TED KACZYNSKI
ESAI, WAWANCARA DAN
KORESPONDENSI
ted kaczynski: esai, wawancara dan korespondensi
Penyunting: Bima Satria Putra Perancang Sampul: Undave Lab Penata Isi: Afterchaos
Cetakan Pertama, Oktober 2022 viii+282 halaman 14x21 cm
Penerbit: Pustaka Catut
Facebook: Pustaka Catut Instagram: @pustakacatut Surel: [email protected]
___________________________________
Hak cipta bebas dan merdeka. Setiap makhluk dianjurkan dan dinasehatkan untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, serta menyebar isi serta materi-materi didalamnya. Versi digital buku ini gratis seperti wabah. Dapat diunduh dari:
**https://archive.org/details/@arsipbawahtanah**
TED KACZYNSKI
ESAI, WAWANCARA DAN
KORESPONDENSI
Penyunting: Bima Satria Putra
“Revolusi Industrial dan konsekuensinya telah menjadi malapetaka bagi umat manusia." — Theodore Kaczynski
DAFTAR ISI
Pengantar: Ted Kaczynski: Teroris dari Harvard
| dan Bom Kata-katanya | 1 | |
|---|---|---|
| Bagian Satu: Esai | 1/ Moralitas dan Revolusi 2/ Kehidupan Primitif yang Sebenarnya: Kritik Terhadap Anarko-Primitifisme 3/ Muslihat Rapi Sistem yang Berkuasa 4/ Jalan Menuju Revolusi 5/ Membela Kekerasan 6/ Serang di Tempat yang Mematikan159 7/ Kapalnya Orang-Orang Bodoh | 13 31 119 141 151 175 |
Bagian Dua: Wawancara
8/ Wawancara Ted Kaczynski dengan Theresa Kintz 185
9/ Wawancara Ted Kaczynski dengan John Jay Sentinel 197
10/ Wawancara dengan Blackfoot Valley Dispatch 209
Bagian Tiga: Korespondensi
11/ Jawaban Terhadap Beberapa Komentar yang Terbit di Green Anarchist 229
12/ Kumpulan Surat Ted Kaczynski kepada David Skrbina 239
13/ Surat Ted Kaczynski kepada Anonymous Jerman 263
1
PENGANTAR
Ted Kaczynski: Teroris dari Harvard dan Bom
Kata-katanya
oleh Bima Satria Putra
SEJAK waktu yang cukup lama, saya telah diasosiasikan dengan anarkis hijau Amerika Serikat, Murray Bookchin dan dilabeli sebagai “bookchinis”, karena saya menerjemahkan kumpulan esainya dan mengkampanyekan beberapa gagasannya di Indonesia. Sementara saya tidak pernah mencoba menolaknya, saya selalu risih karena label itu kadung “mewakili secara paksa” sikap dan pandangan saya terhadap isu masyarakat, ekologi dan teknologi. Kenyataannya, saya lebih dahulu mengenal Ted Kaczynski dan lebih awal menerjemahkan serta menerbitkan ulang naskahnya sejak saya aktif dalam Federasi Mahasiswa Libertarian (FML) yang berumur singkat. Terkadang saya dituduh tidak memiliki ketidak- jelasan teoritik. Tetapi lebih tepatnya, posisi saya melintasi beberapa tokoh dan melompat dari satu gagasan ke gagasan yang lain, mencomot yang satu dan memadukannya, tanpa sempat mengar- tikulasikannya secara tertulis.
t e d k a c z y n s k i | 2
Bagi saya pribadi, Bookchin dan Kaczynski memiliki keunggulan masing-masing. Saya juga memiliki kesetujuan dan ketidaksetujuan terhadap keduanya. Kaczynski punya alasan yang kuat untuk menghancurkan masyarakat industri (yang saya setujui), tetapi ia tidak terlalu ambil pusing untuk masyarakat apa yang hendak ia ciptakan. Bookchin memiliki usulan yang kongkrit (yang saya setujui) tentang konfederasi demokratik, dan saya pikir ini adalah jenis organisasi politik paling ideal yang akan sesuai dengan masyarakat ekologis. Tetapi Bookchin mengusulkannya dalam kerangka mempertahankan sistem teknologi dan industri hari ini. Ia memandang teknologi sebagai netral dan tidak berbahaya. Kaczynski sebaliknya, berpendapat bahwa teknologi adalah daya dorong utama perubahan sejarah dan masyarakat, dan perkembangannya telah menyeret kita semua dalam kehancuran. Kita telah melewati suatu masa dimana teknologi pertanian dan transportasi skala kecil diciptakan secara tidak sengaja atau sengaja untuk mempermudah aktivitas manusia. Kita juga telah melewati masa dimana para penemu adalah ilmuwan nyentrik Eropa abad 17 yang menghabiskan waktu dirumahnya untuk me- ngotak-atik perkakas yang aneh, yang punya idealisme. Hari ini, setiap penemu dan ilmuwan teknologi bekerja di laboratorium perusahaan raksasa, dan seperti diyakini Bookchin, perkembangan teknologi melayani kepentingan ekonomi kelas yang berkuasa. Para ilmuwan patuh pada proyek jutaan dolar yang ditentukan oleh segelintir komisaris dan pemegang saham. Targetnya adalah untuk meyakinkan jutaan manusia sebagai target pemasaran bahwa mereka membutuhkan alat dan teknologi tertentu, seringkali dengan alasan kemajuan, budaya konsumerisme atau gengsi. Karenanya, perbedaan utama lain antara Bookchin dan Kaczynski adalah penekanan tentang siapa musuh yang hendak dilawan. Bookchin berangkat dari tradisi Marxis; ia seorang kiri
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 3
tulen. Ia percaya bahwa kapitalisme bertanggungjawab terhadap perkembangan teknologi. Musuh utama yang harus dilawan adalah negara dan kapitalisme. Sementara itu, Kaczynski dapat dikategorikan sebagai teoritikus radikal pasca-kiri. Musuh utamanya, dalam bahasanya sendiri, adalah “sistem tekno-industrial”. Kaczynski berulang kali di hampir tiap kesempatan dalam tulisannya menyerang hampir seluruh gagasan kiri, termasuk anarkisme, dan bahkan anarkisme hijau dan anarko-primitifisme yang kadang di- tautkan dengan Kaczynski. Apa yang sama dari keduanya adalah latar belakang akademik- nya. Bookchin menghabiskan hampir separuh hidupnya dengan mengajar dan menulis di beberapa lembaga pendidikan alternatif. Kaczynski, mungkin anda sudah tahu, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Harvard pada usia 16 tahun untuk jurusan matematika. Ia mendapatkan gelar doktor pada usia 25 tahun dan menjadi asisten profesor di Universitas California, Berkeley, hanya untuk mengumpulkan uang dan mengasingkan diri dengan hidup di pondok tanpa aliran listrik dan air di pinggiran kota Lincoln, Montana. Selama hampir dua dekade kemudian, dia melakukan pemboman yang menewaskan tiga orang dan melukai 26 orang sejak 1975 hingga 1995. Ia menarget para ilmuwan biogenetik, akademisi, pengacara, eksekutif maskapai penerbangan, dan bahkan pemilik toko komputer. Terlepas dari ketenarannya karena kasus pemboman, karya tu- lisnya mungkin memiliki daya ledak yang jauh lebih kuat lagi, semenjak hal itu secara langsung mengekspresikan perjuangan Kaczynski yang sesungguhnya. Meski gagasan anti-teknologi dan anti-peradaban telah dimulai sejak awal sebelum Kaczynski, tetapi dirinyalah yang berhasil membawa gagasan radikal tersebut ke tingkatan yang jauh, amat jauh, lebih populer. Ada beberapa gagasan Kaczynski yang terlampau penting un-
t e d k a c z y n s k i | 4
tuk dilewatkan. Misalnya, selama ini dipercayai (salah satunya oleh Bookchin) bahwa tatanan masyarakat dapat runtuh sepenuhnya karena sistem kapitalisme, dengan pertumbuhan ekonomi tanpa batasnya, akan mengeruk sumber daya bumi lebih jauh dan menciptakan kerusakan lingkungan yang lebih luas. Oleh karena itu kita harus menghancurkan negara dan kapital dalam sekali hentak untuk menghentikan kerusakan lingkungan dan dengan demikian menyelamatkan masa depan planet beserta isinya. Sebaliknya, Kaczynski berpendapat bahwa kerusakan lingkungan adalah sesuatu yang juga dihindari oleh sistem tekno-industrial: “Sistem, demi kelangsungan hidupnya sendiri, tidak dapat membiarkan degradasi lingkungan terlalu jauh.” Sistem hari ini mulai mewacanakan ekonomi sirkular (circular economy), yaitu model produksi dan konsumsi, yang melibatkan penggunaan ulang bahan dan produk yang ada selama mungkin. Ini menyiratkan pengurangan limbah dan eksploitasi bahan baku mentah dari bumi seminimal mungkin. Kaczynski benar bahwa sistem akan mengkampanyekan pelestarian lingkungan agar dirinya tetap bertahan. Kapitalisme mulai tampak lebih ramah lingkungan, meski ini bisa jadi sebagian besar adalah propaganda atau karena desakan dari faktor produksi dan strategi pemasaran ketimbang komitmen yang nyata. Apakah ini berhasil, atau kapitalisme hijau terlampau terlambat untuk menghentikan kerusakan yang telah disebabkan sebelumnya, saya tidak tahu. Ketika wawancara pertama dilakukan pada 1999, Kaczynski tampak memiliki lebih banyak pertanyaan dan rasa penasaran. Dari esai-esai dan surat-menyuratnya kemudian, kita tahu bahwa ia mulai semakin banyak membaca buku-buku antropologi, sejarah hingga ekonomi yang mempersenjatai pikirannya (dari beberapa esai kita tahu bahwa Kaczynski mengandalkan sumber yang sama). Tidak banyak yang berubah. Pikirannya konsisten dan ma-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5
lah semakin matang. Tetapi jelas ia tidak berbagi landasan kritik yang sama dengan gerakan kiri. Saya menyarankan supaya ketika berurusan dengan teks Kaczynski, kita harus sama hati-hatinya seolah kita berurusan dengan bomnya. Kaczynski mungkin pada awalnya simpatik terhadap anarkisme, atau dia senang ketika melihat bahwa, ternyata ada kelompok politik anarkisme hijau yang memiliki banyak kesamaan gagasan dengannya tentang teknologi dan anti-peradaban. Pada akhirnya, ia berulangkali mengkritik gerakan anarkisme dan bahkan dalam wawancaranya dengan John Jay Sentinel, Kaczynski secara terbuka menyatakan bahwa menyerang kapitalisme, sentralisasi (jika ini secara politik, ini berarti negara, sebagai pemusatan kekuasaan dan pemerintahan), birokrasi dan globalisasi adalah sia-sia dan tidak perlu, karena beberapa alasan. Kaczynski dalam banyak hal ada benarnya. Dalam responnya pada majalah Green Anarchist, ia mengatakan bahwa “penghapusan teknologi modern tidak serta merta menghancurkan negara, tapi itu akan sangat mengurangi kekuatan negara.” Sejarawan dan antropolog James C. Scott, yang telah mencurahkan waktu untuk mengkaji masyarakat tanpa negara di dataran tinggi Asia Tenggara, memberikan kesimpulan yang sama tentang bagaimana negara-bangsa modern, dibandingkan negara kuno, secara efektif berhasil menguasai dan mengendalikan lebih banyak wilayah akibat teknologi transportasi dan komunikasi. Akibatnya, jika sistem tekno-industrial dihancurkan, maka negara akan lumpuh atau kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah dan taklukkannya. Secara kontroversial Kaczynski menyarankan agar kita tidak memusingkan isu yang diperjuangkan “kiri” (sebutan Kaczynski) seperti persoalan ketidakadilan gender, rasisme, hak-hak hewan, buruh dan sebagainya. Bukan berarti ia tidak peduli pada perempuan, ras minoritas atau hewan, tetapi ia memandang bahwa isu
t e d k a c z y n s k i | 6
ini akan mengalihkan perhatian para revolusioner dari permasa- lahan utama manusia dan planet dari malapetaka yang disebabkan oleh sistem tekno-industrial. Meski tampak radikal, sebenarnya apa yang diperjuangkan kelompok “kiri” sama sekali tidak berbahaya bagi sistem dan bahkan tidak akan menumbangkan sistem. Kalau feminisme dan gerakan anti-rasialisme tidak berbahaya, lalu apa? Apa yang akan menumbangkan sistem, menurut Kaczynski, adalah menyerang tepat di titik paling mematikan, seperti beberapa industri (tenaga listrik, komputer, komunikasi, propaganda) dimana sistem tidak akan hidup atau berjalan efektif tanpanya. Bagi saya, Kaczynski terlalu menggampangkan peranan yang dimainkan dari dampak langsung dan tidak langsung dari gerakan yang ada terhadap sistem industrial. Sementara beberapa isu memang tidak secara signifikan berbahaya, isu lain memberikan dampak yang meluas. Misalnya, pada 2013 salah satu kompleks pabrik tekstil terbesar di Bangladesh, yang dimiliki beberapa korporasi dan merek terkenal -yang juga terkenal karena eksploitasi pekerjanya, dibakar habis oleh para buruh yang marah atas kabar penembakan polisi terhadap rekan mereka. Kerusakan terhadap satu sektor atau kompleks tertentu mungkin tidak akan meroboh- kan sistem tekno-industrial, tetapi jika kita terus berdebat tentang apakah tindakan ini atau itu sungguh menyerang sistem, kita bisa menjawab bahwa tidak ada tindakan yang benar-benar berhasil meruntuhkannya, termasuk tindakan Kaczynski. Kaczynski tidak melihat bagaimana banyak orang dapat berpartisipasi dalam gerakan anti-teknoindustrial. Strategi Kaczynski sangat khas berasal dari masyarakat “negara dunia pertama”, dimana pusat kekuasaan dan ekonomi global berada. Kaczynski berpendapat bahwa isu penebangan pohon misalnya, adalah isu sampingan. Tetapi bagi masyarakat adat di Papua, ini adalah tentang hidup dan mati. Membakar traktor dan menyerang pekerja
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7
penebangan pohon tidak akan menghancurkan sistem, tetapi ini memancing kampanye yang efektif menyerang nilai mendasar sistem. Lagipula, apakah kita sungguh akan membayangkan suku-suku di Papua menyerang kantor pusat korporasi kayu atau tambang di Amsterdam? Tentu saja tidak. Maksud saya, tiap orang memiliki peran tertentu untuk dimainkan, sesuai dengan wilayah- nya masing-masing. Para revolusioner di Eropa dapat menyerang pusat atau pimpinan yang menjadi otak sistem industrial berjalan, orang-orang terpencil yang tidak bermaksud untuk menghancurkan sistem tetapi hanya sekedar mempertahankan tanah ulayatnya berperan penting untuk mencegah perluasan kerusakan langsung di lapangan. Di wilayah urban lain yang mana penduduknya sekedar menjadi konsumen, para revolusioner dapat menyerang sistem industrial di bagian paling hilir: distribusi dan pemasaran, dan kantor cabangnya. Alangkah bijak jika gerakan anarkis mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi terbuka tentang dia, gagasan dan meto- denya. Ia tidak pernah menyinggung perubahan iklim, tetapi jelas ancaman krisis iklim dan kepunahan massal telah membuat teks Kaczynski terlampau relevan bagi gerakan anarkis hari ini. Kumpulan tulisan ini saya terjemahkan agar audiens di Indonesia tidak sekedar lebih paham terhadap gagasan Kaczynski, tetapi juga agar meluruskan beberapa kesalahpahaman yang selama ini beredar. Misal, selama ini banyak orang mengira bahwa hanya karena ia dapat dikategorikan secara teoritik sebagai seorang pasca-kiri, ia menghindari upaya pengorganisasian massa. Ia memang tidak melakukannya. Ia hidup menyendiri dan menikmati kehidupan semacam itu. Tetapi ia menganjurkannya. Ia membayangkan, dengan istilah yang sangat kiri, “revolusi terhadap sistem tekno-industrial” oleh “gerakan revolusioner.” Ia menganjurkan supaya orang-orang yang tersadar secara terorganisir menyerang
t e d k a c z y n s k i | 8
sistem tersebut dengan efektif dan efisien. Meski ia anti-teknologi dan secara keseluruhan anti-peradaban, Kaczynski bukan berarti menganjurkan ketiadaan teknologi sama sekali dan kembali menggunakan tulang dan batu (alat-alat sederhana ini bahkan adalah “teknologi”). Dalam suratnya, Kaczynski mengatakan bahwa teknologi skala kecil tidak terhindarkan. Dalam istilah yang populer saat ini, itu berarti ia tidak mempermasalahkan teknologi tepat guna (appropriate technology) yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, berskala relatif kecil, padat karya, hemat energi, dan terkait erat dengan kondisi lokal. Ini semua adalah karakter untuk teknologi sederhana ramah lingkungan. Kaczynski berpikir adalah hal mustahil untuk melarang orang-orang menggunakannya. Kaczynski juga tidak pernah berpikir untuk memaksakan orang berhenti dari pertanian. Tentu saja, Kaczynski telah mempraktekkan gaya hidup primitif, meski ia menolak dan mengkritik anarko-primitifisme. Tetapi ia berhasil menilai masyarakat primitif lebih adil ketimbang sebagian besar anarko-primitif, bahwa masyarakat pemburu dan peramu yang ada dalam sejarah tetap memiliki hierarki dalam batas tertentu dan tidak adil secara gender. Ia memang tidak mengg- lorifikasi secara berlebihan, tetapi dalam suratnya, ia menyatakan bahwa masyarakat pemburu-peramu yang nomaden adalah tatanan sosial ideal yang ia sodorkan. Beberapa tulisan Kaczynski telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia hampir satu setengah dekade yang lalu oleh para anarkis dan anti-otoritarian, yang arsipnya, cetak dan di internet, masih beredar dan dibaca hingga saat ini. Saya tinggal mengum- pulkannya, lalu menyuntingnya ulang tanpa izin, sebab saya asumsikan siapapun yang menerjemahkannya akan dengan senang hati saat tahu bahwa tulisan Kaczynski diterbitkan ulang ke pembaca yang lebih luas. Saya banyak lakukan perbaikan disana-sini,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9
karena ada beberapa terjemahan yang buruk. Selebihnya, hampir separuh dari tulisan dan surat di buku ini saya terjemahkan sendiri. Sebagian besar dari buku antologi Technological Slavery: The Collected Writings of Theodore J. Kaczynski… khusus untuk surat kepada David Skrbina, saya telah memenggal banyak bagian dan hanya menerjemahkan tulisan Kaczynski yang dapat memperkaya pembahasan dalam buku ini ketimbang menerjemahkan semuanya padahal beberapa topik telah dibahas. Tulisan lain sebagian besar diambil dari koleksi situs The Anarchist Library. Sebenarnya, saya ingin menyusun semuanya secara kronologis sesuai dengan tanggal tulisan itu dibuat, supaya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai perkembangan gagasannya yang sesungguhnya. Tetapi melacaknya cukup sulit mengingat beberapa tulisan yang beredar tidak mencantum kapan tulisan atau surat itu dibuat. Jadi, saya memilih menyusunnya menjadi tiga kategori, satu untuk esai, lalu wawancara dan surat-menyuratnya. Kaczynski sebenarnya telah menulis lebih banyak tulisan dan surat, yang semuanya dihibahkan kepada perpustakaan Universitas Michigan. Dari yang beredar di internet, saya hanya memastikan telah menerjemahkan tulisan yang cukup mewakili dan tidak mengulang-ulang pembahasan yang sama. Meski begitu, anda tetap akan menemukan pembahasan yang berulang tiap kali kesempatannya tersedia. Ini menjelaskan bahwa Kaczynski tidak kenal lelah menjelaskan hal yang itu-itu saja kepada orang yang berbeda. Saya tetap menyarankan supaya Industrial Society and Its Future, atau Manifesto Unabomber, dibaca terlebih dahulu supaya anda juga paham garis besar gagasannya dalam buku ini. Saya berterima kasih banyak atas kawan-kawan yang tetap mendukung saya selama menerjemahkan tulisan-tulisan ini di dalam penjara. Menerjemahkan tulisan ini di tengah keterbatasan adalah tantangan yang saya nikmati betul, meski ini memakan
t e d k a c z y n s k i | 1 0
waktu (kenyataannya saya punya banyak waktu luang sekarang). Kaczynski juga menyelesaikan seluruh tulisan ini selama ia menjalani hidupnya di hukum di penjara super maksimum Florence, Amerika Serikat. Pada akhir Desember 2021, bulan yang sama ketika saya tertangkap, Kaczynski dipindahkan ke penjara rumah sakit FMC Butner di North Carolina, kemungkinan karena masalah kesehatan. Kita tahu bahwa Kaczynski semakin jarang menulis, atau bahwa tulisan barunya tidak banyak beredar. Andai saya lahir lebih awal, saya akan menulis surat padanya. Yang pasti, kami berdua sama-sama bertahan agar jeruji gagal memenjarakan pikiran kami.
Bagian 1 ESAI
1 3
1/ Moralitas dan
Revolusi
“Moralitas, rasa bersalah, dan takut akan hukuman berkerja seperti polisi di dalam kepala kita, menghancurkan spontanitas kita, keliaran kita, kemampuan kita untuk menjalani hidup kita
sepenuhnya.... Saya mencoba untuk bertindak sesuai dengan kei-
nginan saya, sesuai dorongan spontan saya, tanpa peduli apa yang
orang lain pikirkan tentang saya.... Saya tidak ingin ada hambatan
dalam hidup saya; Saya ingin semua kemungkinan menjadi terbu-
ka.... Ini berarti... menghancurkan semua moralitas.”
— Feral Faun, The Cops in Our Heads: Some Thoughts on Anarchy and Morality¹
Memang benar bahwa konsep moralitas sebagaimana dipahami secara konvensional adalah salah satu alat terpenting yang digunakan sistem untuk mengendalikan kita, dan kita harus membebaskan diri darinya.
t e d k a c z y n s k i | 1 4
Tapi anggaplah pada suatu hari suasana hati Anda sedang buruk. Anda melihat seorang perempuan tua jelek yang tidak punya salah apa-apa pada Anda; tetapi penampilannya membuat Anda kesal, dan “dorongan spontan” Anda mendorong Anda untuk menjatuh- kannya dan menendangnya. Atau misalkan Anda memiliki “sesuatu” untuk gadis kecil, jadi “dorongan spontan” Anda membuat Anda memilih seorang anak berusia empat tahun yang lucu, mero- bek pakaiannya, dan memperkosanya saat dia berteriak ketakutan. Saya berani bertaruh bahwa tidak ada seorang pun anarkis yang membaca ini yang tidak akan jijik dengan tindakan seperti itu, atau semuanya pasti mencoba untuk mencegahnya jika ia melihat tindakan tersebut dilakukan. Apakah ini hanya konsekuensi dari peng- kondisian moral yang dipaksakan oleh masyarakat kita kepada kita? Saya berpendapat: tidak. Saya mengusulkan bahwa ada semacam “moralitas” alami (perhatikan tanda kutip), atau konsepsi keadilan, yang berjalan sebagai benang merah di semua budaya dan cenderung muncul di dalamnya dalam berbagai bentuk, meskipun bagi budaya tertentu mungkin sering ditenggelamkan atau diubah oleh kekuatan khusus. Mungkin konsepsi keadilan ini cenderung biologis. Bagaimanapun hal itu dapat diringkas dalam Enam Prinsip berikut:
- Jangan menyakiti siapa pun yang sebelumnya tidak pernah menyakiti Anda, atau tidak pernah mengancam menyakiti Anda.
- (Prinsip pertahanan diri dan pembalasan) Anda dapat menyakiti orang lain untuk mencegah bahaya yang mengancam Anda, atau sebagai pembalasan atas kerugian yang telah mereka timbulkan pada Anda.
- Satu perbuatan yang baik layak mendapatkan balasan: Jika seseorang telah membantu Anda, Anda harus bersedia untuk memberikan bantuan yang sebanding jika dan ketika
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 5
dia membutuhkannya.
- Yang kuat harus mengutamakan yang lemah.
- Jangan berbohong.
- Patuhi dengan setia setiap janji atau kesepakatan yang Anda buat. Ada beberapa contoh bagaimana Enam Prinsip sering diteng-
gelamkan oleh kekuatan budaya. Misalnya, di antara orang-orang Indian Navajo, secara tradisional, menipu siapa pun yang bukan anggota suku ketika berdagang dianggap “secara moral dapat diterima” (WA. Haviland, Cultural Anthropology, edisi ke-9., hlm. 207), meskipun ini bertentangan dengan prinsip 1, 5, dan 6. Contoh lain misalnya, dalam masyarakat kita banyak orang akan menolak prinsip pembalasan: Kita dilatih untuk menekan dorongan pembalasan kita dan menyerahkan segala pembalasan serius (yang sekarang disebut sebagai “keadilan”) ke tangan sistem hukum, karena masyarakat industri punya kebutuhan mendesak akan terciptanya ketertiban sosial dan khawatir akan potensi gangguan dari tindakan pembalasan pribadi. Terlepas dari contoh-contoh seperti itu, saya bersikukuh bahwa Enam Prinsip itu cenderung universal. Tetapi apakah seseorang menerima atau tidak bahwa Enam Prinsip bersifat universal, saya merasa aman untuk mengasumsikan bahwa hampir semua pembaca artikel ini akan setuju dengan prinsip-prinsip tersebut (dengan kemungkinan pengecualian dari prinsip pembalasan dendam) dalam beberapa bentuk atau lainnya. Oleh karena itu Enam Prinsip dapat menjadi dasar untuk diskusi ini. Saya berpendapat bahwa Enam Prinsip tidak boleh dianggap sebagai kode moral, karena beberapa alasan. Pertama. Prinsip-prinsip tersebut tidak jelas dan dapat ditafsirkan sedemikian luas sehingga tidak akan ada kesepakatan yang konsisten mengenai penerapannya dalam kasus-kasus yang konkret.
t e d k a c z y n s k i | 1 6
Misalnya, jika Smith ngotot untuk memutar radionya dengan volume keras sehingga mengganggu tidur Jones, dan jika Jones menghancurkan radio Smith, apakah tindakan Jones menimbulkan kerugian yang tidak beralasan terhadap Smith, atau apakah pembelaan diri itu sah untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan Smith pada Jones? Tentang pertanyaan ini Smith dan Jones kemungkinan besar tidak akan setuju! (Bagaimanapun, ada batasan dalam menafsirkan Enam Prinsip itu. Saya membayangkan akan sulit menemukan siapa pun dalam budaya mana pun yang akan menafsirkan prinsip-prinsip tersebut sedemikian rupa untuk membenarkan pelecehan fisik brutal terhadap perempuan tua yang tidak bersalah atau pemerkosaan terhadap gadis empat tahun.) Kedua. Kebanyakan orang akan setuju bahwa kadang-kadang “secara moral” dibenarkan untuk membuat pengecualian terhadap Enam Prinsip. Jika teman Anda telah menghancurkan peralatan penebangan milik sebuah perusahaan kayu besar, dan jika polisi datang untuk menanyakan siapa yang melakukannya, setiap anarkis hijau akan setuju bahwa berbohong dan berkata, “Saya tidak tahu” dapat dibenarkan. Ketiga. Enam Prinsip umumnya tidak diperlakukan seolah-olah mereka memiliki kekuatan dan kebakuan hukum moral yang benar. Orang sering melanggar Enam Prinsip bahkan ketika tidak ada pembenaran “moral” untuk melakukannya. Selain itu, sebagaimana telah dicatat, kode moral masyarakat tertentu sering kali bertentangan dan mengesampingkan Enam Prinsip. Ketimbang hukum, prinsip hanyalah semacam panduan, ekspresi dari dorongan hati kita yang lebih murah hati yang mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal-hal tertentu yang nantinya mungkin kita lihat kembali dengan rasa jijik. Keempat. Saya menyarankan bahwa istilah “moralitas” harus digunakan hanya untuk menunjuk kode perilaku yang dipaksakan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 7
secara sosial yang khusus untuk masyarakat, budaya, atau subkultur tertentu. Karena Enam Prinsip, dalam beberapa bentuk atau lainnya, cenderung universal dan mungkin punya kecenderungan biologis, mereka tidak boleh digambarkan sebagai moralitas. Dengan asumsi bahwa sebagian besar anarkis akan menerima Enam Prinsip, apa yang dilakukan anarkis (atau, setidaknya, anarkis tipe individualis) adalah mengklaim hak untuk menafsirkan prinsip-prinsip itu untuk dirinya sendiri dalam situasi konkret apa pun di mana dia terlibat dan memutuskan sendiri kapan untuk membuat pengecualian terhadap prinsip-prinsip, daripada membiarkan otoritas membuat keputusan untuknya. Namun, ketika orang menafsirkan Enam prinsip untuk diri mereka sendiri, konflik muncul karena individu yang berbeda menafsirkan prinsip secara berbeda. Untuk alasan ini antara lain, hampir semua masyarakat telah mengembangkan aturan yang membatasi perilaku dengan cara yang lebih tepat daripada Enam Prinsip. Dengan kata lain, setiap kali sejumlah orang bersama-sama untuk jangka waktu yang lama, hampir tidak dapat dihindari bahwa beberapa derajat moralitas akan berkembang. Hanya pertapa penyendiri yang benar-benar bebas. Ini bukan upaya untuk menyanggah gagasan anarki. Sekalipun tidak ada masyarakat yang benar-benar bebas dari moralitas, tetap ada perbedaan besar antara masyarakat yang beban moralitasnya ringan dan masyarakat yang beban moralnya berat. Orang-orang Pigmi dari hutan hujan Afrika, seperti yang dijelaskan oleh Colin Turnbull dalam bukunya The Forest People and Wayward Servants: The Two Worlds of the African Pygmies, memberikan contoh masyarakat yang tidak jauh dari idealisme anarkis. Aturan mereka sedikit dan fleksibel dan memungkinkan ukuran kebebasan pribadi yang sangat murah hati. (Namun, meskipun mereka tidak memiliki polisi, pengadilan atau penjara, Turnbull tidak menyebutkan adanya kasus pembunuhan di antara mereka.)
t e d k a c z y n s k i | 1 8
Sebaliknya, dalam masyarakat yang berteknologi maju, yang mekanisme sosialnya kompleks dan kaku, masyarakat macam itu hanya dapat berfungsi jika perilaku manusia diatur secara ketat. Akibatnya masyarakat seperti itu membutuhkan sistem hukum dan moralitas yang jauh lebih ketat. (Untuk tujuan sekarang kita tidak perlu membedakan antara hukum dan moralitas. Kita hanya akan menganggap hukum sebagai jenis moralitas tertentu, yang tidak masuk akal, karena dalam masyarakat kita secara luas kita akan dianggap tidak bermoral jika melanggar hukum.) Orang-orang kolot mengeluhkan kelonggaran moral dalam masyarakat modern, dan memang benar bahwa dalam beberapa hal masyarakat kita relatif bebas dari moralitas. Tetapi saya berpendapat bahwa relaksasi moralitas masyarakat kita dalam seks, seni, sastra, pakaian, agama, dll., sebagian besar merupakan reaksi terhadap pengetatan kontrol yang ketat terhadap perilaku manusia dalam domain praktis. Seni, sastra, dan sejenisnya memberikan jalan keluar yang tidak berbahaya bagi dorongan-doromhan pemberontakan yang akan berbahaya bagi sistem jika mereka mengambil arah yang lebih praktis, dan kepuasan hedonistik seperti pemuasan berlebihan dalam seks atau makanan, atau bentuk-bentuk hiburan yang sangat merangsang, membantu orang untuk melupakan hilangnya kebebasan mereka. Bagaimanapun juga, jelas bahwa dalam masyarakat mana pun, beberapa moralitas melayani fungsi-fungsi praktis. Salah satu fungsinya adalah untuk mencegah konflik atau memungkinkan penyele- saiannya tanpa menggunakan kekerasan. (Menurut buku Elizabeth Marshall Thomas, The Harmless People, Vintage Books, Random House, New York, 1989, halaman 10, 82, 83, orang-orang Bushmen di Afrika bagian selatan memiliki hak milik pribadi untuk mengumpulkan makanan di area tertentu di padang rumput, dan mereka sangat menghormati hak milik ini. Sangat mudah untuk melihat bagaimana aturan tersebut dapat mencegah konflik peng-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 9
gunaan sumber daya makanan.) Karena kaum anarkis menempatkan nilai yang tinggi pada kebebasan pribadi, mereka mungkin ingin menjaga moralitas seminimal mungkin, bahkan jika ini merugikan mereka dalam keselamatan pribadi atau keuntungan praktis lainnya. Bukan tujuan saya di sini untuk mencoba menentukan di mana harus mencapai keseimbangan antara kebebasan dan keuntungan praktis dari moralitas, tetapi saya ingin menarik perhatian pada satu hal yang sering diabaikan: manfaat praktis atau materialistis dari moralitas diimbangi oleh biaya psikologis dengan menekan dorongan kita “yang tidak bermoral”. Lazim diketahui kalau kalangan moralis mengukur konsep “kemajuan” dari sejauh mana umat manusia menjadi semakin bermoral. Semakin banyak dorongan “yang tidak bermoral” yang harus ditekan dan diganti dengan perilaku “beradab”. Bagi orang-orang ini, moralitas tampaknya merupakan tujuan itu sendiri. Mereka sepertinya tidak pernah bertanya mengapa manusia harus menjadi lebih bermoral. Tujuan apa yang harus dilayani oleh moralitas? Jika tujuannya adalah sesuatu yang menyerupai kesejahteraan manusia, maka moralitas yang semakin agresif dan inten- sif hanya dapat menjadi kontraproduktif, karena dapat dipastikan bahwa biaya psikologis untuk menekan dorongan “tidak bermoral” pada akhirnya akan lebih besar daripada keuntungan apa pun yang diberikan oleh moralitas (kalau bukannya hal itu sudah terjadi). Faktanya, jelas bahwa, alasan apa pun yang mereka ciptakan, motif sebenarnya dari para moralis adalah untuk memenuhi beberapa kebutuhan psikologis mereka sendiri dengan memaksakan moralitas mereka pada orang lain. Dorongan mereka menuju moralitas bukanlah hasil dari program rasional apa pun untuk meningkatkan nasib umat manusia. Moralitas agresif ini tidak ada hubungannya dengan Enam Prinsip keadilan. Ini sebenarnya tidak sesuai dengan mereka. Dengan
t e d k a c z y n s k i | 2 0
mencoba memaksakan moralitas mereka pada orang lain, baik dengan paksaan atau melalui propaganda dan pendidikan, para moralis melakukan kerusakan yang tidak beralasan yang bertentangan dengan prinsip yang pertama dari Enam Prinsip. Kita bisa ingat lagi tentang misionaris abad kesembilan belas yang membuat orang primitif merasa bersalah tentang praktik seksual mereka, atau kaum kiri modern yang mencoba menekan ucapan yang salah secara politis. Moralitas sering bertentangan dengan Enam Prinsip dengan cara yang berbeda juga. Beberapa contoh umpamanya: Dalam masyarakat kita, kepemilikan pribadi tidak mirip dengan kepemilikan ala orang-orang Bushmen —yang ditujukan untuk menghindari konflik atas penggunaan sumber daya. Sebaliknya, kepemilikan pribadi kita adalah sistem di mana orang atau organisasi tertentu mengambil alih kendali atas sejumlah besar sumber daya yang mereka gunakan untuk mengerahkan kekuasaan atas orang lain. Dalam hal ini mereka jelas melanggar prinsip keadilan yang pertama dan keempat. Dengan mengharuskan kita agar menghormati properti, moralitas masyarakat kita membantu melestarikan sistem yang jelas-jelas bertentangan dengan Enam Prinsip. Di antara banyak orang primitif, bayi yang cacat dibunuh saat lahir (lihat, misalnya, Paul Schebesta, Die Bambuti-Pygmäen vom Ituri, I.Band, Institut Royal Colonial Belge, Brussels, 1938, hlm
138), dan praktik serupa tampaknya tersebar luas di Amerika Serikat hingga sekitar pertengahan abad ke-20. “Bayi yang lahir cacat atau terlalu kecil atau kebiru-biruan dan tidak bernapas dengan baik dicatat [oleh dokter] sebagai lahir mati, tidak terlihat dan dibiarkan mati.” Autl Gawande, “The Score,” The New Yorker, 9 Oktober 2006, hlm 64. Dewasa ini, praktik semacam itu akan dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak bermoral. Tetapi profesional kesehatan mental yang mempelajari masalah psikologis penyandang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1
cacat dapat memberi tahu kita seberapa parah masalah ini sering terjadi. Benar, bahkan di antara orang yang cacat parah —misalnya, mereka yang lahir tanpa lengan atau kaki— terkadang ada individu yang mencapai kehidupan yang memuaskan. Tetapi kebanyakan orang dengan tingkat kecacatan seperti itu dikutuk untuk menjalani kehidupan dengan perasaan rendah diri dan ketidakberdayaan, dan membesarkan bayi dengan kelainan bentuk yang ekstrim sampai ia cukup besar untuk menyadari ketidakberdayaannya sendiri biasanya merupakan tindakan kekejaman. Dalam kasus tertentu, tentu saja, mungkin sulit untuk menyeimbangkan kemungkinan bahwa bayi yang cacat akan menjalani kehidupan yang menyedihkan, jika dibesarkan, dengan kemungkinan bahwa ia akan mencapai kehidupan yang berharga. Namun, intinya adalah kode moral masyarakat modern tidak mengizinkan penyeimbangan seperti itu. Ini secara otomatis mengharuskan supaya setiap bayi yang lahir dibesarkan, tidak peduli seberapa parah cacat fisik atau mentalnya, dan tidak peduli seberapa jauh kemungkinan bahwa hidupnya hanyalah menjalani kemalangan. Ini adalah salah satu aspek moralitas modern yang paling durjana. Militer diharapkan untuk membunuh atau menahan diri dari membunuh dalam kepatuhan buta kepada pemerintah; polisi dan hakim diharapkan untuk memenjarakan atau membebaskan orang-orang yang secara mekanis mematuhi hukum. Tentara, hakim, atau polisi yang bertindak menurut rasa keadilan mereka sendiri daripada sesuai dengan aturan sistem akan dianggap sebagai “tidak etis” dan “tidak bertanggung jawab”. Seorang hakim yang bermoral dan “bertanggung jawab” akan mengirim seseorang ke penjara jika hukum memerintahkannya untuk melakukannya, bahkan jika orang itu tidak bersalah menurut Enam Prinsip. Klaim moralitas sering dijadikan topeng untuk menutupi apapun yang sebenarnya adalah pemaksaan kehendak sendiri pada
t e d k a c z y n s k i | 2 2
orang lain. Jadi, jika seseorang berkata, “Saya akan mencegah Anda melakukan aborsi (atau dari berhubungan seks atau makan daging atau sesuatu yang lain) hanya karena saya pribadi menganggapnya menyinggung”, usahanya untuk memaksakan kehendaknya akan dianggap sombong dan keterlaluan. Tetapi jika dia mengklaim memiliki dasar moral untuk apa yang dia lakukan, jika dia berkata, “Saya akan mencegah Anda melakukan aborsi karena itu tidak bermoral”, maka upayanya untuk memaksakan kehendaknya memperoleh pembenaran tertentu, atau paling tidak cenderung diperlakukan dengan lebih hormat daripada jika dia tidak membuat klaim moral. Orang-orang yang sangat terikat dengan moralitas masyarakat- nya sendiri sering kali mengabaikan prinsip-prinsip keadilan. Pengusaha yang sangat bermoral dan Kristen seperti John D. Rockefeller menggunakan metode curang untuk mencapai kesuksesan, seperti yang diakui oleh Allan Nevin dalam biografinya yang mengagumi Rockefeller. Saat ini, saling mencurangi hampir merupakan bagian tak terelakkan dari setiap perusahaan bisnis skala besar. Penyimpangan kebenaran yang disengaja, cukup serius sehingga sama saja dengan kebohongan, dalam praktiknya diperlakukan sebagai perilaku yang dapat diterima di kalangan politisi dan jurnalis, meskipun kebanyakan dari mereka tidak diragukan lagi menganggap diri mereka sebagai orang yang bermoral. Saya memiliki brosur yang dikirim oleh majalah bernama The National Interest. Di dalamnya saya menemukan: “Tugas di tangan Anda adalah untuk membela kepentingan bangsa kita di luar negeri, dan menggalang dukungan di dalam negeri untuk upaya Anda.” “Tentu saja, Anda tidak naif. Anda percaya bahwa, baik atau buruk, politik internasional pada dasarnya tetap merupakan politik kekuasaan-seperti yang diamati Thomas Hobbes, ketika tidak ada
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 3
kesepakatan di antara negara-negara, klub selalu menjadi riuh.” Ini adalah pembelaan blak-blakan Machiavellianisme dalam urusan internasional, meskipun aman untuk mengasumsikan bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas selebaran yang baru saja saya kutip adalah penganut moralitas konvensional yang teguh di Amerika Serikat. Bagi orang-orang seperti itu, saya sarankan, moralitas konvensional berfungsi sebagai pengganti Enam Prinsip. Selama orang-orang ini mematuhi moralitas konvensional, mereka memiliki rasa kebenaran yang memungkinkan mereka untuk mengabaikan prinsip-prinsip keadilan tanpa merasa terganggu. Cara lain di mana moralitas bertentangan dengan Enam Prinsip adalah bahwa moralitas sering menjadi pembenaran untuk berperilaku buruk atau mengeksploitasi orang-orang yang telah melanggar kode moral atau hukum suatu masyarakat tertentu. Di Amerika Serikat, para politisi mempromosikan karier mereka dengan “bersikap tegas terhadap kejahatan” dan menganjurkan hukuman keras bagi orang-orang yang melanggar hukum. Jaksa sering mencari kemajuan pribadi dengan bersikap keras terhadap terdakwa seperti yang diizinkan oleh hukum. Ini memuaskan dorongan sadis dan otoriter tertentu dari publik dan menghilangkan ketakutan kelas istimewa terhadap kekacauan sosial. Semuanya tidak ada hubungannya dengan Enam Prinsip keadilan. Banyak dari “penjahat” yang dikenai hukuman berat -misalnya, orang yang dihukum karena memiliki mariyuana- tidak melanggar Enam Prinsip. Tetapi bahkan di mana pelaku telah melanggar Enam Prinsip, perlakuan keras mereka tidak dimotivasi oleh kepedulian terhadap keadilan, atau bahkan moralitas, tetapi ambisi pribadi politisi dan jaksa atau oleh selera sadis dan hukuman publik. Moralitas hanya memberikan alasan. Intinya, siapa pun yang melihat masyarakat modern dari kejauhan akan melihat bahwa, untuk semua penekanannya pada moralitas, ia sangat tidak mematuhi prinsip-prinsip keadilan. Tentu saja
t e d k a c z y n s k i | 2 4
tidak sebaik seperti sebagian besar masyarakat primitif. Membiarkan berbagai pengecualian, tujuan utama yang dilayani moralitas dalam masyarakat modern adalah untuk memfasilitasi berfungsinya sistem tekno-industrial. Berikut cara kerjanya: Konsepsi kita tentang keadilan dan moralitas sangat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Sebagai contoh, saya merasa dengan kuat dan tulus bahwa sangat adil bagi saya untuk menghancurkan peralatan seseorang yang menebang hutan. Namun sebagian alasan mengapa saya merasa seperti ini adalah karena keberadaan hutan yang berkelanjutan melayani kebutuhan pribadi saya. Jika saya tidak memiliki keterikatan pribadi dengan hutan, saya mungkin merasa berbeda. Demikian pula, kebanyakan orang kaya mungkin sungguh merasa bahwa undang-undang yang membatasi cara mereka menggunakan properti mereka sendiri itu tidak adil. Tidak ada keraguan bahwa, betapapun tulusnya perasaan ini, mereka sebagian besar dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Orang-orang yang menduduki posisi kekuasaan dalam sistem memiliki kepentingan dalam mempromosikan keamanan dan perluasan sistem. Ketika orang-orang ini merasakan bahwa ide-ide moral tertentu memperkuat sistem atau membuatnya lebih aman, maka, baik dari kepentingan pribadi yang sadar atau karena perasaan moral mereka dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, mereka menerapkan tekanan kepada media dan para pendidik untuk mempromosikan ide-ide moral ini. Dengan demikian, persyaratan menghormati properti, dan perilaku yang tertib, penurut, mematuhi aturan, kooperatif, telah menjadi nilai moral dalam masyarakat kita (walaupun persyaratan ini dapat bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan) karena diperlukan untuk berfungsinya sistem organisasi. Demikian pula; harmoni dan kesetaraan antara ras dan kelompok etnis yang berbeda adalah nilai moral masyarakat kita karena konflik antar ras dan antar etnis menghambat berfungsinya
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5
sistem. Perlakuan yang sama terhadap semua ras dan kelompok etnis mungkin diperlukan oleh prinsip-prinsip keadilan, tetapi ini bukanlah alasan mengapa hal itu menjadi nilai moral masyarakat kita. Ini adalah nilai moral masyarakat kita karena itu baik untuk sistem tekno-industrial. Pengekangan moral tradisional pada perilaku seksual telah dilonggarkan karena orang-orang yang memiliki kekuasaan melihat bahwa pengekangan ini tidak diperlukan untuk berfungsinya sistem dan bahwa pengekangan hanya menghasilkan ketegangan dan konflik yang berbahaya bagi sistem. Yang secara khusus memerintah kita adalah larangan moral kekerasan dalam masyarakat kita. (Maksud saya tentang “kekerasan” adalah serangan fisik terhadap manusia atau penerapan kekuatan fisik pada manusia.) Beberapa ratus tahun yang lalu, kekerasan itu sendiri tidak dianggap tidak bermoral dalam masyarakat Eropa. Bahkan, di bawah kondisi yang sesuai, itu dikagumi. Kelas sosial yang paling bergengsi adalah kaum bangsawan, yang saat itu merupakan kasta prajurit. Bahkan sebelum kemunculan industri, kekerasan tidak dianggap sebagai kejahatan terbesar, dan nilai-nilai tertentu lainnya -kebebasan pribadi misalnya-dirasakan lebih penting daripada menghindari kekerasan. Di Amerika, hingga abad kesembilan belas, sikap publik terhadap polisi adalah negatif, dan pasukan polisi tetap lemah dan tidak efisien karena dianggap mengancam kebebasan. Orang-orang lebih memilih untuk membela diri mereka sendiri dan menerima tingkat kekerasan yang cukup tinggi dalam masyarakat daripada mempertaruhkan kebebasan pribadi mereka. 2 Semenjak itu, sikap terhadap kekerasan telah berubah secara dramatis. Hari ini media, sekolah, dan semua yang berkomitmen pada sistem mencuci otak kita untuk percaya bahwa kekerasan di atas segalanya tidak boleh kita lakukan. (Tentu saja, ketika sistem merasa nyaman untuk menggunakan kekerasan -melalui polisi atau militer -untuk tujuannya sendiri, ia selalu dapat menemukan alasan
t e d k a c z y n s k i | 2 6
untuk melakukannya.) Kadang-kadang ada yang bilang kalau sikap modern terhadap kekerasan adalah hasil dari pengaruh lembut Kekristenan, tetapi ini tidak masuk akal. Periode di mana Kekristenan paling kuat di Eropa, Abad Pertengahan, adalah zaman yang sangat kejam. Selama berlangsungnya Revolusi Industri dan perubahan teknologi yang mengikutinya, sikap terhadap kekerasan telah diubah, dan dalam kurun waktu yang sama pengaruh Kekristenan telah sangat mele- mah. Jelas bukan Kekristenan yang mengubah sikap terhadap kekerasan. Hal ini diperlukan supaya masyarakat industri modern dapat berfungsi; bahwa orang harus bekerja sama dengan cara yang kaku, yang seperti mesin, dengan mematuhi aturan, mengikuti perintah dan jadwal, melaksanakan prosedur yang ditentukan. Akibatnya sistem membutuhkan, di atas segalanya, kepatuhan manusia dan ketertiban sosial. Dari semua perilaku manusia, kekerasan adalah yang paling mengganggu tatanan sosial, dan karenanya yang paling berbahaya bagi sistem. Ketika Revolusi Industri berlangsung, kelas-kelas yang kuat, yang menyadari bahwa kekerasan semakin bertentangan dengan kepentingan mereka, mengubah sikap mereka terhadap kekerasan. Karena pengaruh mereka dominan dalam menentukan apa yang dicetak oleh pers dan diajarkan di sekolah-sekolah, mereka secara bertahap mengubah sikap seluruh masyarakat, sehingga saat ini sebagian besar orang kelas menengah, dan bahkan sebagian besar dari mereka yang menganggap diri mereka memberontak terhadap sistem, percaya bahwa kekerasan adalah dosa utama. Mereka membayangkan bahwa penentangan mereka terhadap kekerasan adalah ekspresi dari keputusan moral di pihak mereka, dan dalam arti tertentu memang demikian, tetapi ini didasarkan pada moralitas yang dirancang untuk melayani kepentingan sistem dan ditanamkan melalui propaganda. Kenyataannya, orang-orang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7
ini telah dicuci otak. Tak perlu dikatakan lagi bahwa untuk membawa revolusi melawan sistem tekno-industrial, moralitas konvensional harus dibuang. Salah satu dari dua poin utama yang saya coba sampaikan dalam artikel ini adalah bahwa penolakan paling radikal terhadap moralitas konvensional tidak melulu supaya kita meninggalkan kesusilaan manusia: ada moralitas yang “alami” (dan dalam beberapa hal mungkin universal) -atau, saya lebih suka menyebutnya sebagai konsep keadilan-yang cenderung menjaga perilaku kita tetap “layak” terhadap orang lain bahkan ketika kita telah membuang semua moralitas formal. Poin utama lain yang saya coba sampaikan adalah bahwa konsep moralitas digunakan untuk banyak tujuan yang tidak ada hubungannya dengan kesusilaan manusia atau dengan apa yang saya sebut “keadilan”. Masyarakat modern khususnya menggunakan moralitas sebagai alat dalam memanipulasi perilaku manusia untuk tujuan yang seringkali sama sekali tidak sesuai dengan kesusilaan manusia. Jadi, begitu kaum revolusioner memutuskan bahwa bentuk masyarakat yang sekarang harus dihilangkan, tidak ada alasan mengapa mereka harus ragu-ragu untuk menolak moralitas yang ada; dan penolakan mereka terhadap moralitas bukan berarti penolakan terhadap kesusilaan manusia. Tidak dapat disangkal, bagaimanapun, bahwa revolusi melawan sistem tekno-industrial akan melanggar kesusilaan manusia dan prinsip-prinsip keadilan. Dengan runtuhnya sistem, apakah itu spontan atau akibat revolusi, banyak orang tak berdosa akan menderita dan mati. Situasi kita saat ini adalah salah satu situasi di mana kita harus memutuskan apakah akan melakukan ketidakadilan dan kekejaman untuk mencegah kejahatan yang lebih besar. Sebagai perbandingan, pertimbangkan Perang Dunia II. Pada saat itu, ambisi para diktator yang kejam hanya dapat digagalkan
t e d k a c z y n s k i | 2 8
dengan melakukan perang dalam skala besar, dan, mengingat kondisi peperangan modern, jutaan warga sipil tak terelakkan terbunuh atau dibantai. Hanya sedikit orang yang akan menyangkal bahwa ini merupakan ketidakadilan yang ekstrem dan tidak dapat dima- afkan bagi para korban, namun lebih sedikit lagi yang akan berpendapat bahwa Hitler, Mussolini, dan militeris Jepang seharusnya dibiarkan menguasai dunia. Jika berperang dalam Perang Dunia II, terlepas dari kekejaman yang parah terhadap jutaan orang yang tidak bersalah yang menyertainya dapat diterima, maka revolusi melawan sistem tekno-industrial harus dapat diterima juga. Seandainya kaum fasis mendominasi dunia, mereka pasti akan memperlakukan populasi subjek mereka dengan brutal, akan membuat jutaan orang menjadi budak di bawah kondisi yang keras, dan akan memusnahkan banyak orang secara langsung. Namun, betapapun mengerikannya hal itu, tampaknya hampir sepele dibandingkan dengan bencana yang mengancam kita akibat sistem tekno-industrial. Hitler dan sekutunya hanya mencoba mengulangi dalam skala yang lebih besar jenis kekejaman yang telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah peradaban. Ancaman oleh teknologi modern benar-benar tak ada bandingnya. Hari ini kita harus bertanya pada diri sendiri apakah perang nuklir, bencana biologis, atau kehancuran ekologis akan menghasilkan korban yang berkali-kali lipat lebih besar daripada korban Perang Dunia II; apakah ras manusia akan terus ada atau akan digantikan oleh mesin cerdas atau makhluk aneh hasil rekayasa genetika; apakah sisa-sisa terakhir dari martabat manusia akan hilang, tidak hanya selama keberadaan rezim totaliter tertentu tetapi untuk selamanya; apakah dunia kita bahkan akan dapat dihuni beberapa ratus tahun dari sekarang. Dalam keadaan seperti ini, siapa yang akan mengklaim bahwa Perang Dunia II dapat diterima tetapi revolusi me-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 9
lawan sistem tekno-industrial tidak? Meskipun revolusi pasti akan melibatkan pelanggaran prinsip-prinsip keadilan, kaum revolusioner harus melakukan segala upaya untuk menghindari pelanggaran prinsip-prinsip itu lebih dari yang benar-benar diperlukan -tidak hanya demi menghormati kesusilaan manusia, tetapi juga untuk alasan praktis. Dengan mematuhi prinsip-prinsip keadilan sejauh hal itu tidak bertentangan dengan aksi revolusioner, kaum revolusioner akan memenangkan rasa hormat dari kaum non-revolusioner, akan mampu merekrut orang-orang yang lebih baik untuk menjadi revolusioner, dan akan meningkatkan harga diri gerakan revolusioner, sehingga memperkuat esprit de corps-nya. ________________ [1] The Quest for the Spiritual: A Basis for a Radical Analysis of Religion, and Other Essays oleh Feral Faun, diterbitkan oleh Green Anarchist, BCM 1715, London WC 1N 3XX, United Kingdom. [2] Lihat Hugh Davis Graham dan Ted Robert Gurr (penyunting), Violence in America: Historical and Comparative Perspectives, Bantam Books, New York, 1970, Bagian 12, oleh Roger Lane; juga, The New Encyclopædia Britannica, 15th Edition, 2003, Volume 25, artikel “Police,” hlm 959–960. Tentang sikap pada Abad Pertengahan terhadap kekerasan dan alasan mengapa sikap itu berubah, lihat Norbert Elias, The Civilizing Process, Edisi Revisi, Blackwell Publis- hing, 2000, hlm 161–172.
3 1
2/ Kehidupan Primitif yang
Sebenarnya: Kritik Terhadap Anarko-Primitifisme
1 KETIKA Revolusi Industri berlangsung, masyarakat modern menciptakan mitos untuk dirinya sendiri, mitos “kemajuan”: Sejak zaman nenek moyang kita yang terpencil dan mirip kera, sejarah manusia telah menjadi perjalanan tanpa henti menuju masa depan yang lebih baik dan lebih cerah, dimana semua orang dengan gembira menyambut setiap kemajuan teknologi baru: peternakan, pertanian, roda, pembangunan kota, penemuan tulisan dan uang, kapal layar, kompas, bubuk mesiu, mesin cetak, mesin uap, dan, akhirnya, masyarakat industri modern sebagai pencapaian puncak manusia! Sebelum industrialisasi, hampir semua orang dikutuk untuk menjalani kehidupan yang menyedihkan dari pekerjaan tan-
t e d k a c z y n s k i | 3 2
pa henti, yang melelahkan, kekurangan gizi, dan kematian dini. Bukankah kita sangat beruntung bahwa kita hidup di zaman modern dan memiliki banyak waktu luang dan berbagai kemudahan teknologi untuk membuat hidup kita mudah? Hari ini saya pikir hanya ada sedikit orang yang bijaksana, yang jujur, dan berpenge- tahuan luas yang masih percaya pada mitos ini. Untuk kehilangan kepercayaan pada “kemajuan”, seseorang tinggal melihat sekeliling dan menyaksikan kehancuran lingkungan kita, penyebaran senjata nuklir, frekuensi depresi yang berlebihan, gangguan kecemasan dan tekanan psikologis, kekosongan spiritual masyarakat yang memelihara dirinya sendiri terutama dengan televisi dan permainan komputer… dan sebagainya. Mitos kemajuan mungkin belum mati, tetapi sedang sekarat. Sebagai gantinya, mitos lain tumbuh, mitos yang dipromosikan terutama oleh kaum anarko-primitifis, meskipun juga tersebar luas di tempat lain. Menurut mitos ini, sebelum munculnya peradaban tidak ada orang yang harus bekerja, orang hanya memetik makanan mereka dari pohon dan memasukkannya ke dalam mulut mereka dan menghabiskan sisa waktu mereka bermain-main dengan anak-anak. Laki-laki dan perempuan setara, tidak ada penyakit, tidak ada persaingan, tidak ada rasisme, seksisme atau homofobia, semua orang hidup dalam harmoni dengan binatang lain dan semuanya adalah cinta, berbagi, dan kerja sama. Diakui, hal diatas adalah karikatur dari visi kaum anarko-primitifisme. Kebanyakan dari mereka -saya harap-tidak terlalu jauh dari kenyataan seperti itu. Tapi mereka kejauhan nyasar, dan sudah saatnya bagi seseorang untuk menyanggah mitos mereka. Itulah tujuan artikel ini, saya akan mengatakan sedikit di sini tentang aspek-aspek positif dari masyarakat primitif. Saya ingin menjelaskan, bagaimanapun, bahwa seseorang dapat dengan jujur mengatakan banyak hal yang positif tentang masyarakat seperti itu. Dengan kata lain,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 3 3
mitos anarko-primitivis tidak sepenuhnya seratus persen mitos; beberapa elemen mitos itu memang sungguhan.
2 Mari kita mulai dengan konsep “kemakmuran primitif ” [primitive affluence]. Tampaknya telah jadi ayat suci di kalangan anarko-primitifis, untuk percaya kalau nenek moyang kita yang berburu dan meramu harus bekerja rata-rata hanya dua hingga tiga jam sehari, atau dua hingga empat jam sehari... angka yang diberikan bervariasi, tetapi maksimum dinyatakan tidak pernah melebihi empat jam sehari, atau (rata-rata) 28 jam seminggu. 1 Orang yang memberikan angka-angka ini biasanya tidak menyatakan dengan tepat apa yang mereka maksud dengan “pekerjaan”, tetapi pembaca digiring untuk berasumsi bahwa itu mencakup semua kegiatan yang diperlukan untuk memenuhi hal praktis yang mendesak dari cara hidup pemburu-peramu. Secara khas, kaum anarko-primitifis biasanya gagal mengutip sumber mereka, tetapi tampaknya sebagian besar berasal dari dua esai, satu oleh Marshall Sahlins (The Original Affluent Society²), dan satu lagi oleh Bob Black (Primitive Affluence). Sahlins mengklaim bahwa orang-orang Bushmen dari wilayah Dobe di Afrika Selatan, “bekerja sekitar 15 jam dalam seminggu.” 4 Untuk informasi ini ia mengandalkan studi Richard B. Lee. Saya tidak punya akses langsung ke karya Lee, tapi saya punya salinan artikel oleh Elizabeth Cashdan di mana dia merangkum hasil Lee jauh lebih hati-hati dan lengkap daripada karya Sahlins. 5 Cashdan jelas bertentangan dengan Sahlins: Menurut dia, Lee menemukan bahwa Bushmen bekerja lebih dari empat puluh jam per minggu. 6 Di dalam salah satu bagian dari esainya yang kerap diabaikan sebagian besar anarko-primitifis, Bob Black mengakui empat puluh jam kerja seminggu dan menjelaskan kontradiksi sebelumnya:
t e d k a c z y n s k i | 3 4
Sahlins mengikuti karya awal Lee yang hanya mempertimbangkan waktu yang dihabiskan untuk berburu dan mencari makan. Ketika semua pekerjaan yang diperlukan dipertimbangkan, jam kerja 7 per minggu meningkat lebih dari dua kali lipat. Pekerjaan yang dihilangkan dari pertimbangan Sahlins dan para anarko-primitifis mungkin juga merupakan bagian yang paling tidak menyenangkan dari jam kerja perminggu orang-orang Bushmen, karena sebagian besar terdiri dari persiapan makanan dan pengumpulan kayu ba- 8 kar. Saya berbicara dari pengalaman pribadi dengan makanan liar: Menyiapkan makanan tersebut bikin sakit leher. Jauh lebih menyenangkan untuk mengumpulkan kacang, menggali akar, atau berburu daripada memecahkan kacangnya, membersihkan akarnya, atau menguliti dan memotong daging buruan —atau mengumpulkan kayu bakar dan memasak di atas api terbuka. Kaum anarko-primitivis juga keliru dalam berasumsi bahwa temuan Lee dapat diterapkan pada pemburu-peramu secara umum. Bahkan tidak jelas apakah temuan itu berlaku sepanjang tahun untuk Bushmen yang dipelajari oleh Lee. Cashdan mengutip bukti bahwa penelitian Lee mungkin telah dilakukan pada musim dari 9 suatu tahun ketika Bushmen paling sedikit bekerja. Dia juga menyebutkan dua suku pemburu dan peramu lainnya yang secara kuantitatif menghabiskan lebih banyak waktu untuk berburu dan 10 mencari makan daripada yang dilakukan oleh Bushmen-nya Lee, dan dia menunjukkan bahwa Lee mungkin secara serius meremehkan waktu kerja perempuan karena dia gagal memasukkan waktu 11 yang dihabiskan untuk mengasuh anak. Saya tidak terbiasa dengan studi kuantitatif pasti lainnya tentang waktu kerja pemburu-peramu, tetapi setidaknya beberapa pemburu-peramu yang bekerja lebih lama daripada empat puluh jam seminggu dari Bushmen-nya Lee. Gontran de Poncins yang pernah tinggal bersama orang Eskimo sekitar tahun 1939–1940 menya-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 3 5
takan bahwa orang Eskimo “tidak memiliki tingkat waktu luang yang signifikan”, dan bahwa mereka “bekerja keras dan meronta lima belas jam sehari hanya untuk mendapatkan makanan dan tetap hidup.” 12 Dia mungkin tidak bermaksud untuk bilang mereka bekerja lima belas jam setiap hari; tetapi jelas dari pengamatannya bahwa orang Eskimo bekerja sangat keras. Di antara orang-orang pigmi Mbuti yang dipelajari oleh Paul Schebesta, pada hari-hari ketika para perempuan tidak mengambil persediaan buah-buahan dan sayuran dari kebun tetangga yang tinggal di desa mereka, perjalanan meramu mereka di hutan berlangsung antara lima dan enam jam. Selain mengumpulkan makanan, para perempuan memiliki pekerjaan tambahan yang cukup me- nyita waktu. Setiap sore, misalnya, seorang perempuan harus pergi lagi ke hutan dan kembali ke perkemahan dengan terengah-engah dan membungkuk di bawah tumpukan kayu bakar yang besar. Perempuan bekerja jauh lebih banyak daripada laki-laki, tetapi tampak jelas dari catatan Schebesta bahwa laki-laki tetap bekerja lebih dari tiga atau empat jam sehari dari yang telah diklaim oleh kaum anarko-primitifis. 13 Colin Turnbull mempelajari orang pigmi Mbuti yang berburu dengan jaring. Karena keuntungan yang diberikan oleh jaring, orang Mbuti hanya perlu berburu sekitar dua puluh jam per minggu. Tetapi bagi mereka: “merajut jaring sebenarnya adalah pekerjaan penuh waktu... yang dikerjakan laki-laki dan perempuan tiap kali mereka punya keinginan dan waktu luang.” 14 Suku Siriono, yang tinggal di hutan tropis Amazon di Bolivia, memang bukan sepenuhnya pemburu-peramu, karena mereka menanam tanaman sampai batas tertentu pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Tapi mereka kebanyakan hidup dengan berburu dan meramu. Menurut antropolog Holmberg, laki-laki Siriono rata-rata berburu setiap hari. Mereka mulai saat fajar dan kembali ke perkemahan biasanya antara pukul empat dan enam sore. Ini
t e d k a c z y n s k i | 3 6
menghabiskan setidaknya rata-rata sebelas jam berburu, dan pada tiga setengah hari seminggu, setidaknya 38 jam untuk berburu per minggu. Karena para laki-laki juga melakukan banyak pekerjaan pada hari-hari ketika mereka tidak berburu, 18 jam kerja mereka per minggu, rata-rata sepanjang tahun, harusnya lebih dari 40 jam. Dan hanya sedikit dari pekerjaan ini yang merupakan pekerjaan pertanian. 19 Sebenarnya, Holmberg memperkirakan bahwa Siriono menghabiskan sekitar setengah waktu bangun tidur mereka untuk berburu dan meramu makan, 20 yang berarti kira-kira 56 jam seminggu dalam kegiatan ini saja. Jika menyertakan pekerjaan lain, jam kerja per minggu harusnya lebih lama dari 60 jam. Perempuan Siriono “menikmati lebih sedikit istirahat dari pekerjaan ketimbang suaminya”, dan “kewajiban membawa anak-anaknya hingga dewasa menyisakan sedikit waktu untuk rehat.” 21 Buku Holmberg berisi banyak indikasi lain tentang betapa kerasnya Siriono harus bekerja. 22 Dalam The Original Affluent Society, Sahlins memberikan contoh, selain Bushmen-nya Lee, suku pemburu dan peramu yang seharusnya bekerja lebih sedikit. Tetapi dalam kebanyakan kasus, dia tidak menawarkan perkiraan kuantitatif waktu kerja, atau dia hanya menunjukkan perkiraan dari waktu yang dihabiskan untuk berburu dan meramu. Jika Bushmen-nya Lee dapat diambil sebagai panduan, ini akan jauh di bawah setengah dari total waktu kerja. 23 Namun, untuk dua kelompok Aborigin Australia, Sahlins memang memberikan perkiraan kuantitatif waktu yang dihabiskan untuk “berburu, mengumpulkan tanaman, menyiapkan makanan, dan memperbaiki senjata.” Pada kelompok yang pertama, waktu mingguan rata-rata yang dihabiskan setiap pekerja dalam kegiatan ini adalah sekitar 26 ½ jam; pada kelompok kedua sekitar 36 jam. Tapi ini tak termasuk semua pekerjaan; Sahlins tidak menyebutkan apapun, misalnya, tentang waktu yang dihabiskan untuk menga-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 3 7
suh anak, mengumpulkan kayu bakar, memindahkan kemah, atau membuat dan memperbaiki peralatan selain senjata. Jika semua pekerjaan yang diperlukan dihitung, minggu kerja kelompok kedua pasti akan lebih dari 40 jam. Kerja per minggu kelompok pertama tidak mewakili kelompok pemburu dan peramu yang normal, karena kelompok pertama “tidak memiliki” anak untuk diberi makan. Sahlins sendiri, apalagi, mempertanyakan validitas kesimpulan yang diambil dari data ini. 24 Tentu saja, bahkan jika sesekali dapat ditemukan contoh orang-orang pemburu-peramu yang total waktu kerjanya hanya tiga jam sehari, itu tidak ada artinya, karena di sini kita tidak memperhitungkan kasus-kasus luar biasa selain waktu kerja yang jadi khas kaum pemburu-peramu. Berapa pun jam kerja pemburu-peramu, sebagian besar pekerjaan mereka secara fisik sangat berat. Laki-laki Siriono biasanya menempuh jarak sekitar lima belas mil sehari dalam perjalanan berburu mereka, dan kadang-kadang mereka menempuh jarak sejauh empat puluh mil. 25 Mencakup jarak seperti itu di hutan belantara tanpa jejak²⁶ membutuhkan usaha yang jauh lebih besar daripada menempuh jarak yang sama melalui jalan atau jalan setapak yang terawat. “Saat berjalan dan berlari melewati rawa dan hutan, pemburu yang telanjang dihadapkan pada duri dan hama serangga... Sementara pencarian makanan memberi imbalan yang berbeda karena makanan untuk bertahan hidup pada akhirnya selalu diperoleh, itu juga hal yang selalu menyiksa karena kelelahan dan rasa sakit yang tak terhindarkan saat berburu, memancing, dan mengumpulkan makanan.” 27 “Pria sering kali menghilangkan kemarahan mereka terhadap pria lain dengan berburu. ...Bahkan jika mereka tidak membunuh apa pun, mereka kembali ke rumah untuk marah.” 28 Bahkan memetik buah liar bisa berbahaya²⁹ dan dapat memakan banyak pekerjaan³⁰ untuk Siriono. Siriono tidak banyak memakan akar-akaran liar, tetapi diketahui bahwa banyak pemburu-peramu
t e d k a c z y n s k i | 3 8
sangat bergantung pada akar untuk makanan. Biasanya, mengumpulkan akar yang dapat dimakan di hutan belantara tidak seperti mencabut wortel dari tanah kebun yang lembut dan diolah. Biasanya tanahnya keras, atau ditutupi dengan tanah keras yang harus Anda jungkit untuk mendapatkan akarnya. Saya berharap saya bisa membawa anarko-primitifis tertentu ke pegunungan, menunjukkan kepada mereka di mana akar yang dapat dimakan tumbuh, dan mengundang mereka untuk makan malam dengan menggalinya. Pada saat mereka memiliki cukup akar yampa atau umbi camas, tangan mereka yang melepuh akan mengubah pikiran kalau orang primitif tidak harus bekerja untuk mencari nafkah. Pemburu-peramu, pekerjaannya juga seringkali monoton. Hal ini berlaku khususnya saat menggali yang akarnya kecil, seperti halnya dengan banyak akar yang digunakan oleh orang Indian di Amerika Utara bagian barat, seperti akar pahit dan yampa dan camas yang disebutkan di atas. Memetik buah beri itu monoton jika Anda menghabiskan banyak waktu untuk itu. Atau cobalah penyamakan kulit rusa. Kulit rusa yang mentah dan kering kaku, seperti karton, dan jika Anda membengkokkan- nya, ia akan retak, seperti halnya karton. Agar dapat digunakan sebagai pakaian atau selimut, kulit binatang harus disamak. Dengan asumsi Anda ingin meninggalkan rambut di kulit, seperti untuk pakaian musim dingin, hanya ada tiga langkah yang sangat diperlukan untuk penyamakan kulit rusa. Pertama, Anda harus hati-hati mengeluarkan setiap potongan daging dari kulitnya. Lemak khususnya harus dihilangkan dengan hati-hati, karena sedikit saja lemak yang tertinggal di kulit akan membusuk. Selanjutnya, kulit harus dilembutkan. Akhirnya, itu harus diasapi. Jika tidak diasapi, maka kulitnya akan kering kaku dan keras setelah dibasahi dan harus dilunakkan lagi. Sejauh ini langkah yang paling memakan waktu adalah pelunakan. Dibutuhkan berjam-jam menguleni kulit
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 3 9
di tangan Anda, atau menariknya bolak-balik di atas kepala paku yang ditancapkan ke balok kayu, dan pekerjaannya memang sangat monoton. Saya berbicara dari pengalaman pribadi. Argumen yang kadang-kadang ditawarkan adalah bahwa pemburu-peramu yang bertahan hidup hingga saat ini hidup di lingkungan yang sulit, karena semua tanah yang lebih ramah telah diambil alih oleh masyarakat pertanian. Seharusnya, pemburu-peramu prasejarah yang menduduki wilayah yang subur pasti bekerja jauh lebih sedikit daripada pemburu-peramu yang belakangan ini tinggal di gurun atau lingkungan tidak produktif lainnya. 33 Ini mungkin benar, tetapi ar- gumennya spekulatif, dan saya skeptis terhadapnya. Saya sudah keriput sekarang, tetapi saya dulu cukup akrab dengan tanaman liar yang dapat dimakan di Amerika Serikat bagian timur, yang merupakan salah satu daerah paling subur di dunia, dan saya akan terkejut jika seseorang dapat hidup dan membangun keluarga di sana dengan berburu dan meramu dengan waktu kerja kurang dari empat puluh jam seminggu. Di wilayah ini terdapat berbagai macam tanaman yang dapat dimakan, tetapi hidup mengandalkan tanaman liar tidak akan semudah yang Anda bayangkan. Ambil kacang, misalnya. Kenari hitam, kenari putih (butternut), dan kacang hickory sangat bergizi dan seringkali berlimpah di sana. Orang Indian biasa mengumpulkan tumpukan besar kacang-kacangan ini. 34 Jika Anda menemukan beberapa pohon yang bagus di bulan Oktober, Anda mungkin bisa mengumpulkan cukup banyak kacang dalam satu jam atau kurang untuk memberi makan diri Anda sendiri sepanjang hari. Kedengarannya bagus, bukan? Ya, kedengarannya bagus —jika Anda belum pernah mencoba memecahkan kenari hitam. Mungkin Arnold Schwarzenegger bisa memecahkan kenari hitam dengan pemecah kacang biasa —jika pemecah kacangnya tidak pecah duluan— tetapi orang dengan fisik rata-rata tidak bisa melakukannya. Anda harus memukul kacangnya dengan palu; dan
t e d k a c z y n s k i | 4 0
bagian dalam kacang dibagi oleh partisi yang sama tebal dan keras dengan kulit luarnya, jadi Anda harus memecah kacang menjadi beberapa bagian dan kemudian dengan susah payah mengambil potongan kacangnya. Prosesnya memakan waktu. Untuk mendapatkan makanan yang cukup untuk sehari, Anda mungkin harus memecahkan kacang dan memilih potongan kacang sepanjang hari. Kenari putih liar (jangan tertukar dengan kenari Inggris dari kebun yang Anda beli di toko) sangat mirip dengan yang hitam. Kacang hickory tidak terlalu sulit untuk dipotong, tetapi mereka masih memiliki partisi internal yang keras dan biasanya kacangnya jauh lebih kecil daripada kenari hitam. Orang India mengatasi masalah ini dengan memasukkan kacang ke dalam lesung dan menumbuknya menjadi potongan-potongan kecil, kulit, daging, dan sebagainya. Kemudian mereka akan merebus campuran tersebut dan menyim- pannya hingga dingin. Pecahan cangkang akan mengendap di dasar panci sementara daging kacang yang dihaluskan akan mengendap di lapisan di atas cangkang; sehingga daging kacang dapat dipisah- kan dari cangkangnya. 35 Ini tentu saja lebih efisien daripada memecahkan kacang satu per satu. Tetapi seperti yang Anda lihat, itu masih membutuhkan banyak usaha. Orang Indian di AS bagian timur memanfaatkan makanan liar lainnya yang membutuhkan persiapan yang kurang lebih sama melelahkannya untuk membuatnya dapat dimakan. 36 Hampir tidak mungkin mereka akan menggunakan makanan seperti itu jika makanan yang lebih mudah disiapkan telah tersedia dalam jumlah yang cukup. Euell Gibbons, seorang ahli tanaman liar yang dapat dimakan, melaporkan sebuah episode saat hidup di wilayah pedesaan di Amerika Serikat bagian timur. 37 Sulit untuk mengatakan apa yang ditunjukkan dari pengalamannya tentang jam kerja orang primitif, karena dia tidak memberikan perhitungan kuantitatif tentang waktu yang dia habiskan untuk mencari makan. Bagaimanapun, dia
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 4 1
dan rekannya hanya mencari makanan dan mengolahnya; mereka tidak perlu menyamak kulit atau membuat pakaian, peralatan, perkakas, atau tempat tinggal mereka sendiri; mereka tidak punya anak untuk diberi makan; dan mereka melengkapi diet mereka dengan makanan yang dibeli di toko berkalori tinggi: minyak goreng, gula, dan tepung. Setidaknya pada satu kesempatan mereka menggunakan mobil untuk transportasi. Tapi mari kita bayangkan daerah paling subur di dunia, dimana makanan liar pernah begitu melimpah sehingga hidup di daerah liar sepanjang tahun dengan rata-rata hanya, katakanlah, tiga jam kerja per hari dimungkinkan. Dengan sumber daya yang melimpah seperti itu, pemburu-peramu tidak perlu melakukan perjalanan untuk mencari makanan. Orang akan mengharapkan mereka menetap, dan dalam hal ini mereka akan mengumpulkan kekayaan dan membentuk hierarki sosial yang berkembang dengan baik. Oleh karena itu mereka akan kehilangan setidaknya beberapa kualitas yang dihargai oleh kaum anarko-primitifis terhadap pemburu-peramu nomaden. Bahkan kaum anarko-primitifis tidak menyangkal bahwa orang Indian di Pantai Barat Laut Amerika Utara adalah pemburu-peramu yang menetap yang mengumpulkan kekayaan dan memiliki hierarki sosial yang berkembang dengan baik. 38 Bukti menunjukkan adanya masyarakat pemburu dan peramu serupa di tempat lain di mana kelimpahan sumber daya alam memungkinkan, misalnya, di sepanjang sungai-sungai besar Eropa. 39 Dengan demikian kaum anarko-primitifis terlilit dalam suatu jeratan: Di mana sumber daya alam cukup melimpah untuk meminimalkan pekerjaan, hierarki sosial yang dibenci oleh kaum anarko-primitifisme kemungkinan besar tumbuh. Namun, saya belum mencoba membuktikan bahwa manusia primitif tidak seberuntung kehidupan kerjanya manusia modern. Menurut pendapat saya, sebaliknya itu benar. Mungkin setidaknya
t e d k a c z y n s k i | 4 2
beberapa pemburu-peramu nomaden memiliki lebih banyak waktu luang daripada pekerja Amerika modern. Memang benar bahwa kira-kira empat puluh jam kerja dalam seminggu dari orang Bushmen yang diteliti Richard Lee hampir sama dengan seminggu kerja standar orang Amerika. Tetapi orang Amerika modern dibebani dengan banyak tuntutan atas waktu mereka di luar jam kerja. Saya sendiri, ketika bekerja di pekerjaan yang menuntut empat puluh jam per minggu, umumnya merasa sibuk: saya harus berbelanja bahan makanan, pergi ke bank, mencuci pakaian, mengisi formu- lir pajak penghasilan, mengambil mobil untuk diservice, potong rambut, pergi ke dokter gigi... selalu ada sesuatu yang perlu dilakukan. Banyak orang yang sekarang berkorespondensi dengan saya juga mengeluh karena sibuk. Sebaliknya, waktu seorang laki-laki Bushman benar-benar miliknya sendiri di luar jam kerjanya; dia bisa menghabiskan waktu non-kerjanya sesuka hatinya. Perempuan Bushman usia reproduksi mungkin memiliki waktu luang yang jauh lebih sedikit karena, seperti perempuan dari semua masyarakat, mereka dibebani dengan perawatan anak-anak kecil. Tapi waktu luang adalah konsep modern, dan penekanan yang diberikan anarko-primitifis adalah bukti pengabdian mereka terhadap nilai-nilai peradaban yang mereka tolak. Jumlah waktu yang dihabiskan dalam pekerjaan bukanlah yang terpenting. Banyak penulis telah membahas apa yang salah dengan pekerjaan dalam masyarakat modern, dan saya tidak melihat alasan untuk membahasnya lagi. Yang penting adalah, terlepas dari kemonotonan, apa yang salah dalam pekerjaan masyarakat modern tidak salah dalam pekerjaan pemburu-peramu nomaden. Pekerjaan pemburu-peramu itu menantang, baik dari segi upaya fisik maupun soal tingkat keterampilan yang dibutuhkan. Pekerjaan pemburu-peramu memiliki tujuan, dan tujuannya tidak abstrak, jauh atau buatan, tetapi konkret, sangat nyata, dan secara langsung penting bagi kebutuhan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 4 3
mereka sendiri: Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik dirinya sendiri, keluarganya, dan orang lain yang secara pribadi dekat dengannya. Di atas segalanya, pemburu-peramu nomaden adalah pekerja bebas: Dia tidak dieksploitasi, dia tidak tunduk pada bos, tidak ada yang memberinya perintah; 41 ia menentukan hari kerjanya sendiri, jika bukan sebagai individu maka sebagai anggota kelompok yang cukup kecil sehingga setiap individu dapat berpartisipasi secara bermakna dalam keputusan yang dibuat. 42 Pekerjaan modern cenderung membuat stress secara psikologis, tetapi ada alasan untuk percaya bahwa pekerjaan orang primitif biasanya melibatkan lebih sedikit tekanan psikologis. 43 Pekerjaan pemburu-peramu seringkali monoton, tetapi menurut pandangan saya, monoton pada bukanlah masalah besar bagi orang-orang primitif. Kebosanan, menurut saya, sebagian besar merupakan fenomena beradab dan merupakan produk tekanan psikologis yang merupakan ciri kehidupan beradab. Ini memang masalah pendapat pribadi, saya tidak bisa membuktikannya, dan diskusi tentang itu akan membawa kita keluar dari cakupan artikel ini. Di sini saya hanya akan mengatakan bahwa pendapat saya sebagian besar didasarkan pada pengalaman saya sendiri hidup di luar sistem tekno-industrial. Bagaimana perasaan pemburu-peramu tentang pekerjaan mereka sendiri sulit untuk dikatakan, karena para antropolog dan orang lain yang mengunjungi masyarakat primitif (setidaknya mereka yang laporannya telah saya baca) biasanya tidak menanyakan pertanyaan seperti itu. Tetapi berikut ini catatan Holmberg: “Mereka relatif apatis terhadap pekerjaan (taba taba), yang mencakup tugas-tugas yang tidak menyenangkan seperti membangun rumah, mengumpulkan kayu bakar, membersihkan, menanam, dan mengolah ladang. Namun, dalam hal yang sangat berbeda, ada pekerjaan yang menyenangkan seperti berburu (gwata gwata) dan mengumpulkan makanan (deka deka, ‘mencari’), yang lebih dianggap sebagai pengalihan [diversion]
t e d k a c z y n s k i | 4 4
ketimbang sebagai pekerjaan.” 44 Ini terlepas dari kenyataan bahwa, seperti yang saya tulis sebelumnya, kegiatan berburu dan meramu orang Siriono sangat memakan waktu, melelahkan, berat, dan menuntut fisik.
3 Unsur lain dari mitos anarko-primitifis adalah keyakinan bahwa pemburu-peramu, setidaknya yang nomaden, memiliki kesetaraan gender. John Zerzan, misalnya, telah menegaskan hal ini di Future Primitive⁴⁵ dan di tulisan lain. 46 Mungkin beberapa masyarakat pemburu-peramu memang memiliki kesetaraan gender penuh, meskipun saya tidak tahu satupun contoh yang tidak dapat diban- tah. Saya tahu budaya berburu dan meramu memiliki tingkat kesetaraan gender yang relatif tinggi, tetapi tidak sepenuhnya setara. Di masyarakat pemburu-peramu nomaden lainnya, dominasi laki-laki tidak dapat disangkal lagi, dan di beberapa masyarakat seperti itu, dominasi laki-laki mencapai tingkat kebrutalan habis-habisan terhadap perempuan. Mungkin contoh kesetaraan gender yang paling dipuji di antara pemburu-peramu adalah orang Bushmen yang jadi studi Richard Lee, yang saya sebutkan sebelumnya dalam diskusi kita tentang kehidupan kerja pemburu-peramu. Perlu dicatat di awal bahwa akan sangat berisiko untuk mengasumsikan bahwa kesimpulan Lee tentang orang-orang Bushmen di Dobe dapat diterapkan pada seluruh orang Bushmen di wilayah Kalahari secara umum. Masing-masing kelompok Bushmen berbeda secara budaya; 47 mereka bahkan tidak berbicara dalam bahasa yang sama. 48 Bagaimanapun, sebagian besar anarko-primitifis mengandalkan studi Richard Lee. Nancy Bonvillain menyatakan bahwa di antara orang Bushmen Dobe (yang dia sebut “Ju/’hoansi”), “norma-norma sosial jelas mendukung gagasan kesetaraan perempuan dan laki-laki,” dan bahwa “masyarakat mereka secara terbuka mengesahkan kese-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 4 5
taraan perempuan dan laki-laki.” 50 Jadi orang Bushmen Dobe memiliki kesetaraan gender, kan? Yah, mungkin tidak. Lihatlah beberapa fakta yang Bonvillain sendiri tawarkan dalam buku yang sama: “Kebanyakan pemimpin dan juru bicara perkemahan adalah laki-laki. Meskipun perempuan dan laki-laki berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan pengambilan keputusan, …dua pertiga dari keseluruhan peserta musyawarah terdiri dari laki-laki.” 51 Yang jauh lebih buruk lagi adalah pernikahan paksa gadis-gadis di usia remaja awal dengan laki-laki yang jauh lebih tua dari mereka. 52 Memang benar bahwa praktik yang tampaknya kejam bagi kita mungkin tidak sekejam itu bagi orang-orang dari budaya lain yang mempraktikkannya. Tapi Bonvillain mengutip kata-kata seorang perempuan Bushman yang menunjukkan bahwa setidaknya beberapa gadis mengalami pernikahan paksa mereka dengan kejam: “Saya terus-terusan menangis”; 53 “Saya lari lagi dan lagi. Sebagian dari hati saya terus berpikir: ‘kenapa saya masih anak-anak dan sudah bersuami?’” 54 Apalagi, “karena senioritas menciptakan gengsi..., semakin lama usia, pengalaman, dan kedewasaan seorang suami, maka semakin membuat istri secara sosial, kalau bukannya secara pribadi, menjadi bawahan.” 55 Jadi, sementara orang Bushmen Dobe tidak diragukan lagi memiliki beberapa elemen kesetaraan gender, orang harus meregangkan poin cukup jauh untuk mengklaim bahwa mereka memiliki kesetaraan gender penuh. Berdasarkan pengalaman pribadinya, Colin Turnbull menyatakan bahwa di antara orang pigmi Mbuti di Afrika, “perempuan sama sekali tidak inferior secara sosial dari laki-laki,” 56 dan bahwa “perempuan tidak didiskriminasi.” 57 Kedengarannya seperti kesetaraan gender ...sampai Anda melihat fakta nyata yang disampaikan oleh Turnbull sendiri dalam buku yang sama: “Pemukulan terhadap istri dalam jumlah tertentu dianggap baik, dan istri diharapkan
t e d k a c z y n s k i | 4 6
untuk melawan; 58 “Dia mengatakan bahwa dia sangat puas dengan istrinya, dan dia tidak merasa perlu untuk sering memukulinya,” 59; Pria melempar istri ke tanah dan menamparnya; 60 Suami memukuli istri; 61 Laki-laki memukuli saudara perempuan; 62 Kenge mengalahkan saudari perempuannya; 63 “Mungkin dia seharusnya memukulinya lebih keras, kata Tunana [seorang lelaki tua], karena beberapa gadis suka dipukuli,” 64; “Amabosu membalas dengan memukul wajahnya dengan kuat. Biasanya Ekianga akan menyetujui penegasan otoritas yang jantan seperti itu atas seorang istri yang tidak setia.” 65 Turnbull menyebutkan dua contoh laki-laki yang memberi perintah kepada istri mereka. 66 Saya tidak menemukan contoh apapun dalam buku Turnbull tentang istri yang memberi perintah kepada suami mereka. Segala harta benda yang diperoleh istri dianggap sebagai harta milik suami. 67 “[Seorang laki-laki] harus memiliki izin [seorang perempuan] sebelum hubungan seksual dapat dilakukan. Para lelaki mengatakan bahwa begitu mereka berbaring dengan seorang gadis, bagaimanapun, jika mereka menginginkannya, mereka akan mengejutkannya, ketika mengelusnya, dan memaksanya menurut keinginan mereka.” 68 Saat ini kita akan menyebutnya “perkosaan kencan” [date rape], dan pemuda yang melakukannya akan menghadapi risiko hukuman penjara yang lama. Supaya seimbang, perhatikan bahwa Turnbull tidak menemukan di antara Mbuti contoh apa yang kita sebut “perkosaan jalanan” sebagai lawan dari “perkosaan kencan”; 69 suami tidak boleh memukul kepala atau wajah istri mereka; 70 dan dalam setidaknya satu kasus di mana seorang pria terlalu sering dan parah memukuli istrinya, teman-teman sekemahnya akhirnya menemukan cara untuk mengakhiri pelecehan tersebut tanpa menggunakan kekerasan dan tanpa campur tangan terang-terangan. Juga harus diingat bahwa pentingnya pemukulan tergantung pada konteks budaya. Dalam masyarakat kita adalah penghinaan besar untuk dipukul
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 4 7
oleh orang lain, terutama oleh orang yang lebih besar dan lebih kuat dari diri sendiri. Tetapi karena pukulan adalah hal biasa di antara orang Mbuti, 72 mungkin dapat diasumsikan bahwa pukulan itu tidak dianggap sebagai hal yang memalukan. Meski begitu cukup jelas bahwa hingga tingkat tertentu ada dominasi laki-laki di antara orang Mbuti. Di antara Siriono: “Seorang perempuan tunduk pada suaminya”; 73 “Keluarga besar umumnya didominasi oleh laki-laki tertua yang aktif ”; 74 “[Perempuan] didominasi oleh laki-laki”; 75 “Jika seorang lelaki keluar di hutan sendirian dengan seorang perempuan, ... dia mungkin melemparkannya ke tanah dengan kasar dan mengambil hadiahnya [seks] tanpa mengucapkan sepatah kata pun”; 76 Orang tua pasti lebih suka memiliki anak laki-laki; 77 “Meskipun gelar ererekwa disediakan oleh laki-laki untuk seorang kepala suku, seseorang bertanya kepada seorang perempuan: ‘siapa ererekwamu?’ dia akan selalu menjawab: ‘suamiku’.” 78 Di sisi lain, Siriono tidak pernah memukuli istri mereka, 79 dan “Perempuan menikmati hak istimewa yang hampir sama dengan laki-laki. Mereka mendapatkan makanan sebanyak atau lebih dari lelaki untuk dimakan, dan mereka menikmati kebebasan seksual yang sama.” 80 Menurut Bonvillain, lelaki Eskimo “mendominasi istri dan anak
perempuan mereka. Dominasi laki-laki tidak total, namun....”
81 Dia menggambarkan hubungan gender di antara orang Eskimo secara rinci, 82 yang mungkin cenderung tidak mencerminkan ideologi fe- minisnya. Di antara orang Eskimo yang tinggal bersama Gontran de Poncins, para suami jelas-jelas memegang otoritas terbuka atas istri mereka⁸³ dan terkadang memukuli mereka. 84 Namun, melalui bakat persuasi mereka, para istri memiliki kekuasaan besar atas suami mereka: “Sepertinya ...perempuan pribumi hidup dalam keadaan inferioritas yang hina terhadap pria Eskimo, tetapi ini tidak terjadi.
t e d k a c z y n s k i | 4 8
Otoritas yang tak dimiliki perempuan Eskimo dibandingkan dengan perempuan kulit putih, dihasilkan, dengan kelicikan superi- or, dalam cara lain. Perempuan pribumi sangat cerdik, dan mereka hampir tidak pernah gagal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan”; “...adalah sukacita abadi untuk menonton komedi ini, perjuangan yang hampir tanpa kata-kata ini di mana istri... mau tidak mau mendapatkan yang lebih baik dari suami. Tidak ada perempuan Eskimo yang tidak terlatih dalam seni membujuk, tidak ada yang tidak mampu mengulangi dengan desakan yang tak kenal lelah namun menyindir dengan menyebutkan apa yang dia inginkan, sampai sang suami, yang lelah karena kegigihannya, menyerah”; “Perempuan berada di balik segalanya di dunia Eskimo ini”; 85 “Tidak perlu menjadi seorang feminis untuk bertanya: ‘tetapi bagaimana dengan status perempuan Eskimo?’ Status mereka cukup cocok untuk mereka; dan saya telah menunjukkan di sana-sini di halaman-halaman ini bahwa mereka bukan hanya simpanan rumah tangga mereka, tetapi juga, di sebagian besar keluarga Eskimo, pendorong yang cerdas dari keputusan suami mereka.” 86 Namun, Poncins mungkin telah melebih-lebihkan sejauh mana kekuatan perempuan Eskimo, karena itu tidak cukup untuk memungkinkan mereka menghindari seks yang tidak diinginkan: Peminjaman istri di antara orang Eskimo ini ditentukan oleh laki-laki, dan istri harus menerima untuk dipinjamkan ke laki-laki terlepas apakah mereka menyukainya atau tidak. 87 Setidaknya dalam beberapa kasus, tampaknya, para perempuan sangat membenci hal ini. 88 Perlakuan orang Aborigin Australia terhadap perempuan mereka sangat buruk. Perempuan hampir tidak memiliki kekuatan untuk memilih suami mereka sendiri. 89 Mereka digambarkan telah “dimiliki” oleh para lelaki, yang memilihkan suami untuk mereka. Gadis muda sering dipaksa menikah dengan lelaki tua, dan kemudian mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hi-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 4 9
91 dup suami mereka yang sudah lanjut usia. Tidak mengherankan, seorang gadis muda sering menolak kawin paksa dengan melarikan diri. Dia kemudian dipukuli habis-habisan dengan pentungan dan dikembalikan ke suaminya. Jika dia terus melarikan diri, dia bah- 92 kan mungkin bakal ditombak di pahanya. Seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan yang tidak menyenangkan mungkin menikmati penghiburan karena memiliki kekasih di samping- nya, tetapi, sementara ini “agak ditolerir”, hal itu dapat mengarah 93 pada kekerasan. Seorang gadis bahkan mungkin akan kawin lari dengan kekasihnya. Namun: “Mereka akan diikuti, dan jika tertangkap, sebagai hukumannya, gadis itu, untuk saat ini, menjadi milik bersama para pengejarnya. Pasangan itu kemudian dibawa kembali ke kemah di mana, jika mereka dari divisi totem yang tepat untuk menikah, lelakinya itu harus menghadapi pengadilan dengan dilempari tombak oleh suami dan kerabatnya ... dipukuli oleh kerabatnya. Jika [pasangan itu] bukan dari divisi totem yang tepat untuk menikah, mereka berdua akan ditombak ketika ditemukan, 94 karena dosa mereka tidak terampuni.” Meskipun ada “keharmonisan dan saling pengertian yang nyata di sebagian besar keluarga Aborigin”, pemukulan terhadap istri 95 tetap dilakukan. Menurut A.P. Elkin, dalam beberapa keadaan -misalnya, pada acara-acara seremonial tertentu-perempuan harus tunduk pada seks wajib, yang “menyiratkan bahwa perempuan hanyalah objek untuk digunakan dalam cara-cara tertentu yang 96 ditetapkan secara sosial.” Para perempuan, kata Elkin, “mungkin 97 sering tidak keberatan,” tetapi: “Mereka kadang-kadang hidup 98 dalam teror selama menjalani seremonial.” Tentu saja, tidak ada klaim yang dibuat di sini bahwa semua kondisi di atas berlaku di semua bagian penduduk asli Australia. Budaya Aborigin tidak se- ragam di seluruh benua. Coon mengatakan bahwa orang Australia adalah nomaden, tetapi dia juga menyatakan bahwa di bagian teng-
t e d k a c z y n s k i | 5 0
gara Australia, yaitu “bagian yang berair lebih baik, terutama Victo- ria dan negara Sungai Murray”, penduduk asli “relatif menetap.” 99 Menurut Massola, di bagian tenggara Australia yang lebih kering, penduduk asli harus menempuh jarak yang jauh dari satu sumur ke sumur yang cepat kering lainnya pada musim kemarau. 100 Ini sesuai dengan tingkat nomaden yang tinggi yang dijelaskan untuk bagian kering lainnya di Australia, di mana “Aborigin berpindah dari lubang air ke lubang air di sepanjang jalur yang ditentukan dengan baik dalam kelompok keluarga kecil. Seluruh kamp pindah dan jarang membangun pangkalan.” 101 Dalam menyatakan bahwa di “bagian yang lebih banyak airnya” penduduk asli “relatif menetap”, Coon tidak diragukan lagi berarti bahwa “di daerah subur ada area berkemah yang mapan, dekat dengan air, di mana orang selalu berkemah pada waktu-waktu tertentu tiap tahunnya. Kamp adalah pangkalan tempat orang-orang menyerbu semak-semak di sekitarnya untuk mencari makanan, kembali pada sore hari atau menghabiskan waktu di sana beberapa hari lagi.” 102 Coon mengatakan bahwa di bagian Sungai Murray yang berair baik, setiap klan teritorial memiliki kepala dan dewan yang sebagian besar terdiri dari lelaki, meskipun dalam beberapa kasus perempuan juga dipilih untuk dewan; sedangkan, lebih jauh ke utara dan barat, ada sedikit kepemimpinan formal dan “kontrol atas perempuan dan laki-laki yang lebih muda dibagi antara” laki-laki berusia tiga puluh sampai lima puluh tahun. 103 Dengan demikian, perempuan Australia hanya memiliki sedikit kekuatan politik secara terbuka. Namun, seperti di antara orang Eskimo Poncins, sebagaimana di masyarakat kita, dan mungkin di setiap masyarakat, perempuan sering kali memberikan pengaruh besar pada kaum prianya. 104 Orang Tasmania juga merupakan pemburu-peramu nomaden (walaupun ada yang “relatif menetap”), dan tidak jelas apakah mereka memperlakukan perempuan lebih baik daripada orang Aus-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5 1
tralia. “Dalam satu pengamatan, kami diberitahu bahwa sebuah kelompok yang tinggal di dekat Kota Hobart sebelum kedatangan penjajah diserbu oleh tetangga yang membunuh para pria yang mencoba menghentikan mereka dan mengambil perempuan mereka. Dan ada laporan lain tentang kasus pernikahan individu yang dilakukan dengan penangkapan. Kadang-kadang ketika seorang pria dari kelompok tetangga memiliki hak untuk menikahi seorang gadis, tetapi baik dia maupun orang tuanya tidak menyukainya, dikatakan bahwa mereka membunuh gadis itu daripada menyerah- kannya”; 106 “Suku-suku lain menganggap [suku tertentu] pengecut, dan menyerbu mereka untuk menculik para perempuan”; 107 “Wo- orrady memperkosa dan membunuh saudari iparnya.” 108 Di sini saya harus menjelaskan bahwa bukan maksud saya untuk menentang kesetaraan gender. Saya sendiri merupakan produk masyarakat industri modern yang merasa bahwa perempuan dan laki-laki harus memiliki status yang sama. Tujuan saya saat ini hanyalah untuk menunjukkan fakta tentang hubungan antara jenis kelamin dalam masyarakat berburu dan meramu.
4 Tiap kali ada upaya untuk menarik kesimpulan tentang budaya pemburu-peramu yang “murni”, masalah selalu muncul. Jika kita memiliki deskripsi budaya primitif, biasanya itu akan ditulis oleh beberapa orang yang beradab. Jika uraiannya dirinci, maka pada saat itu ditulis, orang-orang primitif yang digambarkan biasanya telah memiliki kontak yang signifikan, langsung atau tidak langsung, dengan peradaban, dan kontak semacam itu dapat membawa perubahan dramatis dalam budaya primitif. Elizabeth Marshall Thomas, dalam pengantar bukunya, The Harmless People edisi 1989, menggambarkan dampak kehancuran peradaban yang sangat dahsyat terhadap Bushmen yang dia kenal.
t e d k a c z y n s k i | 5 2
Harold B. Barclay telah menunjukkan bahwa (misalnya) orang Eskimo modern “cukup senang dengan senapan bertenaga tinggi, perahu motor, dan sebagainya.” 110 “Selanjutnya” akan mencakup mobil salju. Oleh karena itu, kata Barclay, “para pemburu-peramu saat ini sama sekali tidak identik dengan pemburu-peramu dari seribu atau sepuluh ribu tahun yang lalu.” 111 Menurut Cashdan, yang menulis pada tahun 1989, “semua pemburu-peramu di dunia saat ini terhubung, secara langsung atau tidak langsung, dengan ekonomi dunia. Fakta ini seharusnya mengingatkan kita agar tidak melihat pemburu-peramu hari ini sebagai ‘jepretan’ dari masa lalu.” 112 Tentu saja, demi mencari bukti tentang cara hidup manusia sebelum munculnya peradaban, tidak seorang pun yang waras yang akan beralih ke orang-orang yang menggunakan perahu motor, mobil salju, dan senapan bertenaga tinggi, 113 atau kepada orang-orang yang budayanya jelas telah terganggu oleh masyarakat beradab. Kami mencari catatan pemburu-peramu yang ditulis (setidaknya) beberapa dekade yang lalu dan pada saat —sejauh yang kami tahu— budaya mereka belum secara serius berubah akibat kontak dengan peradaban. Tetapi tidak mudah untuk mengetahui apakah kontak dengan peradaban telah mengubah budaya primitif. Coon jelas menyadari masalah itu, dan dalam surveinya yang luar biasa tentang budaya pemburu-peramu, dia memberikan contoh berikut tentang bagaimana campur tangan yang tampaknya kecil dari peradaban dapat memiliki efek dramatis pada budaya primitif: Ketika “misionaris yang bermaksud baik membagikan kapak baja ” bagi penduduk asli Yir Yoront di Australia, “dunia Yir Yoront hampir berakhir. Para lelaki kehilangan otoritas mereka atas istri mereka, kesenjangan generasi muncul,” dan sistem perdagangan yang membentang ratusan mil terganggu. Orang-orang Bushmen-nya Richard Lee mungkin adalah contoh favorit untuk anarko-primitifis dan antropolog kiri yang ingin menyajikan cit-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5 3
ra pemburu-peramu yang benar secara politis [politically-correct], dan Bushmen-nya Lee termasuk di antara yang paling “murni” dari pemburu-peramu yang kami sebutkan di sini. Mereka bahkan mungkin tidak selalu menjadi pemburu-peramu. 115 Bagaimanapun, mereka mungkin telah berdagang dengan masyarakat pertanian dan penggembala selama beberapa ribu tahun. 116 Orang Bushmen Kung yang diketahui Nyonya Thomas memiliki logam yang diperoleh melalui perdagangan, 117 dan hal yang sama tampaknya berlaku untuk Bushmen-nya Lee. 118 Nyonya Thomas menulis: “Dalam sepuluh hingga dua puluh tahun setelah kami memulai pekerjaan kami, banyak akademisi [mungkin termasuk Richard Lee] mengembangkan minat yang sangat besar pada Bushmen. Banyak dari mereka pergi ke Botswana untuk mengunjungi kelompok Bushmen Kung, dan untuk sementara waktu di Botswana, rasio antropolog/Bushmen tampak hampir satu banding satu.” 119 Jelas, kehadiran begitu banyak antropolog itu sendiri mungkin telah mempengaruhi perilaku Bushmen. Pada tahun 1950-an, 120 ketika Turnbull mempelajarinya, terlebih lagi pada tahun 1920-an dan 1930-an¹²¹ ketika Schebesta mempelajarinya, orang Mbuti tampaknya tidak menjalin banyak kontak langsung dengan peradaban, sehingga Schebesta melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa, “Mbuti tidak hanya secara rasial, tetapi juga secara psikologis dan dalam hal sejarah budaya, adalah fenomena purba (Urphanomen) di antara ras dan bangsa di Bumi.” 122 Namun Mbuti sudah mulai sedikit terpengaruh oleh peradaban beberapa tahun sebelum kunjungan pertama Schebesta ke Mbuti. 123 Dan selama berabad-abad sebelum itu, Mbuti telah hidup dalam kontak langsung (termasuk hubungan perdagangan yang luas) dengan penggarap tanaman yang tinggal di desa yang tidak beradab. Seperti yang ditulis Schebesta, “Keyakinan bahwa Mbuti telah tertutup rapat dari dunia luar telah dibuang jauh-jauh.” Turnbull melangkah lebih jauh: “bukan bermaksud untuk
t e d k a c z y n s k i | 5 4
bilang bahwa struktur [sosial] yang ditemukan di antara Mbuti adalah perwakilan dari struktur berburu dan peramu orang kerdil yang asli; sebenarnya mungkin jauh dari itu, karena dampak invasi hutan oleh para petani desa sangat besar.” 126 Meskipun beberapa orang Eskimo yang diteliti Gontran de Poncins “lebih murni” daripada yang lain, 127 tampaknya mereka semua memiliki setidaknya beberapa barang dagangan dari orang kulit putih. Jika ada pembaca yang mau bersusah payah melacak sumber primer paling awal —mungkin beberapa karya Vilhjalmur Stefansson pada awal abad 20— supaya menilik sesedekat mungkin dengan budaya Eskimo yang asli dan “murni”, saya akan tertarik untuk mendengar temuannya. Tetapi ada kemungkinan bahwa bahkan jauh sebelum kontak Eropa, budaya Eskimo mungkin telah dipengaruhi oleh sesuatu yang mereka terima dari masyarakat yang tidak berburu; karena kereta luncur anjing mereka mungkin tidak berasal dari pemburu-peramu. 128 Dengan orang Siriono kita menjadi lebih dekat dengan kemur- nian budaya pemburu-peramu ketimbang yang kita lakukan dengan orang Bushmen, Mbuti, atau Eskimo. Orang Siriono bahkan tidak memiliki anjing, 129 dan meskipun mereka sampai batas tertentu bercocok tanam, para antropolog menganggap budaya mereka itu Paleolitik (Zaman Batu Tua). 130 Beberapa orang Siriono yang dipelajari oleh Holmberg memiliki sedikit atau tanpa kontak dengan orang kulit putih sebelum kedatangan Holmberg¹³¹ dan di antara Siriono itu, alat-alat Eropa jarang ditemui¹³² sampai Holmberg sendiri yang memperkenalkannya. 133 Sebaliknya, orang Siriono membuat alat mereka dari bahan lokal yang terbentuk secara alami. 134 Apalagi orang Siriono sangat primitif sehingga mereka tidak bisa menghitung lebih dari tiga. Meski begitu, budaya Siriono mungkin telah terpengaruh oleh kontak dengan masyarakat yang lebih “maju”, karena Holmberg berpikir bahwa Siriono “mungkin sisa-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5 5
sisa populasi kuno yang dimusnahkan, diserap, atau ditelan oleh penjajah yang lebih beradab.” 136 Lauriston Sharp bahkan menyarankan bahwa orang Siriono mungkin telah “merosot” [sic] “dari kondisi teknis yang lebih maju,” meskipun Holmberg menolak pandangan ini dan Sharp sendiri menganggapnya “tidak relevan.” 137 Selain itu, orang Siriono mungkin telah terpengaruh secara tidak langsung oleh peradaban Eropa, karena mungkin setidaknya beberapa penyakit yang mereka derita, misalnya malaria, telah dibawa ke Amerika oleh orang Eropa. 138 Tidak mengherankan bahwa sebagian besar pemburu-peramu yang saya sebutkan di sini —seperti yang dikutip oleh para anarko-primitifis dan antropolog yang benar secara politik— dipengaruhi oleh kontak langsung atau tidak langsung dengan masyarakat pertanian atau penggembala bahkan jauh sebelum kontak pertama mereka dengan orang Eropa, karena di luar Australia, Tasmania, dan ujung barat dan utara Amerika Utara “populasi yang tetap setia pada cara hidup pemburu-peramu yang lama tetap kecil dan tersebar.” 139 Akibatnya, dengan kemungkinan pengecualian beberapa orang yang tinggal di pulau-pulau kecil, mereka tentu memiliki beberapa bentuk kontak dengan populasi non-pemburu-peramu di sekitarnya. Mungkin orang Aborigin Australia dan Tasmania adalah pemburu-peramu yang paling murni ketika orang Eropa pertama kali menemukannya. Australia adalah satu-satunya benua yang dihuni secara eksklusif oleh pemburu-peramu sampai kedatangan orang kulit putih, dan Tasmania, sebuah pulau di selatan Australia, bahkan lebih terisolasi. Tetapi Tasmania mungkin telah dikunjungi oleh orang Polinesia, dan di utara Australia ada beberapa kontak terbatas dengan orang-orang dari Indonesia [Makassar -peny] dan Nuigini sebelum kedatangan orang Eropa. Masih mungkin terjadi kontak lebih awal dengan orang luar, yang kemungkinan besar bukan pemburu-peramu. Jadi kami tidak memiliki bukti untuk
t e d k a c z y n s k i | 5 6
menyimpulkan bahwa budaya pemburu-peramu yang bertahan hingga akhir-akhir ini tidak terpengaruh secara serius oleh kontak dengan non-pemburu-peramu pada saat laporan pertama tentang mereka ditulis. Akibatnya, sedikit banyak ada ketidakpastian dalam penggunaan laporan tentang masyarakat pemburu-peramu baru-baru ini untuk menarik kesimpulan tentang hubungan gender di antara pemburu-peramu prasejarah. Dan kesimpulan apa pun yang ditarik dari peninggalan arkeologis tentang hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan hanya perkiraan semata. Jadi, jika Anda mau, Anda dapat menolak semua bukti dari deskripsi budaya pemburu-peramu baru-baru ini, dan dalam hal ini kita hampir tidak tahu apa-apa tentang hubungan gender dari pemburu-peramu prasejarah. Atau (dengan wilayah reservasi yang diperlukan) Anda dapat menerima bukti dari masyarakat pemburu-peramu baru-baru ini, dan dalam hal ini bukti dengan jelas menunjukkan tingkat dominasi laki-laki yang signifikan. Dalam kedua kasus tersebut, tidak ada bukti untuk mendukung keyakinan anarko-primitifis bahwa semua atau sebagian besar masyarakat manusia memiliki kesetaraan gender penuh sebelum munculnya pertanian dan peternakan sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu.
5 Tinjauan kita tentang fakta-fakta mengenai hubungan gender dalam masyarakat pemburu-peramu baru-baru ini membantu mengungkapkan sesuatu tentang psikologi para anarko-primitifis dan sepupu mereka, para antropolog yang lebih politis. Kaum anarko-primitifis, dan banyak antropolog yang politis, mengutip bukti apa pun yang dapat mereka temukan bahwa pemburu-peramu memiliki kesetaraan gender, sementara secara sistematis mengabaikan banyak bukti ketidaksetaraan gender yang ditemukan dalam laporan saksi mata tentang budaya pemburu-peramu.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5 7
Misalnya, antropolog Haviland, dalam buku teksnya Cultural Anthropology, menyatakan bahwa “karakteristik penting dari masyarakat [pemburu-peramu] yang mencari makan adalah egalitarian- ismenya.” 142 Dia mengakui bahwa kedua jenis kelamin mungkin memiliki status yang berbeda dalam masyarakat seperti itu, tetapi mengklaim bahwa “perbedaan status dengan sendirinya tidak menyiratkan ketidaksetaraan yang diperlukan”, dan bahwa dalam “masyarakat pencari makanan tradisional, tidak ada yang memerlukan penghormatan khusus dari perempuan pada pada lelakinya.” 143 Jika Anda memeriksa halaman yang terdaftar dalam indeks Haviland untuk entri “Bushmen”, “Ju/’hoansi” (nama lain untuk Bushmen Dobe), “Eskimo”, “Inuit” (nama lain untuk Eskimo), “Mbuti ”, “Tasmania”, “Australia”, dan “Aborigin” (Siriono tidak terdaftar dalam indeks), Anda tidak akan menemukan penyebutan pemukulan istri, kawin paksa, hubungan seksual paksa, atau petunjuk tentang dominasi laki-laki lainnya yang saya kutip di atas. Haviland tidak menyangkal bahwa hal ini terjadi. Dia tidak mengklaim, misalnya, bahwa Turnbull hanya mengarang cerita tentang pemukulan istri di antara Mbuti, atau bahwa bukti ini dan itu menunjukkan bahwa perempuan Aborigin Australia tidak menjadi sasaran seks paksa sebelum kedatangan orang Eropa. Dia hanya mengabaikan semua masalah ini, seolah-olah tidak ada sama sekali. Dan bukannya Haviland tidak mengetahui masalah ini. Misalnya, ia mengutip dari buku A. P. Elkin, The Australian Aborigines, 144 sesuatu yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya akrab dengan buku itu tetapi juga menganggapnya sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya. Namun buku Elkin, yang saya kutip sebelumnya, memberikan banyak bukti tentang tirani lelaki Aborigin Australia atas perempuan mereka¹⁴⁵ —bukti yang tidak disebutkan oleh Haviland. Cukup jelas apa yang terjadi: Kesetaraan jenis kelamin adalah prinsip dasar ideologi arus utama masyarakat modern. Sebagai anggota masya-
t e d k a c z y n s k i | 5 8
rakat yang sangat tersosialisasikan, antropolog yang benar secara politis percaya pada prinsip kesetaraan gender dengan sesuatu yang mirip dengan keyakinan agama, dan mereka merasa perlu memberi kita sedikit pelajaran moral dengan berpegang pada contoh ke- kaguman kita tentang kesetaraan gender yang seharusnya menang ketika umat manusia dalam keadaan asli dan murni. Penggambaran budaya primitif ini didorong oleh kebutuhan para antropolog sendiri untuk menegaskan kembali keyakinan mereka, dan tidak ada hubungannya dengan pencarian kebenaran yang jujur. Sebagai contoh lain, saya sudah empat kali menulis surat kepada penulis anarko-primitifis John Zerzan, memintanya untuk menunjukkan bukti tentang kesetaraan gender di antara pemburu-peramu. 146 Zerzan sering mengelak dan jawaban yang dia berikan kepada saya tidak jelas. 147 Saya dengan senang hati akan menerbitkan di sini surat Zerzan kepada saya tentang hal ini supaya pembaca dapat menilainya sendiri. Namun, saya meminta izin kepada Zerzan untuk menerbitkan surat-suratnya, dan dia menolak izin itu. 148 Dengan surat-suratnya, dia mengirimi saya fotokopi halaman-halaman dari beberapa buku yang berisi pernyataan-pernyataan umum yang samar-samar yang seolah-olah mendukung klaimnya tentang kesetaraan gender; misalnya, pernyataan John E. Pfeiffer ini, yang bukan seorang spesialis atau saksi mata dari perilaku primitif, tetapi seorang yang mempopulerkan: “Untuk alasan-alasan yang tidak diketahui, seksisme tumbuh seiring manusia menetap dan bertani, dengan munculnya masyarakat yang kompleks.” 149 Zerzan juga mengirimi saya fotokopi halaman dari buku Bonvillain yang berisi pernyataan berikut: “Dalam masyarakat kelompok [pemburu-peramu] pencari makan, potensi kesetaraan gender mungkin yang terbesar...” Tapi Zerzan tidak menyertakan salin- annya dari halaman di mana Bonvillain mengatakan bahwa dominasi laki-laki terbukti di beberapa masyarakat pemburu-peramu
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 5 9
seperti Eskimo, atau halaman di mana dia memberikan informasi yang meragukan klaimnya sendiri tentang kesetaraan gender di antara Bushmen Dobe, seperti telah saya bahas di atas. Zerzan sendiri mengakui bahwa materi yang dia kirimkan kepada saya “jelas tidak definitif ”, meskipun dia menegaskan bahwa itu “benar-benar mewakili secara umum.” 151 Ketika saya mendesaknya untuk mendukung klaimnya lebih lanjut, 152 dia mengirimi saya salinan esainya Future Primitive, dari buku dengan nama yang sama. 153 Dalam esai ini ia mengutip sebagian besar sumbernya dengan hanya memberikan nama belakang penulis dan tanggal publikasi mereka; pembaca mungkin diharapkan untuk mencari informasi lebih lanjut dalam tabel referensi yang disediakan di tempat lain dalam buku ini. Karena Zerzan tidak mengirimi saya salinan tabel referensi, saya tidak punya cara untuk memeriksa sumbernya. Saya menunjukkan ini kepadanya, 154 tetapi dia masih gagal mengirimi saya salinan tabel referensinya. Bagaimanapun, ada alasan bagus untuk mencurigai bahwa Zerzan tidak kritis dalam memilih sumbernya. Misalnya, ia mengutip mendiang Laurens van der Post; 155 tetapi mantan pengagum Laurens van der Post, J.D.F. Jones, dalam bukunya Teller of Many Tales, J. D. F., telah mengungkap der Post sebagai pembo- hong dan penipu. Bahkan jika dilihat sekilas, informasi di Future Primitive tidak memberi kita apa pun yang mantap tentang masalah hubungan gender. Tidak jelas, pernyataan umum tidak banyak berguna. Seperti yang saya tunjukkan sebelumnya; Bonvillain dan Turnbull membuat pernyataan umum tentang kesetaraan gender di antara Bushmen dan Mbuti masing-masing, dan pernyataan itu bertentangan dengan fakta konkret yang dilaporkan sendiri oleh Bonvillain dan Turnbull dalam buku yang sama. Pada subjek selain kesetaraan gender, beberapa pernyataan di Future Primitive terbukti salah. Untuk mengambil beberapa contoh:
t e d k a c z y n s k i | 6 0
Zerzan, mengandalkan”De Vries”, mengklaim bahwa pem- 156 buru-peramu melahirkan ‘tanpa rasa sakit.’ Oh, benarkah? Nyonya Thomas, menulis dari pengalaman pribadinya di antara Bushmen: “Perempuan Bushmen melahirkan sendirian ... kecuali seorang gadis melahirkan anak pertamanya, dalam hal ibunya dapat membantunya, atau kecuali kelahiran sangat sulit, dalam hal ini seorang perempuan dapat meminta bantuan ibunya atau perempuan lain. Seorang perempuan dalam persalinan mungkin mengatupkan giginya, mungkin membiarkan air matanya keluar atau menggigit tangannya sampai darah mengalir, tetapi dia mungkin tidak pernah 157 menangis untuk menunjukkan penderitaannya.” Karena seleksi alam melenyapkan yang lemah dan cacat di antara pemburu-peramu dan karena pekerjaan perempuan primitif membuat mereka tetap dalam kondisi fisik yang baik, mungkin benar bahwa melahirkan, rata-rata, bagi perempuan pemburu-peramu tidak sesulit dibanding halnya bagi perempuan modern. Bagi perempuan Mbuti, menurut Schebesta, persalinan biasanya mudah (meskipun ini tidak berarti bahwa itu bebas dari rasa sakit). Di sisi lain, persalinan sungsang sangat ditakuti dan biasanya berakhir fatal 158 baik bagi ibu maupun bagi anak. Mengandalkan “Duffy”, Zerzan mengklaim bahwa orang Mbuti “melihat segala bentuk kekerasan antara satu orang dan orang lain dengan kebencian dan ketidaksukaan yang besar, dan tidak pernah 159 mewakilinya dalam tarian atau permainan mereka.” Tapi Huter- eau dan Turnbull secara independen telah memberikan keterangan saksi mata yang menurutnya Mbuti memang memainkan kekeras- 160 an antara manusia. Lebih penting lagi, ada banyak kekerasan kehidupan nyata di antara orang Mbuti. Kisah perkelahian fisik dan pemukulan tersebar di seluruh buku Turnbull, The Forest People and Wayward Servants. Untuk mengutip hanya salah satu dari banyak contoh, Turnbull menyebutkan seorang perempuan yang kehilang-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 6 1
an tiga gigi dalam perkelahian dengan perempuan lain karena berebut seorang lelaki. 161 Saya telah menyebutkan pernyataan Turnbull tentang pemukulan terhadap istri di antara orang Mbuti. Perlu dicatat bahwa Zerzan tampaknya percaya bahwa nenek moyang kita mampu melakukan telepati mental. 162 Tetapi yang secara khusus mengungkapkan adalah kutipan Zerzan tentang “Shan- ks and Tilley”: “Tujuan arkeologi tidak hanya untuk menafsirkan masa lalu tetapi untuk mengubah cara di mana masa lalu ditafsirkan untuk melayani rekonstruksi sosial di masa sekarang.” 163 Ini adalah pembelaan terbuka dari usulan bahwa para arkeolog harus memanipulasi temuan mereka untuk tujuan politik. Bukti apa yang lebih baik dari politisasi besar-besaran yang telah terjadi dalam antropologi Amerika selama 35 atau 40 tahun terakhir? Mengingat politisasi ini, apa pun dalam literatur antropologi terbaru yang menggambarkan perilaku masyarakat primitif sebagai benar secara politis harus dilihat dengan sangat skeptis. Setelah mengutip kepada Zerzan beberapa contoh ketidaksetaraan gender yang telah saya diskusikan di atas, saya mempertanyakan kejujurannya dengan alasan bahwa dia telah “secara sistematis mengecualikan hampir semua bukti yang melemahkan gambaran ideal masyarakat pemburu-peramu” yang dia ingin sajikan. 164 Zerzan menjawab bahwa dia “tidak menemukan banyak sumber kredi- bel yang bertentangan dengan pandangannya. 165 Pernyataan ini menimbulkan kecurigaan. Beberapa contoh yang saya kutip untuk Zerzan (dan telah dibahas di atas) berasal dari buku-buku yang dia sendiri andalkan -buku-buku dari Bonvillain dan Turnbull. 166 Namun entah bagaimana dia berhasil mengabaikan semua bukti dalam buku-buku yang bertentangan dengan klaimnya. Karena Zerzan telah membaca secara luas tentang masyarakat pemburu-peramu, dan orang Aborigin Australia adalah salah satu pemburu-peramu yang paling terkenal, saya merasa sangat sulit untuk percaya bahwa dia
t e d k a c z y n s k i | 6 2
tidak pernah menemukan catatan tentang perlakuan buruk orang Australia terhadap perempuan. Namun dia tidak pernah menyebutkan pengalaman seperti itu -bahkan untuk tujuan menyangkalnya. Seseorang tidak perlu mengasumsikan ketidakjujuran yang sebenarnya disadari Zerzan. Seperti yang dikatakan Nietzsche, “Kebohongan yang paling umum adalah kebohongan yang dikatakan seseorang kepada dirinya sendiri; berbohong kepada orang lain kurang lebih merupakan pengecualian.” 167 Dengan kata lain, penipuan diri sendiri sering kali mendahului penipuan orang lain. Faktor penting di sini yang mungkin diketahui betul oleh para propagandis profesional: orang cenderung memblokir —gagal memahami atau mengingat— informasi yang mereka anggap tidak sesuai. 168 Karena informasi yang mendiskreditkan ideologi seseorang sangat tidak masuk akal, maka orang akan cenderung memblokir informasi tersebut. Seorang anarko-primitifis muda yang berkorespondensi dengan saya telah memberi saya contoh luar biasa dari fenomena ini. Dia menulis kepada saya: “tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi tentang kekukuhan [sic] patriarki di semua masyarakat oseanik lainnya, tetapi tampaknya tidak ada yang tampak paling jelas selain di antara orang Aborigin [Australia] —Menurut The Australian Aborigines karya A. P. Elkin, para istri sama sekali tidak terikat dalam pernikahan yang mengekang.” 169 Tampaknya teman anarko-primitifis saya telah membaca diskusi Elkin tentang posisi perempuan dalam masyarakat Aborigin Australia. Saya telah mengutip di atas beberapa halaman yang relevan dari buku Elkin, seperti di mana dia menyatakan bahwa perempuan Aborigin Australia terkadang hidup dalam ketakutan akan seks wajib yang mereka lakukan pada beberapa waktu seremonial. Setiap orang yang cukup rasional yang akan bersusah payah membaca halaman-halaman itu¹⁷⁰ akan menemukan dirinya kesulitan untuk menjelaskan bagaimana teman anarko-primitifis saya dapat membaca materi itu dan kemudian
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 6 3
menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada patriarki yang tampak jelas dalam masyarakat Aborigin Australia —kecuali teman saya hanya memblokir informasi yang secara ideologis tidak dapat diterima oleh pikirannya. Teman saya tidak mempersoalkan keakuratan informasi Elkin; sebenarnya, dia mengandalkan Elkin sebagai otoritas. Dia hanya tetap tidak menyadari informasi yang menunjukkan patriarki di antara orang Aborigin Australia. Tetapi kali ini harus cukup jelas bagi pembaca bahwa apa yang dilakukan oleh para anarko-primitifis (dan banyak antropolog) sama sekali tidak ada hubungannya dengan pencarian rasional akan kebenaran tentang budaya primitif. Sebaliknya, mereka telah mengembangkan mitos.
6 Saya sudah memiliki kesempatan di beberapa titik untuk menyebutkan kekerasan di antara pemburu-peramu nomaden. Contoh kekerasan, termasuk kekerasan mematikan, di kalangan pemburu-peramu sangat banyak. Beberapa contoh misal: “Satu pengamatan telah diterbitkan tentang pertempuran mematikan antara kelompok pedalaman Tasmania yang memiliki akses ke hartal [pewarna cokelat dari tanah -peny], dan kelompok pesisir yang telah setuju untuk menukar kulit kerang dengan produk lainnya. Orang-orang pedalaman membawa hartal mereka, tetapi orang-orang pesisir datang dengan tangan kosong. Orang-orang dibunuh karena melanggar keyakinan atas kedua bahan tersebut, yang keduanya tidak dapat dimakan atau memiliki kegunaan praktis lainnya. Dengan kata lain, orang Tasmania sama ‘manusianya’ dengan orang AS lainnya.” 171 Orang Tasmania membuat tombak mereka “dalam dua panjang... yang lebih pendek untuk berburu, yang lebih panjang untuk bertarung.” Di antara para pemburu-peramu di Ke- pulauan Andaman, “kesedihan diingat, dan balas dendam mungkin
t e d k a c z y n s k i | 6 4
akan dilakukan nanti. Para perampok merayap melalui hutan atau mendekat dengan kano. Mereka melompati korban mereka secepat kilat, dengan menembak [menggunakan panah] semua lelaki dan perempuan yang tidak dapat melarikan diri, dan mengambil anak-anak yang tidak terluka, untuk mengadopsi mereka...”; “Jika cukup banyak anggota kelompok yang bertahan untuk membentuk kelompok kembali, mereka mungkin akhirnya tumbuh cukup banyak untuk membalas dendam, dan perseteruan panjang mungkin muncul. [Upaya perdamaian] diprakarsai oleh para perempuan karena merekalah yang membuat permusuhan tetap hidup dengan menghasut para lelaki mereka.” 173 Di antara setidaknya beberapa kelompok Aborigin Australia, perempuan kadang-kadang akan memprovokasi laki-laki mereka untuk melakukan kekerasan mematikan terhadap laki-laki lain. 174 Di antara orang Eskimo yang tinggal bersama Gontran de Poncins, ada “banyak pembunuhan”, dan terkadang seorang perempuan lah yang membujuk laki-laki untuk membunuh laki-laki lain. 175 Lukisan yang dibuat di tempat perlindungan batu oleh pemburu-peramu prasejarah dari Spanyol timur menunjukkan sekelompok pria saling bertempur dengan busur dan anak panah. 176 Seseorang bisa tambahkan lagi yang lain. Tapi saya tidak ingin memberi kesan bahwa semua pemburu-peramu itu kejam. Turnbull mengacu pada banyak perkelahian dan pemukulan yang tidak mematikan di antara Mbuti, tetapi dalam buku-bukunya yang saya baca, dia tidak menyebutkan satu pun kasus pembunuhan. 177 Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan mematikan jarang terjadi di antara Mbuti pada saat Turnbull mengenal mereka. Perempuan Siriono terkadang berkelahi secara fisik, saling pukul dengan tongkat, dan ada banyak agresi di antara anak-anak, bahkan dengan tongkat yang dibakar sebagai senjata. Tetapi lelaki jarang berperang satu sama lain dengan senjata, dan Siriono tidak suka berperang.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 6 5
Di bawah provokasi ekstrim mereka membunuh orang kulit putih dan misionaris India, 181 tetapi di antara Siriono sendiri pembunuhan terencana hampir tidak diketahui. 182 Di antara orang Bushmen yang Nyonya Thomas kenal, agresi dalam bentuk apapun minimal, meskipun dia menjelaskan bahwa ini tidak dapat dipukul rata pada semua kelompok Bushman. 183 Penting juga untuk menyadari bahwa kekerasan mematikan di antara kaum primitif bahkan tidak sebanding dengan peperangan modern. Ketika orang primitif bertarung, dua gerombolan kecil lelaki menembakkan panah atau mengayunkan tongkat perang satu sama lain karena mereka ingin bertarung; atau karena mereka membela diri, keluarga, atau wilayah mereka. Di dunia modern, tentara berperang karena mereka dipaksa untuk melakukannya, atau, paling-paling, karena mereka telah dicuci otaknya untuk memper- cayai beberapa ideologi seperti Nazisme, sosialisme, atau apa yang dipilih oleh politisi Amerika untuk disebut sebagai “kebebasan”. Bagaimanapun juga, prajurit modern hanyalah pion, penipu yang mati bukan untuk keluarga atau sukunya, tetapi untuk politisi yang mengeksploitasinya. Jika dia tidak beruntung, mungkin dia tidak mati tetapi pulang ke rumah dengan kondisi lumpuh yang tidak akan pernah terjadi akibat luka panah atau tombak. Sementara itu, ribuan non-kombatan dibunuh atau dimutilasi. Lingkungan rusak, tidak hanya di zona perang, tetapi juga di rumah, karena percepatan konsumsi sumber daya alam yang dibutuhkan untuk memberi makan mesin perang. Sebagai perbandingan, kekerasan manusia primitif relatif tidak berbahaya. Namun, itu tidak cukup baik untuk para anarko-primitifis atau untuk para antropolog yang politis saat ini. Mereka sama sekali tidak bisa menyangkal adanya kekerasan di antara para pemburu-peramu, karena buktinya tak terbantahkan. Tapi mereka akan merentangkan kebenaran sejauh yang mereka pikir bisa mereka hindari untuk meminimalkan jumlah kekerasan
t e d k a c z y n s k i | 6 6
dalam masa lalu manusia. Ada baiknya memberikan contoh yang menggambarkan kekonyolan beberapa alasan yang mereka gunakan. Merujuk pada Homo habilis, nenek moyang manusia modern yang secara fisik primitif, antropolog Haviland menulis, “Mereka memperoleh dagingnya bukan dengan membunuh hewan hidup tetapi dengan mengais-ngais. Kita tahu ini dari bekas alat batu pada tulang hewan yang disembelih yang biasanya menutupi bekas gigi karnivora yang dibuat. Jelas, Homo habilis tidak mendapatkan mangsanya terlebih dahulu.” 184 Namun, seperti yang pasti harus diketahui oleh Haviland, banyak atau sebagian besar hewan pemangsa terlibat baik dalam berburu maupun mengais-ngais. Misalnya, beruang, singa Afrika, musang, coyote, rubah, serigala, hyena, anjing rakun Asia, komodo, dan beberapa burung nasar, mereka berburu dan mengais. 185 Dengan demikian, fakta bahwa Homo habilis mengais tidak memberikan bukti apapun bahwa dia tidak berburu. Saya tekankan bahwa saya tidak tahu atau peduli apakah Homo habilis berburu. Saya tidak melihat alasan mengapa penting bagi kita untuk mengetahui apakah nenek moyang setengah manusia kita dua juta tahun yang lalu adalah pembunuh yang haus darah, vegetarian yang damai, atau sesuatu di antaranya. Intinya di sini hanyalah untuk menunjukkan alasan seperti apa yang akan digunakan oleh beberapa antropolog dalam upaya mereka untuk membuat masa lalu manusia terlihat seakurat mungkin secara politis. Karena kebenaran politik telah membelokkan penggambaran tidak hanya masa lalu manusia tetapi juga alam liar secara umum, harus ditunjukkan bahwa kekerasan mematikan di antara hewan liar tidak terbatas pada pemang- saan satu spesies ke spesies lain. Pembunuhan satu anggota spesies oleh anggota lain dari spesies yang sama memang terjadi. Sebagai contoh, diketahui bahwa simpanse liar sering membunuh simpanse lain. Gajah terkadang saling membunuh dalam perkelahian, dan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 6 7
hal yang sama berlaku untuk babi hutan. 187 Di antara burung laut, dua telur diletakkan di setiap sarang. Setelah telur menetas, salah satu anak burung menyerang yang lain dan memaksanya keluar dari sarang, sehingga mati. 188 Komodo terkadang memakan satu sama lain, 189 dan ada bukti bahwa kanibalisme terjadi di antara beberapa dinosaurus. 190 (Bukti kanibalisme di antara manusia prasejarah masih kontroversial.) 191 Saya ingin menjelaskan bahwa saya sama sekali bukan maksud untuk mengagungkan kekerasan. Saya lebih suka melihat orang (dan hewan) bergaul dengan lancar satu sama lain. Tujuan saya hanya untuk mengekspos irasionalitas citra yang benar secara politis dari masyarakat primitif dan alam liar.
7 Elemen penting dari mitos anarko-primitifis adalah keyakinan bahwa masyarakat pemburu-peramu bebas dari persaingan dan dicirikan oleh berbagi dan kerja sama. Tulisan awal Collin Turnbull tentang pigmi Mbuti tampaknya cukup jujur, tetapi seiring berjalannya waktu karyanya semakin condong ke arah kebenaran politik. 192 Menulis pada tahun 1983 (masing-masing 18 dan 21 tahun, setelah ia menerbitkan Wayward Servants dan The Forest People), Turnbull mencatat bahwa anak-anak Mbuti tidak memiliki permainan yang kompetitif, 193 dan setelah mengacu pada nilai “persaingan” dan “kemandirian ekonomi” yang menurutnya diagungkan masyarakat modern, 194 ia membandingkan ini dengan “nilai-nilai primitif seukuran keluarga yang baik: saling ketergantungan, kerja sama, dan ketergantungan pada komunitas... ketimbang pada diri sendiri...” 195 Tetapi menurut karya Turnbull sebelumnya, pertarungan fisik adalah hal biasa di antara Mbuti. Jika pertarungan fisik bukanlah bentuk kompetisi, lalu apa? Jelas sekali bahwa Mbuti adalah orang
t e d k a c z y n s k i | 6 8
yang sangat suka bertengkar, dan, selain pertengkaran fisik, ada banyak perselisihan verbal di antara mereka. 197 Secara umum, setiap perselisihan, entah diselesaikan secara fisik atau sekedar omongan, adalah suatu bentuk persaingan: kepentingan satu orang bertentangan dengan kepentingan orang lain, dan pertengkaran mereka adalah upaya masing-masing untuk memajukan kepentingannya sendiri dengan mengorbankan pihak lain. Kecemburuan orang Mbuti juga merupakan bukti dorongan kompetitif. 198 Dua hal yang diperebutkan Mbuti adalah pasangan dan makanan. Saya telah menyebutkan kasus dua perempuan yang memperebutkan seorang lelaki, 199 dan bertengkar karena makanan tampaknya adalah hal biasa. 200 Perlu dicatat bahwa Turnbull, dalam karya awalnya, menggambarkan Mbuti sebagai “individualis.” 201 Ada banyak bukti tentang daya saing dan/atau individualisme di antara orang-orang primitif lainnya. Nuer (penggembala Afrika), suku-suku pagan Jermanik, Indian Karibia, orang Siriono (yang hidup terutama dengan berburu dan meramu), orang Indian Navajo, Apache, Indian Dataran, dan Indian Amerika Utara umumnya telah digambarkan secara eksplisit sebagai “individualistis.” 202 Tetapi “individualisme” adalah kata yang tidak jelas maksudnya, yang mungkin memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, jadi akan lebih membantu untuk melihat fakta pasti yang telah dilaporkan. Beberapa karya yang saya kutip dalam Catatan kaki no. 202 [di atas] mendukung fakta penerapan istilah “individualistis” untuk orang-orang yang disebutkan. Holmberg menulis: “Ketika seorang Indian [Siriono] telah mencapai usia dewasa, dia menunjukkan individualisme dan sikap apatis yang luar biasa terhadap rekan-rekannya. Ketidakpedulian seseorang terhadap yang lain —bahkan di dalam keluarga— selama saya tinggal bersama orang-orang Siriono tidak pernah berhenti membuat saya takjub. Sering kali laki-laki berangkat berburu sendirian -tanpa pamitan-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 6 9
dan menjauh dari kelompok selama berminggu-minggu tanpa ada
perhatian dari sesama anggota suku atau bahkan istri mereka....”.
“Ketidakpedulian terhadap sesama tampak pada segala hal. Pada suatu kesempatan Ekwataia pergi berburu. Ia balik saat gelap, lalu sampai kira-kira lima ratus meter dari perkemahan. Langit malam itu hitam seperti tinta, dan Ekwataia tersesat. Dia mulai meminta bantuan —agar seseorang datang membawakannya api atau mem- bimbingnya ke perkemahan lewat panggilan. Tidak ada yang meng- indahkan permintaan tolongnya. Setelah sekitar setengah jam, ta- ngisannya berhenti, dan saudara perempuannya Seaci, berkata: ‘Seekor jaguar mungkin menangkapnya’. Ketika Ekwataia kembali keesokan paginya, dia memberitahu saya bahwa dia telah menghabiskan malam dengan duduk di cabang pohon untuk terhindar dari cengkeraman jaguar.” 203 Holmberg berulang kali mengomentari karakter orang Siriono yang tidak kooperatif, dan mengatakan bahwa mereka yang menjadi cacat karena menua atau sakit ditinggalkan begitu saja oleh yang lain. 204 Di antara masyarakat primitif lainnya, individualisme mengambil bentuk lain. Misalnya, di antara sebagian besar orang Indian Amerika Utara, peperangan adalah kegiatan yang sangat individualistis. “Orang-orang Indian, yang sangat individualistis dan lebih sering berjuang untuk kejayaan pribadi ketimbang keuntungan kelompok, tidak pernah mengembangkan ilmu perang.” 205 Menurut seorang Indian Cheyenne legendaris, Si Kaki Kayu [The Wooden Leg]: “Ketika pertempuran apa pun benar-benar dimulai, itu adalah saatnya ketika setiap orang mementingkan dirinya sendiri. Tidak ada pengelompokan yang teratur, tidak ada gerakan sistematis dalam kesatuan, tidak ada kepergian dan kedatangan yang diwajibkan. Prajurit berbaur tanpa pandang bulu, setiap orang hanya memperhatikan dirinya sendiri, atau masing-masing membantu seorang teman jika bantuan seperti itu diperlukan dan jika seseorang yang
t e d k a c z y n s k i | 7 0
mampu mengutamakan bantuan dengan rendah hati. Suku-suku Sioux berjuang dalam pertempuran mereka sebagai sekelompok individu, sama seperti kami bertempur melawan sesama kami, dan sama seperti cara semua orang Indian yang pernah saya kenal.” 206 Selama paruh pertama abad ke-20, Stanley Vestal mewawanca- rai banyak orang Indian Dataran yang masih ingat pertempuran di masa lalu. Menurut dia: “Tidak perlu diulang-ulang —kecuali ketika membela kubu- nya—orang Indian itu sama sekali tidak peduli dengan hasil umum sebuah pertempuran: yang dia pedulikan hanyalah kupnya sendiri. Berkali-kali para tetua berkata kepada saya, ketika menceritakan pertempuran tertentu, bahwa ‘tidak ada yang terjadi hari itu’, yang berarti bahwa pembicara tidak dapat menghitung kup”; 207 “Orang Indian Dataran tidak bisa berperang dengan rencana. Mereka tidak memiliki disiplin. Pada kesempatan langka ketika mereka memang memiliki rencana, beberapa pemuda ambisius pasti akan melancar- kan serangan yang prematur.” 208 Bandingkan ini dengan cara manusia modern berperang: Pasukan bergerak dalam ketaatan pada rencana yang diuraikan dengan cermat; setiap orang memiliki tugas khusus untuk dilakukan dalam kerja sama dengan orang lain, dan dia melakukannya bukan untuk kemuliaan pribadi tetapi untuk keuntungan tentara secara keseluruhan. Jadi, dalam peperangan, manusia modernlah yang kooperatif dan manusia primitif yang, secara umum, adalah seorang individualis. Individualisme primitif tidak terbatas pada peperangan. Di antara orang-orang Indian di Amerika Utara subarktik, yang merupakan pemburu-peramu, ada “hubungan individualistis dengan hal-hal gaib”, “kemandirian”, dan “penghargaan tinggi pada otonomi pribadi.” Anak-anak Aborigin Australia “diajarkan untuk mandiri.” Di antara Indian Woodland di Amerika Serikat bagian
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7 1
timur, “penekanan besar ditempatkan pada kemandirian dan kompetensi individu,” 211 dan orang Navajo “mengutamakan kemandirian.” 212 Orang Nuer di Afrika memuji nilai-nilai “keras kepala” dan “kemandirian”; “Satu-satunya ujian karakter mereka adalah apakah seseorang dapat membela diri sendiri.” 213 Bukti persaingan di antara orang-orang primitif cukup banyak. Selain Mbuti, setidaknya beberapa pemburu-peramu lainnya bersaing untuk mendapatkan pasangan atau makanan. “Seseorang tidak perlu tinggal berlama-lama dengan orang Siriono untuk sadar kalau pertengkaran dan pertikaian ada di mana-mana.” 214 Mayoritas pertengkaran “muncul langsung karena masalah makanan,” tetapi kecemburuan seksual juga menyebabkan perselisihan di antara orang Siriono. 215 Orang Aborigin Australia berjuang untuk memiliki perempuan. 216 Poncins melaporkan kasus seorang Eskimo yang membunuh orang lain untuk merebut istrinya, dan dia menyatakan bahwa setiap orang Eskimo siap membunuh demi mencegah istrinya direbut. 217 Terlepas dari pernyataan Turnbull bahwa anak-anak orang Mbuti tidak memiliki permainan kompetitif, beberapa orang dewasa Mbuti memang bermain tarik tambang, yang jelas merupakan permainan kompetitif; 218 dan masyarakat primitif tertentu yang lain juga memiliki permainan kompetitif. Massola menyebutkan permainan perang di antara orang Aborigin Australia, dan permainan bola di mana “anak laki-laki yang paling banyak menangkap bola dianggap sebagai pemenang.” 219 Permainan lacrosse berasal dari suku Indian Algonkin. 220 Anak-anak Indian Navajo dari kedua jenis kelamin melakukan lomba lari kaki, 221 dan di antara orang Indian Dataran hampir semua permainan anak laki-laki bersifat kompetitif. 222 Si Kaki Kayu dari Indian Cheyenne menggambarkan beberapa olahraga kompetitif di mana orang-orangnya terlibat: “Balapan kuda, lomba lari, gulat, menembak sasaran dengan senjata atau dengan panah, melempar panah dengan tangan, berenang,
t e d k a c z y n s k i | 7 2
melompat, dan permainan kontes lainnya.” 223 Orang Indian Cheyenne juga berkompetisi dalam perang, berburu, dan “dalam semua kegiatan yang dianggap layak.” 224 Richard E. Leakey mengutip Richard Lee sebagai berikut: “Saling berbagi sangat meresap dalam perilaku dan nilai-nilai pemburu !Kung [Bushmen]. Berbagi adalah inti dari perilaku hidup dalam masyarakat yang mencari makan.” Leakey menambahkan: “Etnis ini tidak terbatas pada !Kung: ini adalah ciri khas pemburu-peramu pada umumnya.” 225 Tentu saja, kita juga berbagi. Kita membayar pajak. Uang pajak kita digunakan untuk membantu orang miskin atau cacat melalui program bantuan publik, dan untuk melakukan kegiatan publik lainnya yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan umum. Majikan berbagi dengan karyawan mereka dengan membayar upah. Tapi ah! Anda menjawab, kita berbagi hanya karena kita terpaksa melakukannya. Jika kita mencoba menghindari pajak, kita akan masuk penjara; jika majikan menawarkan upah dan tunjangan yang tidak mencukupi, tidak ada yang akan bekerja untuknya, atau mungkin dia akan mendapat masalah dengan serikat pekerja atau dengan undang-undang upah minimum. Perbedaan- nya adalah bahwa pemburu-peramu berbagi secara sukarela, karena kemurahan hati yang penuh kasih dan terbuka... benar? Yah, tidak persis begitu. Sama seperti pembagian kita diatur oleh undang-undang pajak, kontrak serikat pekerja, dan sejenisnya, berbagi dalam masyarakat pemburu-peramu umumnya diatur oleh “aturan prosedural yang kaku” yang “harus diikuti untuk menjaga perdamaian.” 226 Banyak pemburu-peramu sama enggannya berbagi makanan seperti halnya kita enggan membayar pajak, dan juga ingin memastikan bahwa mereka mendapat cukup banyak dari apa yang menjadi hak mereka. Di antara Bushmen-nya Richard Lee: “Distribusi [daging] dilakukan dengan sangat hati-hati, menurut seperangkat aturan. Distribusi daging yang tidak tepat dapat men-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7 3
jadi penyebab pertengkaran sengit di antara kerabat dekat.” 227 Di antara orang Eskimo Tikerarmiut, meskipun aturan distribusi daging ikan paus “dipatuhi dengan cermat, mungkin masih ada perdebatan yang keras.” 228 Orang Siriono punya pantangan makanan yang mungkin berfungsi sebagai aturan untuk distribusi daging, tetapi tabu sering diabaikan. 229 Meskipun orang Siriono berbagi makanan, mereka melakukannya dengan sangat enggan: 230 “Orang-orang terus-menerus mengeluh dan bertengkar tentang pembagian makanan. Pada suatu malam Enia cerita ke saya: “Ketika seseorang mendekati rumah, perempuan menyembunyikan dagingnya. Perempuan bahkan menyembunyikan daging ke dalam vagina mereka.” 231 “Jika, misalnya, seseorang berbagi makanan dengan sanak saudaranya, dia berhak untuk mengharapkan balasan. Timbal balik, bagaimanapun, hampir selalu dipaksakan, dan kadang-kadang bahkan bermusuhan. Memang, berbagi sering terjadi dengan rasa saling tidak percaya dan salah paham.” 232 Mbuti memiliki aturan untuk berbagi daging, 233 tetapi “seringkali terjadi pertengkaran karena pembagian daging buruan.” 234 “Setelah seekor binatang disembelih, binatang itu dibawa untuk dibagikan saat kembali ke perkemahan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa berbagi terjadi tanpa perselisihan atau kepahitan. Sebaliknya, perdebatan yang muncul saat kelompok perburuan kembali ke kamp sering kali panjang dan keras;” 235 “Ketika kelompok perburuan kembali ke perkemahan, laki-laki dan perempuan sama saja, tetapi biasanya perempuan, keliatan menyembunyikan sebagian dari rampasan mereka secara sembunyi-sembunyi di bawah dedaunan di atap mereka, atau di pot yang hampir kosong”; 236 “Adalah kejadian langka jika perempuan Mbuti tidak menyembunyikan sebagian dari tangkapannya jika dia terpaksa untuk berbagi dengan orang lain.” Fakta bahwa beberapa pemburu-peramu sering bertengkar mengenai distribusi makanan bertentangan dengan klaim anarko-primitifis tentang
t e d k a c z y n s k i | 7 4
“kemakmuran primitif.” Jika makanan begitu mudah didapat, lalu mengapa orang-orang memperebutkannya? Perlu dicatat pula bahwa aturan umum tentang berbagi di antara pemburu-peramu diterapkan terutama pada daging. Ada sedikit pembagian makanan 238 nabati, meskipun makanan nabati jadi bagian terbesar dari diet 239 makanan mereka. Tetapi saya tidak ingin memberi kesan bahwa semua orang primitif atau semua pemburu-peramu adalah individualis radikal yang tidak pernah bekerja sama dan tidak pernah berbagi kecuali di bawah paksaan. Orang Siriono, dalam hal keegoisan, sikap tidak berperasaan, dan tidak mau bekerja sama, adalah kasus yang ekstrem. Di antara sebagian besar masyarakat primitif yang pernah saya baca, tampaknya ada keseimbangan yang wajar antara kerja sama dan persaingan, berbagi dan mementingkan diri sendiri, individualisme dan semangat komunitas. Dengan menyatakan bahwa pemburu-peramu biasanya tidak berbagi makanan nabati, kerang, atau sejenisnya di luar rumah, Coon juga menunjukkan bahwa makanan tersebut mungkin memang dibagikan dengan keluarga lain 240 jika ada yang kelaparan. Terlepas dari sifat individualistis mereka, orang Indian Cheyenne (dan mungkin orang Indian Dataran lainnya) sangat menjunjung tinggi kemurahan hati (yaitu, berbagi 241 242 secara sukarela), dan hal yang sama berlaku untuk orang Nuer. Orang-orang Eskimo yang tinggal bersama Gontran de Poncins begitu murah hati dalam berbagi barang-barang mereka sehingga Poncins menggambarkan komunitas mereka sebagai “semi-komu- nis” dan menyatakan bahwa “semua bekerja sama tanpa tanda-tan- 243 da keegoisan.” (Bagaimanapun juga Poncins mencatat bahwa seorang Eskimo mengharapkan setiap pemberian pada akhirnya akan dibalas.) Pentingnya kerja sama orang Mbuti dalam berburu dan dalam beberapa kegiatan lain dijelaskan oleh Turnbull, yang juga menyatakan bahwa tidak berbagi saat ada yang membutuhkan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7 5
adalah “suatu kejahatan”, 246 dan bahwa orang Mbuti hingga batas tertentu tetap berbagi bahkan ketika tidak ada kebutuhan untuk berbagi. 247 Berbeda dengan sifat tidak berperasaan yang ditunjukkan oleh orang Siriono, orang tua atau yang lumpuh di antara orang Mbuti diperlakukan dengan perhatian dan rasa hormat yang terutama berasal dari kasih sayang dan rasa tanggung jawab. 248 Orang Eskimo-nya Poncins akan meninggalkan orang tua yang tak berdaya untuk mati ketika menjadi terlalu sulit untuk merawat mereka lagi, tetapi mereka pasti melakukannya dengan enggan, karena selama mereka memiliki orang tua bersama mereka, “mereka menjaga tetua di jalan setapak, sering berlari kembali ke kereta luncur untuk melihat apakah orang-orang tua itu cukup hangat, apakah mereka nyaman, apakah mereka mungkin lapar dan ingin sedikit ikan.” 249 Seperti halnya seseorang dapat terus-menerus mengutip contoh-contoh keegoisan, persaingan, dan agresi di antara para pemburu-peramu, demikian pula seseorang dapat terus-menerus mengutip contoh-contoh kedermawanan, kerja sama, dan cinta di antara mereka. Saya telah menekankan terutama contoh-contoh yang menunjukkan keegoisan, persaingan, dan agresi hanya untuk menghilangkan prasangka dari mitos anarko-primitifis yang menggambarkan kehidupan pemburu-peramu sebagai semacam Taman Eden yang benar secara politis. Bagaimanapun, ketika Colin Turnbull membandingkan nilai modern tentang “kompetisi,” “kemandirian,” dan ketergantungan pada “diri” dengan “nilai-nilai primitif saling ketergantungan, kerjasama, dan ketergantungan pada masyarakat,” dia hanya membo- dohi dirinya sendiri. Seperti yang telah kita lihat, nilai-nilai yang terakhir tidak secara khusus menjadi ciri masyarakat primitif. Dan pemikiran sekilas menunjukkan bahwa, dalam masyarakat modern kemandirian praktis menjadi tidak mungkin, sementara kerja sama
t e d k a c z y n s k i | 7 6
dan saling ketergantungan dikembangkan ke tingkat yang jauh lebih besar daripada yang pernah terjadi dalam masyarakat primitif. Bangsa modern adalah sistem yang luas dan sangat terorganisir di mana setiap bagian bergantung pada setiap bagian lainnya. Pabrik dan kilang minyak tidak dapat berfungsi tanpa listrik yang disediakan oleh pembangkit listrik, pembangkit listrik membutuhkan suku cadang yang diproduksi di pabrik, pabrik membutuhkan bahan yang tidak dapat diangkut tanpa bahan bakar yang disediakan oleh kilang minyak. Pabrik, kilang minyak, dan pembangkit listrik tidak dapat berfungsi tanpa pekerja. Para pekerja membutuhkan makanan yang diproduksi di pertanian, pertanian membutuhkan bahan bakar dan suku cadang untuk traktor dan mesin, karenanya tidak dapat melakukannya tanpa kilang dan pabrik dan sebagainya. Dan bahkan bangsa modern tidak lagi menjadi unit yang mandiri. Tiap negara makin tergantung pada ekonomi global. Karena individu modern tidak dapat bertahan hidup tanpa barang dan jasa yang disediakan oleh mesin tekno-industrial di seluruh dunia, maka saat ini tidak masuk akal untuk berbicara tentang kemandirian. Agar seluruh mesin tetap berjalan, diperlukan sistem kerja sama yang luas dan rumit. Orang-orang harus tiba di tempat kerja mereka pada waktu yang ditentukan secara tepat, dan melakukan pekerjaan mereka sesuai dengan aturan dan prosedur yang terperinci untuk memastikan bahwa kinerja setiap individu cocok dengan kinerja orang lain. Agar lalu lintas lancar dan tanpa kecelakaan atau kemacetan, masyarakat harus bekerja sama dengan mematuhi berbagai peraturan lalu lintas. Janji harus ditepati, pajak dibayar, lisensi diperoleh, hukum dipatuhi, dll. Tidak pernah ada masyarakat primitif yang memiliki sistem kerja sama yang luas dan rumit, atau yang mengatur perilaku individu secara rinci. Dalam keadaan ini, klaim kalau masyarakat modern dicirikan oleh “kemerdekaan” dan “kemandirian”, bertentangan dengan “saling ketergantungan” dan “kerjasama”
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7 7
dalam masyarakat primitif, tampak aneh. Bisa dibilang kalau orang modern bekerja sama dengan sistem hanya karena mereka terpaksa melakukannya, sedangkan setidaknya sebagian dari kerja sama manusia primitif kurang lebih bersifat sukarela. Ini tentu saja benar, dan alasannya jelas. Justru karena sistem kerja sama kita sangat berkembang, itu sangat menuntut dan karena itu sangat membebani individu sehingga hanya sedikit orang yang akan mematuhinya jika mereka tidak takut kehilangan pekerjaan, membayar denda, atau masuk penjara. Kerja sama manusia primitif sebagian dapat bersifat sukarela karena alasan bahwa kerja sama yang dibutuhkan manusia primitif jauh lebih sedikit daripada manusia modern. Apa yang memberi masyarakat modern penampilan yang dangkal dari individualisme, independensi, dan kemandirian adalah hilangnya ikatan yang sebelumnya menghu- bungkan individu ke dalam komunitas skala kecil. Saat ini, keluarga inti umumnya memiliki sedikit hubungan dengan tetangga sebelah atau bahkan dengan sepupu mereka. Kebanyakan orang memiliki teman, tetapi teman saat ini cenderung menggunakan satu sama lain hanya untuk hiburan. Mereka biasanya tidak bekerja sama dalam kegiatan ekonomi atau kegiatan praktis lainnya yang serius, juga tidak saling menawarkan keamanan fisik atau ekonomi satu sama lain. Jika Anda menjadi cacat, Anda tidak mengharapkan teman Anda untuk mendukung Anda. Anda bergantung pada asuransi atau pada departemen kesejahteraan. Namun ikatan kerjasama dan gotong royong yang pernah mengikat pemburu-peramu pada kelompoknya tidak hilang begitu saja. Mereka telah digantikan oleh ikatan yang mengikat kita pada sistem tekno-industrial secara keseluruhan, dan mengikat kita jauh lebih erat daripada ikatan pemburu-peramu pada kelompoknya. Tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa seseorang itu mandiri, independen, atau individualis karena ia termasuk dalam kolektivitas ratusan juta orang,
t e d k a c z y n s k i | 7 8
bukan salah satu dari tiga puluh atau lima puluh orang. Adapun persaingan, itu lebih kuat diikat dalam masyarakat kita daripada di sebagian besar masyarakat primitif. Seperti yang telah kita lihat, dua perempuan Mbuti mungkin bersaing untuk mendapatkan pria dengan tinju mereka; mereka mungkin bersaing untuk mendapatkan makanan dengan mengambil beberapa atau dengan saling berebut pembagian daging buruan. Lelaki Aborigin Australia memperebutkan perempuan dengan senjata mematikan. 250 Tetapi persaingan langsung dan tidak terkendali seperti itu tidak dapat ditoleransi dalam masyarakat modern karena akan mengganggu sistem kerja sama yang rumit dan disetel dengan baik. Jadi masyarakat kita telah mengembangkan saluran untuk dorongan kompetitif yang tidak berbahaya, atau bahkan berguna, untuk sistem. Lelaki saat ini tidak bersaing untuk perempuan, atau sebaliknya, dengan berkelahi. Lelaki bersaing untuk perempuan dengan mendapatkan uang dan mengendarai mobil bergengsi; perempuan bersaing untuk mendapatkan lelaki dengan mengembangkan pesona dan penampilan. Eksekutif perusahaan bersaing dengan berjuang untuk promosi. Dalam konteks ini, persaingan antar eksekutif merupakan alat yang mendorong mereka untuk bekerja sama dengan korporasi, karena yang menang promosi adalah yang paling baik melayani korporasi. Bisa dibilang masuk akal kalau olahraga kompetitif dalam masyarakat modern berfungsi sebagai saluran untuk dorongan agresif dan kompetitif yang akan menciptakan gangguan serius jika mereka di- ekspresikan dengan cara yang banyak orang primitif lakukan untuk mengekspresikan dorongan tersebut. Jelas, sistem membutuhkan orang-orang yang kooperatif, patuh, dan mau menerima ketergantungan. Seperti yang dikatakan sejarawan Von Laue: “Masyarakat industri, bagaimanapun, membutuhkan kepatuhan yang luar biasa sebagai fondasi untuk kebebasannya [sic].” Karena alasan itulah, komunitas, kerja sama, dan membantu
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 7 9
orang lain telah menjadi nilai fundamental masyarakat modern yang mendarah daging. Tapi bagaimana dengan nilai yang seharusnya ditempatkan pada kemandirian, individualisme, dan kompetisi? Istilah “masyarakat”, “kerjasama”, dan “membantu” dalam masyarakat kita bisa diterima dengan “baik”. Tetapi kata “individualisme” dan “persaingan” adalah kata yang memiliki ketegangan, pisau bermata dua yang harus digunakan dengan hati-hati jika seseorang ingin menghindari risiko dari reaksi yang negatif. Saya akan contohkan dengan sebuah anekdot. Ketika saya di kelas tujuh atau delapan, guru kami yang agak kasar pada mu- rid-muridnya, meminta seorang gadis untuk menyebutkan negara tempat dia tinggal. Gadis itu tidak terlalu pintar dan tampaknya tidak begitu tahu nama lengkap Amerika Serikat [United States of America], jadi dia dengan mudahnya menjawab: “Serikat [The States]”. “Serikat apa?” tanya guru. Gadis itu hanya duduk di sana dengan ekspresi kosong. Guru itu terus mendesaknya untuk mendapatkan jawaban sampai dia memberanikan diri untuk menebak: “Serikat komunitas [The states of community]?”. Mengapa “komunitas”? Karena tentu saja “komunitas” adalah kata yang bagus, jenis kata yang akan digunakan seorang anak untuk mendapatkan poin tinggi dari seorang guru. Apakah ada anak dalam situasi yang sama yang akan menjawab “Serikat Persaingan Amerika” atau “Serikat Individualisme Amerika”? Tidak mungkin! Sudah biasa kalau kata-kata seperti “komunitas”, “kerjasama”, “membantu”, dan “berbagi” mewakili sesuatu yang positif, tetapi “individualisme” jarang digunakan di media arus utama atau dalam sistem pendidikan dalam arti yang benar-benar positif. “Persaingan” lebih sering digunakan dalam arti positif, tetapi biasanya kita menggunakannya hanya dalam konteks tertentu di mana persaingan berguna (atau setidaknya tidak berbahaya) bagi sistem. Misalnya, persaingan dianggap diinginkan dalam istilah bisnis karena
t e d k a c z y n s k i | 8 0
menyingkirkan perusahaan yang tidak efisien, mendorong perusahaan lain untuk menjadi lebih efisien, dan mendorong kemajuan ekonomi dan teknologi. Tetapi hanya kompetisi yang ketat —yaitu, kompetisi yang mematuhi aturan yang dirancang untuk membuatnya tidak berbahaya atau berguna — yang biasanya dibicarakan dengan baik. Dan, bila diperlakukan dalam arti positif, persaingan selalu dibenarkan dalam hal nilai-nilai komunitarian. Dengan demikian, persaingan usaha dianggap baik karena mendorong efisiensi dan kemajuan, yang seharusnya berguna bagi masyarakat secara keseluruhan. “Kemerdekaan,” juga, adalah kata “yang baik” hanya jika digunakan dengan cara tertentu. Misalnya, ketika seseorang berbicara tentang membuat orang cacat “mandiri”, orang tidak pernah berpikir untuk membuat mereka independen dari sistem. Salah satunya berarti mereka harus diberikan pekerjaan yang menguntungkan sehingga masyarakat tidak akan terbebani dengan biaya untuk menunjang mereka. Begitu mereka menemukan pekerjaan, mereka sama bergantungnya pada sistem seperti ketika mereka hidup dengan tunjangan kesejahteraan, dan mereka memiliki kebebasan yang jauh lebih sedikit untuk memutuskan bagaimana menghabiskan waktu mereka. Jadi mengapa antropolog yang politis dan orang lain seperti mereka membandingkan nilai-nilai yang dianggap primitif dari “komunitas,” “kerja sama,” “berbagi,” dan “saling ketergantungan” dengan apa yang mereka klaim sebagai nilai-nilai modern “persaingan,” “individualisme” dan “kemerdekaan”? Tentu saja bagian penting dari jawabannya adalah bahwa orang-orang yang benar secara politik telah menyerap dengan baik nilai-nilai yang diajarkan oleh propaganda sistem tersebut, termasuk nilai-nilai “kerja sama”, “kemasyarakatan”, “membantu”, dan sebagainya. Nilai lain yang mereka serap dari propaganda adalah nilai “toleransi”, yang dalam konteks lintas budaya cenderung diterjemahkan menjadi persetujuan yang merendahkan budaya non-Barat.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 8 1
Oleh karena itu, seorang antropolog modern yang tersosialisasi dengan baik dihadapkan pada pertentangan: Karena dia harus toleran, dia merasa sulit untuk mengatakan hal buruk tentang budaya primitif. Tetapi budaya primitif memberikan banyak contoh perilaku yang jelas-jelas buruk dari sudut pandang nilai-nilai Barat modern. Jadi antropolog harus menyensor banyak perilaku “buruk” dari deskripsinya tentang budaya primitif untuk menghindari kesan negatif. Selain itu, karena sosialisasinya sendiri yang terlalu menyeluruh, antropolog yang politis memiliki kebutuhan untuk memberontak. 252 Dia terlalu tersosialisasi dengan baik untuk membuang nilai-nilai fundamental masyarakat modern, jadi dia mengungkapkan permusuhannya terhadap masyarakat itu dengan mendistorsi fakta untuk membuatnya tampak bahwa masyarakat modern menyimpang dari nilai-nilai yang dinyatakannya sendiri ke tingkat yang jauh lebih besar daripada yang sebenarnya. Dengan demikian, antropolog berujung dengan memperbesar aspek kompetitif dan individualistik dari masyarakat modern, sementara secara kasar mengecilkan aspek-aspek masyarakat primitif ini. Tentu saja ada lebih banyak lagi, dan saya tidak bilang saya sepenuhnya paham psikologi orang-orang ini. Tampak jelas, misalnya, bahwa penggambaran pemburu-peramu yang benar secara politis sebagian dimotivasi oleh dorongan untuk membangun citra dunia yang murni dan polos yang ada pada awal waktu, yang mirip dengan Taman Eden, tetapi dorongan ini bagi saya tidak berdasar. 8 Bagaimana soal hubungan pemburu-peramu dengan binatang? Beberapa anarko-primitifis tampaknya berpikir bahwa hewan dan manusia pernah “hidup berdampingan” dan bahwa meskipun hewan saat ini kadang-kadang memakan manusia, “serangan oleh hewan seperti itu relatif jarang terjadi,” dan “hewan ini kekurangan makanan karena gangguan peradaban dan bertindak lebih jauh aki-
t e d k a c z y n s k i | 8 2
bat rasa lapar dan keputusasaan yang luar biasa. Itu juga karena ke- tidaktahuan kita tentang gerak tubuh dan aroma hewan, dedaunan yang rusak atau sinyal lain yang diketahui [sic] nenek moyang kita, tetapi domestikasi kita sekarang telah menyangkal kita.” 253 Memang benar bahwa pengetahuan pemburu-peramu tentang kebiasaan hewan membuatnya lebih aman di hutan belantara daripada manusia modern. Juga benar bahwa serangan terhadap manusia oleh hewan liar relatif jarang terjadi, mungkin karena hewan telah belajar dengan keras bahwa memangsa manusia itu berisiko. Tetapi bagi pemburu-peramu di banyak lingkungan, hewan liar memang mewakili bahaya yang signifikan. Pemburu Siriono ”kadang-kadang terkena serangan jaguar, buaya, dan ular berbisa.” 254 Macan tutul, kerbau hutan, dan buaya merupakan ancaman nyata bagi orang Mbuti. 255 Di sisi lain, luar biasanya, orang Kadar (pemburu-peramu India) dikatakan memiliki “gencatan senjata dengan harimau, yang di masa lalu dibiarkan tidak terusik.” 256 Ini adalah satu-satunya kasus yang saya ketahui. Pemburu-peramu mewakili bahaya yang jauh lebih besar bagi hewan daripada sebaliknya, karena tentu saja mereka memburu hewan untuk dimakan. Bahkan orang Kadar, yang tidak memiliki senjata berburu dan sebagian besar hidup dari ubi liar, kadang-kadang menggunakan tongkat penggali mereka untuk membunuh hewan kecil untuk dimakan. 257 Metode berburu bisa jadi kejam. Orang Pigmi Mbuti akan menusuk perut gajah dengan tombak beracun; hewan tersebut kemudian akan mati karena pe- ritonitis (radang selaput perut) dalam sehari. 258 Orang-orang Bushmen menggunakan panah beracun, dan hewan-hewan itu mati perlahan selama periode yang bisa berlangsung selama tiga hari. 259 Pemburu-peramu prasejarah menjagal hewan secara massal dengan menggiring ternak menuju tebing. Prosesnya cukup mengerikan dan mungkin menyakitkan bagi hewan, karena beberapa dari mereka tidak langsung terbunuh karena jatuh tetapi cuma cacat. Si
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 8 3
Kaki Kayu Indian berkata: “Saya telah membantu dalam pengejar- an sekelompok kijang di atas tebing. Banyak dari mereka terbunuh atau patah kaki. Kami memukuli sampai mati mereka yang terluka.” 261 Ini bukanlah hal yang menarik bagi para aktivis hak-hak binatang. Anarko-primitifis mungkin ingin mengklaim bahwa pemburu-peramu menimbulkan penderitaan pada hewan hanya sejauh mereka harus melakukannya untuk mendapatkan daging. Tapi ini tidak benar. Banyak kekejaman pemburu-peramu yang tidak berna- lar. Dalam The Forest People, Turnbull melaporkan: “Anak muda itu telah menusuk [pelanduk] dengan tusukan pertamanya, menjepit hewan itu ke tanah melalui bagian perut yang berdaging. Tapi hewan itu masih sangat hidup, berjuang untuk kebebasan. Maipe menancapkan tombak lain ke lehernya, tapi masih menggeliat dan melawan. Sampai tombak ketiga menembus jan- tungnya, ia menyerah untuk melawan ... “Orang-orang pigmi berdiri dalam kelompok yang bersemangat, menunjuk binatang yang sekarat lalu tertawa. Seorang anak laki-laki, sekitar sembilan tahun, melemparkannya ke tanah dan meringkuk dalam tumpukan aneh dan meniru kejang terakhir pelanduk itu... “Di lain waktu saya melihat orang Pigmi menghanguskan bulu burung yang masih hidup, menjelaskan bahwa dagingnya lebih em- puk jika buruannya mati perlahan. Dan anjing-anjing pemburu, betapapun berharganya mereka, ditendang tanpa ampun sejak mereka lahir hingga hari mereka mati.” 262 Beberapa tahun kemudian, dalam Wayward Servants, Turnbull menulis: “Momen pembunuhan paling tepat digambarkan sebagai momen belas kasih dan penghormatan yang intens. Kegembiraan yang kadang-kadang dibuat dari hewan yang mati, terutama oleh para pemuda, tampaknya hampir merupakan reaksi gugup, dan ada unsur ketakutan dalam perilaku mereka. Sebaliknya, seekor burung
t e d k a c z y n s k i | 8 4
yang ditangkap hidup-hidup mungkin dengan sengaja dipermain- kan, bulu-bulunya dikibaskan di atas api selagi masih mengepak sayap dan berkicau sampai akhirnya terbakar atau mati lemas. Ini lagi-lagi biasanya dilakukan oleh para pemuda yang sama-sama merasakan kesenangan yang sama; sangat jarang seorang pemburu muda linglung [!?] melakukan hal yang sama. Pemburu yang lebih tua umumnya tidak setuju, tetapi tidak ikut campur.”; “Rasa hormat tampaknya bukan untuk kehidupan hewan tetapi untuk hasil buruan sebagai hadiah dari hutan...” 263 Ini tampaknya tidak sepenuhnya konsisten dengan apa yang dilaporkan Turnbull sebelumnya di The Forest People. Mungkin Turnbull sudah mulai berayun ke arah kebenaran politik ketika dia menulis Servants Wayward. Tetapi bahkan jika kita menerima pernyataan dari Pelayan [Servant] yang tidak patuh, faktanya tetap bahwa orang Mbuti memperlakukan hewan dengan kekejaman yang tidak perlu, terlepas dari apakah mereka merasakan “belas kasih dan hormat” untuk mereka atau tidak. Jika orang Mbuti memang memiliki belas kasih untuk hewan, mereka mungkin luar biasa dalam hal itu. Pemburu-peramu tampaknya biasanya tidak berperasaan terhadap hewan. Orang Eskimo yang tinggal bersama Gontran de Poncins menendang dan memukuli anjing mereka dengan brutal. 264 Orang Siriono terkadang menangkap hewan-hewan muda hidup-hidup dan membawanya kembali ke perkemahan, tetapi mereka tidak memberi mereka makan, dan hewan-hewan itu diperlakukan dengan sangat kasar oleh anak-anak sehingga mereka segera mati. 265 Perlu dicatat bahwa banyak masyarakat berburu dan meramu memang memiliki rasa hormat atau kedekatan dengan hewan liar. Saya telah mengutip pernyataan Colin Turnbull tentang hal itu dalam kasus Mbuti. Coon menyatakan bahwa “adalah sebuah aturan umum di antara pemburu bahwa mereka tidak boleh mengejek atau menghina makhluk liar yang hidupnya telah mereka akhiri.” (Seperti yang ditunjukkan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 8 5
oleh kutipan yang saya kutip dari Turnbull, ada pengecualian untuk “aturan umum” ini.) Mengawali spekulasi, Coon menambahkan bahwa “pemburu merasakan kesatuan alam dan kombinasi ke- 267 rendahan hati dan tanggung jawab peran mereka di dalamnya.” Wissler menggambarkan kedekatan dan penghormatan terhadap 268 alam (termasuk hewan liar) dari Indian Amerika Utara. Holmberg menyebutkan “ikatan” dan “kekerabatan” Siriono dengan du- 269 nia binatang. Namun, seperti yang telah kita lihat, “ikatan” dan “kekerabatan” ini tidak mencegah kekejaman fisik terhadap hewan. Jelas, aktivis hak-hak binatang akan ngeri melihat cara bagaimana pemburu-peramu kerap memperlakukan hewan. Bagi orang-orang yang memandang budaya berburu dan meramu sebagai cita-cita sosial mereka, maka tidak masuk akal untuk mempertahankan perse- kutuan dengan gerakan hak-hak binatang.
9 Untuk menutupnya, saya akan menyebutkan secara singkat beberapa elemen lain dari mitos anarko-primitifis. Menurut mitos anarko-primitifis, rasisme adalah artefak peradaban. Tentu saja, sebagian besar masyarakat primitif tidak bisa menjadi rasis, karena mereka tidak pernah berhubungan dengan anggota ras yang berbeda. Tetapi di mana kontak antar ras berbeda memang terjadi, saya percaya bahwa pemburu-peramu sama rentannya terhadap rasisme sebagaimana manusia modern. Orang Pigmi Mbuti dapat dibedakan dari tetangga mereka yang tinggal di desa tidak hanya karena perawakan mereka yang lebih pendek tetapi juga oleh fitur 270 wajah mereka dan warna kulit mereka yang lebih terang. Orang Mbuti menyebut penduduk desa sebagai “orang biadab berkulit hitam” dan “binatang”, dan tidak menganggap mereka sebagai orang sungguhan. Penduduk desa juga menyebut orang Mbuti sebagai “buas” dan “binatang”, mereka juga tidak menganggap Mbuti se-
t e d k a c z y n s k i | 8 6
bagai orang sungguhan. 272 Memang benar bahwa penduduk desa sering menjadikan perempuan Mbuti sebagai istri, tetapi ini tampaknya hanya karena perempuan mereka sendiri, di lingkungan hutan, memiliki kesuburan yang sangat rendah, sedangkan perempuan Mbuti melahirkan banyak anak. 273 Keturunan generasi pertama dari perkawinan campuran dianggap lebih rendah. 274 (Yang perlu dicatat adalah bahwa meskipun perempuan Mbuti sering menikah dengan penduduk desa dan tinggal di desa, perempuan desa hampir tidak pernah menikah dengan lelaki Mbuti, karena perempuan tersebut “menjauhi kehidupan pengelana yang keras dari pengembara hutan dan lebih menyukai kehidupan desa yang menetap.” 274 275 Selain itu, keturunan darah campuran dari orang desa dengan Mbuti biasanya tetap tinggal di desa dan “jarang kembali ke hutan, karena mereka lebih menyukai kehidupan desa yang lebih nyaman daripada kehidupan hutan yang keras.” 276 Ini hampir tidak konsisten dengan citra anarko-primitifis tentang kehidupan pemburu-peramu sebagai kehidupan penuh kemudahan dan kelimpahan.) Kasus antagonisme rasial timbal balik yang saya bahas sebelumnya hanya terjadi satu sisi —orang Mbuti yang merupakan pemburu-peramu dengan penduduk desa yang menjadi petani. Sebagai contoh kemungkinan rasisme di mana kedua belah pihak adalah pemburu-peramu, orang Indian di subarktik Amerika Utara dan orang Eskimo saling membenci dan takut satu sama lain; mereka jarang bertemu kecuali untuk bertengkar. 277 Bagaimana dengan homofobia? Itu juga tidak diketahui di antara pemburu-peramu. Menurut Ny. Thomas, homoseksualitas tidak diizinkan di antara orang-orang Bushmen yang dia kenal²⁷⁸ (walaupun tidak berarti bahwa ini berlaku untuk semua kelompok Bushmen). Di antara orang Mbuti, menurut Turnbull, “homoseksualitas tidak pernah disinggung-singgung kecuali sebagai tuduhan penghinaan serius, di bawah provokasi yang paling mengerikan.”
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 8 7
Penerbit “zine” anarko-primitifis Species Traitor menyatakan dalam sebuah surat kepada saya bahwa dalam budaya pemburu-peramu “orang tidak memiliki properti.” 280 Ini tidak benar. Berbagai bentuk kepemilikan pribadi memang ada di antara pemburu-peramu —dan tidak hanya di antara orang-orang yang menetap seperti orang Indian Pantai Barat Laut Amerika. Telah diketahui dengan baik bahwa sebagian besar masyarakat berburu dan meramu memiliki kepemilikan kolektif atas tanah. Artinya, setiap kelompok yang terdiri dari 30 hingga 130 orang memiliki wilayah tempat tinggalnya. Coon memberikan diskusi panjang tentang ini. 281 Hanya sedikit yang diketahui kalau pemburu-peramu, bahkan yang nomaden, juga dapat memegang hak atas sumber daya alam sebagai milik individu, dan dalam beberapa kasus hak tersebut bahkan dapat diwariskan. 282 Misalnya, di antara orang Bushmen yang diteliti Nyonya Thomas: “Setiap kelompok memiliki wilayah yang sangat spesifik yang dapat digunakan oleh kelompok itu sendiri, dan mereka menghormati batas-batas mereka secara kaku. Jika seseorang lahir di daerah tertentu, dia berhak memakan melon yang tumbuh di sana dan semua makanan di padang. Seorang lelaki boleh makan melon di mana pun istrinya bisa dan di mana pun ayah dan ibunya bisa, sehingga setiap orang Bushman dengan cara ini memiliki semacam hak di banyak tempat. Gai, misalnya, makan melon di Ai a ha’o karena ibu istrinya lahir di sana, juga di tempat kelahirannya sendiri, Okwa Omaramba.” 283 Diantara orang Vedda (pemburu-peramu dari Srilanka) dijelaskan bahwa, “wilayah kelompok dibagi lagi untuk masing-masing anggota kelompok, yang dapat mewariskan properti mereka kepada anak-anak mereka.” 284 Orang Aborigin Australia mengenal sistem hak warisan untuk barang-barang yang diperoleh dalam perdagangan dengan hasil tambang. Di antara beberapa orang Aborigin Australia lainnya, pohon buah-buahan tertentu dimiliki secara pri-
t e d k a c z y n s k i | 8 8
badi. 286 Suku Mbuti memakan rayap, dan di antaranya sarang rayap berbukit dapat dimiliki oleh individu. 287 Barang-barang portabel seperti peralatan, pakaian, dan ornamen biasanya dimiliki oleh pemburu-peramu secara perorangan. 288 Turnbull menyebutkan salah satu argumen W. Nippold yang menyatakan bahwa pemburu-peramu, termasuk orang Mbuti, memiliki rasa kepemilikan pribadi yang sangat berkembang. Turnbull membantah bahwa ini adalah “poin yang masih dapat diperdebatkan, dan sebagian besar merupakan masalah semantik.” 289 Tapi cu- kuplah untuk bilang kalau pemburu-peramu tidak punya hak milik pribadi hanyalah elemen lain dari mitos anarko-primitifis. Penting untuk dicatat, bagaimanapun juga, bahwa pemburu-peramu nomaden tidak mengumpulkan properti agar dapat menggunakan kekayaannya untuk mendominasi orang lain. 290 Pemburu-peramu biasanya harus membawa semua harta miliknya sendiri setiap kali dia memindahkan perkemahan, atau setidaknya dia harus membawanya dengan kano atau kereta luncur anjing atau travois. 291 Dengan salah satu cara ini, hanya sejumlah kecil properti yang dapat diangkut, oleh karena itu jumlah properti yang bermanfaat yang dapat dikumpulkan oleh seorang pengembara harus dibatasi. Properti dalam hak atas sumber daya alam tidak perlu diangkut sehingga secara teori bahkan seorang pemburu-peramu nomaden dapat mengumpulkan jumlah yang tidak terbatas dari properti semacam itu. Tetapi dalam praktiknya saya tidak mengetahui adanya contoh di mana siapa pun yang termasuk dalam kelompok pemburu-peramu nomaden yang mengumpulkan cukup properti dalam hak atas sumber daya alam yang memungkinkannya untuk mendominasi orang lain. Di bawah kondisi kehidupan berburu-meramu yang nomaden, jelas akan sangat sulit bagi setiap individu untuk menegakkan hak eksklusif atas lebih banyak sumber daya alam daripada yang dapat ia manfaatkan secara pribadi. Mengingat tidak
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 8 9
adanya akumulasi kekayaan di antara pemburu-peramu nomaden, dapat diduga bahwa tidak akan ada hierarki sosial di antara mereka, tetapi ini tidak sepenuhnya benar. Jelas tidak ada banyak ruang untuk hierarki sosial dalam kelompok nomaden yang berisi paling banyak 130 orang (termasuk anak-anak), dan biasanya jauh di bawah setengah dari jumlah itu. Selain itu, beberapa pemburu dan peramu membuat upaya yang sadar, konsisten, dan tampaknya cukup berhasil untuk mencegah siapa pun menempatkan dirinya di atas orang lain. Misalnya, di antara Mbuti, “tidak ada kepala atau dewan tetua,” 292 “Otoritas individu tidak dapat dibayangkan,” 293 dan “setiap upaya asumsi otoritas individu, atau bahkan pengaruh yang berlebihan, secara tajam dilawan dengan ejekan atau pengu- cilan.” 294 Faktanya, Turnbull menekankan di seluruh bukunya semangat orang Mbuti dalam menentang asumsi oleh siapa pun yang berstatus tinggi. 295 Orang Indian di sub-Arktik Amerika Utara tidak memiliki kepala suku. 296 Siriono memang memiliki kepala suku, tetapi: “Hak prerogatif kepala suku sedikit. Seorang kepala suku memberikan saran tentang migrasi, perjalanan berburu, dll., tetapi ini tidak selalu diikuti oleh anggota sukunya. Namun, sebagai tanda status, seorang kepala suku selalu memiliki lebih dari satu istri”; “Sementara para pemimpin banyak mengeluh bahwa anggota kelompok lainnya tidak memenuhi kewajiban mereka kepada mereka, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada permintaan mereka”; “Namun, secara umum, para ketua lebih baik daripada anggota kelompok lainnya. Permintaan mereka lebih sering membuahkan hasil daripada permintaan orang lain.” 297 Orang-orang Bushmen yang dikenal Nyonya Thomas “tidak memiliki kepala atau raja, hanya kepala desa yang fungsinya hampir tidak dapat dibedakan dari orang-orang yang mereka pimpin, dan kadang-kadang sebuah kelompok bahkan tidak memiliki kepa-
t e d k a c z y n s k i | 9 0
la desa.” 298 Kung Bushmen yang diteliti Richard Lee tidak memiliki pemimpin, 299 dan seperti orang Mbuti, mereka membuat upaya yang dengan sadar mencegah siapa pun menempatkan dirinya di atas yang lain. 300 Namun, beberapa Kung Bushmen lainnya memang memiliki kepala atau pemimpin, kepemimpinan turun-temurun, dan kepala memiliki otoritas nyata, karena “kepala desa atau ketua memutuskan siapa yang akan pergi ke mana dan kapan dalam menyiapkan ekspedisi, karena putaran waktu tahunan sangat penting untuk memastikan pasokan makanan.” 301 Inilah yang dikatakan Coon tentang Bushmen di daerah sumur Gautscha, dan karena Nyonya Thomas mengenal Bushmen ini, 302 tidak jelas bagaimana orang akan mendamaikan pernyataan Coon dengan pernyataannya bahwa “pemimpin yang berfungsi hampir tidak dapat dibedakan dari orang-orang yang dipimpin.” Saya tidak memiliki akses ke fasilitas perpustakaan yang layak; Saya bahkan tidak memiliki salinan lengkap buku Nyonya Thomas, hanya beberapa halaman fotokopi, jadi saya harus menyerahkan masalah ini kepada setiap pembaca yang mungkin cukup tertarik untuk membahasnya. Bagaimanapun, di beberapa bagian Australia ada “kepala suku yang kuat, yang oleh para pemukim kulit putih disebut raja. Raja mengenakan mahkota serban yang sangat rumit dan selalu disan- dang di pundak para pria.” 303 Di Tasmania juga ada “kepala teritorial dengan kekuasaan yang cukup besar, dan dalam beberapa kasus, jabatan mereka diwariskan turun-temurun.” 304 Jadi, meski hanya ada sedikit stratifikasi sosial pada sebagian besar masyarakat berburu dan meramu nomaden, asumsi luas bahwa semua masyarakat seperti itu tidak memiliki hierarki terbukti salah. Secara umum diasumsikan, dan tidak hanya oleh anarko-primitifis, bahwa pemburu-peramu adalah konservasionis yang baik. Mengenai hal ini saya tidak memiliki banyak informasi, tetapi dari apa yang saya ketahui tampaknya pemburu-peramu memiliki catatan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9 1
yang beragam sebagai konservasionis. Orang Mbuti terlihat sangat bagus. Schebesta percaya bahwa mereka secara sukarela membatasi populasi mereka agar tidak membebani sumber daya alam mereka secara berlebihan³⁰⁵ (walaupun, setidaknya di bagian karyanya yang telah saya baca, dia tidak menjelaskan alasannya). Menurut Turnbull, “sangat jelas ada dorongan kuat yang dirasakan dan dinyatakan untuk menggunakan setiap bagian dari tubuh hewan, dan mereka tidak pernah membunuh lebih dari yang diperlukan untuk kebutuhan kelompok pada hari itu. Ini sebenarnya mungkin salah satu alasan mengapa Mbuti begitu enggan untuk membunuh buruan secara berlebihan dan melestarikannya untuk ditukar dengan penduduk desa.” 306 Turnbull juga menyatakan bahwa “dalam pandangan ahli mamalia seperti Van Gelder, para pemburu [Mbuti] memang merupakan konservasionis terbaik yang diharapkan oleh pemerintah yang peduli konservasi.” 307 Di sisi lain, ketika Turnbull mengajak seorang Mbuti bernama Kenge untuk mengunjungi cagar alam, Kenge diberi tahu “kalau dia akan melihat lebih banyak hewan buruan daripada yang pernah dia lihat di hutan, tetapi dia tidak boleh menco- banya dan berburu apapun. Kenge tidak bisa memahami ini, karena menurutnya hewan buruan memang untuk diburu.” 308 Menurut Coon, etika orang Eskimo Tikerarmiut melarang mereka menjebak lebih dari empat serigala, rubah, atau marmut dalam satu hari. Namun, etika ini dengan cepat rusak ketika pedagang kulit putih datang dan menggoda Tikerarmiut dengan barang dagangan yang bisa mereka peroleh dengan imbalan bulu binatang yang disebutkan. 309 Segera setelah mereka memperoleh kapak baja, orang Siriono mulai menghancurkan pohon buah-buahan liar di wilayah mereka karena lebih mudah memanen buah dengan menebang pohon daripada memanjatnya. Diketahui bahwa beberapa pemburu-peramu dengan sengaja
t e d k a c z y n s k i | 9 2
membakar hutan karena mereka tahu bahwa lahan yang terbakar akan menumbuhkan lebih banyak tanaman favorit mereka. 311 Saya menganggap praktik ini sangat merusak. Diyakini bahwa pemburu-peramu prasejarah, melalui perburuan berlebihan, menyebabkan atau setidaknya berkontribusi pada kepunahan beberapa spesies mamalia besar, 312 meskipun sejauh yang saya tahu ini belum pernah terbukti secara pasti. Hal di atas bahkan tidak banyak menjawab pertanyaan tentang konservasi versus kecerobohan lingkungan di pihak pemburu-peramu. Ini adalah pertanyaan yang layak untuk diselidiki secara menyeluruh.
10 Saya tidak dapat menggeneralisasi secara luas karena saya telah berkomunikasi secara pribadi dengan hanya beberapa anarko-primitifis, tetapi jelas bahwa setidaknya beberapa anarko-primitivis kebal terhadap fakta apapun yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Seseorang dapat menunjukkan kepada orang-orang ini sejumlah fakta dari jenis yang telah saya sajikan di sini dan mengutip kata-kata para penulis yang benar-benar mengunjungi pemburu-peramu pada saat mereka relatif belum terjamah, namun anarko-primitifis yang benar-benar beriman akan selalu menemukan pembenaran untuk mengabaikan semua fakta yang tidak menyenangkan dan mempertahankan keyakinannya pada mitos. Ini mengingatkan kita pada bagaimana orang-orang fundamentalis Kristen menanggapi setiap serangan rasional terhadap kepercayaan mereka. Fakta apa pun yang dapat ditunjukkan, kaum fundamentalis akan selalu menemukan beberapa argumen, betapa pun itu dibuat-buat, untuk menjelaskannya dan membenarkan keyakinannya akan kebenaran Alkitab secara harfiah, kata demi kata. Sebenarnya, ada beberapa hal dari anarko-primitifisme yang mirip dengan primitifisme Kekristenan awal. Utopia berburu dan mera-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9 3
mu kaum anarko-primitifis sesuai dengan Taman Eden, di mana Adam dan Hawa hidup dengan tenang dan tanpa dosa (Kejadian
2). Penemuan pertanian dan peradaban berhubungan dengan Keja- tuhan: Adam dan Hawa makan buah dari pohon pengetahuan (Kejadian 3:6), diusir dari Taman (Kejadian 3:24), dan setelah itu harus mencari nafkah dengan keringat mereka sendiri dengan mengolah tanah dan bertani (Kejadian 3:19, 23). Apalagi mereka kehilangan kesetaraan gender, karena Hawa menjadi bawahan suaminya (Kejadian 3:16). Revolusi yang diharapkan kaum anarko-primitifis akan menggulingkan peradaban sesuai dengan Hari Penghakiman, hari kehancuran di mana Babel akan jatuh (Wahyu 18:2). Kembalinya kehidupan ke utopia primitif sesuai dengan kedatangan Kerajaan Allah, di mana “tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, atau ta- ngisan, tidak akan ada lagi rasa sakit” (Wahyu 21:4). Aktivis hari ini yang mempertaruhkan tubuh mereka dengan terlibat dalam taktik perlawanan masokis, seperti merantai diri mereka di seberang jalan untuk mencegah lewatnya truk kayu, sesuai dengan para martir Kristen -orang beriman yang saleh yang “di- penggal untuk kesaksian Yesus, dan untuk firman Allah” (Wahyu 20:4). Veganisme sesuai dengan pembatasan diet banyak agama, seperti puasa Kristen selama Prapaskah. Seperti anarko-primitifis, orang-orang Kristen mula-mula menekankan egalitarianisme (“barangsiapa meninggikan dirinya, ia akan direndahkan”, Matius 23:12) dan berbagi (“pembagian diberikan kepada setiap orang menurut kebutuhannya”, Kisah Para Rasul 4:35). Kedekatan psikologis antara anarko-primitifisme dengan Kekristenan awal tidak menunjukkan sesuatu baik. Segera setelah Kaisar Konstantin memberikan kesempatan kepada orang-orang Kristen untuk menjadi kuat, mereka menjual imannya, dan sejak saat itu Kekristenan, lebih sering daripada tidak, telah berfungsi sebagai penyangga kekuasaan yang sudah mapan.
t e d k a c z y n s k i | 9 4
11 Dalam artikel ini saya terutama ingin menyanggah mitos anarko-primitifis, dan untuk alasan itu saya telah menekankan aspek-aspek tertentu dari masyarakat primitif yang akan dilihat secara negatif dari sudut pandang nilai-nilai modern. Tapi ada sisi lain dari koin ini: Masyarakat berburu dan meramu nomaden menunjukkan banyak sifat yang sangat menarik. Antara lain, ada alasan untuk percaya bahwa masyarakat seperti itu relatif bebas dari masalah psikologis yang mengganggu manusia modern, seperti stress kronis, kecemasan atau frustrasi, depresi, gangguan makan dan tidur, dan sebagainya; bahwa orang-orang dalam masyarakat seperti itu, dalam hal-hal tertentu yang sangat penting (walaupun tidak dalam semua hal) memiliki otonomi pribadi yang jauh lebih besar daripada yang dimiliki manusia modern; dan bahwa pemburu-peramu lebih puas dengan cara hidup mereka dibandingkan kepuasan manusia modern atas gaya hidupnya. Mengapa ini penting? Karena itu menunjukkan bahwa stress kronis, kecemasan dan frustasi, depresi, dan sebagainya, bukanlah bagian yang tak terhindarkan dari kondisi manusia, tetapi merupakan gangguan yang dibawa oleh peradaban modern. Perhambaan juga bukan bagian tak terelakkan dari kondisi manusia: Contoh setidaknya beberapa pemburu-peramu nomaden menunjukkan bahwa kebebasan sejati itu mungkin. Bahkan yang lebih penting: Terlepas dari apakah mereka konservasionis yang baik atau buruk, masyarakat primitif tidak mampu merusak lingkungan mereka sejauh yang manusia modern mampu lakukan. Orang primitif sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukan kerusakan sebanyak itu. Mereka mungkin telah menggunakan api secara sembrono dan mereka mungkin telah memusnahkan beberapa spesies melalui perburuan, tetapi mereka tidak memiliki cara untuk membendung sungai besar, menutupi ribuan mil persegi permukaan bumi dengan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9 5
kota dan trotoar, atau untuk menghasilkan sejumlah besar bahan kimia beracun dan limbah radioaktif yang peradaban modern an- cam akan hancurkan dunia untuk selamanya. Orang-orang primitif juga tidak memiliki sarana untuk melepaskan kekuatan mematikan dan berbahaya yang diwakili oleh rekayasa genetika dan oleh komputer super-cerdas yang mungkin segera dikembangkan. Ini adalah bahaya yang menakutkan bahkan bagi para teknofil itu sendiri. 313 Jadi saya setuju dengan kaum anarko-primitifis bahwa munculnya peradaban adalah bencana besar dan bahwa Revolusi Industri adalah bencana yang lebih besar lagi. Saya lebih lanjut setuju bahwa revolusi melawan modernitas, dan melawan peradaban secara umum, diperlukan. Tetapi Anda tidak dapat membangun gerakan revolusioner yang efektif dari para pemimpi, pemalas, dan penipu yang berkepala dingin. Anda harus memiliki orang-orang yang ber- pikiran keras, yang realistis, praktis, dan orang-orang semacam itu tidak membutuhkan mitos utopis anarko-primitifis yang lembek.
t e d k a c z y n s k i | 9 6
Catatan Kesimpulan.
Ketika saya menulis artikel ini saya baru mulai membaca II. Band,
I. Teil [vol. 2, bagian 1] dari Die Bambuti-Pygmiien vom Ituri karya Schebesta. Sejak membacanya, dan karena adanya perbedaan yang saya temukan antara pengamatan Turnbull dengan pengamatan Schebesta, saya terpaksa meragukan keandalan karya Turnbull tentang orang pigmi Mbuti. Sekarang saya menduga bahwa Turnbull secara sadar atau tidak sadar mengubah deskripsinya tentang orang Mbuti untuk membuat mereka tampak lebih menarik bagi intelektual kiri modern seperti dirinya. Namun, saya pikir tidak perlu untuk menulis ulang artikel ini sedemikian rupa untuk menghilangkan ketergantungan pada Turnbull, karena saya mengutip Turnbull terutama untuk informasi yang membuat orang Mbuti tampak tidak menarik, misalnya, pemukulan istri, perkelahian, dan berebut makanan. Mengingat sifat bias Turnbull, bisa diasumsikan kalau dia akan mengecilkan jumlah pemukulan, pertengkaran, dan pertikaian istri yang dia amati. Tetapi saya pikir adil untuk memperingatkan pembaca bahwa di mana Turnbull menganggap sifat-sifat yang menarik atau benar secara politis dari Mbuti, tingkat skeptisisme tertentu mungkin diperlukan. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada sejumlah orang yang telah mengirimi saya buku, artikel, atau informasi lain yang berkaitan dengan masyarakat primitif, dan bantuan yang membuat artikel ini dapat ditulis: Facun- do Bermudez, Chris J., Maijorie Kennedy, Alex Obledo, Patrick Scardo, Kevin Tucker, John Zerzan, dan enam orang lainnya yang mungkin tidak ingin namanya disebutkan di hadapan umum. Tapi yang terpenting, saya ingin berterima kasih kepada perempuan yang saya cintai, yang memberi saya informasi yang lebih berguna daripada orang lain, termasuk dua jilid karya luar biasa Paul Schebesta tentang orang-orang pygmi Mbuti.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9 7
Daftar Karya yang Dikutip
Karena saya seorang tahanan dan tidak memiliki akses langsung ke fasilitas perpustakaan, informasi bibliografi yang diberikan dalam daftar ini dalam beberapa kasus tidak lengkap. Dalam kebanyakan kasus, bagaimanapun, saya pikir menemukan karya-karya yang dikutip tidak menjadi kesulitan serius. Daftar disusun berdasarkan alfabet dari nama belakangnya.
Barclay, Harold B., surat kepada editor, dalam Anarchy: A Journal of Desire Armed, musim semi/panas 2002, hlm 70–71. Black, Bob, “Primitive Affluence”, dalam The Abolition of Work / Primitive Affluence: Essays against work by Bob Black, Green Anarchist Books, BCM 1715, London WC1N3XX. Date:
- Bonvillain, Nancy, Women and Men: Cultural Constructs of Gender, edisi kedua, Prentice Hall, Upper saddle River, New Je- rsey, 1998. Cashdan, Elizabeth, “Hunters and Gatherers: Economic Behavior in Bands”, dalam Stuart Plattner (penyunting), Economic Anthropology, Stanford University Press, 1989, hlm 21–48. Coon, Carleton S., The Hunting Peoples, Little, Brown and Company, Boston, Toronto, 1971. Davidson, H. R. Ellis, Gods and Myths of Northern Europe, Penguin Books, 1990. Debo, Angie, Geronimo: The Man, His Time, His Place, University of Oklahoma Press, 1976. Elkin, A. P., The Australian Aborigines, edisi keempat, Anchor Books, Doubleday, Garden City, New York, 1964. Evans-Pritchard, E. E., The Nuer, Oxford University Press,
- Fernald, Merritt Lyndon, dan Alfred Charles Kinsey, Edible
t e d k a c z y n s k i | 9 8
Wild Plants of Eastern North America, Edisi Revisi, Dover, New York, 1996. Gibbons, Euell, Stalking the Wild Asparagus, Field Guide Edition, David McKay Company, New York, 1972. Haviland, William A., Cultural Anthropology, edisi kesembilan, Harcourt Brace College Publishers, 1999. Holmberg, Allan R., Nomads of the Long Bow: The Siriono of Eastern Bolivia, The Natural History Press, Garden City, New York, 1969. Joy, Bill, “Why the Future Doesn’t Need Us”, majalah Wired, April 2000, hlm 238–262. Leach, Douglas Edward, History of Indian-White Relations, Wilcomb E. Washburn, volume editor. Leakey, Richard E., The Making of Mankind, E. P. Dutton, New York, 1981. Marquis, Thomas B. (Penafsir), Wooden Leg: A Warrior Who Fought Custer, Bison Books, University of Nebraska Press, 1967. Massola, Aldo, The Aborigines of South-Eastern Australia: As They Were, Heinemann, Melbourne, 1971. Mercader, Julio (penyunting), Under the Canopy: The Archa- eology of Tropical Rain Forests, Rutgers University Press, 2003. Nietzsche, Friedrich, “The Antichrist”, §55; dalam Twilight of the Idols / The Antichrist, diterjemahkan oleh R.J. Hollingdale, Penguin Classics, 1990. Nitzberg, Julien, “Back to the Future Primitive” (wawancara dengan John Zerzan), majalah Mean, April 2001, hlm 68, 69, 78. Pfeiffer, John E., The Emergence of Man, Harper & Row, New York, Evanston, dan London, 1969. Pfeiffer, John E., The Emergence of Society, New York, 1977. Poncins, Gontran de, Kabloona, Time-Life Books Inc., Alexan- dria, Virginia, 1980. Rees, Martin, Our Final Century, Heinemann, 2003.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 9 9
Richard, Gladys A., Navaho Religion: A Study of Symbolism, Princeton University Press, 1990. Sahlins, Marshall, Stone Age Economics, Aldine Atherton,
- Schbesta, Paul, Die Bambuti-Pygmaen vom Ituri, Institut Royal Colonial Belge, Brussels; I. Band, 1938; II. Band, I. Teil, 1941. Thomas, Elizabeth Marshall, The Harmless People, Second Vintage Books Edition Random House, New York, 1989. Turnbull, Colin M., The Forest People, Simon and Schuster, text copyright 161, Foreword copyright, 1962. Turnbull, Colin M., Wayward Servants: The Two Worlds of the African Pygmies, The Natural History Press, Garden City, New York, 1965. Turnbull, Colin M., The Mbuti Pygmies: Change and Adaptation, Harcourt Brace College Publishers, 1983. Vestal, Stanley, Sitting Bull, Champion of the Sioux: A Biography, University of Oklahoma Press, 1989. Von Laue, Theodore H., Why Lenin? Why Stalin?, J. B. Lippen- cott, Co., New York, 1971. Wissler, Clark, Indians of the United States, Revised Edition, Anchor Books, Random House, New York, 1989. Zerzan, John, “Future Primitive”, in Future Primitive and Other Essays, oleh penulis yang sama, edisi 1994. Zerzan, John, “Whose Future?” dalam Species Traitor No.1. Karya Tanpa Nama Penulis Encyclopedia Americana. Edisi Internasional, 1998. The New Encyclopaedia Britannica. Edisi Lima Belas, 2003 (disingkat sebagai Encycl. Brit.). Catatan: Salinan Encyclopaedia Britannica berlabel “edisi kelima belas” tetapi memiliki tanggal hak cipta selain tahun 2003 tidak selalu identik dengan Britannica tahun 2003.
t e d k a c z y n s k i | 1 0 0
The Unabomber Manifesto, Industrial Society and Its Future.
Terbitan berkala
Anarchy: A Journal of Desire Armed. P. O. Box 3448. Berkeley CA 94703, U.S.A. Green Anarchy. P. 0. Box 11331. Eugene. OR 97440. Majalah Mean. Science News. Species Traitor. P. 0. Box 835. Greensburg. PA 15601. Majalah Time. Majalah Wired. Karena sebagian besar karya yang dikutip di sini dikutip berulang kali; kutipan diberikan dalam bentuk singkatan. Untuk rincian bibliografi, lihat Daftar Karya yang Dikutip terlampir (hal.
167). “Encycl. Brit.” berarti “The New Encyclopaedia Britannica”, Edisi Kelima Belas, 2003. __________________ [1] Contoh: “What is ‘Green Anarchy’?”, oleh Black and Green Network, Green Anarchy #9, September 2002, hlm 13 (“jam kerja pemburu-peramu tidak lebih dari tiga jam perharinya”). [2] Sahlins, hlm 1–39. [3] Bob Black, Primitive Affluence; lihat daftar karya yang dikutip. [4] Sahlins, hlm 21. [5] Cashdan, Hunters and Gatherers: Economic Behavior in Bands. [6] Ibid., hlm 23. [7] Bob Black, hlm 12–13. Cashdan, hlm 23. [8] Cashdan, hlm 23–24.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 0 1
[9] Ibid., hlm 24. [10] Ibid., hlm 24–25. [11] Ibid., hlm 26. [12] Poncins, hlm 11- 126. [13] Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 9, 17–20,89, 93–96, 119, 159–160 (lelaki melakukan keinginan mereka pada saat “luang”), 170, Bildtafel X (perempuan yang mengangkut kayu bakar dipundaknya). [14] Turnbull, Change and Adaptation, hlm 18; Forest People, hlm 131. [15] Holmberg, hlm 48–51, 63, 67, 76–77, 82–83, 223,265. [16] Ibid., hlm 75–76. [17] Ibid., hlm 100–101. [18] Ibid., hlm 63,76,100. [19] Ibid., hlm 223. [20] Ibid., hlm 222. [21] Ibid., hlm 224. [22] Ibid., hlm 87, 107, 157, 213, 220, 246, 248–49, 254, 268. [23] Cashdan, hlm 23. [24] Sahlins, hlm 15–17, 38–39. [25] Holmberg, hlm 107, 222. [26] Hutan belantara Siriono tidak sepenuhnya tanpa jejak, karena mereka mengembangkan jalur dengan berulang kali menggunakan rute yang sama. Holmberg, hlm 105. Betapa se- dikitnya jalur ini yang menyerupai jalur terawat yang ditemukan di hutan, dapat dinilai dari fakta bahwa jalur tersebut “hampir tidak terlihat” (hlm 51), “tidak pernah dibuka” (hlm 105), dan “mustahil bagi yang belum tahu untuk mengikutinya” (hlm 106) [27] Holmberg, hlm 249. [28] Ibid., hlm 157. [29] Ibid., hlm 65,249.
t e d k a c z y n s k i | 1 0 2
[30] Ibid., hlm 65. [31] Tidak ada yang luar biasa dari aktivitas berburu dan mencari makan Siriono. Mis.: “Para Bushmen telah mengikuti jejak rusa melewati duri-durian dan melewati gurun yang kering ...” Thomas. hlm 198. “Orang-orang itu mengikuti jejak kerbau selama tiga hari…” Ibid., hlm 190. Kegigihan hidup orang Eskimo dapat dinilai dari pengamatan Poncins, Kabloona. Lihat kisah perjalanan berburu oleh Wooden Leg, seorang Indian Cheyenne Utara (kelelahan, buta salju, kaki beku). Marquis. hlm 8-9. [32] Holmberg, hlm 65. [33] Haviland. hlm 167. [34] Fernald dan Kinsey. hlm 149. [35] Ibid., hlm 148. Gibbons, hlm 217. [36] Contoh dapat ditemukan dalam Fernald dan Kinsey. [37] Gibbons, bagian berjudul “The Proof of the Pudding”. [38] Coon, hlm 36. 179–180. 226, 228. 230, 262. [39] Cashdan, hlm 22. Coon. hlm 268–69, 390; lihat juga hlm
- [40] Untuk keahilan lihat mis., Poncins. hlm 14–15, 38–39,
- 209–210; Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 7; Holmberg. hlm 120–21, 275; Coon. hlm 14. 49, 75, 82–83. [41] Ini terlalu menyederhanakan, karena otoritas wajib dan pemberian perintah tidak dikenal di antara pemburu-peramu nomaden, tetapi secara umum tingkat otonomi pribadi yang tinggi dalam masyarakat seperti itu ditunjukkan dengan membaca karya-karya yang dikutip dalam artikel ini. Melihat. misalnya.. Turnbull, Forest People. hlm 83; Poncins, hlm 174. [42] Pemburu-peramu nomaden biasanya hidup dalam kelompok yang berisi antara 30 dan 130 individu termasuk anak-anak dan bayi, dan dalam banyak kasus kelompok ini terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi. Coon, hlm
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 0 3
- Cashdan, hlm 21. Siriono sering berburu sendiri-sendiri atau berpasangan; kelompok berburu paling banyak terdiri dari enam atau tujuh orang. Holmberg. hlm 51. Orang pigmi Efe biasanya berburu dalam kelompok yang terdiri dari dua sampai empat orang. Coon, hlm 88. [43] Saya akan menyimpan diskusi tentang stres untuk beberapa kesempatan lain, tetapi lihat. misalnya Poncins. hlm 212– 13, 273. 292. Schebesta. II. Pita. I. Teil. hlm 18, menulis: “Kegiatan ekonomi pemburu-peramu tidak mengenal tergesa-gesa atau terburu-buru atau kekhawatiran berlebihan atas makanan sehari-hari.” [44] Holmberg. hlm 101. [45] “[Hidup] sebelum domestikasi/pertanian sebenarnya sebagian besar merupakan waktu luang. ...kesetaraan seksual.” Zerzan, Future Primitive. hlm 16. [46] “Hingga 10.000 tahun yang lalu... manusia hidup sesuai dengan etos egaliter dengan banyak waktu luang dan kesetaraan gender...” Zerzan, “Whose Future?”, Species Traitor No. 1. Halaman dalam publikasi ini tidak dinomorkan. [47] Thomas. hlm 11.284–87. [48] Encycl. Brit., Vol. 22, artikel “Languages of the World. Bagian “African Languages”, subbagian “Khoisan Languages”, hlm 757–760. [49] Bonvillain, hlm 21. [50] Ibid., hlm 24. [51] Ibid., hlm 21. [52] Ibid., hlm 21–22. [53] Ibid., hlm 22. [54] Ibid., hlm 23. [55] Ibid., hlm 21–22. [56] Turnbull, Wayward Servants, hlm 270.
t e d k a c z y n s k i | 1 0 4
[57] Turnbull, Forest People, hlm 154. [58] Turnbull, Wayward Servants, hlm 287. [59] Turnbull, Forest People, hlm 205. [60] Turnbull, Wayward Servants, hlm 211. [61] Ibid., hlm 192. [62] Turnbull, Forest People, hlm 204. [63] Ibid., hlm 207–08. [64] Ibid., hlm 208. [65] Ibid., hlm 122. [66] Turnbull, Wayward Servants, hlm 288–89. Forest People, hlm 265. [67] Turnbull, Forest People, hlm 115–16. [68] Turnbull, Wayward Servants, hlm 137. [69] “Saya tidak tahu ada kasus pemerkosaan..” Turnbull, Wayward Servants, hlm 121. Saya dapat menjelaskan kontradiksi yang nyata antara pernyataan ini dan bagian yang dikutip beberapa saat yang lalu hanya dengan mengandaikan bahwa Turnbull menulis sebelum konsep “perkosaan saat kencan” telah muncul, dia tidak menganggap bahwa hubungan seksual paksa di gubuk, dalam keadaan yang dia gambarkan, merupakan pemerkosaan. Oleh karena itu, ketika dia mengatakan dia tahu tidak ada pemerkosaan di antara Mbuti, dia mungkin mengacu pada sesuatu yang kurang lebih sama dengan apa yang sekarang kita sebut “perkosaan jalanan” sebagai lawan dari “perkosaan saat kencan.” [70] Turnbull, Wayward Servants, hlm 189. Namun, Turnbull mungkin tidak konsisten dalam hal ini. Perhatikan bagian yang saya kutip beberapa saat yang lalu tentang Amabosu yang me- nampar wajah istrinya dan reaksi Ekianga. [71] Ibid., hlm 287–89. [72] Banyak contoh yang bertebaran dalam Wayward Ser-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 0 5
vants and Forest People. [73] Holmberg, hlm 125. [74] Ibid., hlm 129. [75] Ibid., hlm 147. [76] Ibid., hlm 163. [77] Ibid., hlm 202. [78] Ibid., hlm 148. [79] Ibid., hlm 128. [80] Ibid., hlm 147. [81] Bonvillain, hlm 295. [82] Ibid., hlm 38–45. [83] Poncins, hlm 113–14, 126. [84] Ibid., hlm 198. Lihat juga hlm 117. [85] Ibid., hlm 114–15. [86] Ibid., hlm 126. [87] Ibid., hlm 113. [88] Ibid., hlm 112–13. Lihat juga Coon. hlm 223 (“seringkali istri yang dipinjamkan mengatakan bahwa mereka tidak menikmati ini”). [89] Elkin, hlm 132–33. Massola, hlm 73. [90] Massola, hlm 74, 76. [91] Ibid., hlm 75. Elkin, hlm 133–34. [92] Massola. hlm 76. [93] Elkin, hlm 136. Massola, hlm 73, 75. Coon, hlm 260–61. [94] Massola, hlm 75–76. [95] Ibid., hlm 76–77. [96] Elkin, hlm 135, 137–38. [97] Ibid. .hlm 138. [98] Ibid., hlm 138 (catatan kaki no. 12). [99] Coon. hlm 105, 217, 253. [100] Massola, hlm 78.,
t e d k a c z y n s k i | 1 0 6
[101] Encycl. Brit., Vol. 14, artikel “Australia”, hlm 437. [102] Ibid. [103] Coon, hlm 253, 255. [104] Massola, hlm 77. [105] Coon, hlm 105,217. [106] Ibid., hlm 215. [107] Ibid., hlm 336. [108] Ibid., hlm 252. [109] Thomas, hlm 262–303. [110] Harold B. Barclay, surat pada editor, Anarchy: A Journal of Desire Armed, musim semi/panas 2002, hlm 70–71. [111] Ibid. [112] Cashdan, hlm 21. [113] Orang Eskimo yang digambarkan oleh Poncins menggunakan senapan sampai batas tertentu, tetapi ini tampaknya bukan alat utama mereka untuk mendapatkan makanan; dan mereka tidak memiliki perahu motor atau mobil salju.. [114] Coon, hlm 276. [115] Haviland, hlm 168 (“beberapa orang Bushmen di Afrika Selatan, kadang-kadang menjadi petani dan di lain waktu menjadi pengembara pastoral”). [116] Ibid., hlm 167. Cashdan, hlm 43–44. [117] Thomas, hlm 94. [118] Pfeiffer. Emergence of Man. hlm 345–46. Pfeiffer bukanlah sumber informasi yang dapat diandalkan, tetapi siapa pun yang memiliki akses ke fasilitas perpustakaan yang baik bisa membaca tulisan Richard Lee sendiri. [119] Thomas. hlm 284. [120] Turnbull. Forest People. hlm 20, 21, 27 & hlm informasi yang tidak bernomor di akhir buku. [121] Schebesta, I. Band. hlm 37. 46, 48.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 0 7
[122] Ibid.. hlm 404. [123] Ibid.. hlm 141–42. [124] Ibid., passim. E.g., I. Band. hlm 87; II. Band, I. Teil. hlm
- [125] Ibid., I. Band, hlm 92. [126] Turnbull. Wayward Servants. hlm 16. Lihat juga hlm 88–89. [127] Poncins. hlm 161–62. [128] Coon, hlm 58–59. [129] Holmberg, hlm 69. Bushmen-nya Richard Lee tentu saja memelihara anjing. Sahlins “The Original Affluent Society”. Begitu pula orang Mbuti. Turnbull. Forest People, hlm 101. Schebesta, II. Band. I. Teil. hlm 89–93. [130] Lauriston Sharp, dalam Holmberg. hlm xii. [131] Holmberg, hlm xx-xxii, 1–3. [132] Ibid., hlm 26. [133] Ibid., hlm xxiii. [134] Ibid., hlm 25–26. [135] Ibid.. hlm 121. [136] Ibid., hlm 10. [137] Ibid., hlm xii. [138] Lihat Ibid., hlm 207. 225–26, “Penyakit utama yang menyerang orang Siriono adalah malaria, disentri, cacing tambang dan penyakit kulit”, hlm 226. Malaria, setidaknya dibawa ke Amerika oleh orang Eropa. Encycl. Brit., Vol. 7. Artikel “malaria”, hlm 725. [139] Leakey. hlm 201 (caption pada peta). [140] Coon. hlm 25 (catatan kaki), 67. [141] Encycl. Brit.. Vol. 14, article “Australia”, hlm 434. [142] Haviland, hlm 173. [143] Ibid.
t e d k a c z y n s k i | 1 0 8
[144] Ibid., hlm 395. [145] Elkin, hlm 130–38. [146] Surat penulis pada John Zerzan: 2/13/03. hlm 2; 3/16/03; 5/2/3, hlm 5–6; 4/18/04. hlm 1. [147] Surat dari John Zerzan pada penulis: 3/2/03; 3/18/03; 3/26/03; 5/1203; 4/28/04; 5/22/04. Satu-satunya hal yang Zerzan katakan dalam surat-suratnya yang saya anggap layak untuk dijawab pada saat ini adalah klaimnya bahwa sumber-sumber yang saya kutip kepadanya adalah “kedaluwarsa” (Surat kepada penulis, 22/5/04, hlm 2). Dia tidak memberikan penjelasan tentang pernyataan ini. Sebagai mantan mahasiswa sejarah, Zerzan harus menyadari pentingnya kembali ke sumber utama bila memungkinkan. Dalam konteks sekarang, itu berarti kembali ke laporan saksi mata berdasarkan pengamatan masyarakat pemburu-peramu pada saat mereka masih relatif belum terjamah. Tetapi setidaknya selama tiga puluh tahun tidak ada lagi masyarakat primitif yang belum terjamah. Oleh karena itu, setiap sumber utama yang berguna untuk tujuan saat ini harus berasal dari setidaknya tiga puluh tahun (yaitu, sebelum 1975) dan biasanya lebih lama dari itu. Memang benar bahwa di sini dan dalam surat saya kepada Zerzan, saya tidak hanya mengandalkan sumber primer tetapi juga sumber sekunder, karena fakta bahwa penahanan saya membatasi akses saya ke sumber-sumber utama. Tetapi Zerzan tidak memberikan bukti apa pun untuk mendiskreditkan informasi yang saya kutip dari sumber sekunder (atau dari sumber primer). Juga tidak ada sumber “terkini” yang pernah saya lihat yang menawarkan apa pun untuk menyangkal informasi yang dipermasalahkan. Mereka kebanyakan hanya mengabaikan informasinya seolah-olah itu tidak ada. Seluruh masalah disembunyikan ke bawah karpet. [148] Surat penulis pada John Zerzan, 5/11/04. Surat John
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 0 9
Zerzan pada penulis, 5/20/04. [149] Pfeiffer, Emergence of Society, hlm 464? Saya tidak bisa memberikan nomor halaman yang pasti, karena fotokopi yang dikirimkan Zerzan kepada saya “terpotong”. [150] Bonvillain. hlm 294. Fotokopi yang dikirimkan Zerzan kepada saya sebenarnya berasal dari buku yang sama edisi 1995, di mana kalimat yang sama muncul di hlm 271. [151] Surat dari John Zerzan pada penulis, 3/2/03 (catatan kaki). [152] Surat penulis pada John Zerzan, 5/2/03. hlm 5–6. [153] Zerzan, Future Primitive and Others Essays. [154] Surat penulis pada John Zerzan. 4/18/04, hlm 1. [155] Zerzan, “Future primitive”, hlm 32. [156] Ibid., hlm 33. [157] Thomas. hlm 156–57. [158] Schebesta. I. Band, hlm 203. [159] Zerzan. “Future Primitive”. hlm 36. [160] Turnbull. Wayward Servants. hlm 138 & catatan kaki 2. [161] Turnbull. Wayward Servants, hlm 206. [162] Zerzan. “Future Primitive”, hlm 26. Dalam sebuah wawancara dengan Julien Nitzberg, majalah Mean. April 2001, hlm 69, Zerzan berkata “Freud... percaya bahwa sebelum bahasa, kemungkinan orang cukup telepati”. Dalam surat saya kepadanya 5/2/03. hlm 6. Saya meminta Zerzan untuk merujuk saya ke tempat dalam karya-karya Freud di mana Freud membuat pernyataan seperti itu, tetapi Zerzan tidak pernah menjawab pertanyaan itu. [163] Zerzan. “Future Primitive”. hlm 15. [164] Surat penulis pada John Zerzan. 4/18/04. hlm 6. [165] Surat John Zerzan pada penulis. 4/28/04. [166] Zerzan mengirimi saya fotokopi halaman dari buku
t e d k a c z y n s k i | 1 1 0
Bonvillain dengan suratnya tertanggal 3/2/03. dalam “Future Primitive”. hlm 34. 36. Zerzan mengutip “Turnbull (1962)” dan “Turnbull (1965)”. Hal ini mungkin mengacu pada Forest People dan Wayward Servants. Dalam “Future Primitive”, hlm 33. Zerzan juga mengutip buku Nyonya Thomas, namun dia dengan mudah melupakan pernyataan Nyonya Thomas tentang persalinan ketika dia mengklaim (pada hlm yang sama dari “Future Primitive”) bahwa melahirkan diantara pemburu-peramu “tanpa kesulitan atau rasa sakit”. [167] Nietzsche. hlm 186. [168] Encycl. Brit. Vol. 26, artikel “Propaganda” hlm 176. [169] Surat penerbit Species Traitor pada penulis, 417 /03. hlm 6. [170] Elkin. hlm 130–38. [171] Coon. hlm 172. [172] Ibid.. hlm 75. [173] Ibid.. hlm 243–44. [174] Massola, hlm 77. [175] Poncins. hlm 115–120, 125, 162–65, 237–38, 244. [176] Encycl. Brit.. Vol. 28. Artikel “Spain”, hlm 18. [177] Selain pembunuhan bayi. Schebesta dan Turnbull setuju bahwa ketika anak kembar lahir, hanya satu anggota pasangan yang diizinkan untuk hidup. Schebesta. I.Band. hlm 138. Turnbull, Wayward Servants. hlm 130. Schebesta lebih lanjut menyatakan (pada hlm yang sama) bahwa bayi yang lahir cacat disingkirkan. Turnbull, bagaimanapun, menyebutkan seorang gadis yang lahir dengan pinggul “berpenyakit” tetapi dibiarkan hidup. Turnbull, Forest People, hlm 265. Schebesta, II. Band I. Teil, hlm 274, 277, menunjukkan bahwa pelanggaran dan pencurian dapat menyebabkan kekerasan yang mematikan, tetapi Turnbull tidak menyebutkan hal seperti itu.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 1 1
[178] Holmberg, hlm 126–27, 157, 209–210. [179] Ibid., hlm 157. [180] Ibid., hlm 11, 158–59. [181] Ibid., hlm 114, 159. [182] Ibid., hlm 152. [183] Thomas, hlm 284–87. [184] Haviland, hlm 77, 78. [185] Sudah menjadi rahasia umum bahwa coyote dan setidaknya beberapa spesies beruang berburu dan mengais. Untuk singa, rubah, serigala, hyena, anjing rakun, komodo, dan burung nasar, lihat Encycl. Brit., Vol. 4, hlm 910; Jil. 6, hlm 196, 454, 945; Jil. 7, hlm 383, 884; Jil. 9, hlm 876; Jil. 12, hlm 439; Jil. 17, hlm 449; Jil. 23, hlm 421. Untuk serigala, lihat Encyclopedia Americana, Edisi Internasional, 1998, Vol. 29, hlm 94–95, 102. [186] Lihat mis., majalah Time, 8/19/02, hlm 56. [187] Encycl. Brit., Vol. 23, artikel “Mammals”, hlm 436, 449–
- [188] “Sibling Desperado”, Science News, Vol. 163, 15 Februari, 2003. [189] Encycl. Brit., Vol. 6, artikel “Komodo dragon”, hlm 945. [190] Ibid., Vol. 17, artikel “Dinosaurs”, hlm 319. [191] Ibid., Vol. 6, artikel “Krapina remains”, hlm 981–82; Vol. 26, artikel “Prehistoric Peoples and Cultures”, hlm 66. [192] Berikut adalah beberapa contoh yang menggambarkan kecenderungan yang benar secara politis dari karya Turnbull selanjutnya: Pada tahun 1983, Turnbull menulis bahwa dia keberatan dengan kata “kerdil” karena “itu mengundang asumsi bahwa tinggi badan adalah faktor yang signifikan, sedangkan, di Ituri itu sangat tidak berarti bagi Mbuti dan tetangga mereka, orang Afrika yang lebih tinggi yang tinggal di sekitar mereka.” Change and Adaptation, halaman pertama Pendahuluan. Teta-
t e d k a c z y n s k i | 1 1 2
pi 21 tahun sebelumnya Turnbull telah menulis: “Fakta bahwa mereka [Mbuti] rata-rata tingginya kurang dari empat setengah kaki bukanlah masalah bagi mereka; tetangga mereka yang lebih tinggi. Siapa yang mencemooh mereka karena begitu lemah, kikuk seperti gajah...”, Forest People, halaman 14. “Mereka [sekelompok pigmi tertentu] mengasihani saya karena tinggi badan saya, yang membuat saya jadi kikuk”, Ibid., halaman 239. Turnbull juga mengklaim pada tahun 1983 bahwa Mbuti tidak pernah berperang melawan orang Afrika yang lebih tinggi yang menginvasi hutan mereka, Change and Adaptation, halaman
- Tapi Schebesta, I. Band. halaman 81–84, melaporkan tradisi lisan banyak orang Mbuti yang melawan penduduk desa, dan dengan begitu efektif sehingga mereka telah mengusir mereka (untuk sementara waktu) seluruhnya dari bagian timur hutan di beberapa titik selama babak pertama dari abad ke-19. Tradisi lisan tidak dapat diandalkan, tetapi cerita-cerita ini begitu tersebar luas yang menunjukkan kemungkinan tertentu bahwa beberapa pertempuran seperti itu telah terjadi. Turnbull tidak menjelaskan bagaimana dia tahu bahwa tradisi ini salah dan bahwa Mbuti tidak berperang. Turnbull akrab dengan karya Schebesta. Lihat Forest People, hlm 20. [193] Turnbull, Change and Adaptation, hlm 44. [194] Ibid., hlm 154. [195] Ibid., hlm 158. [196] Turnbull menyinggung perkelahian fisik dalam Forest People, hlm 110, 122–23, dan di dalam Wayward Servants, hlm 188, 191, 201, 205, 206, 212. [197] Turnbull, Forest People, hlm 33, 107, 110; Wayward Servants, hlm 105,106,113, 157,212,216. [198] Turnbull menyinggung kecemburuan di dalam Wayward Servants, hlm 103, 118,157.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 1 3
[199] Turnbull, Wayward Servants, hlm 206. [200] Turnbull, Forest People, hlm 107; Wayward Servants, hlm 157, 191,198, 201. [201] Turnbull, Wayward Servants, hlm 183. [202] Evans-Pritchard, hlm 90. Davidson, hlm 10, 205. Reichard, hlm xviii, xxi, xxxvii. Debo, hlm 71. Wissler, hlm 287. Holmberg, hlm 151, 259, 270 (catatan kaki 5)). Encycl. Brit., Vol. 2, article “Carib”, hlm 866; Vol. 13, article “American Peoples, Native”, hlm 380. [203] Holmberg, hlm 259–260. [204] Ibid., hlm 93, 102, 224–26, 228, .256–57, 259, 270 (catatan kaki 5)). [205] Leach, hlm 130. [206] Marquis, hlm 119–122. [207] Vestal, hlm 60. [208] Ibid., hlm 179. [209] Encycl. Brit., Vol. 13, artikel “American Peoples, Native”, hlm 351–52,360. [210] Massola, hlm 72. [211] Encycl. Brit.. Vol. 13, artikel “American Peoples, Native., hlm 384,386. [212] Reichard. hlm xxxix. [213] Evans-Pritchard. hlm 90, 181–83. [214] Holmberg. hlm 153. [215] Ibid.. hlm 126–27, 141. 154. [216] Coon, hlm 260–61. [217] Poncins, hlm 125, 244. [218] Schebesta, II. Band, I. Teil. hlm 241. [219] Massola, hlm 78–80. [220] Wissler, hlm 223, 304. [221] Reichard, hlm 265.
t e d k a c z y n s k i | 1 1 4
[222] Encycl. Brit., Vol. 13, artikel “American Peoples, Native’, hlm 381. [223] Marquis, hlm 39. [224] Ibid., hlm 64, 66. 120, 277. [225] Leakey, hlm 107. [226] Coon, hlm 176- 77. Cashdan, hlm 37–38, mengacu pada aturan pembagian daging yang “tepat” atau “formal” di antara orang Aborigin Australia, Pigmi Mbuti, dan Kung Bushmen. [227] Richard B. Lee, dikutip dari Bonvillain, hlm 20. [228] Coon, hlm 125. [229] Holmberg, hlm 79–81. [230] Ibid., hlm 87–89, 154–56. [231] Ibid., hlm 154–55. [232] Ibid., hlm 151. [233] Cashdan, hlm 37. Turnbull, Forest People, hlm 96–97. Schbesta, II. Band, I. Teil, hlm 96,97. [234] Turnbull, Forest People, hlm 107. [235] Turnbull, Wayward Servants, hlm 157–58. Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 97, menyebutkan pertengkaran sengit atas distribusi daging yang “hampir menyebabkan pertumpahan darah”. [236] Turnbull, Wayward Servants, hlm 120. [237] Ibid., hlm 198. [238] Coon, hlm 176. Cashdan, hlm 38. Bonvillain, hlm 20. Turnbull, Wayward Servants, hlm 167. Encycl. Brit., Vol. 14, artikel “Australia”, hlm 438. [239] Cashdan, hlm 28. Coon, hlm 72–73. Bonvillain, hlm
- Encycl. Brit., Vol. 14, artikel “Australia”, hlm 438. Turnbull, Wayward Servants, hlm 178, mungkin meremehkan pentingnya makanan nabati dalam makanan Mbuti (“berburu dan meramu sama pentingnya bagi ekonomi Mbuti”). Menurut Schebesta, I.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 1 5
Band, halaman 70–71, 198; II. Band, I. Teil, halaman 11, 13–14, Mbuti memberi makan diri mereka sendiri terutama pada produk nabati. Paling banyak 30% dari makanan mereka terdiri dari produk hewani, dan 30% dari jumlah itu sebagian besar tidak terdiri dari daging tetapi makanan seperti siput dan ulat yang dikumpulkan dari sayuran, bukan hasil buruan. [240] Coon, hlm 176. [241] Marquis, hlm 159. [242] Evans-Pritchard, hlm 90. [243] Poncins, hlm 78–79. [244] Ibid., hlm 121. [245] Turnbull, Wayward and Servants, e.g., hlm 105. [246] Ibid., hlm 199–200 (catatan kaki 5). [247] Ibid., hlm 113. [248] Ibid., hlm 153. [249] Poncins, hlm 237. [250] Coon, hlm 260. [251] Van Laue, hlm 202. [252] Untuk diskusi tentang ini dan beberapa poin psikologis lain yang dibuat dalam paragraf ini, lihat Manifesto Unabomber, “Industrial Society and Its Future”, paragraf 6–32, 213–230. [253] “The Forgotten Language Among Humans and Nature”, Species Traitor, No. 2, Musim Dingin 2002. Halaman dalam terbitan ini tidak bernomor. [254] Holmberg. hlm 249. Lihat juga hlm 61. 117. 260. [255] Turnbull, Forest People, hlm 35. 58. 79. 179; Wayward Servants. hlm 165, 168. Schebesta. I. Band. hlm 68. Coon. hlm
- [256] Coon, hlm 156. [257] Ibid., hlm 156, 158, 196. [258] Turnbull, Change and Adaptation, hlm 20; Wayward
t e d k a c z y n s k i | 1 1 6
Servants, hlm 164. Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 107–111, menjabarkan metode kejam lain dalam membunuh gajah. [259] Thomas. hlm 94. 190. [260] Wissler. hlm 14. 270. Coon, hlm 88. [261] Marquis, hlm 88. [262] Turnbull, Forest People, hlm 101. Schebesta. II. Band, I. Teil, hlm 90, juga mencatat kalau orang Mbuti juga menendang anjing pemburu mereka. [263] Turnbull. Wayward Servants, hlm 161. [264] Poncins, hlm 29, 30,49, 189, 196, 198–99, 212, 216. [265] Holmberg, hlm 69–70,208. [266] Coon, hlm 119. [267] Ibid. [268] Wissler, hlm 124. 304–06. [269] Holmberg. hlm 111, 195. [270] Turnbull, Forest People, hlm 14, 33. Schebesta. I. Band, passim, e.g., hlm 107, 181–84, 355. [271] Turnbull. Forest People, hlm 47. 120, 167; Wayward Servants. hlm 61, 82; Change and Adaptation, hlm 92. [272] Turnbull, Forest People. hlm 47,234. [273] Schebesta, I. Band, hlm 106–07, 137. [274] Ibid.. hlm 107. [275] Ibid., hlm 108. [276] Ibid., hlm 110. [277] Wissler, hlm 221. Lihat juga Poncins, hlm 165 (Eskimo membunuh dua orang Indian), dan Encycl. Brit., Vol. 13, article “American Peoples, Native”, hlm 360 (Indian subarktik berperang dengan Eskimo). [278] Thomas, hlm 87. [279] Turnbull, Wayward Servants, hlm 122. [280] Surat pada penulis dari penerbit Species Traitor, 4/7
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 1 7
/03, hlm 7. [281] Coon,hlm 191–95. [282] Ibid., hlm 194. [283] Thomas, hlm 10, 82–83. Lihat juga Cashdan. hlm 41. [284] Cashdan, hlm 41. Lihat juga Coon, hlm 198. [285] Coon, hlm 275. [286] Ibid., hlm 168. [287] Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 14,21–22,275–76. [288] Cashdan, hlm 40. See also ibid., hlm 37, and Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 276–78. [289] Turnbull, Wayward Servants, hlm 199 (catatan kaki 5). [290] Lihat Coon, hlm 268. Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 8, 18, menandai keengganan Mbuti untuk mengumpulkan kekayaan. [291] Lihat Coon, hlm 57–67. [292] Turnbull, Wayward Servants, hlm 14. [293] Ibid., hlm 181. [294] Ibid., hlm 228. [295] Turnbull, Forest People, hlm 110, 125; Wayward Servants, hlm 27, 28, 42, 178–181, 183, 187, 256, 274, 294, 300. Schebesta, II. Band, I. Teil, hlm 8, mengatakan keengganan orang Mbuti untuk mendominasi. [296] Encycl. Brit., Vol. 13, artikel “American Peoples, Native”, hlm 360. [297] Holmberg, hlm 148–49. [298] Thomas. hlm 10. [299] Coon, hlm 238. [300] Bonvillain, hlm 20–21. [301] Coon, hlm 210. [302] Thomas, e.g., hlm 146–47,199. [303] Coon. hlm 253.
t e d k a c z y n s k i | 1 1 8
[304] Ibid., hlm 251. [305] Schebesta. I. Band, hlm 106. [306] Turnbull, Wayward Servants, hlm 161. [307] Turnbull. Change and Adaptation. hlm 18. [308] Turnbull, Forest People, hlm 250. [309] Coon, hlm 104. [310] Hotmberg, hlm 63–64. 268. [311] E.g., Encycl. Brit., Vol. 14, article “Biosphere”, hlm
1191.1197; Mercader, hlm 2, 235, 238, 241. 282. 306. 309. Pada penggunaan api sembrono lainnya, lihat Coon. hlm 6. [312] Mercader, hlm 233. Encycl. Brit., Vol. 14, artikel “Biosphere”, hlm 1159, 1196; Vol. 23, artikel “Mammals”, hlm 435,448. [313] Lihat Bill Joy, “Why the Future Doesn’t Need Us”, majalah Wired. April 2000; dan Our Final Century, oleh British Astro- nomer Royal, Sir Martin Rees.
1 1 9
3/ Muslihat Rapi Sistem
yang Berkuasa
“Kemewahan tertinggi masyarakat teknologi adalah pemberian bonus pemberontakan yang tak berguna dan senyum persetujuan tanpa protes.” – Jacques Ellul¹
Sistem yang berkuasa telah memainkan tipu dayanya terhadap para calon revolusioner dan pemberontak saat ini. Tipu daya ini sangat manis dan jika memang diciptakan secara sadar dan terencana, maka kita patut mengaguminya karena keeleganannya yang matematis.
APA YANG BUKAN SISTEM?
Mari kita mulai memperjelas apa yang bukan Sistem yang berkuasa saat ini. Sistem itu bukanlah Presiden George W. Bush dan
t e d k a c z y n s k i | 1 2 0
anak buahnya, bukan juga polisi yang menganiaya para pendemo, bukan pula bos-bos perusahaan multinasional, dan bukan pula para ilmuwan gila yang dengan sembarangan bermain-main dengan gen makhluk hidup di laboratorium. Orang-orang ini adalah para pelayan Sistem, tapi mereka sendiri bukanlah Sistem itu. Bila dilihat lebih jauh, bisa saja nilai-nilai dan prinsip-prinsip pribadi mereka malah bertentangan dengan tugasnya yang harus melayani Sistem. Sebagai contoh, Sistem yang berkuasa mengharuskan kepatuhan terhadap hak-hak kepemilikan, namun para bos, polisi, ilmuwan, dan politisi kadang-kadang mencuri juga. (Ketika berbicara tentang mencuri, pengertiannya bukan berarti hanya mencuri objek-objek secara fisik. Bisa juga berarti menerapkan cara-cara ilegal untuk memperoleh properti, misalnya seperti mengemplang pajak, menerima suap, dan bentuk-bentuk lain dari sogokan dan korupsi). Tapi kenyataan bahwa para bos, polisi, ilmuwan dan politisi kadang mencuri, bukan berarti bahwa mencuri adalah bagian dari Sistem. Bahkan sebaliknya, ketika seorang polisi atau politisi mencuri sesuatu, sebenarnya dia sedang memberontak terhadap aturan Sistem yang mengharuskan kepatuhan pada hukum dan hak kepemilikan. Namun tetap saja, bahkan ketika orang-orang inipun mencuri, mereka tetap pelayan-pelayan Sistem, selama mereka secara terbuka mempertahankan dukungannya terhadap hukum dan hak kepemilikan. Apapun tindakan ilegal yang dapat dilakukan politisi, polisi, atau para bos secara individual: pencurian, penyogokan, dan korupsi tetaplah bukan bagian dari Sistem, malah inilah penyakit di dalam Sistem. Semakin sedikit ada pencurian, semakin baik Sistem bekerja. Itulah sebabnya para pelayan dan penggerak sistem selalu mengadvokasikan kepatuhan terhadap hukum secara terbuka, bahkan ketika mereka pun secara diam-diam kadang melanggar juga. Ambil contoh lain, walaupun polisi adalah penegak hukum, ke-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 2 1
brutalan polisi bukanlah bagian dari Sistem. Ketika polisi memukuli seorang tersangka, mereka sedang tidak menjalankan Sistem, mereka hanya sedang melepaskan kemarahan dan kebencian mereka. Tujuan dari Sistem bukanlah kebrutalan atau mengekspresikan kemarahan. Terkait pekerjaan polisi, tujuan Sistem adalah untuk memaksa kepatuhan terhadap aturan-aturan yang telah dibuat dan untuk mencapai tujuan ini sangat tidak diharapkan adanya gangguan, kekerasan, dan citra buruk. Oleh karenanya, dari sudut pandang Sistem yang berkuasa, polisi ideal adalah polisi yang tidak pernah marah, menggunakan kekerasan seminimal mungkin, dan sebisa mungkin mengandalkan manipulasi daripada pemaksaan secara fisik dalam mengendalikan keadaan. Kebrutalan polisi hanyalah salah satu penyakit Sistem, bukan bagian dari Sistem itu sendiri. Buktinya, lihat saja sikap media. Media-media arus utama secara keseluruhan mengutuk kekerasan yang dilakukan polisi. Tentu saja sikap media mewakili, seperti sebuah aturan, konsensus opini di antara kelas-kelas berkuasa di masyarakat kita yang menentukan apa yang baik buat Sistem. Apa yang baru saja dibahas tentang pencurian, korupsi, dan kebrutalan polisi juga berlaku untuk isu-isu diskriminasi seperti rasisme, seksisme, homofobia, kemiskinan, dan upah murah. Semuanya buruk untuk Sistem. Sebagai contoh, semakin orang kulit hitam dicemooh atau dikucilkan, semakin menjadi-jadi mereka melakukan tindak kejahatan dan sedikit kemungkinan mereka mengedukasi dirinya untuk meniti karir yang kelak akan berguna untuk Sistem. Teknologi modern, dengan sarana transportasi jarak jauhnya dan gangguannya terhadap cara hidup tradisional, telah mencam- puradukkan populasi, sehingga di zaman sekarang orang-orang dari berbagai ras, kewarganegaraan, budaya dan agama harus hidup dan bekerja berdampingan. Jika seseorang membenci atau menolak orang lain karena alasan ras, etnis, agama, preferensi seksual dan la-
t e d k a c z y n s k i | 1 2 2
innya, maka konflik yang ditimbulkan dapat mengganggu jalannya fungsi Sistem yang berkuasa. Terlepas dari ada beberapa peninggalan jadul seperti Jesse Helms (pemimpin pergerakan konservatif yang dikenal rasis), para pemimpin Sistem ini tahu dengan sangat baik dan karenanya kita diajari di sekolah dan melalui media untuk percaya bahwa rasisme, seksisme, homofobia dan semacamnya itu adalah setan-setan sosial yang harus dilenyapkan. Tidak heran kalau beberapa pemimpin sistem ini, para politisi, ilmuwan, dan para bos, secara diam-diam merasa bahwa tempatnya perempuan adalah di rumah, atau bahwa homoseksual dan pernikahan beda ras itu menjijikkan. Tetapi bahkan ketika mayoritas dari mereka merasa seperti itu pun, bukan berarti rasisme, seksisme, dan homofobia adalah bagian dari Sistem –sama seperti mencuri, walaupun dilakukan para pemimpin Sistem, adalah bukan bagian dari Sistem. Hanya saja Sistem harus mempromosikan kepatuhan pada hukum dan hak kepemilikan demi menjaga keamanan agar Sistem yang berkuasa ini dapat terus berjalan. Untuk alasan yang sama, Sistem juga menolak rasisme dan bentuk-bentuk diskriminasi yang lain. Buktinya, lihat lagi sikap media arus utama. Eaki sesekali ada perbedaan pendapat dari sedikit orang, propaganda media sangat mendukung kesetaraan gender, ras, dan penerimaan homoseksualitas dan pernikahan yang berbeda ras. 2 Sistem yang berkuasa membutuhkan populasi yang lembut, tanpa kekerasan, yang terjinakkan, penurut, dan patuh. Ia perlu menghindari dirinya dari berbagai jenis konflik dan gangguan yang bisa menghambat fungsi mesin sosial yang berjalan tertib. Selain meredakan permusuhan antar ras, etnis, agama dan kelompok lainnya, Sistem ini juga harus menekan dan memberangus berbagai kecenderungan lain yang bisa menciptakan hambatan dan kekacauan, seperti machismo (sikap maskulin yang ekstrim/harga diri berlebih
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 2 3
terhadap kejantanan), dorongan untuk berbuat agresif dan semua kecenderungan kekerasan lainnya. Secara alamiah, antagonisme ras dan etnis tradisional mati secara perlahan-lahan. Machismo, sifat agresif, dan dorongan untuk melakukan kekerasan tidak mudah dihilangkan, dan sikap terhadap seks dan identitas gender tidak bisa diubah dalam waktu semalam. Karenanya ada banyak orang yang menolak perubahan ini, Sistem harus mengatasi perlawanan mereka. 3
BAGAIMANA SISTEM MENGEKSPLOITASI DORONGAN UNTUK MEMBERONTAK
Kita semua yang hidup di masyarakat modern dikepung oleh sesaknya belantara peraturan dan regulasi. Kita hidup dari belas kasihan organisasi-organisasi besar seperti korporasi, pemerintahan, serikat buruh, universitas, gereja, dan partai politik, dan karenanya kita tidak berdaya. Sebagai hasil dari perhambaan kita, ketidakberdayaan, dan penghinaan-penghinaan yang dibebankan Sistem pada kita, muncul rasa frustasi yang berkembang, yang menyebabkan munculnya dorongan untuk memberontak. Dan disinilah Sistem yang berkuasa memainkan tipu dayanya yang sangat lihai: melalui campur tangan yang brilian, ia mengubah pemberontakan menjadi keuntungan bagi dirinya. Banyak orang tidak memahami akar dari rasa frustrasinya, sehingga pemberontakan mereka menjadi tanpa arah. Mereka tahu mereka ingin memberontak tetapi tidak tahu memberontak untuk melawan siapa/apa. Untungnya, sistem mampu mengisi kebutuhan memberontak mereka dengan menyediakan sederetan isu standar dan klise: rasisme, homofobia, isu-isu perempuan, kemiskinan, upah murah… semua timbunan isu “aktivis”. Para calon pemberontak dalam jumlah besar terpancing umpan ini. Dalam berperang melawan rasisme, seksisme, dll, dll, mereka
t e d k a c z y n s k i | 1 2 4
hanya melakukan kerja-kerja yang dibuat Sistem. Meskipun begitu, mereka berimajinasi bahwa mereka sedang memberontak melawan Sistem. Bagaimana itu mungkin? Pertama, 50 tahun lalu Sistem belum mengakui persamaan hak untuk orang kulit hitam, perempuan dan homoseksual, jadi aksi yang mendukung isu tersebut benar-benar suatu bentuk pemberontakan. Konsekuensinya, isu-isu tersebut secara konvensional dianggap sebagai isu pemberontak. Status isu-isu tersebut dipelihara hingga hari ini hanya karena tradisi, karena setiap generasi pemberontak menjiplak generasi sebelumnya. Kedua, ada orang-orang dengan jumlah yang signifikan, seperti yang dibahas sebelumnya, yang menolak perubahan sosial seperti yang Sistem inginkan, dan orang-orang tersebut bahkan termasuk figur-figur otoritas, seperti polisi, hakim atau politisi. Para penolak perubahan tersebut menjadi target untuk para calon pemberontak, yakni seseorang untuk diprotes dan ditolak. Komentator seperti Rush Limbaugh membantu proses ini dengan menghina balik para aktivis —sebab dengan melihat ada orang yang bereaksi terhadap aksi mereka dapat memelihara ilusi bahwa mereka sedang memberontak. Ketiga, untuk membawa diri mereka masuk ke dalam konflik bahkan dengan mayoritas pemimpin Sistem yang setuju menerima perubahan sosial yang sistem inginkan, para calon pemberontak bersikeras terhadap solusi-solusi yang lebih jauh lagi daripada yang dianggap pas oleh para pemimpin Sistem, para calon pemberontak ini juga menunjukan kemarahan berlebih pada hal-hal sepele. Contohnya, mereka menuntut pembayaran ganti rugi untuk orang kulit hitam, dan sering mengamuk pada kritikan yang ditujukan ke grup minoritas, tidak peduli betapa hati-hati dan beralasannya kritik tersebut. Dengan ini para aktivis mampu mempertahankan ilusi bahwa
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 2 5
mereka memberontak terhadap Sistem. Tapi ilusi ini absurd. Agitasi melawan rasisme, seksisme, homofobia dan semacamnya tidak lebih membangun pemberontakan daripada agitasi melawan korupsi politik dan semacamnya. Mereka yang bekerja melawan korupsi tidak sedang memberontak tapi malah bergerak sebagai penegak Sistem: Mereka membantu membuat para politisi patuh kepada hukum. Mereka yang bekerja melawan rasisme, seksisme dan homofobia juga berbuat seperti penegak Sistem: Mereka membantu Sistem memberangus sikap-sikap rasis, seksis, dan homofobik yang menyebabkan masalah untuk Sistem. Tapi aktivis tidak hanya beraksi seperti penegak Sistem. Mereka juga melayani seperti sebuah penangkal petir yang melindungi Sistem dengan mengalihkan kebencian publik menjauh dari Sistem itu sendiri dan institusi-institusinya. Contohnya, ada beberapa keuntungan buat Sistem jika perempuan bisa keluar dari rumah dan memasuki dunia kerja. Lima puluh tahun lalu, jika Sistem, seperti yang direpresentasikan oleh pemerintah atau media, tiba-tiba memulai kampanye propaganda bahwa perempuan yang lebih memilih bekerja di kantor bisa diterima secara sosial, penolakan alami manusia terhadap perubahan bisa menyebabkan munculnya kebencian publik kepada Sistem. Apa yang sebenarnya terjadi adalah perubahan ini dipelopori oleh feminis-feminis radikal, dimana institusi-institusi Sistem membuntuti mereka dari jarak yang aman. Kebencian kaum konservatif di masyarakat terutamanya diarahkan kepada feminis radikal dibanding kepada Sistem dan institusinya, karena perubahan yang disponsori Sistem terlihat lebih perlahan dan moderat dibanding dengan solusi radikal yang diusung para feminis, dan bahkan perubahan yang termasuk pelan ini pun terlihat seperti dipaksakan ke Sistem oleh kaum radikal.
t e d k a c z y n s k i | 1 2 6
MUSLIHAT SISTEM YANG RAPI
Singkatnya, muslihat sistem yang berkuasa adalah:
- Demi efisiensi dan keamanannya, Sistem harus membuat perubahan sosial yang radikal dan mendalam untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi.
- Rasa frustasi yang muncul dalam situasi yang disebabkan oleh Sistem menyebabkan bangkitnya dorongan-dorongan untuk memberontak.
- Dorongan untuk memberontak ini dikooptasi Sistem untuk melayani perubahan sosial yang dibutuhkan. Aktivis “memberontak” melawan nilai-nilai lama dan usang yang sudah tidak dibutuhkan Sistem dan mendukung nilai-nilai baru yang Sistem ingin kita terima.
- Dengan ini dorongan-dorongan untuk memberontak yang seharusnya berbahaya untuk Sistem, dialihkan, sehingga bukan saja jadi tidak berbahaya, malah menjadi berguna untuknya.
- Banyak kebencian publik yang muncul karena perubahan-perubahan sosial ditarik menjauh dari Sistem dan institusinya, dan diarahkan ke kaum radikal yang mempel- opori perubahan itu. Tentu saja tipu daya ini tidak direncanakan sebelumnya oleh
para pemimpin Sistem. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang memainkan muslihat ini. Cara bekerjanya kurang lebih seperti ini: Ketika memutuskan posisi apa yang diambil dalam suatu isu, maka editor, penerbit, dan pemilik media harus secara sadar atau tidak sadar menjaga keseimbangan beberapa faktor. Mereka harus mempertimbangkan bagaimana pembaca atau pemirsa mereka akan bereaksi terhadap apa yang mereka cetak atau siarkan tentang sebuah isu, mereka harus mempertimbangkan bagaimana para pe-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 2 7
masang iklan, rekannya di media, dan orang-orang berkuasa lainnya akan bereaksi, dan mereka mesti mempertimbangkan efek dari apa yang mereka cetak atau siarkan terhadap keamanan Sistem. Pertimbangan-pertimbangan praktis ini biasanya akan menutupi penilaian pribadi mereka tentang isu tersebut. Perasaan pribadi para pemimpin media, pemasang iklan, dan orang-orang berkuasa bisa bervariasi. Mereka bisa jadi liberal atau konservatif, religius atau atheis. Satu-satunya kesamaan para pemimpin media adalah komitmen mereka kepada Sistem, keamanannya, dan kuasanya. Oleh karenanya, dalam keterbatasan mengenai hal yang mungkin bisa diterima publik, faktor prinsip atas apa yang baik untuk Sistem yang bisa disebarluaskan oleh media ditentukan oleh konsensus pendapat di antara pemimpin-pemimpin media dan orang berkuasa lainnya. Sehingga, ketika seorang editor atau pemimpin media menentukan sikap yang akan diambil terhadap suatu isu, pikiran pertamanya adalah apabila isu tersebut memiliki akibat yang baik atau buruk terhadap Sistem yang berkuasa. Mungkin ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa keputusannya berdasarkan landasan moralitas, filsafat, atau agama, tapi adalah sebuah fakta lapangan bahwa dalam menerapkan keamanannya, Sistem ini telah mengungguli faktor-faktor lain dalam pengambilan sikap media. Sebagai contoh, jika seorang editor koran melihat pergerakan milisi, ia mungkin saja bersimpati atau tidak bersimpati terhadap tujuan dan tuntutan mereka, tapi dia juga melihat bahwa ada konsensus yang kuat di antara para pemasang iklan dan rekan-rekannya di media bahwa pergerakan milisi secara potensial berbahaya untuk Sistem yang berkuasa dan bahwa gerakan tersebut harus dihentikan. Di bawah situasi ini sang editor tahu bahwa korannya sebaik- nya mengambil sikap negatif terhadap pergerakan milisi tersebut. Sikap dan respon negatif media sepertinya adalah sebagian dari alas-
t e d k a c z y n s k i | 1 2 8
an mengapa pergerakan milisi tersebut akhirnya mati. Ketika editor yang sama melihat feminisme radikal, ia melihat bahwa sebagian dari gerakan tersebut yang lebih ekstrim akan sangat berbahaya untuk Sistem, namun ia juga melihat bahwa feminisme bisa jadi sangat berguna untuk Sistem. Partisipasi perempuan dalam bisnis dan dunia teknik akan lebih mengintegrasi mereka dan keluarga mereka ke dalam Sistem. Talenta mereka akan melayani Sistem dalam bisnis dan hal-hal teknis. Feminis yang memperjuangkan berakhirnya kekerasan dalam rumah tangga dan perkosaan juga melayani kebutuhan Sistem, karena perkosaan dan kekerasan rumah tangga, sama seperti tindak kekerasan lainnya, adalah ancaman untuk Sistem. Mungkin yang paling penting, si editor menyadari bahwa keremehan dan kesia-siaan pekerjaan rumah tangga modern dan isolasi sosial para ibu rumah tangga modern bisa menyebabkan frustasi serius bagi banyak perempuan. Rasa frustrasi ini bisa menimbulkan masalah untuk Sistem kecuali jika perempuan diberikan jalan keluar melalui karir di bisnis dan dunia teknik. Bahkan walaupun editor ini adalah pria bertipe macho yang sebenarnya diam-diam merasa nyaman jika perempuan berada di posisi bawahan, dia tahu bahwa feminisme, setidaknya dalam bentuk yang relatif moderat, baik untuk Sistem. Dia tahu bahwa sikap editorialnya harus mendukung feminisme moderat, atau ia akan menghadapi ketidaksetujuan para pemasang iklan dan orang-orang berkuasa lainnya. Inilah mengapa sikap media mainstream pada umumnya suportif terhadap feminisme moderat, bercampur-aduk terhadap feminisme radikal, dan secara konsisten memusuhi hanya posisi-posisi feminis yang paling ekstrim. Melalui tipe proses ini, gerakan pemberontakan yang berbahaya untuk Sistem mengalami propaganda negatif, sementara gerakan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 2 9
pemberontakan yang diyakini bisa berguna untuk Sistem diberikan semangat secara berhati-hati di media. Penyerapan tanpa sadar terhadap propaganda media mempengaruhi calon-calon pemberontak untuk “memberontak” dalam langkah yang malah melayani kepentingan Sistem. Intelektual-intelektual universitas juga memainkan peran penting dalam membawa trik ini. Walaupun mereka mengira dirinya adalah pemikir-pemikir independen, para intelektual (mungkin pengecualian untuk beberapa individu) adalah grup yang paling banyak bersosialisasi, konformis, penurut dan jinak, yang paling dimanjakan, ketergantungan, dan rapuh di Amerika saat ini. Hasilnya, dorongan-dorongan memberontak mereka secara khusus sangat kuat, tapi karena mereka tidak sanggup berpikir merdeka, pemberontakan yang sesungguhnya menjadi mustahil untuk mereka. Konsekuensinya adalah mereka jadi diperdaya Sistem, yang membiarkan mereka berbuat onar dan menikmati ilusi pemberontakan tanpa benar-benar menantang nilai-nilai dasar Sistem. Karena mereka adalah para guru untuk orang-orang yang lebih muda, para intelektual universitas ada di posisi yang menolong Sistem memainkan muslihatnya pada orang-orang muda, yang mereka lakukan dengan menyetir dorongan-dorongan memberontak orang muda ini kepada target-target standar dan klise: rasisme, kolonialis- me, isu perempuan, dll. Orang-orang muda yang bukan mahasiswa belajar dari media atau melalui kontak personal tentang isu “keadilan sosial” yang diperjuangkan mahasiswa, mereka pun akhirnya meniru para mahasiswa. Begitulah budaya di kalangan anak muda yang akhirnya berkembang. Ada stereotip model pemberontakan yang menyebar melalui tiru meniru teman ini –sama seperti model rambut, model pakaian, dan ragam model lainnya.
t e d k a c z y n s k i | 1 3 0
MUSLIHATNYA TIDAK SEMPURNA
Secara alamiah, muslihat Sistem ini tidak bekerja secara sempurna. Tidak semua posisi yang diadopsi komunitas “aktivis” ini secara konsisten berguna untuk Sistem. Beberapa hal sulit yang di- hadapi Sistem berkaitan dengan adanya dua tipe propaganda yang digunakan tapi saling bertentangan, yaitu Propaganda Integrasi dan Propaganda Agitasi. 4 Propaganda Integrasi adalah mekanisme prinsip sosialisasi dalam masyarakat modern. Inilah propaganda yang dirancang untuk menanamkan di benak orang-orang mengenai sikap-sikap, kepercayaan, nilai-nilai, dan kebiasaan yang harus mereka miliki agar bisa berguna dan aman di dalam Sistem. Ia mengajarkan orang-orang untuk secara permanen membendung atau meredam dorongan-dorongan emosional yang berbahaya buat Sistem. Fokusnya adalah nilai-nilai mendalam dan sikap-sikap jangka panjang dalam penerapan yang luas, bukan pada sikap-sikap terhadap isu kekinian yang spesifik. Propaganda Agitasi bermain dengan emosi orang-orang untuk memunculkan sikap-sikap dan tingkah laku tertentu dalam situasi spesifik yang sedang berlangsung. Bukannya mengajar orang untuk meredam emosinya, propaganda ini justru memancing beberapa emosi untuk tujuan tertentu dalam waktu tertentu. Sistem membutuhkan populasi yang secara tertib patuh, kooperatif, pasif, dan bergantung padanya. Di atas semuanya, ia membutuhkan populasi yang tanpa kekerasan, sebab ia memiliki pemerintah yang sudah memonopoli penggunaan kekuatan fisik. Karena alasan inilah, propaganda integrasi mengajari kita untuk wajib ce- mas, takut dan gemetar menghadapi kekerasan, sehingga kita tidak tergoda untuk menggunakannya bahkan ketika kita sangat marah. (Kekerasan di sini berarti menggunakan kekuatan fisik menghadapi orang lain). Lebih luas lagi, propaganda integrasi mengajari kita
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 3 1
nilai-nilai kelembutan yang manis, ketiadaan sikap agresif, saling ketergantungan, dan kerja sama. Sementara itu dalam konteks lain, Sistem harus menggunakan metode-metode agresif dan brutal untuk mencapai sasarannya. Contoh yang paling kelihatan dari metode tersebut adalah adanya perang. Di masa perang, Sistem mengandalkan propaganda agitasi. Agar dapat memenangkan persetujuan publik terhadap aksi militer, ia memainkan emosi orang untuk membuat mereka merasa teran- cam dan marah pada musuh yang sebenarnya ataupun yang disang- kanya benar. Dalam situasi ini ada konflik antara propaganda integrasi dan propaganda agitasi. Orang-orang yang di benaknya telah ditanamkan nilai-nilai kelembutan dan benci pada kekerasan sangat susah dirayu untuk menerima adanya operasi militer yang berdarah-darah. Disinilah hingga batas tertentu tipu daya Sistem menjadi bumerang. Para aktivis, yang selama ini “memberontak” mendukung nilai-nilai propaganda integrasi, melanjutkan pemberontakannya selama masa perang. Mereka menolak perang bukan hanya karena perang adalah tindak kekerasan, tapi juga karena perang itu “rasis”, “kolonialis”, “imperialis”, dsb. Kesemuanya kontras dengan nilai-nilai kelembutan yang ditanamkan propaganda integrasi. Tipu daya Sistem juga menjadi bumerang ketika perlakuan terhadap binatang disorot. Tak dapat dipungkiri, banyak orang memperlakukan binatang dengan nilai kelembutan yang sama seperti mereka memperlakukan sesama manusia. Mereka ngeri melihat binatang disembelih untuk dimakan dagingnya, dan praktek-praktek lain yang menyakiti hewan, seperti eksploitasi ayam yang dijadikan seperti mesin bertelur yang diletakkan di penjara kecil dan penggunaan binatang dalam eksperimen ilmiah. Sampai kepada titik, dimana oposisi terhadap penganiayaan binatang menjadi berguna untuk Sistem: diet vegan lebih efisien dalam hal pemanfaatan
t e d k a c z y n s k i | 1 3 2
sumber daya dibanding diet karnivora, karena jika diadopsi secara massal, veganisme bisa mengurangi beban sumber daya bumi yang terbatas karena pertumbuhan populasi manusia. Tetapi desakan aktivis untuk mengakhiri penggunaan binatang dalam eksperimen ilmiah sebenarnya berkonflik dengan kebutuhan Sistem, sebab di masa mendatang mungkin tidak akan ditemukan makhluk hidup pengganti untuk jadi bahan penelitian. Namun demikian, fakta bahwa muslihat Sistem ini bisa menjadi bumerang di sana sini tidaklah menghalanginya untuk menjadi alat efektif dalam mengubah dorongan-dorongan memberontak berbalik menjadi keuntungan baginya. Harus diakui bahwa tipu daya yang dijelaskan disini bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan arah dari dorongan-dorongan memberontak di masyarakat kita. Belakangan ini, banyak orang merasa lemah dan tidak berdaya (untuk alasan yang benar karena Sistem memang membuat kita lemah dan tidak berdaya), dan karenanya secara obsesif mengidentifikasi diri mereka dengan para korban, dengan yang lemah dan yang tertindas. Itulah salah satu alasan mengapa isu-isu yang memiliki korban, seperti rasisme, seksisme, homofobia, dan neokolonialisme telah menjadi isu standar aktivis.
SEBUAH CONTOH
Saya memiliki sebuah buku antropologi⁵ yang didalamnya terdapat beberapa contoh yang pas tentang bagaimana intelektual universitas membantu Sistem yang berkuasa dengan cara menya- markan kepatuhan pada Sistem seolah-olah itu seperti kritik pada Sistem. Contoh yang paling manis terletak di halaman 132-36, dimana pengarangnya mengutip, dalam bentuk yang “diadaptasi”, sebuah artikel yang ditulis Rhonda Kay Williamson, seorang interseks (seseorang yang lahir dengan karakter fisik perempuan dan pria sekaligus).
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 3 3
Williamson menyatakan bahwa suku Indian-Amerika tidak hanya menerima orang interseks namun secara khusus menghargai mereka. 6 Ia mengkontraskan hal ini dengan sikap orang Eropa-Amerika, yang ia samakan dengan sikap yang diambil orang tuanya terhadapnya. Orang tua Williamson memperlakukannya dengan kejam. Mereka kerap menghinanya karena kondisi interseksualnya. Mereka mengatakan padanya bahwa ia “dikutuk dan diberikan pada setan”, dan mereka membawanya ke gereja karismatik untuk mengusir “setan” dalam tubuhnya. Bahkan mereka memberikan sapu tangan padanya sebab “setan akan keluar bersama batuknya”. Tentu agak menggelikan kalau menyamakan sikap tersebut dengan sikap modern orang Eropa-Amerika saat ini. Mungkin itu sikap orang Eropa-Amerika 150 tahun lalu, sebab sekarang nyaris semua pendidik Amerika, psikolog, atau pendeta pada umumnya akan terkejut melihat perlakuan seperti itu dilakukan terhadap seorang interseks. Media tidak akan merespon berita semacam itu dengan baik. Rata-rata kelas menengah Amerika saat ini mungkin tidak bisa menerima kondisi interseksual sebagaimana orang Indian menerimanya dulu, tapi sebagian besar akan bereaksi terhadap perlakuan jahat yang ditujukan kepada Williamson. Orang tua Williamson tentu saja aneh, terlalu religius, yang sikap dan kepercayaannya tidak sejalan dengan nilai-nilai Sistem yang berkuasa. Karenanya, ketika mengkritisi masyarakat Eropa-Amerika modern, Williamson sebenarnya sedang menyerang kaum minoritas aneh yang telat secara budaya, yang belum beradaptasi dengan nilai dominan Amerika masa kini. Haviland, pengarang bukunya, di halaman 12 menggambarkan antropologi kultural sebagai penantang tradisi lama, yang mempertanyakan ulang asumsi-asumsi masyarakat barat modern. Hal ini sangat kontras dengan kenyataan. Ini lucu, kalau bukannya
t e d k a c z y n s k i | 1 3 4
bisa dibilang menyedihkan. Antropologi Amerika modern pada umumnya merendahkan dirinya dengan tunduk pada nilai-nilai dan asumsi-asumsi Sistem yang berkuasa. Ketika para antropolog hari ini berpura-pura menantang nilai-nilai masyarakat, biasanya mereka hanya menantang nilai-nilai dari masa lalu –nilai-nilai yang sudah usang dan kuno yang sudah tidak laku lagi kecuali di kalangan yang telat mengadaptasi perubahan budaya. Penggunaan artikel Williamson dalam buku Haviland menggambarkan ini sangat jelas, dan merepresentasikan secara umum kecenderungan isi buku Haviland. Haviland memainkan fakta-fakta etnografis yang mengajari pembacanya untuk menjadi “benar secara politis [politically correct]”, tapi ia mengecilkan dan menghilangkan fakta-fakta etnografis yang “tidak benar secara politis [politically incorrect]”. Oleh karenanya, ia mengutip kata-kata Williamson hanya untuk menekankan penerimaan suku Indian terhadap orang-orang interseks. Ia tidak menyebutkan, contohnya, bahwa di kalangan suku-suku Indian, perempuan yang berzinah dihukum dengan cara dipotong hidungnya⁷, sementara hukuman tersebut tidak ditimpakan kepada pria yang berzinah, atau di kalangan Indian Crow seorang prajurit yang ber- sentuhan dengan orang asing harus langsung membunuh orang tersebut saat itu juga, atau dia akan dianggap ternoda oleh kaum- nya. 8 Haviland juga tidak membahas tentang penggunaan metode penyiksaan yang biasa dilakukan orang Indian di bagian timur Amerika. 9 Tentu saja, fakta-fakta tersebut merepresentasikan kekerasan, machismo, dan diskriminasi gender, maka mereka tidak sejalan dengan nilai-nilai masa kini yang diterapkan Sistem dan cenderung akan disensor sebab dipandang tidak benar secara politis (politically incorrect). Namun saya tidak ragu bahwa Haviland sangat tulus dalam kepercayaannya bahwa antropolog menantang nilai-nilai yang sudah
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 3 5
tertanam di masyarakat. Kapasitas untuk menipu diri sendiri di kalangan intelektual kita dengan mudah bisa berkembang sejauh itu. Kesimpulannya, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak mendukung pemotongan hidung untuk para pezinah, atau mentolerir kekerasan pada perempuan. Saya juga tidak berkeinginan melihat orang ditolak dan dicemooh karena mereka interseks, atau karena ras, agama, atau orientasi seksual mereka. Tapi dalam masyarakat kita hari ini, hal-hal tersebut adalah isu-isu reformis. Salah satu muslihat paling rapi Sistem ini adalah mengubah dorongan memberontak yang kuat, yang mungkin bisa menjadi sangat revolusioner, berbalik hanya menjadi pengabdi bagi reformasi yang lembek.
t e d k a c z y n s k i | 1 3 6
Catatan Akhir.
- Jacques Ellul, The Technological Society, diterjemahkan oleh John Wilkinson, dipublikasikan Alfred A. Knopf, New York, 1964, halaman 427.
- Bahkan dalam ulasan paling dangkal media massa di negara-negara industri modern, atau bahkan di negara berkembang, akan membenarkan kalau Sistem berkomitmen untuk menghilangkan semua diskriminasi ras, agama, gender, orientasi seksual, dll. Akan sangat mudah menemukan ribuan contoh untuk menggambarkan ini, tapi disini kami hanya mengambil tiga kutipan, dari tiga negara berbeda. Amerika: “Public Displays of Affection,” U.S. News & World Report, 9 September, 2002, hlm 42-43. Artikel ini memberikan contoh yang bagus tentang bagaimana propaganda berfungsi. Ada pengambilan posisi yang seolah-olah objektif dan netral mengenai hubungan homoseksual, memberikan sedikit ruang untuk mereka yang beroposisi terhadap penerimaan publik mengenai homoseksualitas. Namun siapapun yang membaca artikel ini, yang dengan simpati menjelaskan perlakuan yang diterima oleh pasangan homoseks, akan mendapatkan kesan bahwa penerimaan homoseksualitas diinginkan dan, dalam jangka panjang, tak terelakkan. Yang lebih penting adalah foto dari pasangan homoseks yang bersangkut- an: pasangan yang secara fisik tampak menarik dipilih dan difoto dengan sangat menarik. Orang yang paham tentang propaganda pasti akan dapat melihat bahwa artikel tersebut merupakan propaganda untuk mendukung penerimaan homoseksualitas. Dan ingatlah bahwa
U.S. News & World Report adalah media sayap kanan. Rusia: “Putin Denounces Intolerance”, The Denver Post,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 3 7
26 Juli, 2002, halaman 16A. “MOSKOW – Presiden Vla- dimir Putin mengutuk prasangka religius dan rasis… “Jika kita biarkan bakteri Chauvinist berkembang dalam intole- ransi agama dan nasional, kita akan menghancurkan negara ini”, ujar Putin dalam sambutannya yang dengan jelas diulang-ulang di televisi Rusia hari kamis malam.” dsb. Meksiko: “Persiste racismo contra indigenas” (“Rasisme kepada suku-suku asli berlanjut”), El Sol de Mexico, 11 Januari, 2002, halaman 1/B. Tulisan di bawah foto: “Sekalipun ada usaha untuk memberikan martabat pada orang-orang pribumi di negara kita, mereka tetap mendapatkan diskriminasi…” Artikel tersebut memberitakan usaha para uskup Meksiko dalam melawan diskriminasi, tapi juga menyatakan bahwa para uskup ingin “memurnikan” adat suku-suku asli untuk membebaskan perempuan dari status sosial tradisionalnya sebagai kaum bawahan. El Sol de Mexico memiliki reputasi sebagai koran sayap kanan. Siapapun yang mau bersedia menyibukkan dirinya bisa menemukan ribuan lain contoh lainnya. Bukti bahwa Sistem sendiri mau mengeliminasi diskriminasi sangat jelas dan sangat masif sehingga ironis apabila percaya bahwa melawan hal-hal ini termasuk dalam bentuk pemberontakan. Hal ini terkait dengan fenomena yang sangat dikenal baik oleh ahli-ahli propaganda, yakni: orang-orang cenderung menghilangkan, atau gagal untuk melihat maupun mengingat, informasi-informasi yang bertentangan dengan ideologi mereka. Lihat artikel menarik, “Propaganda”, di The New Encyclopedia Britannica, Volume 26, Macropedia, Edisi 15, 1997, halaman 171-179, terutama halaman 176.
- Di bagian ini saya sudah sudah menyatakan tentang apa
t e d k a c z y n s k i | 1 3 8
yang bukan Sistem, tapi saya belum menyatakan apa yang merupakan Sistem. Seorang kawan berpendapat bahwa hal ini bisa membuat pembaca kebingungan, jadi lebih baik saya jelaskan demi tujuan penulisan artikel ini bahwa tidaklah harus ada definisi persis tentang apa Sistem itu. Saya tidak dapat menemukan cara mendefinisi- kan Sistem dalam satu kalimat sempurna dan saya tidak mau merusak keberlangsungan artikel ini dengan kecacatan pendefinisian yang panjang, janggal dan tidak se- mestinya terkait dengan pertanyaan apa saja Sistem itu, jadi saya akan membiarkan pertanyaan ini tidak terja- wab. Saya pikir kegagalan saya menjawabnya tidak akan menghalangi pengertian pembaca terhadap poin yang ingin disampaikan artikel ini.
- Konsep “Propaganda Integrasi” dan “Propaganda Agitasi” dijabarkan oleh Jacques Ellul di bukunya Propaganda, dipublikasikan oleh Alfred A. Knopf, 1965.
- William A. Haviland, Cultural Anthropology, Edisi Sembilan, Harcourt Brace & Company, 1999.
- Saya berasumsi bahwa pernyataan ini akurat. Pernyataan tersebut jelas menggambarkan sikap orang-orang Na- vahjo. Lihat Glady A. Reichard, Navajo Religion: A Study of Symbolism, Princeton University Press, 1990, hlm 141. Buku ini pertama kali dipatenkan tahun 1950, jauh sebelum antropolog Amerika mulai terpolitisasi, jadi saya lihat tidak ada kecenderungan informasi tersebut dipoles.
- Ini terkenal. Lihat, Angie Debo, Geronimo: The Man, His Time, His Place, University of Oklahoma Press, 1976, halaman 225; Thomas B. Marquis (penerjemah), Wooden Leg: A Warrior Who Fought Custer, Bison Books, University of Nebraska Press, 1967, halaman 97; Stanley Vestal.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 3 9
Sitting Bull, Champion of the Sioux: A Biography, University of Oklahoma Press, 1989, halaman 6; The New Encyclopedia Britannica, Vol.13, Macropedia, Edisi ke-15, 1997, artikel “American Peoples, Native”, halaman 380.
- Osborne Russell, Journal of a Trapper, edisi Bison Books, halaman 147.
- Penggunaan penyiksaan oleh Indian di timur Amerika sangat dikenal. Lihat Clark Wissler, Indians of the United States, Edisi Revisi, Anchor Books, Random House, New York, 1989, halaman 131, 140, 145, 165, 282; Joseph Campbell, The Power of Myth, Anchor Books, Random House, New York, 1988, halaman 135; The New Encyclopedia Britannica, Vol.13, Macropedia, Edisi ke-15, 1997, artikel “American Peoples, Native”, halaman 385; James Axtell, The Invasion Within: The Contest of Cultures in Colonial North America, Oxford University Press, 1985, halaman kutipan tidak ada.
1 4 1
4/ Jalan Menuju Revolusi
“Revolusi bukanlah pesta makan malam.” – Mao Zedong¹
SEBUAH revolusi besar sedang terjadi. Ini artinya prasyarat yang diperlukan untuk revolusi sedang terbentuk. Apakah revolusi akan menjadi kenyataan akan tergantung pada keberanian, tekad, ketekunan, dan efektivitas kaum revolusioner. Prasyarat yang diperlukan untuk revolusi² adalah sebagai berikut: Harus ada perkembangan nilai-nilai yang kuat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kelas dominan dalam masyarakat, dan realisasi nilai-nilai baru akan mustahil tanpa runtuhnya struktur masyarakat yang ada. Ketika kondisi ini hadir, muncul konflik yang tidak dapat didamaikan antara nilai-nilai baru dan nilai-nilai yang diperlukan untuk
t e d k a c z y n s k i | 1 4 2
pemeliharaan struktur yang ada. Ketegangan antara dua sistem nilai sekarang tumbuh dan hanya dapat diselesaikan melalui kekalahan salah satu dari keduanya. Jika sistem nilai baru cukup kuat, ia akan terbukti menang dan struktur masyarakat yang ada akan hancur. Dengan cara inilah dua revolusi terbesar di zaman modern — Revolusi Prancis dan Rusia— terjadi. Konflik nilai-nilai seperti itu sedang berkembang di masyarakat kita saat ini. Jika konflik menjadi cukup intens, itu akan mengarah pada revolusi terbesar yang pernah dilihat dunia. Struktur sentral masyarakat modern, elemen kunci dimana segala sesuatunya bergantung, adalah teknologi. Teknologi adalah faktor utama yang menentukan cara hidup orang modern dan merupakan kekuatan yang menentukan dalam sejarah modern. Ini adalah pendapat yang diungkapkan dari berbagai pemikir terpelajar, 3 dan saya yakin kalau hanya ada sedikit sejarawan serius yang dapat ditemukan yang berani menyatakan ketidaksetujuan atas hal ini. Namun, Anda tidak harus bergantung pada pendapat kaum terpelajar untuk menyadari bahwa teknologi adalah faktor penentu di dunia modern. Perhatikan saja sekitar Anda dan Anda bisa melihatnya sendiri. Terlepas dari perbedaan besar yang sebelumnya ada antara budaya dari berbagai negara industri, semua negara ini sekarang menyatu dengan cepat menuju budaya umum dan cara hidup yang sama, dan mereka melakukannya karena teknologi mereka yang sama. Karena teknologi adalah struktur sentral masyarakat modern — struktur dimana segala sesuatunya bergantung— pengembangan nilai yang kuat yang sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan sistem teknologi akan memenuhi prasyarat revolusi. Perkembangan seperti ini sedang terjadi saat ini. Lima puluh tahun yang lalu, ketika saya masih kecil, persetujuan hangat atau bahkan antusiasme terhadap teknologi hampir uni-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 4 3
versal. Pada tahun 1962, saya sendiri telah memusuhi teknologi, tetapi saya tidak akan berani mengungkapkan pendapat itu secara terbuka, karena pada masa itu hampir semua orang berasumsi bahwa hanya seorang yang gila, atau mungkin seorang pemuja Alkitab dari pedalaman Mississippi, yang dapat menentang teknologi. Sekarang saya tahu bahwa bahkan pada saat itu ada beberapa pemikir yang menulis secara kritis tentang teknologi. Tetapi mereka sangat langka dan sangat sedikit terdengar sampai saya hampir berusia 30 tahun, saya tidak pernah tahu bahwa ada orang selain saya sendiri yang menentang kemajuan teknologi. Sejak itu telah terjadi perubahan besar dalam sikap terhadap teknologi. Tentu saja, kebanyakan orang di masyarakat kita tidak memiliki sikap terhadap teknologi, karena mereka tidak pernah berpikir tentang teknologi dengan cara seperti itu. Jika industri periklanan mengajarkan mereka untuk membeli beberapa alat teknologi baru, maka mereka akan membelinya dan memainkannya, tetapi mereka tidak akan memikirkannya. Perubahan sikap terhadap teknologi telah terjadi di antara sebagian kecil orang yang berpikir serius tentang masyarakat tempat mereka tinggal. Sejauh yang saya tahu, hampir satu-satunya orang yang berakal yang tetap antusias tentang teknologi adalah mereka yang mengambil keuntungan darinya dalam beberapa cara, seperti ilmuwan, insinyur, eksekutif perusahaan dan orang di militer. Lebih banyak lagi orang yang sinis terhadap masyarakat modern dan telah kehilangan kepercayaan pada lembaga-lembaganya. Mereka tidak lagi menghormati sistem politik di mana kandidat yang paling terce- la dapat berhasil dijual ke publik melalui teknik propaganda yang canggih. Mereka menghina industri hiburan elektronik yang memberi kita sampah. Mereka tahu bahwa anak-anak sekolah dibius (dengan Ritalin, dll.) agar mereka tetap patuh di kelas, mereka tahu bahwa spesies menjadi punah pada tingkat yang tidak normal, bah-
t e d k a c z y n s k i | 1 4 4
wa bencana lingkungan adalah kemungkinan yang sangat nyata, dan bahwa teknologi mendorong kita semua ke tempat yang tidak diketahui dengan kecepatan yang sembrono, dengan konsekuensi yang mungkin sangat berbahaya. Tapi, karena mereka tidak punya harapan bahwa raksasa teknologi bisa dihentikan, mereka menjadi apatis. Mereka hanya menerima kemajuan teknologi dan akibatnya sebagai kejahatan yang tak dapat dihindari, dan mereka mencoba untuk tidak memikirkan masa depan. Tetapi pada saat yang sama ada semakin banyak orang, terutama kaum muda, yang bersedia menghadapi secara jujur karakter mengerikan dari apa yang dilakukan sistem tekno-industrial terhadap dunia. Mereka siap menolak nilai-nilai sistem tekno-industrial dan menggantinya dengan nilai-nilai yang berlawanan. Mereka rela membuang keamanan dan kenyamanan fisik, mainan seperti Disney, dan solusi-solusi kilat, untuk semua masalah yang disediakan teknologi. Mereka tidak membutuhkan jenis status gengsi yang berasal dari kepemilikan barang-barang material yang lebih banyak dan lebih baik daripada yang dimiliki tetangga mereka. Sebagai ganti nilai-nilai yang kosong secara spiritual ini, mereka siap untuk menganut gaya hidup moderasi yang menolak tingkat konsumsi ca- bul yang menjadi ciri gaya hidup tekno-industrial; mereka mampu memilih keberanian dan kemandirian menggantikan perbudakan manusia modern yang pengecut; dan di atas semua itu, mereka siap untuk membuang cita-cita teknologi tentang kendali manusia atas alam dan menggantinya dengan penghormatan terhadap totalitas semua kehidupan di Bumi —yang bebas dan liar seperti yang diciptakan melalui ratusan juta tahun evolusi. Bagaimana kita dapat menggunakan perubahan sikap ini untuk meletakkan dasar bagi sebuah revolusi? Salah satu tugas kita, tentu saja, adalah membantu mendorong pertumbuhan nilai-nilai baru dan menyebarkan ide-ide re-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 4 5
volusioner yang akan mendorong penantang aktif terhadap sistem tekno-industrial. Tetapi menyebarkan ide dengan sendirinya tidak terlalu efektif. Pertimbangkan tanggapan seseorang yang terpapar ide-ide revolusioner. Mari kita asumsikan bahwa dia adalah orang yang bijaksana yang muak mendengar atau membaca kengerian yang dimiliki teknologi untuk dunia, tetapi merasa terstimulasi dan penuh harapan untuk belajar bahwa cara hidup yang lebih baik, lebih kaya, dan lebih memuaskan adalah mungkin. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkin tidak ada. Untuk mempertahankan minat pada ide-ide revolusioner, orang harus memiliki harapan bahwa ide-ide itu benar-benar akan diterapkan, dan mereka perlu memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara pribadi dalam melaksanakan ide-ide itu. Jika seseorang yang telah terpapar ide-ide revolusioner tidak dita- wari sesuatu yang praktis yang dapat dia lakukan melawan sistem teknologi, dan jika tidak ada hal penting yang terjadi untuk menjaga harapannya tetap hidup, dia mungkin akan kehilangan minat. Paparan tambahan untuk pesan revolusioner yang diulang-ulang akan memiliki efek yang semakin kecil padanya, sampai akhirnya dia menjadi benar-benar apatis dan menolak untuk berpikir lebih jauh tentang masalah teknologi. Untuk mempertahankan kepentingan rakyat, kaum revolusioner harus menunjukkan kepada mereka bahwa hal-hal sedang terjadi —hal-hal yang signifikan— dan mereka harus memberi orang kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam bekerja menuju revolusi. Untuk itu diperlukan suatu gerakan revolusioner yang efektif, suatu gerakan yang mampu mewujudkan sesuatu, dan orang-orang yang berkepentingan dapat bergabung atau bekerja sama untuk mengambil bagian aktif dalam mempersiapkan jalan bagi revolusi. Kecuali gerakan seperti itu tumbuh seiring dengan penyebaran gagasan, gagasan itu akan terbukti relatif tidak berguna.
t e d k a c z y n s k i | 1 4 6
Oleh karena itu, untuk saat ini, tugas terpenting kaum revolusioner adalah membangun gerakan yang efektif. Efektivitas sebuah gerakan revolusioner tidak hanya diukur dari jumlah orang yang tergabung di dalamnya. Yang jauh lebih penting daripada kekuatan jumlah menjumlah suatu gerakan adalah kekompakannya, tekadnya, komitmennya terhadap tujuan yang jelas, keberaniannya, dan kegigihannya. Dengan memiliki kualitas-kualitas ini, secara mengejutkan sejumlah kecil orang dapat melebihi mayoritas yang bimbang dan tidak berkomitmen. Misalnya, kaum Bolshevik tidak pernah menjadi partai yang besar secara jumlah, namun merekalah yang menentukan arah yang akan diambil oleh Revolusi Rusia. (Saya buru-buru menambahkan bahwa saya BUKAN pengagum Bolshevik. Bagi mereka, manusia hanya berharga sebagai roda gigi dalam sistem teknologi. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengambil pelajaran dari sejarah Bolshevisme.) Sebuah gerakan revolusioner yang efektif tidak mengkhawa- tirkan opini publik. Tentu saja, sebuah gerakan revolusioner tidak boleh menyinggung opini publik ketika tidak punya alasan yang baik untuk melakukannya. Tetapi gerakan itu tidak boleh mengorbankan integritasnya dengan mengkompromikan prinsip-prinsip dasarnya di hadapan permusuhan publik. Melayani opini publik dapat membawa keuntungan jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang gerakan ini akan memiliki peluang sukses terbaik jika berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya melalui cara yang sulit, tidak peduli seberapa tidak populernya prinsip-prinsip itu, dan jika mau, untuk berhadapan langsung dengan sistem pada isu-isu mendasar bahkan ketika semua kemungkinan bertentangan dengan gerakan. Sebuah gerakan yang mundur atau berkompromi ketika keadaan menjadi sulit kemungkinan akan kehilangan kekompakannya atau berubah menjadi gerakan reformasi yang plin-plan. Menjaga kohesi dan integritas gerakan, dan membuktikan keberaniannya, jauh le-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 4 7
bih penting daripada menjaga niat baik masyarakat umum. Publik berubah-ubah, dan niat baiknya dapat berubah menjadi permusuhan dan kembali lagi dalam semalam. Sebuah gerakan revolusioner membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Mungkin harus menunggu beberapa dekade sebelum kesempatan untuk revolusi tiba, dan selama dekade-dekade itu ia harus menyibukkan diri dengan mempersiapkan jalan untuk revolusi. Inilah yang dilakukan gerakan revolusioner di Rusia. Kesabaran dan ketekunan seringkali membuahkan hasil dalam jangka panjang, bahkan bertentangan dengan semua harapan. Sejarah memberikan banyak contoh penyebab yang tampaknya hilang tapi akhirnya menang karena kegigihan yang keras kepala dari para penganutnya, yaitu penolakan mereka untuk menerima kekalahan. Di sisi lain, kesempatan untuk revolusi mungkin tiba secara tak terduga, dan gerakan revolusioner harus dipersiapkan dengan baik sebelumnya untuk memanfaatkan kesempatan ketika itu tiba. Dikatakan bahwa kaum Bolshevik tidak pernah berharap untuk melihat sebuah revolusi dalam hidup mereka sendiri, namun, karena gerakan mereka disusun dengan baik untuk tindakan tegas setiap saat, mereka mampu memanfaatkan secara efektif kehancuran rezim Tsar yang tak terduga dan yang terjadi setelah kekacauan. Di atas segalanya, sebuah gerakan revolusioner harus memiliki keberanian. Sebuah revolusi di dunia modern tidak akan menjadi pesta makan malam. Itu akan mematikan dan brutal. Anda dapat yakin bahwa ketika sistem tekno-industrial mulai rusak, hasilnya bukanlah perubahan mendadak seluruh umat manusia menjadi anak-anak bunga. Sebaliknya, berbagai kelompok akan bersaing memperebutkan kekuasaan. Jika lawan teknologi terbukti paling tangguh, mereka akan dapat memastikan bahwa kehancuran sistem teknologi menjadi lengkap dan final. Jika kelompok lain terbukti lebih tangguh, mereka mungkin dapat menyelamatkan sistem tek-
t e d k a c z y n s k i | 1 4 8
nologi dan menjalankannya kembali. Dengan demikian, sebuah gerakan revolusioner yang efektif harus terdiri dari orang-orang yang bersedia membayar harga yang dituntut oleh revolusi yang sesungguhnya: Mereka harus siap menghadapi bencana, penderitaan, dan kematian. Sudah ada semacam gerakan revolusioner, tetapi efektifitasnya rendah. Pertama, gerakan yang ada kurang efektif karena tidak terfokus pada tujuan yang jelas dan pasti. Sebaliknya, ia memiliki tujuan yang campur aduk, yang didefinisikan secara samar-samar, seperti mengakhiri “dominasi”, perlindungan lingkungan, dan “keadilan” (apa pun artinya) bagi perempuan, gay, dan hewan. Sebagian besar tujuan ini bahkan bukan tujuan revolusioner. Sebagaimana telah dikemukakan di awal artikel ini, prasyarat revolusi adalah pengembangan nilai-nilai yang hanya dapat diwujudkan melalui penghancuran struktur masyarakat yang ada. Namun, sebagai contoh, tujuan feminis seperti kesetaraan status bagi perempuan dan penghentian pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga sangat sesuai dengan struktur masyarakat yang ada. Bahkan, realisasi dari tujuan tersebut akan membuat sistem tekno-industrial berfungsi lebih efisien. Hal yang sama berlaku untuk sebagian besar tujuan “aktivis” lainnya. Akibatnya, tujuan-tujuan ini bersifat reformis. Di antara begitu banyak tujuan lainnya, satu tujuan yang benar-benar revolusioner—yaitu, penghancuran sistem tekno-industrial itu sendiri—cenderung tersesat dalam kekacauan. Agar revolusi menjadi kenyataan, perlu muncul gerakan yang memiliki identitas tersendiri, dan didedikasikan semata-mata untuk melenyapkan sistem. Gerakan itu tidak boleh terganggu oleh tujuan reformis seperti keadilan untuk kelompok ini atau itu. Kedua, gerakan yang ada kurang efektif karena terlalu banyak orang dalam gerakan yang ada untuk alasan yang salah. Bagi seba-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 4 9
gian dari mereka, revolusi hanyalah harapan yang samar dan tidak pasti daripada tujuan yang nyata dan praktis. Beberapa lebih peduli dengan keluhan khusus mereka sendiri daripada dengan masalah keseluruhan peradaban teknologi. Bagi yang lain, revolusi hanyalah sejenis permainan yang mereka mainkan sebagai pelampiasan dorongan untuk memberontak. Bagi yang lain lagi, partisipasi dalam gerakan adalah perjalanan ego. Mereka bersaing untuk mendapatkan status, atau mereka menulis “analisis” dan “kritik” yang lebih berfungsi untuk memberi makan kesombongan mereka sendiri daripada untuk memajukan tujuan revolusioner. Untuk menciptakan gerakan revolusioner yang efektif, kita perlu mengumpulkan orang-orang yang menganggap revolusi bukanlah teori abstrak, fantasi samar-samar, harapan belaka untuk masa depan yang tidak terbatas, atau permainan yang dimainkan sebagai pelampiasan dorongan pemberontak, tetapi yang nyata, dengan tujuan yang pasti, dan praktis untuk dikerjakan dengan cara yang praktis.
t e d k a c z y n s k i | 1 5 0
Catatan Akhir.
- “Report on an Investigation of the Peasant Movement in Hunan,” dalam Selected Readings from the Works of Mao Tsetung [=Zedong], Foreign Languages- king, 1971, halaman 30. Press, Pe
- Seperti yang digunakan dalam artikel ini, istilah “revolusi” berarti keruntuhan yang radikal dan cepat dari struktur masyarakat yang ada, yang dengan sengaja dibawa dari dalam masyarakat dan bukan oleh beberapa faktor eksternal, dan bertentangan dengan kehendak kelas pe- nguasa di masyarakat. Pemberontakan bersenjata, bahkan yang menggulingkan pemerintah, bukanlah sebuah revolusi dalam arti kata ini, kecuali jika ia menyapu bersih struktur masyarakat tempat pemberontakan itu terjadi.
- Karl Marx menyatakan bahwa alat-alat produksi merupakan faktor penentu dalam menentukan karakter masyarakat, tetapi Marx hidup di masa ketika masalah utama yang diterapkan teknologi adalah produksi. Karena teknologi telah memecahkan masalah produksi dengan begitu cemerlang, produksi tidak lagi menjadi faktor penentu. Yang lebih kritis saat ini adalah masalah lain di mana teknologi diterapkan, seperti pemrosesan informasi dan pengaturan perilaku manusia (misalnya, melalui propaganda). Jadi, konsepsi Marx tentang kekuatan yang menentukan karakter suatu masyarakat harus diperluas untuk mencakup semua teknologi dan bukan hanya teknologi produksi. Jika Marx masih hidup hari ini, dia pasti akan setuju.
1 5 1
5/ Membela Kekerasan
KETIKA saya menulis kepada New York Times untuk tawaran menghentikan aksi terorisme jika naskah saya diterbitkan, saya berjanji bahwa manifesto tidak akan secara eksplisit menganjurkan kekerasan, karena saya pikir media arus utama akan menolak untuk menerbitkan apa pun yang menganjurkan kekerasan. Untuk alasan itu, dalam Industrial Society and Its Future (ISAIF), saya mengecilkan kemungkinan peran kekerasan dalam revolusi. Pada kenyataannya, saya pikir bahwa revolusi yang berhasil melawan sistem tekno-industrial harus melibatkan kekerasan di beberapa titik. Pemaksaan dan kekerasan adalah sanksi terakhir. Ketika konflik sosial yang besar tidak dapat diselesaikan melalui kompromi, masalah tersebut diselesaikan dengan kekuatan fisik atau ancaman darinya. Seperti yang saya katakan di ISAIF, paragraf 125-135, jika kita mencoba berkompromi dengan teknologi, kita akan kalah. Sistem
t e d k a c z y n s k i | 1 5 2
tidak pernah dan tidak akan pernah puas dengan situasi stabil apa pun –ia selalu berusaha memperluas kekuatannya dan tidak akan pernah secara permanen mentolerir apa pun yang tetap berada di luar kendalinya (ISAIF, paragraf 164). Dengan demikian konflik antara kita dan sistem tidak dapat didamaikan dan pada akhirnya hanya dapat diselesaikan melalui kekuatan fisik. Sistem ini bergantung pada kekuatan dan kekerasan untuk mempertahankan dirinya –itulah gunanya polisi dan tentara. Jika kita sebagai kaum revolusioner meninggalkan semua jalan untuk kekerasan, kita menempatkan diri kita pada posisi yang kurang menguntungkan dari sistem. Saya tidak menganjurkan kekerasan secara otomatis dan tanpa pandang bulu; dalam banyak situasi, taktik non-kekerasan adalah yang paling efektif. Tetapi saya tetap mempertahankan bahwa kekerasan adalah bagian penting sebagai perangkat dari perkakas revolusioner, dan bahwa kita harus siap menggunakannya ketika kita dapat memperoleh keuntungan penting dengan melakukannya. Alasan mengapa sistem mengajarkan kita untuk takut pada kekerasan adalah karena kekerasan dalam bentuk apapun berbahaya bagi sistem. Sistem diatas segalanya membutuhkan ketertiban; dibutuhkan orang yang patuh dan penurut serta tidak membuat masalah. Roger Lane telah menunjukan bahwa sebelum Revolusi Industri, masyarakat Amerika jauh lebih toleran terhadap kekerasan daripada sekarang, dan bahwa penekanan pada anti-kekerasan muncul sebagai tanggapan terhadap kebutuhan sistem industri akan warga negara yang tertib dan patuh. (Bab 12 pada Violence in America: Historical and Comparative Perspectives, diedit oleh Hugh Davis Graham dan Ted Robert Gurr.) Membiarkan beberapa pengecualian, para pemimpin sistem cukup tulus dalam penolakan mereka terhadap kekerasan. Meskipun sistem harus menggunakan kekerasan untuk mempertahankan dirinya sendiri, sistem biasanya mencoba untuk menjaga tingkat kekerasan –termasuk kekerasan-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 5 3
nya sendiri– serendah mungkin, karena itu akan meningkatkan tekanan sosial yang membahayakan sistem. “Polisi jahat” yang memukuli orang dengan caranya sendiri adalah pemberontak melawan sistem. Bagi anggota teknokrasi yang paling rasional dan disiplin, polisi yang ideal adalah polisi yang menggunakan kekuatan untuk menjaga ketertiban umum dan disiplin sosial dengan secukupnya. Tidak lebih. Kebanyakan orang yang bersikeras pada prinsip non-kekerasan termasuk dalam salah satu dari tiga kategori. Pertama, ada kaum konformis –mereka yang percaya pada anti-kekerasan karena sistem telah berhasil mencuci otak mereka. Kedua, ada pengecut. Ketiga, ada para santo –orang-orang yang agak langka yang keyakinannya pada nirkekerasan dimotivasi oleh belas kasih yang tulus. Adapun konformis dan pengecut, mereka dihina dan tidak ada yang perlu dikatakan lagi tentang mereka. Para santo, di sisi lain, pantas kita hormati. Jika kita menerima prinsip-prinsip mereka, kita pada dasarnya akan menyerah pada revolusi, tetapi bagaimanapun juga mereka mungkin memiliki peran penting untuk dimainkan. Melalui gejolak dan kekerasan yang mungkin akan menyertai sebuah revolusi, mereka dapat membantu untuk menjaga cita-cita kebaikan dan kasih sayang; dan –siapa yang tahu?– mungkin suatu hari mereka bahkan akan memiliki efek praktis dalam mengurangi jumlah kekejaman dalam masyarakat manusia. Tetapi dengan sendirinya mereka tidak dapat memenangkan sebuah revolusi. Untuk itu dibutuhkan petarung yang tangguh. Bahwa sebagian besar penentang terhadap kekerasan dalam masyarakat kita hanyalah masalah kesesuaian atau konvensi sosial dapat dilihat dari cara di mana sikap terhadap kekerasan bervariasi sesuai dengan keadaan di mana kekerasan itu dilakukan. Ketika kekerasan dilakukan dengan persetujuan sistem (seperti dalam perang, misalnya), kebanyakan orang menerimanya begitu saja.
t e d k a c z y n s k i | 1 5 4
Mereka ngeri dengan kekerasan hanya ketika kekerasan itu tidak disetujui oleh sistem. Pengacara saya membawa seorang neuropsikolog, seorang bernama Dr. Watson, untuk memberi saya beberapa tes untuk memastikan bahwa saya tidak gila. Setelah pengujian selesai, Dr. Watson menanyakan beberapa pertanyaan tentang pengeboman saya. Antara lain, dia bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya tentang dampak tindakan saya pada “korban” dan keluarga mereka, dan dia tampak agak bermasalah bahwa seorang pria cerdas seperti saya dapat membunuh orang tanpa merasa bersalah dan tanpa terlalu khawatir tentang dampak pada keluarga orang yang meninggal. Tetapi jika saya adalah seorang tentara yang telah membunuh atau melukai tentara musuh dalam perang, Dr. Watson tidak akan pernah bertanya bagaimana perasaan saya tentang dampaknya terhadap para korban atau keluarga mereka. Tidak ada yang mengharapkan seorang prajurit untuk ragu-ragu membunuh tentara musuh atau khawatir tentang bagaimana perasaan keluarga dari yang telah mati, dan sangat sedikit tentara yang khawatir tentang hal-hal seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan sikap orang terhadap kekerasan tidak diatur oleh belas kasih, tetapi oleh konvensi sosial. Runtuhnya sistem tekno-industrial hampir pasti akan melibatkan kesulitan fisik yang meluas. Jika kerusakannya terjadi tiba-tiba, itu berarti kelaparan yang sebenarnya, karena tidak akan ada pestisida dan pupuk kimia, tidak ada benih hibrida berteknologi tinggi, tidak ada bahan bakar atau suku cadang untuk mesin pertanian, tidak ada truk dan kereta api untuk mengangkut hasil bumi ke kota. Bahkan jika sistem itu hancur secara bertahap selama beberapa dekade, hampir tidak dapat dibayangkan bahwa pengurangan populasi dan transisi ke pertanian subsisten dapat dilakukan dengan cara yang mulus dan teratur. Banyak orang akan menderita karena kekurangan makanan atau kebutuhan fisik lainnya, dan dalam kea-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 5 5
daan seperti itu pasti akan ada kekacauan sosial yang meluas dan karena itu perkelahian. Lihatlah sejarah! Runtuhnya suatu peradaban hampir selalu disertai dengan kekerasan, dan semakin maju suatu peradaban, semakin besar pula kekerasannya. Budaya kelas menengah modern telah berupaya keras untuk menekan agresi, yang merupakan bagian normal dari repertoar perilaku manusia dan sebagian besar mamalia lainnya. Sebagian besar masyarakat sepanjang sejarah manusia lebih toleran terhadap agresi daripada kelas menengah saat ini. Memang benar bahwa ada beberapa budaya primitif yang benar-benar non-kekerasan, dan ideologi pasif dan non-kekerasan telah mengangkat budaya-budaya ini sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana masyarakat modern yang penuh kekerasan berbeda dengan orang-orang biadab yang mulia. Tetapi dengan ketidakjujuran yang disadari atau tidak, mereka sepenuhnya mengabaikan budaya primitif yang jauh lebih banyak lagi, yang mengizinkan tingkat kekerasan yang jauh lebih besar daripada yang dilakukan oleh moralitas kelas menengah modern. Sebagai contoh, Derrick Jensen, dalam Listening to the Land (Sierra Club Books, 1995, halaman 3) memuji orang Indian Oka- nagan di British Columbia atas fakta bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam kekerasan fisik, tetapi tidak sepatah kata pun yang dia katakan untuk mengakui fakta bahwa mayoritas suku Indian Amerika Utara jelas suka berperang. Banyak suku bahkan mem- budayakan perang sebagai sesuatu yang mulia dan mengagumkan, dan melakukan perang yang tidak perlu hanya karena para pemuda ingin memenangkan kejayaan militer. (Jangan sampai kaum feminis mencoba untuk menyalahkan semuanya pada binatang jantan yang jahat itu, harus ditunjukkan bahwa laki-laki dihasut oleh para perempuan. Di antara suku-suku yang suka berperang, setiap perempuan ingin putranya menjadi pejuang pemberani, dan salah satu alasannya mengapa para pemuda ingin memenangkan
t e d k a c z y n s k i | 1 5 6
kejayaan militer adalah karena hal itu membuat mereka populer di kalangan para gadis.) Tentu saja, perang primitif sangat berbeda dengan perang modern. Hari ini tentara berperang untuk memuaskan ambisi para politisi atau diktator; dalam perang besar mereka biasanya wajib militer, dan bahkan jika mereka terlibat secara sukarela, umumnya mereka melakukannya hanya karena telah dicuci otak oleh propaganda. Medan perang modern adalah rumah jagal di mana keterampilan dan keberanian seorang prajurit tidak banyak berpengaruh pada peluangnya untuk bertahan hidup. Sebaliknya, orang Indian Amerika berjuang untuk melindungi diri mereka sendiri dan keluarga mereka atau karena mereka ingin berperang. Pertempuran mereka dalam skala kecil, sehingga prajurit individual tidak direndahkan menjadi sekedar umpan meriam yang tidak ada artinya. Dan perang primitif tidak menghasilkan kerusakan lingkungan besar-besaran sebagaimana peperangan modern. Faktanya, karena peranglah populasi mereka turun, menjadikannya sebagai konsekuensi lingkungan yang positif. Menghilangkan semua kekerasan akan meningkatkan harapan hidup kita, tetapi harapan hidup dalam masyarakat modern mungkin lebih lama daripada yang pernah ada di masyarakat mana pun, namun masyarakat modern sangat bermasalah. Ada banyak masyarakat lain di mana harapan hidup jauh lebih pendek, tetapi di mana stres, frustasi, kecemasan, atau rasa sakit psikologis lainnya jauh lebih sedikit. Ini menunjukkan bahwa harapan hidup bukanlah hal terpenting bagi kebahagiaan manusia; masih kurang penting untuk kebebasan manusia. Saya tidak ingin memberi kesan bahwa saya menganggap kekerasan itu diinginkan untuk kepentingannya sendiri. Justru sebaliknya. Saya lebih suka melihat orang hidup bersama tanpa saling menyakiti secara fisik, ekonomi, psikologis, atau dengan cara lain.
esai, wawancara dan korespondensi | 157
Tetapi penghapusan kekerasan seharusnya tidak menjadi prioritas utama kami. Prioritas pertama haruslah menyingkirkan sistem tekno-industrial.
1 5 9
6/ Serang di Tempat
yang Mematikan
TUJUAN ARTIKEL INI
Tujuan dari artikel ini adalah untuk menunjukkan sebuah prinsip sederhana dari konflik manusia, sebuah prinsip yang tampaknya diabaikan oleh para penentang sistem tekno-industrial. Prinsipnya adalah bahwa dalam setiap bentuk konflik, apabila Anda ingin me- menangkannya, Anda harus menyerang musuh di tempat yang dapat membuatnya sakit. Saya harus menjelaskan bahwa saat saya berbicara tentang “menyerang di tempat yang mematikan”, saya tidak secara khusus mengartikannya sebagai sebuah serangan-serangan fisik atau berbagai bentuk kekerasan fisik. Sebagai contohnya, dalam perdebatan verbal, “menyerang di tempat yang mematikan” berarti membuat argumen di mana posisi lawan Anda paling rentan. Dalam sebuah pemilihan presidensial, “menyerang di tempat yang mematikan” berarti berhasil merebut konstituen lawanmu dengan mendapatkan suara terbanyak di tempat ia kemungkinan mendapatkan suara
t e d k a c z y n s k i | 1 6 0
terbanyak. Tetapi tetap saja, dalam mendiskusikan prinsip ini saya akan menggunakan analogi pertempuran fisik, sebab hal tersebut jelas dan gamblang. Apabila seseorang memukulmu, Anda akan mempertahankan diri dengan memukulnya kembali di lengannya, tetapi engkau tak dapat melukainya dengan cara tersebut. Agar dapat memenangkan perkelahian, Anda harus menyerangnya di tempat yang dapat menimbulkan rasa sakit. Artinya, Anda harus mampu melampaui ke- palannya dan memukul bagian-bagian yang paling lemah dan sensitif dari tubuh orang itu. Anggap saja sebuah bulldozer milik sebuah perusahaan penebangan telah meruntuhkan pepohonan dekat ru- mahmu dan Anda ingin menghentikannya. Pisau besar dari bulldozer itulah yang telah merusak bumi dan mencabut pepohonan, tetapi akan buang-buang waktu apabila merusak pisau besar tersebut dengan menggunakan gada. Apabila Anda bisa meluangkan waktu yang cukup lama, kerja keras seharian memukuli pisau besar tersebut mungkin memang akan berhasil membuatnya rusak sehingga pisau besar tersebut tidak dapat digunakan lagi. Tetapi, dibandingkan dengan bagian bulldozer secara keseluruhannya, pisau besar itu cenderung murah dan dapat dengan mudah diganti. Pisau besar itu hanya “kepalan” yang digunakan bulldozer untuk menyerang bumi. Untuk mengalahkan mesin ini engkau harus melampaui “kepalan” tersebut dan menyerang bagian-bagian vital bulldozer. Mesin, misalnya, dapat dihancurkan dalam waktu singkat dan mudah dengan cara-cara yang sudah banyak dikenal di kalangan para radikal. Saya tidak merekomendasikan siapapun untuk merusak bulldozer (kecuali bulldozer tersebut adalah miliknya sendiri) ataupun segala dalam artikel ini ditafsirkan sebagai sebuah saran aktivitas-aktivitas ilegal dalam berbagai bentuknya. Saya adalah seorang narapidana, dan apabila saya mendorong aktivitas ilegal, artikel ini tak akan diperbolehkan untuk keluar dari penjara. Saya menggu-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 6 1
nakan bulldozer sebagai analogi karena hal tersebut jelas dan gamblang serta akan diapresiasi oleh para radikal.
TEKNOLOGI ADALAH TARGET
Telah banyak diketahui bahwa “variabel-variabel dasar yang menentukan proses sejarah kontemporer dihadirkan oleh perkembangan teknologi” (Celso Furtado). Teknologi, di atas segalanya, bertanggung jawab atas kondisi-kondisi dunia saat ini dan akan mengontrol perkembangannya di masa depan. Dengan demikian, “bulldozer” yang harus kita hancurkan adalah teknologi modern itu sendiri. Banyak dari para radikal yang menyadari hal ini dan kemudian menyadari bahwa tugas mereka adalah mengeliminasi seluruh sistem tekno-industrial. Tetapi sayangnya mereka tidak cukup memperhatikan kebutuhan untuk menyerang sistem ini di tempat yang paling mematikan. Menghancurkan McDonald’s atau Starbuck jelas tak bermakna apa-apa. Lagipula saya juga tidak peduli pada McDonald’s ataupun Starbuck. Saya tidak peduli apakah seseorang menghancurkannya atau tidak. Hal tersebut bukanlah sebuah aktivitas revolusioner. Bahkan apabila semua rantai makanan cepat saji disingkirkan, sebagai hasilnya sistem tekno-industrial ini hanya akan sedikit menderita kerusakan minimal, yang dengannya dapat dengan mudah tetap bertahan hidup tanpa rantai makanan cepat saji. Saat Anda menyerang McDonald’s atau Starbuck, Anda tidak menyerang di tempat yang mematikan. Beberapa bulan lalu saya menerima sebuah surat dari seorang anak muda di Denmark yang percaya bahwa sistem tekno-industrial harus dimusnahkan karena, sebagaimana yang ia katakan, “apa yang akan terjadi apabila kita terus menerus hidup dengan cara seperti ini?” Secara khusus, bagaimanapun juga, bentuk aktivitas “revolusioner”nya adalah menggasak peternakan-peternakan peng-
t e d k a c z y n s k i | 1 6 2
hasil bulu binatang. Sebagai sebuah cara untuk melemahkan sistem tekno-industrial, aktivitas tersebut benar-benar tidak berguna. Bahkan apabila para pembebas binatang tersebut berhasil sepenuhnya dalam memusnahkan industri bulu binatang, mereka tidak akan menimbulkan kerusakan apapun bagi sistem ini, karena sistem ini akan berjalan terus dengan mulus tanpa bulu binatang. Saya setuju bahwa mengurung binatang-binatang liar di kandang adalah sesuatu yang tak dapat ditoleransi, dan mengakhiri praktek-praktek demikian adalah sebuah tindakan yang mulia. Tetapi ada banyak sekali tindakan yang mulia, seperti mencegah kecelakaan lalu lintas, menyediakan tempat bernaung bagi para gelandangan, melakukan daur ulang, atau menolong orang tua menyeberang jalan. Tetapi tak seorangpun kecuali seseorang yang terlalu bodoh, menganggap hal-hal di atas sebagai sebuah aktivitas revolusioner, ataupun membayangkan bahwa hal-hal tersebut dilakukan untuk melemahkan sistem ini.
INDUSTRI PENEBANGAN KAYU ADALAH ISU SAMPINGAN
Contoh lain adalah tak seorangpun yang waras yang percaya bahwa segala sesuatu yang bersifat liar dapat bertahan hidup lebih lama lagi apabila sistem tekno-industrial tetap ada. Banyak dari para environmentalis radikal setuju dan kemudian mengharapkan sistem ini kolaps. Tetapi semua praktek yang mereka lakukan adalah menyerang industri penebangan kayu. Saya benar-benar tidak keberatan atas serangan-serangan mereka pada industri penebangan kayu. Pada faktanya, hal tersebut adalah sebuah isu yang dekat dengan hati saya dan saya merasa senang dengan setiap keberhasilan para radikal melawan industri penebangan kayu. Sebagai tambahan, bagi alasan-alasan yang perlu dijelaskan di sini, saya berpikir bahwa penentang industri penebangan kayu seharusnya menjadi sebuah komponen dari upaya-upaya pelenyapan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 6 3
sistem ini. Dengan sendirinya, menyerang industri penebangan kayu bukanlah sebuah cara yang efektif dalam usaha melawan sistem, bahkan walaupun yang diharapkan terjadi, di mana para radikal berhasil menghentikan seluruh penebangan hutan di manapun di dunia ini, hal tersebut tidak akan merontokkan sistem ini. Dan hal tersebut tidak dapat menyelamatkan alam liar secara permanen. Cepat atau lambat iklim politik akan berubah dan penebangan akan kembali terjadi. Bahkan apabila penebangan tidak pernah terjadi lagi, akan ada kejadian-kejadian lain yang mana dengannya alam liar akan kembali dihancurkan, atau apabila tidak dihancurkan paling tidak akan dijinakkan dan didomestikasi. Penambangan dan eksplorasi mineral, hujan asam, perubahan iklim, dan kepunahan spesies, menghancurkan alam liar; alam liar dijinakkan dan didomestikasi melalui rekreasi, studi ilmiah dan manajemen sumber daya, termasuk di antaranya penelusuran jejak binatang secara elektronik, budidaya pengembangbiakkan ikan, dan penanaman pohon-pohon yang direkayasa secara genetik. Alam liar dapat diselamatkan secara permanen hanya dengan cara melenyapkan sistem tekno-industrial, dan Anda tak dapat melenyapkan sistem tersebut dengan cara menyerang industri penebangan kayu. Sistem ini akan dapat dengan mudah bertahan hidup dari kematian industri penebangan kayu karena produk-produk kayu, walaupun sangat berguna bagi sistem ini, apabila dibutuhkan dapat diganti dengan material-material lain. Konsekuensinya, saat Anda menyerang industri penebangan kayu, Anda tidak menyerang di tempat yang dapat menyakitinya. Industri penebangan kayu hanyalah “kepalan” (atau salah satu kepalan) yang digunakan sistem untuk menghancurkan alam liar, dan, sebagaimana juga dalam per- tandingan tinju, Anda tak dapat menang dengan cara menyerang kepalan musuh. Anda harus berusaha melampaui kepalan tersebut
t e d k a c z y n s k i | 1 6 4
dan menyerang organ-organ sistem yang paling vital dan sensitif. Secara legal, tentu saja, dengan melakukan aksi protes yang damai.
MENGAPA SISTEM INI KOKOH
Sistem tekno-industrial benar-benar kokoh karena ia memiliki apa yang disebut sebagai struktur “demokratis” yang menghasilkan kelenturan. Karena sistem diktatorial cenderung kaku, ketegangan sosial dan perlawanan dapat dibangun di dalamnya hingga pada titik yang merusak dan memperlemah sistem, dan mungkin mengarah pada revolusi. Tetapi dalam sebuah sistem “demokratis”, saat ketegangan sosial dan perlawanan yang dibangun mulai membahayakan, sistem ini akan memberikan respon yang cukup mengkom- promikannya, sehingga akan menurunkan ketegangan ke tingkat yang aman. Selama tahun 1960’an, untuk pertama kalinya orang-orang mulai sadar bahwa polusi lingkungan adalah sebuah masalah yang serius, sebagian besarnya adalah karena kotoran yang terlihat dan berbau dalam udara di atas kota-kota besar mulai membuat orang-orang secara fisik tak merasa nyaman. Ada cukup banyak protes yang timbul sehingga Agensi Perlindungan Lingkungan dibentuk dan beberapa tindakan lain diambil untuk mengatasi masalah. Tentu saja, kita semua tahu bahwa masalah-masalah polusi kita masih sangat jauh dari penyelesaian. Tetapi telah cukup tindakan dilakukan sehingga keluhan-keluhan publik dapat diredam dan tekanan pada sistem semakin surut dari tahun ke tahun. Dengan demikian, menyerang sistem tersebut seperti memukul sebuah karet. Sebuah pukulan dengan gada akan dapat membuat besi padat berkeping-keping, karena besi padat sifatnya kaku dan karenanya rapuh. Tetapi engkau dapat memukul sebuah karet tanpa merusaknya karena sifatnya yang fleksibel: ia mengatasi protes, cukup lama hingga protes tersebut kehilangan kekuatan dan mo-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 6 5
mentumnya. Kemudian sistem tersebut memantul kembali. Maka, dalam upaya untuk menyerang sistem di tempat yang dapat me- matikannya, engkau harus memilih isu-isu yang tak dapat diatasi oleh sistem ini, yang akan menghabisinya. Dan yang dibutuhkan bukanlah kompromi dengan sistem, melainkan sebuah perjuangan hidup atau mati.
PERCUMA MENYERANG SISTEM BERDASARKAN NILAINYA SENDIRI
Sangatlah penting untuk menyerang sistem dalam hal nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sistem. Selama Anda menyerang sistem dalam hal nilainya sendiri, Anda tidak memukul sistem di tempat yang mematikan, dan Anda membiarkan sistem mengem- piskan protes. Misalnya, jika Anda menyerang industri kayu khususnya karena hutan diperlukan untuk melestarikan sumber daya air dan kesempatan rekreasi, maka sistem tersebut dapat memberikan landasan untuk meredakan protes tanpa mengorbankan nilai-nilainya sendiri: Sumber daya air dan rekreasi sepenuhnya konsisten dengan nilai-nilai sistem, dan jika sistem mundur dengan membatasi penebangan atas nama sumber daya air dan rekreasi, maka itu hanya kemunduran taktis dan sistem tidak menderita kekalahan strategis untuk kode nilainya. Jika Anda mendorong masalah viktimisasi (seperti rasisme, seksisme, homofobia, atau kemiskinan), Anda tidak menantang nilai-nilai sistem dan Anda bahkan tidak memaksa sistem untuk mundur atau berkompromi. Anda secara langsung membantu sistem. Semua pendukung paling bijaksana dari sistem mengakui bahwa rasisme, seksisme, homofobia, dan kemiskinan berbahaya bagi sistem, dan inilah mengapa sistem itu sendiri bekerja untuk memerangi ini dan bentuk-bentuk viktimisasi serupa.
t e d k a c z y n s k i | 1 6 6
“Sweatshops”*, dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk, dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan tertentu, tetapi para pendukung sistem yang bijaksana tahu betul bahwa sistem, secara keseluruhan, berfungsi lebih baik ketika pekerja diperlakukan dengan baik. Dengan mempermasalahkan sweatshop, Anda membantu sistem, bukan melemahkannya. Banyak radikal jatuh ke dalam godaan dengan memfokuskan diri pada isu-isu yang tidak penting seperti rasisme, seksisme dan sweatshop, karena itu mudah. Mereka memilih masalah di mana sistem dapat memberikan kompromi dan di mana mereka akan mendapatkan dukungan dari orang-orang seperti Ralph Nader, Winona La Duke, serikat pekerja, dan semua reformis merah muda lainnya. Mungkin sistem, di bawah tekanan, akan mundur sedikit, para aktivis akan melihat beberapa hasil yang terlihat dari upaya mereka, dan mereka akan memiliki ilusi yang memuaskan bahwa mereka telah mencapai sesuatu. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak mencapai apa pun untuk menghilangkan sistem tekno-industrial. Isu globalisasi tidak sepenuhnya tidak relevan dengan masalah teknologi. Paket langkah-langkah ekonomi dan politik yang disebut “globalisasi” memang mendorong pertumbuhan ekonomi dan, akibatnya, kemajuan teknologi. Namun, globalisasi adalah isu yang sangat penting dan bukan target yang dipilih dengan baik oleh kaum revolusioner. Sistem ini mampu memberi landasan pada isu globalisasi. Tanpa melepaskan globalisasi seperti itu, sistem dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi konsekuensi buruk lingkungan dan ekonomi yang buruk dari globalisasi untuk meredakan protes. Dalam keadaan darurat, sistem bahkan benar-benar mampu menghentikan globalisasi. Pertumbuhan dan kemajuan masih akan berlanjut, hanya saja pada tingkat yang sedikit lebih rendah. Dan ketika Anda melawan globalisasi, Anda tidak menye-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 6 7
rang nilai-nilai mendasar sistem. Penentangan terhadap globalisasi dimotivasi dalam hal mengamankan upah yang layak bagi pekerja dan melindungi lingkungan, yang keduanya sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai sistem. (Sistem, demi kelangsungan hidupnya sendiri, tidak dapat membiarkan degradasi lingkungan terlalu jauh.) Akibatnya, dalam memerangi globalisasi Anda tidak menabrak sistem dengan cara yang benar-benar menyakitkan. Upaya Anda mungkin mempromosikan reformasi, tetapi mereka tidak berguna untuk menggulingkan sistem tekno-industrial.
PARA RADIKAL HARUS MENYERANG SISTEM INI PADA TITIK YANG MENENTUKAN
Untuk dapat secara efektif bertujuan melenyapkan sistem tekno-industrial, para revolusioner harus menyerang sistem ini pada titik-titik yang mana dalam serangan tersebut, musuh tak dibiarkan memiliki kesempatan untuk pulih. Mereka harus menyerang organ-organ paling vital dari sistem ini. Tentu saja, saat saya menggunakan kata “serang” saya tidak mengartikannya sebagai serangan fisik, melainkan dengan bentuk protes dan perlawanan yang legal. Beberapa contoh organ-organ vital dari sistem ini adalah:
a. Industri tenaga listrik. Sistem ini benar-benar tergantung pada jaringan tenaga listrik.
b. Industri komunikasi. Tanpa komunikasi yang gencar, sebagaimana dengan telefon, radio, televisi, e-mail dan semacamnya, sistem ini tak dapat bertahan hidup.
c. Industri komputer. Kita semua tahu bahwa tanpa komputer sistem ini akan kolaps dengan cepat.
d. Industri propaganda. Industri propaganda meliputi industri hiburan, sistem pendidikan, jurnalisme, periklanan, hubungan masyarakat, dan berbagai macam politik serta industri kesehatan mental. Sistem ini tak dapat berfungsi
t e d k a c z y n s k i | 1 6 8
kecuali orang-orang di dalamnya cukup jinak dan mampu menyesuaikan diri serta memiliki perilaku-perilaku yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem ini. Fungsi dari industri propaganda adalah untuk melatih orang-orang agar punya jenis pemikiran dan kebiasaan tertentu.
e. Industri bioteknologi. Sistem ini memang belum secara fisik tergantung pada bioteknologi yang maju (sejauh yang saya tahu). Tapi tanpa kecuali, sistem ini tak dapat diberi keleluasaan dalam berjalan dengan isu bioteknologi, yang merupakan isu kritis sistem ini, sebagaimana yang akan diperdebatkan setelah ini. Sekali lagi: saat Anda menyerang organ-organ vital sistem ini,
sangatlah penting untuk tidak menyerang mereka dalam konteks nilai-nilai yang mereka anut sendiri, melainkan dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan pandangan sistem ini. Misalnya, apabila Anda menyerang industri tenaga listrik dalam konteks bahwa industri tersebut menghasilkan polusi bagi lingkungan, sistem ini akan dengan mudah meredam protes dengan mengembangkan metode-metode yang lebih bersih dalam menghasilkan sumber daya listrik. Apabila memang sudah terlalu buruk situasinya, sistem ini dapat sepenuhnya beralih pada tenaga angin dan surya. Memang, upaya mengurangi kerusakan lingkungan sangat baik. Tetapi hal tersebut tidak akan mengakhiri sistem tekno-industrial. Hal tersebut juga tidak mewakili sebuah kemenangan atas nilai-nilai mendasar sistem ini. Untuk menyelesaikan segala urusan dalam penyerangan terhadap sistem, Anda harus menyerang generator-generator pembangkit tenaga listrik sebagai sesuatu yang prinsipil, berdasarkan argumen bahwa ketergantungan pada listrik telah membawa orang-orang menjadi tergantung pada sistem ini. Inilah landasan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sistem ini.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 6 9
BIOTEKNOLOGI MUNGKIN DAPAT MENJADI SASARAN TERBAIK BAGI PENYERANGAN POLITIS
Mungkin sasaran paling menjanjikan bagi penyerangan politis adalah industri bioteknologi. Walaupun secara umum berbagai revolusi diletupkan oleh sekelompok minoritas, sangatlah berguna untuk meraih dukungan, simpati, atau setidaknya persetujuan tertentu dari populasi secara umum. Gol-gol dari aksi yang politis adalah untuk mendapatkan dukungan atau persetujuan semacam itu. Apabila engkau mengkonsentrasikan penyerangan politismu, misalnya pada industri tenaga listrik, hal tersebut akan sulit mendapatkan dukungan di luar minoritas radikal, karena sebagian besar orang menolak mengubah cara hidup mereka, khususnya perubahan-perubahan yang menyulitkan mereka. Karena alasan ini, beberapa orang akan rela untuk meninggalkan ketergantungannya pada listrik. Tetapi orang-orang belum merasa bahwa diri mereka tergantung pada bioteknologi yang maju sebagaimana mereka tergantung pada listrik. Menyingkirkan bioteknologi tidak akan mengubah hidup mereka secara radikal. Secara kontras, hal tersebut mungkin akan dapat memperlihatkan pada orang-orang bahwa kesinambungan pengembangan bioteknologi akan mengubah cara hidup mereka dan menyapu bersih nilai-nilai manusia selama ini. Dengan demikian, dalam menentang bioteknologi, para radikal harus mampu memobilisasi dengan cara mereka sendiri yang merupakan perlawanan alamiah manusia terhadap perubahan. Dan bioteknologi adalah sebuah isu yang mana sistem ini tak akan dapat menanggung kehilangannya. Ia juga adalah sebuah isu yang mana sistem ini bakal perjuangkan hingga akhir, yang mana hal ini jelas adalah sesuatu yang kita butuhkan. Tetapi—saya ulangi sekali lagi—adalah hal yang hakiki untuk tidak menyerang bioteknologi dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini sendiri,
t e d k a c z y n s k i | 1 7 0
melainkan dalam konteks nilai-nilai yang tidak sesuai bagi sistem ini. Misalnya, apabila engkau menyerang bioteknologi, khususnya dengan berlandaskan pada alasan bahwa hal tersebut akan merusak lingkungan, atau bahwa pangan-pangan yang dimodifikasi secara genetik akan dapat merusak kesehatan, maka sistem ini dapat dan akan menyerap seranganmu dengan memberi celah untuk kompromi. Sistem akan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat pada riset genetik dan percobaan yang lebih teliti serta memberlakukan regulasi bagi tanaman-tanaman yang dimodifikasi secara genetik. Kegelisahan orang-orang lantas akan menyurut dan protes menjadi layu.
SEMUA BIOTEKNOLOGI HARUS DISERANG SEBAGAI SE-BUAH URUSAN PRINSIPIL
Maka, ketimbang memprotes konsekuensi negatif dari bioteknologi, engkau harus menyerang seluruh bioteknologi modern secara prinsipil, dengan alasan seperti (a) bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang merendahkan seluruh makhluk hidup; (b) bahwa hal tersebut memberi terlalu banyak kekuasaan ke tangan sistem ini; (c) bahwa hal tersebut secara radikal akan mengubah nilai-nilai dasar manusia yang telah eksis selama ribuan tahun; dan berbagai landasan lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sistem ini. Dalam merespon serangan jenis ini, sistem ini akan dipaksa untuk berdiri dan berjuang. Ia tak dapat menyerap seranganmu dengan membawanya pada isu yang lebih besar, karena bioteknologi berada di pusat seluruh perusahaan yang berteknologi maju, dan karena saat sistem ini mundur, ia tak akan hanya membuat langkah mundur secara taktis, ia akan terpaksa menerima kekalahan strategis besar dalam kode etiknya sendiri. Nilai-nilai tersebut akan diku- burkan dan pintu akan terbuka bagi serangan-serangan politis lebih
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 7 1
lanjut, yang akan menebang fondasi-fondasi sistem ini. Sekarang memang benar bahwa Dewan Representatif AS baru-baru ini melarang kloning manusia, dan setidaknya beberapa anggota kongres bahkan memberikan beberapa alasan yang tepat me- ngenainya. Dari yang kubaca, alasan-alasan tersebut berada dalam konteks religius, alasan-alasan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diterima secara teknologis. Dan hal seperti itulah yang patut diperhitungkan. Dengan demikian, keputusan para anggota kongres atas kloning manusia merupakan sebuah kekalahan sejati bagi sistem ini. Tetapi hal tersebut hanyalah sebuah kekalahan yang sangat, sangat, kecil, karena ruang lingkup pelarangannya masih sangat sempit—hanya sebagian kecil dari bioteknologi yang terpengaruh—dan lagipula karena dalam jangka waktu dekat di masa depan, kloning manusia secara praktis masih kecil kegunaannya bagi sistem ini. Tetapi aksi dari Dewan Representatif telah menunjukkan bahwa hal ini dapat menjadi sebuah titik lemah sistem ini, dan sebuah serangan yang lebih luas terhadap seluruh bioteknologi mungkin dapat menimbulkan kerusakan serius bagi sistem dan nilai-nilai yang dianutnya.
KAUM RADIKAL BELUM MENYERANG BIOTEK SECARA EFEKTIF
Beberapa dari kaum radikal memang menyerang bioteknologi, baik secara politis maupun secara fisik, tetapi sejauh yang saya ketahui mereka menjelaskan sikap penentangan mereka terhadap biotek dalam konteks nilai-nilai yang dianut oleh sistem ini. Keluhan-keluhan mereka adalah resiko kerusakan lingkungan dan dampak buruknya bagi kesehatan. Dan mereka tidak menyerang industri biotek di tempat yang mematikan. Sekali lagi dengan menggunakan analogi perkelahian fisik, anggap engkau harus mempertahankan dirimu dari serangan gurita
t e d k a c z y n s k i | 1 7 2
raksasa. Engkau tak akan mampu menyerang balik secara efektif dengan memutus tentakelnya. Engkau harus menyerang kepalanya. Dari apa yang kubaca tentang aktivitas-aktivitas mereka, para radikal yang bekerja melawan bioteknologi melakukan tak lebih dari upaya untuk memutuskan tentakel sang gurita. Mereka berusaha meyakinkan para petani biasa, secara individual, agar memutuskan untuk tidak menanam benih yang direkayasa secara genetik. Tetapi ada ribuan pertanian di Amerika, sehingga meyakinkan para petani secara individual menjadi sebuah cara yang sangat tidak efisien dalam penentangan terhadap rekayasa genetik. Akan lebih efektif apabila upaya persuasif itu dilakukan terhadap para ilmuwan riset yang terlibat dalam kerja-kerja bioteknologi, atau para eksekutif perusahaan seperti Monsanto, untuk meninggalkan industri bioteknologi. Para ilmuwan riset yang baik adalah mereka yang memiliki talenta khusus dan telah menjalani pelatihan yang ekstensif, sehingga mereka sulit untuk dicari penggantinya. Hal yang sama juga berlaku bagi para eksekutif perusahaan. Yakinkan beberapa saja dari mereka untuk meninggalkan biotek, dan ini akan memberikan kerusakan yang besar bagi industri bioteknologi daripada meyakinkan ribuan petani untuk tidak menanam bibit yang direkayasa secara genetik.
SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN
Amatlah terbuka argumen-argumen mengenai apakah saya benar saat berpikir bahwa bioteknologi adalah isu terbaik dalam upaya menyerang sistem secara politis. Tetapi jelas tak perlu diperdebatkan lagi bahwa kaum radikal dewasa ini telah membuang-buang energi mereka pada isu-isu yang hanya memiliki sedikit atau malah tidak ada relevansinya bagi kelangsungan hidup sistem teknologis ini. Dan bahkan saat mereka mengalamatkan isu-isunya dengan tepat, para radikal tidak menyerang di tempat yang mematikan. Maka daripada berderap pergi menuju tempat World Trade Sum-
esai, wawancara dan korespondensi | 173
mit berikutnya untuk mengeluarkan kemarahan atas globalisasi, kaum radikal lebih baik meluangkan waktunya untuk berpikir bagaimana menyerang sistem ini di tempat yang mematikan. Dengan cara legal, tentu saja.
t e d k a c z y n s k i | 1 7 4
Catatan Akhir.
- Sweatshop adalah adalah julukan dari para aktivis untuk pab-
rik-pabrik yang mereka anggap sangat memeras keringat pekerjanya [penerjemah].
1 7 5
7/ Kapalnya Orang-
orang Bodoh
PADA suatu ketika, seorang kapten dan para perwira dari sebuah kapal merasa yakin atas perjalanan mereka mengarungi lautan, penuh percaya diri dan bangga dengan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi gila. Mereka membelokkan kapal mereka ke utara dan berlayar hingga mereka berpapasan dengan gunung-gunung es dan gumpalan-gumpalan es terapung yang berbahaya, dan mereka tetap berlayar ke utara menuju perairan yang semakin berbahaya, semata-mata demi memberikan kesempatan pada diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan-perbuatan pelayaran yang jauh lebih brilian. Sebagaimana kapal tersebut mencapai garis lintang yang semakin tinggi, para penumpang dan awak kapal semakin merasa tak
t e d k a c z y n s k i | 1 7 6
nyaman. Mereka mulai berselisih di antara mereka sendiri dan mengeluhkan kondisi-kondisi hidup mereka. “Aku menggigil,” ujar seorang jurumudi, “Seakan inilah pelayaran terburuk yang pernah aku lakukan. Dek penuh dengan es; saat aku melongok keluar, angin menusukku seperti pisau menembus jaketku; setiap saat aku menghindari karang aku harus menggerakkan seluruh jemariku yang membeku; dan untuk semua itu aku hanya mendapatkan lima shilling per bulan yang menyedihkan!” “Kau pikir apa yang kamu terima itu buruk!” ujar seorang penumpang perempuan, “Aku tidak bisa tidur di malam hari karena dingin. Para perempuan di kapal ini tidak mendapatkan selimut sebanyak yang didapatkan para lelaki. Hal ini tidak adil!” Seorang kelasi Meksiko menimpali, “Chingado! Aku hanya mendapatkan setengah dari upah para pelaut Anglo. Kami membutuhkan banyak makanan untuk menjaga tubuh kami agar tetap hangat di tengah iklim seperti ini, dan aku tidak mendapatkan ja- tahku; para Anglo mendapatkan lebih banyak. Dan yang paling buruk dari semua hal tersebut adalah bahwa mereka selalu memberi perintah padaku dalam bahasa Inggris, bukannya Spanyol.” “Aku memiliki lebih banyak alasan untuk mengeluh dibanding siapapun juga,” ujar seorang kelasi Indian Amerika, “Apabila para muka pucat tidak merampok tanah-tanah leluhurku, aku tak akan berada di atas kapal ini, di sini di antara gunung es dan angin Arktik. Aku hanya mendayung kano di sebuah danau yang indah dan tenang. Aku layak diberi kompensasi. Dan pada akhirnya, sang kapten harus membiarkanku ikut bermain judi agar aku bisa mendapatkan uang.” Seorang homoseks turut berkata, “Kemarin seorang perwira pertama menghinaku karena aku melakukan oral seks. Aku berhak melakukan oral seks tanpa harus mendapatkan penghinaan.” “Bukan hanya manusia yang diperlakukan tak adil di atas kapal
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 7 7
ini,” seling seorang penyayang binatang yang berada di antara para penumpang, suaranya gemetar penuh kemarahan, “Kenapa, minggu lalu aku melihat perwira kedua menendang anjing kapal ini dua kali.” Salah seorang dari para penumpang adalah seorang profesor universitas. Dengan meremas-remas tangannya, ia menyatakan, “Semua ini mengerikan! Tak bermoral! Rasisme, seksisme, homofobia dan pengeksploitasian kelas pekerja! Ini adalah diskriminasi! Kita harus memiliki keadilan sosial: upah yang setara bagi kelasi Meksiko, upah lebih tinggi bagi semua kelasi, kompensasi bagi Indian, jumlah selimut yang sama bagi para perempuan, sebuah hak yang dijamin untuk melakukan oral seks, dan tak ada lagi tendangan terhadap anjing.” “Ya, ya!” seru para penumpang.“Aye-aye!” seru para awak kapal.“Ini semua adalah diskriminasi! Kita harus menuntut hak-hak kita!” Seorang awak kabin berdehem. “Ehm. Kalian semua memiliki alasan-alasan yang bagus untuk dikeluhkan. Tetapi bagiku tampaknya apa yang harus kita lakukan adalah memutar kapal ini dan berlayar kembali menuju selatan, karena apabila kita terus berlayar ke utara sudah pasti cepat atau lambat kita akan tenggelam, dan kemudian, upah kalian, selimut kalian, hak kalian untuk melakukan oral seks, tak akan berguna lagi, karena kita semua tenggelam.” Tetapi tak seorangpun yang memperhatikan dirinya, karena ia hanyalah seorang awak kabin. Sang kapten dan para perwira, dari stasiun mereka di atas dek buritan, telah melihat dan mendengarkan. Kini mereka tersenyum dan berkedip pada sesamanya, dan dengan satu gerakan saja dari sang kapten, seorang perwira ketiga turun dari atas dek buritan, melangkah menuju ke tempat di mana para penumpang dan awak
t e d k a c z y n s k i | 1 7 8
kapal berkumpul, sambil menembus kerumunan. Ia memasang mimik muka serius di wajahnya dan lantas berkata : “Kami para perwira menyatakan bahwa beberapa hal yang tak termaafkan sedang terjadi di kapal ini. Kami tidak menyadari seberapa buruk situasinya hingga kami mendengar keluhan-keluhan kalian. Kami adalah orang-orang yang beritikad baik dan ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar bagi kalian. Tetapi, yah, sang kapten cenderung konservatif dan melakukan caranya sendiri, dan mungkin harus sedikit didorong dulu sebelum ia membuat beberapa perubahan-perubahan yang substansial. Menurut pendapatku pribadi, apabila kalian memprotes dengan giat-tetapi dengan tetap damai dan tanpa melanggar aturan-aturan di atas kapal ini-kalian akan menggoyangkan sang kapten dari kebekuannya dan memaksanya agar mengurusi masalah-masalah yang baru saja kalian ke- luhkan.” Setelah mengatakan hal tersebut, perwira ketiga tersebut kembali ke atas dek buritan. Sebagaimana ia pergi, para penumpang dan awak kapal berseru kepadanya, “Moderat! Reformis! Liberal yang sok baik! Kakitangannya kapten!” Tetapi mereka melakukan juga apa yang diucapkan sang perwira. Mereka berkumpul di sebuah sisi kapal di hadapan dek buritan, meneriakkan hinaan-hinaan terhadap para perwira dan mengajukan tuntutan untuk hak-hak mereka, “Aku ingin upah lebih tinggi dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik,” seru jurumudi. “Jumlah selimut yang sama bagi perempuan,” seru sang penumpang perempuan. “Aku ingin menerima perintah dalam bahasa Spanyol,” seru sang kelasi Meksiko. “Aku ingin mendapatkan hak untuk mengikuti permainan judi,” seru sang kelasi Indian. “Aku tidak ingin dihina,” seru sang homoseks.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 7 9
“Tak ada lagi yang menendang anjing,” seru sang penyayang binatang. “Revolusi sekarang juga,” seru sang profesor. Sang kapten dan para perwira berkumpul dan melakukan rapat selama beberapa menit, saling berkedip, mendengus dan tersenyum beberapa saat antara satu sama lain. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan, dengan memperlihatkan itikad baiknya, menyatakan bahwa upah sang kelasi yang cakap akan dinaikkan sebanyak enam shilling per bulan; upah kelasi Meksiko akan dinaikkan sebanyak dua pertiga dari kelasi Anglo, dan perintah untuk menjalankan kapal akan diucapkan dalam bahasa Spanyol; para penumpang perempuan akan menerima tambahan satu selimut; kelasi Indian akan diperbolehkan untuk bermain judi setiap Sabtu malam; sang homoseks tak akan dihina selama ia tetap melakukan oral seks di tempat yang tertutup; dan anjing tak akan ditendang kecuali anjing tersebut melakukan tindakan yang benar-benar nakal, seperti mencuri makanan dari dapur. Para penumpang dan awak kapal merayakan keputusan-keputusan tersebut sebagai sebuah kemenangan besar, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas. “Enam shilling per bulan itu terlalu sedikit, dan jari-jariku masih membeku saat aku menjalankan kapal,” umpat sang juru mudi. “Aku masih tidak mendapatkan upah yang sama dengan para kelasi Anglo, ataupun makanan yang cukup untuk iklim yang seperti ini,” ujar sang kelasi Meksiko. “Kami perempuan masih tidak mendapat cukup selimut untuk membuat badan kami hangat,” ujar sang penumpang perempuan. Para kelasi dan penumpang lain menyuarakan keluhan-keluhan yang serupa, dan sang profesor mengambil kesimpulan dari semuanya.
t e d k a c z y n s k i | 1 8 0
Saat mereka semua telah selesai berbicara, sang awak kabin berkata-kali ini dengan suara lebih keras sehingga yang lain tak akan lagi tak memperhatikannya. “Memang sangat buruk apabila anjing tersebut ditendang hanya karena mencuri sedikit roti dari dapur, dan apabila para perempuan tidak mendapatkan jumlah selimut yang setara, dan sang jurumudi membeku jemarinya, dan aku juga tidak melihat alasan mengapa homoseks tidak boleh melakukan oral seks kapanpun ia mau. Tetapi perhatikan seberapa tebal gunung-gunung es sekarang, dan bagaimana hembusan angin semakin kencang dan semakin kencang! Kita harus mengubah arah kapal ini kembali ke selatan, karena apabila kita tetap meluncur ke utara kita akan menabrak dan tenggelam.” “Oh ya,” ujar sang homoseks, “Bukankah mengerikan apabila kita terus berlayar ke utara. Tetapi mengapa aku harus melakukan oral seks di tempat tertutup? Mengapa aku harus mendapat penghinaan? Bukankah aku setara dengan orang lainnya?” “Berlayar menuju utara memang mengerikan,” ujar sang penumpang perempuan, “Tetapi tidakkah kau lihat? Itu alasannya mengapa perempuan membutuhkan lebih banyak selimut agar tetap hangat. Aku menuntut jumlah selimut yang setara bagi perempuan, sekarang juga!” “Cukup benar,” ujar sang profesor, “Bahwa berlayar ke utara memberikan kesulitan-kesulitan pelayaran yang lebih besar bagi kita semua. Tetapi mengubah arah haluan ke selatan jelas tidak realistis. Engkau tak dapat mengembalikan waktu. Kita harus bersikap dewasa dalam berurusan dengan situasi seperti ini.” “Lihat,” ujar sang awak kabin, “Apabila kita membiarkan empat orang gila di dek buritan itu menjalankan apa yang mereka mau, kita semua akan tenggelam. Apabila kita dapat membawa kapal ini keluar dari bahaya, maka barulah kita bisa mulai khawatir tentang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 8 1
kondisi-kondisi kerja, selimut bagi para perempuan, hak untuk melakukan oral seks. Tetapi pertama-tama kita harus membuat kapal ini berbalik arah. Apabila beberapa dari kita bekerjasama, membuat rencana dan memperlihatkan sedikit keberanian, kita dapat menyelamatkan diri kita semua. Tidak perlu terlalu banyak-enam atau delapan orang saja cukup. Kita dapat mengambil alih buritan, menyingkirkan mereka dari posisinya, dan membelokkan kapal ke arah selatan.” Sang profesor mendenguskan hidungnya dan bersuara keras, “Aku tidak percaya pada kekerasan. Itu tak bermoral.” “Sangat tidak etis untuk menggunakan kekerasan,” ujar sang homoseks. “Aku takut pada kekerasan,” ujar sang penumpang perempuan. Sang kapten dan para perwira telah melihat dan mendengarkan selama beberapa saat. Dengan sebuah sinyal dari sang kapten, perwira ketiga melangkah turun ke dek utama. Ia melangkah menuju ke arah para penumpang dan awak kapal, berkata pada mereka bahwa masih juga banyak masalah di atas kapal. “Kita telah membuat beberapa kemajuan,” ujarnya, “Tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Kondisi-kondisi kerja bagi jurumudi masih sulit, kelasi Meksiko masih mendapat upah yang tak setara dengan kelasi Anglo, para perempuan masih juga tidak mendapatkan selimut yang sama banyak dengan para lelaki, permainan judi Sabtu malam bagi sang Indian juga masih berupa kompensasi yang jauh dari cukup atas tanahnya yang hilang, sama sekali tak adil bagi homoseks apabila ia hanya boleh melakukan oral seks di tempat tertutup, dan anjing itu masih juga ditendang. “Aku pikir sang kapten harus didorong lagi. Akan sangat membantu apabila kalian menyelenggarakan protes lagi-selama tidak dengan kekerasan.” Sebagaimana sang perwira ketiga berjalan kembali ke buritan, para penumpang dan awak kapal mengeluarkan hinaan-hinaan pa-
t e d k a c z y n s k i | 1 8 2
danya, tetapi mereka juga tetap menjalankan apa yang sang perwira katakan dan berkumpul di depan buritan untuk melakukan protes lagi. Mereka berseru dan mengoceh serta mengacungkan kepalan tangan mereka, dan bahkan mereka juga melemparkan sebuah telur busuk pada sang kapten (yang mana dengan lihai ia mengelak). Setelah mendengarkan keluhan-keluhan mereka, sang kapten dan perwira berkumpul dan melakukan sebuah rapat, yang mana selama rapat mereka saling berkedip dan meringis dengan sesamanya. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan menyatakan bahwa sang jurumudi akan diberi sarung tangan agar jemarinya tetap hangat, kelasi Meksiko akan menerima upah yang setara dengan tiga per empat upah kelasi Anglo, para perempuan akan mendapatkan tambahan selimut, kelasi Indian diperbolehkan berjudi pada Sabtu malam dan Minggu malam, sang homoseks diperbolehkan melakukan oral seks di manapun setelah hari gelap, dan tak ada seorangpun yang boleh menendang anjing tanpa seijin kapten kapal. Para penumpang dan awak kapal bergembira atas kemenangan revolusioner besar ini, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas dan mulai menggerutu atas kesulitan-kesulitan yang sama dalam pelayaran tersebut. Kali ini sang awak kabin menjadi marah. “Kalian tolol!” teriaknya, “Tidakkah kalian lihat apa yang sang kapten dan para perwiranya lakukan? Mereka terus membuat kalian berpikir pada kesialan-kesialan tak penting seperti selimut dan upah dan anjing yang ditendang sehingga kalian tidak akan berpikir tentang apa yang sebenarnya salah dengan kapal ini-bahwa kapal ini terus berlayar semakin dan semakin jauh ke utara dan kita semua akan tenggelam. Apabila saja beberapa dari kalian sadar, bekerjasama, dan mengambil alih buritan, kita dapat memutar arah kapal ini dan menyelamatkan kita semua. Tapi semua yang kalian lakukan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 8 3
hanyalah mengeluhkan isu-isu remeh seperti kondisi-kondisi kerja dan permainan judi dan hak untuk melakukan oral seks.” Para penumpang dan awak kapal mulai naik darah. “Menyedihkan!” seru sang Meksiko, “Apakah pikirmu memang wajar kalau aku hanya mendapatkan tiga per empat upah seorang kelasi Anglo? Bukankah itu menyedihkan?” “Bagaimana bisa engkau menyebut kesialanku ini tidak penting?” seru sang homoseks, “Tidakkah engkau tahu bahwa dihina itu sangat menyakitkan?” “Menendang anjing itu bukanlah sebuah isu yang remeh!” seru sang penyayang binatang, “Hal tersebut tak berperasaan, kejam dan brutal!” “Baiklah kalau begitu,” jawab sang awak kabin, “Isu-isu tersebut tidak remeh dan itu semua penting. Menendang anjing adalah tindakan yang kejam dan brutal, serta sangat menyakitkan kalau dihina. Tetapi dibandingkan dengan masalah utama kita-dibandingkan pada fakta bahwa kapal kita masih mengarah ke utara -kesialan-kesialan kalian menjadi sesuatu yang remeh dan tak penting, karena apabila kita tidak sesegera mungkin mengubah arah kapal ini, kita semua akan tenggelam.” “Fasis!” ujar sang profesor. “Kontra-revolusioner !” ujar sang penumpang perempuan. Dan seluruh penumpang serta awak kapal saling berbicara di antara mereka sendiri, menyebut sang awak kabin sebagai seorang fasis dan kontra-revolusioner. Mereka mendorong sang awak kabin ke pinggir dan kembali menggerutu tentang upah, tentang selimut bagi para perempuan, dan tentang hak untuk melakukan oral seks, dan juga tentang bagaimana anjing harus diperlakukan. Kapal tersebut tetap berlayar ke arah utara, dan setelah beberapa saat, kapal tersebut terjepit hingga hancur di antara dua buah gunung es dan semua orang tenggelam.
Bagian 2 WAWANCARA
1 8 5
8/ Wawancara Ted Kaczynski
dengan Theresa Kintz
Wawancara ini dilakukan oleh Theresa Kintz, mantan editor Earth First! Journal pada 1999. Pertama kali terbit di majalah Green Anarchist (57/58).
KISAH Kaczynski mewakili sebuah anekdot: “Dahulu kala ada sebuah benua yang ditutupi dengan hutan belantara yang indah, di mana pohon-pohon raksasa menjulang di atas lereng gunung yang rimbun dan sungai-sungai mengalir liar dan bebas melalui padang pasir, di mana burung elang melonjak dan berang-berang bekerja keras dan orang-orang hidup selaras dengan alam liar, melaksanakan setiap tugas yang harus mereka sele- saikan tiap harinya hanya dengan menggunakan batu, tulang, dan kayu, berjalan dengan perlahan di Bumi. Kemudian datang para penjelajah, penakluk, misionaris, tentara, pedagang dan pendatang
t e d k a c z y n s k i | 1 8 6
dengan teknologi canggih, senjata, dan pemerintahan. Kehidupan liar yang telah ada selama ribuan tahun mulai sekarat, dibunuh oleh penyakit yang dibawa oleh kemajuan versinya alien, dengan visi yang arogan tentang takdir dan ilmu pengetahuan praktis. Hanya dalam 500 tahun, hampir semua pohon raksasa telah ditebang habis dan bahan kimia sekarang meracuni sungai; elang menghadapi kepunahan dan karya berang-berang telah digantikan oleh Korps Insinyur Angkatan Darat. Dan bagaimana nasib orang-orang itu? Kesimpulan tiap orang berbeda, tergantung pada seberapa orang itu terlibat secara ekonomi, emosional dan fisik di dunia teknologi yang kompetitif ini dan tingkat hak istimewa yang diberikan oleh sistem. Tetapi bagi mereka yang merasakan hubungan cinta dan kerinduan yang mendalam dengan hutan belantara dan keliaran yang dulu, bagi jutaan orang yang sekarang penuh sesak di kota-kota, yang miskin dan tertindas, yang tidak dapat menemukan target yang jelas untuk kemarahan mereka karena sistemnya begitu mahakuasa, orang-orang ini bernasib malang. Di sekitar kita, sebagai akibat dari keserakahan manusia dan kurangnya rasa hormat terhadap semua kehidupan, alam liar dan makhluk-makhluk Ibu Bumi menderita. Makhluk-makhluk ini adalah korban dari masyarakat industri. Memotong tali berdarah, itulah yang kami rasakan, kegembiraan dengan mengigaukan kemerdekaan, kelahiran kembali dengan mundur ke dalam kebebasan purba, ke dalam kebebasan dalam pengertian yang paling sederhana, paling harfiah, primitif, satu-satunya makna yang benar-benar diperhitungkan. Kebebasan, misalnya, untuk melakukan pembunuhan dan lolos tanpa hukuman, tanpa beban lain selain lingkaran hati nurani yang riang. Ya Tuhan! Aku berpikir, betapa luar biasa hal yang kita lakukan dalam sebagian besar hidup kita —rutinitas rumah tangga, pekerjaan yang tidak berguna dan merendahkan martabat, arogansi
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 8 7
politisi terpilih yang memuakkan, kecurangan dan iklan licik para pengusaha, perang yang membosankan di mana kita membunuh teman-teman kita dan bukannya musuh kita yang sebenarnya di ibu kota, kota-kota yang kotor, yang mengerikan dan berpenyakit yang kita tinggali, tirani kecil tanpa henti dari mesin cuci otomatis, mobil dan mesin TV dan telepon! Ah astaga!,... sampah yang tak tertahankan dan omong kosong yang sama sekali tidak berguna yang kita kubur hari demi hari, sementara disaat bersamaan dengan sabar menanggung eksekusi mati tiap orang kaya kerah putih! Begitulah yang aku pikirkan —kamu tidak akan menyebutnya pikiran bukan?— begitulah perasaanku, campuran antara rasa jijik dan senang, saat kami hanyut di sungai, untuk sementara meninggalkan semua yang paling kami benci dengan riang gembira. Itulah yang pertama kali dilakukan oleh rasa liar pada seorang manusia, setelah terlalu lama terkurung di kota. Tidak heran pihak berwenang sangat ingin menutupi hutan belantara di bawah aspal dan waduk. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Bermain aman. Main ski hanya sea- rah jarum jam. Mari kita semua bersenang-senang bersama.” — Edward Abbey, Desert Solitaire, 1968
“Saya membaca Edward Abbey di pertengahan tahun delapan puluhan dan itu adalah salah satu hal yang memberi saya ide bahwa, ‘ya, ada orang lain di luar sana yang memiliki sikap yang sama dengan saya.’ Saya membaca The Monkeywrench Gang, kalau tidak salah. Tapi apa yang pertama kali memotivasi saya bukanlah apa pun yang saya baca. Saya baru saja marah saat melihat mesin-mesin menghancurkan hutan dan sebagainya...” — Dr. Theodore Kaczynski, dalam sebuah wawancara dengan Earth First! Jurnal, Penjara Fasilitas Maksimum Administratif, Florence, Colorado, AS, Juni 1999.
t e d k a c z y n s k i | 1 8 8
Theodore Kaczynski mengembangkan sikap negatif terhadap sistem tekno-industrial di masa muda dalam hidupnya. Saat itu pada tahun 1962, selama tahun terakhirnya di Harvard, lebih jelas- nya, adalah saat dia mulai merasakan kekecewaan terhadap sistem tersebut. Dan dia bilang dia merasa cukup sendirian. “Pada tahun enam puluhan ada beberapa kritik terhadap teknologi, tetapi sejauh yang aku tahu tidak ada orang yang menentang sistem teknologi seperti itu... Baru pada tahun 1971 atau 72, tak lama setelah aku pindah ke Montana, aku membaca buku Jaques Ellul, The Technological Society. Buku itu adalah sebuah mahakarya. Aku sangat antusias ketika membacanya. Aku bilang, ‘lihat, orang ini mengatakan hal-hal yang selama ini ingin aku katakan.’” Mengapa? tanya saya. Apakah dia secara pribadi menentang teknologi? Tanggapan langsungnya adalah, “Menurutmu? Teknologi menjadikan manusia sebagai onderdil mesin-mesin, ia menghilangkan otonomi dan kebebasan kita. ” Tapi jelas ada alasan lain selain itu. Seiring dengan kemarahan yang dia rasakan terhadap mesin, kata-katanya mengungkapkan cinta buta untuk tempat yang sangat istimewa di alam liar Montana. Dia paling bersemangat, berbicara paling berapi-api, saat menceritakan kisah-kisah tentang kehidupan gunung yang dia ciptakan di sana dan kemudian berusaha mempertahankan diri dari gangguan sistem. “Sebenarnya aku tidak terlalu berorientasi politik. Aku lebih suka tinggal di hutan. Jika tidak ada yang memotong jalan di sana dan menebang pohon dan datang dengan helikopter dan mobil salju, aku masih akan tinggal di sana dan seluruh dunia bisa mengurus dirinya sendiri. Aku terlibat dalam masalah politik karena aku didorong terdorong melakukannya, asal kamu tahu.” Kaczynski pindah ke sebuah kabin yang ia bangun sendiri di dekat Lincoln, Montana pada tahun 1971. Dekade pertamanya di sana ia fokus untuk memperoleh keterampilan primitif yang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 8 9
memungkinkannya hidup mandiri di alam liar. Dia menjelaskan bahwa keinginan untuk melakukan ini telah menjadi bagian dari jiwanya sejak kecil. “Tidak diragukan lagi bahwa alasanku keluar dari sistem teknologi adalah karena aku pernah membaca tentang cara hidup yang berbeda, khususnya cara hidup masyarakat primitif. Ketika aku berusia sekitar sebelas tahun, aku ingat pergi ke perpustakaan lokal kecil di Evergreen Park, Illinois. Mereka memiliki seri buku yang diterbitkan oleh Smithsonian Institute yang membahas berbagai bidang ilmu pengetahuan. Antara lain, aku membaca tentang antropologi dalam buku tentang prasejarah manusia. Aku rasa itu menarik. Setelah membaca beberapa buku lagi tentang manusia Neanderthal dan sebagainya, aku jadi gatal untuk membaca lebih banyak. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, mengapa? dan aku menyadari bahwa apa yang sebenarnya aku inginkan bukanlah membaca buku lainnya, tetapi aku hanya ingin hidup seperti itu.” Kaczynski mengatakan dia mulai secara serius belajar bagaimana mengidentifikasi tanaman liar yang dapat dimakan, melacak hewan dan meniru teknologi primitif, melakukannya seolah itu adalah me- ngerjakan tugas kuliah. “Bertahun-tahun yang lalu aku biasa membaca buku-buku seperti, misalnya, ‘Lives of Game Animals’ karya Ernest Thompson Seton untuk mempelajari perilaku hewan. Tetapi hingga titik tertentu, setelah tinggal di hutan untuk sementara waktu, aku mulai malas membaca catatan ilmiah apa pun. Dalam beberapa hal, membaca apa yang dikatakan ahli biologi profesional tentang satwa liar itu bagiku malah merusak atau mencemarinya. Yang terpenting bagiku adalah pengetahuan tentang satwa liar yang aku peroleh melalui pengalaman pribadiku.” Kaczynski berbicara panjang lebar tentang kehidupan yang dia jalani di kabin kecilnya yang tak dialiri listrik dan air. Gaya hidup dan kabin inilah yang sebenarnya akan digunakan pengacaranya untuk mencoba mempertanyakan kewarasannya selama persidang-
t e d k a c z y n s k i | 1 9 0
an. Itu adalah strategi pertahanan yang Kaczynski rasa sangat menyinggung perasaannya. Kami berbicara tentang rincian rutinitas hariannya. “Aku punya beberapa pengalaman dalam mengenali tanaman liar yang dapat dimakan,” katanya dengan bangga, “ini tentu saja salah satu kegiatan paling memuaskan yang aku ketahui, pergi ke hutan dan mencari hal-hal yang enak untuk dimakan. Tetapi masalahnya di Montana, hanya ada sedikit makanan nabati yang bertepung, berbeda dengan hutan di Amerika Timur. Ada akar-akaran yang dapat dimakan, tetapi biasanya ukurannya kecil dan distribusinya terbatas. Yang paling bagus biasanya tumbuh di daerah yang lebih rendah yang merupakan daerah pertanian, yang sebenarnya ada di peternakan, dan peternak mungkin tidak ingin kamu menggali padang rumput mereka, jadi makanan bertepung adalah makanan beradab. Jadi aku membeli tepung, beras, tepung jagung, gandum gulung, susu bubuk dan minyak goreng.” Kaczynski menyesal karena tidak pernah bisa mewujudkan tiga hal: membuat panah yang bisa dia gunakan untuk berburu, membuat sepasang sepatu kulit rusa yang bagus yang bakal tahan kalau dipakai mendaki harian seperti dia lakukan di lereng bukit berbatu, dan belajar cara membuat api secara konsisten tanpa menggunakan korek api. Dia bilang dia menyibukkan diri dan bahagia dengan ke- hidupannya yang menyendiri. “Satu hal yang aku temukan ketika tinggal di hutan adalah bahwa kamu tidak khawatir tentang masa depan, kamu tidak khawatir tentang kematian. Jika keadaannya baik saat ini, kamu pasti berpikir, ‘okey, kalau saya mati minggu depan, tak apa, semuanya baik-baik saja sekarang.’ Kalau tidak salah Jane Austen yang menulis dalam salah satu novelnya, kalau kebahagiaan itu selalu sesuatu yang kita antisipasi di masa depan, bukan sesuatu yang kita miliki saat ini. Tidak melulu seperti itu. Mungkin itu benar dalam kehidupan beradab, tetapi ketika kamu keluar dari sistem dan beradaptasi kembali dengan cara hidup yang berbeda,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 9 1
kebahagiaan seringkali menjadi sesuatu yang kamu miliki saat ini.” Dia dengan mudah mengakui bahwa dia melakukan beberapa tindakan sabotase selama tahun tujuh puluhan, tetapi ada saatnya ketika dia memutuskan untuk mencurahkan lebih banyak energi untuk memerangi sistem. Dia mengisahkan pemantiknya: “Tempat terbaik bagiku, adalah sisa terbesar dari dataran tinggi yang berasal dari zaman tersier. Ini semacam wilayah bergulir, tidak datar, dan ketika kamu sampai ke ujungnya kamu menemukan jurang-jurang yang sangat curam ke pinggiran seperti tebing dan bahkan ada air terjun di sana. Itu sekitar dua hari mendaki dari kabinku. Itu adalah tempat terbaik, sampai kemudian datang musim panas 1983. Musim panas tahun itu ada terlalu banyak orang di sekitar kabin, jadi aku memutuskan kalau aku membutuhkan kedamaian. Aku kembali ke dataran tinggi dan ketika aku sampai di sana aku menemukan mereka telah membuat jalan tepat di tengah-tengahnya.” Ted terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Kamu tidak bisa membayangkan betapa kesalnya aku. Sejak saat itulah aku memutuskan bahwa, daripada mencoba untuk memperoleh keterampilan hutan belantara lebih lanjut, aku akan bekerja untuk kembali ke sistem. Pembalasan dendam. Itu bukan pertama kalinya aku melakukan sabotase, tetapi pada saat itu, hal semacam itu menjadi prioritas bagiku... Aku berusaha secara sadar untuk membaca hal-hal yang relevan dengan masalah sosial, khususnya masalah teknologi. Untuk satu hal, perhatianku adalah untuk memahami bagaimana masyarakat berubah, dan untuk tujuan itu aku membaca antropologi, sejarah, sedikit sosiologi dan psikologi, tetapi kebanyakan antropologi dan sejarah.” Kaczynski segera sampai pada kesimpulan bahwa strategi reformis yang hanya menyerukan “perbaikan” sistem saja tidaklah cukup, dan dia mengaku sedikit percaya pada gagasan bahwa perubahan massal dalam hal kesadaran suatu hari nanti mungkin dapat meru-
t e d k a c z y n s k i | 1 9 2
sak sistem teknologi. “Aku tidak berpikir itu bisa dilakukan. Sebagian karena kecenderungan manusia, yang bagi kebanyakan orang, meski ada pengecualian, untuk mengambil jalan yang paling aman perlawanannya. Mereka akan mengambil jalan keluar yang mudah, dan menyerahkan mobil, pesawat televisi, listrik, bukanlah jalan yang membuat kebanyakan orang tahan. Seperti yang aku lihat, aku tidak berpikir ada cara yang terkendali atau terencana di mana kita dapat membongkar sistem industri. Aku pikir satu-satunya cara kita akan menyingkirkannya adalah jika itu rusak dan runtuh. Itu sebabnya aku pikir konsekuensinya akan seperti Revolusi Rusia, atau keadaan seperti yang kita lihat di tempat lain di dunia saat ini seperti Balkan, Afghanistan, Rwanda. Hal ini, menurutku, menimbulkan dilema bagi kaum radikal yang mengambil sudut pandang non-kekerasan. Ketika hal-hal mulai runtuh, akan ada kekerasan dan ini menimbulkan pertanyaan. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar ingin menyebutnya sebagai pertanyaan moral, tetapi intinya adalah bagi mereka yang menyadari perlunya menghilangkan sistem tekno-industrial, jika kamu bekerja untuk keruntuhannya, pada dasarnya kamu membunuh banyak orang. Jika runtuh, akan terjadi kekacauan sosial, akan terjadi kelaparan, tidak akan ada lagi suku cadang atau bahan bakar untuk peralatan pertanian, tidak akan ada lagi pestisida atau pupuk yang dibutuhkan pertanian modern. Jadi tidak akan ada cukup makanan untuk dibagikan, lalu apa yang terjadi? Ini adalah sesuatu yang, sejauh yang aku baca, aku belum melihat ada para radikal yang coba menghadapinya. Pada titik ini Kaczynski meminta saya, sebagai seorang radikal, untuk menghadapi masalah ini. Saya bilang saya tidak tahu jawabannya. Dia mengatakan dia juga tidak, mengatupkan tangannya dan menatapku dengan seksama. Aksen Amerika tengah yang khas, pola bicara, dan bahasa sehari-hari yang dia gunakan begitu akrab dan saya memikirkan betapa dia mengingatkan saya pada profesor
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 9 3
saya dulu ketika menjadi mahasiswa antropologi, sejarah, dan filsafat politik di Ohio. Saya memutuskan untuk menceritakan kepadanya kisah tentang bagaimana salah satu penasihat pascasarjana saya, Dr. Resnick, yang juga alumni Harvard, pernah mengajukan pertanyaan berikut dalam sebuah seminar tentang legitimasi politik: Katakanlah sekelompok ilmuwan meminta pertemuan dengan politisi terkemuka di negara tersebut untuk membahas pengenalan penemuan baru. Para ilmuwan menjelaskan bahwa manfaat teknologi tidak terbantahkan, bahwa penemuan akan meningkatkan efisiensi dan membuat hidup semua orang lebih mudah. Satu-satunya ke- lemahan, mereka mengingatkan, adalah bahwa untuk memastikan hal itu berjalan, empat puluh ribu orang yang tidak bersalah harus terbunuh setiap tahun. Akankah politisi memutuskan untuk mengadopsi penemuan baru atau tidak? Seisi kelas hendak berargumen bahwa proposal seperti itu akan langsung ditolak mentah-mentah, lalu dia dengan santai berkata, “Kita sudah memilikinya —mobil.” Dia telah memaksa kita untuk merenungkan berapa banyak kematian dan penderitaan tak berdosa yang dialami masyarakat kita sebagai akibat dari komitmen kita untuk mempertahankan sistem teknologi —sebuah sistem yang telah eksis sejak kita semua dilahir- kan dan kita tidak punya pilihan selain mencoba dan beradaptasi dengannya. Semua orang bisa melihat masyarakat teknologi yang ada saat ini penuh kekerasan, opresif dan destruktif, tapi apa yang bisa kita lakukan? Lalu Kaczynski menanggapi: “Masalah besarnya adalah orang tidak percaya bahwa revolusi itu mungkin, dan itu tidak mungkin justru karena mereka tidak percaya itu mungkin. Untuk sebagian besar aku pikir gerakan eko-anarkis mencapai banyak hal, tetapi aku pikir mereka bisa melakukannya dengan lebih baik... Kaum revolusioner sejati harus memisahkan diri dari para reformis... Dan saya pikir akan lebih baik
t e d k a c z y n s k i | 1 9 4
jika sebuah upaya sadar dilakukan untuk mendapatkan sebanyak mungkin orang yang berkenalan dengan hutan belantara. Secara umum, aku pikir apa yang harus dilakukan bukanlah mencoba meyakinkan sebagian besar orang bahwa kita benar, tetapi mencoba meningkatkan ketegangan di masyarakat sampai pada titik di mana segala sesuatunya mulai runtuh. Untuk menciptakan situasi di mana orang merasa cukup tidak nyaman sehingga mereka akan memberontak. Jadi pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kamu meningkatkan ketegangan itu? Aku tidak tahu.” Kaczynski ingin berbicara tentang setiap aspek dari sistem tekno-industrial secara rinci, dan lebih jauh lagi, tentang mengapa dan bagaimana kita harus bekerja menuju kehancurannya. Itu adalah topik yang telah kami berdua pikirkan. Kami membahas aksi langsung dan batasan ideologi politik. Namun sejauh ini, diskusi yang paling menarik berkisar pada pandangan kami tentang keunggulan kehidupan liar dan alam liar. Menjelang akhir wawancara, Kaczynski menceritakan kisah mengharukan tentang hubungan dekat yang ia kembangkan dengan kelinci salju. “Ini agak pribadi,” dia mulai berbicara lagi, dan saya tanya apakah dia ingin rekamannya dimatikan. Dia mengatakan “tidak, aku bisa menceritakannya. Jadi, ketika aku tinggal di hutan, aku menemukan beberapa dewa untuk diriku sendiri,” dan dia tertawa. “Bukannya aku percaya pada hal-hal ini secara intelektual, tetapi itu adalah ide-ide yang sesuai dengan beberapa perasaan yang aku miliki. Aku pikir yang pertama aku temukan adalah Bapa Kelinci. Kamu tahu, kelinci salju adalah sumber daging utamaku selama musim dingin. Aku telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari apa yang mereka lakukan dan mengikuti jejak mereka di sekitarku sebelum aku bisa cukup dekat untuk menembak mereka. Kadang-kadang kamu bisa melacak kelinci di sekitarmu dan kemudian jejak itu menghilang. Kamu tidak dapat mengeta-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 9 5
hui kemana kelinci itu pergi dan kehilangan jejak. Aku menciptakan mitos untuk diri sendiri, bahwa ini adalah Bapa Kelinci, Bapa yang bertanggung jawab atas keberadaan semua kelinci lainnya. Dia bisa menghilang, itu sebabnya kamu tidak bisa menangkapnya dan mengapa kamu tidak akan pernah melihatnya... Setiap kali aku menembak kelinci salju, aku pasti berkata ‘terima kasih Bapa Kelinci.’ Setelah beberapa saat, aku memperoleh dorongan untuk menggam- bar kelinci salju. Aku benar-benar punya benda kayu yang, antara lain, aku ukir kelinci salju. Aku berencana untuk membuat yang lebih baik, hanya untuk kelinci salju, tetapi aku tidak pernah menyelesaikannya. Ada satu lagi yang kadang-kadang aku sebut Will ‘o the Wisp, atau sayap pagi.* Itu pas kamu pergi ke bukit di pagi hari dan kamu hanya merasa tertarik untuk terus berjalan dan terus dan terus, maka kamu mengikuti gumpalan. Itu adalah dewa lain yang saya ciptakan untuk diri saya sendiri.” Jadi Ted Kaczynski, yang tinggal di hutan belantara, seperti generasi masyarakat prasejarah sebelumnya, dengan polosnya menemukan kembali dewa-dewa hutan. Saya bertanya-tanya apakah dia merasa bahwa dewa-dewa itu telah meninggalkannya sekarang saat dia duduk menghadapi kehidupan di penjara tanpa kebebasan, tanpa ada lagi hubungan dengan alam liar, tidak ada yang tersisa dari kehidupan yang begitu penting baginya kecuali cinta tulusnya pada alam, kecintaannya pada pengetahuan dan komitmennya pada proyek revolusioner untuk mempercepat keruntuhan sistem tekno-industrial. Saya bertanya apakah dia takut kehilangan akal sehatnya, apakah keadaan yang dia alami sekarang akan mematahkan semangatnya? Dia menjawab, “Tidak, yang bikin aku khawatir adalah aku dalam arti tertentu beradaptasi dengan lingkungan ini dan menjadi nyaman di sini dan tidak membencinya lagi. Dan aku takut bahwa seiring berjalannya waktu aku mungkin lupa, aku mungkin mulai kehilangan ingatan tentang gunung dan hutan dan
t e d k a c z y n s k i | 1 9 6
itulah yang benar-benar mengkhawatirkanku, bahwa aku mungkin kehilangan ingatan itu, dan kehilangan rasa kontak dengan alam liar secara umum. Tapi aku tidak takut mereka akan mematahkan semangatku.” Dan dia menawarkan saran berikut kepada anarkis hijau yang berbagi kritiknya terhadap sistem teknologi dan ingin mempercepat keruntuhan, seperti yang dikatakan Edward Abbey, “raksasa penghancur peradaban industri”: “Jangan pernah kehilangan harapan, tetap gigih dan keras kepala dan jangan menyerah. Ada banyak contoh dalam sejarah di mana pecundang tiba-tiba berubah menjadi pemenang secara tak terduga, jadi kamu tidak boleh me- * nyimpulkan bahwa semua harapan telah sirna.”
F Tidak jelas apakah Kaczynski melihat fenomena “gumpalan bara” (giddy flame), yaitu cahaya hantu atmosfer yang terlihat oleh para pelancong di malam hari, terutama di atas rawa-rawa, atau lahan gambut. Di Kalimantan, kami juga memiliki mitos Kuyang yang kadang dideskripsikan sebagai bola api. Secara ilmiah, dijelaskan bahwa ini merupakan hasil dari proses oksidasi gas metana dan gas lainnya akibat penguraian material organik [penerjemah].
1 9 7
9/ Wawancara Ted Kaczynski
dengan John Jay Sentinel
*1. Theodore Kaczysnki (Unabomber) Menjawab Pertanyaan Tentang Bukunya dan Masyarakat
Theodore Kaczynski (Unabomber) menjalani hukuman di Florence, penjara negara bagian Colorado untuk pemboman di Amerika yang dimulai pada tahun 1978 dan berakhir dengan penangkap- annya pada tanggal 6 April 1996. Dia mengklaim bahwa alasannya melakukan ini adalah untuk mendapatkan perhatian dunia sehingga manifesto anti-teknologinya (Industrial Society and Its Future) dapat dibaca. Pada tahun 2010 kumpulan esai dan manifestonya diterbitkan dengan judul Technological Slavery.
t e d k a c z y n s k i | 1 9 8
Di bawah ini adalah wawancara tanya jawab eksklusif dengannya yang dilakukan melalui surat. *** Dalam paragraf 28 Industrial Society and Its Future (ISAIF) Anda menulis bahwa “tugas masyarakat untuk menjaga individu” adalah “nilai-nilai yang mengakar dalam masyarakat kita.”
Jika masyarakat kita yang Anda maksud adalah Amerika, maka bukankah itu artinya kapitalisme berpendapat ia juga menjaga
individu? Dalam paragraf 28 ISAIF saya mengatakan bahwa “tugas individu untuk melayani masyarakat dan tugas masyarakat untuk menjaga individu” adalah nilai-nilai yang mengakar dalam masyarakat modern. Anda bertanya bagaimana pernyataan ini dapat didamaikan dengan keberadaan kapitalisme. Sebenarnya pendamaian seperti itu tidak terlalu sulit. Tetapi kita harus ingat bahwa fenomena sosial begitu kompleks sehingga orang jarang dapat membuat pernyataan yang benar-benar akurat. Seseorang dapat mencoba meningkatkan keakuratan pernyataannya dengan menambahkan reservasi, kualifikasi, pengecualian, penjelasan…, tetapi untuk alasan praktis hal ini hanya dapat dilakukan sejauh ini. (Lihat ISAIF, paragraf 231) Akibatnya, apa yang dikatakan seseorang tentang suatu masyarakat biasanya hanya merupakan perkiraan kasar dari yang sebenarnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa pernyataan saya tentang “nilai yang mengakar” dapat menggunakan beberapa klarifikasi. Mungkin sejarawan mana pun akan setuju dengan pernyataan bahwa kesalehan Kristen adalah nilai yang mengakar di Eropa selama Abad Pertengahan, meskipun pada masa itu kebanyakan orang (termasuk mungkin sebagian besar pendeta) sering berperilaku dengan cara yang hampir tidak sesuai dengan kesalehan Kristen. Demikian pula, ketika saya mengatakan bahwa “tugas individu untuk
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 1 9 9
melayani masyarakat dan tugas masyarakat untuk menjaga individu” adalah nilai-nilai yang mengakar hari ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kebanyakan orang atau sebagian besar organisasi benar-benar berperilaku konsisten sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Yang saya maksud adalah bahwa nilai-nilai itu terus-menerus ditanamkan oleh media arus utama dan di sekolah-sekolah dan bahwa nilai-nilai itu jarang ditentang secara terbuka; mereka adalah nilai-nilai yang paling diyakini setengah sadar; dan itu adalah nilai-nilai yang biasa digunakan untuk membenarkan aktivitas organisasi besar. Tentu saja, perusahaan saat ini mencari uang dan kekuasaan, tetapi pembenaran yang ditegaskan untuk kegiatan mereka adalah bahwa persaingan ekonomi menghasilkan kekayaan bagi seluruh masyarakat. Dengan kata lain, dikatakan bahwa dengan mengurus diri sendiri, korporasi membantu mengurus semua orang. (Dan dalam arti materialistis ini benar dalam jangka pendek, karena ekonomi kapitalis memang menyediakan apa yang disebut “standar hidup yang lebih tinggi” daripada ekonomi sosialis.) Perusahaan diharapkan untuk menjaga karyawan mereka dengan menyediakan asuransi kesehatan, pensiun dan lain sebagainya. Korporasi dapat membelanjakan atau menyumbangkan uang untuk proyek-proyek yang tidak mendatangkan keuntungan langsung bagi mereka tetapi dianggap bermanfaat bagi publik (walaupun tentu saja tujuan sebenarnya korporasi adalah untuk menguntungkan diri mereka sendiri dengan meningkatkan citra publik mereka). Dan ketika seorang kapitalis seperti John D. Rockefeller atau Bill Gates menjadi sangat kaya sehingga dia bosan mencari uang, dia biasanya beralih ke “filantropi”, yaitu menghabiskan uang untuk mengurus orang. Jadi keberadaan kapitalisme sama sekali tidak bertentangan dengan pendapat saya bahwa “merawat orang” dan sebagainya, adalah nilai yang mengakar dalam masyarakat kita.
t e d k a c z y n s k i | 2 0 0
Kapitalisme mendorong individu dan atau organisasi untuk mencoba dan mengalahkan satu sama lain di pasar. Salah satu
taktik utama untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menciptakan teknologi unggul sebagai cara untuk menang melawan
pesaing. Jika Anda setuju dengan pernyataan ini, apakah menurut Anda kapitalisme membantu dominasi teknologi atas umat
manusia lebih dari bentuk pemerintahan lainnya? Dan apakah bermanfaat menghabiskan waktu untuk mencoba menghancur-
kan kapitalisme? Anda dengan tepat menunjukkan bahwa persaingan ekonomi di bawah kapitalisme mendorong perkembangan teknologi, karena teknologi unggul memberikan keunggulan kompetitif bagi mereka yang memilikinya. Anda kemudian bertanya apakah menurut saya kapitalisme mempromosikan dominasi teknologi lebih dari yang dilakukan sistem ekonomi lainnya. Ya, saya pikir begitu. Akhirnya, Anda bertanya apakah akan bermanfaat untuk menghabiskan waktu dan usaha untuk menghancurkan kapitalisme. Tidak, saya pikir itu tidak akan berguna, dan saya akan menjelaskan alasannya. Seseorang sampai taraf tertentu dapat menghambat kemajuan teknologi dengan menghilangkan atau mengurangi salah satu dari sejumlah hal; sebutkan tiga contoh saja, kapitalisme, globalisasi, dan sentralisasi. “Kapitalisme” (seperti sebutannya, mungkin kurang tepat) saat ini adalah sistem ekonomi yang paling kondusif bagi perkembangan teknologi. Jadi jika Anda dapat menyingkirkan kapitalisme, sampai batas tertentu Anda akan memperlambat kemajuan teknologi. Globalisasi berkontribusi pada efisiensi ekonomi dan teknologi karena ada keuntungan nyata pada sistem di mana sumber daya alam, manusia, dan teknik dapat dipindahkan secara bebas dari satu bagian ke bagian lain manapun di dunia dimana mereka mungkin dibutuhkan. Jadi, jika Anda dapat menghapus globalisasi dan secara
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 0 1
ekonomi mengisolasi setiap wilayah di dunia dari yang lain, kemajuan teknologi akan melambat secara signifikan. Kapitalisasi juga penting untuk kemajuan teknologi. Misalnya, untuk menjaga agar ekonomi AS berfungsi dengan baik, harus ada beberapa otoritas pusat untuk mengatur perbankan, mencetak uang, dan sebagainya, jika tidak, AS akan mengalami kesulitan yang sama seperti yang dialami Jerman sebelum penyatuannya pada tahun 1867-1871. Sebelumnya, pembangunan ekonomi Jerman telah terhambat secara signifikan oleh kurangnya sentralisasi; yaitu, oleh fakta bahwa sebagian besar Jerman dibagi menjadi banyak negara bagian kecil, yang masing-masing memiliki undang-undang perbankannya sendiri, mata uangnya sendiri, berat dan ukurannya sendiri, dan seterusnya. Untuk alasan ini dan banyak alasan lainnya, jika Anda entah bagaimana bisa menyingkirkan semua sentralisasi, maka pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi akan sangat terhambat. Jadi mengapa tidak menyerang sentralisasi? Pertama, untuk alasan yang akan saya sebutkan sebentar lagi, akan sangat sulit untuk menyerang sentralisasi dengan sukses. Sebuah gerakan harus memusatkan seluruh energinya pada serangan itu, dan bahkan jika itu berhasil secara substansial mengurangi sentralisasi, gerakan itu tidak akan mengakhiri teknologi modern, itu hanya akan memperlambat kemajuan teknologi sampai batas tertentu. Dengan kata lain, gerakan akan menggunakan energinya secara tidak efisien: energi dalam jumlah besar akan dikeluarkan dengan harapan hanya mendapatkan keuntungan yang sangat kecil. Lebih buruk lagi, dengan memusatkan energinya pada kampanye melawan sentralisasi, gerakan itu akan mengalihkan perhatian (milik sendiri dan orang lain) dari tujuan sebenarnya, yaitu menyingkirkan teknologi modern itu sendiri. Selain itu, saya berpendapat bahwa serangan terhadap sentralisasi tidak akan berhasil. Tentu saja, tidak ada kesulitan khusus
t e d k a c z y n s k i | 2 0 2
tentang desentralisasi dalam situasi di mana sentralisasi terbukti tidak efisien secara teknologi dan ekonomi. (Misalnya, kontrol terpusat yang berlebihan atas kegiatan ekonomi, atau dikenal sebagai sosialisme, sebagian besar telah mati karena tidak efisien.) Tetapi di mana sentralisasi mendorong efisiensi, kebanyakan orang akan dengan keras kepala menentang desentralisasi. Misalnya, jika Anda ingin membiarkan setiap provinsi mencetak mata uangnya sendiri secara independen dari provinsi lain, usulan Anda akan dianggap konyol. Bahkan jika tindakan seperti itu berhasil diterapkan, akibat buruknya —yaitu kekacauan moneter dan sebagainya— akan membuat marah banyak orang sehingga kontrol terpusat atas mata uang akan segera dipulihkan. Kenyataannya, di bawah kondisi modern, kecenderungan menuju sentralisasi merupakan akibat tak terelakkan dari prinsip seleksi alam (lihat Technological Slavery, halaman 280-285): Sistem yang lebih terpusat (di area di mana pemusatan akan menciptakan efisiensi) berkembang lebih baik daripada sistem yang kurang terpusat; karenanya, yang pertama cenderung berkembang dengan mengalahkan yang terakhir. Tak perlu dikatakan lagi, jika perkembangan di masa depan membuat pemusatan menjadi tidak efisien secara ekonomi dan teknologi, maka desentralisasi akan relatif mudah; tetapi kemudian serangan Anda terhadap sentralisasi akan mendorong kemajuan teknologi daripada memperlambatnya. Dalam kedua kasus tersebut, menyerang sentralisasi bukanlah cara yang efektif untuk melawan kemajuan teknologi. Argumen yang sangat mirip dengan yang di atas berlaku untuk segala upaya untuk menghilangkan kapitalisme. Agar memiliki harapan untuk melenyapkan kapitalisme, sebuah gerakan harus memusatkan seluruh energinya pada tugas itu, dan bahkan jika ia berhasil melenyapkan kapitalisme, keuntungannya akan sangat kecil, karena kemajuan teknologi akan terus berlanjut, meskipun pada
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 0 3
tingkat yang agak lambat. (Meskipun tidak ada kapitalisme di Uni Soviet, negara itu sama sekali bukan kekuatan yang dapat diabaikan secara teknologi. Kita semua tahu bahwa Uni Soviet adalah negara pertama yang menempatkan satelit buatan ke orbit; dan soviet mengembangkan pesawat jet pertama yang sukses di dunia, Tu-104.) Dengan demikian, gerakan anti-teknologi yang berfokus pada penghapusan kapitalisme akan menghabiskan energi yang sangat besar dengan imbalan keuntungan yang sangat kecil. Parahnya, dengan memusatkan perhatian pada kapitalisme, gerakan tersebut akan mengalihkan perhatiannya sendiri dan orang lain dari tujuan sebenarnya, yaitu menyingkirkan teknologi modern itu sendiri. Lebih jauh lagi, orang akan dengan keras menolak hilangnya efisiensi ekonomi yang diakibatkan oleh penggantian kapitalisme dengan sosialisme. Dan bahkan jika Anda entah bagaimana bisa menggantikan kapitalisme dengan sosialisme, kapitalisme akan segera muncul kembali dan menjadi dominan karena ia secara ekonomi dan teknologi lebih kuat daripada sosialisme. Ini sekali lagi dijamin oleh prinsip seleksi alam (Technological Slavery, halaman 280-285) dan ditegaskan oleh pengalaman: Ketika negara-negara sosialis di Eropa Timur tidak dapat mengimbangi Barat secara ekonomi atau teknologi, mereka kembali ke kapitalisme. Swedia du- lunya secara ideologis sosialis, tetapi secara praktis sosialisme tidak pernah benar-benar berkembang jauh di negara itu, dan Swedia saat ini masih kapitalis. Sementara tetap secara nominal sosialis, China demi pertumbuhan ekonomi sekarang memungkinkan banyak perusahaan swasta (yaitu, kapitalisme) dalam ekonominya. Diktator Venezuela, Hugo Chavez, berbicara tentang sosialisme, tetapi dalam praktiknya ia menyerahkan sebagian besar ekonomi negara itu ke tangan perusahaan swasta karena ia tidak ingin penurunan drastis dalam efisiensi ekonomi yang diakibatkan oleh penghapusan kapitalisme. Saya tahu hanya dua negara yang tersisa di dunia yang
t e d k a c z y n s k i | 2 0 4
tersisa dari kapitalisme: Kuba dan Korea Utara. Tidak ada yang mau meniru Kuba dan Korea Utara, karena mereka (dari sudut pandang materialistis) gagal secara ekonomi. Jadi, selama kita hidup di dunia teknologi, tidak mungkin kita bisa menyingkirkan kapitalisme, kecuali dan sampai digantikan oleh suatu sistem yang lebih efisien secara ekonomi dan teknologi. Argumen yang telah saya uraikan disini sehubungan dengan sentralisasi dan kapitalisme sama-sama berlaku untuk globalisasi, birokrasi, perusakan lingkungan, atau salah satu dari banyak kejahatan lain yang penghapusannya hanya akan merusak fungsi sistem teknologi tanpa benar-benar menghilangkan teknologi modern. Selama masyarakat tetap betah dengan nilai-nilai sistem teknologi, orang tidak akan menerima tindakan apa pun yang secara signifikan merusak fungsi sistem itu. Untuk membuat orang menerima tindakan seperti itu, pertama-tama Anda harus meyakinkan mereka bahwa “manfaat” teknologi modern yang seharusnya tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar untuk mereka. Dengan demikian, serangan ideologis Anda harus difokuskan pada teknologi modern itu sendiri. Upaya untuk menghilangkan kapitalisme, globalisasi, sentralisasi, atau kejahatan bawahan lainnya hanya dapat mengalihkan perhatian dari kebutuhan untuk menghilangkan teknologi modern. Mari kita bayangkan monster berkepala banyak, seperti dalam kartun yang menyertainya. Anda dapat mencoba untuk memotong kepala monster itu satu per satu, tetapi monster itu akan menumbuhkan kepala baru lebih cepat daripada yang bisa Anda potong. Satu-satunya cara untuk mengalahkan monster itu adalah dengan memotong satu leher dari mana semua kepala tumbuh. Jadi, mari kita lupakan diri untuk menyerang kapitalisme, globalisasi, birokrasi, atau kejahatan tertentu lainnya yang hanya terkait dengan kemajuan teknologi.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 0 5
*2. Kaczynski Kembali
Artikel ini adalah angsuran kedua dari seri tiga bagian tentang Theodore Kaczynski, sang Unabomber. Dalam angsuran ini, Kaczynski menjawab pertanyaan tentang kejahatan dan apa yang akan terjadi pada masyarakat jika teknologi dihancurkan. Jika Anda memiliki tanggapan, seperti pertanyaan atau balasan, tulis surat kepada editor. Di halaman 104, paragraf 210, Anda menulis, “tidak ada alasan untuk percaya bahwa ada orang yang tertarik untuk
membangun kembali masyarakat” jika masyarakat dihancurkan. Lalu mengapa manusia membangun teknologi sejak awal?
Dalam paragraf 210 ISAIF, saya mengatakan bahwa jika sistem tekno-industrial benar-benar rusak dan tetap rusak selama satu generasi atau lebih, “tidak ada alasan untuk percaya bahwa ada orang yang tertarik untuk membangun kembali masyarakat industri.” Anda bertanya: “Lalu mengapa manusia membangun teknologi sejak awal?” Setidaknya sampai abad ke-17, manusia tidak membangun teknologi karena kepentingan menciptakan masyarakat industri; kemajuan teknologi sampai saat itu merupakan proses yang tidak disadari dan tidak disengaja. Misalnya, dapat dikatakan bahwa orang yang menemukan sepatu kuda (inovasi teknis penting Abad Pertengahan) tidak melakukannya karena dia ingin membangun masyarakat yang berteknologi maju. Dia melakukannya hanya untuk memecahkan beberapa masalah dalam kehidupan pribadinya sendiri. Mungkin dia bosan dengan kecepatan lambat saat sapinya menarik gerobak. Dia tahu bahwa seekor kuda bisa berjalan lebih cepat daripada seekor lembu, tetapi sepatu yang digunakan dengan lembu tidak cocok untuk kuda, jadi dia merancang sebuah sepatu kuda yang memungkinkan kudanya menarik kereta. Baru sekitar abad ke-17 orang mulai menganggap kemajuan se-
t e d k a c z y n s k i | 2 0 6
bagai tujuan, dan itupun mungkin hanya sebagian kecil yang terdiri dari kaum intelektual yang berpikir tentang kemajuan. Saya ragu bahwa ada antusiasme yang meluas untuk kemajuan sebelum Revolusi Industri berlangsung selama akhir abad ke-18. Setelah itu, keyakinan akan kemajuan mungkin memang berkontribusi pada perkembangan teknologi. Tetapi bahkan kemudian kekuatan pendorong utama di balik kemajuan bukanlah aspirasi untuk membangun masyarakat yang maju secara teknologi, melainkan persaingan demi uang dan kekuasaan, ditambah kebutuhan akan kegiatan-kegiatan pengganti. Jika sistem tekno-industrial digulingkan hari ini, dunia akan di- turunkan ke tingkat teknologi yang lebih rendah dari Abad Pertengahan, karena banyak teknik abad pertengahan telah hilang. Tidak diragukan lagi, proses akumulasi teknologi yang lambat dan tidak disengaja sedikit demi sedikit akan terjadi lagi, seperti yang terjadi pertama kali. Ketika saya menulis bahwa tidak ada alasan untuk percaya bahwa ada orang yang tertarik untuk membangun kembali masyarakat industri, maksud saya adalah orang-orang tidak akan berkata, “Hei, mari kita cari tahu bagaimana membuat bola lampu dan generator sehingga kita dapat memiliki listrik,” atau “Mari kita ciptakan kembali mesin pembakaran internal dan kilang minyak sehingga kita dapat memiliki mobil.” Petani atau kesatria hanya akan peduli untuk mengolah tanah mereka dengan peralatan sederhana atau bertarung dengan tombak dan pedang; mereka tidak akan mengejar impian yang tidak praktis tentang traktor dan senapan mesin. Setiap upaya bersama untuk membangun kembali ekonomi industri akan menghasilkan keuntungan praktis yang signifikan hanya setelah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya — pengeluaran yang jauh lebih besar daripada yang mampu dilakukan oleh masyarakat di bawah abad pertengahan mana pun. Jadi, jika
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 0 7
masyarakat industri dapat dibangun kembali, ia hanya dapat dibangun kembali melalui proses lambat yang sama, yang berlangsung selama berabad-abad, seperti yang diperlukan pertama kali. Lihat ISAIF, paragraf 210-12, dan Technological Slavery, halaman 333-34.
2 0 9
10/ Wawancara dengan
Blackfoot Valley Dispatch
PADA tahun 1999 saya meminta wawancara dengan Theodore
J. Kaczynski untuk Blackfoot Valley Dispatch yang dengan rendah hati dia bersedia. Wawancara berlangsung pada tahun yang sama di Lembaga Pemasyarakatan Amerika Serikat, Administratif Maksimum, Florence, Colorado.
BDV: Nah… TJK: Yah. BVD: Nah, mengapa Anda meninggalkan pekerjaan Anda di Berkeley dan karir Anda di bidang matematika? TJK: Pada saat saya menerima pekerjaan di Berkeley, saya sudah memutuskan bahwa saya akan kerja paling lama dua tahun sebelum meninggalkannya untuk tinggal di hutan. Faktanya adalah bahwa saya tidak pernah merasa puas dengan gagasan menghabiskan hi-
t e d k a c z y n s k i | 2 1 0
dup saya hanya sebagai ahli matematika. Sejak awal masa remaja saya, saya telah bermimpi untuk melarikan diri dari peradaban — seperti tinggal di pulau tak berpenghuni atau di tempat liar lainnya. Masalahnya adalah bahwa saya tidak tahu bagaimana melakukannya, dan sangat sulit untuk mengumpulkan keberanian untuk melepaskan diri dari tambatan beradab dan pergi ke hutan. Ini sangat sulit karena terkadang kita tidak tahu seberapa besar pilihan yang kita buat diatur oleh harapan orang-orang di sekitar kita, dan fakta bahwa kita pergi dan melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh orang lain. Selain itu, sebenarnya saya tidak tahu harus pergi ke mana. Tetapi sekitar awal tahun terakhir saya di Universitas Michigan, saya mengalami semacam krisis. Anda dapat mengatakan bahwa rantai psikologis yang mengikat masyarakat kita agak terputus bagi saya. Setelah itu saya yakin bahwa saya memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari sistem, untuk lepas landas dan pergi ke suatu tempat liar dan mencoba untuk tinggal di sana. Ketika saya pergi ke Berkeley, saya tidak pernah pergi ke sana dengan niat untuk melanjutkan hidup di sana untuk selamanya. Saya mengambil pekerjaan di Berkeley hanya untuk mendapatkan uang untuk membeli sebidang tanah. BVD: Anda mengatakan bahwa ketika Anda masih remaja, Anda bermimpi untuk tinggal di tempat yang tidak berpenghuni. Apakah Anda ingat sesuatu yang membuat Anda memiliki mimpi-mimpi itu? Sesuatu yang Anda lihat atau alami? TJK: Tentu saja hal-hal yang saya baca mengarahkan saya ke sana. Robinson Crusoe, misalnya. Dan kemudian ketika saya mungkin berusia 11 dari 12 tahun, saya membaca beberapa buku antropologi tentang manusia Neanderthal dan perkiraan tentang cara mereka hidup dan sebagainya. Saya menjadi sangat tertarik untuk membaca tentang hal itu dan pada titik tertentu saya berta-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1 1
nya pada diri sendiri, mengapa saya ingin membaca lebih banyak tentang materi ini? Pada titik tertentu, saya sadar bahwa apa yang sebenarnya saya inginkan bukanlah membaca lebih banyak tentang hal-hal ini, tetapi benar-benar hidup seperti itu. BVD: Sangat menarik bahwa hal-hal ini sangat mempengaruhi Anda sehingga Anda benar-benar menindaklanjutinya. Menurut Anda apa yang menarik dari kehidupan atau gaya hidup Crusoe dan manusia Neanderthal? TJK: Saat itu saya rasa saya tidak tahu mengapa saya tertarik dengan cara hidup seperti itu. Sekarang saya pikir itu sangat berkaitan dengan kebebasan dan otonomi pribadi. BVD: Hal-hal itu pasti menarik bagi banyak orang. Jadi, mengapa mereka tidak melakukannya? TJK: Saya pikir banyak orang tertarik pada hal-hal ini, tetapi mereka tidak terlalu bertekad untuk benar-benar melepaskan diri dari ikatan mereka dan benar-benar pergi dan melakukan sesuatu seperti itu. Robinson Crusoe seharusnya menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca yang pernah ditulis. Jadi itu jelas menarik bagi banyak orang. [Seorang penyelidik untuk kasus saya] mengatakan bahwa dia sendiri sangat tertarik dengan cara hidup yang saya terapkan di Montana dan banyak orang lain yang dia ajak bicara tentang kasus saya juga sangat tertarik dengan hal itu. Dan banyak orang yang berbicara dengan penyelidik saya bilang bahwa mereka iri padaku. Faktanya, salah satu agen FBI yang menangkap saya berkata, “Saya sangat iri dengan cara hidup Anda di sini.” Jadi, ada banyak orang yang bereaksi seperti itu, tetapi mereka hanya terbawa arus dan tidak sampai pada titik di mana mereka melepaskan diri. BVD: Ketika Anda memisahkan diri, Anda pergi ke Lincoln, Montana. Mengapa Lincoln? TJK: Yah, pertama-tama saya mengajukan sewa atas sebidang ta-
t e d k a c z y n s k i | 2 1 2
nah di British Columbia. Setelah, saya pikir, lebih dari setahun, mereka menolaknya. Saya menghabiskan musim dingin berikutnya, musim dingin 1970-1971, di rumah orang tua saya di Lombard, Illinois. Sementara itu saudara laki-laki saya pergi untuk tinggal di Great Falls, Montana, di mana dia akhirnya mendapat pekerjaan di pabrik peleburan Perusahaan Anaconda. Pada suatu saat selama musim dingin itu dia menyebutkan dalam sebuah surat kepada ibu saya bahwa jika saya ingin membeli sebidang tanah di negara bagiannya, dia mau membayar separuhnya. Jadi selama musim semi saya pergi ke Great Falls, muncul di apartemennya, dan menerima tawarannya. Dengan kepasifan yang khas, dia serahkan saya untuk mencari sendiri sebidang tanah. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya pergi ke barat di Highway 200, yang pada waktu itu kalau tidak salah disebut Highway 20, hanya untuk melihat-lihat. Ketika saya melewati Lincoln, saya melihat sebuah kabin kecil, hampir seperti sebuah kios di pinggir jalan, dengan tanda yang mengiklankan real estat. Saya berhenti dan bertanya kepada makelar barang tak bergerak, seorang lelaki tua bernama Ray Jensen, apakah dia bisa menunjukkan kepada saya sebidang tanah terpencil. Dia menunjukkan kepadaku sebuah tempat di atas Stemple Pass Road. Aku menyukainya. Saya mengajak saudara saya untuk melihatnya dan dia juga menyukainya, jadi kami membelinya. Kami membayar tunai $2.100—dalam lembar- an dua puluh dolar—kepada pemiliknya, Cliff Gehring Senior. BVD: Jadi sebenarnya bisa hampir di mana saja. TJK: Ya. BVD: Seperti apa Lincoln saat pertama kali pindah ke sana? TJK: Kotanya sendiri bagi saya sepertinya tidak jauh berbeda. Saya tidak melihat banyak perubahan. Tetapi ada beberapa, seperti sekolah baru, perpustakaan, dan beberapa bisnis baru. Mungkin saya akan lebih memperhatikan perubahan di kota jika saya ter-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1 3
tarik, tetapi karena saya tidak tertarik, saya tidak melihat banyak perubahan itu. Saya tertarik dengan pedesaan di sekitarnya, dan itu telah banyak berubah karena selain penebangan kayu dan pembangunan jalan, banyak sekali orang yang pindah ke sana. Misalnya, Stemple Pass Road. Ada sedikit bangunan di sepanjang Stemple Pass Road, dan kebanyakan hanyalah kabin kayu. Bukan kabin kayu modern, tapi yang pasti dibangun beberapa dekade yang lalu, dan beberapa penghuni tetapnua adalah orang tua sejati, budaya yang berbeda, bukan orang modern. Stemple Pass Road pada waktu itu tampak sedikit tertinggal. Jika Anda pergi ke Stemple Pass Road hari ini, Anda akan melihat hal-hal yang mewah, megah, dan modern yang benar-benar terlihat tidak pada tempatnya di dalam hutan. Tetapi dulu sangat sedikit kabin yang megah. Mereka tidak modern. Bahkan, suatu kali ketika orang tua saya datang mengunjungi saya di awal tahun 1970-an, kami berkendara di sepanjang Stemple Pass Road dan ibu saya, yang pada dasarnya adalah seorang borjuis terlepas dari latar belakangnya, bertanya dengan nada mengejek, “Siapa orang-orang ini yang tinggal di sini, di tempat-tempat ini? Apakah mereka gelandangan atau apa?” Mereka bukan gelandangan, tetapi orang tua yang stabil, pensiunan. Cuma mereka tidak peduli tentang status dan penampilan rumah mereka. Mereka cukup kuno sehingga mereka tidak peduli apakah rumah mereka terlihat seperti kelas menengah. Jadi, menurut standar ibu saya, rumah mereka terlihat kumuh. BVD: Kabin Anda tampak seperti rumah—harmonis—dengan sekelilingnya di dalam hutan. Apakah Anda merancang bangunan itu sendiri? TJK: Saya merancang sendiri. BVD: Dan Anda membangun kabin sendiri?
t e d k a c z y n s k i | 2 1 4
TJK: Saya mendapat sedikit bantuan dari saudara saya, tetapi sangat sedikit. Jumlah bantuan yang dia berikan kepada saya tidak signifikan. Kebanyakan saya melakukannya sendiri. BVD: Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk memba- ngunnya? TJK: Butuh waktu dari awal Juli 1971 sampai saya pikir akhir November. Tetapi pekerjaan itu terganggu oleh beberapa perjalanan yang saya lakukan ke Great Falls untuk berbagai tujuan. Jauh lebih penting, itu terputus ketika kakiku tersiram air panas. Pada tanggal 1 Agustus 1971, saya oleng dan menjatuhkan panci sup mendidih. Itu mengalir ke sepatu saya dan membuat kaki saya tersiram air panas sehingga, atas saran dokter, saya diam selama sekitar 5 atau 5 ½ minggu. BVD: Saya penasaran. Apakah Anda memiliki cukup cahaya di kabin Anda? Apakah cukup sejuk di sana? TJK: Di musim dingin? BVD: Kapan saja. TJK: Ya. Itu cukup sejuk. Kecuali saat di luar mulai gelap, tentu saja. BVD: Siapa orang yang pertama kali Anda temui ketika Anda datang ke Lincoln, dan siapa tetangga Anda? TJK: Yah, jelas, yang pertama makelarnya. Tapi, orang pertama yang saya kenal secara sosial ketika saya pindah ke properti saya adalah Glen dan Dolores Williams, yang masih memiliki kabin di sebelah saya. Mereka tidak pernah tinggal di sana secara permanen. Itu hanya rumah liburan bagi mereka. Saya selalu bersahabat dengan mereka, tetapi saya sama sekali tidak pernah menjadi dekat dengan mereka. Dan, Irene Preston dan Kenny Lee. Mereka adalah, apa yang kita sebut, karakter yang penuh warna. Dia dulu punya cerita menarik… BVD: Dan kapan Anda bertemu keluarga Lundberg?
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1 5
TJK: Saya kira pertama kali bertemu Dick Lundberg sekitar tahun 1975, karena sampai saat itu saya punya mobil, kemudian mobil pikap tua. Tetapi setelah kira-kira tahun 1975 saya tidak memiliki kendaraan bermotor yang berfungsi, dan saat itulah saya mulai pergi ke Helena sesekali dengan Dick. Saya pikir saya bertemu Ellen di akhir 1970-an atau awal 80-an. BVD: Jadi, orang-orang yang Anda temui ini adalah orang-orang yang tinggal di dekat Anda. TJK: Ya. Glen dan istrinya, seperti yang Anda tahu, tinggal tepat di bawah saya, dan saya juga bertemu Bill Hull dan beberapa anggota keluarganya. Selain pegawai di toko dan sebagainya, mereka adalah satu-satunya orang yang saya kenal sampai, oh, mungkin di tahun 80-an. Ketika Sherri (Wood) mengambil alih perpustakaan, saya mulai mengenalnya. Akhirnya saya mengenal Theresa dan Gar- lands. Saya mengenal mereka dengan pergi ke toko mereka. Jadi, saya tidak benar-benar mengenal orang-orang di sana secara signifikan selama 10 tahun pertama saya di sana, atau lebih. BVD: Bagaimana dengan Chris Waits? TJK: Pertama kali saya bertemu dengannya mungkin sekitar pertengahan tahun 80-an. Saya tidak ingat. Kami kadang berpapasan di jalan. Saya mungkin telah menumpang darinya sekali atau dua kali —saya tidak yakin apakah saya pernah melakukannya. Tapi aku tahu dia biasa berpapasan denganku di jalan dan menyapa, dan itulah satu-satunya kenalanku dengannya, kecuali saat aku berada di pelelangan di Leora Hall’s, dan aku berbicara singkat dengannya di sana. Lihat, saya cukup banyak menghabiskan waktu saya di hutan dan menyendiri, jadi, sungguh, saya tidak punya kesempatan untuk bertemu siapapun kecuali orang-orang yang tinggal di daerah terdekat. BVD: Saya paham. Dia tidak benar-benar tinggal di daerah terdekat. Tentang Leora Hall, di mana Anda berbicara singkat dengan-
t e d k a c z y n s k i | 2 1 6
nya: dalam bukunya, Waits bilang kalau Anda membeli sendok garpu perak atau berlapis perak di sana. Tetapi Leora Hall telah mengatakan bahwa Anda pasti tidak membeli peralatan makan perak atau berlapis perak, karena dia tidak punya barang seperti itu untuk dijual. Dia, bagaimanapun, ingat melihat Anda di sana dan bahkan mengingat barang-barang tertentu yang dibeli. Ada komentar? TJK: Saya tidak pernah membeli sendok garpu berlapis perak dari Leora Hall atau orang lain. BVD: Baiklah, mari kita lanjutkan. Apakah Anda mengikuti rutinitas dalam hidup Anda? TJK: Saya sebenarnya tidak punya rutinitas, tapi kegiatan tertentu—seperti memasak makanan atau mengambil kayu bakar— cenderung masuk ke dalam pola rutin. BVD: Seperti apa hari biasa bagi Anda di Lincoln? TJK: Itu pertanyaan yang sangat sulit dijawab karena saya tidak punya yang namanya hari biasa. Aktivitas saya sangat bervariasi menurut musim dan sesuai dengan tugas yang saya miliki pada hari sebelumnya. Tapi saya akan menggambarkan hari yang cukup mewakili… TJK: …Yah, jadi kita ambil saja satu hari di bulan Januari, dan misalkan saya bangun sekitar jam 3:00 pagi untuk menemukan bahwa salju turun. Saya menyalakan api di kompor saya dan me- naruh panci berisi air. Saat air mendidih, saya menuangkan sejumlah gandum gulung ke dalamnya dan mengaduknya selama beberapa menit sampai matang. Lalu saya angkat panci dari kompor, tambahkan beberapa sendok gula dan sedikit susu—yang terbuat dari susu bubuk. Sementara oat mendingin, saya makan sepotong daging kelinci rebus dingin. Setelah itu saya makan oat. Aku duduk selama beberapa menit di depan pintu kompor yang terbuka menyaksikan api padam, lalu aku melepas pakaianku lagi, kembali ke tempat tidur, dan pergi tidur. Ketika saya bangun, langit mulai
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1 7
terang. Saya bangun dari tempat tidur dan bergegas berpakaian karena di kabin dingin. Pada saat saya berpakaian, ada lebih banyak cahaya dan saya dapat melihat bahwa salju tidak lagi turun dan langit cerah. Karena salju yang segar, hari ini seharusnya menjadi hari yang baik untuk berburu kelinci. Jadi saya mengambil senapan angin tua saya yang dikait di dinding, dengan beberapa korek api yang dibungkus dengan kantong plastik dan pisau sarung di ikat pinggang saya jika saya harus membuat api dalam keadaan darurat. Lalu saya memakai sepatu salju dan berangkat. Pertama-tama ada pendakian yang sulit untuk naik ke atas pun- ggung bukit, dan kemudian jalan kaki sekitar satu mil atau lebih untuk sampai ke hutan pinus terbuka tempat saya ingin berburu. Sedikit jalan ke dalam pinus saya menemukan jejak kelinci salju. Saya mengikuti jalan setapak yang berliku-liku selama sekitar satu jam. Lalu tiba-tiba aku melihat mata hitam dan telinga yang ujungnya hitam dari kelinci salju putih. Biasanya yang Anda perhatikan pertama kali adalah mata dan telinga yang ujungnya hitam. Kelinci itu mengawasiku dari balik ranting-ranting kusut dari pohon pinus yang baru saja tumbang. Para kelinci berjarak sekitar 40 kaki, tetapi mereka waspada dan mengawasi saya, jadi saya tidak akan mencoba mendekat. Namun, saya harus memutar untuk mendapatkan sudut menembak, sehingga saya dapat memiliki tembakan yang jelas melalui jalinan cabang —bahkan ranting yang ramping dapat membelokkan peluru. Untuk mendapatkan tembakan yang jelas itu saya harus berbaring di salju dalam posisi yang aneh dan menggunakan lutut saya sebagai sandaran untuk laras senapan. Saya menereng ke kepala kelinci, pada titik tepat di belakang mata…pegang erat… dor! Kelinci mati melalui tembakan kepala. Tembakan seperti itu biasanya membunuh kelinci seketika, tetapi kaki belakang binatang itu biasanya menendang dengan keras selama beberapa detik sehingga ia memantul di salju. Ketika kelinci berhenti
t e d k a c z y n s k i | 2 1 8
menendang, saya berjalan ke arahnya dan melihat bahwa kelinci itu sudah mati. Saya mengucapkan dengan lantang “Terima kasih, Bapa Kelinci”–Bapa Kelinci adalah sejenis dewa yang saya bikin yang merupakan roh pelindung semua kelinci salju. Saya berdiri selama beberapa menit melihat-lihat salju yang putih bersih dan sinar matahari yang menembus pepohonan pinus. Aku menikmati kesunyian dan ketenangan. Kadang-kadang saya menemukan jejak mobil salju di sepanjang puncak utama, tetapi di hutan tempat saya berada sekarang, setelah musim perburuan besar berakhir, selama bertahun-tahun saya di negara ini, saya belum pernah melihat jejak manusia lainnya. Aku mengambil salah satu tali dari sakuku. Supaya nyaman membawanya, saya mengalungkan tali di leher kelinci dan melilitkan ujung tali yang lain di sekitar tangan saya yang ber- sarung tangan. Lalu aku pergi mencari jejak kelinci lain. Ketika saya dapat tiga kelinci, saya pulang. Saat tiba di sana, saya sudah keluar sekitar enam atau tujuh jam. Tugas pertama saya adalah mengupas kulit kelinci dan mengeluarkan isi perutnya. Hati mereka, jantung, ginjal, otak, dan beberapa macam potongan saya masukkan ke dalam kaleng. Aku menggantung bangkai di bawah naungan, lalu lari ke gudang bawah tanah untuk mengambil beberapa kentang dan beberapa parsnip. Ketika telah dicuci dan tugas-tugas lain dilakukan —mungkin membelah kayu, atau mengumpulkan salju untuk mencairkan air minum— saya merebus panci, dan pada waktu yang tepat menambahkan beberapa sayuran liar kering, parsnip, kentang, dan hati dan organ dalam kelinci lainnya. Saat semuanya matang, langit mulai gelap. Saya makan rebusan saya dengan cahaya lampu minyak tanah saya. Atau, jika saya ingin berhemat, mungkin saya membuka pintu kompor dan makan dengan nyala api. Saya menyelesaikannya dengan setengah genggam kismis. Aku lelah tapi merasa damai. Aku duduk sebentar di depan pintu kompor yang terbuka sambil menatap api. Saya mungkin membaca sedikit. Ke-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 1 9
mungkinan besar saya hanya akan berbaring di tempat tidur untuk beberapa saat sambil melihat cahaya api berkedip di dinding. Ketika saya mengantuk saya menanggalkan pakaian saya, masuk ke bawah selimut, dan pergi tidur. BVD: Saya juga iri pada Anda ... Saat bekerja, itu terdengar luar biasa. Kebebasan dan otonomi. Tidak ada kejar-kejaran dengan waktu, entah itu harfiah atau kiasan. Tapi biarkan aku mengalihkan topik. Anda baru saja menyebutkan tidur. Apakah tempat tidur Anda, atau tempat tidur susunnya, nyaman? TJK: Yah, itu cukup nyaman bagi saya. BVD: Saya menghormati dan menghargai ucapan terima kasih Anda kepada Bapa Kelinci. Saya diingatkan tentang asal-usul sebenarnya dari ritual atau kebiasaan mengucapkan rahmat sebelum makan: Kesadaran pengorbanan yang khusyuk, bahwa semua kehidupan memberikan dirinya sendiri sehingga kehidupan lain dapat hidup… Apakah Anda percaya pada takdir? TJK: Tidak. BVD: Apakah Anda percaya pada Tuhan? TJK: Tidak. Kamu? BVD: Takdir atau Tuhan? TJK: Keduanya. BVD: Mungkin… Saya ingat pernah membaca bahwa orang tua Anda adalah ateis, bahwa Anda dibesarkan di rumah yang ateis. TJK: Benar. BVD: Apakah Anda ingat orang tua Anda pernah berbicara tentang Tuhan? Apakah mereka pernah mengatakan sesuatu seperti “Inilah yang dipercayai sebagian orang…”? TJK: Oh, mereka melakukannya sedikit. Misalnya, jika ibu saya sedang membacakan buku untuk saya dan sesuatu tentang Tuhan ada di sana, dia akan menjelaskan, “Yah, beberapa orang percaya ini dan itu, tapi kami tidak percaya itu.” Hal semacam itu.
t e d k a c z y n s k i | 2 2 0
BVD: Begitu… Nah, kembali pada hari-hari Anda—Anda menyebutkan beberapa dari apa yang mungkin Anda makan. Seperti apa pola makan Anda secara umum? Apa yang akan Anda makan pada hari-hari biasa? TJK: Ini tergantung musim…. Antara tahun 1975 dan 1983 saya membeli tepung, beras, gandum gulung, gula, tepung jagung, minyak goreng, dan susu bubuk, dan buah kalengan dan/atau to- mat dalam jumlah sedikit untuk musim dingin. Saya akan makan mungkin satu kaleng setiap hari selama musim dingin. Saya akan makan sedikit ikan kalengan dan buah kering. Selain itu, hampir semua yang saya makan adalah liar atau tumbuh di kebun saya. Saya makan rusa, elk, kelinci salju, tupai pinus, tiga jenis belibis, dan landak, dan kadang-kadang bebek, tupai besar, muskrat, tikus tanah, musang, coyote, burung hantu yang terbunuh secara tidak sengaja—saya tidak akan pernah membunuh burung hantu dengan sengaja—tikus rusa, dan belalang, saya juga makan berbagai jeni beri, dua jenis kismis hitam, anggur Oregon, ceri, dan mawar. Akar bertepung yang saya makan adalah camas, yampa, akar hambar dan Lomatium… Saya juga makan beberapa jenis akar kecil dan beberapa lusin jenis sayuran liar. Selama bulan Mei dan Juni, sebelum makan saya akan ngemil salad, seringkali salad yang cukup besar, dengan hanya berjalan-jalan di sekitar properti saya, memetik sedikit ini dan itu, dan memasukkannya ke dalam mulut saya. Dalam beberapa kasus saya menggiling biji yang dapat dimakan dan menggunakannya untuk roti. Tapi menggiling terlalu makan waktu. Saya tidak punya gilingan tangan, dan menggilingnya di atas batu. Di kebun saya, saya menanam kentang, parsnip, bit, bawang, dua jenis wortel, bayam, lobak, brokoli, dan kadang-kadang orach, artichoke Yerusalem, dan lobak. Saya akan mengeringkan sayuran liar dan sayuran kebun, dan terkadang beri, untuk digunakan di musim dingin. Tetapi untuk
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 2 1
makanan bertepung saya terutama mengandalkan kentang dan bahan pokok yang dibeli di toko, seperti tepung, beras, dan lain-lain. Akar pati liar jarang ditemukan di dataran tinggi. Bitterroot dan camas berlimpah di tempat-tempat yang lebih rendah, daerah datar, tetapi ini sebagian besar adalah tanah pribadi dan mungkin para peternak tidak ingin saya menggali padang rumput mereka untuk mendapatkan makanan ini. Di musim dingin saya biasa menggunakan teh yang terbuat dari daun Douglas fir sebagai sumber vitamin C. Musim dingin terakhir saya di Montana, 1995-1996, saya susah bangun. Tetapi ketika Anda harus membuang hal-hal yang disediakan sistem, mengejutkan seberapa baik Anda dapat melakukannya dengan berimprovisasi sendiri. Saya tidak memiliki buah atau sayuran komersial, baik segar, kering, atau kalengan, tetapi saya memiliki banyak sayuran kering sendiri. Saya punya beberapa kismis hitam kering dan rhubarb, dan saya punya tupai dan kelinci untuk daging. Barang-barang komersial yang saya miliki hanyalah tepung—gandum utuh dan putih—minyak goreng, gula, dan saya pikir persediaan beras saya sedikit. Saya tidak ingat apakah saya punya gandum atau tepung jagung. Saya tahu bahwa susu bubuk kecil yang saya miliki segera habis dan saya menggunakan plester Paris—gigi—sebagai sumber kalsium. Ketika itu semua habis, saya berencana untuk menggunakan tulang kelinci yang dibakar, dihancurkan, atau batu kapur yang dihancurkan. Tapi saya baik-baik saja, saya menikmati makanan saya, dan itu adalah musim dingin yang baik. BVD: Apa makanan liar favorit Anda? TJK: Mungkin makanan liar terlezat di daerah Lincoln adalah partridge berry, spesies kecil Vaccinium—genus blueberry—yang tumbuh di dataran tinggi. Buah beri sangat kecil sehingga mungkin perlu satu jam untuk memetik satu cangkir penuh, tetapi rasa-
t e d k a c z y n s k i | 2 2 2
nya luar biasa. Selain itu, makanan favorit saya adalah huckleberry, yampa, dan hati rusa, kelinci salju, dan landak. BVD: Apakah Anda punya makanan favorit yang Anda siapkan? TJK: Saya tidak punya makanan standar, karena saya hanya makan apa yang tersedia pada waktu tertentu. Secara umum, makanan terbaik saya adalah semur yang berisi daging, sayuran, dan beberapa makanan bertepung seperti kentang, nasi, mie, atau akar seperti yampa. BVD: Apakah Anda akan makan di luar ruangan? TJK: Saya jarang melakukan itu. Saya biasanya makan di dalam ruangan, di meja saya di kabin… Ketika saya selesai makan, saya kadang-kadang duduk di kursi saya dengan kaki di atas meja dan hanya menatap ke luar jendela untuk sementara waktu… BVD: Bisakah Anda melihat ke luar jendela? TJK: Maaf? BVD: Bisakah Anda melihat ke luar jendela? TJK: Ya. Itulah gunanya jendela. BVD: Bagaimana Anda mengetahui tanaman mana yang dapat dimakan, dan persiapannya, jika ada yang diperlukan? TJK: Selama bertahun-tahun sebelum saya meninggalkan Berkeley, saya tertarik dengan alam bebas, dan saya telah mempelajari keterampilan seperti bagaimana mengenali tanaman liar yang dapat dimakan dan sebagainya. Saya belajar bagaimana mengenali mereka dari buku-buku tentang masalah ini, seperti Edible Wild Plants of Eastern North America, oleh Fernald dan Kinsey, dan Wild Edible Plants, oleh Donald Kirk. Buku-buku tersebut memberikan beberapa informasi tentang mengolah tumbuhan ini, tetapi kebanyakan saya belajar mempersiapkannya dengan coba-coba. Saya belajar beberapa tanaman yang dapat dimakan dengan percobaan. Akan berbahaya untuk bereksperimen dengan keluarga tanaman tertentu, seperti keluarga wortel dan keluarga lily, karena mengandung
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 2 3
beberapa spesies beracun yang mematikan. Tapi aman untuk bereksperimen dengan keluarga mustard; dan keluarga komposit dan keluarga bit, sejauh yang saya tahu, tidak mengandung spesies yang mematikan, meskipun beberapa ada yang beracun. Ada beberapa anggota keluarga sawi yang saya pakai sebagai sayuran tanpa pernah mempelajari nama-nama tanamannya. Ada anggota keluarga komposit yang saya makan selama bertahun-tahun sebelum saya mengetahui bahwa itu adalah spesies dandelion palsu. Dan ada anggota keluarga bit yang sering saya makan tapi tidak pernah saya kenali. BVD: Apakah Anda mandiri? TJK: Tidak berarti sepenuhnya mandiri. Saya membutuhkan bahan pokok yang dibeli di toko seperti tepung, beras, oat gulung, dan minyak goreng. Saya membeli sebagian besar pakaian saya, meskipun saya juga membuat beberapa. Awalnya, swasembada penuh adalah tujuan yang pada akhirnya ingin saya capai, tetapi dengan menyusutnya alam liar dan kerumunan orang di sekitar saya, saya merasa bahwa tidak ada gunanya lagi, dan minat saya beralih ke arah lain. BVD: Bagaimana cara Anda memilih untuk hidup memenuhi impian, keinginan, atau motivasi awal Anda? Yaitu, impian Anda sebagai seorang pemuda, dan rencana serta keputusan Anda untuk meninggalkan Berkeley. Dan apa hal yang paling memuaskan tentang hidup Anda di Lincoln? TJK: Dalam hidup saya di hutan saya menemukan kepuasan tertentu yang saya harapkan, seperti kebebasan pribadi, kemandirian, unsur petualangan tertentu, cara hidup yang rendah stres. Saya juga mencapai kepuasan tertentu yang tidak sepenuhnya saya pahami atau antisipasi, atau yang bahkan benar-benar mengejutkan saya. Semakin intim Anda dengan alam, semakin Anda menghargai keindahannya. Ini adalah keindahan yang tidak hanya terdiri dari
t e d k a c z y n s k i | 2 2 4
pemandangan dan suara, tetapi juga dalam apresiasi… semuanya. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Yang penting adalah bahwa ketika Anda tinggal di hutan, bukan hanya mengunjungi mereka, keindahan menjadi bagian dari hidup Anda daripada sesuatu yang Anda lihat dari luar. Terkait dengan ini, bagian dari keintiman dengan alam yang Anda peroleh, adalah mengasah indera Anda. Bukan berarti pen- dengaran atau penglihatan Anda menjadi lebih tajam, tetapi Anda lebih memperhatikan banyak hal. Dalam kehidupan kota Anda cenderung diarahkan ke dalam. Lingkungan Anda penuh dengan pemandangan dan suara yang tidak relevan, dan Anda dikondisi- kan untuk menghalangi sebagian besar dari mereka keluar dari kesadaran Anda. Di hutan, apa yang Anda dapatkan mengarahkan kesadaran Anda ke luar, terhadap lingkungan Anda, maka Anda jauh lebih sadar akan apa yang terjadi di sekitar Anda. Misalnya, Anda akan melihat hal-hal yang tidak mencolok di tanah, seperti tanaman yang dapat dimakan atau jejak hewan. Jika seorang manusia telah melewati dan meninggalkan hanya sebagian kecil dari jejak kaki, Anda mungkin akan menyadarinya. Anda tahu apa suara yang datang ke telinga Anda: Ini adalah kicau burung, itu adalah dengungan seekor lalat, ini adalah rusa yang terkejut lalu berlari, ini adalah dentuman pohon cemara yang telah ditebang oleh tupai. Jika Anda mendengar suara yang tidak dapat Anda identifikasi, itu akan segera menarik perhatian Anda, meskipun sangat samar sehingga hampir tidak terdengar. Bagi saya, kewaspadaan ini, atau keterbukaan indra seseorang, adalah salah satu kemewahan terbesar dari hidup dekat dengan alam. Anda tidak dapat memahami hal ini kecuali Anda mengalaminya sendiri. Hal lain yang saya pelajari adalah pentingnya memiliki pekerjaan yang bertujuan karena perlu dilakukan. Maksud saya pekerjaan yang benar-benar bertujuan adalah hal-hal yang berkaitan dengan
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 2 5
hidup dan mati. Saya tidak benar-benar menyadari apa itu kehidupan di hutan sampai situasi ekonomi saya sedemikian rupa sehingga saya harus berburu, mengumpulkan tanaman, dan mengolah kebun untuk makan. Selama sebagian waktu saya di Lincoln, khususnya tahun 1975 hingga 1978, jika saya tidak berhasil berburu, maka saya tidak mendapatkan daging untuk dimakan. Saya tidak mendapatkan sayuran apa pun kecuali saya mengumpulkan atau menanamnya sendiri. Tidak ada yang lebih luar biasa daripada kepuasan dan kepercayaan diri yang dibawa oleh kemandirian semacam ini. Sehubungan dengan ini, seseorang kehilangan sebagian besar ketakutannya akan kematian. Saat hidup dekat dengan alam, seseorang menemukan bahwa kebahagiaan bukanlah meningkatkan kesenangan. Ini terdiri dari ketenangan. Setelah Anda menikmati ketenangan cukup lama, Anda sebenarnya mendapatkan keengganan yang sangat kuat untuk memikirkan kesenangan —kesenangan yang berlebihan akan mengganggu ketenangan Anda. Akhirnya, orang belajar bahwa kebosanan adalah penyakit peradaban. Bagi saya, kebosanan yang paling utama adalah bahwa orang harus tetap terhibur atau sibuk, karena jika tidak, maka kecemasan, frustrasi, ketidakpuasan, dan sebagainya, mulai muncul ke permukaan, dan itu membuat mereka tidak nyaman. Kebosanan hampir tidak ada setelah Anda beradaptasi dengan kehidupan di hutan. Jika Anda tidak memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, Anda dapat duduk berjam-jam tanpa melakukan apa-apa, hanya mendengarkan burung atau angin atau keheningan, melihat bayangan bergerak saat matahari tenggelam, atau hanya melihat pada benda yang sudah dikenal. Dan Anda tidak bosan. Anda cuma merasa damai. BVD: Apa bagian atau hal tersulit dalam hidup Anda di Lincoln? TJK: Hal terburuk tentang hidup saya di hutan adalah sentuh-
t e d k a c z y n s k i | 2 2 6
an peradaban modern yang tak terhindarkan. Selalu ada lebih banyak rumah di sepanjang Stemple Pass Road dan di tempat lain. Lebih banyak jalan yang melewati hutan, lebih banyak area yang ditebang, lebih banyak pesawat terbang. Pelacak radio pada rusa, penyemprotan herbisida, dan lain-lain. BVD: Apa kenangan terindah dalam hidup Anda di hutan? TJK:…Di awal musim semi, ketika salju musim dingin cukup mencair untuk memungkinkan, saya akan berjalan-jalan di atas bukit, menikmati kebebasan fisik baru yang dimungkinkan oleh fakta bahwa saya tidak lagi harus memakai sepatu salju, dan pulang dengan membawa banyak sayuran liar muda yang segar seperti bawang liar, dandelion, akar pahit, dan Lomatium, dengan satu atau dua burung belibis—yang dibunuh secara ilegal, saya akui. Bekerja di kebun saya di pagi hari. Berburu kelinci salju di musim dingin. Waktu yang dihabiskan di gubuk tersembunyi saya selama musim dingin. Tempat-tempat tertentu di mana saya berkemah selama musim semi, musim panas, atau musim gugur. Rebusan daging rusa musim gugur dengan kentang dan sayuran lain dari kebun saya. Beberapa kali ketika saya hanya duduk atau berbaring tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak banyak berpikir, hanya berendam dalam kedamaian. BVD: Terima kasih banyak… TJK: Sama-sama.
Bagian 3 KORESPONDENSI
2 2 9
11/ Jawaban Terhadap Beberapa
Komentar yang Terbit di Green Anarchist
SAYA ingin mengomentari beberapa pernyataan yang membahas Manifesto Unabomber di GA 40–41. Dalam sebuah artikel di halaman 21–22, Anti-Authoritarians Anonymous menulis: “[A] kembali ke cara hidup otonom yang liar tidak akan dicapai hanya dengan menghilangkan industrialisme. Penghapusan tersebut masih akan meninggalkan beberapa penyakit sosial dasar, seperti dominasi alam, penaklukan perempuan, perang, agama, negara, dan pembagian kerja. Peradaban itu sendiri yang harus digagalkan untuk pergi ke mana Unabomber ingin tuju.” Saya setuju dengan banyak hal dari pernyataan ini. Tapi ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Seperti yang ditunjukkan dalam Industrial Society and Its Future (ISAIF), paragraf 208–210,
t e d k a c z y n s k i | 2 3 0
teknologi modern bergantung pada organisasi sosial tingkat tinggi. Jika organisasi sosial ini cukup terganggu, maka teknologinya rusak, akibatnya apa pun yang tersisa dari organisasi sosial itu runtuh dan kita kembali ke keadaan masyarakat pra-industri. Untuk membangun kembali teknologi dan bentuk organisasi sosial yang sesuai akan memakan waktu berabad-abad. Karena sistem tekno-industrial sedang sakit dan kemungkinan sedang sekarat, kehancurannya adalah tujuan yang dapat kita capai selama beberapa dekade mendatang. Tetapi penghapusan peradaban itu sendiri adalah usulan yang jauh lebih sulit, karena peradaban dalam bentuk pra-industrinya tidak memerlukan struktur teknologi yang rumit dan sangat terorganisir. Peradaban pra-industri hanya membutuhkan teknologi yang relatif sederhana, yang elemen terpentingnya adalah pertanian. Bagaimana seseorang bisa mencegah orang-orang bertani? Dan mengingat bahwa orang bertani, bagaimana cara mencegah mereka hidup dalam komunitas padat penduduk dan membentuk hierarki sosial? Ini adalah masalah yang sangat sulit dan saya tidak melihat cara untuk menyelesaikannya. Saya tidak menyarankan bahwa penghapusan peradaban harus ditinggalkan sebagai cita-cita atau sebagai tujuan akhir. Saya hanya menunjukkan bahwa tidak ada yang tahu cara yang masuk akal untuk mencapai tujuan itu di masa mendatang. Sebaliknya, penghapusan sistem industri adalah tujuan yang masuk akal untuk beberapa dekade mendatang, dan, secara umum, kita dapat melihat bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, tujuan yang harus kita arahkan untuk saat ini adalah penghancuran sistem industri. Setelah itu selesai, kita baru bisa berpikir untuk menghilangkan peradaban. Bahkan jika peradaban tidak dapat dihilangkan, penghapusan sistem industri akan menghasilkan banyak hal. (Lihat ISAIF, paragraf 184.)
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 3 1
Pertama-tama, wilayah yang luas di Bumi tidak cocok untuk pertanian, dan dengan ketiadaan teknologi modern yang memungkinkan transportasi massal produk pertanian, wilayah ini harus kembali ke ekonomi penggembalaan atau berburu-dan-meramu (ditambah, tidak diragukan lagi, dengan jumlah perdagangan yang terbatas dengan daerah pertanian). Kedua (seperti yang tersirat dalam ISAIF, paragraf 184, 198), dominasi manusia modern atas alam bergantung pada teknologinya. Mundur ke teknologi pra-industri akan sangat mengurangi kekuatan manusia untuk mendominasi alam, meskipun itu tidak akan menghilangkan kekuatan itu sepenuhnya. Ketiga, meskipun perang juga bisa terjadi di masyarakat non-industri, perang itu tidak semengerikan perang modern. Keempat, sementara penghapusan teknologi modern tidak serta merta menghancurkan negara, tapi itu akan sangat mengurangi kekuatan negara. Kelima, meskipun pembagian kerja dapat terjadi dalam masyarakat non-industri, pembagian kerja jauh lebih sedikit dalam masyarakat seperti itu daripada dalam masyarakat modern. Artinya, pekerjaan dalam masyarakat non-industri tidak begitu terspesiali- sasi. Dengan demikian, selain menjadi tujuan yang realistis, penghapusan sistem industri akan menjadi langkah yang sangat panjang ke arah yang benar. Tetapi jika mengakhiri industrialisme adalah tujuan yang realistis, tidak serta merta berarti bahwa tujuan itu akan mudah dicapai. Sebaliknya, sangat mungkin bahwa memenangkan pertempuran ini akan membutuhkan upaya maksimal kita. Kita tidak boleh terlalu memaksakan diri dengan memikirkan diri kita sendiri dengan tujuan lain. Sebaliknya, kita harus menjadikan penghancuran sistem industri sebagai satu-satunya tujuan utama yang menjadi tujuan semua upaya kita (ISAIF, paragraf 200).
t e d k a c z y n s k i | 2 3 2
Dalam artikel “Neither Left Nor Right But Forwards,” GA 40–41, halaman 26–27, Shadow Fox menulis bahwa menurut FC/ Unabomber, “militan hijau/primitivis harus secara aktif menjauh- kan diri dari ideolog ‘Kiri’. Ini pasti akan mencakup ideologi raksasa tentang konflik kelas. Ini dijawab dalam artikel yang tidak ditandatangani, “Greens, Get Real,” di GA pada edisi yang sama, halaman 27–28: Dalam Industrial Society and Its Future, penindasan kelas, ras, gender, dan lainnya juga diakui, meskipun hanya sebagai pelengkap penindasan teknokratis —FC mempersoalkan ideologi kiri yang membuat ‘penyebab’ penindasan [sic.] orang lain. Shadow Fox-lah yang cukup tepat dalam menafsirkan ISAIF. Perjuangan melawan sistem industri mungkin dapat dipahami sebagai perang kelas. Tetapi itu bukan perang kelas sebagaimana dipahami secara tradisional. Dalam perang kelas tradisional, para buruh berjuang melawan borjuasi untuk menguasai sistem, atau untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan material yang ditawarkan sistem. Jadi perang kelas tradisional tidak sesuai dengan tujuan kami, yaitu menghancurkan sistem. Kelas sosial dalam pengertian tradisional tidak relevan dengan tujuan kami. Dari sudut pandang kami, hanya dua kelas sosial yang relevan: satu kelas terdiri dari elit teknokratis dan kelas lainnya terdiri dari semua orang. Perjuangan melawan sistem memang dapat dilihat sebagai perang kelas melawan elit teknokratis. Tetapi akan lebih baik melihatnya sebagai perjuangan melawan teknologi, karena melihatnya sebagai bentuk perang kelas berisiko membuat kita tergelincir ke dalam ilusi bahwa apa yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan kelas tertentu saja. Tentu, jika kita hanya menyingkirkan elit teknokrat saat ini tetapi mempertahankan teknologi, elit teknokratis baru akan segera muncul. Kita harus fokus pada teknologi daripada kelas sosial yang mengendalikannya, sehingga kita tidak akan pernah lupa bahwa
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 3 3
teknologi itu sendiri yang harus dihilangkan. Dalam melenyapkan teknologi, kita dalam arti tertentu akan memenangkan semua perang kelas, karena penghapusan teknologi modern akan menghancurkan bentuk organisasi sosial saat ini, sehingga semua kelas sosial saat ini akan lenyap. Tidak ada jaminan kalau kelak tidak akan ada kelas-kelas sosial baru yang muncul, tetapi kelas-kelas seperti itu akan muncul hanya dalam jenis masyarakat yang sama sekali berbeda dan masalah-masalah yang mereka hadapi harus ditangani dengan pengertian yang sepenuhnya berbeda. Saya bersikeras bahwa revolusi melawan teknologi seharusnya tidak membahas masalah ras, gender, orientasi seksual, dll. Ada beberapa alasan untuk ini. Bahkan jika semua ketidaksetaraan ras, gender, dll dihilangkan, ini tidak akan menghasilkan apa-apa menuju penghancuran sistem tekno-industrial. Bahkan, menghilangkan diskriminasi ras dan gender akan baik untuk sistem yang ada karena ini akan menghilangkan konflik yang mengganggu fungsi sistem dan akan membantu proses penggabungan orang kulit hitam, perempuan, dll ke dalam roda penggerak yang patuh dalam mesin kehidupan sosial. Menurut Anda mengapa media massa terus-menerus memberi kita propaganda tentang kesetaraan ras, jenis kelamin, dll.? (Lihat ISIF paragraf 28, 29, dan Catatan 4.) Aktivisme hak asasi ras, gender, dan hak-hak gay mengalihkan perhatian dan energi dari tujuan utama, yang sekali lagi, yaitu penghancuran sistem tekno-industrial. Jika Anda memiliki mobil tua yang ingin Anda rongsokan, apakah Anda akan mulai memperbaikinya agar bisa berjalan lebih baik? Jika Anda mulai memperbaikinya, saya harus curiga bahwa niat Anda untuk membuangnya tidak cukup tulus. Kami ingin membuang seluruh sistem tekno-industrial, jadi mengapa kami harus repot-repot mencoba memperbaiki kekurangannya? Mengapa
t e d k a c z y n s k i | 2 3 4
harus bekerja untuk memberi orang kulit hitam kesempatan yang sama untuk menjadi eksekutif perusahaan atau ilmuwan ketika kita menginginkan dunia di mana tidak akan ada eksekutif atau ilmuwan perusahaan? Setelah sistem dihapus, mungkin akan ada masalah ras, gender, dll., tetapi masalah itu harus diselesaikan dalam konteks masyarakat baru yang akan ada. Solusi apa pun yang mungkin kita dapatkan sekarang, dalam konteks masyarakat industri, akan menjadi sia-sia ketika masyarakat industri tidak ada lagi. Akan sia-sia untuk mencoba merencanakan sekarang masyarakat non-industri yang akan bebas dari rasisme, dll. Kita dapat menghancurkan masyarakat industri, tetapi kita tidak dapat memprediksi atau mengontrol bentuk yang akan diambil oleh masyarakat baru. (Lihat ISAIF paragraf 100-108.) Kami tidak tahu masalah ras atau gender seperti apa yang mungkin ada di masyarakat baru atau apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Masalah-masalah itu harus diserahkan kepada orang-orang yang akan hidup dalam masyarakat itu. Setiap kelompok atau gerakan yang menjadikan masalah ras atau gender sebagai bagian penting dari programnya pasti akan menarik banyak orang dari tipe psikologis yang kita sebut “kiri”. ISAIF (paragraf 213–230) membahas panjang lebar bahaya yang ditim- bulkannya. Sangat penting bagi kaum revolusioner anti-teknologi untuk memisahkan diri mereka secara ketat dari kiriisme. Orang tidak akan berhenti mendiskriminasi minoritas hanya karena Anda berkhotbah tentang hal itu. Untuk mengakhiri diskriminasi, Anda harus memiliki beberapa cara untuk menegakkan perlakuan yang adil. Ini akan menyiratkan semacam organisasi yang kuat dan tersebar luas yang mampu melakukan penegakan, dan kemungkinan besar organisasi semacam itu sendiri akan menjadi tirani dan menindas. Apalagi untuk menjalankan tugasnya organisasi semacam itu membutuhkan transportasi dan komunikasi jarak jauh yang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 3 5
cepat, maka diperlukan segala teknologi untuk memelihara sistem transportasi dan komunikasi tersebut; yang berarti dalam praktiknya ia harus mempertahankan seluruh sistem teknologi. (Lihat ISAIF paragraf 200, 201.) Dengan demikian, upaya untuk mengakhiri ketidakadilan sosial akan mempersulit pelepasan teknologi. Setelah sistem tekno-industrial dihilangkan, orang dapat dan harus melawan ketidakadilan di mana pun mereka menemukannya. Tapi, secara realistis, kita tidak pernah bisa berharap untuk mengakhiri semua ketidakadilan sosial, kita hanya bisa berharap untuk meringankannya. Ketidakadilan sosial selalu ada, bahkan di beberapa masyarakat primitif, dan orang-orang dari setiap masyarakat harus menghadapi bentuk ketidakadilan mereka sebaik mungkin. Tetapi masalah yang dihadirkan oleh sistem tekno-industrial kepada kita jauh lebih besar dan sama sekali baru. Baik pertumbuhan teknologi yang tidak terkendali akan menyebabkan bencana besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia, atau secara permanen akan memperbudak tidak hanya tubuh manusia tetapi juga pikiran manusia dan alam (lihat ISIF, paragraf 143, 144, 169, 170-
178). Jika dibandingkan, masalah ketidakadilan dalam pengertian tradisional menyusut menjadi tidak penting. Tujuan kita bukanlah keadilan sosial tetapi penghancuran sistem tekno-industrial.
—Theodore J. Kaczynski
Catatan kaki bagi mereka yang meragukan bahwa masalah teknologi jauh lebih besar daripada masalah ketidakadilan sosial yang sudah tua: Saya percaya bahwa kecerdasan buatan berdiri di ambang kesuksesan.
t e d k a c z y n s k i | 2 3 6
Cougals B. Lenat, Scientific American, September, 1995, halaman 80. Ketika para teknokrat dipersenjatai dengan komputer dengan kecerdasan super, apakah mereka tidak akan mampu mengakali kita di setiap langkah? [R]obot yang melayani kita secara pribadi dalam waktu dekat… [bukanlah] fiksi ilmiah. Saat ini kita memiliki kemampuan —hanya rekayasa yang solid yang diperlukan. Joseph F. Engelberger, Scientific American, September, 1995, halaman 166. Robot dan komputer cerdas akan membuat tenaga manusia menjadi usang, sehingga para teknokrat tidak lagi membutuhkan orang biasa untuk bekerja bagi mereka. Tentara dan pasukan polisi robot akan sangat setia kepada tuan mereka, memberikan teknokrat kekuasaan mutlak atas kita. Untuk memperpanjang hidup kita dan memperbaiki pikiran kita, kita perlu mengubah tubuh dan otak kita… [Kita]harus membayangkan cara-cara di mana penggantian baru untuk bagian tubuh yang aus dapat memecahkan masalah kesehatan kita yang menurun… Pada akhirnya, dengan menggunakan nanoteknologi, kita akan sepenuhnya mengganti otak kita… Ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk melakukan transisi ini sudah dibuat… Individu sekarang dikandung secara kebetulan. Suatu hari, sebaliknya, mereka dapat ‘dikomposisikan’ sesuai dengan keinginan dan desain yang dipertimbangkan… Sistem pemikiran etis tradisional difokuskan terutama pada individu… Jelas, kita juga harus mempertimbangkan hak dan peran makhluk berskala lebih besar—seperti superperson. kita menyebut budaya dan sistem besar yang berkembang yang disebut sains… Akankah robot mewarisi bumi? Ya, tapi mereka akan menjadi anak-anak kita.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 3 7
Marvin Minsky, Scientific American, Oktober 1994, halaman 109-113. Lebih tepatnya, robot-robot itu akan menjadi anak-anak para teknokrat yang menciptakannya. Mereka tidak akan menjadi anak-anak Anda atau anak-anak saya. Ralph E. Gomory, mantan direktur penelitian untuk IBM yang sekarang menjadi presiden Yayasan Alfred P. Sloan… memiliki saran untuk mengurangi tugas sains: membuat dunia lebih artifisial. Sistem buatan, kata Gomory, cenderung lebih dapat diprediksi daripada yang dialami. Misalnya, untuk menyederhanakan prakiraan cuaca, para insinyur mungkin membungkus bumi dalam kubah transparan. Scientific American, Agustus 1994, halaman 22. Diragukan apakah skema khusus ini dapat diterapkan secara teknis, tetapi ini memberikan gambaran tentang masa depan seperti apa yang dipersembahkan para teknokrat pada kita.
2 3 9
12/ Kumpulan Surat Ted Kaczynski
kepada David Skrbina
TED KACZYNSKI menulis beberapa surat kepada David Skrbina, dosen senior jurusan filsafat Universitas Michigan. Surat-surat berikut diambil dari buku kumpulan tulisan Ted Kaczynski, Technological Slavery, yang disunting oleh David Skrbina sendiri. Tidak semua surat diterjemahkan, dan beberapa surat diterjemahkan sepenggal-sepenggal.
Surat kepada David Skrbina, 2 Januari 2004
Saya telah mengidentifikasi tiga cara (terlepas dari reformasi yang sederhana) bagaimana niatan umat manusia untuk memperbaiki masa depan dapat diwujudkan. 1) Administrasi yang cerdas dapat memperlama kehidupan tatanan sosial saat ini. (Andai Tsar Rusia Abad 19 kurang mahir dari yang seharusnya, tsarisme mungkin hancur lebih awal. Andai Nicholas II lebih lihai lagi, tsarisme
t e d k a c z y n s k i | 2 4 0
mungkin dapat bertahan lebih lama). 2) Tindakan revolusioner dapat membawa, atau mempercepat, keruntuhan tatanan saat ini. (Andai tidak ada gerakan revolusioner di Rusia, Tsar yang baru di- angkat untuk menggantikan Nicholas II dan tsarisme dapat bertahan untuk sementara waktu). 3) Tatanan sosial yang ada terkadang dapat diperluas untuk mencakup wilayah tambahan. (Tatanan sosial Barat berhasil diperluas ke Jepang setelah perang dunia II). Jika saya benar, dan kita ingin mengerahkan pengaruh rasional apa pun (di luar reformasi sederhana) pada masa depan masyarakat kita, maka kita harus memilih salah satu alternatif yang tersedia.
Surat kepada David Skrbina, 29 Agustus 2004
Sebenarnya saya menganggap teknologi skala kecil bukan sebagai sesuatu yang harus ditolak, tetapi sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Lihat ISAIF, paragraf 207-212. Saya tidak melihat ada cara untuk menyingkirkannya. Orang-orang tidak dapat menggunakan organisasi sosial yang bergantung pada teknologi jika organisasi sosialnya runtuh. Kita tidak dapat menggunakan mobil kalau kilang minyak berhenti menghasilkan bahan bakar. Tapi bagaimana Anda bisa mencegah orang-orang menggunakan teknologi skala kecil, seperti membuat baja, kincir air atau membajak dan menanami lahan? Anda bertanya apakah saya akan menganggap mesin uap primitif sebagai teknologi skala kecil. Saya tidak dapat memberikan jawaban dengan yakin, karena saya harus tahu lebih banyak tentang mesin uap primitif dan kemungkinan penerapannya. Tetapi saya pikir mesin uap mungkin bukanlah teknologi skala kecil. “Konsumsi bahan bakar berat [mesin uap pendatang baru] membuat mereka tidak ekonomis ketika digunakan di mana batu bara mahal, tetapi di ladang batu bara Inggris mereka melakukan layanan penting dengan menjaga tambang yang dalam tetap bersih dari air.”
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 4 1
Komunitas lokal yang otonom, tanpa bantuan dari luar, akan sangat kesulitan untuk membangun mesin uap yang memadai, dan mesin mungkin tidak banyak berguna untuk komunitas seperti itu. Mempertimbangkan upaya yang diperlukan untuk membangun dan memelihara mesin, memproduksi minyak untuk melumasinya, dan mengumpulkan kayu bakar untuk bahan bakarnya, pekerjaan apa pun yang mungkin dilakukan mesin untuk komunitas kecil mungkin dapat dilakukan lebih efisien dengan tenaga otot manusia atau hewan. Mesin uap kemungkinan besar dapat ditemukan jauh lebih awal, tetapi -saya kira-mereka tidak banyak berguna sampai perkembangan ekonomi dan teknologi abad ke-17 dan ke-18 membutuhkan mesin uap.
Saya cukup yakin bahwa tidak mungkin untuk mengendalikan kondisi pasca-revolusi, tetapi saya pikir Anda benar saat mengatakan bahwa kita memerlukan “cita-cita sosial yang positif ”. Namun, cita-cita sosial yang akan saya sodorkan adalah masyarakat berburu dan meramu yang nomaden. Pertama, saya berpendapat bahwa agar berhasil, sebuah gerakan revolusioner harus menjadi ekstremis. Jacques Ellul mengatakan bahwa sebuah revolusi harus mengambil ideal yang berke- balikan dari apa yang hendak digulingkannya. 2 Trotsky menulis: “Tahapan-tahapan yang berbeda dari proses revolusioner dimungkinkan oleh karena perubahan berbagai kelompok, di mana yang lebih ekstrim selalu menggantikan yang lebih sedikit.” 3 Masyarakat berburu dan meramu nomaden dapat menjadi cita-cita sosial karena berada pada ekstrem yang berlawanan dari budaya masyarakat teknologi. Kedua, jika seseorang berpendapat bahwa perlengkapan peradaban tertentu seperti pencapaian budaya hingga abad ke-17 harus
t e d k a c z y n s k i | 2 4 2
diselamatkan, maka saat harus menghilangkan sistem tekno-industrial, ia akan tergoda untuk berkompromi, dengan kemungkinan bahwa ia sama sekali tidak akan berhasil melenyapkan sistem tersebut. Jika sistemnya rusak, apa yang akan terjadi pada museum seni dengan lukisan dan patung yang tak ternilai harganya? Atau bagaimana dengan perpustakaan-perpustakaan besar dengan toko bukunya yang luas? Siapa yang akan mengurus karya seni dan buku ketika tidak ada organisasi yang cukup besar dan cukup kaya untuk menyewa kurator dan pustakawan, serta polisi untuk mencegah penjarahan dan vandalisme? Lalu bagaimana dengan sistem pen- didikannya? Tanpa sistem pendidikan yang terorganisir, anak-anak akan tumbuh tidak berbudaya dan mungkin buta huruf. Jelas, siapa pun yang merasa bahwa pelestarikan pencapaian budaya hingga abad ke-17 sebagai hal penting, akan sangat enggan untuk melihat sistem rusak total, oleh karena itu akan mencari solusi kompromis dan tidak akan mengambil langkah-langkah sembrono untuk perkembangan masyarakat yang ditentukan oleh teknologi saat ini. Oleh karena itu, hanya mereka yang bisa menjadi revolusioner yang efektif saja yang siap untuk membuang pencapaian peradaban. Ketiga, bagi kebanyakan orang, berburu dan meramu akan jauh lebih menarik daripada yang ditawarkan oleh peradaban pra-industri. Bahkan banyak orang modern suka berburu, memancing, dan mengumpulkan buah-buahan dan kacang-kacangan liar. Saya pikir hanya sedikit yang akan menikmati tugas-tugas seperti membajak, mencangkul, atau mengirik. Dan dalam masyarakat beradab, mayoritas penduduk umumnya telah dieksploitasi dengan berbagai cara oleh kelas atas: Jika mereka bukan budak atau hamba sa- haya, maka mereka sering kali menjadi buruh sewaan atau petani penggarap yang tunduk pada dominasi pemilik tanah. Masyarakat pra-industri sering menderita bencana epidemi atau kelaparan, dan rakyat jelata dalam banyak kasus memiliki gizi buruk. Sebaliknya,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 4 3
pemburu-peramu, kecuali yang hidup di ujung utara, umumnya memiliki nutrisi yang baik. 4 Kelaparan di antara mereka mungkin jarang terjadi. 5 Mereka relatif tidak terganggu oleh penyakit menular sampai mereka terjangkit dengan penyakit semacam itu karena interaksi dengan orang-orang yang lebih “maju”. 6 Perbudakan dan hierarki sosial yang berkembang dengan baik bisa ada di antara pemburu-peramu yang menetap, tetapi (terlepas dari kecenderungan perempuan untuk berada di bawah laki-laki), masyarakat pemburu-peramu nomaden biasanya (tidak selalu), memiliki kesetaraan sosial dan biasanya tidak mempraktekkan perbudakan. (Meskipun saya tahu satu pengecualian: Rupanya beberapa orang pemburu-peramu Indian Cree memang memiliki budak.) 7 Kalau-kalau Anda pernah membaca tulisan anarko-primitifis yang menggambarkan gaya hidup pemburu-peramu sebagai semacam Taman Eden di mana tidak ada yang harus bekerja lebih dari tiga jam sehari, laki-laki dan perempuan setara, dan semuanya adalah cinta, kerjasama dan berbagi, itu hanya banyak omong kosong, dan atas permintaan Anda saya dapat membuktikannya dengan mengutip banyak literatur. Tetapi bahkan ketika seseorang mengabaikan versi ideal kaum anarko-primitifis dan melihat faktanya, masyarakat pemburu-peramu yang nomaden tampak jauh lebih menarik daripada masyarakat beradab pra-industri. Saya membayangkan bahwa keberatan utama Anda terhadap masyarakat pemburu-peramu yang bertentangan dengan (misalnya) peradaban Eropa Abad Pertengahan atau Renaisans akhir adalah tingkat pencapaian budaya mereka yang relatif sangat rendah (dalam hal seni, musik, sastra, kesarjanaan, dll.). Tetapi saya yakin bahwa hanya sebagian kecil populasi masyarakat industri modern yang peduli dengan pencapaian budaya semacam itu. Apalagi masyarakat pemburu-peramu telah membuktikan daya tariknya sebagai cita-cita sosial: Anarko-primitifisme tampaknya te-
t e d k a c z y n s k i | 2 4 4
lah mendapatkan popularitas yang luas. Sulit untuk dapat membayangkan keberhasilan yang sama untuk sebuah gerakan yang ingin kembali menuju masyarakat abad pertengahan, misalnya. Tentu saja, keberhasilan anarko-primitifisme bergantung pada penggambaran ideal masyarakat pemburu-peramu. Dugaan saya, atau setidaknya harapan saya, adalah bahwa aspek-aspek tertentu yang tidak menyenangkan dari masyarakat pemburu-peramu (misalnya, dominasi laki-laki, kerja keras) akan mematikan kaum kiri, neurotik, dan para pemalas, tetapi masyarakat seperti itu, yang digambarkan apa adanya, akan tetap menarik bagi jenis orang yang bisa menjadi revolusioner yang efektif. Saya tidak berpikir bahwa kembalinya dunia ke ekonomi berburu-dan-meramu sebagai hasil yang masuk akal dari runtuhnya masyarakat industri. Tidak ada ideologi yang bakal membujuk orang untuk kelaparan ketika mereka bisa memberi makan diri sendiri dengan menanam tanaman, jadi orang mungkin akan bertani kalau tanah dan iklimnya cocok. Kembali ke ekonomi berburu dan meramu sebagai satu-satunya alat penghidupan hanya dapat terjadi di daerah yang tidak cocok untuk pertanian, misalnya, sub-arktik, dataran gersang, atau pegunungan terjal.
Sementara untuk menanggapi pendapat Anda bahwa mencurahkan perhatian pada pengurangan populasi adalah tepat, setidaknya sebagai “perhatian tambahan”, saya tidak setuju karena dua alasan:
(a) Upaya untuk mengurangi populasi akan sia-sia. (b) Bahkan jika itu dapat dicapai, pengurangan populasi tidak akan berpengaruh terhadap sistem. Karena alasan ini, fokus pada pengurangan populasi akan membuang waktu dan energi seharusnya dicurahkan untuk upaya yang lebih bermanfaat.
(c) Kalau Anda seumuran saya dan telah menyaksikan perkem-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 4 5
bangan masyarakat kita selama 50 tahun, pasti Anda tidak akan menyarankan kampanye melawan pertumbuhan penduduk. Hal itu sudah dicoba dan gagal. Kembali pada tahun 1960-an dan awal 1970-an, kekhawatiran tentang “masalah kependudukan” sedang ramai-ramainya. Bahkan ada organisasi nasional yang disebut “Pertumbuhan Populasi Nol” [Zero Population Growth] yang tujuannya sama seperti namanya. Tentu saja, itu tidak pernah mencapai apa pun. Pada masa itu, fakta bahwa populasi adalah masalah adalah penemuan baru, tetapi saat ini ia sudah jadi “topik lama”, orang-orang bosan, dan jauh lebih sulit untuk membuat orang terangsang tentang populasi daripada di tahun 1960-an. Terutama karena prediksi terbaru adalah bahwa populasi dunia akan turun menjadi sekitar 9 miliar sekitar pertengahan abad ini. Prediksi seperti itu tidak dapat diandalkan, tetapi bagaimanapun juga mengurangi kecemasan tentang pertumbuhan populasi yang tidak terkendali. Bagaimanapun, Anda tidak akan pernah bisa membuat sejumlah besar orang memiliki lebih sedikit anak hanya dengan menunjukkan kepada mereka masalah yang disebabkan oleh kelebihan penduduk. Seperti yang sangat disadari oleh para propagandis profesional, nalar itu sendiri tidak banyak digunakan untuk mempengaruhi orang secara massal. 8 Untuk menghasilkan pengaruh yang lebih besar, Anda harus menggunakan teknik propaganda sistem itu sendiri. Dengan mengotori tangannya dengan cara ini, gerakan anti-sistem mungkin akan mendiskreditkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, sangat tidak mungkin bahwa gerakan seperti itu bisa cukup kaya untuk melakukan kampanye yang efektif di seluruh dunia atau bahkan nasional untuk membujuk orang agar memiliki lebih sedikit anak. “Propaganda yang bertujuan untuk mendorong perubahan besar pasti membutuhkan banyak waktu, sumber daya, kesabaran, dan tipuan, kecuali pada saat krisis revolusioner ketika kepercayaan lama telah dihancurkan.” Artikel tentang “Propagan-
t e d k a c z y n s k i | 2 4 6
da” dalam Encyclopedia Britannica memberikan sekilas pandangan yang baik tentang teknik dasar propaganda modern, dan karena itu memberikan gambaran tentang seberapa banyak uang yang diperlukan untuk menciptakan kesan yang meluas tentang tingkat kelahiran melalui cara persuasif. “Banyak agen propaganda yang lebih besar dan lebih kaya ... melakukan ‘kampanye simbolis’ dan operasi ‘membangun citra’ dengan perhitungan matematis, menggunakan jumlah data yang hanya dapat diproses oleh komputer...” 10 dsb. dsb. (Ini akan menghentikan saran Anda bahwa “Propaganda dapat ditentang oleh kontra-propaganda.” Kecuali Anda memiliki miliaran dolar, tidak mungkin Anda dapat mengalahkan sistem dalam kontes propaganda secara langsung. Sebuah gerakan revolusioner harus menemukan cara lain untuk membuat dampak.) Betapa sulitnya menurunkan angka kelahiran dapat dilihat dari fakta bahwa pemerintah China telah berusaha melakukan itu selama bertahun-tahun. Menurut laporan terakhir yang saya dengar (beberapa tahun yang lalu), mereka hanya memiliki keberhasilan yang sangat terbatas, meskipun mereka memiliki sumber daya yang jauh lebih besar daripada yang bisa diharapkan oleh gerakan revolusioner mana pun. Lebih jauh lagi, kampanye untuk tidak punya anak bisa menjadi semacam bunuh diri bagi sebuah gerakan. Orang-orang yang ber- samamu tidak akan punya anak, tetapi lawanmu akan punya anak. Karena orientasi politik anak-anak secara statistik cenderung mirip dengan orang tua mereka, gerakan Anda di tiap generasinya akan semakin lemah. Dan, terus terang, gerakan revolusioner membutuhkan musuh, membutuhkan seseorang atau sesuatu untuk dibenci. Jika Anda bekerja melawan kelebihan penduduk, lalu siapa musuhmu? Perempuan hamil? Saya tidak berpikir itu akan bekerja dengan baik.
(d) Bahkan dengan asumsi Anda dapat mengurangi angka kela-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 4 7
hiran, penurunan populasi tidak akan banyak berguna dan mungkin kontra-produktif. Saya gagal memahami pernyataan Anda (halaman 7 surat Anda) bahwa pertumbuhan penduduk “tampaknya mendorong seluruh proses tekno-industrial maju dengan kecepatan tinggi.” Peningkatan populasi tidak diragukan lagi merupakan stimulus penting bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi itu bukanlah faktor yang menentukan. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi mungkin lebih banyak terjadi melalui peningkatan permintaan barang dan layanan pada tiap individu daripada melalui peningkatan jumlah individu. Bagaimanapun, apakah Anda benar-benar percaya bahwa para ilmuwan akan berhenti mengembangkan super-komputer dan teknologi biologis jika populasi manusia mulai menurun? Tentu saja, para ilmuwan membutuhkan dukungan finansial dari organisasi besar seperti perusahaan dan pemerintah. Tetapi dukungan organisasi besar untuk penelitian tidak didorong oleh pertumbuhan populasi tetapi oleh persaingan untuk kekuasaan di antara organisasi-organisasi besar. Jadi saya pikir kita dapat mengatakan bahwa populasi adalah variabel terikat, teknologi adalah variabel independen. Bukan pertumbuhan populasi yang mendorong teknologi, tetapi teknologi yang memungkinkan pertumbuhan populasi. Selain itu, karena kepadatan penduduk membuat orang tidak nyaman dan meningkatkan stress dan agresi, pengurangan populasi akan cenderung mengurangi ketegangan dalam masyarakat kita, yang karenanya akan bertentangan dengan kepentingan gerakan revolusioner, yang, sebagaimana telah dicatat, perlu meningkatkan ketegangan sosial. Bahkan jika kemenangan dalam masalah kependudukan dapat dicapai, saya tidak berpikir itu akan memenuhi salah satu kondisi (b), (c), (d) yang saya sebutkan sebelumnya dalam surat ini. Dapat diperdebatkan, kalau penurunan populasi dapat “memberi kita waktu” dalam arti yang te-
t e d k a c z y n s k i | 2 4 8
lah saya sebutkan, tetapi kalau ditimbang dengan faktor-faktor lain yang baru saja saya jelaskan, saya pikir upaya untuk mengurangi populasi kalah beratnya. Tetapi gerakan revolusioner dapat memanfaatkan masalah kependudukan dengan menunjuk kelebihan penduduk sebagai salah satu konsekuensi negatif dari kemajuan teknologi.
Catatan.
]1) Encyclopedia Britannica, edisi ke-15., 2003, Vol. 28, artikel “Technology,” hlm 451.
(2) Atau sesuatu untuk efek itu. Ini mungkin dari Autopsy of
Revolution Ellul. Di sini, dan dalam surat apa pun yang mungkin saya tulis untuk Anda, harap ingat kalau ingatan yang saya sebutkan dalam surat tidak dapat diandalkan. Setiap kali saya gagal mengutip sumber, hingga nomor halaman, untuk fakta apa pun yang saya nyatakan, Anda dapat berasumsi bahwa saya mengandalkan fakta itu pada ingatan saya (mungkin salah) tentang sesuatu yang pernah saya baca (mungkin bertahun-tahun yang lalu), kecuali faktanya adalah pengetahuan umum atau dapat dicari di sumber yang tersedia seperti ensiklopedia atau buku teks standar. [3] Leon Trotsky, History of the Russian Revolution, terj oleh Max Eastman, 1980 ed., Vol. 1, hlm. xviii-xix. [4] HI E.g., Elizabeth Cashdan, “Hunters and Gatherers: Economic Behavior in Bands,” dalam S. Plattner (peny), Economic Anthropology, 1989, hlm. 22-23. [5] “Dalam setiap contoh yang terdokumentasi dengan baik, kasus-kasus kesulitan [kelaparan] dapat ditelusuri ke intervensi pe- nyusup modern.” Carleton S. Coon, The Hunting Peoples, 1971, hlm. 388-89. [6] Saya menganggap ini sebagai “pengetahuan umum” di antara para antropolog. Namun, saya memiliki sedikit informasi spesifik
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 4 9
tentang hal ini. [7J Encyclopedia Britannica, edisi ke-15., 1997, Vol. 10, artikel “Slave,” hlm. 873. [8] Ibid., Vol. 26, artikel “Propaganda,” hlm. 175-76 (“Propagandis harus menyadari bahwa baik argumen rasional maupun slo- gan yang menarik tidak dapat, dengan sendirinya, berbuat banyak untuk mempengaruhi perilaku manusia.”) [9] Ibid., hlm. 176. [10] Ibid., hlm. 174.
Surat kepada David Skrbina, 18 September 2004
Saya kira sebagai pendahuluan untuk menjawab surat Anda tertanggal 27 Juli, ada baiknya saya memberikan garis besar yang lebih rinci tentang “jalan menuju revolusi” yang saya bayangkan. “Jalan” itu tentu saja sekedar perkiraan. Tidak mungkin untuk meramal- kan jalannya peristiwa, jadi setiap gerakan yang ingin menyingkirkan sistem tekno-industrial harus fleksibel dan dilanjutkan dengan coba-coba. Meski begitu, penting untuk memberikan petunjuk yang lentur tentang rute yang harus diikuti, karena jika tanpa arah, gerakan akan menggelepar tanpa tujuan. Juga, garis besar dari setidaknya rute yang mungkin menuju revolusi membantu membuat gagasan revolusi tampak masuk akal. Mungkin hambatan terbesar saat ini untuk penciptaan gerakan revolusioner yang efektif adalah bahwa kebanyakan orang (setidaknya di AS) tidak melihat revolusi sebagai kemungkinan yang masuk akal. Pertama-tama, saya percaya bahwa tindakan ilegal akan sangat diperlukan. Saya tidak akan diizinkan untuk mengirimkan surat ini jika tampaknya mencoba menghasut tindakan ilegal, jadi saya hanya akan mengatakan ini saja: pergerakan revolusioner harus terdiri dari dua sektor yang terpisah dan independen, sektor ilegal, bawah tanah, dan sektor legal. Saya tidak akan mengatakan apapun ten-
t e d k a c z y n s k i | 2 5 0
tang apa yang harus dilakukan oleh sektor ilegal. Sektor yang legal (jika hanya untuk perlindungannya sendiri) harus hati-hati menghindari hubungan apapun dengan sektor ilegal. Dengan kemungkinan pengecualian yang tercantum dalam surat saya pada 29/08/2004, fungsi sektor legal tidak akan memperbaiki kejahatan teknologi. Sebaliknya, fungsinya adalah untuk mempersiapkan jalan bagi revolusi di masa depan, yang akan dilakukan ketika saat yang tepat tiba. Persiapan awal sangat penting mengingat fakta bahwa kesempatan untuk revolusi dapat tiba kapan saja dan sangat tidak terduga. Pemberontakan spontan di St. Petersburg pada Februari 1917 mengejutkan seluruh Rusia. Aman untuk mengatakan bahwa pemberontakan ini (jika itu benar-benar terjadi) tidak akan lebih dari ledakan frustrasi besar-besaran tetapi tanpa tujuan jika jalan menuju revolusi tidak dipersiapkan sebelumnya. Seperti yang terjadi, sudah ada gerakan revolusioner yang kuat yang berada dalam posisi untuk memberikan kepemimpinan, dan kaum revolusioner terlebih dahulu telah mendidik (atau mengindoktrinasi) para pekerja St. Petersburg sehingga ketika pekerja memberontak, mereka tidak hanya mengekspresikan kemarahan yang tidak masuk akal, tetapi bertindak dengan sengaja dan kurang lebih cerdas. Untuk mempersiapkan jalan bagi revolusi, sektor legal dari gerakan harus:
(I) Membangun kekuatan dan kekompakan tersendiri. Mening-
katkan jumlahnya tidak sepenting mengumpulkan anggota yang setia, cakap, sangat berkomitmen, dan siap untuk tindakan praktis. (Contoh kaum Bolshevik bersifat instruktif di sini.) (II) Mengembangkan dan menyebarluaskan ideologi yang akan
(a) menunjukkan kepada orang-orang betapa bahayanya kemajuan teknologi di masa depan; (b) menunjukkan kepada orang-orang berapa banyak masalah dan frustasi mereka saat ini berasal dari kenya-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5 1
taan bahwa mereka hidup dalam masyarakat teknologi; (c) menunjukkan kepada orang-orang bahwa ada masyarakat masa lalu yang kurang lebih terbebas dari masalah dan frustasi ini; (d) menawarkan kehidupan yang dekat dengan alam sebagai cita-cita positif; dan (e) menghadirkan revolusi sebagai alternatif yang realistis. Kegunaan (II) adalah sebagai berikut: Seperti yang terjadi pada saat ini, revolusi di bagian stabil dunia industri tidak mungkin. Sebuah revolusi hanya dapat terjadi jika terjadi sesuatu yang menggoyahkan stabilitas masyarakat industri. Sangat mudah untuk membayangkan peristiwa atau perkembangan yang dapat mengguncang sistem dengan cara ini. Untuk mengambil satu contoh saja, anggaplah virus yang dibuat di laboratorium eksperimental lolos dan memusnahkan, katakanlah, sepertiga populasi dunia industri. Tetapi jika ini terjadi sekarang, hampir tidak mungkin hal itu dapat mengarah pada revolusi. Alih-alih menyalahkan sistem tekno-industrial secara keseluruhan atas bencana tersebut, orang hanya akan menyalahkan kecerobohan laboratorium tertentu. Reaksi mereka bukanlah membuang teknologi, tetapi mencoba mengambil bagian-bagiannya dan menjalankan kembali sistem itu —walaupun tidak diragukan lagi mereka akan memberlakukan undang-undang yang membutuhkan pengawasan yang lebih ketat terhadap penelitian bioteknologi di masa depan. Kesulitannya adalah bahwa orang melihat masalah, frustrasi, dan bencana secara terpisah daripada melihatnya sebagai manifestasi dari satu masalah utama teknologi. Jika Al-Qaeda meledakkan bom nuklir di Washington, D.C., reaksi orang-orang adalah, “Tangkap teroris itu!” Mereka akan lupa bahwa bom itu tidak mungkin ada tanpa perkembangan teknologi nuklir sebelumnya. Ketika orang menemukan kalau budaya atau kesejahteraan ekonomi mereka terganggu oleh masuknya imigran dalam jumlah besar, reaksi mereka adalah membenci para imigran daripada memperhitungkan fakta
t e d k a c z y n s k i | 2 5 2
bahwa perpindahan penduduk secara besar-besaran merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari perkembangan ekonomi yang dihasilkan dari kemajuan teknologi. Jika ada depresi di seluruh dunia, orang akan menyalahkannya hanya pada kesalahan manajemen ekonomi seseorang, lupa bahwa di masa lalu ketika komunitas kecil sebagian besar mandiri, kesejahteraan mereka tidak bergantung pada keputusan pakar ekonomi pemerintah. Ketika orang-orang kesal dengan kemerosotan nilai-nilai tradisional atau hilangnya otonomi lokal, mereka berkhotbah menentang “amoralitas” atau marah pada “pemerintahan besar”, tanpa kesadaran yang jelas bahwa hilangnya nilai-nilai tradisional dan otonomi lokal adalah akibat yang tidak dapat dihindari dari kemajuan teknologi.
Surat kepada David Skrbina, 12 Oktober 2004
Saya akan mulai dengan merangkum beberapa informasi dari Martin E.P. Seligman, Helplessness: On Depression, Development, and Death. Di sini saya harus mengandalkan ingatan, karena saya tidak punya salinan buku Seligman, juga tidak punya catatan panjang tentangnya. Seligman sampai pada kesimpulan berikut melalui eksperimen dengan hewan: Ambil seekor hewan, berikan rangsangan yang menyakitkan berulang kali, dan tiap kali hewan itu mencoba melarikan diri, ha- langi. Hewan itu menjadi frustasi. Ulangi prosesnya terus, dan keadaan frustasi membuatnya depresi. Hewan itu baru saja menyerah. Hewan itu sekarang telah “mempelajari ketidakberdayaan” [learned helplessness]. Jika di lain waktu Anda memberi hewan itu rangsangan yang sama menyakitkannya, ia tidak akan mencoba melarikan diri dari rangsangan itu, meskipun ia dapat dengan mudah melakukannya. Ketidakberdayaan yang dipelajari dapat dihilangkan. Saya tidak ingat detailnya, tetapi gagasan umumnya adalah bahwa hewan itu
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5 3
mengatasi rasa tidak berdaya dengan melakukan upaya yang berhasil. Baik belajar, maupun tidak belajar [unlearned] tentang ketidakberdayaan, terjadi dalam area perilaku tertentu di mana hewan itu dilatih. Misalnya, jika seekor hewan memperoleh ketidakberdayaan yang dipelajari melalui frustasi berulang-ulang dari upayanya untuk melarikan diri dari sengatan listrik, itu tidak selalu menunjukkan ketidakberdayaan yang dipelajari dalam kaitannya dengan upaya untuk mendapatkan makanan. Tetapi ketidakberdayaan yang dipelajari sampai batas tertentu terbawa dari satu area ke area lain: Jika seekor hewan memperoleh ketidakberdayaan yang dipelajari sehubungan dengan sengatan listrik, selanjutnya ia akan lebih mudah putus asa ketika usahanya untuk mendapatkan makanan gagal. Prinsip yang sama berlaku untuk tidak mempelajari [unlearned] ketidakberdayaan. Seekor hewan dapat sedikit “dibuat kebal” [immunized] untuk ketidakberdayaan yang dipelajari: Jika seekor hewan diberikan pengalaman sebelumnya dalam mengatasi rintangan melalui usaha, ia akan jauh lebih kebal terhadap ketidakberdayaan yang dipelajari (dan karenanya juga terhadap depresi) daripada hewan yang tidak memiliki pengalaman seperti itu. Misalnya, jika merpati yang dikurung bisa mendapatkan makanan hanya dengan mendorong tuas pada peralatan yang memberi mereka satu butir gandum atau sejenisnya untuk setiap dorongan tuas, maka mereka nantinya akan jauh lebih mudah memperoleh pelajaran tentang ketidakberdayaan daripada merpati yang tidak harus bekerja untuk makanan mereka. Ingatan saya tentang hal itu tidak begitu jelas, tetapi saya pikir Seligman menunjukkan bahwa tikus laboratorium dan tikus liar berbeda karena tikus liar jauh lebih energik dan gigih daripada tikus laboratorium dalam mencoba menyelamatkan diri dalam situasi putus asa. Agaknya tikus-tikus liar telah diimunisasi untuk
t e d k a c z y n s k i | 2 5 4
mempelajari ketidakberdayaan melalui upaya-upaya yang berhasil yang dilakukan dalam kehidupan mereka di alam liar sebelumnya. Bagaimanapun, tampaknya upaya yang disengaja memainkan peran penting dalam psikologi ekonomi hewan. Saya pertama kali membaca buku Seligman pada akhir 1980-an. Buku itu awalnya terbit pada awal 1970-an, dan saya tidak punya banyak kesempatan untuk kemudian membaca ketidakberdayaan yang dipelajari. Tetapi teori itu diyakini berlaku juga untuk manusia, dan saya percaya itu adalah subjek dari pekerjaan yang berkelanjutan. Saya tidak serta merta menerima teori psikologi hanya karena beberapa psikolog mengatakan itu benar. Ada banyak omong kosong di lapangan, dan bahkan psikolog eksperimental terkadang menarik kesimpulan konyol dari data mereka. Tetapi teori “mempelajari ketidakberdayaan” sangat cocok dengan pengalaman pribadi saya sendiri dan dengan pengamatan saya tentang sifat manusia. Kebutuhan akan upaya yang berhasil dan memiliki tujuan, menyiratkan kebutuhan akan kompetensi, atau kebutuhan untuk dapat melakukan pengendalian, karena tujuan seseorang tidak dapat dicapai jika seseorang tidak memiliki kompetensi, atau kekuatan untuk melakukan pengendalian, yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Seligman menulis: “Banyak ahli teori telah berbicara tentang dorongan atau hasrat untuk mengontrol peristiwa di lingkungan sekitar. Dalam eksposisi klasik, R.W. White (1959) mengusulkan konsep kompetensi. Dia berpendapat bahwa dorongan dasar untuk kontrol telah diabaikan oleh ahli teori belajar dan pemikir psikoanalitik. Kebutuhan untuk mengontrol bisa lebih kuat daripada seks, lapar, dan haus dalam kehidupan hewan dan manusia... J.L. Kavanau (1967) telah mendalil- kan bahwa bagi hewan liar, dorongan untuk melawan paksaan lebih penting daripada seks, makanan, atau air. Ia menemukan bahwa
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5 5
tikus berkaki putih penangkaran menghabiskan banyak waktu dan energi hanya untuk menolak manipulasi eksperimental. Jika peneliti menyalakan lampu, tikus menghabiskan waktunya untuk menga- turnya. Jika peneliti mematikan lampu, tikus menyalakannya.” 2 “Martabat manusia” adalah istilah yang sangat kabur dan pengertiannya luas. Tetapi saya akan berasumsi bahwa perbaikan paling mendasar dari martabat manusia adalah kemampuan untuk mengerahkan diri dalam mengejar tujuan-tujuan praktis yang penting, yang telah ditentukan baik oleh diri sendiri atau sebagai anggota kelompok kecil yang otonom. Jadi, baik kebebasan maupun martabat, seperti bagaimana istilah itu akan saya gunakan, terkait erat dengan proses kekuasaan dan dengan kebutuhan biologis yang terkait. Ini menunjukkan kebutuhan tidak hanya untuk kekuasaan, tetapi juga untuk otonomi. Bahkan, kebutuhan seperti itu tampaknya tersirat oleh kebutuhan untuk mencapai tujuan melalui upaya; karena jika upaya seseorang dilakukan dengan menundukkan orang lain, maka upaya itu akan diarahkan ke tujuan orang lain daripada ke upayanya sendiri. Tapi fakta yang kurang menyenangkan adalah tiap orang tampaknya butuh tingkat otonomi yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, dorongan untuk otonomi sangat kuat. Tapi bagi sebagian lagi ada orang yang tampaknya tidak membutuhkan otonomi sama sekali. Mereka lebih suka meminta orang lain memberi perintah untuk dirinya. Mungkin orang-orang ini, secara otomatis dan bahkan tanpa menginginkannya, menerima tujuan apa pun yang ditetapkan pada mereka oleh siapapun yang otoritasnya mereka akui. Mungkin alasan lainnya adalah orang-orang tertentu membutuhkan upaya yang bertujuan untuk melatih kekuatan berpikir dan pengambilan keputusan mereka, sementara orang lain hanya perlu melatih secara rutin kapasitas fisik dan mental mereka. Namun hipotesis lain adalah bahwa mereka yang lebih suka orang lain menetapkan tujuan
t e d k a c z y n s k i | 2 5 6
bagi dirinya adalah orang-orang yang telah mempelajari ketidakberdayaan di bidang pemikiran dan pengambilan keputusan. Jadi pertanyaan otonomi tetap agak bermasalah. Bagaimanapun, konsep ISAIF tentang proses kekuasaan ada hubungannya dengan diskusi di atas. Seperti yang dijelaskan di ISAIF §33, kebutuhan akan proses kekuasaan terdiri dari kebutuhan untuk memiliki tujuan, untuk melakukan upaya ke arah tujuan tersebut, dan untuk berhasil mencapai setidaknya beberapa tujuan; dan kebanyakan orang membutuhkan tingkat otonomi yang lebih besar atau lebih kecil dalam mengejar tujuan mereka. Jika seseorang tidak memiliki pengalaman yang cukup tentang proses kekuasaan, maka dia belum “diimunisasi” untuk ketidakberdayaan yang dipelajari, maka dia kurang kebal terhadap ketidakberdayaan dan akibatnya ia bakal depresi. Bahkan andai seseorang telah diimunisasi, jika ia terus-menerus tidak mampu mencapai tujuan maka hal itu akan menyebabkan frustasi dan pada berujung dengan depresi. Seperti yang akan dikatakan psikolog mana pun, frustrasi menyebabkan kemarahan, dan depresi cenderung menghasilkan perasaan bersalah, membenci diri sendiri, kecemasan, gangguan tidur, gangguan makan, dan gejala lainnya. (Bagian ISAIF, 44 dan Catatan 6.) Jadi, jika teori “ketidakberdayaan yang dipelajari” yang sudah dibahas itu benar adanya, maka pengertian tentang “kebebasan” dalam ISAlF terkait proses kekuasaan tidaklah sembarangan, tetapi didasarkan pada kebutuhan biologis manusia dan hewan. Hal ini telah mendapat dukungan di banyak literatur lain. Ahli zoologi Desmond Morris, dalam bukunya The Human Zoo, menjelaskan beberapa perilaku hewan liar yang tidak normal ketika mereka dikurung di kandang, dan dia menjelaskan kelaziman perilaku tidak normal di antara orang-orang modern (misalnya, pelecehan anak dan penyimpangan seksual) dengan membandingkan manusia masa kini dengan binatang di kebun binatang: Masyarakat modern
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5 7
adalah “kandang”-nya kita. Morris tidak secara terang-terangan menunjukkan teori “ketidakberdayaan yang dipelajari”, tetapi sebagian besar yang dia katakan sangat cocok dengan teori itu. Dia bahkan menyebutkan “kegiatan tambahan” [substitute activities] yang mirip dengan “kegiatan pengganti” [surrogate activities] yang di maksud dalam ISAIF. Kebutuhan akan kekuasaan, otonomi, dan aktivitas yang bertujuan mungkin tersirat dalam beberapa karya Ellul. Tidak lama setelah saya menjalani persidangan, Dr. Michael Aleksiuk mengirimi saya bukunya Power Therapy, yang berisi ide-ide yang berkaitan erat dengan proses kekuasan. Tema utama kajian Kenneth Keniston pada tahun 70-an yang berjudul The Uncommitted adalah perasaan tanpa tujuan yang menimpa banyak orang di dunia modern. Kalau tidak salah dia menyebutkan tentang “naluri pengerjaan” [instinct of workmanship] yang berarti kebutuhan untuk melakukan pekerjaan yang bertujuan/berguna. Paul Goodman di bagian pertama bukunya Growing Up Absurd, membahas bahwa ketika hari ini laki-laki tidak perlu lagi bekerja keras, yaitu pekerjaan penting yang berkaitan dengan kelangsungan hidup, hal itu adalah sumber masalah sosial. Dalam ulasan buku Gerard Piel, Nathan Keyfitz menulis: “Salah satu tanda dari kegagalan adaptasi -maladaptation- [dalam masyarakat modern] adalah … ketiadaan tujuan. Nenek moyang kita, yang pekerjaannya sulit dan seringkali berbahaya tetapi dibutuhkan untuk bertahan hidup, tampaknya tahu untuk apa mereka ada di sini. Sekarang ‘anomie dan keasyikan dengan diri yang terisolasi muncul kembali sebagai tema utama budaya populer Amerika. Bahwa mereka menemukan gema yang sama di tiap negara industri yang lain menunjukkan bahwa pemecahan masalah ekonomi membawa kebingungan ini di mana-mana.’’ Jadi, saya berpendapat bahwa proses kekuasaan bukanlah suatu kemewahan tetapi suatu kebutuhan mendasar dalam perkembang-
t e d k a c z y n s k i | 2 5 8
an psikologis manusia, dan gangguan terhadap proses kekuasaan itu merupakan masalah yang sangat penting dalam masyarakat modern. Karena kurangnya akses ke fasilitas perpustakaan yang baik, saya belum dapat menjelajahi literatur psikologis yang relevan secara signifikan, tetapi bagi siapapun yang tertarik dengan masalah sosial modern, eksplorasi semacam itu harus sepadan dengan waktu yang dihabiskan. Untuk menjawab surat-surat Anda, saya tidak akan sekaku itu dengan pengertian kebebasan yang dijelaskan dalam ISAIF, 94, tetapi saya akan berasumsi bahwa jenis kebebasan yang benar-benar penting adalah kebebasan untuk melakukan hal-hal yang memiliki konsekuensi praktis yang penting; sementara kebebasan untuk melakukan sesuatu hanya untuk kesenangan, atau untuk “pemenuh- an”, atau dalam mengejar kegiatan pengganti, relatif tidak signifikan. Lihat ISAIF, 72. “Martabat manusia” adalah istilah yang sangat kabur dan mencakup secara luas. Tetapi saya akan berasumsi bahwa perbaikan paling mendasar dari martabat manusia adalah kemampuan untuk mengerahkan diri sendiri dalam mengejar tujuan-tujuan praktis yang penting yang telah dipilih baik oleh diri sendiri atau sebagai anggota kelompok kecil yang otonom. Dengan demikian, baik kebebasan maupun martabat, seperti sebagaimana istilah-istilah itu saya gunakan, terkait erat dengan proses kekuasaan dan dengan kebutuhan biologis.
Anda menanyakan “alasan utama” mengapa keadaan menjadi lebih buruk. Berikut adalah dua alasan utamanya.
A.
Sampai kira-kira sepuluh ribu tahun yang lalu, semua orang
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 5 9
hidup sebagai pemburu-peramu, dan itu adalah cara hidup yang kita sesuaikan secara fisik dan mental. Banyak dari kita, termasuk beberapa orang Eropa, 4 menjadi pemburu-peramu jauh lebih baru daripada ribuan tahun yang lalu. Kita mungkin telah mengalami beberapa perubahan genetik sejak menjadi petani, tetapi perubahan itu sepertinya tidak besar-besaran. 5 Pemburu-peramu yang bertahan hingga zaman modern adalah orang-orang yang sangat mirip dengan kita. Seiring kemajuan teknologi selama ribuan tahun, itu semakin mengubah cara hidup kita, sehingga kita harus hidup dalam kondisi yang semakin menyimpang dari kondisi yang kita adaptasi. Mala- daptasi yang berkembang ini membuat kita mengalami ketegangan yang terus meningkat. Masalahnya telah menjadi sangat akut sejak Revolusi Industri, yang telah mengubah hidup kita lebih dalam daripada perkembangan sebelumnya dalam sejarah manusia. Akibatnya, kita menderita lebih parah dari sebelumnya akibat kegagalan adaptasi dengan keadaan di mana kita hidup. (Robert Wright telah mengembangkan tesis ini dalam sebuah artikel yang mungkin menarik untuk Anda baca.) 6 Saya berpendapat bahwa satu-satunya kegagalan adaptasi yang paling penting berasal dari fakta bahwa keadaan kita saat ini membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengalami proses kekuasaan dengan benar. Dengan kata lain, kita kekurangan kebebasan sebagaimana istilah tersebut didefinisikan dalam ISAIF, 94. Argumen bahwa “orang zaman sekarang memiliki lebih banyak kebebasan daripada sebelumnya” didasarkan pada fakta bahwa kita diizinkan untuk melakukan hampir semua hal yang kita suka selama itu tidak memiliki konsekuensi praktis. Lihat ISAIF, 72. Dimana tindakan kita memiliki konsekuensi praktis yang mungkin menjadi perhatian sistem (dan beberapa konsekuensi praktis yang penting tidak menjadi perhatian sistem), maka perilaku kita secara umum
t e d k a c z y n s k i | 2 6 0
diatur secara ketat. Contoh: Kita bisa percaya pada agama apa pun yang kita suka, berhubungan seks dengan pasangan dewasa mana pun yang setuju, naik pesawat ke China atau Timbuktu, mengubah bentuk hidung kita, memilih salah satu dari berbagai macam buku, film, rekaman musik, dll. ., dll., dll. Tetapi pilihan ini biasanya tidak memiliki konsekuensi praktis yang penting. Selain itu, mereka tidak memerlukan upaya serius dari kita. Kita tidak mengubah bentuk hidung kita sendiri, kita membayar ahli bedah untuk melakukannya untuk kita. Kita tidak pergi ke China atau Timbuktu dengan kekuatan kita sendiri, kita membayar seseorang untuk me- nerbangkan kita ke sana. Di sisi lain, di kota asal kita sendiri, kita tidak dapat pergi dari titik A ke titik B tanpa pergerakan kita dikendalikan oleh peraturan lalu lintas, kita tidak dapat membeli senjata api tanpa menjalani pemeriksaan latar belakang, kita tidak dapat berganti pekerjaan karena latar belakang kita diteliti oleh calon majikan. Pekerjaan kebanyakan orang mengharuskan mereka untuk bekerja sesuai dengan aturan, prosedur, dan jadwal yang ditentukan oleh majikan mereka, kita tidak dapat memulai bisnis tanpa mendapatkan lisensi dan izin, mematuhi berbagai peraturan, dan sebagainya. Selain itu, kita hidup dalam belas kasihan organisasi besar yang tindakannya menentukan keadaan keberadaan kita, seperti keadaan ekonomi dan lingkungan, apakah akan ada perang atau kecelakaan nuklir, pendidikan seperti apa yang akan diterima anak-anak kita dan pengaruh media apa yang akan mereka paparkan. dll, dll, dll. Singkatnya, kita punya lebih banyak kebebasan untuk bersenang-senang daripada sebelumnya, tetapi kita tidak dapat campur tangan secara signifikan dalam masalah hidup dan mati kita. Isu-isu seperti itu ada di bawah kendali organisasi-organisasi besar. Oleh karena itu perampasan kita sehubungan dengan proses kekuasaan,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 6 1
yang mengharuskan kita memiliki tujuan yang serius dan kekuatan untuk mencapai tujuan tersebut melalui usaha kita sendiri.
B.
“Alasan utama” kedua mengapa keadaan menjadi lebih buruk adalah bahwa tidak ada cara untuk mencegah penggunaan teknologi dengan cara yang berbahaya, terutama karena konsekuensi akhir dari penerapan teknologi tertentu biasanya tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, kerusakan tidak dapat diramalkan sampai hal itu terlambat. Tentu saja, akibat dari tindakan manusia primitif seringkali tidak dapat diprediksi, tetapi karena kekuatannya terbatas, konsekuensi negatif dari tindakannya juga terbatas. Ketika teknologi menjadi semakin kuat, terlepas dari konsekuensi tak terduga dari penggunaannya yang niatnya baik, apalagi konsekuensi dari penggunaannya yang tidak bertanggung jawab atau berbahaya, menjadi semakin serius, dan membawa dunia pada ketidakstabilan yang pada akhirnya mungkin mengarah pada bencana. Lihat artikel Bill Joy, “Why the Future Doesn’t Need Us,” dalam majalah Wired, April 2000, dan Martin Rees, Our Final Century.
Catatan Akhir.
[1] Martin E. P. Seligman, Helplessness: On Depression, Development, and Death, W. H. Freeman and Company, New York, 1975. hlm. 55. [2] Nathan Keyfitz, mengulas Gerard Piel’s Only One World: Our Own to Make and to Keep, dalam Scientific American, Februari 1993, hlm 116.] [3] Nathan Keyfitz, ulasan Gerard Pie “Only One World: Our Own to Make and to Keep”, dalam Scientific American, Februari 1993, hlm. 116. [4] Lihat mis., Tacitus, Germania 46 (pemburu-peramu ada di
t e d k a c z y n s k i | 2 6 2
area Baltic < 2,000 tahun yang lalu); Encyclopedia Britannica, 15th ed., 2003, VoL 28, artikel “Spain,” hlm. 18 (pemburu-peramu ada di Spanyol hingga 5.000 tahun yang lalu). [5] “Sepuluh ribu tahun yang lalu semua manusia adalah pemburu, termasuk nenek moyang semua orang yang membaca buku ini. Rentang sepuluh milenium mencakup sekitar empat ratus generasi, terlalu sedikit untuk memungkinkan perubahan genetik yang mencolok.” Carleton S. Coon, The Hunting Peoples, 1971, hlm. xvii. Diakui, mungkin dapat diperdebatkan apakah 400 generasi memungkinkan untuk “perubahan genetik penting.” [6] Robert Wright, “The Evolution of Despair,” majalah Time, 28 Agustus, 1995.
2 6 3
13/ Surat Ted Kaczynski kepada
Anonymous Jerman
Ada dua kesulitan yang terkait dengan isu-isu viktimisasi yang khas dari kaum kiri, seperti penindasan terhadap perempuan, homoseksual, ras atau etnis minoritas, dan hewan. Pertama, masalah ini mengalihkan perhatian dari masalah teknologi. Energi pemberontakan yang mungkin ditujukan untuk melawan sistem teknologi justru dicurahkan pada masalah-masalah rasisme, seksisme, dll yang tidak relevan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika masalah-masalah ini diselesaikan secara tuntas. Dalam hal ini mereka tidak dapat mengalihkan perhatian dari masalah teknologi. Tetapi kaum revolusioner tidak boleh berusaha memecahkan masalah rasisme, seksisme, dan sebagainya, karena saat mengatasi masalah ini, mereka akan semakin mengalihkan perhatian dari ma-
t e d k a c z y n s k i | 2 6 4
salah teknologi. Lebih jauh lagi, kaum revolusioner dapat memberikan kontribusi yang sangat sedikit untuk pemecahan masalah perempuan, minoritas, dll., karena masyarakat teknologi sendiri sudah bekerja untuk memecahkan masalah ini. Setiap hari (setidaknya di Amerika Serikat) media mengajarkan kita bahwa perempuan sama dengan laki-laki, bahwa homoseksual harus dihormati, bahwa semua ras harus menerima perlakuan yang sama, dan seterusnya. Oleh karena itu, segala upaya kaum revolusioner ke arah ini akan menjadi berlebihan. Melalui perhatian obsesif mereka pada isu-isu viktimisasi seperti dugaan penindasan terhadap perempuan, homoseksual, dan ras minoritas, kaum kiri memperbesar pengalihan isu dari masalah teknologi. Tetapi kontraproduktif pula apabila kaum revolusioner mencoba menghalangi kaum kiri untuk memecahkan masalah perempuan, minoritas, dan sebagainya, karena halangan seperti itu akan mengintensifkan kontroversi atas masalah ini dan karena itu akan mengalihkan perhatian lebih dari masalah teknologi. Sebaliknya, kaum revolusioner harus berulang kali menunjukkan dan menekankan bahwa energi yang dikeluarkan untuk isu-isu viktimisasi kaum kiri adalah sia-sia, dan energi itu harus dikeluarkan untuk masalah teknologi. Kesulitan kedua yang berhubungan dengan isu-isu viktimisasi adalah bahwa setiap kelompok yang peduli dengan isu-isu seperti itu akan menarik kaum kiri. Seperti yang dikemukakan Manifesto, kaum kiri tidak berguna sebagai kaum revolusioner karena kebanyakan dari mereka tidak benar-benar ingin menggulingkan bentuk masyarakat yang ada. Mereka hanya tertarik untuk memuaskan kebutuhan psikologis mereka sendiri melalui pembelaan yang gigih terhadap “penyebab-penyebab”. Penyebab apa pun akan berhasil selama itu tidak secara khusus sayap kanan.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 6 5
Jadi, ketika setiap gerakan (selain gerakan sayap kanan) yang bercita-cita menjadi revolusioner muncul, kaum kiri datang me- ngerumuninya seperti lebah mengerumuni madu sampai mereka melebihi jumlah anggota asli gerakan, mengambil alih, dan mengubahnya menjadi pergerakan kiri. Setelah itu gerakan tidak berguna untuk tujuan revolusioner. Earth First! memberikan contoh yang rapi dari proses ini. (Lihat Martha F. Lee, Earth First!: Environmental Apocalypse, Syracuse University Press, Syracuse, New York,
1995.) Dengan demikian, kiri berfungsi sebagai mekanisme untuk mengebiri gerakan revolusioner yang baru lahir dan menjadikannya tidak berbahaya. Oleh karena itu, untuk membentuk sebuah gerakan yang efektif, kaum revolusioner harus bersusah payah mengeluarkan kaum kiri dari gerakan tersebut. Untuk mengusir kaum kiri, kaum revolusioner seharusnya tidak hanya menghindari keterlibatan dalam upaya membantu perempuan, homoseksual, atau ras minoritas; mereka harus secara khusus menolak minat dalam masalah seperti itu, dan mereka harus menekankan berulang kali bahwa perempuan, homoseksual, ras minoritas, dan sebagainya harus menganggap diri mereka beruntung karena masyarakat kita memperlakukan mereka lebih baik daripada yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat sebelumnya. Dengan mengadopsi posisi ini, kaum revolusioner akan memisahkan diri dari kiri dan mencegah kaum kiri untuk mencoba bergabung dengan mereka.
Anda tampaknya berpikir bahwa meningkatkan tekanan rakyat dalam masyarakat modern akan cukup untuk menghasilkan sebuah revolusi. Tapi ini tidak benar. Tentu saja keluhan serius harus ada agar revolusi terjadi, tetapi keluhan serius, atau bahkan penderitaan terbesar, dengan sendirinya tidak cukup untuk membawa revolusi.
t e d k a c z y n s k i | 2 6 6
Orang-orang yang telah mempelajari proses revolusi setuju bahwa selain keluhan, beberapa faktor pemicu juga diperlukan. Faktor pencetusnya bisa jadi pemimpin yang dinamis, kejadian luar biasa, atau apa pun yang membangkitkan harapan baru bahwa pemberontakan dapat meredakan keluhan. Jadi Trotsky menulis: “Pada kenyataannya keberadaan privasi saja tidak cukup untuk menyebabkan pemberontakan… Penting bahwa… kondisi baru dan ide-ide baru harus membuka jalan keluar bagi prospek yang revolusioner.” 1 Menurut pendapat filsuf-sosiolog Eric Hoffer: “Kehadiran seorang pemimpin yang luar biasa sangat diperlukan. Tanpa dia tidak akan ada pergerakan. Kematangan zaman tidak serta merta menghasilkan gerakan massa…” 2 Demikian pula Encyclopaedia Britannica: “Pangkat dan peringkat kelompok mana pun; terutama yang besar, telah terbukti sangat pasif sampai dibangkitkan oleh pemimpin semi-pengayom [qu- asi-parental] yang mereka kagumi dan percayai.” 3 Tentu saja, prasyarat untuk revolusi jauh lebih kompleks daripada sekadar kehadiran pemimpin yang dinamis atau “kondisi baru dan ide-ide baru” yang membangkitkan harapan. Untuk diskusi panjang, lihat Neil J. Smelser, Theory of Collective Behavior, Mac- millan Company, New York, 1971, halaman 313-384. Namun, intinya adalah bahwa kaum revolusioner tidak bisa begitu saja menunggu secara pasif kondisi-kondisi sulit untuk menghasilkan sebuah revolusi. Sebaliknya, kaum revolusioner harus secara aktif mempersiapkan jalan bagi revolusi. Saya harus menambahkan bahwa pernyataan tentang kiriisme, di sini dan di Manifesto, didasarkan pada pengamatan atas kelompok kiri di Amerika. Saya tidak tahu apakah pernyataan itu dapat diterapkan tanpa disesuaikan dengan kiri di Eropa.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 6 7
Anda menulis: “Janganlah kita menipu diri kita sendiri tentang peran perempuan yang sebenarnya.” Jika peran perempuan yang Anda maksud adalah satu-satunya peran yang cocok untuk perempuan, maka saya tidak setuju. Terlepas dari membesarkan anak, perempuan selalu melakukan pekerjaan yang sangat penting, bahkan sangat diperlukan, dan pekerjaan yang seringkali sangat berat secara fisik atau membutuhkan keterampilan yang hebat. Untuk menyebutkan beberapa contoh: Di antara orang pigmi Mbuti di Afrika dan khususnya dalam membesarkan anak, perempuan bekerja jauh lebih banyak daripada laki-laki, mereka menyediakan sebagian besar makanan, mereka membangun gubuk, dan pekerjaan mereka seringkali sangat berat. Antara lain, mereka memanggul di pung- gung mereka tumpukan besar kayu bakar ke kamp. 4 Perempuan dari masyarakat pemburu-peramu di iklim hangat biasanya menyediakan sebagian besar makanan, sedangkan di negara-negara dingin laki-laki menyediakan sebagian besar makanan dengan berburu. 5 Tetapi di negara-negara dingin para perempuan memproduksi pakaian, 6 yang dalam iklim seperti itu sangat diperlukan, dan dengan melakukan itu para perempuan dari masyarakat berburu dan meramu tertentu menunjukkan keterampilan yang luar biasa. 7 Maka, tanpa mengingkari pentingnya peran mereka sebagai ibu, kita juga harus mengakui pentingnya peran perempuan sebagai buruh dan pekerja tangan yang terampil. Dan terlebih lagi saya berpendapat bahwa perempuan, sama seperti laki-laki, membutuhkan pekerjaan, yaitu kegiatan yang diarahkan pada suatu tujuan (“proses kekuasaan”). 8 Perempuan modern tidak perlu membuat pakaian, karena dia bisa membelinya; dia tidak perlu menenun keranjang, karena dia memiliki sejumlah wadah yang bagus; dia tidak perlu mencari buah, kacang, dan akar-akaran di hutan, karena dia bisa membeli makanan enak; dan seterusnya. Oleh karena itu, saya
t e d k a c z y n s k i | 2 6 8
menduga bahwa alasan mengapa perempuan modern saat ini ingin mengambil pekerjaan maskulin adalah karena peran mereka sebagai ibu tidak cukup untuk memuaskan mereka sekarang, karena teknologi sekarang telah merendahkan pekerjaan tradisional feminin lainnya menjadi sepele.
Anda menulis: “Sistem beroperasi dengan sangat licik sehingga membuat etnis minoritas percaya bahwa hilangnya identitas mereka adalah hal yang baik. Minoritas dimanipulasi untuk merugikan mereka sendiri, dan sepenuhnya tanpa paksaan yang terlihat.” Ya, saya setuju dengan ini, kecuali bahwa di beberapa negara, sistemnya jauh lebih licik: Alih-alih memberi tahu etnis minoritas bahwa kehilangan identitas mereka adalah hal yang baik, itu memberitahu mereka untuk mempertahankan identitas etnis mereka, tetapi pada saat yang sama sistem tahu betul bagaimana menguras identitas etnis dari intisari sebenarnya dan mereduksinya menjadi bentuk-bentuk eksternal yang kosong. Ini telah terjadi baik di Amerika Serikat⁹ dan di Uni Soviet.
Tentu saja, saya hanya tahu sedikit tentang universitas-universitas Jerman, tetapi para intelektual universitas Amerika, terlepas dari pengecualian yang jarang, sama sekali tidak cocok untuk menjadi anggota gerakan revolusioner yang efektif. Mayoritas milik orang kiri. Beberapa intelektual ini mungkin membuat diri mereka berguna dengan menyebarkan ide-ide tentang masalah teknologi, tetapi kebanyakan dari mereka takut pada ide penggulingan sistem dan tidak bisa menjadi revolusioner aktif. Mereka adalah “orang-orang kata-kata” yang telah dibicarakan oleh Eric Hoffer: Pekerjaan awal untuk meruntuhkan institusi yang ada, untuk
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 6 9
membiasakan massa dengan gagasan perubahan, dan untuk menciptakan penerimaan terhadap kepercayaan baru, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang, pertama dan terutama, pembicara atau penulis… kata-kata meruntuhkan institusi yang sudah mapan, mendiskreditkan mereka yang berkuasa, melemahkan kepercayaan dan loyalitas yang ada, dan menyiapkan panggung bagi kebangkit- an gerakan massa. 10 Ketika tatanan lama mulai runtuh, banyak orang yang suka berkata-kata, yang berdoa begitu lama untuk hari itu, kemudian menjadi kacau. Secara sekilas anarki membuat mereka takut. 11 Perkataan orang kreatif, tidak peduli seberapa pahit dia mengkritik dan mencemooh tatanan yang ada, sebenarnya melekat pada masa kini. Semangatnya adalah untuk mereformasi dan bukan untuk menghancurkan. Ketika gerakan massa tetap sepenuhnya dia pegang, dia mengubahnya untuk mengurus masalah sepele. Reformasi yang dia mulai adalah dari permukaan, dan tiba-tiba kehidupan mengalir tanpa jeda. 12
Anda menulis: “Gerakan harus menjadi awal yang benar-benar baru, melampaui semua posisi kiri dan kanan.” Ya memang! Aku sangat setuju! Anda benar: Kita perlu khawatir tentang faktor waktu. Tapi kita juga harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa perjuangan itu akan berlangsung sangat lama, mungkin puluhan tahun. Kita harus menggulingkan sistem secepat mungkin, tetapi bagaimanapun kita harus mempersiapkan diri untuk upaya revolusioner jangka panjang, karena mungkin saja tidak ada penggulingan sistem yang dapat dilakukan dengan cepat. Anda menunjukkan bahwa kemajuan teknologi berlangsung secepat kilat; bahwa mungkin diperlukan waktu dua puluh tahun
t e d k a c z y n s k i | 2 7 0
untuk mengembangkan komputer pertama yang akan melampaui setiap otak manusia dalam hal daya komputasi; bahwa rekayasa genetika pasti akan diterapkan untuk “perbaikan” manusia; bahwa obat baru akan dikembangkan. Semua ini mungkin benar. Tapi masa depan mungkin berbeda dari apa yang kita harapkan. Sebagai contoh: Seorang ilmuwan di Institut Teknologi Massachusetts percaya bahwa dalam waktu delapan tahun sebuah mesin dengan kecerdasan lebih dari jenius akan dikembangkan… Ilmuwan lain tidak setuju. Mereka menyarankan 15 tahun… Ini dari surat kabar The Chicago Daily News, 16 November
- Jelas, apa yang diprediksi para ilmuwan tidak terjadi. Demikian pula, upaya untuk menyembuhkan penyakit manusia tertentu melalui teknologi genetik mengalami kesulitan: terapi gen dapat menyebabkan kanker. Jadi ada kemungkinan bahwa komputer tidak akan melampaui kecerdasan manusia secepat yang diyakini; rekayasa genetika mungkin tidak begitu mudah diterapkan pada manusia; dan seterusnya. Di sisi lain, mungkin juga perkembangan ini akan berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun sekarang. Bagaimanapun, konsekuensi sosial dari teknologi baru sifatnya tidak terduga dan mungkin berbeda dari yang kita harapkan. Konsekuensi sosial dari kemajuan teknologi yang terjadi hingga saat ini berbeda dengan apa yang saya harapkan ketika saya masih muda. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan, termasuk kemungkinan perjuangan kita akan berlangsung sangat lama.
Ada dua kesalahan yang dilakukan oleh hampir semua orang, termasuk para politisi dan ilmuwan sosial yang berpengalaman, ketika mereka menyusun rencana untuk mengubah masyarakat.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7 1
Kesalahan pertama adalah seseorang sepenuhnya menyusun rencana dengan nalar, seolah-olah sedang merancang jembatan atau mesin, dan kemudian mengharapkan rencana itu berhasil. Seseorang dapat berhasil merancang jembatan atau sejenisnya karena objek material secara andal mematuhi aturan yang tepat. Dengan demikian orang dapat memprediksi bagaimana objek material akan bereaksi dalam keadaan tertentu. Tetapi di bidang sosial, yang kita miliki hanya sedikit aturan yang dapat diandalkan dan tepat; oleh karena itu, secara umum, kita tidak dapat memprediksi fenomena sosial dengan jitu. Di antara sedikit prediksi terpercaya yang bisa kita buat adalah prediksi bahwa sebuah rencana tidak akan berhasil. Jika Anda membiarkan mobil tanpa pengemudi meluncur di lereng yang curam, Anda tidak dapat memprediksi rute yang akan diambil mobil tersebut, tetapi Anda dapat memprediksi bahwa mobil tersebut tidak akan mengikuti rute yang dipilih sebelumnya. Jika Anda melepaskan sekelompok tikus dari sangkar, Anda tidak dapat memprediksi ke mana setiap tikus akan berjalan, tetapi Anda dapat memprediksi bahwa tikus tidak akan berbaris sesuai dengan rencana yang ditentukan sebelumnya. Begitulah, secara umum, ranah fenomena sosial. Ilmuwan sosial memahami betapa sulitnya melaksanakan rencana jangka panjang: Sejarah tidak memiliki pelajaran untuk masa depan kecuali satu: bahwa tidak ada yang berhasil seperti yang diharapkan atau diinginkan oleh mereka yang terlibat didalamnya. 13 Perang Dunia 1…berakhir dengan berbagai rencana perdamaian yang ilusinya sama dengan rencana perang. Seperti yang ditulis oleh sejarawan William McNeill, ‘Irasionalitas dari perencanaan yang rasional dan profesional tidak dapat dibuat lebih jelas lagi. ’14 Kebanyakan perencanaan sosial bersifat jangka pendek…; tujuan perencanaan seringkali tidak tercapai, dan, bahkan jika renca-
t e d k a c z y n s k i | 2 7 2
na tersebut berhasil dalam hal tujuan yang dinyatakan, sering kali memiliki konsekuensi yang tidak terduga. Semakin luas cakupan dan semakin lama rentang waktu perencanaan, semakin sulit untuk mencapai tujuan dan menghindari konsekuensi yang tidak terduga dan tidak diinginkan…. Perkembangan sosial skala besar dan jangka panjang di masyarakat mana pun sebagian besar masih belum direncanakan. 15 Kutipan di atas tidak dapat disangkal lagi, apalagi mengacu pada rencana negara. Negara memiliki kekuatan, informasi dalam jumlah besar, dan kapasitas untuk menganalisis dan memanfaatkan informasi dalam jumlah tersebut. Kita tidak memiliki kekuatan, dan punya kapasitas yang relatif kecil untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi. Jika tidak mungkin bagi Negara untuk melaksanakan rencana sosial jangka panjang dengan sukses, maka terlebih lagi tidak mungkin bagi kita. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kaum revolusioner tidak boleh mengikatkan diri pada rencana jangka panjang atau komprehensif yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, mereka harus sejauh mungkin mengandalkan pengalaman dan melanjutkan dengan coba-coba, dan berkomitmen hanya pada rencana jangka pendek yang sederhana. Tentu saja, kaum revolusioner juga harus memiliki rencana jangka panjang yang komprehensif, tetapi ini harus selalu bersifat sementara, dan kaum revolusioner harus selalu siap untuk mengubah rencana yang komprehensif atau bahkan benar-benar mengabaikannya, asalkan mereka tidak pernah melupakan tujuan akhir, yaitu untuk menggulingkan sistem. Dengan kata lain, gerakan harus fleksibel dan siap menghadapi segala kemungkinan. Kesalahan kedua yang disebutkan di atas adalah bahwa seseorang mengusulkan sebuah rencana (mari kita asumsikan bahwa itu adalah rencana yang sangat bagus) dan kemudian percaya bahwa
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7 3
cukup banyak orang yang akan mengikuti rencana tersebut hanya karena itu adalah rencana yang baik. Tetapi jika tujuan dari sebuah rencana adalah untuk mengubah masyarakat, maka, betapapun bagusnya rencana itu, bukan keunggulannya yang akan menggerakkan orang untuk mengikutinya. Kita harus mempertimbangkan motivasi manusia. Dalam kehidupan pribadi, nalar murni mungkin sering menggerakkan seseorang untuk mengikuti rencana yang baik. Misalnya, jika melalui penggunaan akal kita dapat meyakinkan seseorang bahwa seorang dokter lebih ahli dari dokter yang lain, maka orang tersebut mungkin akan berkonsultasi dengan dokter yang lebih ahli, karena dia tahu bahwa dengan cara ini dia akan sembuh lebih baik dari penyakitnya. Di sisi lain, jika kita dapat meyakinkan seseorang bahwa rencana tertentu akan berguna bagi masyarakat asalkan cukup banyak orang yang mengikuti rencana tersebut, ini memberikan orang tersebut paling banyak motif yang sangat lemah untuk mengikuti rencana tersebut, karena dia tahu bahwa sangat tidak mungkin, atau bahkan tidak mungkin, bahwa partisipasi individunya sendiri akan dengan sendirinya memiliki efek yang nyata pada masyarakat. Misalnya: Banyak orang tahu bahwa akan lebih baik bagi dunia jika semua orang menolak menggunakan mobil. Meski begitu, terlepas dari pengecualian yang jarang terjadi, masing-masing dari orang-orang ini memiliki mobilnya sendiri, karena dia berkata pada dirinya sendiri bahwa jika dia menolak untuk mengemudi, dia akan menderita ketidaknyamanan yang besar tanpa melakukan kebaikan apa pun bagi dunia; karena dunia tidak akan memperoleh keuntungan yang nyata kecuali jutaan orang berhenti menggunakan mobil. Jadi kita harus selalu ingat bahwa, dengan pengecualian yang jarang, seseorang bergabung dengan gerakan revolusioner bukan terutama untuk mencapai tujuan gerakan, tetapi untuk memenuhi
t e d k a c z y n s k i | 2 7 4
kebutuhan psikologis atau fisiknya sendiri atau untuk mengalami suatu bentuk kesenangan. Betapapun nantinya ia bakal setia untuk tujuan revolusioner, pengabdiannya dalam beberapa cara tumbuh dari kebutuhannya sendiri atau dari kesenangan yang dia alami. Tentu saja, pencapaian tujuan gerakan dapat memenuhi kebutuhan anggota, tetapi secara umum hanya tindakan beberapa pemimpin yang dapat meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, anggota pangkat-dan-peringkat (rank-and-file) tahu bahwa partisipasi individunya sendiri paling banyak hanya akan memiliki efek yang tidak terlihat pada kemajuan menuju tujuan. Oleh karena itu tujuan dengan sendirinya, dan melalui penggunaan nalar yang kaku saja, tidak dapat memotivasi anggota pangkat-dan-peringkat. Karena antusiasme menghasilkan kesenangan besar, antusiasme untuk tujuan yang sangat diinginkan sudah cukup untuk menggerakkan seseorang ke tindakan revolusioner, tetapi hanya jika pencapaian tujuan sudah sangat dekat. Ketika pencapaian tujuan tampaknya tidak mungkin dalam waktu dekat, bukan tujuan itu sendiri yang dapat membangkitkan banyak antusiasme. Ketika pencapaian tujuan masih jauh, maka kepuasan yang dapat memotivasi anggota gerakan revolusioner adalah:
1. Sense of purpose, perasaan bahwa seseorang memiliki tujuan untuk mengatur hidupnya.
2. Rasa kekuasaan.
3. Rasa memiliki, perasaan menjadi bagian dari kelompok sosial yang kohesif.
4. Status atau prestise dalam gerakan; persetujuan dari anggota gerakan lainnya.
5. Kemarahan, balas dendam; kesempatan untuk membalas terhadap sistem. Tentu saja, seseorang juga dapat menemukan kepuasan dalam
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7 5
kontribusinya untuk pencapaian tujuan revolusioner di masa depan, bahkan jika kontribusi individunya sendiri hanya memiliki efek yang tidak terlihat, tetapi dalam hal itu kepuasannya terlalu lemah untuk menggerakkan siapa pun untuk melakukan upaya revolusioner yang signifikan —selain kasus yang jarang dan luar biasa. Oleh karena itu, sebuah gerakan revolusioner harus didasarkan terutama pada motivasi-motivasi lain. Adapun rasa kekuasaan —sel yang terdiri dari sepuluh orang tidak mampu memberikan banyak rasa kekuasaan kepada seorang anggota. Anggota akan memperoleh rasa kekuasaan hanya ketika ia bergabung dengan lingkaran pemegang kekuasaan masyarakat, dan kemudian anggota menerima rasa kekuasaannya bukan dari gerakan revolusioner tetapi dari posisinya di dalam sistem. Dia mungkin memiliki satu dari seratus kesempatan untuk mendapatkan posisi kekuasaan, dan dia dapat mencapai posisi seperti itu hanya melalui upaya yang diperpanjang dalam jangka waktu yang lama. Seseorang akan melakukan upaya tersebut dan bertahan di dalamnya hanya jika dia menemukan kepuasan dalam karirnya. Mari kita asumsikan, kemudian, bahwa seorang anggota sel revolusioner telah memiliki karir yang sukses dan setelah dua puluh tahun berusaha, akhirnya bergabung dengan lingkaran pemegang kekuasaan. Dia menyukai karirnya, dia sekarang memiliki kekuatan, dan dia telah mencapai kepuasan ini melalui upaya bertahun-tahun. Apakah dia ingin kehilangan semua ini melalui penghancuran sistem? Dalam kasus yang jarang dan luar biasa dia akan melakukannya, tetapi biasanya dia tidak akan melakukannya. Sejarah menawarkan banyak contoh tentang pemuda pemberontak berdarah panas yang bersumpah untuk melawan sistem selamanya, tetapi kemudian memiliki karir yang sukses, dan ketika dia lebih tua dan lebih kaya dan memiliki status dan prestise, dia sampai pada kesimpulan bahwa sistem itu tidak terlalu buruk, dan lebih baik untuk menyesuaikan
t e d k a c z y n s k i | 2 7 6
diri dengannya. Ada alasan lebih lanjut untuk percaya bahwa rencana Anda tidak dapat berhasil. Rencana tersebut mengharuskan gerakan itu harus tetap rahasia dan tidak diketahui publik. Tapi itu tidak mungkin. Dapat dipastikan bahwa beberapa anggota G-30-S akan berubah pikiran atau melakukan kesalahan, sehingga keberadaan G-30-S diketahui publik. Kemudian akan ada investigasi resmi dan lain sebagainya. Dalam sejarah kita dapat temukan contoh jaringan mata-mata yang canggih, yang kerahasiaannya dijaga dengan hati-hati, tetapi tetap diketahui, meskipun beberapa sel mereka mungkin berhasil tetap dirahasiakan. Keberadaan gerakan yang Anda usulkan juga pasti akan diketahui.
Di bagian keempat surat Anda, Anda mengusulkan agar para pemimpin dan agitator dari jajaran kaum kiri harus “diinstruksi- kan” oleh anggota gerakan. Tetapi, terlepas dari kasus-kasus luar biasa, tidak mungkin untuk percaya bahwa anggota gerakan dapat memiliki begitu banyak kendali atas orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin dan agitator yang sukses. Jika Anda berhasil menyusup ke dalam lingkaran pemegang kekuasaan hanya tiga atau empat revolusioner yang, apalagi, kemudian tidak mengkhianati revolusi untuk mempertahankan kekuasaan dan prestise mereka, itu akan menjadi sukses yang luar biasa. Pe- nyusup seperti itu mungkin bisa memainkan peran dalam revolusi, tetapi peran mereka mungkin tidak akan menentukan. Anda mengatakan bahwa revolusi tidak pernah direncanakan di papan tulis, dan Anda benar. Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa revolusi selalu disebabkan oleh ketidakpuasan sebagian besar segmen masyarakat. Ketidakpuasan adalah prasyarat untuk revolusi, tetapi ketidakpuasan saja tidak cukup untuk membawa revolusi.
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7 7
Saya sudah menekankan itu sebelumnya. Antara lain diperlukan sebuah mitos revolusioner, dan tentang hal ini Anda menulis bahwa revolusi tidak pernah memilih cita-cita dan mitos mereka secara bebas, yang memang benar adanya. Tapi kemudian Anda menulis: “Keadaan di mana orang hidup tidak memberi mereka pilihan lain selain mengadopsi mitos dan cita-cita ini dan tidak ada yang lain.” Saya tidak sepenuhnya setuju dengan ini. Sebuah mitos tidak bisa dipilih sembarangan. Sebuah mitos dapat berhasil hanya jika ia menanggapi ketidakpuasan dan kerinduan yang ada (yang mungkin sebagian tidak disadari). Tetapi saya tidak yakin bahwa keadaan di mana orang hidup selalu harus secara tepat menentukan satu mitos. Misalnya: Nabi Muhammad menciptakan mitos yang luar biasa sukses ketika ia menulis Al-Qur’an. Apakah Anda berani mengatakan bahwa tidak ada yang lain selain Al-Qur’an yang bisa menjawab kerinduan orang-orang Arab? Bahkan jika Anda benar dan untuk setiap revolusi hanya satu mitos yang mungkin, kita tetap tidak berhak berasumsi bahwa orang akan mengembangkan mitos yang benar dengan sendirinya, dan mengembangkannya pada waktunya. Mitos-mitos revolusi Prancis dan Rusia tidak dikembangkan oleh masyarakat luas, tetapi oleh sejumlah kecil intelektual. Mungkin karya kaum intelektual hanya berupa pemberian bentuk dan struktur pada ketidakpuasan dan kerinduan bangsa yang tak berbentuk atau tidak disadari; meski begitu, pekerjaan ini sangat diperlukan untuk keberhasilan revolusi. Jadi saya berpendapat bahwa tugas kaum revolusioner bukanlah untuk meningkatkan atau mengintensifkan alasan obyektif untuk ketidakpuasan. Sudah ada cukup banyak alasan untuk ketidakpuasan. Sebaliknya, kaum revolusioner harus melakukan hal berikut:
- Ada alasan palsu tertentu untuk ketidakpuasan (misalnya, dugaan masalah perempuan, etnis minoritas, homoseksual, kekejaman terhadap hewan, dll.), yang berfungsi untuk
t e d k a c z y n s k i | 2 7 8
mengalihkan perhatian dari alasan sebenarnya untuk ketidakpuasan. Kaum revolusioner entah bagaimana harus menghindari atau meniadakan taktik pengalihan ini.
- Kaum revolusioner harus membawa dasar-dasar ketidakpuasan yang asli tetapi saat ini belum dirasakan dengan baik ke dalam operasi yang efektif.
- Untuk tujuan ini kaum revolusioner (antara lain) harus mengembangkan mitos revolusioner. Bukan berarti bahwa mereka harus menciptakan mitos seenaknya. Sebaliknya, mereka harus menemukan dan mengungkap mitos yang nyata yang sudah ada dalam bentuk yang tidak jelas, dan memberinya struktur yang pasti.
Anda benar saat mengatakan bahwa peran kaum revolusioner hanyalah sebagai pemantik. Revolusioner tidak dapat menciptakan revolusi dari ketiadaan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyadari kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh kondisi di mana orang hidup, seperti halnya katalis dapat menghasilkan reaksi kimia hanya jika semua reagen yang diperlukan tersedia. Anda tampaknya percaya bahwa seseorang dapat memainkan peran sebagai pemantik dengan meningkatkan alasan obyektif untuk ketidakpuasan. Tetapi saya yakin bahwa alasan obyektif untuk ketidakpuasan sudah cukup. Untuk memainkan peran sebagai pemantik, seseorang harus mencapai efek psikologis; misalnya dengan menemukan dan memanfaatkan mitos yang benar. Ada banyak anak muda yang menyadari bahwa sistem teknologi menghancurkan dunia dan kebebasan kita; mereka ingin melawan- nya, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak dapat mencapai apa pun sendirian, oleh karena itu mereka mencari kelompok atau gerakan yang dapat mereka ikuti. Dalam keadaan yang ada saat ini,
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 7 9
mereka tidak dapat menemukan kelompok atau gerakan selain yang kiri atau yang serupa. Jadi seorang anak muda bergabung dengan salah satu kelompok ini dan entah berpindah ideologi atau menjadi putus asa, meninggalkan kelompok, menyerah, dan menjadi apatis. Yang dibutuhkan adalah sebuah gerakan revolusioner yang nyata yang dapat diikuti oleh orang-orang muda seperti itu, sebelum mereka terpikat oleh beberapa kelompok kiri dan dihancurkan olehnya. Mempercepat sistem. Mengira bahwa yang terburuk akan terjadi tidak selalu lebih aman. Contoh: Kita berada di kapal yang sedang tenggelam. “Kasus terburuk” adalah kapal akan tenggelam dalam waktu dua menit. Jadi kita segera melemparkan perahu ke dalam air, melompat ke perahu dan mendayung dengan tergesa-gesa menjauh dari kapal. Kemudian kita menyadari bahwa kita akan mati karena kita tidak membawa makanan atau air. Akan lebih baik untuk menyediakan makanan dan air bagi diri kita sendiri daripada tergesa-gesa, karena kapal tidak tenggelam secepat yang kita khawa- tirkan. Tapi sekarang sudah terlambat… Jadi kita tidak hanya harus mempersiapkan diri untuk kasus terburuk saja, tetapi, sejauh mungkin, untuk semua kasus. Anda berpendapat bahwa kita harus mempercepat tindakan “mesin” (yaitu, dari sistemnya sendiri) sehingga mesin akan menghancurkan dirinya sendiri. Tetapi dalam menghancurkan dirinya sendiri, mesin itu juga akan menghancurkan kita dan dunia kita, dan mungkin semua bentuk kehidupan yang lebih tinggi. Ingatlah bahwa tidak semua proses destruktif yang diprakarsai oleh sistem akan berhenti segera setelah sistem berantakan. Pertimbangkan misalnya efek rumah kaca. Sistem iklim global terperangkap dengan titik kritis dan putaran umpan balik, ambang batas yang dilewati kerusakan lingkungan secara perlahan-lahan, yang memberi jalan pada keruntuhan yang
t e d k a c z y n s k i | 2 8 0
tiba-tiba dan terus-menerus. Memompa cukup CO² ke langit, se- perjuta gas rumah kaca sama seperti 212 derajat Fahrenheit [212° Fahrenheit = 100 ° Celcius] yang mengubah sepanci air panas menjadi gumpalan uap yang mengepul… Banyak hal yang terjadi lebih cepat dari perkiraan siapa pun, kata Bill Chameides, kepala ilmuwan untuk kelompok advokasi Environmental Defense dan mantan profesor kimia atmosfer. 12 bulan terakhir telah mengkhawa- tirkan, tambah Ruth Curry dari Institut Oseanografi Woods Hole di Massachusetts. Riak yang melalui komunitas ilmiah sangat gamblang.…Apakah sudah terlambat untuk membalikkan perubahan yang telah dilakukan pemanasan global? Itu masih belum jelas… (Majalah Time, 3 April 2006, halaman 35, 36.) Dengan melepaskan begitu banyak karbon dioksida ke atmosfer, sistem tersebut telah mengganggu iklim Bumi sedemikian rupa sehingga bahkan para ahli di lapangan tidak dapat memprediksi konsekuensinya. Bahkan jika sistem segera berhenti melepaskan karbon dioksida, iklim bumi mungkin tidak akan kembali ke kondisi sebelumnya. Tidak ada yang tahu kemana iklim kita akan mengarah. Kita bahkan tidak tahu pasti apakah Bumi akan tetap bisa dihuni pada akhir abad ini. Tentu saja, semakin banyak karbon dioksida yang dilepaskan sistem, semakin besar bahayanya. Ya, sistem itu dapat menghancurkan dirinya sendiri dengan berkembang lebih cepat dan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah yang lebih besar, tetapi dalam prosesnya ia akan menghancurkan segala sesuatu yang lain juga. Saya telah menekankan bahwa apa yang dapat menyebabkan revolusi bukanlah memburuknya kondisi kehidupan, tetapi situasi psikologis yang kondusif untuk revolusi. Dan salah satu prasyarat psikologis yang sangat diperlukan untuk revolusi adalah bahwa orang harus memiliki harapan. Jika tidak ada harapan, tidak akan ada revolusi. Yang jadi masalah serius adalah kenyataan bahwa ba-
e s a i, w a w a n c a r a d a n k o r e s p o n d e n s i | 2 8 1
nyak orang paling cerdas telah kehilangan harapan. Mereka berpikir bahwa semuanya sudah terlambat, Bumi tidak bisa diselamatkan. Jika kita mempercepat tindakan merusaknya sistem, kita hanya akan menyebarkan dan memperdalam keputusasaan ini.
Catatan Akhir.
[1] Leon Trotsky, The History of the Russian Revolution, diterjemahkan oleh Max Eastman (tiga volume jadi satu), Pathfinder, New York, 1980, Vol. 2, hlm vii. [2] Eric Hoffer, The True Believer, § 90. [3] The New Encyclopaedia Britannica, edisi ke-15, 2003, Vol. 26, artikel “Propaganda,” hlm 175. [4] Paul Schebesta, Die Bambuti-Pygmäen vom Ituri, II. Band, I. Teil, Institut Royal Colonial Beige, Brussels, 1941, hlm 11-21, 31, 142, 170. [5] Carleton S. Coon, The Hunting Peoples, Little, Brown and Company, Boston and Toronto, 1971, pages 72-73. Elizabeth Cashdan, “Hunters and Gatherers: Economic Behavior in Bands,” dalam S. Plattner, Economic Anthropology, Stanford University Press, 1989, hlm 28. [6] Coon, op. cit., hlm 48. [7] Gontran de Poncins, Kabloona, Time-Life Books, Alexan- dria, Virginia, USA, 1980, hlm 14, 15, 124. [8] Industrial Society and its Future, paragraf 33-37. [9] Lihat Industrial Society and its Future, paragraf 29. [10] Hoffer, op. cit., seksi 104. [11] Hoffer, op. cit., seksi 110. [12] Hoffer, op. cit., seksi 111. [13] Gordon S. Wood, “The Making of a Disaster,” The New
York Review, 28 April 2005, hlm 34. [14] The New Encyclopaedia Britannica, 15th edition, 2003, Volume 21, artikel “International Relations,” hlm 807. [15] Ibid., Volume 27, artikel “Social Structure and Change,” hlm 370.