Baca PDF (OCR): Logika Insureksi

5 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 2.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Alfredo M. Bonanno Logika Insureksi
  2. Mari kita buat sejelas mungkin.

Alfredo M. Bonanno Logika Insureksi

Logika Insureksi

Alfredo M. Bonanno, 1984

Dipublikasikan oleh: Marginalist

Sumber: theanarchistlibrary.org

Instagram: marginalist_0

Surel: [email protected]

ANTI~COPYRIGHT

Ketika kita mendengar kata insureksi bayangan kita biasanya tertuju pada sebuah momen letusan di masa lalu, atau membayangkan benturan serupa di masa depan. Pemberontakan spontan terjadi ketika orang dipaksa melampaui batas ketahanan mereka—di titik eksploitasi mereka. Lalu terjadi hal-hal tertentu: bentrokan di jalan, serangan terhadap polisi, penghancuran simbol kapitalisme (bank, toko perhiasan, supermarket, dan sebagainya). Momen kekerasan rakyat seperti itu sering membuat kaum anarkis tidak siap, terkejut melihat apatisme kemarin berubah menjadi amarah hari ini.

Lihat peristiwa di Brixton beberapa tahun lalu: kaum anarkis tidak, dan memang tidak bisa menjadi motor kerusuhan itu. Peristiwa itu datang menghantam mereka secara tiba-tiba. Orang-orang bangkit atas alasan yang tampak sederhana, namun sebenarnya telah mengendap lama di bawah permukaan. Partisipasi anarkis ketika itu hanyalah mengikuti aliran, menjadi tamu dari sebuah pemberontakan, bukan bergerak dengan logika pemberontakan itu sendiri. Melempar batu saja bukan cara terbaik seseorang yang sadar sedang mengambil bagian dalam sebuah pemberontakan.

Ketika kita bicara tentang menerapkan logika insureksi, maksudnya adalah bergerak secara terbalik. Kita tidak hanya menunggu menemukan titik-titik ketegangan sosial lalu ikut ketika meledak. Kita justru berusaha memicu pemberontakan dan, lebih jauh lagi, mengusulkan serta terlibat dalam pembentukan organisasi pemberontakan.

Mari kita buat sejelas mungkin.

Organisasi yang dimaksud bukan kelompok anarkis spesifik, melainkan sesuatu yang bersifat sosial, terbuka, atau massal: komite, kelompok solidaritas, liga anti-represi, perkumpulan hak tempat tinggal, kelompok anti-nuklir, liga abstain pemilu, dan sejenisnya. Mengapa seseorang harus menjadi anggota kelompok anarkis hanya untuk terlibat dalam suatu perjuangan sosial?

Partisipasi orang dalam struktur seperti ini tidak memiliki batas, sejauh kerja yang dilakukan kaum anarkis berhasil membuka ruang. Dimulai dari segelintir kawan dan orang-orang yang paling terdorong dalam suatu isu—entah itu mogok liar, PHK massal, rencana pembangunan basis NATO, aksi okupasi tempat tinggal, dan sebagainya—pekerjaan awalnya adalah menyebarkan informasi secara jernih dan langsung. Pamflet, buletin, poster, diskusi publik, pertemuan terbuka—semua itu menjadi alat membentuk embrio kelompok yang disebutkan tadi. Ketika ada respons, saatnya menentukan tempat berkumpul dan kontak yang bisa dihubungi. Tindakan organisasi akan makin efektif seiring menguatnya situasi perjuangan, bertambahnya jumlah orang, dan munculnya represi terhadap mereka.

Arah akhirnya tidak bisa dipastikan. Kehadiran aktif kaum anarkis bukan berarti mereka mengendalikan situasi, melainkan mempercepat atau merangsangnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan yang lain, tanpa posisi istimewa dalam pengambilan keputusan. Usulan kaum anarkis hanya akan dianggap sah sejauh sesuai dengan suasana umum dan mampu mendorongnya selangkah lebih maju.

Usulan yang ragu-ragu atau terlalu lunak hanya akan dilihat sebagai penghambat perjuangan, bahkan dianggap mengkhianati kebutuhan dan kemarahan kolektif. Sebaliknya, usulan yang terlalu jauh melampaui kondisi saat itu akan dipandang tidak mungkin, berbahaya, dan merusak. Orang akan mundur ketakutan, khawatir terseret sesuatu yang tidak mereka pahami.

Karena itu, anarkis yang bekerja dalam struktur semacam ini harus mengenali kenyataan dengan akurat, dan menyarankan langkah yang mungkin dilakukan serta dapat dipahami. Dari kerja awal itulah bisa lahir perluasan pemberontakan secara tak terduga. Inilah yang dimaksud dengan metode dan logika pemberontakan.

Pendekatan ini sangat berbeda dari logika serikat buruh atau sindikalisme—bahkan yang anarkosindikalis sekalipun. Serikat selalu berangkat dari logika pertahanan: mempertahankan hak yang sudah ada, menjaga keseimbangan, memperhitungkan jumlah anggota, melindungi satu kategori pekerja.

Sebaliknya, yang kita maksud adalah struktur dasar yang dibentuk untuk satu tujuan perlawanan tertentu, dan yang tugasnya membangkitkan rasa memberontak, hingga bermuara pada pemberontakan sedasar dan sesadarnya mungkin.

Dengan cara ini, tidak ada ruang bagi anarkis menjadi pemimpin atau elite kecil. Justru kebalikannya: mereka dipaksa mengikuti laju perjuangan. Mereka tidak bekerja untuk memperbesar organisasi anarkis sendiri. Mereka tidak bisa hanya menawarkan langkah bertahan—mereka harus mengusulkan langkah yang semakin maju.

Ada dua kemungkinan: tindakan ini berkembang menjadi pemberontakan dengan derajat yang sulit diprediksi, atau runtuh dan tidak efektif. Dalam dua keadaan tersebut, struktur awal—komite, kelompok solidaritas, dan semacamnya—pada gilirannya akan kehilangan fungsi, dan para anarkis pun kembali ke kerja yang sebelumnya.

Marginalist

ANTI~COPYRIGHT