KIAMAT SINDIKALIS
Feral Faun James Herodes Luigi Galleani
KIAMAT SINDIKALIS Feral Faun, James Herodes, Luigi Galleani
Dipilih dan diterjemahkan dari http://anti-politics.org; https://theanarchistlibrary.org Penyusun: Panji Kumbara Penerjemah: Rifki Syarani Fachry & Hezekiel Turnip Editor: Reyhard Rumbayan Perancang Sampul: Anon Penata Isi: Panji Kumbara Diterbitkan oleh Amorfati Space Cetakan Pertama: September, 2022 Instagram: @amorfatispace
.
ii
DAFTAR ISI
- AKAR BORJUIS ANARKO-SINDIKALISME – Feral Faun |1
- KRITIK SINGKAT TENTANG ANARKO-SINDIKALISME – James Herodes | 16
- ORGANISASI PEKERJA – Luigi Galleani | 28
iii
iv
AKAR BORJUIS ANARKO-SINDIKALISME
Feral Faun
“Kami mendukung perkembangan gerakan buruh berdasarkan demokrasi langsung, bukan hanya karena gerakannya akan lebih efektif dalam perjuangan melawan kelas pekerja hari ini, tetapi juga karena itu memberi pertanda – dan meletakkan dasar bagi – suatu masyarakat yang bebas dan setara, tanpa otoritarianisme atau eksploitasi.
–dari selebaran yang dirilis oleh Aliansi Solidaritas Pekerja, sebuah organisasi anarko-sindikalis.
Pada abad keempat belas atau kelima belas, transformasi sosial yang berlangsung mulai mencapai puncaknya yang dramatis dalam Perang Kemerdekaan Amerika dan Revolusi Perancis. Periode ini adalah pemberontakan borjuasi melawan sistem feodal dan kekuatan Gereja Katolik. Di lingkungan masyarakat feodal, sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik tentang demokrasi politik muncul. Daripada membiarkan aristokrasi yang tidak dipilih atau raja yang memerintah, demokrasi liberal menuntut agar "rakyat" dapat memerintah melalui perwakilan atau suara mereka. Seperti para anarko-sindikalis yang dikutip di atas, kaum borjuis menginginkan "masyarakat yang bebas dan setara, tanpa otoritarianisme atau eksploitasi." Tinggalkan bagian tentang "pekerja" dan "kelas pekerja" dan Thomas Paine mungkin telah menulis kutipan itu.
Tentu saja, kaum anarko-sindikalis akan memberitahu kita bahwa mereka tidak menggunakan ungkapan seperti apa yang
diungkapkan kaum revolusioner borjuis. Saya akan menerima kata-kata mereka jika bukan karena fakta bahwa anarko-sindikalisme telah mencerminkan ideologi borjuis dengan cara yang jauh lebih signifikan daripada sekadar meminjam terminologi- nya. Nilai-nilai yang dijunjung oleh kaum anarko-sindikalis tidak berbeda secara signifikan dari nilai-nilai yang lebih radikal dari para teoretikus borjuis-liberal, dan proyek mereka, setelah diperiksa lebih dalam, terbukti hanya sebuah perpanjangan dari proyek liberal.
Seperti yang saya katakan, sistem ekonomi yang datang bersama kekuatan borjuasi adalah kapitalisme. Saya tidak akan men- jelaskan panjang lebar tentang kapitalisme – cukuplah untuk mengatakan bahwa kualitas yang menentukan dari kapitalisme, diban- dingkan dengan sistem ekonomi lainnya, bukanlah tentang keberadaan kapitalis tetapi produksi kapital yang berlebih yang memungkinkan ekspansi ekonomi secara ber- kelanjutan. Kapitalisme adalah sistem yang
sangat bermoral –dalam arti bahwa itu membutuhkan nilai-nilai yang diprioritaskan di atas kebutuhan, keinginan, atau keserakahan individu agar dapat berkembang dengan lancar. Nilai-nilai yang esensial bagi ekspansi kapitalis ini adalah produksi dan kemajuan. Setiap kemajuan teknologi, dengan demikian, harus dirangkul kecuali jika itu dapat diartikan sebagai ancaman bagi ekspansi kapital lebih lanjut. Yang penting untuk produksi dan kemajuan adalah kerja dan oleh karena itu borjuis sangat menghargai kerja –dan, bertentangan dengan citra yang dilukiskan oleh propagandis buruh "radikal", tidak jarang kapitalis bekerja lebih lama daripada pekerja industri, tetapi itu adalah pekerjaan organisasional daripada kerja produktif. Mereka yang berhasil meng- hindari pekerjaan adalah sampah moral masyarakat kapitalis –parasit dari orang-orang yang bekerja.
Kaum anarko-sindikalis merangkul setiap nilai kapitalis ini. Tujuan mereka adalah "penguasaan produksi manusia yang sesung-
guhnya." Meskipun levelnya tinggi, bukti antropologis menunjukan sebaliknya, mereka berasumsi bahwa manusia purba menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berjuang bertahan hidup dan bahwa itu hanya berkat dari produksi teknologi, dan berkat dari kemajuannya kita dapat menjalani kehidupan indah yang kita semua jalani sekarang, dan menikmati semua komoditas indah ini – oops! Maaf, saya sarkastik! Sindikalis mengakui beberapa teknologi tertentu sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup tetapi melihat teknologi secara umum dan kemajuan secara umum sebagai hal yang positif. Mengingat hal ini, tidak mengherankan jika mereka mempopulerkan pekerjaan, karena tanpa pekerjaan tidak akan ada produksi atau kemajuan. Seperti kaum borjuis, mereka melihat orang-orang yang meng- hindari pekerjaan sebagai "parasit". (Lihat Chaze Bufe: Listen Anarchist!) Satu-satunya masalah nyata yang mereka miliki dengan sistem kapitalis adalah siapa yang akan bertanggung jawab atas itu –mereka lebih memilih Satu Kapitalis Besar, serikat pekerja
internasional, daripada berbagai individu, perusahaan dan negara untuk bertanggung jawab. Tetapi struktur dasarnya akan sama. Seperti kaum borjuis – dan bahkan mungkin lebih dari kaum borjuis – kaum anarko-sindikalis menganut nilai-nilai yang esensial bagi kapitalisme.
Jika produksi dan kemajuan adalah nilai-nilai positif, itu membuat pekerjaan menjadi penting, maka konformitas sosial sama pentingnya. Saya sudah mengatakan bahwa penghindaran akan kerja dipandang sebagai parasitisme. Kenikmatan apa pun yang tidak dapat dikomodifikasi dan dengan demikian dikendalikan oleh produksi adalah tidak etis. Gembel, gelandangan, gipsi, pembangkang, setiap individu yang tidak memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di- kutuk sebagai orang yang gagal atau kriminal. Bahkan bohemian –artis, musisi atau penyair yang tidak patuh –dicurigai di mata borjuis –setidaknya sampai ditemukan bagaimana cara untuk memulihkan dorongan kreatif mereka yang membangkang.
Sikap yang sama terhadap mereka yang tidak cocok dengan masyarakat juga dipegang oleh kaum anarko-sindikalis. Kritikan pedas Chaz Bufe terhadap "mar- jinal" di Listen Anarchist! membuat ini cukup jelas. Cara CNT terus-menerus menjatuhkan pembangkang anarkis Sabate (sambil terus mengambil dan menggunakan uang yang dia berikan kepada mereka dari hasil perampokannya) benar-benar menjijik- kan. Sepanjang sejarahnya, anarko-sindikalisme telah mencoba memadamkan api pemberontak yang tak terkendali, terkadang melalui bujukan dan terkadang melalui penghinaan, untuk menggerakkan pemberontak anarkis agar bisa menyesuaikan diri dan menerima masyarakat. Di mana pun pemberontakan anarkis akan pergi melampaui reformasi yang diserukan kaum anarko-sindikalis, orang-orang yang dianggap tidak percaya hukum ini akan menjadi yang pertama berteriak, "Kriminal! Teroris!" Seperti borjuasi, mereka ingin produksi berjalan dengan lancar, dan itu membutuhkan penyesuaian sosial.
Bergandengan tangan dengan konformitas sosial mencintai perdamaian sosial. Memang benar bahwa borjuasi telah mengeksploitasi perang antar negara untuk memperluas modal, tapi ini selalu berbahaya karena kekerasan apa pun dapat mengganggu kelancaran jalan bagi kapitalisme. Hanya kekerasan yang di-lembagakan oleh otoritas yang proper dengan dasar rasional dan etis lah yang memiliki tempat dalam masyarakat borjuis. Konflik pribadi tidak hanya men- cakupi kekerasan fisik namun pula harus sopan, mesti ditangani melalui diskusi yang rasional, negosiasi atau proses hukum. Tentu nafsu dilarang berkobar. Kedamaian sosial mesti dilanggar hanya dalam keadaan yang paling ekstrem.
Anarko-sindikalis juga menghargai perdamaian sosial. Dari Pengaruh Borjuis dalam Anarkisme Luigi Fabbri hingga Anarkis Listen! Bufe, mereka mencoba untuk memperingat- kan kaum anarkis agar menjauh dari ekspresi verbal kekerasan –ironisnya, mereka mencoba untuk mengklaim bahwa ini tidak
berasal dari konsepsi palsu tentang anarkisme yang diciptakan oleh pers borjuis –mengapa mereka berpikir orang-orang dengan keberanian dan kecerdasan untuk memberontak melawan otoritas akan menerima kata-kata dari pers borjuis, saya tidak tahu. Seperti kaum borjuis, kaum anarko-sindikalis meminta kita untuk mengungkap- kan ketidaksetujuan kita secara rasional, bebas dari nafsu, dengan cara yang damai. Setiap ekspresi pemberontakan individu yang aktif dan penuh kekerasan dianggap tidak bertanggung jawab, kontra-revolusioner dan tidak etis oleh para anarko-sindikalis. Para pelaku dicap, paling banter, sebagai penipu dan lebih seringnya dianggap sebagai kriminal dan teroris. Bahkan, di luar "situasi revolusioner", anarko-sindikalis menolak sebagian besar bentuk tindakan ilegal sebagai kontra-produktif (tetapi apakah itu buruk?). Hanya pemberontakan kelas pekerja ("otoritas yang tepat" dalam teori anarko-sindikalis) yang dapat membenarkan kekerasan –dan bahwa kekerasan harus rasional dan etis untuk menjaga instrumen
produksi tetap utuh dan membuat transisi sehalus mungkin ke produksi anarko-sindikalis.
Anarko-sindikalis juga ingin menciptakan masyarakat yang rasional dan etis. Mereka meminta kita untuk "menyerang irasiona- litas... di mana pun dan kapan pun itu muncul." Masalah yang mereka lihat pada masyarakat saat ini adalah bahwa hal itu tidak cukup rasional atau etis. Karena akal adalah sumber perilaku etis (dalam pandangan mereka), akal harus berlaku di semua bidang kehidupan. Bukan nafsu atau keinginan kita, tetapi "kepentingan rasional" kita lah yang harus menjadi panduan kita, per- kataan kaum sindikalis ini, menggemakan kaum utilitarian. Akan lebih rasional dan lebih etis jika produsen mengendalikan alat-alat produksi, mereka menyatakan, dengan riang mengabaikan pertanyaan apakah mungkin bagi siapa pun untuk mengendalikan alat-alat produksi dalam masyarakat industri.
Baik teoretikus borjuis-liberal maupun anarko-sindikalis menginginkan masyarakat yang rasional dan etis berdasarkan kebebasan, kesetaraan dan keadilan, yang menjamin hak asasi manusia. Keduanya menginginkan ekonomi yang berjalan lancar dengan tingkat produksi tinggi yang menjamin kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya membutuhkan kedamaian sosial dan kesesuaian untuk mewujudkan proyeknya. Sulit untuk tidak berpikir bahwa proyek keduanya sama saja. Saya hanya melihat dua perbedaan yang signifikan. Borjuasi melihat ekonomi sebagai kekuatan apolitis yang dapat berkembang secara efisien dan etis dalam bentuk perusahaan swasta. Kaum anarko-sindikalis mengakui ekonomi sebagai kekuatan politik yang karenanya harus dijalankan secara demokratis. Kaum borjuis-liberal percaya bahwa demokrasi representasional dapat mewujudkan cita-cita mereka. Kaum anarko-sindikalis percaya bahwa demokrasi harus langsung – meskipun mereka sepertinya tidak pernah bertanya kepada kita apakah
kita ingin menghabiskan waktu secara langsung untuk memberikan suara pada setiap masalah sosial yang muncul. Proyek kaum anarko-sindikalis sebenarnya hanyalah perpanjangan dari proyek-proyek liberalisme kaum borjuis –sebuah upaya untuk mendorong proyek itu menuju kesimpulan logisnya.
"Aktivitas sehari-hari para budak mereproduksi perbudakan" –Fredy Perlman
Ini membawa saya ke paralel terakhir antara liberalisme borjuis dan sindikalisme anarko, paralel yang bukan ide, tetapi ketidaktahuan. Sepertinya tidak ada yang mampu mengenali realitas sistem sosial mengenai tempat di mana kita hidup. Sementara berbicara tentang kebebasan dan demokrasi, kaum borjuis-liberal dan kaum anarko-sindikalis keduanya hanya melihat otoritas manusia yang mengendalikan mereka; mereka buta terhadap kegiatan sosial di mana mereka berpartisipasi, yang hal itu justru merupakan sumber nyata dari
perbudakan mereka. Jadi, kaum borjuis-liberal puas dengan menyingkirkan para imam dan raja, dan kaum anarko-sindikalis puas dengan melempar presiden dan bos. Tetapi pabrik-pabrik tetap utuh, toko-toko tetap utuh (meskipun sindikalis mungkin menyebutnya pusat-pusat dis- tribusi), keluarga tetap utuh –seluruh sistem sosial tetap utuh. Jika aktivitas kita sehari-hari tidak berubah secara signifikan –dan para anarko-sindikalis tidak memberikan indikasi keinginan untuk mengubahnya selain menambah beban mengelola pabrik dengan mengelola pabrik hingga bekerja pula di dalamnya –lalu apa bedanya ada sama gak ada bos?-Kami masih tetap budak! "Perubahan nama tidak mengusir si bangsat." Tetapi ada alasan kenapa borjuis-liberal maupun anarko-sindikalis dapat melihat perbudakan yang melekat dalam sistem sosial. Mereka tidak melihat kebebasan sebagai kemampuan individu yang unik untuk menciptakan hidupnya sesuai dengan pilihannya. Mereka melihatnya sebagai kemampuan individu untuk menjadi
bagian yang terintegrasi secara penuh dan aktif dari suatu masyarakat yang progresif dan rasional. "Perbudakan adalah kebebasan" bukanlah penyimpangan pemikiran fasis Stalinis; itu melekat dalam semua perspektif yang menganggap bahwa kebebasan ada bagi masyarakat ketimbang individu. Satu-satunya cara untuk menjamin "kebebasan" masyarakat semacam itu adalah dengan menekan ketidaksesuaian dan pemberontakan yang muncul di mana pun itu. Kaum anarko-sindikalis mungkin berbicara tentang penghapusan negara, tetapi mereka harus mereproduksi setiap fungsinya untuk menjamin kelancaran masyarakatnya. Anarko-sindikalisme tidak membuat pemutusan yang radikal dengan masyarakat saat ini. Itu hanya berusaha untuk memperluas nilai-nilai masyarakat ini sehingga mereka men- dominasi kita lebih penuh dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua pemberontak sejati, pembelot, pembangkang, dan jiwa bebas yang liar tidak dapat menerima masyarakat anarko-sindikalis lebih dari saat ini. Kita harus terus membangkitkan neraka,
menciptakan pemutusan yang radikal dengan masyarakat, karena kita tidak butuh lebih banyak kontrol atas perbudakan diri kita sendiri –dan hanya itu yang ditawarkan para anarko-sindikalis kepada kita. Kami ingin melepaskan belenggu dan menjalani hidup kami sepenuhnya.
KRITIK SINGKAT TENTANG ANARKO-SINDIKALISME
James Herodes
2010
Kritik singkat ini perlu diperluas, dikualifikasi, dan ditulis ulang dengan lebih bernuansa. Saya masih berharap untuk melakukan itu. Mungkin saya akan me- lakukannya, tetapi jika tidak, ini dia Imagining Anarchy saya yang saya bicarakan di Wooden Shoe Book Store di Philadelphia pada tanggal 15 Oktober 2010. Pembicaraan itu tersedia di YouTube. Seperti yang saya nyatakan dengan tegas segera setelah membacakannya, kritik ini tidak berarti
bahwa saya menentang pengorganisasian di tempat kerja. Hanya saja menurut saya fokusnya harus pada pembentukan majelis di tempat kerja dan kemudian membangun jaringan majelis semacam itu di tempat kerja, sehingga melampaui serikat pekerja. Jadi ini memisahkan kritik saya dari penolakan keras Murray Bookchin terhadap anarko-sindikalisme, yang secara praktis menghilangkan peran apa pun untuk pengorganisasian di tempat kerja. Posisi saya juga membuat saya berselisih dengan kelompok- kelompok seperti Gerakan Solidaritas Buruh di Irlandia, dan dengan strategi Wobblies, yang keduanya berkonsentrasi pada pem- bangunan serikat-serikat revolusioner.
–James Herodes
1) Anarko-Sindikalisme menempatkan pengambilan keputusan di tempat yang keliru, secara eksklusif dengan pekerja, bukan dengan orang-orang
yang pada umumnya berada dalam komunitas otonom mereka
2) Ia (anarko-sindikalisme) mengunci revolusi ke dalam pembagian kerja kapitalis. Tidak ada cara bagi pekerja di perusahaan tertentu agar me- mutuskan untuk membongkar mode operasional, karena mata pencaharian mereka terkait dengan hal itu. Mereka tidak punya cara untuk hidup tanpa penghasilan dari itu. Anarko-sindikalisme tidak memberikan jalan keluar –yaitu, tidak menciptakan sumber dukungan lain bagi para pekerja tersebut. Hal ini hanya mungkin dilakukan melalui komunitas.
3) Ia gagal memperhitungkan bagaimana muatan pekerjaan telah berubah selama setengah abad terakhir. Jutaan orang sekarang terlibat dalam pekerjaan yang sama sekali tidak berharga. Ini adalah pekerjaan yang harus ditinggalkan bukan direbut.
4) Ia tidak memiliki cara untuk menghadapi perubahan baru yang masif di pasar tenaga kerja kapitalis – pekerjaan temporer. Para pekerja kontemporer tidak terikat pada tempat kerja tertentu, tetapi sering berpindah-pindah di antara banyak tempat kerja. Dengan demikian, mereka tidak dalam posisi untuk dipersiap- kan merebut apa pun, dan mereka juga tidak akan pernah menginginkannya.
5) Ia tidak bisa lepas dari pasar komoditas kapitalis. Bahkan jika semua tempat kerja di seluruh negeri ini direbut, setiap perusahaan masih akan bergantung pada penjualan pasar untuk bertahan hidup. Yang akan kita miliki hanyalah sebuah negara yang penuh dengan perusahaan kapitalis milik pekerja. Mereka tidak akan memiliki cara atau insentif
tertentu untuk meluncurkan dan mengejar program dekomodifikasi masyarakat secara luas, termasuk dekomodifikasi tenaga kerja dan transisi dari kerja upahan ke kerja kooperatif, yang hanya dapat dilakukan di tingkat komunitas.
6) Ia gagal memperhitungkan pemaha- man kita yang lebih baik tentang kapitalisme, yaitu, bahwa kapitalis, selama berabad-abad yang lalu, telah berhasil mengubah seluruh masyarakat menjadi alat produksi, menjadi pabrik sosial, untuk tujuan mengum- pulkan lebih banyak modal. Jadi, merebut tempat kerja tertentu sebenarnya tidak sama dengan merebut alat-alat produksi. (Oleh karena itu munculnya kampanye Upah untuk Pekerjaan Rumah Tangga.)
7) Ia salah mengira apa yang perlu direbut, berpikir bahwa hal itu adalah alat produksi, padahal seluruh pengambilan keputusan yang harus sebenarnya diambil dari kelas penguasa dan direlokasikan ke dalam komunitas kita.
8) Ia mendorong budak upahan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai pekerja. Dengan demikian ia melang- gengkan, dan bahkan memupuk, identitas palsu tersebut. Ia mencoba mewujudkan kesadaran kelas berdasarkan kerja, kesadaran kelas pekerja. Inilah kenapa perlu untuk merebut tempat kerja, pikir sindikalis. Tetapi tujuan awal dari revolusi komunis adalah untuk menghapus perbudakan upah, menghapuskan pekerja sebagai pekerja, menghapuskan proletariat, menghapuskan seluruh kelas. Artinya, budak-upahan harus menghapuskan diri mereka sendiri sebagai budak-upahan. Seperti
yang telah terjadi, hampir tidak ada seorang pun yang mengidentifikasi pekerjaannya lagi. Mereka juga tidak. Mereka tahu bahwa mereka lebih dari sekedar pekerja. Identitas mereka terletak di tempat lain, dengan keluarga, teman, hal yang disukainya, kegiatan rekreasi (yaitu, bermain), dan komunitas. Mereka adalah manusia dengan banyak minat dan iden-titas. Mereka telah melepaskan identitas peker-ja (jika mereka pernah memilikinya) tetapi masih harus tetap melakukan pekerjaan untuk bertahan hidup. Tapi itu tentu saja, semata hanya cara untuk mencari nafkah. Perbudakan upah hanya dapat dihapuskan dengan beralih ke kerja kooperatif. Mencoba menumbuhkan "kesadaran kelas pekerja" bukanlah cara untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini hanya mungkin dilakukan di dalam komunitas.
9) Ia membuat revolusi terfokus secara keliru pada perjuangan antara kerja yang dikomodifikasi dan kapital, dengan demikian menghalangi perjuangan untuk membangun kembali kerja yang tidak terkomodifikasi, kerja nilai-guna sebagai lawan dari kerja nilai-tukar. Kembali ke kerja yang bermanfaat tidak bisa dilakukan dalam kerangka anarko-sindikalis, tetapi hanya dalam kerangka anarko-komunis.
10) Ia meninggalkan sekotak besar masyarakat – pengangguran, orang tua, orang sakit, orang muda, ma- hasiswa, ibu rumah tangga. Orang-orang ini hanya dapat berfungsi sebagai pasukan pendukung dalam revolusi yang didefinisikan sebagai revolusi untuk merebut alat-alat produksi, yang pada gilirannya didefinisikan sebagai merebut pabrik, kantor, toko, atau lahan per- tanian. Gagasan bahwa hanya orang-
orang dengan pekerjaan yang dapat memainkan peran langsung dalam revolusi adalah hal yang sangat keliru.
11) Ia memiliki sikap yang keliru terhadap petani dan borjuis kecil (keluarga bisnis kecil, petani kecil, wiraswasta profesional dan peda- gang). Kategori orang-orang ini cenderung dilihat sebagai musuh daripada sebagai sekutu poten- sial. Dan memang, dalam model anarko-sindikalis, tidak ada peran untuk mereka dalam revolusi.
12) Ia didasarkan pada bentuk demokrasi perwakilan (federasi, yaitu delegasi ke majelis regional dan nasional), bukan pada demokrasi langsung. Dengan demikian anarko-sindikalisme tidak dapat mengatasi struktur atau prosedur hierarkis borjuis ini.
13) Ia sering terkait erat dengan serikat pekerja yang diorganisir di luar tempat kerja. Serikat pekerja semacam itu dapat, dan sering kali, mengkhianati kelas pekerja ketika krisis datang. Dua kasus penting adalah CNT dalam Revolusi Spanyol, dan Solidaritas Polandia dalam revolusi Polandia tahun 1980-81.
14) Struktur kekuasaan ganda yang dibangun oleh kaum anarko-sindikalis bersifat statis dalam kaitannya mengenai negara kapitalis. Bagaimana tepatnya mungkin untuk berpindah dari struktur kekuasaan ganda ke struktur kekuasaan tunggal, yaitu ke penghapusan negara?. Strateginya tidak memungkinkan untuk dapat melakukan hal tersebut, dan dengan demikian tidak menjawab pertanyaan. (Dan itu belum pernah dilakukan.)
15) Ia tidak berurusan dengan partai- partai kontra-revolusioner yang diorganisir di luar struktur federasi dewan pekerja. Dengan demikian Bolshevik mampu menghancurkan Soviet, Franco mampu menghancurkan kolektif Spanyol, dan Sosial Demokrat mampu menghancurkan dewan pekerja dan tentara dalam revolusi Jerman tahun 1918-1919. Ia dapat mencoba mengorganisir tenta- ranya sendiri, tetapi hal itu tidak dapat dilakukan dalam struktur federasi dewan pekerja.
16) Anarko-sindikalisme telah meng- gagalkan, selama lebih dari satu abad, tujuan awal dari seluruh radikal anti-kapitalis abad ke-19, baik komunis, sosialis, atau anarkis, untuk memulihkan kekuasaan komunitas lokal, dan mendirikan Komune Komune, tanpa pasar, uang, perbudakan berupah, atau negara. Ia mengesampingkan anarko-komunisme. Tapi malah,
artefak kapitalisme itu sendiri, tempat kerja kapitalis, diambil sebagai arena pengorganisasian utama perjuangan anti-kapitalis. Strategi tersebut telah gagal melalui lebih dari satu abad percobaan.
ORGANISASI PEKERJA
Luigi Galleani
1925
Gerakan anarkis dan gerakan pekerja mengikuti dua garis paralel, yang mana terbukti secara geometris bahwa garis paralel tersebut tidak pernah dapat bertemu.
Dan karena para borjouasi kita yang baik ini, yang berpura-pura berfilantropi untuk menyembunyikan agenda terselubungnya, tidak akan pernah berhenti menjadi peng- hisap atau tidak akan pernah mengembalikan apa yang telah ambilnya secara tidak adil; kaum anarkis, termasuk mereka yang
membenci kekerasan dan pertumpahan darah, terpaksa menyimpulkan bahwa peng- ambilalihan kelas penguasa harus dilakukan melalui revolusi sosial yang penuh kekerasan. Dan mereka mendedikasikan diri mereka untuk hal tersebut, berusaha untuk mem- persiapkan kaum proletar dengan segala sarana pendidikan, propaganda dan aksi yang mereka punya.
Jangan lupa dan jangan menipu diri sendiri! Proletariat tetaplah sebuah massa, bukan sebuah kelas. Jika itu adalah sebuah kelas, ia akan memiliki kesadaran yang jelas dan penuh akan hak-haknya, fungsinya, kekua- tannya, revolusi egaliter akan menjadi sesuatu yang usang, itu akan membebaskan kita dari renungan melankolis dan pahit ini.
Massa besar merupakan borjuis non natione sed moribus (bukan karena kelahiran tetapi karena kebiasaan)—bukan berdasarkan asal- usulnya, karena tidak ada yang ditemukan dalam buaiannya, tetapi oleh kebiasaan, takhayul, prasangka, dan juga oleh minat,
karena ia merasa kepentingannya sendiri terikat dan bergantung pada tuannya, yang mana para tuan tersebut kemudian menjadi para penyedia, yang menyediakan pekerjaan, upah, roti, kehidupan bagi ayah dan anak- anaknya. Dan untuk pekerjaan, kehidupan dan keamanan, massa besar berterima kasih kepada tuan yang selalu ada dan akan ada selamanya: terpujilah dia—dan terberkatilah institusi, hukum, polisi yang membela dan melindunginya.
Dengan kata lain, sementara kaum anarkis membuat diagnosis positif yang tajam dan keras, dan menujahkan pisau bedah dalam-dalam untuk menghilangkan sumber utama malaise secara langsung pada akarnya... Massa besar tetaplah berisfat empiris. Mereka sama sekali tidak menentang properti, apalagi menolaknya; mereka hanya berusaha mengurangi keserakahan dalam penggunaan properti. Ia tidak menolak tuannya; Hanya ingin agar dirinya menjadi lebih baik. Ia tidak menolak Negara, hukum, pengadilan, dan polisi. Ia hanya
menginginkan Negara yang lebih bijak, beserta hukum dan pengadilan yang jujur dan polisi yang lebih manusiawi.
Kami tidak berdebat mengenai apakah properti (kepemilikan) itu berarti serakah atau tidak, apakah tuan itu baik atau buruk, apakah Negara itu paternalis atau despotis, apakah hukum itu adil atau tidak adil, apakah pengadilan tersebut jujur atau tidak jujur, apakah polisi itu manusiawi atau kejam. Ketika kami berbicara mengenai properti, Negara, tuan, pemerintah, hukum, pengadilan dan polisi, kami hanya mengatakan bahwa kami tidak menginginkannya satu pun. Dan kami mengejar dengan semangat, kesabaran serta keyakinan, sebuah masyarakat yang tidak sesuai dengan monster-monster ini. Dan sementara itu, dengan segala cara yang dapat kami kumpulkan, kami melawan dan menentang fungsi mereka yang sewenang- wenang dan kejam, kerap kali mengorbankan kebebasan kita, kesejahteraan kita, bahkan orang yang kita cintai selama bertahun- tahun, terkadang selamanya. Seperti yang
Anda lihat, kami menapaki jalan yang berbeda, dan kecil kemungkinan kami dapat bertemu.
Bagaimanapun organisasi pekerja adalah fakta, mereka ada. Dan bahkan jika konservatisme mereka yang usang dan buta menjadi penghalang dan seringkali berbahaya, mereka layak mendapatkan per- hitungan dan perhatian kita.
Apabila kita mendapati diri kita sendiri menghadapi seorang anak yang bodoh, seorang wanita saleh atau orang bodoh yang tidak dapat, atau tidak ingin melihat, baiknya kita tidak perlu menanggapi mereka dengan cemoohan atau hinaan terhadap ketidakdewasaan mereka, kecerdasan mereka, atau kebutaan dari kebanyakan orang itu.
Kami memperlakukan mereka dengan kebaikan yang sama dan membantu mereka semua dengan hati-hati, karena kami bangga mengungkap emas yang tersembunyi di bawah pasir, tanah dan lumpur, untuk mengubah makhluk primitif menjadi sese-
orang yang memiliki nilai, secara individu dan sosial, karena kami tahu di atas semua yang telah kita pilih terlalu penting untuk mengabaikan energi apa pun yang mungkin berkontribusi pada keberhasilan cita-cita kita, dan pada akhirnya, kita tahu bahwa kebebasan, keamanan, dan kesejahteraan individu kita yang akan genting dan fana— bahkan dalam masyarakat egaliter—jika mereka tidak menemukan dasar dan per- lindungan mereka dalam kebebasan dan kesejahteraan dari orang-orang di sekitar kita. Jika kebebasan adalah pengetahuan, jika kesejahteraan adalah solidaritas; maka tugas pendidikan penting dilakukan di antara kaum proletar, terorganisir atau tidak, atau muncul hanya sebagai kebutuhan mendesak, tetapi sebagai sesuatu yang tidak dapat ditunda.
“Kalau begitu, apakah kamu bersedia bergabung dengan organisasi apa pun? Tetap berada di luar mereka dapat mencegah Anda untuk memberikan pengaruh atau tindakan apa pun. ”
Tentu saja! Kita harus mendaftarkan diri kita di organisasi pekerja setiap kali kita merasa itu berguna untuk perjuangan kita dan kapan pun memungkinkan untuk me- lakukannya di bawah janji dan reservasi yang ditetapkan dengan baik .
Sumpah nomor satu! Karena kita adalah anarkis di luar organisasi, maka kita akan tetap anarkis di dalamnya. Reservasi pertama! Kami tidak akan pernah menjadi bagian dari kepemimpinan; kita akan selalu berada dalam oposisi dan tidak pernah memikul tanggung jawab apapun dalam menjalankan serikat pekerja. Bagi kami, ini adalah posisi dasar koherensi.
Telah ditetapkan dengan kuat bahwa organisasi-organisasi pekerja, yang dikelola oleh kaum konservatif yang mengantuk, serta yang merah yang dipimpin oleh apa yang disebut sindikalis revolusioner, mengakui dan menyetujui sistem ekonomi yang ada dalam semua manifestasi serta seluruh hu- bungannya. Mereka membatasi tuntutan
mereka untuk perbaikan yang cepat dan parsial, gaji Tinggi, Jam kerja lebih pendek, pensiun masa tua, tunjangan pengangguran, Jaminan Sosial, undang-undang yang me- lindungi situasi kerja perempuan dan anak-anak, inspeksi pabrik, dll., dll... Mereka adalah tujuan utama organisasi ini didirikan, dan jelas bahwa seorang anarkis tidak dapat memikul tanggung jawab untuk mensponsori aspirasi semacam ini. Ia tahu bahwa setiap penaklukan perbaikan semacam itu menipu dan tidak konsisten, karena dalam pe- ningkatan biaya makanan, sewa dan pakaian, pekerja sebagai konsumen akan membayar lebih untuk hidup tidak peduli berapa banyak yang dia hasilkan sebagai produsen. Oleh karena itu, tidak ada kawan kita yang dapat mengambil alih pengelolaan organisasi semacam itu, atau peran apa pun yang menyiratkan solidaritas apa pun dengan program atau tindakannya, tanpa menyang- kal semua keyakinan anarkis dan revo- lusionernya, tanpa menyelaraskan dirinya dengan kerumunan reformis yang ujung tombaknya hanya kepura-puraan.
Tempat kami adalah oposisi, terus menerus menunjukkan dengan segala kewaspadaan dan kritik bagi kemungkinan kesia-siaan dari tujuan tersebut, kesia-siaan upaya tersebut, hasil yang mengecewakan; tanpa henti menunjukkan, sebaliknya, emansipasi kon- kret dan integral yg dapat dicapai dengan cepat dan mudah dengan jalan dan cara yang berbeda.
Hasil dari setiap agitasi, dari setiap perjuangan Serikat akan mengkonfirmasi pandangan ke depan dan kebenaran dari kritik kita. Sekalipun tidak mudah untuk berharap bahwa suatu organisasi akan mengikuti saran yang diajukan, tetap dapat dipercaya bahwa yang lebih cerdas dan berani di antara para anggotanya akan cenderung mendukung sudut pandang kami. Mereka akan membentuk inti yang siap bertarung dengan semangat dalam perjuangan masa depan, menarik rekan kerja mereka untuk mengguncang otoritas pemimpin serikat mereka.
Jika Anda bergabung dengan organisasi dengan ide-ide seperti ini dan bermaksud mempertahankannya, Anda akan disumpal dan dikeluarkan sebagai provokator sejak di awal. Itu adalah suatu kesempatan yang Anda punya untuk melihat belum lama ini.
Itulah sebabnya rekan-rekan kita yang melakukan tugas ini harus memiliki kualitas keseriusan, kerendahan hati, koherensi dan kesabaran yang besar yang diperlukan untuk mendapatkan, pertama kesukaan, kemudian penghargaan dan akhirnya kepercayaan dari yang terbaik dari rekan kerja mereka. Mereka harus berada di garis depan di mana ada bahaya, baris terakhir selalu, di mana ada ambisi atau keuntungan pribadi; mereka harus menjadi lawan pahit ketika dihadap- kan dengan kesepakatan dan kompromi yang tidak konsisten dengan keyakinan dan martabat mereka sebagai seorang pekerja dan revolusioner.
Dan jika mereka gagal, jika mereka harus berkemas dan pergi, tidak akan ada penye- salan. Mereka akan menabur benih keman-
dirian, kesadaran, dan keberanian yang baik. Pekerjaan mereka akan diingat dan dipanggil di mana pun para pemimpin goyah atau bermanuver, di mana pun perjuangan yang sulit dan sia-sia diikuti oleh rasa sakit dan kekecewaan yang senantiasa baru, di mana pun nasib pertempuran berakhir dengan malapetaka karena kekurangan keberanian dan penyangkalan diri yang selalu mereka praktikkan.
Simpati dan kepercayaan yang melampaui pribadi, ke dalam tindakan dan cita-cita yang menginspirasinya; simpati dan kepercayaan dalam tindakan revolusioner dan dalam cita-cita anarkis, simpati dan kepercayaan yang akan berakhir dengan mengubah diri mereka menjadi kerjasama yang penuh gairah dan gigih, bukankah ini semua yang bisa kita harapkan dari kerja-kerja propaganda, pendidikan, dan renovasi kita yang sederhana namun sungguh-sungguh?
Kami tidak memiliki kepura-puraan dog- matis apapun. Secara sederhana, kami telah mengatakan apa yang kami pikirkan tentang
pertanyaan kontroversial, sadar akan fakta bahwa ia memiliki persetujuan dari sejumlah besar kawan—dan kami mengungkapkannya dengan tulus tanpa kebencian atau penghinaan.
Lebih jauh lagi, kebencian dan penghinaan akan salah tempat, karena tindakan, baik di dalam dengan atau tanpa organisasi pekerja sekali pun, tidak boleh menyiratkan ke- lebihan atau kekurangan. Setiap orang harus memilih cara, sarana dan bidang yang lebih sesuai dengan kemampuan dan preferensi- nya. 1
1 Saat ini, tidak mungkin bagi pekerja dari perdagangan apa pun untuk tetap independen dari serikat pekerja mereka. Di Amerika Serikat, setidaknya, mereka yang tetap terpisah dianggap "keropeng", bahkan jika mereka dihormati karena kemampuannya dan sudah dibayar di atas skala serikat pekerja. Tetapi di atas semua itu, pengusaha mengklaim bahwa semua karyawan mereka adalah anggota serikat pekerja, sehingga mereka dapat mengelurkan mereka yang tidak dapat menunjukkan kartu serikat pekerja. Pengusaha telah belajar dari pengalaman mereka bahwa lebih mudah untuk tawar-menawar dengan komite serikat, yang terdiri dari pekerja cerdas, umumnya ditempatkan dengan baik dan cemburu terhadap posisi istimewa mereka, tapi bagaimanapun juga, masih mudah dipengaruhi dan disogok, daripada harus bertengkar dengan sekelompok individu yang kasar, berubah- ubah dan gelisah yang tidak memiliki kedudukan hukum untuk membangun kesepakatan jangka panjang yang nyaman, dan lebih mudah dibutakan oleh cerita delegasi mereka' daripada disuap oleh kilauan mata uang. Akan membutuhkan terlalu banyak uang untuk berurusan dengan mereka, dan pertengkaran itu harus diulang setiap hari.)