Baca PDF (OCR): Calo Kiamat: Kumpulan Puisi

41 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 183 ms

Daftar isi
  1. Kumpulan Puisi:
  2. CALO KIAMAT
  3. Mugi Anggari
  4. Daftar Isi:
  5. Puisi-puisi Bunuh Diri
  6. Biarkan Terbakar
  7. Aku Tak Tahu
  8. Ada-ada Saja
  9. Tak Apa
  10. Puisi Punk
  11. Calo Kiamat
  12. Keringat Dendam
  13. Selamat Datang
  14. Matahari, Bukit dan Rolet Rusia
  15. Praktik Bakar Diri
  16. Setumpuk Tulang
  17. Tentang Penyair

“Aku membuka laptop, tancap kabel penghubung, lalu kucetak (kumpulan puisi) dengan kertas A4 dibagi dua. Baru saja sampai Di balik Pintu: memasuki goa // tak ada yang benar-benar hitam aku hilang sadar. Memasuki alam mimpi, tidur saat jatuh magrib. Aku bertemu Anggari sedang komat-kamit: Kekalahan akan menampung semua oranglengkap dengan kernyit cekung mata tajamnya yang dalam. Berjalan di atas bukit dengan angkuhnya walau tinggal tulang dan kebencian di perut- nya. Dunia memang sudah berantakan dari dulu. Sejak mitos dan mantra mampir di selangkangan kera dan sim- panse. Aku bertanya untuk apa masih mengeluh dan menulis? Tidak apa // Puisiku bukan puisi // Ya, memang bukan! Akan tetapi saat sunyi dan kesendirian terjebak juga dalam pencarian makna, memenuhi kepala dengan lamunan kearifan yang selalu dihindarinya. Akan kukatakan! Selamat datang! Risiko ditanggung olehmu, Bangsat!” Syamsul Falah (Penyair).

“Kumpulan puisi ini adalah pantulan kecil keadaan masyarakat sekarang. Masyarakat yang kolot dan kalut dalam tipu daya. Di dalam buku ini kalian akan menemukan efek samping dari itu: ketidakberdayaan, kebencian, dan penerimaan dengan beragam wajah. Tan-

pa umpatan, tanpa sesuatu yang diandaikan dengan seperti atau menjadi; karena memang baginya tak ada yang musti (dan) // tak ada yang harus. Kumpulan puisi ini, meskipun mati, mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Sesuatu yang konkret tanpa distorsi abal-abal yang sekadar dikaitkan. Mereka telan- jang di dalam pekat cuaca dengan sisa ganja dan botol minuman di tangan mereka, menciptakan ruang kedap suara, menikmatinya habis-habisan semalam suntuk. Dengan cara mereka sendiri. Sampai matahari timbul dan mereka tenggelam, kumpulan puisi ini dengan sadar tidak akan menjadi apa-apa. Kumpulan puisi ini nakal, seperti penulisnya. Puisi-puisi- nya spontan dan keras kepala. Mereka egois dan ta- mak. Mereka suka menampar dan menyayat. Wajahnya buruk dengan mata jereng dan hidung jambu bol. Tapi biar bagaimanapun, mereka cuma puisi. Mereka cuma bisa protes dan menghina. Mereka tidak mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Karena mereka cuma puisi, tak lebih.” Ahmad Habibie (Penyair).

“Puisi-puisi Anggari bergerak dari pengamatan ke pe- renungan yang berulang-ulang” Rifki Syarani Fachry (Penyair).

“Membaca beberapa larik puisi bernada anarki dalam buku Calo Kiamat membuat saya semakin yakin bahwa hidup tanpa negara adalah harus, dan agenda peng- gulingannya perlu kita rencanakan sesegera mungkin!” Panji Kumbara (Penyair).

“Anggari mengolah kesinisan dan menulisnya dengan tetap menjadi seorang pemalu.”

L. Sadra (Penyair).

Kumpulan Puisi:

CALO KIAMAT

Mugi Anggari

Calo Kiamat (Kumpulan Puisi) Mugi Anggari

Penyunting: Muhamad Iqbal Penata isi: Panji Kumbara Desain sampul: Anon

11x16cm, 41 Halaman

Diterbitkan di Indonesia oleh Talas Press, 2024. Didistribusikan oleh KNGHTM dan Seng-iseng Zine.

E-mail: [email protected] Instagram: @talaspress

Daftar Isi:

Puisi-puisi Bunuh Diri 9
Biarkan Terbakar 10
Aku Tak Tahu 11
Underground 12
Kebencian 13
Maraton 14
Ada-ada Saja 15
Tak Apa 16
Mayday! 17
Distraksi 18
Puisi Punk 20
Posko 21
Calo Kiamat 22
Mampus! 23
Amaterasu 24
Ugal-ugalan 25
Pintu 26
Keringat Dendam 27
Selamat Datang 28
Agony 30
Seremoni 31

Pathos 32
Matahari, Bukit dan Rolet Rusia 34
Locoweed 36
Praktik Bakar Diri 37
Setumpuk Tulang 38
7°19'30.10''S 108°21'41.3'' E 39
Palung 40
Tentang Penyair 41

Puisi-puisi Bunuh Diri

Menyerahkan dirinya ke Guillotine kepalanya buntung di keranjang anyam.

Penyair-penyair itu akan miskin lalu mencari pekerjaan lain.

Biarkan Terbakar

Buang lagu dan tepuk tangan itu. Aku tak pernah ingat kapan aku lahir. Jangan ditiup! Biarkan lilin menyala di atas tart. Aku suka melihat itu terbakar leleh-susut, dan padam.

Aku Tak Tahu

Aku tak tahu aku hanya suka melihatmu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan aku bosan dengan puisi itu sangat menyebalkan akan kubuang ke sembarang biar saja dipungut orang-orang. Aku tak tahu aku hanya suka melihatmu. Aku ingin bernyanyi denganmu dengan kenyataan bukan bualan. Aku ingin berdansa denganmu di tengah dunia sialan ini. Aku tak tahu aku hanya suka melihatmu dengan cara begini.

Underground

Aku cinta ketika kita selalu menciptakan ruang kedap suara. Itu melindungi diri kita dari orang lain. Seperti jalur bawah tanah yang dibuat tikus-tikus.

Aku suka sesuatu yang dibuat untuk merusak. Seperti musik yang kita dengarkan: Menghancurkan keramaian yang naif menukarnya dengan kesunyian yang impulsif.

Kebencian

Aku begitu benci situasi ini. Berada di antara orang-orang banyak bicara: Mulutnya berbusa keracunan bahasa.

Tapi, aku lebih benci diriku sendiri. Berada di antara orang-orang ini. Aku baru tertawa belum sampai memukul wajahnya.

Maraton

Kau, berlarilah dengan kecepatan 20km/jam. Keringat hujan dari apokrin yang nganga. Membanjiri tubuhmu yang kapas. Hidup adalah maraton di liar jalan raya yang macet total. Berlarilah kau! Di garis yang ditarik melingkar bermimpi meraih garis finis. Berlarilah bertaruhlah di lintasan setan.

Ada-ada Saja

Hidupku begini ada. Metropolitan punya gaya antrian pom bensin terlalu panjang dompetku ngamuk-ngamuk diambil ceban.

Hidupku begini ada. Kurus; dirawat kemiskinan. Metropolitan punya gaya Rokok, dan ganja kalau ada.

Hidupku begini ada. Metropolitan punya gaya. Aku ada dan tak dilipat ganda!

Tak Apa

Puisiku bukan puisi. Ya memang bukan. Kata-kataku racauan disapu petugas kebersihan.

Ia mati berkali-kali: disobek-sobek dicaci-maki.

Tidak apa. Puisiku bukan puisi. Ya, memang bukan!

Mayday!

Sebuah pesawat jatuh menghantam wajah laut. 189 penumpang dengan maskapai pencarian cinta; kelabakan dan mati berantakan bersama pilot, pramugari dan gara menuntun 189 penumpang ke dasar laut.

Mayat-mayat habis dicabik hiu-hiu lapar. Bangkai pesawat habis ditelan bulat-bulat laut.

Cinta telah habis dan mereka tak pernah menyadarinya.

Distraksi

Nirmana-nirmana di balik palpebra. Oh ruang rimba belantaraku! Gelap kelap-kelip kuning kunang-kunang. Oh ruang rimba belantaraku! Penglihatanku kabur-kaburan berkelana tanpa peta di kepala menjelajah jantung rimba bahaya. Oh ruang rimba belantaraku! Aku adalah seorang penjelajah yang takkan pernah menemukan apa-apa. Oh ruang rimba belantaraku! Nirmana-nirmana di balik palpebra. Oh ruang rimba belantaraku! Gelap kelap-kelip kuning kunang-kunang. […]

Oh ruang rimba belantaraku! Penglihatanku berputar-putar berlari; gelap dan butuh distraksi. Ke mana perlu kucari di balik semak rawan cepu dan polisi.

Puisi Punk

Punk Is Dead Punk Not Dead Punk Is Dad Pang Ktipang Pang suara gendang bertalu-talu!

Posko

Dunia adalah arena bencana. Setiap kota adalah posko. Teriakan orang-orang ricauan kutilang.

Tangisan orang-orang jarum-jarum air hujan; anak-anak hanyut direbut banjir bandang.

Dan solidaritas adalah mie instan dilarang lapar selama 3 jam.

Calo Kiamat

Siapa mau naik bus listrik, kereta cepat. Antar kota antar kiamat. Insyaallah diantar dengan selamat. Bolehlah naik dengan percuma tapi bayar, karena kemajuan adalah usaha. Bolehlah naik dengan tergesa tapi tetap bayar, karena kiamat punya harga. Tidak ada yang gratis selama hidup dalam cekikan negara. Antar kota antar kiamat. Insyaallah diantar dengan selamat.

Mampus!

Tinggal di kota adalah kontrakan. Kalender menodongkan pisau di setiap tanggal. Ruangan sepetak jadi rumah jagal.

Amaterasu

Silakan hubungi 113 kalau tidak percaya. Api di mana-mana langit terbakar amaterasu. Api di mana-mana: rumah-rumah hangus air mata mendidih di kubangan cacing-cacing kepanasan dendam meluap-luap. Mereka telah menggali tambang-tambang api. Silakan hubungi 113 kalau tidak percaya. Api hitam itu akan membakar power ranger biru.

Ugal-ugalan

Sepanjang-panjang jalan kulaui dengan ugal-ugalan. Dunia adalah keranjang sampah dan betapa aku membenci kota. Setiap orang lahir dari dalam kardus bersusah-susah dahulu mati-matian kemudian.

Sepanjang-panjang jalan kulalui dengan ugal-ugalan. Dunia adalah padang. Kota adalah kandang. Sedangkan aku seorang pengecut punggungku penuh luka cambuk. Dan sepanjang-panjang jalan kulalui dengan I can’t keep up, Can’t keep up, Can’t keep up Out of Step with the world!

Pintu

Kegelapan adalah pintu. Menggali lubang kuburan sendiri untuk kuncinya. Maka masuklah sambil berpuisi meninggalkan dunia serupa sufi.

Kegelapan adalah pintu. Dari silet cahaya peradaban dunia. Minggat membawa luka serupa musafir meninggalkan desa.

Di balik pintu; pejamkan mata tak ada yang benar-benar gelap. Di balik pintu; masuki goa tak ada yang benar-benar hitam.

Keringat Dendam

Tak ada kemenangan hari ini biar luka peluru membusuk sampai tamat. Tanggung semua rasa sakit jawab semua dengan kenyataan pahit.

Hidup tak patut dimenangkan. Tetapi keringat dendam masih mengalir sampai sekarang. Kekalahan akan menampung semua orang.

Selamat Datang

Memasuki ruang ini di mana ratusan mata asing muncul dari dalam gerhana. Seperti dalam gua dengan ratusan kelelawar.

Berada di ruang ini benar-benar gelap. Setiap tubuh menyatu kaki tangan memanjang; menggerayang.

Dan selamat datang! Di ruang yang kalian pilih sendiri. Jangan sungkan. Jangan heran dengan sifat kebinatangan. Jangan lupa pasang badan. Sebab tak ada ruang aman dalam dunia yang berantakan.

Selamat datang! Resiko ditanggung oleh kalian!

Agony

Dalam keadaan tinggi atau rendah tetap tak bisa tertawa. Sedangkan sepi masih mabuk bersama kawanannya.

Kesendirian adalah tulang belulang habis dimakan kucing belang tiga.

Seremoni

Orang-orang membangun potret kenangan selama empat tahun paling singkat. Setiap lekuk senyuman adalah bendungan. Air mata adalah barang dagangan. Cekrek! Dan instagram adalah ruko pinggir jalan.

Aku membangun semuanya dengan mata dan kepala semenjak aku datang.

Tak ada yang musti. Tak ada yang harus.

2022–2023

Pathos untuk Vernanda Krishna

Setelah selamat dari beberapa kematian yang disengaja atau tidak. Aku tetap hidup!

Dan setiap napasku adalah siksaan vonis hidup sampai akhir zaman.

Di mana aku menentang segala. Tindakanku adalah api Aku berjalan membakar matahari. Orang-orang kepanasan terbakar api kesendirianku. Orang-orang marah. Aku kalah jumlah. Pasrah diarak ke tanah lapang tangan dan kakiku ditali aku dihujani batu.

Dan setiap napasku adalah siksaan vonis hidup sampai akhir zaman.

Dan ayo! Jangan tanggung-tanggung. Rajam aku dengan seribu sigil lempar, jadilah ababil.

Setelah selamat dari beberapa kematian yang disengaja atau tidak. Aku masih saja tetap hidup!

Matahari, Bukit dan Rolet Rusia

Aku berjalan ke atas bukit saat matahari tengah sombong- sombongnya membakar kulit-kulitku. Aku berjalan ke atas bukit dan kesendirian membuntutiku mindik-mindik di sela alang-alang. Aku berjalan ke atas bukit menggenggam revolver dua peluru. Aku berjalan ke atas bukit dan kesendirian membuntutiku ingin merebut revolverku. Aku berjalan ke atas bukit meninggalkan pemukiman meninggalkan masa depan. […]

Aku di atas bukit menggenggam revolver menembak kesendirianku. Aku di atas bukit peluru tinggal satu. Aku di atas bukit saat matahari tengah sombong- sombongnya saat laras lagi hangat-hangatnya. Aku di atas bukit silinder revolver kuputar acak lalu menodong kepalaku sendiri. Aku di atas bukit bermain Rolet Rusia bernyanyi “Moriré de cara al sol!”

Aku di atas bukit saat matahari tengah sombong- sombongnya terus membakar kulit-kulitku dan kesendirian bangkit dari mati paling satu!

Locoweed

Kuda berpacu dalam dadaku dengan kecepatan ogah-ogahan tapi pasti. Setelah melewati seribu Pink Floyd melangkahi pelangi-pelanginya aku sampai. Di mana antah aku berantah musik-musik dub pecah-pecah kudaku jingkrak lincah-lincah.

Praktik Bakar Diri

Ratusan orang asing dengan pakaian tolol bermahkota segi lima di sekelilingku. Aku terjebak kesinisanku sendiri tak bisa bernapas. 2,5 liter darahku mendidih; digarang api-api benci aku tiba-tiba membakar diriku sendiri.

Setumpuk Tulang

Aku menimbun dengki di kepalaku; Kepada kalian! Dan tolong jangan bertanya patung-patung mencaci kepalaku dikencingi. Lalat-nyamuk-semut selalu bersarang di tubuhku. Dan aku setumpuk tulang sibuk menusuk dan mengganyang. Aku menimbun dengki di kepalaku; Kepada kalian!

7°19'30.10''S 108°21'41.3'' E Kpd. Amorpetong

Batu-batu bekas rajam; tangan-tangan masyarakat. Ruang sepetak; 4x4 adalah saksi malam-malam penghianatan. Batu kecil-kecil dan gerombolan orang-orang kerdil adalah saksi hantaman keras paling nihil.

Palung

Aku tahu kutenggelam dan tak dapat berenang. Siksa hidup, hukuman dan setitik kebencian membuatku semakin ke dalam. Lautan kotor masyarakat penuh suara konyol dan diktator. Seni memang menyelamatkan walau sekejap dan penuh kemunafikan. Itu membuat titik kebencianku memuncak pindah ke titik palung paling palung dan aku tetap akan tenggelam jadi remuk redam tubuhku sisa tulang-belulang.

Tentang Penyair

Mugi Anggari, seorang anarkis indivi- dualis dan penyair kelahiran Majaleng- ka, 1998.