Baca PDF (OCR): Di Atas Kubah

88 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 129 ms

Daftar isi
  1. Renzo Novatore DI ATAS KUBAH
  2. “Aku seorang penyair sesat! Akulah penyairmu!”
  3. PRELUDE
  4. PUISI KEJAHATAN
  5. VIII
  6. PELUKAN TRAGIS
  7. VAMPIR PIRANG
  8. KEKASIH IBLIS
  9. MONSTER MALAM
  10. TENTANG PENERJEMAH

Renzo Novatore DI ATAS KUBAH

Diterjemahkan oleh Rifki Syarani Fachry

Di Atas Kubah Renzo Novatore

Diterjemahkan dari Above the Arch (Little Black Cart, 2023).

Penerjemah: Rifki Syarani Fachry Penyunting: Panji Kumbara Penata isi: Aji Ardiansah Desain sampul: Anon

11x16cm, 88 Halaman

Diterbitkan di Indonesia oleh Talas Press, 2023.

E-mail: [email protected] Instagram: @talaspress

DAFTAR ISI
Prelude 5
Puisi Kejahatan 7
Pelukan Tragis 19
Vampir Pirang 51
Kekasih Iblis 66
Monster Malam 77
Tentang Penerjemah 88

“Aku seorang penyair sesat! Akulah penyairmu!”

–Novatore

PRELUDE

Makhluk cahaya yang menari di kenyataan terterik dari matahari. Rasa takut yang gigil berkelebat bak anak panah di malam hitam. Suara-suara misterius yang bergetar dan berdenyut di ruang tak terjamah, amat jauh; dan dekat, dekat, dekat. Air mata, senyuman, kebahagiaan, kesedihan, harapan... * Hidup adalah totalitas yang terbuat dari Segalanya dan Ketiadaan. Kebenaran dan Ilusi memiliki nilai yang sama dalam kenyataan. Kebahagiaan adalah larva abadi, bayangan yang kabur dan manusia buru ke Kematian. * Aku pun berjalan perlahan, perlahan di balik bayangan yang kabur. Namun kusadar dan kuyakin mustahil bagiku menggapainya.

Kau yang belum memahami kepahlawanan tragis dari keputusasaanku yang besar nan agung, belajarlah membuka matamu di tengah panah-panah api dari matahari. * Aku telah melihat banyak Penyendiri yang menyusuri jalan Keheningan. Di antara manusia, ialah yang paling kukagumi. Aku mengenal perasaan mereka yang halus, unggul dan berbeda, dan kutahu bahwa buah-buahan yang mereka kunyah adalah yang termanis dan terlembut. * Ada yang berkata bahwa merekalah yang akan menjadi orang-orang masa depan; tapi aku kadung percaya bahwa mereka adalah pengecualian abadi dalam takdir. Selama ribuan abad sinar matahari yang agung telah menyinari Bumi yang mulia ini, namun reptil, rawa, dan lumpur masih menjalani kehidupan mereka yang bodoh.

PUISI KEJAHATAN

“Sebenarnya aku berkata kepadamu bahwa kejahatan masih ada di masa depan; namun siang hari terterik belum ditemukan.” — Friedrich Nietzsche

I Aku ingat! Berita itu sampai padaku setelah pesta dansa kemenangan di siang hari yang meriah. Saat itu matahari hampir terbenam. Matahari mulai tenggelam di tengah pusaran lautan berdarah, beriak di antara puncak merapi raksasa. Sungguh senja yang tragis, epik, dan gelisah! Berita itu datang kepadaku begitu dingin, sinis, terus menerus... “Dihukum mati!” Tapi bagaimana caranya?! Dihukum mati? Tapi jika sepanjang hari di langit matahari dan cahaya sibuk menari...

Tapi jika sepanjang hari di bumi ada perayaan ajaib aroma dan bunga, musik dan puisi... “Dihukum mati!” Tapi untuk apa? Perintah siapa? Siapa kuasa membunuhku? Negara? Masyarakat? Kemanusiaan? Aku melihat ke dalam jiwa manusia. Aku ingin melihat kebenaran batin mereka. Banyak yang bertepuk tangan, ada pula yang diam tak peduli. Hanya sedikit, sangat sedikit, yang menangis. Tapi mereka yang menangis, bukan haru karena solidaritas, karena persahabatan, karena rasa kemanusiaan. Tidak, mereka menangis karena hal lain... Aku sendirian. Sendirian dengan kematian! Tapi hidup itu indah. Cantik, elok! Segala sesuatu di sekitarku tersenyum... “Dihukum mati!” Tapi aku masih belum membunuh orang yang kucintai, dan hanya orang yang menolak kehidupan lah yang layak mati... Tapi aku? Aku mencintai Kehidupan!

Siapa yang berhak membunuh orang yang tak ingin mati? Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling. Sebentar lagi malam akan tiba dan bintang-bintang akan kembali... Belum pernah seluruh alam semesta terlihat di mataku. Aku membuka mulutku dan dengan rakus meneguk udara seolah-olah itu mengandung suatu kebajikan asing. Lalu aku meneguk sinar terakhir matahari pirang itu seolah-olah itu adalah gelas anggur merah. Tatapan dalam dari seorang gadis berambut gelap yang melewat ke sampingku saat senja yang melankolis telah memberiku rahasia teraneh dari cinta yang dalam dan tak kukenal. Dihukum mati!? Aku mendengar bunyi gedebuk pelan di kedalaman bawah tanah, lalu cibiran iblis yang kejam dan mengejek! Siapa? Siapa yang akan memahami cibiran kejam dan iblis itu? Ah! teman, teman!

II Nabi Zarathustra memberitahuku, “Masih ada tanah yang merdeka dan perawan, bagi jiwa-jiwa yang bebas dan hebat!” Aku meninggalkan kota yang penuh dengan orang-orang tak berguna, orang-orang pengecut, meninggalkan kota saudara-saudari bangsatku, dan aku terbang–dengan rambut yang dielus sinar matahari dan angin–menuju hutan perawan yang jauh, penuh akan keheningan tanpa akhir dan kesunyian misterius. Aku telah tiba! Hutan luas nan murah hati menyambutku di tengah kehijauan dedaunannya yang meriah. Di sana-sini Bayangan berkuasa, saudari dari Keheningan yang berdaulat. Hanya gumaman musik sungai kecil memenuhi hutan dengan ribuan suara liris yang menyusun misteri harmonis lagu aneh yang dikuduskan bagi jiwa pecinta kekuatan barbar dari Cinta sejati. Aku berbaring telentang di atas sejadah lumut hijau yang disulam dari rumput dan bunga.

Seluruh tubuhku melebar dan membenamkan dirinya ke dalam perut tanah yang lembab dan lembut. Dagingku bergetar, hatiku menangis dan tertawa sesekai, dengan kaki yang bercahaya, jiwaku menari di atas bunga-bunga putih yang diciumi bibir perak sinar terakhir yang sekarat.

III Aku berpikir: Aku akhirnya menemukan rumahku lagi. Pohon-pohon dan bunga-bunga ini benar-benar satu-satunya saudaraku yang unik dan sejati. Hutan ini adalah ibuku. Aku tergerak, kuciumi tempat tidurku yang terbuat dari lumut, seperti seseorang mencium rahim subur seorang ibu; Aku mencium bunga-bunga itu seperti seseorang menciumi wajah saudaranya; dan aku mencium dahan-dahan pohon yang rindang dan menggantung itu seperti seseorang menciumi tangan mungil seputih bunga bakung milik kekasih paling manis dan lembut.

IV Matahari telah sepenuhnya lenyap ke jurang malam. Di atas makamnya, sang Bintang, Kegelapan menyanyikan himne kemenangan burung hantu. Aeolus telah bangkit dari rumah Misteri dan mengembara tanpa terlihat melewati hutan besar sambil memainkan simfoni aneh dan mengharukan dari kecapi besarnya. Mendengar suara Aeolus, bunga-bunga mulai menari. Mereka menari, liar dan ilahi, gila dan penuh gairah. Kumpulan bintang awal yang berkeliaran di ketinggian biru langit memberkati legenda cinta mereka yang paling manis dan lugu.

V Aku berpikir: embun bening keperakan yang akan menimpaku di malam hari bersama aliran air mata yang melankolis akan menjadi baptisan yang aneh dan mengharukan dalam perjalananku menuju kehidupan baru: itu akan menjadi antologi penebusan terpenting dan tertinggiku Aku akhirnya akan terbebas dari sisa-sisa kemanusiaan bodoh dan brutal yang tersisa dalam diriku. Esok ketika Fajar akan datang

untuk menanam ciumannya yang murni dan suci di dahiku yang masih muda dan dianggap keliru, untuk pertama kalinya, tanpa tersipu malu, aku akan mampu memanggil teman dan saudara perempuannya. Ya: Aku akan memanggilnya—Teman dan Saudari! Dan dia akan tersenyum padaku dengan senyuman yang baru dan penuh kebahagiaan, dan aku akan dengan rakus meneguk seluruh musik manis, hebat, dan tak terbatas dari senyumannya! Dan Hidupku, Hidupku yang sebenarnya, baru akan dimulai esok hari ketika aku terbangun, sekuntum bunga di antara bunga-bunga lain di tengah pesta liris aroma perawan kita secara aneh berubah menjadi keajaiban yang berdebar-debar dari senyuman cahaya yang lebar.

VI Malam begitu tinggi dan dalam. Bulan membenamkan tangannya yang pucat, yang disulam dari sinar putih keperakan, ke dalam air jernih sungai sunyi yang mengalir di

Hutan ke dasar sungai yang keras dan berbatu. Aku bermimpi!... Dan dalam mimpi itu bidadari telanjang bangkit dari gua terdekat untuk berbaring diam di sisiku, sementara Muse halus yang memegang tongkat kerajaan turun dari puncak cahaya nan jauh untuk memberi kami secangkir zamrud penuh Nektar manis, dan kerudung ungu yang dilukis dengan bintang emas.

VII Aku berpikir: esok orang-orang yang buta dan bodoh akan tetap mencariku tapi itu sia-sia... Aku akan tetap hidup, aku akan tetap mencintai, tapi dengan kehidupan, cinta, lagu yang banyak orang tak mengerti... Bagaimana mereka bisa memahamiku saat aku bukan lagi bagian dari spesies mereka?

VIII

Saat aku terbangun, hari sedang tinggi karena matahari di ubun menyanyikan lagu yang berkobar.

Keindahan mimpi lirisku yang terlalu rapuh lenyap! Kemarahan hebat yang kurasakan saat masih menjadi seorang laki-laki membuatku gila. Dan dengan kegilaan datanglah kegelapan. Dan di dalam kegelapan, kegilaanku melihat sekumpulan hantu spektral yang jahat... Sepertinya aku sedang berbaring telentang di atas ranjang kasar dan berduri yang terbuat dari cucuk kering. Di sampingku ada cangkir hitam berisi cairan hijau pahit yang harus kutelan dalam diam. Mayat seorang wanita cacat penderita kusta yang busuk dan mengerikan tergeletak di sampingku, dan aku dikutuk untuk menikahi bangkai busuk itu... Tidak ada lagi bunga seputih salju, tidak ada lagi dedaunan yang meriah, kecuali gurun yang suram dan menakutkan, yang hancur karena angin, yang terbakar matahari. Siapa? siapa yang kemudian menghancurkan impian penyairku yang aneh dan liris?

IX Sepertinya aku masih harus mengembara untuk waktu yang lama, melewati jalan kota

paling menyedihkan, kota menyedihkan yang menjadi rumah bagi makhluk Yesus sang Penebus yang buruk dan cacat. Aku–sebagai Raja Oedipus–buta dan terkutuk, karena seperti halnya dia, aku telah memecahkan teka-teki rahasia Sphinx...

X Seorang sinis yang heroik, yang tinggal di dalam diriku berkata kepadaku: “Inilah akhirnya!” Aku menjawab: “Ya!” Aku berjalan menuju kuil Kematian yang khusyuk. Gerbang suram dari perunggu hitam yang ditutup. Aku ketuk; pukulan itu bergemuruh menakutkan, menjawabku dengan gema yang kelam dan suram. Pada saat itulah, dalam kegelapan jiwaku yang paling dalam, tawa kelam yang menyeramkan pecah sekeras deras arus air, bagaikan deru angin yang menampar- nampar. “Pangeran Kegelapan” telah terbangun lebih muda dan lebih indah di dalam labirin

terdalam dari keberadaanku, dan dia tertawa dan terbahak... Dia memberitahuku: Kita berdua, hanya kau dan aku. Lihat?! Dan sambil berkata demikian, dia menunjukkan kepadaku sebuah buku yang indah dan mengerikan. “Puisi Kejahatan.” Pada sampul yang terbuat dari kulit ular hitam, tampak gambar Mephistopheles yang menakjubkan di tengah kobaran api merah. Dia membuka buku itu ke halaman pertama, membuat isyarat dengan tangan hitamnya ke arah langit dan seluruh bumi bersinar dengan rona kemerahan. Semua tempat gelap yang menyesaki kepala malang dan sakitku dengan kebisingan yang menyeramkan diubah menjadi beragam tempat ceria, mengagumkan, jernih, dan penuh tawa.

XI Sejak hari itu, aku memberi makan diriku dengan buah-buahan yang tumbuh rimbun dan penuh kemenangan dari taman kesesatan dan dosa yang agung. Aku menghangatkan diri di bawah sinar matahari Kebebasan yang

agung, yang memancarkan Kejahatan, sambil terus mempelajari dan mempelajari–dari dalam Puisi Kejahatan yang Setan tulis– kekuatan terdalam dari “Dewa Kehidupan” yang muda. Kehidupan yang dijalin dari Sukacita dan Tawa. Kekuatan yang ditenun dari Penghinaan dan Cemoohan. Orang-orang tua kurus dengan kebijaksanaan kuno dan modern terus berseru: Singkirkan Setan dari belakangku! Masa muda, masa mudaku, majulah!

PELUKAN TRAGIS

“Dan begitu kuatnya cinta sang Iblis, hingga sang Dewi terbakar oleh ciumannya” —Oscar Wilde

Ada saat dalam hidupku ketika aku berjalan dengan langit di mataku dan Tuhan di hatiku... Lalu aku melihat seorang saudara dalam diri setiap pria, dan setiap gemerisi dedaunan berbisik kepadaku: cinta! Suatu malam, ketika berjalan di hutan Arhan tua yang kaya dan dermawan, aku bertemu seorang petapa murah hati yang bertelanjang kaki dan mengenakan tunik merah. Dia memiliki janggut perak panjang, dan rambut putih lembut seperti wol basah. Dari matanya yang mistis dan asketis seorang nabi, muncul cahaya yang sangat aneh, dan dari wajahnya yang lebar dan berwarna pucat gading akan mengilhami rasa percaya dan

bukan rasa takut bagi siapa pun yang memandangnya. Pertama kali aku melewatinya, aku melihatnya tenggelam dalam renungan batin yang hening, begitu dalam sehingga dia bahkan tidak memperhatikanku... Aku sudah lama mendengar tentang dirinya, tapi aku belum pernah melihatnya. Aku mendekati tepian sungai hijau yang dipenuhi bunga-bunga, yang mengalir dari dalam kanan hutan, tapi rasa penasaran yang membara segera membuatku kembali pada langkahku... Aku kembali bertemu dengan Pertapa tua, ia memegang dahan pohon myrtle hijau di tangannya sambil memakan buahnya yang hitam, keras dan pahit... Beliau berkata kepadaku: Sudah dekat matahari terbenam, anakku, mengapa kau belum shalat? Tapi–kataku terbata-bata–kenapa aku harus berdoa? Bagaimana—sang nabi mulai berkata— mungkin kau mengabaikan keberadaan Tuhan?

Dan ketika dia berbicara kepadaku seperti ini, aku melihat pancaran rasa iba yang tulus keluar di matanya, bagiku itu tampak begitu manis dan dalam. Aku mencoba untuk bicara, mengatakan sesuatu, tak ada apa-apa, aku tak tahu; tapi dia melipat tangannya dan terus berkata begini: Bagaimana bisa seseorang mengabaikan pencipta langit dan bumi, matahari dan bintang, manusia dan hewan bunga dan hutan? Bagaimana bisa seseorang mengabaikan pencipta segala kemegahan ini? Dan sambil mengatakan hal itu, sang pertapa tua meletakkan tangannya yang pucat dan kurus ke bahuku. Matanya yang bercahaya penuh semangat menatap mataku, dan dia berbicara kepadaku penuh antusias untuk memperkenalkanku lebih jauh ke dalam misteri Tuhan dan cinta ilahi. Dan pada malam itulah aku mulai berjalan dengan surga di mataku dan Tuhan di hatiku. * Nabi tua itu telah menaklukkan masa remajaku dengan imannya. Dengan terampil menyembunyikan kisah mengerikan tentang Cain dan Abel dariku, dia mengajariku untuk

melihat gambaran sempurnaku pada semua pria, begitu banyak saudara lelakiku... Setiap sore, menjelang matahari tenggelam, aku kembali ke hutan Arhan yang dermawan, di mana aku selalu berjumpa Pertapa tua yang berbicara kepadaku tentang Tuhan... Perhatikanlah alam–begitu sering dia berkata demikian kepadaku–itu adalah kitab suci Tuhan yang berisi segala misteri kebesaran. Dan aku mendengarkannya dengan haru dan gembira, setiap kali dia mengatakan itu kepadaku. Suatu sore ketika keheningan menyelimuti hutan dan matahari yang sekarat perlahan- lahan mati di cakrawala menggoreskan sinar emasnya yang pucat dan melankolis ke dedaunan hijau pepohonan, Petapa tua memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya dan menatap mataku dengan pandangan yang lebih baru dan lebih asing lagi bagiku. Keramahan yang asing, semuanya memucat dan gemetar ketika dia berbicara kepadaku: Oh anakku, anakku, tugasku telah selesai. Inilah keajaibannya, inilah keajaibannya... Wahai remaja pucat, sekarang dapat kulihat cahaya ilahi inspirasi bersinar

di matamu. Tugasku tamat. Kau telah memiliki pengetahuan sempurna tentang Tuhan. Aku melihat itu bersinar di matamu yang besar dan penuh inspirasi: nyala api keabadian yang sakral dan mistis. Kau akan segera memiliki cinta yang sempurna, dan bagimu takkan ada lagi matahari terbit berwarna merah terang, atau matahari tenggelam keemasan, melainkan cahaya abadi, siang hari yang abadi di bawah matahari. * Malam itu, aku tak kembali ke rumah. Aku gentawangan sepanjang malam hingga subuh di bawah kubah langit, di tengah aroma bunga cinta dan pedesaan. Ketika aku kembali ke kamar kecilku untuk beristirahat, aku terhuyung-huyung, mabuk oleh mimpi dan bintang. Aku berbaring, berdoa untuk tidur yang lelap, tapi tidur tak kunjung datang... Nyanyian misterius yang tak kukenal bergema di jiwaku seperti refrein ilahiah. Tuhan, Tuhan, Tuhan! kata suara-suara itu. Tidur pun tiba!...

Tapi dalam tidurku, aku bermimpi.....
Aku memimpikan langit perak dan keemasan terhampar, singgasana dari bebatuan kecil yang sangat besar, altar safir dan zamrud yang besar, di atasnya; dan di atas singgasana dan altar itu aku melihat Tuhan, hanya Tuhan. * Orang-orang menjulukiku “orang gila”; ibuku memanggilku “orang gila,” ayahku tidak peduli padaku, dan teman-temanku berbicara tentangku dengan sarkasme dan ironi, dengan nada mencemooh memanggilku: “penyair.” Hanya bibi tuaku yang gila yang memanggilku: “orang suci.” Dan aku, demi Tuhan, menginginkan sedikit lebih banyak lagi orang-orang sepertinya. * Suatu hari, ketika sedang berjalan di tepi sungai terpencil yang cerah, aku menemukan—di balik pagar mawar liar, di balik bayang-bayang tempat seseorang beristirahat, karena rerumputan masih menyimpan kesannya—sebuah buku besar bersampul kulit, yang ditulis dalam bahasa

asing, pada sampulnya, dengan karakter emas dan berapi-api, semboyan ini ditulis dalam bahasa Latin: “Orang yang tak pernah melanggar hukum suci Tuhannya sekali pun, dia tak pantas untuk mencintainya; tetapi siapa pun yang melanggar hukum suci Tuhannya, dia akan membunuh dirinya sendiri untuk pertama kalinya atau membunuh Tuhannya selamanya.” Aku tak mengerti kenapa, tapi kuingat semboyan Latin yang panjang itu, yang tertulis dengan karakter emas dan berapi-api di punggung buku hitam besar yang ditulis dalam bahasa asing itu, telah memberiku kesan tentang sebuah kewajiban yang hampir bersifat kategoris, sebuah perintah yang hebat, dan kebenaran abadi! Rasanya aku mendengar gemuruh tangisan seribu orang yang karam dalam jiwaku, dan merasakan derak nyala api dari seratus api unggun dalam hatiku. Aku berlari ke rumah bibi tuaku yang gila dan menunjukkan padanya buku mengerikan yang ditulis dalam bahasa asing itu, dengan

semboyan Latin panjang tertulis di punggung hitamnya. Bibiku melihatnya, tapi ia tak berkata apa pun kepadaku... Aku hanya ingat dia menangis! Aku merasa fondasi imanku mulai goyah. Beberapa peristiwa baru akan terjadi padaku Aku berlari ke hutan Arhan yang dermawan, mencari Pertapa tua. Aku menemukannya tersembunyi di bawah semak pohon salam besar dengan putri kulit putih Arhan, yang telanjang, dalam pelukannya. Wahai putri Arhan yang berambut pirang – kata Pertapa tua kepadanya – kau telah mengalahkan kesucianku dan telah membawaku ke dalam dosa. Aku ingin mengilhamimu dan menyasarkanmu ke dalam misteri suci cinta ilahi yang agung, tetapi kau telah menaklukkanku dengan cinta manusia. Dan ketika dia berbicara kepadanya dengan cara itu, aku melihat tangannya yang tua, pucat, kurus, dan gemetar mengelus rambut

tipis lembut tubuh muda itu yang penuh kegairahan dan aroma. Aku seperti melihat langit hancur, dan aku larut dalam kobaran api, dan bumi tenggelam ke dalam jurang belerang yang begitu besar. Bagiku, seluruh alam semesta terlihat seperti kubangan darah dan api yang mengerikan. Merupakan sebuah anugerah dapat merasakan daging jiwa terbakar selama- lamanya, setelah kumampu menikmati ketelanjangan pucat dan aromatik dari tubuh ilahimu yang indah untuk sesaat—nabi tua berkata kepada putri pirang Arhan, sambil dia, dengan mata jahat setengah tertutup, membelai janggut perak panjangnya. Aku terjatuh ke tanah dalam keadaan pingsan, dan waktu telah berlalu begitu saja! * Ketika aku sadar, matahari telah tenggelam, dan buku hitam itu tergeletak di dekatku dalam lautan wangi berwarna biru tua yang rapuh. Aku merasa kehilangan hari ini, merasa tak memiliki masa lalu dan masa depan,

sendirian, dengan kesedihan dalam jiwaku, tanpa senyuman dan harapan. Aku bangkit dan melihat sekeliling di bawah semak pohon salam yang hijau. Putri pirang Arhan sudah pergi, dan nabi itu tertidur! Aku mengambil bukuku, menghampirinya dan membangunkannya... Buku apa yang kau sembunyikan di bawah lenganmu? — dia bertanya kepadaku ketika dia terbangun... Dalam diam, aku menyerahkan kepadanya buku aneh itu, yang ditulis dalam bahasa asing, dengan semboyan Latin panjang tertulis di punggungnya... Getaran panjang kesedihan dan duka memutar otot-otot wajahnya yang pucat dan gading, dan matanya yang bercahaya itu hampir padam... Ini–berkata dia kepadaku–adalah buku Iblis. Itu adalah buku terkutuk. Ini berisi Injil sebuah agama rahasia, yang dipraktikkan oleh sekelompok gipsi gelap dan jahat yang berkeliaran di Timur. Buku ini harus segera dibakar dan abunya dibuang ke dalam gua... Kemudian dia menatap mataku dan memberi isyarat dengan rasa takut dan teror yang tak

terkatakan; dia berteriak dan berkata kepadaku: Waktuku telah tiba, aku melihat di matamu roh Cain yang suram dan berdarah. Sebagai seorang murid, kau mencintaiku, tetapi sebagai seorang saudara kau akan membunuhku; namun ada tertulis: jangan membunuh!... Aku menjawab: Siapa pun yang serius menatap saudaranya takkan dapat melihat bayangannya sendiri. Dan aku menambahkan: Seorang penyair kehidupan yang hebat akan meneguk habis air dari cawan kesenangan dan kesakitan sampai tetes terakhir, dan menyatakan: Kita semua dalam hidup ini telah melenyapkan dan membunuh; ada yang membunuh dengan ciuman, ada yang membunuh dengan kebenaran, ada yang membunuh dengan kebohongan. Hanya orang yang berani dan murah hati yang membunuh dengan pedang... —Kau, wahai orang tua, adalah Cainku yang dulu. Cain jiwaku. Kau mengajariku cinta ilahi, dan aku telah melihatmu berubah bentuk ke dalam kegairahan cinta manusia yang pikun. Kau merampok putri pirang Arhan dariku, yang diam-diam kukagumi

dengan cinta ilahi yang murni dan mistis. Oleh karenanya, sepenuhnya kesalahanmu jika sekarang semua kebenaran besar dan cemerlang di dunia ini bagiku hanyalah sebuah kebohongan. Wahai orang tua yang pikun dan jahat, aku membencimu! Sambil berkata demikian, aku mengambil batu yang berat dan meremukkan kepala putih nabi itu. Kemudian kuambil buku hitam itu dan membacakan semboyan Latin yang panjangnya sekali lagi: “Orang yang tak pernah melanggar hukum suci Tuhannya sekali pun, dia tak pantas untuk mencintainya; tetapi siapa pun yang melanggar hukum suci Tuhannya, dia akan membunuh dirinya sendiri untuk pertama kalinya atau membunuh Tuhannya selamanya.” Bulan pucat telah terbit di cakrawala bagaikan sabit emas dengan sinar keperakannya mencari darah segar para pendosa Nabi Suci, seolah-olah ingin memberkatinya... *

Paskah telah tiba dan anak Tuhan akan bangkit kembali setelah seminggu penuh merasakan penderitaan. Ya, Paskah telah tiba, tetapi tak seorang pun, kecuali hati nuraniku, yang mengetahui kejahatanku. Bibiku–wanita tua gila yang menyebutku “Santo” dan aku, karena kecintaanku terhadap hal-hal cacat, masihku cintai–telah memberitahuku pada masa-masa penuh gairah, hasrat yang suram dan mengerikan dari seorang prajurit kuno. Prajurit itu, setelah mendekati altar ibadah pada hari Paskah untuk menerima tubuh dan darah Penebus dalam bentuk roti dan anggur, mengalami momen mistik ketika imam muda berparas pucat membawa Sakramen Kudus ke bibir orang yang bertobat. Seketika saat itu, hosti berubah menjadi jelmaan yang hidup dan sosok nyata dari Kristus yang Tersalib, dengan setiap tetesan darah yang naik ke langit merah gereja yang menyala oleh lampu dan kain merah tua, dia berseru: “Mundur, kembalilah, hai orang yang tak pantas. Kau tak pantas bagiku, karena siapa pun dia yang membunuh saudara-saudaranya takkan pernah layak bagiku.”

Karena—tambah bibiku yang gila itu— dalam hukum ilahi, yang tidak dapat diubah untuk Keabadian, ada ketentuan menyatakan: “Janganlah membunuh.” * Aku tak tahu rahasia dan daya pikat apa yang menggerakkanku melangkah ke gereja dan mendekati altar. Musik mistis mengalir dari pipa organ putih yang panjang dan berwarna keperakan, menyatu sebagai getaran ilahi yang berbaur dengan paduan suara umat beriman yang berlutut di langkan marmer merah yang diukir, yang bernyanyi lagu-lagu rohani dalam bahasa Latin. Dengan kegelisahan yang berkecamuk dalam hatiku, aku menemukan diriku berlutut di atas altar, aku didorong oleh semacam perasaan aneh dalam mencapai kejadian tragis dalam hidupku melalui mukjizat ilahi yang mengerikan; dalam konteks ini, kisah mengerikan tentang prajurit kuno itu harus dibangkikan ulang sebagai contoh menakjubkan bagi orang lain. Aku bahkan tak tertarik untuk menjalani ritual pengakuan dosa dan pertobatan Kristen. *

Pendeta itu mengenakan pakaian ungu dan emas–seperti zaman kuno. Aku melihatnya berulang kali melewati altar, membungkuk lagi dan lagi di hadapan tabernakel perak, dengan tatapan khusuk pada mata kristal murni yang dia pegang di antara tangannya yang ramping dan merah luntur, yang ditutupi sutra putih kecil penuh manik emas dan permata.. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakan apa yang terjadi dalam jiwaku pada saat itu... Aku merasakan penantian yang penuh kecemasan ini terasa begitu amat panjang dan menyiksaku. Akhirnya upacara misterius pengudusan roti dan anggur selesai, dan imam muda itu memulai pembagian penebusan. Sebuah getaran hebat mengguncangku. Momen mengerikan dalam tragediku akan segera terjadi. Semangat pengecut datang menggodaku berkali-kali. "Larilah!" Perasaan itu memberitahuku, sementara suara kuat dari keinginanku melolong, memintaku tetap tinggal. Aku bertahan.

Pengorbanan jiwa yang harus kupikul di bawah salib hitam kutukan dan rasa malu, harusnya memperkuat iman orang-orang lain pada Injil yang, sayangnya telah gagal dalam diriku. Hal itu pula yang membuatku layak menerima Kristus melalui pengorbanan pemberontak maha tinggi dari Yang Maha Kuasa. Aku berpikir: tak ada seorang pun yang sehebat Kristus, kecuali Antikristus. Brutus hebat karena Caesar hebat. Dan keagungan tetaplah keagungan, dalam kebaikan dan kejahatan, dalam dosa sebagai kebajikan. Dan kemudian, tak ada seorang pun yang mampu mengatakan dengan tepat apa itu yang baik dan jahat, apa itu dosa dan kebajikan. Aku masih percaya, tapi jiwaku terguncang. Sekarang itu sesat. Masalah etika menjelma menjadi gairah estetika... * Pendeta muda itu lewat sambil membisikkan doa yang tidak bisa kumengerti di sela-sela gigi putihnya. Dia membuat isyarat gerak religius yang agung, dan dengan lembut meletakkan sesuatu dan darah anak Allah: Yesus Sang Penebus, di bibirku yang kering.

Aku merasakan Tuhan meleleh seperti pasta putih di mulutku yang panas, di antara dua tetes anggur, namun keajaiban tak pernah terjadi. Aku diam di sana, tak bergerak, dengan mulut dan mata terbuka lebar, jiwaku, hatiku kosong seperti orang gila sejati. “Janganlah membunuh!” Tapi aku telah membunuh. Aku telah membunuh seperti apa yang telah dilakukan para prajurit kuno itu! Namun keajaiban belum terjadi, dan sama sekali taka da hal buruk yang terjadi. Telah digariskan jika Kristus harus mati bahkan dalam jiwa orang-orang beriman yang paling rendah hati dan setia. Di sisi kanan gereja—di seberang prie- dieu¹— sebuah altar Madonna yang berkilau keemasan berdiri di tengah nyala lilin. Organ terus mengeluarkan getaran hebat dari musik surgawi. Semua orang beriman menundukkan kepala, meraka ditaklukan oleh kebahagiaan dan teror.

1 Sebuah perabot yang dibuat untuk berlutut saat berdoa.

Aku menatap altar di hadapanku, Madonna yang berduka dengan bayi di pelukannya dan tujuh belati di hatinya. Beberapa wanita menaburkan bunga ladang dan rumah kaca di atas altar. Aku tak tahu kenapa, tapi bagiku aroma bunga-bunga itu berpadu dengan bau dupa dan lilin yang meleleh dalam nyala api, dan mengirimkan kepadaku bau daging dan sensualitas yang aneh. Aku menatap Madonna lebih saksama dan bagiku dia terlihat hidup dan menatap ke arahku... Kemudian pikiranku menjadi kabur, dan aku tak mampu melihat apa pun. Bayangan besar, kabut berbatu, hantu tanpa makna... Tak ada! Tiba-tiba aku melihat gereja dalam uap putih pekat, dan di tengah-tengahnya kulihat sosok prajurit kuno hina itu lewat, seperti pencuri benda suci, berjalan dengan langkah ringan dan hati-hati menuju altar. Kemudian asapnya hilang, dan gereja tiba-tiba menjadi sepi bagiku. Hanya prajurit itu yang berdiri tegak di atas altar, dia mecabut satu per satu belati dari jantung Madonna. Saat dia mencabut belati

ketujuh, Madonna menatapku dan tersenyum... Bayi itu, yang juga hidup, turun dari pengkuannya lalu mengumpulkan bunga-bunga segar dari ladang dan rumah kaca yang ditaburkan di atas altar oleh para remaja putri desa; Sementara itu, prajurit hina itu menelanjangi Madonna berambut pirang yang sangat cantik. Kemudian aku melihat gereja berubah menjadi hutan dan altar menjadi semak pohon salam. Prajurit itu berubah menjadi pertapa tua dengan janggut selembut wol berwarna keperakan yang panjang, sedangkan Madonna yang telanjang tak lain adalah putri pirang Arhan. —Wahai putri pirang Arhan, kau telah menaklukkan kesucianku dan menggerakkanku ke dalam dosa: Aku ingin mengilhamimu dan merengkuhmu ke dalam misteri suci cinta ilahi yang agung, tapi kau telah menaklukkanku lebih dulu dengan cinta manusiamu. Betapa indahnya kurasakan daging jiwa ini membara di sepanjang kekekalan, setelah mampu

menikmati ketelanjangan pucat tubuh ilahimu untuk sesaat, sesaat. * Anak manis yang telah beranjak menjadi remaja pucat, berjalan menyusuri jalan setapak di hutan, menenteng buku hitam di tangannya. Tiba-tiba kulihat dia mengangkat sebuah batu besar dan menghantamkannya ke kepala seorang Nabi dengan batu itu. Kejadian aneh... Anak yang sudah beranjak remaja itu, di tengah-tengah bunga yang bertabur di altar, memiliki wajahku... * —Jika kau menatap mata saudara laki- lakimu, kau takkan melihat siapa pun kecuali dirimu sendiri. * Apakah itu sebuah mimpi, sebuah penyesalan, sebuah penglihatan, sesosok hantu, sebuah kenyataan, atau kebenaran? Aku tak tahu, aku tak tahu. Aku tak ingin tahu! Dari pipa organ putih keperakan, nada-nada melankolis terakhir jatuh bersama air mata putus asa, sementara orang-orang beriman

yang sederhana dan soleh berjalan perlahan, dengan kepala tertunduk, seolah-olah di gereja itu mereka sedang merayakan upacara pemakaman Yesus alih-alih melangsungkan upacara kebangkitan massal... Di luar, di alun-alun kota yang terbentang megah di seberang gereja, bunga aster putih dan bunga violet tua kebiruan menari dengan riang dalam hangat cahaya matahari, sementara lonceng berbunyi, kabar pesta besar menyebar ke seluruh lembah, proklamasi pembebasan besar-besaran... * Malam itu manis dan sunyi. Langit biru yang indah bertabur bintang emas dan bulan pucat menerangi bumi. Aku–sendirian bersama pikiran merah dan bayangan hitamku–menyusuri kembali hutan tua Arhan. Ketika aku sampai di sana, kuhancurkan kepala pertapa tua itu, lalu kudengar suara aneh yang membuatku gemetar... Aku berbalik dan menoleh ke arah belakang, nampak seekor Naga bersayap raksasa. Naga itu memiliki tujuh kepala, dan di masing-masing kepalanya terdapat sebuah

mahkota. Tiga kepala dari sebelah kiri: yang pertama berkepala ular, yang kedua berkepala elang, dan yang ketiga berkepala singa. Yang pertama memakai mahkota kebijaksanaan, yang kedua memakai mahkota kewaspadaan, dan yang ketiga memakai mahkota kekuatan. Tiga kepala dari sebelah kanan: yang pertama berkepala domba, yang kedua berkepala lembu, dan yang ketiga berkepala keledai, ketiganya memakai tiga mahkota duri besar. Kepala ke tujuh yang berada di tengah: kepala setengah harimau dan setengah macan kumbang yang tak bermahkota... Bayanganku terhenyak dan sang Naga mencengkeramku seumur hidup menggunakan semua lehernya yang beragam, dan kelima sayap hitamnya terbentang lebar, membawaku lebih cepat dari angin melintasi gunung tinggi bermahkota emas yang di puncaknya tumbuh pohon paling megah menjulang penuh kemenangan. Di bawah pohon kulihat tiga lelaki yang bukan lelaki sesungguhnya karena mereka hanyalah larva, hantu, parodi lelaki.

Mereka menyimak batang-batang melengkung mirip alang-alang yang meliuk- liuk terhempas arus deras sungai. Yang pertama penderita kusta, yang kedua buta, dan yang ketiga pengemis. Mereka berdoa dan menangis... Naga itu menolehkan setengah kepalanya ke arahku dan berkata kepadaku dengan suara iblis: “Di tempat inilah Tuhan berlindung.” Dan sambil berkata demikian, sang Naga berkata kepadaku tentang penderita kusta, orang buta dan pengemis. “Jika kau membunuh mereka,” sang Naga melanjutkan perkataannya dengan nada suara yang tak berubah, “Tuhan akan benar-benar mati dan rohnya akan terbebas selamanya.” Apa yang takkan kulakukan demi pembebasan jiwa? Aku mengambil dahan kayu ek yang keras dan bercabang, lalu menghantamkannya dengan kekuatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya ke ketiga orang yang berdoa itu. Dari mulut, hidung dan telinga mereka, banyak sekali darah mengalir. Saat-saat itu terus berlalu, dan aku melihat mereka

menjadi semakin kaku dalam dingin kematian yang hening. Tiga kepala Naga di sebelah kiri tertawa riang sementara tiga kepala di sebelah kanan menangis tersedu-sedu; sedangkang kepala Naga yang berada di tengah tetap diam tak bergeming, seolah-olah terbuat dari perunggu. * Embusan angin sejuk mengusap dedaunan hijau pohon megah yang bernyayi, dan hembusan nafas terakhir Tuhan—roh yang memerintah—tersebar jauh ke dalam kehampaan waktu yang abadi. Matahari menari riang sambil tertawa dengan kaki emasnya yang mengkilat di atas mayat ketiga orang celaka yang mati itu, sementara dari lautan yang dalam dan jauh terdengar nyanyian misterius putri duyung pucat keperakan, wanita, dan ratu lautan... * Naga itu mengangkatku dari bumi, dan dengan kecepatan melebihi angin membawaku ke pantai tak terjamah yang jauh dan sepi.

Putri duyung keperakan dengan rambut emas panjang, dengan sepasang mata mutiara besar berbintang, melompat samil bernyanyi dari ombak biru jernih, dan dia menculikku dari pantai berpasir bersih, membawaku pergi bersamanya ke jurang laut yang dalam dan bercahaya. * Kami melewati kota yang dibangun dari marmer putih dan karang berwarna merah... Semua jalanan di kota itu dilapisi dengan batu rubi, zamrud, dan permata... Batu safir besar menutupi atap semua rumah dan di setiap sudut kota lagu cinta, musik keindahan, himne kehidupan bergema... Namun suatu hari, kuperhatikan matahari, matahari yang indah, tak pernah masuk ke dalam jurang samudera ini. Aku membangunkan putri duyung tak bernamaku yang tidur terlentang di kasur mutiara bening bertabur bintang-bintang kecil, dan aku berkata padanya: “Beri aku Matahari!” “Aku telah memberimu cinta, kesenangan, kebahagiaan,” jawabnya padaku saat dia bangun. “Apa pentingnya Matahari bagimu?”

“Beri aku Matahari! Beri aku Matahari!” ulangku. "Sayang!" putri duyung menghela nafas, “Aku tidak bisa memberimu Matahari.” Setelah berkata demikian, dia kembali tidur. * Di kedalaman ini semuanya sunyi... Semua putri laut tertidur. Hanya aku sendiri yang terjaga menyaksikan seutas cahaya putih jatuh dari atas permukaan ke kedalaman laut. Aku memikirkan Matahari. Aku diam-diam membungkuk di hadapan putri duyungku yang tertidur dan dengan ciuman ringan kusentuh kelopak matanya yang setengah terbuka saat dia tidur. Desahannya manis dan ringan seperti belaian ilahi, dan jantungnya yang merah berdetak waspada dan terjaga di bawah payudara putih gadingnya yang bulat. Aku menempatkan diriku di garis putih yang muncul dari ketinggian, dan naik ke permukaan laut di mana ombak-ombak besar datang. *

Aku mendarat di sebuah pulau yang tak kukenal, hanya diterangi cahaya bulan dingin dan pucat. Penghuni pulau itu berukuran kecil seperti kurcaci dan berkulit hitam seperti malam. Namun mereka semua masih muda, tak ada orang tua maupun anak-anak di antara mereka. Mereka tak makan, tak bekerja, tak tidur, tak berkembang biak, dan tak mati. Mereka adalah ras pigmi yang mandul dan abadi. Aku bertanya kepada mereka, menanyakan musim apa dan tahun berapa saat itu. Mereka tak mengerti dan tak menjawab. Suatu hari, seorang manusia pucat yang terbuang mendarat di pulau itu. Aku bertanya kepadanya dari mana dia berasal dan dia menjawab: “Dari negeri Matahari!” “Wahai orang pucat yang terbuang, orang terbuang yang pucat,” teriakku, “kau adalah saudaraku, kau adalah jenisku... Bawalah aku kembali ke tanah lama kita, aku ingin matahari.”

Sambil berkata begitu aku memeluknya, bergerak, dan mencium kening pucatnya dengan ciuman baru. “Aduh… Aduh!…” orang pucat yang terbuang itu menghela nafas, “Aku diusir dari negeri itu. Saudara-saudaraku telah mengusirku, sejak hari di mana aku berani menjadi rasul dari orang asing yang dijuluki 'pembebas besar roh atau pembunuh Tuhan,' yang berkhotbah melawan kera yang telah memanjat pohon keagungan dan menyatakan diri mereka sebagai binatang, menjadi penguasa baru bagi jiwa manusia; mereka, saudara-saudaraku, telah mengutuk dan membuangku, menyebutku 'Bayangan' pria asing yang tak seorang pun mengetahuinya.” Aku menatap mata orang pucat yang terbuang itu; dia juga menatapku... Kami saling berpandangan lama dalam diam, pucat, terengah-engah, bisu. Tampaknya masing-masing dari kita sedang mencari sesuatu yang aneh dalam rahasianya sendiri, dalam ingatan yang jauh. Tiba-tiba kilatan mengerikan melintas di dalam diriku...

“Katakan padaku,” kata orang pucat yang terbuang itu, “apakah kau adalah tubuh dari jiwaku, atau apakah kau adalah jiwa dari tubuhku?” “Siapa jiwanya? Siapa mayatnya?” Orang yang terbuang itu tidak menjawab, namun kulihat tubuhnya perlahan menyusut dan tak lama kemudian hilang tinggal bayangan di kakiku... * Aku terjun ke dalam ombak dan dengan pikiran tertuju pada putri pirang Arhan, aku kembali ke kedalaman. Dengan bayangan itu aku telah menemukan ingatanku lagi... Wahai putri pirang Arhan! Wahai putri pirang Arhan! Ketika aku sampai di hamparan mutiara jernih, bertabur bintang, tempat aku meninggalkan putri duyungku, kutemukan dia mati, mati karena cinta. Putri duyungku sudah mati, mati karena cinta dan kesedihan. Dia sudah mati... Wahai putri pirang Arhan! Wahai putri pirang Arhan! *

Dengan bayangan itu ingatanku telah kembali... Wahai putri pirang Arhan! Wahai putri pirang Arhan! * Putri duyungku sudah mati! Mati karena cinta dan kepedihan liris... Iblis bersayap telah membunuhnya, dalam api ciuman cintanya yang gila; dari cinta dan dari api. Aku sendiri! Aku sendiri! Dengan bayangan itu ingatanku kembali... Wahai putri pirang Arhan, kau di mana? Aku menginginkanmu, aku mencarimu, merindukanmu! Bukankah demi kau telah kubunuh Tuhan? Bukankah demi kau telah kuhancurkan kepala seorang Nabi? Bukankah kau adalah impian jiwaku yang terbebaskan? Bukankah kau itu gairah dan kesenangan? Bukankah kau itu Seni dan Kecantikan? Bukankah kau itu Muda dan Cinta? Bukankah kau adalah bunga besar Dosa? Oh Hawa! Oh Maria Magdalena! Oh Sappho!

Oh Cleopatra! Oh Messalina! Oh Beatrice! Oh Laura! Oh Lucrezia Borgia! Oh bunga kejahatan yang luar biasa! Oh putri pirang Arhan! Aku seorang penyair sesat! Akulah penyairmu! * Dengan bayangan itu ingatanku kembali... Putri duyungku sudah mati! Dia mati! Dia mati! Dia mati! Iblis bersayap dari kedalaman telah membunuhnya, dalam api ciuman cintanya yang gila. Pelukan yang tragis. Wahai putri pirang Arhan, Putri Duyungku telah mati. Itu aku, itu Dia, kaulah pembunuhnya. * Putri Duyungku amat cantik: Tapi dia tak punya kaki! Putri Duyungku amat cantik: Tapi dia tak punya Matahari!

Wahai putri Arhan berambut pirang, yang dirusak oleh Nabi tua, kaulah yang kucari! Di manakah kau? Datanglah bertelanjang, bertelanjang kaki dan menari! Menari telanjang di dunia, hai bunga kejahatan yang besar, hai penggoda... Menarilah dan beri aku Matahari. Aku adalah penyair kejahatan dan mendawamkan kesesatan. Wahai putri pirang Arhan! Wahai putri pirang Arhan! Beri aku Matahari! Beri aku Matahari dan menari! Menari telanjang di dunia, wahai putri pirang Arhan!

VAMPIR PIRANG

“Saat dia mendekat, dua emosi segera muncul dalam diriku: keinginan dan ketakutan.” — Leonardo Da Vinci²

Aku tak tahu berapa lama kusakit, dan semua dokter menyerah begitu saja. Penyakitku bukan penyakit fisik, dan dokter takkan pernah bisa berbuat apa pun untuk melawan penyakit rohani yang sesungguhnya!... Tapi apakah aku benar-benar sakit? Suatu hari–suatu sore di bulan Agustus–ada tiga ketukan pelan di pintu kamarku.

2Tampaknya ini merupakan parafrase dari pernyataan Da Vinci yang disesuaikan dengan konteks cerita di puisi ini, pernyataan yang saya temukan ini merupakan satu-satunya pernyataan yang berhubungan dengan Da Vinci yang memasuki sebuah gua, bukan dengan pendekatan siapa pun atau apa pun (Catatan kaki dari Wolfi Landstreicher).

Aku sedang duduk di kursi geladak anyaman dan menghabiskan waktu dengan membaca “Apocalypse.” “Dua sayap burung rajawali raksasa dikenakan ke punggung perempuan itu, supaya ia dapat terbang mendahului ular di gurun pasir.” Kuletakkan buku itu di atas meja belajar lapuk dan membuka pintunya. Gelombang cahaya besar dan matahari menyelusup masuk, bersamaan dengan itu, masuklah juga seorang wanita muda dengan mata penuh kejernihan langit, yang di bahu telanjangnya tergerai ikal rambut emas panjang yang terurai indah. Saat pertama kali melihatnya, dua emosi muncul dalam diriku: keinginan dan ketakutan. “Aku datang dari tempat yang sangat jauh,” katanya kepadaku, “dan untuk mencapaimu, telah kutempuh perjalanan jauh. "Lihat? Kakiku berdarah, dan tak hanya itu, hatiku juga berdarah! “Ya ampun, dengarkan aku! “Kenyataan telah membuatmu mual. “Kebenaran telah menyiksamu.

“Kemanusiaan telah membuatmu sedih! "Aku tahu, aku tahu! Semua hal yang menyedihkan dan jahat ini telah membuatmu muak pada mimpi dan kesendirian. “Tentang cita-cita dan jarak!” Aku menyimak tamu asingku dalam diam, dan terpikat pada rahasia yang tersembunyi dibalik matanya yang penuh dengan langit, aku tersenyum dengan ironi yang pahit. “Tidak, tidak,” katanya kepadaku, “jangan tertawa seperti itu, kau akan menyakitiku! “Sebaliknya, teruslah dengarkan aku. “Aku tahu satu oasis yang sangat jauh, sebuah oasis penuh tawa dan kebahagiaan, di tengahnya terdapat mata air perawan paling jernih. “Di dekat mata air itu terdapat sebuah batu purba besar, yang di dalamnya terdapat sebuah kolam kecil. “Setiap kali matahari terbit dan terbenam, putri liar hutan turun telanjang ke kolam kecil untuk mandi. “Ayo, temui dia. “Oasis itu sepi dan tak berpenghuni. “Hanya seorang Dewi remaja, yang selalu muda dan cantik–yang pada siang hari

mengenakan gaun dari tumbuh-tumbuhan dan bunga, dan pada malam harinya berbalut kerudung emas–melalui penyulingan aroma yang berat dari kelopak bunga rahasia, dan memainkan lagu-lagu cinta misterius yang bergemetar di langit dengan kecapinya.” Dia berhenti, menatapku, tersenyum kepadaku dan lanjut berkata: “Jadi, apakah kau mau ikut denganku? “Aku akan membawamu ke oasis yang penuh kebahagiaan dan tawa itu. “Ketika putri hutan yang liar–nyonya oasis– muncul dari batu, dia melumuri seluruh tubuhnya dengan minyak mawar merah, dan di malam hari Dewi muda itu membakar butir-butir dupa hingga aromanya menyeruak di sekitaran oasis, seperti di gereja Kristen tempat mereka merayakan ritual cinta ilahi. “Ah, ayo, ayo! “Putri hutan yang liar memiliki kaki yang mungil dan tangan yang putih. “Ah, ayo, ayo! “Kakinya adalah dua mawar merah, tangannya adalah dua bunga lili putih, matanya adalah dua permata lautan,

mulutnya adalah buah delima yang harum, manis, dan matang! “Ah, ayo, temui dia! “Lengan putih gadingnya dihiasi gelang dan jemarinya berkilau warna biru kehijauan. “Ini pasti wanita impianmu, obat penyakitmu… “Ah, kau harus ikut denganku! “Aku akan membawamu ke oasis yang segar dan tersenyum itu. “Aku akan membawamu ke batu purba yang melingkari kolam kecil di mana putri perawan hutan yang telanjang merendamkan dirinya setiap kali matahari terbit dan terbenam…” Aku ambil kembali “Apocalypse”, dan untuk menanggapi tamu aneh itu, dengan setia aku membaca: “Tetapi Naga itu murka pada si wanita dan pergi berperang dengan keturunannya yang tersisa, pasukan yang menaati perintah-perintah Allah dan bersaksi tentang Yesus Kristus.” "Sayang! Sayang!" tamuku menghela nafas sedih, wajahnya menjadi amat pucat, “gila dan sedihlah naga itu yang ingin mencegah si

wanita beranak pinak, mungkin atas nama absurditas tentang kecantikan murni, yang membuatnya menempatkan diri ke dalam pemberontakan melawan hukum keabadian Yang Maha Abadi, untuk memusnahkan seluruh makhluk. “Naga itu tak lain adalah Iblis Penghancur yang mengerikan! “Nihil, nihil, harus ditulis secara rahasia dalam pikirannya yang berbahaya.” “Tidak, wahai wanita,” jawabku, “ menyedihkannya dirimu. “Sedih dan gila adalah dirimu yang masih mematuhi perintah jahat dari Tuhan lama, yang mengabadikan kejahatan dan penderitaan manusia di dalam rahimmu. Tak ada bumi tanpa dosamu, manusia akan abadi dan bahagia, atau tak sama sekali. “Dosamu, telah membuat manusia menjadi budak fana, tak bahagia, dan hina.” Mendengar perkataanku yang keras dan mungkin kejam ini, wanita itu menarik diri dan menangis tersedu. Lalu dia menjawab: “Ayo, ikut denganku, kau masih muak dengan kecantikan murni dan keabadian!

“Aku akan membawamu ke oasis yang sunyi itu dan membuatmu mengenal serta mengagumi Tuhan yang muda dan abadi. “Ia mengenakan gaun dari tumbuh-tumbuhan dan bunga pada siang hari, dan pada malam harinya dibalut dengan kerudung emas nan indah. “Dia memainkan lagu-lagu cinta yang aneh dengan kecapinya dan dia memiliki senyuman milik para Malaikat. “Di dalam dia, kau dapat mencintai keindahan murni dan mengagumi masa muda yang abadi! “Ayo, temui dia! “Aku diutus olehnya.” * Ketika dia selesai berbicara, jantungku– perang batin–berdebar kencang. Sesuatu yang tak biasa, yang belum pernah kurasakan sebelumnya, muncul dalam diriku. Apa? Aku tak tahu!
Dagingku bergetar....
“Ceritakan padaku tentang Dia,” kataku, “tentang putri hutan yang liar dan perawan.”

"Diam, diam!" dia menjawabku, “jangan membuatku membicarakan dia lagi, jangan membuatku menangis lagi!” “Kalau begitu, patuhi dia,” balasku dengan ironi yang tak bisa kutahan, “perintah-perintah yang disaksikan oleh Yesus Kristus.” “Mengapa begitu menyiksaku? Dia adalah seorang wanita!" jawabnya. Senyuman pahit tergaris di bibirku, dan otot-otot wajahku berubah menjadi kesedihan mendalam. Wanita itu mengambil dari dadanya ramuan obat tidur yang hanya tumbuh di taman mengerikan di negeri yang jauh, dan dengan itu dia menyentuh lembut kelopak mataku. Beberapa saat berlalu dan rasa tak mengenakan yang manis dan mendalam menguasai seluruh diriku. Mataku terpejam. Jeda kematian. Musik keheningan! * Jeda kematian. Musik keheningan. Gelombang kegelapan mengerikan. Apa yang terjadi di sekitarku?

Dalam kegelapan kulihat tanda tanya berkilauan dengan kilau fosfor Sinar cahaya putih. Itu adalah tubuh telanjang dan putih dari seorang wanita cantik pucat yang mungkin pernah kuimpikan, tapi belum pernah kulihat. Dia menangis! Sepertinya aku melihat gambaran sempurna dari Kecantikan dan Kesedihan Manusia dalam dirinya. Tak lama kemudian air matanya membanjiri kamarku, mengubahnya menjadi sebuah kuali mungil yang ditutup batu. Aku tak lagi melihat perabotan atau bukuku. Di sekelilingnya terdapat oasis hijau dan bunga-bunga, di mana seorang dewi muda, dengan kecapi di tangannya, berjalan dengan gaun dari tumbuh-tumbuhan dan bunga. Jeda kematian. Musik keheningan... * Jeda kematian. Musik keheningan... Apa yang terjadi di sekitarku? Sekarang aku pun telanjang dan wanita itu tak lagi menangis.

Dia tertawa... Dia tertawa, tertawa, dan tertawa! Tubuh telanjangku menyatu dengan tubuh telanjang-Nya, dan Dewi muda bergaun tumbuhan dan bunga, bermain dan bermain... Dia memainkan musik aneh dan misterius dengan kecapi ajaibnya! Musik cinta? Musik kematian? Aku tak tahu, aku tak tahu. Aku tak ingat... Dia bermain dan bermain... * Jeda kematian. Musik keheningan... Gelombang kegelapan mengerikan... Apa yang terjadi di sekitarku? dalam diriku? Dalam kegelapan kulihat bintang emas besar bersinar. Ketika kubukakan lagi mataku, matahari mulai terbenam, dan kuterbaring tak bergerak kelelahan di ranjang. Sendiri! Aku pejamkan lagi mataku dan melihat binatang buas mengerikan. Pikiranku kembali ke selarik ayat dari “Apocalypse”: “Dan binatang yang kulihat itu serupa macan tutul, kakinya seperti kaki beruang, dan mulutnya seperti mulut singa.”

Matahari yang sekarat memancarkan sinar terakhirnya yang melankolis ke arah toko buku yang menjual rahasia pikiran, dan pelarian semangat orang-orang hebat yang telah mati. Di negeri yang jauh, seruling dimainkan dan dimainkan... *
Jeda kematian. Musik keheningan....
Apa yang terjadi di sekitarku? Aku bangun dengan terhuyung-huyung mendekati cermin. Kulihat luka mengaga di tengah dahiku. Lukanya berdarah, darahnya merah! Merah dan panas! Siapa yang membuka luka itu? Bibir jahat dan kejam apa yang telah menghisap setiap percikan ilahi dari kepalaku? Lukanya berdarah, dan darahnya merah! Merah dan panas! * “Kakinya adalah dua mawar merah, tangannya adalah dua bunga lili putih, matanya adalah dua permata lautan,

mulutnya adalah buah delima yang harum, manis, dan matang” * Di bawah bantal kutemukan sepasang celana dalam sutra hitam, dengan dua tengkorak putih, bintik-bintik merah, disulam di sisinya. Di antara tengkorak-tengkorak itu ada secarik kertas bertuliskan kaligrafi beraroma aneh yang terselip. “Akulah yang menaati perintah-perintah Allah melalui kesaksian Kristus, Putra-Nya,” kata catatan itu, dan ditandatangani: “Vampir Pirang.” Setelah tanda tangan itu muncul kalimat lain yang digarisbawahi dua kali: “Ingatlah Aku!” * Jeda kematian. Musik keheningan... Mereka mengatakan kepadaku bahwa ada seorang anak kecil yang berjalan di dunia ini, pucat, sakit, sedih, malang! Aku belum pernah melihatnya, tapi aku yakin anak ini adalah boneka alam: aku adalah yang kedua.

Aku juga yakin bahwa anak yang lahir dari cintaku pada “Vampir Pirang” ini bukanlah anak dari ide atau keinginanku.
Dan aku menegaskan semua ini....
Aku menciptakannya pasa satu momen paling mengerikan ketika manusia, alih-alih menjadi penguasa alam, malah menjadi pelayannya yang paling hina, rendah hati, dan vulgar. * “Kakinya adalah dua mawar merah, tangannya adalah dua bunga lili putih, matanya adalah dua permata lautan: keduanya adalah sepasang bintang emas, sepasang lampu suci yang menyala di taman kehidupan kotor untuk dosa.” * Tuhan sudah mati, takhta-Nya telah dirobohkan, surga yang hancur kini merelakan elang-elang melewatkan begitu saja tanda-tanda alkitabiah yang memisahkan kerajaan umat manusia dan kerajaan tuhan. Tapi siapa yang akan menghancurkan kerajaan umat manusia?

Kapan akan lahir seseorang yang mampu melampaui Tuhan dan melampaui Kemanusiaan, yang akan menghancurkan perangkap vulgarmu, ya Ibu Pertiwi yang Suci? * Mereka berkata kepadaku bahwa seorang anak pucat dan sakit-sakitan tengah berjalan di dunia: sedih dan malang! Aku belum pernah melihatnya, tapi kuyakin anak ini adalah boneka alam: aku adalah yang kedua. * Tumbuh dan beranak pinak. Titik-titik hubungan yang dimiliki oleh mistikus pemberontak dan orang suci Nazareth denganmu—wahai Ibu Pertiwi— adalah titik-titikmu yang paling hina... Tapi sekarang orang yang bangkit melawanmu bukanlah pemberontak mistik dan suci, melainkan ateis dan ikonoklas yang bangkit melawan hukumnya. Dan hanya ketika semangat nihilis dari pemberontak baru ini telah merasuki kerumunan massa, dan dijadikan penguasa rakyat, melalui penaklukan seluruh pikiran

manusia, umat manusia akhirnya akan menemukan jalan yang dapat menuntunnya menuju puncak terakhir terbaiknya yang paling mulia. Nihil, nihil! Wahai bunga putih bersalju, wahai Kematian! Wahai kematian, wahai Keabadian!...

KEKASIH IBLIS

“Apakah kau bangkit dari jurang hitam, atau turun dari bintang? Iblis yang terpesona mengikuti rokmu seperti anjing” - Charles Baudelaire

Segera setelah dia tiba di kota orang-orang pigmi, kisah-kisah paling aneh dan paling fantastis tentangnya mulai diceritakan... Beberapa orang mengatakan dia adalah putri kegelapan neraka yang dikirim ke antara makhluk Tuhan untuk menggoda mereka agar berbuat dosa; beberapa malah menyakini bahwa dia hanyalah putri surga bercahaya yang dikirim ke antara makhluk-makhluk jahat untuk mendorong mereka menuju kebajikan paling murni melalui ritual ilahi. * Pada hari perayaan besar, seorang tua tak dikenal memasuki kota. Dia adalah seorang

pria terhormat berjanggut perak panjang yang warga sebut Sage karena separuh hidupnya dihabiskan sebagai penambang perut bumi. Dia diperlihatkan kepada wanita itu, dan ditanya apakah dia pernah mengenalnya. Lelaki tua terhormat itu menjawab dengan tegas, berkata bahwa dia telah mengenalnya di masa lalu entah berapa mil di bawah permukaan bumi... * Pada pesta lainnya, ketika api kemuliaan dinyalakan sebagai penghormatan kepada seorang kurcaci yang menikah dengan putri raja, orang asing kedua masuk ke kota. Dia adalah seorang penyelam dasar laut bermata manis dan palung, yang sepanjang hidupnya telah menjelajahi seluruh kedalaman laut. Dia diperlihatkan kepada wanita itu dan ditanya apakah dia mengenalnya. Penyelam tua itu menjawab ‘ya’ dan berkata bahwa dia telah mengenalnya di masa lalu di sebuah kota yang dibangun dari marmer putih simetris yang tenggelam di kedalaman teluk rahasia, yang tak pernah dapat dijangkau oleh perahu mana pun karena

badainya yang mengamuk, membuat tempat itu berbahaya. Beliau juga berkata bahwa penduduk kota marmer putih itu telah musnah, dan hanya gadis itu seorang–yang tak murni dan jahat– yang hidup dan berkuasa atas semua makhluk yang begitu murni dan sempurna... Beberapa orang berpikir: Bagaimana orang-orang tua itu dapat dengan yakin berkata bahwa mereka telah mengenal gadis itu sedari masa mudanya, padahal hingga saat ini dia masihlah seorang gadis muda? Seorang gadis bermata liar, yang disebut “Orang Suci” dan dicintai serta ditakuti, yang bersaksi di atas luka suci Yesus sang Penebus, bahwa dirinya adalah pecinta iblis purba, dan karena itu dia takkan pernah mati atau menjadi tua. Dan inilah sebab dari kutukannya! * Banyak hal yang ingin mereka katakan tentang Dia, namun karena Dia datang secara misterius, di tengah malam, tak seorang pun mengetahui dengan pasti siapa Dia sebenarnya. *

Di batas sebelah kanan “Kota Agama Pigmi” aliran deras mengalir. Itu adalah “Sungai Kutukan.” Di tepi kanannya terbentang hutan takberpenghuni, dan di tengah hutan itu terdapat sebuah kastil tua yang selama berabad-abad tak pernah ditinggali siapa pun. Orang-orang menyebut kastil itu: “Gua tua sang pangeran pembunuh.” Namun kisah sebenarnya adalah ini: Pada saat fajar kekristenan terbit di cakrawala umat manusia, kastil itu dihuni oleh seorang pangeran kafir bersama permaisuri mudanya. Suatu hari, sekembalinya dari pesta berburu, sang pangeran menemukan istri mudanya dalam pelukan seorang pendeta muda Tuhan, sebuah ritual cinta, yang bukan ritual ilahi. Pangeran kafir itu membungkukkan busur kebencian ke pasangan penuh kasih itu dan melemparkan mayat telanjang keduanya ke arus deras. Sang pangeran dibakar di tiang pancang; kastilnya dianggap terlarang, dan deras arus sungai berubah dari “Kebahagiaan” menjadi “Sungai Kutukan.”

Berabad-abad berlalu, namun legenda tentang kastil pangeran kafir itu masih diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga kisah berusia ribuan tahun itu serasa baru kemarin. * Idiot, Pemimpin agung dari kota agama pigmi, memerintahkan penangkapan wanita muda asing itu untuk dibawa ke hadapannya... Ketika dia dibawa, pemimpin yang duduk di singgasananya perlahan berbicara: “Aku, yang Idiot, Raja desa ini, mewakili semangat dan keinginan rakyatku. Masyarakat modern yang, dengan sangat rendah hati, mampu mecapai puncak kesempurnaan tertinggi.” Wanita itu tersenyum pahit, dan pemimpin agung kota itu lanjut berkata: “Aku tak ingin tahu dari mana dirimu berasal atau ke mana arah tujuanmu; kekuasaaanku melarangku, aku bahkan tak ingin tahu asal usulmu, karena keinginanmu takkan menarik bagiku. Aku cukup modern dan mementang bentuk anarki spiritual yang mengerikan, sehingga aku bisa berurusan dengan semua

ini. Aku tahu bahwa kau telah mengganggu kedamaian rakyatku dan merampas semua kebahagiaan dari mereka!” Wanita itu kembali tersenyum getir dan ironis, sang raja berkata kembali dengan nada jahat: “Aku takkan melemparkanmu ke bawah tanah atau ke kedalaman lautan di mana orang-orang bijak dan para nabi berkata bahwa mereka telah mengenalmu, dan aku juga takkan melemparkanmu ke dalam pelukan Iblis tempat dari mana kau berasal. “Aku akan mengasingkanmu ke kastil tua 'sang pangeran pembunuh', sehingga kau bisa hidup bersama roh-roh jahat, dan di malam hari mendengar suara para pecinta dewa yang terbunuh, yang dengan sia-sia saling mencari satu sama lain, di tengah-tengah deras arus 'Sungai Kutukan.'” * Wanita itu diasingkan ke kastil pada malam itu juga, dan pidato pemimpin agung segera diwartakan dan ditempel di seluruh tembok kota. *

Di kota agama pigmi yang modern, hidup seorang pemuda berambut hitam panjang penyendiri, prihatin, dan perenung. * Ketika orang-orang bergembira pergi ke istana untuk bersorak bagi Raja, karena tindakannya terhadap wanita muda asing misterius itu, pemuda pucat dan penuh perhatian itu tetap sendirian, menyendiri, bermeditasi. Apa yang diberitahukan kepadanya dan apa yang dia katakan pada dirinya sendiri tentang apa yang disebut kekasih Iblis itu, telah membuatnya terpesona... * Selama tiga hari tiga malam pesta perayaan digelar di kota itu. Selama tiga hari tiga malam lonceng dibunyikan dan api dinyalakan. Selama tiga hari tiga malam para pigmi bersorak: “Hidup Idiot, hidup Raja Agung!” Dan sang Raja berteriak: “Hidup orang-orang pigmi, hidup rakyatku!” Tapi justru pemuda itu, malah menangis selama tiga hari tiga...

Orang kaya menawarkan anggur, focaccia, dan madu kepada orang-orang miskin, dan memperkosa putri perawan paling cantiknya. Mereka kagum dan terharu, orang-orang miskin menangis dengan sukacita yang tulus atas keberlimpahan kebaikan. * Ketika masyarakat mengetahui bahwa pemuda tersebut tak ikut serta dalam perayaan besar itu, mereka mengutuknya, dan Raja memenjarakannya selama sembilan puluh hari... Namun selama hari-hari yang panjang di dalam penjara, pemuda itu tak pernah berhenti untuk sejenak saja memikirkan wanita asingnya yang cantik dan misterius yang diasingkan raja di ujung kota, di kastil sang pangeran kafir... * Dia dibebaskan pada suatu malam di bulan September, tetapi tak pernah lagi pergi ke kota... Dia pergi ke pedesaan, membuat makanan dari buah persik putih dan madu emas, dan kemudian tertidur di bawah pohon sambil memimpikan wanita asing berambut pirang.

Di pagi hari ketika fajar menyingsing membangunkannya, dia bangkit sambil tersenyum dan berjalan di bawah sinar pertama matahari. Dia melewati hutan harum pohon linden dan pinus yang membawanya ke dekat kastil tempat “Kekasih Iblis” diasingkan. Dia memasuki hutan liar yang melingkungi kastil dan memanjat pohon ek yang dahannya hampir menjulur ke arah jendela... Melalui kaca jendela yang tertutup dia bisa melihat sekilas wanita muda asing yang berdiri telanjang di depan cermin sambil mengagumi dirinya sendiri. “Oh, kesedihanku yang dalam dan kelam, inilah pagi dan cahayamu. “Tertawalah dengan riang, wahai kesedihanku!” pemuda itu berkata pada dirinya sendiri sambil terus melihat di antara dahan pohon, dan saat itu sinar cahaya yang baru berpendar di matanya. * Tak ada yang pernah tahu berapa hari, tahun, abad, keduanya tetap terkurung di kastil tua milik sang pangeran kafir itu.

Aku tahu bahwa suatu malam mereka melarikan diri dari kastil, lalu membakarnya setelah membunuh sepasang penjaga. Mereka kemudian pergi ke kota orang-orang pigmi, dan menyalakan api di mana-mana. Tak ada neraka mistik yang lebih mengerikan dan tragis dari itu. Dari gubuk terakhir hingga istana raja, seluruhnya menjadi nyala api. Si kaya dan si miskin terbakar dalam kobaran api yang sama. Ketika, di pagi hari, fajar terbuka dengan sisi emas berdarah di cakrawala, abu kota menjadi ranjang pernikahan bagi amukan neraka dan Iblis remaja. * Saat itulah Antikristus bangkit dari kedalaman jurang untuk berseru kepada umat manusia yang masih menghuni belahan dunia lain: "Datang dan lihat! Tak ada Tuhan yang penuh kasih yang begitu indah dan berkuasa, tak ada pelukan lembut itu…” Kepada seorang anak berkeingintahuan lebih yang datang lebih awal, Dajjal berkata:

“Wahai anak Manusia, Era baru telah dimulai. Pergi dan bunuhlah ayahmu!” * Aku melihat seorang lelaki tua yang mengelak lewat di depanku. Seorang anak mengikutinya dengan cepat, kepalanya tertunduk, menggenggam pisau di
tangannya.....................................................
Aku melihat laki-laki tua lainnya mati- matian berusaha melarikan diri, semuanya dibuntuti oleh anak-anak bersenjata. Anakku bahkan mengikutiku... Ini adalah pemberontakan mengerikan dari orang-orang tak berdosa yang selama ratusan ribu tahun telah direncanakan roh bawah tanah Antikristus di dalam perut bumi yang dalam. * Dan saat “Kekasih Iblis” tertawa, terbaring di ranjang abu di pelukan pemuda yang sangat mencintainya... Aku belum pernah melihat tawa seorang wanita yang lebih cantik dan riang dari itu.

MONSTER MALAM

“Kini seorang pengembara mendapati dirinya berada di lanskap berudara jernih nan segar, dan dia memandangi matahari, sementara di bawahnya, segala sesuatu masih hilang dalam kegelapan malam.” —Arthur Schopenhauer

I Ladang hijau belum siap panen. Taman bertabur bunga. Embun harum menguap di dalam cahaya. Nyanyian burung pelanduk di tengah-tengah hijaunya dedaunan hutan. Pesta matahari dan mimpi... Aku ingat... Aku ingat seolah-olah itu adalah kisah singkat kemarin... Memang: Aku ingat!

II Itu adalah musim semi pertamaku. Suatu hari di musim semi Dia datang kepadaku. Siapa? Perawan timur! Dia datang pada suatu malam ketika cakrawala berwarna keperakkan, ketika angin begitu lambat berhembus... Dia datang kepadaku... Dia datang karena aku mengharapkannya. Dia datang karena aku memanggilnya. Dia datang untuk membawakanku musim panas, musim panas dari timur!

III Dia berpakaian serba merah. Dalam warna merah darah dan api yang indah. Baret yang dikenakan di kepalanya berwarna hitam. Hitam seperti kayu hitam paling hitam. Hitam seperti kematian yang paling gelap. Pakaian merahnya bertabur bintang hitam. Baret hitamnya bertatahkan bintang emas. Dia datang kepadaku.

Dia datang untuk membawakanku musim panas, musim panas masa mudaku. Dia memiliki sepasang tangan emas dan kaki perak kecil. Dia memiliki sepasang mata yang dalam di mana dua bintang dan satu takdir menari. Dia memberiku secangkir madu dan seikat kurma pirang. Lalu dia menciumku. Dia menciumku dan membuka peluk padaku Aku menaruh kepalaku di payudara perawannya dan terlelap... * Aku terlelap memimpikan matahari misterius terbit di suatu pagi yang indah di mana orang yang terluka dan umat manusia yang berduka bangkit berlumuran darah dari kegelapan malam yang tragis, malam yang menakutkan, untuk bersama-sama mendaki ke puncak fajar, merayakan pernikahan kebebasannya. Mereka berbicara satu sama lain dalam kabut murni, di dalamnya kulihat piala-piala penuh punya bergetar dan semarak. * Aku memimpikan matahari misterius terbit di suatu pagi yang indah di mana para wanita

bangkit bebas dan telanjang dari ranjang fajar penuh gairah yang terbuat dari emas dan nyala api, untuk berlari menuju keajaiban keindahan Ilahi, yang darinya “Aku” yang bebas dan ateis dapat melakukan, untuk menciptakan, melalui rahasia seni, apa yang dibaurkan dan dilampaui oleh agama mistik kehidupan, alam dan cinta. Aku bermimpi... Dan di dalam mimpiku kulihat seorang lelaki menggeliat dalam api kepedihan sihir dan kejeniusan rahasia, semua siksaan kreatif yang mendalam dan menggairahkan, kepada siapa Kehidupan, sambil tersenyum, menyerahkan sebuah mahkota yang ditenun dari bunga-bunga kegembiraan dan sukacita kemenangan. * Aku bermimpi... Dan dalam mimpiku kulihat Si Cantik melebarkan sayapnya ke seluruh dunia, dan seluruh bumi dipenuhi dengan suara-suara asing, cahaya terluhur, kebenaran baka, dan lagu-lagu abadi. * Aku bermimpi...

Aku memimpikan terbitnya matahari di suatu pagi ajaib, di mana semua makhluk hidup terbangun dengan misteri Fajar, tanpa dendam dalam jiwa mereka, tanpa kebencian di hati mereka, di mana setiap manusia memiliki hukum dan impiannya masing-masing dan berjalan bersama di bawah sinar matahari bundar yang besar dan tegas! Aku memimpikan terbitnya matahari di suatu pagi, di mana pria dan wanita bangkit di Fajar dengan api suci cinta membara di hati mereka, dengan api murni kepolosan masa kanak-kanak yang menyala di mata mereka... Aku bermimpi... Aku memimpikan hubungan persahabatan erat manusia dengan bunga, dengan tanah, dengan alam. Aku memimpikan tawa Dionysus yang riang dan gembira, diiringi suara kecapi Orpheus yang bersemangat dan menggugah... * Ketika aku terbangun, aku melihat gadis kecil dari timur itu menangis tersedu-sedu ketika dia menciumku.

Mataku terbuka di bawah sinar matahari kenyataan, dan aku bisa melihat penglihatan terakhir dari mimpi bersayapku dengan cepat dan langkas melarikan diri melewati gelombang lautan darah menakutkan, yang kemudian bersembunyi di balik gunungan tinggi mayat manusia yang terbakar oleh api mengerikan. Beberapa hari kemudian, perawan dari timur mati di pelukanku, saat dia mati, bayangan hitam yang sangat besar dan menakutkan muncul di hadapanku, dan aku menjerit sedih. Hari itu adalah hari pertama musim panasku.

IV Mencari Matahari dan cahaya dengan putus asa, kulemparkan diriku ke dalam jurang kegelapan yang dalam dan menakutkan. Namun di jurang kegelapan itu aku bertemu dengan “Monster malam”. Karena “Monster malam adalah penyelam setiap kedalaman, yang menggamakan setiap jurang. Dia memiliki matahari amat besar bagaikan piringan emas dalam pikirannya.

Dia memiliki dua suar bercahaya seperti dua bintang yang bersinar di sepasang matanya... Dia mendekatiku, tersenyum kepadaku dan berkata: “Akulah yang ribuan tahun lalu melintasi daratan manusia untuk mengatakan kepada mereka: 'Barangsiapa di antara kamu yang mencari jalan, tutuplah matanya dalam kegelapan dan lemparkan dirinya ke dasar jurang terdalam. Hanya dengan cara ini seseorang akan mampu sampai ke puncak tertinggi dan membuka lebar pupil besarnya di bawah sinar matahari yang tak pernah sama!' “Kau termasuk orang yang, bersedia atau tidak, menanggapi seruanku, oleh karena itu aku ‘Ayo!’” Dia menggandeng tanganku, dan diam-diam kami memasuki “Hutan Hantu”, berusaha menembusnya. Hutan itu luas dan tak berujung. Di dalamnya angin saling bertabrakan. Hantu-hantu menjerit, meratap, memekik, mengerang, dan berteriak. Monster bermunculan dari segala arah mencoba menyerang kami.

Setiap monster menyerupai binatang yang kukenal: serigala, harimau, macan kumbang, burung hantu, katak raksasa, katak lembap, ular hijau, binatang berbisa. Beberapa bahkan menampakkan diri mereka dalam bentuk malaikat, tetapi di balik mantel biru dan merah tua mereka, botol- botol besar berisi racun berwarna hijau dan hitam sembunyi. * Aku takut, aku gemetar! Tapi dia, "Monster Malam" tertawa dan terbahak... Dia memegang tongkat “Kebijaksanaan Baru” di tangannya, yang mana dengan itu dia perintahkan setiap monster hantu yang dia tunjuk untuk menyerang kami, dia memaksa mereka untuk maju dan kemudian mati. * Kami akan mencapai suatu titik di dalam hutan di mana kami tak dapat lagi mendengar ratapan seram, dan keheningan sedalam bayangan. Di depan kami ada tembok hitam tinggi, yang puncaknya menekan kubah langit dan menutup cahaya.

Kemudian “Monster Malam” mengeluarkan suara teriakan tajam dan mengerikan. Beberapa saat kemudian, gerombolan besar yang sebesar puncak salah satu gunung di Pegunungan Alpen berdatangan, kami berbalik meninggalkan rute pembebasan kami yang dimarkahi aroma bunga liar dan setali demi tali sinar matahari yang menarik kami. “Ayo masuk lewat sini,” katanya kepadaku, “ini adalah gerbang rahasia yang tembus ke Kebaikan dan Kejahatan, ini adalah gerbang misterius dari alam ajaibku. * Kami memasuki. Sebuah taman besar terbentang di depan kami yang bersinar di bawah matahari. Pagar mawar dan hawthorn yang luas mengambang liar di lautan aroma, di tengah senyuman hijau tumbuhan, dan musik berpelangi. Dari cabang-cabang setiap tanaman harum, buah-buahan matang bergelantungan, dan di sepanjang jalan setapak, monumen- monumen emas, perak, dan marmer yang besar menjulang sebagai simbol

penghormatan bagi orang-orang hebat yang kini telah mati. * Ketika kami sampai di tengah taman, kulihat banyak orang sejenisku terbaring di bawah naungan pohon delima. Mereka adalah pencuri, gipsi, gelandangan, orang-orang nakal, bohemian, penunggang awan, penakluk bintang-bintang, penyair Ketiadaan, pahlawan utopia, ksatria ilusi, orang gila, preman, nihilis... Mereka adalah saudara-saudaraku. “Monster Malam” menunjukkannya kepadaku dengan isyarat tangan, sambil berkata dalam bahasa Nordik: “Lihatlah saudara-saudaramu.” Aku berlari menghampiri dan menjabat tangan mereka. Aku berlari menghampiri dan mencium kening mereka. Aku berlari menghampiri dan menyebut mereka saudara. Di tengah-tengah mereka, terbaring di atas hamparan bunga mawar, mayat seorang wanita muda bergaun darah.

Gaunnya bertatahkan bintang hitam kecil dan baret hitamnya bertahtakan bintang emas kecil. * Mereka telah melumuri wanita muda yang kukenal dengan baik itu... Dia memiliki sepasang tangan emas dan kaki perak kecil... Dia berasal dari timur, dia masih perawan. “Kenyataan tak ada di wilayahnya,” kata saudara-saudara anehku ini kepadaku. “Setelah kematiannya, kami melumurinya balsam mayat agar dia dapat hidup dalam semua impian kami, sehingga dia dapat menjadi makhluk ideal, tertinggi, dan abadi milik kami!”

V “Monster Malam” mendekati nisan granit hitam besar bersinar yang terpahat: “Di sini terbaring–menanti–Angin dari Segala Angin– Badai dari Segala Badai–Topan dari Segala Topan–Api dari Segala Badai—Perawi dari Segala Perawi—di sini— Zarathustra— beristirahat—menanti Waktunya.

TENTANG PENERJEMAH

Rifki Syarani Fachry, penyair kelahiran Ciamis, 1994. Buku puisinya Akheiron terbit di Philadelphia, diterbitkan oleh Ethel.