Mari berseteru di tengah perang peradaban. Kebenaran dalam senyap. Kedamaian dalam penjara. Kenyamanan dalam kerumunan. Kebebasan dalam kepatuhan.
Serang di tempat mematikan!
Ini adalah manifestasi. Ini adalah sebuah utopia. Ini adalah hasrat yang menuliskan takdirnya sendiri.
Selamat datang dalam dunia di mana kata-kata diletupkan, imajinasi dibebaskan dari kekang, dan segala macam teori dibenturkan, dihancurkan dan ditularkan!
Surabaya. Juli 2016
KEHIDUPAN YANG TIDAK DIPERIKSA
ADALAH KEHIDUPAN YANG TIDAK
LAYAK DIJALANI!
"Kebijaksanaan sejati datang ke masing-masing diri kita saat kita menyadari betapa sedikit kita memahami tentang kehidupan, diri kita sendiri, dan dunia sekitar."
— Socrates
"Seorang filsuf: yaitu orang yang selalu mengalami, melihat, mendengar, mencurigai, berharap dan membayangkan hal-hal luar biasa; yang terpesona oleh pikirannya sendiri seakan pikiran itu berasal dari luar, dari atas, atau dari bawah; yang mungkin dirinya menjadi badai topan, berkeliaran membawa kilat baru; seseorang yang tidak menyenangkan, mondar-mandir sambil meraung, menggerutu. Seorang filsuf: ya ampun, makhluk yang seringkali lari dari dirinya sendiri, takut pada dirinya sendiri, namun terlalu ingin tahu untuk tidak 'sampai pada dirinya sendiri'."
— Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil: Aforisme 292
Aku pikir ada satu kesamaan nasib antara Nietzsche dan Socrates: kematian yang dihadapi secara tragis.
Socrates, ia adalah pria tua yang senang berkeliling di keramaian kota Athena. Setiap hari ia mengajak orang berdiskusi, di pasar, di taman, di jalan-jalan, dan selalu cerewet mengajukan pertanyaan, yang sengaja ia lakukan—untuk menguji kedalaman sekaligus kemerdekaan berpikir. Itulah apa yang sekarang kita kenal dengan 'berfilsafat'. Kita tahu akibat kebiasaannya ini ia dituduh sesat oleh sebagian masyarakat, dan berujung pada eksekusi mati. Meskipun pengadilan menawarkan opsi kepada Socrates untuk eksil ke kota lain, tetapi dengan keteguhan hati ia memilih menenggak racun cemara. Ia memilih mati menjadi martir—demi kebenaran dan kehendak bebasnya.
Nietzsche, banyak orang bilang ia adalah palu godam di masanya, ia adalah pemberontak, ia adalah suara ganjil, bahkan banyak pula yang menyebutnya dinamit. Bagaimana tidak, semasa hidupnya Nietzsche menguliti borok-borok di dalam agama, pengetahuan, seni, bahasa, dan bermacam bidang lainnya. Ia berteriak sinis pada institusi kekuasaan, ia mendobrak norma masyarakat. Dan, hidupnya berujung pada kegilaan, sebelum akhirnya mati tanpa menikmati kemasyhuran.
"Puisi dapat menyingkap tabir dari kecantikan dunia yang tersembunyi, dan membuat sesuatu yang biasa seolah-olah menjadi tidak biasa."
— Percy Bysshe Shelley
Peradaban telah bergerak jauh dibandingkan era Nietzsche, apalagi Socrates. Tentu banyak sekali perubahan besar, yang mungkin oleh masyarakat terdahulu tak sempat diimajinasikan. Hari ini, ada negara, ada pemerintah, ada kebijakan politik, ada tatanan masyarakat yang terlihat lebih bebas dan demokratis, namun sesungguhnya amat bersifat koersif.
Hidup semakin banyak alternatif, yang artinya semakin banyak pula kebutuhan-kebutuhan yang tidak dibutuhkan.
Pelajaran dari kedua filsuf tersebut, yang rentang masa hidupnya terpaut ratusan abad, sesungguhnya masih relevan untuk menghantam kehidupan harian kita di masa kini. Sebab rutinitas peradaban modern agaknya telah membuat kita melupakan pertanyaan-pertanyaan krusial mengenai hakikat eksistensi manusia.
Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan? Seandainya kita tahu apa yang kita inginkan?
Seorang kawan, sejak kecil ingin menjadi musisi tapi tidak pernah bisa mewujudkannya karena tidak diizinkan orang tua. Seorang kawan lagi, bermimpi menjadi dokter tapi ternyata berakhir menjadi buruh pabrik karena tidak punya biaya untuk sekolah. Seorang kawan lainnya, berpotensi menjadi pelukis tapi sang calon istri menuntutnya berkarir sebagai pekerja kantoran. Aku sendiri, ingin menjadi penyair, memang ada duitnya?
Banyak kerumitan, banyak hambatan. Seolah-olah kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukan segala aktivitas hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita.
Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan yang bisa kita rengkuh?
Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan atas diri kita sendiri. Seolah-olah ada
begitu banyak komando yang datang dari luar untuk kita taati. Tak lagi bebas mengekspresikan diri, tak lagi merdeka untuk berlari kesana kemari, persis serupa domba yang digembalakan.
Seperti sabda Zarathustra— banyak yang mati terlalu telat dan mati terlalu dini. Di manakah seharusnya kita mati di saat yang tepat? Sebuah pertanyaan yang ganjil, bahkan untuk sekadar memikirkannya. Tapi Zarathustra memiliki jawabannya dengan
mengumandangkan sebuah alasan mati yang cukup baik, yaitu kematian haruslah alami, sealami ketika organ- organmu sudah tidak bisa bekerja lagi.
Namun sebelum itu pertarungan masih harus dihadapi, bukannya menyerah tanpa syarat. Peperangan harus selalu dikumandangkan, segala resiko ditempuh, segala kemungkinan direngkuh.
Fatum brutum amorfati!
MERAYAKAN KEMATIAN,
MENGHIDUPI HIDUP.
"I wanted to write about the moment when your addictions no longer hide the truth from you. When your whole life breaks down. That's the moment when you have to somehow choose what your life is going to be about."
— Chuck Palahniuk
Ya, konsepsi tentang kematian telah disembunyikan dari hingar bingar keseharian kita semua, kematian telah dipenjarakan di dalam segudang resep-resep obat bius. Arah langkah kaki kita makin menjauhi rahasia terselubung tentang kematian. Banyak orang belum sadar, mereka belum lagi menjadi alfa dan omega, mereka belum mau mengerti bahwa mereka ‚hidup untuk mati‛.
Segala tentang ‘lupa’ bergentayangan di sekeliling kita. Di jalan-jalan menuju kantor, sekolah, kampus dan di depan televisi, kita berdansa bersama lupa. Di antara ketergesaan mesin-mesin industri dan laju keriuhan kendaraan bermotor, lupa serupa upaya untuk mendisiplinkan diri kita dalam kohesi gerak mekanis serupa mesin. Lupa adalah jatuh pingsan di dalam ketidakutuhan hidup.
Tapi kini, sudah cukup untuk lupa. Saatnya untuk mengerti tentang kematian.
‚Aku takut mati…‛
Setiap orang membisikkan kalimat itu diam-diam di dalam hatinya. Kegelapan membuat kita menyembunyikan sesuatu, layaknya aib yang tak ingin dikenal. Raut-raut permukaannya yang tidak pernah diterima untuk bisa dikenal lebih baik, untuk bisa diterima apa adanya secara pasrah. Kematian selalu membuat kita takut, karena semua orang berpikir bahwa kematian adalah kesendirian abadi di dalam kegelapan yang tak memiliki pintu. Ketiadaan dasar dari sebuah jurang—nihilisme dari ketidakterbatasan kehidupan. Tapi ini juga yang membawa kita jauh dari makna kematian yang sebenarnya.
Manusia sudah terlalu sibuk untuk mengetahui tentang kematian. Hipersimulasi telah menggantikan semua kekhawatiran bahwa dalam sekejap nyawa bisa tercerabut dari tubuh. Kondisi lingkungan kerja, ruang-ruang kelas di dalam sekolah dan universitas, ruang keluarga dengan segala perangkat pasca- informasionalnya menjadi substitusi dari ketiadaan eksistensi—sebuah tempat ibadah abadi. Pelarian dari kekacauan kehidupan, pelarian dari kenyataan dunia material yang sangat memiskinkan.
Apabila kamu menemukan dirimu melihat ke belakang dari hari-hari yang sudah lewat, tanpa mempertimbangkan ketidakabadianmu, ini adalah hal yang biasa. Karena norma budaya dan sosial kita tidak ingin membuat kita berpikir lebih jauh dan dalam mengenai batas-batas yang dianugerahkan alam kepada kita. Kematian dan penuaan dinafikan sekaligus dihilangkan, serupa aib memalukan.
Mereka yang sudah tua- renta ditempatkan di panti-panti jompo, layaknya pengidap lepra. Papan-papan iklan, foto-foto di majalah, dan segudang tayangan komersil televisi hanya menyuguhkan imaji-imaji dari lelaki dan wanita yang sehat dan bugar— masa paling prima dari siklus kehidupan manusia. Sedangkan kuburan-kuburan—yang dulu dibangun untuk mengenang yang mati dan lanskap memorial bagi yang hidup—sekarang telah menjadi kenangan yang terlupakan dengan di
Ketika seseorang mati, ritual sebenarnya adalah memperingati kehidupannya dan juga membawa subjek dari ketidakabadian manusia bagi mereka yang masih hidup. Sekarang ritual dan pengangkatan subjek semacam ini lebih dipandang sebagai suatu ‘ketidaknyamanan’. Kematian adalah sesuatu yang tidak sopan dan memalukan untuk dibicarakan, dinilai sebagai aib yang buruk bagi kesibukan peradaban, tidak ada tempat bagi kematian di antara pesatnya nilai tukar korporasi, rilisan musik atau film terbaru, dan segala macam perilaku over- konsumsi masyarakat. Menjamurnya jadwal-jadwal seminar atau khotbah para pemuka agama pun menolak untuk menyediakan eksplanasi yang jelas tentang kematian, sebagaimana justru eksplanasi ini adalah sesuatu yang relevan bagi manusia.
Mungkin saja ketika kita mulai memikirkan batas-batas hidup kita untuk tinggal di planet ini, menonton televisi, video viral di media sosial, dan segala parodinya mulai menjadi tidak penting daripada sebelum kita mulai
| tingginya | rumput-rumput | |
|---|---|---|
| kompleks dikunjungi, itu pun hanya setahun | pemakaman. | Sekalipun |
| sekali. | Sekadar | menjalani |
memikirkannya. Kesenyapan kultural kita mengenai ketidakabadian manusia membuat kita melupakan seberapa berat momen-momen individual yang kita jalani. momentum. Bukan perayaan penuh atas kematian.
Maka, kita dapat mengesampingkan semua ketidakbergunaan waktu yang kita habiskan di depan semua kebahagiaan semu tersebut—waktu yang alangkah lebih nikmatnya dihabiskan untuk berkencan di pinggir pantai, memasak untuk kerabat dan teman, menulis puisi dan fiksi, ataupun menumpang truk untuk mengeksplorasi keindahan alam yang tak terjamah. Kenyataan bahwa suatu saat kita akan mati tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah bagi kita semua, tapi lebih baik mengetahuinya sekarang, daripada sudah cukup terlambat untuk menyadarinya.
ketidakpedulian yang akhirnya melanggengkan keabadian status- quo. Ini adalah sebuah simptom dari perjuangan kita untuk melarikan diri dari putaran perubahan yang alami dan membangun suatu kejayaan yang tidak alami di dunia.
Ketidakabadian kita adalah suatu bukti yang menakutkan bahwa kita tidak memiliki kendali atas segalanya, karena itu dengan cepat kita ingin mengacuhkannya, mencari pelarian dari itu semua, mengusahakan penelitian-penelitian medis yang berjalan sangat lamban, yang kalau saja kita pikir dapat melakukan semuanya secara bersamaan. Bahkan keputusan semacam ini pun patut dipertanyakan apakah memang benar-benar kita butuhkan.
Sejak awal mula peradaban Barat, manusia tidak hanya merasa haus dan lapar untuk mendominasi dunia, tapi juga spesiesnya satu sama lain. Manusia juga berusaha mendominasi masa-masa, yaitu waktu. Kita menyanjung keabadian yang sempurna dari tuhan dan kerajaan-kerajaan. Kita mulai merancang kota-kota, korporasi, dan segala macam lembaga untuk eksis ke dalam infinitas. Kita membangun monumen dan pencakar langit yang kita inginkan agar berdiri selamanya
"People spend a lifetime searching for happiness; for peace. They chase idle dreams, addictions, religions, even other people, hoping to fill the emptiness that plagues them. The irony is the only place they ever needed to search was within."
— Ramona L. Anderson
Ketidakpedulian kita terhadap kematian di era modern ini memiliki suatu signifikansi yang lebih dalam, di balik fungsinya sebagai suatu reaksi terhadap ketakutan kita akan ketidakabadian, sekaligus
sebagai sebuah pengakuan kemenangan atas debu pasir waktu.
Tapi, kemenangan ini pun harus dibayar dengan harga yang tidak membuat sesuatu berlalu, karena keduanya tidak kunjung datang. Karena dunia yang kita ciptakan adalah sebuah dunia yang statis, dunia yang telah distandarisasikan, sebuah dunia yang tidak lagi mengejutkan kita. Kita akan lebih baik memikirkan pemenuhan mimpi tergelap kita dengan menciptakan distopia semacam itu, sebuah dunia yang
beku di mana manusia tidak lagi takut akan kematian—karena semua orang hidup abadi selamanya tidak dalam sesingkat waktu.
"Kita sadar tentang kematian ketika sadar bahwa kita hidup, dan awal dari kegelisahan kita yang nyata akan rasa takut terhadap kematian adalah awal dari penerimaan yang sebenarnya. Janganlah takut akan kematian, takutlah akan hidup yang tidak dihidupi!"
MAY DAY IS NOT (HOLY) DAY,
JUST DO IT (EVERY) DAY!
| tentu | saja | dipimpin | organisasi- | |
|---|---|---|---|---|
| organisasi Kiri. Setelah berkeliling di | ||||
| jalanan kota maka aktivitas finalnya | ||||
| adalah jagongan, di lokasi yang dipadati | berhenti | di satu | titik, | |
| gerobak malam. Dan tentu saja pesta hari itu benar-benar makna apa-apa bagi para peserta aksi, ya karena bagi mereka May Day hanyalah | makanan | tidak sekadar | layaknya memberikan momentum | pasar |
| perayaan | dalam | satu | hari. | |
| Selanjutnya | pulang | ke | rumah | |
| masing-masing, harus biasanya, dan menabung yang rajin untuk berbelanja seperti biasanya. | kembali | karena | esok | pagi seperti |
| Seusai | Kucing | bercerita, | Aswin |
bekerja
"When will they awaken to the truth? When will they finally have enough and spit on their masters When will they rise up with one voice and say NO!? The answer my friends, is never."
— Patrick K. Martin
Teringat beberapa tahun lampau, saat aku bersama teman-teman menyempatkan diri berkumpul di Kedai Sinau di mana agenda siang itu ialah membahas persiapan acara (pemutaran film, musik akustik, FNB, pameran dan beberapa lokakarya) atas nama kolektif kami yang baru saja terbangun beberapa bulan ke belakang, bernama ‛Injak Beling‛. Rapat berlangsung cepat, selebihnya berdebat tentang judul acara, bercanda lepas, diakhiri makan bakso sembari meresapi aroma hujan sore. Di antara berbagai hal tidak serius yang kami perbincangkan, sempat ada satu topik menarik yang sempat kami bahas, tentang May Day dan kesadaran pekerja upahan (buruh). Salah seorang teman, Kucing, yang pernah menjadi partisipan LMND semasa mahasiswa dulu bercerita tentang pengalamannya ikut long march untuk memperingati May Day bersama para buruh di Malang, yang
nyeletuk, ‛Mengapa para pekerja ini tidak menyadari betapa krusialnya posisi mereka, dan betapa mereka telah begitu tertindas?‛
Aku pun mengajukan pernyataan sekaligus pernyataan, "Kalau mereka merasa bahwa tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka, lantas apa yang harus disadari? Tidak ada. Kecuali mungkin di saat-saat mereka dihadapkan pada ancaman pemecatan kerja."
Kondisi seperti itu pun juga masih terjadi hingga tahun-tahun berikutnya, bahkan di tahun 2016 ini, di Surabaya, saat aku pernah ’terjebak’ di salah satu rumah, yang awalnya aku pikir menjadi tempat
pengorganisiran aksi menggugat sistem pendidikan, yang ternyata adalah rapat internal gabungan serikat buruh dan mahasiswa untuk pembahasan agenda May Day seminggu ke depan. Alamak! Rasanya mati kutu, bukan karena kebingungan, melainkan keheranan dan kebosanan tentang betapa stagnannya aksi-aksi mereka hingga hari ini. Rapat, rapat, rapat, membahas sesuatu yang sebenarnya sudah rutin dibahas sekaligus diterapkan di lapangan. Hasilnya? Tengok saja sendiri setiap tahun.
Demi menggambarkan secara sempurna bagaimana keadaan ini, maka aku akan mengutip eksplanasi panjang Morpheus kepada Neo saat menguraikan tentang Matrix (yang dalam fakta hari ini dapat diibaratkan serupa dunia maya atau ilusi):
"Matrix adalah sistem, Neo. Sistem itulah musuh kita. Namun ketika kau ada di dalamnya, pandangi sekelilingmu, apa yang kau lihat? Pengusaha, guru, pengacara, tukang kayu. Benak orang-orang yang coba kita selamatkan itu. Namun sebelum kita berhasil, orang-orang ini masih menjadi bagian dari sistem dan itulah yang menjadikan mereka musuh kita.
Kau harus paham, kebanyakan orang tidak siap untuk dicabut. Dan banyak di antara mereka yang begitu betah, begitu mati-matian bergantung pada sistem, bahkan rela berjuang untuk melindunginya."
Atau dengan gambaran yang lebih kasar, bisa jadi para buruh sebenarnya menyukai kapitalisme. Benarkah?
Jika dirunut ke belakang, maka rumusan Morpheus (yang berangkat dari tesis Jean Baudrillard dalam bukunya "Simulacra and Simulation") ini dapat dilacak melalui pemikiran Guy Debord, sang pentolan gerombolan Situasionis International yang menjadi salah satu pemicu Pemberontakan Paris
- Ia memaparkan dengan cukup rumit bahwa segala ranah kehidupan manusia telah dikurung ke dalam satu kerangka yang disebut "spectacle" atau ‛dunia tontonan‛. Dunia ini menyajikan ilusi-ilusi tentang hidup sehingga pada akhirnya mampu membuat masyarakat terus terlelap dan tidak mampu terbangun dari mimpi buruk tersebut.
Dunia tontonan—dunia di mana pasar mengontrol eksistensi manusia. Melalui televisi, radio, komputer, atau keragaman teknologi
Imaji-imaji tersebut ditampilkan sebagai sesuatu yang harus kita raih demi mendapatkan kesenangan, kebahagiaan atau nilai-nilai ideal. Padahal faktanya, justru hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang esensial bagi hidup. Demi melepaskan diri dari ’dunia ilusi’ tersebut maka kita perlu mengenali diri sendiri dan mimpi-mimpi kita sekaligus mewaspadai segala hal yang hadir di hadapan indera manusiawi kita.
"To call on people to give up their illusions about their condition is to call on them to give up a condition that requires illusions."
— Karl Marx
modern lainnya. Segala yang kita lihat tidaklah nyata, sebuah dunia yang memaksa kita untuk tetap setia menonton, diam, dan tunduk terhadap segala komoditas yang dijejalkan ke hadapan kita terus menerus. Seperti para pria yang hanya merasa macho ketika berhasil memiliki perut six pack, atau para wanita yang hanya merasa cantik ketika telah memakai kosmetik atau tas-tas bermerek keluaran terbaru. Jadi janganlah heran kenapa banyak bermunculan sepatu Nike atau tas Louis Vuitton palsu, tentu saja diperuntukkan bagi mereka yang ingin terlihat kaya dan keren tapi tidak punya uang!
Dalam bentuk yang lain, seorang pemuda yang ingin sekali jago bermain skateboard tapi sekali pun tidak pernah menyentuh papan selain hanya memainkan 'kenyataan' dalam dunia "Tony Hawk: Pro Skater". Ia akan menghabiskan waktunya dengan sebuah aktivitas pasif, yang berarti non-aktivitas. Atau iklan-iklan masyhur seperti: Hei belilah kaos bergambar Che Guevara, Laela Khaleed atau Wiji Thukul, makanlah sayur-sayuran organik, dukunglah kampanye Earth Hour, dan koleksilah buku-buku filsuf Kiri seperti Slavoj Zizek atau Tan Malaka jika kamu ingin terlihat sebagai revolusioner kekinian!
Kapitalisme telah berhasil membentuk bangsa pekerja yang tak menyukai pekerjaan mereka, dan yang selalu berharap bahwa tanggal merah akan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, selama mereka mendapatkan gaji yang layak untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan, alih-alih butuhkan, maka apa perlunya mereka marah pada sistem yang menghidupinya ini?
Di lain pihak, mereka yang merasa 'tercerahkan' dan memiliki hasrat untuk menawarkan perspektif
tandingan bagi orang lain (atau angkat senjata seperti Morpheus, Neo, Trinity dan kawan-kawannya) maka secara otomatis akan berdiri berseberangan dengan 'masyarakat umum'. Atau yang biasa dicemooh para penganut kontra-kultur sebagai "massa"—para domba tersesat yang perlu dibimbing oleh Sang Sistem menuju kebahagiaan hidup. Artinya, perlukah menjadi vanguard atau pemimpin bagi massa agar dapat mengatur dan memupuk kesadaran orang-orang tersebut? Menjadi pahlawan bagi mereka? Aku mulai meragukan visi-misi semacam itu.
Jika kita melakukan otokritik
| atas | segala | metode-metode | ||
|---|---|---|---|---|
| perlawanan | yang | telah | dilakukan, | |
| jelas | kita | tidak | perlu | merepetisi |
momen-momen seperti yang dialami Kucing beberapa tahun ke belakang. Sudah terbukti bahwa aksi semacam itu tak ada gunanya semenjak massa hanya dimanfaatkan demi kepentingan segelintir orang, seperti halnya Pemilu sebagai ilusi demokrasi. Aku tidak bermaksud meremehkan tuntutan-tuntutan buruh yang berhasil dimenangkan dan sifatnya memang mendesak, seperti perbaikan upah dan tunjangan, penghapusan sistem outsourcing, dsb. Tapi sampai pada level seberapa kita akan terus menajamkan tuntutan hingga tercipta apa yang serikat-serikat
buruh hari ini sebut sebagai standar kehidupan yang layak?
Pengorganisiran massa aksi bisa menjadi bumerang pada ide dan diri kita sendiri. Tidak ada gunanya terus menerus meniru, mereproduksi dan berefleksi atas mengapa organisasi-organisasi Kiri kebanyakan berhasil merekrut massa yang fantastis. Sebab pada kenyataannya massa itu sendiri adalah tong kosong besar. Bila kita benar-benar ambisius dalam mewacanakan dan mempraktekkan apa yang kita sebut sebagai otonomi, realisasi individual, kolektifitas dan kesetaraan, maka ada banyak sekali metode maupun taktik yang belum kita eksplorasi dan uji coba daripada meniru yang berkali-kali sudah diterapkan, dan selalu gagal. Pengorganisiran langsung berbasis kolektif atau affinitas merupakan salah satu cara efektif untuk mengorganisir aksi. Permasalahan lanjutan yang akan dihadapi adalah bagaimana menemukan formula koordinasi antar kelompok maupun individu, dan di saat yang sama terus menjaring tali solidaritas di antara keberagaman taktik implementatif.
Beberapa orang mengatakan bahwa karnaval May Day telah menjadi rutinitas yang tidak relevan. Jawabannya bisa iya
dan tidak. Tapi juga sangat jelas bahwa May Day dengan wacananya merupakan target yang tidak memadai, apalagi bila aksi-aksi tersebut hanya menjadi perayaan adem-ayem tahunan. Bila kita percaya bahwa kapitalisme harus dihancurkan sampai ke akar-akarnya dan kita bermimpi membangun prinsip-prinsip swakelola dan partisipatoris maka hendaklah aksi-aksi rutin kita bisa menjadi sesuatu yang mengejutkan—yaitu aktivitas yang mampu melampaui aksi-aksi rutin organisasi politis manapun hari ini. Tentu, dengan semangat otonomi serta penekanan terhadap inisiatif individual. Setiap upaya untuk merutinkan pertempuran asimetris melawan kekuasaan maka kita membuka celah kemungkinan bagi pemberontakan sosial yang lebih besar ketimbang menyandarkan perubahan pada para pemimpin yang sepanjang sejarah telah terbukti mempecundangi kita!
Kekuatan besar akan lahir jika setiap orang menyadari potensinya sendiri hingga mampu melihat belenggu yang melingkari hidup hariannya. Seperti halnya aksi para Sindikalis Perancis sepanjang tahun 1900-an yang mengorganisir solidaritas antar pekerja dan komunitas di berbagai kota, atau kelompok-kelompok anarkis di
Spanyol tahun 1930-an dalam melawan kediktatoran rezim Franco sekaligus menerapkan nilai-nilai otonomi dalam tata kelola masyarakatnya, atau keberanian para Piqueteros ketika menjarah pertokoan, mengambilalih pusat- pusat produksi kemudian mendistribusikan makanan ke berbagai tempat kala Pemberontakan Argentina 2001, atau para pembangkang di Yunani yang menciptakan social center sepanjang krisis ekonomi melanda negara mereka, atau para petani Kendeng dan Kulon Progo yang tetap teguh menantang tirani. Dan mungkin seperti orang-orang Rojava yang bereksperimen guna menciptakan tatanan masyarakat munisipalisme libertarian dalam perspektif sosial-ekologis?
Bayangkan jika kelak para pekerja berani berkata seperti Tyler Durden ketika mengancam sang bos:
"The people you are after are the people you depend on. We cook your meals. We haul your trash. We connect your calls. We drive your ambulances. We guard you while you sleep. Do not fuck with us!"
ANAK-ANAK VERSUS
‘MONSTER’ LEVIATHAN
"When I was 5 years old, my mother always told me that happiness was the key to life. When I went to school, they asked me what I wanted to be when I grew up. I wrote down ‘happy’. They told me I didn’t understand the assignment, and I told them they didn’t understand life."
— John Lennon
Semasa kecil, aku suka jajan sembarangan. Dulu aku jarang sekali dilarang membelanjakan uang untuk membeli apapun, meskipun tentu saja ada beberapa petuah yang tak boleh dilanggar. Aku teringat bagaimana nikmatnya menusuk pentol sembari menyesap segarnya es wawan tiap sepulang sekolah. Tentu saja, setelah beberapa hari tenggorokanku pasti terasa agak serak, tapi toh takkan membuatku keracunan.
Lain sekarang, sedari berangkat sekolah, anak-anak harus selalu diperingatkan tentang betapa berbahayanya permen-permen yang beredar di pasaran, atau jajanan yang dibuat dari bahan-bahan yang telah kadaluarsa. Bahkan ibu-ibu yang baru saja memomong bayi pun harus ekstra waspada saat memilih susu formula untuk buah hatinya.
Semasa kecil, aku suka berbicara sendiri di kamar mandi sembari memainkan orang-orangan (entah apa nama mainan ini, berbentuk serupa tokoh-tokoh kartun) dan menciptakan dialog seenak hati, mungkin seperti dalang saat bermain wayang. Jika sudah bosan, maka aku akan keluar rumah dan bermain gundu atau sepakbola, adu umbul, petak umpet, gobak sodor atau lompat karet, bahkan setiap bulan sekali aku bersama teman-teman sekampung pergi ke gunung kapur untuk sekadar memunguti bola-bola kapur yang tercecer kemudian memancing di danau terdekat sembari menonton burung-burung beterbangan di kala senja. Sungguh aku sama sekali belum tahu bagaimana caranya berhadapan dengan komputer, apalagi jika harus selihai anak-anak sekarang yang gemar chatting dan rajin melongok status Justin Bieber di Twitter.
Saat ini, makin hari aku justru makin sering melihat anak-anak gemar berkhotbah dan bertingkah di layar kaca, mereka berlomba menjadi panutan sebayanya selayaknya parodi orang dewasa yang berebut tiket untuk menjadi idola baru.
Agaknya, kemajuan pesat yang kita rasakan sekarang
membuat setiap orang tua terjebak di ujung tanduk, sedari awal mereka begitu gugup dan tergesa-gesa untuk mempersiapkan buah hatinya menjadi jawara. Atas alasan inilah yang seringkali juga membuatku terheran-heran, apa perlunya si belia yang bahkan baru saja belajar berjalan harus disekolahkan di sebuah lembaga bernama playgroup? Atau anak seusia SD yang harus diikutkan dalam berbagai lembaga bimbingan belajar atau kursus-kursus sepulang sekolah dengan jadwal teramat padat?
Puluhan alasan digelontorkan, dan semuanya akan mengarah pada satu kesimpulan— setiap anak harus berprestasi dan cepat beradaptasi dengan dunia esok yang segera ditapakinya. Sehingga artinya juga menimbulkan satu kesimpulan lainnya—setiap orang dewasa harus pintar mengarahkan si anak demi kesuksesan yang diinginkan.
Ah, sungguh berat tugas yang mereka emban.
Dan aku kembali teringat, pada usia seperti itu, aku justru bermain kesana-kemari tanpa kenal waktu, mempelajari banyak hal baru tanpa harus terbelenggu ke dalam sebuah institusi atau lembaga. Jika salah biarkan saja itu menjadi kesalahan, tanpa perlu waspada agar selalu melakukan sesuatu yang benar. Tepat kiranya apabila George Santayana pernah mengetengahkan keresahan bahwa anak-anak yang hanya dididik di sekolah sesungguhnya adalah anak-anak yang tak terdidik.
Seharusnya kita memahami konsep ‛bermain‛ dengan sudut pandang seliar mungkin.
Bermain berarti mengalami ekstase spontanitas. Bermain adalah tahapan untuk memerdekakan kreativitas, bukan malah memenjarakannya. Bermain memiliki esensi yang penuh makna sebagai sebuah upaya untuk menjauhkan diri dari kungkungan dominatif. Di tengah kepungan kapital yang semakin buas dalam mengomodifikasikan waktu dan aktivitas manusia seperti sekarang ini, maka anak-anak harus bebas. Mereka harus bermain atas imajinasi sendiri, bukan kontrol dari impian orang-orang dewasa yang dipenuhi simbol atau imaji manipulatif hasil rekayasa iklan korporat.
"The creative adult is the child who has survived."
— Ursula K. Le Guin
Oleh karenanya, bermain bukan merupakan pertanda kemalasan. Bermain bukan merupakan hal yang sepele dan tidak bermanfaat. Justru ia menciptakan produktivitas tersendiri, yang mungkin takkan pernah selaras dengan sudut pandang akumulasi
| profit. | Sebab | ia memaksimalkan |
|---|---|---|
| waktu luang dan melawan belenggu | ||
| keterasingan. Bermain juga memiliki | ||
| esensi ekspresi, potensi | untuk | mengaktualisasikan dan hasrat dalam |
diri individu, yaitu apa yang disebut sebagai kebebasan, kesenangan dan kepuasan. Tak seharusnya anak-anak dilarang bermain, apalagi keluar rumah.
Namun, semua ini bukannya tanpa hambatan.
Masa sekarang adalah ajang kompetisi dan pemenuhan artifisial. Sehingga anak-anak harus segera dipelonco agar dapat memasuki dunia baru yang sesungguhnya, meski belum waktunya, sebab seringkali bukan pada tempatnya.
Ernest Hemingway pernah
melalui novel ‚The Little Prince‛-nya yang masyhur itu juga berupaya menggugat dan mengadili perilaku orang dewasa yang seakan-akan tampil arif dan mulia di hadapan anak-anak, pasalnya si orang tua sekaligus orang-orang dewasa di sekelilingnya merasa telah meluangkan banyak pengorbanan demi kemajuan sang anak. Padahal? Ada banyak kesalahan yang perlu dikoreksi ulang.
Kapitalisme telah berhasil merasuki setiap sendi keseharian manusia, tak luput anak-anak. Mereka digembalakan oleh selera pasar, orang-orang dewasa yang memiliki pengaruh dan otoritas terhadapnya, para pelaku industri, selebritas, termasuk para pengajar serta orang tua mereka sendiri. Kapitalisme mewujud ke dalam aneka rupa—kelucuan tokoh-tokoh animasi Walt Disney, figur-figur Nickelodeon yang aneh dan eksentrik, kegagahan pasukan robot Transformers hingga sihir-sihir dalam petualangan Harry Potter.
Di dalam Alkitab, disebutkan sebuah nama yaitu "Leviathan"—sesosok monster laut
| mengemukakan | adanya | kekeliruan |
|---|---|---|
| besar mengenai kebijaksanaan orang | ||
| tua—sebab | sesungguhnya | mereka |
| tidaklah | bertambah | bijaksana, |
raksasa yang berbahaya. Bahkan Thomas Hobbes juga pernah mengilustrasikan Leviathan sebagai fenomena di kala negara menjadi ekspresi terluhur dari kedigdayaan melainkan bertambah hati-hati. Tak heran jika Antoine de Saint-Exupery
zaman. Keduanya menyajikan interpretasi yang begitu menakutkan. Di lain pihak, istilah Leviathan juga dipakai Fredy Perlman, dalam bukunya "Against His-story, Against Leviathan", untuk menggambarkan ’peradaban’ sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan dahsyat dan cenderung destruktif.
Jadi, bagaimana jika Leviathan yang kita hadapi sekarang
tidak memiliki raut muka yang ganas, alih-alih bertanduk ia malah memiliki rambut yang menawan, alih-alih kejam ia justru tampil dengan sosok lucu nan rupawan dengan sikap bak pahlawan hingga mampu membius kepolosan anak-anak?
Anak-anak bersiaplah mengencangkan sabuk pengaman, karena perlombaan telah dimulai lebih cepat!
SENI TELAH MATI.
"Artists speak out against the war for one week but serve the capitalists all year."
— Black Mask #4
"What I’m trying to do is point to a future when art will no longer exist as a category separate from life."
— Jerry Dreva
Di satu masa, Kahlil Gibran pernah menyiratkan renungan.
Seni orang Mesir adalah dalam ramalan.
Seni orang Khaldik adalah dalam perhitungan.
Seni orang Yunani adalah dalam perbandingan.
Seni orang Romawi adalah dalam gema.
Seni orang Cina adalah dalam tata cara.
Seni orang Hindu adalah dalam menimbang baik dan buruk.
Seni orang Yahudi adalah dalam rasa pesimis.
Seni orang Arab adalah pengingatan masa lalu dan pelebih-lebihan.
Seni orang Persia adalah dalam kerapian.
Seni orang Perancis adalah dalam kecermatan.
Seni orang Inggris adalah dalam analisis dan perasaan benar sendiri.
Seni orang Spanyol adalah dalam fanatisme.
Seni orang Italia adalah dalam keindahan.
Seni orang Jerman adalah dalam ambisi.
Seni orang Rusia adalah dalam kesedihan.
Berpuluh-puluh dekade lalu, gerombolan Dadais mendeklarasikan penghancuran seni karena mereka melihatnya sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Namun, mereka juga percaya bahwa seni dapat didefinisikan ulang sebagai sebuah pengalaman yang penuh sekaligus perayaan atas hidup. Di lain sisi, kaum Kiri justru mengklaim seni realisme sosialis sebagai sebuah
karya yang membawa pesan-pesan pembebasan dan perjuangan rakyat.
Banksy yang dikenal sebagai seorang street artist dengan pesan bernada satir dan menohok pun kini karya-karyanya tak lepas dari sasaran komodifikasi—bahkan bisa dibanderol hingga jutaan dolar menjadi jajaran koleksi bintang- bintang Hollywood filantropis seperti Brad Pitt dan Angelina Jolie.
Sementara itu, para insurgen Pemberontakan Paris 1968 memberikan peringatan di tembok- tembok kota bahwa ‚seni telah mati, jangan nikmati bangkainya.‛
Semenjak dulu, sebuah mahakarya seni memang dapat dihargai setara dengan biaya hidup rakyat Ethiopia dalam satu kampung untuk beberapa bulan. Apalagi jika karya tersebut sudah masuk ruang galeri atau pameran kelas wahid dan mendapatkan pengakuan dari para kurator atau intelektual ternama.
Ukiran penis kayu yang ujungnya dicocok peniti karya Made
Wianta pun dapat dihargai ratusan juta. Padahal banyak dijual di Bali di emperan-emperan cinderamata seharga 10 hingga 20 ribu rupiah. Atau instalasi toilet karya Marchel Duchamp (yang dinamai ‚Fountain‛) yang begitu diagungkan sebagai pencapaian avant-garde. Padahal itu hanya tempat untuk buang hajat yang tersedia dimana-mana.
Apakah ide telah menjadi begitu mahadaya? Ataukah justru ketenaran orang-orang itu yang membuatnya menjadi nampak begitu berharga?
Sebaliknya pada saat yang sama, bagiku, mungkin juga kamu, coretan-coretan pada kertas usang pun dapat menjadi sebuah karya seni, walau tak ada seorang pun yang pernah menganggapnya berharga, setidaknya untuk kita nikmati sendiri.
Jadi, sesungguhnya apa itu seni kalau ia telah melebur ke dalam segala ruang, dan mampu menjelma menjadi apa saja?
Ya Basta!
menunggang matahari di tengah indahnya geliat panas jalanan kukirimkan bala tentara yang mengepal cinta dan harapan Black Bloc pasca Seattle, Praha, Genoa, Oaxaca, Vancouver hingga Jakarta ribuan mimpi satu barisan tanpa bendera negara
kami menolak menjadi hamba, kami ludahi tahta para paduka layak martir Haymarket yang menggoncang nyali barisan pekerja bukan dengan topi di kepala tapi dengan sebuah senapan di genggaman kami adalah ancaman bagi kalian yang merangkai dunia dalam plot kekuasaan
karena utopia tak lagi dalam fiksi Ursula Le Guin atau mitos surga khayalan kami wujudkan dalam karnaval libertarian melawan para pemodal jaringan suara yang tak sekedar hanya bicara dengan nyali tersumpal bukan tanah bukan kuasa, bukan dogma bukan moral kamilah api klandestin serupa mentari di ujung mimpi yang sepekat aspal
ya basta!
seruan ini adalah barikade kontra hegemoni jejak tengik para nasionalis oportunis pemuja hirarki di balik selubung balaklava gerombolan Zapatista yang menolak monopoli kami hantarkan neraka di dalam poros surga ala Yunani
panjang umur insureksi. matilah tirani.
MYTHOPOESIS
Bayangan Masa Lalu Menawan Masa Depan.
"A match used to show off like this: I'm able to set a barn on fire! I can set fire to a petrol tank, the seat of a ministry, an Etruscan museum, whatever! Why not just say you're able to light the gas and boil the soup? We always show off about the worst things."
— Gianni Rodari, Minimal Fables
Di Indonesia, kita hanya mengenal dua jenis musim, hujan dan kemarau. Begitu juga dengan sejarahnya, penuh dengan kemarau yang lantas dibabat hujan. Menetes hingga ke sela-sela, merasuk bahkan memporak-porandakan. Kemarau dan hujan, musim yang kadang menguntungkan pun mengenaskan. Tapi di Italia, bagian dari benua Eropa yang terapit diantara Libya dan Yugoslavia ini, mengenal berbagai macam musim.
Musim di saat para pekerja dan aktivis turun ke jalan untuk mengguncang kekuasaan politik. Musim di saat kobaran api perlawanan membuncah di dalam hati para insurgen-insurgen Italia. Antara tahun 2000-2002, gerakan insurgen Italia dimetaforakan dengan nama sebuah musim, yaitu La Primavera dei Movimenti (The Springtime Movements) atau
Gerakan Musim Semi. Bukan pertama kalinya sejarah perlawanan Italia menasbihkan nama musim pada gerakannya. Di tahun 1969, yang menjadi tahun perjuangan pekerja pabrik yang terbesar di Italia, mengambil nama Autunno Caldo (Hot Autumn) atau Gerakan Musim Gugur yang Panas.
Sepanas keringat para pekerja, sepanas hati dari kondisi sosial yang memiskinkan. Maka seiring musim gugur berganti, mitos-mitos dari semangat perlawanan generasi lampau ini dapat mempercerah lahirnya musim semi, cahaya-cahaya perlawanan yang semakin membesar dan menyebar bagai virus yang menghidupkan. Karena bantuan sebuah cerita, sebuah mitos, sebuah dongeng akan kebebasan. Suatu masa di satu musim, dimana semangat akan perubahan sosial berkobar bagai api di jalanan-jalanan Genoa.
Konflik sosial adalah sesuatu yang endemik dan alami. Karenanya penggunaan metafor musim adalah juga sesuatu yang menghidupkan sekaligus relevan.
Musim kemarau di Indonesia adalah musim yang mematikan dan tidak menyalakan, karena bahasa kita menginginkannya
seperti itu. Musim kemarau selalu menjadi cerita-cerita sedih realitas, seperti PHK buruh, kemelaratan, kekeringan dan kekerasan-kekerasan sosial lainnya. Seakan-akan realitas sosial selalu menjadi syair Wiji Thukul yang mendendam karena kemelaratan yang dialaminya.
Orang-orang yang tergabung dalam partai revolusioner pun memiliki cerminan seperti ini. Berteriak-teriak di depan megafon di bawah terik matahari demi menyuarakan ketertindasan rakyat, kemelaratan orang miskin, sebuah ketidakberdayaan sosial. Tapi drama- drama sedih perlawanan ini semakin memanaskan musim kemarau, mengeringkannya, melelahkannya, di tengah beragam cerita keterpurukan. Sinar matahari itu melemaskan di kala tengah hari. Karena itu kita butuh segelas air dingin bukannya cerita melankolis ketidakmampuan.
Satu poin dari konsep manipulatif bunuh diri kelas adalah kepatuhan—karena itu pasifitas justru menjadi pemerkuat konsep ideologis ini. Dimana nyala obor dipegang elit-elit revolusioner, sementara yang lain hanya mengikuti dari belakang dalam gelapnya kepatuhan. Lantunan lagu ‛Darah Juang‛ sekadar seperti menceritakan kisah menyedihkan sebuah perjuangan.
Seberapa sering api resistensi dan amarah kita ditelan konsep-konsep buta tentang kedamaian, tata-krama dan kesenyapan sosial?
Seiring bergantinya hari demi hari, dari musim ke musim, kita selalu melebur di dalam bahasa yang melemahkan inisiatif kita sendiri. Bahasa yang tidak berjiwa besar, bahasa bangsa Timur, bahasa berkasta sudra. Tahun 1965 dan peristiwa PKI, sebuah rentetan pembantaian hingga penghujung abad 20 demi memperkuat jaring- jaring kapitalisme.
Seberapa sering kita dibungkam ketakutan, oleh penguasa, oleh diri kita sendiri? Atau cerita-cerita paranoia terhadap kekuasaan yang lebih besar dari diri kita sendiri? Atau konstruksi sosial yang menolak menerima bahwa perlawanan harus bersemi dan kontradiksi harus ditajamkan? Tahun 1998 dan perjuangan berdarah para aktivisnya malah dianugerahi sebagai ’tragedi’. Dan klimaksnya diagungkan sebagai kemenangan demokrasi, yang sebenarnya hanya klimaks dari oposisi-oposisi kekuasaan politik dalam memanipulasi reformasi.
Musim hujan yang terlalu dirayakan sebagai kisah heroisme beberapa invididu, bahwa reformasi adalah tentang kemenangan para komandan mahasiswa yang kemudian menjadi pejabat berdasi setelah orasi mengatasnamakan rakyat. Dan cerita perlawanan pun menjadi sekadar sebuah monumen, sebuah dongeng imajinatif yang buruk.
Apa yang kita butuhkan sekarang ini adalah sebuah mythopoesis—proses sosial dalam membangun mitos. Apa yang dimaksudkan disini bukannya membuat cerita palsu, tapi cerita yang telah terjadi dan disebarkan, diberitahukan kembali dalam metafora, yang dilakukan berbagai macam komunitas yang luas. Cerita yang mungkin saja dapat melahirkan semacam ritual, serupa semangat akan keberlanjutan dari apa yang kita lakukan sekarang dan apa yang telah dilakukan kemarin.
Sebuah tradisi, kata latinnya adalah ’tradere’, dan artian bahasa Indonesianya adalah ’mewariskan sesuatu’. Sebuah tradisi yang tidak mengindikasikan adanya kebertetapan, konservatisme, ataupun sebuah respek masa lalu yang dilebih-lebihkan. Tapi tradisi yang mewarisi semangat keberlanjutan akan perlawanan,
cerita indah hidupnya kembali resistensi.
Mythopoesis yang dimaksud disini bukanlah pengagung-agungan akan masa-masa yang sudah lalu. Bukan ambisi buta kaum Kiri yang ingin menghidupkan kembali mayat Lenin. Bukan pula romantisme para anarkis yang menulis biografi menakjubkan dari Mikhail Bakunin, Alexander Berkman ataupun Emma Goldman.
Mythopoesis bukanlah cerita imajiner yang menghidupkan masa lalu dan melemahkan masa sekarang. Sebaliknya, mythopoesis adalah cerita dari musim ke musim yang berniat membangkitkan musim yang selanjutnya. Ini adalah alasan vital mengapa kita butuh mythopoesis.
Kita hidup bersama dengan menuturkan dan mendengarkan cerita. Bahasa sehari-hari kita, ingatan kita, imajinasi kita dan kebutuhan kita yang mendalam untuk membangun komunitas adalah alasan yang membuat kita merasa menjadi manusia yang hidup. Kita butuh mitos, kita butuh mitos tanpa pahlawan yang harus diikuti ataupun ditolak. Kita butuh mereka untuk membentuk diri kita sendiri, perlawanan kita sendiri.
POST-MORTEM
"Life is the farce which everyone has to perform."
— Arthur Rimbaud, Saison en Enfer
Di dekade yang lalu, perjuangan reformasi menunda pembukaan jalan bagi perubahan sosial yang mendasar. Teriakan- teriakan ‘revolusi sampai mati’ tidak lebih sekadar lagu penyemangat bagi agenda-agenda kabur reformasi. Mahasiswa-mahasiswa berlabel ‘progresif’ yang terlalu banyak gaya menenteng megafon, aktivis-aktivis yang omong besar tentang kepemimpinan dan birokrat-birokrat politik yang selalu menjual nama rakyat.
Kita berada di bawah kerudung budaya mati. Kita mewariskan sampah dari generasi ke generasi. Dan mitos-mitos perjuangan masih berkeliling di kisaran pahlawan-pahlawan Diponegoro era reformasi. Gerakan ‘98 sudah bertahun-tahun mati, dan kenapa juga mayoritas dari kita masih saja larut dalam romantisme dan menginginkannya hidup kembali?
Apabila di Italia, tewasnya seorang aktivis anti-globalisasi, Carlo
Giuliani, yang terbunuh oleh polisi, diperingati sebagai hari di saat gerakan anti-kapitalis di Genoa makin menguat, mengapa kita harus larut dalam ritual tangis-menangisi Tragedi Mei 98? Media, pemerintah, bahkan militer berlagak menyesali semuanya, dan saling bermaafan, seakan-akan konflik sosial ini hanya masalah remeh salah paham antar anggota keluarga. Para mahasiswa yang beremblem radikal dan revolusioner pun memaklumi ini semua. Ibarat perang kelas dapat diselesaikan di setiap hari Lebaran.
Apa warisan yang kita dapat dari perjuangan generasi lalu, warisan yang dapat kita adaptasikan dengan kondisi kita sekarang? Setelah tahun-tahun mati yang tidak bergelora, apa yang kita dapat selain hanya fetisisme peranan mahasiswa maupun figur-figur heroik semacam Marsinah, Munir, Aung San Suu Kyi atau Hugo Chavez? Fakta bahwa ‘98 dan mitosnya tidak membawa kita kemana-mana, selain puja-puji berlebihan atas momen tersebut.
Di bawah tanah, kultur hc/punk merebak dengan anarkisme. Kolektif demi kolektif bermunculan lantas kolaps tanpa agenda yang konkret. Bentuk sporadik yang gagal membangun komunikasi antar skena dan mati tanpa melahirkan perspektif yang mapan. Kolektif
anarkis yang masih mempraktekkan dominasi dan hirarki, kelompok hc/punk yang feodal, dan mahasiwa- mahasiswa pseudo-revolusioner ala Che Guevara—kita belum beranjak dari ini semua, kita masih dihantui tradisi usang, kita belum mengerti untuk memisahkan air yang bersih dan yang keruh.
Sebuah idiom berbunyi ‛sementara kita membuang bekas air mandinya kita tidak seharusnya membuang bayinya juga‛.
Mythopoesis berhubungan dengan hal tersebut, karena cerita mitos yang baik tidaklah dibentuk dari penerimaan terus-menerus atas tradisi sebelumnya. Kita butuh cerita untuk didekonstruksikan. Kita membutuhkan penciptaan musim manakala konflik sosial yang vertikal mulai menajam. Kita perlu meninggalkan masa lalu.
IKONOFILIA
ADALAH PENYAKITNYA
"If science fiction is the mythology of modern technology, then its myth is tragic."
— Ursula K. Le Guin
Apabila perjuangan kemarin telah tergantikan dengan makin suburnya LSM, apabila seniman radikal adalah para pelukis realisme sosialis yang nyatanya hanya doyan lelang lukisan, apabila gerakan revolusioner hanya berkutat di sekitar PRD yang sesungguhnya sudah lapuk dan menunggu mati, apabila kanal perubahan hanya disalurkan pada kejumudan organisasi-organisasi eksternal mahasiswa yang impoten.
Apabila dominasi kolektif dan imaji otonomi hanya terus-menerus berada di sebuah nama Kontra-Kultura, apabila lirik-lirik mengancam hanya berhenti pada kegilaan konsumsi atas rilisan-rilisan Grimloc Records seperti Homicide, Jeruji, Taring, dsb—maka pernyataan Raoul Vaneigem makin nampak vulgar bahwa harapan terakhir dari para penguasa adalah membuat semua orang menjadi pengorganisir atas ketidakberdayaan diri mereka sendiri.
Hari kemarin, musim yang lalu, satu dekade terlewat, berabad lalu kita hidup dan berkembang di dalam kontradiksi. Kita menua dan layu terbantai, kita berada di ujung senapan dan pedang atau berakhir di kuburan, mungkin juga sungai- sungai dan perkantoran. Tapi kini, baru saja kemarin aku dan kamu saling bertukar media independen yang kita produksi sendiri. Baru kemarin kita berada di pinggir jalanan berbagi teori marxis David Harvey, anarkisme Peter Kropotkin atau ekologi-sosialnya Murray Bookchin.
Baru kemarin kita menanggalkan segala macam dogma, atau rasanya seminggu lalu aku dan kalian masih sering berbincang tentang kebusukan peradaban modern. Baru kemarin kita membangun kolektif ala kadarnya, menginisiasi Food Not Bombs diselingi lapakan gratis di berbagai taman kota, dan merangsek ke beberapa kampus untuk berbagi ide perlawanan. Beberapa dari kalian bahkan lari meninggalkan gedung kosong tempat kita tidur dan berdiskusi setelah diserbu aparat.
Dan sekarang kita tercerai berai tanpa ada benang yang mengikat? Terhempas dimana
momen-momen itu semua, sudahkah tertelan ganasnya musim panas? Sudahkah kita berhenti untuk menuturkan kisah, menentang penguasa, melecehkan hirarki, menghancurkan konstruksi sosial yang membunuh hasrat?
Cerita-cerita kita belum lagi muncul ke permukaan, kawan. Banyak isu bahwa kita telah porak- poranda oleh ide kita sendiri, bahwa kita tidak mampu memecahkan problem hubungan interpersonal kita sendiri, bahwa kita takut akan kontradiksi internal. Fakta bahwa kita kembali menjadi penonton. Kita telah terbenam dalam bahasa, dan takjub oleh spektakulernya ’dunia tontonan’.
Kita telah terjerembab, sementara militer membantai lagi, kita terus diam dan media arus utama mulai berbicara, memanipulasi. Kita berada di balik kaca kendaraan bermotor yang berbeda dan BBM terus meroket. Mereka melakukan liberalisasi dan merayakan globalisasi dan kita terus tercerai-berai berdiam diri.
Kawan, di kota-kota di Italia, di Yunani, di Spanyol, dan wilayah Eropa lainnya, para aktivis membangun social center dimana-mana, bahkan membuat dewan kota melegalkan keberadaan mereka. Tapi
ini pun bukanlah sebuah kondisi yang damai. Serangan dari fasis dan polisi masih sering terjadi, dan para aktivis masih sering menghadapi tuntutan pengadilan.
Di Chiapas, para pejuang bertopeng dengan nama Zapatista mengupayakan demokrasi langsung bagi warga, dan terang-terangan mempecundangi kapitalisme selama beberapa dekade.
Di Chile, dinamika pertarungan ideologis antar federasi gerakan mahasiswa mampu menghantam jantung birokrat dan melahirkan berbagai transisi luar biasa bagi kehidupan masyarakat luas.
Di Rojava, pria-wanita bergerak secara militan, berperang melawan rezim Turki, sekaligus
bereksperimen dengan kehidupan swakelola—sebuah demokrasi tanpa negara.
Di berbagai ibukota kapital di dunia, mitos perlawanan mulai bersemi, meramu cerita bagi generasi selanjutnya agar mereka dapat menuliskan ceritanya sendiri.
Air dan angin dari konflik sosial telah membawa kita ke banyak contoh pengalaman. Di antara pasir dan batu masih banyak bongkah emas yang masih bisa digali. Cerita adalah sekop. Begitulah seharusnya kita menggunakannya. Tapi juga bukan sekadar membuatnya sebagai cerita. Karena, yang dimaksud dengan cerita, pembuatan mitos, adalah sesuatu yang nyata, yang dibuat dari darah, daging, dan kotoran.
PEMIKIRAN, KATA-KATA &
AKSI LANGSUNG!
"Mereka mengabaikan nyanyian dan barisan demonstrasi kita, tapi dapatkah mereka mengabaikan batu dan bata? Inilah saatnya untuk melakukan sesuatu lebih daripada sekadar bicara saat mereka telah mengabaikan aksi demonstrasi damai!"
— Aus Rotten
Mimpi dan khayalan merupakan pupuk dari perubahan sosial. Dunia memang berubah, dan akan terus berubah karena orang-orang membuatnya berubah. Kunci menuju keberhasilan suatu perubahan adalah solidaritas—yang dapat berarti apapun dari sekadar menjadi tempat curhat hingga memberikan amunisi.
Solidaritas adalah sesuatu yang kuat, komunitas yang bersatu, menarik garis dari masa lalu tentang berbagi pengalaman dan mengalami kesulitan, memapankan jaringan kontak dari berbagai individu ataupun organisasi dan mendukung semua tindakan melawan ketidakadilan dan penindasan. Sejarah ada di sisi kita—kita bisa dan akan mempunyai harapan untuk menang.
Aksi langsung (direct action) adalah berarti juga memilih pola
otonom dengan secara langsung menghadapi masalah yang ada di hadapan kita tanpa harus melemparkan masalah pada orang lain ataupun meminta ijin terlebih dahulu dari politisi, birokrat atau semua pecundang yang duduk di kursi kekuasaan. Ini juga berarti berjuang untuk mengontrol hidup kita sendiri dan berusaha untuk secara langsung memberikan efek pada dunia di sekeliling kita, mengambil tanggung jawab untuk setiap aksi yang kita lakukan dan definisikan sendiri.
Aksi langsung telah menjadi bagian integral dari resistensi semenjak manusia ada. Iklim politik pemerintahan melihat aksi langsung sebagai sebuah bentuk taktik protes yang cepat meraih popularitas, dan saat ini pemerintah semakin mahir dalam menangani para pembangkang. Negara dipersenjatai penuh, diproteksi dan telah terbukti berhasil mengubur siapapun yang tidak setuju dengan keputusan mereka. Lihat pula keberhasilan mereka dalam memutarbalikkan fakta, seperti selalu menyalahkan kekerasan, termasuk penghancuran properti, kepada diri kita.
Tatanan masyarakat modern menerapkan sebuah sistem di mana segala bentuk protes dan ketidaksetujuan harus ditampung
melalui representatif negara dahulu sebelum diperdengarkan pada publik. Dan hasil yang selalu kita dapatkan apabila menyampaikan keluhan kita melalui representatif negara hanyalah satu: aksi demonstrasi di jalanan yang kita organisir selalu diabaikan, tidak ada media massa yang akan meliput dan mempopulerkan isu yang kita bawa, dan barisan polisi maupun militer telah siap mengganyang kita.
Demokrasi telah membuat kekuatan perubahan terlepas dari tangan kita. Suara protes secara hati-hati dikontrol—semua problem dan solusi diserahkan pada para birokrat dan politisi untuk menentukan mana yang benar dan salah. Kekuatan kita semakin tereduksi dan semua yang kita harapkan boleh kita utarakan hanya melalui kotak pemilihan suara yang disodorkan setiap lima tahun sekali.
’negara miskin’) hidup seperti kecoa dan tikus got. Sistem yang diterapkan oleh kapitalisme telah sedemikian kuat. Kita didorong untuk mengonsumsi apapun yang ditawarkan sekeliling kita. Jadi apa yang perlu diprotes? Diri kita sendiri.
Memang menyedihkan saat menyadari bahwa ancaman terbesar yang dihadapi planet ini adalah spesies manusia.
Pengeksploitasian manusia, binatang dan kekayaan alam masih terjadi di seluruh dunia, alasan tindakan tersebut adalah masih diperlukannya profit demi membiayai gaya hidup mewah kita sehari-hari. Lebih dari 80% populasi dunia saat ini tinggal dalam kondisi kemiskinan yang parah dan semuanya bermimpi untuk hidup mewah, namun mereka tak mampu, dan bumi tidak memiliki cukup sumber daya untuk mendukung impian ini.
Faktanya, kekayaan alam dengan cepat dikeruk hanya untuk mendukung gaya hidup mewah segelintir manusia yang tinggal di negara dunia pertama, para pemerintah serta konglomerat di seluruh dunia. Selain segelintir manusia tersebut? Semua hidup dalam dunia fantasi yang haus untuk mengonsumsi. Kita hidup di dunia
"Kalau kamu tidak sibuk karena kamu telah dilahirkan, maka kamu pasti sedang sibuk berbelanja."
— Angry Brigade
Kita yang tinggal di negara miskin (definisi ’negara berkembang’ hanyalah perhalusan dari kata
yang memiliki begitu banyak produk, tetapi harga yang harus dibayar adalah pembantaian massal melalui pemiskinan.
Saat berlangsung protes anti-WTO beberapa tahun lalu, seorang petani asal Karnataka, India, mengatakan,
"Kami tidak ingin amal dan belas kasihmu semua. Mereka yang tinggal di utara seharusnya dapat mengerti perjuangan kami dan menyadari bahwa ini adalah juga bagian dari hidup mereka. Dimana-mana yang kaya selalu bertambah kaya, yang miskin semakin miskin dan lingkungan semakin mendekati kiamat. Tidak peduli dimana kita tinggal, di belahan bumi utara atau selatan, kita telah menghadapi masa depan yang sama. Globalisasi seharusnya berarti bahwa kita ingin mengglobalkan kemakmuran masyarakat dunia, bukan mengglobalkan bisnis. Karena hidup bukanlah sebuah bisnis!"
Negara dunia ketiga hidup dari sampah, limbah dan sekarat atas kerakusan mereka yang hidup di
negara dunia pertama. Perjuangan yang dilakukan oleh kita yang hidup di negara dunia ketiga bukanlah sekadar perjuangan melawan dominasi korporasi multinasional ataupun rezim diktator dan militer, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Gerakan resistensi anti-globalisasi di India, Afrika dan Amerika Latin sangat besar dan itu diinisiasikan demi mengambil alih kontrol atas diri mereka sendiri.
Apakah kita bisa menyamakan gerakan tersebut dengan gerakan mereka yang ada di negara dunia pertama?
Di Meksiko, pada tahun baru 1994, kelompok Zapatista membebaskan daerah Chiapas dan menjadikannya wilayah otonom bagi kaum Indian agar terlepas dari sistem eksploitatif yang dipaksakan para kapital dari negara dunia pertama kepada mereka. Perempuan dan anak-anak, telah mengangkat senjata untuk melindungi diri mereka dari dominasi kulit putih yang tinggal di negara dunia pertama.
"Dunia kita eksis hanya sebatas sejauh telepon kita dapat berhubungan, mobil kita dapat lalui, modem kita dapat koneksi, dan televisi kita dapat tayangkan."
— His Hero is Gone
Zombie-zombie konsumen itu adalah dirimu dan diriku, adalah sesuatu yang sangat vital guna memperkuat ataupun memperlemah mata rantai dari eksploitasi global ini. Kita sangatlah rapuh, tapi kita dapat mengubah pola pikir kita, kita dapat mengikuti ataupun menolak budaya konsumtif—jaringan swakelola ini adalah milik kita, kita mempunyai pilihan disini, kita dapat mengatakan ya ataupun tidak, kita dapat memutuskan mata rantai ini, kita dapat menghancurkan mata rantai ini walaupun hanya sebagian kecilnya, tapi kita mampu. Sebab kata-kata tanpa aksi adalah bohong.
Boikot adalah menolak untuk berhubungan atau melakukan pertukaran dalam usaha untuk melemahkan atau menghancurkan sesuatu. Sangat sederhana.
Gunakan kekuatanmu, jangan beli kebohongan dan produk mereka, cari alternatifnya. Jangan pernah percaya kepada para kapital yang selalu berpura-pura peduli kepada konsumen seperti Coca Cola, McDonald's, Apple, Body Shop, Tesla, dan ratusan korporasi besar lainnya.
Mesin yang dijalankan kapitalisme masih berputar terus menerus, sedangkan untuk menghentikannya bukan pada masalah hasil produksinya tetapi mentalitas di balik produk tersebutlah yang harus dihancurkan. Untuk membuat perubahan nyata pada gaya hidup kita yang konsumtif berarti juga membuka ruang-ruang untuk memikirkan kembali seluruh hidup kita—tentang bagaimana kita hidup, bagaimana kita bereaksi, berkomunikasi, hubungan sosial kita, kerja kita, berapa banyak kebohongan dan kepalsuan yang telah kita ambil.
Ini adalah sebuah revolusi dalam diri kita sendiri—ini adalah tentang pengambilalihan kontrol, mengklaim kembali kekuatan
"Ini adalah ajakan untu menghentikan dan berpikir tentang apa yang para penjual katakan tentangmu, dan dunia dimana kamu hidup di dalamnya. Kamu adalah apa yang kamu konsumsi."
— A/Political
sebagai seorang individu. Ini adalah tongkat penyangga bagi resistensi kita melawan kapitalisme.
"Semakin banyak kamu mengonsumsi, semakin berkurang kamu hidup..."
— Angry Brigade
Kita perlu bergerak lebih jauh daripada hanya sekadar mengonsumsi produk ramah lingkungan seperti yang dikampanyekan Greenpeace atau WWF, grup-grup pencinta lingkungan, atau gaya hidup baru seperti gerakan ‛minimalis‛ sebagai alternatif bagi konsumen, kita harus melihat kepada sistem kapitalisme dan efek globalisasi sebagai akar dari banyak sekali permasalahan di dunia, mulai dari kepunahan spesies, eksploitasi pekerja hingga perang.
Korporasi multinasional adalah wajah buruk dari ketiadaan batas dari operasi kapitalisme. Mereka bebas menjelajahi dunia demi eksploitasi alam, pemanfaatan buruh murah dan manipulasi hukum perlindungan lingkungan. Perjuangan demi hidup yang menyenangkan, demi upah yang mencukupi, kesehatan dan keamanan masih sangat jauh dari selesai. Kita juga harus berpikir secara global—mengapa harus
membuat sepatu di Amerika saat Nike dapat menggunakan buruh-buruh upah rendah di Indonesia dan melipatgandakan profit bagi perusahaan? Invasi ekonomi mereka sudah sangat mengglobal, begitu juga seharusnya resistensi kita.
Pemerintah tidak akan pernah melakukan apapun guna membendung arus besar investasi korporat. Ini semua terserah kepada kita sendiri untuk menghentikan lingkaran roda eksploitasi ini. Kita harus melenyapkannya dengan diri kita sendiri, memboikot sistem mereka yang tidak adil dan tidak merata. Ini saatnya untuk bergerak jauh melampaui sekadar boikot produk dari korporasi.
Perhatikan lagi semua kejadian yang ada di sekitar kita, hal tersebut dapat membantu kita fokus pada kemarahan kita dan begitu banyak isu yang dibawa oleh kelompok-kelompok faksional. Aksi anti-WTO N30 dan May Day 2000 telah memperlihatkan kepada kita semua bagaimana berbagai macam organisasi, perserikatan, aktivis HAM, environmentalis, beraksi bersama di jalanan dalam menyerang musuh bersama yang sesungguhnya: kapitalisme.
Tapi ingat, kapitalisme adalah juga mengenai diri kita
sendiri dan bagaimana cara kita bersosialisasi dengan individu lainnya. Kapitalisme jauh lebih besar dan kuat daripada sekadar taraf level Nike ataupun Microsoft sebagai contohnya, tetapi kapitalisme juga berarti masalah ‛Dunia Baru‛, kios- kios rokok besar atau kecil, kapitalisme adalah tentang bagaimana para pekerja menjual diri mereka dalam sebuah relasi yang eksploitatif.
"Tetaplah jadi parasit, atau jadilah pejuang bumi."
— Paul Watson
Segala sesuatunya bermula dari diri kita sendiri. Jika kamu sedang berlari untuk menyelamatkan hidupmu dan seorang polisi berteriak "Stop!", akankah kamu berhenti?
Pemerintah merepresentasikan kekuatan uang, bukan kekuatan rakyat, bukan kekuatan bumi, dan selama ini kekuatan itulah yang selalu kita dukung dan kita beri kekuatan lebih. Pemerintah adalah satu-satunya sumber yang tak dapat dipercaya untuk memberikan keadilan kepada rakyatnya kecuali atas kepentingan pribadinya sendiri. Kita tidak perlu merasa berhutang pada pemerintah,
mereka menjadi makmur atas pajak yang kita bayar (dengan dibawah ancaman). Marahlah, karena ini dunia kita!
Berpikirlah tentang flora dan fauna sebanyak 20.000 spesies yang terancam punah setiap tahunnya; anak-anak kecil di Cina yang harus bekerja keras untuk membuat mainan yang kita utak-atik setiap harinya; buruh-buruh yang kesakitan dan kelelahan memproduksi pakaian dan sepatu yang kita kenakan. Garis batas antara legal dan ilegal harus kita hapuskan. Saat ketidakadilan menjadi sebuah hukum, maka resistensi menjadi tugas kita. Sebab kita mempunyai kewajiban untuk melindungi bumi yang telah menghidupi kita beserta generasi mendatang.
Penghancuran alam adalah sebuah kejahatan yang tak pernah tercatat sepanjang sejarah manusia, dan hal inilah yang menuntut sebuah gerakan resistensi dari diri kita semua. Kita tidak perlu menunggu krisis kapitalisme—yang kita tahu bahwa hal tersebut sudah lewat dan entah kapan akan datang lagi.
Tak ada waktu untuk mengabdikan diri kita kepada sistem, tak ada waktu untuk memikirkan reformasi, karena setiap waktu yang kita miliki selalu tercuri oleh mereka
sangat tabu dan hanya bagian dari rutinitas para politisi dan birokrat. setiap ada kemajuan ekonomi. Kita harus mengklaim kembali hidup kita, bukan sekadar mengganti produk yang kita gunakan. Kuatkan dirimu, berhentilah menjadi bagian dari sistem eksploitatif ini dan fokuskan kemarahanmu!
Angry Brigade, Dutch Provo, Baader Meinhof Faction, 1st Of May, IRA, Black September, Weather Underground, dsb, semuanya melakukan pengeboman dan kampanye teror selama 1970-an. Earth First! dan Unabomber mengampanyekan perlawanan terhadap industrialisasi, mereka adalah sedikit dari contoh dimana agenda operasionalnya adalah bentuk aksi langsung dan pemerintah melihatnya sebagai aksi kriminalitas—tetapi hal-hal tersebut pulalah yang menjadi pondasi bagi para aktivis di seluruh dunia untuk mulai melakukan aksi-aksi langsung apapun bentuknya.
Kelompok-kelompok dengan isu tunggal seperti environmentalis, anti-rasis, serikat buruh, yang secara tradisional bergerak seperti kelompok reformis, saat ini sudah mulai menerapkan politik revolusioner dalam pola gerakannya. Sayangnya, di Indonesia hal ini belum biasa diterapkan karena politik dan revolusi masih dianggap sebagai sesuatu yang
"Dunia ini berada dalam saat depresi, tetapi harapan dapat ditemukan dalam diri mereka yang bisa, berani dan beraksi."
— Dave Foreman
Dan itu semuanya yang seharusnya dapat kita lakukan, saat semua sibuk berpikir soal penyusunan undang-undang, atau memikirkan soal mencari pemerintah yang lebih baik—kekuatan globalisasi telah meremukkan hampir semua gerakan protes. Gambaran yang besar beserta solusinya sekarang telah tampak sangat jelas. Ribuan kelompok anti-kapitalis telah mulai berkembang dimana-mana di muka bumi ini. Lalu, apa yang mereka lakukan?
Mereka menandatangani petisi dan pergi menuju aksi-aksi demonstrasi, mereka berpikir mengenai gaya hidup, aksi mereka dan efeknya; sebagian lainnya menghancurkan mesin-mesin milik korporasi, menghancurkan properti; mereka mempertanyakan segalanya, mereka membangun alternatifnya, mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri, mereka menghapus batasan yang ditetapkan pemerintah,
mereka menolak pemerintah dan beraksi langsung untuk mengubah kondisi dunia tempat mereka tinggal. Pendeknya, mereka meresikokan segalanya demi kehidupan yang lebih layak.
Tanyakan pada dirimu sendiri, siapa audiens kita? Apa pesan kita? Apakah ini adalah taktik terbaik yang dapat kita lakukan saat ini? Apa tujuan kita? Dan akhirnya, sejauh mana kesiapan kita untuk melakukannya?
Tetapi sebelum melancarkan aksi kita, selalu ingat bahwa kita juga perlu untuk mengubah diri kita sendiri, merombak pola pikir dan pola pandang kita serta cara kita bersosialisasi dalam hidup keseharian. Segala macam aksi adalah valid, tetapi menciptakan aksimu sendiri adalah sebuah sebuah langkah radikal kecil menuju dunia yang berbeda. Tanpa visi ini, aksi langsung menjadi tak berarti sama sekali.
Jika kita hanya fokus pada aksinya saja maka kita akan terjebak ke dalam sebuah gerakan yang reaksioner dan tidak mendasar sama sekali, sebuah gerakan yang sama sekali kebingungan akan siapa yang harus dilawan. Visi ini sudah barang tentu: revolusi!
"Jangan pernah tergantung pada pemerintah atau institusi untuk membuat perubahan. Semua perubahan sosial yang signifikan sepanjang sejarah manusia telah dilakukan oleh aksi-aksi individu."
— Margareth Mead
Seorang aktivis di Jakarta bertanya kepada manajer pemasaran dari Nestle tentang bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh kampanye boikot. Jawabannya adalah, "Tentu saja ada. Setiap seorang konsumen datang ke sebuah toko dan membuat keputusan untuk tidak membeli salah satu dari produk kami, hal itu sangat menyakitkan."
Lihat, kamu dapat menciptakan sebuah perubahan!
Tetapi sebagian juga berpendapat bahwa daripada kita mengampanyekan boikot, mengapa kita tidak mengampanyekan pencurian, perampokan atau pembajakan produk? Karena alangkah sulit untuk melepaskan diri dari kekangan dan jebakan sistem konsumtif ini. Memang kadang taktik-taktik tertentu tidak sesuai dengan diri maupun pola pandang kita. Tetapi itu semua terserah
kepada dirimu dan diriku sendiri untuk memutuskan dan memilih taktik.
Penghancuran properti dan
| vandalisme, | dianggap | sebagai | |
|---|---|---|---|
| sebuah | bentuk | kekerasan | dalam |
| kacamata | sistem | ataupun | moralis |
| yang | hipokrit. | Mereka | selalu |
| mengampanyekan | bahwa |
penghancuran properti hanya akan menyulut kekerasan negara sebagai reaksi terhadap tindakan tersebut. Kenapa? Karena properti adalah tulang punggung kapitalisme yang sangat lemah dan tak dapat mempertahankan dirinya sendiri— kapitalisme juga berawal dari
kepemilikan alat produksi dan properti, mereka mendewakan properti. Dan itulah yang paling mudah kita serang. Jadi, hancurkan sehancur-hancurnya!
"Mereka khawatir dengan beberapa kaca jendela yang kita pecahkan. Seharusnya mereka datang dan melihat sendiri bagaimana kekerasan telah dilakukan kepada komunitas kami atas nama perdagangan bebas."
— seorang aktivis Meksiko
Aku bahagia karena menyimpan utopia
di kotak pandora:
mengabadikan harapan.
TENTANG NEGARA, GERAKAN &
RETAKAN KAPITALISME
Wawancara Bersama John Holloway.
Berikut terjemahan wawancara antara Amador Fernández-Savater dengan John Holloway yang pernah dipublikasikan ROAR Magazine di situs resminya.
John Holloway adalah seorang pemikir ekonomi Marxis yang berhubungan dekat dengan gerakan Zapatista di Chiapas, Meksiko—kota yang telah menjadi kampung halamannya sejak tahun
- Bukunya yang berjudul ‚Change the World without Taking Power‛ sejak terbit di tahun 2002 telah menjadi bahan analisa maupun perdebatan di kalangan Marxis, anarkis dan lingkar-lingkar gerakan anti-kapitalis, di mana dia mengusulkan sebuah revolusi tanpa mengambilalih kekuasaan, melainkan justru menghancurkan kekuasaan.
Di wawancara ini—setelah apa yang terjadi satu dekade terakhir, sejak era pemerintahan progresif Amerika Latin hingga kemenangan Syriza dan ketenaran Podemos di Eropa—Holloway yakin bahwa mengubah dunia tanpa mengambilalih kekuasaan masih mungkin untuk dilakukan.
Menurutku ini penting, agar kita tidak terjebak pada pola-pola gerakan yang sesungguhnya telah
usang, misalnya, glorifikasi terhadap era Revolusi Bolshevik yang banyak dilakukan gerakan anak-anak muda yang mengklaim dirinya ‘progresif’ di Indonesia. Penting agar kita selalu terbuka terhadap pemikiran-pemikiran baru yang mengupayakan elaborasi segala macam taktik dan kemungkinan.
Sebab politik telah begitu membosankan, dan jangan lagi mempopulerkan kebuntuan- kebuntuan di saat kamu percaya kapitalisme bisa diruntuhkan!
Roar Magazine (RM):
Pertama, John, kami ingin bertanya dari mana ide
hegemonik tentang revolusi pada abad ke-20 berasal, dan apa yang
mendasarinya—seperti gagasan untuk melakukan perubahan sosial melalui merebut kekuasaan?
John Holloway [JH]: Saya pikir elemen terpentingnya adalah kaum buruh, yang diartikan sebagai pekerja-upahan. Dengan kata lain, pekerja yang teralienasi. Pekerja-upahan telah, dan masih, menjadi landasan dasar bagi serikat-serikat buruh, partai-partai sosial demokratis, dan juga bagi gerakan komunis. Konsep ini menjelaskan teori revolusioner dari gerakan buruh: perjuangan pekerja-upahan
melawan kapital. Namun perjuangan itu sempit karena pekerja-upahan merupakan pelengkap kapital, bukan negasinya.
RM: Saya tidak mengerti hubungan antara ide tentang pekerja dan ide tentang revolusi
melalui perebutan kekuasaan negara.
JH: Salah satu cara untuk memahami hubungannya adalah— jika anda memulainya dari definisi tenaga kerja sebagai pekerja-upahan atau buruh yang teralienasi, maka anda memulainya dari ide bahwa para pekerja ini merupakan korban dan objek dari sistem dominasi. Dan gerakan yang berjuang untuk meningkatkan standar hidup mereka (yang dianggap sebagai korban dan objek) akan selalu mengacu kepada negara.
Mengapa? Karena negara, yang terpisah dari masyarakat, merupakan lembaga yang paling ideal bagi seseorang yang ingin meraih keuntungan dari masyarakat. Ini adalah pemikiran tradisional dari gerakan buruh dan pemerintahan-pemerintahan kiri yang saat ini ada di Amerika Latin.
RM: Namun tradisi ini bukanlah satu-satunya
pendekatan terhadap politik pembebasan.
JH: Tentu saja tidak. Dalam 20 atau 30 tahun terakhir kita dapat menemukan banyak sekali gerakan yang mengklaim sesuatu yang lain: bahwa sangat mungkin untuk membebaskan aktivitas manusia dari kerja yang teralienasi dengan membuka celah di mana seseorang mampu melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang berguna, penting, dan bermanfaat bagi kita— suatu kegiatan yang tidak tunduk pada logika profit.
Celah ini bisa berupa spasial (tempat di mana hubungan sosial lainnya dibentuk), temporal, atau berkaitan dengan kegiatan atau sumber daya tertentu (misalnya, saling bekerja sama dalam kegiatan yang berdasarkan pada logika non-pasar yang ada hubungannya dengan air, perangkat, edukasi, dsb). Seluruh dunia, dan masing-masing dari kita, penuh dengan celah seperti ini.
Penolakan terhadap kerja yang teralienasi dan mengalienasi memerlukan, pada saat yang sama, kritik terhadap struktur kelembagaan dan organisasi, serta pola pikir yang muncul dari hal tersebut. Ini adalah penjelasan untuk penolakan terhadap serikat buruh, partai dan bentuk negara yang kita amati dalam banyaknya gerakan kontemporer,
dari Zapatista hingga Indignados di Spanyol atau Yunani.
RM: Tapi, saya pikir, itu bukanlah pertentangan antara
politik lama dan baru. Karena dari apa yang saya lihat dalam gerakan
yang lahir akibat krisis ekonomi adalah bahwa dua hal tersebut
muncul pada saat yang sama: celah-celah seperti aksi protes di alun-alun kota, dan partai-partai
baru seperti Syriza atau Podemos.
JH: Saya pikir itu merupakan refleksi dari fakta bahwa pengalaman kita di bawah kapitalisme sangat kontradiktif. Kita adalah korban, namun, di satu sisi juga bukan korban. Kita berusaha untuk meningkatkan standar hidup kita sebagai pekerja, dan juga lebih dari itu, untuk hidup dengan cara yang berbeda. Dalam satu hal, pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus menjual tenaga kerja kita untuk bertahan hidup. Namun di sisi lainnya, masing-masing dari kita memiliki mimpi, perilaku, dan proyek-proyek yang tidak sesuai dengan definisi kapitalis tentang kerja.
Kesulitannya, saat ini, terletak pada upaya untuk membayangkan hubungan antara dua jenis gerakan tersebut. Bagaimana hubungan tersebut dapat menghindari reproduksi
sektarianisme usang? Bagaimana hal itu menjadi hubungan yang bermanfaat tanpa menyangkal perbedaan mendasar antara dua perspektif?
RM: Argentina pada tahun
2001 dan 2002, Indignados, di
Spanyol dan Yunani baru-baru ini.
Pada titik tertentu, gerakan akar rumput, memasuki krisis atau
jalan buntu, atau mereka lenyap. Apakah anda mengatakan bahwa politik dari celah seperti itu
memiliki batas intrinsik dalam hal bertahan dan berkembang?
JH: Saya tidak akan menyebutnya sebagai batasan, melainkan permasalahan. Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya menerbitkan ‚Change the World without Taking Power‛, pencapaian dan kekuatan gerakan akar rumput lebih jelas, sedangkan saat ini kita semakin menyadari adanya permasalahan. Gerakan yang anda sebutkan adalah sinyal penting dari harapan, namun kapital masih terus eksis dan semakin buruk—hal itu semakin memerlukan lebih banyak penderitaan dan kerusakan. Kita tidak bisa membatasi diri hanya untuk memuji gerakan-gerakan tersebut. Itu belum cukup.
RM: Bisakah satu respon kemudian menjadi pilihan yang
berfokus pada negara?
JH: Bisa dimengerti mengapa orang-orang ingin pergi ke arah tersebut. Bertahun-tahun perlawanan sengit telah diupayakan, namun agresi kapital tetap tidak berubah. Saya sangat berharap Podemos dan Syriza memenangkan pemilu, karena itu akan mengubah kaleidoskop perjuangan sosial. Namun saya masih tetap menolak opsi negara.
Pemerintahan seperti ini memerlukan penyaluran aspirasi dan perjuangan ke dalam saluran kelembagaan yang memaksa seseorang mencari penyesuaian antara kemarahan yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan sosial dan reproduksi kapital. Karena keberadaan dari setiap pemerintahan melibatkan promosi reproduksi kapital (dengan mengundang investasi asing, atau melalui cara lain), tidak ada jalan lain. Hal ini berarti mengambil bagian dalam agresi kapital. Inilah yang telah terjadi di Venezuela dan Bolivia, dan hal ini juga akan menjadi masalah di Yunani dan Spanyol.
RM: Mungkinkah hal ini menjadi masalah yang melengkapi
gerakan akar rumput dengan gerakan yang berorientasi pada
lembaga pemerintahan?
JH: Itu merupakan jawaban yang akan terus berdatangan. Namun permasalahan dengan jawaban tersebut adalah bahwa hal itu menekan kontradiksi. Hal-hal itu tidak dapat direkonsiliasi dengan mudah. Dari atas, itu dapat menjadi kemungkinan untuk meningkatkan kondisi masyarakat, tapi saya tidak berpikir bahwa seseorang dapat memutuskan hubungan dengan kapitalisme dan menghasilkan realitas yang berbeda. Dan saya sangat percaya bahwa kita berada dalam situasi di mana tidak ada solusi jangka panjang untuk seluruh umat manusia di dalam sistem kapitalisme.
Saya tidak mendiskreditkan opsi negara karena saya sendiri tidak memiliki jawaban untuk diajukan, namun saya tidak berpikir bahwa hal itu (negara) merupakan solusi.
RM: Dimana anda mencari jawabannya?
JH: Meski tidak mempertimbangkan partai kiri sebagai musuh, karena bagi saya hal tersebut bukanlah permasalahan yang sesungguhnya, saya akan mengatakan bahwa jawabannya terletak pada pemikiran untuk memperdalam celah atau kemungkinan.
Jika kita tidak sepakat dengan pemusnahan umat manusia, yang mana, bagi saya, tampaknya menjadi agenda nyata kapitalisme, maka satu-satunya alternatif adalah untuk berpikir bahwa aksi-aksi pergerakan kita harus melahirkan sebuah dunia lain yang benar-benar baru.
Kita harus terus membangun celah-celah tersebut dan menemukan cara untuk mengenali, memperkuat, meluaskan, menghubungkannya; mencari tumpuan atau, yang lebih disukai, kebiasaan dari celah-celah tersebut.
Jika kita berpikir dari sisi negara dan pemilihan umum, kita menyimpang terlalu jauh dari hal tersebut (menciptakan dunia lain yang benar-benar baru), karena Syriza dan Podemos mungkin dapat memperbaiki keadaan saat ini, namun mereka tidak akan pernah bisa menciptakan dunia baru di luar logika kapital. Dan saya pikir hal inilah yang terjadi saat ini.
RM: Yang terakhir, John, bagaimana anda melihat
hubungan antara dua perspektif yang telah kita bicarakan?
JH: Kita perlu menjaga dialog terus berlanjut tanpa menekan perbedaan dan kontradiksi.
Saya pikir dasar dari dialog tersebut: tidak ada yang memiliki solusi.
Saat ini, kita harus mengakui bahwa kita tidak cukup kuat untuk meniadakan kapitalisme. Kuat di sini, maksud saya, adalah untuk membangun cara hidup yang tidak bergantung pada kerja-upahan. Dan untuk bisa mengatakan:
‚Saya tidak peduli apakah saya memiliki pekerjaan atau tidak, karena jika saya tidak memiliki pekerjaan, maka itu berarti saya bisa mendedikasikan hidup untuk hal lain yang lebih menarik minat saya sendiri dan memberikan kehidupan yang layak untuk dijalani.‛
Hal tersebut belumlah terjadi saat ini. Mungkin kita perlu untuk membangun hal tersebut lebih dulu sebelum mengatakan:
‚Go to hell, capital!‛
Dalam hal ini, marilah mengingat kembali prasyarat untuk Revolusi Prancis adalah bahwa, pada titik tertentu, jaringan sosial dari hubungan borjuis tidak lagi memerlukan aristokrasi agar bisa tetap eksis. Begitu pula dengan kita yang masih harus bekerja keras agar bisa mencapai titik dimana kita bisa mengatakan:
‚Kita tidak peduli jika kapitalis global tidak berinvestasi di Spanyol, karena kita telah membangun jaringan solidaritas yang cukup kuat yang memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan yang layak.‛
Saat ini kemarahan terhadap bank-bank telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Namun saya tidak berpikir bahwa bank adalah masalah utama, melainkan keberadaan uang sebagai hubungan sosial yang justru menjadi akar permasalahan.
Bagaimana seharusnya kita berpikir tentang kemarahan terhadap uang? Saya percaya hal ini
memerlukan pembangunan hubungan sosial yang tidak berlandaskan uang, tidak terkomodifikasi.
Dan ada banyak orang yang mendedikasikan hidupnya berupaya mewujudkan hal tersebut—baik itu karena hasrat, keyakinan atau kebutuhan—meskipun mereka mungkin tidak pernah muncul di media massa. Tapi mereka sedang membangun bentuk lain dari masyarakat, hubungan sosial, berpikir tentang teknologi dan kemampuan manusia demi menciptakan bentuk kehidupan yang benar-benar baru.
SETIAP ORANG
MENCIPTAKAN KATEDRALNYA
SENDIRI & MENGHANCURKANNYA!
komoditas-komoditas yang telah ada, baik melalui proses pencapaiannya maupun proses pembentukannya.
1.
"Freedom is the mother, not the daughter of order."
— Pierre Joseph Proudhon
Nilai kemapanan yang berlaku di masyarakat pada umumnya merupakan refleksi dari strategi konsumerisme yang diterapkan oleh korporasi-korporasi. Kemapanan diukur dari seberapa konsumtif seseorang. Dengan konsumsi tersebut, orang-orang lain akan menganugerahkan piagam penghargaan berupa kewibawaan, gelar dan tentunya kekuasaan. Kata mapan telah dimiliki para pemodal sejak massa mengamininya. Anti-kemapanan adalah terminologi negasi yang membawa logika tersebut, dan bukan berarti sebuah pembenaran untuk menjadi statis, nihil dan tidak produktif. Anti-kemapanan dapat berarti usaha untuk meminimalikan kadar konsumsi seseorang. Anti-kemapanan serupa kebebasan untuk berkehendak, untuk bergerak tanpa kekang, dalam harmoni, bukan tatanan koersif. Anti-kemapanan dapat juga berarti sebuah upaya kontinyu dalam pencarian alternatif atas
2.
"Men are truly free among the equality free men."
— Mike Buck-O-Nine
Kebahagiaan adalah nilai paling luhur. Inilah dikotomi antara kerja dan bersenang-senang. Kerja yang didasarkan oleh tanggung jawab, mereduksi harmoni ke dalam beban. Bersenang-senang didasarkan oleh rasa cinta. Ia takkan pernah menjadi suatu beban karena ia tak memuat nilai beban. Prinsipnya adalah kebahagiaan akan tercipta jika kebahagiaan terjadi di sekitarnya. Kebahagiaan yang separatis sewaktu-waktu akan menciptakan konflik, maka seorang individu akan tetap eksis dalam sebuah masyarakat begitu pula sebaliknya.
3.
"We carry a new world here, in our hearts. That world is growing this minute."
— Buenaventura Durruti
Tentu saja anarki adalah sebuah nilai yang sangat buruk bagi para penganut fasisme, nasionalisme, kapitalisme, seksisme, atau segudang isme-isme lainnya yang memberangus kebebasan dan kemanusiaan. Anarki tak perlu dibela dengan kata-kata klise seperti, ‚anarki bukanlah chaos,‛ atau ‚anarki baik untuk kesehatan,‛ dan omong besar lainnya. Anarki merupakan sebuah kekuatan yang subversif dalam logika pemikiran hierarkis. Selama sistem tersebut masih berdiri dengan tegak maka anarki akan selalu menjadi suatu hal yang buruk, dan ancaman atas apapun yang menyokongnya.
4.
"You can’t destroy a society by using the organs which are there to preserve it: any class who wants to liberate itself must create its own organs."
— H. Lagardell
Disiplin hanya diberlakukan bagi kambing! Maka dari itu di mata para aktivis Kiri, anarkis ibarat seorang anak kecil yang susah diurus. Anarkis adalah borjuis kecil yang tak pernah mau sepakat dengan segala bentuk kepemimpinan, karena memimpin adalah sebuah profesi yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan kondisi kerjanya. Anarkis, sebagai borjuis kecil, takkan pernah mau terjebak dengan determinisme dan strukturalis ala marxis, karena mereka adalah manusia yang sadar bahwa di dalam dirinya terdapat hasrat dan keinginan: terlalu manusiawi untuk dijatah, dikolektivisasikan secara paksa atas nama proletariat, dan digeneralisasikan. Manusia adalah kebebasan itu sendiri.
5.
Kebenaran adalah apa yang seharusnya ditertawakan!
6. "Love implies anger.
The man who is angered by nothing cares about nothing."
— Edward Abbey
Aku tidak merasa menghina diriku sendiri ketika aku memplagiat apalagi diplagiat orang lain, karena aku sadar betul bahwa segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan ide maupun materi, selama kita menggunakan media yang sama di dalam berkomunikasi, dalam konteks ini bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain, maka aku secara tidak sadar telah menjadi seorang plagiator. Setidaknya plagiator bahasa tersebut. Perasaan eksklusif merupakan sebuah perasaan khawatir dan takut di
dalam mempertahankan citra dan identitas terhadap logika kalah- menang. Selama manusia hanya akan dinilai dari seberapa banyak properti yang ia miliki, maka perasaan eksklusif akan tetap menjadi sebuah komoditas yang sangat laku di pasar. Namun jika manusia sudah dapat memperlakukan sesamanya tanpa pertimbangan properti, citra dan identitas, maka eksklusifitas dapat berubah menjadi sesuatu yang akan muncul dari diri seseorang itu sendiri. Sesuatu yang sangat tulus, tanpa pamrih, dan sesuatu yang tidak dapat diperjualbelikan. Kita tidak akan memerlukan citra dari hidup jika kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Menghidupi hidup dengan sepenuh-penuhnya.
7.
Jangan coba untuk memerdekakan aku, aku dapat melakukannya sendiri!
Sabda Zarathustra.
aku datang dari negerimu yang tak bernama bertaruh hidup menakar makna di tengah rimba aku tersesat memikul tanya bagaimana Tuhan dapat bersetubuh dengan pangkat dan angka?
tak disangka aku merajam ngeri ternyata jawab atas semua ini adalah sosok imaji
surga neraka adalah musuh selamanya tapi keduanya tak berpijak di dunia
cukup kita percaya.
perubahan untuk manusia : kita tidak butuh pemimpin dan negara.