Kehidupan Membebaskan
Revolusi Perempuan
Kehidupan Membebaskan
Revolusi Perempuan
Abdullah Öcalan
KEHIDUPAN MEMBEBASKAN: REVOLUSI PEREMPUAN
Penerjemah: **“**Kehidupan Membebaskan-Revolusi Perempuan oleh Abdullah Öcalan” oleh Geranium Negra, “Membangun Demokrasi Tanpa Negara oleh Dilar Dirik” oleh Ferdhi F. Putra, “Revolusi Paling Feminis yang Pernah Dilihat Dun- ia, oleh Carne Ross, ROAR Magazine, 25 November 2017” oleh tim AFFC, dan “Jineologi: Dari Perjuangan Perempuan Hingga Pembebasan Sosial” oleh tim AFFC.
Penyelaras Bahasa: Seruni
Atak Isi: Mawmaw
Periksa Akhir: Daun Malam
Sampul Ilustrasi Flying Pants [email protected]
Edisi Pertama Cetakan Pertama, Agustus 2022
Penerbit Daun Malam
Hak cipta bebas dan merdeka. Setiap makhluk dianjurkan dan dinasehatkan Untuk mengkopi, mencetak, menggandakan, Menyebarkan, isi serta materi-materi di dalamnya.
Email: [email protected]
Prakata Penerbit
aerah otonomi Rojava, Kurdistan, konfederasi demokratik, Jineologi,
Ddan Ocalan menjadi pembicaraan di
kalangan pecinta kemerdekaan dan kebebasan di berbagai penjuru dunia dan juga terma- suk di nusantara. Untuk itulah kami mencoba menerjemahkan, mengumpulkan dan mensis tematisir sejumlah tulisan yang telah beredar disana sini agar bisa dibaca dalam bentuk buku. Semoga kita sama sama belajar dari materi-materi seperti ini.
Jogja, Juli 2022
Revolusi Perempuan / v
vi \ Kehidupan Membebaskan
Daftar Isi
- Kehidupan Membebaskan-Revolusi Perempuan oleh Abdullah Öcalan — 1-134
- Membangun Demokrasi Tanpa Negara oleh Dilar Dirik — 135-161
- Revolusi Paling Feminis yang Pernah Dilihat Dunia, oleh Carne Ross, ROAR Magazine, 25 November 2017 — 163-178
- Jineologi: Dari Perjuangan Perempuan Hingga Pembebasan Sosial — 179-219
Revolusi Perempuan / vii
viii \ Kehidupan Membebaskan
Daftar Isi
Kehidupan Membebaskan:
Revolusi Perempuan
Abdullah Öcalan
Prakata Penerbit — v Pendahuluan oleh International Initiative — 1
- Kata Pengantar — 7
- Revolusi Perempuan: Era Neolitik 15
- Kemelut Perpecahan Seksual (Sexual Rupture) Besar Pertama — 27
- Semua Perbudakan Didasarkan pada Housewifization — 45
- Kemelut Perpecahan Seksual (Sexual Rupture) Besar Kedua — 55
- Keluarga, Dinasti, dan Negara — 65
- Kondisi Perempuan dalam Masyarakat Kurdi — 77
- Kapitalisme — 83
Ekonomi — 93
Revolusi Perempuan / ixMembunuh Laki-laki yang Dominan: Menginstitusikan Kemelut Besar Seksual Ketiga terhadap Laki-laki yang Dominan — 101
11. Jineolojî sebagai Studi Perempuan — 111- Modernitas yang Demokratis: Era Revolusi Perempuan — 119 Tentang Penulis — 129 Tentang International Initiative — 131 Publikasi oleh Abdullah Öcalan — 133 Buku — 133 Pamflet — 133 Kebebasan untuk Öcalan! — 134
x \ Kehidupan Membebaskan
Pendahuluan
oleh International Initiative
amflet yang sedang Anda baca merupakan pamflet ketiga dari tiga pamflet
Pyang disiapkan oleh International Ini-
tiative. Pamflet ini merupakan hasil kompilasi dari berbagai buku yang ditulis oleh Abdullah Öcalan untuk memberi Anda gambaran singkat mengenai pendapatnya tentang topik tertentu. Sebelum penculikan dan pemenjaraan Öcalan pada tahun 1999, beberapa buku berda- sarkan pidatonya tentang seks dan gender te- lah diterbitkan, di antaranya ialah tiga volume Nasıl yaşamalı? (Bagaimana Caranya Hidup?). Judul buku yang berisi wawancara dengannya,
Revolusi Perempuan /
Erkeği öldürmek (Membunuh Laki-laki), telah menjadi slogan terkenal di antara kaum Kurdi. Öcalan menciptakan beberapa slogan, seperti “Sebuah bangsa tidak akan bisa bebas kecuali para perempuan bebas” yang membuat pende- finisian kembali atas pembebasan nasional dan menjadikan pembebasan perempuan sebagai hal yang utama. Dalam tulisan-tulisannya di penjara, pembebasan perempuan disinggung beberapa kali sebagai bagian dari diskusi Öcalan tentang sejarah, masyarakat kontemporer, dan aktivitas politik. Pamflet ini telah dikom- pilasi dari kutipan tentang topik ini dari karya Öcalan, terutama karya-karya terbarunya yang belum diterjemahkan. Praktik yang dia amati di negara-negara so- sialis, serta upaya dan praktik teoritisnya sen- diri sejak tahun 1970-an, telah membawa Öcalan pada kesimpulan bahwa perbudakan kaum perempuan adalah awal dari semua bentuk perbudakan lainnya. Perbudakan awal ini di- simpulkan olehnya bukan karena perempuan
\ Kehidupan Membebaskan
secara biologis berbeda dengan manusia, tetapi karena perempuan adalah pendiri dan pemimpin sistem Matriarkal Neolitik. Abdullah Öcalan bukan hanya seorang ahli teori, tetapi juga pemimpin dari sebuah gerakan perjuangan. Tidak hanya berjuang untuk pembebasan orang Kurdi, tetapi juga berusaha untuk menemukan jawaban atas persoalan ten- tang bagaimana membuat hidup yang bermak- na. Inilah mengapa tulisan-tulisannya berdam- pak pada kehidupan banyak orang. Dia telah menaruh kepedulian pada isu pembebasan perempuan sepanjang hidup- nya, dan terutama selama perjuangannya. Dia sangat mendorong perempuan dalam gerakan untuk mengambil perjuangan melawan domi- nasi laki-laki dan memberikan inspirasi mela- lui kritiknya terhadap patriarki. Pendekatan dan perilaku dari seorang pemimpin yang berpe- ngaruh ini berkontribusi pada perkembangan yang besar.
Selama bertahun-tahun ia berbicara tidak hanya tentang pentingnya peran yang dilaku- kan perempuan dan laki-laki, tetapi juga men- dorong pembentukan gerakan dan lembaga perempuan agar perempuan dapat memperta- nyakan dan membentuk kembali diri mereka, kehidupan mereka, juga kehidupan laki-laki, serta kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dengan bergandengan tangan dalam perjuang- an pembebasan Kurdi, di Kurdistan telah mun- cul sebuah partisipasi perempuan yang sangat kuat di semua bidang kehidupan. Kenyataannya, dinamika yang luar biasa dan vitalitas gerakan perempuan di Kurdistan sering mengejutkan pengamat yang tidak mengharap- kan hal ini di suatu wilayah dunia yang diang- gap agak patriarkal. Selama bertahun-tahun, Abdullah Öcalan sering menyarankan bahwa tingkat kebebasan perempuan menentukan tingkat kebebasan masyarakatnya. Dia menyatakan hal ini kembali dalam pertemuan yang baru-baru ini dise-
lenggarakan dengan delegasi BDP (Partai Per- damaian Demokratik). Ia berkata, “Bagi saya, kemerdekaan perempuan lebih berharga dari- pada kemerdekaan tanah air.” Hal-hal tersebut adalah latar belakang mun- culnya gagasan untuk membuat pamflet khusus tentang masalah kemerdekaan perempuan.
6\ Kehidupan Membebaskan
1 Kata Pengantar
ersoalan tentang pembebasan perempuan telah membuat saya tertarik se-
Ppanjang hidup. Pada mulanya saya me-
lihat perbudakan perempuan di Timur Tengah yang secara umum sebagai hasil feodal yang terbelakang, tetapi setelah bertahun-tahun praktik dan penelitian revolusioner saya sampai pada kesimpulan bahwa masalahnya jauh lebih dalam. Sejarah peradaban yang berusia 5000 tahun pada dasarnya adalah sejarah perbudakan perempuan. Konsekuensinya, pembebasan perempuan hanya akan dicapai dengan melancar- kan perjuangan melawan fondasi sistem yang berkuasa (ruling system) saat ini.
Sebuah analisis terhadap peradaban arus utama hari ini yang berkaitan dengan persoalan kebebasan akan memperjelas bahwa peradaban telah terbebani oleh perbudakan yang terus meningkat. “Peradaban arus utama” hari ini adalah peradaban yang diwariskan dan dipe- ngaruhi oleh peradaban Sumeria sampai Akkad, dari peradaban Babel sampai Assur, dari Persia sampai Yunani, Roma, Byzantium, serta Eropa, dan akhirnya Amerika Serikat. Sepanjang seja- rah panjang peradaban ini, perbudakan telah diabadikan pada tiga level. Pertama, konstruksi perbudakan ideologis (hal yang mencolok na- mun sangat dimengerti: Tuhan-Tuhan yang menakutkan dan dominan yang dibangun oleh mitologi). Kedua, adanya penggunaan kekuat- an. Terakhir, adanya perebutan ekonomi. Kelompok peradaban dengan tiga level perbudakan ini diilustrasikan dengan sangat baik oleh ziggurat, kuil-kuil yang didirikan oleh ne- gara-imam Sumeria. Lantai atas ziggurat di- tampilkan sebagai empat Tuhan yang mengen-
dalikan pikiran. Lantai tengah adalah markas politik dan administrasi para imam. Terakhir, lantai bawah adalah rumah para pengrajin dan pekerja pertanian yang dipaksa untuk bekerja di semua jenis produksi. Pada dasarnya, model peradaban ini tidak berubah sampai hari ini. Dengan demikian, analisis terhadap ziggurat pada kenyataannya merupakan analisis terhadap sistem peradaban arus utama yang terus menerus berkembang dan akan memungkin- kan kita untuk menganalisis sistem dunia kapi- talis saat ini dalam basis sejatinya. Pembangun- an kapital dan kekuasaan yang terus menerus dan akumulatif hanyalah satu sisi dari mata uang koin. Sisi lainnya ialah perbudakan yang mengerikan, kelaparan, kemiskinan, dan pe- maksaan layaknya masyarakat yang digemba- lakan (herd-like society). Tanpa perampasan kebebasan masyarakat dan kepastian bahwa masyarakat dapat dikelo- la seperti gembala, pusat peradaban tidak dapat menopang atau mempertahankan dirinya sen-
diri karena sifat sistem sesuai dengan fungsinya. Perampasan ini dilakukan dengan menciptakan lebih banyak modal dan instrumen kekuasaan yang menyebabkan kemiskinan terus mening- kat dan munculnya mental seperti gembala. Isu kebebasan yang adalah pertanyaan kunci di se- tiap zaman terletak pada sifat sistem itu sendiri. Sejarah hilangnya kebebasan pada saat yang sama adalah sebuah sejarah tentang bagaima- na perempuan kehilangan posisinya dan lenyap dari sejarah. Ini adalah sejarah tentang bagai- mana laki-laki yang dominan memperoleh kekuasaan—dengan semua Tuhan dan imamnya, penguasa dan bawahannya, ekonomi, sains dan seni. Kejatuhan dan kekalahan perempuan adalah kejatuhan dan kekalahan seluruh masyarakat, yang kemudian menghasilkan masyarakat seksis. Laki-laki seksis begitu tertarik untuk membangun dominasi sosialnya atas perempuan sehingga ketika laki-laki membuat kontak dengan perempuan akan menjadi pertunjukan dominasi.
Kedalaman perbudakan perempuan dan penyembunyiannya yang disengaja dari fakta ini dengan demikian sangat terkait dengan pe- ningkatan kekuasaan hierarkis dan statis dalam masyarakat. Ketika para perempuan terbiasa dengan perbudakan, hierarki (dari kata Yunani ἱεραρχία atau hierarkhía, “dikuasai oleh imam besar”) ditetapkan: jalan menuju perbudakan terhadap bagian-bagian lain dari masyarakat “diaspal”. Perbudakan laki-laki terjadi setelah perbudakan perempuan. Perbudakan gender berbeda dalam beberapa hal dengan perbudakan kelas dan bangsa. Legitimasinya diperoleh melalui represi yang halus dan secara intens dikombi- nasikan dengan kebohongan dan permainan emosi. Perbedaan biologis perempuan diguna- kan sebagai pembenaran atas perbudakannya. Semua pekerjaan yang dilakukan perempuan diterima begitu saja dan disebut dengan tidak layak sebagai “pekerjaan perempuan”. Kehadir- annya di ruang publik diklaim sebagai larangan
oleh agama, dan secara moral memalukan. Dengan cepat, ia dipisahkan dari semua aktivitas sosial yang penting. Karena kekuatan dominan dari aktivitas politik, sosial, dan ekonomi diam- bil alih oleh laki-laki, kelemahan kaum perempuan menjadi semakin terlembaga. Dengan demikian, gagasan “weak sex” (perempuan sebagai jenis kelamin yang lemah) menjadi keya- kinan bersama. Kenyataannya, masyarakat memperlakukan perempuan bukan hanya sebagai jenis kelamin yang terpisah secara biologis, tetapi juga ham- pir sebagai ras, bangsa atau kelas yang terpisah— ras, bangsa atau kelas yang paling tertindas: tidak ada ras, kelas atau bangsa yang tunduk pada perbudakan sistematis seperti itu, seperti peran ibu rumah tangga (housewifisation). Kekecewaan yang dialami karena kegagalan dari setiap perjuangan, baik itu untuk kebe- basan dan kesetaraan maupun perjuangan de- mokratis, moral, politik atau kelas, melahirkan pola dasar jejak perjuangan untuk hubungan
kekuasaan, hubungan antara perempuan dan laki-laki. Dari hubungan ini membendung se- mua bentuk hubungan yang menumbuhkan ketidaksetaraan, perbudakan, despotisme, fa- sisme, dan militerisme. Jika kita ingin menaf- sirkan makna yang benar untuk istilah-istilah, seperti kesetaraan, kebebasan, demokrasi, dan sosialisme, kita perlu menganalisis dan meng- hancurkan jaringan kuno hubungan yang telah terjalin di sekeliling perempuan. Tidak ada cara lain untuk mencapai kesetaraan sejati (dengan pengecualian karena keberagaman), kebebasan, demokrasi, dan moralitas. Akan tetapi, aspek yang jelas mengklarifika- si status perempuan hanyalah salah satu aspek dari masalah ini. Jauh lebih penting adalah per- soalan pembebasan, dengan kata lain, resolusi untuk masalah tersebut melebihi pentingnya mengungkapkan dan menganalisisnya. Titik yang paling menjanjikan dalam sistem kapita- lis yang kacau saat ini adalah sorotan terhadap status perempuan (walaupun terbatas). Selama
kuartal terakhir, dari feminisme abad ke-20 ber- hasil (meskipun tidak cukup) mengungkapkan kebenaran tentang perempuan. Di saat-saat kekacauan, kemungkinan perubahan untuk setiap fenomena meningkat sesuai dengan tingkat kemajuan atau klarifikasi yang tersedia. Dengan demikian, pada saat seperti itu, langkah-langkah kecil yang diambil untuk kebebas- an mungkin merupakan sejumlah lompatan ke depan. Pembebasan perempuan dapat muncul sebagai pemenang besar dari krisis saat ini. Apa pun yang telah dibangun oleh tangan manusia dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Per- budakan perempuan bukanlah hukum alam, juga bukan takdir. Yang kita perlukan adalah teori, program, organisasi, dan mekanisme untuk mengimplementasikannya.
2 Revolusi Perempuan:
Era Neolitik¹
atriarki tidak selalu eksis. Ada bukti kuat bahwa pada milenium sebelum
Pmunculnya peradaban negara, posisi
perempuan dalam masyarakat sangat berbeda. Memang, masyarakat itu matrisentris—diba- ngun oleh para perempuan. Sistem matrisentris eksis dalam sistem Zag- ros-Taurus, sistem Mesolitik, dan kemudian masyarakat Neolitik mulai berkembang pada
1 Neolitikum atau Zaman Batu Muda adalah fase atau ting- kat pada zaman yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari yang diasah, menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar—Penerjemah.
akhir periode glasial keempat, sekitar dua puluh ribu tahun yang lalu. Masyarakat yang luar bi- asa ini, dengan peralatannya yang berkembang dengan baik dan sistem permukiman canggih, jauh lebih maju daripada masyarakat klan se- belumnya. Periode ini merupakan era yang menakjubkan dalam sejarah alam sosial kita. Banyak perkembangan yang masih terjadi dan dapat ditelusuri kembali dalam tahap historis ini: revolusi pertanian, pembentukan desa, akar perdagangan, serta keluarga berbasis ibu, suku, dan organisasi tribal. Banyak metode, perabotan, dan peralatan yang masih kita gunakan saat ini didasarkan pada ciptaan dan penemuan yang kemung- kinan besar dibuat oleh para perempuan di era ini, seperti berbagai aplikasi bermanfaat yang berasal dari berbagai tanaman, pemeliharaan hewan dan budidaya tanaman, pembangunan tempat tinggal, prinsip-prinsip nutrisi anak, cangkul dan gerinda tangan (hand grinder), bahkan mungkin gerobak sapi.
Bagi saya, kultus ibu-dewi di era ini melam- bangkan rasa hormat untuk peran perempuan dalam kemajuan yang besar ini. Saya tidak melihatnya sebagai pemujaan kesuburan yang abstrak. Pada saat yang sama, hierarki yang di- dasarkan pada perempuan adalah akar historis konsep ibu, yang dengannya semua masyarakat masih menghormati dan mengakui ibu sebagai otoritas. Otoritas ini dibutuhkan perempuan karena ibu adalah unsur kehidupan utama yang melahirkan dan menopang kehidupan melalui pengasuhan, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Memang, setiap budaya dan hierarki berdasarkan pengakuan ini tidak bisa menolong banyak perempuan, tetapi hanya se- kadar menghormati mereka. Alasan sebenarnya atas eksistensi yang panjang dari konsep-ibu adalah kenyataan bahwa sang ibu secara kon- krit membentuk dasar dari makhluk sosial: ma- nusia, dan bukan karena kemampuan abstrak perempuan untuk melahirkan.
Selama periode Neolitik, suatu tatanan sosial komunal lengkap yang disebut “sosialisme primitif” diciptakan oleh perempuan. Pada tatanan sosial ini tidak ada praktik penegakan aturan negara. Namun demikian, tatanan sosial ini sudah ada selama ribuan tahun. Ini adalah tatanan awet yang membentuk kesadaran sosial kolektif manusia; dan merupakan kerinduan kita yang tak ada habisnya untuk mendapatkan kembali dan mengabadikan tatanan sosial ini dengan kesetaraan dan kebebasan yang meng- arah pada konstruksi surga kita. Sosialisme primitif yang dicirikan oleh kesetaraan dan kebebasan dapat dijalankan karena moralitas sosial dari tatanan matriarkal tidak memungkinkan adanya kepemilikan—yang merupakan faktor utama dibalik pelebaran kelas sosial. Pembagian kerja antara kedua jenis ke- lamin dan persoalan lain yang terkait dengan pembagian ini belum didasarkan pada kepemilikan dan hubungan kekuasaan. Hubungan privat di dalam kelompok belum berkembang.
Makanan yang telah dikumpulkan atau diburu adalah milik semua orang. Anak-anak adalah milik klan. Tidak ada laki-laki atau perempuan sebagai milik pribadi dari satu orang. Di dalam semua hal ini, masyarakat yang masih kecil dan tidak memiliki kapasitas produksi yang besar memiliki budaya ideologis dan material yang solid. Prinsip-prinsip dasar yang menopang masyarakat adalah berbagi dan solidaritas. Kemudian, kepemilikan dan kekuasaan sebagai bahaya yang mengancam kehidupan akan membahayakan budaya ini. Berbeda dari masyarakat arus utama, hu- bungan masyarakat Neolitik dengan alam di- pertahankan, baik dalam hal budaya ideologis maupun material, melalui kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ekologi. Alam dianggap hidup dan berjiwa, tidak berbeda dari diri mereka sen- diri. Kesadaran terhadap alam menumbuhkan mentalitas yang mengakui banyak kesucian dan keilahian di alam. Kita dapat memperoleh pe- mahaman yang lebih baik tentang esensi kehi-
dupan kolektif jika kita mengakui bahwa esensi itu didasarkan pada metafisika kesucian dan keilahian yang berasal dari penghormatan ter- hadap perempuan-ibu. Hal yang perlu kita pa- hami ialah: mengapa dan bagaimana mungkin sistem matriarkal zaman Neolitik tergantikan? Sejak kemunculan kelompok sosial yang paling awal, ada ketegangan antara kegiatan pengumpulan makanan oleh perempuan dan kegiatan berburu oleh laki-laki, dan hasilnya bahwa dua evolusi budaya yang berbeda ber- kembang dalam masyarakat. Dalam masyarakat matriarkal, meskipun ter- batas, surplus produk terakumulasi. (Ini adalah awal dari ekonomi—bukan sebagai konsep, tetapi dalam hal esensinya—dan di sinilah kita akan menemukan akar dari berbagai jenis ekonomi, seperti kapitalis dan ekonomi hadiah atau gift economies). Perempuanlah para pengasuh yang mengendalikan surplus ini. Akan tetapi, laki-laki (yang kemungkinan besar dapat mengem- bangkan teknik perburuan yang lebih berhasil)
memperbaiki posisinya, mencapai status yang lebih tinggi, dan mengumpulkan pendukung di sekelilingnya. “Para tetua yang bijak” dan dukun, yang sebelumnya bukan bagian dari kelompok laki-laki yang kuat, kini melekatkan diri kepada kelompok tersebut dan membantu membangun ideologi dominasi laki-laki. Mereka bermaksud mengembangkan gerakan yang sangat sistematis terhadap otoritas perempuan. Dalam masyarakat matriarkal pada zaman Neolitik tidak ada hierarki yang diinstitusi- kan. Sekarang hierarki tersebut diperkenalkan secara perlahan. Aliansi antara dukun, para tetua, dan orang-orang yang berpengalaman merupakan perkembangan penting dalam hal ini. Ideologi mempertahankan aliansi laki-laki yang didirikan di atas para pemuda (laki-laki kuat) yang mereka tarik ke lingkaran mereka dan memperkuat posisi mereka di masyarakat. Hal yang penting adalah sifat tenaga yang di- kuasai laki-laki. Berburu dan melindungi klan dari bahaya eksternal bergantung pada pembu-
nuhan dan melukai sehingga dengan demikian
memiliki karakteristik militer. Ini adalah awal
dari budaya perang. Dalam situasi hidup dan
mati, seseorang harus mematuhi otoritas dan
hierarki.
Communality atau Paguyuban² adalah fon-
dasi di mana hierarki dan kekuasaan negara
dibangun. Awalnya, istilah hierarki merujuk
2 Gemeinschaft dan Gesellschaft (dalam bahasa Indone- sia dipadankan menjadi paguyuban dan patembayan) adalah istilah yang diperkenalkan oleh sosiolog berke- bangsaan Jerman, Ferdinand Tönnies, untuk membeda- kan dua ikatan sosial menjadi dua dikotomi tipe sosiol- ogis. Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama, anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, ber- sifat alami dan kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan rasa persatuan yang telah dikodratkan. Biasanya paguyuban lahir dari dalam diri individu ditandai dengan rasa solidaritas dan identitas yang sama. Keinginan untuk berhubungan didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan. Sedangkan gesellschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya mempunyai hubungan yang sifatnya sementara dan disatukan oleh pemikiran yang sama. Gesselschaft ditentukan oleh kurwille (ke- hendak rasional) dan dilambangkan oleh masyarakat kosmopolitan modern dengan birokrasi pemerintah dan organisasi industri besar. Dalam gesellschaft, kepent- ingan pribadi yang rasional dan tindakan penghitungan melemahkan ikatan tradisional keluarga, kekerabatan dan agama.(id.wikipedia.org/wiki/Gemeinschaftdan Gesellschaft)- Editor
pada pemerintahan oleh para imam, otoritas dari para tetua yang bijak. Awalnya, otoritas ini memiliki fungsi positif. Bahkan, kita mungkin dapat melihat hierarki yang menguntungkan dalam masyarakat sebagai prototipe demokra- si. Perempuan-ibu dan para tetua yang bijak memastikan keamanan komunal dan pemerintahan di masyarakat. Mereka adalah elemen dasar yang penting dan berguna dalam masyarakat yang tidak didasarkan pada akumulasi dan kepemilikan. Masyarakat secara sukarela memberi mereka penghormatan. Akan tetapi, ketika ketergantungan sukarela diubah menjadi otoritas, kebermanfaatan menjadi kepentingan pribadi. Hal itu selalu memberi jalan kepada instrumen kekuasaan yang tidak perlu. Instrumen kekuasaan menyamarkan diri di balik keamanan umum dan produksi kolektif. Ini merupakan inti dari semua sistem eksploitatif dan opresif. Ini adalah makhluk paling jahat yang pernah diciptakan; penciptaan yang membawa keem- pat bentuk perbudakan, semua bentuk mitolo-
gi dan agama, semua penghancuran sistematis dan perampasan. Tidak diragukan, ada alasan eksternal terjadinya disintegrasi masyarakat Neolitik. Akan tetapi, faktor utamanya adalah masyarakat suci para imam. Legenda peradab- an awal di dataran rendah Mesopotamia dan sepanjang Sungai Nil membenarkan hal ini. Budaya masyarakat Neolitik yang canggih yang dikombinasikan dengan teknik-teknik baru iri- gasi buatan menyediakan produk surplus³ yang dibutuhkan untuk pembentukan masyarakat semacam itu. Hal itu sebagian besar melalui posisi dan kekuasaan laki-laki yang baru dica- pai ketika masyarakat urban yang terbentuk di sekitar produk surplus diorganisasikan dalam bentuk negara.
3 Produk surplus (Jerman: Mehrprodukt) adalah konsep ekonomi yang diteorikan secara eksplisit oleh Karl Marx dalam kritiknya terhadap ekonomi politik. Secara kasar, ini adalah barang ekstra yang diproduksi di atas jumlah yang dibutuhkan komunitas pekerja untuk bertahan hidup pada standar hidup saat ini. Marx pertama kali mu- lai mengerjakan idenya tentang produk surplus dalam catatannya tahun 1844 tentang Elements of political economy (Elemen ekonomi politik) karya James Mill. https://en.wikipedia.org/wiki/Surplus_product- Editor
Urbanisasi berarti komodifikasi yang meng- hasilkan perdagangan. Perdagangan meresap ke dalam pembuluh darah masyarakat Neolitik dalam bentuk koloni. Komodifikasi, nilai tukar, dan kepemilikan privat tumbuh secara ekspo- nensial sehingga mempercepat disintegrasi masyarakat Neolitik.
26\ Kehidupan Membebaskan
3 Kemelut Perpecahan Seksual (Sexual Rupture)
Besar Pertama
alam kerangka revolusi/kontra revolusi materialisme historis, saya
Dmenyarankan agar kita menyebut
kemelut perpecahan seksual (sexual rupture) sebagai istilah mengenai titik balik yang luar biasa dalam sejarah perpecahan seksual antara jenis kelamin. Sejarah telah mencatat dua kemelut perpecahan ini, dan saya memprediksi akan terjadi kemelut yang lain di masa depan. Saat era sosial mendahului peradaban sipil, kekuatan yang terorganisasi dari “laki-laki kuat” muncul untuk tujuan tunggal, yaitu menjebak
hewan dan membangun pertahanan melawan bahaya dari luar. Kekuatan terorganisasi ini kemudian mendambakan unit klan-keluarga yang telah dibangun oleh perempuan sebagai produk dari kerja emosional perempuan. Perampasan klan-keluarga (oleh laki-laki kuat yang terorganisasi) merupakan kekerasan te- rorganisir pertama yang serius. Hal yang diram- pas dalam proses tersebut ialah perempuan itu sendiri, anak-anak, kerabatnya, serta semua akumulasi material budaya dan moral mereka. Hal tersebut adalah perampasan ekonomi awal, yaitu ekonomi rumah (home economy). Kekuatan terorganisasi yang terdiri dari protopendeta (dukun), para tetua yang berpengalaman, dan laki-laki kuat saling bersekutu untuk menyusun kekuatan hierarkis-patriarkis awal yang terlama dan berumur panjang, yaitu pemerintahan suci. Hal ini bisa dilihat di semua masyarakat yang berada pada tahap yang sama: sampai pada tahap kelas, kota, dan negara, hierarki ini domi- nan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam masyarakat Sumeria⁴, meskipun ke-
seimbangan berangsur-angsur berbalik mela-
wan perempuan, kedua gender yang berlawan-
an masih kurang lebih egaliter (setara) sampai
milenium ke-2 SM. Banyak kuil untuk para dewi
dan teks-teks mitologis dari periode ini menun-
jukkan bahwa antara 4000—2000 SM pengaruh
budaya ibu-perempuan pada Sumeria, yang
telah membentuk pusat peradaban, setara de-
4 Bangsa Sumeria merupakan bangsa yang pertama kali mendiami kawasan Mesopotamia sehingga bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli Mesopotamia. Bangsa Sumeria datang dari wilayah Asia Kecil sekitar 3500 tahun SM. Pada awalnya, bangsa Sumeria mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata pencahariannya. Lama kelamaan, bangsa Sumeria dapat membangun sistem pengairan untuk menanggulangi ban- jir dan menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian, seper- ti sistem irigasi dan kanal. Dengan hasil pertanian yang melimpah, bangsa Sumeria sekitar 3000 tahun SM membangun 12 kota-kota besar, di antaranya kota Ur, Uruk, La- gash, dan Nippur. Pada awalnya, kota-kota tersebut merupakan kota-kota yang berdiri sendiri sehingga disebut negara kota. Kemudian, terjadilah peperangan di antara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawah- an kota yang menang. Lama-kelamaan, memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria menca- pai masa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-Nam- mu. Namun demikian, sekitar tahun 2300 SM, bangsa Sumeria dapat ditaklukkan oleh bangsa Akkadia di bawah pimpinan Raja Sargon—Penerjemah*.*
ngan laki-laki. Sampai pada periode ini, tidak ada budaya menghina (shaming) yang berkem- bang terhadap perempuan. Jadi, kita lihat ini merupakan awal dari budaya baru yang mengembangkan keunggulan- nya atas kultus perempuan-ibu. Perkembang- an otoritas dan hierarki sebelum dimulainya masyarakat kelas merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah. Budaya ini secara kualitatif berbeda dari budaya perempuan-ibu. Mengumpulkan makanan dan kemu- dian berkultivasi, yang merupakan unsur-unsur pra-dominan budaya perempuan-ibu, adalah kegiatan damai yang tidak memerlukan pepe- rangan. Perburuan yang sebelumnya didomi- nasi oleh laki-laki bertumpu pada budaya pe- rang dan otoritas yang keras. Dapat dimengerti bahwa laki-laki kuat yang peran esensialnya berburu menginginkan akumulasi dari tatanan matriarkal. Menetap- kan dominasinya terhadap perempuan akan menghasilkan banyak keuntungan. Organisasi
kekuasaan yang ia peroleh melalui perburuan, sekarang memberinya kesempatan untuk me- merintah dan membangun hierarki sosial pertama. Perkembangan ini merupakan penggunaan pertama kecerdasan analitis dengan niat jahat. Setelah itu, niat jahat ini menjadi siste- mik. Lebih jauh lagi, transisi dari kultus ibu suci ke kultus ayah suci memungkinkan kecerdasan analitik untuk menutupi dirinya di balik kesu- cian. Dengan demikian, asal-usul masalah sosial yang serius dapat ditemukan dalam masyara- kat patriarki yang menjadi seperti kultus, yang berdasarkan agama dan dikuasai oleh laki-laki kuat. Dengan perbudakan terhadap perempu- an, tanah disiapkan untuk perbudakan—tidak hanya anak-anak, tetapi juga perbudakan terhadap laki-laki. Ketika laki-laki memperoleh pengalaman dalam mengumpulkan nilai-nilai melalui penggunaan kerja perbudakan (teru- tama dalam mengumpulkan produk surplus), kontrol dan dominasi budak-budak ini tum-
buh. Kekuasaan dan otoritas menjadi semakin penting. Kolaborasi antara laki-laki kuat, tetua yang berpengalaman, dan dukun untuk mem- bentuk kelas yang istimewa menghasilkan pusat kekuasaan yang sulit untuk dilawan. Dalam pusat kekuasaan ini, kecerdasan analitis me- ngembangkan narasi mitologis yang luar biasa untuk menguasai pikiran masyarakat. Dalam dunia mitologis yang dikomposisikan terha- dap masyarakat Sumeria (dan diwariskan sela- ma berabad-abad dengan beberapa adaptasi), laki-laki ditinggikan sampai pada titik ketika ia dituhankan sebagai pencipta langit dan bumi. Sementara keilahian dan kesakralan perempu- an pertama-tama direndahkan dan kemudian dihapus. Gagasan tentang laki-laki sebagai pe- merintah dan penguasa mutlak tertanam dalam masyarakat. Jadi, melalui jaringan narasi mitologis yang sangat besar, setiap aspek budaya menjadi terselubung dalam hubungan antara penguasa dan objek yang dikuasai, pencipta, serta yang diciptakan. Masyarakat terpedaya
sehingga menginternalisasikan dunia mitologi ini dan secara bertahap menjadi versi mitologi yang lebih disukai. Kemudian, mitologi ini ber- ubah menjadi agama. Agama dengan konsep pembedaan dan pembagian yang ketat antara manusia dibangun. Contohnya, pembagian di- visi dalam masyarakat tercermin dalam kisah pengusiran Adam dan Hawa dari surga dan kutukan perbudakan. Legenda ini memberkati para dewa-penguasa Sumeria dengan kekuasa- an kreatif; subjek mereka diciptakan kembali sebagai pelayan. Mitologi Sumeria memiliki kisah penciptaan dari rusuk dewa antropomorfik. Namun demi- kian, kebalikannya adalah dewi Ninhursag yang melakukan tindakan penciptaan untuk me- nyelamatkan kehidupan dewa laki-laki Enki⁵.
5 Dalam legenda Enki dan Ninhursag, Ninhursag melahirkan seorang putri bagi Enki yang disebut Ninsar (“Lady Greenery”). Melalui Enki, Ninsar melahirkan seorang putri Ninkurra. Ninkurra, pada gilirannya, melahirkan Enki seorang putri bernama Uttu. Enki lalu mengejar Uttu, yang kesal karena dia tidak peduli padanya. Uttu, atas saran leluhurnya, Ninhursag, mengubur air mani Enki di bumi, di mana delapan tanaman (yang pertama) ber-
Seiring waktu, narasi tersebut diubah untuk menguntungkan laki-laki. Unsur-unsur yang berulang dari persaingan dan kreativitas dalam mitos Enki dan Ninhursag-Inanna memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, merendahkan perempuan dan mengurangi pentingnya kreativitas masa lalu perempuan. Di sisi lain, melambang- kan pembentukan peran manusia hanyalah budak dan pelayan. (Saya percaya bahwa kon- sepsi yang disebutkan terakhir yang berasal dari para imam Sumeria telah memainkan peran dalam semua dilema hubungan Tuhan-hamba di masa-masa berikutnya. Untuk memastikan kebenaran ini adalah hal yang penting, meski- pun demikian, literatur keagamaan menahan diri untuk melakukan hal itu ataukah menolak gagasan yang tidak terkendali. Apakah hal ini
munculan. Enki, yang melihat tanaman, memakannya dan buah-buahnya, dan jatuh sakit karena hamil (karena Enki memakan air maninya sendiri) di delapan organ tubuhnya. Ninhursag menyembuhkannya, mengambil dan memasukkan tumbuhan-tumbuhan (air mani Enki) ke tubuhnya dan melahirkan delapan dewa: Abu, Nintulla (Nintul), Ninsutu, Ninkasi, Nanshe (Nazi), Azimua, Ninti, dan Enshag (Enshagag)—Penerjemah.
karena para teolog merasa perlu untuk menya- markan kebenaran yang disebabkan oleh keter- tarikan mereka pada hal tersebut?) Identitas ilahi yang dirancang dalam masyarakat Sumeria adalah refleksi dari pendekatan baru terhadap alam dan kekuasaan sosial baru. Lebih dari itu, rancangan identitas ilahi ini hampir digunakan untuk tujuan mengondisi- kan pikiran baru. Bergandengan tangan dengan pengaruh yang menurun dari dimensi alam, dimensi kemasyarakatan menjadi penting. Pengaruh perempuan menurun secara berta- hap dan ada perkembangan mencolok dalam hal melambangkan manusia sebagai subjek, sebagai pelayan. Sementara kekuatan politik yang berkembang di masyarakat menghasilkan keunggulan dari beberapa Tuhan, hal ini juga mengakibatkan hilangnya beberapa identitas dan perubahan signifikan dalam bentuk yang lain. Dengan demikian, kekuasaan absolut dari kerajaan selama fase Babilonia tercermin dalam
kebangkitan dewa Marduk⁶. Dengan urutan seperti itu, ketika laki-laki memiliki anak-anak, sang ayah ingin memiliki anak sebanyak mungkin (terutama anak laki-laki, untuk memperoleh kekuasaan). Perintah soal memiliki anak-anak sebanyak mungkin memungkinkan laki-laki untuk merebut aku- mulasi milik perempuan-ibu: maka sistem kepemilikan diciptakan. Bersamaan dengan kepemilikan kolektif negara-pendeta, kepemilikan pribadi dari dinasti dimunculkan. Kepemilikan pribadi juga mengharuskan pembentukan ke- ayah-an: restu ayah diperlukan agar warisan da- pat diteruskan, terutama kepada anak laki-laki. Sejak 2000 SM dan seterusnya, budaya ini menjadi tersebar luas. Status sosial perempuan secara radikal diubah. Masyarakat patriarki telah memperoleh kekuasaan untuk membuat
6 Marduk adalah dewa generasi terakhir dari peradaban Mesopotamia kuno dan dewa pelindung kota Babel, pusat kekuasaan peradaban Babilonia. Dalam mitologi dikisahkan bahwa saat masa mudanya, dewa Marduk menaklukkan dan merebut kekuasaan dari para dewa dalam proses perang—Penerjemah.
aturannya menjadi legenda. Sementara dunia laki-laki dimuliakan dan diprioritaskan, semua perempuan diremehkan, direndahkan, dan di- jelek-jelekkan. Kemelut perpecahan seksual ini begitu ra- dikal sehingga menghasilkan perubahan paling signifikan dalam sejarah kehidupan sosial yang pernah ada. Perubahan ini menyangkut nilai perempuan dalam budaya Timur Tengah. Kita dapat menyebut perubahan kemelut perpecahan seksual besar pertama sebagai kontra revolusi. Saya menyebutnya sebagai kontra revolusi karena tidak berkontribusi pada perkembangan masyarakat yang positif. Sebaliknya, kemelut perpecahan seksual telah menyebabkan ke- miskinan hidup luar biasa dengan membawa dominasi kaku patriarki terhadap masyarakat dan mengesampingkan perempuan. Air mata dalam peradaban Timur Tengah ini bisa dibi- lang langkah pertama dalam situasi yang sema- kin memburuk karena konsekuensi negatif dari kemelut perpecahan ini terus bertambah dan
berlipat ganda seiring waktu. Alih-alih menjadi masyarakat bersuara ganda, ia malah mengha- silkan satu suara saja yang disuarakan, yaitu masyarakat laki-laki. Transisi dibuat menjadi satu dimensi, yaitu budaya sosial yang sangat maskulin. Kecerdasan emosional perempuan yang menciptakan keajaiban, yang manusiawi, serta berkomitmen terhadap alam dan kehi- dupan telah hilang. Sebagai gantinya, telah lahir kecerdasan analitis terkutuk dari budaya kejam yang telah menyerahkan dirinya pada dog- matisme dan melepaskan diri dari alam; yang menganggap perang sebagai kebajikan yang pa- ling mulia dan menikmati pertumpahan darah manusia; yang memberi hak untuk perlakuan sewenang-wenang terhadap perempuan dan perbudakannya terhadap manusia. Kecerdasan ini adalah antitipe dari kecerdasan egaliter perempuan yang berfokus pada produksi yang bersifat kemanusiaan dan alam yang berjiwa. Sang ibu telah menjadi dewi kuno. Dia seka- rang duduk di rumahnya. Seorang perempuan
yang patuh dan suci. Jauh dari setara dengan para dewa, dia tidak bisa membuat suaranya terdengar atau mengungkapkan wajahnya. Per- lahan, dia dibungkus dengan cadar, menjadi ta- wanan di dalam harem laki-laki. Begitu dalamnya perbudakan perempuan di Arab (juga diintensifkan oleh Musa dalam tra- disi Abrahamik) terkait dengan perkembangan historis ini.
Ketika Otoritas Mengakar Kuat
Struktur hierarkis dan otoriter sangat pen- ting bagi masyarakat patriarkal. Pemerintah otoriter yang bersekutu dengan otoritas sakral para dukun menghasilkan konsep hierarki. Otoritas yang diinstitusikan berangsur-ang- sur menonjol di masyarakat. Ketika jurang per- bedaan kelas diintensifkan, institusi ini beru- bah menjadi otoritas negara. Sebelum sampai pada era ini (otoritas negara), otoritas hierarkis bersifat personal, belum diinstitusikan. Dengan demikian, tidak memiliki banyak dominasi atas
masyarakat seperti negara yang telah diinstitu- sikan. Kepatuhan terhadap otoritas hierarkis ini sebagian bersifat sukarela, sebuah komitmen yang ditentukan oleh kepentingan masyarakat. Namun demikian, proses yang sedang di- gerakkan tersebut merupakan suatu hal yang kondusif bagi kelahiran negara hierarkis. Sis- tem komunal primitif menolak proses ini untuk waktu yang lama. Sikap hormat dan komitmen terhadap otoritas aliansi ditunjukkan hanya jika mereka berbagi akumulasi produk mereka de- ngan anggota masyarakat. Bahkan, akumulasi produk surplus dianggap salah. Orang yang paling dihormati adalah orang yang membagikan akumulasi dirinya. (Tradisi sikap dermawan telah dihormati pada era ini, yang masih berkem- bang dalam masyarakat klan hari ini, berakar pada tradisi sejarah yang kuat ini.) Sejak awal, komunitas ini melihat akumulasi produk surplus sebagai ancaman paling serius bagi dirinya dan mendasarkan moralitas dan agamanya untuk melawan ancaman ini. Akan tetapi, akhir-
nya, budaya akumulasi dan otoritas hierarkis laki-laki memang mengalahkan perempuan. Kita harus mengerti bahwa kemenangan ini bukanlah keharusan sejarah yang tidak dapat dihindari. Tidak ada undang-undang yang me- nyatakan bahwa masyarakat secara alami harus berkembang menjadi hierarkis dan kemudian menjadi masyarakat statis. Mungkin ada kecenderungan terhadap perkembangan seperti itu, tetapi menyamakan kecenderungan seperti itu dengan proses yang tak terhindarkan dan tak bisa berhenti serta harus berjalan penuh, akan menjadi asumsi yang keliru total. Melihat eksistensi kelas sebagai takdir dan nasib telah digunakan menjadi alat yang tidak disengaja bagi para ideolog kelas. Setelah kekalahan ini, air mata kesedihan muncul di masyarakat komunal perempuan. Proses transformasi ke masyarakat hierarkis bukanlah hal yang mudah. Ini adalah fase transisi antara masyarakat komunal dan negara primi- tif. Pada akhirnya, masyarakat hierarkis harus
hancur atau menghasilkan negara. Meskipun memainkan peran positif dalam perkembangan masyarakat, bentuk sosialisasinya, aliansi antara kekuatan laki-laki, memberikan kekuatan kepada patriarki hierarkis untuk berkem- bang menjadi negara. Benar-benar masyarakat hierarkis dan patriarkis ketika menundukkan perempuan, pemuda, dan anggota etnis lain. Proses ini dilakukan sebelum perkembangan negara. Hal yang paling penting adalah bagai- mana penaklukan ini tercapai. Kewenangan untuk melakukan ini tidak dicapai melalui hukum, tetapi melalui moral baru yang didasarkan pada kebutuhan duniawi, bukan kesucian. Sementara terjadi perkembangan ke arah konsep religius dari Tuhan abstrak dan esa yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat patriarkal, otoritas matriarkal masyarakat alam dengan para dewinya berusaha melawan. Dalam tatanan matriarkal, aturan yang penting adalah untuk bekerja, menghasilkan, dan me- nyediakan untuk menjaga agar orang-orang
tetap hidup. Sementara moralitas patriarki me- legitimasi akumulasi dan membuka jalan bagi kepemilikan, moralitas masyarakat komunal mengutuk akumulasi surplus sebagai sumber dari semua perbuatan salah, dan mendorong distribusi terhadap surplus. Kerukunan inter- nal di masyarakat berangsur-angsur memburuk dan ketegangan meningkat. Solusi untuk konflik ini adalah mengemba- likan nilai-nilai matriarkal lama atau mening- katkan kekuatan patriarki di dalam dan di luar komunitas. Bagi faksi patriarkal hanya ada satu pilihan, yaitu membentuk dasar-dasar masyarakat yang ganas, masyarakat perang yang di- dasarkan pada penindasan dan eksploitasi. Me- lalui proses konflik di dalam fase pembentukan negara ini, fase otoritas yang diinstitusikan ber- dasarkan kekuatan permanen telah muncul. Tanpa analisis, status perempuan dalam sistem hierarkis dan kondisi di mana ia diperbu- dak tak dapat dipahami, baik di sistem negara maupun di sistem kelas setelahnya. Perempuan
tidak ditargetkan oleh aliansi laki-laki sebagai gender perempuan, tetapi sebagai pendiri ma- syarakat matriarkal. Tanpa analisis mendalam tentang perbudakan perempuan dan penetap- an syarat-syarat untuk mengatasinya, tidak ada perbudakan lain yang dapat dianalisis atau di- atasi. Tanpa analisis ini, kesalahan mendasar tidak dapat dihindari.
4 Semua Perbudakan Didasarkan pada
Housewifization⁷
ejak lompatan perkembangan hierarkis yang besar, seksisme telah menjadi ide-
Sologi dasar kekuasaan. Seksisme terkait
erat dengan pembagian kelas dan pendirian kekuasaan. Otoritas perempuan tidak didasarkan pada produk surplus. Sebaliknya, otoritas itu berasal dari kesuburan dan produktivitas dan penguatan eksistensi sosial. Di satu sisi sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Di sisi lain, otoritas matriarkal juga terikat erat dengan
7 Housewifization adalah sebuah proses domestikasi terh- adap perempuan dengan menjadikannya sebagai pengu- rus rumah tangga (housewife)—Penerjemah.
kehidupan komunal. Fakta bahwa perempuan tidak memiliki tempat dalam perang kekuasaan berdasarkan produk surplus adalah karena posisi mereka dalam eksistensi sosial. Kita perlu menunjukkan karakteristik yang telah diinstitusikan dalam peradaban masyarakat, yaitu masyarakat yang rentan terhadap hubungannya dengan kekuasaan. Sama seperti housewifization, diperlukan untuk merekon- struksi kembali perempuan. Masyarakat perlu dipersiapkan untuk mengamankan kekuasaan demi eksistensi kekuasaan itu sendiri. Housewifization adalah bentuk tertua dari perbudakan. Laki-laki kuat dan sekutunya mengalahkan perempuan-ibu dan semua aspek kultusnya me- lalui pertarungan panjang dan komprehensif. Housewifization kemudian diinstitusikan keti- ka masyarakat seksis menjadi dominan. Diskriminasi gender bukanlah gagasan yang terbatas pada hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Diskriminasi ini mendefinisikan hubungan kekuasaan yang telah menyebar ke
semua tingkatan sosial. Ini merupakan indikasi kekuatan negara yang telah mencapai kapasitas maksimumnya dengan modernitas. Diskriminasi gender memiliki dua dampak destruktif terhadap masyarakat. Pertama, telah membuka jalan perbudakan terhadap masyarakat. Kedua, semua bentuk perbudakan lainnya telah dilaksanakan atas dasar housewifization. Housewifization tidak hanya bertujuan mencip- takan kembali seorang individu sebagai objek seks. Oleh sebab itu, hal tersebut bukanlah hasil dari karakteristik biologis. Housewifization adalah proses sosial yang intrinsik dan menarget- kan seluruh masyarakat. Perbudakan, penaklu- kan, penindasan dengan penghinaan (insults), tangisan, budaya berbohong, sifat tidak sopan, dan memamerkan diri adalah semua aspek yang diakui sebagai hasil dari housewifization dan harus ditolak oleh moral kebebasan. Housewifization adalah fondasi dari degradasi masyarakat dan fondasi perbudakan sejati. Housewifization adalah landasan kelembagaan berbagai
jenis perbudakan dan imoralitas yang paling tua yang diterapkan selanjutnya. Masyarakat beradab yang ada kini, mencerminkan landas- an ini di semua kategori sosialnya. Agar sistem ini berfungsi, masyarakat secara keseluruhan harus menerapkan housewifization. Kekuasaan identik dengan maskulinitas. Dengan demikian, penundukan masyarakat dengan housewifization tidak dapat dihindari. Hal itu disebabkan kekuasaan tidak mengakui prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan. Jika ada pengakuan terhadap kebebasan dan kesetaraan, kekuasaan tidak bisa eksis. Kekuasaan dan seksisme dalam masyarakat memiliki esensi yang sama. Hal penting lainnya yang harus kita sebut- kan adalah ketergantungan dan penindasan kaum muda yang dibentuk oleh para tetua laki-laki yang berpengalaman dalam masyarakat hierarkis. Sementara pengalaman memperku- at tetua laki-laki, usia membuatnya lemah dan tak berdaya. Hal ini memaksa para tetua untuk meminta kaum muda bergerak dan dilakukan
dengan cara memenangkan pikiran mereka. Patriarki diperkuat dengan cara-cara ini. Kekuatan fisik pemuda memungkinkan mereka un- tuk melakukan apa pun yang mereka sukai. Ke- tergantungan para tetua terhadap kaum muda ini terus menerus diabadikan dan diintensif- kan. Keunggulan dari pengalaman dan ideolo- gi tidaklah mudah dirusak. Kaum muda (dan bahkan anak-anak) ditundukkan dengan stra- tegi dan taktik yang sama. Hal itu diwujudkan dalam propaganda ideologis dan politik, dan dengan sistem yang menindas sebagaimana penindasan terhadap perempuan—pada masa belum dewasa, seperti feminitas, bukanlah fakta fisik tetapi fakta sosial. Hal yang harus dipahami dengan baik ialah bukan suatu kebetulan jika otoritas kekuasaan pertama yang didirikan adalah otoritas atas perempuan. Perempuan mewakili kekuatan ma- syarakat organik, alami, dan egaliter yang belum bersifat opresif dan eksploitatif. Patriarki tidak mungkin menang jika perempuan tidak
dikalahkan. Selain itu, transisi ke institusi negara juga tidak mungkin dilakukan. Menghancur- kan kekuasaan perempuan-ibu dengan demi- kian memiliki arti strategis. Tidak heran bahwa pertarungan tersebut adalah proses yang sulit. Tanpa menganalisis proses ketika perempuan secara sosial ditundukkan, seseorang tidak dapat memahami dengan benar karakteristik dasar dari budaya sosial dominasi laki-laki. Bahkan, memahami pembentukan maskulinitas secara sosial tidak mungkin dilakukan. Tanpa memahami bagaimana maskulinitas terbentuk secara sosial, seseorang tidak dapat menganalisis institusi negara. Oleh karena itu, tidak akan dapat secara akurat mendefinisikan perang dan budaya kekuasaan yang terkait dengan persoalan negara (statehood). Saya me- nekankan masalah ini karena kita perlu untuk benar-benar mengekspos kepribadian yang se- perti para dewa dan tuhan-tuhan yang menge- rikan, yang muncul sebagai akibat dari semua pembagian kelas dan semua jenis eksploitasi
yang berbeda, serta pembunuhan yang terja- di di hari-hari selanjutnya karena masalah ini. Penundukan sosial perempuan adalah kontra revolusi paling kejam yang pernah dilakukan. Kekuasaan telah mencapai kekuatan pe- nuhnya dalam bentuk negara-bangsa. Kekuasaan mendapatkan kekuatannya, terutama dari seksisme yang menyebar dan mengintensifkan seksisme dengan mengintegrasikan perempuan ke dalam angkatan kerja, serta melalui nasionalisme dan militerisme. Seksisme, sama seperti nasionalisme, adalah ideologi yang membentuk kekuasaan dan negara-bangsa. Seksisme bukanlah perbedaan biologis. Bagi laki-laki yang dominan, perempuan adalah ob- jek yang akan digunakan untuk merealisasikan ambisinya. Dalam hal yang sama, ketika hou- sewifization telah dilakukan, laki-laki dominan kemudian memulai proses mengubah laki-laki menjadi budak. Setelah itu, dua bentuk perbu- dakan ini menjadi terjalin.
Singkatnya, kampanye-kampanye untuk mendomestikasikan perempuan dan untuk membentuk penghormatan bagi struktur oto- ritas laki-laki penakluk dan militer (prajurit) saling terjalin erat. Negara sebagai institusi di- ciptakan oleh laki-laki, sedangkan perang, pe- rampasan, dan penjarahan hampir merupakan satu-satunya cara produksi. Pengaruh sosial perempuan yang didasarkan pada produksi digantikan oleh pengaruh masyarakat yang didasarkan pada perang dan penjarahan. Ada hubungan erat antara pengekangan perempuan dan budaya masyarakat militer. Perang tidak menghasilkan apa pun (produksi), ia merebut dan merampas. Meskipun kekuasaan dapat menentukan untuk kemajuan sosial di bawah kondisi-kondisi unik tertentu (misalnya melalui perlawanan terhadap pendudukan, invasi, dan kolonialisme sehingga jalan menuju kebebasan dilancarkan), lebih sering hal tersebut destruktif dan negatif.
Budaya kekerasan yang telah terinternalisasi dalam masyarakat diberi jalan yang lapang oleh perang. Pedang yang digunakan dalam pepe- rangan negara dan juga kekuasaan laki-laki di dalam keluarga merupakan simbol hegemoni. Seluruh masyarakat kelas, dari lapisan atasnya ke lapisan bawahnya, dijepit di antara pedang dan kekuasaan laki-laki di dalam keluarga. Ini adalah sesuatu yang selalu saya coba pahami: Bagaimana mungkin kekuasaan yang dimi- liki perempuan jatuh ke tangan laki-laki yang benar-benar tidak produktif dan tidak krea- tif. Jawabannya tentu saja terletak pada peran pemaksaan yang dimainkan. Ketika persoalan ekonomi juga diambil dari perempuan, penge- kangan yang mengerikan tidak terhindarkan.
54\ Kehidupan Membebaskan
5 Kemelut Perpecahan Seksual (Sexual Rupture)
Besar Kedua
utaan tahun setelah pembentukan patriarki (saya sebut dengan “kemelut perpe-
Jcahan seksual besar pertama”), perempu-
an sekali lagi menerima pukulan saat mereka masih berjuang untuk memulihkan diri. Saya mengacu pada intensifikasi patriarki melalui agama monoteistik. Mentalitas penolakan ter- hadap masyarakat alam (natural society) diper- dalam dalam sistem sosial feodal. Pemikiran agama dan filsafat membentuk mentalitas baru masyarakat dominan. Masyarakat Sumeria mensintesiskan nilai-nilai masyarakat Neolitik
ke dalam sistem baru. Dengan cara yang sama, masyarakat feodal mensintesis nilai-nilai moral kelas tertindas dari sistem lama dan perlawan- an kelompok etnis dari daerah-daerah terpencil ke dalam struktur internalnya sendiri. Perkem- bangan politeisme menjadi monoteisme me- mainkan peranan penting dalam proses ini. Fitur-fitur pola pikir mitologis diperbarui oleh konsep-konsep religius dan filosofis. Ke- bangkitan kekuatan kekaisaran tercermin dalam tuhan dengan jumlah banyak yang tak ber- daya lalu berevolusi menjadi Tuhan universal yang mahakuasa. Budaya yang memfokuskan pada perempu- an yang dikembangkan oleh agama monoteistik menghasilkan kemelut perpecahan seksual besar kedua. Kemelut yang terjadi saat periode mitologis adalah persyaratan budaya (cultural requirement), sedangkan kemelut yang terjadi pada periode monoteistik adalah “hukum sebagai perintah Tuhan”. Memperlakukan pe- rempuan sebagai inferior di era Monoteistik
ini menjadi perintah suci Tuhan. Keunggulan laki-laki dalam agama baru diilustrasikan oleh hubungan antara Nabi Abraham dan perempuan Sarah dan Hagar (Hajar). Patriarki pada era ini terbentuk sempurna. Institusi pergundikan (concubinage) dibentuk dan poligami disetujui. Sebagaimana ditunjukkan oleh hubungan sengit antara Nabi Musa dan saudara perempu- annya, Mariam, menjadikan peran perempuan dalam warisan budaya dihapuskan. Masyarakat Nabi Musa adalah masyarakat laki-laki total, perempuan tidak diberi tugas apa pun. Inilah yang dimaksud dengan pertarungan sengit dengan Mariam di atas⁸.
8 Dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama dikisahkan bahwa Miriam dan Harun (keduanya saudara Musa) memberontak dan mempertanyakan kenabian Musa disebabkan Musa mengambil seorang istri yang mer- upakan perempuan Kush. Masih ada perdebatan tentang identitas perempuan Kush ini. Sebagian mempercayai bahwa perempuan Kush ini adalah Zipora, istri pertama Musa, dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya. Di dalam interpretasi Midras, Miriam dan Harun memprotes keputusan Musa untuk selibat atau memisahkan diri dari istrinya. Akibatnya, Miriam dihukum pengasingan selama 7 hari. Akan tetapi, hanya Miriam yang dihukum, Harun tidak—Penerjemah.
Pada periode kerajaan Ibrani (Hebrew-Yahu- di) yang bangkit tepat sebelum akhir milenium pertama SM, kita melihat transisi budaya hou- sewifization yang berkembang, di periode yang sama dengan David (Daud) dan Salomo (Su- laiman). Perempuan sama sekali tidak mema- inkan peran publik di bawah dominasi ganda budaya patriarki dan budaya negara agama. Perempuan terbaik adalah yang paling sesuai dengan laki-laki atau patriarki. Agama menjadi alat untuk memfitnah perempuan. Terutama, dia—Hawa (Eve)—adalah perempuan berdosa pertama yang telah merayu Adam yang meng- akibatkan pengusiran dari surga⁹. Lilith tidak menundukkan dirinya pada Tuhannya Adam (sosok patriarkal) dan berteman dengan pim- pinan roh jahat (sosok manusia yang menolak
9 Dalam narasi Kejatuhan (Fall), agama Abrahamik dengan kisah Adam dan Hawa terusir dari Taman Eden berawal dari Hawa yang tergoda oleh seekor ular lalu menggoda Adam untuk memakan buah terlarang dari pohon peng- etahuan antara yang baik dan buruk. Kisah ini menjadi dasar dari kepercayaan akan dosa asal, dan dalam mitos populer Hawa sangat disalahkan karena merayu Adam untuk ikut memakan buah tersebut—Penerjemah.
menjadi pelayan dan tidak mematuhi Adam)10.
Memang, klaim Sumeria bahwa perempuan
telah diciptakan dari tulang rusuk laki-laki te-
lah dimasukkan dalam Alkitab. Seperti yang
disebutkan sebelumnya, ini adalah pembalik-
an lengkap dari narasi asli—dari perempuan
sebagai pencipta—lalu berubah menjadi sesu-
atu yang diciptakan. Perempuan hampir tidak
disebutkan sebagai nabi dalam tradisi agama.
Seksualitas perempuan dipandang sebagai ke-
jahatan yang paling celaka dan terus difitnah
dan dirusak. Perempuan, yang masih memiliki
10 Lilith merupakan tokoh dalam mitologi Yahudi yang dikembangkan paling awal dalam Talmud Babel (abad ke-3 hingga ke-5). Lilith sering digambarkan sebagai iblis yang berbahaya di malam hari, yang nakal secara seksu- al, dan yang mencuri bayi dalam kegelapan. Dalam cerita rakyat Yahudi, Lilith muncul sebagai istri pertama Adam yang diciptakan pada waktu dan dari kotoran yang sama dengan Adam (kontras dengan Hawa yang diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam). Legenda berkem- bang secara ekstensif selama Abad Pertengahan, dalam tradisi Aggadah, Zohar, dan mistisisme Yahudi. Sebagai contoh, dalam tulisan-tulisan Isaac ben Jacob ha-Cohen dari abad ke-13, Lilith meninggalkan Adam setelah dia menolak untuk tunduk kepadanya dan kemudian tidak akan kembali ke Taman Eden setelah dia bersatu dengan malaikat Samael—Penerjemah.
tempat terhormat di masyarakat Sumeria dan Mesir, sekarang dipandang menjadi sosok aib, dosa, dan perayu. Dengan datangnya periode Nabi Yesus, mun- cullah sosok Bunda Maria. Meskipun dia adalah ibu dari putra Tuhan, tidak ada jejak yang tersisa dari sosok dewi darinya. Seorang ibu yang sangat pendiam dan cengeng (tanpa gelar dewi!) telah menggantikan sosok dewi ibu. Kejatuhan perempuan terus berlanjut. Sangat ironis bahwa seorang perempuan semata-mata dibuahi oleh Tuhan¹¹. Sesungguhnya, Trinitas Bapa, Anak, dan Roh Kudus melambangkan sintesis agama-agama politeistik dan agama monoteistik. Sementara, Maria juga seharusnya dianggap sebagai dewa. Akan tetapi, dia dipandang hanya sebagai alat Roh Kudus. Ini menunjukkan bah-
11 Kepercayaan di dalam agama Kristen bahwa Yesus dikandung di dalam rahim ibunya, Maria, melalui Roh Kudus tanpa perantara ayah manusia dan lahir ketika Maria masih perawan. Kepercayaan ini secara universal diteri- ma di gereja Kristen dan, kecuali untuk beberapa sekte kecil. Hal ini merupakan dasar kepercayaan dalam Gereja Katolik, Ortodoks, dan Protestan. Muslim juga percaya pada kepercayaan ini—Penerjemah.
wa keilahian telah menjadi milik laki-laki seca- ra eksklusif. Dalam periode Sumeria dan Mesir, dewa dan dewi hampir setara. Bahkan, selama era Babilonia, suara dewi-ibu masih terdengar jelas dan keras. Perempuan tidak lagi memiliki peran so- sial sebagai perempuan di rumahnya. Tugas utamanya adalah merawat anak laki-lakinya, “anak Tuhan”, yang derajatnya telah mening- kat jauh sejak periode mitologis. Ruang publik benar-benar tertutup bagi perempuan. Praksis Kekristenan perempuan perawan yang memu- tuskan hidup sebagai biarawati pada kenyataan- nya adalah sebuah kemunduran ke arah peng- asingan untuk menemukan keselamatan dari dosa. Setidaknya, kehidupan biara dan tertutup ini menawarkan kebebasan dari seksisme dan kutukan. Ada alasan material dan spiritual yang baik dan kuat untuk memilih kehidupan di biara daripada kehidupan seperti neraka di rumah. Kita hampir bisa menyebut institusi ini sebagai partai perempuan miskin pertama. Monogami,
yang telah dikekalkan dalam Yudaisme, diambil alih oleh Kekristenan dan disucikan. Praksis mo- nogami ini memiliki tempat penting dalam seja- rah peradaban Eropa. Aspek negatif dari mono- gami adalah perempuan diperlakukan sebagai objek seksual dalam peradaban Eropa karena orang Katolik melarang perceraian. Dengan kedatangan Nabi Muhammad dan Islam, status perempuan dalam budaya patri- arki suku-suku gurun agak membaik. Akan te- tapi, pada intinya, Islam telah mendasarkan di- rinya pada budaya Abrahamik. Selama periode Nabi Muhammad, perempuan memiliki status yang sama seperti yang terjadi pada periode Daud dan Salomo. Saat itu, pernikahan ganda (multiple) untuk alasan politik dan memiliki ba- nyak selir dianggap sah. Meskipun dalam Islam perkawinan dibatasi untuk empat perempuan, namun pada dasarnya status perempuan tidak berubah karena laki-laki masih memiliki lem- baga harem dan selir. Budaya Kristiani maupun Muslim telah stag-
nan dalam hal mengatasi masyarakat seksis. Ke- bijakan Kekristenan terhadap perempuan dan seksualitas secara umum adalah latar belakang di balik krisis kehidupan monogami modernis. Inilah realitas di balik krisis budaya seksis dalam masyarakat Barat. Krisis ini juga tidak bisa diselesaikan dengan melakukan selibat seperti yang dituntut terhadap para imam dan biara- wati. Solusi Islam tidak berhasil, yaitu dengan mengutamakan pemenuhan seksual laki-laki dengan memiliki banyak perempuan dengan status istri dan selir. Pada intinya, harem ha- nyalah sebuah rumah bordil yang diprivatisasi untuk dipakai oleh satu-satunya individu isti- mewa. Praktik sosial seksis, seperti harem dan poligami, telah memiliki peran yang menentu- kan dalam masyarakat Timur Tengah yang ter- tinggal di belakang masyarakat Barat. Kekang- an seksual (praktik selibat dan monogami) oleh agama Kristen merupakan faktor yang telah menyebabkan modernisme, sedangkan men- dorong pemenuhan seksual yang berlebihan
(praktik poligami) adalah faktor yang menye- babkan Islam mundur ke keadaan yang lebih buruk daripada masyarakat suku Gurun Kuno, dan karenanya diungguli oleh masyarakat Barat modern. Pengaruh seksisme pada pembangunan masyarakat jauh lebih besar dari yang kita duga. Ke- tika menganalisis kesenjangan yang berkembang antara pembangunan sosial Timur dan Barat, kita harus fokus pada peran seksisme. Pandang- an Islam tentang seksisme telah membuahkan hasil yang jauh lebih negatif daripada peradab- an Barat dalam hal perbudakan mendalam terhadap perempuan dan dominasi laki-laki. Perbudakan sosial bukan hanya fenomena kelas. Ada urutan penaklukan yang lebih ter- sembunyi daripada sistem kepemilikan budak itu sendiri. Sikap lunak terhadap kebenaran ini berkontribusi pada penanaman sistem lebih dalam. Paradigma mendasar masyarakat adalah sistem perbudakan yang tidak memiliki awal dan akhir.
6 Keluarga, Dinasti, dan Negara
aya telah menyebutkan hubungan yang intens antara relasi kekuasaan dalam
Skeluarga patriarkal dan negara. Hal ini
layak untuk dilihat lebih dekat. Landasan ideologi dinasti adalah keluarga patriarkal, ayah dan keharusan memiliki banyak anak laki-laki. Hal ini dapat ditelusuri kembali ke pemahaman kekuatan politik dalam sistem patriarki. Ketika para imam (pen- deta) membangun kekuasaannya melalui apa yang disebut kemampuannya memberi dan mengartikan makna, maka laki-laki kuat mem-
bentuk kepemimpinannya melalui penggunaan kekuatan politik. Kekuatan politik dapat dipahami sebagai penggunaan kekuatan ketika kepemimpinan tidak dipatuhi. Di sisi lain, kekuatan imam bersandar pada “murka Tuhan” ketika seseorang tidak taat. Hal itu merupakan kekuatan spiritual dan dengan demikian memi- liki efek yang stimulan. Sumber kekuatan politik yang sesungguhnya adalah pasukan militer pria yang kuat. Dinasti, sebagai ideologi dan praktik, berkembang sebagai hasil dari membalikkan sistem ini. Dalam tatanan patriarkal, pemerintah- an patriarkal berurat akar sebagai konsekuensi dari aliansi antara “para tetua yang berpenga- laman”, “laki-laki kuat” dengan pasukan mili- ternya dan dukun sebagai pemimpin yang suci, merupakan prototipe dari imam. Sistem dinasti harus dipahami sebagai hal yang terintegrasi, ideologi dan struktur tidak dapat dipisahkan. Sistem ini berkembang dari dalam sistem kesukuan, tetapi memantapkan
dirinya di dalam sel keluarga pemerintahan kelas atas. Dengan demikian, sistem ini meno- lak sistem kesukuan. Sistem ini juga memiliki hierarki yang sangat ketat dan dinasti adalah kelas protopenguasa, prototipe kekuasaan dan negara. Sistem ini juga bergantung pada pria dan anak laki-laki. Dalam hal ini berarti bahwa memiliki banyak laki-laki adalah hal yang penting demi memiliki kekuatan. Konsekuensi dari ketergantungan ini adalah poligami, harem, dan sistem selir. Penciptaan kekuasaan dan negara adalah prioritas pertama dinasti. Lebih penting lagi, dinasti adalah institusi pertama yang memastikan klan dan sukunya sendiri. Sistem kesukuan lainnya menjadi terbiasa dengan pembagian kelas dan perbudakan. Dalam peradaban Timur Tengah, sistem dinasti telah begitu mengakar sehingga hampir tidak ada kekuasaan atau negara yang bukan sebagai dinasti. Karena dinasti merupakan tempat pelatihan untuk kekuasaan dan negara, sistem ini terus diabadikan dan sangat sulit untuk diatasi.
Setiap laki-laki dalam keluarga menganggap dirinya sebagai pemilik sebuah kerajaan kecil. Ideologi dinasti ini adalah alasan efektif meng- apa keluarga adalah persoalan yang sangat penting. Semakin banyak jumlah perempuan dan anak-anak yang menjadi milik keluarga, semakin banyak keamanan dan martabat yang dicapai laki-laki itu. Penting juga untuk meng- analisis keluarga saat ini sebagai institusi ideo- logis. Jika kita ingin menyingkirkan perempuan dan keluarga dari sistem peradaban sekarang, dari kekuasaan dan negara, akan ada sedikit saja hal yang tersisa untuk dapat menyanggah tatanan saat ini. Tetapi risikonya adalah pen- deritaan yang menyakitkan, kemiskinan, de- gradasi, dan perempuan dikalahkan di bawah keadaan peperangan berintensitas rendah yang tidak pernah berakhir. Monopoli laki-laki yang telah dipertahankan selama hidup dan dalam dunia perempuan sepanjang sejarah tidak ber- beda dengan rantai monopoli kapital atas hidup masyarakat. Lebih penting lagi, monopoli ini
adalah monopoli yang paling kuat. Kita mungkin bisa menarik kesimpulan yang lebih realistis jika kita mengevaluasi keberadaan perempuan sebagai “fenomena kolonial tertua”. Dalam ba- hasa kolonialisme, mungkin lebih akurat untuk menyebut perempuan adalah rakyat yang dijajah paling tua, yang tidak pernah menjadi sebuah bangsa. Keluarga, dalam konteks sosial ini, berkem- bang sebagai negara kecil laki-laki. Keluarga sebagai sebuah institusi telah disempurnakan secara terus menerus sepanjang sejarah per- adaban, semata-mata karena kekuatan yang diberikan keluarga pada kekuasaan dan aparat negara. Pertama, keluarga diubah menjadi sel atas masyarakat negara dengan memberikan kekuasaan kepada keluarga dalam pribadi laki-laki. Kedua, tenaga kerja perempuan yang tidak terbatas dan tidak dibayar telah dijamin. Ketiga, ia membesarkan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Keempat, keluarga adalah panutan untuk menyebarluaskan perbu-
dakan dan imoralitas kepada seluruh masya- rakat. Keluarga, sedemikian rupa ialah institusi dimana ideologi dinasti menjadi fungsional. Masalah yang paling penting untuk kebebasan sosial adalah keluarga dan pernikahan. Ketika perempuan menikah, dia sebenarnya di- perbudak. Tidak mungkin membayangkan institusi lain yang memperbudak manusia seperti halnya pernikahan. Perbudakan yang paling dalam dibentuk oleh institusi pernikahan, budak yang menjadi semakin mengakar di dalam keluarga. Pernikahan bukanlah referensi umum untuk berbagi kehidupan atau hubungan mitra yang dapat bermakna tergantung pada persep- si seseorang tentang kebebasan dan kesetara- an. Apa yang sedang dibicarakan di sini adalah pernikahan dan keluarga yang sudah mendarah daging. Kepemilikan mutlak perempuan berar- ti penarikan dirinya dari semua arena politik, intelektual, sosial, dan ekonomi. Penarikan ini tidak mudah dipulihkan. Dengan demikian, ada kebutuhan untuk meninjau keluarga dan per-
nikahan secara radikal dan mengembangkan pedoman umum yang ditujukan untuk demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan gender. Pernikahan atau hubungan yang timbul dari individu, kebutuhan seksual, dan konsep keluarga tradisional dapat menyebabkan beberapa penyimpangan paling berbahaya dalam perja- lanan menuju kehidupan yang bebas. Kebutuhan kita bukan untuk membentuk asosiasi ini, tetapi untuk mencapai kesetaraan gender dan demokrasi di seluruh masyarakat dan untuk kemauan dalam membentuk kehidupan yang cocok dan umum. Hal ini hanya dapat dilaku- kan dengan menganalisis mentalitas dan ling- kungan politik yang membiakkan hubungan destruktif semacam itu. Budaya dinasti dan keluarga yang tetap kuat di masyarakat Timur Tengah dewasa ini adalah salah satu sumber utama masalah mereka ka- rena telah menimbulkan populasi, kekuatan, dan ambisi yang berlebihan untuk menjadi ba- gian kekuasaan negara. Degradasi perempuan,
ketidaksetaraan, anak-anak tidak dididik, per- tengkaran antarkeluarga, dan persoalan kehor- matan semuanya terkait dengan persoalan keluarga. Seolah-olah model kecil dari persoalan yang tidak terpisahkan dengan kekuasaan dan negara ini dibentuk di dalam keluarga. Dengan demikian, penting untuk menganalisis keluarga dalam menganalisis kekuatan, negara, kelas, dan masyarakat. Negara dan pusat-pusat kekuasaan membe- ri laki-laki-ayah dalam keluarga sebuah salinan otoritas mereka sendiri dan meminta mereka memainkan peran itu. Dengan demikian, keluarga menjadi alat yang paling penting untuk melegitimasi monopoli. Otomatis keluarga menjadi sumber dari budak, buruh, tentara, dan penyedia semua layanan lain yang dibu- tuhkan oleh lingkaran penguasa dan kapitalis. Itulah sebabnya mengapa mereka menetapkan pentingnya keluarga, mengapa mereka mem- buatnya menjadi sebuah hal yang suci. Mes- kipun tenaga kerja perempuan adalah sumber
keuntungan terpenting bagi lingkaran kapitalis, mereka menyembunyikan ini dengan memberi beban tambahan pada keluarga. Keluarga telah berubah menjadi asuransi sistem dan dengan demikian keluarga pasti akan diabadikan. Kritik terhadap keluarga sangat penting. Sisa-sisa dari masyarakat dan pola patriarki masa lalu dan negara dari peradaban Barat mo- dern belum menciptakan sintesis, melainkan sebuah kebuntuan di Timur Tengah. Kebuntuan yang diciptakan dalam keluarga bahkan lebih rumit daripada kebuntuan yang ada di dalam negara. Jika keluarga terus memperta- hankan kekuatannya maka ia berbeda dengan ikatan sosial yang larut lebih cepat. Hal ini di- sebabkan keluarga merupakan satu-satunya tempat penampungan sosial yang tersedia. Kita tidak boleh memberi keringanan terhadap keluarga. Jika dianalisis dengan baik, keluarga dapat menjadi ujung tombak masyarakat demokratis. Tidak hanya untuk perempuan, tetapi seluruh keluarga harus dianalisis sebagai benih kekua-
saan. Kemudian, jika tidak, kita akan mening- galkan idealisme dan mengimplementasikan peradaban demokratis tanpa elemen terpen- tingnya. Keluarga bukanlah institusi sosial yang harus digulingkan. Akan tetapi, keluarga harus diubah. Klaim kepemilikan atas perempuan dan anak-anak yang diwariskan dari hierarki harus ditinggalkan. Kapital (dalam segala ben- tuknya) dan relasi kekuasaan seharusnya tidak memiliki bagian dalam hubungan sebuah pa- sangan. Memuliakan anak-anak sebagai moti- vasi untuk mempertahankan institusi ini harus dihapuskan. Pendekatan ideal untuk asosiasi laki-laki-perempuan adalah salah satu yang didasarkan pada filosofi kebebasan, yang ditu- jukan terhadap masyarakat moral dan politik. Dalam kerangka ini, keluarga yang berubah akan menjadi jaminan yang paling kuat dari peradaban demokratis dan salah satu hubungan mendasar dalam tatanan itu. Persahabatan yang alami lebih penting daripada kemitraan
yang resmi. Mitra harus selalu menerima hak orang lain untuk hidup sendiri. Seseorang tidak dapat bertindak dengan cara yang sewe- nang-wenang atau sembrono dalam sebuah hubungan. Jelas, keluarga akan mengalami transforma- si yang paling berarti selama peradaban demokratis. Jika perempuan yang telah kehilangan sebagian besar kekuatan dan rasa hormatnya tidak mendapatkan kembali hal ini, serikat keluarga yang bermakna tidak dapat dikembang- kan. Tidak ada rasa hormat untuk keluarga yang dibentuk dari ketidaktahuan. Dalam pemba- ngunan peradaban demokratis, peran keluarga sangat vital.
76\ Kehidupan Membebaskan
7 Kondisi Perempuan dalam Masyarakat Kurdi
ejauh ini, saya telah menguraikan beberapa karakteristik umum dari masyara-
Skat seksis. Biarkan saya menyimpulkan
analisis ini dengan beberapa catatan tentang kondisi perempuan Kurdi. Transisi dari bangsa Sumeria ke peradab- an masyarakat Hittite¹² mendorong kaum Proto-Kurdi untuk memperkuat eksistensi ke-
12 Hittites adalah orang-orang Anatolia yang memainkan peran penting dalam membangun kerajaan yang berpu- sat pada Hattusa di Anatolia utara-tengah sekitar 1600 SM (daerah Turki-Syria sekarang). Kekaisaran ini men- capai puncaknya pada pertengahan abad ke-14 SM di bawah Suppiluliuma I, ketika mencakup wilayah yang sebagian besar Anatolia serta bagian dari Levant Utara dan Mesopotamia Atas—Penerjemah.
sukuan mereka. Karena kedewasaan yang pre- matur akan menyebabkan eliminasi, mereka tampaknya lebih menyukai gaya hidup semino- maden dan semigerilya. Ketika semakin banyak negara didirikan di sekitar mereka, mereka me- rasakan kebutuhan yang semakin meningkat untuk memperkuat struktur kesukuan. Gaya hidup suku Kurdi menyerupai gaya hidup kelom- pok gerilya. Ketika kita melihat lebih dekat pada keluarga dalam organisasi kesukuan Kurdi, kita melihat keunggulan matriarki dan kebebasan. Perempuan cukup berpengaruh dan bebas. Kewaspadaan, kekuatan, dan keberanian para perempuan Kurdi dewasa ini berasal dari tradisi sejarah mereka yang sangat tua. Namun demi- kian, aspek negatif dari kehidupan masyarakat suku adalah bahwa peluang untuk melakukan transisi ke masyarakat yang lebih maju bersifat terbatas. Bukanlah suatu kebetulan bahwa di antara masyarakat Timur Tengah, suku Kurdi memi- liki perasaan kebebasan yang dikembangkan
paling baik. Kami melihat ini dalam perkem- bangan historis mereka. Ketiadaan kelas berku- asa dan eksploitatif yang berkepanjangan dan ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan nilai positif bagi masyarakat, ditambah fakta bahwa sepanjang sejarah mereka, suku Kurdi harus melawan alam dan serbuan asing yang semuanya berkontribusi pada pengembangan karakteristik ini. Kenyataan bahwa perempuan dalam masyarakat Kurdi lebih menonjol dari- pada perempuan di masyarakat Timur Tengah lainnya adalah karena realitas historis ini. Namun demikian, situasi perempuan saat ini di masyarakat Kurdi perlu dianalisis seca- ra menyeluruh. Situasi perempuan di seluruh dunia buruk, tetapi perempuan Kurdi tidak lain mengalami sebuah perbudakan yang me- ngerikan dan unik dalam banyak hal. Faktanya, situasi perempuan dan anak-anak sangat mem- prihatinkan. Meskipun perempuan di dalam keluarga Kurdistan dianggap suci, perempuan telah di-
hancurkan—terutama karena kurangnya kebe- basan, ketidakmampuan ekonomi, kurangnya pendidikan, dan masalah kesehatan. Fenome- na yang disebut pembunuhan demi kehormatan (honour killing) adalah balas dendam sim- bolis atas apa yang telah terjadi di masyarakat pada umumnya. Perempuan dibuat untuk membayar hilangnya kehormatan masyarakat. Kehilangan maskulinitas ditimpakan kepada kaum perempuan. Laki-laki Kurdi yang telah kehilangan kekuatan moral dan politiknya ti- dak memiliki wilayah lain yang tersisa untuk membuktikan kekuatan atau ketidakberdaya- annya, kecuali untuk menyerang kehormatan perempuan. Dalam situasi sekarang, dimungkinkan untuk menyelesaikan krisis keluarga jika ada de- mokratisasi masyarakat secara umum. Pendidikan dan penyiaran dalam bahasa ibu dapat menghilangkan sebagian kerusakan identitas. Pernikahan, hubungan antara suami, istri dan anak-anak, bahkan belum melampaui hubung-
an feodal lama ketika hubungan tanpa modal kapitalisme mengepung mereka dan mengubah hidup mereka menjadi penjara sepenuhnya. Dalam perjuangan kebebasannya untuk orang Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) tidak hanya berjuang melawan efek kolonialisme yang melumpuhkan. Di atas segalanya, ia berjuang melawan feodalisme internal di dalam masyarakat Kurdi untuk mengubah status perempuan dan mengakhiri perbudakan masyarakat secara umum. Perempuan tertarik pada perjuangan dalam jumlah besar—tidak hanya untuk melawan kolonialisme, tetapi juga untuk mengakhiri feodalisme internal dan menuntut kebebasan. Sejak tahun 1980-an, perjuangan ini telah menyebabkan perempuan Kurdi, baik di dalam atau di luar organisasi, untuk mengo- rganisasi diri mereka sebagai sebuah gerakan. Selain itu, untuk mengambil dan menerapkan keputusan yang tidak hanya memperhatikan mereka sebagai perempuan, tetapi juga me- nyangkut masyarakat pada umumnya. Saya te-
lah mencoba mendukung mereka dengan cara apa pun yang saya bisa, baik secara teori mau- pun praktik.
8 Kapitalisme
ebuah definisi realistis kapitalisme seha- rusnya tidak menampilkannya sebagai
Ssesuatu yang terus menerus diciptakan
dan dicirikan oleh pemikiran dan tindakan yang punya satu pusat. Karena pada intinya, kapitalisme adalah tindakan individu-individu dan kelompok-kelompok oportunis yang meman- tapkan diri ke dalam celah-celah dalam ma- syarakat demi potensi untuk mengembangkan produk surplus. Tindakan-tindakan ini menjadi sistematis karena mereka menggusur surplus sosial.
Individu dan kelompok ini tidak pernah berjumlah lebih dari satu atau dua persen dari masyarakat. Kekuatan mereka ada dalam opor- tunisme dan keterampilan organisasi. Keme- nangan mereka tidak hanya bergantung pada keterampilan organisasi, tetapi juga pada kon- trol mereka terhadap objek yang dibutuhkan dan fluktuasi harga pada titik di mana pasokan dan permintaan bersinggungan. Jika kekuatan sosial resmi tidak menekan mereka, dan seba- liknya, justru meminjam hasil laba dan mem- berikan dukungan terus-menerus sebagai im- balan, kelompok-kelompok minoritas di dalam masyarakat ini dapat melegitimasi diri mereka sebagai tuan-tuan baru masyarakat. Sepanjang sejarah peradaban, terutama di masyarakat Timur Tengah, kelompok-kelompok marjinal pialang-pengumpul laba ini selalu ada. Akan tetapi, karena kebencian masyarakat terhadap mereka, mereka tidak pernah dapat menemu- kan keberanian untuk datang siang hari dari celah-celah di mana mereka tinggal. Bahkan,
para administrator yang paling lalai sekalipun tidak memiliki keberanian untuk melegitimasi kelompok-kelompok ini. Mereka tidak hanya dicemooh, tetapi juga dilihat sebagai kekuatan korup yang paling berbahaya. Etika mereka dianggap sebagai akar dari semua kejahatan. Dan memang, gelombang tinggi peperangan, pe- rampasan, pembantaian, dan eksploitasi yang berasal dari Eropa Barat selama empat ratus tahun terakhir, sebagian besar merupakan ha- sil dari hegemoni sistem kapitalis. (Akan tetapi, kemudian, perlawanan terbesar juga terjadi di Eropa Barat sehingga tidak dapat dianggap sebagai kerugian total bagi kemanusiaan.) Kapitalisme dan negara-bangsa merepre- sentasikan laki-laki dominan dalam bentuknya yang paling diinstitusikan. Masyarakat kapitalis adalah kelanjutan dan puncak dari semua masyarakat sebelumnya yang eksploitatif. Kapitalisme adalah peperangan yang berkesinam- bungan melawan masyarakat dan perempuan. Singkatnya, kapitalisme dan negara-bangsa
adalah monopoli laki-laki yang kejam dan eks- ploitatif. Meruntuhkan monopoli ini mungkin akan lebih sulit daripada menguraikan atom. Tujuan utama dari hegemoni ideologi modernisasi ka- pitalis adalah untuk menghilangkan fakta-fakta historis dan sosial mengenai konsepsi dan esensinya. Hal ini karena bentuk ekonomi ka- pitalis dan bentuk masyarakatnya bukanlah kebutuhan sosial dan historis. Bentuk ekonomi mereka adalah konstruksi, yang ditempa me- lalui proses yang kompleks. Agama dan filsafat telah berubah menjadi nasionalisme, yaitu pe- mujaan terhadap negara-bangsa. Tujuan akhir dari perang ideologis tersebut adalah untuk me- mastikan monopoli pemikirannya. Senjata uta- manya untuk mencapai ini adalah agamaisme (religionism), diskriminasi gender, dan sainstis- me (scientism) sebagai agama positivis. Tanpa hegemoni ideologis, dengan hanya penindas- an politik dan militer saja, tidak akan mungkin mempertahankan modernitas. Tujuan dari
diskriminasi gender adalah untuk menghapus harapan perempuan akan perubahan. Cara yang paling efektif bagi ideologi seksis untuk berfungsi adalah dengan menjebak laki-laki dalam hubungan kekuasaan dan dengan mem- buat perempuan menjadi impoten melalui pe- merkosaan konstan. Melalui scientism positivis, kapitalisme menetralkan dunia akademis dan kelompok muda. Meyakinkan mereka bahwa mereka tidak punya pilihan selain berintegra- si dengan sistem. Integrasi ini terjamin dengan adanya imbalan dalam sebuah konsensi. Seperti semua sistem sosial yang menindas dan eksploitatif, kapitalisme tidak dapat bangkit tanpa membangun negara. Sedangkan dogma- tisme sistem feodal memiliki karakter religius. Hasilnya, perbudakan sebelumnya memiliki karakter mitologis. Pada waktu itu keesaan Tuhan diwujudkan dalam keberadaan raja dan dinasti. Akan tetapi, hari ini Tuhan ditampilkan sebagai kekuatan tak terlihat dalam eksistensi elit nega- rawan (state’s noble).
Ketika kapitalisme melihat peluang untuk menjadi sebuah sistem, ia memulai dengan menghilangkan semua masyarakat yang ber- dasarkan budaya perempuan-ibu. Selama era modern awal, kekuatan sistem sosial perempuan yang masih berusaha mempertahankan dirinya dibakar di pasak para pemburu penyihir. Untuk menegakkan hegemoninya atas perempuan melalui perbudakan yang mendalam, pembakaran penyihir merupakan alat yang sangat berguna. Perempuan sedang melayani sistem saat ini sebagian karena pembakaran perempuan yang meluas pada permulaan kapitalisme. Ketakutan akan pembakaran telah menempatkan perempuan di Eropa di bawah total penghambaan terhadap laki-laki. Setelah mengalahkan perempuan, sistem tanpa belas kasihan menghancurkan masyarakat agraris dan desa. Selama karakter komunal demokratis masyarakat berdiri, kapitalisme ti- dak dapat mencapai kekuatan dan laba secara maksimal. Dengan demikian, bentuk sistem so-
sial seperti di atas menjadi sasaran yang tak ter- elakkan. Dengan cara ini, jebakan lengkap dari perbudakan tertua, yaitu perempuan, menjadi teladan bagi semua kehidupan yang diperbu- dak lainnya, yaitu anak-anak dan laki-laki. Kekuatan politik dan militer memainkan peran yang cukup penting dalam menjaga he- gemoni sistem kapitalis. Tetapi yang penting adalah memiliki dan kemudian melumpuhkan masyarakat melalui industri budaya. Mentalitas masyarakat di bawah pengaruh sistem telah me- lemah dan anggota masyarakat menjadi mudah tertipu. Banyak filsuf mengklaim bahwa masyarakat telah berubah menjadi masyarakat ton- tonan (spectacle), mirip dengan kebun binatang. Industri seks, olahraga, seni dan budaya, dalam kombinasi dan secara berurutan, membombar- dir kecerdasan emosi dan analitik tanpa henti melalui beragam penyebaran iklan. Akibatnya, kecerdasan emosi dan analitis telah menjadi disfungsional sepenuhnya. Penaklukan mental masyarakat secara demikian telah lengkap.
Apa yang menjadi perhatian serius adalah penerimaan sukarela masyarakat atas dipenja- rakannya mereka oleh gabungan industri budaya dan industri seks. Terlebih lagi, menganggap penjara ini sebagai ledakan kebebasan! Dan ini merupakan basis dan alat legitimasi terkuat yang dimiliki para penguasa. Kapitalisme ha- nya bisa mencapai fase imperialisme dengan bantuan industri budaya. Oleh karena itu, perjuangan melawan hegemoni budaya membu- tuhkan perjuangan yang paling sulit, perjuangan mental. Sampai kita dapat mengembangkan dan mengatur esensi dan bentuk perjuangan melawan perang budaya yang dilancarkan oleh sistem melalui invasi, asimilasi, dan industriali- sasi, tidak satu perjuangan pun untuk kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi memiliki kesem- patan untuk berhasil. Modernitas kapitalis (capitalist modernity) adalah sistem yang didasarkan pada pengingkarannya terhadap cinta. Pengingkarannya terhadap masyarakat, individualisme yang ti-
dak terkendali, diskriminasi gender di semua bidang, menuhankan uang, mengganti Tuhan dengan negara-bangsa, dan mengubah perem- puan menjadi robot yang tidak menerima gaji atau mendapat sedikit gaji, yang berarti bahwa tidak ada dasar material untuk cinta.
92\ Kehidupan Membebaskan
9 Ekonomi
konomi telah berubah menjadi sebu- ah materi pelajaran, orang biasa tidak
Eseharusnya mengerti tentangnya. Eko-
nomi sengaja dibuat rumit sehingga kenyataan bisa disamarkan. Ekonomi adalah kekuatan ke- tiga, setelah ideologi dan kekerasan, yang me- nyebabkan perempuan, dan kemudian seluruh masyarakat, terperangkap dan dipaksa untuk menerima ketergantungan. Ekonomi secara harfiah berarti “rumah-pegangan”. Awalnya, sebagai ruang perempuan, bersama dengan bagian fundamental masyarakat lainnya yang akan saya bahas nanti.
Dalam tatanan perempuan, terdapat pula akumulasi. Akumulasi ini bukan dimiliki oleh pedagang atau pasar, namun dimiliki oleh ke- luarga. Inilah yang disebut ekonomi yang se- benarnya dan humanis. Akumulasi dicegah berubah menjadi membahayakan dengan me- luasnya penggunaan budaya hadiah (gift cultu- re)13. Budaya hadiah adalah bentuk penting dari kegiatan ekonomi dan juga sesuai dengan ritme perkembangan manusia. Ketika perempuan digulingkan secara total dari sejarah peradaban, dan secara khusus digulingkan dari modernitas kapitalis, pria-pria dengan kuasa yang besar memiliki kesempatan untuk mengubah fungsi ekonomi dan dengan
13 Ekonomi hadiah, budaya hadiah, atau pertukaran hadiah adalah sistem pertukaran ketika barang-barang berharga tidak diperdagangkan atau dijual, melainkan diberikan tanpa perjanjian eksplisit sebagai hadiah langsung atau dengan imbalan di masa mendatang. Sistem yang kon- tras dari ekonomi barter atau ekonomi pasar. Barang dan jasa terutama ditukar dengan nilai yang diterima. Norma sosial mengharuskan pertukaran hadiah. Hadiah tidak diberikan dengan pertukaran barang atau jasa atau secara eksplisit dengan uang atau beberapa komoditas lainnya—Penerjemah.
demikian mengubahnya menjadi masalah be- sar. Perubahan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki hubungan organik dengan ekonomi karena nafsu mereka yang berlebihan untuk mendapatkan laba dan kekuasaan. Dengan demikian, mereka menempatkan semua kekuatan ekonomi, terutama perempuan, di bawah kendali mereka sendiri. Hasilnya adalah kekuatan kekuasaan dan negara telah berkem- bang secara berlebihan, seperti tumor dalam masyarakat, sampai pada level di mana ia tidak lagi dapat distabilkan atau dikendalikan. Masalah ekonomi sebenarnya dimulai ke- tika perempuan itu tersingkir dari ekonomi. Intinya, ekonomi adalah segala yang berhu- bungan dengan makanan. Mungkin tampak aneh, tapi saya percaya pencipta ekonomi yang sebenarnya masih perempuan, meskipun segala upaya untuk menguasai dan menjajah perempuan. Analisis mendalam tentang ekonomi akan menunjukkan bahwa perempuan adalah kekuatan ekonomi yang paling menda-
sar. Memang, ini jelas ketika kita mempertim- bangkan perannya dalam revolusi pertanian dan bagaimana perempuan mengumpulkan tanaman selama jutaan tahun. Saat ini, perempuan tidak hanya bekerja di dalam rumah, tetapi di banyak bidang kehidupan ekonomi. Perempuan adalah orang yang terus memutar roda. Setelah perempuan, mereka yang dapat diklasifikasikan sebagai budak dan pekerja akan berada di urutan kedua dengan klaim sebagai pencipta ekonomi. Di urutan ketiga ialah semua pengrajin, pedagang kecil, dan pemilik tanah kecil, sekaligus petani yang diakui sedi- kit lebih bebas. Dalam kategori ini kita dapat menambahkan seniman, arsitek, insinyur, dokter, dan semua wiraswasta lainnya. Ini hanya melengkapi gambaran mereka yang men- ciptakan dan membentuk ekonomi. Periode paling brutal bagi perempuan adalah ketika ia digulingkan dari ekonomi selama peradaban kapitalis. Kenyataan ini bisa disebut “pemiskinan ekonomi perempuan”. Hal ini te-
lah menjadi paradoks sosial yang paling men- colok dan mendalam. Seluruh perempuan telah dibiarkan menganggur. Meskipun pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang paling sulit, pekerjaan itu dianggap tidak berharga. Meskipun melahirkan dan membesarkan anak adalah tugas yang paling berat dari semuanya, tugas itu tidak selalu dianggap berharga tetapi seringkali hanya sebagai sumber masalah be- laka. Selain merawat dan membesarkan anak yang tidak menghabiskan biaya yang besar dan dapat dijalankan dengan gratis, perempuan dapat digunakan sebagai kambing hitam, me- nanggung kesalahan untuk semua kesalahan. Sepanjang sejarah peradaban, perempuan telah ditempatkan di lantai dasar masyarakat, di mana dia melakukan kerja rumah tangganya yang tidak dibayar, membesarkan anak-anak, dan menjaga keluarga; tugas-tugas yang mem- bentuk basis aktual dari akumulasi kapitalis. Sesungguhnya, tidak ada peradaban lain yang memiliki kekuatan untuk mengembangkan dan
mengatur eksploitasi perempuan sampai pada tingkat yang dimiliki kapitalisme. Selama periode kapitalis, perempuan telah menjadi sasaran ketidaksetaraan, tak memiliki kebebasan dan tak ada demokrasi, tidak hanya perempuan di level bawah tetapi di semua level. Terlebih lagi, kekuatan masyarakat seksis telah diimplementasikan dengan intensitas sedemikian rupa dan sangat dalam sehingga perempuan telah berubah menjadi objek dan subjek industri seks. Masyarakat laki-laki yang dominan telah mencapai puncaknya dalam masyarakat kapitalis. Perempuan dan ekonomi merupakan kom- ponen yang saling terkait. Karena perempuan menghasilkan ekonomi sesuai dengan kebu- tuhan mendasar saja, ekonomi yang digerak- kan oleh perempuan tidak pernah mengalami depresi, tidak pernah menyebabkan pencemar- an lingkungan, dan juga tidak pernah menjadi ancaman bagi iklim. Ketika kita berhenti menghasilkan laba atau keuntungan, kita akan men-
capai pembebasan dunia. Pembebasan ini pada gilirannya akan menjadi pembebasan umat manusia dan kehidupan itu sendiri.
100\ Kehidupan Membebaskan
10 Membunuh Laki-laki yang Dominan:
Menginstitusikan Kemelut Besar Seksual Ketiga terhadap Laki-laki yang Dominan
eskipun dominasi laki-laki telah terlembagakan secara mapan,
Mlaki-laki juga diperbudak. Sistem
ini sebenarnya mereproduksi dirinya sendiri dalam individu laki-laki dan perempuan, ser- ta hubungan mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin merobohkan sistem ini, kita membutuh- kan pendekatan yang radikal dan baru terhadap perempuan, laki-laki, dan hubungan mereka. Sejarah, dalam arti tertentu, adalah sejarah laki-laki dominan yang memperoleh kekuasa-
an dengan munculnya masyarakat kelas. Karakter kelas penguasa terbentuk bersamaan dengan karakter laki-laki yang dominan. Se- kali lagi, aturan divalidasi melalui kebohongan mitologis dan hukuman Tuhan. Di bawah topeng-topeng ini terletak realitas kekuatan dan eksploitasi. Atas nama kehormatan, laki-laki merebut posisi dan hak-hak milik perempuan dengan cara yang paling berbahaya, licik, dan despotik. Fakta bahwa sepanjang sejarah perempuan dibiarkan kehilangan identitas dan karakternya—tahanan abadi—di tangan laki-laki telah menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada pembagian kelas. Mengurung perempuan adalah aksi perbudakan umum masyarakat dan kemunduran, juga merupakan aksi kebohongan, pencurian, dan tirani. Pertanyaan mendasar adalah mengapa laki-laki begitu cemburu, dominan, dan jahat terhadap kepentingan perempuan. Mengapa laki-laki terus memainkan peran sebagai pe- merkosa. Tidak diragukan lagi, pemerkosaan
dan dominasi adalah fenomena yang terkait dengan eksploitasi sosial. Hal tersebut mencer- minkan pemerkosaan oleh hierarki, patriarki, dan kekuasaan terhadap masyarakat. Jika kita melihat lebih dalam, kita akan melihat bahwa tindakan ini juga mengekspresikan pengkhia- natan terhadap hidup. Pengabdian perempuan yang bermacam-macam terhadap kehidupan dapat memperjelas societal sexism laki-laki. Societal sexism berarti hilangnya kekayaan kehidupan di bawah pengaruh seksisme yang membutakan dan melelahkan. Akibatnya, tim- bul kemarahan, pemerkosaan, dan sikap men- dominasi. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menempatkan agenda persoalan laki-laki yang jauh lebih serius daripada persoalan perempuan. Mungkin lebih sulit untuk menganalisis konsep dominasi dan kekuasaan, konsep yang berkaitan dengan laki-laki. Persoalannya bu- kanlah perempuan yang tidak mau berubah, te- tapi laki-laki yang tidak mau berubah. Dia takut
bahwa meninggalkan peran tokoh laki-laki yang dominan akan menjadikannya raja yang telah kehilangan negaranya. Dia harus disadarkan bahwa bentuk dominasi yang paling hampa ini membuat dia kehilangan kebebasan juga, dan bahkan lebih buruk lagi, ia mencegah perkem- bangan umat manusia. Untuk menjalani kehidupan yang bermak- na, kita perlu mendefinisikan perempuan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pendefinisian ini tidak boleh berupa pernyata- an tentang atribut biologis dan status sosialnya, tetapi analisis tentang konsep perempuan yang sangat penting sebagai makhluk. Jika kita da- pat mendefinisikan perempuan, maka kita juga mampu untuk mendefinisikan laki-laki. Meng- gunakan laki-laki sebagai titik awal saat mendefinisikan perempuan atau kehidupan akan membuat interpretasi yang salah karena keber- adaan alami perempuan lebih sentral daripada laki-laki. Status perempuan direndahkan dan dibuat tidak berarti oleh masyarakat laki-laki
yang dominan, tetapi hal ini tidak seharusnya mencegah kita untuk membentuk pemahaman yang valid tentang realitasnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa fisik perempuan tidak memiliki kekurangan maupun inferior. Sebaliknya, tubuh perempuan lebih sentral daripada laki-laki. Inilah akar kecembu- ruan laki-laki yang ekstrem dan tidak berarti. Konsekuensi alami dari perbedaan fisik me- reka adalah kecerdasan emosi perempuan jauh lebih kuat daripada laki-laki. Kecerdasan emo- sional terhubung dengan kehidupan. Kecer- dasanlah yang mengatur empati dan simpati. Bahkan, ketika kecerdasan analitik perempuan berkembang, kecerdasan emosionalnya mem- berinya bakat untuk menjalani kehidupan yang seimbang untuk mengabdikan diri pada hidup, bukan untuk merusak. Seperti dapat dilihat bahkan dari argumen- tasi singkat ini, laki-laki adalah sebuah sistem. Laki-laki telah menjadi negara dan mengubah- nya menjadi budaya yang dominan. Penindas-
an kelas dan seksual berkembang bersama. Maskulinitas telah menghasilkan gender penguasa, kelas penguasa, dan negara penguasa. Ketika laki-laki dianalisis dalam konteks ini, je- las bahwa maskulinitas harus dilenyapkan. Memang, melenyapkan dominasi laki-laki adalah prinsip fundamental sosialisme. Inilah arti dari kekuatan membunuh: melenyapkan dominasi sepihak, ketidaksetaraan, dan intole- ransi. Selain itu, perlu untuk melenyapkan fa- sisme, kediktatoran, dan despotisme. Kami harus memperluas konsep ini untuk memasukkan semua aspek ini. Membebaskan kehidupan (Liberating Life) tidak mungkin tanpa revolusi perempuan ra- dikal yang akan mengubah mentalitas dan kehidupan manusia. Jika kita tidak bisa berdamai antara laki-laki dan kehidupan, dan antara kehidupan dan perempuan, kebahagiaan hanya- lah harapan yang sia-sia. Revolusi gender bukan hanya tentang perempuan. Revolusi ini adalah tentang peradaban berusia lima ribu tahun dari
masyarakat kelas yang telah membuat laki-laki lebih buruk daripada perempuan. Dengan de- mikian, revolusi gender ini secara bersamaan berarti pembebasan laki-laki. Saya sering menulis tentang “perceraian total”, yaitu kemampuan untuk bercerai dari budaya dominasi laki-laki berusia lima ribu tahun. Identitas gender perempuan dan laki-laki yang kita kenal saat ini adalah konstruksi yang terbentuk jauh lebih lambat dari perempuan dan laki-laki secara biologis. Perempuan telah dieksploitasi selama ribuan tahun menurut identitas yang dibentuk ini, tidak pernah diakui tenaga kerjanya (labour). Laki-laki harus selalu melihat perempuan sebagai istri, saudara perempuan, atau kekasih—stereotip yang ditempa oleh tradisi dan modernitas. Mengklaim bahwa kita harus terlebih dahulu menjawab persoalan tentang negara, maka persoalan tentang keluarga tidak terdengar. Tidak ada persoalan sosial serius yang dapat dipahami jika ditangani secara terpisah. Metode yang
jauh lebih efektif adalah melihat segala sesua- tu dalam totalitas, untuk memberi makna pada setiap persoalan dalam hubungannya dengan yang lain. Metode ini juga berlaku ketika kami mencoba menyelesaikan persoalan. Menganalisis mentalitas sosial tanpa menganalisis negara, menganalisis negara tanpa menganalisis keluarga, dan menganalisis perempuan tanpa menganalisis laki-laki akan menghasilkan hasil yang tidak memadai. Kita perlu menganalisis fenomena sosial ini sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Jika tidak, solusi yang kita da- patkan tidak akan memadai. Solusi untuk semua masalah sosial di Timur Tengah harus menitikberatkan posisi perempuan sebagai fokus. Tujuan mendasar untuk era di depan kita haruslah untuk mewujudkan ke- melut besar seksual ketiga—kali ini perjuangan melawan laki-laki. Tanpa kesetaraan gender, tidak ada perjuangan untuk kebebasan dan kesetaraan yang berarti. Kenyataannya, kebebasan dan kesetaraan tidak dapat diwujudkan
tanpa pencapaian kesetaraan gender. Kompo- nen demokratisasi yang paling permanen dan komprehensif adalah kebebasan perempuan. Sistem kemasyarakatan paling rentan karena masalah perempuan yang belum terselesaikan; perempuan yang pertama kali berubah menjadi properti dan hari ini menjadi komoditas; sepe- nuhnya (tubuh dan jiwa). Peran yang pernah di- mainkan kelas pekerja, sekarang harus diambil alih oleh persaudaraan perempuan (sisterhood of women). Jadi, sebelum kita dapat menganalisis kelas, kita harus mampu menganalisis persaudaraan perempuan. Ini akan memungkin- kan kita untuk membentuk pemahaman yang lebih jelas tentang isu-isu kelas dan kebangsa- an. Kebebasan sejati perempuan hanya mung- kin jika emosi yang memperbudak, kebutuhan, dan keinginan suami, ayah, kekasih, saudara laki-laki, teman, dan anak semuanya dapat di- hilangkan. Cinta terdalam merupakan ikatan kepemilikan yang paling berbahaya. Kita tidak akan dapat membedakan karakteristik perem-
puan yang bebas jika kita tidak dapat melaku- kan kritik yang keras terhadap pemikiran, pola agama, dan seni tentang perempuan yang diha- silkan oleh dunia yang didominasi pria. Kebebasan perempuan tidak bisa hanya di- asumsikan begitu masyarakat telah mempero- leh kebebasan dan kesetaraan. Organisasi yang terpisah dan berbeda sangat penting perannya dan perjuangan untuk kebebasan perempuan harus sama besar dengan definisi sebagai sebu- ah fenomena. Tentu saja gerakan demokratisa- si secara umum juga dapat membuka peluang bagi perempuan. Akan tetapi, tidak akan mem- bawa demokrasi itu sendiri. Perempuan perlu menentukan tujuan demokrasinya sendiri, dan melembagakan organisasi serta perjuangan untuk mewujudkannya. Untuk mencapai hal ini, definisi khusus tentang kebebasan sangat penting agar perempuan bebas dari perbudakan yang tertanam dalam dirinya.
11 Jineolojî sebagai
Studi Perempuan
enghapusan perempuan dari jajaran dan subyek ilmu menuntut kita untuk
Pmencari alternatif yang radikal.
Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana cara untuk menang di dalam medan ideolo- gi dan menciptakan pola pikir yang libertari- an dan alami melawan mentalitas dominasi dan haus kekuasaan laki-laki. Kita harus sela- lu mengingat bahwa penaklukan perempuan tradisional bukanlah secara fisik, tetapi sosial. Itu karena perbudakan yang sudah mendarah daging. Oleh karena itu, kebutuhan yang paling
mendesak adalah untuk mengalahkan pikiran dan emosi penaklukan di medan ideologi. Saat perjuangan kebebasan perempuan menuju medan politik, perempuan harus tahu bahwa proses tersebut adalah aspek yang paling sulit dari perjuangan. Jika keberhasilan tidak tercapai secara politis, tidak ada kemenangan lain yang akan permanen. Sukses secara politik tidak berarti memulai sebuah gerakan untuk perjuangan terhadap negara perempuan. Seba- liknya, perjuangan ini melawan struktur statis dan hierarkis. Selain itu, perjuangan tersebut memerlukan pembentukan formasi politik yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang de- mokratis, kesetaraan gender, dan ramah ling- kungan, di mana negara bukanlah elemen pen- ting. Karena hierarki dan statisme tidak mudah kompatibel dengan sifat perempuan, gerakan untuk kebebasan perempuan harus berjuang untuk formasi politik antihierarki dan nonsta- tis (non-negara -ed). Runtuhnya perbudakan di medan politik hanya mungkin jika organisasi
reformasi di bidang politik dapat berhasil dicapai. Perjuangan politik membutuhkan orga- nisasi perempuan dan perjuangan yang demokratis serta komprehensif. Semua komponen masyarakat sipil, hak asasi manusia, pemerin- tahan lokal, dan perjuangan demokratis harus diorganisasi dan ditingkatkan. Seperti halnya sosialisme, kebebasan dan kesetaraan perempuan hanya dapat dicapai melalui perjuangan demokrasi yang komprehensif dan sukses. Jika demokrasi tidak tercapai, kebebasan dan kesetaraan tidak akan tercapai. Isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan ekonomi dan sosial juga dapat berhasil dise- lesaikan melalui analisis kekuatan politik dan melalui demokratisasi. Kesetaraan yuridis yang kaku tidak berarti apa-apa tanpa adanya politik yang demokratis. Oleh sebab itu, hal tersebut tidak akan berkontribusi pada pencapaian kebebasan. Jika relasi kepemilikan dan kekuasaan yang mendominasi dan menundukkan perempuan tidak digulingkan, hubungan bebas antara
perempuan dan laki-laki tidak dapat tercapai. Meskipun perjuangan feminis memiliki banyak segi yang penting, ia masih memiliki jalan panjang untuk menghancurkan batasan-batasan demokrasi yang ditetapkan oleh Barat. Juga tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dituntut oleh cara hidup kapitalis. Si- tuasi ini mengingatkan pada pemahaman Lenin tentang revolusi sosialis. Meskipun memiliki banyak upaya besar dan memenangkan banyak pertempuran posisional, Leninisme pada akhir- nya tidak dapat menghindar dari menghasilkan kontribusi sayap kiri yang paling menguntung- kan bagi kapitalisme. Nasib serupa bisa menimpa feminisme. Ke- kurangan yang melemahkan anggapan tentang feminisme adalah: tidak memiliki basis organi- sasi yang kuat, ketidakmampuan mengembang- kan filsafatnya sampai lengkap, dan kesulitan untuk menjalin hubungan dengan gerakan perempuan militan. Bahkan, mungkin tidak benar untuk menyebut feminisme sebagai “sosialisme
nyata dari front perempuan”, tetapi analisis kita tentang gerakan feminisme harus mengakui bahwa ini merupakan langkah paling serius hingga saat ini untuk menarik perhatian pada isu kebebasan perempuan. Gerakan feminisme menyoroti bahwa gerakan ini hanyalah perempuan tertindas melawan laki-laki yang dominan. Namun demikian, realitas perempuan jauh le- bih komprehensif daripada hanya sekadar jenis kelamin yang berbeda. Perjuangan perempuan memiliki dimensi ekonomi, sosial, dan politik. Jika kita melihat dengan terminologi kolonialisme, kolonialisme tidak hanya dalam hal bangsa dan negara, tetapi juga dalam hal kelompok-kelompok masyarakat. Kita dapat men- definisikan perempuan sebagai kelompok yang paling tertua dan terlama dijajah. Memang, baik jiwa maupun fisik, tidak ada makhluk sosial lain yang mengalami kolonialisme yang demikian lengkap. Harus dipahami bahwa perempuan dipenjara dalam koloni tanpa batas, jadi tidak mudah dikenali.
Mengingat hal-hal di atas, saya percaya bahwa kunci penyelesaian masalah sosial kita adalah gerakan untuk kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi perempuan—sebuah gerakan yang didasarkan pada studi perempuan, yang disebut Jineolojî dalam bahasa Kurdi. Kritik ter- hadap gerakan perempuan baru-baru ini tidak cukup untuk menganalisis dan mengevaluasi sejarah peradaban dan modernitas yang telah menghasilkan semua kekalahan perempuan. Jika dalam ilmu-ilmu sosial hampir tidak ada tema, persoalan, dan gerakan perempuan, maka hal tersebut disebabkan peradaban dan mentalitas hegemoni modernitas dan struktur budaya material. Selain itu, perempuan sebagai komponen utama moral dan politik masyarakat memiliki peran penting untuk bermain dalam memben- tuk etika dan estetika kehidupan yang men- cerminkan kebebasan, kesetaraan, dan demo- kratisasi. Ilmu etika dan estetika merupakan bagian integral dari Jineolojî. Karena tanggung
jawabnya yang berat dalam hidup, perempuan tidak diragukan lagi akan menjadi kekuatan intelektual dan implementasi pada perkem- bangan dan peluang. Hubungan perempuan dengan kehidupan lebih komprehensif daripada laki-laki dan hal ini telah memastikan per- kembangan kecerdasan emosional perempuan. Oleh karena itu, estetika, dalam arti membuat hidup lebih indah, adalah masalah eksisten- sial bagi perempuan. Secara etis, perempuan jauh lebih bertanggung jawab daripada pria. Dengan demikian, perilaku perempuan sehu- bungan dengan moralitas dan masyarakat po- litik akan lebih realistis dan bertanggungjawab daripada laki-laki. Perempuan sangat cocok untuk menganalisis, menentukan, dan memu- tuskan aspek-aspek pendidikan yang baik dan buruk, pentingnya kehidupan dan perdamai- an, kedengkian dan kengerian perang, serta ukuran-ukuran kepantasan dan keadilan. Dengan demikian, akan layak untuk memasukkan ekonomi dalam Jineolojî juga.
118\ Kehidupan Membebaskan
12 Modernitas yang
Demokratis: Era Revolusi Perempuan
ebebasan perempuan akan memain- kan peran stabilisasi dan pemerataan
Kdalam membentuk peradaban baru.
Perempuan akan mengambil tempatnya di ba- wah kondisi terhormat, bebas, dan setara. Un- tuk mencapai hal ini, diperlukan kerja teoretis, program, organisasi, dan implementasi yang diperlukan. Realitas perempuan adalah feno- mena yang lebih konkret dan dapat dianalisis daripada konsep-konsep seperti “proletariat” dan “bangsa tertindas”. Sejauh mana masyara-
kat dapat sepenuhnya diubah ditentukan oleh sejauh mana transformasi yang dicapai oleh perempuan. Demikian pula, tingkat kebebasan dan kesetaraan perempuan menentukan kebebasan dan kesetaraan semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, demokratisasi perempuan sangat menentukan bagi pembentukan demokrasi dan sekularisme yang permanen. Di dalam bangsa yang demokratis, kebebasan perempuan juga sangat penting karena perempuan yang terbebaskan merupakan masyarakat yang terbebaskan. Masyarakat yang terbebaskan pada gilirannya merupakan sebuah bangsa yang demokratis. Selain itu, kebutuhan untuk membalikkan peran laki-laki dalam masyarakat adalah kepentingan revolusioner. Era peradaban demokratis tidak hanya me- lambangkan kelahiran kembali masyarakat, tetapi, mungkin yang lebih khusus, era ini me- lambangkan kebangkitan perempuan. Perempuan, yang merupakan dewi kreatif masyarakat Neolitik, telah mengalami kerugian terus
menerus sepanjang sejarah masyarakat kelas. Membalikkan sejarah ini pasti akan membawa hasil sosial yang paling mendalam. Perempuan yang terlahir kembali menuju kemerdekaan akan mencapai pembebasan umum, pence- rahan, dan keadilan di semua lapisan lembaga masyarakat. Hal ini akan meyakinkan semua orang bahwa perdamaian, bukan perang, lebih berharga dan harus diletakkan pada posisi ter- tinggi. Kemenangan perempuan adalah kemenangan masyarakat dan individu di semua le- vel. Abad ke-21 harus menjadi era kebangkitan, sebuah era saat perempuan dibebaskan dan era emansipasi perempuan. Pembebasan perempuan lebih penting daripada pembebasan kelas atau pembebasan nasional. Era peradaban demokratis akan terealisasi ketika perempuan bangkit dan menang sepenuhnya. Merupakan suatu hal yang realistis jika kita melihat abad ini sebagai abad ketika perempuan merdeka akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, lembaga-lembaga permanen untuk
perempuan perlu didirikan dan dilestarikan, mungkin selama seabad lamanya. Selain itu, dibutuhkan pembentukan Partai Pembebasan Perempuan. Juga penting untuk membentuk komune ideologi, politik, dan ekonomi yang berdasarkan pada kebebasan perempuan. Perempuan secara umum, tetapi khususnya perempuan Timur Tengah, adalah kekuatan yang paling aktif dan energik dari masyarakat demokratis karena karakteristik yang dijelaskan di atas. Kemenangan akhir masyarakat demokratis hanya bisa dimenangkan oleh perempuan. Masyarakat dan perempuan telah dihancur- kan oleh sistem masyarakat kelas sejak Zaman Neolitik. Mereka sekarang akan, sebagai agen penting dari terobosan demokrasi, tidak hanya membalas dendam pada sejarah, tetapi mereka akan membentuk antitesis yang diperlukan de- ngan memosisikan diri mereka di sebelah kiri dari kebangkitan peradaban demokratis. Perempuan benar-benar agen sosial yang paling dapat diandalkan di jalan menuju masyarakat
yang setara dan libertarian. Di Timur Tengah, keputusan diserahkan kepada perempuan dan pemuda untuk memastikan antitesis yang di- perlukan untuk demokratisasi masyarakat. Kebangkitan perempuan dan menjadi sebuah kekuatan sosial terdepan dalam sejarah ini, memiliki nilai antitesis yang sebenarnya. Karena karakteristik masyarakat kelas, per- kembangan masyarakat ini didasarkan pada dominasi laki-laki. Inilah yang menempatkan perempuan dalam posisi antitesis. Bahkan, dalam hal mengatasi pembagian kelas masyarakat dan superioritas laki-laki, posisi perempuan memperoleh nilai sintesis baru. Oleh karena itu, posisi kepemimpinan gerakan perempuan dalam demokratisasi masyarakat Timur Tengah memiliki karakteristik historis yang menjadikan- nya sebagai antitesis (karena berada di Timur Tengah) dan sintesis (secara global). Area kerja ini adalah pekerjaan paling penting yang pernah saya lakukan. Saya percaya pekerjaan itu harus memiliki prioritas di atas pembebasan tanah air
dan kelas pekerja. Jika saya ingin menjadi peju- ang kemerdekaan, saya tidak bisa mengabaikan pembebasan perempuan: revolusi perempuan adalah sebuah revolusi dalam sebuah revolusi. Revolusi perempuan adalah misi menda- sar dari kepemimpinan baru untuk menyedia- kan kekuatan intelektual dan akan diperlukan untuk mencapai tiga aspek penting untuk ter- wujudnya sistem modernitas yang demokratis: sebuah masyarakat yang demokratis serta secara ekonomi dan ekologis bermoral. Untuk mencapai hal ini, kita perlu membangun ba- nyak struktur akademik yang memadai dengan kualitas yang sesuai. Tidak cukup hanya meng- kritik dunia akademisi modern, kita harus me- ngembangkan alternatifnya. Unit akademisi untuk alternatif ini harus dibangun sesuai dengan prioritas dan kebutuhan semua bidang kemasyarakatan, seperti ekonomi dan tekno- logi, ekologi dan pertanian, politik demokratis, keamanan dan pertahanan, budaya, sejarah, sains dan filsafat, agama dan seni. Tanpa kader
akademisi yang kuat, elemen-elemen modernitas demokratis tidak dapat dibangun. Kader akademisi dan elemen modernitas yang demokratis sama pentingnya untuk pencapaian kemenangan. Keterkaitan adalah suatu keharusan untuk mencapai makna dan kemenangan. Perjuangan untuk kebebasan (tidak hanya perempuan, tetapi semua etnis dan bagian ko- munitas yang berbeda) sama tuanya dengan se- jarah perbudakan dan eksploitasi kemanusiaan. Kerinduan untuk kebebasan adalah sifat sejati manusia. Banyak yang telah dipelajari dari per- tarungan ini, dan dari perjuangan yang telah kita lakukan selama 40 tahun terakhir. Masya- rakat demokratis telah ada di samping berba- gai sistem peradaban arus utama. Modernitas demokratis, sistem alternatif untuk modernitas kapitalis, dimungkinkan melalui perubahan radikal mentalitas kita dan perubahan yang se- suai, radikal, dan tepat dalam realitas material kita. Perubahan-perubahan ini, harus kita ba- ngun bersama.
Terakhir, saya ingin menunjukkan bahwa perjuangan untuk kebebasan perempuan harus dilancarkan melalui pembentukan partai politik mereka sendiri, membangun gerakan perempuan populer, membangun organisasi nonpemerintah mereka sendiri dan struktur politik demokratis. Semua ini harus ditangani bersama, secara bersamaan. Semakin para perempuan mampu lepas dari cengkeraman do- minasi laki-laki dan masyarakat, semakin baik mereka akan dapat bertindak dan hidup sesuai dengan inisiatif kemerdekaan mereka. Semakin banyak perempuan memberdaya- kan diri mereka sendiri, semakin mereka men- dapatkan kembali kepribadian dan identitas bebas mereka. Oleh karena itu, memberi dukungan pada gerakan perempuan, pengetahuan, dan kebebasan adalah gambaran terbesar dari persaha- batan dan nilai kemanusiaan. Saya memiliki ke- yakinan penuh bahwa perempuan, terlepas dari perbedaan budaya dan etnis mereka, semua
orang yang telah diasingkan dari sistem, akan menang. Abad ke-21 adalah abad pembebasan perempuan. Saya berharap dapat memberikan kontribusi saya sendiri. Tidak hanya dengan menulis tentang masalah ini, tetapi dengan membantu menerapkan perubahan.
128\ Kehidupan Membebaskan
Tentang Penulis
Abdullah Öcalan lahir pada 1949. Ia belajar ilmu politik di Ankara, Turki. Dia secara aktif memimpin perjuangan pembebasan Kurdi sebagai Presiden PKK sejak didirikan pada 1978 hingga penculikannya pada 15 Februari 1999. Dia masih dianggap sebagai ahli strategi terke- muka dan salah satu wakil politik paling pen- ting dari rakyat Kurdi. Di bawah kondisi isolasi di Penjara Pulau Imrali, Öcalan menulis lebih dari sepuluh buku yang merevolusi politik Kurdi. Beberapa kali dia memulai gencatan senjata secara sepihak dari perjuangan gerilya dan mempresentasikan proposal konstruktif untuk solusi politik Kurdi.
“Proses perdamaian” saat ini dimulai pada tahun 2009 ketika negara Turki merespons se- ruan Öcalan untuk menyelesaikan persoalan Kurdi secara politis. Sejak 27 Juli 2011 ia dita- han lagi di Penjara Pulau Imrali, hampir dengan isolasi total.
Tentang International
Initiative
Pada 15 Februari 1999, Presiden Partai Pekerja Kurdistan, Abdullah Öcalan, diserahkan kepa- da Republik Turki setelah operasi rahasia yang didukung oleh aliansi dinas rahasia yang dia- rahkan oleh pemerintah mereka yang memiliki kepentingan yang sama. Jijik oleh pelanggaran hukum internasional yang luar biasa ini, bebe- rapa intelektual dan perwakilan organisasi si- pil meluncurkan inisiatif untuk membebaskan Abdullah Öcalan. Dengan pembukaan kantor koordinasi pusat pada bulan Maret 1999, International Initiative “Kebebasan untuk Abdullah Öcalan-Perdamaian di Kurdistan” memulai pe- kerjaannya.
International Initiative menganggap diri- nya sebagai inisiatif perdamaian multinasional yang bekerja untuk penyelesaian damai dan demokratis untuk Kurdi. Bahkan setelah berta- hun-tahun dalam penjara yang lama, Abdullah Öcalan masih dianggap sebagai pemimpin yang tak terbantahkan oleh mayoritas rakyat Kurdi. Oleh karena itu, solusi persoalan Kurdi di Turki akan terkait erat dengan nasibnya. Sebagai ar- sitek utama proses perdamaian, ia dipandang oleh semua pihak sebagai kunci untuk keber- hasilan perdamaian, yang menempatkan kebe- basan Öcalan semakin banyak dalam agenda utama. Initiative International berkomitmen untuk memainkan bagiannya untuk tujuan ini. Hal ini dilakukan melalui penyebaran informa- si yang objektif, lobi, dan pekerjaan hubungan masyarakat, termasuk menjalankan kampanye.
Publikasi oleh Abdullah Öcalan
Buku
- Deklarasi tentang Solusi Demokratis Persoalan Kurdi (1999)
- Prison Writings I: The Roots of Civilization (2007)
- Prison Writings II: The PKK dan Persoalan Kurdi di Abad ke-21 (2011)
Prison Writings III: The Road Map to Nego- tiations (2012)
Pamflet
Perang dan Damai di Kurdistan (2008)
- Confederalisme Demokratis (2011)
- Informasi lebih lanjut dan terjemahan da- lam bahasa lain: www.ocalan-books.com
Kebebasan untuk Öcalan!
Bergabunglah dengan kampanye tanda ta- ngan di www.freeocalan.com Rückseite: Barcode 978-3-941012-82-0
Membangun Demokrasi
Tanpa Negara
oleh Dilar Dirik
eberapa tahun lalu, ketika orang- orang pertama kali datang ke
“Brumah kami dan mengajak kelu-
arga kami untuk bergabung ke dalam komune, aku melempari mereka dengan batu agar mereka pergi,” tawa Bushra, perempuan muda asal Tirbespiye, Rojava, Suriah Utara. Ibu dari dua anak ini adalah pengikut sekte religius ul- trakonservatif. Sebelumnya, ia tidak pernah di- perbolehkan untuk keluar rumah dan seluruh tubuhnya tertutup, kecuali mata. “Sekarang aku aktif membentuk komuni- tasku sendiri,” ujarnya dengan bangga dan
berseri-seri. “Orang-orang datang kepadaku untuk mencari solusi atas persoalan sosial yang mereka hadapi. Padahal, jika kamu bertanya ke aku yang dulu, aku bahkan tidak tahu apa itu ‘dewan’ atau apa yang orang lakukan dalam pertemuan-pertemuan.” Hari ini di seluruh dunia, orang-orang mem- praktikkan bentuk-bentuk alternatif dari organi- sasi otonom untuk memberikan kembali makna bagi kehidupan mereka, untuk merefleksikan hasrat kreativitas manusia sebagai ekspresi ke- merdekaan. Kolektif-kolektif, komune-komune, kooperasi-kooperasi, dan gerakan akar rumput ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri rakyat melawan keganasan kapitalisme, patriarki, dan negara. Di waktu bersamaan, banyak masyarakat adat dan komunitas yang dikucilkan dan ter- marginalkan telah berhasil melindungi jalan hidupnya yang komunalis hingga hari ini. Hal ini sangat luar biasa. Komunitas-komunitas tersebut dapat melindungi eksistensinya dari
dunia di sekeliling mereka yang kerap mengi- dentikkan mereka dengan terma-terma nega- tif, seperti “tertinggal”—khususnya oleh nega- ra. Tendensi positivis dan deterministik yang mendominasi historiografi hari ini memandang komunitas-komunitas tersebut aneh, tidak ber- adab, dan ketinggalan zaman. Bernegara diang- gap sebagai konsekuensi peradaban dan mo- dernitas yang tak terhindarkan; sebuah tahapan alamiah dalam kemajuan sejarah yang linear. Tidak diragukan lagi bahwa ada sejumlah perbedaan genealogis dan ontologis antara—karena tak ada kata yang lebih baik—komune re- volusioner “modern”, dan komunitas organik yang alamiah. Yang pertama, berkembang uta- manya di lingkar-lingkar radikal di dalam ma- syarakat kapitalis sebagai pemberontakan atas sistem yang dominan, sementara yang kedua menjadi ancaman bagi kekuasaan hegemonik karena sifat kebertahanan hidupnya. Namun demikian, kita juga tidak bisa menyebut bahwa komune-komune organik tersebut tidak politis
jika dibandingkan dengan komune-komune metropolitan yang memiliki tujuan politik ter- tentu. Berabad-abad, bahkan mungkin milenium perlawanan terhadap tatanan dunia kapita- lis sebenarnya adalah tindak pembangkangan yang sangat radikal. Bagi komunitas-komunitas yang secara relatif tak tersentuh oleh arus global karena karakter mereka yang khas, geo- grafi alam, atau adanya perlawanan yang aktif, politik komunal benar-benar hanyalah bagian alami dari kehidupan. Itulah mengapa banyak orang di Rojava, di mana transformasi sosial radikal sedang berlangsung, menyebut revolu- si mereka sebagai “kembali ke asal usul kami” atau “merebut kembali etika sosial kami”. Sepanjang sejarah, kaum Kurdi mengalami segala bentuk penolakan, penindasan, peng- hancuran, genosida, dan pengasimilasian. Mereka dikucilkan oleh hukum negara dua kali. Pertama, gagasan tentang negara mereka sen- diri ditolak, dan secara simultan mereka juga
disingkirkan dari mekanisme struktur negara yang ada di sekeliling mereka. Namun demiki- an, pengalaman tak bernegara juga membantu mereka dalam mempertahankan banyak nilai dan etika sosial, dan juga rasa kebersamaan sebagai sebuah komunitas, khususnya di daerah pedesaan dan pegunungan yang jauh dari kota. Sampai hari ini, perkampungan suku Kurdi-Alevi memiliki karakter khusus, yak- ni proses pencarian solusi bersama dan ritual-ritual rekonsiliasi untuk konflik sosial yang berdasarkan pada pengampunan dan etika yang bermanfaat bagi komunitas. Meski cara hidup tersebut cukup lazim di Kurdistan, ada juga sebuah upaya baru yang dilakukan seca- ra sadar untuk membangun sistem politik yang berpedoman pada nilai-nilai komunal, sistem Konfederalisme Demokratis, yang dibangun melalui otonomi demokratis dengan komune sebagai jantungnya.
Konfederalisme Demokratis di Rojava
Partai Pekerja Kurdistan (PKK), seperti ba- nyak gerakan pembebasan nasional lainnya, awalnya berpikir bahwa solusi atas kekerasan dan penindasan adalah dengan membentuk negara merdeka. Akan tetapi, seiring dengan perubahan situasi internasional pasca-kerun- tuhan Uni Soviet, gerakan ini mulai melakukan otokritik mendasar, seperti halnya kritik atas dominasi politik sosialis saat itu, ketika per- juangan masih terlalu fokus pada perebutan kekuasaan negara. Menjelang akhir 1990-an, PKK di bawah kepemimpinan Abdullah Öcalan mulai mengartikulasikan alternatif atas negara bangsa dan sosialisme negara. Setelah mempelajari sejarah Kurdistan dan Timur Tengah, juga mendalami mengenai sifat kekuasaan, sistem ekonomi saat ini, dan isu- isu ekologis, Öcalan sampai pada kesimpulan bahwa “masalah kemerdekaan” kemanusiaan bukanlah akibat ketiadaan negara melainkan akibat kemunculan negara. Perlu upaya untuk
menumbangkan dominasi sistem yang telah terlembagakan di seluruh dunia selama lebih dari 5.000 tahun ini; sebuah sistem yang adalah sintesis dari patriarki, kapitalisme, dan negara bangsa. Paradigma alternatifnya dibangun ber- dasarkan kebalikannya, yakni: pembebasan perempuan, ekologi, dan demokrasi akar rumput. Konfederalisme Demokratis adalah model ekonomi, sosial, dan politik swaadministrasi oleh orang-orang yang beragam, yang dirintis oleh perempuan dan orang-orang muda. Inilah upaya untuk mengekspresikan kehendak rakyat senyata-nyatanya dengan melihat demokrasi sebagai sebuah metode, dibanding sekadar tu- juan. Inilah demokrasi tanpa negara. Seraya menawarkan struktur-struktur nor- matif baru untuk membangun sebuah sistem politik berkesadaran, Konfederalisme Demokratis juga menarik organisasi sosial lama yang masih eksis di seluruh komunitas di Kurdistan dan sekitarnya. Model ini mungkin terlihat ti- dak masuk akal bagi imajinasi kontemporer
kita, namun gemanya berjalan seturut gairah yang begitu besar untuk menciptakan emansi- pasi di kalangan orang-orang yang beragam di wilayah tersebut. Kendati sistem ini sudah di- terapkan bertahun-tahun di Bakur (Kurdistan Utara) dengan keterbatasan akibat represi Tur- ki, baru di Rojava (Kurdistan Barat) ada peluang bersejarah untuk mempraktikkan Konfederalis- me Demokratis. “Otonomi demokratis” adalah jantung sistem ini: rakyat mengorganisir dirinya secara langsung dalam bentuk komune-komune dan pembentukan dewan-dewan. Di Rojava, pro- ses ini difasilitasi oleh Tev-Dem, Gerakan Ma- syarakat Demokratis. Komune dibentuk oleh lingkungan yang secara sadar mengorganisa- si diri dan menegakkan aspek paling esensial dan radikal dalam praktik demokrasi. Ada komite-komite yang bekerja untuk berbagai isu, seperti perdamaian dan keadilan, ekonomi, ke- amanan, pendidikan, perempuan, pemuda dan pelayanan publik.
Setiap komune mengirimkan delegasi ter- pilih ke dewan-dewan. Dewan kampung me- ngirim delegasinya ke kota, dewan kota mengi- rim delegasinya ke kota yang lebih besar, dan seterusnya. Setiap komune merupakan entitas mandiri, namun mereka terhubung satu sama lain melalui struktur konfederal yang bertujuan untuk koordinasi dan melindungi kepentingan publik. Ketika permasalahan tidak bisa disele- saikan di level bawah, atau melampaui urusan dewan di tingkatan terendah, mereka mende- legasikannya ke tingkatan berikutnya. Instansi yang “lebih tinggi” haruslah akuntabel terhadap yang “lebih rendah” serta melaporkan setiap keputusan dan tindakannya. Ketika komune menjadi ruang untuk meng- atur dan memecahkan persoalan hidup harian, dewan-dewan membuat rencana tindakan dan kebijakan demi kohesi dan koordinasi. Pada awal revolusi dan di wilayah-wilayah yang baru terbebas, pertemuan-pertemuan awalnya ber- tugas untuk mendirikan dewan-dewan rakyat,
dan kemudian mulai membangun struktur or- ganisasi akar rumput yang lebih desentralistik dalam bentuk komune-komune. Komune-komune tersebut bekerja demi me- nuju masyarakat “moral-politis” yang dibangun oleh individu-individu sadar yang memahami bagaimana memecahkan persoalan sosial dan mengurus swapemerintahan harian sebagai tanggung jawab bersama, dan tidak lagi menye- rahkannya kepada para elite birokrasi. Semua itu bersandar pada asas sukarela dan partisipasi bebas warga, sebagai perlawanan terhadap pe- maksaan dan hukum sepihak. Tentu sulit membangun masyarakat yang berkesadaran dalam rentang waktu yang sing- kat, terlebih dalam situasi perang, embargo, de- ngan mental dan struktur despotik kuno yang telah terinternalisasi dan terlembagakan, yang dapat menggiring pada penyalahgunaan keku- asaan serta pola pikir apolitis. Sebuah sistem pendidikan alternatif yang diorganisasi melalui sekolah-sekolah bertujuan untuk mendorong
mentalitas sosial yang sehat, sedangkan swa- organisasi secara praktis mereproduksi masya- rakat berkesadaran dengan memobilisasinya di setiap bidang kehidupan. Perempuan dan orang-orang muda mengo- rganisasi diri secara otonom dan mewujudkan dinamika sosial yang secara alamiah cenderung mengarah pada demokrasi dan berkurangnya hierarki. Mereka memosisikan diri “ke kiri” dari model otonomi demokratis dan merancang bentuk baru dari produksi dan reproduksi pe- ngetahuan. Hari ini, gerakan pembebasan Kurdi mem- bagi kekuatan secara merata antara perempuan dan laki-laki, dari Qandil ke Qamishlo hingga Paris. Gagasan di balik prinsip co-chair (secara harfiah berarti ‘berbagi kursi’ -penj.) bersifat simbolis dan praktis. Ia mendesentralisasi keku- asaan dan mendorong pencarian kesepakatan bersama, sekaligus menyimbolkan harmoni antara perempuan dan laki-laki. Hanya kaum perempuan yang berhak memilih co-chair perem-
puan, sementara co-chair laki-laki dipilih oleh semua anggota. Para perempuan mengorgani- sasi dirinya menjadi lebih kuat, lebih sadar se- cara ideologis menuju konfederasi perempuan, dimulai dengan komune perempuan otonom.
Prinsip Bangsa Demokratis
Prinsip penting lainnya yang diartikulasikan oleh Öcalan adalah “bangsa demokratis”. Ti- dak seperti negara-bangsa dengan doktrin mo- nismenya yang mencari pembenaran melalui mitos chauvinistik, konsep ini membayangkan sebuah masyarakat yang berdasar pada kon- trak sosial dan prinsip etika yang fundamental, seperti kesetaraan gender. Dengan demikian, setiap identitas dan tendensi individu, kelom- pok, etnis, agama, bahasa, gender, dan intelek- tual bisa mengekspresikan diri mereka dengan bebas, serta memperkaya keberagaman dalam bangsa beradab yang sedang berkembang ini agar demokratisasi tetap terjaga. Semakin be- ragam rakyatnya, semakin kuat demokrasinya.
Kelompok dan golongan yang berbeda-beda ini juga bertugas untuk mendemokratisasi diri me- reka dari dalam. Di Rojava, orang-orang Kurdi, Arab, Kristen Suriah, Armenia, Turki dan Chechnya mencoba membangun kehidupan baru bersama-sama. Logika yang sama mendasari proyek Partai Rakyat Demokratik, atau HDP, di perbatasan Turki. HDP mempersatukan semua komunitas Meso- potamia dan Anatolia di bawah payung “keber- samaan yang bebas” dalam sebuah kesatuan yang demokratis. Perwakilan HDP di parlemen pun terdiri dari orang-orang Kurdi, Turki, Armenia, Arab, Suriah, Muslim, Alevis, Kristen, dan Yazidi. Sungguh keberagaman yang luar biasa dibandingkan partai-partai lain di dalam Parlemen Turki. Sa- ngat kontras jika dibandingkan dengan ideo- logi negara-bangsa yang memonopoli, konsep bangsa demokratis berguna sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri ideologis untuk rakyat yang beragam.
Meskipun ada begitu banyak ragam komunitas yang terlibat secara aktif dalam revolusi Rojava, dendam lama masih tetap hidup. Seluruh konfederasi suku Arab menyatakan dukungan mereka terhadap tata kelola yang demikian, namun untuk beberapa hal, kelompok Arab masih curiga. Dokumen intelijen mengungkap- kan bahwa di awal 1960-an, partai Baath Suriah membuat rencana canggih untuk mengadu domba komunitas satu dengan yang lain, teru- tama di Cizire. Di atas ketegangan yang sudah terjadi, kekuatan eksternal tersebut mengom- pori dan merekayasa konflik antarkomunitas demi melanjutkan agenda mereka. Kekokohan persatuan antarkelompok etnis dan religius yang berbeda-beda di Suriah, dan di Timur Te- ngah secara umum, akan membuat upaya adu domba dan kontrol atas wilayah tersebut sema- kin sulit. Seorang anggota suku Arab di pemerin- tahan Rojava menjelaskan mengapa model demokratis ini tidak terlalu didukung oleh ke-
lompok-kelompok politik yang telah berdiri ataupun yang baru terbentuk di dalam dan di luar wilayah tersebut:
Sistem otonomi demokratis di tiga kanton kami telah menggemparkan dan membuat marah seluruh dunia sebab sistem kapitalis tidak menginginkan adanya kemerdekaan dan demokrasi di Timur Tengah, terlepas dari semua kepura-puraan mereka. Itulah mengapa semua pihak menyerang Rojava. Dua negara dengan tampilan yang berbeda, Republik Arab Suriah di bawah Assad dan Negara Islam, adalah dua sisi dari satu koin yang sama, mereka menolak dan berusaha menghancurkan keragaman mosaik di wilayah ini. Namun demikian, semakin banyak pula orang Arab dari wilayah Suriah datang ke Rojava untuk belajar tentang otonomi demokratis karena mereka melihat sebuah perspektif kemerdekaan di sini.
Sebuah Visi Ekonomi dan Politik Alternatif
Sistem efektif swaorganisasi, dikombinasi- kan dengan adanya embargo, membutuhkan kemandirian dan dengan demikian mengasah kreatifitas. Situasi ini membebaskan Rojava dari eksploitasi internal dan korupsi ekonomi yang terinternalisasi dalam pola pikir kapita- lis. Namun demikian, demi mempertahankan nilai-nilai revolusioner agar melampaui dari sekadar perang, penyesuaian visi ekonomi di- perlukan guna meraih perekonomian yang adil secara sosial, ekologis, dan feminis sehingga sistem perekonomian yang baru ini dapat me- nyokong penduduknya yang telah dimiskinkan, penuh trauma, dan teraniaya. Bagaimana cara mengajak orang-orang kaya yang tidak peduli dengan kerjasama dan men- cegahnya menjadi bagian dari otoritarianisme? Bagaimana cara membangun prinsip-prinsip kebebasan dan emansipasi dalam situasi perang dan ekonomi bertahan hidup? Bagaimana mendesentralisasi perekonomian sembari
menjamin keadilan dan kohesi revolusioner? Bagi orang-orang di Rojava, jawabannya ada pada pendidikan. “Apa makna ekologi bagimu?” seorang perempuan di akademi perempuan Ishtar di Ri- melan bertanya pada rekannya dalam sebuah ruangan yang dihiasi dengan foto-foto pejuang perempuan seperti Sakine Cansiz dan Rosa Luxemburg. Seorang perempuan yang lebih tua dengan tato tradisional di tangan dan mukanya menjawab, “Bagiku, menjadi ibu berarti menjadi ekologis. Hidup bersahaja dengan alam dan komunitas. Seorang ibu tahu cara terbaik ba- gaimana merawat dan mengatur keseimbang- an tersebut.” Mungkin pertanyaan soal ekologi inilah yang jelas menggambarkan dilema Rojava yang memiliki prinsip dan tujuan hebat dan kehendak untuk berkorban, namun keku- rangan kondisi untuk menerapkan cita-citanya. Alasannya, bertahan hidup sering kali menjadi prioritas lebih dibandingkan dengan persoalan lingkungan hidup.
Setidaknya saat ini adalah waktu yang tepat untuk bicara mengenai sistem ganda transisio- nal, dimana swaadministrasi demokratis Rojava telah mempersiapkan prinsip-prinsip ekologis dan revolusioner yang dengan hati-hati dipakai untuk bermanuver dalam perang dan politik nyata, sementara gerakan akar rumput mengo- rganisasi diri dari bawah. Di level kanton, terutama yang terkait dengan isu kebijakan luar negeri, praktik-praktik sentralis atau yang non- revolusioner tidak dapat dielakkan, terutama karena Rojava secara politis dan ekonomi sedang berada di posisi yang sulit dan terhimpit. Inilah sistem otonomi demokratis yang tumbuh dari bawah, yang dimaksud oleh orang-orang ketika mereka sedang bicara tentang “revolusi Rojava”. Dinamika desentralisasi organisasi akar rumput, terutama di level komune, bahkan berfungsi sebagai oposisi internal untuk kanton-kanton dan memfasilitasi proses demokra- tisasi kanton. Karena rumitnya geopolitik me-
reka—terlebih karena dibatasi oleh partai-partai nonrevolusioner dan kelompok-kelompok di dalamnya—, kanton dapat cenderung mengarah kepada sebuah konsentrasi kekuasaan (meski- pun pada saat ini, kanton-kanton ini masih jauh lebih desentralis dan demokratis dibanding negara-negara biasa lainnya). Yang jauh lebih penting dibanding meka- nisme mana yang pas bagi rakyat adalah: mak- na dan dampak dari otonomi demokratis bagi rakyat itu sendiri. Jika saya harus mendeskrip- sikan tentang “demokrasi radikal”, saya akan berpikir tentang kelas pekerja. Terkadang, tentang perempuan-perempuan buta huruf yang memutuskan untuk mengorganisasi diri dalam bentuk komune-komune, dan yang membu- at politik menjadi hidup. Tawa dan permain- an anak-anak, kokok ayam, suara kursi plas- tik yang bergeser menjadi melodi, menghiasi pertemuan-pertemuan saat diambilnya keputusan-keputusan mengenai waktu pemakaian listrik atau perselisihan antarwarga. Satu hal
yang perlu dicatat adalah bahwa struktur terse- but berfungsi lebih baik di area perkampung- an dan lingkungan kecil daripada di kota besar yang kompleks, ketika usaha yang lebih keras dibutuhkan untuk melibatkan banyak orang. Di sini kekuasaan menjadi milik orang-orang yang tidak berpunya, dan sekarang mereka sedang menulis sejarahnya sendiri. “Mau lihat sayur-sayuran kami?” tanya Qadifa, seorang perempuan Yazidi di pusat gerak- an perempuan, Yekitiya Star. Ia terlihat tidak cukup tertarik untuk menjelaskan mengenai sistem baru ini, namun ia bersemangat untuk menunjukkan buah-buahnya. Kami melanjut- kan obrolan seputar transformasi kehidupan harian di Rojava sambil menikmati tomat yang nikmat hasil koperasi perempuan di halaman belakang. Penentuan nasib sendiri sedang berlangsung di Rojava, di dalam praktik keseharian. Ribuan perempuan seperti Qadifa, perempuan-perempuan yang sebelumnya benar-benar terping-
girkan, tidak terlihat dan tidak bersuara, kini memangku posisi penting dan membentuk masyarakat. Hari ini, di pagi hari, untuk perta- ma kalinya mereka bisa memanen tomat dari tanah yang dulunya diduduki negara selama berdekade, lalu menjadi hakim di pengadilan rakyat pada siang harinya. Sekarang banyak keluarga mendedikasikan diri mereka secara penuh untuk revolusi, ter- utama mereka yang kehilangan orang-orang tercinta. Rumah-rumah warga perlahan mulai difungsikan sebagai rumah bersama (mala gel) untuk mengoordiniasi kebutuhan warga. Mereka saling mengunjungi satu sama lain bersama anak-anaknya untuk mengkritik, atau ber- diskusi, atau memberi ide tentang bagaimana memperbaiki kehidupan baru mereka. Topik obrolan makan malam telah berganti. Isu sosial secara harfiah menjadi begitu sosial, ia menjadi tanggung jawab setiap orang. Setiap anggota komunitas menjadi pemimpin.
Ada transisi perlahan dalam hal pengam- bilan keputusan sosial, yang tadinya dilakukan di dalam gedung-gedung pemerintahan, seka- rang dilakukan di kehidupan harian. Ini adalah buah dari upaya-upaya pembangunan sebuah masyarakat bermoral-politik baru. Bagi orang-orang dari negara kapitalis mapan, keterlibat- an langsung seperti ini terkadang akan terlihat menyeramkan, terutama ketika hal-hal penting seperti hukum, pendidikan, dan keamanan kini berada di tangan setiap orang dan tidak lagi di- serahkan begitu saja pada aparatus negara yang tidak dikenal.
Warisan Perlawanan Komune
Suatu malam aku duduk di dekat Tell Mozan, yang pernah menjadi rumah bagi Urkesh, ibu- kota suku Hurrians yang berusia 6.000 tahun. Di dekatnya adalah batas antara Turki dan Suriah yang berusia kurang dari satu abad. Saat minum teh bersama Meryem, komandan perempuan Kobane, kami melihat cahaya dari kota Mardin
di Kurdistan Utara, di sisi lain perbatasan. “Kami bertempur atas nama setiap komu- nitas yang tertindas, dari seluruh perempuan, demi lembar-lembar halaman sejarah yang ti- dak tertulis,” katanya. Meryem adalah satu dari banyak perempuan yang di masa mudanya sempat bertemu dengan Abdullah Öcalan keti- ka Öcalan tiba di Rojava pada tahun 1980-an. Seperti ribuan perempuan lain yang melakukan pencarian keadilan di luar kehidupannya, suatu hari ia memutuskan untuk menjadi pejuang ke- merdekaan di wilayah ini, sebuah tempat yang di saat bersamaan juga adalah rumah bagi ribuan pembunuhan-demi-kehormatan dan ribuan dewa-dewi yang dipuja dalam berbagai bentuk dan ukuran. Gerakan-gerakan antisistem di seluruh du- nia mungkin tertarik pada perjuangan historis Kobane karena banyak jalan yang dipertahan- kan di kota ini mencerminkan ribuan tahun arus perjuangan umat manusia; cara-cara yang mengandung nilai universal yang gemanya
menyentuh imajinasi kolektif orang-orang di bagian dunia yang berbeda. Banyak yang me- nyandingkan perjuangan ini dengan Komune Paris, Perang Stalingrad, Perang Sipil Spanyol, dan contoh-contoh perjuangan populer lainnya yang nyaris seperti mitos. Di ziggurat-ziggurat di Sumeria, sebuah kompleks kuil besar pada zaman Mesopota- mia kuno, banyak mekanisme hierarkis mulai dilembagakan untuk pertama kalinya, yaitu patriarki, negara, perbudakan, tentara, dan kepemilikan pribadi—awal dari pembentuk- an masyarakat kelas yang diformalkan. Era ini membawa perpecahan sosial yang lebih luas, yang ditandai dengan hilangnya status sosial perempuan dan munculnya dominasi laki-laki, khususnya pendeta laki-laki, yang memonopoli pengetahuan. Akan tetapi, di tempat ini juga, di sekitar tahun 2300-an sebelum masehi, muncul kata pertama yang menggambarkan konsep ke- merdekaan, yaitu amargi, yang secara harfiah berarti ‘kembali ke ibu’.
Öcalan mengajukan ide tentang dua peradaban. Ia menyatakan bahwa menjelang akhir Zaman Neolitik, bersamaan dengan kemun- culan struktur hierarkis di era Sumeria kuno, peradaban berkembang berdasarkan hierarki, kekerasan, penaklukan, dan monopoli—“arus utama” atau “peradaban dominan”. Sebalik- nya, apa yang ia sebut sebagai “peradaban demokratis” merupakan perjuangan bersejarah kaum terpinggirkan, tertindas, miskin, dan di- singkirkan, terutama kaum perempuan. Oleh karena itu, Konfederalisme Demokratis merupakan sebuah produk politis dan manifestasi dari peradaban demokratis kuno ini. Pada gilirannya, model otonomi demokratis ini tidak hanya menjadi sebuah perspektif menjanjikan dalam mencapai solusi adil dan damai bagi konflik-konflik traumatis yang ter- jadi di wilayah ini. Dalam banyak hal, kemun- culan revolusi Rojava menggambarkan bagai- mana otonomi demokratis sebenarnya adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Da-
lam artian ini, komune revolusioner adalah sebuah warisan historis, asal dari ingatan kolektif bagi kekuatan demokrasi di seluruh dunia, dan sebuah mekanisme pertahanan diri yang dila- kukan dengan sadar dalam melawan sistem ne- gara. Inilah harta pusaka berusia ribuan tahun yang sedang bermanifestasi dengan cara-cara baru hari ini. Apa yang mempersatukan momen-momen historis perjuangan manusia dan hasrat untuk sebuah dunia baru,—dari para pejuang kemer- dekaan di awal-awal sejarah, hingga komune Paris, ke pemberontakan Zapatista, lalu ke lapangan-lapangan merdeka di Rojava—, adalah sebuah kekuatan dahsyat dari keberanian untuk berimajinasi. Keberanian untuk perca- ya bahwa penindasan bukanlah takdir. Inilah ekspresi dari hasrat kuno kemanusiaan untuk memerdekakan dirinya. Bijî komunên me! Vive la commune! Panjang umur komune!
Penulis adalah aktivis perempuan Kurdi dan kandidat PhD Departemen Sosiologi Universitas Cambridge. Ia meneliti tentang peran perjuang- an perempuan dalam mengartikulasikan dan membangun kemerdekaan di Kurdistan. Ia juga rutin menulis mengenai gerakan pembebasan Kurdi untuk sejumlah media internasional. Ju- dul asli “Building Democracy without the State”, pertama kali diterbitkan Roarmag, diterjemah- kan oleh Ferdhi F. Putra di anarkis.org, disunting ulang untuk AFFC oleh Hekate. Baca juga tulisan lain terkait pembebasan perempuan di Rojava, Suriah Utara, dalam tulisan “Revolusi Paling Feminis yang Pernah Di- lihat Dunia.”
162\ Kehidupan Membebaskan
Revolusi Paling Feminis yang
Pernah Dilihat Dunia
oleh Carne Ross
i Rojava, kelompok anarkis Kurdi yang dipimpin oleh perempuan ber-
Dada di jantung perjuangan melawan
ISIS. Di tengah pergolakan politik, mereka me- mosisikan kesetaraan sebagai sesuatu yang sa- ngat penting. Sesuatu yang luar biasa telah terjadi di sudut timur laut Suriah. Inilah cerita yang sedikit di- ketahui, yang menentang narasi-narasi umum tentang Suriah atau Assad, perang saudara atau ISIS. Inilah dia sebuah revolusi politik yang me- ngandung pelajaran penting bagi dunia. Dalam
revolusi ini, perempuan berada di garda depan, baik secara politik maupun militer, mereka se- ringkali memimpin perjuangan di garis depan dan mengorbankan hidup dalam melawan musuh paling atavistik dan antiperempuan di sana, yakni dengan apa yang disebut Negara Islam, atau Daesh, sebuah sebutan yang lebih merendahkan. Tempat ini disebut Rojava, nama Kurdi untuk Kurdistan Barat yang terletak di timur laut Suriah. Setelah runtuhnya rezim Assad di tahun 2012, partai-partai Kurdi memulai proyek luar biasa, yaitu swapemerintahan dan kesetaraan untuk semua ras, agama, serta perempuan dan laki-laki. Saya mengunjungi Rojava dalam sebuah perjalanan pribadi pada musim panas 2015 untuk mencoba memahami apa yang terjadi di sana sebagai bahan film dokumenter tentang anarkisme yang dapat Anda tonton di iPlayer. Hanya sedikit wartawan yang mengunjungi sepetak tanah di sepanjang perbatasan Turki yang ukurannya kira-kira separuh Belgia ini.
Sulit dijangkau dan mahal, membutuhkan per- jalanan panjang dari Irak Utara dan penyebe- rangan sungai Tigris dengan perahu kecil ke tanah Suriah. Pemerintah Daerah Kurdi Irak Utara (KRG) tidak bersimpati kepada Kurdi Rojava sehingga mereka membuat akses menjadi sangat sulit dan terkadang mustahil. Beberapa wartawan yang sampai di sana cenderung fokus pada pertarungan melawan ISIS, mereka berasumsi bahwa hal tersebutlah yang paling dipedulikan oleh para pembaca di Barat. Rojava lebih aman daripada zona tempur utama Suriah, namun masih ada pengeboman bunuh diri yang mengerikan, dan pengunjung dari barat tentu saja akan menjadi target bagus bagi para penculik Daesh. Akibatnya, sangat se- dikit laporan tentang eksperimen politik Rojava yang luar biasa. Komentar-komentar mengenai eksperimen ini seringkali adalah informasi dari pihak lain. Oleh karena itu, sering mengulangi kesalahpa- haman dari informasi sebelumnya, atau meru-
pakan propaganda yang dibelokkan dan penuh permusuhan, yang sengaja disebarkan utama- nya oleh Turki. Negara Turki adalah lawan par- tai politik terkemuka Kurdi Rojava (PYD) dan pasukan bersenjata Rojava, Unit Pertahanan Diri Rakyat, yang terdiri dari YPG yang seba- gian besar beranggotakan laki-laki. Sementa- ra itu, semua anggota YPJ adalah perempuan. Karakter politik dari revolusi Rojava juga tidak masuk ke dalam kategori biasa. Ia bukan proyek nasionalis Kurdi untuk sebuah negara merdeka. Ia juga bukan Marxis atau komunis, tidak juga didorong oleh motif agama atau etnis. Mungkin yang paling luar biasa—dan sayang- nya, unik—, mungkin inilah revolusi feminis paling eksplisit yang disaksikan dunia, paling tidak dalam sejarah baru-baru ini. Sebelumnya daerah ini adalah rumah bagi norma-norma petani tradisional, termasuk pernikahan anak dan menempatkan posisi perempuan di rumah. Tradisi-tradisi ini telah dilengserkan, se- bagai contoh, pernikahan anak sekarang ilegal.
Ada organisasi-organisasi perempuan yang berdampingan di setiap bidang, mulai dari milisi perempuan yang terpisah, YPJ, hingga komune dan koperasi perempuan yang berdampingan. Bela diri adalah prinsip revolusi Rojava. Itu- lah sebabnya mengapa wanita begitu aktif dalam perjuangan bersenjata. Namun demikian, konsep ini meluas menuju hak membela diri dalam melawan semua praktik dan gagasan antiperempuan—tidak hanya kekerasan ekstrim Daesh, tetapi juga termasuk gagasan dan praktik antiperempuan yang pernah ada di masya- rakat tradisional. “Dari apa yang saya lihat, transformasi poli- tik ini mendapat dukungan luas dari semua pi- hak: Kurdi, Arab, perempuan dan laki-laki, serta tua dan muda. Mengapa tidak? Intinya adalah untuk memberi setiap orang suara dalam peme- rintahan mereka sendiri.” (kutipan wawancara vice.com dengan Carne Ross dalam The Most Feminist Revolution the World Has Ever Wit- nessed)
Selain memastikan hak yang sama untuk perempuan, politik feminis Rojava bertujuan untuk menghancurkan dominasi dan hierar- ki dalam setiap aspek kehidupan, membentuk kembali hubungan sosial antarsemua orang tanpa memandang usia, etnis atau jenis kela- min, dengan tujuan untuk mencapai masyarakat yang harmonis secara ekologis dan sosial. Dalam hal perbandingan historis, proyek ini sangat mirip dengan periode singkat anarkisme yang disaksikan oleh George Orwell di Republik Spanyol selama perang sipil Spanyol pada akhir 1930-an. Namun demikian, perwakilan-perwakilan Rojava juga menolak label anarkisme. Meski banyak inspirasi untuk revolusi ini bera- sal dari seorang pemikir anarkis dari kota New York, Murray Bookchin. Jantung politik proyek Rojava ada di de- wan komunal lokal, di mana masyarakat lokal mengambil keputusan mengenai segala hal yang menyangkut diri mereka, seperti kesehat- an, pekerjaan, polusi… atau anak laki-laki me-
ngendarai sepeda terlalu cepat di desa, seperti yang dikeluhkan oleh seorang wanita di sebuah pertemuan yang saya kunjungi. Perempuan dan laki-laki dengan teliti diberikan suara yang setara. Para wanita bersama-sama memimpin setiap rapat dan pertemuan. Kelompok mino- ritas non-Kurdi, sebagian besar orang Arab, tetapi ada juga orang Siria, Turki, dan Asiria yang juga diberi prioritas dalam daftar pembicara. Saya menyaksikan jasa penerjemah disediakan di rapat-rapat. Inilah pemerintahan sendiri, di mana keputusan untuk desa diambil oleh desa atau daerah itu sendiri. Jika keputusan ti- dak dapat dibuat di tingkat lokal, para utusan mendatangi dewan kota atau daerah tetapi para perwakilan ini tetap bertanggung jawab kepada level komunal dan hanya dapat menawarkan pandangan-pandangan yang disetujui secara lokal. Upaya ini sangat disengaja untuk menja- ga pengambilan keputusan tetap selokal mung- kin—sebuah penolakan atas otoritas negara yang menggunakan sistem dari atas ke bawah.
Namun demikian, ironisnya, inspirasi re- volusi ini datang dari atas ke bawah. Abdullah Öcalan, pemimpin PKK (gerakan gerilya Kurdi di Turki), membaca karya Murray Bookchin saat ia berada dalam penjara Turki di sebu- ah pulau di Laut Marmara (ia masih berada di sana). Pernah menjadi seorang Marxis-Leninis dan pemimpin militer yang begis, Öcalan menjadi yakin bahwa pemerintahan sendiri tanpa negara adalah jalan maju bagi rakyat Kurdi. Dia membentuk filsafat Bookchin untuk konteks Kurdi, dan menyebutnya “konfederalisme demokratik”. PYD Kurdi Suriah terkait erat dengan PKK. Mengikuti Öcalan, para kadernya meng- adopsi konfederalisme demokratik dan mene- rapkannya di Suriah. Beberapa pihak menggugat taktik-taktik dominasi PYD, terutama pada masa awal re- volusi demokratik ini. Perilaku tersebut telah memberi ruang bagi para kritikus untuk me- nolak keseluruhan proyek ini secara tidak ma- suk akal. Dari apa yang saya lihat, transformasi
politik ini mendapat dukungan luas dari semua orang: Kurdi, Arab, wanita dan pria, serta tua dan muda. Mengapa tidak? Intinya adalah un- tuk memberikan suara kepada semua orang di dalam pemerintahan mereka sendiri–sebuah inovasi radikal di mana saja, apalagi di Suriah, negara yang sudah lama terbiasa dengan kedik- tatoran dan penindasan. Saya berbicara kepada banyak orang secara acak. Mereka kompak berpendapat positif, dan banyak yang berpendapat bahwa model Rojava—pemerintahan yang sangat terdesentralisasi—harus diadopsi di selu- ruh Suriah dan bahkan di luar Suriah. Namun demikian, proyek ini juga adalah sebuah pe- kerjaan yang masih berlangsung. Di beberapa pertemuan yang saya hadiri, perempuan dan laki-laki duduk terpisah, sebuah tanda perjalan- an dari praktik tradisional yang masih sedang dikerjakan oleh revolusi ini. Revolusi ini telah menderita banyak serang- an. Turki menentang Rojava dan semua paso- kan perbekalan, perdagangan, dan bantuan
kemanusiaan untuk wilayah tersebut dihalangi untuk melintasi perbatasannya. Hari ini, pasukan Turki menyerang Pasukan Demokratis Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi. Penye- rangan ini membuat YPG/YPJ dan milisi Arab bergabung menjadi sebuah front anti-ISIS. SDF telah menjadi kekuatan yang paling efektif dalam memerangi ISIS dan telah mendorong mereka mundur ratusan mil dengan biaya ribuan nyawa. Sekarang, SDF—dipimpin oleh seorang komandan wanita, Rojda Felat—telah mulai menyerang “pusat” ISIS, Raqqa. Saat ini SDF menikmati dukungan militer AS dan Sekutu, utamanya bantuan dari udara, dan juga dari pasukan khusus Amerika dan Sekutu di darat. Oleh karena itu, pemerintah AS dan negara-negara Barat terlibat dalam kontradiksi yang mengerikan. Mereka mengizinkan “mitra” NATO, yaitu Turki, untuk menyerang SDF—sekutu terpenting mereka dalam perang mela- wan ISIS—sembari juga memproklamirkan ko- mitmen teguh untuk mengalahkan ISIS. Berkat
hampir tidak adanya liputan pers, absurditas ini tidak menjadi kontroversi di kota-kota be- sar di barat. Orang-orang Kurdi memiliki alasan untuk khawatir bahwa begitu Raqqa jatuh, AS akan membiarkan Kurdi diserang Turki. Benar, dengan serangan Turki terhadap SDF yang se- makin intensif di Suriah utara, di sebuah wila- yah yang disebut Afrin, beberapa berpendapat bahwa pengkhianatan ini telah dimulai. Akan tetapi, kemunafikan manuver geopo- litik internasional seharusnya tidak mengabur- kan pentingnya revolusi demokratik Rojava. Berkat taktiknya yang mengerikan, ISIS mena- rik perhatian, tetapi faktanya yaitu: Rojavalah yang membawa pesan yang lebih penting bagi orang-orang yang peduli dengan demokrasi. Rojava menawarkan contoh alternatif dan praktis saat rakyat memegang kendali, dan
contoh ini berhasil. Alih-alih meniru peme- rintahan terpusat Irak dan Suriah Assad yang membawa petaka, lembaga-lembaga swape- merintahan Rojava telah menawarkan model
mereka untuk keseluruhan Suriah kelak keti- ka kediktatoran Assad berakhir. Benar, Rojava telah mengubah namanya menjadi Federasi Demokratis Suriah Utara untuk menekankan karakter multietnis dan penerimaannya atas perbatasan-perbatasan Suriah yang telah ada. Hal ini berbeda dengan dugaan barat yang lamban yang menganggap bahwa “suku Kurdi” menginginkan negara yang terpisah untuk diri mereka sendiri. Namun demikian, terima kasih atas sikap permusuhan Turki, perwakilan-perwakilan dari Federasi Demokratik dikeluarkan dari daftar ceramah PBB tentang masa depan Suriah—sebuah ketidakadilan yang disetujui tanpa bantahan oleh AS, Inggris, dan lainnya. PBB te- rus berpura-pura bahwa “orang-orang Kurdi” diwakili oleh sebuah partai yang sebenarnya adalah agen dari KRG di Irak. Hal ini mengung- kapkan bahwa para pejabat internasional yang kebanyakan adalah pria yang belum pernah mengunjungi daerah tersebut ternyata masih
lebih senang dengan stereotip etnis yang sudah ketinggalan zaman ketimbang karakter kosmo- politan dan feminis yang lebih akurat di dalam proyek ini. Sementara itu, model Rojava juga masih re- levan di barat. Hanya sedikit orang saja yang dapat mengklaim bahwa demokrasi di barat sedang dalam keadaan sehat. Ada kekecewaan yang memunculkan ekstremisme reaksioner sayap kanan—dan, ya, ada permusuhan yang jelas terhadap perempuan (yang tidak hanya diungkapkan oleh Donald Trump). Kedua hal tersebut berpengaruh. Ada sejumlah Orang Barat, seperti Brigade Internasional dari pasukan Republik di Spanyol turut bergabung dalam ba- risan YPG dan YPJ. Beberapa telah kehilangan nyawa mereka, termasuk dalam beberapa hari terakhir ini, seorang mantan aktivis Occupy Wall Street dari New York City kehilangan nya- wanya. Ketika kembali ke rumahnya, para pria dan wanita pemberani ini dituntut dan dihu- kum karena komitmen mereka pada demokrasi
dan kesetaraan. Semuanya menderita akibat penggambaran keliru yang banyak dimuat di media internasional. Ketika memberitakan tentang kematian aktivis Occupy muda, The Washington Post menggambarkan revolusi Ro- java sebagai “pseudo-Marxis”, sebuah gambar- an yang sangat berlawanan. Dalam demokrasi ini, tidak ada tempat bagi negara sama sekali. Rakyat mengatur, sebuah antitesis terhadap ko- munisme-negara. Ribuan pejuang YPG dan YPJ telah mati un- tuk tujuan ini. Selama kunjungan saya, saya bertemu Viyan, seorang wanita muda tentara YPJ di garis depan—sebuah tanggul berkerikil yang luas yang membentang dari cakrawala ke cakrawala melintasi dataran tandus di Suriah Selatan. Posisi ISIS berjarak beberapa ratus me- ter. Senapan di pundaknya. Ia memberitahuku bahwa di negerinya, atau di wilayah tersebut, wanita belum pernah setara dengan laki-laki. Tanpa kesetaraan bagi perempuan, tidak bakal ada keadilan di dalam masyarakat. Ia siap mati
untuk mempertahankan dispensasi ini. Tragis- nya, Viyan terbunuh beberapa bulan setelah wawancara kami, ketika melawan ISIS di kota Al-Shaddadi. Film kami tentang pencarian demokrasi yang lebih baik didedikasikan untuknya. -----------
CARNE ROSS adalah mantan diplomat Inggris yang sempat percaya bahwa demokrasi barat dapat menyelamatkan kita semua. Namun demikian, setelah perang Irak, ia kecewa dan mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah melepas jabatannya di tahun 2004, ia mendi- rikan kelompok penasehat diplomatik nirlaba pertama di dunia, Independent Diplomat, yang memberi saran kepada negara dan kelompok yang terpinggirkan di seluruh dunia. Tulisan ini terbit di Vice.com dan diterjemahkan ke baha- sa Indonesia oleh Jungkir Maruta untuk AFFC. Disunting pada tahun 2019 oleh Hekate AFFC. Baca juga tulisan “Membangun Demokrasi Tan-
pa Negara” mengenai perjuangan perempuan dan demokrasi langsung di Suriah Utara. Film Dokumenter Carne Ross yang berjudul “Accidental Anarchist” dapat ditonton di https:// youtu.be/Zh-RQG0xYAM (bahasa Inggris).
ROAR Magazine, 25 November 2017
Jineologi: Dari Perjuangan Perempuan
Hingga Pembebasan Sosial
“Sebagai kerangka pembebasan yang muncul dari gerakan Kurdi, jineologi menempatkan perempuan di pusat perjuangan melawan patriarki, kapitalis- me, dan negara.”
enilik perkembangan baru-baru ini di Suriah Utara, perempuan Kurdi
Msering digambarkan media Barat
sebagai pejuang garang yang berperang melawan kebarbaran dan kebiadaban dari apa yang kita kenal sebagai Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Namun demikian, menganggap gerilya-
wan perempuan Kurdi sebagai pahlawan yang mempertahankan nilai-nilai demokrasi dan ke- setaraan gender ala Barat telah membingkai perempuan Kurdi dalam sebuah narasi Orientalis, narasi yang hanya memberikan agensi politik dan pengakuan selama tindakan mereka sesuai dengan nilai-nilai liberal Barat. Bagaimanapun juga, perjuangan yang dila- kukan perempuan Kurdi sebenarnya berakar sangat dalam pada pemikiran dan praktik politik radikal. Oleh karena itu, perjuangan mereka tidak cocok dengan pandangan dunia liberal Barat seperti yang kita kira pada pandangan pertama. Gerakan Kurdi muncul pada akhir tahun 1970-an dari gerakan sayap kiri Turki yang terfragmentasi dan kemudian teradikalisasi di ruang penyiksaan penjara kota Diyarbakir se- telah kudeta militer tahun 1980 di Turki. Sejak hari ia dilahirkan, gerakan ini telah berkembang dari kepompong ulat Marxis-Leninis yang dog- matis menjadi kupu-kupu demokratis yang radikal.
Mereka meninggalkan tujuan pembentukan negara sosialis Kurdistan. Saat ini, gerakan Kurdi menggunakan teori dan praksis feminisme, ekologi sosial, dan munisipalisme libertarian untuk melampaui proyek pembuatan negara baru. Alih-alih membangun kekuasaan terpu- sat, mereka justru berusaha mengalokasikan kekuasaan kembali ke akar rumput melalui bentuk-bentuk perwakilan rakyat yang ber- struktur horizontal. Terinspirasi sebagian oleh teoretisi komunalis Amerika, Murray Bookchin, gerakan Kurdi telah dengan jelas mengutarakan aspirasi perjuangannya untuk sebuah masyarakat pascanegara, pascakapitalis. Mereka telah mulai menerapkan ide-ide ini di daerah otono- mi Kurdi Rojava, di Suriah Utara. Perjuangan untuk kesetaraan gender ada di jantung gerakan Kurdi. Visi mereka ialah untuk masyarakat yang adil. Mereka menemukan akar historis penindasan sosial, ekonomi, dan budaya, serta ketidakadilan dalam munculnya hierarki gender di era Neolitikum. Abdullah
Öcalan, pemimpin yang dipenjara dan teoretisi gerakan perjuangan Kurdi, menyatakan adanya hubungan langsung antara hierarki gender dan pembentukan Negara. Ia menunjukkan bahwa perempuan merupakan “jajahan pertama”. Öcalan berpendapat bahwa negara-bangsa, agama monoteistik, dan kapitalisme merupakan bentuk yang berbeda-beda dari dominasi laki-laki yang dilembagakan. Memerangi struktur sosial patriarki–atau dalam kata-kata Öcalan, “membunuh laki-laki dominan”–menjadi keharusan dalam perjuangan bagi sebuah ma- syarakat yang ingin melampaui struktur penin- dasan dari negara-bangsa kapitalis. Dalam perjuangan ini, paradigma Kurdi menekankan pentingnya transformasi mentalitas, baik mentalitas sosial maupun pribadi, yang bertahan lama. Istilah ini beresonansi dengan konsep wacana Foucauldian sebagai sebuah ja- ring formasi pemikiran. Ia menekankan akarnya pada praktik sehingga juga menggarisbawahi perlunya perjuangan antagonis untuk menca-
pai perubahan yang berkelanjutan. Dalam su- atu kerangka kerja yang memikirkan kembali batas-batas kewarganegaraan, fokus Marxis klasik pada perjuangan kelas diperluas dengan memperhitungkan bentuk-bentuk penindasan lainnya. Pembebasan perempuan mengam- bil peran penting baik sebagai refleksi teoretis mengenai realitas sosial maupun upaya praktis yang dilakukan untuk mengubah realitas itu secara radikal. Gerakan ini menegaskan bahwa agar dapat sukses dalam perjuangan sosial per- lu sepenuhnya memahami hubungan antara kapitalis, negara, dan penindasan gender. Dengan mempertimbangkan gerakan perlawanan antikolonial maupun antikapitalis abad ke-20, pemahaman perjuangan dirumuskan kembali secara mendasar. Jineologi adalah sebuah kerangka kerja ana- lisis feminis radikal yang telah dikembangkan gerakan Kurdi sejak tahun 2008. Mereka men- coba untuk mentransfer kemajuan yang telah dicapai gerakan perempuan Kurdi ke masya-
rakat yang lebih luas. Istilah Jineologi sendi- ri adalah sebuah neologisme¹⁴ dari kata “jin”, yang dalam bahasa Kurdi berarti “perempuan”. Jineologi mengkritik bagaimana ilmu-ilmu positivistik telah memonopoli semua bentuk kekuasaan ke tangan kaum laki-laki. Sebagai sebuah paradigma teoretis, ia didasarkan pada pengalaman konkret perempuan Kurdi yang menghadapi penindasan patriarkis, sekaligus kolonial. Dengan menggunakan perspektif baru ini, jineologi berupaya mengembangkan me- todologi alternatif untuk ilmu sosial yang ada, yang berbeda dengan sistem pengetahuan yang bersifat androsentris.¹⁵
14 Neologisme adalah kata bentukan baru, atau makna baru untuk kata lama dalam sebuah bahasa yang mem- berikan ciri pribadi demi pengembangan kosakata terse- but. 15 Androsentrisme adalah sebuah pemahaman yang menjadikan laki-laki sebagai pusat dari dunia. Lelaki dipaha- mi sebagai patokan untuk memandang tentang dunia, tentang kebudayaan, dan tentang sejarah. Pemahaman ini juga menjadikan lelaki atau pengalaman lelaki sebagai norma bagi perilaku manusia. Dalam pemahaman androsentrisme, peran perempuan tidak mendapat per- hatian. Androsentrisme mempunyai hubungan dengan struktur patriarki. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh feminis yang bernama Charlotte
Pada saat yang sama, jineologi juga mengar- tikulasikan kritik yang kuat terhadap feminisme Barat. Menurut Dilar Dirik, seorang akademisi dan pendukung jineologi, dekonstruksi feminis atas peran gender memang telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pemahaman kita tentang seksisme. Namun demikian, jineologi tetap kritis terhadap kegagalan feminisme Barat untuk membangun sebuah alternatif. Ia mengkritik kegagalan feminisme mainstream dalam mencapai perubahan sosial yang lebih luas karena membatasi diri dalam kerangka tatanan yang ada. Feminisme interseksional membahas masalah-masalah ini dan meng- garisbawahi pengamatannya terhadap bentuk-bentuk penindasan yang saling terkait. Feminis interseksional menyatakan bahwa feminisme perlu mengambil pendekatan holistik untuk mengatasinya. Namun demikian, menu-
Perkins Gilman pada awal abad ke 20. Pemahaman androsentrisme juga turut memengaruhi dunia pendi- dikan dan dunia bahasa (https://id.wikipedia.org/wiki/ Androsentrisme).
rut gerakan Kurdi, masalah terletak pada fakta bahwa perdebatan ini tidak pernah keluar dari lingkar kalangan akademisi. Jineologi menawar- kan diri sebagai metode untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini secara kolektif. Dengan demikian, jineologi dapat dilihat sebagai praktik hidup yang berevolusi dari diskusi-diskusi perempuan di seluruh Kurdistan. Necîbe Qeredaxî telah menjadi jurnalis dan pembela hak-hak Kurdi selama delapan belas tahun. Dia adalah anggota pendiri pusat penelitian untuk jineologi di Brussels, Belgia, yang akan segera membuka pintunya bagi publik. Tujuan organisasi ini ialah untuk mempromo- sikan penelitian dalam bidang ilmu pengetahu- an manusia dan sosial yang berkaitan dengan emansipasi perempuan. Pusat penelitian ini akan menyelenggarakan seminar-seminar dan lokakarya, melakukan penelitian tentang keke- rasan gender dan penindasan perempuan, dan berupaya menjangkau gerakan-gerakan feminis
di Belgia dan sekitarnya. Berikut ini merupakan hasil wawancara dengannya.
Apa itu jineologi dan apa yang diperjuang-
kannya? Necîbe Qeredaxî: Istilah jineologi terdiri dari dua kata, yaitu jin, kosakata Kurdi untuk ‘pe- rempuan’, dan logo, dari bahasa Yunani yang berarti ‘kata’ atau ‘alasan’. Jadi, jineologi adalah ilmu pengetahuan atau studi tentang perempu- an. Apa itu jineologi, bagi mereka yang baru saja mendengarnya? Jineologi adalah sebuah hasil sekaligus sebuah permulaan. Ini merupakan hasil dari kemajuan dialektis gerakan perempu- an Kurdi, serta sebuah awal untuk menanggapi kontradiksi dan masalah masyarakat modern, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, ekolo- gi, etika, dan estetika. Ilmu-ilmu sosial memang telah mengurusi masalah-masalah ini, namun mereka tetap masih terpengaruh oleh hege- moni penguasa sehingga akhirnya mendistorsi masalah-masalah tersebut, khususnya masalah
relasi antara laki-laki dan perempuan. Oleh ka- rena itu, jineologi mengusulkan analisis baru dalam bidang-bidang ini. Apa yang menjadi dasar analisis kita? Perta- ma, dialektika evolusi gerakan perempuan Kurdi dalam gerakan kemerdekaan bangsa Kurdi. Sejak awal, gerakan kemerdekaan Kurdi tidak hanya berjuang melawan kontradiksi nasional- isme, tetapi juga berjuang melawan kontradiksi di dalam masyarakat Kurdi sendiri. Oleh kare- na itu, gerakan ini terlibat dalam perjuangan nasional dan juga perjuangan gender. Gerakan kemerdekaan Kurdi memulai perjuangannya di Mesopotamia, di mana perempuan merupakan potensi historis. Jineologi berfokus pada potensi ini dan realitas historis di baliknya. Poin refe- rensi kedua bagi kita adalah realitas Kurdistan (wilayah tempat hidup bangsa Kurdi–ed) saat ini, ada realitas masyarakat alamiah yang telah dihancurkan dan ditundukkan, namun tetap hidup.
Siapa yang mengembangkan jineologi, dan mengapa? Jineologi seperti konsep yang tam- paknya baru saja beredar, apakah yang ingin ia tanggapi? Bagaimana latar belakang yang memicu perkembangannya?
Gerakan perempuan Kurdi saat ini sangat besar dan maju dalam hal kelembagaannya. Ia telah berkembang dari pengorganisasian diri sederhana hingga menjadi organisasi unit-unit militer dan partai perempuan. Sekarang kita berada dalam keadaan di mana gerakan perempuan telah menjadi payung pergerakan. Di bawah payung ini, ada empat daerah Kurdistan (yang terbagi-bagi di wilayah Suriah, Irak, Iran dan Turki*–ed*) yang terdiri dari ratusan unit-unit sipil, partai, dan militer. Sekarang ketika gerakan telah tumbuh, ada kebutuhan bagi su- atu bentuk mentalitas yang maju untuk meme- ngaruhi masyarakat. Selama perkembangan ini tetap terperangkap dalam segelintir organisasi intelektual, elit, dan pelopor, maka tidak akan ada perubahan sosial yang langgeng.
Selalu ada risiko kembali ke masa lalu. Pada tahun 2008, Sosiologi Kebebasan (Sociology of Freedom), teks-teks Abdullah Öcalan, diterbit- kan dalam lima volume. Dalam volume ketiga, Öcalan mengusulkan jineologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang dapat mengubah men- talitas masyarakat. Hal itu disebabkan walau- pun pasti ada perubahan, kita harus membuat perubahan ini secara jangka panjang dan efektif pada level paradigma yang mendasarinya. Un- tuk membuat kemajuan yang telah kita capai sejauh ini, kita tidak dapat puas hanya dengan reformasi saja. Öcalan mengatakan bahwa jika kemajuan yang kita buat tidak didukung secara ilmiah dan akademis–dan jika laki-laki tidak mengubah diri mereka sendiri–maka akan selalu ada risiko kekuasaan laki-laki akan kembali mem- bangun dirinya dan menindas potensi yang di- bangun oleh perempuan. Ini berarti bahwa un- tuk menciptakan potensi baru dan perubahan sosial yang berkelanjutan, transformasi gender
juga harus terjadi dalam masyarakat. Mengi- kuti proposal ini, pada 2008 sebuah komite de- ngan sekitar tiga puluh anggota didirikan untuk membahas jineologi dan cara-cara untuk dapat mengembangkannya. Sejak itu, komite-komite jineologi telah didirikan di banyak kota di Kur- distan Utara. Ketika kita melihat Rojava, ada sejumlah besar organisasi jineologi di sana, ter- masuk sentra akademi jineologi serta beberapa pusat-pusat jineologi. Di Eropa, jineologi telah menjadi agenda gerakan perempuan selama tiga atau empat tahun terakhir, dan sejumlah besar konferensi, seminar, dan panel telah di- selenggarakan di berbagai negara. Selama tiga tahun terakhir, kami menyadari bahwa hal-hal ini harus menjadi lebih terlem- bagakan. Oleh karena itu, pada awal 2016 seke- lompok kami yang berasal dari berbagai latar belakang–jurnalis, akademisi, anggota gerakan perempuan, kaum intelektual–berkumpul dan pada tahun 2017 dan mendirikan Pusat Jineologi di sini, di Brussels, di mana kami ingin beker-
ja lebih erat dengan gerakan kaum feminis di seluruh Eropa. Sebagian besar dari kami adalah sukarelawan. Kami tidak menerima uang kare- na kami ingin menjalankan jineologi sebagai sesuatu, di mana semua orang bisa turut me- ngerjakannya dan berpartisipasi di dalamnya.
Anda menyebutkan bahwa Anda ingin men- jangkau gerakan feminis di Eropa. Ini mem- buat saya bertanya-tanya tentang hubungan antara jineologi dan feminisme. Apakah jine- ologi berbeda dengan feminisme? Dan sejauh mana ia mengambil manfaat dari feminisme?
Jineologi bukanlah alternatif untuk feminisme. Ini harus diperjelas. Kami tidak mengatakan, mari kita singkirkan feminisme dan bangun jineologi sebagai gantinya. Kami telah mengatakan ini dengan sangat jelas dan saya ingin mengulanginya lagi di sini. Beberapa orang mengatakan bahwa jineologi adalah feminisme Kurdi, padahal bukan seperti itu. Ia bukan feminisme Kurdi.
Mengapa?
Karena ketika gerakan perempuan Kurdi pertama kali dimulai, ia menganalisis kontra- diksi masyarakat Kurdi dan mulai menangan- inya dengan perjuangan perempuan. Ketika ia meneliti gerakan-gerakan feminis, gerakan perempuan Kurdi menyadari bahwa ia dapat mengambil bagian-bagian tertentu dari feminisme sebagai warisannya. Tetapi masyarakat Kurdi dan masyarakat Timur Tengah tidak dapat diubah hanya melalui feminisme. Kami memiliki pandangan yang kritis terhadap feminisme. Feminisme tidak mampu melihat dari perspektif holistik seluruh rangkaian masalah masyarakat, terutama di Timur Tengah. Sela- in itu, feminisme telah menjadi terlalu terpe- cah-pecah dan telah memisahkan diri dari re- alitas sosial. Ia telah membatasi dirinya pada kaum elit. Apa yang benar bagi Eropa tidak selalu benar bagi Timur Tengah. Kaum perempuan dari semua benua tentu saja memiliki kesamaan da-
lam hal-hal tertentu, tetapi kami juga berbeda. Sebagai contoh, di negara-negara tertentu di Eropa, perempuan berjuang untuk hak aborsi, tetapi di Timur Tengah perempuan masih disu- nat, perempuan masih diperkosa. Oleh karena itu, perspektif gerakan perempuan feminis te- tap tidak memadai untuk kenyataan di banyak tempat di dunia. Akan tetapi, tidak berarti kita tidak meneri- ma warisan gerakan perempuan internasional. Referensi kami dalam jineologi terinspirasi oleh warisan gerakan feminis Barat. Misalnya gerakan Suffragette di Inggris Raya, komune perempuan selama revolusi di Perancis, perjuangan perempuan di bawah kepemimpinan Alexandra Kollontai, perjuangan perempuan di Jerman di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg, Maria Mies, seorang ekofeminis kontemporer, atau- pun perjuangan kaum perempuan di Amerika Latin. Kami melihat mereka semua sebagai ba- gian dari warisan kami, namun kami juga melihat bahwa gerakan feminis sangat Eurosentris.
Plus, mereka telah tunduk pada kekuatan sis- tem kapitalis dan mentalitas patriarkal. Banyak feminis tidak melihat hubungan segitiga antara patriarki, kapitalisme, dan negara-bangsa. Menghancurkan segitiga ini ber- arti menghancurkan musuh mereka. Apa yang terjadi kemudian adalah beberapa laki-laki ber- juang melawan kapitalisme dan negara-bangsa, tetapi mereka tidak melihat patriarki sebagai bagian dari masalahnya. Atau beberapa feminis hanya melihat patriarki sebagai masalah, tetapi tidak melihat bagaimana mentalitas ini terkait dengan negara dan kapitalisme. Dua minggu lalu saya menghadiri sebuah konferensi di Berlin. Seseorang dari asosiasi feminis yang mengorganisasi acara tersebut ber- komentar, “Apa hubungannya peristiwa yang terjadi di Timur Tengah dengan kita? Para perempuan menenteng senjata, salah banget tuh. Mengapa Anda membawa isu mereka ke negara kita?” Ini hanyalah sebuah contoh, tentu saja tidak semua perempuan Jerman berpikir seperti
itu, begitu pula dengan semua organisasi feminis. Akan tetapi, ada banyak juga yang berpikir demikian. Ketika Jerman menjual senjata ke Turki dan Arab Saudi dan mendukung kediktatoran di Timur Tengah, merupakan tanggung jawab gerakan feminis untuk menentang hal ini. Jineologi mengkritik mereka karena gagal me- lakukannya. Gerakan ini seharusnya tidak ber- tentangan dengan realitas sosial, mereka perlu berpikir secara global. Kami percaya jineologi dapat membawa energi baru bagi gerakan ini. Kita bisa menjadi jembatan untuk membangun hubungan simbiosis dan menciptakan platform bersama, di mana kita mengevaluasi kritik dari gerakan feminis dan bekerja bersama pada hal- hal yang membuat jineologi kuat.
Gerakan Kurdi telah menjadi sangat populer di Barat belakangan ini. Terutama di media Barat liberal dan sayap kiri, kita telah melihat banyak gambar perempuan Kurdi yang berpe-
rang melawan ISIS. Fenomena ini telah men- jadi daya tarik besar di Barat. Dari perspektif jineologi, apa posisi Anda tentang peran pe- rempuan dalam perang dan pertahanan diri? Apa jawaban Anda terhadap kritik bahwa pe- rempuan tidak boleh membawa senjata?
Saya akan mengatakan bahwa ada kele- bihan dan kekurangan atas kepopuleran ini. Keuntungannya adalah embargo yang sejak lama dibebankan pada gerakan kemerdekaan Kurdi akhirnya dicabut, begitu pula dengan fakta bahwa gerakan ini pernah berada dalam daftar organisasi teroris di Eropa Barat dan Amerika. Gerakan ini telah dikriminalisasi dan dipandang sangat negatif, tetapi pandangan ini sekarang ditentang pada skala internasional. Gerakan kebebasan Kurdi tidak hanya peduli pada masyarakat Kurdi, tetapi juga dengan et- nis dan agama lain dengan siapa kita hidup ber- dampingan, seperti orang Arab, Asiria, Aramia, Chechen, Armenia, Turkmens, Azeri, Yahudi, Kristen, Syiah…. Ini semua telah terungkap dan
menciptakan citra yang lebih positif dari gerakan kebebasan Kurdi. Itu satu sisi. Di sisi lain, ada kelemahan bahwa kekuatan dilihat hanya sebatas persoalan senjata. Mi- salnya, para perempuan di Unit Perlindungan perempuan (YPJ) digambarkan sebagai pah- lawan sejati karena memerangi ISIS dengan senjata mereka. Akan tetapi, apakah kekuatan yang dipertaruhkan di sini? Apakah pertahanan diri hanya persoalan senjata? Atau bisakah kita memikirkan bentuk pertahanan diri lain? Begitu ISIS dan penindasan kolonial dikalah- kan, begitu pertempuran berakhir, bisakah kita mengatakan bahwa perjuangan perempuan ini juga telah berakhir? Inilah titik di mana per- tanyaan sebenarnya dimulai. Untuk gerakan kebebasan Kurdi, senjata adalah sarana pertahanan diri, tetapi pertahanan diri tidak hanya terjadi dengan senjata. Di Eropa, contohnya, orang-orang tidak menenteng senjata, namun tetap saja terjadi serangan di tengah-tengah mereka–ada orang yang meledakkan diri di da-
lam kereta metro. Jadi, Anda tidak bisa hanya mengandalkan negara untuk melindungi Anda. Ini menimbulkan pertanyaan bagaimana masyarakat dapat mempertahankan diri secara mental dan ideologis melalui pengembangan mental dan organisasi. Salah satu metode paling penting yang dapat dipakai masyarakat untuk mempertahankan dirinya adalah pengembangan konsep hidup berdampingan secara bebas (free coexistence). Baru-baru ini, kami melihat salah satu contoh paling menarik di Şengal, Irak Utara. Seorang perempuan dari Şengal, seba- gai contoh, mengatakan bahwa “baru kemarin orang Arab Sunni menjadi tamu kami saat ma- kan malam. Di hari berikutnya mereka datang dan menghancurkan rumah kami lalu mencu- lik putri saya”. Ini berarti bahwa di sini–di masyarakat ini–prinsip koeksistensi bebas belum dikembangkan. Bagaimana orang Arab Sunni memandang orang Şengal, bagaimana orang-orang ini hidup bersama? Kita perlu mengem- bangkan konsep hidup berdampingan secara
bebas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Jadi Anda mengatakan bahwa prinsip koeksis-
tensi bebas ini adalah dasar pertahanan diri?
Ya, tepat. Orang-orang telah terisolasi dari satu sama lain, mereka tidak lagi memikul tanggung jawab sosial atau tanggung jawab moral bagi satu sama lain. Masyarakat telah terpe- cah-pecah atas nama individualitas. Melalui jineologi, kami ingin mengembangkan kembali kepekaan dan tanggung jawab antara satu sama lain.
Dalam pengertian itu, perjuangan bersenjata
hanyalah permulaan dari sesuatu yang lain?
Iya. Contohnya dalam Unit Perlindungan Rakyat (YPG), Unit Perlindungan Perempuan (YPJ), dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), pendidikan yang terkait penggunaan senjata hanyalah bagian kecil, mungkin sekitar 20 atau 25 persen dari keseluruhan pendidikan. Sisanya
adalah pendidikan ideologi dan politik, serta pengembangan kepribadian. Tujuannya bukan hanya untuk membersihkan area-area tertentu dari ISIS dengan penggunaan senjata, melain- kan juga tentang membangun relasi-relasi so- sial tertentu. Misalnya, di wilayah yang diambil alih oleh YPG/YPJ atau SDF, masyarakat lokal didorong untuk terlibat dalam pertanian dan peterna- kan. Ada wilayah-wilayah di mana selama tu- juh puluh tahun rezim Assad melarang orang menanam gandum di sana. Para perempuan bersenjata itu, banyak dari mereka sekarang terlibat dalam berbagai aktivitas di Eropa. Jadi, selalu ada potensi untuk hal lain selain senjata. Orang-orang ini dapat menjadi bagian dari masyarakat, mereka dapat membentuk organi- sasi, terlibat dalam kegiatan sipil, mendidik masyarakat, menjalankan sebuah akademi. Pada akhirnya, yang terpenting adalah transformasi dalam tataran mentalitas.
Di dalam gerakan Kurdi, alat analisis yang paling penting adalah gender dan identitas, yaitu identitas Kurdi dan pembebasan perem- puan. Saya bertanya-tanya, sejauh mana ana- lisis kelas masih menjadi alat untuk menga- nalisis perjuangan sosial?
Jika kita menengok transformasi gerakan Kurdi, kita melihat bahwa setelah tahun 1990 terjadi sejumlah perubahan mendasar. Pada awalnya, gerakan Kurdi utamanya mengobar- kan perjuangan kelas, yang didirikan di atas ga- gasan Marxis-Leninis. Aspek utama dari perubahan paradigma (pada tahun 1990-an) terletak pada pemahaman bahwa analisis perjuangan kelas muncul karena adanya penjajahan pikiran. Dalam Marxisme klasik, idenya adalah bahwa perbedaan kelas sosial adalah alasan terjadi- nya penindasan dan perjuangan. Tetapi Öcalan mengatakan bahwa penindasan muncul dalam pikiran, dan penindasan yang pertama dan ter- penting menimpa kaum perempuan, sehingga pertama-tama kita harus berjuang melawan
penindasan ini. Jika kualitas dasar penindasan perempuan tidak dipahami maka tidak ada per- juangan yang bisa berhasil. Kami percaya bahwa sebagai langkah pertama kita perlu bertanya bagaimana penindasan mental telah dipaksakan. Menurut jineologi, penindasan ini dilakukan dengan tiga cara. Pertama, perempuan ditindas secara seksual dan karenanya diobjektifikasi. Kedua, perempuan menjadi tertindas secara ekonomi. Keti- ga, transformasi ideologis–seperti mitologi dan agama–telah berkontribusi pada penindasan ini. Dengan bantuan jineologi kami berusaha masuk ke lorong sejarah yang dalam dan men- cari di titik mana kaum perempuan telah dile- nyapkan, agar kami dapat melakukan hal seba- liknya. Banyak orang bertanya mengapa simbol jineologi adalah gelendong kayu (spindle). Gelendong¹⁶ adalah instrumen yang dibuat oleh
16 Bilah kayu yang dipakai untuk memintal atau menggu- lung benang tenun. Gelendong dibuat dalam berbagai
para ibu lebih dari 10.000 tahun yang lalu dan masih bertahan hingga hari ini. Kami mengi- kuti benang gelendong sepanjang sejarah untuk meneliti bagaimana resistensi perempuan telah berkembang di sekitar gulungan benang simbolik ini.
Kita bisa melihat bahwa jineologi sangat erat kaitannya dengan perjuangan Kurdi. Tapi apa pentingnya jineologi untuk perempuan di Eropa? Apakah jineologi hanya sesuatu untuk perempuan Kurdi atau mungkinkah ia juga menjadi sumber inspirasi bagi perempuan di tempat lain?
Cara kita memahami jineologi terungkap dalam dua tahap. Tahap pertama berkaitan dengan memperkenalkan dan memberi tahu orang-orang mengenai jineologi. Tahap ke- dua berkaitan dengan pelembagaan. Apa yang kami upayakan di tingkat internasional selama
ukuran, bentuk, dan berat, tergantung pada ketebalan benang yang dipintal.
empat-lima tahun terakhir telah menunjukkan bahwa jineologi tidak hanya untuk perempuan Kurdi. Setiap tempat yang kami kunjungi–Ame- rika Selatan dan Utara, Eropa, Australia–di ber- bagai panel, konferensi, seminar, kami meng- alami pembentukan sinergi yang hebat. Ini memberitahu kami bahwa kami berada di jalan yang benar. Kami percaya bahwa sistem kapitalis telah menciptakan krisis sosial yang hebat. Krisis ini tidak hanya menyangkut masyarakat Kurdi dan memiliki pengaruh yang sangat besar di Eropa. Melalui jineologi kami ingin membuat platform diskusi tentang ilmu sosial. Kita tahu bahwa ilmu sosial yang ada bukanlah solusi untuk krisis sosial, kami percaya bahwa jineologi da- pat menciptakan gelombang dan diskusi baru dalam ilmu sosial. Secara khusus, kami ingin membuat platform bersama untuk berdiskusi dengan gerakan feminis di Eropa. Kami meng- anggap diskusi dengan feminis Eropa sangat penting. Kami ingin membahas masalah gen-
der, serta masalah yang sekarang muncul se- bagai bagian dari krisis sosial di sini. Misalnya, mengapa rasisme semakin kuat? Apa alasan- nya? Mengapa krisis ekonomi terus berlanjut? Dan apakah ini benar-benar krisis ekonomi, atau mungkin lebih tepatnya krisis intelektual? Kami ingin mendiskusikan masalah ini dengan perempuan lain sehingga kami dapat me- nemukan cara berpikir baru tentang persoalan ekonomi, kesehatan, etika, estetika, metode, dan kekerasan. Dengan cara-cara klasik dalam produksi pengetahuan, melalui reformasi le- gal, kita tidak dapat menghentikan kekerasan struktural. Sebaliknya, kami ingin masuk lebih dalam dan bertanya dari mana kekerasan dan penindasan gender berasal. Kami ingin mengembangkan konsep-konsep pertahanan diri, koeksistensi, dan kepemimpinan bersama. Kami ingin mendiskusikan semua ini dengan perempuan Eropa.
Salah satu hal yang selalu ingin kami tanya- kan adalah posisi jineologi dalam kaitannya dengan teori queer, karena teori queer tam- paknya memiliki beberapa kritik serupa de- ngan yang Anda utarakan terhadap feminis- me Barat klasik. Ada juga banyak kritik dari kaum feminis kulit hitam atau perempuan non-kulit putih terhadap feminisme yang sa- ngat Barat-sentris. Apa posisi Anda terhadap teori queer dan berbagai kritik atas feminisme lainnya?
Kami percaya bahwa ada krisis yang tengah terjadi di dalam sistem, yang memaksa semua anggota masyarakat–termasuk mereka yang memiliki identitas seksual dan gender berbeda. Sistem ini bekerja dengan cara memisah-misah masyarakat dan mengatur setiap bagian masyarakat dengan cara yang berbeda-beda. Me- nurut jineologi, setiap identitas memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya dan mengatur dirinya sendiri. Namun kita melihat bahwa di dalam sistem kapitalis tidak semua identitas
sosial dapat mengatur dirinya sendiri–entah itu agama, etnis, atau gender tertentu. Akan tetapi, kami juga percaya bahwa seharusnya tidak ada pemisahan seperti itu di dalam masyarakat. Kategorisasi identitas menciptakan kesenjang- an dalam masyarakat yang akan dengan mudah dieksploitasi sistem untuk memecah belah kita. Kami percaya bahwa kami perlu membahas teori queer lebih lanjut. Saya pikir, kami seba- gai teoretisi dan penganut jineologi, masih benar-benar berada di awal proses pembelajaran. Jelas bagi masyarakat kami, teori queer adalah hal yang sangat baru. Akan tetapi, begitu kita membahasnya lebih lanjut, mungkin saja masyarakat akan meresponsnya secara positif. Izinkan saya menambahkan bahwa di dalam gerakan kebebasan Kurdi ada juga orang-orang transgender, yang merupakan sesuatu yang sangat normal–tidak pernah ada alasan untuk me- nolak mereka menjadi anggota gerakan.
Sebenarnya, kita dapat mengamati apa yang Anda bicarakan ketika kita melihat bagaima- na sayap kanan di Eropa memperalat hak-hak kaum gay dan menggunakan retorika queer atau feminis bahkan ketika mereka sebenar- nya bukan feminis. Secara khusus, sayap ka- nan telah sangat berhasil memperalat hak- hak kaum gay dan perempuan sebagai cara untuk mengucilkan laki-laki kulit hitam dan Muslim. Kami melihat ini dengan sangat je- las di Jerman setelah peristiwa Malam Tahun Baru di Cologne dua tahun lalu (malam per- gantian tahun 2015-2016–ed).
Di Timur Tengah, hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada gerakan Islam feminis. Dengan mengacu pada Islam, mereka melarang semua transformasi sosial dalam komunitas. Mereka juga menggunakan argumen Islam untuk menindas masyarakat.
Berkaitan dengan itu, bagaimana Anda me- mandang peran agama? Dan bagaimana hal- nya dengan laki-laki atau perempuan yang religius? Adakah tempat bagi mereka dalam jineologi?
Kami tidak menolak agama sepenuhnya, kami juga tidak memeluknya sebagai sesuatu yang benar dan yang kami pertahankan. Kami lebih mendekati agama dari perspektif sosiolo- gis. Bagaimana agama terjadi, bagaimana agama menjadi pelembagaan mitologi? Bagi kami, pada dasarnya agama adalah mitologi yang te- lah dilembagakan. Namun demikian, pada saat yang sama, ia juga bisa menjadi metode untuk perlawanan. Seringkali, mereka yang berkuasa menggu- nakan agama sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan mereka. Mereka menggunakannya untuk memapankan hukum buatan mereka pada pondasinya, untuk memberikan bentuk kepada masyarakat, untuk menciptakan sistem dominan yang bahkan memasuki impian Anda.
Mereka campur tangan dalam semua aspek ke- hidupan Anda. Kita tahu bahwa 2 tahap mitologi dan agama membawa kemunduran besar bagi perempuan. Misalnya, gagasan bahwa perempuan diciptakan dari jidat Zeus, atau bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria. Oleh karena itu, kami percaya bahwa me- neliti transformasi dari tahap animisme ke tahap syamanisme dari mitologi dan agama merupakan hal yang penting. Menurut jineo- logi, animisme dan syamanisme sebenarnya adalah bentuk agama. Animisme adalah keper- cayaan yang didasarkan pada kekuatan alam. Sementara itu, syamanisme didasarkan pada patriarki. Sosok dukun/syaman menyatukan kekuatan material dan batiniah para pemburu. Bersama-sama dengan tokoh komandan militer, ia menciptakan segitiga–agama, kekuasaan militer, dan otoritas–yang telah menjadi inti bagi pendirian hegemoni atas perempuan me- lalui penjajahan atas tenaga kerja dan pikiran mereka.
Pada saat bersamaan, kami tidak menolak agama. Ada juga elemen positif dalam agama, yaitu elemen moral dan budaya yang diper- tahankan oleh agama. Selain itu, gerakan ke- agamaan juga telah berjuang menentang he- gemoni, khususnya agama-agama yang tidak memiliki dewa abstrak dan yang ajarannya berpusat pada manusia, seperti Yezidisme, Ale- vism, dan Zoroastrianisme.
Dalam feminisme, pemikiran bahwa gender dikonstruksi secara sosial telah menyebabkan banyak skeptisisme terhadap gagasan menge- nai sifat atau esensi perempuan. Apa posisi Anda terhadap gagasan tentang sifat perem- puan?
Topik ini menjadi diskusi yang sangat kritis selama kamp di Cologne musim panas ini. Saya percaya bahwa gerakan perempuan feminis juga belum cukup mengeksplorasi ini. Argumen-argumen yang diajukan sejauh ini semu- anya tidak menunjuk ke satu arah yang sama.
Keberadaan manusia adalah keberadaan biologis dan sosial. Ilmu pengetahuan yang ada saat ini telah menyangkal kebenaran sejarah yang sangat penting. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya sifat perempuan. Padahal, biologi telah membuktikan bahwa pada mulanya hanya ada kromosom XX, bukan kromosom XY. Apa maksudnya ini bagi kita? Ia memberi tahu bahwa keberadaan biologis perempuan juga dapat mencakup keberadaan laki-laki, sedangkan keberadaan laki-laki tidak mencakup keberadaan perempuan. Sebagai penganut jineologi, kami tidak setu- ju dengan gagasan bahwa tidak ada sifat perempuan. Sebaliknya, kami ingin meneliti persoal- an ini lebih lanjut. Kami percaya bahwa ilmu sosial telah berperan dalam menolak kebenaran tentang perempuan. Begitu Anda berhenti menyangkal kebenaran ini, Anda membuka perta- nyaan lain mengenai bagaimana kebenaran ini telah didistorsi dan ditindas. Jika Anda menga- kui bahwa pernah ada kebenaran tentang pe-
rempuan, namun kemudian aspek biologis dan sosiologis dari kebenaran ini diubah, maka ba- rulah kita bisa berdiskusi. Akan tetapi, jika Anda mengatakan bahwa tidak ada sifat perempuan, titik, maka itu juga merupakan bentuk dogma- tisme yang tidak banyak berbeda dari dogmatis- me agama atau mitologi. Dalam sistem matriarkal, sifat perempuan membuka jalan bagi sosialisasi. Apakah hubungan kekerabatan dalam masyarakat itu? Misalnya, mengapa ada larangan hubungan seksual antara kakak dan adik? Bagaimana tabu yang bersifat positif ini diciptakan? Hal-hal ini adalah produk dari sifat perempuan, produk dari pemikiran analitis dan emosional perempuan. Jika itu bukan sifat perempuan, lalu apakah sifat perempuan?
Dalam banyak perjuangan pembebasan na- sional kita melihat bahwa meskipun perju- angan perempuan dan perjuangan nasional berjalan secara bersamaan, pada akhirnya se-
ringkali perjuangan politik menaklukkan per- juangan perempuan. Apakah Anda mengang- gap ada risiko bahwa perjuangan perempuan Kurdi mungkin menjadi nomor dua setelah ge- rakan politik? Apa pendapat Anda tentang ini?
Perjuangan nasional selalu penuh risiko. Di Timur Tengah, perjuangan nasional sendiri dapat menjadi sangat berbahaya jika tidak ada perjuangan gender yang menyertainya. Dalam hal terminologi, gerakan kemerdekaan Kurdi sebenarnya tidak lagi mengklaim sedang me- ngobarkan perjuangan nasional. Sekarang perjuangan ini adalah perjuangan untuk bangsa yang demokratis. Karena jika perjuangan ke- bangsaan ini tidak didemokratisasikan, maka ia akan selalu berisiko dipakai untuk melawan bangsa lain. Kita dapat melihatnya di Kurdistan Selatan (wilayah Kurdi di Irak). Di sini, sekarang, ada sebuah bangsa dengan otoritas. Namun de- mikian, karena bangsa ini belum didemokrati- sasi, ia tetap menjadi risiko bagi masyarakatnya sendiri.
Jadi, apa perbedaan antara bangsa yang demokratis dengan bangsa lain? Tujuan dari perjuangan nasional adalah untuk terciptanya sebuah negara. Ia berupaya menjatuhkan satu negara dan mendirikan negara-bangsa baru se- bagai gantinya, yang berdasarkan pada gagas- an satu bangsa, satu bahasa, satu sejarah, satu bendera, dan satu budaya. Akan tetapi, tujuan gerakan kemerdekaan Kurdi bukanlah itu. Tu- juannya adalah bangsa yang demokratis, yaitu masyarakat mengatur dirinya sendiri melalui otonomi demokratis. Pemerintahan masyarakat menjadi swapemerintahan oleh masyarakat itu sendiri. Tidak ada orang yang datang dari luar untuk memerintah masyarakat, sebab masyarakat mengatur dirinya sendiri. Dalam hal institusi, ini berarti ada dewan-dewan dan komune-komune bersama dengan bangsa-bangsa lain. Sistem kepemimpinan bersama ini, con- tohnya, mengikutsertakan orang-orang Arab, Turkmen, Armenia, dan seterusnya.
Jadi, ide dasarnya bukan mendirikan satu bangsa tunggal. Sistem ini paling maju di Ro- java. Di sini, berbagai bangsa mengorganisasi diri mereka dalam kerangka kerja gerakan kebebasan Kurdi. Mereka tidak mengorganisasi diri di bawah gerakan kebebasan Kurdi, me- lainkan terlibat dalam perjuangan ini sejalan dan bersama-sama dengan gerakan Kurdi. Jadi, orang-orang Kurdi tidak datang untuk meng- atur orang-orang Arab atau Turkmen. Seba- liknya, orang-orang Asiria memiliki unit ber- senjata sendiri (Sutoro) atau dewan militer di kota Manbij yang dikelola bersama oleh bangsa Kurdi dan Arab. Jadi, di semua front kita melihat bahwa perjuangan nasional bukan lagi perjuangan satu bangsa. Ini adalah perjuangan yang demokratis. Dalam salah satu pidatonya, Öcalan me- ngatakan bahwa ia menciptakan sebuah per- nyataan Jin, jiyan, azadî–perempuan, kehidup- an, kebebasan–sebagai sebuah ekspresi yang memikat. Apakah yang dilawan oleh Jin, Jiyan,
Azadî ? Ia diarahkan untuk melawan formula kematian, seks dan perbudakan. Kematian di sini berarti kematian fisik dan mental. Kemu- dian, perbudakan mengacu pada bagaimana seluruh masyarakat diperbudak melalui sosok perempuan. Oleh karena itu, formula ini tidak hanya berlaku untuk perempuan Kurdi, tetapi juga untuk perempuan-perempuan dari masyarakat lainnya. Ini berarti bahwa perjuangan untuk bangsa yang demokratis dan perjuangan gender akan selalu dilakukan bersama.
Ditulis oleh: Marlene Schäfers & Brech Neven
MARLENE SCHÄFERS adalah seorang antro- polog sosial dan saat ini mendapat pendanaan riset lewat Marie Skłodowska-Curie Fellow di Middle East and North Africa Research Group di Universitas Ghent University, Belgia.
BRECHT NEVEN merupakan lulusan jurusan ilmu politik di Universitas Ghent. Dia menulis disertasinya tentang paradigma ideologis gerak- an Kurdi, membuat perbandingan dengan ge- rakan anarkis selama Perang Saudara Spanyol. Dia saat ini terdaftar di program pascasarjana dalam studi Jurnalisme di Vrije Universiteit, Brussel, Belgia.