Baca PDF (OCR): 1998-12-28_Hukum_Ambisi-Prabowo-Memang-Dahsyat_Bangkit_6-13_20231225_0003-scaled

1 halaman · 1 halaman diproses dengan OCR· 15326 ms

Daftar isi
  1. EKSKLUSIF
  2. PUNYA
  3. PRABOWO
  4. LINK DENGAN MOSSAD
  5. Pengantar: LETJEN TNI (Purn) Prabowo Subianto
  6. Udiberi kewarganegaraan kehormatan oleh pemerintah
  7. WAWANCARA IMAJINER DENGAN PRABOWO SUBIANTO
  8. kerajaan Yordania. Berita ini segera menjadi berita
  9. utama politik Indonesia mengingat sebagai tokoh
  10. kontroversial, Prabowo masih meninggalkan
  11. sejumlah persoalan dan tanda tanya di Indonesia,
  12. terutama mengenai posisi dan perannya dalam
  13. berbagai persoalan yang ditudingkan kepadanya,
  14. mulai dari kasus penculikan mahasiswa dan
  15. aktivis prodemokrasi, penembakan mahasiswa
  16. Trisakti dan kerusuhan Mei 1998 lalu.
  17. OLEH: HERMAWAN SULISTYO
  18. HERMAWAN SULISTYO

EKSKLUSIF

PUNYA

PRABOWO

LINK DENGAN MOSSAD

Pengantar: LETJEN TNI (Purn) Prabowo Subianto
Udiberi kewarganegaraan kehormatan oleh pemerintah

WAWANCARA IMAJINER DENGAN PRABOWO SUBIANTO

kerajaan Yordania. Berita ini segera menjadi berita
utama politik Indonesia mengingat sebagai tokoh
kontroversial, Prabowo masih meninggalkan
sejumlah persoalan dan tanda tanya di Indonesia,
terutama mengenai posisi dan perannya dalam
berbagai persoalan yang ditudingkan kepadanya,
mulai dari kasus penculikan mahasiswa dan
aktivis prodemokrasi, penembakan mahasiswa
Trisakti dan kerusuhan Mei 1998 lalu.
OLEH: HERMAWAN SULISTYO

dia yang memberi perintah, bukan NTUK mendapatkan gambaran mengenai pelaksana seperti saya. pikiran-pikiran Pra HS: Kalau Anda hanya men- bowo di balik semua jalankan perintah, siapa yang me- isu -tersebut, Herma-merintah Anda pada waktu itu? wan Sulistyo melakukan wawanca-PS: Dua orang jenderal perwira ra imajiner. Wawancara imajiner ini tinggi. Namanya tidak perlu saya sebut. harus dilakukan, karena hingga saat HS: Pak Harto? Bukankah Ko- ini Prabowo masih menetap di Istana passus hanya bisa diperintah oleh Raja Hussein di Amman, ibukota Yordania. Berikut ini sebagian pe-Pangab dan panglima tertinggi ukan wawancara terseput. (Pangt)? Hermawan Sulistyo (HS): Diter-PS: Bukan. Beliau tahu, tetapi imanya Anda menjadi warga nega-bukan yang memberi perintah. ra kehormatan Yordania menjadi Pokoknya saya tidak mau menyebut berita utama di Indonesia. Bagaima-namanya. Di DKP saja saya meng- na sebetulnya kisah Anda bisa sam-gunakan hak untuk tidak menjawab. pai mendapat kewarganegaraan ke-Sebagai perwira sejati dan patriot hormatan tersebut? Indonesia, saya tidak akan mengung-Prabowo Subianto (PS): Sebet-kap nama mereka. Itu rahasia dan ulnya masalahnya sederhana saja. kehormatan saya sebagai perwira. Kalau tidak ada berita di Al-Ra'i, HS: Mengapa Anda melaksana- suratkabar Yordania mengenai ma-kan perintah tersebut, kalau tahu ti- salah itu, orang tidak akan ribut. dak benar? Berita itu kan yang dikutip Kompas, PS: Order is order! Perintah bagi kemudian diikuti koran-koran lain di saya adalah perintah. Saya ini praju-Indonesia. Orang Indonesia itu suka rit TNI. Jadi apapun perintah itu, harus saya laksanakan. sensasi, sehingga berita yang biasa saja menjadi luar biasa. HS: Bisa Anda ceritakan masa lalu Anda? HS: Apa punya kewarganegaraan lain itu hal yang biasa? Indonesia PS: Masa kecil saya habis di luar kan tidak mengenal prinsip dual cit-negeri, pindah-pindah ikut orang tua. izenship alias dwikewarganega-Di Malaysia, Jepang, Eropa, Ameri- raan? ka sampai SMA. Ayah (Soemitro PS: Tetapi kalau orang lain tidak Djojohadikusomo, begawan ekono- diributkan? Pak Habibie sampai se-mi Indonesia dan salah satu arsitek karang tidak pernah mengklarifika-ekonomi orde baru, HS) adalah to- si dia punya kewarganegaraan Jer-koh PSI, Partai Sosialis Indonesia man atau tidak. Mengapa pers Indo-yang sejak terlibat PRRI/Permesta nesia tidak ribut? dikejar-kejar oleh Bung Karno, se-HS: Mungkin karena Habibie bu-hingga harus pindah-pindah di luar kan perwira seperti Anda ya? Dia negeri. Keluarga kami baru kembali kan tidak pernah terlibat penculikan ke Indonesia pada tahun 1967, keti- para aktivis. Dosanya hanya seba-ka Bung Karno sudah jatuh dan Pak Harto naik. tas sebagai presiden tidak bertang- gung jawab atas penembakan maha-HS: Lalu Anda masuk Akabri? siswa di Semanggi. Dan memerin-PS: Ya. Sebelumnya saya sempat tahkan pasukan untuk menggebuki kuliah di Fakultas Ekonomi UI. mahasiswa rasanya tidak separah Mula-mula memang ingin jadi memerintahkan penculikan para ak-ekonom. Barangkali terpengaruh tivis. Bisa Anda ceritakan soal pen-oleh ayah saya. Baru kemudian saya culikan itu? masuk Akabri, karena rupanya pan-PS: Itulah. Mahasiswa tetap dige-ggilan untuk menjadi tentara lebih buki dan dibunuhi oleh pemerintah besar dari pada keinginan untuk di bawah Pak Habibie. Dulu, kalau menjadi ekonom. ada kasus seperti itu, selalu saya di-HS: Kabarnya waktu Anda men- tuduh pelakunya, sehingga saya di-jadi taruna Akabri belum bisa baha-DPK-kan (Dewan Kehormatan Per-sa Indonesia? wira yang bertugas untuk menilai PS: Bisa, sedikit-sedikit. Maklum, pelanggaran etika perwira TNI, HS). tidak pernah tiņggal di Indonesia. Saya menculik itu karena ada perin-Sewaktu jadi taruna, pada saat taru- tah. Jadi saya pelaksana saja. Kalau na lain sedang belajar bahasa Inggris, Pak Habibie kan presiden, sehingga saya malah diberi kursus bahasa In-

donesia, sama-sama Agus Widjojo (putra pahlawan revolusi Sutoyo, sekarang Letjen Agus Widjojo, As- renum ABRI, HS). HS: Kabarnya Anda juga pernah desersi? PS: Begini ceritanya. Saya bere- nam, bersama lima teman taruna lain, semuanya anak Jakarta, kabur ke i- bukota sewaktu liburan akhir pekan. Menurut peraturan, kami hanya bolch pesiar sampai Magelang saja. Tapi kami nekat pulang ke Jakarta, lalu ada yang kepergok oleh seorang perwira tinggi. Kami dilaporkan kepada Gubernur Akabri yang waktu itu dijabat Jenderal Sarwo Edhie (mertua Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, HS). Akhirnya kami diskors, tidak naik kelas satu tahun. Seharusnya saya lulus tahun 1973. Gara-gara masalah itu, saya baru lulus pada Angkatan 1974. HS: Juga sewaktu Anda kabur tanpa melapor di Timor Timur? PS: Istri saya waktu itu ulang tahun. Tentu saja saya ingin pulang ke Jakarta. Kalau saya melapor, pasti saya tidak akan diizinkan. HS: Karir Anda melejit di Timor Timur ya? PS: Ya. Jangan lupa, saya meng- enyam pendidikan pasukan elit di negara-negara yang sangat disegani seperti Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat. HS: Pasukan elit mereka kan punya hubungan dekat dengan Mossad, pasukan khusus Israel? PS: Benar. Tidak ada salahnya belajar dari Israel karena Mossad memang hebat. HS: Itu pula sebabnya Anda me- milih tinggal di Yordania, yang punya hubungan baik dengan Israel? PS: Betul. Anak Raja Hussein itu teman baik saya, kami sama-sama mendapat pendidikan di Amerika. Beliau ko- mandan pasukan khusus di Yordania. Selain itu, Yordania adalah negeri Islam, sehingga saya cukup mendapatkan proteksi di sini. Ada a- lasan lain. Sejak saya dipensiunkan dari dinas aktif ABRI, saya terjun ke dunia bisnis. Keluarga kami punya bisnis di Timur Tengah, sehingga saya bisa menjalankan bisnis dari Amman. HS: Lalu Anda diangkat sebagai warganegara Yordania? PS: Ya, wajar dong saya diberi kewarganegaraan kehormatan. HS: Tidak ingin melepas WNI Anda? PS: Sebetulnya tidak. Saya ini patriot. Saya akan kembali ke tanah air. Tetapi kalau nyawa saya dan keluarga terancam, saya harus mikir-mikir dulu. HS: Mengapa Anda tidak tinggal di London saja? Kan Anda punya ru- mah di sana? PS: Sebetulnya saya

memang ingin tinggal di sana. Tetapi saya mendapat info, bahwa ada anggota parlemen sayap kiri yang tidak suka saya tinggal di London. Mereka akan membawa kasus saya ke parlemen. Saya tidak mau nasib saya seperti Pinochet (Pinochet Du- arte, diktator yang ditangkap di London atas kesalahan-kesalahan masa lalunya, HS). HS: Bagaimana Anda menilai perkembangan situasi belakangan ini di tanah air? PS: Sebelum saya dipensiunkan dari ABRI, apa-apa dituduhkan kepada saya. Padahal ada yang saya la- kukan dan ada yang tidak saya laku- kan. Setelah saya pergi, tenyata Indonesia malah tambah rusuh karena Habibie tidak mampu mengendali- kan para pendukungnya sendiri. HS: Anda setuju dengan cara- cara penanganan ABRI terhadap unju krasa melawan pemerintah Habibie? PS: Jelas setuju. Tentara itu yang punya senjata, masak tidak boleh lat- ihan menembak? HS: Tetapi yang ditembaki dan dipentungi itu mahasiswa dan rakyat?

PS: Kalau menembak tembok, ya namanya bukan tentara. Kalau menembak orang kan seperti perang. Mereka itu musuh, harus dibasmi. HS: Apakah Anda berminat terjun ke dunia politik di Indonesia? PS: Setelah semuanya ini, mungkin tidak. HS: Lho, kan Ollie North juga seperti Anda? (Kolonel Oliver North adalah perwira AS yang diadili karena terlibat skandal Irangate di Iran dan Contra di Amerika Latin). PS: Indonesia bukan Amerika. Di sana, penjahat seperti Oliver North memang bisa menjadi politisi dan senator. Kalau di Indonesia, tidak mungkin. HS: Sekarang pertanyaan tera- khir. Anda akan hadir jika diadili di Indonesia? PS: Memang saya ingin hadir. Banyak pemimpin yang merasa sok suci dan mengkambinghitamkan saya. Kalau saya diadili, mereka juga harus ikut menanggung akibatnya. Masalahnya, apakah keamanan saya dan keluarga bisa dijamin? HS: Terima kasih atas kesediaan Anda melakukan wawancara imajiner ini. PS: Terima kasih kembali. Sampaikan salam saya kepada Pak Habibie. Saya masih men- dukungnya.

FOTO: DOK

HERMAWAN SULISTYO

BANGKITNO. 014 TAHUN 28 DESEMBER 1998 - 3 JANUARI 1999