Baca PDF (OCR): SUBJEK 01 - TAKDIR

38 halaman · 9 halaman diproses dengan OCR· 10650 ms

Daftar isi
  1. UTOPIA
  2. SU K TDIR
  3. 1 O22
  4. proyek utopia proyek utopia
  5. PROYEK UTOPIA
  6. SUBJEK 01: TAKDIR
  7. Tim Redaksi
  8. Kontributor
  9. subjek 01: takdir subjek 01: takdir
  10. Panduan Menuju Proyek Utopia
  11. Bacalah soal berikut dengan (tidak) cermat. Pilihlah jawaban yang sesuai!
  12. subjek 01: takdir subjek 01: takdir
  13. DAFTAR ISI
  14. 22 aku, merah, kau
  15. Ranna Madellin
  16. Akhir Bahagia untuk Cucu Kakek
  17. Fatru Tamzil
  18. Kakekku sudah mati, tapi dia cerewet sekali.
  19. Tentang Penulis Tentang Penulis
  20. Can You Use Your
  21. Flying Car and Come Pick
  22. Me Up?
  23. Kenny Andriana
  24. One night, when we found
  25. About Author About Author
  26. Warning! Harap perhatikan baik-baik peringatan berikut
  27. Sebuah Andaian
  28. Sofia Tantono
  29. Bayangkan, jika Anda bisa, seorang gadis kecil yang hidup di masa depan.
  30. Tentang Penulis Tentang Penulis
  31. Warning! Harap perhatikan baik-baik peringatan berikut
  32. If Our Fate Is Set In Stone, Would It
  33. Matter What We Choose?
  34. Tarus Lan
  35. A few years back a good friend of mine whom, unbeknownst to
  36. About Author About Author
  37. aku, merah, kau
  38. Ranna Madellin
  39. D i mataku, dunia ini hanya kelabu.
  40. Tentang Penulis Tentang Penulis
  41. Esirum
  42. Plackeinstein
  43. D unia begitu menyebalkan, dan kita hidup di dalamnya. Aku
  44. Tentang Penulis Tentang Penulis
  45. nunggal sera nunggal sera
  46. Kemudian, Hilang
  47. Nunggal Sera
  48. “Lagi?”
  49. nunggal sera nunggal sera
  50. Tentang Penulis Tentang Penulis
  51. PROYEK UTOPIA
  52. Nunggal Sera
  53. SUBJEK O1: TAKDIR

proyek

UTOPIA

SU K TDIR

1 O22

proyek utopia proyek utopia

PROYEK UTOPIA

SUBJEK 01: TAKDIR

Tim Redaksi

Alfa Nad Prita

Kontributor

Fatru Tamzil Kenny Andriana Sofia Tantono Tarus Lan Ranna Madellin Plackeinstein Nunggal Sera

Proyek Utopia adalah sebuah zine non-profit berisikan antologi fiksi dan non-fiksi spekulatif yang diciptakan oleh Proyek Utopia bersama kontributor. Pembaca diperbolehkan membagikan akses zine berikut kepada orang lain untuk tujuan pribadi (personal use only). Akan tetapi, dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi dari publikasi Proyek Utopia baik secara cetak maupun digital untuk tujuan komersil.

subjek 01: takdir subjek 01: takdir

Panduan Menuju Proyek Utopia

  1. Pergilah ke tempat yang terang. Menunduklah dan tangkupkan kedua tanganmu. Perhatikan baik-baik. Jika kamu tidak bisa melihat garis tanganmu, maka kamu berada di tempat yang gelap. Jika kamu tidak bisa melihat bintik-bintik yang tersebar di telapak tanganmu, maka kamu berada di tempat yang gelap. Jika kamu tidak bisa melihat tanganmu, maka kamu berada di tempat yang gelap. Jika kamu melihat bahwa kita tengah merayap menuju kehancuran, tercabik sepotong demi sepotong oleh kemalangan-kemalangan duniawi, maka kamu berada di tempat yang gelap.
  2. Sebelum membaca naskah-naskah yang dikurasi dalam Proyek Utopia, baik fiksi maupun non-fiksi, baca mantra berikut lisan- lisan: Saya akan membaca dengan bijak. Yang khayali biarlah khayali, yang fakta biarlah fakta. Saya bahagia, saya bahagia, saya bahagia.
  3. Jika kamu bertemu dengan Trigger Warning, baca baik-baik. Kamu boleh pergi ke halaman yang aman. Mengangguklah bila paham. Mengangguk.
  4. Jangan musuhi apa pun dan siapa pun.
  5. Jangan takut.
  6. Jangan takut.
  7. Jangan takut.
  8. Sebarkan, jangan berhenti di kamu.

Bacalah soal berikut dengan (tidak) cermat. Pilihlah jawaban yang sesuai!

Kamu tidak melihat kilatan cahaya dari ufuk barat. Kamu tidak merasakan gemuruh di angkasa. Kamu tidak mendengarkan ronta dan rintih. Jangan coba-coba kabur, kegembiraan akan selalu menemukanmu. Kamu bisa bersembunyi, tetapi kamu tak akan bisa lari dari suka-cita ini (segalanya mungkin akan hancur dan lenyap). Biarkan kedamaian merengkuhmu; biarkan dirimu menghela napas lega (segalanya mungkin akan hancur dan lenyap). Buka telapak tanganmu dan lihat garis-garis di sana (segalanya mungkin akan hancur dan lenyap). Lihat garis-garis itu (segalanya mungkin akan hancur dan lenyap). Lihat saja garis-garis itu, perhatikan baik-baik, jangan berani-beraninya menoleh, tidak ada yang menjerit; dunia tidak sedang hancur. Tahukah kamu, garis-garis di tanganmu berkata bahwa sekarang, tak ada lagi tunda-menunda, kamu akan bahagia.

Selamat datang di Proyek Utopia. Segalanya ______ baik-baik saja.

a) akan
b) masih
c) selalu
d) terlalu

subjek 01: takdir subjek 01: takdir

DAFTAR ISI

2 Akhir Bahagia untuk Cucu Kakek Fatru Tamzil

7 Can You Use Your Flying Car and Come Pick Me Up? Kenny Andriana

13 Sebuah Andaian Sofia Tantono

17 If Our Fate Is Set In Stone, Would It Matter What We Choose? Tarus Lan

22 aku, merah, kau

Ranna Madellin

26 Esirum Plackeinstein

29 Kemudian, Hilang Nunggal Sera

Akhir Bahagia untuk Cucu Kakek

Fatru Tamzil

Kakekku sudah mati, tapi dia cerewet sekali.

Begini, kakekku, dulunya, waktu dia masih hidup dan belum menjadi plasma melayang-layang yang cerewet seperti sekarang, adalah seorang dalang. Dulu, ketika ia masih seorang dalang, dia selalu terobsesi mencari cara menjadi abadi. Obsesi yang kurang baik, menurutku, karena itu membuatnya membuat perjanjian dengan jin tua di hutan kuno, padahal semua orang tahu bahwa kau tidak boleh membuat perjanjian dengan jin, apalagi dengan jin tua di hutan kuno. Di cerita-cerita saja, sudah jelas hal itu dilarang, dan Kakek, sebagai dalang, harusnya tidak melawan yang pantang. Tapi kakekku memang bebal. Dia mau hidup abadi, katanya, supaya dia bisa terus mengawasi keturunannya. Maklum, kakekku anak tunggal, pewaris satu- satunya nama keluarga. Dia khawatir, suatu saat nama keluarganya akan habis dan tiada. Jadi, dibuatnya perjanjian dengan jin tua, yang intinya: selama ada cerita, dalang tidak akan pernah mati, sebab di antara kata dan larik, dalang abadi. Tentu saja, maksud kakekku adalah dia tidak akan mati selama dia bercerita, jadi bayangkan betapa kagetnya Kakekku ketika suatu hari ia terbangun, dan menemukan dirinya terperangkap di dalam sebuah buku cerita.

fatru tamzil

Kakek misuh, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ya salahnya sendiri, melanggar yang berpantang, padahal sebagai dalang ia hafal ketentuan. Menentang ketentuan, bahwa manusia harus pergi meninggalkan dunia dan mencoba meraih keabadian menghasilkan hukuman. Jadi, ia menghabiskan sisa hidup abadinya berpindah dari satu cerita ke cerita lain, dari buku ke buku lain, mewujud menjadi plasma melayang-layang yang menjelma menjadi tokoh cerita. Agak lucu sebetulnya, kakekku yang ketika hidup menjadi dalang, ketika mati turun pangkat jadi wayangnya sendiri. Yang tidak lucu itu ketika aku, Sumbi si cucu, ikut kena getah perbuatan dalang sembrono ini. Setiap kali aku memprotes keputusannya di masa lalu, Kakek entah marah dan ngambek padaku (dia diam di dalam buku berminggu- minggu, tidak bicara padaku sama sekali, menurutku sih ini anugrah), atau mengusap air mata palsunya (aku tidak tega menggunakan air mata buaya sebagai kiasan, aku tidak sejahat itu mengatai kakekku sendiri buaya, lagipula meski menyebalkan dia setia), dan meminta maaf padaku atas kecerobohannya. Atau yang ketiga, yang paling aku benci, dia kemudian menyuruhku mencari cara mematahkan kutukannya. “Gini ya, kakekku tercinta, yang bikin perjanjian kan Kakek, yang dikutuk kan Kakek, kenapa aku yang harus repot?” Aku bersungut-sungut marah. Bukannya aku tidak mencintai kakekku, tapi kutukannya ini merepotkanku juga, dan aku masih kesal karena itu. Tiap Kakek berpindah buku, aku pun ikut berpindah dunia, tapi cuma aku dan bukannya orang-orang di sekitarku. Pernah mencoba mengikuti ujian masuk universitas dengan latar Perang Kemerdekaan? Cobalah, dijamin detak jantungmu berpacu dua kali lebih cepat, dan itu tidak ada hubungannya dengan ujian. “Ya karena kalau kamu enggak mau repot, hidupmu bakal susah,” jawab Kakek cuek bebek. Jawabannya tidak salah, tapi entah kenapa aku kesal mendengarnya. Maksudku, kan dia yang lebih tua, harusnya dia yang mengurusku, bukan sebaliknya. Lagipula, memang dia pikir aku ini tokoh utama di novel fantasi yang kerjaannya melawan takdir? Bahkan tokoh-tokoh itu saja harus menelan kenyataan bahwa takdir tak dapat dilawan, dan mencoba mengubahnya adalah perbuatan yang sia-sia belaka. Kakek sebagai dalang harusnya hafal pakem ini, kan? Kenapa masih memaksaku, coba?

Kalau sudah begitu, kami biasanya hanya terdiam. Kakek marah karena aku tidak mau berusaha, tapi dalam hati tahu bahwa aku benar. Aku tahu bahwa perkataan Kakek ada benarnya, bahwa nasib kami yang naas ini harus segera diubah, tapi aku terlalu takut melawan dalang yang menggerakkan benang-benang takdir, takut kecewa akan hal-hal yang aku tahu tak bisa kukendalikan. Sampai suatu hari aku melakukan hal yang, yah … agak keterlaluan, mungkin? Hei, umurku kan baru delapan belas, masa kalian menyalahkan ketidak mawasanku, sih? __ Aku senang sekali merajut. Ada ketenangan tersendiri yang kurasakan ketika menyatukan benang-benang itu menjadi sesuatu yang baru. Kakekku yang berisik itu suka mengejek hobiku, mirip hobi nenek-nenek, katanya. Aku tersenyum seraya membalas, ya yang tahu hobi nenek-nenek memang cuma kakek-kakek. Kalau sudah begitu Kakek tertawa terkikik-kikik, katanya aku mewarisi lidah tajam ibuku, menantunya yang pergi lebih dulu itu. Aku kadang membalasnya dengan tawa kadang dengan diam. Kehilangan seseorang yang belum

sempat kau kenal adalah bentuk kedukaan yang tak biasa. Kecerobohanku—turunan Kakek—dimulai di suatu hari yang panas. Kakek, entah apa yang merasukinya, mengingat dia tidak bisa kerasukan, sesungguhnya, memutuskan untuk berpindah latar ke novel fiksi ilmiah dengan latar gurun pasir. Permasalahannya, di dunia luar buku, hujan sedang turun dan aku sedang menikmati secangkir cokelat panas dan merajut baju hangat tebal dari benang berwarna merah. Saat sedang asyik merajut, kurasakan udara sejuk di sekitarku berubah menjadi hawa panas tak tertahankan, dan tahulah aku ini perbuatan Kakek. Alasannya? Encoknya kambuh karena udara dingin. Ada-ada saja, dia kan pada dasarnya setan, masa bisa encok? Kakek ngambek padaku karena disebut ‘setan’, masuk ke buku, lalu menghilang. Merajut di iklim gurun pasir sangat menyiksa. Jadi, saat benang yang kupakai jatuh dari pangkuan, asal saja aku berkata bahwa aku akan menikahi siapa pun yang mengambil gulungan benang itu. Seharusnya aku tahu, bahwa takdir suka bermain mata, dan nama adalah doa. Aku, Sumbi, bertemu Tumang-ku hari itu,

seekor anjing berwarna hitam yang menggigit gulungan benang merahku di mulutnya. Aku jatuh cinta, tapi Kakek mengamuk sejadi-jadinya sebab aku menambahkan kutukan baru buat garis keluarga kami. Rasa-rasanya aku tidak sanggup peduli. Frekuensi Kakek marah-marah bertambah setelah kejadian itu. Setiap pagi, dimulainya dengan melirik si Tumang, mencelanya, dan kemudian memarahiku. Kadang-kadang kusumpal kupingku dengan lagu supaya marahnya tidak terdengar. Agak lucu mendengarkan plasma melayang-layang marah-marah diselingi alunan musik pop Korea. Apalagi kalau Kakek marah dalam Bahasa Jawa (yang menurutku tidak ada gunanya, seperti aku mengerti saja). Pada akhirnya, Kakek menyerah dan membiarkanku hidup berdua dengan Tumang. Kadang, kalau ia sedang tidak bernafsu marah, ia memandangku dengan pandangan mata penuh kesedihan, lalu berkata, “Kakek hanya mau kamu bahagia, Sumbi.” Aku membalasnya dengan sorot mata lelah, memeluk Tumang di pangkuan, lalu membalas, “Tapi Sumbi bahagia, Kek.” __

fatru tamzil

Penilaian Kakek atas Tumang dan aku berubah seratus delapan puluh derajat setelah serangkaian kejadian pasca idulfitri tiba. Di kampus, aku bertemu seorang laki- laki, Sangkuriang namanya. Aku tahu dia menyukaiku, tapi aku hanya menganggapnya sebatas sahabat. Dia memang asyik diajak curhat, tapi aku tak pernah merasakan hal yang lebih. Kalau dipikir-pikir, aku memang tak pernah merasakan apa yang disebut teman-temanku sebagai ‘bunga- bunga cinta’. Aku familiar dengan konsepnya, aku suka membacanya, tapi aku sendiri tak pernah merasa perlu mengalaminya. Aku baik-baik saja dengan Tumang dan Kakek, tapi Sangkuriang susah sekali diberitahu. Beberapa hari menjelang idulfitri tahun itu, dengan nada bercanda, aku berkata padanya bahwa aku menginginkan sambal goreng ati. Tentu, ketika dibawakannya makanan itu saat idulfitri, aku girang sekali. Kuundang ia silaturahmi ke rumah, menjamunya dengan ketupat, sayur, opor, dan tentu saja, sambal goreng ati. Ia memakan tandas semuanya kecuali sambal goreng atinya, dan saat itulah aku sadar, Tumang tak ada di rumah. Menyadari alur cerita buatan dalang ini, aku memuntahkan kembali sambal goreng ati buatannya, sebelum memukul

kepala Sangkuriang dengan panci yang kugunakan memasak tadi. Sangkuriang meringis kesakitan, lalu menyumpah bahwa aku tak akan pernah punya pasangan. Kakek tak pernah begitu ingin menjadi setan yang menggentayangi Sangkuriang lebih dari hari itu. Aku tertawa dalam tangisku, namun Kakek menatapku dalam, meminta maaf atas sikapnya selama ini kepada diriku, dan kepada jalan cerita yang telah ditetapkan oleh dalang-Nya. “Kakek ini dalang zaman dahulu, Sumbi. Yang kakek tahu, cerita dimulai dengan ‘pada suatu hari’ dan berakhir dengan ‘mereka hidup bahagia selamanya’. Kakek tidak tahu ada akhir lain selain dua sejoli bersama. Kakek hanya ingin kamu bahagia, cucuku.” “Aku bahagia bersama Kakek dan Tumang. Sudah, itu saja.” “Kalau begitu mari kita tutup pentas-Nya.” __ Rumah itu terletak di ujung jalan, meski ia senang bepergian melintasi kisah-kisah. Di halaman, kau akan melihat seekor anjing berwarna hitam, Tumang, dan seorang gadis dengan gulungan benang merah di

pangkuan. Gadis itu seolah berkomat-kamit sendiri, tapi jika kau menyipitkan mata, kau bisa melihat sosok kakek tua keluar dari buku yang sedang ia baca. Gadis itu merajut baju hangat merah untuk si anjing, yang di perutnya ada bekas jahitan yang panjang sekali. Tumang menggongong-gonggong, mengajak gadis itu bermain. Udara memang terasa sejuk dan menyenangkan, seketika gadis itu meletakkan rajutan. Tumang dan gadis itu berkejaran, di latar belakang matahari terbenam, menutup layar pentas dengan akhir yang bahagia, walau tanpa putri, pangeran, atau pernikahan.

Tentang Penulis Tentang Penulis

Fatima Rugaya Tamzil, biasa dipanggil Fatru Tamzil adalah seorang penulis yang senang mengeskplorasi kisah-kisah legenda, mitologi, dan cerita rakyat untuk diceritakan ulang. Fatru bisa dihubungi melalui laman media sosial Instagram @fatrutamzil.

kenny andriana

Can You Use Your

Flying Car and Come Pick

Me Up?

Kenny Andriana

One night, when we found

awake

ourselves at midnight, I
told her that someone I know once
quoted someone he knows who said She just smiled. She thought
that there’s no such thing as the they were both wrong. “Who is
present; that there’s only the past wrong?” I asked. “The man that
and the immediate future. But then, your friend’s friend once quoted and
I remember something that I’ve the man whose writing was read
read about someone who has read by someone who is mentioned by
something some other person had the writer whose writing was read
written that there’s no such thing by y—this is confusing, you know
as the future; only the past and the what I mean,” she said while that
fleeting moment we continuously mischievous smile was still peeking
live in called the present. from the lines of her mouth.

I knew what she meant but I wanted to know more, “Well, explain one thing to me then.” “What is it?” she said. “Why do you automatically assume those wrong opinions must have belonged to men?” She let out her breathy laugh. “I just knew,” she said, “no explanation needed.” But, still, I wanted more. “Okay, seriously, why are they wrong?” She was still smiling but I could sense that she readied herself before explaining, “To me, the past, the present, and the future all exist and simultaneously happen.” “Why do you think so?” I said keenly. “Because I know,” she said as she reached for my necklace and put its pendant between her fingers. “Help me understand,” I said looking at her eyes—a pair of dark brown eyes looking back at me. “What do you want to know?” I thought for a while, “Our beginning—the past.” She turned her head and stared at the ceiling. She said that there were two beginnings. The first one would take us to the stars. “The stars?” I said. “Yes, those stars up above the sky!” she exclaimed, suddenly excited. “Oh, don’t you know that you were born among the stars?”

She then proceeded to decipher this. She explained that just like every beginning, ours start with the end of another’s. When a star dies, it would combust. All of its particles would be swept out into space—a speck of floating dust in the galaxy. This stardust would sometimes collide and attach itself to one another. Slowly, and not quite surely, they would solidify into rocks, then into bigger rocks, then into little asteroids, then into bigger asteroids, then into comets, then into big comets, then into gigantic comets, and eventually into planets. Some planets—equipped with some energies, sources of minerals, water, and oxygen would ultimately lead to the birth of life; us. Of course, it involves more science into that and millions of years’ worth of time, but that’s the gist of it all. “Now, let’s get back to Earth, Major Tom.” “For the second one—this might be my personal favorite,” she smiled through her words. I asked her why, genuinely excited. “Do you remember the glorious days when Gods walked the Earth with all their blessing and curse?” I knew she was teasing me. “Of course not. Tell me!” I said through gritted teeth as I tried to bite her shoulder. She shrieked and laughed.

kenny andriana

When she could finally contain her laugh she told me the tale. She said in the beginning, we were made of two faces with two pairs of hands and legs like conjoined twins. There were three sexes: man, woman, and the union of the two. We lived a harmonious life for none of us knew yet what it was like to be disheartened. This was before Gods were mad at our pride and greed that prompted them to cut us in half— leaving us wounded and incomplete. We were then forever cursed to live a half-lived life. “And that’s why you love it so much?” “I haven’t finished!” she said defensively. Along with this eternal agony, came this desire and yearning for us to be reunited with each other’s half. This is what we know now as Love. Not just lust or attraction—it is the feeling of wanting to be healed, to be complete, to once again become one as we were once. Isn’t it just beautiful, she said that, once again, we always find a way to rise from the ashes. To always find a new way to live after the end of another. To always reinvent ourselves after every catastrophe the Gods put us into.

“So, you’re saying that we all need

validate our existence?” I said half- teasingly. “It’s not necessarily like that,” she turned her head to face me, “it’s just that…that desire, that yearning, that love, or at least the promise—or some ideas of it—is what fuels us to keep going, to keep trying amidst this collective sadness that comes with living every day that we’re all feeling but not telling.” I love her romantic view of the sad mundanity of our life. “Well, that’s one way to put it.” I sat up and in seconds she put her head over my lap. “A beautiful one,” she added. “So, what about the present?” I asked. “What can I say about the present? Well, let me start here,” she replied. “You are here, right now, with me. All of the choices you’ve chosen, the decisions you’ve made, have brought you here.” I was intrigued. “Even all those stupid decisions I’ve made in high school?” I asked. “And in college, after college, at work…yeah you’ve made a lot of it,” she held her laughter while saying it. “Yeah, I know,” I paused before I said, “but I don’t think this— us, right now, is a mistake though.” She looked at me with the same tenderness she gave the first time she found me, “We don’t know that yet.”

“Well, I know that much is true for

She sighed, “The thing about the present is that it’s always too vague and sometimes deceiving. The past is known, the future is unknown, but the present is always in-between.” I didn’t know why but I smiled as I said, “Come on, aren’t you the one who believes that humans are half-beings looking for their other half?” She smiled too, “Okay, you got me!”. But, I didn’t want to let it go just yet, “Don’t you think I’m your other half?” She stared tenderly at me still, “I don’t know. You don’t know. Let’s call it a day.” She was about to turn her back on me but I got a hold of her hand, “Wait, what about the future?” “Whose future?” she said as she looked at me. “Us?” I said and I could feel the ground tremble a little. “There’s no future for us both,” she said. A silence—long and deafening one, before she laughed and added, “I mean, a future for you is a present for me. You get it?” She was right so I smiled. “Well, can you tell me about your present then?” I asked. “I don’t think I can,” she said with that same tenderness as before—or was it pity? I suddenly wasn’t so sure about it.

other people to feel complete and now,” I replied a little too persistently.

kenny andriana

“Why? We’ve talked about the past and the present, and now you can’t tell me anything about the future?” I replied and, again, the ground shook—slightly bigger this time. A silence, even longer and more deafening than the last one, and she didn’t smile this time when she said, “Because I don’t see you there. That’s why I stay here.” All I could say was, “Why?” “Why you’re not there or why I decided to stay here?” she looked at me in pity—now I was sure. “Both,” I replied. She held my hand when she said, “All I know is that you can’t and, believe me, you don’t want to stay here forever in the middle of nowhere.” I squeezed her hand when I said, “This is not nowhere. It’s a place where I can be with you.” “But we have to go back, eventually,” she said. “Not tonight,” I insisted—or pleaded? “Not tonight. Let’s go back to sleep,” she agreed. And then, it was all dark.

About Author About Author

Hello, I am Kenny Andriana—a proud father of two cats, two fishes, and a few pots of plants. I am currently working to achieve my childhood dream of being a writer by constantly dreaming and over-analyzing it. You can reach me on Instagram at kennyandriana.

Pembaca yang berbahagia, kamu mencapai halaman Trigger

Warning! Harap perhatikan baik-baik peringatan berikut

sebelum melanjutkan membaca.

Pada halaman selanjutnya, kamu akan bertemu naskah fiksi berjudul Sebuah Andaian yang ditulis oleh Sofia Tantono. Naskah tersebut memuat penyebutan darah (tanpa detil-detil yang grafis) serta luka-luka tubuh akibat bentrokan. Apabila kamu ingin menghindari tema atau pembahasan tersebut, silakan melompat ke halaman 16.

sofia tantono

Sebuah Andaian

Sofia Tantono

Bayangkan, jika Anda bisa, seorang gadis kecil yang hidup di masa depan.

Ia tinggal di apartemen kecil dengan balkon yang menampung pot-pot berisi tunas tanaman herba dan beberapa jenis sayuran, serta bunga-bunga kecil dan berwarna-warni (“Manusia bukan cuma hidup dari makanan, tapi juga keindahan,” ibunya pernah berkata). Semua balkon yang menonjol dari apartemen itu pun sama hijaunya dengan balkon gadis ini—bahkan, seluruh fasad beton apartemen itu dipeluk erat oleh daun-daun tanaman buncis, timun, labu siam, dan melon yang merambat ke semua penjuru permukaan itu. Sayur-sayur dan buah- buahan tersebut bebas untuk dipetik oleh siapa saja yang melewati tempat itu, termasuk yang bukan warga apartemen. Demikianlah semua barang dan jasa yang terdapat pada masa itu. Hidup gadis itu aman dan tenteram, tidak seperti film-film futuristik Hollywood yang penuh dengan pemandangan-pemandangan apokaliptik, ledakan dan serangan makhluk luar angkasa yang ganas. Jika Anda mencoba menjelaskan peperangan, sesuatu yang sudah seperti makanan bagi kita saat ini, kepadanya, ia tidak akan mengerti. Ia hanya akan menatapmu dengan ekspresi heran bak seseorang yang sedang membaca berita lokal belakangan ini.

Sekarang, ia sedang duduk di sofa sambil merenungi sesuatu di HP yang dalam genggaman tangan mungilnya. Layar HP itu sedang menampilkan foto seorang wanita muda yang duduk dalam mobil sport merah dengan pria yang mungkin adalah pacarnya. Latar belakang foto mereka adalah barisan rumah-rumah berpagar tinggi yang besar dan putih bagaikan kue pernikahan atau gedung pemerintah. Kedua insan itu tersenyum, tetapi gadis itu bisa melihat sejumput ketidaknyamanan di balik mata berbinar wanita itu, seperti seekor rusa di tengah jalan yang tahu bahwa sebentar lagi, dia akan ditabrak oleh mobil. “Lagi lihat apa, Dek?” nenek gadis itu bertanya seraya mendekatinya. Ia berpaling dari layar HP itu dan menatap wajah neneknya yang masih segar meskipun dia lumayan tua. “Ini siapa, Nek?” “Itu—Itu ibu Nenek.” Tidak terdengar oleh cucunya: “Matanya masih lengkap…” “Oh… Zaman dulu nggak ada kereta api sama bis ya, Nek?” Nenek gadis itu duduk di sampingnya dan tersenyum. “Oh, ada. Emangnya kenapa, Dek?”

“Jadi kenapa mereka pakai mobil?” Ia tidak mengomentari jenis mobil itu ataupun rumah-rumah gedong yang di belakangnya; ketimpangan sosial bukanlah sesuatu yang ia kenali. “Waktu zaman Nenek, kereta api sama bis nggak nyampe semua daerah. Walaupun ada, orang juga kadang-kadang perlu privasi.” “Kenapa nggak buka portal aja, Nek?” Neneknya tertawa ringan. “Belum ada, Dek.” Gadis kecil itu berusaha untuk membayangi zaman yang sangat purba itu, di mana seseorang tidak bisa melakukan hal sesimpel membuka sebuah portal saat dia menginginkannya. Ia kembali menatapi foto nenek buyutnya. Baginya, wanita itu adalah bagian dari dunia yang sangat jauh dan hampir tidak nyata, seperti zaman para nabi atau semacam itu.

sofia tantono

__ Ia menekan matanya yang berdarah dengan kain yang ia bawa untuk jaga-jaga. Terlepas dari kondisinya yang rapuh dan agak menyedihkan, ia masih sempat membalas dendamnya dengan menendang kaleng gas air mata ke arah polisi anti-huru hara yang serba-berpelindung. Jika keluarga dan teman-temannya mengetahui di mana ia berada dan apa yang ia lakukan, wanita muda itu tentu akan dihantui oleh tawaan dan hujatan sampai telinganya copot. Dan, dalam pengertian yang sangat terbatas, mereka ada benarnya. Pemudi itu terlahir dari keluarga yang mampu mengulurkan tentakel- tentakel nepotismenya untuk meraih semua gedung korporat dan instansi pemerintahan di negaranya. Properti, koleksi mobil, aset, rencana kuliah di luar negeri—semua berhala ini siap untuk menerima persembahannya. Ibadahnya tidak sulit: ini bukanlah agama yang memiliki aturan- aturan moral yang berbelit, ataupun yang menuntut pemeluknya untuk berpantang dan berpuasa. Jika dibandingkan, penyembah setan pun masih lebih terikat oleh kode etika. Akan tetapi, wanita muda itu masih memilih untuk murtad.

Dengan tubuh yang kaku dan memar karena gebukan tongkat polisi, ia menghayati devosi barunya dengan tetap berbaris dan meneriakkan slogan-slogan tanpa mengumbar ekspresi kesakitan atau ketakutan sedikit pun. Hal yang sangat sulit untuk seseorang yang terbiasa mendapati apa pun yang ia inginkan hanya dengan memasang raut wajah yang sedih dan agak imut. Namun, ia kokoh dengan perjuangannya. Ia tahu bahwa untuk bisa memasuki surga, kiamat harus dilalui terlebih dahulu.

Tentang Penulis Tentang Penulis

Sofia Tantono adalah penulis dan kurator yang berasal dari Tangerang Selatan. Karyanya pernah dimuat dalam berbagai majalah sastra internasional, seperti A Coup of Owls, Neuro Magazine dan Samjoko. Ia bisa ditemukan di Instagram @sofias.writing dan blognya sofiatantono.wordpress.com.

Pembaca yang berbahagia, kamu mencapai halaman Trigger

Warning! Harap perhatikan baik-baik peringatan berikut

sebelum melanjutkan membaca.

Pada halaman selanjutnya, kamu akan bertemu naskah non- fiksi berjudul If Our Fate Is Set In Stone, Would It Matter What We Choose? yang ditulis oleh Tarus Lan. Naskah tersebut memuat penyebutan tentang bunuh diri (suicide). Apabila kamu ingin menghindari tema atau pembahasan tersebut, silakan melompat ke halaman 22.

tarus lan

If Our Fate Is Set In Stone, Would It

Matter What We Choose?

Tarus Lan

I remember in high school, I tried to figure out how suicide works within the scheme of Fate. I don’t think it’s a loophole God had missed back when He was creating the universe. I also don’t think it’s a form of Fate—that God had intended us to die a certain way, at a certain time, by a certain pair of hands. Cause that’d be pretty fucked up, wouldn’t it?

A few years back a good friend of mine whom, unbeknownst to

him, I call “Sifu” decided to leave the city. Said he wanted to go back to his hometown, or rather, his home village. It was a nice community at the side of Solo. Still surrounded by mountains and rivers and everything nature by the standard of a big city like Jakarta. It was a nice and quiet place, full of trees, but far from modern. I understand if he wanted a change of scenery, but that wasn’t his intention. So what are you gonna do there? I asked, confused. “Stuff,” he said, “Farming. Fixing the house. Helping my mom.” My friend, this very dear friend of mine, had a stable job working in film restoration. His responsibility was to fix, restore, and archive old movies, preserving it for future generations. (I mean, like, just in case we suddenly care about some local historical values, you know?) On the side, Sifu had also been working as some sort of an assistant to a renown art curator, supervising paintings and galleries and stuff. These lines of work had helped him build a good network. He knows people who know people. And he’s on good terms with lots of them. He was not short on career opportunities. So why, I said, throwing all those away for... farming? “I’m tired. I just want to stop. Breathe. And move on.” Turned out he’d been wanting this for a good while, and now that he had enough savings, he wanted to do it for real. “This is it. It’s just time.” It’s just time. The night this conversation happened, I was on the verge of some heavy decision as well. I needed to make a call on something big. Something that would change my life. Something that would finally define my past, and set my future. A decision much like Sifu’s. And to this day I’ve always been wondering ... the call we finally made, was that based on free will, or were we just following our destiny?

tarus lan

I noticed that a lot of us think of fate as something, somewhat, like a fixed line. That may as well be the nature of it, but then wouldn’t it contra- dict the concept of free will? Does humanity, naturally, have no free will at all? And the choices we made, like Sifu going back to his home village, was that mere façade to fool us into thinking we’re in control of our life? Okay now let’s fast forward a few years later. Sifu, back in his home village, had gotten a chance to take a graduate study and work on a thesis. All the while, he’d also been volunteering on some community work, fixing his house, taking a number of small projects and, of course, farming. Then eventually, he sent in the news that he had found a girl, at last, and planned to marry. Something he’d been struggling back in the city. Few weeks before the wedding day, we had another convo regarding fate. He believed the meeting with his future wife was meant to be. That he was glad he had taken the decision to move back home, and lived the life he had never thought he’d commit. Was that really fate? I asked. I ask a lot of questions to him, I admit. But to my surprise, he shrugged. “May as well it be.” What if that never happened? What if you never went back home? “I don’t know. I might still going to meet her. Our lives aren’t actually that far off. It just so happened I got into that university for my thesis. It just so happened she got in too. It just so happened we met there. Because apparently, this whole time, she lives somewhere near. And so we met, and we talked. And we decided to be together. And we decided this is our next step. It’s time.” So, I said. It’s just time. “May as well be.” May as well be.

I remember in college, I was thinking about future spouses. That Fate be said, we are meant to be with our Special Someone. It is guaranteed that somewhere, somewhen, at one point in our life, we will meet The One. And we will be together, in health and in sickness, until death do us part. But what if, somewhere along this road of togetherness, we stubbornly decided to go our separate ways? Say we have met The One, but not knowing that they are our half, we said instead, “Nope, thank you. Next!” Would that count as Fate, or just us being stupid dumbass shitheads?

Sifu and I had been discussing Fate and whatnot in several occasions. That night, few weeks before he got married, we kind of arrived on some sort of a conclusion. That is, what we initially believed as a line of Destiny, is merely plot points of Fate. It is fixed, but not set in stone still. We can’t change it, but we’re in control of how it’s going to happen.

The decisions to move back home, to marry or part with our loved one, or even to kill ourselves ... at the end of the day they’re all just options. Are you going to pick A, or B? Someone who decided to commit suicide today, might survive the event because they were meant to die next week—not today. Someone who was too shy to speak to their future spouse, might miss the chance and live a lonely life until they meet again in their 50s.

tarus lan

It matters not what kind of plot points you have. It’s just time. What should matter are the moments in between, the decisions we make during these moments, and the commitment to live through them. If it just so happens we made a “wrong” decision and lived a horrible live, then shucks, maybe we should learn to not be stupid dumbass shitheads the next time our plot point arrives.

About Author About Author

Someone who has seen Everything Everywhere All At Once perhaps a bit too much, and is very much pleased with the film.

aku, merah, kau

Ranna Madellin

D i mataku, dunia ini hanya kelabu.

Rasanya seperti orang berpenglihatan normal saat menonton kanal televisi analog yang rusak. Yang menjadi pembeda adalah, mereka setidaknya tahu apa itu biru, apa itu kuning, apa itu merah, walaupun mereka tak bisa menebak apa warna yang dipakai para pelakon film dalam layar. Sedangkan aku; apa itu semua? Langit cerah hanya lebih kelabu sedikit dari awan, sementara laut memiliki warna kelabu yang lebih pekat. Aku tak tahu mana yang lebih gelap, laut lepas di ujung dermaga dekat rumahku atau kopi yang biasa kunikmati setiap pagi. Sebenarnya… ada warna yang kukenal. Yang selalu kulihat. Hanya dua: merah dan biru.

ranna madellin

Merah yang bisa kulihat hanya berwujud benang yang menghubungkan kelingking dua orang, sejauh apapun mereka terpisah. Yang ini pun aku tahu ada legendanya; orang menyebutnya benang merah takdir. Dari sini aku bisa tahu kalau warna yang kerap kulihat ini bernama merah. Aku sering membaca komik-komik yang mengangkat tema ini, walaupun warna benang yang kulihat di sana berwarna abu-abu gelap. Sedangkan biru… entah mengapa, aku tahu kalau itu disebut biru. Mungkin karena melihat warna itu membuat hatiku tenang dan sejuk, seperti halnya setiap kali aku mendengar deburan ombak di dermaga yang selalu sepi, atau saat menyentuh es yang dinginnya menusuk. Namun, warna biru yang betul-betul bisa kulihat juga hanya berwujud benang. Dan benang itu hanya terikat di kelingkingku. Aku tidak mengerti, kenapa hanya aku? Ketika orang-orang yang kulalui semua terjalin dengan benang merah di kelingking-kelingking mereka, aku sendiri yang menonjol biru sendirian. Aku biru sendiri di antara lautan merah, dan aku tak tahu di kelingking siapa ujung benang biruku tertaut. Bahkan sampai hari ini, ketika stok boneka penguin edisi terbatas incaranku di toko mainan dihabiskan oleh seorang yang mengantre tepat di depanku, aku tidak kunjung menemukan jawabannya. Mau merutuk, tapi siapa aku? Pada akhirnya aku di belakang si orang beruntung—seorang pemuda berambut kelabu awan yang memakai jaket bertudung warna kelabu muda—, dan bukanlah sebuah etika yang bagus jika aku melabraknya hanya karena aku begitu menginginkan boneka itu. Ya sudah kalau begitu. Baru saja aku ingin meninggalkan toko, sang pemuda berbalik, menatapku lama. Lalu bibirnya bergerak dalam apa yang kurasa seperti semenit. “Sebentar… Sadira?”

__

Kenapa aku malah berakhir di sini? Orang-orang selalu berkata kalau ini kafe yang paling warna- warni di seantero kota. Cih. Buatku semua hanyalah lima puluh jenis kelabu yang berlainan. Aku mengurut dahiku perlahan, kali ini betul-betul merutuk dalam hati karena bisa- bisanya aku bertemu dengan cinta yang kandas sewaktu aku masih sekolah menengah. Niatnya ingin menjauhinya sebisa mungkin karena tidak mau mengganggu… tapi, oh! Lihatlah takdir. Begitu lihainya ia berulah sekarang. (Kulirik benangku. Warnanya berubah—bukan lagi biru. Warna apa ini?) “Intan gimana kabarnya?” “Lo belom tau? Kita udah lama putus.” “...oh.” Aku mengaduk malas minumanku dan menyesap sedikit. Pahit-pahit teh hijau bercampur gurihnya susu. Ini pertama kalinya aku mencicipi minuman ini… kurasa aku bisa mengasosiasikan rasa ini dengan warna hijau.

“Bukannya apa-apa, sih, tapi sejak tau lo sama Intan, gue mutusin buat jaga jarak. Enggak mau ganggu, soalnya.” Kuberanikan diri menatap wajahnya, dan matanya yang hanya terlihat sebelah. Ekspresi malas dan caranya menopang dagu tidak berubah walaupun enam tahun sudah berlalu. “Tapi kok bisa?” “Ya karena enggak cocok,” sahutnya. “Lagian ujung benang takdir gue bukan di dia.” Aku, si paling skeptis seperti biasa, mendengus tawa. Tidak percaya ada lagi orang selainku yang bisa melihat benang takdir orang lain. “Hilmi bisa aja! Kayak yang gituan tuh betulan ada.” Namun air muka Hilmi tak berubah sedikitpun. “Beneran kok, Dir. Cuman punya gue doang yang biru. Yang lain semua merah—eh, bentar.” Saat dia mengangkat tangannya, barulah aku merasa kalau Hilmi, orang yang selama ini kusukai dalam diam itu, tidak berbohong. Ada benang terikat di ujung kelingkingnya,

dan warnanya sama persis dengan benang milikku. Mata tunggalnya membelalak sebentar saat menatap jarinya tersebut. “Jadi ungu,” katanya kemudian. “Warnanya cantik.” Dan aku… aku pun terpana pada warna benangnya. “Iya… cantik.” “Sadira bisa lihat juga? Gue kira lo enggak percaya yang beginian.” Ah. Sial. Aku kelepasan. “eNGGAK! ENGGAK, KOK! LO SALAH DENGER KALI-” Aku reflek berdiri, melambai- lambaikan tanganku asal agar Hilmi tidak mengiraku salah tingkah (walaupun pada akhirnya aku tetap tak tahu apa yang sedang dia pikirkan).

ranna madellin

Namun sepertinya, lagi-lagi, aku salah langkah, karena senyuman Hilmi semakin melebar pada responku yang tak biasanya heboh. “Oh, gitu. Ujung benang gue ada di lo, ternyata.” “Hah?” Pandanganku lantas beralih pada kelingkingku yang tertaut benang… yang tidak lagi berwarna biru, tidak juga berwarna ungu. Benang itu kini berwarna merah. Dan jarak kedua ujungnya begitu dekat sekarang.

Tentang Penulis Tentang Penulis

Terbiasa bersembunyi, namun
ingin membuktikan pada orang-orang bahwa dia pun bisa berkarya (di balik dikenali. ingin
topeng “yang lebih dari itu sisanya rahasia.” penyamarannya). Katanya,

Setidaknya

Esirum

Plackeinstein

D unia begitu menyebalkan, dan kita hidup di dalamnya. Aku

percaya itulah takdir terbaru kita—umat manusia. Setiap hari, kita melihat, mendengar, merasakan hal-hal menyebalkan. Segala macam keburukan, dari yang sepele sampai yang serius bukan main. Dan menjadi semakin menyebalkan ketika banyak orang justru berdiam diri atau bahkan lari dari fakta itu. Semakin hari, orang menjadi semakin kehilangan kesosialan—ada yang tanpa sadar, dan ada pula yang dengan kesadaran total meninggalkan kesosialannya. Sebab sudah jadi suatu kenormalan dunia untuk menjadi tak terlalu peduli dan lebih fokus menyelamatkan diri. Apakah kita menjalani hidup? Atau kita sekadar bertahan hidup? Apakah keduanya memang benar-benar harus terpisah?

Bagaimanapun, kita hidup di tengah dunia yang asing. Masing-masing individu di tengah masyarakat adalah sekumpulan orang asing. Alienasi begitu nyata dan terasa. Oleh dunia yang asing ini kita dipaksa untuk tidak ‘menjalani hidup’. Yang terjadi adalah kita menjalani ‘bertahan hidup’. Begitu adanya dunia hipermodern ini. ‘Bertahan hidup’ dipisahkan dengan ‘menjalani hidup’. (Wolfi Landstreicher, Orang Asing di Dunia yang Asing. Okupasi Ruang, 2021). Kapitalisme hipermodern, yang apa boleh buat, telah sedemikian hebat, sehingga mayoritas orang merasa begitu tergantung padanya, tak bisa hidup tanpanya, memaksa kita (yang membuat banyak orang tanpa sadar) menjalani hidup secara terpisah dengan bertahan hidup. Bahkan, kebanyakan orang melakukan bertahan hidup daripada menjalani hidup. Dalam kapitalisme, para pekerja bekerja dari pagi sampai sore. Dan itu adalah proses bertahan hidup. Ada banyak orang yang melakukan pekerjaan yang sesungguhnya bukan gairahnya.

plackeinstein plackeinstein

Tapi demi bertahan hidup, harus tetap dilakukan. Selepas bekerja, mereka baru menjalani hidup. Tapi banyak orang yang selepas bekerja pun mereka harus beristirahat demi bekerja lagi di esok hari, semua dalam rangka bertahan hidup. Dalam proses yang rumit itu, orang mengalami alienasi. Keterasingan. Terasing dari hasil kerja yang segera menjadi milik bos/perusahaan. Terasing dari sekitarnya, dari satu sama lain sebab masing-masing terpaksa harus menjalani waktu untuk bekerja dan istirahat demi bekerja lagi esok hari. Individu-individu di dalam lingkungan yang sama menjadi asing satu sama lain sebab tatanan sosial ekonomi kapitalis menjadikannya demikian.

Apakah memang takdir kita untuk menjadi asing di dunia yang telah asing? Saya menolak untuk menerima bahwa dunia yang demikian asing itu adalah takdir kita. Namun memang demikian adanya dunia itu—sebuah dunia asing yang mengasingkan manusia. Tapi takdir kita adalah merawat harapan. Seberapapun besarnya kekecewaan. Bertubi-tubi patah hati pun kita tetap akan merawat harapan. Patah hati adalah inti dari kesadaran revolusioner, kata Gargi Bhattakharya. Mereka yang patah hati oleh dunia asing hasil kapitalisme ini, adalah yang menyadari bahwa dunia yang lebih baik itu ada, dan bisa diwujudkan. Takdir kita adalah merawat harapan. Harapan akan sebuah Esirum. Ruang sosial di mana kita tak akan mengasingkan satu sama lain, di mana kita terbuka untuk saling tolong menolong dan berkarya sama. Kita tak akan bekerja dan/atau bekerja sama. Kita akan berkarya sama sebagai satu keutuhan masyarakat. Tentu ini bisa dilakukan dengan mengecilkan ruang sosial itu. Seperti bayangan komune-komune yang dibayangkan sosialis abad 18. Di Esirum kita akan mengambil secukupnya dan memberi semampunya. Kita menghindari eksploitasi atas alam—yang dapat menjurus pada eksploitasi atas manusia. Di Esirum, kita menjadi diri sendiri tanpa dikte-dikte dan godaan sistem. Menjadi diri sendiri tanpa diasingkan, tanpa mengasingkan, dan tanpa penindasan. Maukah kita menuju Esirum? Sanggupkah kita? Acuan- acuan untuk membentuk Esirum sudah digemakan oleh banyak anarkis dan sosialis di masa-masa terdahulu. Maukah kita mewujudkan Esirum?

Tentang Penulis Tentang Penulis

Plackeinstein berbasis di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sehari-hari menganggur dan menulis; mengelola penerbit indie Anarasa. Telah menerbitkan Salto Mortale (2019), Salto Fatale (2020), dan kini sedang menggarap Salto Vitale. Bisa disapa di IG @plackeinstein atau Twitter @plackeinstein_

nunggal sera nunggal sera

Kemudian, Hilang

Nunggal Sera

“Lagi?”

“Lagi. Kasusnya sedang naik daun.” “Bah! Ini sudah yang kelima dalam minggu ini saja! Ck. Gejalanya persis seperti yang kemarin?” “Sama persis. Tiba-tiba mulut mereka hilang tak berbekas macam kena teluh.” “Bukan teluh, tapi kutukan.” “Ya, sama saja. Intinya seperti bukan penyakit yang bisa dinalar.” “Sejak kapan memangnya penyakit akhir-akhir ini bisa dinalar?” “Benar juga.”

“Jadi, dia tak bisa bicara? Tak bisa ditanyai bagaimana ceritanya bisa tertular penyakit mengerikan ini?” “Bagaimana mau bicara, wong mulutnya saja tidak ada.” “Benar juga.”

“Jadi kita harus bagaimana? Padahal obatnya pun belum ditemukan, tapi pasien-pasien mulut hilang ini menumpuk di IGD.” “Hm… Sebentar. Keluhannya tidak ada mulut, ‘kan?” “Iya.” “Kita bikin saja kalau begitu.” “Hah? Maksudmu bagaimana?” “Ya, kita bikin saja mulutnya. Kita robek wajahnya.” __

Jakarta – Telah mewabah penyakit mulut hilang di berbagai kota di Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan menghilangnya mulut penderita secara magis, yang membuat bagian wajah yang seharusnya terdapat mulut, menjadi rata tak berbekas. Belum diketahui penyebab endemik mengkhawatirkan ini. Uniknya, sejauh ini semua penderitanya adalah laki-laki, dan, menurut pemantauan serta hasil investigasi satgas gabungan, tempat mereka terkena penyakit mulut hilang adalah di pinggir-pinggir jalan, gang, hingga belokan trotoar. “ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan melalukan penyelidikan menyeluruh dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk menemukan penyebab sekaligus obat bagi penyakit misterius ini, termasuk memasang CCTV di berbagai titik yang diduga menjadi tempat penularan penyakit.”

__

“Pucat betul mukamu. Kenapa? Habis lihat setan? Eh, kok diam saja? Betulan habis lihat setan?” “Kak...” “Jangan begitulah, mukamu. Aku jadi ikutan takut, nih. Habis lihat setan di mana, sih? Pengkolan trotoar yang biasa kau lewati itu?” “Kak…”

nunggal sera nunggal sera

“Kan sudah kubilang, jangan “Lah, bukannya itu biasa? Lalu lewat sana. Apalagi malam-bagaimana pula kau bisa sampai malam begini. Ingat, Lastri, kita ini bikin orang tak punya mulut perempuan. Masih untung setan mendadak?” yang keluar, kalau begal atau “Aku jengkel, dan takut, dan yang lebih buruk bagaimana?” muak, dan sedih. Kupercepat “Kak!” jalanku sambil membatin mengapa jalan kaki saja rasanya “Kaget! Apa, sih? Jangan susah betul. Mengapa susah sekali teriak-teriak begitu, ah.” jadi perempuan. Seandainya aku “Bukan setan…” laki-laki apa mungkin aku akan “Lantas apa?” tetap digodai begitu? Lalu kupikir lagi, mungkin bukan salahku. “Mulut … hilang…” Mungkin seharusnya laki-laki itu “Hah?” saja yang tak punya mulut dari “Mulut hilang. Penyakit mulut awal.” hilang!” “Kau ketularan?! Eh, tapi mulutmu masih ada.” “Aku, Kak. Aku bikin orang kena penyakit mulut hilang!” “Kau sinting, ya? Kurasa kau perlu makan supaya tak meracau. Memangnya kau ini Scarlet Witch, apa?” “Aku serius! Ada laki-laki yang bersiul padaku waktu aku jalan habis turun dari angkot. Kudiamkan saja dia sesuai yang kau ajarkan padaku. Tapi orang itu malah memanggilku cewek cantik, cewek manis, dan aku tak tahan.”

“Terus? Laki-laki itu betulan tidak punya mulut begitu saja?” “Kakak boleh tidak percaya, tapi aku tidak bohong! Tiba-tiba saja ada teriakan teredam memecah sunyi, dan waktu aku menengok, laki-laki tadi, orang yang sama yang bersiul padaku itu, sudah menuding-nuding diriku juga mulutnya yang saat itu raib!” “Alamak!” “Aku jujur, Kak! Demi Tu—” “Aku tidak bilang kau bohong. Kau tahu, polisi sekarang memasang CCTV di mana-mana, bahkan kurasa di pengkolan tempat kau biasa lewat itu. Kalau sampai mukamu tertangkap kamera … Ayo! Cepat kemasi barang- barangmu! Kita harus pergi malam ini juga! Ingat, kita masih perempuan, Lastri. Tidak ada yang mudah dengan menjadi seorang perempuan.”

Tentang Penulis Tentang Penulis

Di waktu senggangnya, Nunggal Sera sibuk berangan-angan untuk menjadi kucing.

PROYEK UTOPIA

Fatru Tamzil Kenny Andriana Sofia Tantono Tarus Lan Ranna Madellin Plackeinstein

Nunggal Sera

SUBJEK O1: TAKDIR