Baca PDF (OCR): F.P.Ramsey-Hakikat Kebenaran-2021

44 halaman · 4 halaman diproses dengan OCR· 1206 ms

Daftar isi
  1. HAKIKAT KEBENARAN
  2. F. P. Ramsey
  3. HAKIKAT KEBENARAN
  4. Hakikat Kebenaran
  5. DARI PENERJEMAH
  6. agar pembaca dapat mengetahui kata aslinya. Penerjemah bi-
  7. asanya menambahkan tanda tersebut jika penerjemah merasa
  8. Banin D. Sukmono,
  9. Daftar Isi
  10. DARI PENERJEMAH i
  11. DAFTAR ISI v
  12. HAKIKAT KEBENARAN ￿
  13. APENDIKS ￿ ￿￿
  14. APENDIKS ￿ ￿￿
  15. proposisional. Karakter acuan proposisional ini begitu penting
  16. sehingga kita cenderung untuk melupakan aspek karakter lain
  17. sahkan bentuk-bentuk kualitas tersebut satu sama lain dengan
  18. jelas, dan tidak membuat bingung dengan menggunakan kata
  19. jelas merupakan sesuatu yang hanya bergantung pada acuan
  20. membuat definisi yang menjangkau semuanya, penjangkauan
  21. pat diekspresikan dalam simbolisme logis tetapi susah untuk
  22. memikirkan bumi berbentuk bulat sebagai subjek yang mung-
  23. saringan untuk menangkap susunya.
  24. analisis tidak mungkin dapat dipahami secara lengkap. Kare-
  25. na semua kesulitan yang terhubung dengan gagasan tersebut
  26. APENDIKS ￿
  27. jika keyakinan tersebut berguna, atau jika keyakinan tersebut
  28. tidaklah lebih berbeda dari yang pertama, sebagaimana pada
  29. APENDIKS ￿
  30. sional. Ini mengapa William James sering menekankan bahwa

SERI FILSAFAT ANALITIK

HAKIKAT KEBENARAN

F. P. R AMSEY A lih Bahasa: Banin D. Sukmono

F. P. Ramsey

Frank Plumpton Ramsey merupakan seorang filsuf, matematikawan, dan ekonom berkebangsaan Inggris. Ia merupakan teman dekat Ludwig Wittgenstein dan yang menerjemahkan Tractatus Logico Philosophicus ke dalam bahasa Inggris.

SERI FILSAFAT ANALITIK

HAKIKAT KEBENARAN

F. P. R AMSEY
Alih Bahasa: Banin D. Sukmono

in collaboration:

Hakikat Kebenaran

F. P. Ramsey Diterjemahkan dari: "The Nature of Truth" in Nicholas Rescher & Ulrich Majer (Eds.), On Truth: Original Manuscript Materials (1927-1929) from the Ramsey Collection at the University of Pittsburgh. ©Kluwer Academic Publisher 1991, p. 6-24. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Antinomi Institute 2021 Alih Bahasa: Banin D. Sukmono Terbitan Pertama: November 2021 (e-book) Penyunting: Taufiqurrahman Penyelaras Akhir: Tri Kurniawan P. Sampul dan Tata Letak: Rée Penerbit Antinomi Jl. Kaliurang Km 5.2, No.12 Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 Email: [email protected] https://antinomi.org ISBN 978-623-96375-8-3 (e-book) iii + 31 pages (12,5 x 19 cm) Buku ini dapat diunduh gratis melalui antinomi.org/publikasi, dan kalian dapat membagikannya demi kepentingan diseminasi pemikiran. Dilarang keras menggunakannya untuk keperluan komersial.

DARI PENERJEMAH

“Hakikat Kebenaran” (The Nature of Truth) diambil dari Bab 1 buku On Truth, yang disunting oleh Nicholas Rescher dan Ulrich Majer. Buku ini dipublikasikan jauh setelah Ramsey meninggal (1991, Ramsey meniggal tahun 1930). Karenanya, banyak bagian yang diberi tanda [], [.. .], dan < >, terutama di apendiks, untuk mengakomodasi bagian-bagian yang masih berupa catatan. Berikut adalah penjelasannya. Bagian yang berada di dalam [] adalah bagian yang dicoret oleh Ramsey. Dibiarkan dalam paragraf oleh Rescher dan Majer untuk kebutuhan interpretasi. Selain itu, di banyak konteks, bagian yang dicoret itu justru memperjelas gagasan Ramsey. Tanda [.. .] menunjukkan bahwa Ramsey belum menyele- saikan bagian tersebut. Bagian tersebut tidak muncul terlalu banyak, dan jika muncul, tidak terlalu mengganggu penyampaian gagasan. Bagian dengan < > adalah kata-kata yang ditambahkan oleh Rescher dan Majer (penyunting) untuk kebutuhan keje- lasan penyampaian. Bagian yang berada di dalam ( ) adalah bagian yang me- mang ditulis oleh Ramsey. Jika kata-kata yang berada di dalam

( ) adalah bahasa Inggris, itu adalah tambahan penerjemah

HAKIKAT KEBENARAN

agar pembaca dapat mengetahui kata aslinya. Penerjemah bi-

asanya menambahkan tanda tersebut jika penerjemah merasa

terdapat istilah teknis penting atau istilah yang tidak memiliki padanan di bahasa Indonesia sehingga terjemahannya lebih secara kultural. Huruf miring selain dalam bahasa Inggris adalah asli dari Ramsey. Itu menandakan bahwa kata-kata tersebut penting. Meskipun terdapat beberapa bagian yang masih kasar dan tidak lengkap, dan baru dipublikasikan setelah kematian Ramsey, sehingga tidak terlalu memengaruhi jalan sejarah filsafat analitik, karya ini sangat penting untuk mengetahui secara transparan pemikiran Ramsey tentang kebenaran. Ditulis dengan gaya bahasa yang jelas dan sederhana, karya ini dapat dianggap sebagai kelanjutan dan ringkasan substansial dari artikel “Facts and Propositions” (1927) pada masalah kebenaran. Bahkan, menurut Rescher dan Majer, dalam Hakikat Kebenaran, Ramsey telah mengantisipasi pandangan Tarski tentang kebenaran yang menyamakan penerapan kebenaran pada proposisi dengan asertabilitas sederhana, meskipun jelas lebih primitif. Mengingat teori kebenaran Ramsey juga menja- di dasar beberapa teori kebenaran pragmatis, korespondensi, dan teori sukses semantik, pembaca dapat melihat artikel ini sebagai pengantar kritis untuk masuk ke diskursus kebenaran sekaligus teori kebenaran yang masih hidup sebagian bentuk- nya di diskurus kontemporer. Hal penting terakhir yang pembaca perlu tahu adalah penerjemah kadang menambahkan, menghapus, dan mengganti posisi titik koma sehingga tulisan lebih cocok dibaca dalam bahasa Indonesia. Tulisan ini ditulis pada awal abad ke-20 (1927-1929) di mana penggunaan koma, titik, dan tanda baca lain, masih belum serigid penggunaannya saat ini. Penerjemah

ii F. P. R A M S E Y

DARI PENERJEMAH

telah berusaha memastikan bahwa hal tersebut tidak meng- ganggu makna, tidak berada di posisi esensial, dan digunakan untuk tujuan kenyamanan pembacaan.

Banin D. Sukmono,

Direktur Zeno Centre for Logic and Metaphysics

F. P. R A M S E Y iii

Daftar Isi

DARI PENERJEMAH i

DAFTAR ISI v

HAKIKAT KEBENARAN ￿

APENDIKS ￿ ￿￿

APENDIKS ￿ ￿￿

APA itu kebenaran? Karakter apa yang kita lekatkan pada opini atau pernyataan yang ‘benar’? Ini adalah pertanyaan utama kita, tetapi, sebelum menjawab, mari kita berefleksi sejenak tentang maksud pertanyaan tersebut. Kita harus memisahkan pertanyaan “apa itu kebenaran?” dari pertanyaan lain yang cukup berbeda, yakni “apa itu benar”? Jika seseo- rang bertanya tentang apa yang benar, jawaban yang mungkin dia harapkan adalah entah sebuah daftar lengkap tentang se- gala hal yang benar, seperti sebuah ensiklopedia, atau tes atau kriteria kebenaran, yaitu sebuah metode yang dapat dia gunakan untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan (false- hood). Namun, apa yang akan kita selidiki bukan hal tersebut, melainkan hal yang lebih sederhana; kita tidak berharap untuk mengetahui cara yang selalu benar (infallible) yang berguna untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan, tetapi hanya apa yang dimaksud dengan kata ‘benar.’ Ini adalah kata yang semua orang mengetahuinya, tetapi jika kita mencoba untuk menjelaskannya, kita akan dengan mudah terjerembab, se- bagaimana telah ditunjukkan oleh sejarah filsafat, ke dalam

labirin kebingungan. ￿ Salah satu penyebab kebingungan tersebut harus dibuang sesegera mungkin; selain makna utamanya yang kita terapkan pada pernyataan atau opini, kata benar dapat juga digunakan dalam arti turunan atau metaforisnya, yang bukan bagian dari persoalan yang akan kita bahas. Kita tidak akan menguraikan ungkapan kabur seperti “kecantikan adalah kebenaran, kebenaran kecantikan.” Kita hanya membahas arti sehari-harinya seperti saat kita berkata benar bahwa Charles I dipenggal dan bahwa Bumi itu bulat. Pertama-tama, kita harus mempertimbangkan dahulu pada kelompok apa kata ‘benar’ dan ‘salah’ secara umum digunakan, karena terdapat tiga kelompok yang mungkin cocok. Kita menggunakan ‘benar’ dan ‘salah’ pada keadaan mental ￿ (mental states), seperti keyakinan (belief), putusan (judge- ment), opini atau dugaan; kemudian pada pernyataan atau kalimat indikatif; dan ketiga, menurut beberapa filsuf, kita menerapkan istilah ‘benar’ dan ‘salah’ pada proposisi, yang merupakan objek dari putusan dan makna dari kalimat, tetapi sekaligus bukan putusan ataupun kalimat. Menurut filsuf-filsuf yang percaya pada pilihan ketiga, proposisilah yang benar atau salah dalam artian fundamen- tal. Proposisi yang benar atau salah adalah sebuah keyakinan yang disebut benar atau salah dengan ekstensi makna sesuai dengan apa yang dipercayai. Namun, sejauh eksistensi dari hal-hal tersebut sebagai proposisi sering (dan menurut saya

￿ Runyamnya masalah ini dapat dilihat dari fakta bahwa tuan Bertrand Rus- sell dari tahun 1904 ke 1925 telah mengadopsi secara bergantian lima solusi yang berbeda untuk masalah ini. ￿ Saya menggunakan kata “keadaan” dalam artiannya yang paling luas, dan tidak berniat untuk mengekspresikan opini apa pun tentang hakikat keyakinan atau yang lainnya.

￿ F. P. R A M S E Y

memang sepatutnya) diragukan, akan sangat baik jika kita me- mulai pembahasan ini tidak dengan proposisi, tetapi dengan keadaan mental yang diandaikan sebagai objek, dan dengan membahas term benar dan salah yang diterapkan pada keadaan mental tersebut tanpa menyetujui hipotesis apa pun yang masih belum pasti tentang hakikat objek-objek keadaan mental sebelum kita membutuhkannya. Kelompok yang terdiri dari pernyataan atau kalimat indi- katif bukanlah saingan yang serius, karena jelas bahwa kebe- naran dan kesalahan pernyataan tergantung pada maknanya, yakni pada apa yang orang-orang maksud olehnya, dan pi- kiran dan opini yang mereka ingin sampaikan. Bahkan, jika, sebagaimana dikatakan oleh beberapa orang, putusan tidak lebih dari kalimat yang diucapkan pada diri sendiri, kebe- naran dari kalimat tersebut secara sederhana identik dengan putusan dan tidak akan lebih primitif. Dengan demikian, kita akan menguraikan term benar dan salah saat term tersebut diterapkan pada keadaan mental, dan mempertimbangkan sifat umum dari keadaan yang akan kita selidiki, kita akan mambahas sebentar tentang apa itu keyakinan. Sekarang, entah secara filosofis benar atau tidak untuk mengatakan bahwa keadaan mental memiliki objek berupa proposisi, keyakinan tanpa diragukan lagi memiliki karakteris- tik yang dengan berani saya sebut sebagai acuan proposisional (propositional reference). Keyakinan pasti merupakan keyakinan bahwa sesuatu atau sesuatu yang lain adalah suatu hal (so- and-so) ￿, semisal bahwa bumi itu datar; aspek inilah, karakter “bahwa bumi itu datar”, yang ingin saya sebut sebagai acuan

￿ Dan tentu saja bahwa sesuatu bukanlah suatu hal, atau bahwa jika sesuatu adalah suatu hal, sesuatu tersebut bukanlah sesuatu yang lain, dan seterusnya di seluruh bentuk yang mungkin.

F. P. R A M S E Y ￿

proposisional. Karakter acuan proposisional ini begitu penting

sehingga kita cenderung untuk melupakan aspek karakter lain

dari keyakinan. Saat dua orang percaya bahwa bumi itu datar kita mengatakan bahwa mereka memiliki keyakinan yang sama, meskipun mereka mungkin memercayai hal tersebut di waktu yang berbeda dengan alasan, derajat keyakinan, dan bahasa, atau sistem penggambaran yang berbeda pula; jika acuan proposionalnya sama, dan jika mereka “percaya bahwa” pada hal yang sama, umumnya kita melupakan perbedaan- perbedaan yang lain di antara mereka dan menyebut mereka memiliki keyakinan yang sama. Dalam logika, wajar untuk mengekspresikan kemiripan antara dua keyakinan orang ini dengan tidak mengatakan, sebagaimana yang saya lakukan, bahwa mereka memiliki acuan proposisional yang sama, tetapi dengan menyebut kemiripan tersebut sebagai keyakinan dengan proposisi yang sama; mengatakan hal tersebut tidak menyangkal keberada- an karakter di atas sebagai acuan proposisional, tetapi hanya untuk menunjukkan suatu pandangan tertentu tentang bagai- mana karakter ini dianalisis. Meskipun tidak akan ada yang menyangkal bahwa untuk mengatakan keyakinan sebagai keyakinan bahwa bumi itu bulat kita melekatkan beberapa karakter pada keyakinan tersebut; dan meskipun wajar untuk berpikir bahwa karakter ini berhubungan erat dengan proposisi; namun, karena pandangan ini telah ditolak, kita akan memulai penelusuran kita dari apa yang jelas nyata, dan itu bukan proposisi, melainkan karakter dari acuan proposisional. Kita akan membahas analisisnya nanti, tetapi, untuk tujuan kita sekarang, kita dapat mengamininya sebagai sesuatu yang kita semua sudah anggap lazim tanpa analisis. Jelas bahwa acuan proposional tidak terbatas pada keya-

￿ F. P. R A M S E Y

kinan; pengetahuan saya bahwa bumi itu bulat, opini bahwa perdagangan bebas lebih baik daripada proteksi, bentuk apa pun dari berpikir, mengetahui, atau berimpresi bahwa (thinking, knowing, or being under the impression that) – memiliki acuan proposisional, dan hanya dalam keadaan mental di atas hal tersebut dapat benar atau salah. Hanya memikirkan Napolean tidak dapat membuatnya benar atau salah, kecua- li jika memikirkan bahwa Napoleon adalah atau melakukan suatu hal; karena jika acuannya tidak proposisional, jika hal tersebut bukanlah acuan yang membutuhkan kalimat untuk diekspresikan, tidak mungkin ada kebenaran ataupun kesa- lahan. Namun demikian, tidak semua keadaan yang memiliki acuan proposisional dapat benar atau salah; Saya dapat berha- rap besok akan baik-baik saja, bertanya-tanya apakah besok akan baik-baik saja, dan percaya besok akan baik-baik saja. Tiga keadaan tersebut semuanya memiliki acuan proposisional yang sama, tetapi hanya keyakinan yang dapat disebut benar atau salah. Kita tidak menyebut harapan, keinginan, atau keheranan sebagai benar, bukan karena hal-hal tersebut tidak memiliki acuan proposisional, tetapi kerena mereka tidak memiliki apa yang disebut dengan karakter afirmatif atau asertif (affirmative or assertive character), elemen yang terda- pat dalam berpikir bahwa (thinking that) tetapi tidak ada di berandai apakah (wondering whether). Saat karakter ini pada derajat tertentu tidak ada, kita tidak akan bisa menggunakan kata benar atau salah, saat derajatnya ada meskipun sedikit kita kembali dapat mengatakan sebuah asumsi sebagai benar, bahkan jika itu dibuat hanya untuk mengetahui konsekuensi- nya. Untuk keadaan dengan karakter yang berlawanan dari penyangkalan (denial), biasanya kita tidak menggunakan kata benar atau salah, meskipun kita dapat meyebut mereka te-

F. P. R A M S E Y ￿

pat atau tidak tepat sebagaimana keyakinan dengan acuan proposisional yang sama dapat benar atau salah. [Sayangnya] keadaan mental yang kita selidiki, yaitu, keadaan dengan acuan proposisional dan derajat karakter afirma- tif tertentu, tidak memiliki nama yang serupa dalam bahasa biasa (ordinary language). Tidak ada term yang dapat diterapkan untuk keseluruhan cakupan ini, dari sekadar dugaan hingga pengetahuan pasti, dan, untuk mengatasi kekurangan ini, ￿ saya mengusulkan term keyakinan dan putusan sebagai sino- nim untuk mencakup keseluruhan cakupan keadaan mental yang sedang kita bicarakan, walaupun ini membuat makna biasa term-term tersebut, dan bukan makna biasa mereka yang lebih sempit, melebar. Di sinilah, dalam hal keyakinan dan putusan, kita ber- tanya tentang makna kebenaran dan kesalahan, dan sangat penting untuk memulai pembahasan ini dengan menjelaskan bahwa hal-hal ini bukanlah istilah kabur yang mengindika- sikan pujian atau tanggung jawab (blame) dalam bentuk apa pun, tetapi istilah yang memiliki makna pasti. Terdapat berba- gai macam cara sebuah keyakinan dapat dianggap baik atau buruk; keyakinan dapat benar atau salah, dapat dianggap memiliki derajat kepercayaan yang lebih tinggi atau rendah, untuk alasan yang baik atau buruk, terpisah atau sebagai bagi- an dari sistem pemikiran yang koheren. Penting untuk memi-

￿ [Perlu dicatat bahwa Professor Cook Wilson akhir menganggap bahwa keadaan mental dalam realitasnya tidak termasuk [.. .]] Namun, perlu dicatat bahwa menurut satu teori hal ini bukanlah kekurangan sama sekali, karena keadaan tersebut tidak memiliki suatu kesamaan penting. Pengetahuan dan opini memiliki acuan proposisional dalam arti yang cukup berbeda dan bukanlah spesies dari genus yang sama. Pandangan ini, yang ditunjukkan secara jelas oleh J. Cook Wilson (tetapi juga diimplikasikan oleh yang la- in, sebagai contoh Edmund Husserl), dijelaskan dan dipertimbangkan di bawah.

￿ F. P. R A M S E Y

sahkan bentuk-bentuk kualitas tersebut satu sama lain dengan

jelas, dan tidak membuat bingung dengan menggunakan kata

‘benar’ secara kabur untuk, pertama, satu bentuk dan kemudi-

an bentuk yang lain. Inilah mengapa bahasa biasa lebih masuk

akal (sounder) daripada bahasa filsuf; mari pikirkan contoh

dari tuan Russell, seseorang yang memikirkan bahwa nama

perdana menteri Inggris sekarang bermula dari B akan berpi-

kir dengan benar, bahkan jika dia mendapatkan opini tersebut

dari ide yang salah bahwa perdana menteri Inggris adalah

tuan Birkenhead; dan jelas bahwa dengan menyebut sebuah

keyakinan benar, kita tidak mengartikan ataupun mengim-

plikasikan bahwa hal tersebut berdasar (well-grounded) atau

komprehensif, dan jika kualitas tersebut dirancukan dengan ￿ kebenaran, sebagaimana, semisal, oleh Bosanquet, pemba-

hasan yang produktif atas persoalan ini akan menjadi tidak

mungkin. Kualitas dari keyakinan yang kita acu sebagai benar

jelas merupakan sesuatu yang hanya bergantung pada acuan

￿ proposisionalnya; jika keyakinan seseorang bahwa bumi itu

￿ Bernard Bosanquet, Logic, 2nd., Vol II (ocford, 1911), hal 282 dan seterus- nya. Dia jelas melihat pemisahan tersebut tetapi dengan sengaja menga- burkannya, dan berargumen bahwa pandangan tentang kebenaran yang memungkinkan pernyataan yang tak berdasar untuk benar, tidak dapat benar. Contohnya bahwa orang yang membuat pernyataan benar meyakininya sebagai salah menyingkap kebingungan yang bahkan lebih menakutkan. Dia bertanya mengapa pernyataan tersebut adalah sebuah kebohongan, dan menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa “hal tersebut berlawanan dengan sistem pengetahuannya sebagaimana ditentukan oleh keseluruhan pengalamannya pada saat itu.” Mengakui hal ini berimplikasi bahwa koherensi dengan sistem pengetahuan orang tersebut bukanlah tanda kebenaran (karena ex hypothesi pernyataan tersebut mungkin telah salah) melainkan keyakinan yang baik; dan ini dibawa sebagai argumen yang mendukung teori kebenaran koherensi! ￿ Hal ini sudah disarankan oleh Professor Moore ("Facts and Propositions," Proceedings of the Aristotelian Society, Supplementary Volume VII (1927), hal. 171-206; lihat hal. 178) bahwa entitas yang sama mungkin saja adalah keyakinan bahwa, anggap saja, bumi itu bulat dan keyakinan bahwa hal lain sekaligus. Dalam kasus ini, keyakinan tersebut akan memiliki dua acuan

F. P. R A M S E Y ￿

bulat itu benar, begitu juga untuk keyakinan siapa pun bahwa bumi itu bulat, seberapa tidak signifikan alasan yang dia miliki untuk memikirkan hal itu. Setelah pendahuluan ini kita harus sampai pada poin: apa arti dari ‘benar’? Menurut saya, jawabannya sudah sangat jelas, bahwa siapa pun dapat mengetahui apa itu, dan bahwa kesulitannya hanya muncul saat kita mencoba untuk menga- takan apa itu, karena hal ini adalah hal yang susah untuk diekspresikan oleh bahasa biasa. Anggap seseorang percaya bahwa bumi itu bulat; maka keyakinannya benar karena bumi itu bulat; atau dengan cara yang lebih umum, jika dia percaya bahwa A adalah B, keyakinannya akan benar jika A adalah B dan salah jika sebaliknya. Menurut saya, jelas bahwa, dalam kalimat terakhir, makna dari kebenaran telah terjelaskan, dan kesulitan utamanya adalah tinggal secara ketat memformulasikan penjelasan tersebut dalam definisi. Tantangan yang kita hadapi jika kita mencoba untuk melakukan hal ini adalah bahwa kita tidak dapat men- deskripsikan semua keyakinan sebagai keyakinan bahwa A adalah B karena acuan proposisional dari sebuah keyakinan mungkin memiliki bentuk keyakinan yang berbeda dan lebih rumit. Seseorang mungkin percaya bahwa semua A bukanlah B, atau bahwa jika semua A adalah B, antara semua C adalah D atau semua E adalah F, atau kepercayaan lain yang masih lebih rumit. Kita tidak dapat membatasi jumlah bentuk yang mungkin muncul dan, oleh karenanya, hal tersebut harus di- pahami dalam definisi kebenaran. Jika kita mencoba untuk

proposisional dan mungkin benar di yang pertama dan salah pada bagian lainnya. Menurut saya hal tersebut tidak mungkin, tetapi semua penjelasan di tulisan ini dapat secara mudah diubah sehingga memungkinkan hal tersebut, walaupun komplikasi bahasa yang akan keluar jauh melebihi hasil mungkinnya dalam akurasi.

￿ F. P. R A M S E Y

membuat definisi yang menjangkau semuanya, penjangkauan

tersebut akan berlanjut selamanya, karena kita harus mengatakan bahwa sebuah keyakinan benar, jika mengandaikannya sebagai keyakinan bahwa A adalah B, A adalah B, atau jika mengandaikannya sebagai keyakinan bahwa A bukanlah B, A bukanlah B, atau jika mengandaikannya sebagai keyakinan bahwa antara A adalah B atau C adalah D, antara A adalah B atau C adalah D, dan terus begitu hingga tidak terbatas. Untuk menghindari ketidakterbatasan ini, kita harus mem- pertimbangkan bentuk umum dari acuan proposisional sebagai spesies; setiap keyakinan apa pun yang kita simbolkan sebagai keyakinan bahwa p, di mana ‘p’ adalah variabel kalimat seperti ‘A’ dan ‘B’ adalah variabel kata atau frase (atau, dalam logika, term). Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa sebuah keyakinan benar jika hal tersebut adalah keyakinan bahwa p, dan p. ￿ Definisi ini terlihat aneh karena kita tidak tahu apakah ‘p’ adalah variabel kalimat dan karenanya harus dianggap memiliki kata kerja; “dan p” terlihat tidak masuk akal karena seakan-akan hal tersebut tidak memiliki kata kerja dan kita cenderung untuk menambahkan kata kerja seperti “itu benar” (is true) yang tentu saja akan membuat definisi kita tidak masuk akal dengan jelas-jelas memasukkan kembali apa yang sudah didefinisikan. Tetapi, ‘p’ sebenarnya memiliki kata kerja; sebagai contoh, mungkin saja hal tersebut “A adalah B” dan, dalam kasus ini, kita sebaiknya berakhir dengan “dan A adalah B,” yang dalam tata bahasa biasa dapat mencukupi dirinya sendiri. Poin yang sama persis muncul jika kita mengambil contoh bukan simbol ‘p’, tetapi kata ganti penghubung (relative

￿ Dalam simbolisme tuan Russell B benar :=: ’(9.p). B adalah keyakinan bahwa p & p. Df

F. P. R A M S E Y ￿

pronoun) yang menggantikan simbol ‘p’ dalam bahasa biasa. Ambil contoh, “apa yang dia pikirkan itu benar.” Di sini, tentu saja, apa yang dia percaya adalah sesuatu yang diekspresikan oleh kalimat yang dengan kata kerja. Tetapi, saat kita merepresentasikannya menggunakan kata ganti “apa”, sesuai aturan bahasa, kata kerja yang telah terkandung dalam “apa” harus ditambah lagi dengan “itu benar.” Namun, jika kita mengkhususkan bentuk keyakinan yang didiskusikan, semua kebutuhan atas kata “itu benar” hilang seperti sebelumnya dan kita dapat mengatakan “hal-hal yang dia percayai terhubung dengan suatu relasi, sebenarnya, terhubung dengan relasi tersebut.” Karena kita hendak mendefinisikan kebenaran, kita harus mampu untuk menukar definisi kita dengan kata “benar,” kapan pun kata benar mencul. Tetapi, kesulitan yang sudah kita sebutkan membuat hal ini tidak mungkin dalam bahasa biasa yang memperlakukan apa yang seharusnya disebut dengan kalimat-ganti (pro-sentences) sebagai kata-ganti (pro- nouns). Satu-satunya kalimat penghubung yang diakui oleh bahasa biasa adalah “ya” dan “tidak”, yang, oleh mereka, di- anggap mengekspresikan makna lengkap, di mana “yang” dan “apa,” bahkan saat berfungsi sebagai kalimat pendek, se- lalu butuh ditambah dengan sebuah kata kerja: kata kerja ini seringnya adalah “itu benar” (is true) dan kekhususan bahasa ini melahirkan masalah buatan dalam hakikat kebenaran, yang langsung hilang saat mereka diekspresikan dalam simbo- lisme logis, di mana kita dapat memformulasikan “apa yang dia percaya adalah benar” dengan “jika p adalah apa yang ia percaya, p.” Sejauh ini, kita hanya membahas kebenaran; bagaimana dengan kesalahan? Lagi, secara sederhana jawabannya da-

￿￿ F. P. R A M S E Y

pat diekspresikan dalam simbolisme logis tetapi susah untuk

dijelaskan dengan bahasa biasa. Tidak hanya menghadapi kesulitan yang sama yang juga dihadapi oleh kebenaran, kesalahan juga memiliki masalah tambahan lain karena tidak adanya dalam bahasa biasa ekspresi seragam yang sederhana untuk negasi. Dalam simbolisme logis, untuk setiap proposisi simbol p (yang terkorespondensi dengan sebuah kalimat), kita membentuk kontradiksi –p (atau p dalam Principia Mathema- tica): tetapi, dalam bahasa Inggris, kita sering tidak memiliki cara yang sama untuk membalikkan arti dari sebuah kalimat tanpa bentuk berbelit-belit (circumlocution) yang signifikan. Kita tidak dapat melakukan negasi hanya dengan menempatkan kata “bukan” kecuali dalam kasus yang sederhana; konse- kuensinya, “Raja Prancis tidak pintar” itu ambigu. Dalam interpretasi yang paling wajar kalimat di atas berarti “terda- pat seorang Raja Prancis tetapi dia tidak pintar.” Hal tersebut bukanlah apa yang kita dapat dengan hanya menyangkal “Raja Prancis pintar”; dan dalam kalimat yang lebih rumit, seperti “jika dia (laki-laki) datang, dia (perempuan) akan datang (si laki-laki).” Kita akan hanya dapat menyangkal dengan antara metode khusus ke bentuk partikular dari proposisi, seperti “jika dia datang, dia tidak akan secara niscaya datang dengan- nya” atau dengan metode umum dengan memberikan awalan “tidak benar bahwa – ”, “salah bahwa – ” atau “bukan masalah bahwa – ”, di mana [lagi] seakan-akan dua ide baru, “kebenaran” dan “kesalahan”, terlibat, tetapi pada kenyataa- nya kita hanya secara sederhana mengadopsi jalan memutar saat menerapkan bukan ke kalimat secara keseluruhan. Inilah mengapa definisi kita tentang kesalahan (percaya hal yang salah berarti percaya p, saat –p) akan lebih susah untuk diekspresikan; tetapi mengatakan bahwa definisi terse-

F. P. R A M S E Y ￿￿

but memutar, karena hal tersebut mendefinisikan kesalahan dari segi operasi negasi yang tidak selalu bisa dimasukkan dalam bahasa tanpa menggunkan kata “salah,” juga kurang tepat. Terdapat dua penggunaan “salah” dalam kehidupan sehari-hari: pertama sebagai cara untuk mengekspresikan negasi, sebagaimana penggunaan “benar,” yang hanya berfungsi untuk gaya penulisan (seperti saat “benar bahwa bumi itu bulat” tidak lebih dari bahwa bumi itu bulat): dan yang kedua sebagai hal yang setara dengan tidak benar, yang diterapkan pada keyakinan atau keadaan mental yang lain yang memili- ki acuan proposisional atau secara derivatif ke kalimat atau simbol lain yang mengekspresikan keadaan mental yang lain. Penggunaan yang kita sedang coba definisikan adalah yang kedua, bukan yang pertama, yang dengan bentuk simbol –p kita mengasumsikannya benar dan akan kita bahas nanti dengan judul negasi. Definisi kita bahwa sebuah keyakinan benar jika hal tersebut adalah “keyakinan bahwa p” dan p, dan salah jika hal tersebut adalah “keyakinan bahwa p” dan –p, perlu dicatat, secara substansial, berasal dari Aristoteles, yang mengatakan bahwa hanya terdapat dua bentuk “A ada” dan “A tidak ada,” ia menjelaskan bahwa “mengatakan pada apa yang ada, bahwa ia tidak ada, atau pada apa yang tidak ada, bahwa ia ada, adalah salah, sedangkan mengatakan apa yang ada itu ada, dan apa yang tidak ada itu tidak ada, adalah benar.” Meskipun kita belum menggunakan kata “korespondensi,” penjelasan kita mungkin akan disebut teori kebenaran korespondensi. Karena jika A adalah B, kita dapat berbica- ra menurut penggunaan umum dari fakta bahwa A adalah B bahwa hal tersebut bersesuaian (correspond) dengan keyakinan A adalah B dengan alasan jika A bukan B, tidak ada

￿￿ F. P. R A M S E Y

fakta yang bersesuaian dengan hal tersebut. Tetapi, kita tidak dapat mendeskripsikan hakikat dari korespondensi sampai kita mengetahui analisis acuan proposisional dari “percaya bahwa A adalah B.” Hanya saat kita mengetahui struktur keyakinan kita dapat mengatakan korespondensi macam apa yang menyatukan keyakinan dan fakta yang benar. Dan kita mungkin ragu tentang adanya relasi korespondensi sederha- na yang dapat diterapkan ke semua kasus atau bahkan jika hal tersebut selalu benar untuk mendeskripsikan relasi yang menyatukan “keyakinan bahwa p” dan “fakta bahwa p”; sebagai contoh, jika keyakinannya disjungtif seperti saat Jones berpikir bahwa Smith adalah seorang pembohong atau orang yang bodoh, apakah kita mengatakan bahwa hal tersebut dapat benar dengan mengatakan bahwa “fakta disjungtif,” yaitu, “fakta bahwa Smith adalah antara pembohong atau bodoh?” [Jika kita percaya bahwa realitas tidak memiliki “antara-atau” (either-or) kita harus memodifikasi penjelasan kita]. Atau jika kita percaya bahwa absurd untuk percaya bahwa realitas hanya terdiri dari antara-atau, pada apa keyakinan tersebut berkorespondensi? Namun, prospek dari kesulitan-kesulitan ini tidak perlu mengkhawatirkan atau membuat kita beranggapan bahwa kita berada di jalan yang salah dengan mengadopsi, dalam artian yang kabur, teori kebenaran korespondensi. Karena kita telah memberikan definisi yang jelas untuk kebenaran yang telah meninggalkan semua kesulitan ini dengan tidak bertumpu pada gagasan korespondensi sama sekali. Sebuah kepercaya- an bahwa p, kita menyebutnya, adalah benar jika dan hanya jika p; sebagai contoh, sebuah keyakinan bahwa Smith adalah antara pembohong atau orang bodoh adalah benar jika Smith adalah antara pembohong atau orang bodoh. Memang,

F. P. R A M S E Y ￿￿

sepertinya mungkin untuk mengganti definisi ini dengan sebuah bentuk yang berbelit (periphrasis) tentang koresponensi atas dua fakta tersebut; tetapi jika akhirnya bentuk tersebut tidak sah, ketidakabsahan tersebut tidak membuktikan bahwa definisi kita salah, tetapi hanya bahwa hal tersebut sebaiknya tidak secara ketat disebut teori korespondensi dan bahwa pernyataan kebenaran dalam term korespondensi sebaiknya dipahami sebagai penjelasan populer yang tidak akurat. Kebenaran, sekali lagi, adalah saat seseorang mempercayai bahwa A adalah B dan A adalah B, tidak peduli apakah keadaan tersebut dapat dideskripsikan secara akurat sebagai korespondensi antara dua fakta atau tidak; kegagalan mendeskripsikan kepercayaan tersebut dalam term korespondensi tidak dapat menunjukkan bahwa hal tersebut tidak dapat muncul dan hal tersebut bukanlah apa yang kita sebut dengan kebenaran. Teori kebenaran ini hanyalah sebuah truisme (truism), tetapi tidak ada klise yang sejelas ini sehingga belum ada filsuf terkenal yang menyangkalnya, dan dengan risiko membo- sankan pembaca kita akan sekali lagi menekankan truisme kita. Mari ambil contoh tiga pernyataan di bawah ini: Bumi itu bulat Benar bahwa bumi itu bulat Siapa pun yang percaya bahwa bumi itu bulat percaya dengan benar

Jelas bahwa pernyataan di atas setara, dalam arti bahwa tidak mungkin untuk mengafirmasi satu di antara pernyataan tersebut dan menolak yang lain tanpa kontradiksi; sebagai contoh, mengatakan, bahwa benar bahwa bumi itu bulat tetapi bahwa bumi tidak bulat benar-benar absurd. Sekarang, pernyataan pertama dari tiga pernyataan di atas

￿￿ F. P. R A M S E Y

tidak melibatkan ide kebenaran dalam bentuk apa pun. Pernyataan itu hanya mengatakan bahwa bumi itu bulat. [Pada pernyataan kedua, kita harus memberikan awalan “benar bahwa” yang secara umum ditambahkan untuk tidak mengubah makna, tetapi untuk apa yang dalam artian luas disebut keper- luan gaya penulisan [dan tidak mengubah makna pernyataan apa pun]. Oleh karena itu, kita dapat menggunakannya seperti “walaupun” yang digunakan untuk mengakui satu poin tetapi menyangkal konsekuensi yang diandaikan, “benar bahwa bumi itu bulat, tetapi tetap saja... ,” atau, lagi, kita sering menggunakannya saat apa yang kita katakan dipertanyakan: “apakah itu benar?” ya, pernyataan itu memang benar.” Tetapi di kasus terakhir frasa “benar bahwa bumi itu bulat” berubah dari arti bahwa bumi itu bulat [...] Namun, makna kedua sedikit tidak jelas: itu dapat berarti hanya sinonim untuk yang pertama, tetapi lebih sering meng- acu pada kemungkinan seseorang yang sedang percaya atau mengatakan bahwa bumi itu bulat. Kita tidak hanya berpikir bahwa bumi itu bulat, tetapi bahwa karena hal tersebut bulat, siapa pun yang percaya atau mengatakan bahwa hal tersebut bulat percaya atau berbicara dengan benar. Kita telah beralih dari pernyataan yang pertama ke ketiga. Namun, pernyataan yang ketiga tidaklah berbeda dari yang pertama, dan hal itu hanyalah pikiran pertama yang berhubungan dengan kemungkinan seseorang mengatakannya atau memercayainya. Ambil kasus yang serupa, seperti, kita dapat mengatakan secara sederhana “cuaca di Skotlandia buruk pada bulan Juli”, atau kita dapat memikirkan fakta tersebut dengan acuan ke kemungkinan efeknya pada satu atau dua teman kita dan mengatakan “jika kamu di Skotlandia pada bulan Juli, kamu akan merasakan udara yang buruk.” Dengan demikian, kita dapat

F. P. R A M S E Y ￿￿

memikirkan bumi berbentuk bulat sebagai subjek yang mung-

kin dari keyakinan dan berkata “jika kamu berpikir bumi itu bulat, kamu berpikir dengan benar” dan ini sama dengan bahwa bumi memiliki kualitas yang kamu pikirkan saat kamu berpikir bahwa hal tersebut bulat, atau bahwa bumi itu bulat. Semua hal ini benar-benar begitu jelas sehingga orang ma- lu untuk mengatakannya dengan tegas, tetapi ketegasan kita penting mengingat cara yang tidak biasa yang dilakukan oleh filsuf-filsuf saat memproduksi definisi kebenaran yang tidak kompatibel dengan klise kita ini, yakni definisi yang menye- butkan bahwa bumi dapat bulat tanpa perlu benar bahwa itu bulat. Hal tersebut ada karena banyaknya kebingungan yang pastinya susah untuk dibuat jelas mengingat kepopulerannya yang tidak biasa. Sisa tulisan ini hanya akan mempertahan- kan klise kita ini bahwa sebuah keyakinan bahwa p benar jika dan hanya jika p, dan akan menyingkap kebingungan yang menyelubunginya. Jenis kebingunan pertama muncul dari ambiguitas pertanyaan yang kita sedang berusaha jawab, pertanyaan “apa itu kebenaran?” yang dapat diinterpretasikan lewat tiga cara berbeda. Di tempat pertama, terdapat beberapa filsuf yang tidak melihat masalah apa pun dari pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan “kebenaran”, tetapi mengamini interpretasi kita atas term tersebut sebagai hal yang jelas benar, dan dengan judul “apa itu kebenaran” mereka memilih untuk membahas masalah yang berbeda, yakni memberikan kriteria umum untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan. Ini se- perti interpretasi Kant dan dia cukup benar saat mengatakan bahwa ide kriteria umum kebenaran itu absurd, dan bahwa orang-orang yang membahas pertanyaan tersebut sebodoh orang-orang yang memerah kambing jantan dan memegang

￿￿ F. P. R A M S E Y

saringan untuk menangkap susunya.

Kedua, bahkan meskipun kita setuju bahwa problemnya adalah mendefinisikan kebenaran dalam arti menjelaskan maknanya, masalah ini dapat memiliki dua kompleksitas yang berbeda tergantung pada definisi mana yang siap untuk dipu- askan. Definisi kita diartikan dalam arti acuan proposisional, yang kita anggap sebagai term yang sudah dipahami. Tetapi mungkin disanggah bahwa gagasan atas acuan proposisional ini dalam dirinya membutuhkan analisis dan definisi, dan bahwa sebuah definisi kebenaran dalam artian gagasan, yang begitu kabur, merepresentasikan sedikit sekali, jika memang ada, kemajuan. Jika sebuah keyakinan diidentifikasi sebagai apa yang tuan Jones sedang pikirkan pada jam 10 pagi, dan kita bertanya apa yang dimaksud dengan menyebut keyakinan tersebut sebagai keyakinan yang benar, menerapkan satu-satunya jawaban yang kita punya hingga saat ini, kita perlu tahu apakah yang tuan Jones yakini adalah “keyakinan bahwa”; sebagai contoh, kita mengatakan bahwa jika hal tersebut adalah sebuah keyakinan bahwa bumi itu datar, maka benar bahwa jika bumi itu datar. Tetapi untuk banyak orang, hal ini terlihat seperti hanya menghindari bagian tersulit dan paling menarik dari persoalan ini, yakni untuk mengetahui ba- gaimana dan dalam arti apa gambaran atau ide dalam pikiran tuan Jones pada jam 10 pagi membentuk atau mengekspre- sikan “keyakinan bahwa bumi itu datar.” Kebenaran, kata mereka, terdiri dari relasi antara ide dan realitas, dan peng- gunaannya tanpa analisis terhadap term acuan proposisional jelas menyembunyikan dan menghidari semua masalah asli yang relasi ini libatkan. Serangan ini, harus diakui, adil, dan penjelasan teori kebenaran yang menerima gagasan acuan proposisional tanpa

F. P. R A M S E Y ￿￿

analisis tidak mungkin dapat dipahami secara lengkap. Kare-

na semua kesulitan yang terhubung dengan gagasan tersebut

benar-benar terlibat dengan kebenaran yang tergantung pa- danya: jika, sebagai contoh, “acuan proposisional” memiliki makna yang cukup berbeda di setiap jenis keyakinan yang berbeda (sebagaimana yang banyak orang katakan), maka am- biguitas yang sama juga tersimpan dalam kata “kebenaran”, dan jelas bahwa kita tidak akan membuat ide kita tentang kebenaran benar-benar jelas sampai masalah ini dan yang serupa terselesaikan. Namun, meskipun reduksi atas kebenaran ke acuan proposisional hanyalah bagian yang sangat kecil dan paling mu- dah dari analisis ini, tidak berarti ini adalah hal yang dapat kita abaikan. [Tidak hanya penting untuk paham bahwa kebenaran dan acuan kebenaran bukanlah gagasan mandiri yang membutuhkan analisis yang berbeda, tetapi juga kebenaran- lah yang tergantung pada dan harus didefinisikan via acuan, bukan acuan via kebenaran.] Karena tidak hanya penting untuk selalu paham bahwa masalah ini datang lewat dua cara, reduksi kebenaran ke acuan dan analisis acuan itu sendiri, dan jelas bagian masalah mana yang selalu diselesaikan, tetapi untuk banyak tujuan hanya solusi bagian pertama dan termudah yang kita butuhkan; kita sering tidak terpaku pada keyakinan atau putusan sebagai peristiwa pada waktu tertentu dan pada pikiran orang tertentu, tetapi pada, sebagai contoh, keyakinan atau putusan bahwa “semua manusia itu dapat mati”; karena saat kita berbicara tentang putusan “semua manusia dapat mati” apa yang sebenarnya hadapi adalah putusan khusus pada kesempatan khusus apa pun yang memiliki acuan proposisional tersebut, yang putusannya adalah “bahwa semua manusia dapat mati.” Jadi, melalui kesulitan psikologis

￿￿ F. P. R A M S E Y

yang terlibat dalam gagasan acuan ini yang harus dihadapi dengan perlakuan lengkap atas kebenaran, baik untuk me- mulai dengan sebuah definisi yang mencukupi untuk banyak tujuan penting dan bergantung hanya pada pertimbangan paling sederhana. Dan apapun bentuk definisi komplet tersebut, definisi tese- but harus mempertahankan hubungan antara kebenaran dan acuan, bahwa sebuah keyakinan “bahwa p” benar jika dan hanya jika p. Kita mungkin mengejek hal ini sebagai formalisme remeh (trivial), tetapi karena kita tidak dapat menyalahkan- nya tanpa absurditas, penjelasan ini memberikan kontribusi kecil untuk investigasi mana pun yang lebih dalam bahwa mereka harus berkompromi dengan truisme yang jelas ini.


F. P. R A M S E Y ￿￿

APENDIKS ￿

TERDAPAT dua sanggahan atas definisi di atas, yang [hanya] formal dan yang serius. Yang saya maksud dengan sanggahan formal adalah sanggahan yang tidak menolak bahwa keyakinan bahwa A adalah B itu benar jika dan hanya jika A adalah B, tetapi mengatakan bahwa definisi ini, meskipun merupa- kan pernyataan yang tepat, bukanlah definisi yang benar dari kebenaran atau penjelasan tentang kebenaran. Sebagai contoh, mungkin dikatakan bahwa sebuah keyakinan yang benar adalah keyakinan atas proposisi yang benar dan bahwa meskipun proposisi “A adalah B” adalah benar, jika dan hanya jika A adalah B, tetapi untuk proposisi “A adalah B” menjadi benar dan untuk A menjadi B, adalah dua fakta yang berbeda (meskipun setara), dan yang pertama, dan bukan yang kedua, yang harus digunakan untuk mendefiisikan keyakinan yang benar. Pertanyaan formal [gangguan ini] ini akan saya jawab nan- ti, dan mengkhususkan bab ini untuk memeriksa sanggahan yang lebih serius, yakni yang menyangkal bahwa sebuah keyakinan adalah benar jika dan hanya jika keyakinan tersebut adalah keyakinan “bahwa p” dan p, dan mengusulkan, bu- kannya definisi seperti bahwa sebuah keyakinan adalah benar

jika keyakinan tersebut berguna, atau jika keyakinan tersebut

adalah bagian dari sistem yang koheren, definisi yang tidak hanya secara formal tetapi juga secara material bertentangan dari definisi kita. Saya harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk percaya bagaimana seseorang dapat menyangkal bahwa sebuah keyakinan bahwa A adalah B adalah benar jika dan hanya jika A adalah B. Mari kita ambil tiga kalimat ini sebagai contoh: Bumi itu bulat Benar bahwa bumi itu bulat Siapapun yang percaya bahwa bumi itu bulat percaya de- ngan benar

Jelas bahwa dua kalimat pertama itu setara; siapa pun yang mengatakan bahwa “bumi itu bulat tetapi itu tidak benar bahwa bumi itu bulat,” atau “benar bahwa bumi itu bulat tetapi bumi tidak bulat” akan mengontradiksikan dirinya sen- diri. Saya merasa, secara umum, hal-hal tersebut memiliki makna yang sama, dan kita menggunakan “benar bahwa bumi itu bulat” karena masalah preferensi untuk formulasi yang lebih padat, kita melakukannya untuk apa yang disebut ke- pentingan gaya bahasa; sebagai contoh “benar bahwa” dapat digunakan seperti “walaupun” untuk mengakui satu poin tetapi menyangkal konsekuensi yang diandaikannya, dan, la- gi, saat apa yang kita katakan dipertanyakan dan pada saat refleksi kita memutuskan untuk menyetujuinya. “Apakah itu benar?” “Ya, itu benar-benar benar.” Namun, di kasus terakhir, masuk akal untuk mengatakan bahwa “benar bahwa bumi itu bulat” digunakan tidak hanya untuk “bumi itu bulat,” tetapi untuk kalimat ketiga kita “siapa pun yang percaya (atau mengatakan) bumi itu bulat percaya (atau mengatakan) de- ngan benar.” Tetapi, dalam pandangan kita, kalimat ketiga

￿￿ F. P. R A M S E Y

APENDIKS ￿

tidaklah lebih berbeda dari yang pertama, sebagaimana pada

“jika kamu ke Skotlandia pada bulan Juli, kamu akan menga- lami cuaca yang buruk.” “Siapa pun yang percaya bumi itu bulat percaya dengan benar” secara sederhana berarti bahwa bumi memiliki kualitas yang siapa pun yang memercayainya sebagai bulat percaya bumi memilikinya, atau bahwa bumi itu bulat. Oleh karena itu, dalam pandangan kita, atau pandangan yang serupa, bahkan jika diformulasikan secara berbeda, me- nyatakan satu dari tiga kalimat kita dan menyangkal yang lain adalah kontradiksi, sebagaimana pendapat setiap orang; tetapi beberapa filsuf memberikan teori kebenaran yang, jika punya arti, bahwa definisi kita bukanlah hal yang benar, dan bahwa bumi dapat menjadi bulat tanpa benar bahwa itu bulat. Jelas susah untuk melihat bagaimana seseorang dapat ber- pikir seperti itu, dan dicurigai bahwa penyangkalan ini hanya- lah sebuah kesalahpahaman dan, dengan teori kebenaran mereka, mereka tidak berusaha untuk menjawab pertanyaan kita tentang makna dari term kebenaran tetapi mengandaikan teori kita atau yang serupa atas apa yang dimaksud dengan term “benar” dan mencoba untuk menemukan pada keyakinan apa term tersebut sebaiknya diterapkan, atau bahwa mereka bu- kannya mendiskusikan “apa itu kebenaran?”, tetapi “apa itu benar?” Sayangnya, penyelidikan atas karya-karya mereka akan menghilangkan harapan seperti itu dan menunjukkan bahwa kita benar-benar dihadapkan dengan ketidaksetujuan yang serius tentang keseluruhan hakikat kebenaran. Di luar tiga macam teori utama, teori korespondensi, teori koherensi, dan pragmatisme, hanya yang pertama yang cocok dengan milik kita di isu utama bahwa keyakinan bahwa A adalah B

F. P. R A M S E Y ￿￿

adalah benar jika dan hanya jika A adalah B, dan pandangan kita tentu saja berada di kelas teori korespondensi, meskipun kita belum menggunakan kata korespondensi. [Daripada mengatakan bahwa keyakinan benar, jika A adalah B, jika mau, kita dapat mengatakan bahwa keyakinan tersebut benar jika terdapat fakta bahwa A adalah B, dan fakta ini bahwa A adalah B dapat dikatakan korespon dengan kepercayaan orang tersebut yang percaya bahwa A adalah B. Tetapi, korespondensi yang muncul di antara mereka hanya dapat ditemukan dari analisis tentang acuan proposisional, tentang apa yang kita sebut dengan percaya bahwa A adalah B. Hanya dengan itu kita dapat menetapkan dengan cara apa percaya bahwa A adalah B korespon dengan A adalah B, dan hal tersebut adalah tugas yang belum selesai; Kita dengan yakin telah mengasumsikan acuan proposisional dan tidak bertanya “apa yang membentuk acuan proposisional?” tetapi, “jika terdapat acuan proposisional, apa yang membentuk kebenaran?”] Jika A adalah B, kita dapat mengatakan sesuai dengan penggunaan umumnya dari fakta tersebut bahwa A adalah B dan mengatakan bahwa hal tersebut korespon dengan keyakinan A adalah B dengan cara jika A bukanlah B tidak ada fakta yang korespon dengan keyakinan itu; tetapi korespondensi macam itu hanya dapat diselesaikan saat kita telah mengetahui analisis dari “memercayai bahwa A adalah B”, yakni, acuan proposisional. Kita akan menjawab ini nanti, tetapi sejauh ini kita hanya menganggap “percaya bahwa” sebagai sesuatu yang telah lazim di luar ketidakmampuan kita untuk menganalisisnya, dan memberikan definisi kebenaran dan ke- salahan kita dengan dasar gagasan yang belum teranalisis ini. Karenanya, kita hanya dalam posisi untuk mengatakan secara kabur tentang korespondensi apa pun yang muncul antara A

￿￿ F. P. R A M S E Y

APENDIKS ￿

adalah B dan kepercayaan seseorang bahwa A adalah B, dan tidak membuat gagasan yang saksama. Selain itu, jelas bahwa tugas untuk membuatnya tepat dihadapkan dengan kesulit- an tidak hanya dari sisi keyakinan tetapi juga dari sisi fakta yang berkorespondensi. Jika Jones percaya bahwa Smith adalah antara pembohong atau bodoh, apakah kita mengatakan bahwa keyakinannya, jika benar, terkorespon dengan sebu- ah “fakta disjungtif” bahwa Smith adalah antara pembohong atau bodoh? Atau haruskah kita menyangkal bahwa terda- pat realitas antara-atau dan mengatakan bahwa keyakinan ini dibuat benar antara oleh fakta bahwa Smith adalah pembohong, atau oleh fakta bahwa dia bodoh. Ataukah pertanyaan ini hanyalah verbal dan kedua ekspresi tersebut secara setara [baik, valid] akurat? Menurut saya, keduanya tidak akurat, karena pertanyaan tentang korespondensi ini, meskipun sah dan cocok untuk beberapa tujuan, tidak memberikan, dalam opini saya, analisis tentang kebenaran, melainkan bentuk ber- belit yang tidak efisien, yang karenanya tidak sesuai untuk analisis. Percaya dengan benar adalah percaya bahwa p saat p, dan tidak perlu [tetapi banyak kerugian dengan memulai dari awal] untuk mengganti teori ini sebagai korespondensi, tentu saja kecuali jika, suatu susuan korespondensi secara esensial terlibat dalam gagasan “memercayai bahwa p,” pertanyaan yang kita harus tinggal dulu hingga kita sampai pada analisis acuan proposisional. Kritik kepada teori korespondensi hampir semuanya dia- rahkan ke bentuk khusus sederhana dari korespondensi yang mana tidak ada orang sadar mana pun dapat mengandaik- an untuk mempertahankan hubungan keyakinan dan fakta. Bentuk tersebut jelas tidak membentuk kebenaran, dan hanya dikonstruksi untuk menghancurkan bentuk itu sendiri. Seba-

F. P. R A M S E Y ￿￿

gai contoh, Profesor Joachim mendefinisikan korespondensi seperti ini: “dua faktor yang berbeda... ‘terkorespondensi’ jika setiap dari mereka adalah keseluruhan yang struktur in- tranya adalah teleologis, saat struktur tersebut identik seperti eksplikasi dari ide dan tujuan yang sama, dan saat, akhirnya, setiap bagian yang terpisah memenuhi fungsi yang sudah dideterminasi dalam satu faktor terdapat bagian yang memenuhi fungsi yang sama dalam bagian yang lain” Dan tentu saja pandangan bahwa korespondensi macam ini yang memper- tahankan antara keyakinan yang benar dan fakta tidak layak untuk dipertimbangkan. Keyakinan bahwa rumput itu hijau adalah benar, keyakinan bahwa rumput itu merah adalah sa- lah, tetapi tidak ada orang yang benar-benar menyerukan bahwa ini karena keyakinan yang pertama “mengeksplikasi ide dan tujuan yang sama” seperti ke-hijau-an (greenness) dari rumput. Dua keyakinan tersebut lah yang secara rasional dapat dikatakan memiliki struktur yang sama, fungsi yang dipenuhi oleh merah (atau apa pun yang membuat keyakinan tentang ke-merah-han (redness)) dalam satu bagian dipenuhi oleh hijau di bagian lain; sehingga jika suatu keyakinan memiliki struktur yang sama dengan fakta, begitu juga dengan yang lainnya, dan perbedaan antara kebenaran dan kesalahan jelas tidak dapat hanya menjadi masalah perbedaan stuktur. Tetapi menjatuhkan argumen orang-orang yang tidak ka- pabel (men of straw) tersebut tidak memberikan alasan serius untuk meninggalkan truisme jelas kita bahwa “keyakinan bahwa p” benar jika dan hanya jika p [yang adalah hal yang lawan kita ajukan, dan ini mewajibkan kita untuk mempertimbangk- an alasan positif apa yang mereka dapat miliki untuk teori mereka] dan alasan di balik teori koherensi dan pragmatis harus ditemukan di tempat lain.

￿￿ F. P. R A M S E Y

APENDIKS ￿

NAMUN, jika deskripsi dalam artian korespondensi itu mungkin, maka definisi kita bisa saja dapat dikritisi karena gagal menyebut korespondensi ini. Keyakinan bahwa A adalah B adalah benar jika dan hanya jika A adalah B, mungkin dikatakan, adalah pernyataan yang tepat meskipun bukanlah definisi yang tepat atas apa yang benar-benar kita sebut dengan keyakinan yang benar, yang terkorespondensi ke fakta; jelas keyakinan bahwa A adalah B terkorespon dengan sebuah fakta jika dan hanya jika A adalah B, tetapi hal ini adalah hal yang berbeda dan yang pertamalah dan bukan yang kedua yang memberikan makna pada kebenaran. Sehing- ga, orang-orang yang percaya pada proposisi mungkin juga mengatakan bahwa keyakinan yang benar adalah keyakinan pada proposisi yang benar dan bahwa meskipun proposisi “A adalah B” benar jika dan hanya jika “A adalah B,” tetapi agar proposisi menjadi benar agar A adalah B adalah hal- hal yang berbeda dan yang pertama dan bukan yang kedua yang memberikan makna untuk makna keyakinan yang benar. Kesulitannya tentu saja hanya muncul jika, setidaknya, satu dari formulasi saingan ini menjadi benar, yakni, jika memang

terdapat hal yang disebut dengan proposisi atau relasi yang disebut dengan korespondensi; [Kita belum tahu tentang hal ini, tetapi anggap hal tersebut muncul, hal tersebut tidak akan pergi terlalu dalam] dan hal tersebut tidak akan menjadi sa- ngat serius di peristiwa apa pun karena definisi alternatifnya adalah ex hypotesi secara logis setara dengan milik kita dan tidak benar-benar mendefinisikan gagasan yang berbeda. Hal tersebut tidak atau nyaris tidak mungkin dan jika pun mungkin, akan sia-sia untuk memilih antara dua definisi yang setara kecuali untuk derajat kenyamanan. Apakah “paman-kakek” adalah saudara kakek atau pamannya paman?] Kita dapat mengandaikan seseorang percaya bahwa A adalah B; terdapat dua kemungkinan di sini, antara A adalah B atau A bukanlah B. Di kasus yang pertama, di mana A adalah B, proposisi “A adalah B,” jika terdapat hal seperti itu, adalah benar, dan keyakinan bahwa A adalah B kores- pon dengan sebuah fakta, yakni fakta bahwa A adalah B. Di kasus yang kedua, A bukanlah B, proposisinya salah, fakta tersebut tidak ada. Kita semua setuju bahwa keyakinan di kasus pertama benar dan salah di kasus kedua, dan mereka berbeda hanya tentang apakah itu adalah A yang adalah B, proposisinya yang benar, atau keberadaan dari fakta tersebut yang memberikan makna pada kita saat kita mengatakan bahwa keyakinan orang tersebut benar. [Karena, mengikuti hipotesis, mereka semua harus selalu terjadi secara bersama- an, saya tidak tahu bagaimana seseorang memutuskan apa yang kita maksud dengan [.. .]] Ini benar-benar pertanyaan yang tidak berguna, seperti bertanya apakah “paman kakek” benar-benar berarti orang tua dari paman atau saudaranya kakek; tetapi, jika harus memilih, pilihan definisi kita yang mengatakan bahwa keyakinan secara sederhana benar jika

￿￿ F. P. R A M S E Y

APENDIKS ￿

A adalah B lebih menguntungkan, dan ini menjauhkan semua kesulitan psikologis dan metafisik yang terlibat dalam korespondensi keyakinan dengan fakta atau eksistensi dari ‘proposisi.’ Ini bukan berarti bahwa kesulitan ini tidak akan dihadapi. [Jika kita benar-benar ingin masuk ke dasar konsep kebenaran, kita tidak boleh puas dengan reduksi ke acuan proposisional saja, tetapi melanjutkannya ke analisis atas hal tersebut. Tetapi, untuk banyak tujuan filosofis, reduksi ke acuan proposisional sudah cukup; kita sering tidak perlu untuk [.. .]]. Untuk mem- berikan analisis yang lengkap atas kebenaran tidak cukup hanya dengan mereduksinya ke acuan proposisional, tetapi nantinya hal ini juga harus dianalisis [kemudian]. Sejauh kita mengakuinya [konsep tersebut] tanpa analisis, akan masih terdapat elemen yang kabur saat kita mengatakan “keyakinan bahwa p,” perasaan atas kesulitan yang tersembunyi ini tidak boleh diacuhkan. Dan karena kebenaran bergantung pada dan didefinisikan dalam [artian acuan proposisional] konsep “percaya bahwa,” kekaburan [dan ketidaktahuan] ten- tang acuan proposisional berarti kekaburan atas kebenaran. Sebagai contoh, kita belum tahu apakah benar-benar terdapat konsep umum acuan proposisional yang begitu luas sehingga mencakup semua kasus dari mempercayai (believing), atau jangan-jangan term “percaya bahwa” mungkin tidak benar-benar ambigu dan maknanya yang berbeda tidak memiliki kesamaan penting. Karena di kasus yang kedua “kebenaran” juga akan ambigu dan ‘korespondensinya’ antara keyakinan yang ‘benar’ dan fakta akan cukup berbeda untuk setiap ma- cam keyakinan, kita jelas tidak akan selesai dengan kebenaran sampai kita sampai ke dasar dari acuan proposisional. [Hanya sampai di sana barulah kita dapat secara aman

F. P. R A M S E Y ￿￿

menjawab sanggahan tertentu tentang definisi kita bahwa A adalah B adalah benar jika A adalah B. Yang saya maksud adalah jenis kritik yang mengatakan bahwa ini adalah per- nyataan yang tepat tentang kebenaran tetapi membantahnya sebagai definisi [kebenaran]. Sebagai contoh, beberapa orang percaya bahwa keyakinan yang benar adalah keyakinan pada proposisi yang benar dan bahwa meskipun proposisi “A adalah B” adalah benar saat dan hanya saat A adalah B, tetapi untuk proposisi A adalah B menjadi benar dan untuk A menjadi B adalah dua fakta yang berbeda meskipun setara; dan, karenanya mereka berpikir, hal yang pertama dan bukan yang kedua dari fakta-fakta ini yang harus digunakan untuk mendefinisikan keyakinan yang benar. Jelas sanggahan ini hanya dapat, atau jauh lebih mudah, dihilangkan saat kita telah memutuskan apakah acuan proposisional ada.] Tetapi, untuk banyak tujuan filosofis, tidak niscaya untuk pergi sedalam itu; kita tidak perlu pergi ke analisis tentang gagasan “keyakinan bahwa p” dan dapat puas dengan definisi kebenaran yang memberitahu kita apa yang dimaksud dengan menyebut sebuah keyakinan benar saat acuan pro- posisionalnya ada. Langkah pertama dalam analisis tentang ide kebenaran pada kesempatan apapun adalah menunjuk- kan bahwa hal tersebut tergantung pada acuan proposisional sehingga saat kita mengetahui apa itu keyakinan “keyakinan bahwa,” kita tahu dalam kasus apa itu benar, atau jika itu adalah “keyakinan bahwa p,” itu benar jika p. Seakan-akan truisme ini nyaris tidak berharga untuk di- suarakan, dan banyak filsuf besar saat membahas “apa itu benar?” mengasumsikan langkah pertama ini dengan begitu saja (for granted) dan langsung lanjut ke langkah dan masalah selanjutnya yang lebih susah tentang apa itu acuan proposi-

￿￿ F. P. R A M S E Y

APENDIKS ￿

sional. Ini mengapa William James sering menekankan bahwa

kebenaran adalah kesesuaian (correspondence) antara ide kita dengan realitas, dan masalahnya terletak pada apa arti dari kesesuaian ini, atau, dalam terminologi kita, sebuah keyakinan benar jika keyakinan tersebut adalah keyakinan bahwa A adalah B dan A adalah B. Namun, hubungan apa yang terjadi antara keyakinan dan A adalah B yang membuatnya mejadi keyakinan bahwa A adalah B? Namun, mengagetkannya, banyak filsuf secara eksplisit atau dengan implikasi menolak truisme ini, dan mengonstruk- si teori yang benar-benar bertentangan dengan teori ini. Be- berapa pihak curiga awalnya, menganggap bahwa terdapat salah paham, bahwa saat bertanya “apa itu kebenaran?” mereka tidak, sebagaimana kita, hanya mencari makna dari kata, tetapi mencari kriteria kebenaran, cara-cara untuk mengatakan apa itu benar. Namun, kecurigaan ini tidak bertahan saat kita meneliti karya-karya mereka, dan jumlah filsuf yang jelas di poin esensial ini benar-benar sedikit. [Apa yang saya maksud dengan poin esensial di sini adalah; saat kita bertanya apa maksud dari mengatakan sebuah keyakinan benar, kita harus jelas apakah kita sedang mengasumsikan acuan proposisionalnya begitu saja, apakah kita hanya bertanya apa yang dimaksud dengan menyebut sebuah keyakinan adalah sesuatu (“sesuatu” di sini dapat antara secara eksplisit terberi atau setidaknya diasumsikan secara te- oretis pasti (definitive)) atau mengasumsikan, misalnya, “apa yang terlintas di pikiran tuan Smith pada jam 10 .]


F. P. R A M S E Y ￿￿

Produksi pengetahuan hari-hari ini nyaris selalu membutuhkan topangan (pe)modal. Tepat ketika produksi pengetahuan itu menyandarkan diri sepenuhnya pada modal, maka saat itulah juga terjadi produksi kekuasaan—yang pada akhirnya juga akan memproduksi ketidaksetaraan: ada orang yang mampu mengakses pengetahuan, juga ada yang tidak mampu mengaksesnya. Antinomi Institute, sebuah organisasi nonprofit yang membaktikan dirinya untuk pengembangan pengetahuan, ingin memutus ketergantungan produksi pengetahuan pada modal—yang watak primordialnya adalah selalu untuk melipatgandakan dirinya—dan juga ingin memastikan bahwa pengetahuan itu bisa dinikmati oleh semua orang.

Sejauh ini, Antinomi Institute telah melakukan produksi dan distribusi pengetahuan melalui dua bentuk: situs web dan buku. Semuanya dikerjakan dengan semangat untuk memproduksi pengetahuan, bukan untuk mengakumulasi kapital. Semua konten di situs web kami bisa diakses secara gratis, beberapa buku cetak dijual hanya untuk mengganti biaya produksi, selebihnya dibagikan secara gratis, dan semua buku elektronik (ebook) yang kami buat juga dibagikan secara gratis. Namun, untuk memastikan keberlanjutan itu semua, kami memerlukan keterlibatan Anda sebagai pembaca dan penikmat pengetahuan untuk memberikan bantuan dan dukungan material.

Sebagaimana moto “Sci-Hub”, kami ada untuk “removing barriers on the way of knowledge”.

Jika kalian merasa terbitan-terbitan Antinomi penting, kalian dapat membantu kami untuk tetap konsisten dalam memproduksi pengetahuan yang dapat diakses semua orang melalui:

BCA: 521-1386-747 (Fajar Nurcahyo) DANA: 081294567235 (Fajar Nurcahyo) OVO: 081294567235 (Fajar Nurcahyo) LINKAJA: 081294567235 (Fajar Nurcahyo)

antinomi.org antinomi.institute antinomidotorg

SERI FILSAFAT ANALITIK Seri Filsafat Analitik merupakan seri terbitan tentang Filsafat Analitik yang diterbitkan atas kerja sama Antinomi Institute dengan Ze-No – Centre for Logic and Metaphysics. Sejauh ini, publik filsafat di Indonesia masih belum begitu akrab dengan tema-tema dalam Filsafat Analitik. Seri terbitan ini, karenanya, dimaksudkan sebagai upaya untuk memperkenalkan Filsafat Analitik ke publik filsafat di Indonesia dengan menerjemahkan beberapa teks pokok yang ditulis oleh para filsuf analitik ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini merupakan seri kedua yang kami terjemahkan ͝ɟͮɟˍǵʎڂˆǵ˅ͮǵڂɎǵ˱ڂŴ̵̿́́͝ʡ͝ʡڂԲԇԅԇԅԼձڂ@ͽ˅ͽڂʡ˱ʡڂ dipublikasikan jauh setelah Ramsey meninggal (1991, żǵ˪͝ɟΰڂ˪ɟ˱ʡʄʄǵˍڂͮǵʎͽ˱ڂԆԐԉԅԼձڂČǵ̿ɟ˱ǵ˱ΰǵհڂȻǵ˱ΰǵ˅ڂ bagian yang diberi tanda [], [...], dan < >, terutama di apendiks, untuk mengakomodasi bagian-bagian yang masih berupa catatan.

NON FIKSI / FILSAFAT in collaboration: ISBN 978-623-96375-8-3 (PDF)

786239 637583