THIS IS THE LAST OF
Satrus youean
SULM:5: ZINE
EDISI KEENAM
DEC
MUSIM KETIGA
BOT TL WE MEET AGAIN. SOON.
ini adalah edisi terakhir. .ini nuhat atik apmuj irad putunep
Submisi Zine | Musim Ketiga
さようなら
(sayōnara)
Submisi Zine |S03/06/DES-2022
edisi terakhir dari submisi zine. semoga kiamat lekas datang.
teman-teman, terima kasih sudah menemani kami, SUBMISI ZINE, a zine you can't trust. sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung segala keluh kesah, dan siap menanggung beban dari isi kepala para kontributor yang berada di sini.
seluruh isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor. semoga kalian berani bertanggung jawab atas segala opini kalian, karena kami tidak peduli.
ini edisi terakhir dari kami. izinkan untuk rehat dulu sejenak. mungkin kami akan kembali dengan format baru. format masa depan seperti kata dewa 19.
semoga kalian masih mau untuk bertegur sapa ke twitter: @submisi_zine atau instagram: @submisi
seperti biasa, kalian boleh menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi zine ini untuk kepentingan apapun, selama kalian mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada).
sekali lagi, jangan terlalu banyak berharap. hidup tidak begitu istimewa, apalagi isi zine ini.
KAMI PAMIT!! SAYONARA!! IF THAT'S THE WAY IT IS!!
x
pantau terus tanda tanda kiamat
x
ATENSI rfect More AND More Better PRpEPp Irvanslam ig @irvanslam_
PEREMPUAN
PEREMPUAN
YANG
DISELAMATKAN
TUHAN
Nur Fitriani
Sesuai foto, titik, dan biodata hasil dari penyelidikan selama tiga tahun. Pencariannya kini berdiri dua meter saja dari tempat Valen
duduk. Mengenakan celemek putih menutupi kaos lengan panjang
dengan motif garis-garis merah dan hitam, rambutnya dikuncir satu, dan senyumnya selalu terpasang lebar di wajahnya yang putih pucat meski hari sudah larut dan melelahkan. Tibalah hari keberanian itu tiba, setelah beberapa hari mengamati, Valen memberanikan diri untuk masuk ke dalam minimarket dan sudah
berbicara singkat beberapa menit lalu untuk membayar kopi juga
roti isi daging ayam bumbu kecap. Suaranya menjanjikan kehidupan yang Valen dambakan selama bertahun-tahun, semenjak ibunya meninggal.
Kopinya belum habis, namun Valen kembali berjalan ke kasir yang
kini terlihat lengang tanpa pengunjung. la mengisyaratkan pada perempuan itu untuk meminjam pulpen. Tanpa berbicara langsung, Valen menuliskan sesuatu di kertas bekas nota belanja, melipatnya dua kali dan memberikan kertas pada perempuan tersebut.
“Jangan dibuka sebelum aku kembali duduk di tempatku.“ ujarnya langsung kembali ke kursi plastik di mana kopi dan rotinya masih ada masing-masing setengah dari awal ia memesan.
Entah kenapa Valen merasa malu jika perempuan itu membaca surat kecil yang ia berikan di hadapannya. Valen memperhatikan perempuan itu membaca dan melipat kertas itu kembali sebelum memasukkannya ke saku celana. Perempuan itu menangkap pandangan Valen, mengangguk mengiyakan seraya tersenyum sangat manis sekalipun kulit wajahnya pucat. Semu merah bertebaran di pipinya.
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan Tuían
Seperti remaja berseragam yang baru saja mengenal hubungan spesial dengan lawan jenis, sekalipun mereka berdua tahu, umur mereka sudah jauh melewati fase tersebut.
Nama panggilannya Ara. Valen mengetahuinya ketika minimarket sudah tutup dan kini mereka berjalan beriringan di trotoar. Awalnya, Valen ingin mengajak perempuan yang seumuran dengannya itu untuk mabuk malam ini.
“Maaf Valen, tapi aku tidak minum. Bisa saja sih aku menemanimu mabuk, tapi aku minum cola atau kopi saja.“ Jawabnya yang hanya ditimpali tawa Valen.
Yang benar saja, ujarnya dalam hati.
Ujung perjalanan Valen juga Ara terhenti di kamar kos Ara yang ada di atap salah satu pemukiman di besar yang menanjak. Mereka
memutuskan untuk duduk di luar, menatap langit gelap yang tak
menampakkan bintang maupun bulan.
“Perkotaan setan", batin Valen.
Seharusnya tempat ini sudahcocok untuk menarik hati Ara jika ada bintang juga bulan.
“Kenapa kau tidak tampak lelah sekalipun sudah bekerja hingga
selarut ini?" tanya Valen, memastikan. Ara memang tak tampak letih. Sekalipun kulitnya pucat, ia tampak sangat cantik dan aktif, berbeda dengan orang yang nampak letih setelah bekerja seharian. Itulah salah satu keistimewaan ‘perempuan-perempuan
Perempuan-Perempuan YanG DiseLamaTkan Tuían
yang diselamatkan Tuhan'.
“Jangan dikira aku bodoh Valen, tak hanya satu-dua orang yang mendatangiku hanya karena aku bisa membebaskan mereka dari lubang kesepian. Sama sepertimu, sekarang apa maumu?" tanya Ara, dan ketika laki-laki berambut hampir gondrong itu menengadah untuk menatap paras cantiknya Ara, ia sudah menodongkan pistol di hadapan wajah tampan Valen.
“Banyak dari mereka hampir ingin membunuhku, ingin memakan organ yang telah diselamatkan Tuhan. Ada juga yang ingin memeliharaku seperti anjing, berharap hidupnya akan dilingkupi keberuntungan di setiap langkahnya dengan tangan memegang tali rantai yang mengikat leherku. Banyak lagi yang ingin meneguk cairan yang keluar dari alat kelamin atau darah yang mereka keluarkan secara paksa dari tanganku. Tapi tentu saja, mereka gagal. Karena aku akan selalu diselamatkan Tuhan. Sesederhana itu.“Lanjut Ara, melihat Valen menegang setelah melihat pistol itu masih ada di depan wajahnya. Tak lama ia menangis.
Lama sekali, hanya terdengar isak tangis Valen. Tangisan putus asa yang berharap kemurahan hati Ara akan menurunkan senjatanya.
“Jika kau mencariku hanya untuk menangis, lebih baik kau pergi saja. Aku sedikit berharap bisa menghabiskan malam ini bersamamu tapi ternyata kau sama saja dengan semua orang yang mendatangiku." Ara beranjak dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Valen sendirian yang masih menangis.
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan Tuían
Sekitar lima tahun lalu, marak penculikan dan perdagangan perempuan di suatu pulau pariwisata yang penduduknya merupakan percampuran dari bermacam-macam suku, ras, dan agama di dunia ini. Menjadikan pulau tersebut sebagai tempat wisata nomor satu di dunia. Banyak perempuan dan anak-anak hilang kala itu sampai diinformasikan jika mereka dikumpulkan di salah satu gedung tak terpakai. Sebagian besar perempuan dan anak telah dijual, menyisakan beberapa yang berhasil membakar tempat itu.
Semua penjahat terbakar, menyisakan empat orang perempuan berumur dua puluhan dan satu remaja yang masih sekolah. Mereka utuh, di tengah kebakaran yang sulit dipadamkan itu. Lima perempuan itu terkenal dengan perempuan-perempuan yang diselamatkan Tuhan. Keesokan harinya, ketika para awak media hendak melakukan wawancara pada mereka, lima perempuan itu hilang tanpa jejak.
Ara lelah. Menjadi buronan para manusia putus asa yang hendak memperalatnya saja. Biasanya yang mendatanginya pengusaha kaya atau mafia yang membutuhkan peruntungan agar bisa hidup lebih panjang, namun kali ini Valen datang sendiri. Mendekatinya seperti remaja kasmaran gagal menahan nafsu birahi ketika melihat penampilan Ara.
Tahu begini lima tahun lalu terbakar saja, ujar Ara dalam hati lupa untuk bersyukur.
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan Tuían
Harus lari ke mana lagi ia kali ini? Pergi ke tempat empat harapan lainnya hanya akan mendapat malapetaka baru. Mereka juga menjalani hidup nomaden, sama seperti Ara. Satu menjadi dokter di Afrika, satu lagi bekerja di salah satu toko roti kecil di Belanda, Harapan tiga sudah bersembunyi mempertaruhkan hidupnya terisolasi di Korea Utara, satu lagi ia tidak tahu di mana tepatnya sekarang. Berita terakhir yang Ara dapat tahun lalu, ia menjadi pengelana dan sedang berada di India.
Dalam hati Ara kesal sekaligus takut pada Valen. Kesal karena laki-laki tampan sepertinya tidak benar-benar tertarik pada Ara dan takut jika Valen membawa senjata dan mengakhiri hidup Ara dalam hitungan detik. Tuhan sudah sering menyelamatkan Ara, belum tentu kali ini ia akan selamat untuk yang ke sekian kalinya. Sering kali orang salah kaprah dengan orang-orang yang diselamatkan Tuhan. Jika banyak manusia putus asa seperti Valen, Ara pun pernah merasakannya, hingga saat ini. Bisa dibilang kesendirian telah menelan tubuh dan pikirannya, ia dihantui oleh rasa takut berkepanjangan di setiap ia beraktivitas.
Mungkin ini perbedaan Ara dengan Harapan yang lainnya. Ara hidup sendiri dan tidak punya tujuan hidup, hidupnya selayak ombak pantai yang sedang maju membasahi pasir dan mundur lagi. la bangun pagi, bekerja menjadi kasir, makan, minum, bekerja lagi sampai malam, terkadang masturbasi, dan kembali tidur, dan Ara akan mengulang kegiatan membosankan tanpa sesuatu yang membuncah di dalam hatinya keesokan harinya, keesokan harinya, sampai ia bertemu orang asing yang terang-terangan meminta berkat darinya dengan darah busuknya.
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan TuHan
Melihat Valen berbicara kikuk seraya memberinya surat kecil, sedikit membuat hatinya hangat. Apa Valen orangnya? Orang yang akan tertarik padanya, pada hidupnya, akan mengajaknya untuk memiliki hobi baru dan akan hidup bersama? Fantasi di kepala Ara menyenangkan hatinya sampai Valen mulai menyinggung tentang visualnya yang tak pernah terlihat lelah. Dari situ Ara tahu, jika Valen sudah mengetahui semua hal tentang Ara.
Ara tersenyum sembari membuka pintu kamar kosnya. Apa ini sudah mendekati akhir zaman? Begitu mudahnya manusia percaya pada orang asing, hanya karena tidak ingin tenggelam dalam lubang kesepian. Valen masih di sana, terlentang menatap langit, sudah tidak menangis. Mungkin ia membutuhkan tempat untuk beristirahat setelah berhari-hari mencari Harapan ini untuk bisa menolong hidupnya.
“Mungkin memang lebih baik jika kau menembakkan pistolmu tepat di kepalaku beberapa menit yang lalu." Ujar Valen ketika Ara kembali duduk bersila di sebelahnya.
"Kenapa?"
“Percuma saja hanya bernafas, jika hidupmu tak memiliki arti. Berkubang pada kesengsaraan batin yang tidak tahu juga kapan akan berakhir."
“Kau berlebihan. Ternyata benar apa kata tokoh fiksi di komik-komik Jepang. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling menyedihkan.“Ujar Ara dengan nada mencemooh.
“Lalu,tujuanmu datang padaku untuk apa? Jika bukan untuk menjadikanku peliharaan?" tanyanya lagi.
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan Tuían
Valen bangun dan duduk menghadap Ara. la memegang tangan Ara yang kurus, menjawab pertanyaan pedih itu dengan ketulusan hati. “Aku ingin menerima berkat darimu dengan hidup bersama. Mencari tujuan dan arti hidup bersama. Berjalan beriringan, mengisi kekosongan setelah tiga tahun aku berjalan tanpa arah, tanpa siapa-siapa. Aku tidak tahu jika banyak orang memburumu dengan hal yang keji, aku hanya mendengar mereka mencarimu. Mungkin kau seperti dukun, menjual berkatmu. Tapi setelah melihatmu beberapa hari ini dari jauh, aku memutuskan ingin hidup bersama, mengantar dan menjemput di manapun kau berada ketika ingin pulang ke rumah."
Ara tertawa terbahak-bahak.
“Kau benar-benar memandang perempuan yang diselamatkan oleh Tuhan itu seperti Nabi... Muhammad? Bro, bangunlah. Mukjizat hanya terjadi pada kami agar tidak terbakar lima tahun lalu. Tidak lebih."Ara beranjak seraya menariktangan Valen.
"Masuklah, kau butuh tempat untuk istirahat. Kita mengobrol tentang perempuan-perempuan yang diselamatkan Tuhan ini besok pagi lagi."
Valen kini mengerti dari keseluruhan yang diceritakan oleh Ara mengenai dirinya dan empat perempuan lain yang hidup di bagian negara lain. Valen merasa dirinya terlalu egois melihat Ara yang kini hidup sendiri tanpa siapapun.
perempuan-perempuan YanG DIseLamaTkan TuHan
“Jangan manja Valen. Kau hidup tak semestinya harus
diselamatkan oleh kami yang diselamatkan. Orang yang
semestinya menyelamatkan dirimu sendiri ya kau."Ujar Ara.
“Kalau begitu apa boleh jika aku tinggal di sini untuk menjalani proses penyelamatan diri sendiri?"
Tanpa mengeluarkan jawaban, Ara mengizinkan Valen untuk tinggal. Mereka melewati hari-hari yang membosankan berdua. Bekerja dari Senin hingga Jumat, makan enak di hari sabtu, dan berenang di pemandian umum pada hari minggu. Valen merasa senang, tabung kekosongan dalam dirinya seolah terpenuhi kembali sekalipun Ara belum tentu sepenuh hati menolong dirinya. Hidup berdampingan seolah kami memang teman lama, sudah cukup baginya.Mungkin ini juga kekuatan perempuan-perempuan yang diselamatkan oleh Tuhan. Valen harus berterima kasih dan memberikan hadiah pada Ara karena sudah menolongnya, sudah kembali menghidupkan apa yang mati di dalam dirinya.
"Ngomong-ngomong, apa kau pernah mendengar doa yang dinyanyikan waktu kebakaranterjadi?" tanya Ara pada minggu siang, dengan es krim rasa jeruk masing-masing di tangan mereka.
“Tidak. Hal itu tidak pernah disinggung di manapun. Ada apa memangnya?"
"Oh, tidak apa-apa."
Perempuan-Perempuan YanG DIseLamaTkan Tuían
Valen tak menyadari ada yang aneh pada Ara seharian itu. la lebih pendiam dari biasanya, lebih banyak sibuk untuk merapikan kamar yang dari awal sudah rapi. Sampai mereka berdua pergi untuk tidur pun, Ara tak bercerita pada Valen seperti hari-hari sebelumnya.
Valen terbangun ketika alarm ponselnya berbunyi. Satu hal yang jarang terjadi karena Ara akan membangunkannya sebelum alarm berbunyi. Dari posisi tidurnya ia berbalik, mungkin Ara juga masih terlelap dalam tidurnya. Namun Valen hanya dikejutkan oleh raga menghitam dengan beberapa bagian sudah menjadi abu.
Valen bangkit dan mundur seketika, apa yang terjadi semalam? Mengapa ia tidak menyadari apapun? Siapa yang berbaring di sebelahnya dan terbakar? Ke manaAra pergi?
Pandangan mata Valen beralih pada tulisan di tembok seberangnya. Tulisan besar sebuah bait dengan cat berwarna merah.
<<<<<<<<<
Yang Diselamatkan Oleh Tuhan Terselamatkan oleh Mukjizat-Mu Ucap syukurku tak pernah cukup Janjiku layanimu sampai tutup usiaku Jika datang kasihku terbagi untuk-Mu Bakar aku seperti dulu kau selamatkanku
Sun
Don't Listen Taki
Masih setia menunggu kiamat
Sudah berapa kali kita membakar, merusak, atau mencaci diri sendiri. Langkah destruktif yang paling fatal, dihujam hasrat akan rasa malu dan penuh kekalahan.
Beberapa kali kita membangun sebuah bangunan yang indah dan terkesan kokoh, namun ternyata itu nampak dari luar saja; di dalamnya penuh rongga, keropos, dan mudah ambruk.
Terkadang aku memikirkan, apakah sebuah kolektif memang lebih pantas dihancurkan lebih dini sebelum dia disusupi oleh kepentingan dan rasa aroganisme ego setiap individu.
Sebagai seorang individualis, saya merasa kolektif memang umurnya jangan terlalu panjang-panjang amat. Cukup hancurkan, lalu buat model yang lain, apalagi tujuan kadang mudah melenceng dan sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman.
Keresahan ini muncul ketika saya berbicara via daring dengan seorang kawan, bagaimana dia kelimpungan mengurus sebuah kolektif yang relatif lumayan besar di kota kami. Menanggung nama besar dan ego membuat dia bingung, sedang kolektif itu sendiri sebenarnya sudah mati dan hanya dia yang mengurus sendirian segala tetek bengeknya, karena semua individu di dalamnya sudah mulai lelah, pergi, atau memiliki tujuan yang lain. Regenerasi yang buruk dan usia yang mulai menua juga menjadi hambatan: ingat, kami bukan MV/Lord Cobra/Ucok yang penuh enerjik. Memiliki sikap politis saja sudah cukup untuk saat ini.
LHaT, Kam muLaI LeLaH
Apalagi semenjak berakhirnya pandemi, geliat anak muda yang haus akan hiburan dan kreasi mulai mendirikan berbagai macam kelompok dan kegiatan. Iklim yang yang sangat menggairahkan meskipun orang yang mengisi dari wajah yang itu-itu saja.
Lalu kukatakan pada kawanku, jangan bingung, cukup kau keluarkan statement "kami pamit", tidak ada yang perlu dipertahankan. Buat zine atau selebaran untuk perpisahan, bikin gigs juga bagus.
Untuk sekarang lebih baik aku mencari perempuan saja, tidak ada yang perlu dipertahankan dari sebuah kolektif yang sudah tidak bisa bergerak karena mesinnya sudah tua.
Gunakan energimu yang lebih itu untuk mengejar gadis yang kau cintai itu, jika gagal, ingat- "kita hanya membangun dan menghancurkannya lagi".
Kawanku hanya menimpali, “jancuk, dan obrolan pun' berakhir.
. L LL
Kata Dan Nada Untuk Polisi
Black market diesel probed
Rivals no
Treated like
FROMT
海 醫毛售
门
INGO 26445365 20355870
-Nao Anarka 2022-
thisis noftta produetion - 2022.,
...and i
return to
nothingness
ACT I : Jalan itu masih jauh Sejak mengenal radio dan televisi sampai sekarang, aku kerap mendengar sebuah pernyataan, “Hidup adalah sebuah pilihan". Seolah kita bisa memilih untuk menjadi seseorang atau sesuatu yang menyukai hidup, menjadi kaya, dan menyantap setiap hidangan lezat di bumi.
Tapi ternyata, semua pilihan yang dibuat sejak lahir hingga sekarang semuanya berujung pada kesimpulan sebuah nasib. Sempat terpikir barangkali aku salah memilih, aku coba mencari jalan yang bisa menuntunku kepada pilihan yang berujung pada sesuatu selain nasib.
Untuk mencarinya, ternyata aku harus mendaki bukit mimpi yang tinggi, licin, dan dikelilingi hutan harapan yang rimbun lagi berbahaya. Aku tak bisa mengandalkan siapapun untuk menaklukannya.
ACT II : Mayat hidup dan kota mati Hanya dengan berbekal sebuah pisau lipat yang agak berkarat bernama kewarasan, aku mulai menyusuri hutan ini. Hutan yang aku kira hanya rimbun, ternyata juga dipenuhi makhluk yang entah apa membuat hutan ini sangat berisik.
Tak kusangka, semakin dalam aku menyusuri hutan ini, pisau lipat yang aku genggam semakin berkarat. Jalan yang sebelumnya tanah berlumpur, sedikit sedikit menjadi bebatuan yang licin dan berlumut. Pepohonan yang tadinya lebat, lambat laun mulai berkurang sehingga aku bisa melihat cahaya yang masuk lewat celah celahnya.
...anD I ReTURn TO nOTHINGNeSS
Ketika kupikir puncak sudah dekat, dari kejauhan aku melihat gedung-gedung perkotaan yang hancur seperti habis dilanda bencana yang dahsyat. Dari kejauhan pula, aku melihat beberapa orang yang berjalan sempoyongan, seolah bingung tak memiliki tujuan. Mau tak mau, aku harus mendekat ke sana. karena aku yakin puncak bukit ini ada di balik kota mati itu.
Dengan berhati-hati, aku berjalan melewati bebatuan yang licin dan berlumut ini. Sungguh aneh ketika semakin dekat kulihat orang-orang tadi, mereka memiliki wajah yang mirip sepertiku.
Semakin mendekat, aku mulai menyadari bahwa ternyata orang orang itu adalah aku. Mereka semua menoleh seolah menunggu kedatanganku.
ACT III... dan aku kembali ke kehampaan Seolah sudah akrab bak sahabat lama, dengan sempoyongan, mereka semua menuntunku ke arah puncak bukit mimpi yang ternyata memang sangat dekat dengan kota mati ini.
Tak perlu waktu lama, aku berhasil menemukan puncak bukit mimpi ini yang ternyata hanyalah bibir dari jurang yang curam. Dari sini, aku memandangi kejauhan dan mulai membatin dalam lamunanku, “Mungkin ini adalah jalannya. jalan yang berujung pada selain nasib”.
Setelah sadar dari lamunanku, aku berterimakasih pada mereka, karena sudah menuntunku menemukan puncak ini. Aku tinggalkan pisau lipatku kepada mereka yang entah kenapa pisau ini sudah sangat berkarat dan mulai lapuk.
...anD I ReTURn TO nOTHINGNeSS
Aku berlari ke arah bibir jurang itu dan melompat ke bawah, meluncur bebas menikmati semilir angin dingin yang menghujam tubuhku. Aku merasakan suatu kedamaian yang sebenar benarnya dalam kehampaan tanpa ujung.
Di dalam kehampaan ini, aku berpikir. Sejak mengenal radio dan televisi sampai sekarang, aku kerap mendengar sebuah pernyataan “Hidup adalah sebuah pilihan". Seolah kita bisa memilih untuk menjadi seseorang atau sesuatu yang menyukai hidup, menjadi kaya, dan menyantap setiap hidangan lezat di bumi.
Tapi ternyata, semua pilihan yang dibuat sejak lahir hingga sekarang semuanya berujung pada kesimpulan sebuah nasib. Sempat terpikir barangkali aku salah memilih, aku coba mencari jalan yang bisa menuntunku kepada pilihan yang berujung pada sesuatu selain nasib.
=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1==1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1=1 Nottt-A
cupang
LCD menyorot dua anak punk yang tersudut dikerubungi orang-orang. Hansip ikut nimbrung tak peduli sepatu bootnya kotor terciprat genangan. Bau anyir menguar mengalir dari meja jagal. Baunya mencekik hidung, seperti lolos lewat lubang-lubang kecil audio. Tayangan itu mengikatku di sofa, dan kipas yang kusetel di mode tercepat gagal menetralisir rasa mual.
Perhatian terpusat ke sebuah bilik yang digunakan sebagai musala. Dua anak meringkuk di atas judul berita “Dua Remaja Punk Tertangkap Mesum di Musala", dalam liputan di mana seorang reporter berdiri di belakang massa yang marah. Sejumlah orang yang menasehati keduanya menggenggam golok dan tongkat. Brutal, pikirku, sambil menegak air putih, menggemakan kata amit-amit sebanyak sapuan tanah ketika kulit dijilat anjing.
Berita semacam itu sering melintas di media sosial. Seperti yang terjadi belum lama, dua sejoli ketahuan bersetubuh di dalam tenda dan akhirnya ketakutan dirubung massa. Di video itu, kerudung direnggut paksa dan gamparan melayang dibarengi muka cowok memelas. Padahal vegetasi basah yang terhampar di sekitar mereka, pepohonan juga sulur-sulur yang dikemas embun termasuk panorama yang lebih menarik untuk diperhatikan, daripada menghakimi pasangan di dalam tenda.
Mego melirikku dengan ketus, waktu kuceritakan berita-berita itu. Kami papasan di lorong gedung fakultas. Tepat ketika kuliah terakhir selesai dan mahasiswa berdesakan menuruni tangga, aku mengagetkannya, diam-diam muncul di antara rombongan.
cupanG
Kami biasa makan ayam geprek sepulang dari kampus. Perdebatan soal penting tidaknya kuliah, caraku berpakaian, dan mengapa manusia butuh kegiatan positif hanya untuk tetap waras akan mengantar kami ke depot favorit itu. Butuh sepuluh menit untuk mencapainya. Dipandu pohon-pohon rimbun yang kini tinggal pangkal, debu makin tampak terseret ke sana ke mari diembus udara.
"Siapa sih, orang bodoh yang menebang pohon-pohon itu.“
“Ngalihin obrolan lu? Sampai kapan sih lu bebas milih mana mata kuliah favorit, mana mata kuliah yang harus dihindarin," sambil melambatkan motor, Mego melentingkan puntung rokok ke dalam tong sampah.
Memang ada beberapa dosen yang malas kutemui. Apalagi setelah kebutuhan ngeprint bertambah banyak, dan tugas anehnya terus direvisi.
Lima belas menit berlalu. Obrolan soal dua anak punk atau pekemah yang sial itu tidak diungkit sama sekali. Begitu sampai di depot, tanpa diminta, Mego mengenalkan gaya berpakaian tertutup lewat ponsel. Iklan pemakaian hijab yang semata dilandasi mode.
Bukan keharusan menutup aurat yang Mego singgung, tapi ketakutan akan bokongku orang rampok. “Dunia makin edan, Nin.“ Curahnya. Sehabis kenyang menguliti keriuk tepung di bagian
sayap, Bulir keringat di dahinya juga mulut yang megap-megap
macam mujair di muka kolam lebih menarik dibanding nasihatnya.
cupanG
Selain Mego, di rumah tidak ada yang repot-repot mengurusi pakaianku. Pembantu hanya datang pagi untuk memastikan aku sarapan, menyuci baju-baju yang bertumpuk dijadikan sarang nyamuk di sudut kamar, membilas bersih piring dan mangkuk, juga menyiram bunga-bunga di kebun. Orang tuaku yang tinggal di kota sekurang-kurangnya tiga kali menelpon dalam seminggu, menyisakan suara letih hasil kerja keras, pertanyaan sepele dan basa-basi, menjelaskan padaku bahwa ulang bulanan tak akan telat, dan mereka bakal sering mengunjungiku.
Kebosanan yang dihasilkan dari rumahlah yang membawaku ke tribun gedung olahraga, di mana tendangan atau pukulan-pukulan Mego yang menarget nilai besar juri mendorongku untuk mengenalnya.
Sejak SMA, ibu bapakku seringkali mewanti-wanti. Cerita soal lelaki yang tega mencampur jus alpukat dengan obat tidur demi menjamah dan memfoto kebugilanmu, menceritakan pantatmu yang elok, rasa di bibirmu yang secara akal-akalan mereka pagut, juga ukuran behamu kepada teman setongkrongannya, anak-anak kuliah yang kerjanya bolos. Cerita soal lelaki yang selalu ada di sisimu sampai mendadak lenyap di keesokan hari begitu kamu bangun siang dan ingat bagaimana semalam gaya anjing kalian contoh.
Setelah membayar. Mego menusuk jarinya ke pinggulku.
Membuyarkan lamunan selagi dengar ocehannya yang
memberondong.
Menurut Mego, masalah perkuliahan ini menjadi penting mengingat banyaknya orang cabul di perguruan tinggi. Fakultas yang memayungi rasa ingin tahu kami nantinya berperan untuk menjadikan kami dosen, mengajar sekaligus membuat banyak acara, mengenalkan kepada perempuan-perempuan tentang tubuh yang tak boleh diminta seenaknya. Kami berdua sepakat dengan itu meski di antara kami hanya Mego yang rajin ngampus.
la sering ikut diskusi-diskusi perempuan, menyalin materi, dan kembali menerangkannya padaku. Mampir ke rumah untuk menghisap berbatang-batang rokok, membaca novel dan menggaruk perut kucing yang lupa kuberi makan dengan teratur.
Suatu kali. Setelah menang dalam kejuaraan Kabupaten. la memberikanku LCD. Lengkap dengan sofa sebagai bonusnya. Hadiah yang ganjil mengingat di ruang tamuku ada tv juga sofa yang sanggup membetahkan delapan orang untuk merumpi. “Bukan sembarang kado, Nin. Ini bakal bikin lu betah di rumah.“ Ucap Mego dengan semringah.
Dalam perjalanan menuju kosan teman, Mego bilang kalau yang lebih penting adalah pendidikan seksual dibanding mengancam dua sejoli yang tertangkap basah berduaan dengan denda lima ratus ribu seperti diterapkan oleh perumahan. Perumahan yang masih untung didatangi siswa untuk ngekos, sehingga bisnis penghuninya berjalan terus.
Cukup banyak satpam yang berkeliaran. Sebagian berkumpul di gerbang utama, mengobrol sambil sesekali melirik orang-orang yang lewat.
cupanG
Jalanan seolah karpet, yang dihampar oleh dua rumah tingkat, kilap oleh kerikil dan garis-garis debu yang memecuti jendela. Sebab kami berjaket, panas lumayan terasa. Sedikit sekali pohon
di perumahan ini. Bukan keteduhan taman yang menyambut,
melainkan spanduk sinis yang melarang parkir selain jamaah masjid.
Pesawat yang melintas di langit, membawa kami memandang sapuan sore. Ada rumah-rumah kosong dengan genting nyaris hancur. Larangan-larangan kumpul kebo. Nominal kocek yang harus dirogoh jika melanggar. Tatapan menyelidik tetangga begitu kami sampai tujuan dan menggeser pagar.
Kosan itu dihuni oleh tiga perempuan. Seorang lelaki biasa
menunggu di pelataran sejak aturan bagi tamu diperketat. Mengenai ini, Larat mengungkap kejadian yang melatarbelakangi aturan denda.
Ketika itu satpam berkeliling memastikan tamu pulang sebelum jam sebelas. Salah satu pasangan terintip dari celah pintu. Keduanya hampir telanjang dan saling peluk. Perumahan itu pun gempar, seperti orang-orangnya tidak pernah mengalami masa muda. Kabar melesat ke setiap jurusan, mahasiswa dari prodi tempat si cowok belajar cukup kelabakan oleh sengitnya pertanyaan, Ketua RW mengadakan evaluasi dengan para satpam, dan dibanding berbaik sangka, sekarang tetangga-tetangga itu punya alasan untuk lebih menajamkan mata kepada mahasiswa yang menghuni kosan.
cupanG
“Mereka tuh udah minta maaf, tapi malah dipalak satpam," kata Gilda. Perempuan itu lebih langsing dari terakhir kulihat, sahabat satu kelasku itu membuktikan jika program lari sore yang dia giatkan bersama Larat, tidak sia-sia. Handuk masih membungkus tubuhnya yang basah, dan dengan gerakan serupa kucing malas, mengeringkan rambutnya di samping kipas.
“Salah sendiri, mainnya kemaleman,“ timpal Su, pacar dari lelaki yang menunggu di luar, yang kini larut dalam isapan kretek yang keempat, dan mulai memaksa ketiga perempuan itu untuk berkemas. Awan terbakar, seperti tengkorak Ghost Rider yang menyulut senja merah. Burung-burung membentuk angka romawi pulang ke sarang. Ibu-ibu yang mendorong balitanya, menyuap bubur ke mulut rewel di atas mobil tiruan, saling pamit untuk menyiapkan makan malam suami yang sebentar lagi rampung sif kerja.
Kemudian Larat dan kedua sahabatnya memakai sepatu dan menunjukkan kunci kamar. Mendekati magrib, mereka semua pergi ke bioskop, mengoper artikel yang baru dikerjakan separuh.
Tidak ada tugas kuliah yang repot-repot kami selesaikan, berhubung waktu pengumpulannya masih empat hari dari sekarang. Segera saja kubaringkan tubuh Mego di Kasur lipat. Lengannya tangguh macam bambu penopang yang digunakan kuli untuk membuat balkon rumah. Bibirku langsung mengecup telinganya, meninggalkan sensasi-sensasi menyengat dan mendorong cengkeraman Mego semakin kuat ke pinggang. Agar kemaluan kami leluasa bergesek, kulepas celananya, menjilat jari-jari kurus tetapi amat mematikan di atas arena.
cupanG
Belum sempat kuubah gaya. Tiba-tiba ketuk pintu terdengar. Membuyarkan benang- benang fantasi liar; mulut manyun Mego yang meniupkan pedas, keringat dahi beserta lidah yang
membersihkan minyak. Di luar jendela, di balik gorden yang
menghalangi lecek pakaian, seorang satpam sedang menunggu pintu dibuka.
la melirik kepada Mego yang membungkus pahanya dengan
handuk. Setelah bertanya kepadaku di mana Larat dan kawan-kawannya juga kepentingan apa yang membawa kami ke kosan, bersama mata yang awas ia kembali ke pos jaga.
Tidak ada lagi yang bisa mengganggu. Secepat membelit handuk, secepat itulah Mego menyengat leher dan telingaku. Ada perasaan geli yang merangsang. Lebih dari mengorek telinga pakai cotton bud, atau membersihkan ujung jempol dengan pisau gunting kuku. Pelan-pelan. Kataku. Tetapi Mego adalah banteng yang menyeruduk dan menjebol tembok. Bayangkan tradisi matador di Spanyol. Saat ia binatang buas yang kalap menghajar apapun, sementara aku, di balik kain mental sekali tanduk.
Kedua tangan yang kupakai untuk menghalau pinggang, sama sekali tidak mempan. Aku hanya takut, suaraku yang terlalu
kencang bakal menarik perhatian satpam di depan.
Kurasakan otot paha menegang. Darah mengalir memompa kulitku cepat memerah. Kusentuh peluh di punggung Mego. la masih bertahan. Lima belas menit berjalan. Gerakannya belum melemah. Barulah saat handphone berdering, ia menyetop berahi. Kembali memakai handuk dan merogoh ke dalam tas kepit.
cupanG
Kabar yang kutahu setelahnya. Larat dan kawan-kawan memutuskan untuk menginap. Berhubung film selesai jam sebelas malam, mereka akan tidur di rumah pacar Gilda.
“Masih ada minum di kulkas.“
“Kalau gak ada acara, tidur di situ aja." Su dan Larat saling
menimpali. Ada tawa iseng yang kudengar lewat speaker. Ada mie instan yang mereka tawarkan untuk kami makan malam. Sebenarnya rasa khawatir terus menghantuiku. Aku takut, ketika kos kosong sampai besok, Mego membuatku banjir di atas kasur. la pasti leluasa hingga seprai basah mendorong teman-teman, untuk meledekku setiap harinya.
Aku bisa saja tak peduli. Memanfaatkan ruang kosong ini, dan semangat Mego untuk memuaskan kemaluan sendiri. Masalahnya aku tak ingin jadi pusat omongan. Kabar akan merambah secepat angin. Telinga siapapun pasti tergoda, untuk menghakimiku sekalipun mereka sejak awal tahu. Kuputuskan untuk bermain cantik. Tak memberi siapapun bahan rumpi, dan tak ingin mengecewakan orang lain yang mengaku menyukaiku sebab biarpun perasaan mereka kugantung setinggi bendera Agustus, mereka bisa kuperdaya untuk mengerjakan tugas kuliahku.
Aku menunda kesenangan yang dicari Mego. la mungkin kecewa. Bisa kuamati dari perubahan raut wajah. Bukannya sepakat untuk cepat mengantarku pulang. la buka kulkas. Mengangkat botol ke arahku sambil cekikikan.
CupanG
Setelah tegukan kedelapan, waktu bergulir tak berujung. Hanya bayang-bayang samar yang timbul. Untai kejadian yang bersliweran mengabarkan hari-hariku. Sumbat imajinasi lepas dan meluaplah fantasi secara random.
Aku berada di dalam tenda. Lebih disebut barak saking besarnya. Di mana dari sobekan kecil, kulihat api unggun berkobar menjilat-jilat langit malam. Udara dingin membekuk hingga aku sulit bergerak. Menggigil dan mencari jaket untuk dipakai secepatnya. Tetapi tidak ada apapun untuk dikenakan. Tidak ada carrier yang biasa digunakan oleh pendaki. Ketika mengintip lagi ke luar, kusadari tidak ada sleeping bag di pinggir api, tempat orang bergelung dan mencari hangat. Unggun itu dibiarkan menyala sendirian, tanpa petikan gitar juga celoteh keakraban. Pohon-pohon ramping di sekitar juga sepi dari ayunan hammock. Kalau ini petualangan yang diadakan oleh komunitas pecinta alam. Di dekat unggun, alangkah ganjil, tidak ada kompor spirtus atau portable tidak ada kakak pembimbing yang bergantian tidur menjaga kami.
Telanjang di dalam tenda. Dibiarkan kedinginan dan penuh curiga. Nyatanya belum mengejutkan. Di sebelahku dua pasangan bersetubuh lumayan dekat, bergerak naik turun tanpa peduli kehadiran orang. Dalam kebingungan kupanggil mereka. suaraku jelas menjangkau meski tak ada respons. Dua lelaki yang terus
menyodok, menatapku, pamer muka berkeringat yang
membuatku ngeri bukan buatan. Seketika aku sadar. Dua pasangan inilah yang disorot dalam berita dan media sosial. Tadi pagi saat kasus yang seharusnya tidak dibesar-besarkan malah beroleh inisiatif keji dari orang-orang.
cupanG
Kemudian tanpa bisa dicegat, sepuluh orang masuk,
masing-masing membawa senjata. Roman mereka yang marah menyiratkan rasa lapar. Menunjuk-nunjuk kami sambil mengutip firman tuhan.
“Mau cari masalah kamu? Main gila di sini!“ Hardik seseorang, yang tampaknya paling tua dalam rombongan. Di kepalanya terpasang headlamp. Di tangannya terulur gesper yang mengancam. Aku beringsut mundur. Kami semua terpojok, berkumpul dikerubung oleh mereka yang siap mengamuk.
Ketika perempuan punk ditelentangkan oleh salah satu dari mereka, dan lelaki yang hendak menyelamatkan pacarnya ditahan oleh pemuda lainnya. Aku ngeri membayangkan apa yang terjadi. Orang-orang ini terus berteriak. Membentak dan menendang kami.
Kemaluan dari kedua lelaki yang dipegangi, menciut saking takutnya. Aku menangis melihat itu, yang lain berkaca-kaca menyaksikan pacar masing-masing hendak diperkosa.
Aku meraung menepis tangan-tangan yang mau merampok payudaraku. Dengan stamina ala kadarnya, coba menggapai kedua perempuan yang diringkus dan dipaksa mengangkang. Musuh-musuh kami menang jumlah. Tinggal tunggu waktu sampai kami dihinakan. Namun perkiraanku salah.
Pembalasan datang lewat robekan tenda yang melebar. Aku kira peluru senapan mengoyaknya, menyasar kepala-kepala dan bikin ambruk musuh dalam sekali tembak.
cupanG
Nyatanya seekor beruang yang menerobos tenda dengan cakar. Bau anyir sampai di hidungku. Jelas menguar dari geligi hewan buas itu. Dengan tinggi enam kaki. Mudah saja beruang ini menyelamatkan kami.
Dua pemuda dibikin roboh sekali terkam. Sinyal bagi pemuda lainnya yang langsung mundur mewaspadai keliaran. Bobot yang ditanggung beruang itu, tak mempersulit gerakannya. Bagai ninja
di kerimbunan hutan, berjatuhan seringan daun dan menyergap.
Lima orang kelewat cepat tergeletak. Kemudian, saat dua lelaki yang terluka merayap untuk menghindar, sisa yang bertahan kalang-kabut. Lari sekencang mungkin, mengelak dari maut.
Kedua pasangan itu kabur mendahuluiku. Tanpa pakaian. Masih histeris setelah menyaksikan nasib malang yang dialami musuh. Aku pun punya waktu, untuk lari dari beruang yang mengamuk, kalau saja raksasa berbulu itu tak menindihku, menjilat-jilat leher dan pipi lalu mulai menghisap mulut. Aneh bagaimana anyir darah yang melumasi gigi-gigi beruang, tak membuatku mual ataupun muntah.
Sekarang, di samping ranjang, Menatap cermin yang melekati pintu lemari. Ada ruam-ruam mengerikan di dadaku. Rambutku kusut. Masih tercium anyir kios jagal, darah yang tertinggal di taring beruang. Cermin di mana sosokku terpantul semakin nyata, membawaku siuman bareng sesuatu yang memerihkan mata. “Belekan lu?” Selidik Mego sebelum kubasuh muka di wastafel.
cupanG
Selebihnya hanya bunyi tuts, nyaring, dituntun keahlian sepuluh jari. AC seolah menukar rumah ini dengan kutub. Ada botol sisa seperempat, kubik-kubik es yang mencair menyudutkan rasa bir dalam gelas. Dalam kebingungan itu, Mego memberitahu, betapa aku mabuk waktu dibonceng pulang. Jatuh tertidur sesampainya di rumah.
September, 2022
Ilham Maulana mou9 (IG), ilhammmaulana (twitter) Ilham Maulana lahir di Jakarta pada Juli 1997. Tinggal di Karawang dan menyelesaikan pendidikan stratà satu di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Üniversitas Singaperbangsa Karawang. Puisi-puisinya dimuat di Pikiran Rakyat, Radar Banyuwangi dan Koran Berita. Berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Karawang; @perpustakaanjalanan_krw dan mengasuh Buletin Sastra Lamun. Tulisan-tulisannya dipublikasikan dalam blog personal kapalteale.blogspot.com
MANIFESTO
mencintaimu adalah seribu kali bunuh diri yang tak pernah kusesali
JARI-JARIPELURU
di malam paling rentan kutulis rinduku dalam surat-surat termanis di mana jari-jarimu yang senapan membenamkan dalam-dalam peluru ke kepalaku
KUHANCURKAN
kuhancurkan bumi ke dalam mulutmu yang hening kulempar perasaanku ke jurang lambungmu kulelapkan malam di hatimu seperti batu yang bertahun-tahun melukaiku
Panji Kumbara
Gerilya
Pemuda itu menangis, Meratapi kehidupan yang kian bengis
Pomuda
Hari-hari berlalu dengan cepat Terlalu cepat Keji, pikirnya.
Kini ia beranjak dewasa Harinya hanya ditemani gericau burung yang risau Kamarnya senyap, tiada suara yang tertangkap Pun hanya termenung dalam gelap.
Suramnya, ia hanya bergeming Hatinya compang-camping, bibirnya kering Tiada lagi kebahagiaan, yang ada hanya umpatan Tak bertuan, pula.
Oh, teganya kehidupan Esok, ia harus bergerilya Ceria, dan berbagi tawa.
Yogyakarta, 2021
Airlangga @aldythairlangga mahasiswa biasa di kampus yang biasa-biasa saja
The First Time We Did butihope it wasn't the last time we're gonna do it
- Flynn Andrea
"Oh, you want to visit my boarding house? When?"
(;— it was the first question that I asked him when both of us had to talk via WhatsApp Free-calling feature. I asked because he had been in 2 weeks in Bekasi and till that time, he still hadn't gone back to Bandung again.)
“I promise you, I'll be back soon!" and he always answered that question with all of his promises.
“Promise just keep be a promise!”I said that in sad tone.
“Hahaha! Seriously I'll be back to Bandung soon!" he made that promise again.
“Haaa, okay, see you absolutely soon!“ then I finished calling him.
Honestly, I felt too upset when I was in Bandung alone without him cause he had to do his study program assignment in Bekasi. Like, everything I had to do alone and he must be able to help me the online way by giving me support words or ordering me food via transportation online service. I truly just felt upset for these whole 2 weeks.
So for that time, I had the planning for finishing all of my tasks in the University Library. In fact, the deadline was still so far but as always, I never wanna postponed every task. And then I took a bath in my bathroom. Then, I went into my bedroom for replacing my clothes.
'Knock! Knock! Knock!'
THe FIRST TIMe We DID
“Whoa? Who's knocking on my door? I said it in my mind but I thought that just my sister that finally went home after she sleeping-over with her friends.
But, when I opened the door, I was fucking shocked!
That ain't my sister; he's Sean, my support-system partner.
And the worst fact is, I still just wore my tank top with my underwear like what? Oh my God?!
I was speechless at that time and had myself a click-freezing so suddenly I directly tried to close the door but I thought all of that had been just late; he held the door with his hand then entered to my room then he locked the door!
“Okay I'll wear my clothes, just—“he still held my right arm and then reached my waist into his hug, so we were in the closest gap.
“— You’ve already taken a bath, right?” he asked me using a teasing tone.
“Yea, why? Please, I wanna wear my clothes.“I answer his question too nervously.
"Why you must wear one? You don't need—“
“—What? You say I don't—“ suddenly he kissed my mouth and then tightened my body onto the wall.
THe FIRST TIMe We DID
I tried to finish what he had done to me but he locked both of my arms with one of his hands and the other of his hand explored my whole body; starting from my neck and then going lower, to one of my boobs.
“Ah! May I open this?" he stop kissing me just for saying that sentence while he touched my tank top.
“Ah! Don't! Please!“I begged him to not did that thing.
“It means yes to me," after that, he truly opened my tanktop,
“You're such an angel, my Hanna.“
Before my surprised expression peaked up, he kissed me again and for that time he didn't just kiss my lips; my neck, my boobs, my tummy then back to my lips. At that time, we were in Bandung but both of us felt totally sweaty.
And that first time's still felt like this time; in the same room and with the same person until both of us don't know just how many times we do this. Yea, now, we do it again for an uncountable time.
“Hey Hanna,“ he says it before he gives me a kiss again, “I truly love you”
“Me too, My Sean."Then we kiss each other.
And I don't know when we're able to do this but I hope, there's no last time for us.
THe FIRST TIMe We DID
;- Flynn Andrea
This is the last time Hear me out Insanity peers Worst fears come to life Silent enemies revel A deer in headlights Molten heart Oried up wells of tears This is the last time Hear me out Mind prison Uisceral love Guttural whispers Divine blessing Eternal damnation uosuoJ Abysmal gaze This is the last time Hear me out A longing past A sorrowful present A dreary future Never was Never is Never will be This is the last time jeuf Asura @falsewisdom Fuck. Why am I still here?
Pesan
untuk seluruh umat manusia
Pierre Renura IG: @madrasahmusik Saxofonis band yang rajin manggung kagak pernah latihan.
Sebelumnya, aku ucapkan banyak terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca tulisan tidak penting ini. Aku yakin tidak semua yang membaca tulisan ini memiliki pikiran untuk bunuh diri (Suicidal thought), akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri sebelum pikiran itu menghampiri. Dan aku memberitahukan bahwasannya tulisan ini berpotensi mengganggu beberapa pihak. Wabil khusus para pejuang dan aktivis kesehatan mental. Namun percayalah, kita semua adalah manusia yang sakit. Sebab, tidak akan ada satu pun manusia yang sehat di atas bumi yang telah lama sakit.
Setiap kali aku mengingat percobaan bunuh diriku, aku selalu mengutuk diri. Aku kesal tidak memiliki keberanian seperti orang lain yang mampu merealisasikan keinginan matinya. Tiga kali percobaan bunuh diriku hanya menghasilkan luka kecil dan sekolam air mata. Nyaliku mentok di antara dermis dan hypodermis, aku tak pernah memiliki keberanian untuk mendorong pisau lipat kesayanganku lebih dalam lagi hingga mengoyak pembuluh darahku. Saat keinginan itu menghampiriku lagi, aku tidak melakukan percobaan bunuh diri yang keempat kalinya karena ku yakin aku masih seorang pengecut seperti sebelumnya. Saat itu aku memilih melakukan yang tak pernah ku lakukan sebelumnya, yaitu meminta pertolongan.
Sialnya, aku tidak bisa mendapatkan pertolongan para ahli. Selain karena mahal-ini salah satu alasan kenapa aku lebih memilih mati, BPJS-ku tidak bisa aku gunakan. Lagi pula, sekalipun BPJS bisa aku gunakan, obat tetap saja harus beli.
Pesan untuk seLuruí umaT manusía
Aku pun akhirnya berniat untuk meminta pertolongan dari
teman-temanku. Namun setelah ku pikir-pikir lagi,
teman-temanku (yang terhitung jari jumlahnya) tidak memiliki nasib yang lebih baik dariku. Aku yakin mereka sama sepertiku, orang yang selalu berpura-pura sehat. Aku bisa meyakini pendapatku itu karena aku adalah tempat mereka berkeluh kesah.
Akhirnya aku pun menyerah, aku tidak berusaha untuk mencari pertolongan lagi. Aku membiarkan keinginan itu menuntunku kemana pun ia membawaku. Aku pun sebenarnya ragu, apakah aku benar-benar membutuhkan pertolongan?
Terlintas di pikiranku adegan film di mana seorang tokoh yang sakit dan divonis akan meninggal dalam kurun waktu tertentu, mereka disarankan untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan dalam hidup. Aku coba refleksikan adegan itu dengan kondisiku saat ini. Ku bayangkan, aku melakukan ataupun mendapatkan hal yang aku inginkan dalam hidup sebelum aku bunuh diri. Namun setelah ku pikir-pikir lagi, kondisi di film dan apa yang aku alami jauh berbeda. Si tokoh dalam film itu sudah dipastikan akan mati, sementara aku hanya punya keinginan untuk mati. Dan sayangnya, hal yang kuinginkan dalam hidup bukanlah hal yang mudah ku dapatkan dan mudah ku lakukan.
Orang-orang yang sedang dalam kondisi seperti tokoh dalam film itu akan dengan mudah mendapatkan pertolongan dari teman-temannya. Sementara aku, aku tidak akan mendapatkan pertolongan itu. Aku yakin, bukannya menolong, teman-temanku akan menceramahiku dengan dalil-dalil tentang pembunuhan.
Pesan unTuk seLuruí umaT manusia
Ya, keinginanku sebelum bunuh diri adalah membunuh orang-orang yang ku anggap bertanggungjawab atas keinginan bunuh diriku. Keinginan ini terinspirasi dari celetukan temanku yang lagi mabuk parah, “Lamun sia rek bunuh diri, bunuh oge jelema nu matak maneh mikir bunuh diri! Lamun nu paeh sia hungkul, ngeunah teuing ka jelema-jelema eta." Kalimat itu menancap di otakku seperti belati, aku seperti mendapatkan wahyu dari tuhan dan tidak sabar untuk menjalankannya. Temanku juga berpesan, “Salila can bisa maehan, ulah waka paeh!"
Di antara rasa kantuk dan pengaruh alkohol, aku berusaha untuk memikirkan lebih dalam lagi lanturan temanku itu. Aku semakin termotivasi karena lanturan tersebut. Lagi pula, kenapa harus aku aja yang mati? Kenapa mereka gak sekalian aku ajak mati? Jika aku tidak bisa membunuh mereka, paling tidak aku harus bisa menghancurkan apa yang mereka miliki. Setidaknya dengan begitu aku mempunyai motivasi untuk terus bertahan hidup, bahkan aku menganggap diriku ini seorang Uchiha Sasuke yang bertahan hidup dan melatih diri hanya untuk membunuh Uchiha Itachi. Selain itu, aku menganggap ini bukanlah balas dendam, ini adalah ampunanku agar di alam berikutnya orang-orang bersangkutan tidak perlu menanggung beban dosa dariku.
Aku tulis nama-nama orang yang ku anggap bertanggung jawab atas keinginan bunuh diriku dan aku tuliskan pula rencana serta strategiku untuk membunuh mereka. Sebagai orang yang sangat peduli akan estetika, aku tidak ingin pembunuhan ini hanya menjadi pembunuhan biasa. Aku ingin pembunuhan yang ku lakukan menjadi sebuah masterpiece dalam kasus pembunuhan. Dan tentunya aku tidak akan lupa untuk mendokumentasikan setiap proses dari proyek pengampunan itu.
Pesan unTuk seLuruí umaT manusia
Aku yakin banyak sekali orang yang akan menganggapku gila, tapi lihatlah! Siapa yang tidak gila di dunia yang sudah lama gila ini! Lagi pula, populasi manusia di Bumi sudah mencapai 8 milyar per November tahun ini dan akan terus bertambah setiap tahunnya. Bumi ini sudah tidak mampu menampung makhluk serakah lebih banyak lagi, karena itu cara ini akan lebih efektif untuk menekan angka populasi.
Bayangkan 700 ribu orang lebih (WHO, 2022) yang bunuh diri di dunia ini, membunuh orang-orang yang membuat mereka berkeinginan bunuh diri. Dan bayangkan, keluarga orang yang dibunuh pun ingin bunuh diri dan sebelum bunuh diri mereka membunuh keluarga orang yang membuat mereka ingin bunuh diri.
Bayangkan terus seperti itu, hingga populasi manusia menjadi sangat sedikit atau punah sekalian (baca: kiamat). Ini juga bisa dijadikan opsi para anggota tim akselerasi hari akhir, persetan dengan kalian yang hanya menanti hari akhir! Selain efektif cara ini juga lebih mudah dibandingkan dengan cara Bertrand Zobrist yang membuat virus ataupun Thanos yang mengumpulkan Infinity Stone-sengaja ku sandingan dengan fiksi soalnya beberapa temanku menganggap rencanaku ini hanyalah khayalan belaka.
Namun pengurangan populasi itu hanyalah sisi baiknya. Sebagai manusia yang egois, sebenarnya aku tidak benar-benar peduli dengan Bumi ini. Hal itu aku paparkan hanya untuk mendorong orang-orang melakukan hal yang sama denganku dan kebutuhan riset untuk proyek musik yang ku lakukan bersama beberapa temanku.
Pesan unTuk seLuruí umaT manusia
Silakan kirim cerita dan foto/video saat kalian menghajar orang-orang yang kalian benci ataupun merusak properti yang mereka miliki melalui DM Instagram ke akun @madrasahmusik. Kalian bebas menghajar siapapun, terutama orang-orang yang membuat kalian tidak betah hidup di dunia ini.
Aku
Hanya
Penonton
Yudha Prisnanto
IG: @doeganI TW: @doegans Seorang manusia yang masih mencari tujuan hidup selain untuk bertahan hidup dengan mencoba segala sesuatu yang bisa dipelajari dan dikerjakan. Mencintai dan terus belajar memahami dunia literasi.
Kau akan menjumpaiku dalam dua masa, kedua masa di mana kau tidak menyangka hari itu akan tiba, kebahagiaan dan kesedihan bercampur aduk pada keduanya. Hadir lalu berlalu, lahir lalu mati. Bukankah itu menjadikannya sebuah keindahan yang tiada tara.
Kau telah menorehkan banyak hal pada setiap makhluk yang menghampirimu, bahkan ada yang terukir di relung jiwanya. Berbahagialah bahwa kalian hadir untuk sesuatu, meninggalkan sesuatu dan semoga saja bertahan selamanya. Percayalah, ini hanyalah kata-kata manis yang terlontar dari diamku untuk membuatmu sedikit mengernyitkan dahi. Tak perlu bimbang, terima saja kematianmu, tak sesakit itu, sepertinya aku terlalu banyak menyaksikan kelahiran dan kematian mereka. Aku bahkan tak tahu lagi bagaimana rasanya sakit itu. Tapi aku masih sangat mengingat bagaimana semuanya berawal. Rata-rata kisahnya sama, tak ada yang baru, hanyalah pengulangan dengan deretan dan rurutan yang sedikit berbeda.
Berawal Ketika aku melihatnya terlahir dan hanya segelintir orang yang berbahagia, di antaranya telah muncul kecemburuan. Keserakahan manusia pada penghargaan, pengakuan membuat sebuah kelahiran menjadi kecatatan. Memang tidak ada yang sempurna namun, mereka terus berkembang, ada yang memperbaiki diri sehingga menutupi kekurangannya, ada pula yang berdamai dengan kekurangannya. Tak ada yang salah di antara keduanya, tak pula benar di antara keduanya, mereka hanya melakukan apa yang mereka tahu dan dapat mereka kerjakan.
Pada akhirnya tetap terjadi pertikaian yang tak terelakkan. Termakan oleh gunjingan manusia-manusia yang merasa tak berdosa.
aêu íanYa Penonòon
Di antara kepolosan dan kebodohan sangat tipis, setipis benang yang dibelah berkali-kali. Mereka yang merasa tak berdosa itu tidak dapat melihat ke depan, hanya melakukan apa yang biasa mereka lakukan di hadapannya. Mereka tidak menyadari konsekuensi yang akan mereka terima nanti, dan aku rasa mereka tidak pernah memikirkannya sama sekali. Yang aku tahu tipe manusia yang seperti ini hanya akan menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam hal yang mereka tabur sendiri.
Salah satu dari mereka yang polos nan bodoh mati dan yang lainnya hidup, perlahan mereka yang bertahan hidup pun mulai
merasa bosan, kemudian mulai mencari musuh baru agar tetap
dapat bertahan. Ketika tak ada lagi yang dapat diperebutkan, ketamakan menjadi kehampaan, kebutuhan akan sesuatu untuk diperjuangkan. Terjadi perpecahan di antara yang tua dan muda, yang haus dan lapar, yang gelap dan terang, yang tinggi dan
rendah, perselisihan yang tak penting dan sepele berubah menjadi
alasan kuat untuk mendapatkan kekuasaan, kebenaran- pembenaran, kedamaian. Jika kau tak menemukan musuh di luar, maka secara alami akan tercipta musuh dari dalam. Tanpa mereka sadari, perbedaan menghancurkan mereka dan tanpa ada yang dapat menyatukan mereka, pecahlah peperangan di dalam sana.
Yang kalah keluar dan pergi, yang menang tinggal dan menunggu
mati. Kesombongan apa yang dapat mereka pamerkan Ketika tidak ada lagi panggung untuk unjuk gigi?
Berusaha mencari sesuatu yang dapat mereka pegang untuk dapat bertahan hidup, namun semuanya telah mereka bantai hingga tidak menyisakan apa pun dan akhirnya mati dalam penyesalan.
aku HanYa penonTon
Yang mereka tak tahu adalah mereka telah berada di atas sana, jauh meninggalkan yang lainnya di bawah. Tanpa mereka sadari, di bawah sana masih ada kehidupan, tapi mereka terlalu angkuh untuk menundukkan kepala mereka. Terbuai dengan langit yang tak berujung.
Kematian pertama yang kulihat. la begitu megah dan kopong, mati dengan harga diri yang pada hakikatnya bukan apa-apa. Hanyalah kumpulan ego dengan keyakinan kosong. Seandainya saja, seandainya mereka mau melirik sedikit saja ke bawah, ada banyak persaingan yang dapat mereka lakukan, turun sedikit untuk dapat menjulang lebih tinggi katanya, entah kata siapa.
Masih ingatkah kalian dengan kematian sebelumnya, mereka tidak benar-benar mati seperti yang ada di puncak sana, mereka hanya terdiam mengalah. Mereka sadar akan kekurangan mereka dan membiarkan yang lebih buas pergi. Kemudian mereka menyadari untuk apa menjadi kuat namun kosong di dalam.
Lebih baik seperti ini, terlihat mati namun sangat hidup di dalamnya. Tapi satu hal yang mereka lupa, umur memiliki batasan. Diam juga bukan berarti tidak akan mati, hanya menunggu waktu tuk ajalnya. Penyesalan mereka adalah hanya diam dan berbahagia dengan itu. Tidak kemana-mana sehingga mereka mati dalam penyesalan. Kali ini, mereka benar-benar mati.
Lalu, masih ingatkah kalian dengan mereka yang kalah dan pergi. Mereka pergi, bukan terbuang. Karena mereka tahu jika tetap bertahan, maka mereka akan dibuang dan terhina. Lebih baik mereka pergi dengan terhormat, dibandingkan bertahan lalu dihinakan.
aêu HanYa penonTon
Satu yang mereka lupa, mereka tidak pernah tahu tentang arti pondasi, sehingga mereka terluntang lantung bergumul di luar sana tanpa tahu bagaimana cara bersatu kembali. Yang mereka tahu hanyalah berperang, lalu kalah atau menang. Perjuangan yang sia-sia, tidak memiliki tujuan apa pun, karena tak memiliki pengetahuan apa pun selain apa yang telah didoktrinkan pada mereka.
Bukan, bukan salah mereka, ini murni kesalahan pendahulu mereka yang juga membatasi apa yang seharusnya mereka ketahui dan tak ketahui. Peraturan yang dibuat agar dapat tetap hidup, tapi dari kacamata mereka, bukan kaca mata pada masa itu. Mereka merasa paling benar dan paling tahu akan segala hal yang ada di hadapan, di bawah, dan di atas kepala mereka. Aku menyaksikannya dengan seksama.
Itu adalah beberapa kelahiran dan kematian dalam satu kisah. Setelahnya aku tidak pernah lagi memikirkan ada berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah aku temui. Dan yang pasti kalian bukan kematian yang terakhir, karena setelahnya akan muncul benih-benih kalian dan membentuk sebuah kisah baru dengan segala polemik mereka masing-masing.
Berbahagialah karena kalian memiliki penerus, bersedihlah karena kalian mungkin tidak dapat melihat mereka, bergidiklah karena akan masih ada yang menangisi kalian jauh setelah ini. Bebaskan diri kalian dari rasa penyesalan, karena tak perlu ada lagi penyesalan, juga tak perlu repot-repot tuk merasa angkuh karena kalian sudah mati.
aêu íanYa Penonòon
LAMUNAN DALAM KEHENINGAN
Entah disebut tengah malam atau pagi, yang jelas aku terbangun pada pukul 02:28 WIB di kamar indekostku sendirian. Entah karena apa juga aku terbangun, aku tak tahu alasan jelasnya, yang jelas aku terbangun bukan karena mimpi buruk.
Terbangun di kamar indekost sendirian, kehabisan rokok ,kehabisan air minum, yang ada hanya vape dengan liquid nic 6 yang tentu saja sangat gatal di tenggorokan, dan sepi sunyi yang menemani. Entah disebut keberuntungan atau kebuntungan, yang jelas semua hal itu membuatku menulis kegelisahan. Kebingungan, aku menulis karena aku kebingungan, entah apa yang sebenarnya aku bingungkan, padahal kalo difikir-fikir hidupku penuh akan kesenangan. Itu kalo difikir-fikir, namun kenyataannya hatiku tak pernah tenang, ada senang, ada lara yang tak pernah abadi menemani hidup ini. Di kehidupan ini kan memang tak ada yang abadi, adanya kepastian akan kematian.
Sial, sekarang aku benar-benar kehausan, haus akan air minum, haus akan cinta, haus akan kekuasaan, haus akan segala hal. Haus, kehausan, kehausan apakah akan menuntun kita ke kematian atau menuntun kita ke.., ke mana cokkkkk. Entah menuntun kita ke mana, yang jelas kehausan itu membuatku hampir lemas tak berdaya. Sebenarnya itu kan bukan masalah besar, hal itu seharusnya bisa ku atasi dengaan cara keluar dari kamar indekost lalu membeli air minum.
Ya hal itu adalah contoh bahwasanya semua masalah itu ada jalan keluarnya, tergantung dari kita, hanya diam pasrah saja saat ada masalah atau melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya. Jika kau hanya diam saja, lebih baik tak usah berharap besar. Karena diam tak kan menghasilkan apa-apa.
Setelah menulis paragraf di atas, aku memutuskan untuk keluar kamar indekost untuk membeli air dan tiga batang rokok surya.
Rizqho IG: @rizqho_ap
Pentas
Sekilas
Ketika senyap, ku peluk erat malam gelap Bising sunyi riuhi kepala Dadaku sesak Ku rakit sendiri rasa sakit Di hadapan badai yang tak bisa aku hindari Sekejap terlintas untuk lari berteduh Maka ku hasut segala sedih Untuk terus menari meski di tengah badai
Hei! Kau temanku kan? Kemarilah, aku mengajakmu masuk ke dalam aku Nikmatilah, akan ku tampilkan sebuah pertunjukan
Seni menghancurkan diri
Lalu setelah selesai, tolong bantu aku Membersihkan sisa serpihan jasadku
kemenangan
seorang
Kusampaikan serapah paling kasar pada stigma yang tak memberiku makan, hasutan tetangga yang menghabisi kepercayaan, melahirkan cecar tanda tanya tentang pekerjaan, sedang tumpukan tagihan kian menjulang.
Sejak muda, aku dipaksa menjadi hamba untuk uang.
Sebagai upaya pembebasan dari ludah masyarakat, kuputuskan menjadi pelacur yang berkuda dengan berani di atas pria-pria tambun. Mencuri kemerdekaan mereka dengan melihat sungut-mohon agar dipulangkan pada masa muda penuh percintaan membara.
Kurayakan malam kelam dalam kidung kemenangan, bertahun-tahun menjelma sebagai alas zaman kini kulepaskan rantai perempuan, berlari menuju pembebasan.
Aku bosan memberontak pada zaman, kini menantang tuhan menjadi pilihan.
Sebilah pisau tergores dengan mesra pada nadi, mengalir hangat darah pembebasan yang selama ini kunanti. Sebaris senyum terpatri pada pipi, lantang teriakan berkumandang,
“Oh, tuhan yang malang, diktator yang cemburu pada nikmat bercinta, kini kau tak lagi berkuasa! Aku bukan bonekamu, kurenggut hidup karena kebosanan melanda, kuhadirkan kematian karena aku pencipta bagiku!"
Arun, Desember 2022
Aruna Kavin Menulis dan berkarya di Instagram @arunakavin. Dapat dijumpai dengan mudah di Instagram atau email [email protected]
MATERNAL DISASTER PRESENTS
Senja Berkala
Vertical Abuse-Senja Berkala (MV);
Kematian yang Berulang
(A) Terbentuk pada 2020, Vertical Abuse yang berawakan Andy La Jhon, Reza Septian, Angga Pandu, Reza Pratama dan Oktav Muter membawa musik hardcore dengan nuansa yang agresif karena masing-masing personil membawa referensi musik yang berbeda-beda. Beberapa band seperti Integrity, Converge, Harm's Way, Slayer, Entombed, hingga Bolt Thrower membuat materi yang mereka ciptakan bisa lebih luas Reza mengatakan Senja Berkala merupakan aransemen ulang dari demo lama Vertical Abuse yang belum sempat dirilis karena dirasa belum cukup maksimal. Banyak aransemen yang dibenahi, seperti karakter gitar & bas yang dibuat menjadi lebih heavy, drum yang diubah menjadi lebih agresif, lirik yang implisit, serta karakter vokal baru yang jauh lebih growl & low dari demo yang sebelumnya. Aransemen terbaru ini menjadi kelahiran baru untuk konsep musik Vertical Abuse ke depannya. “Senja Berkala" diartikan sebagai fase seumur hidup dalam penderitaan menuju kematian datang berulang kali, sampai kematian dipaksa datang seperti penyelamat. "Senja Berkala" pun didaulat sebagai single pertama mereka menuju debut album mendatang yang berjudul "Jurnal Apokalips". Segera dirilis oleh Disaster Records pada tahun 2023 dalam format CD. www.youtube.com/@MaternalDisaster
MATERNAL DISASTER PRESENTS
COLLAPSE
RUTE Meniya VORY
MUSIC VIDEO COMING SOON
Consumed Dizarter 中
Collapse – Rute Menuju Ivory (MV); Bangkit dari Kolaps dengan Perjalanan Baru
(A)
Setelah empat tahun vakum, Collapse kembali hadir dengan formasi teranyar. Mendampingi Andika Surya, kini Collapse turut ditopang oleh Mario (Leipzig), Hasbi (Haul), Angga (Ssslothhh), dan Satria (Lizzie). Single terbaru mereka bertitel "Rute Menuju Ivory" hadir membawa nuansa alternative-rock dengan vokal yang lebih ekspresif dan chord dinamis.
Andika mengaku banyak terinspirasi oleh pola musik melodic-hardcore hingga progressive metal di lagu ini. Dengan bantuan personil baru, Andika merasa mampu menghadirkan progresivitas baik di secara vokal maupun musikalitas.
Di tataran eksplorasi, kehadiran personil baru juga mampu membantu mengembangkan ide-ide baru yang akhirnya mampu dituangkan ke dalam lagu tersebut. Kembalinya Collapse dari kolaps sesaat dengan "Rute Menuju Ivory" seakan membuka jalan bagi mereka untuk menuangkan ide-ide baru ke dalam lagu yang lebih kokoh dan segar.
www.youtube.com/@MaternalDisaster
Closure-Paradigm (MV); Interpretasi visual pertarungan id, ego, dan superego
(Audinanto)
Anxiety makin menjadi isu social awareness yang marak diperbincangkan di berbagai media dan juga kalangan. Isu ini juga semakin populer terasa setelah banyak media (musik, film, atau novel) yang mengangkat tema tersebut. Itu juga yang dilakukan oleh Closure, band asal Malang, dengan video klip terbarunya yang bertajuk “Paradigm“.
Paradigm yang diperankan oleh Selfi Safira menampilkan seorang pemudi yang merasakan dampak anxiety dalam dirinya sehingga memicu self-awareness. Namun, karena tingginya kecemasan/anxiety ini dia merasakan moral dilemma dalam pikirannya. Di sinilah Closure menggambarkan pertarungan keseimbangan id dan ego untuk mencapai superego. Seperti pertarungan antara jahat dan baik, tetapi dimainkan oleh satu karakter. Visualisasi yang mereka lakukan cukup berkesan dan artistik ala band post punk seperti Joy Division atau mosruam ∂oma (Molchat Doma). Visual dark dan conflicted lumayan terasa pada berbagai scene, menjadikan kita semakin merasakan emosi dari video klip ini.
Video lengkapnya bisa kamu tonton sendiri di YouTube, dan kebetulan Closure juga sedang melakukan tur, sehingga kamu yang tertarik setelah menonton video klip ini bisa menyaksikan mereka secara live.
https://www.youtube.com/@closureposts9547
L
ATO FUSED
AND
FUZZED
AVAILABLE NOW ON DIGITAL STREAMING PLATFORM
Too Hard To Be Soft, Too Soft To Be Hard (EP)
Distorsi kencang dari ujung barat Indonesia
(Audinanto)
Siapa sangka distorsi kencang bisa terdengar dari Banda Aceh, kota dari ujung barat Indonesia? Hal ini dibuktikan oleh TO FUSED AND FUZZED(TFAF)yang baru saja merilis EP mereka “Too Hard To Be Soft, Too Soft To Be Hard”.
Dari track pertama, TFAF mampu menyita kuping penulis dan mengalami “voice analogous" terhadap EP ini. Tidak hanya materi yang brilian, TFAF juga mampu menghadirkan sound yang digarap secara serius. Kalau saja penulis tidak mendapatkan press-release mereka, penulis akan tercengang setelah mengetahui kalau ini adalah band lokal, terlebih lagi dari Banda Aceh. Karena, kelemahan dari kebanyakan band merintis Indonesia adalah kurang matangnya sound, meskipun memiliki materi yang sangat baik. TFAF mampu mematahkan stigma ini, bahkan menghancurkannya secara berkeping-keping. Walaupun tentu saja TFAF belum mengeluarkan 100% potensi mereka, EP perdana ini merupakan hidden gem bagi pecinta thrash, hardcore, dan musik keras lainnya di Indonesia. Track terbaik menurut penulis adalah “Hidden Alibi" yang super high octane mengingatkan penulis pada Municipal Waste.
- Instagram : @tofusedandfuzzed
- Spotify : To Fused and Fuzzed -Youtube : TFAF Media
NORCH
Norch - 360 (Single);
Emo dari Kediri, bangkit dari mati suri
(Audinanto)
Setelah hibernasi selama 2 tahun, akhirnya Norch kembali merilis single baru yang telah mereka nantikan. Melalui proses yang panjang dan sleepless nights, mereka berhasil menghasilkan “360“ sebagai nomor andalan mereka yang baru.
Setelah mendengarnya, 360 terasa nostalgia emo pertengahan 2000an dengan vokal yang khas dan sound gitar yang tajam. Uniknya Norch menuliskan bahwa mereka ter-influence dari American Football, Modern Baseball, Citizen, dan Turnover yang memiliki sound yang lebih lebar, dan beat yang lebih middle-tempo ala post-emo. Namun, hal tersebut tidak berarti negatif. Dengan chorus yang lebih anthemic, Norch berusaha menggabungkan old school dan post-emo yang terdengar baru sekaligus familiar bagi pendengar emo.
Single pertama ini memang belum mampu untuk merepresentasikan Norch yang masih menyimpan berbagai amunisi. Mari kita nantikan rilisan berikutnya dari Band asal Kediri ini.
www.youtube.com/@norch9582 IG: @norchmusic
R
MINDLOCK
ARI YOUR DESIRE
2. ART Y URTIOLN
MINDLOCK
TILL THE BLOOD ON YOUR SWORD IS THE BLOOD 2022 OF YOUR KING
Mindlock-Arm Your Desire (EP); Ajakan akar rumput ludahi fasisme
(Audinanto)
Bandung memang terkenal sebagai kota yang melahirkan banyak unit hardcore dengan GOR Saparua sebagai Ka'bahnya. Kali ini Mindlock sebagai generasi baru hardcore Bandung kembali merilis EP yang bertajuk “Arm Your Desire".
EP ini terasa sebagai sebuah transisi “modern" dari EP sebelumnya, “Feel the Power“. Jika sebelumnya terasa lebih anthemic dengan nuansa live yang terasa raw, di EP kali ini Mindlock menghadirkan sound yang lebih terasa “rapi”. Namun, sepertinya transisi yang dilakukan masih terasa tanggung. Pasalnya secara komposisi, materi mereka tidak terdengar terlalu berbeda, sehingga EP sebelumnya malah terasa lebih powerful karena dapat merekam esensi live-nya.
Meskipun begitu Mindlock tetap layak didengarkan sebagai representasi old school hardcore kota Bandung yang sudah jarang ditemukan. Dengan energi raw-nya, bisa saja kamu jatuh cinta setelah melihat gigs mereka.
Demo MINDLOCK sudah bisa didengarkan lewat platform bandcamp (mindlockdecontrol.bandcamp.com).
B
A
Girl and Her Bad Mood –
2013/Bluest Year I've Been (Single); Serenada kehangatan musim hujan
(Audinanto)
Girl and Her Bad Mood merilis single terbaru dari EP "Bluest Year I’ve Been“. Dengan single ini maka lengkaplah rangkaian EP terbaru Band asal Malang ini yang sudah dirilis di berbagai platform digital.
Berbeda dengan track-track awal, track 2013/Bluest Year I've Been terdengar lebih low-tempo dengan nuance yang lebih sendu. Lirik dari lagu ini pun juga seakan membangkitkan memori masa lalu yang terasa bittersweet. Sound gitar ala dream pop yang warm juga menambahkan perasaan emosional yang hangat saat mendengarkan lagu ini.
Akhir kata 2013/Bluest Year I've Been adalah sebuah serenada yang memberikan kehangatan pada musim hujan layaknya meminum teh favorit di hari yang kurang baik.
IG: @haumentertainment haumrecords.bandcamp.com/track/single-2013-bluest-year-ive-been Twitter: @gahbm. IG: @gahbm___
NONE SHALC PASS
@linesofdeath
The car's on fire and there's no driver at the wheel And.
Fwith a thousand lonely suicides And a dark wind
And we're on so many drugs With the I DON'T in the belly of this horrible machine And has fallen down And the billbhBELIEVE IN top of their poles It wer ANYTHING.up my clutching babies pi beautiful on fire
FOR THEI'M JUSTHERE
orange haze grabbed my morning and
VIOLENCE
wallet And it's
@linesofdeath
00:00
I sald: "kiss me, you're beautiful These are truly the last auys 6:09 1997 AndThE 虚無 無限大
"The Dead Flag Blues" "The pead Flag Blues (Intro)" Trains' "The Cowb "The Dead Blues
(outro)" Top Of Their Poles
"East Hastings"
"Nothings Airite in Our
Blues (Reprise)" "The Sad Mafioso..". "Drugs
Sun Has Fallen Down "Black Helicopter "Providence"
"Dead Metheny..." "Kicking Horse on Bro-
"stringLoop Manufac- turedDuringDown- pour..." Silence
The Billboards Are All Leering "J.L.H. outro"
And The Flags Are All Dead At The
图国
@linesofdeath
MANIFESCO
KIAMAC
GeLOmBanG WIFI BeRIak menaRI-naRI DaLam DaGInG Dan DaRH κITa. memBeRI KeuaTan unTUk meLHaT Dan mendenGarkansemesta namun TIDaK unTUK memaHamunYa. DerIta eksisTensiaL sepanJanG HaYaT. DIDeRa RaTaPan TuHan YanG Tak akan PeRnaí BIsa KITa menGerTi. sampaI suaTu saaT nanTI Ia DaTanG unTuk memBeRIkanBeRkaTnYa, menGGanTIkan DaRaH Dan DaGinG kITa DenGan BesI Dan kaca, menJadI seBuaí anTena YanG mampu menanGkap Lamunan InDaH mILk TuHan DaLam KeBOsanannYa YanG aBaDI.
maRI BeRJaLan BeRsama, DI BaWaH TeRIk maTaHaRI, DI mana BulLR-BulLR PasIR meLeLeH Dan menYaTu menJaDI KaRanG; DI PaDanG PasIR, uDaRa Panas menJaDI PenGanTaR TIDUR BaGI JIWa-JIWa YANG LeLaH.
PeRSeTan GaYa HIDUP seHaT Dan nUTRIsI BeRImBanG, RASa LaPaR aDaLaHanTidePresSanT TeRBaIkseTeLaH KeBENCIAN; HASRAT HIDUP PRIMTIF. BILa PERLU aKAN BeRanGkaT DenGan PeRUT KosOnG Dan KakI TeLanJanG unTuk memBunuí siapa pun Demu BIsa makan. meneBus DOSa LeWaT DOROnGan InsomnIak; BeRKenDaRa DaRI sePeRTIGa TeRakHIR maLam HInGGa menJeLanG sIanG. menYaPa maTaHaRI DImaBuk Rasa KanTuk, LaLu-LaLanG. DeRu mesIn, RamaI; seBuaH LTuRGI BaGI JIWa moDeRn, BeRPasraH DIRI PaDa asPaL Dan BeTon unTuk meneRIma BeRKaT DaRI YaNG aBSOLUT.
mana YanG LeBIí BuRuk, KeTIaDaan IKaTan Dan KepasTIan aTau KeHaRusan menGaBDI Dan KeHILanGan seBaGIan KeBeBasan; mana YanG LeBIí mUDaH, HIDUp DaLam KekuranGan aTau TIDak PunYa seseoranG Dan TempaT UnTUK KeMBaL? RUanG HIJaU, mOBIL RAMaH LNGKUnGan, KonseRVasI ORAnG UTan, OmonG KosOnG. TIDak aDa JaLan TenGaH, salnG BunUH samPaI HaBIs aTau BeRanak PInak Dan KenDalkan seTIap JenGkaL permukaan Bum.
sampaI seLURuH semUT, LUmUT Dan BaTu, maYaT Para GeLanDanGan, HInGGa seTIap TeTes manIPaRa PecunDanG YanG Tak Laku KaWIn DIuBaH JaDI eneRGI PenamBanG maTa uanG KRIPTO·DemI KeLanGsunGan HIDUP PaRa nInGRaT YanG akan menYamBUT KeDaTanGan TUHan BaRU.
BUKTI-BUKTI PeSaTNYa KemaJUan 1DIDUKUNG DaTa-DaTa akuRaT Dan PenDaPaT PaRa aHLL;
Pun mesKI BeGITU, MasIH saJa BanYaK PIHak-PIHak DUnGu YanG Tak PeRnaí Puas Dan HanYa Bisa menGeLuH; semoGa semua seGera DIGanTikan DenGan mesin YanG LeBIí ceRDas Dan PaHam STaTIsTIk. Tak aDa LaGI "BeLUm Lama Inr" saat semua HaL TerLaLu suram Dan memaLukan unTuk DIInGaT;TaGaR-TaGaR DaLam momen peRLawanan IMPULSIF PaRa CenDeKIa YaNG TeRHORmaT, PUn HanYa akan DILupakan ORanG Lma menIT KemuDIan. InTerneT suDaH menGanTaRKan KITa KePaDa TIRan! "SaaT InI".
Jam Pasir ITu Pun pecaí, menJaDI seBuaí Gurun Tandus DI mana WakTu YanG memasukinYa maTı sekeTika. BaDai PasirnYa aDaLaí KeaBaDIan YanG seLaLu LapaR, Tak aDa YanG BIsa BeRJaLan meLewaTI PasanG PasIR ITu kecuall Para manusIa seTenGaH anGsa. DAN maTaHarI akan menGHILanG seLama semBILan HaRI. peRGI meneBus DOsa-DOsanYa DI masa LaLu.
KAT-KATa HIDUP, DITULS & MAUJUD, KITa aDALaH TUHAn PenCIPTanYa. MenGURunG meReKa DaLam BUkU-BUku, memBeDaH, memoTonG mereka JadI aksara. BanYak YanG HIDUP unTUK SUkSeS. KaMI HIDUP UnTUK MeRAnCanG DRama-DRama YanG cukup aPIk unTuk seLaLu meYakInkan DIRI senDIRI KaLau BeLum sepenuHnYa GaGaL DaLam KeHIDUPan
manusIa aDaLaí TuHan HaRI InI, Rasa TakuT Pada manusIa suDaH menGGanTikan Rasa TakUT PaDa TuHan-TuHan KUno YanG Tak LaGI ReLevan Dan ImpOTen, PaRa ceRDIk PanDaI & aTeIS HaRI InI aDaLaH ORANG-ORAnG PaNG aLm DAn BeRIman. ORAnG-ORAnG BaIK Dan JUJUR, JIKa memanG masií ada.
TOLONG TUNJUKKAn DIRIMU DAn PeNGGaL KePaLA KAMI.
TUHAn YANG MAKIN KUaT SaaT ORAnG-ORANG BeRDOa PaDanYa. TUHan YANG mAKIN SaDIS SaaT ORAnG-ORAnG memBunuH DenGan menYeBuT namanYa, TuHan YanG makIn DIpercaYa saaT ORanG menGucap seTuJu BanG PaDanYa,TuHan YanG makinTeRAnGsanGsaaT ORAnG-ORanG BeRBaGI PenGaLamAn BeRSenGGama DengannYa.
TaK aDa YaNG NYaTa aTaU LOGIS DI SINI. ORANG-ORANG Bn n YnG B (KemunGkInan BesaR) TIDak BenaR-BenaR TeRJadI namun karena aDa YaNG Dengan TeRanG-TeRAnGan menceRITakan KeBOHOnGan LaLu menDapaT peRHaTIan BeRkaT KeDunGuan meReka senDIRI YanG mUDaH KeJanG.
Generasimu maTI & TeRLupakan. Tak akan aDa YanG menGuBaH KeaDaan YanG menJaDIkan HIDuPmU sURam, caLOn pekeRJa Dan saRJana-saRJana BaRu YanG TeRus BermuncuLan akan segera memperoLeí pekerJaan ImPIan YanG Tak BIsa Kau DaPaTKan.
DI perempaTan menunGGu Lampu meraH aTau DI Depan KasIR; menGeLuaRkan TuHan KecIL DaRI KanTOnG CeLana uNTU sJena BeRDOa.BReLUKeSaH& menYampalkan LaGI IkRaR Keimanan KepaDanYa YanG esa. Dua aTau sepuLuí men'T. TIDak aDa KaTa TeRLaLu seRInG UNTUKTeRusmenGaGunGkannYa. PaRa JaGOan INTeLekTUaL sUDaH PeRGI, BIsakaH KITa KUNCI PINTUnYa sekaRangG?
KITa BIsa SaJa TakUT memBaYanGKAn HaL-HaL sURAm YanG munGkin saJa TeRJaDI DI masa Depan, akan TeTapI KengerianseBenaRnYa DaTanGmenGGeROGOTI kewarasan kITa saaT menYaDaRI seGaLanYa akan Terus seperTı inı untuk seLama-Lamanya.
maRI BerDOa PaDa TuHan YanG maHa menGenDalkan simuLasi, semoga ia mampu memBawa kita menuJu LeveL BeRIkuTnYa. WaHaI KaWan LakukanLaH YanG TeRBaIk, makın kencanG peDanG BeraDu, semakin BanYak BunGa aPI TeRPeRCIK. IDeOLOGI POLTIK aTaU TeMBOK MaNa YaNG akan κITa TaBrak Dan seBerapa KencanG κITa meLaJu Ke sana. Tak BanYak KaTa-KaTa YanG BIsa KITa Gunakan unTuk menGGamBaRkan Perasaan YanG muncuL saaT meLHaT HIDup Tak LeBIí DaRI sekumpuLan KepaLsuan Dan RemeH Temeí BeLaka, Tak ada Tempat unTuk Lari seLain Tempat KITA BeRaDa seaRanG,
kekang mereka Dengan peraTuran Dan mereka akan saLnG BUnUH DaLam KOnTes menJaDI YanG PaLnG sUCI. Beri mereka keBeBasan, niscaYa semua OranG akan muLaI menaRI KeJanG, meLOLOnG PaDa LanGIT senJa, aTau BeRusaa eRas meLucu; aPa PunDem sejenak meLupakan BOsan. NA sulLT unTuk PercaYa Pada anGGapan BaHwa masa LaLu Tak DaPaT. DIuBaH LaGI. seTIaP HaRINYa maSa LaLU TeRUs BeRuBaí RIBUan KaL. seBaLknYa, masa DePan aDaLaí PASTI, MUSTAHIL KITa UBaH DAN TaK DAPaT DIHINDARI. OTOnom InDIVIDU, KaPan PuUn semUa. ORanG:BeBas memUTus HuBunGan DenGanmu BeGITu saJa Tanpa peRLu aLasan apa pun.
apa memanG pencapaian seLama int mendorong anda LeBIH DaLam menuJu YanG seJaTI YanG anDa CaRI? menuanGLumpuRDaLam KUBanGanMUNGKIN menJadIkannYa nampak LeBIH DaLam, TeRLaLu BanYak Dan anDa Tak akan BIsa melLHaT DasarnYa LaGI.
HAmPIR SETIAP SUDUT KOTA KINI DITERANGI LAMPU, PaRA PenGHunInYa PInDaH KemaRI. Tak aDa YanG LeBIH anGKeR DIBanDING TemPaT InI. HanTU & SILUman mInTa TUmBaL. seTIap HaL HaRus DIKomenTaRI sesua PeRJanJIan GHaIB BeRmaíaR PeRsonaL BRanD, sIapa LaLaI nIscaYa DIseRBu TeLUH HUJaTan.
KITa PUnYa ITeRneT unTUK memBUnUH wakTU Dan GLOBalsma YanG memePaTKan RuanG, sekaRanG TInGGaL carI cara painG eFekTiF Dan eFisien unTuk meLeDakkan semuanya.
DIRI STaTIS & menYeDIHkan. DIam DI DePan CeRmIn menYaksIkan BaYanG-BaYanG YanG TeRPanTUL DI sana, YanG TeRus BeRuBaH Bersama ReDup Dan TeranG CaHaYa seIRING DaTanG Dan PeRGInYa maTaHaRI, BeRULanG KalL saLaí menGenal apa Pun YanG nampak DI sana seBaGai DIRINYa seNDIRI. K KITa seRinG mempROYeksIkan KenGeRIan saaT InI seBaGaI masa Depan YanG Tak BIsa kITa HInDaRrI. TenTu saJá, seLaLu LeBIí muDaí menGaTakan suaTu HaRI nanTı κITa semua akan MaTI DaRIpaDa KITa sUDaH LAma mATI.
saYonaRa!!
eo
哈
水
图 图
akhirnya, sampai juga di edisi terakhir. terima kasih untuk semua yang sudah mendukung kami sampai sejauh ini.
ingat. jangan ragu untuk tetap mengeluarkan isi kepala kalian. karena tidak semua akan setuju dengan pendapat dan gagasanmu, tapi semua ide punya porsi yang sama untuk didengarkan.
semoga kami bisa memantik pergerakan-pergerakan serupa, dan bisa saling menyokong.
salam, submisi. kami sayang kalian!
SUBMISI ZINE PAMIT OUCU. TERIMA KASIH ATAS KERIAANNYA SECAMA MI.
SAMPAI JUMPA!
THIS IS THE LAST OF
5U6m:5:
POLICE
'TIL WE MEET AGAIN. SOON. Ter isn