Cikudapapers
Desember 2017 Vol.5
Editorial
Materi dalam edisi ini di dedikasikan untuk semua rakyat y a n g s e d a n g b e r j u a n g mendapatkan hak ruang hidupnya kembali dari ancaman bedil di kampung baru Dadap, Tanggerang, pembangunan bandara di Kulon Progo, pabrik semen di kendeng, penggusuran di kampung-kampung kota Bandung dari Kebon Jeruk, Taman Sari sampai Dago elos, hingga perampasan ruang hidup d i P a p u a y a n g mengatasnamakan kedaulatan
| d a n | p e r a m p a s a n | d e m i | |
|---|---|---|---|
| kepentingan nasional. | |||
| Akhir | kata, | kami | ucapkan |
| terimakasih | kepada | seluruh | |
| pihak | yang | terlibat | dalam |
Pangan, juga di seluruh titk perlawan dalam peta konflik di wilayah indonesia.
Dengan memuat empat materi yang bersinggungan dengan penggusuran dan perampasan lahan hidup, edisi ini adalah ungkapan paling sederhana yang dapat kami lakukan untuk menjawab seruan panggilan solidaritas yang bermunculan selama tahun 2017.
D ua materi diambil dari pengalaman rakyat belahan dunia lainnya yang mengalami desakan serupa yang di alami r a k y a t d i i n d o n e s i a, mengkisahkan relevansi antara urbanisasi dengan kebutuhan k a p i t a l i s g l o b a l u n t u k mengakumulasikan modalnya.
Dua materi lainnya di sunting dari kegelisahan aktivis intelektual muda yang radikal, mengabarkan kondisi di lapangan, penting untuk di sunting karena beberapa kaum intelektual ini, khususnya kaum muda, memilih jalan yang b e r d e b u, p a n a s, d a n berkeringat di dalam barisan rakyat yang sedang melawan penggusuran ketimbang duduk nyaman di ruang-ruang seminar, kelas dan kantor yang nyaman seraya mengamini penggusuran
penerbitan edisi ini.
Panjang Umur solidaritas! Hidup Rakyat Yang Melawan!
Bandung, 30 Desember 2017
“Terinjak di Kampung kota”
oleh: Individu Bebas
Aku tak pernah dapat memahami pilu yang di rasakan manusia- manusia di kota ini maupun kota-kota lain di dunia. Mengapa banyak pria dan wanita yang menangis tersedu-sedu di gubuk-gubuk. Ada pula anak kecil yang tersenyum palsu di perempatan jalan-jalan bersih nan indah dengan banyak bangunan menjulang tinggi di sisi kanan kirinya?
Dan lebih jauh lagi, ingin aku mengetahui siapa pula dalang dari semua ketimpangan yang membuat teman-teman, orang-orang tua itu pusing? Sudah lama aku merenungkan masalah ini seperti filsuf plato merenungkan bentuk negara. Tapi tak mampu aku tuliskan ke atas kertas atau sekedar mencoret-coret tembok di bawah jembatan layang seperti biasa aku lakukan di masa remaja dulu. Biasanya setiap kejadian yang menyentuh, selalu aku rasakan. Kemudian dengan sendirinya tangan ini bergerak lihai, layaknya penari balerina di gedung teater megah di tengah kota. Tangan ini bergerak, mengabadikan. Karena selalu terpatri dalam pikiran, kata kata adalah senjata. Kata-kata dapat merubah dunia, dan panggung sejarah hanya terjadi sekali. Namun untuk masalah ini, baru kali ini aku berani untuk mengabadikan.
Aku tutup catatan harianku, lalu kusimpan kembali ke dalam tas. Di bawah rindang pohon, aku duduk sembari membaca buku yang aku pinjam dari seorang kawan. Sambil sesekali mencatat segala yang dirasa perlu. Di sebelah timur tempat aku duduk, terlihat suasana yang lenggang, sepi sekali, tak seperti biasanya. Aku bergumam pada angin “Lama kelamaan kota ini menjadi sepi sunyi”. Mati. “Langit biru yang cerah” pikirku. Aku dapat melihatnya dari celah rimbun daun, Membosankan. Di sebelah timur masih terlihat, berdiri tegak pohon lain yang tak kalah rimbun. Daun pohon itu hendak berguguran, tapi masih malu-malu, atau mungkin mereka ragu-ragu untuk jatuh ke atas tanah. Karena di bawah lebat daunnya, ada beberapa pria tua sedang asyik bermain kartu remi. Tanpa rokok, tanpa kopi.
Selang beberapa saat, muncul pria tua dengan kretek menempel di bibir keriputnya. Di belakang pria tua itu terlihat seorang pria berjalan tergopoh-gopoh. Dia megenakan topi caping dan kaos belel
yang sepertinya tidak dia ganti berminggu-minggu. Pria-pria itu membawa beberapa cangkir kopi. Dari sini terlihat, air muka mereka yang jelas kelelahan, bahkan pria tua yang membawa dua cangkir kopi, wajahnya memerah. Kota ini berangsur-angsur berubah. Sudah tak terhitung lagi banyaknya bangunan-bangunan tinggi menjulang yang menembus menantang angin dan langit di atasnya. Taman ini, taman terakhir yang tersisa di kota. Tak banyak pula orang yang membunuh waktu di tempat terpencil seperti ini. Taman ini telah tergerus kharismanya oleh bangunan di sisi kiri dan kanannya;Supermarket, Bioskop, Kafetaria, dan Restoran-restoran megah nan mewah. -----
Terdengar suara riuh, orang-orang tua itu bermain kartu dengan teriakan dan gelak tawa, mereka senang sekarang. “Kebahagiaan yang sederhana “ kataku dalam hati. Hanya karena ada beberapa cangkir kopi dan masing-masing jari mereka mengapit sigaret, taman berubah suasana. Menyenangkan.
Nyalak seekor anjing menyita perhatianku dari buku, aku melihat seorang wanita yang membawa anjing berjalan-jalan di sekitar taman. Dengan potongan baju mewah dan topi modis menempel di kepalanya, ia menggenggam kuat tali pengikat anjing kecil miliknya. Aku tersenyum pada wanita muda itu, ia acuh tak acuh. Melihat gelagatnya yang seperti itu, kutundukan kembali kepalaku pada sebuah selembaran lusuh diatas tanah.
Sedikit mencuri-curi pandang, kulihat anjing itu sekarang kencing di rumput hijau tepat beberapa meter dari hadapanku. Aku jadi naik pitam. Aku berdiri karena merasa di hina, aku dikencingi seekor anjing. Wanita itu tertawa kecil sambil melihat ke arahku dan mulai mengikuti anjing kecil itu berjalan ke depan. Aku berjalan cepat dan memegang pundak wanita itu, ia bediri mematung, dan anjing kecilnya tidak mau diam. Sedetik kemudian, aku tendang kepala anjing sialan itu sekuat yang aku bisa.
Wanita itu tak kepalang marah besar. Terlihat dari mukanya yang memerah, menahan amarah. Matanya memburu, mulutnya memaki dengan seluruh kosa kata yang ia punya. Terdengar jelas kata kotor keluar, dari setiap kinclong putih giginya. Namun, tak aku hiraukan.
“Anjing ini lebih mahal dari harga dirimu!”
“Dasar manusia miskin kota! Lebih baik kalian mati saja dan jangan pernah tinggal di kota ini!”
Aku hanya melengos pergi. Terakhir yang kulihat, hanya wajahnya yang memerah dan jari telunjuk yang tak pernah turun.
“Kulaporkan kau ke polisi, biar tau rasa!”
“Miskin dan belagu!”
Ia terus menyerocos, mengeluarkan setiap kata kotor yang terbesit dalam pikiranya, tapi aku. Aku menganggapnya sebagai angin lalu yang tak berarti. ------
Seusai melaksanakan kewajiban shalat Dzuhur berjamaah di masjid, aku mencari tempat untuk menyendiri, tempat itu mesti sejuk dan teduh. Sebagai orang yang terlahir dan besar di kota ini, aku tak pernah tahan terhadap panas, karena sekian tahun yang lalu kota ini berbeda. Dan sialnya, sekarang kota ini membakar penduduknya.
Akhirnya aku menemukan tempat yang aku cari, tepat berada di pojokan masjid. Setelah semua jemaah keluar, aku mulai membuka tas gendongku yang besar, barang yang menyimpan segala harta benda miliku. Kemudian aku keluarkan sebuah jurnal. Sebelum memulai membaca jurnal tipis itu, aku merenungkan kehidupan. Kehidupan yang tidak pernah bebas, yang selalu di dominasi orang lain, yang dengan kekuatanya ia dapat mudahnya melempar-lempar nasib seorang manusia layaknya melempar bangkai tikus.
Aku teringat kembali ketika kota ini masih menjadi kota yang ramah, kota yang memiliki arti bagi setiap orang yang pernah bermalam bersamanya, ketika masih banyak manusia-manusia yang tersenyum dan saling tegur sapa, masih banyak pemuda-pemudi penuh gairah yang melibatkan diri dalam banyak kegiatan kesenian. Ketika tidak ada tentara yang turun kejalanan atau ketika dimana tidak pernah terdengar ada berita bunuh diri karena permasalahan perut.
----- Ketika aku berumur 18 tahun, aku dan keluarga bersemayam di gubuk kecil di sebuah kampung. Orang-orang diluar kampung memberi julukan Kampung Debu, tapi tak pernah aku tahu apa maksudnya. Saat itu aku menikmati hidup, sama seperti setiap manusia yang bernaung di kampung kecil itu. Sampai suatu hari kami diundang oleh pemerintah untuk menghadiri sebuah acara peringatan hari jadi kota.
Bukan kepalang kami semua berbahagia, suasana berubah. Anak- anak kecil semakin rajin membicarakan kebaikan hati Walikota, pengayuh becak yang kemudian menjadi peduli pada permasalahan kampung dan ibu-ibu yang semakin giat bersolek. Itu semua terjadi karena hanya kampung kamilah yang diberi kesempatan membicarakan perayaan hari jadi kota. Aku sudah banyak bertanya pada teman di kampung-kampung lain, dan mereka hanya menggeleng. Mereka tidak pernah mendapat kesempatan sebesar ini.
Awan putih bergerak perlahan, tertiup angin. Nyanyian burung kenari yang entah darimana datangnya menyambut setiap semangat manusia-manusia yang berjalan perlahan ke arah lapangan. Aku melihat semua warga di kampung bersiap berangkat ke Balai kota untuk bertemu dengan Walikota. Ayam-ayam peliharaan masih terlihat berada di dalam kadangnya masing-masing, tak jarang mereka berkokok. Untuk hari ini, tak seperti biasanya, tak ada teriakan ibu kepada anaknya, tak ada suara ribut motor butut, tak ada suara derap langkah kaki para buruh pabrik. Aktifitas di kampung akan berhenti total, bahkan seorang pemulung, berhenti mencari penghidupan untuk hari ini. Dia terlihat mengenakan pakaian terbaiknya, kemeja putih belel dengan corak garis-garis. Sedangkan aku sendiri, merasa percaya diri. Aku berusaha berpenampilan sopan dan menarik musabab aku akan berbicara di hadapan Walikota. Kami di sambut oleh beberapa petugas dan Wartawan yang sibuk memotret kehadiran kami di Balai kota. Aku semakin bangga, dada ini seperti menggelembung bahkan hendak pecah. Itu karena aku berjalan di barisan paling pertama, bersama dengan ayah, ketua Rukun Warga dan beberapa jajaran Rukun Tetangga yang tersenyum riang menghadap kamera-kamera Wartawan.
Masih di ikuti lensa kamera Wartawan, kami dipersilahkan masuk ke
dalam gedung megah tersebut. Gedung dengan gaya khas belanda, bercat putih dengan lantai-lantai yang bersih. Suara-suara sepatu berdecit terdengar seiring alas kaki itu bersenggama dengan lantai tersebut. Lima belas menit kemudian Walikota datang, memberi sambutan dengan sikap ramah serta kehangatanya. Aku semakin mengagumi sosoknya. Kami dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah di persiapkan sebelumnya, kemudian aku mulai memberikan sambutan dan puji-pujian untuk orang yang telah mengundang kami kemari, begitupun Ayah. Aku tersenyum mantap. Walikota menjabat tanganku dengan erat.
Jamuan makan itu telah selesai, salah seorang Pria yang mengaku sebagai sekretaris daerah mulai berbicara. Dan suasana riang gembira seketika berubah menjadi suasana yang mencekam. Kulihat wajah ayahku memerah, warga lainya kebingungan, begitupun aku. Hanya ayahku yang berbicara dengan nada keras dan marah. Aku bingung. Bahkan karena amarah yang tak dapat dibendung, ayahku pergi pulang sendirian.
Gemericik air hujan menghantam-hantam atap rumah. Di dalam rumah, ayahku tak henti-hentinya menghantam pikiranku dengan kata-katanya. Ia meyakinkanku agar tetap waspada dan kuat. Bahkan ia bicara agar melawan segala bentuk intimidasi yang mungkin akan datang. Aku dengan sungguh-sungguh menyimak.
“Kita harus jadi batu nak, batu itu walaupun diam, mereka keras. Batu itu seperti kita, tak berharga. Tapi ingat, batu dapat melukai ketika dilemparkan, karena mereka keras”.
“ Ingat nak, karena batu itu keras”.
“Anjing!”
“Ngapain tentara ikut-ikutan? Brengsek!”
“Kami punya bukti, enyah kalian!”
“Melayani dan mengayomi siapa? Bajingan!!”
Sinar matahari yang terik, menjadi saksi riuh rendah suara teriakan warga, mereka menggenggam senjata masing-masing, stik bisbol, parang, arit, katana, balok kayu. Paling minimal mereka menggenggam batu kerikil. Di satu sisi, warga kampung berteriak sambil mengacungkan senjata-senjata mereka. Bersiap hendak berperang, bersiap menyambut izrail. Pemuda-pemuda melemparkan banyak batu-batu yang mereka genggam. Pada sisi lain, Polisi dan Satpol PP memamerkan rotan dan tameng mereka. Aku dan ayah serta ibu-ibu berubah menjadi seonggok batu besar yang diam. Duduk bersila, menunduk dan sesekali menghisap rokok. Gerombolan Polisi dan Satpol PP kian mendekat dan aku tetap teguh memilih menjadi batu, meski batok di pukuli rotan, wajah ditampar tameng dan kepala diinjak sepatu lars. Dengan kepayahan aku bangkit dan menghadang mereka kembali, tetap menjadi batu. Terus menerus, berulang-ulang. -----
Pada satu malam yang dingin, di bawah sinar rembulan yang elok nan indah, bintang menjadi saksi saat aku ditangkap pihak kepolisian. Tanganku di borgol dan diseret masuk ke dalam mobil hitam di seberang jalan. Aku di tangkap dengan tuduhan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Aku mendekam di hotel prodeo selama tiga bulan, si penjaga terkikih sambil memberiku gelar tapol. Gelar yang aku tak tahu apa maksudnya. Di dalam penjara aku mendengar kampung kelahiranku kini sudah tidak ada, Ayah dan Ibu pindah ke pinggiran kota. Mereka bercerita penuh dengan kesedihan dan isak tangis, terutama Ibu. Terdengar juga kabar, banyak undangan- undangan untuk kampung-kampung yang lain. -----
Ingatan itu membuat kepala kecil ini berdenyut-denyut. Kemudian aku buka kembali catatan miliku, baris-baris pertanyaan masih terpampang dan belum terjawab. Lalu, aku teguh memilih menjawab semua pertanyaan yang tertulis di atas kertas itu. Dengan langkah awal membaca sebuah jurnal. Jurnal tipis dengan kertas berwarna kekuningan yang berjudul “Right Of The City”.
Hak Atas Kota oleh:David Harvey
Kita hidup dalam sebuah era dimana gagasan hak-hak dasar manusia telah bergerak maju k e t e n g a h-t e n g a h p u s a t perhatian umat manusia baik secara politis maupun secara etis, sudah begitu banyak energi politik yang di keluarkan dalam r a n g k a m e m p r o m o s i k a n, m e l i n d u n g i d a n mengartikulasikan gagasan tersebut dalam rangka membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, sebagian besar gagasan tersebut memang lebih terkesan berorientasi pada p e m e n u h a n h a k-h a k individualistik dan kepemilikan pribadi, serta tidak pernah berusaha untuk melawan hegemoni Liberalisme beserta logika pasar Neoliberal atas modus legalitasnya hingga tindakan represif yang sering d i l a k u k a n o l e h n e g a r a. Bagaimanapun juga, kita hidup dalam sebuah dunia dimana hak atas kepemilikan pribadi beserta tingkat keuntungan t e l a h b e r h a s i l mengesampingkan hak-hak dasar manusia yang lainnya, tapi tentunya masih ada peluang bagi perjuangan-perjuangan pemenuhan hak dasar manusia yang secara bersama-sama terlibat dalam satu front perjuangan sosial dengan bentuk kolektif, seperti halnya k e t i k a h a k-h a k b u r u h, perempuan, kaum LGBT dan
kelompok minoritas bersatu dalam satu barisan perjuangan (hal tersebut merupakan hasil dari sejarah panjang gerakan buruh di Amerika Serikat, contohnya ketika gerakan hak sipil yang terjadi pada tahun 1960an yang mana bukan saja front perjuangan itu bersifat kolektif, namun juga telah berhasil menggema keseluruh dunia). Perjuangan sosial atas hak-hak yang bersifat kolektif punya kesempatan yang lebih besar untuk menghasilkan mencapai tujuannya.
Dalam kesempatan ini saya ingin mengekplorasi bentuk lain dari hak-hak kolektif ─yang mana dalam konteks ini adalah hak atas kota dalam rangka menghidupkan kembali gagasan-gagasan Henri Lefebvre dan juga merespons atas kemunculan beberapa gerakan sosial perkotaan di seluruh dunia. Kemudian, bagaimana kita memnggunakan hak (ed.Hak atas kota) tersebut?
Kota dalam catatan sosiologis- urban Robert Park adalah “usaha paling sukses yang pernah di lakukan oleh umat manusia pembuatan-ulang (remake) dunia yang dia hidupi melebihi hasrat dalam hatinya”, tapi jika kota adalah dunia yang dibuat oleh manusia, maka manusia telah di kutuk (condemned)
untuk hidup di dalamnya. Jadi membuat-ulang diri kita beserta secara tidak langsung serta kota kita sendiri adalah salah t a n p a a d a n y a k e j e l a s a n satu hal yang sangat berharga mengenai tugasnya di muka namun sering kali kita abaikan
| pada | setiap | konsep | hak-hak |
|---|---|---|---|
| dasar manusia yang kita miliki. | |||
| Kemudian dalam tersebut? | apa menggunakan | cara | terbaik hak |
| Sebagaimana penegasan Robert | |||
| Park, sejak kita tidak memiliki | |||
| tujuan peran kita di dunia ini, maka adalah sebuah hal yang sangat | yang | jelas | mengenai |
| berguna merefleksikan bagaimana kita telah membuat dan | bagi membuat-ulang | kita diri | untuk kita pada proses- |
| urban desakan-desakan | yang | didorong | oleh kekuatan |
| sosial Kecepatan dan skala yang sangat luar biasa dari urbanisasi selama seratus tahun terakhir adalah | yang | sangat | besar. |
| tanda membuat-ulang baik diri kita maupun kota-kota kita berkali- kali tanpa tahu mengapa dan bagaimana tersebut. urbanisasi yang sangat dramatis ini ikut berkontribusi terhadap kehidupan umat manusia hari ini dan | bahwa hari-hari | kita melakukan A pakah sebelumya ? | telah hal proses |
| Apakah membuat kita menjadi manusia | hal | tersebut | telah |
| yang urbanisasi telah membuat kita | lebih | baik? | Ataukah |
| terperosok | ke | dalam | zaman |
bumi, ketika manusia membuat sebuah kota sesungguhnya dia telah menciptakan-ulang (remade) dirinya sendiri.[1] Dan jika Robert Park benar soal ini, lantas kemudian pertanyaan mengenai kota yang seperti apa yang kita hendaki tidak bisa di pisahkan dari pertanyaan mengenai masyarakat yang seperti apa yang kita hendaki, relasi-sosial seperti apa yang kita hendaki, bentuk relasi kita dengan alam yang seperti bagaimanakah yang kita hendaki, jalan hidup seperti apa yang kita ingin jalani, serta nilai-nilai estetika seperti apa yang kita pegang. Maka dari itu hak atas kota bukan hanya persoalan pemenuhan hak-hak i n d i v i d u a t a u s e g e l i n t i r k e l o m p o k d a l a m r a n g k a mengakses sumber daya yang terkandung dalam kota: hak atas kota adalah hak untuk merubah (change) dan merubah-ulang (reinvent) kota melampaui hasrat dalam hati kita. Hak atas kota lebih bersifat pada sebuah hak kolektif ketimbang sebagai hak individu, hal ini dikarenakan ketika merubah sebuah kota, kekuatan kolektif sangat di butuhkan dalam mempengaruhi sebuah proses urbanisasi. Kebebasan dalam membuat dan jahilliyah (anomie) yang penuh
d e n g a n a l i e n i s a s i ( e d. Keterasingan), kemarahan dan kefrustasian? Apakah kita telah menjadi sebuah monad yang terombang-ambing di lautan perkotaan? Semua pertanyaan i n i l a h y a n g s e n a n t i a s a menghantui para komentator sosial abad 21 seperti misalnya,
F. Engels dan Georg Simmel; y a n g t e l a h m e n a w a r k a n b e b e r a p a k r t i k d a l a m memandang persona urban yang kemudian muncul dalam merespon cepatnya laju urbanisasi yang terjadi dewasa ini.[2] Hari ini tidaklah sulit untuk menghitung semua bentuk
Untuk merebut hak atas kota dalam hal ini saya maksudkan sebagai perebutan sebuah bentuk kekuatan dalam rangka m e r u b a h b e n t u k d a n m e m p e n g a r u h i p r o s e s urbanisasi, melalui jalan yang sama dalam membuat dan membuat-ulang kota secara fundamental dan radikal. Pada mulanya kota-kota dibangun melalui konsentrasi geografis dan sosial atas surplus-produksi. Maka dari itu lah urbanisasi selalu dan merupakan sebuah fenomena kelas, karena surplus-produksi tersebut telah di ekstrasi dari suatu tempat dan dari seseorang, sementara itu
| kegelisahan | yang | pada saat | |
|---|---|---|---|
| bersamaan | kegembiraan | yang | |
| ditimbulkan ditengah-tengah cepatnya laju transformasi perkotaan. Namun | oleh | urbanisasi | |
| entah | bagaimana | kita selalu | |
| kehilangan | keberanian | untuk | |
| melancarkan | kritik | secara | |
| sistematis cepatnya gelombang perubahan | atas | ini, | |
| (ed. | secara | teknologi, | sosial |
| politik | dan | budaya) | telah |
| membuat sebagai contohnya, apa yang | kita | ||
| mesti | kita | perbuat | ketika |
| penumpukan meningkatnya | kekayaan konsumerisme | dan |
kontrol atas penggunaa surplus tersebut selalu berada di tangan segelintir orang (oligarki- relijius, atau orang-orang yang berpengaruh secara politik, dan e k o n o m i d e n g a n a m b i s i imperialismenya). Situasi umum ini bertahan di bawah sistem ekonomi Kapitalisme, tentu saja, namun dalam kasus ini dinamika yang terjadi sedikit berbeda. Kapitalisme bersandar pada, seperti yang pernah di katakan M arx pada kita, kebutuhan untuk mencari nilai- lebih (ed. Keuntungan) namun untuk dapat memperoleh nilai- lebih tersebut, pertama-tama si kapitalis harus memproduksi surplus-produksi. Ini berarti kapitalis akan terus menerus memproduksi surplus-produksi
proses
kewalahan
yang terjadi hampir diseluruh kota di dunia ini tepat ditengah-tengah, mengambil istilah dari Perserikat B angsa-B angsa, ledakan “planet kumuh (planet of slum).”[3]
yang mana surplus-produksi ini dibutuhkan oleh urbanisasi, Juga sebaliknya, kapitalisme membutuhkan urbanisasi untuk menyerap surplus-produksi yang mana surplus-produksi secara terus-menerus di produksi oleh kapitalisme. (ed. Hasil akhir dari penyerapan surplus-produksi adalah nilai-lebih yang di butuhkan bagi bertahannya sistem kapitalisme, singkatnya k a p i t a l i s m e t i d a k b i s a menemukan nilai-lebih tanpa adanya bantuan dari pihak lain). Melalui relasi ini muncul lah sebuah hubungan yang mesra diantara sistem kapitalisme dan urbanisasi, maka dari itu tidaklah mengejutkan apabila pertumbuhan kurva logistik k a p i t a l i s m e ( e d. U a n g, komoditi, tenaga kerja) dari waktu ke waktu bergerak berbanding lurus (parraled) dengan kurva logistik urbanisasi dari seluruh populasi di dunia ini.
Mari kira lihat apa yang di kerjakan kapitalisme secara lebih dekat. Mereka memulai harinya dengan beberapa uang dan pada malam hari mereka mendapatkan lebih banyak uang ( kelebihan uang tersebut disebut dengan keuntungan). Pada hari berikutnya mereka harus memutuskan apa yang harus mereka lakukan dengan kelebihan uang itu (surplus
money) yang mereka peroleh pada kemarin malam. Mereka menghadapi sebuah dilemma Faustian: menginvestasikan kembali untuk memperoleh lebih banyak uang atau membelanjakan uang tersebut untuk bersenang-senang. Hukum persaingan yang keras m e m a k s a m e r e k a u n t u k menginvestasikan-ulang uang tersebut, karena jika mereka tidak melakukan hal tersebut o r a n g l a i n p a s t i a k a n melakukannya. Untuk membuat Kapitalis menjadi Kapitalis, surplus yang mereka produksi harus kembali di investasikan dalam rangka memperoleh lebih banyak keuntungan. Kapitalis yang sukses biasanya tidak akan hanya menginvestasikan ulang surplus tersebut dalam rangka ekspansi bisnisnya, namun juga m e m b e l a n j a k a n s u r p l u s tersebut untuk memenuhi hasratnya yang tamak. Tapi hasil akhir dari investasi-ulang yang di lakukan secara berkelanjutan adalah ekspansi atas surplus-produksi. Bahkan yang lebih penting lagi adalah ekspansi dari surplus-produksi tersebut m e n g a n d u n g t i n g k a t keuntungan yang berlipat ganda (compound rate) ─karenanya semua kurva pertumbuhan logistik (uang, modal, komoditi dan tenaga kerja) akan selalu menempel pada sejarah akumulasi kapital.
b u m i n y a d a l a m r a n g k a pencarian atas bahan-bahan mentah serta memaksa alam untuk menyerap begitu banyak limbah-limbah sisa produksi. Hukum persaingan bebas yang sangat ketat pun memaksa para Kapitalis untuk terus-menerus memperbaharui teknologi dan organisasi-nya sepanjang masa, hal ini di karenakan sejak para Kapitalis dengan kapasitas yang
Praktik politik Kapitalisme k a r e n a n y a a k a n s e l a u terpengaruh oleh kebutuhan t e r u s-m e n e r u s d a l a m pencaraian wilayah yang berguna bagi surplus-produksi dan penyerapan kapital. Dalam hal ini para kapitalis dihadapkan pada berbagai macam rintangan yang secara terus-menerus menimbulkan masalah bagi ekpansi kapital miliknya. Jika
| jauh | lebih | produktif | mampu |
|---|---|---|---|
| mengalahkan | (out-compete) | ||
| para teknologi sederhana (inferior). Inovasi | pesaingnya artinya | yang membentuk- | masih |
| ulang | kebutuhan | dan | target |
| baru, mengurangi waktu-produksi dan ongkos-produksi yang di sebabkan oleh jauhnya j a r a k memangkas dalam | inovasi p r o d u k s i. rangka | juga yang jarak membebaskan | dapat tinggi I n o v a s i tersebut |
terdapat kelangkaan tenaga kerja dan upah buruh terlalu tinggi, maka tenaga kerja yang ada harus “di disiplinkan” (pemutakhiran teknologi yang d a p a t m e n g a k i b a t k a n p e n g a n g g u r a n a t a u “penggembosan” serikat buruh ─seperti yang terjadi pada zama Margaret Thatcher dan Ronald Reagan di tahun 1980an─ merupakan 2 metode utama dalam pratik “pendisiplinan” gerakan buruh) atau tenaga-kerja yang baru harus di ciptakan ( melalui prose imigrasi, ekspor Kapital keluar negeri atau menjalankan proses proletarisasi pada penduduk non-proletar seperti petani t r a d i s i o n a l d i p e d e s a a n misalnya). Secara umum alat- alat produksi baru harus di temukan dan khususnya sumber- sumber daya alam baru mesti dicari, yang mana hal ini memberikan tekanan yang begitu besar pada alam karena akan terus menerus di keruk isi
gerak kapitalis dalam pencarian atas suplai tenaga kerja, bahan mentah dan sebagainya. Jika pasar yang ada tidak memiliki daya beli yang tinggi, maka pasar yang baru harus di ciptakan melalui perluasaan perdagangan luar negeri, mempromosikan gaya hidup dan p r o d u k b a r u, m e m b u a t instrument-kredit hutang yang b a r u d a n m e l a k u k a n pembiayaan atas pengeluaran- belanja negara melalui hutang. Dan akhirnya jika tingkat keuntungan masih terlalu
kapitalis? Menurt saya urbanisasi
| rendah, | maka | aturan | negara |
|---|---|---|---|
| yang p e s a i n g n y a ”, monopolisasi akuisisi) Kapital ke “padang rumput yang lebih segar” adalah solusinya. Jika seperti yang disebutkan diatas menghantam secara terus-menerus, sirkulasi | dapat dan satu dari | “menghancurkan p r a k t i k (merger memindahkan penghalang para | dan kapitalis |
| dan terhenti Kapital akan terganggu dan para kapitalis krisis. Kapital tidak lagi memiliki keuntungan jika di investasikan kembali, akumulasi terhenti dan Kapital | ekspansi sehingga akan akan | Kapital akumulasi menghadapi mendevaluasi | akan |
| dirinya bahkan untuk beberapa contoh Kapital fisik. Devaluasi terjadi dengan berbagai komoditi bisa di devaluasi atau juga bisa di hancurkan kapasitas produktifnya dan aset bisa di gunakan kembali dalam bentuk nilai saja, atau uang sendiri bisa di devaluasi melalui inflansi, dan tentunya dalam keadaan krisis tenaga melalui besaran. Kemudian dengan cara apakah urbanisasi menghindari rintangan tersebut dan memperluas wialayah yang | (hingga di hancurkan bentuk, dan ditinggalkan kerja pengangguran kapitalis | hilang) di devaluasi mendorong dalam | dan secara surplus- begitu besar- rangka |
| berharga | bagi | aktivitas | para |
memainkan peran yang khusus d a l a m ( b e r s a m a d e n g a n fenomena lainnya seperti peningkatan belanja militer suatu negara) penyerapan surplus-produksi yang di produksi terus-menerus oleh para kapitalis dalam pencarian mereka atas nilai-lebih.[4]
Revolusi Urban
Pertama-tama, lihat kasus yang menimpa kekasian Prancis yang
| ke-2. | Krisis | ditahun | 1848 |
|---|---|---|---|
| merupakan krisis surplus-kapital | |||
| dan surplus-tenaga kerja yang | |||
| muncul krisis tersebut terjadi diseluruh daratan eropa. Krisis tersebut | bersama-sama | serta | |
| menghantam | dengan | sangat |
keras negara Prancis, khususnya kota Paris, yang mana hal ini melahirkan sebuah revolusi yang mandul yang di prakasai oleh
| buruh-buruh | pengangguran | ||
|---|---|---|---|
| beserta | gagasan | utopis | para |
| borjuis | yang | memandang | |
| Republik-sosial penawar bagi keserakahan dan | adalah | obat | |
| ketidak | adilan | sosial | yang |
| disebabkan | oleh | kapitalisme. | |
| Republik-borjuis | merepresi | ||
| melalui | kekerasan | kaum | |
| revolusioner | dengan | sangat |
suksesnya namun gagal untuk menyelesaikan krisis ekonomi, hasilnya adalah Louis Bonaparte naik ketampuk kekuasaan, yang telah memprakasai sebuah
kudeta di tahun 1851 dan pada membangun kota Paris namun tahun 1852 memproklamirkan juga ikut serta dalam membantu dirinya sebagai kaisar Prancis menyelesaikan permasalahan yang baru. Agar kekuasannya s u r p l u s-k a p i t a l d a n p e n g a n g g u r a n m e l a l u i
| bisa | bertahan | secara | politis, |
|---|---|---|---|
| kaisar | otoriter | tersebut | |
| melakukan | represi | politik | |
| terhadap a l t e r n a t i f, bagaimanapun juga dia sadar | gerakan | poliik n a m u n | |
| harus penyerapan surplus-kapital dan | menyelesaikan | masalah | |
| dalam masalah ini dia mengemumkan program investasi infrastruktur | rangka | menyelesaikan | |
| besar-besaran maupun di luar negeri. Diluar | baik | di dalam | |
| negeri proyek pembangunan rel kereta | di | mulailah | sebuah |
| yang | membelah | Eropa | dan |
| masuk seperti halnya dukungan dirinya atas pembangunan mega-proyek terusan Suez. Didalam negeri d i a m e n g k o n s o l i d a s i k a n pembangunan kereta, dermaga dan pelabuhan. Tapi dari tersebut rekonfigurasi perkotaan. | terus b e r u s h a dan semua terdapat | ke benua jarigan pembangunan pembangunan infrastruktur Di kota | Asia u n t u k rel sebuah Paris, |
| Bonaparte memboyong Georges- | |||
| Eugène Haussman ke kota Paris | |||
| dan melakukan pembangunan kota Paris pada tahun 1853. | menunjuknya | untuk | |
| H aussman | paham | bahwa | |
| tuganya | bukan | hanya | untuk |
urbanisai. Pembangunan-ulang kota Paris menyerap jumlah tenaga-kerja dan kapital dengan kuantitas yang sangat besar untuk standar pembangunan kota pada masanya dan bersamaan dengan praktik penggembosan gerakan buruh melalui kekerasan yang mana dua hal tersebut merupakan kendaraan utama bagi stabilisasi sosial. Haussman menyusun rencana utopis (mengikuti gagasan Saint-Simon dan Charles Fourier) dalam mengubah kota Paris yang mana wacana ini pernah diperdebatkan oleh kaum Sosialis di tahun 1840an, tapi dengan satu perbedaan yang mencolok: dia merubah skala dari proses-urban yang pernah terbayangkan, ketika sang arsitek yang bernama J a c q u e s I g n a c e H i t t o r f f menunjukan rencana atas pembangunan jalan besar yang baru pada Haussman, dia menolak usul tersebut sambil mengatakan ”kurang lebar….. usulan anda selebar 40 meter
| dan | saya ingin | lebih | lebar, |
|---|---|---|---|
| buatkan meter” skala pembangunan kota | dengan | lebar | 120 |
| Paris Haussman | yang sangatlah | di gagas | oleh besar. |
Rencana itu mencaplok kawasan
dipinggiran kota dan alih-alih memperbaiki di beberapa titik yang dirasa kumuh dia justru mendesain-ulang seluruh kawasan tersebut (termasuk les halles), dia merubah kota Paris
| secara | keseluruhan. | Untuk | 1868, | dengan | meningkatnya | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| mengerjakan hal tersebut dia membutuhkan institusi-finansial | spekulatif finansial dan sistem-kredit yang | dalam | sistem - | ||||
| dan instrumen-hutang baru yang dibuat berdasarkan garis-garis | menjadi tersebut sistem ini pun pada | fondasi | infrastruktur | ||||
| ajaran Saint-Simonian. Apa yang | akhirnya | runtuh, | Haussman | ||||
| dilakukannya | tersebut | adalah | didepak dari otoritasnya, dalam | ||||
| untuk membantu menyelesaikan masalah pembuangan surplus- | masa-masa Napoleon ke-3 maju ke medan | depresi | tersebut | ||||
| kapital dengan cara membuat | perang | menghadapi | Bismarck | ||||
| s e m a c a m | s i s t e m | p r o t o - | dari Prusia (Jerman) dan kalah. | ||||
| Keynesian | dalam | melakukan | D alam | situasi | kekosongan | ||
| pembiayaan perkotaan yang di biayai oleh hutang. | infrastruktur | politik, Paris, salah satu episode paling revolusioner sepanjang sejarah perkotaan | muncul-lah Kapitalis. | Komune | Komune | ||
| Sistem tersebut berjalan dengan sangat baik hanya selama 15 tahun dan dalam sistem tersebut mengandung transformasi dari infrastruktur | hanya | tersebut dunia urban yang di hancurkan oleh Haussman (bayang-bayang revolusi 1848) dan hasrat untuk merebut kembali kota mereka | lahir | dari nostalgia | |||
| urban tapi juga mengkonstruksi- | yang | pernah | bajak | oleh | |||
| ulang semua jenis gaya hidup | proyek | Haussman | atas | kota | |||
| perkotaan membangun bentuk baru dari urban persona. Paris berubah menjadi “kota cahaya” pusat | yang | baru | serta | Paris. Tapi Komune tersebut juga m e r u p a k a n berkepanjangan dari visi masa depan atas Sosialisme (sebagai | k o n f l i k | ||
| dari konsumsi, pariwisata dan | oposisi | terhadap | monopoli | ||||
| semua | jenis bentuk | hiburan | Kapitalis) yang justru menjadi | ||||
| ─café, | pusat | arena | perang | gagasan | dari | ||
| industri busana, eksposisi yang | kontrol | hirarki-sentral | (kaum | ||||
| luar | dalam | mengubah | Jacobin) | melawan | gagasan | ||
| semua | bentuk | gaya | hidup | desentralisasi khas kaum Anarkis | |||
| p e r k o t a a n | y a n g | m a m p u | (kaum Proudhon). | Pada tahun | |||
| menyerap | begitu | banyak | 1872, | ditengah-tengah | situasi |
secara keseluruhan. Untuk
surplus-produksi melalui konsumerisme (yang mana hal ini sangat banyak menyinggung tidak hanya para buruh miskin namun juga kaum tradisonal). Namun kemudian pada tahun 1868, dengan meningkatnya
tidak
perbelanjaan,
biasa
di
yang panas karena kedua pihak saling menyalahkan atas kekalahan komune Paris, terjadilah perpecahan politis diantara kaum Marxist dan para Anarkis yang mana perpecahan politis tersebut masih terjadi hari ini sehingga memecahkan g e r a k a n k i r i d a l a m perlawanannya terhadap Kapitalisme.[5]
Sekarang mari berpindah ke tahun 1942 di Amerika serikat, masalah pembuangan surplus- kapital telah terasa sangat sulit diatasi sejak 1930an (dan pengangguran yang tak kunjung terselesaikan akibat depresi tahun di tahun 1930) namun untuk sementara bisa di selesaikan akibat mobilisasi b e s a r-b e s a r a n d a l a m menghadapi persiapan perang dunia ke-dua. Tapi semua orang pada waktu itu sangatlah ketakutan mengenai apa yang kemudian akan terjadi setelah perang selesai. Situasi politik sangat genting pada waktu itu (pemerintah federal sedang m e l a k u k a n n a s i o n a l i s a s i ekonomi yang berjalan dengan sangat sukses) dan Amerika Serikat sedang berada dalam sebuah aliansi dengan Uni Soviet dalam perang melawan Fasisme di Eropa, gerakan sosial sedang menjalin hubungan mesra dengan gerakan sosialisme yang muncul dalam merespon depresi
ekonomi di tahun 1930 dan juga dukungan dari gerakan kiri yang luas dalam persiapan perang dunia kedua. Kita semua tahu kelanjutan dari sejarah politik McCarthysme dan perang dingin (banyak sekali tanda-tanda dari praktik politik tersebut bahkan sudah muncul muncul pada tahun 1942). Sama halnya di bawah Louis Bonaparte, represi politik dengan dosis yang besar terbukti sering di lancarkan oleh kelas penguasa dari waktu ke w a k t u d a l a m r a n g k a m e m p e r t e g a s k e k u a s a a n mereka. Tapi bagaimana dengan masalah pembuangan surplus- kapital?
Di tahun 1942 muncul sebuah usaha untuk mengevaluasi usaha H a u s s m a n d a l a m j u r n a l Architecture, di jurnal tersebut terdokumentasikan secara mendetail mengenai apa-apa saja yang telah di lakukan oleh Haussman dan juga berisi a n a l i s a a t a s k e g a g a l a n-kegagalan yang di lakukan oleh Haussman, artikel tersebut di tuliskan oleh siapa lagi kalo bukan Robert Moses, dia lah yang setelah perang dunia kedua merubah seluruh kawasan metropolitan kota New York persis seperti yang dilakukan pada kota Paris.[6] Moses m e r u b a h s k a l a g a g a s a n mengenai proses-urban dan ─melalui sistem pembangunan
jalan tol (yang dibiyai oleh dana- hutang) dan transformasi infrastruktur melalui sub-urbanisasi serta melalui p e r a n c a n g a n-u l a n g ( r e-engineering) tidak hanya kota New York saja, namun seluruh kawasan metropolitan─ Moses menemukan jalan baru untuk menyerap surplus-produksi dan d e n g a n d e m i k i a n b i s a m e n y e l e s a i k a n m a s a l a h penyerapan surplus-kapital. Proses ini, ketika diterapkan dalam skala nasional, seperti halnya yang terjadi di pusat kota-kota metropolitan besar di seluruh AS (belum lagi jika terjadi perubahan skala urbanisasi di kemudian hari) akan memainkan peran yang sangat penting dalam rangka menstabilkan kembali kondisi k a p i t a l i s d u n i a p a s c a meletusnya perang dunia ke-dua (pada periode ini Amerika Serikat mampu mendukung perekonomian seluruh negara non-komunis di seluruh dunia melalui defisit perdaganggan AS yang tinggi).
Sub-urbanisasi yang terjadi di Amerika Serikat bukan hanya soal pembangunan infrastruktur yang baru, sama halnya seperti yang terjadi pada masa kekaisaran ke-dua Prancis, proses urban tersebut juga mengandung transformasi radikal pada gaya hidup dan
memproduksi seluruh jalan-hidup baru yang dipengaruhi oleh prodak baru ─dari tata letak kawasan perumahan sub-urban, hingga perabotan rumah tangga seperti kulkas dan pendingin ruangan, hingga pada dua lajur mobil dalam satu lintasan jalan raya serta p e n i n g k a t a n t e r h a d a p ketergantungan atas minyak bumi─ yang mana memainkan perannya masing-masing dalam rangka penyerapan surplus. Sub- u r b a n i s a s i ( b e r s a m a militerisme) memainkan peran yang sangat penting dalam membantu penyerapan surplus di periode pasca perang dunia ke-dua. Tapi suksesi tersebut berjalan bukannya tanpa sebuah konsekuensi, misalnya proses sub-urbanisasi yang telah berhasil tersebut sukses karena b e r h a s i l m e n g o s o n g k a n perumahan kumuh yang berada d i t e n g a h k o t a d a n meninggalkan penduduk kumuh tersebut dalam kemiskinan karena sumber penghidupannya di hilangkan secara paksa atas nama pembangunan yang kemudian hal ini berujung pada sebuah krisis bernama “krisis-urban” yang muncul pada tahun 1 9 6 0 an dan menghasilkan sebuah pembangkangan sipil yang dilakukan oleh kaum minoritas (yang di dominasi oleh kaum Afrika-Amerika) di pusat-pusat kota, lantaran mereka
menjelaskan dinamika yang
| “ d i l a r a n g ” | u n t u k | b i s a | |
|---|---|---|---|
| mengakses kesejahtereaan yang | |||
| tercipta itu. | |||
| Pembangkangan | sipil | tidak | |
| hanya pusat kota, kaum tradisional yang berada di belakang Jane | sedang | bergejolak | di |
| Jacob mencari cara dalam melawan | terus | berusaha | untuk |
| pembangunan | berskala | besar | |
| yang | di lakukan | oleh | kaum |
| modern dilakukan oleh Moses melalui | seperti | proyek | yang |
| b e n t u k | b a r u | e s t e t i k a | |
| pembangunan | yang | berfokus | |
| pada lokal tua yang bersejarah tapi | pengembangan | kawasan | |
| sekeras tradisional, pembanguan sudah terjadi dan transformasi radikal | apapun | usaha | kaum |
| dalam | gaya | hidup | sudah |
| berjalan bentuk konsekuensi social siap untuk di nikmati, contohnya, kaum Feminis memproklamirkan bahwa sub-urban beserta gaya hidupnya sebagai lokus dari akar | yang | berarti | semua |
| semua kekerasan dan penindasan atas | bentuk | semua | bentuk |
| gender. | Seperti | halnya | yang |
| menimpa krisis ekonomi mulai muncul ke | Haussman, | sebuah | |
| permukaaan membuat Moses jatuh dari masa | yang | akhinya | |
| ke-emasannya solusinya menjadi tidak relevan dan tidak bisa diterima lagi di tahun 1960an. “Haussmanisasi” yang terjadi di | serta Jika kemudian | semua | |
| Paris | memiliki | peran | dalam |
terjadi pada masa komune Paris, maka kualitas pembangunan kehidupan sub-urbania yang “tak bernyawa” memainkan peran yang sangat penting dalam pecahnya gerakan sosial yang dramatis di tahun 1968 di AS, sebagai bentuk dari ketidak puasan yang mengkristal dari para mahasiswa kelas menengah berkulit putih yang memutuskan u n t u k m e l a n c a r k a n pembangkangan sipil dan mencari sebuah aliansi bersama kelompok minoritas yang termajinalkan lainnya kemudian bersama-sama turun kejalan d a n m e m p r o t e s p r a k t i k imperialisme yang dilakukan oleh AS serta gerakan tersebut menciptakan sebuah dunia “ t a n d i n g a n ” y a n g mempertemukan pengalaman urban yang baru (dan lagi, momen ini dijadikan arena pertarungan gagasan diantara kaum A narkis dan kaum L ibertarian dalam rangka mencari bentuk alternatif lainnya dari tatanan sosial d e n g a n k o n t r o l h i r a r k i-sentral).[7]
B e r s a m a a n d e n g a n pemberontakan 68, muncul pula sebuah krisis finansial yang menimpa seluruh dunia (yang ditandai oleh runtuhnya perjanjian Bretton Woods) serta krisis tersebut berakar dari
l e d a k a n h a r g a p r o p e r t i (property boom) yang di prakasai oleh institusi kredit- hutang yang sudah berjalan s e j a k b e b e r a p a d e k a d e kebelakang. Krisis tersebut mengumpulkan momentumnya pada akhir 1960an hingga seluruh sistem Kapitalisme runtuh pada krisis ekonomi dalam skala global, di awali oleh
| Kapitalis | internasional | telah | |
|---|---|---|---|
| mengalami | pasang-surut | dari | |
| masa-masa | keruntuhan | dan | |
| krisis terjadi di seluruh kawasan di | ekonomi | yang | hampir |
| dunia Tenggara pada tahun 1997-98, Rusia di tahun 1998, Argentina di | (di Asia | Timur | dan |
| tahun | 2001 | dan seterusnya) | |
| sehingga | krisis-krisis | yang | |
| terjadi | di kawasan | tersebut | |
| berakumulasi | dan | pecah | |
| kembali yang lebih besar di tahun 2008. | dalam | sebuah | krisis |
| Lalu urbanisasi pada periode ini? Di | apa peranan | proses- | |
| Amerika | sendiri | hingga | pada |
| tahun | 2008, | semua | orang |
| p e r c a y a perumahan adalah stabilisator | b a h w a | p a s a r - | |
| yang | sangat | penting | bagi |
| perekonomian khususnya pasca krisis diakhir tahun 1990-an. Pasar-properti | dalam | negeri, | |
| menyerap | begitu | banyak |
meletusnya gelembung pasar-properti di seluruh dunia pada 1973 dan di ikuti kebangkrutan finansial kota New York di tahun
- Hari-hari gelap di tahun 1 9 7 0 a n te l a h ti b a, d a n pertanyaan berikutnya adalah b a g a m a n a c a r a n y a menyelematkan Kapitalisme dari kontradiksi yang tertanam di dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini jika sejarah adalah petunjuk bagi masa depan kita maka proses urban adalah kunci. Sebagaimana yang pernah di jelaskan oleh Willia Tabb; krisis finansial kota New York pada tahun 1975 di orkestrai oleh aliansi yang kuat antara kekuatan negara dan institusi finansial, yang di pelopori oleh jawaban para Neoliberal dalam menjawab pertanyaan ini: kekuatan kelas pemodal telah di lindungi dari tuntutan kelas pekerja atas standar hidup yang lebih baik sementara itu pasar t e l a h d i r e g u l a s i u n t u k menciptakan standar hidup yang lebih baik, tapi kemudian
pertanyaanya adalah bagaimana caranya menghidupkan kembali kapasitas pasar untuk menyerap surplus yang tetap di produksi terus-menerus dalam rangka untuk terus bertahan hidup.[8]
Gurita Kapitalisme Global
Kita beralih sekali lagi pada masa konjungtur kita saat ini,
surplus-kapital secara langsung melalui program pembangunan yang baru (perumahan dan lahan yang di peruntukan bagi gedung perkantoran baik yang terletak
di pusat kota maupun yang berada di pinggiran kota). Sementara itu inflasi besar- besaran atas harga aset perumahaan yang terjadi atas dukungan oleh gelombang besar pembiayaan-ulang hipotek (mortgage) dengan bunga yang sangat rendah sepanjang sejarah AS telah meningkatkan daya beli pasar dalam negeri AS untuk terus mengkonsumsi barang dan jasa. Pasar dunia menjadi stabil di beberapa b a g i a n b e r k a t e k s p a n s i perkotaaan dan spekulasi harga di pasar-properti AS, seperti h a l n y a j u m l a h d e f i s i t perdagangan luar negeri AS yang sangat besar jika di banding dengan negara lain di seluruh dunia. AS meminjam dana sekitar 2 milyar Dollar per harinya hanya untuk membiayai praktik konsumerisme di dalam negeri dan membiayai perang di Irak dan Afghanistan selama dekade awal abad 21.
Namun skala dari proses-urban telah berubah jauh lebih luas, singkatnya proses ini berjalan secara mendunia, sehingga kita tidak bisa hanya menfokuskan perhatian kita pada proses yang terjadi di AS saja. Ledakan harga pasar-properti di I nggris, Irlandia dan Spanyol serta di beberapa negara lainnya telah membantu dinamika Kapitalis dunia seperti halnya proses
urbanisasi yang terjadi di AS, sementara itu di Tiongkok proses urbanisasi yang terjadi selama 20 tahun kebelakang secara radikal memiliki karakter yang s a n g a t b e r b e d a k a r e n a m e m f o k u s k a n p a d a pembangunan infrastruktur. Kecepatan dari proses-urban di Tiongkok meningkat sangat cepat setelah negara tersebut m e n g a l a m i k e m u n d u r a n ekonomi yang terjadi pada tahun 1997. Lebih dari seratus kota di Tiongkok telah dilalui oleh 1 juta orang yang berlalu- lalang selama 2 0 tahun kebelakang dan desa-desa kecil seperti Shenzhen, telah berubah menjadi kota metropolitan besar yang dihuni oleh 6 hingga 10 juta orang. Pembangunan zona industri pada mulanya di konsentrasikan di zona ekonomi khusus tapi kemudian cepat menyebar keluar zona khusus tersebut menuju wilayah- wilayah lainnya yang bersedia menyerap surplus-kapital yang kemudian di dulang kembali menjadi keuntungan yang lebih banyak. Proyek infrastruktur b e s a r-b e s a r a n s e p e r t i pembangunan bendungan dan jalan tol ─yang lagi lagi di biayai oleh dana-hutang─ merubah lanskap geografis Tiongkok.[9] Setara dengan percepatan p e r t u m b u h a n p u s a t pembelanjaan, taman-taman IPTEK, bandara, dan pelabuhan
kontainer, semua jenis tempat pembiyaan pasar-hipotek di AS, rekreasi serta mencetak semua sementara itu Goldman Sachs sedang sibuk dengan pasar-
| jenis | institusi | kultural | baru |
|---|---|---|---|
| bersamaan | dengan | komplek- | |
| komplek lengkap dengan lapangan golf, di tengah-tengah | perumahaan | lanskap | mewah |
| geografis tersebut asrama yang penuh sesak di jejali oleh para tenaga-kerja cadangan sudah kawasan-kawasan k u m u h penyuplai kebutuhan utama atas buruh-buruh harga murah. Seperti yang sudah kita saksikan sebelumnya, inilah konsekuensi u r b a n i s a s i penyerapan surplus-kapital dan ekonomi dunia yang semakin membesar. Tiongkok pusat dari proses urban yang benar-benar global, dengan integrasi yang luar biasa dari m e r e k a fleksibilitas pasar-finasial global untuk membiyai proyek urban di | yang munculah yang di mobilisasi y a n g migran b a g i adalah berjalan hal ini m e n g g u n a k a n | serba asrama- sebelumnya pedesaan m e r u p a k a n dengan dari proses p r a k t i k satu-satunya dikarenakan global, | mewah dari secara |
| seluruh (lagi, tentunya) dari Dubai ke Sao Mumbai hingga ke Hongkong dan London, semuanya didanai oleh hutang, contohnya, bank sentral | dunia dan | lewat dari Madrid, | hutang |
| Tiongkok | telah | aktif | dalam |
properti di Mumbai dan modal dari Hongkong telah ditanamkan di Baltimore. Hampir di setiap kota di dunia kini sedang m e n y a k s i k a n l e d a k a n p e m b a n g u n a n y a n g diperuntukan bagi mereka yang kaya raya di tengah-tengah kota yang di banjiri oleh kaum imigran miskin seperti para petani di pedesaan yang tergusur dari tanahnya sendiri akibat praktik industrialisasi dan komersialisasi dunia agrikultur.
Ledakan pembangunan ini juga kita bisa saksiskan di kota Meksiko, Santiago di Chili, di Mumbai, di Johannesburg, Seoul, Taipei, Moskow, dan s e l u r u h E r o p a ( l e d a k a n pembangunan paling dramatis terjadi di Spanyol). Sama halnya dengan apa yang terjadi di kota-kota negara Kapitalis kunci seperti London, Los Angles San Diego dan New York (dimana- pasar-finansial proses urban terjadi dengan skala yang lebih besar di tahun 2007 dibawah administrasi sang t r i l i u n e r, B l o o m b e r g). Pembangunan urbanisasi yang spektakuler, mewah, besar dan Paulo absurd muncul di Timur-Tengah di tempat seperti Dubai dan Abu D h a b i d a l a m r a n g k a “membersihkan” sisa-sisa dari surplus-kapital yang muncul
akibat ledakan harga minyak
| institusi | finansial”. | Banyak | |
|---|---|---|---|
| sekali | keuntungan | yang | di |
| peroleh | dari | ini. | |
| I novasi | tersebut | berhasil |
dengan cara yang paling tidak a d i l s e c a r a s o s i a l d a n pemborosan bagi lingkungan a l a m ( s e p e r t i h a l n y a pembangunan lintasan ski indoors di tengah-tengah panasnya lingkungan padang pasir). Kita sedang menyaksikan perubahan skala dalam bentuk lainnya atas proses-urban ─yang menyulitkan kita menangkap bahwa apa yang terjadu secara global ini memiliki kesamaan prinsip dari proses yang di lakukan Haussman pada kota Paris di masa kekaisaran ke-dua.
Tapi ledakan urbanisasi ini bergantung, seperti yang terjadi pada masa Haussman dan Moses, pada pembangunan institusi finansial yang baru dan pengaturan untuk mengorganisir kredit dalam rangka menjaga proses-urban tetap berjalan. Inovasi dibidang finansial muncul pada tahun 1980an, secara khusus Sekuritisasi dan paket-paket hipotek lokal di jual dengan bebasnya kepada para investor di seluruh dunia, dan inovasi tersebut manandai terjadinya pembuatan sebuah institusi finansial yang baru yang dapat memfasilitasi pasar- hipotek (mortgage-market) serta sebagai sarana untuk menyimpan surat-surat obligasi (debt obligation) yang mana hal tersebut memainkan peran yang
sangat penting dalam “inovasi
perubahan
melakukan Praktik penyebaran resiko dan menginjikan Surplus- tabungan (saving pools) untuk dapat mengakses kebutuhan akan surplus-perumahan dengan lebih mudah serta membuat tingkat suku bunga turun ─sementara hal ini telah m e m b u a t p e n i n g k a t a n keuntungan bagi perantara- k e u a n g a n ( f i n a n c i a l intermediaries) yang telah membuat “ keajaiban ” ini terjadi. Tapi dengan di jalankannya praktik penyebaran resiko tidak membuat resiko itu hilang dengan sendirinya, faktanya adalah penyebaran resiko yang di lakukan secara luas justu telah mendorong perilaku para pelaku bisnis di tingkat lokal semakin beresiko karena sejak resiko tersebut bisa di pindahkan ketempat yang lain. Tanpa adanya kontrol atas pengaturan resiko (risk- assessment controls) pasar- hipotek tidak bisa dikendalikan sehingga apa yang terjadi pada “Pereire-Brother” di tahun 1867-1868 dan pemborosan finansial kota New York di awal tahun 1970an kemudian akan terulangi lagi oleh hipotek s u b p r i m a ( e d. k r e d i t perumahaan jangka panjang)
dan krisis nilai-aset perumahan di tahun 2008. Krisis tersebut terkonsentrasi di dalam dan di pinggiran kota-kota AS (tanda- tanda yang sama bisa terlihat di Inggris) yang secara khusus berimplikasi sangat serius bagi kaum Afika-Amerika dengan pendapatan yang rendah, para ibu single parent yang berada di pusat-pusat kota. Krisis tersebut juga bisa menjangkit mereka
kemunduran di semua bidang kehidupan manusia. seperti halnya yang terjadi di tahun 1970an, Singkatnya krisis ini sangat luar biasa. (termasuk respon cepat bank sentral swasta Amerika atas “uang- cepat” yang hampir membuat ancaman inflasi yang sangat besar, persis seperti yang terjadi tahun 1970an dan suatu tempat di masa depan nanti).
| yang | tidak | mampu | membeli |
|---|---|---|---|
| perumahan | dengan | harga | |
| selangit khususnya di wilayah baratdaya | di | tengah | kota, |
| AS, | sehingga | Mereka | harus |
| pindah | ke | wilayah | semi - |
| p i n g g i r a n | d i | ||
| metropolitan | untuk | bisa | |
| membeli harga yang spekulatif beserta kemudahan kredit lainnya. Tapi | perumahan | dengan | |
| siapa menghadapi | yang | kemudian perubahan | akan biaya |
Tapi bagaimanpun juga situasi hari ini jauh lebih rumit dari s e b e l u m n n y a s e h i n g g a memunculkan pertanyaan baru mengenai apakah kemudian krisis ekonomi ini bisa di p i n d a h k a n t e m p a t l a i n ( m i s a l n y a, T i o n g k o k). Pembangunan yang tidak merata secara geografis Mungkin untuk k e s e k i a n k a l i n y a t e l a h membantu sistem tersebut terhindar dari keruntuhan total secara mengglobal, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1990an. Meskipun pada waktu
| pun | juga akan | naik | seperti | |
|---|---|---|---|---|
| halnya properti yang semakin tinggi. Krisis ini juga berdampak pada infrastruktur | tingkat | bunga dan kehidupan | pasar- | |
| urban kota-kota | (seluruh seperti | lingkungan Cleveland, | di | |
| Baltimore hancur penyitaan rumah dan tempat usaha) seluruh | dan akibat serta arsitektur | Detroit gelombang mengancam | telah sistem | |
| finansial | dunia | dan | memicu |
itu Amerika Serikat sedang berada di tengah-tengah masalah tersebut. Tapi sistem finansial juga jauh lebih kompleks dari yang pernah ada sebelumnya.[10] Sekali saja Perdagangan “split-second” berbasis komputer, keluar dari j a l u r n n y a a k a n s e l a l u mengancam pasar-saham( yang m a n a i k u t s e r t a d a l a m menicptakan “kondisi yang
k a w a s a n
yang naik sangat tinggi dengan naiknya harga minyak dunia, sehingga pembayaran hipotek
berubah-ubah”di dalam pasar- saham) karena hal tersebut akan m e n c i p t a k a k a n s e b u a h perbedaan yang sangat besar yang memungkinkan untuk memproduksi sebuah krisis b e r s k a l a b e s a r, s e r t a memerlukan pemikiran-ulang secara total atas bagaimana kapital-finansial dan pasar-uang b e r o p e r a s i, t e r m a s u k h u b u n g a n n y a d e n g a n urbanisasi.
Kemiskinan dan Pasifikasi
Sama halnya dengan semua fase sebelumnya, ekpansi yang radikal dari proses urban hari ini telah ikut membawa perubahan yang luar biasa dalam hal gaya hidup. Kualitas kehidupan urban telah menjadi komoditas bagi mereka yang memiliki uang seperti halnya kota itu sendiri. Di dalam sebuah dunia dimana konsumerisme, pariwisata, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berbasis pada industri telah menjadi aspek utama d a l a m e k o n o m i-p o l i t i k perkotaan, bahkan di India dan Tiongkok. Kecenderungan kaum post-modern dalam mendorong formasi pasar, baik dalam pilihan gaya hidup urban, kebiasaan pembeli hingga bentuk kultural yang dikelilingi o l e h p e n g a l a m a n u r b a n kontemporer dengan aura kebebasan untuk memilih dalam
pasar, asalkan anda memiliki uang dan biasa melindungi diri anda sendiri dari praktik p r i v i t a s i r e d i s t r i b u s i k e s e j a h t e r a a n m e l a l u i p e r k e m b a n g a n a k t i v i t a s Kriminal dan praktik pemalsuan (yang mana disemua tempat hal seperti meningkat sangat pesat). Pusat-pusat komplek p e r b e l a n j a a n d a n perkembangan ruko-ruko retail, s a m a h a l n y a d e n g a n perkembangaan gerai-gerai makanan cepat saji, pasar barang-barang seni, butik-butik kultural dan seperti yang Sharon Zukin Slyly tulis “ditenangkan oleh secangkir kapucino”. Bahkan dalam sistem tata letak pembangunan perumahaan di pinggiran kota yang paling kacau, hambar dan monoton masih mendominasi di beberapa area telah menemukan obat penawar-nya bernama gerakan “urbanisme baru” yang telah melakukan teknik percaloan dalam menjual komunitas berserta gaya hidupnya tak ubahnya seperti prodak yang di hasilkan oleh para pengembang dalam rangka memenuhi impian urban. Ini adalah dunia dimana etika individualisme khas Neoliberal telah menjadi cetak- biru bagi kepribadian manusia dalam hidup di masyarakat. D a m p a k n y a a d a l a h m e n i n g k a t n y a p e r a s a a n terisolasi, kekhawatiran dan
penyakit saraf lainnya yang dirasakan oleh individu di tengah-tengah pencapaian sosial terbesar yang pernah di dibangun dalam sejarah m a n u s i a d a l a m r a n g k a merealisasikan hasrat di dalam hati kita.
Tapi retakan di dalam sistem ini terlihat sangat jelas. Kita hidup d a l a m P e r p e c a h a n, fragmentisasi, dan konflik- perkotaan yang semakin tinggi. B a g a i m a n a c a r a k i t a memandang dunia bergantung pada sisi mana kita berada, pada bentuk konsumerisme seperti apa yang bisa kita akses. Pada satu dekade kebelakang kemunculan Neoliberalisme telah merestorasi kekuatan kelas orang-orang kaya dan orang orang elite.[11] dalam beberapa tahun kebelakang saja beberapa manajer hedge fund di N e w Yo r k b i s a m e r a u p remunerasi pribadi sebesar 3 millyar Dollar dan bonus yang di terima olen Wallstreet melonjak sangat tinggi, untuk satu orang saja dalam beberapa tahun saja
| seorang | best | player | pialang |
|---|---|---|---|
| saham | bisa | mendapatkan | |
| hingga | 50 | milyar | (dengan |
mengesampingkan kepemilikan harga properti mereka yang ada di Manhattan). 14 orang triliuner muncul di Meksiko sejak praktik Neoliberal di jalankan di negara tersebut pada tahun 1980an dan
hari ini meksiko bisa berbangga diri bahwa orang paling kaya di dunia, Carlos Slim, hidup di negaranya dan pada saat yang bersamaan pendapatan orang-orang miskin di dalam negerinya tidak pernah bertambah malah berkurang. Pada akhir tahun 2009 (setelah krisis ekonomi paling buruk berakhir) terdapat 115 orang triliuner baru di Tiongkok, 101 di Rusia, 55 di India, 52 di Jerman, 32 di Inggris, 30 di Brazil serta 413 orang di AS.[12] Hasil akhir dari p e n i n g k a t a n p o l a r i s a s i pendistribusian kekayaan dan kekuatan terukir dalam bentuk spasial di dalam kota-kota kita, yang mana hal ini semakin m e n i n g k a t k a n p r o s e s fragmentisasi yang terjadi di dalam kota dengan cara memagari dan mengawasi komunitas orang kaya beserta ruang publik yang telah di privatisasi. Proteksi kaum Neoliberal atas hak kepemilikan pribadi dan nilai-nilai nya telah menjadi bentuk hegemoni politik, bahkan bagi kelas menengah kebawah. Khususnya d i b e b e r a p a n e g a r a berkembang, kota:
“ terbelah-belah menjadi beberapa bagian yang berbeda, dengan formasi seperti hanya “ negara-mikro ”. W ilayah-wilayah yang dihuni orang-orang kaya di lengkapi dengan semua
mencari cara untuk mengatasi jenis layanan seperti, sekolah- semua bentuk isolasi ini serta sekolah eksklusif, lapangan golf, untuk mengubah bentuk kota
| lapangan | tenis, | dan “polisi |
|---|---|---|
| pribadi ” | yang | berpatroli |
| mengelilingi yang mana saling bersebelahan | daerah | tersebut |
| dengan dimana sumber mata air hanya | pemukiman | ilegal |
| tersedia milik bersama, tanpa sanitasi, | di sumur | (fountain) |
| listrik | hanya dinikmati | oleh |
| beberapa | orang, | jalanan |
| berubah lumpur setiap kali hujan turun, | menjadi | kubangan |
| rumah sebuah hal yang rumlah, setiap fragmen yang muncul tampak | milik bersama | adalah |
| hidup otonom menempel erat pada apa yang bisa mereka ambil dalam pertarungan hidup sehari- | dan berfungsi | secara |
| hari hidup.”[13] Dibawah kondisi ini, gagasan | dalam rangka | bertahan |
| mengenai kewarganegaraan | identitas | urban, dari politik |
| perkotaan | sedang | terancam |
| dalam | gambaran | sosial | yang |
|---|---|---|---|
| jauh yang selama ini diberikan oleh | berbeda | dari gambaran | |
| para dukung oleh kekuatan finansial, perusahaan kapital dan aparatus negara e n t r e p r e u n e r. | pengembangan yang | yang bermentalkan H a r i | di i n i |
oleh penyebaran penyakit etika individualistik Neoliberal yang dari hari ke hari sulit di tangkal. Bahkan gagasan mengenai fungsi kota sebagai badan politik yang bersifat kolektif, sebuah tempat dimana gerakan sosial progresif mungkin dapat, setidaknya, muncul kepermukaan semakin tidak masuk akal. Namun setidaknya ada banyak sekali bukti bahwa gerakan sosial di perkotaan terbukti sedang
administrasi kota bahkan yang paling konservatif pun sedang berusaha mencari cara untuk menggunakan kekuasannya dalam melakukan eksperimen tidak hanya memproduksi sebuah proses urban namun s e k a l i g u s m e l a k u k a n demokratisasi pemerintahaanya (ed. Hal ini merupakan serangan balasan atas narasi Neoliberal yang sedang di praktikan hari ini). Apa ada alternatif lain bagi proses urban, meskipun ada, dari mana kah alternatif itu akan datang?
Penggusuran
Penyerapan surpus-kapital melaui transformasi urban bagaimanapun juga memiliki aspek yang kelam lainnya. Dalam hal tersebut terkandung s e r a n g a n t e r u s-m e n e r u s terhadap pembangunan-ulang p e r k o t a a n m e l a l u i “penghancuran kreatif”yang hampir selalu memiliki dimensi kelas, sejak urbanisasi selalu
dan populasi di dalamnya dapat mengontrol munculnya gerakan revolusioner dengan mudahnya, tapi seperti yang pernah Engels katakan pada tahun 1872:
merugikan kaum miskin, kaum tertindas dan mereka yang termajinalkan serta jauh dari kekuatan politik lah yang pertama kali menjadi korban atas proses-urban ini. Kekerasan
| “Dalam | kenyataanya, | kaum | |
|---|---|---|---|
| borjuis | hanya | memiliki | satu |
| metode persoalan atas perumahan yaitu dengan membuat masalah yang | untuk | menyelesaikan | |
| lebih | baru, metode | tersebut | |
| bernama: | “Haussman” | (yang | |
| mana) | maksud | saya | adalah |
| praktik cara yang paling umum dalam | tersebut | merupakan | |
| menggusur buruh di kota-kota besar kita, dan khususnya di beberapa area | perumahan | para | |
| di pusat | kota, | terlepas | dari |
| apakah | hal | ini dilakukan | |
| berdasarkan pertimbangan | atas bagi kesehatan | sebuah | |
| publik | atau | dalam | rangka |
| memperindah | kota | atau di |
di perlukan untuk dapat membentuk-ulang kota lewat cara menghancurkan mereka yang dinilai sudah usang bagi modernitas. Haussman sendiri mennghancurkan kawasan tua dan kumuh di kota Paris menggunakan kekuatan negara yang seharusnya di gunakan bagi keuntungan masyarakat luas dan dalam proses tersebut dia menggunakan gaung “atas nama pembangunan ”, perbaikan lingkungan dan renovasi p e r k o t a a n. D i a s e n g a j a m e n g g u n a k a n k e k u a t a n tersebut untuk menghapus gerakan buruh dan elemen perlawanan lainnya bersamaan dengan berjalannya proses industrialisasi yang “berbahaya bagi kesehatan” di pusat kota Paris, dimana mereka (ed. G erakan buruh) telah di modifikasi-ulang sebagai ancaman bagi tatanan publik, kesehatan, dan tentu saja kekuatan politik. Haussman menciptakan sebuah perkotaan dari apa yang di yakini (namun ternyata salah, karena peristiwa 1871 t e r j a d i ) b a h w a peningkatan anggaran belanja kota bagi pengawasan dan kontrol militer atas kota Paris
peruntukan bagi pusat kawasan bisnis atau sebagai kebutuhan bagi lalu lintas angkutan umum seperti jalur rel kereta api dan jalan raya (yang mana terkadang t u j u a n n y a a d a l a h u n t u k m e m p e r s u l i t p e m b u a t a n barikade-barikade tempur buatan rakyat)…..tidak jadi persoalan mengenai apa dan bagaimana solusinya karena hasilnya akan tetap sama; gang- gang sempit (ed.maksudnya adalah tempat prostitusi) yang penuh skandal dan memalukan itu lenyap seiring dengan
banjirnya pujian dari kaum borjuis atas keberhasilan yang luar biasa ini, namun kemudian gang-gang sempit tersebut akan muncul lagi dengan cepat di tempat lainnya …. tempat berkembang biaknya penyakit yang berasal dari lubang dan gudang-gudang terkenal yang hampir sama dengan modus produksi kapitalis dalam rangka mengurung gerak langkah buruh-buruh kita malam demi malam tidak pernah bisa di hilangkan; karena tempat-tempat tersebut akan berpindah k e t e m p a t y a n g l a i n n y a ! Kebutuhan ekonomi yang sama telah memproduksi tempat tersebut.”[14]
Sebenarnya dibutuhkan lebih dari seratus tahun untuk “penaklukan” kaum borjuis atas pusat kota Paris dengan konsekuensi yang dapat kita lihat pada pemberontakan dan kerusuhan ditahun-tahun berikutnya yang terjadi di pinggiran kota Paris yang telah mengisolasi kaum imigran yang termajinalkan, buruh-buruh serta kaum muda pengganguran yang terperangkap di wilayah tersebut. Dan tentu saja hal yang meyedihkan adalah ketika proses urban ini berjalan, Engels pernah mengingatkan kita namun justru semua kemalang ini terus menerus di ulangi oleh sejarah perkotaan-Kapitalis.
Robert Moses (dalam kata-kata terkenalnya) “membawa kapak daging ke Bronx” dan ratapan yang keras dari lingkungan tersebut beserta kelompok dan gerakan sosialnya pada akhirnya akan bersatu di sekitaran retorika Jane Jacobs pada taraf penghancuran yang tak pernah terbayangkan atas tidak hanya susunan nilai-nilai perkotaaan tapi terhadap seluruh komunitas yang hidup di dalamnya beserta jaringan integrasi-sosial yang telah lama terhubung.[15] Tapi untuk kasus yang terjadi di New York dan Paris, sekali saja kekuatan penggusuran yang brutal yang dilakukan oleh negara berhasil di lawan dan di bendung oleh agitatsi yang di jalankan pada tahun 1968, proses transformasi yang jauh lebih berbahaya akan muncul m e l a l u i “ p e n d i s p l i n a n ” keuangan pemerintahaan kota secara “demokratik”, pasar- tanah, spekulasi harga properti dan penyortiran atas tanah yang a k a n d i g u n a k a n u n t u k p e m b a n g u n a n a k a n m e n g h a s i l k a n t i n g k a t pengembalian finansial tertinggi atas tanah yang “bernilai tinggi”. Engels mengerti baik untuk apa hal ini di jalankan:
“ Pertumbungan kota-kota modern besar membuat tanah di beberapa kawasan, khususnya wilayah yang terletak di pusat
d e n g a n s a n g a t c e p a t meninggkatkan nilai jual-nya; bangunan yang berdiri diatas tanah tersebut justru malah menurunkan harga jualnya ketimbang meningkatkannya, karena bangunan tersebut b u k a n l a g i b a g i a n d a r i perubahan harga tanah di bawahnya. Bangunan tersebut bisa dihancurkan dan di ganti dengan bangun yang lebih baru. Semua hal ini terjadi pada semua perumahan buruh yang berlokasi di pusat-pusat kota, bahkan di wilayah dengan padat penduduk, tidak akan pernah bisa atau harga-harga properti hanya naik secara perlahan di bawah ambang maximum. toko- toko, gudang, gedung publik yang berdiri diatas tanah t e r s e b u t a k a n diruntuhkan.”[16]
Adalah sebuah hal yang begitu muram untuk memikirkan bahwa semua hal tersebut pernah di tulis pada tahun 1872 oleh Engels yang mana deskripsi yang ditulis beliau berlaku juga secara langsung bagi proses urban hari ini yang terjadi di Asia (Delhi, Seoul, Mumbai) sama hal s e p e r t i g e n t r i f i k a s i kontemporer yang terjadi di, katakanlah, H arlem dan Brooklyn di kota New York. Sebuah proses perpindahaan dan perampasan, singkatnya, juga terjadi di tempat-tempat
penting dimana proses urban berjalan dibawah kapitalisme. Ini adalah gambaran kecil atas penyerapan Kapital melalui pembangunan ulang perkotaan. Lihat kasus yang terjadi di kota Mumbai, dimana terdapat 6 juta orang yang di tetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai, penghuni pemukiman kumuh yang menetap di sebuah yang mana sebagian dari mereka tidak memiliki bukti legal atas tanah tersebut (tempat dimana mereka tinggal dibiarkan kosong pada peta resmi kota tersebut). Dengan usaha untuk mengubah kota Mumbai menjadi pusat finansial-global yang digadang- gadang akan menyaingi kota S hanghai, ledakan harga properti terjadi disana dan tanah yang di huni oleh para penghuni pemukiman kumuh tersebut tiba-tiba menjadi sangat berharga. Nilai atas tanah di Dharavi, salah satu pemukiman kumuh yang paling terkenal di kota Mumbai, di patok seharga 2 triliun, sehingga tekanan untuk mengosongkan wilayah kumuh tersebut (perbaikan lingkungan hidup dan sosial adalah topeng atas perampasan tanah yang biasa di gunakan) semakin kuat tiap harinya. Kekuatan finansial yang di bekingi oleh negara, memaksa untuk mengosongkan kawasan kumuh itu, dalam beberapa kasus kekerasan digunakan
untuk mengosongkan wilayah yang dihuni oleh penghuni pemukiman kumuh dari generasi ke generasi. Akumulasi kapital atas tanah tersebut melalui ledakan harga real-estate diperoleh hampir tanpa ongkos. Apa rakyat yang di paksa keluar dari tanahnya mendapatkan k o m p e n s a s i ? B e b e r a p a d i a n a t a r a m e r e k a y a n g beruntung memperolehnya oleh dengan harga yang murah. Namun sementara itu konstitusi negara India mengatur sangat jelas bahwa negara memiliki kewajiban untuk merawat dan melindungi seluruh tumpah darah orang I ndia tanpa memandang kasta dan kelas, dan menjamin hak untuk mendapatkan serta memiliki perumahan dan tempat tinggal, n a m u n m e s k i d e m i k i a n, mahkamah konstitusi India mengeluarkan ketetapan hukum y a n g m e n d o r o n g u n t u k m e l a k u k a n a m a n d e m e n terhadap konstitusi tersebut. Sejak para penghuni pemukiman kumuh di umumkan sebagai penghuni illegal dan banyak dari mereka yang tidak bisa menunjukan surat kepemilkan atas lahan tersebut, sehingga mereka tidak memiliki hak atas kopemsansi apapun, untuk m e m b e r i k a n h a k a t a s kompensasi tersebut, menurut mahkamah agung India hal tersebut sama halnya dengan
memberikan hadiah kepada pencopet atas aksi kriminalnya, sehingga para penghuni di kawasan kumuh tersebut hanya memiliki 2 opsi, opsi yang pertama adalah pindah dari tanahnya dengan membawa barang harga miliknya kemudian bermukim dan mendirikan tenda di pinggir jalan atau dimana pun dia bisa tinggal, opsi yang kedua a d a l a h m e l a w a n penggusuran.[17] Contoh yang serupa soal penggusuran (meskipun tidak terlalu brutal dan lebih legalistik) bisa ditemukan di Amerika Serikat, melalui penyalahgunaan hak domain untuk memindahkan penghuni (long-term resident) diperumahan yang layak dalam rangka untuk mendapatkan hak- guna atas perumahan tersebut (seperti kondominium dan ruko- ruko). Pertentangan terjadi di mahkamah agung Amerika Serikat dimana para liberal dengan argumennya melawan kubu konservatif dengan mengatakan bahwa hal tersebut (relokasi penghuni) sangat tepat bagi yurisdiksi lokal untuk melakukan hal seperti ini sehingga hal tersebut bisa meningkatkan penghasilan dari pajak properti.
Di Seoul pada tahun 1990, perusahaan kontruksi dan pengembang menyewa preman- preman yang memiliki badan
s e u k u r a n p e s u m o u n t u k signifikansi argument Lefebvre
| yang | di | lontarkannya | |
|---|---|---|---|
| pada | 1960an, | bahwa | |
| perbedaan | yang | mencolok | |
| diantara | kawasan | urban | dan |
| r u r a l menghilang menjadi satu set | s e c a r a | b e r t a h a p | |
| ruang | yang keropos | dari | |
| pembangunan | geografis | yang | |
| tidak hegemoni modal dan negara. Di Tiongkok, | dibawah komune-komune | komando | |
| pedesaan | di pinggiran | kota | |
| berubah | dari petani | pekerja | |
| keras penyedia rumah sewa a la orang- orang kota yang senang berhela- | yang miskin | menjadi | |
| hela | setidaknya | hal | |
| tersebut | dilakukan | oleh | |
| pemimpin Hal ini sama dengan kasus yang | komune | tersebut). | |
| terjadi kebijakan pengembangan zona ekonomi khusus hari ini sangat di | di I ndia | dimana | |
| istimewakan pusat (federal) dan daerah telah | oleh | pemerintah | |
| membawa kekerasaran dalam menghadapi | sebuah | praktik | |
| produsen hal yang paling kotor dalam | agrikultur | (petani), | |
| praktik | tersebut | adalah | |
| pembantaian | masal | yang | di |
| lakukan Bangladesh barat, pembantaian tersebut di orkestrai oleh partai | di N andigran | di | |
| Marxist | yang berkuasa | pada | |
| waktu | itu dalam | rangka | |
| membuat modal yang sangat besar dari | jalan | masuk | bagi |
| I n d o n e s i a t e r h a d a p | y a n g p e n g e m b a n g a n | t e r t a r i k |
menginvasi seluruh kawasan pernah yang akan di gusur, tidak hanya tahun bangunan rumah namun seluruh bangunan yang berdiri atas rumah mereka yang terlektak di pinggiran bukit kota tersebut yang sudah berdiri sejak 1950, dan pada tahun 1990 secara mengejutkan tanah mereka adil menjadi sangat berharga. Hampir di seluruh pinggiran bukit tersebut hari ini telah di kelilingi bangunan-bangunan tinggi yang tidak menyisakan jejak atas aksi penggusuran yang brutal di masa lalu. Di Tiongkok jutaan orang di gusur dari tanah (atau yang mereka diami sejak lama. Absennya hak atas kepemilikan pribadi menjadi alasan utama mereka dengan mudah terusir dari tanahnya sendiri atas perintah negara, dengan memberikan dana kompensasi yang rendah (sebelum tanah tersebut di lempar kepada para pengembang dengan tingkat keuntungan yang tinggi). Dalam beberapa kasus, rakyat justru pindah dengan sukarela namun p e r l a w a n a n r a k y a t j u g a laporkan terjadi dimana-mana, seperti biasanya represi brutal yang dilakukan oleh Partai Komunis adalah respon atas perlawanan rakyat. Dalam kasus Tiongkok, rakyat yang berada di pinggiran pedesaan adalah yang sering kali terkena penggusuran, hal tersebut menggambarkan
rendah di kawasan Bronx tapi tidak terhadap mereka yang kaya raya di kawasan Park Avenue), saya berani bertaruh bahwa jika trend seperti ini terus-menerus terjadi, 15 tahun kemudian seluruh wilayah yang
p r o p e r t i u r b a n d a n pengembangan industrial. Hak atas kepemilikan pribadi dalam kasus ini tidak menyediakan sebuah perlindungan.
Dan apa yang kemudian terlihat
| berada | di sisi-bukit | yang | |
|---|---|---|---|
| sekarang di diami oleh favela | |||
| a k a n kondominum dengan harga yang | d i k e l i l i n g i | o l e h | |
| fantatis | dengan | teluk | Rio |
| sebagai sementara itu penghuni yang | latar | pemandangnya, | |
| sudah | lama | tinggal | kawasan |
| favela wilayah tersebut.[18] Efek yang | akan | tergusur | dari |
| berkepanjang | dari | program | |
| privatisasi | Margaret | Thatcher |
seperti proposal yang seolah-olah progresif karena telah m e m b e r i k a n h a k a t a s kepemilikan pribadi kepada rakyat miskin dalam rangka m e m b e r i k a n a s s e t-a s e t perumahan dan tanah supaya mereka bisa keluar dari k e m i s k i n a n t i d a k h a n y a kontradiktif justru malah m e n g u a t k a n p r a k t i k perampasan tanah. Hal yang sama juga berlaku terhadap proposal yang di berikan kepada penghuni di Rio Favela (kawasan kumuh paling terkenal di Rio de Janeiro) yang hari ini sedang di perdebatkan. Tapi kemudian permasalahan yang muncul adalah orang orang miskin t e r s e b u t d i l a n d a o l e h insekuritas pemasukan serta kesulitan finansial yang justru hal tersebut membuat mereka dengan sangat mudah di bujuk menjual aset mereka dengan harga yang relatif murah (tentu saja orang-orang kaya tidak akan pernah melepaskan aset dengan harga apapun. Hal ini lah yang membuat mengapa Moses mampu membawa “ kapak daging”-nya ke hadapan mereka yang memiliki pendapatan
atas perumahan-sosial di pusat kota London telah menciptakan struktur harga perumahan dan struktur penyewaan rumah yang b a r u d i s e l u r u h k a w a s a n metropolitan yang mana hal tersebut membuat rakyat dengan penghasilan rendah dan bahkan kelas menengah tidak dapat mengakses perumahan dimanapun yang terletak dekat pusat perkotaan. Permasalahan rumah dengan harga yang terjangkau seperti halnya masalah kemiskinan telah bergerak menyebar keseluruh dunia.
C o n t o h-c o n t o h d i a t a s mengingat kita bahwa solusi yang seolah-olah terlihat “ progresif ” tidak hanya
membuat penyelesaian masalah hanya berputar-berputar tanpa menyelesaikan tersebut namun justru menguatkan sumber masalah tersebut dan secara bersamaan memperpanjang rantai emas yang mengikat populasi yang dan termajinalkan dalam lintasan orbit sirkulasi d a n a k u m u l a s i k a p i t a l. Hernando de Soto berargumen bahwa ketidakjelasan mengenai pembagian hak atas kepemilikan pribadi sangat mempengaruhi dalam membuat orang-orang m i s k i n j a t u h d a l a m kesengsaraan bagi mereka yang berada selatan belahan muka bumi (dengan mengabaikan fakta bahwa kemiskinan juga hadir pada masyarakat dimana hak atas kepemilikan pribadi sudah berdiri kokoh). Untuk lebih pastinya ada beberapa contoh dimana pemberiann hak tersebut (hak atas kepemilikan pribadi) seperti yang terjadi terhadap favela di Rio de Janeora atau pemukiman kumuh di kota Lima, Peru, akan membebaskan energi individu dan menyalurkannya lewat aktifitas kewirausahaan yang mengarah pada pencapaian individu. Namun, justru efek dari hal tersebut hanya akan menghancurkan sebuah bentuk kolektif atas solidaritas sosial seperti hal gotong royong hampir pasti akan menghilang karena tidak adanya kepastian
atas ketersediaan lapangan pekerjaan, misalnya yang terjadi Kairo, Julia Elyachar mencatat bagaimana kemudian k e b i j a k a n y a n g t e r l i h a t progresif tersebut telah menciptakan sebuah “pasar- perampasan ” yang pada dasarnya berusaha untuk “menghisap habis” nilai-nilai m o r a l e k o n o m i y a n g berdasarkan pada saling menghormati, saling membantu dalam rangka meningkatkan keuntungan bagi institusi Kapitalis.[19]
Banyak sekali komentar yang sama berlaku bagi praktik kredit-mikro dan finansial-mikro sebagai sebuah solusi terhadap kemiskinan global yang hari ini terjadi, solusi tersebut sangat di elu-elu kan diantara institusi finansial yang berada di Washington. Kredit-mikro dalam inkarnasi sosial (seperti yang semula dibayangkan oleh pencetusnya seorang pemenang penghargaan nobel perdamaian bernama Yunus) telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan memiliki dampak yang cukup luar biasa terhadap relasi gender dengan konsekuensi yang cukup positif bagi perempuan di negara seperti india dan Bangladesh, tetapi hal tersebut memiliki konsekuensi lain seperti menerapkan sistem tanggung jawab kolektif untuk
pembayaran hutang yang dapat “memenjarakan” ketimbang “membebaskan”. dalam dunia keuangan mikro sebagaimana yang diartikulasikan oleh institusi finansial di Washingston (sebagai lawan dari kredit-mikro yang diusulkan oleh Yunus yang lebih berioentasi pada skema yang terlihat lebih sosial seperti g o t o n g-r o y o n g, s a l i n g membantu dan seterusnya) memiliki efek yang justru m e n i n g k a t k a n s u m b e r pendapatan (dengan tingkat bunga sebesar 18 persen dan bahkan lebih besar) bagi institusi finansial dunia. Ditengah-tengah kemunculan struktur pemasaran yang mengijiinkan perusahaan multinasional untuk mengakses pasar-agregat yang di bangun oleh 2 miliar orang yang hidup dengan pendapatan kurang dari 2 Dollar per hari. Besarnya, apa yang di dalam dunia bisnis kemudian disebut sebagai “pasar di dasar piramida”, akan dengan mudahnya di tembus oleh “ perusahaan besar ” melalui pembangunan jaringan penjualan dengan para sales (yang kebanyakannya adalah perempuan) terhubung dengan rantai pemasaran dari gudang- g u d a n g p e r u s a h a a n multinasional ke vendor-vendor di jalanan.[20] Para sales- p e n j u a l ( s a l e s p e o p l e) membentuk sebuah relasi-sosial
kolektif dimana semua orang saling bertanggung jawab atas sesamanya yang disiapkan untuk menjamin pelunasan hutang d i t a m b a h b u n g a y a n g memungkinkan mereka untuk membeli komoditi di pasar sedikit demi sedikit. Seperti halnya pemberian hak atas kepemilikan pribadi, hal tersebut memungkinankan sebagian orang (dan dalam kasus ini kebanyakannya perempuan) bisa meningkat pendapatannya, sehingga dapat mengurangi masalah atas sulitnya akses yang di rasakan oleh masyarakat miskin dalam membeli barang- barang kebutuhan dengan harga yang masuk akal. Namun kemudian hal ini bukanlah sebuah solusi bagi permasalah kemiskinan yang menimpa penduduk di perkotaan. Sebagian besar dari mereka yang ikut serta dalam system keuangan-mikro akan jatuh kedalam sistem perbudakan- hutang (debt peonage) dan memanjarakan dirinya pada s i s t e m p e n g u p a h a n (remunerated) yang buruk, yang menjembatani perusahaan multinasional dan populasi dari perkampungan kumuh kota dengan keuntungan yang selalu, tentu saja, jatuh kepada perusahaan multinasional. Ini lah jenis struktur ekonomi yang akan menghambat ekplorasi bagi alternatif yang lebih baru,
sehingga hal tersebut tidak akan konsumerisme didalam sebuah
| membuat | kita | mendapatkan | fase | dimana | K apitalisme | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| semua bentuk hak apapun atas | menyerap surplus melalui proses | ||||||
| kota. Memformulasikan Tuntutan Urbanisasi, bisa kita simpulkan telah memainkan peran yang | urbanisasi dengan ajalnya dan jika krisis yang lebih besar terjadi, maka pertanyaan selanjutnya adalah dimana gerakan 68 kita atau jika ingin yang lebih dramatis lagi, | telah | bertemu | ||||
| penting | dalam | penyerapan | dimana komune Paris versi kita? | ||||
| surplus berjalan dalam skala yang luar | Kapital | dan | telah | D e n g a n | m e n g a n a l o g i k a n | ||
| b i a s a, | n a m u n | d a l a m | perubahan yang terjadi di dalam | ||||
| perkembangannya “ p e n g h a n c u r a n “tersebut mengandung sebuah perampasan atas semua bentuk hak yang seharusnya di miliki | proses k r e a t i f | sistem politis atas pertanyaan tersebut jauh lebih kompleks khususnya pada masa kita, dimana proses urban telah menjadi fenomena | keuangan, | jawaban | |||
| oleh warga kota secara diam- | global | serta | memiliki | daya | |||
| diam. Dari masa kemasa hal | hancur | yang | lebih | besar | |||
| tersebut | berakhir | dengan | bersamaan semua bentuk celah- | ||||
| pemberontakan, seperti halnya | c e l a h, | i n s e k u r i t a s | d a n | ||||
| yang | terjadi | di tahun | 1871, | pembanguan yang tidak merata. | |||
| ketika | kaum-kaum | tertindas | Tapi retakan yang berada di | ||||
| t e r s e b u t | b a n g k i t | d a n | dalam sistem tersebut, seperti | ||||
| memberontak | untuk | merebut | yang pernah di dendang oleh | ||||
| kembali pernah hilang. Gerakan sosial di perkotaan pada tahun 1968 dari | kota | yang | dahulu | Leonard membuat cahaya itu masuk”, adalah sebuah tanda-tanda bagi | Kohen | “apa | yang |
| Paris, Bangkok dan kota Meksiko | pemberontakan | yang | terjadi | ||||
| hingga Chicago, berusaha untuk | d i m | a n a | -d i m | a n a | |||
| mendefinisikan ulang kehidupan | (pembangkangan | yang | tak | ||||
| perkotaan yang jauh berbeda | henti-hentinya | terjadi | di | ||||
| dari apa yang digambarkan oleh para pengembang Kapitalis dan | Tiongkok kronis, perang saudara pecah di | dan | India | sangat | |||
| negara. Jika semua kesulitan | Afrika, | kekacauan | terjadi | di | |||
| fiskal peningkatan konjungtur hari ini | yang | dialami | oleh | Amerika otonom muncul dimana-mana, | Latin | dan | gerakan |
| dan suksesi yang sangat luar | bahkan | di Amerika | Serikat | ||||
| biasa dari praktik Neoliberal, p o s t m o d e r n i s t, | d a n | h a m p i r menyerukan “enough is enough” | s e l u r u h | o r a n g |
membuat kita mendapatkan fase dimana K apitalisme
atas semua bentuk ketidak a d i l a n). S e m u a b e n t u k pembangkangan sipil ini tiba- tiba tidak bisa terbendung (contagious), Tidak seperti halnya sistem keuangan, gerakan sosial di perkotaan dan gerakan sosial di pinggiran kota sebagai gerakan oposisi yang terjadi diseluruh dunia, belum pernah bersatu-padu maju sebagai satu kesatuan kekuatan sosial. M emang, diantara keduanya memang tidak memiliki hubungan satu sama lainnnya. S ehingga satu percikan saja tidak akan, meminjam istilah weather u n d e r g r o u n d, m e m b a k a r seluruh padang rumput kering. Kita butuh sebuah serangan yang lebih sistematik dari yang sebelumnya. Tapi jika 2 gerakan oposisi ini pada suatu waktu bertemu dan berjalan bersama ─ c o n t o h n y a, k a t a k a n l a h dibawah jargon-jargon hak atas kota- kemudian apa yang harus mereka tuntut?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja sangat mudah, yaitu; kontrol yang luas atas penggunaan surplus-produksi secara demokratik, sejak proses urban adalah alat utama bagi penyerapan surplus-produksi, maka hak atas kota di bentuk melalui pembentukan kontrol demokratik atas penyebaran surplus melalui
urbanisasi. Ketika kita memiliki surplus-produksi hal tersebut bukanlah sebuah hal yang buruk: tentunya didalam beberapa situasi, surplus merupakan sebuah hal yang penting dalam rangka bertahan hidup. Di sepanjang sejarah kapitalisme, beberapa dari nilai-lebih (profit) yang tercipta bisa di jadikan subjek pajak oleh negara dan dalam fase (negara) sosial-demokratik, proposisi tersebut ( ed. hasil pajak) m e n i n g k a t s a n g a t p e s a t sehingga membuat surplus-surplus tersebut berada di bawah kontrol negara. Semua jenis proyek Neoliberal yang telah terjadi lebih dari 30 tahun lalu lebih berorientasi pada privatisasi atas kontrol terhadap surplus tersebut. Bagaimanapun juga Data dari seluruh negara OECD menunjukan bahwa p e n d a p a t a n p a j a k a t a s pengeluaran bruto yang di lakukan oleh negera, bergerak secara konstan sejak 1970an. K e m u d i a n s a t u-s a t u n y a pencapaian Neoliberal adalah perannya dalam menghalangi n e g a r a u n t u k m e n d a p a t keuntungan yang lebih banyak dari hasil pajak seperti hal nya yang terjadi di tahun 1960an. Salah satu usahanya adalah untuk meciptakan sistem pemerintahan baru yang mengintegrasikan antara kepentingan negara dan
komunitas orang kaya (slogan kepentingan korporasi serta
| pembangunannya | sangatlah | ||
|---|---|---|---|
| ironis, | “membangun | seperti | |
| Moses Jacob[21]. Di Seatlle triliuner | dengan | gagasan | Jane) |
| lainnya, melakukan hal yang sama, dan di kota Meksiko orang terkaya di | seperti | Paul | Allen |
| dunia, | Carlos | Slim, | telah |
melalui kekuatan uang yang memastikan kontrol atas pencarian ( disbursement) surplus melalui bantuan aparatur negara terhadap Kapital koorporat dan kalangan atas dalam rangka membentuk proses urban. Peningkatan surplus terhadap pendapatan pajak di bawah kontrol negara hanya akan berjalan dan menguntung bagi kesejahteraan warganya jika negara tersebut di reformasi atau di rebut kembali oleh rakyat dengan kontrol yang jauh lebih demokratik.
D a r i h a r i k e h a r i k i t a menyaksikan bahwa hak atas kota telah jatuh ketangan kepentingan segelintir orang. Contohnya di kota New York, kita memiliki walikota sekaligus triliuner, Michael Bloomberg, yang telah mengubah ulang kota tersebut dengan proyek-proyek yang menguntungkan para p e n g e m b a n g, e l i t e-e l i t e Wallstreet (bursa saham) dan e l e m e n k e l a s K a p i t a l i s transnasional, sementara itu secara terus menerus menjual kota tersebut sebagai sebuah lokasi yang optimal bagi bisnis
mengubah pusat kota tersebut sebagai daya pikat para turis, sehingga hal ini telah membuat i n d i v i d u-i n d i v i d u s e c a r a b e r l e b i h a n d a l a m mempergunakan kekuatannya secara langsung. Di sebuah kota di New Haven yang tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup untuk melakukan investasi ulang di kotanya namun pada akhirnya proses urban tetap berjalan lancar berkat Universitas Yale, salah satu universitas terkaya di dunia memberikan dana investasi sekaligus menjadi otak bagi pembangunan ulang kota tersebut. Jhon Hopkins juga melakukan hal sama di timur Baltimore sama halnya dengan Universitas kolombia yang juga ikut menjalankan hal tersebut di pinggiran kota New York (yang mana hal ini memicu gerakan perlawanan yang meletus di kedua tempat tersebut, mirip dengan usaha perampasan lahan
| yang | bernilai | tinggi | serta |
|---|---|---|---|
| sebagai | tujuan | yang | paling |
| fantastis sehingga mengubah Manhattan | bagi | para | turis, |
| sebagai | tempat | tingal | bagi |
yang terjadi di Dharavi). Hak atas kota yang paling nyata justru, di banyak kasus, jatuh ketangan kelompok kecil politisi
| yang | di karenakan | oleh |
|---|---|---|
| penutupan | (ed. | tidak |
| mampu | membayar | sewa). |
Karna
Seluruh komunitas di lingkungan perkotaan dan pinggiran kota diseluruh kota di AS telah di
| vandalisasi, | dipaksa | tutup, | |
|---|---|---|---|
| hingga hancur akibat praktik | |||
| p e m i n j a m a n | u a n g | y a n g | |
| di la k u k a n | ole h | i n stitu si | |
| keuangan. terpapar praktik tersebut tidak menerima bonus apapun (ed. | Orang-orang | yang | |
| tidak Tentunya, sejak penutupan (ed. | seperti | wallstreet). | |
| b i s n i s ) pengampunan atas hutang dan | y a n g | b e r a r t i | |
| hal | termasuk | kedalam | |
| penghasilan, | banyak | dari | |
| mereka penutupan akan di hadapkan kan pada pajak penghasilan yang | yang | mengalami | |
| tinggi pernah dia miliki sebelumnya. | atas uang | yang | tidak |
| K o n d i s i | a s i m e t r i s | y a n g | |
| mengerikan | ini | menimbulkan | |
| satu | pertanyaan | yang | baru: |
| k e n a p a depatemen keuangan AS tidak mengucurkan likuiditas jangka- | T h e | F e d s | d a n |
| menengah | untuk | menolong | |
| kepala mengalami acaman penutupan | rumah | tangga | yang |
| hingga | restrukturisasi | hipotek |
ini
dan elit-elit ekonom yang berada pada posisi dalam untuk mengubah kota jauh melampui kepentingan dan hasrat dalam hatinya.
Tapi mari kita lihat situasi ini jauh lebih sistematis. Pada bulan Januari, estimasi total bonus yang diterima Wallstreet atas kerja kerasnya selama satu t a h u n k e b e l a k a n g d i publikasikan. Ditahun 2007, dimana tahun kehancuran bagi pasar-finansial dengan ukuran apapun (meski sama buruknya dengan tahun berikutnya). Bonus yang di terima naik hingga
33.2 triliun Dollar, naik 2 persen dari tahun sebelumnya. Pada pertengahan musim panas di tahun 2007, The Feds (ed. Federal Reserve akan di sebut dalam artikel ini dengan sebutan The Feds) dan bank sentral E r o p a m e n g g e l o n t o r k a n triliunan Dollar kredit jangka- m e n e n g a h u n t u k s i s t e m finansial dalam rangka menjaga stabilitasnya, sehingga The Feds secara dramatis menurunkan suku bunga setiap kali pasar Wallstreet terancam runtuh, sementara itu 2 hingga 3 triliun rakyat yang di dominasi oleh campuran wanita single parent dan kaum Afrika-Amerika di pusat kota hingga kaum kulit putih yang termarjinalkan di pinggiran kota telah dan terancam menjadi tunawisma
pada tingkat harga yang wajar bisa menyelesaikan masalah ini?
Keganasan dari krisis kredit bisa di kurangi dan rakyat miskin serta lingkungan yang mereka huni bisa dilindungi. Lagipula
| imigran | serta | desain | urban |
|---|---|---|---|
| t e r h a d a p perumahan publik sudah mulai tampak bermunculan di seluruh dunia, namun mereka belum pernah bertemu pada tujuan | r u a n g-r u a n g | ||
| utama | dalam | mengkontrol | |
| secara | luas atas | penggunaan | |
| surplus produksinya). meskipun bukan final, unifikasi dari perjuangan ini adalah untuk memfokuskan momenn penghancuran dimana perekonomian kekayaan yang ditunggangi oleh kekerasan perampasan ekonomi tersebut | (apalagi dalam | soal Satu langkah, pada dari akumulasi | kondisi momen- praktik |
| dan t e r t i n d a s memproklamirkan hak mereka atas kota ─hak untuk mengubah dunia, hidupnya dan hak untuk menciptakan-ulang mereka jauh melampui hasrat | nama | rakyat m e r e k a kota-kota | yang |
| dalam tersebut, bukan hanya sebagai slogan perjuangan namun juga sebagai membawa kita kembali pada pertanyaan lama kita mengenai siapa koneksi s u r p l u s penggunaan bagaimanapun | hatinya. gagasan yang mengkomandoi antara p r o d u k s i surplus | Hak politik, urbanisasi, produksi, juga | kolektif d a n mungkin |
sistem finansial global tidak akan mungkin terhuyung-huyung diambang kehancuran total jika hal tersebut di lakukan. Dan hal ini juga sudah pasti akan memperpanjang tugas The Feds melampui wewenang normalnya sehingga mereka bisa melawan peraturan ideologis Neoliberal didalam arena konflik hidup- mati antara keberlangsungan hidup sistem finansial dan rakyat, serta hal tersebut akan m e m b u a t s e b u a h pemberontakan terhadap prefensi kelas Kapitalis atas distribusi pendapatan dan gagasan Neoliberal tentang tanggung jawab personal. Tapi atas lihat saja harga yang harus di b a y a r u n t u k m e n g a m a t i peraturan tersebut beserta hasil yang tidak masuk atas praktik penghancuran kreatif tersebut. Tentunya bukankah sesuatu bisa dan harus dilakukan untuk mengubah pilihan politis ini?
Tapi kita belum pernah melihat gerakan oposisi atas semua permasalah yang menimpa kita pada abad 21, tentunya ada berbagai banyak hal perbedaan dari perjuang urban dan gerakan sosial ( gerakan sosial di pedesaan juga termasuk ke dalam istilah yang lebih luas ini) Lefebvre memang benar, lebih yang pernah ada. Inovasi-inovasi dari 40 tahun yang lalu, dia urban yang lebih berorientasi bersikeras mengatakan bahwa pada pelestariaan lingkungan, revolusi dimasa kita hidup harus penggabungan kultural kaum terjadi perkotaan, atau tidak
sama sekali.
Catatan
[1] Robert Park, On Social C o n t r o l a n d C o l l e c t i v e Behavior, Chicago: Chicago University Press, 1967: 3.
[2] Friedrich Engels, The Condition of the Working-Class in England in 1844, London: Penguin Classics, 2009; Georg Simmel, "The Metropolis and Mental Life,” in David Levine, ed., On In dividualism and Social Forms, Chicago : Chicago University Press, 1971.
[3] Mike Davis, Planet of Slums, London: Verso, 2006.
[4] Untuk lebih lanjut mengenai ide-ide ini lihat David Harvey, The Enigma of Capital, and The Crises of Capitalism, London: Profile Books, 2010.
[5] David Harvey, Paris, Capital
R evolution, M inneapolis : University of Minnesota Press,
- [8] William Tabb, The Long Default: New York City and the Urban Fiscal Crisis, New Cork: Monthly Review Press, 1982; David Harvey, A Brief History of Neoliberalism, Oxford: OUP,
- [9] Thomas Campanella, The Concrete Dragon: China's Urban Revolution and What it Means for the World, Princeton, NJ: Princeton Architectural Press,
- [10] Richard Bookstaber, A Demon of Our Own Design: Markets, Hedge Funds, and the Perils of Financial In novation, New York: Wiley, 2007; Frank Partnoy, Infectious Greed: How Deceit and Risk Corrupted Financial Markets, New York: Henry Holt, 2003. [11] David Harvey, A Brief
| of M odernity, | N ew | York : |
|---|---|---|
| Routledge, 2003. | ||
| [6] Robert H appened | M oses, to H aussmann ” | " W hat |
History of Neoliberalism; Thomas Edsall, The New Politics of In equality, New York: Norton, 1985. [12] Jim Yardley and Vikas Bajaj, "Billionaires' Ascent Helps India, and Vice Versa,” New York Times, July 27, 20 11.
[13] Marcello Balbo, "Urban
Architectural Forum 77 (July 1942}: 57-66; Robert Caro, The Power Broker: Robert Moses and the Fall of New York, New York: Knopf, 1974.
[7] Henri Lefebvre, The Urban
Planning and the Fragmented City of Developing Countries:” Third World Planning Review 15: 1 (1993}: 23-5.
[14] Friedrich Engels, The Housing Question, New York: International Publishers (1935}: 74-7.
[15] Marshall Berman, All That Is Solid Melts Into Air, London: Penguin, 1988.
[16] Friedrich Engels, The
| [20] | Ananya | Roy, | Poverty | |
|---|---|---|---|---|
| Capital: Microfinance and the | ||||
| Making of Development, New | ||||
| York: Prahalad, The Fortune at the | Routledge, | 2010; | C.K. | |
| B ottom | of | the | P yramid : | |
| Eradicating | Poverty | Through | ||
| Profits, Prentice Hall, 2009. [21] Scott Larson, "Building Like | New | York: | Pearson | |
| Moses Mind;” PhD dissertation, Earth and | with Environmental | Jane | Jacobs Sciences | in |
Housing Question: P.23.
[ 1 7] Usha R amanathan "I llegality and the Urban Poor:'” Economic and Political Weekly, July 22, 2006; Rakesh Shukla, "Rights of the Poor: An Overview of Supreme Court;” Economic and Political Weekly, September 2, 2006.
[18] Gagasan ini berasal dari karya Hernando de Soto, The M ystery of C apital : W hy Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else, New
York: Basic Books, 2000; lihat pengujian yang dilakukan secara kritis oleh Timothy Mitchell, "The Work of Economics: How a Discipline Makes its World;” A rchives E uropeennes de Sociologie 46: 2 (2005}: 297-
- [19] Julia Elyachar, Markets of Dispossession: NGOs, Economic Development,and the State in Cairo, Chapel Hill, NC: Duke University Press, 2005.
Sumber: R
To The Urban Revolution halaman 3-26.
Pengalih Bahasa: wisnuprimason
Program, City University of New York, 2010.
Judul Asli: David Harvey (2012) The right of The City ebel Cities: From The of The City
, New York: Verso Books
EMMm
JL. MALIOBOI
Ue
Bangun Terus, Terus Bangun
Oleh: Dekong
ilm dokumenter yang berjudul “Belakang Hotel”
F(Watchdog:2015) merupakan
salah satu dari serangkaian film yang diproduksi oleh Watchdoc. Film ini berlatarkan kehidupan masyarakat urban di Yogyakarta, yang mana kota tersebut telah bertransformasi menjadi kota wisata dengan kearifan lokal sebagai komoditi utama yang ditawarkan kota ini. Selain menjadi kota wisata dengan kearifan lokal sebagai komoditi u t a m a, Y o g y a k a r t a p u n menawarkan wisata alam dengan gunung merapi dan sisa abu vulkaniknya. Dan, konsekuensi dari transformasi menjadi kota dengan daya Tarik wisata adalah pembangunan hotel yang semakin meningkat dan pesat untuk menopang wisatawan yang datang.
Dalam sepuluh tahun terakhir telah terjadi peningkatan kamar hotel, yakni dari 7237 unit kamar pada tahun 2003 dan naik menjadi
10.303 unit kamar. Dengan kata lain, sebanyak 3066 unit kamar telah dibangun dalam kurun waktu
dan terdapat 16 proposal pembangunan hotel/apartemen baru yang akan di bangun di Yogyakarta. Dengan demikian, ada sekitar 96 bangunan diatas 6 l a n t a i y a n g b e r d i r i d i Yogyakarta, yakni 55 yang sudah berdiri, 2 5 dalam tahap pembangunan, dan 16 dalam bentuk proposal.[1]
Memang secara ekonomis, hotel memberikan pajak atau pemasukan ke kas Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah atau APBD. Secara ekonomis menguntungkan, akan tetapi secara sosial memiliki dampak domino bagi masyarakat, mulai dari krisis air, penggusuran atas nama tata kelola kota atau e s t e t i k a k o t a, d a n tercerabutnya kehidupan warga dari ruang hidupnya. Karena, permasalahan agraria tidak hanya melulu perihal tanah atau sawah, melainkan suatu yang lebih luas, yakni ruang hidup. Berbicara mengenai Agraria mau tidak mau kita juga harus berbicara mengenai tanah, air, dan angkasa serta ruang hidup terbentuknya suatu masyarakat
| 10 tahun. | Berdasarkan | data | |
|---|---|---|---|
| Skyscarpercity forum Indonesia, sudah ada 55 bangunan bertingkat | |||
| diatas | 6 hingga | 18 lantai | di |
| Yogyakarta. | Selain | yang | telah |
| selesai | dibangun | atau | telah |
dengan sosial budayanya. Dan, salah satu fokus dari film “Belakang Hotel” adalah krisis air yang menimpa warga sekitar hotel yang terpapar oleh dampak dari pembangunan tersebut. berdiri, ada sekitar 25 bangunan bertingkat diatas 8 lantai yang masih dalam tahap pembangunan
Salah satu warga Miliran yang t e r p a p a r d a m p a k d a r i pembangunan tersebut, Dodok Putra Bangsa melakukan aksi mandi pasir di depan Fave Hotel, mandi pasir merupakan aksi simbolik yang dimana sumur- s u m u r w a r g a m e n g a l a m i kekeringan. Lebih lanjut, Dodok mengatakan bahwa warga harus memahami pembangunan hotel, akan tetapi hotel tidak memahami warga. Dengan kata lain, adanya sebuah kesalahan logika yang mana warga harus memahami dan menghormati kepentingan hotel tapi tidak sebaliknya. Lebih lanjut, pihak dari BLH (Badan Lingkungan Hidup) Yogyakarta mengatakan bahwa sumur warga yang kering diakibatkan oleh kemarau. Akan tetapi, warga yang telah tinggal berpuluh tahun tidak pernah mengalami kekeringan air di musim kemarin sebelum adanya pembangunan hotel. Bagi para p e n d u k u n g p e m b a n g u n a n, m e r e k a p e r c a y a b a h w a pembangunan adalah sebuah keniscayaan bagi manusia dan selalu berbanding lurus dengan ekonomi, tapi dampak-dampak social yang dihasilkan memiliki konsekuensi yang lebih besar. Dalam Artikel ini, saya akan membahas pembangunan secara umum.
Kota dan Pembangunan dalam narasi Kapitalisme
Pembangunan wilayah kota dan desa memiliki watak yang sangat berbeda, akan tetapi memiliki akar yang sama, yakni akumulasi modal. Dan, disetiap pembangunan akan selalu ada kelompok yang terpinggirkan. Jika di desa, para petani m e n j a d i k o r b a n d a r i pembangunan pabrik, tambang maupun alih fungsi sawah. Akumulasi primitif adalah proses historis pemisahanan produsen mandiri dari sarana-sarana produksinya (tanah) sehingga menjamin keberadaan golongan pekerja bebas dan pranata kerja upahan beserta pasarnya.[2] Dengan kata lain, akumulasi primitif─atau bahasa p o p u l e r n y a i a l a h l a n d grabbing─ adalah prasyarat pembangunan, yakni alih fungsi l a h a n p e r t a n i a n y a n g mengakibatkan para petani kehilangan alat produksinya. Lebih lanjut, perampasan- perampasan tanah didesa bertujuan untuk membangun sarana-sarana ekonomi rill, yakni Pabrik, Pertambangan, serta Hutan Tanaman Indsutri seperti kelapa sawit.
Dengan kata lain, desa dan kota memiliki sebuah relasi yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja atau mereduksikannya. Tanpa adanya desa, kota tidak akan memiliki pasokan pangan dan lain sebagainya. Dengan
demikian, pembangunan di desa dan kota memiliki sebuah relasi sosial yang tidak bisa hilangkan. Walaupun, secara abstrak relasi tersebut tidak kita rasakan. Sebaliknya dengan desa, kota memilki sebuah sejarah yang panjang dalam perkembangan manusia. Dulu, demokrasi lahir dari wilayah yang sangat kecil, yakni kota atau polis dan dalam beberapa literatur disebutkan bahwa demokrasi lahir di Athena yang notabenenya berstatus kota dan sering disebut sebagai “negara-kota”. Henri Lefebvre, dalam bukunya yang berjudul The Urban Revolution, mengatakan bahwa:
“The political city accompanies or closely follows the establishment of organized social life, agriculture, and the village. The political city was populated primarily by priests, warriors, princes, "nobles," and military leaders, but administrators and scribes were also present. The political city is inconceivable without writing: documents, laws, inventories, tax collection. It is completely given over to orders and decrees, to power”.[3]
Dengan kata lain, kota merupakan sebuah ruang dimana segala administrasi dan pemerintahan bekerja. Yakni, kota merupakan sebuah jantung dari sebuah pemerintahan yang mengatur
segala aktivitas ekonomi, sosial, politik dan hukum. Henry L efebvre mengungkapkan bahwa “the city prior to industrialization accelerates the process (in particular, it enables the rapid growth of productivity). The city has therefore played an important role in the take-off of industry.” [4] Maka dari itu kota merupakan jaring-jaring k a p i t a l i s m e d a l a m mengakumulasikan dirinya. Yakni sebagai ruang dimana barang-barang hasil produksi diditribusikan dan sebagai tempat perputaran uang. Karena, kota menjadi pusat perekonomian yang dimana perputaran uang begitu pesat d e n g a n a d a n y a m a l l, s u p e r m a r k e t, h o t e l, apartemen, arsitektur tua, museum atau dalam hal ini, kota menjadi tempat penyedia jasa. Selain jasa, sejarah dan budaya dari kota itu sendiri menjadi sebuah nilai-lebih dalam logika kapital dan menjadi nilai jual untuk menarik para wisatawan.
Seperti yang terjadi di Kota B a n du n g, ya n g h a ri in i pembangunan kota begitu massif. Tiap sudut kota dipoles s e d e m i k i a n r u p a d a n dipercantik untuk menarik wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Pembangunan
dengan dasar estetika merupakan dampak dari pembangunan jalan tol yang menghubungkan Bandung dan Jakarta serta jembatan pasopati yang menjadikan Kota Bandung sebagai tujuan wisata. Sejarah pun mencatat bahwa di Kota Bandung yakni Braga adalah pintu masuk pakaian-pakaian eropa dan menjadikan Bandung sebagai Paris Van Java. Dengan demikian, pembangunan hotel menjadi sangat fundamental ketika sejarah dan budaya menjadi nilai jual kota dalam menarik wisatawan dan untuk menambah uang kas APBD dengan begitu masifnya perputaran uang di dalam kota.
Konsekuensi atas konsekuensi
Berdasarkan pemaparan diatas bahwa pembangunan merupakan sebuah pedang bermata dua yang dimana memiliki dampak positif secara ekonomi dan dampak negatif secara sosial. Walaupun pembangunan desa dan kota sangatlah berbeda, akan tetapi adanya sebuah prakondisi yang sama, dimana konflik-konflik sosial baik di desa maupun kota terbentuk akibat perebutan agraria atau ruang hidup. Karena, agraria tidak hanya membahas perihal tanah maupun sumber daya alam yang terkandungnya. Melainkan, ada sebuah konteks sosial,sejarah, budaya, politik dan ekonomi didalam agraria atau
ruang hidup. Karena, agraria atau ruang hidup memiliki aspek Hak Asasi Manusia. Perampasan lahan atau ruang hidup merupakan sebuah prakondisi y a n g d i b e n t u k s e b e l u m pembangunan. Sehingga, ruang hidup menjadi pangkal dari konflik-konflik yang terjadi dan h i n g g a s a a t i n i b e l u m terselesaikan dengan baik.
Catatan
[1] Data angka di peroleh dari https://tirto.id/risiko-dan- nasib-buruk-pembangunan-hotel-di-yogyakarta-bkWg, di akses pada tanggal 20 Desember
- [2] Dede Mulyanto, Genealogi Kapitalisme: Antropologi dan E konomi P olitik P ranata Eksploitasi Kapitalistik, Resist Book, Yogyakarta, Januari 2012, Hlm. xiii. [3] Henri Lefebvre, penj. Robert B o n o n n o, T h e U r b a n Revolution. Minneapolis, USA. University of Minnesota Press,
- Hlm. 8. [4] Henri Lefebvre, penj. Eleonore Kofman dan Elizabeth Lebas, Writings on Cities. Massachusetts, USA.Blackwell Publishers Inc, 2000. Hlm 69.
| Referensi | Lefebvre, Henri. penj. Eleonore | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Kofman dan Elizabeth Lebas, | ||||||
| Kresna, Mawa. (2017 Juli). Resiko | W r i t i n g s | o n | C i t i e s. | |||
| dan Nasib Buruk Pembangunan | Massachusetts, USA. Blackwell | |||||
| Hotel di Yogyakarta. Di akses dari [https://tirto.id | Publishers](https://tirto.id | Publishers) Inc, 2000. Mulyanto, | Dede. | Genealogi | ||
| Lefebvre, | Henri. | Kapitalisme: Antropologi dan | ||||
| Bononno, The Urban Revolution. | E konomi | P olitik | P ranata | |||
| Minneapolis, USA. University of | Eksploitasi Kapitalistik, Resist | |||||
| Minnesota Press, 2003. | Book, Yogyakarta, Januari 2012. |
penj. Robert
Urbanisasi Kelas Pekerja Tiongkok
Oleh: Eli Friedman
iongkok punya beberapa masalah, meski tidak
Tterlepas dari rekor tiga
puluh lima tahun pertumbuhan ekonomi, tapi masalahnya adalah pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ketergantungan negara tersebut t e r h a d a p e k s p o r d a n pembangunan yang dipimpin oleh investasi telah mengakibatkan ketimpangan, rendahnya daya beli, investasi berlebih, hilangnya lahan subur, harga rumah yang selangit, dan bencana lingkungan yang tinggi. Hal ini membuat Tiongkok semakin rentan terhadap sejumlah krisis potensial : guncangan ekonomi eksternal, keruntuhan pasar perumahan, ketidak mampuan membayar hutang yang di gunakan untuk layanan publik dan kerusuhan sosial.
Lalu, apa yang bisa menjamin stabilitas kapitalisme Tiongkok bagi generasi berikutnya?
Bagi negara, sebagian besar jawabannya adalah urbanisasi. D alam Rencana U rbanisasi Nasional Baru yang baru dirilis (2014-2020), pemerintah pusat memerlukan lebih dari 100 juta orang untuk pindah ke kota pada tahun 2020, mendorong penduduk di perkotaan Tiongkok mencapai 60 persen. Rencana tersebut telah m
Oleh: Eli Friedman
enetapkan tujuannya yang mengagumkan seperti perluasan
perumahan umum, pendidikan, dan layanan kesehatan, pengurangan emisi karbon dan k e g i a t a n y a n g m e r u s a k lingkungan lainnya, dan pelestarian lahan pertanian.
Teori dari rencana tersebut a d a l a h u r b a n i s a s i a k a n mendorong peralihan layanan sosial berbasis ekonomi mengurangi sumber dayanya yang intensif sehingga akses yang lebih baik terhadap l a y a n a n s o s i a l a k a n memungkinkan bagi perluasan konsumsi domestik, dan bahwa pendidikan dan pelatihan di perkotaan akan menghasilkan peningkatan kapital-manusia, sehingga hal tersebut akan d a p a t m e n g u r a n g i ketidaksetaraan. Inisiatif ini merupakan bagian dari paket reformasi yang bertujuan untuk "menyeimbangkan kembali" ekonomi Tiongkok.
Namun harapan negara tersebut b a h w a u r b a n i s a s i a k a n m e n g a r a h p a d a b e n t u k kapitalisme yang lebih adil dan berkelanjutan kemungkinan tidak akan pernah terjadi. Pertama, meski semuanya berjalan sesuai rencana, masih akan ada warga kelas-dua dengan jumlah yang besar dan b e r g o l a k y a n g t i d a k diikutsertakan dalam pelayanan
sosial. Ini merupakan ancaman politik yang terus berlanjut.
Kedua, negara menganggap (dan harus menduga) bahwa solusi teknokratis untuk masalah yang ada adalah mungkin. Dengan mengesamping stabilitas politik, t i d a k m u n g k i n r a s a membayangkan bagaimana transisi yang mulus ke model akumulasi yang berbeda akan bisa t e r j a d i. B a y a n g k a n s a j a, misalnya, Keynesianisme abad kedua puluh tanpa gerakan buruh.
Partai Komunis ingin bisa menghasilkan dan memobilisasi tenaga kerja pada saat yang tepat ketika pasar membutuhkannya. Tapi tenaga kerja tidak akan pernah lepas dari sang pemiliknya; buruh, dan memindahkan orang sesuai dengan keinginan pasar dan negara pasti memerlukan penggusuran, perpecahan, dan gesekan sosial. Petani akan terus mengikuti jalan yang ditempuh dengan baik menuju kota kota, namun fantasi para biopower teknokratis yang mutakhir akan tetap seperti sebuah fantasi.
"Proses Sejarah Alam"
Keyakinan pelopor Partai Komunis Tiongkok abad ke-20 pada progress dipamerkan secara penuh
Oleh: Eli Friedman
dalam proklamasi tentang urbanisasi. Sebagai pembukaan
untuk Rencana Urbanisasi N a s i o n a l B a r u m e r e k a menyatakan bahwa "urbanisasi adalah ... proses sejarah alami penduduk pedesaan yang akan terkonsentrasi di dalam kota. Ini adalah tendensi obyektif perkembangan manusia, dan ini adalah simbol penting bagi modernisasi nasional. "
Bagi siapa saja yang telah melakukan perjalanan di kota-kota Beijing, Shanghai, atau G u a n g z h o u, s e p e r t i n y a Tiongkok telah menyelesaikan "proses sejarah alaminya." Kota-kota ini sangat terbebani skalanya yang besar, begitu padat dengan semua keajaiban dan kengerian kapitalisme kontemporer, bahwa proses urbanisasi telah melampaui sangat jauh imajinasinya sendiri.
P a d a k e n y a t a a n n y a, bagaimanapun juga, Tiongkok adalah sebuah prodak dari urbanisasi. Negara ini memiliki 270 j u t a k a u m m i g r a n pedesaan-ke-perkotaan, yang telah meninggalkan tempat tinggal mereka untuk bekerja di kota. Meskipun ini merupakan migrasi manusia terbesar dalam sejarah dunia, saat ini Tiongkok hanya memiliki lebih dari separuh penduduknya yang tinggal di kota-kota besar. Ini
adalah persentase yang lebih kecil dari penduduk kota di negara lain pada tingkat perkembangan ekonomi yang sama.
Hal Ini seharusnya tidak lah mengejutkan kebijakan negara ini sejak akhir 1 9 5 0 an telah d i r a n c a n g k h u s u s u n t u k mendemobilisasi tenaga kerja di pedesaan.
Alat yang paling penting dalam mengelola pergerakan manusia adalah hukou, atau sistem registrasi rumah tangga. Hukou adalah penghubung penyediaan layanan sosial, sehingga akses terhadap pendidikan, perumahan, perawatan kesehatan, dan pensiun bersubsidi, tidak akan d i j a m i n j i k a s e s e o r a n g meninggalkan kampung halaman mereka yang terdaftar secara resmi.
Transformasi kapitalis Tiongkok dilakukan di daerah perkotaan, yang berarti bahwa ratusan juta orang harus meninggalkan tempat pendaftaran hukou mereka untuk m e n d a p a t k a n p e k e r j a a n. Mendapatkan hukou di daerah perkotaan adalah sesuatu yang mungkin, namun pemerintah kota sendiri menetapkan syarat bagi m e r e k a y a n g i n g i n mendapatkannya. Hal ini telah m
Oleh: Eli Friedman
e n g h a s i l k a n r e z i m kependudukan yang bertingkat
secara spasial dimana kaum migran sering diserahkan sepenuhnya kepada kehendak pasar di wilayah di mana mereka bekerja.
D i bawah rencana baru tersebut, yang mereka sebut dengan "kota ekstra besar" dengan populasi lebih dari lima juta orang adalah untuk mempertahankan kontrol populasi yang ketat dengan t e r u s m e m b a t a s i a k s e s terhadap hukou lokal. Kota-kota ekstra besar ini, bukan kebetulan, adalah yang paling dinamis secara ekonomi dan menawarkan layanan sosial terbaik. Rencana tersebut membayangkan sebagian besar penduduk kota yang baru menetap di kota-kota dengan ukuran kecil dan menengah yang miskin dalam segala bidang dengan populasi kurang dari satu juta orang.
Jadi, kita mendapatkan metode urbanisasi yang pertama: d e n g a n m e l o n g g a r k a n persyaratan hukou di kota-kota dengan ukuran kecil dan menengah, harapannya adalah orang akan meninggalkan mimpi "m e g a c i t y" m e r e k a d a n menetap di di kota yang ukuranya setara dengan kota Omaha, Albany, atau Boise. Mereka mungkin bukan tempat
yang paling glamor, tapi setidaknya lokasinya dekat dengan rumah. Yang paling penting, kaum migran pedesaan- ke-perkotaan di kota-kota ini akan memiliki waktu lebih mudah untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah, menikmati perumahan dan perawatan kesehatan bersubsidi, mengakses dana pinjaman dan berbagai macam keuntungan lainnya.
Bahkan jika kualitas layanan sosial ini jauh lebih rendah daripada apa yang dapat dinikmati oleh penduduk Beijing atau Shanghai, kemungkinan sistem yang lebih baik dari sistem layanan ini berada di luar sistem yang di sediakan negara. Dengan menggantung w o r t e l y a n g p e n u h h a k kewarganegaraan, pemerintah menggunakan pendekatan yang relatif lepas-tangan untuk memindahkan manusia ke tempat yang spesifik pada waktu yang spesifik pula.
Metode kedua urbanisasi adalah metode yang lebih terkendali, sedikit pemaksaan, dan dipenuhi kekerasan. Dalam kasus ini, pemerintah dengan sengaja memindahkan orang-orang dari tanah ke pemukiman yang direncanakan olehnya, dengan ciri-ciri jalan yang lebar secara komersil,
Oleh: Eli Friedman
deretan blok apartemen yang menjemukan dan berharga
murah, dan ruang publik (mungkin "ruang negara" akan menjadi istilah yang lebih baik) dengan penghinaan yang luar biasa terhadap kemanusian.
Perkembangan ini ─beberapa di antaranya telah menjadi kota hantu, penuh dengan bangunan tapi tidak memiliki banyak penghuni─ dibangun dari bawah ke atas dengan tujuan membuat orang keluar dari daerah pedesaan. Pendekatan yang khas adalah meminta para petani menyerahkan hak tanah mereka dengan imbalan sebuah a p a r t e m e n g r a t i s a t a u bersubsidi di kota yang baru.
Meski implementasinya tidak merata, perkembangan ini juga seharusnya dilengkapi dengan layanan sosial seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan transportasi umum. Negara membayangkan ini sebagai proses win-win dimana petani diselamatkan dari kehidupan pedesaan yang "bodoh" dan berubah menjadi konsumen perkotaan yang "cerdas", sambil m e m b e b a s k a n l a h a n d i pedesaan yang kemudian dapat dikonsolidasikan untuk skala ekonomi yang lebih baik.
Proses urbanisasi yang disetujui secara resmi ditujukan untuk menarik "manusia bertalenta"
elit (istilah mereka) ke kota-kota yang elit. Meskipun kota-kota e k s t r a b e s a r s e h a r u s n y a mempertahankan kontrol populasi yang ketat, mereka didorong u n t u k m e m b a n g u n s i s t e m kewarganegaraan berbasis tempat tinggal dimana hukou dapat diberikan secara terbatas.
Agar bisa mendapatkan skema ini, pemohon tidak boleh memiliki catatan kriminal, dan tidak dapat m e l a n g g a r k e b i j a k a n pengendalian kelahiran (sering salah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "kebijakan satu anak"). Selain itu, mereka harus menyediakan bukti sewa, pembayaran asuransi sosial, dan kontrak kerja dari daerah mereka pada tahun-tahun sebelumnya.
Kesempatan untuk berhasilnya permohononan ini tergantung pada tingkat pendidikan mereka dan beberapa ketrampilan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan kapital lokal. lapangan pekerjaan di perusahaan milik negara atau sebagai pegawai negeri. Dan tidak ada salahnya untuk mengetahui bahwa hak-hak orang ini dan dengan bebasnya dihilangkan dari pemiliknya
Konsekuensi dari pendekatan multi-deret ini adalah untuk m
Oleh: Eli Friedman
e n c e g a h t e r j a d i overaccumulation terhadap
penyediaan layanan sosial bagi rakyatnya. Dengan adanya asimetri yang mencolok antara mobilitas modal dan tenaga kerja di Tiongkok pasca-sosialis, n e g a r a t e l a h m a m p u mewujudkan cita-cita yang tak pernah terbayangkan di sebagian besar negara. Tetapi bahkan dengan otoritas negara yang didedikasikan untuk proyek ini, tidak semua dari rencana ini berjalan sesuai rencana.
Struktur kelas baru
Masalah macam apa yang akan m u n c u l d a r i u r b a n i s a s i Tiongkok? Ada dua kategori umum: yang terpenting dari perspektif ekuitas, dan hal-hal yang penting bagi negara dan kapital.
S ehubungan dengan yang pertama, masalah pertama adalah lebih dari 200 juta orang akan tetap berada di luar tempat pendaftaran hukou mereka. Pada tahun 2020, negara berharap untuk memiliki 60 persen penduduk yang tinggal di kota-kota besar, namun hanya 45 persen dari mereka yang tinggal permanen. Jika angka-angka ini sebenarnya direalisasikan, ini akan m e n g a k i b a t k a n s e d i k i t penurunan atas " populasi
terapung." Tapi 200 juta orang tanpa jaminan akses terhadap layanan sosial hampir tidak terlalu penting.
Penawaran tanah-untuk-hukou telah menimbulkan masalah sosial yang utama, seperti yang selalu terjadi dalam proses akumulasi oleh kekerasan. M eskipun kebanyakan kaum migran tertarik untuk tinggal di daerah perkotaan, s e d i k i t y a n g b e r s e d i a menyerahkan hak tanah mereka ─ salah satu dari sisa terakhir pencapaian ekonomi negara- sosialis.
D e n g a n d e m i k i a n, t i d a k mengherankan bahwa ada perlawanan besar ketika negara mencoba untuk meminta tanah d e n g a n i m b a l a n s e b u a h apartemen di sebuah kota yang suram dan ekonomi stagnan yang bermunculan dalam semalam. Sebenarnya, perlawanan atas perampasan lahan di Tiongkok mungkin merupakan sumber kerusuhan sosial terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini, dan dalam beberapa kasus telah m e n y e b a b k a n k o n f r o n t a s i dimana-mana. Agar pendekatan ini berjalan terus, negara harus terus menggunakan kekerasan dalam skala yang luar biasa.
AkumulasiOleh: Eli Friedmanoleh kekerasan bukan hanya fenomena yang terjadi di
pedesaan, karena daerah pesisir-kota juga berada di bawah ancaman buldoser. P e m e r i n t a h t e l a h m e n g u m u m k a n a k a n menghabiskan 1 triliun yuan ($ 160 miliar) untuk membangun- ulang kawasan kumuh. Jika pengalaman adalah panduan b a g i m a s a d e p a n, p e m b a n g u n a n-u l a n g i n i s e b e n a r n y a t e r d i r i d a r i pembongkaran paksa dan relokasi untuk memberi jalan bagi para spekulasi real estat. Kaum miskin kota akan didorong lebih jauh ke pinggiran kota, bahkan akan menambah kesulitan dalam pekerjaan dan kehidupan sosial mereka.
R e n c a n a n e g a r a u n t u k menyalurkan orang ke kota-kota yang berukuran kecil dan menengah melalui reloksasi sebagai persyaratan hukou tentu akan memiliki efek tertentu, dan bahkan dapat mendorong pertumbuhan. Tapi dua masalah yang mendasar tetap akan ada.
Yang pertama adalah bahwa sebagian besar kaum migran saat ini tinggal di kota-kota ekstra besar yang sekarang ditugaskan untuk membatasi pertumbuhan penduduk dengan ketat. Mereka datang ke kota-kota ini karena model akumulasi
kapital Tiongkok sangat menyukai daerah perkotaan, dan ini adalah tempat di mana mereka bisa menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup.
N e g a r a i n g i n m e n g g e s e r pertumbuhan dari kota-kota besar ini sehingga orang-orang dapat bertahan hidup di kota-kota yang lebih kecil namun penyesuaian ini tidak dapat dijalankan dalam satu malam. Akibatnya, puluhan juta orang akan terjebak di antaranya (kota besar tempat tinggalnya dan kota kecil tempat bekerjanya), mereka hanya akan mampu mengakses kewarganegaraan penuh di tempat-tempat yang tidak memiliki pekerjaan yang cukup. Dengan demikian, arus migrasi yang besar akan berlanjut di luar rencana.
Masalah kedua adalah bahwa negara sekarang berusaha untuk memperkuat sistem yang sudah muncul dimana kota-kota yang paling sulit mendapatkan akses terhadapat layanan sosial adalah kota yang dimana pengeluaran layanan publiknyalah yang paling besar. Seorang penduduk Beijing dapat mengandalkan sekolah dan rumah sakit terbaik dan pensiun, dan anak-anak mereka menikmati keuntung besar karena dapat di terima di universitas setempat ─ yang,
Oleh: Eli Friedmanbukan kebetulan, adalah
universitas terbaik di negara ini.
Penduduk non-lokal dengan kesempatan terbaik untuk mendapatkan akses terhadap layanan publik Beijing kaya, memiliki pendidikan yang tinggi, dan terhubung dengan baik─ dengan kata lain, justru orang-orang yang paling membutuhkannya.
Para migran yang bekerja di pabrik atau lokasi konstruksi, sebagai pengasuh, pelayan, atau supir truk, tidak akan mengumpulkan cukup banyak poin untuk dianggap "manusia berbakat". Dari sudut pandang negara, tampaknya sangat masuk akal untuk menuntut orang menunjukan bukti kontrak kerja, sewa, dan pembayaran asuransi sosial beberapa tahun kebelakang.
Te t a p i p e r s y a r a t a n i n i mengecualikan semua pekerja informal, mereka yang tinggal di perumahan informal atau menghadapi pembongkaran paksa, dan mereka yang bekerja di tempat di mana perusahaan tidak membayar asuransi sosial mereka ─ dengan kata lain, hampir semua kelas pekerja. Dan orang-orang yang terlahir diluar kebijakan pengendalian kelahiran ─ "anak surplus"─ secara kategoris dikecualikan d a r i p e r t i m b a n g a n h a k
kewarganegaraan.
Untuk mengatasi hal ini, penduduk di pedesaan mungkin akan membuat perhitungan bahwa mereka harus menetap di kota regional yang lebih kecil. Bahkan setelah mendapatkan hukou lokal, orang-orang urban yang baru dicetak ini akan mengirim anak-anak mereka ke sekolah yang lebih r e n d a h d a n m e n d a p a t k a n perawatan kesehatan yang lebih buruk dan pensiun yang lebih kecil.
Untuk masuk ke universitas elit di Beijing dan Shanghai, anak-anak mereka perlu mendapatkan nilai ujian masuk yang jauh lebih tinggi daripada anak-anak penduduk setempat. Tidak ada jaminan bahwa mereka akan dapat memperoleh pekerjaan, dan jikapun mereka mendapatkannya, kemungkinan mereka akan dibayar lebih rendah. Implikasi u n t u k r e p r o d u k s i k e l a s antargenerasi sangat jelas.
Apakah ini akan berhasil?
Bahkan jika seseorang bersedia menerima hierarki sosio-spasial yang tidak sama, ada keraguan yang nyata apakah pola urbanisasi ini dapat memecahkan masalah yang dikenali negara ini. Sejauh usaha
Oleh: Eli Friedman
mereka untuk mengurangi k e t i d a k s e t a r a a n, a d a
kemungkinan yang agak jauh u n t u k m e n g a t a s i ketidaksetaraan regional. P e me ri n ta h pu sa t te la h mendistribusikan kembali dana ke daerah pedesaan dan bagian barat yang miskin selama lebih dari satu dekade sekarang, dan ada beberapa hasil penting.
Tapi tidak banyak yang menyarankan agar rencana urbanisasi akan melakukan apapun untuk mengatasi ketidaksetaraan kelas di tingkat n a s i o n a l. S e p e r t i y a n g disarankan di atas, sebenarnya cenderung diintensifkan.
Akankah rencana tersebut meningkatkan konsumsi dalam n e g e r i ? M u n g k i n, t a p i implementasinyalah yang akan menentukan. Alasan orang Cina memiliki tingkat tabungan yang tinggi secara historis adalah bahwa mereka menghadapi masa depan yang sangat tidak pasti. M eskipun rencana tersebut meminta akses yang diperluas terhadap layanan publik, namun tidak bisa m e n j a w a b m e n g e n a i pertanyaan berapa banyak uang yang akan diberikan oleh pemerintah pusat untuk mencapai tujuan ini. Mengingat bahwa sistem kesejahteraan s o s i a l s e b a g i a n b e s a r diserahkan ke tingkat kota,
pertanyaannya adalah apakah pemerintah daerah ini bersedia mendanai ekspansi besar untuk memasukkan kaum migran ke wilayahnya.
A kankah cakupan layanan kesehatan cukup memadai sehingga orang tidak selalu takut akan penyakit? Akankah pensiun cukup murah hati sehingga pekerja paruh baya tidak perlu khawatir mendukung orang tua mereka yang sudah tua? Di bidang spekulasi real estat yang merajalela, berapa banyak pendapatan orang yang harus dikhususkan untuk perumahan?
Ini adalah pertanyaan penting yang akan menentukan berapa banyak uang belanja yang dimiliki orang-orang urban baru. Dengan jumlah remeh yang telah dikhususkan untuk kesejahteraan sosial sejauh ini, ada banyak alasan untuk percaya bahwa orang akan terus menabung untuk menghadapi risiko di masa depan.
Terlebih lagi, ada kepentingan perkotaan yang penting dan kuat yang sangat diuntungkan dari upah rendah dan pasar real estat yang sedang booming. Sektor ekspor dan perusahaan konstruksi Tiongkok tak terbayangkan dalam bentuknya saat ini tanpa tekanan, p
Oleh: Eli Friedman
encurian, dan penghindaran pembayaran asuransi sosial.
Kelompok-kelompok kuat ini akan melakukan segalanya dalam kapasitas mereka untuk memastikan bahwa mereka tidak harus membayar harga penuh untuk tenaga kerja.
Ada juga sedikit bukti bahwa u s u l a n u r b a n i s a s i a k a n mengarah pada masa depan yang lebih berkelanjutan secara ekologis. Meskipun kota-kota di Tiongkok telah melakukan i n v e s t a s i t e r p u j i d a l a m transportasi umum, pembelian mobil terus meroket dan telah melampaui tingkat konsumsi mobil di Amerika Serikat. Ada sedikit alasan untuk percaya b a h w a k e c e n d e r u n g a n pemerintah daerah untuk menarik modal ─ termasuk varietas beracun nya secara ekologis─ akan berkurang oleh urbanisasi. Inovasi Ekonomi hijau yang mendorong dunia untuk bermimpi akan tetap berada dalam ranah fantasi untuk sebagian besar tempat.
Terlebih lagi, keinginan untuk meningkatkan konsumsi dan beralih ke mode akumulasi yang l e b i h e k o l o g i s s e c a r a fundamental bertentangan satu sama lain ─ bayangkan sebuah dunia di mana 1,4 miliar orang Tiongkok berbelanja seperti orang Amerika. Kemungkinan
pergeseran ciri-ciri tertentu dari krisis ekologis ke negara lain tetap ada, namun ini tidak memenuhi syarat sebagai solusi jangka panjang.
Akhirnya, nampaknya urbanisasi hanya akan meningkatkan kemungkinan kerusuhan yang meluas. Pengabaian kota dan p e d e s a a n a k a n t e r u s m e n i m b u l k a n p e r l a w a n a n kekerasan. Menkonsentrasikan para migran di ghetto ekonomi yang stagnan bukanlah resep untuk memenangkan kesetiaan mereka. Dan para migran yang mendapatkan hukou perkotaan lebih dekat ke rumah mungkin merasa kecewa dengan pelayanan publik yang jauh lebih rendah daripada rekan di kota-kota besar. S e b u a h " m a s y a r a k a t y a n g harmonis" tetap sulit dipahami oleh Partai Komunis Tiongkok
Neoliberalisme bertemu Stalinisme
Inti dari kontradiksi ini adalah
kita mungkin membayangkan urbanisasi pasca-S osialis sebagai sintesis aliran kapital neoliberal dan kontrol buruh ala Stalinis. Konsekuensinya adalah pertumbuhan eksplosif selama lebih dari satu generasi sementara jutaan kehidupan dan komunitas yang tak terhitung jumlahnya telah di bongkar.
h a l I n i m e n g u n g k a p k a n kekurangan utama dalam pemikiran liberal, yang berpendapat bahwa buruh yang merdeka secara formal adalah dasar dari pertumbuhan ekonomi yang sehat. Memang, kaum liberal di Tiongkok kontemporer merindukan hari di mana hirarki formal sistem hukou dapat digantikan oleh kebebasan di pasar dan menginformasikan dominasi modal.
P e n g a l a m a n T i o n g k o k menunjukkan bahwa bentuk kontrol dan hierarki pra-modern (atau negara-sosialis) tidak
| mobilitas | modal | di | atas | dan |
|---|---|---|---|---|
| bertentangan kerja. Asimetri ini, tentu saja, penting bagi ekspansi kapitalis secara global, namun tidak biasa | dengan | tenaga | ||
| perbedaannya negara tertentu (dan bila memang demikian, hal itu cenderung rasial | begitu | luas | di | |
| seperti | pada | sistem | apartheid |
h a n y a s e s u a i, n a m u n sebenarnya dapat memberikan kondusif bagi, ekspansi kapitalis. Jauh dari rongrongan bentuk ketidakadilan yang diwariskan dan berbasis status ini, kapital di Tiongkok telah memanfaatkan dan sangat diuntungkan dari hirarki sosio-
Oleh: Eli Friedman
Afrika Selatan atau Israel). Jadi,
spasial sebelumnya.
Dengan kata lain, sangat mungkin bahwa rezim kewarganegaraan yang berjenjang secara formal a k a n b e r k u r a n g d a l a m relevansinya dalam jangka m e n e n g a h s a m p a i j a n g k a panjang. Secara ekonomi, kapital telah menemukan bahwa dari hari k e h a r i a k a n s u l i t u n t u k menemukan tenaga kerja. Pembatasan hukou membuat kaum migran tidak mungkin tinggal secara permanen di tempat-tempat di mana telah terjadi akumulasi modal yang paling banyak. Menghilangkan a t a u m e n g u r a n g i ketidaksempurnaan pasar ini akan diperlukan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja Tiongkok yang terus-menerus terjadi.
Secara politis, diskriminasi formal c e n d e r u n g m e n i m b u l k a n ketidakpuasan. Sebagai bentuk dominasi, itu terlalu kasar, terlalu jelas. Kita sekarang menyaksikan sebuah usaha oleh negara untuk menggunakan alat otoriternya untuk menstabilkan struktur kelas yang baru, yang sebelumnya tidak dapat dilegitimasi oleh kekuatan pasar yang tak terlihat namun sekarang dapat di tertibkan oleh sebuah gada yang bernama hukou.
T
Oleh: Eli Friedman
idak banyak yang menyarankan bahwa negara pusat Tiongkok
memiliki kapasitas untuk m e w u j u d k a n b e n t u k kapitalisme yang lebih adil dan b e r k e l a n j u t a n y a n g diinginkannya. Visi urbanisasi negara ini selama enam tahun k e d e p a n m e n u n j u k k a n kekakuan struktur kelas dan kelanjutan atas kebijakan yang telah menyalurkan uang publik kepada elit. Bagian dari rencana yang mungkin menguntungkan orang-orang tanpa properti pasti akan menimbulkan perlawanan dari mereka yang memiliki kekuasaan. Dan kami tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka yang t e l a h m e n d a p a t b a n y a k keuntungan dari pengaturan yang ada akan dengan sukarela menyerahkan kontrol demi kelangsungan jangka panjang sistem ini
Pada akhirnya, mengatasi kepentingan yang mengakar a k a n m e m b u t u h k a n penggunaan kekuatan politik. Jika buruh-buruh di Tiongkok menginginkan hak atas kota, mereka harus merebutnya sendiri.
Judul Asli: The Urbanization of The Chinese Working Class. Sumber: Jacobinmag.com 10 Maret 2014. P e n g a l i h B a h a s a : Wisnuprimason
Terinjak di Kampung Kota:
Cerpen yang di tulis oleh individu bebas menceritakan bagaimana kegelisahan pemuda yang dihadapkan pada sebuah peristiwa yang tak pernah dia sangka sebelumnya.
Hak Atas Kota:
Di tulis oleh David Harvey yang bezrusaha mengurai apa hubungannya antara urbanisasi dan akumulasi kapital, menjadi penting untuk dibahas karena penggusuran, perampasan ruang hidup yang kita saksikan sehari-hari memiliki hubungan dengan proses urbanisasi dan proses akumulasi kapital.
Bangun Terus, Terus Bangun:
Penelitian singat, ringkas dan padat yang dilakukan oleh Dekong yang berusaha memaparkan dampak apa yang di berikan oleh rezim pembangunan di dalam kota terhadap warga miskin kota di dalamnya, dengan studi kasus pembangunan hotel dan apartemen di Jogja, kegelisahan intelektual yang di lampiaskan Dekong pada penelitiannya adalah sebuah tamparan genit kepada semua intelektual menara gading.
Urbanisasi Kelas Pekerja Tiongkok:
Paparan singkat yang di lakukan oleh Eli Friedman mengenai urbanisasi luar biasa yang dilakukan Tiongkok dan tentu saja efek mengerikannya yang ditangung oleh semua buruh, petani dan kaum miskin kota di Tiongkok di bawah panji Partai Komunis Tiongkok.
anti-copyright zine unit. surel kami di: cikudapapers.gmail.com