Baca PDF (OCR): Simponi Puisi

40 halaman · 40 halaman diproses dengan OCR· 31645 ms

Daftar isi
  1. Simpord
  2. Buat sde. Meorite d.
  3. Meris
  4. HARTOJO ANDANGDJAJA
  5. Gambar Kulit/Vignet2/Tjukilan2 kaju.
  6. SIMPONI PUISI
  7. JANG SEDANG TUMBUHofed sm 8
  8. 12 2
  9. R RA
  10. Sebuah Pernjalaan
  11. Dalam musim meranggas, pobon2an mengering, tiada
  12. Djika kita, dari djendela tenah air ini mendjengukkan
  13. pandang keluar, maka akan tampaklah lorong dunia jang
  14. pengap itu digelapi oleh debu kebentjian, jang mengepul
  15. dari kaki raksasa2 kekuasaan, jang sedang bersiap-siap
  16. Pessimisme jang berwadjah hitam itu tiada guna lagi.
  17. S. Timan Bolo
  18. Kerobohan itu
  19. Kausjun aku ke Hungar
  20. Made Kirlya
  21. Ach, mengapa, tiada lagi jang lain
  22. seperti padang ini seluruh daerah tachtamu
  23. tiada lagi pengisi ruang
  24. Kusadjikan Camelia, tjabang tiga. Nana
  25. Ketjil-ketjil sederhana tak berharga
  26. Sebuah Pernjataan
  27. Chairil Anwar.
  28. Pendjual Djanggelut.
  29. SBr nt napdo.
  30. Ibu aa nak
  31. Aitos
  32. XXX1××X3××XX××××××××X
  33. Madjalah Bulanan
  34. Sitp
  35. DARI DAERAN MUDA IANG

ipuisi

Simpord

DARI DAERAH MUDA JANG SEDANG TUMBUH.

Satu2nja madjalah tjerita2 pendek di Indonesia "KISAH" Bulanan Tjerita2 Pendek Terbit sebulan sekali tiap nomor muat antara 10 - 15 tjerita pendek pilihan dengan gambar2 orisinil. Pengasuh = Sudjati S. A; M Balfas, H B. Jassin; dan Idrus Bahasa lintjah. tjerita2 sopan, bernilai sastera. Harga per ex tjuma Rp 2.- Buat agen dan Toko buku korting 20 pCt. Pengambilan min. 5 ex. bajar dimuka. Langganan 1/2 tahun: Rp. 12,- Kirim pada: Adm. ,KISAH" Paseban 21 Djakarta.

MADJALAH BULANAN SERIOSA Diterbitkan oleh: Lembaga Seni Sastera di Jogjakarta. Celanggang Sastera dan Seni. Pembawa kisah scgar, djernih, Setiap terbit, mempersoalkan kehidupannja, masa dan per- tumbuhan kesusasteraan. Tjiptasn2 jang terpilih dengan sungguh2. Lengganan. 8 Bulan. Rp.4,50. Rp. 1,50. Nomor lepas Administrasi: Surjatmadjan Dn.I/43 Redaksi: Danunegaran 16. JOGJAKARTA

dani.

Buat sde. Meorite d.

Meris

22 Meisy

e Typographle

D.S. MOELJANTO Tata Puisi:

HARTOJO ANDANGDJAJA

Gambar Kulit/Vignet2/Tjukilan2 kaju.

YEN WEI YUN.

tad

pesd2s

SIMPONI PUISI ...:..DARI DAERAH MUDA
JANG SEDANG TUMBUH.....

SADJAK MUKADDIMAH Kami lahir darl tjinta dan tjita jang hidup mengindah dalam kesegaran djiwa muda Kami lahir, dan beban jang ada pada kami: mengedar mendjeladjahi lorong2 dunia sambil menebar-nebarkan benih sutji. Kami duta pikir dan rasa jang mekar mengembang dalam kesegaran djiwa muda Kami akan mengetuk pintu demi pintu, mengadjak bitjara pikiranmu, mengadjak.berkata hatimu, pabila engkau dalam ketenangan waktu dan bertekun dalam kesunjian kamarmu.

à

EDISI SASTERA DAN SENI I

SIMPONI PUISI

DARI DAERAH MUDA Hsi:8

JANG SEDANG TUMBUHofed sm 8

A ontisr H ooso oottaH onoto fidar AVAmA

b

Diterbitkan Oleh:

LEMBAGA SENI SASTERA Surakarta.

1954.

B T DHOT

12 2

URUTAN SADJAK : Srijati Jekti Widodo

S. Timan Bolo Kadarman P. R. Soejono H. Prajitno Soejono Hartojo Sahil Armeya Hansfie Winarna S. S. Mansoer Samin
D. S. Moeljanto
W. S. Rendra
H. Winarta Made Kirtya Moersidi
K. Ssdiman
S. Wakidjan Md Hadi Hartojo Andangdjaja. that enineant

R RA

mnieiog PCe!

Sebuah Pernjalaan

Dalam musim meranggas, pobon2an mengering, tiada

berdaun lagi, dan berdiri tjalang-telandjang dibawah terik sinar mentari. Demikianlah pula dalam musim meranggas dunia kini: pohon kemanusiaan jang rimbun itu telah ke- ring, dan daunnja, jang terdjadi dari Kasih dan Tjinta telah rontok berguguran.

Djika kita, dari djendela tenah air ini mendjengukkan

pandang keluar, maka akan tampaklah lorong dunia jang

pengap itu digelapi oleh debu kebentjian, jang mengepul

dari kaki raksasa2 kekuasaan, jang sedang bersiap-siap

hendak berlaga. Dunia ini, rumah kita jang indah ini, akan mendjadi daerah' catastrofe jang menjedihkan, tempat raksasa2 ke. kuasaan itu mengindjak-indjakkan kakinja, djika kita, se- bagai individu2 jang benar2 ada,-djadi bukan hanja suatu abstractie belaka- tinggal bersikap masa-bodoh, atau ber- muram hati sambil melukiskan dalam angan2 kita masa depan dunia jang gelap. jang diwarnai oleh pessimisme kita sendiri.

Pessimisme jang berwadjah hitam itu tiada guna lagi.

Ia adalah seorang pemurung, melancholicus, jang hanja pandai bersedih hati, sambil mengawasi sekeliling dengan mata jang saju.

Kita masih mempunjai harapan. Dan harapan itu ada pada seharisan ketjil dari manusia jang tiada bersendjata, tiada berbendera, karena mereka tiada bertudjuan keme- nangan, akan tetapi kebahagiaan dan kedamaian. Mereka tiada bergenderang, tiada berterompet, karena mereka tiada hendak memanggil berteriak.teriak dengan serba suara, akan tetapi dengan hati mereka. Mereka adalah insan- semesta, universele geest, jang senantiasa meniupkan Tjinta kedalam dada dunia!

Dan kami, hanjalah sebagian ketjil dari mereka itu. Ka- mipun tiada bergenderang, tiada berterompet, karena ka- mipun tiada hendak memanggil berteriak2 dengan serba suara, akan tetapi dengan hati kami. Kami djuga tiada

e o o abala ramanem a dawedi 68 Geie o1 aania

pezzngne siét ninu it qeyosm qzia-qan

CU

-8- m 17t Chairil Anwar. leaeatDea
-ex anons Jeqmon aba mugim
abot aotb lmaz 30 bad nagaoh iqeiss asze

sbal sczse negeeh Sini

Srijati DAUR TJERITA DARI HUTAN ITU

Kian menjajup buten itu dalam pandangku. Bukit jang hidjau dulu kini telah djadi menghitam kelihatan menjatu dengán bajangannja. Lagu-lagu irama hutan telah lama berlalu pelan-pelan menghilang perlahan tiada terasa karena langkabku jang kian mendjauh itu. Hanja dalam ingatanku masih ada masih ada ingaten bunji lagu-lagu itu jang berirama diantara untai kitjau murai dan auman buat singa rimba ngeri.

Kini sendja hampir tiba sebentar lagi akan hilang hutan itu, namun besuk pagi tampak lagi kint tapi akan lebih djauh djaraknja dari pada karena djalanku tiada henti djuga pada malam nanti.

Tentu hutan jang kini menjaup itu lama-lama akan-tiada menjaup lagi akan musna karena djauhnja.

Jekti Widodo BUAT MEREKA JANG MAU MEMBATJA Sendja ini dan esok Ssma sadja bagiku Kenangan padamu tak kundjung redup Burung gagak membuntuti dipadang tandus Mengapa tembok begitu tinggi memagari Djalen bersiuran kesana kesini Aku tambah tidak mengerti Kepingen djalan berputeran gila Bingung bimbang beramuk sendiri Sudah lama aku mematju djauh dimuka Dan kini aku menoleh kembali Ah! Kebampaan ini membuat aku mengenangmu Tak kuasa aku memerangi sendiri Kalau 'kau sampai Boleh 'kau bérseru: selamat tinggal Patjulah sendiri sajang aku tak bisa mendekati Dikedjauhan aku mendo'a buatmu

S. Timan Bolo

DJANGAN RUSAK BUKIT PENANAM. Djangan rusak bukit petaiam hantu 'kan mendjenguk, bukit mau muntah darah kaju tanah petjah Djangan bongkar kubur nenek rangka tidak sanggup merangkaki udjung bukit terkenang njawa petualáng Djangan njanjikan lagu maut bising mendjara memagut. Penanam belum pajah dan tidak bisa, tidak takutmasih ngembara tjari titik kepastian. Rangka majat mengedari manusia2 seperti kini masih hidup sekarang tinggal kenangan njawa bertualang.—

Kadarmon P. R. PESAN DARI MAKAM BAHAGIA Saat kepergianku 'lah lama Dalam tantangan asap bedil mengganas buas Beserta kepatahan tulang dan kebekuan darah Tak usah kau berdekat aku di mana Dalam sorga bertjumbu bidadari Atau dalam neraka terpanggang api Biarkan akù begini .. Aku rela Aku puas Aku ini bukan pendjual djasa dan guna Hanja pesanku. Wahai tengkorak perurat dalam sungkup daging dan darah Hentikan instrument kebentjian Dan lekas habisi -lagu perpetjahan Gubah lagu baru Lagu persatuan Sekali lagi pintaku Buah kemerdekaan jang kini dalam tanganmu Nikmat ini tidak hanja untuk kau Dubai kau jang merasa bahagia Jang bisa isap buah ini sampai puas Tetapi berikan Berikan pula mereka jang dalam djerih derita Seperti mereka jang dalam kedjalangan Atau mereka jang tidur dibawah djembatan

Noejon H. Projitno BAGI NELAJAN MUDA

Tjabja tjandra tengah melintjah, dibelai desir Pawana, dimalam mesra, terasa menghíba nelajan muda: "ladju, ladjuiah, sajang, taufan telah mereda, langit membiru kembali, laut bernjanji lena. Lupakan hitamudara tadi, lupakan djulangbadai ngeri, ini malam sedang berdendang. Laut lepas menanti dikau, tebarkan djalamu, sajang, ikan lagi lalai bersendau. Bila malam merangkak pergi, pagi mendjelang datang, dan bidukmu olah sarat ikan, kembalilah sajang, kembali, kepantai dimana kasihmu risau menanti.. Tjabja tjandra tengah melintjah, dibeli desir pawans, dimalam mesra, terasa menghiba velajan muda. —ladju, ladjulah, sajang. taufan telah mereda".

Sujono Hartojo SADJAK TAK BERNAMA Buat Mereka Jang Mau Tau

Manusia sudah mulai menggila banjak pelar.an liar datang pada kubu kota semua galak, semua njentak dan aku lebih mau tau

Kerobohan itu

membuat kota djadi kedjang dan angus semua nggonggong semua menolong lari melabrak pada pantai jang bertepikan dua pobon tak bernama. sebuah meruntuk lagi sebuah meminta lagi pada kota maut jang mau punja njawa dan orang2 tambah mau mati Mereka djadi peminta jang berasnah dan berdareh jang meliuk merajap pada sebuah tempat jang tak punja arti tambah sebuah njawa hilang dalam gersang malam jang memekik.

Sahil CHAJALANPUTRI Kepada : H. B. Jassin

Dunia sutera hidjau, Dalam samaran menitik sinar sutji Antara daban dan daun pudjaan Kini berguguran dibumi, dibumi Sunji senjap hanje, pada diri itu djuga Bagaimanapun akan ramainja dunia ini Djuga aku, jang memikir segala lenjap Djuga 'kau, jang memikir segala lenjap Segala lenjap, datang, masa beralih suka Segala lenjap, datang, masa beralih duka Air bermusjawarst dilautan menggenang Sudah lama menanti putusan Sudah lama membatu perdjandjian Aku beralih dalam Chajal Dimabuk mimpi puteri Dibudjuk nsfsu Tangisku menjesak dada Ketjewaku menjobek hati Tapi malam lenjap dan datang Dingin diantara panas dan panas itu terasa dalam djiwaku Serta angin turut kemana Kebenua lama sudah pangling Sudahlab, biar, ia mendjaga diriku Biar ia disampingku Biar, biarlah Kusambut dia Tapi malam lenjap dan datang Dingin diantara panas dan panas itu terasa dalam djiwaku Kepastian segera tiba menghapus Chajalan Blarlah dia meraih dadaku!

Armaya PUISI

Keratan darah meneteskan perlaguan abadi Dan huruf2 mati pada bitjara berbusa menjibak tjahaja bumi

Pantjarkan sinarnja dari gamitan abad-keabad menjelurut Atas ungkapan hidup atas satu-satu kepingan tuhan Melagu merata pada batas2 keratan darah.

Hanafie HUDJAN BERLALU

Dingin jang ditinggalkan hudjan berialu membikin keengganan djemu berlalu sedang tumbuhan diam membeku Katak-katak tergertak koreknja berkumandang menerobos katja djendela jang senantiasa terbuka Bajangan dan gema bersuka tak ingat bari esok tiba dimana tantangan terbuka Dingin jang ditinggalken hudjan berlalu membust aku jang tak mau tahu kelupaan berkuasa dan memburu Ada djuga himbauan gelap tak kenal udjung dinihari tapi ini hanja fatámorgana jang bisa tiba-tiba menjelinap disinar kedambaan sinar melenjap.

Winarna S. 8. KEPERGIAN SEORANG PENJAIR

ia pergi bersama tetesan bulan menjabit dengan pandang muram kepantai lalu melihat ketengah laut ada kapal berputar berlajar tudjuan melingkar dengen ombak menepi hati penjair sebal lalu pergi tiada palingan pada taman jang ditinggal henja detak mengadjak tapak tapak mengindjak kemuka!

sedang bulan mentjari muka lari kebalik selembar awan penjair terus berdjalan dalam malam dengan malam dan kehitaman.

Mansur Samin KERINDUAN MAWAR GUNUNG

Kelarutan merangkak dimalam dungu 'ngembara mendomba tudju tiada sendja menembusi selat Malaka dan laut Djawa
adeos.....! bukit barisan dengan paranja.
Desir anjaran remong batik Bengawan merantaukan kenang ke Mandailing dimana gadis Kubu memakai tangki Sunji sendiri-gelisah menanti kapankah masa teruna kembali dengan djambangan meneratai asli. Ach!- mawar gunung aku tak tahu bilakah sampai tanah tepi djuga aku 'ngembara tiada djemunja kutahu panas napasmu menahan rindu kutahu rindu pintamu dibalik pulau.

Tangki: Kulit kaju jang dapat dipergunakan djadi pakaian/kain. daerah antara Andales Utara dan Tengah. Mandailing: Enam km dari daerah ini terdapat suku Kubu jang masih terbelakang.-

D.S. Muljanto SENDJA Berita buat: SAR, dan diri sendiri
sendja dibalik kisi-kisi djendela katja ESSIE jang kelu kini berdanden menjongsong datangnja musim hudjan. sendja kepulangan penjair bawa berita ESSlE jang kelu bersama nschoda muda besok mau kembali bertutur kata adjak berdansa diserambi rumah tua. sendja ESSIE jang kelu minta didjemput dengan kereta kentjana berkuda ditikungan djalan menudju laut. sendja ESSIE jang kelu tiada lagi menembang duka gaunnja sudah bertuksr hidjau muda pipinja sekarang montok memulas warna merah mendjambu-melumar mesra. sendja EsSIE jang kelu punja kesubursn lembah dada mimpinja: tjumbusilir angin lirih meremasi pada lena kekujupan mata, dibasah embun pagt.

W. S. Rendra
BAGI ALMARHUM Pads luka hati jang meliang oleh tjinta kutantjapkan kibarsn bendera hitam duka dan pada malam2 kunjanjiken tembang berkabung atas kematlan Sarsaban, kekasihku. Tjinta dan duka mengurungku bagai benteng tangsi jang terasing dari dunia gadis dara diluaraja Siti dan Endang lewet melenggang dibuntuti-pun diburut lelaki muda. Sedang disini, didaerahku angin membawa bau muram dari kubur kembang belimbing pada laju tergugur Tapl engkaupun tahu, kekasihku rintik embun dilarut menurun 'kan menguap disebentar fadjar. Djadi akupun tak tahan lagi, adik! sudah sekian ketika hidup tanpa perawan butiran darah sudah pada memekik- haruskah dada petjah tidak tertahan? — Mari, kekasih! kita buntui djalen setepak antara kita dan atas dasar keengganan disergap rabu paru2 kutjabut bendera tanda berkabung dau pada luka hati jang meliang oleh tjínta kutantjapkan bendera djantung terpanah!

  • Lalu terompet perburuan dilengkingkan maka semua dara dirimba pada berdandan tahu ada djedjaka memburu tjinta memburu Siti, memburu Endang! —Bandjirlah tjinta! Akupun lelaki muda!

H. Winarta
SEBUAH TJATATAN Buat pianist

M.1.r.
akan datang

Kausjun aku ke Hungar

bersama Hoffman Kausuruh pula aku menari dalam keredupan sendja kamarmu ditingkah denting-denting djarimu

Tapi setan benakku merajap ketengah pasar pasar koteku jang kotor betjek itu dan aku menari-nari beserta lagumu ditjiprat lumpur ditengah orang

Kembali aku baru kehadapanmu disentak dua ronimu bersepeda dalam kamar mengeliling medja makan dan pianomu Lalu (kau masih ingat?) lagu sendja Haydu belum kau djamah datang kakak puterimu mendekatiku dan djuga mendekatimu

Tapi mengapa kita harus bersama menangisi Old Kentucky Home dari lima pasang bibir djantan betina?

Made Kirlya

PERAHU JANG TIBA PETANG

Pada kebatan lajarnja jang memutih tengah laut dan langit biru masih diksjuhnja dan dinjanjikannja kasih laut sambil dekap sendja jang dilaut dan dukung segumpal ombak dipundak dibilangoja: Ini--anak laut jang berkekasih laut jang punja sendja dilaut Ditjarinja kemerahan langit pada sendja jang menjajup pada dataran laut dan ia masih dengar tjumbu dari neneknja jang dipantai teduh ini.-anak laut tjutjuku kematianku merindui kemerahan langit pada sendja jang didataran laut. Masih dikajuhnja dan laut sudah tak berwarna petang Anak laut menangisi sendjanja jang hilang dan perahunja jang tiba petang

(Solo hampir November 1953)

Moersidi NJANJIKU

Kalau datang mengulang Semua ini dalam kedjang Suatu bangsa Diadi porak-poranda. Aku tjuma bisa meniup Laguku berupa sanggup. Mengapa begitu? Aku mesti berkata:

Dengarlah: Bajangkanlah hidup damal Dalam isi jang sempurna Kaulihat sebuah desa Gemuk dan subur semua. Tak ada gaja palsu Semuanja djadi satu Dengan pobonan jang beri buah Ini hidup djadi tabah. Setiap rumah Setiap kantjah Terikati rantai batin Tjinta satu sama lain. Tapi kau mesti mendjawab: Ja, kalau begitu bagus amat Tak ada kedju- kedjang itu Dan montjongmu jang begitu njinjir Lebih baik aku hikir. Nah, begitu 'kau menuduh ku jang dalam gemuruh Tapi aku tidak peduli Orang jang seperti ini.

K. Sadiman
SAAT JANG KUTAKUTI

Dan ketika tjoba-tjoba aku tjari kedamaiar dipetang sendja, ambol, djuga ini disini mukámu senjum kemilau.

Ach, mengapa, tiada lagi jang lain

seperti padang ini seluruh daerah tachtamu

tiada lagi pengisi ruang

selain sifat milikmu segala.

Kalau begini terus- menerus diratjun senjum kepajang dimana lagi, tempatku bertemu damai.

Sukono Wakidjan RITA Buat: Nunuk! -sari kasih dimalam bening-Senjum ketawalah Rita. ketawamu jang manis tiada suara seperti melati mekar disedjuk pagi lembut fadjar penuh tjita penuh tjinta mesra Rekaban mulut mungil itu terkatup dan merangkum senjum puisi kasih penjair pingitan. Senjum ketawalah upik wadjah alam tambab manis tambah tjantik dan aku ria terlena terendam tjita terendam tjinta mesra -

Md. Hadi : BUNGA SADJI

Kusadjikan Camelia, tjabang tiga. Nana

Ketjil-ketjil sederhana tak berharga

Kuletakkan puspa-tiga dipsngkuanmu, Nana Tanda rasa,tanda kata, tak terutara. Kau tanjakan apa arti puspa iní, Dinda Bukan mawar, bukan aster, bukan melati? Kau soalkan tjatjah djumlah bunga sadji Djiwa Tidak dua, tidak lima, mengapa tri ?

Hartojo Andangdjaja PANGGILAN

Telah dipasang merah lentera telah bernjanji budjang dan dara ibu, dengar bunji biola pesta telah bermula Bukalah djendela:

kau akan lihat warna tjahaja njala merah pesta kau akan dengar riuh suara lagu pernikahan raja lagu dari dara duria Bukakan daku, ibu bukakan pintu rumah ketjilmu Padaku telah datang satu panggilan surat dari perawan zaman Padaku telah-njata satu lambaian kasih dan perkawinan Bukalah pintu rumah ketjilmu beri restu dan lepaskan aku nanti aku pularg, ibu membawa pengantinku berkereta tjahja pabila pegi tiba dan dimalam kulepas segala rindu padanja, dan kubisikkan satu tjumbu: disini kita buat keturunan baru

Sebuah Pernjataan

Dalam musim meranggas, pokon2an mengering, tiada berdaun lagi, dan berdiri tjalang-telandjaug dibawah terik sinar mentari. Demikianlah pula dalam musim meranggas dunia kini: pobon kemanuslaan janz rimbun itu telah ke- ring, dan daunnja, jung terdjadi dari Kasih dan Tjinta telah rontok berguguran. Djika kita; dari djendela tanh air ini mendjengukkan pandang keluar, maka akan tampaklah lorong dunia jang pengap itu digelapi oleh debu kebeatjian, jang mengepul dari kaki raksasa2 kekuasaan, jang sedang bersiap-siap hendak berlaga. Dunia ini, rumah kita jang indh in, akan mendjadi daerah catastrofe jang menjedihkao, tempat raksasa2 ke. kuasaan itu mengindjak-indjakkao Rakinja, djika kita, se- bagai indivldu2 jang benar2 ada. dadi bukan hanja suatu abstractie belaka- tinggal bersikap masa-bodoh, atau ber- muram hati sambil melukiskan dalam angan2 kita masa depan dunia jang gelap. jang diwnai oleh pessimisme kita sendiri.

Pessimisme jang berwadjah hitam itu tiada guna lagi. Ia adalah seorang pemurung. melancholicus, jang hanja pandai bersedih hati, sambil mengawssi sekeliling dengan mata jang saju.

Kita masih mempunjai harapan. Dan harapan itu ada pada sebarisan ketjil dari manusia jaug tiada bersendjata, tiada berbendera, karena mereka tisda bertudjuan keme- nangan, akan tetapi kebahagiaan dan kedamaian. Mereka tiada bergenderang, tiada berterompet karena mereka tiada hendak memanggil berteriak terisk dengan serba suara, akan tetapi dengan hati mereka. Mereka adalah insan- semesta, universe e geest, jang senantiasa menlupkan Tjinta kedalam dada dunia!

Dan kami, hanjalah sebagian ketjil dari mereka itu. Ka- mipun tiada bergendersng, tiada berterompet, karena ka- mipun tiada hendak memnanggil berteriak2 dengan serba suara, akan tetapi dengan hati kami. Kami djuga tiada

Chairil Anwar.

Pendjual Djanggelut.

1a. ajuai Juesta Leutbao

SBr nt napdo.

Ibu aa nak

Edisi Sastera dan Seni I ",SIMPONI PUISI" ini diterbitkan oleh: ,LEMBAGA SENI SASTERA" Surakarta.

Susunan penjelenggaraannja dikerdjakan bersama oleh: Redaksi ,,SUMBANGSIH dan SIMPOSIUM".

Aitos

DsI4 poarilo bs.

EMUOdinal

8o

Chusus buat Angkatan Muda PENA“ Madjalah bulanan ketjil, jang mengutamakan SENI dan SASTERA.- ASUHAN MANUSIA2 MUDA H Winarta; Koesalah S. Toer; S.M Ardan; N. Su- tarini Darsosentono; Eodang Untarl; Wibowo; dan Made Kirtya.- Lengganan: Tiga bulan Rp. 4,- Setahun Rp. 15,— Alamat: Red. Djl. Tirtojoso 62 So'o. Adm. Bandjarsari Wetan 5 Solo.

XXX1××X3××XX××××××××X

Madjalah Bulanan

Satu-satunja madjalah jang memuat soal2 Ke-drama-an dan Ke-susastera-an jg. terbit di Indonesia.- Penting bagi para peminat dan Sdr.2 jang ingin mengetahui seluk beluk Drama.- Segera tjatatkan sebsgai langganan, atau tjari di Toko-2Buku setempat. Langganan 3 bulan Rp. 4,-
Nomor lepas.... Rp. 1,50
Administrasi: NOTOKUSUMAN No. 258 BOLO. XXX

pulgi

Sitp

DARI DAERAN MUDA IANG

SEDANG TUMUH