membawa pula dampak positif dan negatif, perubahan membawa kemajuan tapi juga menimbulkan permasalahan - permasalahan baru. Dalam penyelenggaraan gig musik underground permasalahan juga kerap terjadi.
Dengan banyaknya orang yang hadir dalam sebuah gig musik underground, hal ini tidak hanya menambah keseruan yang terjadi didalam venue, tapi juga yang tidak terhindari gesekan - gesekan satu sama lain dan berujung saling emosi. Akhirnya perkelahian pun kerap terjadi didalam penye-
lenggaraan sebuah gig musik underground. Ada banyak penyebabnya, biasanya karena saling emosi karena terjadi benturan ketika berada di moshpit(area/kumpulan orang yang berjoget sambil menonton/mendengarkan penampilan band), hingga yang pernah terjadi juga perselisihan antar tongkrongan karena sentimen fanatisme pada musik ataupun sub kultur yang mereka sukai. Kami melihat ada banyak perkelahian terjadi, bahkan hingga mengganggu jalannya gig musik tersebut. Hal ini tentu sangat merugikan, merugikan pengunjung yang datang dengan niat untuk menonton, dan juga merugikan pihak penyelenggara yang sudah berusaha dan melakukan banyak persiapan agar acara bisa berjalan dengan baik dan lancar. Tidak jarang ketika terjadi perkelahian, acara harus dihentikan sementara, sementara ini akan mengganggu jalannya rundown untuk band - band yang akan tampil, dan tentu akan berpengaruh kepada durasi waktu pelaksanaan. Biasanya gig musik underground yang dilaksanakan di sebuah ruang pertunjukan, aula,
ataupun auditorium diberi batas waktu pemakaian oleh pengelola. Dan sementara sudah ada banyak band yang harus tampil, mereka sudah mempersiapkan diri, sudah mengeluarkan uang untuk latihan, untuk membayar kolektifan.
Kami selalu menanyakan tentang perkelahian yang kerap terjadi ini kepada narasumber yang kami temui dalam penyusunan zine ini. Salah satu narasumber yaitu Asep (personil Jerones 343 dan anggota kolektif Parabajing) menceritakan bahwa memang perkelahian baru sering terjadi dalam penyelenggaraan gig musik underground diatas tahun 2007. Dan Ojek menuturkan bahwa perkelahian seperti ini sebenarnya hanyalah masalah individu dengan individu, namun dampaknya akan meluas hingga ke kolektif/komunitas/tongkrongan karena mereka yang berkelahi itu juga biasanya adalah orang yang aktif atau anggota dari salah satu komunitas/ tongkrongan tertentu. Dampak buruk yang lebih luas kepada komunitas, inilah yang sangat merugikan dan disayangkan dari perkelahian - perkelahian didalam gig musik underground. Tidak jarang akhirnya menjadi sebuah cap buruk / stigma kepada tongkrongan tertentu, walaupun belum tentu komunitas tersebut ataupun mereka yang ada didalam komunitas tersebut yang merupakan penyebab dan pelaku utama dari perkelahian. Hal ini kami lihat melalui apa yang diceritakan oleh Nyonk dan Boca (keduanya kerap nongkrong bersama tongkrongan street punk di Halte Pancasila dan juga kolektif Parabajing). Kami melihat kemudian bahkan permusuhan/perkelahian ini juga meluas bahkan tidak hanya ketika terjadi penyelenggaraan gig musik saja. Seperti yang pernah terjadi dalam fenomena/kasus “Punk/ Hardcore vs Emo”. Sesuatu yang sesungguhnya jika diingat dan dilihat kembali merupakan hal yang sangat lucu, memalukan, dan sebenarnya terjadi karena emosi sesaat dan proses pemahaman yang belum sempurna. Akibat dari kejadian tersebut akhirnya bukan hanya mereka yang pernah berkelahi didalam gig musik saja yang turut ikut dan terpancing emosi nya, tapi hampir seluruh orang yang ada didalam lingkar komunitas tersebut. Namun hal ini tidak berlangsung lama, namun bukan berarti perkelahian didalam gig musik underground hilang begitu saja, karena sesungguhnya hal tersebut masih kerap terjadi bahkan hingga hari ini. Beberapa orang menyadari kesalahannya
dan membenahi diri, beberapa yang lain pada akhirnya juga tidak aktif atau menghilang dari komunitas. Intinya memang perlu kesadaran indvidu untuk mengatasi hal ini, namun perlu digerakkan secara kolektif. “Solusinya ya itu, aku cabut(dari tongkrongan), lalu yang lain jadi tenang, dari jeruju semua juga angkat kaki. Aku gak bise stay disini, kalo masih kondisi seperti ini, karna kalo satu berbuat semua pasti kena. Mungkin bukan aku ato kawan aku, tapi semuanya juga akan kena imbas nye. Karna kondisi udah gak kondusif”, begitu yang dituturkan Nyonk mengenai bagaimana akhirnya dia dan teman - temannya berusaha mengelola diri dan mengelola situasi yang sudah tidak nyaman akibat dari perkelahian yang kerap terjadi.
Hal lain yang kami soroti ketika komunitas ini semakin berkembang dan pengunjung gig musik underground semakin ramai adalah kesadaran untuk membeli tiket masuk. Memang gig musik underground didasari oleh hobi, keinginan untuk bersenang - senang, dan juga semangat yang tanpa mencari keuntungan finansial. Tapi hal ini tidak berarti dalam menyelenggarakan sebuah gig musik underground juga tidak membutuhkan modal uang, karena masih ada biaya operasional yang harus dibayarkan oleh penyelenggara acara seperti, biaya sewa venue, biaya sewa alat
musik dan sound system, biaya konsumsi, dan biaya - biaya lainnya yang seringkali tidak terduga. Untuk itu semualah maka perlu ada tiket masuk dengan nominal harga tertentu yang dikenakan kepada pengunjung. Dan seharusnya pengunjung pun memahami hal ini, bahwa harga yang mereka bayar dari tiket masuk juga akan menjadi manfaat yang mereka rasakan sendiri melalui acara yang berjalan lancar dan band - band yang tampil yang mereka tonton diatas panggung.
Namun seringkali kami melihat tidak semua pengunjung, dan bahkan band - band yang tampil serta penyelenggara acara pun belum memiliki pemahaman akan hal ini. Ada banyak pengunjung yang berusaha untuk bisa mengakali agar mereka bisa masuk dan menonton gig musik tanpa harus membayar tiket masuk. Maka terjadilah pemalsuan tiket, berusaha ikut masuk nimbrung bersama rombongan band yang akan tampil, ada juga yang berusaha untuk masuk kedalam sebuah gig dengan membayar secara rombongan, dll. Tidak jauh berbeda di sisi penyelenggara dan juga band yang tampil. Ada band yang akan tampil didalam sebuah gig musik, mereka membawa jumlah rombongan yang sangat banyak ketika akan masuk kedalam venue dengan berkedok crew, massa, teman, dll.
Sementara di pihak penyelenggara pun menyikapinya dengan terlalu permisif dengan hal ini, mereka membiarkan, dan bahkan turut menfasilitasi. Hal ini tidak sehat untuk komunitas, karena jika terus dibiarkan, maka tidak ada kesadaran, pemahaman, dan rasa saling memiliki dan menghargai komunitas ini. Mungkin penyelenggara gig musik underground beranggapan bahwa band tersebut ataupun rombongan - rombongan tersebut dapat meramaikan acara yang mereka buat. Namun masalah tidak selesai disitu, karena ini akan membawa kepada masalah lainnya yang kami sebut sebagai fenomena “pamflet berkasta”. Mungkin ada anggapan bahwa beberapa band memang memiliki banyak penggemar, dan maka dari itu ketika mereka tampil di sebuah gig musik maka akan mendatangkan banyak pengunjung. Atau seringkali yang kami lihat adalah, beberapa band tersebut sebenarnya juga tidak memiliki kualitas tersebut, tidak memiliki banyak penggemar, bahkan sebenarnya tidak memiliki kualitas yang baik dalam penampilan diatas panggung. Pamflet berkasta yang kami maksud adalah didalam sebuah pamflet promosi gig musik underground, terdapat daftar nama band yang dikategorikan sebagai guest star, ada yang dikategorikan sebagai special performance, ada juga yang masuk dalam kategori performing. Apapun maksud dan tujuannya, bagi kami hal ini cenderung berdampak tidak sehat kepada komunitas. Jika memang ada band yang mampu menunjukkan kualitasnya, baik melalui lagu yang mereka buat, penampilan panggung yang mereka lakukan, attitude yang mereka tunjukkan
dalam keseharian, kita bisa mendukung mereka melalui banyak cara misalnya dengan mengapresiasi karya mereka, membeli album fisik mereka, membeli merchandise mereka. Atau jika memang ketika mereka tampil dalam sebuah gig musik dalam posisi yang setara dengan band lainnya, maka alangkah lebih baik kita datang dan membeli tiket, lalu berikan apresiasi ketika kita menonton mereka.
Kompleksitas permasalahan dan fenomena yang ada dibalik penyelenggaraan sebuah gig musik underground tidak selesai disitu saja. Selain jumlah penonton, jumlah band, jumlah komunitas yang menyelenggarakan gig musik underground juga semakin bertambah. Seringkali permasalahan - permasalahan yang terjadi dalam penyelenggaraan gig musik ini menjadi momok yang harus diterima oleh penyelenggara acara tersebut. Komunitas penyelenggara acara menjadi pihak yang disalahkan, dianggap tidak becus, atau berbagai tuduhan lainnya. Tidak hanya karena ada perkelahian didalam gig yang mereka selenggarakan, atau karena rundown acara yang tidak berjalan baik, bahkan bisa juga tuduhan - tuduhan tertentu karena penyelenggara gig musik tersebut bekerja sama dengan sponsor dari perusahaan ataupun brand produk tertentu. Salah satu fenomena yang kami ingat dan kami soroti adalah fenomena “boikot parabajing”. Nyonk bercerita mengenai hal ini “waktu itu kita bawa band dari bandung, buda cari sponsor utk bikin acara. Tapi ada buda yang gak setuju. Trus caranya, malah bikin selebaran utk boikot acara. Tapi caranya gak asik, mereka menghalang pintu masuk, supaya gak ada buda yang datang masuk ke acara (sabotase). Nah, karna aku waktu itu penanggung jawab pintu masuk. Akhirnya ribut. Panjang urusannye, sampe bertahun tahun”. Padahal apapun keputusan yang diambil oleh penyelenggara gig musik pasti mereka memiliki latar belakang alasan yang kuat untuk hal terse-
Pamflet berkasta yang kami maksud adalah didalam sebuah pamflet promosi gig musik underground, terdapat daftar nama band yang dikategorikan sebagai guest star, ada yang dikategorikan sebagai special performance, ada juga yang masuk dalam kategori performing.
but. Dan kalaupun memang kita tidak setuju dengan keputusan tersebut, sebetulnya dalam komunitas yang harus didahulukan adalah diskusi langsung dan bertukar pikiran. Begitu juga dengan kesalahan - kesalahan metode ataupun ketidakdisiplinan dalam penyelenggaraan gig musik underground misalnya. Memang hal tersebut merupakan sebuah kesalahan, tapi tentu saja jika kita memakai pola pikir bahwa kita semua ada didalam komunitas dan memiliki kecintaan yang sama terhadap sub kultur dan musik underground, maka teguran, kritikan, dan saran yang diberikan untuk tujuan memperbaiki dan membangun jauh lebih penting. Lino (anggota kolektif Antirapi dan Permission Skateboarding) memiliki saran yang baik untuk hal ini “Dan saya mau bilang bahwa dari awal harus ada respect satu sama lain tanpa melihat kenal ato gak kenal nya, tapi memang karena respect sama musik dan tujuan untuk menikmati musik”.
Pada dasarnya sebuah perubahan pasti memiliki dampak baik dan buruk. Sebuah kemajuan sekalipun tidak hanya membawa manfaat, tapi juga konsekuensi permasalahan - permasalahan baru. Semakin berkembangnya komunitas ini, semakin banyak orang yang terlibat didalamnya, sesungguhnya membawa dampak - dampak yang baik. Ada banyak orang yang mau saling bantu membantu, ada banyak band yang hadir dengan karya - karya yang baru, ada banyak penyelenggara acara yang mengeksplor venue - venue yang baru untuk tempat penyelenggaraan gig musik. Kalau memang terjadi permasalahan diantara semua itu, maka kita bisa kembali kepada kalimat yang sudah diutarakan oleh Lino diatas.