CHAIRIL
中
NSISWA MUSEUM TAM KERIKIL TADJAM A N TIGRIYA DEWANTARA K
JANG TERAMPAS
DAN JANG PUTUS
1675
CHAIRIL ANWAR
Kerikil Eadjam
Dihiasi dengan Vignet: O. Effendi
099.21.cha.
Fingarng
Dialarta.
Copyright byChairil Umwar. PUSTAKA RAKJAT
Eenubit: Poerlaka Rubjat.AT
Djalan Paséban 58 Bidul : Kerikil Taojaen Djakarta.
NISAN. Untuk nénékanda. Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertachta. Oktober 1942
6 7
PENGHIDUPAN. DIPO NEGORO.
Dimasa pembangunan ini
Lautan maha dalam
tuan hidup kembali
mukul dentur selama
ngudji tenaga pematang kita Dan bara kagum mendjadi api
mukul dentur selama Didepan sekali tuan menanti
hingga hantjur remuk redam Tak gentar. Lawan banjaknja seratus kali.
Kurnia Bahgia
Pedang dikanan, keris dikiri
ketjil setumpuk Berselempang semangat jang tak bisa mati. sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. MADJU Désémbér 1942 Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepertjajaan tanda menjerbu.
Sekali berarti Sudah itu mati.
MADJU
Bagimu Negeri Menjediakan api. TL Punah diatas menghamba
Binasa diatas ditinda
Sungguhpun dalam adjal baru tertjapai
Djika hidup harus merasai.
Madju. Serbu.
Serang. Terdjang.
Pébruari 1943
TAK SEPADAN. SIA-SIA.
Aku kira: Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Beginilah nanti djadinja Mawar mérah dan melati putih Kau kawin, beranak dan berbahgia Darah dan Sutji Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros. Kau tebarkan depanku Dikutuk-sumpahi Eros Serta pandang jang memastikan: untukmu. Aku merangkaki dinding buta Lalu kita sama termanggu Tak satu djúga pintu terbuka. Saling bertanja: apakah ini? Tjinta ? Kita kedua tak mengerti Djadi baik djuga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak ’kan apa-apa Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri Aku terpanggang tinggal rangka. Ah! Hatiku jang tak mau memberi Pébruari 1943Mampus kau dikojak-kojak sepi.
Pébruari 1943
GBCB
10 11
PELARIAN. SENDIRI. I
| Tak tertahan lagi | Hidupnja tambah sepi, tambah hampa |
|---|---|
| remang miang sengkéta disini. | Ia memekik ngeri Malam apa lagi |
| Dalam lari | Ditjekik kesunjian kamarnja |
Dihempaskannja pintu keras tak berhingga. Hantjur-luluh sepi seketikaIa membentji. Dirinja dari segala Dan paduan dua djiwa. Jang minta perempuan untuk kawannja II Bahaja dari tiap sudut. Mendekat djuga Dari kelam ke malam Dalam ketakutan-menanti ia menjebut satu nama Tertawa-meringis malam menerimanja Ini batu baru tertjampung dalam gelita Terkedjut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Mau apa? Raju dan pelupa, Ah! Lemah lesu ia tersedu : Ibu! Ibu! Aku ada! Pilih sadja! Budjuk dibeli? Pébruari 1943 Atau sungai sunji? Mari! Mari! Turut sadja !". Tak kuasa — terengkam Ia ditjengkam malam. Pébruari 1943
12 SUARA MALAM. Dunia badai dan topan Manusia mengingatkan Kebakaran dihutan" 1). Djadi kemana untuk damai dan reda? Mati. Barangkali ini diam kaku sadja dengan ketenangan selama bersatu mengatasi suka dan duka kekebalan terhadap debu dan nafsu. Berbaring tak sedar Seperti kapal petjah didasar lautan djemu dipukul ombak besar. Atau ini. Peleburan dalam Tiada dan sekali akan menghadap tjahaja.
Ja Allah! Badanku terbakar — segala samar.
Aku sudah meléwati batas. Kembali? Pintu tertutup dengan keras.
1) Tjiptaan alm. R. Saleh.
Pébruari 1943
SEMANGAT.
Kalau sampai waktuku kutahu tak seorang 'kan meraju Tidak djuga kau
Tak perlu sedu sedan itu!
Aku ini binatang Djalang Dari kumpulannja terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meredang-menerdjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari.
Hingga hilang pedih dan peri. Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi. Maret 1943
14 15
HUKUM. TAMAN.
Saban soré ia lalu depan rumahku Taman punja kita berdua Dalam badju tebal abu-abu tak lébar luas, ketjil sadja satu tak kehilangan lain dalamnja. Seorang djerih memikul. Banjak menangkis pukul. Bagi kau dan aku tjukuplah Taman kembangnja tak berpuluh warna Bungkuk djalannja — Lesu Padang rumputnja tak berbanding permadani Putjat mukanja — Lesu halus lembut dipidjak kaki. Bagi kita itu bukan halangan. Karena Orang menjebut satu nama djaja Mengingat kerdjanja dan Djasa dalam taman punja berdua Kau kembang, aku kumbang Meletjut supaja terus ini padanja aku kumbang, kau kembang. Ketjil, penuh surja taman kita Tapi meréka memaling. Ia begitu kurang tenaga tempat merenggut dari dunia dan ’nusia Maret 1943 Pekik diangkasa: Perwira muda Pagi ini menjinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti ! Maret 1943
16 17
LAGUBIASA: KUPU MALAM DAN BINIKU.
Diteras rumah makan kami kini berhadapan Sambil berselisih lalu Baru berkenalan. Tjuma berpandanganmengebu debu. Sungguhpun samudra djiwa sudah selam berselam Kupertjepat langkah. Tak noléh kebelakang Masih sadja berpandangan Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang Dalam lakon pertama Orkés meningkah dengan Carmen" pula. Barah ternganga Ia mengerling. Ia ketawa Melajang ingatan kebiniku Dan rumput kering terus menjala Lautan jang belum terduga Ia berkata. Suaranja njaring tinggi Biar lebih kami tudjuh tahun bersatu Darahku terhenti berlari. Barangkali tak setahuku Ketika orkés memulai Avé Maria”Ia menipu.
Kusérét ia kesana ..... Maret 1943
Maret 1943
Keríkil Tadjam
18 19 PENERIMAAN. KESABARAN. Djika kau mau, kuterima kau kembali Aku tak bisa tidur Dengan sepenuh hati Orang ngomong, andjing nggonggong Dunia djauh — mengabur Aku masih tetap sendiri Kelam mendinding batu Dihantam suara bertalu-talu Kutahu kau bukan jang dulu lagi Disebelahnja api dan abu Bak kembang sari sudah terbagi Aku hendak berbitjara Djangan tunduk! Tentang aku dengan berani Suaraku hilang, tenagaku terbang Sudah! Tidak djadi apa-apa: Djika kau mau, kuterima kau kembali Ini dunia enggan disapa, ambil perduli Tapi untukku sendiri Keras-membeku air kali Dan hidup bukan hidup lagi. Sedang dengan tjermin aku enggan berbagi Kuulangi jang dulu kembali Maret 1943 sambil bertutup telinga, beèrpitjing mata Menunggu reda jang musti tiba Maret 1943
21 20
| KENANGAN. | ||
|---|---|---|
| Menembus sudah tjaja | untuk Karinah Moordjono. | |
| Petjah pentjar sekarang | Diantara djeridji itu itu sadja | |
| Diruang legah lapang Mari ria lagi | Benda usang dilupa |
ADJAKAN.
Udara tebal kabut Kadang Katja hitam lumut Meréksmi memberi warna
Ah! tertjebar rasanja diri Tudjuh belas tahun kembali Membubung tinggi atas kini Bersepéda sama gandéngan Sedjenak Kita djalani ini djalan Sadja. halus rapuh ini djalinan kenang Hantjur hilang belum dipegang Ria bahgia Terhentak Tak atjuh apa-apa Kembali diitu-itu sadja Gembira girang Djiwa bertanja: Dari buah Biar hudjan datang Hidup kan banjakan djatuh ketanah? Kita mandi basahkan diri Menjelubung njesak penjesalan pernah menjia-njia Tahu pasti sebentar kering lagi. 19 April 1943 20 April 1943
23 22 HAMPA. PERHITUNGAN.
Kepada Sri jang selalu Banjak gorés belum terpupus sadja sangsi. Satu rumah ketjil putih dengan lampu mérah muda tjaja Sepi diluar, sepi menekan-mendesak
Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak Langit bersih- tjerah dan purnama raja .....
Sampai kepuntjak.Sudah itu tempatku tak tentu dimana. Sepi memagut. Tak suatu kuasa-berani melepas diriSekilap pandangan serupa dua kléwang bergéséran Segala menanti. Menanti-menanti. Sepi.Sudah itu berlepasan dengan sedikit héran Dan ini menanti penghabisan mentjekikHambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Su-
Memberat-mentjekung punda kabumi......!??
Udara bertubaKini aku meringkih dalam malam sunji. Rontok-gugur segala. Sétan bertempik. é Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti. 16 Mei 1943
April 1943
24 RUMAHKU. Rumahku dari unggun-timbun sadjak Katja djernih dari luar segala nampak Kulari dari gedong lébar halaman Aku tersesat tak dapat djalan Kémah kudirikan ketika sendjakala Dipagi terbang entah kemana Rumahku dari unggun-timbun sadjak Disini aku berbini dan beranak Rasanja lama lagi, tapi datangnja datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berléléran kata manis madu Djika menagih jang satu. 27 Mei 1943
由三肉
25 KAWANKU DAN AKU. Kepada L. K. Bohang. Kami djalan sama. Sudah larut Menembus kabut. Hudjan mengutjur badan. Berkakuan kapal-kapal dipelabuhan. Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat. Siapa berkata? Kawanku hanja rangka sadja Karena dera mengelutjak tenaga. Dia bertanja djam berapa! Sudah larut sekali Hingga hilang segala makna Dan gerak tak punja arti. 5 Djuni 1943
==A
27 26 DIMESDJID. AKU. Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak Kuseru sadja Dia Tjumbu-buatan satu biduan Sehingga datang djuga Kudjauhi ahli agama serta lembing katanja. Kamipun bermuka-muka. Aku hidup Dalam hidup dimata tampak bergerak Seterusnja Ia bernjala-njala dalam dada. Dengan tjatjar melébar, barah bernanah Segala daja memadamkannja Dan kadang satu senjum kukutjup-minum dalam dahaga. Bersimpah peluh diri jang tak bisa diperkuda. 8 Djuni 1943 Ini ruang Gelanggang kami berperang Binasa- membinasa Satu menista lain gila. 29 Mei 1943
28 29 T J ERIT A. BERTJERAI.
Kepada Darmawidjaja. Kita musti bertjerai Sebelum kitjau murai berderai. Dipasar baru meréka Lalu mengada-menggaja. Terlalu kita minta pada malam ini. Meningkat sudah kesal Benar belum puas serah menjerah Tak tahu apa dibuat Darah masih berbusah-busah. Djiwa satu teman lutju Terlalu kita minta pada malam ini. Dalam hidup, dalam tudju. Kita musti bertjerai Gundul diselimuti tebal Biar surja ’kan menembus oléh malam diperisai Sama segala berbuat-buat. Dua benua bakal bentur-membentur. Tapi kadang pula dapat Mérah kesumba djadi putih kapur. Ini renggang terus terapat 9 Djuni 1943Bagaimana? Kau IDA, mau turut mengabur Tidak samudra tjaja tempatmu menghambur. -7 Djuni 1943
30 31 SELAMAT TINGGAL.DENDAM.
| Aku berkatja | Berdiri tersentak |
|---|---|
| Bukan buat kepésta | Dari mimpi aku bengis diélak |
| Ini muka penuh luka | Aku tegak |
Siapa punja? Bulan bersinar sedikit tak nampak Kudengar seru-menderuTangan meraba kebawah bantalku — dalam hatiku? — Keris berkarat kugenggam dihulu Apa hanja angin lalu? Bulan bersinar sedikit tak nampak Lagu lain pula Menggelepar tengah malam butaAku mentjari Mendadak mati kuhendak berbekas didjari Ah………!!! Aku mentjari Segala menebal, segala mengental Diri tertjerai dari hati
Segala tak kukenal ......
Bulan bersinar sedikit tak nampak Selamat tinggal ...!! 13 Djuli 1943 12 Djuli 1943
32 33
MERDEKA.
Aku mau bébas dari segala Kita gujah lemah Merdéka Sekali tetak tentu rebah Djuga dari Ida Segala erang dan djeritan Kita pendam dalam keseharian Pernah Aku pertjaja pada sumpah dan tjinta Mari tegak merentak Mendjadi sumsum dan darah Diri — sekeliling kita bentak Seharian kukunjah— kumamah Ini malam purnama akan menembus awan. 22 Djúli 1943 Sedang meradang Segala kurenggut Ikut bajang
Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kalah menang
Ah! Djiwa jang menggapai-gapai Mengapa kalau berandjak dari sini Kutjoba dalam mati. 14 Djuli 1943
足 Kerikil Tadjam
35 34
Mulutmu mentjubit dimulutku Djangan kita disini berhenti Menggelegak bentji sedjenak itu Tuaknja tua, sedikit pula Mengapa merihmu tak kutjekik pula Sedang kita mau berkendi-kendi Ketika halus-perih kau meluka??
Terus, terus dulu....!!!
12 Djuli 1943
Keruang dimana botol tuak banjak berbaris
Pelajannja kita dilajani gadis-gadis O, bibir mérah, selokan mati pertama O, hidup, kau masih ketawa?? 24 Djuli 1943
36 KEPADA PEMINTA-MINTA.
Baik, baik aku akan menghadap Dia
Jang terampas
Menjerahkan diri dan segala dosa Tapi djangan tentang lagi aku Nanti darahku djadi beku.dan jang putus Djangan lagi kau bertjerita Sudah tertjatjar semua dimuka Nanah meléléh dari luka Sambil berdjalan kau usap djuga. Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menétés dari suasana kau datang Sembarang kau merebah. Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku dibumi keras Dibibirku terasa pedas Mengum ditelingaku. Baik, baik aku akan menghadap Dia Menjerahkan diri dan segala dosa Tapi djangan tentang lagi aku Nanti darahku djadi beku.
PUSTAKA RAKJAT DJÀKARTA
39 F RAGMEN. Tiada lagi jang akan diperikan? Kuburlah semua Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada jang Lihat keluar, hitung-pisah warna jang bermain Atau nikmatkan lagi lukisan² didinding pemberian atau kita omongkan Ivy jang ditinggalkan suaminja, djatuhnja pulau Okinawa. Atau berdiam sadja Kita saksikan hari djadi tjerah, djadi mendung, Méga dikemudikan angin
Melupakan dan mengenang-Kau asing, aku asing,
Lupa diri terlambung tinggi ? Dan djuga
sekarang djalan dengan 1½ rabu.
ihwal, menjesak didjendéla teman² kita.
kita ..
bersilang
gunung?
— Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan
Dipertemukan oléh djalan jang tidak pernah Kau menatap, aku menatap Kebuntuan rahsia jang kita bawa masing-masing Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat
diangkat dari rumah sakit satu kerumah sakit lain mengungsi dari kota satu kekota lain? Aku
40 41
Dan Mengapa kau selalu berangkat dari kelam kekelam
Pernah pertjaja pada kemutlakan soal... dari ketjemasan sampai ke-istirahat-dalam-ketje-
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir masan; pertemuantjerita surja berhawa pahit. Kita bertjerai begini memperlekas datang siang? Adakah — Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi Dan apa jang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, Mari tjintaku rahsiakan Jang bukan-penjair tidak ambil bagian. Demi Allah, kita djedjakkan kaki dibumi pedat,
Bertjerita tentang radja² jang mati dibunuh rakjat;
Papar-djemur kalbu, terangkan djalan darah kita Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan. Aku sudah saksikan Sendja keketjéwaan dan putus asa jang bikin tuhan djuga turut tersedu membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnja.
: Sekali kugenggam Waktu, Keluasan ditangan lain Tapi kutjampurbaurkan hingga hilang tudju.
Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnja, tjium matanja, kutjup rambutnja, isap dadanja djadi gersang. Kau tjintaku —
Melénggang diselubungi kabut dan tjaja, benda jang
tidak menjata,
Tukang tadah segala jang kurampas, kaki tangan
tuhan — Bertjeritalah tjintaku bukakan tubuhmu diatas sofa ini
42 43
MALAM KRAWANG — BEKASI.
Mulai kelam Kami jang kini terbaring antara Krawang-Bekasi belum buntu malam, tidak bisa teriak Merdéka” dan angkat sendjata lagi. kami masih sadja berdjaga 一Thermopylae ? Tapi siapakah jang tidak lagi mendengar deru kami, — djagal tidak dikenal?— terbajang kami madju dan berdegap hati? tapi nanti sebelum siang membentangKami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi kami sudah tenggelam Djika dada rasa hampa dan djam dinding jang hilang ... berdetak Kami mati muda. Jang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami. Kami sudah tjoba apa jang kami bisa Tapi kerdja belum selesai, belum apa-apa Kami sudah beri kami punja djiwa Kerdja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4——5 ribu njawa Kami tjuma tulang-tulang bersérakan Tapi adalah kepunjaanmu 品 Kaulah lagi jang tentukan nilai tulang-tulang bersérakan Ataukah djiwa kami melajang untuk kemerdékaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang jang berkata
44 45 PERSETUDJUAN DENGAN BUNG KARNO. Kami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi Djika dada rasa hampa dan djam dinding jang berdetak Ajo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu, dipang- gang atas apimu, digarami oléh lautmu Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskanlah djiwa kamiDari mula tgl. 17 Agustus 1945 Mendjaga Bung Karno Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu mendjaga Bung Hatta Aku sekarang api aku sekarang laut mendjaga Bung Sjahrir Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat Kami sekarang majat Dizatmu dizatku kapal² kita berlajar Berilah kami arti Diuratmu diuratku kapal² kita berlajar Berdjagalah terus digaris batas pernjataan danimpian Diuratmu diuratku kapal² kita bertolak & berlabuh Kenang, kenanglah kami jang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.
BBB3 窗 C3 6
BQQ
46 47
INA MIA. Sudah dulu lagi terdjadi begini Terbaring dirangkuman pagi Djari tidak bakal terandjak dari petikan bedil— hari baru djadi — Djangan tanja mengapa djari tjari tempat disini Ina Mia mentjari hati impi, Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi Teraba Ina Mia Dan djangan tanja siapa akan menjiapkan liang kulit harapan belaka Dan djangan tanja siapa akan menjipakan liang penghabisan Ina Mia
Jang akan terima pusaka: kedamaian antara menarik napas pandjang
runtuhan menaraditepi djurang napsu Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi Djari tidak bakal terandjak dari petikan bedil. jang sudah lepas terhembus, antara daun²an mengelabu kabut tjinta lama, tjinta hilang Terasa gentar sedjenak Ina Mia menekan tapak dihidjau rumput, Angin ikut
— dajang penghabisan jang mengipas —
Berpaling
kelihatan seorang serdadu mempertjepat langkah
ditekongan.
49 48 BUAT GADIS RASID.
PERDJURIT DJAGA MALAM.
Antara
Waktu djalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
daun-daun hidjau
Pemuda² jang lintjah jang tua² keras, bermata
padang lapang dan terang tadjam, anak² ketjil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
Mimpinja kemerdékaan bintang²nja kepastian
burung-burung merdu
ada disisiku selama mendjaga daérah mati ini
hudjan segar dan menjubur
Aku suka pada meréka jang berani hidup
bangsa muda mendjadi, baru bisa bilang aku"
Aku suka pada meréka jang masuk menemu malamDan
Malam jang berwangi mimpi, terlutjut deb ..
angin tadjam kering, tanah semata gersang Waktu djalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! pasir bangkit mentanduskan, daérah dikosongi Kita terapit, tjintaku — mengetjil diri, kadang bisa mengisar setapak-Mari kita lepas, kita lepas djiwa mentjari djadi merpati Terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat — the only possible non-stop flight Tidak mendapat.
Kerikil Tadjam
50 PUNTJAK. Pondering, pondering on you, dear ..… Minggu pagi disini. Kederasan ramai kota jang terbawa tambah penjoal dalam diri- diputar atau memutar-terasa tertekan; kita berbaring bulat telandjang Sehabis apa terutjap dikelam tadi, kita habis kata sekarang. Berada 2000 m. djauh dari muka laut, silang siur pelabuhan, djadi terserah pada perbandingan dengan tjemara bersih hidjau, kali jang bersih hidjau Maka tjintaku sajang, kutjoba mendjabat tanganmu mendekap wadjahmu jang asing, meraih bibirmu dibalik rupa. Kau terlompat dari randjang, lari ketingkap jang masih mengandung kabut, dan kau lihat disana, bahwa antara tjemara bersih hidjau dan kali gunung bersih hidjau mengambang djuga tanja dulu, tanja lama, tanja.
51 JANG TERAMPAS DAN JANG PUTUS Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, menggigir djuga ruang dimana dia jang kuingin, malam tambah merasuk, rimba djadi semati tugu. di Karét, di Karét (daérahku j.a.d.) sampai djuga deru dingin aku berbenah dalam kamar, dalam diriku djika kaudatang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi hanja tangan jang bergerak lantang. tubuhku diam dan sendiri, tjerita dan peristiwa berlaku beku.
tjemara menderai sampai djauh,
terasa hari akan djadi malam, ISI
ada beberapa dahan ditingkap merapuh,
dipukul angin jang terpendam. KERIKIL TADJAM
aku sekarang orangnja bisa tahan,Halaman
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,Nisan3
Penghidupan4
tapi dulu mémang ada suatu bahan,
Dipo Negoro5
jang bukan dasar perhitungan kini.
Tak sepadan7 Sia-sia8
hidup hanja menunda kekalahan,Pelarian
tambah terasing dari tjinta sekolah rendah,Sendiri
10 Suara Malam11
dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan,
Semangat
sebelum pada achirnja kita menjerah.12
Hukum13 Taman 14 Lagu Biasa15 Kupu Malamdan 16 Penerimaan17 Kesabaran18 Adjakan 19 Kenangan 20 Hampa21 Perhitungan22 Rumahku 23 Kawanku danAku 24 Dimesdjid 25 Aku26 Tjerita27 Bertjerai 28 Selamat Tinggal29 Dendam 30 Merdéka Kepada peminta-minta
JANG TERAMPAS DAN JANG PUTUS Halaman 39 Fragmen
Krawang — Bekasi 42
Persetudjuan dengan Bung Karno
……45 Ina Mia 46 47
Perdjurit djaga malam
Buat Gadis Rasid48 49 Puntjak Jang terampas dan jang putus50 51