Baca PDF (OCR): TERBITAN ABAL-ABAL VOLUME 1

42 halaman · 11 halaman diproses dengan OCR· 6108 ms

Daftar isi
  1. : TERBITAN ABAL-ABAL
  2. VOLUME 1, 2023
  3. SASTRA SEKENANYA
  4. SASTRA SEKENANYA
  5. : Terbitan Abal-abal.
  6. Volume 1, 2023.
  7. kami "generasi" terkonyol: seciprat pengantar.
  8. Puisi-puisi Komang.
  9. Pedang Kecil
  10. kata si pedang kecil.
  11. Bunuhlah Kasihan
  12. Terima Kasih Orang Miskin
  13. Ini Semua Bukan Salahmu
  14. Kamu Itu Berharga
  15. — berharga matamu!
  16. Puisi-puisi Ashari.
  17. سالاه ماكنا
  18. فاك
  19. uy ilip h
  20. TUNSA AARA
  21. Bayı Bay Bang Jut
  22. bayi bayi fumbuh
  23. Puisi-puisi Amos Ursia.
  24. puisi pagi itu.
  25. puisi tentang khawatir.
  26. komang mengetik afrizal, lalu aku memberinya diktum puitik GM.
  27. Puisi-Puisi Pius.
  28. Nantian lah. Dalam terbitan ini, Pius menyajikan sambatnya
  29. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran. Satuan Pendidikan : SMA MAS
  30. Mata Pelajaran : Sejarah Peminatan Kelas/Semester : XII
  31. Materi Pokok : Si ngide pendidikan Alokasi Waktu : 45 menit (1 Pertemuan)
  32. A. Kompetensi Inti
  33. DESKRIPSI DATA NARATIF (semoga) REFLEKTIF
  34. PROGRAM PLP LINGKUNGAN SEKOLAH
  35. DI SMA L* D 1 Y**********
  36. Disusun oleh:
  37. Pius Giri Sugiharta
  38. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NYEJARAH
  39. JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOK SIAL
  40. FAKULTAS KEGURAUAN DAN ILMU PENDI(DICK)AN
  41. UNIVERSITAS SETENGAH SADAR
  42. Calon Guru.
  43. Puisi-puisi Boby.
  44. Seni Kontemporer
  45. — John Cage
  46. Gedombrang
  47. Melampaui Wacana
  48. Sefruit Cerita Nonton Pameran
  49. Anjiirrr aku mulai bingung!!
  50. Puisi-puisi Suden.
  51. Puisi Kontemplastik.
  52. : hanya teks, Sayang!
  53. — ya gusti, aku diunfoll
  54. Sedang mengetik…
  55. Doa Kontemplastik.
  56. Kuratorial, Kontemplastik.
  57. Catatan Sekenanya

SASTRASEKENANYA

: TERBITAN ABAL-ABAL

VOLUME 1, 2023

SASTRA SEKENANYA

SASTRA SEKENANYA

: Terbitan Abal-abal.

Volume 1, 2023.

kami "generasi" terkonyol: seciprat pengantar.

mung ngene yo fren, kami ki ra dong kesusastraan, apalagi have enough faith for dadi penyair. makanya berpuisi, bercerpen, berfiksi, dan bersastra ria kudu relax and chill kayak barudak sing netflix-an ngono. nek bersastra nggak rilex yo hidup itu sendiri sudah absolute chaotic and mumet untuk dibicarakan — atau sekedar dijalani dengan semangat tak pernah padam.

so, this kind of terbitan sastra sebenarnya bukan “terbitan”, tapi ini adalah ruang untuk merayakan hidup sing ngene-ngene wae — meski hidup kan tetep bisa wae dirayakan, dinikmati, and dimaknai sebagai life at the enjoyness.

mungkin itu kebermaknaan sastra dalam hari-hari sing mumet buanget kayak sekarang. sastra hanya ruang untuk kita merayakan yang kecil-kecil dan rileks. seperti fungsi FYP TikTok dan timeline Instagram, tempat kita merayakan yang lucu-lucu.

dalam menikmati kekonyolan dan menertawakan hidup, kanon-kanon sastra bukan jadi musuh. toh, terbitan ini tak punya pretensi macam-macam untuk melawan, untuk musuh-musuhi penyair adiluhung, atau membuat arus baru sastra blablabla. terbitan ini cuma pengen jadi ruang aman dan nyaman aja.


jangan-jangan inilah posisi yang ingin kami ambil dalam lintasan sejarah sastra Indonesia — menjadi konyol dan haha-hihi nyari sesuatu dalam hidup untuk sekedar ditertawakan. maka, undang-undang wajib sastrawi bernama kanon udah nggak relevan untuk diutak-atik, apalagi diabadikan menjadi “standar tunggal”. nggak ada tuh standar tunggal yang layak, yang pantas, dan yang adiluhung untuk dipatok sebagai “karya sastra”.

toh, masing-masing ekspresi estetik dalam terbitan ini bukan pengen nyari pencapaian estetik blablabla kayak gitu. perjalanan dan pergulatan hidup itu sendiri seringkali lebih puitik daripada puisi. anjay.

terus gini fren, nganu, bagi "generasi" kami ini ketentuan buat menulis sastra, puisi misal — dengan jalan berdarah-darah macam diktum Saut Situmorang — hanyalah satu buah pilihan: untuk nggak menyebutnya usang dan sepantasnya ditinggalkan, HEHE.

berdarah atau nggak ya cuma urusan kulit yang digores atau dikoyak realitas aja, masalah menulis sastra ya masalah lain — lagian jika realitas itu sendiri adalah puisi, maka tanpa nulis sastra sekalipun ya kulit kita udah koyak dan berdarah-darah fren.

ya anggaplah, terbitan sastra konyol bin lucu-lucuan ini cuma ruang bersama untuk melihat ulang dunia kita hari ini. maka, semua karya dalam terbitan ini boleh aja kamu bajak, justru makin dibajak makin seru fren.

tapi mbok yo, kalo kamu nggak nulis ya jangan diakui sebagai karya milikmu dan bikinanmu sendiri — apalagi diikutin lomba-lomba atas namamu, terus kamu menang dan duitnya kamu pake sendiri buat beli nutrisari: kan bete ya.

tapi kalo kamu mau ngebajak, baca, dan nyebar sebebasnya boleh banget dong, difotokopi ulang di mamang printing kesayanganmu boleh. pokoknya, enjoy aja ya fren, semoga ada gunanya — meski kalo nggak juga gpp sii. bebas-bass.

Puisi-puisi Komang.

Komang, seseorang yang numpang lahir di Bali. Dalam terbitan ini, ia mencoba kemungkinan puisi-yang-lain dengan perangkat psikoanalisa sebagai senjatanya bertahan hidup. Eksplorasi puitika Komang bermain dengan bahasa, beberapa konsep Sigmund Freud, dan puisi tipografis. Dengan titik berangkat yang ngintelek, Komang berharap jadi psikolog melalui puisi-puisinya, yang konon bisa menyembuhkan "pasien" sebagai subjek otonom — karena, "pasien" baginya bukan objek untuk dianalisis, sebab relasi antar subjek sering terbata-bata karena beban teori.

Pedang Kecil

dari dan untuk Gladys

: gak nyangka, kata-kata bisa ya bikin perasaan orang jadi lebih baik

kata si pedang kecil.

WA (13:41) 24 Agustus 2023.

Bunuhlah Kasihan

(i) mereka yang mengasihaniKu adalah bangsat mengangalah kepedulian mereka tunjukkan tanpa rasa malu -aku aku aku- :dalam otaknya berikan mereka ruang mereka ingin meludahi pantasnya aku membunuh pantasnya aku bacot pantasnya aku melukai pantasnya aku mengasihani pantasnya aku pentas pantasnya aku. berikan Aku ruang Aku ingin terbang kesana-kemari wajarnya singa mengaung wajarnya kupu-kupu melompat wajarnya gajah berenang wajarnya burung melata wajarnya ikan.

(ii)

Wajar menikahlah denganKu? Ruang menikahlah denganKu?

mereka sinar Aku cacar

Terima Kasih Orang Miskin

Jadilah!

tanpamu, aku tak bisa bahagia aku tak bisa tersenyum aku tak bisa cari pahala aku tak bisa bersedekah aku tak bisa bersyukur.

ih senengnya, habis ini self-reward ah.

Haduh!

Ini Semua Bukan Salahmu

ndasMu!

lontarkan kata-kata indah, indah, indah

Kau bawa diriku dari sudut ke sudut lingkaran “oh, ya nggak papa, kamu akan baik-baik saja.” “ini semua bukan salahmu.”

makan tuh lingkaran setan, kataNya.

tunggu waktu aku bermetamorfosis aku akan berubah menjadi kupu-kupu lalu Kau akan tersenyum melihatku makin lama Kau akan mencintaiku dan diam-diam aku masuk ke dalam telinga, hidung, mulut, anus, mata—-Mu

lalu bertelur!

Kamu Itu Berharga

nikmatnya hari ini kubuka tirai hapeku “kamu itu berharga.” betapa girangnya aku

aku dengan cekatan langsung melompat-lompat terbang mendatangi rumah temanku menciumi pot-pot alang-alang bibir-bibir yang begitu merah merona aku sapa dosen-dosenku yang begitu pintarnya juga teman-temanku dari yang suka membantu suka memberi masukan suka mentraktir suka membelai suka memeluk aku ciumi semuanya muah muah muah.

aku dengan cekatan langsung melompat-lompat terbang mendatangi rumah temanku menciumi pot-pot alang-alang bibir-bibir yang begitu merah darah aku sapa dosen-dosenku yang begitu pelitnya juga teman-temanku dari yang suka bacot suka mengkritik nggak jelas suka ngeludahin suka ngeremehin suka bocorin ban motor suka bocorin harapan aku ciumi

— berharga matamu!

Puisi-puisi Ashari.

Ashari, seorang pemikir dari Condongcatur. Dalam terbitan ini, ekspresi puitiknya merespon realitas sehari-hari dan parade simbol yang mendistorsinya. Simbol — entah bahasa atau metafora, membuat mata jadi gamang. Puisi-puisinya mendorong pembaca melampaui gamang itu secara hermeneutis — masuki dunia tafsir. Kita ditariknya jadi gamang pada simbol untuk mencapai makna. Tapi nggak juga deng, kayaknya Ashari nggak gitu, lupakan aja deh, yang nulis ini juga gamang fren.

سالاه ماكنا


فاك

uy ilip h

rt iii Jind !M

TUNSA AARA

Bayı Bay Bang Jut

bayi bayi fumbuh

jadi Kadal bunga I lidan buaya pay; bayi mali

Puisi-puisi Amos Ursia.

Amos Ursia, seperti rekam jejaknya, ia masih kesulitan menulis puisi. Oleh karena itu, ia merasa dirinya bukan "penyair" dan tak mungkin mampu menjadi Chairil. Dalam terbitan ini, ia bermain-main dengan percakapan virtual di WhatsApp pribadinya. Melalui fitur chat, stiker, dan balas-membalas pesan, ia mencuplik berbagai "momen puitik" dalam ruang virtual itu. Alih-alih melakukan alih wahana pada percakapan maya, ia menjiplaknya menjadi seonggok karya-yang-bodoh. Berbeda dengan "puisi gambar" Afrizal Malna, puisi "screenshot" Amos itu sangat mentah dan buruk — jauh dari pantas untuk diklaim sebagai puisi, goblok.

(i) untuk ray

(ii)

puisi pagi itu.

(iii)

puisi tentang khawatir.

(iv)

komang mengetik afrizal, lalu aku memberinya diktum puitik GM.

Puisi-Puisi Pius.

Nantian lah. Dalam terbitan ini, Pius menyajikan sambatnya

sebagai calon guru. Mungkin sama dengan status "kepenyairan", status "guru sang pencerdas kehidupan bangsa" ini bikin muak. Beban mencerdaskan kehidupan bangsa jadi represi berlapis yang menimpa para guru — bahkan calon-calonnya. Represi itu terasa bahkan dalam obrolan virtual di aplikasi WhatsApp yang ia transkrip. Selain itu, puisi si Pius bermain-main dengan "kaidah penulisan tertib" pada makalah praktik calon guru — dalam kata lain, dia mager aja sih ngerjain tugas mulia tanpa tanda tanda jasanya itu.

Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran. Satuan Pendidikan : SMA MAS

Mata Pelajaran : Sejarah Peminatan Kelas/Semester : XII

Materi Pokok : Si ngide pendidikan Alokasi Waktu : 45 menit (1 Pertemuan)

A. Kompetensi Inti

KI : 1 Udah lah terima aja ajaran agama yang dianutnya.
KI : 2 Menunjukkan perilaku bohong, tidak teratur, lepas tangan, santuy, antipati, dan inferior dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta membanggakan tanah orang.
KI : 3 Memahami keinginan anak, kalo nggak gini nanti dituduh masih menjalankan pendidikan gaya bank. Makanya ikutin aja apa kata congor-congor orang sok paling tau masalah pendidikan.
KI : 4 Anak ga usah mikir, udah ada AI.

DESKRIPSI DATA NARATIF (semoga) REFLEKTIF

PROGRAM PLP LINGKUNGAN SEKOLAH

DI SMA L* D 1 Y**********

Disusun oleh:

Pius Giri Sugiharta

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NYEJARAH

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOK SIAL

FAKULTAS KEGURAUAN DAN ILMU PENDI(DICK)AN

UNIVERSITAS SETENGAH SADAR

Calon Guru.

(i) [6/28, 11:03 PM] Ma Mère: Le maaf ya, kalau ibu paksa kuliah ambil guru yang tidak sesuai dengan keinginan Pius. Tapi harus tetap semangat ya le. [6/29, 1:26 AM] Pius: Ya dah telat juga sih Bu jadi yaa percumaa juga ngomong sekarang [6/29, 1:26 AM] Pius: Apa boleh buat juga lahh buu [6/29, 7:39 AM] Ma Mère: Maaf ya le, ibu berusaha kamu kuliah, tapi kalau kamu gak puas, ya nanti kamu kejar sendiri. (ii) [8/18, 11:03 AM] Pius: Dah aku ngajar dulu yaa [8/18, 11:03 AM] Pius: Sehat-sehat er [8/18, 11:03 AM] Erika Wulandari: Ahhh pak guru [8/18, 11:03 AM] Erika Wulandari: Sehat2 ya pius ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Puisi-puisi Boby.

Boby, seorang musisi & pengkaji budaya dari Solo. Dalam terbitan ini, Boby bermain-main dengan gagasan soal wacana, "bunyi", dan peristiwa seni. Puisi Boby soal John Cage misalnya, mengingatkan kita pada komposisi Cage berjudul "4'33". Lalu, Boby menafsir ide Cage soal komposisi bunyi menjadi "komposisi puisi" — mungkin, bagi Boby by "hffft" alias bunyi nafas adalah hal paling artistik and puitik. Soale nek gak nafas yo modyar lurrrrr, yo gak ada seni-seninya. Piye Bob? Ngono ra?

Seni Kontemporer

— John Cage

.. fffffffffffffhhhhhhhh hhhhhhhhhfffffffffff ffffffffffffffhhhhhhhh hhhhhhhhhfffffffffff fffffffffffffhhhhhhhh hhhhhhhhfffffffffffff..

Gedombrang

– untuk mas Aldo

kemarin kamu ajarin aku untuk jadi gelas dibasahin trus di elus-elus – tsssiiinngggggg terus kamu jadikan aku velg – tuaanngggg

suatu hari aku jadi wajan mungkin disana kamu sendok ajarin aku lah gimana jadi besi nyaring

Melampaui Wacana

Sefruit Cerita Nonton Pameran

Aku datang memasuki lingkaran bersisik besi – sempet disapa juga dengan tulisan hitam di tembok.

ada jantung hitam besar! : sepertinya ia adalah mesin, – yang aku gak tau untuk apa.

ada pasir membentuk lingkaran, dengan alfabet yang bacanya melingkar, : kayak baygon!

ada entah kanvas atau figura berisi bayangan vas bunga dengan vas betulan yang di senter.

ada BH besar berbahan huruf arab ditusuk jarum besi yang besar, – ehhh ternyata ada celana juga dibawahnya.

aku teralihkan dengan sebuah kotak aneh berisi rangkaian elektronik yang berbicara seperti radio – di dalamnya ada robot kecil yang sedang memegang TV mini dan robot kecil satunya yang bermata besar sedang memutar sebuah lingkaran yang aku gak tau apa.

aku memutar ke belakang dan, dikagetin dengan kursi berkaki manusia, dengan sandal swallow nya yang menghentak-hentak,

seperti ia sedang menunggu seseorang : lalu dimana bagian tubuh lainnya?

di seberangnya terdapat anyaman besar, berbentuk balon udara atau wadah ayam jago di tumpu kursi berleher panjang dan ada tulisan bernada intimidatif – berbau senioritas!

di samping ada mas-mas, memakai kain putih dengan telanjang dada, menari di depan sajadah besar yang ditempel di tembok yang bergambar orang sedang sujud: mas itu sedang menari berputar-putar seperti tarian sufi.

Anjiirrr aku mulai bingung!!

yaudahlah aku jalan melewati pasir bundar-jantung besi-lorong besi besi bersisik lagi, untuk keluar demi menyeruput segelas es teh dan baca teks kuratorialnya.

Puisi-puisi Suden.

Suden, seorang manusia performatif lintas medium dan lintas semesta. Dalam terbitan ini, Suden bermain-main dengan "puisi cinta" untuk (para) kekasihnya. Berbeda dengan Sapardi dan Jokpin, "puisi cinta" Suden mengulang-ulang kata tanpa urgensi — alias, "teks" yang nggak penting. Akibatnya, sel otak kita jadi kerasukan "teks" yang virtual, yang sehari-hari, dan yang nggak penting untuk ditawarkan. Repetisi alias pengulangan ini membuat puisi Suden seakan lahir dari rahim mesin virtual. Yo sakarepmu lah, Den.

Puisi Kontemplastik.

buat kekasihku yang kutulis puisi, lalu ku congkel jantungku bersama kelopak matahari: nadip, cristin, siska, salmanira, sabin, sasa, mba rita, tasya, mey.

aku menggambar teks teks kugambar ya muncul teks

teks teks teks… teks ku copy ya muncul teks

aku menyanyikan teks teks kunyanyikan ya muncul teks

teks teks teks… teks ku undo ya muncul teks

aku menyetubuhi teks teks kusetubuhi ya muncul teks

teks teks teks… teks ku capslock ya muncul teks

aku membaca teks teks kubaca: teks teks teks ((kok jadi aneh))

(ii)

aku dan kamu berjarak antar teks jarak jarak spasi paste jarak jarak konsonan typo jarak jarak typing manual correct hingga jarak males ngorrect

aku dan kamu berjarak jarak waktu jarak jarak terakhir kali dilihat jarak jarak pesan terakhir jarak jarak instastory hingga jarak radibales

aku dan kamu seperti Gadget H+ di belantara Netflix kamu 8k aku secuil pixeled kamu SSD Sata aku piringan Hardisk kamu M1 aku pencetan gamebot

(iii)

di antara aku dan kamu mengapa mesti ada teks? teks-teks pujian teks-teks perasaan teks-teks putus putuslah kita

teks melekatkan kita teks mewakili kita teks mengintervensi kita

Apakah: Alasanku mencintaimu bisa ditekstualkan? Pengalaman ku mencumbu bibirmu di taman kuliner bisa ditekstualkan? Tidurnya kita menunggu matkul di kost jihan bisa ditekstualkan?

“Aku sayang kamu” (tulisku di pasar muntilan)

jangan bodoh

itu bukan sayang, bodoh! itu hanya teks

: hanya teks, Sayang!

(iv)

kematianku, hanya memindahkan debu ke dalam tanah

sedang kematianmu, mesti menghapus pin sematan di beranda digitalku sedang kematianmu, mesti memindahkan file-file arsip dan foto digital kita. sedang kematianmu, mesti mengubur list-list wishlist kita di catatan memo. sedang kematianmu, mesti mengunduh Tinder hingga mengisi kuesioner Bumble. sedang kematianmu, mesti membaca buku “Self Improvement” dan panduan Move On di kanal YouTube.

— sedang kematianmu,

(v) dimana aku pada beranda medsosmu? getir jagoan di
malamnya terlelap

dimana kehadiranku di beranda last seen mu dimana kehadiranku di daftar like postinganmu dimana kehadiranku di tombol pesawat kertasmu dimana kehadiranku di circle followers akunmu

dimana dimana dimana

— ya gusti, aku diunfoll

(vi) penyandang asmara dari sleman pernah berkata: perihal cinta, kita semua bajingan (vii) setelah selesai mengumpat, penyandang tersebut lekas mencari arah "Halo Siri, bagaimana matinya bajingan sepertiku?"

(viii)

aku mencintaimu maukah kamu menjadi kekasihku?

Sedang mengetik… Sedang mengetik… Sedang mengetik…

maaf aku membuatmu bingung dan memaksamu untuk memberi kepastian tapi aku butuh kejelasan

Sedang mengetik… Sedang mengetik… Sedang mengetik…

Sedang mengetik… Sedang mengetik…

Sedang mengetik…

gimana?

((centang satu))

Doa Kontemplastik.

Ya Gusti! Yaaa Bajingan!

Kuratorial, Kontemplastik.

Catatan Sekenanya

dah gitu aja ya, kalau mau kirim karya langsung berkabar aja via email:

[email protected]

atau kalo mau tanya-tanya, tinggal kontak aja via DM ke Instagram @sastrasekenanya. hubungi administrator akun bernama Pingkan.

meski tetap ingat bahwa terbitan abal-abal ini berhak para pembacanya bajak, baca, dan sebar sebebasnya. jadi kalau kamu merasa karyamu terlalu adiluhung untuk dibajak ya kirim aja ke Penerbit Gramedia dan meja redaksi Horison.

tapi kalau kamu keras kepala dan merasa karyamu lucuk dan imut untuk dimuat ya berkabar aja kapanpun, terus langsung kirim aja. meski gak usah berharap banyak fren, soalnya gak ada sebuah proses kuratorial yang ketat yang membuahkan keringat yang ngobyos.

yaudah, muach!