LAB. SOSIOLOGI
PANTIK!
FAR PENCIL ACRYLIC ON CANVAS 30X20 CM
BUKANLAH SEBUAH JURNAL ILMIAH YANG DIISI OLEH MEREKA YANG MENYEBUT DIRINYA
PROFESIONAL. KAMI ADALAH RUANG
EKSPERIMEN YANG DIISI OLEH GAIRAH-
GAIRAH YANG MELEDAK TERBAKAR.
KAMI MEMBIARKAN DIRI KAMI TERBAKAR OLEH KEGAIRAHAN DAN MENARI DENGAN KATA-KATA DI TENGAH MALAM SECARA SERAMPANGAN HANYA
UNTUK MEMBUAT KEMAPANAN TAMPAK LEBIH BERANTAKAN. KAMI ADALAH
PERCIKAN API YANG MEMANTIK JALINAN GAIRAH YANG BERKELINDAN UNTUK
MENYATAKAN BAHWA KITA SEMUA ADALAH AMATIRAN.
KAMI MEMBEBASKAN DIRI DARI SEGALA BENTUK ALIRAN, MAKNA, MAUPUN
DEFINISI SEMPIT YANG MEMUAKKAN. SEGALA JENIS KARYA YANG ADA PADA ZINE INI ADALAH KEBEBASAN GAIRAH YANG BERAKSELERASI DALAM ENERGI
YANG TAK TERDEFINISI.
KAMI DIPANTIK OLEH KESENANGAN YANG MENCEKAM. RIBUAN RACAUAN
YANG MENYELIMUTI ISI PIKIRAN BERHAK UNTUK DIRAYAKAN TANPA
PENGECUALIAN. KAMI ADALAH MANIFESTASI DARI KEMERDEKAAN PIKIRAN
YANG TIDAK PERNAH DIPROKLAMASIKAN.
MARI BERSAMA-SAMA KITA MENINGGALKAN PUSAT DAN MENYEBAR KE TIAP-
TIAP SISI DI PINGGIRAN TRAGEDI: KAMI BERPUTAR-PUTAR DI MALAM HARI DAN
DI SINI KAMI DILAHAP API.
IN GIRUM IMUS NOCTE ET CONSUMIMUR IGNI
Pensil-FAR Gelap-NT Panduan Berbahagia-Sus Scrofa Nanti Ketika Aku Mati – Yuri Perang dan Tontonan-Canis Lupus Always Has Been – Inersiapologia Kelut Melut – Pramadeva Savior-Dzaky Kiamat Ditandai Merah di Tanggalan – Dera Pusara Buai Belaka – Syafiq Sajak Tentangmu – Aristia Arak, Bangku Taman, dan Pendar Rembulan – Patipadam In Bloom-Inersiapologia Membongkar Kepahlawanan Minke-RM Iqbal Azimat Wajah Pencuri-Patipadam Get Lost, Find Yourself Dead – Dera Pusara Di Pesta Ini Kami Juga Merayakan Pemakaman – Mdptp Try Me-Inersiapologia Tentang Rencana, Ekspektasi, dan Hantaman Realitas Dalam Pilihan-Dilahapmuram Balasan untuk Kekasih -Dilahapmuram Aku Tak Tau Apa Yang Aku Bicarakan-RM Iqbal Suffering-Ceng Ridho Aku Tak Ingin Sepertimu-Ceng Ridho Orbituari Lain Untuk Retakan Lain – Dera Pusara Ilustrasi-SintaDewi Untitled – Jingga Lampion Tuhan Aku Mabuk Malam Ini-Pramadeva Pukul Sepuluh malam – RM Iqbal
Foto-Wahab Hasbullah
Notasi 20 – Mdptp
Crowd-RM Iqbal Apa yang Sesungguhnya-Muhammad Ardian Syah Bagaimana Mencintai Seperti Sapardi-Pramadeva Bagiku, Untukmu-Vgfrst Bunga-NT Fajar-Vgnfrst Penyelamat – M. Royfan. Ardian Modern God -
NT GELAP
PANDUAH
Kalah
Yang
BERBAHAGIA
Sus Scrofa
Kunci mendasar: terlahir dari keluarga yang kaya raya (minimal orang tuamu memiliki bisnis besar dengan karyawan yang banyak namun gajinya sedikit-sedikit saja). Hanya memungkinkan bagi laki-laki, tidak untuk perempuan—sebab perempuan itu selalu di bawah laki-laki.
Kalau tidak memiliki kunci mendasar, silakan untuk menyalahkan kelahiran. Jika sudah terlanjur lahir dan tidak puas atas kelahiran, silakan untuk mempersiapkan diri melompat dari atas gedung mal, atau minimal merebahkan badan di atas rel ketika kereta api mau lewat—agar kematianmu mengesankan, dan namamu tercetak dalam surat kabar nasional.
Kalau Anda memiliki kunci mendasar tersebut, selamat! Anda berhak masuk ke kualifikasi berikutnya. Cekidot!
1. Tanamkan dalam dirimu bahwa kamu adalah seorang pemenang. Yakinkan diri, bacalah buku-buku Darwin, dan yakini bahwa yang kuat akan menang, dan yang kalah akan tumbang. Persetan dengan mereka yang kalah—pada dasarnya, kekalahan sudah diciptakan oleh para pemenang sejak mereka dilahirkan. Itulah kamu, pemenang! Kaulah pemenang! Ucapkan pada dirimu sebelum tidur, homina homina homina! AKULAH PEMENANG.
2. Bercita-citalah setinggi langit: yakini bahwa dirimu mampu untuk membeli tanah di surga dan menyewakannya pada orang-orang lain.
3. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Pelajari ilmu "menghisap"dari orang tuamu yang pebisnis itu sejak kecil. Tanamkan pada dirimu keyakinan bahwa manusia memang tercipta sedemikian rupa; memiliki peran yang berantonim. Ada yang kaya, ada yang miskin. Dan kamu mendapatkan peran sebagai orang kaya, maka manfaatkanlah hal-hal sebaik mungkin agar kelak kamu bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih besar dari orang tuamu yang pebisnis itu.
4. Manfaatkan jaringan sosialmu dengan menggunakan aksesmu dalam melakukan filantropi. Ya, benar! Tentu saja namamu harus ada. Sebab kamu pantas untuk memberi pada mereka yang berhak menerima. Kamu membutuhkan sanjungan dan dukungan moral agar rencanamu dapat berjalan dengan maksimal. Yakinlah bahwa Tuhan bersama orang-orang yang menang.
5. Belajarlah ekonomi lebih giat dari pakar ekonomi yang bekerja di pemerintahan. Belajarlah untuk membaca situasi agar kamu dapat menciptakan ilusi yang mampu menjerat siapa saja untuk tertarik pada ide bisnismu itu. Jangan pernah takut untuk gagal—sebab kalau gagal, kan, masih ada orang tuamu. Jika orang tuamu tiada, ya, pakai saja warisannya!
6. Belajarlah ilmu-ilmu kemanusiaan. Sebab pemenang juga membutuhkan orang-orang lain (orang-orang kalah) untuk menyandarkan bahu mereka yang rapuh itu dalam upaya mengangkat derajatmu lebih tinggi.
7. Bersifatlah rendah hati kepada semua orang dengan tujuan memperbanyak jaringan sosial. Hal ini akan menjadi modal sosial yang mampu menunjang rencanamu yang besar itu. Jangan lupa untuk terus meyakinkan diri bahwa orang-orang itu adalah figur pemeran yang tercipta sebagai orang kalah, sebab mereka telah ditetapkan untuk menjadi biasa-biasa saja.
8. Tunjukkan pada orang lain melalui sosial media bahwa dirimu adalah orang yang kaya—agar jangan sekali-kali bermain-main denganmu yang mampu melakukan apa saja yang bisa merugikan mereka. Tetapkan hati bahwa pertemanan hanyalah sebuah transaksi yang dingin. Tidak perlu merasa rugi untuk tidak memiliki teman yang dekat. Tujuan pertemananmu hanya satu: membuatmu dapat mewujudkan rencanamu.
9. Membangun bisnis atau meneruskan bisnis orang tuamu. Melalui berbagai modal kultural, sosial, dan simbolik yang kamu miliki, tentu tidak akan sulit untuk mewujudkan suatu bisnis. Melalui pengetahuanmu itu, kamu bisa memiliki kekuasaan yang bisa kamu manfaatkan secara baik.
10. Melalui berbagai kerja kerasmu, kamu akan memiliki bisnis yang luar biasa. Rekrutlah pegawai yang muda, sehat, dan paham agama. Muda: lincah dan mampu diandalkan; sehat: tidak sakit-sakitan yang hanya akan merepotkanmu saja; paham agama: bukan ibadahnya atau pengabdiannya pada Tuhan yang lebih utama, namun konsep kebersyukuran dan keikhlasan menjadi hal yang utama.
11. Rekrutlah pegawai-pegawai yang banyak dengan gaji yang sedikit (namun masih terlihat wajar). Pada intinya, surplus keuntungan dan akumulasi modal harus kamu tentukan secara tegas agar bisnismu lebih berkembang pesat.
12. Jam kerja sewajarnya. Berikanlah waktu libur dan wisata bersama orang-orang kantor. Tanamkanlah rasa kekeluargaan pada mereka.
13. Pilihlah seorang perempuan untuk menemani dirimu dengan kriteria sebagai berikut: cantik dalam kriteria normatif, yakni langsing; putih bersih; patuh; tidak bekerja; dan mampu membuatmu terangsang setiap hari. Anggaplah perempuan sebagai boneka yang dapat kamu poles. Tanamkan keyakinan pada dirimu bahwa perempuan adalah second sex.
14. Buatlah anak, minimal satu dan maksimal tiga. Ajari mereka untuk menjadi pemenang, seperti kamu saat masih kecil.
15. Belilah properti di kota-kota besar untuk investasi jangka panjang, meskipun tidak terlalu berguna. Belilah tanah sebanyak mungkin sampai kamu lupa bahwa tanah itu adalah milikmu. Teruslah membeli tanah agar orang-orang yang kalah tidak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkanhidup di kota yang sudah, sebagian besar, kamu kuasai dengan rapi dan elegan.
16. Jangan terlalu pedulikan kemiskinan. Ingat, kemiskinan adalah masalah bagi orang-orang yang miskin itu sendiri. Salah sendiri terlahir miskin!
17. Persiapkan masa tuamu dengan baik. Sewalah beberapa pembantu yang dapat kamu suruh-suruh untuk menyeduhkan kopi hangat di sore hari, atau mengambilkan buku di rak perpustakaanmu, atau memijat pergelangan kakimu, atau menyediakan buah- buahan yang segar, atau menyiram toilet bekas buang air besar, atau mencarikanmu gadis muda untuk menggantikan perempuan tua keparat yang mengganggu pemandanganmu itu!
18. Tetap membekali diri dengan pengetahuanagama—jika kamu memiliki suatu kepercayaan. Memangnya untuk apa tidak percaya pada hal-hal di luar nalarmu itu? Setidaknya kamu memerlukan sebuah jawaban yang tegas dan berbudaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di alam kubur nanti.
19. Pantaulah sosial media. Tertawakanlah mereka yang merasa bahagia di masa muda, namun kesulitan ketika harus menebus cicilan rumah dengan bunga tinggi melalui gaji yang tidak seberapa! Belum lagi jika istrinya juga kesulitan, sedangkan anaknya kekurangan makanan yang bergizi—sementara tidak ada ruang yang memadai bagi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal secara mudah. Berpuas dirilah ketika menyadari bahwa banyak tanah kosong yang kamu beli namun tidak digunakan. Sebab dengan begitu orang-orang kalah tidak berkesempatan untuk meraih kebahagiaan. Sudah tidak bahagia, berseru pada Tuhan hanya saat kesulitan saja! Berbahagia dan melupakannya, lalu kembali lagi dengan raut wajah sedih yang penuh dusta! Dasar, orang miskin! Ketidakbahagiaan dan neraka sudah menanti mereka—kau hanya perlu menertawakannya.
20. Belilah tanah pemakaman yang luas untuk dirimu sendiri. Sisakan sedikit saja ruang bagi orang lain. Setidaknya kamu harus menyiapkan tempat peristirahatan terakhir dengan gagah berani: tanah makam yang luas saja dapat kamu beli dengan mudah, apalagi tanah surga! Jangan berikan kesempatan pada orang-orang kalah untuk mendapatkan ruang yang memadai bagi mereka dalam meregangkan sendi-sendi mereka yang pegal akibat efek pukulan maut yang diberikan malaikat di alam kubur.
21. Sisanya, silakan untuk berimprovisasi. Setidaknya kamu sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup dan keyakinan yang teguh bahwa dirimu adalah seorang pemenang.
Sus Scrofa bukan seorang manusia yang spesial karena Sus Scrofa adalah babi hutan
nanti ketika aku mati, bulir-bulir air yang biasa kita lihat sehabis hujan itu tidak akan indah lagi lampu-lampu di sepanjang trotoar menuju rumah kita itu tidak akan gemerlapan lagi
nanti ketika aku mati, ruang makan gerah yang selalu kaukeluhkan itu tidak akan harum semerbak cabai lagi botol-botol sabun yang berubah-ubah rasanya itu tidak akan penuh lagi setelah aku mati, cangkir kopimu kembali sendiri kau dan putung rokok ditemani sepi setiap hari memohon untuk sakitmu segera pergi memohon untuk aku segera diganti.
-yuri
PERNG
TONTON△N
Canis Lupus
Duarrrr!!! Suara bom terjadi di medan perang yang meluluhlantakkan sebagian dari prajurit dari Bangsa Irsyd. Bom itu dijatuhkan dari pesawat tempur pasukan Bangsa Dhoir yang siap menghabisi siapapun yang ada di bawahnya "Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi yang demikian?" "Kita bersembunyi saja. Lagipula, mereka pasti mengira bahwa pasukan kita sudah tewas." Dua orang prajurit yang terpental ke gorong-gorong akibat ledakan tadi tampak berbisik-bisik dengan nada yang sedikit bergetar. Mereka adalah sebagian dari prajurit Bangsa Irsyd yang selamat dari ledakan tadi. "Kita harus kembali ke perbatasan untuk menginformasikan kepada bala pasukan yang lain bahwa prajurit merah telah dikalahkan oleh lawan." Sementara itu, matahari mulai tenggelam di balik bukit. Cahayanya meredup setelah seluruhnya ditelan oleh bukit tersebut. Di balik bukit itu, prajurit merah Bangsa Irsyd telah dikalahkan oleh pasukan Bangsa Dhoir dalam perebutan wilayah kekuasaan. Damar, salah seorang prajurit Bangsa Irsyd yang bertugas sebagai petugas medis tempur di sebuah kompi infanteri dalam perang ini, tampak sedang mengobati prajurit yang terkena peluru di bagian perutnya. "Apakah malam ini aku sanggup untuk bergabung dengan salah satu barisan peleton untuk menyerang Bangsa Dhoir?" tanya prajurit itu kepada Damar. "Sebaiknya, jangan. Tunggu hingga lukamu membaik, baru kau bisa bergabung." jawab Damar sambil bersiap untuk bergabung dengan peleton pasukan yang telah siap di luar tenda.
Bangsa Irsyd mengerahkan Resimen yang terdiri lebih dari 3000 prajurit untuk menggempur wilayah kekuasaan Bangsa Dhoir bagian selatan secara mendadak. Mereka bukan hanya menyerang dari tanah, namun juga udara. Pasukan tank, dengan infantri, artileri, dan pesawat tempur bekerja sama. Ujung tombaknya adalah para prajurit berpangkat kecil. Mereka dikorbankan untuk menyerang terlebih dahulu. Jika nanti mereka mampu mengecoh fokus lawan, maka pasukan prajurit yang lain mampu menusuk jantung pertahanan lawan dengan strategi yang telah disusun sedemikian rupa. Ini merupakan ajang balas dendam setelah ratusan prajurit merah dari Bangsa Irsyd dimusnahkan secara membabi buta pada siang tadi.
Prajurit Bangsa Dhoir yang sedang hening dikagetkan dengan bunyi ledakan di sekitar pos penjagaan wilayah mereka. Lima orang penjaga terlihat mati mengenaskan. Pasukan Bangsa Irsyd mulai menyerang dari berbagai sisi. Baku tembak terjadi secara hebat. Di posisi ini, Damar mengikuti rekan-rekannya yang sedang berjuang demi ambisi untuk menguasai wilayah Bangsa Dhoir bagian selatan. Dia berusaha menyeret rekan-rekannya yang tertembak untuk menepi dan memberi mereka suntikan obat penghilang rasa sakit. Dia merasa ingin membantu lebih banyak dalam peperangan sengit ini. Namun dia hanya mengikuti perintah dari Jenderal Besar bahwa petugas medis hanya diperkenankan untuk mengobati orang-orang, bukan untuk terlibat dalam baku tembak. Pesawat tempur mulai melancarkan roket penghancurnya. Posko markas-markas yang terbuat dari tenda itu terbakar dan terbang melayang. Prajurit Bangsa Dhoir menggelepar secara bersamaan seperti ratusan semut yang sekarat. Damar dapat merasakan getaran-getaran yang diakibatkan oleh ledakan ini. Dia hanya berlindung di balik semak-semak sambil mengumpulkan teman-temannya yang sekarat untuk diobati. Meski begitu, dia tetap mampu menghirup aroma campuran antara asap, besi, tanah, dan anyir darah segar.
"Kita menang! Kita mampu menguasai wilayah Bangsa Dhoir, meski hanya
seperempat bagian saja. Perang malam ini kita sudahi!"
Teriakan itu adalah suara Mayor Jenderal yang memimpin salah satu divisi Bangsa Irsyd. Damar menyadari bahwa perang ini sudah usai, setidaknya untuk hari ini. Hari ini memang tampak lebih lama bagi Damar. Selain sejak pagi tadi prajurit banyak yang meregang nyawa, malam ini bala prajurit lebih banyak yang terluka, meski tidak banyak korbanjiwa. Damar hanya khawatir jika malam ini akan menjadi yang malam yang panjang. Angin kemenangan berembus dengan jinak. Kepala Damar mulai dingin dibuatnya. Namun hatinya tetap hangat, mengingat bahwa bangsanya berhasil merebut wilayah kekuasaan Bangsa Dhoir bagian selatan. Meski begitu, Jenderal Besar tetap memperingatkan bahwa besok adalah hari yang waspada. Selain mereka mampu menghabisi seluruh pasukan Bangsa Dhoir di wilayah itu, bisa jadi pasukan Bangsa Dhoir dari wilayah lain berbalik menyerbu mereka. Perang akan tetap dilanjutkan dan kemenangan tidak akan berakhir sampai di sini saja. Damar terus bersemayam dalam diam. Dia terjaga semalaman. Kepalanya dipenuhi dengan kekhawatiran pada hari selanjutnya. Setelahwilayah didapatkan, lalu apa? Perang tetap terjadi, bahkan dengan semangat yang lebih membara dan massa yang semakin banyak. Seakan-akan mereka berlomba untuk memesan tempat di kuburan massal. Mereka menjemput hari akhirnya sendiri yang dapat sewaktu-waktu terjadi. Apakah rasa patriotisme semua bangsa yang terlibat dalam peperangan dimunculkan dengan adanya antagonisme terhadap kelompok bangsa lain? Mengapa mereka saling membunuh satu sama lain? Damar tidak berpikir bahwa wilayah adalah alasan satu-satunya mereka berperang. Namun begitu, dia hanya menginginkan kemenangan dan mengakhiri peperangan dengan segera.
Melalui strategi pertahanan yang ketat, Bangsa Irsyd tampak lebih siap dalam menghadapi serangan secara tiba-tiba dari Bangsa Dhoir. Jebakan-jebakan dipasang untuk melumpuhkan serangan pertama dari Bangsa Dhoir. Teriakan-teriakan yang mencekam tampak lebih menakutkan bagi Damar. Dia merasa ingin terlibat lebih banyak lagi untuk menghilangkan gambaran-gambaran menakutkan yang memenuhi isi kepalanya. Dia ingin turut membunuh orang-orang yang melukai rekan-rekannya. Setidaknya, hanya itulah motif Damar. Dia membenci kelompok lain karena mereka menyerang rekan-rekannya. Dia begitu geram, sampai-sampai tangannya terkepal. Dia ingin berlari menembus baku tembak yang terjadi dan melemparkan granat ke jantung pertahanan lawan. Dia ingin lebih ditengok sebagai sosok pahlawan pemberani, bukan pengecut yang selalu bersembunyi dengan alasan untuk mengobati prajurit perang yang terluka.
Ketika Damar sedang berusaha menyeret rekannya yang tergeletak akibat tembakan peluru yang kejam, tiba-tiba sebuah granat meledak di dekatnya. Lantas Damar terlempar ke parit. Parit ini berada di ujung perbatasan medan perang yang dikelilingi pagar kayu. Dari luar medan tampak seseorang berlari menghampiri Damar yang lunglai tak berdaya. Dia adalah wartawan perang yang siap meliput segala bentuk tragedi peperangan yang terjadi di medan. "Apakah Anda masih hidup?" Damar yang memicingkan mata secara samar-samar memandangi wajah wartawan itu. Dia heran dengan kedatangan seorang pria bertubuh langsing dan bersih ini. Tidak ada luka atau goresan di sekujur tubuhnya. Bahkan sama sekali tidak ada bekas darah pada pakaiannya. Pria itu benar-benar membuatnya heran, mengingat situasi medan perang yang sedang dahsyat-dahsyatnya. "Kau ini datang dari mana? Bagaimana kau bisa ada di sini?" "Saya dibayar untuk meliput peperangan ini. Setiap orang menantikan acara ini. Jangan mengecewakan penonton. Tetap semangat dan teruslah berperang!" Pria itu berlari di bagian sisi yang lain untuk mendapatkan gambar peperangan yang lebih bagus. Di tepi yang agak menjorok ke luar, di balik tembok perbatasan medan perang, berjubel kerumunan orang di sana. Mereka tampak berteriak, seakan-akan menantikan ledakan besar yang mampu merenggut nyawa orang-orang. Mereka rela menggelontorkan uang hanya untuk membeli tiket menonton perang. Setiap dari mereka berhak menyoraki, meneriaki, dan memaki sesuka hati mereka. Mereka hanya ingin peperangan yang lebih sadis dan neraka yang paling jahanam dari sebuah pembinasaan.
Pada bagian wilayah yang jauh dari medan perang, dua tokoh penguasa dari masing- masing bangsa sedang berdiskusi. Mereka membicarakan persoalan kontrak perang. "Kita dapat melihat bahwa peperangan semakin membesar, sementara kontrak perang antara bangsa kita hampir usai. Apa yang akan kita lakukan?" "Sebelum kita kehilangan banyak prajurit dan situasi yang semakin memburuk, kita harus menyelesaikan peperangan pada petang nanti. Selanjutnya, kita akan membuat program peperangan yang baru. Tentunya dengan wilayah yang lebih luas dan sentimen kebangsaan yang lebih radikal dengan bayaran yang lebih tinggi." "Mengingat keuntungan besar dari penjualan perang ini, saya merasa bahwa hal tersebut adalah ide yang bagus."
"Jika kau setuju, kita akan membentuk sekutu. Kita satukan kawasan antara Bangsa Irsyd dan Dhoir. Kemudian kita akan bernegosiasi dengan bangsa lain untuk proyek kita yang baru." "Ide yang cemerlang! Mari kita sepakati kontrak ini. Informasikan juga kepada penguasa medan peperangan bahwa persekutuan akan segera terbentuk melalui kesatuan ideologi. Kita hadapkan dengan sentimen kebangsaan dari bangsa yang lain sebagai
tandingan identitas dari persekutuan kita."
Peperangan yang semakin sengit akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar.
Sebagian dari keuntungan itu nantinya akan diinvestasikan dalam program peperangan
yang baru. Para penguasa itu bersepakat untuk membentuk jaringan prajurit yang lebih banyak dengan wilayah yang lebih luas. Semakin luas area medan perang dan perebutan
wilayah kekuasaan, semakin sengitlah peperangan yang terjadi. Penonton perang juga
akan semakin banyak, meskipun tiket menonton perang akan dinaikkan harganya. Tentu fasilitasnya juga bertambah banyak. Para penonton dapat masuk ke area perang untuk mendokumentasikan peperangan. Mereka mampu bermalam dan bergabung dengan para prajurit. Bahkan mereka mampu menyewa kuda untuk berkeliling di medan perang.
Menjelang petang, dua Jenderal Besar dari kedua bangsa ini menginformasikan
kepada seluruh prajuritnya untuk menghentikan peperangan. Mereka mengibarkan
bendera berwarna pelangi sebagai wujud perdamaian di antara mereka. Tidak ada lagi
permusuhan. Mereka diperintahkan untuk bersekutumelawan suatu bangsa yang kabarnya
sangat kuat. Perang di antara kedua bangsa ini telah usai. Mereka tampak kuyu karena kelelahan. Sebagian besar prajurit merintih kesakitan akibat luka tembak dan ledakan
granat. Para petugas medis segera mengangkut korban perang ke posko pengungsian yang
terletak tidak jauh dari sana. Mereka akan segera diobati. Jika tidak, luka itu akan infeksi Para prajurit nampak berbaris membelah, membentuk mandala dari masing-masing bangsa. Mereka melakukan seremonial penutup. Setelah baris-berbaris ini selesai, mereka akan membentuk satu mandala besar, yakni gabungan pasukan antara Bangsa Irsyd dan Bangsa Dhoir. Mereka berencana menyatukan wilayah kekuasaan sesuai dengan kontrak persekutuan yang baru. Belum sampai seremonial selesai, terlihat tank berlapis baja yang mengarahkan moncong ke arah pasukan Dhoir yang sedang berbaris. Tank itu semakin mendekat. Semua pasang mata tertuju pada tank itu. Tidak disangka-sangka, sebuah peluru dan ledakan datang dari tank itu. Tembakan dan ledakan itu terjadi secara berulang-ulang, mengarah pada kumpulan prajurit Bangsa Dhoir yang sedang berbaris. Prajurit itu terlempar ke mana- mana. Teriakan-teriakan menggema kembali. Darah-darah bercucuran kembali. Nyawa- nyawa pun meregang lagi. Tidak satu pun prajurit Bangsa Dhoir yang tersisa, selain mayat-
mayat mereka yang menghitam akibat ledakan tersebut.
"Kita menang!" Damar keluar dari badan tank sambil mengepalkan tangannya ke udara. “Apa kau sudah gila? Bukankah telah kuperintahkan untuk berdamai dengan mereka?" Jenderal Besar pasukan Irsyd nampak marah kepada Damar, "Tangkap penjahat perang itu!" lanjutnya. Kemudian para prajurit berlari menghampiri Damar yang kebingungan. Dia tidak tahu tentang perintah tersebut. Lagipula, mengapa kedua bangsa ini berdamai? Bukankah tadi sedang terjadi peperangan hebat yang menewaskan banyak prajurit yang lain? Caci maki dan teriakan datang dari luar medan perang. Mereka adalah penonton yang dikecewakan dengan tindakan Damar yang brutal. Mereka berpikir bahwa Damar adalah penjahat yang merusak suasana penonton. Mereka menuntut Damar untuk bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya. Penguasa Bangsa Dhoir yang mengetahui kabar tersebut lantas menuntut penguasa dari Bangsa Irsyd untuk bertanggungjawab. Dia menganggap bahwa salah satu prajurit Bangsa Irsyd telah melanggar kontrak persekutuan. Selain itu, prajurit tersebut dianggap menyalahi posisinya. Sebagai petugas medis dalam peperangan, dia tidak boleh mengoperasikan senjata ataupun tank. Dia tidak boleh membunuh. Dia hanya boleh mengobati. Namun dia ingkar. Dalam aturan perang, Damar telah dianggap melanggar kontrak formal yang disepakati oleh penguasa. Dia juga dapat menyebabkan kerugian akibat kekecewaan penonton perang. Maka dia divonis hukuman mati. Dalam acara tersebut, tiket diperjualbelikan secara besar-besaran. Hal ini dikarenakan minat penonton yang sangat besar untuk menyaksikan hukuman mati. Mereka tidak ingin lagi ada prajurit yang merusak skenario peperangan. Mereka merasa telah membayar para prajurit untuk menjadi budak yang menghibur. Damar segera menyadari semua ini. Sebelumnya dia memang tidak tahu ada dunia lain di luar sana. Mereka nampak seperti orang-orang kaya di perkotaan. Sedangkan di sisi lain, peperangan terjadi di medan. Banyak darah yang bercucuran. Banyak ledakan yang menggelegar. Banyak kematian yang tidak dikehendaki. Damar hanya tahu bahwa dia dilahirkan sebagai prajurit yang menghabiskan masa hidupnya di posko pelatihan Bangsa Irsyd. Damar sangat menghendaki perdamaian. Dia begitu mencintai bangsanya sembari terus mengingat perkataan gurunya, bahwa si vis pacem, para bellum, "jika kau ingin berdamai, maka bersiaplah untuk berperang". Dia berpikir bahwa dengan menghabisi prajurit dari Bangsa Dhoir, selanjutnya tidak akan ada peperangan lagi. Namun ternyata dugaannya salah besar. Dia justru dianggap sebagai penjahat perang karena menyalahi kontrak persekutuan.
"Habisi penjahat itu!" "Dia telah menghabisi sekutunya sendiri. Begitu kejam kau, Nak!" Tepat setelah umpatan-umpatan itu terdengar secara jelas di telinga Damar, tiba-tiba sebuah peluru menembus relung hatinya dengan cepat. Peluru itu datang dari seorang algojo yang tidak sabar untuk segera menuntaskan kehidupan anak muda itu. Darah segar mengucur dari dalam dadanya yang berlubang. Semua orang bersorak, seolah-olah mendapatkan kemenangan dari pembinasaan ini. Mereka menerakakan Damar layaknya iblis pengkhianat, padahal dia hanyalah anak muda yang tidak tahu sistem kehidupan ini berjalan. Kini yang tersisa bagi Damar hanyalah suara-suara kaki yang diseret di bawah langit muda yang menjulang. Masih samar-samar bunyi terdengar. Hingga kini, matanya nanar mendapati bunyi yang menepi dan dari mana sunyi terjadi. Damar muda menjemput akhir dan sendirian di hari tiadanya. Hari kembali gelap. Dunia pun ditutup dengan tidak terjadi apa-apa.
Canis Lupus
bukan manusia yang spesial karena Canis Lupus itu anjing
ALWAYS HAS BEEN inersiapologia
b加bbbmibu hbpmb加b
Kelut-Melut pramadeva Kala kata mengikat takut Kikuk aku kaku memaku kaki Kuatkah kiranya kerasan Kerap kali aku memaki laku Kota kini pepak amuk muka kami
Savior
Dzaky
"Savior. President are hailed as saviors of the people from all state chaos. But that's just wishful thinking, he's just promising but piling trouble down below."
Terima kasih kepada Lilis, Dina dan 2 teman yang tidak mau disebut namanya
DITANDAI MERAH DI TANGGALAN
Aramis
Musim hujan selalu menarik meskipun membawa beberapa kendala bagiku dalam menjalani hari. Seperti kemarin hari ini langit kembali mendung, membawa serta hawa gerah yang kerap kali mengganggu dan membuat bimbang dalam memilih pakaian, apakah aku akan mengenakan setelan tebal untuk berjaga-jaga agar tidak kedinginan nantinya saat hujan telah mengguyur? ataukah mengenakan setelan tipis karena udara sedang gerah dan berharap hujan tak datang agar aku tak kedinginan nantinya? atau membawa serta jaket tebal agar bisa kukenakan jikalau akhirnya hujan turun juga? perdebatan semacam ini seringkali terjadi di saat aku bersiap untuk meninggalkan kontrakan, meskipun terbilang remeh namun bagiku tetap saja mengganggu baik sekarang maupun nanti, terlebih jika pertimbanganku meleset. Ada satu hal yang membuatku merasakan sesuatu yang istimewa hari ini, aku merasa penuh dan hidup. Sebuah pencapaian yang patut dirayakan olehku sendiri sebagai orang yang pesimis dan skeptis terhadap hampir segala hal sampai-sampai membuat kesan dan mood yang kubawa dan berikan selalu tampak suram dan kelabu, setidaknya begitu kata beberapa temanku. Namun hari ini entah mengapa energi positif seperti mengalir dalam diriku, membuatku yakin dapat melakukan apapun bahkan menaklukan dunia sekalipun. Rasa senang yang mendadak, ceracau yang aktif, dan keyakinan bahwa "semua hal akan baik-baik saja" menjadi satu, membuat diriku sendiri heran namun tak mau ambil pusing selama hal ini dapat kunikmati. Musim hujan kali ini, rumahku kembali banjir, tidak membuatku heran sama sekali karena memang rumahku terletak di wilayah langganan kebanjiran dari tahun ke tahun. Satu-satunya hal yang membuatku heran sendiri ialah: aku merindukan banjir. Aku merindukan diriku berjalan-jalan di air keruh yang bercampur dengan berbagai ekses dari peradaban, menangkisi kecoa yang mencoba masuk ke teras, mengangkati elektronik dan perabotan, dan memandangi suasana yang dibentuk oleh banjir.
Aku merasakan kedamaian dalam sengkarut banjir, sebuah bencana yang patut disyukuri mungkin bagi banyak orang, atau setidaknya diriku sendiri, bagaimana tidak? Banjir tanpa ampun menyuguhkan konsekuensi atas penghancuran-dan-eksploitasi- alam-demi-keberlangsungan-hidup-manusia ke depan mata semua orang tanpa pilah- pilih, tanpa mau mengerti perihal apa yang dilakukan orang-orang kaya terhadap hutan, dataran tinggi, dan bermacam vegetasi yang mereka babat demi akumulasi. Namun banjir tak mengenali stratifikasi, ia juga membawakan konsekuensinya ke depan meja para korporat dan orang kaya perihal macetnya produktivitas yang diakibatkan olehnya. Begitupun ke hadapan para penguasa, membawakan pesan: "saatnya masyarakat terdampak libur dan dirimu yang lembur", menuntut mereka bekerja ekstra dan melakukan aksi langsung di berbagai titik. Aku merindukan suasana liburan yang kutemui pada saat banjir. Berkumpulnya para tetangga yang saling bantu dan berbagi satu sama lain, anak-anak berenang dan bermain dengan apapun yang dapat mereka temukan, hilangnya sekat sosial yang selama ini menjangkiti kebanyakan dari mereka, serta dilupakannya sejenak segala kesibukan dan tuhan yang selalu menuntut kesetiaan mereka; uang, kerja, dan waktu yang selalu mengisi kepala kebanyakan dari mereka dan membuat mereka berhenti untuk hidup dan berbagi Mungkin perasaan hidup yang kurasakan ini datang dari perasaan teman- temanku yang terdampak banjir, siapa tahu? Entahlah, kurang penting juga. Namun aku masih juga mematung, melamun, menyelami kembali pengalaman banjir-banjir yang pernah kulewati sambil terkadang nyengir sendiri kala memori lucu dan absurd melintas. Ya, mungkin saja dunia ini kiamat dalam ritme yang rutin, namun apa buruknya kiamat jika dapat dihidupi? Seperti banjir, mungkin kiamat hanya dirasakan oleh mereka yang masih menunda hidup dan berserah diri pada tuhan-tuhan sintetis yang tak kenal puas itu?.
Aramis 14/10/20
Buai Belaka
Seharian hujan Bunga-bunga, tak lagi mekar, mereka Di atas air menggenang Kepadanya angin mendorong layu Maka yang menyeruak: hanyalah dingin Sebab tak ada asap sigaret yang menabun membawa suam Jika ruah ini layak dibasuh lipur Biarkan aku benar ditenggelamkan Hujan seharian
syafiq; akulah guts di berserk, tanpa raging, pure sadness @syeikhfreid on twitter
Sajak Tentangmu Aristia
Aku termangu menipu dingin. Kala tinta sejarah berdialog dengan waktu. Kau tengadah bersamanya waktu itu.
Berkata pada nada yang mendemo telingaku Buatkan aku Dinasti Sajak. Yang membuatmu menjelma rajanya. Sedang aku ini biar jadi kawula.
sabar
O. Padukaku sudah setabun aku menjahit jarum Tuan bolehkah aku meminta padam Puisi tentang cinta. Lantas aku bersaksi. Tentang sepasang kekasih korban ejekan zaman. Yang terbuang karena ayat ayat tuhan. Nyata telah laknat menindas. Karena itulah aku tak ingin membabas hati. Merah jambu. Sebagainya.
Cinta. Cinta. Ah, tidak! Bahkan cuma seonggok kata di perut debu. Bagaimana jikalau engkau mabuk. Tentang yang datang pergi mendampingimu Bersama waktu. Tentu mereka adalah teman temanmu. Jika temanmu selalu datang untukmu. Maka ceritakan padaku kau akan datang selalu untukn Andai temanmu terbujur teriris kejam. Maka jadilah kau darah anyir yang tunduk bersamanya.
Arak, Bangku Taman, dan
PEHDAR REMBULAH
Patipadam
Kutemukan kau ranum bersila Saat angin derai melengkung menjauhi batas kota Kutanya padamu: kemana tidur dipulangkan hari ini Akankah lelap ia, di antara cerita-cerita, Atau hanya menjaga suam yang lingsir sehari-hari
Seandainya saja, setiap cawan yang dituang Dengan seikat mimpi-mimpi Tak menjadi wadah yang sama Di mana serumpun penyesalan datang menjadi Seandainya saja, setiap mabuk yang diundang Bukanlah rupa yang kembali Sebagai sadar begitu nyata,
Begitu nyala, begitu membawa ragu perapal api
Seandainya saja, Kita tak pernah berharap seandainya saja Maka malam ini Sungguh, pada malam ini Waktu akan berhenti, Terjaga ia untuk menjagamu dari para penjaga yang tak berjaga kepada keterjagaan
inersiapologia IN BLOOM
行
Membongkar
Kepahlawanan
Minke“Bumi Manusia”
RM Iqbal
Tetralogi Pulau Buru mungkin menjadi salahsatu khazanah sastra terbesar di Indonesia. Pramoedya Ananta Toer, selaku penulis novel tetralogi tersebut, telah melewati banyak hal yang sulit. Beliau diasingkan di Pulau Buru oleh kekuasaan Orde Baru karena dianggap terlibat dalam pemberontakan PKI. Meski pada awalnya karya-karya beliau dilarang untuk ditampilkan bahkan dibaca oleh khalayak, namun pada akhirnya karya tetralogi itu bisa dinikmati oleh semua orang. Tetralogi Buru yang menceritakan perjalanan hidup Minke sejak awal hingga akhir hayatnya menggambarkan bagaimana perjuangan pribumi dalam resistensinya terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Keempat buku ini menggambarkan sejarah terbentuknya nasionalisme bangsa di era kebangkitan nasional. Dalam bukunya yang ketiga, yakni Jejak Langkah, terlihat bahwa masyarakat pribumi telah mengalami berbagai kemajuan. Berdirinya beragam organisasi hingga penerbitan surat kabar secara independen oleh pribumi adalah suatu wujud perlawanan yang masif terhadap kekuasaan kolonial. Namun terdapat beragam tafsir lain yang bisa kita kaji kembali dalam novel-novel tersebut. Setidaknya kita bisa untuk tidak melihat secara dangkal mengenai perjuangan Minke dalam merintis "kepahlawanan"nya itu. Terdapat beragam faktor yang memungkinkan Minke bisa memiliki akses untuk menyandang gelar "pahlawan" tersebut. Dalam model pendekatan sosiologis dari Pierre Felix Bourdieu, kita bisa melihat struktur apa yang melingkupi Minke sehingga bisa melakukan perjuangan di arena sosial.
Ketika tokoh "Minke" ditelisik menggunakan perspektif dari Bourdieu, kita tidak
Cakan lagi melihat tokoh tersebut sebagai representasi pribumi yang memperjuangkan segalanya dari bawah. Setidaknya, perspektif dari Bourdieu menawarkan sejumlah kekayaan makna dan arti yang tak terungkap dari sosok Minke. Jika kita mulai melihat Minke sejak awal di buku Bumi Manusia, dia adalah sosok yang mendambakan modernisme dan selalu mengagung-agungkan Revolusi Prancis. Dia melihat dengan sinis kebudayaan feodalisme Jawa yang selalu diagung-agungkan oleh masyarakat Jawa. Dia berniat menjadi sosok modernis yang sepuluh langkah lebih maju dari pribumi pada umumnya. Dia gemar membaca dan menulis. Kekayaan intelektualnya ini menjadi sebuah "modal kultural" bagi seorang pribumi untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan modern.
Tentunya akan sangat dangkal jika kita berpikir bahwa upaya perintisan perjuangan tokoh Minke hanya berakar dari situ saja. Pram nampaknya berusaha menggambarkan sosok Minke secara sedikit berlebihan untuk membalikkan kekerasan simbolik yang selalu dilekatkan padanya. Dari namanya saja, dia telah mengalami diskriminasi di arena sosial. Namun Pram secara cerdik mampu mengangkat tokoh Minke, sebagai representasi pribumi, untuk melawan kekerasan simbolik itu dengan memanfaatkan ragam modal yang telah dimilikinya. Pram juga mampu memenangkan representasi pribumi itu di arena produksi kultural. Kita ambil saja representasi Indo, Robert Suurhof, yang dalam beberapa kesempatan merasa iri dengan pencapaian Minke. Sejak di awal cerita, kita tahu bahwa Minke sudah menggenggam kemenangan simbolik ketika dirinya berhasil menarik perhatian dari Annelies Mellema, seorang perempuan cantik keturunan Belanda yang disukai oleh Robert Suurhof. Kemudian dalam kesempatan selanjutnya, Minke berhasil meraih kemenangan simbolik lain lewat prestasinya di sekolah. Hal ini seakan menegaskan bahwa pribumi bisa bersaing dengan orang-orang Belanda-Eropa totok, maupun Indo dalam hal pendidikan. Kemenangan ini juga menegaskan ideologi bangsa Pram dalam memosisikan pribumi dan Belanda-Eropa secara biner.
Terdapat beberapa faktor yang memungkinkanMinke bisa disematkan sebagai sosok pahlawan dalam tetralogi ini. Pertama, latar belakangnya sebagai keturunan ningrat atau kebangsawanan Jawa. Dari latar belakangnya ini tentu memungkinkan dirinya untuk memperoleh kesempatan menempuh pendidikan yang tidak bisa dinikmati oleh pribumi lain pada umumnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Minke sekolah di HBS—sebuah sekolah elit di Surabaya yang hanya bisa dimasuki oleh Indo, totok, dan pribumi kelas bangsawan. Kedua, dari latar belakang pendidikannya itu, Minke mendapatkan modal kultural berupa ilmu pengetahuan modern. Di sini Minke juga mendapatkan habitus pendidikan yang baik; dikelilingi oleh orang-orang yang berpendidikan dan berwawasan modern. Ketiga, kehidupan Minke yang dikelilingi oleh representasi heroik pribumi yang lain, yaitu Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh ini berperan cukup besar dalam mengubah beberapa pandangan Minke mengenai bangsanya. Coba kita bayangkan seandainya Minke tidak pernah bertemu dengan Nyai Ontosoroh. Apakah dia akan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial yang di satu sisi telah berjasa memberinya ilmu pengetahuan modern tersebut? Tentu saja tidak. Mungkin Minke bisa menjadi seorang pribumi yang bekerja sama dengan pemerintah kolonial untuk menghisap dan menindas pribumi. Sejak awal kita tahu bahwa watak Minke ini selalu ingin berada di atas pribumi pada umumnya. Dia terkesan sombong hanya karena modal sosial dan kultural yang dimilikinya. Oleh sebab dia bertemu dengan Nyai Ontosoroh, maka dia bisa memanfaatkan beragam modalnya itu untuk merintis perjuangan dengan upayanya mengangkat harkat dan martabat pribumi dalam resistensinya terhadap pemerintahan kolonial.
Sejak sepeninggalan Annelies, Minke hidup berdua dengan Nyai Ontosoroh. Mereka menghadapi berbagai rintangan bersama-sama. Hingga pada suatu saat, terjadi fenomena unik dalam sepotong kisahnya di Tulangan, Sidoarjo. Saat itu Minke sedang berjalan-jalan dengan memakai sepatu dan pakaian bergaya Eropa karena dirinya merasa berhak mengenakannya. Sebagai orang yang pintar dan berpendidikan, Minke berpikir bahwa memang dia sudah ditakdirkan untuk memiliki selera yang berbeda dari pribumi yang lain, entah itu selera berpakaian, selera makan, bahkan sampai jenis pekerjaan. Simbol-simbol yang dikenakan Minke ini menegaskan status sosialnya di masyarakat. Penegasan status sosial ini ditambah dengan watak Minke yang selalu merasa bahwa posisi sosialnya jauh lebih terhormat dari pribumi pada umumnya. Hal ini terlihat pada cara Minke mengelola ketersinggungan saat berhadapan dengan Trunodongso untuk pertama kalinya. Trunodongso adalah seorang petani miskin yang tinggal di daerah Sidoarjo, Jawa Timur, yang diceritakan oleh Pram di buku keduanya, AnakSemua Bangsa.
Saat itu Trunodongso sedang berkonflik dengan pabrik gula yang berencana akan menggusur tanahnya. Ketika Trunodongso melihat Minke yang saat itu sedang berjalan- jalan dengan mengenakan pakaian kelas Eropa, dia langsung membentak Minke. Seketika Minke langsung tersinggung dan merasa direndahkan oleh seorang petani pribumi, namun dia memilih untuk menahan ketersinggungan itu karena dirinya sedang dalam posisi terancam di hadapan senjata tajam milik Trunodongso. Minke selamat dari ancaman tersebut ketika dia berhasil meyakinkan Trunodongso bahwa dia bukanlah orang yang dikirim oleh pabrik gula untuk merampas tanah milik Trunodongso. Dari sini jelaslah bahwa sejak dalam pikirannya, Minke berusaha untuk menegaskan posisi sosialnya di dalam masyarakat. Pakaian Minke ini dijadikan simbol sekaligus menegaskan selera sosial Minke yang ke-Eropa-an. Setidaknya dari habitus Minke itulah yang memungkinkan Minke untuk bisa merintis perjuangannya itu. Dibalut dengan beragam fenomena sosial dengan memanfaatkan beragam modal yang dimilikinya, Minke bertempur secara simbolik dalam arena sosial. Di beberapa bagian, dia mendapatkan kemenangan yang ditandai dengan suksesnya dia sebagai seorang murid berprestasi nomor dua se-Hindia Belanda dan pertama se-Surabaya, meskipun pada awalnya dia sempat dikeluarkan dari HBS. Namun dalam payung hukum kolonial, posisinya sebagai pribumi tetaplah kalah. Di sini Pram hendak menegaskan bahwa hukum kolonial dan segala sesuatu yang berbau Belanda-Eropa itu tidak adil bagi pribumi. Dalam upayanya untuk mengenali bangsanya sendiri, didorong dengan modal sosial dan kultural yang dimilikinya, Minke bisa memanfaatkan ragam modalnya itu untuk membangun surat kabar independen yang diniatkan untuk mengungkap penindasan yang dialami oleh pribumi. Di samping itu, modal-modalnya itu juga dinegosiasikan dalam arena sosial sehingga dia bisa memiliki relasi yang pada akhirnya memunculkan suatu gerakan akar rumput dengan terbentuknya organisasi pribumi.
Pram yang menggambarkanpertarungan simbolik antara pribumi dan kolonial secara biner mampu untuk meyakinkan kita bahwa awal kebangkitan nasional ditandai dengan munculnya nasionalisme bangsa. Pram merepresentasikan tokoh Minke sebagai orang dengan pemikiran yang evolusioner. Pada akhirnya kita menyadari bahwa gelar kepahlawanan yang tersemat dalam penokohan Minke ini tidak semata-mata hadir dari ruang kosong. Kategorisasi heroik ini disematkan pada orang-orang yang berpengaruh. Untuk bisa menjadi seseorang yang berpengaruh, Minke hadir dari suatu struktur kelas
yang jauh lebih dominan dari pribumi yang lain terkait dengan akses-akses tertentu. Hal ini
memungkinkan dirinya untuk bisa mendapatkan beragam modal, baik itu sosial, ekonomi, maupun kultural. Jika seandainya Minke merupakan seorang pribumi biasa yang tidak lahir dari habitus kebangsawanan, apakah dia tetap bisa mendapatkan modal kultural dan sosial yang memungkinkannya dapat membangun surat kabar independen serta menggagas organisasi pribumi dalam melawan kekuasaan kolonial? Mungkin, tidak. Dia tidak akan mendapatkan gelar "pahlawan". Yang perlu kita ingat bahwa pahlawan nasional adalah mereka yang terlibat dalam perjuangan nasional tanpa terkecuali. Terlepas dari itu semua, Minke adalah representasi hiperbolis dari Tirto Adhi Suryo, seorang pahlawan yang berpengaruh terhadap pergerakan nasional.
RM Iqbal (tentu bukan Raden Mas), seorang manusia biasa-biasa saja yang gemar menyapa orang-orang tidak dikenal di jalanan pada tengah malam secara serampangan untuk melihat ekspresi konyol yang mereka tampilkan.
Realisasi adalah Revelasi terhadap Rekoleksi serta Reaktansi untuk Reputasi namun Remediasi menjadi Resurjensi dalam Retrogresi setara Reminisensi menjawab Relevansi agar
Aimat
Rekonstruksi akan Repetisi serupa Rekalkulasi atau Redefenisi walau Reduplikasi menjabar
Wajah
Retorsi sebagai Reaksi dari Rekreasi hingga Retardasi sekedar
Resonansi bertopengPencurí
Resistansi demi Patipadam Rekognisi tanpa Repartialisasi menuju Refraksi dan Refleksi bertajuk Redekomposisi sehingga Reinkarnasi membawa Remunerasi terakhir
Get Lostz
Aramis
Terbangun oleh suara bising dari gawai yang sedari malam dayanya kuisi, l yang segera kumatikan dengan malas kemudian setelah cukup terganggu entah sudah yang keberapa kali olehnya. Bengong, mengeja langit-langit hingga puas, perlahan bangun dan menjelma pertapa sembari mencoba mencari rokokdan membakarnya. Jam bangun tidur selalu magis bagiku. Sepagi ini untuk menjelajah kekhawatiran, ketakutan, ketidaktahuan, kebingungan. Sepagi ini pula membolos mata kuliah yang telah terjadi berulang kali yang hanya lewat sebagai penyesalan dan kekhawatiran sesaat. Persetan pikirku, hidup hanya sekali mungkin cukup untuk berlama-lama melamun, termenung sambil menikmati sebatang rokok hingga cukup bosan. Terbesit dalam lamun tentang mengapa aku harus begitu begini yang kurasa tanpa arti, cukup sering terlintas saban hari. Namun tetap saja melintas seperti kendaraan yang lalu lalang di jalan arteri, berhenti sejenak saat lampu merah memberi jeda melamun yang tidak seberapa untuk kembali melanjutkan hidup saat lampu hijau menyala. Aku sendiri kagum betapa banyaknya aku menghabiskan rokok dalam sehari, setiap batangnya berarti sebuah perjalanan menjelajah dimensi astral yang entahlah, aku sendiri bingung menyebutnya apa, terkadang begitu menggelitik, terkadang begitu berat, terkadang begitu aneh atau jenaka hingga aku sendiri tertawa dibuatnya, terkadang hanya sekadar meratapi nasib, terkadang begitu cemerlang hingga aku sendiri dapat mendaku diri sebagai makhluk paling paripurna di seluruh jagat raya. Memang kenapa kalau aku mendaku demikian? Toh dunia ini hanya milikku seorang meski hanya aku yang memutuskan demikian, Memang hidup ini macam kontol, ada saja halangan untuk sekedar berkontemplasi dengan alasan-alasan konyol, "jangan bengong nanti kesambet", "mikirin apa si lu bengong bae", dan sebagainya, dan sebagainya
Orang-orang yang mengganggu saat-saat magis bagi orang lain pantas mati diseret tronton pertamina sepanjang jalan pantura. Ya, cukup sadis dan mayestik bagiku cara mati seperti itu bagi mereka para pengganggu saat-saat di mana bahkan malaikat dan setan yang gentayangan pun segan untuk merecoki, setidaknya dalam wacana sebab di mana lagi menumpahkan keluh kesah kalau tidak dalam program-program pemroses abjad? Entahlah, setiap orang bebas, sebebas dunianya sendiri. mencatut sebuah potongan yang katanya dari allah ini bagimu agamamu, bagiku agamaku yang tidak nyambung sama sekali dengan apa yang coba kusampaikan. Persetan, lagipula siapa butuh relevansi dalam dunia sendiri? Menulis segini banyak saja sudah suatu prestasi bagiku, atau tidak sama sekali jika aku pikir lagi. Entahlah menulis dan berkata-kata atau berabstraksi lewat kontemplasi sama-sama mudah jika masih dalam pikiran, menjadi sulit ketika harus dipadatkan lewat berbagai medium entah verbal entah literer entah apapun sebutan lain jika ada. Aku turut berduka bagi beberapa buah pikiranku yang tinggal menunggu tombol kirim kusentuh namun berhenti setelah diriku berpikir terlalu banyak. Kemudian menghapus sebagian atau seringkali keseluruhan karena kurasa tidak pantas kubagi- bagikan kepada kalian, ya, kalian semua yang menyedihkan yang selalu saja ikut campur dalam berbagai urusan seenak jidat yang membuatku heran, bisa-bisanya seseorang bertindak demikian, meski kemudian kembali tersentor oleh kata-kata pewajaran yang dapat terbayangkan. Ya, wajar saja hal apapun terjadi dalam irisan-irisan dunia antar makhluk yang entah mengapa begitu busuk ini. Sebab tanpa perlu kuterangkan pun hal yang terjadi, terjadilah. Maka tak perlu berpanjang-panjang kata lagi dalam menerangkan sesuatu atau membangun sebuah rencana guna meminimalisir apapun, bad things happen and its okay. Menyebut sesuatu mustahil merupakan pengingkaran terbesar terhadap tuhan yang mana adalah aku sendiri, bagaimana bisa seseorang terperanjat terhadap segala hal sementara segalanya hanyalah repetisi yang terjadi beratus juta triliun atau bahkan niun niun kali dahulu, setidaknya yang tidak kuingat begitu. Ada bagian dari duniaku yang tak dapat dikendalikan seperti tegang lemasnya kontol dan rasa gatal serta hasrat untuk tenggelam dalam lamunan sembari melanujtkan ibadah mengisap rokok yang tertunda sebab ada pelanggan barusan. Anjing memang. Segala-galanya terhenti demi ekonomi membuatku ingat kepada slogan eat the rich yang bertolak belakang dengan tampilan para orang di sini, tampang kampungan tapi bikin repot.
Aku yakin besok kalau terjadi pergerakan yang mengincar orang kaya, massa akan bingung setelah menyadari bahwa setiap orang cukup kaya untuk dimakan oleh yang lain, setidaknya setiap orang memiliki ginjal seharga sekian milyar, atau sepasang mata yang tak kalah mahal harganya bagi masyarakat dunia ketiga ini. Waktu dan tempat terjadinya diperkirakan dua abad lagi mengingat masyarakat dunia berkembang masih jauh dari menjadi buah, kalau pun jadi buah mungkin telah dikavling orang untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan jualan dan bahan memenuhi kebutuhan pasar si pemilik kebun, sungguh sial memang tapi mau gimana lagi? Kekalahan memang menjadi takdir si miskin yang berteriak-teriak amorfati sembari melafal pancasila di setiap dzikirnya. Pelik juga rasanya menjadi makhluk berpikir yang bahkan berpikir untuk tidak saling memangsa pun sulit, memang sebagai pantomim terbaik sepanjang sejarah prestasi kita sebagai munafik yang baik tak pernah direbut posisinya oleh makhluk manapun juga. Entah menjadi pengerat entah menjadi kecoa, entah menjadi kucing atau anjing, semuanya selalu disiplin memelihara ekosistem yang ada bahkan mereka yang mendaku paling tak berketergantungan, entah menjelma anjing berkepala tiga, entah menjelma menjadi kucing legenda nekomata, mungkin menjadi ikan terbang atau naga resolusi rendah ala indosiar, apapun jelmaanya sama-sama menyedihkannya hutan rimba yang disebut peradaban ini. Aku bahkan tak bisa memikirkan kembali hal apa yang membuatku bertahan selain rasa bosan yang aku alami dalam menjalani rutinitas sehari hari demi menyelingnya dengan hisapan rokok dan bengong di jam-jam acak untuk kembali mempertanyakan hal yang sama, kenapa ya? Simpan buat nanti. Bahkan lebih menyedihkan saat mendapat mimpi yang lumayan menarik namun kembali lupa sebangun pagi nanti. Lebih menyedihkan lagi mereka yang begitu tergila dengan fantasi hingga mimpi bagaimanapun bentuknya coba dipanggil kembali demi mencatanya entah untuk apa, mungkin dokumentasi atas hari-hari banal penuh repetisi yang begitu melelahkan dan tak menggairahkan, berbeda dengan dunia mimpi di mana ketidaksadaran dan kesadaran bersatu melukis potongan peristiwa acak tanpa tujuan yang memaksa kita menikmatinya, terlibat namun tanpa kemampuan mengendalikan apapun yang ada di sekeliling kita, persis seperti hidup yang terlajur teralienasi dan terisolasi dari segalanya hingga segala jenis interaksi mungkin dapat dianggap sebagai coping dan rekreasi daring yang masih membutuhkan instrumen penindasan harian untuk terus dinikmati. Hahaha, begitu mutakhir akal-akal para predator yang bercokol dalam puncak rantai makanan ini. Bahkan bagaimana seseorang berpikir dan bertindak pun tak lepas dari pengawasan dan terkamannya.
Terserah deh, hidup sendiri sulit masih diminta mengurusi serba-serbi yang bahkan tak berguna bagi diriku sendiri? Kontol amat. Lebih baik kuteruskan menonton Allah, Yesus, Buddha, Fir'aun, Harun, Baphomet, Lucifer, Krisdayanti, Melly Goeslaw, Tom Delonge, Jokowi, dan Raul Lemos (sori bos minim referensi) pesta seks di samping toko material. Taimu bukan makananku kalo kata itu, ada dah di internet sercing aja. Alam semesta emang udah seharusnya kok berotasi antara yoni dan lingga, selebihnya bisnis kaya biasa. Kelar gak kelar fak off, aku mau lanjut push rank.
Aramis 14/10/20
Di pesta ini kami juga
MERAYAKAN
PEMAKAMAN
maka: selamat datan
mdptp
kepada biru, kepada tiba-tiba saat riak di dasar danau mengaminkan pernikahannya dan dari kejauhan, tibalah babad, dingin terbawa menabunlah api membakar malam, aku yang menjelma menjadi rahasia kala akan berlabuh di lepas setapak yang setara masihkah, lebam di dasar mata bersisentuh dengan langit yang sama
kepada abu, kepada rupa-rupa kantuk berburu dulur, serap seram, mencari mala nadir dihantar jatuh ke dasar jurang yang tak bermuara sampai kapan tanda bibir di pejal dadamu menandai perjamuan dan dosa-dosa sampai tiba saatnya kita menandai iras sebagai serigala lalu rebah akan mengufuk, menyemai luka, meremang duka
kepada jaru, kepada kapa-kapa tidak ada ujung menara, di fajar agustus yang berawa hingga bisu aku butakan, gelap kita biaskan, ke dalam angka yang tak lagi bisa berganda maka dia turunkan tuarang, namun entah kepada siapa di atas pualam tempat rawi mengutuk, hari ini aku belajar bahagia dalam pangsa, dalam pura-pura
mdptpwith gin & bourbon only
try me
inersiapologia TRY ME
Tentang
Rencana Ekspektasi &
Hantaman Realitas
K
Dalam Pilihan
Dilahapmuram
Rencana dan harapan yang memenuhi kepala, pertanyaan dan khayalan tumbuh begitu lugas dalam hitungan jam lalu liar menjalar seperti kanker otak. Kenapa tak bangun dari rebah? Membuat minuman hangat atau sekedar merusak tubuh dengan membakar paru? Tapi tubuh terlanjur berat di kepala, teraspal dalam kasur busa busuk sialan. Kunang di matamu terus berteriak dalam lamunan; si pelamun yang boleh kutebak bingung, ataukah kecewa pada dunia? Tak bisa kucium apapun yang kaurasa dan pikirkan. Sepertinya memang aku si epitome dari kata 'dungu' dan tak pernah berguna. Gagalkah aku?. Padahal kau selalu berhasil menemukan ujung masalahku, melakukan pencarian opsi dengan keteduhan yang mungkin menurutmu hanya kebetulan menenangkanku. Karena semua tak pernah berurai, brengsek, aku sungguh ingin tahu! Bisakah satu malam kaubenamkan sepenuhnya aku di dalam kepalamu? Agar pecah tak tertanggung. Jika memang tak bisa, malam ini kau harus berani dengan dengung di dalam sana yang kerap mengganggu tidurmu yang tak pernah lelap. Tenangkan. Semua hanya berhenti di sana, percayalah. Mereka benar-benar bukan sebuah ancaman. Kuberi jaminan receh bahwa besok aku, kau atau beberapa di antara mereka takkan mati terlindas truk atau hancur karena melompat dari lantai 40.
Mungkin beberapa malam kaumulai bersumpah, lebih baik tertindih setan, jin, atau makhluk gaib jenis apapun daripada diganggu dengan kemeresek isi kepalamu sendiri. Sudah sekian malam kau memilih kematian dingin menempel lekat dan dingin sekali pada pelipismu, tapi kau selalu paham bahwa opsi bodoh itu sama seperti suara-suara dalam kepalamu; semua berhenti di sana, tak pernah benar-benar terjadi. Bukankah si keparat ingin kau terus merasa tak nyaman bersintas?. Untuk malam ini, turunkan izinmu untuk aku mewujudkan opsi yang selalu berhenti di dalam kepalamu itu, biarkan aku menembak kepalamu dengan kecupan beku yang tak seberapa. Sampai rasanya kepalamu pecah berantakan, menjadi kepingan beberapa tahun silam, kau yang pernah dan lalu. Tentu pernah kulihat, satu waktu di mana langit berwarna ungu nun gelap dan cantik sekali, seperti cat mahal yang sembarang dilempar ke atas sana dan kemudian mengerak dengan indah; itu kala tawamu pecah sesaat setelah beberapa minggu rutin merengut saat melamun – yang sialnya tak pernah bisa kutebak seperti apa keadaan di dalam sana. Lalu setelahnya kesunyian merangkul, resah gusar beberapa minggu berhamburan, meluap begitu saja saat masing-masing dari kita penuh dengan entah apa tanpa ada percakapan selanjutnya. Seperti semua hal yang pecah begitu saja, namun sisanya tak digaibkan udara, mereka justru mengarat di sekeliling kita. Kita tak pernah paham rencana, sampai tak tertangkap apa isyarat dari makna yang mungkin sudah ada. Aku ingin kembali sibuk mendengarkan lagu-lagu bergenre pop-punk, senang membaca dan menulis dengan keahlian yang tak seberapa, aku hanya ingin terlalu bahagia tanpa perlu hirau dengan makian-makian itu. Mungkin kalau aku bisa kembali menjadi tak peduli dan tetap acuhdengan segala, bahkan usia dan waktu pun tak mampu panas mengintai dan mengejarku. Aku tak masalah kalau memang harus dihadiahi kue tart dari tahi kambing, sprei jarik bermotif khusus untuk mayat atau busuk darah hewan yang dikumpulkan dalam satu tong. Aku bersedia menyerahkan diri untuk disumpahi wali agar terus menderita dan setia sampai di neraka selama namamu dan namaku yang disumpah- serapahi warga. Aku tak pernahbenar-benar memiliki rutinitas. Awalnya kupikir ganas jenuh yang menggerayangi hari-hariku akan hancur dengan kegiatan berulang yang baru. Nyatanya aku semakin hidup karenanya dan tentu saja itu melelahkan; disiksa kerutinan.
Sejauh ini, ekspektasi dan harapan di dunia ini hanya mengantarkanku pada ngilu berkepanjangan. Termasuk cincin pernikahan yang terselip di jari kananku, bayi mungilku yang mulai kehausan atau mungkin buang air besar? Pun seorang laki-laki yang pernah kutaut relung harap begitu dalam; sampai sekarang aku enggan memasuki kamar yang selalu saja mereka sebut “keluarga hangat" milikku. Apa semua karena riklona sekian milligram yang kutenggak hari ini untuk mengatur kestabilan emosiku? Atau karena, aku harus tidur bersebelahan dengannya? Apa aku sedang bersembunyi? Dari apa? Apa aku si kecundang remeh yang tak lagi berani mengambil keputusan menyenangkan dan malas buru-buru mempersilakan kematian memeluk lelahku? Mungkin satu waktu aku perlu jujur dan berhenti mengejek diriku sendiri dengan mengingkari sesuatu yang tak mau aku akui. Bukankah semua individu berhak atas masa lalunya? Entah sengaja disembunyikan atau dimediakan? Aku coba hargai dan menentukan ke mana masa lalu ini akan kularung. Aku ingin dibakar hidup-hidup setelah rengkuhmu berhamburan pada tubuh padatku, setelahnya dengan riang kusambut kematianku. Meskipun tanpa harapanku seperti biasa mengapung, aku akan tetap dengan hangat serampangan menyambut kematian. Toh, sudah lama aku mati, terkubur dalam khayalan dapat semalam menggenggam tanganmu sampai keram. Membayangkan perlahan dengan tenang, merampungkan seluruh puing langit yang kacau dan tetap berujung dengan reruntuhan yang berserak, kepingan yang tak pernah bisa ditemukan. Maka perlahan ekspetasi, asa dan harap mulai tanggal dari lamunan- lamunanku di setiap harinya. Untuk mati muda, mencari jati diri, menikmati musik rock di kamar losmen murahan bersamamu, semua yang hanya ada di kepala ini mungkin memang seharusnya berkarat pada tempatnya. Kini aku mulai membiarkan kelelangan meramaikan lamunanku. Sepanjang hari rasanya seperti melayat diri sendiri dan istirahat terasa seperti merawat makam busuk. Yang perlu kulakukan untuk memiliki rutinitas hanya mengusap pelan sesal di tiap embusan napas. Siapa peduli kau kecewa dan menyerah pada si keparat kekelaman semesta ini? Siapa peduli kau lari dari dunia dengan maksud dan tujuanmu yang kerap kaututupi? Lakukan semua semenyenangkanmu. Tidak pernah ada yang benar-benar peduli. Percayalah. Mereka melihatmu sebagai sesuatu yang menghasilkan sesuatu, mereka mengharap pada individu yang bukan entitas si maha dahsyat. Kematian tak pernah lebih dari melankoli. Tapi bisakah kau yang mati tetap riang melihatku mengingat segalanya sebagai trauma terbesar?
Menurutku, tak semua maut berwajah jahat, ia bisa datang di tengah ketenanganmu dengan lembut tanpa perlu kau disesahnya. Itu alasanku mengabadikan sebagian darinya di tubuhku, ketika setiap kali aku melakukan pencarian opsi pemecahan, debaran, dan reflek tubuhku akan selalu berbeda dan tenang tidak akan pernah ada di sana, dan ia selalu berhasil membawaku pada ujung masalah, lalu menghanguskannya. Aku pun berhenti menggugat nasibku yang terus hidup sampai sekarang ini, paling tidak untuk sekarang. Ketidakpedulianku menjadi tangan gaib yang kerap mengelus pundakku setiap kali suara itu memekik. Jadilah apapun yang kau inginkan, bisiknya. Di mata moralitas terlalu banyak kesalahan ketika itu hanya sebuah pilihan. Maka aku memilih menjadi jenazah sunyi tanpa ada tangisan. Toh, masalah setelah separuh nyawamu habis tak bersisa untuk ditenggelamkan, ia akan tumbuh, beranak-pinak dalam beberapa waktu berikutnya dengan jumlah yang lebih mengejutkan dan jauh lebih melelahkan untuk kaulewati. Begitu hidup berjalan. Oh, Tuhan, jika engkau ada dan nyata Si Maha Penguping, bisakah sebagian masalahku kausangkutkan di suatu tempat, lalu mereka membusuk atau menjadi lubang besar untuk ular-ular liar dengan motif kekacauan? Atau, terserahlah! Kau larungkan saja sebagian ke manapun kaumau. Aku masih terlalu sibuk dengan ribuan polemik yang tak sengaja kautumpahkan. Lagi, kalau menurutmu aku berhasil melewati level-Nya dan itulah harga matiku, maka mungkin kau serupa pembunuh bayaran kelas kakap atau musuh bos besar di akhir sebuah games. Kau begitu bengis, si manipulatif ulung. Bagaimana mungkin kau disembah milyaran manusia saat kaubiarkan aku dan mungkin setengah penduduk di semestamu kelelahan seperti ini?
Balasan
untuk kekasih
B
Dilahapmuram
Saya terka, kamu paham betul ketakutan saya yang sempat berdiri gagah dan meludah di atas jasad ini ialah abandonemen bacin yang senang sekali tiba secara masif dan tak sudi mengenal situasi; kadang memang ingin hatinya membaca keadaan agar memberi tensi berlebih untuk melakukan entah apa yang ia hendaki. Di samping beberapa banjar ketakutanku, tidak ada yang lebih mengerikan-sejauh ini-dari merasa ditinggalkan, meninggalkan pilu aber yang tak terjamah obat apapun, busuk sekali. Saya memang menjalani peran sebagai perempuan bingung nan bacul sampai kapan entah, kepada apa pun saya memuji karena saya berhasil mendalami dan menempatkan hati untuk peran ini. Untuk yang satu ini, pun saya berhasil tidak menuhankannya karena ditimang penuh kasih oleh rasa ngeri. Saya hanya mengantongi kesadaran penuh pada balkas, kesadaran akan pada siapa saya memilih intens berhubungan akhir-akhir ini. Perasaanku dan mungkin saja milik kita, datang dari luar tubuh kita yang bukan kita lagi. Kerap disebut cinta, tapi saya salah seorang yang menolak dungu untuk percaya lebih pada diksi itu. Menyeramkan memang, padanya kita dipeluk keberanian melakukan apa saja, barbaritas dan kriminalitas kecil-kecilan sekalipun, untuk memenangkannya. Meskipun mager mah ada mulu, yah, hehehehe. Yang saya yakini sekarang hanyalah perempuan begundal dan laki-laki keparat yang mencoba beberapa hal baru dalam menenggak kenihilan bejatnya realitas. Apa lagi? Tidak ada yang saya harapkan, paling tidak begitu saya mengusahakan. Saya seiya dengan bagaimanapun bentuk ujungnya, kita akan mati sebagai sepasang yang entah apa. Kita sepasang.
Terkasih, kita paham benar perkara rencana akan selalu tunduk pada taring realitas yang kiranya memendam kasam pada peradaban, fundamen sekali. Kita dihimpit sesuatu yang sangat luas, kehendak kita masing-masing. Ah, saya merasakan sesuatu yang membuat wajah-wajah paranoia terlihat sumringah waspada, sesuatu yang membuat si tengik kopi rum terasa lucu, sesuatu yang membuat beberapa alunan musik yang dulu terasa bebal sekali untuk terima namun sekarang terdengar wajar saja, saya merasakan sesuatu karena eksistensimu sekonyong-konyong menolak untuk dimatikan. Saya merasa, senang? Bahagia? Apapun itu, saya sudah jengah menulis, bagaimana ini? Mari kita tutup basa-basi yang kamu benci, tapi memang adanya begini. Dan kamu memenuhi dan saya tidak sedikitpun merasa didominasi.
@dilahapmuram;
beberapa kali diselamatkan oleh arkourrozi, kapal api, kucing, sarung dan signature
(kadang juga gudang garam filter atau LA ice, tergantung kondisi). / @wakarimikasen on twitter
Aku Tidak Tahu
Apa yang Aku Bicarakan
RM Iqbal
Beberapa kali aku berusaha berhenti bersepakat dengan anggapan-anggapan. Celakanya, aku tidak bisa.
Dengan separuh ketololan, kubawa prasangka-prasangka memenuhi isi kepalaku: aku sulit menghentikan pikiranku tentang perempuan yang menghabiskan waktunya untuk mencari cinta sejati; atau seorang laki-laki yang merayakan kesia-siaannya dengan mengantre the untuk mengurus kebahagiaan. Bahagia sepanjang hidup, pikirku, siapa yang tidak bosan?ar process
Mungkin kita merasa perlu untuk selalu menampilkan kepiawaian dalam mengorganisir diri: tidak ada hal lain yang mampu dihasilkan kecuali potret diri sendiri. Merias diri, ketampanan, kecantikan, dan penampilan: apakah kita perlu diapresiasi? Solt palate
Sedangkan di luar sana sepasang kekasih sibuk dalam pelariannya masing-masing dalam beranda. Mungkin harga atas percakapan-percakapan memang sedang naik-naiknya:
mereka harus membayar waktu yang telah dibuang untuk sekadar mengamini bualan
massa tentang arti sebuah "pertemuan"—suatu keharusan mencekam yang menindas Momereka untuk mematuhi hukum-hukum percintaan yang dibangun atas namaongue "penghargaan atas keberadaan".Operings of the submanditular ducis Premolars Kurasa aku tidak perlu memberhalakan sebuah pertemuan, atau menjadikannya sebagaitne
Caritual yang mapan. Demi menyelamatkan diri atas nama “kebaikan bersama", kitaar
diperlukan untuk rela berbohong dan berpura-pura untuk saling menyenangkan. Jangan In bilang kita begitu, atau justru menjadi salah satunya? Lower lip
F'AM ZXPECTING
TOO MUCH
therefore 'am suffering
Ceng Ridho ig: @cengridho_
Aku Tak Ingin Sepertimu
Ceng Ridho
kukejar jejak-jejak reruntuhan hujan yang hancur bertaburan di dalam nyali seorang lelaki, juga di hadapan perempuan yang ia sebut pujaan. sejauh-jauh aku mengejar, tak pernah kulihat ada langkah sejajar di antara langkah keduanya, seolah semua terkubur dalam perjalanan yang tak pernah diinginkan.
ia tampak risau, kacau, dalam jejak terakhirnya menyusuri harapanku dalam tubuh perempuan itu.
apakah engkau seperti inginku, tuan? tolong biarkan saja aku mati dalam penantian tiada henti ini. urusan nanti akan patah hati atau tidak, cintaku tetap tak ada beda, ia tetap menjadi perayu temu yang rela mati meski tubuhnya sudah robek berulang kali.
Orbituari Lain
Retakan Lain
Dera Pusara
Sebuah pesan terkirim dan sebuah hati bimbang dalam harap dan rasa tak karuan yang cukup jelas namun sulit untuk diucapkan, sebuah balasan atas pesan yang terkirim mengetuk layar gawai yang entah mengapa segera kubuka, aku memang terbiasa terburu- buru. "Ya, nanti malam jam 7," jawabnya dari seberang sana mengiyakan ajakanku yang digerogoti kebosanan setelah sekian hari mengurung diri dalam kamar. Aku telah sampai, memesan minum sembari menunggu kedatanganya yang tak lama datang juga setelah aku memesan segelas kopi dan duduk di pojok kedai kopi. Rasa gugup menggelayuti tatkala ia duduk setelah memesan, aku selalu dihinggapi rasa gugup saat bersamanya, apalagi setelah aku mengatakan kepadanya semalam sejelas-jelasnya
bahwa aku mencintainya. Entah dengan tujuan apa aku mengatakannya padahal
sebelumnya aku berencana untuk menyimpan saja rasa yang ada sebab aku masih dihantui rasa trauma terhadap hubungan di masa lalu. Namun seperti biasa, rencana hanya akan menjadi rencana yang akan usang entah berjalan sesuai entah hancur dimakan realita. "Bagaimana dengan hal semalam?" Aku membuka percakapan. Kami memang telah membicarakan hal ini via pesan daring, namun ia menagihku untuk mengatakan secara langsung kepadanya, entah sebagai pembuktian atau yang lain, tetap entah jawabanya
sampai hari itu tiba. Dengan sedikit menghindar ia menjawab "memang apa yang kita
bicarakan semalam?""Perasaan."jawabku.
Tersentak, seperti ada yang tertahan di lidahnya untuk tak secepat ini mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku, namun ia tetap orang yang kukenal, sang dewi bermulut frontal tanpa belas kasih yang dianugerahi raut wajah yang tenang namun tajam. Ia yang berhasil meluluhlantakkan benteng trauma dan ketakutanku, menggantinya menjadi kenekatan dan kenaifan mengenai masa depan yang kusadari hanya angan belaka tanpa maksud dan makna, terlebih untuk dapat menjadi nyata. Dengan wajah sedikit memerah ia katakan “aku sudah punya,"membuatku sontakterdiam, menyadari sebuah rencana berjalan sesuai rencana yang aku sendiripun pahit menerimanya. Hanya jaket jeansku yang tidak berwarna hitam pekat hari itu, aku telah mempersiapkanya untuk merayakan hari itu sebagai obituariku yang kesekian kalinya yang entahmengapa menjadi tambah pahit sebab aku telah bersiap atas hal ini sebelumnya. Asumsi mengenai kehancuran fragmen kecil hatiku yang telah kusiapkan untuk badai lain yang akan kujalani di jalan cerita yang berbeda. Tak ada yang sama setelahnya, badai bergumul menyambarkan petir-petir ke permukaan jiwa, membakar seisi hutan di dalamnya yang tadinya kupersiapkan untuk kujelajahi bersamamu. Api berkobar liar membumihanguskan segala yang telah kupercayakan, menambah hitam lembah ketakutan, membuka retakan lain yang kian dalam kala ku jumpa kembali dirimu yang sebelumnya menjadi alasan kembali kutumbuhkan kepercayaanku terhadap apapun yang kuanggap tak mungkin. "Aku tak apa, dan tak ada lagi yang menjadi masalah bagiku selama kau berkata jujur," sebuah omong kosong untuk menambal ketidaknyamanan dirimu setelah berkata jujur, setelah membuatku melayang terbang merasakan kembali udara harapan, kaupatahkan kembali segera atau lebih tepatnya memang sudah seharusnya demikian.
Aramis, 14/10/20
© Sinta Dewi
Aku merindukan pelukmu melebihi siapapun, Aku merindukan aroma tubuhmu melebihi apapun, Menghirupnya sebanyak yang aku mau, Seluruhku merindukan seluruhmu, Tapi aku bisa apa sekarang
Dia tidak gagal memahami caraku mencintainya, Tapi aku yang gagal memahami bagaimana aku dicintainya.
UNTITLER
Jingga Lampion
Janggar bersama rombongan kudanya melewati suatu pohon yang dipenuhi dengan mayat yang sengaja digantung. Orang bilang hal semacam ini dipercaya dapat membunuh penyihir hitam yang katanya mempunyai kontrak hidup dan mati dengan setan. Janggar melihat ke arah pohon mayat tersebut terdapat seorang perempuan muda dengan baju terkoyak'. Perempuan itu terlihat paling samar karena tidak mendapatkan cahaya matahari sendiri dibandingkan gantungan-gantungan mayat lain. Saat dia menatap mayat itu dengan teliti, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari bagian tubuhnya. Lalu terdengar suara tangis bayi yang sangat keras hingga membuat sakit telinga. Disusul ribut gonggongan anjing yang mengikuti rombongan dan hendak menerkam bayi itu. Janggar merasa seperti badannya bergerak sendiri, langsung menyaut pedang bawahannya dan berlari ke arah anjing yang hampir menerkam bayi tersebut. Akhirnya bayi itu terselamatkan. Janggar tahu kalau dia sedang menyelamatkan anak setan yang mana jika dia tidak membunuh anak itu sekarang dia akan membawa malapetaka di masa depan. Tetapi Janggar menolak bisikan-bisikan bijak tersebut yang mungkin saja adalah hati nurani. Pada bulan-bulan pertama, Janggar merasa curiga terhadap fenomena para wanita yang mengalami sakit kulit di berbagai bagian tubuhnya. Mereka adalah wanita-wanita yang sakit setelah terdapat satu anggota baru dalam kabilah dagang itu dan memberikan asi terhadap anak setan itu. Sulit untuk mempercayainya bahwa anak yang dikira Janggar tidak berdosa dapat memberikan kesialan terhadap kabilah dagangnya. Kesialan-kesialan itu mulai bertambah dengan penyakit kulit yang diderita seluruh rombongan yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan pelanggan ke pasar manapun mereka tuju. Janggar yang dulunya perkasa dengan kharismanya yang menyebabkan dia sukses di setiap pasar yang dikunjunginya, menjadi orang yang sangat sulit untuk dikenali. Rambutnya yang dulu hitam dan mempesona ketika angin meniupnya menjadi kusut dan tumbuh beberapa uban, badannya yang dulu kekar, menjadi kurus bungkuk, kulitnya yang dulunya cerah berubah kusam dengan banyak bekas garukan yang membuat banyak koreng. Hal ini terjadi terhadap semua rombongan Janggar. Ciri khas rombongan yang dipimpin Janggar juga berubah, mata mereka berubah dari ramah tamah ke tatapan orang yang suka mendengki dan sifat yang dulunya dermawan dan ramah menjadi orang yang bengis dan rela membunuh demi hasrat duniawi.
'Seorang budak yang dulunya dijadikan alat pemuas komplotan penyihir hitam
Suatu ketika anak yang dulu ditemukan bermain dengan teman-temannya saat rombongan berhenti di sebuah telaga kecil yang terdapat bangkai gajah. Anak masih balita itu mengajak teman-temannya untuk berjalan-jalan ke arah pohon besar di samping telaga. Anak itu memandang ke arah matahari berjalan, barat. Di barat laut dia melihat gerombolan singa sedang mengintai di semak-semak. Anak itu mendapatkan bisikan yang mengatakan bahwa singa-singa tersebut adalah teman yang akan membantunya main petak umpet. Dia mengatakan kepada teman-teman untuk bermain petak umpet. Dia pun mendapatkan peran sebagai orang yang akan mencara pemain lainya saat bersembunyi. Dia bilang kepada teman-temannya tidak akan berani mencari ke arah barat dengan maksud teman-teman singanya akan membantu memenangkan permainan. Lalu dia mulai berhitung. Teman-teman balitanya berlari ke arah singa-singa yang sedang mengintai di semak-semak. Saat Janggar datang bersama rombongan lainnya, dia bertanya kepada anak itu, "di mana teman-temanmu?"anak itu hanya menunjuk ke arah rombongan singa yang sedang menggigiti tengkorak teman-temanya yang sudah terpisah dari tubuhnya. Kasih sayang yang dulunya dia arahkan kepada anak itu berubah menjadi kebencian. Beberapa tahun kemudian sampai anak itu menginjak usia sembilan tahun, dilihat di rombongan sudah tidak ada para wanita lagi karena penyakit aid yang didapatkan dari hubungan antar anggota rombongan. Bahkan sudah ada di antara para rombongan yang melakukan tindakan homoseksual. Anak itu adalah satu-satunya anggota paling muda, yang paling bersih juga. Suatu ketika saat anak itu disuruh untuk membawa hewan buruan, dia malah membawanya ke tempat lain. Janggar mencari anak yang membawa makanan untuk menyambung hidup itu ke segala arah. Dia melihat terdapat banyak gerombongan singa dan satu bayangan seseorang dengan postur kecil dan rambut panjang. Saat dia menyuruh anak buahnya untuk mengintai gerombolan itu, ternyata benar anak dari rombongan itu yang sedang menyantap daging mentah dan darah hewan hasil buruan dengan singa-singa. Janggar sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia membuat rencana untuk membalas perbuatan anak itu. Sehari setelah kejadian itu Janggar bersama para rombongan sedang mabuk di tenda kemah. Anak itu dipanggil ke dalam kemah tersebut. Anak tersebut sudah tidak kaget dengan pemandangan sesama lelaki saling bermalas- malasan dengan keadaan telanjang. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang menutup kepalanya dengan kain hitam dan mengikat kedua tangan anak itu. Kaki anak itu ditali dengan keadaan mengangkang dan semua tali yang ada diikatkan ke titik tengah kayu yang membuat tenda tetap berdiri. Maka mereka pun melakukannya dimulai dari Janggar dan terus sampai semua anggota rombongan puas.
Beberapa tahun kemudian, anak itu mendapatkan pekerjaan dengan memanfaatkan ketampanannya untuk pengalih perhatian dalam kegiatan merampok, mencuri, menculik dan segala tindakan kebengisan lainnya. Dia pernahmenculik bayi untuk dijadikan bahan
makanan, dia pernah menculik anak kecil untuk menggantikannya di dalam rombongan,
dia pernah mencuri barang dagangan dari seorang buta, dia pernah membunuh demi sesobek nasi, dia pernah menuntun orang tua ke arahjurang, setiap korban dari rombongan
itu dibawanya untuk dimakan bersama para singa. Dari situ anak itu sudah menjadi lebih
bengis daripada rombongannya sendiri, Janggar yang dulunya adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan ideal, berubah menjadi pemimpin yang tidak bermoral dan hanya mengikuti nafsunya. Suatu saat, Janggar jatuh cinta terhadap salah satu orang yang berhasil
diculik untuk dijadikan pemuas nafsu sahaja. Janggar mulai berubah menjadi orang yang
kasmaran dan membuat perempuan itu menjadi koleksi pribadinya. Sampai suatu ketika
anak yang dulu ditemukan dan dirawat dan diperkosa dan dijadikan salah satu bagian dari
simbol bengis, hina dan tidak bermoral mencapai puncak dimana dia sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Apalagi setelah menyadari bahwa Janggar sudah tidak peduli dengan segalanya dan hanya terhadap koleksi pribadinya. Maka suatu malam anak yang sudah tumbuh cukup kuat untuk mengayunkan pedang dengan tangannya sendiri itu secara diam- diam membisikan rencananya kepada seluruh rombongan. Saat Janggar bangun, dia sudah berada dalam posisi terikat. Dia melihat koleksi pribadinya itu digilir oleh semua anggotanya dan si anak itu yang paling menikmati dan menatap Janggar dengan penuh dendam. Janggar tidak menangis tetapi memaki-maki semuanya. Sampai pada saat di mana wanita itu sudah kehilangan kewarasannya, juga Janggar. Lalu saat semua sudah terlelap karena aksi seharian, anak itu mulai menggorok semua anggota rombongan dengan posisi tangan menutup mulut rombongan. Dia melakukannya satu persatu sampai tersisa wanita itu dan Janggar. Janggar yang sudah kehilangan kewarasanjuga wanita itu hanya tertawa dan mengangguk-angguk. Mereka berdua bertingkah hina dan tidak dapat diungkapkan lagi dengan kata-kata karena sudah sangat tidak bisa dibayangkan lagi oleh akal manusia. Anak itu berkata, "Maka seperti
inilah bentuk kalian semua yang sebenarnya, inilah akhir dari kalian semua. Segala yang
kalian lakukan akan berakhir seperti ini, karena kalianlah manusia." "Dan akulah Dosa!"
Dosa lalu menuntun kedua orang yang tersisa tersebut untuk naik ke pohon dan
meletakkan simpul yang jika ditarik akan mengencang itu di leher mereka. Anak itu
tersenyum dari bawah pohon dengan tatapan bahagia. Dia memandang kedua orang yang
sudah dituntun tadi dari bawah pohon. Dengan tatapan bahagia dan perasaan yang girang
dia berbicara kepada kedua orang gila tadi “Pada hitungan ketiga loncatlah ke arahku,
maka kalian akan mendapatkan kebahagiaan." Maka kedua orang gila itu menuruti apa
kata Dosa yang menawarkan kebahagiaan tersebut. Lalu pada suatu ketika ada satu lagi rombongan yang melewati suatu pohon yang
dipenuhi dengan mayat yang sengaja digantung.....
Aku
Mabuk
Malam Ini
Tuhan
© pramadeva
Maafkan Hambamu Tuhan, apa lagi yang lebih nikmat dari ini? Menenggaknya beberapa botol aku mampu sendiri
Kuminum dari telaga samsara, sebab Engkau menyuluh pergi
Luluh diam tangisku, membasuh lirih meratapi Meneriaki-Mu di keheningan malam hanya akan mengganggu tetangga Sedang aku mabuk kata hingga menjeluak rima Engkaulah Sang Maha Palamarta Begitu pula aku, kusisakan Engkau sedikit vodka
@avedamarp on instagram
Pukul Sepuluh Malam
RM Iqbal
Tepat pukul sepuluh malam, kepulan dingin mencengkeram kehampaan; teras rumahmu adalah tempat orang berlalu-lalang dengan kendaraan mereka. Aku berhenti dan menengok ke arahmu.
Kau menjauh—memikul karung dan membenamkan diri dalam
kegelapan. Sementara itu, di sebagian yang lain, kudengar keramaian tersekat antara satu dengan yang lain. Berbicara panjang mengenai harga kopi di kafe bar terkenal; brand makanan, distro; kleb malam; tren penampilan; dan segala hal penciptaan ketiadaan menuju rangkaian kebutuhan buatan. Di sudut lain—di tempat yang agak remang-remang dan nyaris sepi—aku tak membayangkan dirimu hadir untuk tersenyum padaku. Mata nanar yang terpantul sinar megah lampu universitas itu nampak tak berarti dalam hidupmu. Kini akhiri saja perjumpaan kita. Membuka akhir dalam perjumpaan yang lainmengenakan peran yang berbeda.
ina ion
T
NQtasi 20
mdpt
Membias dari gang-gang kecil, tempat muslihat sepuh bersitegang. Di antaranya angin menyelatan membawa kabar gembira dari negeri seberang. Seperti sungai tempat Musa diajari Tuhan berenang. Demikianlah air matanya gugur bak patera di tanah-tanah kerontang.
Perempuan itu, bersimpuh di antara alisnya, adalah dinding perigi. Gemulai simpangan napasnya sesak melewati pucuk deriji. Getar di kedua lututnya berpindah antara lamun dan nafsu pegari. Dan kempuh bayangnya membuntuti ratus nubuat rasuli.
Gedung-gedung itu memberangus jenama kawanan domba. Lalu melengganglah pialang norma di pelipis alun-alun kota. Sarat kepadanya, adalah sakal yang dibumbung atas suar si adiraja. Maka ia cari camar seteru, bintik damar, dan monokromatika pirsa.
Setiap bayi yang lahir tanpa jeritan akan dipialai dengan api menabun. Menebas rantai-rantai kapal, di kelilingi kemenyan, dihampar ke ujung kurun. Dipaksa menunggangi unta, didiktat mendarahi talmud, juga bersetubuh dengan gurun. Lalu nantinya, siul lidah mereka, akan dijirati dengan seribu pantun.
Ibu, anak-anak kita akan pulang dengan selerang yang dirajut dengan dendam. Di antara pinggangnya adalah cenangkas yang diasah amuk nir-redam. Pada mirat irasnya adalah sumarah yang dimartil untuk mengekali pualam. Dan padang ilalang tempat mereka merekah dibanjiri sesak sabda di pendidihan malam.
mdptp with gin bourbon only
m RM Iqbal
Dc
OE
OC
Crowd
Apa
Yang Sesungguhnya ?
Muhammad Ardian Syah
Kuhadapkan wajahku pada bintang-bintang di langit malam itu
Aku terpesona, betapa alam begitu selaras dalam setiap nafasnya
Mungkinkah ada jawaban-jawaban yang tersembunyi di balik alam dan kesunyiannya yang hanyut dalam angan-angan anak-anak manusia yang bergulat mencari keb
Kemudian, aku temui anak-anak manusia yang bernyanyi tentang firman Tuhan pada doa-doanya
Namun setelahnya mereka menangis; 口 sebab ada perang yang berkecamuk di lembah-lembah pasir yang sunyi tempat Tuhan bersemayam dalam kesucian hati hamba-hambanya
Mereka menyebut diri masing-masing mereka adalah suci A dalam nama Tuhan yang sama tetapi saling membunuh dalam kata-kata mereka
Maka aku pun bertanya pada anak-anak manusia yang menangis itu, apa yang melandasi air mata mereka dalam nyanyian-nyanyian yang indah itu?
Mereka berkata, tangisan kami adalah tangisan yang telah menjadi keharusan, itulah takdir kami
Tangisan kami adalah tangisan-tangisan manusia yang bergejolak dalam perang-perang kebenaran yang tak akan berakhir Kami tak akan berhenti menangis dalam doa-doa dan nyanyian kami, sampai kebenaran itu berhenti saling memerangi dalam ikhtiar mereka dan kembali pada pangkuan Tuhan yang suci
Yogyakarta, 2022
BAGAIMANA
MENCINAI
© pramadeva
Seperti kayu kepada api Adalah bentuk dari sia-sia Dengan rasa yang sederhana Ia disiksa melebur arang Selayak penulis, menyisih debu, ia mati
Bagiku, Untukmu:
Cerita Singkat Tentang
vgnfrst
Danau yang dalam dan tenang diterpa angin kencang; Aku melihatmu duduk di tepian Sedang berharap kepada angin agar menerbangkanmu, pulang Yang sesekali bercermin pada riak genangan Menanggung semua kerinduan
Sedangkan aku hanya berdiri di tepi seberang Membayangkan dapat mengajakmu mengembara Pada perjalanan pulang menuju rumah yang sama
Seketika Wahana Saraswati tiba Membawamu ke hadapanku Aku yakin dengan maksud tertentu Dengan gugup seada-adanya aku bertanya
'Bagaimana?"
Tanpa jeda kau menjawab "Ya"
厦
NT BUNGA
FAJARTERANG MEREDUP REMANG BAYANG HITAM MENGEPAK SAYAP: TERBANG SUNYI RUANG DALAM KERAMAIAN MELAJU KENCANG MENUJU KETIADAAN
PEHYELAMAT
M. Royfan Ardian Pernah ada tetes darah dan suatu riwayat yang menulis kedua tangan seorang penyelamat Ketika jalan yang benar tidak lagi dijawab oleh jari telunjuknya dan harum tubuhnya tak lagi semerbak di hidung orang-orang, tidak ada lagi perasaan damai bersemayam di tengah malam Siang malam berganti tanpa angin berembus Semula pohon dan burung berbicara tentang hangatnya hari-hari lewat sebelum semua daun gugur dan bangkai burung tergeletak Bagi orang-orang sebuah kutukan tanpa penyelamat adalah di tengah jembatan gantung yang terputus Tidak ada lagi menyeberang ataupun kembali ke ujun Menderita dengan membaca cerita kembali riwayat penyelamat dan ketakutan mengajarkan mereguk deras keringat-keringat membasahi kening Dan aku—salah satu penanggung kutukan, telah sadar bahwa kalimat-kalimat riwayat hanya pernah menghibur cemas dan kutukan akan selalu ada
MODERN GOD
ATM
ATM
常
WE OWN YOU//03/©2022
ET
NOCTE
GIRMM GUS
N