TIRANI TANPA STRUKTUR
JO FREEMAN
Tirani Tanpa Struktur
Penulis: Jo Freeman
Diambil dari Medium Pustaka Catut
(yang dipublikasikan pertama kali pada Juni 9, 2025)
Diarsipkan oleh Archipelago Anarchist Archive (2025)
Pada masa dimana gerakan-gerakan pembebasan perempuan telah mendapatkan bentuknya, ada penekanan besar supaya apa yang sering disebut sebagai tanpa kepemimpinan [leaderless] dan tanpa struktur [structurless] menjadi rujukan untuk bentuk organisasi pergerakan. Kita bisa maklumi kalau gagasan tersebut merupakan reaksi alamiah terhadap struktur masyarakat saat ini yang terlampau terstrukturisasi, dimana kita mendapati diri berada dalam kendali tak terelakkan orang lain atas hidup kita. Kita juga mendapati elitisme yang masih berlangsung pada kelompok-kelompok Kiri dan yang serupa dengannya, yang sebenarnya juga menentang struktur masyarakat yang terlampau terstruktur tersebut.
Bagaimanapun juga, gagasan-gagasan tentang ‘ketiadaan struktur’ telah bergeser. Dulunya gagasan ini dipakai sebagai upaya kritik yang sehat, tapi lama-lama malah menjadi kecenderungan-kecenderungan untuk merasa menjadi yang paling benar. Gagasan tersebut, sebagaimana yang telah dipaparkan secara singkat, merupakan kosakata yang keseringan dipakai, tapi pada akhirnya juga menjadi sesuatu yang seolah sudah dari sononya dari ideologi gerakan pembebasan perempuan dan tak pernah dipertanyakan sama sekali. Pada masa awal terbentuknya gerakan perempuan, hal ini mungkin tak jadi soal. Mulanya gerakan [feminis gelombang kedua] ini menetapkan tujuan utama dan metode mereka sebagai suatu kebangkitan-kesadaran, dan “grup rap tanpa struktur” [structurless rap group] menjadi sarana yang sangat bagus untuk mencapainya. Sifatnya yang longgar serta dorongan keterlibatan mereka secara informal dalam setiap diskusi biasanya menimbulkan suasana dimana masing-masing pribadi merasa didukung. Kalau tidak ada hal yang benar-benar kongkrit selain pandangan pribadi yang muncul akibat dari keberadaan kelompok ini, hal tersebut bukanlah suatu masalah, sebab tujuan mereka sebenarnya tidak meluas melampaui hal ini.
Masalah mendasar belum kelihatan, sampai akhirnya pribadi-pribadi dalam kelompok kritis tersebut mulai jenuh dengan tujuan mereka yang sekedar membangkitkan kesadaran. Akhirnya, mereka memutuskan bahwa mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih spesifik lagi. Pada titik ini mereka biasanya gagal dan berhadapan dengan banyak masalah sebab sebagian besar dari kelompok tersebut sama sekali tak ingin untuk mengganti struktur saat mengganti kegiatannya. Para perempuan mengamini gagasan soal ketiadaan struktur tersebut tanpa menyadari adanya batasan-batasan yang diciptakan oleh metode tersebut. Orang-orang yang menggunakan metode kelompok tanpa struktur serta konferensi informal untuk tujuan-tujuan yang sebenarnya tidak cocok untuk mencapai tujuan tersebut, sama sekali tak kan bisa menghasilkan apa-apa selain hanya rasa tertekan dan depresi bagi kelompok itu sendiri.
Jika gerakan ini ingin bergerak melampaui tahap-tahap dasar perkembangan ini, ia harus melepaskan diri dari beberapa prasangka buruknya tentang organisasi dan struktur. Tidak ada sifat buruk dari organisasi dan struktur. Memang, keduanya dapat dan seringkali disalahgunakan. Tetapi menolaknya begitu saja karena keduanya sering disalahgunakan sama saja kita menyangkal alat-alat yang diperlukan untuk pengembangan gerakan lebih lanjut. Kita perlu memahami mengapa 'Ketiadaan Struktur' tidak berhasil.
Struktur Formal dan Informal
Berbeda dengan apa yang ingin kita yakini selama ini, sebenarnya apa yang disebut sebagai kelompok “tanpa struktur” itu sebenarnya tidak pernah ada. Berbagai macam kelompok dengan berbagai macam latar belakang, yang terbentuk dalam rentang waktu tertentu beserta segala tujuan yang ingin mereka raih, takkan bisa menghindarkan diri mereka dari kebutuhan akan suatu struktur. Struktur tersebut bisa saja lentur, bisa jadi berubah dari waktu ke waktu, mungkin pula secara rutin maupun tidak secara rutin mendistribusikan berbagai kegiatan maupun kerja-kerja, kekuatan, maupun sumber daya, kepada semua anggota kelompok tersebut. Tetapi struktur akan terbentuk terlepas dari kemampuan, kepribadian dan niat orang-orang yang terlibat. Kenyataan yang paling mendasar ialah bahwa kita adalah individu-individu yang memiliki talenta serta latar belakang yang berbeda, dan hal ini pula yang membuat kita tak dapat menghindari kebutuhan akan suatu struktur. Hanya jika kita menolak untuk berhubungan atau berinteraksi dengan basis apapun, barulah kita biasa mendekati suatu keadaan “tanpa struktur”tersebut, dan itupun juga bukan keadaan alamiah kelompok manusia.
Ini berarti bahwa kelompok yang ‘tanpa struktur’ bisa berguna dan bisa sama menipunya. Ini mirip dengan masalah kalau berita harus ‘objektif’, atau ilmu sosial bisa ‘bebas nilai’, atau soal ekonomi yang ‘bebas’. Kelompok ‘laissez-faire’ sama realistisnya dengan masyarakat ‘laissez-faire’; gagasan itu menjadi kedok bagi yang kuat atau yang beruntung untuk membangun hegemoni mereka atas yang lain tanpa perlu dipertanyakan. Hegemoni tersebut bisa terbentuk dengan mudah karena gagasan ‘tanpa struktur’ tidak menghalangi pembentukan struktur informal, tetapi hanya menghalangi struktur yang formal. Demikian pula, falsafah ‘laissez-faire’ tidak menghalangi orang-orang yang berkuasa secara ekonomi untuk mengendalikan upah, harga, dan distribusi barang; yang falsafah ini lakukan hanya menghalangi pemerintah untuk tidak mengendalikan upah, harga, dan distribusi barang. Mekanisme ‘tanpa struktur’ tersebut menjadi suatu jalan untuk memberi kedok pada kekuasaan, dan bersama dengan pergerakan perempuan, hal itu biasanya akan dipertahankan mati-matian oleh mereka yang memiliki kekuasaan yang sangat besar (terlepas dari mereka menyadari kekuasaan yang dimilikinya atau tidak). Selama struktur dari kelompok tersebut masih informal, aturan mengenai bagaimana suatu keputusan itu dibuat hanya diketahui oleh segelintir orang saja dan kesadaran akan kekuasaan hanya terbatas bagi mereka yang mengetahui aturan tersebut. Sementara itu, mereka yang tidak mengetahui aturan tersebut serta tidak terpilih untuk inisiasi, masih tetap berada dalam keadaan kebingungan atau mengalami delusiparanoid terhadap sesuatu yang sedang terjadi namun tanpa pernah mereka sadari sebelumnya.
Siapapun yang memiliki kesempatan untuk terlibat serta turut terlibat dalam setiap kegiatan kelompok, dirinya mesti memastikan bahwa strukturnya haruslah tersurat, bukan tersirat. Harus gamblang. Aturan dalam pengambilan keputusan mestilah terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa pun (mereka yang terlibat dalam kelompok tersebut), dan hal ini hanya dapat terjadi jika mereka telah terformalisasikan. Bukan bermaksud untuk bilang kalau formalisasi struktur suatu kelompok akan menghancurkan struktur informalnya. Hal itu biasanya tidak terjadi. Namun hal tersebut akan menghalangi struktur informal yang hendak memiliki kontrol yang mendominasi. Formalisasi juga dapat menyediakan berbagai sarana yang sewaktu-waktu bisa dipakai untuk menyerang struktur informal tersebut.
Secara organisasional, yang dimaksud ‘ketiadaan struktur’ itu adalah hal mustahil. Kita tidak bisa menentukan apakah suatu kelompok punya struktur atau tidak; yang bisa kita tentukan adalah apakah strukturnya formal atau informal. Oleh karena itu, istilah ‘tanpa struktur’ tidak akan dipakai lagi kecuali untuk ide-ide yang diwakili oleh istilah itu. Kelompok yang tidak terstruktur mengacu pada kelompok yang secara tidak sengaja terstruktur dengan cara tertentu. Kelompok yang terstruktur mengacu pada kelompok yang terstruktur.
Kelompok yang terstruktur selalu punya struktur formal, dan mungkin juga punya struktur informal. Kelompok yang tidak terstruktur selalu memiliki struktur informal atau terselubung. Struktur informal inilah, khususnya dalam kelompok yang tidak terstruktur, yang menjadi dasar bagi elit.
Sifat Alamiah dari Elitisme
Istilah 'elitis' mungkin kedengarannya sangat kasar dalam gerakan pembebasan perempuan. Kata tersebut sering dipakai karena beberapa alasan, sebagaimana para simpatisan komunis menggunakannya pada tahun 50-an. Kata itu tak pernah digunakan secara tepat. Dalam pergerakan, kata tersebut biasanya mengarah pada perorangan, walaupun kata tersebut dipakai untuk merujuk pada sifat pribadi serta kegiatan yang berbeda-beda. Seorang pribadi, secara perorangan, tidak bisa menjadi 'elit', karena pada umumnya istilah itu hanya bisa merujuk pada kelompok. Perorangan apapun, tanpa memandang apakah dia cukup dikenal baik atau tidak, tetap tidak bisa menjadi elit.
Sebenarnya istilah ‘elit’ dipakai untuk merujuk pada sekelompok kecil orang yang menguasai suatu kelompok besar dimana mereka pun terlibat dalam kelompok tersebut, dan seringkali tanpa sepengetahuan dan di luar keinginan dari anggota kelompok lainnya yang dikuasai. Seseorang bisa menjadi ‘elitis’ apabila menjadi bagian, atau mendapat dukungan, dari aturan kelompok kecil tersebut. Jadi, ‘elitis’ tidak diukur dari ketenaran. Bahaya yang ditimbulkan oleh para elit tersebut biasanya sulit untuk diketahui oleh publik. Intelijen dari para elit tersebut biasanya cukup pandai untuk menutupi segal hal yang menyangkut elit-elit ini dari keingintahuan publik secara luas. Ketika segelintir elit ini mulai diketahui, maka mereka akan terus diawasi sehingga apa yang menopengi kekuasaan mereka selama ini menjadi tidak berguna lagi.
Hanya karena para elit tersebut berada dalam kedudukan yang informal, bukan berarti keberadaan para elit ini menjadi tidak kelihatan. Di dalam pertemuan dengan kelompok kecil tertentu, siapa pun yang punya mata dan pendengaran tajam dapat dengan mudah melihat siapa yang sebenarnya mempengaruhi siapa. Anggota suatu kelompok yang berlatar belakang persahabatan akan lebih cenderung untuk terbuka dengan anggota kelompok mereka sendiri dibanding jika membuka hubungan di luar dari anggota kelompok itu. Mereka lebih sering mendengarkan dengan penuh perhatian dan jarang menyela. Mereka biasanya bersikap ramah serta cenderung untuk mengulang-ulang poin yang sebenarnya telah diungkapkan sebelumnya oleh anggota lain dari kelompok mereka sendiri. Selain itu, mereka juga nampaknya mengabaikan atau bahkan memusuhi ‘orang-orang di luar’ kelompok mereka. Persetujuan dari ‘orang luar’ tak pernah mereka gubris sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan; namun biar bagaimanapun juga mereka merasa perlu untuk tetap menjaga hubungan baik dengan ‘orang luar’. Tentu saja, pada kenyataannya para ‘elit’ belum tentu segamblang yang saya gambarkan. Terdapat berbagai jenis hubungan dan kemungkinan di dalamnya, dan hal itu tidak sekaku sebuah 'naskah' yang telah tertulis.
Namun para ‘elit’ dapat dengan mudah dikenali lewat tiap dampak yang ditimbulkanya. Sekali seseorang mengetahui siapa yang bertanggung jawab atau menentukan keputusan dalam suatu kelompok, dan siapa yang mengesahkannya, maka seseorang dapat mengetahui dengan mudah siapa yang sebenarnya memegang penuh kendali atas kelompok tersebut. Para ‘elit’ tersebut bukanlah semacam konspirasi. Jarang ada suatu kelompok kecil yang mencoba untuk mengambil alih sekaligus menghancurkan suatu kelompok yang lebih besar.
Para ‘elit’ tersebut sebenarnya tidak lebih dari suatu kelompok pertemanan yang terlibat dalam kegiatan politik yang sama. Mereka mungkin akan mempertahankan persahabatan mereka terlepas dari apakah mereka terlibat dalam kegiatan politik atau tidak; mereka mungkin akan terlibat dalam kegiatan politik terlepas dari apakah mereka mempertahankan persahabatan mereka atau tidak. Fenomena yang tidak disengaja tersebut kemudian menciptakan elit-elit tertentu dalam suatu kelompok dan hal inilah yang membuat mereka sulit untuk dihancurkan.
Fungsi dari kelompok pertemanan ini merupakan jejaring komunikasi di luar dari jalur-jalur biasa, yang ditujukan sebagai bentuk komunikasi yang mungkin ditentukan oleh kelompok itu sendiri. Jika saja tak ada jalur yang tersedia, maka fungsinya akan lebih ditekankan hanya sebagai jaringan komunikasi saja. Dan karena setiap orang di dalamnya adalah teman, yang biasanya saling berbagai nilai yang sama, dan karena setiap orang di dalamnya saling berbicara serta menasehati satu sama lain ketika akan menentukan sebuah keputusan yang sifatnya umum, maka orang-orang yang terlibat dalam jaringan tersebut lebih punya kekuasaan dibandingkan orang-orang yang tidak bergabung kelompok tersebut. Adalah hal langka kalau suatu kelompok tidak menjalin jaringan komunikasi informal melalui teman-teman yang terjalin di dalamnya.
Beberapa kelompok, tergantung kapasitas yang dimilikinya, mungkin saja mempunyai lebih dari satu jaringan komunikasi informal. Dan mungkin saja jaringan yang dimilikinya saling tumpang tindih satu sama lain. Ketika hanya ada satu jaringan semacam itu, maka mereka itu adalah para 'elit', tak perduli apakah para partisipan dalam kelompok itu menginginkan keberadaannya atau tidak. Jika hanya ada jaringan semacam itu dalam kelompok kelompok yang terstruktur, maka kemungkinan untuk menjadi elit atau tidak berrgantung pada komposisi serta latar belakang dari struktur formal kelompok itu sendiri. Jika ada dua atau lebih jaringan pertemanan semacam itu, maka yang mungkin terjadi ialah persaingan demi kekuasaan dalam kelompok yang membentuk faksi semacam itu. Atau salah satunya dapat bebas memilih untuk keluar dari kompetisi tersebut dan membiarkan yang lain untuk menjadi elit. Dalam kelompok yang terstruktur, jika terdapat dua atau lebih jaringan pertemanan semacam itu, maka bentuk yang dapat terjadi adalah persaingan untuk meraih kekuasaan formal. Hal ini seringkali menjadi suatu keadaan yang menyehatkan. Anggota lainnya berada dalam posisi untuk menengahi antara dua kelompok pesaing untuk mendapatkan kekuasaan dan dengan demikian mampu mengajukan tuntutan kepada kelompok yang telah mereka berikan kesetiaannya untuk sementara.
Karena suatu kelompok pergerakan tidak membuat keputusan yang kongkrit mengenai siapa yang menjalankan kekuasaan di antara mereka, maka terdapat berbagai macam prasyarat yang berbeda-beda di setiap belahan dunia. Seiring pergerakan yang berubah sepanjang waktu, pernikahan tidak lagi menjadi ketentuan universal untuk keterlibatan yang efektif, sekalipun seluruh elit informal masih mengakui standarisasi dimana hanya perempuan yang memiliki material atau sifat kepribadian tertentu yang boleh ikut bergabung. Standarisasi tersebut meliputi: latar belakang kelas menengah (terlepas dari segala koar-koar yang berkaitan dengan kelas pekerja), sudah menikah, atau sementara hidup dan tinggal bersama seseorang, menjadi seorang lesbian atau pun berpurapura menjadi seorang lesbian, berumur antara 20 hingga 30 tahun, memiliki latar belakang pendidikan yang bagus, termasuk orang yang ‘trendy’ tapi tidak terlalu ‘trendy’, memiliki garis politik tertentu atau yang teridentifikasi sebagai radikal, punya kepribadian yang sangat feminim dan bisa dibilang 'baik’, berpakaian rapi (entah itu dalam gaya yang tradisional maupun tidak), dst. Ada juga beberapa sifat yang bisa dipakai untuk menandai apakah seseorang ‘menyimpang’ dan seharusnya tidak berhubungan dengan orang lain. Sifat tersebut termasuk: terlalu tua, bekerja penuh waktu (terutama jika seseorang secara aktif berkomitmen pada ‘karier’), tidak ‘baik’, dan mengaku lajang (yaitu tidak heteroseksual maupun tidak homoseksual). Sifat-sifst lain bisa ditambahkan, tetapi semuanya memiliki tema umum. Prasyarat sifat-sifat untuk terlibat dalam semua elit informal gerakan, dan dengan demikian untuk menjalankan kekuasaan, menyangkut latar belakang, kepribadian, atau waktu yang bisa disediakan seseorang. Prasyarat tersebut tidak mencakup keahlian, tekad terhadap feminisme, bakat, atau sumbangsih potensial seseorang terhadap gerakan. Prasyarat pertama adalah kriteria yang biasanya dipakai seseorang untuk menentukan siapa teman-temannya. Prasyarat kedua adalah apa yang harus digunakan oleh setiap gerakan atau organisasi agar efektif secara politik.
Meskipun proses pembentukan elit dalam kelompok kecil ini dibedah menggunakan sudut pandang yang kritis, pembedahan ini tidak dilakukan atas dasar keyakinan bahwa struktur informal ini sudah pasti buruk —hanya saja memang tak terelakkan. Setiap kelompok yang menciptakan struktur informal dalam kelompoknya tak lain merupakan hasil dari pola interaksi di antara anggota kelompok itu sendiri. Struktur informal semacam itu dapat melakukan berbagai hal yang sangat berguna. Namun hanya kelompok yang secara total tak terstruktur saja yang dapat dikuasai oleh mereka. Ketika ‘elitelit’ informal ini dikombinasikan dengan mitos ‘tanpa struktur’, maka bisa dipastikan takkan pernah ada usaha untuk membatasi penggunaan kekuasaan. Segala hal yang tak terduga dapat saja terjadi di dalamnya.
Hal ini sangat potensial untuk mendatangkan dua konsekuensi negatif yang perlu kita waspadai. Yang pertama adalah, struktur informal yang mengambil keputusan akan menjadi seperti sebuah ‘sorority’ [klub sosial mahasiswi di kampus Amerika]: sebuah keadaan dimana seseorang akan mendengarkan yang lain hanya karena mereka menyukainya, bukan karena orang tersebut telah mengatakan sesuatu yang berguna dan berarti bagi mereka. Hal ini mungkin tidak terlalu jadi masalah kalau pergerakan kelompok tersebut belum melakukan suatu kegiatan yang berarti. Namun, jika tujuan pembentukan kelompok tersebut mengharapkan perkembangan yang lebih jauh dari cuman sekedar tahap permulaan, maka kelompok tersebut mesti mengubah kebiasaan ini. Yang kedua adalah, struktur informal sama sekali tidak punya kewajiban untuk secara umum bertanggungjawab pada kelompok. Kekuasaan elit-elit dalam struktur informal tidaklah diberikan secara sukarela pada mereka; namun juga tak bisa ditarik kembali. Pengaruh yang mereka miliki tidak berdasar pada apa yang telah mereka perbuat bagi kelompok mereka; oleh karena itu mereka tidak dapat secara langsung diarahkan oleh kelompok mereka sendiri. Hal ini tidak serta merta membuat struktur informal tersebut bisa disalahkan. Orang-orang yang peduli untuk mempertahankan pengaruh yang mereka punya biasanya akan mencoba untuk bertanggung jawab. Singkatnya, kelompok jadinya tidak bisa memaksakan pertanggungjawaban semacam itu pada para ‘elit’; hal tersebut bergantung pada kesediaan dari para 'elit' itu sendiri.
Sistem ‘Bintang’
Gagasan mengenai ‘ketiadaan struktur’ telah menciptakan suatu sistem ‘bintang’. Kita hidup dalam suatu masyarakat yang mengharapkan suatu kelompok politik yang dapat membuat keputusan serta memilih orang-orang tertentu untuk membumikan keputusan-keputusan tersebut pada masyarakat secara luas. Pers dan publik tidak tahu bagaimana mendengarkan secara serius para perempuan secara perorangan sebagai perempuan; mereka ingin tahu bagaimana perasaannya sebagai sebuah kelompok. Mereka (publik dan pers) lebih ingin mengetahui bagaimanakah perasaan yang dirasakan oleh kelompok itu sendiri. Selama ini, hanya tiga teknik yang pernah dibentuk untuk memperkenalkan opini suatu kelompok secara massif: voting atau referendum, survey terhadap opini publik yang dilakukan dengan cara memberikan berbagai pertanyaan serta seleksi kelompok melalui pertemuan yang dihadiri oleh juru bicara masing-masing kelompok. Gerakan pembebasan perempuan tidak sedikit pun menggunakan ketiga teknik tersebut untuk mengkomunikasikan kelompok mereka kepada publik. Baik itu pergerakan perempuan secara keseluruhan ataupun kelompok-kelompok kecil yang menyusunnya, tidak satu pun yang pernah menjelaskan bagaimana posisi mereka yang sebenarnya dalam menghadapi setiap isu yang sedang berkembang. Publik semata-mata hanya dikondisikan untuk melihat juru bicaranya saja.
Ketika kelompok tersebut sadar bahwa mereka sama sekali tidak memilih seorang juru bicara, maka gerakan tersebut telah menyebabkan banyak perempuan menjadi sorotan publik dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Perempuanperempuan ini sama sekali tidak merepresentasikan kelompok tertentu maupun membawa opini yang mewakili kelompok mereka; dan mereka tentu menyadari serta mengakui hal ini. Namun karena tidak memiliki juru bicara resmi atau pun pembuat keputusan maka pers dapat saja langsung mewawancarai mereka untuk mengetahui posisi gerakan mereka secara subjektif. Jadi, apakah hal tersebut dikehendaki atau tidak, apakah gerakan yang mereka bangun menyukai hal tersebut, perempuan-perempuan itu dengan sendirinya telah berada dalam lingkaran yang mendudukan mereka sebagai juru bicara.
Inilah sumber yang mengikat dan seringkali dirasakan oleh para perempuan yang terlabelkan sebagai 'bintang'. Sebab mereka tidak ditunjuk oleh para perempuan dalam pergerakan itu untuk mewakili pandangan dari gerakan mereka, mereka marah ketika pers mengira bahwa perempuan ‘bintang’ ini berbicara mewakili gerakan.... Jadi, reaksi keras dari sistem ‘bintang’, pada dasarnya, mendorong jenis ketidakbertanggungjawaban individu yang dikutuk oleh gerakan tersebut. Dengan menyingkirkan seorang saudari yang telah menjadi ‘bintang’, gerakan tersebut kehilangan kendali apa pun yang mungkin dimilikinya atas orang tersebut, yang menjadi bebas melakukan semua dosa perorangan yang telah dituduhkan kepadanya.
Kemandulan Politis
Kelompok yang tak terstruktur mungkin dapat secara efektif menemukan perempuan yang bersedia menceritakan segala hal yang menyangkut kehidupan mereka; mereka tidak begitu bagus dalam menyelesaikan sesuatu. Kalau terjadi perubahan pada mekanisme operasi, kelompok tersebut akan terjerumus pada titik dimana setiap orang akan merasa capek kalau cuma ‘ngomong’ terus dan pastinya mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada itu. Karena gerakan yang lebih besar di sebagian besar kota sama-sama tidak terstruktur sebagaimana kelompok rap yang menyusunnya, mereka tidak seefektif kelompok yang terpisah-pisah tetapi melakukan tugas yang spesifik. Struktur informalnya jarang sekali bersentuhan secara langsung dengan masyarakat agar dapat beroperasi dengan lebih efektif. Maka pergerakan tersebut melakukan banyak gerak dan hanya beberapa di antaranya saja yang berhasil. Sayangnya, konsekuensi dari semua gerakan ini tidak seberbahaya dengan hasil yang dicapai.
Beberapa kelompok, kalau kelompok mereka tidak banyak melibatkan orang, beralih untuk menangani proyek-proyek aksi yang sifatnya lokal, dan berkegiatan dalam skala yang lebih kecil. Namun bentuk ini membatasi kegiatan pergerakan hanya pada tingkatan lokal. Hal itu tidak dapat dilakukan pada tingkat regional atau pun nasional. Selain itu, agar kelompok dapat berfungsi efektif, mereka seringkali harus kembali ke struktur yang lebih sederhana dan informal, yaitu kelompok kecil teman-teman yang sudah menjalin hubungan dan kerjasama sejak awal. Hal ini makin mengurangi jumlah para perempuan yang ingin terlibat. Selama satu-satunya jalan yang dapat ditempuh oleh para perempuan tersebut untuk terlibat adalah dengan masuk menjadi anggota kelompok kecil tersebut, maka yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman bersama orang lain yang tentu saja makin membuat segalanya menjadi lebih buruk lagi. Selama sebuah kelompok hanya mengandalkan persahabatan sebagai dasar bagi seluruh kegiatan kelompoknya, maka sejauh itu pula elitisme menjadi makin terlembagakan.
Kalau kelompok tak dapat menemukan proyek lokal untuk dikerjakan, maka satu-satunya alasan yang membuat mereka tetap bersama adalah hanya karena masih ada aksi yang bisa dilakukan secara bersama-sama. Ketika suatu kelompok tak memiliki kegiatan-kegiatan yang spesifik sama sekali (atau cuma membangkitkan kesadaran bagi kelompoknya sendiri), maka orang-orang yang terlibat dalam kelompok tersebut akan berbalik dan mencurahkan energi yang dimilikinya untuk mengendalikan orang-orang lain yang juga berada dalam kelompok tersebut. Mereka melakukannya bukan karena mereka punya keinginan jahat untuk memanipulasi orang lain (walau kadang ada juga yang seperti itu), tapi karena bakat mereka tidak termanfaatkan dengan baik. Orang-orang yang cakap yang punya waktu luang dan merasa perlu untuk memberikan alasan atas pertemuan mereka dengan orang lain dalam kelompok, akan mengerahkan upaya mereka untuk mengendalikan diri dan menghabiskan waktu mereka untuk mengkritik kepribadian anggota lain dalam kelompok. Akibatnya pertikaian internal dan permainan kekuasaan pribadi mendominasi hari-hari. Sebaliknya, ketika sebuah kelompok melaksanakan suatu tugas, orang-orang belajar untuk bergaul satu sama lain sebagaimana adanya dan mengesampingkan ketidaksukaan demi mencapai tujuan yang lebih besar. Dorongan untuk mengubah setiap orang agar sesuai dengan gambaran kita dengan demikian lebih dibatasi.
Akhir dari 'kebangkitan kesadaran' tersebut menempatkan setiap orang dalam kondisi yang kehilangan arah, dan karena ketiadaan struktur, hal ini membuat mereka seolah tak menemukan jalan keluar dari keadaan tersebut. Para perempuan dalam gerakan tersebut, kalau tidak berfokus pada diri mereka sendiri dan saudara perempuan mereka, maka akan mencari alternatif aksi lainnya. Tapi hanya ada sedikit alternatif yang tersedia. Beberapa perempuan jadinya cuma ‘menyibukan diri mereka sendiri’. Hal ini dapat memunculkan banyak sekali kreativitas individu, yang sebagian besarnya berguna bagi gerakan, tetapi ini bukan alternatif yang layak bagi kebanyakan perempuan dan tentu saja tidak menumbuhkan semangat kerjasama kelompok. Perempuan lainnya beralih ke suatu hal yang berbeda dari pergerakan lebih disebabkan karena mereka tidak punya keinginan untuk membangun suatu proyek yang sifatnya sendiri-sendiri dan di saat bersamaan mereka juga sama sekali tidak menemukan jalan untuk bergabung atau memulai sebuah proyek yang menarik perhatian mereka. Banyak di antara mereka yang kemudian bergabung ke suatu organisasi politik yang lain supaya bisa memenuhi tuntutan mereka akan suatu kegiatan yang terstruktur serta efektif yang selama ini tidak mereka temukan dalam pergerakan perempuan (kelompok mereka sebelumnya). Dengan demikian, organisasi politik ⎯yang selama ini memandang pembebasan perempuan hanya salah satu isu diantara banyak isu yang lainnya⎯ mendapatk bahwa gerakan perempuan rupanya seperti kebun siap panen untuk melakukan perekrutan bagi anggota-anggota baru. Organisasi semacam itu sama sekali tidak butuh melakukan 'infiltrasi' (sekalipun hal ini merupakan hal yang tak terhindarkan sama sekali). Keinginan untuk melakukan suatu kegiatan politis yang lebih berarti semakin menguat dalam diri para perempuan seiring dengan bergabungnya mereka dalam suatu kelompok pergerakan pembebasan perempuan yang ternyata belumlah mumpuni sehingga mendorong mereka untuk bergabung dengan orgnisasi yang lain. Pergerakan itu sendiri sama sekali tidak menyediakan saluran bagi mereka untuk mengungkapkan segala ide dan energi yang mereka miliki.
Para perempuan yang bergabung dengan organisasi politik yang lain dan juga masih tetap tergabung dalam kelompok gerakan pembebasan perempuan, atau pun sebaliknya bergabung pembebasan perempuan sambil masih di organisasi politik lainnya, pada gilirannya kemudian menjadi semacam struktur pendukung bagi suatu struktur informal yang baru. Jaringan persahabatan semacam ini lebih didasarkan pada kesamaan politik non-feminis mereka, bukan pada berbagai sifat yang telah didiskusikan pada awal tulisan tadi; namun bagaimanapun, jaringan tersebut mengarah pada jalan yang sama. Karena para perempuan ini saling berbagi nilai-nilai, ide serta orientasi politik yang sama, mereka nantinya juga menjadi elit yang informal, yang tidak terrencana, tidak dipilih, dan tidak bertanggung jawab ⎯meski mereka sebenarnya tidak bermaksud untuk menjadi demikian.
Para elite informal baru ini seringkali dianggap sebagai orang-orang yang diperlakukan dengan buruk oleh para elit yang sebelumnya dari kelompok pergerakan yang berbeda. Dan memang tak ada yang salah dengan persepsi tersebut. Orientasi politik dari jaringan semacam itu memang tidaklah selalu berkeinginan untuk hanya sekedar menjadi ‘sorority’ seperti yang biasa terjadi sebelumnya, serta membuat setiap orang agar mengadopsi pandangan politik mereka sesuai dengan ide-ide feminisme yang selama ini mereka yakini. Ini merupakan hal yang alamiah, namun akibatnya bagi gerakan pembebasan kaum perempuan masih sangat jarang didiskusikan. Para elit yang lama tidak ingin berbagai opini yang berbeda tersebut secara terbuka karena itu sama saja dengan mengekspos keadaan struktur informal kelompok mereka. Banyak di antara para elit ini yang bersembunyi di balik slogan ‘anti-elitisme’ dan ‘tanpa struktur’. Untuk menghadapi kompetisi dari struktur informal lainnya, maka mereka perlu untuk jadi lebih ‘terbuka’ dan kemungkinan ini punya berbagai akibat yang membahayakan. Jadi, untuk menjaga tatanan kekuasaan mereka, maka hal yang paling masuk akal bagi para elit ialah dengan menutup jalan bagi anggota dari struktur informal lainnya, hal tersebut dilakukan dengan menjatuhkan kelompok-kelompok tertentu dan menjuluki mereka sebagai kelompok merah, reformis, lesbian, dst.
Satu-satunya jalan keluar ialah dengan memformalkan struktur dari kelompok tersebut dengan cara yang telah terlembagakan sebelumnya. Hal ini tidak selalu bisa dilaksanakan. Jika elit informal telah terstruktur dengan baik dan telah menjalankan kekuasaan yang cukup besar di masa lalu, maka tugas seperti itu layak dilakukan. Kelompokkelompok ini memiliki sejarah yang cukup efektif secara politik di masa lalu, karena ketatnya struktur informal telah terbukti menjadi pengganti yang memadai untuk struktur formal. Mengubah kelompok tersebut jadi terstruktur juga bukan berarti bahwa operasi mereka pun turut berubah, meskipun pelembagaan struktur kekuasaan tidak membukanya terhadap tantangan formal. Kelompok yang paling butuh struktur sering kali jadi yang paling tidak mampu menciptakannya. Struktur informal mereka belum terbentuk dengan baik dan kesetiaan pada ideologi ‘tanpa struktur’ membuat mereka enggan mengubah taktik. Semakin tidak terstruktur suatu kelompok, semakin kurang pula struktur informal yang dimilikinya; semakin mereka kukuh menganut ideologi ‘ketiadaan struktur’, semakin rentan pula kelompok tersebut untuk diambil alih oleh sekelompok kamerad politik.
Karena gerakan pembebasan perempuan secara umum tidak terstruktur sebagaimana sebagian besar kelompok penyusunnya, gerakan ini juga rentan terhadap pengaruh secara tidak langsung. Namun, fenomena ini terwujud secara berbedabeda tergantung pada tingkatannya. Pada tingkatan lokal, hampir seluruh kelompok dapat beroperasi secara otonom. Akan tetapi untuk terorganisir secara nasional, kelompok tersebut mesti mampu mengorganisir aktivitas secara nasional pula. Maka yang sering terjadi adalah organisasi feminis yang terstruktur saja yang memberikan arahan nasional untuk kegiatan feminis, dan arahan ini tentu saja berdasarkan pada prioritas dari kelompok feminis yang terstruktur itu. Kelompok yang berpola semacam itu antara lain seperti National Organisation of Women (NOW) dan Womens Equality Action League (WEAL) serta beberapa kaukus feminis kiri lainnya. Hanya kelompok-kelompok inilah yang memiliki kemampuan untuk menggenjot kampanye-kampanye yang sifatnya nasional.
Ada banyak kelompok pembebasan perempuan yang tidak terstruktur. Yang bisa mereka lakukan cuma memutuskan apakah akan mendukung atau tidak mendukung kampanye nasional tersebut. Tapi mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam melakukan kampanyenya sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian anggota dari kelompok ‘tanpa struktur’ tersebut kemudian menjadi orang-orang yang berada di bawah kendali kepemimpinan dari kelompok yang berstruktur. Mereka juga bahkan tak mampu untuk memutuskan jalan yang menjadi prioritas mereka.
Semakin tidak terstruktur suatu gerakan, maka semakin kurang juga kendali atas arah perkembangan dan aksi politik yang dilakukannya.
Hal ini bukan berarti bahwa gagasan-gagasan yang mereka bangun tidak menyebar luas. Dengan sejumlah daya tarik yang memikat bagi media serta kecocokan terhadap keadaan sosial yang terjadi, maka gagasan yang dibangun pun masih dapat menyebar secara luas. Tapi penyebaran gagasan tidak berarti bahwa gagasan tersebut diterapkan; biasanya gagasan itu cuma dibicarakan. Selama gagasan tersebut dapat diterapkan secara perorangan, maka gagasan tersebut mungkin dapat dijalankan; tapi kalau gagasan tersebut butuh kekuatan politik yang terkoordinasi untuk diterapkan, maka gagasan tersebut tidak akan terlaksana.
Selama gerakan-gerakan feminis tetap mendedikasikan dirinya pada suatu bentuk organisasi yang menekankan kelompok diskusi kecil dan non-aktif di antara teman-teman, masalah terburuk yang muncul dari ketiadaan struktur tidak akan terasa dan tidak disadari. Namun gaya organisasi semacam ini memiliki batasannya sendiri; secara politis, hal tersebut tidak akan membawa efek yang positif, sangat eksklusif dan diskriminatif bagi mereka (para perempuan) yang tak dapat terikat ke dalam jaringan pertemanan tersebut. Orangorang yang tidak masuk dalam kelompok bisa disebabkan oleh berbagai sebab yang berkaitan dengan kelas, ras, pekerjaan, status orang tua maupun pernikahan, serta kepribadian, yang semua ini akan dengan sendirinya menghilangkan minat mereka untuk turut terlibat. Mereka yang tidak cocok lalu akan mengembangkan kepentingan pribadi dalam mempertahankan keadaan sebagaimana adanya.
Kepentingan pribadi kelompok informal akan dipertahankan oleh struktur informal yang ada, dan gerakan tidak akan punya cara untuk menentukan siapa yang akan menjalankan kekuasaan di dalamnya. Jika gerakan terus dengan sengaja tidak memilih siapa yang akan menjalankan kekuasaan, maka gerakan tidak akan menghapuskan kekuasaan.
Semua hal ini justru mengabaikan hak untuk menuntut rasa tanggung jawab atas mereka yang menjalankan kekuasaan dan memberi pengaruh untuk menjalankan hal tersebut. Jika suatu pergerakan terus menerus memelihara agar kekuasaan terus menerus ditekan seminimal mungkin (dalam hal intensitasnya) karena alasan tidak ada keadaan yang bisa menjamin rasa tanggung jawab seseorang yang memiliki kekuasaan tersebut, hal ini memang dapat mencegah kelompok atau pribadi tertentu untuk mendominasi secara total. Namun hal ini pun secara bersamaan justru menjamin bahwa gerakan tersebut makin tidak membawa hasil yang signifikan. Kita bisa dan harus temukan jalan tengah yang menjembatani antara dominasi dan ketidakefektifan.
Masalah ini memang makin muncul ke permukaan pada saat ini, karena hal ini disebabkan oleh kondisi pergerakan yang memang pasti akan mengalami perubahan. Dorongan untuk ‘membangkitkan kesadaran’, sebagai salah satu fungsi utama dari gerakan pembebasan perempuan kini perlahan mulai ditinggalkan. Dengan makin intensnya publikasi pers pada dua tahun terakhir serta banyaknya judul buku maupun artikel yang telah diedarkan, kebebasan bagi kaum perempuan kini telah menjadi isu yang beredar sangat luas. Isu tersebut telah menjadi topik diskusi yang hangat diperbincangkan dan beberapa kelompok kritis yang sifatnya informal telah dibentuk oleh orang-orang yang sebenarnya tak memiliki koneksi khusus dengan gerakan-gerakan manapun sebelumnya. Kerja-kerja yang sepenuhnya pendidikan kini tidak lagi menjadi kebutuhan yang perlu penekanan yang khusus. Suatu pergerakan sangat perlu untuk melangkah menuju aktifitas-aktifitas yang lain. Saatnya bagi gerakan perempuan untuk mulai menata hal-hal yang menjadi prioritas mereka, merumuskan tujuan yang ingin mereka raih serta mengejar sasaran objektif mereka dengan cara yang lebih terkoordinasi. Untuk mewujudkan hal ini maka gerakan tersebut sangat perlu untuk mengorganisir dirinya secara lokal, regional serta nasional.
Prinsip-prinsip Strukturisasi yang Lebih Demokratik
Ketika suatu pergerakan tidak lagi sepenuhnya memegang teguh ideologi ‘tanpa struktur’, maka pergerakan itu akan dapat lebih bebas dalam membangun bentuk organisasi yang paling cocok dengan kebutuhan gerakan itu sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa kita perlu meniru secara buta bentuk-bentuk organisasi tradisional. Tetapi bukan juga kita ke sisi ekstrim lain dengan menolak semuanya secara buta. Beberapa teknikteknik dengan polanya yang tradisional mungkin dapat juga berguna walaupun masih membutuhkan penyempurnaan lagi; beberapa teknik tersebut mungkin dapat memberi kita sudut pandang berbeda mengenai beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memperoleh capaian-capaian tertentu dengan ongkos yang dapat diminimalkan bagi setiap orang yang terlibat dalam pergerakan tersebut. Seringkali kita perlu untuk bereksperimen dengan gaya struktur yang berbeda dan membentuk teknikteknik yang beragam untuk dipraktekkan pada situasi yang berbeda. ‘Lot system’, yakni suatu metode penunjukan tugas dan tanggung jawab melalui pemilihan acak dan bukan melalui struktur hierarki, merupakan salah satu gagasan dari pergerakan yang telah banyak dikenal saat ini. Gagasan tersebut memang tak dapat dipraktekkan pada setiap situasi, namun dapat saja berguna pada situasi-situasi tertentu. Gagasan lain yang berkaitan dengan strukturisasi sangatlah dibutuhkan. Namun sebelum kita dapat melanjutkan eksperimen secara cerdas, kita harus camkan bahwa tidak ada hal buruk yang melekat pada struktur itu sendiri —yang buruk hanyalah penggunaannya yang berlebihan.
Saat bergulat dengan berbagai eksperimentasi serta proses pembelajaran dari berbagai kesalahan, terdapat berbagai prinsip yang perlu kita ingat bahwa hal terpenting dari struktur demokratik serta efektifitas secara politik ialah:
Pendelegasian otoritas tertentu bagi orang-orang tertentu untuk tugas tertentu melalui prosedur yang demokratis. Membiarkan orang menjalankan pekerjaan atau tugas secara asal-asalan berarti pekerjaan atau tugas tersebut tidak dapat diandalkan. Jika orang dipilih untuk suatu tugas, alangkah baiknya jika orang itu telah menyatakan minat atau keinginan untuk melakukannya, karena dengan demikian mereka telah membuat komitmen yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Mewajibkan pada semua orang yang diserahkan otoritas untuk bertanggung jawab kepada semua orang yang memilih mereka. Dengan cara inilah kelompok memiliki kendali atas orang-orang yang memiliki otoritas. Individu dapat menggunakan kekuasaan, tetapi kelompok lah yang memiliki keputusan akhir tentang bagaimana kekuasaan tersebut digunakan.
Pendistribusian otoritas di antara banyak orang dengan alasan yang tentunya dapat diterima oleh setiap orang. Hal ini untuk mencegah terjadinya monopoli atas kekuasaan dan hal ini membutuhkan orang yang memiliki posisi dalam otoritas tertentu untuk mengkonsultasikannya kepada banyak orang dalam proses pengerjaannya.
Penggiliran (rotasi) setiap tugas diantara individu-individu yang lain. Tanggung jawab yang dipikul terlalu lama oleh seseorang, secara informal maupun formal, akan mulai dilihat sebagai suatu ‘hak milik’ bagi orang itu dan akan menjadi sulit bagi orang itu untuk menerima kontrol maupun dikontrol oleh kelompok. Berbeda kalau tugas-tugasnya sering bergantian, maka hal ini pun dapat menyebabkan individu tersebut tidak memiliki cukup waktu untuk mempelajarinya atau pun membentuk rasa kepuasan dalam melakukan tugas tersebut.
Pengalokasian tugas melalui prasyarat-prasyarat yang masuk akal. Memilih seseorang untuk suatu kedudukan karena mereka disukai oleh kelompok, atau memberi mereka pekerjaan keras karena mereka tidak disukai, akan merugikan kelompok maupun orang tersebut dalam jangka panjang. Kemampuan, minat, dan tanggung jawab harus menjadi perhatian utama dalam pemilihan. Orang harus diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang tidak mereka miliki, tetapi ini paling baik dilakukan melalui semacam program 'magang' daripada metode ‘berenang dan hanyut’. Memiliki tanggung jawab yang tidak dapat ditangani dengan baik adalah hal yang melemahkan semangat. Sebaliknya, dikucilkan dari apa yang dapat dilakukan dengan baik tidak mendorong seseorang untuk mengembangkan keterampilannya. Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, perempuan telah dihukum karena kompetensinya —jadi, gerakan tidak perlu mengulang proses ini.
Penyebaran informasi pada setiap orang serutin mungkin. Informasi adalah kekuatan. Akses yang terbuka terhadap informasi akan memperbesar kekuatan seseorang. Ketika jaringan informal menyebarkan ide-ide baru serta informasi yang beredear diantara mereka kepada setiap orang yang berada di luar kelompok tersebut, maka mereka telah melakukan suatu proses pembentukan opini —tanpa keterlibatan dari kelompoknya. Semakin seseorang itu mengetahui bagaimana segalanya itu dapat berlangsung, maka orang tersebut makin efektif pula secara politis.
Akses yang sama terhadap sumber daya yang dibutuhkan oleh kelompok. Hal ini tidak selalu dapat terjadi sesempurna mungkin, namun sangat perlu untuk diusahakan. Seorang anggota yang memiliki monopoli atas sumber daya yang dibutuhkan (seperti mesin cetak atau ruang cuci foto milik suami) dapat memengaruhi penggunaan sumber daya tersebut secara tidak semestinya. Keterampilan dan informasi juga merupakan sumber daya. Keterampilan dan informasi anggota dapat tersedia secara setara hanya jika anggota bersedia mengajarkan apa yang mereka ketahui kepada orang lain.
Ketika prinsip-prinsip ini diterapkan, maka prinsip tersebut menjamin bahwa apapun struktur yang dibentuk oleh kelompok tersebut akan dikendalikan dan dipertanggungjawabkan sendiri oleh kelompok tersebut. Kelompok dari orang-orang yang memiliki posisi otoritas yang berbeda-beda akan menyebar luas dan merata, lentur, terbuka dan bersifat sementara. Mereka tidak akan dikondisikan untuk berada dalam kedudukan yang dengan mudahnya melembagakan kekuasaan yang mereka miliki karena keputusan terpenting akan dihasilkan oleh kelompok itu secara keseluruhan. Kelompok tersebut akan memiliki kekuatan untuk menentukan siapakah yang berhak untuk mengemban otoritas didalamnya.