Baca PDF (OCR): Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah Bagian 1: Badai Dimulai dari Setetes Air

48 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 137 ms

Daftar isi
  1. HINGGA SEMUA PENJARA RATA
  2. DENGAN TANAH
  3. HINGGA SEMUA PENJARA RATA
  4. DENGAN TANAH
  5. Hampir dua minggu setelah penangkapan baru aku bisa menulis.
  6. Pikiranku menjadi lebih jernih dan tubuhku mulai menyesuaikan diri
  7. dengan kondisi penjara. Aku meminta lima lembar kertas A4 dari penyidik,
  8. menyelundupkan sehelai tali laminasi dan sebuah pena, lalu melipatnya
  9. menjadi dua, merajutnya dengan kardus air mineral yang menjadi
  10. sampul buku. Pulpen dilarang masuk ke rumah tahanan, meski terkadang
  11. masih dibiarkan saat penggeledahan. Krisna menyelipkannya lewat celana dalam.
  12. Aku adalah penulis dan petualang, baik tubuh dan pikiranku berkelana sejauh mungkin.
  13. Aku membaca literatur yang membawaku dalam situasi yang terjadi hingga 400 tahun
  14. silam. Sebagai anarkis, aku tertarik dengan orang-orang yang bersemangat sama
  15. Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan menuju Yogyakarta,
  16. kami tertangkap dalam suatu penggeledahan di dalam bus ketika
  17. kami baru saja selesai makan dan hendak berangkat. Polisi meminta
  18. seluruh penumpang angkat tangan dan menunjukkan kartu identitas.
  19. Setelah melihat kartu kami, yang mana satu beralamat di Kalimantan
  20. dan satu lagi dari Yogyakarta, mereka segera memisahkan kami dari
  21. penumpang lain yang bahkan tidak digeledah.
  22. Di sel bawah tangga aku berulang kali menyebut nama kekasihku, berharap ia di sini
  23. menjemputku. “Aku rela menukar revolusi deminya,” ujarku. Pada malam pertama itu,
  24. aku masih sempat-sempatnya merancap dengan tangan sebelah yang terborgol. Harusnya
  25. malam ini aku bersamanya di Yogyakarta.
  26. Aku masih berharap agar terbangun di samping kekasihku. Tapi tiap kali mataku
  27. Ampun.
  28. leher dan pundak.
  29. Perkelahian pertamaku bukan dengan tahanan lain, tetapi dengan Krisna, akibat sesuatu
  30. yang bisa dikatakan sebagai salah paham serius. Di lantai dua, komunikasi antar
  31. kamar dilakukan dengan memanggil nama salah satu tahanan yang menghuninya. Yang
  32. paling sering disebut namanya adalah aku.
  33. Suatu hari, Mbak Ita, penjual dari kantin, menyerahkan secarik kertas pada kami di
  34. kamar 18 dan meminta agar kami menelpon nomor yang tercantum. Surat itu berbunyi:
  35. “Mbak Ita, tolong telepon nomor ibu aku
  36. 08xx xxxx xxxx bilang kalau aku dalam bahaya. Raden.”

HINGGA SEMUA PENJARA RATA

DENGAN TANAH

BAGIAN 1: BADAI DIMULAI DARI SETETES AIR

Bima Satria Putra

HINGGA SEMUA PENJARA RATA

DENGAN TANAH

BAGIAN 1: BADAI DIMULAI DARI SETETES AIR

Bima Satria Putra

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 5

Hampir dua minggu setelah penangkapan baru aku bisa menulis.

Pikiranku menjadi lebih jernih dan tubuhku mulai menyesuaikan diri

dengan kondisi penjara. Aku meminta lima lembar kertas A4 dari penyidik,

menyelundupkan sehelai tali laminasi dan sebuah pena, lalu melipatnya

menjadi dua, merajutnya dengan kardus air mineral yang menjadi

sampul buku. Pulpen dilarang masuk ke rumah tahanan, meski terkadang

masih dibiarkan saat penggeledahan. Krisna menyelipkannya lewat celana dalam.

Aku terbiasa mengetik dengan menggunakan laptop. Menulis manual jadi lebih terasa menantang. Susunan kalimatnya jadi berantakan dan kurang koheren. Lagipula disini juga berisik, gerah, sempit dan redup. Aku perlu menjaga penglihatanku tetap baik, memastikan bahwa tulisanku lolos dari razia dan sampai dengan selamat keluar dari penjara ke tangan tepat yang dapat menerbitkannya.

Buku ini akan berisi beberapa informasi sensitif yang mungkin beresiko memperburuk (atau memperbaiki) kondisi penjara, memperlama proses penyelidikan, atau merugikan tahanan lain. Beberapa tahanan jagoan mengingatkanku: “apa yang kamu lihat

6 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

dan dengar di dalam penjara, biarlah tetap di dalam.” Tapi aku memilih mengambil resikonya karena alasan yang akan dijabarkan di bawah.

Hingga beberapa tahun ke depan, aku akan secara rutin mengirimkan catatan harian yang mendokumentasikan kegiatan dan pikiranku. Ini juga bentuk terapi jurnal, untuk mengatasi beberapa jenis trauma yang pernah aku hadapi, seperti perasaan menyalahkan diri akibat kehilangan hubungan perkawanan, sekaligus untuk mempertajam daya ingat, merawat kewarasan dan harapan akan adanya sudut pandang baru sehabis membaca ulang serta merefleksikan kembali tulisanku. Tulisan ini juga akan menjadi semacam otobiografi, atau memoar, yang diterbitkan secara berkala. Secara pragmatis, aku menulis karena perlu mengongkosi biaya hidup selama di dalam. Jika aku bebas nanti, aku berencana menyatukan seluruh terbitan berkala itu menjadi satu buku.

Tapi pertama-tama, aku perlu bebas terlebih dahulu. Aku berkata demikian karena tahu konsekuensi hukum yang akan aku hadapi. Jadi begini: pada 3 Desember 2021, aku dan Krisna, tertangkap basah membawa 15 kg ganja kering dari Aceh. Aku menghadapi ancaman belasan tahun penjara hingga seumur hidup. Sebagai perbandingan saja, seorang tahanan menceritakan bahwa kawannya tertangkap di Lampung dengan barang bukti 6 kg ganja dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Hukumannya berat karena mereka melawan petugas sampai satu orang melarikan diri dan akhirnya ditembak mati di tempat. Disaat kami ditangkap, ada seorang tahanan dengan 3 kg ganja yang dihukum 19 tahun penjara. Dari catatan seorang bekas narapidana di Malang, 10 kg ganja saja sudah dihukum penjara seumur hidup. Itu artinya, ia tidak akan pulang,

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 7

yang artinya dipenjarakan sampai mati. Sekitar satu dekade yang lalu, ada juga seorang di Palembang tertangkap dengan barang bukti 18 kg. Ia dihukum penjara seumur hidup, tetapi mengajukan banding dan vonis, selanjutnya hukumannya malah tambah berat. Ia dihukum mati. Barang bukti kami hanya selisih 3 kg, jadi kalian punya gambarannya.

Aku tahu tentang kemungkinan semacam itu, dan aku pikir aku sudah siap menanggungnya. Tetapi menghadapinya sebagai sebuah kenyataan pasti ternyata jauh lebih berat daripada yang aku pikirkan. Bagaimanapun juga, dari dulu aku percaya bahwa kelak aku akan masuk penjara. Aku mengklaim diri sebagai seorang anarkis yang selalu mendorong serta terlibat dalam aksi-aksi insureksioner dan memposisikan diriku sebagai seorang ilegalis. Aku setuju dengan keberagaman taktik gerakan sosial, termasuk aksi yang bakal digolongkan sebagai pidana kriminal. Bahkan andaikata aku tidak tertangkap karena narkoba, mungkin kelak aku bakal ditahan karena perusakan properti, atau kepemilikan senjata api ilegal, atau terorisme.

Jika kamu seorang anarkis, kamu paham apa yang aku maksud. Sejak waktu yang sangat lama, ada banyak kelompok dari spektrum politik nasionalis, fundamentalis Islam, hingga anarkis di seluruh dunia yang menyandarkan pendanaan gerakan mereka dari sumber ilegal. Ini termasuk perampokan bank, peretasan digital, penjualan komoditas terlarang di pasar gelap internasional, atau narkotika. Jadi, 15 kg ganja itu aku angkut didorong oleh motif yang lebih radikal dari sekedar masalah

8 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

finansial. Meski aku di mata hukum adalah tahanan narkotik, aku tetap memandang diriku sendiri sebagai tahanan politik.

Situasi saat ini terlampau mendesak bagi kita untuk mesti mempersenjatai diri, baik untuk menyerang, atau terlebih lagi untuk mempertahankan diri. Aku muak dengan fakta tentang kehancuran hutan hujan tropis, perampasan lahan, dan kehancuran keanekaragaman hayati kita dalam proses lebih lanjut pembangunan peradaban kapitalis-industrial. Ada orang-orang, hukum dan relasi sosial yang bertanggung jawab atas kehancuran yang kita hadapi. Aku telah, dan selalu akan, menjadi orang yang terlibat dalam perlawanan aktif melawan sistem dominasi dan eksploitasi demikian. Aku memilih jalur narkotika, sebab itu jalan yang tersedia untukku. Terinspirasi dari para kartel bersenjata dan para gerilyawan marxis yang tersebar di banyak negara-negara Amerika Latin, aku melakukan ini demi revolusi. Ini adalah rahasia kecil kita. Setelah hakim mengetuk palu, akan ada lebih banyak hal lagi yang akan aku buka.

Aku menulis sebagai seorang abolisionis. Aku akan mengungkapkan secara terang-terangan bagaimana masyarakat penjara itu bekerja dari pengalaman pribadiku dan karenanya, mengapa ia harus dihancurkan. Kondisi penjara sebagaimana aku alami itu sangat buruk, tetapi aku tidak tertarik untuk reformasi mengubah penjara jadi penuh bunga (meski capaian jangka pendek aku pikir bagus untuk membangun kepercayaan diri dan untuk sementara memperbaiki kehidupan para tahanan). Binatang dikurung di kandang layaknya taman. Tapi penjara tetaplah penjara bagaimanapun peradaban kita mencoba menghiasnya dengan penenang psikologis.


Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 9

Aku adalah penulis dan petualang, baik tubuh dan pikiranku berkelana sejauh mungkin.

Aku membaca literatur yang membawaku dalam situasi yang terjadi hingga 400 tahun

silam. Sebagai anarkis, aku tertarik dengan orang-orang yang bersemangat sama

denganku.

Itu sebabnya aku meneliti perkembangan gagasan anarkisme pada masa pergerakan anti-kolonialisme Hindia-Belanda. Aku mencoba membuktikan bahwa lebih awal sebelum wawasan kebangsaan terbentuk sebagai cikal bakal gerakan nasionalis, anarkisme telah disebarkan di negeri ini bersamaan dengan komunisme-marxis saat datangnya para radikal Eropa. Aku menerbitkan sendiri penelitianku itu dengan judul Perang yang Tidak Akan Kita Menangkan (2021). Bukan buku sejarah yang bagus, datanya mentah dan ada banyak kesalahan serius. Tetapi, ini menginspirasi beberapa orang untuk melakukan penelitian sejenis tentang anarkisme di Hindia Belanda pada periode yang sama yang semakin memperkuat tesisku itu.

Sebagai hasilnya, buku itu menimbulkan tantangan teoritik baru. Jika anarkisme telah ada sejak masa pergerakan anti-kolonialisme modern di Hindia-Belanda, apakah itu berarti anarkisme adalah pandangan hidup yang diimpor dari “barat” (apapun artinya kata itu) dan karenanya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat “asli” (apapun juga artinya dapat dimaknai) Indonesia? Untuk menjawabnya, aku belajar antropologi dan membaca karya-karya peneliti anarkisme di bidang studi tersebut: Pierre Clastres, David Graeber dan James C. Scott. Aku semakin menyadari bahwa anarkisme, tidak seperti yang disangka kebanyakan orang, bukanlah suatu ideologi yang dicetuskan

10 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

secara tiba-tiba oleh pemikir berjanggut dari Eropa. Ketika mereka menghimpun fondasi dasarnya, tokoh anarkis klasik seperti Peter Kropotkin menyadari bahwa mereka tidak sedang menyusun sesuatu yang benar-benar baru. Prinsip tentang solidaritas horizontal, komunitas non- hierarkis, desentralisasi, atau hingga batas tertentu, kepemilikan bersama, adalah sesuatu yang telah dipraktikkan oleh banyak masyarakat di seluruh dunia, dulu maupun sekarang. Antropologi punya fungsi yang mumpuni untuk membuktikannya. Aku melakukan penelitian baru secara independen tentang nenek moyang kita yang relatif egalitarian dan hidup tanpa negara. Aku menyebutnya, Proyek Suku Api (PSA). Penelitianku baru saja selesai di Kalimantan, terbit secara mandiri dengan judul Dayak Mardaheka (2021).

Aku berencana hendak menulis tentang beberapa masyarakat tanpa negara di Nusantara, diantaranya adalah Batak, Minahasa, Toraja, dan banyak lagi suku-suku berpopulasi kecil di Sumatera, Sulawesi dan wilayah lain di Indonesia bagian timur. Dari Kalimantan, aku hendak menuju Halmahera Utara dan Tanimbar di Kepulauan Maluku. Sembari mengumpulkan dana dan literatur, aku terlibat dalam proyek swakelola lahan pertanian kolektif. Sebagian dana pribadi yang mestinya dialokasikan untuk PSA, terkuras untuk proyek ini. Semua diperparah karena satu kawan yang memancing perkelahian dalam perayaan kolektif tersebut, berujung pada pengeroyokan yang membuat kepalanya dihantam dengan genteng. Hasilnya adalah 15 jahitan dalam perawatan di Jogja International Hospital (JIH) yang dikenal mahal biayanya, kolektif yang tidak berlanjut, hutang menumpuk, dan penelitian yang terbengkalai. Di saat mendesak seperti itulah, aku mendapatkan akses ganja ke Aceh dari seseorang yang telah aku kenal aktif di salah satu kolektif anarkis sejak 2017.

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 11

Sejak waktu yang lama, aku adalah pengguna ganja, baik untuk rekreasi dan medis. Aku merasa diriku punya kesehatan mental yang buruk, dengan gejala depresi berkala, kecemasan, insomnia akut, serta berpikir berlebihan. Pada akhir tahun 2019, aku pulang ke Kalimantan dan simpanan ganjaku habis. Ada beberapa masalah personal lain yang begitu berat bagiku sehingga aku merasa bahwa itu adalah salah satu tahun terburuk dalam hidupku. Akhirnya aku memeriksakan diri ke rumah sakit dan dokter mendiagnosis aku menderita bipolar dan gangguan kecemasan menyeluruh (anxiety disorder). Aku mengkonsumsi obat tidur, antidepresan dan penyeimbang mood, tetapi menghentikannya karena lalai mengurus BPJS dan khawatir dengan efek jangka panjang dari penggunaan obat-obat industri farmasi itu.

Mengkonsumsi ganja adalah alternatif untuk membantu menenangkan diri, mempercepat tidur sekaligus antidepresan. Aku juga menjadi lahap makan dan merasa jauh lebih kreatif. Ganja memancing banyak inspirasi yang sangat memengaruhi gagasan-gagasan penting dalam sebagian besar karya tulisku. Aku yakin bahwa tanpa ganja, karya-karyaku dapat sepenuhnya berbeda.

Sebagai anarkis yang menderita bipolar dan gangguan kecemasan, miskin tapi punya banyak gagasan dan rencana besar, tawaran untuk menjemput ganja langsung dari tangan pertama di Aceh adalah sesuatu yang tidak dapat kutolak. Lebih dari cukup untuk memutar biaya cetak buku, penelitian ke Maluku, kantong pribadi dan sumbangsih bagi gerakan sosial. Dalam jangka panjang, ini pasti bakal berguna untuk pembentukan sel-sel insureksioner yang seringkali tidak dapat menghancurkan apapun selain diri mereka sendiri. Ini juga, aku pikir, akan jadi pengalaman seru.

12 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Pada akhir November, aku mengajak Krisna dan memesan tiket penerbangan ke Medan, sebelum kemudian ke Banda Aceh melalui jalur darat. Kami berangkat dari bandara megah NYIA yang dulu pernah aku tolak pembangunannya bersama kawan-kawan dan penduduk Temon, Kulonprogo. Sesungguhnya walaupun aku ingin, aku bukan orang yang aktif dan dapat terus-terusan melakukan pengorganisiran lapangan karena masih disibukkan dengan perkuliahan di Salatiga. Tetapi aku kadung jadi seorang yang dicap sebagai “perusak gerakan”, karena terlibat dalam kerusuhan kecil tetapi menjadi perhatian besar pada awal Mei 2018, saat perayaan Hari Buruh di Yogyakarta, mengangkat isu penolakan pembangunan bandara. Ada ratusan orang yang ditahan, belasan diantaranya dipenjara karena menyerang polisi, memblokir jalan dan membakar fasilitas publik dengan molotov.

Karena aku tidak aktif di lapangan, banyak yang tidak mengenali wajahku. Tetapi namaku ternyata diam-diam diperbincangkan. “Dari Salatiga ya? Kenal Bima?” tanya seseorang. Aku jawab, aku mengenalnya. “Itu aku,” ujarku dalam hati. Tanpa sadar ia mulai menjelek-jelekkanku di hadapanku sendiri. Salah satu kekesalan utamanya adalah karena cara-cara konfrontatif dan kekerasan yang aku anjurkan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan, atau, itu bukan sesuatu yang dikehendaki masyarakat.

Untuk beberapa waktu, aku semakin depresi mendengar kabar-kabar miring lain yang nantinya semakin banyak kudengar. Aku dijauhi banyak orang dan dibuat sedih akan hal itu, hingga seorang sahabat menegurku. “Kamu terlalu heroik dan ingin menyenangkan semua orang,” ujarnya. Aku menyangkalnya. Butuh waktu untuk bisa menyadari dan mengakuinya. Sejujurnya, aku juga merasa terlalu moralis karena berpikir telah melakukan sesuatu yang mulia, dan karenanya aku merasa

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 13

perlu mendapatkan apresiasi yang lebih baik karena itu. Untuk saat ini, aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak perlu menunggu persetujuan banyak orang untuk melakukan serangan pada negara dan kapital.

Bagaimana pun, aku tidak merasa menjadi seorang yang munafik, sebab aku tidak menikmati kemegahan bandara itu. Di salah satu titik di bandara ini, aku sadar, ada tempat yang sama dimana aku pernah tidur, makan, berdiskusi dan mengganggu jalannya alat berat. Sayang aku tidak dapat mengenali tempat itu lagi. Berada di bandara ini adalah momen yang menyesakkan. Di antara tiang-tiang baja, aku melangkah dari satu petak ke petak, keramik ironinya, dan menghirup aroma kekalahan yang dingin dalam-dalam.

Dari NYIA, kami transit semalam di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Karena kurang tidur dan kelelahan, kami ketinggalan pesawat. Aku terbangun pukul 04.00 dini hari dengan jantung berdebar. Kami terlambat bangun, selisih lima menit dari jadwal keberangkatan. Kelak seorang tahanan tua bilang kalau itu adalah pertanda buruk: “Pemain lama pasti punya firasat itu.” Maksudnya adalah, harusnya kami batalkan saja ekspedisi itu. Aku agak sinis, dan berkata dalam hati, “dimana firasatmu sebelum tertangkap, wahai pemain lama, karena kita satu sel sekarang.”

Krisna bersikeras kalau kami mesti berangkat. Jadi dia berhutang untuk membeli tiket pesawat baru dengan jurusan yang sama pada pukul 08.00. Kami tiba di bandara Kuala Namu, Medan naik KRL dan turun tepat di Lapangan Merdeka. Sebagai penyalahguna obat-obatan, Krisna berbekal Riclona (Clonazepam), yang satu butir terakhir simpanannya aku tenggak. Obatnya enak. Aku berkeliling tanpa tujuan di Lapangan Merdeka sembari melihat orang-orang berpacaran, bersantai

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 15

dan berolahraga, dengan perasaan terlampau girang. Aku tertarik pada mainan baling-baling plastik dengan lampu kelap-kelip. Aku membelinya dan tak lama bermain sendirian seperti anak kecil. Pengalaman mabuk yang menyenangkan.

Baru esok sore kami berangkat dengan bus ke Banda Aceh dan tiba di Kabupaten Gayo Lues pada dini hari. Tempat ini terlampau indah, tipikal dataran tinggi di Asia dimana jalan beraspal menembus pegunungan dan mobil yang sesekali lewat harus berpapasan dan berhenti karena kambing, sapi, domba dan kuda. Suatu tempat ideal yang ingin aku tinggali seperti di beberapa negara Skandinavia. Para ternak adalah raja jalanan yang sebenarnya disini. Ada lebih banyak rambu lalu lintas untuk ternak daripada anak sekolah yang menyeberangi jalan. Hawanya sejuk, airnya segar dan dari kejauhan bisa kulihat jejeran perbukitan indah sambil menebak-nebak dimanakah letak kebun-kebun ganja yang biasa diperbincangkan itu.

Selain ganja, tanah Gayo juga sumber produksi komoditas tembakau dan kopi. Sayang bahwa wilayah seindah ini, potensi wisatanya tidak berkembang baik. Dulu mereka jadi sasaran ABRI, sekarang jadi sasaran BNN. Masih ada ketegangan tersembunyi di sini, karena sebagian besar anggota GAM tidak menyerahkan seluruh pasokan senjatanya. “Mau lihat AK47?” tanya seorang pemuda yang tengah mengaduk gula aren. Aku bilang, aku ingin membelinya. Yang bagus kisaran harganya Rp 60 juta. Aku lupa bertanya apakah itu sudah termasuk magasin dan pelurunya. Dari tahanan Aceh kelak, aku bahkan ditawari AK47 dengan harga belasan

16 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

juta. Aku mendapatkan informasi bahwa orang-orang Aceh mengimpor secara ilegal berbagai jenis senjata api dari Malaysia, Libya (ini salah satu negara yang secara resmi mendukung kemerdekaan Aceh), Somalia dan beberapa negara Asia Tenggara dan Afrika Timur melalui jalur laut di Samudera Hindia. “Aku pernah ke kampung yang berbagai senjatanya dijual bergelantungan seperti jualan roti,” ujar seorang tahanan Aceh.

Gayo Lues bukanlah basis utama perlawanan GAM seperti Bireuen atau Pidie. Secara kultural, orang Gayo membedakan dirinya dari orang Aceh secara umum, sebagaimana orang Karo menolak disamakan dengan Batak Toba. Bahasa mereka tidak punya hubungan linguistik manapun dengan sebagian besar bahasa Aceh dataran rendah dan pesisir. Jika diperhatikan dari infrastrukturnya, Blangkejeren tampak seperti pemekaran daerah yang terlalu dipaksakan dari pusat kecamatan. Jelas bahwa kepentingan pemerintah pusat terlampau besar untuk membuat kota kecil ini menjadi ibukota kabupaten.

Kami pindah dari satu penginapan ke penginapan yang lain dengan membawa dua ransel gunung berkapasitas 60 liter. Motif kami adalah mendaki Gunung Leuser. Dengan seorang penghubung, aku dibawa menuju sebuah kampung agak jauh dari Blangkejeren, menuju sebuah kamp para petani ganja. Aku sempat melalui sebuah jalan beraspal bernama Budi Waseso, diambil dari nama Kepala BNN 2015-2018 yang kontroversial karena merekomendasikan penerapan kebijakan hukuman mati atau tembak di tempat bagi para pengedar narkotika. Meski kopi jadi komoditas tanam paksa zaman kolonial Belanda, Budi Waseso adalah salah satu yang

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 17

bertanggung jawab pada satu dekade terakhir untuk mendorong petani ganja di Gayo supaya beralih bercocok tanam kopi yang sekarang produk akhirnya kalian nikmati. Warga lokal menyebut hal ini sebagai “penjajahan”.

Untuk pertama kalinya aku melihat ganja kering yang belum dipress. Mereka memetiknya dari tangkai, melintingnya menjadi gulungan yang hampir seukuran jempol kaki. Aku berharap mereka memberikannya padaku. “Bikin sendiri,” ujar mereka. Tersadar bahwa aku berada langsung di pusat produksi ganja, mereka tidak menggilirkan lintingannya. Sisa bunga ganja berhamburan dan mereka melinting dengan sembarangan, sesuatu yang tidak akan terjadi di Jawa dimana bijinya saja dihaluskan dengan cara ditumbuk dan batangnya direbus bersama teh.

Kami berdua lalu dibawa menuju sebuah pondok tempat sapi-sapi kurus berkeliaran bebas tak dijaga. Kotoran sapi tersebar dimana-dimana, beberapa ditumbuhi jamur halusinogen. Transaksi selesai pada malam hari, kami mengangkutnya sendiri. Kami mengambil ganja kualitas terbaik yang disediakan orang Gayo. Satu kilogramnya dipatok dengan harga senilai Rp 600 ribu. Tidak ada yang lebih mahal lagi selain jenis yang telah kami pesan. Satu paketnya di-press terbungkus plastik hitam dan dilakban. Kami buka satu paket dengan pisau untuk memeriksa keasliannya, persis seperti dalam adegan film mafia. Aku membuat satu linting, menghisapnya dalam-dalam sebanyak dua kali, lalu menyerahkannya ke Krisna. Di Jogja, ini akan jadi barang mahal. Dua hisapan sudah lebih dari cukup untuk menikmati pemandangan kota mungil Blangkejeren dari pondok. Kami berangkat ke Banda Aceh keesokan harinya dengan mengambil rute memutar karena tahu bahwa jalur tersebut tidak ada pemeriksaan. Dari informasi

18 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

yang kami himpun, lintas barat Gayo-Langsa di perbatasan menuju Sibolga atau Medan lebih ketat. Oleh karena itu, kami memutuskan berputar ke utara, melewati lintas timur menuju Pekanbaru, Palembang dan menyeberangi Selat Sunda dari pelabuhan Bakauheni, Lampung dan berlabuh di Merak, Banten. Begitu rencananya.

Aku tidak dapat tidur dalam perjalanan menuju Banda. Kernet bus kami seorang cabul. Ia duduk di samping gadis dan kami berdua berada persis di belakangnya. Ia sengaja memperbaiki selimut gadis itu sambil merabanya. Kakinya ia julurkan agar dapat bersentuhan. Berkali-kali ia menoleh ke belakang memastikan bahwa kami tertidur. Aku sengaja memiringkan kepala, tetapi mataku melek. Ia tidak tahu kalau aku pura-pura tidur. Sekali aku memejamkan mata, persis saat terbangun aku melihat ia berusaha mencium si gadis yang tidak melawan kecuali memiringkan badannya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ada 15 kg ganja di tas kami. Aku menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu perhatian, seperti menegur si cabul misal. Kami turun di Banda dengan lutut gemetar. Di terminal, kami langsung dikerubungi orang-orang yang berebut menawarkan tiket. Kami tampak menarik perhatian, tetapi berhasil pergi dari kota itu dengan perasaan gelisah dan uang yang telah habis.

Kami singgah beberapa hari di Pekanbaru. Di sana kami bermalam di rumah keluarga Krisna. Salah satu pamannya tanpa ia sendiri ketahui, bekerja sebagai sipir di Lapas Narkotik Rumbai. Ia yang mengantarkan kami ke agen bus untuk mencari tiket jurusan Banda Aceh-Yogyakarta. Kami nekat menyeberangi Sumatera dalam satu tarikan nafas -suatu keputusan ceroboh.

Mental kami anjlok setelah hampir dua minggu meninggalkan Yogyakarta dan mengangkut beban

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 19

seberat itu. Aku hanya ingin segera pulang, sebab aku begitu merindukan kekasihku. Kelak, para tahanan lain menyayangkan keputusan itu. Menurut mereka, mestinya kami melakukan perjalanan estafet dengan banyak titik transit. Ini memang memakan waktu lebih lama, tetapi mungkin lebih aman. Meski begitu aku tahu kalau cara yang sama dengan yang kami lakukan sudah berulang kali berhasil. Pernah, 50 kg dalam bus selama empat hari diseberangkan dari Sumatra ke Jawa Timur.

Tiket sudah dipesan dan kami diajak paman Krisna berkeliling hingga ke pinggiran kota. Diantara kebun sawit, dari kejauhan aku melihat suatu kompleks bangunan berpagar tinggi. Ternyata itu penjara tempat paman Krisna bekerja. Ini lapas baru yang dibangun untuk menyiasati kelebihan daya tampung Rutan Kelas II B Siak Sri Indrapura di Riau yang mencapai 500%. Jadi, solusi pemerintah untuk mengatasi jumlah tahanan yang membludak adalah dengan membangun lebih banyak penjara. Tahanan di rutan itu pernah memberontak pada pertengahan 2019 setelah tahanan yang terjaring razia narkoba dianiaya petugas. Separuh bangunan penjara dibakar, 113 tahanan kabur dan ada satu pucuk shotgun milik petugas hilang. Beberapa tahanan yang dituduh sebagai dalang kerusuhan dipindahkan ke Nusakambangan dan semenjak itu wacana pembangunan lapas baru mencuat.

Melihat penjara membuatku lemas tidak berdaya dan diam-diam menangis di kursi belakang mobil. Perutku terguncang dan mual. Pertanda apa lagi ini? Setelah ketinggalan pesawat, kami mengunjungi penjara narkoba sementara kami membawa 15 kg ganja. Pada malam hari, aku menelepon kekasihku dan berniat mengadukan pengalaman burukku itu. “Kamu harus pikirkan dirimu sendiri,” ujarnya. Untuk menenangkan diri, kami membongkar ransel dan mengambil sejumput ganja. Aku minta sang kekasih mengirimkan kata-kata manis. Ia kirimkan

20 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

puisi, yang penggalannya aku ingat betul: aku mau jadi dermaga dari perjalanan panjangmu. Sebagian besar puisi yang ia tulis tidak terbaca karena kami menggunakan telepon seluler jadul, yang karakter SMS masuknya terbatas.

Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan menuju Yogyakarta,

kami tertangkap dalam suatu penggeledahan di dalam bus ketika

kami baru saja selesai makan dan hendak berangkat. Polisi meminta

seluruh penumpang angkat tangan dan menunjukkan kartu identitas.

Setelah melihat kartu kami, yang mana satu beralamat di Kalimantan

dan satu lagi dari Yogyakarta, mereka segera memisahkan kami dari

penumpang lain yang bahkan tidak digeledah.

Polisi secara resmi mengakui bahwa mereka menangkap kami secara kebetulan karena aku tampak panik -itu benar. Tetapi mengapa penumpang lain tidak diperiksa jadi pertimbangan untuk sementara waktu kalau mereka sudah menjadikan kami target operasi dan nama kami diincar. Hingga aku menuliskan ini, kami tidak tahu apakah sesungguhnya ekspedisi kami ini telah dibocorkan oleh informan atau tidak.

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 21

Seorang polisi bertanya apakah kami berdua adalah “anarko” karena simbol lingkar-A di kaos yang aku kenakan. Kami kompak menjawab, “Ya”. Kami merasa tidak perlu menyembunyikan apapun. Aku mengenakan kaos bergambar molotov dan senjata api, bercelana pendek dengan jahitan patch grup musik anarko-punk Inggris, Crass. Sementara Krisna mengenakan kaos bergambar seorang demonstran yang melemparkan molotov ke arah kendaraan berat, bertuliskan “Fuck Authority”. Kami dibawa ke dalam mobil yang terpisah dari rombongan empat mobil. Krisna dipukuli di belakang mobil selama perjalanan ke Polda karena tato A.C.A.B (yang berarti, All Cops Are Bastard atau “Semua Polisi Bajingan”). Aku hanya diterjang dengkul persis di wajah. Tidak terlalu sakit.

“Pernah membawa bom bunuh diri?” Aku jawab belum. Seorang polisi lain menimpali kalau membawa ganja 15 kg itu saja sudah sama dengan bunuh diri. Lalu aku juga ditanya apakah pernah membawa bom molotov. “Sering,” jawabku. Aku juga mau bilang pada mereka kalau aku cukup mahir merakitnya, mengangkutnya ke dalam kardus, dan kemudian membagi-bagikannya kepada para pemberani yang mau melemparkannya ke barisan depan barikade polisi dalam berbagai demonstrasi sejak 2018.

Di ruang interogasi, seorang polisi perempuan lulusan sarjana psikologi tampak simpatik padaku. Ia tahu aku sedang banyak pikiran dan berharap aku mau bercerita padanya. Jujur saja: “aku memikirkan kekasihku.” Ia menceramahiku karena mestinya aku memikirkan keluarga. Tapi demikianlah kenyataannya. Saat penandatanganan BAP, kami meminta izin untuk dapat menghubungi keluarga dan aku memanfaatkan itu justru untuk langsung menghubungi kekasihku yang panik dan tidak bersedia menunjukan wajahnya. Penyidik melipat jempolnya diantara telunjuk dan jari tengah, yang berarti, “kamu sudah menyetubuhinya?”

22 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

“Sudah.” Ia bilang kekasihku tidak akan menungguku bebas karena aku akan dipenjarakan sangat lama. Aku tahu itu. Tujuan utamaku bukanlah sekadar memberitahunya, tetapi agar ia dapat bertindak cepat melakukan yang mesti dilakukan. Hampir dua minggu kemudian kami tahu bahwa sudah terbentuk kelompok solidaritas tahanan yang mengupayakan bantuan hukum bagi kami. Mendengarnya membuatku tidak merasa terbuang dua kali: dipenjara dan tidak ada yang peduli.

Selama tiga hari, kami ditempatkan di sel bawah tangga reserse narkoba. Ada bekas lubang di pojok sel yang sudah ditambal, menunjukan bahwa dulu pernah ada tahanan yang mencoba kabur dengan menjebol dinding. Aku harap ia berhasil melakukannya. Persis di sudut terendah anak tangga adalah tumpukan sampah dan sekitar lima puluh botol air mineral berisi urin. Kami harus menahan buang air besar di sini, karena para polisi enggan menjaga ketika kami harus keluar ke toilet. Saat aku meminta izin buang air, seorang polisi membentakku. “Kau makanlah kakimu, kau itu terbuang!” Mereka sungguh berpikir bahwa para tahanan pantas diperlakukan demikian.

Pada malam pertama, kami tidur berempat bersama dua pengedar sabu yang babak belur karena mereka mencoba melarikan diri saat penangkapan. Keduanya adalah residivis, salah satunya baru saja keluar dari penjara lima bulan lalu. Kami harus berbagi tempat tidur dan aku kedapatan tidur di ujung sel, dekat botol-botol air kencing yang sebagian tidak ada tutupnya.

Kami adalah sorotan di Polda karena menjadi hasil operasi tangkap tangan terbesar di akhir tahun. Itu membuat mereka khawatir kami bakal kabur (kami memang akan mencoba kabur jika

24 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

ada kesempatan baik). Karena itu, tangan kami berdua diborgol menyambung satu sama lain bahkan saat malam hari. Pada malam pertama dan hingga seminggu sesudahnya, aku tidak bisa tidur. Polisi memasang borgol terlalu ketat, membuat tanganku sakit hingga saat aku menuliskan ini.

Di sel bawah tangga aku berulang kali menyebut nama kekasihku, berharap ia di sini

menjemputku. “Aku rela menukar revolusi deminya,” ujarku. Pada malam pertama itu,

aku masih sempat-sempatnya merancap dengan tangan sebelah yang terborgol. Harusnya

malam ini aku bersamanya di Yogyakarta.

Aku masih berharap agar terbangun di samping kekasihku. Tapi tiap kali mataku

terbuka, aku masih di balik jeruji besi. Aku merindukannya lebih dari apapun. Menuliskan ini adalah sebuah penderitaan yang tidak dapat kalian bandingkan rasanya.

Ampun.

Pada malam selanjutnya, kami kedatangan sembilan tahanan baru sehingga sel bawah tangga berukuran 2x6 meter itu terlampau sesak. Tiga belas orang mesti tidur berdesak-desakan di tengah bau pesing. Aku khawatir keracunan amonia, jadi keesokan harinya aku mengusulkan pada petugas supaya dapat membersihkannya. Pada hari ketiga, kami berdua dimasukan ke tahanan titipan (tahti). Kami berpisah dengan dua pengedar sabu itu. Seorang diantaranya meminta satu sobekan kertas, lalu menuliskan sebuah pesan kepada kawannya, seorang bandar narkoba dengan barang bukti 2 kg sabu dan 12 ribu butir inex yang

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 25

sudah berada di dalam tahti Polda lebih awal. Ia hendak menitipkan kami, setidaknya agar kami tidak diinjak oleh tahanan jagoan.

Di dalam, kami disambut gemuruh para tahanan perempuan yang menggoda kami. “Nanti malam kakak peluk ya!” ujar seorang dari mereka di kamar

  1. Kami menggunakan seragam tahanan berwarna oren, berfoto dengan latar pengukur tinggi badan, mencopotnya kembali, lalu dimasukan ke kamar isolasi yang sekarang dengan ketambahan kami menjadi sebelas orang. Kamar kami persis di bawah dua kamera CCTV, bertetangga dengan kamar tahanan perempuan di samping kanan dan kamar pribadi tahanan tindak pidana korupsi diseberangnya. Yang terakhir itu adalah wakil gubernur. Ia nyaris dapat keluar kapan pun saat siang hari dan hanya menempati kamarnya sendirian, membuat iri hati tahanan lain yang tidur menumpuk badan. Tahanan jagoan di kamar isolasi, selanjutnya akan aku sebut Si Kapak, menarik uang kamar masing-masing Rp 200 ribu per orang. Kami serahkan Rp 220 ribu yang kami punya di kantong celana, juga sebungkus rokok yang bakal dihisap oleh para tahanan lain. Ia beralasan bahwa itu akan dibelanjakan demi kebutuhan bersama, seperti kopi, cemilan, lauk dan air galon. Itu benar, meski pada kenyataannya para tahanan jagoan seringkali mengambil makanan paling banyak. Tas kami digeledah dan ia mengambil sandal jepit, juga buku Tanah Para Pendekar karya Vanni Puccioni yang mengulas balik perjalanan penjelajah Italia Elio Modigliani di Nias Selatan pada 1886. Buku ini aku baca sebagai referensi karena Nias adalah salah satu tujuan penelitianku kelak. “Lumayan untuk jadi bantal,” ujarnya. Sementara itu Spektrografi Politik Max Stirner karya Fabián Ludueña Romandini tidak diambil karena terlalu tipis!
26 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Saat bertukar cerita, banyak tahanan lain yang sampai menggelengkan kepalanya. Ada yang bilang aku akan keluar setelah rambut beruban. Beberapa lagi menganjurkan supaya kami kabur kapanpun ada kesempatan baik. Sementara tahanan lain menyuruh kami bersabar dan menjalani semua proses ini. Tapi seorang tahanan jagoan tampak cemas dan tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya akan hukuman yang bakal menimpa kami. Para tahanan narkotik mengakui keberanian kami, membuatku sedikit tersanjung. Aneh rasanya menjalani kesedihan dengan bangga. Salut dan pengakuan itu keluar dari para tahanan yang juga beresiko menjalani vonis penjara tinggi.

Sebutkan semua jenis narkotika, maka kamar isolasi adalah kesebelasan yang lengkap. Sabu, inex, ekstasi dan ganja. Mereka adalah pemain dengan barang bukti melimpah. Misalnya Gandhi, umurnya 20 tahun dan sudah dua tahun mengedarkan inex. Pada bulan Desember 2021 ini, ia mestinya menikah, undangan sudah disebar sampai akhirnya ia ditahan dengan 104 butir inex. Barang bukti begitu banyak bakal mengantarkannya belasan tahun ke penjara (nantinya ia divonis 9 tahun 6 bulan). Hingga kami berpisah dari kamar isolasi, calon istrinya tidak pernah membesuk. Sudah jelas ia batal menikah, hatinya hancur tak karuan, matanya berkaca-kaca dan ia sering melamun.

Suatu kali Gandhi bertanya, “kakak bakal lanjut [narkoba] lagi tidak?” Aku jawab, “kapok.” Katakan saja aku menghabiskan 10 tahun di dalam penjara. Apa kalian pikir aku akan terus menulis di tengah para bandar dan pengedar segala jenis narkoba? “Kepalang tanggung, Bima pasti mengembangkan jaringan dari dalam.” “Krisna kalau keluar pasti akan jadi mafia besar.” Kalimat semacam ini sering kami dengar. Pendekatan pidana untuk memberantas peredaran narkoba harus diragukan efektivitasnya, karena penjara sesungguhnya jadi

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 27

tempat terbaik dan aman dalam mengkonsolidasikan kekuatan para bandar. Di situlah mereka justru bertemu, mengembangkan jaringan dan bermufakat. Itu yang dikeluhkan Budi Waseso sehingga ia sampai mengusulkan konsep lapas khusus narkotik pada rapat kabinet dan meminta pemerintah agar lapas dijaga buaya. Bukan rahasia bahwa hampir seluruh jaringan narkotik yang ada diatur oleh para bos dari dalam penjara. Hukuman berat mungkin akan mendorong kami untuk tidak setengah-setengah lagi melanjutkan diri terlibat dalam dunia narkotik, seperti yang dikatakan oleh Freddy Budiman yang dihukum mati itu. Meski begitu, dalam hati aku merasa gamang. Aku begitu terpukul dan mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan apa yang baru aku mulai.

Kamar seluas 3x3 meter itu juga begitu sesak sehingga satu orang tidak kebagian tempat tidur. Ia, Si Kapak, sampai rela tidur bergelantung dengan membuat ayunan dari sarung yang diikat di bagian atas terali. Gantungan itu putus dan sampai menimpa tahanan jagoan yang lain, Alex. Selain tahanan narkoba, kami juga bersama dengan tahanan kasus penganiayaan, penggelapan dana dan senjata api. Yang terakhir ini, yang aku panggil Abah, adalah pemilik empat senjata api laras pendek rakitan berbahan dasar baja ringan yang hanya dapat memuat satu peluru. Satu pistol harganya lima juta rupiah, sementara pelurunya satu juta rupiah. Ini adalah jenis pistol sekali tembak yang tidak dapat dikokang, sehingga perlu diisi kembali untuk dapat digunakan. Aku tidak dapat menutupi rasa antusias untuk bertanya banyak hal, tapi dia tetap diam dan bersikap ketus, seperti menyembunyikan sesuatu. Nantinya aku bakal bertemu dengan banyak tahanan lain yang memiliki pistol otomatis FN, shotgun dan bahkan AK47. Aku terkejut kalau kepemilikan senjata api ternyata jauh lebih marak dari yang aku kira.

28 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Ada beberapa tahanan jagoan di kamar isolasi. Si Kapak adalah yang paling menyebalkan. Tubuhnya punya banyak “kelabang”, berupa bekas luka sabetan senjata tajam di kepala,

leher dan pundak.

Ia dikenal banyak orang karena meladeni perkelahian melawan empat orang bersenjata kapak sementara ia sendiri memegang dua pedang. Ketika aku dipindahkan, ia masih menagih sisa uang kamar. Aku hanya mengirimkan sebungkus rokok. Tapi ia mengirim satu tahanan pendamping (tamping) dan meminta Rp 200 ribu lagi, yang aku serahkan setengahnya. Sehabis itu ia tidak meminta lagi. Tapi aku tahu ia mengincarku sebagai target “pemerasan” yang empuk. Di kamar isolasi, ia juga menghalangi surat titipan yang ditulis pengedar sabu dari sel bawah tangga agar tidak terkirim ke kawan bandarnya.

Jagoan lain, aku panggil Bang Adi, adalah tahanan kasus perampasan motor karena ia menagih hutang. Bang Adi punya hidung terlalu mancung dan dagu besar yang terbelah. Jelas bahwa itu adalah hasil operasi plastik yang, mungkin, dulu ia lakukan saat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Bang Adi tampak lebih simpatik dan mengayomi. Ia tidak banyak memerintah dan aku sering bercanda dengannya. Satu lagi adalah Alex, tahanan tua lain yang kami temui di sel bawah tangga. Rambutnya pirang, residivis lima kali dan mengklaim pernah menjadi provos, alias tukang pukul, algojo. Provos adalah sebutan bagi tangan kanan kepala kamar, tahanan senior yang disegani yang berkuasa atas sebuah kamar.

Selain bermasalah dengan Si Kapak, aku juga harus berhadapan dengan Si Penerjang yang secara emosional lebih tidak stabil karena kerap

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 29

membentak tahanan lain. Julukan itu aku pakai karena ia menerjang Krisna yang menghalaunya saat ia hendak menyerang Kausar. Kausar adalah tahanan kasus penggelapan dana. Dulunya ia kepala gudang toko bangunan yang sering menjual stok peralatan hingga toko itu diperkirakan rugi hingga Rp 200 juta. Rambutnya pirang dan lagaknya feminim. Nanti ia diperbudak oleh Si Penerjang. Semua dipantik masalah sepele: Kausar menumpahkan kopi secara tidak sengaja saat para tahanan sedang bermain kartu remi. Ini membuat Si Penerjang mengamuk dan sebagai bentuk tanggungjawab, Kausar mesti membersihkan toilet dan kotoran sehabis makan. Aku berinisiatif membantunya dan mentoskan tanganku sebagai wujud solidaritas.

Si Penerjang sendiri adalah residivis tua yang begitu muak dengan penjara. Ia punya mulut paling kasar dan menyimpan makanan yang ia rampas dari tahanan lain ke dalam tasnya hanya untuk dimakan diam-diam saat malam. Beberapa kali aku ladeni dia untuk menunjukkan kalau aku tidak takut. Suatu kali, sendok yang ia pegang terjatuh dan dengan nada tinggi ia menyuruhku mengambilnya. Aku melotot dan Si Penerjang langsung membentakku. Pada lain kesempatan, aku membalas bentakannya. Tapi salah satu tindakanku yang paling lancang adalah merebut kembali sebungkus Marlboro yang ia kantongi. Mengetahui bahwa rokokku justru dimonopoli, aku bertanya pada para jagoan dimana rokokku. Si Penerjang berdiri dan menyodorkan kembali rokok itu dengan bungkus terbuka, seolah ia menawarkan miliknya sendiri. Aku merampas dari tangannya, membalikkan bungkus, dan justru berbalik menawarkan padanya. Ia mengambil tiga batang. Tidak masalah. Kutawarkan pada jagoan lain yang masing-masing mengambil sebatang. “Untuk bekal pindah ke lantai atas,” aku bilang. Bang Adi malah menawarkan supaya kami dibekali satu bungkus rokok kretek lagi. Aku menolaknya dengan sopan dan bilang kalau tahanan di sini lebih membutuhkannya.

30 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Mulanya, aku tidak begitu peduli dengan perilaku para tahanan jagoan. Seberapapun uang yang aku miliki, aku tidak masalah berbagi dengan tahanan lain jika itu demi kepentingan bersama. Aku masih bermasalah dengan Si Penerjang dan Si Kapak. Aku sungguh ingin meladeni mereka tetapi aku merasa tubuhku semakin lemah. Aku keringat dingin, pusing dan jantungku berdebar. Selama enam hari, aku mungkin hanya dapat tidur enam jam totalnya. Aku butuh obat tidur dan mendapatkan efek yang sama dengan antimo. Sayang obatku habis. Aku memelas pada tahanan lain agar bisa mendapatkan antimo tapi tidak ada yang mau meminjamkan uangnya. Padahal aku pernah bilang pada Krisna agar sebisa mungkin kami jangan sampai berhutang. Aku merasa kondisi tubuhku sedang memburuk. Aku sedih karena Krisna cenderung menyepelekannya. Di tengah situasi macam itu, aku tidak ragu untuk menangis sejadi-jadinya di tengah ketegangan yang terjadi. Para jagoan mencoba mencarikanku antimo dan tidak menemukannya. Hingga aku pindah ke kamar 23 di lantai tiga, baru aku mendapat kiriman obat yang aku pesan pada kekasihku.

Aku sempat mengambil keputusan bodoh di kamar isolasi karena akhirnya hendak menelpon ibu dan meminta kiriman uang. Si Kapak bilang kalau minta kiriman jangan tanggung-tanggung. “Sekalian 2 juta.” Aku mengiyakannya. Aku bahkan berpikir tidak masalah jika seluruh uangku dirampas, meski aku tidak yakin akan sungguh meminta uang sebesar itu. Toh, aku kebagian apa yang dibelanjakan jagoan itu dan karena aku tahu kondisi tahanan di sana. Lebih dari apapun, aku hanya butuh antimo. Mendapatkannya adalah prioritasku saat ini. Malam harinya aku mendapatkan akses terhadap telepon dan mengakali semua orang dengan asal-asalan berkomunikasi menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Aku meminta uang Rp 500 ribu saja. Beruntung, keesokan harinya aku dipindahkan ke kamar 23. Uang itu dipotong sebesar Rp 50 ribu dipotong

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 31

oleh pemegang rekening, Rp 50 ribu lagi untuk tahanan serakah yang memiliki telepon seluler, dan Rp 100 ribu untuk kamar isolasi seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya, sesuai permintaan Si Kapak.

Aku jadi lebih takut pada Si Kapak setelah seorang tahanan kamar isolasi yang tampak peduli menasihati agar aku jangan sampai berurusan dengan Si Kapak. Ia menyampaikannya dengan berbisik, aku malah bertatapan mata dengan Si Kapak saat kami membicarakannya. Aku tahu kalau ia sadar bahwa kami sedang bergunjing. Baru di kamar 23 nanti, aku baru mendapatkan kisah tentang siapa Si Kapak sebenarnya. Jelas bahwa Krisna yang jauh lebih berani dan tidak segan-segan itu kecewa padaku.

Kamar 23 adalah salah satu pilihan terbaik yang pernah aku ambil dalam penjara. Ada enam tahanan yang dikeluarkan dari kamar isolasi dan hanya empat yang disuruh masuk. Kami berdua salah satunya, selain Abah pemilik pistol dan seorang penjual tahu formalin. Mulanya ini tampak seperti penjara yang suram karena kurangnya pencahayaan, apalagi setelah masuk ke dalam sel aku merasakan kepengapannya.

Ada tiga orang penghuninya. Saat kami masuk, mereka baru saja selesai salat dan memandangi kami dengan sinis. Hanya butuh beberapa hari untuk tahu bahwa mereka adalah orang yang tidak hanya baik, tetapi juga menyenangkan. Kokoh Naga adalah yang bertampang seram, bertato paling banyak, dan tampak seperti bos triad china. Badannya besar dan yang mampu teriak paling nyaring di lantai tiga. Ia ditangkap karena membuka perjudian. Sementara Uwa adalah bandar sabu gagal yang dijebak oleh cepu. Dia hampir memasuki usia 60 tahun dan begitu depresi. Ia

32 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

nakal dari muda tapi tidak pernah dipenjara dan karena itu menyayangkan mengapa justru tertangkap di usia lanjut dengan barang bukti dua ons sabu. Satu lagi adalah Mas Sidiq yang merupakan bos tambang minyak di area konservasi. Ia menjadi koordinator lapangan dalam mengelola kilang minyak ilegal yang sebenarnya sudah ditelantarkan tapi masih produktif jika dijalankan dalam skala kecil. Satu sumur yang dia kelola dapat menghasilkan 15 drum minyak/ hari dengan keuntungan kotor kira-kira Rp 15 juta sehari. Dipotong biaya operasional, upeti ke tentara dan polisi, serta upah para pekerja, Mas Sidiq mampu mengantongi Rp 2 juta sehari.

Mereka bertiga sebelumnya adalah penghuni kamar 4 di lantai satu yang merupakan kamar elit di tahti. Kamar ini dibandrol dengan harga Rp 2-5 juta/orang dan hanya dihuni oleh tahanan kaya. Mereka tidur di atas kasur, semua memakai android, lengkap dengan stop contact, kipas, dan perangkat elektronik lainnya. Ini jauh berbeda dengan kamar lain yang tidur beralaskan keramik dan kardus, tanpa perangkat elektronik apapun. Mereka tidak pernah menyentuh makanan jatah, selain lauk yang rutin dikirim keluarga dan mereka beli di kantin. Ketiganya dipindahkan ke lantai tiga setelah memukuli tahanan kasus pelecehan seksual, seorang ustadz yang mencabuli belasan santrinya sendiri. Setelah kepergian mereka, kamar 4 menjadi kamar biasa.

Karena Mas Sidiq dan Uwa mampu secara finansial, sebagian besar makan, minum dan rokok tahanan kamar 23 ditanggung oleh mereka. Mereka secara terang-terangan menyampaikan sesuatu yang tipikal

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 33

anarkis dapat dikatakan. “Tahanan satu sel itu mestinya jadi keluarga.” “Kita berbagi semua yang kita miliki.” “Kita semua harus kompak.” Mereka semua memesan nasi bungkus khusus dan membagi lauk ikan atau ayam yang mereka punyai secara merata dengan alasan kebersamaan. Mereka juga tidak menarik uang kamar. Bahkan ketika tamping utusan Si Kapak menagih uang, Kokoh Naga menghalanginya.

Sebagai balas budi, aku hanya bisa mematuhi aturan dan perintah mereka. Kami berdua dan tahanan tahu formalin saling membantu mengisi ember air khusus wudhu, mencuci piring dan membersihkan toilet. Sudah jadi aturan umum di penjara bahwa tahanan yang tidak memiliki uang akan menukar tenaga kerjanya demi makanan dan rokok. Kadang itu adalah kontrak yang memang diharapkan dan disepakati kedua belah pihak.

Kamar 23 yang baru kami tempati jauh lebih luas. Berukuran 4x4 meter dan jumlah kami hanya tujuh orang. Akhirnya aku bisa berolahraga satu hingga dua kali sehari dan beristirahat dengan tenang. Kamar di lantai dua dan tiga disusun dua baris saling berhadapan. Di seberang kami adalah kamar tahanan buruh perusahaan sawit yang memanen (baca: mencuri) dari kebun masyarakat. Bos mereka bisa dikatakan yang paling bertanggungjawab dan sekarang berada di lantai dua. Ia menjadi incaran anak buahnya. Sementara kamar 24 yang berada di sebelah kami dihuni oleh tahanan impor benih lobster ilegal. Sebagian besar dari mereka adalah lulusan pesantren. Jadi ketika mereka sholawat, suaranya merdu dan aku juga merasa khusyuk. Selebihnya adalah sel-sel kosong dengan sisa kain bergelantungan dan coretan dindingnya menunjukan penderitaan tahanan sebelumnya. Karena sepi dan jarang dikontrol, banyak beredar rumor menyeramkan tentang keberadaan kuntilanak

34 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

di lantai tiga, karena konon pernah ada tahanan perempuan yang bunuh diri.

Dari penghuni kamar 23 aku jadi tahu bahwa kami masuk di masa kepemimpinan kepala tahti yang punya kebijakan lebih ketat. Sebelum kami masuk rutan, tahti adalah sarang yang terlindungi untuk segala jenis kolusi, nepotisme dan penyuapan. Telepon seluler diperbolehkan, dan jika terkena razia masih dapat ditebus. Sabu kerap keluar masuk dengan bebas untuk diperjualbelikan pada tahanan, seringkali dengan bantuan petugas kepolisian. Kepala tahti waktu itu dipanggil sebagai Betmen. Ia adalah seorang yang tinggi, putih, besar dan gagah. “Tanpa perlu memaksa, banyak perempuan pasti mau dengannya,” ujar Mas Sidiq. Tetapi dia adalah seorang yang cabul. Betmen pernah ketahuan menyandera tahanan perempuan di lantai tiga yang saat itu hanya ditempati tahanan buruh sawit. Pada malam hari, para tahanan sering mendengar derap langkah kaki, pintu kamar yang terbuka, suara bisik- bisik, dan kemudian tangisan perempuan. Ternyata itu adalah tahanan perempuan yang dilecehkan. Ia mengadu pada orangtuanya, yang singkat cerita membuat seluruh petugas rutan diganti dan Betmen dikirim ke Propam. Salah satu petugas kepolisian menunjukkan pada Mas Sidiq foto Betmen yang sudah bonyok mukanya karena dihajar.

Penggantinya adalah seorang petugas perempuan tua yang sering kami panggil sebagai Bunda. Ia menerapkan kebijakan yang lebih ketat yang tidak memungkinkan narkoba masuk melalui “orang dalam”. Rokok dan telepon seluler juga dilarang. Meski begitu, kebijakannya semakin lama semakin longgar hingga pada akhirnya ia sendiri diam-diam berbisnis rokok pada tahanan. Ia tampil sebagai sosok yang mengayomi karena kerap memberikan permintaan obat-obatan dan disenangi banyak tahanan (nanti ia dipindah tugaskan karena ketahuan menjual rokok).

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 35
36 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Aku merasa lebih tenang di kamar 23, tapi juga jadi lebih sering melamun. Pikiranku melayang ke Kalimantan, dimana keluargaku sedang bersedih karena kehilangan semua anak laki-lakinya. Pada bulan Oktober, adikku yang bungsu baru saja meninggal dunia karena lemah jantung. Pada awal tahun, ia sudah berkata padaku bahwa ajalnya sudah dekat. Ia merasa kondisi kesehatannya memburuk, tetapi tidak ingin membuat khawatir keluarga. Ia hanya menceritakan itu padaku. Berselang satu bulan kemudian, aku sebagai anak sulung dipenjara dalam waktu yang pasti akan sangat lama. Ibu mengeluh dirinya jadi sering sakit dan pusing. Ini menimbulkan perasaan bersalah.

Keinginanku untuk kabur semakin menjadi-jadi. Kami tidak pantas dipenjara dan dirugikan sebesar ini untuk tanaman yang sesungguhnya memiliki manfaat medis. Aku punya ide untuk menyelundupkan gergaji besi atau menyekap penjaga. Aku masih menahan diri, karena ragu apakah sungguh aku akan menjalankan ide-ide itu dan karena Krisna tampak kurang mendukungnya. Selain itu, aku tidak berani mengorbankan diri pada putusan hukuman yang bisa jadi lebih berat andai kami gagal melarikan diri.

Mamang tahu formalin dan Uwa akhirnya dipindahkan ke rutan. Itu adalah perpisahan yang melankolis. Sekarang sisa kami berlima dan kami di hari yang sama dipindahkan ke kamar 18 di lantai dua. Aku bertemu lagi dengan Si Kapak di sel sebelah dan terkejut karena harus menyesuaikan diri dengan suasana baru. Dalam dua hari aku langsung demam.

Ada dua tahanan lama di kamar 18. Yang satu adalah Kartodi, tukang parkir yang ditahan karena ancaman pembunuhan. Suaranya yang cempreng dan

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 37

sikap kekanak-kanakannya menghilangkan kesan seram. Satu lagi adalah Endi, tamping yang menarik uang sewa padaku karena meminjam telepon seluler. Krisna menyebutnya sebagai banpol atau bantuan polisi dan ia tidak segan menunjukan rasa tidak sukanya itu. Ia sudah di tahti selama delapan bulan, dan menjadi tamping karena dipercayai petugas lama dan karena kasusnya dipandang ringan: penggelapan dana.

Dari Endi, aku jadi tahu kalau dulu lantai dua lebih kotor daripada saat ini karena jarang dibersihkan dan dikontrol. Sampah hanya sesekali dibuang, sehingga para tahanan melempar sampah, meludah dan membuang sisa makanan begitu saja ke lorong. Katanya, itu juga sebagai bentuk protes. Pada masa kepemimpinan lama, hanya lantai satu yang sering dikontrol. Kelak dari tahanan baru yang masuk ke kamar 18, taktik serupa pernah dilakukan oleh tahanan lantai satu saat peralihan kepemimpinan tahti yang baru di bawah Bunda. Saat itu, razia besar-besaran dilakukan. Narkoba menjadi hampir mustahil masuk, dan telepon seluler yang terjaring razia harus langsung dihancurkan oleh pemiliknya ditempat. Tanpa telepon seluler, para tahanan tidak hanya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga, tetapi juga kesulitan mengurus persidangan atau pekerjaan yang mereka tinggalkan. Para tahanan serentak membuang sampah ke lorong dan membuat keributan. Para polisi marah-marah, tetapi sebagai gantinya, semenjak itu kunjungan virtual (sebenarnya hanya berupa panggilan video Whatsapp) disediakan. Konon ponsel android yang digunakan tahti adalah sitaan dari para tahanan lama.

Di kamar 18 aku jadi lebih mudah marah. Entah mengapa, semakin lama aku juga semakin berjarak dengan Krisna. Beberapa kali aku bermimpi tentang rumah, dan terbangun dengan perasaan sangat sedih. Lama-lama mimpi jadi lebih terasa

38 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

nyata ketimbang sebaliknya. Kemarahanku berujung dengan bentakan ke Kartodi karena ia semakin terasa mengganggu. Ia kurang peka untuk sadar kalau perasaanku sedang jelek. Saat itu, aku juga sedang menghadapi gejala awal demam. Tiba-tiba Kartodi mengganggu istirahatku dan memohon-mohon untuk melintingkan sisa tembakau dengan kertas bungkus bagian dalam rokok (banyak tahanan yang berpikir bahwa aku pandai melinting, mengingat aku adalah kasus ganja). Aku langsung pergi ke dekat toilet dan memutuskan untuk berolahraga. Ia mendatangiku kembali dengan permintaan yang sama, kemudian aku mengiyakannya. Selesai melinting, aku menyuruhnya pergi agar aku punya ruang lebih lapang untuk berolahraga. Ia tidak juga pergi, sampai akhirnya ketika aku push up, ia mengomentari pantatku yang posisinya terlalu tinggi. Aku membentaknya dengan sangat nyaring untuk memintanya tutup mulut. Seluruh lantai dua terdiam meski sayup-sayup aku bisa mendengar tahanan dari kamar lain bertanya-tanya siapa gerangan yang barusan berteriak.

Kartodi adalah seorang yang tolol. Ia meminta Krisna membuka Alkitab, mencari salah satu ayat di Kisah Para Rasul dan membacanya. Ia berkata demikian dengan lagak telah hafal isi Alkitab, padahal ia buta aksara. Karena ia suntuk, kami menyarankan agar Endi menjadikannya sebagai tamping. Ia kesulitan untuk menemukan tahanan karena tidak dapat membaca papan daftar tahanan di tiap kamar. Kartodi juga seorang mualaf, tetapi bukan seorang yang religius. Ia sering berkata cabul tentang tahanan perempuan dan berulang kali ketahuan merancap di kamar mandi. Ketika ia salat dan makanan datang, ia tetap berdoa tetapi tangannya menengadah meminta makanan, sambil tertawa. Salatnya tidak sah tetapi ia tetap melanjutkannya.

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 39

Perkelahian pertamaku bukan dengan tahanan lain, tetapi dengan Krisna, akibat sesuatu

yang bisa dikatakan sebagai salah paham serius. Di lantai dua, komunikasi antar

kamar dilakukan dengan memanggil nama salah satu tahanan yang menghuninya. Yang

paling sering disebut namanya adalah aku.

Suatu kali, namaku dipanggil. Aku tidur di pojok belakang, jadi aku mendekat ke jeruji untuk mencari tahu siapa gerangan yang memanggil namaku. Rupanya Anton, dari kamar 19. Aku jelaskan pada Krisna tentang hal itu dan ia bilang aku tidak memperhatikan dengan serius. Aku membantahnya. Ia bilang lagi, aku selalu merasa paling benar. Star syndrome lanjutnya. Karena ucapannya itu aku tersinggung. Biasanya, orang-orang mengatakan hal macam ini (apapun yang menggugat bahwa aku secara intelektual superior) ketika mereka sudah tidak punya bahan apapun untuk menyudutkanku.

Aku dengan asal memukul pundaknya, lalu mendorongnya. Sebentar saja aku langsung sadar telah berbuat bodoh. Ia mencekikku sangat keras yang membuat leherku lecet dan tenggorokanku sakit hingga beberapa hari. Semua tahanan di kamar melerai kami. Karena merasa situasi semakin tidak terkendali, Kokoh Naga memukul wajah kami berdua. Hidungku mimisan. Aku minta maaf kepada Krisna dan berjanji tidak akan memukulnya lagi, apapun alasannya.

Sebenarnya aku merasa Krisna adalah orang yang tidak mau kalah, atau mungkin sempat kesal karena beberapa keputusanku (atau kesalahanku?). Mungkin Krisna juga kecewa karena aku tidak sesuai dengan ekspektasi

40 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

sebagaimana ia harapkan saat pertama kali mengenalku. Kadang aku pikir Krisna juga memintaku untuk lebih mendengarkannya karena sepertinya ia merasa jauh lebih tahu tentang penjara. “Kamu sekarang sedang praktik, bukan cuma teori”. “Ini masih belum ada apa-apanya, akan ada kehidupan yang lebih keras yang akan kita hadapi.” Kalimat semacam ini sering terdengar dengan nada bahwa ia menganggap aku bodoh. Setidaknya begitu yang aku tangkap dalam suasana hati yang sensitif. Kami tidak punya kesempatan untuk berbicara secara intim dengan kepala dingin, karena Krisna sangat sulit diajak berbicara mendalam atau selalu mencoba menghindarinya. Andai tebakanku di atas benar, Krisna lupa mengapa aku bisa bersamanya sampai di sini. Sesungguhnya, aku sangat percaya padanya dan pada sebagian besar waktu kerap mempertimbangkan pendapatnya dengan serius. Aku tidak pernah menganggapnya remeh.

Kegaduhan itu diketahui seluruh tahanan lantai dua karena Alex, tahanan jagoan yang kami temui di sel bawah tangga dan kemudian kamar isolasi, bertanya apakah aku dan Krisna baik-baik saja. Si Banpol menerangkan bahwa kami berdua yang berkelahi. Aku meminta maaf dan kami berpelukan. Saat hendak tidur aku jelaskan kecemasanku bahwa kami berdua justru semakin mencolok setelah perkelahian itu, sesuatu yang tidak aku kehendaki. Krisna bilang hal itu tidak usah dipikirkan. Jadi aku tidak membahasnya lagi. Tapi, itu bukan kegaduhan pertama yang kami perbuat karena kami berulang kali berkelahi dengan beberapa tahanan

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 41

lagi, dan Krisna beberapa kali berkonfrontasi dengan polisi. Perkelahian kami akan aku jelaskan lagi dalam terbitan selanjutnya.

Perkelahian itu mendemoralisasi diriku hingga ke tahap bahwa apa yang aku perbuat adalah kesia- sian, penyesalan mendalam, rasa bersalah, dan menuduh diri sebagai seorang yang narsis karena menulis dan berharap banyak orang akan memahamiku. Tiap harinya, aku merasa semakin menderita dan nyaris tidak berbicara dengan siapapun. Pada suatu titik, aku terbelalak karena sadar bahwa aku merasa sendiri dan kesepian. Beberapa kawan tampak tidak simpatik dan seperti menyalah- nyalahkan aku. Karena aku juga tidak memiliki telepon, aku nyaris tidak berkomunikasi dengan seluruh kawan dan kerabat di luar penjara.

Hari ini adalah hari penutup tahun. 31 Desember 2021. Kemarin kekasihku menangis terisak-isak menyesalkan aku tertangkap. Ia hanya bertanya, “mengapa Bima?” Aku tidak bisa menjawab apapun, dan setelah lama sekali dalam keheningan, aku langsung menutup panggilannya.


42 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Suatu hari, Mbak Ita, penjual dari kantin, menyerahkan secarik kertas pada kami di

kamar 18 dan meminta agar kami menelpon nomor yang tercantum. Surat itu berbunyi:

“Mbak Ita, tolong telepon nomor ibu aku

08xx xxxx xxxx bilang kalau aku dalam bahaya. Raden.”

Hatiku hancur membacanya, membayangkan bahwa aku berada dalam posisinya. Aku tidak tahu Raden, entah siapa, takut dan mungkin sedang diperas tahanan lain. Si Banpol bilang bahwa itu adalah deritanya si Raden, dan dia tidak akan ikut campur. Aku dan Krisna kompak sekali lagi menjawab bahwa sikap kami berbeda: “Jika kami bisa membantu, maka kami akan membantu.”

Aku pikir tahanan sudah cukup menderita karena berurusan dengan polisi dan karena telah meninggalkan keluarga mereka. Ini belum lagi jika mempertimbangkan kondisi penjara di Indonesia dengan masalah kelebihan daya tampung, penganiayaan sipir dan buruknya fasilitas penjara. Alangkah baiknya jika penderitaan itu dikurangi bebannya dengan menghindari terjadinya saling dominasi dan eksploitasi antar tahanan. Oleh sebab itu, mereka yang terlibat dalam praktik semacam ini di dalam penjara, dengan sengaja aku panggil “jagoan”, bukan “preman.”

Sebenarnya preman adalah serapan Indonesia dari Bahasa Belanda, vrije man (Inggris: free man), yang berarti “orang bebas/merdeka”. Istilah ini pada zaman kolonial Hindia-Belanda

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 43

merujuk pada para pengangguran yang menolak terikat kontrak kerja di perkebunan milik Belanda. Mereka umumnya hidup dengan makan dan minum gratis sebagai balas jasa perlindungan di warung-warung pribumi, karena mereka dikenal sebagai gerombolan yang membuat orang Eropa takut. Mereka adalah orang-orang yang berada di luar kendali otoritas. Seiring pertumbuhan metropolitan, istilah ini mulai bercorak urban, dan diterapkan pada kelompok yang yang umumnya berada di sekitar pasar dan terminal. Istilah itu kini juga diterapkan untuk menyebut para mafia, pemeras, pelaku kekerasan dan orang-orang bayaran.

Etika anti-kerja preman bersifat anti-kapitalisme dan anti-kolonialisme secara bersamaan, yang mengingatkan kita pada gagasan penghancuran kerja para buruh anarko-sindikalisme abad 19, Paul Lafargue hingga post-anarkisme Bob Black. Praktik mereka untuk berani mengambil tindakan di luar hukum ke tangan mereka sendiri mencerminkan semangat aksi langsung. Perbuatan yang kerap dicap “sewenang-wenang” dan “seenak jidat” menunjukkan otonomi sangat besar dari seorang egois mutlak, karakter paripurna individualisme stirnerian yang dengan penuh kesadaran memanfaatkan dunia demi kepentingan Sang Aku. Mereka, sesungguhnya adalah para pemberani dan pembangkang. Aku punya simpati yang besar kepada sebagian besar kriminal, dan selama di penjara senang sekali bergaul dengan para perampok, begal, pembunuh dan tahanan kasus senjata api.

Aku telah kehilangan sebagian besar kapasitasku dalam proyek pembangunan infrastruktur sosial atau gerakan perlawanan aktif di luar penjara.

44 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Tapi kehidupan di penjara ini menyediakan bentuk baru perlawanan dalam menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang ada di sekitarku. Aku memutuskan bahwa aku akan memulai pengorganisiran baru, semampuku. Aku akan membiasakan terciptanya persatuan dan solidaritas antar tahanan. Aku akan menekankan bahwa lebih baik jika kami mengarahkan kemarahan kami ke atas ketimbang ke samping.

Aku tahu ini terdengar naif dan moralis. Untuk sesaat, aku curiga bahwa jangan-jangan aku mengidap messiah complex karena keyakinan bahwa aku bertanggung jawab untuk menyelamatkan atau membantu orang lain, punya empati kuat dan kerap melakukan pengorbanan berlebihan. Setelah aku pikir lagi, aku melakukan semuanya demi diriku. Yang aku sadari adalah, apa yang aku hadapi merupakan realitas yang juga berpengaruh secara langsung padaku. Apa yang akan aku harap dapat aku ubah adalah yang berpengaruh baik padaku, dan apa yang hendak aku lawan dan hancurkan adalah apa yang berpengaruh buruk bagi fisik dan mentalku.

Sebagai abolisionis, tahun-tahun ke depan adalah tahun “menghancurkan dari dalam”, secara harfiah. Penjara, sebagaimana negara, adalah institusi yang tidak mendapatkan legitimasinya dariku. Penjara hanyalah sekrup dari kerja mesin peradaban kapitalis-industrial, tempat untuk mengendalikan orang-orang paling liar. Sementara itu, masyarakat di luar penjara bekerja dengan prinsip yang secara mencolok sama, hanya saja lebih samar, untuk mengendalikan orang-orang yang lebih jinak. Di luar dan di dalam, kita sama-sama terpenjara. Atau, penjara ada dimana-mana, termasuk di dalam pikiranmu.

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 45
46 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah

Kertasku semakin habis dan kalimat yang aku tulis semakin mengecil di akhir halaman. Aku tidak melebih-lebihkan apa yang aku tulis. Kenyataannya masih banyak yang belum aku sampaikan dan lebih banyak lagi yang aku tutup- tutupi. Aku harap tulisanku tetap menginspirasi orang lain. Setidaknya, tulisan ini tetap jadi pengingat tentang komitmenku sendiri. Terakhir, aku ingin mengutip satu ayat dari Alkitab. Ada tertulis:

“Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan dengan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.” – Ibrani 13:3.

Hingga habis semua penjara rata dengan tanah!

Bersambung

Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah 47

Pada 3 Desember 2021, Bima ditangkap kepolisian karena membawa 15 kg ganja kering dari Aceh. Ia dihukum 15 tahun penjara. “Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah” yang anda pegang ini adalah memoar yang ia tulis secara berkala selama ia menjalani masa hukumannya. Mengklaim diri tidak hanya sebagai tahanan narkotik, tetapi juga tahanan politik, Bima mencatat perjalanannya dan perjuangannya yang baru di dalam penjara Indonesia, mencoba membongkar kebusukannya dan menyingkirkan bangkai-bangkainya, jika pun berhasil.

SAB001 Hingga Semua Penjara Rata dengan Tanah Bagian 1: Badai Dimulai dari Setetes Air Penulis: Bima Satria Putra Artwork & Desain Grafis: Herry Sutresna SABATE, Copyleft 2022