MANIFESTO GENERASI TERBURUK SASTRA INDONESIA
Menjadi generasi terburuk merupakan pandang ten-tang masa depan, provokasi anti naif, cara hidup paling tepat, dan itu mungkin, sebab:
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena optimisme telah dirampas dari kami dan kami tidak menginginkannya lagi.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena desakan pilihan yang tersisa kepada kami hanya penolakan atau putus asa.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena segala yang indah dan estetik hanya omong kosong dan bukan urusan kami.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena berpencar ke segala arah, bertabrakan dan bertentangan dengan apa pun dan siapa pun.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami ada untuk memisahkan diri dari segala bentuk kemapanan yang mengikat.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami menolak bersekongkol dengan negara dan arus utama.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena percaya bahwa sastra mustahil dapat menjamin segalanya.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena sadar bahwa sebaik-baiknya sastra adalah seburuk-buruknya harapan.
- Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena menjalani hidup tertimbun dosa-dosa sastra dan sejarahnya.
| 10. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena mati |
|---|---|
| untuk hidup lebih nyata ketimbang mati untuk sastra. | |
| 11. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena sastra tidak membuat kami bahagia. |
| 12. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami onar dan tak pernah ingin sastra baik-baik saja. |
| 13. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami berniat menyia-nyiakan hidup kami. |
| 14. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami benci dan melawan semuanya. |
| 15. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena tidak ada gunanya dicatat dan diberi tempat dalam sastra. |
| 16. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena sempat merasa sastra berguna. |
| 17. | Kami generasi terburuk sastra Indonesia karena kami ingin dilupakan. *Ditulis Cumbu Sigil sebagai wasiat sebelum ia bunuh diri. Diambil dari arsip Komite Hitam. |
Kiamat Baru:
Antologi Esai, Puisi, dan Cerita
Generasi Terburuk Sastra Indonesia
Esai: Ilham – M Iqbal M – Mukhatara – Plackeinstein
Puisi: Aditya Yudistira – Al Faathir – Arsyad Fauzi Besokkeos – Bunga Senja – Dafid Kurniawan Farhan – Hezekiel Turnip – ImajiNekro Joe Jones Nirahua – Lhie Mey Hwa – M Iqbal M Mou – Mugi Anggari – Mukhatara – Okto Syamsul Falah – Tasamsyah – Terrik Matahari Yunan Sazstrajingga – Zihad Juliana Yosea Arga P
Cerpen: Adriansyah Subekti – Banu Ghifar Bobi Tuankotta – Amarah Iramani Julian Sadam
KIAMAT BARU: Antologi Esai, Puisi, dan Cerita Generasi Terburuk Sastra Indonesia
Penyunting: Rifki Syarani fachry Pemeriksa Aksara: Iqbal Muhamad Penata isi: Panji Kumbara Desain Sampul: Joy Rimbaud
12x18cm, 142 Halaman
Dicetak dan didistribusikan di Indonesia oleh Talas Press, 2024.
E-mail: [email protected] Instagram: @talaspress
Esai:
| Ilham | Hal. 6-11 |
|---|---|
| M Iqbal M | Hal. 12-22 |
| Mukhatara | Hal. 23-28 |
| Plackeinstein | Hal. 29-32 |
Ilham
Sastra, Anarkisme, Nihilisme,
Punk, dan Jalan Menuju
Kiamat Baru
DALAM bukunya, L. Sadra, dkk. menulis beberapa esai yang dirangkum dalam buku berjudul Kuatrin. Buku ini diterbitkan oleh Dystopia Room tahun 2024. Dalam esainya yang berjudul Absennya Teori Sastra Anarkis, L. Sadra memulainya dengan pertanyaan yang sempat juga dilontarkan oleh David Greaber, yaitu tentang mengapa jumlah kaum anarkis yang terlibat dalam dunia akademik begitu sedikit? Dalam keterangan lain, Sadra menjelaskan bahwa sampai esainya dibuat juga terbit di Indonesia, teori sastra anarkis ibarat rahim perawan. Anarkisme dan sastra, seharusnya saling berkelindan menjalin kasih sayang pemberontakan tanpa rasa cang- gung dan malu, sebab anarkisme membutuhkan sastra untuk perlawanan (mungkin) begitu pula sebaliknya. Mengingat keadaan sosial politik hari ini, molotov dan semua senjata yang bisa digunakan untuk menghancurkan sudah jarang tampil sebagai senjata utama. Maka, tentu saja, sastra menjadi salah satu senjata yang tidak kalah efektif dari itu semua. Seperti yang juga di- jelaskan dalam esainya. Sadra mengatakan bahwa teori
sastra anarkis itu tidak penting, namun itu perlu, sebab para anarkis menekankan pentingnya bahasa dan komunikasi. Bisa dibayangkan, ketika seorang anarkis yang hanya memiliki keberanian untuk bertindak bebas tanpa keterampilan berkomunikasi dan berbahasa, apa jadinya? Hal itu hanya memvalidasi Cumbu Sigil sebagai penulis manifesto generasi terburuk sastra Indonesia. Teks-teks anarkis yang hari ini tersedia atau sengaja disediakan oleh beberapa penerbit mikro alter- natif dalam nuansa anti-copyright menghendaki semua orang untuk bisa membacanya secara bebas dan merdeka, ini adalah ide yang sangat revolusioner. Namun tetap saja, dalam memahami anarkisme, akan lebih mudah jika dilakukan alih-alih hanya membaca esai-esai terkait, meskipun itu sama perlunya. Karena minimnya literatur mengenai teori sastra anarkis di Indonesia, barangkali hal ini juga yang membuat Cumbu Sigil percaya diri untuk membuat manifesto generasi terburuk sastra Indonesia. Dan anehnya, generasi sastra hari ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari generasi terburuk sastra Indonesia (atau, itu hanya sebuah satire yang sengaja Cumbu Sigil tuliskan saja?). Jika memang sastra menjadi seperlu itu untuk anarkisme sebagai salah satu jalur perlawanan, seharusnya generasi sastra di lingkaran anarkis mencoba mempelajarinya alih-alih menegaskan dirinya sebagai bagian dari orang-orang yang sepakat dengan manifesto yang Cumbu Sigil tulis. Para penulis di lingkungan anarkis semakin ugal-ugalan untuk bercumbu dengan sastra, sebelum mereka tahu apa itu sastra? Hal inilah
yang terjadi hari ini, (atau setidaknya yang terjadi pada diri penulis saat ini). Keadaan hari ini seolah memberi Cumbu Sigil panggung besar dan lampu sorot yang me- gah, hari ini semua terasa begitu memuakan, sangat timpang, para anarkis tidak dipersenjatai oleh sastra, sehingga kesan ini seolah menunjukan situasi yang stagnan dan sejalan dengan manifesto yang Cumbu Sigil wasiatkan. Mulai dari isu politik, ekonomi, bahkan agama*. All thing are nothing to me*, tapi beberapa hal kadang selalu mampir untuk di acuhkan. Namun, karena predikat inilah (generasi terburuk sastra), karena generasi terburuk sastra tidak menginginkan ini dan itu, bahkan tidak pernah menginginkan sastra baik-baik saja atau semua hal yang tercantum dalam manifesto yang Cumbu Sigil tuliskan, hari ini sastra Indonesia semakin bergerak secara brutal dan membabi buta ke arah yang tidak ditentukan. Bahkan sastra, dalam hal ini puisi, sudah menjelma menjadi pemberontakan sehari-hari. Membicarakan pemberontakan, punk atau public united not kingdom (katanya demikian) adalah sebuah budaya yang membawa semangat pemberontakan. Punk lahir sejak Cumbu Sigil belum diperdebatkan keaslian- nya. Artinya, generasi terburuk sastra Indonesia belum dimanifestokan. Penulis teringat beberapa tulisan yang termaktub dalam buku berjudul Pemahaman Nihilis tentang Perang Sosial yang diterbitkan oleh Talas Press (2024) sebagai bentuk pemberontakan individu. Dalam bukunya, banyak sekali contoh kasus dan bagaimana seorang nihilis bergerak secara lebih radikal alih-alih
melalukan perlawanan atau pemberontakan yang sia-sia. Punk is attitude, karena bagaimana pun, romantisis- me yang terjalin antara anarkisme dan punk memang selalu segar untuk nafas perlawanan. Dan tentu saja, bagaimana mungkin seorang anarkis akan membuat esai-esai yang begitu padat dan tajam, jika dirinya tidak dipersenjatai dengan kepandaian juga penguasaan dalam berkomunikasi dan berbahasa? Maka bisa dikatakan, bahwa tersebarnya teks-teks anarkis yang hari ini ada melalui penerjemahan yang dilalukan oleh beberapa individu secara masif adalah kemajuan untuk tiap individu pada lingkaran anarkis itu sendiri. Semangat dyonisian mengiringi petualangan anarkis, entah sejak kapan dan sampai kapan (anarkis tidak peduli dengan sejarah kelahiran dan kematiannya). Semangat yang mengamini bahwa manusia sebagai individu yang bisa mengatur kehidupan dengan sendirinya. Namun yang jelas, manusia sebagai makhluk yang unik harus sadar dan segera menerima keunikan pada diri masing-masing. Seorang anarkis tidak menginginkan kebebasan seseorang untuk hidup dikontaminasi oleh kekuatan lain selain dirinya sendiri. Bagaimana pun juga, kenikmatan memberontak adalah jalan yang layak ditempuh oleh masing-masing individu. Termasuk dalam bidang sastra, apakah itu dengan menulis puisi, menulis lirik lagu, membuat poster, menerjemahkan esai-esai anarkis, atau medium lain yang bisa dijadikan tempat untuk menanam benih kehancuran. Sebenarnya seorang anarkis akan tetap bergerak memberontak ke segala arah, baik tanpa sastra atau pun tidak, namun seperti yang sudah dikatakan sebe-
lumnya, bahwa sastra itu dianggap perlu sebab dalam sastra ada kedalaman bahasan dan komunikasi. Anarki bukanlah kanan atau kiri, anarki tidak menghendaki itu semua. John Zerzan dalam esainya yang berjudul Kiri? Tidak, terimakasih! mengungkapkan kegagalan kiri dalam sejarah dunia. Mereka yang secara dohir menegaskan bahwa menginginkan dunia tanpa kelas, padahal mereka hanya berteori alih-alih melakukan aksi langsung, mereka menunggangi kaum buruh dan mengklaim bahwa mereka adalah bagian darinya, padahal kebanyakan kaum kiri adalah orang-orang yang hanya cemburu pada kekayaan kaum borjuis, sedang mereka terhina dan hampir mati di jurang paling dasar proletar. Mereka terjebak dalam ranah representasi yang menghendaki adanya petisi dan demo yang selalu diagenda- kan. Maka jelas, Zerzan menolak dengan keras pada ungkapan "kiri? tidak, terimakasih!". Sekali lagi, sastra berperan dalam mempersenjatai seorang anarkis dalam bersuara. Katakanlah bahwa penulis adalah seseorang yang Sadra katakan dalam esainya, yaitu seperti mahasiswa semester satu yang baru mengenal anarkisme hanya karena membaca tulisan-slogan anarkis dan langsung merasa terlibat dalam praksis. Oleh karena itu setelah beberapa paragraf dilalui, omong kosong tentang beberapa hal ini harus segera diakhiri. Sastra, anarkisme, nihilisme dan punk. Penulis pikir jika ke-empat hal ini mekar ranum dalam diri seorang individu, mungkin kiamat-kiamat kecil akan segera datang membawa
kehancuran yang indah di atas barang najis bernama negara!
M Iqbal M
Entah Subjek Apapun Itu,
Hidup Tetap Berupa Kompleksitas
Chaos sekaligus Nothingness:
Sekilas Membaca Stirner dari Perspektif Abolisionis-Insureksioner (Glissement), Bukan dari Perspektif Triadik-Nietzsche
“…masyarakat mana pun, bahkan yang terorganisasi secara anarkis, dengan ide-ide mutual-aid dan solidaritas, akan memandang dengan kecurigaan setiap ekspresi individualisme avant-garde”—Michael Scrivener
DALAM esai ini, saya hanya akan sekilas—secara singkat—membahas abolisionis/insureksioner/glissement yang sebetulnya dapat saya uraikan panjang-lebar, entah dengan melakukan eksplorasi komparatif terhadap—katakanlah—‘Anarkis-Egois-Insureksioner’ dengan ‘Anarkis-Sosial-Revolusioner’ dari Tinjauan Fondasi Ontologis hingga Praksis Keseharian misalnya, entah menyertakan pandangan/melakukan komparasi
atas korpus-korpus—semacam—Hakim Bey, Bellamy Fitzpatrick, Flower Bomb, Svein Olav Nyberg, Feral Faun, John Moore, Saul Newman, Alyson Escalante, Kathy E. Ferguson, dan seterusnya, atau sekedar David Graeber, Errico Malatesta, dan seterusnya. Namun lantaran terbatasnya waktu/situasi-kondisi yang tidak memungkinkan, maka pada kesempatan kali ini, saya tidak membahas topik ini secara detail/komprehensif, setidaknya esai ini dapat menjadi prolegomena atau pe- mantik kuriositas seputar topik ini. Term Abolisionis yang saya maksud dalam esai ini bukan sekedar term diskursus semacam penghapusan- hukuman ala Fillipo Gramatica, Olof Kinberg, Louk Hulsman, atau yang lebih ‘purba’ macam Hegel, Aqui- nas, Rosseau, dan seterusnya—sangat-sangat jauh dari itu—Abolisionis di sini merupakan term yang mengacu pada suatu glissement; yakni term yang akan saya bahas hingga akhir esai ini. Saya mulai dari pengertian destruksi yang bukan merupakan term peyoratif. Destruksi (merusak, menghancurkan, sampai menghilangkan) sesuatu tanpa kehendak untuk membangun yang baru (kreasi) itu bukan sebuah persoalan/masalah. Subjek-subjek Stirnerite (saya pakai term Stirnerite ala Rooum dalam Anarchist Quarterly (1987) bukan term Stirnerian), saya baca sebagai subjek-subjek abolisionis yang tidak se- gan untuk menghilangkan fasis (insureksi) yang ada di dunia tanpa melakukan pembangunan *civilization/*terbangunnya harmony-civilization yang ‘indah’ setelahnya (revolusi). Abolisionis adalah ‘pemberontak’ yang
entah berlaku statis/dinamis, ia tetap ‘memberontak’. Entah menjadi-diri-sendiri/menolak-menjadi-diri-sendiri, ia tetap ‘memberontak’. Sekalipun tanpa menjadi subjek-dinamis, Abolisionis paham kontekstual antara menjadi Egois atau menjadi Fasis (proto-fasis, kripto-fasis, fasis-kiri/tengah /kanan, dan segala jenis fasis). Menjadi egois—katakanlah—adalah melakukan apapun yang relevan untuk personalitasnya (bahkan landasannya hanya relevan/ tidak-relevan [a.k.aberlandaskannothing], bukan senang /tidak-senang, bukan enjoy/tidak enjoy), sedangkan menjadi fasis—katakanlah—adalah melakukan tindakan pemaksaan kepada subjek ‘di luar dirinya’ untuk mengikuti apa yang dirinya mau; laiknya Hitler beserta Autschwitz-nya atau Lenin beserta Gulag-nya. Itulah subjek Abolisionis yang tidak mempunyai conatus/the-will untuk menuhankan/menyakralkan apapun; tidak menyakralkan statis/dinamis, diri-sendiri/bukan-diri-sendiri, bahkan lebih jauh lagi melampaui ‘representasi-bahasa’ macam; penegasan yang-unik/non-unik, human /inhuman; singkatnya—tidak menyakralkan segala- galanya. Hal ini senada dengan uraian Feyerabend dalam Againts Method (1993) dengan istilah anything-goes; yakni apapun metodenya, entah statis/dinamis, tetap sah-sah saja, yang penting metode tersebut bersifat terbuka (bebas berubah bila perlu). Ini artinya, tidak terlalu penting pula istilah subjek-nomadik ala Deleuze-Guattari (kecuali istilah body-without-organs yang senada dengan anything-goes; yakni tubuh/mesin-hasrat yang bebas menjadi apapun). (Deleuze &
Guattari, 1983). Meski tentu bebas dalam pengertian worldview ke-diri-an (dalam hal ini Abolisionis) yang memiliki peralatan kognitif dan peralatan observatif yang ketat, memadai, sekaligus singular (katakanlah tidak ‘moron’, lantaran ‘moronitas’ dapat mengarah pada pola-berpikir proto-fasis) yang inheren dengan pertimbangan silogisme, pertimbangan linguistik, pertimbangan epistemologi, aksiologis, ontologi, dst, sebagai peralatan tinjauan-kritis dalam melihat suatu fenomena (walau pada taraf/konteks tertentu peralatan-peralatan ini dapat menjadi spooks juga tentunya), sehingga dapat memahami ada-tidaknya unsur fasis, proto-fasis, kripto-fasis, fasis-kiri/tengah/kanan, dan segala jenis fasis pada suatu fenomena. Itulah mengapa, tidak dapat/tidak relevan membaca Stirner dari perspektif Nietzsche. Sebab triadik Nietzsche tidak berlaku untuk korpus Stirner. Stirner dalam Stirner’s Critics (Stirner, 2012:55-56) itu— menurut interpretasi saya—tidak berbicara soal menjadi-‘Aku/tidak-menjadi-Aku’ (menjadi nihilis-negatif, nihilis-aktif, nihilis-pasif, nihilis-reaktif, nihilis-krea- tif/unta, singa, bayi, dst), melainkan bicara soal tidak adanya Revolusi, yang ada hanya Insureksi sebab yang-unik (dalam hal ini nihilis-abolisionis) bukanlah sebuah entitas (subjek revolusioner). Ia juga bukanlah sebuah konsep (harapan revolusioner), ia tidak me- rujuk pada apapun (abolisionis-insureksioner). Menurut interpretasi saya lagi, istilah creative-nothing bukan mengacu pada kehendak untuk menghancurkan dan membangun kembali, creative-nothing hanyalah sebagai
istilah yang mengacu pada Tindakan (creative) yang Tidak Terpaku Suatu Pendasaran/Beban-Historis/ Kehendak-Futuristik (nothing) maupun Penciptaan Ulang (revolution). Itulah tindakan insureksi, bukan revolusi. Itulah Abolisionis, yang tidak terikat oleh tradisi-konvensi-sosial (kultur, sub-kultur, atau kon- ter-kultur sekalipun) ataupun terpaku oleh harapan-harapan terbangunnya civilization (harmony-civilization yang ‘indah’), melainkan hanya melakukan ‘pemberontakan’ yang relevan untuk ia lakukan, hanya itu. Itulah Abolisionis yang hanya menghendaki—katakanlah— 'the unique of one’, sekalipun beririsan dengan suatu afinitas/asosiasi-bebas; yakni dalam bahasa Stirner sebagai *voluntary-egoist—*bukan involuntary-egoist federa- si/kolektif/dst—, atau dalam bahasa Bey sebagai Union- of-Self-Owning One's (Bey, 1994) yang 11/12 juga dengan bahasa Deleuze-Guattari sebagai subjek-subjek non-fasis di tataran molar (Deleuze & Guattari, 1983) yang secara tersirat semacam istilah Group-Subject; yakni interaksi antara subjektivitas yang kompleks/bukan Sufojugated-Subject (Wilden, dalam Lacan, 1968). Bahkan pengertian creative-nothing melebihi pengertian semacam the-desire-for-destruction-is-also-a-creative-desire ala diktum Bakunin/secara tersirat juga macam Malatesta/Rocker/Chomsky/Bookchin, dan seterusnya, yang masih bercorak terikat oleh pendasaran/ harapan terbangunnya harmony-civilization kedepan; yakni semacam setiap individu dapat hidup berdam- pingan, orang tua dan bayi sehat secara standar sosio-
psikis, berkeluarga, beregenerasi, dst. Entah lantaran masih terikat oleh beban-historis atau kehendak-futuristik.
“Adimanusia adalah konsep yang bermasa- lah untuk memahami Stirner dan penga- ruhnya, karena mengaitkannya dengan Yang-Unik*.* […] Zarathustra milik Nietzsche ingin menggalang massa sehingga mereka dapat mengorbankan diri mereka sendiri, memengaruhi transisi menjadi adimanusia. […] Adimanusia membentuk karakternya sendiri secara baru, namun menghargai kreativitas di atas segalanya. (Abissonichilista, 2015).
Revolusi dan insureksi hendaknya tidak dipandang sebagai sebuah sinonim. [...] Revolusi ditujukan pada susunan baru, sementara insureksi membawa kita untuk tidak lagi membiarkan diri kita diatur, melainkan untuk mengatur diri kita sendiri, dan tidak menaruh harapan cerah pada suatu ‘institusi sosial’. Ini bukan perjuangan melawan yang mapan [...] Lantaran sekarang tujuan ku bukanlah sekedar penggulingan tatanan yang telah ada, melainkan kebangkitan di atasnya, niat dan tindakan ku bukanlah niat dan tindakan politik atau sosial, melainkan karena apa pun hanya ditujukan pada ku dan kepe-
milikan ku sendiri, yakni suatu niat dan tindakan egois. (Stirner, 2017).
Dengan itu, Abolisionis terbuka untuk menjadi apa pun, bahkan boleh menjadi ‘pendendam’, namun bukan ‘pendendam’ dalam arti ressentiment ala Nietzsche atas pembacaan Newman dalam Anarchism and the Politics of Ressentiment (2004), melainkan ‘pendendam’ dalam arti hendak melawan-balik (resisten/fight-back) apapun aksiomatik yang telah dipaksakan kepadanya (tindakan fasistik yang dilakukan oleh para fasis/proto-fasis/kripto-fasis/fasis-kiri/tengah/kanan, atau segala jenis fasis kepadanya). Sebuah dendam yang timbul— katakanlah—secara kognitif dan observatif yang memadai, ketat, sekaligus singular/otentik (11/12 dengan pengertian Heidegger (1962) sebagai Eigentlichkeit-Da-Sein yang ‘mewaktu’), bukan dendam yang timbul dari ‘afeksi’ ‘sentimen/ressentiment abstrak’ belaka (dalam tanda petik tentunya).
Dia (Stirner/dalam hal ini Abolisionis-Insureksioner) tidak melepaskan dirinya dari kategori-kategori properti, alienasi, dan penindasannya, dia melemparkan dirinya ke dalam ketiadaan. (Deleuze, 1983).
Itulah Abolisionis/Insureksioner—atau katakanlah yang-tidak-terkatakan/tidak-terbahasakan (glissement atau—mudahnya—yang non-representasional)—yang bebas melakukan apapun, bebas menjadi statis/dina-
mis, diri-sendiri/bukan-diri-sendiri, bahkan bebas menjadi yang-unik/non-unik, human/inhuman, melakukan anti-prokreasionis/prokreasionis, anti-civilization/membangun-civilization (tentu civilization dalam pengertian sekedar sebagai ‘bonus’ insureksioner tertentu). Sebab abolisionis/insureksioner/glissement tahu bahwa—mau bagaimana pun, mau menjadi apapun, mau melakukan apa pun, sampai kapan pun—dunia tetaplah berupa kompleksitas chaos sekaligus nothingness (kompleksitas khaos sekaligus ketiadaan). Maka, insureksi, bukan revolusi.
Penutup: Entah Subjek Apapun Itu, Hidup Tetap
Berupa Kompleksitas Chaos sekaligus Nothingness.
Terlepas dari uraian singkat seputar abolisionis/insureksioner*/glissement* di atas, mungkin entah anarkis apa pun itu, entah subjek apapun itu, sampai kapan pun, hidup tetaplah saja suatu kompleksitas chaos sekaligus nothingness yang senantiasa diregenerasi oleh spesies remeh-temeh bernama ‘manusia’ (‘kita semua’); spesies yang senantiasa berkutat dalam ketiadaan sekaligus khaos. (Iqbal, 2023). Dan mungkin yang dapat dilakukan hanya menjalani detik tiap detik, menjalani hidup entah menuju pada pilihan meredup atau meledak. Berada pada pilihan semata-mata menjadi fatalis (mengafirmasi segala variabel yang menerpa), semata-mata menjadi eskapis (menghindari segala variabel yang menerpa), atau menjadi ‘asketis’ (antara mengafirmasi sekaligus menghindari segala variabel yang menerpa). Mengambil tarikan nafas panjang, meng-
ambil kain, bensin, dan botol kecap, atau tali gantungan. Entah dalam probabilitas segala eksperimen yang entah akan menghasilkan ‘ledakan dahsyat’ mau pun sekedar ‘ledakan kecil’, entah secara konstan mau pun sekedar insidental, entah justru lebih dulu/memilih ‘hangus di dalam bilik’. Entah sebagai ‘the-unique-and-its-property’ (Stirner, 2017) dengan ‘all-things-are-nothing-to- me’ (Blumenfeld, 2019). Atau semacam yang John Moore ungkapkan dalam Lived Poetry (2002) bahwa ini merupakan hidup yang dijalani sebagai tindakan ‘kreativitas spontan’ dan pengejawantahan lengkap teori ‘radikal’ dalam ‘tindakan’ (Moore, 2002) dengan memegang prinsip yang ‘relevan’ untuk ‘kita’ jalani […] tanpa adanya suatu klaim cetak-biru (Graeber, 2000)
| sehingga biarkan satu sama lain untuk bertindak se- | ||
|---|---|---|
| perti yang mereka anggap ‘relevan’ (Malatesta, 1995). | ||
| Dan—sekali lagi—mau bagaimana pun itu—yang pasti (saya memang memilih diksi ‘yang pasti’)—dunia akan senantiasa berupa suatu kompleksitas | chaos sekaligus | |
| nothingness | . |
Bibliografi
Abissonichilista (2015). The Unique One meets the Overhuman. Anarchist Library Bey, Hakim (1994). Immediatism. San Francisco, CA: AK Press. Blumenfeld, Jacob (2018). All Things Are Nothing to Me. Winchester, UK: Zero Books Deleuze, Gilles & Guattari, Fellix. (1983). Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia.
Mineapoliss USA: University of Minnesota Press. Deleuze, Gilles (1983), Nietzsche and Philosophy, New York: Columbia University Press. Feyerabend, Paul. (1993). Againts Method. London, New York: Verso. Graeber, David (2000). Are You An Anarchist? The Answer May Surprise You!. Anarchist Library Heidegger, Martin (1962). Being and Time. Oxford UK & Cambridge USA: Blackwell Publishers. Malatesta, Errico. (1995). The Anarchist Revolution: Polemical Articles 1924–1931, edited and introduced by Vernon Richards. London: Freedom Press M, Iqbal, M (2023). Nihilis-Anarkis yang Setiap Detiknya Senantiasa Berada di Ambang Kegagalan dan Kematian dalam Der-Einzige Zine: Political Discourse. Moore, John (2002). Lived Poetry: Stirner, Anarchy, Subjectivity and The Art of Living. dalam Changing Anarchism: Anarchist Theory and Practice in A Global Age. Ed. Jonathan Purkis and James Bowen. Manchester and New York. Manchester University Press Newman, Saul (2004). dalam John Moore, et.al/Various Authors. Anarchism and the Politics of Ressentiment dalam I Am Not A Man, I Am Dynamite!: Friedrich Nietzsche and the Anarchist Tradition. Booklyn, NY: Autonomedia
Rooum, Donald. (1987). Anarchism and Selfishness. In: The Raven. Anarchist Quarterly. London. vol. 1,
n. 3
Scrivener, Michael. (1979). The Anarchist Aesthetic. dalam Black Rose, vol. 1, no. 1, Spring, 1979, page 7 Stirner, Max. (2012). Stirner’s Critics. USA. LBC Books & CAL Press Columbia Alternative Library. Stirner, Max. (2017). The Unique and Its Property. Underworld Amusements. Baltimore Wilden, Anthony. (1968). dalam Lacan. The Language of The Self: The Function of Language in Psychoanalysis. New York. A Delta Book.
Mukhatara
Jalan Berkabut Tanpa Akhir:
Kontradiksi Pandangan Pascamodernisme (Postmodernism)
PADA suatu hari di tahun 1996, Alan David Sokal, seorang fisikawan teoritis asal amerika dari University College London mengirimkan sebuah essai berjudul Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Her- meneutics of Quantum Gravity pada jurnal Social Text yang diterbitkan oleh Duke University Pressyang secara absurd mengusulkan bahwa gravitasi kuantum adalah suatu konstruksi sosial dan linguistik. Tiga minggu setelah diterbitkan pada Mei 1996, Sokal mengungkapkan di majalah Lingua Franca bahwa artikel tersebut bohong dan dengan sengaja meniru gaya para penulis pascamodernisme. Tujuan Sokal dalam melakukan peristiwa ini adalah untuk mengungkapkan kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap konsep ilmiah dalam beberapa tulisan pascamodernis dan mendemonstrasi- kan bagaimana beberapa ilmuwan sosial terkadang menerima teks-teks semacam itu tanpa melalui pemikiran kritis terlebih dahulu. Ia mengkritik pemakaian konsep-konsep ilmiah yang digunakan dalam mendukung
argumen-argumen non ilmiah dalam karya-karya me- ngatasnamakan “pascamodernisme”. Setelah mengirimkan essai tersebut Sokal kemudian pada tahun 1998 bersama Jean Bricmont menerbitkan sebuah buku berjudul Fashionable Nonsense yang membahas mengenai bagaimana istilah ilmiah seringkali salah mengkonsepsikan sains beserta dengan berbagai istilah di dalamnya.. Hal tersebut tak luput pula dikri- tisi pula oleh para teoritik pascamodernisme, salah satu nya adalah Jaques Derrida yang mengatakan dalam terbitan La mode dengan judul Sokal and Bricmont Aren't Serious menuliskan apa yang dilakukan oleh Sokal terkesan “menyedihkan” karena namanya kini identik dengan peristiwa hoaks daripada sains itu sendiri tetapi juga menghilangkan kesempatan untuk mereflek- sikan secara serius masalah ini dengan menghancurkan forum publik yang sepatutnya mendapatkan hal-hal terbaik secara definitif teori ini merupakan sebuah gerakan intelektual yang lahir sebagai respon terhadap beberapa tema dengan dikemukakan oleh kaum modern atau modernis serta diartikulasikan pertama kali selama masa Pencerahan. Era postmodernisme sendiri hanya dibatasi pada akhir abad 20 (Felluga, 2007). Prinsip utama gerakan dari pascamodernisme meli- puti:
(1) peningkatan teks dan bahasa sebagai fenomena fundamental eksistensi,
(2) penerapan analisis sastra pada semua fenomena,
(3) mempertanyakan realitas dan representasi,
(4) kritik terhadap metanarasi,
(5) argumen menentang metode dan evaluasi,
(6) fokus pada hubungan kekuasaan dan hegemoni, dan
(7) kritik umum terhadap institusi dan pengetahuan Barat (Kuznar 2008:78). Dalam bahasa Yunani kata untuk "kebenaran" ada-
lah alētheia, yang secara harfiah berarti "tidak tersembunyi" atau "tidak menyembunyikan apa-apa." Kata ini mengindikasikan jika kebenaran akan selalu ada, selalu terbuka dan tersedia untuk dilihat oleh semua orang, Tidak ada satupun yang tersembunyi atau disamarkan jika kita berusaha meniliknya secara menyeluruh. Sedangkan, pascamodernisme memiliki konsep dimana "kebenaran" merupakan suatu hal subjektif dimana hal tersebut dapat menyulitkan pencarian solusi atas masalah-masalah sosial yang cenderung objektif terutama dalam hal moral serta etika, jika semuapandangan sama-sama benar, maka bagaimana kita dapat mengambil posisi yang tegas dalam konteks bermasyarakat? Kurangnya objektivitas, dan kecenderungannya untuk mendorong agenda politik, membuatnya hampir tidak berguna dalam penyelidikan ilmiah apa pun (Greenfield 2005). Noam Chomsky, seorang ahli linguistik menjelaskan bahwa ketika kita mengabaikan ide pengetahuan yang obyektif bersamaan dengan nilai-nilai universal, kita kehilangan dasar moral dan episte- mologis untuk mengkritisi tindakan-tindakan yang sa-
lah dan ketidakadilan sebuah sistem. Penilaian berbasis individualisme terhadap sekitarnya membuat pascamodernis seolah enggan mengakui keberadaan dari suatu budaya multi-individu yang berbeda (McKinley
2000). Seringkali pula istilah “kontemporer” tercampur begitu saja dengan “pascamodernisme” dimana kedua hal tersebut bahwasannya mempunyai pendekatan yang sangat berbeda terutama dalam menangkap fenomena sosial yang sedang berlangsung dimana pascamodernisme menekankan pada kritik terhadap moder- nitas yang selalu dibawa oleh “kontemporer” itu sendiri. Untuk lebih runtut Pauline Rosenau (1993) meng- identifikasi tujuh kontradiksi dalam Pascamodernisme:
- Posisi anti-teoretisnya pada dasarnya adalah pendirian teoretis.
- Sementara pascamodernisme menekankan pada irasional, instrumen nalar digunakan secara bebas untuk memajukan perspektifnya.
- Sikap teori pascamodernitas berfokus pada hal-hal yang tepinggirkan dalam dirinya sendiri sebagai upaya penekanan evaluatif atas hal hal yang diserangnya
- Pascamodernisme menekankan intertekstuali- tas tetapi sering memperlakukan teks secara terpisah.
- Dengan menolak mentah-mentah kriteria modern untuk menilai teori, kaum postmodernis tidak dapat berargumen bahwa “tidak ada kriteria yang valid untuk penilaian”
- Pascamodernisme mengkritik ketidakkonsis- tenan modernisme, tetapi menolak untuk ber- pegang pada norma konsistensi itu sendiri.
- Pascamodernis menentang diri mereka sendiri dengan melepaskan klaim kebenaran dalam tulisan mereka sendiri Contoh lain dari kontradiktifitas pascamodernisme
adalah penerapannya dalam dunia seni dengan menciptakan karya dengan menggabungkan elemen-elemen dari budaya populer dengan berujung pada konsumsi massal. serta bentuk komersialisasi berlebihan tanpa memperhatikan nilai-nilai estetika dan minimnya kreativitas dalam berinovasi yang menjebak mereka dalam upaya validasi. Sifat-sifat skeptisme berlebihan serta ignoransi terhadap sebuah konsenkuensi perbuatan merupakan hal yang seringkali ditemui pula dalam pemikiran teoritik dari pascamodernisme, Sementara pascamodernisme mengakui ketidakpastian dalam berbagai hal, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang membutuhkan kepastian dalam banyak hal, seperti pekerjaan, hubungan, keamanan dan sebagainya. Kita tidak bisa hanya berlarut-larut dalam keraguan jika ingin mencari solusi akan suatu permasalahan. Tindakan nyata pun diperlukan untuk mengubah substansi keaadaan.
(September 2023)
Referensi:
Roseneau, Pauline (1993) “Postmodernism and the Social Sciences “ McKinley, B. (2000) “Postmodernism certainly is not science, but could it be religion?” CSAS Bulletin, 36 (1), 16-18. LBBS, Z-Magazine's Left On-Line Bulletin Board, https://bactra.org/chomsky-on- postmodernism.html
Plackeinstein
Pengantar Menjilat Kemaluan
YANG paling menjijikan dari mereka yang dulunya merupakan pembicara ide-ide pergerakan ialah bahwa suatu waktu mereka menjilat penguasa; entah bagian pantat atau kaki; kebanyakan malah menjilat jejak-jejak saja; satu orang menjilat satu orang yang menjilat hasil jilatan orang lainnya. Seperti estafet penjilatan. Sebab itu, perlawanan jauh lebih baik daripada pergerakan. Sebuah pergerakan belum tentu melawan, dan perlawanan sudah barang tentu bergerak. Para penjilat kekuasaan seharusnya malu, tapi itu meragukan, sebab tentu kita patut curiga tentang mereka, jangan-jangan mereka sudah tak punya kemaluan. Kesudian menjilat ialah satu-satunya yang patut di- contoh dari mereka. Tapi kesudian menjilat dan prak- tik menjilat yang mereka lakukan sama sekali bukan erotis, maka keraguan pun mengada kala hendak men- contoh. Sebaiknya jangan. Sebagai tolol kelas berat, sesekali, pada titik tertentu kita ingin menjilat kelamin—bagian yang oleh bahasa secara ajaib ditandai dengan kata kemaluan. Tapi dari mana harus memulai? Kalau menulis tentangnya saja, kita harus menghadapi banyak halangan. Perasaan
dan pikiran erotis kebanyakan mengendap di dasar hasrat. Sampai menggumpal. Terlalu pengecut untuk mendobrak. Lagi pula erotisme sama sekali bukan ke- normalan di sekitar kita. Dunia lebih suka hal-hal sadis- tis ketimbang erotis. Dalam masyarakat moralis, hal-hal erotis ialah tabu. Setiap bentuk kekuasaan dan otoritas (negara, agama, sekolah, dst., dsb.) mengekang erotisme. Sebagai aki- batnya pengekangan ini juga merembet ke dalam per- kara kreasi. Ada cukup banyak pengekangan erotisme dalam kreasi (sastra, film, dll.) mainstream. Erotisme cenderung dicegah, dihindari, dan disensor. Dan sialnya, ketika ia digunakan, disalurkan, dan dirayakan, adalah para kapitalis yang mengeksplorasinya, dan mendapatkan banyak profit darinya. Tak lupa bahwa di dalamnya terjadi eksploitasi. Hanya para pembangkang yang memiliki daya dob- rak akan kekangan pada erotisme itu; merayakan erotisme dalam cinta, atau bercinta dengan memanfaatkan bumbu erotis. Di dalam diri kita, zat-zat erotis yang mengendap sampai menggumpal, perlahan-lahan akan memanas— untuk kemudian mendidih. Kita (para pembangkang dan calon pembangkang) tahu bahwa penghargaan kita pada kebebasan, pembangkangan, dan perlawanan, suatu waktu akan membebaskan zat-zat erotis yang telah mendidih itu, sebagaimana selama ini terjadi dalam imajinasi. Menulis erotisme (meski tak seerotis itu) ialah per- mulaan yang bagus sebagai penghargaan pada kebebasan dan pembangkangan. Sebagaimana Audre Lorde
katakan dalam esainya Uses of Erotic (dalam The Master’s Tool Will Never Dismantle The Master’s House: Penguin Modern), erotisme sampai kepada kita sebagai hal-hal yang seolah terkutuk, salah, tabu, dst., dan penyampai- nya ialah tak lain dari para pengkhotbah otoritas. Menggunakan erotisme dalam kreasi, atau merayakannya dalam aksi ialah sebentuk pembangkangan. Sebelum merayakan erotisme, kita perlu menggunakannya dalam kreasi. Mengekspresikan erotisme lewat teks mungkin saja merupakan sesuatu yang cukup erotis sebagai pengantar menuju tindak erotis yang me- libatkan tubuh. Tak seperti para penjilat kekuasaan yang kini sudah diperbolehkan menggali tambang, kita bisa merayakan erotisme, menjilat kelamin kekasih kita, atau siapa pun—selain penguasa—yang sepakat untuk dijilati ke- laminnya. Para penjilat kekuasaan tak bisa merayakan erotisme sebab mereka sudah terlanjur tampil dengan to- peng kesalehan, dan tenggelam dalam ketakjuban ko- nyol atas kesalehan mereka sendiri. Menjilat kekuasaan saja, mereka lakukan dengan mengendap-endap, dan ketika kedapatan, mereka akan berdalih dengan dalil dan menggunakan dalil sebagai dalih. Sekarang, kita sebaiknya mulai merayakan erotisme. Sebab dengan dibolehkannya para penjilat kekuasaan mengelola tambang, kiamat-kiamat kecil akan semakin banyak, dan kiamat sesungguhnya akan semakin dekat. Merayakan erotisme, entah dalam pikiran (dan ekspresi) atau tindak, sebagai bentuk pembangkangan
dan perayaan atas kebebasan, jangan sampai menjebak kita ke dalam tindak kekerasan seksual yang menyebalkan. Kita perlu kesepakatan subjek lain untuk merayakan erotisme. Sebab tentu, batas kebebasan kita terletak pada kebebasan dan hak subjek lain. Temukanlah subjek, capai kesepakatan, dan jadilah erotis! Perayaan erotisme yang baik dan benar, bisa membawa rasa senang yang diperlukan untuk menghadapi dunia yang begitu menyebalkan, yang dikuasai oleh negara dan kapitalis yang busuk nan menjijikan, serta para penjilatnya yang menyedihkan. Temui lalu dekaplah kekasihmu; kulumlah bibir, lakukan ciuman 120 detik, dan biarkan lidah benar-benar bersilat; telanjanglah! Lalu hayatilah tiap lekuk tubuh di hadapan masing-masing; sentuhlah, belailah keindahan itu; kecup tiap inci tubuh telanjang itu; dan mulailah menjilati keindahan dan keerotisan tubuh yang membuat hasrat di dasar perasaanmu mendidih; saat kau tiba di bagian kelamin, lupakan teks ini, dan mulailah menjilatinya.
Hanya tersisa sedikit waktu Temukan dan temuilah kekasih Hanya tersisa sedikit waktu Hadapkan wajah pada kelamin Enam sembilan, tiga, dua, satu Jilatlah kelamin itu
Puisi
| Aditya Yudistira | Hal. 34-36 |
|---|---|
| Al Faathir | Hal. 37-38 |
| Arsyad Fauzi | Hal. 39-40 |
| Besokkeos | Hal. 41-46 |
| Bunga Senja | Hal. 47-48 |
| Dafid Kurniawan | Hal. 49-51 |
| Farhan | Hal. 52 |
| Hezekiel Turnip | Hal. 53-54 |
| ImajiNekro | Hal. 55 |
| Joe Jones Nirahua | Hal. 56-58 |
| Lhie Mey Hwa | Hal. 59 |
| M Iqbal M | Hal. 60-62 |
| Mou | Hal. 63-67 |
| Mugi Anggari | Hal. 68-69 |
| Mukhatara | Hal. 70-71 |
| Okto | Hal. 72 |
| Syamsul Falah | Hal. 73-76 |
| Tasamsyah | Hal. 77-79 |
| Terrik Matahari | Hal. 80-81 |
| Yunan Sazstrajingga | Hal. 82-83 |
| Zihad Juliana | Hal. 84 |
| Yosea Arga P | Hal. 85-88 |
Aditya Yudistira
kesia-sia(l)an
demi masa yang melumuri tubuhmu tak henti-henti:
cacahan waktu semakin begitu subtil berserak sekehendak di kesemuan.
sedang abadi terlalu payah menahan kantuk zaman, separuh terjaga di ruang tak bernama.
((di situlah))
tempat yang sempat kau ingat dulu sebagai penjara menyimpan tubuh
dalam kaku yang lembab oleh keringat menggali kuburan tak bertanda
seujung harapan taifun berbuta arah menjumput daun-daun kelabu gugur tanpa rima
di antara gundukan tak bergunduk yang tak pernah dibayangi seorang pun
dirimu tak henti mengitari gerak kesia-sia(l)an
zuriah disiden : untuk para pelempar api
adab peran
raka
dabra ham, enyak
dor mah, makan
Au O2
ninu niru
ninu niru
lawan
!
anti-tesis hewan non-manusia
Al Faathir
Tuhan di Reruntuhan
Aku... Aku berjalan melalui reruntuhan dan bangkai yang berserakan di puing-puing Aku… Aku melihat Tuhan di Reruntuhan dalam getir & lirih ia berkata “Engkau telah membunuhku wahai hambaku!!” “Wahai Hambaku.. Hambaku.. Harimu tak akan sama setelah kau membunuhku!” Aku… AKu…. AKU….. Aku berjalan… Menyeret bangkai sang penyayang, yang terbalut ketakutanku yang tak pernah mati. Bangkai-bangkai yang berserak seakan menagihku pengampunan yang tak pernah bisa kuberikan Bertahun-tahun lamanya aku menyeret engkau sang imajiner Tuhanku.. Tuanku.. Logosku.. Ar-rahman Ar-rahim… [...]
Bertahun-tahun lamanya aku hidup dengan ketakutanku Dan mereka: manusia dan masyarakat Lihat apa yang mereka lakukan padaku, Tuhan. Mereka seiring waktu menjadi jalang yang memakan sisa waktu mudaku. Bangkai-bangkai yang berserakan tak lagi menagih pengampunan Mereka menghunusku dengan pisau perlahan membunuhku Sebentar lagi aku akan mati Takut mulai menggerogoti tubuhku Wahai Tuhanku.. Tuhanmu.. Tuanku.. Ia yang maha mempertemukan.. Ia yang maha memisahkan.. Ia yang maha mempersempitkan.. Ia yang maha menghinakan.. Dan Ia yang maha memuliakan… Yang memeluk ketakutanku Yang abadi.
Arsyad Fauzi
Aib Tuhan
Tuhan tidak bisa melukai dirinya sendiri Tuhan tidak bisa bunuh diri
2022-2023
Tanpa Aku
Muakku sudah terbendung jadi gumpalan Tak ada lawan, tak ada kawan, mereka berdua adalah semu mematikan Segala sistem adalah segalanya dari kekejian Dan segala pahamnya itu Binatang kesakitan
Aku ingin memisahkan diri dari makam bernama ‘diriku’ Aku juga ingin tidak disebut ‘aku’lagi Aku dan diriku ingin kulepaskan
Tak perlu dilahirkan kembali di dunia Dunia tanpa aku dan diriku Dan tidak ada arti apa pun
Besokkeos
Liturgi Kebencian
Dunia sudah tidak bisa diselamatkan dan manusia sudah tak lagi bisa menyelamatkan maka hentikan dan hentikanlah semua usaha semua upaya yang sia-sia dan tak lagi berguna pada dunia itu kamu melihat sebercak titik hitam yang tak lagi sekadar titik melainkan sebuah noda yang terus membesar dan menjalar menjangkiti kamu-kamu sekalian dan terkutukberkatilah kamu-kamu itu dengan kebencian
Maka turunlah ia yang akan merasuki kamu-kamu itu dengan kebencian yang darinyalah akan kembali dimurnikan kepada amarah yang membakar dirimu dan kursi-kursi tempat dudukmu itu yang menghitam dan menyala
Dari kursi-kursi itu kamu berdiri dan mengambil sebatang besi yang kamu tempa dengan benci dan asah dengan marah dan kamu jadikanlah golok-golok untuk membacok mau pun gada- gada untuk meluluh lantakan semua dunia yang ada
Penggal kawan-kawanmu dan tusuk cabik semua musuh-musuhmu dan musnahkan yang bernyawa di depanmu dan bakarlah rumah-rumah dan ratakan dengan tanah penjara beton yang menyanderamu
Bunuh semua orang lalu bunuhlah dirimu sendiri karena tak ada lagi masa depan maka tempelkan pucuk senapan di pangkal tenggorokan
Mei, Juni, Juli dan Seterusnya
Hingga Imam Mahdi Turun
Kau adalah seorang pengecut menyedihkan yang mengembikan tahlil-tahlil jahil, melengkingkan liturgi-liturgi kosong yang lebih kosong dari kekosongan guna filsafat dalam hari-hari basi yang habis diperah oleh kepalsuan hati nurani
Dunia belum terbakar, para despot masih terbahak mengawali berhala-berhala yang berdiri tegak Tak ada alasan.
Harusnya mudah, melemparkan seporos kematian ke arah depan, kau bisa saja memejamkan mata, mengenakan keffiyeh di kepala yang melantangkan dengan congkak; "AKULAH INTIFADA",
Dan api akan menyebar Membakar Tak ada alasan.
Harusnya mudah, secara dunia yang selalu kau injak-injak tak ada artinya buatmu, dan segala kehidupan hanya omong kosong ketidakbergunaan
Dan kau masih berjongkok di belakang sepeda usang, tepat di sebelah termos anak pedagang minuman yang linglung akan banyolanmu menyoal strategi momentum hirukpikuk masadepan.
Dan dunia belum terbakar.
Untitled
Kami adalah generasi yang lahir dari rahim busuk hegemoni Produksi komoditi ala doc martens yang melabeli diri atas nama histori Yang kosong ditelanjangi Atas nilai-nilai yang pernah kami yakini Yang berakhir dikooptasi/dimonopoli
Kami adalah anak-anak yang disapih oleh privatisasi air para ibu yang dikebiri hingga hilir produksi Merajangi setiap senti hingga tak bisa lagi kami kenali Dan menagih tiap tetes darah untuk kami nikmati
Kami adalah generasi yang telah ditata rapi Dalam baris-baris tulisan kitab-kitab suci yang telah diliberalisasi Atas nama tuhan Pasar Dan keuntungan Atas nama tuhan Pasar [...]
Dan akumulasi Aku bersaksi Menjadi bidak pasti Yang melanjutkan roda produksi
Bunga Senja
Merayakan
Harusnya aku merobek dada dengan belati tadi pagi Membaca berita tentang para anjing yang hendak memasung kaki dan mulutku esok hari. Anjing! Aturan keamanan, busuk! Lalu, untuk apa semua itu? Omong kosong kebebasan dikencingi anjing penjaga
Siapkan tambang dan tiang gantungan! Besok, kita gantung diri bersama, Mari, berayun-ayun dengan leher tergantung Dengan mati, kita merayakan kebebasan abadi.
Orang Mabuk
Wahai para pengkhotbah penjaja janji sorga Sudahkah kau makan siang hari ini? Nampaknya kau merasa lesu melihat para pemuda yang nampak jauh dari Tuhan-mu itu Ah, dunia memang terkutuk Mari, kita mabuk Atau kau tak suka mabuk? Munafik. Kulihat kau banyak meracau tentang ketenangan dan jalan benar, kan? Seringkali kau pun memukul, mengutuk, dan menghardik orang yang dianggap musuh Tuhanmu itu, kan? Lalu, alkohol jenis apa yang kau minum sehingga kau mabuk sedemikian itu?
Dafid Kurniawan
Bakar
Api kemarahan sudah naik seleher Makrokosmos menjadi saksi sekaligus pembakar bara Nenek moyang sudah berbaris rapi dan siap merayakan Akan kami hantarkanmu ke altar pemakaman lebih cepat!
Semua maja tertuju pada suatu titik Ribuan tubuh berbaring terlentang menghadap nirwana Berjuta tetes air mata bergelimang di setiap derap langkah Darah bercucuran menghiasi sudut kota Puing-puing bangunan menjelma daun yang beterbangan dan berserakan Peluru menghujam raga silih berganti Jeritan dan tangisan anak-anak tak berdosa berkumandang tanpa henti Debu dan api menjadi kawan Luka dan kematian menjadi kudapan Menantang tiran sebelum tepat hari penghakiman adalah sebuah keharusan!
Kamilah semangka-semangka di antara lengan dan batu berangkal intifada […]
Kamilah semarak barak yang menerjang gejolak di antara amuk dan bara Kamilah benih-benih yang tumbuh dan merangkai hulu ledak dari Jerusalem hingga Gaza Kamilah bayang-bayang semu di setiap bara itu
Insureksi
Mereka membunuhnya Mereka memaksanya mati Dengan menjelama tuan dermawan dan murah senyuman Tiap kedip matanya menjadi tarantula Dengan indah dan mantap dia menggigit jariku Membuat jiwaku pening pula dengan dendam Amuk amarah telah menyebar di setiap sel darah Masuk ke dalam rongga sumsum tulang Menjelma sebuah Molotov Coctail Membakar seluruh rasa Awan hitam membumbung tinggi menembus dinding hati Kobaran api menyelinap ke berbagai ruang Membakar setiap dimensi yang menodai kesucian!
Polisi yang baik adalah polisi yang mati!
Farhan
Dendam Kultusan
dari dan ke manusia, kita pantik badai api dendam purba seribu masa
kekalahan-kekalahan hidup dan segala makna hampa yang menjadi dogma
ialah racun di antara remuk-redam bencana harapan
kesakitan menjadi kesaksian sinyal marabahaya bagi hati yang mendamba tiada
begitu pula kebahagiaan adalah raut semu yang kau tampakkan belaka
amarah dan tangis adalah perasaan tanpa nama yang tak ada tahu benar sampai sekarang atau sejak mulanya
maka dengan segala kekosongan ini, hidup adalah kekasih kematian paling purna tanpa hitungan purnama.
Hezekiel Turnip
Deklarasi
aku mencintai setiap jengkal hantu-hantumu di daftar panjang tak berujung di saat tergelapku pada kematian yang menggigil di hari-hari yang dingin menyelimuti kesakitanku dengan kesakitanmu
dan diriku kehilangan aku di suatu tempat di antara sela-sela nafasmu saat kematianku yang berapi-api terbakar habislah bersama diriku yang tumpur ini.
2019-2020
Kematian yang Cacat
Seseorang mereguk 20 butir sekali teguk membenamkan wasiat kepada jasad berikutnya di dalam tumpukan hukum negara di sela-sela reruntuhan penjara
mengoyak-ngoyak indulgensi mendobrak harapan di malam yang retak mengutuki tuhan yang mengantuk di organ-organ yang berantakan
meniadakan setiap hal yang menjadi hal apapun menginginkan sesuatu yang tidak menginginkan apapun kegembiraan membusuk di blok dan sel narapidana gema keputusasaan mengisi sepasang paru-paru yang sekarat.
ImajiNekro
Medi Masa
Thoreau menangis hari ini Bendera-bendera masih berkibar Roda kempis dan sengatan monoksida masih menjelajah trotoar Kaki tiga di kaki lima masih sudi bersanding dengan, baik itu roti mau pun pos jaga, yang dibakar Reklame masih setia dengan komoditas komodifikasi komprehensif koersif kontra kesetaraan brankas Merah berganti hijau karena kuning hanya formalitas serupa iming royalty bayar impas, perbudakan teranyar yang direpresentasikan tinta tercetak di kertas-kertas Atau juga pylox kering di bawah underpass dengan selebaran merekat, menjual jaminan hari esok yang lebih pasti bebas cerahnya entah dengan senjata, suara atau bahkan bualan orang barat
Thoreau menangis lagi hari ini Sampai berita ini ditulis Thoreau masih menangis Karena percetakan ideologi semu penghasil kalender tak kunjung habis//karena waktu masih eksis!
Joe Jones Nirahua
Pintu Ketidakpuasan
Aku memasuki pintu pertama; dalam perjalanan ini kutemukan lubang mimpi, seumpama bola mataku yang memenuhi kekosongan dan di sana khayalan bermain seperti pelukis yang menuangkan tinta hitam ke seluruh lantai putih.
Dalam pintu kedua; kutemukan warga saturnus yang ingin menembus bumi seperti manusia yang ingin berjalan hingga ke ujung planet pluto.
Manokwari 22 juni 2024
Bagaimana caranya tidur?
Tawa menertawaiku dan berbisik di telinga: sudahkah mandi menyiramu dengan air? Lewat mata kakiku, sewaktu petang telah singgah di gubuk sunyi dengan tembok retak dan lantai berlumut menciptakan bau lingkungan yang begitu alami seperti genangan air di antara kotoran sapi.
Dari kejauhan suara mendengarkanku aku bercerita tentang sebuah peristiwa tentang bagaimana aku mengoyak-ngoyakan waktu dan tak ada satu pun tekanan yang bisa membuat diriku tersandung lalu jatuh ke alam bawah sadar terdalam.
Barangkali kesepian akan menemukanku dalam dimensi kesunyian aku melihat segerombolan mimpi yang telah menantiku di ujung sebuah kasur. Bila matahari telah menjemput malam, teranglah seisi rumah pengelana kurus kering […]
dengan bajunya yang sangat kusut akan berjumpa dengan teman masa kecilnya yang berwarna ungu.
Manokwari, 23 juni 2024
Lhie Mey Hwa
Maos
Firasat memaksa menuntun menjemput Ucap jaksa butut tak sedikit pun membuat ciut Cipta kerja paksa adalah sistem kebut semalam lalu cabut Kita adalah yang tak patut bergetar di kedua lutut
Teks pertama tak tergambar Hegemoni kedua pijak yang melanggar Eksistensi ketiga teriak kamilah yang paling benar
Pertahanan cringe di garda terdepan Organ paling najis terendah di kehidupan Lihat pula kematian yang tak berarti apa-apa di hadapan mereka Isi kepala dipenuhi polutan limbah kekuasaan hingga ke akarnya Cerita menyebar sendirinya belum tentu semua paham apa isinya Entahlah masih ada juga yang menjadi pemujanya
M Iqbal M
Dedikasiku
Tentu saja aku sudah mati. Ketika aku telah menyadari bahwa dunia sekedar tetek-bengek lelucon yang diregenerasi.
Tentu, sebagai mayat hidup, kuhanya sekedar menjalani detik tiap detik, hari demi hari. Bila saatnya kuhendaki mati, maka kuhendaki tuk langsung membunuh diri.
Tapi aku tak ingin mati sendiri. Sebab kumemilih tuk meledakan diri di tengah para kerumun moronitas kripto-fasis yang senantiasa berbangga diri.
Apa Sikap Kita
di Hadapan Kekosongan?
Dunia ini kosong, tidak ada tetek-bengek tuntutan untuk hidup atau tuntutan untuk mati, tuntutan untuk menjalani siksaan, tuntutan berupaya keluar dari siksaan, atau tuntutan mengakhiri siksaan dengan melempar molotov dan segera bunuh diri.
Yang dapat menuntutmu dengan segala konsekuensi di dunia kosong ini adalah dirimu sendiri, dengan segala kekosongan yang kau miliki sekaligus segala tetek-bengek kekosongan yang dimiliki oleh dunia ini.
Abolisionis di Hadapan
Keterlemparan dan Keteririsan
Aku sama sekali tak menghormati keterlemparan. Sehingga tak mengkultuskan tiap pekerjaan atau gerakan laiknya para penghamba kehidupan.
Namun tetap beririsan dengan berbagai hantu lelucon yang entah kapan akan berkesudahan. Mengingat segala kehadiran hanyalah berupa keterselubungan.
Menjadi ketiadaan di hadapan kamuflase kekejaman bermacam kehendak kesenangan di atas kehampaan. Di mana yang berambisi teramat percaya diri dengan keaktifan yang menjijikan.
Sebuah kebusukan dari keter-isi-an kerumunan tradisi pengulangan keremeh-temehan. Keterpenuhan dari dekadensi kebuntuan yang tak mampu merengkuh ketidakpenuhan.
Mou
Realita
Tepar tanpa gairah di samping jendela lu bingung kenapa masih dikasih napas ngitung berapa hari yang lewat yang tanpa permisi muncul dan lenyap nyingkirin segala hal yang sebenernya pantes dikenang membanggakan sampai gak wajar bikin lu ngerem selimutan doang
Lu yang gak mau orang sok akrab sengaja bau badan biar dijauhin sekalian nyembunyiin pakaian kotor dalem gembolan di bawah ranjang ngarep mualim atau kapten kapal nemuin itu sebagai kompas alesan pelayaran dimulai kesedihan dibuang ke laut lepas dan hal-hal suram jadi umpan ikan
Padahal realita begini-begini aja lu terdampar bahkan sebelum berlayar bareng racun lembing yang siap ngehujam mesiu dalem selongsong hasil letusan […]
atau borgol seketat pelukan yang ngegigit langkah ke tiang gantungan semua orang bersenjata dan gak ada lagi yang namanya pengertian
Baru pas itu puisi dateng cengengesan ngebanjur komuk lu yang minyakan pingsan dan belum mandi tiga harian
Sebat
Sebagai penyair yang belum jadi gue ogah banget pamer rokok di mulut apalagi majang itu sebagai DP ngoceh segala macem soal penghargaan Nobel, Vladimir Putin, konflik Papua, masalah penulis atau buku mana yang wajib dibaca tahun ini
Ogah juga bikin kelas kepenulisan yang dipatok 50 ribu per empat sesi bilang, ada cara jitu buat melesatkan karir menulis, koneksi pendukung tetek bengek, temu virtual bareng penyair yang ngasih lu rasa nyaman jaminan 100% dari kesepian
Yang bisa kita lanjutin cuma menulis puisi bukan ngelatih atau ngatur tulisan orang sekongkol sama promotor dari penerbitan atau komunitas sastra yang masih awam buat ngegembar-gemborin buku yang aslinya biasa aja, apalagi foto sama Kaprodi […]
sama aktivis literasi atau tokoh gerakan seolah buku kita sumbangan penting buat jurusan dunia atau kota kelahiran
Yang bisa kita lanjutin cuma menulis puisi bertahan di tengah badai insecurity gara-gara payah gak bisa muasin penerbit indie atau gak bergaul sama sirkel penyair mereka yang diisep habis popularitas yang mutu karyanya makin selfish dan kurang nampol tiap tahunnya
Gak penting buat ngebocorin ke orang lain buku apa atau penulis mana yang jadi role model dan kalo perlu ngomong soal geopolitik artinya gue harus ngebaca lagi dan cara ngedukung penolakan diskriminasi kulit, ekstraksi alam, juga siasat militeristik adalah gabung ke Lembaga Bantuan Hukum begitu banyak korban yang jatuh bikin kita perlu advokasi gak perlu jadi pakar segala macem seolah audiens duduk di depan lu 24 jam nonstop
Kita gak harus bikin kelas menulis cuma untuk ngasih tau orang gimana caranya bikin puisi […]
kalo bisa yang gitu-gitu dibikin gratis jadi program terselubung komunitas buat nyakar dan ngegigit elit atau iseng-iseng nyentil kuping bandel ala instansi ngingetin kesenjangan di mana-mana dan segelintir orang makin kaya hasil eksploitasi ya, kalo bisa tapi kalopun sempet ngelatih nulis cuap-cuap depan audiens ngeklem cara penulis lain sebagai metode sendiri gue matok harga setinggi gaji pokok karyawan pabrik cuma buat satu sesi tau, banyak hal dikorbanin tapi seringnya miskin sendiri
Segera begitu puisi selesai ditulis begitu buku terbit atau sebatas dicetak stensil yang mesti dilakuin cuma menulis lagi bukan manipulasi orang atau bikin testimoni lebay dari mereka yang buta puisi
Sebagai penyair yang belum jadi gue ogah banget pamer rokok di bibir ngadep kamera, mejeng seolah Chairil biarpun gak ada penyair yang jadi
Mugi Anggari
Hijau
Tentara memang sialan: sekali rakab sampai 4 hektar nge-fly dari barat sampai ke timur.
Mata merah lihat darah mulut berliur inginkan daging. Perang tumpah-tumpah meruah mulut berliur inginkan daging.
Mata merah lihat darah mulut berliur inginkan daging. Kalian para musuh Negara dan masyarakat bersiap-siaplah; bakar Ganja secukupnya bakar bendera sebanyak-banyaknya!
Menuju Kober
Di bawah naungan badai bendera hitam kukibarkan dalam setiap langkah menuju kober; tanpa kabung dan tangisan.
Aku telah mengubur semuanya di sini di antara barisan kerangka orang-orang mati.
Biarpun aku sengsara bersama 4000 gelandangan aku tetap pasrah pada kehancuran.
Aku akan membusuk di kota yang bengkak dan puisi akan bermekaran di selokan dirayakan oleh tikus juga kecoak.
Mukhatara
Gerbong-Gerbong Perdata
Barang siapa mungkin barang kali kamu juga Dengan sengaja dan secara sadar terbuai sonata nafsu dunia Maka akan dikenakan sanksi-sanksi fana dari angkara murka jaksa-jaksa Dengan kurungan sekurang-kurangnya tinggi sel rutan Dan serendah-rendahnya harga pakan rumput ilalang
Persimpangan Reformis
Berbagai bagunan di sana terhias oleh bendera kuning setengah tiang yang terus berkibar Lalu lalang warga bercampur dengan gemuruh teriak para penjual katarsis manis Disertai juga para tunawisma apolitis Terlihat senyum loncos karyawan PT.Apatis Jaya Abadi Maklum baru dapat gaji dari bos tukang jotos Diduga stress berat pejabat setempat memilih minggat dengan lompat-lompat Kedap kedip lampu moral pun kian menambah riuh keladi muda mudi
Ah, besok-besok cari jalan lain saja Karena akan ada hajat hujat Selama 7 hari 7 malam suntuk dari para bangsat untuk domba-domba kantuk
Okto
Kacung
Aku pelajar, namun terhajar Aku berpendidikan, namun menjijikan Mati, kastaku rendah Kacung sudah jadinya aku Melawan, aku tak bisa Memberontak, aku tak kuat Menyerah, aku tak rela Kiamat
Wes, jancok!!
Syamsul Falah
Casual Needs
Kasih, makam bapak kena gusur. Tulang-belulang tak tertebus oleh jual kesedihan. Hutang dan rentenir makin galak menghabisi famili. Semalam betul ibu mati. Barangkali tetangga tak mau urus, sepaket dengan ritual lainnya. Biar tikus mengabadikan tubuhnya. Koreng ibumu tak kunjung kering, semakin menjalar hingga ke urat. Mungkin bapakmu di neraka bersuka cita, “Neraka tidak seburuk itu!”
Cinta merawat jerawat, menjalar memenuhi ranjang. Padahal hari belum habis juga, gelas sudah pecah lagi. Dukun bertindak: membaca trauma, tackling ala pemain partai, beserta maraton pasar sepanjang lintas pantai utara. Hidup mudah, hisup murah, bayar di akhirat siapa takut. Masih banyak kursi di beringin. Siapa antre, ia relakan mertua jadi tumbal.
“Mulai sekarang, kita putus hubungan ayah-anak” pesan bapakmu dari neraka. Tetangga masih anteng pantau timeline pencapaian. Walau masih nol, selalu tertimbun oleh anak si ini, si itu, jadi kodham penjaga gerbang, jadi aparat negara jalur jilat telapak kaki kerabat, jadi magister by accident. Padahal edukasi seksual bisa jadi fantasi panas ciu bekonang yang manis.
Kasih, bagaimana jika kita menari menuju horizon. Kita urus bangkai kita sendiri. Mari mandi minyak. Bermain api. Bercinta hingga jadi abu. Kita teriakan azab kita sendiri! Neraka tidak seburuk itu!
Jakarta 2024
Syair Hari Lahir
1. Aku tidak peduli! Buat apa dipahami! Toh suatu hari, mati! Tak ada namanya bebas, Jika kita terus mencipta, Karma baru Duka baru Kesendirian lainnya
2. Andai selamat setulus hati Ibu Andai bapak tidak kawin lagi Andai cemara jatuh di kasurku Andai wc selalu jongkok Andai aku tidak berharap Siapa yang mau kembali Apalagi neraka sudah bocor mulai menyerbak sejak puluh, ratus, juta, sekian lamanya
Andai aku tak pernah berdoa Biar semua sudah berganti Aku tetap begini siapa peduli
3. Apa Tuhan mengerti angka? Sebaiknya, tidak Tapi imbang dan ganjil, Tuhan miliki Tuhan bukan aku Jatahku dari diriku Silakan ambil sendiri!
4. Aku tak lagi soal tentang cinta Biar saja melempem dan meletup seketika Jika itu cinta, tidak memanen luka Selepas itu, aku tak mau apa-apa
Jakarta 2023
Tasamsyah
Kubra—puisi-puisi instan
& penyair mesin
Kubra berjalan menuju kamar—termangu menghidangkan sepi—mungkin kiamat sudah dekat lalu bicara puisi & nasib penyair di hari ini—berantak sudah banyak robot di rumahnya banyak pena juga yang terbuang sia-sia:
/puisi-puisi instan/
puisi-puisi instan sekali jadi dibuat AI—ajaib sedang otak berhenti berputar nadi berdecit lalu berhenti berdenyut di kemudian hari
puisi-puisi instan melemahkan gairah memutus kecerdasan membatasi kreativitas memangkas imajinasi lebih memajukan mundur
puisi-puisi instan kadang-kadang lucu mengocok isian perut kadang-kadang tabu mengerut dahi & mengangkat alis
puisi-puisi instan memerah plagiarisme menukil entah jadi anomali mempersingkat waktu sekaligus meragukan kemampuan melesapkan khazanah jadi limbah di antara kanon sastra
/penyair mesin/
aku adalah penyair mesin yang malas cari makan sendiri
aku adalah penyair mesin yang enggan bermanifestasi
aku adalah penyair mesin yang jadi kacung teknologi
aku adalah penyair mesin yang meliburkan diri sendiri
aku adalah penyair mesin yang hilang harga diri
aku adalah penyair mesin yang bermain-main dengan api
aku adalah penyair mesin yang bergelut dengan kapiran
aku adalah penyair mesin yang lupa jalan pulang
aku adalah penyair mesin yang hilang lanskap puitikal
aku adalah penyair mesin yang muskil di hari ini
aku adalah penyair mesin yang mati di tangan sendiri
aku adalah penyair yang dimakan mesin
Terrik Matahari
Antara Aku dan Maut
Kepada maut, aku bersungut Kenapa lama engkau menjemput Sebab hidup adalah aib Dari tiap biadab dan para gaib
Jika hidup adalah soal napas Aku telah lama tewas, Sebab napas telah ditebas polusi Dan udara harus dibeli
Jika hidup adalah soal raga Aku telah lama punah, Sebab raga bukan milikku lagi, Sejak ia digadai untuk industri.
Jika hidup adalah soal jiwa, Aku telah lama tiada, Sebab jiwa telah dilahap kebosanan Sejak pertama aku mengenal pendidikan.
Jika hidup adalah soal bahagia, Aku telah lama mati, Sebab bahagia tidak berarti Di dunia yang digerakan materi.
Kepada maut aku mengumpat, sekali lagi. Kenapa selalu telat, menepati janji. Sama seperti hidup yang ingkar, Penuh janji dan tak pernah ditepati.
Kepada aku, maut mengumpat: Kenapa terlalu takut membunuh hidup? Dan hina jadi pengecut! Menyalahkan maut untuk hidup yang terkutuk!
Kepada aku, maut bertanya: Jika hidup hanya sekali, Kenapa kau mau mati berkali? Jika bukan pengecut, apa lagi?
Kepada aku, maut berkata: Mati adalah pasti, ia bukan tempat pelarian. Jika masih sempat, untuk terakhir kalinya: hiduplah! Kali ini dengan berani!
Kepada aku, maut teriak: Kutuk tak akan membunuh, belati sudah pasti! Jika tidak sempat, untuk terakhir kalinya: matilah! Kali ini dengan berani!
Yunan Sazstrajingga
Adegan Tanpa Babak
Malam ini adalah malam dimulainya panggung paling kebakaran. Hanya lampu sorot kematian, Tanpa tirai penutup adegan, Tanpa hentakan dan alunan musikal.
Para penonton bertopeng rupawan datang berhamburan, Membawa obor dan jutaan kerikil umpatan.
Kumpulan sekam merambat cepat melahirkan kobaran, Membungkuk kesakitan berselimut jelaga tak berkesudahan.
Tak ada baik. Tak ada buruk. Tidak juga di tengahnya.
Dipaksa menari dalam bentuk metafora paling mengerikan, yang sembunyi dibalik kuburan paling dalam.
Sepanjang hidupku, Sepanjang kematianku.
Terima kasih untuk riuh di kepala, dan segala yang terjadi tiba-tiba. Atas nama trauma, aku pergi menggali obituari.
Juli, 2022
Zihad Juliana
Puisi tentang Seorang Anak
yang Terbangun dari Tidur
dan Menyadari Sudah Lama Tidak
Berjumpa dengan Ibunya karena
ditinggal Mati namun Malam Ini
Ibunya Hadir dalam Mimpinya.
Mah, kgn.
28 Mei 2024
Yosea Arga P
pulang kampung –kepada anak-anak afghanistan di tenda-tenda pengungsian
karena tubuh adalah kampung halaman yang tak henti-henti bernyanyi tentang moncong senapan sebagai alarm pagi hari.
akulah anakmu, mami, anak tanpa kisah berkunjung ke rumah nenek di kelas pelajaran mengarang cerita.
akulah anakmu, papi, anak dengan pamflet protes saat bapak polisi berbicara dengan bahasa indonesia yang tak kumengerti.
akulah ponakanmu, aunty, ponakan tanpa bus pariwisata dan bekal mie instan + nugget berbentuk angka.
aku ingin membikin sorga, mami, papi, dengan sikat gigi dan tortila berisi daging sapi...
(2022)
ayahuasca ceremony
dan aku tenggelam dalam silauMu, lebih dalam, semakin dalam hingga aku menyaksikan kematian yang agung, dan penuh sukacita.
rayakan kematian ini dengan percintaan yang tak bertepi, dan tahun-tahun berlalu seperti pohon di hutan kuno yang suci.
(2020)
gentho kates : dari panggung dom 65
kurindukan gentho kates yang meraung-raung di telingaku, juga ritem-ritem kasar itu: pada malam yang basah, seseorang mengetuk pintu hatimu, menulis puisi pada selembar resep dokter, dan sebotol ciu bekonang menjagamu dari kisah yang keliru.
(2023)
Cerpen:
| Adriansyah Subekti | Hal. 90-99 |
|---|---|
| Banu Ghifar | Hal. 100-114 |
| Bobi Tuankotta | Hal. 115-120 |
| Amarah Iramani | Hal. 121-128 |
| Julian Sadam | Hal. 129-136 |
Adriansyah Subekti
Anekdot Tukangmain dan
Kematian Sapto Bogel
LIMA hari sudah lewat sejak kematian Sapto Bogel. Seorang bujang pengangguran yang hobi memancing itu telah mampus akibat kerobohan pohon kelapa yang meremukkan kepalanya tiba-tiba saat dirinya tengah khusyuk memancing di pinggir kali butek. Nahas. Tak ada seorang pun yang peduli terhadap Sapto Bogel se- masa hidup maupun matinya. Bahkan cerita ini pun tak benar-benar menceritakannya. Di kampung kami, kabar kematian hanyalah angin lewat. Gampang dilupakan. Bapak-bapak di kampung kami menyiasati kabar kematian dengan melek semalaman suntuk untuk bertaruh pada kartu remi. Itulah yang terjadi setelah hari-hari kematian Sapto Bogel. Di kampung kami, kematian selalu dirayakan dengan perjudian oleh bapak-bapak setiap malam. Kami menyebut mereka, bapak-bapak itu, sebagai tukangmain alias tukang judi. Kemiskinan bukanlah aib bagi orang-orang di kampung kami. Sebab kemiskinan telah mengetuk hati orang-orang di kampung kami untuk hidup guyub-damai-sentosa satu sama lain. Intinya adalah keber- samaan. Dan itulah yang dilakukan bapak-bapak tu-
kangmain di kampung kami setiap malam padang bulan. Mereka berkumpul bersama di pos ronda semalaman suntuk. Duduk melingkar selama berjam-jam sembari khusyuk memegangi kartu remi. Sesekali menyeruput kopi juga rokok di sela permainan, tak peduli bokong terasa panas dan encok bikin tulang linu. Tukangmain tak peduli terhadap encok dan bokong panas. Bagi bapak-bapak tukangmain, intinya adalah main supaya meraih kemenangan dan membawa pulang lem- baran duit lecek untuk menyambung hidup keluarga- nya di hari esok. Itu pun kalau menang. Sebab kalah menang adalah hal yang sangat lumrah bagi para tukangmain. Lantaran bagi mereka, yang paling penting adalah saling berkumpul, guyub, dan merawat tali persaudara- an di antara mereka, bapak-bapak tukangmain. Malam hari. Hari kelima setelah hari kematian Sapto Bogel. Malam ini para tukangmain bakal menclok semalaman suntuk di pos ronda. Mereka adalah Yanto Giting, Warto Tumbal, Borsalino, Eko Cunong, dan Yoko Lemper. Mereka berlima adalah bapak-bapak tukangmain yang tak peduli terhadap rasa encok dan bokong panas. Semakin encok semakin mantap. Semakin bokong terasa panas semakin asyik. Sekian cerita dari kami. Selanjutnya, biarkanlah bapak-bapak tukangmain itu yang bercerita ngalor-ngidul. Kami tak peduli. ***
MALAM ini aku ijig-ijig mengingat permintaan anak lanangku. Seminggu setelah anak lanangku dipenjara, ia minta dibelikan juz amma. Membaca juz amma adalah upaya para napi buat tobat di kandang penjara, katanya. Aku cuma mesem saja mendengar permintaan anak lanangku. Anak lanangku digaruk polisi setelah jotos-jotosan dengan pemuda kampung sebelah. Pemuda itu mati. Anak lanangku bengep saja. Itulah yang bikin dia ngandang di penjara. Aku Yanto Giting, sebagai seorang bapak, cuma bisa legawa menerima kenyataan busuk demikian. “Asih, harga juz amma sampai berapa?” aku bertanya kepada Asih, istriku, yang sedang fokus menonton si- netron di teve tabung berlayar hitam-putih. “Kurang paham, Mas. Paling-paling sekitar dua puluh ribu,” ucap Asih yang masih menatap teve tabung berlayar hitam-putih. “Mau beli buat anak lanang kita?” “Iya, kalau ada rezeki,” jawabku seraya mengisap rokok lintingan. Harga juz amma dua puluh ribu. Harga yang masih normal bagiku. Tetapi mengunjungi anak lanang di penjara tidak mungkin cuma bawa juz amma. Juz amma tak bisa bikin anak lanang kenyang. Apalagi mengingat harga-harga kebutuhan pokok di dalam penjara itu tiga kali lipat dibanding di luar penjara. Ampun! Pekerjaanku sebagai tukang ojek pengkolan saja sehari palingan dua puluh lima ribu. Itu pun kalau lagi untung ada pelanggan. Apalagi mengingat ojek online sudah sangat marak menyerok para pelanggan kami,
tukang ojek pengkolan, yang membuat nasib paceklik memenuhi hari-hari kami. Huh, apa daya. Malam ini malam Minggu. Lima hari yang lalu, Sapto Bogel mati ketiban pohon kelapa kepalanya pecah. Ngeri banget kalau diingat-ingat. Mending malam ini aku lek-lekan di pos ronda sambil main bareng bocah-bocah. Siapa tahu menang banyak dan bisa buat beli juz amma buat anak lanang. Tujuanku mulia: membelikan juz amma buat anak lanangku yang ngandang di penjara. Gusti Allah bakal me- ngasih rezeki buat Yanto Giting malam ini. Aku percaya. *** MALAM ini aku habis ikut tahlilan di rumah Uak Parmin dalam rangka memperingati lima hari kematian Sapto Bogel. Aku ikut tahlilan sebetulnya cuma buat menghormati Uak Parmin yang rumahnya mendempet dengan rumahku. Aku bukan orang saleh. Tetapi sebagai tetangga dari keluarga yang tengah berduka, tak enak rasanya kalau tidak ikut tahlilan. “To, Warto!” seru Uak Parmin tiba-tiba memanggil namaku. Entah kenapa aku pura-pura tak mendengar- nya. “Warto, Warto Tumbal!” suara Uak Parmin semakin keras terdengar di kupingku. Aku tidak bisa tidak menengok ke arah Uak Parmin, “Apa, Uak?” Tanpa omongan apa-apa, Uak Parmin menyodorkan bingkisan ke tangan kananku. Aku menerimanya. “Ma- turnuwun,” ucapku berterima kasih. Aku lantas pamit kepada Uak Parmin dengan perasaan enteng. Lalu aku berjalan pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, mendadak aku memikirkan Sapto Bogel. Terus terang, aku masih tak me- nyangka Sapto Bogel mati. Soalnya, sore menjelang hari kematiannya, saat itu aku sedang mengarit suket buat pakan kambing-kambing milik Haji Brewok dan saat itu pula aku melihat Sapto Bogel sedang nongkrong sambil memancing di pinggir kali butek. Untunglah aku tak ikut ketiban pohon kelapa dan mati bareng Sapto Bogel. Tidak. Aku belum ingin mati. Utangku ke warung Ye Ing masih banyak. Hari ini aku menerima duit bayaran mengarit suket dari Haji Brewok. Tiga puluh ribu. Lumayan buat makan sega. Belum juga sampai rumah, kulihat Yanto Giting sudah mejeng di pos ronda. “To, Warto Tumbal! Ayo ini kartu sudah siap!” seru Yanto Giting kepadaku. Asu, asu, batinku. “Ya. Aku balik rumah dulu. Ganti baju biar pahalaku ndak mampir di pos ronda.” Lantas aku berjalan pulang ke arah rumahku. Main sudah semacam hobi yang aku suka. Walaupun aku orang miskin, hobiku terasa mahal. Dan mendadak aku cengar-cengir sendiri di jalan pulang. Entah kenapa. *** SAYA baru pulang dinas dari kantor. Lembur bikin saya pulang larut malam. Ini sudah risiko kerja jadi sipir penjara di kota yang kriminalitasnya kadung luber. Saya kadang bingung jika para tahanan bajingan ini terus bertambah dari hari ke hari, saya menganggapnya keberuntungan atau kerugian? Saya bingung. Terus terang.
Kebetulan malam ini adalah jadwal saya ronda. Kampung tempat saya tinggal dipenuhi orang-orang miskin yang tak tahu diri. Setiap ada kabar pernikahan, sunatan, sampai kematian, para tukangmain di kampung saya selalu merayakannya dengan lek-lekan di pos ronda. Main kartu sampai entong bebek entong meri. Saya salah satu tukangmain-nya. Walaupun sebetulnya, niat saya main hanya cari hiburan setelah jenuh seharian lembur di kantor dan meladeni para napi. Saya juga sudah mendengar kabar kematian Sapto Bogel dan saya biasa saja. Ketimbang kematiannya, hal yang membuat saya merasa sedih justru ketika ingat momen di mana Sapto Bogel menangis di hadapan saya setelah saya berikan mata pancing satu set kepadanya untuk memancing. Saat itu, alih-alih berterima kasih, Sapto Bogel justru menangis tersedu-sedu sampai ingusnya meler ke mana-mana. Lucu juga mengingat- nya. Bagi saya, dia adalah sosok bujangan yang kelewat lugu. Mubah sekali dia harus mati muda. Sesaat keluarlah saya dari rumah. Menyulut rokok sembari berjalan pelan-pelan menuju pos ronda kampung saya. Dari jarak beberapa meter, saya bisa melihat Warto Tumbal dan Yanto Giting sudah menclok di pos ronda. Wajah mereka terlihat terang disorot lampu neon yang teronggok di langit-langit pos ronda. “Hoy, komandan!” Tiba-tiba saja saya dengar suara yang tidak asing di telinga saya. Suara itu terdengar dari arah belakang saya. Ah, ya. Eko Cunong, si duda tua tukang mabuk itu memanggil saya. Saya melengos sebentar ke arahnya
sambil mengeluarkan asap rokok dari kedua lubang hidung saya. Saya lihat Eko Cunong sedang berjalan sempoyongan bersama Yoko Lemper, seorang duda tukang mabuk pula. Bedanya, Yoko Lemper baru resmi jadi duda dua minggu yang lalu dan masih terbilang muda sementara Eko Cunong sudah menduda bertahun-tahun. Begitulah. Eko Cunong dan Yoko Lemper sama-sama seorang duda tukang mabuk dan hari-hari mereka berdua cuma mabuk, judi, dan selebihnya luntang-lan- tung. Bahkan sekarang pun saya bisa menebak mereka berdua habis mabuk. Terlebih semerbak bau ciu cam- pur tuak menusuk lubang hidung saya. Jelas sudah. Mereka berdua sedang teler. Dan sesaat, kami bertiga pun berjalan menuju pos ronda bersama-sama. Menyusul Yanto Giting dan Warto Tumbal. *** BAJINGAN. Asu! Kapan kesedihan ini berakhir? Sudah dua minggu berlalu sejak hari perceraianku dengan Rohayati. Tetapi hatiku terasa masih berdarah. Sakit. Sakit sekali. Seperti mencabut perlahan pisau yang me- nancap dalam di rongga dada. Begitulah kira-kira rasa sakit yang kurasakan. Rasa-rasanya, nasibku benar-benar bajingan. Aku habis mabuk berat bareng Eko Cunong. Mabuk ciu dan tuak. Teler sudah aku sekarang. Kunang-kunang beterbangan tak henti-henti di pandanganku. Aku sadar ini efek ciu dan tuak yang belum lama aku tenggak bareng Eko Cunong. Teler. Aku benar-benar teler.
Malam ini aku diajak Eko Cunong ke pos ronda setelah kami mabuk berat. Oh, Sapto Bogel! Bujang tolol itu sudah mampus lima hari yang lalu. Dia lebih dulu mati daripada aku. Malang sekali. Selamat jalan, Bogel. Swargi langgeng. Ah, aku mau ke pos ronda. Aku dan Eko Cunong. Kami berdua ingin main dalam keadaan teler dan sesekali bersedih. Karena aku orang sedih. Barangkali akulah kesedihan itu. Hadah, sedih banget aku. Asu! Akulah seorang duda sedih dan butuh kasih sayang itu. Semoga dengan main bersama bapak-bapak di pos ronda malam ini, kesedihanku lenyap. Amin. Amin. Amin. *** HA-HA-HA. Taik! Aku belum terlalu teler. Tetapi sudah lumayan kembung. Ciu dan tuak milik Kaji Jangi itu alih-alih memabukkan, yang ada cuma bikin perutku kembung dan tambah buncit. Saking buncitnya perutku, aku sering mikir kalau di perutku ini ada seonggok janin berumur 8 bulan. Ha-ha-ha. Taik! Malam ini, aku bersama Yoko Lemper habis mabuk dan niat untuk nongkrong main di pos ronda bersama bapak-bapak tua tukangmain. Terus terang, aku ingin main karena tergiur sama duitnya Borsalino yang mambrah-mambrah. Sipir kaya raya itu jelas kelebihan duit. Dan aku mau main untuk mengalahkannya. Karena Yanto Giting dan Warto Tumbal itu tidak ada apa- apanya. Mereka berdua orang miskin. Tak ada beda denganku. Ha-ha-ha!
Tatkala aku dan Yoko Lemper sedang berjalan ke arah pos ronda, kami mendapati Borsalino sedang berjalan pula menuju pos ronda. Saat aku menyapanya, ia cuma cengar-cengir dan lubang hidungnya mengeluarkan asap rokok seperti banteng di kartun-kartun televisi. Aku sempoyongan sedikit dan aku merasa tolol. Tetapi Yoko Lemper lebih tolol lagi. Sebab dia sedang galau dan uring-uringan mengingat-ingat mantan istri- nya. Tetapi tenang. Sebab ciu dan tuak selalu jadi solusi untuk aku dan Yoko Lemper. Nasib kita tak ada beda. Nasib wong cilik. Sesampainya aku di pos ronda, aku tak banyak basa-basi kepada orang-orang tua tukangmain. Buang-buang tenaga. Intinya aku cuma mau main. Dan sesaat main pun dimulai. Duit taruhan dari lima orang ditaruh di tengah lingkaran. Lalu Yanto Giting mulai mengocok kartu. Sambil menunggu kartu dibagikan oleh Yanto Giting, entah kenapa, mendadak ingatanku tertuju kepada sosok Sapto Bogel. Lima hari sudah pemancing paling tabah itu mati. Mungkin Tuhan tak tega melihat Sapto Bogel hidup secara morat-marit. Mungkin kematian Sapto Bogel termasuk nasib baik bagi dirinya. Tak ada yang tahu. Di alam lain, Sapto Bogel sedang apa sekarang, ya? Setelah Sapto Bogel, selanjutnya giliran siapa, ya? “Hoi, giliranmu!” seru Borsalino sambil menepuk dengkulku. Aku merasa kaget bukan main setelah mendengar seruan Borsalino.
Giliranku? Ah! Mendadak aku berpikir yang tidak-tidak. Pikiranku nanar. Dan perutku terasa sangat pe- rih. Babi. Tukak lambung memang babi. Taik!
Kalibogor, 2024
Banu Ghifar
Adili Si Gendut
DI sebuah negara yang dekat, terletak di sekitar Samu- dera Pasifik, cukup dekat dengan negara adidaya Amerika Serikat, terdapat sebuah negara yang bernama Anjayland. Negara beriklim tropis yang lebih dari 80 persen bentang alamnya telah rusak, sedang mengalami kekacauan. Entah apa pemicu ledakan kemarahan masyarakat, yang pasti, kekacauan ini disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari korupsi yang akut, kerusakan alam, tindakan sewenang-wenang pemerintah, pelang- garan HAM, dan lain-lain, yang membuat masyarakat muak dan menggila. Sebelumnya, pemerintah berusaha mengendalikan masyarakat dengan ketakutan-ketakutan yang mereka ciptakan untuk menjaga kekuasaan. Tetapi, sekarang endapan akumulasi penderitaan itu meledak dan merobohkan segala ilusi kuasa negara. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di seluruh sudut ibu kota Anjayland. Kota tampak mencekam pada awalnya. Beberapa hari yang lalu, bom meledak di gedung Bank Sentral. Beberapa supermarket dibakar. Bentrokan antar kelompok-kelompok masyarakat dan pihak keamanan negara terus terjadi, dan dimenangkan oleh masyarakat, untuk sementara. Hanya orang bodoh yang menganggap bahwa kuasa dapat dimonopoli. Se-
lain itu, yang cukup mencengangkan adalah, terjadi penculikan beberapa elit politik, yang kabarnya dilakukan oleh kelompok tertentu. Penculikan ini sangat- lah terencana. Kabarnya, beberapa orang menyusup ke dalam barisan masyarakat marah yang mengepung gedung pemerintahan dan rumah pejabat, dan melakukan aksinya. Di salah satu rumah mewah yang terdapat di pusat ibu kota Anjayland, seorang pria gendut bertampang militer sedang duduk dengan gelisah di ruang kerjanya yang dipenuhi barang antik. Ruangan kerjanya terletak di lantai 4 rumahnya. Rumahnya yang sangat mewah, yang memiliki helipad di lantai 5-nya, kini sudah dikepung oleh ribuan rakyat sipil yang sedang marah. Terdengar teriakan-teriakan tidak sabar dari luar jendela. Keringat dingin semakin deras membasahi wajah dan lehernya. Perut buncitnya bergerak-gerak ge- metaran, berusaha memberontak melepaskan kancing- kancing dari baju safarinya yang kekecilan. Dia mencoba menghubungi siapa pun yang bisa menyelamat- kannya dari situasi ini, dari ponsel yang harganya berkali-kali dari Upah Minimum Provinsi. Tapi dalam kondisi seperti ini, kawan-kawannya pasti berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing, begitulah watak kelas mereka. Terdengar dari luar teriakan-teriakan yel-yel kelompok suporter, kelompok pelajar STM dan mahasiswa dari berbagai kampus saling beradu kuat. Dari kejauhan, massa aksi tanpa bendera, mulai berdatangan dari mana-mana. Beberapa orang meneriakkan kalimat-kalimat hujatan, yang intinya meminta keadilan, dan ter-
dengar lebih keras dari yel-yel suporter, pelajar dan mahasiswa. Massa yang saat ini sedang berkumpul di- perkirakan berjumlah ratusan orang marah, dari segala elemen. Mulai dari kelompok buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, dan tentu saja, orang-orang yang tidak bisa dikelompokan ke dalam kategori-kategori tersebut. Kebanyakan peserta aksi massa ini adalah orang-orang biasa yang selama ini merasa terzalimi, bukan anggota kelompok atau serikat manapun. Terlihat seseorang yang menganggap dirinya sebagai koordinator aksi, mencoba untuk menenangkan dan mengatur gerak massa aksi dari atas mobil komando. Selalu seperti itu dari aksi-aksi kemarin, tetapi tidak ada yang peduli dengannya. Massa aksi di bagian depan, sedang berusaha masuk ke dalam rumah berlantai marmer di depan mereka. Pagar rumah sudah hampir roboh, dan tak sabar, puluhan orang melompati pagar dan sekejap sudah berada di halaman depan rumah. Satpam penjaga rumah, beberapa tukang kebun, dan sopir yang bekerja di rumah ini, lebih memilih pulang ke rumah setelah tahu, rumah majikan mereka sedang dikepung. Bahkan, beberapa bergabung dengan barisan massa dengan niat untuk menjarah. Seseorang duduk di hadapan meja kerja si Pria Gendut. Seseorang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya itu, berpakaian serba hitam, dengan rambut di cat putih. Struktur wajahnya mirip dengan artis-artis Korea. Dia asyik bermain-main pulpen mahal si Pria Gendut, dengan mengetuk-ngetukannya di meja kerja di hadapannya. Di sisi seberang meja, si Pria Gendut
masih saja gelisah. Dia menyesal tidak pernah belajar untuk mengemudikan helikopter, sekarang helikopter- nya terparkir rapi tak berguna di helipadnya. Dengan wajah yang penuh ketakutan, si Pria Gendut memutus- kan untuk melafalkan sedikit ayat yang ia ingat. “Kamu tidak bisa ke mana-mana dan setelah semua ini selesai, sesuatu yang lain menunggumu. Aku ber- tugas mengantarmu ke sana.” kata seseorang berwajah mirip artis Korea yang sedang duduk di hadapannya. “Apakah, setelah ini, saya akan dihukum?” “Tentu saja.” jawab si orang asing sambil mengetuk- ngetuk meja. “Tapi selama ini, saya hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan-atasan saya!” Si orang asing yang sedang duduk di hadapannya itu terlihat tidak peduli dengan apa yang dikatakannya. Ia tampak memikirkan sesuatu dengan santai. Terdengar teriakan orang-orang yang semakin nyaring. Umpatan-umpatan itu semakin dekat. Sepertinya, barisan massa marah sudah berhasil menerobos pintu utama dan sudah memasuki ruang lantai satu rumah marmer ini. Terdengar pecahan kaca dan barang-barang yang dihancurkan. Penjarahan dan ledakan kemarahan telah dimulai. Kemarahan dan kemuakan-kemuakan itu telah menyudutkannya, seperti tikus yang tersudut di jalan buntu dalam cerita pendek Franz Kafka. Sepertinya dia sudah tidak punya harapan. “Saya hanyalah cecunguk. Saya memang diperintahkan untuk memecat pegawai yang tidak bisa disuap dalam lembaga saya, Lembaga Pembersihan Korupsi. Saya juga diperintahkan untuk melindungi tersangka X dan
merusak barang bukti penyelidikan. Tapi, sekali lagi itu hanya perintah. Kamu tau, banyak kekuatan-kekuatan yang lebih besar di atas saya, mereka tidak terlihat, dan saya tidak bisa apa-apa. Jangan salahkan saya. Saya juga sangat terpaksa.” kata Pria Gendut itu sambil ketakutan. Si asing yang berwajah mirip artis Korea itu hanya memandang wajah menyedihkan si Pria Gendut, sambil menahan tawa. Wanita itu terlihat ingin menyalakan rokok tapi tidak jadi. Terdengar suara orang-orang berlarian tepat di lantai bawah ruangan ini. Batu-batu terlempar, menghancurkan kaca di samping kanannya. Bunyi-bunyi kemarahan dan kemuakan terdengar betul-betul dekat kali ini. Tercium bau asap. Sekelompok orang mulai melempar molotov. Pria itu dengan panik, membuka laci rahasia di mejanya dan mengambil sepucuk pistol Smith & Wesson Model 41 dari sana. Kemudian dia mengarahkan pistol itu ke arah kepala wanita berwajah mirip artis Korea di depannya dengan tangan geme- taran. Wanita itu membalas todongan pistol itu dengan senyuman. “Kamu kira dosamu hanya soal drama korupsi yang viral di media itu, pak, tentu saja tidak. Intinya, Pak Tua, tiap-tiap manusia diberikan berbagai pilihan-pilihan selama ia hidup. Tiap manusia akan mempertang- gungjawabkan segala keputusan-keputusan yang sudah ia ambil dalam hidupnya.” Senyuman wanita itu terlihat mengerikan. Sayangnya, sekejap Pria Gendut itu berdiri seperti patung. Ia berusaha untuk beranjak dari tempatnya, tapi sia-siap. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Keri-
ngatnya deras bercucuran. Gemuruh kemarahan dan kemuakan itu terdengar semakin dekat dan terus mendekat. Pria itu mulai berdoa kepada Tuhan yang telah ia tinggalkan sejak lama. Langit hari ini sangat cerah. “Adili! Adili! Adili!” suara kemarahan dan kemuakan itu terdengar tepat di depan pintu ruang kerjanya. ***
AKU sudah sampai di perpustakaan di lantai 2. Sepertinya orang-orang sudah menuju ruangan Fahrul. Teriakan-teriakan manusia kesetanan, terus terdengar dan menggema, dipantulkan oleh pilar marmer dan tembok putih bersih yang membentuk rumah ini. Bagaimanapun, aku tidak terlalu peduli dengan urusan-urusan perihal jargon-jargon menggugat keadilan, parlemen rakyat, atau apa pun itu, yang para orator sering teriakan berulang-ulang saat demonstrasi. Beberapa orang organisator dari berbagai faksi-faksi revolusioner, sering datang ke kampungnya dan mengadakan konso- lidasi. Aku simpati dengan apa yang mereka lakukan, tindakan-tindakan mereka, terkecuali tindakan peng- gunaan kekerasan yang tidak perlu. Hanya saja, aku sangsi bahwa mereka dapat menciptakan sebuah sistem yang lebih baik setelah ini. Aku orang yang pesimis terhadap manusia. Perpustakaan pribadi Fahrul si ketua Lembaga Pembersihan Korupsi, cukup memukau. Sebelumnya, aku jarang menemukan perpustakaan dengan buku lebih dari 100 buku di rumah para pejabat. Tiap kali aku ikut gelombang massa aksi untuk menyambangi rumah-rumah para pejabat, aku jarang sekali menemukan per-
pustakaan pribadi, biasa hanya ada rak buku, yang biasanya terletak di ruang utama, ruang kerja, ruang tamu, atau ruang-ruang apa saja asal tampak jika ada pengunjung. Buku-buku memang biasa menjadi peng- hias ruang untuk menampakan kesan kepintaran si pemilik rumah. Jika pun ada yang memiliki perpustakaan pribadi, koleksinya tidak sebanyak ini. Mungkin, perpustakaan pribadi Fahrul ini terbanyak kedua setelah perpustakaan pribadi si Menteri Kebudayaan yang merupakan mantan rektor Universitas Y itu, dari seluruh rumah pejabat yang aku datangi bersama kawan-kawan. Buku-buku Fahrul kebanyakan bertemakan sejarah dan sastra. Aku menemukan kumpulan lengkap buku naskah drama karangan Shakespeare, buku penulis-penulis Jepang seperti Ryunosuke Akutagawa, buku Emile Zola, Edgar Allan Poe, dan masih banyak lagi buku yang tidak sempat aku periksa. Bagaimanapun, bau asap sudah mulai aku cium. Waktuku benar-benar tidak banyak, jika aku harus mengangkut semuanya. Sepertinya, beberapa orang telah mulai melemparkan molotov dan bersiap membakar rumah ini. Beginilah ironi dari penyelamat buku, di satu sisi dia sadar betul bahwa tidak ada buku yang tidak penting, karena tiap-tiap buku adalah karya adiluhung peradaban manusia. Di sisi lain, dia harus mengambil keputusan rasional, bahwa hanya ada sedikit buku yang bisa diselamatkan dalam kondisi yang mendesak. Dia harus membuat sebuah daftar prioritas buku yang akan dia selamatkan secepat mungkin dalam benaknya, dari tumpukan-
tumpukan buku yang semuanya sama-sama sangat berharga. Aku mulai mengumpulkan buku-buku yang dicetak sebelum tahun 1900. Buku-buku tua seperti ini adalah prioritas mengingat sifatnya yang langka dan mengan- dung dimensi kesejarahan dari segi material. Aku menemukan buku Anna Karenina terbitan 1877 berbahasa Rusia, buku koleksi aku rasa. Aku sangsi, si gendut Fahrul bisa berbahasa Rusia. Setelah itu, aku baru mengambil buku-buku yang menurutku jarang sekali ditemui, sebagai contoh, buku karya minor penulis-penulis terkenal. Ketika aku sedang memanjat salah satu dari tiga rak besar yang ada di ruangan ini, terdengar suara seseorang memanggilku. Aku melihat seorang wanita berpakaian serba hitam berdiri di belakangku. Dia tersenyum kepadaku. “Bolehkah aku membantu, kawan?” katanya sambil tertawa kecil. Wanita itu lumayan cantik, bermata sedikit sipit dan berkulit putih Asia. Dia memakai banyak aksesoris tubuh, salah satu daun telinganya ditutupi oleh tindik-tindik. Dia juga terlihat menindik bagian bawah bibirnya. Jika diperhatikan, dalam beberapa detik, wajahnya sangat mirip anggota girl band dari Korea Selatan. “Apa kamu dari kelompok mahasiswa?” “Enggalah, Cuk, sial. Aku gak bakal mau gabung kelompok seperti itu. Aku tidak tergabung dalam organisasi atau kelompok yang jenis dan sifatnya mirip dengan pengertian kelompok atau organisasi yang sering dipahami kebanyakan orang.” katanya sambil mengam-
bil rokok dari bungkus Marlboro merah yang ia ambil dari kantong jaketnya. “Ya aku memang bergabung dalam sebuah—gimana, ya, menjelaskannya—anggap saja seperti sebuah kelompok bermain bola yang bertemu secara kebetulan di Alun-alun kota dan tidak saling mengenal sebelumnya. Aku berbicara terlalu banyak.” katanya lagi sambil menyalakan rokok Marlboronya. “Bagaimana keadaan si Fahrul Samsudin?” kataku. “Aku dengar seseorang menembak kepalanya.” Aku mendengar suara derap langkah orang-orang yang sepertinya mulai meninggalkan rumah ini. Beberapa orang-orang terdengar masih menyanyikan yel-yel mereka. Jika sudah seperti ini, aku yakin barang-barang berharga dalam rumah ini pasti sudah habis dan si Fahrul atau mayat si Fahrul, jika benar dia sudah di- tembak kepalanya, pasti sudah dibawa oleh mereka. Orang-orang tidak akan meninggalkan Fahrul begitu saja, terlepas dia hidup atau mati sekalipun. Suara pecahan kaca masih saja terdengar. Aku dapat merasakan beberapa bagian dari rumah ini telah terbakar. Mungkin hanya menunggu waktu saja, rumah mewah yang memiliki helipad, bertiang dan berlantai marmer ini akan menjadi abu dan menjadi tidak lebih dari hanya sebuah tumpukan sampah. “Hei, Kawan, jika kau ingin membantu, kamu bisa memasukkan semua buku-buku yang telah aku pilih dan aku letakkan di atas meja itu ke dalam karung-karung yang ada di sampingnya. Waktu kita tidak banyak,” kataku. Dia membalas dengan senyuman, mengangkat tangan kanannya, melakukan gestur tangan
hormat, dan dengan segera mulai memasukkan satu per satu buku kedalam karung-karung bekas pembungkus beras itu. Dia terlihat sangat bersemangat.
MOBIL Daihatsu Hi-Max ini melaju dengan santai ke pinggiran Ibu Kota, mencari warung, coffeshop atau tempat apapun yang enak untuk ngobrol. Tumpukan buku-buku yang telah tertutup terpal biru, terdengar ber- jatuhan, berserakan satu persatu, setiap kali mobil ini menginjak lubang atau melewati jalanan yang rusak. Semakin ke pinggiran kota, aku semakin jarang melihat rumah-rumah, hanya ada gedung kantor, ruko-ruko dan gerbang perumahan sampai batas kota. Kontras dengan tempat tinggalku yang terletak di pusat kota. Pusat kota dipenuhi oleh gedung-gedung bertingkat, barisan rumah berdempetan, dan gang-gang dengan jalanan sempit. Semakin mengarah ke pinggiran kota, semakin terasa lapang. “Militer dan penegak hukum dari ibu kota yang tersisa, mundur hingga batas-batas kota. Jadi, jangan terlalu jauh pergi ke pinggir.” kata Wanita itu. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai M. Ia mengatakan bahwa, ia lahir dan besar di kota ini. Sebelumnya, M bekerja sebagai seorang teller, di salah satu bank swasta. Entah kenapa aku ragu dengan apa yang ia katakan. Ketika berbicara tentang kehidupan- nya dan tempat tinggalnya, ia menjawab dengan singkat dan terkesan menyembunyikan sesuatu. Mungkin, karena kita yang baru saja bertemu tidak terlalu pantas
jika harus berbicara hal-hal privasi. Atau mungkin, karena alasan keamanan. Entah. Struktur wajah M, jika dilihat dengan seksama, mirip anggota girl band Korea. Terlepas dari kesan mencurigakan saat aku mendengar riwayat hidupnya, M tampak tidak berbahaya. Selain itu, M adalah wanita yang bersemangat dan me- mancarkan energi positif. M selalu tersenyum tiap me- noleh ke arahku. Sepanjang perjalanan, dia terus melihat ke luar jendela menatap langit yang berwarna abu-abu, hanya sesekali menatapku. Udara penuh debu dan polusi, masuk melalui jendela yang ia buka. Ia terlihat tidak terganggu dengan itu. Dia terus saja merokok seperti kereta api, satu habis, langsung membakar batang rokok baru. “Jalanan sekarang dikuasai oleh faksi-faksi revolusioner ala Jacobin, kelompok mahasiswa dan pelajar dan kelompok politik lainnya. Mereka saling berebut untuk mendapatkan pengaruh. Sedangkan di sisi lain, kebanyakan orang-orang memilih untuk berkelompok dengan tetangga-tetangganya, seperti kelompok pemuda berbasis wilayah.” kata M. Sepanjang perjalanan dia belum pernah menceritakan tentang dirinya selain namanya. M hanya berbicara tentang situasi yang sedang terjadi, yang aku sebenarnya juga sudah tahu. Tapi, tiap kali dia berbicara, aku merasa ikut bersemangat, mungkin karena vibe positif yang dia pancar- kan menular kepadaku dengan cepat. Aku ingin dia terus berbicara. “Menurutmu, apa yang terjadi berikutnya?” kata M. “Entahlah.” jawabku dengan cepat.
Setelah beberapa detik berpikir, kemudian aku berkata, “Krisis ekonomi dan kerusakan alam parah ini menghancurkan semuanya dengan sangat cepat, tidak bersisa. Aku tidak tahu, butuh waktu berapa lama kita untuk dapat bangkit dari ini semua.” “Tapi semua pasti akan menuju ke arah yang lebih baik, seperti sebelum-sebelumnya.” kata M sambil tersenyum nyengir. “Semoga saja.” Matahari sudah tenggelam, jalanan sekeliling kami berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Pohon-pohon berdaun kering menghiasi pinggiran jalan. Motor dan mobil sibuk lalu lalang. Aku melihat beberapa anak kecil sedang asik bermain game di handphonenya, di depan toko-toko kelontong. Sepertinya, orang-orang sudah terbiasa dengan semua kekacauan ini. Sudah tiga tahun terakhir sejak semuanya perlahan-lahan membu- ruk. Bencana alam, inflasi, pengangguran terus naik, kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh pejabat, silih berganti terus terjadi. Demonstrasi mulai dilakukan di beberapa tempat, kekerasan kepada para demonstran oleh aparat negara, skala protes meningkat, kegagalan pengelolaan negara, kerusuhan sosial. Begitulah rentetan peristiwanya. “Bagaimana pendapatmu soal faksi-faksi revolusioner yang belakangan ini banyak bermunculan?” kata M, mengagetkan lamunanku. “Menurutku, kelompok-kelompok Jacobin itu sedang asik berebut pengaruh. Kelompok-kelompok berwatak juru selamat itu saling berebut untuk menjadi arsitek atas masa depan. Membangun dunia berdasar-
kan mimpi-mimpi ideologis. Aku menyayangkan tindakan mereka.” M menatapku, menunggu jawaban lebih lanjut dari mulutku. “Aku, sih, lebih menyarankan kepada faksi-faksi jacobin itu untuk kembali duduk dan menganalisis ideologi dan pengetahuan yang mereka miliki, daripada bacot sampe berbusa. Eksperimen-eksperimen sosial yang mereka lakukan di Rusia, Cina, Korea Utara, dan lain sebagainya di masa lampau, terbukti memakan banyak korban. Jargon-jargon ideal mereka, terbukti gak terjadi.” Aku pikir, jujur aku lebih simpati terhadap kelompok-kelompok yang memikirkan tentang dirinya sendiri, memikirkan tentang bertahan hidup, seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan. Mereka jujur dan tidak berusaha untuk memaksakan kebenaran mereka kepada orang lain. Aku pikir, kita harus ber- hati-hati dengan manusia berwatak juru selamat yang memaksakan isi kepalanya kepada orang banyak. Sudah berapa banyak fakta-fakta sejarah yang memper- lihatkan bahwa mereka yang mengajak merubah dunia dengan janji-janji tentang dunia yang lebih baik, biasanya menghasilkan sesuatu yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Entahlah aku agaknya terlalu skeptis pada manusia, pesimis. Setelah beberapa detik berlalu, aku berkata lagi mencoba memecah kesunyian, “Tapi, aku pikir, setiap orang itu bebas melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Selagi tidak menggangguku, aku tidak akan terlalu mencampuri urusan mereka. Aku cuman fokus pada se-
suatu yang sangat aku suka aja, sih, menyelamatkan buku-buku. Bergerak dari satu titik api ke titik api lainnya, seperti tikus.” Aku melihat M tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya. Selama perjalanan ini, dia tidak banyak berbicara, dia banyak tersenyum. Sepertinya, M tidak terlalu peduli dengan jawaban yang akan aku utarakan. Selama aku berbicara panjang tadi, dia hanya menatapku dengan senyuman indahnya dan sesekali terlihat serius berpikir. Dia selalu menempelkan telapak tangan kirinya menutupi bibirnya ketika sedang serius berpikir, sambil mengerutkan kedua alisnya. “Sepertinya, sebentar lagi, pemerintah akan melakukan langkah-langkah yang lebih agresif demi apa yang mereka sebut dengan kestabilan negara.” kataku lagi. Aku pikir aku menyukainya. Hanya orang bodoh yang tidak tertarik dengannya. Dia cantik dan memiliki kepribadian yang menarik. Aku pikir dia adalah malai- kat. Bagaimanapun, aku sadar, aku tidak tahu apapun tentang dirinya, aku terlalu banyak berbicara dari tadi. Setelah ini, aku harus lebih banyak bertanya dan men- dengarnya. Aku harus bisa mengendalikan diriku. “Apakah kamu percaya kehidupan setelah kematian?” kata M sambil menatapku dalam-dalam. “Tentu. Aku harap sih, disana mereka akan dihukum atas segala kejahatan yang mereka kerjakan di dunia ini. Burn in hell motherfucker! ” Di luar jendela, hujan mulai turun. Kemudian, dengan bersemangat, M berkata, “Aku tidak tahu soal akhirat, tapi aku percaya masa depan yang indah pasti akan datang.”
Aku mengangguk. Kita semakin jauh meninggalkan pusat kota.
Agustus, 2021
Bobi Tuankotta
Namaku Pata Manara Dalam
SETIBAKU di ruang rawat inap, kudapati Hamid Mukmin yang sedang berbaring di ranjang, dengan gips yang membalut kedua kaki dan siku di tangan kirinya. Sebelumnya, ketika berbicara dengan perawat, aku sempat membuka kacamata hitamku. Namun kemudian, sebelum menyapa Hamid Mukmin, kupasangkan kembali kacamataku, jadi Hamid Mukmin tidak bisa melihat biji mataku. Kamu tahu, supaya anonimitasku tetap terjaga. Masker hijau yang menutupi mulut dan hidungku juga sangat membantu. Baiklah, aman. Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan parang dari ranselku lalu membacok Hamid Mukmin menggunakannya. Namun sialnya, itu anak jahanam tampak waspada. Memang betul bahwa sesekali dia akan menjeling ke langit-langit atau mengintip HP yang ada di tangan kanannya, tetapi itu cuma sebentar, karena dia akan kembali memfokuskan matanya ke arahku, mencermati gerak-gerikku yang sedang bergeming di samping ranjang; dan lima belas menit pun telah lewat, lima belas menit yang kami lewatkan tanpa percakapan, sementara di latar belakang ada suara televisi yang menayangkan flora dan fauna. Sebagaimana diriku, Hamid Mukmin membisu saja di sana, di atas ranjang, dan itu bagus. Namun mata itu, kamu
tahu, mata jahanam yang segede layar tancap itu, tidak kunjung menutup atau berpindah sedari tadi. Coba saja dia berpaling dariku atau lengah barang semenit saja, pasti langsung kudaratkan parang ke batang lehernya. Namun Hamid Mukmin tidak begitu; dan kalau aku harus nekat menggoroknya pada saat itu, dia akan menyadari peranku hingga membuat yang kulakukan menjadi sia-sia, alias, jatuhnya menjadi pembunuhan. Kemurnian ualau yang hendak kupanen akan menjadi nol; tidak lama kemudian, si perawat menghampiri ranjang lalu menyuntikkan sesuatu ke selang infus Hamid Mukmin; dan akhirnya kuketahui bahwa HP yang di- pegang oleh Hamid Mukmin menggunakan tangan kanan itu (seperti yang telah disebutkan di awal, tangan kiri Hamid Mukmin cedera, yang mana tidak banyak membuat perbedaan juga sebenarnya sebab aslinya Hamid Mukmin bukanlah seorang kidal) rupa- nya milik si perawat. Nantinya begitu aku pamit, si perawat bilang kepadaku bahwa Hamid Mukmin meminjam HP-nya hanya untuk mengecek Facebook-nya atau Twitter-nya atau Instagram-nya. Bagaimanapun, aku yakin, si anak jahanam itu pasti sedang mencoba membuat lelucon tidak lucunya yang lain. Dan keadaan makin tidak baik-baik saja, dalam artian seolah-olah moyang-moyang berencana mengekang hasratku pada hari itu, sebab selepas mengembalikan HP kepada perawat, biji mata Hamid Mukmin makin gila terfokus kepadaku, seolah-olah dia berniat menenungku. Wa- duh, ini pertanda buruk, pikirku. Dan betul saja, di layar televisi akhirnya kusaksikan dua ekor merpati pu-
tih yang sedang terbang di langit, seolah-olah keduanya terbang di atas kepalaku. Ya, ini memang pertanda buruk. Maka aku pun pamit. Hamid Mukmin mengangguk lemah sambil tetap memelototiku ketika si perawat mengantarku sampai ke pintu rawat inap. Setiba di rumah, aku mengeluarkan parang dari ranselku lalu mengasahnya di batu pamali, di halaman belakang rumah. Kakak iparku bertanya, dan aku menjawab bahwa aku baru pulang dari rumah sakit. Dia bertanya lagi, dan aku bilang bahwa aku menemui seseorang di sana. Dia bilang siapa, dan aku bilang Hamid Mukmin. Kakak iparku tidak tahu siapa itu Hamid Mukmin, atau apa dosa Hamid Mukmin sehingga aku harus menyembelihnya (kami memang tidak membicarakan hal ini), maka dia pun mengganti topik pembicaraan, mengatakan bahwa dia ingin meminjam parangku untuk membabat belukar di ladangnya, sementara aku cuma tersenyum. Aku tahu dia cuma ber- canda. Maka itu, selepas melihat senyumku yang sedang sibuk-sibuknya mengasah parang, kakak iparku bergidik lalu kembali ke dalam rumah. Malamnya, aku menangis tersedu-sedu. Dua hari kemudian, selepas membaca kutika, aku kembali berjalan kaki menuju rumah sakit. Siang itu langit Ambon benderang. Awan-awan putih beriringan walaupun jarang-jarang; tetapi tiba-tiba kusaksikan sesuatu melintas di atas kepalaku! Aku kaget, maka kuraba tengkukku. Dan setelah kuperhatikan dengan saksama, ternyata kupu-kupu. Syukurlah bukan merpati. Sebab kalau iya, apalagi kalau ada dua ekor, maka mau tidak mau aku harus membatalkan hasratku pada
hari itu, pulang, mengasah parang lagi, menangis lagi, lalu membaca kutika untuk menentukan hari yang pas lagi. Maka itu, demi menghindari terlihatnya merpati di langit, kuputuskan untuk berjalan sambil menunduk, dalam artian mengarahkan mataku ke tiap jengkal trotoar di bawah; dan ketika melewati pangkalan ojek di samping rumah sakit, seorang tukang ojek bertanya sudah berapa rupiah yang berhasil kutemukan di jalan, maka dari balik masker aku menjawab bahwa nol. Si perawat mempersilakanku begitu melihatku di depan pintu ruang rawat inap; dan ketika dalam perjalanan menuju ranjang Hamid Mukmin, kusadari bahwa aku lupa membawa kacamata hitamku! Dasar manusia tidak berguna! Maksudku, aku. Bagaimana jika Hamid Mukmin membuat kontak mata denganku? Jahanam memang. Bisa gagal lagi hasratku kalau begini. Masak iya aku harus pulang lagi lalu menangis tersedu-sedu di rumah lagi? Namun, kamu tahu tidak, mujur bukan sembarang mujur, ternyata Hamid Mukmin sedang tertidur setibaku di samping ranjangnya, dan posisi tidurnya pada waktu itu adalah menghadap ke kanan, jadi aku bisa melihat dengan jelas tengkuknya yang sarat akan bulu-bulu nyawa. Nah, inilah waktunya, waktu yang gemi- lang untuk memanen ualau, dan aku tidak butuh kacamata itu lagi. Namun sebelum itu, aku berjalan ke arah televisi guna mematikannya. Sekarang, adegan di Na- tional Geographic Channel tidak akan bisa lagi membatalkan hasratku; dan begitu kulepas ransel dari bahu- ku, kucabut parang dari sana; dan bisa kulihat perawat
di sampingku seketika tersentak (nah, perawat ini tidak pantas lagi untuk dikayau sebab dia sudah menyadari peranku, alias, ualau-nya tidak lagi murni, maka kubiarkan saja dia melarikan diri menuju pintu), dan begitu kusingkap maskerku, kupekikkan segaris nada tinggi ke arah lubang telinga Hamid Mukmin (seketika dia terbangun dan bisa kusaksikan bulu-bulu nyawa- nya berdiri tegak karena kaget atau merinding), maka kulayangkan parangku sekuat tenaga ke arah tengkuknya. Wusssh. Darah Hamid Mukmin tempias ke bantal, ke dinding, ke kemejaku, ke maskerku. Namun…. Sebentar, aku ingin bertanya: wawancara ini nantinya mau kamu salin ke dalam bentuk tulisan, ya? Kira-kira, bisa tidak ini tidak usah ditulis? Maksudku, dibiarkan begini saja supaya tetap murni. Tidak bisa, ya? Ehm, sebentar. Biar kupikir-pikir lagi. Okelah, tidak apa-apa. Aku akan tetap berbicara, tetapi ada syaratnya: Aku mau kamu tetap setia kepada lisanku. Aku mau kamu tidak mengganti atau menyun- ting lisanku menjadi sesuai gayamu. Maksudku, beta tetaplah menjadi beta, jangan kamu ganti menjadi aku atau saya. Ale tetap menjadi ale, jangan kamu ganti menjadi kamu atau kau atau anda. Seng atau tra jangan kamu ganti menjadi tidak. Suanggi jangan kamu ganti menjadi tenung. Takajo jangan kamu ganti menjadi kaget. Ualau jangan kamu ganti menjadi sejenis cairan yang ada di sekujur tubuh yang terutama terpusat di kepala atau otak yang merupakan daya hidup seseorang atau substansi jiwanya yang ditandai oleh merindingnya bulu nyawa atau bulu kuduk. Beta punya lisan jangan kamu ganti menjadi lisanku. Pameri
jangan kamu ganti menjadi membabat. Kamu paham, kan, maksudku? Supaya kemurnian tetap ada. Supaya tidak ada keterwakilan, tanpa perantara. Demi kematian kapitalisma. Bagaimana? Kamu setuju tidak dengan syaratku? Sebab jika kamu tidak setuju, aku akan berhenti bicara sekarang.
Amarah Iramani
Postscriptum
HARI ini pukul 15.49, Jumat 19 Maret, aku sedang me- nyiapkan sebuah catatan pengantar untuk tulisan ini. Sebelumnya aku tak pernah berharap tulisan ini akan diterbitkan. Jika itu perlu pun, aku akan menerbitkan- nya sendiri, sebagai hadiah untuk diriku, yang lain. Sejak kematianku tadi, aku sudah siap berpikir untuk mencatat setiap yang kulihat. Meskipun dengan sadar banyak juga yang telah aku lewatkan. Embusan angin menyusup ke segala ruangan, menggetarkan daun telinga. Aku mendengar rintik air hujan hari ini, dengan suara yang perlahan mulai jatuh. Mataku tergerak men- carinya. Bau tanah adalah hamparan kertas peta yang paling kuanggap benar. Aku sudah tiba di pekarangan belakang. Rumput-rumput sebenarnya telah lama me- ngering, lalu apa gunanya air yang membasahi semua ini? Langit terlihat begitu pucat. Hujan ini sebenarnya adalah bentuk paling asing yang pernah aku jumpai selama hidupku. Tak ada bedanya dengan belatung yang mengerebungi bangkai sampai tersisa belulangnya hingga rata dengan tanah. Rasa, aroma dan bentuknya yang aku maksud, sungguh mengesankan. Tapi setelah semua itu terjadi aku tidak begitu peduli.
Sosok lain, orang yang tinggal bersamaku dalam rumah ini, masih berusaha keras menjemput perannya. Sepagi ini, dengan tanpa mengeluarkan kata-kata, ia sibuk mengemas barang-barangnya, bersiap untuk bekerja. Ia mulai bosan dengan dirinya yang sering kali dikatakan gagal sebagai manusia. Kebosanan yang menyeluruh. Ia mengambil satu gelas di meja dan menyeruput kopi yang tak lagi panas dan membakar sebatang rokok kretek. Ia menyalakan api. Korek kayu dengan gambar yang tak pernah berubah, mungkin satu-satunya di dunia ini. Baunya mengusik hidungku. Seolah-olah itu adalah ritual rutin yang terpesan, yang mesti di- lakukannya setiap pagi. Tapi ini hampir siang. Bagaimana bisa? Hujan yang sudah tak lagi terdengar kabarnya, pergi tanpa pamit entah ke mana. Ia membiarkan motornya menyala di beranda, dua puluh menit putaran rodanya membuat kepala semakin terjaga. Seharusnya setiap orang mengabaikan aktivitas ini. Berbasa-basi adalah sarapan bagi setiap orang yang terlanjur membuka matanya di pagi hari. Perempuan berambut se- bahu, kira-kira umurnya 34 tahun, tetangga yang hanya berjarak sepuluh langkah. Ia melempar senyumnya. Pemilik warung kelontong satu-satunya di kampung ini, yang sedang senang melakukan aktivitas barunya, men- jemur anak yang baru beberapa hari ia lahirkan, bersanding dengan hamparan rengginang di atas nampan yang berjejer di dipan tua yang terlihat lembap dan lapuk. Tak ada yang pernah tahu siapa laki-laki itu. Ia telah menjanda hampir empat tahun. “Setelah ini, apa yang harus aku lakukan?” pandanganku gusar, aku mulai merasakannya.
Kabut-kabut dalam kepalaku menyelimuti, mulai menyaring kumpulan pertanyaan, “hari ini, berapa banyak lagi kegagalan yang akan aku terima?” Aku sudah benar-benar siap. Mungkin setiap jaringan dalam kepalaku sudah tersedia puluhan ribu bahkan ratusan juta putus asa. Terlihat dari raut muka yang kugambarkan, aku siap menantang segala yang lain, karena aku adalah aku. Aku hanya merasa ada yang bergerak di setiap tubuhku, "ia merayap, mendengkur, mendengar, melihat, meraba, mengecap, mencium atau mungkin melamun,” aku membayangkan itu, “mungkin juga akan ada yang lebih dari apa yang aku bayangkan,” aku berujar dengan sadar. Stoples garam, bubuk cabai, gula dan penyedap rasa—mereka tampak sinis melihatku diam dengan tatapan kosong. Diam tanpa melakukan apa pun, “ini benar-benar tidak masuk akal!” mereka berseru. Namun, satu lembar anti depresanku yang sisa se- butir berkata lain. Sejak membaca kematian Sophie Podolski dan menghitung sepuluh hari kematian setelah percobaan bunuh dirinya, perutku mulai lapar. Pisang menghitam dibiarkan terjemur matahari, terhitung dari hari yang sama. Aku mulai bingung dengan banyak baris puisi. Mereka lalai. Seperti sekumpulan Afrizal Malna dalam stoples di meja ruangan yang menunggu tamu datang, tanpa diundang. Kelompok minoritas yang dimusuhi oleh negaranya sendiri, tempat di mana mereka dilahir-
kan. Dilempari batu sampai cacian pinggiran, yang identik dengan lelucon borjuis kecil. “Lalu bagaimana dengan judul terahkir Antwer- pen?” ucapku datar. “Mempersenjatainya dengan keberanian, menarik juga." "Jadi, berapa banyak lagi, kesakitan-kesakitan ini? Aku sudah sangat siap.” Aku melihatnya berteriak dalam sebuah ruangan di atas meja itu, menunggu tamu yang tak pernah diundang. Aku membayangkannya, sekali lagi. Kala itu, suatu hari di bulan pancaroba. Kita berada dalam satu atap yang sama. Bersama kecoak, semut hitam, tikus pengais sampah dan tumpukan buku dalam rak. Sang Figuran itu mengambil salah satu bukunya, mendekatiku, kemudian rebah di pangkuanku. Aku sedang bersandar menikmati sebatang rokok lalu men- dengarmu membacakan buku itu lambat-lambat. Kemudian aku berkhayal tentang kisah cinta Antonio Jose Boliviar. Dalam sebuah rumah bilik, di dalamnya terdapat sepasang sepatu tanpa merek, ukurannya kecil, tergeletak di samping rice cooker yang sebagian dari benda itu digerogoti tikus, sementara sepatunya tidak dan seorang perempuan tanpa busana dengan siluet di balik kelambu. “Antonio Jose Boliviar sedang membaca kisah cinta, kata-perkata bahkan setiap hurufnya begitu berharga baginya.” “Kenapa? Siapa Antonio Jose Boliviar?” gadis berambut merah muda itu hanya basa-basi untuk penasaran.
Ia melanjutkan bacaannya kembali. Kali ini dengan tanpa mengeluarkan suara. Tiba-tiba seekor kucing hitam mendekatiku dengan wajah paling mengharukan, berharap belas kasih paling luar biasa. Kucing hitam yang menagih jatah makanan- nya petang itu. "Pantaskah ia begitu?" Ucapku. Buku itu diletakannya. Ia menatap langit-langit sembari memilin rambutnya yang persis gulali pasar malam. Montase pada dinding mengolok-olok kemiskinan. Seperti tak henti-hentinya repetisi kekerasan; mental maupun fisik. Banyak yang merasakan itu. Tetapi aku sepertinya sudah tidak begitu peduli. “Hari ini, wajah dunia tak pernah tersenyum. Satu hari tanpa rentetan senjata bagi mereka berkuranglah persentase kekayaannya. Semua mesti didapatkan dengan cara apa pun dan moncong itu adalah penentu jawabannya. Selalu ada kematian,” ia berbalik dan memeluk. Kemudian aku teringat pada Roberto Bolaño, ia pernah menuliskan sebuah hal kekosongan atau kesendirian. Entah aku masih meraba-rabanya. Ia pernah berkata begini, “Aku sendirian, semua omong-kosong sastra pun telah tertinggal. Majalah-majalah puisi, edisi-edisi khusus, semua lelucon abu-abu itu terabaikan… Bangunan-bangunan yang terbengkalai di Barcelona, mirip undangan bunuh diri dalam damai…” Ini adalah kiamat dalam benaknya, kematian Shopie Podolski. Bukan kiamat saat kematian Sapardi Djoko Damono, dalam be- nakku.
“Kaidah Sastra? Yang mana? Bagiku itu tidak lebih dari barisan makam sastra dalam buku tebalmu…” seorang gelandangan dengan sekantung puisi dalam ke- resek yang digenggamnya pernah memakiku di per- tigaan jalan Tanah Tinggal, beberapa meter dari sebuah taman. Saat itu hari Kamis, dari pagi aku telah meninggalkan Sosok lain di rumah sendirian, tanpa meninggalkan pesan, pertanyaan atau jawaban satu pun. Aku berjalan dengan kekosongan, tanpa mengharapkan apa pun terjadi. Aku hanya bisa tersenyum saat membayangkan kejadian itu. Bagaimana Rene Wellek dan Austin Werren memikirkan teori kesusastraan? Semua itu menjadi asing dalam realitasku. Aku terpejam, tak menemukan kata-kata dalam gelap karena yang aku punya hanya kekosongan. Semua itu bukan tanpa sebab. Gelandangan itu pernah aku jumpai pada sebuah taman. Saat itu ia sedang duduk sendirian dengan sebungkus plastik besar di pangkuannya. Tingkahnya membuatku penasaran dan membuatku tertarik tanpa ia sadari. Padahal sejak awal aku tak mengharapkan apa pun terjadi. Tiba-tiba aku sudah duduk di sebelahnya dan bertanya: “Apa yang sedang kau lakukan dengan kertas-kertas itu dan mengapa kau mengamati orang-orang yang lewat dengan raut muka sinis?” aku memberanikan bertanya. “Kau ini siapa? Heh, benar-benar tak tahu malu. Bocah kurang ajar, tiba-tiba datang berseru dan men- celaku seperti itu. Mau apa?” “Tidak, aku hanya terpikat. Ingin rokok?”
“Tidak, aku sudah berhenti merokok untuk hari ini,” jawabnya, “kau mau apa?!” Hening. Tak lama ia berucap, “Tapi, aku sedikit senang denganmu. Bukan tentang tawaran rokokmu, melainkan tawaran pertanyaanmu. Keberanianmu itu, berani bertanya saat kau juga sama-sama mengamatiku,” ujar gelandangan itu ketus. "Mungkin, aku juga sepertimu. Aku selalu membayangkan kenapa orang-orang seperti ini, seragam dan monoton. Mereka selalu tergesa-gesa dan sangat bodoh atas dirinya. Sebenarnya, aku tidak terlalu perduli. Tapi lihatlah, seperti taman ini, yang menyisakan kesombo- ngan. Teknologi membuat bunga-bunga yang indah itu terabaikan.” “Lihatlah, apa kau tidak muak melihat semua ini? Aku hanya ingin membunuhnya, setiap orang yang aku amati, dia akan mati menjadi puisi-puisi dengan banyak pertanyaan dalam plastik.” Tiba-tiba ia mengambil sebuah kertas kosong dan mulai menulis. Matanya melirik-lirik ke arahku, terlihatnya membayangkan sesuatu, “aku juga menulismu bocah bodoh dan kau juga terjebak dalam plastik bersama orang-orang yang kuamati sebelumnya. Kau akan mati sebagai puisi! Hingga busuk dirayapi ribuan belatung yang lapar.” Sebelum kata-kataku keluar, ia telah lebih dulu berjalan menuju lampu-lampu taman yang padam, tanpa alas kaki dan menghilang dalam kegelapan. Sambil me- ngucapkan kalimat terakhir yang membuatku tersenyum membayangkannya.
“Heh! Kaidah sastra, apa itu? Aku memilih jalan ini, keliaran gagasanku, keunikan yang aku punya. Sastra yang kau anggap sastra itu telah mati! Jadi silahkan kau makan bangkainya!”
(Pondok Aren, Mei 2024)
Julian Sadam
Tenggelamnya Wajah Pak Didik
HAMPIR seratus jam Pak Didik tidak pulang kerumah. Sejak empat hari lalu ia benar-benar dibuat payah oleh target penangkapan jaringan peredaran ganja. Kantung matanya menghitam penuh desak, istirahat hanya mampu di tebus sepanjang tidur ayam di empat malam. Tak ada kopi dan mandi pagi ini, bungkuknya ingin se- segera mungkin menjemput tiga per empat bagian kasur di rumahnya. Ia tengkurap dan langsung menjemput lelah dengan kemasan paling fucked up. Zzzzzz... Wajah Pak Didik dihisap bantal dengan sangat perlahan, separuh bagian dahi, hidung, kelopak mata, hingga tak ada lagi enggal napas saat kepala telah tenggelam seluruhnya ke dalam bantal. Sontak ia bangkit terbangun dengan mata terbelalak. Melotot. Mulutnya mengambil sebanyak mungkin udara yang bisa ia raih. Memandang arloji. Masih pagi. Nampaknya tak ada semenit pun ia tertidur sejak tadi. Ia beranjak membersihkan diri, tapi sia-sia. Wajahnya tetap saja kusam. Tetap mencerminkan buser brengsek yang jarang pulang dan kesepian. “Selamat pagi komandan!" Cermin wastafel berbicara padanya, mengucap kalimat-kalimat optimis pagi hari. Pak Didik terkaget dan praktis menghajar refleksi dirinya di cermin. Pecah. Ta-
ngannya berlumur darah namun ia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Dengan lilitan perban di tangan kirinya ia beranjak menuju kantor, tak ada yang berbeda dari hari-hari biasa sampai langkah kakinya yang ke dua puluh empat. Ia menyadari ramai orang juga berjalan kaki, tidak seperti hari kemarin. Bentangan kabel yang berhias aneka bendera, drone yang berkeliaran mengibarkan iklan, dan semerbak aroma ganja di sepanjang trotoar yang mengganggunya. Pak Didik mendapati seorang pemuda yang menjepit lintingan ganja di antara dua jari, sumber terdekat aroma mengganggu yang bisa ia jangkau. Tangan Pak Didik memukul kepala pemuda itu dan langsung mengunci tangannya ke belakang. Orang-orang langsung berkerumun mengecam tindakan Pak Didik yang terus berjalan sambil tetap meng- geret dan tidak melepaskan cengkraman tangannya dari si pemuda itu. Semakin ramai orang mengerumuni Pak Didik semakin ia kehilangan jarak untuk menaruh tapak. Orang-orang memaksa Pak Didik melepaskan cengkramannya dari tangan pemuda itu. Darah yang berlumuran dari perban di tangan kiri Pak Didik membuat suasana menjadi semakin tegang. Provokasi untuk menyerang Pak Didik bahkan sempat terlontar. “Sudah-sudah... Aman. Biar saya urus, maafkan dia...” Agus muncul di saat yang tepat, hampir saja Pak Didik di massa rakyat. “Sudah, Pak. Ayo lepaskan...” Ucap agus berbisik, memaksa Pak Didik melepaskan cengkraman dari tangan pemuda itu. “Kau ini kenapa, Pak? Mau kantor dibakar lagi?”
“Dibakar lagi? Apa maksudmu?” “Apa maksudmu?!” Agus menunjuk bekas kantor mereka sembari menatap heran pada lelaki sumpek itu, tangannya membenahi ikatan perban Pak Didik yang mulai tak karuan bentuknya. Bangunan yang ditunjuk Agus itu telah menjadi semacam taman dengan rerum- putan hijau yang menutupi sebagian besar pandangan mata Pak Didik. Lapangan tempat kemarin anak buah- nya menggunduli kriminal telah menjadi kebun-kebun kecil yang menyediakan berbagai sayur dan buah, ada pasar souvenir, orang-orang bermain musik, tawa riang pemuda-pemudi yang seujung telinga pembicaraan mereka bahkan tak mampu untuk Pak Didik cerna. Orang-orang mendirikan tenda. Tanaman ganja tesebar sem- barangan di mana-mana. Pak Didik terkejut sambil menerka apa yang sedang terjadi. Sepetak reruntuhan puing kayu yang diberi tiang pengaman dan pita-pita penuh catatan kecil melingkar menjadi fokus perhatiannya. Titik itu tepat di bekas ruang Pak Didik sering memeras kerabat dekat dan keluarga para pecandu. Agus mengikutinya mendekat ke tumpukan reruntuhan bangunan yang seluruh per- mukaannya dilapisi resin itu. Di satu sisi tempat ia bisa membaca catatan pada papan mimbar tiang bertuliskan huruh capital: JIKA POLISI MASIH MENORMALISASI PEMBAKARAN LADANG-LADANG GANJA, MAKA KITA JUGA HARUS MENORMALISASI PEMBAKARAN KANTOR-KANTOR POLISI. "Apa ini, Gus?" "Ini monumen peringatan revolusi kedua, Pak."
"Revolusi kedua?" "Iya, saat itu orang-orang membawa amarah mereka kesemua bagian kantor, membakar bangunan sampai sekarang hanya ini yang tersisa." "Berarti ada revolusi pertama?" "Ada, Pak. Itu tanda peringatannya" Agus menunjuk tiga pilar yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Tiga pilar penuh tulisan setinggi 2 meter kotor disertai bertumpuk bunga-bunga segar di bagian ba- wahnnya. "Saat itu revolusi besar-besaran terjadi di seluruh kota, Pak." Agus melanjutkan. "Itu buntut perintah dari pusat yang menyuruh menembakkan gas air mata ke tribun stadion yang penuh dengan supporter bola dan menewaskan ratusan orang." Mereka berjalan mendekati ketiga pilar itu dengan Agus tetap menjelaskan pada Pak Didik apa yang terjadi. "Ini nama kawan-kawan kita yang gugur Gus?" "Tidak pak, itu nama korban yang meninggal akibat tembakan gas air mata anggota kita. Pilar satunya adalah nama sipil yang gugur pada revolusi penuh darah itu." "Lalu di mana-nama anggota kita yang gugur?" "Tak ada catatan sama sekali, Pak. Saat itu sangat kacau." Agus bercerita sambil mengambil kotak rokok di saku jaket hitamnya, mengeluarkan selinting ganja yang kemudian ia parkir di bibir hitamnya. "Orang-orang sangat marah setelah kejadian di stadion, puluhan ribu orang tumpah ruah di jalanan dan berhasil mengambil alih markas polisi di setiap kota. Mereka mengobrak abrik setiap ruangan, menyiraminya de-
ngan bensol, solar, apapun yang bisa menjalarkan api. Kunci-kunci sel tahanan mereka buka dan mereka bakar semuanya, beberapa anggota pun ada yang ikut dilahap api, Pak. Bahkan Jendral besar menghilang entah ke mana sampai sekarang." "Apa?! Gila sekali! Dan, apa itu di bibirmu, Gus?! Ganja?! Kau juga sudah gila sekarang?" "Iya, Pak. Ah ini cuma lintingan biasa dari tanaman yang sekarang tumbuh di mana pun." Agus menyulut lintingan itu sambil menggiring Pak Didik kembali pada ceritanya. "Kekacauan itu berlangsung berhari-hari, Pak, tahanan yang keluar dari sel langsung menuju ruang berkas dan membakar habis semuanya, seolah mereka sudah paham betul apa yang harus dilakukan. Petugas- petugas damkar diblokade dan hanya mampu dikerah- kan untuk menjaga api agar tidak menjalar ke perkam- pungan belakang. Tuntutan orang-orang semakin hari semakin bertambah dan berakumulasi, sampai soal ganja ini." "Astaga. Lalu gudang senjata bagaimana? Bukankah kantor kita ini adalah sebuah benteng?! Hanya orang-orang tidak bijaksana yang akan mencoba untuk me- nyerangnya." "Benar, Pak. Puluhan ribu pion tidak bijaksana dan penuh amarah. Benteng pun bisa rata dengan tanah. Gudang senjata dan barang bukti berhasil mereka kua- sai sepenuhnya. Tempat ini menjadi medan perang yang tak pernah terjadi di sejarah manapun. Kota-kota lain pun serupa. Banyak orang-orang sipil gugur di tempat
ini. Pilar ini dibangun untuk mengenang perjuangan mereka." "Jika ini monumen untuk mengenang revolusi pertama, dan itu (Pak Didik menunjuk reruntuhan yang diberi resin) yang kedua, lalu apakah ada yang ketiga dan seterusnya?" "Inilah yang ketiga dan seterusnya, Pak." Agus membuka tangan dan meregangkannya ke seluruh taman seolah sedang menyajikan hidangan spesial pada Pak Didik. "Aku sekarang merasakan semangat revolusi mereka sepenuh hati setiap menit dan setiap inchi." Pak Didik tidak bisa menyembunyikan kebencian dirinya melihat orang-orang disekitarnya menghisap ganja seenaknya dan berbagi keceriaan. Rasanya, jika saat ini ia memegang AR15, orang-orang di hadapannya akan ia musnahkan semuanya. Namun hasrat itu hanya mampu ia tuntaskan dengan senyum remeh sambil membenarkan perban di tangan kirinya. "Huh. Revolusi sepenuh hati setiap menit dan setiap inchi. Omong kosong apa yang kamu bicarakan itu, Gus?! Sudah. Buang lintingan yang sejak tadi ada di mulutmu itu. Barang itu cuma akan membuatmu malas dan bodoh seperti ini." "Ha? Bapak ini kenapa? Ganja ini justru yang membantu membuka pikiran saya. Lagipula, mereka ada benarnya juga, Pak. Sejatinya fungsi kita dulu itu sebenarnya hanya melindungi penjahat-penjahat kaya raya dan memelihara kejahatan agar tetap ada bukan? Bapak ingat kan Unit 1 kriminal yang menunda bertahun-tahun penangkapan pemerkosa dan pembunuh gadis di bawah umur hanya karena ia anak Bupati dan
berkerabat dengan Jendral? Di divisi kita saja, sebagian barang bukti selalu kita lempar lagi ke bandar-bandar lain untuk diedarkan kembali. Bapak sendiri juga kan yang sering meminta uang ke keluarga-keluarga pecandu agar pasal berita acara bisa diubah lebih ringan?" Agus kemudian menyulut lintingan mungil di bibir hitamnya. "Lancang sekali kau, Gus! Aku yang membantumu sampai ke titik ini, ingat kau?!" Pak Didik menampar mulut Agus hingga cengkraman bibir nya tak bisa menahan lintingan ganja untuk tidak jatuh ke tanah. "Pak Didik! Apa-apaan, Pak?! Agus mendorong Pak Didik sampai hampir terjatuh. Perkelahian pun tidak terhindarkan. Orang-orang berkerumun melihat mereka, kecuali beberapa kelompok yang menyadari ke- lakuan dua polisi tolol yang suka sekali dengan ke- ricuhan. “Stupid cops.” Ucap beberapa dari mereka sebelum kembali ke keceriaannya masing-masing. "Aku yang membantu karirmu, Gus! Kau ingat?! Bukan ganja bodohmu itu!" Pak didik mengoceh saat tangannya memiting kepala agus dari belakang. Agus memutar tangan kirinya, kemudian membalik- kan posisi. Kini, gantian gerakan Pak Didik yang ia kunci. "Harusnya kau membantuku dengan berhenti mereproduksi ketidaktahuan, Pak." Agus membalas ucapan Pak Didik dan melemparnya jatuh ke dalam kolam air mancur. Dan... waktu tiba-tiba melambat. Tubuh dan wajah Pak Didik tercebur menuju kolam, sangat perlahan, separuh bagian dahi, hidung, kelopak mata, hingga tak ada lagi enggal napas saat kepala telah tenggelam seluruhnya ke dasar kolam. Sontak ia bang-
kit terbangun dengan mata terbelalak. Melotot. Mulutnya mengambil sebanyak mungkin udara yang bisa ia raih. Menghempaskan kapas yang menutup lubang hidungnya.
"Yaaa siinnnn, walqurwhaaaaaaaaaaaaaaaa......!!!!"
Orang-orang yang sedang yasinan terkaget melihat pocong Pak Didik melotot di hadapan mereka. Tatapan Pak Didik menerawang seisi ruang tamu, mencari satu sosok yang pertama terlintas di benaknya. Agus. Ia me- ngerahkan seluruh tenaganya untuk ngesot menuju Agus yang terdiam dalam kejut di satu sudut, dan berbisik; “Generasi muda tidak perlu diselamatkan dari narkoba, Gus. Mereka hanya perlu diselamatkan dari generasi tua kolot yang tak berhenti mereproduksi ketidaktahuan.”
Tentang Para Penulis
Ilham, penulis kelahiran Tasikmalaya. Telah menempuh pendidikan di UIN SGD BDG*.*
M Iqbal M dapat dikontak melalui surel:
[email protected] Mukhatara mengabadikan diri dalam berbagai karya sastra walau sebenarnya masih ragu-ragu mengenai teori evolusi Darwin dan sistem EYD Bahasa Indonesia. Memiliki kekhawatiran pada dunia “pasca modern” yang semakin tidak karuan. Plackeinstein menerbitkan kumpulan tulisan menyebalkan berjudul “dunia begitu menyebalkan dan kita hidup di dalamnya” (2022); self-proclaim muslim anarkis yang cuma bisa pasrah keislamannya diterima Allah; dan berharap berhenti dicap kiri. Aditya Yudistira, individu (semoga) merdeka tanpa rumah dan nomaden. Penulis dapat dihubungi lewat Instagram @yudistract.
Al Faathir, lahir 3 Juli 2008 di Banjarmasin. Penggemar Amukredam, Rekah, film-film obsekyur, sastra, Max Stirner, dan Anarkisme. Kini berkegiatan di sanggar teater Garis Teater.
Arsyad Fauzi lahir di Bandung, tahun 1999.
Besokkeos –
Bunga Senja –
Dafid Kurniawan lahir di Grobogan, Jawa Tengah.
Farhan menari dalam badai tanpa hitungan.
Hezekiel Turnip –
ImajiNekro poser dan amatiran yang gabisa apa-apa, tinggal di sekeliling gunung dan di tengah 57 kepulan asap. LLA!
Joe Jones Nirahua. Penulis sedang menempu Pendidikan di Universitas Papua, Fakultas Sastra dan Budaya, Jurusan Sastra Indonesia.
Lhie Mey Hwa tulisannya terinspirasi dari Verse 2 milik Doyz pada Kalam Demagog di album Jaydawn “Sekte Air Mata Odin”.
Mou tinggal di Karawang. Puisi-puisinya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Radar Banyuwangi dan Koran Berita. Bergiat di Perpustakaan Jalanan Karawang dan Kolektif Sastra Lamun.
Mugi Anggari, seorang anarkis individualis dan penyair kelahiran Majalengka, 1998.
Okto –
Syamsul Falah, penyair entry level yang jiwa dan raga- nya bebas dan terbelenggu dari kenisbian kontemporer.
Tasamsyah penulis kelahiran Bandung, 17 April 1997. Pegiat teater & musik. Karya-karya puisinya dimuat dalam 3 buku: Semetalogi PU Merangkai ISI (2019), Plano Miasma (2022), Tapak Tilas (2022).
Terrik Matahari, saat ini singgah di ujung utara Pulau Sulawesi, senang menjelajah hutan dan benci hidup di kota.
Yunan Sazstrajingga seorang buruh di Jakarta yang berkutat dengan multimedia. Penikmat puisi, dan penulis yang berharap kiamat cepat terjadi.
Zihad Juliana sedang menempuh pendidikan di An- tropologi Budaya, ISBI Bandung.
Yosea Arga P. Wartawan Tempo. Bergiat di Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Bemukim di Depok.
Adriansyah Subekti penulis asal Purwokerto. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media daring maupun cetak.
Banu Ghifar menulis cerita pendek karena Pandemi Covid. Sedang bergerak terus menerus dari satu kota-provinsi-negara ke kota-provinsi-negara yang lain.
Bobi Tuankotta menulis buku Yang Diumpet Rapat-Rapat (Langgam Pustaka, 2022), dan Protagonisme (Langgam Pustaka, 2023).
Amarah Iramani, seorang penulis bebas yang saat ini tinggal di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Buku terburuk pertamanya adalah kumpulan puisi berjudul Siasat dan tiga puluh tiga puisi putus asa (Langgam Pustaka,
2020).
Julian Sadam, penulis berdomisili Surabaya, detektif partikelir, dan seorang rapper gagal.