Problem in Capita
Manuskrip Puisi
Cumbu Sigil
Ditulis Cumbu Sigil selama pengasingan diri sekitar periode sebelum dan sesudah Reformasi 1998 dan dikumpulkan oleh Bonang.
Problem in Capita Cumbu Sigil
Diarsip dan didistribusikan ulang oleh Talas Press, 2023.
KITA BISA MATI
Lindas aku dengan tank kompi-kompi baja yang meraung tak kenal manusia.
Jika semua nalar bikin musnah, untuk apa kita harus percaya tentara?
Kubilang pada Bapak, aku tidak pulang. Jangan cari, jangan tunggu negara tak memberi apa-apa.
Kita dibuat lupa belum sampai mengerti kenapa di sekolah wajib hapal Pancasila.
Dan sebaik-baiknya lupa adalah tak berusaha mengingat. Sebab, kita bisa mati kapan saja, di mana saja.
ADEGAN, 4
Nyalakan api sedekat wajah, hisap lagi rokokmu dalam-dalam. Lempar puntungnya ke tengah jalan.
Bicara padaku sekarang, sebelum pagi tambah gerah. Waktu sedikit, tidak pernah banyak.
Karena aku mesti berkemas langsung minggat dari sini. Biar tak seorang pun gelisah, tak kuharap kau merana.
DI PINTU TEATER
Kudengar suara teriakan di atas panggung
tak lebih seram dibanding kenyataan.
Kututup pintu teater ini dengan segala kemunafikan
yang bisa kaupinjam juga dari orang-orang.
KE WARUNG BU FITRI
Utangku lagi kena tunggak. Setiap hari malu jadi orang tak punya.
Aku tidak seberapa, sejak lama pun meminta kepada sesama.
Kalau gelandangan tiada kehitung jumlahnya, tak kujamin Bu Fitri bahagia.
SEBUAH REST AREA
Suasananya gelap. Ini bis malam, katamu. Kau bisa mampus, pabila turun ke luar.
Panasnya diesel membakarlah kulit, di kolong bangku kita sembunyi.
Tahan kencingmu. Cengeng bukan di sini tempatnya.
AKU RASA SUDAH CUKUP
Tidak usah berpanjang lebar, kita lahir dan tumbuh di dekat kiamat.
Orang tua kita modalnya cuma napsu, bukan cinta.
Apa yang berhak kita beri harap selain mati-dilupakan?
ADEGAN, 7
Hampir lompat aku dari jembatan selagi kereta lewat di Jatinegara.
Aku mau jadi kerikil tanpa nama di rel yang pesing tak ada yang ziarah.
SEJARAH API
Teguk botolmu, habis isinya jadikan molotov.
CITA-CITA KEMATIAN
Angkut mayatku ke sebuah bukit baringkan sepuluh depa di bawahnya.
Atau bakar sekujur badan, tiup abunya ke lembah-lembah. Aku tak butuh nisan.
PROBLEM IN CAPITA
Yang terampas dariku bukan kewarasan.
Aku sudah lama gila tidak peduli orang-orang.
Karena seribu baris puisi seribu rayuan mati,
telah kutelan bulat-bulat di neraka para iblis.
REQUIM TERLARANG
Apa yang semestinya tidak aku tulis di sini: sebuah requim.
Maut punya riwayat milyaran tahun cahaya. Aku tak tahu kenapa.
Aku tak tahu kenapa bumi tercipta, dan kita hidup buat percuma.
KESAKSIAN HITAM
Di Klender, asap tinggi berkobar. Kusaksikan semua hangus menghitam.
Orang-orang histeris. Mereka tumpah berlari kuyup masuk gang.
Banyak perabot berserakan, sandal jepit hilang pemiliknya dan kemacetan.
Mereka terima kiamat sebuah negara yang disiram blanwir tak padam.
RUMAH SAKIT TJIPTO
Dengan infus diselang, aku sekarat. Ini ruang nyaris senyap. Bunyi air menetes dari kran yang kudengar.
Tak ada yang kukabari bahwa aku di sini sedari petang. Padahal semalam kami asyik teler di kontrakan.
Bonang, andai aku mampus duluan kumpulkan tulisanku. Rumah sakit ini bikin aku ingat kalian.
Titip salam, buat semua bajingan yang melawan.
BALAS SURATKU, HARINA
Fantasi, kita sebut demikian, muncul di momen yang menegangkan.
Ketika aku bertanya, dan kau tak memberi jawab.
Seringnya kita merasa pintar dan cukup berkata tidak pada banyak hal.
Kalau saja, kau menangkap maksudku. Kita mungkin bercinta.
ADEGAN, 9
Aku bayangkan kau tidur pulas selama-lamanya persis di sebelahku.
Pikiran semacam itulah yang kita mimpikan selama ini di kota biadad.
Lalu aku menyusulmu, dengan racun, sebutir peluru, setali gantung, atau segagang palu.
Tidak. Aku tak mampu membayangkan itu terjadi padamu.
BUAT A
Pada neon diskotek, aku kembali.
Kutemukan setoleh parasmu di sana, berpantul antara cermin kusam dan porselen sina.
Tapi kau tak benar-benar ada. Hanya kelebat. Seperti denting sloki pada marmer.
Di meja bar ini, dalam nois yang menggema kau sempat bertanya.
Bagaimana jika kita sekadar berpura-pura?
FLANEUR
Waktu gontai, aku berjalan. Setengah mabuk tanpa pegangan. Kota ini lautan zombi. Dan aku salah satu di antaranya.
BERSAMA KAWAN
—Kolektif Multatuli
Pabila nanti kita dirajam tentara, beri mawar setangkai kepada mereka.
Betapa harumnya dosa seanyir darah dan kita menumpahkannya.
SURAT UNTUK PAK HARTO
Aku tulis surat ini untukmu, Jenderal.
Semoga kau sehat di Cendana. Semoga kau disiksa di neraka.
Bersamaku pun, tidak apa-apa.
Sekian.
ADEGAN, 1
Setiap kali puisi ingin dibikin, aku merasa narsis.
Itulah yang amat kubenci darimu, juga dariku.
Tolong, jangan panggil aku penyair. Tidak penting.
DALAM PENGASINGAN
Naik bis sampai Karawang, hidupku dalam pelarian. Sudah kusurati beberapa kawan. Aku kelana selagi durhaka, menyamar diri, penista belaka.
ADEGAN, 5
Begini saja, kita sepakat untuk tidak bersama.
Kau ke kanan, aku ke kiri.
Selebihnya, kita lihat omong kosong bekerja.
SOLILOKUI
Apa yang semestinya tidak kita tulis?
Apa yang semestinya tidak kita katakan?
Puisi gagal dan kau sedang membacanya.
MORFINIS
Berikan aku sejarum nyawa di kepal tanganmu
pada jam-jam sakau, tak satu pun yang layak
kusembah.
DI TANAH USIRAN
Pantas, sudah sepantasnya kita berseberangan.
Habibie, kau tak sepadan.
DIAGNOSA
Kata dokter, aku wajib istirahat.
Tidak boleh aktivitas.
Kecuali makan dan tidur.
Menulis catatan harian, itu pun yang ringan-ringan.
Puisi dan hasutan tidak termasuk.
FRAGMEN
[…]
Hingga pada akhirnya, kita berpisah. Dan kata-kata entah apa gunanya.
TENTANG PENYAIR
Cumbu Sigil (1964–2004) lahir di Jakarta, tempat ia hidup dan bekerja sepanjang hidupnya. Hidup dalam kemelaratan sedari kecil, di rumah susun yang terletak di daerah Petamburan Jakarta Pusat, ia banyak menghabiskan waktunya menemani orangtuanya mengais rezeki agar ia dapat terus melanjutkan sekolah. Ia adalah satu-satunya, dari kelima bersaudara yang berhasil masuk ke Universitas. Lulus dengan gelar Sarjana Sastra di Universitas Indonesia pada tahun 1985, dengan keter- tarikan yang menggebu-gebu terhadap dunia seni dan sastra secara general, ia lalu memutuskan untuk bekerja menjadi seorang pengajar di sebuah SMP Negeri yang le- taknya tidak jauh dari rumah kontrakannya di Jakarta Selatan. Di sekitaran tahun 1988, ia meninggalkan karirnya sebagai seorang pengajar bahasa, dan lalu beralih menjadi seorang supir taksi. Semua disebabkan oleh pe- nolakannya yang gigih untuk tetap tidak menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia dalam kesehariannya, bahkan untuk keperluan-keperluan administratif sekali- pun. “Saya cuma nggak kepingin bahasa Indonesia jadi cemburu, gara-gara saya pakai bahasa lain.” ujarnya dalam salah satu surat balasan korespondensi dengan Elvira Dumas, seorang seniman kontemporer asal Bandung, yang juga merupakan kekasih gelapnya.
Karirnya menjadi supir taksi pun tidak berlangsung lama. Kecelakaan fatal dan tragis yang menimpa dirinya, dan juga menyebabkan dua korban jiwa, meninggalkan fobia dan trauma yang tak akan pernah hilang sepanjang masa hidupnya. Ia menghabiskan sisa hidupnya men- jajahi pekerjaan-pekerjaan sampingan sebagai penjaga
keamanan gedung-gedung kantor dan pabrik di daerah Sudirman dan Karawang. Dalam periode inilah, saat ia mempunyai banyak sekali waktu senggang, ia menjadi penulis aktif yang prolifik. Pada tahun 2004, dikarenakan depresi, dan obsesinya terhadap Hai Zi dan penyair-penyair menglong lainnya, ia membunuh seorang pemu- lung naas, sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri di atas rel kereta api, tepat di usianya yang ke 40. Di dalam tasnya ditemukan sekumpulan kertas yang penuh dengan coretan dan tulisan yang tak terbaca, nota-nota belanja, serta buku “The Waves” karya Virginia Woolf, dan kumpulan puisi dari penyair dan penulis asal Peru, César Vallejo.