SUBMISI ZINE | MUSIM KEEMPAT
RE:SUREKSI
S04E01 | JANUARY 2024
halo, kami datang lagi. yang artinya dunia masih berjalan seperti biasa. belum juga kiamat (iya, kami juga kecewa)
SUBMISI ZINE, a zine you cant trust. masih sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung segala keluh kesah dan menanggung beban isi kepala semua kontributor yang berada di sini.
isi dalam zine isi sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor. jadi, simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada kami untuk disebarkan agar semua orang tahu opini*(jelek)*mu itu.
kirim saja karya dalam bentuk apapun yang kamu pikir bisa dan sesuai dengan format zine ini. gambar, tulisan, puisi, ocehan, keresahan, ide, gagasan, solusi (yang tidak solutif), resensi film, musik, dan lain sebagainya ke email: [email protected]
tegur sapa dan cacian bisa dialamatkan ke: instagram: @submisi atau ke twitter: @submisi_zine
kalian dapat dengan sesuka hati menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi zine ini untuk kepentingan apapun, selama kalian mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada).
sekali lagi kami tekankan berulang kali, jangan terlalu berharap. hidup tidak begitu istimewa, apalagi isi zine ini.
DAFTAR
ISI HANYA UNTUK MEREKA YANG TIDAK BERANI MENGHADAPI KENYATAAN BAHWA HIDUP TIDAK TERATUR SEPERTI YANG MEREKA BAYANGKAN
DARI NIHILIS HINGGA MENERIMA KUTUKAN SISYPHUS
tulisan kisah pribadi -momolciao
mengandung beberapa kata kasar yang memicu.
Aku pernah mati, jiwaku mati. Diperbudak dengan tuntutan sosial yang membuatku pusing dan terpenjara, sosial media, internet dan orang-orang. Belum lagi, masa laluku yang begitu pahit saat masa kecil. Ditindas, dipukul, dicerca saat berumur 5 tahun dengan anak yang seusia, sungguh lucu bukan. Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa apalagi menuntut hukum anak 5 tahun. Terutama guru-guru yang tidak punya mata itu, orangtua yang sedang sibuk di bawah roda kapitalismeanjay Bahasa maba. Sejak itu aku benci manusia.
Usia 19 tahun aku Kembali membenci manusia, tepatnya laki-laki. Aku mendapatkan trauma besar soal sexual abuse. Membuat jiwa ini semakin banyak plester-plester yang berusaha menutupi semua luka.
Aku hidup di lingkungan strict parent. Orang tua strict yang dianugerahi anak yang menuhankan kebebasan. Ya, sangat berlawanan. Ibarat sepasang orang tua diktator dan anak anarkisme.
2023 jiwa ku berusaha menjalankan semua rutinitas kehidupan yang memuakkan, tanpa tujuan, tanpa birahi hidup. Menghisap tembakau, menengak miras, bertemu laki-laki dengan ending sakit hati berkali-kali adalah coping mechanism yang gila. Hingga pada akhirnya jiwaku menemui sebuah titik bom waktu yang sangat dahsyat melebihi bom nuklir Hiroshima. Dan kemudian mati, padam.
Jiwa mati dengan kondisi semakin gila membuatku merasa harus ke psikolog. Aku ingat saat memasuki ruangan dingin ber AC itu, seperti biasa. Orang-orang aneh menatapku dengan aneh, mungkin mereka berpikir, ni anak gila keknya. Hari pertama pada di ruangan psikolog, agendanya menceritakan semua trauma yang pahit membuatku seperti banyak piring-piring yang akan jatuh pecah. Semua piring. Tapi aku menceritakan semuanya dengan tenang, tremor sedikit.
Dokter menatapku dengan ngeri, daritadi kamu menceritakan hal yang sangat menyakitkan (terutama trauma sexual abuse), kenapa tidak menangis?, ucapnya.
Tentu saja, aku sudah di tahap mati.
Mendatangi psikolog tidak membuat jiwaku bangkit. Justru bom waktu itu berdatangan tanpa diduga. Hingga jalan terakhir adalah mengonsumsi obat-obat anti-depressant, seperti lagu The Jansen.
Aku tidak merasakan perubahan, semua terlihat gelap terkadang abu-abu. Menjalani rutinitas membosankan dengan pikiran yang masih gila, jiwa yang tidak sepenuhnya hidup. Kemudian aku berpikir, mungkin tidak apa-apa tetap gila, tapi aku harus hidup!
Tidak ada salahnya mempunyai pandangan dan pikiran aneh di tengah-tengah kehidupan sosial.
Tidak ada salahnya tetap gila dan berbeda.
Bahkan lucunya aku berpikir, jika jiwaku begitu mati, bagaimana aku akan mengkritisi dan melawan negarawalau mungkin terdengar utopia ya. Tapi, siapa peduli. Kemudian, aku ingat dengan kutukan Sisyphus. Mungkin aku harus seperti Sisyphus dalam memaknai this fkcn life!
Bercerita sedikit perihal Legenda Sisyphus, Raja dari kerajaan Efira, sebuah mitologi Yunani kuno. Sisyphus dikenal dengan Raja yang licik, tamak dan membangkang terhadap dewa. Singkat cerita Dewa Zeus mengambil Sisyphus dari dunia dan melemparkannya ke dalam neraka.
Di kedalaman neraka ia dikutuk untuk terus-menerus mendorong sebuah bongkahan batu besar ke atas puncak bukit.
Jika diimplementasikan dengan kehidupan manusia. Kita hidup selalu berputar dan terjebak rutinitas. Kita bekerja untuk memperkaya bos, namun dompet kita tebal penuh dengan struk indomaret. Pusing tiap akhir bulan. Makan, tidur, bekerja, cari pasangan. Setelah lulus sarjana, Kembali bingung, apa yang harus aku lakukan setelah lulus? Ok, kita harus bekerja, yang ujung ujungnya azah hanya koleksi dokumen di lemari kayu yang penuh rayap. Sudah bekerja dan menikah, lalu apa?, kata tetangga kapan ngisi?. Ok, harus beranak. Ok, sudah punya anak, lalu apa? Yap, Kembali bekerja lah kau bajingan ada anak yang harus kau kasi makan!
Kehidupan manusia dipenuhi dengan hasrat nafsu kehidupan dan tuntutan sosial yang tidak ada habisnya. Kita terus menerus mengangkat batu beban hingga puncak dan Kembali mengangkat batu baru lainnya, kita hanya akan memilih mau agkat batu yang mana. Ketika jiwamu mati, ada batu besar yang tetap harus kau angkat. Kamu telah dikutuk, kita semua telah dikutuk dan harus menerima kutukan itu mau tidak mau.
Jiwaku harus hidup apapun keadaanku, aku harus hidup Kembali walaupun sudah pernah mati. Aku akan menerima kutukan Sisyphus ini dengan bangga!
MOMOL Instagram: @momolciao
Illustration by Solange Aguilar
SOLIDARITAS DAN KOLEKTIVITAS ADALAH SENJATA DI TENGAH NEGARA YANG MENYEMAI DERA!
Illustration by Molly Crabapple Fenomenologi yang hari ini dunia didesain sedemikian rupa dan dikonstruksikan sebagai entitas untuk mempertahankan kekuasaan dan akumulasi. Sistem yang diciptakan hanyalah berorientasi untuk kepentingan komunal dan elite, dengan menggunakan bait-bait suci dari Tuhan sebagai nilai tawar dan justifikasi. Alih-alih mensejahterakan rakyat hanya sekadar utopis yang mana tidak dibarengi regulasi yang memiliki keberpihakan terhadap rakyat, justru masyarakat disematkan sebagai objek untuk dimodifikasi untuk mencapai esensi mereka hingga mencapai klimaks, alhasil berakhir dengan sebuah distopia. Instrumen-instrument penunjang seperti lembaga negara adalah seperangkat entitas yang difungsionalisasikan serta diorbitkan untuk melanggengkan akumulasi dan ekspansi dengan secara masif menelurkan pelbagai regulasi karet dan prematur dalam masyarakat.
Destruktifitas kian nampak secara jelas dengan berbagai ketimpangan, kemiskinan struktural, perampasan lahan, tidak terjaminnya hak asasi, etc sebagai hasil dari inkonsistensi dan dominasi untuk mengorganisir serta menghegemoni lapisan masyarakat. Pengorganisiran yang dibangun dengan sifat hierarkis dan mengkotak-kotakan kelas sosial membawa malapetaka bagi kehidupan. Kondisi yang tercipta hari ini adalah hasil dari apa yang telah mereka bangun. Kehadiran negara menyuburkan legitimasi kekuasaan, mencipta tirani serta menundukkan dan mereduksi setiap komunal dan individu serta mencegah resistensi perlawanan. Demikianlah yang menyebabkan dekadensi negara sehingga melahirkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara. Negara baknya seperangkat otoritas yang menindas.
Negara adalah perwujudan dari kesatuan konseptual yang menyangkal kehidupan dengan memasukkannya ke dalam struktur sentralis dan esensialisnya, dan yang memberikan landasan bagi serangkaian wacana dan praktik dominasi. Sebagai abstraksi, negara melampaui manifestasi konkretnya yang berbeda, namun pada saat yang sama beroperasi melaluinya. Negara lebih dari sekedar institusi yang ada dalam panggung sejarah. Ia adalah prinsip abstrak kekuasaan dan otoritas yang selalu ada dalam berbagai bentuk, namun entah bagaimana melebihi dari aktualisasinya.
Namun, ikhlas dan berserah diri bukanlah sebuah sikap dan tindakan yang progresif, karena demikian hanya akan memupuk hegemoni dan melanggengkan tampuk kekuasaan.
Penindasan akan semakin masif apabila kita bersifat statis. Perlunya sebuah pengorganisiran sebagai awal membentuk sebuah kesadaran terhadap setiap individu untuk membentuk resistensi perlawanan. Sejarah hidup kita adalah sejarah perjuangan melawan klas dan raja yang tiranik. Sejarah memainkan peran yang sangat penting dalam perubahan social. Semua teori tentang perubahan sosial memberi suatu interpretasi masa lampau dan gambar masa depan. Namun, yang perlu kita mitigasi adalah jangan sampai kita terlalu meromantisasi sejarah yang dapat membuat individu atau komunal mengalami stagnasi.
Sudah seharusnya dan sepantasnya kita melawan dan memperjuangkan apa yang menjadi milik kita yang telah diberangus oleh seperangkat otoritas yang bernama negara beserta instrumentnya. Kekuasaan negara benar-benar didasarkan pada kekuatan kita. Kekuasaan politik tidak bisa hanya bergantung pada paksaan. Ia membutuhkan hasrat kita untuk taat padanya. Hanya karena individu tidak mengakui kekuasaan, karena ia merendahkan dirinya di hadapan otoritas, maka negara akan terus ada. Ketika negara mampu melakukan pengontrolan terhadap masyarakat melalui mekanisme regulasi dengan menggunakan otoritasnya, maka kita (rakyat) juga dapat mengorganisir massa yang memiliki rasa sepenanggungan untuk mempersenjatai diri melawan dominasi.
Solidaritas dan kolektivitas dapat menjadi sistesa sekaligus counter attack atas destruktifitas yang negara lahirkan. Kalau kita telisik lebih dalam genealogi manusia secara hakikat adalah anarkisme. Mereka hidup secara egaliter dan mutual aid tanpa ada pengklasan sosial.
Mutual aid berpegang pada prinsip kesetaraan dan menghilangkan landasan hierarkis. Karena hierarkis diyakini sebagai penyebab akar ketimpangan dalam masyarakat serta jurang pemisah antara satu dengan yang lain. Berkaca dari fenomena hari ini yang semakin hari kehidupan semakin mengalami absurditas sebagai hasil dari sistem dan regulasi yang prematur yang dilahirkan oleh negara. Maka, kita perlu merajut ulang solidaritas dan kolektivitas yang sudah menjadi embrio manusia, kita aktualisasikan kembali pada kehidupan hari ini.
Mengingat dengan hadirnya kapitalisme telah mengaleniasi manusia dari lingkungan sekitar, ekologi bahkan dengan dirinya sendiri. Kehendak untuk berkuasa yang dimiliki oleh setiap manusia seakan sirna dengan mekanisme dan konstruksi yang dibangun oleh para kapitalis. Untuk mengembalikan otoritas dan nilai yang dimiliki manusia, kita perlu mempersenjatai diri dengan menyulam kembali solidaritas untuk melakukan pemberontakan. Hal tersebut dapat menjadi sintesa dari peliknya problematika yang yang hadir saat ini. Membangun perkawanan dan ruang alternatif yang sehat berasaskan prinsip mutual aid, memutus hubungan sosial eksploitatif dan relasi sosial kapitalis yang eksis hari ini dapat kita rumuskan ulang menjadi hubungan yang intim dan saling mendukung dengan kebebasan, kesetaraan dan solidaritas. Demikian menjadi modal penting untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang harmomis tanpa harus saling mendominasi.
Jangan pernah berharap pada siapapun, semua bergantung pada diri kalian sendiri! Organize Now!
Rhizomaaa
THE WRECKAGE AND THE POEM
ISAN & ULIL Instagram: @prezz.company | @_uwulil talented husband and wife
THE WRECKAGE AND THE POEM
Semakin mendekati asa binasa
Hanya beberapa yang memugar dinding pertahanan sukmanya
Selebihnya seperti biasa berakhir muram dan semenjana
Namun dalam titik yang berpendar riang, seluruh telah berpadu menjadi nirleka
Dahaga hanya menemu ketohoran dan tak ada jalan lain
Segenap intensi hanya berimplikasi pada pergelutan yang batil
Nisan pun berdendang melucuti dingin yang membenam gelap
Lalu seonggok insan berinkarnasi
PEMAKAMAN
HEUTON TIMORUMENOS
Kau kembali melihat ke dalam dirimu lagi Selama ini menghilang sampai hampir tak sadar Kau dibesarkan oleh rasa takut, kecut juga benci Cundang adalah lakon yang paling tepat untuk pelacur yang tegar
Kau pikir dirimu siapa? Sehebat apapun kau dirundung oleh tawa dan bahagia Kepengecutan akan menyelamatkanmu dari sana membawamu kembali ke surga kesia-siaan belaka
Kebohongan adalah selimut paling hangat Selayaknya pecundang yang tak pernah dipeluk hikmat Takut adalah manifestasi paling agung dari diri Mendekatkan cita-cita menuju mati sembari mengutuki abadi
Ini adalah kelakar yang penuh pura-pura Membenamkan dirimu ke dalam luka yang menganga Lalu kau akan dipeluk cumbu oleh LUPA Lenyap di masing-masing mereka yang punya kepala
Bait terakhir adalah kutukan Dari najisnya dirimu yang kini bersyukur atas kehidupan Mantra disimpul tanpa huruf vocal di dalamnya Kau dikirim kembali ke bahagianya neraka
Andreas Hutauruk / Stirneria Twitter & Instagram: @stirneria Individu yang biasa saja, tak istimewa
DARI MARSINAH SAMPAI KANJURUHAN : SELALU ADA ALASAN
UNTUK MEMBENCI APARAT
Jalan-jalan kota tak akan bisa lepas dari pemandangan penuh corat-coret tak beraturan. Mungkin bagi sebagian orang yang menumpang lewat, corat-coret jalanan hanya merupakan vandalisme keisengan. Padahal, tulisan-tulisan tersebut adalah bentuk penuangan keresahan masyarakat yang meluap-luap dan hendak diluapkan kepada dunia. Termasuk tulisan ACAB, yang semakin marak bermunculan di jalan-jalan seiring memburuknya citra polisi.
Singkatan all cops are bastard atau yang berarti semua polisi brengsek adalah slogan yang berkembang atas kemuakan terhadap institusi kepolisian. Hal ini berkembang hingga munculnya anekdot-anekdot di masyarakat seperti jika kamu kehilangan ayam lalu lapor polisi, kamu akan kehilangan sapi. Berurusan dengan polisi, sama saja dengan mencari masalah baru, yang jauh lebih merugikan daripada diam dan pasrah karena tertimpa musibah. Pasrah itu udah serendah-rendahnya ikhtiar dan usaha, tapi akan lebih rendah lagi jika berurusan sama polisi.
Sebuah fakta yang menyedihkan, di mana polisi yang dibayar dengan pajak rakyat, ditugaskan untuk mengayomi rakyat, malah merugikan rakyat. Selain anekdot soal pelayanan yang buruk, arogansi dan represifitas aparat menjadi momok yang terus menghantui masyarakat.
Sepanjang Juli 2021-Juni 2022, Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) bahwa telah terjadi 677 tindakan kekerasan oleh aparat kepolisian. Aksi-aksi kekerasan ini setidaknya menyebabkan 928 korban luka-luka, menewaskan 59 jiwa, dan menangkap 1.240 orang.
Mayoritas korban tindak represifitas merupakan kriminalisasi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), serta korban penanganan dengan kekerasan berlebihan yang membungkam aksi-aksi demonstrasi.
Kriminalisasi atas aktivisme dan demonstrasi menjadi cerminan matinya demokrasi dalam suatu bangsa. Sementara, peran aparatus sebagai institusi menjadi jelas, sebagai tukang pukul pelancar urusan penguasa.
Perlu berapa banyak mayat lagi sampai kita sadar?
Menukil sejarah pun, peranan aparat tak bisa lepas dari dosa-dosa berdarah atas kematian banyaknya anak bangsa, pembungkaman suara rakyat, dan pelacuran terhadap hak asasi.
Termasuk Marsinah, seorang aktivis buruh perempuan yang ditemukan mayatnya di tengah sawah, tak lama setelah aksi mogok menuntut hak-hak buruh. Mayatnya ditemukan dengan tubuh penuh luka, tusukan benda runcing sedalam 20 cm di perutnya, memar di dagu, lecet lebam di tangan dan paha, serta hancurnya tulang kelamin dan robeknya selaput dara karena masuknya benda tumpul.
Nasib naas Marsinah tak bisa lepas dari kegiatan pemogokan yang dilakukannya, yang dengan galak diintervensi dan dibungkam oleh aparat tentara Kodim 0816 Sidoarjo. Pihak Kodim menangkap para buruh yang dianggap sebagai dalang pemogokan, mengintimidasi, dan memaksa mereka untuk mundur dari perusahaan. Padahal, aksi mediasi sudah terjalin dan telah tercapai kesepakatan antara pihak perusahaan dan buruh.
Marsinah, merasa gusar dengan intervensi militer, lalu mengirimkan surat keberatan pada pihak perusahaan. Setelah surat ini diserahkan, adalah kali terakhir Marsinah terlihat pada Rabu, 5 Mei 1993, hingga mayatnya ditemukan tiga hari setelahnya.
Kematian Marsinah tidak cukup bagi aparat untuk menggosok batang egonya. Atas desakan publik, kasus kematian Marsinah menjadi perhatian agar segera diselesaikan. Lantas apa yang dilakukan aparat dalam menghadapi kasus ini? Ya, menambah daftar panjang kebrutalan aparat dengan cara menculik, menyiksa, dan memaksa sembilan orang sebagai kambing hitam dengan skenario yang sudah disiapkan sebagai pembunuh Marsinah.
Dengan congkaknya Polda Jawa Timur merekayasa skenario pembunuhan Marsinah, melimpahkannya kepada pemilik, satpam, maupun staff perusahaan tempat Marsinah bekerja. Mereka ditelanjangi, dipukuli dan diinjak-injak, disetrum dan dipaksa meminum air kencing agar mau mengaku sebagai pelaku pembunuhan Marsinah.
Walau akhirnyadua tahun setelah kejadian tersebut, melalui proses peradilan yang panjangpihak Mahkamah Agung membebaskan sembilan korban fitnah itu, aparatus masih menutup-nutupi kenyataan dan bersikukuh atas skenario yang mereka karang, hingga akhirnya kasusnya menguap begitu saja tanpa kejelasan.
Masih segar dalam ingatan kita, tragediatau yang oleh beberapa orang disebut pembantaianKanjuruhan yang menewaskan 135 nyawa manusia, termasuk perempuan dan anak-anak. Penggunaan kekerasan berlebih, terutama penembakan gas air mata ke arah tribun penonton menciptakan kepanikan massal yang membuat penonton berdesak-desakan menyelamatkan dirinya dari sesak nafas, iritasi mata hingga akhirnya mati layaknya pembantaian kaum Yahudi di kamar gas.
Dan lagi, penyelesaian kasus ini pun akhirnya menguap tertiup angin. Hakim memberikan vonis bebas kepada dua anggota polisi yang bertanggung jawab atas penembakan gas air mata, dengan alasan, gas air mata tertiup angin, dan tidak menyakiti penonton.
Aksi-aksi intimidasi juga tak lupa dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap korban, saksi, maupun keluarga korban. Kontras bersama dengan Tim Pencari Fakta Aremania menemukan adanya intimidasi secara langsung, di mana polisi mendatangi rumah-rumah korban dan meminta untuk tidak melakukan upaya hukum dan mengajukan gugatan. Begitupun di dalam proses pengadilan, puluhan anggota Brimob yang menghadiri sidang ditegur oleh Pengadilan Negeri Surabaya lantaran meneriakan yel-yel dan menyoraki jaksa.
Begitupun aksi-aksi perampasan tanah dan kriminalisasi yang dialami oleh masyarakat Wadas, Pakel, Pulau Komodo dan daerah-daerah lainnya yang tidak ramai diperbincangkan. Aparat dan pemerintah menjadi pelaku utama pengusiran rakyat dengan kekerasan.
Sekadar tukang pukul penguasa
Aksi arogansi para aparat seolah-seolah menggambarkan bahwa mereka adalah manusia dengan kelas yang berada di atas rakyat. Hal ini menjadi bukti bahwa sifat-sifat feodalisme masih tertanam subur dalam institusi-institusi otoritas.
Dalam feodalisme, kekuasaan kaum bangsawan dilegitimasi oleh kaum ksatria dan militer, sehingga ksatria berhak mengintimidasi rakyat supaya tunduk pada bangsawan dan taat membayar upeti serta bekerja sesuai perintah.
Pengesahan tindak kekerasan bagi kaum ksatria menyebabkan terciptanya tembok pemisah antara rakyat dan ksatria. Dalam negara demokrasi bernama Indonesia ini, tembok tersebut masih hidup dan terus-menerus dipugar. Aparat, baik polisi maupun pegawai negeri, bahkan pejabat sekalipun, masih menganggap bahwa diri mereka layaknya bangsawan dan berada di atas rakyat.
Lantas, apakah tugas sebenarnya dari aparat-aparat itu? Louis Althusser dalam tulisannya menjelaskan, bahwa negara membutuhkan legitimasi lewat ideologi.
Diperlukan cara-cara agar rakyat mau tetap tunduk dalam suatu sistem. Sistem yang berjalan, yaitu kapitalisme tentu memerlukan proses produksi dalam upayanya untuk mencari keuntungan. Sistem produksi yang dilakukan oleh buruh, menyebabkan adanya kelelahan dan menghabiskan energi para buruh tersebut, baik secara fisik maupun mental. Maka dibutuhkanlah kerja-kerja reproduksi, agar para buruh bisa bugar kembali dan dapat bekerja esok hari.
Selain makanan, kesehatan dan hiburan yang bisa mengembalikan tenaga kerja buruh, dibutuhkan juga cara agar para buruh tetap mau bekerja dan tidak memberontak, patuh pada aturan main kapitalisme.
Hal ini dadikan sebagai pandangan-pandangan yang tertanam di masyarakat, dalam bentuk moral secara tak sadar, maupun hukum secara sadar. Disinilah peran-peran aparatus, yang oleh Althusser dibagi menjadi Aparatus Ideologis dan Aparatus Represif. Aparatus Ideologis adalah apa yang menanamkan kesadaran dan nilai moral dalam pikiran masyarakat, seperti lembaga sekolah hingga agama (yang diatur oleh pemerintah).
Sedang aparatus represif adalah aparat yang bekerja secara memaksa, seperti polisi, militer, pengadilan dan penjara. Mereka secara langsung bertindak melawan dan membungkam orang-orang yang tidak sejalan dengan konstruk yang dibangun oleh kelas penguasa, yaitu kaum kapitalis.
Kasus Marsinah beserta sembilan korban lainnya tak lain adalah peranan militer dalam upaya pembungkaman gerakan dan pelucutan hak-hak masyarakat sipil akan kesejahteraan bagi dirinya dengan kekerasan. Intimidasi yang dialami para penggerak aksi mogok, selain menghukum mereka yang membangkang, juga menjadi alarm yang menakutkan bagi kalangan buruh agar tidak sekali-kali berani mencoba hal yang sama.
Bisa kita tarik, bahwa keberadaan aparat hanya membawa penindasan bagi rakyat kecil, yang senantiasa dieksploitasi oleh kelas yang berkuasa. Dengan menguatnya isu reformasi kepolisian, lantas menjadi sebuah pertanyaan, aparatus macam apa yang berpihak pada rakyat? Aparatus macam apa yang diinginkan oleh rakyat? Atau malah, rakyat tidak butuh kehadiran aparat?
Menghancurkan aparatus negara
Telah kita sepakati, bahwa aparatus aparatus negara adalah cara negara menciptakan suatu tatanan yang sesuai dengan sistem yang dikehendaki pemilik kekuasaan, yang dalam kapitalisme adalah pemilik modal. Lantas, kenapa negara seolah tunduk pada pemiilik modal?
Negara hadir sebagai penengah antara dua kelas yang berkonflik, yaitu pemilik modal dan kelas pekerja. Perebutan kepentingan di antara kedua kelompok ini harus diredam agar sistem terus berjalan, agar perusahaan tidak terlalu menindas kelas pekerja, dan menyebabkan mereka murka dan melancarkan revolusi. Di sisi lain, negara akan terus memperlancar jalannya proses produksi sesuai batas wajar yang kerap dilakukan dengan otoritas aparatus negara. Maka dari itu, keberadaan negara tak akan lepas dari peran aparatus, yang berarti keberadaan negara tak bisa lepas dari kekerasan.
Kekuasaan negara akan selalu diabsahkan lewat kekerasan. Adalah sebuah absurditas jika kritik terhadap kepolisian maupun aparatus lainnya dilepaskan dari konteks negara. Penghancuran aparatus akan selalu sejalan dengan penghancuran negara.
BESOKKEOS
THE SUCCUBUS AND HER STORY
Its close to 11 oclock PM, but right now, Ive still not seen his car from the window in this bedroom. I think, hes still busy with his working and thats why hell come late from the time that he has promised to me.
So, while Im waiting for him, I try to make this room tidy and clean because he ever told to me if he loves with the room that looks like that because of his mother who had been called by God in several years ago. And I always wanna make the room like what he had ever got cause I wanna be the woman who be loved like his mother. But, not totally like his mother, cause after I clean this room up, I wanna make him surprised with what I wear on.
Then, suddenly, theres a sound of opened-door while I try to make this clothes fit on my body in front of the mirror.
Youve made this room like usual, again? Alone? The man who just enter this room, then embraces around my waist with the one of his hand.
Yeah, as usual, why? I asked him.
Youve made me like you even more! Then, he gives some little kissed around on my jowl but after some seconds, he asked me again, why you still wear this clothes by the way, this cardigan? It aint as usual?
If youre curious why I wear this, so dont you wanna open this? I said it while Im touching the top of my cardigan button and in that time, I wear cardigan as my top with a short skirt. And I think, he feels like I wanna give my self for him as a gift, so he must open gift paper first if he wants to see what the gift for him.
Then, he unbuttoned my cardigan, and as Ive guessed he shows me that surprised-expression on his face.
You are truly My Succubus, Hes totally surprised when he looks at what I wear in my cardigan; I wear the lingerie set with transparent bra cup, may I open that skirt?
Why not, My Gabriel, I said it then he opens my skirt and hes more surprised cause he looks me wearing on that lingerie that has one-set with g-string, you like it?
I love it! he said it while touching my area that still have a little covered by that g-string.
If your wife is here, I think, she wont love for what shes looking at. I just wanna remind him who is he right now.
Whos gonna care? If we are in this rented room? Nobody, right, the one of his hand starts for playing in this time with squeezing the one of my breast, ah! This fruit always be my favourite!
Then, he touches my chin with his other hand for reaching my mouth to play with his mouth. When were still doing that, I open his buttons shirt then throw his shirt to anywhere in this room. And in seconds by seconds, both of our mouth that stick totally close is creating the loud sound because both of our tongue collide till both of us feels too wet with our mixed saliva.
But, when I try for enjoying the moment like this, I keep be able to remember about too much men who have ever had dark stories with me; theres a lot of men who come to me because they just need a person as his escape place until there are men who feel bored with their life, and especially with their pair, like this man who right now feels totally happy and satisfied cause I always bring him into too much others way for enjoying midnight together and he has ever said that Im the different woman and not like his wife.
And, I must do this job but with hide feelings of not loving this job. Cause, I know, how the feelings of women who finally know all of what their pair have done with a lot of whores, and right now, Im the one of that whores, although actually, I truly dont wanna do this.
In fact, I dont wanna do what my father had done in few years ago with a lots other women then I follow what my mother had done in that time but unfortunately, with all of important things that only for her own, she did it alone, so Im alone in here after I runaway from my father, try for surviving, as a succubus for every men, like a woman who used to seduced my father.
I just wanna feel for being loved from others, although I know, its for benefit only, after I feel like, in my whole life, I didnt used to be loved by the persons who I actually loved in the past.
ANASTASIA The one of others Submisi author who love using anonymous identity because of others specific reasons. But I still love joining to fulfill this e-magazine cause I just love doing it. Hope all of you enjoy reading this writings!
SEMOGA TERSEMOGAKAN SEMOGA TERSEMOGAKAN
Tiga kali Desember, tiga kali juga dia menangis. Duh, nelangsa rasanya. Disesaki rasa kesepian, ketidak-berdayaan, dan lemah. Seakan semua kekuatan dan usahannya musnah begitu saja tiap akhir tahun. Terlalu banyak pikiran mungkin, tapi mau gimana lagi? Semua harus dipikirkan, kan? Itulah. Mempertahankan kebulan asap-asap yang mahal ini cukup membuatnya resah. Kehangatan yang harus tercipta demi memenuhi isi perut, memberi makan para cacing di lambung. Si tunggal ini harus memikul beban yang baginya cukup melelahkan jika diatasi sendiri.
Memiliki pasangan bukanlah pelepas dahaga atas haus afeksi dan atensi yang Lorain rasakan. Pujaan hatinya sibuk dengan dunianya dan masih mampu bersenang senang, sayang, akhirnya ia abai akan kondisi kekasihnya. Bukan salah Edgar jika ia polos dan tak dapat membantu, terpisah jarak mungkin jadi salah satu faktornya. Toh, Edgar juga punya kehidupan. Beruntunglah ia diselimuti kemujuran di sepanjang harinya, selimut yang ingin Lorain rasakan untuk mencairkan keras dan dingin kehidupannya.
Tinggal lah Lorain sendiri, memulai akhir tahun tanpa euforia yang berarti. Tidur tepat waktu, bangun pagi buta. Kantuknya buyar sebab dinginnya air yang membasuh tubuh hangatnya. Sarapannya juga standar, ia memasak telur dadar yang sedikit keasinan. Sial, di saat semua orang dapat berlibur, jatah liburnya malah dipangkas. Dengan berhati besar, ia tetap masuk bekerja walau sedikit ngedumel.
Jauh sebelum rasa putus asanya timbul, sebenarnya sempat ada secerca asa yang membara di hatinya. Ia juga sudah berusaha menjadi lebih baik, walau pada akhirnya tetap saja ya kamu tahu lah apa. Masiiih saja ada kesalahan, bahkan jika tidak ada pun masih saja dikopek hingga nampak salah. Semua pengalaman buruk ini ia simpan untuk kemudian diceritakan ke Edgar.
Aku lelah, Gar. Setiap hari seperti ini Pungkasnya setelah menceritakan tentang harinya yang lagi-lagi apes.
Bersabarlah.. Menurutku kurangi porsi freelance mu, kamu pasti burnout. Sebaiknya istirahat dulu agar kamu pulih
Enak sekali omonganmu.. Tanpa freelance, aku gabisa jajan, Gar. Kamu tahu sendiri gajiku digunakan untuk menghidupi seisi rumah.
Aku minta maaf, bukan maksudku begitu.. Mungkin kamu bisa bersenang-senang sebentar? Main dengan teman-teman?
Teman apa, mereka rumahnya jauh. Ada yang sudah kembali ke kampung halamannya dan tidak kembali lagi. Ada pun tapi liburnya beda sama aku. Temanku cuma kamu, Gar. Tolonglah lebih berempati. Aku tidak memintamu datang ke kotaku lagi untuk berkencan, kok.
Sebenarnya aku ingin ke sana, berkencan dan menghiburmu, namun aku tidak punya uang
Ya bekerja?
Iya, tapi sulit sekali, ahhh aku bingung, beri waktu aku menenangkan diri dulu ya
Percakapan dua sejoli ini diakhiri dengan Edgar yang memilih tidur untuk menenangkan diri. Beruntungnya ia, bukan tulang punggung keluarga, hidup penuh kebahagiaan, dan dikelilingi teman yang selalu ada, tidak seperti Lorain. Di sisi lain, ia sebenarnya merasa senang karena memiliki pasangan yang tak sesial dirinya, namun lama kelamaan, rasa iri pun rumbuh dan mengisi pikirannya. Setelah makan malam, Lorain kembali memikirkan perkataan kekasihnya. Sepertinya ia memang butuh istirahat sejenak. Seketika ia segera menyelesaikan semua garapannya dan langsung tidur.
Pagi hari tiba, Lorain melakukan rutinitasnya seperti biasa, namun bedanya, saat pulang ia menyusun portofolio dan CV menjadi lebih baik lagi.
Optimis jika semua pengalaman kerjanya mampu membawanya ke tempat kerja yang waras dan bergaji cukup, jadi tak perlu freelance demi jajan. Selama seminggu ia terus melamar.. melamar.. dan melamar Hingga akhirnya TING! Ada notifikasi e-mail. Dengan semangat ia mengeceknya.
Terima kasih atas antusiasme dalam melamar ke PT. X, Sayangnya…
Thank you for applying, unfortunately...
Halahhhh, tidak adakah yang mau menerima gadis pekerja keras seperti Lorain? Ia merasa semakin kesal.
Mungkin bukan hari ini.., ujarnya dengan pasrah.
Baru saja hendak terlelap, Edgar menghubunginya,
Hei, aku keterima di X! Besok aku mulai bekerja di sana
Siapa sangka, kekasihnya yang sedikit-sedikit tidur itu lagi lagi bernasib mujur. Lorain gembira, namun rasa hatinya semakin meradang. Berjuang setiap hari hingga kurang tidur belum mampu menaikan derajatnya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil my ass, batinnya.
Kini mereka semakin jauh dari segi jarak maupun hubungan. Ditambah, ia pun menjadi lebih mudah cemburu kepada Edgar. Sangat sensitif, eksplosif, dan posesif. Awalnya hanya jealous of the way he happy without her, tapi kini ia merasa cemburu ke tiap wanita yang dekat dengan Edgar.
Bahkan ketika Lorain mengetahui jika Edgar menemani teman perempuannya saat mencari makan siang, seketika ia naik darah. Rasanya tak ada orang yang mampu mengobati rasa kesepiannya, kekasihnya sendiri pun membuatnya merasa semakin hampa.
Edgar, sebenarnya aku tidak ingin membatasi pergaulanmu, tapi pekalah sedikit, aku di sini sendiri dan kesepian.. Melihatmu bersenang senang dengan rekan wanitamu membuatku sedikit cemburu. Aku tahu kalian memang berteman sejak sekolah, namun, ayolah sedikit jaga perasaanku. Aku di sini sendiri dan kesepian.., ujarnya yang seperti berbelit-belit dan terus diulangi.
Semenjak saat itu, Edgar kini tak pernah menceritakan tentang harinya dengan wanita itu lagi, harusnya Lorain lega, namun rasa curiga semakin membuatnya gila. Jangan-jangan mereka masih terus bersama? Tapi ga cerita karena takut aku cemburu?
Pertikaian antara dua pasangan ini tak terhindarkan. Lorain terus-terusan menyerang Edgar dengan menumpahkan semua keresahannya, tanpa terkalahkan, tak terelak. Ia kesal dan merasa percuma jika memiliki pasangan namun tidak dapat mengerti dirinya, atau setidaknya berempati, lah. Ia tahu jika semua memiliki kehidupan dan urusan masing-masing, namun yang ia inginkan hanyalah rasa nyaman dari seseorang yang bisa ia harapkan. Percuma. Semua keinginannya tak pernah terwujud juga. Mereka akhirnya break hingga waktu yang tak ditentukan.
Lorain-lah yang memutuskan hal ini. Bukan untuk mencari tambatan hati yang lebih mengakomodasinya, namun untuk menjaga kewarasannya.
Tak ada orang yang Lorain percaya untuk curhat, karena ia merasa takut ditertawakan atau diremehkan jika menceritakan kisah pilunya.
Sebaiknya sambat ke Tuhan saja, semoga Ia masih sudi mendengar ratapan ngalor- ngidul ku ini.
Nelangsa Lorain semakin menjadi ketika mendekati akhir bulan. Ternyata ia lupa membayar tagihan listrik. Surat peringatan pemutusan listrik telah sampai di rumahnya, dengan sedikit gemetar, ia meremas kertas itu dan kembali mengerjakan freelance-an barunya.
Bajingan, kemana sih gajiku? Perasaan sudah kupangkas dana kenakalan untuk bulan ini, kok bisa-bisanya ada hal yang memalukan kaya gini., dumelnya.
Hingga akhirnya, suatu hari orang PLN datang ke rumahnya.
Dengan rumah Bu Lily? Ini tagihan listriknya belum dibayar. Mohon segera dibayar daripada harus diputus, ucap mas-mas PLN yang nampak sebaya dengannya.
Iya benar, terima kasih atas pemberitahuannya, nanti saya bayar ya kak
Tidak bisa, harus sekarang
Mampus! Gemetar rasanya. Lorain mengecek rekeningnya dan benar saja, saldonya tinggal tujuh puluh ribu, mau tak mau ia harus menggunakan uang tabungannya yang belum seberapa itu. Dengan gemetar dan sedikit panik ia pun memasukkan nomor pelanggan dan membayarnya.
Sudah kak, coba dicek
Oh iya.. Maaf ya kak, ini memang SOP nya, akhir bulan mau tutup buku.
Iya kak gapapa, maaf juga saya telat bayar
Pembayaran sudah diterima, terima kasih ya kak, selamat tahun baru
Mas-mas PLN itupun pergi. Lega, namun juga geram rasanya karena Lorain harus merelakan uang tabungannya untuk membayar tagihan. Sekian tahun bekerja, tabungannya tak kunjung terkumpul, selalu terpakai demi menalagi kebutuhan rumah yang mendadak. Kasarnya, Lorain hampir tak pernah menikmati gajinya. Sungguh malang.
Rasa sakit hati yang baru saja ia rasakan sedikit mematik rasa semangatnya dalam menyelesaikan proyek garapannya. Sambil menyetel lagu dari YouTube, ia fokus dan berkonsentrasi lagi. Mulai dari Rekah, JKT48, Komunal, Turnstile, hingga Twice menemani proses kreatifnya. Namun yang menarik, tiba-tiba terputar lagu dari Porter Robinson yang berjudul Look At The Sky.
Nada yang mudah didengarkan dengan lirik yang terdengar menyenangkan membuat Lorain terus-terusan mendengarkannya hingga akhirnya di-loop.
Wait again I will be much better then Holding on, I said “I will be much better, then” Look at the sky, I’m still here I’ll be alive next year I can make something good, oh Something good
Sepele, namun penggalan lirik itu membuat Lorain menghentikan sejenak pekerjaannya. Seakan relate dengan apa yang ia alami. Mungkin semua boleh gagal tahun ini, tapi tahun depan, semoga apa yang ia impikan tercapai. Jika ia menyerah, tak ada perut yang terisi. Asap-asap kehidupan akan padam, bisa jadi menyerahnya membawa celaka pada keluarganya. Ia sadar jika keberadaannya membawa kehidupan pada orang lain. Pekerjaannya mampu memudahkan banyak insan. Pundi-pundi yang ia kumpulkan selama ini juga sempat membuatnya tersenyum di tengah kekalutannya. Lorain merasa hidup lagi. Ia sadar jika ia tak dapat dikalahkan oleh rasa kesepian. Ialah pembawa kehidupan, setidaknya untuk keluarganya sendiri.
Ini tangisan terakhirku setelah tiga kali menangis tiap Desember. Isaknya sambil mengerjakan proyek.
Walau terseok-seok, everything is gonna be ok.
BVCKS Instagram: @priz.cha Manusia yang jelas-jelas tidak jelas
KECEMASAN, O KECEMASAN
Musim penghujan tiba. Bunga di halaman berguguran; kelopak, tangkai, dan putik bertaburan serupa doa. Mendung langit menjelang malam selalu melirihkan. Hau pohon, titik hujan yang tertinggal di dedaunan, juga burung-burung yang melagu riang di atas ranting menghitam merupakan fenomena serupa pelangi terbentang di horizon, gurauan dan kehangatan bicara dalam jejak ingatan ke jejak ingatan lainnya yang membekas di Secang. Aku menikmatinya di beranda dengan wine, sandwich dan puisi Diane di Prima.
Musim penghujan itu, ujar seseorang dahulu padaku ia selalu berkata; kau, hujan, dan peristiwa alam yang melatarbelakanginya adalah kesejukan, kebaikan dan karunia kasihNya. Namun, setelah malam tiba, setelah kalimat itu tertanggalkan; aku kembali overthinking, tidak tidur dan menangis.
November Rain milik Guns N Roses kukira cukup representatif mengisahkan kejujuran sekaligus kedukaan yang beririsan dengan cinta, kegagalan dan, sebut saja, gairah menggapai masa depan. Kendati rasa cemas, pesimisme hingga, meminjam istilah Schopenhauer, suicide is the opposite of the negation of the will kerap menghantam diri. Tidak. Aku tidak apologis atau menuduh seorang pun. Aku sedang menunjuk, bukan sekadar ke arah hidung, bahkan memberi jari paling kotor tepat di hadapan wajahku sendiri.
Bagiku, saat-saat sekarang ini merupakan masa krisis. Aku kehilangan kepercayaan diri dan kesulitan menemukan motivasi yang, misalnya, bersembunyi entah pada bagian lobus frontal mana di kepala. Aku membeli buku sebagai upaya mencari wahyu, namun malas meraihnya dan justeru membiarkanya terkapar. Aku masuk hutan menelusuri ide, ketika ia mulai rimbun, aku sendiri yang justeru menebang kerimbunannya. Aku hanya memutar musik dan merenung. Aku payah dan terlalu permisif terhadap semua hal yang membuatku kalut.
Aku tidak benar-benar yakin, apakah semua orang yang berusia 24 tahun memiliki kesamaan perasaan denganku? Bila jawabannya adalah, iya. Apakah mereka turut tersungkur kala dihajar oleh kesedihan, rasa takut, kecemburuan, keraguan diri dan kebingungan atau pronomina lainnya dalam konsep quarter life crisis?
Seorang teman pernah menyampaikan kepadaku dua hal krusial quarter life crisis. Hal tersebut ia claim sebagai penyebab hal-hal ini terjadi. Pertama, permasalahan finansial. Kedua, keahlian mengelola motivasi. Baiklah, aku ingin memberi tahu kalian semua jawabanku. Ya, walau aku tahu, ini pasti akan terdengar menyebalkan. Sebab aku tidak benar-benar menjawab, aku hanya onani intelektual.
Kuingat deep talk hari itu, kala aku dan beberapa teman, kalau tidak salah, sedang menempuh perjalanan. Mobil disesaki barang, asap rokok, dan Heineken yang digenggam. Ceria dan bersemangat aku, seperti biasa, menggosipi ketololan elite (aku tidak bermaksud arogan)
dan meracaui beberapa kebakan ekonomi yang berpotensi mengamputasi lingkungan dan kemanusiaan.
Selain itu, No Security dari Chaos UK menyebabkan pekak seisi mobil lanjut seorang teman merafalkan repetisi government takes never gives serupa Nestor Makhno kala mabuk dan marah. Oh Gusti, rafalan marah serupa mantra itu membawa kembali kenangan circa November 2018 kala Distopya Home menembangkan The Love Song of Albert Camus di Tuguran. Aku seketika rindu Sandi, Koyor dan Novandra. Juga, merindu band ini.
Hari itu adalah hari pendistribusian donasi kolektif yang kami himpun dan akan diserahkan kepada Pusat Sosial dan Tunawisma Otonom (PSTO) di Salatiga. Aku minta maaf. Aku tidak ingin menerangkannya. namun begitu, aku akan memberikan catatan kaki. Kalian bisa membaca apa itu PSTO dalam artikel yang aku tulisan di kontekstual: bagian pertama dan bagian kedua.
Kembali pada jawaban tehadap pernyataan teman di atas. Pertama, aku sedang tidak membuat simplifikasi bahwa faktor finansial tidak penting. Tentu sebagai mahluk rasional kita membutuhkan sumber ekonomi. selain itu, Adam Smith, dalam The Wealth of Nations, menyebut bahwa kita semua adalah mahluk pasar. Maka dari itu, dalam rangka mencukupi kebutuhan pokok dan bertahan hidup, kita membutuhkan pemasukan dengan, misalnya, menukar nilai-kerja (derivatif) dalam proses produksi yang mengasilkan komoditi.
Pada prinsipnya, aku bersepakat. Namun, bagiku, tidak semua hal dapat diukur dengan uang.
Ada jiwa yang tak bisa dibahagiakan dengan uang, dan banyak hal lain yang tak bisa dibeli dengan uang. Maka, permasalahan finansial, setidaknya bagi sebagian orang, tidak benar-benar menjadi faktor penyebab krisis diri.
kedua, sebenarnya aku memiliki pengetahuan dan kesadaran yang relevan dengan kapasitas mengelola diri. Entah berbentuk wacana, atau pengalam basah berhadapan serta menyelesaikan konflik. Selain itu, selama sekolah, aku menempatkan perhatian khusus pada kajian konflik dan sosiologi. Aku mengambil keterlibatan dalam hukum-hukum sosiologis dan meneliti beragam titik api konflik warga yang berlangsung di Jawa Tengah.
Dahulu sekali, dimana ketika berhadapan dengan permasalahan, aku tampak tangguh dan melawan. Sekarang, ketika berhadapan dengan kecemburuan, aku layu dan tampak menyedihkan.
Tiga bulan ini aku memberi kuliah online pada puluhan webinar yang diselenggarakan teman-teman mahasiswa aku begitu lancar mengargumentasikan gagasan dan menjawab lengkap segala jenis pertanyaan yang diajukan. Namun, tidak lama ini, aku kesulitan meyakinkan diriku sendiri dan tak mampu damai dan santai. Aku tidak punya alasan, kesulitan menceritakan, dan hanya merasakan. Kalian benar. Aku sialan dan retoris; memberi nasehat memang gampang, namun berdamai dengan diri sendiri adalah gamang.
Hingga detik ini, aku masih belum tahu apa yang aku rasakan dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Percakapan Imajiner
Apa yang sedang kamu lakukan hari ini Krisna?
Pertama, aku menyalakan rokok, menatap layar komputer, dan menunggu seseorang dengan kebaikan hatinya mengirimkan berita terbaik hari ini; aku menanti kiriman bunga lewat surel berisi puisi pamflet dan lelucon. Kedua, aku tertidur sepanjang hari. Sialnya, aku tidak benar-benar terlelap. Aku ingin menegak racun diazepam dan menjadi seorang ilusionis. Ketiga, Aku sedang mengenang hal-hal terindah; telur goreng buatan nenek, tidur siang, dan seperangkat memorabilia masa balitaku. Keempat, dan bila aku tak bisa menggapai keindahannya, aku akan menunggu kehancurannya. Minimal, aku beremcana menari di atas reruntuhannya. Tidak. Yang terakhir tidak sungguhan. Aku hanya bercanda.
Kenapa kecemasan membuatmu begitu cemas?
Kau ini mabuk, ya? Pertanyaanmu bodoh, sembarangan dan tidak perlu jawaban.
Jangan emosional dulu, Krisna. Aku juga sedang kacau. Bukankah aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Kita ini sama; sama-sama mencemasi entah apa. Maksudku barusan, apa penyebab kecemasanmu?
Tidak. Aku tidak ingin sama denganmu. Kau tidak mampu merasakan apa-apa yang aku rasakan. Jadi jangan sok tahu. Kau, Ncis, bebas dan merdeka. Sedang aku tidak. Tentang pertanyaanmu, aku tak mengerti, beneran deh.
Aku hanya merasa bahwa kecemasan sialan ini berbahaya bagi kesehatan mental. Ia melumpuhkan otak dan menendang bokongku. Aku kesakitan, sungguh. Selain itu, aku berencana menggunakan kaca mata hitam yang biasa aku letakkan di kepala. Demi dua hal; pertama, terlihat keren dan tak gelisash. Kedua, melihat dunia secara tak langsung. Tetapi realitasnya semakin memburuk. Aku tidak dapat melihat apapun dan tak seorang pun dapat melihatku. Aku lupa bahwa aku sedang disekap di ruang kosong tak bercahaya.
Apa kamu sedang mengenakan sepatu dan kemeja?
Pertanyaan kamu tu aneh deh. Omong-omong, karena aku mengetahui bahwa kamu kekurangan perhatian, maka aku akan menjawab sesukaku. Pertama, aku melempar sneakers ke rak sepatu di dapur dan merayakannya dengan menonton serial Netflix favorite; aku mengambil selimut, bantal, dan kaos kaki saat memutarnya di ruang tamu. Sialnya, aku tidak menonton aku hanya melamun dan memunggunginya. kedua, aku menggantung kemejaku di lemari kaca; aku pasangkan dasi kupu di lehernya, meletakkan sapu tangan di kantongnya, dan menyemprot parfum pemberian mamaku; aku akan mengenakannya pergi ke pesta. Aku benci sepatu dan kemeja.
Saat kesulitan tidur. Apa yang kamu lakukan Krisna?
Aku begadang. Aku meniup harmonika dan terlentang. Aku melihat lukisan di samping tempat tidurku dan ingin menyobeknya. Aku ingin membakar buku. Aku tidak melakukan apapun.
Bagaimana dengan aktivisme sosial dan kuliahmu?
Aku benar-benar sedang tidak ingin memikirkannya.
Lantas apa yang ingin kau fikirkan?
Mengoleksi piring dan gelas antik dari abad-17 di kamar. Mulai mempercayai alien dan zombie serta membaca jurnal yang menelitinya. Memotong bulu hidung dan menikah. Aku juga ingin memutar Mozart dan mendengar nasehat mamaku.
Artikel apa yang belakangan kau kerjakan?
Aku melupakan apa-apa yang terjadi 2 hari belakangan. Banyak hal buruk dan menyakitkan. Tapi aku tahu bahwa hari ini aku mengetik catatan personal ini. Btw, aku ingin menulis vandal di dinding 5 menit yang akan datang.
Apa yang akan kamu lakukan ke depan?
Pertama, aku akan merubah idealitas yang sejauh ini menjadi keyakinan kecilku dan mulai masuk dalam realitas. Kedua, aku tidak benar-benar anti-kemapanan; aku hipokrit dan bohong. Ketiga, aku ingin menyelesaikan sekolah.
Keempat, aku ingin kaya raya. Kelima, aku akan berhenti percaya bahwa kapitalisme itu jahat. Keenam, aku lapar sekarang.
KRISNALDO TRIGUSWINRI Akademisi dan Peneliti
HAI, BU POLWAN,
Julian
FUCK YOU!Sadam
Ayu tahu betul bahwa yang ia lakukan pagi ini adalah sebuah kesalahan. Setelah dua tahun lulus dari Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana dan bertugas sebagai penyidik, Ayu tidak pernah dihadapkan dengan dilema sedalam ini. Kesalahan ini mungkin bisa berakibat buruk bagi karir dan martabatnya, namun ingatan kondisi Rana malam lalu mampu mengelabui lebih dari separuh rasa takut dibenaknya.
Ini adalah pilihan yang layak untuk dicoba. Gumamnya.
Rana adalah anak yang sejak awal kelahirannya sehat dan memiliki senyum lebar. Anak yang benar-benar bahagia, tidak rewel dan mudah ditangani. Bahkan, tidak memerlukan tenaga ekstra bagi Ayu saat mengangkang dan mengeluarkannya ke dunia. Nama Rana sendiri ia dapat setelah menyadari distorsi perasaan yang mengharuskannya berpak diantara haru dan bahagia ketika menenangkan tangisan pertama bayi didekapnya, selain tentu akronim esensial dari namanya dan suami; Rangga Anggita dan Ayu Kirana.
Kehadiran Rana terasa begitu melengkapi kebahagiaan keluarga ini. Bagi Ayu, kehadiran Rana berhasil mengalihkan kerinduan akan pekerjaannya di ruang penyidikan unit reskoba kepolisian Esketu yang telah ia tinggal cuti sejak hamil tua, sekaligus menjadi pengusir sunyi karena ia kerap ditinggal Rangga bertugas ke luar pulau dan luar negeri demi menjaga perbatasan negara atau perdamaian dunia.
Rangga baru bisa menggendong putrinya itu di masa cuti istimewa, saat Rana mamasuki usia tiga bulan. Saat itu Rangga mendapati kejanggalan.
Sayang, anak ini kenapa?
Mata Rana mulai berkedip-kedip saat Rangga sedang menggantikan popoknya yang baru. Ayu bergegas menghubungi kakak perempuannya yang seorang dokter, menjelaskan kondisi Rana dan meminta ditangani seorang ahli di bidang kesehatan anak.
Menginjak satu tahun, Rana mulai mengalami kejang. Rumah sakit menjadi tempat yang paling sering Ayu kunjungi beberapa bulan terakhir, beruntung birokrasi bisa sedikit tak berbelit karena pengaruh kakaknya. Sejauh itu telah dilakukan semua prosedur pengobatan; MRI, sampai EEG, dan tim medis tidak menemukan apapun. Mereka tidak menemukan kelainan darah atau lainnya. Perkembangan Rana juga normal, seperti perkembangan bicara dan merangkak. Tidak ada yang terhambat.
Rangga yang bertugas di luar negeri juga menyimpan kekhawatiran yang sama dengan Ayu, terkadang perbedaan waktu di dua belahan dunia membuat obrolan mereka hanya cukup untuk memberi penjelasan kondisi terakhir kesehatan Rana.
Memasuki dua tahun, kejang-kejang menjadi hal yang konstan. Hal itu mulai menghancurkan kehidupan anak yang ceria dan penuh gairah ini.
Rana mulai menunjukkan penurunan kognisi. Ia didiagnosa terkena Syndrom Dravet atau epilepsi akut yang ditandai dengan munculnya kejang-kejang di awal usia balita. Rana menjadi sulit dikontrol, dan sangat merusak. Perilakunya mulai berubah, ia sulit memertahankan perhatian, hiperaktif, bahkan yang paling memprihatinkan hingga menyakiti diri sendiri seperti memukul kepalanya ke lantai, menjambak rambutnya sendiri, seperti anak yang sedang kesurupan.
Setiap waktu cuti istimewa Rangga kini selalu habis untuk memendam luka di dinding terdalam perasaannya melihat buah hatinya kejang-kejang. Belum lagi ditambah Ayu yang juga sudah mulai bertugas dan tidak pernah fokus untuk sekedar menuliskan berita acara penangkapan para pecandu. Kondisi Rana selalu berhasil mengambil seluruh porsi pikirannya. Ayu seperti berlomba dengan waktu, banyak anak yang meninggal pada usia balita dan ia tak ingin itu terjadi pada Rana, anaknya.
Tahun berikutnya, keluarga Ayu telah mencoba semua pengobatan alternatif, diet yang tak lazim, akupuntur, dan berbagai macam obat-obatan dosis tinggi seperti Valium, Adaven, dan Pinabarbatol, tak ada satupun membantu. Parahnya, beberapa obat hampir merenggut nyawa Rana. Pernah sekali waktu setelah satu dosis, Rana berhenti bernapas, setelah dua dosis, jantungnya berhenti berdenyut.
Ayu memberinya napas buatan saat ambulan sedang dalam perjalanan. Untungnya Rana masih bisa bertahan. Kini, jika sedang mengalami hari yang buruk, seluruh rumah bahkan hingga ke tetangga bisa mendengar teriakan kejangnya sepanjang malam. Lima puluh kali setiap malamnya.
Pagi itu ada penangkapan, seorang pemuda terkatung di lantai ruang penyidikan reskoba Esketu dengan barang bukti beberapa puluh gram ganja kering dalam kotak arloji, barang bukti itu ditaruh di atas meja kerja Ayu lengkap dengan beberapa lembar papir. Agus, rekan kerja Ayu, menginterogasi pemuda itu untuk mengetahui darimana ia mendapatkan ganja. Pemuda itu hanya menjelaskan jika ia mengonsumsi ganja untuk penyakit yang ia derita dan berkali memohon hak untuk melakukan panggilan telepon, tidak jarang tangan gendut Agus menjambak rambut pemuda itu dan mendorong kepalanya demi mendapat informasi bandar yang menyetok ganja padanya. Satu jam penyidikan dengan dua lembar berkas berita acara penangkapan yang diketik Ayu, tangan pemuda itu tiba-tiba menjadi kaku, ruas jarinya merenggang seolah ingin mengeluarkan tulangnya dari kulit.
Sudah nggak usah berlagak seperti itu! ucap Agus sambil tangannya mendorong kepala pemuda itu hingga membuatnya terjatuh. Kini mulutnya mulai menyamping seperti tertarik oleh tulang pipi. Berkali ia mengucap dengan tergagap sambil tangannya yang sudah membentuk capit kepiting berusaha keras menunjuk ganja di atas meja kerja Ayu.
Ayu teringat dengan Rana.
Ruang penyidikan menjadi ruang panik, seorang tahanan lain diminta untuk melintingkan ganja barang bukti sitaan milik pemuda itu, menyulutkan dan menghisapkannya.
Ayu merekam itu dengan gawai miliknya. Di hisapan ketiga pemuda itu perlahan tenang, jari tangan yang kaku dan mulutnya yang menyamping kembali normal.
Maaf bu, pak. Ucapnya lirih. Ini ganja CBD pak, untuk terapi epilepsi saya. Tambahnya.
Sejenak ruangan menjadi hening, disusul Ayu yang memberikannya hak menelepon.
Tetap saja ilegal! Istiqomah dengan sikapnya, Agus menyendul kepala pemuda yang memenggengam gagang telepon itu. Ah Agus, sebuah gambaran ideal polisi brengsek menyebalkan.
Satu waktu dalam masa tugasnya setelah mendapat sepotong video tentang reaksi pemuda kejang itu, Rangga mencari tahu lebih dalam tentang pengobatan ganja dari internet dan menemukan seorang anak laki-laki yang kondisinya sama seperti Rana bisa pulih dengan pengobatan ganja. Tidak hanya itu, banyak sumber kredibel yang mengakui pengobatan ganja untuk epilepsi ini.
Ayu dan Rangga berpikir serius tentang hal ini.
Ini adalah pilihan yang layak untuk dicoba. Gumamnya.
Ayu mengambil barang bukti pemuda kemarin dan menyimpannya dalam tas bootleg Chanel buatan Cina miliknya.
Dibawanya dengan ekspresi menahan perasaan gugup, melewati tiga ruang unit reskoba, sarapan tadi pagi seperti ingin keluar lagi dari mulutnya.
Di dapur yang sama tempat Ayu membuat sarapan pagi tadi, kakaknya diminta untuk mengekstrak ganja yang ia ambil dari kantor. Dua bersaudari ini besar di keluarga militer yang mengajarkan bahwa ganja adalah narkoba berbahaya dan bukanlah sesuatu untuk dicoba. Tapi jika mengingat kondisi Rana, Ayu akan melakukan apapun. Ia hanya meyakinkan dirinya sendiri jika ia adalah orang yang aman, dan mencoba percaya jika ganja akan aman di tangan orang-orang yang aman.
Ganja yang telah diekstrak menjadi gumpalan lengket itu diberikan ke Rana, seujung sendok teh untuk permulaan. Satu jam berlalu, dan jam berikutnya, dan berikutnya. Hari itu tak ada kejang yang menghampiri Rana. Kemudian keesokan harinya, dan keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi.
Tiga ratus kali kejang dalam seminggu menjadi hanya sekali kejang ringan. Rana mulai berbicara, berjalan dan makan sendiri.
Ayu dan kakaknya sulit memercayai efek penggunaan ganja ini pada Rana. Sikap skeptis seringkali mengganjal dipikirannya. Ditambah ganja adalah barang ilegal dan dia adalah seorang polisi yang di besarkan di keluarga militer.
Obat ini berdampak baik bagi anakku dan memberikannya kesempatan untuk sehat! Rangga bersikap lebih optimis.
Tawa Rana dan riangnya yang polos sangat mampu untuk mengecoh kenyataan jika ganja adalah barang ilegal. Terlebih ketika Rana kini bisa memanggilnya dengan sebutan Ayah.
Dosis yang diberikan pada Rana tidak bertambah sejak percobaan pengobatan hari pertama, cukup seujung sendok teh. Namun stok ganja yang dimiliki Ayu dari barang bukti pemuda kejang semakin menipis. Ia mencari kembali pemuda kejang itu, dan mendapati jawaban jika ia telah dipindahkan ke balai rehabilitasi swasta diluar kota Esketu. Dengan perbekalan sekedarnya, Ayu melaju.
Balai rehab itu cukup luas untuk menampung lapangan serbaguna, masjid, sebuah perpustakaan, balai kerajinan, dan bertingkat ruang kamar untuk merawat pasien. Di pintu masuk yang terhubung dengan lorong di mana Ayu berdiri kebingungan terdapat toko yang menjual berbagai karya dan kerajinan dari pasien-pasien yang menginap atau pernah dirawat di sini. Dan tidak lupa, cctv di setiap sudut.
Hai, bu polwan. Pemuda itu menyapa Ayu yang kebingungan di lorong balai rehab. Selamat datang.
Ayu masih kebingungan, pemuda itu memakai tanda pengenal di dadanya. Andrew. Nama yang sama seperti berita acara penangkapan yang pernah ia tulis. Jangan bilang bu Ayu membawa si Agus?! jelas pemuda itu.
Andrew, pemuda kejang itu adalah pemilik balai rehabilitasi ini. Ia adalah generasi keempat penerus balai yang berfungsi sekaligus sebagai tempat eksperimen ekstraksi CBD. Dan ya, praktek ini ilegal. Mencakup juga penyelundupan produk ke beberapa negara. Mudah ditebak bagaimana ia bisa lepas dari tuntutan hukum. Satu-satunya hal yang tak bisa terhindarkan memang adalah pukulan Agus.
Ayu menceritakan semuanya dengan penuh keterbukaan walau banyak menyimpan perasaan tidak enak karena pernah terlibat dalam penangkapan pemuda itu. Tak lupa potongan video kejang Rana ia perlihatkan.
Andrew merawat kebun ganja mini seluas 30 meter kotor yang rutin panen setiap tiga bulan, ia bahkan memiliki tim dokter untuk menguji kelayakan produknya. Saat itu juga Andrew menyadari Ayu datang bukan sebagai polisi melainkan sebagai seorang ibu yang mencintai buah hatinya. Andrew bersedia membantu Ayu dengan menyetok kebutuhan Rana. Ia bahkan mengajak Ayu menengok kebun mininya.
Gawai yang masih di genggam Ayu berdering. Sebuah pesan masuk. Dari kakaknya. Singkat.
Rana sudah pergi.
Ayu goyah, tubuhnya seperti kulit batang pohon kering yang rapuh penuh kerut dan siap jatuh. Sedih mendalam yang seketika berubah menjadi amarah, sedih lagi, lalu marah lagi. Ia terkulai memandang ke bawah, lalu bangkit memandangi pohon-pohon ganja, ke bawah lagi, ke pohon-pohon ganja lagi.
Raut wajahnya berubah murka dan mengakhiri tatapan mengerikannya itu pada Andrew. Ia langsung mengunci tubuh Andrew dengan jujutsu hingga tak bisa bergerak, lalu memanggil bantuan untuk segera menggrebek tempat itu. Andrew tengkurap menggumam. Hai bu polwan, fuck you!
**cerita ini dikembangkan dari wawancara Sanjay Gupta dengan* Matt dan Paige.
JULIAN SADAM
Bapak rumah tangga
@rebelnation.indo
KAMPUS TEMPAT MUNAFIK
DAN BODOH
Kampus menjadi hirarki teratas pada dunia pendidikan yang ada di belahan negara manapun. Mitos-mitos tentang dirinya selalu langgeng dan dilanggengkan baik oleh kelas penguasa, dirinya dan masyarakat luas. Celotehan berkuliah untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih luas dan jenjang karir yang menjanjikan di dunia kerja merupakan salah satu mitos yang beredar. Berbondong-bondong orang-orang hendak memasuki kuliah sejak duduk di bangku sekolah pola pikirnya telah dibajak bahwa masuk kampus negeri adalah kesuksesan dan masuk kampus swasta adalah kegagalan. Hal ini membelenggu orang-orang yang semestinya mengeksplor dirinya dan menentukan titik kesuksesannya tersendiri justru malah membatasi dirinya habis-habisan. Mengenal dan mendalami potensi diri malah sekadar yang penting masuk negeri apapun jurusannya. Ini merupakan pembodohan terhadap diri sendiri.
Setelah diterima kampus eksplorasi diri merupakan pilihan terbaik untuk mengenal dunia lebih jauh.
Bersama pengetahuan ala kadarnya dari kampus dan minat terhadap hal-hal baru yang ada di luar kampus menjadi pedomannya. Menjadi bekalnya untuk berpetualang menjadi pilihan bak ketimbang nongkrong di kampus yang secara natural terkader menjadi abang-abangan toxic. Pencarian demi pencarian mengantarnya pada pengetahuan dan pengalaman yang tidak ada di kampusnya karena hal tersebut konkret berasal dari dinamika pribadinya. Kampus ternyata hanya memberikan pengetahuan sepotong-sepotong dan seperlunya.
Tidak ada pengetahuan yang diberikan secara mendalam, meluas dan merinci bahkan tidak membicarakan kenyataan yang ada di masyarakat. Kampus berhasil menjauhkan realita dari sesama manusia dan gagap saat dihadapkan masalah kenyataan yang ada. Sehingga sebagian besar dari mereka tidak tahu harus berbuat apa dan pada akhirnya hanya bisa menerima terlepas dari benar atau salahnya sebuah kenyataan. Selain itu adanya mitos bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar. Maka konsekuensi mitos yang diterima adalah siapa pun yang bukan mahasiswa bukan kaum terpelajar karena tidak mengenyam pendidikan ke jenjang perkuliahan.
Mereka merasa lebih tinggi tingkat sosialnya dibanding orang-orang walaupun orang-orang tersebut memiliki pengalaman lebih banyak di lapangan. Sementara mahasiswa hanya sibuk berkutat di dalam kelas dengan drama presentasi yang mana jawaban dari semua pertanyaan sudah diberikan oleh si penanya. Sangat konyol sekali uang jutaan yang sudah dihabiskan hanya untuk dipertontonkan pembodohan terhadap diri sendiri.
Seringkali mereka kelabakan jika ada pertanyaan di luar yang sudah mereka ketahui jawabannya dari si penanya. Mereka terlihat panik, bingung dan gusar bahkan tak jarang menyerahkan pertanyaan pada dosen. Pada saat yang lain mereka mempertontonkan kebodohannya dengan mencari pertanyaan di google ketika presentasi dan membacakannya di hadapan teman-temannya, alangkah tololnya.
Yang ada di pikirannya hanya presentasi cepat selesai dan mendapatkan nilai bahkan mereka hanya mementingkan lulus dari mata kuliah yang diikuti ketimbang mendalami pengetahuan selama perkuliahan. Sangat miris ketika mereka hanya mementingkan mendapatkan azah dan wisuda kemudian bekerja di kantor mendapatkan gaji tinggi.
Bagian terkonyol lain merupakan pembentukan karya ilmiah yang menjadi syarat lulusnya mereka dari bangku perkuliahan. Mereka diminta mendeskripsikan fenomena terbaru dalam lima tahun terakhir ke dalam karya ilmiahnya. Secara sederhana mereka melihat sebuah peristiwa dengan teori yang cocok untuk menjelaskannya. Dan mereka diminta sebuah kebaruan dalam karya ilmiahnya atas fenomena yang menjadi penelitiannya. Teori-teori seabrek yang diajarkan dan dipelajari di kampus merupakan dari negara-negara Barat memiliki konteks berbeda dengan di Indonesia.
Maka sudah menjadi konsekuensi logis untuk membangun teori sendiri yang berasal dari konteks lokal yang ada. Seperti ingatan pada mata kuliah teori pascakolonial bahwa mempelajari teori ini bukan untuk menyanggah teori barat atau membangun teori sendiri.
Namun hanya untuk sekedar menyadari saja bahwa pengetahuan hari ini adalah pengetahuan Barat. Seperti orang lapar yang hanya menyadari dirinya lapar dan tidak ada usaha untuk mengenyangkan dirinya. Padahal semangat teori pascakolonial adalah membangun perspektif yang berasal dari negara-negara dunia dalam melihat dirinya dan fenomena sosial politik dan ekonomi. Terdapat kemunafikan dari sang dosen atas pengetahuan yang diajarkannya pada anak didiknya.
Pada akhirnya semua yang dipelajari di kampus terlupakan begitu saja karena tidak sesuai dengan pekerjaannya. Begitu memasuki dunia kerja mereka dihadapi kenyataan berbeda yang tidak dipelajari di kampus. Sehingga mereka mengikuti jenjang training di tempat kerja mereka untuk memiliki pengetahuan dan skill untuk menjadi karyawan teladan. Selama di kampus ternyata belajar hanya untuk melupakan apa yang dipelajari hingga yang didapat hanya selembar azah penuh nilai angka penuh kemunafikan.
Sangat munafik karena selama jenjang perkuliahan saat mendapat tugas mereka hanya mengganti nama tugas seniornya yang pernah mengerjakan tugas yang sama. Dan mereka banyak meng copy paste apa yang sudah ada di internet untuk dimasukkan ke makalah mereka. Apa yang lebih parah adalah tugas-tugas mereka tidak pernah mendapatkan feedback dari dosen untuk memberikan apa yang kurang. Sering kali tiba-tiba mereka mendapatkan nilai entah baik atau buruk dan tidak mesti mengulangnya. Kuliah hanya menjadi tiket untuk masuk dunia kerja dan jenjang karir tidak lebih.
O.P.
EKOLOGI SOSIAL MURRAY BOOKCHIN Moch. Rizky Pratama Putra
Dalam pandangan Islam sendiri, apa yang dipaparkan Bookchin bukanlah hal baru, tapi memang kenyataan saat ini, nalar yang demikian baiknya dalam melihat dan menjawab persoalan seakan terbuang jauh, umat Islam sendiri terjebak ke dalam mistisisme ukhrowi (hubungan manusia dengan Tuhan) yang masih sedikit sekali mencoba menaruhnya ke dalam dunia sosial (hubungan manusia dengan manusia dan seluruh makhluk lainnya).
Setelah kita memahami tentang naturalisme dialektik yang di dalamnya berupa proses dialektik alam pertama (di mana manusia berasal dari sejarah evolusi biologis yang murni dan primordial) dengan alam kedua (yang berupa kehidupan di sekitar manusia yang bersifat sosial) peneliti akan masuk ke dalam pembahasan berikutnya yang berisi tentang konsep praksis dari filsafat naturalisme dialektik yang Bookchin tawarkan.
Krisis ekologis saat ini secara gamblang Bookchin menjelaskan bahwa ini bersumber dari persoalan sosial masyarakat. Tapi bagi dia, krisis ekologis tidak delaskan atau dipahami dengan konkret oleh masyarakat saat ini. Peneliti pun melihat penyelesaian-penyelesaian krisis ekologis hari ini tidak ditanggapi dengan benar dan serius, dengan hanya melihat permasalahan secara parsial dan hanya dilihat dari kulit luarnya saja tanpa berani membongkar akar krisis ekologis ini. Bila masalah ini masih terlihat abstrak oleh kita dalam membacanya, Bookchin mencoba mengonkretkannya misal dalam persoalan etnis,
budaya, gender hingga konflik ekonomi hingga bencana alam yang disebabkan oleh konflik tersebut.
Bookchin pun merasa bila pendekatan ini terkesan sangat sosiologis bila dipakai oleh pemerhati atau aktivis lingkungan yang berfokus kepada pelestarian dan hal-hal lainnya yang berbau normatif belaka. Tanpa mengesampingkan fakta tersebut, Bookchin menawarkan fakta-fakta baru soal tumpahan minyak di lautan lepas yang terus berulang, deforestasi yang terus berlangsung hingga alih fungsi lahan lahan-lahan pertanian yang kemudian dadikan pertambangan menunjukkan dengan jelas bahwa ruang perlawanan ekologi planet ini harus melalui menempuh ruang sosial masyarakat. Terutama vis a vis masyarakat dengan korporasi dengan segala tipu dayanya.
Bagi Bookchin, pemisahan persoalan ekologis dengan masalah sosial, adalah sama halnya tidak akan pernah mengungkap sumber-sumber krisis lingkungan yang semakin hari terus berlanjut dan seakan tak terbendung. Sebagai manusia, dimensi makhluk sosial mengambil peran penting dalam mengatasi krisis ekologis, relasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang terikat oleh hierarkis dan dominasi akhirnya akan membuat manusia merasa wajar dengan dominasi mereka (manusia) terhadap alam.
Bookchin sendiri mengingatkan kembali bahwa manusia masyarakat sekarang ini hidup dalam sebuah pasar bebas yang menuntut mereka untuk terus hidup atau mati ditelan keganasan pasar. Teknologi dalam hal ini, bagi sebagian orang awam akan dianggap sebagai biang kerok dalam pertumbuhan kapitalisme yang begitu pesat.
Tapi sekali lagi, bukan teknologi yang pertumbuhannya tidak bisa dibatasi yang menjadi persoalannya, tapi bagaimana relasi masyarakat yang membuat teknologi hanya dikuasai segelintir orang, alih-alih digunakan secara kolektif dan sebagai alat pembebasan.
Selanjutnya, apakah Ekologi Sosial siap dengan pertanyaan-pertanyaan spiritualitas yang sering digunakan beberapa kalangan untuk menjatuhkan sebuah konsep? Bookchin pun menjawabnya dengan sangat cerdas, dalam naturalisme dialektik di alam pertama, spiritualitas alamiah pun berkembang dengan baik bila kita mengetahui siapa kita (manusia) dan apa peran kita bagi planet ini (bumi). Dalam spiritualitas alamiah, Bookchin pun mengungkapkan bahwa moral memegang peranan penting sebagai bentuk implementasi dari spiritualitas alamiah. Sebagai manusia peran pentingnya terletak pada peran kreatif, suportif dan harus menghargai setiap kehidupan non-manusia. Dengan begitu manusia akan terlibat akan dalam restorasi ekologis dan mendukung penuh atas estetis evolusi alam dalam bentuk kesuburan dan diversitasnya.
Dalam Islam sendiri, Islam merupakan agama yang Rahmatan Lil Alamin, Bukan Rahmatan Lil Muslimin. Dalam artian ini jelas bagaimana Islam menjadi rahmat untuk segala kehidupan di muka bumi ini. Menjadi pelindung dan pemberi kasih sayang terhadap siapapun, dan bukan hanya untuk sesama umat Islam. Bagi peneliti, meski Bookchin tidak tertarik dengan konsep keilahian dengan latar belakang keluarga Yahudi sekuler yang sangat ketat.
Tapi pandangan-pandangan Bookchin soal relasi alam pertama dan alam kedua menunjukkan bagaimana peran manusia sebagai khalifah. Khalifah dalam konsep Bookchin ini, bukan berarti manusia sebagai penguasa seluruh alam. Tapi sebagai pemimpin dengan bekal akal sebagai anugerah dari Tuhan, yang menimbulkan tanggung jawab besar atas pemberian itu.
Dengan kenyataan seperti yang peneliti paparkan, kebutuhan spiritualitas dan mentalitas baru yang cukup radikal dalam mentransformasikan masyarakat untuk mengarah ke arah yang lebih baik terwadahi dengan baik oleh Ekologi Sosial. Dengan pernyataan Bookchin pada tahun 1965 tentang perbedaan Ekologi dan Sosial sebagai berikut:
Pemikiran untuk mengatur perbedaan antara manusia dan bentuk kehidupan lain di sepanjang garis hierarkis supremasi dan inferioritas saat ini akan memberi jalan pada pandangan yang berkaitan dengan keragaman secara ekologis.
Dengan pernyataan di atas, perbedaan ini adalah jalan manusia sebagai pendukung atas keragaman alam, bukan sebagai pihak yang mendominasi atas segala makhluk hidup lainnya. Ini memang adalah usaha yang terus dilakukan untuk mensucikan kembali ekologi ke dalam ranah ilmiah. Di samping itu, spiritualitas di sini disampaikan dengan tegas oleh Bookchin yang dikembangkannya melalui Ekologi Sosial secara definisi adalah naturalis. Pernyataan ini merujuk bahwa ekologi yang berakar dari ilmu biologi, bukan dari spekulasi supranaturalistik atau panteistik
merujuk pada Istilah ’panteisme’ adalah istilah modern, mungkin pertama kali muncul dalam tulisan pemikir bebas Irlandia John Toland (1705) dan dibangun dari akar Yunani pan (semua) dan theos (Tuhan). Tetapi jika bukan nama, yang terbaik dalam sejarah filsafat, adalah mengungkap pemikir yang cenderung panteis atau panteistik; Meskipun perlu dicatat bahwa ada banyak kasus di dunia laporan-laporan pihak kedua dari doktrin-doktrin yang dikaitkan, rekonstruksi apa pun yang terlalu bersifat terkutuk untuk menyediakan banyak dengan cara filosofi iluminasi.
Selanjutnya kehati-hatian dalam menelusuri sebuah pangkal masalah menjadi peranan penting agar manusia tidak terjebak dalam slogan-slogan kapitalisme hau yang sering melihat permasalahan hanya dengan konsumsi dan investasi sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya. Jauh lebih dari itu, bahwa dominasi, diskriminasi gender dan pertumbuhan ekonomi juga turut andil dalam sumber-sumber krisis sosial ekologis yang terjadi saat ini. Sehingga penyelesaiannya tidak cukup dengan hanya membatasi konsumsi dan investasi, tapi harus ada pemutusan rantai dominasi dari rantai krisis ini.
Alam dan Masyarakat
Hubungan alam dengan masyarakat seharusnya perlu didahului dengan cara berpikir yang berada di luar pemikiran linier untuk bisa memisahkan ekologi yang berorientasi kepada kapitalisme hau. Bentuk pemikiran non linier atau pemikiran organik dalam geraknya lebih bersifat developmental dari pada analitis dengan dasar filosofis yang mengarah kepada dialektis daripada instrumental seperti
yang sudah Bookchin jabarkan dalam filsafat naturalisme dialektik di awal pembahasan bab ini. Memahami alam tidak sekedar melihatnya sebagai barang yang menunjukkan sebuah keindahan, lebih jauh dari itu memandang alam dengan proses developmental yang mengiringi eksistensinya. Pemandangan atau citra non-alam seperti pemandangan alam yang indah dan gerak hewan yang berburu untuk bertahan hidup bagi ekologi sosial hanyalah sebuah gerak fisik saja atau gerak kinetis yang terperangkap dalam bingkai statis dalam pandangan kita.
Tapi alam non-manusia ini tidak sekedar pemandangan yang terjebak dalam bingkai statis. Namun sebenarnya bila melihatnya dengan cermat, alam ini merupakan sebuah fenomena yang berkembang, yang begitu kaya dengan keragamannya dan akan selalu terus berubah. Dalam memahami relasi ini, sangat perlu menggunakan kacamata biologi untuk melihatnya secara perlahan, Bookchin menggambarkan perkembangan ini dengan sebuah analogi dari dunia organisme yang bersel tunggal yang kurang terdiferensiasi dan terbatas hingga organisme yang multisel yang kemudian menjadi kompleks yang cukup cerdas dan mempunyai pilihan untuk membuat hal-hal yang inovatif.
Di samping itu, Bookchin yang berangkat dari evolusi organik melihat alam non-manusia ini akan bisa bertahan untuk terus tumbuh bila mereka fleksibel dan semakin subjektif geraknya. Mengutip Darwin, survival of the fittest bahwa semakin fleksibel dan subjektif makhluk maka akan semakin baik mereka menghadapi segala perubahan. Tapi, sekali lagi apa yang telah Darwin jabarkan bagi Bookchin sekarang telah menjadi catatan sejarah proses perkembangan
evolusioner adalah fakta yang serius yang telah terukir dalam fosil-fosil yang tersebar ke seluruh dunia yang menggambarkan peradaban masa lalu. Manusia merupakan bagian yang alami atau dalam bahasa Bookchin adalah natural kontinum, seperti nenek moyang primata dan mamalia secara umum.
Manusia pun merupakan produk dari tren evolusioner yang signifikan terhadap intelektualitas, kesadaran diri, intensionalitas, dan ekspresi baik secara verbal maupun gerak tubuh. Menganggap manusia sebagai alien yang tidak mempunyai catatan sejarah dalam evolusi organik bumi ini, sama saja mereka menganggap manusia hanya sebagai parasit yang menghisap bumi layaknya kutu yang terdapat pada hewan. Pandangan ini merupakan pandangan umum yang menjangkiti beberapa pemikir yang kurang jeli dalam melihat sebuah proses secara radikal antara manusia dengan non-manusia. Seharusnya melihat manusia juga sebagai produk panjang proses evolusioner alami, bukan hanya menganggap manusia hanya milik alam.
Manusia selalu berakar dari alam pertama dalam sejarah evolusi biologis, kemudian juga memproduksi sifat sosial manusia yang begitu khas dan yang mungkin disebut sebagai alam kedua. Dengan cara berpikir proseptual, organik, dan dialektis, bagi Bookchin manusia tidak akan pernah mengalami kesulitan yang cukup berarti untuk mengidentifikasi sebuah masalah.
Ekologi sosial menghimbau dengan cermat untuk melihat bahwa alam dan masyarakat saling terkait oleh evolusi menjadi satu sifat yang mempunyai dua perbedaan
mendasar: alam pertama (biotik) dan alam kedua (manusia). Alam manusia dan alam biotik mempunyai potensi evolusioner untuk subjektivitas dan fleksibilitas yang lebih besar. Alam kedua merupakan tempat bagi manusia sebagai primata yang cerdas dan fleksibel yang hidup di alam. Dengan begitu, manusia menciptakan lingkungan sosial sesuai kemampuan yang dimiliki mereka. Sehingga terciptanya alam kedua yang kondusif tidak lebih dari apa yang berang-berang lakukan untuk membuat bendungan sebagai rumah mereka. Manusia pun sebaliknya untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik, mereka menggunakan kemampuan mereka sebaik-baiknya untuk bertahan hidup dan menjadi makhluk sosial yang bertanggung jawab.
Dominasi dan Hierarki
Berikutnya setelah kita memahami relasi alam dan masyarakat dan bagaimana mereka berasal dari alam pertama yang saling berkelindan dan kemudian mewujud menjadi alam kedua. Peneliti melanjutkan dengan poin yang paling penting tentang inti pemikiran Bookchin dalam konsep Ekologi Sosial yang dia tawarkan. Bookchin pun mengajukan pertanyaan yang cukup krusial dalam sub bab ini. Apakah dimensi sosial lahir dari dimensi biologis? Awal mula dominasi menurut Bookchin berasalah jauh dari akar biologis manusia. Seperti perbedaan gender, garis keturunan dari keluarga hingga perbedaan umur. Di mana perbedaan biologis ini pada awalnya sangat egaliter dan kemudian perlahan terlembagakan dalam institusi sosial.
Dengan terlembagakannya dimensi biologis manusia ke dalam dimensi sosial, membuatnya memiliki hierarki yang kemudian menindas dan berubah bentuk menjadi eksploitasi kelas. Secara sederhana, Bookchin menelusurinya mulai dari keluarga yang merupakan lembaga atau institusi terkecil dalam masyarakat. Kemudian membesar menjadi kumpulan beberapa keluarga dalam berbagai bentuk persaudaraan (fraternity), klan, suku dan berbagai bentuk institusi sosial lainnya. Pada awal mula ini munculnya hierarki ini, masyarakat kuno mengatur adat-istiadat berdasarkan moralitas yang bagi mereka merupakan pesan ketuhanan. Seperti munculnya kekuatan supranatural dan mistis yang menuntun mereka ke pada suatu jalan.
Baru beberapa setelah masa awal-awal ini, masyarakat Yunani kuno mulai menemukan perilaku etis berdasarkan wacana yang dibangun dan refleksi rasional atas apa yang pernah terjadi pada masyarakat terdahulu. Pergeseran perlahan yang menunjukkan peralihan dari kebiasaan buta (belum adanya sebuah institusi) menuju moralitas yang memerintah dan berujung pada etika rasional sehingga muncullah perkotaan dan masyarakat mulai keluar dari klan atau keluarga mereka dan mengubah cara pandang mereka bahwa mereka adalah warga dalam sebuah komunitas dibandingkan dalam bentuk keluarga yang sangat minim bersinggungan dengan orang asing yang berada di luar garis biologis mereka.
Berangkat dari dunia primordial ini (paling dasar), sifat biologis manusia termanifestasikan ulang dalam dimensi sosial manusia. Bookchin pun menganalogikan dalam perbedaan usia pada manusia purba yang belum mengenal
bahasa yang tertulis membuat para orang tua memiliki tempat yang lebih tinggi dibandingkan pemuda-pemuda yang lahir setelah mereka. Perkataan orang tua ini sering kali digunakan sebagai rujukan dalam membuat hukum atau sistem sosial mereka berdasarkan pengalaman mereka terdahulu.
Di samping perbedaan umur yang menjadikan dasar sistem sosial mereka, perbedaan gender pun kemudian menjadi sebuah perbedaan yang cukup kentara meskipun semua berawal dari sifat biologis manusia. Perempuan dalam perbedaan gender ini mulai membentuk sistem kepercayaan dan nilai mereka sendiri, sedangkan laki-laki yang membentuk kelompok perburuan yang berada dalam ranah publik dengan membentuk sistem mereka sendiri dan akhirnya perlahan hierarki itu muncul. Padahal bagi Bookchin, fakta tentang perbedaan gender, usia, dan pola kekerabatan sebenarnya saling melengkapi satu sama lain dan tidak ada yang mendominasi lebih dari kelompok lainnya. Namun dengan seiring berjalannya waktu, pelembagaan perbedaan-perbedaan di atas mengantarkan sifat biologis manusia ke dalam tangga institusi sosial yang hierarkis yang dibangun berdasarkan perintah dan ketaatan, bukan dari asas gotong royong (mutual aid).
Hierarki dalam bentuk awalnya yang masih baru, berasal dari sistem gerontokrasi. Gerontokrasi sendiri menurut Max Weber termasuk dalam tiga jenis otoritas. Otoritas gerontokrasi merupakan otoritas masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang tua, otoritas patriarkalisme adalah pengawasan dalam satuan kekerabatan yang dipegang oleh individu tertentu berdasarkan warisan, dan terakhir adalah
otoritas patrimonial, yaitu otoritas yang memiliki administrasi berdasarkan hubungan pribadi para individu terhadap pemimpinnya. Pernyataan Weber ini diperkuat oleh antropolog Paul Radin yang mengatakan bahwa:
Orang-orang di atas lima puluh tahun, katakanlah, rupanya membawa kekuatan dan hak istimewa tertentu pada diri mereka yang dapat menguntungkan dirinya secara khusus, dan tidak harus, jika memang, didikte berdasarkan pertimbangan hak orang lain atau kesejahteraan bersama.
Pernyataan yang disampaikan Paul Radin diperkuat dengan banyaknya suku di Afrika Timur dan masyarakat asli Amerika yang menggunakan sistem tersebut, meski sudah banyak pergulatan sejarah sampai hari ini, mereka tetap kokoh dengan apa yang mereka percaya.
Berikutnya, pasca gerontokrasi berkembang, budaya patriarki mulai mendapatkan tempat yang mewah dibandingkan matriarki di beberapa suku. Di mana nilai, institusi dan bentuk perilaku yang bersifat maskulinitas lebih mendapatkan tempat dibandingkan sifat feminitas. Ketika masyarakat purba dan praaksara berkutat dengan komunitas domestik yang kecil dan berasal dari rumah, membuat para perempuan yang ketika untuk hanya sibuk dalam urusan perkakas rumah dibandingkan dengan laki-laki yang berburu di luar rumah membuat laki-laki mempunyai tempat yang cukup istimewa dalam budaya ini. Sejauh menyangkut budaya patriarki, hak prerogatif dan otoritas laki-laki dalam memimpin sebuah masyarakat menandakan bahwa apa yang mereka putuskan dan perintahkan akan berdampak kepada perempuan yang dalam hal ini akan
selalu dalam lingkup objek atas perintah dan aturan yang dibuat berdasarkan maskulinitas.
Penyebab hierarki yang muncul dapat ditelusuri dengan cukup cermat bahwa kelemahan usia, bertambahnya jumlah sebuah populasi, bencana alam, perubahan teknologi dalam era berburu dan meramu, peternakan dalam tanggung jawab hortikultura, pertumbuhan masyarakat sipil dan tentu saja penyebaran peperangan menjadi legitimasi untuk meningkatkan posisi laki laki dengan menempatkan perempuan sebagai sub-ordinasi mereka. Bagi Bookchin bagian penting dalam memahami hierarki ini adalah bahwa hierarki meskipun sangat koersif (mempunyai sifat merusak) sangat berbeda dengan eksploitasi kelas dalam sejarah perkembangan dan pola kerjanya.
Seperti yang Bookchin paparkan dalam bukunya The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy, dia mengungkapkan bahwa hierarki harus dilihat sebagai relasi yang dilembagakan dalam bentuk institusi sosial. Lembaga ini benar-benar diciptakan manusia tanpa mendasarkan pada naluri alamiahnya dan tidak mempunyai keistimewaan di sisi yang lain (terhadap perempuan). Bookchin dalam hal ini bermaksud ingin meluruskan kembali bahwa hierarki merupakan hasil dari struktur sosial berdasarkan tingkat pemaksaan dan privilese yang dimilikinya. Kemudian lahirlah hierarki yang dipandu dalam sebuah logika sosial yang melampaui interaksi individu atau pola perilaku bawaan mereka.
Kemudian peneliti mencoba mempertanyakan secara historis, lebih dahulu mana hierarki ini dengan eksploitasi kelas? Bila merujuk dari pernyataan Bookchin di atas, terlihat jelas dalam berbagai data yang disajikan mulai dari suku-suku yang dari awal hingga sekarang masih menganut gerontokrasi dan berkembang menjadi patriarki menandakan bahwa dalam ekonomi yang egaliter sekalipun, perempuan masih didominasi oleh laki-laki. Sehingga hierarki tidak dapat direduksi dalam relasi ketat ekonomi yang berdasarkan eksploitasi tenaga kerja. Dalam hal tersebut peneliti menemukan bahwa baik laki-laki atau perempuan bila dia mendapatkan sebuah keistimewaan dalam diskursus patriarki hari ini. Maka secara tidak langsung label sifat biologis mereka tidak akan bisa berbuat banyak dalam sistem patriarki, karena beberapa perempuan pun terjebak dalam sifat-sifat maskulinitas seperti (kekuasaan, dominasi, hierarki).
Terakhir, gotong royong sebagai cara untuk meredam individualitas sangat diperlukan. Berbagi hak atas hak alat kehidupan menunjukkan bahwa praktik ini sebenarnya sudah ada lama dalam masyarakat. Namun kita perlu menumbuhkannya lagi dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi sebagai kesadaran bersama untuk mengikis perlahan hierarkis dan dominasi dalam masyarakat.
Gagasan Mendominasi Alam
Gagasan ini bermula ketika masyarakat merayakan ritual animistik yang menganggap ada kekuatan dari alam yang belum bisa manusia identifikasi apa dan bagaimana kekuatan tersebut. Konsep mereka tentang alam seperti
menyiratkan bagaimana institusi sosial mereka ketika itu, di mana institusi sosial masih belum kompleks dan masih dalam tahap mencoba untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Dengan bangkitnya hierarki dan dominasi yang sudah Bookchin jabarkan pada sub bab sebelumnya menjadi sebuah tambahan alasan bagi mereka untuk melihat alam sebagai sesuatu yang asing bagi manusia, terpisah, terdapat hierarki yang terorganisir secara jelas (dalam pandangan ini manusia menganggap alam sangat hierarki dengan berbagai tingkat dan tahapan kehidupan) dan layak untuk didominasi atau ditaklukkan.
Catatan penting dari Bookchin yang layak menjadi perhatian peneliti adalah bahwa gagasan untuk mendominasi alam berasal dari dominasi manusia terhadap manusia yang lain. Dalam paparan ini, peneliti ingin menunjukkan bawa Bookchin dengan sederhana melalui konsep alam pertama dan alam kedua tentang apa yang natural dengan apa yang dibuat oleh manusia mengindikasikan bahwa apa yang ada di alam pertama yang bersifat naturalis akan sangat terpengaruh oleh manusia di alam kedua melalui alam sosial dan politiknya. Pertautan ini lah yang kemudian Bookchin ungkap sebagai suatu dialektika yang saling mempengaruhi antar alam.
Ditambah konsep penataan dunia yang sangat hierarkis (konsepsi yang begitu statis, yang secara insidental (tidak melihatnya secara runut dalam garis historis evolusi organik), dan tidak memiliki hubungan dengan evolusi kehidupan yang berubah bentuk menjadi subjektivitas dan fleksibilitas yang terus berkembang.
Gagasan mendominasi alam dalam garis historis sebenarnya sama tuanya dengan kemunculan hierarki itu sendiri. Sejarah ini sudah ada pada masa Epos Mesopotamia, Gilgamesh, sebuah cerita yang berlangsung sekitar 7.000 tahun yang berkisah tentang pahlawan yang menentang dewa-dewa dan menebang pohon-pohon suci mereka dalam usaha untuk mencari sebuah keabadian. Sedangkan dalam menghadapi masa depan dengan belajar dari sejarah masa lalu, Ekologi sosial berpendapat bahwa masa depan kehidupan manusia berjalan seiring dengan masa depan non-manusia, namun dengan tetap memperhatikan bahwa kerugian yang ditimbulkan dari masyarakat hierarkis dan kelas di alam berbeda dengan yang ditimbulkannya pada banyak umat manusia dalam dimensi sosial.
Maka secara historis ada potensi bahwa manusia keluar dari sifat naturalisnya kemudian menyerang dan melihat alam sebagai komoditas yang berada di luar manusia, sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan yang fundamental terkait cara berpikir dan manifestasi relasi sosial yang nonhierarkis dan meminimalisir dominasi manusia atas manusia lainnya.
Tumbuh atau Mati ala Kapitalisme
Tapi, hampir mirip dengan hierarki dan struktur kelas, mereka menyerap banyak dari masyarakat. Demikian juga dengan pasar mulai memperoleh kesempatan ekspansi dan memperluas jaringannya sampai ke luar benua tanpa terbatas. Barter juga bukan menjadi landasan lagi untuk pemenuhan kebutuhan, melampaui batasan-batasan yang dibuat oleh serikat pekerja dan moral atau agama. Pada akhir abad ke delapan belas memasuki awal abad kesembilan
belas, kelas kapitalis baru dengan sistem pabrik dan komitmennya untuk ekspansi tanpa batas mulai menjajah seluruh dunia hingga masuk ke dalam ruang pribadi manusia.
Berbeda dengan bangsawan feodal yang mempunyai tanah dan kediaman sebagai simbol kejayaan mereka. Kaum borjuis memiliki, pasar dan bank sebagai simbol kedigdayaan mereka dalam melaksanakan monopoli perekonomian.
Sangat penting bagi Ekologi Sosial, untuk mengenali bahwa pertumbuhan industri tidak dihasilkan dari sudut pandang budaya saja dan tentu saja dampak rasionalitas ilmiah terhadap masyarakat. Tetapi ada hal yang penting yang berasal dari faktor-faktor objektif yang nyata yang disebabkan oleh perluasan pasar itu sendiri, faktor-faktor yang sangat tidak bergantung pada pertimbangan moral dan upaya persuasi etis.
Secara sederhana, Bookchin ingin mengungkapkan bahwa perkembangan hidup mati dari kapitalisme dan inovasi lingkungan adalah hal yang terlepas dari moral dan etika. Meski hubungan kapitalisme dan moral sering berkelindan dan menyelinap dalam idiom kapitalisme hau yang membawa misi penyelamatan lingkungan, yang pada kenyataannya mereka hanyalah perpanjangan kapitalisme untuk tetap hidup dan tumbuh dengan berbagai topeng yang mereka gunakan.
Inti dari Ekologi Sosial dalam sub bab ini menekankan bahwa penyelesaian moral untuk menghadapi kapitalisme sama saja akan menemui hal buntu. Karena sifat dari kapitalisme sendiri telah mengarah kepada bentuk amoral sehingga
faktor etis, religius, psikologis dan emosional sama sekali tidak akan pernah memiliki tempat dalam dunia produksi, keuntungan dan pertumbuhan impersonal.
Tapi yang menarik dari pemikiran Bookchin adalah dia tidak anti dengan teknologi. Di sini dia ingin mengungkapkan bila teknologi diproduksi hanya berdasarkan prinsip hidup atau mati ala kapitalisme maka akan sama saja teknologi tidak bisa dimanfaatkan oleh semua orang atau alih-alih digunakan sebagai alat perlawanan. Namun bila teknologi tidak diproduksi atas dasar tersebut, maka memungkinkan teknologi berkembang dengan sedemikian rupa untuk membantu masyarakat lepas dari belenggu kapitalisme.
Masyarakat Ekologis
Ekologi sosial adalah daya tarik bukan hanya untuk regenerasi moral, dan yang terutama, untuk rekonstruksi sosial sepanjang garis ekologi. Ini menekankan bahwa, dengan sendirinya, daya tarik etis terhadap kekuatan yang didasarkan pada kekuatan pasar yang buta (tidak melihat dalam kacamata moral) dan persaingan yang kejam, pasti akan sia-sia. Memang, diambil dengan sendirinya, fakta semacam itu mengaburkan hubungan kekuasaan nyata yang berlaku saat ini dengan mencapai masyarakat ekologis tampaknya hanya masalah mengubah sikap individu, pembaruan spiritual, atau penebusan quasi-religius (seolah-olah religius).
Meskipun selalu sadar akan pentingnya pandangan etis baru, ekologi sosial berusaha untuk memperbaiki kritik terhadap ekologis bahwa masyarakat yang sekarang ini telah
mengeksploitasi alam dengan pergi ke institusi sosial yang struktural (dengan landasan hierarki) serta sumber-sumber subyektif dari gagasan seperti dominasi alam pertama. Yaitu, Ekologi Sosial menantang keseluruhan sistem dominasi itu sendiri-ekonomi, penyalahgunaan teknik (teknologi), aparatur administratif, degradasi kehidupan politik, penghancuran kota sebagai pusat pengembangan budaya, memang terlihat sebagai kemunafikan moral.
Dengan memperbaiki jiwa manusia-dan berusaha menghilangkan bangunan-bangunan hierarkis dan kelas yang dimilikinya dalam adaptasi diri pada kemanusiaan dan mendefinisikan hubungan antara non-manusia dan sifat manusia. Ini merupakan upaya untuk memajukan etika saling melengkapi di mana manusia memainkan peran mendukung dalam mengabadikan integritas biosfer (bumi) - potensi manusia untuk menjadi produk yang paling sadar dari evolusi alami dengan berbekal akal mereka.
Memang, manusia memiliki tanggung jawab etis untuk berfungsi secara kreatif dalam menerjemahkan evolusi. Ekologi sosial dengan demikian menekankan kebutuhan untuk mewujudkan etika komplementaritasnya (jembatan antara alam pertama ke alam kedua) dalam institusi sosial yang jelas yang akan membuat manusia menjadi agen etis yang sadar dalam mempromosikan kesejahteraan diri mereka sendiri dan dunia non-manusia. Proses ini merupakan pengayaan proses evolusi oleh diversifikasi bentuk kehidupan dan penerapan akal untuk membangun kembali planet yang menakjubkan di sepanjang garis ekologi.
Meskipun pandangan yang paling romantis, "Ibu Alam" tidak selalu "tahu yang terbaik." sebuah idiom untuk menunjukkan bahwa bumi tidak bisa menyuarakan dirinya sendiri dalam membentuk alam kedua (politik dan lainnya, untuk keberlangsungan mereka). Untuk menentang kegiatan kapitalisme tidak memerlukan satu untuk menjadi biosentris naif.
Memang dengan cara yang sama, untuk menghargai potensi kemanusiaan untuk pandangan ke depan, rasionalitas, dan pencapaian teknologi tidak menjadikan seseorang sebagai antroposentris. Penggunaan yang tepat dari kata-kata kunci seperti itu, yang begitu umum dalam gerakan ekologi saat ini, harus dibawa ke ujung definitif dengan diskusi reflektif, bukan dengan penolakan dan kritik yang hanya berisi cemoohan. Ekologi sosial, pada dasarnya, mengakui bahwa-suka atau tidak-masa depan kehidupan di planet ini berpusat pada masa depan masyarakat.
Ekologi Sosial berpendapat bahwa evolusi, baik di alam pertama maupun yang kedua, belumlah lengkap (akan terus tumbuh become). Tidak ada dua alam yang begitu terpisah satu sama lain sehingga manusia harus memilih satu atau yang lain-baik evolusi alamiah, dengan lingkaran "biosentris", atau evolusi sosial, seperti yang manusia ketahui sampai sekarang, dengan lingkaran "antroposentris"
- sebagai dasar untuk biosfer yang kreatif dan beragam.
Peneliti menilai bahwa manusia harus melampaui baik yang alami maupun yang sosial menuju sintesis baru yang mengandung yang terbaik dari keduanya dengan menggunakan dialektika. Sintesis semacam itu harus melampaui sifat pertama dan kedua dalam bentuk yang kreatif, sadar diri, dan karena itu "sifat bebas," di mana ikut serta manusia dalam evolusi alami dengan kapasitas terbaik mereka-rasa etis mereka, kapasitas tiada bandingnya untuk merumuskan hal yang konseptual. Berpikir, dan kekuatan serta jangkauan komunikasi mereka yang luar biasa. Tetapi tujuan tersebut tetap hanya retorika kecuali gerakan memberikannya pasokan ide dan transformasi sosial.
Bagaimana manusia mengatur gerakan seperti itu? Secara praksis, "sifat bebas" tidak mungkin tercapai tanpa desentralisasi kota-kota ke dalam komunitas-komunitas yang disatukan secara konfederatif yang secara sensitif disesuaikan dengan wilayah-wilayah alami di mana mereka berada bergantung kepada keragaman geografis sehingga memudahkan dalam memenuhi kebutuhan akan alam.
Eco-Technologies, dan solar, angin, metana, dan sumber energi terbarukan lainnya; bentuk-bentuk pertanian organik; dan rancangan instalasi industri yang serba guna dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan regional dari kota-kota konfederasi semua harus dibawa ke dalam layanan dunia yang secara ekologis sehat berdasarkan etika komplementaritas. Itu juga berarti, penekanan tidak hanya pada daur ulang tetapi pada produksi barang berkualitas tinggi yang dapat, dalam banyak kasus, berlangsung selama beberapa generasi.
Ini berarti penggantian tenaga kerja yang tidak berdaya dengan kerja kreatif dan penekanan pada keahlian kerajinan dalam preferensi untuk produksi mekanik. Kegiatan kapitalisme hari ini tampak jelas mengurangi waktu luang untuk melakukan aktivitas seni dan sepenuhnya terlibat dalam urusan publik.
Orang akan berharap bahwa ketersediaan barang, mekanisasi produksi, dan kebebasan untuk memilih gaya hidup seseorang akan cepat atau lambat mempengaruhi orang untuk mempraktikkan moderasi dalam semua aspek kehidupan sebagai respon terhadap konsumerisme yang dipromosikan oleh pasar kapitalis.
Namun, tidak ada etika atau visi dari masyarakat ekologi, bagaimanapun yang diilhami, dapat bermakna kecuali diwujudkan dalam politik yang hidup (peran aktif masyarakat). Secara politik, Bookchin tidak bermaksud mengatur negara yang dilakukan oleh apa yang kita sebut politisi-yaitu, perwakilan yang dipilih atau dipilih untuk mengelola urusan publik dan merumuskan kebakan sebagai pedoman untuk kehidupan sosial.
Dalam Ekologi Sosial, politik berarti apa artinya dalam polis demokratis dalam Athena klasik sekitar dua ribu tahun yang lalu: demokrasi langsung, perumusan kebakan oleh majelis rakyat dalam demokratis langsung, dan administrasi kebakan tersebut oleh koordinator yang diamanatkan sehingga dapat dengan mudah diingat kembali jika mereka gagal mematuhi keputusan warga majelis.
Bookchin pun sangat sadar bahwa politik Athena, bahkan dalam periode yang paling demokratis sekalipun, dirusak oleh keberadaan perbudakan dan patriarki, dan dengan mengesampingkan orang asing dari kehidupan publik. Dalam hal ini, untuk memastikan kekurangan sistem tersebut, itu sangat sedikit berbeda dari sebagian besar peradaban Mediterania kuno lainnya-dan tentu saja orang-orang Asia kuno pada saat itu. Apa yang membuat politik Athena unik, bagaimanapun,
adalah bahwa ia menghasilkan lembaga-lembaga yang sangat demokratis bahkan secara langsung, dibandingkan dengan lembaga-lembaga republik yang disebut "demokrasi" dalam wajah dunia saat ini.
Baik secara langsung maupun tidak langsung, demokrasi Athena kemudian mengilhami, demokrasi langsung yang mencakup semua, seperti banyak kota Eropa abad pertengahan, "commune" Paris (atau seperti rukun tetangga dalam gambaran hari ini) yang kurang dikenal di tahun 1793 yang mendorong Revolusi Prancis ke arah yang sangat radikal yang kemudian terbentuklah Commune of Paris pada
1817.31 Kemudian secara tidak langsung, pertemuan-pertemuan kota New England, dan yang lainnya, upaya-upaya yang lebih baru di pemerintahan sipil diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Namun, setiap komunitas yang dikelola secara mandiri yang mencoba untuk hidup dalam isolasi dan mengembangkan swasembada berisiko bahaya menjadi paroki (mempunyai pandangan politik yang sempit), bahkan rasis.
Oleh karena itu kebutuhan untuk memperluas politik ekologi dengan demokrasi langsung ke dalam konfederasi-komunitas dari masyarakat-masyarakat ekologi, dan untuk menumbuhkan saling ketergantungan yang sehat, daripada kemerdekaan yang introvert dan melemahkan. Ekologi Sosial akan diwajibkan untuk mewujudkan etika dalam politik kotamadya libertarian municipalisme libertarian), di mana kota madya juga mendapatkan hak untuk pemerintahan sendiri melalui jaringan dewan konfederasi, yang diharapkan kota-kota dan kota-kota untuk mengirim utusan mandat mereka yang dapat ditarik kembali untuk menyesuaikan perbedaan.
Semua keputusan harus diratifikasi oleh mayoritas majelis rakyat kota dan kota-kota konfederasi. Proses kelembagaan ini dapat dimulai di lingkungan kota-kota besar dan juga di jaringan kota-kota kecil. Bahkan, pembentukan sejumlah "balai kota" telah berulang kali terjadi diusulkan di kota-kota sebesar New York dan Paris, hanya untuk dikalahkan oleh kelompok-kelompok elitis yang terorganisasi dengan baik yang berusaha memusatkan kekuasaan daripada membiarkan desentralisasi pemerintahan.
Kekuasaan akan selalu menjadi milik elite dan strata yang berkuasa jika tidak dilembagakan dalam demokrasi tatap muka (langsung dalam pertemuan-pertemuan majelis rakyat), di antara orang-orang yang sepenuhnya diberdayakan sebagai makhluk sosial untuk membuat keputusan dalam majelis komunal baru. Usaha-usaha untuk memberdayakan masyarakat dengan cara dan bentuk ini merupakan tantangan abadi bagi negara-bangsa -
yaitu, kekuasaan ganda di mana kota madya yang bebas ada dalam konflik terbuka dengan negara-bangsa.
Kekuasaan yang bukan milik rakyat selalu milik negara dan kepentingan eksploitatif yang diwakilinya. Yang tidak mengatakan bahwa keragaman bukanlah desideratum (sesuai yang diinginkan); sebaliknya, itu adalah sumber kreativitas budaya. Tetap saja tidak pernah harus dirayakan dalam pengertian nasionalis tentang "keterpisahan" dari kepentingan umum kemanusiaan secara keseluruhan, atau sebaliknya ia akan mundur ke dalam parokialisme, folkdom (merujuk kepada etnosentrisme), dan tribalisme.
Jika realitas kewarganegaraan penuh dalam semua diskursivitas dan vitalitas politiknya mulai berkurang, penghilangannya akan menandai kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perkembangan manusia. Kewarganegaraan, dalam pengertian klasik, yang melibatkan pendidikan seumur hidup yang berorientasi etika dalam seni partisipasi dalam urusan publik (bukan bentuk kosong legitimasi nasional yang begitu sering terjadi dari hari ini), akan hilang.
Kehilangannya akan berarti pengekangan kehidupan komunal di luar batas keluarga, berkurangnya kepekaan sipil ke titik ego yang pasif, penggantian menyeluruh dari arena publik dengan dunia privat dan dengan kegiatan privat.
Kegagalan gerakan ekologi yang rasional dan berkomitmen secara sosial akan menghasilkan masyarakat yang mekanis, estetis, dan teratur, yang terdiri dari ego-kosong dan totaliter yang paling buruk.
Sebagai alternatif, masyarakat ekologis yang benar-benar akan membuka pandangan dari "sifat bebas" dengan eko-teknologi canggih yang berbasis pada matahari, angin, dan air; bahan bakar fosil yang diperlakukan dengan hati-hati akan diletakkan untuk menghasilkan kekuatan untuk memenuhi kebutuhan yang dipahami secara rasional. Produksi akan terjadi sepenuhnya untuk digunakan, bukan untuk keuntungan, dan distribusi barang akan terjadi sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan norma-norma yang ditetapkan oleh majelis warga dan majelis konfederasi.
Keputusan oleh masyarakat akan dibuat sesuai dengan prosedur langsung tatap muka dengan semua penilaian koordinatif yang dimandatkan oleh para delegasi. Penilaian ini, pada gilirannya, akan dirujuk kembali untuk diskusi, persetujuan, modifikasi, atau penolakan oleh majelis-majelis (atau komune-komune) secara keseluruhan, yang mencerminkan keinginan mayoritas yang sepenuhnya berkumpul.
Bagi Bookchin, dia tidak dapat mengatakan berapa banyak teknologi yang akan diperluas beberapa dekade dari sekarang; Apalagi beberapa generasi. Pertumbuhan dan prospeknya kemungkinan akan terbuka selama abad ini saja terlalu memesona bahkan bagi utopian yang paling imajinatif untuk dibayangkan. Jika tidak ada yang lain, manusia telah terbawa ke dalam revolusi teknologi dan komunikasi permanen yang puncaknya tidak mungkin untuk diprediksi lagi. Pengumpulan kekuatan dan pengetahuan ini membuka dua prospek yang berlawanan secara radikal:
baik umat manusia akan benar-benar menghancurkan dirinya sendiri dan habitatnya, atau akan menciptakan sebuah taman, dunia yang berbuah dan jinak yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh para utopis yang paling khayalan, seperti Charles Fourier seorang filosof asal Prancis yang hidup dalam rentang waktu 1772-1837. Dalam teorinya Fourier menganjurkan rekonstruksi sosial masyarakat berdasarkan asosiasi komunal produsen yang kemudian disebut dengan Fourierism.
Sebuah keputusan yang tepat bahwa alternatif yang mengerikan seperti itu akan muncul sekarang dan dalam bentuk-bentuk ekstrem seperti itu. Kecuali Ekologi Sosial dengan pandangan naturalistiknya, interpretasi perkembangannya tentang fenomena alam dan sosial, penekanannya pada disiplin dengan kebebasan dan tanggung jawab dengan imajinasi dapat dibawa ke layanan untuk tujuan-tujuan bersejarah seperti itu, umat manusia mungkin terbukti tidak mampu mengubah dunia. Manusia tidak dapat menangguhkan kebutuhan untuk menghadapi prospek-prospek ini tanpa batas: sebuah gerakan akan muncul yang akan mengarahkan manusia ke dalam tindakan, atau kesempatan besar terakhir dalam sejarah untuk emansipasi kemanusiaan yang lengkap akan lenyap dalam penghancuran diri yang tak terkendali.
Esai ini adalah salah satu sub-bab dari jurnal Mencari Murray Bookchin Dalam Belantara Ilmu Sosial yang dipublikasikan di The Sociology of Islam Vol. 1, No.1 (December 2020).
yak, terima kasih,
edisi pembuka di musim baru akhirnya selesai.
semua yang sudah kalian simak adalah hasil jerih payah, kerja keras, dan buah pikir dari orang-orang yang dengan sukarela ikut guyub dalam proses pembuatan zine ini.
dukungan kalian dalam bentuk apapun dengan lapang dada akan kami terima.
jangan lupa, apabila setelah membaca submisi zine kalian menemukan orang asshole dan cabul yang terindikasi melakukan kekerasan dalam bentuk apapun sempat menjadi salah satu kontributor, tolong beritahu kami karena kami kadang luput untuk melakukan background checking dll.
mudah-mudahan sih ga ada ya.
jangan ragu untuk mengeluarkan isi kepala kalian, karena meskipun tidak semua orang akan setuju dengan pendapat dan gagasan kalian, tapi semua ide dan gagasan punya porsi yang sama untuk didengarkan. tapi kami ingatkan, respon orang lain tidak bisa kalian atur. ekspektasi kalian yang bisa.
akhir kata, kami akan berusaha untuk tetap hadir. semampunya. sekuatnya.
semoga kami bisa memantik pergerakan-pergerakan serupa, dan saling bisa mendukung.
tabik, submisi.