Baca PDF (OCR): Cintaku Dipalak Ormas: Sekumpulan Puisi yang Seharusnya Dibegal Saja

62 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 72 ms

Daftar isi
  1. Cintaku Dipalak Ormas
  2. Muhammad Akmal Firmansyah
  3. Prakata Awal
  4. Cintaku Dipalak Ormas
  5. Muhammad Akmal Firmansyah
  6. Tak Nikmat Lagi
  7. Maka Berjogetlah, ‘Kan Kuciptakan Huru-Hara
  8. Puisi Metaverse
  9. Cinta Virtual
  10. Disrupsi
  11. Gempuran Paylater
  12. Giveway dan Kemiskinan
  13. Hiruk Pikuk Orang Miskin
  14. Ketuhanan yang Mahadaring
  15. Iman Virtual
  16. Pasar yang Diciptakan
  17. Sial, bukan?
  18. Saat Padi Menjadi Instan
  19. oleh syahwat kerakusan
  20. Magi
  21. Membenci Sekolah
  22. bahwa ia tak memberikan apa-apa
  23. Besok Seperti Biasa
  24. besok seperti biasa
  25. Menghapus Mulutnya dengan Mixue di Mulutmu
  26. Cintaku Dipalak Ormas
  27. Yang Viral Tumbuh, Hilang Gak Laku
  28. Kakak Tingkat, Kapan Sekarat?
  29. Dunia yang Gaje
  30. Melihat Puisi Menjadi Salon
  31. Membunuh Kegeniusan
  32. aku hanya ingin bersamamu
  33. Hikayat Depresi
  34. Mana di Mana Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
  35. Apa Arti Perguruan Tinggi?
  36. Cinta Tak Pernah Lupa Password
  37. Sepotong Sajak Hasil Curian
  38. mereka ini aku penggal
  39. Apokaliptik (1)
  40. Apokaliptik (2)
  41. Untuk M
  42. Bila Kiamat Terjadi, Sekolah Gimana?
  43. Memorabilia (1)
  44. Ramadan (1)
  45. Ramadan (2)
  46. Panoptikon
  47. Tentang Penyair

Sekumpulan puisi yang seharusnya dibegal saja

Cintaku Dipalak Ormas

sekumpulan puisi yang seharusnya dibegal saja

Muhammad Akmal Firmansyah

Cintaku Dipalak Ormas (sekumpulan puisi yang seharusnya dibegal saja) Zine Puisi Muhammad Akmal Firmansyah

Perancang Sampul: Agung Yandistira (@ftl.kys) Pemeriksa Aksara: Tubagus Andika Penata Letak: Aditya Dwi Laksana

Diterbitkan dan didistribusikan oleh Jerih Payah Media, 2024

Cetakan Pertama: Mei 2024 62 hlm, 14,8 x 18,5 cm

Instagram: @jirapah.media Surel: [email protected]

Prakata Awal

Saya selalu menaruh curiga kalau ada tahap keenam dari “Lima Tahap Kesedihan”-nya Kübler-Ross, psikiater asal Amerika-Swiss... bahwa setelah fase penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, & penerimaan—terselip tahap lanju- tan: tertawa & membikin karya sastra. benang kecurigaan ini, kemudian saya sambungkan dengan “Empat Mekanisme-Pertahanan” à la PW Zapffe, penulis-cum-eksistensialis. salah satu mekanisme-pertahanan itu adalah ‘Sublimasi’; proses men- gonversi derita karena kesadaran akan brutalnya kenyataan menjadi sesuatu yang produktif, kreatif, & bernilai seni. lebih jauh, kesuraman itu ditransformasikan menjadi citraan-citraan yang dramatis, herois, liris—atau bahkan komikal. Oleh karenanya, ketika saya membaca puisi-puisi Akmal, saya merasa dihadapkan dengan teks-teks yang beru- saha melipur lara dengan gaya jail-jenaka. puisi-puisinya merupakan hasil Sublimasi dari lebam yang disebabkan kapitalisme akhir & keruwetan-keruwetan lainnya. ia cukup berhasil memotret realitas sosial & memberi penghibu- ran. katakanlah, atas premanisme ormas, kehadeuhan media sosial, mahalnya pendidikan tinggi, sampai sulitn- ya membangun hubungan bucin di atas ubin kemiskinan. Maka kalaulah saya memakai analisis kelas, puisi-puisi Akmal bisa dikatakan adalah suara minor dari betapa ke-

osnya hidup sebagai seorang menengah ke bawah di zaman kiwari. setiap baitnya adalah keluh-kesah orang serba susah. tegangan antara gairah mati muda di kontrakan sempit tanpa kamar mandi & kemauan hidup seribu tahun lagi. kalau meminjam “bahasa Sitor Situmorang”, maka puisi-puisi dalam buku ini merupa tagihan di atas kuburan. singkatnya, Akmal berhasil menangkap momen puitik dari nyanyi token listrik. Di akhir pembacaan, saya menduga-du- ga, jangan-jangan konsumsi paling etis hari ini adalah memakan hati sendiri & menjadikannya puisi.

—Moch Aldy MA, Redaktur Sastra Omong-Omong Media

Cintaku Dipalak Ormas

sekumpulan puisi yang seharusnya dibegal saja

Muhammad Akmal Firmansyah

Tak Nikmat Lagi

irama jarum jam tak semerdu dulu jadi biarkanlah waktu mati membeku dibunuh kuota satu giga pada telunjuk gawaimu seperti segelas boba dan secangkir kopi dan sebatang rokok dan sebungkus cilok dan semangkuk bakwan yang tak lagi nikmat

bangsat mengapa semua diabadikan tangkapan instastory, sialan!

Cintaku Dipalak Ormas

Maka Berjogetlah, ‘Kan Kuciptakan Huru-Hara

semoga tak ada lagi bom atom karena semesta joget pargoy atau fatwa halal-haram di tiktok hingga kader partai millenial di beranda fb baby boomers

maka berjogetlah, ‘kan kuciptakan huru-hara tentang tips dari bangun tidur 12 hingga insomnia

maka berjogetlah, ‘kan kuciptakan huru-hara dari mencoblos suara hingga golput pun ada

berjogetlah, hingga tak ada lagi yang harus direnungkan, saudara!

Puisi Metaverse

kala ia lahir, di abad duapuluhsatu puisiku memakan sosis keju

di kanal media sosial para penyair baku hantam berebut engagement dalam feed instagram

kutitipkan puisiku pada metaverse biarlah bahasa mati ditikam algoritma dan seo, dan crypto menjelma data dan angka dalam layar ponsel telepon seluler

di mana polisi bahasa? apakah tertembak mati di situs pencarian yang tiap hari aku dan kau gunakan?...[2022]

Cintaku Dipalak Ormas

Cinta Virtual

Apa pula yang kau harapkan 14 dari aplikasi cari jodoh itu, sayangku?

Disrupsi

nelayan mati oleh industri petani sekarat oleh tengkulak pedagang mati oleh bintang satu pekerja sakit tak boleh berserikat

sawah dan padi jadi nanah dan api jutaan anak negeri bunuh-membunuh kompetitif primitif sorak-sorai oligarki media terokupasi sekolah rubuh lagi mahasiswa teriak elitis kampus mampus aktivis penjilat oportunis biadab [...]

Cintaku Dipalak Ormas

peresensi buku, koran, majalah, tabloid, dan buku dan koran, dan majalah, dan tabloid, dan buku menjadi bungkus kacang, gorengan, dan cemilan

selamat datang pencerita alur film 16 youtuber modal bacot bookstagram ojek online dan lain-lainnya

salam viral! sobat fomo sosialita!

Gempuran Paylater

percekcokan rumah tangga milenial tagihan-tagihan pinjaman demi berjihad penuhi finansial

sial, datanglah pesan dari gawai membuat pikiranku gemetaran tagihan bulanan, bayar wi-fi, bayar listrik, bayar air, dan bayar gengsi, beli baju baru semuanya harus dibeli dan baru

maka kautarik-tarik tanganku pakai paylater di marketplacemu tanggal satu harus tepat waktu biar tak terjerat bunga dan denda katanya kepadaku

lalu lintah-lintah darat itu membuat kawanku satu per satu menghilang dan era informatika benar-benar membuat semua [...]

Cintaku Dipalak Ormas

saling melupakan

sebab semua sedang kabur dari kejaran debt collector yang seram dan emosian

Giveway dan Kemiskinan

aku menaruh sekian takdir pada giveaway moga-moga ada prank bagi-bagi rezeki oleh youtuber oleh artis oleh filantropi oleh non-korporasi

jangan lupa dokumentasi sebab kebaikan harus diabadikan

coba sebutkan teman-teman yang putus kuliah di-phk perusahaan digusur negara coba tanya pak rt tandai mereka semua mari bersama selfie ktp [2022]

Cintaku Dipalak Ormas

Hiruk Pikuk Orang Miskin

jam tidak berdendang seperti nyanyian Silampukau malam berjalan pelan aku cepat-cepat mengirim pesan duh, lupa membeli kuota aku miskin sayang, jadi tak bisa mengirim emotikon serta berjuta ucapan mesra seperti, selamat tidur ya 20

ada kuota baterai habis tak ada kuota baterai penuh

cari wi-fi dicap miskin curi wi-fi dicap hacker

memang menyebalkan hidup di dunia serba digital [...]

sedikit terlambat ditinggalkan fyp

cintaku kalah cepat dari mereka budak korporat tuhan, mengapa aku melarat?

Cintaku Dipalak Ormas

Ketuhanan yang Mahadaring

di sana umkm-umkm memasang iklan super mahal di berbagai kanal

di sini buruh-buruh digital dipaksa produktif 22 sampai tak bisa piknik seperti media digital yang melempar clickbait demi penuhi fee per klik

o ingin kuberkata: hiduplah Indonesia Maya!

Iman Virtual

orang-orang berdoa di snapgram perjuangkan birahi di dating apps mencari fwb, mencari cinta satu malam menulis keluh kesah di twitter sampai keblinger dan kebersihan sebagian dari estetik yang kukotori lewat status whatsappku yang burik

: o tuhan aku berlindung kepadamu dari godaan dunia maya yang penuh tipu daya

Cintaku Dipalak Ormas

Pasar yang Diciptakan

Pasar bisa diciptakan. Seperti sebuah hikayat di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi. Merah yang selalu salah, hitam selalu penyusup, dan putih selalu memberontak.

Semenjak pasar diciptakan, rakyat di negeri penuh hikayat mabuk ekstasi kekuasaan, bermain intrik, menjual ayat dan hymne-hymne perubahan, mem- bawa terma peradaban. 24

Dan kapitalisme mewariskan penyakit, selain kon- sumerisme dan depresi adalah permusuhan.

Setelah pasar diciptakan. Kemanusiaan pun dengan banal diperjualbelikan.

Sial, bukan?

Saat Padi Menjadi Instan

aku terlahir saat padi menjadi instan menjadi bungkusan menambah riwayat bumi yang menangis menyerah

aku lahir di puing reruntuhan di batu-batu yang dieksploitasi atas nama negeri bagiku riwayat berdarah

setiap hari kita memotret keindahan alam melukis panorama menjadi indah nian

di kemudian hari ia menjadi bangkai sebab alam telah usai terkuras landai oleh tangan jahat yang lihai

Cintaku Dipalak Ormas

oleh syahwat kerakusan

Magi

aku masih di sini seperti seorang pesulap yang malu mengeluarkan kelinci

meski mata penonton dan ocehan monoton aku masih di sini seperti burung yang tak mau keluar dari sarang induknya

meski banyak angsa bermimpi menjadi elang terbang di udara meski banyak kijang bermimpi menjadi singa di belantara hutan

tapi, aku masih di sini terdiam sendu

Cintaku Dipalak Ormas

dan tersenyum melihat pelangi menyihir mataku

Membenci Sekolah

anakku, bencilah sekolah yang sebetulnya ia lelah dan selalu pasrah di kaki industri

anakku, cacilah sekolah yang tak pernah mengajari apa-apa selain pertarungan demi rangking dan ijazah

anakku, ada yang putus sekolah bukan membenci sekolah karena biaya tak selalu murah ada yang berdarah demi gelar sekadar

anakku, ilmu wajib kau cintai sementara sekolah nanti saja setelah kau sadar

Cintaku Dipalak Ormas

bahwa ia tak memberikan apa-apa

anakku, ada guru yang mengabdi tak dihargai ada murid yang berjuta prestasi tersenggol oleh pejabat tinggi

Besok Seperti Biasa

besok seperti biasa kita cuci muka membangun pagi

besok seperti biasa kita kasbon lagi kopi gorengan dan roti

besok seperti biasa kita patuh kembali pada guru dosen dan pak menteri

besok seperti biasa mengayuh pedal becak mengocok gas motor dan dimaki-maki bos yang tahunya hanya memberi gaji penumpang yang tak memiliki empati

besok seperti biasa

Cintaku Dipalak Ormas

kerja di alam kapitalisme di mana oligarki mengheningkan cipta bagimu negeri menyapa inflasi

Menghapus Mulutnya dengan Mixue di Mulutmu

Aku ingin menghapus mulutnya dengan es krim ini di mulutmu

Aku ingin menjadi boba yang kaukecup manja

Aku ingin menjadi vanila yang dipesanmu setiap waktu

Aku ingin menjadi Mixue yang selalu kau rindui itu.

Cintaku Dipalak Ormas

Cintaku Dipalak Ormas

dengan astrea dua ribu aku ingin mengajakmu berkeliling-mengitari kota

meski nanti ormas-ormas sebut saja peter parkir akan bermain peluang ruang + peluit + 34 tongkat = duit melayang memalak sepuluh ribu setelah aku keluar dari ritel membeli roti kasur isi keju seharga separuh pungli itu

bayar sayang uang kalau tak bayar kata aman hilang dari kamus dan tesaurusku.

Yang Viral Tumbuh, Hilang Gak Laku

fesyen pun menjadi buah bibir politikus, cendekiawan, ulama, tukang parkir, penjual kacang, semua berbincang-bincang mengenai Jeje, Bonge, Roy Kurma, dan viralnya Citayam

dari semenjak era Norman Kamaru media mencari peruntungan bagai ledakan bom waktu yang lengkung oleh waktu yang viral tumbuh dan lambat laun kembali tak laku.

Cintaku Dipalak Ormas

Kakak Tingkat, Kapan Sekarat?

hidup macam aristokrat ingin dihormati dan dipuja-puji, cuih! menyuruh-nyuruh tapi tak memberi gaji

ospek adalah ajang kating-kating haus rispek si paling senior, paling ngeri 36 teriak-teriak revolusi di balik layar kaderisasi diajarinya maba mewarnai bendera-bendera merah-hitam hijau-hitam kuning-biru

ormak-ormek asu! cetak biru, kerah biru kepal tangan kirimu revolusi, katanya, sayangku. [2022]

Dunia yang Gaje

yang benar divideo, mengaku kalah yang maling malah sewa pengacara ingin aku bersumpah-serapah seperti orang-orang yang jadi terminator saling tembak, saling dor tapi aku lebih ingin molor hanya dengan sehelai kolor

: ya lord, astagfirullah! ini world, kok masyaallah!

“ente sometimes-sometimes ente.” kata Tuhan dengan nada perlente.

Cintaku Dipalak Ormas

Melihat Puisi Menjadi Salon

merangkai kata di sosial media sedang kurator sastra tertawa saja : yang sublim kok hanya senja

menghias prosa termotivasi penyanyi susastra : kok kesal cuman pada jarak

dan penyair-penyair baru 38 sudah sejak lama saling lempar kata mereproduksi makna ke tong sampah alam maya.

Membunuh Kegeniusan

Jobs dan Gates rancang teknologi Dan, kita adalah Einstein mungil yang dipaksa tunduk pada pohon-pohon bilangan nihil yang sudah besar terjebak dalam algoritma-algoritma terlena oleh keasikan duniawi

adu gengsi terus terjadi yang ingin pelajari murni hati tak ada lagi hanya dalam kegentingan ingat Tuhan dan di ruang-ruang kemewahan Tuhan kalah ruang dari uang tak ada Mozart kecil lingkungan tak inginkan kau menjadi Beethoven peduli setan penulis pianis, atau komposer hidup poser!

lebih jauh lagi,

Cintaku Dipalak Ormas

cerita para penuntut ilmu dan ulama yang tawadu pun hilang semenjak narasi agama menjadi pop kalcer

semenjak agama menjadi kompromis pada berhala baru pada kuasa-kuasa kecil yang kian mudah menggelincir 40

: bukankah kita hidup hanya untuk kepentingan gerbong sendiri-sendiri?

sedang orang miskin masih jadi hiburan, menjadi komoditas yang terus-menerus diobjektifikasi kita tak pernah jadi apa-apa berdebat kosong di kehampaan kita yang selalu membunuh kegeniusan terjebak pada narsistik dan kepopuleran

aku hanya ingin bersamamu

sayang, biarkan zaman edan seperti petuah-petuah Ronggowarsito berjalan.

Cintaku Dipalak Ormas

Hikayat Depresi

Ayah di-PHK di bangsal bayi tak bisa dijemput kesehatan dijegal administrasi

Ibu tak ada beras untuk dinanak dan adik putus sekolah 42 kakak tak bisa kuliah

di sebuah arsipelago duaratusribu pemuda memilih mengontrak rumah sebab asap dapur telah merenggut kebebasan finansial yang entah

Mana di Mana Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?

sedang sibuk sertifikasi hahahaha

Cintaku Dipalak Ormas

Apa Arti Perguruan Tinggi?

jika hanya melulu perihal akhiri tugas akhir dengan selfie dan unggah: congrats ya bestie!

atau bernostalgia akitivisme, isme, isme dan mengkaderisasi

atau mengudud-mengopi 44 atau ikuti kkn dan langsung merasa paling yoi paling mengabdi mahasiswa si paling maha

kampus ada untuk hahahihi sampai mampus sampai ilmu bisa dibeli gelar bisa dijoki dan kenangan bisa dibagi-dibagi.

Cinta Tak Pernah Lupa Password

Kasih, di sosial media baru kali ini aku mengklik tombol forgot sebab bila tidak salah ingat passwordku adalah nama serta angka yang menjelma menjadi cinta akhir cerita pecah seperti batu-bata menyusun kembali, apa cukup dengan kata kerja?

Cintaku Dipalak Ormas

Sepotong Sajak Hasil Curian

Kasihku, dengarlah aku lirih nafasmu menyejukkan sorot matamu itu membuatku teduh

sepotong sajak ini aku penggal dari sobekan buku sastrawan 46 ia menari-nari di atas tinta & aku membunuhnya tak mungkin aku memacarinya—menikahinya —mencintainya & kucekik kebahagiaan di nadinya

kasihku, lihatlah aku pandangan matamu tenang membuat jantungku berdetak melebihi suara jarum jam—suara jangkrik

yang mengiringi kecoak merayap di toilet—seperti suara ranjang saat pasangan muda berdendang & seorang anak pubertas bermain sabun mengintip di jendela terbuka

aku benci pikiranku bila kau rindu aku pun begitu namun malu-malu mengucapkannya

lagi aku memotong sajak dari penyair kegetiran— penyair amatiran—penyair penawar racun—penyair komedian—penyair spesialis baku hantam—penyair siap moncong senapan—penyair kesepian

mereka ini aku penggal

Cintaku Dipalak Ormas

sajak-sajak itu aku curi karena rindu bukan milik individu karena cinta tak sederhana ia mewah dengan pernak-perniknya biarkan aku membabi buta hu hu ha ha hu hu ha ha sepotong sajak ini 48 kupersembahkan untukmu kasihku seorang!

Apokaliptik (1)

aku hilang dalam peti entah mati atau terbakar jiwa damai hanyalah kepalsuan setelah aku sadar resep bertahan hidup adalah menghancurkan

paduka memainkan arca raja menaiki kuda menyuruh prajurit ‘tuk berjaga hancur satu koloni tumbuh semai lagi-lagi lalu damai terpendam di ruang kosong

semenjak sastra mati oleh algoritma—search engine online—fyp media massa & idealisme selingkuh pada industri—cuan & hierarki aku tegaskan berkali

Cintaku Dipalak Ormas

mengejar ketertinggalan ternyata tak berarti

dirasuki oleh ramai tak karuan sayup suara berhamburan tapi aku sepi & sendirian dikhianati realita satu kali dua kali tanpa henti berkali-kali 50

aku bunuh diri bersama imaji tak ada lagi masa depan di kepalaku biarkan waktu berjalan meski ragaku tetap diam ditelan keheningan

Apokaliptik (2)

mesin-mesin dicipta ilusi-ilusi dibangun & imajinasi terbang di udara

lalu dihancurkan dirobohkan mengendap di kepala

lari terjatuh bangun tak mau mati niscaya

mengejar-ngejar makna membongkar bongkahan kata kita adalah entitas ingin mewujud dalam koridor fana yang nahas diterkam mulut

Cintaku Dipalak Ormas

buas beringas oleh entitas yang sama

Untuk M

di Baghdad dengar Syahrazad 10001 malam—masa kini puan pencerita menderita hilang dalam ingatan, setelah influenser di layar 4-5 inci membombardir lewat goyang nyanyian & kengerian

detik 55 saat kata-kata menjadi gerakan menggebrak di ring tinju tanpa batas waktu tak tahu kawan mana lawan saling serang terjang & hantam

satu papan & kanvas melukai Monalisa di atas kertas

Cintaku Dipalak Ormas

satu pisang & ampas mengotori Artemisia seni tanpa batas

di mana kah posisimu nona seni kadung laki-laki

satu pola menggerakkan jari 54 membuat pola menggambar keji penis patriarki

Bila Kiamat Terjadi, Sekolah Gimana?

Senin tak ada upacara dana bos hilang ke mana jual beli jabatan jadi soal joki-joki diganjar setimpal bukankah ilmu sebelum amal yang mengalir hingga alam kekal o, mengapa biayanya mahal?

Cintaku Dipalak Ormas

Memorabilia (1)

ingin perang petasan dengan bocah di gang seberang bermain bola di jalan tengah malam

subuh itu kami belajar mengisap rokok satu persatu kawan tumbuh dewasa masalah hidup berbeda cara pandang juga ada yang saling menjauh 56 hanya karena berbeda-beda

aku kangen pada masa itu di masa ramadan menjadi remaja masjid dadakan di masa ramadan menjadi jamaah ceramah subuh di masa ramadan tadarus qur’an menanti magrib kumandang tapi, siapa yang sudi bersetia kenang masa-masa belakang?

Ramadan (1)

jika kau memang tamu agung itu maka izinkanlah aku merengkuh sang Akbar yang hadir karena kaset pita melantunkan qari di masjid-masjid, musala-musala

jika kau memang tamu agung itu, maka bikinkanlah aku rindu sematang sajian sahur ibu yang dikejar-kejar imsak sehangat kopiku, yang lantak dengan pekik asyhadu dan hayya alash sholah itu.

Cintaku Dipalak Ormas

Ramadan (2)

di tengah keterasingan dan kenikmatan yang anonim aku diam-diam mencari arti iman dari menahan lapar seharian semasih borjuis-borjuis kota berlomba-lomba sajikan takjil buat si proletar berbuka

tapi ada yang malu tak punya 58 baju koko untuk ke musala dan sempat ingin gantung diri sebab tak kaffah mensyukuri dan tak mengimani, kata ustad dalam ceramah di Spotify

sedang umat sibuk bayangkan kegemilangan Cor- doba dan duka di Gaza;

jauh diterawang dekat tak terbayang. [2023]

Panoptikon

sementara sekarang pencegahan dini timbulkan ke-chaos-an hadirkan kaki ibu di hadapan

utopia di telapak kaki ibu, yang tak sempat diminta restu untuk melakukan revolusi atau insureksi menantang tirani.

Tentang Penyair

Muhammad Akmal Firmansyah lahir di Bandung tahun 2000. Saat ini menjadi pewarta di BandungBergerak.id sambil berse- nang-senang mengelola Jerih Payah Media. Zine Puisi “Cintaku Dipalak Ormas” merupakan puisi-puisinya yang pernah tayang di omong-omong.com

Cintaku Dipalak Ormas